P. 1
Bandeng Presto m. Robi Amsyah

Bandeng Presto m. Robi Amsyah

|Views: 597|Likes:
Published by Robi cool

More info:

Published by: Robi cool on Apr 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

NAMA NPM Kelas

: M. ROBI AMSYAH : 230110070024 : Perikanan A 2007

1. Penjelasan Kata yang bercetak tebal A. Histamin Histamin adalah senyawa jenis amin yang terlibat dalam tanggapan imun lokal, selain itu senyawa ini juga berperan dalam pengaturan fungsi fisiologis di lambung dan sebagai neurotransmitter. Sebagai tanggapan tubuh terhadap patogen, maka tubuh memproduksi histamin di dalam basofil dan sel mast, dengan adanya histamin maka terjadi peningkatan permeabilitas kapiler-kapiler terhadap sel darah putih dan protein lainnya. Hal ini akan mempermudah sel darah putih dalam memerangi infeksi di jaringan tersebut. Histamin merupakan senyawa turunan dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan. Asam amino ini merupakan salah satu dari sepuluh asam amino esensial yang dibutuhkan oleh anak-anak dan bayi tetapi bukan asam amino esensial bagi orang dewasa. Di dalam tubuh kita, histamin memiliki efek psikoaktif dan vasoaktif. Efek psikoaktifmenyerang system saraf transmiter manusia, sedangkan efek vasoaktif-nya menyerang sistem vaskular. Pada orang orang yang peka, histamin dapat menyebabkan migren dan meningkatkan tekanan darah. Histamin tidak membahayakan jika dikonsumsi dalam jumlah yang rendah, yaitu 8 mg/ 100 gr ikan. Keracunan ini biasanya akan timbul karena tingginya kadar histamin yang terdapat pada ikan yang kita konsumsi. Menurut FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat, keracunan histamin akan berbahaya jika seseorang mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin 50 mg/100 gr ikan. Sedangkan kandungan histamin sebesar 20 mg/ 100 gr ikan, terjadi karena penanganan ikan yang tidak hiegenis. Gejala keracunan akan muncul apabila kita mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin yang berlebih, yaitu dalam jumlah diatas 70-1000 mg. Akibatnya, timbul muntahmuntah, rasa terbakar pada tenggorokan, bibir bengkak, sakit kepala, kejang, mual, muka dan leher kemerah-merahan, gatal-gatal dan badan lemas. Sekilas gejala keracunan histamin mirip dengan gejala alergi yang dialami oleh orang yang sensitif terhadap ikan atau bahan makanan asal laut. Oleh karena itu biasanya orang sering keliru membedakan gejala keracunan histamin

dengan alergi. Sampai saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat keracunan histamin. Meskipun begitu kita harus tetap waspada, karena efek yang ditimbulkannya juga tidak bisa dianggap sepele. Langkah yang paling tepat untuk mencegah keracunan histamin adalah dengan cara memilih dan mengkonsumsi ikan yang masih segar dan bermutu baik. Selain itu perhatikan pula cara penanganan ikan secara tepat dan benar sehingga kemungkinan besar bahayanya dapat dihindari. Histamin bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor histamin di sel. Ada 4 jenis reseptor histamin yang telah diidentifikasi, yakni: Reseptor Histamin H1 Reseptor ini ditemukan di jaringan otot, endotelium, dan sistem syaraf pusat. Bila histamin berikatan dengan reseptor ini, maka akan mengakibatkan vasodilasi, bronkokonstriksi, nyeri, gatal pada kulit. Reseptor ini adalah reseptor histamin yang paling bertanggungjawab terhadap gejala alergi. Reseptor Histamin H2 Ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung. Reseptor Histamin H3 Bila aktif, maka akan menyebabkan penurunan penglepasan neurotransmitter, seperti histamin, asetilkolin, norepinefrin, dan serotonin. Reseptor Histamin H4 Paling banyak terdapat di sel basofil dan sumsum tulang. Juga ditemukan di kelenjar timus, usus halus, limfa, dan usus besar. Perannya sampai saat ini belum banyak diketahui. Beberapa fungsi pengaturan di dalam tubuh juga telah ditemukan berkaitan erat dengan kehadiran histamin. Histamin dilepaskan sebagai neurotransmitter. Aksi penghambatan reseptor histamin H1 (antihistamin H1) menyebabkan mengantuk. Selain itu ditemukan pula bahwa histamin juga dilepaskan oleh sel-sel mast di organ genital pada saat terjadi orgasme. Pasien penderita schizophrenia ternyata memiliki kadar histamin yang rendah dalam darahnya. Hal ini mungkin disebabkan karena efek samping dari obat antipsikotik yang berefek samping merugikan bagi histamin, contohnya quetiapine. Ditemukan pula bahwa ketika kadar histamin kembali normal, maka kesehatan pasien penderita schizophrenia tersebut juga ikut membaik. http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/histamin.htm http://www.hanyawanita.com/clickwok/health/health20.htm

B. Putresin Putresin merupakan prekursor untuk spermidin dan spermin. Spermidin dan spermin disintesis dari putresin lewat penambahan gugus propil-amin yang diperoleh dari s-adenosil methionin (SAM). Senyawa ini ternyata juga merupakan prekursor dalam sintesis etilen. Jadi proses pembentukan poliamin dan etilen berkompetisi pada substrat yang sama yaitu SAM (Evans dan Malmberg, 1989; Galston dan Kaur-Sawhney, 1995). Putresin merupakan dua senyawa diamin yang digunakan sebagai indikator kebusukan daging. Putresin, empat diamina rantai karbon, adalah platform kimia penting dengan berbagai macam aplikasi untuk farmasi, industri kimia dan agrokimia. Saat ini digunakan untuk mensintesis nilon-4, 6, engineering plastik banyak digunakan. Saat ini putresin dengan harga lebih dari ¼ 1.600 per ton dengan perkiraan kebutuhan 10.000 ton per tahun, yang diharapkan tumbuh. Saat produksi putresin pada skala industri bergantung pada sintesis kimia, yang membutuhkan petrokimia non-terbarukan dan sistem katalis mahal. Proses ini sangat beracun dan mudah terbakar dengan dampak potensial parah bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Sekarang tim berbasis Korea, dipimpin oleh Sang Profesor Yup Lee di KAIST, telah merintis produksi bioteknologi bahan kimia menggunakan bahan terbarukan. http://biotech.sujanani.com/news/?p=22001963&lang=id http://74.125.153.132/search?q=cache:uoApt2DHMEIJ:www.akademik.unsri.ac.id/download/jou rnal/files/baijournal/Bambang_Sapta_P_studi_tentang_poliamin.pdf+Putresin+adalah&cd=1&hl=id&ct=clnk &gl=id

C. Kadaverina Kadaverina merupakan cairan berasap yang tak berwarna dan kental serta larut dalam air dan alcohol. Jika Zat ini terkena kulit maka akan terjadi iritasi. Kadaverina merupakan senyawa yang berbau busuk yang dihasilkan oleh hidrolisis protein selama pembusukan jaringan hewan. Kadeverina merupakan diamina racun dengan rumus NH2 (CH2) 5NH2 yang mirip dengan putresin. Kadaverina juga dikenal dengan nama 1,5 pentanediamine dan pentamethylenediamine.

D. Trimetil Amin Trimetil amin merupakan komponen utama yang menyebabkan bau yang kurang nyaman di rumah sakit atau pasar ikan. Aktivitas ekstrak teh hijau dalam trimetil amin telah diuji dengan metode yang sama seperti halnya yang dilakukan terhadap MeSH. Sebuah penelitian di Jepang

melaporkan, ikan yang dimasak dalam larutan ekstrak teh lebih rendah kandungan trimetil aminnya dibandingkan ikan yang dimasak dalam air biasa. Trimetil Amin merupakan Pemecahan TMAO yang merupakan reaksi penting dari kerusakan ikan secara enzimatis. Kandungan TMAO biasanya digunakan sebagai indikator dari kesegaran ikan. Selain itu, penentuan kandungan amoniak (hasil pemecahan urea) pada beberapa ikan, seperti hiu, juga penting untuk menentukan kesegaran ikan. http://rohdiana.blogspot.com/2008/01/ini-teh-penghilang-bau-mulut.html

E. Amonia Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3. Biasanya senyawa ini didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia). Walaupun amonia memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi di bumi, amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan. Amonia yang digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat. Istilah ini menunjukkan tidak adanya air pada bahan tersebut. Karena amonia mendidih di suhu -33 °C, cairan amonia harus disimpan dalam tekanan tinggi atau temperaturamat rendah. Walaupun begitu, kalor penguapannya amat tinggi sehingga dapat ditangani dengan tabung reaksi biasa di dalam sungkup asap. "Amonia rumah" atauamonium hidroksida adalah larutan NH3 dalam air. Konsentrasi larutan tersebut diukur dalam satuan baumé. Produk larutan komersial amonia berkonsentrasi tinggi biasanya memiliki konsentrasi 26 derajat baumé (sekitar 30 persen berat amonia pada 15.5 °C).[7] Amonia yang berada di rumah biasanya memiliki konsentrasi 5 hingga 10 persen berat amonia http://wapedia.mobi/id/Amonia F. H2S Hidrogen sulfida, H2S, adalah gas yang tidak berwarna, beracun, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini dapat timbul dari aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen (aktivitas anaerobik), seperti di rawa, dan saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang timbul dari aktivitas gunung berapi dangas alam. Hidrogen sulfida juga dikenal dengan nama sulfana, sulfur hidrida, gas asam (sour gas), sulfurated hydrogen, asam hidrosulfurik, dan gas limbah (sewer gas). IUPAC menerima penamaan "hidrogen sulfida" dan "sulfana"; kata terakhir digunakan lebih eksklusif ketika menamakan campuran yang lebih kompleks.

Hidrogen sulfida merupakan hidrida kovalen yang secara kimiawi terkait dengan air (H2O) karena oksigen dan sulfur berada dalam golongan yang sama di tabel periodik. Hidrogen sulfida merupakan asam lemah, terpisah dalam larutan aqueous (mengandung air) menjadi kation hidrogen H+ dan anion hidrosulfid HSí: H2S HSí + H+

Ka = 1.3×10í7 mol/L; pKa = 6.89. Ion sulfid, S2í, dikenal dalam bentuk padatan tetapi tidak di dalam larutan aqueous (oksida). Konstanta disosiasi kedua dari hidrogen sulfida sering dinyatakan sekitar 10í13, tetapi sekarang disadari bahwa angka ini merupakan error yang disebabkan oleh oksidasi sulfur dalam larutan alkalin Hidrogen sulfida atau H2S adalah gas beracun. Gas ini dapat dijumpai terlarut di dalam air laut, danau atau sungai. Di laut atau di danau atau sungai, gas ini berasal dari aktifitas bakteri pereduksi sulfat di lingkungan anaerob atau lingkungan beroksigen rendah. Kondisi yang anaerob di ketiga lingkungan tersebut terdapat di dasarnya, yaitu beberapa senti meter di bawah permukaan sedimen dasar; atau di lingkungan yang memiliki sirkulasi air yang buruk sehingga lingkungan tersebut kekurangan oksigen. http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrogen_sulfida http://wahyuancol.wordpress.com/2009/07/31/hidrogen-sulfida/ G. Alkohol Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas lagi. Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain. Alkohol adalah zat yang paling sering disalahgunakan manusia, alkohol diperoleh atas peragian/fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi dengan proses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan

kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Kadar alkohol dalam darah maksimum dicapai 30-90 menit. Setelah diserap, alkohol/etanol disebarluaskan ke suluruh jaringan dan cairan tubuh. Dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah orang akan menjadi euforia, namun dengan penurunannya orang tersebut menjadi depresi. http://id.wikipedia.org/wiki/Alkohol

H. Senyawa Keton Keton bisa berarti gugus fungsi yang dikarakterisasikan oleh sebuah gugus karbonil (O=C) yang terhubung dengan dua atom karbon ataupun senyawa kimia yang mengandung gugus karbonil. Keton memiliki rumus umum: R1(CO)R2. Senyawa karbonil yang berikatan dengan dua karbon membedakan keton dari asam karboksilat, aldehida, ester,amida, dan senyawa-senyawa beroksigen lainnya. Ikatan ganda gugus karbonil membedakan keton dari alkoholdan eter. Keton yang paling sederhana adalah aseton (secara sistematis dinamakan 2-propanon). Atom karbon yang berada di samping gugus karbonil dinamakan karbon- . Hidrogen yang melekat pada karbon ini dinamakan hidrogen- . Dengan keberadaan asam katalis, keton mengalami tautomerisme keto-enol. Reaksi dengan basa kuat menghasilkan enolat. Secara umum, keton dinamakan dengan tatanama IUPAC dengan menggantikan sufiks a pada alkana induk dengan -on. Untuk keton yang umumnya dijumpai, nama-nama tradisional digunakan, seperti pada aseton danbenzofenon, nama-nama ini dianggap sebagai nama IUPAC yang dipertahankan [1] walaupun beberapa buku kimia menggunakan nama propanon. Okso adalah tatanama IUPAC resmi untuk gugus fungsi keton. Namun prefiks lainnya juga digunakan dalam berbeagai buku dan jurnal. Untuk senyawa-senyawa yang umum (terutama pada biokimia), keto atau okso adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan gugus fungsi keton (juga dikenal dengan nama alkanon). Okso juga merujuk pada atom okesigen tunggal yang berkoordinasi dengan logam transisi (okso logam). http://id.wikipedia.org/wiki/Keton

I. Fase Eksponensial Fase eksponensial adalah fase dimana bakteri melakukan pembelahan secara biner dengan jumlah kelipatan (eksponensial). Pada fase ini, terjadi lonjakan peningkatan jumlah biomassa sel, sehingga bisa diketahui seberapa besar terjadi pertumbuhan secara optimal dan tingkatan produktifitas biomassa sel. Fase eksponensial ditandai dengan terjadinya periode pertumbuhan yang cepat. Setiap sel dalam populasi membelah menjadi dua sel. Variasi derajat pertumbuhan bakteri pada fase eksponensial ini sangat dipengaruhi oleh sifat genetik yang diturunkannya. Selain itu, derajat pertumbuhan juga dipengaruhi oleh kadar nutrien dalam media, suhu inkubasi, kondisi pH dan aerasi. Ketika derajat pertumbuhan bakteri telah menghasilkan populasi yang maksimum, maka akan terjadi keseimbangan antara jumlah sel yang mati dan jumlah sel yang hidup.
http://dhave29.multiply.com/reviews/item/4 http://chemicalzone.blogspot.com/2008/06/fase-pertumbuhan-bakteri_18.html

2. Penentuan tingkat kesegaran ikan dapat dilihat dari ciri-ciri yang bercetak tebal pada artikel tersebut. Diantaranya adalah Kekerasan dan elastic daging. Hal ini merupakan tanda yang mudah dikenali untuk menentukan apakah ikan tersebut masih segar atau sudah busuk. Ciri yang kedua adalah Susut Bobot dan kadar air. Bila susut bobot tubuh ikan serta kadar airnya berkurang, maka hal tersebut menunjukkan tingkat kesegaran ikan sudah rendah. Dilihat dari karakter biologis, adanya populasi mikroba pembusuk juga merupakan parameter tingkat kesegaran ikan. Semakin banyaknya jumlah mikroba pembusuk, semakin rendah tingkat kesegaran ikan tersebut. Kenampakan, aroma, tekstur dan cita rasa merupakan hal yang paling mudah untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan. Bila kenampakan, aroma, dan cita rasanya sudah berubah dari aslinya berarti tingkat kesegaran ikan sudah mulai menurun. Tetapi sebaliknya bila kenampakan, aroma, dan cita rasa masih sama seperti keadaan aslinya berarti tingkat kesegaran ikan masih terjaga.

3. Ringkasan Bandeng Presto

Bandeng presto adalah makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah Semarang, Jawa Tengah. Makanan ini dibuat dari ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibumbui dengan bawang putih, kunyit dan garam. Ikan bandeng ini kemudian dimasak pada alas daun pisang dengan cara presto. Presto adalah cara memasak dengan uap air yang bertekanan tinggi. Makanan yang dimasak dengan cara ini diletakkan dalam panci yang dapat dikunci dengan rapat. Air yang berada di dalam panci ini kemudian dipanaskan hingga mendidih. Uap air yang timbul akan

memasak makanan yang berada di dalam panci ini. Karena ikan bandeng terkenal memiliki banyak duri, bandeng presto adalah makanan yang digemari karena dengan cara masak presto duri-duri ini menjadi sangat lunak. Teknologi pembuatan bandeng presto sangat sederhana dan mudah sehingga dapat diproduksi dalam berbagai skala usaha. Skala usaha industri pengolahan bandeng presto dibagi atas skala usaha kecil (kapasitas produksi 10-25 Kg per hari), skala usaha sedang (kapasitas produksi 50-100 Kg per hari), dan skala usaha besar (kapasitas produksi satu ton per hari). Dibandingkan dengan pengolahan ikan asin, pembuatan bandeng presto mempunyai beberapa keuntungan, yaitu: (1) cara pengolahannya sederhana, (2) hasilnya dapat langsung dimakan, tanpa perlu dimasak terlebih dahulu, (3) rasanya cocok dengan selera masyarakat Indonesia pada umumnya, (4) dapat dimakan dalam jumlah yang relatif banyak, sehingga sumbangan proteinnya cukup besar bagi perbaikan gizi masyarakat.
Alur Proses dari Pembuatan Bandeng Presto Adalah

No Alur Proses 1 Pencucian

Jenis Bahaya 1.Bahaya Fisik - Kerusakan pada bahan baku - terkelupasnya kulit ikan bandeng

Cara Pencegahan - Selalu teliti dalam pencucian - menggunakan teknik pencucian yang baik dan benar

2.Bahaya Kimiawi - Selalu - Terkontaminasi dengan zat-zat menggunakan air kimia dari air yang bersih dan higienis

3.Bahaya Biologis - Kontaminasi dengan mikroba

- Selalu menggunakan air yang bersih dan higienis - Selalu teliti dan hati-hati dalam melakukan perendaman - menggunakan teknik perendaman yang baik dan benar - Selalu menggunakan air yang bersih dan higienis

2

Perendaman dengan air 1. Bahaya Fisik Garam - Kerusakan pada lapisan kulit ikan bandeng - Tercemar kotoran

2. Bahaya Kimiawi - Terkontaminasi dengan air rendaman yang rentan mengandung bahan kimia

3

3. Bahaya Biologis - Selalu - Terkontaminasi dengan bakteri menggunakan air mikroba yang bersih dan higienis Pembungkusan dengan 1. Bahaya Fisik - Selalu teliti dan Daun Pisang / plastik - Rusaknya fisik pada produk hati-hati dalam - Tercemar kotoran melakukan pembungkusan -menggunakan teknik pembungkusan yang baik dan benar 2. Bahaya Kimiawi - Terkontaminasi dengan dzat kimia yang terkandung pada daun pisang atau plastik 3. Bahaya Biologis Terkontaminasi dengan bakteri mikroba - Selalu menggunakan bahan pembungkus yang telah di sterilkan - Selalu menggunakan bahan pembungkus yang telah di sterilkan - Selalu teliti dan hati-hati dalam melakukan pengukusan -menggunakan teknik

4

Pengukusan

1. Bahaya Fisik - Rusaknya fisik pada produk - Tercemar kotoran

pengukusan yang baik dan benar 2. Bahaya Kimiawi - Terkontaminasi dengan dzat kimia yang terdapat pada alat pengukus - Menggunakan alat yang bersih dan telah di sterilkan

3. Bahaya Biologis - Menggunakan alat - Terkontaminasi dengan bakteri yang bersih dan telah mikroba di sterilkan 5 Pendinginan 1. Bahaya Fisik - Rusaknya fisik pada produk - Tercemar kotoran -Selalu teliti dan hatihati dalam melakukan pendinginan - menggunakan teknik pendinginan yang baik dan benar - Selalu menggunakan bahan dan tempat yang bersih dan steril

2. Bahaya Kimiawi - terkontaminasi dengan dzat kimia yang mengalami pendinginan

3. Bahaya Biologis - Selalu - Terkontaminasi dengan bakteri menggunakan bahan mikroba dan tempat yang bersih dan steril 6 Pengemasan dan Pelabelan 1. Bahaya Fisik - Kerusakan fisik pada produk - Tercemar kotoran - Selalu teliti dan hati-hati dalam melakukan pengemasan - Menggunakan teknik pengemasan yang baik dan benar - Selalu menggunakan bahan dan tempat yang bersih dan steril

2. Bahaya Kimiawi - Terkontaminasi dengan dzat kimia yang terkandung pada alat yang digunakan untuk pengemasan dan pelabelan

3. Bahaya Biologis - Selalu - Terkontaminasi dengan bakteri menggunakan bahan mikroba dan tempat yang

bersih dan steril 7 Distribusi 1. Bahaya Fisik - Kerusakan fisik pada Produk - Tercemar kotoran - Dalam distribusi dilakukan dengan cepat ke tujuan - Produk sebaiknya di beri batasan penumpukan dalam pendistribusian. - Dalam distribusi dilakukan dengan cepat ke tujuan - Tempat yang digunakan untuk meletakkan produk harus steril

2. Bahaya Kimiawi - Tercemar oleh dzat kimia alat pembungkus yang timbul akibat lamanya pengangkutan

3. Bahaya Biologis Dalam distribusi - Terkontaminasi dengan bakteri dilakukan dengan mikroba cepat ke tujuan - Tempat yang digunakan untuk meletakkan produk harus steril

Proses Pengolahan Bandeng Presto

:

Tahap 1: Ikan dicuci dibuang isi perutnya dan insangnya. bersihkan ginjal (tampak merah menempel pada tulang belakang di bagian dalam rongga perut ). Cuci dengan air bersih dan kemudian rendam dalam larutan garam (3 Kg garam,100 liter air) selama 15 - 20 menit. Dalam merendam ikan dengan larutan garam sebaiknya diberi es. untuk mencegah pembusukan karena peningkatan suhu. Tahap 2 : Ikan hasil rendaman diberi garam halus secukupnya I dilaburi garam sejumlah 2% atau 2 gram untuk 100 gram ikan, 8 gram untuk ikan berukuran 400 gram atau direndam dalam larutan garam jenuh selama 2 jam. kemudian di bungkus daun pisang atau lembaran aluminium setiap ekor dan selanjutnya satu persatu ditata sarangan autoclave atau press-cooker. Tahap 3: Pengukusan dilakukan selama 60 menit dengan tekanan di bagian dalam 0,0 atmospir bagi ikan 200 - 300 gram dan 1,0 atmospir bagi ikan yang beratnya lebih dan 300 gram.

Tahap 4 : Hasil pengukusan dibiarkan turun suhunya di ruangan dan setelah produk mencapai suhu kamar sebaiknya disimpan dalam ruangan bersuhu rendah (sekitar 0°C) dengan menggunakan lemari es atau kamar dingin. Hal ini penting untuk distribusi, pemasaran atau pengeceran, karena bandeng presto dapat tahan 7 sampai 10 hari pada suhu sekitar 0°C. Tabel Kelompok Bahaya Produk Bandeng Presto Kelompok Bahaya No. Bahan/Ingredien Ikan Bandeng Segar Garam Daun Pisang Air A 0 0 0 0 B + 0 0 0 C 0 0 0 0 D + + + + E + + + + F + + + + Kategori Resiko 0/I/II/III/IV/V/VI IV III III III

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->