P. 1
KOMPILASI TEORI BELAJAR

KOMPILASI TEORI BELAJAR

4.0

|Views: 4,661|Likes:
Published by puspacpus

More info:

Published by: puspacpus on Apr 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2013

pdf

text

original

c-puspa’s document

TEORI-TEORI BELAJAR
A. TEORI BELAJAR KLASIK Teori belajar klasik didasarkan pada pemikiran para filosifis yang bersifat subyektif: 1. Teori disiplin mental / psikologi fakultas / psikologi unsur Belajar melalui instropeksi otak mns terdiri atas bagian-bagian yang memiliki tugas berbeda (Berpikir, meraba, fantasi, perasaan, kehendak) jiwa mns terdiri dari unsur-unsur tertentu dan unsur-unsur tersebut disebut dengan daya-daya jiwa. Orang akan dapat belajar jika mentalnya dilatih dengan keras terutama daya nalarnya dan selanjutnya belajar identik dengan mengasah otak. Pandangan klasik : Orang pintar adalah orang yang menguasai ilmu pasti (logis matematik dan logis bahasa). 2. Teori Humanisme klasik (Maslow)/ Naturalisme (J.J. Rosseou dan Pestalzzi.)

Maslow

Ia mengumpulkan biografi orang-orang terkenal dari berbagai bidang. Semua orang yang normal berpotensi untuk menjadi orang hebat. Manusia sebagai satu kepribadian yang utuh jiwa manusia ada tiga aspek, antara lain : Afeksi, Kognitif, Psikomotor. • J.J. Rosseou dan Pestalzzi Anak pada waktu dilahirkan adalah baik, jika anak itu menjadi rusak itu karena pengaruh dari lingkungan disekitar anak tersebut. Karena pada masa itu moral manusia pada level yang terpuruk. Belajar : Biarlah anak tumbuh kembang secara alamiah, jangan diapaapakan, freedom to learn : biarlah anak belajar dengan bebas karena orang dapat mengaktualisasi dirinya jika orang tersebut tidak diganggu. 3. Teori Apersepsi dan teori Tabularasa / Impirisme – Otak manusia seperti wadah yang siap mengkopi (Diisi) dengan apa saja dan pengetahuan yang telah masuk tersebut disebut Apersepsi – Teori tabularasa / Empirisme oleh Jhon Lock “ Anak bagaikan kertas kosong yang siap ditulis oleh pendidik dan lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap anak itu nantinya”.


1.

M. David Merril (Kognitif) Pelajaran diklasifikasikan menjadi 4, antara lain : Fakta

1

c-puspa’s document

2. 3. 4.

Konsep Prosedur Prinsip Tingkatan yang paling tinggi adalah menemukan prinsip.

Tingkatan yang paling rendah adalah mengingat fakta. Menemukan konsep : Memberikan nama baru untuk barang yang ditemukan.  Mengingat prosedur : Langkah-lamgkah melakukan sesuatu, misal : cara merebus mie instant.  Menggunakan prosedur : Melaksanakan perintah dalam mengingat prosedur.  Mengingat prinsip : Menulis lagi apa yang telah diperoleh, missal : menulis hokum Gosen, teori Konvergensi.  Menggunakan prinsip : Menggunakan hokum, rumus, dalil untuk menyelesaikan masalah.  Penemu prinsip : Ilmuwan yang berhasil menemukan dalil yang sampai pada hasil yang generalisasi untuk umum. Belajar pemahaman konsep dengan menggunakan dua cara, antara lain : • • Pendekatan Deduktif (khusus-umum) Pendekatan Induktif (umum-khusus)


Joseph M. Scandura (Teori Belajar Prosedural) Pengalaman tersusun secara hierarkis. Jika mengumpul keatas disebut vertical (vertical dan piramida). Jika sejajar maka horizontal Pengetahuan Deklaratif : Bercerita, harus menggunakan urutan sebab akibat, kronologis. isi pelajaran sebelum diajarkan harus diketahui apakah


• • Setiap

termasuk fakta, prinsip, konsep. Algoritmik : segala sesuatu ada prosedurnya. Pengetahuan Prosedural : Jika dipraktekkan oleh siswa dan berhasil tanpamengalami kegagalan. Keterangan intelektual menurut Gagne Diskriminasi, konsep, kongkrit, konsep terdefinisi, kaidah atau aturan, aturan tingkat lebih lanjut. Jika mencapai level tertinggi maka dikatakan sebagai kesiapan untuk memecahkan suatu masalah. • Lev N. LandaTeori Belajar Pembelajaran

2

c-puspa’s document

Teori belajar hampir selalu bersifat deskriptif karena selalu berbicara apa yang terjadi jika sesuatu dilakukan. Apabila akan belajar disuatu kelas yang begini maka lakukan hal ini jika ingin hasilnya baik (Prespektif) Heuristik : Siswa menemukan sendiri cara penyelesaian belajar atau masalah. Algoheuristik : Menemukan sendiri cara penyelesaian dalam suatu masalah dengan procedural srtinya diarahkan oleh guru dalam pemecahan suatu masalah. • 1. 2. 3. Charles M. Reigeluth dan Faith S. Stein Behaviorisme Kognitiv Naturalisme Tiga aliran utama dalam teori belajar, antara lain :

B. TEORI BELAJAR BEHAVIOURISTIK Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984: 252). Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. 1. Teori Belajar Classical Conditioning Teori belajar Classical Conditioning (pengkondisian klasik) di kemukakan oleh seorang psikolog Rusia bernama Ivan Pavlov (1849-1936). Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam hal ini stimuli netral diasosiasian dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respon yang sama. Tedapat dua tipe stimuli dan dua tipe respon, yaitu: unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response (CR). Pavlov melakukan penelitian mengenai pengkondisian klasikal dengan menggunakan anjingnya dan diasosiasikan dengan bel. US                            Saat sebelum pengkondisian:     UR makanan                                  anjing berliur

stimulus netral                          tidak  ada respon Bel                                            anjing tidak berliur

3

c-puspa’s document

Stimulus   + US                         UR Pengkondisian: Bel + makanan                                  anjing berliur Setelah pengkondisian: CS                                                   CR Bel                                          anjing berliur

Dari ketiga tahapan eksperimen tersebut dapat dijelaskan bahwa : 1. 2. 3. Apabila stimulus alamiah(daging) disajikan di hadapan anjing, maka anjing akan membentuk respon alamiah (mengeluarkan air liur). Apabila stimulus berkondisi (bel) diberikan setelah diberikan stimulus alamiah, maka respons berkondisi tidak akan terbentuk, dan Respons berkondisi akan terbentuk apabila stimulus berkondisi diberikan sebelum atau bebarengan dengan stimulus alamiah. Dari eksperimen tersebut Pavlov menarik kesimpulan yang kemudian dijadikan sebagai prinsip belajar, yaitu bahwa dalam diri anjing akan terjadi pengkondisian selektif berdasar atas penguatan selektif. Dalam arti, anjing dapat membedakan stimulus yang disertai sengan penguatan dan stimulus yang tidak disertai dengan penguatan. Penjelasan: Unconditioned stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov, makanan adalah US. Unconditioned response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. Dalam eksperimen Pavlov, air liur anjing yang merespon makanan adalah UR. Sebuah conditioned stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan sengan US. Diantara stimuli yang terkondisikan dalam eksperimen Pavlov adalah beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum anjing menyantap makanan, seperti suara pintu tertutup sebelum makanan ditmpatkan di piring anjing. Conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari, yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS. 2. Teori Belajar Koneksionisme

4

c-puspa’s document

Edward Thorndike mengembangkan teori Koneksionisme di Amerika Serikat (1874-1949). Menurut Thorndike, antara belajar merupakan yang peristiwa disebut terbentuknya asosiasi-asosiasi peristiwa-peristiwa

stimulus (S) dengan respon (R).Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk bereaksi atau berbuat atau respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting lerning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut :

1.

Hukum

Kesiapan(law

of

readiness),

yaitu

semakin

siap

suatu

organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain. Masalah kedua, jika ada kecenderungan melakukan tindakan lain untuk bertindak, tetapi atau ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan mengurangi meniadakan ketidakpuasannya. Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.

5

c-puspa’s document

2. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/
dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihanlatihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.

3. Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung
diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto, 1984). Selanjutnya berikut: Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai

a. Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response).
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. b. Hukum Sikap ( Set/ Attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya. c. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).

6

c-puspa’s document

Hukum

ini

mengatakan

bahwa

individu

dalam

proses

belajar

memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif). d. Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah. e. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting) Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama. Selain antara lain : 1. Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah. 2. Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa. 3. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon. 4. Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain. Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training, yaitu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya. 3. Teori Belajar Operant Conditioning Teori operant conditioning dikembangkan oleh Burr Federic Skinner (1904-1990). Operant Conditioning (prngkondisian operant) adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Pada awalnya penelitian mengenai operant conditioning dilakukan oleh menambahkan hukum-hukum baru, dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar

7

c-puspa’s document

E.I. Thorndike. Namun penelitian yang dilakukan oleh Skinner lebih sederhana dan lebih dapat diterima secara luas. Skinner mengadakan eksperimen dikenal dengan Skinner box dengan menggunakan kotak yang di dalamnya terdapat : (1) pengungkit, (2) penampung makanan, (3) lampu yang dapat dinyalakan dan dimatikan sesuai kehendak peneliti, dan (4) lantai dengan gril yang dialiri listrik. Dalam waktu eksperimen Skinner menggunakan tikus lapar sebagai hewan percobaan. Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping. Hukum efek (law effect) yang dikumukakan Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Skinner mengungkapkan bahwa konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi. Konsekuensi imbalan atau hukuman bersifat sementara (kontingen) pada perilaku organisme. Suatu tindakan dapat dinyatakan sebagi penguatan atau tidak adalah tergantung pada efek yang ditimbulkan. Tekanan utama dalam teori operant conditioning adalah pada respons atau perilaku dan konsekuensi yang menyertai. Oleh karena itu seorang harus membuat respons sedemikian rupa untuk memperoleh penguatan atau hadiah yang menjadi stimulus yang memperkuat (reinforcement stimuli). 4. Teori Belajar Conditioning Guthrie adalah seorang behaviourisme yang hidup pada tahun 18861959. Ia menyatakan bahwa semua belajar dapat diterangkan dengan satu prinsip, yaitu prinsip asosiasi. Belajar merupakan suatu upaya untuk menentukan hokum-hukum, bagaimana stimulus dan respon itu berasosiasi. Menurut Guthrie, perilaku manusia merupakan deretan perilaku yang terdiri atas unit-unit reaksi atau respons dari stimulus berikutnya. Dengan kata lain, stimulus memperoleh respons, kemudian respons tersebut menjadi stimulus baru dan memperoleh respons baru, begitu seterusnya. Pengubahan perilaku buruk yang terjadi pada diri seseorang dapat dilakukan dengan beberapa cara. Guthrie menyatakan ada tiga cara sebagai berikut :

a) Metode reaksi berlawanan (incompatible respone method)

8

c-puspa’s document

Apabila suatu respon terhadapstimulus telah menjadi kebiasaan, maka cara untuk mengubahnya adalah dengan jalan menghubungkan stimulus dengan respons yang berlawanan, atau respons buruk yang hendak dihilangkan.

b) Metode membosankan (exchaustion method)
Dalam metode ini, perilaku yang buruk dibiarkan terus sampai orang yang bersangkutan menjadi bosan dengan sendirinya. c) Metode pengubahan lingkungan (change of environment method) Metode ini dilakukan dengan cara memutuskan atau memisahkan hubungan antara stimulus dan respon yang akan dihilangkan. Aspek yang diubah yaitustimulus yang menyebabkan kebiasaan buruk. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991). 5. Teori Belajar Modeling dan Observational Learning Albert Bandura (1925 – masih hidup sampai sekarang) menyatakan bahwa belajar dari individu tidak dibentuk oleh konsekuensi atas perilaku yang ditampilkan, tetapi belajar langsung dari model. Ada empat (4) fase belajar dari model, yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase produksi (production phase) dan fase motivasi (motivation phase).

1.

Fase perhatian adalah tahap memberikan perhatian pada suatu model. Seseorang akan memberikan perhatian yang lebih apabila model yang tampil itu menarik, popular atau yang dikagumi. Dalam pembelajaran bisa saja seorang guru berperan sebagai model bagi siswanya. Jika seorang guru menjadi model bagi siswanya maka ia harus tampil dapat dipercaya, memiliki daya tarik, berwibawa, cocok dan dapat ditiru atau diteladani. Sebagaimana pernyataan (Depdiknas:2004) bahwa model harus kelihatan dapat dipercaya, kelihatan cocok dengan kelompok, memberikan standar yang dapat dipercaya debagai pedoman bagi cita-cita si pengamat. Si pengamat yang dimaksudkan adalah siswanya.

2.

Fase retensi adalah fase yang berperan untuk memberikan pertanda bahwa tingkah laku model tersimpan dalam memori si pengamat. Proses retensi yang penting adalah pengulangan, yaitu pengamat mengulang atau mengingat kembali tampilan modelnya. Selanjutnya guru dapat memberikan pelatihan bagi siswa untuk mengulangi tingkah laku dirinya sebagai model bagi siswa. Hal ini dilakukan untuk memastikan terjadinya

9

c-puspa’s document

retensi jangka panjang

3.

Fase produksi, fase si model mengamati komponen-komponen urutan tingkah laku si pengamat telah sesuai dengan dirinya. Fase di mana guru mengamati tingkah laku siswanya telah sesuai atau belum dengan tingkah laku yang dicontohkannya. Pada fase ini guru akan memberikan umpan balik kepada siswa pada aspek-aspek yang sudah benar dan melakukan perbaikan pada aspek-aspek yang masih salah.

4.

Fase motivasi adalah fase penguatan yang diberikan kepada siswa oleh guru. Di dalam kelas fase ini dilakukan dengan memberikan pujian atau angka kepada siswa atas perilaku-perilaku yang sesuai dengan permodelan yang diperlihatkan guru. Seseorang dalam melakukan aktivitas belajar dapat dilakukan dengan

cara memperhatikan pengalaman dari orang lain (vicarious learning). Dalam kegiatan belajar ini, individu belajar dengan cara memperhatikan orang lain yang memperileh penguatan atau hukuman. Konsep penting lainnya dari teori belajar melalui pengamatan dan modeling adalah pengaturan diri (selfregulation). Dalam kegiatan belajar ini, individu mengamati perilakunya sendiri, menilai perilakunya sendiri dengan standar yang dibuat sendiri, dan memperkuat atau menghukum diri sendiri apabila berhasil ataupun gagal dalam berperilaku. 6. Teori Belajar Modifikasi Perilaku Kognitif Mheicenbaum menyatakan bahwa individu dapat diajarkan untuk memantau perilakunya sendiri. Cara yang digunakan yaitu melatih individu yang terganggu emosionalnya untuk membuat dan menjawab pertanyaannya sendiri. Ada lima tahap dalam kegiatan belajar mandiri yang dikembangkan oleh Mheicenbaum, yaitu:

1. Modeling kognitif, yaitu model orang dewasa melakukan tugas tertentu
sambil berbicara dengan keras

2. Bimbingan eksternal, yaitu anak melakukan tugas yang sama dibawah
pembelajaran dari model.

3. Bimbingan yang dilakukan oleh diri sendiri, yaitu anak melakukan tugas
sambil membelajarkan diri sendiri.

4. Bimbingan dilakukan diri sendiri, yaitu anak membelajarkan dirinya
sendiridengan cara berbicara pelan-pelan pada saat melanjutkan tugas.

5. Pembelajarn diri sendiri, yaitu anak melakukan tugas untuk mencapai
kinerja tertentu dengan melakukan percakapan diri sendiri.

10

c-puspa’s document

Analisis Tentang Teori Behavioristik Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997). Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner. Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau halhal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon. Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut. Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar

11

c-puspa’s document

pembentukan atau shaping. Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative dan reinforcement) berimajinasi. Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:

cenderung

membatasi

pebelajar

untuk

berpikir

Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara; Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama; Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain

(meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan (bukan malah pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi

ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons. Kelebihan Teori Belajar Behavioristik 1. 2. 3. Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik pada yang kompleks. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi. Bahan pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai

12

c-puspa’s document

dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. 4. 5. 6. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Metode behavioristik ini sangat cocok untuk pemerolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsurunsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, rafleks, daya tahan dan sebagainya contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahragam dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. Kekurangan Teori Belajar Behavioristik 1. Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. 2. Mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. 3. 4. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. 5. Penggunaan begavioristik hukuman justru yang sangat metode dihindari yang oleh para efektif tokoh untuk dianggap paling

menertibkan siswa. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan

13

c-puspa’s document

metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid. Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka. Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan

14

c-puspa’s document

dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar. Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.

C. PIAGET DAN TEORINYA I. PENDAHULUAN
Teori kognitif dari Jean Piaget ini masih tetap diperbincangkan dan diacu dalam bidang pendidikan. Teori ini mulai banyak dibicarakan lagi kirakira permulaan tahun 1960-an. Pengertian kognisi sebenarnya meliputi aspekaspek struktur intelek yang digunakan untuk mengetahui sesuatu. Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan semata, melainkan hasil interaksi diantara keduanya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya; 3) interaksi social, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan

15

c-puspa’s document

lingkungan social, dan 4) ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau system mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempau mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. System yang mengatur dari dalam mempunyai dua factor, yaitu skema dan adaptasi. Skema berhubungan dengan pola tingkah laku yang teratur yang diperhatikan oleh organisma yang merupakan akumulasi dari tingkah laku yang sederhana hingga yang kompleks. Sedangkan adaptasi adalah fungsi penyesuaian terhadap lingkungan yang terdiri atas proses asimilasi dan akomodasi. Piaget mengemukakan penahapan dalam perkembangan intelektual anak yang dibagi ke dalam empat periode, yaitu : Periode sensori-motor ( 0 – 2,0 tahun ) Periode pra-operasional (2,0 – 7,0 tahun ) Periode operasional konkret ( 7,0 – 11,0 tahun ) Periode opersional formal ( 11,0 – dewasa ) Piaget memperoleh gelar Ph.D dalam biologi pada umur 21, ia kemudian tertarik pada psikologi dan mempelajari anak-anak abnormal di salah satu rumah sakit di Paris. Pada periode hidupnya, Piaget semakin tertarik pada logika anak dan metode berpikir yang berbeda-beda yang digunakan anak dalam menjawab peertanyaan pada usia yang berbeda pula. Selanutnya Piaget bekerja melakukan penelitian selama kurang lebih 40 tahun. Studinya dipusatkan pada persepsi anak dalam pemahamannya mengenai alam/benda, jumlah, waktu, perpindahan, ruang, dan geometri. Ia menganalisis operasi-operasi mental yang digunakan oleh anak, cara berpikir simbolis dan logika mereka. II. PEMBAHASAN 1. Pokok-pokok pikiran Piaget mengenai teori kognitif dan perkembangannya Tujuan teori Piaget adalah untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis. Piaget menyimpulkan dari penelitiannya bahwa organisme bukanlah agen yang pasif dalam perkembangan genetik. Perubahan genetic bukan peristiwa yang menuju kelangsungan hidup suatu organisme melainkan adanya adaptasi terhadap lingkungannya dan adanya interaksi antara organisme dan lingkungannya. Dalam responnya organisme mengubah kondisi lngkungan, membangun struktur biologi tertentu yang ia perlukan

16

c-puspa’s document

untuk tetap bisa memoertahankan hidupnya.perkembangan kognitif yang dikembangkan Piaget banyak dipengaruhi oleh pendidikan awal Piaget dalam bidang biologi. Dari hasil penelitiannya dalam bidang biologi. Ia sampai pada suatu keyakinan bahwa suatu organisme hidup dan lahir dengan dua kecenderunngan yang fundamental, yaitu kecenderunag untuk : 1. beradaptasi 2. organisasi ( tindakan penataan ) Untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar, yaitu sebagai berikut : 1. Skema Istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan. Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual. Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi 2. Asimilasi Asimilasi itu suatu proses kognitif, dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yan ada atau tingkah laku yang ada. Asimilasi berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya memperoses satu stimulis saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata, tetapi asimilasi mempnagruhi pertumbuhan skemata. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses kognitif, denga proses itu individu secara kognitif megadaptsi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu. 3. Akomodasi Akomodasi dapat diartikan sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan disebut oleh Piaget adalah keseimbangan. Untuk keperluan pegkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual Piaget membagi perkemabngan ini ke dalam 4

17

c-puspa’s document

periode yaitu : o Periode Sensori motor (0-2,0 tahun) Pada periode ini tingksh laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untu mengenal obyek. o Periode Pra operasional (2,0-7,0 tahun) Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati simbolisasi. o Periode konkret (7,0-11,0 tahun) Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi, sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis. o Periode operasi formal (11,0-dewasa) Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif, anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis, masalah verbal, dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain. Piaget mengeukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif : sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan

a. Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembanagn dari susunan
syaraf.

b. Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan bendabenda dan stimulus-stimulusdalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu.

c. Interaksi social, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu d. Keseimbangan, adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja
untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, penglaman fisis, dan interksi social. 2. Implikasi teori Piaget dalam pendidikan Teori Piaget membahas kognitif atau intelektual. Dan perkembangan intelektual erat hubungannya dengan belajar, sehhingga perkembangan intelektual ini dapat dijadkan landasan untuk memahami belajar. Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Teori Piaget mengenai terjadinya belajar didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif

18

c-puspa’s document

menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan. Piaget menginterpretasikan perkembangan kognitif dengan menggunakan diagram berikut : Berdasarkan diagram tersebut dimulai dengan meninjau anak yang sudah memiliki pengalaman yang khas, yang berarti anak sudah memiliki sejumlah skemata yang khas. Pada suatu keadaan seimbang sesaat ketika ia berhadapan dengan stimulus (bisa berupa benda, peristiwa, gagasan) pada pikiran anak terjadi pemilahan melalalui memorinya. Dalam memori anak terdapat 2 kemungkuinan yang dapat terjadi yaitu : Ø Terdapat kesesuaian sempurna antara stimulus dengan skema yang sudah ada dalam pikiran anak Ø Terdapat kecocokan yang tidak sempurna, antara stimulus dengan skema yang ada dalam pikiran anak. Kedua hal itu merupakan kejadian assimilasi. Menurut diagram, kejadian kesesuaian yang sempurna itu merupakan penguatan terhadap skema yang sudah ada. Stimulus yang baru (datang) tidak sepenuhnya dapat diasimilasikan ke dalam skemata yang ada. Di sini terjadi semacam gangguan mental atau ketidakpuasan mental seperti keingintahuan, kepedulian, kebingungan, kekesalan, dsb. Dalam keadaaan tidak seimbang ini anak mempunyai 2 pilihan : Ø Melepaskan diri dari proses belajar dan mengabaikan stimulus atau menyerah dan tidak berbuat aa-apa (jalan buntu) Ø Memberi tanggapan terhadap stimulus baru itu baik berupa tanggapan secara fisik maupun mental. Bila ini dilakukan anak mengubah pandangannya atau skemanya sebagai akibat dari tindakan mental yang dilakukannya terhadap stimulus itu. Peritiwa ini disebut akomodasi. III. KESIMPULAN  Terori Piaget mengenai perkembangan kognitif mendenisikan kembali intelegensi, pengetahuan, dan hubungan dengan lingkungannya.  Perkembangan kognitif mempunyai 4 aspek yaitu kematangan, pengalaman, interaksi social, dan ekuilibrasi  Menurut Piaget setiap organisme hidup cenderung untuk melakukan adaptasi dan organisasi. Dalam proses adaptasi dan organisasi rerdapat 4 konsep dasar yaitu skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi  Skema adalah struktur kognitif yang digunakan organisme untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungannya dan menata lingkungan itu secara intelektual.

19

c-puspa’s document

 Asimilasi

adalh

proses

yang

digunakan

seseorang

untuk

mengintegrasikan bahan persepsi baru atau stimuklus baru ke dalam skemata atai pola perilaku yang sudah ada. TEORI BELAJAR HUMANISTIK Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaikbaiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah : 1. 2. Proses pemerolehan informasi baru, Personalia informasi ini pada individu. Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: a. Arthur Combs (1912-1999) Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah

20

c-puspa’s document

menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya. Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan. b. Maslow Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal : (1) suatu usaha yang positif untuk berkembang (2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self). Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi. c. Carl Rogers Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari

21

c-puspa’s document

psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak. Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy. Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu: 1. 2. Kognitif (kebermaknaan) experiential ( pengalaman atau signifikansi) Guru menghubungan pengetahuan akademik ke dalam

pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu: 1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya. 2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa 3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa. 4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses. Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsipprinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah : a. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri. c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya. d. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.

22

c-puspa’s document

e. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar. f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya. g. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu. h. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari. i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting. j. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu. Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Merespon perasaan siswa Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang Berdialog dan berdiskusi dengan siswa Menghargai siswa Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa) Tersenyum pada siswa Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.

23

c-puspa’s document

Implikasi Teori Belajar Humanistik a. Guru Sebagai Fasilitator Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk): 1. 2. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum. 3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi. 4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka. 5. 6. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok 7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, 8. seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa 9. 10. harus Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasanketerbatasannya sendiri.  Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa

24

c-puspa’s document

Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Merumuskan tujuan belajar yang jelas Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri Mendorong Siswa di siswa dorong untuk untuk peka bebas berpikir kritis, memaknai pendapat, proses memilih pembelajaran secara mandiri mengemukakan pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan. 6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. 7. 8. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.

25

c-puspa’s document

D. TEORI BELAJAR ORANG DEWASA Gagne membagi teori belajar dalam 3 famili : a.conditioning b.modelling c.kognitif Kingsley dan Garry membagi teori belajar dalam 2 bagian yaitu ; a. teori stimulus-respon b. teori medan Taba membagi teori belajar menjadi 2 famili : a. teori asosiasi atau behaviorisme b. teori organismik, gestalt dan teori medan Di dalam pembahasan akan difokuskan pada teori belajar orang dewasa. Ada aliran inkuiri yang merupakan landasan teori belajar dan mengajar orang dewasa yaitu : “scientific stream” dan “artistic atau intuitive/reflective stream”. Aliran “scientific stream” adalah menggali atau menemukan teori baru tentang belajar orang dewasa melalui penelitian dan eksperimen . Teori ini diperkenalkan oleh Edward L. Thorndike dengan pubilkasinya “ Adult Learning”, pada tahun 1928. Pada aliran artistic, teori baru ditemukan melalui instuisi dan analisis pengalaman yang memberikan perhatian tentang bagaimana orang dewasa belajar. Aliran ini diperkenalkan oleh Edward C. Lindeman dalam penerbitannya “ The Meaning of Adult Education” pada tahun 1926 yang sangat dipengaruhi oleh filsafat pendidikan John Dewey. Menurutnya sumber yang paling berguna dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman peserta didik. Dari hasil penelitian, Linderman mengidentifikasi beberapa asumsi tentang pembelajar orang dewasa yang dijadikan fondasi teori belajar orang dewasa yaitu sebagai berikut :

26

c-puspa’s document

1) pembelajar orang dewasa akan termotivasi untuk belajar karena kebutuhan dan minat dimana belajar akan memberikan kepuasan. 2) orientasi pembelajar orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan, sehingga unit-unit pembelajar sebaiknya adalah kehidupan nyata (penerapan) bukan subject matter. 3) Pengalaman adalah sumber terkaya bagi pembelajar orang dewasa, sehingga metode pembelajaran adalah analisa pengalaman (experiential learning). 4) Pembelajaran orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri (self directed learning), sehingga peran guru sebagai instruktur. 5) Perbedaan diantara pembelajar orang dewasa semakin meningkat dengan bertambahnya usia, oleh karena itu pendidikan orang dewasa harus memberi pilihan dalam hal perbedaan gaya belajar, waktu, tempat dan kecepatan belajar. Carl R Rogers (1951) mengajukan konsep pembelajaran yaitu “ Student-Centered Learning” yang intinya yaitu :

1. 2.
3. 4.

Kita tidak bisa mengajar orang lain tetapi kita hanya bisa menfasilitasi

belajarnya. Seseorang akan belajar secarasignifikan hanya pada hal-hal yang Manusia tidak bisa belajar kalau berada dibawah tekanan Pendidikan akan membelajarkan peserta didik secara signifkan bila

dapat memperkuat/menumbuhkan “self”nya.

tidak ada tekanan terhadap peserta didik, dan adanya perbedaan persepsi/pendapat difasilitasi/diakomodir Peserta didik orang dewasa menurut konsep pendidikan adalah : 1) mereka yang berperilaku sebagai orang dewasa, yaitu orang yang melaksanakan peran sebagai orang dewasa 2) mereka yang mempunyai konsep diri sebagai orang dewasa Andragogi mulai digunakan di Netherlands oleh professor T.T Ten have pada tahun 1954 dan pada tahun 1959 ia menerbitkan garis-garis besar “Science of Andragogy”. Model andragogi mempunyai konsep bahwa : kebutuhan untuk tahu (The need to know), konsep diri pembelajar ( the learner’s concept),peran pengalaman pembelajar (the role of the leaner’s experience), kesiapan belajar ( readiness to learn), orientasi belajar (orientation of learning) dan motivasi lebih banyak ditentukan dari dalam diri si pembelajar itu sendiri.

27

c-puspa’s document

Didalam

pembelajaran

orang

dewasa

tidak

sepenuhnya

harus

menggunakan model andragogi, tetapi bisa digabung model pedagogi. Jika pembelajarnya belum mengetahui atau sangat asing dengan materi yang disampaikan tentunya kita bisa menggunakan model pedagogi pada awalawal pertemuan untuk mengkonstruksi pengalaman dengan pengetahuan yang baru didapatkan, selanjutnya bisa digunakan model andragogi sebagai penguatan dan pengembangan. E. TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME Pengertian Teori Konstruktivisme Adalah: “Satu faham bahwa murid membina sendiri pengetahuan atau konsep secara aktif berdasarkan pengetahuan dan pengalaaman sedia ada. Dalam hal ini murid akan menyesuaikan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan sedia ada untuk membina pengetahuan baru” 1. Kelebihan dan Kelemahan Teori Konstrutivisme a.Kelebihan Berfikir :Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menjana idea dan membuat keputusan. Faham :Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Ingat :Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Justeru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru. Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperolehi apabila berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina pengetahuan baru. Seronok :Oleh kerana mereka terlibat secara terus, mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sihat, maka mereka akan berasa seronok belajar dalam membina pengetahuan baru. b.Kelemahan Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung. 2. Proses Belajar Menurut Konstrukvistik Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek belajar, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar. 1. Proses belajar kontruktivistik secara konseptual

28

c-puspa’s document

proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar kedalam diri siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemuktahiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi rosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari pada fakta-fakta yang terlepas-lepas. 2. Peranan siswa. Menurut pandangan ini belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri. 3. Peranan guru. Dalam pendekatan ini guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah 4. dimilikinya, melainkan Sarana membantu belajar. siswa untuk ini membentuk menekankan pengetahuannya sebdiri. Pendekatan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.

5.

Evaluasi. Pandangan ini mengemukakan bahwa

lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan, serta aktifitasaktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman. 3. Hubungan Konstruktivisme Dengan Teori Belajar Lain Selama 20 tahun terakhir ini konstruktivisme telah banyak mempengaruhi pendidikan Sains dan Matematika di banyak negara Amerika, Eropa, dan Australia. Inti teori ini berkaitan dengan beberapa teori belajar seperti teori Perubahan Konsep, Teori Belajar Bermakna dan Ausuble, dan Teori Skema. Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang belajar dan pembelajaran. Konstruktivistik Pengtahuan adalah non-objective, Behavioristik Pengetahuan adalah objektif, pasti,

29

c-puspa’s document

bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu. Belajar adalah penyusunan

dan

tetap

,

tidak telah

berubah. terstruktur perolehan

Pengetahuan

dengan rapi. Belajar adalah

pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna seta menghargai ketidakmenentuan. Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya. Mind berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistic.

pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar.

Si belajar akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh si belajar. Fungsi mind adalah menjiplak struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah ini sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan.

Table 3 Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang Penataan Lingkungan Belajar Konstruktivistik Ketidakteraturan, ketidakpastian, Behavioristik Keteraturan, kepastian, ketertiban Si belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan Pembiasaan yang dan jelas dan ditetapkan lebih dahulu secara ketat. disiplin menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan Kegagalan kemampuan dilihat atau atau keberhasilan, ketidakmampuan interpretasi yang disiplin. Kegagalan dalam atau ketidakmampuan pengetahuan

kesemrawutan, Si belajar harus bebas. Kebebasan menjadi unsure yang esensial dalam lingkungna belajar.

penambahan

sebagai

dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai

berbeda yang perlu dihargai.

30

c-puspa’s document

bentuk perilaku yang pantas diberi Kebebasan penentu memapu untuk dipandang sebagai belajar. Si hadiah. Ketaatan pada aturan dipandang

keberhasilan menggunakan

sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan.

belajar adalah subjek yang harus kebebasan diri si melakukan pengaturan oleh

dalam belajar. Control belajar belajar. Table 4

dipegang

Control belajar dipegang oleh system yang berada di luar diri si belajar.

Pandangan

Konstruktivistik

dan

behavioristik

tentang

Tujuan

Pembelajaran Konstruktivistik Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn) Tabe 5 pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang strategi Behavioristik Tujuan belajar ditekankan pada penambahan pengetahuan.

pembelajaran Konstruktivistik Penyejian isi penggunaan bermakna menekankan pengetahuan mengikuti urutan pada secara dari Behavioristik Penyajian isi keterampilan menekankan yang terisolasi pada dan

akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian-ke-keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan

keseluruhan-ke-bagian. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar. Aktivitas belajar lebih banyak

kurikulum secara ketat.

Aktivitas penekanan teks.

belajar pada

lebih

banyak

didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis. Pembelajaran proses. menekankan pada

didasarkan pada buku teks dengan keterampilan isi buku mengungkapkan kembali

Pembelajaran menekankan pada hasil

Tabel 6 Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang evaluasi

31

c-puspa’s document

Konstruktivistik Evaluasi menekankan

pada

Behavioristik Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan ‘paper and pencil test’

penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konsteks nyata. Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar belajar dalam dengan yang apa pad konteks cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas bermkana yang nyata. serta evaluasi menerapkan menekankan dipelajari

Evaluasi yang menuntu satu jawaban benar. Jawaban benar menunjukkan bahwa si-belajar telah menyelesaikan tugas belajar. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian dilakukan dengan individual. terpisah setelah penekanan dari dan pada kegiatan kegiatan biasnaya belajar evaluasi pembelajaran,

aketerampilan

proses dalam kelompok.

4. Implikasi Konstruktivisme Pada Pembelajaran a. Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang diajarkan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik, namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. Karena, hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan. b. Tugas setiap guru dalam memfasilitasi atau siswanya, sehingga siswa pengetahuan materi yang dibangun dikonstruksi para

sendirisan bukan ditanamkan oleh guru. Para sisiwa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru kedalam kerangka kognitifnya. c. Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu.

32

c-puspa’s document

d. Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk
masing-masing konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksikonstruksi mental yang diperlukan. e. Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. f. Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.

g. Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara
belajar yang sesuai dengan dirinya. Guru hanya sebagai fasilitator, mediator, dan teman yang membuat situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta didik.

F. HASIL KOMPILASI DARI BERBAGAI TEORI BELAJAR Dari berbagai teori belajar yang ada mulai dari teori belajar klasik sampai yang terkini/mutakhir, menjadi sebuah teori-teori bahasan tersebut kemudian teori belajar saya dan kompilasikan mengenai

implikasinya dalam pembelajaran sebagai berikut.

33

c-puspa’s document

TEORI BELAJAR DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

I.

PENDAHULUAN Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar

Nasional Pendidikan pasal 19 ayat 1, bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan guru sebagai pendidik dapat memenuhi amanat peraturan pemerintah tersebut. Guru sebagai pendidik yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi peserta didik di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada siswa sebagaimana yang dinyatakan oleh Martinis Yamin (2007) bahwa mereka berperan sebagai komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal. Guru sebagai fasilitator dimaksudkan seorang guru harus mampu menjadi orang yang memfasilitasi atau melayani keperluan peserta didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martinis Yamin (2007), bahwa guru sebagai fasilitator memiliki peran menfasilitasi siswa-siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan sumber belajar. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka seorang guru yang profesional harus memliki kompetensi-kompetensi atau kemampuan yang terkait dengan tugasnya. Kompetensi-kompetensi paedagogis, sosial, dan tersebut meliputi kemampuan kepribadian, keprofesionalan.

Kompetensi-kompetensi akan tercapai apabila guru dapat mengetahui, menghayati, dan menerapkan dalam pembelajarannya teori-teori yang melandasi pembelajaran. Teori-teori ini penting dipahami guru agar pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas dilaksanakn dengan sistematis, terarah dan tersruktur dengan baik. Banyak teori-teori dan implikasinya dalam pembelajaran yang dikenali orang. Untuk itu maka pembahasan teori belajar dan implikasinya dalam pembelajaran dibatasi hanya membahas 3 hal, yaitu : 1. 2. Teori Belajar yang melandasi proses pembelajaran Teori Belajar yang melandasi Model Pembelajaran

34

c-puspa’s document

3.

Teori Belajar yang melandasi Media Pembelajaran Tiga hal tersebut dilakukan pembahasannya dikarenakan ketiganya

merupakan kesatuan yang penting diperhatikan oleh seorang guru dalam membelajarkan siswa atau peserta didik di dalam kelas. Pembahasan dilakukan dengan menyampaikan ringkasan teori, implikasi dan alternatif contoh yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Satu atau lebih teori dapat saja melandasi salah satu bahasan atau juga dapat melandasi seluruh bahasan. II. PEMBAHASAN A. Teori Belajar yang melandasi Proses Pembelajaran Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang guru untuk melalui tahaptahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh E.Mulyasa (2007), bahwa tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik. Untuk mampu melakukan proses pembelajaran Proses hendaknya ini si guru yang harus akan mampu disiapkan menyiapkan oleh seorang proses guru yang pembelajarannya. pembelajaran terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori

melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran. Berikut ini kita akan membahas teori-teori belajar dan implikasinya dalam proses pembelajaran. Teori-teori belajar yang dibahas adalah teori yang dijelaskan oleh bebrapa orang ahli seperti Gagne, Piaget, Bruner, Ausubel dan lain-lain. 1. Teori Gagne Gagne beranggapan bahwa hirarki belajar itu ada, sehingga penting bagi guru untuk menentukan urutan materi belajar yang harus diberikan. Materi-materi yang berfungsi prasyarat harus diberikan terlebih dahulu. Keberhasilan siswa belajar kemampuan yang lebih tinggi, ditentukan oleh apakah siswa itu memiliki kemampuan belajar yang lebih rendah atau tidak. Menurut Gagne ada 8 tipe belajar, yaitu:

35

c-puspa’s document

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

belajar isyarat; belajar stimulus respon belajar merangkaikan belajar aosisasi verbal belajar diskriminasi belajar konsep belajar prinsip/hukum belajar pemecahan masalah manusia sebagai tujuan belajar menurut Gagne

Kemampuan

dibedakan menjadi 5 kategori, yaitu : (a) keterampilan intelektual; (b) informasi verbal; (c) strategi kognitif; (d) keterampilan motorik; dan (e) sikap Implikasi teori Gagne di dalam proses pembelajaran Untuk mencapai hasil belajar yang demikian maka proses belajar mengajar harus memperhatikan kejadian instruksional yang meliputi (1) menarik perhatian, (2) menjelaskan tujuan, (3) mengingat kembali apa yang telah dipelajari, (4) memberikan materi pelajaran, (5) memberi bimbingan belajar, (6) memberi kesempatan, (7) memberi umpan balik tentang benar tidaknya tindakan yang dilakukan, (8) menilai hasil mempertinggi retensi dan transfer. 2. Teori Piaget Prinsip teori Piaget, (a) manusia tumbuh beradaptasi, dan berubah melalui perkembangan fisik, kepribadian, sosioemosional, kognitif, dan bahasa; (b) pengetahuan datang melalui tindakan; (c) perkembangan kognitif sebagian besar tergantung seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Menurut Piaget perkembangan kognitif pada anak secara garis besar sebagai berikut: (a) priode sensori motor (0-2 tahun); (b) priode praoperasional (2-7 tahun); (c) priode operasional konkrit (7-11 tahun); (d) priode operasi formal (11-15 tahun). Konsep-konsep dasar proses organisasi dan adaptasi intelektual menurut Piaget, yaitu : a) skemata, dipandang sebagai sekumpulan konsep; b) asimilasi, peristiwa mencocokkan informasi baru dengan informasi lama yang sudah dimiliki oleh seseorang; c) akomodasi, terjadi apabila antara informasi baru dan lama yang semula tidak cocok kemudian dibandingkan dan disesuaikan dengan informasi lama; dan d) equilibrium (keseimbangan), bila keseimbangan tercapai maka siswa belajar, dan (9)

36

c-puspa’s document

mengenal informasi baru Implikasi teori Piaget dalam Proses Pembelajaran, yaitu : a. Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya tetapi juga prosesnya b. mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif dalam pembelajaran, penyajian pengetahuan jadi tidak mendapat tekanan c. memaklumi adanya perbedaan individual, maka kegiatan pembelajaran diatur dalam bentuk kelompok kecil d. peran guru sebagai seorang yang mempersiapkan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman yang luas 3. Teori Bruner Teori Bruner hampir serupa dengan teori Piaget, Di dalam teorinya Bruner mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak mengikuti 3 tahap representasi yang berurutan, yaitu: (a)enactive representation, segala pengertian anak tergantung kepada responnya; (b) iconic representation, pola berfikir anak tergantung kepada organisasi visual (benda-benda yang konkrit) dan organisasi sensorisnya; dan (c) simbolic reprentation, anak telah memiliki pengertian yang utuh tentang sesuatu hal, pada priode ini anak telah mampu mengutarakan pendapatnya dengan bahasa. Berbeda dengan Piaget, Bruner memiliki pandangan yang lain tentang peranan bahasa dalam perkembangan intelektual anak. Bruner berpendapat meskipun bahasa dan pikiran berhubungan, tetapi merupakan dua sistem yang berbeda. Bahasa merupakan alat berfikir dalam yang berbentuk pikiran. Dengan kata lain juga proses berfikir adalah bahwa akibat kesiapan bahasa adalah dalam yang berlangsung dalam benak siswa. Bruner keterampilan berpendapat yang penguasaan menguasai sederhana memungkinkan seseorang

keterampilan lebih tinggi. Menurut Bruner kita tidak boleh menunggu datangnya kesiapan, tetapi harus membantu tercapainya kesiapan itu. Tugas orang dewasalah mengajarkan kesiapan itu pada anak. Berhubungan dengan proses belajar Bruner dikenal dengan belajar penemuannya (discovery learning). Implikasi Teori Bruner dalam proses pembelajaran adalah : a) menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah; b) anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan

37

c-puspa’s document

c) dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya. Untuk itu siswa akan mencoba melakukan sintesis, analisis, menemukan informasi baru dan menyingkirkan informasi yang tak perlu. d) 4. Teori Ausubel Ausubel berpendapat bahwa belajar penemuan itu penting, tetapi dalam beberapa situasi tidak efisien, ia lebih menekankan guru sentral, sehingga Ausubel kurang menekankan belajar aktif. Penekanannya pada ekpositorik .Ausubel menekankan pengajaran verbal yang bermakna (meaningful verbal instruction). Menurut Ausubel, setiap ilmu mempunyai struktur konsep-konsep yang membentuk dasar sistem informasi ilmu tersebut. Semua konsep berhubungan satu sama lain (organiser). Struktur konsep dari setiap bidang dapat diidentifikasi dan diajarkan kepada semua siswa dan menjadi sitem proses informasi mereka yang disebut dengan peta intelektual. Peta intelektual ini dapat digunakan untuk menganalisa domain tertentu dan untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan erat dengan aktivitas domain tersebut. Belajar adalah mencocokkan konsep dalam suatu pokok bahasan ke dalam sistem yang dimilikinya untuk kemudian menjadi milikinya dan berguna baginya. 5. Teori Vygotsky Teori Vygotsky beranggapan bahwa pembelajaran terjadi apabila anakanak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya, atau tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development. Zone of proximal development maksudnya adalah perkembangan kemampuan siswa sedikit di atas kemampuan yang sudah dimilikinya. Selanjunta Vygorsky lebih menekankan scaffolding, ytiu memberikan bantuan penuh kepada anak dalam tahap-tahap awal pembelajaran yang kemudian berangsur-angsur dikurangi dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya. 6. Teori Konstruktivis Ide-ide Piaget, Vygotsky, Bruner dan lain-lain membentuk suatu teori pembelajaran yang dikenal dengan teori konstruktivis. Ide utama teori ini adalah: (a) siswa secara aktif membangun pengetahuannya sendiri; (b) agar

38

c-puspa’s document

benar-benar dapat memahami dan dapat menerapkan pengetahuan siswa harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri; (c) belajar adalah proses membangun pengetahuan bukan penyerapan atau absorbsi; dan (d) belajar adalah proses membangun pengetahuan yang selalu diubah secara berkelanjutan melalui asimilasi dan akomodasi informasi baru. Menurut Suradijono dalam Herawati Susilo (2000), pembelajaran adalah kerja mental aktif, bukan menerima pengajaran dari guru secara pasif. Guru berperanan memberi dukungan, tantangan berfikir,melayani sebagai pelatih namun siswa tetap kunci pembelajaran Implikasi teori konstruktivis dalam proses pembelajaran adalah :

a.
b. c.

Memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak Mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri, keterlibatan aktif Menekankan pembelajaran top-down mulai dari yang komplek ke dari pada bottom-up dari yang sederhana bertahap

sekedar hasilnya saja. dalam kegiatan pembelajaran sederhana, d.

berkembang ke komplek Menerapkan pembelajaran koperatif B. Teori Belajar yang melandasi Model Pembelajaran 1. Teori Belajar sosial (Albert Bandura) Ada empat (4) fase belajar dari model, yaitu fase perhatian (attentional phase), fase retensi (retention phase), fase produksi (production phase) dan fase motivasi (motivation phase). 1. Fase perhatian adalah tahap memberikan perhatian pada suatu model. Seseorang akan memberikan perhatian yang lebih apabila model yang tampil itu menarik, popular atau yang dikagumi. Dalam pembelajaran bisa saja seorang guru berperan sebagai model bagi siswanya. Jika seorang guru menjadi model bagi siswanya maka ia harus tampil dapat dipercaya, memiliki daya tarik, berwibawa, cocok dan dapat ditiru atau diteladani. Sebagaimana pernyataan (Depdiknas:2004) bahwa model harus kelihatan dapat dipercaya, kelihatan cocok dengan kelompok, memberikan standar yang dapat dipercaya debagai pedoman bagi cita-cita si pengamat. Si pengamat yang dimaksudkan adalah siswanya. 2. Fase retensi adalah fase yang berperan untuk memberikan pertanda bahwa tingkah laku model tersimpan dalam memori si pengamat. Proses retensi yang penting adalah pengulangan, yaitu pengamat mengulang atau mengingat kembali tampilan modelnya. Selanjutnya guru dapat

39

c-puspa’s document

memberikan pelatihan bagi siswa untuk mengulangi tingkah laku dirinya sebagai model bagi siswa. Hal ini dilakukan untuk memastikan terjadinya retensi jangka panjang 3. Fase produksi, fase si model mengamati komponen-komponen urutan tingkah laku si pengamat telah sesuai dengan dirinya. Fase di mana guru mengamati tingkah laku siswanya telah sesuai atau belum dengan tingkah laku yang dicontohkannya. Pada fase ini guru akan memberikan umpan balik kepada siswa pada aspek-aspek yang sudah benar dan melakukan perbaikan pada aspek-aspek yang masih salah. 4. Fase motivasi adalah fase penguatan yang diberikan kepada siswa oleh guru. Di dalam kelas fase ini dilakukan dengan memberikan pujian atau angka kepada siswa atas perilaku-perilaku yang sesuai dengan permodelan yang diperlihatkan guru. Implikasi teori ini ada pada model pembelajaran langsung (direct instruction). Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang bersifat techer center (berpusat kepada guru). Tugas guru membantu siswa menemukan pengetahuan prosedural dan memahami pengetahuan deklaratif. Model pembelajaran ini memiliki sintaks (tingkah laku mengajar) yang terdiri dari: Fase 1, guru menyampaiakn tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar. (Fase menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa). Fase2, menyajikan guru mendemostrasikan keterampilan tahap demi tahap (fase yang benar, atau informasi mendemonstrasikan

pengetahuan atau keterampilan). Fase 3, guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal (memberi pelatihan awal) Fase 4, guru memeriksa keberhasilan siswa melakukan tugas seperti demonstrasi yang telah dilakukan guru (fase mencek pemahaman dan memberikan umpan balik) Fase 5, guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dan penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dalam kehidupan senari-hari (fase lanjutan dan penerapan). 2. Teori Konstruktivisme Menurut teori ini guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam dirinya. Peran guru adalah memberi kemudahan dalam proses belajar, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan

40

c-puspa’s document

ide-ide mereka sendiri, mengajar siswa menjadi sadar dengan kemampuan dirinya dan menerapkan strategi belajar mereka sendiri. Implikasi pembelajaran pembelajaran Teori konstruktivisme dapat terlihat dalam dan model model based kooperatif (kooperative masalah learning)

berdasarkan

(problem

instruction).Pembelajaran koperatif adalah pembelajaran yang tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi juga ketrampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Model pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Muslimin Ibrahim, dkk:2000). Model pembelajaran koperatif ini memiliki sintaks, terdiri dari : Fase1: Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa) Fase 2: guru menyajikan informasi kepada siswa dengan dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan (menyajikan informasi) Fase membentuk 3: guru menjelaskan belajar dan kepada siswa bagaimana caranya agar kelompok membantu setiap kelompok

melakukan secara transisi secara efisien (mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Fase 4: guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka ( membimbing kelompok kelompok bekerja dan belajar) Fase 5: guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari tentang atau masing-masing kelompok mempresentasikan kerjanya (evaluasi) Fase 6: guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok (memberikan penghargaan) Pembelajaran berbasis masalah (problem based instruction) adalah pembelajaran pembelajaran yang mengharapkan siswa mampu memecahkan masalah dan menerapkan hasil pembelajaran sebelumnya pada situasi yang baru. Sebagaimana pernyataan (Herawati Susilo:2000)pemecahan masalah dianggap sebagai hasil belajar yang paling tinggi karena bila seseorang telah berhasil memecahkan masalahitu, mampu menerapkan cara itu untuk memecahkan masalahnya. Model pembelajaran ini dikenal juga dengan model penelitian. Siswa masalah yang dihadapinya dan mengetahui jawaban

41

c-puspa’s document

diharapkan mampu melakukan penelitian yang beranjak dari permasalahan yang mereka temukan atau diajukan oleh guru untuk dipecahkan dan diterapkan ke dalam suasana baru. Sehingga pada akhirnya siswa memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Sebagaimana penjelasan (Herawati susilo: 2000) dalam menerapkan model ini seseorang dapat memulai dari sederhana ke kompleks namun bisa dimulai dari masalah yang kompleks untuk selanjutnya diharapkan siswa memiliki keterampilan-keterampilan sederhana. Sintaks model pembelajaran ini terdiri dari : Fase1: guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih (orientasi siswa kepada masalah) Fase 2: guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (mengorganisasikan siswa untuk belajar) Fase 3 : guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan pemecahan masalah (membimbing penyelidikan individu maupun kelompok Fase 4: guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan teman (mengembangkan dan menyajikan hasil karya) Fase 5: guru membantu siswa untuk merefleksi atau mengevaluasi penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan (menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah) C. Teori Belajar yang melandasi Media Pembelajaran Pada bagian berikut ini akan dibahas beberapa teori yang melandasi penyusunan media pembelajaran. 1. Kontinum Kongkrit-Abstrak Ahli psikologi Jerome Bruner, dalam pengembangan teori belajarnya mengemukakan bahwa pengajaran seharusnya dimulai dari pengalaman langsung (enactive) menuju representasi ikonik (seperti penggunaan gambar dan flim) dan baru kemudian menuju representasi simbolik (seperti penggunaan kata-kata atau persamaan-persamaan matematis). Bruner lebih jauh menyatakan bahwa urutan bagaimana siswa menerima materi ajar memiliki pengaruh langsung pada pencapaian ketuntasan belajar tersbut. Bruner menyatakan bahwa urutan bagaimana siswa menerima materi ajar memiliki pengaruh langsung pada pencapaian ketuntasan belajar tersebut. Bruner menyatakan bahwa hal ini berlaku untuk

42

c-puspa’s document

seluruh pebelajar, bukan hanya anak-anak. Pada saat suatu tugas belajar disajikan pada orang dewasa yang tidak memiliki pengalaman yang relevan dengan tugas itu, pembelajaran akan dipermudah bila pengajaran mengikuti suatu urutan dari pengalaman kongkrit menuju representasi ikonik kemudian menuju representasi abstrak. Hoban,Hoban, dan Zisman, (dalam Nur 2000), menyatakan bahwa nilai ajar merupakan fungsi dari tingkat kekonkriannya. Edgar Dale dalam (Nur 2000), mengembangkan kerucut pengalaman sebagai berikut: Simbol Verbal abstract Simbol visual Tape recorder/radio Film statis Film gerak iconik Televisi Pertunjukan Karya wisata Demonstrasi enactive Pengalaman Dramatik Pengalaman buatan Pengalaman langsung Dari kerucut pengalaman belajar terlihat pengalaman pebelajar akan beranjak dari fase konkrit naik ke fase abstrak. Siswa akan mencapai keberhasilan jika telah membangun sejumlah pengalaman yang lebih konkrit untuk memaknai penyajian realitas yang lebih abstrak. Contohnya dalam mata pelajaran genetika, rambut keriting terlihat nyata begitu juga dengan rambut lurus, gen rambut kriting dan rambut lurus tidak bisa terlihat dengan nyata sehingga hanya dapat dilambangkan dengan simbol-simbol. Implikasinya dalam mediabelajar adalah media belajar lebih efektif dimulai dari pengalaman langsung sebagai media sebenarnya bertahap menjadi media yang bersifat lebih abstrak. 2. Pandangan Behavioristik Pandangan ini dipelopori oleh Skinner, dengan teori yang bernama reinforcement theory, sehingga dihasilkannya pembelajaran terprogram. Pembelajaran terprogram adalah teknik yang memandu pembelajaran melalui rangkaian langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai tingkat kinerja yang dikehendaki. Setelah tujuan perilaku dirumuskan, dilakukan pembelajaran dengan menyisihkan materi yang tidak langsung berhubungan dengan tujuan.

43

c-puspa’s document

Implikasinya adalah dengan menyiapkan rancangan pembelajaran haruslah menggunakan media yang benar-benar terstruktur atau terprogram dan sesuai dengan materi pembelajaran. 3. Pandangan kognitivis Pandangan kognitivis menciptakan model mental pada diri pebelajar tentang memori jangka pendek dan panjang. Informasi baru tersimpan dalam memori jangka pendek sebagi tempat informasi dicerna dengan cara latihan yang diulang-ulang sampai siap disimpan di memori jangka panjang. Pebelajar kemudian menggabungkan informasi dan keterampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif atau keterampilan untuk menangani tugas yang lebih kompleks. Kognitivis mempunyai pandangan lebih luas tentang pebelajar mandiri dari pada pandangan behavior. Sebenarnya siswa kurang tergantung kepada arahan perancang program tetapi lebih bersandar kepada strategi kognitif mereka sendiri dalam menggunakan media pembelajaran. Contohnya siswa membuat peta konsep sebagai kesimpulan dari pembelajaran dan menayangkannya untuk seluruh kelas. 4. Pandangan Sosial-Psikologikal Robert Slavin dengan pembelajaran kelompoknya menemukan bahwa pembelajaran kooperatif lebih efektif dan secara sosial lebih bermakna dari pada pembelajaran secara individual. Media pembelajaran akan membantu kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa untuk bersama menemukan kesimpulan pembelajaran. Implikasi pandangan ini dapat dicontohkan dengan pemberian gambar sistem pencernaan ke dalam sebuah kelompok. Kelompok ditugasi guru untuk menentukan organ-organ penyusun sistem pencernaan dari gambar. Anggota kelompok bersama mengupayakan membuat kesimpulan organ-organ yang menyusun sistem pencernaan. 5. Teori Pembelajaran Sosial Bandura menyatakan melalui teori pembelajaran sosial seseorang dapat belajar melalui pengamatan terhadap suatu model. Implikasi teori ini pada pembuatan media adalah ketika guru memberikan contoh kepada siswa bagaimana memahami suatu konsep dalam pelajaran IPA melalaui observasi. Hal ini dapat dicontohkan oleh guru dengan memperlihatkan sebatang tumbuhan tomat, siswa disuruh mengamatinya, lalu guru menjelaskan setiap bagian-bagian tumbuhan mulai dari akar, batang dan daun serta bentuk setiap bagian itu. Siswa mengulang kembali penjelasan guru tersebut dengan bahasa mereka sendiri.

44

c-puspa’s document

6. Teori Pembelajaran kognitif penekanan teori ini adalah siswa harus sebagai prosesor yang aktif, bukan hanya sebagai penerima informasi yang pasif. Informasi berupa pengetahuan merupakan suatu proses pembentukan dan dalam pembentukannya siswa harus aktif mengaitkan skema-skema yang dimilikinya sehingga pengetahuan dipandang sebagai hasil ciptaan bukan perolehan pengkopian, namun sebagai proses pencaharian makna. Implikasi teori ini ada dalam penyusunan media oleh guru, sperti menyiapkan media transparansi, bagan/skema, maupun membuat charta dengan karton. Penggunaan media serta cara mengajar yang baik akan membuat siswa aktif terlibat menyusun pengetahuan barunya. 7. Teori Pemrosesan Informasi Teori Pemrosesan Informasi menyatakan proses belajar yang dialami oleh siswa dapat disamakan dengan proses pemrosesan informasi pada komputer. Informasi yang diterima lewat indera selanjutnya disimpan di dalam memori jangka pendek dan selanjutnya ditransformasikan lagi dan disimpan di memori jangka panjang. Informasi yang telah disimpan di dalam kedua memori itu dapat dipanggil kembali dan dikeluarkan. Teori Pemrosesan adalah teori kognitif belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kemabali informasi dari otak. Menurut Slavin dalam (Nur, 2000), ada tiga struktur memori manusia, yaitu register penginderaan, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Informasi yang akan diingat pertama-tama harus sampai pada indera seseorang kemudian di transfer dari register penginderaan, ke memori jangka pendek, selanjutnya diproses lagi untuk ditransfer ke memori jangka panjang. Menurut Slavin dalam (Nur 2000), persepsi stimuli tidak langsung seperti penerimaan stimuli melainkan juga dipengaruhi oleh status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan dan motivasi seseorang. Memusatkan perhatian siswa pada stimulus yang relevan dengan informasi baru yang menjadi perhatian guru. Implikasi kedua pendapat di atas terhadap pemilihan media pembelajaran harus memperhatikan sejauh mana media yang disampaikan menarik perhatian siswa sehingga dapat tersimpan dalam memori jangka panjangnya. Jika media yang digunakan lebih menarik akan mempengaruhi mental siswa sehingga tertarik untuk mempelajarinya. 8. Pandangan CTL CTL atau contextual teching and learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan isi mata pelajaran sesuai

45

c-puspa’s document

dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, tenaga kerja (Blanchard, 2001) CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyususn pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.(Elaine B. Jhonson,2007) Berdasarkan pandangan CTL, benda sebenarnya atau benda nyata adalah media yang fundamental. Sedangkan untuk keperluan memahami detil-detil serta untuk keperluan penyusunan bahan laporan siswa dalam pembelajaran kontekstual serta untuk keperluan penilaian otentik, media visual yang lain seperti poster, transparansi, dan papan tempel dapat digunakan. III. PENUTUP A. Simpulan Teori belajar yang melandasi proses pembelajaran meliputi teori-teori yang memperhatikan hal-hal yang penting terkait dalam pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh peserta didik dan bimbingan guru. Banyak ahli pendidikan mengeluarkan pendapat sehubungan dengan proses pembelajaran, seperti Gagne, Piaget, Bruner, dan lain-lainnya. Pendapatpendapat para ahli ini secara keseluruhan dapat dipakai sebagai landasan filosofis oleh seorang guru dalam membelajarkan peserta didiknya. Pendapatpendapat para ahli ini ada yang terlihat seperti bertentanga satu sama lainnya, tetapi secara totalitas tetap mendukung dan dapat diimplikasikan dalam proses pembelajaran. Teori-teori belajar dan implikasinya ini dapat juga hanya melandasi proses pembelajaran saja, tetapi juga dapat melandasi model-model pembelajaran yang diterapkan guru dalam pembelajarannya. Selain itu media pembelajaran juga penting diperhatikan landasan teori rancangan dan penggunaannya di dalam kelas agar secara keseluruhan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien, serta tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.

B. Saran-Saran Guru yang profesional hendaknya benar-benar dapat menghayati teori-

46

c-puspa’s document

teori

belajar

ini

dan

melaksanakan

pembelajaran Banyak

di

kelas

dengan tentang

mengimplikasikan

teori-teori

tersebut.

teori-teori

pembelajaran yang telah dikenali hendaknya seorang guru mampu memilih yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, kemampuan diri, sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah dan memperhatikan kebutuhan daerah serta berwawasan nasional dan internasional. Hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa tidak ada teori yang lebih baik satu atau lainnya, tetap ada yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Tugas guru adalah menentukan teori pembelajaran dan implikasi yang paling sesuai yang digunakan. Dampak-dampak yang timbul selama proses pembelajaran juga harus diperhatikan guru agar dapat melakukan perbaikan secepatnya.

DAFTAR PUSTAKA

47

c-puspa’s document

Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: Rajawali. Brennan, James F. 2006. Sejarah dan Sistem Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Dahar, Ranta Willis.1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga. Dewin. 2009. Teori-Teori Belajar. Online. http://dewin221106.blogspot.com/2009/11/teori-teori-belajar.html. Diunduh 15 Desember 2009. Hamzah. 2009. Teori Belajar Konstruktivisme. Online. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/20/teori-belajarkonstruktivisme/. Diunduh 28 Desember 2009. Perpustakaan- online. 2008. Online at http://www.perpustakaanonline.blogspot.com/2008/04/teori-belajar-behavioristik.html. Diunduh 20 Desember 2009. Rifa’I, Ahmad dan Chatarina Tri Ani. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang : UPT Universitas Negeri Semarang. Rusliana, Ade. 2009. Teori Belajar. Online. http://blogs.unpad.ac.id/aderusliana/?p=4. Diunduh 15 Desember 2009. Santrock. J. W.(2000). Educational psychlogy. In Tri S.B.W (Eds), Psikologi Pendidikan. (2007). Jakarta: Interpratama Offse. Sutisna. 2009. Teori Belajar Konstruktivisme. Online. http://sutisna.com/psikologi/psikologi-pendidikan/teori-belajarkonstruktivisme/. Diunduh 28 Desember 2009. Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Wahid, Nanang. 2009. Teori Belajar Konstruktivisme. Online. Diunduh Online. 29 www.freewebs.com/arrosailtep/makalah/Konstruktivisme. tanggal 29 Desember 2009. Wikipedia. 2008. Teori Perkembangan Kognitif. http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif. Desember 2009. Diunduh

48

c-puspa’s document

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
I. PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME

A. Pengertian dan Tujuan Konstruktivisme Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri. Sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitas dari orang lain. Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hallain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut: a. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. b. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya. c. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap. d. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri. e. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. B. Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme

1. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui

49

c-puspa’s document

penglibatan dalam dunia sebenarnya.

2. Menggalakkan

soalan/idea

yang

dimunculkan

oleh

murid

dan

menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran. 3. Menyokong pembelajaran secara koperatif 4. Mengambil sikap dan pembawaan murid 5. Mengambil kajian bagaimana murid belajar sesuatu idea

6. Menggalakkan dan menerima daya usaha dan autonomi murid 7. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog baik dengan sesama
murid maupun dengan guru. 8. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran

9. Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
C. Prinsip-Prinsip Konstruktivisme Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah : 1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri 2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar 3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah

4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses
kontruksi berjalan lancar 5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa 6. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan 7. Mencari dan menilai pendapat siswa 8. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa. Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorangguru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswaagar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang

50

c-puspa’s document

lebih

tinggi

,

tetapi

harus

diupayakan

agar

siswa

itu

sendiri

yang

memanjatnya. D. Model Pengajaran Konstruktivisme 1. Model Pengajaran Interaktif (Biddulph & Osborne) • Guru lebih sensitif kepada ide dan persoalan pelajar. • Guru menyediakan pengalaman penerokaan yang membolehkan pelajar menimbul persoalan dan mencadangkan penerangan yang munasabah.

• Guru menydiakan aktiviti yang memfokuskan kapada ide dan persoalan
oleh guru. • Guru menyediakan aktiviti yang menggalakkan pelajar membuat penyiasatan. • Guru berinteraksi dengan pelajar untuk mencabar dan melanjutkan idea mereka. 2. Model Pengajaran Berpusatkan Masalah (Wheatley) • Guru memilih tugasan yang berkemungkinan menjadi masalah besar kepada pelajar. • Pelajar membuat tugasan dalam kelompok kecil.

• Pelajar akan berkumpul semula untuk membentangkan kepada kelas
dan guru.guru hanya berperan sebagai fasilisator. Cara-cara Pelajar Membina Konsep Matematik • Pelajar membuat penyelesaian matematik dengan manipulatif. • Pelajar berbincang keputusan penyiasatan mereka. • Pelajar menulis hasil pengalaman mereka. • Pelajar belajar cara penemuan mereka. • Pelajar berfikir secara mencapah. • Pelajar menyelesaikan masalah yang terbuka. Keberkesanan Kontruktivisme • Pelajar berpeluang mengemukakan pandangan mereka terhadap suatu konsep. • Pelajar dapat berkongsi persepsi/ pandangan/ ide antara satu dengan yang lain. • Pelajar dapat menerima serta menghormati semua pandangan dari pada rekan-rekan mereka. • Semua pandangan bisa diterima dan tidak dipandang rendah. Strategi Pengajaran Matematik Melalui Pendekatan

51

c-puspa’s document

• Pelajar dapat mengaplikasi ide baru dalam konteks yang berbeda untuk mengukuhkan kepahaman tersebut.

• Pelajar dapat merenung dan mengimbas kembali proses pembelajaran
yang telah dilalui. • Pelajar dapat menghubung kaitkan ide yang asal dengan ide yang baru dibinanya. • Pelajar dapat mengemukakan hpotesis dari pada taktifi yang dilaluinya tetapi bukan guru yang menerangkan teori. • Pelajar dapat berinteraksi dengan pelajar lain dan guru • Memupuk kerja sama antar individu dan kumpulan melalaui aktifiti koperatif • Pengajaran berpusatkan pada pelajaran • Guru akan dapat meningkatkan kemahiran berfikir di kalangan pelajarnya • Guru menjadi lebih prihatin terhadap keperluan , kebolehan serta minat pelajar. E. Kesimpulan Kesimpulannya pendekatan pengajaran dan pembelajaran yang berasaskan Konstruktivisme akan memberi peluang kepada guru untuk memilih kaidah pengajaran dan pembelajaran yang sesuai dan murid dapat menentukan sendiri masa yang diperlukan untuk memperoleh suatu konsep atau pengetahuan. Disamping itu, guru dapat membuat penilaian sendiri dan menilai kefahamannya tentang sesuatu bidang pengetahuan dapat ditingkatkan lagi. Selain itu, beban guru sebagi pengajar akan berkurangan di mana guru lebih bertindak sebagai pemudahcara atau fasilitator. Pembelajaran secara Konstruktivisme berdasarkan beberapa pandangan baru tentang ilmu pengetahuan dan bagaimana boleh diperolehi ilmu tersebut. Pembentukan pengetahuan baru lahir daripada gabungan pembelajaran terlebih dahulu. Pembelajaran ini menggalakkan murid menciptakan penyelesaian mereka sendiri dan menguji dengan menggunakan hippotesis-hipotesis dan ide-ide baru. Pandangan ini bertolak daripada teori pembelajaran daripada Behaviorisme kepada Kognitivisme dan seterusnya Konstruktivisme. II. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa

A. Latar belakang

52

c-puspa’s document

anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan Dengan antara konsep pengetahuan itu, hasil yang dimilikinya dengan lebih penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. pembelajaran diharapkan bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. B. Pemikiran tentang belajar Pendekatan 1. Proses belajar 4. Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka. 5. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru. 6. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan. 7. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. 8. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

53

c-puspa’s document

baru. 9. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. 10. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang. 2. Transfer Belajar 9. 10. 11. Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit) Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. Siswa sebagai Pembelajar 1. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. 2. 3. 4. Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting. Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. 4. Pentingnya Lingkungan Belajar 4. Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan. 5. Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan 6. 7. baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

54

c-puspa’s document

diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat komponen belajar hubungan utama antara pengetahuan efektif, yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh pembelajaran Community), yakni: (Modeling), konstruktivisme dan penilaian (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat (Learning pemodelan sebenarnya (Authentic Assessment). D. Pengertian Pembelajaran Kontekstual 5. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

6.

Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

E.

Perbedaan Kontekstual

Pendekatan

Kontekstual

dengan

Pendekatan

Tradisional 1. Menyandarkan pada pemahaman makna. 2. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa. 3. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. 4. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan. 5. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. 6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang. 7. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok). 8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri. 9. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.

55

c-puspa’s document

10. 11. 12. 13. 14.

Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. yang bersifat Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.

subyektif. tersebut merugikan.

Tradisional 1. Menyandarkan pada hapalan 2. Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru. 3. Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya dari guru. 4. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak bersandar pada realitas kehidupan. 5. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan. 6. Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu. 7. Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja individual). 8. Perilaku dibangun atas kebiasaan. 9. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. 10. 11. 12. 13. 14. Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor. Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik. Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk

hukuman.

tes/ujian/ulangan. F. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya:
• •

Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

56

c-puspa’s document

• • • •

Ciptakan masyarakat belajar. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran Lakukan refleksi di akhir pertemuan Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

G. Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual 1. Konstruktivisme • • Membangun pemahaman mereka sendiri berdasar pada pengetahuan awal. Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan 2. Inquiry • • • • Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis 3. Questioning (Bertanya) Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry 4. Learning Community (Masyarakat Belajar) • • • • • • • • • • • • • Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. Tukar pengalaman. Berbagi ide 5. Modeling (Pemodelan) Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar. Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya 6. Reflection ( Refleksi) Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Mencatat apa yang telah dipelajari. Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok 7. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya) Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Penilaian produk (kinerja). Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual H. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Kerjasama dari pengalaman baru

57

c-puspa’s document

• • • • • •

Saling menunjang Menyenangkan, tidak membosankan Belajar dengan bergairah Pembelajaran terintegrasi Menggunakan berbagai sumber Siswa aktif Sharing dengan teman Siswa kritis guru kreatif Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain III. PEMBELAJARAN KUANTUM (QUANTUN LEARNING) A. Latar Belakang Pembelajaran Kuantum Tokoh utama di balik pembelajaran kuantum adalah Bobbi De Porter. Pada tahap awal perkembangannya, pebelajaran kuantum dimaksudkan untuk membantu meningkatkan keberhasilan hidup dan karier para remaja di rumah. Tidak dimaksudkan sebagai metode dan strategi pembelajaran untuk mencapai keberhasilan lebih tinggi di sekolah. Bahwa sebenarnya pembelajaran kuantum merupakan falsafah dan metodelogi pembelajaran yang bersifat umum, tidak secara khusus diperuntukkan bagi pengajaran di sekolah. B. Dasar Teori Pembelajaran Kuantum Pandangan-pandangan teori sugestologi atau pembelajaran akseleratif lazanov, teori kecerdasan garda Gardna, teori pemrograman neurolinguistik (NLP), (NLP) Grinder dan Bandler dan pembelajaran eksperensial (berdasarkan pengalaman) C. Karakterisktik Umum Pembelajaran kuantum memiliki karakteristik umum yang dapat memantapkan dan menguatkan sosialnya. Beberapa karakteristik umum yang tampak membentuk sosok pembelajaran kuantum sebagai berikut : 1. 2. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan pasivistis-empiris, “hewan-istis” dan atau natives Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisik kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.


• • •

58

c-puspa’s document

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna Pembelajaran kuantum lebih bersifat kontruktivis(tis)m bukan positivisme empiris, behavioristis. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dari isi pembelajaran Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan

10. Pembelajaran atau material

keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup dan prestasi fisikal 11. Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman dan ketertiban 12. Pembelajaran kuantum mengintegrasikan totalitas tubuh dan pikiran dalam proses pembelajaran D. Prinsip Utama Proses Pembelajaran Quantum Ada tiga macam prinsip utama yang membangun sosok pembelajaran kuantum a. Prinsip utama pembelajaran kuantum berbunyi : Bawalah dunia mereka (Pembelajar) ke dalam Dunia kita (Pengajar) dan Antarkan Dunia Kita (Pengajar) ked lam Dunia Mereka (Pembelajar) b. Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran merupakan permainan orkestra simfoni. Prinsip-prinsip dasar ini ada lima macam berikut ini : ☼ ☼ ☼ ☼ ☼ c. Ketahuilah bahwa Segalanya Berbicara Ketahuilah bahwa Segalanya Bertujuan Sadarilah bahwa Pengalaman Mendahului Penamaan Akuilah Setiap Usaha yang Dilakukan dalam Pembelajaran Sadarilah bahwa sesuatu yang layak Dipelajari layak pula Dirayakan berdampak bagi terbentuknya keungulan. Delapan kunci

Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa pembelajaran harus keunggulan sebagai berikut:

59

c-puspa’s document

☼ ☼ ☼ ☼ ☼ ☼ ☼

Berbicaralah dengan baik Terapkanlah hidup dalam integritas Tegaskanlah komitmen Akuilah kegagalan dapat membawa kesuksesan Tetaplah lentur Jadilah pemilik Pertahankanlah kesimbangan

E. TANDUR Sebagai Kerangka Perencanaan Pembelajaran Model Kuantum TANDUR yang merupakan akronim dari : Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan Kerangka Perancangan Pembelajaran Kuantum TANDUR adalah sebagai berikut : 1) Tumbuhkan : sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan keingintahuan mereka. Buatkanlah mereka tertarik atau penasaran tentang materi yang akan kita ajarkan 2) 3) 4) Alami Namai : berikan : berikan mereka “data” : pengalaman tepat saat belajar, minat tumbuhkan memuncak “kebutuhan untuk mengetahui” mengenalkan konsep-konsep pokok dari materi pelajaran Demonstrasikan berikan kesempatan bagi mereka untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru, sehingga mereka menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi 5) 6) a. Ulangi Rayakan : rekatkan gambaran kesuluruhan : ingat, jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan

F. Beberapa Contoh Teknik Model Pembelajaran Kuantum Peta Konsep Sebagai Teknik Belajar Efektif Langkah-langkah teknis penggunaan peta konsep menurut Rose dan Nicholl (2003), De Porter dan Hernacki (2002) adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. besar Mulai dengan topik di tengah halaman Buatlah cabang-cabangnya Gunakan kata-kata kunci Tambahkanlah simbol-simbol dari ilustrasi-iustrasi untuk

mendapatkan ingatan yang lebih baik Gunakanlah huruf-huruf KAPITAL Tulislah gagasan-gagasan penting dengan huruf-huruf yang

60

c-puspa’s document

7.

Hidupkanlah peta pikiran anda dengan hal-hal yang menarik

bagi anda

8.
9. 10. b.

Garis bawahi kata-kata itu dan gunakan huruf tebal / miring Bersikap kreatif dan berani Buatlah peta konsep secara horisontal, agar dapat

memperbesar ruang bagi gagasan anda Cara Membelajarkan Peta Konsep Secara Klaasikal 1. Guru melakukan apersepsi dengna pertanyaan pada materi Hidrosfer 2. Sajikan gambar / CD 3. Gunakan pertanyaan tentang dimensi-dimensi atau cakupan materi dari sumber daya air 4. Sambil bertanya guru mencoba mentransfer jawaban siswa dalam bentuk peta konsep 5. Perbaiki terstruktur 6. Setelah gambar peta konsep jadi di papan tulis, guru meminta siswa untuk membuat peta konsep secara berkelompok 7. Guru c. membagio siswa menjadi beberapa kelompok dan seterusnya Teknik Memori Teknik memori adalah teknik memasukkan informasi ke dalam otak yang sesuai dengan cara kerja otak 1. Melatih imajinasi 2. Teknik rantaian kata 3. Teknik pkesetan kata d. e. Sistem Pasak Lokasi Teknik Akrostik (Jembatan Keledai) Teknik akrostikk adalah teknik menghafal dengan cara mengambil huruf depan dari materi yang ingin diingat kemudian digabungkan sehingga menjadi singkatan atau kata atau kalimat yang lucu. Contoh : Mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu) IV. PEMBELAJARAN CURAH PENDAPAT (BRAIN STORMING LEARNING) A. Metode Brainstorming (curah Pendapat) Metode Brainstorming, atau curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung dilengkapi, peta konsep yang belum terstruktur menjadi

61

c-puspa’s document

dikurangi atau tidak disepakati) oleh peserta lain pada penggunaan metode curah pendapat, pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan Curah pendapat (Brainstorming) adalah untuk membuat kompilasi (Kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda hasilnya. B. Aturan dalam brainstorming : 11. Jangan mengkritik atau menghakimi ide orang lain 12. Biarkan ide / pendapat dilontarkan secara bebas, ide-ide yang seolah-olah liar atau gila harus ditampung atau disambut dengan baik 13. Semakin banyak ide, semakin baik 14. Gabungkan dan kembangkan ide-ide dari orang lain Peran Guru dalam Pembelajaran Curah Pendapat 12. Memberikan pernyataan kepada siswa untuk menghimpun informasi pengalamannya kepada siswa-siswa lain 13. Membimbing peserta untuk dapat mengidentifikasi seluruh pendapatnya dengan baik. 14. Mendukung belajar siswa Faktor-Faktor yang mempengaruhi belajar, diantaranya adalah : 5. Faktor yang ada pada organisme itu sendiri yang disebut dengan factor individual. Yang termaksuk factor ini diantaranya adalah : Kematangan atau pertumbuhan . Faktor kecerdasan, factor latihan dan factor pribadi. 6. Faktor yang ada diluar individu adalah factor social. Yang termasuk factor ini adalah : factor keluarga, keadaan rumah tangga, factor guru dan cara mengajarnya, factor alat-alat yang digunakan sebagai media pembelajaran dalam mengajar, factor lingkungan dan kesempatan yang tersedia Proses pendidikan yang berkualitas akan membuahkan hasil yang baik dan bermutu, sehingga kualitas pendidikan perlu diusahakan secara maksimal dengan berbagai metode pengajaran yang sebaik mungkin. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang dapat memahami materi pembelajaran lebih cepat maka akan dapat meningkatkan proses belajarnya, begitu pula sebaliknya, jika pemahaman terhadap materi pembelajaran rendah, maka hasil belajarpun akan menjadi rendah. Dengan demikian pemahaman terhadap materi pembelajaran akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. C. Hasil Belajar Ahmadi (1988) berpendapat bahwa prestasi atau hasil belajar adalah hasil usaha yang dicapai dalam suatu usaha, dalam hal ini adalah usaha belajar, dan perwujudan prestasi belajar siswa dapat dilihat pada nilai yang diperoleh siswa setiap selese mengikuti test. Winkel (1984) menyebutkan bahwa berdasarkan jawaban-jawaban murid terhadap pertanyaan atau persoalan yang diajukan dalam test hasil belajar itu, guru biasanya memberikan nilai, nilai itu menyatakan taraf prestasi belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam proses belajar pada umumnya agar siswa memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka perlu memperhatikan factor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar tersebut. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi prestasi adalah (Ahmadi, 1988): 8. Faktor internal yaitu factor yang timbul dari dalam anak itu sendiri

62

c-puspa’s document

yang sifatnya : 9. Psikologis seperti intelegensia, kemauan, minat, sikap dan perhatian 10. Faktor eksternal yaitu keadaan lelah (aktivitas kurang), cacat badan kurang pendengaran, mengalami gangguan penglihatan dan lain-lain. a. Faktor eksternal yaitu factor yang timbul dari luar diri anak, seperti yang berasal dari : b. Lingkungan sekolah yang meliputi interaksi guru dan murid, cara penyajian bahan pelajaran, kurikulum, keadaan gedung, waktu sekolah, pelaksanaan disiplin metode mengajar dan tugas pokok. c. Lingkungan keluarga meliputi cara mendidik anak, suasana keluarga, pegertian orang tua, keadaan social ekonomi, latar belakang kebudayaan. d. Lingkungan masyarakat meliputi mas media, teman bergaul, kegiatan lain, cara hidup di lingkungan. V. ACCELERATED LEARNING A. Pengertian Accelerated Learning Accelerated artinya dipercepat dan learning artinya pembelajaran. Jadi, the accelerated learning artinya pembelajaran yang dipercepat. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran itu berlangsung secara cepat, menyenangkan dan memuaskan. Pemilik konsep ini, Dave Meier, menyarankan kepada guru agar dalam mengelola kelas menggunakan pendekatan somatic, auditory, visual dan intellectual (SAVI). Somatic dimaksudkan sebagai learning by moving and doing (belajar dengan bergerak dan berbuat). Auditory adalah learning by talking and bearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan). Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar dengan mengamati dan menggambarkan). Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi). a. Metode Pendekatan SAVI 1. Somatic ( Somatis ) Somatis berarti bangkit dari tempat duduk anda dan bertindak aktif secara fisik selama proses belajar. Terlalu lama duduk di depan computer sama akibatnya dengan terlalu lama duduk di depan guru / dosen – ysitu menumpulkan otak. Berdiri dan bergerak kasana – kemari meningkatkan sirkulasi dalam tubuh dan, oleh karena itu, mendatangkan energi segar ke dalam otak. Contoh gagasan – gagasan belajar somatis : 1. Mendapatkan kembali printout (hasil informasi computer) 2. Perburuan 3. Menciptakan pictogram

63

c-puspa’s document

4. Menciptakan bantuan kerja 5. Kartu pertanyaan 6. Manipulatif 7. Papan permainan 8. Memerankan 9. Pemberi kekuatan Fisik 10. Tinjauan walkman 11. Wawancara pribadi 12. Pengamatan pribadi 2. Auditory ( Auditori ) Pembelajar auditori adalah belajar paling baik jika mereka mendengar dan mengucapkan kata – kata. Program pelatihan berdasarkan computer yang paling mahal tidak akan ada manfaatnya jika tidak dapat mengajak pembelajar mendengarkan dan berbicara serta berfikir selam proses belajar. Contoh – contoh auditori : 1. Pengenalan audio, 2. Dialog pembelajar, 3. Parafrase auditori, 4. membaca keras – keras, 5. Kaset Tanya / jawab, 6. Wawancara, 7. Pengingat auditori, 8. berpikir dengan lantang. 3. Visual Ketajaman penglihatan setiap orng kuat, ini disebabkan oleh pikiran manusia lebih merupakan prosesor citra daripada prosesor kata. Citra, karena konkret, mudah untuk diingat. Kata, karena abstrak, jauh lebih sulit untuk disimpan. Dengan membuat yang visual paling tidk sejajar dengan yang verbal, anda dapat membantu pembelajar untuk belajar lebih cepat dan lebih baik. Contoh gagasan – gagasan visual : 1. Bahas gambar, 2. Grafik, 3. Cerita, 4. Video, 5. Pengamatan dunia nyata, 6. Kreasi pictogram, 7. Kreasi model. 4. Intellectual ( Intelektual ) Belajar bukanlah menyimpan informasi, melainkan menciptakan makna, pengetahuan, dan nilai yang dapat dipraktekkan oleh pikiran pembelajar. program Menciptakan Contoh pengetahuan, gagasan – dan bukan menyimpan informasi, seharusnya merupakan salah satu tujuan utama semua belajar. gagasan pengembangan intelektual : 1. Perolehan informasi, 2. Pemecahan masalah, 3.

64

c-puspa’s document

Pembuatan model, 4. Penyusuanan tes, 5. Citraan mental, 6. Penyusunan pertanyaan. Beberapa asumsi pokok yang dibutuhkan orang untuk mengoptimalkan pembelajaran mereka adalah pertama, lingkungan belajar yang positif. Orang dapat belajar paling baik dalam lingkungan fisik, emosi, dan sosial yang positif, yaitu lingkungan yang tenang sekaligus menggugah semangat. Adanya rasa keutuhan, keamanan, minat, dan kegembiraan sangat penting untuk mengoptimalkan pembelajaran manusia. Kedua, keterlibatan pebelajar. Orang dapat belajar paling baik jika dia terlibat secara penuh dan aktif serta mengambil tanggung jawab penuh atas usaha belajarnya sendiri. Belajar bukanlah sejenis olahraga untuk ditonton, melainkan menuntut peran serta semua pihak. Ketiga, kerjasama diantara pebelajar. Orang biasanya belajar paling baik dalam lingkungan kerja sama. Semua cara belajar cenderung bersifat social sementara cara belajar tradisional menekankan persaingan di antara individu-individu yang terpisah, Accelerated Learning menekankan kerja sama di antara pebelajar dalam suatu komunitas belajar. Keempat, untuk semua gaya belajar. Orang dapat belajar paling baik jika dia mempunyai banyak variasi pilihan belajar yang memungkinkannya untuk memanfaaatkan seluruh inderanya dan menerapkan gaya belajar yang disukainya. Accelerated Learning menganggapnya sebagai jamuan prasmanan yang dipusatkan pada pebelajar dan ditujukan untuk mencapai hasil. Kelima, belajar kontekstual. Orang dapat belajar paling baik dalam konteks. Fakta dan keterampilan yang dipelajari secara terpisah itu sulit disertap dan cenderung cepat menguap. Belajar yang paling baik bisa dilakukan dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri dalam proses penyelaman ke “dunia-nyata” terus menerus, umpan balik, perenungan, evaluasi dan penyelaman kembali. Untuk mendapatkan manfaat optimal dari penggunaan Accelerated Learning, sangat penting untuk memahami dengan benar prinsip-prinsip yang melandasinya. Karena Accelerated Learning tidak akan memberikan manfaat kepada mereka yang memisahkan metode-metodenya dari fondasi ideologisnya, yang menganggap Accelerated Learning semata-mata sebagai “teknik” kreatif dengan mengabaikan prinsip-prinsip yang mendasari teknik tersebut. B. Prinsip-Prinsip Dasar Accelerated Learning Adapun prinsip-prinsip dasar dari Accelerated Learning adalah sebagai berikut:

65

c-puspa’s document

1) belajar melibatkan seluruh pikiran dan tubuh.. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar, rasional, memakai “otak kiri”, dan verbal), tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi, indra, dan sarafnya. 2) belajar adalah berkreasi bukan mengonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pebelajar, melainkan sesuatu yang diciptakan pebelajar. Pembelajaran terjadi ketika seorang pebelajar memadukan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru, jaringan saraf baru, dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam system otak/tubuh secara menyeluruh. 3) kerja sama membantu proses belajar. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-lawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain mana pun. Persaingan di antara pebelajar memperlambat pembelajaran. Kerja sama di antara mereka mempecepatnya. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa indivisu yang belajar sendiri-sendiri. 4) pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu semata linear, melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah sadar, mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor, indera, jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Bagaimanapun juga, otak bukanlah professor berurutan, melainkan prosesor paralel, dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus. 5) belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik). Belajar paling baik adalah belajar dalam konteks. Hal-hal yang dipelajari secara terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Kita belajar berenang dengan berenang, cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya, cara bernyanyi, cara menjual dengan menjual, dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrak asalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total, mendapatkan umpan balik, merenung dan menerjunkan diri kembali.

66

c-puspa’s document

6) emosi positif sangat membantu pembelajaran. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. Perasaan negatif menghalangi belajar. Perasaan positif mempercepatnya. Belajar yang penuh tekanan, menyakitkan, dan bersuasana murah tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan, santai, dan menarik hati. 7) otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra daripada prosesor kata. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan daripada abstraksi verbal. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipelajari dan lebih mudah diingat (Dave Meier, 2002). Bobby DePorter menganggap accelerated learning dapat memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang sekilas tampak tidak mempunyai persamaan misalnya hiburan, permaianan, warna, cara berfikir positif, kebugaran fisik dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif. Pembelajaran ala Accelerated adalah teknik belajar cepat ingat/bisa banyak. Accelerated Learning yang adalah revolusi training, merupakan cara belajar dengan cara berkreasi bukan mengkonsumsi. learning, Metode ini menggunakan pendekatan whole-brain belajar dengan

keseimbangan dua belah otak. Accelerated Learning sebagai salah satu teknik yang digunakan di dalam Quantum Learning bertujuan untuk menggugah sepenuhnya kemampuan belajar para pebelajar, membuat belajar menjadi menyenangkan dan memuaskan bagi mereka, dan memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan mereka sebagai manusia. (Dave Meier, 2002). DAFTAR PUSTAKA

Dabutan, Jelarwin. 2008 .Srategi Pembelajaran Quantum Teaching dan Quantum Learning. Online. http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php? id=75. Diunduh 28 Desember 2009. Depdiknas. 2007. Pembelajaran Kontekstual. Online. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/29/pembelajarankontekstual/. Diunduh 28 Desember 2009.

67

c-puspa’s document

Gasong, Dina. 2009. Model Pembelajaran Konstruktivistik Sebagai Alternative Mengatasi Herdian. 2007. Masalah Model Pembelajaran. Quantum. Online. Online. http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/. Diunduh 28 Desember 2009. Pembelajaran http://herdy07.wordpress.com/2009/04/29/model-pembelajaranquantum/. Diunduh 28 Desember 2009. Nurhasni. 2008. Accelerated Learning. Online. http://nurhasniblogkuyess.blogspot.com/2008/10/accelerated-learning.html. Diunduh 29 Desember 2009. Pembelajaran-guru. 2008. Enam Keunggulan Pembelajaran. Penggunaan Online. Pandangan at Konstruktivisme Dalam Available

http://pembelajaranguru.wordpers.com/2008/05/31/konstruktivisme6-keunggulan-penggunaan-pandangan-konstruktivisme-dalam -pembelajaran/. Diunduh 28 Desember 2009. Rahayu, Listiyani. 2009. Lomba Inovasi Pembelajaran. Online. Available at. http://Listianirhy.Wordpress.Com/2009/11/30/Lomba-InovasiPembelajaran/. Diunduh 29 Desember 2009. Saryono, Djoko. 2007 . Pembelajaran Kuantum Sebagai Model Pembelajaran yang Menyenangkan. Online. http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/09/11/pembelajarankuantum-sebagai-model-pembelajaran-yang-menyenangkan/. Diunduh 29 Desember 2009. Suciptoardi. 2007. Konstruktivisme dan Pembelajaran. Online. http://suciptoardi.wordpress.com/2007/12/04/48/. Diunduh 29 Desember 2009. Sugiyanto. 2008. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Modelmodel Pembelajaran Inovatif. Surakarta:Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon B. Sunaryo. 2008. Ketrampilan Dasar Mengajar. online. Available at http://www.docstoc.com/docs/8116106/Keterampilan-Dasar-Mengajar. Diunduh 28 Desember 2009. MENCARI CELAH KEBIJAKAN DIANTARA PRO KONTRA UJIAN NASONAL Persoalan pendidikan merupakan problem komplek yang tidak dapat dikurangi dengan sebuah wahana yang sifatnya erratic atau tambal sulam. Dalam hal ini adalah mencermati dan memperhatikan kebijakan pemerintah tentang sistem penilaian pendidikan dengan standar kelulusan menggunakan Ujian Nasional. Ujian nasional sebagai wahana evaluasi dalam perjalanannya

68

c-puspa’s document

masih direspon oleh semua pihak, sebagai landasan yang kurang mendasar. Ujian nasional oleh berbagai pihak ditengarai sebagai keputusan yang sarat dengan keputusan politik birokratik, dibanding edukatif yang prospektif. Pihak yang lainnya menyatakan bahwa ujian sebagai sarana yang kuat untuk mencermati kualitas pendidikan di tanah air. Menteri Pendidikan Nasional menerbitkan peraturan No. 74 dan 75 tentang panduan ujian nasional (UN) tahun pelajaran 2009-2010 SD dan SMP/SMA/SMK, ditandatangani oleh Mendiknas Bambang Sudibyo pada tanggal 13 Oktober 2009. Salah satu isinya menyebutkan bahwa hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/ atau satuan pendidikan. Hal ini secara tegas menimbulkan pro dan kontra terhadap pelaksanaannya melihat banyaknya hal yang mengiringi di setiap pelaksanaannya. UU No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab XVI pasal 57 ayat 2, “evaluasi dilakukan kepada peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan informal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan”, dan pada kemampuan dan perbaikan hasil pasal 58 ayat 1, “ evaluasi hasil belajar peserta didik secara belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses berkesinambungan”, sedangkan pada pasal 1 ayat 17 dinyatakan “standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah NKRI”. Disinilah permasalahan pendidikan di Indonesia yang memunculkan kontra 1. berbagai pihak terhadap pelaksanaan ujian nasional. Permasalahan tersebut antara lain : Kelulusan hanya ditentukan oleh lima materi ujian nasional, sedangkan materi lain dan keaktifan serta intelektual lainnya tidak dinilai. Hal ini memunculkan anggapan seolah materi lain tidak perlu padahal materi lain tersebut merupakan faktor penting dalam menumbuhkembangkan intelektualitas yang bermoral dalam mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat pembukaan UUD 1945. 2. Sesuai pasal 57 ayat 1 dan pasal 1 ayat 17 sudahkah dilakukan pemantauan terhadap kelayakan proses pendidikan untuk mengacu standar nasional pendidikan, hasil akhir bermuara kepada peserta didik terutama menyangkut standar kebutuhan minimal secara komprehensif dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal lembaga pendidikan tersebut, diantaranya adalah sarana prasarana pendidikan, pendidik,

69

c-puspa’s document

penerimaan arus informasi dan buku, lingkungan pendidikan, peran serta masyarakat, dll.

3.

Sesuai pasal 58 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 yang mengevaluasi dan memantau peserta didik adalah pendidik, jelas kontribusi dan peran guru dalam penentuan kelulusan sangat penting dan besar, sehingga melihat tugas dan peran guru dalam mendidik, membina mental dan intelektual anak didik terkesan kurang diperhatikan. Berbagai macam bentuk pro dan kontra terhadap pelaksanaan Ujian

Nasional tentunya tidak akan selesai jika kondisi sistem pendidikan tidak segera diperbaiki. Untuk itu, Pemerintah dapat melakukan langkah-langkah untuk merumuskan ulang kebijakan nasional yang utuh tentang sistem penilaian pendidikan. Diantara langkah-langkah yang dapat dilakukan pemerintah adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyatakan bahwa salah satu hak guru dan dosen memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, jelas dalam UU ini yang memberikan penilaian objektif terhadap penilaian anak didik adalah guru, sedangkan dengan adanya UN peran guru seakan tidak ada. Jika Ujian Nasional tetap dilaksanakan maka harus diletakkan pada peran istimewanya, yaitu meletakkan UN sebagai ujian pertama yang ditujukan sebagai mapping (pemetaan). Setelah itu hasil pemetaan digunakan sebagai salah satu pertimbangan guru dalam menentukan kelulusan siswa serta untuk perbaikan dalam melaksanakan tugas pembelajaran. 2. Memperbaiki pembelajaran, infrastruktur meningkatkan pendidikan, kualitas seperti perbaikan dengan proses pendidik memberikan

pelatihan-pelatihan, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan secara komprehensif di setiap satuan pendidikan. Karena danya ketimpangan fasilitas pendidikan menjadikan pendidikan di Indonesia tidak pantas distandarisasi secara nasional. 3. Melakukan perubahan pada kerangka pendidikan nasional yang bermutu secara menyeluruh dalam upaya untuk meningkatkan kualitas dan mutu peserta didik. 4. Menganalisa kembali bentuk-bentuk laporan pendidikan seperti rapor, sistem peringkat, sistem pemberian skor atau nilai(ranking). Sebagai contoh, di Malaysia menggunakan nilai 1-9 untuk menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi siswa. Nilai 1-3 adalah nilai yang tertinggi, sedang nilai 9 adalah gagal untuk mata pelajaran yang bersangkutan. Juga apakah masih perlu menggunakan sistem pemberian skor kuantitatif ataukah

70

c-puspa’s document

kualitatif. Rapor yang bagaimana yang sebaiknya agar guru juga tidak mengalami kesulitan dalam membuat laporan pendidikan kepada orng tua siswa.

5. Pemerintah membentuk Tim Perumusan Kebijakan Nasional tentang
Penilaian Pendidikan. Tim ini dibentuk oleh Depdiknas dan BSNP menjadi leading sector-nya. Anggotanya berasal dari elemen masyarakat pendidikan, termasuk juga DPR Komisi Pendidikan, para pakar pendidikan, organisasi profesi independen seperti dari PGRI, ISPI, LSM pendidikan, dsb. Sesuai jangka waktu yang ditentukan, tim tersebut akan melakukan evaluasi dan kajian terhadap semua kebijakan yang terkait penilaian di negeri ini, melakukan studi banding ke negara lain untuk mencari model yang sesuai di Indonesia, kemudian merumuskannya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, serta melaporkan hasil kerjanya pada pemerintah. Hasil dari kegiatan kajian tersebut akan menghasilkan pemerintah. Masih banyak hal lain yang dapat dilakukan pemerintah untuk dapat memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Namun setidaknya dengan melaksanakan hal-hal diatas sudah cukup untuk menjawab permasalahanpermasalahan tentang Ujian Nasional. Hingga saat ini tidak nampak tindak lanjut dari Ujian Nasional yang dilakukan, misalnya ketika didaerah tertentu nilai ujiannya jelek/hancur tidak selalu diikuti analisis yang komprehensif, yang kemudian dilakukan dalam UN, tindakan seperti nyata seperti perbaikan proses pembelajarn, pelatihan guru atau perbaikan sarana prasarana. Munculnya ketidakberesan pencurian naskah, pembocoran, pengawasan yang lunak, bahkan guru yang memberikan jawaban kepada siswa tidak boleh ditangarai sebagai bentuk pelanggaran, namun juga harus diapresiasi sebagai bentuk pambangkangan. Oleh karena itu, Un harus dikembalikan ke jati dirinya, bukan semata merupakan terobosan untuk kepentingan pragmatis birokrasi, namun kearah yang lebih strategis dan prediktif. Kebijakan seharusnya dipandang sebagai kesepakatan publik yang diformulasikan dari hasil pemikiran dan kerja bersama dengan para pemangku kepentingan. Sebuah kebijakan seharusnya bukan hanya lahir dari pendapat seseorang , juga bukan dari pendapat seorang pemimpin yang berkuasa. Pemimpin kuasa adalah pemegang amanat rakyat yang dipimpinnya. Pendapat pemimpin yang cerdas boleh jadi akan mewarnai kebijakan yang akan diambilnya, tetapi harus berjalan dengan kepentingan rakyat. Itulah butir-butir rekomendasi yang harus dilaksanakan

71

c-puspa’s document

sebabnya peraturan pemerintah perlu disosialisasikan kepada masyarakat dalam kegiatan uji publik. Kebijakan lahir dari, oleh, dan untuk rakyat. Sama dengan kekuasaan lahir dari, oleh, dan untuk rakyat. Itulah makna dan hakikat demokrasi yang sebenarnya.

SUMBER ACUAN Abduzen, Mohammad.2006. Ujian Nasional dan Politik Pendidikan. Online. http://perpustakaan.bappenas.go.id Sudrajad, Akhmad. 2009. Aneka Berita Seputar Pro Kontra Ujian Nasional. Available at http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/11. [accessed 12/28/09]. http://www.teoripembelajaran.blogspot.com/2008/pro-kontra-ujian-nasional/

72

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->