P. 1
MAKALAH

MAKALAH

|Views: 641|Likes:
Published by nanahere91

More info:

Published by: nanahere91 on Apr 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

Perkembangan Anak dalam Berbagai Segi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

Disusun untuk memenuhi tugas kelompok Mata kuliah: Psikologi Perkembangan Dosen Pengajar: Sumilah

Disusun oleh: ■Titis Pratitis 1401409005 ■Rosinta Atmasari 1401409068 ■Dina Kurnia J. 1401409184 ■Rindha Y. Addiin 1401409266 ■Afiani Rahmawati 1401409279 ■Arif Ikwanudin 1401409135

Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang Tahun 2010

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Perkembangan Anak dalam Berbagai Segi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan ini dapat terselesaikan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Psikologi Perkembangan dengan dosen penggajar Sumilah. Penyusun sadar bahwa makalah ini belumlah sempurna. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang budiman. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Semarang, 07 Maret 2010 Penyusun,

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang
Sebagai calon guru atau pendidik kita harus mempunyai pengetahuan, kreatifitas juga wawasan yang luas untuk memahami peserta didiknya. Selain itu kita harus mengerti psikokologi anak, kemampuan anak, kelemahan anak dan keinginan anak yang mempunyai bakat tertentu yang dapat meliputi aspek-aspek psikis maupun sosialnya. Untuk itu kita harus mengetahui tingkat kemampuan dan perkembangan peserta didik dalam aspek-aspeknya sehingga dapat diimplikasiklan dalam dunia kependidikan

B.Tujuan
Penyusun menulis makalah yang berjudul, ”Perkembangan Anak dalam Berbagai Segi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan” ini memiliki berbagai tujuan sebagai berikut ini: 1. Untuk mengetahui apa itu perkembangan kognisi. 2. Untuk mengetahui implikasi terhadap perkembangan bahasa, moral, emosional, dan berbagai segi pendidikan.

C.Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah yang berjudul,”Perkembangan Anak dalam Berbagai Segi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan” tentunya didasari oleh berbagai pertanyaan yang dijidikan sebagai rumusan masalah, yaitu: 1.Apakah itu perkembangan kognitif? 2.Bagaimana implikasinya terhadap perkembangan bahasa, moral, emosional dari berbagai segi pendidikan?

BAB II PEMBAHASAN A.Perkembangan Kognitif
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia: 1).Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun) Dalam tahap ini perkembangan panca indra sangat berpengaruh dalam diri anak. Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya. Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan senjata terbesarnya adalah ‘menangis’.Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam empat sub-tahapan: 1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks. 2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan. 3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. 4.Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. 2).Pra-operasional (usia2-7tahun) Anak pada masa ini memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis-rumit. Dalam menyampaikan cerita harus ada alat peraga. 3).OperasionalKongkrit (usia7-11tahun) Anak pada tahap ini mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

1.Pengurutan kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. 2.Klasifikasi kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. 3.Decentering anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi. 4.Reversibility anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya. 5.Konservasi memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain. 6.Penghilangan sifat Egosentrisme kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang. 4).OperasionalFormal(usia11tahunkeatas) Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berpikir, baik secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.Namun kesulitan baru yang dihadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia pubertas. Informasi umum mengenai tahapan-tahapan

B.Implikasi Perkembangan Terhadap Bahasa,Moral, Sosio Emosional dari Segi Pendidikan.
1. Implikasi Perkembangan Terhadap Bahasa Tiap manusia mengawali komunikasinya dengan dunia sekitarnya melalui bahasa tangisan mulai dari bahasa tangis sampai proses berbicara. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi baik yang diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah, pantomim, atau seni. Bahasa adalah segala bentuk komunikasi dimana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Perkembangan bahasa terdiri atas dua periode besar, yaitu periode prelinguistik (antara 0-1 tahun) dan linguistik (1-5 tahun). Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu: 1). Fase satu kata atau holofrase

Fase ini mempergunakan satu kata untuk menyatakan ikiran yang kompleks, baik yang berupa keinginan, perasaan, atau temuan tanpa perbedaan yang jelas. Umumnya kata pertama yamg diucapkan oleh anak adalah kata benda. 2). Fase lebih dari satu kata Fase ini terjadi pada anak berusia 18 bulan. Anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Dan orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. 3). Fase diferensiasi Periode terakhir dari masa balita ini antara 2,5-5 tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Anak sudah dapat menyusun kalimat, pertanyaan, menjawab, dan memerintah. a. Bahasa Tubuh Bahasa tubuh adalah cara seseorang berkomunikasi dengan mempergunakan bagian-bagian dari tubuh yaitu gerak isyarat, ekspresi wajah, sikap tubuh. Bahasa tubuh merupakan ungkapan komunikasi anak yang paling nyata karena merupakan ekspresi perasaan serta keinginan mereka terhadap orang lain. b. Bicara Bicara adalah salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Tujuan dari bicara adalah: 1). Sebagai pemuas kebutuhan dan keinginan. 2). Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain. 3). Sebagai alat untuk membina hubungan sosial. 4). Sebaga alat untuk mengevaluasi diri sendiri. 5). Dapat mempengaruhi pikiran dan perasaan orang lain. 6). Untuk mempengaruhi pikiran orang lain. c. Potensi anak berbicara, didukung oleh beberapa hal: 1).Kematangan alat berbicara Alat-alat berbicara baru dapat berfungsi dengan baik setelah sempurna dan dapat membentuk atau memproduksi suatu kata dengan baik sebagai permulaan berbicara. 2).Kesiapan berbicara Kesiapan mental anak sangat bergantung pada pertumbuhan dan kematangan otak.Biasanya dimulai anak berusia12-18 bulan. 3).Adanya teladan Anak membutuhkan contoh tertentu agar dapat melafalkan kata dengan tepat yang selanjutnya menyusun kalimat yang berarti. 4).Kesempatan berlatih Apabila anak kurang mendapatkan latihan keterampilan berbicara akan timbul frustasi. 5).Motivasi untuk belajar dan berlatih Memberikan motivasi dan melatih anak untuk bicara sangat penting bagi anak karena untuk memenuhi kebutuhannya untuk memanfaatkan potensi anak. 6).Bimbingan Bimbingan sangat penting untuk mengembangkan potensi anak. Bimbingan sebaiknya selalu dilakukan secar terus-menerus dan konsisten sehingga anak tidak mengalami kesulitan apabila berbicara.

d. Gangguan dalam Perkembangan Bicara Antara lain: 1).Anak cengeng Anak yang seringkali menangis dengan berlebihan dapat menimbulkan gangguan pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik adalah berkurangnya energi yang dapat menyebabkan kondisi anak tidak fit. Sedangkan gangguan psikis yang muncul adalah perasaan ditolak atau tidak dicintai oleh orang tuanya atau anggota keluarga lain. 2).Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain Hal ini disebabkan kurangnya perbendaharaan kata pada anak dan juga orang tua seringkali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh anak. 2. Implikasi terhadap perkembangan moral. Beberapa proses pembentukan prilaku dan sikap anak antara lain: a. Imitasi (imitation) Yaitu peniruan sikap, cara pandang serta tingkah laku orang lain yang dilakukan dengan sengaja oleh anak .Anak mula melakukan peniruan sejak usia 3 tahun. Sering kali anak tidak hanya meniru prilaku orang lain tetapi juga ekspresi orang lain terhadap sesuatu. Anak yang menolak orang tuanya tidak meniru prilaku orang tuanya tetapi tanpa disadarinya anak akan meniru sikap oran tuanya yang dapat mempengaruhi prilaku anak tersebut. b. Internalisasi Yaitu suatu proses yang merasuk pada diri anak karena pengaruh sosial yang paling mendalam dalam kehidupannya. Dalam internalisdasi faktor yang paling penting adalah adanya keyakinan dan kepercayaan pada anak tersebut terhadap pandangan atau nilai tertentu dari orang lain dalam pergaulan sehari-hari. c. Introvert dan ekstrovert Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat, sikap, dan keputusan yang diambil berdasar pada perasaan pemikiran dan pengalamannya sendiri. Sedangkan ekstrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian keluar dirinya. Minat dan keputusan yang diambil lebih banyak dtentukan oleh orang lain atau lingkungan. d. Kemandirian Pada anak istilah kemandirian sering kali dikaitkan dengan kemampuan anak untuk melakukan segala sesuatu berdasar kekuatan sendri tanpa bantuan orang dewasa. Kemandirian tidak sebatas tindakan, tetapi bertalian dengan sikap psikologis. Dasar kemandirian adalah adanya rasa percaya diri seseorang untuk menghadapi sesuatu dalam kehidupannya. Kemandirian anak biasanya timbul mulai saat berpisah dengan orang dewasa, ingin mengetahui sesuatu, dan kesadaran bahwa dia harus berbuat sesuatu tanpa tergantung pada orang lain. e. Ketergantungan Karena kebutuhan hidupnya, anak usia 6-12 tahun akan sangat tergantung pada orang tua atau orang dewasa lain. Seiring bertambahnya usia ketergantungan tersebut akan berubah menjadi kemandirian. Anak yang masih mempertahankan perilaku seperti pada masa kanak-kanak akan mengalami kesulitan sehingga ia mengalami ketergantungan. Anak tersebut memiliki ketdakmandirian yang mencakup fisik dan

mental dan prilakunya yang berlainan dengan anak lainnya. Anak ini pada umumnya merasa rendah diri atau inverior karena tidak dapat bersikap mandiri dan hidupnya selalu tergantung dengan orang lain. f.. Bakat Bakat merupakan potensi dalam diri seseorang. Menurut ilmu pengetahuan terdapat dua jenis bakat yaitu: 1).Bakat yang bertalian dengan kemahiran atau kemampuan mengenai suatu bidang khusus. 2).Bakat yang diperlukan untuk berhasil dalam pendidikan khusus. Terdapat 3 faktor utama yang dapat mempengaruhi tampilnya bakat anak yaitu: 1).Faktor Motivasi Faktor ini berhubungan dengan daya juang anak untuk mencapai sasaran tertentu. Orang tua dan guru harus memberikan motivasi kepada anak . 2).Faktor nilai(value) Faktor ini berkaitan dengan bagaimana seseorang memberi arti terhadap hasil pekerjaan yang sesuai bakatnya. 3).Konsep Diri Anak yang memilki konsep diri yang positif selalu berusaha berinteraksi secara timbal balik dengan sesuatu yang merupakan aktualisasi baktnya sehingga anak itu akan lebih mudah mencapai sesuatu yang dicita-citakannya. 3. Implikasi terhadap Emosi a. Gangguan emosional pada kanak-kanak Terdapat gangguan emosional pada masa kanak-kanak sehingga menyebabkan ketakutan kanak –kanak untuk melakukan kegatan. Seperti pada suasana yang gelap sehingga takut melukukan sesuatu pada malam hari di luar rumah, karena temperamen orang dewasa dirumahnya. Anak-anak yang sering mengalami gangguan itu selalu merupakan masalah bagi psikiater. Gangguan tersebut berkaitan dengan fase tertentu dalam kehidupan anak dan dibiarkan hilang dengan sendirinya, namun bagi yang lain memerlukan perawatan yang baik untuk mencegah timbulnya berbagai masalah di masa yang akan datang. b. Beberapa tipe masalah emosional Kebrutalan pada anak akan tampak pada perilakunya mereka menunjukkan perbuatan yang sering memerlukan bantuan orang lain. Misalnya berkelahi, mencuri, berbohong. Bentuk tindakan itu merupakan ekspresi yang keluar dari emosional yang terganggu. Tetapi umumnya anak-anak berusaha merubahnya dan menutupi perilaku mereka dengan mengemukakan alasan untuk dapat dipercayai ,menutupi kebohongannya dengan maksud menghindari hukuman karena perbuatannya. c. Gangguan kecemasan Ganguan kecemasan dimulai dari masa kanak –kanak. Gangguan tersebut berupa gangguan keinginan terpisah yang disebabkan berbagai hal yang berbeda-beda. Anak penderita ini tidak mau berteman, tak peduli terhadap diri sendiri. Kondisi ini dapat mempengaruhi anak laki-laki atau perempuan dari kanak-kanak sampai dewasa usia mahasiswa.

d. Takut Sekolah Penyebab anak takut sekolah yaitu ketakutan terhadap guru yang galak atau mendapat tugas yang berat disekolah. Hal itu sangat wajar karena disebabkan oleh lingkungan yang tidak kondusif maka suasana sekolah perlu dirubah. Unsur yang paling penting dalam memperlakukan anak yang takut pada sekolah dimulai sejak dini dan dilakukan secara terus menerus. Perlakuan itu dilakukan secara teratur dan dibimbing dengan baik maka saat kembali ke sekolah anak tersebut tidak akan mengalami kesukaran tersebut. e. Kematangan Sekolah Merupakan suatu kondisi dimana anak telah memiliki kesiapan cukup memadai baik fisik maupun mental untuk dapat memenuhi tuntutan pendidikan formal. Secara umum usia matang untuk sekolah adalah 5 atau 6 tahun. Usia ini anak telah mencapai perkembangan fisik sebagai dasar untuk dapat merasakan segala sesuatu di sekolah. Perkembangangan kognitif sangat dibutuhkan seperti kemampuan membaca dan menulis.Secara psikis anak telah mampu bersosialisasi serta berusaha membedakan antara salh dan benar.Kemampuan dasar lainnya adalah bahwa anak telah mampu mengembanglikan hubungan emosional yang sehat dengan orang tua,teman sebaya,dan orang lain. f. Depresi Pada masa Kanak –kanak Gejala-gejala dasar yang mempengaruhi gangguan tersebut adalah serupa pada masa kanak-kanak hngga dewasa hanya usia yang membedakannya. Gangguan ini mengakibatkan anak tidak suka bersenang-senang, tidak bisa berkonsentrasi.Gejalagejala depresi antara lain: 1).gangguan konsentrasi 2).tidur kurang 3).mulai berbuat kejelekan d sekolah 4).tidak merasa bahagia 5).terlalu merasa bersalah Anak usia sekolah penderita depresi biasanya kurang bergaul dan tidak memiliki kompetisi akademik karena adanya depresi tersebut akibat tidak kompetennya anak. g. Perawatan Problema emosional Pilihan perawatan secara khusus untuk gangguan tertentu sangt tergantung pada berbagai faktor, misalnya problema yang bersifat alamiah, kepribadian anak, kesediaan orang tua untuk berpartosipasi. Perawatan secara psikologis dilakukan dengan cara melihat anak satu persatu, membantu agar anak dapat mengenal dirinya dan hubungannya dengan orang lain dan mengintepretasikan perasaan dan prilaku anak. Beberapa jens terapi adalah: 1).Terapi jangka pendek dan panjang 2).Terapi perilaku atau modivikasi perilaku 3). Efektifitas terapi.

4. Implikasi terhadap berbagai segi pendidikan. Implikasi perkembangan anak terhadap segi pendidikan salah satunya adalah terhadap penyelenggaraan pendidikan.

Sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, maka proses pertumbuhan dan perkembangan peserta didik tersebut sangat dipengaruhi oleh adanya interaksiantara dua faktor yang sama-sama penting kedudukannya yaitu faktor hereditas danfaktor lingkungan. Keberadaan dua faktor tersebut tidak bisa dipisakan satu sama lainnya karena kenyataannya kedua faktor tersebut tidak bekerja sendiri-sendiri dalam operasionalnya. Atas dasar sedikit informasi tersebut di atas, maka dapatlah ditarik beberapa butir implikasi pertumbuhan/perkembangan/kematangan peserta didik terhadap penyelenggaraan pendidikan sebagai berikut: 1. Pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak lahir berlangsung dalam lingkungan sosial yang meliputi semua manusia yang berada dalam lingkungan hidup itu. 2. Interaksi manusia dengan lingkungannya sejak lahir menghendaki penguasaan lingkungan maupun penyesuaian diri pada lingkungan. 3. Dalam interaksi sosial, manusia sejak lahir telah menjadi anggota kelompok sosial yang dalam hal ini ialah keluarga. 4. Atas dasar keterikatan dan kewajiban sosial para pendidik terutama orang tua, maka anak senantiasa berusaha menciptakan lingkungan fisik, lingkungan sosial, serta lingkungan psikis yang sebaik-baiknya bagi proses pertumbuhan dan perkembangannya. 5. Setelah umur kronologis mencapai lingkungan tertentu, anak telah mencapai berbagai tingkat kematangan intelektual, sosial, emosional, serta kemampuan jasmani yang lain. 6. Kematangan sosial merupakan landasan bagi kematangan intelektual, karena perkembangan kecerdasan berlangsung dalam lingkungan sosial tersebut. 7. Kematangan emosional melandasi kematangan sosial dan kematangan intelektual, karena sebagian besar tingkah laku manusia dikuasai atau ditentukan oleh kondisi perasaannya. 8. Kematangan jasmani merupakan dasar yang melandasi semua kematangan. 9. Pendidik yang berkecimpung dalam pengasuhan anak dalam perkembangan di masa kanak-kanak hendaklah memperhatikan keterkaitan antara berbagai segi kematangan jasmani dan rohani anak dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif. 10. Hasil-hasil belajar yang mendasari hidup bermasyarakat banyak dicapai oleh anak dalam keluarga terutama semasa masih kanak-kanak, yaitu sikap dan pola tingkah laku terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. 11. Iklim emosional yang menjiwai keluarga itu meliputi: hubungan emosional antara keluarga, kadar kebebasan menyatakan diri dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan. 12. Seorang anak dimana anak sekolah adalah seorang realis yang hendak mengenal kenyataan di sekitarnya menurut keadaan senyatanya atau objektif apa adanya. 13. Pada umumnya anak masa sekolah dan masa remaja mengalami pertumbuhan jasmani yang semakin kuat dan sehat. Sedangkan dalam segi ruhani ia mengalami perkembangan pengetahuan dan kemampuan berpikir yang pesat pula karena ditunjang oleh hasrat belajar yang sehat serta ingatan yang kuat.

14. Pemahaman guru terhadap minat dan perhatian peserta didik akan sangat bermanfaat dalam perencanaan program-program pendidikan maupun pengajaran. 15. Karakteristik umum pertumbuhan/perkembangan peserta didik ialah ditandai dengan: Kegelisahan, pertentangan, keinginan mencoba segala sesuatu, menghayal dan aktivitas berkelompok.

BAB III PENUTUP A.Simpulan
Dari uraian di atas penyusun memperoleh simpulan sebaga berikut ini: 1.Perkembangan kognitif terdapat empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia: 1).Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun) 2).Pra-operasional(usia2-7tahun) 3).OperasionalKongkrit(usia7-11tahun) 4).OperasionalFormal(usia11tahunkeatas) 2.Implikasinya terhadap perkembangan bahasa, moral, sosio emosional dari berbagi segi pendidikan adalah 1. Implikasi Perkembangan Terhadap Bahasa a.Bahasa Tubuh b.Bicara 2.Implikasi terhadap perkembangan moral. a.imitation b.Internalisasi c.Introvert dan ekstrovert d.Kemandirian e.ketergantungan f..Bakat 3.Implikasi terhadap Emosi a.Gangguan emosional pada kanak-kanak b.Beberapa tipe masalah emosional. c.Gangguan kecemasan. d.Takut Sekolah e.Kematangan Sekolah f.Depresi Pada masa Kanak –kanak g.Perawatan Problema emosional 4.Implikasi terhadap berbagai segi pendidikan. Implikasi perkembangan anak terhadap segi pendidikan salah satunya adalah terhadap penyelenggaraan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Sueparwoto.2007.PsikologiPerkembangan.Semarang:UPT MKK UNNES Sumantri,Muljani. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Universitas Terbuka http://www.indigoindonesia.com/ http://www.ascendpress.org/PDF-files/Chakras5.pdf

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->