P. 1
Analisis Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Dalam Kasus Tindak Pidana Perlindungan Konsumen

Analisis Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Dalam Kasus Tindak Pidana Perlindungan Konsumen

|Views: 6,652|Likes:
Published by HANDIK ZUSEN
Tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Hukum Pidana Tertentu
Tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Hukum Pidana Tertentu

More info:

Published by: HANDIK ZUSEN on Mar 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/26/2013

pdf

text

original

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM PERKARA TINDAK PIDANA PERLINDUNGAN KONSUMEN

(Studi Kasus Perdagangan Handphone Merek Nokia BM (Black Market) oleh Tersangka Ahmad Firdiansyah)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengaruh globalisasi dalam dunia bisnis tidak selalu membawa dampak positif namun juga terdapat dampak negatif, khususnya terkait dengan maraknya upaya penyelundupan suatu komoditi tertentu dari suatu negara ke negara lainnya. Sebagaimana pula yang terjadi di Indonesia, penyelundupan barangbarang elektronik dari luar Indonesia pun tidak terhindarkan hingga lolos masuk ke dalam Indonesia dan sampai di tangan para konsumen akhir, artinya barangbarang elektronik tersebut telah melalui serangkaian proses distribusi mulai dari pihak produsen di luar negeri, kemudian melalui tangan pihak ”importir nakal” di Indonesia dan selanjutnya terdistribusikan kepada para pedagang di bawahnya, baik pedagang dengan kapasitas distributor maupun sampai pada pedagang yang kapasitasnya sebagai pengecer hingga sampai di tangan konsumen terakhir. Tentunya barang-barang elektronik tersebut-yang masuk Indonesia melalui penyelundupan-adalah barang-barang elektronik yang tidak memenuhi persyaratan, baik secara teknis maupun administratif serta hukum, untuk dapat masuk secara resmi ke Indonesia. Barang elektronik yang marak diselundupkan ke Indonesia antara lain adalah produk-produk berupa handphone, lap top dan kamera digital. Pusat perdagangan barang-barang dimaksud dapat secara mudah didapatkan di sentra-sentra perdagangan barang elektronik di beberapa kota besar di Indonesia, antara lain di Glodok-Jakarta, WTC-Surabaya, dll.

2

Dalam paper ini selanjutnya akan dilakukan analisis terkait dengan pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana perlindungan konsumen berupa perdagangan handphone yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh ketentuan yang berlaku di wilayah negara Indonesia atau lebih dikenal dalam masyarakat dengan istilah sebagai handphone BM (Black Market) karena tidak dilengkapi dengan garansi yang sah dari produsen resminya, begitu juga terkait dengan berbagai asesorisnya yang tidak semuanya original atau merupakan produk resmi dari produsen handphone tersebut namun merupakan asesoris ”aspal” (asli tapi palsu) artinya bahwa memang asesoris seperti baterai, chasing dll menggunakan merek yang sama dengan merek handphone tersebut namun bukan merupakan produk resmi dari produsen merek handphone tersebut. Kasus yang akan digunakan sebagai bahan studi dalam paper ini adalah kasus tindak pidana perdagangan handphone BM oleh Tersangka Ahmad Firdiansyah yang penyidikannya dilakukan oleh penyidik Subbag Reskrim Polwil Malang. Dalam perkara dimaksud sebenarnya terjadi dua kategori tindak pidana secara bersamaan (concursus idealis), yaitu tindak pidana perlindungan konsumen (vide UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen) dan tindak pidana di bidang telekomunikasi (vide UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi), namun dalam pembahasan tentang pertanggungjawaban pidana korporasi atas perkara dimaksud, penulis hanya akan melakukan analisis terhadap pertanggungjawaban Konsumen telah pidana korporasi dalam tindak pidana tentang perlindungan konsumen dikarenakan dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan menganut ajaran atau doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi, sedangkan di dalam UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi belum mengakomodir pertanggungjawaban pidana korporasi. B. Permasalahan Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam paper ini yaitu :

3

”Bagaimana pertanggungjawaban pidana korporasi dalam kasus perlindungan konsumen dengan studi kasus perdagangan handphone BM oleh Tersangka Ahmad Firdiansyah ?”

C. Persoalan a. Bagaimana doktrin-doktrin hukum yang terdapat dalam

pertanggungjawaban pidana korporasi ? b. Bagaimana posisi kasus perdagangan handphone BM oleh Tersangka Ahmad Firdiansyah ? c. Bagaimana pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana perlindungan konsumen pada kasus perdagangan handphone BM oleh Tersangka Ahmad Firdiansyah ? II. Pembahasan A. Doktrin-Doktrin dalam Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Pemikiran tentang pertanggungjawaban pidana yang semula hanya berorientasi kepada mekanisme pembebanan tanggung jawab pidana hanya kepada manusia telah mengalami pergeseran seiring dengan kemajuan peradaban manusia. Hal tersebut terjadi karena adanya fenomena-fenomena tertentu dalam proses penegakan hukum, yaitu berupa tidak terjangkaunya subyek hukum selain manusia untuk dikenai suatu pertanggungjawaban pidana, padahal faktanya subyek hukum tersebut memiliki andil dalam terjadinya tindak pidana dimaksud. Sebagai contohnya, ketika salah satu pengemudi bus dari suatu perusahaan jasa transportasi tertentu mengalami kecelakaan dan menyebabkan para penumpang dalam bus tersebut mengalami luka berat bahkan meninggal dunia, ternyata setelah dilakukan penyelidikan dan penyidikan oleh petugas unit kecelakaan lalu-lintas (laka lantas) dari kesatuan Polri setempat didapati faktafakta bahwa kecelakaan tersebut diakibatkan kondisi kendaraan bus tersebut yang tidak layak jalan, antara lain dikarenakan : (1) kondisi ban sudah tidak

4

memenuhi standar layak jalan, (2) kondisi rem sudah aus atau tidak berfungsi optimal sebagaimana seharusnya, (3) sistem mekanik pada kendali kemudi bus tidak berfungsi optimal, dll. Dalam fenonema yang demikian, tentunya menjadi tidak adil manakala yang dijadikan tersangka hanyalah pengemudi bus tersebut, dikarenakan sebenarnya terdapat tanggung jawab perusahaan bus tersebut yang tidak dijalankan sebagaimana seharusnya, yaitu melakukan perawatan terhadap bus tersebut sehingga terjaga kondisinya untuk tetap layak jalan. Oleh karena itulah, selain pengemudi bus tersebut, maka pihak perusahaan selaku penanggungjawab operasional bus tersebut juga layak dikenai pertanggungjawaban pidana. Pertanggungjawaban pidana terhadap perusahaan tersebut hanya dapat diterapkan manakala dalam ketentuan perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum dalam penegakan hukum kasus tersebut telah mengakomodir doktrin-doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi. Sebelum membahas tentang doktrin-doktrin yang dianut dalam pembebanan pertanggungjawaban terhadap korporasi, maka tentunya perlu dipahami terlebih dahulu tentang pengertian korporasi tersebut. Menurut Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, SH, korporasi dilihat dari bentuk hukumnya dapat diberi arti yang sempit maupun arti yang luas. Menurut artinya yang sempit, korporasi adalah badan hukum, sedangkan dalam artinya yang luas, korporasi dapat berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum. Dalam artinya yang sempit, yaitu sebagai badan hukum, korporasi merupakan figur hukum yang eksistensinya dan kewenangannya untuk dapat atau berwenang melakukan perbuatan hukum diakui oleh hukum perdata, artinya hukum perdatalah yang mengakui ”eksistensi” korporasi dan memberikannya ”hidup” untuk dapat atau berwenang melakukan perbuatan hukum sebagai suatu figur hukum. Demikian juga halnya dengan ”matinya” suatu korporasi secara hukum adalah apabila ”matinya” korporasi itu diakui oleh hukum. Sedangkan dalam artinya yang luas, maka pengertian korporasi tersebut dilihat dari sudut pandang hukum pidana. Pengertian korporasi menurut hukum pidana lebih luas daripada pengertiannya menurut hukum perdata. Dalam hukum pidana, korporasi meliputi baik badan hukum maupun bukan badan hukum. Badan hukum yang dimaksudkan tersebut bukan saja seperti perseroan terbatas, yayasan, koperasi atau perkumpulan yang telah disahkan sebagai badan hukum yang digolongkan sebagai korporasi menurut hukum pidana, tetapi juga firma,

5

perseroan komanditer atau CV, dan persekutuan atau maatschap, yaitu badanbadan usaha yang menurut hukum perdata bukan suatu badan hukum. Sekumpulan orang-orang yang terorganisasi dan memiliki pimpinan dan melakukan pebuatan hukum, misalnya melakukan perjanjian dalam rangka kegiatan usaha atau kegiatan sosial yang dilakukan oleh pengurusnya untuk dan atas nama kumpulan orang tersebut, juga termasuk ke dalam apa yang dimaksudkan dengan korporasi. Selanjutnya, sebagai landasan dalam penerapan pertanggungjawaban pidana korporasi, maka penulis merasa perlu mengemukakan terlebih dahulu doktrindoktrin yang dikenal dalam pembebanan pertanggungjawaban korporasi. Pada kesempatan ini, penulis hanya akan membahas dua doktrin pokok yang dikenal dalam ajaran pertanggungjawaban korporasi, yaitu sebagai berikut : 1. Doctrine of Strict Liability (Pertanggungjawaban Mutlak) Menurut doktrin strict liability, pertanggungjawaban pidana dapat dibebankan kepada pelaku tindak pidana yang bersangkutan tanpa dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan pada pelakunya, baik kesalahan yang dikarenakan kesengajaan maupun kelalaian. Oleh karena itulah doktrin atau ajaran strict liabiliti disebut juga sebagai absolute liability atau pertanggungjawaban mutlak. Dalam kaitannya dengan korporasi, korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pidana untuk tindak pidana yang tidak dipersyaratkan adanya mens rea bagi pertanggungjawaban tindak pidana itu berdasarkan doktrin strict liability. Alasan pembenar dari hal tersebut adalah bahwa korporasi tidak mungkin memiliki mens rea karena korporasi tidak memiliki kalbu, tetapi juga korporasi tidak mungkin dapat melakukan sendiri suatu tindak pidana, melainkan tindak pidana tersebut hanya dapat dilakukan oleh manusia untuk dan atas nama korporasi. 2. Doctrine of Vicarious Liability (Pertanggungjawaban Vikarius) Doktrin vicarious liability adalah doktrin yang menyatakan tentang pembebanan pertanggungjawaban pidana dari tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, misalnya tindak pidana dilakukan oleh A namun yang dibebani pertanggungjawaban pidana adalah B, artinya menurut doktrin tersebut seseorang dimungkinkan harus bertanggugjawab atas perbuatan orang lain. Apabila teori ini diterapkan pada korporasi, berarti

6

korporasi dimungkinkan harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh para pegawainya, kuasanya atau mandatarisnya, atau siapa pun yang bertanggungjawab kepada korporasi tersebut. Doktrin tesebut semula dikembangkan berkaitan dengan konteks pertanggungjawaban perbuatan melawan dalam hukum perdata yang selanjutnya diadopsikan ke dalam hukum pidana. Penerapan doktrin tersebut hanya dapat dilakukan setelah dapat dibuktikan bahwa memang terdapat hubungan subordinasi antara pemberi kerja (empolyer) dan orang yang melakukan tindak pidana tersebut. Tujuan dari pemberlakuan doktrin tersebut adalah “deterrence” (pencegahan). Asumsinya yaitu ketika seorang employer (pemberi kerja), yaitu korporasi, harus bertanggungjawab untuk perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh para pegawainya (employees) tanpa partisipasi langsung oleh pemberi kerja yang bersangkutan dalam tindak pidana tersebut, tekanan akan dialami oleh pemberi kerja untuk melakukan penyeliaan langsung dan secara teoritis timbulnya tindak pidana tersebut berpotensi dapat tercegah (berkurang). B. Posisi Kasus Tersangka Ahmad Firdiansyah Pada tanggal 18 April 2008, penyidik Subbag Reskrim Polwil Malang melakukan penangkapan terhadap seorang pedagang handphone BM dengan kapasitas yang diduga sebagai distributor di wilayah Kota Malang atas nama Ahmad Firdiansyah, di rumahnya yang beralamat di Jl. Kumis kucing No. 13, Kel. Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, yang digunakan sebagai tempat menyimpan, menjual atau memperdagangkan hand phone BM (Black Market). Dalam penangkapan tersebut juga dilakukan penggeledahan terhadap rumah milik Tersangka Ahmad Firdiansyah dan telah ditemukan barang bukti berupa handphone dan berbagai asesoris Nokia BM, sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 29 (dua puluh sembilan) unit handphone merek Nokia, berbagai tipe. 26 (dua puluh enam) buah charger merek Nokia. 10 (sepuluh) buah Hansfree merek Nokia. 26 (dua puluh enam) buah baterai merek Nokia. 52 (lima puluh dua) buku petunjuk penggunaan handphone Nokia. 58 (lima puluh delapan) dos handphone merek Nokia.

7

7) 8) 9)

103 (seratus tiga) lembar plastik pembungkus handphone merek Nokia. 38 (tiga puluh delapan) buah mika pembungkus handphone merek Nokia. 51 (lima puluh satu) lembar nomor IMEI palsu untuk handphone merek Nokia.

10) 3 (tiga) buku nota penjualan. Berdasarkan hasil penyidikan terhadap Tersangka Ahmad Firdiansyah diperoleh fakta bahwa maksud dan tujuan tersangka menjual Hand Phone tanpa dilengkapi dengan kartu jaminan garansi dalam bahasa Indonesia tersebut adalah untuk mencari keuntungan yang lebih banyak dibandingkan apabila menjual handphone dengan garansi resmi. Tersangka Ahmad Firdiansyah menerangkan bahwa handphone-handphone dan asesorisnya tersebut didapatkan dengan cara membeli pada seseorang bernama Hendrik yang beralamat di ITC Jakarta (alamat lengkap tidak tahu) yang transaksinya dilakukan dengan cara Tersangka Ahmad Firdiansyah menelepon terlebih dulu kepada Hendrik melalui nomor telepon 021.70011600, selanjutnya Tersangka Ahmad Firdiansyah memesan beberapa handphone dan setelah disetujui selanjutnya Hendrik mengirim sebagian uang untuk pembelian handphone tersebut dengan cara transfer melalui bank Mandiri atas nama Hendrik. Setelah uang ditransfer selanjutnya 3 (tiga) hari kemudian handphone dikirim melalui jasa paket barang ke alamat rumah Jl. Kumis Kucing No. 13 Kota Malang. Perkara dimaksud telah selesai diadili di Pengadilan Negeri Malang dengan vonis terhadap Ahmad Firdiansyah dinyatakan bersalah telah melakukan tindak pidana “memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan perundang-undangan dan memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku”; dan/atau “memperdagangkan, membuat, merakit, memasukkan, atau menggunakan perangkat telekomunikasi di wilayah RI yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis”, sebagaimana dimaksud dalam rumusan Pasal 62 ayat (1) jo Pasal 8 (ayat (1) huruf a dan j UU RI No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen jo Kepmenperindag RI No. 547/MPP/Kep/7/2002 tentang Pedoman Pendaftaran Petunjuk Penggunaan (Manual) dan kartu jaminan/ Garansi dalam Bahasa Indonesia bagi Produk Tehnologi Informasi dan Elektronika dan / atau

8

Pasal 52 UU RI No. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi jo Permenhub No. KM 10 Tahun 2005 tentang Sertifikasi Alat dan Perangkat Telekomunikasi jo Kepmenhub No. KM 3 tahun 2001 tentang Persyaratan Teknis Alat dan Perangkat Telekomunikasi. Vonis yang dijatuhkan oleh hakim PN Malang terhadap tersangka dimaksud adalah berupa pidana penjara selama 6 bulan dengan masa percobaan selama 3 bulan. C. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Tindak Pidana

Perlindungan Konsumen Dalam perkara tersebut, penyidik hanya melakukan penyidikan sebatas pada peran Tersangka Ahmad Firdiansyah dan tidak melanjutkan penyidikan lebih jauh lagi guna mengungkap pidana korporasi yang terjadi dimana seharusnya Hendrik juga dapat menjadi tersangka bahkan sampai dengan pihak importir handphone tersebut maupun mengungkap oknum-oknum pejabat kepabeanan yang terlibat dalam meloloskan barang-barang dimaksud secara tidak sah sebagaiimana ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Menurut pendapat penulis, dalam perkara dimaksud telah terjadi tindak pidana korporasi dalam ruang lingkup tindak pidana perlindungan konsumen sebagaimana ketentuan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dimana seharusnya penyidik melanjutkan penyidikan guna mengungkap keterlibatan pihak-pihak diatas Tersangka Ahmad Firdiansyah. Analisis pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana perlindungan konsumen dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Dalam pasal 1 butir ke-3 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dinyatakan bahwa “Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.”. Berdasarkan ketentuan pasal tersebut berarti bahwa subyek atau pelaku tindak pidana dalam tindak pidana perlindungan konsumen tidak hanya orang perseorangan, namun juga korporasi, yang didefinisikan sebagai “badan usaha, baik yang berbentuk

9

badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi”. 2. Dalam pasal 61 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dinyatakan bahwa “Penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya.”. Pasal tersebut mengandung ketentuan tentang sistem pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana perlindungan konsumen, artinya dalam hal pertanggungjawaban korporasi, suatu badan usaha maupun pengurusnya dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana. Dalam hal ini berlaku doktrin strict liability dan vicarious liability. Berdasarkan analisis pasal 1 butir ke-3 dan pasal 61 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tersebut, maka penyidik dapat melanjutkan penyidikan perkara dimaksud sampai pada tataran pelaku “diatas” Ahmad Firdiansyah yaitu : 1. Hendrik selaku distributor yang menjual handphone BM kepada Ahmad Firdiansyah. 2. Pihak-pihak yang mendistribusikan handphone BM kepada Hendrik, dalam hal ini dapat saja pihak importir yang kemungkinan melakukannya maupun pihak lainnya dibawah importir. Namun demikian, fakta yang didapati oleh penulis dari hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Subbag Reskrim Polwil Malang terhadap kasus tersebut adalah “tidak disentuhnya” sama sekali para pelaku yang berperan sebagai distributor terhadap Ahmad Firdiansyah. Hal tersebut nampak antara lain dalam berkas perkara tersangka Ahmad Firdiansyah yang tidak memuat daftar nama-nama pelaku lainnya yang posisinya berada diatas Ahmad Firdiansyah sebagai orang-orang yang dinyatakan turut bertanggungjawab dalam kasus dimaksud atau dengan kata lain bahwa daftar nama-nama tersebut tidak dimasukkan oleh penyidik dalam daftar orang-orang yang dicari oleh kepolisian (DPO / Daftar Pencarian Orang). Rangkaian pelaku distribusi handphone BM tersebut, mulai dari Hendrik selaku distributor langsung dari Ahmad Firdiansyah hingga pihak-pihak distributor lainnya yang menyuplai handphone BM tersebut kepada Hendrik

10

merupakan bentuk suatu korporasi. Oleh karena itu dalam pembebanan pertanggungjawaban pidana dapat diterapkan doktrin pertanggungjawaban pidana korporasi strict liability dan vicarious liability.. Pembuktian yang dapat ditempuh penyidik untuk dapat menjerat para pelaku dalam perkara dimaksud yang posisinya berada diatas Ahmad Firdiansyah antara lain dapat dengan menggunakan bukti-bukti seperti bukti transaksi tranfer antar rekenenin bank, bukti sms pemesanan, dll. Urgensi bahwa penyidik seharusnya melakukan penyidikan kasus dimaksud hingga pada level pertanggungjawaban pidana korporasi yaitu : 1. Agar terpenuhinya asas keadilan dimana yang dikenakan pertanggungjawaban pidana tidak hanya pedagang / distributor di level hilir dalam hal ini Ahmad Firdiansyah, namun juga terhadap pihak-pihak lain yang lebih turut bertanggungjawab dalam peredaran handphone BM tersebut. 2. Agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar baik terhadap masyarakat maupun bagi pemerintah. Kerugian yang akan diderita masyarakat manakala handphone BM tersebut mengalami kerusakan yang disebabkan bukan karena pemakaian maka hal tersebut tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya kepada pihak penjual sehingga dalam hal ini masyarakat tidak mendapatkan perlindungan dalam kapasitasnya sebagai konsumen. Sedangkan bagi pemerintah, peredaran handphone BM tersebut berarti merugikan karena pemerintah tidak mendapatkan pendapatan yang seharusnya didapatkan dari sektor pajak berupa bea masuk atas barangbarang tersebut. III.PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan penyidikan perkara perdagangan handphone BM yang dilakukan oleh Ahmad Firdiansyah tersebut sampai dengan tahapan penuntutan dan pengadilannya, terbukti bahwa Ahmad Firdiansyah telah melakukan tindak pidana perlindungan konsumen. Penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Subbag Reskrim Polwil Malang terhadap perkara dimaksud belum menyentuh level pelaku tindak pidana yang

11

posisinya berada diatas Ahmad Firdiansyah padahal dalam tindak pidana dimaksud terjadi tindak pidana korporasi dalam ruang lingkup tindak pidana perlindungan konsumen dimana para pelakunya memilik peran yang lebih penting daripada Ahmad Firdiansyah sendiri, seperti misalnya Hendrik, dapat saja berperan hanya sebagai distributor dari seorang importir handphone BM atau justru merupakan importir itu sendiri yang melakukan penyelundupan barang-barang dimaksud melalui jalur kepabeanan tertentu dan tentunya melibatkan oknum-oknum kepabeanan. A. SARAN Dalam rangka optimalisasi penegakan hukum terhadap kasus peredaran handphone BM, maka penulis memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut : 1. Para penyidik Polri perlu diberikan pemahaman secara optimal tentang mekanisme pertanggungjawaban korporasi sehingga dalam melakukan penegakan hukum terhadap suatu tindak pidana korporasi dapat diterapkan pertanggungjawaban korporasi tidak sebatas pada pelaku langsung dari tindak pidana tersebut, tetapi juga terhadap korporasinya. Hal tersebut dapat dilakukan Polri melalui pemberian materi tentang pertanggungjawaban korporasi dalam kurikulum pendidikan bagi anggota Polri, baik pada jalur pendidikan akademis (AKPOL dan PTIK), pendidikan pengembangan (Sespim dan Sespati) maupun pendidikan keahlian (pendidikan kejuruan fungsi reskrim, pelatihan-pelatihan penyidikan tindak pidana, dll), dll. 2. Polri perlu menyusun suatu petunjuk pelaksanaan (Juklak) maupun petunjuk teknis (Juknis) tentang penanganan tindak pidana korporasi, karena hingga saat ini Polri belum memilikinya. 3. Perlunya diterapkan sistem pengawasan dan pengendalian yang baik dalam pelaksanaan penyidikan suatu tindak pidana korporasi guna mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh penyidik, misalnya dengan tidak menjadikan korporasi sebagai tersangka, melainkan hanya terhadap pelaku langsungnya saja. 4. Untuk menanggulangi kasus perdagangan produk-produk BM (black market) termasuk handphone dan asesorisnya, maka Polri perlu melakukan

12

koordinasi dengan pihak Bea dan Cukai sehingga produk-produk tersebut tidak sampai beredar di kalangan masyarakat yang berakibat merugikan masyarakat selaku konsumen maupun merugikan negara dalam hal tidak terbayarnya bea yang seharusnya didapat negara manakala produk-produk tersebut merupakan produk yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Upaya kerjasama dimaksud juga perlu memprioritaskan untuk melakukan penindakan secara tegas terhadap oknum-oknum Bea Cukai yang “nakal” yang berperan meloloskan produk-produk ilegal dimaksud ke dalam wilayah negara RI. Jakarta, 23 Maret 2010 Penulis

HANDIK ZUSEN NO. MHS. 6877

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Harahap, M. Yahya, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP : Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Jakarta : Sinar Grafika, 2005. 2. Sjahdeini, Sutan Remy, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Jakarta : Grafiti Pers, 2007. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 4. Resume Perkara Tindak Pidana Perdagangan Handphone Merek Nokia BM (Black Market) oleh Tersangka Ahmad Firdiansyah berdasarkan Laporan Polisi No. Pol : LP/46/IV/2008/Reskrim, tanggal 18 April 2008 (Polwil Malang).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->