P. 1
BU SELVI KTI

BU SELVI KTI

|Views: 2,822|Likes:
Published by Melva_Manroe_2562

More info:

Published by: Melva_Manroe_2562 on Apr 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

E POST SECTIO CAESARIA INDIKASI KETUBAN PECAH DINI DI RUANG CEMPAKA RSUD SRAGEN

KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Madya Keperawatan

Disusun oleh :

RISTIAN IDHA ZALVITA J 200 050 025

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009

LEMBAR PERSETUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. E DENGAN POST SECTIO CAESARIA INDIKASI KETUBAN PECAH DINI DI RUANG CEMPAKA RSUD SRAGEN

Disusun Oleh: RISTIAN IDHA ZALVITA J 200 050 025 Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing untuk diajukan dan dipertahankan dalam ujian sidang pada hari Jum’at, tanggal 31 Juli 2009

Pembimbing

Faizah Betty Rahayuningsih, A.Kep., M.Kes. Mengetahui Ketua Jurusan Keperawatan

Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes. (Kep) NIK. 660

LEMBAR PENGESAHAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. E DENGAN POST SECTIO CAESARIA INDIKASI KETUBAN PECAH DINI DI RUANG CEMPAKA RSUD SRAGEN

Disusun oleh: RISTIAN IDHA ZALVITA J 200 050 025

Telah Dipertahankan Di Depan Dewan Penguji Pada Tanggal 31 Juli 2009 Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Susunan Dewan Penguji: 1. Faizah Betty Rahayu Ningsih, A.Kep.M.Kes 2. Sulastri, S.Kp.M.Kes 3. Winarsih Nur Ambarwati, S.Kep.Ns. (………………………..) (………………………..) (………………………..)

Surakarta,

Juli 2009

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta Dekan,

Arif Widodo, A.Kep, M.Kes NIK. 630

MOTTO Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggan. (Q.S. Al-Maidah: 2) Dalam hidup, terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia (Kahlil Gibran) Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah (Thomas Alva Edison)

PERSEMBAHAN

Tak akan pernah lupa kupanjatkan rasa syukur yang paling dalam kepada Allah SWT atas limpahan anugerah serta karunianya hingga terselesainya karya tulis ilmiah ini. Dengan ketulusan hati sebuah karya kecil ini ku persembahkan untuk: Bapak dan ibu tercinta. Terima kasih atas jerih payahnya dalam membimbing dan senantiasa mengiringi do’a, sayang agar setiap segala dan dapat langkahku perjuangan, nasehatnaya dibanggakan. Adik-adikku Deni, Nia dan Ayu, cinta kasih kalian akan senantiasa mengiringi langkahku. Mbah makasih kakungku atas dan dosa mbah dan utiku, nasehatdengan kasih kepadaku

menjadi orang yang berhasil dan dapat

nasehatnya.

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, anugerah dan nikmat-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan usaha yang maksimal dan sungguhsungguh dengan judul ”ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. E DENGAN POST SECTIO CAESARIA INDIKASI KETUBAN PECAH DINI DI RUANG CEMPAKA RSUD SRAGEN”. Dengan menyusun karya tulis ini penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan tetapi berkat bantuan dan bimbingan berbagai pihak, karya tulis ini dapat penulis selesaikan. Untuk itu, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. Bambang Setiadji, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2. Arif Widodo, A.Kep., M.Kes, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. 3. Arum Pratiwi, S.Kp, M.Kes (Kep), selaku Ketua Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. 4. Agus Sudaryanto, S.Kep. Ns, M.Kes, selaku Sekretaris Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

5. Faizah Betty Rahayuningsih, A.Kep., M.Kes, selaku Pembimbing dan Penguji I yang telah sabar memberikan bimbingan, petunjuk, dorongan, nasehat dan pengarahan dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. 6. Sulastri, S.Kp., M.Kes, selaku Penguji II yang telah meluangkan waktu menguji Karya Tulis Ilmiah ini. 7. Winarsih Nur Ambarwati, S.Kep. Ns, selaku Penguji III yang telah meluangkan waktu untuk menguji Karya Tulis Ilmiah ini. 8. Irdawati, A. Kep, M.Si. Med, selaku Pembimbing Akademik yang telah memberikan semangat dan dorongan selama menyelesaikan studi. 9. Segenap Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan khususnya Jurusan Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah banyak memberikan bekal ilmu keperawatan. 10. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini. Penulis menyadari dalam penulisan karya tulis ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Harapan penulis, semoga Karya Tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya. Amin .... Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surakarta, 11 Juli 2009

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................ HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... MOTTO ........................................................................................................... PERSEMBAHAN ............................................................................................ KATA PENGANTAR ...................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... A. Latar Belakang ......................................................................... B. Identifikasi Masalah ................................................................. C. Tujuan ...................................................................................... D. Manfaat .................................................................................... BAB II TINJAUAN TEORI ....................................................................... A. Pengertian ................................................................................. B. Etiologi ..................................................................................... C. Patofisiologi ............................................................................. D. Gambaran Klinis ...................................................................... E. Pemeriksaan Penunjang ........................................................... F. Penatalaksanaan Medis ............................................................ G. Tanda-tanda Persalinan ............................................................ i ii iii iv v vi vii 1 1 2 3 3 4 4 4 5 5 6 7 7

H. Tanda-tanda Infeksi .................................................................. I. Pathways .................................................................................. J. Diagnosa Keperawatan ............................................................. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ........................................................ A. Pengkajian ................................................................................ B. Analisa Data ............................................................................. C. Prioritas Masalah ...................................................................... D. Perencanaan .............................................................................. E. Implementasi ............................................................................ F. Evaluasi .................................................................................... BAB IV PEMBAHASAN ............................................................................ A. Diagnosa yang Muncul pada Khasus ....................................... B. Diagnosa yang Tidak Muncul pada Khasus ............................. BAB V PENUTUP ...................................................................................... A. Kesimpulan .............................................................................. B. Saran ......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

7 8 9 13 13 17 19 19 21 23 24 24 30 32 32 33

ABSTRAK
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. E DENGAN POST SECTIO CAESARIA INDIKASI KETUBAH PECAH DINI DI RUANG CEMPAKA RSUD SRAGEN Latar Belakang: Dalam praktek obsetrik modern, kelahiran lewat perut dengan mudah dipilih bila kelahiran pervaginam akan membahayakan ibu, anak dan keduanya. Perbaikan yang meluas dalam hal anestesi teknik pembedahan antibiotika dan transfusi darah menurunkan mordibilitas dan mortalitas akibat sectio caesaria sehingga menjadikan sebagai pilihan yang relative aman. Metode: Penulis menggunakan metode deskripsi, adapun sampelnya adalah Ny. E, data ini diperoleh dengan cara yaitu: wawancara, pemeriksaan, observasi, aktivitas, memperoleh catatan dan laporan diagnostik, bekerja sama dengan teman sekerja. Hasil: Setelah dilakukan keperawatan selama 3 hari, diagnosa keperawatan yang muncul ada 4 yaitu gangguan rasa nyeri, resiko tinggi infeksi, intoleransi aktivitas, kurang pengetahuan. Dalam implementasi sebagian besar telah sesuai dengan rencana tindakan yang diterapkan. Kesimpulan: Masalah keperawatan pasien mengenai gangguan rasa nyaman, nyeri, resiko tinggi infeksi, intoleransi aktivitas, kurang pengetahuan pada dasarnya dapat dilaksanakan dengan baik dan sebagian besar masalah dapat teratasi. Kata kunci: sectio caesaria, indikasi ketuban pecah dini, nyeri, infeksi, intoleransi aktivitas, kurang pengetahuan.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Ketuban Pecah Dini (KPD) diartikan sebagai aminoreksis sebelum permulaan persalinan pada tiap-tiap kehamilan. Perubahan pada penanganan obstretic banyak mempengaruhi metode kelahiran operatif selama 60 tahun pertama dari abad ke-20, dokter yang tidak mau melakukan kelahiran dengan cunam dan sectio caesaria dianggap sebagai titik akhir dari kegagalan perawatan obstetric. Dalam praktek obsetrik modern, kelahiran lewat perut dengan mudah dipilih bila kelahiran pervaginam akan membahayakan ibu, anak dan keduanya. Perbaikan yang meluas dalam hal anestesi teknik pembedahan antibiotika dan transfusi darah menurunkan mordibilas dan mortalitas akibat section caesaria sehingga menjadikan sebagai pilihan yang relative aman (Hacker, 2001: 338). Dalam persalinan dibagi menjadi 4 kala yaitu Kala I serviks membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm, Kala I dinamakan pula dengan kala pembukaan, Kala II disebut pula Kala Pengeluaran oleh karena berkat kekuatan NIS dan mengedan janin didorong keluar sampai lahir dalam Kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan, Kala IV mulai lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam dalam kala itu diamati apakah tidak terjadi pendarahan post partem (Sarwono, 2005).

Pada Kala I mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada primi graviola dan multi graviola. Pada yang pertama Ostium Urteri Internum akan lebih dahulu sehingga Serviks akan mendatar dan menipis baru kemudian Ostium Urteri Exsternum membuka pada saat Multi Gravida Ostium Urteri Internum sudah sedikit membuka. Ostium Urteru Internum dan eksterm serta penipisan dan serviks terjadi dalam saat yang sama. Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hampir atau telah lengkap tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan lengkap bila ketuban pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm disebut dengan ketuban pecah dini. (Sarwono, 2005) Angka persalinan sectio caesaria di Amerika Serikat telah meningkat empat kali lipat dari 55 per 100 kelahiran pada tahun 1970 menjadi 22,7 per 100 kelahiran pada tahun 1985. Insiden section caesaria dalam unit obstetric bergantung pada populasi pasien dan sikap dokter, sekarang angkanya berkisar antara 10%-40% dari semua kelahiran. (Hucker, 2001: 338)

B. Identifikasi Masalah Menjelaskan bagaimana penanganan keperawatan pasien post section caesaria.

C. Tujuan 1. Tujuan Umum a. Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada post section caesaria.

b. Sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa agar lebih memahami tentang section caesaria yang berkaitan dengan ketuban pecah dini. c. Sebagai bahan pemahaman bagi pembaca agar dapat lebih mengetahui tentang sectio caesaria yang berhubungan dengan ketuban pecah dini. 2. Tujuan Khusus a. Melaksanakan pengkajian pada post sectio caesaria. b. Membuat analisa data pada pasien post sectio caesaria. c. Menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien post sectio caesaria. d. Merencanakan asuhan keperawatan pada pasien post sectio caesaria. e. Melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien post sectio caesaria.

D. Manfaat 1. Menambah wawasan, pengetahuan penulis dan pembaca di bidang kesehatan khususnya pada section caesaria. 2. Memberikan informasi mengenai masalah keperawatan pada pasien post sectio caesaria dan penatalaksanaan masalah keperawatan. 3. Meningkatkan keterampilan penulis dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien post sectio caesaria.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Asuhan keperawatan post sectio caesaria adalah asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien post operasi sectio caesaria. Sectio caesaria adalah proses persalinan atau pembedahan melalui insisi pada dinding perut dan rahim anterior untuk melahirkan janin. (Hacker, 2001:338) Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban secara spontan satu jam atau lebih sebelum terjadi tanda-tanda persalinan. (Arief Mansjoer, 1999 : 310) Masa nifas atau post partum adalah masa pulihnya kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lama masa nifas yaitu 6-8 minggu. (Rustam Mochtar, 1998:115) Dari pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa post sectio caesaria dengan indikasi ketuban pecah dini adalah masa pulihnya kembali alat-alat reproduksi karena tindakan kelahiran janin melalui insisi dinding perut dan rahim anterior dengan pecahnya ketuban sebelum adanya tandatanda persalinan.

B. Etiologi Penyebab ketuban pecah dini masih belum jelas. Ada beberapa hal yang dapat menjadi predisposisi, yaitu (Masjoer Arif, 1999:310): a. Infeksi genetalia b. Servik inkompeten c. Gameli d. Hidroamnion e. Kehamilan preterm f. Disporporsi cepallo pelvic

C. Patofisiologi Kantong amnion yang utuh berfungsi sebagai suatu mekanik terhadap infeksi tetapi selain itu cairan amnion mempunyai beberapa sifat bakteri ostatik yang dapat memainkan peran dalam pencegahan kario amnionitis dan infeksi janin. Membran yang utuh bukan merupakan sawar mutlak terhadap infeksi karena kolonisasibakteri terjadi 10% pasien dalam persalinan cukup bulan, dengan membrane yang utuh sampai 25% pasien dalam persalinan kurang bulan. Janin kurang bulan dengan ketuban pecah dini, resiko infeksi dan sepsis yang keberadaannya di dalam rahim ahkan dapat menjadi problematik, bagi ibu resikonya bukan saja terjadi kariomnitis tetapi juga bisa terjadi kegagalan induksi, maka harus dilakukan operasi section caesaria.

D. Gambaran Klinis Adapun tanda-tanda ketuban pecah dini, yaitu: keluar air ketuban warna kuning, keruh, jernih, hijau, kecoklatan sedikit atau sekali banyak (Arief Mansjoer, 1999: 310). a. Dapat disertai demam apabila ada infeksi b. Janin mudah diraba c. Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada, ketuban sudah kering d. Inspkulo: tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban sudah kering atau tidak ada. Tanda-tanda post sectio caesaria adalah adanya insisi, nyeri, adanya resiko infeksi, gangguan pada pola eliminasi.

E. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang pada ketuban pecah dini, meliputi: a. Pemeriksaan leukosit darah < 1500 per ML bila terjadi nyeri. b. Tes lak mus darah berubah menjadi biru. c. Amnias sintetis. d. USG menentukan usia kehamilan indeks cairan amnion berkurang. Pemeriksaan penunjang post sectio caesaria: pemeriksaan laboratorium (hemoglobin, leukosit).

F. Penatalaksanaan Medis a. Istirahat b. Pemberian obat-obatan analgesic c. Pemberian obat anti biotic

G. Tanda-tanda Persalinan a. Lender bercampur darah: terjadi sumbatan yang tebal pada mulut rahim yang terlepas sehingga menyebabkan keluar lender warna merah, ini disebabkan karena bercampur darah. b. Air ketuban keluar. c. Kontraksi teratur: sebentar setelah terjadi kemudian lama kemudian kuat simetris antara kedua sisi perut mulai dari bagian yang atas dekat dengan saluran telur sampai sel rahim.

H. Tanda-tanda Infeksi a. Febris (38 C) b. Takikardi (> 10 denyut / menit) c. Fetal Takikardi (> 160 denyut / menit) d. Nyeri abdomen atau nyeri tekan uterus e. Cairan amnion berwarna keruh / hijau berbau f. Leukosit pada pemeriksan darah tepi > 15000 – 2000 mm3

I. Pathways

J. Diagnosa Keperawatan a. Nyeri b.d. insisi pembedahan (Dangoes, 2000) Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang Criteria hasil: skala nyeri 1-0 atau hilang, pasien tenang dan rileks intervensi: 1. Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri. 2. Kaji suhu dan nadi. 3. Ajarkan nafas dalam bila nyeri muncul. 4. Beri informasi mengenai penyebab nyeri. 5. Alih baring posisi pasien untuk mengurangi nyeri. b. Resiko tinggi infeksi b.d. luka insisi pembedahan (Tucker, 1999) Tujuan: agar luka pasien tidak infeksi Criteria hasil: luka bersih dan kering tanpa ada tanda dan gejala infeksi Interfensi: 1. Kaji peningkatan suhu tubuh, nadi, resporasi sebagai tanda infeksi. 2. Observasi insisi terhadap tanda infeksi: kemarahan, nyeri, tekan, bengkak pada sisi insisi, peningkatan suhu tubuh. 3. Ganti pembalut jika perkebijakan RS. 4. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan. 5. Kaji tinggi fundus uteri pengeluaran lochea. 6. Kolaborasi pemberian antibiotic.

c. Gangguan pada eliminasi BAB konstipasi b.d. penurunan peristaltic usus (Dangoes: 2001) Tujuan: pola eliminasi kembali normal. Criteria hasil: pasien mengungkapkan BAB lancar. Intervensi: 1. Anjurkan klien untuk tidak menahan BAB 2. Berikan cairan per oral 6-8 gelas per hari 3. Anjurkan mobilisasi sesuai toleransi. 4. Kolaborasi pemberian obat pencahar. 5. Kolaborasi pemberian diit tinggi serat. d. Kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan bayi b.d. kurang informasi (Dangoes: 2000) Tujuan: pengetahuan pasien bertambah. Criteria hasil: klien mampu mengungkapkan pemahaman tentang perawatan pasca caesaria. Intervensi: 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien. 2. Beri penjelasan tentang perawatan diri dan bayi 3. Jelaskan perawatan insisi dan jaga kebersihan diri. 4. Demonstrasikan cara perawatan diri dan bayi. 5. Perlunya perawatan payudara dan ekspresi manual bila menyusui. 6. Jelaskan pentingnya ASI bagi bayi.

e. Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik (Dangoes: 2000) Tujuan: aktivitas kembali sesuai kemampuan pasien. Criteria hasil: pasien bisa beraktivitas seperti biasa. Intervensi: 1. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seminimal mungkin. 2. Beri posisi nyaman. 3. Bantu pasien dalam ambulansi diri. 4. Anjurkan menghemat energy hindari kegiatan yang melelahkan. 5. Jelaskan pentingnya mobilisasi diri. f. Kurang volume cairan b.d. perdarahan (Dangoes: 2000) Tujuan: memenuhi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan tubuh. Criteria hasil: intake dan output cairan seimbang. Intervensi: 1. Observasi pendarahan dan kontraksi uterus. 2. Monitor intake dan output cairan. 3. Monitor tanda-tanda NTAL. 4. Observasi pengeluaran lochea, warna, bau, karakteristik dan jumlah lochea. 5. Kolaborasi pemberian cairan elektrolit sesuai program. g. Kurang pengetahuan tentang perawatan payudara b.d. kurang informasi (Dangoes: 2000) Tujuan: pasien mampu mengungkapkan pemahaman tentang payudara.

Criteria hasil: pasien dapat menyebutkan cara melakukan perawatan payudara. Intervensi: 1. Kaji pengetahuan pasien tentang perawatan payudara. 2. Beri pengetahuan cara perawatan payudara. 3. Demonstrasikan cara perawatan payudara. 4. Motivasi pasien untuk melakukan cara perawatan payudara. 5. Beri reforcement atau kemampuan klien.

BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada tanggal 18 Agustus 2008, jam 14.30 WIB, di ruang Cempaka RSUD Sragen. 1. Biodata a. Identitas Pasien: Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Pendidikan Pekerjaan : Ny. E : 24 Tahun : Perempuan : Sragen : Islam : SMA : Ibu Rumah Tangga

b. Identitas Penanggung Jawab Nama Umur Jenis Kelamin Agama Hubungan Alamat : Tn. A : 26 Tahun : Laki-laki : Islam : Suami : Sragen

2. Rekam Medik Tanggal Masuk Jam Masuk No. RM Diagnosa 3. Riwayat Kesehatan a. Riwayat Kesehatan Sekarang Pasien dengan G1P1AO mengatakan mengeluh kencengkenceng teratur sebelum dirasakan, air ketuban keluar 24 jam yang lalu, pergerakan janin masih dirasakan, lendir ketuban berkurang kemudian dibawa Rumah Sakit Umum Daerah Sragen, tanggal 14 Agustus 2008 dilakukan induksi 2 kali tidak bisa, lalu dilakukan section caesaria. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Pasien mengatakan sebelumnya belum pernah dilakukan operasi dan ini merupakan operasi yang pertama. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Dalam keluarga tidak ada riwayat penyakit asma, hipertensi dan diabetes mellitus d. Riwayat Obstetric Menarche umur 13 tahun, lama haid 6 hari, siklus haid 30 hari : 14 Agustus 2008 19.30 : 38978 : Post Sectio Caesaria Indikasi Ketuban Pecah Dini

e. Riwayat Persalinan Anak Jenis Kelamin 1 Laki-laki Dokter 2900 Operasi SC 4 hari Ditolong BBL Lahir Umur

4. Pola Fungsional a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan, yaitu pasien mengatakan belum begitu paham tentang perawatan payudara, manfaat ASI dan cara menyusui yang baik. b. Pola Nutrisi dan Cairan Pasien makan 3x sehari sesuai diit yang disediakan dari RS, minum 56 gelas. c. Pola Eliminasi Pasien BAB setelah diperasi 2x per hari, BAK normal. d. Pola Istirahat Tidur Pada malam hari pasien tidak dapat tidur dengan nyenyak dan sering terbangun. e. Pola Psikologis Pasien dalam masa talking hole dimana pasien mempunyai perhatian lebih luas termasuk kepada bayinya, mandiri dalam perawatan. f. Hubungan Sosial Pasien dalam hubungan bermasyarakat baik.

g. Kopling Diri Dalam menghadapi masalah keluarga, pribadi pasien selalu

bermusyawarah kepada suami. h. Kepercayaan Selama dirawat di Rumah Sakit pasien tidak melakukan ibadah sholat, hanya berdoa. 5. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum pasien baik, kesadaran komposmentis, tanda-tanda vital: TD N RR S : 110 / 80 mmHg : 80 x per menit : 20 x permenit : 360 C

Pemeriksaan had to toe a. Dada: payudara kanan kir simetris, areola hiperpigmentasi, puting menonjol, payudara terasa lembek. b. Abdomen: terdapat luka insisi vertical sepanjang 11 cm, TFU: 4 jari di bawah pusat, terdapat kloasma, bising usus 8 x permenit. c. Genetalia: vulva tidak ederna, lochea di hari keempat tidak keluar; Ekskremitas: tangan dan kaki tidak odema, human sign negative.

Pemeriksaan Laboratorium Hemoglobin : 10,4 gr/dl

Hermatokrit Leukosit Trombosit Ureum Kreatini

: 35,9% : 22,4 103 : 151 : 10,50 mg/dl : 0,6 mg/dl

Terapi Metronidazol 1x1 per hari Cifrolaksin: 2x1

Pemeriksaan Bayi BB: 2900 gram, jenis kelamin: laki-laki, PB: 47 cm, LK: 34 cm Apgar score: 8 9 10 B. Analisa Data No 1. Tanggal 18-08-08 Data Fokus Diagnosa

DS : Pasien menyatakan nyeri Nyeri b.d. terputusnya pada lukaSC P : Nyeri tekan karena luka jahitan Q : Nyeri seperti diiris R : Nyeri pada luka post SC S : Skala nyeri 6 T : Nyeri tekan tidak bergerak DO : Pasien terlihat meringis kontituitas jaringan

2.

18-08-08

DS : Pasien mengatakan luka post Resiko op belum dibersihkan DO : Terdapat luka jahitan 11 cm TD : 110/80 mmHg N : 80x/mnt S : 360 C RR : 20 x/mnt

infeksi

b.d.

luka insisi

3.

10-08-08

DO : Pasien mengatakan tidak bisa Gangguan tidur dan sering terbangun pada istirahat malam hari DS : Pasien terlihat lelah tidur

pola b.d.

proses hospitalisasi

C. Prioritas Utama Pada tanggal 18 Agustus 2008 1. Nyeri b.d. kontituitas jaringan 2. Resti infeksi b.d. adanya luka insisi 3. Gangguan pola istirahat tidur b.d. proses hospitalisasi

D. Perencanaan Tanggal 18-08-08 15.30 WIB Dx Tujuan dan Kriteria Hasil 1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri Intervensi Monitor tanda-tanda vital. Kaji lokasi nyeri, TTD

berkurang sampai hilang dengan kriteria hasil: DS : Pasien mengatakan nyeri berkurang DO : Skala nyeri 0-1 atau sampai hilang -

karakteristik penyebab, skala, waktu nyeri. Beri tahu tentang nyeri. Beri posisi yang nyaman dan ajarkan teknik relaksasi. Kolaborasi pemberian obat analgesic

18-08-08 16.00

2

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam tidak terjadi infeksi dengan KH: Ds : Pasien tidak

-

Kaji tanda-tanda vital Kaji tanda-tanda infeksi

-

Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan Ganti balutan luka sesuai kebijakan RS

mengeluh panas pada luka insisi dan tidak mengeluh nyeri. Do : Lukabersih dan kering tidak ada tandatanda infeksi -

Kolaborasi obat antibiotic Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan

18-08-08 16.30

3

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam gangguan pola istirahat tercukupi dengan KH: Ds : Pasien mengatakan bisa tidur nyenyak. Do : Pasien tampak lebih segar dan cerah

-

Kaji pola tidur pasien Beri lingkungan yang nyaman

-

Anjurkan keluarga untuk menjaga ketenangan ruangan

E. Implementasi No 1. Tanggal 18-08-08 15.30 Dx Implementasi Respon Ttd

1.2 Mengkaji tanda-tanda DS: Pasien bersedia vital DO: TD 110/80 mmHg N : 80 x/mnt S : 360 C

2.

15.45

1

Mengkaji nyeri: skala, DS : Pasien mengatakan quality, region, palce, nyeri dan mau time nafas nyeri mengajarkan DO : Pasien kooperatif, panjang saat nyeri pada luka insisi menyebar, seperti quality:

diremas-remas;

muncul saat beraktivitas

3.

16.00

2

Memberi obat Ceprotaxin 2x1 Metronidazol 2x1

DS: Pasien kooperatif DO: Obat masuk

4.

16.30

3

Mengkaji pola tidur DS: Pasien mengatakan pasien sulit tidur dan sering terbangun DO: lemas Pasien tampak

5.

16.45

2

Melakukan perawatan DS: luka

Pasien

bersedia

perawatan luka DO : Tidak terdapat tanda-tanda infeksi

6.

17.00

1

Memberikan nyaman

posisi DS : Pasien bersedia, pasien mengatakan

posisinya sekarang lebih nyaman DO rileks 7. 17.30 3 Mengkaji pola tidur DS : Pasien mengatakan tidurnya sudah sedikit nyenyak, harus walaupun ketika : Pasien terlihat

bangun

bayinya menangis

DO : Pasien tampak segar

F. Evaluasi Tanggal 19.08-08 08.00 WIB Dx 1 Evaluasi S : Pasien mengatakan nyeri berkurang O : Skala nyeri 4, nyeri pada luka masih menyebar ke insisi, nyeri saat beraktifitas A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Monitor tanda-tanda vital Kaji skala nyeri Beri posisi nyaman Anjurkan teknik relaksasi 18.30 WIB 2 S : Pasien mengatakan nyeri pada luka sudah agak berkurang O : Luka basah tidak ada odema, tidak ada kemerahan, tidak ada peningkatan suhu tubuh A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi Monitor tanda-tanda vital Monitor tanda-tanda infeksi Beri perawatan luka Ttd

Kolaborasi obat 08.40 3 S : Pasien mengatakan sering sudah sedikit bisa istirahat walaupun terbangun pada malam hari O : Pasien tampak segar A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan rencana

BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas permasalahan yang muncul dalam Asuhan Keperawatan pada Ny. E dengan Post Sectio Caesaria indikasi ketuban pecah dini. Adapun yang menjadi ruang lingkup pembahasan meliputi diagnose keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pada pengkajian penulis tidak menyampaikan tentang genogram karena pada riwayat kesehatan klien, dalam keluarga klien tidak terdapat penyakit keturunan, menular, dan penyakit kronik. Pada bab ini penulis juga menguraikan pembahasan tentang diagnosa yang muncul dan diagnose yang tidak muncul pada Ny. E dengan Post Sectio Caesaria indikasi ketuban pecah dini. Dimana asuhan keperawatan ini dilaksanakan pada tanggal 18-19 Agustus 2008 di bangsal Cempaka RSUD Sragen.

A. Diagnosa Yang Muncul Pada Kasus Diagnosa I: Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan (Doenges, 2001) Nyeri adalah keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat, atau sensasi yang tidak menyenangkan, dimana sensasi dengan batasan karakteristik yaitu

mendiskripsikan tentang nyeri, perilaku yang sangat hati-hati, perlindungan diri, raut wajah tampak kesakitan, perubahan tonus otot, dan perilaku disteksi

(Caepenito, 2000 : 225). Diagnosa nyeri bisa ditegakkan jika ada tanda mayor; individu memperlihatkan atau melaporkan ketidaknyamanan, sedang pada tanda-tanda vital darah meningkat, nadi meningkat, diafaresis, pupil dilatasi, polsisi pasien hati-hati, raut wajah meringis atau kesakitan, merinth, serta mual-mual. Pada pengkajian ditemukan data subjektif pasien mengatakan nyeri pada luka SC, nyeri tekan karena luka jahitan, pasien mengatakan nyeri seperti diiris-iris, skala nyeri 6, ekspresi wajah pasien tampak meringis kesakitan. Sehingga penulis mengangkat diagnose di atas sebagai diagnose pertama. Dalam perencanaan penulis menuliskan tujuan dan kriteria hasil setelah dilakukan tindakan keperawatan, nyeri pasien berkurang. Dalam implementasi penulis memberikan pengertian untuk mencapai evaluasi. Rasionalisasi dari rencana tindakan adalah: 1. Tentukan karakteristik dari lokasi ketidaknyamanan, perhatikan isyarat verbal dan non verbal, membedakan karakteristik pasca operasi dan terjadinya komplikasi. 2. Evaluasi tekanan darah dan nadi, nyeri dapat meningkatkan darah dan denyut nadi. 3. Perhatikan nyeri tkan uterus dan adanya nyeri penyerta, selama 12 jam, kontraksi uterus kuat dan teratur dan berlanjut selama 2-3 hari, meskipun frekuensinya menurun secara bertahap. 4. Ubah posisi klien, kurang rangsangan yang berbahaya dan berika masase punggung, alihkan perhatian dari sensasi nyeri.

5. Anjurkan posisi berbaring datar, meringankan gejala sakit kepala akibat peningkatan tekanan CSS. 6. Kolaborasi pemberian analgesic setiap 3-4 jam. 7. Tinjau ulang pemberian analgesic terkontrol sesuai indikasi. Analgesic yang terkontrol dapat menghilangkan nyeri dengan cepat tanpa efek samping. Kelemahan jika masalah tersebut tidak diangkat adalah: pasien merasa kesakitan menahan nyeri dan dapat menyebabkan pasien tidak dapat melakukan latihan untuk melakukan aktifitas. Kekuatan masalah tersebut ditegakkan karena: pasien dapat merasa nyaman dan tidak nyeri sehingga pasien mau mencoba dan berlatih untuk memulai aktifitas yang ringan. Hasil evaluasi yang diharapkan adalah pasien mengatakan nyeri berkurang.

Diagnosa II: Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya luka insisi. Resiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seorang individu terserang oleh agen patogenik dan oportunistik (virus, jamur, bakteri, protozoa, parasit) dari sumber-sumber eksternal, endogen dan eksogen (Carpenito, 2000: 533). Bahwa resiko tinggi diantaranya tindakan

pembedahan. Diagnose tersebut diangkat karena pada klien didapatkan data subjektif: pasien mengatakan luka post op belum dibersihkan. Data objektif: luka jahitan 12 cm dan 10 jahitan, TD: 10/80 mm/Hg, N: 80 x/mnt, S: 360C, RR: 20 x/mnt.

Tindakan yang dilakukan penulis untuk mengatasi masalah tersebut: memonitor tanda-tanda vital, jika ditemukan adanya peningkatan suhu dan nadi, diduga terjadi infeksi (Dangoes, 2001: 346). Mengkaji adanya tandatanda infeksi rasionalnya jika terdapat tanda kemerahan, oedema, nyeri, eksudat dan gangguan penyatuan menandakan infeksi luka (Dangoes, 2001 : 346). Cuci tangan sebelum melakukan medikasi. Rasionalnya dapat membantu penyembuhan dan mengurangi media pertumbuhan kuman-kuman pathogen serta membantu proses penyembuhan luka (Dangoes, 2001: 346).

Menganjurkan pasien dan keluarga untuk menjaga agar luka tetap bersih dan kering. Rasionalnya lingkungan yang lembab merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, karena bakteri dapat berpindah melalui aliran kapiler yang basah ke luka insisi (Dangoes, 2002: 909). Memberikan antibiotik sesuai program dokter baik jenis, cara dan dosis. Rasionalnya dapat mencegah infeksi dan penyebaran ke jaringan sekitar aliran darah asalkan baik cara dan dosis sesuai dengan keadaan klien (Dangoes, 2001: 909). Kelemahan bila masalah ini tidak diangkat adalah bisa infeksi pada luka sampai ke peritoneum, pasien bisa terjadi syock karena kehilangan daya tahan. Panas yang tinggi serta rasa aman dan nyaman tidak tercapai, biaya akan meningkat karena waktu perawatan semakin lama. Kekuatan yang didapatkan pada masalah ini, masalah teratasi sebagian karena pada saat dilakukan perawatan luka tidak terdapat tanda-tanda infeksi, luka kering tidak ada pu atau cairan karena luka.

Evaluasi yang ditemukan, pasien menyatakan nyeri ringan berkurang, keadaan luka kering tidak ada cairan atau pes, luka tertutup semua. Masalah teratasi sebagian dan rencana dilanjutkan.

Diagnosa III: Gangguan pola istirahat tidur berhubungan dengan hospitalisasi. Gangguan pola istirahat tidur adalah keadaan dimana individu mengalami suatu perubahan dalam kualitas dan kuantitas istirahat yang menyebabkan rasa ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan (Carpenito, 2000:909). Alasan diagnose ini ditegakkan karena penulis mendapat data subjektif: pasien mengatakan tidak bisa tidur malam. Data objektif: wajah tampak lelah. Selain itu didukung adanya literature yang menjelaskan bahwa gangguan pola istirahat tidur dapat dibuktikan oleh terus-menerus bangun atau tidak bisa tidur (Dangoes: 2000:950). Masalah ini penulis prioritaskan menjadi diagnose ketiga karena adanya pertimbangan tingkat kepentingan dan kesulitan serta kebutuhan pertolongan lebih ringan daripada diagnose kesatu. Rasional dari rencana tindakan keperawatan dalam diagnosa ini adalah: mengidentifikasi kebutuhan untuk menetapkan pola tidur yang berbeda (Dangoes, 2000:931). Ciptakan lingkungan yang nyaman, rasionalnya membantu meningkatkan istirahat, tidur dan relaksasi dan menurunkan rangsang (Dangoes, 2001:931). Anjurkan pasien untuk tidur 7-8 jam sehari dengan rasional rencana yang kreatif yang membolehkan tidur dengan si bayi

lebih awal serta tidur siang membantu memenuhi kebutuhan tubuh serta kelelahan yang berlebihan (Dangoes, 2001:931). Beritahu akibat dari kurang tidur berlangsung lama dapat terjadi gangguan tubuh. Anjurkan relaksasi sebelum tidur dengan berdoa dan rasionalisasi penurunan reflek psikologis, relaksasi diperlukan untuk meningkatkan tidur (Dangoes, 2001:951). Kekuatan dari tindakan ini adalah pasien memenuhi anjuran dari tim kesehatan dan bila siang saat tidak ada pengunjung pasien dapat tidur. Kelemahannya adalah peningkatan kesejahteraan dan istirahat (Dangoes, 2001:931), setelah dilakukan tindakan didapat pasien menyatakan dapat tidur sedikit nyenyak walaupun terkadang harus bangun karena bayinya menangis sehingga rencana dilanjutkan.

B. Diagnosa Yang Tidak Muncul Pada Kasus 1. Gangguan Pada Eliminasi BAB Konstipasi Berhubungan dengan Penurunan Otot Abdomen Konstipasi menurut (Carpeito, 2000:164) adalah keadaan dimana individu mengalami atau beresiko tinggi mengalami usus stasis usus besar, sehingga menimbulkan eliminasi jarang atau keras. Untuk menegakkan diagnose tersebut harus ada tanda mayor: bentuk feses keras, defekasi kurang dari 3x seminggu dan data minor yaitu: penurunan bising usus, keluhan tekanan pada rectum, mengejan dan nyeri pada waktu defakasi (Carpenito, 2000:164). Pada pasien tidak ditemukan data tersebut sehingga diagnose tersebut tidak ditegakkan.

2. Kurang Volume Cairan Berhubungan dengan Pendarahan Kurang volume cairan adalah keadaan dimana seseorang yang tidak makan, minum peroral mempunyai resiko terjadinya dehidrasi vaskuler, interstisiil atau interseluler (Carpenito, 2000:411). Menurut (Carpenito, 2000:411) untuk menegakkan diagnose tersebut diperlukan data-data yang mendukung adalah data mayor: ketidakcukupan dan ketidakseimbangan cairan antar aintake atau output, penurunan berat badan dan mukosa kering. Data minornya adalah: peningkatan natrium serum, penurunan keluaran urine, urine pekat, penurunan turgor kulit, dan rasa haus. Sedangkan pada kasus penulis tidak menemukan tanda-tanda tersebut tidak diangkat.

3. Intoleransi Aktivitas Berhubungan dengan Kelemahan Fisik Intoleransi aktivitas adalah penurunan kapasitas fisiologis

seseorang untuk melakukan aktivitas sampai tingkat yang diinginkan atau dibutuhkan. Diagnosa tersebut dapat ditegakkan jika ada dua data mayor yaitu: kelemahan akibat aktivitas, frekuensi pernafasan lebih dari 24x permenit dan data minor: pucat atau siaonosis dan vertigo (Carpenito, 2000:109). Pada pasien tidak ditemukan data-data di atas, sehingga diagnose tersebut tidak ditegakkan.

4. Kurang Pengetahuan Berhubungan dengan Kurang Informasi Tentang Perawatan Diri Post Section Caesaria

Kurang pengetahuan adalah suatu kondisi dimana individu atau kelompok mengalami kurang pengetahuan kognitif atau keterampilan psikomotor mengenai suatu keadaan dan rencana tindakan pengobatan (Carpenito, 2001:389). Diagnose tersebut dapat diangkat apabila terdapat tanda-tanda dalam masalah laktasi missal bengkak pada payudara. Pada pengkajian pada pasien tidak ditemukan tanda tersebut sehingga diagnose tersebut tidak dapat ditegakkan.

BAB V PENUTUP

Kesimpulan bab ini penulis menyimpulkan dari pembahasan dan selanjutnya menyarankan hal-hal yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan post sectio caesaria dnegan indikasi ketuban pecah dini.

A. Kesimpulan Pada pasien post section caesaria dengan indikasi ketuban pecah dini ditemukan masalah keperawatan seperti nyeri berhubungan dengan insisi; resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur infasife, gangguan pola eliminasi buang air besar konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic usus, kurang intoleransi, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, kurang volume cairan berhubungan dengan pendarahan, kurang pengetahuan tentang perawatan payudara berhubungan dengan kurang informasi. Untuk mengatasi masalah yang muncul pada kasus post sectio caesaria indikasi ketuban pecah dini, sebagian besar rencana tindakan secara teori dapat diterapkan pada rencana tindakan kasus. Dalam implementasi sebagian besar telah sesuai dengan rencana tindakan yang diterapkan, namun dalam pendokumentasiannya dirasa masih kurang terutama pada rencana tindakan yang didelgasikan. Pada evaluasi hasil yang dilakukan penulis pada dasarnya dapat terlaksana dengan baik dan sebagian masalah teratasi.

Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, diperlukan kerjasama dari pihak yang berkompetensi baik pasien, maupun keluarga perawat ataupun petugas medis lain, agar pasien mendpat asuhan keperawatan yang maksimal.

B. Saran 1. Penanganan post section caesaria indikasi ketuban pecah dini perlu dilakukan secara intensif agar tidak terjadi komplikasi. 2. Bagi pembaca disarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan section caesaria dengan indikasi ketuban pecah dini, sehingga dapatdilakukan upaya-upaya yang bermanfaat untuk menghindari kasus di atas. 3. Semoga karya tulis ini dapat meningkatkan kemampuan belajar penulis dalam menangani masalah yang muncul pada kasus post sectio caesaria dengan indikasi ketuban pecah dini pada khususnya dan dapat memberikan informasi pembaca dan masyarakat pada umumnya.

SATUAN ACARA PENDIDIKAN KESEHATAN

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan Waktu Sasaran Tempat Penyaji

: Perawatan Payudara : Perawatan Payudara : 20 Agustus 2008, Pukul 10.00 WIB – sampai selesai : Pasien Ny. E : Bangsal Cempaka RSUD Sragen : Ristian Idha Zalvita

I

Tujuan Instruksional Umum Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang cara perawatan payudara postpartum, diharapkan ibu mampu memahami dan selanjutnya melaksanakan perawatan payudara dengan benar.

II

Tujuan Instruksional Khusus Setelah mengikuti pendidikan kesehatan tentang perawatan payudara postpartum selama 1x45 menit ibu mampu: 1. Mengetahui pengertian perawatan payudara postpartum. 2. Mengetahui tujuan perawatan payudara postpartum. 3. Mengetahui cara perawatan payudara postpartum.

III No. 1.

Pelaksanaan Kegiatan 1. Pendahuluan a. Memberikan salam b. Perkenalan c. Mengkaji pengetahuan pasien. Menjawab salam Pasien mengatakan belum tahu tentang perawatan payudara 5 menit Respon Pasien Waktu

2.

2. Pelaksanaan a. Menjelaskan tujuan perawatan payudara postpartum. b. Mengajarkan cara perawatan payudara postpartum. c. Memberi kesempatan pasien untuk mendemonstrasikan. Pasien memperhatikan Pasien mendemonstrasikan cara perawatan payudara. 35 menit

3.

3. Penutup a. Menyimpulkan b. Melakukan evaluasi dengan memberikan kesempatan pada ibu untuk bertanya. Pasien memperhatikan dan mengatakan sudah mengerti Menjawab salam. 10 menit

c. Memberikan salam penutup.

IV

Metode a. Ceramah b. Demonstrasi c. Tanya jawab

V

Media a. Leaflet b. Perawatan brestcare

VI

Daftar Pustaka Mochtar, Rustam. 1998. Synopsis Obstetric dan Ginekologi. EGC. Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->