P. 1
Konflik thailand kamboja.doc

Konflik thailand kamboja.doc

|Views: 9,680|Likes:
BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah

Lebih dari setahun lalu, Thailand dan Kamboja terlibat ketegangan yang dipicu oleh klaim masing-masing pihak akan kepemilikan kuil Preah Vihear di perbatasan kedua negara. Candi berusia delapan abad itu memicu ketegangan setelah UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia. Tentara kedua negara di perbatasan bahkan sempat terlibat aksi saling tembak yang menjatuhkan korban jiwa. Namun berkat upaya sejumlah pihak, ketegangan akhirnya bisa diredakan set
BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah

Lebih dari setahun lalu, Thailand dan Kamboja terlibat ketegangan yang dipicu oleh klaim masing-masing pihak akan kepemilikan kuil Preah Vihear di perbatasan kedua negara. Candi berusia delapan abad itu memicu ketegangan setelah UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia. Tentara kedua negara di perbatasan bahkan sempat terlibat aksi saling tembak yang menjatuhkan korban jiwa. Namun berkat upaya sejumlah pihak, ketegangan akhirnya bisa diredakan set

More info:

Published by: rizky novid hermansyah on Mar 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah

Lebih dari setahun lalu, Thailand dan Kamboja terlibat ketegangan yang dipicu oleh klaim masing-masing pihak akan kepemilikan kuil Preah Vihear di perbatasan kedua negara. Candi berusia delapan abad itu memicu ketegangan setelah UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia. Tentara kedua negara di perbatasan bahkan sempat terlibat aksi saling tembak yang menjatuhkan korban jiwa. Namun berkat upaya sejumlah pihak, ketegangan akhirnya bisa diredakan setelah Thailand mengakui bahwa kuil itu memang masuk dalam bagian wilayah Kamboja.

Ketenangan dalam hubungan kedua negara bertetangga di Asia Tenggara ini tak berlangsung lama. Beberapa hari terakhir, kedua negara kembali terlibat ketegangan setelah Perdana Menteri Kamboja Hun Sen melantik mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra sebagai penasehat seniornya di bidang ekonomi. Bangkok merasa berhak mempersoalkan keputusan itu mengingat Thaksin dianggap buron yang lari dari jeratan hukum. Aksi saling tarik duta besar pun terjadi. Thailand memprotes sikap Kamboja dengan memanggil pulang duta besarnya dari negara itu. Tindakan serupa juga dilakukan Kamboja. Terdengar kabar bahwa Thailand kemungkinan akan meninjau ulang seluruh kesepakatan kerjasama dengan Kamboja. Tak hanya itu, Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva bahkan mengancam akan memutuskan hubungan

dengan Kamboja lantaran Phnom Penh telah melakukan intervensi dalam urusan internalnya. Jika di Bangkok kebijakan Hun Sen itu dipandang sebagai campur tangan dan pelecehan, di Phnom Penh justeru Hun Sen didukung. Alasannya, terlepas dari siapa Thaksin dan vonis pengadilan Thailand terhadapnya, secara prinsip memanfaatkan kebolehan dan keahlian seseorang bukan tindakan yang patut dipersalahkan. Tak ada yang memungkiri kepandaian Tahksin Shinawatra dalam soal ekonomi. Karena itu, pemerintah Phnom Penh ingin memanfaatkan kebolehan mantan Perdana Menteri Thailand itu untuk memajukan perekonomian Kamboja. Di mata Kamboja, kemarahan Thailand jelas tak beralasan. Terbukti bahwa Jepang juga pernah melontarkan ide mengundang Thaksin mengajar di perguruan tinggi negara itu. Bagaimanapun juga, keputusan pemerintah Kamboja bisa diartikan sebagai sikap mbalelo dari negara itu terhadap Thailand. Sebab, Thaksin adalah buronan yang harus menjalani hukuman di Thailand.

BAB II Konflik Bersenjata Thailand dan Kamboja, Sebuah Pembuktian

1.2 Realisme dalam Hubungan Internasional

Thailand dan Kamboja. Kedua negara ini awalnya merupakan dua negara Asia Tenggara yang memiliki hubungan yang baik. Keduanya sangat jarang terlibat pertikaian. Hal ini mungkin dikarenakan kedua negara tersebut memiliki banyak persamaan. Salah satu persamaan tersebut adalah persamaan agama, yaitu agama Buddha yang merupakan agama mayoritas di kedua negara tersebut1. Persamaan kedua adalah dari sistem pemerintahan mereka, yang sama-sama mengadopsi sistem monarki absolut. Namun hubungan yang baik itu lantas menjadi merenggang selepas konflik Perang Indochina pada 1975, selepas Perang Indochina tersebut hubungan kedua negara terus-menerus merenggang. Memburuknya hubungan Thailand dan Kamboja diperparah dengan konflik antara keduanya yang semakin memanas belakangan ini. Permasalahannya terletak pada satu tempat : Kuil Preah Vihear. Sebuah kuil berusia kurang-lebih 900 tahun tersebut kini sedang ramai-ramainya diperbincangkan. Penyebabnya adalah karena wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar kuil tersebut kini sedang diperebutkan dua negara ASEAN, Thailand dan Kamboja. Kedua negara itu sama-sama mengklaim wilayah tersebut sebagai wilayahnya, dan kedua negara tersebut sama-sama berpendapat penempatan tentara dari negara lainnya di wilayah tersebut merupakan bukti pelanggaran kedaulatan nasional mereka. Juli 2008 lalu,

kedua negara yang bertikai tersebut sama-sama menempatkan tentaranya yang keseluruhannya berjumlah lebih dari 4000 pasukan di kawasan Kuil Preah Vihear tersebut. Sebenarnya sejak dahulu, wilayah seluas 4,6 km2 ini memang sudah menjadi perdebatan. Akan tetapi, perdebatan semakin memanas sejak dikeluarkannya keputusan UNESCO yang memasukkan kuil itu ke dalam daftar warisan sejarah dunia. Keputusan UNESCO ini kemudian mengundang dua reaksi berbeda, reaksi gembira dari rakyat Kamboja, serta reaksi negatif dari rakyat Thailand. Sebenarnya, masalah kepemilikan kuil tersebut sudah diatur oleh Mahkamah Internasional tahun 1962, yang menyatakan kuil tersebut adalah milik rakyat Kamboja namun yang menjadi masalah di sini adalah wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar kuil tersebut yang tidak dijelaskan kepemilikannya oleh Mahkamah Internasional. Masalah kepemilikan yang tidak jelas inilah yang menyebabkan terjadinya sengketa yang kemudian berlanjut dengan konflik bersenjata di wilayah itu. Konflik bersenjata yang terjadi pada tanggal 15 Oktober yang lalu tersebut dikabarkan telah menewaskan tiga tentara Kamboja dan membuat empat tentara Thailand luka-luka. Hal ini tentu membuat warga Kamboja berang. Kemarahan warga Kamboja itu
menyebabkan kedutaan Thailand dan beberapa usaha milik warga Thailand dibakar dan dijarah2 di Phnom Penh. Perdebatan mengenai wilayah sekitar Kuil Preah Vihear itu sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Perdebatan ini muncul karena Kamboja, sebagai negara bekas jajahan Perancis, dan Thailand menggunakan peta berbeda yang menunjukkan teritori masingmasing negara. Dan karena peta yang digunakan kedua negara tersebut berbeda (Kamboja menggunakan peta dari mantan penjajahnya, Perancis sementara Thailand menggunakan petanya sendiri), tentu saja banyak terjadi salah penafsiran mengenai besar wilayah masing-masing. Salah satu wilayah yang disalahtafsirkan itu adalah wilayah seluas 4,6

km2 di sekitar Kuil Preah Vihear tersebut. Dan apabila, misalnya klaim Kamboja tentang wilayah 4,6 km2 ini lantas dikabulkan Thailand, Thailand khawatir Kamboja akan semakin merajalela dan mencaplok pula wilayah-wilayah lain yang juga disalahtafsirkan. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Karena itu, tidak heran wilayah yang hanya seluas 4,6 km2 itu begitu diperebutkan, baik oleh Kamboja maupun Thailand. Akan tetapi, sebenarnya ada satu masalah lagi yang mendorong Kamboja maupun Thailand untuk memiliki wilayah sekitar Kuil Preah Vihear tersebut. Alasan tersebut adalah karena wilayah sekitar Kuil Preah Vihear adalah wilayah yang kaya akan sumber daya mineral—minyak bumi dan gas alam. Kepemilikan akan wilayah sekitar Kuil Preah Vihear itu berarti akan menjamin terpenuhinya kebutuhan energi negara pemiliknya, juga sekaligus akan meningkatkan pemasukan negara tersebut dari sisi penjualan sumber energi. Hal ini menambah alasan mengapa wilayah sekitar Kuil Preah Vihear merupakan wilayah yang layak untuk diperebutkan, baik oleh Thailand dan Kamboja. Mengenai perkembangan hubungan Thailand dan Kamboja sekarang, hubungan kedua negara tersebut sudah tidak sehangat 15 Oktober lalu. Akan tetapi harus diakui hubungan antar keduanya masih tegang. Walaupun usul untuk mengadakan pertemuan antara kedua belah pihak yang bertikai tersebut telah disetujui oleh wakil Thailand dan Kamboja, namun hingga kini Thailand dan Kamboja belum bertemu secara langsung untuk menyelesaikan konflik perebutan wilayah sekitar Kuil Preah Vihear tersebut. Menanggapi konflik yang terjadi antara Thailand-Kamboja tersebut, realisme sebagai perspektif tertua dalam ilmu hubungan internasional menjelaskan berbagai asumsi dasarnya dan hubungannya dengan konflik Thailand-Kamboja. Asumsi dasar realis yang pertama, dan yang paling utama adalah bahwa negara dipandang sebagai satu-satunya aktor utama dalam ilmu hubungan internasional, realis memandang bahwa aktor yang paling berpengaruh dan paling penting dalam ilmu hubungan internasional adalah negara. Dalam konflik Thailand-Kamboja, pentingnya peran negara sebagai aktor utama dalam

hubungan internasional sangat terasa. Hal ini dibuktikan dengan tidak signifikannya peran aktor lain, selain negara dalam konflik Thailand-Kamboja ini. Semisal, keberadaan Organisasi Internasional seperti PBB ataupun ASEAN, yang ternyata tidak mampu memberi signifikansinya dalam penyelesaian masalah konflik bersenjata ThailandKamboja. Masalah Thailand-Kamboja tersebut hanya akan dan mungkin dapat diselesaikan bila negara-negara yang berkonflik, dalam hal ini Thailand dan Kamboja bersedia untuk berdamai; yang sayangnya dalam kasus ini belum terlaksana. Asumsi kedua kaum realis yang terbukti dalam kasus ini adalah bahwa hubungan antar negara adalah hubungan yang bersifat konfliktual dan konflik tersebut pada akhirnya harus diselesaikan melalui perang. Thailand dan Kamboja yang pada awalnya berhubungan baik, pada akhirnya juga akan berkonflik, seperti asumsi kaum realis. Realis memandang setiap hubungan antar negara pastilah mendatangkan konflik, karena dalam hubungannya tiap-tiap negara pasti akan mencari dan melakukan upaya-upaya sehubungan pemenuhan keinginan dan kepentingan nasional, sementara kepentingan nasional tiap negara tentulah berbeda-beda. Hal inilah yang menyebabkan akan mudah sekali terjadi benturan-benturan kepentingan dalam hubungan antar negara, yang pada akhirnya akan berbuntut pada timbulnya konflik antar negara. Dan realis memandang, satu-satunya jalan bagi penyelesaian itu adalah perang, di mana pihak yang kuat kemudian akan mengalahkan pihak yang lemah, dan pihak yang kalah kemudian akan melakukan apa yang diinginkan pihak pemenang perang. Konflik perebutan wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar Kuil Preah Vihear antar Thailand-Kamboja kini sudah dapat dikatakan mencapai tahap perang, yang terjadi dengan adanya gencatan senjata yang kemudian menimbulkan tewasnya tiga korban dari tentara Kamboja. Perang ini, menurut realis, dapat dianggap sebagai jalan bagi penyelesaian konflik Thailand-Kamboja, atau dapat juga dianggap sebagai awal dari sebuah jalan panjang menuju terciptanya penyelesaian konflik Thailand-Kamboja.

Asumsi dasar realis ketiga yang terbukti relevan digunakan dalam menganalisa konflik bersenjata Thailand-Kamboja adalah bahwa (dalam hubungan internasional) ada konflik kepentingan yang dalam, baik antar negara maupun antar masyarakat3. Menjelaskan mengenai anggapan kaum realis ini, penulis kembali menyebutkan kepentingan nasional Thailand dan Kamboja dalam wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar Kuil Preah Vihear itu, yaitu bahwa baik Thailand maupun Kamboja ingin menguasai wilayah yang kaya akan sumber daya energi tersebut. Penguasaan akan wilayah yang menghasilkan minyak bumi dan gas alam4 tersebut merupakan unsur yang sangat penting bagi pemenuhan power Thailand ataupun Kamboja, yang dapat dikatakan belum memiliki power yang terlalu besar. Kepemilikan akan sumber energi—terutama di masa-masa di mana energi dipandang sebagai sesuatu yang langka dan diperjuangkan oleh setiap negara seperti sekarang—merupakan hal yang dapat menaikkan bargaining position/posisi tawar suatu negara dalam dunia internasional, yang kemudian akan meningkatkan power suatu negara. Kepemilikan sumber energi tersebut juga kemudian akan membawa angin segar bagi perekonomian negara (dalam hal ini bagi Thailand atau Kamboja, tergantung wilayah itu akan jatuh ke tangan siapa), karena setiap negara akan berebut untuk membeli energi dari negara pemilik sumber energi tersebut. Penaikkan bargaining position yang kemudian berdampak pada peningkatan power yang dimiliki, serta kemajuan dalam bidang ekonomi; ketiga-tiganya merupakan unsur yang penting untuk mencapai kepentingan nasional setiap negara, dan ketiga unsur tersebut akan dapat dicapai dengan penguasaan wilayah seluas 4,6 km2 di sekitar Kuil Preah Vihear. Karena itu, tidak heran wilayah tersebut begitu diperebutkan Thailand dan Kamboja—karena wilayah tersebut sangat krusial perannya dalam upaya pencapaian kepentingan nasional kedua negara.

1.3

MASALAH DAN SOLUSI

Penulis berpendapat perspektif realisme sangat tepat jika digunakan untuk menganalisa kasus konflik bersenjata Thailand-Kamboja, berdasarkan asumsi dasar realis bahwa dalam interaksi internasional antar negara, suatu konflik pasti terjadi. Konflik itu mutlak dan pasti ada dalam hubungan antar negara, karena setiap negara akan terus memperjuangkan kepentingan nasionalnya masing-masing tanpa peduli pada negara lain, inilah yang menyebabkan pandangan kaum realis sering dikatakan amoral—seperti pandangan Joseph Frankel yang mengatakan bahwa kaum realis cenderung menolak nilai moral universal, dan sebaliknya bertindak berdasarkan kepentingan diri dan lebih mementingkan kekuasaan/power daripada keadilan. Walaupun terdengar kejam, namun nyatanya hal inilah yang terjadi dalam hubungan antar negara di dunia internasional. Faktanya, negara lebih sering bertindak atas dasar dan dengan pengaruh power6, dan karena itu, hal-hal lain seperti moralitas dan nilai universal seringkali tidak mendapat porsi semestinya dalam hubungan internasional. Penekanan hubungan internasional dalam masalah perolehan dan peningkatan power juga sangat cocok diterapkan dalam konflik bersenjata Thailand-Kamboja, dengan penjelasan yang kurang-lebih mirip dengan penjelasan unsur kepentingan nasional di atas. Untuk menyimpulkan, penulis kembali menyebutkan berbagai asumsi dasar realis yang kemudian telah dibuktikan kebenarannya dalam konflik bersenjata ThailandKamboja ini. Pertama, bahwa negara adalah satu-satunya aktor utama dalam hubungan internasional—yang dibuktikan dengan minimnya peran aktor non negara seperti Organisasi Internasional dalam konflik bersenjata Thailand-Kamboja ini. Kedua, bahwa hubungan antar negara adalah hubungan yang bersifat konfliktual dan konflik antar mereka hanya dapat diselesaikan melalui perang—yang lantas kebenarannya dibuktikan dengan pecahnya konflik bersenjata pada 15 Oktober 2008 lalu yang kemudian menewaskan dua tentara Kamboja sebagai akibat konflik perebutan wilayah yang

berkepanjangan. Ketiga, asumsi bahwa adanya konflik kepentingan yang dalam antar negara dan antar masyarakat—yang kemudian dijelaskan dengan menyebutkan rasa samasama ingin memenuhi kepentingan nasional terkait dengan wilayah kaya minyak bumi dan gas alam yang sedang diperebutkan Thailand dan Kamboja, serta implikasi kepemilikan itu pada bargaining position dan power mereka. Serta keempat, pandangan bahwa kaum realis cenderung menolak nilai moral universal dan lebih mementingkan power daripada keadilan—yang terbukti dengan memburuknya hubungan Thailand dan Kamboja sebagai negara tetangga yang seharusnya menerapkan good neighbour policy, dan sebaliknya mulai saling menggunakan power-nya untuk menekan pihak yang lain. Berbagai asumsi realis di atas terbukti benar dan terjadi dalam konflik bersenjata Thailand-Kamboja, dan asumsi di atas kembali mengingatkan kita pada pandangan kaum realis yang menurut penulis paling mewakili seluruh pandangan lain, yaitu bahwa dalam dunia internasional, konflik merupakan hal yang mutlak dan pasti ada. Dan bahwa hubungan internasional akan selalu berkisar pada usaha saling menjatuhkan antar negara, demi tercapainya national interest masing-masing.

Kamboja
Kerajaan Kamboja adalah sebuah negara berbentuk monarki konstitusional di Asia Tenggara. Negara ini merupakan penerus Kekaisaran Khmer yang pernah menguasai seluruh Semenanjung Indochina antara abad ke-11 dan 14. Kamboja berbatasan dengan Thailand di sebelah barat, Laos di utara, Vietnam di timur, dan Teluk Thailand di selatan. Sungai Mekong dan Danau Tonle Sap melintasi negara ini.

Menjelang kemerdekaannya, Negara Kesatuan Republik Indonesia banyak membantu negara Kamboja ini. Buku - buku taktik perang karangan perwira militer Indonesia banyak digunakan oleh militer Kamboja. Oleh karenanya, para calon perwira di militer Kamboja, wajib belajar dan dapat berbahasa Indonesia.

Sejarah
Perkembangan peradaban Kamboja terjadi pada abad 1 Masehi. Selama abad ke-3,4 dan 5 Masehi, negara Funan dan Chenla bersatu untuk membangun daerah Kamboja. Negara-negara ini mempunyai hubungan dekat dengan China dan India. Kekuasaan dua negara ini runtuh ketika Kerajaan Khmer dibangun dan berkuasa pada abad ke-9 sampai abad ke-13. Kerajaan Khmer masih bertahan hingga abad ke-15. Ibukota Kerajaan Khmer terletak di Angkor, sebuah daerah yang dibangu pada masa kejayaan Khmer. Angkor Wat, yang dibangun juga pada saat itu, menjadi simbol bagi kekuasaan Khmer. Pada tahun 1432, Khmer dikuasai oleh Kerajaan Thai. Dewan Kerajaan Khmer memindahkan ibukota dari Angkor ke Lovek, dimana Kerajaan mendapat keuntungan besar karena Lovek adalah bandar pelabuhan. Pertahanan Khmer di Lovek akhirnya bisa dikuasai oleh Thai dan Vietnam, dan juga berakibat pada hilangnya sebagian besar daerah Khmer. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1594. Selama 3 abad berikutnya, Khmer dikuasai oleh Raja-raja dari Thai dan Vietnam secara bergilir.

Pada tahun 1863, Raja Norodom, yang dilantik oleh Thai, mencari perlindungan kepada Perancis. Pada tahun 1867, Raja Norodom menandatangani perjanjian dengan pihak Perancis yang isinya memberikan hak kontrol provinsi Battambang dan Siem Reap yang menjadi bagian Thai. Akhirnya, kedua daerah ini diberikan pada Kamboja pada tahun 1906 pada perjanjian perbatasan oleh Perancis dan Thai.

Daerah Kamboja dibagi menjadi 20 provinsi (khett) and 4 kota praja (krong). Daerah Kamboja kemudian dibagi menjadi distrik(srok), komunion (khum), distrik besar (khett), and kepulauan(koh). 1. Kota Praja (Krong): o Phnom Penh o Sihanoukville (Kampong Som) o Pailin o Kep 2. Provinsi (Khett): o Banteay Meanchey, Battambang, Kampong Cham, Kampong Chhnang, Kampong Speu, Kampong Thom, Kampot, Kandal, Koh Kong, Kratié, Mondulkiri, Oddar Meancheay, Pursat, Preah Vihear, Prey Veng, Ratanakiri, Siem Reap, Stung Treng, Svay Rieng and Takéo 3. Kepulauan (Koh): o Koh Sess o Koh Polaway o Koh Rong o Koh Thass o Koh Treas o Koh Traolach o Koh Tral o Koh Tang

Geografi
Kamboja mempunyai area seluas 181.035 km2. Berbatasan dengan Thailand di barat dan utara, Laos di timurlaut dan Vietnam di timur dan tenggara. Kenampakan geografis yang menarik di Kamboja ialah adanya dataran lacustrine yang terbentuk akibat banjir di Tonle Sap. Gunung tertinggi di Kamboja adalah Gunung Phnom Aoral yang berketinggian sekitar 1.813 mdpl.

Ekonomi
Perekonomian Kamboja sempat turun pada masa Republik Demokratik berkuasa. Tapi, pada tahun 1990-an, Kamboja menunjukkan kemajuan ekonomi yang membanggakan. --202.151.10.162 10:22, 3 Februari 2010 (UTC)<nowiki>Teks ini tidak akan diformat<nowiki>Teks ini tidak akan diformatTeks ini tidak akan diformat</nowiki></nowiki> Kamboja memiliki industri unggulan yaitu pertanian dan turisme.

Budaya

Budaya di Kamboja sangatlah dipengaruhi oleh agama Buddha Theravada. Diantaranya dengan dibangunnya Angkor Wat. Kamboja juga memiliki atraksi budaya yang lain, seperti, Festival Bonn OmTeuk, yaitu festival balap perahu nasional yang diadakan setiap November. Rakyat Kamboja juga menyukai sepak bola

Thailand
Kerajaan Thailand (nama resmi: ราชอาณาจักรไทย Ratcha Anachak Thai; juga Prathēt Thai), kadangkala juga disebut Mueang Taek, adalah sebuah negara di Asia Tenggara yang berbatasan dengan Laos dan Kamboja di timur, Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dan Myanmar dan Laut Andaman di barat. Thailand dahulu dikenal sebagai Siam sampai tanggal 11 Mei 1949. Kata "Thai" (ไทย) berarti "kebebasan" dalam bahasa Thailand, namun juga dapat merujuk kepada suku Taek, sehingga menyebabkan nama Siam masih digunakan di kalangan orang Thai terutama kaum minoritas Tionghoa.

Sejarah
Asal mula Thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, Kerajaan Sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kebudayaan Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun meskipun mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa, meski pengaruh Barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang Britania.

Ekonomi
Setelah menikmati rata-rata pertumbuhan tertinggi di dunia dari tahun 1985 hingga 1995 - rata-rata 9% per tahun - tekanan spekulatif yang meningkat terhadap mata uang Thailand, Baht, pada tahun 1997 menyebabkan terjadinya krisis yang membuka kelemahan sektor keuangan dan memaksa pemerintah untuk mengambangkan Baht. Setelah sekian lama dipatok pada nilai 25 Baht untuk satu dolar AS, Baht mencapai titik terendahnya pada kisaran 56 Baht pada Januari 1998 dan ekonominya melemah sebesar 10,2% pada tahun yang sama. Krisis ini kemudian meluas ke krisis finansial Asia. Thailand memasuki babak pemulihan pada tahun 1999; ekonominya menguat 4,2% dan tumbuh 4,4% pada tahun 2000, kebanyakan merupakan hasil dari ekspor yang kuat - yang meningkat sekitar 20% pada tahun 2000. Pertumbuhan sempat diperlambat ekonomi dunia yang melunak pada tahun 2001, namun kembali menguat pada tahun-tahun berikut berkat pertumbuhan yang kuat di RRC dan beberapa program stimulan dalam negeri serta Kebijakan Dua Jalur yang ditempuh pemerintah Thaksin Shinawatra. Pertumbuhan pada tahun 2003 diperkirakan mencapai 6,3%, dan diperkirakan pada 8% dan 10% pada tahun 2004 dan 2005. Sektor pariwisata menyumbang banyak kepada ekonomi Thailand, dan industri ini memperoleh keuntungan tambahan dari melemahnya Baht dan stabilitas Thailand. Kedatangan wisatawan pada tahun 2002 (10,9 juta) mencerminkan kenaikan sebesar 7,3% dari tahun sebelumnya (10,1 juta).

Provinsi

Utara
• • •

Chiang Mai Chiang Rai Kamphaeng Phet

• • • • • • •

Lampang Lamphun Mae Hong Son Nakhon Sawan Nan Phayao Phetchabun

• • • • • • •

Phichit Phitsanulok Phrae Sukhothai Tak Uthai Thani Uttaradit

Timur
• • • • • • •

Chachoengsao Chanthaburi Chonburi Rayong Prachinburi Srakaeo Trat
• • • • • •

Selatan
• • • • • • • •

Chumphon Krabi Nakhon Si Thammarat Narathiwat Pattani Phang Nga Phattalung Phuket

Ranong Satun Songkhla Surat Thani Trang Yala

Timur Laut
• • • • • • • • • •

Amnat Charoen Buriram Chaiyaphum Kalasin Khon Kaen Loei Maha Sarakham Mukdahan Nakhon Phanom Nakhon Ratchasima

• • • • • • • • •

Nongbua Lamphu Nong Khai Roi Et Sakhon Nakhon Sisaket Surin Ubon Ratchathani Udon Thani Yasothon

Tengah
• • • •

Ang Thong Ayutthaya Bangkok Chainat

• • • • • •

Kanchanaburi Lopburi Nakhon Nayok Nakhon Pathom Nonthaburi Pathumthani

• • • • • •

Phetchaburi Prachuap Khiri Khan Ratchaburi Samut Prakan Samut Sakhon Samut Songkhram

• • •

Saraburi Sing Buri Suphanburi

Geografi
Thailand merupakan tempat terletaknya beberapa wilayah geografis yang berbeda. Di sebelah utara, keadaannya bergunung-gunung, dan titik tertingginya berada di Doi Inthanon (2.576 m). Sebelah timur laut terdiri dari Hamparan Khorat, yang dibatasi di timur oleh sungai Mekong. Wilayah tengah negara didominasi lembah sungai Chao Phraya yang hampir seluruhnya datar, dan mengalir ke Teluk Thailand. Di sebelah selatan terdapat Tanah Genting Kra yang melebar ke Semenanjung Melayu.

Cuaca setempat adalah tropis dan bercirikan monsun. Ada monsun hujan, hangat dan berawan dari sebelah barat daya antara pertengahan Mei dan September, serta monsun yang kering dan sejuk dari sebelah timur laut dari November hingga pertengahan Maret. Tanah genting di sebelah selatan selalu panas dan lembab. Kotakota besar selain ibu kota Bangkok termasuk Nakhon Ratchasima, Nakhon Sawan, Chiang Mai, dan Songkhla. Thailand berbatasan dengan Laos dan Myanmar di sebelah utara, dengan Malaysia dan Teluk Siam di selatan, dengan Myanmar dan Laut Timur di barat dan dengan Laos dan Kamboja di timur. Koordinat geografisnya adalah 5°-21° LU dan 97°-106° BT

Demografi
Populasi Thailand didominasi etnis Thai dan Lao, yang berjumlah 3/4 dari seluruh penduduk. Selain itu juga terdapat komunitas besar etnis Tionghoa yang secara sejarah memegang peranan yang besar dalam bidang ekonomi. Etnis lainnya termasuk etnis Melayu di selatan, Mon, Khmer dan berbagai suku orang bukit. Sekitar 95% penduduk Thailand adalah pemeluk agama Buddha aliran Theravada, namun ada minoritas kecil pemeluk agama Islam, Kristen dan Hindu. Bahasa Thailand merupakan bahasa nasional Thailand, yang ditulis menggunakan aksaranya sendiri, tetapi ada banyak juga bahasa daerah lainnya. Bahasa Inggris juga diajarkan secara luas di sekolah.

Budaya
Muay Thai, sejenis kickboxing ala Thailand, adalah olahraga nasional di Thailand dan merupakan seni beladiri setempat. Popularitasnya memuncak di seluruh dunia pada tahun 1990-an. Ada pula seni beladiri yang mirip dengan muay Thai di negara-negara lain di Asia Tenggara. Ucapan penyambutan yang umum di Thailand adalah isyarat bernama wai, yang gerakannya mirip dengan gerakan sembahyang. Hal-hal yang tabu dilakukan di antaranya menyentuh kepala seseorang dan menunjuk dengan kaki, karena kepala dan kaki masing-masing merupakan bagian tubuh yang paling atas dan bawah. Masakan Thailand mencampurkan empat macam rasa yang dasar: manis, pedas, asam dan asin.

1.4

Akankah ASEAN Charter Berhasil: Refleksi Melalui Konflik

Thailand-Kamboja

Perkembangan terakhir konflik Kamboja-Thailand adalah sikap Thailand yang menolak intervensi pihak ketiga, dalam hal ini ASEAN, di dalam penyelesaian konflik perbatasan. Sikap Thailand ini dapat memberikan gambaran apa yang sesungguhnya terjadi di kawasan Asia Tenggara, khususnya di dalam tubuh negara-negara anggota ASEAN. Dimana pada akhirnya fenomena tersebut dapat menjelaskan mengapa upaya kerjasama ASEAN yang lebih erat sulit untuk dijalankan.

Perspektif-Perspektif Dominan di dalam Hubungan Internasional

Pola interaksi sebuah negara ditentukan oleh bagaimana cara pandang negara tersebut dalam melihat sistem internasional. Ini artinya, bagaimana sebuah negara bertindak ditentukan oleh perspektif apa yang digunakan oleh negara tersebut untuk memandang atau menilai dinamika internasional yang berkembang. Dimana pada akhirnya, hasil penilaian tersebut akan diimplementasikan oleh negara dalam bentuk kebijakan luar negeri.

Di dalam Ilmu Hubungan Internasional dikenal 2 perspektif dominan yang mempengaruhi negara dalam menyusun kebijakan luar negerinya. Kedua perspektif ini memiliki pandangan yang saling bertolak belakang satu sama lain.

Perspektif pertama adalah Perspektif Realis. Perspektif ini menyatakan bahwa 1) state of nature dari sistem internasional adalah anarki atau tidak adanya satu otoritas pun yang mampu mengatur negara negara dan memiliki kedudukan di atas negara; 2) Dengan demikian negara memiliki kedaulatan mutlak di dalam sistem internasional; 3) Pendekatan militer merupakan metode penyelesaian utama di dalam setiap konflik yang terjadi, dan; 4) Persepektif Realis tidak mempercayai kerjasama internasional.

Perspektif kedua adalah Perspektif Liberalis. Berbeda dengan Realisme, Liberalisme menyatakan bahwa

1) di dalam sistem internasional terdapat norma dan hukum yang mengatur aktivitas negara-negara; 2) Dialog atau diplomasi merupakan metode penyelesaian konflik yang utama, dan; 3) Perspektif Liberalis mempercayai bahwa kerjasama internasional memberikan hasil yang positif bagi negara dan sistem internasional.

Konflik Thailand-Kamboja dan ASEAN Charter

Perkembangan terakhir dari konflik Thailand-Kamboja adalah penolakan Thailand bagi keterlibatan pihak ketiga di dalam penyelasaian konflik. Thailand menginginkan konflik diselesaikan secara bilateral antara Thailand dan Kamboja saja. Tidak dapat disangkal kebijakan Thailand ini bersumber dari pandangannya bahwa keterlibatan pihak ketiga akan mengancam kedaulatan Thailand sebagai sebuah negara.

Melalui sikap Thailand tersebut dapat dilihat perspektif apa yang digunakan oleh Thailand dalam menyusun kebijakan luar negerinya, yaitu perspektif realis yang menempatkan kedaulatan sebagai hak mutlak sebuah negara dimana keterlibatan pihak lain dalam penyelesaian masalah dianggap sebagai ancaman atas kedaulatan negara. Diantara negara-negara ASEAN, Thailand bukanlah negara satu-satunya yang menggunakan Realisme sebagai perspektif luar negerinya, melainkan seluruh negara anggota ASEAN. Realisme merupakan perspektif dominan yang digunakan oleh negara-negara anggota ASEAN dalam menyusun kebijakan luar negerinya. Hal

ini dapat dilihat dari kesepakatan negara-negara anggota menerapkan prinsip nonintervensi di dalam mekanisme kerjasama ASEAN. ASEAN tidak diperbolehkan ikut campur di dalam penyelesaian masalah (konflik) yang dihadapi oleh negara-negara anggotanya. Campur tangan ASEAN dipandang sebagai campur tangan pihak ketiga yang mengancam kedaulatan negara. Salah satu mimpi besar ASEAN saat ini adalah mewujudkan regionalisme di kawasan Asia Tenggara. Upaya ini salah satunya dilakukan dengan menyusun Piagam ASEAN (ASEAN Charter) yang akan digunakan sebagai landasan penyatuan kerjasama ASEAN yang lebih erat. Jika kita berbicara mengenai kerjasama multilateral ataupun regionalisme maka hal itu pasti erat kaitannya dengan perspektif Liberalis yang mengakui keberadaan kerjasama internasional dan memandang bahwa kerjasama internasional akan memberikan sumbangan positif bagi negara. Dengan kata lain, kerjasama multilateral/regionalisme merupakan produk dari perspektif Liberalis.

Pandangan liberalis ini bertolak belakang dengan pandangan Realis yang melihat sebaliknya. Bagi realisme, kerjasama internasional, apapun bentuknya, tidak akan memberikan keuntungan bagi sebuah negara dan juga tidak akan memberikan sumbangan apapun bagi sistem internasional karena di dalam sistem internasional yang anarki, prinsip yang berlaku adalah self help, yaitu setiap negara hanya akan mementingkan dirinya masing-masing dan berbagai hal hanya dapat diusahakan oleh negara bersangkutan itu sendiri. Dengan kata lain, bagi perspektif Realis, kerjasama multilateral/regionalisme dilihat sebagai ancaman dibandingkan peluang.

Indonesia Dorong Thailand-Kamboja Selesaikan Konflik Secara Dwipihak Singapura ( Berita ) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai masih ada peluang bagi Thailand dan Kamboja untuk menyelesaikan masalah sengketa berbatasan kedua negara secara dwipihak. Kepala Negara mengatakan bahwa ia melakukan pertemuan dwipihak dengan Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva dan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen secara berturut-turut di sela-sela pertemuan puncak APEC ke-17 di Singapura selama masing-masing 30 menit sehingga banyak pihak menduga Indonesia menjadi mediator dalam sengketa perbatasan itu. Dwipihak Presiden mengatakan bahwa ia menyampaikan kepada dua pemimpin ASEAN itu untuk menyelesaikan permasalahan itu secara dwipihak. Kepala Negara bertemu dengan kedua pemimpin ASEAN itu sebagai seorang saudara sesama ASEAN sehingga dapat bertukar pikiran dari hati ke hati. Lebih bagus selesai secara bilateral tanpa harus dibawa ke forum ASEAN apalagi diinternasionalisasikan. Itu tidak baik bagi keluarga besar ASEAN. Menurut Presiden Yudhoyono, pertemuan tersebut berlangsung dengan baik, apalagi kedua kepala pemerintahan menyatakan ingin menyelesaikan permasalahannya secara dwipihak. Pertikaian antara Kamboja dan Thailand –kedua negara yang berbatasan darat– berpusat pada semak belukar seluas 4,6 km persegi di dekat kuil kuno berusia 900 tahun, Preah Vihear, di hutan tebing curam yang memisahkan kedua negara.

Kedua negara sudah terlibat pertikaian sejak berabad-abad lalu ketika kerajaan Thailand dan Khmer saling berperang memperebutkan wilayah dan kekuasaan. Pada tahun 1962, pengadilan internasional memutuskan Kamboja sebagai pemilik candi itu, namun tanah yang mengelilinginya masih menjadi wilayah yang diperebutkan. Keputusan PBB memasukkan Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO menghidupkan kembali ketegangan atas masalah itu. Ketegangan makin meningkat awal Juli 2008 ketika tentara Kamboja menahan tiga pengunjuk rasa Thailand yang masuk ke situs itu tanpa izin. Hal itu diikuti dengan penempatan militer masing-masing negara di sekitar kuil itu. Sekalipun kedua kubu sudah melakukan serangkaian putaran perundingan atas masalah itu, ternyata hingga kini mereka gagal mencapai kesepakatan. Bahkan tentara dari kedua negara telah beberapa kali melakukan baku tembak sehingga jatuh korban jiwa. Tahun 2003, Kedutaan Besar Thailand di Phnom Penh dibakar para perusuh yang marah karena komentar yang diduga dikeluarkan oleh seorang artis Thailand bahwa kompleks candi Angkor Wat harus dikembalikan ke Thailand. Pekan lalu ketegangan antara kedua negara memburuk, dimana masing-masing negara menarik pulang duta besarnya karena keputusan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menunjuk mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra sebagai penasihat ekonominya. Kamboja kemudian menolak permintaan Thailand untuk mengekstradisi Thaksin Shinawatra, sehingga memperkeruh sengketa kasus pengangkatan Phnom Penh atas pengusaha besar itu, yang ditumbangkan dalam kudeta 2006 dan kini

tinggal di pengasingan untuk menghindari hukuman penjara karena kasus korupsi. Thaksin dan Hun Sen bersahabat cukup erat selama beberapa tahun dan juga terkadang bermain golf bersama. ( ant )

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

Dengan perbedaan pandangan yang sedemikian jauh sangat sulit dibayangkan bahwa negara-negara yang mengadopsi prinsip-prinsip realis dapat membangun dan menjalin kerjasama yang erat di antara mereka. Namun kondisi inilah yang terjadi di Asia Tenggara. Dengan fakta yang demikian sangat sulit mengharapkan kerjasama yang lebih erat akan tercapai di antara negara-negara anggota ASEAN sekalipun Piagam ASEAN telah diberlakukan. Piagam ASEAN yang berciri liberalis akan selalu berbenturan dengan kebijakan negara-negara anggotanya yang bercirikan realis.

Dengan demikian upaya selanjutnya yang harus menjadi prioritas ASEAN, setelah menyusun Piagam ASEAN, adalah membongkar pola pikir negara-negara anggotanya untuk lebih liberalis sehingga mau melepaskan sebagian kedaulatannya kepada entitas yang lebih tinggi (ASEAN) dan menjalin kerjasama yang lebih erat diantara negara-negara anggota.

DAFTAR REFERENSI
Archer, Clive. International Organizations. London : Routledge, 2000. Frankel, Benjamin. Roots of Realism. London: Frank Cass and Company, 1996. Jackson, Robert dan Georg Sorensen. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999. Rujukan dari internet : Brady, Brendan and Thet Sambath. Preah Vihear and Oil. http://preahvihear.com/?p=6, diakses pada 28 Oktober 2008, pukul 03.30. Manangka, Derek. Bara Dendam Thailand-Kamboja, Konflik Thailand dan Kamboja (1). http://www.inilah.com/berita/politik/2008/10/18/55775/bara-dendam-thailand-kamboja/, diakses pada 27 Oktober 2008, pukul 15.05. 400-an Warga Thailand Tinggalkan Kamboja. http://www.inilah.com/berita/politik/2008/10/16/55350 /400-an-warga-thailandtinggalkan-kamboja/, diakses pada 27 Oktober 2008, pukul 15.19. Bentrok, Anggaran Militer Kamboja Ditingkatkan. http://www.inilah.com/berita/politik/2008 /10/17/55545/bentrok-anggaran-militerkamboja-ditingkatkan/, diakses pada 28 Oktober 2008, pukul 06.20. Oil and Gas Resources. http://www.moc.gov.kh/national_data_resource/ Mine%20And %20Energy%20Resources/Oil%20and%20Gas%20Resources.html, diakses pada 28 Oktober 2008, pukul 06.20. Preah Vihear for Koh Kong and Natural Gas / Oil.http://antithaksin.wordpress.com/2008/10 /16/preah-vihear-for-koh-kong-andnatuaral-gasoil/, diakses pada 28 Oktober 2008, pukul 06.20.

MAKALAH
KELOMPOK TENTANG KONFLIK THAILAND KAMBOJA

OLEH :

RIZKY NOVID H

90801/2007

PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->