P. 1
Askep Pada Penyakit Dic Dan Dhf

Askep Pada Penyakit Dic Dan Dhf

|Views: 4,529|Likes:
Published by ianzkate
Dic Dan Dhf
Dic Dan Dhf

More info:

Published by: ianzkate on Apr 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2013

pdf

text

original

ASKEP PADA PENYAKIT DIC DAN DHF

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Ajaran Keperawatan Medikal Bedah

Oleh Paian tua

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN BANDUNG
1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang darah serta jaringan yang membentuk darah. Darah merupakan bagian penting dari system transport. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang terdiri dari 2 bagian besar yaitu plasma darah dan bagian korpuskuli. Dalam arti lain hematologi juga dikenal sebagai cabang ilmu kedokteran mengenai sel darah, organ pembentuk darah, dan kelainan yang berhubungan dengan sel serta organ pembentuk darah. Setiap orang mengetahui bahwa pendarahan pada akhirnya akan berhenti ketika terjadi luka atau terdapat luka lama yang mengeluarkan darah kembali. Saat pendarahan berlangsung, gumpalan darah beku akan segera terbentuk dan mengeras, dan luka pun pulih seketika. Sebuah kejadian yang mungkin tampak sederhana dan biasa saja di mata Anda, tapi tidak bagi para ahli biokimia. Penelitian mereka menunjukkan, peristiwa ini terjadi akibat bekerjanya sebuah sistem yang sangat rumit. Hilangnya satu bagian saja yang membentuk sistem ini, atau kerusakan sekecil apa pun padanya, akan menjadikan keseluruhan proses tidak berfungsi. Darah harus membeku pada waktu dan tempat yang tepat, dan ketika keadaannya telah pulih seperti sediakala, darah beku tersebut harus lenyap. Sistem ini bekerja tanpa kesalahan sedikit pun hingga bagian-bagiannya yang terkecil. Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah harus segera terjadi demi mencegah kematian. Di samping itu, darah beku tersebut harus menutupi keseluruhan luka, dan yang lebih penting lagi, harus terbentuk tepat hanya pada lapisan paling atas yang menutupi luka. Jika pembekuan darah tidak terjadi pada saat dan tempat yang tepat, maka keseluruhan darah pada makhluk tersebut akan membeku dan berakibat pada kematian.

2

B. Tujuan 1. Tujuan umum Mahasiswa D III keperawatan tingkat II mampu memahami serta dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan Disseminated intravaskuler coagulation, dan DHF. 2. Tujuan khusus • Siswa dapat memahami pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis,

komplikasi, insiden, penatalaksanaan, serta proses keperawatan pada klien DIC • Siswa dapat memahami pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis,

komplikasi, insiden, penatalaksanaan, serta proses keperawatan pada klien DHF

C. Metode penulisan Makalah ini menggunakan metode literatur, internet, diskusi kelompok, serta bimbingan dengan dosen pembimbing.

D. Sistematika Makalah ini terdiri dari bab I pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan, metode penulisan, dan sistematika penulisan, bab II tinjauan teoretis meliputi konsep penyakit DIC dan DHF serta proses keperawatannya, bab III penutup meliputi kesimpulan dan saran.

BAB II
3

TINJAUAN TEORETIS
A.

Anatomi dan Fisiologi Hematologi
Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limfa. Darah merupakan medium transport tubuh, volume darah manusia sekitar 7%-10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter. Darah teerdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut : 1. Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah. 2. Butir-butir darah ( blood corpuscles), yang terdiri atas komponen sebagai berikut : a. Eritrosit (sel darah merah) b. Leukosit (sel darah putih) c. Trombosit (platelet) butir pembeku darah.

sel darah merah (eritrosit) merupakan cairan bikonkav dengan diameter sekitar 7 mikron, yang memungkinkan gerakan oksigen masuk dan keluar sel secara cepat dengan jarak yang pendek antara membrane dan inti sel, warnanya kuning kemerah-merahan karena didalamnya mengandung hemoglobin. Komponen eritrosit :  membran eritrosit  sistem enzim  hemoglobin, komponennya terdiri atas : 1. heme yang merupakan gabungan protoporfirin denagn besi
2. globin : bagian protein yang terdiri aats 2 rantai alfa dan 2 rantai beta.

4

Terdapat sekitar 300 molekul Hb dalam setiap sel darah merah. Tugas akhir Hb adalah : menyerap karbondioksida dan ion hydrogen serta membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari Hb. Sifat-sifat sel darah merah : 1. Normositik = sel yang ukurannya normal. 2. Normokromik = sel dengan jumlah hemoglobin yang normal. 3. Mikrositik = sel yang ukurannya terlalu kecil. 4. Makrositik = sel yang ukurannya terlalu besar. 5. Hipokromik = sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu sedikit. 6. Hiperkromik = sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu banyak.

• Sel darah putih (Leukosit)
Bentuknya dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu. Sel darah putih dibentuk di sumsum tulang dari sel-sel bakal. Jenis-jenis dari golongan sel ini adalah golongan yang tidak bergranula, yaitu limfosit T dan B: monosit dan makrofag serta golongan yang bergranula,yaitu eosinofil, basofil, dan neutrofil. Fungsi sel darah putih adalah : 1. Sebagai serdadu tubuh yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh jaringan sistem retikulo endotel. 2. Sebagai pengangkut yaitu mengangkut atau membawa zat lemak dari dinding usus melalui limfa terus ke pembuluh darah. Jenis-jenis sel darah putih: Sel darah putih terdiri atas beberapa jenis sel darah sebagai berikut: 1. Agranulosit Memiliki diameter sekitar 10-12 mikron. Granulosit terbagi menjadi 3 kelompok:

5

a. Neutrofil : granula yang tidak berwarna mempunyai inti sel yang terangkai, kadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak berbintik-bintik halus atau granula, banyaknya sekitar 60-70%. b. Eosinofil : berwarna merah dengan pewarnaan asam, ukuran dan bentuknya hamper sama dengan neutrofil banyaknya kira-kira 24%.
c. Basofil : berwarna biru dengan pewarnaan basa, sel ini lebih kecil dari pada

eosinofil, mempunyai inti yang bentuknya teratur banyaknya kira-kira 0.5% disumsum merah. Basofil bekerja sebagaimfosit sel mast dan mengeluarkan peptide vasoaktif. 2. Granulosit Terdiri atas limfosit dan monosit:
a. Li mfosit

Memiliki nucleus besar bulat dengan menempati sebagian besar sel limfosit berkembang dalam jaringan limfe. Ukurannya sekitar 7-15 mikron, banyaknya 20-25 % dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri yang masuk dalam jaringan tubuh. Limfosit ada 2 macam, yaitu limfosit T dan B. Limfosit T meninggalkan susmsum tulang dan berkembang lama, kemudian bermigrasi menuju ketimus.kemudian sel-sel beredar dalam darah sampai mereka bertemu dengan antigen-antigen dimana mereka telah diprogramkan untuk mungenalinya. Setelah dirangsang oleh antigennya. Sel ini mengahasilkan bahan-bahan kimia yang menghancurkan mikroorganisme dan membertahu sel-sel darah putih lainnya bahwa telah terjadi infeksi. Limfosit B terbentuk di sumsum tulang lalu bersirkulasi dalam darah sampai menjumpai antigen dimana mereka telah diprogram untuk mengenalinya. Pada tahap ini, limfosit B mengalami pematangan lebih lanjut dan menjadi sel plasma serta menghasilkan antibody.

6

b. Monosit Ukurannya lebih besar dari limfosit, protoplasmanya besar, warna biru sedikit abu-abu serta mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan. Monosit dibentuk didalam sumsum tulang masuk kedalam sirkulasi dalam bentuk hematom dan mengalami proses pematangan menjadi makrofag setelah masuk ke jaringan. Fungsinya sebagai fagosit, jumlahnya 34 % dari total komponen yang ada di sel darah putih. Jumlah sel darah putih. Pada orang dewasa, jumlah sel darah putih total 4,0-11,0 x 10 9/l yang terbagi sebagi berikut. Granulosit :
  

Neutrofil 2,5 – 7,5 x 109 Eosinofil 0,04 – 0,44 x 109 Basofil 0 – 0,10 x 109

Limfosit 1,5 – 3,5 x 109 Monosit 0,2 – 0,8 x 109 3. Keping darah (Trombosit) Trombosit adalah bagian dari beberapa sel-sel besar dalam sumsum tulang yang berbentuk cakram bulat, oval, bikonveks, tidak berinti, dan hidup sekitar 10 hari. Jumlah trombosit antara 150 dan 400 x 109/liter (150.000-400.000/milimeter), sekitar 30-40% terkonsentrasi di dalam limpa dan sisanya bersirkulasi dalam darah. Fungsi trombosit yaitu berperan penting dalam pembentukan bekuan darah diantaranya mengubah bentuk dan kualitas setelah berikatan dengan pembuluh yang cedera.

7

4. Plasma darah Plasma darah adalah bagian darah yang encer tanpa sel-sel darah, warnanya bening kekuning-kuningan hamper 90% dari plasma darah terdiri atas air. Zat-zat yang terdapat dalam plasma darah sebagai berikut : 1. Fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah.
2. Garam-garam mineral seperti garam kalsium, kalium, natrium, dan lain-lain

yang berguna dalam metabolisme dan juga mengadakan osmotik. 3. Protein darah (albumin dan globulin) menigkatkan viskositas darah juga menimbulkan tekanan osmotic untuk memelihara keseimbangan cairan dalam tubuh 4. Zat makanan (asam amino, glukosa, lemak, mineral, vitamin). 5. Hormone, yaitu zat yang dihasilkan dari kelenjar tubuh. 6. Antibody. 5. Limpa Merupakan organ lunak kurang lebih berukuran 1 kepalan tangan. Limpa terletak pada pojok atas kiri abdomen di bawah costa, limpa terdiri atas kapsula limpa fibroelastin, folikel (masa jaringan limpa) dan pulpa merah (jaringan ikat, sel eritrosit, sel leukosit).

Faktor-faktor Pembekuan Darah
Factor I II IV V VII VIII nama fibrinogen protrombin kalsium labile factor, proaccelerin, dan accelerator (AC-) globulin proconvertin, serum, protrombin convertin accelerator (SPCA), cotromboplastin, dan autoprotrombin I Antihemophilic, factor, antihemophilic globulin (AHG)
8

IX XII XIII

plasma thromboplastin component (PTC)/chrismas factor factor Hageman factor stabilisasi fibrin

B. DEMAM BERDARAH DENGUE
1. Konsep penyakit DHF

A. PENGERTIAN DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF ). (askep DHF.com) Penyakit demam berdarah (DBD) adalah suatu penyakit menular yang disebebkan oleh virus dengue dan ditularkan dari orang keorang lain melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti., dapat menimbulkan kematian yang singkat dan sering menimbulkan wabah. (www.dkk-bpp.com) Kesimpulan : penyakit demam berdarah adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang disebabkan oleh virus dengue dari nyamuk aedes aegypti, dan biasanya memburuk setelah 2 hari pertama.

9

Struktur nyamuk terdiri atas ; kepala, toraks yang setiap segmenya dilengkapi dengan sepasang kaki yang beruas-ruas dan abdomen. Daerah kepala terdiri atas mata, antena berbentuk poliform yang terdiri atas 15 segmen. Antena nyamuk betina disebut pilose dengan bulu-bulu yang lebih sedikit sedangkan yang jantan memiliki banyak bulu disebut plumose. Seperti halnya dengan serangga lain nyamuk memiliki sepasang mata majemuk oseli (mata tunggal). Di bagian dorsal toraks terdapat bentuk bercak yang keras berupa dua garis sejajar pada bagian tengah dan dua garis lengkung di bagian tepi. Vena sayap meliputi seluruh bagian sayap sampai ke ujung berukuran 2,5 – 3,0 mm. Di bagian abdomen nyamuk betina berukuran kecil terdapat dua caudal cerci yang berukuran kecil, sedangkan pada nyamuk jantan terdapat organ seksual yang disebut hypopygium. Nyamuk ini bersifat antropofilik ( senang sekali pada manusia), biasanya nyamuk betina menggit di dalam rumah, kadang-kadang di luar rumah di tempat yang agak gelap. Pada malam hari nyamuk beristirahat dalam rumah pada benda-benda yang digantung seperti pakaian, kelambu, pada dinding dan tempat yang dekat dengan tempat peridukannya. Nyamuk A.aegypti memilliki kebiasaan menggigit berulang-ulang (multiple biters) yakni menggit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat. Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap peranannya sebagai vektor penyebab penyakit DBD ke beberapa orang dalam sekali waktu. Nyamuk jantan juga tertarik terhadap manusia pada saat melakukan perkawinan, tetapi tidak menggigit. Dalam perkembangan hidupnya nyamuk ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yaitu dari telur menetas menjadi larva (jentik), kemudian menjadi pupa dan selanjutnya menjadi nyamuk dewasa. Dalam keadaan optimal, perkembangan telur sampai menjadi nyamuk dewasa berlangsung sekurang-kurangnya selama 9 hari. Nyamuk dewasa baik jantan maupun betina membutuhkan glukosa sebagai bahan makanan yang dapat diperoleh dari cairan tumbuhan, sedangkan nyamuk betina membutuhkan protein-protein dari darah untuk pematangan sel telur setelah perkawinan. yamuk betina dewasa mulai menghisap darah setelah berumur 3 hari, setelah itu sanggup bertelur sebanyak 100 butir. Nyamuk betina mampu bertahan hidup 2 minggu lebih di alam, sedangkan nyamuk jantan setelah proses kawin dalam waktu ± 1 minggu akan mati. Nyamuk betina dapat terbang sejauh 20 meter, kemampuan normalnya adalah ± 40 meter.

10

B. ETIOLOGI Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke-III, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953 – 1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 700 C. Dengue merupakan serotipe yang paling banyak beredar. C. PATOFISIOLOGI Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit. Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.
D. PATOFLOW (terlampir) 11

E. MANIFESTASI KLINIS • Demam mendadak, tinggi (dapat mencapai 39-400 celcius) disertai menggigil • Demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas sebagai punggung unta). • Nyeri pada seluruh tubuh • Ruam • Perdarahan

F. KLASIFIKASI DHF WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu : • Derajat I Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi. • Derajat II Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi. • Derajat III

12

Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi sempit, tekanan darah menurun. • Derajat IV Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.
G.

TANDA DAN GEJALA Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dan gejala lain adalah : - Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan. - Asites - Cairan dalam rongga pleura ( kanan ) - Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.

H. KOMPLIKASI Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya : a. Perdarahan luas. b. Shock atau renjatan. c. Effuse pleura d. Penurunan kesadaran

I. INSIDEN Distribusi penderita DBD terbanyak laki-laki (52,48%), umur penderita terbanyak <15 tahun (46,60%), wilayah yang terbanyak penderita kelurahan Lolu Selatan
13

(15,41%), waktu kejadian tertinggi terjadi pada bulan Mei s/d September. Diperoleh hubungan kepadatan penduduk dengan kejadian DBD, suhu udara (25,30C – 28,10C) dan kelembaban udara (71,3% – 79,7%), diperoleh hubungan Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan kejadian DBD di kecamatan Palu Selatan. Simpulan : Laki-laki lebih banyak beraktifitas daripada perempuan, penderita DBD lebih banyak pada usia anak sekolah, kelurahan Lolu Selatan memiliki kepadatan penduduk dan mobilisasi penduduk yang tinggi, peningkatan kasus terjadi pada waktu musim penghujan yaitu bulan April s/d Oktober, adanya pengelompokkan kasus penderita DBD di kelurahan Tatura Utara dan kelurahan Tanamodindi, kepadatan penduduk sangat berhubungan positif dengan kejadian DBD, suhu dan kelembaban sangat mendukung dalam perkembangbiakan vektor penular penyakit DBD yang menyebabkan peningkatan penderita DBD dari tahun ke tahun

J. TEST DIAGNOSTIK a. Darah        Trombosit menurun. HB meningkat lebih 20 % HT meningkat lebih 20 % Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3 Protein darah rendah Ureum PH bisa meningkat NA dan CL rendah

b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test). 

Rontgen thorax : Efusi pleura. Uji test tourniket (+)
14

K. PENATALAKSANAAN

a. b. c.

Tirah baring Pemberian makanan lunak . Pemberian cairan melalui infus. Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.

d. e. f. g. h.
i.

Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik, Anti konvulsi jika terjadi kejang Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR). Monitor adanya tanda-tanda renjatan Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

j. 2. A. ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian

DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan dewasa ( Effendy, 1995 ) • Keluhan Utama

Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
15

Riwayat penyakit sekarang

Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun. • Riwayat penyakit terdahulu

Tidak ada penyakit yang diderita secara specific. • Riwayat penyakit keluarga

Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegipty. • Riwayat Kesehatan Lingkungan

Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan. • Riwayat Tumbuh Kembang

• a.

Pengkajian Per Sistem Sistem Pernapasan Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles. b. Sistem Persyarafan Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS c. Sistem Cardiovaskuler

16

Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositopeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. d. Sistem Pencernaan Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena. e. Sistem perkemihan Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna merah. f. Sistem Integumen. Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi petekie, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.

B. • •

Diagnosa Keperawatan Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya ciran intravaskuler ke ekstravaskuler

Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler

Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ).
17

C.

Rencana Asuhan Keperawatan.

a. DP : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : Suhu tubuh normal Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37 Nyeri otot hilang Intervensi :
 Beri kompres air dingin

Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi
 Berikan / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi )

Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.  Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.  Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.  Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program. Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan suhu tubuh pasien.

18

b. DP : Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan

intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan Kriteria : Input dan output seimbang Vital sign dalam batas normal Tidak ada tanda presyok Akral hangat Capilarry refill < 3 detik Intervensi :  Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler  Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer  Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.  Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral  Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.

19

c. DP : Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang

berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi :  Monitor keadaan umum pasien Rasional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terjadi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok  Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok  Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.  Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.  Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

20

d. DP : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi Menunjukkan berat badan yang seimbang. Intervensi :  Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi  Observasi dan catat masukan makanan pasien Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan  Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan ) Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.  Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.  Berikan dan Bantu oral hygiene. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral  Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas. Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.

21

e. DP : Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor

pembekuan darah ( trombositopeni ) Tujuan : Tidak terjadi perdarahan Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat Intervensi :  Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptekie.  Monitor trombosit setiap hari Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.  Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest ) Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.  Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan spt : hematemesis, melena, epistaksis. Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan.  Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah. Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.

22

C.DISSEMINATED INTRAVASKULER COAGULATON (DIC)
1.

Konsep penyakit DIC

A. PENGERTIAN
• Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) adalah suatu keadaan dimana bekuan-

bekuan darah kecil tersebar di seluruh aliran darah, menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil dan berkurangnya faktor pembekuan yang diperlukan untuk mengendalikan perdarahan. (medicastore.com)
• Disseminated Intravascular Coagulation adalah suatu sindrom yang ditandai dengan

adanya perdarahan/kelainan pembekuan darah yang disebabkan oleh karena terbentuknya plasmin yakni suatu spesifik plasma protein yang aktif sebagai fibrinolitik yang di dapatkan dalam sirkulasi (Healthy Cau’s)
• Secara umum Disseminated Intavascular Coagulation (DIG) didefinisikan sebagai

kelainan atau gangguan kompleks pembekuan darah akibat stirnulasi yang berlebihan pada mekanisme prokoagulan dan anti koagulan sebagai respon terhadap jejas/injury (Yan Efrata Sembiring, Paul Tahalele)
• Kesimpulan : DIC adalah penyakit dimana faktor pembekuan dalam tubuh berkurang

sehingga terbentuk bekuan-bekuan darah yang tersebar di seluruh pembuluh darah.

B. ETIOLOGI •     Perdarahan terjadi karena hal-hal sebagai berikut : Hipofibrinogenemia Trombositopenia Beredarnya antikoagulan dalam sirkulasi darah Fibrinolisis berlebihan

23

Penyakit-penyakit yang menjadi predisposisi DIC adalah sebagai berikut :

 Infeksi (demam berdarah dengue, sepsis, meningitis, pneumonia berat, malaria tropika, infeksi oleh beberapa jenis riketsia)  Komplikasi kehamilan (solusio plasenta, kematian janin intrauterin, emboli cairan amion )
 Setelah operasi (operasi paru, by pass cardiopulmonal, lobektomi, gastrektomi,

splenektomi)  Keganasan (karsinoma prostat, karsinoma paru, dan leukimia akut)

C. PATOFISIOLOGI Dibawah kondisi homeostasis, tubuh dipertahankan dalam keseimbangan tersetel koagulasi dan fibrinolisis. Aktivasi dari kaskade koagulasi menghasilkan trombin yang mengubah fibrinogen untuk fibrin; bekuan fibrin yang stabil menjadi produk akhir dari hemostasis.sistem yang kemudian fibrino lytic berfungsi untuk memecah fibrinogen dan fibrin.pengaktifan system fibrinolytic menghasilkan plasmin (dalam bentuk trombin) ,yang bertanggung jawab untuk lisis dari bekuan fibrin.rincian fibrinogen dan fibrin disebut polipeptida hasil dalam produk degradasi fibrin (FDPs) atau produk split fibrin (FSPs).dalam keadaan homeostasis,kehadiran trombin sangat penting,karena merupakan pusat enzim proteolitik dari pembekuan dan juga diperlukan untuk pemecahan gumpalan darah ,atau fibrinolisis.

D. PATOFLOW Kaskade koagulasi Trombin Fibrinogen untuk fibrin
24

Dipecah oleh fibrinolitik Plasmin (dalam bentuk trombin) Pusat enzim proteolitik diperlukan untuk penggumpalan darah Perdarahan Dx : Resti perubahan perfusi jaringan b.d hemoragi sekunder

E. MANIFESTASI KLINIS • • • • • Perdarahan dari tempat-tempat pungsi, luka, dan membran mukosa pada klien Perubahan kesadaran yang mengindikasikan trombus serebrum Distensi abdomen yang menandakan adanya perdarahan saluran cerna Sianosis dan tachypnea akibat buruknya perfusi dan oksigenasi jaringan Hematuria akibat perdarahan atau oliguria akibat menurunnya perfusi ginjal

dengan syok, komplikasi persalinan, sepsis atau kanker

F. KOMPLIKASI • • • • • • • • Acute respiratory distress syndrome (ARDS) Penurunan fungsi ginjal Gangguan susunan saraf pusat Gangguan hati Ulserasi mukosa gastrointestinal : perdarahan Peningkatan enzyme jantung : ischemia, aritmia Purpura fulminan Insufisiensi adrenal
25

Kematian lebih dari 50 %

G. INSIDEN Orang-orang yang memiliki resiko paling tinggi untuk menderita DIC: • Wanita yang telah menjalani pembedahan kandungan atau persalinan disertai komplikasi, dimana jaringan rahim masuk ke dalam aliran darah
• Penderita infeksi berat, dimana bakteri melepaskan endotoksin (suatu zat yang

menyebabkan terjadinya aktivasi pembekuan)
• Penderita leukemia tertentu atau penderita kanker lambung, pankreas maupun prostat.

Orang-orang yang memiliki resiko tidak terlalu tinggi untuk menderita DIC: • Penderita cedera kepala yang hebat • Pria yang telah menjalani pembedahan prostat • Terkena gigitan ular berbisa.
H. TES DIAGNOSTIK

Hasil pemeriksaan darah menunjukan

Hipofibrinogenemia Peningkatan produk hasil degradasi fibrin Trombositopenia Waktu protrombin yang memanjang

• • •

I. PENATALAKSANAAN • • Menghilangkan faktor pencetus Tindakan pendukung seperti oksigen suplemen dan cairan IV untuk

mempertahankan tekanan darah • Terapi heparin,heparin dapat diberikan 200 u/kg BB IV tiap 4-6 jam.
26

Terapi pengganti, darah diberikan untuk mengganti darah yang keluar,

transfusi trombosit, plasma beku segar untuk mengontrol perdarahan. • Obat penghambat fibrinolitik yang memblok akumulasi produk degradasi

fibrin dan harus diberikan setelah terapi heparin. • Dapat diberikan plasma yang mengandung faktor VIII, sel darah merah, dan

trombosit

2. PROSES KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. kaji adanya faktor predisposisi a. septikemia b. komplikasi obstetrik c. sindrom distres pernapasan dewasa (ARDS) d. luka bakar berat dan luas e. neoplasia f. gigitan ular g. penyakit hepar h. bedah kardiopulmonal i. trauma

2. Pemeriksaan fisik a. Perdarahan • • Hematuria Rembesan darah dari pungsi vena dan luka
27

• •

Epistaksis Perdarahan GI track

b. Kerusakan perfusi jaringan • Serebral : perubahan pada sensorium, gelisah, kacau mental, atau sakit

kepala. • • • Ginjal : penurunan pengeluaran urine Paru-paru : dispnea, ortopnea Kulit : akrosianosis (ketidakteraturan bentuk bercak sianosis pada

lengan perifer atau kaki.

B. Diagnosa keperawatan 1. Risiko tinggi perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan hemoragi

sekunder terhadap DIC

C. Rencana asuhan keperawatan 1. Risiko tinggi perubahan perfusi jaringan yang

berhubungan dengan hemoragi sekunder terhadap DIC Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan perfusi jaringan dapat adekuat.

Intervensi  Pantau hasil pemeriksaan koagulasi, tanda-tanda vital dan perdarahan baru.

28

Rasional : untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.  Waspadai perdarahan

Rasional : untuk meminimalkan potensial perdarahan lanjut.  Kolaborasi pemberian : 1. Terapi heparin : perhatikan pembentukan tanda-tanda antibodi

antitrombosit oleh penurunan tiba-tiba dari jumlah trombosit 2. reaksi Rasionalnya : bila penyakit primer diatasi, tujuan tindakan tambahan adalah untuk mengontrol perdarahan dan memperbaiki kadar faktor pembekuan yang normal. Transfusi darah mungkin diperlukan untuk menggantikan faktorfaktor pembekuan dan memperbaiki anemia yang dapat terjadi pada kehilangan darah berlebihan.

Berikan transfusi darah sesuai dengan prosedur dan evaluasi dengan

ketat terhadap menifestasi reaksi transfusi. Hentikan transfusi bila terjadi

Jelaskan tentang semua tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan yang

akan dilakukan Rasional : pengetahuan tentang apa yang diharapkan membantu mengurangi ansietas.  Lakukan pendekatan secara tenang dan beri dorongan untuk bertanya serta

berikan informasi yang dibutuhkan dengan bahasa yang jelas. Rasional : pemecahan masalah sulit untuk orang yang cemas, karena ansietas merusak belajar dan persepsi. Penjelasan yang jelas dan sederhana paling baik untuk dipahami. Istilah medis dan keperawatan dapat membingungkan klien dan meningkatkan ansietas

29

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan DHF adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan insidennya cukup besar,penyakit ini akan berakibat buruk jika sudah terjadi syok yang parah dan bisa menyebabkan kematian. DIC adalah penyakit yang disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah dan insidennya lebih sedikit dibandingkan dengan DHF. Kedua penyakit ini sebisa mungkin dihindari karena berhubungan dengan darah dan darah merupakan komponen utama dalam tubuh yang terdapat diseluruh tubuh.

30

B.

Saran

Penanganan DHF dan DIC harus sedini mungkin agar tidak menyebabkan akibat buruk seperti kematian dan tenaga kesehatan harus memberi penyuluhan tentang penyakit ini.

DAFTAR PUSTAKA
Handayani, wiwik. 2008. Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem hematologi. Jakarta : salemba medika. Mubin, halim. 2008. Panduan praktis ilmu penyakit dalam diagnosis dan terapi. Jakarta : EGC. Lemone, priscilia. 2004. Medical surgical nursing : crirical thinking in client care. Jakarta : EGC. http://askepblogspot.com/2008/01/asuhan keperawatan pada klien dengan DHF-6163.html http://ojs.lib.unair.ac.id/index.php/fci/article/viewFile/349/348 www.fk.uwks.ac.id/.../Hematologi%20Anak%20Perdarahan.pdf

31

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->