P. 1
Jawa+Timur

Jawa+Timur

|Views: 2,456|Likes:
Published by henrykus

More info:

Published by: henrykus on Apr 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

DAFTAR ISI

Bagian 1. Pendahuluan ..........................................................................................................1 Bagian 2. Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Aman Dan Damai ................................7 Bab 2.1. Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Aman Dan Damai .....................8 Bab 2.2. Peningkatan Rasa Saling Percaya Dan Harmonisasi Antar Kelompok Masyarakat ............................................................................................................10 Bab 2.3. Pengembangan Kebudayaan Yang Berdasarkankan Pada Nilai-Nilai Luhur .......24 Bagian 3. Bab 3.1. Bab 3.2 Bab 3.3. Bab 3.4. Bab 3.5. Bab 3.6. Bab 3.7. Bab 3.8. Bagian 4. Bab 4.1. Bab 4.2. Bab 4.3. Bab 4.4. Bab 4.5 Bab 4.6 Bab 4.7. Bab 4.8. Bab 4.9. Bab 4.10. Bab 4.11. Bab 4.12. Bab 4.13. Bab 4.14. Bab 2.15. Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil Dan Demokratis .........................39 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia yang Adil dan Demokratis................40 Pembenahan Sistem Hukum Nasional Dan Politik Hukum ..................................44 Penghapusan Diskriminasi Dalam Berbagai Bentuk.............................................55 Penghormatan, Pemenuhan, Dan Penegakan Atas Hukum Dan Pengakuan Atas HAM......................................................................................................................63 Peningkatan Kualitas Kehidupan Dan Peran Perempuan, Serta Kesejahteraan Dan Perlindungan Anak ........................................................................................79 Revitalisasi Proses Desentralisasi Dan Otonomi Daerah ....................................101 Penciptaan Tata Pemerintahan Yang Bersih Dan Berwibawa.............................119 Perwujudan Lembaga Demokrasi Yang Makin Kokoh.......................................130 Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat...............................................142 Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat ...................................143 Penanggulangan Kemiskinan ..............................................................................144 Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur ....................................................170 Revitalisasi Pertanian ..........................................................................................192 Pemberdayaan Koperasi Dan Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah ...................203 Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi.............................216 Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan........................................................................228 Penanggulangan Perdesaan .................................................................................245 Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah............................................264 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas ..........277 Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Layanan Kesehatan Yang Lebih Berkualitas ...........................................................................................................292 Peningkatan Perlindungan Dan Kesejahteraan Sosial .........................................304 Pembangunan Kependudukan Dan Keluarga Kecil Berkualitas, Serta Pemuda Dan Olahraga.......................................................................................................321 Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup ...................................................................................................................333 Percepatan Pembangunan Infrastruktur...............................................................343

Bagian 5. Isu-Isu Strategis Di Provinsi Jawa Timur.......................................................371 Bagian 6. Penutup...............................................................................................................396 Daftar Pustaka .....................................................................................................................397

LAMPIRAN MATRIKULASI
1. Ringkasan Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi antar Kelompok Masyarakat .......................................................................................................................1 2. Ringkasan Pengembangan Kebudayaan yang Berlandaskan Nilai-nilai Luhur ...............5 3. Ringkasan Sistem Hukum Nasional Dan Politik Hukum.................................................7 4. Ringkasan Penghapusan Diskriminasi Dalam Berbagai Bentuk....................................11 5. Ringkasan Penghormatan, Pemenuhan, Dan Penegakan Atas Hukum Dan Pengakuan Atas HAM ......................................................................................................................12 6. Ringkasan Peningkatan Kualitas Kehidupan Dan Peran Perempuan, Serta Kesejahteraan Dan Perlindungan Anak..........................................................................15 7. Ringkasan Revitalisasi Proses Desentralisasi Dan Otonomi Daerah ............................18 8. Ringkasan Penciptaan Tata Pemerintahan Yang Bersih Dan Berwibawa......................19 9. Ringkasan Perwujudan Lembaga Demokrasi Yang Makin Kokoh................................22 10. Ringkasan Penanggulangan Kemiskinan .......................................................................27 11. Ringkasan Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur..............................................30 12. Ringkasan Revitalisasi Pertanian....................................................................................31 13. Ringkasan Pemberdayaan Koperasi Dan Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah ............35 14. Ringkasan Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi ......................37 15. Ringkasan Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan.................................................................39 16. Ringkasan Penanggulangan Perdesaan...........................................................................44 17. Ringkasan Pengurangan Ketimpangan Pembangunan Wilayah.....................................49 18. Ringkasan Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas ...53 19. Ringkasan Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Layanan Kesehatan Yang Lebih Berkualitas ......................................................................................................................55 20. Ringkasan Peningkatan Perlindungan Dan Kesejahteraan Sosial ..................................56 21. Ringkasan Pembangunan Kependudukan Dan Keluarga Kecil Berkualitas, Serta Pemuda Dan Olahraga ....................................................................................................60 22. Ringkasan Perbaikan Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup..........................................................................................................62 23. Ringkasan Percepatan Pembangunan Infrastruktur........................................................67 24. Ringkasan Isu-Isu Strategis Di Daerah...........................................................................71

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

1

Sejak diberlakukan penerapan UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi dengan UU No 32 tahun 2004, telah terjadi pergeseran makna kebijakan desentralisasi ke arah model demokrasi. Penerapan model demokrasi mengandung arti bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah menuntut adanya partisipasi dan kemandirian masyarakat setempat. Partisipasi dan kemandirian disini adalah berkaitan dengan kemampuan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan atas prakarsa sendiri yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kendati partisipasi dan kemandirian memegang peranan penting, penyelenggaraan pemerintahan tetap harus mengacu pada kebijakan pemerintah pusat agar

penyelenggaraan pemerintahan dapat mengintegrasikan antara kepentingan pusat dengan daerah. Hal ini merupakan konsekuensi dari penyelenggaraan pemerintahan dalam negara kesatuan (unitary state). Fungsi penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan kebijakan desentralisasi tersebut dilaksanakan oleh institusi-institusi pemerintahan daerah. Institusi yang dimaksud adalah Kepala Daerah dan DPRD diserahi fungsi pokok dalam pengaturan (policy formulation) atau merumusan kebijakan, sedangkan Perangkat Daerah atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai birokrasi lokal dibawah kepemimpinan Kepala Daerah diserahi fungsi pokok dalam pengurusan (rules aplication) atau implementasi kebijakan (Hoessein, 2005 : 5). Penyelenggaraan fungsi pemerintahan yang dilaksanakan oleh institusi institusi

pemerintahan daerah bersifat multi (general) purpose local authority karena

pemerintahan daerah melaksanakan beragam fungsi pemerintahan. Menurut pasal 14 ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004 terdapat beragam fungsi (urusan) pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan Kabupaten atau Kota. Urusan yang dimaksud meliputi 16 urusan, yakni : perencanaan dan pengendalian pembangunan; perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang; penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; penyediaan sarana dan prasarana umum; penanganan bidang kesehatan; penyelenggaraan pendidikan; penanggulangan masalah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

2

sosial; pelayanan bidang ketenagakerjaan; fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah; pengendalian lingkungan hidup; pelayanan pertanahan; pelayanan kependudukan dan catatan sipil; pelayanan administrasi umum pemerintahan; pelayanan administrasi penanaman modal; penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Selanjutnya dalam pasal 14 ayat 2 dikemukakan pula adanya urusan

pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang bersifat pilihan yakni meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Dalam penjelasan pasal 14 ayat 2 dikemukakan bahwa yang dimaksud urusan pemerintahan yang secara nyata ada dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan, perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan, pariwisata. Berdasarkan pasal-pasal tersebut menunjukkan bahwa daerah otonom memiliki kewenangan yang sangat luas sebagai pencerminan dari prinsip otonomi yang luas. Luasnya kewenangan daerah dapat dikelompokkan dalam bidang sosial, ekonomi, pemerintahan, politik, keuangan daerah dan permasalahan khusus lainnya. Sehubungan dengan luasnya kewenangan yang diatur dan diurus oleh institusiinstitusi pemerintahan daerah, maka penyelenggaraan pemerintahan oleh institusiinstitusi tersebut perlu direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara cermat dan komprehensif. Perencanaan yang dimaksud, berdasarkan kurun waktu penyelenggaraan pemerintahan dapat dibedakan menjadi tiga kategori. Pertama, rencana pembangunan jangka panjang (RPJP). Kedua, rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). Ketiga, rencana pembangunan jangka pendek atau dikenal dengan istilah rencana kerja pemerintah daerah (RKPD). Setiap kategori perencanaan tersebut diikuti oleh pelaksanaan dan evaluasinya. Relevan dengan kerangka pemikiran di atas, maka secara terstruktur pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009 adalah bagian dari tahapan pembangunan berjangka panjang dalam rangka mencapai tujuan dan cita-cita nasional. Untuk itu, diperlukan adanya evaluasi guna mengukur tingkat pencapaian pelaksanaan RPJMN tersebut sampai saat ini. Di samping itu RPJMN merupakan dokumen yang menjadi salah satu acuan dalam penyusunan perencanaan di daerah, karena itu tingkat pencapaian RPJMN salah satunya juga tercermin pada tingkat pencapaian keberhasilan pembangunan daerah.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

3

Selama ini, evaluasi pelaksanaan pembangunan baik langsung maupun tidak dilakukan oleh pemerintah (pelaksananya) sendiri, yaitu melalui instansi-instansi teknisnya, sehingga bisa saja terdapat bias dalam pelaksanaannya. Evaluasi

pelaksanaan pembangunan selama ini juga seringkali terlalu fokus pada pencapaian indikator-indikator normatif dan variabel-variabel statistik semata. Hal ini terkadang tidak cukup untuk menangkap isu-isu strategis dalam implementasi pembangunan di lapangan. Selain itu, evaluasi juga lebih banyak dilakukan secara sektoral, sehingga isu-isu yang bersifat multi-sektor tetapi strategis seringkali luput dari pengamatan. Berdasarkan realitas tersebut, kajian ini akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan RPJM daerah Provinsi Jawa Timur. Sesuai dengan kategorisasi

perencanaan yang ada maka evaluasi kinerja pemerintahan daerah dilakukan terhadap penyelengaraan pemerintahan provinsi dalam kurun waktu 5 tahun. Kinerja tersebut dapat dilihat dari dua dimensi. Pertama, adanya penguatan kapasitas (capacity building) kelembagaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kedua, adanya peningkatan keberhasilan pembangunan secara bertahap di bidang sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, keuangan daerah ataupun bidang lainnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat setempat.

PROFIL PROPINSI JAWA TIMUR GEOGRAFI Jawa Timur terletak antara 110.57 BT dan Garis Lintang 5,37” LS dan 8,48 ‘LS dengan luas wilayah 47.157,72 Km2. Secara umum Jawa Timur dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu Jawa Timur daratan dengan proporsi lebih luas hampir mencakup 90% dari seluruh luas wilayah Propinsi Jawa Timur dan wilayah Kepulauan Madura yang hanya sekitar 10 % saja. Jawa Timur mempunyai 229 pulau terdiri dari 162 pulau bernama dan 67 pulau tak bernama, dengan panjang pantai sekitar 2.833,85 Km. Batas-batas wilayah propinsi Jawa Timur sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Laut Jawa - Sebelah Selatan dengan Samudra Indonesia

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

4

- Sebelah Barat dengan Propinsi Jawa Tengah - Sebelah Timur dengan Selat Bali / Propinsi Bali MOTTO JAWA TIMUR Noto Roso, Among Roso, Mijil Tresno, Agawe Karyo Falsafah tersebut mengandung makna sebagai berikut kita harus mengatur diri sendiri sebelum berbagi rasa dengan orang lain, sehingga timbul saling menghormati dan timbul rasa kasih yang manusiawi sebagai sendi dasar terciptanya saling pengertian untuk selanjutnya bersama - sama membangun bangsa ini. Falsafah ini sangat dimungkinkan adanya perbedaan pendapat, tetapi tidak untuk dipertentangkan, namun dicari titik temunya. Kepemimpinan yang akomodatif untuk mendapatkan titik temu tersebut diutamakan agar pemikiran bisa berkembang dan tertampung dalam kebijakan dengan mempertimbangkan keterbatasan yang ada.

Jer Basuki Mawa Beya Motto "NOTO ROSO, AMONG ROSO, MIJIL TRESNO, AGAWE KARYO" tercantum dalam dokumen RENSTRA Daerah yang ditetapkan melalui PERDA. Sebelumnya masyarakat Jawa Timur juga memiliki motto lain yang dikenal dengan ‘Jer Basuki Mawa Beya’. Kata ‘Jer Basuki Mawa Beya’ acapkali kita dengar dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa Timur. Kata ini terpampang jelas pada Lambang Daerah Jawa Timur, tepatnya pada bagian bawah di luar daun lambang, dan merupakan motto Jawa Timur sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Daerah Propinsi Dati I Jawa Timur Nomor 3 Tahun 1974 tentang Perubahan Kedua Kali Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 1966. Lambang Daerah Jawa Timur sendiri ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 1966 tentang Penetapan serta Penggunaan Lambang Daerah Jawa Timur. Mengalami penyempurnaan melalui Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 7 Tahun 1973 yang kemudian disempurnakan lagi melalui Peraturan Daerah Propinsi Dati I Jawa Timur Nomor 3 Tahun 1974 dengan menambahkan kata ‘Jer Basuki Mawa Beya’ sebagai motto Jawa Timur. ‘Jer Basuki Mawa Beya’ mengandung makna bahwa untuk mencapai suatu kebahagiaan diperlukan pengorbanan. Pengorbanan atau beya di sini dalam arti luas, yang meliputi pengorbanan biaya dan pengorbanan lain, baik materiil maupun non materiil. Sebagai motto Jawa Timur, ‘Jer Basuki Mawa Beya’ senantiasa menjadi landasan untuk menggugah kesadaran berkorban dalam gairah usaha membangun guna mencapai kebahagiaan bersama. Selain itu, motto tersebut mempunyai nilai yang bersejarah karena

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

5

merupakan sebagian dari perkembangan Jawa Timur dalam suasana pelaksanaan pembangunan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia, yang menjadikan Jawa Timur mengalami kemajuan pada banyak bidang dalam rangka pembangunan nasional. ‘Jer Basuki Mawa Beya’ juga mengandung nilai filosofis, karena dengan motto tersebut seluruh aparatur Pemerintah Daerah dalam melaksanakan tugasnya maupun masyarakat Jawa Timur dalam memberikan partisipasinya sama-sama berkiprah pada setiap kegiatan pembangunan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

6

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

7

Agenda pertama dalam RPJMND Jawa TImur 2004 – 2009 adalah Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai. Dalam agenda ini terdapat dua sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan, yakni: 1) Peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat dengan kebijakan yang diarahkan untuk: a. Memperkuat harmoni yang ada dan mencegah tindakan-tindakan yang menimbulkan ketidak adilan sehingga terbangun masyarakat sipil yang kokoh termasuk membangun kembali kepercayaan sosial antar kelompok masyarakat. b. Memperkuat dan mengartikulasikan identitas bangsa. c. Menciptakan kehidupan intern dan antar umat beragama yang saling menghormati dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan dama serta menyelesaikan dan mencegahi konflik antarumat beragama. 2) Peningkatan kebudayaan yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur dengan kebijakan yang diarahkan: a. Mendorong tercitanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan agar benturan-benturan yang terjadi tidak melebar menjadi konflik sosial. b. Mendorong tuntasnya proses modernisasi yang dicirikan dengan

terwujudnya Negara kebangsaan Indonesia modern yang berkelanjutan, dan menguatnya masyarakat sipil. Arah kebijakan ini sesuai dengan sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang kedua yaitu Semakin kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika c. Revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar

pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas nasional. Arah kebijakan ini sesuai dengan sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang ketiga yaitu

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

8

berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya daerah yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan d. Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk-produk dalam negeri.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

9

I.

Pengantar Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam Suku, Agama, Ras dan Etnis

adalah merupakan sebuah bangsa yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa nilainya. Namun dibalik itu semua dengan berneka ragamnya etnis yang ada mengandung resiko konflik yang besar jika bangsa ini tidak bisa menjaga Menurut Hocker dan Wilmot (dalam Isenhart dan Spangle, 2000) konflik adalah ekpresi perjuangan diantara minimal dua belah pihak yang saling tergantung untuk mencapai tujuan tertentu, dimana dua pihak itu merasa tidak memiliki kesamaan tujuan, memperebutkan sumber daya yang langka, dan merasa adanya campur tangan pihak lain dalam upaya pencapaian tujuan. Definisi konflik diatas mencakup segala tindakan yang merupakan efek dari perjuangan mencapai tujuan, seperti saling memaki atau permusuhan verbal, menghindari pertemuan, perkelahian, perang, dan lainnya. Konflik bisa dalam skala besar bisa juga kecil. Memaki pihak lawan ketika bertemu di jalan mungkin hanya merupakan konflik skala kecil. Tapi itupun tergantung konteksnya, karena kalau yang bertemu dan saling memaki itu merupakan pemimpin dua belah pihak yang sedang berkonflik, efeknya bisa sangat besar. Kita semua hampir selalu mengidentikkan konflik dengan pertentangan. Akan tetapi pertentangan tidak selalu bermakna konflik. Tidak semua pertentangan menciptakan konflik. Pertentangan yang terjadi antara dua pihak dalam forum diskusi misalnya, jarang sekali menimbulkan konflik. Menurut Gurr (1970) kriteria agar sebuah pertentangan bisa dikatakan sebagai sebuah konflik adalah : Sebuah konflik melibatkan minimal dua pihak atau lebih. Pihak-pihak tersebut saling tarik menarik dalam aksi saling memusuhi Mereka cenderung menjalankan perilaku koersif untuk menghadapi dan menghancurkan pihak lawan Hubungan pertentangan diantara pihak-pihak itu berada dalam keadaan yang tegas karena peristiwa pertentangan itu dapat dideteksi dengan mudah oleh para pengamat yang tidak terlibat dalam pertentangan. Konflik antar etnik berarti dua pihak yang berlawanan adalah dua atau lebih kelompok etnik. Dalam konflik itu sendiri bisa saja pelakunya mengatasnamakan etnik

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

10

dan

bisa

juga

tidak.

Demikan

juga

lawan

dalam

konflik

bisa

disebutkan

mengatasnamakan etnik bisa juga tidak Sejarah bangsa Indonesia telah mencatat berbagai macam peristiwa konflik diberbagai daerah di Indonesia telah terjadi sejak berdiri Negara ini. Meskipun demikian hanya beberapa yang berskala luas dan besar. Selain konflik antara etnik-etnik yang digolongkan asli Indonesia dengan etnis Cina yang laten terjadi, konflik antar etnik yang terbesar diantaranya melibatkan etnik Madura dengan Etnik Dayak di Kalimantan yang terkenal dengan tragedi Sambas dan tragedi Sampit. Konflik-konflik dalam skala lebih kecil terjadi hampir setiap tahun di berbagai tempat di penjuru tanah air. Tentunya sebagaimana konflik lain, mencari akar penyebab konflik antar etnik merupakan kunci dalam upaya meredam konflik dan mencegah terulangnya kembali konflik serupa. Berbagai perspektif telah memberikan pandangannya, baik itu perspektif politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi, hukum, dan lainnya. Rasa saling percaya dan harmoni antar kelompok dan golongan masyarakat merupakan faktor yang penting untuk menciptakan rasa aman dan damai. Peristiwa pertikaian dan konflik antar golongan dan kelompok yang mewarnai sejarah bangsa ini baik yang disebabkan karena politik, ekonomi, agama ataupun etnis merupakan pertanda rendahnya saling percaya dan tiadanya harmoni di dalam masyarakat. Pelaksanaan Pilkada secara langsung yang dimaksudkan untuk meningkatkan nilai demokrasi masyarakat saat inipun sudah menjelma sebagai pemicu konflik di masyarakat. Di Jawa Timur yang saat ini tengah melaksanakan pemilihan Gubernur juga tengah berada dalam resiko konflik politik horizontal yang luar biasa. Persoalan kesenjangan sosial dan ekonomi yang masih belum teratasi. Kesenjangan multidimensi memiliki potensi untuk semakin memecah belah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok secara tidak sehat. Kesenjangan sosial ekomomi dapat merenggangkan hubungan antar masyarakat dan menimbulkan rasa ketidakadilan, yang pada gilirannya dapat menjadi awal dari terjadinya disintegrasi di daerah. Oleh karena itu, agar terciptanya rasa aman dan damai secara berkelanjutan, rasa saling percaya dan harmoni antar kelompok harus terus dipelihara dan dibangun, serta pertikaian dan konflik tersebut perlu untuk ditangani dan diselesaikan dengan segera.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah Terciptanya rasa damai dan aman di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari upaya peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat. Salah satu pekerjaan besar bangsa ini adalah menciptakan Negara yang aman dari pertikaian dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

11

konflik antar etnis, agama, suku dan juga pertikaian politik. Selama kurun waktu sepuluh tahun pasca reformasi bangsa Indensia dihadapkan pada suatu permasalahan merebaknya konflik yang bersifat vertical maupun horizontal yang kesemuanya mengganggu rasa aman dan damai masyarakat itu sendiri. Adapun permasalahan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat yang ada adalah sebagai berikut: Persoalan kesenjangan sosial dan ekonomi yang masih belum teratasi Kesenjangan Multidimensi memiliki potensi untuk semakin memecah-belah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok secara tidak sehat. Hal ini dapat

merenggangkan hubungan antar masyarakat dan menimbulkan rasa ketidakadilan yang pada gilirannya dapat menjadi awal dari terjadinya disintegrasi daerah. Dalam rangka meningkatkan harmonisasi dan saling percaya antar kelompok masyarakat, faktor soial ekonomi menjadi salah satu aspek yang sangat dominan, ketegangan-ketegangan yang menjurus kepada konflik antar kelompok juga bisa

disebabkan karena faktor ekonomi. Kondisi perekonomian bangsa yang belum stabil menjadikan masyarakat Indonesia sangat sensitive mudah tersinggung dan cepat marah. Propinsi Jawa Timur sebagai propinsi yang mempunyai penduduk terbesar di Indonesia mempunyai kompleksitas tingkat perekonomian di setiap daerah kabupaten terkait dengan kondisi geografis serta mata pencaharian yang berbeda. Secara umum di Jawa Timur dari jumlah penduduk sekitar 37.070.731 jiwa (data BPS Jatim 2007) jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan) pada bulan Maret 2008 sebesar 6,65 juta (18,51 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2007 yang berjumlah 7,15 juta (19,98 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 504 ribu jiwa. Selama periode Maret 2007-Maret 2008, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 239 ribu, sementara di daerah perkotaan berkurang 265,1 ribu orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2008, sebagian besar (65,26 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Perlu diketahui bahwa pengumpulan data kemiskinan tahun 2008 tersebut adalah potret data kemiskinan sebelum terjadi kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Mengingat pendataan dilakukan pada bulan Maret 2008, sementara kenaikan harga BBM mulai diberlakukan pada bulan Mei 2008. ( Badan Statistik Prop. Jatimt, Juli 2008) Kondisi kemiskinan diatas masih ditambah dengan jumlah pengangguran di Jawa Timur yang relative masih tinggi. Data terakhir dari jumlah pengangguran di Jawa Timur hingga akhir September 2008 ini sebanyak 1.255.000 dan mengalami penurunan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

12

dibandingkan tahun 2007 yang masih mencapai 1,4 juta, pengangguran sebanyak itu didominasi lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mencapai 48%.(Sumber: Disnaker Jatim). Jumlah ini tentunya akan bertambah ketika di akhir tahun 2008 jumlah pemutusan hubungan kerja semakin menunjukkan kenaikan. Gelombang perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Timur terus berlanjut, sampai saat ini tercatat 9.457 buruh bakal terkena PHK dari delapan perusahaan di Jawa Timur. Kondisi seperti ini adalah sebagai akibat dari krisis ekonomi global yang mau tidak mau juga akan berimbas kepada perekonomian nasional dan daerah. Kondisi sosial ekonomi lainnya di Jawa Timur sepanjang tahun 2008 adalah kasus ganti rugi korban lumpur lapindo yang sampai saat ini masih belum terselesaikan. Sampai saat ini dari ribuan bidang tanah yang dimiliki warga korban lapindo baru sekitar 3.796 bidang tanah yang telah diberikan ganti ruginya sedangkan sisanya kurang lebih masih 40% dari jumlah bidang tanah masih belum mendapatkan ganti rugi.

Rekonsiliasi nasional yang masih belum efektif. Konflik sosial dan politik di masa lampau berpotensi muncul kembali ke permukaan apabila tidak dilakukan penyelesaian secara menyeluruh melalui cara-cara yang tepat. Agar proses konsolidasi demokrasi berjalan dengan efektif, bangsa Indonesia perlu melakukan rekonsiliasi nasional yang lebih adil dan menyeluruh untuk

menyelesaikan konflik-konflik masa lalu tersebut. Konflik-konflik sosial yang ditimbulkan karena terkait etnis, Suku, Ras dan Agama selama kurun waktu tiga tahun terakhir mengalami penurunan, hal ini terbukti dari

menurunnya jumlah konflik yang diakibatkan Sara. Jawa Timur yang memiliki kemajemukan sosial mulai dari perbedaan agama, etnis, bahasa, geografis, pakaian, serta budayanya yang majmuk seringkali menimbulkan konflik antar kelompok di masyarakat sehingga melahirkan ketidak harmonisan sosial. Keberadaan daerah tapal kuda sebagai daerah yang rawan konflik telah menjadikan pemerintah Jawa Timur melakukan berbagai antisipasi serta penanggulangan konflik didaerah yang mayoritas penduduknya etnis madura. Walupun di tahun 2008 fenomena Ahmadiyah ditingkat nasional telah menyeret beberapa kelompok dalam pertikaian di Monas, namun di Jawa Timur walaupun terjadi riak-riak kecil yang masih bisa dikendalikan seperti pendudukan massa Ansor ke kantor FPI namun tidak sampai menimbulkan pertumpahan darah.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

13

Dibidang politik konflik dalam masyarakat selama awal tahun 2008 tampaknya menjadi persoalan serius. Pemerintah belum memiliki kapasitas dan profesional untuk merespon konflik, belum transparan serta belum melibatkan partisipasi masyarakat dalam menentukan kebijakan publik yang akan diterapkan di daerah tertentu. Kurangnya koordinasi dan rendahnya saling percaya antar lembaga pemerintah serta antar pemerintah dan masyarakat sipil dalam menciptakan situasi damai menyebabkan kurang efektifnya penyelesaian konflik. Salah satu penyebab konflik politik di daerah adalah penyelenggaraan pemilihan kepala daerah langsung. Jawa Timur sepanjang tahun 2008 telah melaksanakan Pilkada baik tingkat Kota Kabupaten maupun propinsi. Kesemuanya itu tentunya tidak lepas dari ancaman konflik horizontal. Jawa Timur telah mempunyai pengalaman konflik Pilkada. Pada tahun 2005 konflik yang ditimbulkan karena diselengarakannya Pilkada telah terjadi didaerah tapal kuda tepatnya di Banyuwangi. Kemudian pada tahun 2006 konflik kembali muncul di Tuban yang disertai aksi pembakaran pendopo kabupaten, namun kesemuanya itu bisa diatasi dengan arif dan bijak. Sepanjang tahun 2007 konflik tidak terjadi lagi, begitu pula sepanjang tahun 2008 puncaknya pada pemilihan Gubernur yang harus

malalui putaran kedua karena tidak tercapainya angka 30%, serta digelarnya sidang sengketa Pilkada Jatim di Mahkamah Konstitusi adalah riak-riak konflik politik. Banyak kalangan memprediksi bahwa pemilihan Gubernur syarat dengan konflik terutama di daerah tapal kuda, apalagi pada saat yang bersamaan konflik internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum ada titik penyelesaian baik ditingkat atas maupun ditingkat grassroot, walupun disatu sisi pengadilan dan Mahkamah Agung telah memenangkan Kubu Muhaimin Iskandar Namun Kubu Gus Dur masih belum bisa menerima kekalahan tersebut. Seruan pendudukan Kantor KPU seluruh Indonesia dan aksi para pendukung kubu Gus Dur untuk menduduki Kantor-Kantor PKB diseluruh daerah adalah sangat rawan terjadinya letupan konflik horizontal. Peran pemerintah sebagai fasilitator dan mediator dalam penyelesaian konflik belum efektif. Pemerintah Daerah Jawa Timur belum memiliki kapasitas dan profesional untuk merespon konflik, belum transparan serta belum melibatkan partisipasi masyarakat dalam menentukan kebijakan publik yang akan diterapkan di daerah tertentu. Kurangnya koordinasi dan rendahnya saling percaya antar lembaga pemerintah serta antar pemerintah dan masyarakat sipil dalam menciptakan situasi damai menyebabkan kurang efektifnya penyelesaian konflik. Kebijakan komunikasi dan informasi belum optimal.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

14

Intervensi kebijakan yang terlalu besar dalam diseminasi informasi, seperti kebijakan sensor yang berlebihan dan informasi sepihak dapat berakibat kontraproduktif dalam pemeliharaan serta saling percaya dan harmoni masyarakat. Kebijakan yang lebih memperbesar akses masyarakat luas terhadap proses perumusan kebijakan publik, sekaligus memperkecil kesenjangan informasi antar kelompok-kelompok masyarakat akan sangat menentukan peningkatan saling pengertian antar berbagai kelompok yang ada.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Dalam RPJMN 2004-2009 sasaran dari Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi antar kelompok masyarakat adalah: 1. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat atau antar golongan di daerah-daerah rawan konflik. 2. Terpeliharanya situasi aman dan damai serta 3. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan public dan penyelesaian persoalan social kemasyarakatan.

IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan dari Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi antar kelompok masyarakat adalah: 1. Memberdayakan organisasi-organisasi kemasyarakatan, sosial keagamaan, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam mencegah dan mengoreksi ketidakadilan, diskriminasi dan ketimpangan sosial, sebagai bagian penting dari upaya membangun masyarakat sipil yang kokoh; 2. Mendorong secara konsisten proses rekonsiliasi nasional yang berkelanjutan; 3. Memantapkan peran pemerintah sebagai fasilitator dan atau mediator yang kredibel dan adil dalam menjaga dan memelihara keamanan, perdamaian dan harmoni dalam masyarakat; serta 4. Menetapkan kebijakan komunikasi dan informasi nasional sesuai dengan asasasas keterbukaan dan pemerataan akses informasi. 1. Program Pemulihan Wilayah Pasca Konflik Program ini bertujuan untuk membangun kembali infrastruktur sosial politik, serta memulihkan kondisi mental masyarakat di daerah-daerah yang pernah dilanda konflik. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain adalah:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

15

1. Rehabilitasi sarana dan prasarana sosial kemasyarakatan dan perekonomian yang rusak akibat konflik; 2. Fasilitasi upaya-upaya penguatan institusi kemasyarakatan sebagai wadah solusi konflik dan peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antarkelompok masyarakat; serta 3. Fasilitasi upaya intensifikasi pemulihan trauma mental masyarakat akibat konflik. 2. Program Peningkatan Komitmen Persatuan Dan Kesatuan Nasional Program ini bertujuan untuk menyepakati kembali makna penting persatuan nasional dalam konstelasi kehidupan kebangsaan yang dinamis dan menciptakan harmonisasi hubungan antar unit sosial kemasyarakatan. Kegiatan Pokok yang dilaksanakan antara lain: 1. Fasilitasi berbagai forum kemasyarakatan dalam mengembangkan wacanawacana sosial politik untuk meningkatkan pemahaman pentingnya persatuan bangsa; 2. Fasilitasi terlaksananya pendidikan politik masyarakat yang berkualitas bersama pihak terkait agar masyarakat dapat memahami dan

mengimplementasikan hak dan kewajiban sesuai Undang-Undang Dasar 1945; 3. Perbaikan akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi dan sosial; 4. Fasilitasi proses rekonsiliasi nasional; 5. Fasilitasi terlaksananya komunikasi, informasi dan edukasi budaya demokrasi, anti KKN, HAM dan Etika Politik; 6. Pengembangan dan implementasi berbagai wujud ikatan kebangsaan; serta 7. Pengembangan penanganan konflik yang mengutamakan harmoni sosial melalui optimalisasi dan pemberdayaan fungsi pranata-pranata adat lokal yang berkredibilitas tinggi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

16

3. Program Penataan Hubungan Negara Dan Masyarakat Program ini bertujuan untuk meningkatkan kedewasaan dan kemandirian masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain adalah: 1. Fasilitasi dan mendorong terlaksananya pendidikan politik untuk meningkatkan partisipasi politik rakyat; 2. Fasilitasi dan mendorong terwujudnya organisasi kemasyarakatan yang

independen dan otonom untuk membantu masyarakat dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan; 3. Pemberdayaan dan pemberian peluang kepada organisasi kemasyarakatan agar dapat berpartisipasi memberikan masukan dan melaksanakan pengawasan terhadap proses pengambilan dan implementasi keputusan publik; 4. Fasilitasi pulihnya dan pemberdayaan kembali pranata-pranata adat dan lembaga sosial budaya tradisional agar dapat dipercaya dan mandiri; 5. Fasilitasi dan mendorong upaya-upaya politik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat luas; serta 6. Peningkatan profesionalitas aparatur dan kelembagaan pemerintah termasuk di dalamnya upaya koordinasi dalam menyelesaikan persoalan konflik dan atau mencegah timbulnya ketegangan sosial politik/konflik. 4. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Publik Program ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan arus informasi kepada dan dari masyarakat untuk mendukung proses sosialisasi dan partisipasi politik rakyat. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain adalah: 1. Perwujudan pelayanan informasi multimedia yang lebih berkualitas; 2. Penyediaan informasi yang berorientasi pada permintaan dan kebutuhan nyata masyarakat sesuai dengan standar layanan informasi publik; 3. Perluasan jaringan dan prasarana layanan informasi serta penyiaran publik khususnya untuk daerah terpencil; 4. Pemanfaatan jaringan teknologi informasi dan komunikasi secara lebih luas untuk membuka peluang bagi pengaksesan, pengelolaan dan pendayagunaan informasi yang lebih luas secara cepat dan akurat; 5. Penciptaan kemudahan untuk pengembangan dan investasi bagi penyiaran televisi swasta; serta 6. Fasilitasi untuk mendorong terciptanya masyarakat yang sadar informasi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

17

V. Pencapaian RPJMN Di Daerah 1. Menurunnya Ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat atau antar golongan di daerah-daerah rawan konflik Dalam rangka menciptakan kondisi Jawa Timur yang aman dan damai, maka pemerintah Jawa Timur telah melaksanakan upaya peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat dengan berbagai program kerja yang telah dilakukan meliputi: a. Kegiatan Penyempurnaan dan Penguatan Kelembagaan Demokrasi 1) Memberikan peningkatan pemahaman tentang pembangunan sosial politik dan kemasyarakatan bagi infra dan supra struktur politik di Jawa Timur. 2) Terfasilitasinya pelaksanaan PAW anggota DPRD Propinsi dan Kab/Kota dan verifikasi bantuan dana pada parpol se Jatim 3) Terjalinnya komunikasi dan koordinasi dalam rangka implementasi pelaksanaan Pilkada di Jawa Timur. b. Kegiatan Pengembangan Wawasan Kebangsaan dan Program

Penyempurnaan dan Penguatan Kelembagaan Demokrasi 1) Meningkatnya peran umat beragama dalam usaha membantu pemerintah dalam pembangunan demokratisasi masyarakat di Jawa Timur. 2) Meningkatnya pemantapan wawasan kebangsaan dan bela negara bagi masyarakat dalam usaha peningkatan SDM guna mewaspadai ancaman kehidupan berbangsa dan bernegara. 3) Terciptanya kerja sama hubungan harmonis antara pemerintah dengan

ormas/LSM dalam peran serta ikut meningkatkan wasbang, nasionalisme, jati diri dan moral bangsa.

c. Kegiatan Pemeliharaan Kamtramtibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal, Program Pemulihan Konflik dan Program Penataan Hubungan Pemerintah dan Masyarakat 1) Terpeliharanya stabilitas politik, ekonomi, dan social budaya serta situasi kondusif di Jawa Timur. 2) Meningkatnya koordinasi pemantauan orang asing, NGO, dan lembaga asing Kab/Kota se Jatim 3) Terjalinnya koordinasi antar instansi terkait untuk menangani ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan (ATHG) yang dapat mengganggu stabilitas situasi poleksosbud.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

18

4) Meningkatnya peran dan efektifitas KOMINDA dalam penanganan konflik di Jatim 5) Meningkatnya daya tanggap aparat dalam menyerap permasalahan yang terjadi di masyarakat. 6) Tersedianya data dan informasi tentang permasalahan yang terjadi di masyarakat. 7) Mempercepat pelaporan dari Kab/Kota tentang permasalahan yang terjadi di Jatim. Sepanjang tahun 2004 sampai tahun 2007 tercatat, jumlah konflik yang berlatar belakang politik di Jawa Timur menunjukkan kecenderungan menurun. Pada tahun 2005 terjadi kerusuhan akibat pertikaian politik di Kabupaten Banyuwangi dan pada tahun 2006 terjadi konflik politik di Tuban yang diakibatkan pemilihan kepala Daerah. Pada tahun 2007 tidak ada catatan konflik politik di Jawa Timur. Begitupula pada tahun 2008 walaupun dilaksanakan pemilihan Gubernur yang harus masuk keputaran kedua namun sengketa yang ada masih dalam batas wajar dan tidak sampai terjadi kerusuhan. Fenomena tersebut tidak lepas dari kedewasaan politik masyarakat di Jawa Timur. Tabel 2.2.1 Jumlah Pertikaian Berlatar Belakang Politik Uraian Pertikaian Berlatar Belakang Politik Nilai Indeks Sumber: LPJ Gubernur 2008 2004 2005 1 100 2006 1 100 2007 0 0

Sedangkan untuk konflik yang berbau sara masih terjadi namun dari tahun ketahun mengalami penurunan seperti yang terlihat pada table 2. Tabel 2.2.2 Jumlah Kerusuhan SARA dan Angka Indeks di Jawa Timur 2004-2007 Uraian Jumlah Kerusuhan SARA Nilai Indeks Sumber: Bakesbang Jawa Timur 2004 2005 13 100 2006 4 30,77 2007 4 30,77

2. Terpeliharanya situasi aman dan damai Sebagai perwujudan dari rasa saling percaya dan harmonisasi masyarakat adalah terpeliharanya suasana atau situasi yang aman dan damai. Salah satu indikasi yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

19

menunjukkan tingkat terpeliharanya situasi aman dan damai adalah seberapa besar tingkat kepatuhan masyarakat terhadap hukum, sekecil apapun pelanggaran masyarakat terhadap hukum tentunya akan berdampak kepada ketentraman masyarakat itu sendiri. Jumlah pelanggaran ketertiban umum dan ketentraman masyarakat (trantibum) dan Pelanggaran Peraturan Daerah (Perda) di Jawa Timur cenderung meningkat setiap tahunnya, hal tersebut terkait dengan sejumlah permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat akibat krisis multi dimensi sehingga terjadi kesenjangan sosial yang memicu terjadinya berbagai kejadian dibidang trantibum di Jawa Timur. Jumlah Perda yang selalu meningkat setiap tahunnya dan kecenderungan masyarakat untuk mensiasati hukum, mengakibatkan jumlah pelanggaran Perda Juga cenderung meningkat. Satuan Polisi Pamong Praja yang mempunyai tugas pokok dan fungsi menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat serta penegakan peraturan Daerah dan Peraturan Pelaksanaannya berupaya melalukan berbagai bentuk kegiatan penertiban dibidang trantib dan penegakan perda baik kegiatan yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif namun tidak meninggalkan norma agama dan norma sosial dimasyarakat. Jumlah kegiatan penertiban dan penegakan yang dilakukan terkait erat dengan dukungan anggaran kegiatan operasional, sehingga Satpol PP mensiasati keterbatasan anggaran dengan memprioritaskan kegiatan penertiban yang bersifat urgen atau mendesak. Indek korban kejahatan (2005 = 100) pada tahun 2006 sebesar 138,64. Hal ini menunjukan jumlah korban kejahatan di tahun 2006 peningkatan sebesar 38,64% dibanding tahun 2005. Tabel 2.2.3 Jumlah dan Korban Kejahatan di Jawa Timur 2004-2007 Uraian Jumlah Kejahatan Jumlah Korban Kejahatan Angka Indeks Ikj Sumber: Kepolisian Daerah Jawa Timur 2004 15.576 2005 29.694 9.999 100.000 2006 45.206 13.863 138.64 2007 45.354 14.923 149.24

Sedangkan untuk korban kekerasan di Jawa Timur dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami penurunan yang signifikan, dengan demikian tingkat keamanan dan kedamaian masyarakat meningkat.

Tabel 2.2.4 Jumlah dan Korban Kekerasan di Jawa Timur 2005-2007

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

20

Uraian Jumlah Korban Kekerasan Nilai It Sumber: Kepolisian Daerah Jawa Timur

2005 3.160 9.999

2006 3.614 114.37

2007 3356 106.20

Salah satu bentuk lain upaya pemerintah untuk menciptakan rasa aman dan damai adalah dilakukannya kegiatan pencegahan dini dan penanggulangan korban bencana alam yang meliputi: 1) Terbentuknya Tim Reaksi Cepat (TRC) Satkorlak PBP Jawa Timur dan TRC Satlak PBP Kab/Kota se Jatim 2) Terkondisinya masyarakat dan aparat dalam mendukung upayaupaya

Penanggulangan Bencana dan Trantibmas, sehingga dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan harta benda yang diakibatkan oleh bencana alam, non alam dan karena ulah manusia

3. Meningkatknya keputusan

Partisipasi

masyarakat dan

dalam

proses

pengambilan sosial

kebijakan

publik

penyelesaian

persoalan

kemasyarakatan Rendahnya upaya-upaya pemerintah dalam memberikan informasi tentang proses pengambilan keputusan yang diselenggarakan, sehingga masyarakat merasa pembangunan yang dilaksanakan tidak memperhatikan aspirasinya. Walaupun pengertian partisipasi masyarakat sudah menjadi kepentingan bersama ( common interest ), akan tetapi dalam prakteknya masih terdapat pemahaman yang tidak sama. Hal ini ditunjukkan dimana Pemerintah sudah melakukan sosialisasi dan konsultasi dengan masyarakat, akan tetapi masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan proses tersebut. Jadi semua proses keputusan yang diambil harus melibatkan masyarakat. Terkait dengan keterlibatan masyarakat dalam penyelesaian persoalan social kemasyarakatan Pemerintah telah melaksanakan Program yang mana Program ini bertujuan untuk meningkatkan kedewasaan dan kemandirian masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain : a. Fasilitasi dan mendorong terlaksananya pendidikan politik untuk meningkatkan partisipasi politik rakyat;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

21

b.

Fasilitasi

dan

mendorong

terwujudnya

organisasi

kemasyarakatan

yang

independen dan otonom untuk membantu masyarakat dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan; c. Pemberdayaan dan pemberian peluang lebih besar kepada organisasi-organisasi profesi agar dapat berpartisipasi memberikan masukan dan melaksanakan pengawasan terhadap proses pengambilan keputusan publik; d. Fasilitasi pulihnya dan pemberdayaan kembali pranata-pranata adapt dan lembaga sosial budaya tradisional agar dapat dipercaya dan mandiri; e. Fasilitasi dan mendorong upaya-upaya politik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat luas; serta f. Peningkatan moralitas dan profesionalitas aparatur dan kelembagaan pemerintah termasuk didalamnya upaya koordinasi dalam menyelesaikan persoalan konflik dan. g Kegiatan Pengembangan Wawasan Kebangsaan, Program Pendidikan Politik Masyarakat dan Program Penataan Hubungan Pemerintah dan Masyarakat 1) Meningkatnya SDM Aparatur dalam memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat. 2) Meningkatnya koordinasi antara aparat Bakesbang Propini Jawa Timur dan Kabupaten/Kota. 3) Meningkatnya ketrampilan penguasaan teknologi informasi (TI) bagi Aparat Bakesbang Propinsi dan Kesbang Linmas Kab/Kota se Jatim 4) Telaksananya diskusi bulanan tentang situasi dan kondisi kesatuan bangsa di Jawa Timur.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Kebijakan pemerintah untuk menciptakan kondisi yang aman dan damai dengan upaya meningkatkan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat adalah merupakan cara yang tepat. Namun tentunya masih banyak hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah terkait dengan kebijakan tersebut Dalam penedekatan ini selayaknya masyarakat diberikan peluang yang luas sehingga nantinya mampu ikut berpartisipasinya masyarakat dalam pengambilan keputusan dalam menyelesaikan konflik. Adapun rekomendasi yang ada adalah sebagai berikut: 1. Membuat pemetaan secara kongrit daerah-daerah yang rawan konflik 2. Waspada akan terjadinya proses marginalisasi di suatu wilayah tertentu.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

22

3. Mengupayakan terjadinya baik power sharing dan resource sharing antar berbagai suku, agama, Partai Politik di Jawa Timur 4. Peningkatan kapasitas masyarakat sipil dalam penyelesaian konflik dan pemulihan wilayah pasca konflik 5. Penguatan ruang publik bagi penyelesaian dan pencegahan konflik 6. Pengembangan Sistem Kewaspadaan Dini (EWS) Sosial 7. Fasilitasi pembentukan lembaga independen penyelesaian konflik 8. Peningkatan profesionalitas aparatur pemerintah dalam penanganan konflik; 9. Penguatan kohesi sosial masyarakat melalui kegiatan seni, budaya dan olahraga. 10. Pembentukan sekretariat bersama antar umat beragama. 11. Sosialisasi nilai-nilai demokrasi dan kebangsaan untuk pemerintah pusat dan daerah 12. Fasilitasi pelaksanaan komunikasi, informasi dan edukasi budaya politik demokrasi, anti KKN, HAM dan Etika Politik; 13. Pengembangan dan pelaksanaan kegiatan ikatan kebangsaan;

VII. Penutup Banyak permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majmuk yang terdiri dari bebagai macam suku agama, etnis dan budaya yang beraneka ragam. Pasca reformasi 1998 bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah – masalah konflik horizontal dan vertikal yang mengancam integrasi daerah serta bangsa ini. Didalam penerapan kebijakan peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat yang perlu dicermati adalah menemukan akar permasalah konflik yang selama ini terjadi, pemahaman masyarakat akan keberagaman kehidupan baik pada tataran agama, sosial kultural sampai pada keberagaman untuk berpolitik harus terus ditingkatkan sehingga masyarakat akan menjadi lebih dewasa dengan berbagai keberagaman yang ada. Selain itu partisipasi masyarakat dalam ikut merumuskan kebijakan dalam mengatasi konflik juga menjadi hal yang sangat krusial untuk diperhatikan masyarakat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

23

I.

Pengantar Kebudayaan memiliki peranan yang sangat penting dalam konstruksi tata

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kehidupan bersama yang tertata, memiliki keajegan sosial dan struktur yang terinstitusionalisasi sebagai prasyarat kemajuan kehidupan, hanya dapat diwujudkan ketika kebudayaan dijadikan sebagai salah bangunan dasar dalam kehidupan masyarakat. Tidak berlebihan apabila kebudayaan dikatakan menjadi salah satu kunci penting bagi pencapaian kemajuan dalam berbagai kontek kehidupan bersama. Kebudayaan dapat menjadi modal dasar yang memberi daya dukung bagi keberhasilan pembangunan di bidang-bidang yang lain seperti bidang ekonomi, politik, hukum, tetapi pada saat yang sama kebudayaan juga memiliki potensi besar yang dapat meresistensi berbagai kegiatan pembangunan ketika kebudayaan tidak banyak mendapat perhatian dan prioritas yang memadai dalam proses pembangunan. Kondisi tersebut membawa desakan dan tuntutan akan pentingnya pengembangan kebudayaan, tidak terkecuali di Propinsi Jawa Timur. Propinsi Jawa Timur memiliki keanekaragaman dan kekayaan budaya yang hidup dan berkembang dengan etnis yang melahirkannya, Dengan keanekaragaman budaya yang dimiliki, perlu suatu upaya peningkatan dalam pelestarian, penyelamatan dan pemanfaatan serta pengembangan budaya Jawa Timur. Pemahaman atas konsepsi kebudayaan sebagai keseluruhan komplek atau sistem ide, nilai, gagasan dan tindakan manusia melalui akal budinya yang dikreasikan, dilaksanakan dan digunakan untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya memberi konsekuensi bahwa posisi kebudayaan dalam kerangka pembangunan dapat bermakna ganda. Pada satu sisi, kebudayaan dapat dipahami sebagai satu bidang yang tidak berbeda dan tidak terpisah dengan bidang yang lain di mana bidang politik, bidang ekonomi dipahami sebagai konsep atau hasil dari suatu proses budaya. Pada sisi yang lain, kebudayaan juga dapat dipahami sebagai suatu bidang yang berdiri sendiri yang selain mempengaruhi juga dipengaruhi oleh bidang lain sehingga memerlukan agenda,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

24

sasaran, arah kebijakan dan pencapaian yang tersendiri. Dalam kaitan tersebut, pembangunan kebudayaan dapat merupakan obyek dan tujuan pembangunan itu sendiri maupun alat yang ditujukan untuk mendukung proses pembangunan di bidang yang lain sehingga interaksi integratif dan sinergis antar berbagai bidang pembangunan dapat terjaga. Pengembangan kebudayaan di Propinsi Jawa Timur pada nyatanya tidak dapat dilaksanakan hanya mengacu pada tuntutan perubahan yang ada tanpa landasan yang kuat pada nilai-nilai luhur. Kekhawatiran yang muncul ketika nilai-nilai luhur diabaikan dalam pengembangan kebudayaan adalah sifat terbuka kebudayaan yang dapat membunuh dirinya sendiri demi sebuah perubahan sehingga pada akhirnya

menyebabkan hilangnya identitas nasional sebagai sebuah bangsa. Karenanya, pengembangan kebudayaan mutlak tetap dilandaskan pada nilai-nilai luhur yang turut mewujudkan kemantapan identitas budaya nasional tanpa harus bersikap curiga yang berlebihan dan anti terhadap perubahan-perubahan budaya. Pengembangan kebudayaan dilakukan dengan orientasi menghilangkan

pandangan bahwa keanekaragaman kebudayaan yang sarat perbedaan antar kelompok dalam masyarakat menjadi sumber terjadinya ketegangan dan konflik. Keanekaragaman yang mampu dikelola dan dikembangkan dengan baik dan tepat justru dapat menjadi kekuatan untuk mengurangi terjadinya tingkat ketegangan dalam masyarakat, misalnya dengan forum-forum dialog kebudayaan lintas agama, budaya dan ikatan-ikatan kelompok. Pengembangan kebudayaan juga memiliki relevansi untuk cita-cita semakin tegak dan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Melalui nilai-nilai baru yang positif dan produktif yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan, pengembangan kebudayaan juga berkontribusi pada perwujudan pemantapan budaya nasional. Lebih lanjut, pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur juga tertuju pada upaya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya. Ke-semuanya ini menjadi persoalan penting pengembangan budaya di Jawa Timur sebagai propinsi yang memiliki keanekaragaman budaya yang kaya.

II. Kondisi Awal RPJMN di Jawa Timur 1) Krisis jatidiri dan semakin lunturnya nilai-nilai budaya dan etos kerja (degradasi budaya). Nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, kegotongroyongan,

keramahtamahan sosial, dan rasa cinta tanah air yang pernah dianggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, secara perlahan tetapi pasti semakin pudar bersamaan dengan menguatnya nilai-nilai materialisme dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

25

konsumerisme. Laju pembangunan ekonomi yang kurang diimbangi oleh pembangunan karakter bangsa telah mengakibatkan krisis budaya yang selanjutnya memperlemah ketahanan budaya. Padahal diketahui bahwasanya secara obyektif nilai-nilai tersebut mempunyai elastisitas dan kesesuaian dengan perkembangan. Nilai-nilai tersebut mengalami degradasi dikarenakan kesalahan dalam membawa arah persepsi budaya sehingga tanpa disadari telah terpuruk dalam penurunan nilai-nilai budaya bangsa yang luhur tersebut. Nilai-nilai luhur budaya bangsa telah banyak tergantikan oleh orientasi nilai yang justru bukan berasal dari budaya bangsa sendiri. Degradasi nilai-nilai budaya luhur di Jawa Timur juga terjadi dari munculnya kasus-kasus pembuatan dan peredaran kasus video porno yang melibatkan pelajar Kasus di Kediri, Madiun, Mojokerto kasus

(http://www.penapendidikan.com).

tersebut

bukan

sekedar

kriminalitas biasa melainkan kasus yang berakar dari erosi moral dan nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai derasnya penetrasi budaya asing. 2) Degradasi kesadaran berbudaya (kurangnya pemahaman budaya sebagai sebuah proses akal budi) dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat Budaya pada hakekatnya adalah sebuah proses yang dilakukan dengan menggunakan akal budi manusia untuk diakui dan dilaksanakan secara bersama atau dapat disebut sebagai proses dan hasil melalui sebuah proses belajar bersama. Dengan kata lain tidak ada kebudayaan yang bersifat instan, diterapkan secara ajeg dan terpola tanpa melalui suatu proses belajar bersama. Bentuk belajar bersama dalam hal ini dapat berupa sosialisasi, interaksi, komunikasi secara aktif dan harmonis antar anggota masyarakat. Pada nyatanya, kehidupan masyarakat di Jawa Timur dalam beberapa hal menunjukkan gejala keinginan mencapai sesuatu secara instan tanpa melalui proses pembelajaran bersama. Implikasinya yang terjadi adalah sebuah proses pemaksaan kehendak suatu nilai atau gagasan tertentu yang berujung pada suatu konflik. Meskipun konflik juga merupakan salah satu bentuk interaksi antar anggota masyarakat, namun demikian konflik telah menyurutkan ruang komunikasi yang harmonis dan utuh dari sebuah proses pembelajaran sosial secara bersama. Kondisi tersebut terjadi dalam beberapa bidang kehidupan masyarakat seperti politik, ekonomi,

penegakkan hukum, sosial. Ide-ide tentang kemajuan misalnya, banyak dilakukan tanpa proses pembelajaran budaya yang memadai sehingga kesan yang muncul adalah sikap masyarakat yang anti kemajuan atau anti kemapanan. Padahal yang terjadi hanyalah tidak terjadinya pembelajaran budaya yang utuh oleh masyarakat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

26

3) Masih kurangnya kemampuan mengelola keragaman budaya Permasalahan kebudayaan di Jawa Timur menunjukkan kurang juga masih

optimalnya dalam

kemampuan mengelola keragaman sehingga mengesankan bahwa

budaya

keragaman

Prasarana pementasan ludruk yang kumuh, potret buram masa depan ludruk

yang ada dibiarkan begitu saja tanpa upaya-upaya pemeliharaan, pengelolaan dan pengembangan yang memadai. Minimnya forum-forum dialog kebudayaan dan pendidikan multikultural misalnya, menjadi indikator masih kurangnya kemampuan tersebut. Pengelolaan keragaman budaya sangat strategis untuk menghindari terjadinya benturan antar kebudayaan, hilangnya atau punahnya keragaman budaya. Selain hal tersebut, ancaman hilangnya suatu kebudayaan Karena klaim kepemilikkan Negara lain, dan hilangnya suatu kebudayaan karena memang tidak ada upaya pengelolaan. Meski dipandang masih ada dan eksis, tetapi ancaman kepunahan tetap membayangi jenis-jenis budaya tradisional yang beragam. 4) Masih banyaknya nilai-nilai yang belum tergali dan akan menjadi keluaran budaya Pada nyatanya pengembangan kebudayaan di Jawa Timur tidak hanya berhadapan dengan kenyataan bahwa nilai-nilai luhur budaya bangsa telah mengalami erosi atau kemerosotan, namun juga menghadapi masalah dengan belum tergalinya nilai-nilai untuk dapat dipahami dan dimanfaatkan secara utuh sebagai nilai luhur yang postif dan produktif. Nilai-nilai yang banyak tertuang dalam kesahajaan dan kearifan lokal misalnya, banyak belum tergali dan termanfaatkan sebagai social capital dalam setiap kebijakan pembangunan. Pengarusutamaan (mainstreaming) nilai-nilai budaya dengan demikian perlu dilakukan. 5) belum optimalnya kegiatan pelestarian kekayaan budaya, yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman, apresiasi, kesadaran, dan komitmen pemerintah dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

27

masyarakat (Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur 2003-2008) Kegiatan pelestarian kekayaan budaya daerah menuntut tanggung jawab dan komitmen tidak saja dari pemerintah melainkan juga segenap masyarakat. Kegiatan-kegiatan untuk menciptakan kemampuan dalam pelestarian kekayaan budaya di Jawa Timur menunjukkan kondisi yang belum optimal, diantaranya dibuktikan dengan produk-produk seni dan budaya yang hampir punah atau sedang dianggap mati, tidak mendapatkan perlindungan dan pelestarian yang memadai, adanya benda-benda hasil kebudayaan yang mengalami kerusakan, serta dengan adanya budaya daerah yang diklaim kepemilikkannya oleh Negara lain, seperti seni budaya Reog Ponorogo.

Seni budaya Reog Ponorogo yang ditengah-tengah aksi klaim Malaysia (www. Google.co.id)
6) Masih banyaknya produk-produk budaya yang belum dimanfaatkan secara maksimal (Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur 2003-2008) 7) Kurangnya penghargaan / perhatian masyarakat terhadap kesenian dan budaya tradisional sebagai warisan sejarah budaya (Laporan Keterangan

Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur 2003-2008). Budaya tradisional sebagai warisan sejarah tengah menghadapi ancaman besar kepunahan karena kurangnya perhatian masyarakat. Diantara jenis kesenian tersebut adalah kesenian budaya ludruk, tari topeng, kesenian tayub, jaranan, lengger. Yang memprihatinkan, stigmatisasi dan kesan negatif pada pelaku seni tradsional masih ada di tengah masyarakat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

28

Sudut kumuh tempat pementasan ludruk : perlu penataan (www.antara.co.id)

Topeng Malang yang semakin “malang” nasibnya (www.actasurya.com/brok/export)

Tayub, kesenian dengan stigma negatif di masyarakat

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

29

Geliat Seni Tari Jaranan di tengah tantangan modernism budaya (www.actasurya.com/brok/export)

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai 1. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat; Konstruksi kebudayaan dapat berhubungan dengan terjadinya konflik antar golongan atau kelompok dalam masyarakat baik sebagai penyebab konflik itu sendiri maupun sebagai deretan akibat dari suatu konflik. Konflik budaya dalam hal ini dapat berupa konflik antar kelompok formal dalam masyarakat (formal social group) ataupun ikatan-ikatan sosial informal. Pengembangan kebudayaan dalam kaitan ini diorientasikan untuk tercapainya sasaran penurunan ketegangan dan ancaman konflik yang terjadi antar kelompok masyarakat. 2. Semakin kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang

berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika; Pengembangan kebudayaan dapat dikonstruksikan untuk terwujudnya suatu sistem dan tata kehidupan bernegara yang semakin kuat dan kokoh mengingat fungsi dan peran penting budaya yang dapat digunakan sebagai perekat dasar dan kekuatan penyatu. Sistem dan tata kehidupan yang dimaksud dalam hal ini adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan identitas kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila, UUD 1945, dan prinsip kebangsaan Bhineka Tunggal Ika. Pengembangan Kebudayaan dengan demikian harus diarahkan pada semakin kokohnya NKRI dan menghilangkan berbagai kekuatan yang menjadi ancaman bagi tegak dan kokohnya NKRI.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

30

3. Berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya daerah yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan; Sasaran yang ingin dicapai dengan pengembangan kebudayaan yang

berlandaskan nilai-nilai luhur adalah semakin berkembangnya nilai-nilai budaya daerah yang positif dan produktif yang diwujudkan dalam setiap aspek kebijakan pembangunan yang ada (cultural value mainstreaming) di mana dengan penerapan tersebut pada gilirannya dapat memantapkan keberadaan budaya daerah Jawa Timur. 4. Meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya; Pengembangan kebudayaan memiliki sasaran untuk meningkatkan kualitas kemampuan dalam pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya yang dimiliki Jawa Timur. Pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya dalam hal ini dapat berupa pencegahan hilangnya atau punahnya suatu jenis budaya, mencegah kerusakan dan degradasi produk-produk budaya, melakukan upayaupaya yang dapat menjaga keberadaan suatu budaya, mempromosikan dan memberikan penghargaan bagi kelangsungan suatu budaya. Banyak kegiatan dan program pembangunan dapat dilakukan untuk mencapai sasaran pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya ini.

IV.

Arah Kebijakan Sasaran pembangunan nasional untuk mewujudkan pengembangan kebudayaan

yang berlandaskan nilai-nilai luhur diarahkan melalui kebijakan-kebijakan : (1) Mendorong terciptanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan agar benturan-benturan yang terjadi tidak melebar menjadi konflik social. Arah kebijakan ini sesuai dengan sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang pertama yaitu menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat. (2) Mendorong tuntasnya proses modernisasi yang dicirikan dengan terwujudnya Negara kebangsaan Indonesia modern yang berkelanjutan, dan menguatnya masyarakat sipil. Arah kebijakan ini sesuai dengan sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang kedua yaitu Semakin kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

31

(3) Revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas nasional. Arah kebijakan ini sesuai dengan sasaran pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur yang ketiga yaitu berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya daerah yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan (4) Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk-produk dalam negeri.

V.

Pencapaian RPJMN di Jawa Timur

Intervensi kebijakan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur di Jawa Timur diarahkan pada kebijakan : 1. Reaktualisasi nilai-nilai budaya daerah sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial; Untuk memperkuat jati diri bangsa dan memantapkan budaya daerah dengan memperkokoh ketahanan budaya nasional dengan memanfaatkan potensi budaya lokal sehingga mampu menangkal penetrasi budaya asing yang bernilai negatif dan memfasilitasi proses adopsi dan adaptasi budaya asing yang bernilai positif dan produktif. Disamping itu pembangunan moral bangsa yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran, amanah, keteladanan, sportivitas, disiplin, etos kerja, gotong royong, kemandirian, sikap toleransi rasa malu dan tanggung jawab. Kegiatan pokok yang akan ditempuh antara lain : a. b. c. Aktualisasi nilai moral Revitalisasi dan reaktulisasi budaya lokal yang bernilai luhur Transformasi budaya melalui adopsi dan adaptasi nilai-nilai baru yang positif untuk memperkaya dan memperkokokh khasanah budaya bangsa. Pengembangan budaya dapat dirintis dengan beberapa upaya sederhana untuk mulai mendorong kegiatan budaya, terutama yang berbasis komunitas. Di berbagai lembaga banyak terdapat mitra yang mau menjadi relawan untuk kegiatan sosial dan pendampingan masyarakat. Potensi ini perlu diidentifikasi, didekati, dan diajak berperan dalam pendampingan masyarakat. 2. Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah; Pelestarian dan pengembangan kebudayaan dapat dilakukan ketika terdapat dukungan berupa antusiasme, apresiasi, perhatian yang merefleksikan kecintaan masyarakat pada keragaman dan kekayaan budaya Jawa Timur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

32

3. Meningkatnya kesempatan untuk pengembangan ekonomi lokal, perluasan kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat melalui optimalisasi potensi budaya sekaligus mengembangkan dan melindungi potensi tersebut. Selain berpotensi pada terus meningkatnya keberlangsungan suatu kebudayaan, pembangunan kebudayaan juga sangat berpotensi untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal baik bagi masyarakat maupun bagi pengusaha dan pemerintah melalui pengelolaan sektor-sektor budaya yang professional dan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya pendapatan masyarakat dapat ditingkatkan melalui pengembangan kebudayaan. (dari sasaran) Apabila dilakukan pembandingan arah kebijakan yang terdapat dalam RPJMN 2004-2009 dengan arah kebijakan yang dilaksanakan Propinsi Jawa Timur, terdapat perbedaan di mana arah kebijakan RPJMN 2004-2009 yang pertama yaitu terciptanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan agar benturan-benturan yang terjadi tidak melebar menjadi konflik sosial, dan arah kebijakan RPJMN 2004-2009 yang kedua yaitu mendorong tuntasnya proses modernisasi yang dicirikan dengan terwujudnya Negara kebangsaan Indonesia modern yang berkelanjutan, dan menguatnya masyarakat sipil, pada nyatanya tidak digunakan sebagai arah kebijakan yang berdiri sendiri oleh Propinsi Jawa Timur. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa potensi ketegangan dan ancaman konflik yang berdimensi kebudayaan di Jawa Timur tidak lagi menjadi masalah yang menonjol sebagai akibat dari proses adaptasi, interaksi, modernisasi budaya yang berjalan harmonis baik antar kelompok agama, suku, etnis. Bukan berarti masalah tersebut sudah tidak ada sama sekali karena potensi ancama konflik hampir pasti selalu ada. Namun demikian potensi masalah tersebut sudah semakin menurun di Jawa Timur. Dengan demikian arah kebijakan terciptanya wadah yang

terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan, berdasarkan analisis kondisi kontekstual Jawa Timur tidak menjadi arah kebijakan yang prioritas. Selain perbedaan yang telah diungkap sebelumnya, dalam arah kebijakan pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur di Propinsi Jawa Timur juga diarahkan pada integrasi pengembangan kebudayaan dengan pengembangan potensi ekonomi lokal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sebagaimana tertuang dalam arah kebijakan ketiga Propinsi Jawa Timur (RPJMD Propinsi Jawa Timur). Berdasarkan pelaksanaan pembangunan atau pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur sesuai dengan sasaran dan arah kebijakan RPJMN 20042009 di Jawa Timur, ditemukan beberapa hal sebagai berikut : a. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

33

Tingkat ketegangan dan konflik antar kelompok secara keseluruhan sepanjang tahun 2008 mengalami penurunan di mana tidak lagi terjadi konflik antar anggota pengikut kelompok perguruan pencak silat yang sering terjadi di Kabupaten Madiun, Nganjuk. Konflik antar kelompok nelayan di Kabupaten Pasuruan, Gresik, dan Kepulauan Madura juga semakin menurun pada tahun 2008. Konflik antar kelompok pemeluk agama meski terjadi ketika dilakukannya “sweeping” dan tuntutan pembubaran FPI oleh kelompok “Garda Bangsa” sebagaimana terjadi di Surabaya dan Jember, namun demikian hanya berada dalam skala konflik yang relatif kecil. Potensi peningkatan konflik justru terjadi antar ikatan kelompok sosial yang dalam hal ini berupa asosiasi profesi buruh dengan kelompok pengusaha. Selain itu, potensi konflik juga muncul dari masing-masing pendukung kekuatan politik sehubungan digelarnya Pemilihan Gubernur Jawa Timur tahun 2008.

Meningkatnya konflik di Jawa Timur juga terjadi sebagai akibat pengusahaan dan perebutan tanah antar kelompok masyarakat dengan kekuatan struktural yakni TNI. b. Semakin kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang

berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Situasi dan kondisi pembangunan kebudayaan di jawa timur terkait dengan upaya pengokohan NKRI menunjukkan kondisi yang sangat kondusif di mana hal ini dibuktikan dari : 1) Tidak adanya ancaman separatisme di Jawa Timur dan minimnya isu-isu disintegrasi karena persoalan keanekaragaman budaya. 2) Tingginya tingkat toleransi antar kelompok suku, etnis dan agama yang mencerminkan kekuatan kesatuan dalam kemajemukan (jawa-maduratengger-osing). 3) Berjalannya pembauran sosial secara nyata dan harmonis. c. Berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya daerah yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan. Dalam kaitan ini telah dilakukan beberapa upaya untuk merevitalisasi,

mengaktualisasi dan mengintegrasikan beberapa nilai baru baik yang murni berasal dari penggalian kembali nilai-nilai budaya lokal daerah maupun nilai baru yang merupakan hasil dari sebuah proses adaptasi, asimilasi dan akulturasi budaya. Nilai-nilai baru dimaksud adalah sebagai berikut :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

34

1) Keterbukaan (transparansi) 2) Demokrasi 3) kejujuran, 4) amanah, 5) keteladanan, 6) sportivitas, 7) disiplin, 8) etos kerja, 9) gotong royong, 10) kemandirian, 11) sikap toleransi 12) rasa malu 13) Tanggung jawab. d. Meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya Secara umum, pengembangan dan pelestarian kekayaan dan keragaman budaya di Jawa Timur masih mengalami banyak

masalah, baik dari sisi kebijakan, manajemen kelembagaan pengembangan kekayaan rendahnya dan budaya, kecintaan apresiasi

masyarakat, termasuk ancaman kepunahan

Museum Mpu Tantular dalam focus penataan

budaya dan hilangnya budaya karena klaim

pihak asing. Meskipun diakui telah ada upaya-upaya konkrit konstruktif yang dilakukan. Pemerhati mengatakan kesenian, bahwa Rizal Ramli (http://apindonesia.com, kesenian tradisional 18 des 2008)

keberadaan

berikut

fasilitasnya

menyedihkan dan harus segera diubah. Pemerintah pusat dan pemerintah kota hendaknya memberikan perhatian agar kesenian tradisional bersama kesenian modern bisa tampil sebagai magnet kebudayaan. Pernyataan tersebut melukiskan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

35

kekecewaan karena nasib kesenian tradisional yang sangat menyedihkan seperti ludruk, ketoprak, wayang orang, dan lain-lain. Gedung keseniannya pun susah dijangkau. Selain mengadopsi teknologi dan manajemen moderen, pengembangan dan pelestarian kesenian tradisisonal juga hendaknya mendapat dukungan fasilitas pertunjukkan yang memadai, berupa gedung-gedung kesenian yang representatif dari pemerintah (Ramli, . http://apindonesia.com, 18 des 2008) Adapun hasil kinerja terkait dengan peningkatan pelestarian dan pengembangan budaya daerah di Jawa Timur diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Penataan koleksi museum Mpu Tantular 2) Pengelolaan Taman Krida Budaya Malang 3) Inventarisasi dan dokumentasi nilai budaya Banyuwangi, Tuban dan Pamekasan 4) Pengembangan eks kawasan kerajaan Mojopahit 5) Pengiriman duta seni pelajar se Jawa Bali 50 grup 6) Pemberdayaan pelaku budaya 1140 orang 7) Peningkatan kemampuan juru pelihara tentang pengamanan benda cagar budaya 30 orang 8) Peningkatan seniman dan organisasi kesenian 760 orang 9) Pelatihan seniman 76 orang 10) Bantuan dan penghargaan seniman 13 orang 11) Peningkatan guru kesenian 150 orang 12) Penerbitan naskah koleksi museum 2.000 eksemplar 13) Rehabilitasi gedung Cak Durasim 14) Festival Cak Durasim 15) Peningkatan pengetahuan tentang sejarah 38 orang. 16) Peningkatan wawasan masyarakat tentang museum 75 orang. 17) Pengembangan pengetahuan tenaga pengelola museum 20 lembaga. 18) Penataan koleksi museum 2 orang. 19) Peningkatan kemampuan juru pelihara pengamanan benda cagar budaya 30 orang. 20) Peningkatan kesejahteraan juru pelihara benda cagar budaya dan situs se Jawa Timur 450 orang. 21) Penyuluhan masyarakat sekitar situs 50 orang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

36

22) Berkembangnya kesenian Indonesia untuk mewujudkan kehidupan kebudayaan yang maju dan dinamis 1.567 group. 23) Peragaan fungsi dan kegunaan koleksi museum sebanyak 2.000 orang Dari arah dan intervensi kebijakan yang telah dilaksanakan oleh Propinsi Jawa Timur, masih menunjukkan permasalahan yang dihadapi oleh Jawa Timur, yang meliputi : a. Kurangnya forum-forum dialog lintas budaya b. Masih banyaknya nilai-nilai yang belum tergali dan akan menjadi keluaran budaya; c. Masih banyaknya produk-produk budaya yang belum dimanfaatkan secara maksimal; d. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap kesenian dan budaya tradisional sebagai warisan sejarah budaya; e. Rendahnya penghargaan/perhatian terhadap kebudayaan.

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Perlu terus ditingkatkan kemampuan pengelolaan keanekaragaman budaya melalui peningkatan forum-forum yang mampu menjadi wadah terjadinya dialog kebudayaan baik antar kelompok agama (dialog keagamaan), suku, etnis atau ras dan berbagai social group yang formal maupun informal. Meskipun kondisi Jawa Timur secara umum kondusif, namun demikian hal tersebut bukan didasarkan atas kemampuan yang tinggi dalam mengelola keanekaragaman yang ada sehingga sangat terbuka sekali kemungkinan-kemungkinan di kemudian hari bagi terjadinya ketegangan dan konflik antar kelompok. 2. Revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai budaya daerah sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial, dan dilakukannya sosialisasi dan advokasi nilai-nilai kebangsaan dan strategi penguatannya dengan sikap saling

menghormati dan menghargai keberagaman budaya dalam rangka memperkukuh NKRI. Nilai-nilai tersebut direvitalisasi dan diaktualisasi melalui upaya

pengarusutamaan ke dalam aspek kebijakan pembangunan yang ada. 3. Terpeliharanya kerjasama yang sinergis antar pihak terkait dalam upaya pelestarian kekayaan budaya; 4. Pemberdayaan budaya lokal dan tradisional untuk meningkatkan fungsinya sebagai aset pendidikan dan ilmu pengetahuan, 5. Pemeliharaan, perawatan, dan pemanfaatan benda-benda peninggalan budaya untuk mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan wisata.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

37

6. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya bangsa melalui peningkatan wawasan masyarakat tentang museum, pengembangan pengetahuan tenaga pengelola museum, pelatihan seniman dan, peningkatan guru kesenian serta memberikan bantuan dan penghargaan kepada seniman; 7. Meningkatkan kreasi seni dan budaya melalui festival seni, gelar budaya, lombalomba kesenian dan pengiriman duta seni; 8. Meningkatkan perlindungan terhadap peninggalan sejarah purbakala dengan penataan, pengelolaan dan rehabilitasi museum, benda cagar budaya dan situs;

VII.

Penutup Pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur di Jawa Timur

pada dasarnya secara umum menunjukkan kondisi yang relatif beragam. Dari sasaran menurunya tingkat ketegangan dan ancaman konflik, Jawa Timur dapat dikatakan relatif berhasil di mana sepanjang tahun 2008 ancaman konflik semakin melemah. Namun demikian bukan berarti ancaman tersebut hilang karena pada nyatanya mekanisme sosial menurunya konflik lebih terkait dengan kedewasaan masyarakat dan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat. Tanggung jawab pemerintah harus diarahkan pada terwujudnya forum-forum dialog kebudayaan yang akan mempertemukan pemecahan konflik sampai pada akarnya. Dari sisi kokohnya NKRI yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika juga menunjukkan kondisi di mana NKRI semakin kokoh yang terbukti dengan minimnya ancaman separatism dan disintegrasi bangsa, tetapi pada sisi lain menunjukkan nilai-nilai budaya bangsa yang berasal dari Pancasila dan UUD 1945 masih menunjukkan degradasi sehingga memerlukan revitalisasi dan reaktualisasi. Nilai-nilai baru yang positif dan produktif telah banyak digali (revitalisasi dan reaktualisasi) namun demikian masih lebih banyak nilai budaya yang belum tergali. Sementara nilai-nilai yang telah tergali masih belum mendapat penguatan, pelembagaan dan

pengarusutamaan yang memadai dalam setiap aspek kebijakan pembangunan sehingga pemantapan budaya daerah dan nasional masih perlu untuk ditingkatkan terus. Telah banyak upaya dalam bentuk program yang dilakukan Jawa Timur untuk meningkatkan pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya. Ancaman terbesar dalam hal pelestarian kebudayaan ini adalah terkait dengan kecintaan masyarakat terhadap ragam budaya yang ada, ancaman klaim kepemilikkan budaya oleh pihak lain, dan terbatasnya anggaran oleh pemerintah.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

38

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

39

Berkaitan dengan agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis di Provinsi Jawa Timur, ada tujuh sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan yang dilakukan yaitu: 1. Pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum, dengan kebijakan yang diarahkan untuk: a. memperkuat upaya pemberantasan korupsi b. menyederhanakan sistem peradilan c. memastikan penerapan hukum dengan adil 2. Penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, dengan kebijakan yang diarahkan untuk:

a. Memastikan setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dihadapan
hukum;

b. Menegakkan hukum dengan adil, melalui perbaikan sistem hukum yang
profesional, bersih dan berwibawa;

c. Menghapus peraturan yang bersifat diskriminatif dan yang melanggar prinsip
kesetaraan dan keadilan 3. Penghormatan, pemenuhan dan penegakan atas hukum dan pengakuan atas HAM dengan kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan

menciptakan penegakan dan kepastian hukum yang konsisten terhadap hak asasi manusia, perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif. 4. Peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan, serta kesejahteraan dan perlindungan anak, dengan kebijakan yang diarahkan untuk yang dilakukan adalah (1) meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui aksi afirmasi, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, hukum, ketenagakerjaan, sosial, politik, lingkungan hidup, dan ekonomi; (2) meningkatkan upaya pelindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, termasuk upaya pencegahan dan penanggulangannya; (3) mengembangkan dan menyempurnakan perangkat hukum dan kebijakan peningkatan kualitas hidup dan pelindungan perempuan di berbagai

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

40

bidang pembangunan di tingkat nasional dan daerah; (4) melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) peningkatan kualitas hidup dan pelindungan perempuan di tingkat nasional dan daerah; (5) menyusun sistem pencatatan dan pelaporan, sistem penanganan dan penyelesaian kasus tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi terhadap perempuan; (6) membangun pusat pelayanan terpadu berbasis rumah sakit dan berbasis masyarakat di tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebagai sarana pelindungan perempuan korban kekerasan, termasuk perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga; dan (7) meningkatkan peran masyarakat dan media dalam penanggulangan pornografi dan pornoaksi. 5. Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah, dengan kebijakan yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat dalam hal pelayanan masyarakat, penyelenggaraan otonomi daerah, dan pemerintahan daerah yang baik 6. Penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dengan kebijakan yang diarahkan untuk: 1) Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik KKN dengan cara: a. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan; b. Pemberian sanksi yang seberat-beratnya bagi pelaku KKN sesuai dengan ketentuan yang berlaku; c. Peningkatan efektivitas pengawasan aparatur Negara melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal, dan pengawasan masyarakat; d. Peningkatan budaya kerja aparatur yang bermoral, professional, produktif, dan bertanggungjawab; e. Percepatan pemeriksaan; f. Peningkatan pemberdayuaan penyelenggaraan Negara, dunia usaha, dan masyarakat dalam pemberantasan KKN. 2) Meningkatkan kualitas penyelenggara Negara melalui: a. Penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan agar dapat berfungsi secara lebih memadai, efektif, dengan struktur lebih proporsional, ramping, luwes, dan responsive; pelaksanaan tindak lanjut hasil-hasil pengawasan dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

41

b. Peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pada semua tingkat dan lini pemerintahan; c. Penataan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur agar lebih professional sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat; d. Peningkatan kesejahteraan pegawai dan pemberlakuan system karier berdasarkan prestasi; e. Optimalisasi pengembangan dan pemanfaatan e-Government, dan

dokumen/arsip Negara dalam pengelolaan tugas dan fungsi pemerintahan. 3) Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan dengan: a. Peningkatan kualitas pelayanan public terutama pelayanan dasar, pelayanan umum, dan pelayanan unggulan; b. Peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat mencukupi kebutuhan dirinya, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan mengawasi jalannya pemerintahan; c. Peningkatan transparansi, partispasi, dan mutu pelayanan melalui peningkatan akses dan sebaran informasi. 7. Perwujudan lembaga demokrasi yang makin kokoh, dengan kebijakan yang diarahkan untuk: a) Mewujudkan pelembagaan demokrasi yang lebih kokoh dengan mempertegas tugas, wewenang dan tanggungjawab dari seluruh kelembagaan pemerintahan yang berdasarkan mekanisme checks and balances; b) Memperkuat peran masyarakat sipil (civil society) untuk lebih partisipatif dalam setiap pengambilan keputusan publik; c) Mendorong sosialisasi dan advokasi politik untuk kalangan masyarakat sipil dan partai politik d) Meningkatkan kualitas etika politik di kalangan partai politik dan penyelenggara Negara di daerah e) Memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah; f) Mewujudkan pelembagaan dan mendorong berjalannya rekonsiliasi beserta segala kelengkapan kelembagaannya; serta g) Menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam

mengkomunikasikan kepentingan masyarakat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

42

h) Meningkatkan kualitas dan kredibilitas sistem dan proses penyelenggaraan pemilu.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

43

I. Pengantar Pembenahan sistem hukum dan politik tidak terlepas dari pelaksanaan sistemsistem di berbagai sektor lainnya yang mendukung roda pemerintahan, termasuk pula sistem dan arah politik hukum dalam mencapai dan tujuan sejahtera. Sistem hukum merupakan payung untuk melindungi setiap warga negara agar keberadaan negara dirasakan oleh setiap individu – individu yang tinggal dan berinteraksi dengan negara sehingga ada perasaan aman bagi setiap warga negara. Kondisi tersebut akan memacu kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri yang tentunya akan berimbas positif terhadap aspek yang lain seperti aspek ekonomi yang pada akhirnya bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Dengan demikian Rencana Pemangunan Jangka Menengah dan Panjang Nasional 2004 – 2009 sangat logis apabila salah satu tujuan yang dicapai adalah melakukan pembenahan di bidang sistem hukum. Tentunya pembahasan hukum sangat berdampak pada aspek politik yang akhirnya bisa berdampak pada kestabilan daerah yang bisa memacu investor untuk menanamkan modal di daerah tersebut. Propinsi Jawa Timur sebagai salah satu propinsi tentunya tidak bisa lepas dari agenda nasional dalam rangka ikut melakukan pembenahan sistem hukum dan politik yang diharapkan bisa memacu sektor-sektor yang lain berkembang ke arah yang positif. Namun demikian pembenahan sistem hukum dan politik ini tidak jarang mengalami banyak hambatan-hambatan khususnya di daerah Jawa Timur. Diantaranya kasus salah tangkap di Jombang yang memicu masyarakat tidak percaya lagi pada sistem hukum. masyarakat adil dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

44

II. Kondisi Awal RPJMN di Jawa Timur Kondisi di Daerah Jawa Timur berkenaan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004-2009 khususnya dalam pembenahan sistem hukum dan politik terdapat permasalahan-permasalah di daerah yang mana perlu diselesaikan supaya semakin memantapkan kepastian hukum yang memang sangat penting agar dirasakan manfaatnya oleh semua pihak yaitu, rakyat dan pemerintah. Permasalahan-permasalahan di daerah itu adalah sebagai berikut: -Kasus salah tangkap Kepastian salah tangkap dalam perkara pembunuhan Moh Asrori, 24, warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang, kian tak terbantahkan. Hal itu terungkap dalam lanjutan sidang perkara tersebut, dengan terdakwa Maman Sugianto alias Sugik, 28, di Pengadilan Negeri (PN) Jombang, Kamis (13/11). Sidang menghadirkan dua saksi, masing-masing Sudarwoto, 49, (kakak sepupu Fauzin Suyanto) dan Fitri Samaiyah, 26, warga Jalan HOS Cokroaminoto, Kauman, Nganjuk. Fitri adalah teman kuliah dan sahabat Fauzin. Dalam kesaksiannya, dua saksi itu menguatkan bahwa mayat yang ditemukan di kebun tebu Dusun Braan, Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang adalah mayat Fauzin, dan bukan mayat Asrori --sebagaimana tercantum dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum (JPU). Dengan begitu Sugik tidak salah. Demikian pula Imam Khambali alias Kemat dan Devid Eko Priyanto, yang telah terlanjur divonis masingmasing 17 dan 12 tahun atas kasus `pembunuhan Asrori` di kebun tebu itu. Apalagi, polisi berhasil mengungkap bahwa tersangka pembunuhan di kebun tebu itu adalah Rudi Hartono alias Rangga. Menjawab pertanyaan majelis hakim, JPU (Jaksa Penuntut Umum) dan tim kuasa hukum, saksi Sudarwoto dan Fitri mengungkapkan cukup mengenal ciri-ciri Fauzin. Di antaranya, kuku panjang tapi rapi, tinggi lebih dari 160 sentimeter, rambut tegak, dan kaki agak panjang. Selain itu juga gigi agak tongos. Ciri-ciri ini persis dengan mayat yang ditemukan di kebun tebu. Sedangkan ciri-ciri Asrori, sebagaimana pernah disebut Jalal (ayah Asrori), ukuran badannya tergolong pendek. Gigi bukan tongos tetapi gingsul.Yang lebih meyakinkan, barang bukti di lokasi mayat kebun tebu ditemukan, hampir semua dikenali oleh Sudarwoto maupun Fitri. Misalnya, helm, celana jins, jaket, dan sweater. Yang tidak dikenali hanya pisau dan kayu. Fitri lebih meyakinkan lagi, karena jaket parasit yang ditemukan di lokasi kebun tebu itu, menurut dia, adalah miliknya yang dipinjam Fauzin. Selain itu juga sandal. Seperti diberitakan, Sugik diseret ke meja hijau atas perkara pembunuhan Asrori,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

45

yang sebelumnya diyakini mayatnya ditemukan di kebun tebu Dusun Braan. Sebelumnya, pada Mei lalu, Kemat dan Devid sudah divonis masing-masing 17 dan 12 tahun untuk perkara yang sama. Tapi belakangan diketahui terjadi salah tangkap. Sebab, berdasarkan uji DNA, mayat di kebun tebu ternyata adalah Fauzin Suyanto, warga Jalan MT Haryono Nganjuk. Sedangan mayat Asrori, berdasarkan uji DNA pula, adalah salah satu dari 10 mayat yang ditemukan di belakang rumah penjagal 11 manusia, Feri Idham Henyansah alias Ryan, di Tembelang, Jombang. Ryan mengakui membunuh Asrori (Surya, 14 November 2008)

-

Kasus sengketa tanah Alas Tlogo Pasuruan. Sengketa tanah antara warga Alas Tlogo Pasuruan dengan aparat Marinir TNI AL

telah merenggut korban jiwa. Bahkan untuk mengetahui titik pangkal dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sengketa tanah berawal dari sisi regulasi dan implementasi yang belum berjalan sesungguhnya (http://www.dpr.go.id/majalahparlementaria)

-

GOLPUT memenagi pilkada Semua kandidat dalam pemilihan Kepala Daerah atau PILKADA Jawa Timur, kalak

telak dengan GOLPUT. Kandidat itu paling tinggi meraih 25,51% suara (KARSA, dan KAJI 25,36% suara, SR 22,19% suara, SALAM 19,39% suara dan ACHSAN hanya 7,55% suara (Jawa Pos, Rabu 23 Juli 2008).

- Komposisi Perempuan dalam parlemen di Jawa Timur Tercantumnya kuota 30% untuk perempuan dalam ayat 1 pasal 65 UU Nomor 12 Tahun 2003 (UU Pemilu) dalam taraf tertentu telah mendorong perempuan Indonesia termasuk di Jawa Timur untuk berpartisipasi lebih aktif dalam dunia politik, terutama menjelang pemilu 2004. Slogan vote for women-pilih caleg perempuan, tersebar melalui seminar, spanduk, stiker maupun program dan iklan di stasiun televisi . Sayangnya, kegairahan kaum perempuan dalam pemilu 2004 itu tidak mampu menaikkan jumlah representasi perempuan di DPR secara signifikan, apalagi sampai mencapai angka 30%. Untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur (DPRD Jatim), pemilu 2004 menghasilkan 16 orang perempuan diantara 100 orang yang duduk menjadi anggota ( Wahidah Zein Br Siregar). Jika dibandingkan dengan pemilu 1999 yang menghasilkan 11

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

46

orang anggota perempuan, pemilu 2004 telah mampu meningkatkan jumlah perempuan sebesar 5% di DPRD Jatim. Akan tetapi jumlah 16% ini tentu masih jauh dari kuota 30% yang tercantum dalam UU pemilu. Tabel 1 dan 2 di bawah ini menunjukkan jumlah perempuan di DPRD Jatim dan di DPR RI sejak berdirinya sampai sekarang. Tabel 3.2.1 Jumlah Perempuan di DPRD Jatim (1966-2009) Periode DPRD 1956 – 1958 (DPRDP) 1960 - 1971 (DPRDGR) 1971 - 1977 1977 - 1982 1982 - 1987 1987 - 1992 1992 - 1997 1997 - 1999 1999 - 2004 2004 – 2009 Jumlah perempuan Data tidak tersedia 8 8 13 12 14 12 11 11 16 Jumlah Kursi DPRD Data tidak tersedia 76 75 75 75 100 100 100 100 100 Persentase anggota perempuan Data tidak tersedia 10,5 10,7 17,3 16 14 12 11 11 16

Sumber : Siregar, Thesis, IAIN Sunan Ampel Surabaya III. Sasaran Yang Akan Dicapai Sasaran yang akan dicapai adalah meningkatkan keadilan dan penegakan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum yang adil, konsekuen dan tidak diskriminatif serta memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan terjaminnya konsistensi seluruh hukum dan peraturan. Sasaran pembangunannya adalah untuk mendukung pembenahan sistem dan politik hukum, sasaran yang akan dilakukan dalam tahun 2004-2009 adalah terciptanya sistem hukum yang adel, konsekuen dan tidak diskriminatif (termasuk tidak diskriminatif terhadap permpuan dan bias gender), terjaminnya konsistensi seluruh peraturan dan perundang-undangan pada tingkat pusat dan daerah, serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi; dan kelembagaan peradilan dan penegak hukum yang berwibawa, bersih dan profesional dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan hukum masyarakat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

47

IV. Arah Kebijakan Pemerintah daerah Jawa Timur berusaha terus dalam upaya pembenahan

system hukum dan politik ini dibuktikan dengan munculnya situs www.jatimprov.go.id yang selalu meminta saran atas Rancangan Undang-undang dari masyarakat jatim, dengan harapan tentunya supaya lebih menampung aspirasi masyarakat dan juga hukum dan peraturan yang berlaku bisa dijalankan dalam rangka memberi rasa aman kepada setiap warga masyarakat.

V.

Pencapaian RPJMN Di Daerah (2004-2009) Kasus salah tangkap Kepastian salah tangkap dalam perkara pembunuhan Moh

Asrori, 24, warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang dengan terdakwa Maman Sugianto alias Sugik, 28, di Pengadilan Negeri (PN) Jombang, Kamis (13/11) adalah sebagai bukti bahwa pemda setempat ceroboh dalam kasus-kasus perlindungan hukum. Yang seharusnya tidak boleh terjadi. Ini menciderai arah tujuan pembangunan yang ingin menunjukkan pada semua pihak bahwa perlindungan hukum, dan kepastian hokum selalu diupayakan pemerintah untuk menarik kepercayaan atas pemerintah dari semua kalangan. Walaupun jumlah perempuan dalam anggota legislatif di DPRD Jawa Timur belum mencapai 30% namun dari 16% dari anggota parlemen tersebut sudah menyebar merata di seluruh fraksi sebagaimana nampak pada tabel 2 di bawah ini

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

48

Tabel 3.2.2 Jumlah Perempuan dalam Fraksi DPRD Jatim 2004 -2009 No 1 Fraksi Jumlah Perempuan Jumlah anggota Persentase perempuan

FKB (Fraksi Kebangkitan 7 31 22,6 Bangsa) 2. FPDIP (Fraksi Partai 3 25 12 Demokrasi Indonesia Perjuangan) 3 Fraksi Partai Golongan Karya 2 15 13,3 4 Fraksi Demokrat Keadilan 3 14 21,4 5 Fraksi Partai Persatuan 1 8 12,5 Pembangunan 6 Fraksi Partai Amanat Nasional 0 7 0 Sumber: DPRD Propinsi Jawa Timur (2004), Komposisi Keanggotaan DPRD Provinsi Jawa Timur Masa Jabatan 2004 -2009 Tabel di atas menunjukkan bahwa dari seluruh fraksi yang ada di DPRD Jatim,persentase perempuan tertinggi adalah di FKB. Bahkan, seperti yang sudah disebutkan di atas, fraksi ini dipimpin oleh Masruroh Wahid, salah satu anggota perempuan. Sementara itu, tidak ada satupun perempuan di fraksi PAN. Lalu bagaimana posisi perempuan dikomisi-komisi? Tabel 3.2.3 Jumlah Perempuan dalam Komisi DPRD Jatim 2004 -2009 No 1 2 3 4 5 Komisi Komisi A (Pemerintahan) Komisi B (Perekonomian) Komisi C (Keuangan Komisi D (Pembangunan) Komisi E (Kesejahteraan Rakyat) Jumlah Jumlah Perempuan 3 3 3 2 5 16 Jumlah Anggota 19 20 19 19 19 96 Persentase Perempuan 15,8 15 15,8 10,5 26,3 16,7*

*Pimpinan DPRD tidak masuk menjadi anggota komisi Sumber: DPRD Propinsi Jawa Timur (2004), Komposisi Keanggotaan DPRD Provinsi Jawa Timur Masa Jabatan 2004 -2009 Tabel diatas menunjukkan bahwa Komisi E yang bertugas membidangi masalah kesejahteraan rakyat memiliki jumlah perempuan terbanyak. Akan tetapi jumlah perempuan cukup bersebar secara merata di komisi -komisi lainnya,. Komisi A, B dan C

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

49

memilik jumlah anggota perempuan yang sama yaitu mas ing-masing 3 orang. Dari komposisi perempuan di komisi -komisi, secara tersirat terlihat bahwa para anggota DPRD Jatim perempuan masih menyenangi komisi yang membidangi masalah kesejahteraan. Akan tetapi tidak berarti bahwa bidang -bidang lainnya tidak mereka senangi. Semua anggota DPRD perempuan yang diwawancarai mengatakan, bahwa mereka memilih sendiri mau ditempatkan di komisi yang mana. Baru ketika jumlah anggota yang memilih satu komisi sangat banyak, sehingga terjadi kekurangan di komisi yang lainnya, fraksi kemudian mengambil kebijakan meminta para anggotanya untuk ditempatkan pada fraksi tertentu, tanpa melihat apakah anggota tersebut laki -laki atau perempuan. Pada umumnya mereka duduk di komisi yang mereka pilih. Dengan demikian sebenarnya pemerintah dan orang-orang di dalamnya tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana dengan posisi perempuan di panitia anggaran dan panitia musyawarah? Tabel berikut akan memperlihatkannya. Tabel 3.2.4 Jumlah Perempuan di Panitia Anggaran dan Panitia Musyawarah DPRD Jatim 2004 -2009 No Panitia Jumlah Perempuan 1 2 Panitia Anggaran Panitia Musyawarah Jumlah 4 1 5 Jumlah Anggota 26 26 52 Persentase Perempuan 15.4 3,8 9,6

Sumber: DPRD Propinsi Jawa Timur (2004), Komposisi Keanggotaan DPRD Provinsi Jawa Timur Masa Jabatan 2004 -2009 Tabel diatas menunjukkan bahwa tidak semua anggota DPRD duduk di panitia anggaran maupun panitia musyawarah. Dari 100 orang jumlah keseluruhan anggota DPRD Jatim, hanya 52 diantaranya duduk di panitia. 26 di Panitia Anggaran dan 26 di Panitia Musyawarah. Berbeda dengan jumlah perempuan di komisi -komisi. Di Panitia Anggaran dan Panitia Musyawarah, jumlah perempuan hanya sedikit. Bahkan di Panitia Musyawarah hanya ada 1 orang perempuan diantara 26 orang anggotanya. Lalu bagaimana kepemimpinan di alat-alat kelengkapan di DPRD tersebut. Apakah ada perempuan yang menjadi ketuanya?

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

50

Pertanyaan yang juga muncul bagaimana dengan jumlah yang 16 orang, dan posisi yang sudah diterangkan di atas, anggota perempuan di DPRD Jatim mampu menyentuh isu -isu perempuan dalam produk perundang-undangan yang mereka hasilkan? Bagian berikut d ari tulisan ini akan menerangkannya. Perda Penyelenggaraan Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan ( Perda P3AK2). Salah satu

ukuran yang dapat dipakai untuk mengetahui kinerja anggota DPRD Jatim, termasuk anggota perempuan adalah dengan melihat produk perundang-undangan yang berhasil disyahkan oleh DPRD. Berapa jumlah Perda yang mereka syahkan dan bagaimana kualitas perda tersebut ketika diterapkan secara real. DPRD Jatim, pada tanggal 29 Juli 2005 telah mengesahkan Rancangan Peraturan daerah (Raperda) P3AK2 menjadi menjadi Peraturan Daerah (Perda). Perda ini adalah penjabaran praktis dari UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tujuannya, harus ada perlindungan yang semaksimal mungkin dari Pemerintah Daerah Jatim terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan di Jawa Timur. Dilihat dari namanya, tentu saja dapat dikatakan bahwa Perda ini adalah Perda yang menyentuh isu perempuan. Selain berfungsi sebagai wadah yang dapat menampung dan memulihkan masalah pisik maupun psikis yang dihadapi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan, Perda ini juga diharapkan mampu menjadi payung hukum yang lebih kongkrit bagi para aparat hukum untuk lebih tegas menindak para pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sehingga kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang meningkat dari tahun ketahun bisa berkurang atau jika mungkin hilang sama sekali. Lalu bagaimana peran anggota DPRD Jatim perempuan dalam munculnya Perda ini? Kehadiran Perda ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa para perempuan yang duduk di DPRD Jatim adalah active minority. Meskipun jumlah mereka hanya 16 orang dari 100 jumlah keseluruhananggota DPRD, mereka telah menunjukkan bahwa mereka mampu menyentuh isu –isu perempuan. Mereka juga mampu bekerja sama dengan anggota DPRD yang laki -laki. Meyakinkan bahwa isu-isu perempuan bukanlah untuk kepentingan perempuan semata tetapi juga kepentingan seluruh masyarakat. Terlebih lagi, Perda ini adalah hasil dari inisiatif DPRD Jatim. DPRD jatim melalui komisi E mengusulkan kepada pemerintah Jatim untuk membuat Raperda. Seperti yang disebutkan di atas, jumlah perempuan di komisi adalah yang paling banyak dibandingkan dengan di komisi-komisi lainnya, 5 orang dari 19 total anggota. Tentu saja peran mereka

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

51

besar. Akan tetapi, anggota perempuan lainnya yang tidak duduk di komisi E juga membantu melalui fraksinya masing -masing. Seperti yang dinyatakan oleh para anggota DPRD Jatim perempuan yang diwawancarai. Mereka semua bekerja sama untuk bisa meloloskan Raperda P3AK2 itu menjadi Perda. Dalam mekanisme pengesahan suatu Perda di DPRD, pandangan fraksi terhadap penting atau tidaknya satu Perda disyahkan, sangat penting. Karenanya, munculnya Per da ini juga membuktikan bahwa para anggota DPRD Jatim perempuan telah berhasil meyakinkan para anggota fraksi bahwa Perda ini penting bagi masyarakat Jawa Timur, terutama perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan. Dalam proses disyahkannya Perda ini, anggota DPRD perempuan juga bekerja sama dengan para perempuan aktivis di luar DPRD seperti LSM maupun organisasi massa. Para perempuan aktivis di luar DPRD ini aktif memberi masukan kepada para anggota DPRD Jatim. Terlihat di sini bahwa ada komunikasi yang terjalin antara para anggota DPRD Perempuan dan konstituen perempuan di luar DPRD. Karenanya, disyahkannya Raperda P3AK2 menjadi Perda oleh DPRD Jatim,

membuktikan bahwa perwakilan perempuan di parlemen bisa berjalan. Seperti yang disebutkan oleh Young bahwa representasi bisa berjalan asalkan ada komunikasi yang intensif antara representative dan konstituen. Ada juga komunikasi diantara sesama konstituen. Sehingga di satu pihak, representative tahu apa yang diinginkan oleh konstituennya. Dan dilain piha k konstituen punya kesepahaman tentang apa yang mereka butuhkan (2000, 129 -131). VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Perbaikan Kinerja aparat penegak hukum dan peradilan Kasus salah tangkap merupakan indikasi bahwa polisi dan lembaga peradian terkesan asal-asalan dalam menunaikan tugasnya dan sangat tidak profesional. Rakyat sebagai bagian yang lemah menjadi tidak merasakan adanya perlindungan hukum yang diberikan pemerintah. Langkah positif yang diambil oleh lembaga peradilan

membebaskan para tersangka yang salah tanggkap memang perlu direspont dengan hatihati mengingat pembebasan juga tidak berlangsung cepat dan semestinya pemerintah memberikan ganti rugi atas kerugian psikis yang dialami oleh korban salah tangkap meski korban tidak meminta, apabila ini dilakukan akan memberikan kesan bahwa lembaga peradilan adalah lembaga yang konsisten dan bertanggung jawab dalam melindungi. Bagaimanapun juga kasus ini banyak menarik perhatian dari masyarakat mestinya juga

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

52

ada konsekuensi yang harus dikenakan sanksi bagi aparat kepolisian dan peradilan yang mnyebabkan dan terlibat kasus salah tangkap tersebut, sehingga hukum kita adalah hukum yang pasti dan bukan asal-asalan, kepastian hukum harus dirasakan semua pihak, perlindungan adalah untuk semua bukan untuk segelintir orang dan rakyat bukan untuk dipermainkan. Kesan ini yang seharusnya dibangun sehingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah muncul yang pada akhirnya stabilitas wilayah tercapai. Semua aturan pertanahan perlu ditinjau kembali supaya dimasa mendatang

tidak ada lagi konflik yang memperebutkan hak kepemilikan tanah. Perlu adanya manajemen pengelolaan tanah dan sistem informasi pemetaan pertanahan. Sebenarnya negara adalah yang menguasai tanah tapi bukan bearti kepemilikan sehingga peru adanya sistem informasi pertanahan yang bisa diakses oleh siapa saja sehingga jelas satatus kepemilikan tanah tersebut oleh siapa, yang pada akhirnya konflik soal pertanahan bisa diminimalisir. Permasalahan sengketa tanah di Indonesia biasanya sertifikat kepemilikan

ganda. Munculnya sertifikat ganda, ini merupakan tanggung jawab dari BPN selaku lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikat tanah. Kepala BPN Joyo Winoto

(www.dpr.go.id/majalah parlementaria, 5 agustus 2008 mengakui bahwa BPN belum sanggup sepenuhnya mengatasi munculnya sertifikat ganda di masyarakat karena masih banyaknya mafia pertanahan yang bermain dan memanfaatkan oknum-oknum BPN dan idquo yang mana mereka bermain lebih mudah dipengadilan karena sudah punya alur. Penyuluhan akan kesadaran politik Semua kandidat dalam pemilihan Kepala Daerah atau PILKADA Jawa Timur, kalak telak dengan GOLPUT sebagaimana yang dimuat di Jawa Pos Rabu-7-2008 menunjukkan adanya kesadaran politik masyarakat yang sangat rendah dan juga ini bisa dijadikan sebagai indikasi bahwa rakyat sudah kurang peduli dengan hajatan pemerintah. Di sisi lain pemerintah mengeluarkan anggaran dan sumber daya yang sangat besar. Masyarakat sebagai elemen penting dalam politik dan hukum bisa jadi bertindak demikian karena didorong oleh ketidak percayaan lagi dengan pemimpin daerah setempat. Dengan demikian perlu diupayakan usaha shock terapi dengan menghimbau pemimpin-pemimpin daerah untuk menjaga konsistensi kepemimpinannya dengan janji-janji kampanye. Sosialisasi akan kesadaran bahwa mereka sama dalam kaca mata politik, dan pilihannya akan menentukan masa depan daerah diharapkan tumbuh kesadaran untuk menyalurkan aspirasinya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

53

-

Upaya mengkondosifkan perempuan dalam parlemen Jumlah perempuan di parlemen pada tahun 2004-2009 sudah mengalami

peningkatan sebesar 5% ( 1999 – 2004 sebesar 11 % menjadi 16% pada periode 2004 – 2009). Namun demikian peingkatan ini perlu diupayakan lagi dengan membuka ruang selebar-lebarnya bagi permpuan untuk berpolitik di dipenuhi. VII. Penutup Sebagai upaya pembenahan system hukum dan politik maka diperlukan adanya upaya-upaya sebagai berikut: Perlu adanya perbaikan aparat penegak hukum yang mendorong kepastian hukum. Perlu adanya manajemen pengelolaan tanah dan sistem informasi pertanahan Perlu upaya membentuk pemimpin yang konsisten, jujur dan adil sebagai upaya meminimalisasi adanya GOLPUT dalam PILKADA. Perlu adanya ruang yang lebih kondosif bagi perempuan berpatisipasi dalam DPRD sehingga mencapai quota 30%. Pemilu 2004 sebagai pemilu pertama untuk mengimplementasikan kuota 30% untuk perempuan dalam susunan calon legislatif partai politik (pasal 65 ayat 1 UU No 12, 2 003), ternyata belum mampu menambah jumlah perempuan di DPR secara signifikan. Di DPRD Jatim, pemilu 2004 menghasilkan 16 orang perempuan diantara 100 total anggota. Dengan disyahkannya Raperda P3AK2 menjadi Perda, misalnya dapat dilihat bahwa para anggota DPRD Jatim perempuan ini, mampu meyakinkan anggota DPRD Jatim yang laki-laki bahwa isu-isu perempuan juga kebutuhan masyarakat. Dengan bekerja sama dengan sesama anggota DPRD Jatim perempuan dan aktivis perempuan di luar DPRD seperti LSM dan organisasi wanita, ternyata anggota-anggota DPRD Jatim perempuan telah membuktikan bahwa mereka adalah minoritas yang aktif. DPRD sehingga quato 30% bisa

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

54

I. Pengantar Pada era desentralisasi saat ini, UU no 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah memberikan kewenangan yang luas kepada pemerintah Daerah untuk menentukan kebijakan dan program pembangunan yang terbaik bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat da kemajuan daerah masing-masing, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Namun, dengan kondisi demografis, geografis, infrastruktur da kemajuan ekonomi yang tidak sama, serta kapasitas sumberdaya (manusia dan alam) yang berbeda, maka salah satu konsekwensi logis dari pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya perbedaan kinerja pembangunan antar daerah. Berdasarkan kondisi obyektif di masing-masing daerah pelaksanaan

pembangunan menunjukkan hasil yang berbeda-beda, untuk itu diperlukan instrumen yang dapat membantu mengidentifikasi kondisi kenerja pembangunan daerah yang telah dicapai. Instrumen tersebut juga dibutuhkan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja proses pelaksanaan pembangunan daerah beserta hasil yang dicapainya, sebagai dasar untuk memberikan umpan balik dan penyempurnaan sehingga pelaksanaan pembangunan di daerah pada tahapan selanjutnya dapat berlangsung dengan baik.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Daerah Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan. Ketidakadilan tersebut terwujud dalam pembedaan perlakuan Hukum terhadap sesama warga negara, berdasarkan warna kulit, golongan, suku, etnis, agama, jenis kelamin (gender) dan sebagainya. Diskriminasi dalam praktik dapat terjadi secara eksplisit ataupun secara terselubung. Peraturan perundang-undangan yang bentuk membeda-bedakan warga negara merupakan

diskriminasi yang terbuka. Namun yang terbanyak adalah diskriminasi

terselubung dalam bentuk pemberlakuan pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang berbeda-beda terhadap warga negara yang pada akhirnya melahirkan ketidakadilan. Perlakuan diskriminasi sangat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 beserta amandemennya. UUD 1945 yang secara tegas mengutamakan kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

55

hukum dan bidang kemasyarakatan lainnya. Untuk itu UUD 1945 beserta amendemennya sangat penting untuk menjadi acuan universal para penyelenggara negara dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Penguatan komitmen Pemerintah Indonesia Penolakan terhadap berbagai bentuk diskriminasi sebagaimana tertuang dalam Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial, 1965 (International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, 1965) telah diratifikasi dengan UU Nomor 29 Tahun 1999; Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi

Terhadap Perempuan (International Convention on the Elimination of All Form of Discrimination Against Women) yang telah diratifikasi dan mempunyai konsekuensi wajib untuk melakukan penyesuaian berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait sejalan dengan Konvensi internasional tersebut. Kendala pelaksanaan penyesuaian dan harmonisasi peraturan perundangundangan nasional. Dalam pelaksanaannya benturan kepentingan, tumpang tindih pengaturan dan kepentingan sektoral lebih mendominasi upaya penyesuaian berbagai peraturan perundang-undangan nasional yang terkait dengan berbagai bentuk

diskriminasi, sehingga menghambat upaya minimalisasi perlakuan diskriminasi terhadap warga negara pada berbagai bidang kehidupan. Penegakan hukum dan kepastian hukum dalam rangka minimalisasi perlakuan diskriminasi. Sampai dengan saat ini hukum tertulis (peraturan perundang-undangan) merupakan satu-satunya landasan hukum bagi para penyelenggara negara untuk menjalankan kehidupan bernegara dan berbangsa. Dari sisi kuantitas, peraturan perundang-undangan yang dihasilkan setiap tahunnya cukup banyak, namun dari sisi kualitas cukup banyak ditemui pengaturan yang mengandung perlakuan diskriminasi antara lain yang terkait dengan pengaturan di bidang kewarganegaraan, keimigrasian, usaha kecil, kesehatan dan perkawinan. Peran lembaga peradilan sangat signifikan untuk meminimalisasi terjadinya perlakuan diskriminasi terhadap setiap warga negara. Kewibawaan lembaga dan sistem peradilan di Indonesia khususnya di daerah propinsi Jawa Timur saat ini menjadi sorotan masyarakat. Terutama berkaitan dengan hak masyarakat akan lahan mereka akibat pengeboran minyak oleh PT Lapindo Brantas di Sidoarjo Jawa Timur. Masalah diskriminasi hukum lainnya yang tidak kalah penting dan cukup menjadi sorotan adalah diskriminasi terhadap perempuan di Jawa Timur. Hal ini terindikasi dengan masih banyaknya jumlah kasus perdagangan manusia (trafficking).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

56

Oleh karena keberhasilan pembangunan untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera ditentukan oleh seberapa jauh sistem hukum yang berlaku ditegakkan dengan konsisten dan adil. Upaya menggerakkan perekonomian, penciptaan lapangan pekerjaan, maupun penghapusan kemiskinan tidak akan memperoleh hasil yang memuaskan apabila diskriminasi masih terjadi dan keadilan masih berpihak kepada siapa yang kuat, bukan berpihak pada kebenaran. Sesuai dengan fungsinya setiap penyelenggara negara harus mempunyai kesadaran dan komitmen bahwa dalam menjalnkan penyelenggaraan negara tidak boleh ada perlakuan diskriminasi pada setiap warga negaranya sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 Pasal 27 ayat (1). Hal ini juga berarti bahwa di Indonesia tidak boleh ada perlakuan diskriminasi di berbagai bidang kehidupan. Pelayanan publik sebagai salah satu fungsi utama penyelenggara negara dalam lingkup Eksekutif harus benar-benar menjunjung tinggi asas kedudukan yang sama bagi setiap warga negara di hadapan hukum, menegakkan hukum dengan adil dalam arti tidak ada pembedaan baik dari warna kulit, golongan, suku, etnis, agama dan jenis kelamin; dan apabila dalam pelaksanaannya terhadap peraturan perundang-undangan yang bersifat diskriminatif dan melanggar prinsip keadilan harus berani ditindaklanjuti dengan langkah menghapus dan/atau melakukan berbagai perubahan. Pelaksanaan peraturan perundang-undangan memegang peranan yang sangat menentukan. Walaupun peraturan perundang-undangan yang dibuat telah dipersiapkan dengan baik, namun manusia yang berada di belakang peraturan tersebut sangat menentukan yaitu mereka yang menerapkan dan menegakkan hukum serta yang memberikan pelayanan hukum. Dalam praktik, perlakuan diskriminasi dialami oleh warga negara, lembaga/instansi pemerintah, lembaga swasta/dunia usaha oleh aparat yang melakukan pelayanan publik. Perlakuan diskriminasi khususnya terhadap masyarakat di 9 (sembilan) desa di Sidoarjo, yaitu dengan tergusurnya lahan rumah, lapangan pekerjaan, lingkungan masyarakat setempat. Sedangkan masalah trafficking terhadap para perempuan yang awalnya mereka berkeinginan menjadi TKI di negeri seberang, kemudian oleh para oknum mereka dijadikan korban untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kesenangan sesaat Hal yang demikian pada akhirnya berujung pada praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Hal tersebut terjadi karena pelaksana hukum (aparat) cenderung dipandang lebih tinggi dari masyarakat yang membutuhkan pelayanan publik. Belum adanya kesepahaman tentang kedudukan yang sama bagi seluruh masyarakat di depan hukum. Kondisi tersebut sampai saat ini masih terus terjadi karena masih

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

57

terdapatnya kesenjangan antara pihak yang memerlukan dengan pihak yang memberikan pelayanan publik. Munculnya isu strategis daerah yang berkaitan dengan upaya penghapusan diskriminasi hukum. Akhirnya diharapkan mampu menyusun berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakan di daerah Jawa Timur yang mendukung upaya penghapusan diskriminasi hukum, kesetaraan dan keadilan. Peningkatan Kesadaran akan hak dan kewajiban hukum masyarakat. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap hak dan kewajiban hukum tetap mensyaratkan antara lain tingkat pendidikan yang memungkinkan untuk dapat memahami dan mengerti berbagai permasalahan yang terjadi. Dua pihak yang berperan penting yaitu masyarakat dan kualitas aparat yang bertugas melakukan penyebarluasan hukum dan berbagai peraturan perundang-undangan. Walaupun tingkat pendidikan sebagian masyarakat masih kurang memadai, namun dengan kemampuan dan profesionalisme dalam melakukan pendekatan penyuluhan hukum ke dalam masyarakat, pesan yang disampaikan kepada masyarakat dapat diterima secara baik dan dapat diterapkan apabila masyarakat menghadapi mereka. berbagai persoalan yang terkait dengan hak dan kewajiban

III. Sasaran Yang Ingin di Capai Untuk mendukung upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, sasaran yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun kedepan (2004-2009) adalah operasionalisasi peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik terhadap warga negara, lembaga/instansi pemerintah, maupun lembaga swasta/dunia usaha. Selain itu sasaran yang akan dicapai adalah pelaksanaan peraturan perundangundangan yang tidak menonjolkan kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakuan diskriminatif terhadap warga negara dan terciptanya aparat dan sistem pelayanan publik yang adil dan dapat diterima oleh setiap warga negara.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

58

IV. Arah Kebijakan Upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk dalam kurun waktu lima tahun ke depan (2004-2009) diarahkan pada kebijakan untuk menciptakan penegakan dan kepastian hukum yang konsiten, adil dan tidak diskriminatif dengan langkah-langkah: 1. Memastikan setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum; 2. Menegakkan hukum dengan adil, melalui perbaikan sistem hukum yang profesional, bersih dan berwibawa; 3. Menghapus peraturan yang bersifat diskriminatif dan yang melanggar prinsip kesetaraan dan keadilan

PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN Langkah-langkah yang akan ditempuh untuk menghapus diskriminasi dalam berbagai bentuk dijabarkan ke dalam program-program pembangunan. Untuk mendorong terselenggaranya perlakuan hukum yang jauh dari diskriminasi antara lain dilakukan dengan program pembentukan produk hukum; program peningkatan kesadaran hukum dan Hak asasi Manusia; dan program profesionalisme bagi aparat hukum. 1. PROGRAM PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM Upaya ini diakukan dengan bekerja sama antara pemerintah propinsi dengan lembaga legislatif wilayah propinsi yang mana badan inilah yang berperan menelurkan kebijakan-kebijakan masyarakat Jawa Timur. Tentu harapannya adalah setiap kebijakan hukum yang hendak dilegalisasi untuk diberlakukan seharusnya dilakukan sosialisasi dan observasi maupun evaluasi terhadap produk hukum di wilayah propinsi Jawa Timur. Semua itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya celah perlakuan hukum yang diskriminatif 2. PROGRAM PENINGKATAN PELAYANAN DAN BANTUAN HUKUM Program Peningkatan Pelayanan dan Bantuan Hukum ditujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pemerintah dibidang hukum serta memberikan bantuan kepada setiap warga negara tanpa membeda-bedakan baik dari warna kulit, golongan, suku, etnis, agama, dan golongan yang kurang mampu sehingga rasa keadilan masyarakat benarbenar diperoleh sebagaimana adanya. Dengan program ini diharapkan terwujudnya pelayanan publik di bidang hukum yang merata, daam arti mampu menjangkau segenap lapisan masyarakat, dan terciptanya kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat untuk memperoleh keadilan. Kegiatan-kegiatan pokok yang akan dilakukan meliputi:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

59

1. Peningkatan kualitas pelayanan umum di bidang hukum, pada bidang antara lain pemberian grasi, naturalisasi, pemberian/penerbitan perizinan yang dibutuhkan oleh berbagai bidang pembangunan; pendaftaran hak atas kekayaan intelektual, pembuatan akte kelahiran dan lain sebagainya; 2. Peningkatan pemberian bantuan hukum bagi golongan masyarakat yang kurang mampu baik dalam proses berperkara di pengadilan maupun upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran akan hak dan kewajiban hukumnya; 3. Penyempurnaan dan perubahan berbagai peraturan perundang-undangan yang masih mengandung diskriminasi; serta 4. Penyederhanaan syarat-syarat pelayanan hukum pada semua lingkup

lembaga/instansi yang dapat dimengerti, informasi yang terbuka dan dengan biaya terjangkau masyarakat.

2.

Program perbaikan sistem hukum yang profesional, bersih dan berwibawa; Perbaikan sistem hukum yang lebih profesional, bersih dan berwibawa menjadi sangat penting manakala masih banyak terjadi diskriminasi perlakuan hukum untuk masyarakat Adapun upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam hal ini, antara lain: 1. Melaksanakan program rekruitmen terhadap calon hakim yang transparan dan terbuka, dan menghindari hal-hal yang memungkinkan timbulnya kolusi, korupsi dan nepotisme. 2. Pengawasan dari atasan, bawahan dan keterlibatan masyarakat secara komprehensif yang bisa mendorong adanya sistem yang berjalan dengan baik

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

60

V. Pencapaian RPJMN Di Daerah (2005-2007) Bidang Penghapusan Diskriminasi dalam berbagai bentuk : No SASARAN 1 Terlaksananya peraturan perundang-undangan yang tidak mengandung perlakuan diskriminasi baik kepada setiap warga negara, lembaga/instansi pemerintah, maupun lembaga swasta/ dunia usaha secara konsisten dan transparan RPJM INDIKATOR CAPAIAN SAMPAI SAAT INI masih ada kesulitan bagi masyarakat untuk memproses kasusnya, baik melalui hukum ataupun mediasi

2

Angka kasus hukum yang disebabkan perlakuan diskriminatif yang terjadi di masyarakat. Kasus trafficking menduduki peringkat pertama di Jawa Timur dengan jumlah kasus 101 dari jumlah keseluruhan kasus 200 atau 50,5 %. Menyusul kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan jumlah kasus 71 atau 35,5 % Terkoordinasinya dan Diperkirakan 20 persen terharmonisasikannya dari TKI terjebak dalam pelaksanaan peraturan jalur perundang-undangan illegal dan 2 persen yang tidak menonjolkan mengalami kekerasan. kepentingan tertentu sehingga dapat mengurangi perlakuan diskriminatif terhadap warga negara.

.

VI.Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Diharapkan pemerintah melakukan peninjauan dan uji material terhadap peraturan dan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada kaum perempuan, baik di tingkat provinsi hingga desa. 2. Tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki dari sisi kemanusiaan. Perempuan sebagaimana laki-laki memiliki hak yang sama di depan hukum. 3. Tersedianya berbagai data dan informasi yang akurat dan obyektif tentang upaya, capaian dan permasalahan pelaksanaan penghapusan diskriminasi hukum yang ada di daerah Propinsi Jawa Timur. 4. Teridentifikasinya konsistensi kebijakan, perundang-undangan dan produk hukum di daerah yang mendukung kebijakan tidak bersifat diskriminatif yang mampu mendorong tujuan pembangunan daerah dengan pembangunan nasional.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

61

VII. Penutup Menyimpulkan pencapaian RPJM Daerah Jawa Timur, telah banyak dilakukan upaya oleh pemerintah propinsi Jawa Timur, akan tetapi tidak mudah mencapai semua sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Penegakan hukum menjadi penting berkaitan dengan penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk. Kesadaran masyarakat menjadi penting bagi upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

62

I.

Pengantar Istilah Hak Asasi Manusia (HAM) atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan

menjadi human rights adalah hak-hak yang seharusnya diakui secara universal sebagai hak-hak yang melekat pada manusia karena hakekat dan kodrat kelahiran manusia itu sebagai manusia. Dikatakan ‘universal’ karena hak-hak ini dinyatakan sebagai bagian dari kemanusiaan setiap sosok manusia, tidak perduli apapun warna kulit, jenis kelamin, usia, latar belakang, kultural dan agama ataupun kepercayaannya. Sementara itu dikatakan ‘melekat’ atau ‘inheren’ karena hak-hak itu dimiliki oleh siapapun berkat kodrat kelahirannya sebagai manusia dan bukan karena pemberian oleh suatu organisasi kekuasaan manapun. Karena dikatakan ‘melekat’ itu pulalah maka pada dasarnya hakhak ini tidak sesaatpun boleh dirampas atau dicabut (wigjosoebroto dalam

www.elsam.or.id) Hak asasi merupakan hak yang bersifat dasar dan pokok. Pemenuhan hak asasi manusia merupakan suatu keharusan agar warga negara dapat hidup sesuai dengan kemanusiaannya. Hak asasi manusia melingkupi antara lain hak atas kebebasan berpendapat, hak atas kecukupan pangan hak atas rasa aman, hak atas penghidupan dan pekerjaan dan hak atas hidup yang sehat dan hak-hak lainnya sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia Tahun 1948. Pengakuan atas adanya hak-hak manusia yang asasi memberikan jaminan secara moral maupun demi hukum kepada setiap manusia untuk menikmati kebebasan dari segala bentuk perhambaan, penindasan, perampasan, penganiayaan atau perlakuan apapun lainnya yang menyebabkan manusia itu tak dapat hidup secara layak sebagai manusia yang dimuliakan Allah. Penghormatan terhadap hukum dan hak asasi manusia merupakan suatu keharusan dan tidak perlu ada tekanan dari pihak manapun untuk melaksanakannya. Pembangunan bangsa dan negara pada dasarnya juga ditujukan untuk memenuhi hak-hak asasi warga negara. Hak asasi tidak sebatas pada kebebasan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

63

berpendapat ataupun berorganisasi, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak atas keyakinan, hak atas pangan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, rasa aman, penghidupan yang layak, dan lain-lain. Kesemuanya tersebut tidak hanya merupakan tugas pemerintah tetapi juga seluruh warga negara untuk memastikan bahwa hak tersebut dapat dipenuhi secara konsisten dan berkesinambungan. Sedangkan pelanggaran hak asasi manusia dapat terjadi dan dilakukan oleh siapa saja, baik pemerintah, kelompok atau golongan, seseorang terhadap kelompok atau golongan, atau orang lainnya. Oleh karena itu sangat penting untuk melihat berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan tidak saja oleh pemerintah tetapi juga oleh warga sipil dan mencari serta menyelesaikan berbagai pemecahan masalah secara objektif dan adil sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penghormatan, pemenuhan, dan penegakan atas hukum dan pengakuan hak asasi manusia (Ham) di Jawa Timur sebagai bagian dari wilayah Indonesia yang menjadi center di kawasan timur menjadi sangat penting untuk dideskripsikan. Hal ini untuk mengetahui sejauhmana pencapaian RPJMN 2006-2009 sebagai agenda evaluasi pembangunan di Indonesia. Salah satu faktor yang membuat kota ataupun provinsi menjadi tempat hidup yang nyaman adalah ketika daerah tersebut terbangun dan berkembang dalam atmosfir HAM, dalam lingkungan HAM, dan memiliki budaya penghormatan dan penegakkan HAM yang optimal. Oleh karena itu setiap daerah sudah menjadi keharusan untuk melaksanakannnya. Dinamika yang berkembang di Jawa Timur terkait dengan penghormatan, pemenuhan, dan penegakan atas hukum dan pengakuan hak asasi manusia (Ham) adalah sebagai berikut: 1. Didominasi permasalahan tindak korupsi yang dilakukan oleh para pejabat publik. Hasil survey menunjukkan bahwa Jawa Timur menduduki peringkat kedua setelah Jakarta dalam hal korupsi. Korupsi yang menonjol adalah penggunaan kas daerah, korupsi pengadaan barang dan jasa, perjalanan dinas dan pungutan liar, penyelewenangan dana non budgeter (tempo interaktif, november 2008) 2. Pelanggaran HAM yang terjadi Sidoarjo sejak 2006-2008 (Lumpur Lapindo) (Jawa Pos, 17 Mei 2008) dan penembakan terhadap warga sipil di Desa Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan oleh Korps Marinir (TNI) pada tanggal 30 Mei 2007 yang menewaskan 4 orang warga dan luka-luka. 3. Pekerjaan buruk untuk anak yang didalamnya meliputi eksploitasi seksual komersial anak, berupa pelacuran anak di daerah prostitusi, pekerja anak di sektor

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

64

rumah tangga (PRT), anak jalanan dan

perdagangan anak (Traficcking) dari

Surabaya menuju Amerika Selatan. Sedangkan pemasoknya dari Jawa Timur adalah Banyuwangi Nganjuk, Madiun, Kediri, Surabaya, Blitar, Jember, Gresik. Sedangkan daerah transit dan penerimanya adalah Surabaya (Rosenberg, 2003; Harkristuti Harkrisnowo, 2003; PKPA, 2004). Berdasarkan data Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim menyebutkan, hingga Mei 2007 terdapat 15 anak korban perkosaan, 2 anak korban penculikan, 9 korban konflik hukum, 24 korban penganiayaan, 2 anak korban penipuan, 1 anak bunuh diri, 13 anak korban pembunuhan, 5 anak korban aborsi, 9 anak korban pencabulan, 11 anak korban pengabaian, 1 anak korban pembuangan bayi, 35 anak korban kecelakaan, 8 anak korban gizi buruk, 2 anak korban penjambretan, 3 anak korban trafiking, 47 anak korban keracunan, 2 anak korban overdosis, dan 8 anak korban pornografi. Data terakhir menyebutkan bahwa Surabaya merupakan kota paling sering dan paling banyak praktek eksploitasi seksual komersial anak, tercatat sebanyak 99 kasus. Sedangkan jenis/bentuk pekerjaan terburuk yang dilakukan anak adalah pekerjaan rumah tangga (PRT); perdagangan anak untuk eksploitasi seksual komersial, pekerjaan di sektor pertanian/perkebunan, dan anak jalanan (Anjal) yang beresiko diperdagangkan dan terlibat dalam peredaran narkoba. Jawa Timur, adalah tempat bagi kurang lebih 8.000 anak jalanan, banyak dari mereka dilaporkan rentan terhadap kekerasan dan penganiayaan seksual. Kurang lebih 40 penampungan di Jawa Timur menyediakan pelayanan bagi anak-anak tersebut (LPA Jatim 2007) Di sisi lain, penanganan tindak korupsi merupakan bagian dari penegakan hukum. Pada tahun 2007 penangann kasus korupsi yang terjadi di Jawa timur sebanyak 10 kasus dengan nilai kerugian negara sebesar Rp 169, 76 milliar. Berada pada peringkat kedua setelah pemerintah pusat (Sumber: laporan tahunan ICW, 2008). Dinamika yang terjadi di Jawa timur terkait dengan penanganan kasus korupsi dapat dilihat dalam tabel berikut ini: Tabel 3.4.1. Dinamika Penemuan Kasus Korupsi di Jawa Timur 2007-2008 NO 1 NILAI KERUGIAN NEGARA Rp 3,2 miliar.

KOTA Madiun

KASUS Dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAU) 2007, yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun Hemanu Hadi. 1. Dugaan penyelewengan dana sosialisasi Blok Cepu. Kasus ini menyeret sejumlah pejabat dan mantan pejabat Bojonegoro. 2. Korupsi proyek Dana pendampingan Water Sanitation for Low Income

2

Bojonegoro

Rp 3,8 miliar

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

65

3

Jember

4

Lumajang

Communities (wislick )air bersih bekas Kepala Dinas Kesehatan Bojonegoro dr Setyo Budi. 3. Dugaan penyimpangan APBD Bojonegoro melibatkan mantan Bupati Bojonegoro H M. Santoso. 4. Kasus penyimpangan dana perjalanan dinas DPRD Bojonegoro Dugaan korupsi kas daerah Jember, melibatkan mantan Kepala Bagian Keuangan Pemerintah Jember, Herwan Agus Darmanto. 1. Kasus korupsi uang PDAM, melibatkan mantan direktur utama, Mujiono 2. Korupsi proyek puskesmas Korupsi Dana Kas Kabupaten Pasuruan 1. Korupsi pengadaan galangan kapal fiktif melibatkan bekas Sekretaris Kabupaten Banyuwangi Masduki Su'ud dan bekas Kepala Bagian Keuangan Suratman. 2. Kasus pengadaan lahan Bandar Udara Banyuwangi yang merugikan negara, melibatkan Bupati Banyuwangi Ratna Ani Lestari. 3. Dugaan korupsi pengadaan dua unit kapal LCT Putri Sritanjung, melibatkan Wakil Ketua DPRD Banyuwangi Eko Sukartono dan mantan Wakil Ketua DPRD periode 1999-2004 Yadi Yatok Pramono serta mantan Bupati Banyuwangi Samsul Hadi dan mantan Sekkab Masduki Suud. Korupsi penyimpangan dana APBD 20022004, melibatkan Wali Kota Madiun Kokok Raya dan wakilnya, Gandhy Yoenita. Korupsi Dana Anggaran Rumah Tangga Dewan, melibatkan bekas Ketua DPRD Kabupaten Kediri Zaenal Mustafa Kasus dugaan korupsi Dana Otonomi Daerah melibatkan mantan Bupati Soetrisno Rachmadi Dugaan korupsi pembangunan gedung DPRD dan Gelanggang Olahraga Ki Mageti, Magetan, melibatkan mantan Bupati Magetan Saleh Muljono. Dugaan korupsi Dana Bantuan APBN 2007 untuk Perpustakaan Bung Karno 1. Kasus dugaan korupsi APBD Kota Malang 2005 di DPRD Kota Malang. 2. Dugaan korupsi penerimaan jasa pelayanan one day care (ODC) di SMF Mata selama 2005-23 Mei 2008, melibatkan dr. Safarudin Refa, SpM kepala Staf Medik

Rp 1,2 miliar.

Rp 5 miliar

Rp 7 miliar Rp 1,1 miliar.

Rp 2, 235 miliar

5 6

Pasuruan Banyuwangi

Rp 3 miliar. Rp 33,027 miliar Rp 25,5 miliar.

Rp 41 miliar.

Rp 15 miliar

7

Madiun

Rp 9,6 miliar.

8

Kediri

Rp 10,7 miliar.

9 10

Nganjuk Magetan

Rp 1,030 miliar.

11 12

Blitar Malang

Rp 512 juta Rp 8 miliar. Rp 60.400.000

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

66

Fungsional (SMF) Ilmu Penyakit Mata RS Saiful Anwar Malang 1. Kasus dugaan korupsi APBD tahun 2007, 13 Probolinggo melibatkan 4 pejabat di Pemkab Probolinggo 2. Korupsi Dana Korban Bencana alam puting beliung di Desa Sapeh, Kecamatan Lumbang, Kab. Probolinggo Tindak korupsi pada Kas Daerah Pemkab 14 Situbondo Situbondo melibatkan Bupati Situbondo. Kasus dugan korupsi anggaran panti werdha 15 Mojokerto melibatkan mantan Kepala Kantor Kesejahteraan Sosial (Kakankessos) Kabupaten Mojokerto, Suyatno Sumber: diolah (dari berbagai media cetak online)

Rp 285 juta

Rp 271 juta

Rp 45.750 miliar Rp 275 juta.

II.

Kondisi Awal RPJMN Di Daerah A. Gambaran Umum Pemberantasan Korupsi di Jatim Khusus untuk tindak pidana korupsi, terakhir pada tahun 2005 berdasarkan data

Jaringan Aksi Anti Korupsi Jatim menemukan 46 kasus korupsi sebesar Rp 6,2 Trilyun di 18 Kabupaten dan Kota di Jatim. Kondisi ini melibatkan Kepala Desa, Bupati hingga Ketua DPRD yang ada di Jatim dan belum terselesaikan. (Lutfi J. Kurniawan, Ketua Malang Corruption Watch (MCW) dalam detik.com, Kamis 07/04/2005). Hal ini dipertegas dengan informasi yang didapatkan dalam detik.com bahwa selama tahun 2008 kasus korupsi yang paling menonjol di Jatim adalah penggunaan kas daerah (Zainal Effendi – detikSurabaya) Dari data yang diperoleh, sepanjang 2007 Kejati Jatim beserta jajaran di bawahnya menangani 82 kasus korupsi. Dari 82 kasus, 19 diantaranya sudah masuk tahap penyidikan dan dari 19 kasus yang tengah disidik itu, 17 di antaranya sudah masuk tahap penuntutan. Dikatakan juga, Rp 84,2 miliar uang negara berhasil diselamatkan di Jawa Timur sepanjang tahun 2007 dalam 17 kasus korupsi yang ditangani Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (jatimprov.go.id, 21 April 2008). Namun sepanjang tahun 2008, korupsi masih terjadi bahkan meluas. Dengan demikian permasalahan yang dapat disimpulkan dalam pemberantasan korupsi adalah sebagai berikut:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

67

Permasalahannya 1. 2. Adanya korupsi yang terstruktur dan meluas di birokrasi Penegakan hukum yang diskriminatif (aktor intelektual belum disentuh, hanya aktor operasional saja) 3. Komitmen aparat penegak hukum belum maksimal

B. Gambaran Umum Pelanggaran HAM di Jatim Pelanggaran HAM yang terjadi Sidoarjo sejak 2006-2008, disinyalir tidak hanya pelanggaran terhadap hak rakyat Sidoarjo untuk mendapatkan keadilan atas hak tanah, melainkan tidak terpenuhinya hak-hak yang lain Karena sampai saat ini penuntasan masalah ganti atau jual beli tanah dan bangunan belum tuntas (Jawa Pos, 17 Mei 2008). Komnas HAM menemukan indikasi kuat di lapangan adanya pelanggaran HAM lumpur Lapindo terutama di pengungsian Pasar Baru Porong, di antaranya hak atas perumahan, kesehatan, pendidikan, kehidupan yang layak dan masa depan yang tidak jelas, terutama terkait hak atas lingkungan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23/1997 dan Undang-Undang Nomor 11/2007 tentang hak ekonomi, sosial dan budaya. Pemkot Sidoarjo menyerahkan penyelesaiannya pada pemerintah pusat, seakan terkesan lepas tangan bahwa kejadian tersebut merupakan tanggung jawab Pemerintah Pusat. Sedangkan Pemerintah Pusat terkesan setengah hati menyelesaikannya karena terhambat dengan status lumpur lapindo sebagai bencana alam atau kesalahan pihak pengelola. Dengan demikian belum ada sinergi dan komitmen yang kuat untuk menyelesaikan permasalahan Ham yang menyangkut rakyat kecil (tidak ada pressure yg kuat) berbeda dengan pelanggaran Ham yang dilakukan oleh TNI/Polri. Pihak internasional ikut “nimbrung” memberikan tekanan pada Pemerintah Indonesia. Komnas HAM Kesulitan dalam mengidentifikasi aktor yang harus bertanggung jawab terhadap pelanggaran HAM ini, karena sampai sekarang status bencana lumpur belum jelas, apakah masuk kategori bencana alam atau bencana industri. Hal ini diperparah dengan pendapat para ahli yang berbeda dalam melihat kasus lumpur Lapindo dan tidak ada otoritas tunggal yang bisa menjelaskan apakah lumpur Lapindo merupakan fenomena alam atau kesalahan industri. Sebagian hak korban luapan lumpur di Porong, Sidoarjo, sudah terlanggar. Di antaranya hak hidup, hak pendidikan, hak untuk mendapatkan rasa aman, hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak, hak untuk mendapat pekerjaan, serta hak mendapatkan perlindungan. Panpel RAN HAM diminta memperhatikann hal tersebut oleh Direktur Bina HAM, Dirjen Perlindungan HAM, Departemen Hukum dan HAM RI,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

68

Mulatingsih SH MH. Pelajar sekolah juga menjadi salah satu korban, dimana mereka tidak bisa belajar dengan tenang bahkan tidak bisa mengikuti Ujian Nasional karena sakit karena kesehatannya terabaikan. Meski korban luapan lumpur saat ini sudah mendapatkan perhatian dari pemerintah, namun masih ada beberapa hal yang belum terselesaikan di antaranya proses dan kepastian ganti rugi. Padahal mereka termasuk salah satu kelompok yang harus didahulukan dalam penanganan pelanggaran HAM. Dampak luapan lumpur teryata juga berimbas pada aspek keterpurukan perekonomian serta kemiskinan juga menjadi masalah baru yang perlu dicermati oleh pemerintah. Pasalnya, korban sudah tidak mempunyai pekerjaan lagi dan hanya mengandalkan bantuan biaya hidup dari PT Lapindo Brantas Inc Rp 300 ribu/bulan/jiwa. Hanya saja, RAN HAM tidak mempunyai data berapa jumlah pelanggaran HAM di tempat pengungsian Porong, karena hal itu merupakan kewenangan Komnas HAM. Pelanggaran HAM lainnya yang menarik perhatian nasional adalah penembakan terhadap warga sipil di Desa Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan oleh Korps Marinir (TNI) pada tanggal 30 Mei 2007 yang menewaskan 4 orang warga dan luka-luka. Berdasarkan berbagai kasus yang terjadi di Indonesia, pelanggaran HAM yang masuk pada Pengadilan HAM hanya sebatas pada tanggung jawab pribadi atau oknum. Padahal TNI mengenal sebuah garis komando dimana seorang prajurit tidak akan bertindak tanpa komando atau perintah atasannya. Aksi penembakan yang dilakukan oleh Marinir, menunjukkan bahwa doktrin militer belum berubah (l'es prit de corps). Aparat TNI masih merasa sebagai warga negara kelas satu yang memiliki keistimewaan (priveledge) dan kebal hukum. Kekerasan terhadap masyarakat sipil masih dilihat sebagai jalan penyelesaian masalah. Apalagi hanya sedikit kasus serupa yang dikoreksi melalui mekanisme dan prosedur hukum yang fair. Meskipun telah diturunkan Tim Komnas HAM untuk bertemu dengan tim laboratorium forensik Polda Jawa Timur untuk mengetahui hasil uji forensik, memperdalam pola dan model kejadiannya bertemu Auditur Militer untuk menanyakan rencana peradilan militer terhadap 13 Marinir yang menjadi tersangka dalam tragedi tersebut. Kenyataannya sampai saat ini permasalahan belum tuntas. Penggusuran Pedagang Kaki Lima yang sering dilakukan oleh Pemkot/Pemkab di Propinsi Jawa Timur menurut pengamat HAM termasuk pelanggaran Ham.

HERLAMBANG PERDANA, pengamat HAM Universitas Airlangga dalam Refleksi HAM 2007 di Jawa Timur yang diadakan Dewan Kota Surabaya, mengatakan bahwa penggusuran berbagai lokasi seperti tempat-tempat kumuh, pemukiman stren kali dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

69

penggusuran PKL harus diikuti pemberian solusi bagi para korban penggusuran. Pemerintah kota, harus menyediakan alternatif bagi korban seperti di mana mereka bisa tetap berjualan dan tetap tinggal dengan aman. Sehingga sebagai warga negara mereka tidak merasa ditinggalkan dan menjadi masyarakat yang marjinal dalam rencana pembangunan kota. Apabila tanpa solusi maka berbagai penggusuran tersebut sudah melanggar HAM (www.suarasurabaya.net). Permasalahan yang terkait dengan isu dan arah kebijakan tentang penghormatan, pemenuhan, dan penegakan atas hukum dan pengakuan hak asasi manusia (HAM) di Jawa Timur terkendala dengan beberapa faktor berikut ini: 1. Pelanggaran HAM - Adanya penegakan hukum yang diskriminatif (misal kasus alas tlogo, lekok, Pasuruan). Hal ini berkaitan dengan penegakan hukum yang dilakukan TNI AL yang tidak terbuka karena mereka memiliki keistimewaan. Dimana setiap tidak pelanggaran disidangkan melalui mahkamah militer. Sehingga masyarakat tidak mengetahui secara jelas adanya penegakan hukum dalam instansi militer. Di sisi lain seringkali penegakan hukum bersifat individual atau oknum pelaku, padahal dalam tubuh TNI/PoLri memiliki kesatuan garis komando sehingga setiap anggota tidak akan bertidak apabila tidak ada komando dari atasannya. Sehingga tidak ada tanggung jawab organisasi dalam pelanggaran HAM. Hal ini menunjukkan adanya keistimewaan terhadap instanti militer.padahal hukum ditegakkan tanpa

memandang bulu. - Antara lembaga publik (pemerintah pusat, pemerintah propinsi jatim dan pemkot Sidoarjo) tidak ada koordinasi dan memiliki konsistensi terhadap komitmen untuk menyelesaiakan masalah, terutama yang berkaitan dengan masyarakat kecil (masyarakat terkena dampak lumpur lapindo). Pemerintah cenderung bimbang. - Keterlibatan pihak diluar dalam berpartisipasi terhadap pemberantasan

pelanggaran HAM masih terbatas. - Pendekatan Persuasif dalam penyelesaian HAM dengan menggunakan nilai-nilai budaya setempat diabaikan, cenderung dengan kekerasan dan strike point (kasus alas tlogo). 2. Pemberantasan Korupsi - Adanya korupsi yang terstruktur dan meluas di birokrasi - Penegakan hukum yang diskriminatif (aktor intelektual belum disentuh, hanya aktor operasional saja) - Komitmen aparat penegak hukum belum maksimal

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

70

3.

Penghapusan eksploitasi seksual anak dan pekerja anak - Faktor kemiskinan yg dihadapi anak-anak pd keluarga yg termasuk kantongkantong kemiskinan di Jawa timur. - Nilai-nilai budaya yang mempersepsikan bahwa anak-anak harus membantu orang tua bekerja meskipun dibawah usia kerja (18tahun ke atas) - Pemerintah tidak memiliki data valid tentang pekerja anak dan eksploitasi seksual anak. - Pemahaman terhadap aturan pemerintah yang melindungi anak dan

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Untuk mendukung upaya Penghormatan, Pemenuhan, Dan Penegakan Atas Hukum Dan Pengakuan Atas Hak Asasi Manusia (HAM), sasaran yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun kedepan (2004-2009) adalah dengan memprioritaskan pelaksanaan berbagai rencana aksi antara lain: 1. 2. 3. 4. Rencana Aksi Hak Asasi Manusia Tahun 2004 – 2009; Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi; Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak; Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak; Dan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (Pnbai) 2015.

IV. Arah Kebijakan Upaya penghormatan dan pengakuan atas hukum dan hak asasi manusia diarahkan pada kebijakan untuk meningkatkan pemahaman dan menciptakan penegakan dan kepastian hukum yang konsisten terhadap hak asasi manusia, perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif dengan langkah-langkah: 1. Meningkatkan pemahaman terhadap hak asasi manusia; 2. Menegakkan hukum secara adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif; 3. Menggunakan nilai-nilai budaya daerah sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan terciptanya kesadaran hukum masyarakat; 4. Meningkatkan kerjasama yang harmonis antara kelompok atau golongan dalam masyarakat, agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masing-masing; 5. Memperkuat dan melakukan konsolidasi demokrasi.

V. Pencapaian RPJMN Di Daerah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

71

Terkait dengan Penghormatan, Pemenuhan, dan Penegakan Atas Hukum dan Pengakuan Atas Hak Asasi Manusia (HAM) di Jawa Timur maka beberapa pencapaian yang telah dihasilkan berdasarkan beberapa indikator yang sesuai dengan sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun kedepan (2004-2009) adalah sebagai berikut: 1. Rencana Aksi Nasional- HAM - Pembentukan RAN-HAM di setiap kota/kabupaten di JATIM. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi kinerja Evaluasi kinerja Panitia Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (Panpel RANHAM) Depkum HAM Prop Jatim selama 2007. Meskipun masih ada daerah yg belum terealisasi. Permasalahannya pada tidak adanya dana, terdapat 13 kabupaten/kota yang belum yaitu Surabaya, Kota Mojokerto, Sidoarjo, Pamekasan, Bangkalan, Bojonegoro, Kab Malang, Kab Madiun, Tulungagung, Ponorogo, Trenggalek, Ngawi dan Pacitan.

- Sekretaris Panitia Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (Panpel RANHAM) Depkum HAM Prop Jatim Dyah Marianah SH (kiri), pada Rakor Evaluasi Kinerja Panitia Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (Panpel Ranham) Prop Jatim, di kantor Kanwil Dephum dan Ham Jatim, Kamis (17/1/2008).Foto:mdj - Melakukan sosialisai RANHAM kepada setiap elemen masyarakat (LSM (LBH n LSM lainnya), instansi publik, perguruan tinggi dan masyarakat. Dibawah ini merupakan kegiatan yang dilakukan kejari jatim untuk mensosialisasikan tentang hukum dan ham di SMP Negeri 1 Surabaya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

72

Direktur Bina HAM Direktorat Jenderal Perlindungan HAM Departemen Hukum dan HAM yang juga Pembina Ran HAM Jatim, Mulatingsih SH MH pada rapat koordinasi Ran HAM Jatim di Hotel Elmi Surabaya, Kamis (21/9) mengatakan, walaupun Ran HAM Jatim sudah memiliki skala prioritas kerja, tetapi mereka masih pada tingkatan rangking 25 dari seluruh Papel Ran HAM se-Indonesia. Ini mungkin disebabkan sistem manajerial organisasi yang perlu ditata lebih baik dan penguasaan pemahaman tentang masalah HAM juga perlu ditingkatkan oleh pengurusnya. “Dengan penguasaan masalah HAM yang mumpuni diharapkan mereka mampu membaca isu kasus HAM di daerahnya sehingga secepatnya terselesaikan,” ujarnya. Menurut dia, Ran HAM disetiap daerah di Jatim telah memiliki arah kerja sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 40 tahun 2004 tentang Ran HAM Indonesia Tahun 2004-2009. Selain itu, juga telah memiliki perencanaan program pembangunan pada tahun-tahun mendatang. Tetapi yang sangat disayangkan adalah Ran HAM daerah belum memiliki program rencana pembangunan yang memperhatikan perlindungan HAM bagi masyarakatnya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

73

Dijelaskannya, tujuan pembentukan Ran HAM adalah menjamin peningkatan penghormatan, pemajuan, pemenuhan dan perlindungan HAM, sebagai bukti komitmen pemerintah Indonesia pada HAM kepada dunia internasional, pelaksanaan HAM yang tetap mengacu pada nilai-nilai, adat istiadat dan budaya bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan program prioritas Ran HAM daerah 2004-2009 meliputi pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan Ran HAM, persiapan harmonisasi Peraturan Daerah (Perda), diseminasi dan pendidikan HAM, penerapan norma standar HAM dan pemantauan, evaluasi dan pelaporan. Pengamat Hukum dan HAM dari Universitas Surabaya (Ubaya), Martono SH MHum mengatakan, Papel Ran HAM di Jatim ditugaskan untuk mengusulkan program prioritas HAM Jatim kepada gubernur sesuai nilai-nilai agama, adat istiadat dan budaya bangsa Indonesia, melakukan inventarisasi dan pengkajian peraturan perundangundangan baik pusat maupun daerah lain termasuk peraturan hukum adat istiadat setempat yang berhubungan dengan HAM, menindaklanjuti dan meningkatkan peran program legislasi nasional di tingkat pusat dan daerah dalam mempersiapkan produk hukum, serta melakukan sosialisasi pada aparat pemerintah dan penegak hukum dengan memberdayakan forum-forum kajian yang ada. Dari pengamatan di lapangan program kerja itu masih terkesan berjalan sendiri-sendiri belum ada kesamaan pemahaman tentang permasalahan HAM antar masing-masing daerah (dinas infokom Jatim 2008)

2.

Rencana Aksi Pemberantasan Korupsi Kejati Jatim telah menangani cukup banyak perkara korupsi. Bahkan melebihi

target. Hingga akhir Juni 2008 saja, sudah ada delapan perkara yang penyidikannya selesai. Kejari Surabaya pun mengklaim sudah menyidik tiga perkara korupsi. Begitu juga halnya dengan Kejari Tanjung Perak. Sudah empat perkara yang masuk dalam penyidikan. Kepala Seksi Humas dan Penerangan Hukum Kejati Jatim Mulyono menyatakan, selama ini penanganan perkara korupsi di Jatim dilakukan sungguhsungguh. Tidak hanya pemenuhan target semata. ''Setiap ada laporan (korupsi), kami tindak lanjuti. Bukan untuk memenuhi target,'' tegasnya. Dia juga menyatakan bahwa selama ini tidak ada perkara sejenis yang sengaja dipecah (di-split) oleh Kejati. Misalnya, kasus dana alokasi khusus (DAK). Kejati Jatim memang menangani lebih dari empat perkara tersebut. Tapi, perkara itu tidak masuk kategori sejenis. ''Locus (tempat) dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

74

tempus

(waktu)

delicti

(terjadinya

tindak

pidana)

tidak

sama,''

jelasnya.(www.kejarisurabaya.com). Selain penanganan, penyidikan dan penyidangan kasus tindak korupsi, hal lain yang perlu dilakukan adalah sbb: - Kerjasama dalam bentuk MOU antara kejaksaaan dan BPKP propinsi untuk mengaudit dugaan korupsi di daerah. - Konsultasi dan Kampanye Publik RAN-PK 2004-2009, yang diselenggarakan di Surabaya. - Melaksanakan RAN-PK - Penyusunan modul tentang pendidikan anti-korupsi akan dimasukan dalam kurikulum mulai jenjang SD hingga SMA. Ada 10 kota di Indonesia yang akan memakai modul tersebut, dan Surabaya terpilih sebagai kota percontohan pertama. 3. Rencana Aksi Penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak (didalamnya juga terdapat

traficcking/perdanganan anak) - Membentuk Perdagangan Gugus Orang, Tugas Penghapusan Seksual

Eksploitasi

Komersial Anak dan Bentuk-bentuk Terburuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak. - Melaksanakan Eksploitasi strategi RAN-Penghapusan Anak, dan

Seksual

Komersial

Rencana Aksi Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk bagi Anak tahun 20042008 dengan mengembangkan model-model ideal. - Melaksanakan kerjasama dengan instansi terkait dalam membentuk Sigap (Siap dan Tanggap) dalam hal penanganan trafiking. Personil Sigap terdiri dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jatim, Dinas Sosial (Dinsos), Bapenas Dinas Propinsi Komunikasi (Dinas Inlokom, Kanwil Hukum dan HAM Prop Jatim, Dinas Kesehatan (Dinkes), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim, PKK Jatim, dan Yayasan Genta

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

75

Anak jalanan di ujung kamal, dermaga di surabaya

Kegiatan

pembukaan

dalam

rangka

konggres anak Jawa Timur bertempat di Hotel Swallow Tulungagung. Hadir perwakilan Unicef dari Jakarta Cristy Mac Ivor yang mewakili Ketua Unicef Indonesia, serta Sinung D Kristanto ketua Unicef Surabaya. Kegiatan konggres yang diisi berbagai materi mulai dari Hak Anak, pencegahan HIV AIDS, Flu Burung, sampai situasi tanggap darurat

terhadap bencana ini diikuti oleh 227 peserta perwakilan dari 38 Kabupaten se-Wilayah Propinsi Jawa Timur. Di bawah ini merupakan pendampingan untuk anak jalanan dalam rangka pendidikan berjalan khusus untuk anak jalanan.

Kegiatan “pendidikan berjalan” untuk anak-anak jalanan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

76

Gambar ini menunjukkan kegiatan Polwan di daerah Pabean yang mengajak 30 anak jalanan (anjal) berwisata ke Kampoeng Ilmu di Jalan Semarang dalam rangka

pendampingan. membeli buku,

Selain

mengajak yang

anak-anak

kurang beruntung itu diajarkan agar tidak takut kepada polisi."Pada

awalnya sangat sulit mengajak mereka. Saat berkumpul di polsek saja, mereka takut diajak masuk," ujar Siti Alfiah, salah satu pendamping anjal dari LSM Anak Lintang (Alit) kepada detiksurabaya.com, di Kampoeng Ilmu, Kamis (28/8/2008).

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Rekomendasai tindaklanjut yang diberikan terkait dengan permasalahan berikut ini adalah sebagai berikut: 2. Permasalahan HAM - Melanjutkan tahapan RANHAM yang telah dibentuk, dan berkoordinasi dengan derah-daerah di propinsi Jawa Timur dengan cara sbb a. Membentuk RANHAM di setiap kabupaten/kota yang pada periode sebelumnya belum terbentuk. b. Menjalin kerjasama antara Pemerintah dengan TNI/POLRI untuk menyelesaikan permasalahan ham di alas tlogo melalui pendekatan persuasif dengan menggunakan nilai-nilai budaya di daerah. 3. Pemberantasan Korupsi - Menyelesaikan kasus-kasus dugaan korupsi yang ada. - Melanjutkan tahapan RAN-PK yang telah terbentuk, dan berkoordinasi dengan daerah-daerah lainnya di propinsi jawa timur, dengan menjalin kerjasama dengan institusi publik lainnya misalnya KPK, BPKP dalam pengusutan dugaan korupsi sehingga penumpukan pengusutan kasus korupsi terkurangi.

4.

Penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak (termasuk didalamnya perdaganagan anak)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

77

- Melanjutkan tahapan RAN penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak dan Ran Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak; Dan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (Pnbai) 2015, dengan kegiatan sbb: a. Menjalin koordinasi dan kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat yang berkecimpung didunia pemberantasan perdagangan anak, eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak. b. Mensosialisasikan bahayanya eksploitasi komersial anak, pekerja anak yang buruk dan perdagangan kepada masyarakat c. Memberikan advokasi-advokasi dan perlindungan dan pendampingan terhadap korban eksploitasi seksual komersial anak dan perdaganan anak.

VII. Penutup Demikian kondisi permasalahan dan pencapaian yang telah dihasilkan di bidang Penghormatan, Pemenuhan, Dan Penegakan Atas Hukum Dan Pengakuan Hak Asasi Manusia (HAM) di Jawa Timur selama kurun waktu satu tahun terakhir dalam kerangka RPJMN 2004-2009. Pencapaiannya cukup sesuai dengan apa yang diharapkan oleh RPJMN 2004-2009, hanya saja untuk kasus penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak masih belum nampak secara signifikan. Sedangkan untuk pemberantasan korupsi juga terjadi kemajuan dalam pengusutan dugaan korupsi, namun belum dibarengi dengan penegakan hukum yang tidak deskrimianatif.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

78

I. Pengantar Sebagai bagian dari character building, pembangunan sumber daya manusia idealnya memiliki kerangka proses yang melibatkan manusia sebagai subyek (human capital) dan obyek (human resources). Sementara itu, ruang lingkup pembangunan SDM ini mengikuti seluruh siklus hidup manusia, yaitu sejak dalam kandungan hingga akhir hidupnya. Lebih jauh, dimensi pembangunan SDM dapat digambarkan dalam tiga aspek, yaitu kuantitas, kualitas dan mobilitas penduduk. Dengan demikian, jika SDM dipilah berdasarkan jenis kelaminnya, pembangunan perempuan Indonesia khususnya dapat diartikan sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia, sebagai obyek pembangunan, serta upaya meningkatkan peran perempuan, sebagai subyek pembangunan, dalam pembangunan dan setiap sendi kehidupan negara. Sementara itu, anak-anak, sebagai human resource yang disiapkan sebagai generasi penerus bangsa, memiliki hak untuk mendapat curahan pembangunan guna peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan yang dapat digunakannya sebagai modal guna mempersiapkan dirinya sebagai warga negara yang berkualitas dan bertanggung jawab untuk pembangunan bangsa dan negaranya. Dengan demikian, negara memiliki kewajiban untuk menjamin ketersediaan proses peningkatan kesejahteraan dan perlindungan kepada setiap anak Indonesia.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah 1. Rendahnya Kualitas Hidup dan Peran Perempuan Pada dasarnya, sesuai Indeks Pembangunan Gender (IPG) 2006, kualitas hidup perempuan di Indonesia memiliki pola dan kecenderungan yang sama. Angka Harapan Hidup penduduk perempuan rata-rata memiliki usia hidup yang lebih tinggi 4-5 tahun lebih lama dibandingkan penduduk laki-laki. Demikian pula, kuantitas laki-laki di Indonesia

yang dapat membaca berjumlah lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan. Lakilaki umumnya lebih lama bersekolah dibandingkan perempuan, dan prosentase angkatan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

79

kerja berjenis kelamin laki-laki Indonesia lebih banyak dibandingkan angkatan kerja perempuan. Lebih jauh, tentang tingkat kelahiran di bawah usia 20 tahun di Jawa Timur relatif rendah dibandingkan rata-rata angka kelahiran per 1.000 wanita di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kesadaran atas kesehatan ibu dan janin relatif baik. Dapat

diasumsikan bahwa jumlah wanita yang mengandung dan melahirkan bayi pada usia dini sudah relatif berkurang. Hal ini didukung oleh data bahwa berdasarkan angka kelahiran menurut umur wanita diketahui bahwa jumlah wanita penduduk Jawa Timur yang melahirkan pada umur 15 – 19 tahun mencapai 37 orang per 1.000 wanita. Angka ini berada di bawah rata-rata wanita Indonesia yang melahirkan pada kategori umur yang sama, yaitu 44 orang per 1.000 penduduk wanita. Sementara dalam kategori umur yang lebih tinggi, jumlah wanita penduduk Jawa Timur yang melahirkan per 1.000 wanita juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan jumlah wanita pada kategori yang sama di provinsi lain. Sebagai contoh, untuk kategori usia 35-39 tahun dan 40-44 tahun, jumlah penduduk wanita Jawa Timur yang melahirkan adalah 36 dan 17 orang, jauh lebih rendah dari rata-rata penduduk Indonesia pada kategori umur yang sama yaitu 56 dan 26 tahun. Oleh karena itulah, angka perolehan TFR Jawa Timur hanya pada angka 1.71, yaitu nomor tiga setelah DI Yogyakarta dan DKI Jakarta yang masing-masing mencapai angka 1.44 dan 1.63. Sementara nilai TFR tertinggi adalah propinsi Nusa Tenggara Timur disusul oleh Maluku yaitu pada TFR 3.37 dan 3.39. Dibandingkan dengan kondisi kualitas hidup perempuan di provinsi lain di

Indonesia, peringkat Jawa Timur menduduki posisi 22 di Indonesia dengan IPG sebesar 60.5%. Dibandingkan dengan jumlah provinsi di Indonesia yang berjumlah 33 provinsi, maka peringkat ini termasuk dalam kondisi yang mengkhawatirkan karena berada jauh di bawah DKI Jakarta (posisi 1), Yogyakarta (posisi 2), dan Kalimantan Tengah (posisi 3). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kualitas harapan hidup, jumlah penduduk perempuan yang melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan jumlah angkatan kerja penduduk berjenis kelamin perempuan di Jawa Timur masih jauh dari kondisi yang menggembirakan. Kondisi demikian ini dapat dipahami karena jumlah penduduk Jawa Timur menempati urutan kedua terbesar di Indonesia berdasarkan SUPAS 2005. Berdasarkan Sensus Penduduk Antar Sensus tahun 2005, diketahui bahwa jumlah perempuan Jawa Timur mencapai 18.151.639 jiwa, melebihi jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki yang mencapai 17.906.468 orang. Dengan demikian Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio) Jawa Timur adalah 99.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

80

Angka Melek Huruf penduduk umur 15 tahun ke atas yang ditunjukkan oleh data Susenas 2003-2005 menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah penduduk perempuan yang dapat membaca sejak tahun 2003 yang mencapai angka 77.64, lalu menjadi 78.89 (2004), 80.51 (2005) dan 82.4 (2006). Akan tetapi peningkatan ini tidak menyebabkan Jawa Timur menjadi provinsi yang relatif tinggi dibanding provinsi lain di Indonesia dalam indikator ini. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pada tahun 2005, hanya 3 provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk perempuan yang mampu membaca di bawah capaian yang diperoleh Jawa Timur. Lebih dari 60% provinsi lainnya memiliki Angka Melek Huruf pada digit 90an. Sementara, jika dibandingkan dengan penduduk lakilaki Jawa Timur yang melek huruf, jumlah mereka jauh lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan. Sebagai perbandingan, jumlah mereka pada tahun 2003 mencapai 89.37, 90.5 (2003) dan 91.47 (2005). Indikator capaian pendidikan lainnya adalah ratarata lama sekolah penduduk berjenis kelamin perempuan di Jawa Timur pada tahun 2005 yang berada pada angka 6.8 tahun, dan 6.2 (2006). Meskipun sudah mengalami peningkatan sejak 1999 hingga 2004, tetapi angka ini masih relatif lebih rendah dibandingkan 24 provinsi lain di Indonesia, dan bahkan mengalami penurunan pada tahun 2006. Meskipun demikian, dalam kesetaraan kesempatan kerja di sektor pemerintahan telah terdapat peningkatan peran perempuan. Terbukti bahwa jumlah perempuan yang tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil di Jawa Timur tercatat sejumlah 161.352 orang atau 42.3%, meskipun masih berada di bawah jumlah laki-laki yang mencapai 57.7% dari total 381.205 orang PNS di Jawa Timur, akan tetapi jumlah tersebut seimbang dengan jumlah penduduk perempuan di Jawa Timur yang mencapai jumlah yang hampir sama dengan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki (BPS, 2006). Jumlah Pegawai Negeri Sipil menurut jenis kelamin dan golongan juga memperkuat preposisi yang sama, terbukti bahwa PNS perempuan yang menduduki golongan IV mencapai 51.735 orang, yaitu setara dengan 49.2% dari total penduduk yang berprofesi PNS dan hingga tahun 2006 telah menduduki golongan IV. Sementara dalam Badan Kepegawaian Negara Kantor Regional II Jawa Timur tercatat bahwa 41.37% penduduk perempuan Jawa Timur berprofesi sebagai PNS dengan pendidikan telah mencapai S1 hingga S3, yaitu mencapai 59.985 orang dari total PNS Jawa Timur yang berpendidikan sarjana Strata 1 hingga Strata 3 sejumlah 145.005 orang. Prioritas dan arah kebijakan pembangunan pemberdayaan perempuan yang pertama ditujukan untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik. Akan tetapi, realisasi implementasi kebijakan tersebut masih mengalami

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

81

beberapa hambatan. Pertama, hambatan politik yakni sistem politik yang maskulin, sistem partai politik tidak demokratis, sistem pemilihan proporsional ‘setengah-hati’ artinya memberi kekuasaan besar kepada partai politik. Kedua, hambatan ekonomi yakni peran ganda perempuan, beban kerja berat. Ketiga, hambatan sosial budaya yakni nilai budaya/tradisi, interpretasi ajaran agama yang salah, perempuan kurang pada anggapan politik kotor. Sedikitnya perempuan dalam struktur kekuasaan dan proses pengambilan keputusan karena perempuan tidak terlibat dalam menentukan prioritas kepentingan, pengalokasian anggaran dan perumusan kebijakan publik. “Seharusnya keterwakilan perempuan bukan sekadar jumlah, penelitian membuktikan seimbangnya jumlah perempuan dan laki-laki dalam kekuasaan, membawa perubahan dalam wacana politik dan mempengaruhi kebijakan publik Indeks Kemiskinan Manusia (Human Poverty Index) 2004 Jawa Timur – yang berhasil dicatat oleh BPS-Bapenas-UNDP – mencapai angka 21.7. Dibandingkan dengan DKI Jakarta (13.2) sebagai tingkat Human Poverty Index paling rendah, menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan guna pengurangan kemiskinan di Jawa Timur masih harus dan perlu dilakukan secara lebih optimal.

2. Tingginya Tindak Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan masih sering menjadi korban kekerasan seperti eksploitasi seksual, korban trafficking, dan juga terampas hak-hak lainnya seperti hak mendapatkan akte lahir, hak mendapatkan pelayanan kesehatan, anak-anak yang berkonflik dengan hukum. Jumlah korban eksploitasi perempuan pada tahun 2006 sebanyak 18.360 orang, terdiri dari 14.279 PSK (Pekerja Seks Komersial) dan 4.081 AYLA (Anak yang dilacurkan). Disebutkan pula bahwa lebih dari separuh jumlah tersebut berada di Surabaya, yaitu Ayla sebanyak 2.329 anak dan PSK 8.440 orang. Pada tahun 2005, jumlah kekerasan terhadap anak dan perempuan di Jatim sebayak 1.011 kasus. Menurut Jaringan LSM Penghapusan Pekerjaan Anak (Jarak) Malang, faktor penyebab besarnya angka kekerasan tersebut dikarenakan faktor rendahnya partisipasi perempuan dalam pembangunan, dan adanya berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Selain itu faktor lain adalah adanya kesenjangan partisipasi politik kaum perempuan, rendahnya kualitas kehidupan perempuan dan anak, rendahnya angka Indeks Pembangunan Gender (Gender Related Development Index, GDI), dan angka Indeks Pemberdayaan Gender (Gender Empowerment Measurement, GEM) serta masih adanya hukum dan peraturan perundang-undangan yang bias gender.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

82

Gubernur Jawa Timur telah menerbitkan SK tentang Pokja Penanganan Korban Kekerasan yang terdiri dari Polisi, institusi terkait seperti Dinas Kesehatan dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan LSM. Namun diakui, Pokja ini masih lemah dalam hal pembiayaan yang menjadi kendala dalam pelaksanaan tugasnya. SK Pokja ini dirasa perlu karena UU No. 23/2004 tentang Penghapusan KDRT tidak mengatur secara detail tentang pembiayaan, fasilitas dan mekanisme institusi untuk perlindungan korban kekerasan yang sebagian besar adalah perempuan & anak. Di Jawa Timur, tercatat 417 kasus per hari pada tahun 2005. Menteri Pemberdayaan Perempuan menyatakan

apresiasinya pada Jawa Timur karena selalu menjadi pelopor dalam aksi perlindungan perempuan dan anak. Kepeloporannya dapat dilihat dari pembentukan Komite Aksi

Daerah Anti Trafficking, Komite Aksi Daerah Perlindungan Pekerjaan Terburuk Anak, dan Komite Aksi Daerah Pemberantasan Ditambahkan ESKA. pula, di

(http://www.menegpp.go.id/menegpp.php?cat=fix&id=visi).

masa datang, Jawa Timur juga akan mempertimbangkan penyusunan Rancangan PP tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban yang mencakup deskripsi standarisasi perlindungan korban kekerasan, pengaturan tugas manajerial dalam pelayanan publik pada korban kekerasan.

3. Rendahnya Kesejahteraan dan Perlindungan Anak Tingkat kesehatan ibu & anak dapat dikatakan relatif masih rendah. Hal ini dapat diketahui dari Angka Kematian Bayi (AKB) Jawa Timur yang – berdasarkan Survey Penduduk tahun 2000 – mencapai angka 47.69. Capaian angka ini relatif masih rendah dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, seperti DI Yogya dan DKI Jakarta yang Angka Kematian Bayinya mencapai 24.79, capaian tertinggi di Indonesia. Sebenarnya telah terdapat indikasi hasil dari pembangunan dan penyediaan kesempatan mendapat pelayanan di bidang kesehatan bagi perempuan yaitu berupa Angka Harapan Hidup (Eo) atau Life Expectancy at Birth Jawa Timur yang berada pada angka 67.08 lebih tinggi dibandingkan angka harapan hidup laki-laki Jawa Timur yang mencapai 63.23. Meskipun demikian, terdapat setidaknya terdapat 8 provinsi lain yang penduduk perempuannya memiliki umur atau harapan hidup yang lebih panjang. Sementara itu, angka kematian ibu melahirkan di Jawa Timur sebenarnya sudah menggambarkan hasil dari program peningkatan kesehatan ibu dan anak yang menggembirakan, yaitu berada di bawah standar nasional yaitu 100 per 100.000 kelahiran hidup. Akan tetapi, tentunya angka kematian ibu melahirkan ini dapat ditekan lebih kecil melalui program posyandu. Masalahnya, total posyandu di Jawa Timur yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

83

mencapai 8.900 buah berada dalam kondisi yang memprihatinkan karena kurangnya sarana dan prasarana penunjang layanan masyarakat termasuk soal ketersediaan alat kesehatan. Sebagai contoh, di kota Malang, terdapat 629 posyandu dengan jumlah kader sebanyak 5.500 orang. Jumlah sasaran bayi lahir hidup di Kota Malang tahun 2006 sebanyak 14.792 jiwa. Sementara itu, persoalan yang terkait dengan bayi atau balita antara lain kematian bayi, gizi buruk, dan gizi kurang. Hingga September 2006 terdapat data kematian bayi saat lahir sebanyak 33 jiwa, kematian balita usia 0-7 hari sebanyak 46 jiwa, kematian balita umur 8-28 hari sebanyak 10 jiwa, kematian balita berumur 1 bulan hingga 1 tahun sebanyak 14 jiwa, dan kematian balita usia 1-4 tahun sebanyak 3 jiwa. Terkait dengan gizi buruk, diketahui bahwa pada akhir 2005 terdapat 6.000 anak mengidap gizi buruk dan gizi kurang. Berdasar survey Sri Adiningsih (Ketua Lembaga Perlindungan Anak) Jawa Timur dengan Badan Ketahanan Pangan Jatim, ditemukan bahwa telah terjadi loss generation di Jatim. Usia sekolah yang dulu tidak ada, ternyata tinggi sekali, termasuk. Ini terjadi karena mereka lahir saat krismon. Mereka ini prevalensi gizi buruknya mencapai 20 persen. Sementara balita, gizi buruknya 8,7 persen. Ini laporan dari Dinas Kesehatan Jatim. Penelitian yang dilakukan pada 2003 itu pun, belum menyentuh soal gizi sekeluarga. Ditemukan, ternyata lebih banyak perempuan daripada laki-laki gizi buruknya. Faktor gender memegang peran juga dalam masalah gizi buruk. Selama 2005, jumlah penderita gizi buruk mencapai 6 ribu orang, atau rata-rata 1.800 hingga 1.900 orang per bulan. Berdasarkan catatan Komite Penangangan Kemiskinan Pemprov Jatim diperkirakan jumlah penderita gizi buruk di Jatim mencapai 50.072 balita, hingga akhir 2005 nanti. Angka itu sebetulnya belum menunjukkan jumlah balita yang mengalami gizi buruk se-Jatim. Banyak sekali kasus-kasus yang tidak tertangani, khususnya di daerah-daerah terpencil. Sementara keberadaan 9.000 posyandu di Jawa Timur tidak berfungsi aktif sebagaimana mestinya.

(http://dongengdalam.blogspot.com/feeds/posts/default)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

84

4. Kesenjangan Pencapaian Hasil Pembangunan antara Perempuan dan Lakilaki Angka Human Development Index (HDI) Jawa Timur mencapai angka 68.4 pada tahun 2005 dan 60.5 pada tahun 2006. Angka ini sebenarnya dapat dikatakan menunjukkan capaian kesejahteraan sumber daya manusia yang masih rendah dibandingkan capaian yang diperoleh provinsi lain di Indonesia. Sebagai contoh, pada tahun 2005 provinsi dengan HDI tertinggi adalah DKI Jakarta (76.1), disusul Sulawesi Utara (74.2), dan provinsi dengan HDI terendah adalah Papua (62.4) dan Nusa Tenggara Barat (62.4). Penurunan pada tahun 2006 dibanding 2005 menunjukkan kecenderungan yang kurang baik, dan menjadikan posisi Jawa Timur ada pada peringkat 22 di Indonesia. Di sisi lain, capaian Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index atau GDI) Jawa Timur (berdasarkan BPS-Bapenas-UNDP, Indonesia Human Development Index, 2004) adalah 53.2 pada tahun 1999 dan 56.3 pada tahun 2002. Angka GDI yang lebih rendah dibandingkan HDI menunjukkan bahwa pembangunan berbasis gender belum dapat mengimbangi capaian pembangunan sumber daya manusia secara keseluruhan (HDI). Dengan kata lain, khususnya di Jawa Timur, masih terdapat kesenjangan gender terutama di bidang kesehatan, pendidikan dan ketenagakerjaan. Berdasarkan Gender Empowerment Measure 2004, Indeks Pemberdayaan Gender Jawa Timur mencapai angka 54.9. Angka ini sebenarnya melebihi angka yang sama untuk level Indonesia, yaitu 54.6. Akan tetapi dibandingkan dengan provinsi DI Yogyakarta (56.1) dan Kalimantan Selatan (57.5), bahkan Sulawesi Tengah (59.1) serta provinsi lain yang melebihi capaian Jawa Timur, menunjukkan bahwa partisipasi dan kesempatan perempuan dalam pembangunan relatif masih rendah. Partisipasi ini dapat diartikan dalam bidang politik, ekonomi dan pengambilan keputusan. Jumlah mencapai 49,7 perempuan persen Indonesia jumlah

dari

penduduk yang ada. Meskipun demikian, akses mereka terhadap hak-hak dasar seperti pendidikan dan kesehatan masih sangat rendah. Dalam bidang pendidikan, jumlah perempuan 14,5 yang buta lebih huruf besar

mencapai

persen,

dibandingkan pada laki-laki yang hanya 6,5 persen. Sedangkan dari sisi kesehatan, tingkat kematian perempuan saat melahirkan masih tinggi yang mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup. Kondisi tersebut terjadi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

85

karena rendahnya status gizi perempuan. Dalam bidang ekonomi, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki telah mencapai 86,5 persen. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah perempuan bekerja yang hanya mencapai 50,2 persen. Keterlibatan perempuan dalam politik dan pengambilan keputusan sangat rendah. Jumlah perempuan dalam Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah masing-masing hanya mencapai 11 persen dan 19,8 persen. Angka partisipasi sekolah penduduk usia sekolah berjenis kelamin perempuan di Jawa Timur relatif sudah seimbang dibandingkan dengan jumlah laki-laki yang sekolah. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk laki-laki usia sekolah memang relatif sedikit lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Oleh karenanya wajar jika jumlah laki-laki yang masih sekolah relatif lebih banyak dibandingkan perempuan. Sebagai contoh, anak laki-laki berusia 16 tahun adalah 299.786 orang, dan 173.183 orang

diantaranya masih bersekolah. Sementara itu, untuk kategori yang sama, jumlah penduduk perempuan adalah 262.012 orang dan yang masih bersekolah berjumlah 149.427. Jadi persentase laki-laki sejumlah 57.7 sementara untuk perempuan adalah 57.03.

5. Banyaknya Hukum dan Peraturan Perundang-undangan yang Bias Gender, Diskriminatif terhadap Perempuan, dan Belum Peduli Anak Salah satu faktor penghambat pemberdayaan perempuan adalah adanya bias gender. Wujud bias gender dimasyarakat dalam penggunaan bahasa Indonesia terungkap dalam beberapa hal berikut: pemakaian nama penanda status

keluarga/perkawinan (untuk melanggengkan eksistensi keluarga/adat mencantumkan nama ayah dan bukan nama ibu dibelakang nama anak), penyebutan terhadap keberadaan dan tindakan (sebutan maskulin untuk raja hutan, sebutan yang feminin dewi malam. Demikian juga berkaitan dengan sebutan pelecehan martabat: WTS hanya untuk wanita saja sedangkan untuk pria dengan profesi yang sama belum ada sebutannya) Selanjutnya menerut Ansari, juga terjadi degradasi konsep martabat (seorang ibu pekerja/wanita karier yang mempunyai penghasilan lebih tinggi dari suami tetapi mengakui hanya membantu suami). Bias gender juga terjadi karena pembatasan berkebebasan, keniscayaan struktur akibat konvensi kebudayaan masyarakat, dan tiadanya kebebasan inisiatif ekspresi dalam komunikasi. Dunia pendidikan yang seharusnya steril dari bias gender dan dapat melakukan perubahan karena berfungsi sebagai agen perubahan, ternyata justru menjadi lahan subur tempat kelestarian gender. Masyarakat membangun stereotipe apa yang pantas

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

86

untuk lelaki dan apa yang boleh dilakukan oleh perempuan. Oleh karena itu, yang paling sering kita baca dalam buku adalah contoh-contoh kalimat ayah memperbaiki mesin mobil dan ibu menjahit baju. Persoalan bias gender yang terjadi dalam bahasa dan pendidikan, bukan merupakan persoalan sederhana. Hal ini karena berhubungan dengan aspek budaya dan pandangan hidup dalam masyarakat Indonesia, yang akhirnya menerpa dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai perubahan yang diharapkan dapat terjadi, selalu berorientasi pada perubahan masyarakat itu sendiri. Dimana perubahan tersebut mempunyai dimensi perubahan waktu yang tidak cepat. Kedepan diharapkan semakin meminimalkan penyimpangan itu, sehingga diharapkan akan dapat mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Latar belakang budaya patriarki dan ideologi gender yang bias gender, juga berpengaruh terhadap produk perundang-undangan. Misalnya pasal 31 ayat 3 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan menyatakan bahwa: “suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga”. Hal ini menimbulkan pandangan dalam masyarakat seolah-olah kekuasaan laki-laki sebagai suami sangat besar shingga dapat memaksakan semua kehendaknya termasuk melakukan kekerasan. Oleh karenanya, wajar dalam KDRT khususnya terhadap perempuan jarang dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Setidaknya ada lima isu gender yang dialami perempuan akibat ketidakadilan gender yaitu kekerasan, beban ganda, marginalisasi, subordinasi dan steriotipe. Berangkat dari lima isu gender ini, bisa dilihat manifestasi dari ketidakadilan gender dalam masyarakat. Pertama, Kekerasan terhadap perempuan. Pekerjaan rumah tangga menjadi kewajiban perempuan. Istri dipaksa berhubungan seks dengan suaminya. Pelecehan seksual terhadap perempuan. Pembuatan undang-undang yang diskriminatif terhadap perempuan. Perempuan menjadi objek media massa-sebagai komoditi. Kedua, Beban ganda perempuan -contoh fakta dalam masyarakat. Laki-laki melakukan pekerjaan domestik akan dicela dan merasa hina karena dianggap tugas perempuan. Penghargaan yang berbeda antara pekerjaan laki-laki dan perempuan, publik dan domestik. Ketiga, Marginalisasi perempuan -contoh fakta dalam masyarakat. Keterbatasan lapangan kerja buatan perempuan. Gaji dan upah yang tidak sesuai dengan karya perempuan atau perbedaan upah untuk jenis pekerjaan yang sama. Akses perempuan terhadap kredit dan pemilikan yang terbatas karena harus selalu terkait dengan laki-laki sebagai kepala keluarga.Keempat, Sub-ordinasi perempuan -contoh fakta dalam masyarakat. Banyaknya aturan yang mengekang kebebasan perempuan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

87

atas nama nilai tertentu. Karier perempuan terhambat karena diragukan kemampuan memimpinnya. menyalahkan Kasus-kasus perempuan. kekerasan terhadap perempuan perempuan yang yang cenderung peran

Pendidikan

dibatasi

karena

domestiknya (http://www.unipdu.ac.id/www.unipdu.ac.id). Ketiadaan aturan hukum serta kebijakan publik yang jelas akan semakin menyuburkan praktek KDRT. Oleh karenanya, pemerintah telah mengeluarkan UU No. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan KDRT. Akan tetapi, korban KDRT umumnya lebih banyak memilih perceraian dari pada melalui penyelesaian pidana karena korban tidak siap menghadapi hukum pidana yang lamban dan tidak menjamin kepastian hukum. Komisi Perlindungan Anak Jawa Timur menegaskan bahwa permasalahan dan tantangan itu perlu dicermati dan dicari solusinya. Yakni melalui upaya penyusunan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang responsif gender melalui pengarusutamaan gender. Dalam hal buruh migran perempuan, dikatakan bahwa potensi masyarakat Jawa Timur menjadi korban trafficking sangat besar. Daerah potensial pengirim trafiking di Jatim adalah Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Jember, Situbondo, Sampang, Bangkalan, Nganjuk. Menurut BPS tahun 2002 jumlah buruh migran 2 juta lebih, sedangkan yang ilegal antara 3 s.d 4 juta Aksi kekerasan dan kriminal ditunjukkan oleh jumlah narapidana anak-anak umur 21 tahun ke bawah di Jawa Timur pada tahun 2003-2006 menunjukkan bahwa pada tahun 2003 terdapat 1.286 orang narapidana anak-anak dengan berbagai jenis kejahatan. Jumlah ini meningkat pada tahun 2004 menjadi 1.321 orang, dan 1.548 orang pada tahun 2005. Akan tetapi, banyaknya narapidana anak-anak ini turun drastis menjadi 858 orang pada tahun 2006 (BPS Jawa Timur, 2007).

6. Lemahnya Kelembagaan dan Jaringan Pengarusutamaan Gender dan Anak, termasuk Ketersediaan Data dan Rendahnya Partisipasi Masyarakat Salah satu bentuk kurangnya perhatian dan partisipasi masyarakat dalam hal pengarusutamaan gender adalah masih kuatnya persepsi bahwa program Keluarga Berencana hanya merupakan tanggung jawab perempuan atau istri. Berdasarkan data BPS Jawa Timur 2007 diketahui bahwa pada tahun 2006 sejumlah 338.724 orang perempuan menggunakan kontrasepsi, sementara jumlah pria yang menggunakan kontrasepsi hanya berjumlah 27.629 orang. Sebenarnya telah terjadi peningkatan jumlah laki-laki pengguna kontrasepsi dibanding tahun 2004 (yaitu 19.110 orang pria) dan kemudian mengalami penurunan pada tahun 2005 (sejumlah 18.890 orang) dan

meningkat cukup tajam pada tahun 2007. Sayangnya, belum ada data pencapaian jumlah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

88

penggunaan alat kontrasepsi untuk tahun 2008 di Jawa Timur (BPS Jawa Timur, 2007). Namun dari data tersebut dapat digambarkan bahwa dalam hal Keluarga Berencana, perempuan masih dituntut untuk menjadi subyek sekaligus obyek program, karena partisipasi kaum laki-laki dalam sebagai peserta KB aktif masih relatif rendah. Faktor penting lainnya dalam partisipasi masyarakat adalah kesadaran untuk tidak menikahkan anak perempuannya di usia dini. Data Susenas 1992-2005 menunjukkan bahwa pada tahun 2005, rata-rata umur perkawinan untuk perempuan di kota di Indonesia adalah 24.6 tahun untuk perempuan perkotaan, dan 21.9 tahun untuk perempuan perdesaan. Selisih jarak umur ini relatif lebih jauh dibandingkan kaum laki-laki yang untuk kategori yang sama masing-masing merujuk pada umur 27.9 tahun dan 26.1 tahun. Capaian kesejahteraan perempuan di Jawa Timur dapat dilihat salah satunya dengan membandingkan data rata-rata umur perkawinan di Indonesia tersebut dengan rata-rata umur perkawinan perempuan Jawa Timur. Pada tahun 2000, perempuan Jawa Timur yang tinggal di perkotaan rata-rata menikah pada umur 23.6 tahun, sementara mereka yang tinggal di perdesaan rata-rata-rata menikah pada saat berumur 20.8 tahun. Jadi dapat disimpulkan bahwa kesempatan bagi perempuan di Jawa Timur untuk mengenyam pendidikan ataupun berkarya secara aktif dalam berbagai bidang pembangunan relatif sudah mengalami peningkatan, terutama ditinjau dari makin matangnya usia perkawinan, baik di perkotaan maupun di perdesaan. Di Jawa Timur, aktifitas pengarusutamaan gender (PUG) dibuktikan dengan terpilihnya Kota Batu sebagai Pilot Model Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan di wilayah Jawa Timur, di samping 3 kota lain di Indonesia untuk bidang yang sama. Seperti yang dikemukakan oleh Ella Yulaelawati, MA, Ph.D, Direktur Pendidikan Masyarakat Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Depdiknas

Jakarta, alasan pemilihan tersebut karena responsif gender masyarakat kota Batu di bidang pendidikan sangat tinggi, terutama partisipasi kaum peremuan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan pendidikan. Selain itu, Kota Batu dinilai dapat mewakili karakteristik kabupaten & kota di Indonesia, serta yang utama adalah sudah memiliki kegiatan PUG berkelanjutan yang didukung APBD.

(http://www.batukota.go.id/ina/template/RedRoseBlueMountain/images/LogoIco.gif)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

89

Meskipun demikian, dalam web yang sama diperoleh data bahwa di Kota Batu juga masih terjadi berbagai permasalahan yaitu ketidaksetaraan gender di pihak perempuan pada SD/MI, ketidaksetaraan gender di pihak laki-laki di SMP/MTs. APS, APK dan APM diatas 100% pada SD/MI, serta APS, APK dan APM di bawah 100% pada SMP/MTs. Oleh karena itu, diperkirakan tercapainya Indeks Paritas yang seimbang antara perempuan dan laki-laki pada 3 tahun mendatang, yaitu pada semua kategori yang berkisar 0,95% dan 1,05%. Sementara itu, di bidang politik, kepemimpinan perempuan di Jawa Timur masih belum diterima dengan baik karena terkait dengan keberadaan pemimpin perempuan masih belum diterima sepenuhnya sehubungan dengan prinsip dan keyakinan agama. Hal itu dapat diketahui dari data hasil Pemilu 1999, jumlah perempuan Jawa Timur yang menjadi anggota DPR RI hanya sebesar 8%, DPRD Provinsi Jatim hanya 5% dan untuk DPRD Kabupaten/Kota hanya 3% bahkan ada kab/kota yang 0%. Padahal dalam UU Nomor 12 Tahun 2003 (pasal 65 ayat 1) telah ada ketentuan yang meminta kepada parpol peserta pemilu 2004 untuk mencalonkan perempuan sekurang-kurangnya 30% dari jumlah calon yang diajukan. Hal ini terungkap dalam acara Forum Bersama Upaya Peningkatan Keterwakilan Perempuan di Lembaga Legislatif dengan tema “Membedah Visi Politik Caleg Perempuan” di Gedung Bapeprov Jatim, Jl Pahlawan Surabaya, Selasa (30/3/2008) yang dihadiri sekitar 100 orang yang berasal dari 21 orang caleg perempuan DPRD Provinsi Jatim Daerah Pemilihan (dapil) I Surabaya dan Sidoarjo, kalangan akademisi, organisasi non pemerintah (ornop) seperti Pusham Ubaya, Pusham Unair, PPSW Unair, SA-KPPD, KPPI Jatim, Dewan Kota Surabaya, LBH Surabaya, P3A Sidoarjo, Savy Amira, BKOW Jatim, Fatayat Jatim, IPPNU Jatim, Walhi Jatim, Arek Cakrawala Timur yang didukung oleh Bapemas Jatim, Bappeprov Jatim, Dinas Infokom Jatim, perempuan pemilih dan pemerhati masalah perempuan. (http://www.d-infokomjatim.go.id/index.php) Di Jawa Timur masih relatif banyak terdapat penduduk usia sekolah (15 tahun ke atas) yang bekerja. Khususnya untuk mereka yang berjenis kelamin perempuan, tercatat 6.768.505 orang bekerja, sementara jumlah mereka yang masuk dalam angkatan kerja berjumlah 7.569.595 orang. Angka ini merupakan capaian jumlah angkatan kerja tertinggi di Indonesia, meskipun jumlah penduduk Jawa Timur menempati posisi kedua terbesar di Indonesia.

III. Sasaran Yang Ingin di Capai 1. Terjaminnya keadilan gender dalam berbagai perundangan, program

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

90

pembangunan dan kebijakan publik; 2. Menurunnya kesenjangan pencapaian pembangunan antara perempuan dan lakilaki, yang diukur oleh angka GDI dan GEM; 3. Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak; serta 4. Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak.

IV. Arah Kebijakan Untuk meningkatkan kualitas hidup dan pelindungan perempuan, langkah kebijakan yang dilakukan adalah (1) meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui aksi afirmasi, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, hukum, ketenagakerjaan, sosial, politik, lingkungan hidup, dan ekonomi; (2) meningkatkan upaya pelindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, termasuk upaya pencegahan dan penanggulangannya; (3) mengembangkan dan menyempurnakan perangkat hukum dan kebijakan peningkatan kualitas hidup dan pelindungan perempuan di berbagai bidang pembangunan di tingkat nasional dan daerah; (4) melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) peningkatan kualitas hidup dan pelindungan perempuan di tingkat nasional dan daerah; (5) menyusun sistem pencatatan dan pelaporan, sistem penanganan dan penyelesaian kasus tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi terhadap perempuan; (6) membangun pusat pelayanan terpadu berbasis rumah sakit dan berbasis masyarakat di tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebagai sarana pelindungan perempuan korban kekerasan, termasuk perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga; dan (7) meningkatkan peran masyarakat dan media dalam penanggulangan pornografi dan pornoaksi. Untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelindungan anak, langkah kebijakan yang dilakukan adalah (1) mengembangkan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan dalam rangka pemenuhan hak-hak anak, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hukum, dan ketenagakerjaan di tingkat nasional dan daerah; (2) melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi peningkatan kesejahteraan dan pelindungan anak; (3) melaksanakan kebijakan dan peraturan perundang-undangan untuk menjamin dan melindungi hak-hak anak; (4) meningkatkan upaya pemenuhan hakhak anak, seperti penyediaan akta kelahiran dan penyediaan ruang publik yang aman untuk bermain; (5) mengembangkan mekanisme pelindungan bagi anak dalam kondisi khusus, seperti bencana alam dan sosial (termasuk konflik); (6) mengembangkan sistem prosedur penanganan hukum yang ramah anak, termasuk peningkatan upaya pelindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, konflik dengan hukum,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

91

eksploitasi, perdagangan (trafficking), dan perlakuan salah yang lain; (7) membentuk wadah-wadah guna mendengarkan dan menyuarakan pendapat dan harapan anak sebagai bentuk partisipasi anak dalam proses pembangunan; dan (8) melaksanakan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan peraturan perundang-undangan tentang anak di tingkat nasional dan daerah. Untuk memperkuat kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak, langkah kebijakan yang dilakukan adalah (1) mengembangkan materi dan pelaksanaan komunikasi, informasi, dan edukasi tentang kesetaraan dan keadilan gender, serta kesejahteraan dan pelindungan anak; (2) meningkatkan kapasitas dan jaringan kelembagaan pemberdayaan perempuan dan anak di tingkat provinsi dan

kabupaten/kota, termasuk Pusat Studi Wanita/Gender, dan lembaga-lembaga penelitian, pemerhati dan pemberdayaan anak; (3) menyusun berbagai kebijakan dalam rangka penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) dan pengarusutamaan anak (PUA) di tingkat nasional dan daerah; dan (4) menyusun mekanisme perencanaan, pemantauan, dan evaluasi PUG dan PUA di tingkat nasional dan daerah. Selanjutnya, untuk menyerasikan kebijakan peningkatan kualitas anak dan perempuan, langkah kebijakan yang dilakukan adalah (1) menganalisis dan merevisi peraturan perundang-undangan yang diskriminatif terhadap perempuan, bias gender, dan belum peduli anak; (2) menyusun kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan melindungi perempuan dan hak-hak anak; (3) melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kebijakan dan peraturan perundang-undangan tentang perempuan dan anak; serta (4) melakukan koordinasi perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan peraturan perundang-undangan, dan program pembangunan pemberdayaan perempuan dan kesejahteraan dan pelindungan anak, di tingkat nasional dan daerah.

V. Pencapaian RPJMN Di Daerah Hasil-hasil yang telah dicapai dapat diuraikan sebagai berikut. Di bidang pendidikan, hasil yang telah dicapai, antara lain, ialah (1) penyelenggaraan koordinasi dan kerja sama pendidikan bagi perempuan yang buta aksara melalui Surat Kesepakatan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tentang Pemberantasan Buta Aksara Perempuan (PBAP); (2) pelaksanaan pendidikan kesetaraan dan keadilan gender (KKG) dalam keluarga, bekerja sama dengan organisasi perempuan, organisasi keagamaan, dan perguruan tinggi di

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

92

Provinsi Jawa Timur; dan (3) pelaksanaan sosialisasi pedoman pendidikan bagi pekerja rumah tangga (PRT) perempuan yang putus sekolah di Provinsi Jawa Timur. Di bidang kesehatan, hasil-hasil yang telah dicapai, antara lain, ialah (1) revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) di tingkat kecamatan melalui pemberian bantuan dana stimulan untuk pembentukan model kecamatan GSI tingkat kabupaten; (2) pelaksanaan Peringatan Hari AIDS; dan (3) fasilitasi penanganan permasalahan gizi buruk (busung lapar), yang dialami oleh anak-anak Indonesia, serta (4) merevitalisasi 40 ribu pos pelayanan terpadu (posyandu) yang ditingkatkan menjadi posyandu terpadu yang didalamnya juga dipakai untuk penguatan ekonomi. Pentingnya GSI ini menjadi sarana guna menekan angka kematian ibu melahirkan dan angka kematian bayi. Di bidang ekonomi, hasil-hasil yang telah dicapai, antara lain, ialah (1) penyusunan kebijakan peningkatan produktivitas ekonomi perempuan (PPEP), sebagai hasil konsolidasi dengan tujuh belas instansi terkait, termasuk lembaga keuangan dan LSM; kebijakan PPEP disepakati menjadi landasan pelaksanaan koordinasi dan sinergi program dan kegiatan pembangunan dari instansi terkait, yang memiliki aktivitas pemberdayaan ekonomi perempuan dan penanggulangan kemiskinan; (2) pembentukan Forum PPEP, yang merupakan wadah kegiatan untuk berkoordinasi, bersinergi dan menghimpun berbagai masukan untuk mempercepat upaya penanggulangan kemiskinan melalui berbagai kegiatan ekonomi produktif bagi perempuan; (3) pengembangan Model Desa Prima (Perempuan Indonesia Maju Mandiri) dan penyusunan Pedoman Umum Model Desa Prima; Model Desa Prima merupakan penjabaran kebijakan PPEP dalam menyinergikan program-program sektor dalam satu wilayah; dan (4) revitalisasi program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS), melalui pengaktifan kembali kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan di tingkat lokal di berbagai bidang pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Di bidang hukum, hasil-hasil yang telah dicapai, antara lain, ialah (1) penetapan UU tentang Antipornografi dan Antipornoaksi; (2) penandatanganan Kesepakatan Bersama oleh empat menteri, yaitu Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Agama, Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga, serta Menteri Komunikasi dan Informasi, untuk mengimplementasikan Gerakan Nasional Bersih Pornografi dan Pornoaksi (GN-BPP) di tingkat nasional dan daerah; dan (3) penyusunan RUU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Di bidang sosial dan politik, hasil-hasil yang telah dicapai, antara lain, ialah (1) penanganan masalah perempuan dan anak di daerah bencana; (2) penyiapan program pendidikan politik perempuan; (3) penyusunan modul-modul kepemimpinan perempuan;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

93

(4) peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi, organisasi perempuan, dan institusi terkait dalam hal pendidikan politik bagi perempuan; (5) pelaksanaan Program Nasional bagi Anak Indonesia (PNBAI) 2015, antara lain berupa pembentukan Forum Indonesia yang Layak bagi Anak, pendistribusian Panduan PNBAI ke seluruh provinsi dan kabupaten/kota, dan penyusunan modul dan pelatihan bagi pelatih (TOT) PNBAI; serta (6) implementasi Rencana Aksi Nasional Penghapusan dan Anak Perdagangan (RAN-P3A),

Perempuan

antara lain berupa penetapan Gugus Tugas Rencana Aksi Nasional

Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (Gugus Tugas RAN-P3A) yang terdiri dari berbagai kementerian/lembaga terkait. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan, antara lain, ialah (a) penyusunan Pedoman Pemulangan Korban Perdagangan Orang; (b) penyusunan modul pelatihan bagi Pengelola Program di Debarkasi/ Pusat Transit dan Modul Pelatihan bagi Pengelola Program Embarkasi; dan (c) peluncuran produk kampanye dan iklan layanan masyarakat tentang penghapusan perdagangan perempuan dan anak. Hasil yang telah dicapai oleh program peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak antara lain, adalah (1) penyusunan Buku Panduan Pola Pengasuhan Anak yang berlandaskan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Pelindungan Anak, dan pendistribusiannya ke daerah; (2) pelaksanaan kampanye pemberian akta kelahiran gratis bagi anak Indonesia sebagai pelaksanaan UU No. 23 Tahun 2002 di tingkat nasional dan daerah; (3) pelaksanaan Konsultasi Anak di empat belas provinsi dan Konsultasi Anak Nasional, dalam rangka penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Penghapusan Kekerasan terhadap Anak; (4) pembentukan Pusat Advokasi dan Fasilitasi Kesejahteraan dan Pelindungan Anak di dua puluh provinsi; (5) penyusunan prosedur operasional standar (standard operational procedure/SOP) pemulangan korban perdagangan perempuan dan anak; (6) penyusunan Profil Anak di dua puluh provinsi; dan (7) pembentukan jejaring kerja penegak hukum dalam penanganan anak yang berhadapan dengan hukum. Dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak, telah dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang bersifat independen. Tugas KPAI adalah melakukan sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

94

berkaitan

dengan

perlindungan

anak,

mengumpulkan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi dan pengawasan perlindungan saran, terhadap anak, masukan dan dan

penyelenggaraan memberikan

laporan,

pertimbangan kepada presiden dalam rangka perlindungan anak. Hasil-hasil yang telah dicapai, antara lain, adalah (1) penyusunan profil gender untuk

mengidentifikasi faktor-faktor kesenjangan gender di 250 kabupaten/ kota; (2) pembentukan unit kerja yang menangani pemberdayaan perempuan dan anak di 27 provinsi, yang dikoordinasikan oleh pejabat setingkat eselon II dan III; (3) pemberian penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya kepada Jawa Timur dan Kabupaten Sidoarjo, yang dinilai berhasil dalam pelaksanaan pengarusutamaan gender; (4) penyusunan buku panduan dan pengkajian tentang pengembangan kelembagaan anak; (5) penyusunan dan penyebarluasan Buku Panduan Standar Pelayanan Minimum (SPM) Model Kesejahteraan dan Pelindungan Anak (KPA); (6) pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2) di tujuh provinsi; (7) penyusunan Indikator Kesetaraan dan Keadilan Gender (IKKG) dan pemetaan wilayah IKKG; dan (8) partisipasi dalam berbagai kegiatan (event) tingkat internasional, seperti Sidang ke-49 Commission on the Status of Women di New York, Amerika Serikat, ESCAP Meeting ke-61 di Bangkok, dan Asian-African Workshop on Women and Youth di Jakarta. Hasil-hasil yang telah dicapai, antara lain, ialah (1) pelaksanaan sosialisasi UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah tangga (KDRT) dan Rencana Aksi Nasional (RAN) Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak di tingkat nasional dan 11 kabupaten/kota; (2) penyusunan sistem dan mekanisme kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak, termasuk data gender dan profil anak; (3) penyusunan Sistem Pelindungan Perempuan terhadap Tindak Kekerasan; (4) penyusunan materi advokasi UU No. 23 Tahun 2004 dan RPP tentang Penghapusan KDRT; dan (5) pelaksanaan kampanye publik tentang penghapusan perdagangan perempuan dan anak, melalui media massa. Terutama dalam pemberdayaan perempuan, Jawa Timur pada 2006 dan 2007 telah meraih penghargaan Parahita Ekapraya Utama (PEU) merupakan penghargaan yang diberikan oleh Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan tentang peranan dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

95

upaya yang dilakukan pemerintah propinsi untuk mengangkat serta mengoptimalisasikan peranan wanita dalam memajukan pemberdayaan

perempuan di tingkat propinsi. Untuk itu, Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) Jatim menargetkan bahwa penghargaan serupa akan dapat dicapai oleh Jatim pada tahun 2008. Kriteria pencapaian penghargaan Parahita Ekapraya Utama tersebut adalah

kelembagaan yang telah bekerja secara optimal, dukungan dari berbagai instansi terkait serta LSM Perempuan, proses koordinasi yang baik dan adanya forum diskusi yang cukup sering dilakukan, serta adanya proses penanganan kasus pemberdayaan perempuan yang cepat dan tepat. Khusus untuk tahun 2008 ini, persiapan pencapaian PEU dilakukan dengan melakukan koordinasi dengan instansi dan LSM terkait. Kebijakan program dan kegiatan yang mendukung komitmen pemerintah terhadap pemberdayaan perempuan dan pelaksanaan pengarusutamaan gender dan perlindungan anak menjadi prioritas. Sementara, untuk tahun 2009, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007, guna lebih mengoptimalkan usaha pencapaian sasaran agenda

pemberdayaan perempuan, urusan Pemberdayaan Perempuan (PP) akan menjadi Badan Pemberdayaan Perempuan (BPP). Sebelumnya PP yang masih masuk di dalam Bidang Bapemas ini akan berdiri sendiri dari eselon II menjadi eselon III.

VI, Rekomendasi Tindak Lanjut Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang masih akan dihadapi di masa datang, tindak lanjut yang diperlukan adalah meneruskan berbagai upaya yang telah dilakukan selama ini, yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan pelindungan perempuan, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, pengambilan putusan, serta lingkungan hidup dan sosial budaya, khususnya di tingkat kabupaten/kota. Untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelindungan anak, tindak lanjut yang diperlukan adalah pemenuhan hak-hak anak di berbagai bidang, yaitu tumbuh-kembang anak, pelindungan anak, partisipasi anak, hak sipil dan kebebasan, serta penciptaan lingkungan yang ramah anak. Standar angka kematian ibu melahirkan secara nasional harus ditekan agar dapat menjadi patokan bagi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan program peningkatan kesehatan ibu dan anak, dan bekerja sama secara sinergis dengan departemen lain di pemerintahan. Untuk itu, kualitas pelayanan Posyandu dapat ditingkatkan agar angka kematian ibu melahirkan di Jawa Timur yang sudah cukup kecil

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

96

bisa semakin ditekan. Guna penanganan gizi buruk anak di Jawa Timur, pemerintah daerah diharapkan mampu mengidentifikasi karakteristik persoalan di tiap kabupaten/kota yang latar belakang argo ekologis yang berbeda (pegunungan, perkotaan, daerah kapur dan pantai). Dengan demikian, meskipun pola kebijakan dari pusat sama, tetapi juklak akan disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Hal ini penting mengingat yang mempengaruhi keberhasilan peningkatan gizi anak adalah dari pola asuh dan stok pangan yang tersedia (http://dongengdalam.blogspot.com/feeds/posts/default). Sementara itu, untuk memperkuat kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak, tindak lanjut yang diperlukan, antara lain, ialah meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan lembaga masyarakat dan swasta, melaksanakan pengarusutamaan gender terutama pada tahap perencanaan, dan memperkuat kelembagaan anak. Tindak lanjut yang lain adalah melakukan penyerasian berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung peningkatan kualitas anak dan perempuan.

Pemberdayaan perempuan adalah upaya perempuan untuk memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, ekonomi, politik, sosial budaya, agar perempuan dapat mengatur diri dan meningkatkan percaya diri untuk mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam memecahkan

masalah, sehingga mampu membangun kemampuan dan konsep dirinya. Secara umum yang terjadi di Indonesia adalah bahwa posisi perempuan Indonesia mengalam ketertinggalan dalam kesetaraan. Ketertinggalan ini meliputi rendahnya pendidikan dan keterampilan, Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi, rendahnya produktifitas kegiatan ekonomi perempuan, rendahnya partisipasi politik perempuan di lembaga legislatif dan eksekutif, serta sosial budaya dan lingkungan yang belum kondusif. Penyebab dari ketertinggalan dan terdiskriminasi perempuan Indonesia adalah karena: nilai-nilai dan budaya patriarki, hukum dan peraturan yang diskriminatif, sistem yang diskriminatif, pemahaman ajaran agama yang bias. Untuk menyelesaikan masalah ini, diperlukan program pemberdayaan perempuan karena dengan program tersebut diharapkan hak asasi sebagai perempuan makin dihargai, terdapat kesetaraan dan keadilan gender, penurunan angka kematian ibu, pengembangan SDM, pembangunan sosial politik dan ekonomi yang seimbang, serta dilaksanakannya pembangunan sosial budaya yang tidak diskriminatif.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

97

Oleh karenanya, ada beberapa potensi dan peluang dalam pemberdayaan perempuan. Pertama, maraknya organisasi perempuan dan forum-forum yang

berperspektif perempuan, dimana anggotanya didominasi oleh kaum perempuan, merupakan salah satu indikator bahwa potensi perempuan sangat besar. Forum ini mempunyai banyak peluang untuk dikembangkan menjadi satu wadah bagi perempuan untuk mengembangkan diri dan mengembangkan pemahaman akan pentingnya peran perempuan di segala aspek kehidupan. Kedua, aktivitas sosial masyarakat yang banyak dilakukan oleh perempuan, juga memberikan peluang bagi perempuan untuk

meningkatkan kesadaran politik dan meningkatkan partisipasi serta representasi / keterwakilan politik perempuan sekaligus mengembangkan wacana politik yang berperspektif perempuan. Ketiga, perempuan yang melakukan aktivitas sosial

kemasyarakatan lebih mempunyai kesempatan untuk berdiskusi, bermusyawarah, menambah pengetahuan, berdialog, berpolitik maupun berorganisasi. Poin terpenting dalam hal ini adalah perempuan bisa melakukan “bargaining position”. Keempat, kegiatan sosial kemasyarakatan yang marak diikuti oleh kaum perempuan juga merupakan aset dalam bentuk jejaring kerja, membentuk ikatan silaturahmi yang efektif dalam menumbuhkan komitmen untuk melakukan suatu perubahan maupun menentukan suatu pilihan secara bersama-sama. Kelima, mengoptimalkan potensi perempuan yang ada di wilayah akar rumpuh (grass roots) melalui aktivitas sosial kemasyarakatan sehingga memungkinkan untuk merubah budaya/pola pembuatan kebijakan yang selama ini top down menjadi bottom up. Dari sudut pandang praktis, pemberdayaan perempuan dapat dimengerti sebagai upaya menghilangkan apa yang menjadi penghambat bagi proses keberhasilan pemberdayaan perempuan. Beberapa faktor yang paling strategis sebagai penghambat adalah pendidikan yang diskriminatif, kesehatan yang tidak berkeadilan gender dan kekerasan dalam rumah tangga. Oleh karenanya kegiatan pendidikan yang diperlukan dalam rangka menghapus kekerasan terhadap perempuan guna meningkatkan pemberdayaan perempuan antara lain: pendidikan keadilan dan kesetaraan gender, pendidikan sadar hukum (perempuan tahu akan hak dan kewajibannya), pendidikan keterampilan dan pengembangan diri, bimbingan dan penyuluhan agama, serta pendidikan pranikah. Di bidang kesehatan AKI masih tinggi yaitu 421 orang dari 100.000 kelahiran hidup. Diperkirakan setiap 25 menit satu orang ibu meninggal dunia akibat komplikasi kehamilan, aborsi atau persalinan. Dalam keluarga miskin banyak ditemukan

ketidakseimbangan beban kerja laki-laki dan perempuan, dimana perempuan bekerja jauh

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

98

lebih berat dan sering tidak diperhitungakan pekerjaanya. Sementara itu, perempuan mendapatkan gizi yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan anggota keluarga yang laki-laki. Hal ini berhubungan dengan nilai-nilai patriarki yang mengutamakan kepentingan laki-laki. Pemberdayaan perempuan dapat dilakukan melalui kegiatan microfinance (usaha kecil menengah/UKM). Secara umum terdapat tiga hal penting yang dapat muncul dari usaha kecil menengah ini, yaitu: perempuan dapat menggunakan tabungan dan kredit mikro untuk kepentingan ekonomi produktif (pemberdayaan ekonomi) atau micro enterprise, kontribusi ekonomi terhadap peningkatan kesejahteraan mendorong peran perempuan di dalam pengambilan keputusan dalam keluarga, dengan meningkatnya peran ekonomi perempuan dapat membawa perubahan pada peran gender dan meningkatnya status dalam rumah tangga, masyarakat maupun pada level yang lebih tinggi (pada skala yang lebih besar adanya perubahan sosial dan politik). Microfinance merupakan salah satu strategi yang dapat memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi perempuan dan juga entry point bagi program-program yang bertujuan untuk memberdayakan perempuan, keluarga dan masyarakat. Khususnya tentang perlindungan terhadap anak, anak adalah warga negara yang dilindungi oleh pemerintah agar tercapai masa pertumbuhan dan perkembangannya menjadi manusia dewasa sebagai keberlanjutan masa depan bangsa. Anak adalah seorang manusia yang tumbuh dan berkembang mencapai kedewasaan sampai berumur 18 tahun, termasuk anak dalam kandungan. Mereka memiliki posisi strategis, karena jumlahnya mencapai 38 persen dari total penduduk Indonesia. Kunci utama untuk menjadikan anak sebagai potensi Negara dalam rangka keberlangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa adalah bagaimana komitmen pemerintah untuk menjadikan anak sebagai prioritas utama dalam pembangunan. Upaya nyata adalah menciptakan lingkungan yang mengutamakan perlindungan bagi anak, kedua adalah menghidupkan nilai-nilai dan tradisi yang memajukan harkat dan martabat anak, ketiga adalah mengeksplorasi dan memobilisasi sumber daya untuk mendukung penyelenggaraan perlindungan anak.

VII. Penutup Kesetaraan gender berarti bahwa masyarakat memperlakukan perempuan sebagai mitra sejajar dalam pembangunan, yang berarti memiliki akses atau kesempatan, kontrol, partisipasi dan manfaat yang sama dari setiap program pemerintah. Komitmen untuk mewujudkan kesetaraan gender dapat terwujud bila seluruh tahapan pembangunan (baik perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi) yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

99

hendaknya responsif gender. Dalam hal ini peran stakeholders (terkait tahapan-tahapan pembangunan) di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota, sesuai dengan UU No 17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025, Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 2005 tentang RPJMN 2004-2009, serta Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, dan Peraturan Mendagri No. 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah. Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), adalah salah satu jenis kekerasan yang berbasis gender di samping kekerasan jenis lainnya seperti perkosaan, pelacuran, pornografi, pelecehan seksual, dan sebagainya. Dari berbagai hasil penelitian maupun laporan kasus dari lembaga yang peduli terhadap perempuan menunjukkan korban kekerasan dalam rumah tangga terus meningkat. Guna menyelesaikan masalah ini pemerintah mengeluarkan UU No 23 tahun 2004 guna menghapus kekerasan dalam rumah tangga. Namun kenyataan di lapangan peraturan tersebut belum secara efektif dilaksanakan. Masih diperlukan peningkatan sosialisasi di tengah masyarakat selain merealisasikan adanya pendamping korban maupun rumah aman (shelter) seperti yang ada pada Peraturan Pemerintah sebagai peraturan pelaksanaan. Keadilan gender merupakan hal mendasar yang terus-menerus diperjuangkan oleh semua pihak, khususnya kaum perempuan, karena pada kenyataannya masih terdapat diskriminasi dalam praktik-praktik politik yang membuat peluang dan kiprah politik perempuan terhambat. Inti dari keadilan gender adalah keadilan itu sendiri. Karenanya itu keadilan gender bukan eksklusif milik kaum perempuan semata, tetapi sudah menjadi concern kita semua, baik kaum perempuan maupun laki-laki.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

100

I.

Pengantar Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah merupakan dua isu utama

dari perubahan politik di Indonesia selama lima tahun transisi dan reformasi politik. Secara teoretis antara desentralisasi dan otonomi daerah tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Desentralisasi dan otonomi daerah tidak hanya berurusan dengan persoalan pembagian kewenangan dan keuangan dari pusat ke daerah, melainkan juga hendak membawa negara lebih dekat pada masyarakat atau membuat demokrasi lokal bekerja (akuntabilitas lokal, transparansi, responsivitas dan partisipasi masyarakat). Voice, akses dan kontrol masyarakat terhadap pemerintah akan lebih dekat apabila terjadi desentralisasi dan otonomi daerah. Tanpa demokrasi dan partisipasi, maka desentralisasi dan otonomi daerah hanya memindahkan sentralisasi dan korupsi dari Jakarta ke daerah, atau hanya menghasilkan raja-raja kecil di daerah yang lebih mengutamakan pemeliharaan kekuasaan dan penumpukan kekayaan. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah merupakan pelaksanaan dari salah satu tuntutan reformasi. Kebijakan ini merubah penyelenggaraan pemerintahan dari yang sebelumnya bersifat terpusat menjadi terdesentralisasi meliputi antara lain penyerahan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah (kecuali politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, agama, fiskal moneter, dan kewenangan bidang lain) dan perubahan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah maka pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan penyediaan pelayanan publik diharapkan akan menjadi lebih sederhana dan cepat karena dapat dilakukan oleh pemerintah daerah terdekat sesuai kewenangan yang ada. Kebijakan ini dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan keadaan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

101

II. Kondisi Awal RPJMN di tingkat Daerah Berdasarkan amanat Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bahwa Perencanaan Pembangunan Nasional harus bersifat terpadu, menyeluruh, sistematik dan tanggp terhadap perkembangan zaman, yang terdiri dari Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang 20 tahunan, Perencanaan Pembangunan Jngka Menengah 5 tahunan dan Rencana Kerja Pemerintah Tahunan pada Tingkat Nasional, Prpinsi dan Kabupaten/Kota Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan penilaian tentang permasalahan yang terjadi di daerah terkait dengan isu dan arah kebijakan RPJM Nasional 2004-2009 terutama terkait dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah yang ada di Propinsi Jawa Timur. Adapun permasalahan yang ada adalah sebagai berikut: 1. Belum optimalnya proses desentralisasi dan otonomi daerah yang disebabkan oleh perbedaan persepsi para pelaku pembangunan terhadap kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Persepsi yang belum sama antar para pelaku pembangunan baik di jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku pembangunan lainnya telah menimbulkan berbagai permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan, yang pada akhirnya mengakibatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat belum meningkat secara nyata sebagaimana diharapkan. Seperti yang dikemukakan oleh Azmil (2006) bahwa pelaksanaan otonomi daerah memang belum optimal karena adanya perbedaan persepsi antar pelaku

pembangunan karena masih banyak terjadinya tumpang tindih antara UU NO 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah dengan berbagai undang-undang sektoral. Kondisi tersebut diperburuk dengan masih banyaknya peraturan daerah yang memberatkan dunia usaha, diskriminatif dan tidak kondusif terhadap perkembangan dunia usaha. Demikian juga Alamsyah (2007) dan Jaya (2008) menyatakan bahwa masalah otonomi ini terjadi karena pemerintah pusat maupun daerah sama-sama belum siap mendesentralisasi dan berotonomi daerah. Akhirnya hanya melahirkan kegamangan otonomi. Dan semua ini disebabkan oleh perilaku elite penyelenggara pemerintahan daerah tetap memakai paradigma lama: Paradigma Orde Baru. Maka yang muncul bukan sikap melayani tapi memperdaya rakyat sebagai pemenuhan kepentingan rajaraja kecil dalam bingkai otonomi daerah. Kedua, kesenjangan antara perubahan pada

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

102

tataran konseptual dengan perubahan pada tingkat pemahaman dan perilaku penyelenggara pemerintahan daerah. 2. Belum jelasnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan

pemerintah daerah. Kewenangan daerah masih banyak yang belum didesentralisasikan karena peraturan dan perundangan sektoral yang masih belum disesuaikan dengan UndangUndang tentang Pemerintahan Daerah. Hal ini mengakibatkan berbagai

permasalahan, yaitu antara lain dalam hal kewenangan, pengelolaan APBD, pengelolaan suatu kawasan tertentu, hubungan eksekutif dan legislatif daerah, pengaturan pembagian hasil sumberdaya alam dan pajak, dan lainnya. Selain itu juga menimbulkan tumpang tindih kewenangan antar pusat, provinsi dan daerah yang mengakibatkan berbagai permasalahan dan konflik antar berbagai pihak dalam pelaksanaan suatu aturan, misalnya tentang pendidikan, tenaga kerja, pekerjaan umum, pertanahan, penanaman modal, serta kehutanan dan pertambangan. Indikasi ini seperti yang dikemukakan oleh Benjamin Hossein et.al dalam makalahnya yang berjudul Konsep Pembangian Kewenangan Antar Tingkat Pemerintahan (2006) bahwa masih terjadi masalah otonomi daerah saat ini adalah karena sentralisasi dan desentralisasi dalam suatu bangunan negara sangat ditentukan oleh seberapa jauh kewenangan (urusan) yang dimiliki oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pendulum sentralisasi dan desentralisasi saat ini masih menjadi kegamangan di tingkat daerah. Oleh karena hal ini menyebabkan terjadinya masalah-masalah tersebut di atas. 3. Masih rendahnya kapasitas pemerintah daerah. Kapasitas pemerintah daerah pada umumnya masih rendah yang ditandai oleh (1) masih terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia aparatur baik jumlah maupun yang profesional, (2) masih terbatasnya ketersediaan sumber-sumber pembiayaan yang memadai, baik yang berasal dari kemampuan daerah itu sendiri (internal) maupun sumber dana dari luar daerah (eksternal) dan terbatasnya kemampuan pengelolaannya; (3) belum tersusunnya kelembagaan yang efektif; (4) belum terbangunnya sistem dan regulasi tentang aparatur pemerintah daerah yang jelas dan tegas; (5) kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat (termasuk anggota dewan perwakilan rakyat daerah) dalam pelaksanaan pembangunan secara lebih kritis dan rasional. Rendahnya kapasitas tersebut menurut Chalid (2005) karena kendala sumber daya manusia hingga saat ini masih membayangi-bayangi kinerja aparat pemerintah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

103

daerah. Semua ini disebabkan oleh situasi yang serba terkungkung selama lebih dari tiga puluh tahun, tiba-tiba daerah memiliki kewenangan yang sedemikian besar. Implikasi dari pelimpahan wewenang tersebut di sebagian daerah menimbulkan munculnya kembali chauvinisme kedaerahan seperti munculnya kekuatan-kekuatan kelompok aristokrasi dalam politik lokal, kekuatan yang di masa Orde Baru ditekan. 4. Lemahnya peran Gubernur dalam koordinasi antar daerah. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dalam hampir 4 (empat) tahun terakhir ini telah memperluas rentang kendali dan menyulitkan koordinasi. Hal ini terjadi karena disebutkan bahwa tidak ada hirarki pemerintahan antara provinsi dan daerah yang dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pemerintah Provinsi sebagai wakil pemerintah pusat di daerah mengalami kesulitan dalam melaksanakan koordinasi antar daerah kabupaten dan kota di wilayahnya. Seringkali hasil-hasil pembangunan maupun penyelenggaraan pemerintahan tidak dilaporkan kepada Gubernur. Pemerintah daerah seringkali tidak mengikutsertakan pemerintah provinsi dalam koordinasi dengan Pemerintah Pusat. Berbagai hal tersebut berpotensi menimbulkan ketidakefisienan dan ketidakefektifan pemanfaatan sumber daya. Hal ini yang menurut Prasojo (2007) dikatakan sebagai status dan peran ganda gubernur. Dimana dengan status ganda inilah, gubernur berperan melaksanakan otonomi daerah pada tingkat provinsi sekaligus mewakili presiden di daerah untuk menjamin agar visi dan misi pemerintah dapat dilaksanakan hingga level pemerintahan paling bawah. Peran yang diemban gubernur sebagai wakil pemerintah pusat, terutama terkait tugas-tugas pemerintahan umum (general affairs) seperti menjamin stabilitas, integrasi nasional, koordinasi pemerintahan dan pembangunan, serta pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilakukan kabupaten dan kota. Hal ini kemudian juga menjadikan munculnya banyak masalah tersebut. 5. Pembentukan daerah otonom baru (pemekaran wilayah) yang masih belum sesuai dengan tujuannya. Ketertinggalan pembangunan suatu wilayah karena rentang kendali pemerintahan yang sangat luas dan kurangnya perhatian pemerintah dalam penyediaan pelayanan publik sering menjadi alasan untuk pengusulan pembentukan daerah otonom baru sebagai solusinya. Namun demikian, dalam pelaksanaannya proses pembentukan daerah otonom baru lebih banyak mempertimbangkan aspek politis, kemauan sebagian kecil elite daerah, dan belum mempertimbangkan aspek-aspek lain selain

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

104

yang disyaratkan melalui Peraturan Pemerintah yang ada. Selain itu, terbentuknya daerah otonom baru setiap tahunnya akan membebani anggaran negara karena meningkatnya belanja daerah untuk keperluan penyusunan kelembagaan dan anggaran rutinnya sehingga pembangunan di daerah otonom lama (induk) dan baru tidak mengalami percepatan pembangunan yang berarti. Pelayanan publik yang semestinya meningkat setelah adanya pembentukan daerah otonom baru (pemekaran wilayah), tidak dirasakan oleh masyarakatnya, bahkan di beberapa daerah kondisinya tetap seperti semula. 6. Masih rendahnya kerjasama antar daerah dalam penyediaan pelayanan publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kewenangan yang besar dalam pelayanan masyarakat belum diiringi dengan pelaksanaan yang baik terutama pelayanan masyarakat di wilayah terpencil yang berbatasan antar daerah. Belum banyak kerjasama antar daerah yang dilaksanakan dalam penyediaan pelayanan publik terutama di daerah-daerah perbatasan antar kota, antar daerah, antar provinsi dan antar negara. Perhatian pemerintah daerah lebih banyak ditujukan bagi kepentingan prioritas wilayahnya masing-masing yang mengakibatkan terabaikannya kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan tersebut.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran yang hendak dicapai dalam revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah dalam lima tahun mendatang adalah: 1. Tercapainya sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundang-undangan pusat dan daerah, termasuk yang mengatur tentang otonomi khusus; 2. Meningkatnya kerjasama antar pemerintah daerah; 3. Terbentuknya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif, efisien, dan akuntabel; 4. Meningkatnya kapasitas pengelolaan sumberdaya aparatur pemerintah daerah yang profesional dan kompeten; 5. Terkelolanya sumber dana dan pembiayaan pembangunan secara transparan, akuntabel, dan profesional; dan 6. Tertatanya daerah otonom baru.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

105

IV. Arah Kebijakan Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah diarahkan untuk

mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat dalam hal pelayanan masyarakat, penyelenggaraan otonomi daerah, dan pemerintahan daerah yang baik yang dilaksanakan melalui kebijakan: 1. Memperjelas pembagian kewenangan antar tingkat pemerintahan baik

kewenangan mengenai tugas dan tanggung jawab maupun mengenai penggalian sumber dana dan pembiayaan pembangunan yang didukung oleh semangat desentralisasi dan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; 2. Mendorong kerjasama antar pemerintah daerah termasuk peran pemerintah provinsi dalam rangka peningkatan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat; 3. Menata kelembagaan pemerintah daerah agar lebih proporsional berdasarkan kebutuhan nyata daerah, ramping, hierarki yang pendek, bersifat jejaring, bersifat fleksibel dan adaptif, diisi banyak jabatan fungsional, dan terdesentralisasi kewenangannya, sehingga mampu memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih baik dan efisien, serta berhubungan kerja antar tingkat pemerintah, dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, masyarakat, dan lembaga non pemerintah secara optimal sesuai dengan peran dan fungsinya; 4. Menyiapkan ketersediaan aparatur pemerintah daerah yang berkualitas secara proporsional di seluruh daerah dan wilayah, menata keseimbangan antara jumlah aparatur pemerintah daerah dengan beban kerja di setiap lembaga/satuan kerja perangkat daerah, serta meningkatkan kualitas aparatur pemerintah daerah melalui pengelolaan sumberdaya manusia pemerintah daerah berdasarkan standar kompetensi; 5. Meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah daerah, termasuk pengelolaan keuangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme, sehingga tersedia sumber dana dan pembiayaan yang memadai bagi kegiatan pelayanan masyarakat dan pelaksanaan pembangunan di daerah; serta 6. Menata daerah otonom baru, termasuk mengkaji pelaksanaan kebijakan pembentukan daerah otonom baru di waktu mendatang, sehingga tercapai upaya peningkatan pelayanan publik dan percepatan pembangunan daerah.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

106

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005-2007) Secara umum revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah yang dilakukan di Jawa Timur terlihat pada pelaksanaan pemerintahan umum dimana tujuan yang hendak dicapai dalam revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah dalam penyelenggaran pemerintahan umum tahun 2003-2008 adalah meningkatnya kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan Pemerintahan Umum termasuk pelaksanaan meningkatkan Administrasi Pencalonan, Pemilihan, Pengangkatan dan Pemberhentian Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, DPRD; Adapun kinerja dalam penyelenggaraan Pemerintahan Umum ini dibuktikan dalam: 1. Penyelenggaraan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dan Penggantian Antar Waktu Pada aspek pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, pada kurun waktu Tahun 1998 sampai dengan Tahun 2007, terdapat 2 (dua) sistem pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, yaitu : a. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 maka pada Tahun 1998 sampai dengan Tahun 2004, pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, mulai dari tahap pencalonan sampai dengan pemilihan dan penetapan pasangan calon terpilih, dilakukan oleh DPRD dalam rapat paripurna DPRD, dan pelantikannya dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur atas nama Presiden yang telah berjalan dengan lancar, tertib dan aman pada 37 Kabupaten/Kota (terdiri dari 28 Bupati dan 9 Walikota). b. Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah maka pada Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2007, pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan secara langsung oleh rakyat melalui Komisi Pemilihan Umum Propinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota pada 21 Kabupaten/Kota (terdiri dari 16 Bupati dan 5 Walikota) dengan pelantikan yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur atas nama Presiden serta berjalan lancar dan aman. c. Mengenai peresmian keanggotaan DPRD hasil Pemilu dan Penggantian Antar Waktu anggota/pimpinan DPRD Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2007 serta fasilitasi peresmian anggota/pimpinan DPRD Propinsi Jawa Timur maupun Penggantian Antar Waktu (PAW)

anggota/pimpinan DPRD Propinsi Jawa Timur, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

107

2) Telah dilakukan peresmian keanggotaan dan pimpinan DPRD Kabupaten/Kota hasil Tahun 2004 dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur atas nama Presiden dengan jumlah 152 (seratus lima puluh dua) keputusan; 3) Telah dilakukan fasilitasi peresmian keanggotaan/pimpinan DPRD Propinsi Jawa Timur hasil dan Tahun 2004; 4) Telah dilaksanakan peresmian Penggantian Antar Waktu (PAW)

anggota/pimpinan DPRD Kabupaten/Kota dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur atas nama Presiden dengan jumlah 270 (dua ratus tujuh puluh) keputusan; 5) Telah dilaksanakan fasilitasi pengusulan kepada Menteri Dalam Negeri mengenai proses Penggantian Antar Waktu (PAW) anggota/pimpinan DPRD Propinsi Jawa Timur dengan jumlah 25 (dua puluh lima). 2. Penggantian Antar Waktu Anggota DPRD a. Proses pengisian Anggota DPRD Kabupaten Bondowoso dapat diselesaikan setelah mendapat petunjuk Menteri Dalam Negeri dengan suratnya Tanggal 31 Oktober 2006 Nomor 171.35/1429/Otda; b. Proses Pengganti Antar Waktu Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan sesuai surat Menteri Dalam Negeri Tanggal 1 Agustus 2007 Nomor 177.35/1505/OTDA dijelaskan bahwa apabila tidak ada lagi calon dalam Daftar Calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota dari Daerah Pemilihan di Kabupaten/Kota yang sama, pengurus partai politik yang bersangkutan dapat mengajukan calon baru yang diambil dari daftar calon anggota DPRD Kabupaten/Kota dari Kecamatan terdekat. Berkaitan dengan permasalahan Pemilihan Kepala Daerah seperti Pilkada Kabupaten Tuban dan Pilkada Kabupaten Sampang serta peresmian Penggantian Antar Waktu anggota DPRD Kabupaten Bondowoso dan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan sebagaimana telah diuraikan di atas, karena tugas dimaksud termasuk ke dalam kategori Tugas Pembantuan, maka dalam pelaksanaannya, melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. Secara khusus, revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah yang dilakukan di Jawa Timur sesuai dengan sasarannya adalah sebagai berikut: 1. Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan Mengenai Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Program ini merupakan upaya agar tercapainya sinkronisasi dan harmonisasi peraturan perundnag-undangan pusat dan daerah. Hal ini di Jawa Timur diwujudkan pada Bidang Pemerintahan, Kemasyarakatan Dan Pendidikan yaitu pada Perda yang dihasilkan. Peraturan Daerah (Perda) adalah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

108

merupakan salah satu inovasi dari pihak legislatif dan eksekutif dalam menjalankan roda pemerintahan. Dari informasi yang ada, beberapa Perda yang dihasilkan daerah dibatalkan oleh Depdagri. Dari lain pihak ada beberapa Perda yang dapat memacu perkembangan secara cepat, misal Integrasi Pendidikan Unggul di Lumajang, Kerjasama antara PT. Kutai Timber Indonesia dengan Pemkot Probolinggo dalam sharing penyediaan tenaga kerja. Dari berbagai Perda yang ada ternyata ada beberapa yang harus ditinjau kembali dan adanya tepat untuk memajukan kesejahteraan masyarakat.

2. Program Peningkatan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah, dimana program ini ditujukan untuk meningkatkan pelaksanaan kerjasama antar pemerintah daerah termasuk peningkatan peran pemerintah provinsi. a. Kerjasama antar Pemerintah Propinsi, antara lain : 1) Kerjasama dengan Propinsi Bali tentang Pokok-pokok pembangunan dan kemasyarakatan 2) Kerjasama Pembentukan dan Susunan Keanggotaan Sekretariat Bersama Pembangunan Perbatasan Jawa Timur – Bali 3) Kerjasama dengan Jawa Tengah tentang Tata Pengaturan Air pada Daerah Pengaliran Sungai Bengawan Solo 4) Kerjasama dengan Kalimantan, Sulawesi Selatan, Jambi, Maluku Utara, Kalimantan Selatan, Riau, Kalimantan Timur, Sumatra Barat dan Bengkulu tentang Penyelenggaraan Transmigrasi. 5) Kerjasama dengan DIY, NTT, Maluku, Kalimantan Timur dan Gorontalo tentang Pembangunan Daerah 6) Kerjasama Pembangunan Jaringan Jalan Lintas Selatan Pulau Jawa dengan Banten, Jawa Barat, DIY 7) Kesepakatan Bersama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Blora dan Kabupaten Bojonegoro tentang Keikutsertaan Pengelolaan usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi di Blok Cepu 8) Kesepakatan Bersama dengan Sulawesi Tengah tentang Pembangunan Daerah yang ditindaklanjuti dengan Kerjasama Bidang Penanaman Modal 9) Kesepakatan Bersama dengan Kalimantan Selatan tentang pembangunan Daerah. b. Kerjasama Kabupaten/ Kota, yang meliputi: 1) Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

109

Jember dan Banyuwangi tentang Kerjasama Pembangunan Wilayah Selatan Jawa Timur. 2) Kesepakatan Bersama dengan 30 Kabupaten/kota di Jawa Timur tentang Pembangunan Daerah. 3) Kesepakatan Bersama dengan 38 Kabupaten/kota se Jawa Timur tentang Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). 4) Kesepakatan Bersama dengan Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Gresik tentang Penanganan Sampah Terpadu. 5) Kesepakatan Bersama dengan Kota Surabaya tentang Penanganan Masalah Banjir. 6) Kesepakatan Bersama dengan 7 (tujuh) Kabupaten/Kota di Jawa Timur tentang Pengembangan Kawasan Industri Terpadu Jawa Timur (EJIIZ). 7) Kesepakatan Bersama antara Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu tentang Pemanfaatan Pangkalan TNI AU Abdulrahman Saleh untuk

Penerbangan Komersiil. 8) Perjanjian Bersama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan 37 Kab/Kota tentang Rehabilitasi Gedung Sekolah. c. Kerjasama Badan/Lembaga Propinsi Jawa Timur telah menjalin kerjasama dengan badan/lembaga, antara lain: Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se Jawa Timur, Polda Jatim, Mitra Kerja diluar negeri antara lain Kesepakatan Bersama Pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan: Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se Jawa Timur, Polda Jatim, Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Timur, PT. INDOFARMA Tbk., Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Timur, PT. Global Intech Internusa, SMKN 6, Kabupaten Sidoarjo dan PT. Angkasa Pura, 11 ORganisasi Kemasyarakatan, UPN Yogyakarta, Mahkamah Konstitusi dan UUD 1945, PT. PERTAMINA (PERSERO). 3. Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Daerah. Antara lain diwujudkan dalam: a. Program Peningkatan Kualitas Perencanaan Dan Pengembangan Diklat Aparatur Pemerintah. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas penyelenggaraan serta dampak diklat bagi kinerja aparatur Pemerintahan di Jawa Timur dengan Sasaran PNS di Lingkungan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota di Jawa Timur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

110

Program ini dibiayai dengan dana APBD dari tahun 2003-2007 adalah sebesar Rp. 9.307.800.000,00 Hasil yang dicapai adalah meningkatnya kualitas

penyelenggaraan diklat aparatur dengan target 13 kegiatan tahun 2003 meningkat menjadi 15 kegiatan tahun 2007 dan dengan capaian tahun 2003 sebesar 100% dan tahun 2007 sebanyak 13 kegiatan. Permaslahan yang dihadapi tahun 20032007 antara lain masih terbatasnya Widyaiswara/Pengajar khusus untuk Diklat Teknis dan fungsional dan terbatasnya Widyaiswara/pengajar yang menguasai bahasa inggris. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk pengembangan diklat aparatur adalah dengan meningkatkan kualitas tenaga widyaiswara melalui berbagai TOT baik di dalam maupun luar negeri serta melaksanakan kerjasama dengan dinas teknis terkait dan perguruan tinggi. b. Program Peningkatan Kompetensi Kepemimpinan Aparatur Pemerintah.

Tujuannya adalah meningkatnya kompetensi kepemimpinan bagi Aparatur Pemerintah di Jawa Timur dengan sasaran PNS di Lingkungan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota di Jawa Timur. Program ini dibiayai dengan dana APBD dari tahun 2003-2007 adalah sebesar Rp. 8.232.880.000,00. Hasil yang dicapai adalah meningkatnya PNS pada bidang kompetensi kepemimpinan dan pengembangan psikologi. Selain itu kondisi diklat kepemimpinan mulai tahun 2003 sampai dengan 2007 telah melatih sebanyak 1.398 orang sehingga atas prestasinya mendapatkan akreditasi dan sertifikasi dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI melalui keputusan kepala LAN RI nomor: 741A/IX/6/4/2002 khususnya untuk penyelenggaraan diklat LPJ golongan I, II dan III serta diklat kepemimpinan Tk. II, III dan IV. c. Program Peningkatan Kompetensi Teknis Aparatur Pemerintah. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi teknis pemerintahan, administrasi,

pembangunan dan bahasa bagi Aparatur Pemerintah di Jawa Timur. Sasarannya adalah PNS di Lingkungan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota di Jawa Timur. Program ini dibiayai dengan dana APBD dari tahun 2003-2007 sebesar Rp. 17.497.000.000,00 dengan target peningkatan kompetensi kepemimpinan

aparatur pemerintahan yang berfluktuatif dari 1.280 orang tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 sebanyak 4.548 orang dengan capaian 4.188 orang. Upaya pemerintah untuk lebih meningkatkan jumlah maupun kualitas pendidikan melalui Analisis Kebutuhan Diklat (AKD) untuk menjaring agar sesuai dengan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

111

harapan dan kebutuhan diklat pada masing masing instansi, baik Propinsi maupun Kabupaten /Kota. d. Program Peningkatan Kompetensi Fungsional Aparatur Pemerintah. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi jabatan fungsional profesi, fungsional kediklatan dan komputer bagi Aparatur Pemerintah di Jawa Timur. Sasarannya adalah PNS di Lingkungan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota di Jawa Timur. Program ini dibiayai dengan dana APBD dari tahun 2003-2007 adalah sebesar Rp. 7.384.000.000,00 dengan target meningkatnya kompetensi fungsional pada tahun 2003-2007 sebanyak 1.955 orang dengan capaian 1.865 orang. Upaya pemerintah untuk lebih meningkatkan jumlah maupun kualitas pendidikan melalui Analisis Kebutuhan Diklat (AKD) untuk menjaring agar sesuai dengan harapan dan kebutuhan diklat pada masing-masing instansi, baik Propinsi maupun Kabupaten / Kota. e. Program Peningkatan dan Pengembangan Aparatur. Program ini bertujuan meningkatkan dan mengembangkan kapasitas serta kompetensi PNS melalui peningkatan pengetahuan, wawasan dan kemampuan PNS dalam rangka mewujudkan aparatur pemerintah daerah khususnya pada Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang profesional. Sasarannya adalah meningkatnya kualitas sumber daya aparatur melalui, sistem rekruitmen Pegawai yang selektif dan kompetitif, sistem administrasi pengiriman peserta diklat baik struktural maupun

teknis/fungsional yang sesuai dengan kebutuhan, pelaksanaan In House training, Pengiriman peserta tugas belajar PNS, pembekalan kewirausahaan PNS menjelang purna tugas serta terwujudnya kompetensi kepemimpinan yang situasional dan kritis melalui pemantapan wawasan kepemimpinan. Program ini dibiayai dengan dana APBD dari tahun 2003-2007 sebesar Rp. 19.882.144.575,00 dengan capaian peningkatan pengetahuan, kemampuan dan wawasan aparatur yang berfluktuatif dari 1.130 orang tahun 2003 menjadi 1.100 orang tahun 2007. Permasalahan yan dihadapi adalah program penyusunan formasi baik dalam lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun Kabupaten/kota sering terkendala pada perubahan komposisi pegawai yang sangat dinamis serta pendidikan dan pelatihan belum optimal mengarah pada kebutuhan instansi dan peningkatan kompetensi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

112

Upaya

yang

dilakukan

oleh

Pemerintah

adalah

memfasilitasi

upaya

pengembangan kapasitas pegawai guna mendukung upaya peningkatan kinerja dan mengembangkan program dan sistem penataan formasi, pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan dan kompetensi jabatan Struktural/ Non Struktural. f. Program Peningkatan Kinerja Administrasi Kepegawaian. Program ini bertujuan untuk penataan dan pembinaan karier pegawai dengan sasaran terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan administrasi kepegawaian dan terwujudnya penataan personil sesuai dengan asas rigth man in the rigth job dan rigth man in the rigth place serta terwujudnya peningkatan akuntabilitas pengisian formasi jabatan structural melalui mekanisme Fit and Proper test dan Baperjakat yang selektif. Program ini dibiayai dengan dana APBD dari tahun 2003-2007 adalah sebesar Rp. 6.047.860.000,00. dengan hasil meningkatnya kualitas Produk pelayanan administrasi kepegawaian pada tahun 2003 sebanyak 31.526 PNS dan tahun 2007 sebanyak 29.501 PNS Jumlah pegawai negeri di lingkup Dinas/Instansi di Propinsi Jawa Timur tahun 2007 (S/d Juni) sebanyak 42.209 orang yang terdiri dari 21.069 orang PNS dan 21.140 calon PNS. Berdasarkan golongan jumlah PNS tersebut dengan rincian 352 orang pegawai Gol I, 6.079 orang pegawai Gol II, 13.073 orang pegawai Gol III, dan 1.565 orang pegawai Gol IV. Hasil yang dicapai adalah meningkatnya kualitas Produk pelayanan administrasi kepegawaian. Terselenggaranya pelayanan adminitrasi kepegawaian sesuai dengan standar pelayanan minimal yang meliputi pelayanan

pensiun/pemberhentian PNS dengan kenaikan pangkat pengabdian PNS, kenaikan gaji berkala PNS, Perpindahan/mutasi PNS, Kartu Pegawai (Karpeg), pengiriman peserta fit and proper test dan kenaikan pangkat PNS sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian. Permasalahan yang dihadapi selama tahun 2003-2007 antara lain sering terjadinya perubahan terhadap Peraturan Pemerintah mengenai kepegawaian sehingga sosialiasi dan implementasi kebijakan yang ada membutuhkan waktu yang relatif agak lama dan ketidakseimbangan jumlah PNS yang pensiun dibandingkan rekruitmen CPNS. Upaya yang dilakukan pemerintah dengan mengantisipasi perubahan peraturan kepegawaian dengan berkoordinasi secara intensif dengan pusat sebagai pencetus kebijakan maupun Kabupaten/Kota sebagai obyek pelaksana serta penyusunan formasi kebutuhan pegawai dan mengusulkan pelaksanaan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

113

rekruitment CPNS baik dari tenaga umum maupun pengangkatan tenaga honorer secara bertahap tanpa mengurangi makna efektivitas dan efisiensi. g. Program Peningkatan dan Pengembangan Informasi Kepegawaian. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan informasi kepegawaian guna menunjang pembinaan karier pegawai. Sasarannya adalah meningkatnya updating file data base kepegawaian dan pengembangan kualitas sistem informasi manajemen kepegawaian serta terpeliharanya file tata naskah/dokumen PNS di lingkungan Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Program ini dibiayai dengan dana APBD dari tahun 2003-2007 adalah sebesar Rp. 5.895.000.000,00. dengan target tahun 2003 sebanyak 24.889 file tata naskah dan tahun 2007 sebanyak 20.916 file tata naskah dengan hasil meningkatnya kualitas pelayanan informasi kepegawaian sebesar 90%. Permasalahan yang dihadapi mengenai sarana pendukung untuk pengembangan Sistem Informasi dan Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) dirasakan masih kurang dan masih perlu diadakan perbaikan-perbaikan guna memperlancar penyediaan data dan informasi kepegawaian yang dibutuhkan. Upaya yang dilakukan antara lain dengan penyajian dan penyampaian Informasi Kepegawaian secara lengkap, cepat, akurat, transparan dan akuntabel guna menunjang upaya pembinaan pegawai dengan pemanfaatan secara optimal Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) yang menghimpun file database PNS di lingkungan Pemerintah Propinsi Jawa Timur. 4. Program Peningkatan Kapasitas Keuangan Pemerintah Daerah. Program ini ditujukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kapasitas keuangan pemerintah daerah dalam rangka peningkatan pelayanan masyarakat, penyelenggaraan otonomi daerah, dan penciptaan pemerintahan daerah yang baik. Hal ini terkait dengan terkelolanya sumber dana dan pembiayaan pembangunan secara transparan, akuntabel dan prefesional. Adapun indikator dari pelaksanaan keuangan daerah ini adalah dengan melihat pada jumlah PAD, DAU, DAK, DBH dan beberapa indikator lainnya. Adapun rencana kerja pengelolaan keuangan daerah Jawa Timur adalah sebagai berikut : a. Bidang Pendapatan Mengembangkan kebijakan pendapatan daerah yang dapat diterima masyarakat, partisipatif, bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan program : Perluasan dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

114

peningkatan sumber penerimaan dan pembiayaan Daerah serta mendorong peningkatan tertib administrasi keuangan Daerah, Peningkatan Hubungan

Kerja/kerjasama antar Dinas dilingkungan Propinsi Jawa Timur dan dengan Pemerintah/ BUMN dalam rangka peningkatan penerimaan Bagi Hasil dari Pemerintah, Pengembangan fasilitasi kerjasama dengan Kabupaten/Kota dibidang Pajak dan Retribusi Daerah serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. b. Bidang Pelayanan Publik Mewujudkan pelayanan publik yang baik (excellent service), terpercaya dan transparan. Hal ini didukung program Pengembangan/peningkatan sarana dan prasarana pelayanan masyarakat, Pembangunan sarana dan prasarana pelayanan masyarakat, Meningkatkan kualitas pelayanan, dengan pemanfaatan teknologi informasi (hardware dan software) sebagai pendukung utama kelembagaan, Pengembangan sistem dan prosedur pemungutan dan pembayaran pajak, retribusi daerah dan pendapatan lainnya. c. Bidang Sumber Daya Manusia Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang potensial, memiliki integritas tinggi dan profesional serta membangun sistem kelembagaan yang berbasis kompentensi. Hal ini diwujudkan melalui Penyederhanaan peraturan perundang-undangan,

pengembangan manajemen pendapatan daerah dengan prinsip profesionalitas, efisiensi, transparan dan bertanggungjawab, Peningkatan kapabilitas dan

profesionalisme Sumber Daya Manusia Aparatur dibidang pengelolaan Keuangan Daerah, In House/On Job Training, Program Rekruitmen Sumber Daya Manusia Aparatur berbasis kompetensi. Beberapa program lainnya dalam upaya memenuhi target Pendapatan Daerah yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur adalah: 1) Pengembangan fungsi-fungsi kelembagaan dalam rangka peningkatan kapasitas kelembagaan Dinas Pendapatan Propinsi Jawa Timur yang dinamis, responsif, inovatif, akomodatif dan berkinerja tinggi. 2) Peningkatan penerimaan pendapatan (revenue) dengan mengembangkan

sumber-sumber penerimaan daerah dan revenue sharing dari Pemerintah Pusat, sehingga orientasi target dapat diukur dan ditetapkan sesuai dengan potensi. 3) Perbaikan kualitas pelayanan publik, melalui penyederhanaan sistem dan prosedur dan perekayasaan manajemen dengan teknologi informasi. 4) Pengembangan kualitas sumber daya aparatur yang kompeten dan profesional dengan prinsip-prinsip netralitas, akuntabilitas dan responsibilitas.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

115

5) Membangun jaringan (net working) dan pemanfaatan sarana berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk mendorong tingkat kesadaran dan kepuasan masyarakat dalam melaksanakan pembayaran pajak daerah. Realisasi penerimaan pendapatan daerah pada Tahun Anggaran 2004 sebesar 3 trilyun 953 milyar 714 juta 569 ribu rupiah lebih mengalami kenaikan sebesar 21,43 persen dibandingkan dengan realisasi penerimaan pada Tahun Anggaran 2003 sebesar 3 trilyun 255 milyar 987 juta 667 ribu rupiah lebih. Sedangkan pada Tahun Anggaran 2005 realisasinya mencapai 4 trilyun 609 milyar 953 juta 808 ribu rupiah lebih, atau mengalami kenaikan sebesar 16,60 persen dibandingkan dengan realisasi penerimaan pada Tahun Anggaran 2004 sebesar 3 trilyun 953 milyar 714 juta 569 ribu rupiah lebih. Selanjutnya Tahun Anggaran 2006 realisasi penerimaan mencapai 5 trilyun 106 milyar 539 juta 907 ribu rupiah lebih, naik sebesar 10,77 persen dibandingkan dengan realisasi penerimaan Tahun Anggaran 2005 sebesar 4 trilyun 609 milyar 953 juta 808 ribu rupiah lebih dan pada Tahun Anggaran 2007 penerimaan Pendapatan Daerah Propinsi Jawa Timur mencapai 5 trilyun 940 milyar 048 juta 022 ribu rupiah lebih, atau mengalami kenaikan sebesar 16,32 persen dibandingkan dengan realisasi penerimaan pada Tahun Anggaran 2006 sebesar 5 trilyun 106 milyar 539 juta 907 ribu rupiah lebih. Pada Tahun Anggaran 2008 realisasi penerimaan Pendapatan Daerah sampai dengan bulan Januari 2008 baru mencapai angka 357 milyar 338 juta 289 ribu rupiah lebih atau sebesar 6,67 persen dari target sebesar 5 trilyun 358 milyar 418 juta 871 ribu rupiah lebih. 5. Program Penataan Daerah Otonom Baru. Program ini ditujukan untuk menata dan melaksanakan kebijakan pembentukan daerah otonom baru sehingga pembentukan daerah otonom baru tidak memberikan beban bagi keuangan negara dalam kerangka upaya meningkatkan pelayanan masyarakat dan percepatan pembangunan wilayah. Di Jawa Timur tidak ada penataan daerah otonom baru.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Percepatan desentralisasi dan otonomi daerah menghadapi kendala antara lain: masih terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia yang baik dan profesional; masih terbatasnya ketersediaan sumber-sumber pembiayaan yang memadai, baik yang berasal dari kemampuan daerah itu sendiri (internal) maupun sumber dana dari luar daerah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

116

(eksternal); belum tersusunnya kelembagaan yang efektif; belum terbangunnya sistem dan regulasi yang jelas dan tegas; kurangnya kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. Belum optimalnya proses desentralisasi dan otonomi daerah antara lain karena belum jelasnya kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah yang berakibat pada tumpang tindihnya kebijakan pusat dan daerah, masih rendahnya kapasitas pemerintah daerah, masih rendahnya kerjasama antar daerah dalam penyediaan pelayanan publik, serta meningkatnya keinginan untuk membentuk daerah otonom baru yang belum sesuai dengan tujuannya. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan pada aspek berikut: 1. Peningkatan sumber daya manusia yang baik dan profesional; 2. Penyediaan sumber-sumber pembiayaan yang memadai, baik yang berasal dari kemampuan daerah itu sendiri (internal) maupun sumber dana dari luar daerah (eksternal); 3. Menyusun kelembagaan yang efektif; 4. Membangun terbangunnya sistem dan regulasi yang jelas dan tegas; 5. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. 6. Optimalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah antara lain dengan memperjelas kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga tumpang tindihnya kebijakan pusat dan daerah tidak lagi terjadi 7. Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah 8. Meningkatkan kerjasama antar daerah dalam penyediaan pelayanan publik.

VII. Penutup Seluruh upaya itu harus tetap dilakukan dalarn rangka mengawal agar otonomi daerah senantiasa dalam koridor yang antara lain sebagai berikut : Pertama; bahwa otonomi daerah sesungguhnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan mendekatkan fungsi-fungsi pelayanan umum pemerintah terhadap masyarakat. Kedua; bahwa sistem, mekanisme dan prosedur penyelenggaraan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang-undang dan Peraturan-peraturan pelaksanaannya harus jelas dan aplikatif sehingga benar-benar dapat menjadi pedoman yang memudahkan praktek pelaksanaan di lapangan dan sejauh mungkin menghindarkan distorsi dan ekses negatif yang bersifat kontra produktif.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

117

Ketiga; bahwa otonomi daerah dalam jangka panjang harus mampu mewujudkan Ketahanan Daerah dalam berbagai aspek Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan dalam rangka mewujudkan Ketahanan Nasional, dan Keempat ; bahwa ketiga hal tersebut dilaksanakan dalam wadah Negara Kesatuan Repulik Indonesia dan harus mampu memantapkan demokrasi, dalam semangat persatuan dan kesatuan nasional.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

118

I.

Pengantar Sebagaimana diketahui bahwa penciptaan tata pemerintah yang bersih dan

berwibawa telah menjadi agenda penting pemerintah yang tidak hanya di level pemerintah pusat tetapi juga digalakkan di tingkat daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Komitmen untuk memasukkan penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa sebagai salah satu agenda pembangunan adalah upaya kerja keras untuk segera terwujudnya tata pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang baik menjadi satu kebutuhan yang sangat penting dalam penyelenggaraan negara. Sejauh ini, meskipun upaya-upaya telah banyak dilakukan untuk menciptakan tata pemerintahan yang baik, namun kenyataannya praktik-praktik dalam penyelenggaraan masih banyak dinilai oleh beberapa kalangan bersifat buruk. Salah satu indikasinya adalah masih belum terhapusnya praktik korupsi di dalam penyelenggaraan negara. Upaya penciptaan tata pemerintahan yang baik melalui rumusan penciptaan pemerintahan yang bersih dan berwibawa yang tercantum dalam RPJMN membuktikan kesungguhan pemerintah untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dengan demikian, di berbagai level penyelenggaraan pemerintahan harus menjadikan hal tersebut sebagai program utamanya, agar tercipta tata pemerintahan yang baik di semua level pemerintahan. Terselenggarannya tata pemerintahan yang bersih dan tata pemerintahan yang baik merupakan prasyarat untuk terwujudnya pemerintahan yang efektif dan akuntabel. Namun pemerintahan akuntabel diperlukan upaya penataan dan pengaturan agar tercipta tatanan dan mekanisme yang professional. Meskipun telah menjadi bagian dari strategi pembangunan jangka menengah nasional upaya penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa belum sepenuhnya terimplementasikan dengan baik di tingkat daerah. Di Jawa timur, sebagai salah satu daerah yang sangat luas wilayah dan besar penduduknya menjadi sangat penting untuk menciptakan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa agar segera dapat membawa daerahnya menjadi lebih baik, namun kenyataannya praktik-praktik penyelenggaraan pemerintahan yang buruk masih saja terjadi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

119

Memang tidak mudah untuk mengelola Provinsi Jawa Timur yang termasuk salah satu provinsi di Indonesia dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Menurut statistik 2005, jumlah penduduk di provinsi ini adalah 36 juta jiwa, jauh lebih besar dibandingkan dengan Malaysia yang hanya dihuni oleh 23 juta jiwa atau benua Australia yang hanya dihuni 21 juta jiwa. Jumlah penduduk yang besar itu tersebar di wilayah seluas 41 ribu km , yang terbagi ke dalam 38 kabupaten/kota dan 650 kecamatan. Walaupun tingkat fertilitas secara umum sudah cukup rendah, namun dengan tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 0,77 persen per tahun secara absolute kenaikan jumlah penduduk di Jawa Timur pertahunnya cukup besar. Dengan wilayah dan sumberdaya ekonomi yang terbatas, masalah kependudukan dan peningkatan
2

kesejahteraan masyarakat masih menjadi salah satu persoalan utama di Jawa Timur. Namun demikian, upaya untuk melakukan berbagai terobosan di bidang pemerintahan maupun pembangunan akan melahirkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan terciptanya tata pemerintahan yang baik.

II.

Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Praktik-praktik penyelenggaraan tata pemerintahan yang buruk (bad governance)

masih banyak ditemui di Provinsi Jawa Timur. Salah satu indikator penting untuk menilai bahwa penyelenggaraan tata pemerintaha yang baik belum terlaksana di Provinsi Jawa Timur adalah masih maraknya praktik koruksi. Praktik korupsi masih banyak ditemui di dalam penyelenggaraan tata pemerintahan di berbagai level atau unit dan jenis kegiatan pemerintahan. Data di dalam box menunjukkan keseriusan persoalan korupsi di Jawa Timur. Praktik korupsi tidak hanya terjadi pada lembaga eksekutif, tetapi juga terjadi di lembaga legislative Provinsi Jawa Timur. Selain itu, praktik korupsi seringkali terjadi di berbagai aktivitas penyelenggaraan layanan public yang bersentuhan langsung masyarakat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

120

Wednesday, 26 Nov 2008 Desakan untuk Pengesahan RUU Pengadilan Tipikor SURABAYA - Ini bisa jadi bahan evaluasi yang bermanfaat bagi jajaran pemerintahan di Jatim. Jaringan Kerja Anti Korupsi (JKAK) Jawa Timur mengungkapkan bahwa provinsi ini menjadi wilayah kedua yang paling besar tingkat korupsinya.Temuan itu merupakan hasil penelitian Indonesian Corruption Watch (ICW) yang disampaikan JKAK Jatim dalam pertemuan dengan 32 LSM terkait desakan pengesahan RUU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Hotel Ibis kemarin (25/11).''Jatim ada di peringkat kedua di bawah DKI. Dan memang, tingkat korupsi di pemerintahan Jatim tiap tahun makin bertambah. Tentu ini bisa menjadi bahan evaluasi,'' kata Dewan Ahli JKAK Jatim Zulkarnaen.Dia menjelaskan, banyaknya kasus korupsi di Jatim tidak lepas dari beragam kebijakan dalam berbagai bidang di masingmasing instansi pemda (baik provinsi maupun kabupaten/kota). Fakta di lapangan, kebijakan yang diterapkan, terutama terkait dengan masalah pelayanan publik, seakan menjadi lumbung korupsi baru bagi aparat pemerintahan. ''Bisa dikatakan, praktik korupsi di pemerintahan saat ini berkedok untuk pelayanan publik,'' kata Zulkarnaen.Dia mencontohkan layanan bidang kesehatan dan pendidikan. ''Banyak layanan yang bisa dimanfaatkan oknum pegawai di instansi itu untuk korupsi,'' imbuhnya.Beragam anggaran lain juga cukup rawan dikorupsi. Di antaranya, pos pengadaan barang dan jasa atau pengeluaran untuk agenda kedinasan para PNS (pegawai negeri sipil). ''Di kalangan DPRD juga sangat rawan. Berbagai anggaran untuk operasional dewan sangat gampang diakali,'' jelasnya.Masalahnya, beragam layanan yang diindikasikan berbau korupsi itu tidak disertai mekanisme pengawasan yang ketat dari pemerintah. Termasuk, tidak adanya UU yang membuat praktik korupsi gampang sekali dilakukan dan susah untuk ditindak sesuai aturan. ''Kebijakan-kebijakan yang ada di Jatim jadi bancakan para pelaku korupsi, khususnya pembuat kebijakan itu sendiri,'' katanya.Kondisi itulah yang membuat 32 LSM yang tergabung dalam JKAK Jawa Timur tersebut meminta agar pemerintah segera membahas dan mengesahkan RUU Pengadilan Tipikor sebelum perhelatan pemilu legislatif April 2009.Pernyataan serupa diungkapkan perwakilan PW Muhammadiyah Jatim M. Toha. Menurut dia, RUU Tipikor sudah diperlukan agar penataan pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab bisa segera dijalankan. Sumber : jawapos.co.id (kutipan)

Praktik korupsi yang dinilai sedemikian menggurita akan memberikan citra yang negatif bagi pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Penilaian tersebut di atas menjadi wacana menarik untuk mendiskusikan strategi pengendalian penyelanggaraan

pemerintahan yang bersih. Wacana dan sterategi penciptaan tata pemerintahan yang bersih nampaknya akan sangat sulit dicapai jika persoalan-persoalan korupsi tidak kunjung habis. Oleh karenanya, harus ada upaya empiris untuk menanggulangi persoalan tersebut. Sejauh ini upaya pemerintah Jawa Timur untuk menanggulangi persoalan korupsi di daerahnya masih sangat rendah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa keseriusan pemerintah Jawa Timur untuk menghilangkan praktik korupsi di kalangan aparatur dinilai oleh masyarkat masih kurang memadai. Hasil penelitian dari PSKK UGM (Dwiyanto, 2006), misalnya menemukan bahwa penilaian masyarakat terhadap keseriusan pejabat pemerintah dalam menangani kasus korupsi di daerahnya masih belum maksimal. Hal ini ditandai oleh rendahnya intensitas dan sedikitnya kegiatan pejabat pemerintah provinsi untuk menindaklanjuti hasil laporan audit di Jawa Timur. Masyarakat menilai bahwa pemerintah jarang sekali membicarakan dalam forum rapat mengenai hasil audit. Terlebih mengklarifikasi ke dinas-dinas atau instansi tertentu yang dilaporkan dalam laoran audit jarang sekali dilakukan. Dan hampi-hampir tidak terjadi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

121

adalah tindakan pemerintah daerah untuk melaporkan ke pihak polisi mengenai hasil
Senin, 03 Sept 2007, Usut Dugaan Korupsi Dana BOS Jatim SURABAYA - Meski baru sepekan berganti pimpinan, Kejaksaan Tinggi (kejati) Jatim mulai memiliki garapan. Saat ini, kejati tengah mengusut dugaan korupsi dalam pencairan dana bantuan operasional sekolah (BOS) di Dinas P dan K Jatim. Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, dugaan tersebut berasal dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada 2007. Dalam audit tersebut disebutkan bahwa dalam pencairan dana BOS pada Juli sampai Desember 2005, terdapat selisih antara dana yang dialokasikan dengan yang disalurkan untuk kota dan kabupaten di Jatim. Selisihnya mencapai Rp 423.074.500.Selisih tersebut berasal dari pemeriksaan terhadap penetapan, pencairan, dan sisa dana BOS oleh Dinas P dan K. Untuk jangka waktu tersebut, dinas menetapkan tiap kabupaten dan kota di Jatim sebagai penerima dana Rp 739.977.696.000. Jumlah dana yang dicairkan ke Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jatim untuk kegiatan BOS sebesar 783.414.498.000. Namun kenyataannya, dana yang disalurkan ke kabupaten dan kota hanya Rp 740.400.770.500. Sehingga selisih antara penetapan dan penyaluran dana sebesar Rp 423 juta lebih. Adapun selisih pencairan dengan penyaluran Dalam audit BPK tersebut dijelaskan bahwa ada ketidakakuratan data antara permintaan kuota ke Depdiknas. Yaitu, pencairan dana tidak mendasarkan pada penetapan alokasi dari kepala dinas. Selain itu juga sisa dana tersebut belum disetor ke kas negara.Hal tersebut bertentangan dengan petunjuk pelaksanaan BOS 2005. Sebab, karena jumlah dana yang dicairkan berbeda dengan jumlah siswa di daerah. Dalam bab I c disebutkan bahwa besar dana BOS yang diterima sekolah dihitung berdasar jumlah siswa. Untuk siswa SD dan sederajat pada periode Juli sampai Desember 2005 menerima Rp 117.500 per siswa tiap bulannya. Sedangkan untuk SMP dan sederajat menerima dana Rp 162.250 per siswa tiap bulannya. Asisten Intelijen Kejati A.F. Darmawan ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya tengah mengusut kasus tersebut. Namun, dia enggan membeberkan perkembangan pengusutan. Sebab, katanya, masih dalam tahap penyelidikan. "Kami sudah membuat rencana strategi penyelidikan. Kami juga menggali bukti pendukung lainnya," ujarnya.Soal pejabat-pejabat yang sudah dipanggil kejaksaan, mantan Kajari Surabaya itu hanya tersenyum. "Tunggu sajalah. Kami masih menyelidikinya," katanya.Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas P dan K Jatim Rasiyo menyatakan bahwa kemungkinan selisih dana tersebut disebabkan perbedaan data siswa yang didaftar. Menurutnya untuk mendapatkan dana tersebeut setiap sekolah harus menyerahkan data jumlah siswa secara keseluruhan. Pada tahun anggaran yang dimulai awal tahun data siswa yang dipakai adalah data jumlah siswa pada pertengahan tahun sebelumnya. "Data siswa pada awal tahun ajaran dengan posisi bulan Juli pasti tidak sama dengan awal tahun anggaran yang dimulai Januari. Makanya ada selisih," jelasnya. Namun, kata Rasiyo, kelebihan dana itu, beserta bunganya, dikembalikan ke kas negara melalui bank Jatim. "Selama ini prosedurnya selalu seperti itu. Kami tidak mengambil sepeser pun," tegasnya. Terkait masalah pemeriksaan yang sedang dilakukan Kejati, Rasiyo tidak mau berkomentar. "Saya tidak mau bicara tentang itu. Itu namanya adu-adu. Yang saya sikapi hanyalah penjelasan masalah sisa dana yang dianggap korupsi lainnya itu tidak," katanya. (eko/cie) http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=301997

temuan yang ada di laporan audit. Melihat kondisi respons dari pemerintah yang demikian, maka muncul sikap tidak percaya kepada berbagai lembaga penegak hukum. Sikap yang tercermin dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara, terlebih pada instansi penegak hukum adalah sinisme terhadap apapun yang disampaikan maupun apa yang dilakukan oleh pemerintah tidak akan membuat kondisi pemberantasan korupsi menjadi lebih baik. Persoalan lain yang menjadi penghambat pengendalian korupsi di daerah juga disebabkan oleh kepedulian masyarakat yang rendah terhadap upaya pemberantasan korupsi, masalah yang dihadapi oleh Provinsi Jawa Timur dalam pengendalian korupsi adalah tingginya toleransi masyarakat terhadap praktik korupsi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengendalian korupsi membutuhkan perubahan sikap yang menyeluruh bukan hanya dari para penyelenggara negara tetapi juga warga negara secara keseluruhan. Warga dituntut untuk berani mengatakan tidak terhadap berbagai

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

122

bentuk penyalahgunaan kekuasaan seperti suap, pungli, dan sebagainya. Temuan hasil studi 2006) bahwa Jawa GAS (Dwiyanto,

membuktikan masyarakat Timur di

masih

sangat toleran terhadap berbagai dan masih praktik suap

pungli.

Mereka

menganggap

pungli sebagai hal yang wajar. Temuan ini

menunjukkan bahwa budaya anti korupsi masih belum berkembang di Jawa Timur. Padahal pengendalian korupsi hanya akan berhasil apabila masyarakat yang menjadi korban dari praktik korupsi berani menolak berbagai praktik suap dan pungli. Indikator lain untuk melihat belum terlaksananya penyelanggaraan tata pemerintah yang bersih dan berwibawa adalah transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan kebijakan publik. Transparansi merupakan salah satu dimensi penting untuk terwujudnya penyelenggaraan tata pemerintah yang baik, terutama dari aspek kualitasnya. Transparansi keterbukaan dalam dalam penyelenggaraan setiap proses tata pemerintahan menghendaki publik adannya maupun

pengambilan

kebijakan

implementasinya. Tidak jarang terjadi, setiap kegiatan pemerintahan, terutama yang menyangkut persoalan penggunaan anggaran sangat tertup. Di Provinsi Jawa Timur tampaknya situasi tersebut tidak bisa dilihat sebagai sesuai yang tidak terjadi. Praktik yang terjadi, masyarakat kesulitan mengakses informasi penyelenggaran pemerintahan. Ketertutupan akses masyarakat untuk mengetahui anggaran publik (APBD) misalnya, membuat pengawasan terhadap penggunaan uang negara semakin sulit. Data di bawah menunjukkan bahwa terjadinya manipulasi anggaran atau penyelewengan anggaran lebih banyak disebabkan oleh kurang terbukanya pemerintah dalam menuntukan berapa besarnya anggaran yang akan digunakan untuk membiayai sebuah kegiatan atau suatu program pembangunan. Akibat yang terjadi tatkalah masyarakat tidak memiliki akses yang besar untuk mendapatkan informasi mengenai besaran anggaran yang dikeluarkan untuk suatu kegaiatan adalah terjadinya penyelewengan. Sekecil apapun anggaran yang diperuntukkan untuk membiayai program masyarakat berhat untuk mengetahui atau mendapatkan informasi tersebut. Hal ini sebagai bentuk implementasi upaya peemrintah untuk menciptakan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Pemerintah yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

123

bersih sulit tercapai jika transparansi dalam proses penganggaran maupun proses pembuatan kebijakan publik tidak tercipta dengan baik.

Rabu, 31 Oktober 2007 | 17:18 WIB TEMPO Interaktif, Jember: Sekitar 80 persen dari seluruh proyek pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Jember, Jawa Timur sejak petengahan 2006 sampai September 2007 diduga raib karena diselewengkan. Dugaan ini diungkapkan oleh Transparancy Internasional Indonesia (TII) Koodinator Daerah Jember pada Rabu (31/10). Kesimpulan 80 persen proyek diselewengkan ini berdasarkan temuan 1.100 anggota Tim Independen Pemantau Penyimpangan Pengadaaan Barang dan Jasa yang dikoordinir TII Koodinator Daerah Jember. "Total uang yang bocor menapai Rp 45 miliar," kata Sri Sulistiyani, Koordinator Daerah TII Jember. Proyek yang diselewengkan itu terdiri dari 21 jenis seperti bedah rumah layak huni, penyaluran dana bantuan langsung tunai, penyaluran beras keluarga miskin, layanan persalinan, layanan dan pengadaan fasilitas Askeskin, dana insentif kader Posyandu, dan lain-lain. Sulis mengatakan, kebocoran itu disebabkan tertutupnya akses informasi dari pemerintah kepada masyarakat dan perilaku korup panitia pelaksana proyek. Mahbub Djunaidy Sumber: Tempo Interaktif

Ketertutupan pemerintah dalam memberikan akses informasi kepada masyarakat akan menyebabkan tidak berfungsinya kontrol masyarakat terhadap kegiatan pemerintah. Di era sekarang ini pemerintah harus memfokuskan dirinya untuk melakukan purabahan di dalam manajemen publik pada manajemen sektor publik yang berorientasi pada kinerja bukan pada kebijakan. Hal ini menimbulkan beberapa konsekuensi bagi pemerintahan di daerah, diantaranya adalah perubahan pendekatan dalam pengaggaran (budgeting reform), dimana pengelolaan uang rakyat (public money) dilakukan secara transparan, Aspek lain dari terselenggaranya tata pemerintahan yang baik adalah tersedianya ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam setiap proses kegiatan pengambilan kebijakan dan implementasinya. Pelibatan masyarakat dalam setiap proses tersebut akan menjadi akuntabilitas dan menimbulkan rasa kepemilikan oleh masyarakat terhadap program pembangunan. Keterlibatan masyarakat di dalam kegiatan proses pembuatan kebijakan publik di Jawa Timur nampaknya tidak jauh berebeda dengan daerah lain. Pelibatan masyarakat secara reguler tertampung dalam mekanisme yang sering disebut dengan musyarawah pembanguan (musrenbang) di tingkat desa. Selanjutnya, di dalam proses penentuan prioritas pembangunan di level pemerintaha lebih atas lebih banyak ditentutak oleh tarik ulur kepentingan elit pemerintah. Musrenbang banyak dinilai oleh sebagian masyarakt hanya merupakan kegiatan rutinitas yang sekedar menjalankan ketentuan yang berlaku. Dalam PP nomor 8 tahun 2008 diatur

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

124

tentang tata cara penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah. Kutipan data tersebut di bawah menunjukkan bahwa kegiatan musrenbang hanya sebuah rutinitas. ” Sementara itu, keberimbangan komposisi penyusunan program musrenbang terlihat dari pesertanya. Di tingkat kelurahan/desa, misalnya, bukan hanya melibatkan RT, RW, Badan Pembangunan Desa (BPD), tetapi juga unsur-unsur lainnya seperti kelompok tani, KUD, Posyandu dsb-nya. Pada tingkatan lebih tinggi, selain jajaran pemerintah, juga diikuti stakeholders non pemerintah seperti perwakilan LSM, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, dsb. Yang kesemuanya, tentu saja, merupakan pelaku utama pembangunan dan menggambarkan keterwakilan para stakeholders. Komposisi ini, menurut saya, merupakan sebuah keniscayaan dan bahkan ”keharusan” apabila arah pembangunan ingin terkontrol, efektif, dan efisien”. (Buletin Bulanan Prasetya, Provinsi Jatim No. 4 April 2008) Partisipasi masyarakat seharusnya tidak hanya sekedar pelibatan dalam proses perencanaan pembangunan yang hanya terselenggara satu tahun sekali, itupun hanya elit-elit masyarakat saja yang terlibat. Partisipasi masyarakat dapat terwujud dalam berbagai bentuk dan terkait dengan berbagai hal yang berhubungan dengan pelayanan publik maupun penyelenggaraan program pembangunan yang lain. Apakah sarana yang dibutuhkan menampung aspirasi masyarakat dalam berbagai kepentingan tersebut telah ada? Nampaknya sarana tersebut belum tersedia secara memadai.

III.

Sasaran yang Ingin di Capai Sasaran umum dalam penyelenggaraan Negara tahun 2004 – 2009 adalah

terciptanya tata pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa, profesionalisme, dan bertanggungjawab, yang diwujudkan dengan sosok dan perilaku birokrasi yang efisien dan efektif serta dapat memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Untuk memwujudkan hal tersebut di atas, secara khusus sasaran yang ingin dicapai adalah: 1. Berkurangnya secara nyata praktik korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas; 2. Terciptanya system kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih, efisien, efektif, transparan, profesional, dan akuntabel; 3. Terhapusnya aturan, peraturan, dan praktik yang bersifat diskriminatif terhadap warga Negara, kelompok, atau golongan masyarakat; 4. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik; 5. Terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan di atasnya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

125

IV.

Arah Kebijakan Arah kebijakan penyelenggaraan Negara yang berkaitan upaya pencapaian

terwujudnya tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa adalah sebagai berikut: 1) Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik KKN dengan cara: a. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan dan pada semua kegiatan; b. Pemberian sanksi yang seberat-beratnya bagi pelaku KKN sesuai dengan ketentuan yang berlaku; c. Peningkatan efektivitas pengawasan aparatur Negara melalui koordinasi dan sinergi pengawasan internal, eksternal, dan pengawasan masyarakat; d. Peningkatan budaya kerja aparatur yang bermoral, professional, produktif, dan bertanggungjawab; e. Percepatan pemeriksaan; f. Peningkatan pemberdayuaan penyelenggaraan Negara, dunia usaha, dan masyarakat dalam pemberantasan KKN. 2) Meningkatkan kualitas penyelenggara Negara melalui: a. Penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan pemerintahan agar dapat berfungsi secara lebih memadai, efektif, dengan struktur lebih proporsional, ramping, luwes, dan responsive; b. Peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pada semua tingkat dan lini pemerintahan; c. Penataan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia aparatur agar lebih professional sesuai dengan tugas dan fungsinya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat; d. Peningkatan kesejahteraan pegawai dan pemberlakuan system karier berdasarkan prestasi; e. Optimalisasi pengembangan dan pemanfaatan e-Government, dan pelaksanaan tindak lanjut hasil-hasil pengawasan dan

dokumen/arsip Negara dalam pengelolaan tugas dan fungsi pemerintahan. 3) Meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan dengan: a. Peningkatan kualitas pelayanan public terutama pelayanan dasar, pelayanan umum, dan pelayanan unggulan;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

126

b. Peningkatan kapasitas masyarakat untuk dapat mencukupi kebutuhan dirinya, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan mengawasi jalannya pemerintahan; c. Peningkatan transparansi, partispasi, dan mutu pelayanan melalui peningkatan akses dan sebaran informasi.

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah Berbagai rencana pembangunan jangka menengah yang terangkum dalam arah

maupun sasaran program perlu dilihat secara mendalam yang terjadi di daerah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah berupaya sedemikian rupa untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik disetiap level pemerintahan. Komitmen pemerintah daerah Jawa Timur tersebut paling tidak dapat dilihat dari berbargai kebijakan yang telah digulirkan oleh pemerintah provinsi maupun di kabupaten maupun kota di Jawa Timur, antara lain telah diterbitkan Perda No. 11 tahun 2005 tentang Pelayanan Publik di Jawa Timur dan ditindaklajuti dengan peraturan Gubernur No. 14 Tahun 2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda No. 11 Tahun 2005. Peraturan No. 11 tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pelayanan kepada masyarakat. Di dalam Pergub tersebut secara jelas didisebutkan tentang standar pelayanan yang meliputi: a) Prosedur pelayanan mengenai tata cara, mekanisme dan kejelasan persyaratan teknis dan administratif; b). Kurun waktu penyelesaian pelayanan; c). Besarnya biaya/tarif pelayanan dan tata cara pembayarannya; d) Mutu produk/hasil pelayanan yang akan diterima dengan telah harus ketentuan ditetapkan; sesuai yang e).
Sunday, 02 December 2007 06:47 Pelayanan Samsat Drive Thru Jawa Timur pertama di Indonesia Membayar pajak kendaraan bermotor (PKB) sekarang seperti membeli makanan cepat saji. ini terobosan pelayanan baru yang dibuka di Samsat Surabaya Manyar dan Samsat Kota Batu. Prosesnya, wajib pajak (WP/pemilik kendaraan) cukup membuka jendela mobilnya dan mendatangi loket I untuk menyerahkan BPKB, STNK, dan KTP asli kepada petugas yang langsung mengentry datanya. Lalu Wajib Pajak menuju ke loket II untuk membayar pajak yang sudah ditetapkan. Selesailah sudah pembayaran PKB.

Penyediaan sarana/prasarana pelayanan yang memadai oleh pelayanan Kompetensi pemberi layanan penyelenggara publik; f)

petugas harus

ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan, sikap, dan perilaku yang diperlukan. Selain itu, sebagai tindak lanjut dari Perda No. 11 tersebut pada tangal 6 November 2006 melalui Keputusan Gubernur No. 188/267/KPTS/013/2006 dibentuklah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

127

Komisi Pelayan Publik (KPP) yang berfungsi sebagai lembaga yang bersifat independen untuk menerima pengaduan dan bertugas mengadakan verifikasi, memeriksa, dan menyelesaikan sengketa pelayanan publik serta memberikan saran dan masukan baik diminta maupun tidak diminta kepada Kepala Daerah dan penyelenggara pelayanan publik dalam rangka memperbaiki kinerja pelayanan publik melalui DPRD. Indikator lain bahwa di Jawa Timur penerapan tata pemerintahan sudah muali terwujud adalah adanya sarana yang disediakan oleh penyelenggara layanan publik bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya terhadap bentuk layanan yang didapatkan. Di Rumah Sakit Dr. Soegiri Lamongan misalnya telah dibentuk Tim Khusus penanganan komplain (pengaduan) terhadap pelayanan masyarakat. Tugas utama dari Tim Khusus tersebut antara lain: a). Memberikan informasi pelayanan publik kepada semua pengguna Rumah Sakit baik ekternal maupun internal; b) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap setiap penyelesaian komplain; dan c) Melaporkan berkas hasil penyelesaian pengaduan kepada Bupati Lamongan setiap bulannya beserta hal-hal lain yang berhubungan dengan kegiatan peningkatan pelayanan publik.

Untuk mewujudkan transparansi dalam penyelenggaraan tata pemerintahan salah satu upaya yan dibangun oleh pemerintah Jawa Timur adalah menyediakan sarana informasi bagi masyarakat luas melalui penyediaan Web. Meskipun di beberapa instansi banyak menu yang menginformasikan tentang sturktur organisasi saja, tetapi ada beberapa informasi yang bisa diakses di web tersebut, seperti proses tender maupun Jenis Perda-Perda yang dihasilkan oleh DPRD. Box di atas adalah contoh informasi yang tersedia di Web Dispenda Jawa Timur.

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut Dalam kaitannya dengan temuan-temuan di atas, dalam rangka mewujudkan tata

pemerintahan yang bersih dan berwibawa diperlukan beberapa perubahan, yaitu pertama pembangunan institusional dan pembenahan manajemen di sektor publik yang menekankan pada terciptanya kultur tata pemerintahan yang baik, terutama dalam hal optimalisasi pelayanan public (public service) pada semua tingkatan pemerintahan. Penumbuhan kultur tersebut harus senantiasa dilakukan melalui internalisasi nilai-nilai kultur penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik dan berbasis transparansi dalam setiap aktivitas penyelenggaraan pemerintahan sehingga akan bisa mengurangi praktik korupsi sebagaimana yang selama ini dinilai belum terselesaikan dengan baik. Kedua, dalam menyelenggarakan kebijakan pembangunan terarah dan berkeadilan diperlukan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

128

perencanaan program yang bersifat komprehensif dan partisipatif. Partisipasi masyarakat harus senantiasa diberikan ruang yang besar dalam setiap tahapan proses

pembangunan. Dengan pemberian kesempatan yang besar bagi masyarakat untuk terlibat dalam setiap peroses pembangunan tersebut diharapkan menumbuhkan kepercayaan dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program pembangunan. Tugas pemerinah provinsi untuk menjamin terciptanya partisipasi masyarakat adalah

memberikan dan menyediakan fasilitas-fasiltas yang bisa dimanafaatkan masyarakat, seperti proses audiensi, konsultasi publik, Ketiga, Salah satu aspek dari pemerintahan daerah yang harus diatur dengan baik dan hati-hati adalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. Dalam pengelolaan anggaran tersebut harus diperhatikan aspek transparansi. Transparansi dalam penganggaran menjadi alat kontrol atau pengawasan terhadap pengeluaran maupun pendapatan sehingga terhindarkan dari penyelewengan. Keempat, diperlukan restrukturisai dan perampingan kelembagaan. Banyak penilaian bahwa di dalam pentaan organisasi di Jawa Timur masih terlihat belum ramping sehingga dari aspek anggaran masih cukup besar untuk keperluan hal tersebut. Pada sisi lain, tidak rampingnya struktur organisasi tersebut akan melahirkan inefisiensi.

VII. Penutup Mencermati kinerja tata pemerintahan di Jawa Timur yang tercermin dari temuantemuan di atas perlu kiranya ada satu benang merah yang menjadi titik tolak dari tidak maksimalnya pelaksanaan tata pemrintahan di Jawa Timur. Proses tranformasi tata

pemerintahan seperti yang dikehendaki di dalam rencana jangka panjang menengah tampak masih belum berjalan secara maksimal di Jawa Timur. Beberapa hal yang bisa dijadikan alasan untuk merumuskan kesimpulan tersebut adalah , pertama masih maraknya praktik korupsi daalam berbagai kesempatan dan kegiatan penyelnggaraan pelayanan publik. Kedua keterlibatan stakeholders dalam proses perumusan dan implementasi kebijakan masih belum berjalan dengan baik, dan ketiga transparansi dibidang penganggaran tampaknya masih jauh dari memadai.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

129

I.

Pengantar Kewenangan Pemerintah Daerah Jawa Timur dalam Bidang Politik hanya bersifat

membantu membina masyarakat dalam rangka menciptakan situasi dan kondisi politik yang lebih baik. Namun dengan program/kegiatan yang dilaksanakan tahun-tahun sebelumnya, yang salah satu diantaranya adalah peningkatan wawasan kebangsaan, telah mendukung penciptaan kondisi berdemokrasi yang tertib. Hasil pelaksanaan pembinaan politik kepada masyarakat ditunjukkan dengan banyaknya kegiatan forum wawasan kebangsaan serta peningkatan peran dan fungsi kelembagaan politik yang ada. Selanjutnya, pelaksanaan demokrasi akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh kelembagaan demokrasi yang kokoh. Sampai saat ini, proses awal demokratisasi dalam kehidupan sosial dan politik di Jawa Timur dapat dikatakan telah berjalan pada jalur dan arah yang benar yang ditunjukkan antara lain dengan terlaksananya PILKADA Langsung (baik Gubernur dan Bupati/Walikota), serta menguatnya fungsi kelembagaan DPRD hasil pemilihan umum tahun 2004. Secara umum dapat dikatakan, masyarakat tampak makin sensitif terhadap berbagai gejala dan proses politik yang terjadi, serta ingin lebih banyak turut serta dalam proses pengambilan keputusan politik yang langsung berkaitan dengan kepentingan mereka. Kondisi masyarakat seperti ini dapat dikatakan sebagai sebuah model awal yang baik bagi demokratisasi. Teladan, pembinaan dan dorongan secara terus menerus untuk menerapkan nilai-nilai demokrasi, organisasi kemasyarakatan, LSM dan Pers, merupakan hal yang akan terus dilakukan bagi peningkatan kualitas keikutsertaan (partisipasi) politik dan internalisasi nilai-nilai demokrasi dalam jiwa setiap individu masyarakat Jawa Timur, sehingga pelaksanaan serta peningkatan kualitas kelembagaan demokrasi yang sudah terbentuk tersebut, akan terus dikembangkan adanya perbaikan pola hubungan pemerintah dan masyarakat, termasuk penyelesaian persoalan sosial politik masa lalu Pelaksanaan pembangunan politik ditandai dengan semakin meningkatnya arus demokratisasi sehingga membawa implikasi pada berbagai permasalahan yang dihadapi,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

130

II. Kondisi Awal RPJMN Di Jawa Timur 1. Adanya kecenderungan menurunnya partisipasi politik masyarakat. Menurunnya tingkat partisipasi politik dalam pemilihan umum legislatif atau eksekutif secara umum disebabkan oleh pemahaman bahwa politik dianggap bukan solusi dalam menangani permasalahan hidup masyarakat. Artinya masyarakat menganggap politik sebagai instrumen saja. Dalam hal ini, jika masyarakat bersinggungan dengan politik, mereka cenderung pragmatis, menghitung untung rugi yang sifatnya jangka pendek. Hanya sedikit masyarakat yang menyadari bahwa politik adalah hak asasi dan merupakan ukuran martabat manusia. Yang seperti ini biasanya masyarakat merasa puas setelah menentukan pilihan, Teknis pemilihan juga mempengaruhi tingkat partisipasi politik masyarakat. Semakin mudah dan murah bagi masyarakat pemilihan itu dilangsungkan, semakin tinggi tingkat partisipasinya 2. Belum optimalnya implementasi peran dan fungsi lembaga-lembaga politik. Perubahan struktur dan substansi UUD 1945, serta disahkannya berbagai peraturan perundangan yang ada dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan koridor hukum pelaksanaan peran dan fungsi kelembagaan politik yang ada di daerah. Namun demikan, berbagai peraturan yang disahkan tersebut belum dapat dilaksanakan secara optimal karena belum adanya peraturan pelaksanaannya, seperti: Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Presiden. Kondisi ini berpengaruh juga pada implementasi peran dan fungsi lembaga-lembaga politik di daerah. 3. Pola hubungan pemerintah dan masyarakat yang belum sesuai dengan kebutuhan demokratisasi. Hubungan pemerintah dan masyarakat yang konstruktif dalam mendorong proses konsolidasi demokrasi belum berjalan dengan optimal yang disebabkan masih adanya aparat yang belum memahami perubahan paradigma birokrasi yang lebih

mengedepankan pelaksanaan good government. Hal ini ditandai dengan belum terbukanya ruang publik dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang berada di dalam domain kemasyarakatan. 4. Ketidak-seimbangan informasi tentang proses Demokrasi Media massa dapat berperan dalam proses pendidikan politik masyarakat melalui pemberitaan secara obyektif dan kritis. Namun dengan adanya kebebasan pers, peran media dalam proses pendidikan politik tersebut belum optimal dan seringkali sengaja memperkeruh konflik dan mengadu domba pihak-pihak yang berbeda pendapat atau berpihak kepada kelompok yang lebih kuat dan berkuasa.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

131

5. Meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap peran legislatif Dinamika perubahan politik yang dinamis menyebabkan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap peran lembaga legislatif sebagai wahana representasi politik masyarakat, dengan harapan seluruh kepentingan dan aspirasi masyarakat bisa didengar, ditindaklanjuti dan dipenuhi; III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran Perwujudan Kelembagaan Demokrasi yang Makin Kokoh adalah: 1. Terlaksananya peran dan fungsi lembaga penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan sesuai konstitusi dan peraturan perundangan yang berlaku; 2. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik; 3. Terlaksanaya pemilihan kepala daerah secara langsung, demokratis, jujur, adil, dan parsitipatif; serta 4. Terlaksananya pemilihan umum yang demokratis, jujur dan adil pada tahun 2009.

IV. Arah Kebijakan a. Arah Kebijakan Pembangunan Arah kebijakan dari Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh akan ditempuh melalui kebijakan: 1. Mewujudkan pelembagaan demokrasi yang lebih kokoh dengan mempertegas tugas, wewenang dan tanggungjawab dari seluruh kelembagaan pemerintahan yang berdasarkan mekanisme checks and balances; 2. Memperkuat peran masyarakat sipil (civil society) untuk lebih partisipatif dalam setiap pengambilan keputusan publik; 3. Mendorong sosialisasi dan advokasi politik untuk kalangan masyarakat sipil dan partai politik 4. Meningkatkan kualitas etika politik di kalangan partai politik dan penyelenggara Negara di daerah 5. Memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah; 6. Mewujudkan pelembagaan dan mendorong berjalannya rekonsiliasi beserta segala kelengkapan kelembagaannya; serta 7. Menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam mengkomunikasikan kepentingan masyarakat. 8. Meningkatkan kualitas dan kredibilitas sistem dan proses penyelenggaraan pemilu.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

132

b. Program Pembangunan Arah kebijakan dalam perwujudan Lembaga Demokrasi yang makin kokoh dijabarkan dalam program-program pembangunan sebagai berikut:

1. Program Penyempurnaan Dan Penguatan Kelembagaan Demokrasi Program ini bertujuan untuk mewujudkan pelembagaan fungsi-fungsi dan hubungan antar lembaga-lembaga pemerintahan, lembaga politik, serta lembagalembaga kemasyarakatan yang kokoh dan optimal. Kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini mencakup: a. Perumusan standar dan parameter politik terkait dengan hubungan checks and balances di antara lembaga-lembaga penyelenggara pemerintahan; b. Peningkatan kemampuan lembaga eksekutif yang profesional dan netral; c. Perumusan kerangka politik yang lebih jelas mengenai kewenangan dan tanggungjawab antara pusat dan daerah dalam konteks desentralisasi dan otonomi daerah; d. Peningkatan kualitas fungsi dan peran lembaga legislatif daerah, baik DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota; e. Pelembagaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi; f. Fasilitasi pemberdayaan partai politik dan masyarakat sipil yang otonom dan independen, serta yang memiliki kemampuan melakukan pengawasan terhadap proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan kebijakan publik; serta g. Fasilitasi pemberdayaan masyarakat agar dapat menerapkan budaya politik demokratis.

2. Program Perbaikan Proses Politik Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas

penyelenggaraan pemilihan umum dan uji kelayakan publik, serta pelembagaan perumusan kebijakan publik. Kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini mencakup: a. Perumusan standar dan parameter penyelenggaraan debat publik yang

berkualitas bagi calon kepala daerah/pemimpin; b. Perumusan standar dan parameter uji kelayakan untuk merekrut pejabat politik dan pejabat publik;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

133

c. Perwujudan komitmen politik yang tegas terhadap pentingnya memelihara dan meningkatkan komunikasi politik yang sehat, bebas dan efektif; d. Fasilitasi penyelenggaraan Pilkada dan Pemilu 2009 yang jauh lebih berkualitas, demokratis, jujur dan adil; serta e. Pengembangan mekanisme konsultasi publik sebagai sarana dalam proses penyusunan kebijakan. 3. Program Pengembangan Komunikasi, Informasi Dan Media Massa Program ini bertujuan untuk meningkatkan peran pers dan media massa dalam memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara bebas, transparan dan bertanggung jawab, serta dalam rangka mewujudkan masyarakat informasi menuju masyarakat berbasis pengetahuan. Kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini mencakup: a. Fasilitasi peninjauan atas aspek-aspek politik terhadap peraturan perundangan yang terkait dengan pers dan media massa; b. Pengkajian dan penelitian yang relevan dalam rangka pengembangan kualitas dan kuantitas informasi dan komunikasi; serta c. d. e. Fasilitasi peningkatan profesionalisme di bidang komunikasi dan informasi. Peningkatan kualitas dan kuantitas materi komunikasi dan informasi. Pemberdayaan lembaga Pemberitaan Independen.

V. Pencapaian RPJMN Di Jawa Timur Perkembangan pembangunan politik di Jawa Timur secara umum sudah semakin baik, hal ini di tandai dari proses demokratisasi telah berjalan pada arah yang benar. Demikian pula antusias masyarakat berpolitik melalui organisasi partai politik cukup tinggi, seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kritis, maka adanya tuntutan keterbukaan dalam wadah partisipasi politik rakyat yang ditandai dengan berlakunya sistim multi partai yang mengikuti Pemilu serta munculnya berbagai bentuk asosiasi masyarakat sipil baik dalam bentuk organisasi kemasyarakatan,lembaga swadaya masyarakat maupun forum forum lainnya, menjadi model yang sangat penting dalam mewujudkan proses demokratisasi ke depan. Pemilu tahun 2004 yang diikuti oleh 24 partai politik, hasilnya 9 partai politik telah memperoleh kursi di DPRD Propinsi periode 2004-2009 yaitu PKB memperoleh 31 kursi, PDIP 24 kursi, Partai Golkar 15 kursi, PPP 8 kursi, PAN 7 kursi, PBB 1 kursi, Partai Demokrat 10 kursi, PKS 3 kursi dan PDS 1 kursi dan secara umum berlangsung aman dan tertib. Demikian juga dengan diberlakukannya Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

134

Langsung, maka hak-hak rakyat akan semakin terakomodasi. Namun demikian, sebagai tahapan awal dari era demokrasi akan banyak permasalahan yang muncul disekitar Pemilihan Kepala Daerah baik mulai tahapan pengusulan sampai pelaksanaan pemungutan suara. Pemungutan suara yang aman akan menjamin Kepala Daerah yang representatif dan memiliki dukungan masyarakat. Masyarakat madani (civil society) yang kuat akan dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan. Oleh sebab itu penguatan kelembangan menjadi tugas bersama sebagai langkah

mempercepat masyarakat madani. Dalam Pilgub Jawa Timur 2008, berdasarkan hasil finalisasi validasi Daftar Pemilih Tetap yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Timur memutuskan dan menetapkan Jumlah Pemilih Terdaftar Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2008 sejumlah 29.063.069 Pemilih dan Tempat Pemungutan Suara (TPS) sejumlah 62.756 pada putaran pertama, Tetapi, data terbaru mengeluarkan versi yang berbeda yaitu 29.280.470 orang atau bertambah 0,75 persen dari putaran pertama. Sedangkan untuk jumlah TPS, KPU juga merilis data terbaru. Jika sebelumnya jumlah TPS yang akan didirikan sebanyak 62.869 buah kini berkurang menjadi 62.859 buah. Pengurangan jumlah TPS ini harus dilakukan setelah pihaknya melakukan pengecekan kembali di lapangan terutama pendirian TPS khusus. (Sumber : www.kpujatim.go.id) Namun dari hasil survey diketahui bahwa jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak suara atau memilih golput dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2008 cukup tinggi. Lembaga Survei Indonesia melansir jumlah pemilih yang datang ke tempat pemilihan suara (TPS) se-Jawa Timur sebesar 61,49%. Artinya, 38,51% Pemilih di Jawa Timur Golput. Kota Surabaya termasuk yang paling rendah jumlah partisipasi pemilihnya dibandingkan kabupaten dan kota lain di Jawa Timur. Hasil survei LSI menyebutkan tingkat partisipasi pemilih di Surabaya hanya 51,55% (VHR Media.com). Kalau diperhatikan, tingkat partisipasi politik masyarakat pada pemilihan legislatif cenderung lebih tinggi daripada partisipasi politik pada pemilihan eksekutif. Sebab peluang menggerakkan massa oleh banyaknya calon dan di banyak tempat lebih besar. Hal ini berbeda dengan pemilihan kepala daerah, meski tim suksesnya menyebar, tapi kekuatan penggalangan massa tidak merata dan kuantitasnya cenderung lebih rendah. Prediksi tersebut disampaikan pakar politik Universitas Airlangga Surabaya Drs Priyatmoko MA pada Sosialisasi Undang-Undang Pemilu bagi aparatur se-Jatim di Hotel Utami Juanda, Selasa (21/10/08).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

135

Menurutnya, rendahnya tingkat partisipasi politik dalam pemilihan umum legislatif atau eksekutif secara umum disebabkan oleh pemahaman bahwa politik dianggap bukan solusi dalam menangani politik permasalahan instrumen hidup saja. masyarakat. Dalam hal Artinya ini, jika masyarakat masyarakat

menganggap

sebagai

bersinggungan dengan politik, mereka cenderung pragmatis, menghitung untung rugi yang sifatnya jangka pendek. Hanya sedikit masyarakat yang menyadari bahwa politik adalah hak asasi dan merupakan ukuran martabat manusia. “Yang seperti ini biasanya masyarakat merasa puas setelah menentukan pilihan, Dia juga menjelaskan, bahwa teknis pemilihan juga mempengaruhi tingkat partisipasi politik masyarakat. Semakin mudah dan murah bagi masyarakat pemilihan itu dilangsungkan, semakin tinggi tingkat partisipasinya. Karena itu ada dua rencana yang harus diagendakan pemerintah untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat dalam pemilu. Program jangka panjang dengan melakukan pendidikan politik masyarakat secara terintegritas dan

berkesinambungan, sementara jangka pendeknya, memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa mereka berkesempatan untuk ikut andil dalam perubahan dan pembangunan. “Setelah mencoblos jangan lantas berhenti, tapi diajak untuk mengontrol kinerja calon yang dipercayainya,” (Dinas Infokom Jatim) Kita menyadari betapa demokratisasi yang merasuki ruang sipil dan politik ternyata tidak serta merta menghasilkan perbaikan yang substansial untuk reformasi hukum, reformasi birokrasi pemerintahan, dan representasi politik. Bahkan beriringan dengan itu, juga muncul berbagai kendala struktural yang mengakibatkan transformasi demokrasi belum cukup memadai untuk kemajuan hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat, demi peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Itulah barangkali sebabnya, banyak ahli berpendapat, memahami demokrasi secara substansial selayaknya lebih ditekankan pada nilai-nilainya daripada hanya mengenai sistem pemerintahan. Menurut paham ini, demokrasi lebih dilihat sebagai seperangkat gagasan dan prinsip kebebasan, serta pelembagaan kebebasan daripada sekadar seperangkat aturan dan prosedur konstitusional yang menentukan bagaimana suatu pemerintahan berfungsi. Demokratisasi-- sebagai proses menuju ke arah demokrasi -- yang bermula dari suatu upaya merealisasi atau menyempurnakan kehidupan demokrasi, muncul sebagai kebutuhan dan masalah, bila kehidupan bernegara demokratis yang dicita-citakan ternyata belum terwujud sebagaimana diharapkan. Demokratisasi pada dasarnya merupakan proses meniadakan kesenjangan, yakni antara mereka yang terlalu digdaya kekuasannya dan mereka yang terlalu tidak berkeberdayaan,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

136

antara mereka yang memiliki sumber daya sosial, ekonomi, politik berkelebihan dan mereka yang nyaris tidak memiliki apa pun. Adalah suatu kearifan bila kita menyadari kenyataan dasar dalam demokratisasi, bahwa demokrasi tidaklah bisa bekerja dengan sendirinya secara otomatis begitu lembaga-lembaga demokrasi diperkenalkan. Demokratisasi mensyaratkan agar

masyarakat memiliki kekuatan yang cukup berdaya untuk eksis dan berperan dalam isuisu utama sistem politik, berkemampuan mempolitisasi kepentingan-kepentingan dasar mereka, dan berkeberdayaan pula memobilisasi dukungan publik yang luas. Demokratisasi dan demokrasi tidak akan cukup substansial dan berfungsi secara bermakna bagi masyarakat miskin. sebagai cara menyelesaikan problem-problem mereka dalam membangun kehidupan lebih baik, meningkatkan kesejahteraan mereka, jika masyarakat miskin itu tidak memiliki akses, tidak punya peluang, dan tidak memiliki kapasitas memanfaatkan instrumen-instrumen demokrasi, sekalipun itu merupakan kebebasan berpendapat ataupun kebebasan berserikat. Dalam wacana akademis, kita memahami adanya konseptualisasi elemen dasar demokrasi politik, termasuk struktur mekanis formal dan prasyarat prinsip yang melandasinya. Setidaknya terdapat beberapa indikator yang layak kita pahami yaitu, pertama, kompetisi ekstensif dan bermakna di antara individu dan kelompok-kelompok terorganisasi, terutama partai politik untuk semua posisi kekuasaan pemerintah yang efektif dengan interval reguler, tanpa penggunaan kekerasan. Kedua, partisipasi politik yang sangat inklusif dalam seleksi pemimpin dan kebijakan, setidaknya melalui pemilihan yang fair dan bersifat reguler. Dan ketiga, kebebasan sipil dan politik -- kebebasan berekspresi, kebebasan pers, serta kebebasan membentuk dan menjadi anggota organisasi -- yang cukup untuk menjamin integritas kompetisi politik dan partisipasi. Partisipasi aktif rakyat merupakan inti tindakan demokratis. Tanpa itu, demokrasi akan layu dan menjadi cagar bagi sejumlah kecil kelompok atau organisasi terpilih. Namun -sekali lagi- demokrasi bukan mesin otomatis begitu prinsip-prinsip dan prosedurnya disiapkan. Suatu masyarakat yang menerima, bahwa pada dasarnya konflik tak dapat dihindarkan dan toleransi diperlukan. Banyak konflik dalam suatu masyarakat demokratis bukan antara pihak yang jelas-jelas salah atau benar, tapi antara berbagai penafsiran yang berbeda atas hak-hak demokratis dan prioritas sosial. Itulah sebabnya pada dasarnya demokrasi merupakan perangkat aturan untuk mengelola konflik Pada waktu yang sama, konflik harus dikelola dalam batas-batas tertentu dan menghasilkan konsensus ataupun pengaturan lain yang diterima semua pihak sebagai keabsahan. Dalam konteks masyarakat kita dewasa ini, demokrasi tidak

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

137

bisa didukung dengan menghindarkan masyarakat warga dari politik dan dari konflik yang menyangkut hubungan-hubungan kekuasaan. Tidak semua politik dan semua konflik bersifat kontra-produktif. Yang lebih penting dilakukan agar demokrasi berkembang secara substansial dan benar-benar bisa menjadi bermakna bagi masyarakat adalah bagaimana menumbuhkan nilai-nilai demokrasi di dalam masyarakat warga untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola konflik dan memperbarui politik, mengembangkan agenda inklusif yang luas untuk mengubah hubungan-hubungan kekuasaan, serta memajukan kebijakan-kebijakan alternatif. Semua ini hanya bisa dilakukan jika kita mampu membangun kekuatan melalui organisasi-organisasi yang berbasis pada representasi kerakyatan. Namun jika masyarakat warga memandang demokrasi sebagai tak lebih dari suatu forum dimana mereka dapat mendesakkan tuntutan mereka, maka masyarakat dapat hancur dari dalam. Sebaliknya, jika pemerintah menjalankan tekanan berlebihan untuk mencapai konsensus dengan membungkan suara rakyat, masyarakat dapat hancur dari atas. Untuk itulah budaya demokrasi menjadi penting dikembangkan. Masyarakat harus bersedia menerima perbedaan satu sama lain, mengakui pihak lain mempunyai hak yang sah dan sudut pandang yang sah pula. Demokrasi adalah sistem di mana warganya bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas. Dalam masyarakat demokratis, kekuasaan mayoritas harus digandengkan dengan jaminan atas hak asasi manusia, yakni melindungi hak-hak minoritas -- baik etnis, agama maupun politik. Hak-hak minoritas tak tergantung pada itikad baik mayoritas, dan tak dapat dihapus oleh suara mayoritas. Hak-hak minoritas dilindungi oleh hukum dan melalui pelembagaan hukum. Lembaga demokratis melindungi hak semua warga. Demokrasi bukan hanya seperangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan, tapi juga pada dasarnya merupakan pelembagaan kebebasan, dan karena itu hak asasi dan persamaan di depan hukum harus dimiliki setiap masyarakat untuk bisa secara pantas disebut demokratis. Di lain pihak, demokrasi juga lebih dari sekadar seperangkat aturan dan prosedur konstitusional yang menentukan bagaimana suatu pemerintahan berfungsi. Dalam demokrasi, pemerintah hanya salah satu unsur yang hidup berdampingan dalam suatu struktur sosial dari berbagai lembaga, partai politik, organisasi dan asosiasi.

Keanekaragaman ini disebut pluralisme, yang berasumsi, kelompok terorganisasi dan lembaga dalam masyarakat demokratis tak tergantung pada legitimasi dan kekuasaan pemerintah. Pemerintahan demokratis diciptakan untuk melindungi kebebasan individu berdasarkan eksistensi individu. Ada hak-hak alamiah yang tak dapat dicabut siapa pun,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

138

yakni kebebasan berbicara dan berpendapat, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan berserikat, dan hak mendapatkan perlindungan yang sama di depan hukum. Hak-hak inti ini harus dijunjung tinggi setiap pemerintahan demokratis. Kebebasan berbicara dan berpendapat merupakan darah hidup setiap demokrasi. Demokrasi pada dasarnya adalah komunikasi. Orang berbicara satu sama lain tentang masalah bersama dan membentuk suatu nasib bersama. Warga suatu masyarakat demokratis hidup dengan keyakinan, melalui pertukaran gagasan dan pendapat yang terbuka, kebenaran akhirnya akan menang atas kepalsuan, nilai-nilai orang lain akan lebih dipahami, bidang-bidang mufakat akan dirinci lebih jelas, dan jalan ke arah kemajuan pun terbuka. Demokrasi selayaknya harus bersifat emansipatoris, sebab semua bentuk emansipasi sebenarnya berhakikat sebagai proses demokratisasi, apakah itu emansipasi kaum perempuan dari kungkungan para patriakh, ataupun emansipasi masyarakat dari alam kebodohan akibat kekurangan informasi dan pengetahuan yang benar, hingga emansipasi masyarakat miskin dari sumber daya produksi dan permodalan, dan lainnya. Apabila nilai demokrasi yang kita kembangkan tidak tumbuh di ranah emansipatoris, bukan mustahil akan muncul tanda-tanda zaman meruaknya kebangkrutan, atau setidaknya defisit politik demokrasi di dalam masyarakat kita. Jika kenyataan itu yang terjadi, sulit bagi kita mengingkari betapa kecenderungan munculnya fenomena demokrasi yang bersifat elitis dan oligarkis, dimana hanya kelompok-kelompok berpengaruh yang menguasai lembaga-lembaga demokrasi. Bukan mustahil gejala ini menyeruak akibat faktor-faktor struktural, seperti kecenderungan kuat dari regulasi demokrasi yang prosedural, namun boleh jadi juga akibat lemahnya kapasitas masyarakat, khususnya kelompok-kelompok masyarakat miskin dalam memanfaatkan instrumen demokrasi untuk menggapai tujuan peningkatan kesejahteraan mereka. Kita harus mencegah terjadinya praktik elitisme politik yang akan menumbuhkan demokrasi oligarkis, sebab demokrasi sedemikian itu hanya akan menciptkan representasi politik yang elitis, semu, rapuh, dan tidak memiliki keberpihakan pada orangorang miskin. Sudah saatnya kita mengeliminasi instrumen-instrumen demokrasi yang berkecenderungan dimanfaatkan, atau bahkan cenderung dimanipulasi oleh kelompok masyarakat yang memiliki akses politik dan ekonomi yang luas pada sumber-sumber kekuasaan demi kepentingan mereka sendiri. Menumbuhkan gerakan demokrasi berbasis masyarakat selayaknya menjadi keniscayaan, terutama dengan mengagendakan pemetaan untuk memahami berbagai kendala yang dihadapi rakyat miskin dan gerakan-gerakan sosial kerakyatan di tingkat lokal dan akar rumput, untuk mendorong agar bagaimana berbagai jenis gerakan sosial

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

139

kerakyatan itu mentransformasikan diri menjadi gerakan sosial politik demi peningkatan kesejahteraan mereka. Menumbuhkan berbagai asosiasi dan organisasi gerakan sosial di tingkat akar rumput dianggap penting karena mereka mencerminkan respons yang otentik dan berhubungan dengan kepentingan-kepentingan langsung masyarakat miskin. Di dalam konteks inilah betapa perlu kita mengarahkan perhatian, melihat berbagai kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian pandangan yang sama untuk merevitalisasi demokrasi melalui peningkatan partisipasi rakyat dalam berbagai ranah publik di tingkat lokal dan akar rumput, yaitu lembaga-lembaga dan praktik-praktik sosial politik yang menjaga kepentingan publik yang terbuka untuk dimanfaatkan masyarakat dalam merespons fenomena otonomi dan demokratisasi lokal, sebagai bagian penguatan kembali kapasitas rakyat untuk terlibat secara lebih substantif dalam proses demokrasi

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Menumbuhkan political trust rakyat Jawa Timur, bahwa pemilihan gubernur secara langsung bukan dengan semangat demokrasi yang elitis dan oligarkis, melainkan dengan semangat demokrasi partisipatoris, yang akan menguak masa depan lebih cerah, meningkatkan peran rakyat demi pengembangan kualitas sistem pemerintahan yang lebih baik, dan demi peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. Mendorong proses demokratisasi partisipatoris, khususnya di Jawa Timur, sebagai gerakan sosial baru, mengembangkan politik aktivisme masyarakat dan organisasiorganisasi non-pemerintah, khususnya pada aras politik lokal dalam ruang otonomi, di mana berbagai macam entitas masyarakat di akar rumput, para pelaku pasar, dan birokrasi pemerintah daerah, terlibat dalam gerakan yang memperkuat satu sama lain untuk memproduksi semua hal yang baik bagi semua orang. Mengembangkan wacana dan praktik pembangunan yang bersifat polisentris dengan membangun kepercayaan, bahwa kegiatan kelompok-kelompok masyarakat di tingkat lokal dan akar rumput memiliki kemampuan menyelesaikan daftar masalah yang terus berkembang yang mereka hadapi. Wacana peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam sistem yang demokrtatis partisipatoris akan memberi ruang kondusif bagi kerja sama lokal dalam semangat good governance antara birokrasi, institusi publik, dan masyarakat; sekaligus membangun relasi saling memperkuat antara lembaga-lembaga pemerintah daerah otonomi, institusi publik lokal, dan asosiasi-asosiasi masyarakat di akar rumput yang kondusif demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, mengembangkan sistem pendidikan yang murah dan bermutu,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

140

membangun

institusi

pelayanan

kesehatan

yang

memadai.

Pendeknya,

demi

memberantas kemiskinan. Oleh karena itu, membangun kebersamaan dalam melaksanakan pemberdayaan demokrasi diperlukan suatu pendekatan sistem yang mengungkapkan kebutuhan dari sisi prosesnya, tapi tidak berarti kita keluar dari sisi kontennya, sehingga dalam mensiati jiwa manusia sebagai sistem, maka bagaimana kita mampu untuk mengintegrasikan manusia kedalam sub-sistem yang ada dan memiliki sifat ketergantungannya yang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan pemikiran jiwa subjektif dan jiwa objektif, itulah pentingnya melihat dari sisi proses.

VII. Penutup Jawa Timur merupakan propinsi dengan keanekaragaman sosial budaya, ekonomi dan politik yang memiliki kekuatan modal kultural berupa nilai-nilai keagamaan dan kesalehan yang kuat, memiliki modal simbolik yang beragam dan mumpuni dalam diri para ulama, memiliki modal politik berupa keanekaragaman sosial politik penuh toleransi, memiliki kekayaan alam yang memadai, memiliki modal sosial berupa kuatnya jaringan lintas kelompok masyarakat dalam berbagai aliran dan panutan atas kesadaran nasionalisme yang teguh. Propinsi Jawa Timur sebagai miniatur Indonesia, harus dikelola dengan semangat demokrasi partisipatoris, menumbuhkan kekuatan budaya yang lentur namun digdaya dalam menyongsong perubahan, demi peningkatan kesejahteraan masayarakat. Semua tidak menginginkan kebangkrutan politik demokrasi dan kebangkrutan kultural di Jawa Timur. Dan semua menginginkan pemberdayaan kultural demokrasi partisipatoris melalui keteladanan, keberanian mengambil tanggung jawab di atas bahu pribadi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

141

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

142

Di Provinsi Jawa Timur, selama ini pencapaian peningkatan kesejahteraan secara umum dapat dikatakan sudah cukup baik dan memuaskan karena maoritas sasaran yang diagendakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah tercapai dengan baik. Agenda untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, Pemerintah Jawa Timur melaksanakan 14 Program kebijakan yakni: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Penanggulangan kemiskinan Peningkatan daya saing industri manufaktur Revitalisasi pertanian Pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah Peningkatan kemapuan ilmu pengetahuan dan teknologi Perbaikan iklim ketenagakerjaan Penanggulangan perdesaan Pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas Peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih berkualitas Peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas, serta pemuda dan olahraga 13. 14. Perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup Percepatan pembangunan infrastruktur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

143

I. Pengantar Pembangunan berkelanjutan dalam konteks wilayah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RJPMD). Dalam RPJMD Jawa Timur periode 2006-2008 memuat tujuh agenda pokok meliputi; Peningkatan kesalehan sosial beragama; Peningkatan aksesibilitas pengurangan kualitas pendidikan dan kesehatan; iklim Penanggulangan dan kemiskinan, memacu

kesenjangan,

perbaikan

ketenagakerjaan

kewirausahaan; Percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan pembangunan infrastruktur; Optimalisasi pengelolaan sumber daya alam, dan pelestarian fungsi lingkungan hidup; Peningkatan ketentraman dan ketertiban, supremasi hukum dan HAM; serta Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah melalui reformasi birokrasi dan peningkatan pelayanan publik. Dari tujuh agenda pembangunan tersebut tiga diantaranya berkaitan langsung dengan MDGs yakni peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, penangulangan kemiskinan, serta pelestarian fungsi lingkungan hidup. Namun, sampai saat ini belum ada keberhasilan yang betul-betul memuaskan dari program-program penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan di Jawa Timur. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kemiskinan. Kemiskinan merupakan masalah multidimensi dan lintas sektor yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Sampai saat ini jumlah penduduk miskin, baik di Indonesia secara umum maupun khususnya di Jawa Timur, masih menunjukkan angka yang cukup besar. Data yang dihimpun oleh BPS Jatim menunjukkan bahwa untuk tahun 2006 jumlah penduduk miskin sampai bulan Mei sebanyak 7,564 juta jiwa atau 19,94 persen dari total penduduk Jatim. Jumlah ini memang menurun dibanding Maret 2 07 yang menunjukkan jumlah penduduk miskin di Jatim sebanyak 7,128 juta jiwa atau 18,93 persen dari total penduduk. Memang terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 318.000 jiwa, namun jumlahnya tidak

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

144

tarlalu signifikan dibanding dengan banyaknya program pengentasan kemiskinan yang digulirkan pemerintah.Target yang dicanangkan oleh pemprov Jatim yang tertuang dalam RPJMD bahwa angka kemiskinan tahun 2008 diproyeksikan turun menjadi 15,90 persen merupakan upaya yang tidak mudah untuk dicapai.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Jawa TImur Berbagai kebijakan dan upaya penanggulangan kemiskinan sejak tahun 2005 hingga tahun 2008 senantiasa disempurnakan agar pengurangan angka kemiskinan dapat tercapai secara efektif. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dari tahun 2005-2008 adalah sebagai berikut: 1. Tingginya inflasi pada tahun 2005 yang mencapai 17 persen menyebabkan garis kemiskinan pada tahun 2006 naik secara signifikan sehingga meningkatkan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan pada tahun tersebut 2. Naiknya harga minyak dunia yang cukup besar telahmempersempit ruang gerak fiskal untuk melakukan ekspansi program pengentasan kemiskinan. 3. Rangkaian bencana alam di beberapa daerah mengakibatkan beralihnya fokus pelaksanaan program pembangunan dan pertumbuhan. Akibatnya, pelaksanaan program pengentasan kemiskinan menjadi tidak optimal. 4. Banyaknya program multisektor dan regional yang ditujukan untuk mengurangi kemiskinan, ternyata masih sangat sektoral dan kurang terintegrasi sehingga

mengakibatkan rendahnya efektivitas dan efisiensi program tersebut. 5. Pemahaman dan kemampuan pemda untuk melakukan sinergi terhadap program masih beragam dan belum optimal sehingga penurunan kemiskinan belum signifikan. 6. Terbatasnya akses sumber pendanaan bagi masyarakat miskin dan masih rendahnya kapasitas serta produktivitas usaha untuk memperluas kesempatan kerja dan terciptanya kegiatan ekonomi bagi masyarakat/keluarga miskin 7. Tidak sedikit yang menikmati program pengentasan masyarakat dari kemiskinan adalah orang-orang mampu. Ini juga terkait dengan pendataan keluarga miskin yang dinilai tidak akurat. Ketidakakuratan data kemiskinan inilah yang kemudian menimbulkan berbagai macam penyimpangan dana bantuan untuk keluarga miskin. Apalagi ini diperparah permainan oknum aparat birokrasi di tingkat bawah yang berusaha memanipulasi proses pendataan 8. Banyak program pengentasan masyarakat dari kemiskinan di berbagai daerah di Jatim seolah-olah berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada koordinasi dan sinergi dalam

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

145

pelaksanaan program. Program dan kegiatannya cenderung tumpang tindih antara kelurahan dan kecamatan. Ini yang kemudian membuat program kemiskian tidak berjalan efektif dan produktif. 9. Lemahnya atau bahkan tidak adanya kontinuitas dari program yang telah dijalankan. Para penanggung jawab program masih menjalankan program pengentasan masyarakat dari kemiskinan sebatas dan bahkan berorientasi proyek, yang dibatasi waktu tertentu. Selesai proyek dijalankan, selesai pula aktivitasnya. Tidak ada upaya dari pemerintah yang sifatnya sistematis dan strategis dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan lebih jauh program atau kegiatan yang telah dilakukan. Program yang telah dijalankan juga ditinggalkan. Apa yang terjadi? Keluarga miskin akan kembali ke habitusnya, yakni kemiskinan, dan mereka tetap miskin. 10. Lemahnya kontrol dari berbagai pihak, terutama bawasprov dan bawasda. Lemahnya kontrol ini bisa dilihat dari munculnya kasus- kasus penyimpangan anggaran dan program di lapangan yang tidak segera ditindaklanjuti 11. Penggunaan dana APBD Propinsi pada Program Pemberdayaan Masyarakat Propinsi Jawa Timur sebagaian besar disalurkan dalam bentuk bantuan untuk masyarakat miskin, bantuan tersebut digunakan untuk modal usaha yang harus dikembalikan dan digulirkan untuk masyarakat miskin yang lain. Namun di lapangan, banyak masyarakat yang menganggap bahwa bantuan tersebut tidak perlu dikembalikan seperti halnya Bantuan Tunai Langsung (BLT) sehingga menghambat pelaksanaan program. Begitu juga untuk Pemerintah Kabupaten/Kota yang diharapkan peran-nya dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan dalam bentuk dana sharing yang tidak semua menganggarkan. 12. Keterbatasan anggaran, sehingga jumlah masyarakat miskin yang tertangani masih sangat terbatas dan jumlah alokasi dana bantuan untuk masing-masing pokmas keluarga miskin juga masih sangat terbatas, sehingga hasilnya kurang maksimal. 13. Sikap pasrah dari masyarakat miskin, sehingga kurang termotivasi untuk keluar dari kemiskinan, lebih menyukai paket bantuan yang bersifat konsumtif, sehingga upaya pemberdayaan usaha ekonomi produktif menjadi tidak mudah. 14. Adanya kebijakan pengurangan kebijakan subsidi BBM, berakibat menurunnya daya beli masyarakat miskin, sehingga program penanganan kemiskinan yang sedang berjalan menjadi kurang maksimal.

Dari berbagai permasalahan tersebut, upaya penurunan tingkat kemiskinan sangat bergantung pada pelaksanaan dan pencapaian pembangunan di berbagai bidang. Oleh

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

146

karena itu, agar pengurangan angka kemiskinan dapat tercapai, dibutuhkan sinergi dan koordinasiprogram-program pembangunan di berbagai sektor, terutama program yang menyumbang langsung pada penurunan kemiskinan. Banyak anggaran dan program yang digerojok untuk program pengentasan masyarakat dari kemiskinan, namun angka kemiskinan tidak turun dan justru bertambah. Signifikansi hasil program pengentasan masyarakat dari kemiskinan ini kurang terasa di masyarakat. Apa yang salah dengan program kemiskinan sehingga tidak mampu secara signifikan menurunkan angka kemiskinan di Jatim ini?

III. Sasaran Yang Ingin Di Capai Sasaran pembangunan sampai dengan 2008, adalah penguatan kelembagaan, pengentasan kemiskinan, peningkatan keswadayaan masyarakat, pengembangan sarana dan pendukung dalam kegiatan sosial ekonomi. Dari beberapa program tersebut, yang menjadi program pemberdayaan masyarakat Pemerintah Propinsi Jawa Timur sesuai dengan Renstra Jawa Timur Tahun 2001-2005 maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Jawa Timur Tahun 2006-2008 adalah Program pengentasan kemiskinan yang direaliasikan dalam bentuk kegiatan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu-Taskin) dengan sasaran yaitu desa-desa miskin di Jawa Timur yang masuk kedalam Peta Merah maupun Kuning. Selain itu, program-program pengentasan kemiskinan itu dikonsentrasikan untuk mewujudkan kondisi ideal yang antara lain ditandai dengan: a. Masyarakat miskin mampu memberdayakan dirinya sendiri melalui peranserta dalam pengambilan keputusan, pengelolaan program maupun sebagai pemanfaat dan pelestari program secara langsung. b. Mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, program-program penanggulangan kemiskinan juga diharapkan bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan c. Meningkatkan kesempatan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin baik yang ada di perdesaan maupun perkotaan d. Meningkatkan kesempatan kepada masyarakat miskin untuk menikmati

penghidupan, pendidikan, kesehatan, dan penghasilan yang layak

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

147

IV. Arah Kebijakan Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Jawa Timur pada bulan Maret 2008 sebesar 6,65 juta (18,51 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2007 yang berjumlah 7,15 juta (19,98 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 504 ribu jiwa. Selama periode Maret 2007-Maret 2008, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 239 ribu, sementara di daerah perkotaan berkurang 265,1 ribu orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2008, sebagian besar (65,26 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan Maret 2008, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 73,97 persen. Komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan adalah beras, gula pasir, minyak goreng, telur dan mie instan. Untuk komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan. Khusus untuk daerah perkotaan, biaya listrik, angkutan dan minyak tanah mempunyai pengaruh yang cukup besar, sementara untuk daerah perdesaan pengaruhnya relatif kecil. Pada periode Maret 2007-Maret 2008, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Jumlah dan persentase penduduk miskin di Jawa Timur pada periode 2001-2006 berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada periode 2001-2004 jumlah penduduk miskin cenderung menurun dari 7,26 juta pada tahun 2001 (Hasil PKIB 2001, BPS Jawa Timur) menjadi 6,98 juta pada tahun 2004 (Hasil Estimasi SSN Kor). Secara relatif juga terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 20,73 persen pada tahun 2001 menjadi 19,10 persen pada tahun 2004. Namun pada tahun 2005 dan 2006 (Hasil SSN Panel Maret 2005 - 2006), terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin yang cukup drastis,yaitu menjadi 7,14 juta orang atau 19,95 persen pada tahun 2005 dan 7,68 juta orang atau 21,09 persen pada tahun 2006. Selajutnya dengan adanya upaya Pemerintah Jawa Timur dalam menangani masalah kemiskinan dan pengangguran, maka pada tahun 2007 hingga 2008, jumlah penduduk miskin di Jawa Timur berangsur mengalami penurunan kembali (LPJ Gubernur Jawa Timur: 2008).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

148

Data yang dilansir BPS (2008) yang juga dirujuk oleh Badan Statistik Propinsi Jawa Timur (2008) menyebutkan bahwa penduduk miskin di Jawa Timur pada bulan Maret 2008 secara keseluruhan berjumlah sebesar 6,65 juta orang (18,51 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2007 yang berjumlah 7,15 juta (19,98 persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 504 ribu orang. Perlu diketahui bahwa pengumpulan data kemiskinan tahun 2008 tersebut adalah potret data kemiskinan sebelum terjadi kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Mengingat pendataan dilakukan pada bulan Maret 2008, sementara kenaikan harga BBM mulai diberlakukan pada bulan Mei 2008. Secara keseluruhan, jumlah penduduk miskin pada daerah perkotaan di Jawa Timur turun lebih tajam dari pada daerah perdesaan. Selama periode Maret 2007-Maret 2008, penduduk miskin di daerahperkotaan berkurang 265,1 ribu, sementara di daerah perdesaan berkurang 239 ribu orang. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2007, sebagian besar (64 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan, sementara pada bulan Maret 2008 persentase ini mengalami peningkatan menjadi 65,26 persen. Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Selama Maret 2007-Maret 2008, Garis Kemiskinan naik sebesar 10,43 persen, yaitu dari Rp.153.145,- per kapita per bulan pada Maret 2007 menjadi Rp.169.112,- per kapita per bulan pada Maret 2008. Dengan memerhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada bulan Maret 2008, sumbangan GKM terhadap GK hampir sama dengan keadaan tahun sebelumnya Maret 2007 yaitu sekitar sebesar 74 persen. Besarnya pengeluaran penduduk tidak lepas dari pengaruh harga komoditi (makanan dan non makanan) pada periode pencacahan. Berdasarkan data inflasi Maret 2007 – Maret 2008 (point to point), angka inflasi Jawa Timur mencapai 8,77 point. Komoditi makanan yang paling besar menyumbang angka inflasi adalah bahan makanan (16,64 point). Sementara untuk non makanan adalah sandang (10,73 point) dan pendidikan (8,14 point). Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

149

kebijakan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Pada periode Maret 2007-Maret 2008, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun. Indeks Kedalaman Kemiskinan turun dari 3,91 pada keadaan Maret 2007 menjadi 3,38 pada keadaaan Maret 2008. Demikian pula Indeks Keparahan Kemiskinan turun dari 1,15 menjadi 0,93 pada periode yang sama. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyempit. Lebih lanjut Badan Statistik Propinsi Jawa Timur (2008) menjelaskan bahwa Nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di daerah perdesaan jauh lebih tinggi dari pada perkotaan. Pada bulan Maret 2008, nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) untuk perkotaan hanya 2,34 sementara di daerah perdesaan mencapai 4,38. Nilai Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) untuk perkotaan hanya 0,61 sementara di daerah perdesaan mencapai 1,23. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah perdesaan lebih parah dari pada daerah perkotaan. Untuk memahami secara komprehensif tentang profil kemiskinan seperti yang telah terurai di atas, berikut dijelaskan nomenklatur-nomenklatur teknis yang terkait dengan uraian tadi: a. Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran, Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. b. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. c. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

150

(padipadian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacangkacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll). d. Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan. e. Indeks Kedalaman Kemiskinan/Poverty Gap Indeks (P1), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks,semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan f. Indeks Keparahan Kemiskinan/Poverty Severity Indeks (P2), merupakan ukuran tingkat ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks maka semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.

Yang perlu digarisbawahi disini adalah bahwa sumber data utama yang dipakai untuk menghitung tingkat kemiskinan tahun 2008 adalah data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) Panel Modul Konsumsi bulan Maret 2008. Dalam modul tersebut juga dijelaskan bahwa jumlah sampel Nasional diperbesar dari 10.000 RT menjadi 68.000 RT supaya data kemiskinan dapat disajikan sampai tingkat provinsi. Bappeda Jawa Timur (2007) mempublikasikan bahwa berdasarkan hasil pendataan kemiskinan indikator baru, tahun 2001 kondisi kemiskinan di Jawa Timur diketahui terdapat 7.27 juta penduduk miskin (20,91% dari total penduduk Jawa Timur) dan 2,2 juta rumah tangga miskin (RTM). Dari prosentase jumlah RTM dikelompokanlah menjadi desa merah, kuning, hijau, biru dan putih. Dari sekitar 8.400 desa/kelurahan di Jawa Timur, 1.801 diantaranya merupakan desa miskin/merah (28%-45% RTM), 123 kecamatan merah dan 8 kabupaten merah yang terdiri dari Kab.Bondowoso, Kab Sampang, Kab. Situbondo, Kab. Ponorogo, Kab Pacitan, Kab. Probolinggo, Kab. Bojonegoro dan Kab. Nganjuk. Dalam laporan tentang Evaluasi Pembangunan Ekonomi (Bappeda Jatim: 2007) diuraikan bahwa untuk mereduksi rumah tangga miskin di Jawa Timur, maka ditetapkan tiga strategi besar yang diterapkan dalam penangulangan kemiskinan yakni mengurangi beban hidup, meningkatkan pendapatan, dan penguatan kelembagaan. Sehubungan hal tersebut, Pemerintah propinsi Jawa Timur menetapkan dua program prioritas penangulangan kemiskinan yaitu :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

151

a. Rescue (penyelamatan) Kebijakan pemerintah dalam menyelamatkan RTM setelah adanya kenaikan harga BBM melalui Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan (PAMDKB) oleh Pemerintah Propinsi (2006) dan pada tahun 2007 menjadi Jaring Pengaman Ekonomi Sosial (JPES); Penyaluran Bantuan Langsung Tunai; Program Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat melalui Penyaluran Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin); b. Recovery (pemulihan) Upaya pengurangan kemiskinan jangka panjang, bersifat revolving, penguatan kelembagaan, pengembangan sarana dan prasarana ekonomi desa, peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan bertujuan untuk pengetasan kemiskinan. Pemulihan ini melalui “Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu-Taskin)”, yang dilengkapi dengan Anti Poverty Project (APP). Disamping itu juga dilaksanakan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang merupakan kolaborasi dengan Pemerintah Pusat.

4.1. Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu-Taskin) Program Gerdu–Taskin adalah merupakan program terpadu dalam rangka mempercepat penanggulangan kemiskinan di wilayah Propinsi Jawa Timur. Sejak diluncurkan pada tahun 2002, kebijakan pengembangan program Gerdu-Taskin tetap didasarkan pada pendekatan Tri-Daya, yakni Pemberdayaan Manusia, Pemberdayaan Usaha dan Pemberdayaan Lingkungan, yang diimplementasikan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai pelaku kegiatan. Dalam pendekatan ini kelompok masyarakat miskin diberikan peluang luas sehingga mampu memberdayakan dirinya sendiri melalui peranserta dalam pengambilan keputusan, pengelolaan program maupun sebagai pemanfaat dan pelestari program secara langsung. Sementara peran aparatur pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya, adalah sebagai fasilitator dan pendamping menuju masyarakat yang sejahtera dan mandiri. Disamping itu komitmen Pemerintah Kabupaten/Kota dalam bentuk dana penyertaan (sharing) dan dana pendamping (matching grant), bantuan fasilitasi serta dukungan dari dinas/instansi sektoral, hendaknya dapat diwujudkan demi memantapkan program pengentasan kemiskinan. Demikian pula, partisipasi dan keswadayaan masyarakat akan menjadi kunci penentu bagi sukses tidaknya program penanggulangan kemiskinan di wilayah Propinsi Jawa Timur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

152

Bappeda Jatim (2007) menjelaskan bahwa pendanaan program GERDU TASKIN di danai oleh pemerintah provinsi dan kabupaten (sharing) dengan porsi 3/7 dari total dana. Sejak tahun 2002 s/d 2006 biaya melalui APBD Propinsi Jawa Timur sebesar Rp 200.599 miliar dan dana sharing APBD Kabupaten/kota sebesar Rp 63,305 miliar serta swadaya masyarakat sebesar Rp 20,648 miliar sedangkan dukungan dari dinas/instansi propinsi, dunia usaha dan BUMN/BUMD mencapai Rp 51,778 miliar. Disisi penguatan lembaga masyarakat miskin, sampai dengan tahun 2006 telah terbentuk Lembaga Keuangan Masyarakat sebanyak 1.410 unit pengelola keuangan (UPK), Jumlah target group sebanyak 1.079.898 RTM yang terhimpun dalam 19.991 kelompok masyarakat (Pokmas) yang beranggotakan 5-10 orang. Diharapkan

penanganan desa merah dapat terselesaikan pada tahun 2008 (tersisa 329 desa merah) dan selanjutnya pada tahun 2009 dimulai penanganan desa kuning.

Dalam LPJ Akhir Masa Jabatan Gubernur Jatim (2008) juga dijelaskan bahwa varian utama program Gerdu Taskin antara lain adalah: 1. Program Pengembangan Desa/Kelurahan Model Binaan Gerdu-Taskin kerjasama dengan PT/LSM. Program ini dilaksanakan sejak tahun 2005 s/d 2007 dibiayai dengan dana APBD Propinsi Jawa Timur sebesar Rp. 5,480 Milyar telah menjangkau 30 Desa/Kelurahan yang tersebar di 27 Kabupaten/Kota. Program Pengembangan Desa/Kelurahan Model Binaan Gerdu-Taskin telah mampu menarik dana sharing dari APBD Kabupaten/Kota sebesar Rp. 807.822.381,- dan didukung swadaya masyarakat sebesar Rp. 53.530.582,-, sedangkan dukungan dari Dinas/Instansi Propinsi, Dunia Usaha, BUMN/BUMD mencapai Rp. 8.498.541.900,-. Kegiatan utama dari program ini adalah terdiri dari: a. Kegiatan pemberdayaanmanusia b. Kegiatan pemberdayaan usaha c. Kegiatan pemberdayaan lingkungan

2. Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dilaksanakan sejak tahun 1998 s/d 2007, dengan dibiayai oleh dana APBD Propinsi Jawa Timur sebesar Rp. 2.045.230.000,- telah menjangkau 228 Kecamatan, 3.158 desa partisipan, yang tersebar pada 27 Kabupaten di wilayah Jawa Timur;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

153

4.2. Anti Poverty Program (Program Anti Kemiskinan) Didalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2006 – 2008, Agenda Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, Perbaikan Iklim Ketenaga kerjaan pada sub Penanggulangan Kemiskinan pada program Pengembangan Kapasitas untuk kemiskinan, di implementasikan dengan Program Anti Kemiskinan (Anti Poverty Program / APP). Anti Poverty Program pada prinsipnya bukanlah merupakan redesaign dari Gerdu Taskin, tetapi adalah revitalisasi dari salah satu aspek tridaya dalam Gerdu Taskin yaitu pemberdayaan usaha. Anti Poverty Program merupakan ide / gagasan sebagai salah satu upaya dalam rangka percepatan Gerdu-Taskin dengan sasaran penduduk miskin pada satu kawasan yang berpotensi untuk pengembangan kegiatan ekonomi produktif dengan disertai pendampingan bagi masyarakat penerima bantuan. APP merupakan salah satu model upaya penanganan kemiskinan dengan sasaran penduduk miskin yang berpotensi untuk pengembangan kegiatan ekonomi produktif disertai pendampingan dan mitra usaha sebagai pasar produk yang dihasilkan. APP dilaksanakan melalui 5 Satuan Kerja, yaitu Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dinas Perikanan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, lokasi program berada di 16 Kabupaten dan 1 Kota, yaitu : Kabupaten Sumenep, Sampang, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Malang, Blitar, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Tuban, Bojonegoro dan Kota Malang. Program Anti Kemiskinan mulai dilaksanakan pada tahun 2005 (P-APBD) seluruh kegiatan didanai APBD Propinsi, mulai tahun 2006 diberlakukan sharing antara APBD Propinsi dengan APBD Kabupaten/Kota yang menjadi lokasi program. APBD Propinsi dipergunakan untuk dana Pembiayaan (dana bergulir) bagi mitra usaha, bantuan kepada Kelompok Masyarakat, Biaya Operasional Tim Pembina Propinsi. Sedangkan Biaya Operasional ditingkat Kabupaten sampai dengan Kelompok Masyarakat , Konsultan Teknis Kecamatan dan Pendamping Pokmas dibiayai dari APBD Kabupaen/Kota (Cost Sharing) yang besarnya sekitar 30 % dari alokasi dana APBD Propinsi . Untuk kelanjutan pelaksanaan APP tahun 2008, sebagaimana tahun 2006 dan tahun 2007, APP dilaksanakan di 16 Kabupaten dan 1 Kota sebagaimana tahun 2007 dan pembiayaan pelaksanaan program tersebut akan ditanggung bersama (sharing dana) antara APBD Propinsi Jawa Timur dan APBD Kabupaten / Kota yang menjadi lokasi program dimaksud. Alokasi APBD Propinsi sebesar Rp. 6.928.800.000 sharing dari APBD Kabupten/Kota sebesar Rp. 1.956.563.500,-. Dalam pelaksanaannya, program APP ini banyak menghadapi kendala yang antara lain berupa keterbatasan anggaran, sehingga jumlah masyarakat miskin yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

154

tertangani masih sangat terbatas. Di samping itu terdapat sikap pasrah dari masyarakat miskin, sehingga kurang termotivasi untuk keluar dari kemiskinan. Mereka lebih menyukai paket bantuan yang bersifat konsumtif, sehingga upaya pemberdayaan usaha ekonomi produktif menjadi tidak mudah. Kendala itu masih ditambah oleh adanya kebijakan pengurangan subsidi BBM yang berakibat menurunnya daya beli masyarakat miskin, sehingga program penanganan kemiskinan yang sedang berjalan menjadi kurang maksimal.

4.3. Program Nasioanal Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pemerintah telah mengonsolidasikan program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat yang dijalankan oleh kementerian dan lembaga ke dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. PNPM juga

merupakan instrumen program untuk percepatan pencapaian MDGs sampai tahun 2015. Tujuan umum PNPM adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin dan meningkatkan kesempatan kerja. Pemanfaat langsung PNPM adalah (1) kelompok masyarakat miskin di perdesaan dan perkotaan; (2) kelompok penganggur dan pencari kerja di perdesaan dan perkotaan; (3) kelembagaan masyarakat di perdesaan dan perkotaan; dan (4) kelembagaan pemerintahan lokal.

4.4. PAM-DKB (Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM) dan JPES (Jaring Pengaman Ekonomi Sosial) Dalam manual yang dipublikasikan oleh Bappeda Jatim (2008), disebutkan bahwa Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan (PAM-DKB) telah ditindaklanjuti dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor: 188/1/KPTS/013/2006 tentang Bantuan Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan Propinsi Jawa Timur (PAM-DKB) dan Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Timur Nomor: 188/2/KPTS/013/2006 tentang Komite Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan (PAM-DKB). Mulai tahun 2007 hingga 2008 ini program PAM-DKB disempurkan oleh pemerintah propinsi Jatim dengan meluncurkan program JPES (Jaring Pengaman Ekonomi dan Sosial). Program ini merupakan salah satu program kemiskinan Jawa Timur, yang pelaksanan kegiatan dikelola oleh Kelompok Keluarga Miskin (Pokgakin) dan tidak boleh dilaksanakan oleh pihak ketiga. Maksud dan Tujuan JPES adalah :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

155

a. Penanggulangan kemiskinan dengan Pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat miskin. b. Meringankan beban keluarga miskin ; c. Menciptakan lapangan pekerjaan d. Mendorong pembangunan fasilitas publik yang bermanfaat langsung bagi penduduk miskin, e. Menumbuh kembangkan kembali solidaritas dan daya kohesi sosial masyarakat agar dapat bekerjasama untuk meningkatkan keberdayaan dan tingkat kesejahteraannya.

Program JPES Tahun 2008 baik yang berasal dari APBD Propinsi maupun Kabupaten/Kota difokuskan pada pola kegiatan Padat Karya. Pilihan sub kegiatan Padat Karya ditentukan melalui musyawarah Pokgakin di wilayah Kelurahan masing-masing dengan Berita Acara Musyawarah Pokgakin. Sasaran dan Target dari program ini adalah warga termiskin dari masyarakat miskin di desa/kelurahan setempat dengan acuan data BPS Tahun 2006 yang belum pernah menerima manfaat PAM-DKB Tahun 2006 dan JPES 2007 dengan sasaran diutamakan kepada: 1. Penduduk miskin produktif (pada umumnya usia kerja 19-55 tahun). 2. Buruh (buruh tani, buruh nelayan, buruh industri kecil, dan lain-lain). 3. Perempuan miskin produktif yang tidak mempunyai penghasilan

Jumlah Pokgakin di tiap desa/kelurahan harus satu, dengan susunan kepengurusan minimal (Ketua, Sekretaris, Bendahara dan Anggota) yang disahkan dengan Keputusan Lurah. Sedangkan Sub Pokgakin ditiap desa/kelurahan boleh lebih dari satu.

4.5. Peningkatan Ketahanan Pangan melalui Program Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin) Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Namun, masih banyak penduduk yang belum dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Dalam rangka pemenuhan hak dan kebutuhan pangan bagi masyarakat miskin, pemerintah melaksanakan program beras untuk keluarga miskin (raskin). Tujuan program raskin adalah mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin melalui pemberian bantuan sebagian kebutuhan pangan dalam bentuk beras.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

156

4.6. Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dalam mengurangi beban masyarakat miskin akibat dampak kenaikan BBM pada bulan Oktober 2005, Pemerintah melaksanakan program bantuan langsung tunai (BLT). Program ini berakhir pada bulan September 2006. Namun pada bulan Juni 2008 Pemerintah menaikan harga dasar BBM. Kenaikan harga tersebut dapat mengakibatkan harga kebutuhan pokok meningkat dan bagi masyarakat miskin mengakibatkan daya beli mereka semakin menurun, karena akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan perkembangan harga di pasar. Kebijakan baru pengalihan subsidi BBM selain Bantuan Langsung Tunai kepada Rumah Tangga Sasaran, juga diperuntukan bagi pembebasan biaya pendidikan pada tingkat tertentu, biaya pengobatan pada masyarakat miskin, subsidi beras, subsidi minyak goreng, subsidi gula dan pembangunan prasarana perdesaan. Kebijakan pengalihan subsidi BBM ini juga disinergikan dengan kebijakan pemberdayaan masyarakat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), sehingga skema perlindungan sosial bagi masyarakat miskin tetap mendorong keberdayaan masyarakat sesuai dengan potensi yang dimiliki.

V. Pencapaian RPJMN Di Jawa Timur 5.1. Program Gerdu Taskin Analisa dari pelaksanaan program Gerdu-Taskin dari tahun 2003 sampai dengan 2007 pada Desa/Kelurahan lokasi, sebagai berikut : 1. Pada tahun 2004 di 22 Kabupaten dihasilkan bahwa Gerdu-Taskin telah mampu menurunkan angka kemiskinan di Desa/Kelurahan lokasi sebesar 1,25 % s/d 13,91% atau rata-rata sebesar 5,62%; 2. Pada tahun 2005 di 8 Kabupaten sampling (Bondowoso, Pacitan, Ponorogo, Bojonegoro, Probolinggo, Nganjuk, Tuban dan Lumajang), dengan hasil program Gerdu-Taskin telah mampu menurunkan angka kemiskinan cukup signifikan selama 4 tahun (2001 - 2005) sebesar 18,6% atau rata-rata per tahun 4,7%; 3. Sedangkan berdasarkan evaluasi kinerja UPK diperoleh hasil bahwa 454 UPK (41,27%) memiliki kategori SEHAT dalam arti tunggakan dibawah 5%, 184 UPK (16,73%) berkategori KURANG SEHAT, dan 447 UPK (40,64%) berkategori TIDAK SEHAT, sedangkan 15 UPK (1,36%) sudah tidak dapat diidentifikasi; 4. Up dating pada 10 Kabupaten dan 1 Kota menunjukkan perubahan status/kategori desa dengan kategori merah semula sebanyak 491 Desa/Kelurahan Merah menjadi kuning sebanyak 90 desa, menjadi kategori hijau sebanyak 44 desa, menjadi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

157

kategori biru sebanyak 39 desa, kategori putih sebanyak 41 desa dan tetap pada kategori merah 193 desa; 5. Pada lokasi tersebut, pasca Program Gerdu-Taskin terjadi penurunan RTM dari 160.556 RTM pada tahun 2001 menjadi 118.622 RTM pada tahun 2005 atau terjadi penurunan sebesar 41.934 (26,12%); 6. Program Gerdu-Taskin telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat rata-rata sebesar Rp.176.523,- yang semula sebesar Rp.430.757,- menjadi Rp. 607.281,- (29 %) 7. Sedangkan berdasarkan evaluasi kinerja UPK diperoleh hasil bahwa 454 UPK (41,27%) memiliki kategori SEHAT dalam arti tunggakan dibawah 5%, 184 UPK (16,73%) berkategori KURANG SEHAT, dan 447 UPK (40,64%) berkategori TIDAK SEHAT, sedangkan 15 UPK (1,36%) sudah tidak dapat diidentifikasi; 8. Terjadi pertumbuhan modal UPK dari Rp. 55.864.530.764,menjadi Rp.

66.019.181.763,- atau naik sebesar Rp.10.154.650.999,- (naik 18,18 %) 9. Selama pelaksanaan Gerdu-Taskin tahun 2002-2007, secara akumulatif telah memberikan manfaat bagi 1.079.898 RTM Rumah Tangga Miskin, dan telah mampu menyerap pengangguran lokal 215.013 orang yang terdiri dari 4.581 orang pengurus UPK, 207.531 orang anggota Pokmas, 20.679 orang Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak), 263 orang sebagai Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM); Untuk mendukung program Utama tersebut, dilaksanakan kegiatan Evaluasi

Desa/Kelurahan Berhasil (Lomba Desa/Kelurahan), dengan dana sebesar Rp. 2.504.796.000,-. Hasil yang dicapai adalah terpilihnya 4 (empat) Desa dan 4 (empat) Kelurahan Juara Tingkat Propinsi setiap tahunnya, sehingga dengan pelaksanaan kegiatan ini motivasi, partisipasi dan kegotong royong masyarakat meningkatkan di bidang: pendidikan, kesehatan, ekonomi, kelembagaan, pemerintahan, keamanan dan pemberdayaan kesejahteraan keluarga.

Kegiatan Pengembangan Desa/Kelurahan Model Binaan Gerdu-Taskin kerjasama dengan PT/LSM. Hasil yang telah dicapai program Pengembangan Desa/Kelurahan Model Binaan Gerdu-Taskin dari tahun 2001 – 2007, sebagai berikut : 1. Kegiatan Pemberdayaan Manusia meliputi : Jumlah pemanfaat kegiatan PM sebanyak 4.625 RTM dan 42 TK/SD

Non BOS/PG/Madrasah/posyandu dengan rincian : Balita RTM : 128 orang anak

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

158

-

Anak sekolah RTM : 1.478 orang anak Lansia RTM-R : 2.108 orang 42 sekolah non BOS (TK/PG/Madrasah/Posyandu Lansia-Balita) ;

2. Kegiatan Pemberdayaan Usaha meliputi : Telah terbentuk 30 UPK sebagai lembaga keuangan mikro di pedesaan, dengan layanan pembiayaan bagi 942 Pokmas dengan kegiatan usaha meliputi : Peracangan Perdagangan Warung Pertanian Pembuatan batu bata Pertukangan Penjahitan/bordir Industri RT Kuningan Peternakan Perikanan Dana bergulir yang dikelola UPK telah mengalami perkembangan : Pada bulan Nopember 2005 dari Modal awal Rp. 5.400.000.000,- s/d keadaan Juli 2007 menjadi Rp. 6.000.156.959,- atau telah terjadi peningkatan modal sebesar Rp. 600.156.959,(naik 12 %); 3. Kegiatan Pemberdayaan Lingkungan meliputi : ♦ Perbaikan jalan poros desa dan jalan lingkungan sepanjang 6.785 meter; ♦ Jembatan Desa sebanyak 4 unit; ♦ Perbaikan rumah RTM-R 8 unit; ♦ Pembangunan Pasar Desa 2 unit; ♦ Pembuatan Pos Jaga 1 Unit; ♦ Pembangunan Kios 8 unit; ♦ Pembangunan Show room 3 Unit; ♦ Green house 1 unit; ♦ MCK, gorong-gorong dan Drainase, 15 unit; ♦ Pembuatan saluran 15 unit; ♦ Pembuatan Bando/Tempat promosi 1 unit; ♦ Pembuatan plengsengan 1.000 m; ♦ Pembuatan Kantor USP 1 unit.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

159

Hasil Evaluasi Program Pengembangan Desa Model Binaan Gerdu-Taskin Kerjasama dengan Perguruan Tinggi/LSM Propinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2005 yang dilaksanakan oleh Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Brawijaya Malang, antara lain : a. Tingkat perkembangan Usaha Simpan Pinjam dari rata-rata di 10 lokasi program lebih tinggi dari Usaha Sektor Riil ataupun Kemitraan b. Adanya penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan di setiap lokasi program. Besarnya hal tersebut bervariatif tergantung lokasi program c. Terjadinya pengurangan jumlah RTM di lokasi program sebanyak 17,1 % d. Tingkat perkembangan kelembagaan UPK sudah semakin meningkat meskipun masih ada

kekurangan baik masalah kantor, SDM maupun manajemen lembaga yang oleh

Sosialisai dan pelaksanaan program Gerdu-Taskin di Kabupaten Bangkalan

dilakukan pengurus.

Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Hasil yang telah dicapai sebagai berikut : 1. Mengembangkan Dana Modal Bergulir di 67.234 Pokmas Usaha Ekonomi Produktif (UEP) Dan 2.304 Pokmas Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Dari Pengelolaan Dana Modal Bergulir Oleh 223 Unit Pengelola Kegiatan (UPK), s/d Bulan Juni 2007 Mencapai Rp. 126,703 Milyar, dan Telah Menghasilkan Dana Surplus bulan Juni 2007 sebesar Rp 7,809 Milyar, ada kenaikan dari bulan sebelumnya sejumlah Rp. 1, 510 Milyar; 2. Menurunkan Angka Kemiskinan Sebesar 8,67% atau setara dengan 59.485 RTM; 3. Meningkatkan pendapatan masyarakat miskin rata-rata antara Rp. 142.000,- S/D Rp. 182.400,- per bulan; 4. Peningkatan aksesibilitas, pendidikan dan kesehatan masyarakat desa, dan menurunkan pengeluaran masyarakat;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

160

5. Menyerap tenaga kerja masyarakat sejumlah 2.801.423 orang dalam pengerjaan sarana-prasarana fisik perdesaan; termasuk tenaga konsultan maupun fasilitator, 6. Menyerap pengangguran lokal sebanyak 25.838 orang yang terdiri dari 669 orang sebagai pengurus upk, 9.888 orang sebagai pendamping desa, 14.832 orang sebagai tim pelaksana kegiatan (TPK) desa dan 364 orang sebagai konsultan & fasilitator; 7. Membangun sarana kesehatan seperti polindes lebih dari 50 unit, posyandu 181 unit, jaringan air bersih 444,127 km, saluran irigasi-271,411 km. selain sarana ekonomi perdesaan seperti pasar desa, jalan 4.198,863 km, jembatan 2.738 km, dan pertokoan; Hasil Pemetaan UPK-PPK s/d Maret 2007, terhadap 223 UPK yang ada di Jawa Timur sebagai berikut : ♦ 145 UPK ( 65 % ) berkategori A; ♦ 46 UPK ( 20,6% ) berkategori B; ♦ 2 UPK ( 0,9% ) berkategori C; dan ♦ 30 UPK ( 13,5% ) berkategori D.

5.2. Anti Poverty Program (Program Anti Kemiskinan) Program Anti Kemiskinan mulai dilaksanakan pada tahun 2005, yaitu inisiasi Program Anti Kemiskinan (P-APBD 2005). Sampai saat ini, APP tahun 2006 (tahap Pelestarian), APP tahun 2007 (tahap pengembangan) dan APP tahun 2008 (tahap Pelaksanaan). Bappeprop Jatim (2008) menjelaskan bahwa secara keseluruhan sejak Inisiasi APP tahun 2005 (P-APBD) sampai dengan tahun 2007 Jumlah Gakin yang tertangani sebanyak 199 Kelompok Masyarakat dengan jumlah anggota sebanyak 9.289 Gakin. Untuk tahun 2008 direncanakan Jumlah Pokmas Gakin yang ditangani sebanyak 77 Kelompok dengan jumlah anggota sebanyak 1.960 Keluarga miskin. Dampak Terhadap Kesejahteraan Pokmas Gakin Peningkatan kesejahteraan penduduk miskin yang tertangani, khususnya untuk Pokmas Gakin yang telah mendapatkan program APP ,bila diukur dari peningkatan modal/aset yang dimiliki oleh kelompok Masyarakat rata – rata meningkat 8,42 % dan tumbuhnya wirausaha baru pada kelompok masyarakat miskin (Bappeprop Jatim: 2008).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

161

5.3. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Bappenas RI (2008) mencatat bahwa pada tahun 2007 pelaksanaan PNPM inti menggunakan mekanisme Program Pengembangan Kecamatan (PPK) untuk daerah perdesaan dan mekanisme Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) untuk daerah perkotaan dengan jumlah lokasi sebanyak 1993 kecamatan di perdesaan dan 838 kecamatan di perkotaan. Total bantuan yang disalurkan untuk kegiatan PNPM tahun 2007 sebesar Rp3,8 triliun.

Presiden menyerahkan bantuan PNPM Mandiri kepada masyarakat, areal tol Bandara Juanda - Waru, hari Minggu (27/4) pagi. (foto: anung/presidensby.info) Sedang pada tahun 2008, PNPM Mandiri diprioritaskan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan di daerah tertinggal. Untuk itu, Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan PNPM inti diperluas melibatkan Khusus (P2DTK), Program

Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) dan Program Peningkatan Infrastruktur Perdesaan (PPIP), serta diperkuat oleh berbagai program pemberdayaan masyarakat lainnya yang berbagai dilaksanakan oleh departemen sektor. Pengintegrasian

program pemberdayaan masyarakat ke dalam kebijakan PNPM Mandiri

tersebut akan memperluas cakupan pembangunan hingga ke daerah-daerah tertinggal dan terpencil. Dengan anggaran yang direncanakan sebesar Rp 1 triliun, PNPM inti ditargetkan dapat menekan angka kemiskinan secara signifikan baik pada kawasan perkotaan maupun perdesaan di Jawa Timur. Sedang untuk 2009, ditargetkan angka kemiskinan di seluruh Indonesia berhasil ditekan sekitar 12 sampai 14 persen dari total penduduk miskin sebanyak yang 34,5 juta jiwa (Bappenas: 2008).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

162

5.4. PAM-DKB (Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM) dan JPES (Jaring Pengaman Ekonomi Sosial) Program pengentasan kemiskinan tersebut telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin. Berdasarkan data tahun 2006 jumlah penduduk miskin tercatat sebanyak 7.455.655 jiwa atau 19,89% dari total penduduk Jawa Timur yang berjumlah 37.478.737 jiwa. Pada tahun 2007 persentase penduduk miskin Jawa Timur turun menjadi 18,89 persen (Bappeprop Jatim: 2008)..

Sosialisasi Program PAM-DKB (Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM) di wilayah Jawa Timur Program JPES tahun 2008 ini merupakan penyempurnaan dari program PAM-DKB Tahun 2006 dan Program JPES Tahun 2007, Berbagai keberhasilan pembangunan di Jawa Timur ternyata masih juga belum sepenuhnya menghapus masalah kemiskinan. Menurut data BPS Propinsi Jawa Timur, persentase penduduk miskin kategori 2 dan 3 tahun 2006 tercatat sebesar 19,89 persen atau sebesar 7.455.655 jiwa. Bahkan, yang memprihatinkan akibat inflasi, kondisi perekonomian yang fluktuatif dan melambungnya harga pangan dan barang kebutuhan sehari-hari, tekanan hidup yang dialami keluarga miskin dalam satu-dua tahun terakhir cenderung makin berat.

5.5. Peningkatan Ketahanan Pangan melalui Program Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin) Pada tahun 2005 dan 2006 jumlah subsidi raskin berturut-turut adalah sebesar Rp4,68 triliun dan Rp5,32 triliun. Anggaran subsidi untuk raskin tahun 2007 dialokasikan sebesar Rp6,97 triliun dengan jumlah sasaran penerima manfaat mencapai 15,8 juta KK.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

163

Jumlah itu lebih besar jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang dialokasikansebesar Rp5,32 triliun dengan jumlah sasaran penerima sebanyak 10,8 juta KK. Sasaran program raskin untuk tahun 2008 sebanyak 19,1 juta RTS dengan total subsidi sebesar 7,8 triliun (Perum Bulog: 2008).

Suasana pembagian Raskin (Beras untuk masyarakat Miskin) dan protes warga di Kabupaten Gresik 5.6. Penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Pada tahun 2008 pemerintah telah meluncurkan kembali BLT kepada 19,1 juta rumah tangga sasaran (RTS). Pemberian BLT itu dilakukan dengan tujuan menjaga daya beli RTS yang terdiri dari rumah tangga sangat miskin

(RTSM), rumah tangga miskin (RTM) dan rumah tangga hampir miskin

(RTHM) akibat kenaikan harga BBM. Sisa RTS yang belum mengambil dana 164.744 KK dengan total nilai dana Rp.

Penyaluran BLT di Kabupaten Mojokerto

49.423.200.000,-. Total alokasi RTS yang menerima dana BLT tahap I dan

II adalah 264.368 KK. Jangka waktu terakhir pengambilan BLT baik tahap I maupun II adalah akhir Desember 2008. Jika hingga batas waktu tersebut dana belum juga diambil, PT Pos Indonesia akan mengembalikan sisa dana kepada pemerintah. Dari 38

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

164

kabupaten/kota yang menerima dana, hingga saat ini belum satu daerah pun yang menyelesaikan pembagian dana tersebut. Di antara daerah yang mulai memasuki tahap akhir pembagian dana BLT tahap I, adalah Situbondo dengan total nilai persentase 99,95%, Bangkalan 99,82%, dan Bondowoso 99,91%. Sementara itu, pembagian BLT tahap II hingga kini telah mencapai 90,58%. Dana yang sudah terserap mencapai Rp1.168.477.200.000 atau 2.921.193 RTS, sedangkan sisa dana yang belum diambil senilai Rp121.483.200.000 atau 303.708 RTS. Pada tahap II, jumlah kartu batal yang selanjutnya diakukan verifikasi ulang 264.368 RTS dari total 3.224.901 RTS yang menerima dana di tahap I dan II. Terhadap dana BLT yang belum diambil, PT Pos belum berinisiatif untuk mengantarkan dana tersebut pada penerima kartu. Ini karena, hingga kini belum terdapat laporan tentang alasan belum diambilnya dana itu oleh RTS penerima. Jika mereka tidak bisa mengambil dana karena alasan yang bisa diterima, seperti sakit, maka petugas untuk mengantarkannya. Menindaklanjuti hal itu, PT Pos baru akan menentukan kebijakan tentang dana tersebut saat mendekati waktu akhir pengambilan dana akan ditutup. Selain itu, juga menunggu arah kebijakan dan juklak dari pemerintah melalui Departemen Sosial. Pada tahun 2008 pemerintah telah meluncurkan kembali BLT kepada 19,1 juta rumah tangga sasaran (RTS). Pemberian BLT itu dilakukan dengan tujuan menjaga daya beli RTS yang terdiri dari rumah tangga sangat miskin (RTSM), rumah tangga miskin (RTM) dan rumah tangga hampir miskin (RTHM) akibat kenaikan harga BBM. Sisa RTS yang belum mengambil dana 164.744 KK dengan total nilai dana Rp. 49.423.200.000,-. Total alokasi RTS yang menerima dana BLT tahap I dan II adalah 264.368 KK. Jangka waktu terakhir pengambilan BLT baik tahap I maupun II adalah akhir Desember 2008. Jika hingga batas waktu tersebut dana belum juga diambil, PT Pos Indonesia akan mengembalikan sisa dana kepada pemerintah. Dari 38 kabupaten/kota yang menerima dana, hingga saat ini belum satu daerah pun yang menyelesaikan pembagian dana tersebut. Di antara daerah yang mulai memasuki tahap akhir pembagian dana BLT tahap I, adalah Situbondo dengan total nilai persentase 99,95%, Bangkalan 99,82%, dan Bondowoso 99,91%. Sementara itu, pembagian BLT tahap II hingga kini telah mencapai 90,58%. Dana yang sudah terserap mencapai Rp1.168.477.200.000 atau 2.921.193 RTS, sedangkan sisa dana yang belum diambil senilai Rp121.483.200.000 atau 303.708 RTS. Pada tahap II, jumlah kartu batal yang selanjutnya diakukan verifikasi ulang 264.368 RTS dari total 3.224.901 RTS yang menerima dana di tahap I dan II. Terhadap dana BLT yang belum diambil, PT Pos belum berinisiatif untuk mengantarkan dana tersebut pada

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

165

penerima kartu. Ini karena, hingga kini belum terdapat laporan tentang alasan belum diambilnya dana itu oleh RTS penerima. Jika mereka tidak bisa mengambil dana karena alasan yang bisa diterima, seperti sakit, maka petugas untuk mengantarkannya. Menindaklanjuti hal itu, PT Pos baru akan menentukan kebijakan tentang dana tersebut saat mendekati waktu akhir pengambilan dana akan ditutup. Selain itu, juga menunggu arah kebijakan dan juklak dari pemerintah melalui Departemen Sosial.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Pemerintah memandang perlu mereview kebijakan tentang subsidi BBM, sehingga subsidi yang selama ini dinikmati juga oleh golongan masyarakat mampu dialihkan untuk golongan masyarakat miskin. Penanggulangan kemiskinan adalah suatu proses panjang yang memerlukan penanganan berkelanjutan. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mempercepat pencapaian sasaran program penanggulangan kemiskinan adalah dengan meningkatkan elemen pemberdayaan di tingkat masyarakat miskin. Hal ini bertujuan agar masyarakat miskin mampu mengidentifikasi kebutuhan mereka sehingga secara swadaya memiliki kemampuan mengentaskan dirinya dari kemiskinan. Keberdayaan masyarakat miskin juga ditujukan agar mereka mampu memanfaatkan sumber daya produktif yang tersedia, baik yang sudah ada di masyarakat maupun yang disediakan Pemerintah melalui berbagai program. Pemerintah terus melakukan sinergi dan mengintegrasikan berbagai program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat dari berbagai sektor dalam wadah PNPM Mandiri. Hal ini sudah mulai dilakukan sejak 2007. Dengan demikian, program penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat diharapkan dapat diarahkan secara harmonis guna menciptakan modal sosial. Pada tahun 2009, program PNPM Mandiri akan terus dibiakkan agar mencakup seluruh kecamatan, baik di perdesaan maupun di perkotaan. Tidak kalah penting, akan ditingkatkan pula harmonisasi program PNPM Penguatan ke dalam PNPM Mandiri (Bappenas: 2008). Berbagai langkah pengendalian harga bahan pokok juga terus dilakukan. Dukungan agar masyarakat miskin dapat menjangkau sumber daya produktif dan berusaha, baik dalam skala informal maupun mikro, juga diupayakan. Dengan cara ini, lambat-laun mereka akan terhubungkan dan mampu menghubungkan diri dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh pelaku ekonomi lain. Pada masa yang akan datang mereka diharapkan tidak terisolasi dari perkembangan dan pertumbuhan kegiatan ekonomi di wilayah mereka. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi akan dialami oleh

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

166

semua kelompok masyarakat, mulai dari yang miskin, menengah, dan kaya, dan pada suatu saat peningkatan pertumbuhan ekonomi menjadi semakin berkualitas dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Dalam kaitan itu, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2009 telah menetapkan arah kebijakan pengurangan kemiskinan atas tiga kelompok, yaitu (1) pembangunan dan penyempurnaan sistem perlindungan sosial dan keberpihakan terhadap rakyat miskin; (2) penyempurnaan dan perluasan cakupan program pembangunan berbasis masyarakat; dan (3) peningkatan usaha rakyat. Menurut Rofi’ Munawar (2007), anggaran untuk program pengentasan masyarakat dari kemiskinan bergerak bagaikan deret ukur, sementara penurunan angka kemiskinan bergerak bagaikan deret hitung. Artinya, besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk program pengentasan masyarakat dari kemiskinan ini tidak sebanding dengan hasil atau kinerja yang ditunjukkan tim penanggulangan kemiskinan Jatim. Indikator yang paling tampak adalah angka kemiskinan di Jatim masih tetap tinggi, bahkan setiap tahun terus mengalami kenaikan. Ini artinya program kemiskinan yang digerojok anggaran sangat besar tidak berkorelasi positif terhadap penurunan angka kemiskinan di Jatim. Dengan kata lain, berbagai program kemiskinan yang digalakkan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota kurang --kalau tidak dibilang gagal-- berjalan efektif dan produktif. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan ketat terhadap implementasi program kemiskinan. Lembaga bawaskot diharapkan lebih proaktif untuk menyelidiki, menyidik, dan menginvestigasi kasus-kasus dugaan penyimpangan progam kemiskinan. Lebih lanjut Fofi’ Munawar (2007) menyatakan bahwa untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas program, diperlukan audit terhadap dana program kemiskinan ini oleh BPKP atau BPK. Ini karena ada indikasi uang negara diselewengkan. Perlu adanya pendataan keluarga miskin yang lebih profesional dan tidak diskriminatif. Para kepala dinas dan bawaskot didesak agar rutin melakukan inspeksi mendadak atau turun ke bawah ke daerah yang mendapatkan program pengentasan masyarakat dari kemiskinan. VI. Penutup Target yang dicanangkan oleh pemprov Jatim yang tertuang dalam RPJMD bahwa angka kemiskinan tahun 2008 turun menjadi 15,90 persen kiranya cukup sulit untuk dicapai. Secara matematis hal ini sangat jelas terlihat, sebab menurut data BPS tahun 2006 dan 2007 pemprov Jatim setidaknya dalam setahun mampu mengurangi angka kemiskinan sebesar 1 persen, jadi secara matematis angka kemiskinan tahun 2008 masih sebesar 17,93 persen jauh diatas target yang dicanangkan pemprov. Apalagi mehihat kondisi riil di lapangan, dimana pertumbuhan ekonomi di tahun 2007 ini turun menjadi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

167

5,56 persen. Belum lagi ditambah besaran inflasi dan dampak luapan lumpur Lapindo yang telah merusakkan infrastruktur penunjang perekonomian. Yang juga menimbulkan pertanyaan sehubungan dengan menjalankan programprogram tersebut pemprov Jatim banyak mengandalkan dari intensifikasi dan

ekstensifakasi PAD, melakukan pinjaman daerah serta mengeluarkan obligasi daerah. Untuk intensifikasi dan ekstensifikasi PAD terlihat bahwa sebagaian besar PAD disumbang oleh pajak daerah dan retribusi daerah. Hal ini sama saja dengan membebani masyarakat dengan berbagai macam pungutan. Sedangkan untuk pinjaman, dan obligasi daerah sama saja, karena nantinya juga berujung pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Hal ini tidak lain karena untuk membayar pinjaman dan obligasi daerah, dananya diambilkan dari APBD sehifgga APBD yang seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat lebih banyak digunakan untuk membayar hutang dalam bentuk pinjaman dan obligasi daerah. Belum lagi penyerapan dana APBD yang rendah serta banyaknya kebocoran yang terjadi pada dana pembangunan ini. Untuk membiayai pembangunan, seharusnya pemprov Jatim mengoptimalkan kinerja BUMD, dan menggali potensi perekonomian lainnya yang tidak memberatkan masyarakat dengan berbagai macam pungutan, seperti melakukan pemetaan potensi ekonomi tiap wilayah untuk kemudian mensinergikannya atau mengoptimalkan potensi pariwisata yang ada serta pembangunan infrastruktur guna mendukung kegiatan investasi. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada tahun 2007 sebesar Rp 530 triliun. Dengan jumlah PDRB sedemikian besar, mestinya Jatim melalui pemerintahnya dapat membawa masyarakatnya ke tingkat yang lebih sejahtera. Namun kenyataan bicara lain. Untuk IPM tahun 2005, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jatim menduduki peringkat terbawah dibandingkan dengan semua provinsi di Pulau Jawa. Peringkat IPM Jatim yakni 22 (dari 33 provinsi di Indonesia), berada di antara Provinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Di dalam Provinsi Jatim sendiri, kesenjangan IPM antarkabupaten dan antarkota sangat jelas. Menggunakan acuan data BPS, nilai IPM pada tahun 2005 di Jatim cukup tinggi di wilayah perkotaan. IPM tertinggi di Kota Surabaya, kemudian menyusul Kota Madiun dan Kota Mojokerto. IPM terendah tahun 2005 terdapat di Kabupaten Sampang. Menyusul kemudian, wilayah di sekitar tapal kuda, yakni Kabupaten Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Ironisnya, sejak pemerintahan Gubernur Imam Utomo memasuki periode lima tahun kedua, pada tahun 2003 hingga 2005, posisi IPM keempat

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

168

kabupaten itu tak beranjak. Tetap pada posisi terendah di Jatim, tak dapat mengejar ketertinggalan. Untuk level Propinsi, IPM Jawa Timur pada tahun 2006 tercatat 66,87, dan mengalami kenaikan pada tahun 2007 sebesar 67,92 (BPS, angka sementara 2008)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

169

I.

Pengantar Dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional sebagaimana

diamanatkan Undang Undang Dasar 1945, dalam tiga tahun kedepan (2003/2008), Pemerintah Propinsi Jawa Timur bertekad untuk melaksanakan pembangunan daerah dengan berpegang pada visi “Terwujudnya masyarakat Jawa Timur yang beraklak mulia, maju, berdaya saing, sejahtera serta aman dan damai yang berkesinambungan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Untuk mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditetapkan misi sebagai berikut : 1. Mewujudkan peningkatan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama, peningkatan aksesibilitas serta kualitas pendidikan dan kesehatan ; 2. Mewujudkan penanggulangan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, perbaikan iklim ketenagakerjaan, dan memacu kewirausahaan ; 3. Mewujudkan percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan percepatan pembangunan infrastruktur ; 4. Mewujudkan optimalisasi pengelolaan sumber daya alam , dan pelestarian fungsi lingkungan hidup ; 5. Mewujudkan ketentraman dan ketertiban, supremasi hukum dan HAM ; 6. Mewujudkan Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah melalui reformasi birokrasi dan peningkatan pelayanan public

Strategi pembangunan dipergunakan dalam melaksanakan programprogram prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Startegis Pembangunan Daerah 2003-2005 sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 19 tahun 2001 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Jawa Timur tahun 2006-2008 melalui Peraturan Daerah Nomor 8 tahun 2005. Dalam kondisi seperti ini, strategi pembangunan yang tepat adalah melaksanakan program-program prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Daerah Propinsi Jawa Timur tahun 2001-2005 melalui Peraturan Daerah Nomor 19 tahun 2001, karena Renstrada sebagai dokumen

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

170

perencanaan taktis strategis yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, serta landasan berpijak dalam perencanaan pembangunan berikutnya. Dokumen Renstrada tidak saja berisi arah kebijakan pembangunan stratejik dalam membangun Jawa Timur kedepan secara konseptualsistimatis, tetapi didalamnya telah ada kesepakatan prinsip antara eksekutif dan legislatif mengenai parameter dan indikator atau tolok ukur kinerja sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pembangunan setiap tahun anggaran. Sembilan prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Renstrada adalah: 1. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan peningkatan kualitas produk pendidikan; 2. Percepatan pemulihan ekonomi dan peningkatan produktivitas melalui pengembangan ekonomi kerakyatan, penguatan unit-unit usaha, dan lembaga-lembaga ekonomi; 3. Penerapan nilai-nilai agama dalam perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; 4. Pemantapan kesadaran, budaya, supremasi hukum serta HAM; 5. Peningkatan pelayanan kesehatan, kesejahteraan sosial, peranan pemuda, dan pembinaan olahraga serta penyetaraan gender; 6. Perluasan kesempatan kerja dan pengisian lapangan kerja yang tersedia; 7. Pemantapan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan

pelaksanaan pembangunan untuk pemantapan otonomi daerah dan kemudahan pelayanan publik serta perluasan informasi dan komunikasi; 8. Pengendalian eksploitasi sumber daya alam, pelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, penataan kawasan permukiman serta penataan ruang; 9. Peningkatan kapasitas perlindungan masyarakat dari gangguan keamanan dan ketertiban serta peningkatan kesadaran rakyat dalam bela negara.

Sedangkan Rencana Pembangunan Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai dokumen perencanaan taktis strategis yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, serta landasan berpijak dalam perencanaan pembangunan berikutnya. Dokumen Rencana

Pembangunan Menengah Daerah tidak saja berisi arah kebijakan pembangunan stratejik dalam membangun Jawa Timur, kedepan secara konseptual-sistimatis, tetapi didalamnya telah ada kesepakatan prinsip antara eksekutif dan legislatif mengenai parameter dan indikator atau tolok ukur kinerja sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

171

dan pembangunan setiap tahun anggaran. Tujuh prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Rencana Pembangunan Menengah daerah adalah: 1. Agenda Peningkatan Kesalehan Sosial dalam Beragama 2. Agenda Peningkatan Aksesibilitas Terhadap Kualitas Pendidikan dan Kesehatan 3. Agenda Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, Perbaikan Iklim

Ketenagakerjaan dan Memacu Kewirausahaan 4. Agenda Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Berkelanjutan dan Pembangunan Infrastruktur 5. Agenda Optimalisasi Pengendalian Sumber Daya Alam, Pelestarian Lingkungan Hidup dan Penataan Ruang 6. Agenda Peningkatan Ketentraman dan Ketertiban, Supremasi Hukum dan HAM 7. Agenda Revitalisasi Proses Desentralisasi Dan Otonomi Daerah melalui Reformasi Birokrasi dan Peningkatan Pelayanan Publik

Dalam melaksanakan prioritas pembangunan tersebut, jabaran arah, kebijakan dan prioritas pembangunan yang dituangkan dalam tujuh agenda pembangunan khususnya peningkatan daya saing industri manufaktur adalah sebagai berikut: a. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah b. Program Penataan Struktur Industri c. Program Peningkatan Nilai Tambah Industri Berbasis Sumberdaya Alam d. Program Peningkatan Ketrampilan SDM Industri e. Program Peningkatan Standarisasi Produk Industri f. Program Peningkatan Kemampuan Teknologi

II.

Kondisi Awal RPJMN Di Jawa TImur Penghujung tahun 2007 tinggal sebentar lagi dan digantikaan tahun 2008.

Sejumlah agenda pembangunan sudah siap dijalankan dengan berbagai target ekonomi yang menggiurkan, yakni pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan inflasi rendah dan jumlah penganguran serta angka kemiskinan yang berkurang. Tentunya harapan kita target ini nantinya dapat menjadi kenyataan. Namun apakah target ini tidak terlalu mengada-ngada melihat berbagai capaian tahun 2007 yang masih jauh dari target yang telah ditetapkan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan Pemprov Jatim tahun 2007 sebesar 6,1 persen ternyata sampai saat ini, paling tidak sampai bulan September baru mencapai 5,87 persen. Waktu tiga bulan yang masih tersisa, kiranya belum mampu untuk mencapai

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

172

target pertumbuhan ekonomi 6,1 persen. Hal ini salah satunya dikarenakan harga minyak yang membumbung tinggi baru dirasakan dampaknya pada triwulan ke IV ini. Selain itu pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dapat dicapai melalui investasi ternyata belum dapat diharapkan. Paling tidak sampai bulan Oktober ini investasi baru mencapai 30 trilliun dari 80 trilliun yang ditargetkan, dan diperkirakan sampai akhir tahun investasi hanya mencapai 50 trilliun. Lebih lanjut untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi 6,1 persen dibutuhkan investasi sekitar 132 trilliun. Sektor investasi di Jatim sebenarnya mampu diandalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Nilai "incmental capital output ratio" (ICOR) yang mengukur pengaruh investasi terhadap laju pertumbuhan ekonomi di provinsi ini bisa mencapai 2,67 persen. Adapun idealnya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi satu persen diperlukan investasi 3-4 persen dari perubahan pertumbuhannya. Artinya kegiatan penanaman modal di Jatim sebenarnya efektif memacu perekonomian provinsi ini. (Kompas, 27/6/07). Justru sebaliknya, sektor konsumsi yang tidak banyak menyerap lapangan pekerjaan, berbeda dengan investasi yang cukup berperan dalam mengurangi pengangguran, justru lebih banyak berperan dalam perekoniam Jawa Timur.

Sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai hampir 60 persen. Melihat struktur ekonomi Jawa timur tahun 2007 ini, dimana pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh kegiatan konsumtif, bukan kegiatan investasi yang produktif. Kiranya pertumbuhan ekonomi ini dapat dikatakan pertumbuhan ekonomi yang semu, artinya meskipun pertumbuhan ekonomi cukup tinggi ternyata belum mampu untuk mengatasi problem utama ekonomi yakni kemiskinan dan pengangguran. Melihat berbagai kelemahan dan kekurangan selama tahun 2007 ini. Ada beberapa faktor yang yang berpengaruh terhadap perekonomian Jatim, yakni lumpur lapindo dan kenaikan harga minyak. Faktor lainnya seperti tingkat suku bunga yang relatif stabil serta penandatangan Economic Patrnership Agreement (EPA) antara pemerintah Indonesia dengan Jepang tidak banyak membawa pengaruh berarti bagi perekonomian Jatim. Tahun 2008 kelak ada beberapa faktor selain lumpur lapindo dan kenaikan harga minyak yang masih menyertai perjalanan ekonomi Jatim. Faktor ini adalah faktor ekstern dan intern. Faktor ekstern meliputi kepastian hukum, liberalisasi perdagangan dan kebijakan investasi bagi negara berkembang, kebijakan moneter yang menyebabkan tingginya suku bunga perbankan, dan insentif perpajakan yang belum kompetitif. Sedangkan faktor intern adalah pemilihan gubernur, kondisi infrastruktur, serta perdaperda yang tidak ramah investor.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

173

Faktor ekstern mungkin tidak akan banyak mengalami perubahan, perubahan yang cukup berarti dan cukup membawa pengaruh bagi perekonomian Jatim adalah kenaikan harga minyak. Meskipun ekspor migas Jatim cukup besar, namun jangan dipungkiri juga bahwa kebutuhan migas Jatim juga cukup besar, apalagi kubutuhan untuk industri manufaktur. Yang sebenarnya perlu mendapat perhatian serius pemprov Jatim adalah faktor intern yang secara otomatis dapat dikendalikan langsung oleh pemprov sendiri selaku pengambil kebijakan. Pemilihan gubernur yang akan berlangsung pertengahan 2008 akan sangat menentukan perekonomian Jatim kedepannya. Gangguan atau instabilitas politik dapat menganggu jalannya roda pemerintahan, apalagi jika terjadi chaos ongkos sosial ekonomi yang harus dibayar sangat besar. Paling tidak kepercayaan investor terhadap Jatim akan berkurang, dan efeknya akan menggangu pertumbuhan ekonomi. Kondisi infrastruktur akan turut menentukan perekonomian Jatim 2008. beberapa proyek besar antara lain jembatan Suramadu, Jalan Lintas Selatan (JLS), jalan tol malang-pandaan, selain itu juga relokasi infrastruktur akibat lumpur lapindo. Harapannya dengan adanya perbaikan infrastruktur ini dapat menunjang perekonomian Jatim. Katakanlah untuk jembatan Suramadu dan JLS akan sangat membantu distribusi pertumbuhan ekonomi, harapannya juga kesejahteraan yang selama ini timpang antara Jatim bagian utara dengan Jatim bagian selatan dan Madura. Sedangkan untuk perda-perda yang tidak ramah investor, hendaknya pemerintah provinsi selaku wakil pemerintah pusat yang ada di daerah bisa melakukan review atas perda-perda yang dibuat oleh pemerintah daerah tingkat dua. Selain itu APBD sebagai salah satu instrumen untuk mendongkrak pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi hendaknya berbasis pada kebutuhan rakyat. Selama ini masyarakat hanya disuguhi APBD yang berorientasi pada kepentingan birokrasi dan melupakan kepentingan rakyat. Hal ini terlihat pada pos anggaran belanja tidak langsung yang porsinya lebih besar dari pos anggaran belanja langsung yang menyangkut kepentingan rakyat. Beberapa target pembangunan tahun 2008 seperti pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen, berkurangnya pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen dari total angkatan kerja, serta berkurangnya penduduk miskin menjadi 15,90 persen dari jumlah penduduk Jatim. Untuk menopang itu semua, dihitung Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) paling tidak dibutuhkan investasi sebesar Rp. 121,645 trilyun. Berkaca pada beberapa faktor yang turut menentukan perekonomian Jatim 2008, kiranya target-target itu sulit tercapai. Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 6,3 persen dirasa cukup berat untuk terealisasi, meskipun beberapa stimulus mulai dijalankan oleh pemerintah seperti

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

174

penghapusan kredit bermasalah milik UKM yang nilainya dibawah Rp 5 miliar, serta adanya kredit yang diperuntukkan bagi UKM sebesar Rp 1,45 triliun dengan nilai penjaminan mencapai 10 kali lipat atau sebesar Rp 14,5 trilliun. Stimulus ini kurang berarti ditengah gejolak harga minyak yang menyebabkan inflasi sehingga daya beli masyarakat menurun. Kecuali bagi UKM yang berorientasi ekspor, haircut dan pemberian kredit akan sangat berarti. Namun, kendalanya lagi-lagi terletak kualitas dan harga barang yang dihasilkan UKM belum cukup untuk bersaing dengan produk-produk dari China. Pertumbuhan ekonomi yang ditopang peningkatan konsumsi tidaklah

menunjukkan struktur perekonomian daerah yang kuat, kurang menciptakan nilai tambah, dan memicu peningkatan inflasi. Dalam upaya menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, perekonomian Jawa Timur perlu didukung oleh kegiatan investasi di sektor produktif dan jasa, khususnya investasi swasta, mengingat kapasitas fiskal pemerintah yang makin terbatas sehingga sulit untuk dijadikan sebagai sumber utama pertumbuhan. Tantangan yang harus diatasi dalam jangka pendek oleh Pemerintah Provinsi adalah menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan melakukan reformasi birokrasi, membenahi perijinan, dan menghapuskan berbagai hambatan struktural. Selama 3 tahun terakhir mulai tampak pergeseran dalam sektor-sektor PDRB yakni terjadi pengecilan porsi sektor tradeables (Pertanian, Pertambangan & Penggalian, Industri Manufaktur) dan pembesaran pada porsi sektor non tradeables (Listrik, Gas & Air, Konstruksi, Perdagangan - Hotel - Rumah Makan, Transportasi, & Komunikasi, Keuangan, dan Jasa-jasa). Jadi dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur lebih banyak dipicu oleh pertumbuhan sektor-sektor PDRB yang non

tradeables.Akibat belum optimalnya pertumbuhan sektor tradeables dan laju investasi, pertumbuhan jumlah kesempatan kerja masih jauh dari pertumbuhan angkatan kerja yang ada. Begitu pula masalah kemiskinan tetap merupakan persoalan yang akut dan membutuhkan program yang berkelanjutan. Perbaikan kinerja ekonomi makro Jawa Timur dalam 5 tahun terakhir belum disertai dengan membaiknya kinerja sektor riil yang tercermin dari kondisi dunia industri, dan investasi. Implikasi dari lambannya pemulihan kondisi sektor riil adalah pengurangan pengangguran dan kemiskinan belum

menunjukkan capaian yang diharapkan. Jumlah penduduk miskin saat ini masih 7,138 juta orang atau sekitar 18,93 % dari jumlah penduduk Jawa Timur dan jumlah pengangguran terbuka sekitar 1.012.111 orang.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

175

Hal ini menegaskan bahwa membaiknya indikator ekonomi makro merupakan kondisi yang dibutuhkan, tetapi belum mencukupi untuk mendorong pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, keberhasilan menciptakan stabilitas ekonomi makro perlu dipandang sebagai landasan untuk meningkatkan kinerja sektor riil dalam rangka pemulihan ekonomi Jawa Timur. Kemiskinan yang terjadi di Jawa Timur ternyata 2/3 ada di pedesaan dan sepertiga orang miskin berada di perkotaan. Selanjutnya sekitar 80% pengangguran terbuka berusia dibawah 30 tahun dan sekitar 90% pengangguran terbuka berpendidikan dibawah SLTA. Pada dasarnya tingkat pengangguran berkorelasi positif dengan tingkat infestasi dan infrastruktur yang tersedia di Kabupaten/Kota. Masalah ekonomi keluarga miskin yang menonjol adalah jebakan rentenir, munculnya pesaing dengan modal yang lebih besar, musibah, banyak hutang, leluhur atau orang tua yang miskin, dan usaha merugi. Performa kinerja perekonomian Jawa Timur sampai saat ini sebenarnya telah menunjukkan adanya transformasi struktur dari sektor primer ke sektor sekunder, namun transformasi struktur ini masih semu dikarenakan belum diikuti oleh mobilitas tenaga kerja dari sektor primer ke sekunder. Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Jawa Timur saja, bahkan untuk negara besar seperti Amerika Serikat membutuhkan waktu 80 tahun.

III.

Sasaran Yang Ingin Dicapai Sector industri manufaktur ( non migas ) ditargetkan tumbuh dengan laju rata-rata

8,56 persen per tahun. Dengan tingkat operasi rata-rata hanya sekitar 60 % pada tahun 2003, target peningkatan kapasitas utilitas khususnya sub sector yang masih berdaya saing akan meningkat ke titik optimum yaitu sektar 80 % dalam dua sampai tiga tahun pertama, terutama untuk industri yang dinilai memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Target penyerapan tenaga kerja dalam lima tahun mendatang adalah sekitar 500.000 pertahun ( termasuk industri pengolahan migas ). Dengan kecenderungan penurunan penyerapan beberapa tahun belakangan ini, penyerapan tenaga kerja baru lebih banyak mengandalkan pada basis industri baru yang perlu dipacu pertumbuhannya. Sejalan dengan upaya revitalisasi pertanian dan pedesaan, langkah penembangan untuk mewujudkan industrialisasi pedesaan menjadi sangat penting. Sedangkan bagi industri berskala menengah dan besar penyerapan tenaga kerja baru akan mengandalkan investasi baru. Diperkirakan kebutuhan investasi untuk mengejar target penyerapan tenaga kerja diatas mencapai 40 sampai 50 triliun rupiah per tahun.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

176

Terciptanya iklim usaha yang lebih kondusif baik bagi industri yang sudah ada maupun investasi baru dalam bentuk tersedianya layanan umum yang baik dan bersih dari KKN, sumber-sumber pendanaan yang terjangkau dan kebijakan fiscal yang menunjang. 1. Peningkatan pangsa pasar sektor industri manufaktur di pasar domestik baik untuk bahan baku maupun produk akhir, sebagai cerminan daya saing sektor ini dalam menghadapi produk-produk impor. 2. Meningkatnya volume ekspor produk manifaktur dalam total ekspor nasional, terutama pada produk ekspor industri manufaktur yang daya saingnya masih potensial untuk ditingkatkan. 3. Meningkatnya proses alih teknologi dari foreign direct investment ( FDI ) yang diceminkan dari meningkatnya pemasokan bahan antara dari produk local. 4. Meningkatnya penerapan standarisasi produk industri manufaktur sebagai faktor penguat daya saing produk nasional. 5. Meningkatnya penyebarab sektor industri manufaktur ke luar Pulau Jawa, terutama industri pengolahan hasil sumberaya alam

IV.

Arah Kebijakan Pembangunan industri dan perdagangan adalah bagian dari pembangunan

daerah sekaligus bagian dari pembangunan nasional, sehingga derap pembangunan industri dan perdagangan harus mampu memberikan sumbangan yang berarti terhadap pembangunan ekonomi maupun sosial politik. Oleh karenanya dalam penentuan tujuan pembangunan industri dan perdagangan di masa depan, baik jangka menengah maupun jangka panjang, bukan hanya ditujukan untuk mengatasi permasalahan dan kelemahan di sektor industri dan perdagangan saja yang disebabkan oleh melemahnya daya saing, tetapi juga harus mampu mengatasi permasalahan nasional dan permasalahan yang timbul di daerah. Dengan memperhatikan masalah nasional dan masalah yang timbul di daerah, serta masalah yang sedang dihadapi sektor industri dan perdagangan, maka tujuan pembangunan sektor industri dan perdagangan jangka menengah (2006 - 2011) ditetapkan sebagai berikut : 1. Meningkatkan kesempatan berusaha, kesempatan kerja dan pendapatan

masyarakat khususnya pelaku usaha industri dan perdagangan. 2. Meningkatkan pertumbuhan pembangunan ekonomi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

177

3. Mendukung perkembangan sektor infrastruktur 4. Meningkatkan kemampuan teknologi 5. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri 6. Meningkatkan ekspor dan pemberdayaan pasar dalam negeri 7. Meningkatkan pendalaman struktur industri dan perdagangan serta diversifikasi produk 8. Meningkatkan perdagangan persebaran industri dan pengembangan kawasan usaha

9. Meningkatkan kemampuan sumber daya usaha kecil dan menengah (UKM) agar tumbuh profesional dan kompetitif 10. Meningkatkan upaya perlindungan konsumen dan pengawasan barang beredar dan jasa 11. Meningkatkan upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya daerah.

Sedangkan tujuan pembangunan sektor industri dan perdagangan jangka panjang (2006 2025) meliputi : 15. Meningkatkan perekonomian tanpa menimbulkan inefisiensi ekonomi dan

ketimpangan struktur. 16. Meningkatkan peran Usaha Kecil Menengah (UKM) sehingga terjadi keserasian hubungan usaha, sinergi dan keadilan porsi peran antara pelaku usaha besar dengan usaha kecil menengah. 17. Meningkatkan upaya perlindungan konsumen dan didukung dengan penegakan hukum Perkembangan saat ini menunjukkan bahwa belum semua daerah dapat melaksanakan otonomi dengan sebaik-baiknya, hal tersebut terlihat dari berbagai permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan otonomi daerah terutama terkait dengan permasalahan regulasi (Peraturan Daerah), serta pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya keuangan melalui pengeluaran atau belanja daerah. Terbatasnya sumberdaya keuangan yang dimiliki daerah dan besarnya tanggung jawab daerah dalam melaksanakan pembangunan di daerahnya seringkali menjadi alasan penyebab munculnya Perda bermasalah. Dengan relatif kecilnya proporsi PAD dan dominasi dana perimbangan yang mencakup DAU, DBH, dan DAK dalam APBD, sebagian besar daerah masih mengandalkan pada alokasi dana perimbangan sebagai sumber utama . Kondisi ini akhirnya memaksa daerah untuk menempuh berbagai cara

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

178

dalam meningkatkan PAD yang tidak sejalan dengan UU No.34 / 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, tanpa ada upaya melaksanakan efisiensi. Sementara itu, dunia usaha, terutama para pengusaha dan investor di daerah banyak yang mengeluhkan keberadaan Perda yang bermasalah tersebut. Keluhan utama adalah ketidakpastian mengenai besarnya jumlah yang harus dibayar dan kerumitan administrasi yang ditimbulkan oleh begitu banyaknya jenis pajak dan retribusi daerah. Dari sisi Pemerintah Daerah, keberadaan Perda-perda tersebut tanpa disadari telah menurunkan daya saing perekonomian Kabupaten /Kota. Selain itu, berbagai peraturan perundang-undangan telah menghambat perdagangan antar daerah. Kemampuan Pemerintah Daerah dalam membuat dan memberlakukan peraturan daerahnya sendiri memungkinkan timbulnya hambatan bagi perdagangan antar daerah, baik berupa distorsi pasar maupun non pasar. Distorsi pasar terdiri dari pajak dan retribusi daerah yang dikenakan pada komoditi yang diperdagangkan, sedangkan distorsi non pasar terdiri dari regulasi perdagangan yang mendorong terjadinya monopoli dan monopsoni, serta kuota perdagangan dan hambatan persaingan usaha. Semua hambatan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi, meningkatkan harga produk yang dibayar konsumen, yang berarti secara relatif menurunkan daya beli konsumen. Berbagai hambatan tersebut tidak akan mendatangkan manfaat, tapi justru menimbulkan permasalahan baru, yaitu meningkatnya kemiskinan di daerah. Seiring dengan meningkatnya persaingan global, semua Negara dan daerah berlomba-lomba menarik investor domestik maupun asing untuk menanamkan modal wilayahnya. Pelaku usaha atau investor akan memilih lokasi yang paling memberikan kemudahan dan keuntungan bagi usahanya. Penciptaan iklim usaha yang kondusif merupakan elemen utama di dalam peningkatan investasi. Keberhasilan suatu Negara menarik investor menggambarkan daya tarik dan daya saing negara yang bersangkutan. Daya saing daerah mempunyai arti yang sama dengan daya saing nasional. Suatu daerah yang mampu bersaing dengan daerah lain dalam memproduksi dan memasarkan barang dan jasa disebut mempunyai daya saing tinggi, Kini lingkup persaingan tidak lagi hanya dalam wilayah suatu Negara, tetapi juga dengan wilayah yang berada di Negara lain. Dengan kewenangan yang dimiliki, peran pemerintah daerah kini menjadi sama pentingnya dengan pemerintah pusat dalam peningkatan investasi. Pemerintah Daerah dituntut dapat berkreasi dalam menangani permasalahan iklim investasi di daerah masing-masing melalui berbagai kebijakan yang mendukung terciptanya iklim usaha yang sehat. Pemerintah Daerah juga dituntut untuk dapat bersaing dengan Pemerintah Daerah lainnya dalam meningkatkan daya tarik investasi daerah. Hal

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

179

ini disebabkan oleh motivasi pelaku usaha atau investor untuk berpindah atau melakukan investasi di daerah lain yang memiliki daya tarik lebih tinggi. Investor akan memilih lokasi yang menawarkan peluang keuntungan lebih besar dengan risiko lebih kecil. Kebijakan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan investasi dipengaruhi oleh instrumen kebijakan, pelaksanaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijakan, pelaksanaan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kebijkan tersebut. Instrumen kebijakan untuk meningkatkan investasi berupa : 1. Peraturan perundangan dalam kerangka regulasi, 2. Pengelolaan belanja daerah dalam kerangka anggaran, 3. Penyediaan layanan terpadu, 4. Pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah serta koperasi, serta 5. Pengembangan sektor unggulan melalui klaster industri.

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah Potensi ekonomi di Kabupaten / Kota yang ada di Jawa Timur, antara lain

tanaman pangan, hortikultura, perikanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, industri manufaktur, pertambangan, pariwisata, konstruksi, listrik, telekomunikasi, gas, air minum, perdagangan dalam negeri dan luar negeri, hotel, dan restoran, serta jasa - jasa lainnya. Apabila dicermati secara mendalam sebenarnya mayoritas potensi ekonomi kabupaten kota di Jawa Timur adalah agrobisnis, begitu pula kalau di tinjau dari sisi industri pengolahan juga menujukkan komoditi yang berbasis agrobisnis, seperti pengolahan kayu, pulp dan kertas, makanan dan minuman, tekstil, udang, kulit, barang kulit, sepatu dan alas kaki, rokok, pengolahan karet, pengolahan rotan olahan, pengolahan kelapa sawit, dan pengolahan tetes. Selanjutnya kalau ditinjau dari mata pencaharian penduduk maka mayoritas berorientasi pada pertanian dalam artian luas, termasuk kalau ditinjau dari perdagangan dalam negeri ternyata Jawa Timur adalah pemasok terbesar komoditi pertanian ke JABODETABEK, seperti daging sapi, daging kambing, daging ayam, telur ayam, buah-buahan dan sayuran. Sebenarnya bencana pangan jauh lebih mengerikan ketimbang bencana tsunami dan tidak mustahil hal ini akan terjadi dalam 20 tahun mendatang apabila tidak dipersiapkan sejak awal.Indikasi ke arah tanda-tanda bencana pangan sudah mulai tampak, seperti banyaknya kabupaten / kota yang dilanda banjir dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

180

tanah longsor , makin banyaknya beras impor, gula impor, daging impor, kedelai impor,buah-buahan dan sayuran impor, garam impor, susu impor, dan lain-lain. Berdasarkan fakta yang ada maka Jawa Timur dalam menyongsong 2025 mencanangkan visi Jawa Timur ke depan adalah : "Jawa Timur sebagai Pusat Agribisnis terkemuka, berdaya saing global dan berkelanjutan". Selanjutnya misi Jawa Timur yang dicanangkan selama 20 tahun adalah : 1. Agrobisnis berbasis inovasi tekhnologi 2. Pengembangan struktur ekonomi berbasis agro yang berdaya saing global dan berkelanjutan 3. Terwujudnya SDM yang handal, berakhlak mulia dan berbudaya 4. Terwujudnya kemudahan memperoleh akses untuk meningkatkan kualitas hidup 5. Optimalisasi pemanfaatan SDA dan buatan 6. Pemenuhan infrastruktur bernilai tambah tinggi, dan 7. Tata kelola pemerintahan yang baik.

Berdasarkan visi dan misi maka arah pembangunan jangka panjang adalah mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia ; mewujudkan masyarakat yang sejahtera ; mewujudkan sentra agribisnis yang inovatif ; mewujudkan lingkungan hidup yang asri dan lestari ; dan mewujudkan tata kelola tata pemerintah yang baik. Selanjutnya untuk mewujudkan Jawa Timur sebagai pusat agribisnis maka arah pengembangannya adalah sebagai berikut : 1. Pengembangan industri input yang memadai dari segi jumlah, kualitas dan waktu sesuai dengan tuntutan pengembangan agribisnis hilir ; 2. Peningkatan nilai tambah melalui pengolahan hasil produk primer ; 3. Pengembangan sistem pemasaran yang berorientasi pada perubahan permintaan konsumen ; 4. Pengembangan teknologi budidaya dan organisasi produksi untuk

menghasilkan produk yang berkualitas dan aman bagi konsumen ; 5. Pengembangan penunjang sistem agribisnis ; dan 6. Pengembangan jejaring bisnis terintegrasi yang menggambarkan harmoni antar pelaku bisnis. Penetapan Jawa Timur sebagai pusat agribisnis bukan berarti mematikan sektor-sektor yang lain. Jawa Timur pada bulan Juli 2008, ekspor komoditi non migas Jatim mencapai

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

181

1,074 miliar Dolar AS. Kondisi ini naik 0,76% dibandingkan dengan ekspor Juni 2008 yang mencapai 1,038 miliar Dolar AS.Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Ir Adi Nugroho di kantornya, Kamis (4/9) mengatakan, komoditi utama ekspor non migas Jatim pada Juli 2008 adalah tembaga (HS 74) yang nilainya 161,319 juta Dolar AS atau menyumbang 15,01% dari jumlah nilai total ekspor Jatim. Sementara komoditi tembaga pada Juni 2008 juga menduduki posisi pertama dengan nilai ekspor 160,425 juta Dolar AS atau naik 0,56%. Sedangkan urutan ekspor terbesar kedua adalah komoditi barang kertas/karton (HS 48) dengan nilai ekspor mencapai 102,231 juta Dolar AS atau 9,51% dari total ekspor. Komoditi kertas/karton pada Juni juga menduduki peringkat kedua dengan nilai ekspor 91,247 juta Dolar AS atau naik 5,13% dibandingkan pada Mei 2008. Di posisi ketiga, diduduki kelompok komoditi produk bahan kimia organik (HS 29) dengan nilai 79,314 juta Dolar AS atau naik 20,44% dibanding Juni, yakni 65,853 juta Dolar AS. Dibanding dengan ekspor non migas Jatim pada Juli 2007 yang hanya mencapai 881,871 juta Dolar AS, maka ekspor non migas Jatim pada Juli 2008, yakni 1,074 miliar Dolar AS atau naik 21,85%. Menurut data BPS Jatim, sepuluh komoditi non migas dengan nilai ekspor tertinggi pada Juni 2008, yakni tembaga, kertas/karton, bahan kimia organik, besi dan baja, ikan dan udang, karet dan barang dari karet, kayu dan barnag dari kayu, mainan, lokomotif dan perawatan kereta api dan alas kaki. Sedangkan sepuluh komoditi non migas nilai ekspor tertinggi pada Juni 2008, yakni tembaga, kertas karton, bahan kimia organik, ikan udang, kayu barang dari kayu, perabot penerangan rumah, karet barang dari karet, lemak minyak hewani dan minyak nabati, mesin peralatan listrik, serta besi dan baja. Negara tujuan ekspor utama tertinggi pada Juli, yaitu Jepang dengan nilai 179,231 juta Dolar AS naik 26,25% dibanding ekspor Juni yang hanya 141,960 juta Dolar AS. Peringkat kedua ditempati Amerika Serikat 130,238 juta Dolar AS atau turun 14,89% dibanding bulan sebelumnya yakni 153,026 juta Dolar AS. Malaysia menempati urutan ketiga dengan 89,386 juta Dolar AS atau turun 5,43% dibanding sebelumnya yakni 94,519 juta Dolar AS. Ekspor terbesar lainnya pada Juli 2008, yakni Thailand 78,802 juta Dolar AS, Singapura 43,113 juta Dolar AS, Korea Selatan 42,978 juta Dolar AS, Cina 40,965 juta Dolar AS, Australia 33,148 juta Dolar AS, Vietnam 30,683 juta Dolar AS, dan Taiwan 25,696 juta Dolar AS. Negara tujuan ekspor utama Jatim pada Juni 2008 adalah Amerika Serikat (AS) 153,026 juta Dolar AS atau naik 27% dibanding Mei yang hanya 120,290 juta Dolar AS. Jepang menduduki ekspor terbesar kedua dengan 141,960 juta Dolar AS atau turun 7% dibanding nilai ekspor Mei 2008 hanya 153,256 juta Dolar AS. Kemudian peringkat ketiga,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

182

Malaysia dengan nilai ekspor 94,519 juta Dolar AS atau turun 24% dibanding Mei yang hanya 124,210 juta Dolar AS. Peringkat ekspor terbesar lainnya pada Juni 2008, Thailand 78,802 juta Dolar AS, Singapura 43,113 juta Dolar AS, Korea Selatan 42,978 juta Dolar AS, Cina 40,965 juta Dolar AS, Australia 33,148 juta Dolar AS, Vietnam 30,863 juta Dolar AS dan Taiwan 25,696 juta Dolar AS. Sedangkan impor non migas Jatim pada Juli 2008 mencapai 1,019 miliar Dolar AS atau naik 4,55% dibandingkan Juni yang mencapai 975,642 juta Dolar AS. Komoditi yang diimpor Jatim pada Juli tertinggi masih diduduki produk besi dan baja dengan nilai 192,128 juta Dolar AS menyumbang 18,84% dari total impor Jatim atau naik 94,72% dibanding Juni 2008 mencapai 98,669 juta Dolar AS. Impor terbesar kedua diduduki kelompok barang-barang mesin pesawat, mekanik (HS 84) dengan nilai 91,609 juta Dolar AS atau naik 13,62% dibanding Juni 2008 mencapai 81,053 juta Dolar AS. Kemudian kelompok pupuk (HS 31) menduduki peringkat ketiga dengan nilai 87,663 juta Dolar AS atau naik 10% dari impor bulan sebelumnya 79,695 juta Dolar AS, barang sisa/ampas industri industri makanan (HS 23) 70,947 juta Dolar AS, bahan kimia organik 58,723 juta Dolar AS, plastik dan barang dari plastik 47,869 juta Dolar AS, bubur kayu/pulb 40,445 juta Dolar AS, bijian berminyak 35,972 juta Dolar AS, gandum 31,451 juta Dolar AS, benda dari besi dan baja 27,534 juta Dolar AS serta impor barang-barang lainnya 335,649 juta Dolar AS. Sepuluh negara asal impor tertinggi Jatim pada Juli 2008, yakni Cina dengan nilai 196,675 juta Dolar AS, Amerika Serikat 118,042 juta Dolar AS, Ukraina 74,658 juta Dolar AS, Rusia 56,589 juta Dolar AS, Singapura 55,351 juta Dolar AS, Thailand 53,446 juta Dolar AS, Jepang 47,215 juta Dolar AS, Australia 37,616 juta Dolar AS, Malaysia 30,228 juta Dolar AS dan Argentina 29,093 juta Dolar AS. *(ryo) Ekspor non migas di Jatim terus menanjak meskipun situasinya kurang bagus. Akibat kenaikan harga minyak dunia dan semburan lumpur Sidoarjo. Ekspor non migas Jatim tahun 2007 mencapai 8,34 juta ton (naik 21,4%) dibandingkan tahun 2006 sebesar 6,87 juta ton. Sedangkan ekspor non migas Jatim pada triwulan I tahun 2008, sebesar 2,82 miliar dollar AS atau naik 9,69% dibanding periode yang sama tahun 2007. Hal ini disebabkan melejitnya harga komoditas di pasar dunia, sehingga berpengaruh pada permintaan pasar. Dari 33 propinsi di Indonesia ekspor non migas Jatim menempati urutan tiga setelah DKI Jakarta dan Riau. Realisasi komoditi utama ekspor non migas, didukung realisasi 10 kelompok komoditi utama dari 3.000 jenis komoditi. Di antaranya, tembaga, timah, bahan kimia dasar, kayu, mesin dan otomotif, kertas, tekstil, pengolahan karet. Selain dominan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

183

meningkatkan nilai ekspor (78,9%), 10 komoditi ini juga mengalami pertumbuhan rata-rata 29,33%. Yang mengalami pertumbuhan tertinggi ekspor bahan kimia dasar sebesar 16%. Ekspor non migas ini, Jatim selalu didominasi produk manufaktur, 2007 industri memberikan pangsa 92,32%, pertanian 7,11%, pertambangan 0,54% sektor lainnya 0,3%. “Ini bukti kekuatan industri Jatim menopang ekspor Indonesia. Sementara itu, rencana pembentukan LPEI oleh DPR RI disambut baik. Namun, menurut Cahusnul, masih ada beberapa hal yang perlu penyempurnaan. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Erlangga Satriagung mengatakan, LPEI merupakan konsep yang sangat bagus untuk meningkatkan perkembangan ekspor impor di Indonesia. (Dinas Infokom Jatim ) Selain itu target pembangunan tahun 2008 seperti pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen, berkurangnya pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen dari total angkatan kerja, serta berkurangnya penduduk miskin menjadi 15,90 persen dari jumlah penduduk Jatim dengan menerapkan Pengembangan IKM ( Industri Kecil Menengah ) yaitu dengan melakukan pengembangan iklim usaha, pemberian bantuan teknik melalui kegiatan

penerapan teknis produksi bersih, pemberian bantuan sarana/prasarana penunjang berupa mesin/peralatan teknologi tepat guna, pemberdayaan SDM melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan serta penguatan dan pengembangan kelembagaan untuk mencapai sasaran yaitu 1. Semakin meningkatnya jumlah unit-unit usaha IKM baru yang tersebar merata ke seluruh daerah, pada tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi 2. Meningkatnya penciptaan lapangan kerja baru di segmen IKM, yang tersebar ke seluruh daerah 3. Meningkatnya secara nyata sumbangan nilai tambah IKM, dengan dampak pemerataan pendapatan ke seluruh daerah. 4. Meningkatnya daya saing produk IKM sehingga ekspor produk IKM meningkat baik dalam nilai absolut maupun dalam.porsi kontribusinya kepada nilai ekspor non-migas

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut Percepatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dapat ditempuh dengan

mengembangkan sektor unggulan berbasis sumberdaya lokal melalui konsep klaster bisnis. Patut dipahami bahwa pengembangan klaster menawarkan cara yang lebih efektif dan efisien dalam membangun ekonomi kabupaten / kota secara lebih mantap, dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

184

mempercepat pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan. Sektor-sektor ekonomi di Jawa Timur yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena memiliki prospek yang bagus dan mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak serta mampu meningkatkan pendapatan masyarakat saat ini adalah komoditi kimia dasar, pengolahan kayu, besi baja, mesin-mesin dan otomotif, pengolahan tembaga, pulp dan kertas, makanan dan minuman, tekstil, kulit, barang kulit dan sepatu / alas kaki, udang, alat-alat listrik, pengolahan karet, plastik, pengolahan aluminium, rokok, keramik, marmer dan kaca, pengolahan kelapa sawit, pengolahan rotan olahan, barang-barang kimia lainnya, alat olahraga, musik, pendidikan dan mainan, pengolahan tetes, jasa informasi tekhnologi, jasa design, dan jasa konstruksi. Sejak tahun 2006, model yang dianut Provinsi Jawa Timur adalah dual track strategy , maksudnya di satu sisi berupaya untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan, disisi yang lain berupaya mampu mendukung terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat seperti hak atas pangan, hak atas pelayanan kesehatan, hak atas pendidikan, hak atas air bersih dan sanitasi, hak atas pekerjaan, dan lain-lain. Model ini dipandang tetap relevan hingga 2025 agar tidak terjadi trade off antara pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan. Perkembangan ekonomi global dan geo strategis regional memberi indikasi yang kuat bahwa Jawa Timur perlu memfokuskan peningkatan ekspor dan investasinya pada beberapa kawasan khusus yang mendapatkan beberapa fasilitas perpajakan, kepabeanan, dan infrastruktur pendukungnya sedemikian rupa sehingga dapat bersaing dengan negara-negara tetangga dalam menarik investasi asing masuk ke Jawa Timur dan sekaligus juga membantu mengembangkan wilayah dan kawasan. Kawasan-kawasan khusus inilah yang sementara ini akan dikembangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau Special Economic Zones (SEZ). Dalam konstelasi perdagangan dan investasi global sebenarnya Jawa Timur memiliki beberapa keunggulan yang seharusnya dapat menjadi peluang dalam menarik investasi. Berdasarkan aneka keuanggulan yang dimiliki Jawa Timur dapat dijadikan peluang yang bagus dalam menarik investasi, dan peluang makin memiliki daya tarik kuat apabila ada penerapan Kawasan Ekonomi Khusus karena sangat cocok, dan dapat mengintegrasikan kegiatan ekonomi serta bisnis, seperti industri, perdagangan, restoran, hotel, pariwisata, pertanian, pertambangan dan aneka jasa. Kawasan ekonomi khusus merupakan suatu kawasan tertentu dimana pabrik-pabrik yang berada di kawasan tesebut diberlakukan ketentuan khusus di bidang kepabeanan (customs & excise), perpajakan (tax), perijinan (licensing) one stop services , keimigrasian, dan ketenagakerjaan. Arah pembangunan investasi di Jawa Timur hingga 2025 adalah :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

185

1. Terwujudnya sinergitas dengan kebijakan ekonomi dan investasi nasional maupun daerah serta berorientasi pada potensi sumberdaya daerah dengan tujuan untuk menciptakan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah ; 2. Terwujudnya iklim investasi yang didukung oleh terselenggaranya proses perijinan secara cepat dan efisien, serta persiapan sarana infrastruktur dan sumberdaya manusia di lokalitas investasi ; dan 3. Penyebaran investasi ke wilayah selatan Jawa Timur, Madura, dan wilayah Barat Jawa Timur. Strategi Perbaikan Program Pembangunan Dalam persaingan global yang semakin tajam, industri manufaktur suatu negara dituntut untuk mampu menghasilkan output secara efisien jika ingin tetap dapat bertahan. Efisiensi dalam produksi dapat tercapai jika sumber daya yang tersedia dapat dialokasikan secara efektif dan efisien. Hal ini dapat dikembangkan dengan adanya peran pemerintah ikut campur dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kapabilitas nasional (Porter,1990). Pada pembangunan sektor industri manufaktur, kebijakan yang berorientasi spasial dan regional merupakan salah satu faktor kunci yang dapat mendukung pemerintah pusat dan daerah dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan pembangunan (Kuncoro,2002). Pada tahun 2000, pemerintah Indonesia telah

memberikan perhatian pada perspektif dan pendekatan cluster atau pendekatan konsentrasi spasial dalam kebijakan nasional dan regional sektor industri manufaktur untuk mendorong spesialisasi produk serta meningkatkan efisiensi dan produktivitas (Kompas,19/8/2000). Fenomena konsentrasi spasial dapat ditemukan pada kebanyakan Negara berkembang dimana distribusi penduduk dan konsentrasi industri terkonsentrasi di kotakota besar seperti Bangkok, New Delhi, Sao Paulo, dan Jakarta, yang menandai suatu sistem spasial bardasarkan akumulasi modal dan tenaga kerja dalam agglomerasi perkotaan (Kuncoro, 2002:1). Konsentrasi aktifitas ekonomi secara spasial menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses yang selektif dan hanya terjadi pada kasus tertentu bila dipandang dari segi geografis. Sebagai contoh , di Amerika Serikat, mayoritas industri manufaktur telah sekian lama terkonsentrasi pada suatu lokasi yang disebut “sabuk manufaktur” (Krugman,1991). konsentrasi spasial industri (Industrial clustering) yang serupa juga ditemukan di kawasan industri Axial belt di Inggris (Kuncoro,2000).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

186

Fenomena serupa juga dapat ditemukan di Jawa Timur, dimana terdapat berbagai macam konsentrasi spasial pada industri manufaktur. Di Jawa Timur, industri manufaktur terkonsentrasi di Koridor Surabaya-Malang (Surabaya, Malang, Mojokerto, Gresik, Pasuruan dan Sidoarjo) dimana koridor Surabaya- Malang memberikan kontribusi sekitar 50% dari output sektor industri manufaktur Jawa Timur, selain itu industri manufaktur di jawa timur juga terkonsentrasi di Kediri dan Jember Jawa Timur memiliki peranan yang penting dalam sektor industri manufaktur di Indonesia. Industri manufaktur di Jawa Timur menyumbang sekitar 20% dari nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor industri manufaktur di Indonesia dan sekitar 25% tenaga kerja yang bekerja di sektor industri manufaktur Indonesia. Jawa Timur merupakan pusat industri pembuatan dan perbaikan kapal laut, industri rel dan kereta api serta terkonsentrasinya pabrik gula (Dick,1993:230-255). Kota Surabaya sebagai ibukota propinsi Jawa Timur adalah kota terbesar kedua di Indonesia. Di kota Surabaya, keterkaitan antara kota dan daerah pendukung terlihat dari 2 hal yaitu: pertama, akses internasional dari ekonomi Surabaya akan berpengaruh terhadap wilayah penyangga, kedua, kota Surabaya menjadi “Growth Pole” bagi pembangunan wilayah penyangga. Kota Surabaya memiliki akses pelabuhan jalur kereta api dan bandara internasional yang mendukung industri manufaktur di Jawa Timur. Pada sektor industri manufaktur, kota Surabaya memberikan kontribusi terbesar yaitu sekitar 18% dari tenaga kerja industri manufaktur Jawa Timur dan 19% dari output industri manufaktur Jawa Timur (Dick, 1993:325-343). Berbagai upaya telah ditempuh untuk mendorong peningkatan daya saing industri manufaktur, baik dalam bentuk regulasi maupun fasilitasi langsung pemerintah. Pertumbuhan industri manufaktur nasional memang masih belum seperti yang diharapkan. Namun beberapa indikator menunjukkan ada potensi untuk tumbuh lebih baik. Untuk dapat mewujudkan potensi pertumbuhan ini, beberapa permasalahan perlu diselesaikan dan ditangani secara seksama dan berkelanjutan. Percepatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dapat ditempuh dengan

mengembangkan sektor unggulan berbasis sumberdaya lokal melalui konsep klaster bisnis. Patut dipahami bahwa pengembangan klaster menawarkan cara yang lebih efektif dan efisien dalam membangun ekonomi kabupaten / kota secara lebih mantap, dan mempercepat pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan. Sektor-sektor ekonomi di Jawa Timur yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena memiliki prospek yang bagus dan mampu menyerap tenaga kerja cukup banyak serta mampu

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

187

meningkatkan pendapatan masyarakat saat ini adalah komoditi kimia dasar, pengolahan kayu, besi baja, mesin-mesin dan otomotif, pengolahan tembaga, pulp dan kertas, makanan dan minuman, tekstil, kulit, barang kulit dan sepatu / alas kaki, udang, alat-alat listrik, pengolahan karet, plastik, pengolahan aluminium, rokok, keramik, marmer dan kaca, pengolahan kelapa sawit, pengolahan rotan olahan, barang-barang kimia lainnya, alat olahraga, musik, pendidikan dan mainan, pengolahan tetes, jasa informasi tekhnologi, jasa design, dan jasa konstruksi. Sejak tahun 2006, model yang dianut Provinsi Jawa Timur adalah dual track strategy , maksudnya di satu sisi berupaya untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan, disisi yang lain berupaya mampu mendukung terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat seperti hak atas pangan, hak atas pelayanan kesehatan, hak atas pendidikan, hak atas air bersih dan sanitasi, hak atas pekerjaan, dan lain-lain. Model ini dipandang tetap relevan hingga 2025 agar tidak terjadi trade off antara pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan. Perkembangan ekonomi global dan geo strategis regional memberi indikasi yang kuat bahwa Jawa Timur perlu memfokuskan peningkatan ekspor dan investasinya pada beberapa kawasan khusus yang mendapatkan beberapa fasilitas perpajakan,

kepabeanan, dan infrastruktur pendukungnya sedemikian rupa sehingga dapat bersaing dengan negara-negara tetangga dalam menarik investasi asing masuk ke Jawa Timur dan sekaligus juga membantu mengembangkan wilayah dan kawasan. Kawasankawasan khusus inilah yang sementara ini akan dikembangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau Special Economic Zones (SEZ). Dalam konstelasi perdagangan dan investasi global sebenarnya Jawa Timur memiliki beberapa keunggulan yang seharusnya dapat menjadi peluang dalam menarik investasi. Berdasarkan aneka keuanggulan yang dimiliki Jawa Timur dapat dijadikan peluang yang bagus dalam menarik investasi, dan peluang makin memiliki daya tarik kuat apabila ada penerapan Kawasan Ekonomi Khusus karena sangat cocok, dan dapat mengintegrasikan kegiatan ekonomi serta bisnis, seperti industri, perdagangan, restoran, hotel, pariwisata, pertanian, pertambangan dan aneka jasa. Kawasan ekonomi khusus merupakan suatu kawasan tertentu dimana pabrik-pabrik yang berada di kawasan tesebut diberlakukan ketentuan khusus di bidang kepabeanan (customs & excise), perpajakan (tax), perijinan (licensing) one stop services , keimigrasian, dan ketenagakerjaan. Arah pembangunan investasi di Jawa Timur adalah :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

188

1)

Terwujudnya sinergitas dengan kebijakan ekonomi dan investasi nasional maupun daerah serta berorientasi pada potensi sumberdaya daerah dengan tujuan untuk menciptakan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah;

2)

Terwujudnya iklim investasi yang didukung oleh terselenggaranya proses perijinan secara cepat dan efisien, serta persiapan sarana infrastruktur dan sumberdaya manusia di lokalitas investasi ; dan

3)

Penyebaran investasi ke wilayah selatan Jawa Timur, Madura, dan wilayah Barat Jawa Timur. Selain itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, Erlangga Satriagung

mengatakan, LPEI merupakan konsep yang sangat bagus untuk meningkatkan perkembangan ekspor impor di Indonesia. ( Dinas Infokom Jatim ) Menurutnya, konsep lembaga ini akan memangkas birokrasi dan persyaratannya lebih fleksibel. Hal ini berbeda dengan yang ditawarkan oleh bank dengan butuh waktu lama dan aturannya sangat ketat. Namun menurutnya, lembaga ini tidak akan berjalan dengan baik jika dana yang disediakan terlalu sedikit. LPEI menyediakan anggaran Rp. 4 triliun. Padahal, jumlah ini terlalu kecil dibanding nilai ekspor impor Indonesia yang mencapai 100 miliar dollar AS atau Rp 1.000 triliun. “Minimal modal awalnya Rp 40 triliun karena skala nasional, kalau hanya untuk Jatim, Rp 4 triliun cukup,” katanya. Oleh karena itu, menurutnya harus ada penambahan modal awal jika ingin LPEI berjalan dengan baik. *(icl) Strategi penciptaan Jawa Timur sebagai daerah agrobisnis : (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Agroindustri berbasis inovasi tekhnologi; Pengembangan struktur ekonomi berdaya saing global; Terwujudnya sdm yang handal, berakhlak mulia dan berbudaya; Terwujudnya kemudahan memperoleh akses untuk meningkatkan kualitas hidup ; Optimalsasi pemanfaatan sda dan buatan ; Pemenuhan infrastruktur bernilai tambah tinggi, dan Tata kelola pemerintahan yang baik.

Strategi pengembangan Industri kecil, menengah : 1. Strategi Pokok a. Membangun jaringan industri dan arus distribusi barang dan jasa b. Meningkatkan produktifitas, efisiensi dan nilai tambah pada kegiatan industri c. Pengembangan kawasan perdagangan dan lembaga-lembaga perdagangan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

189

d. Pengembangan UKM, melalui : Peningkatan dan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi UKM, bimbingan teknis dan manajemen, serta pemberian fasilitas khusus agar dapat tumbuh secara espansif dan andal bersaing di bidangnya. Mendorong terbentuknya kelompok usaha bersama dan lingkungan usaha yang menunjang-Mendorong terwujudnya pengusaha kecil dan menengah yang mampu mengembangkan usaha, menguasai teknologi dan informasi pasar Peningkatan pola kemitraan UKM dengan BUMN, BUMD, BUMS dan pihak lainnya. e.Pembudayaan penggunaan produksi dalam negeri dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan rasa nasionalisme. 2. Strategi Operasional a. Persatuan dan kesatuan antara Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat b. Pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif c. Pengembangan industri khususnya IKM dilakukan dengan mendorong

pertumbuhan klaster industri prioritas d. Pengembangan perdagangan dilakukan dengan mendorong terciptanya kawasan perdagangan dalam kerangka penataan ruang dan jenis komoditas serta terbentuknya lembaga/asosiasi perdagangan.

VII. Penutup Potensi ekonomi Jawa Timur meliputi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perikanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, industri manufaktur, pertambangan, pariwisata, konstruksi, listrik, telekomunikasi, gas, air minum, perdagangan dalam negeri dan luar negeri, hotel, dan restoran, serta jasa - jasa lainnya. Seluruh potensi ekonomi dapat berdayaguna dan berhasilguna apabila ada investasi yang terealisasi di Kabupaten / Kota. Calon investor dalam menanamkan modal di daerah sangat tergantung pada kemudahan dalam perijinan, tawaran insentif yang menarik, iklim usaha yang kondusif, terjaminnya keamanan dan kondisi sosial politik yang stabil. Memperhatikan komposisi sektor-sektor yang terdapat dalam PDRB yang cenderung bergeser dari tradeable goods ke non tradeable goods, dan pertumbuhan ekonomi tahun 2007 sebesar 6,02 % yang ternyata belum mampu mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, maka dalam pembangunan 20 tahun ke depan (2005-20025) maka ditetapkan visi pembangunan Jawa Timur yaitu "Jawa Timur sebagai pusat agrobisnis terkemuka, berdaya saing global dan berkelanjutan". Selanjutnya misi dan yang dicanangkan selama 20 tahun adalah :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

190

1) agroindustri berbasis inovasi tekhnologi; 2) Pengembangan struktur ekonomi berdaya saing global; 3) Terwujudnya SDM ang handal, berakhlak mulia dan berbudaya; 4) Terwujudnya kemudahan memperoleh akses untuk meningkatkan kualitas hidup ; 5) Optimalsasi pemanfaatan SDA dan buatan ; 6) Pemenuhan infrastruktur bernilai tambah tinggi, dan 7) Tata kelola pemerintahan yang baik.

Arah pembangunan agrobisnis hingga 2025 adalah mendukung pengembangan dan pemasaran produk andalan yang mengarah pada penguatan ekonomi rakyat serta pengembangan jejaring bisnis terintegrasi antar pelaku bisnis dalam lingkup wilayah dan fungsional. Berdasarkan visi misi yang sudah dicanangkan maka diharapkan potensi kabupaten / kota dapat dioptimalkan dan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkualitas - berkesinambungan serta peningkatan investasi PMDN, PMA, Non Fasilitas di Jawa Timur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

191

I.

Pengantar Sesuai dengan arahan Presiden RI yang tertuang dalam Kebijakan Presiden pada Bab 19 tentang Revitalisasi Pertanian (www.bappenas.go.id); dinyatakan bahwa revitalisasi pertanian yang dimaksud merupakan kegiatan yang dirancang untuk menciptakan lapangan pekerjaan terutama di daerah perdesaan yang bermuara pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itulah maka diperlukan berbagai upaya serta langkah-langkah yang strategis dan sinergis antar berbagai faktor dan indikator penting dalam isu-isu pembangunan pertanian saat ini. Revitalisasi Pertanian telah menjadi sebuah kebijakan yang muncul sejak akhir Mei 2005 dimana pada saat tersebut muncul sebuah harapan dan optimisme yang sangat besar akan arah pembangunan pertanian ke depan yang semakin mendapat perhatian. Berpijak pada hal itu maka diperlukan adanya penjabaran program revitalisasi pertanian sebagai first step (langkah awal) dari implementasi kebijakan tersebut melalui sosialisasi kepada stakeholder untuk ikut ambil bagian dalam program besar tersebut. Harapan untuk terjadinya peningkatan kesejahteraan petani serta terciptanya daya saing dan nilai tambah produk pertanian secara umum dan membentuk ketahanan pangan nasional dapat diwujudkan dengan adanya program revitalisasi pertanian sehingga perlu adanya kejelasan tentang sasaran pembangunan pertanian. Semua hal yang terkait dan menyangkut kebijakan dan program tersebut secara hierarki pemerintahan di pusat dan daerah seyogyanya berangkat pada konsep yang sama atau dengan kata lain semua pihak yang terlibat (semua lembaga) dari sub sektor pertanian hendaknya menuju target atau sasaran yang sama yaitu terciptanya pertanian yang maju dan berkelanjutan; pertanian yang dapat menjamin ketahanan pangan nasional, menjamin tingkat kesejahteraan petani dan masyarakat serta terwujudnya daya saing yang tinggi dari produk-produk pertanian dalam negeri. Revitalisasi pertanian yang terwujud dalam program pembangunan pertanian memerlukan suatu proses yang membutuhkan pengelolaan sumber daya yang ada,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

192

manajemen waktu, alokasi anggaran dana atau finansial yang proporsional, pemberdayaan kelembagaan dan lain-lain. Untuk itulah maka pembangunan pertanian tidak dapat hanya berdiri sendiri saja karena sangat terkait dan menyangkut sektor lain yaitu masalah sosial budaya, sistem keamanan dan politis dan bahkan terkait juga dengan pasar internasional. Oleh sebab itu maka hasilnya tidak dapat diwujudkan secara instan maupun dalam jangka pendek karena proses produksi yang terjadi dalam pertanian sangat terpengaruh dengan iklim lingkungan sehingga membuatnya berbeda dengan pembangunan industri dan jasa. Revitalisasi pertanian harus dijabarkan sampai ke tingkat daerah; terutama dengan adanya otonomi daerah saat ini dimana peranan pemerintah daerah sangat menentukan dan berperan besar dalam keberhasilan program revitalisasi. Propinsi Jawa Timur sebagai salah satu sentra daerah penghasil beras kedua terbesar setelah Jawa Barat menerapkan berbagai langkah dan strategi yang mendukung revitalisasi pertanian guna terwujudnya program pembangunan pertanian yang sustainable. Salah satu kebijakan pemerintah yang terkait dengan instrumen utama ekonomi perberasan yaitu penetapan harga beras nampaknya menjadi antiklimaks terhadap kondisi perberasan di Jawa Timur secara makro. Sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional yang tercatat dalam sejarahnya; dari sisi produksi selalu surplus dalam setiap musim panen namun pada kenyataannya masih susah mendapatkan beras dengan harga murah. Gejolak kenaikan harga beras terasa hampir menyeluruh diwilayah Jawa Timur dengan munculnya berbagai fenomena yang dimulai dari menipis dan kosongnya stok bahan pangan utama tersebut di sejumlah kantongkantong beras, kurang berdayanya peran ekonomi di perdesaan, melemahnya kontrol pemerintah atas jalur distribusi beras, dan lain-lain.

II. Kondisi Awal RPJMN di Tingkat Daerah Menurut Sekdaprov Jatim, Dr Soekarwo pada acara sosialisasi pengadaan gabah/beras tahun 2008 di Aula Perum Bulog Divisi Regional Jatim di Surabaya (20 Pebruari 2008); beliau mengatakan bahwa Propinsi Jawa Timur saat ini menjadi penghasil beras kedua terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat terancam akan mengalami defisit beras pada tahun 2028 yang diakibatkan semakin menyusutnya luas areal pertanian di wilayah Jawa Timur. Lebih lanjut dikatakan bahwa Jatim merupakan daerah penyangga beras kedua nasional dengan produksi sekitar 9 juta ton dari luas areal panen padi yang mencapai 1,69 juta hektar dan produktivitas 5,3 ton per hektar (Inilah.com)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

193

Jika diasumsikan luas hasil panen menurun 0,2 persen per tahun sedangkan produktivitas padi 5,34 ton per hektar dengan peningkatan jumlah penduduk 0,83 persen setiap tahun dan konsumsi beras 109,22 kg perkapita maka produksi beras Jatim akan terus menurun ungkap Dr Soekarwo (Inilah.com) Sementara itu seperti yang dilaporkan oleh Tempo Interaktif Bojonegoro (13 Maret 2008) sedikitnya 120 ton dari total 256 ton benih padi bantuan pemerintah yang ditanam petani terancam puso menyusul banjir yang menggenangi 4.200 hektar sawah di 105 desa dari 14 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro. Sepanjang tahun 2008 yang dimulai sejak awal bulan Januari nampaknya berbagai bencana dan musibah yang melanda Indonesia datang silih berganti dan terus menghantam secara langsung dan mempunyai dampak yang luar biasa besar yang mempengaruhi situasi dan kondisi pembangunan pertanian di Indonesia. Dimulai dengan datangnya musibah banjir sejak akhir tahun 2007 yang telah memporakporandakan padi sehingga gagal panen, terus berkurangnya lahan pertanian akibat adanya konversi lahan pertanian yang masih produktif yang beralih menjadi lahan pemukiman penduduk, menurunnya tingkat daya saing dan nilai tambah produk pertanian dan perikanan jika dibandingkan dengan produk-produk impor yang semakin membanjiri pasar-pasar tradisional, masalah kenaikan harga bbm, hingga terjadinya kelangkaan pupuk akhir-akhir ini semakin menambah keterpurukan sektor pertanian di negara kita umumnya dan Jawa Timur khususnya. Kebijakan pemerintah yang dikeluarkan sejak awal 2008 beberapa di antaranya dapat dikatakan sebagai titik cerah bagi kehidupan petani paska banjir yang melanda. Dengan memanfaatkan dana darurat, pemerintah membagikan natura atau benih dan pupuk kepada petani. Akan tetapi kebijakan jangka panjangnya belum dapat dinilai memuaskan karena focus of interest pemerintah adalah pada pengadaan raskin. Raskin ini meningkat 22,89% dari tahun lalu. Program yang dilakukan untuk mempercepat pelaksanaan karena bencana paceklik ini ditargetkan bagi seluruh provinsi (+ 33 provinsi) dengan jumlah 10 kg/bulan selama 10 bulan (Kompas, 2 Januari 2008). Lebih lanjut dipaparkan tentang kebijakan raskin yang selama tahun 2007 belum dirasa banyak manfaatnya. Banyak permasalahan baru timbul sebagai akibat dari munculnya kebijakan ini. Ketimpangan sosial antar warga yang mendapat dan tidak mendapat akibat dispersi yang tidak merata, dan target pemberian yang kadang melenceng bahkan bisa jadi merupakan lahan korupsi baru bagi pemerintah daerah terutama pemerintah lokal yang menangani langsung progarm pembagian bantuan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

194

tersebut. Selain itu, tidak ada kendali dan kontrol yang kuat terhadap harga sembako dan kecilnya jumlah raskin yang diberikan dibandingkan jumlah total yang harus dikonsumsi tiap keluarga. Hal tersebut semakin diperparah dengan tanggapan masyarakat yang menilai kualitas beras yang diberikan jauh dari kualitas beras yang bisa dianggap baik dan layak untuk dikonsumsi. Sementara itu; disisi yang lain, data sementara yang dikeluarkan oleh BPS Propinsi Jawa Timur dan Badan Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Timur untuk tahun 2008 mengenai jumlah konsumsi padi-padian, beras, jagung, dan terigu untuk 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur berturut-turut adalah sebagai berikut : untuk padipadian sebanyak 4.201.824,68 ton, beras sebanyak 3.629.757,91 ton, jagung

sebanyak 247.754,54 dan terigu sebanyak 324.312,23 ton (BKP dan BPS Prop Jatim, 2008). Pada akhirnya tingkat konsumsi beras akan mengakibatkan perubahan terhadap jumlah dan tingkat produksi beras dan bahan pangan lainnya dimana peran pemerintah sebagai regulator dan sekaligus stabilisator harga beras memainkan peran yang aktif dan memiliki komitmen yang konsisten terhadap program pertanian mengingat produksi beras bersifat dinamis. Sebagai pengendali harga pemerintah berwenang untuk membeli gabah. Tetapi pada prakteknya lembaga-lembaga yang ditunjuk menjadi pelaksana pembelian gabah/beras/bahan pangan lainnya yang didanai APBN dan APBD Jatim sekitar 90 persen adalah pelaku swasta dan sisanya adalah koperasi desa sehingga peranan swasta sangat mendominasi dalam alur tataniaga perberasan dan itu membuat peran swasta menjadi leader dalam pembentukan harga. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kebijakan adalah tujuan kebijakan dan bentuknya agar dapat menjadi penyangga perekonomian petani dan kedaulatan pangan nasional bukan hanya sekedar memberi atau mensubsidi (Kompas, 2 Januari 2008). Berbagai masalah juga menimpa hampir di seluruh sub sektor pertanian yang lain. Salah satu contohnya adalah masih maraknya pembalakan liar terutama di daerah sekitar kawasan hutan lindung maupun cagar alam yang dikelola oleh perhutani. Di Madiun misalnya; di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Saradan, Madiun, Lawu dan Ngawi masih marak pencurian kayu di hutan dimana mereka secara berkelompok yang terdiri dari masyarakat yang tinggal di sekitar hutan melakukan aktivitas penebangan pohon secara liar (www.perumperhutani.com).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

195

Masalah kelangkaan pupuk pun hingga saat ini belum dapat terpecahkan yang akhirnya memicu para petani untuk melakukan penghadangan sejumlah kendaraan pengangkut pupuk seperti yang terjadi di Bojonegoro (28 Nopember 2008) menurut berita yang dilansir Kompas.

III. Sasaran yang ingin di Capai Revitalisasi pertanian harus dilakukan secara menyeluruh atau holistik, serta harus komprehensif. Hal itu bukanlah merupakan sebuah pekerjaan yang mudah dan sederhana serta tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat, oleh karenanya perlu diprogramkan secara bertahap komponen-komponen yang perlu direvitalisasi terkait dengan pembangunan pertanian (Nuhung, 2006 : Bedah Terapi Pertanian Nasional). Komponen-komponen yang dimaksud antara lain political will, mind set, kebijakan makro ekonomi, pemilikan lahan, kelembagaan pemerintah, manajemen

pembangunan pertanian, politik pertanian, dan lain sebagainya. Menurut Arifin, 2007 dalam bukunya yang berjudul Diagnosis Ekonomi Politik Pangan dan Pertanian; setidaknya ada tiga agenda aksi revitalisasi pertanian. Pertama, untuk sektor pertanian dan perkebunan pemerintah wajib membangun dan merehabilitasi sarana dan prasarana dasar pembangunan pertanian seperti infrastruktur jalan raya, jalan produksi, jalan desa, salran irigasi dan drainase, jaringan listrik, air bersih dan sebagainya; Kedua, di sektor perikanan,lembaga perbankan, dan lembaga keuangan non bank wajib meningkatkan akses permodalan bagi petani dan nelayan. Pemerintah da lembaga penelitian atau perguruan tinggi perlu berupaya meningkatkan kemampuan para nelayan dan dunia usaha yang relevan untuk mampu menggapai akses permodalan tersebut. Pendidikan, pelatihan dan pendampingan yang diperlukan tidak terlalu rumit, hanya seputar teknik standar membuat proposal kelayakan usaha dan meyakinkan lembaga keuangan tentang prospek bisnis perikanan yang dijalankannya; Ketiga, di sektor kehutanan, paradigma lama pembangunan kehutanan dengan dominasi negara yang berlebihan harus ditinggalkan dan diganti dengan pemberian kesempatan kepada sektor swasta dan masyarakat sebagai subjek bukan objek pungutan untuk pembangunan kehutanan lestari. Langkah ini bukan berarti untuk melakukan liberalisasi di sektor kehutanan tetapi pada pembenahan

kelembagaan,pengembangan modal sosial atau peningkatan rasa saling percaya (trust) dan pengembangan jembatan penghubung antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

196

IV. Arah Kebijakan Sesuai dengan arahan kebijakan yang telah digariskan dalam RPJMN 2004 – 2009, salah satu contohnya adalah dalam implementasi kebijakan di bidang perikanan dan kelautan yang diwujudkan melalui Rencana Pengelolaan Perikanan yang berisi informasi tentang Perikanan di Wilayah Perairan Jawa Timur. Perencanaan ini mengandung informasi tentang status sumberdaya, permasalahan dan isu yang potensial untuk ditindak lanjuti penyelesaiannya lebih lanjut. Perencanaan ini dikembangkan berbasis pada konsep pemanfaatan sumberdaya perikanan

berkelanjutan. Dengan adanya RPP ini maka Badan Pengelola (Management Body) Perikanan di Wilayah Perairan Jawa Timur memiliki patokan dan indikator keberhasilan pembangunan perikanan dan pengelolaan sumberdaya perikanan secara bertanggung jawab. Hendaknya disadari, bahwa RPP tidak bersifat statik tapi dinamik. Banyak faktor penting yang bersifat uncertainty, seperti perubahan lingkungan global, el Nino dan lain sebagainya yang harus dipertimbangkan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Oleh karena itu RPP ini harus dievaluasi secara reguler untuk mengantisipasi dampak negatif yang timbul sebagai akibat dari penerapan pengelolaan yang telah direncanakan. Kegiatan review RPP ini dilaksanakan setiap dua tahun. RPP digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan Perairan Wilayah Propinsi Jawa Timur dalam rangka melaksanakan pengelolaan sumberdaya perikanan yang bertanggungjawab (responsible fisheries). Bentuk kebijakan yang lain berkaitan dengan bidang kehutanan yaitu Kebijakan/Program Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Mangrove Pulau Bawean antara lain : 1. Pembinaan Kualitas SDM Internal dalam Pembinaan Habitat dan Populasi, Ekowisata dan Outbound, Konservasi SDAHE, Animal Welfare, Penangkaran, dan lainnya. 2. Pemantapan Kawasan Konservasi (KK) melalui Restrukturisasi Tata Batas, dan Penanaman Pohon Satwa yang berfungsi sebagai Tanda Batas dan penghasil Non Kayu bagi Masyarakat. 3. Pengelolaan KK melalui Pemantapan Perencanaan Pengelolaan Jangka Panjang, Menengah dan Pendek, Penataan KK, dan Pembinaan Habitat (pemeliharaan pakan, air, sumber peneduh, ruang, keterpaduan antar komponen habitat, dll) dan Populasi (transfer genetik, monitoring populasi, dll).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

197

4. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati melalui Pencegahan Perkawinan Kerabat Dekat (In-Breeding), Penertiban/Pengawasan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), Pembinaan Lembaga Konservasi (LK) dan Penangkaran, Penerapan Animal Welfare, Penandaan (Tagging) TSL, dan Pelepasliaran Anakan ke habitat (Pembinaan Populasi). 5. Pemanfaatan JASLING dan Wisata Alam melalui Pengembangan Ekowisata dan Outbound, dan Pembinaan Pengusahaan Pariwisata Alam. 6. Perlindungan dan Pengamanan SDH melalui Patroli Rutin KK,

Pengawasan/Penyidikan Peredaran Kayu/ TSL Illegal. 7. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan melalui POSKO Siaga, Patroli, dan Pemadaman Kebakaran (BKSDA Jatim)

V. Pencapaian RPJMN di Daerah (2005 – 2007) Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur diantaranya yaitu mendorong petani untuk meningkatkan produksi dan menaikkan surplus beras lewat pengembangan bibit padi hibrida dan perbaikan irigasi serta pemberian pupuk majemuk. Demikian diungkapkan oleh Kusdirianto selaku Kabid Program Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jatim seperti yang dimuat dalam bisnis.com. Upaya lain yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Jatim yang terukur dalam Nilai Tukar Petani (NTP) berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Bappeprov Jatim pada bulan April 2008 mengalami kenaikan 0,58 persen. Menurut Keala Bidang Statistik dan Distribusi BPS Jatim, Ir. Adi Nugroho terbantu oleh adanya kenaikan indeks harga subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,65 persen. Sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) relatif mengalami penurunan walaupun tidak disebutkan besarnya penurunan tersebut dimana penurunan terjadi karena tingginya harga bahan bakar minyak yang harus dibeli oleh nelayan untuk melaut (Bappeprov Jatim). Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah Propinsi Jatim untuk meningkatkan iklim investasi di daerah yaitu melalui penanaman modal oleh investor. Untuk itu dibutuhkan peran serta stake holder dalam proses perencanaan pembangunan daerah secara komprehensif dan terukur. Tujuan penyelenggaraan penanaman modal hanya dapat tercapai apabila faktor penunjang yang menghambat iklim penanaman modal dapat diatasi, antara lain melalui perbaikan koordinasi antar instansi Pemerintah Pusat dan daerah, penciptaan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

198

birokrasi yang efisien, kepastian hukum di bidang penanaman modal, biaya ekonomi yang berdaya saing tinggi, iklim usaha yang kondusif dan keamanan berusaha. Berdasarkan pengalaman, rendahnya pelibatan masyarakat dalam pembangunan telah mengakibatkan dampak negatif antara lain rendahnya rasa memiliki dari masyarakat atas program pembangunan sehingga keberlanjutan (sustainability) tidak terwujud, program/proyek pembangunan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakatnya, dan munculnya biaya transaksi (transaction cost) yang sangat mahal karena masyarakat kurang memahami tujuan dari program/ proyek pembangunan sehingga seringkali muncul penolakan atas program/ proyek yang dilaksanakan. Untuk itu perlu dilakukan kajian dan analisis untuk mengetahui peran serta masyarakat dalam pengembangan investasi secara langsung. Salah satu bentuk perwujudan pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan yaitu hutan Tahura R. Soerjo yang merupakan hutan konservasi yang semula pengelolaanya dilakukan oleh pemerintah pusat. Pada tahun 2000 pengelolaannya dialihkan ke Pemerintah Propinsi Jatim karena setelah diberlakukannya Undangundang Otonomi Daerah. Dan saat itulah mulai dilakukan rehabilitasi.

Rehabilitasi itu dilakukan Dinas Kehutanan Jatim bersama dengan masyarakat di sekitar hutan melalui program padat karya. Dalam program ini, masyarakat setempat melakukan rehabilitasi dengan membentuk kelompok tani tahura yang tersebar di 43 desa di sekitar hutan. Dalam kelompok itu, masyarakat bersama-sama melakukan pembenihan bibit tanaman kemudian dijual kepada pemerintah propinsi melalui Dishut untuk ditanam pada lahan kritis. Dan pengelolaanya tetap dilakukan masyarakat setempat di sekitar hutan. Menurutnya, rehabilitasi melalui program ini akan membantu masyarakat dalam hal penambahan sumber penghasilan. Sebab, selain masyarakat mampu

memanfaatkan potensi lahan yang ada sebelum tanaman tumbuh besar, mereka juga mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan bibit tanaman. Rehabilitasi hutan selain dilakukan masyarakat setempat, juga dilakukan Dishut Jatim dengan membentuk dan menerjunkan Jaga Wana atau penjaga hutan yang melibatkan pemuda setempat sebanyak 84 orang sejak awal 2006. Mereka setiap bulannya diberi honor Rp 500 ribu/orang Dalam upaya penanggulangan ilegal logging (pembalakan hutan), pemprop juga membentuk Tim Koordinasi Pengamanan Hutan dan Hasil Hutan Terpadu (TKPH3T)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

199

yang anggotanya meliputi Biro Hukum Setdaprop Jatim, Polda Jatim, Lantamal, Dishut, Perhutani Unit II dan Adpel (Administrasi Pelabuhan). Tugas TKPH3T adalah melakukan koordinasi bersama di lapangan dengan terus memantau alur pendistribusian hasil produski hutan, serta mengawasi kondisi areal hutan dari penjarahan maupun pencurian. Luas areal hutan konservasi di Jatim tidak pernah mengalami perubahan. Tetapi luas areal hutan lindung dan hutan produksi di Jatim setiap tahunnya cenderung mengalami perubahan walaupun tidak terlalu banyak. Hal ini dikarenakan, hutan tersebut kebanyakan dialih fungsikan menjadi pendukung sarana insfrastruktur seperti pembuatan jalan baru, areal perkebunan dan lainnya. Meski cenderung terjadi perubahan luas areal setiap tahunnya, namun jumlah luasannya tetap sama. Dalam setiap pemanfaatan hutan lindung maupun hutan produksi untuk sarana insfrastruktur. Pengguna areal hutan harus menggantinya dengan areal yang lebih luas dari jumlah semula pada daerah lain dengan perbandingan 1:2. Berdasarkan data Dishut Jatim, luas areal hutan di Jatim sebesar 1.363,719,30 hektar meliputi, hutan produksi 815,051,40 hektar, hutang lindung 315,505,30 hektar, dan hutan konservasi 235,413,60 hektare. Luas lahan kritis di Jatim sebesar 665,415,68 hektare meliputi, Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas 145,317,24 hektare, DAS Madura 89,308,47 hektare, DAS Solo 203,297,30 hektare, dan DAS Sampaean 227,492,67 hektar . Luas hutan konservasi di Jatim sebesar 235,413,60 hektar meliputi Cagar Alam 10,947,90 hektar, Suaka Marga Satwa 18,008,60 hektar, Taman Wisata 297,50 hektare, Taman Nasional 178,291,30 hektar dan Tahura R. Soerjo 43,420,00 hektar. Luas Taman Nasional 178,291,30 hektar meliputi, Baluran 28,750,00 hektar, Bromo, Tengger, Semeru seluas 50,845,00 hektar, Meru Betiri 55, 845,00 hektar, dan Alas Purwo 43,420,00 hektar. Hutan Bakau seluas 34,125,43 hektar, lahan reboisasi 3,091,70 hektar, lahan penghijauan 58,978,60 hektar, luas kebakaran hutan 690,30 hektare. Sedangkan luas lahan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan Lestari (GNRHL) kawasan Perum Perhutani Unit II seluas 21,915,40 hektar. (www.d-infokomjatim.go.id)

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Setidaknya ada dua hal penting yang perlu dilakukan dan harus segera diambil untuk mewujudkan sektor pertanian sebagai landasan pembangunan ekonomi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

200

Indonesia menurut Arifin, 2007 dalam bukunya yang berjudul Diagnosis Ekonomi Politik Pangan dan Pertanian; yang Pertama, mengenai sasaran revitalisasi pertanian tentang lahan sawah abadi 15 juta hektar dimana sampai dengan akhir tahun 2006 masyarakat belum pernah sekalipun pernah mendengar tentang action tersebut, misalnya pencetakan sawah-sawah baru atau minimal tentang upaya yangnyata untuk mengurangi laju konversi lahan sawah yang subur. Laju konversi sawah saat ini telah mencapai 141 ribu hektar per tahun. Nampaknya, konversi lahan yang subur beririgasi teknis yang nyata-nyata dilarag oleh undang-undang namun kenyataannya di lapangan masih cukup kompleks. Saluran irigasi sengaja dibiarkan dan tidak dipelihara atau bahkan dibiarkan menjadi rusak. Hampir tidak ada daerah-daerah di wilayah Indonesia umumnya yang dengan sadar mengalokasikan anggaran khusus untuk memelihara saluran irigasi. Pemerintah pusat juga dinilai seakan tidak mau tahu dan membiarkan begitu saja keadaan tersebut karena menganggap bahwa saluran irigasi itu telah menjadi kewenangan daerah secara otomatis sehingga akibatnya dapat di duga bahwa sawah beirigasi teknis telah berubah bentuk menjadi sawah yang mengandalkan irigasi dari air hujan (sawah tadah hujan) yang pada akhirnya beralih fungsi atau terkonversi menjadi kegunaan lain; Kedua, kontroversi kenaikan harga beras terhadap peningkatan angka

kemiskinan. Banyak yang berpendapat bahwa “kambing hitam” kemiskinan dianggap sebagai justifikasi untuk membuka liberalisasi perdagangan beras. Argumentasi

seperti itu seakan-akan menafikan persoalan struktural yang membelit kemiskinan di Indonesia. Kemiskinan petani lebih banyak berhubungan dengan struktur dan pola kepemilikan lahan. Sebagian besar petani Indonesia hanya menguasasi lahan di bawah 0,5 ha sehingga sangat sensitif terhadap fluktuasi harga gabah dan harga beras. Arifin, 2007 (Diagnosis Ekonomi Politik Pangan dan Pertanian), juga menawarkan beberapa opsi kebijakan yang dapat dijadikan prioritas dalam revitalisasi pertanian untuk pembangunan ekonomi dimana sasarannya adalah meningkatkan pertumbuhan suplai pangan minimal sama dengan atau lebih besar dari laju permintaannya. Laju suplai beras dalam lima tahun terakhir hanya 1,05 persen per tahun, sedangkan laju permintaannya mencapai 4,66 persen per tahun. Opsi yang pertama, kebijakan peningkatan produksi wajib diteruskan dan jangan hanya setengah-setengah yang ditandai dengan perluasan areal panen (pencetakan sawah-sawah baru dan peningkatan produktivitas) yang harus terus diperjuangkan;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

201

Opsi kedua, kebijakan “reformasi agraria” perlu segera dilaksanakan; Opsi ketiga, kebijakan diversifikasi pangan jga perlu lebih serius karena hal itu akan mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras.

VII. Penutup Sebagai penutup dapat disampaikan bahwa dari pencapaian kinerja RPJMN Propinsi Jatim masih belum dapat diungkap secara detil mengenai revitalisasi pertanian secara komprehensif dikarenakan data yang digunakan dalam penulisan ini tidak terkumpul secara lengkap sesuai dengan indikator yang telah dikemukakan mengingat keterbatasan akses terhadap sumber data. Namun begitu dari sedikit yang telah diuraikan pada pengantar dan dikaitkan dengan capaian kinerja tidaklah terlalu menyimpang jauh. Dengan pendekatan pertanian dalam kacamata agrokompleks dimana semua sub sektor pertanian yang ada yaitu pertanian itu sendiri, perikanan, peternakan, perkebunan serta kehutanan dapat dilakukan berbagai real action seperti yang sudah dikerjakan oleh Pemerintah Daerah JawaTimur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

202

I.

Pengantar Usaha Mikro, Kecil Menengah dan Koperasi memiliki kontribusi yang siginifikan

dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Jawa Timur, karena gerak Usaha Mikro, Kecil Menengah dan Koperasi menggambarkan aktivitas ekonomi rakyat Jawa Timur secara riil. Kontribusi UMKM dan Koperasi terlihat dari perannya dalam menyerap tenagakerja,

kontribusi dalam produk nasional/daerah, peningkatan jumlah unit usaha yaitu sebesar 18.337 koperasi dan 2.320.000 Usaha Mikro, Kecil Menengah. Kontribusi Usaha Mikro, Kecil Menengah dan Koperasi dalam PDB pada tahun 2008 sebesar 53,49% dari total PDB Jawa Timur dengan nilai Rp.156.075.24. Disisi lain Laju pertumbuhan UMKM pada tahun 2008 sebesar 10.005 buah dari tahun 2007 hingga semester I tahun 2008 dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 34.966 orang dan mengelola omzet Rp. 88.913 juta pada semestester I tahun 2008. Perkembangan UMKM dan Koperasi secara kuantitatif tidak selalu diikuti dengan perkembangan riil secara kualitatif, mayoritas UMKM dan Koperasi terlilit masalah yang mempengaruhi kinerja sekarang maupun ke depan. Tata kelola organisasi yang dilakukan secara tradisional, belum adannya kesadaran untuk mengelola keuangan secara tepat, kurang penguasaan terhadap tekhnologi dalam proses produksi maupun pasca produksi merupakan faktor internal UMKM. Faktor eksternal meliputi tidak kondusfinya iklim persaingan, perubahan selera masyarakat terhadap suatu produk maupun keterbatasan akses terhadap sumber-sumber pendanaan yang terbatas menambah permasalahan yang dihadapi pelaku UMKM dan koperasi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sekaligus menambah wirausahawan

baru yang memiliki daya saing, Pemerintah propinsi Jawa Timur berkomitmen untuk menghasilkan program-program yang berorientasi pada pengembangan UMKM dan koperasi. Komitmen pemerintah propinsi Jawa Timur terwujud dalam Peraturan Daeran no 4 tahun 2007 tentang Pemberdayaan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.

II. Kondisi Awal RPJMN di Jawa Timur

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

203

Rendahnya produktivitas. Perkembangan UMKM dan koperasi di Propinsi Jawa Timur secara kuantitas belum sepenuhnya diikuti dengan peningkatan kualitas yang memadai khususnya pada usaha skala mikro. Rendahnya kualitas UMKM disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : (a) rendahnya kualitas sumber daya manusia khusunya dalam bidang manajemen dan organisasi, penguasaan tekhnologi, dan pemasaran (b) rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM. Peningkatan produktivitas UMKM sangat diperlukan untuk mengatasi ketimpangan antar pelaku, antar golongan pendapatan rendah dan pendapatan tinggi, termasuk penganggulangan kemiskinan sekaligus mendorong peningkatan daya saing nasional. Terbatasnya akses UMKM pada sumberdaya produktif. Akses kepada sumber daya produktif terutama permodalan, teknologi, informasi dan pasar. Dalam hal pendanaan, produk jasa lembaga keungan sebagaian besar masih berupa kredit modal kerja, sedangkan untuk kredit investasi sangat terbatas. Bagi UMKM keadaan ini sulit untuk meningkatkan kapasitas usaha ataupun mengembangkan produk-produk yang bersaing. Disamping persyaratan pinjamannya juga tidak mudah dipenuhi, seperti jumlah jaminan meskipun usahanya layak, maka dunia perbankan yang merupakan sumber

pendanaan terbesar masih memandang UMKM sebagai kegiatan yang beresiko tinggi. Pada saat yang bersamaan, penguasaan tekhnologi, manajemen, informasi dan pasar tidak memadai dan memerlukan biaya yang besar untuk dikelola secara mandiri oleh UMKM. Sementara ketersediaan lembaga yang menyediakan jasa di bidang tersebut juga sangat terbatas dan tidak merata ke seluruh daerah. Peran masyarakat dan dunia usaha dalam pelayanan kepada UMKM belum berkembang karena pelayanan kepada UMKM masih dipandang kurang menguntungkan. Masih rendahnyan kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi. Di Jawa Timur pada semester awal tahun 2008 terdapat 18.337 koperasi dengan rincian : 13.471 koperasi berstatus aktif dan 4.866 koperasi dinyatakan tidak aktif, dengan jumlah

anggota koperasi sebanyak

4.617.446 orang. Dari Koperasi yang aktif terdapat 5.097

koperasi yang melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) secara rutin. Kurangnya pemahaman tentang koperasi sebagai badan usaha yang memiliki struktur kelembagaan yang khas dibandingkan badan usaha lainnya, serta kurang

memasyarakatnya informasi tentang praktek-praktek

berkoperawsi yang benar telah

menimbulkan berbagai permasalahan mendasar yang menjadi kendala bagi kemajuan perkoperasian di Indonesia. Pertama banyak koperasi yang terbentuk tanpa didasari oleh adanya kebutuhan/kepentingan ekonomi bersama dan prinsip kesukarelaan dari para anggotanya sehingga kehilangan jati dirinya sebagai koperasi sejati yang otonom dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

204

swadaya . kedua banyak koperasi yang tidak

dikelola secara profesional dengan

teknologi dan kaidah ekonomi modern sebagaimana layaknya sebuah badanusaha , ketiga masih terdapat kebijakan dan regulasi yang kurang mendukung kemajuan

koperasi . keempat koperasi masih sering dijadikan alat oleh segelintir orang/kelompok , baik diluar maupun di dalam gerakan koperasi itu sendiri, untuk mewujudkan kepentingan anggota koperasi yang bersangkutan dan nilai-nilai luhur serta prinsip-prinsip koperasi. Sebagai akibatnya : (1) kinerja dan kontribusi koperasi dalam perekonomian relatif

tertinggal dibandingkan badan usaha lainnya dan (2) citra koperasi di mata masyarakat baik. Lebih lanjut kondisi tersebut mengakibatkan terkikis kepercayaan, keperdulian dan dukungan masyarakat pada koperasi.

Gambar Sarasehan hari Koperasi di Kabupaten Bojonegoro Salah satu bentuk peningkatan kelembagaan dan organisasi koperasi

Kurang kondusifnya iklim usaha. Koperasi dan UMKM pada umumnya juga masih menghadapi berbagai masalah yang terkait dengan iklim usaha yang kurang

kondusif, diantaranya adalah (a) ketidakpastian dan ketidakjelasan prosedur perizinan yang mengakibatkan besarnya biaya transakasi, panjangnya proses perijinan dan timbulnya berbagai pungutan tidak resmi, (b) praktik bisinis dan persaingan usaha yang tidak sehat dan (c) lemahnya koordinasi lintas instansi dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM. Disamping itu, otonomi daerah tumbuhnya iklim usaha yang kondusif menunjukkan yang diharapkan mampu mempercepat ternyata belum telah

bagi koperasi dan UMKM

kemajuan yang merata. Pemerintah Propinsi Jawa Timur peraturan-peraturan yang menghambat sekaligus dan bahkan

mengindentifikasi mengurangi

berusaha

dampak negatif yang ditimbulkan

telah meningkatkan

pelayanan kepada koperasi dan UMKM dengan mengembangkan pola pelayanan satu

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

205

atap. Disamping itu kesadaran tentang Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan pengelolaan lingkungan masih belumberkembang. Oleh karena itu aspek kelembagaan perlu menjadi perhatian yang sungguh-sungguh dalam memperoleh daya jangkau hasil dan manfaat yang semaksimal mungkin mengingat besarnya jumlah, kenaekaragaman usaha dan tersebarnya UMKM.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Koperasri dan UMKM menempati posisi strategis untuk mempercepat perbahan struktural dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Sebagai wadah diharapkan

kegiatan usaha bersama bagi produsen maupun konsumen, koperasi

berperan dalam meningkatkan posisi tawar dan efisiensi ekonomi rakyat, sekaligus turut memperbaiki kondisi persaingan usaha di pasar melalui dampak ekternalitas positif yang ditimbulkan . Sementara itu UMKM berperan dalam memperluas penyediaan., lapangan kerja, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, dan

memeratakan pendapatan. Bersamaam dengan hal tersebut, meningkatnya daya saing dan daya tahan ekonomi nasional. Sasaran umum pemberdayaan koperasi dan UMKM di Propinsi Jawa Timur adalah : 1. Meningkatkan produktivitas UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan produktivitas nasional 2. Meningkatkan proporsi usaha kecil formal 3. Meningkatkan nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah dengan laju

pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan nilai tambahnya. 4. Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dan 5. Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai jatidiri koperasi.

IV. Arah Kebijakan Dalam rangka mewujudkan sasaran tersebut, pemberdayaan koperasi dan UMKM akan dilaksanakan dengan arah kebijakan sebagai berikut : 1. Mengembangkan usaha kecil dan menengah yang diarahkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya saing, sedangkan pengembangan usaha skala mikro

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

206

diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah. 2. Memperkuat • • • kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata

kepemerintahan yang baik (good governance) dan berwawasan terutama untuk : Memperluas akses kepada sumber permodalan khususnya perbankan Memperbaiki lingkungan usaha dan menyederhanakan prosedur perijinan Memperluas dan meningkatkan kualitas institusi pendukung yang menjalankan fungsi intermediasi sebagai penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, manajemen, pemasaran dan informasi 3. Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan untuk mendorong pertumbuhan, peningkatan ekspor dan penciptaan lapangan kerja terutama dengan : • • Meningkatkan perpaduan antara tenaga kerja terdidik dan terampil dengan adopsi penerapan teknologi Mengembangkan UMKM melaui pendekatan klaster di sektor agribisnis dan agro industri disertai pemberian kemudahan dan pengemelolaan usaha ,

termasuk dengan carameningkatkan kualitas kelembagaan koperasi sebagao wadah organisasi kepentingan usaha bersama untuk memperoleh efisiensi kolektif • Mengembangkan UMKM agas semakin berperan dalam proses industrialisasi, perkuatan keterkaitan industri, percepatan pengalihan teknologi dan

peningkatan kualitas SDM.

Gambar Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Informasi Untuk UMKM Di Universitas Brawijaya Sebagai bentuk usaha mempercepat akses IT di kalangan UMKM

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

207

Mengintefrasikan pengembangan usaha dalam konteks pengembangan regional, sesuai dengan karakteristik pengusaha dan potensi usaha unggulan setiap daerah.

4. Mengembangkan UMKM untuk makin berperan sebagai penyedia barang dan jasa pada pasar domestik yang semakin berdaya saing dengan produk impor, khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak. 5. Membangun koperasi yang diarahkan dan difokuskan pada upaya-upaya untuk : (i) membenahi dan memperkuat tatanan kelembagaan dan organisasi koperasi di tingkat makro maupun mikro guna menciptakan iklim dan lingkungan usaha yang kondusif bagi kemajuan koperasi serta kepastian hukum yang menjamin dan praktek-praktek persaingan

terlindunginya koperasi dan/atau anggotanya

usaha yang tidak sehat (ii) meningkatkan pemahaman, keperdulian dan dukungan pemangku kepentingan kepada koperasi dan (iii) meningkatkan kemandirian gerakan koperasi

V.

Pencapaian RPJMN di Jawa Timur Sasaran dan arah kebijakan pemberdayaan koperasi dan UMKM di Propinsi Jawa

Timur dioperasionalisasikan dalam program-program pembangunan yang merupakan strategi implementasi pada tataran makro dan mikro. 1. Program Penciptaan Iklim Usaha bagi UMKM • Untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi Koperasi dan UMKM Pemerintah Propinsi Jawa Timur menyusunun Peraturan Daerah No 4 tahun 2007 tentang Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Perda ini mengadopsi Undang-Undang nomor 9 tahun 1995 beserta peraturan pendukungnya. Perda ini ditetapkan pada bulan Agustus 2007 sehingga penerapannya secara efektif dilaksanakan pada awal tahun 2008. Perda ini tersusun dari : 34 pasal dan 8 bab, yaitu (1) Ketentuan umum (2) Tujuan dan prinsip pemberdayaan (3) Pelaksanaan dan koordinasi pemberdayaan (4) Bentuk-bentuk pemberdayaan (5) Perlindungan dan iklim usaha (6) Kemitraan dan Jaringan usaha (7) Sanksi administratif (8) Ketentuan penutup. Evaluasi dan penyempurnaan operasionalisasi dari Undang-Undang Perkoperasian dan pemberdayaan usaha kecil.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

208

Gambar Analisis Potensi UMKM di Jawa Timur

2.

Program Pengembangan Sistem pendukung Usaha Bagi UMKM Kegiatan ini bertujuan untuk mempermudah, memperlancar dan memperluas akses UMKM kepada sumber daya produktif agar mampu memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi sumber daya lokal serta menyesuaikan skala usahanya sesuai dengan tuntutan efisiensi. Sistem pendukung dibangun melaui pengembangan lembaga pendukung/penyedia jasa pengembangan

usaha yang terjangkau, semakin terjangkau , semakin tersebar dan bermutu untuk meningkatkan akses UMKM terhadap pasar dan sumber daya produktif , seperti sumber daya manusia, modal, pasar, teknologi dan informasi, termasuk medorong peningkatan fungsi intermediasi lembaga-lembaga keuangan bagi UMKM. • Terkait dengan program tersebut Pemerintah Propinsi Jawa Timur telah menjadi pioneer bagi pemerintah propinsi lain terkait dengan penerbitan Perda tentang pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Salah satu implikasi strategis diperdakannya Pemberdayaan Koperasi dan UMKM adalah dukungan riil dari DPRD berupa komitmen pembiayaan program menggunakan APBD. • Disamping itu dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan kapasitas KUMKM dan mendorong peningkatan fasilitasi perkuatan modal KUMKM

melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan imbauan untuk mengusulkan secara bertahap bagi koperasi/KUD yang mampu untuk menjadi distributor pupuk bersubsidi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

209

Gambar Pembagian KUR (Kredit Usaha Rakyat) di Kabupaten Tulungagung

Selain itu, pemanfaatan dan pembangunan klinik UKM, program sertifikasi hak atas tanah bagi PMK, pembinaan, pengendalian dan pengawasan KSP/USP koperasi penerima dana bergulir, serta pengembangan usaha ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Program dukungan modal pada Koperasi dan UMKM juga dilakukan oleh Program GERDU TASKIN Tahun 2008 yang dikelola oleh Dinas Koperasi dan PKM Prop.Jatim dananya berada di Biro Keuangan, Setdaprop Jatim, dengan jumlah keseluruhan Rp.390 juta, sedangkan penyalurannya melalui transfer rekening antar Bank Jatim.

3.

Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif. Program ini bertujuan untuk mengembangkan jiwa kewirausahan dan

meningkatkan daya saing UMKM sehingga pengetahuan serta sikap wirausaha semakin berkembang, produktivitas meningkat, wirausaha baru berbasis teknologi pengetahuan dan teknologi meningkat jumlanya dan ragam produk-produk ungulan UMKM semakin berkembang. Peranan nilai tambah UMKM terhadap PDRB Jawa Timur tahun 20032007 dapat dilihat memlalui nilai angka nilai tambah UMKM yang dhtung

berdasarkan hasl survey yang dselenggarakan di bberbaga Kabupaten/kota di Jawa Timur tahun 2002, selanjutnya nlai tambah UMKM untuk tahun 2003-2007 diperoleh dengan melhat perkembangan kredit perbankan yang disalurkan

kepada UMKM dan ternyata berkorelasi positif secara linier dengan nilai tambah UMKM.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

210

Nilai tambah UMKM Jawa Timur atasa dasar harga konstan (ADHK) tahun 2000, pada tahun 2005 sebesar Rp.137,40 triliun, tahun 2006 sebesar Rp.147,07 trliun dan tahun 2007 sebesar 156,08 triliun. Bilai nilai tambah UMKM dibagi dengan PDRB hasil perhitungan BPS Propinsi Jawa Timur ADHB tahun 2005 sampa dengan tahun 2007 terlihat bahwa peranan nilai tambah UMKM semakin meningkat dari tahun ke tahun yaitu 52,35 persen menjadi 53,26 persen pada tahun 2007 menjadi 53,49 persen. Sedangkan menurut harga konstan 2000, peranan nilai tambah UMKM terhadap PDRB pada tahun 2005 sebesar 53,59 persen, tahun 2006 sebesar 54,22 persen dan pada tahun 2007 sebesar 54,27 persen. Program • Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif juga

dilakukan dalam bentuk : Pemasyarakatan kewirausahaan, termasuk memperluas pengenalan dan semangat kewirausahaan dalam kurikukulum pendidikan nasional dan pengembangan sistem insentif bagi wirausaha baru terutama yang berkenaan dengan aspek pendaftaran/ijin usaha, lokasi usaha, akses pendanaan, perpajakan dan informasi pasar.

Gambar Pasar Lelang Komoditi XXXVI Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa

• •

Fasilitasi dan pemberian dukungan serta kemudahan untuk pengembangan jaringan lembaga pengembangan kewirausahaan. Pelatihan dan pendidikan kewirausahaan yang untuk menghasilkan

wirausahawan baru, tahun 2008 realisasi pencapaian sasasaran wirausaha

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

211

baru sebesar 25.0742 orang dari target sebesar 251.9008 orang sehingga pencapaiannya 103,11% • Pemberian UKM Award oleh Dinas Koperasi propinsi Jawa Timur yang diberikan kepada UKM berprestasi di Jatim. Event di berbagai bidang UKM ini bertujuan memicu keikutsertaan masyarakat untuk berperan dalam

meningkatkan perekonomian, dengan cara pengembangan kegiatan usaha kecil menengah dan mengembangkan wirausaha baru yang tangguh. Jumlah peserta yang mengikuti ajang UKM Award 2008 hanya 122 UKM, peserta terdiri dari UKM yang bergerak di segala bidang usaha mulai industri makanan minuman, kerajinan, furnitur, batik, bordir dan lainnya. • Pasar lelang Komoditi XXXVI Dinas Perindustrian dan Perdagangan Acara ini diselenggarakan dengan tujuan membantu pemasaran produk dan jasa para pengusaha UKM, khususnya di Jawa Timur. Pada kesempatan ini, akan terjadi pertemuan antara produsen, pemasok, pedagang, dan pembeli. Pasar Lelang ini dijadwalkan setiap minggu ke tiga atau ke empat di setiap bulan • Fasilitasi dan pemberian dukungan serta kemudahan untuk pengembangan kemitraan investasi antar UKM, termasuk melalui aliansi strategis atau investasi bersama (joint investment) dengan perusahaan asing dalam rangka mempercepat penguasaan teknologi dan pasar. • Fasilitasi dan pemberian dukungan serta kemudahan untuk pengembangan jaringan produksi dan distribusi melalui pemanfaatan teknologi informasi,

pengembangan usaha kelompok dan jaringan antar UMKM dalam wadah koperasi serta jaringan antara UMKM dan usaha besar melalui kemitraan usaha. • Pemberian dukungan serta kemudahan terhadap upaya peningkatan kualitas pengusaha kecil dan menengah, termasuk wanita pengusaha, menjadi wirausaha tangguh yang memiliki semangat kooperatif. • On-Line Data Sistem (ODS) berupa Base Line Economic Survey bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) Universitas Airlangga. Penelitian ini bertujuan

mengidentifikasi berbagai peluang investasi di daerah yang bermuara pada pemberian informasi potensi ekonomi daerah. Untuk selanjutnya dapat

memberi informasi kepada stakeholders mengenai komoditas/ produk/ jenis

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

212

usaha

potensial apa saja yang menjadi unggulan daerah dan kemudian

dikembangkan lebih lanjut. Penelitian BLS difokuskan pada UMKM yang merupakan pelaku ekonomi mayoritas di daerah. 4. Program Pemberdayaan Usaha Skala Mikro Program ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang

bergerak dalam bidang kegatan usaha ekonomi berskala mikro d sektor informal sekaligus menciptakan lapangan kerja baru, terutama ditujukan bagi keluarga miskin dan korban PHK. Disisi lain program ini juga diarahkan untuk peningkatan kapasitas usaha sehingga menjadi unit usaha yang mandiri, berkelanjutan dan berdaya saing. Program ini memfasilitasi peningkatan kapasitas usaha mikro dan keterampilan pengelolaan usaha serta sekaligus mendorong adanya kepastian, perlindungan dan pembinaan usaha. Program yang dilakukan meliputi : • Penyediaan kemudahan dan pembinaan dalam memulai usaha, termasuk dalam perizinan, lokasi usaha, dan perlindungan usaha dari pungutan informal. • Penyediaan skim-skim pembiayaan alternatif dengan tanpa mendistorsi pasar, seperti sistem bagi-hasil dari dana bergulir, sistem tanggung-renteng atau jaminan tokoh masyarakat setempat sebagai pengganti anggunan. • Penyelenggaraan dukungan teknis dan pendanaan yang bersumber dari berbagai instansi pusat daerah dan BUMN yang lebih terkoordinasi, profesional dan institusional. • Penyediaan dukungan terhadap upaya peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas layanan lembaga keuangan mikro (LKM); • Penyelenggaraan pelatihan budaya usaha dan kewirausahaan, dan bimbingan teknis manajemen usaha. • Penyediaan infrastruktur dan jaringan pendukung bagi usaha mikro serta kemitraan usaha; • Fasilitasi dan pemberian dukungan untuk pembentukan wadah organisasi bersama di antara usaha mikro, termasuk pedagang kaki lima, baik dalam bentuk koperasi maupun asosiasi usaha ainnya dalam rangka meningkatkan posisi tawar dan efisiensi usaha; • Penyediaan dukungan pengembangan usaha mikro tradisional dan pengrajin melalui pendekatan pembinaan sentra-sentra produksi/klaster disertai dukungan penyediaan infrastruktur yang makin memadai

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

213

• Penyediaan dukungan dan kemudahan untuk pengembangan usaha ekonomi produktif bagi usaha mikro/sektor informal dalam rangka mendukung

pengembangan ekonomi pedesaan terutama didaerah tertinggal dan kantongkantong kemiskinan.

Gambar Dialog antara Bank Jatim dan UMKM di fasilitasi DISPERINDAG

5.

Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi agar koperasi mampu tumbuh dan berkembang secara sehat dengan jati dirinya, serta menjadi wadah kepentingan bersama anggotanya untuk

memperoleh efisiensi kolektif, sehingga citra koperasi menjadi semakin baik. Dengan demikian diharapkan kelembagaan dan organisasi koperasi ditingkat primer dan sekunder akan tertata dan berfungsi dengan baik, infrastruktur

pendukung pengembangan koperasi semakin lengkap dan berkualitas , lembaga gerakan koperasi semakin berfungsi efektif dan mandiri serta praktek berkoperasi yang baik semakin berkembang di kalangan masyarakat

VI.

Rekomendasi Tindak Lanjut

1. Perlu pembedaan konsep pemberdayaan Usaha Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah dan Koperasi sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi masalah dan merumuskan konsep pemberdayaan secara proporsional 2. Program Pengembangan UMKM dan Koperasi terlalu luas sehingga kurang fokus, seharusnya program pengembangan harus didasarkan pada konsep pemberdayaan seperti yang tersebut dalam Perda No. 4 tahun 2007 yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

214

3. Meskipun program penguatan akses UMKM dan koperasi terhadap sumberdaya produktif (termasuk akses terhadap sumber modal) sudah dilaksanakan tetapi masih perlu adanya peningkatan karena banyaknya jumlah UMKM dan Koperasi di wilayah Jawa Timur. 4. Perlu adanya kemudahan pelayanan terhadap keperluan pendirian Koperasi dan UMKM sebagai upaya peningkatan jumlah koperasi dan UMKM. 5. Ketidak jelasan program pengembangan wirausaha baru sehingga tidak mampu memenuhi target mencetak wirausaha baru

VII. Penutup Program Pemberdayaan Koperasi dan UMKM merupakan penterjemahan Rencana Program Jangka Panjang di Propinsi Jawa Timur dengan menyesuaikan kebutuhan, karakteristik dan skala prioritas pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah propinsi. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pihak eksekutif sebagai pelaksana tetapi juga ditentukan oleh pihak legislaitif untuk berkomitmen dalam pembiayaan melalui APBD dan yang juga tidak bisa dihilangkan adalah peran pemangku kepentingan (stakeholder) yang terdiri dari masyarakat, Lembaga swadaya masyarakat maupun pihak industri dalam meningkatkan kapasitas Koperasi dan UMKM untuk bersaing sebagai pelaku ekonomi baik pada sala regional Jawa Timur maupun nasional.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

215

I.

Pengantar Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Sejalan dengan paradigma baru di era globalisasi yaitu tekno ekonomi (techno-economy paradigm), teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Pembangunan iptek merupakan upaya dalam memperkuat daya dukung iptek untuk meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam mempercepat pencapaian tujuan negara, serta memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional. Tingkat kemampuan iptek diarahkan untuk mencapai kemampuan nasional dalam pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan iptek, yang dibutuhkan bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan peradaban, serta daya saing bangsa. Upaya peningkatan kemampuan iptek senantiasa dilandasi oleh nilai spiritual, moral dan etika yang didasarkan pada nilai luhur budaya bangsa. Pembangunan iptek merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia (SDM), yang pada gilirannya dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi, iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumberdaya yang ada menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai. Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan di tingkat nasional yang ditunjang kemampuan daerah untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing di mata dunia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah sejatinya bertujuan mewujudkan wilayah yang sejahtera dengan masyarakat nan mandiri. Tujuan itu seyogianya dapat diraih dengan lebih ekonomis serta raupan hasil lebih maksimal. Melalui gabungan antara pengelolaan sumber daya alam, masyarakat, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tepat guna. Di era desentralisasi dan globalisasi, peningkatan daya saing yang berbasis pada sistem inovasi daerah sejatinya berperan vital dalam pembangunan ekonomi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

216

daerah. Ironisnya, hanya sedikit daerah yang memiliki kesadaran akan peran iptek bagi perkembangan laju pertumbuhannya sendiri.

II.

Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah Secara umum beberapa permasalahan peningkatan kemampuan iptek di jawa timur juga relatif sama dengan yang dihadapi secara nasional. Fajar Suprapto (Asdep Urusan Program Riptek Daerah Kementerian Negara Riset dan Teknologi) menekankan bahwa: “Iptek telah teruji secara signifikan dapat menyumbang peningkatan daya saing dan kualitas hidup suatu bangsa. Namun, harus diakui pembangunan iptek di Tanah Air masih terkendala sejumlah permasalahan akut. Antara lain, tingkat kemampuan dan kapasitas kemampuan iptek nasional yang masih rendah. Tercatat pada 2001 Indonesia berada di urutan ke-60 dari 72 negara dalam Indeks Pencapaian Teknologi (IPT). Rasio tenaga peneliti Indonesia pada 2002 adalah 5,0 peneliti per 10.000 penduduk, lebih kecil jika dibandingkan dengan Malaysia sebesar 8,0”. (http://www.progriptek.ristek.go.id/ristek2008) Beberapa permasalahan lain yang dapat diidentifikasi khususnya dalam tahun 2008 diantaranya adalah relatif masih rendahnya kualitas penelitian dasar dan terapan serta belum terciptanya kompetensi inti yang memadai dari pusat-pusat penelitian yang ada; belum sempurnanya sistem pengukuran dan jaminan mutu serta standardisasi produk untuk indutri yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi iptek; rendahnya kapasitas penguasaan ilmu dan teknologi dibidang pengelolaan sumberdaya alam; dan masih belum optimalnya keterkaitan antara hasil riset kebijakan dan penyusunan kebijakan. Disamping itu masih belum optimal pula proses difusi teknologi dan kemitraan riset, serta belum meluasnya adopsi dan apresiasi terhadap urgensi ilmu pengetahuan dan teknologi baik dipusat maupun di daerah. Permasalahan lainnya adalah kurang memadainya ketersediaan infrastruktur litbang ilmu pengetahuan dan teknologi; masih lemahnya penguatan kelembagaan, regulasi, sistem insentif dan indikator kinerja; kurangnya pencatatan paten dan HKI; dan banyaknya tumpang tindih topik penelitian, inefisiensi pemanfaatan sumberdaya litbang yang ada, serta sulitnya mobilisasi pemanfaatan fasilitas litbang antar lembaga. Selain itu masih belum tersedia statistik ilmu pengetahuan dan teknologi yang reguler dan komprehensif untuk mengukur kinerja pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. Berdasarkan identifikasi umum permasalahan dalam peningkatan

kemampuan Iptek seperti telah dipaparkan di atas, kesemuanya dapat dikerucutkan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

217

ke dalam beberapa permasalahan sekaligus agenda peningkatan kemampuan iptek yang juga menjadi kebijakan Pemerintah Propinsi Jawa Timur 2003-2008 dapat ditunjukkan sebagai berikut : 1) Program Penelitian Dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi; Data eksisting untuk program litbang iptek di jawa Timur disampaikan berdasar Peta Kapasitas dan Kapabilitas Daerah yang ditunjukkan melalui indikator jumlah iptek hasil temuan dari Balitbang Propinsi Jawa Timur. Daftar kegiatan unit riset yang selama ini dilaksanakan oleh Balitbang Propinsi Jawa Timur rekapitulasi hasilnya dapat disajikan dalam tabel berikut : Tabel 4.6.1. Rekapitulasi Hasil Penelitian Balitbang Propinsi Jawa Timur No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2007 2006 2005 2004 2003 2002 2001 2000 1999 Jumlah Jumlah 15 26 34 26 30 41 54 42 5 273

Sumber: data yang telah diolah dari http://www.progriptek.ristek.go.id Berdasarkan data pada Tabel 1, dapat diketahui bahwa secara spesifik permasalahan yang nampak adalah adanya penurunan kuantitas hasil penelitian. Dalam tabel tersebut, hasil penelitian yang terdapat atau dilakukan khususnya oleh Balitbang Propinsi Jawa Timur sejak awal millenium kedua sampai dengan tahun 2007 menunjukkan kecenderungan ke arah degradasi. Belum ada penjelasan resmi kenapa terjadi penurunan produktvitas penulisan hasil penelitian tersebut. Sementara untuk indikator jenis penemuan iptek hasil temuan, data base yang ada di dalam website resmi Balitbang Propinsi Jawa Timur

(http://www.balitbangjatim.com/penelitian.asp) menunjukkan 4 (empat) kategori, yaitu: pemerintahan, ekonomi dan keuangan, sumber daya alam dan teknologi, serta kemasyarakatan. Kategorisasi yang hanya memuat 4 bidang ini memang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

218

menjadi permasalahan ketika dirasa agak membingungkan bagi siapapun yang menginginkan informasi di luar keempat bidang tersebut karena harus mencari ke dalam sub bidang atau sub agenda yang diinginkan dengan melihat lebih detail dengan lebih teliti. Jumlah dan jenis penelitian yang telah disajikan sebelumnya juga ditunjang oleh indikator dukungan alokasi anggaran yang disediakan Pemerintah Propinsi Jawa Timur untuk kegiatan penelitian melalui Unit Riset Balitbangprop Jatim seperti tersaji pada Tabel 2 di bawah ini: Tabel 4.6.2. Rekapitulasi Anggaran Unit Riset Balitbangprop Jatim No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2007 2006 2005 2004 2003 2002 2001 2000 1999 APBN Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 APBD Rp. 3.140.000.000 Rp. 5.800.000.000 Rp. 8.335.409.000 Rp. 3.907.100.000 Rp. 4.709.000.000 Rp. 8.309.432.000 Rp. 6.877.500.000 Rp. 3.100.000.000 Rp. 1.150.000.000 Sumber Lain Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0 Rp. 0

Sumber: data yang telah diolah dari http://www.progriptek.ristek.go.id Berdasarkan data pada Tabel 2, nampak bahwa komitmen Pemprop Jatim kelihatan cukup bagus dalam menyediakan alokasi anggaran yang relatif cukup besar, namun patut disayangkan khususnya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir menunjukkan tren penurunan alokasi anggaran yang cukup signifikan. Apabila kondisi seperti ini tetap dibiarkan, maka bukan tidak mungkin hal ini bisa menjadi suatu permasalahan yang lebih serius misalnya produktivitas atau kualitas hasil penelitian akan semakin menurun.

2)

Program Pemanfaatan Dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi (program difusi dan pemanfaatan IPTEK); Evaluasi atas pemanfaatan dan pemasyarakatan iptek di Jawa Timur menjadi salah satu fokus perhatian Balitbang Provinsi Jawa Timur ketika menyelenggarakan Rapat Koordinasi Penelitian dan Pengembangan

(Rakorlitbang) Tahun 2007 pada tanggal 3 s/d 4 April 2007 di Hotel Utami

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

219

Juanda Sidoarjo. Litbang Kabupaten/Kota, dan Balai Penelitian Departemen yang terdapat di Jawa Timur. Rakorlitbang ini bertujuan untuk membahas masukan rencana penelitian dan pengembangan pada Tahun Anggaran 2008. Dalam pembukaan Rakor ini, Kepala Balitbang Provinsi Jawa Timur menyatakan bahwa selama ini banyak permasalahan yang melingkupi lembaga litbang (riset) sehingga belum mampu menghasilkan kinerja optimal. Riset yang dihasilkan masih belum bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan informasi antara hasil-hasil riset dengan kebutuhan masyarakat. Artinya, kebutuhan masyarakat terhadap hasil riset tidak sesuai dengan produk lembaga riset. Dengan kata lain, keterpautan dan kesepadanan (link and match) antara hasil riset dengan kebutuhan masyarakat masih belum terbentuk.

3)

Program Penguatan Kelembagaan IPTEK. Meningkatnya dan menguatnya jalinan serta jaringan kelembagaan iptek di Jawa Timur dapat dilihat dari dibentuknya dan kinerja dari Dewan Pakar Balitbangprop Jatim yang beranggotakan 13 dengan orang berbagai pakar latar

(http://www.balitbangjatim.com/dewan_pakar.asp)

belakang keahlian dari perguruan tinggi se-Jawa Timur. Di seluruh Jawa Timur sendiri saat ini telah terbentuk 39 Balitbangda yang tersebar di level Kabupaten/Kota. Selanjutnya Balitbangprop Jatim sendiri selama ini juga telah memiliki instansi rekanan/ Perguruan Tinggi Jaringan Balitbang Jatim sebanyak 52 institusi (http://www.balitbangjatim.com/perguruan_tinggi.asp). Sementara untuk lembaga litbang yang menjadi Jaringan Balitbang Jatim totalnya mencapai 114 lembaga litbang (http://www.balitbangjatim.com/lembaga_litbang.asp). Yang menjadi permasalahan disini justru kurangnya koordinasi atau belum adanya sinergi antar lembaga tersebut.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran dari Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi antara lain: 1. Tumbuhnya penemuan Iptek baru dapat dimanfaatkan bagi peningkatan nilai tambah dalam sistem produksi dan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara lestari dan bertanggungjawab.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

220

2. Meningkatnya ketersediaan, hasil guna dan daya guna sumberdaya (SDM, sarana prasarana dan kelembagaan) iptek. 3. Tertatanya mekanisme intermediasi untuk meningkatkan pemanfaatan hasil litbang oleh dunia usaha dan industri, meningkatnya kandungan teknologi dalam industri nasional, serta tumbuhnya jaringan kemitraan. 4. Terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya kreativitas, sistem pembinaan dan pengelolaan hak atas kekayaan intelektual, pengetahuan lokal, serta sistem standarisasi.

IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan dalam Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yaitu untuk : 1. Mempertajam prioritas penelitian, pengembangan dan rekayasa iptek yang berorientasi pada permintaan dan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha serta berbagai masukan dalam pembuatan kebijakan Pemerintah Daerah. 2. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas iptek dengan memperkuat kelembagaan, sumberdaya dan jaringan iptek di Propinsi dan Kab/Kota. 3. Menciptakan iklim inovasi dalam bentuk pengembangan skema insentif yang tepat untuk mendorong perkuatan struktur industri. 4. Menanamkan dan menumbuhkembangkan budaya iptek untuk meningkatkan peradaban bangsa.

V.

Pencapaian RPJMN di Daerah Capaian untuk tahun 2008 diperoleh dari data eksisting menunjukkan indikator jumlah hasil penelitian juga masih belum menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Hasil penelitian telah dirilis di situs resmi Pemerintah Propinsi Jawa Timur (http://www.jatimprov.go.id) pada tahun 2008 ini yang bersumber dari Balitbangprop Jatim hanya 5 (lima) buah judul hasil penelitian yang dapat diidentifikasi, yaitu :

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

221

Tabel 4.6.3. Capaian Hasil Penelitian Tahun 2008 No 1 Identifikasi Hasil Penelitian Tahun 2008

Hasil Penelitian Peran Serta Masyarakat dalam Pengembangan Investasi litbang, Selasa, 11 November 2008 Tahun : 2008 Sumber : Balitbang Prov. Jatim Deskripsi : Tujuan penyelenggaraan penanaman modal hanya dapat tercapai apabila faktor penunjang yang menghambat iklim penanaman modal dapat diatasi, antara lain melalui perbaikan koordinasi antar instansi Pemerintah Pusat dan daerah. Hasil Penelitian Dampak dan Solusi Industrialisasi di Tuban 2 litbang, Selasa, 11 November 2008 Tahun : 2008. Sumber : Balitbang Prov. Jatim Deskripsi : Kabupaten Tuban merupakan salah satu wilayah yang berada di pesisir utara Jawa dengan basis ekonomi awalnya adalah perdagangan, perikanan dan pertanian. Perubahan dari pertanian ke industri ini berpengaruh secara ekologis. Hasil Penelitian Model Pengelolaan Hutan Mangrove 3 litbang, Selasa, 11 November 2008 Tahun : 2008 Sumber : Balitbang Prov. Jatim Deskripsi : Kerusakan hutan mangrove bisa disebabkan beberapa hal seperti abrasi air laut yang besar, pembabatan hutan mangrove dan kepentingan peruntukan lain seperti tambak dan dermaga pelabuhan laut. Hasil Penelitian Bioremediasi Sumber Air Bersih DAS Brantas Hilir 4 litbang, Kamis, 18 September 2008 Tahun : 2008 Sumber : Balitbang Deskripsi : Air DAS Brantas Hilir (di Desa Mirip, Kecamatan Jetis) dimanfaatkan untuk bahan baku air minum (PDAM) Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Namun kondisi Air DAS Brantas Hilir sudah tercemar limbah industri. Penelitian Potensi Pelabuhan Regional Propinsi Jawa Timur dalam 5 Pembangunan Ekonomi Sekitarnya litbang, Rabu, 13 Agustus 2008 Tahun : 2008 Sumber : Balitbang Prov. Jatim Deskripsi : Di Propinsi Jawa Timur ada tujuh (7) pelabuhan regional yang diusahakan dan yang tidak diusahakan. Sumber: http://www.jatimprov.go.id Lebih jauh lagi untuk indikator jenis penemuan iptek hasil temuan, data base yang ada di dalam website resmi Balitbang Propinsi Jawa Timur pada tahun 2008 ini tidak menunjukkan perubahan, yaitu masih tetap pada pengelompokan ke dalam 4 (empat) kategori, yaitu: pemerintahan, ekonomi dan keuangan, sumber daya alam dan teknologi, serta kemasyarakatan (http://www.balitbangjatim.com/penelitian.asp). Terkait dengan pemanfaatan dan pemasyarakatan iptek bagi pembangunan di daerah, khusus di Jawa Timur nampaknya tidak perlu diragukan lagi komitmennya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

222

Hal ini dikemukakan oleh Fajar Suprapto (Asdep Urusan Program Riptek Daerah Kementerian Negara Riset dan Teknologi) yang menyatakan bahwa “Pemda yang melibatkan iptek dalam proses pembangunan mereka sendiri bisa dihitung dengan jari, Jawa Timur umpamanya. Pentingnya peran iptek mulai dilirik dalam kebijakan pembangunan mereka. Di provinsi paling timur Pulau Jawa itu, segala kebijakan yang akan dilakoni harus melalui kajian ilmiah, misalnya kebijakan penggunaan mobil berbahan bakar campuran energi fosil dan alternatif di masa depan adalah potret nyata dari insyafnya para petinggi Jatim perihal vitalnya fungsi iptek” (MEDIA INDONESIA, 23 September 2008). Beberapa kegiatan yang dilakukan terkait dengan pemanfaatan dan pemasyarakatan iptek maupun penguatan kelembagaan iptek diantaranya adalah menggelar Seminar Hasil-hasil Penelitian, misalnya pada hari Selasa 15 Januari 2008, bertempat di Ruang Sasana Krida,digelar Seminar Bidang Pemerintahan (http://www.balitbangjatim.com). Kali ini yang dibahas adalah tiga hasil penelitian yaitu Penerapan Kompetensi Jabatan dalam rangka Peningkatan Kinerja Aparatur, Tata Ruang Baru akibat Eksploitasi Minyak di Bojonegoro, dan Pengaruh Kenaikan Harga Barang terhadap Aspek Keamanan dan Sosial Budaya Jatim. Seminar dihadiri lebih kurang 50 orang dari perwakilan instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan unsur media. Juhartatik, salah satu peneliti bidang pemerintahan, menyarankan diperlukannya revitalisasi atau reformasi terhadap divisi (satuan kerja) yang mempunyai tugas dan fungsi mengelola manajamen kepegawaian. Di tingkat provinsi berupa Biro Kepegawaian atau Badan Kepegawaian Daerah di tingkat Kabupaten/Kota. Revitalisasi ini akan menjawab berbagai persoalan yang selama ini melingkupi satuan kerja (satker) pengelola kepegawaian sehingga tidak lagi berorientasi kepada pelaksanaan tugas yang bersifat administratif belaka. Revitalisasi akan menempatkan satker menjadi lebih strategis dan mempunyai kontribusi dalam menentukan masa depan organisasi melalui pengembangan kualitas dan fleksibilitas sumberdaya manusia. Lebih lanjut Juhartatik mengatakan, organisasi yang ingin survive dalam lingkungan yang dipenuhi oleh persaingan ketat harus berani melakukan reposis peran SDM baik dalam aspek kompetensi maupun perilaku. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga peneliti yang professional sebagai bagian dari agenda Penguatan Kelembagaan Iptek digelar beberapa kali kegiatan Diskusi baik yang sifatnya terbatas maupun terbuka, seperti kegiatan yang dilaksanakan oleh Dewan Pakar Provinsi Jawa Timur pada Hari Selasa, tanggal 13 Mei 2008 yang mengadakan Diskusi Terbatas dengan topik "Rehabilitasi dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

223

Perluasan

Infrastruktur

Pendukung

Ekspor

Jawa

Timur"

(http://www.balitbangjatim.com). Diskusi yang bertempat di Kantor Balitbang Provinsi Jawa Timur ini bertujuan untuk memprediksi kondisi perekonomian Jawa Timur ke depan, khususnya yang berhubungan dengan potensi ekspor Jawa Timur, terutama bila dikaitkan dengan terjadinya kerusakan di sebagian infrastruktur transportasi akut tepat di ruas strategis jalur transportasi ekonomi. Selain itu, diskusi ini juga untuk mencari solusi sementara ataupun permanen demi menjaga momentum

pertumbuhan ekonomi tetap kondusif khususnya momentum ekspor yang selama beberapa tahun terakhir tumbuh mendekati 20% tiap tahun. Adapun nara sumber yang dijadwalkan tampil berikut topic yang disampaikan adalah sebagai berikut : 1). Drs. KRESNAYANA YAHYA, M.Sc (Dewan Pakar Prov. Jatim Bidang Ekonomi dan Keuangan), Prospek Ekspor Jawa Timur ke Depan: Tinjauan Prospek Ekspor dalam Konteks Perubahan Ekonomi Global; 2). Kepala Bank Indonesia Surabaya, Skema Pembiayaan Ekspor di Jawa Timur: Permasalahan dan Kebijakan; 3). ISDARMAWAN ASRIKAN (Ketua Gabungan Pengusaha Eksporir Indonesia-Jawa Timur), Peluang untuk Mempertahankan Laju Pertumbuhan Ekspor Jawa Timur; 4) Kepala Dinas PU. BINA MARGA Propinsi Jawa Timur, Grand Design Rehabilitasi Infrastruktur Transportasi di Jawa Timur: Kebijakan dan Implementasinya, Kerangka Kerja, Pembiayaan dan Timeframe-nya. Hasil diskusi ini disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai bahan bahan rumusan untuk pengambilan kebijakan mengatasi permasalahan-permasalahan perekonomian dan ekspor, serta diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang kompleksitas permasalahan infrastruktur dalam hubungannya dengan upaya pengembangan ekspor Jawa Timur. Selanjutnya Dewan Pakar Provinsi Jawa Timur pada Hari Rabu, 2 Juli 2008 mengadakan Diskusi Panel dengan topik "Kerjasama Antar Pemerintah dalam rangka Pembangunan Regional " yang bertempat di Balitbang Provinsi Jawa Timur (http://www.balitbangjatim.com). Diskusi bertujuan untuk membuka forum komunikasi, dialog dan berbagi gagasan antarberbagai stakeholders untuk mengenali

permasalahan Jawa Timur dan tantangan pengorganisasian pemerintahan dan pembangunan yang responsif dan efektif. Selain itu, meningkatkan saling pemahaman bersama, mengeksplorasi peluang-peluang, dan mendorong ke arah perumusan meningkatkan kesepakatan kinerja serta dalam kualitas memperkuat kerjasama-kerjasama dan

penyelenggaraan pemerintahan

daerah.

Diharapkan pula, adanya peningkatan kepedulian, penggalian potensi, elaborasi langkah-langkah antisipatif, dan inventarisasi masukan-masukan solutif dalam rangka

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

224

meningkatkan kualitas dan produktivitas pemerintahan dalam pembangunan regional. Nara sumber yang tampil berikut topik yang disampaikan adalah sebagai berikut : 1). Dr (candt) Suyoto, SH, Msi (Bupati Bojonegoro), "Kerjasama Antar-Pemda dalam Perspektif Kabupaten: Urgensi, Peluang, dan Tantangannya"; 2). Kepala Bakorwil Bojonegoro, "Kerjasama Antar-Pemda dalam Perspektif Provinsi: Urgensi, Peluang, dan Tantangannya"; 3). Immanuel Sudjatmoko, SH, Mhum (dosen FH Universitas Airlangga), "Hubungan Antar-Wewenang Antar-Pemda dalam Rangka Pembangunan Regional"; 4). Priyatmoko, Drs, MA (Dewan Pakar Provinsi Jawa Timur), "Kerjasama Antar-Pemda dalam Rangka Menjamin Efektivitas Pembangunan Regional". Diskusi kali ini mengundang beberapa partisipan yang mewakili unsur-unsur di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten/Kota, pelaku-pelaku usaha, tokoh dan aktivis kemasyarakatan, peneliti, akademisi, pers, tokoh dan aktivis perempuan, dan sebagainya. Hasil diskusi tersebut disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai bahan rumusan untuk mendorong dan memperkuat kerjasama antar-pemerintah daerah di Jawa Timur. Pada kesempatan yang lain juga dihelat Diskusi Panel ”Peran HAM di Sektor Industri Manufaktur”, tepatnya pada hari Rabu, 6 Agustus 2008, dibahas oleh Dewan Pakar Provinsi Jawa Timur dalam Forum Diskusi Panel yang bertempat di Balitbang Pemprov. Peserta kegiatan ini sebanyak 40 orang yang mewakili kalangan birokrasi, pengusaha, buruh, pemerhati masalah hak asasi manusia, dan stake holder perburuhan (http://www.balitbangjatim.com). Diskusi ini bertujuan membuka wawasan bagi produsen maupun konsumen dan masyarakat umum tentang eksistensi hak asasi manusia sebagai bagian esensial dalam peri kehidupan modern, serta meningkatkan kesadaran peserta diskusi tentang pentingnya menghormati

keberadaan Hak Asasi manusia (HAM) sebagai jiwa perilaku sosial. Empat orang nara sumber diskusi panel, yaitu Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur (Drs. Muh. Bahrudin), Perwakilan Serikat Buruh Regional Jatim (Sugesti), Pusat Pengembangan Hukum dan Gender (Ummu Hilmy, SH,MS), dan Asosiasi Pengusaha Indonesia, (Drs. Herbertus Gunawan). Drs. Muh. Bahrudin mengupas peran pemerintah untuk menegakkan dan memajukan HAM di sektor industri manufaktur, Sugesti bertestimoni tentang apa yang pernah dialaminya selama menjadi buruh industri khususnya mengenai penghormatan terhadap HAM dalam industri manufaktur, Ummu Hilmy mengenai hak-hak buruh perempuan, dan Herbertus Gunawan tentang penerapan HAM di sektor industri manufaktur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

225

Satu bentuk konkrit berupa produk yang dapat digunakan secara meluas untuk pemanfaatan dan pemasyarakatan iptek yaitu ketika Dewan Pakar Propinsi Jawa Timur secara kreatif menunjukkan salah satu perannya sebagai bentuk Penguatan Kelembagaan Iptek adalah diterbitkannya buku-buku yang berisi hasil penelitian dan pengembangan iptek pada tahun 2008 ini. Dua buah buku terbaru tersebut adalah: “Jatim 5 Tahun ke Depan: Tantangan & Solusinya” dengan editor angota Dewan Pakar Soetandyo Wignjosoebroto dan Bagong Suyanto, berisi 11 judul hasil penelitian yang disajikan masing-masing dalam bab tersendiri. Sedangkan buku yang lainnya berjudul “Mendongkarak Kualitas Pendidikan Jawa Timur: Problema Dan Agenda Ke Depan” dengan editor angota Dewan Pakar Zainuddin Maliki dan Bagong Suyanto, berisi 9 judul hasil penelitian yang disajikan masing-masing dalam bab tersendiri.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut, berikut ini disampaikan beberapa hal yang bisa ditindaklanjuti antara lain : 1. merumuskan sinergisme kebijakan pembangunan iptek dengan sisi demand dan supply side nya; 2. menyempurnakan pola insentif dan pembiayaan litbang; 3. meningkatkan efektivitas mekanisme intermediasi untuk meningkatkan daya difusi hasil riset ke dalam kegiatan ekonomi; 4. mengembangkan kelembagaan untuk meningkatkan kapasitas lembaga litbang dan memperlancar transaksi hasil litbang; 5. mengembangkan instrumen analisis pencapaian teknologi dalam bentuk statistik iptek dan indikator Iptek; 6. meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya iptek; 7. meningkatkan dayaguna hasil-hasil penelitian di berbagai bidang pembangunan; 8. memperkuat kompetensi inti lembaga riset; dan 9. membentuk iklim yang kondusif bagi pengembangan sumberdaya litbang.

VII. Penutup Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini dalam era globalisasi iptek secara konkrit sangat dibutuhkan, baik untuk pelaksanaan program pembangunan maupun secara kelembagaan. Kondisi di Jawa Timur, goodwill dari pemerintah derah maupun

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

226

implementasinya sangat bagus. Namun demikian masih terkendala oleh beberapa permasalahan yang ada. Oleh karena itu, segenap komponen litbang harus introspeksi diri dan segera mencari jalan keluar yang strategis, misalnya berupa penciptaan sinergi dengan pengguna hasil riset (user) baik yang berasal dari kalangan industri besar, usaha mikro kecil dan menengah, serta pengguna lainnya. Selain itu, lembaga litbang juga harus memikirkan bagaimana caranya agar produk-produk yang dihasilkan bisa menjawab kebutuhan masyarakat secara luas. Penelitian yang dilakukan jangan hanya penelitian yang bersifat mencoba-coba dan terkesan menghabiskan anggaran saja, namun ke depan harus dilakukan penelitian yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat luas. Lembaga litbang tidak hanya dituntut untuk melakukan penelitian saja. Ke depan lembaga litbang juga harus mampu mengembangkan potensi-potensi sumberdaya alam yang bermanfaat, terutama yang bersifat renewable (dapat diperbarui), seperti minyak jarak sebagai biodiesel pengganti BBM, dan lain-lain. Hasil-hasil masyarakat dan riset masih dianggap belum dipakai dapat sebagai menjawab dasar kebutuhan

belum

sepenuhnya

perencanaan

pembangunan atau dasar perumusan kebijakan baik pemerintah pusat maupun daerah. Perlu adanya sinergi program ristek antara pusat dan daerah sehingga tidak terjadi kesenjangan informasi antara produk riset yang dihasilkan dengan kebutuhan masyarakat yang selama ini didengungkan perlu segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah nyata. Disamping itu perlu ditingkatkan pula peran litbang dalam mendukung pengembangan potensi dan entrepreneurship khususnya dalam pembangunan Jawa Timur. Dukungan data base hasil-hasil riset dari berbagai elemen lembaga riset, baik perguruan tinggi, departemen teknis, pemerintah daerah maupun lembaga riset swasta dapat dipergunakan sebagai dasar penyusunan Road Map Litbang di Jawa Timur. Peningkatan intensitas maupun efektivitas koordinasi antar institusi litbang atau iptek yang ada di seluruh wialayah Propinsi Jawa Timur pada tahun 2008 ini dapat digunakan sebagai momentum untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada sekaligus sebagai forum membahas kebutuhan penelitian di tahun 2009 khususnya materi-materi riset untuk kebijakan publik daerah maupun penelitian yang sifatnya applied research.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

227

I. Pengantar Situasi ketenagakerjaan di Indonesia khususnya di Jawa Timur masih ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran terbuka dan masih lambatnya daya serap tenaga kerja di lapangan kerja formal. Jumlah setengah pengangguran yang cukup besar juga mencerminkan lapangan kerja pada sektor yang digelutinya menjadi kurang produktif yang menyebabkan mereka berpendapatan rendah. Rendahnya produktivitas dan pendapatan menjadi sumber utama yang menyebabkan mereka sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan (near poor). Untuk itu upaya menciptakan lapangan kerja baru menjadi prioritas utama pemerintah. Jalan terbaik untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi tidak lain adalah dengan meningkatkan iklim investasi dan memperbaiki daya saing Indonesia di pasar internasional, termasuk memperbaiki iklim ketenagakerjaan. Penduduk dipandang dari sisi ketenagakerjaan merupakan suplai bagi pasar tenaga kerja di suatu negara. Namun tidak semua penduduk mampu melakukannya karena hanya penduduk yang berusia kerjalah yang bisa menawarkan tenaganya di pasar kerja. Penduduk usia kerja dibagi menjadi dua golongan yaitu yang termasuk angkatan kerja dan yang termasuk bukan angkatan kerja. Penggolongan usia kerja di Indonesia mengikuti standar internasional yaitu usia 15 tahun atau lebih. Angkatan kerja sendiri terdiri dari mereka yang aktif bekerja dan mereka yang sedang mencari pekerjaan. Mereka yang terakhir itulah yang dinamakan sebagai pengangguran terbuka. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok bukan angkatan kerja adalah mereka yang masih bersekolah, ibu rumah tangga, pensiunan dan lain-lain. Pembahasan mengenai ketenagakerjaan ini menarik karena beberapa alasan. Pertama, kita dapat melihat berapa besar jumlah penduduk yang bekerja. Kedua, kita dapat mengetahui jumlah pengangguran dan pencari kerja. Ketiga, apabila dilihat dari segi pendidikan maka hal ini akan mencerminkan kualitas tenaga kerja. Keempat, dilihat dari statusnya dapat terlihat berapa jumlah penduduk, yang bekerja di sektor formal yang jaminan sosialnya baik, dan berapa yang bekerja di sektor informal. Kelima, pengetahuan tentang karakteristik dan kualitas tenaga kerja akan berguna sebagai dasar

pengembangan kebijakan ketenagakerjaan, terutama pengembangan kesempatan kerja

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

228

dan peningkatan kualitas SDM yang akan dapat meminimalkan jumlah pengangguran di suatu negara. Hal ini penting karena tingginya angka pengangguran akan menimbulkan konsekuensi negatif bagi masyarakat misalnya meningkatnya kriminalitas.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah Kondisi ketenagakerjaan dalam kurun waktu Februari 2005—Februari 2008 menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Jumlah kesempatan kerja yang tercipta telah mengalami peningkatan. Pada Februari 2005 jumlah penduduk yang bekerja mencapai 94,95 juta orang. Jumlah ini meningkat, 7,10 juta menjadi sekitar 102,05 juta orang pada Februari 2008. Dari jumlah tersebut, kesempatan kerja di sektor industri manufaktur meningkat sekitar 790.000 orang. Kesempatan kerja baru yang tercipta telah menurunkan angka pengangguran terbuka. Pada Februari 2005 jumlah penganggur terbuka sebanyak 10,85 juta orang atau 10,26 persen dari angkatan kerja. Namun, kondisi ini membaik pada tahuntahun berikutnya. Pada Februari 2008, jumlah penganggur terbuka menjadi 9,43 juta atau 8,46 persen dari angkatan kerja. Dengan demikian, dalam kurun waktu tersebut, jumlah penganggur terbuka telah berkurang 1,42 juta orang.

Tabel 4.7.1 Perkembangan Jumlah Angkatan Kerja, Pekerja, Pengangguran Terbuka, dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Februari 2005-Februari 2008
Tahun Februari 2005 November 2005 Februari 2006 Agustus 2006 Februari 2007 Agustus 2007 Februari 2008 Agustus 2008 Angkatan Kerja (juta orang) Perubah Jumlah an 105,80 105,86 0,06 106,28 0,42 106,39 0,11 108,13 1,74 109,94 1,81 111,48 1,54 *) *) Pekerja (juta orang) Perubaha Jumlah n 94,95 93,96 -0,99 95,18 1,22 95,46 0,28 97,58 2,13 99,93 2,35 102,05 2,12 *) *) Pengangguran Terbuka (juta orang) Perubaha Jumlah n 10,85 11,90 1,05 11,10 -0,79 10,93 -0,17 10,55 -0,38 10,01 -0,54 9,43 -0,58 *) *) TPT 10,26% 11,24% 10,45% 10,28% 9,75% 9,11% 8,46% *)

*) belum ada data Perkembangan tingkat pengangguran terbuka menurut tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan pada Februari 2005 memperlihatkan bahwa angkatan kerja lulusan sekolah menengah umum (SMU) memiliki tingkat pengangguran terbuka tertinggi yaitu sebesar 18,82 persen, untuk sekolah menengah kejuruan (SMK) 16,38 persen, diploma 12,93 persen, dan universitas sebesar 11,46 persen. Pada Agustus 2007, tingkat

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

229

pengangguran terbuka untuk SMK adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 21,00 persen, sedangkan SMU 16,57 persen, diploma 13,26 persen, dan universitas 13,61 persen. Tabel 4.7.2 Jumlah Pencari Kerja dirinci menurut Tingkat Pendidikan Daerah Asal, dan Jenis Kelamin Bagian Bulan : Agustus 2008

Dilihat dari status pekerjaan, pada Februari 2008 sebesar 30,87 persen orang yang bekerja atau sekitar 31,50 juta orang bekerja di lapangan kerja formal. Pekerja formal ini adalah mereka yang berusaha dengan dibantu buruh tetap dan

buruh/karyawan. Persentase ini tidak banyak berbeda jika dibandingkan dengan kondisi pada Februari 2005 (30,17 persen). Sebagian besar tenaga kerja menggantungkan hidupnya pada lapangan kerja informal yang kurang memberikan jaminan sosial yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

230

memadai. Jika dilihat dari jenis kelamin pekerja, pada Februari 2008 terdapat sekitar 33,17 persen tenaga kerja perempuan dengan status pekerja keluarga informal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jumlah tenaga kerja perempuan meningkat pesat, yaitu sekitar 4,48 juta orang antara Februari 2005—Februari 2008, mereka umumnya bekerja di lapangan kerja informal. Lapangan pekerjaan informal masih menjadi tumpuan bagi angkatan kerja, khususnya mereka yang berpendidikan rendah. Tabel 4.7.3 Jumlah Pencari Kerja dirinci menurut kelompok Umur Daerah Asal, dan Jenis Kelamin Bagian Bulan : Agustus 2008

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

231

Sebagian besar penganggur terbuka tergolong penganggur usia muda (15—24 tahun). Jumlah penganggur usia muda pada Agustus 2007 mencapai 5,66 juta orang atau 56,54 persen dari jumlah penganggur terbuka. Dari jumlah tersebut, 50,92 persennya merupakan penganggur terdidik dengan pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) ke atas. Sertifikat kompetensi sebagai suatu penghargaan yang seharusnya dimiliki oleh pekerja belum banyak diakui oleh pengguna tenaga kerja. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kerja yang berkualitas masih merupakan tantangan ke depan agar angkatan kerja yang masuk ke pasar kerja mempunyai kompetensi yang tinggi dan sesuai

dengan kebutuhan dunia usaha. Pelaksanaan hubungan industrial yang baik mulai berkembang di era demokrasi yang terus diperjuangkan oleh pekerja, meskipun beberapa hal masih mengalami persoalan, seperti tuntutan para pekerja untuk memperoleh peningkatan kesejahteraan dan perbaikan kondisi kerja yang memadai. Di sisi lain, para pengusaha mengharapkan produktivitas yang tinggi dari pekerja. Perbedaan kepentingan ini sering menimbulkan ketegangan antara pekerja dan pemberi kerja. Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia di dalam negeri mendorong sebagian angkatan kerja untuk bekerja ke luar negeri. Namun, proses penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri masih menghadapi berbagai kendala. Penyederhanaan dan desentralisasi pelayanan penempatan TKI yang belum optimal menyebabkan masih adanya permasalahan berkaitan dengan kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi TKI. Pengurusan paspor dengan pengaman biometrik dalam waktu singkat masih mengalami kendala. Permasalahan lain seperti gaji yang tidak dipenuhi, kondisi tempat kerja yang tidak sesuai dengan kontrak, dan permasalahan pidana seperti kasus-kasus penganiayaan masih sering terjadi. Dari sisi pembiayaan, fasilitasi kredit bagi TKI juga masih sangat terbatas.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran yang hendak dicapai dalam 5 tahun mendatang adalah menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 5,1 % dari angkatan kerja pada akhir 2009.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

232

IV. Arah Kebijakan Dengan kondisi pasar kerja yang sebagian besar adalah lapangan kerja informal, sebagian besar angkatan kerjanya memliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah, serta sebagian besar berusia muda, kebijakan ketenagakerjaan diarahkan pada Kebijakan Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengisian Lapangan Kerja yang Tersedia, dilaksanakan melalui program-program: a. Program Penempatan TKI Ke Mancanegara b. Program Kerjasama

Sub Agenda Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan a. Program Penempatan dan Pengembangan Kesempatan Kerja b. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja c. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Tenaga Kerja

V. Pencapaian RPJMN Di Jawa Timur Pemecahan masalah pengangguran perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan institusi yang kuat dalam menjabarkan, termasuk di dalamnya adalah membangun mekanisme yang mampu memastikan bahwa pelaksanaan dari berbagai kebijakan penciptaan lapangan kerja benar-benar terjabarkan dengan baik, termasuk oleh daerah. Daerahdaerah yang merupakan kantung-kantung pengangguran perlu didorong untuk menciptakan lapangan kerja, baik melalui investasi maupun keselarasan antara APBN dan APBD untuk mendorong kegiatan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja. Dengan memperhatikan kondisi permasalahan ketenagakerjaan tersebut,

Pemerintah terus melakukan perbaikan iklim ketenagakerjaan. Iklim ketenagakerjaan yang semakin baik merupakan salah satu upaya untuk mendorong iklim investasi. Dengan demikian, investasi dapat tumbuh dan membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat Indonesia. Berkaitan dengan perbaikan iklim ketenagakerjaan, langkah kebijakan yang ditempuh dilaksanakan melalui program ketenagakerjaan, yaitu, sebagai berikut, a) Program Penempatan dan Pengembangan Kesempatan Kerja 1) Tujuan : Meningkatkan Kesempatan kerja produktif serta mendorong mobilitas tenaga kerja dalam rangka mengurangi pengguran dan setengah pengangguran baik di pedesaan maupun diperkotaan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

233

2) Sasaran : (a) Bimbingan dan penempatanTKI ke Luar Negeri (b) Fasilitasi pemulangan TKI melalui counter kedatangan (c) Sosialisasi penempatan TKI ke Luar Negeri (d) Uji ketrampilan dan kompetensi calon TKI (e) Pelatihan ketrampilan calon TKI formal (f) Pelayanan penempatan TKI melalui SAMSAT (g) Pengembangan pengangguran (h) Pengembangan tenaga kerja mandiri, D3 dan Sarjana. padat karya produktif pada daerah miskin dan padat

3) Tolok ukur dan target kinerja Tabel 4.7.4 Program Penempatan dan Pengembangan Kesempatan Kerja

Sumber : LPJ Gubernur Jawa Timur (Agustus 2008) Program Penempatan dan Pengembangan Kesempatan Kerja dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur tidak hanya berdasarkan pemenuhan target (kuantitas) semata, tetapi lebih berorentasi pada peningkatan kualitas ketrampilan, perlindungan dan kesejahteraan TKI. Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri mulai tahun 2003-2007 sebanyak 249.575 orang yang bekerja pada sektor Formal sebesar 100.178 orang dan informal sebanyak 149.397 orang yang meliputi jabatan : Penata Laksana Rumah Tangga, Pengemudi, Perkebunan, Mekanik/ Operator, Waiter, Caretaker, Perikanan, Penjahit, Konstruksi, Worker dan Elektronik dan bekerja pada Negara : Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Bruney, Qatar, Bahrain, Abudhabi dan Macau.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

234

Tabel 4.7.5 REKAPITULASI DATA PENEMPATAN TKI KE LUAR NEGERI TH. 2008 KURUN WAKTU : TGL. 1 JANUARI S/D TGL. 31 AGUSTUS 2008 DIRINCI MENURUT NEGARA TUJUAN PROPINSI JAWA TIMUR

Sumber : Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur, 2008 Dalam menempatkan tenaga kerja ke luar negeri disamping mengurangi angka pengangguran di Jawa Timur juga memberikan Devisa bagi negara dari tahun 2003-2007 sebesar Rp. 7.509.119.241.120,-. Adapun jumlah pengiriman TKI ke Luar Negeri seperti tabel berikut: Tabel 4.7.6 Perkembangan Pengiriman TKI (Tenaga Kerja Indonsia) Ke Luar Negeri

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

235

Penerimaan Remittance di Jawa Timur selama tahun 2003- 2007 berdasarkan Negara tujuan diuraikan seperti tabel dibawah : Tabel 4.7.7 Penerimaan Remittance di Jawa Timur

Sumber : Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur, 2008 Untuk mempercepat proses pengurusan dokumen keberangkatan TKI ke luar negeri telah dibangun Kantor Samsat TKI yang terletak di Jalan Jagir Wonokromo Nomor 358 Surabaya, sedangkan untuk memberikan perlindungan bagi TKI yang bekerja ke luar negeri telah ditetapkan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI ke luar negeri yang sekaligus mengatur pendirian Kantor Cabang PPTKIS di Jawa Timur. Sedangkan dalam upaya memberikan perlindungan kepada TKI yang datang dari luar negeri telah difasilitasi melalui counter kedatangan TKI di Bandara Juanda Surabaya, yang antara lain bertugas mendata, membantu pemulangannya ke daerah asal dan memfasilitasi bagi TKI yang bermasalah dengan majikannya. Untuk penempatan TKI ke luar negeri telah dilakukan MOU (kerjasama) Bilateral dengan pemerintah Australia Barat khususnya tenaga kerja skill yang saat ini sudah diproses dan ditindak lanjuti untuk pelaksanaannya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

236

Tabel 4.7.8 Perkembangan Penempatan Tenaga Kerja menurut Jenis Antar Kerja di Jatim

Sumber : LPJ Gubernur Jawa Timur (Agustus 2008)

Penempatan Tenaga kerja dan perluasan kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar hubungan kerja mulai tahun 2003-2007 sebanyak 69.449 orang yang dilaksanakan melalui program AKAD, AKAL, AKSUS, Tenaga Kerja Mandiri (TKM), UMSI, Padat Kerja Produktif, pemanfaatan Teknologi Tepat Guna dan pembangunan fisik sarana pedesaan. Perluasan kerja di luar hubungan kerja (sektor informal) dilakukan melalui penciptaan kegiatan yang produktif dan berkelanjutan dengan mendayagunakan potensi SDA dan SDM. Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan antara lain disebutkan bahwa penempatan tenaga kerja dapat dilakukan baik oleh PPTKIS yang akan bekerja ke luar negeri dan LPTKIS yang akan bekerja Dalam Negeri. Di Jawa Timur Lembaga-lembaga penempatan tenaga kerja meliputi : PPTKIS sebanyak 65 dan Kantor Cabang PPTKIS sebanyak 72 serta LPTKIS sebanyak 143. Dalam upaya

menempatkan tenaga kerja baik dalam negeri maupun ke luar negeri telah dilakukan melalui penyelenggaraan Bursa Kerja Terbuka (Job Market Fair) baik dilaksanakan oleh BLK-BLK Propinsi maupun oleh Kab/Kota di Jawa Timur serta kerja sama dengan Perguruan Tinggi Negeri/Swasta yaitu : UNIVERSITAS AIRLANGGA, ITS, UNESA, UBAYA, UNIBRAW, STIKOM dan SAKTI. Kegiatan JMF pertama kali dilaksanakan pada Tahun 2001 hingga Tahun 2007 dapat menempatkan pencari kerja pada perusahaan-perusahaan di Jawa Timur sebanyak 1.734 orang.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

237

Tabel 4.7.9 Kegiatan Job Market Fair (JMF)

Sumber : LPJ Gubernur Jawa Timur (Agustus 2008)

Bursa Kerja Jawa Timur 2008

Untuk besaran ILOR pada periode lima tahun terakhir (2003- 2007) rata-rata sebesar 0,03. Nilai ILOR pada tahun 2004 sebesar 0,06 dan tahun 2007 sebesar 0,07. Masih rendahnya ILOR, berarti masih rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja yang ditimbulkan oleh peningkatan nilai output diwilayah Jawa Timur. 4) Permasalahan (a) Lowongan kerja yang terdaftar baik dari Dalam maupun Luar Negeri tidak dapat diisi sepenuhnya dikarenakan kualifikasi pencaker tidak memenuhi persyaratan jabatan yang diminta, terutama dari segi ketrampilan kerja (b) Rendahnya semangat angkatan kerja untuk berwira usaha dalam kegiatan ekonomi produktif dan masih tingginys kecenderungan orientasi menjadi pegawai negeri. Penyebabnya adalah kurangnya motivasi dan ketersediaan modal usaha serta belum terkondisinya mekanisme pemasaran.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

238

5) Pemecahan Masalah (1) Diadakan peningkatan ketrampilan melalui pelatihan-pelatihan sesuai kebutuhan pasar kerja baik di Dalam maupun luar Negeri di BLK, Pemerintah dan BLK Swasta (BLKLN) (2) Perlu adanya sosialisasi yang dilakukan oleh institusi formal maupun informal secara konstuinitas lewat media cetak maupun elektronika, disamping itu perlu dimasukkan dalam dunia pendidikan sebagai muatan local untuk materi wirausaha, sehingga para lulusan sekolah tidak selalu menggantungkan pekerjaan sebagai PNS, tetapi sebaliknya harus dapat menciptakan lapangan kerja.

b) Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja 1) Tujuan : (a) Meningkatkan produktifitas (b) Peningkatan kualitas tenaga kerja dilakukan melalui pendidikan formal, pelatihan kerja, dan pengembangan ditempat kerja sebagai satu kesatuan sistem pengembangan SDM yang komperhensif dan terpadu 2) Sasaran : (a) Penyelenggaraan latihan MTU untuk menciptakan kesempatan kerja di pedesaan (b) Pelatihan ketrampilan Institusional untuk memenuhi kebutuhan industri (c) Pelatihan pemagangan ke Luar Negeri ke Jepang, Korea (d) Kerjasama pendidikan dan pelatihan D3 Plus (e) Pelatihan manajemen dan pengukuran produktivitas perusahaan. ketrampilan, keahlian dan kompetensi tenaga kerja dan

3) Tolok ukur dan target kinerja

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

239

Tabel 4.7.10 Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja

Sumber : LPJ Gubernur Jawa Timur (Agustus 2008) Pelatihan Kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan Tenaga Kerja.

Pelatihan kerja dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha mengacu pada standart kompetensi kerja. Kinerja bidang pelatihan dan produktivitas pada Dinas Tenaga Kerja selama tahun 2003 s/d 2007 telah dapat melatih para pencari kerja sebanyak 9.938 orang, dirinci untuk pelatihan MTU sebanyak 6.304 orang meliputi kejuruan : Menjahit, Komputer, Mesin Bensin, Mesin Logam, Las Listrik, Otomotif, Bubut, Elektronika, Bangunan, Mebel Kayu, Pneumatik, Tata Niaga, Instalasi Listrik, Mesin Produksi, Elektro Industri. Untuk magang ke Jepang bekerjasama dengan IMM (International Manpower Development of Medium and Small Interprises Japan) sebanyak 685 orang, sedangkan pelatihan Program D3 bekerjasama dengan ITS Surabaya sebanyak 1.567 orang, managemen dan pengukuran produktivitas dan pelatihan TOT, achirement dll sebanyak 1.382 orang dengan dana sebesar Rp. 46.688.689.380,-

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

240

Tabel 4.7.11 Rata-Rata Penerimaan Pelatihan Pemagangan ke Jepang di Jawa Timur

Dengan adanya pelatihan ini dapat meningkatkan kualitas para pencari kerja dan dapat bersaing pada Pasar Kerja baik di luar negeri maupun dalam negeri. Dari pelatihan keseluruhan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 s/d 2007 sebanyak 9.938 orang pencaker dan dapat ditempatkan sebanyak 5.000 orang pada sektor formal maupun informal, sedangkan sisanya diupayakan

penempatannya melalui Bursa Kerja yang dibentuk oleh BLK-BLK Propinsi maupun Bursa Kerja Khusus (BKK) yang dibentuk oleh Kabupaten/Kota maupun Perguruan Tinggi di Jawa Timur. Adapun Perkembangan Ketenaga Kerjaan di Jawa Timur sebagaimana tabel berikut: Tabel 4.7.12 Perkembangan Tenaga Kerja di Jawa Timur

Jumlah angkatan kerja di Jawa Timur mengalami peningkatan dari 18.975.649 orang tahun 2003 naik menjadi 20.118.000 orang pada tahun 2007. Sedangkan angkatan kerja tertampung/kesempatan kerja tahun 2003 sebanyak 17.228.156 menjadi 18.975.649 orang tahun 2007. Sedangkan untuk jumlah pengangguran di Jawa Timur selama tahun 2003-2007 cenderung meningkat dari 870.094 orang tahun 2003 menjadi 1.142.351 orang tahun 2007, hal ini antara lain disebabkan oleh keadaan sosial, lingkungan dan budaya masyarakat serta kondisi psikologis individual yang menyebabkan sesorang pindah bekerja atau berganti usaha dan kondisi alam, lapangan kerja yang kurang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

241

memadai.

Sedangkan

Tingkat

penganguran

Terbuka

selama

tahun

2003-2007

berfluktuatif dari 4,81% tahun 2003 menjadi 5,68% tahun 2007.

4) Permasalahan (a) Sarana dan fasilitas di BLK rata-rata sudah usia tua dan sudah tidak sesuai dengan perkembangan teknologi, hal ini akan berdampak pada kinerja pelayanan pelatihan ketrampilan di BLK (b) Semakin berkurangnya jumlah tenaga Instruktur di BLK dikarenakan banyak yang sudah pensiun namun tidak ada penambahan (regenerasi instruktur) 5) Pemecahan masalah (a) Pengadaan sarana dan prasarana peralatan BLK disesuaikan dengan

perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja (b) Pengadaan instuktur/penambahan instruktur sesuai dengan kompetensinya (c) Mengadakan kerjasama dengan lembaga-lembaga pelatihan swasta yang kualifikasi sesuai dengan kompetensinya.

Adapun prestasi yang menonjol di Bidang Ketenaga Kerjaan Tingkat Nasional antara lain: (a) Penghargaan Sisten Manajemen K3 di Jawa Timur Tahun 2006 dan 2007 (b) Penghargaan Kecelakaan Nihil (Zero Accident) di Jawa Timur pada tahun 2005, 2006, 2007 (c) Penghargaan bidang Ketenagakerjaan Penghapusan Tenaga Kerja Terburuk bagi Anak Tahun 2006 dan (d) Penghargaan Kualitas dan Produktivitas Paramakarya Tahun 2007.

c). Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Tenaga Kerja. Kegiatan yang dilakukan antara lain dengan kegiatan sebagai berikut. (1) Dialog sosial melalui berbagai media atau forum tripartit antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah, serta mendorong harmonisasi antara pekerja dan pengusaha melalui forum bipartit, (2) Penyederhanaan proses pengesahan peraturan perusahaan dari 14 hari kerja menjadi 7 hari kerja dan proses pendaftaran perjanjian kerja bersama (PKB) dari 7 hari kerja menjadi 6 hari kerja dalam rangka upaya pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi Bidang Ketenagakerjaan,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

242

(3)

Sosialisasi peraturan perundang-undangan bidang ketenagakerjaan tentang pengawasan, jaminan sosial, perselisihan hubungan industrial, keselamatan dan kesehatan kerja di 38 kabupaten / kota di Jawa Timur,

(4) (5) (6) (7) (8)

Pembinaan, penetapan dan pengawasan upah minimum. Penyelesaian kasus-kasus PHI/PHK. Peningkatan kesadaran hukum ketenagakerjaan bagi pengusaha dan pekerja. Peningkatan perlindungan TKI di luar negeri dan pembinaan PJTKI. Monitoring pencegahan dan penanggulangan pemogokan.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Beberapa kegiatan yang diprioritaskan untuk dilaksanakan tahun 2009 antara lain sebagai berikut. (1) Memfasilitasi proses negosiasi bipartit dengan mendorong perundingan antara pekerja dan pemberi kerja dalam posisi yang seimbang; (2) Meningkatkan informasi pasar kerja melalui fasilitasi kegiatan pendukung pasar kerja untuk memperkuat kelembagaan pasar kerja dengan menata sistem dan mekanisme informasi pasar kerja dan bursa kerja serta pengembangan dan pemberdayaan bursa kerja yang sudah ada; (3) Mengembangkan program pemagangan bagi penganggur usia muda khususnya lulusan SLTA ke atas, dengan memadukan antara konsep pelatihan dan penempatan di perusahaan, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang akan menjadi tempat magang; (4) Memfasilitasi proses penyusunan dan penetapan standar kompetensi tenaga kerja Indonesia, pelaksanaan uji kompetensi yang terbuka bagi semua tenaga kerja, termasuk meningkatkan kinerja lembaga pelatihan kerja, serta meningkatkan profesionalisme tenaga kepelatihan, dan instruktur pelatihan kerja; (5) Meningkatkan pemahaman dan kesadaran pengusaha dan pekerja mengenai pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja untuk mengurangi terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja; (6) Mengkonsolidasikan program pemerintah (APBN) yang dapat menciptakan kesempatan kerja lebih luas; (7) Memberikan pekerjaan bagi penganggur dan setengah penganggur melalui kegiatan padat karya produktif, berupa kegiatan infrastruktur sederhana skala kecil, khususnya di daerah perdesaan. Khusus untuk pekerja yang akan bekerja ke luar negeri difasilitasi dengan:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

243

(1) Memperbaiki pengurusan

pelaksanaan dokumen

rekrutmen

dengan

meningkatkan

pelayanan antara

persyaratan

yang

diperlukan.

Penyesuaian

pembuatan paspor TKI dan

kebijakan administrasi kependudukan akan

diupayakan. Optimalisasi pusat pelayanan sampai dengan tingkat kecamatan akan terus ditingkatkan dengan memberikan peran kepada daerah dalam proses rekrutmen; (2) Meningkatkan perlindungan di luar negeri dengan melakukan kerja sama bilateral dengan negara tempat TKI dan mengoptimalkan perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, termasuk peran atase ketenagakerjaan dan memfasilitasi bantuan hukum bagi TKI yang mengalami permasalahan pidana; (3) Mengupayakan pembiayaan TKI untuk memperoleh kredit, memperbaiki

pengiriman remitansi dan asuransi. Hal-hal yang akan dilakukan antara lain dengan, (a) memfasilitasi kesepakatan kerja sama antara perbankan nasional dan pengguna jasa TKI dalam hal pembayaran angsuran kredit TKI; (b) berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam pemberian insentif kepada perbankan untuk mengembangkan produk pelayanan remitansi; dan (c) menciptakan transparansi prosedur pemilihan perusahaan asuransi yang menjadi penyedia jasa asuransi TKI. (4) Monitoring dan evaluasi peran stakeholder secara berkala dengan menerapkan obyektivitas dan taat azas. VII. Penutup Sebagai akhir dari laporan ini, ada beberapa hal pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan dan segera dilaksanakan program-program kerja yang tepat sasaran oleh Propinsi Jawa Timur. Dimana tingkat pengangguran dan kemiskinan sampai hari ini masih menjadi permasalahan serius bangsa ini, tak terkecuali di Jawa Timur. Untuk mengatasi atau setidaknya mereduksi masalah ini, diperlukan strategi pembangunan yang bisa memicu pertumbuhan kinerja ekonomi dan akhirnya berimbas pada pengurangan jumlah pengangguran dan kemiskinan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

244

I. Pengantar Kegiatan ekonomi di perdesaan sebagian besar masih terkonsentrasi pada sektor pertanian, sementara itu luas lahan pertanian tidak bertambah, bahkan di jawa timur cenderung mengalami penyusutan. Oleh karena itu kebijakan perdesaan menjadi salah satu fokus utama pembangunan saat ini yang diarahkan pada pengembangan diversifikasi usaha ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja non pertanian baik berupa industri yang mengolah produk pertanian maupun industri jasa pelayanan. Program penanggulangan perdesaan yang telah berjalan pada umumnya diarahkan untuk mendukung ekonomi rumah tangga dan peningkatan kapasitas kelembagaan melalui pemberdayaan masyarakat. Sampai tahun 2008, berbagai programprogram perdesaan telah dilaksanakan pada sekitar 46.626 desa di seluruh

kabupaten/kota di jawa timur. (Djoko Murdjanto, 2008). Pada umumnya program penanggulangan perdesaan tersebut diarahkan pada perbaikan infrastruktur perdesaan dengan tujuan akhirnya adalah peningkatan ekonomi masyarakat. Orientasi pada program penanggulangan perdesaan oleh pemerintah provinsi jawa timur perlu adanya tindak lanjut mengingat bahwa keberhasilan program tidak hanya menekankan pada pembangunan fisik saja melainkan juga harus diikuti dengan pembangunan pemberdayaan masyarakat, hal ini mengingat bahwa permasalahan utama yang muncul dalam program penanggulangan perdesaan adalah pengembangan dan penyediaan infrastruktur serta tidak berlanjutnya pemeliharaan infrastruktur secara lebih memadai setelah masa kontruksi akibat kurangnya keterlibatan masyarakat serta kurangnya perhatian dan pembinaan dari pemerintah daerah. (Zainudin Maliki, 2006)

II. Kondisi awal RPJMN di Propinsi Jawa Timur Hingga kini sebagian besar penduduk Indonesia, sekitar 60 persen, masih bertempat tinggal di kawasan permukiman perdesaan, meski terdapat kecenderungan menurun seiring dengan proses urbanisasi. Selama ini kawasan permukiman

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

245

perdesaan dicirikan oleh rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja, masih tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman perdesaan. Rendahnya produktivitas tenaga kerja di perdesaan bisa dilihat dari besarnya tenaga kerja yang ditampung sektor pertanian (46,26 persen dari 90,8 juta penduduk yang bekerja) padahal sumbangan sektor pertanian dalam perekonomian nasional menurun menjadi 15,9 persen (Susenas, 2003). Sementara itu tingginya tingkat kemiskinan di perdesaan bisa ditinjau baik dari indikator jumlah dan persentase penduduk miskin (head count), maupun tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Pada tahun 2003, jumlah penduduk miskin adalah 37,3 juta jiwa (17,4 persen), di mana persentase penduduk miskin di perdesaan 20,2 persen, lebih tinggi dari perkotaan yang mencapai 13,6 persen. Pembangunan perdesaan yang relatif tertinggal disebabkan oleh masih

banyaknya permasalahan yang dihadapi di antaranya yakni sebagai berikut : 1. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia di perdesaan yang sebagian besar berketrampilan rendah (low skilled). Indikator rendahnya kualitas sumber daya manusia di perdesaan Ini ditunjukkan dengan rata-rata lama sekolah penduduk berusia 15 tahun ke atas baru mencapai 5,84 tahun atau belum lulus Sekolah Dasar atau Madarasah Ibtidaiyah, sementara itu rata-rata lama sekolah penduduk perkotaan sudah mencapai 8,73 tahun. Proporsi penduduk usia 10 tahun ke atas yang telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama atau Madarasah Tsanawiyah ke atas hanya 23,8 persen, jauh lebih rendah dibanding penduduk perkotaan yang jumlahnya mencapai 52,9 persen. Kemampuan keaksaraan penduduk perdesaan juga masih rendah yang ditunjukkan oleh tingginya angka buta aksara yang masih sebesar 13,8 persen atau lebih dari dua kali lipat penduduk perkotaan yang angkanya sudah mencapai 5,49 persen (Susenas 2003). 2. Rendahnya aset yang dikuasai masyarakat perdesaan. Indikator ini terlihat dari besarnya jumlah rumah tangga petani gurem (petani dengan pemilikan lahan kurang dari 0,5 ha) yang mencapai 13,7 juta rumah tangga (RT) atau 56,2 persen dari rumah tangga pertanian pengguna lahan pada tahun 2003. Hal ini ditambah lagi dengan masih rendahnya akses masyarakat perdesaan ke sumber daya ekonomi seperti lahan/tanah, permodalan, input produksi, keterampilan dan teknologi, informasi, serta jaringan kerjasama.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

246

3. Terbatasnya alternatif lapangan kerja berkualitas. Indikator ini bisa dilihat pada kegiatan ekonomi di luar sektor budidaya pertanian, baik industri yang mengolah hasil pertanian maupun industri kerajinan serta jasa penunjang lainnya sangat terbatas. Sebagian besar kegiatan ekonomi di perdesaan masih mengandalkan produksi komoditas primer sehingga nilai tambah yang dihasilkan kecil. Di sisi lain, pada kurun waktu 2001-2003 terjadi penciutan lapangan kerja formal baik di perkotaan maupun di perdesaan. 4. Rendahnya tingkat pelayanan sosial. Indikator ini bisa dilihat dari pelayanan sosial dasar (pendidikan dan kesehatan), prasarana permukiman (air minum, air limbah, persampahan dan drainase), infrastruktur sosial ekonomi (jalan, telekomunikasi, listrik), dan pasar yang masih terbatas di perdesaan. 5. Meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup serta meningkatnya konversi lahan pertanian subur dan beririgasi teknis untuk peruntukan lain. Indikator ini bisa dilihat dari isu yang paling kritis terkait dengan produktivitas sektor pertanian adalah penyusutan lahan sawah dari 8,2 juta hektar pada tahun 1992 menjadi 7,8 juta hektar pada tahun 2000. Di samping itu juga terjadi peningkatan luas lahan kritis akibat erosi dan pencemaran tanah dan air. 6. Lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat. Indikator ini bisa dilihat dari kemampuan lembaga dan organisasi dalam menyalurkan aspirasi masyarakat untuk perencanaan kegiatan pembangunan, serta dalam memperkuat posisi tawar masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Di samping itu juga terdapat permasalahan masih terbatasnya akses, kontrol dan partisipasi perempuan dalam kegiatan pembangunan di perdesaan yang antara lain disebabkan masih kuatnya pengaruh nilai-nilai sosial budaya yang patriarki, yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada kedudukan dan peran yang berbeda dan tidak setara. 7. Lemahnya keterkaitan kegiatan ekonomi baik secara sektoral maupun spasial. Indikator ini bisa dilihat dari kurangnya keterkaitan antara sektor pertanian (primer) dengan sektor industri (pengolahan) dan jasa penunjang, serta keterkaitan pembangunan antara kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan. Kota-kota kecil dan menengah yang berfungsi melayani kawasan perdesaan di sekitarnya belum berkembang sebagai pusat pasar komoditas pertanian; pusat produksi,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

247

koleksi dan distribusi barang dan jasa; pusat pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah non pertanian; dan penyedia lapangan kerja alternatif (non pertanian). Dalam implementasinya, pengembangan kawasan perdesaan ke depan juga menghadapi beberapa permasalahan eksternal dalam rangka mewujudkan kawasan permukiman perdesaan yang produktif, berdaya saing dan nyaman. Permasalahan eksternal tersebut yakni sebagai berikut : 1. Belum optimalnya pemanfaatan peluang di era globalisasi dan liberalisasi perdagangan serta antisipasi risiko yang menyertainya. Sektor pertanian Indonesia dalam era perdagangan bebas saat ini berada pada posisi yang kurang menguntungkan dengan berbagai kesepakatan perdagangan dunia yang cenderung bias negara-negara maju, seperti keharusan penghapusan subsidi untuk pupuk, benih, dan input produksi pertanian lainnya, sementara berbagai proteksi dalam bentuk lain dan hambatan justru diterapkan negara-negara maju dalam rangka melindungi kepentingan petaninya. 2. Timbulnya hambatan (barrier) distribusi dan perdagangan antar daerah. Dalam era otonomi daerah timbul kecenderungan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dalam bentuk pengenaan pajak dan retribusi (pungutan) yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, di antaranya pungutan yang dikenakan dalam aliran perdagangan komoditas pertanian antar daerah yang akan menurunkan daya saing komoditas pertanian. 3. Lemahnya koordinasi lintas bidang dalam pengembangan kawasan perdesaan. Dalam implementasinya, pembangunan perdesaan akan melibatkan banyak aktor meliputi elemen pemerintah (pusat dan daerah), masyarakat, dan swasta. Di pihak pemerintah sendiri, koordinasi semakin diperlukan tidak hanya untuk menjamin keterpaduan antar sektor tetapi juga karena telah didesentralisasikannya sebagian besar kewenangan kepada pemerintah daerah.

III. Sasaran Agenda RPJMN 2004-2009 Dalam lima tahun mendatang, sasaran yang hendak dicapai dalam pembangunan perdesaan sesuai dengan agenda RPJMN 2004-2009 yakni sebagai berikut : 1. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat perdesaan yang ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin serta meningkatnya taraf pendidikan dan kesehatan, terutama perempuan dan anak;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

248

2. Meningkatnya

peran

dan

kontribusi

kawasan

perdesaan

sebagai

basis

pertumbuhan ekonomi nasional yang diukur dari meningkatnya peran sektor pertanian dan non pertanian yang terkait dalam mata rantai pengolahan produkproduk berbasis perdesaan; 3. Terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan yang ditandai dengan berkurangnya angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran; 4. Meningkatnya kelayakhunian kawasan permukiman di perdesaan yang ditandai dengan meningkatnya akses rumah tangga ke pelayanan air bersih dan sanitasi, pelayanan prasarana pendidikan dan kesehatan, dan prasarana sosial ekonomi; 5. Meningkatnya akses, kontrol dan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan pembangunan perdesaan yang ditandai dengan terwakilinya aspirasi semua kelompok masyarakat dan meningkatnya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pembangunan.

IV. Arah kebijakan RPJMN 2004-2009 Kebijakan pembangunan perdesaan tahun 2004-2009 diarahkan untuk

meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat perdesaan dengan langkah-langkah kebijakan sebagai berikut: 1. Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan melalui peningkatan

kualitasnya, baik sebagai insan maupun sebagai sumberdaya pembangunan, dan penguasaan aset produktif, disertai dengan penguatan kelembagaan dan jaringan kerjasama untuk memperkuat posisi tawar; 2. Memperluas akses masyarakat, terutama kaum perempuan, ke sumberdayasumberdaya produktif untuk pengembangan usaha seperti lahan, prasarana sosial ekonomi, permodalan, informasi, teknologi dan inovasi; serta pelayanan publik dan pasar; 3. Mendorong terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan dengan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha pertanian, merangsang pertumbuhan aktivitas ekonomi non pertanian (industri perdesaan), dan

memperkuat keterkaitan kawasan perdesaan dan perkotaan; 4. Meningkatkan promosi dan pemasaran produk-produk pertanian dan perdesaan lainnya dengan meningkatkan kualitas dan kontinuitas suplai khususnya ke pasar perkotaan terdekat serta industri olahan berbasis sumber daya lokal;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

249

5. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan dengan memenuhi hak-hak dasar atas pelayanan pendidikan dan kesehatan serta meminimalkan risiko kerentanan baik dengan mengembangkan kelembagaan perlindungan masyarakat petani maupun dengan meningkatkan modal sosial masyarakat perdesaan; 6. Mengembangkan praktek-praktek budidaya pertanian dan usaha non pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Adapun pelaksanaan arah kebijakan di atas akan dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan pokok yang dilaksanakan di kawasan permukiman perdesaan yakni sebagai berikut: 1. Progam Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan Program peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan di 38 kabupaten/kota pada provinsi jawa timur ini bertujuan untuk: a. membangun kawasan perdesaan melalui peningkatan produktivitas dan

keberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan; b. meningkatkan keterkaitan antara kawasan perdesaan dan perkotaan; c. mengelola dan mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam di perdesaan sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. d. Meningkatkan jumlah, pemerataan, dan kualitas pelayanan kesehatan di perdesaan melalui puskesmas dan jaringannya meliputi puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan bidan di desa pada 38 kabupaten/kota di provinsi jawa timur. Adapun kegiatan pokok yang dilakukan untuk membangun kawasan perdesaan di 38 kabupaten/kota pada provinsi jawa timur adalah: a. Pemantapan dan pengembangan kawasan agropolitan yang strategis dan potensial, terutama di kawasan perdesaan di 38 kabupaten/kota pada provinsi jawa timur. b. Pemantapan kelembagaan masyarakat dan pemerintahan perdesaan dalam pengelolaan kegiatan pertanian, kelautan, perikanan, agrobisnis, dan agroindustri di 38 kabupaten/kota pada provinsi jawa timur; c. Pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi tepat guna dalam kegiatan usaha perekonomian masyarakat perdesaan ; d. Pengembangan kelembagaan ekonomi, termasuk pasar desa dan lembaga keuangan mikro, dan peningkatan jangkauan layanan lembaga penyedia jasa pengembangan usaha (BDS providers) untuk memperkuat pengembangan ekonomi lokal

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

250

e. Peningkatan kapasitas aparat pemerintah daerah dalam memfasilitasi dan mengkoordinasikan peran stakeholder dalam pengembangan ekonomi lokal berbasis sumber daya perdesaan; f. Penyempurnaan manajemen dan sistem pembiayaan daerah untuk mendukung pengembangan kawasan perdesaan; g. Pemantapan kerjasama dan koordinasi antar pemerintah daerah lintas wilayah administrasi di 38 kabupaten/kota pada provinsi jawa timur. h. Penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang berkeadilan, berkelanjutan, dan menjunjung supremasi hukum dengan mengacu pada RTRW dan kepentingan rakyat. i. j. Pelayanan kesehatan penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya; Pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya; k. Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial; l. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pebaikan gizi, kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan dasar; serta m. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan. 2. Program Pengelolaan Pertanahan Program pengelolaan pertanahan ini ditujukan untuk: a. meningkatkan kepastian hukum hak atas tanah kepada masyarakat melalui penegakan hukum pertanahan yg adil dan transparan secara konsisten; b. memperkuat kelembagaan pertanahan di pusat dan daerah dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat; c. mengembangkan sistem pengelolaan dan administrasi pertanahan yang

transparan, terpadu, efektif dan efisien dalam rangka peningkatan keadilan pemilikan tanah oleh masyarakat; dan d. melanjutkan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan

pemanfaatan tanah secara berkelanjutan sesuai dengan RTRW dan dengan memperhatikan kepentingan rakyat. Adapun kegiatan pokok dalam program pengelolaan pertanahan yang akan dilaksanakan adalah: a. Penegakan hukum pertanahan yg adil dan transparan melalui sinkronisasi peraturan perundangan pertanahan, penyelesaian konflik dan pengembangan budaya hukum;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

251

b. Pembuatan peta dasar dan pembangunan sistem pendaftaran tanah yang transparan dan efisien dalam rangka percepatan pendaftaran tanah; dan c. Penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang berkeadilan, berkelanjutan, dan menjunjung supremasi hukum dengan mengacu pada RTRW dan kepentingan rakyat. 3. Program Pengembangan Agribisnis Program pengembangan agribisinis ini bertujuan untuk memfasilitasi

berkembangnya usaha agribisnis yang mencakup usaha di bidang agribisnis hulu, on farm, hilir dan usaha jasa pendukungnya. Adapun kegiatan pokok program pengembangan agribisnis yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : a. Pengembagan infrastruktur pertanian dan perdesaan; b. Peningkatan akses terhadap sumber daya produktif, terutama permodalan; c. Pengurangan hambatan perdagangan antar wilayah di 38 kabupaten/kota provinsi jawa timur. d. Program Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Pertanian Program peningkatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat pertanian, terutama petani yang tidak dapat menjangkau akses terhadap sumberdaya usaha pertanian. Adapun kegiatan pokok program peningkatan pemberdayaan masyarakat pertanian yang dilakukan di provinsi jawa timur adalah sebagai berikut : a. Revitalisasi sistem penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan; b. Penumbuhan dan penguatan lembaga pertanian dan perdesaan untuk

meningkatkan posisi tawar petani dan nelayan; serta c. Penyederhanaan mekanisme dukungan kepada petani dan pengurangan

hambatan usaha pertanian. 4) Program Penciptaan Iklim Usaha Koperasi Dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Tujuan program penciptaan iklim usaha koperasi dan usaha kecil dan menengah (KUKM) ini adalah untuk memfasilitasi terselenggaranya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi, sehat dalam persaingan, dan non-diskriminatif bagi kelangsungan dan peningkatan kinerja usaha KUKM di perdesaan. Adapun kegiatan pokok program penciptaan iklim usaha koperasi dan usaha kecil dan menengah yang dilakukan meliputi: a. Memfasilitasi dan menyediakan kemudahan dalam formalisasi badan usaha UKM;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

252

b. Meningkatkan kelancaran arus barang, baik bahan baku maupun produk, dan jasa yang diperlukan seperti kemudahan perdagangan antardaerah dan pengangkutan; dan c. Mengembangkan pelayanan perijinan usaha yang mudah, murah dan cepat. 5. Program Pengembangan Kewirausahan dan Keunggulan Kompetitif KUKM Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif (KUKM) ini ditujukan untuk mengembangkan jiwa dan semangat kewirausahaan dan

meningkatkan daya saing KUKM perdesaan. Adapun kegiatan pokok dari program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetif ini mencakup: a. Pemasyarakatan semangat kewirausahaan bagi angkatan kerja perdesaan; b. Penyediaan sistem insentif dan pembinaan untuk memacu pengembangan KUKM berbasis teknologi tepat guna di perdesaan; c. Pembangunan jaringan lembaga pengembangan kewirausahaan; d. Pengembangan kemitraan investasi antar UKM, termasuk melalui aliansi strategis atau investasi bersama dengan perusahaan besar; e. Pengembangan jaringan produksi dan distribusi melalui pemanfaatan teknologi informasi; dan f. Peningkatan kualitas pengusaha kecil dan menengah, termasuk wanita

pengusaha, menjadi wirausahawan tangguh yang memiliki semangat kooperatif. 6. Program Pemberdayaan Usaha Skala Mikro Tujuan program pemberdayaan usaha skala mikro ini adalah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat perdesaan yang bergerak dalam kegiatan usaha ekonomi di sektor informal yang berskala usaha mikro, terutama yang masih berstatus keluarga miskin dalam rangka memperoleh pendapatan yang tetap, melalui upaya peningkatan kapasitas usaha sehingga menjadi unit usaha yang lebih mandiri, berkelanjutan dan siap untuk tumbuh dan bersaing. Adapun kegiatan pokok dari program pemberdayaan usaha skala mikro ini meliputi : a. Penyediaan kemudahan dan pembinaan dalam memulai usaha, termasuk dalam perijinan, lokasi usaha, dan perlindungan usaha; b. Penyediaan skim-skim pembiayaan alternatif dengan tanpa mendistorsi pasar, seperti sistem bagi hasil, sistem tanggung renteng, atau jaminan tokoh masyarakat setempat sebagai pengganti agunan;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

253

c. Penyelenggaraan dukungan teknis dan pendanaan yang bersumber dari berbagai instansi pusat, daerah dan BUMN yang lebih terkoordinasi, profesional dan institusional; d. Peningkatan kapasitas kelembagaan dan kualitas layanan lembaga keuangan mikro (LKM) yang bergerak di perdesaan; e. Pelatihan budaya usaha dan kewirausahaan dan bimbingan teknis manajemen usaha; f. Penyediaan infrastruktur dan jaringan pendukung bagi usaha mikro serta kemitraan usaha; g. Dukungan pengembangan usaha mikro tradisional dan pengrajin perdesaan melalui pendekatan sentra-sentra produksi/klaster; h. Pengembangan usaha ekonomi produktif bagi usaha mikro/sektor informal terutama di desa-desa tertinggal dan kantong-kantong kemiskinan. 7. Program Pengembangan Distribusi Nasional Tujuan program pengembangan distribusi nasional ini adalah meningkatkan kelancaran distribusi barang dan jasa yang lebih efisien dan efektif serta mengembangkan sistem usaha dan lembaga perdagangan yang efektif dan efisien, yang berpihak pada petani dan pelaku usaha kecil, menengah, dan koperasi. Adapun kegiatan pokok yang dilakukan dalam program pengembangan distribusi nasional yakni sebagai berikut : a. Dukungan pengembangan sistem koleksi dan jaringan distribusi di daerah; b. Pengembangan efektifitas ketersediaan jaringan informasi distribusi baik di tingkat nasional maupun daerah; c. Perkuatan kapasitas kelembagaan perdagangan bursa komoditi (PBK); serta d. Pemantapan dan pengembangan pasar lelang lokal dan regional serta sarana alternatif pembiayaan melalui sistem resi gudang (SRG). 8. Program Peningkatan Prasarana dan Sarana Perdesaan Program peningkatan prasarana dan sarana perdesaan ini bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas penyediaan prasarana dan sarana perdesaan, merehabilitasi dan mengoptimalkan pemanfaatannya, serta meningkatkan

pemeliharaan prasarana dan sarana yang telah terbangun. Prasarana dan sarana di sini meliputi jaringan prasarana dan sarana sosial ekonomi dan permukiman. Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa, dan Jaringan Pengairan Lainnya, pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya ditujukan untuk mewujudkan pengelolaan jaringan irigasi dan rawa

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

254

serta jaringan pengairan lainnya untuk mendukung peningkatan produktifitas pertanian dan pencapaian ketahan pangan nasional. Adapun kegiatan pokok program peningkatan prasarana dan sarana perdesaan yakni sebagai berikut : a. Pemberdayaan petani pemakai air terutama dalam hal pengelolaan jaringan irigasi; b. Perkuatan kelembagaan di tingkat pelaksana pengelola irigasi baik dari unsur pemerintah maupun petani; c. Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi dan rawa serta jaringan pengairan lainnya yang dirancang, dibangun dan dikelola sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang bersangkutan; d. Penegakan hukum dan peraturan terkait dengan pengelolaan sumber daya air; e. Optimalisasi pemanfaatan lahan irigasi dan rawa yang telah dikembangkan; dan f. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya.

9. Peningkatan dan Pembangunan Jalan dan Jembatan Adapun kegiatan pokok Peningkatan/pembangunan jalan dan jembatan yang mendukung pembangunan perdesaan meliputi sebagai berikut : a. Peningkatan/pembangunan jalan arteri primer yang merupakan jalur utama perekonomian seperti pantai utara jawa timur, jalur lintas selatan jawa timur b. Pembangunan jalan akses ke kawasan perdesaan, perbatasan, dan kawasan terisolir termasuk pulau kecil dan pesisir di provinsi jawa timur. 10. Pengembangan Sistem Pelayanan Air Minum dan Air Limbah Pengembangan sistem pelayanan air minum dan sanitasi ditujukan untuk meningkatkan cakupan pelayanan bagi rumah tangga perdesaan; peningkatan kualitas pengelolaan air minum dengan pemberdayaan kelompok masyarakat pengelola air minum; revitalisasi dan optimasi prasarana dan sarana air minum; peningkatan penyediaan prasarana sanitasi yang berkualitas; peningkatan peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan dan pengelolaan prasarana air minum perdesaan. Selain itu program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas air baku untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga, permukiman, dan industri di kawasan perdesaan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

255

Adapun kegiatan pokok dalam program pengembangan sistem pelayanan air minum dan air limbah yakni sebagai berikut : a. Pengembangan prasarana dan sarana air minum dan air limbah di kawasan permukiman perdesaan; dan b. Perlindungan dan pengelolaan sumber air baku dengan meningkatkan partisipasi masyarakat; rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana air baku yang telah terbangun; pembangunan prasarana pengambilan dan penyaluran air baku. 11. Pengembangan dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana teknologi perdesaan Pengembangan dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana teknologi perdesaan bertujuan meningkatkan aksesibilitas masyarakat perdesaan terhadap informasi dan berbagai layanan teknologi dengan tingkat pelayanan yang memadai. Adapun kegiatan pokok program pengembangan dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana teknologi perdesaan yakni sebagai berikut : a. Pembangunan prasarana teknologi di kawasan permukiman perdesaan; dan b. Pengembangan dan mengimplementasikan konsep telecenter atau konsep lain yang memungkinkan masyarakat perdesaan untuk mengakses informasi dengan mudah dan murah 12. Peningkatan Kualitas Jasa Pelayanan Sarana dan Prasarana Ketenagalistrikan Peningkatan Kualitas Jasa Pelayanan Sarana dan Prasarana

Ketenagalistrikan bertujuan meningkatkan aksesibilitas masyarakat perdesaan untuk memperoleh tenaga listrik semakin mudah, efisien, dengan harga yang wajar serta didukung oleh kualitas dan kuantitas yang memadai sesuai dengan standar yang berlaku. Adapun kegiatan pokok program peningkatan kualitas jasa pelayanan sarana dan prasarana ketenagalistrikan yakni ekstensifikasi dan intensifikasi jaringan listrik perdesaan melalui pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik di daerah perdesaan dan daerah yang belum berkembang. Kegiatan ini meliputi penambahan pembangkit tenaga listrik termasuk pembangkit skala kecil dengan memanfaatkan potensi energi lokal/setempat terutama energi terbarukan seperti PLT

Piko/Mkro/Mini Hidro dan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya), pembangunan jaringan tegangan menengah dan tegangan rendah serta gardu distribusi. 13. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Program upaya kesehatan masyarakat ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah, pemerataan, dan kualitas pelayanan kesehatan di perdesaan melalui puskesmas dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

256

jaringannya meliputi puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan bidan di desa pada 38 kabupaten/kota di provinsi jawa timur. Adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan di daerah perdesaan meliputi: a. Pelayanan kesehatan penduduk miskin di Puskesmas dan jaringannya; b. Pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya; c. Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial; d. Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pebaikan gizi, kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan dasar; serta e. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan. 14. Progam Peningkatan Kualitas Hidup Dan Perlindungan Perempuan Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup, peran dan kedudukan perempuan perdesaan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan; dan meningkatkan perlindungan bagi perempuan terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Adapun kegiatan pokok program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan ini meliputi: a. Peningkatan kualitas hidup perempuan melalui aksi afirmasi, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, politik, dan ekonomi; b. Peningkatan upaya perlindungan perempuan dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, termasuk upaya pencegahan dan

penanggulangannya; c. Pengembangan dan menyempurnakan perangkat hukum dan kebijakan

peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan di berbagai bidang pembangunan di tingkat nasional dan daerah d. Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan. 15. Program Perlindungan Dan Konservasi Sumber Daya Alam serta

Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam bertujuan untuk melindungi sumber daya alam dari kerusakan dan pengelolaan kawasan konservasi untuk menjamin keragaman ekosistem sehingga tetap terjaga fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

257

Adapun kegiatan pokok program perlindungan dan konservasi sumber daya alam meliputi: a. Perlindungan sumber daya alam dari kegiatan pemanfaatan yang tidak terkendali dan eksploitatif di perdesaan, terutama kawasan-kawasan konservasi yang rentan terhadap kerusakan; b. Pengelolaan dan perlindungan keanekaragaman hayati dari ancaman kepunahan; c. Pengembangan sistem insentif dan disinsentif dalam perlindungan dan konservasi sumber daya alam; serta d. Peningkatan partisipasi masyarakat dan dunia usaha dalam perlindungan sumber daya alam. e. Pengembangan peran serta masyarakat, khususnya masyarakat perdesaan, dan pola kemitraan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup; dan f. Pengembangan tata nilai sosial yang berwawasan lingkungan.

V. Pencapaian RPJMN di Propinsi Jawa Timur 2004-2009 Didalam capaian hasil dan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat perdesaan di wilayah propinsi jawa timur yakni sebagai berikut : 1. Progam Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan Pada tahun 2003, tingkat kemiskinan di Jawa Timur adalah 19,52 persen. Kemudian pada tahun 2004 turun menjadi 19,10 persen sebelum akhirnya naik kembali menjadi 22,63 persen pada tahun 2005. Kenaikan harga BBM pada tahun 2005 secara tajam telah memberikan dampak negatif khususnya bagi masyarakat yang berada diambang kemiskinan, karena sebagian besar dari mereka menjadi miskin. Tetapi pemerintah telah mengantisipasi hal ini dengan melakukan berbagai program pengentasan kemiskinan, diantaranya penyaluran Bantuan Langsung Tunai pada rumah tangga miskin. Sehingga persentase penduduk miskin pada tahun 2006 turun kembali menjadi 19,89 persen. Sedangkan pada Tahun 2007, persentase jumlah penduduk miskin kembali menurun menjadi sebesar 18,89 persen. Hal ini disebabkan semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur pada tahun 2007. Namun capaian tersebut masih di bawah target yang ditetapkan tahun 2007 yaitu 17 persen terhadap jumlah penduduk. Disamping itu pada tahun 2004 di 22 kabupaten provinsi jawa timur program penanggulangan perdesaan telah mampu menurunkan angka kemiskinan di desa/kelurahan sebesar 1,25% sampai dengan 13,91% atau rata-rata sebesar 5,62%. Pada tahun

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

258

2005 di 8 kabupaten provinsi jawa timur yang dijadikan sampel yakni kabupaten Bondowoso, kabupaten Pacitan, kabupaten Ponorogo, kabupaten Bojonegoro, kabupaten Probolinggo, kabupaten Nganjuk, kabupaten Tuban dan kabupaten Lumajang dengan program penanggulangan perdesaan telah mampu menurunkan angka kemisikinan yang cukup signifikan selama empat tahun sebesar 18,6% atau rata-rata per tahun 4,7%.

2. Program Penciptaan Iklim Usaha Koperasi Dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Kegiatan pemberdayaan usaha dimana telah terbentuk 30 lembaga keuangan mikro di perdesaan dengan layanan pembiayaan bagi 942 kelompok masyarakat dengan kegiatan usaha meliputi peracangan, perdagangan, warung, pertanian, pembuatan batu bata, pertukangan, bordir dan penjahitan, industri rumah tangga kuningan, peternakan dan perikanan. Selanjutnya nilai tambah UKM untuk tahun 2003-2007, diperoleh dengan melihat perkembangan kredit perbankan di perdesaan yang disalurkan kepada UKM dan ternyata berkorelasi positif secara linier dengan nilai tambah UKM. Nilai tambah UKM Jawa Timur Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2000, pada tahun 2005 sebesar Rp.137,40 triliun, tahun 2006 sebesar Rp.147,07 triliun dan tahun 2007 sebesar Rp.156,08 triliun. Bila nilai tambah UKM dibagi dengan PDRB hasil perhitungan BPS Propinsi Jawa Timur ADHB tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 terlihat bahwa peranan nilai tambah UKM semakin meningkat dari tahun ke tahun yaitu dari 52,35 persen menjadi 53,26 persen dan pada tahun 2007 menjadi 53,45 persen. Sedangkan menurut harga konstan 2000, peranan nilai tambah UKM terhadap PDRB pada tahun 2005 sebesar 52,35 persen, tahun 2006 sebesar 53,26 persen dan pada tahun 2007 sebesar 53,49 persen.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

259

Tabel.1. Capaian Kinerja Pemberdayaan Usaha Di Propinsi Jawa Timur Tahun 2005 – 2007. Uraian Kegiatan Penciptaan lapangan kerja bagi rumah tangga miskin Dana untuk modal usaha kemitraan Jenis usaha kelompok masyarakat Capaian Kinerja Tahun 2005 62% Capaian Kinerja Tahun 2006 66% Capaian Kinerja Tahun 2007 78%

307.219.000,-

434.750.000,-

582.330.000,-

Peracangan, Home industri warung kopi, makanan ringan, pertanian, jual tanaman pembuatan batu hias, petani salak, bata, pertukangan, warung makan, jahit, kerajinan pracangan, aneka kuningan, kerajinan usaha, gerabah, home pembuatan batu industri makanan bata. ringan Sumber : Laporan Pertanggung Jawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur 2004-2008 Usaha roti, peracangan, pengrajin anyaman/tikar, pembuatan tahutempe,pertanian, ternak, pembuatan tape, usaha penggilingan padi. Target yang dicapai adalah KUKM yang mampu berdaya saing dan profisional. Program ini dibiayai oleh dana APBD Tahun 2003-2007 total sebesar

Rp.1.616.066.000,- Hasil yang dicapai dari pelaksanaan bantuan

perkuatan dari

Dana APBD Propinsi Jawa Timur Tahun 2003–2007 seluruhnya berjumlah sebesar Rp.274.914.070.000. Tahun 2003-2007) (Sumber Dinas Koperasi dan UMKM Propinsi Jawa Timur

3. Program Penanggulangan Pengangguran Di Perdesaan Dengan Pendidikan Dan Pelatihan Kewirausahan Melihat kondisi Jumlah pengangguran di propinsi jawa timur selama tahun 2003-2007 cenderung meningkat dari 870.094 orang tahun 2003 menjadi 1.142.351 orang, maka pemerintah propinsi jawa timur melakukan kegiatan penyerapan tenaga kerja masyarakat sejumlah 2.801.423 orang serta penyerapan pengangguran lokal sebanyak 25.838 orang yang nantinya dialokasikan 669 orang sebagai unit pengelola kegiatan, 9.888 orang sebagai pendamping desa, 14.832 orang sebagai tim pelaksana kegiatan (TPK) dan 364 orang sebagai konsultan dan fasilitator. Tujuannya program penanggulangan pengangguran adalah meningkatkan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

260

kesempatan kerja produktif serta mendorong mobilitas tenaga kerja dalam rangka mengurangi penganguran dan setengah pengangguran baik di kawasan

perdesaan. Adapun upaya yang dilakukan melakukan peningkatan ketrampilan melalui pelatihan-pelatihan sesuai kebutuhan serta melakukan sosialisasi yang dilakukan oleh institusi formal maupun informal secara konstuinitas lewat media cetak maupun elektronika, disamping itu perlu dimasukkan dalam dunia pendidikan sebagai muatan lokal untuk materi wirausaha dapat menciptakan lapangan kerja khususnya di kawasan perdesaan. Program i n i dibiayai pemerintah propinsi jawa timur dengan dana dari tahun 2003-2007 sebesar Rp. 33.355.136.960,00. dengan target pembinaan tenaga kerja yang terampil yang cenderung meningkat dari 45.000 orang tahun 2003 menjadi 65.000 orang tahun 2007 dengan capaian 60.337 orang tahun 2003 menjadi 50.907 orang tahun 2007. 4. Program Peningkatan Infrastruktur, Prasarana dan Sarana Kawasan Perdesaan Selama tahun 2003-2007 mendapat alokasi dana sebesar Rp.10.469.838,0 yang dipergunakan antara lain untuk kegiatan promosi kesehatan sebesar Rp. 3.579.290,dengan target tersedianya informasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta kegiatan pemberdayaan masyarakat desa dengan dana Rp.6.890.548,- dengan target meningkatnya posyandu menjadi strata purnama mandiri (PURI), sedangkan pembangunan infrastruktur jaringan air bersih 444,127 km, saluran irigasi 271,411 km, sarana ekonomi perdesaan seperti pasar desa, jalan 4.198.863 km, jembatan 2.738 km. Disamping itu juga pelaksanaan kegiatan pemberdayaan lingkungan/infrastruktur meliputi perbaikan jalan poros desa dan jalan lingkungan sepanjang 563.775 meter, jembatan desa sebanyak 3.734 unit, pengadaan sarana air bersih berupa sumur dan bak penampungan sebanyak 485 unit, pipanisasi sepanjang 76.439 meter, pemugaran rumah permukiman perdesaan sebanyak 36.073 unit, pembuatan MCK sebanyak 1.451 unit, pembuatan gorong-gorong sebanyak 3.956 unit, pembuatan drainase sepanjang 48.269 meter, pembangunan gedung sekolah sebanyak 654 unit, pembangunan pasar desa sebanyak 302 unit, pembangunan bak sampah sebanyak 606 unit, pembangunan sarana irigasi, bendungan dan dam sebanyak 4.989 unit, pengadaan sarana air bersih sebanyak 939 unit, pembuatan plengsengan sebanyak 15.523 unit, pembangunan sarana pendidikan sebanyak 64 unit dan pembangunan sarana kesehatan sebanyak 12 unit.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

261

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut 1. Berdasarkan hasil pendataan Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa masih terdapat kurang lebih 2.196.363 rumah tangga miskin dengan 7.267.843 penduduk miskin, dari kondisi tersebut perlunya dilakukan beberapa peningkatan kehidupan masyarakat miskin dalam bentuk kegiatan tridaya yakni pemberdayaan manusia, pemberdayaan usaha dan pemberdayaan lingkungan. 2. Berdasarkan capaian kegiatan pemberdayaan usaha, Pemerintah Propinsi Jawa Timur perlu terus melakukan sosialisasi terhadap kelompok masyarakat penerima bantuan, dan juga ditekankan bahwa masyarakat penerima bantuan benar-benar memanfaatkan bantuan tersebut dengan cara mengembangkan modal usaha dan menggulirkan kepada masyarakat yang belum menerima bantuan sampai semua dapat kesempatan berusaha, sosialisasi maupun himbauan diberikan saat pelatihan sebelum memperoleh bantuan. 3. Berdasarkan capaian kegiatan menciptakan lapangan kerja berkualitas di perdesaan yang ditandai dengan berkurangnya angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran, Pemerintah Propinsi Jawa Timur perlu meningkatkan pemberdayaan sumber daya manusia di masyarakat perdesaan dengan melibatkan pada pembangunan sarana dan prasarana fisik perdesaan, termasuk tenaga konsultan maupun fasilitator. Dalam penedekatan ini selayaknya masyarakat peredesaan diberikan peluang yang luas sehingga nantinya mampu memberdayakan dirinya sendiri melalui peranserta dalam pengambilan keputusan, pengelolaan program maupun pemanfaatan program secara langsung. 4. Meningkatnya kelayakhunian dan infrastruktur kawasan permukiman di perdesaan yang ditandai dengan meningkatnya akses rumah tangga ke pelayanan air bersih dan sanitasi, pelayanan sarana pendidikan dan kesehatan serta prasarana sosial dan ekonomi. Dalam hal ini Pemerintah Propinsi Jawa Timur harus mempunyai komitmen yang kuat dalam memberikan bantuan langsung dalam bentuk dana penyertaan (sharing) dan dana pendamping (matching grant) serta bantuan fasilitas serta dukungan dari dinas/instansi sektoral guna pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana di perdesaan, disamping itu guna keberhasilan program penanggulangan perdesaan perlu juga melibatkan partisipasi dan keswadayaan masyarakat yang nantinya akan menjadi kunci penentu bagi sukses tidaknya program penanggulangan perdesaan di wilayah propinsi jawa timur.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

262

VII. Penutup Dalam kebijakan penanggulangan perdesaan banyak permasalahan yang dihadapi didalam penerapan sasaran dan arah kebijakan seperti kurangnya pemberdayaan masyarakat perdesaan yang diarahkan dalam bentuk program pengentasan kemiskinan, pemberdayaan usaha lembaga keuangan mikro di perdesaan, rendahnya kesempatan kerja pertanian dan non pertanian, serta kurangnya penyediaan infrastruktur dan sarana prasarana di kawasan permukiman perdesaan, yang mana keempat sasaran dan arah kebijakan tersebut menjadi prioritas utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Dalam hal ini perlunya Pemerintah Propinsi Jawa Timur memahami terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat perdesaan sehingga perlu dicermati secara lebih serius lagi sehingga sasaran, arah, serta strategi kebijakan yang sudah tertuang didalam RPJMN untuk pembangunan perdesaan bisa terwujud. Peran pemerintah dalam hal ini sangat besar dimana pemerintah harus terus berusaha melaksanakan berbagai program yang telah tertuang didalam RPJMN sesuai kebutuhan masyarakat perdesaan. Implementasi didalam kebijakan

penanggulangan perdesaan yang dilakukan pemerintah propinsi jawa timur dalam kurun waktu 2004-2008 yakni melakukan sinergi program terpadu dalam rangka mempercepat pembangunan perdesaan di wilayah propinsi jawa timur, yang sebelumnya sejak 2002 perumusan kebijakan penanggulangan perdesaan didasarkan pada pendekatan Tri-Daya yakni pemberdayaan manusia, pemberdayaan usaha dan pemberdayaan lingkungan yang diimplementasikan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai pelaku kegiatan, dengan pendekatan tri-daya ini diharapkan kesejahteraan masyarakat perdesaan bisa terwujud sesuai dengan sasaran dan arah kebijakan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

263

I.

Pengantar Problem Ketimpangan Pembangunan wilayah sepertinya tak habis-habisnya

menjadi kajian menarik dari berbagai penelitian oleh berbagai kalangan, baik yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi, masyarakat pada umumnya sampai dengan instansi pemerintah yang melaksanakan tugas monitoring dan evaluasi dampak pembangunan yang telah dilaksanakannya. Masalah ketimpangan pembangunan ini bisa muncul dari setiap kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di setiap daerah atau wilayah di mana pun. Hal ini bisa terjadi diakibatkan oleh berbagai faktor, seperti lemahnya perencanaan pembangunan yang kurang melibatkan stakeholders, kurangnya kajian yang mendalam terhadap kondisi daerah yang memerlukan penelaahan lebih detail untuk menangkap berbagai hal yang sejatinya patut untuk dijadikan pertimbangan tertentu, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih tepat dan sesuai dengan kondisi daerah tersebut, atau dapat juga terjadi karena masalah makro yang menggejala hampir di setiap daerah di nusantara yang berdampak sampai ke daerah. Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah telah memberikan kewenangan yang luas bagi daerah untuk mengatur dan menyelenggarakan pelayanan pada masyarakat sesuai dengan kondisi derahnya masing-masing. Di satu sisi kondisi ini membawa banyak perubahan positif bagi daerah untuk berlomba-lomba meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan daerah mereka masing-masing, berbagai upaya dan kebijakan telah dihasilkan oleh daerah untuk menyambut era otonomi daerah yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi daerah untuk berkreasi dan

mengoptimalkan potensi daerah mereka masing-masing. Namun di sisi lain di tengah gencar-gencarnya semangat daerah untuk membangun daerahnya terdapat pula beberapa tantangan dan hambatan yang telah dan sedang terjadi. Salah satu diantaranya yang pada bab ini menjadi perhatian adalah masalah ketimpangan pembangunan wilayah. Hal ini muncul karena disebabkan oleh beberapa faktor yang akan diuraikan dalam penjelasan berikut. Upaya masing-masing daerah untuk mengatasi persoalan itu

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

264

telah banyak dilakukan, seperti yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Jawa Timur beserta seluruh pemerintah daerah di Jawa Timur tak henti-hentinya terus berupaya untuk mengantisipasi dan menanggulangi problem yang krusial ini. Dalam bab ini akan diuraikan berbagai persoalan yang terjadi utamanya berkaitan dengan masalah ketimpangan pembangunan di Propinsi Jawa Timur serta diketengahkan analisis terhadap fenomena tersebut untuk kemudian dihasilkan rekomendasi

penanganan yang tepat dan terpadu.

II. Kondisi Awal RPJMN di Jawa Timur Provinsi Jawa Timur yang memiliki luas wilayah 46.428 km2 terdiri dari 38

Kabupaten/Kota, 29 Kabupaten dan 9 Kota. dengan tingkat kepadatan penduduk Jawa Timur sebesar 798 jiwa per kilometer persegi menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu propinsi yang memiliki potensi perkembangan pembangunan paling tinggi. 1. Banyak Wilayah-Wilayah Yang Masih Tertinggal Dalam Pembangunan Masyarakat yang berada di wilayah tertinggal pada umumnya masih belum banyak tersentuh oleh program–program pembangunan sehingga akses terhadap pelayanan sosial, ekonomi, dan politik masih sangat terbatas serta terisolir dari wilayah di sekitarnya. Oleh karena itu kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di wilayah tertinggal memerlukan perhatian dan keberpihakan pembangunan yang besar dari pemerintah. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wilayah tertinggal, termasuk yang masih dihuni oleh komunitas adat terpencil antara lain seperti terbatasnya akses transportasi yang menghubungkan wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju; belum diprioritaskannya pembangunan di wilayah tertinggal oleh pemerintah daerah karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD)

secaralangsung dan belum optimalnya dukungan sektor terkait untuk pengembangan wilayah-wilayah ini.

2. Belum Berkembangnya Wilayah-Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh Banyak wilayah-wilayah yang memiliki produk unggulan dan lokasi strategis belum dikembangkan secara optimal. Hal ini disebabkan, antara lain: (1) adanya keterbatasan informasi pasar dan teknologi untuk pengembangan produk unggulan; (2) belum adanya sikap profesionalisme dan kewirausahaan dari pelaku pengembangan kawasan di daerah; (3) belum optimalnya dukungan kebijakan nasional dan daerah yang berpihak pada petani dan pelaku usaha swasta; (4) belum berkembangnya infrastruktur kelembagaan yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

265

berorientasi pada pengelolaan pengembangan usaha yang berkelanjutan dalam perekonomian daerah; (5) masih lemahnya koordinasi, sinergi, dan kerjasama diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan, baik pemerintah, swasta, lembaga non pemerintah, dan masyarakat, serta antara pemerintah pusat, provinsi, dan

kabupaten/kota, dalam upaya meningkatkan daya saing produk unggulan; (6) masih terbatasnya akses petani dan pelaku usaha skala kecil terhadap modal pengembangan usaha, input produksi, dukungan teknologi, dan jaringan pemasaran, dalam upaya mengembangkan peluang usaha dan kerjasama investasi; (7) keterbatasan jaringan prasarana dan sarana fisik dan ekonomi dalam mendukung pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah; serta (8) belum optimalnya pemanfaatan kerangka kerjasama antar wilayah maupun antar negara untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan. Sebenarnya, wilayah strategis dan cepat tumbuh ini dapat dikembangkan secara lebih cepat, karena memiliki produk unggulan yang berdaya saing. Jika sudah berkembang, wilayah-wilayah tersebut diharapkan dapat berperan sebagai penggerak bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah-wilayah sekitarnya yang miskin sumber daya dan masih terbelakang.

3. Wilayah Perbatasan dan Terpencil Kondisinya Masih Terbelakang Wilayah perbatasan, termasuk pulau-pulau kecil terluar memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar. Namun demikian, pembangunan di beberapa wilayah perbatasan masih sangat jauh tertinggal. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah ini umumnya jauh lebih. Hal ini telah mengakibatkan timbulnya berbagai kegiatan ilegal di daerah perbatasan yang dikhawatirkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai kerawanan sosial. Permasalahan utama dari ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan adalah arah kebijakan pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi ’inward looking’ sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan daerah. Akibatnya, wilayah-wilayah perbatasan dianggap bukan merupakan wilayah prioritas pembangunan oleh pemerintah. Sementara itu daerah-daerah pedalaman yang ada juga sulit berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau. Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah penduduknya, serta belum tersentuh oleh pelayanan dasar pemerintah.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

266

4. Kesenjangan Pembangunan antara Desa dan Kota Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di perdesaan umumnya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Hal ini merupakan konsekuensi dari perubahan struktur ekonomi dan proses industrialisasi, dimana investasi ekonomi oleh swasta maupun pemerintah (infrastruktur dan kelembagaan) cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan. Selain dari pada itu, kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan masih banyak yang tidak sinergis dengan kegiatan ekonomi yang dikembangkan di wilayah perdesaan. Akibatnya, peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan perdesaan (trickling down effects), justru memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan perdesaan (backwash effects).

III.

Sasaran yang Ingin Dicapai Perubahan sistem pemerintahan dari pola sentralisasi ke desentralisasi dalam

kerangka demokratisasi Pemerintahan Daerah ditandai dengan revisi isi kebijakan (content of policy) dan konteks pelaksanaan (context of implementation) kebijakan Otonomi Daerah melalui UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU Nomor 22 Tahun 1999. Pemberian otonomi kepada daerah ditujukan untuk mempercepat terwujudnya dan kesejahteraan peran serta masyarakat masyarakat melalui dengan

peningkatan

pelayanan,

pemberdayaan

memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah. Hal ini berarti perwujudan tujuan Otonomi Daerah dapat dicapai melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan suatu model manajemen pembangunan desa yang mampu mengakomodasi dan mengartikulasi peran aktif masyarakat sehingga masyarakat senantiasa memiliki dan turut bertanggungjawab terhadap perkembangan kehidupan bersama. Kondisi wilayah-wilayah yang masih relatif belum maju dan tertinggal sangat membutuhkan intervensi kebijakan pembangunan dari pemerintah, sehingga diharapkan dapat mempercepat pembangunan di wilayah-wilayah ini yang pada akhirnya dapat meningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Sasaran dari pengurangan ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah: 1. Terwujudnya percepatan pembangunan di wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis, wilayah tertinggal, termasuk wilayah perbatasan dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang terintegrasi dan sinergis;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

267

2. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota besar, menengah, dan kecil secara hirarkis dalam suatu ‘sistem pembangunan perkotaan; 3. Terwujudnya percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah, sehingga diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai ‘motor penggerak’ pembangunan di wilayah-wilayah pengaruhnya dalam ‘suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi,’ termasuk dalam melayani kebutuhan masyarakat warga kotanya; 4. Terkendalinya pertumbuhan kota-kota dalam suatu ‘sistem wilayah pembangunan kota yang compact, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan; 5. Terwujudnya keterkaitan kegiatan ekonomi antar wilayah perkotaan dan perdesaan dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang saling menguntungkan; 6. Terwujudnya keserasian pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam suatu ‘sistem wilayah pembangunan yang berkelanjutan. 7. Terwujudnya sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta terlaksananya penegakan hukum terhadap hak atas tanah masyarakat dengan menerapkan prinsipprinsip keadilan, transparansi, dan demokrasi. Dalam rangka mencapai sasaran pengurangan ketimpangan pembangunan antar wilayah dimaksud diatas, diperlukan arah kebijakan sebagai berikut: 1. Mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh sehingga dapat mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal di sekitarnya dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’ yang sinergis, tanpa mempertimbangkan batas wilayah administrasi, tetapi lebih ditekankan pada pertimbangan keterkaitan mata-rantai proses industri dan distribusi. Upaya ini dapat dilakukan melalui pengembangan produk unggulan daerah, serta mendorong terwujudnya koordinasi, sinkronisasi, keterpaduan dan kerjasama antarsektor, antarpemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendukung peluang berusaha dan investasi; 2. Meningkatkan keberpihakan pemerintah untuk mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal dan terpencil sehingga wilayah-wilayah tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara lebih cepat dan dapat mengejar ketertinggalan pembangunannya dengan daerah lain. Pendekatan pembangunan yang perlu dilakukan selain dengan pemberdayaan masyarakat secara langsung melalui skema dana alokasi khusus, public service obligation (PSO), universal service obligation (USO) dan keperintisan, perlu pula dilakukan penguatan keterkaitan kegiatan ekonomi dengan wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis dalam satu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

268

3. Mengembangkan wilayah-wilayah perbatasan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking, sehingga kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. 4. Menyeimbangkan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota, oleh karena itu perlu dilakukan peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi (forward and backward linkages) sejak tahap awal mata rantai industri, tahap proses produksi antara, tahap akhir produksi (final process), sampai tahap konsumsi (final demand) di masing-masing kota sesuai dengan hirarkinya. Hal ini perlu didukung, antara lain, peningkatan aksesibilitas dan mobilitas orang, barang dan jasa antar kota-kota tersebut, antara lain melalui penyelesaian dan peningkatan pembangunan Ladia Galaska; 5. Meningkatkan percepatan pembangunan kota-kota kecil dan menengah, terutama di daerah pedalaman NAD, sehingga diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai ‘motor penggerak’ pembangunan wilayah-wilayah di sekitarnya, maupun dalam melayani kebutuhan warga kotanya. Pendekatan pembangunan yang perlu dilakukan, antara lain, memenuhi kebutuhan pelayanan dasar perkotaan seseuai dengan tipologi kota masing-masing; 6. Mendorong peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dengan kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan secara sinergis (hasil produksi wilayah perdesaan merupakan ‘backward linkages’ dari kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan) dalam suatu ‘sistem wilayah pengembangan ekonomi’; 7. Mengendalikan pertumbuhan kota-kota dalam suatu ‘sistem wilayah pembangunan kota’ yang compact, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjutan; 8. Mengoperasionalisasikan ’Rencana Tata Ruang’ sesuai dengan hirarki perencanaan ( RTRW-Provinsi, RTRW-Pulau, RTRW-Kabupaten/Kota) sebagai acuan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan antar wilayah; 9. Merumuskan sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif, serta melaksanakan penegakan hukum terhadap hak atas tanah dengan menerapkan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan demokrasi.

IV.

Pencapaian RPJMN di Jawa Timur Pemerintah provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya yang dilakukan

dalam rangka mensukseskan RPJMN di daerah, berdasarkan beberapa indikator yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

269

ditetapkan diantaranya adalah laju pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendidikan, serta tingkat kematian bayi dan usia harapan hidup, maka diperoleh data sebagai berikut: A. Bidang Ekonomi Prospek ekonomi Jawa Timur pada tahun 2008 diwarnai oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan inflasi yang lebih rendah. Namun pada triwulan I-2008 Ekonomi Jawa Timur mengalami tekanan dengan perkiraan terjadi perlambatan

pertumbuhan dan inflasi yang relatif tinggi. Pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan pada kisaran 6,00%-6,5% dengan didukung oleh faktor internal dan eksternal. Berbagai faktor positif tersebut meliputi kondisi makro yang semakin kondusif, membaiknya daya beli masyarakat, kinerja ekspor yang terus membaik, realisasi proyek infrastruktur, keyakinan pelaku ekonomi yang cenderung semakin membaik, Pilkada di Kabupaten/Kota dan Propinsi, perbaikan pengelolaan/manajemen anggaran yang dapat meningkatkan daya serap fiskal yang lebih cepat. Sektor utama Jawa Timur meningkat pertumbuhannya, sedangkan disisi pengeluaran investasi dan ekspor semakin

menunjukkan peningkatan peranannya. Sementara, Inflasi Jawa Timur pada tahun 2008 akan tetap terjaga di kisaran 6% meskipun dengan beberapa prasyarat. Faktor risiko utama yang mengancam stabilitas harga di tahun 2008 adalah tren peningkatan harga minyak mentah di pasar dunia. Ketatnya suplai, tingginya permintaan dari ekonomi berkembang (India dan China), serta peran spekulan di pasar dunia, membuat tren ini diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun. Dihitung secara rata-rata laju pertumbuhan ekonomi pada seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur menunjukkan angka 5,83 untuk tahun 2004, 5,84 untuk tahun 2005 dan 5,80 untuk tahun 2006. Laju pertumbuhan tertinggi pada tahun 2004 diraih oleh Kota Kediri yakni sebesar 7,29 dan terendah dialami oleh Kabupaten Sumenep yakni sebesar 3,04 sedangkan untuk tahun 2005 tertinggi diraih oleh Kabupaten Bojonegoro sebesar 8,82 dan terendah dialami oleh Kota Kediri sebesar 0,43. sedangkan untuk tahun 2006 dicapai oleh Kota Surabaya sebesar 6,99 dan terendah masih dialami oleh Kota kediri sebesar 0, 66. secara lebih detail digambarkan dalam tabel berikut:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

270

Tabel 4.9.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur 2004 - 2006

No Kabupaten/Kota 2004 2005 (1) -2 -3 -4 Kabupaten 01 Pacitan 3,19 4,31 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 71 Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar Kediri Malang Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo Pasuruan Sidoarjo Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Kediri 4,47 4,02 5,70 4,72 2,63 5,97 5,92 4,75 4,30 5,14 4,74 4,77 5,75 6,14 5,81 5,72 5,78 3,51 4,43 4,62 5,64 3,60 4,60 7,05 4,64 3,91 3,72 3,04 7,29 4,87 4,96 6,46 6,06 3,31 5,99 5,53 5,85 5,26 5,40 5,65 5,4 6,36 7,48 6,51 6,11 6,78 5,35 5,17 4,51 8,82 5,36 5,93 8,52 5,34 4,87 4,30 2,95 0,43

2006 -5 5,10 5,40 5,15 6,13 5,65 5,56 6,17 5,81 5,70 5,94 5,30 5,57 5,77 6,16 5,94 6,06 5,83 6,22 5,81 5,12 5,63 6,28 5,99 5,59 6,75 5,55 5,21 5,24 5,84 0,66

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

271

72 73 74 75 76 77 78 79

Blitar Malang Probolinggo Pasuruan Mojokerto Madiun Surabaya Batu

6,30 6,95 6,13 5,96 6,55 4,99 6,71 6,56

6,45 5,75 6,83 5,97 6,00 5,93 6,93 7,08 5,84

6,05 6,36 6,26 6,20 6,65 6,24 6,99 6,25 5,80

Jawa Timur 5,83 Sumber: BPS Jawa Timur, 2008

b. Bidang Pendidikan Untuk bidang pendidikan, Pemerintah provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan sekolah dasar sampai lanjutan di seluruh propinsi di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, angka buta aksara akhir 2005 usia 15-44 tahun mencapai 744.941 orang. Pada akhir 2006, Jatim telah berhasil menuntaskan 477.142 orang, sisanya dituntaskan hingga akhir 2007. Sedangkan usia 45-60 tahun akan dituntaskan pada 2008. Sementara laporan pencapaian kinerja bidang pendidikan Propinsi Jatim berdasarkan APK SD/MI menunjukkan, persentase jumlah siswa terhadap jumlah anak usia 7-12 tahun pada tahun 2005 sebesar 101,11%, tahun 2004 sebesar 110,89 %. Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan persentase jumlah siswa berusia 712 tahun terhadap anak berusia 7-12 tahun di Jatim pada tahun 2005 sebesar 97,24%, tahun 2004 sebesar 96,71%, padahal target Dinas P dan K Propinsi Jatim tahun 2005 sebesar 99 %. Untuk jumlah guru SD/MI tahun 2005, terpenuhi sebesar 97 %, hal ini meningkat dibanding tahun 2004 sebesar 96 %. Namun, belum memenuhi target Dinas P dan K Propinsi Jatim sebesar 100%, tapi telah mencapai SPM yang ditetapkan minimal sebesar 90%. Sedangkan, jumlah siswa SD/MI per kelas tahun 2005 sebanyak 23 siswa dan tahun 2004 sebanyak 24. Ini belum memenuhi standar SPM 30-40 siswa per kelas. Jumlah lulusan SD/MI tahun ajaran 2005/2006 sebanyak 157.399 siswa dan sebanyak 146.538.47 (93,10%) siswa melanjutkan (masuk ke kelas I) ke jenjang pendidikan SMP/MTs. Angka melanjutkan tahun 2005 itu meningkat dibanding tahun

2004 yang sebesar 90,54%. Untuk guru, dari 261.603 guru SD/MI yang ada, sejumlah 78.481 (30%) guru belum memenuhi kualifikasi sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan secara nasional, yaitu minimal lulusan S1. Dengan demikian, persentase

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

272

jumlah guru yang memenuhi standar kompetensi tahun 2005 sebesar 70 %, meningkat dibandingkan tahun 2004 sebesar 69,64 %. Jumlah itu belum memenuhi target Dinas P dan K Jatim sebesar 95% dan masih dibawah SPM yang ditetapkan minimal sebesar90%. Angka putus sekolah untuk tingkat SD/MI pada tahun 2005 sebanyak 12.043 (0,27%) siswa, mengalami penurunan sebanyak 14.931 (0,31%). Sedangkan angka putus sekolah tingkat SMP/MTs tahun 2005 sebesar 0,33%, dibanding tahun 2004 sebesar 0,35%. Hal tersebut menunjukkan, jumlah siswa putus sekolah tidak melampaui batas maksimal Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan 1%. Berikut ditampilkan jumlah sekolah, murid dan guru di Jawa Timur: C. Bidang Kesehatan Dari seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Timur pada tahun 2005 mencapai angka 36,65 untuk tahun 2006 mencapai 32,93 dan tahun 2007 sebesar 32,93 sedangkan angka harapan harapan hidup untuk tahun 2005 sebesar 67,90, tahun 2006 sebesar 68,6 dan tahun 2007 sebesar 68,90. Angka Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota 2005 – 2007
Angka Kematian Bayi No Kabupaten/Kota 2005 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar Kediri Malang Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso 27,7 35,51 27,33 27,33 29,19 34,39 39,6 45,06 63,05 46,32 63,94 2006 27,14 34,21 26,47 27,14 27,51 34,21 39,18 44,64 61,72 44,85 62,21 2007 24,82 32,01 24,51 25,62 25,32 33,39 38,93 43,31 59,59 43,91 59,47 2005 70,30 68,20 70,4 70,40 69,90 68,50 67,20 65,90 61,70 65,60 61,50 2006 70,4 68,7 70,6 70,5 70 68,7 67,9 66,00 62,1 66 62 2007 70,67 69,06 70,91 70,80 70,25 68,99 68,22 66,35 62,33 66,45 62,36 Angka Harapan Hidup

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

273

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 71 72 73 74 75 76 77 78 79

Situbondo Probolinggo Pasuruan Sidoarjo Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Kediri Blitar Malang Probolinggo Pasuruan Mojokerto Madiun Surabaya Batu

62,61 70,73 60,39 32,16 32,9 32,53 37,92 36,65 28,44 35,51 42,54 42,54 38,76 29,56 61,72 71,66 60,84 55,59 31,42 26,63 34,02 34,02 44,64 26,63 28,82 30,67 35,88

62,39 69,79 60,17 31,6 31,79 31,42 37,7 35,88 28,44 34,21 42,12 41,7 38,34 28,44 61,72 70,26 59,73 54,54 31,05 26,47 32,53 33,09 43,38 26,3 28,63 30,12 34,39 35,32

62,42 69,66 59,81 30,79 31,02 29,24 37,77 35,2 28,84 32,99 41,12 40,34 37,96 27,46 59,81 67,1 58,54 51,79 30,32 22,8 30,13 31,58 42,27 24,9 27,92 29,6 31,91 32,93

61,80 60,00 62,30 69,10 68,90 69,00 67,60 67,90 70,10 68,20 66,50 66,50 67,40 69,80 62,00 59,80 62,20 63,40 69,30 70,60 68,60 68,60 66,00 70,60 70,00 69,50 68,10 67,90

62,50 60,00 62,80 69,60 69,30 69,70 68,00 68,20 70,20 68,60 66,60 66,90 67,50 70,00 62,70 60,40 62,40 64,00 69,50 71,10 68,90 68,80 66,20 70,70 70,20 69,80 68,30 68,6

62,72 60,33 63,15 69,89 69,58 69,85 68,27 68,43 70,5 68,99 66,79 67,17 67,73 70,3 62,9 61,11 62,70 64,23 69,78 71,44 69,31 69,20 66,21 70,97 70,46 70,16 68,64 68,90

Jawa Timur 36,65 Sumber: BPS Jawa Timur, 2008

V.

Rekomendasi Tindak Lanjut Pemerintah pusat dan daerah memiliki kewajiban mutlak untuk mengantisipasi dan

menanggulangi berbagai persoalan-persoalan di atas dengan berbagai kebijakan yang direncankan dan dihasilkannya, hal ini merupakan sebuah tantangan sekaligus persoalan yang harus dipecahkan yang sebenarnya perlu dipecahkan tidak saja oleh aktor utama pmerintah tetapi juga keterlibatan masyarakat, dunia usaha dan komponen-komponen

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

274

masyarakat lain yang langsung maupun tidak secara langsung berkontribusi terciptanya kondisi itu. Karena tanpa keterlibatan masyarakat secara lebih luas maka dikhawatirkan kebijakan yang dihasilkan bisa mengakibatkan terjadinya salah sasaran dan justru menjadi kontra produktif dengan kebutuhan yang ada di lapangan. Secara lebih kongkrit pemerintah beserta berbagai pihak yang terkait hendaknya melakukan : a. Dalam bidang pembangunan ekonomi pemerintah provinsi Jawa Timur hendaknya lebih menekankan pentingnya perubahan model pembangunan sektoral dan konteks kedaerahan ke dalam model pembangunan yang lebih integral, holistik dan melibatkan berbagai kawasan sehingga tercipta kesinergisan antar daerah di Jawa Timur. b. Dalam bidang Pendidikan, Pemerintah Provinsi beserta seluruh Kota dan Kabupaten di Jawa Timur telah banyak melakukan berbagai kemajuan dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di Jawa Timur. Masih minimnya sarana dan prasarana, serta jumlah guru dalam mendukung kegiatan belajar mengajar terutama di pedasaan masih menjadi kendala utama dalam program pembangunan di bidang pendidikan di Jawa Timur, Untuk itu perlunya ditingkatlah lagi jumlah dan kualitas infrastruktur penunjang kegiatan belajar mengajar termasuk di dalamnya para staf pengajar yang professional. c. Dalam bidang Kesehatan perlunya ditingkatkan kemudahan akses dan

peningkatan layanan kepada masyarakat utamanya untuk para Ibu hamil dan orang tua, hal ini sangat penting untuk menekan angka kematian Ibu Hamil di Jawa Timur.

VI.

Penutup Ketimpangan pembangunan wilayah di Jawa Timur telah menyisakan berbagai

persoalan yang hingga kini masih belum selesai tertangani. Pada konteks Jawa Timur ketimpangan yang terjadi dapat dipetakan dalam tiga sektor pembangunan, yakni pembangunan ekonomi, pembangunan Pendidikan dan pembangunan di bidang kesehatan masyarakat. Ketiga sektor pembangunan itu merupakan pondasi utama dalam program pembangunan Jawa Timur ke depan yang tidak terlepas sebagi bagian dari program pembangunan nasional. Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta seluruh Kota dan Kabupaten Jawa Timur telah banyak melakukan upaya-upaya yang direncanakan secara matang dan komprehensfi dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat seperti Perguruan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

275

tinggi dan lembaga swadaya masyarakat serta unsur-unsur masyarakat lain. Proses perencanaan tersebut telah menghasilkan program-program pembangunan di tingkat daerah yang diimplementasikan oleh instansi terkait. Dalam kajian ini telah diuraikan dan diidenfitikasi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan ketimpangan pembangunan di wilayah Jawa Timur, dan apa faktorfaktor yang menyebabkan terjadinya persoalan itu untuk kemudian dihasilkan

rekomendasi dalam penanganan atau penanggulangan persoalan itu.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

276

I.

Pengantar Pembangunan pendidikan pada hakikatnya merupakan proses pembangunan

sosial ekonomi untuk menuju kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera lahir dan batin. Meningkatnya mutu pendidikan akan memberikan peluang lebih besar kepada masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan. Meningkatnya pembangunan pendidikan juga berarti meningkatkan kemampuan komunikasi dan informasi antar penduduk, antar suku, antar pulau dan antar negara. Perencanaan pembangunan pendidikan di Jawa Tiimur merupakan

kesinambungan program kerja tahun sebelumnya, serta mempertimbangkan berbagai isu dan permasalahan pendidikan yang faktual, serta memperhitungkan faktor pendukung dan penghambatnya yang dapat dipergunakan sebagai pedoman yang akurat dan realistis dalam pelaksanaan pembanguan pendidikan Propinsi Jawa Timur tahun 2008.

II. Kondisi Awal RPJMN di Jawa Timur 1) Belum tersedianya dukungan data yang akurat tentang data pendidikan terutama Kabupaten/Kota, dan daerah terpencil. 2) Kurang mantapnya koordinasi lintas bidang masing-masing Subdin maupun lintas Kabupaten/Kota dalam menyamakan persepsi kebijaksanaan pendidikan sekolah pasca pelaksanaan otonomi daerah. 3) Terpisahnya alokasi anggaran pendidikan antara sekolah umum dengan sekolah agama sehingga masih adanya program yang tumpang tindih. 4) Terbatasnya fasilitas sarana prasarana pendidikan terutama untuk daerah terbelakang/terpencil dan kepulauan termasuk sarana PLB yang sesuai dengan jenis kelainan anak dan jenjang pendidikan. 5) Kurang meratanya penyaluran tenaga kependidikan/guru di sekolah terutama daerah kota dan terpencil juga tenaga kependidikan PLB sesuai jurusannya. 6) Belum tersedianya lembaga atau pusat ketrampilan bagi anak luar biasa.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

277

7) Belum

seluruh

tenaga

kependidikan

PLS

memiliki

kemampuan

yang

memadai/professional sesuai bidang fungsi/tugas yang diembannya, sehingga mengakibatkan hasil program belum optimal. 8) Terbatasnya alokasi dana dari APBD dan APBN bagi penyelenggaraan PLS menyebabkan sasaran program PLS tidak terlayani. 9) Masih belum mantapnya relevansi antara pendidikan kejuruan dengan dunia usaha khususnya kompetensi yang diperlukan. 10) Belum terlatihnya guru kelas di SD dan guru mata pelajaran seni di SMP, SMA/SMK berakibat rendahnya kualitas hasil pendidikan seni di Jawa Timur. 11) Terbatasnya Sumber Daya Manusia yang mempunyai penguasaan tentang kebudayaan berakibat kurang professional pengelolaan dan pelayanan kebudayaan di daerah. 12) Masih banyak SMK yang fasilitas pembelajaran praktek produktifnya belum memadai/ belum memenuhi standar minimal. 13) Perbedaan persepsi kebijaksanaan pendidikan antara kewenangan propinsi dan Kabupaten/Kota dalam rangka peningkatan penyelenggaraan pendidikan. 14) Pemerintah belum memprioritaskan pendidikan sebagai bagian terpenting dalam pembangunan manusia seutuhnya. 15) Kurang aktifnya program standarisasi tenaga kependidikan serta kurang lancarnya proses peningkatan karir tenaga kependidikan yang dialokasikan untuk seluruh wilayah Jatim. 16) Diberlakukannya pasar bebas yang menuntut kompetensi dan sertifikasi SDM. 17) Menurunnya kemampuan orang tua siswa untuk membiayai pendidikan anaknya, khususnya masyarakat kurang mampu. 18) Sulitnya menyadarkan masyarakat yang terbelakang akan arti pentingnya belajar serta rendahnya pengetahuan dan kemampuan tutor terhadap metode pendidikan khususnya metode pembelajaran orang dewasa. 19) Jumlah anak berdasarkan jenis kelamin/usia untuk memperoleh pendidikan sangat sulit terdeteksi karena tersebar tidak merata serta masih berlakunya budaya malu bagi orang tua untuk mendapatkan sekolah. 20) Sulitnya mendeteksi anak luar biasa terutama bagi masyarakat pedesaan dengan apresiasi pendidikan rendah. 21) Rendahnya kualitas lulusan sekolah/institut yang menghasilkan siswa kejuruan untuk memenuhi standar kerja serta lemahnya etos kerja, disiplin, kemampuan berbahasa inggris, dan matematika.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

278

22) Menurunnya kemampuan anak/siswa akan nilai luhur warisan seni dan budaya karena dapat menghilangkan jati diri bangsa. 23) Masih dirasakan adanya dikotomi penyelenggaraan pendidikan umum dan pendidikan luar biasa. 24) Masih kurangnya pemahaman masyarakat dan penentu kebijakan tentang arti pentingnya PLS. 25) Makin tingginya tuntutan masyarakat dan dunia usaha/dunia industri di era global terhadap mutu lulusan pendidikan. 26) Secara geografis di Jawa Timur masih banyak daerah terpencil dan terbelakang yang sulit dijangkau. 27) Belum optimalnya peran Komite Sekolah, Dewan Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Dewan Pendidikan Propinsi dalam memberikan kontribusi perencanaan,

pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan pada masing-masing jenjang pendidikan. 28) Adanya pengaruh budaya asing akibat dari globalisasi dan derasnya arus informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kondisi politik yang telah melahirkan budaya.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai 1) Meningkatnya taraf pendidikan Indonesia melalui: a. Meningkatnya secara nyata persentase penduduk yang dapat menyelesaikan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. b. Meningkatnya secara signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan menengah c. Meningkatnya secara signifikan partisipasi penduduk yang mengikuti pendidikan tinggi. d. Meningkatnya proporsi anak yang terlayani pada pendidikan anak usia dini. e. Menurunnya angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun keatas menjadi 5% pada tahun 2009. f. Meningkatnya akses orang dewasa untuk mendapatkan pendidikan kecakapan hidup. g. Meningkatnya keadilan dan kesetaraan pendidikan antar kelompok masyarakat termasuk wilayah maju dan tertinggal, antara perkotaan dan pedesaan, antara daerah maju dan tertinggal, antara penduduk kaya dan penduduk miskin, serta antara penduduk laki-laki dan perempuan. 2) Meningkatnya kualitas pendidikan yang ditandai dengan:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

279

a. Tersedianya standar pendidikan nasional serta standar pelayanan minimal untuk tingkat kabupaten/kota. b. Meningkatnya proporsi pendidik pada jalur pendidikan formal maupun non formal yang memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar. c. Meningkatkan proporsi satuan pendidikan baik negeri maupun swasta yang terakreditasi baik. d. Meningkatkan persentase siswa yang lulus ujian akhir pada setiap jenjang pendidikan. e. Meningkatnya minat baca penduduk Indonesia. 3) Meningkatnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan yang diukur dengan: a. Meningkatnya efektivitas pendidikan kecakapan hidup pada semua jalur dan jenjang pendidikan. b. Meningkatnya hasil penelitian, pengembangan dan penciptaan ilmu

pengetahuan dan teknologi oleh perguruan tinggi serta penyebarluasan dan penerapannya pada masyarakat. c. Efektifnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah. 4) Meningkatnya efektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan yang diukur oleh: a. Efektifnya pelaksanaan manajemen berbasis sekolah. b. Meningkatnya anggaran pendidikan baik yang bersumber dari APBN maupun dari APBD sebagai prioritas nasional yang tinggi didukung oleh terwujudnya sistem pembiayaan yang adil, efisien, efektif, transparan dan akuntabel. c. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. d. Meningkatnya efektivitas pelaksanaan otonomi dan desentralisasi pendidikan termasuk otonomi keilmuan.

IV. Arah Kebijakan Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur Jabaran arah dan kebijakan pembangunan dalam pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan peningkatan kualitas produk pendidikan di daerah Propinsi Jawa Timur , dilaksanakan melalui program-program : 1) Program Pendidikan Pra-Sekolah (Usia Dini-TK) Bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan pendidikan melalui jalur formal seperti Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA) dan bentuk lain

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

280

yang sederajat, jalur pendidikan non-formal berbentuk Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat, dan jalur informal yang berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dalam rangka membina, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal agar memiliki kesiapan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. 2) Program Pendidikan Dasar (SD – SLTP) Bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur formal maupun jalur non formal yang mencakup SD termasuk SDLB, MI dan Paket A serta SMP, MTS, dan Paket B, sehingga seluruh anak usia 7-15 tahun baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh pendidikan, setidak-tidaknya sampai jenjang sekolah menengah pertama atau yang sederajat. 3) Program Pendidikan Menengah (SMU/SMK) Bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan menengah yang bermtu dan terjangkau bagi penduduk laki-laki dan perempuan melalui jalur formal maupun non formal, yang mencakup SMA, SMK, MA dan Paket C. Program pendidikan menengah didorong untuk mengantisipasi meningkatnya lulusan sekolah menengah pertama secara signifikan sebagai dampak positif pelaksanaan wajib belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, serta pengutan pendidikan vokasional baik melalui sekolah/ madrasah umum maupun kejuruan dan pendidikan non formal guna mempersiapkan lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi untuk masuk ke dunia kerja. 4) Program Pendidikan Luar Biasa Bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pendidikan luar biasa untuk membantu mensukseskan program wajib belajar sembilan tahun yang mencakup peserta didik sekolah dasar luar biasa dan SMPLB. 5) Program Pendidikan Luar Sekolah Bertujuan untuk menyiapkan layanan kepada masyarakat yang tidak mampu atau belum sempat memperoleh pendidikan formal untuk mengembnagkan diri, sikap, pengetahuan dan keterampilan, potensi pribadi dan dapat mengembangkan ussaha produktif guna meningkatkan kesejahteraan hidupnya, serta memberikan

pengetahuan dasar dan keterampilan berusaha secara profesional sehingga warga belajar mampu mewujudkan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan anggota keluarganya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

281

6) Program Pendidikan Tenaga Kependidikan Bertujuan untuk meningkatkan kecukupan jumlah, kualitas, kompetensi dan profesionalisme pendidik bagi laki-laki maupun perempuan pada satuan pendidiakn formal dan non formal, negeri maupun swasta, untuk dapat merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran dengan menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis, menilai hasil pembelajaran, dan melakukan pembibingan dan pelatihan, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta mempunyai komitmen secara profesional dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, 7) Program Pengembangan Pendidikan Tinggi 8) Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Bertujuan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Jawa Timur melaui pengembangan minat dan kebiasaan membaca.

V. Pencapaian RPJMN di Daerah Jawa Timur 1) Program Pendidikan Pra-Sekolah (Usia Dini-TK) Pendidikan anak usia dini (PAUD) dimaksudkan untuk mengoptimalkan

perkembangan kapabilitas kecerdasan anak, jadi bukan hanya sekedar untuk memberikan pengalaman belajar, program pendidikan berkelanjutan dimaksudakn untuk menyiapkan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sejak dini. Jumlah penduduk Jawa timur yang tergolong dalam usia dini (2-4 tahun) sebessar 1.315.194 anak. Diharapkan minimal 13,81% anak tersebut dapat tertampung di lembaga PAUD pada akhir tahun 2008. Tolak ukur dan target kinerja tahun

2005/2006 sampai dengan tahun 2006/2007 serta serta proyeksi tahun 2007/2008 adalah sebagai berikut:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

282

Tabel 4.10.1 Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Anak usia 2-4 tahun Indikator Capaian Program Masukan Keluaran Tolok Ukur Kinerja 05/06 Anak usia 2-4 th 1.000.231 mendapatkan layanan PAUD Jumlah dana 750.000 700.000 1.735.000 1. Siswa masuk PAUD 106.467 127.799 156.971 2. Jumlah lembaga PAUD 3.463 4.519 5.494 Hasil Peningkatan penduduk usia 10.64% 12.03% 13.81% 2-4 thn masuk PAUD Kel. sasaran Peningkatan kualitas SDM 10.64% 12.03% 13.81% sejak dini Sumber: Lap Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Jatim 2003-2008 (dana dlm ribuan rp.) 06/07 07/08 1.062.452 1.136.268

Untuk jumlah peserta didik Taman Kanak-Kanak menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat yaitu tahun ajaran 2006-2007 neningkat menjadi 735.831 orang dengan jumlah guru 45.124, dan pada tahun 2007/2008 akan meningkat karena kesadaran masyrakat akan pentingnya pra sekolah atau lembaga TK, mendorong peran serta masyarakat dalam pendirian dan penyelenggaraan pendidikan usia dini dan TK dengan menambah lembaga PAUD di setiap kelurahan/ desa atau dusun jika memungkinkan, pembinaan kepala TK dan guru TK, disamping itu adanya intervensi program pengangkatan guru baik guru bantu maupun PNS pada tahun anggaran 2007/2008. Tabel 4.10.2 Program Pendidikan Taman Kanak-Kanak Anak usia 4-6 tahun Indikator Capaian Program Masukan Keluaran Tolok Ukur Kinerja 05/06 Anak usia 4-6 th 1.298.605 mendapatkan layanan TK Jumlah dana 1.500.000 1.550.000 5.635.000 1. Siswa masuk TK 686.523 735.831 798.046 2. Jumlah lembaga TK 14.453 15.453 16.047 Hasil Peningkatan penduduk usia 52.87% 56.05% 57.99% 4-6 thn masuk TK Kel. sasaran Peningkatan kualitas SDM 52.87% 56.05% 57.99% sejak dini Sumber: Lap Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Jatim 2003-2008 (dana dlm ribuan rp.) 06/07 07/08 1.312.896 1.376.178

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

283

2) Program Pendidikan Dasar (SD – SLTP) Dua tahun terakhir perkembangan APM Di Jatim untuk penduduk usia SD (7-12 tahun) mengalami peningkatan, yaitu 97,34% pada tahun 2006/2007 demikian juga APKnya. Sedangkan APS menjadi 98,42% pada tahun 2006/2007 meningkat dari sebelumnya tahun 2005/2006 sebesar 97,18% (Data BPS). APM dan APK anak usia SMP/MTs (13-15 tahun) mengalami peningkatan yaitu 86,08% pada tahun 2006/2007 (Data BPS). Dari data perkembangan APK dan APM tersebut menunjukkan bahwa Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun Jawa Timur sangat efektif dan signifikan terhadap kenaikan angka melanjutkan dari SD ke SMP, hal ini tidak sia-sia bila program subsidi biaya minimal pendidikan yang digagas oleh pemerintah Jawa Timur selanjutnya diadop secara nasional menjadi Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tetap dipertahankan kelanjutannya demi penuntasan wajib belajar 9 tahun. APK untuk SD/MI lebih besar dibanding dengan APK SMP/MTs. Dengan demikian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pendidikan dasar sangat tinggi dan sebaliknya menurun ketika masuk tingkatan yang lebih tinggi, hal ini

menggambarkan semakin tinggi pendidikan semakin berkurang kemampuan masyarakat untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Penurunan angka murid putus sekolah (DO) berkaitan erat dengan program pemberian bantuan operasional sekolah , khususnya terhadap siswa usia sekolah dari kalangan keluarga miskin yang setiap tahunnya diindikasikan semakin meningkat. Angka murid mengulang menurun menunjukkan bahwa kualitas proses

pembelajaran di sekolah semakin baik. Rasio guru dan murid pada tingkat SD/MI sangat besar yaitu 15:1, ini menunjukkan kurangnya guru pada tingkat ini. Sedangkan ruang kelas yang paling banyak digunakan adalah pada tingkat SD/MI sebesar 1,04. Hal ini mennjukkan bahwa pada tingkat tersebut masih memerlukan ruang kelas tambahan. Untuk indikator angka mengulang dan putus sekolah , tingkat SMP/MTs memiliki kinerja yang bagus dibanding dengan SD/MI yang dinyatakan dengan nilai yang rendah.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

284

Tabel 4.10.3 Program Pendidikan Dasar Anak usia 7-12 tahun (SD/MI) Indikator Capaian Program Tolok Ukur Kinerja 05/06 Anak usia 7-12 th 3.861.031 mendapatkan layanan penddkan dasar Masukan Jumlah dana 1.500.000 2.300.000 13.987.000 Keluaran 1. Angka murid mengulang 3.31% 3.11% 3% 2. Angka murid putus 0.27% 0,24% 0.22% sekolah 3. Angka lulusan 99.99% 99.47% 99.73% 4. Rasio murid : kelas 23 24 23 5. Rasio kelas : ruang kelas 1.03 1.04 1.01 6. Rasio murid : guru 16 15 15 7. Rasio murid : sekolah 152 154 158 Hasil APM meningkat 97.24% 97.34% 97.99% APK meningkat 109.19 110.22 111.25 Sumber: Lap Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Jatim 2003-2008 Bila dilihat dari mutu guru, guru yang layak mengajar pada tingat SD/MI lebih kecil (61,64%) guru layak mengajar tingkat SMP/MI (78,19%). Untuk bidang pengajaran yang sesuai dengan ijazah, tingkat kesesuaian tertinggi di bidang IPS (111,34%) sedang yang terendah dibidang jasmani (91,26%). Beberapa terobosan telah dilakukan oleh pemerintah Jatim untuk mensukseskan program pendidikan dasar ini seperti: menyelenggarakan sekolah satu atap (SDSMP), mengoptimalkan pendidikan dasar di pesantren, pemanfaatan gedung sekolah terdekat untuk proses belajar mengajar kejar paket A dan B, pelaksanaan program BOS dari pusat didukung oleh pemerintah daerah dan kota serta rehabilitasi gedung yang rusak. (dana dlm ribuan rp.) 06/07 07/08 3.903.502 3.956

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

285

Tabel 4.10.4 Program Pendidikan Dasar Anak usia 13-15 tahun (SMP/MTs) (dana dlm ribuan rp.) Tolok Ukur Kinerja 05/06 06/07 07/08 Anak usia 13-15 th 1.861.874 1.813.817 1.903.147 mendapatkan layanan penddk dasar Masukan Jumlah dana 3.400.000 3.500.000 8.095.000 Keluaran 1. Angka murid mengulang 0.16% 0.16% 0.14% 2. Angka murid putus sekola 0.33% 0.33% 0.31% 3. Angka lulusan 99.98% 99.62% 99.90% 4. Rasio murid : kelas 38 39 37 5. Rasio kelas : ruang kelas 0.89 0.90 1.0 6. Rasio murid : guru 12 12 12 7. Rasio murid : sekolah 277 285 272 Hasil APM meningkat 71.22% 76.39% 79.08% APK meningkat 89.21% 96.84% 99.74% Sumber: Lap Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Jatim 2003-2008 Indikator Capaian Program 3) Program Pendidikan Menengah APM SLTA yang meningkat (44,28%), penurunan angka putus sekolah (0,92%) dan penurunan angka mengulang kelas (0,34%) menunjukkan kualitas proses belajar mengajar di sekolah yang semakin baik. Peningkatan kinerja di tingkat kejuruan juga mengalami peningkatan. Dilihat dari rasio murid SMK dibanding murid SMA meningkat dari 0,65% menjadi 0,69%. Jumlah lembaga SMK negeri dari 96 menjadi 174 dan SMK swasta menjadi 925 lembaga. Dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas SMK telah diupayakan sistem manajemen berstandar internasional melalui penerapan ISO, sebagai hasilnya 6 SMK telah mendapatkan sertifikat ISO 9001-2000. Selain itu sebanyak 29 lemabga SMK telah memperoleh penetapan Dirjen Dikdasmen Depdiknas sebagai Sekolah Nasional Bertaraf Internasional. Sebagai program penunjang keberhasilan pendidikan menengah ini propinsi Jatim akan terus menambah jumlah SMK di Kab/Kota/Kecamatan sebagai prioritas sehingga siswa dapat mendapatkan keterampilan dan keahlian sekaligus

mendukung program GERDU TASKIN untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Selain itu akan dibuka SMK kecil di SMP, pondok pesantren dan pedsaan terpencil serta pengembangan SMK sebagai PPKT (Pusat Pendidikan dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

286

Pelatihan Kejuruan Terpadu) dan sebagai CC (Community College). Disamping akan diadakan re-engineering SMK (analisis potensi wilayah). Tabel 4.10.5 Program Pendidikan Menengah Anak usia 16-18 tahun (SMA/SMK) Indikator Capaian Program Tolok Ukur Kinerja 05/06 Anak usia 16-18 th 1.787.687 mendapatkan layanan peddkn menengah Masukan Jumlah dana 7.400.000 6.600.000 36.865.000 Keluaran 1. Angka murid mengulang 0.35% 0.34% 0.33% 2. Angka murid putus 0.94% 0.92% 0.90% sekolah 3. Angka lulusan 99.78% 97.45% 99.78% 4. Rasio murid : kelas 40 41 39 5. Rasio kelas : ruang kelas 0.94 0.95 1.0 6. Rasio murid : guru 12 13 11 7. Rasio murid : sekolah 339 362 251 Hasil APM meningkat 42.56% 44.28% 45.27% Kel Sasaran SDM meningkat 42.56% 44.28% 45.27% Sumber: Lap Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Jatim 2003-2008 4) Program Pendidikan Luar Biasa Bentuk satuan pendidikan luar biasa terdiri atas: TKLB, SDLB, SLTPLB dan SMLB. Program yang diprioritaskan meliputi: peningkatan fungsi center di SLB/C negeri pembina Lawang-Malang, penyelenggaraan pendidikan adaptif bagi siswa PLB, penangan anak autis secara intensif, pengembangan uji coba Pendidikan Terpadu/Inklusi, percepatan belajar/akselerasi dan berbasis kompetensi serta pengembangan program rehabilitasi pada semua jenis kelainan. Jenis SLB yang jumlah muridnya paling sedikit adalah Sekolah Tuna Laras dan yang paling banyak adalah Sekolah Tuna Rungu. Jumlah murid di semua tingkatan mengalami kenaikan. Hal ini merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya yang berkebutuahn khusus. Rasio guru dan murid adalah 1:5. (dana dlm ribuan rp.) 06/07 07/08 1.807.366 1.827.315

5) Program Pendidikan Luar Sekolah Penyelenggaraan program pendidikan luar sekolah diarahkan pada peningkatan kemampuan dasar dan keterampilan berwiraswasta sebagai bekerja dan berkarya.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

287

Program ini meliputi: Pemberantasan Buta Aksara/Keaksaraan Fungsional, Paket A, Paket B, PAUD dan Pendidikan berkelanjutan. Program pemberantasan buta aksara (latin dan angka, bahasa Indonesia, dan pendidikan dasar) dilihat dari indikator Angka Buta Huruf (ABH) penduduk laki-laki (1,17%) lebih rendah daripada Angka Buta Huruf wanita (2,84%). Secara keseluruhan ABH sampai dengan 2005 sebesar 12,59%. Untuk pemberantasan buta huruf usia 10-44 tahun tinggal 352.238 orang karena telah tergarap sebesar 405.417 orang. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) telah menyelanggarakan program kesetaraan

Paket A (4.948 orang), Paket B (31.664 orang), Paket C (25.024 orang), Kejar Usaha (1.300 orang) dan Magang (635 orang). Sedangkan program PAUD (4.185 lembaga), dengan 12.982 guru, 123.853 warga belajar, 436 lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan 87 lembaga Program Life Skill yang didanai melalui PKPS-BBM. Gerakan yang dipelopori oleh pemerintah Jatim sebagai uapaya untuk

pemberantasan buta huruf dikenal dengan “Strategi Garap Tuntas secara Bertahap dan Bergulir” yang merupakan kerjasama organisai sosial masyarakat

(PKK,PGRI,Pondok Pesantren, Perguruan Tinggi, LSM dan Ormas) dengan memfungsikan Kasi/Penilik sebagai pembina teknis pelaksanaan PLS di tingkat kecamatan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

288

Tabel 4.10.6 Program Pendidikan Luar Sekolah Penduduk usia 15-44 tahun (dana dlm ribuan rp.) Tolok Ukur Kinerja 05/06 06/07 07/08 Pendduk usia sekolah 361.027 192.490 361.027 mendapatkan layanan penddkn Masukan Jumlah dana 4.000.000 6.500.000 10.385.000 Keluaran 1. Keaksaraan fungsional 3.31% 3.36% 3.21% 2. Kejar Paket A 0.27% 0.24% 0.20% 3. Kejar Paket B 99.99% 99.47% 99.60% 4. Kejar Paket C 23 24 24 5. Kejar Usaha 1.03 1.04 1.04 6. PKBM 16 15 16 7. Jumlah kursus 152 154 155 Hasil Jml usia seklh yg buta huruf 3.31% 3.36% 3.26% menurun Kel Sasaran SDM meningkat 3.31% 3.36% 3.26% Sumber: Lap Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Jatim 2003-2008 Indikator Capaian Program 6) Program Pendidikan Tenaga Kependidikan Jumlah total guru di Jawa Timur sampai tahun 2007/2008 sebesar 501.884 orang. Sampai sekarang persentase guru yang telah berpendidikan S1 dan S2 sebanyak 53,25% dan sisanya (46.75%) masih belum memenuhi kualifikasi. Jumlah guru semakin meningkat yaitu 199.562 pada tahun 2006/2007 dibanding tahun sebelumnya sejumlah 174.855. Dilihat dari tingkat pendidikan menunjukkan bahwa guru SD paling banyak lulusan S1, hal ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun kualitas guru semakin meningkat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

289

Tabel 4.10.7 Program Pembinaan Tenaga Kependidikan Indikator Capaian Program Masukan Keluaran Tolok Ukur Kinerja Jumlah Guru 05/06 482.493 (dana dlm ribuan rp.) 06/07 07/08 506.323 527.422

Jumlah dana 9.970.000 16.500.000 34.130.000 Guru SD menurut ijasah 482.498 506.323 527.422 1. SMP/SMA 79.457 81.910 76.084 2. D1 8.677 7.536 7.140 3. D2 87.742 100.081 112.420 4. D3 40.830 41.301 41.435 5. S1 Pendidikan 238.275 240.849 249.581 6. S1 lain 22.843 27.295 31.750 7. S2 4.674 7.351 9.012 Hasil Kualifikasi guru 55.1% 54.4% 55.05% Kel Sasaran Peningkatan SDM guru 55.1% 54.4% 55.05% Sumber: Lap Pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Jatim 2003-2008 7) Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Beberapa permasalahn seperti kurangnya saran dan prasarana penunjang kegiatan layanan mulai dipenuhi yaitu melalui efisiensi dana untuk Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan serta pendekatan masyarakat desa melalui pemberdayaan perpustakaan desa. Langkah konkrit untuk peningkatan minat baca masyarakat dengan membentuk kelompok baca/ komunitas baca. Untuk kualitas layanan dikembangkan program bimbingan teknis untuk pengelola perpustakaan secara berkala.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Berdasarkan perkembangan pembangunan pedidikan beserta dinamika yang terjadi di daerah Jawa Timur, berikut disampaikan beberapa rekomendasi sebagai tindak lanjut program pendidikan yang lebih berkualitas 1. Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Masyarakat Program ini merupakan upaya untuk menyediakan sumberdaya yang kompeten dan profesional serta membangun masyarakat yang toleran (Daniel Mohammad Rosyid, 2008). Program ini mengarah pada pengembangan sektor kreatif yang dimiliki oleh masyarakat sehingga diharapkan mampu menyumbangkan

kompetensi sosial disetiap dimensi pendidikan yang akan bermuara pada pembentukan mentalitas wirausaha. Pengejawentahan program ini belum tergarap

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

290

utuh pada sektor sekolah/pesantren, pengembangan budaya good school governance serta pengembangan program pendidikan ketrampilan dan vokasional yang akan mendukung sektor riil. 2. Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. Pelaksanaan program ini meletakkan peran masyarakat menjadi strategis, karena bersama pihak sekolah tidak hanya bertindak sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai perencana dan penentu mutu proses penyelenggaraan kegiatan pembelajaran siswa (Bagong Suyanto, 2008). Program ini dikonkritkan dengan pemberdayaan Komite Sekolah guna peningkatan kualitas pendidikan,

implementasi pengembangan potensi pengajar disetiap unit pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan peningkatan kualitas. 3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor penyebab anak putus sekolah sebagai pendukung implementasi mensukseskan program wajib belajar 9 tahun. Karena dengan melihat akar permasalahan yang mendasar dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan program secara tepat sasaran. Sebagai contoh: anak yang bekerja cenderung putus sekolah. Hal ini karena adanya beban ganda yang berat yaitu tekanan ekonomi dan faktor lain yang sifatnya struktural (Bagong Suyanto, 2008). Selain itu pembangunan model sekolah satu atap dapat diterapkan untuk menekan angka putus sekolah pada daerah yang terpencil dan kesulitan transportasi.

VII. Penutup Perkembangan pembangunan pendidikan di daerah Jawa Timur diharapkan mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan pendidikan secara nasional. Jawa Timur sebagai salah satu sentra pendidikan diharapkan mampu menyiptakan terobosan-terobosan baru yang bersinergi antara pemerintah dan

masyarakat terhadap pengembangan pembangunan pendidikan. Untuk itu peran masyarakat sebagai subyek pendidikan harus lebih dioptimalkan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

291

I. Pengantar Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Bambang Hartono, salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan hasil pemantauan terhadap pencapaian hasil pembangunan kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan pelayanan minimal adalah Profil Kesehatan Kabupaten/Kota. Dengan demikan dapat dikatakan bahwa profil kesehatan Kabupaten/Kota ini pada intinya berisi berbagai data/informasi yang menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten/Kota. Di Jawa Timur pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan kesehatan nasional yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap upaya pelayanan kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan juga merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan pembangunan ekonomi serta berperan penting terhadap penanggulangan kemiskinan sehingga dikatakan pembangunan kesehatan adalah suatu investasi bagi pembangunan masyarakat di Jawa Timur . Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan telah berhasil meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat, antara lain dilihat dari beberapa indikator seperti kematian bayi, angka kematian ibu dan umur harapan hidup waktu lahir (UHH) yang terus mengalami perbaikan. Status gizi pada anak balita, walaupun terus terjadi kecenderungan menurun, sempat terjadi stagnasi sehingga diperlukan upaya yang lebih keras dan intensif. Keberhasilan pembangunan kesehatan dipengaruhi oleh faktor yang mencakup akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang terus membaik. Akses pelayanan kesehatan ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah, jaringan, dan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, puskesmas perawatan, puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan pos kesehatan desa. Meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan yang murah dan memadai untuk peningkatan produktivitas masyarakat. Peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

292

pelayanan kesehatan yang murah dan memadai sangat penting untuk peningkatan produktivitas sumber daya manusia, sebab hanya sumber daya manusia yang sehat, yang dapat beraktivitas dan mengembangkan diri. Upaya kesehatan harus dilakukan sejak dini dan berkesinambungan. Pemberian gizi yang cukup serta perilaku sehat sangat penting bagi kesehatan dan pertumbuhan balita. Anak yang sehat akan lebih berkonsentrasi dalam belajar, pekerja yang sehat akan lebih produktif dalam pekerjaannya, serta ibuibu yang sehat akan melahirkan anak-anak yang sehat pula, dan angka kematian bayi pun dapat ditekan. Tingkat kesehatan juga dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, karena pendapatan akan mempengaruhi tingkat konsumsi, dan tingkat konsumsi berkaitan dengan kesehatan. Mereka yang berpendapatan tinggi akan memiliki kemampuan memperbaiki tingkat konsumsi, yang pada akhirnya akan meningkatkan taraf gizi penduduk, dan taraf kesehatan, serta menurunkan tingkat kematian penduduk. Karena itu, peningkatan aksesibilitas pelayanan kesehatan yang murah dan memadai menjadi sangat relevan bagi masyarakat miskin.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah Dari total 3,1 juta balita di Jawa Timur, sekitar 16,5 persen atau 511.500 jiwa di antaranya menderita gizi kurang. Rendahnya kesadaran orang tua untuk memberikan asupan terbaik kepada anak merupakan penyebab utama. Beberapa permasalahan yang menjadi issu penting yang terjadi di Jawa Timur adalah sebagai berikut : 1. Kualitas dan akses pelayanan kesehatan yang belum optimal serta belum

merata dan terjangkaunya dan pelayanan kesehatan. Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan, Puskesmas dan jaringannya merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan tugas pokok menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar. Secara konseptual

Puskesmas menganut konsep wilayah dan diharapkan 1 puskesmas dapat melayani rata-rata 30.000 penduduk. Sampai dengan tahun 2008 telah berdiri 931 Puskesmas di Jawa Timur dengan rasio terhadap penduduk adalah 1: 39.677 artinya 1 Puskesmas rata-rata masih melayani 39.677 jiwa, hal ini memperlihatkan bahwa jumlah puskesmas di Jawa Timur masih kurang. Untuk memperluas jangkauan pelayanan Puskesmas telah dikembangkan Puskesmas pembantu (Pustu) yang berjumlah 2.222 dengan rasio 1 puskesmas dibantu oleh 2-3 pustu dan Puskesmas Keliling (Pusling) sebanyak 1.042 unit yang berarti setiap puskesmas telah memiliki

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

293

minimal 1 pusling, sehingga diharapkan dapat menjangkau seluruh wilayah Jawa Timur. 2. Adanya permasalahan gizi secara langsung disebabkan karena ketidak seimbangan antara asupan dan kebutuhan gizi. Gizi merupakan salah satu penentu dari kualitas sumber daya manusia. Adanya permasalahan gizi secara langsung disebabkan antara lain karena ketidak seimbangan antara asupan dan kebutuhan gizi. Hal ini didasari oleh kondisi sosial ekonomi dan budaya keluarga, seperti pola asuh/pola makan, tingkat daya beli dan tingkat pengetahuankeluarga khususnya yang berkaitan dengan gizi. Pelayanan gizi terutama pada balita kurang gizi masih harus ditingkatkan, karena jumlah balita gizi buruk masih cukup banyak. Dari 5.461 balita gizi buruk yang ada, sebanyak 4.445 kasus telah mendapat intervensi dan 253 kasus telah mengalami pertambahan berat badan sedangkan sisanya sebanyak 3.409 kasus masih terus dalam intervensi karena belum menunjukkan perbaikan signifikan. Hal ini disebabkan karena tingkat kesembuhan membutuhkan waktu lama sehingga terus berulang sebagai kasus lama, sedangkan kasus baru juga muncul karena pola asuh/ pola makan tidak tepat atau kurang benar serta kurang terpenuhinya kebutuhan gizi terutama pada keluarga miskin.

3. Kualitas lingkungan yang belum mendukung Jumlah sarana kesehatan lingkungan di Jawa Timur cukup banyak sehingga belum dapat dilakukan pembinaan seluruhnya mengingat keterbatasan tenaga dan sarana pendukungnya. Dana pendamping yang berasal dari Kabupaten/Kota kurang memadai dalam mendukung operasionalisasi ditingkat lapangan.

4. Kurang optimalnya pelayanan kesehatan ibu dan anak Indikator yang digunakan dalam pengukuran peningkatan derajat kesehatan penduduk yaitu Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Harapan Hidup (AHH). Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menempati posisi tertinggi di negara ASEAN. Penurunan AKI di Indonesia terlihat sangat lambat. Menurut hasil berbagai survei, AKI di Indonesia saat ini berkisar antara 300 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKI di negara maju hanya sekitar 10 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan target sasaran berdasarkan Indikator Indonesia Sehat 2010 sebesar 150 per 100.000 kelahiran hidup. AKI yang tinggi di Indonesia menunjukkan masih buruknya tingkat kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

294

5. Tingginya penderita HIV/AIDS Tingginya penderita HIV/AIDS di Jatim membuat Pemprov Jatim gerah, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Provinsi untuk menekan angka tersebut. Menurut Prof Yusuf Baraba dari RSU dr Soetomo mengatakan, tingginya kasus HIV/AIDS di Jatim, disebabkan kurangnya perhatian dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam pencegahan kasus ini diperlukan penanganan yang berlanjut. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi Jatim, sampai dengan Oktober 2008, jumlah kasus penderita AIDS yang dilaporkan mencapai 2.490 kasus, dan 580 atau 23% meninggal dunia. Hal ini jika dibandingkan dengan kenyataan di lapangan jauh lebih besar. Data hasil estimasi sampai 2010 diperkirakan jumlah orang dengan HIV AIDS (ODHA) mencapai 20.810 orang. Berdasarkan jenis kelamin, total kasus untuk pria mencapai 1.793 atau 71%. Wanita mencapai 731 atau 29%, sementara berdasarkan usia, yakni 20-24 tahun sebanyak 369 kasus, usia 25-29 sebanyak 732 kasus, 30-34 sebanyak 208 kasus. Dan untuk anak-anak sebanyak 37 kasus. Penemuan kasus paling tinggi di berbagai kabupaten/kota Jatim, pertama yakni, Kota Surabaya dengan 775 kasus, estimasi ODHA sebanyak 4.290, lalu Sidoarjo, Malang 497 kasus, 1.310 ODHA, Sidoarjo 217 kasus, 490 ODHA, Kediri 111 kasus, 990 ODHA, Pasuruan 113 kasus, dan 90 ODHA, Tulungagung 120 kasus dan 470 ODHA, Jombang 66 kasus, dan 110 ODHA.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran pembangunan kesehatan di Jawa Timur pada tahun 2005-2010 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya melalui peningkatan jangkauan / akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang antara lain tercermin dari beberapa indikator sebagai berikut : 1. Menurunnya angka kematian bayi dari 39 menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup 2. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 334 per 100.000 KH menjadi 226 per 100.000 kelahiran hidup 3. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 26 persen menjadi 15 persen. 4. Cakupan sarana kesehatan dengan kemampuan pelayanan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat dari 40% menjadi 80% 5. Tersedianya obat generik dari 79.9% menjadi 90% 6. Cakupan Posyandu Purnama dari 26.4% menjadi 36%

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

295

7. Cakupan air bersih dari 86,7% menjadi 88.47%

IV. Arah Kebijakan Dalam upaya mencapai sasaran tersebut, kebijakan pembangunan kesehatan diarahkan pada: 1. Peningkatan kualitas pelayanan pada setiap strata pelayanan. 2. Pengembangan jaminan kesehatan bagi penduduk terutama keluarga miskin; 3. Peningkatan kualitas, kuantitas dan pendayagunaan tenaga kesehatan; 4. Peningkatan kualitas lingkungan sehat dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat; serta mendorong pemberdayaan masyarakat. 5. Peningkatan pembinaan dan pengawasan obat dan perbekalan kesehatan 6. Pemerataan dan peningkatan kualitas fasilitas atau sarana dan prasarana kesehatan 7. Pengembangan manejemen dan regulasi bidang kesehatan

Arah kebijakan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tersebut dijabarkan dalam program-program pembangunan sebagai berikut: 1. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Program ini ditujukan untuk memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat agar sadar, mau dan mampu hidup sehat. Kegiatan pokok yang dilaksanakan dalam program ini antara lain meliputi: Pengembangan dan perumusan pedoman promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE); Pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat dan terutama generasi muda; Peningkatan pendidikan dan pengetahuan kesehatan kepada masyarakat.

2. Program Lingkungan Sehat Program ini ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang lebih sehat. Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini antara lain meliputi: 1. Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar; 2. Pengawasan kualitas lingkungan; 3. Pengendalian dampak resiko lingkungan. 3. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Program ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah, pemerataan, kualitas dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

296

jangkauan pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan jaringannya meliputi puskesmas pembantu, puskesmas keliling dan bidan di desa. Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini antara lain meliputi: 1. Pelayanan kesehatan penduduk terutama penduduk miskin di puskesmas dan jaringannya; 2. Pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana puskesmas dan jaringannya; 3. Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat generik esensial; 4. Peningkatan dan pengembangan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup promosi kesehatan, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan dasar; 5. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan. 4. Program Upaya Kesehatan Perorangan Program ini ditujukan untuk meningkatkan akses, keterjangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini meliputi: 1. Pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin di rumah sakit dan atau rumah sakit khusus; 2. Pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana rumah sakit dan atau rumah sakit khusus; 4. Pengadaan peralatan dan perbekalan rumah sakit dan atau rumah sakit khusus; 5. Peningkatan dan pengembangan pelayanan kesehatan rujukan; 6. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan. 5. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Program ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat penyakit menular dan penyakit tidak menular. Prioritas penyakit menular yang akan ditanggulangi adalah malaria, demam berdarah dengue, diare, polio, filaria, kusta, TB, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Prioritas penyakit tidak menular yang ditanggulangi adalah penyakit jantung dan gangguan sirkulasi, diabetes mellitus, dan lain-lain.. Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program adalah: 1. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko; 2. Peningkatan imunisasi;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

297

3. Penemuan dan tatalaksana penderita; 4. Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan wabah; 5. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan

pemberantasan penyakit.

6. Program Perbaikan Gizi Masyarakat Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi dan balita.

Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini meliputi: 1. Peningkatan pendidikan dan penegtahuan tentang gizi; 2. Penanggulangan kurang energi protein (KEP), anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium (GAKY), kurang vitamin A, dan kekurangan zat gizi mikro lainnya ; 3. Peningkatan surveilens untuk kewsapadaan gizi. 4. Pelayanan kesehatan masyarakat di daerah rawan bencana 5. Peningkatan dan pengembangan pelayanan kesehatan daerah rawan bencana

7. Program Sumber Daya Kesehatan Program ini ditujukan meningkatkan jumlah, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan, serta meningkatkan jaminan pembiayaan kesehatan bagi penduduk miskin. Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini meliputi: 1. Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan; 2. Peningkatan keterampilan dan profesionalisme tenaga kesehatan melalui pendidikan, pelatihan dan pendayagunaan tenaga kesehatan; 3. Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan, terutama untuk pelayanan kesehatan di puskesmas dan jaringannya, serta rumah sakit; 4. Pembinaan tenaga kesehatan termasuk pengembangan karir tenaga kesehatan.

8. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan Program ini ditujukan untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, mutu,

keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan. Kegiatan pokok yang dilakukan program ini meliputi: 1. Peningkatan pengawasan obat dan makanan; 2. Penanggulangan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya (NAPZA);

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

298

3. Peningkatan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan; 4. Peningkatan mutu, pemerataan obat dan perbekalan kesehatan; 5. Pengembangan dan penelitian tanaman obat ; 6. Peningkatan promosi pemanfaatan obat bahan alam Indonesia.

9. Program Manajemen dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Program ini ditujukan untuk mengembangkan manajemen dan kebijakan

pembangunan kesehatan. Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program antara lain meliputi: 1. Pengkajian dan perumusan kebijakan / regulasi bidang kesehatan. 2. Pengembangan sistem perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan dan pengendalian. 3. Pengembangan sistem informasi kesehatan. 4. Penelitian dan pengembangan bidang kesehatan

V. Pencapaian RPJM Daerah Jawa Timur Tujuan Pembangunan Kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sesuai dengan Undang-Undang No. 23 tahun 1992. Untuk mengetahui gambaran derajat kesehatan masyarakat dapat diukur dari indikator-indikator yang digunakan antara lain layanan kesehatan, status gizi, kebersihan lingkungan, serta kesehatan ibu dan anak. Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan dari fasilitas kesehatan (fasility based) dan dari masyarakat (community based). Berikut pencapaian setiap indikator kesehatan masyarakat: Perkembangan jumlah sarana kesehatan di Jawa Timur selama 5 tahun terakhir menunjukan peningkatan, sementara dari segi pemerataan diharapkan sudah dapat menjangkau semua wilayah. Hal ini terlihat dengan berdirinya Puskesmas di setiap kecamatan, berkembangnya Pustu dan Polindes hingga ditingkat desa serta Posyandu yang telah menyatu dengan kegiatan masyarakat, maka diharapkan pelayanan kesehatan telah dapat menjangkau hingga pelosok wilayah Jawa Timur. Sementara untuk meningkatkan kualitas pelayanan terutama untuk keluarga miskin dan daerah terpencil telah dilakukan pengembangan puskesmas menjadi puskesmas rawat inap (perawatan, disebut juga Dengan Tempat Perawatan/DTP) sesuai standart. Pembangunan

puskesmas perawatan ini diprioritaskan pada puskesmas dengan kunjungan pasien

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

299

terbanyak, sehingga puskesmas tersebut dapat menjalankan fungsi sebagai ”pusat rujukan antara” yang melayani penderita gawat darurat sebelum dirujuk ke rumah sakit. Tolok Ukur dan Kinerja Program Pelayanan gizi di Jatim selama tahun 2003-2008 menunjukan perkembangan yang berfluktuatif. Dukungan dana dipergunakan untuk meningkatkan pelayanan gizi bagi masyarakat melalui berbagai macam pelatihan, fasilitasi, intervensi maupun kegiatan. Kurang Energi Protein (KEP), merupakan keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi kecukupan gizi. Pada KEP ringan, gejala klinis yang ditemukan adalah anak nampak kurus sedangkan pada KEP berat/gizi buruk selain nampak kurus biasanya disertai juga dengan penyakit infeksi. Untuk mencegah dan menanggulangi masalah KEP salah satunya dengan cara memantau tumbuh kembang balita melalui kegiatan penimbangan secara rutin di Posyandu dan memberikan intervensi secara langsung melalui pemberian makanan tambahan pemulihan (PMT-pemulihan) dan MP ASI kepada balita gakin. Sementara untuk kasus KLB balita gizi buruk diberikan bantuan makanan padat gizi (entrasol). Program ini ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang lebih sehat. Kegiatan pokok yang dilakukan dalam program ini antara lain meliputi: Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar; Pengawasan kualitas lingkungan; dan Pengendalian dampak resiko lingkungan. Optimalisasi tenaga sanitarian Puskesmas dalam melakukan pembinaan sarana kesehatan lingkungan perlu ditingkatkan antara lain dengan pemanfaatan sanitarian sesuai kompetensinya. Perlu advokasi penentu kebijakan di tingkat Kabupaten/Kota untuk mengalokasikan anggaran guna mendukung pembinaan sarana kesehatan lingkungan. Pelayanan kesehatan yang diberikan pada ibu, bayi, anak balita tahun 2008 menunjukan peningkatan pelayanan. Hal ini antara lain karena adanya untuk dukungan meningkatkan dana yang

dipergunakan

pelayanan

kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita melalui berbagai macam pelatihan, fasilitasi, stimulan maupun kegiatan. Peningkatan angka persalinan oleh tenaga kesehatan, keberhasilan program KB, peningkatan pelayanan dan penyediaan fasilitas kesehatan oleh Pemerintah serta semakin baiknya pengetahuan masyarakat akan kesehatan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

300

Untuk penangan AIDS/HIV dilakukan terapi antiretroviral (ARV). Pengobatan dengan ARV dilakukan melalui pelayanan komprehensif di 25 RS rujukan bagi ODHA pada tahun 2004 dan dikembangkan menjadi 153 RS rujukan pada tahun 2006 dan sekitar 200 RS pada tahun 2007 dan terus akan dikembangkan hingga mencakup semua RSUD (lebih dari 400 RS) kabupaten/kota pada tahun 2009. Upaya pencegahan penyakit AIDS terus ditingkatkan agar tidak terjadi penularan lebih luas.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Peningkatan aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang murah dan memadai dilakukan melalui: a. Mengembangkan dan menuntaskan gratis berobat bagi keluarga miskin di Puskesmas dan rumah sakit umum kabupaten/kota, dengan mengupayakan penyederhanaan mekanisme administrasi. b. Meningkatkan investasi kesehatan guna menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama keluarga miskin, termasuk realokasi anggaran kesehatan. c. Mengembangkan pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana Puskesmas dan jaringannya (Puskesmas Pembantu; Puskesmas Keliling; bidan di desa), termasuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan, terutama di Puskesmas dan jaringannya, serta rumah sakit kabupaten/kota. d. Menuntaskan revitalisasi Puskesmas dengan menyediakan layanan rawat inap, dan mengupayakan penyediaan tenaga dokter spesialis, serta perombakan sistem keuangan dan kapitasi Puskesmas berdasarkan kinerja, bukan teritorial. e. Menuntaskan revitalisasi upaya kesehatan bersumber masyarakat, Posyandu, dan meningkatkan kemandiriannya untuk memantau kesehatan ibu hamil, dan balita, terutama untuk mencegah munculnya kembali wabah polio, busung lapar, dan kurang gizi. f. Revitalisasi rumah sakit daerah, di mana rumah sakit kabupaten menjadi rumah sakit spesialis; dan rumah sakit propinsi menjadi rumah sakit super-spesialis. g. Meningkatkan ketersediaan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau, serta menjamin perlindungan risiko bagi masyarakat, terutama keluarga miskin, akibat pengeluaran biaya kesehatan. h. Mendorong lembaga penyedia layanan kesehatan untuk membuat standar pelayanan minimal yang disu.sun dan disepakati bersama stakeholders dan pihak-pihak yang berkepentingan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

301

i.

Memberdayakan kelembagaan masyarakat untuk peningkatan partisipasi dalam pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil, termasuk di pulau-pulau kecil.

j.

Meningkatkan upaya penanggulangan masalah kesehatan masyarakat, seperti AIDS/HIV, malaria, TBC, rendahnya status gizi, busung lapar, demam berdarah, flu burung, dan akses pelayanan kesehatan reproduksi.

k. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit menular, lingkungan sehat, kelangsungan dan perkembangan anak, gizi keluarga, serta perilaku hidup sehat. Taraf kesehatan masyarakat juga dipengaruhi kondisi lingkungan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat, serta ketersediaan air bersih. Rumah yang sehat dan terjaga sanitasinya, serta tersedianya air bersih merupakan salah satu prasyarat bagi kesehatan para penghuninya. Air bersih mutlak diperlukan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan minum/masak. Banyak penyakit yang timbul akibat tidak bersihnya air yang dikonsumsi. Kesulitan mendapatkan air bersih terutama disebabkan terbatasnya akses dan penguasaan sumber air, serta menurunnya mutu sumber air. Keterbatasan akses terhadap air bersih akan berakibat pada penurunan mutu kesehatan dan penyebaran berbagai penyakit lain, seperti diare. Pemenuhan kebutuhan masyarakat atas layanan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat, serta air bersih dilakukan melalui: a. Meningkatkan akses masyarakat terhadap perumahan, permukiman, dan sanitasi yang layak dan sehat. b. Memberdayakan kelembagaan masyarakat dalam mengembangkan forum lintas pelaku untuk menyelesaikan masalah permukiman, khususnya bagi masyarakat miskin. c. Meningkatkan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin dengan mengembangkan mekanisme relokasi permukiman ke tempat yang layak, aman, dan sehat, serta mencegah penggusuran tanpa kompensasi yang adil dan layak. d. Menyempurnakan peraturan perundang-undangan yang menjamin perlindungan hak masyarakat miskin atas perumahan. e. Mengembangkan sistem pembiayaan perumahan bagi masyarakat miskin, dan menyederhanakan prosedur perijinan, serta pengakuan hak atas bangunan perumahan rakyat dengan biaya murah dan cepat. f. Meningkatkan perlindungan terhadap sumber daya air, dan jaminan akses masyarakat ke air bersih.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

302

g. Memberdayakan kelembagaan masyarakat lokal untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya air melalui swaorganisasi dan swa-kelola. h. Meningkatkan perlindungan sosial melalui pengembangan mekanisme penyediaan air bersih bagi kelompok rentan dan masyarakat miskin yang tinggal di wilayah rawan air. i. Membentuk mekanisme subsidi silang sebagai alternatif pembiayaan dalam penyediaan air bersih untuk masyarakat miskin. j. Membentuk mekanisme penyediaan dan pengelolaan air bersih dan sanitasi lingkungan berbasis komunitas yang berpihak kepada masyarakat miskin. k. Meningkatkan pola kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam investasi dan pengelolaan bersama penyediaan air bersih dan aman, serta sanitasi bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin. VII. Penutup Data dan informasi merupakan sumber daya yang strategis bagi pimpinan dan organisasi dalam pelaksanaan manajemen, maka penyediaan data dan informasi yang berkualitas sangat diperlukan sebagai masukan dalam proses pengambilan keputusan. Dibidang kesehatan, data dan informasi ini diperoleh melalui penyelenggaraan sistem informasi kesehatan. Salah satu luaran utama dari penyelenggaraan dari sistem informasi kesehatan , sejak tahun 1998 telah dikembangkan paket sajian data dan informasi oleh Pusat Data Kesehatan RI, merupakan kumpulan informasi yang sangat penting, karena dibutuhkan baik oleh jajaran kesehatan, lintas sektor maupun masyarakat. Namun sangat disadari, sistem informasi kesehatan yang ada saat ini masih

belum dapat memenuhi kebutuhan data dan informasi kesehatan secara optimal, apalagi dalam era desentralisasi pengumpulan data dan informasi dari Kabupaten/Kota menjadi relatif lebih sulit . Hal ini berimplikasi pada kualitas data dan informasi yang disajikan dalam Profil Kesehatan Propinsi yang diterbitkan saat ini belum sesuai dengan harapan. Walaupun demikian, diharapkan Profil Kesehatan Propinsi dapat memberikan gambaran secara garis besar dan menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai. Walaupun Profil Kesehatan Propinsi sering kali belum mendapatkan apresiasi yang memadai, karena belum dapat menyajikan data dan informasi yang sesuai dengan harapan, namun ini merupakan salah satu publikasi data dan informasi yang meliputi data capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan

Indikator Indonesia Sehat 2010. Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan kualitas Profil Kesehatan Propinsi, perlu dicari terobosan dalam mekanisme pengumpulan data dan informasi secara cepat untuk mengisi kekosongan data agar dapat tersedia data dan informasi khususnya yang bersumber dari Kabupaten/Kota.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

303

I. Pengantar Perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan keterlantaran baik anak maupun lanjut usia, kecacatan, ketunasosialan, dan bencana alam, serta bencana sosial. Masalah kesejahteraan sosial merupakan masalah sosial yang sangat kompleks, sehingga membutuhkan upaya penanganan yang holistik dan terpadu. Masalah sosial menyangkut masalah konvensional (keterbelakangan, dan kebodohan ) maupun korban pembangunan. Masalah konvensional meliputi: anak terlantar, anak nakal, tuna susila, gelandangan, pengemis, korban penyalahgunaan narkotika dan aditif, wanita dan lansia yang diperlakukan salah / korban kekerasan, penyandang cacat, bekas narapidana, jompo terlantar, wanita rawan social, ekonomi, keluarga miskin, keluarga yang kondisi dan perumahan dan lingkungan tidak layak, perintis kemerdekaan, keluarga pahlawan nasional, keluarga bermasalah sosial psikologis, korban bencana alam dan musibah lainnya, masyarakat terasing, balita terlantar dan anak jalanan. Meskipun beberapa kali rezim pemerintahan berganti, taraf kesejahteraan rakyat Indonesia masih belum maksimal. Pemenuhan taraf kesejahteraan sosial perlu terus diupayakan mengingat sebagian besar rakyat Indonesia masih belum mencapai taraf kesejahteraan sosial yang diinginkannya. Upaya pemenuhan kesejahteraan sosial menyeruak menjadi isu nasional. Asumsinya, kemajuan bangsa ataupun keberhasilan suatu rezim pemerintahan, tidak lagi dilihat dari sekedar meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi. Kemampuan penanganan terhadap para penyandang masalah kesejahteraan sosial pun menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Seperti penanganan masalah: kemiskinan, kecacatan, keterlantaran, ketunaan sosial maupun korban bencana alam dan sosial. Kemajuan pembangunan ekonomi tidak akan ada artinya jika kelompok rentan penyandang masalah sosial di atas, tidak dapat terlayani dengan baik. Bahkan muncul anggapan jika para penyandang masalah sosial tidak terlayani dengan baik, maka bagi mereka Kemerdekaan adalah sekedar lepas dari penjajahan. Untuk itu pembangunan bidang kesejahteraan sosial terus dikembangkan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

304

bersama dengan pembangunan ekonomi. Penanganan masalah kemiskinan harus didekati dari berbagai sisi baik pembangunan ekonomi maupun kesejahteraan sosial. Dalam kehidupan masyarakat telah banyak tumbuh dan berkembang usaha

kesejahteraan sosial serta profesi layanan untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang bersifat parsial dan spesiais. Anak, penyandang cacat, serta lanjut usia tergolong sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang perlu mendapat perhatian khusus dengan segala tantangan dan keterbatasan sumber-sumber yang dimiliki. Untuk masing-masing daerah jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial berbeda-beda. Untuk mengatasi masalah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) tersebut diperlukan jaringan kerjasama dalam bentuk kelompok-kelompok kerja yang permanen yaitu kelompok-kelompok kerja (POKJA) yang bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam bentuk pembangunan sosial dan usaha kesejahteraan sosial (UKS) dan untuk daerah-daerah di Jawa Timur harus sesuai dengan BKKKS ( Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial) Propinsi Jawa Timur, yang kegiatannya difokuskan pada bidang lanjut usia, penyandang cacat, anak dan remaja. Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Propinsi Jawa Timur merupakan organisasi sosial non pemerintah yang mendukung kegiatan pemberdayaan dan pelayanan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dengan sasaran program penyandang cacat, anak dan remaja serta lanjut usia dengan mengadakan kegiatan bekerjasama dengan Instansi terkait. Masalah sosial di Jawa Timur menunjukkan perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi dengan rata-rata diatas 5 % pertahun.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah Permasalahan yang muncul berkenaan dengan perlindungan dan kesejahteraan social adalah: Pertama: Rendahnya kualitas penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Penyandang cacat masih menghadapi kendala untuk kemandirian, produktivitas dan hak untuk hidup normal yang meliputi antara lain akses ke pelayanan sosial dasar, terbatasnya jumlah dan kualitas tenaga pelayanan sosial untuk berbagai jenis kecacatan, dan aksesibilitas terhadap pelayanan umum untuk

mempermudah kehidupan mereka. Tentang aksesibilitas penyandang cacat bahwa tidak ada satupun Daerah di Jawa Timur yang sudah memiliki PERDA tentang aksesibilitas bagi penyandang cacat. Sementara di tingkat operasional, realisasi dari Undang -Undang No. 4/1997 dan Peraturan Pemerintah No. 43/1998 serta ketentuan lainnya tentang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

305

penyediaan

aksesibilitas

bagi

penyandang

cacat

pada

bangunan

umum

dan

lingkungannya masih jauh dari harapan. Demikian pula pada level pengusaha dan pengelola fasilitas bangunan umum di setiap Daerah di Jawa Timur, belum menunjukkan adanya realisasi dari UU No. 4/1997 dan PP No. 43/1998, kecuali satu dua Rumah Sakit dan Hotel tertentu. Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman dan belum adanya kesadaran mewujudkan penyediaan aksesibilitas bagi penyandang cacat di Daerah, antara lain karena tidak adanya concern, sosialisasi dan advokasi kepala daerah masing masing. Meski demikian, aksesibilitas non fisik yang sudah pernah diberikan pada penyandang cacat netra hanya di kabupaten Blitar. Ketiga, peran Organisasi Sosial dalam memperjuangkan terwujudnya aksesibilitas bagi penyandang cacat di berbagai Daerah di Jawa Timur, masih sangat rendah, dan bahkan secara umum belum ada tanda-tanda ke arah itu. Sedangkan masalah ketunasosialan yang terdiri dari gelandangan dan pengemis serta tuna susila, selain disebabkan oleh kemiskinan juga diakibatkan oleh

ketidakmampuan individu untuk hidup dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan. Masalah lainnya adalah rendahnya kualitas manajemen dan profesionalisme pelayanan kesejahteraan sosial dan belum serasinya kebijakan kesejahteraan sosial di tingkat nasional dan daerah. Kedua: Masih lemahnya penanganan korban bencana alam dan sosial. Peristiwa bencana alam merupakan kejadian yang sulit diperkirakan secara tepat. Permasalahan pokok yang dihadapi adalah masih terbatasnya kemampuan sumber daya manusia dan teknologi untuk memprediksi kemungkinan terjadinya bencana alam. Selain itu, masih adanya sikap mental sebagian warga masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah rawan bencana alam yang menghambat kelancaran penanganan bencana. Penanganan eks-korban kerusuhan sosial (termasuk pengungsi) yang terjadi di berbagai daerah sebagai akibat dari kerusuhan dan gejolak sosial berjumlah sangat banyak dan tersebar di berbagai lokasi, perlu terus diupayakan agar terjaga kelangsungan hidupnya. Hal ini dapat menimbulkan masalah lain, seperti penempatan kembali eks-korban kerusuhan sosial di lokasi asal maupun baru, masalah sosial psikologis dan kecemburuan sosial antara pendatang dengan penduduk setempat, dan keterlantaran anak di lokasi pengungsian. Pada tahun 2003 jumlah korban bencana alam yang harus ditangani sekitar 1,13 juta jiwa, sedangkan eks-korban kerusuhan sosial sekitar 654,9 ribu jiwa (Data Departemen Sosial). Data tersebut setiap tahunnya mengalami peningkatan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

306

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran perlindungan dan kesejahteran sosial pada tahun 2004 -2009 (RPJMN 2004-2009) adalah: 1. Meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah keseahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar, 2. Meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, 3. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan, 4. Meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga dan komunitas masyarakat dalam maencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial, 5. Tersusunnya sistem perlindungan sosial nasional, 6. Meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial, 7. Terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial, dan 8. Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial.

IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan perlindungan dan kesejahteraan sosial yang memperhatikan keserasian kebijakan nasional dan daerah serta kesetaraan gender, adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas pelayanan dan bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial; 2. Meningkatkan pemberdayaan fakir miskin, penyandang cacat, dan kelompok rentan sosial lainnya; 3. Meningkatkan kualitas hidup bagi PMKS terhadap pelayanan sosial dasar, fasilitas pelayanan publik, dan jaminan kesejahteraan sosial; 4. Mengembangkan dan menyerasikan kebijakan untuk penanganan masalahmasalah strategis yang menyangkut masalah kesejahteraan sosial; 5. Memperkuat ketahanan sosial masyarakat berlandaskan prinsip kemitraan dan nilai-nilai sosial budaya bangsa; 6. Mengembangkan sistem perlindungan sosial nasional; 7. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial dalam mendayagunakan sumber-sumber kesejahteraan sosial; 8. Meningkatkan pelayanan bagi korban bencana alam dan sosial; dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

307

9. Meningkatkan prakarsa dan peran aktif masyarakat termasuk masyarakat mampu, dunia usaha, perguruan tinggi, dan Orsos/LSM dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan Prioritas pembangunan dan arah kebijakan meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah : penanggulangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran, peningkatan investasi, revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan, pembangunan perdesaan dan pengurangan ketimpangan antar wilayah, peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan dan layanan kesehatan yang berkualitas, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial, pembangunan kependudukan yang berkualitas, dan percepatan pembangunan infrastruktur .

V. PENCAPAIAN RPJMN DI JAWA TIMUR a. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya. Tujuan Program ini adalah terjaminnya perlindungan sosial bagi kelompok masyarakat rentan dan kurang beruntung, aksesibilitas PMKS terhadap pelayanan sosial dasar, kuantitas dan kualitas, serta profesionalisme pelayanan sosial bagi PMKS, kemampuan masyarakat dalam memberi pelayanan sosial secara berkelanjutan, dan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah dan menangani permasalahan sosial serta meningkat dan melembaganya modal sosial bagi pembangunan kesejahteraan sosial. Sasarannya adalah keluarga kiskin, Keluarga bermasalah sosial psikologis, keluarga rentan dan Keluarga Komunitas Adat Terpencil. Pada tahun 2003–2007 mendapatkan alokasi dana sebesar Rp. 5.818.130.000,- dengan target capaian Program Pelatihan Ketrampilan Bagi PMKS (Pemberdayaan Fakir Miskin) selama tahun 20032007 sebanyak 2.600 KK, Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Keluarga sebanyak 845 orang serta Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) sebanyak 100 KK. Sedangkan hasil yang dicapai adalah termanfaatkannya pengetahuan dan ketrampilan keluarga miskin untuk usaha ekonomi produktif sebanyak 1.976 KK. Terbentuknya kelompok usaha bersama (KUBE) sebanyak 718 orang dan meningkatnya kemampuan keluarga KAT dalam menggali dan mendayagunakan sumberdaya lokal sebanyak 48 KK.bJumlah Keluarga Fakir Miskin di Jawa sampai dengan tahun 2007 sebanyak 6.351.797 orang, Keluarga Rentan 228.894 orang, dan Komunitas Adat Terpencil 12.866 orang. Sedangkan sampai dengan tahun 2007 penanganan Keluarga

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

308

Maskin sebanyak 6.820 KK, Keluarga rentan 1.240 KK, Komunitas Adat Terpencil 524 KK. Daftar PMKS berdasarkan data di Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur adalah: anak balita terlantar, anak terlantar, anak korban tindak kekerasan & perlakuan salah, anak nakal, anak jalanan, anak cacat, wanita rawan sosial ekonomi, wanita korban tindak kekerasan & perlakuan salah, lanjut usia terlantar, lanjut usia korban tindak kekerasan & perlakuan salah, penyandang cacat, penyandang cacat bekas penderita penyakit kronis, pengemis, tuna susila, gelandangan, bekas narapidana, korban penyalahgunaan narkotika, keluarga fakir miskin, keluarga berumah tak layak huni, keluarga bermasalah sosial psykologi, komunitas keluarga terpencil, masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, korban bencana sosial/pengungsi, pekerja imigran terlantar, pengidap HIV/AIDS, keluarga rentan, gelandangan psikotik Pola penanganan program kemiskinan, dapat dikategorikan menjadi empat pola, yakni rescue, recovery, grouth, dan akseleration. Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas), Dr H Soenyono SH MSi. Pola rescue (penyelamatan), yakni pola penanganan mengurangi kemiskinan hanya dalam jangka waktu pendek dan sebatas untuk menyelamatkan Rumah Tangga Miskin (RTM) agar tidak semakin terpuruk, khususnya pasca kenaikan harga BBM. Pola penanganan penyelamatan dituangkan melalui Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM (PAM-DKB). Namun pada 2007, pemerintah mengubah sistem maupun nama PAM-DKB menjadi jaringan pengaman ekonomi sosial (JPES). Pola penanganan yang dijalankan Pemprop Jatim selanjutnya adalah recovery (pemulihan). Bentuk program yang dipilih dalam pemulihan ini adalah Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdutaskin). Data penurunan jumlah penduduk miskin di Jawa Timur, berkaitan dengan pelaksanaan program Gerdu Taskin Tahun 2001 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : BPS Jatim Jumlah 7.267.843 jiwa 6.979.565 jiwa 8.390.996 jiwa 7.455.655 jiwa Persentase 20,91% 19,10% 22,51% 19,89% 18,89% 17,93%

Sejak 2002 hingga 2006, Gerdutaskin mampu membentuk lembaga keuangan mikro berupa Unit Pengelola Keuangan (UPK) yang mampu menyediakan modal usaha secara mudah, murah dan cepat di pedesaan sebanyak 1.410 UPK. Melalui programprogramnya, Gerdutaskin mampu menyerap pengangguran lokal sebanyak 215.037

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

309

orang, meningkatkan pendapatan masyarakat di lokasi program rata-rata Rp.176.523 atau 29 % dari Rp.430.757, menjadi Rp. 607.281. Gerdutaskin juga mampu menurunkan jumlah RTM dari 160.556 RTM menjadi 118.622 RTM atau sebesar 41.934 (26,12%), mengurangi beban pengeluaran RTM yang rentan melalui bantuan pemugaran rumah, beasiswa, dan santuan sosial di 1680 desa merah yang tersebar di Jatim. Setelah melalui proses pemulihan, pola yang dikembangkan selanjutnya adalah grouth (Pertumbuhan). Pola penanganan ini tetap menggunakan program Gerdutaskin, namun lebih diarahkan pada penguatan UPK, Program Pengembangan Ekonomi Kawasan (PPEK), serta Anti Poverty Program (APP). Setelah masyarakat miskin mulai menampakkan pertumbuhan, pola yang digunakan selanjutnya adalah akseleration (Percepatan). Pola ini juga masih menggunakan program Gerdutaskin. Penanganan kemiskinan di Jatim juga banyak dibantu oleh program-program dari pusat seperti Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Water Sanitation for Low Communities (WSLIC), kompensasi BBM yang dituangkan dalam Bantuan Langsung atau Santunan Tunai (BLT/SLT) dalam bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur desa/kelurahan. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) P2KP dan PPK, serta Program Keluarga Harapan (PKH). Guna mengatasi kemiskinan tersebut, Pemerintah Propinsi Jawa Timur menyikapi dengan berbagai kebijakan dan strategi program aksi yang berorientasi untuk menciptakan banyak lapangan kerja melalui program padat karya, baik reguler maupun non reguler, penguatan dan perluasan pasar serta investasi dengan sasaran kelompok keluarga miskin (Pokgakin). Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan (PAM-DKB) telah ditindaklanjuti dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor: 188/1/KPTS/013/2006 tentang Bantuan Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan Propinsi Jawa Timur (PAM-DKB) dan Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Timur Nomor: 188/2/KPTS/013/2006 tentang Komite Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan (PAM-DKB).

b. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma Tujuan dari Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma adalah tersampaikannya santunan untuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyandang cacat, tersampaikannya pengetahuan dan ketrampilan tentang usaha ekonomi produktif bagi penyandang cacat. Sasaran dari program ini dimaksudkan untuk pembinaan para penyandang cacat. Program ini dari tahun 2003 – 2007 mendapatkan pembiayaan sebesar Rp.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

310

3.421.000.000,00 .Target capaian program Penyantunan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat selama tahun 2003 - 2007 sebanyak 2.750 orang dengan hasil peningkatan kemampuan dan ketrampilan penyandang cacat dan meningkatnya rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri para penyandang cacat sebanyak 2.359 orang. Jumlah penyandang cacat di Jawa Timur pada tahun 2007 sebanyak 84.542 orang dan yang sudah tertangani sebanyak 1.079 orang Permasalahnya tidak meningkatnya kemampuan dan ketrampilan penyandang cacat dan belum meningkatnya rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri para penyandang cacat. Upaya yang dilakukan dengan memberikan santunan untuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyandang cacat dan memberikan pengetahuan dan ketrampilan tentang usaha ekonomi produktif bagi penyandang cacat Untuk pertama kalinya pada tahun 2008 ini Departemen Sosial RI meluncurkan program penanganan bagi penyandang cacat berat di Jawa Timur, berupa pemberian bantuan dana jaminan sosial bagi penyandang cacat berat. Sebagai daerah ujicoba telah ditetapkan empat Kabupaten di Jatim dengan sasaran sebanyak 1000 penyandang cacat berat. Keempat kabupaten tersebut adalah: Kabupaten Blitar. Nganjuk, Magetan dan Lamongan, sedangkan pemberian bantuan dana jaminan sosial berupa uang tunai sebesar Rp. 300.000,-/orang per bulan yang diterimakan secara langsung oleh petugas Kantor Pos/PT Pos Indonesia setempat selama satu tahun. Apabila dievaluasi nanti berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan program, mungkin akan dapat dilanjutkan. Mengingat jumlah penyandang cacat di Jawa Timur cukup banyak, data dari Dinas Sosial ada sekitar 145 ribu penyandang cacat berat , maka agar dapat menjangkau keseluruh penyandang cacat berat secara bertahap dan berkesinambungan, diharapkan

pelaksanaan uji coba harus berjalan dengan lancar, akurat, tepat sasaran dan tepat penggunaan. Pemerintah melalui Departemen Sosial telah lama dan banyak melaksanakan program dan usaha-usaha kesejahteraan sosial bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), termasuk para penyandang cacat. Upaya- upaya pelayanan dan rehabilitasi sosial, baik melalui sistem panti dan luar panti, serta berbagai upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan hidup penyandang cacat telah pula banyak dilakukan. Namun semua itu belum cukup untuk mewujudkan amanat UUD 1945 Pasal 27 ayat (2) yang ditindak lanjuti dengan UU No. 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan dilengkapi oleh Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 1998 tentang upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

311

Jumlah penyandang cacat termasuk didalamnya penyandang cacat ganda setiap tahunnya cenderung meningkat, oleh karena itu memerlukan penanganan yang optimal dan perlu adanya kesamaan pemahaman dan koordinasi antar instansi terkait, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi sosial dan masyarakat sehingga

penanganannya dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terpadu. Dalam pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diharapkan ikut serta menangani permasalahan kesejahteraan sosial melalui Peraturan Daerah dengan mengalokasikan anggaran melalui APBD masing-masing.. c. Program Pembinaan Anak Terlantar Program ini bertujuan terpenuhinya kebutuhan dasar anak (pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan) dan terpenuhinya kebutuhan dasar anak jalanan (pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan) dan terdidiknya anak jalanan sehingga bisa trampil dan produktif. Sasaran dari program ini adalah Anak Terlantar Luar Panti dan Anak Jalanan. Program ini dari tahun 2003 – 2007 mendapatkan pembiayaan sebesar Rp. 3.283.233.500,00. Target capaian program yaitu Penyantunan Anak. Terlantar selama tahun 2003-2007 sebanyak 1.250 anak dan pembinaan anak jalanan 675 anak dengan hasil anak dapat terlindungi dan terjamin kondisi fisik, sosial dan psikologis, serta kelangsungan hidupnnya dan anak dapat melanjutkan sekolahnya sebanyak 925 anak dan berkurangnya kebiasaan buruk dan terlindunginya kondisi fisik dan sosial anak jalanan, meningkatnya kemampuan dan ketrampilan anak jalanan serta terjadi alih fungsi pekerjaan dan anak jalanan Usia wajib belajar kembali ke sekolah sebanyak 470 Anak. Jumlah anak terlantar di Jawa Timur pada tahun 2003 sebanyak 375.659 orang dan tahun 2007 menurun menjadi 286.600 orang, untuk anak jalanan tahun 2007 sebanyak 9.848 orang. Sedangkan pada tahun 2007 anak terlantar yang sudah tertangani sebanyak 1.500 orang dan anak jalanan 800 orang. Bab IV - 88 d. Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial Tujuan program ini adalah meningkatnya kemampuan dan ketrampilan Gepeng dan meningkatnya rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri serta alih fungsi pekerjaan Gepeng serta meningkatnya kemampuan dan ketrampilan tuna susila. Sasaran dari program ini adalah pengemis, gelandangan dan tuna susila. Program ini selama tahun 2003 – 2007 dibiayai dengan dana sebesar Rp. 2.987.500.000,00. Target capaian program Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Gelandangan selama tahun 2003-2007 sebanyak 400 orang dan Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Tuna Susila

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

312

sebanyak 600 orang dengan capaian program yaitu Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Gelandangan yang baru dilaksanakan pada tahun 2005 sebanyak 193 orang untuk tahun 2006 turun 80 orang atau (141,25 %) untuk tahun 2007 turun 60 orang atau (33,33 %). Penurunan tersebut dikarenakan tersampaikannya pengetahuan tentang perilaku normative sesuai dengan kehidupan masyarakat dan tersampaikannya ketrampilan untuk mendapat penghasilan bagi Gepeng. Permasalahnya tidak adanya peningkatan kemampuan dan ketrampilan Gepeng dan tidak ada peningkatan rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri serta alih fungsi pekerjaan. Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Tuna Susila pada tahun 2007 sebanyak 440 orang. Kenaikan pada keluaran karena masih banyak PMKS Tuna Susila. Penurunan pada tahun 2007 dikarenakan tersampaikannya pengetahuan tentang perilaku sesuai dengan kehidupan masyarakat yang normatif dan Tersampaikannya ketrampilan untuk mendapat penghasilan bagi Tuna Susila. Permasalahnya tidak berubahnya perilaku tuna susila sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan tidak ada kemampuan dan ketrampilan tuna susila, serta belum adanya rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri. Hasil yang dicapai adalah berubahnya perilaku tuna susila sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat dan meningkatnya kemampuan dan ketrampilan tuna susial. serta meningkatnya rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri. Jumlah gelandangan di Jawa Timur sampai dengan tahun 2007 sebanyak 1.847 orang dan jumlah tuna susila menurun dari 7.913 tahun 2003 menjadi 6.097 tahun 2007. Sedangkan yang sudah tertangani pada tahun 2003- 2007 masing-masing 160 orang pada tahun 2003, tahun 2004 sebanyak 120 orang, tahun 2005 sebanyak 363 orang, tahun 2006 sebanyak 125 orang dan tahun 2007 sebanyak 120 orang. (Sumber: Ringkasan Eksekutif LKPJ – AMJ Gubernur 2003-2008)

e. Program Bantuan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial Program ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas, serta profesionalisme pelayanan sosial bagi PMKS, meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberi pelayanan sosial secara berkelanjutan. Sasaran dari program ini adalah korban bencana alam dan keluarga berumah tak layak huni. Pada tahun 2003–2007 mendapatkan dana sebesar Rp. 4.840.875.000,00, anggaran tersebut digunakan antara lain untuk kegiatan Bimbingan Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh pada tahun 2003 dan tahun 2007 dengan target 450 KK dan capaian 349 KK serta penanggulangan korban bancana alam dengan target 2.950 KK dan capaian

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

313

2.350 KK. Bertambahnya keluarga yang hidup di daerah kumuh karena masih banyaknya PMKS berumah tak layak huni. Menurunnya penanggulangan korban bencana alam tahun 2007 dikarenakan para korban bencana alam telah menerima bantuan dan terdistribuskannya sarana penanganan korban bencana alam. Sedangkan kenaikan korban bencana alam karena masih banyak PMKS bencana alam karena belum terpenuhinya kebutuhan pokok (pangan, sandang, kesehatan dan papan) para korban bencana alam serta tidak termanfaatkannya peralatan yang dibutuhkan dalam pengungsian. Hasil yang dicapai adalah terpenuhinya kebutuhan pokok (pangan, sandang, kesehatan dan papan) para korban bencana alam dan termanfaatkannya peralatan yang dibutuhkan dalam pengungsian serta tersedianya bahan bangunan. Jumlah keluarga berumah tak layak huni di Jawa Timur selama tahun 2003-2007 menurun yaitu dari 1.624.578 orang tahun 2003 menjadi 1.428.978 orang tahun 2007 dan jumlah korban bencana alam menurun dari 1.118.720 orang tahun 2003 menjadi 79.261 tahun 2007. Sedangkan yang sudah tertangani tahun 2003- tahun 2007 untuk keluarga berumah tak layak huni sebanyak 2.221 KK dan penanganan korban bencana alam meningkat dari 909 KK tahun 2003 menjadi sebanyak 1.296 KK tahun 2007. (Sumber: Ringkasan Eksekutif LKPJ – AMJ Gubernur 2003-2008). Penanggulangan bencana yang dilakukan belum menyentuh akar persoalan. Umumnya pemerintah hanya memberikan bantuan yang sifatnya tanggap darurat seperti bantuan makanan, air bersih, kesehatan dan sandang. Paling bagus pemerintah hanya melakukan relokasi ke tempat yang lebih aman. Menurut Heka Hertanto (2006), dalam mengatasi dan menekan tingkat kerugian akibat bencana alam perlu dilakukan manajemen bencana. Tindakan manajemen bencana merupakan bagian penting dan strategis bagi aksi kemanusiaan. Karena itu tujuan manajemen bencana alam adalah untuk meningkatkan kesadaran umat manusia akan bahaya bencana alam, khususnya melalui pemahaman yang lebih baik mengenai bencana alam tersebut, dalam upaya untuk menekan jumlah korban jiwa benda dan harta

melalui kemampuan teknologi dan manajemen. Pembangunan kemampuan

penanganan bencana ditekankan pada peningkatan kemampuan masyarakat, khususnya masyarakat pada kawasan rawan bencana, agar secara dini dapat mengurangi ancaman tersebut. Umumnya berpangkal pada tindakan penumbuhan dan pemberdayaan kemampuan masyarakat dalam menangani dan menekan jumlah korban jiwa & harta benda akibat bencana.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

314

Untuk mencapai kondisi tersebut, perlu langkah-langkah sebagai berikut :1. Pengenalan jenis bencana alam, 2. Pemetaan daerah rawan bencana alam, 3. Zonasi daerah bahaya bencana alam dan prakiraan resiko, 4. Pengenalan sosial budaya masyarakat daerah bahaya bencana alam, 5. Penyusunan prosedur dan tata cara penanganan bencana alam, 6. Pemasyarakatan kesiagaan dan peningkatan kemampuan penanggulangan bencana alam, 7. Mitigasi fisik, 8. Pengembangan teknologi

penanggulangan bencana alam.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut a. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya. Berdasarkan target capaian Program Pelatihan Ketrampilan Bagi PMKS (Pemberdayaan Fakir Miskin) selama tahun 2003- 2007 sebanyak 2.600 KK, Sedangkan hasil yang dicapai adalah termanfaatkannya pengetahuan dan ketrampilan keluarga miskin untuk usaha ekonomi produktif sebanyak 1.976 KK. Berarti program Pelatihan Ketrampilan bagi PMKS belum bisa mencapai target yang ditetapkan. Target Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Keluarga sebanyak 845 orang, sedangkan hasil yang dicapai adalah terbentuknya kelompok usaha bersama (KUBE) sebanyak 718 orang dan target Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) sebanyak 100 KK, sedangkan hasil yang dicapai adalah meningkatnya kemampuan keluarga KAT dalam menggali dan mendayagunakan sumberdaya lokal sebanyak 48 KK.bJumlah hasil pencapaian dari program yang dilaksanakan belum tencapai target yang ditentukan. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya keluarga Fakir Miskin di Jawa sampai dengan tahun 2007 sebanyak 6.351.797 orang, Keluarga Rentan 228.894 orang, dan Komunitas Adat Terpencil 12.866 orang. Sedangkan sampai dengan tahun 2007 penanganan Keluarga Maskin sebanyak 6.820 KK, Keluarga rentan 1.240 KK, Komunitas Adat Terpencil 524 KK. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam pelaksanaannya harus dirubah menjadi berfungsi sosial yakni mampu menampilkan peran dan fungsi sosialnya dalam masyarakat. Si miskin tidak semata-mata ditingkatkan ekonominya tetapi yang lebih penting ia dilatih diberdayakan dalam wadah kelompok untuk mampu berperan dalam lingkungan sosialnya (H. Bachtiar Chamsyah, 2008).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

315

Oleh karena itu dalam kelompok KUBE paling tidak dua unsur yang selalu ditekankan yaitu: Pertama: keuntungan ekonomis dan Kedua: keuntungan sosial. Unsur pertama lebih menekankan pada keuntungan ekonomis dari perguliran hasil usaha yang diterima melalui paket bantuan usaha ekonomis produktif (USEP) sedangkan unsur kedua lebih menekankan pada terjadinya interaksi sosial, kesetiakawanan sosial, kohesi sosial dan adhesi sosial antar anggota kelompok KUBE maupun dalam lingkungan sosialnya. Keuntungan ekonomis dengan mudah dapat dihitung tetapi keuntungan sosial memerlukan proses waktu untuk melihat keberhasilannya. Sementara itu, KUBE terus diberdayakan secara berkelanjutan. Asumsinya adalah: jika KUBE telah berhasil dari sisi ekonomi dan sosial, diharapkan KUBE tersebut berkembang menjadi sebuah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang menjangkau pelayanan kepada penyandang miskin lainnya untuk berkembang. LKM berfungsi membantu masyarakat miskin dalam melaksanakan usaha ekonomis produktif. LKM juga menjadi sarana menanggulangi kemiskinan. Berkaitan dengan program pengentasan kemiskinan khususnya yang melalui program Gerdu Taskin meskipun menunjukkan capaian hasil yang memuaskan dengan menurunnya angka kemiskinan di setiap tahunnya, mengurangi angka pengangguran, mampu membentuk lembaga keuangan mikro sehingga mampu meningkatkan

pendapatan masyarakat di pedesaan, menurunkan jumlah rumah tangga miskin (RTM), dan mengurangi beban pengeluaran RTM yang rentan , namun masih masih terdapat kendala yang dihadapi yaitu: program kemiskinan belum menyentuh upaya

pengembangan potensi desa, penanganan kemiskinan masih bersifat parsial, kurang terfokus, dan belum mengakomodasi typologi desa, kultur masyarakat dan sentuhan teknologi tepat guna, berbagai kebijakan sektor keuangan (Perbankan) belum mampu diakses oleh RTM, belum terintegrasinya program antara pusat, propinsi dan kabupaten, terbatasnya anggaran APBD propinsi dan kabupaten. Sebagai upaya tindak lanjut program Gerdu Taskin masih harus dilakukan. Perlu adanya kerjasama antara pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten / kota dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan dalam bentuk dana sharing. Pemerintah harus terus melakukan sosialisasi terhadap masyarakat penerima bantuan agar masyarakat memanfaatkan bantuan tersebut dengan cara mengembangkan modal usaha dan menggulirkan kepada yang belum mendapatkan bantuan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

316

b. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat dan Trauma Target capaian program Penyantunan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat selama tahun 2003 - 2007 sebanyak 2.750 orang dengan hasil peningkatan kemampuan dan ketrampilan penyandang cacat dan meningkatnya rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri para penyandang cacat sebanyak 2.359 orang. Berdasarkan data tersebut program Penyantunan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat belum mencapai target yang ditentukan, yaitu masih kurang 391 orang. Jumlah penyandang cacat di Jawa Timur pada tahun 2007 sebanyak 84.542 orang dan yang sudah tertangani sebanyak 1.079 orang Permasalahnya tidak meningkatnya kemampuan dan ketrampilan penyandang cacat dan belum meningkatnya rasa percaya diri dan keyakinan akan potensi diri para penyandang cacat. Program pembinaan bagi penyandang cacat dan trauma harus terus dilakukan, dengan memberikan santunan untuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyandang cacat dan memberikan pengetahuan dan ketrampilan tentang usaha ekonomi produktif bagi penyandang cacat. Dalam penanganan penyandang cacat dan penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial perlu adanya kesamaan pemahaman dan koordinasi antar instansi terkait, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi sosial dan masyarakat sehingga penanganannya dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terpadu. Dalam pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diharapkan ikut serta menangani permasalahan kesejahteraan sosial melalui Peraturan Daerah dengan mengalokasikan anggaran melalui APBD masing-masing. Untuk penanganan bagi penyandang cacat harus terus ditingkatkan aksesibilitas bagi penyandang cacat baik pada bangunan umum maupun lingkungan.

c. Program Pembinaan Anak Terlantar Sasaran dari program ini adalah Anak Terlantar Luar Panti dan Anak Jalanan. Target capaian program yaitu Penyantunan Anak. Terlantar selama tahun 2003-2007 sebanyak 1.250 anak dan pembinaan anak jalanan 675 anak dengan hasil anak dapat terlindungi dan terjamin kondisi fisik, sosial dan psikologis, serta kelangsungan hidupnnya dan anak dapat melanjutkan sekolahnya sebanyak 925 anak dan berkurangnya kebiasaan buruk dan terlindunginya kondisi fisik dan sosial anak jalanan, meningkatnya kemampuan dan ketrampilan anak jalanan serta terjadi alih fungsi pekerjaan dan anak jalanan Usia wajib belajar kembali ke sekolah sebanyak 470 Anak.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

317

Sedangkan pada tahun 2007 anak terlantar yang sudah tertangani sebanyak 1.500 orang dan anak jalanan 800 orang. Berdasarkan data tersebut program pembinaan anak terlantar sudah melebihi target yang ditetapkan. Namun penanganan dan pembinaan terhadap anak terlantar dan anak jalanan harus terus ditingkatkan dengan memberikan pelatihan / ketrampilan agar mereka dapat hidup mandiri dan lebih kreatif dan produktif.

d. Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial. Sasaran dari program ini adalah Pengemis, gelandangan dan Tuna Susila. Target capaian program Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Gelandangan selama tahun 20032007 sebanyak 400 orang dan Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Tuna Susila sebanyak 600 orang dengan Capaian program yaitu Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Gelandangan yang baru dilaksanakan pada tahun 2005 sebanyak 193 orang untuk tahun 2006 turun 80 orang atau (141,25 %) untuk tahun 2007 turun 60 orang atau (33,33 %). Bimbingan Sosial dan Ketrampilan Tuna Susila pada tahun 2007 sebanyak 440 orang. Dengan masih banyaknya jumlah gelandangan dan tuna susila menunjukkan bahwa program yang dilaksanakan belum begitu mengena, dan karena perilaku dari gelandangan dan tuna susila sendiri yang tidak mau merubah diri serta belum mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan potensi diri. Oleh karena itu sebagai tindak lanjut dari program ini adalah terus melaksanakan program pembinaan dan memberikan pelatihan dan ketrampilan bagi gelandangan dan tuna susila. Dapat juga dilakukan dengan memberikan / menciptakan lapangan pekerjaan atau modal untuk berusaha.

e. Program Bantuan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial. Sasaran dari program ini adalah Korban Bencana Alam dan keluarga berumah tak layak huni. Kegiatan Bimbingan Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh pada tahun 2003 dan tahun 2007 dengan target 450 KK dan capaian 349 KK serta penanggulangan korban bancana alam dengan target 2.950 KK dan capaian 2.350 KK, kegiatan tersebut belum mencapai target yang ditetapkan. Untuk penanganan korban bencana alam usaha tindak lanjut yang dapat dilakukan adalah cepat memberikan bantuan berupa terpenuhinya kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan dan kesehatan) , tersedianya peralatan yang dibutuhkan di daerah pengungsian dan mendistribusikan sarana penanganan korban bencana alam. Jumlah keluarga berumah tak layak huni di Jawa Timur selama tahun 2003-2007 menurun yaitu dari 1.624.578 orang tahun 2003 menjadi 1.428.978 orang tahun 2007.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

318

Kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana seharusnya dilakukan secara partisipatoris, bersama, oleh dan untuk masyarakat , bukan sekedar oleh para ahli dan aparat pemerintah. Langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah Jawa Timur dalam penanganan bencana alam seperti: 1. Melakukan analisis kebutuhan jangka pendek untuk memperingan dampak bencana pada saat itu. 2. Melakukan analisis potensi masyarakat serta membangun potensi dalam menghadapi bencana di masa mendatang. 3. Melakukan penyiapan desain / model penanganan bencana di masa mendatang. 4. Mempersiapkan data advokasi untuk desain penataan kawasan dan penanganan bencana Selain itu penanganan sosial akibat bencana alam harus dilakukan, dan memerlukan kerjasama dari semua pihak.

VII. Penutup Program perlindungan dan kesejahteraan sosial Perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan keterlantaran baik anak maupun lanjut usia, kecacatan, ketunasosialan, dan bencana alam, serta bencana sosial. Program perlindungan dan kesejahteraan sosial seharusnya sejalan dengan sasaran

pembangunan yaitu: meningkatnya aksesibilitas penyandang masalah keseahteraan sosial terhadap pelayanan sosial dasar, meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan, meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga dan komunitas masyarakat dalam maencegah dan menangani permasalahan

kesejahteraan sosial, tersusunnya sistem perlindungan sosial nasional, meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial, terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial, dan meningkatnya kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial, dan sudah dilakukan meskipun ada yang belum bisa mencapai sasaran yang diinginkan. Tercapainya sasaran pembangunan dapat diketahui dari indikator keberhasilannya yaitu adanya program pelayanan sosial dasar terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial, adanya kebijakan yang melindungi

penyandang masalah kesejahteraan social, tersedianya mekanisme bantuan sosial dan tingkat status penanganan korban bencana alam dan sosial, dan tersedianya mitigasi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

319

bencana alam dalam kebijakan tata ruang dan indicator lainnya. Program perlindungan dan kesejahteraan sosial yang dilakukan pemerintah Jawa Timur, sudah sesuai sasaran namun capaian hasilnya harus terus ditingkatkan dan memperbanyak program/ kegiatan untuk mengatasi Penanganan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

320

I. Pengantar Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas serta

pembangunan pemuda dan olahraga memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia/SDM. Berkaitan dengan pembangunan kependudukan administrasi kependudukan

sebagai suatu sistem merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari administrasi pemerintahan dan administrasi negara dalam rangka pemberian perlindungan terhadap hak-hak individu penduduk, melalui pelayanan publik dalam bentuk penerbitan dokumen kependudukan (KTP, KK, AKTA-AKTA CATATAN SIPIL). Sesuai amanat UndangUndang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun2 007 tentang Pelaksanaan Unndang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 sebagai landasan hukum pelaksanaan kebijakan administrasi

kependudukan maka database kependudukan nasional (pusat, provinsi, kabupaten/kota) berbasis NIK nasional dapat segera terwujud sehingga akan tercipta tertib administrasi kependudukan. Dengan terbangunnya database kependudukan nasional dan terwujudnya tertib administrasi kependudukan , pada gilirannya akan dapat didayagunakan untuk kepentingan-kepentingan perumusan kebijakan pemerintahan dan perencanaan

pembangunan yang berbasis administrasi kependudukan, sehingga akan terwujud pembangunan berbasis kependudukan yang berkelanjutan. Sehubungan dengan pembangunan keluarga kecil berkualitas, pengendalian

kuantitas penduduk merupakan salah satu aspek penting untuk menjamin tercapainya penduduk tumbuh seimbang dan pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang. Jumlah penduduk Indonesia darii tahun ke tahun terus meningkat meskipun laju pertumbuhannya terus menurun. Pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 205 juta jiwa, tahun 2008 menjadi 228 jutajiwa, dan hingga satu dekade ke depan diperkirakan bertambah sekitar 3 juta jiwa per tahun

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

321

Disamping pembangunan kependudukan, Pembangunan pemuda dan olahraga mempunyai peran strategis dalam mendukung peningkatan sumber daya manusia

Indonesia yang berkualitas. Pemuda merupakan generasii penerus, penanggungjawab dan pelaku pembangunan masa depan. Kekuatan bangsa di masa mendatang tercermin dari kualitas sumberdaya pemuda saat ini. Untuk itu, pemuda harus disiapkan dan diberdayakan agar mampu memilikii kualitas dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan serta tantangan dan persaingan di era global.

Sementara itu tujuan keolahragaan nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undangundang Nomor 3 tahun tujuan 2005 tentang Sistem nasional Keolahragaan adalah Nasional dan

mengamanatkan

bahwa

keolahragaan

memelihara

meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat dan kehormatan bangsa. Dalam konteks desentralissasi beberapa kewenangan yang diberikan kepada daerah kabupaten dan kota, maka persepsi dan respon daerah terhadap berbagai isu nasional menjadi sangat bervariasi. Oleh karena itu bab ini akan melihat bagaimana Provinsi Jawa Timur dalam merencanakan dan melaksanakan program pembangunan, khususnya bidang Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas Serta Pemuda dan Olahraga.

II. Kondisi Awal RPJMN di JawaTimur 1. Masih tingginya laju pertumbuhan dan jumlah penduduk. Jumlah penduduk Jawa Timur dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, meskipun laju pertumbuhannya dapat dikendalikan dengan prosentase yang cenderung menurun. Penurunan pertumbuhan penduduk tersebut karena menurunnya angka kelahiran, namun secara absolute pertumbuhan pertambahan penduduk Jawa Timur masih relative tinggi. Hal ini disebabkan belum terkendalinya angka kelahiran dan meningkatnya jumlah penduduk pasangan usia subur. 2. Masih tingginya tingkat kelahiran penduduk. Faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran. Tingginya tingkat kelahiran penduduk disebabkan karena pasangan usia subur (PUS) masih relative tinggi, yaitu sejumlah 7.720.600 orang. Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB, serta

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

322

ketersediaan alat konrasepsi. Melalui upaya tersebut diharapkan agar angka kelahiran terkendali, sehingga angka pertumbuhan dapat mencapai kondisi seimbang. 3. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasangan usia subur dan remaja tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi. Hal ini disebabkan oleh sebagian besar masyarakat, orang tua, maupun remaja belum memahami hak-hak dan kesehatan reproduksi remaja. Pemahaman dan kesadaran tentang hak dan kesehatan reproduksi remaja masih rendah. Masyarakat dan keluarga masih enggan untuk membicarakan masalah reproduksi secara terbuka dalam keluarga. Para anak dan remaja lebih merasa nyaman mendiskusikannya secara terbuka dengan sessama teman. Pemahaman nilai-nilai adat, budaya, dan agama yang menganggap pembahasan kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu justru lebih popular. Sementara itu, pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui jalur sekolah belum sepenuhnya berhasil yang mengakibatkan banyaknya remaja yang kurang memahami atau mempunyai pandangan yang tidak tepat tentang masalah kesehatan reproduksi. 4. Masih rendahnya usia kawin pertama penduduk. Median usia kawin pertama perempuan di pedesaan lebih rendah yaitu 18,3 tahun, sedangkan di daerah perkotaan adalah 20,3 tahun. Usia kawin pertama yang rendah juga berkaitan dengan factor sodial ekonomi penduduk, terutama di pendidikan. Di samping itu sebagian kelompok masyarakat dan keluarga belum menerima dan menghayati norma keluarga kecil sebagai landasan untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. 5. Rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB. Partisipasi pria dalam ber-KB masih sangat rendah. Hal ini selain disebabkan oleh keterbatasan macam dan jenis alat kontrasepsi untuk pria, juga oleh keterbatasan pengetahuan pria akan hak-hak dan kesehatan reproduksi. 6. Masih kurang maksimalnya akses dan kualitas pelayanan KB. Saat ini belum semua fasilitas pelayanan kesehatan primer dapat melayani KB dan kesehatan reproduksi. Hal ini disebabkan oleh kurang optimalnya petugas penyuluh KB sehingga masih banyak pasangan usia subur yang menggunakan kontrasepsi yang kurang efektif dan efisien dalam memanfaatkan jasa pelayanan KB. 7. Masih lemahnya ekonomi dan ketahanan keluarga

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

323

Kondisi lemahnya ekonomi keluarga mempengaruhi daya beli termasuk kemampuan membeli alat kontrasepsi. Keluarga miskin pada umumnya

mempunyai anggota keluarga cukup banyak. Jumlah keluarga miskin dengan menggunakan criteria keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I pada tahun 2003 adalah 15,8 juta keluarga. Kemiskinan menjadikan mereka relative tidak memiliki akses dan bersifat pasif dalam berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas diri dan keluarganya. 8. Masih lemahnya institusi daerah dalam pelaksanaan KB. Salah satu isu penting bagi kelangsungan pembangunan keluarga berencana adalah desentralisasi. Sesuai dengan Kepres Nomor 103/2001, yang kemudian diubah menjadi Kepres Nomor 9/2004, bahwa sebagian kewenangan dibidang keluarga berencana diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. Hal ini sejalan dengan esensi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 (telah diubah menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004), yang memberikan kewenangan kepada Pemerintah KAbupaten/Kota untuk menentukan program-program

pembangunan yang diperlukan daerah sesuai dengan kebutuhan, apirasi, kemampuan, maupun sumber daya yang tersedia. Dengan adanya peraturan tersebut, masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan KB sampai saat ini adalah belum seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota menetapkan KB sebagai isu strategis dalam pengendalian pertumbuhan penduduk dan pemenuhan hak-hak reproduksi penduduk. Pemahaman bahwa pelayanan KB merupakan salah satu hak-hak azasi manusia, yaitu hak rakyat untuk mengatur proses repropduksinya, masih rendah. Pembangunan KB juga belum dipandang sebagai suatu investasi yang mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi. 9. Belum serasinya kebijakan kependudukan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. JUmlah penduduk Jawa Timur tahun 2004 sebesar 36.668.407 jiwa merupakan beban pembangunan yang apabila tidak ditangani secara terpadu akan berakibat pada meningkatnya kesenjangan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan dan perundang-undangan tentang kependudukan masih tumpang tindih, dan persebaran penduduk tidak disesuaikan dengan daya dukung lahan dan daya tamping lingkungan. Slain itu, kebijakan dan strategi pengendalian kuantitas, peningkatan kualitas, dan pengarahan mobilitas penduduk yang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi wilayah belum tersusun.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

324

10. Belum tertatanya administrasi kependudukan. Dalam rangka membangun yang system pembangunan, penataan pemerintahan, dan

pembangunan

berkelanjutan,

system

penyelenggaraan

administrasi kependudukan merupakan upaya penting yang harus dilakukan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya dokumen kependudukan dan tertib administrasi belum memadai sehingga bank data sebagai data base

kependudukan belum tersedia. 11. Rendahnya kualitas pemuda. Pemuda adalah penduduk usia 15-35 tahun. Berdasarkan data tahun 2003, sekitar 2,9 persen jumlah pemuda di Jawa Timur tidak pernah sekolah. Dari keseluruhan jumlah pemuda, sekitar 26,52 persen diantaranya buta huruf. Selanjutnya, jika dilihat menurut jenjang pendidikan yang ditamatkan, masing-masing sekitar 35,4 persen, 27,4 persen, 23,0 persen, dan 3,4 persen pemuda yang tamat SD, SLTP, SMU dan Perguruan Tinggi. Sementara itu pemuda yang tidak berpendidikan (tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD) sekitar 10,9 persen. Masalah lainnya adalah rendahnya minat membaca di kalangan pemuda; rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) pemuda yaitu sekitar 82,78 persen untuk lakilaki dan 47,71 persen perempuan; tingginya tingkat pengangguran terbuka pemuda dengan perincian untuk laki-laki di kota 15,01 persen, di desa 8,85 persen, dan kota dan desa sebesar 11,34 persen. Sedang untuk perempuan di kota sebesar 20,25 persen, dan di desa sebesar 18,0 persen; maraknya masalahmasalah social di kalangan pemuda, seperti kriminalitas, premanisme, narkotika, psikotropika, NAPZA, dan HIV/AIDS. Terkait dengan pelestarian lingkungan hidup, kepeloporan dan kepedulian pemuda terhadap lingkungan hidup relative rendah. Bahkan, ketrampilan hidup dan motivasi berwirarusaha di kalangan pemuda juga rendah. Fakta di atas menunjukkan bahw peran dan partisipasi pemuda dalam pembangunan, terutama yang berkaitan dengan kewirausahaan dan

ketenagakerjaan masih rendah 12. Koordinasi antar organisasi pemuda dan pemberdayaan organisasi pemuda belum maksimal. Berbagai institusi kepemudaan sebagai organisasi kemasyarakatan memiliki potensi yang dapat diarahkan untuk mendorong dan mendukung pengembangan generasi muda, baik dalam hal peningkatan produktivitas, prestasi, maupun daya kreatifitas sehingga pada saatnya akan mampu menjadi wadah bagi

pengembangan kesejahteraan generasi muda. NAmun dalam pelaksanaannya,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

325

kegiatan kepemudaan kurang terkoordinir sehingga respon institusi kepemudaan terhadap perkembangan situasi lingkungan rendah. 13. Rendahnya budaya olahraaga Hal ini tercermin pada rendahnya kesempatan untuk beraktivitas olahraga karena semakin berkurangnya lapangan dan fasilitas untuk berolahraga, lemahnya koordinasi lintas lembaga dalam hal penyediaan fasilitas umum untuk lapangan dan fasilitas olahra bagi masyarakat umum dan tempat pemukiman. Selain itu, kesadaran maasyarakat akan pentingnya olahraga sebagai landasan untuk menjaga kualitas kesehatan sekaligus kesadaran akan budaya olahraga untuk meningkatkan kemajuan pembangunan olahraga masih rendah. Dalam rangka menumbuhkan b udaya olahraga untuk meningkatkan kemajuan pembangunan olahraga, beberapa permasalahan yang harus diatasi adalah: masih terkotakkotaknya system dan manajemen keolahragaan dan belum terpadunya semua unsure msyarakat; lemahnya sumber daya manusia (guru, pelatih, instruktur, manajer); sarana dan prasarana tidak lagi memenuhi standar latihan; belum adanya system informasi keolahragaan yang mutakhir dan dikelola secara professional serta jaringan kerjasama yang baik dalam pembinaan dan pengembangan olahraga antar daerah, antar instansi, antar

perkumpulan/organisasi olahraga, dan lain-lain. 14. Pola-pola permasalahn dan pembibitan olahraga belum berdampak secara baik untuk penyapan dan regenerasi atlet. Pekan Olahrag di tingkat Sekolah Dasar, Pekan Olahraga Pelajar, Pekan Olahraga Pondok Pesantren, baik di tingkat Daerah maupun Nasional belum menjadi media bagi rekrutmen atlet, khususnya di Jawa Timur. Begitu pula polapola pembibitan dan pembinaan atlet melalui Pusat Pendidikan dan Latihan Olahrga Pelajar (PPLP) yang ada di Surabaya, Malang, dan Kediri, serta pengembangan SMU Olahraga di Sidoarjo belum maksimal. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan sarana dan prasarana pendudkung. Selain itu, pengembangan pelatihan olahraga belum sepenuhnya didukung basis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sehingga lebih bertumpu pada bakat alam semata. 15. Pembinaan olahraga di Jawa Timur cenderung menunjukkan prestasi yang menurun. Hal ini ditinjukkan oleh menurunnya prestasi atlet. Apabila pada PON XV yang berlangsung di Surabaya peringkat Jawa Timur sebagai juara umum, maka pada

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

326

PON XVI di Palembang peringkat Jawa Timur hanya berada pada posisi kedua setelah DKI Jaya sebagai juara umum.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai 1. Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas ditandai dengan a. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan; b. Meningkatnya peserta KB laki-laki; c. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang efektif serta efisien; d. Meningkatnya usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun; e. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuhkembang anak; f. Meningkatnya jumlah keikutsertaan Keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I dalam usaha ekonomi produktif; g. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. 2. Meningkatnya kebijakan kependudukan, pengendalian pertumbuhan, pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tamping lingkungan, 3. Meningkatnya berbagai kebijakan pemuda; 4. Meningkatnya kualitas dan partisipasi pemuda di berbagai bidang pembangunan; 5. Meningkatnya berbagai kebijakan olahraga; 6. Meningkatnya kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat serta prestasi olahraga; 7. Meningkatnya pemahaman program pengarustamaan jender.

IV. Arah Kebijakan 1. Kebijakan pembangunan keluarga berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas dengan: a. b. Mengendalikan tingkat kelahiran penduduk ; Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi bagi pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi; melindungi peserta KB dari dampak negatif penggunaan alat dan obat kontrasepsi; peningkatan kualitas penyediaan dan pemanfaatan alat dan obat, kontrasepsi dan peningkatan pemakaian kontrasepsi yang efektif dan efisien untuk jangka panjang. c. Meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

327

d.

Penguatan institusi masyarakat dan pemerintah daerah yang memberikan layanan kesehatan reproduksi; serta pemberian konseling tentang permasalahan remaja;

e.

Meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan dan penumbuhkembangan anak;

f.

Memperkuat kelembagaan dan jejaring pelayanan KB;

2. Pembangunan kependudukan diarahkan untuk menata pembangunan di bidang kependudukan melalui penataan kebijakan administrasi kependudukan guna

meningkatkan kualitas dokumen, data, dan informasi penduduk. 3. Pembangunan pemuda dan olahraga diarahkan untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya olahraga dan prestasi guna meningkatkan kualitas manusia melalui: a. Mewujudkan keserasian kebijakan pemuda di berbagai bidang pembangunan; b. Memperluas kesempatan memperoleh pendidikan dan keterampilan; c. Meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama; d. Meningkatkan potensi pemuda dalam kewirausahaan, kepeloporan dan kepemimpinan dalam pembangunan; e. Melindungi segenap generasi muda dari bahaya penyalahgunaan NAPZA, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dan penyakit menular seksual di kalangan pemuda; f. Mengembangkan kebijakan dan manajemen olahraga dalam upaya mewujudkan penataan sistem pembinaan dan pengembangan olahraga secara terpadu dan berkelanjutan; b. Meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat secara lebih luas dan merata untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani serta membentuk watak bangsa; c. Mengoptimalkan sarana dan prasarana olahraga yang sudah tersedia untuk mendukung pembinaan olahraga; d. Meningkatkan upaya pembibitan dan pengembangan prestasi olahraga secara sistematik, berjenjang dan berkelanjutan; e. Meningkatkan pola kemitraan dalam upaya menggali potensi olahraga; f. Mengembangkan sistem penghargaan dan meningkatkan kesejahteraan atlet, pelatih, dan tenaga keolahragaan. 4. Kebijakan pembangunan keluarga berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas dengan:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

328

a. Mengendalikan tingkat kelahiran penduduk ; b. Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi bagi pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi; melindungi peserta KB dari dampak negatif penggunaan alat dan obat kontrasepsi; peningkatan kualitas penyediaan dan pemanfaatan alat dan obat kontrasepsi dan peningkatan pemakaian kontrasepsi yang efektif dan efisien untuk jangka panjang. c. Meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja; d. Penguatan institusi masyarakat dan pemerintah daerah yang memberikan layanan kesehatan reproduksi; serta pemberian konseling tentang

permasalahan remaja; e. Meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan dan penumbuhkembangan anak; f. Memperkuat kelembagaan dan jejaring pelayanan KB;

5. Pembangunan kependudukan diarahkan untuk menata pembangunan di bidang kependudukan melalui penataan kebijakan administrasi kependudukan guna

meningkatkan kualitas dokumen, data, dan informasi penduduk. 6. Pembangunan pemuda dan olahraga diarahkan untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya olahraga dan prestasi guna meningkatkan kualitas manusia melalui: a. Mewujudkan keserasian kebijakan pemuda di berbagai bidang pembangunan; b. Memperluas kesempatan memperoleh pendidikan dan keterampilan; c. Meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama; d. Meningkatkan potensi pemuda dalam kewirausahaan, kepeloporan dan kepemimpinan dalam pembangunan; e. Melindungi segenap generasi muda dari bahaya penyalahgunaan NAPZA, minuman keras, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dan penyakit menular seksual di kalangan pemuda; b. Mengembangkan kebijakan dan manajemen olahraga dalam upaya mewujudkan penataan sistem pembinaan dan pengembangan olahraga secara terpadu dan berkelanjutan; c. Meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat secara lebih luas dan merata untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran jasmani serta membentuk watak bangsa;

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

329

d. Mengoptimalkan sarana dan prasarana olahraga yang sudah tersedia untuk mendukung pembinaan olahraga; e. Meningkatkan upaya pembibitan dan pengembangan prestasi olahraga secara sistematik, berjenjang dan berkelanjutan; f. Meningkatkan pola kemitraan dalam upaya menggali potensi olahraga;

b. Mengembangkan sistem penghargaan dan meningkatkan kesejahteraan atlet, pelatih, dan tenaga keolahragaan.

V. Pencapaian RPJMN di Jawa Timur 1. Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas. Dalam rangka penurunan laju pertumbuhan penduduk, Provinsi Jawa Timur relatih berhasil dengan baik, yaitu dengan tercapainya tingkat pertumbuhan penduduk, yaitu sebesar 1,06 persen dari target 1,14 persen; bahkan mendekati pencapaian target nasional yaitu sekitar 1,0 persen per tahun. Penurunan tingkat pertumbuhan penduduk di Jawa Timur tersebut tidak terlepas dari beberapa kebijakan Pemerintah Jawa Timur dalam mengintegraasikan beberapa program terkait, sehingga mampu meningkatkan pencapaian program. Misalnya mengkaitkan kegiatan keluarga berencana dengan kegiatan ekonomi produktif bagi perempuan, sehingga para wanita ikut berperan serta dalam kegiatan ekonomi produktif rumah tangga. Dengan meningkatnya partisipasi wanita dalam bekerja diikuti pula dengan meningkatnya contraceptive prevalence rate (CPR), yaitu penggunaan alat kontrasepsi oleh para pasangan usia subur, yaitu sebesar 60,03 persen untuk perkotaan, 55,42 persen untuk pedesaan, dan 57,25 persen untuk daerah kota dan desa. Hal ini menunjukkan prestasi yang menggembirakan karena apa yang telah dicapai oleh provinsi Jawa Timur telah melampaui rata-rata capaian di tingkat nasional yaitu sebesar 56,71 persen. Pencapaian target Total Fertility Rate 2,2 per perempuan belum sepenuhnya tercapai, karena hasil yang dicapai Jawa Timur adalah 2,56 per perempuan. Dilihat dari pembangunan kualitas manusia dapat dilihat dari pencapaian indek pembangunan manusia di Jawa Timur, berturut-turut: 61,8; 64; dan 68 pada tahun 1999; 2002; dan 2005; sehingga terlihat sekali kemajuan yang telah di capai oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Hasil yang dicapai tersebut juga tidak terlalu jauh bebrbeda dengan indek pembangunan manusia tingkat nasional, berturut-turut yaitu: 64,3; 65,8; dan 69.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

330

2. Pemuda dan Olahraga Pencapaian pembangunan bidang kepemudaan dan olahrga dapat dilihat dari beberapa catatan prestasi yang diperoleh atau kegiatan yang dilakukan oleh kelompok pemuda. Salah satu fakta yang cukup menggembirakan adalah meningkatnya keterlibatan pemuda dalam kewirausahaan, yaitu dari 565 orang menjadi 980 orang. Dalam kegiatan pertukaran pemuda antar Negara juga menunjukkan peningkatan dari 31 orang menjadi 50 orang. Dalam kegiatan olahraga juga tidak mau ketinggalan. Para pemuda telah mampu menunjukkan peningkatan prestasi baik di tingkat internasional maupun nasiona. Tercatat atlet yang berprestasi di tingkat internasional meningkat dari 267 menjadi 281 atlet. Pada tingkat nasional, meningkat dari 575 menjadi 627. Hasil terakhir yang paling menggembirakan adalah diraihnya kembali dominasi olahraga JAwa Timur di Pekan Olahraga Nasional XVII, yang berlangsung di Samarinda Kalimantan Timur pada bulan Agustus 2008 yang lalu; dimana Provinsi Jawa Timur mampu menjadi juara umum kembali, setelah pada PON XVI direbut oleh DKI Jakarta.

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut Dengan melihat hasil yang telah dicapai dan beberapa kendala dalam pencapaian target, maka ada beberapa rekomendasi yang dapat ditindak lanjuti, yaitu antara lain: 1. Perlu ada komitmen dan dan kesadaran bersama bahwa pada seluruh tingkatan

pemerintahan,

semua

stakeholders

masalah

kependudukan

merupakan masalah dan isu strategis yang sangat berpengaruh terhadap pencapaian pembangunan pada bidang atau sector yang lain. Sehingga setiap program pembangunan Dengan senantiasa kata lain memperhatikan setiap program aspek-aspek dinamika harus

kependudukan.

pembangunan

berwawasan kependudukan. 2. Perlu segera penerapan system administrasi kependudukan yang berbasis teknologi informasi, sehingga diperoleh informasi kependudukan yang cepat, akurat, dan terbaru. 3. Perlun diciptakan situasi dan kondisi yang kondusif bagi peningkatan partisipasi pemuda dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat ekonomi produktif (berwirausaha) maupun dalam bidang olahraga, khususnya bagi kelompok pemuda yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

331

VII. Penutup Dari beberapa hasil pencapaian kinerja RPJM di Jawa Timur kita dapat memberikan beberapa catatan penting, bahwa dalam situasi yang sulit akibat krisis ekonomi yang juga tidak ada tanda-tanda kapan akan berakhir, provinsi Jawa Timur telah mampu menunjukkan hasil yang relative baik. Artinya dalam keadaan sesulit apapun jika dilakukan dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak yang terkait, maka hasil yang baik bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk diraih. Walaupun sudah barang tentu masih terdapat beberapa kekurangan atau kendala dalam beberapa hal.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

332

I. Pengantar Lingkungan hidup pada dasarnya merupakan kesatuan ruang dengan semua sumber daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang memepengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhuluk hidup lain. Pada tahun 2004 tercatat jumlah penduduk Jawa Timur 36.668.407 juta jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 787 per km2 dengan tingkat pertumbuhan sekitar 1,07%. Jumlah penduduk yang semakain meningkat dan tidak memperdulikan

kelestarian lingkungan dapat menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Pencemaran dan kerusakan lingkungan yang melebihi daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup di Jawa Timur. Sementara itu sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa sumber daya alam tersedia dalam jumlah tidak terbatas dan dapat diperoleh secara cuma-cuma berakibat tidak terinovasinya masayarakat untuk ikut memelihara kelestarian alam. Hal tersebut diperburuk dengan masalah kemiskinan, kebodohan dan keserakahan. Selain itu pembangunan yang lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan eksploitasi sumber daya pembangunan secara berlebihan. Tentu saja hal tersebut menyebabkan merosotnya kapasitas dan kualitas sumber daya alam dan menurunnya fungsi lingkungan hidup yang pada akhirnya dapat mengencam kehidupan manusia. Usaha pemerintah untuk mengatasi permasalahan lingkungan hidup dengan mengeluarkan berbagai kebijakan nasional dan kebijakan operasional Propinsi Jawa

Timur masih belum dapat meredam degradasi lingkungan hidup yang terjadi karena tidak didiringi penegakan hukum dan tidak konsisten dalam penerapannya.

II. Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah a. Degradasi Hutan dan Lahan Luas kawasan hutan di Jawa Timur seluas 1.363.719 Ha (28% dari luas daratan) menurut fungsinya terdiri dari:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

333

1. Hutan lindung 2. Hutan Produksi 3. Hutan konservasi Cagar Alam Suaka Margasatwa Taman wisata Taman Nasional Taman Hutan Raya

= 315.503,3 Ha = 815.085,6 Ha = 10.957,9 Ha = 18.009,6 Ha = 297,5 Ha

= 175.994,8 Ha = 27.868,3 Ha

Adapun lahan kritis dalam kawasan hutan sebagai berikut: 1. Hutan Lindung dan hutan Produksi 2. Hutan Konservasi = = 160.000 Ha 40.000 Ha

Terdapat kawasan hutan produksi yang terletak pada kemiringan lereng 40%-60% yang seharusnya berfungsi sebagai hutan lindung seluas 251.618 Ha. Konversi kawasan hutan menjadi lahan non hutan (pemukiman dan perkebunan) seluas 9.000 Ha. Lahan kritis di luar kawasan hutan seluas 665.000 Ha. Lahan kritis dan rusak sekitar 865.000 Ha. Dari seluruh kawasan hutan yang ada hanya Taman Hutan Raya R. Soeryo seluas 27.868, 3 Ha yang pengelolaannya diserahkan pada Pemprov Jawa Timur dengan kondisi kerusakan kritis 14.000 Ha. Secara terus menerus dilakukan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan danLahan (GNRHL) dan Gerakan Sejuta Pohon (GSP). Upaya pencegahan dan penangulangan degradasi hutan dan lahan telah dilakukan melalui reboisasi, penghijauan, dan berbagai teknik konservasi lahan, ternyata belum berhasil menyelaesaiakan permasalahan. Beberapa kasus diantaranya adalah illegal logging, Direktur Utama Perhutani Transtoto pada saat dikonfirmasi Humas Perum Perhutani Unit II Jatim Ir. Murgunadi MM menjelaskan bahwa selain banyaknya permintaan kayu, illegal logging juga disebabkan karena akses masuk hutan yang terlalu mudah selain diduga ada oknum petugas termasuk Polisi Hutan terlibat, serta ditunjang dengan mudahnya mendapatkan Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan (SKSHH). Selain kasus tersebut kerusakan hutan juga disebabkan oleh bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung. Seperti yang disampaikan oleh Kepala Seksi Humas dan Informasi Perum Perhutani Unit II Jatim, Arif Herlambang, bencana paling parah di wilayah Perhutani Unit II Jatim menimpa KPH Bojonegoro, Parengan, Padangan dan Malang. Tercatat 222 pohon yang berhasil dihimpun. Selain itu banjir juga menyebabkan terendamnya bibit pohon.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

334

b. Kerusakan/Pencemaran Pesisir dan Pantai Meningkatnya pembangunan di wilayah pesisir dan pantai (terutama di pantaai utara Jawa Timur) menimbulkan kerusakan ekosistem pesisir dan pantai. Antara lain: Hutan mangrove dalam kawasan hutan seluas 21.195,64 Ha 50% nya telah rusak. Hutan mangrove di luar kawasan hutan seluas 6.730Ha, 4.117 Ha telah rusak. Padahal secara ideal luas hutan mangrove Jawa Timur seharusnya 45.000 namun yang ada baru seluas 37.237 Ha dalam kondisi rusak 11.124 Ha. Pada tahun 2004 secara keseluruhan ekosistem mangrove yang rusak 16.366 Ha dan tanah kososng yang potensial untuk ditanami mangrove seluas 5.242 Ha. Selain itu pencemaran laut semakin meningkat serta pendangkalan muara sungai yang sangat cepat. Terumbu karang dan biota laut pada tahun 2004 kerusakan bervariasi 30%-80% yang tersebar di Situbondo, P. Sabunten, P. Gili Raja, P. Raas dan P. Mamburit.

c. Pencemaran Tanah dan Udara Kualitas udara ambient di kota besar seperti Surabaya seringkali dibawah baku mutu. Pencemaran tertinggi terjadi di Surabaya di musim kemarau berasal dari partikel debu (PM 10) serta terdapat polutan berupa SO2, CO, NO2 dan O3. Bahan bakar minyak yang ada masih mengandung timbal (Pb) yang menghasilkan polutan yang mencemari udara dan berbahaya untuk kesehatan. Pengelolaan limbah B3 yang berasal dari rumah sakit, industri dan pemukiman Belem dilaksanakan dengan baik dan Belem ada tempat pembuangan limbah di Jawa Timursidu yang mencemari tanah dan air. Penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan untuk meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan menimbulkan residu yang mencemari tanah dan air. Sistem pengolahan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) mengakibatkan pencemaran tanah yang mengancam kesehatan masyarakat.

d. Lingkungan Perkotaan Lingkungan perkotaan menghadapi masalah serius akibat bertambahnya jumlah penduduk dan kepadatan penduduk akibat urbanisasai, meningkatnya kebutuhan lahan, terbatasnya penyediaan lahan, meningkatnya kesulitan penyediaan air bersih,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

335

meningkatnya pencemaran udara dari sumber bergerak dan tidak bergerak, kebisingan dan produksi sampah yang terus meningkat.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Dalam RPJM Propinsi Jawa Timur disebutkan bahwa sasaran pembangunan

sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup adalah membaiknya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya sasaran tersebut dijabarkan pada sasaran pembangunan kehutanan, kelautan, pertambangan dan pembangunan lingkungan hidup. a. Sasaran Pembangunan Lingkungan Hidup 1. Meningkatnya kualitas air sungai di seluruh DAS kritis disertai pengendalian dan pemantauan secara kontinyu 2. Berkurangnya pencemaran air dan tanah di kota-kota besar disertai pengendalian dan pemantauan terpadu antar sektor 3. Membaiknya kualitas udara perkotaan khususnya di Surabaya yang didukung oleh perbaikan manajemen dan sistem transportasi kota yang ramah lingkungan. 4. 5. Terwujudnya fasilitas pengelolaan B3 di sekitar pusat kegiatan industri Tersususnnya aturan pendanaan lingkungan yang inovatif sebagai terobosan untuk mengatasi kecilnya pembiayaan sektor lingkungan hidup. 6. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup. 7. Terlaksanaya reorganisasi pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara profesional untuk mengatasi keterbatasan lahan.

b. Sasaran Pembangunan Kelautan 1. Berkurangnya pelanggaran dan pengrusakan sumber daya pesisir dan laut 2. Membaiknya pengelolaan ekosistem pesisir, laut dan pulau-pulau kecil

c. Sasaran Pembangunan Kehutanan Terwujudnya rehabilitasi lahan kritis dan terwujudnya kelestarian kawasan konservasi

d. Sasaran Pembangunan Pertambangan Pencegahan dan pemulihan kerusakan lingkungan pertambangan serta pengendalian bencana kegeologian

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

336

IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan yang ditempuh dalam perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengendalian dampak lingkungan sebagai berikut: a. Pembangunan Lingkungan Hidup Pembanguan lingkungan hidup diarahkan untuk: 1. Mengarusutamakan (meanstreaming) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. 2. Meningkatkan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota. 3. Meningkatkan upaya penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar lingkungan. 4. Meningkatkan kapasitas lembaga pengelola lingkungan hidup baik di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota. 5. Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup dan berperan aktif sebagai kontrol sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. 6. Pendirian TPA regional di beberapa kota besar, khususnya Gerbang Kertasusila (Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Gresik) dan Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang).

b. Pembangunan Kelautan Pembangunan kelautan diarahkan untuk: 1. Membangun sistem pengendalian dan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut, yang disertai dengan penegakan hukum yang ketat 2. Meningkatkan upaya konservasi pesisir dan laut serta merehabilitasi ekosistem yang rusak seperti mangrove dan terumbu karang. 3. Mengendalikan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di wilayah pesisir, laut dan perairan tawar. 4. Menggiatkan kemitraan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan swasta dalampengelolaan sumber daya pesisir dan laut.

c. Pembangunan Pertambangan Merehabilitasi kawasan bekas pertambangan

V. Pencapaian RPJMN Di Jawa TImur

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

337

Secara umum telah banyak upaya yang dilaksanakan oleh pemerintah Propinsi Jawa Timur dalam rangka memperbaiki pengelolaan sumber daya dan pelestarian lingkungan hidup. Akan tetapi hasil yang tercapai masih belum bisa dikatakan baik. Adapun capaian sasaran dengan melihat indikator pengukurnya adalah sebagai berikut: Bidang Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam Dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup No 1 RPJM SASARAN INDIKATOR Meningkatnya kualitas air Tingkat pencemaran air sungai di seluruh DAS kritis disertai pengendalian dan pemantauan secara kontinyu CAPAIAN SAMPAI SAAT INI • Pada tahun 2004 ratarata BOD mencapai 18,83mg/l dan COD mencapai 39,59 mg/l. (padahal standar baku mutu Kali Brantas BOD 6 mg/l dan COD 10 mg/l). • Jumlah air bersih yang didistribusi pada pelanggan di Jawa timur pada tahun 2006 318,759 ribu m3 di Surabaya • Kasus udara ambient seringkali dibawah baku mutu , selain debu terdapat polutan SO2, CO, NO2 dan O3 • 75% pencemaran udara disebabkan kendaraan bermotor • 62 industri telah memiliki ijin pengelolaan limbah • Terlaksananya pembangunan PPLIB3 di Cerme Gresik merupakan peluang untuk menangani masalah limbah Rehabilitasi hutan dan lahan pada APBD Jatim 2002-2006 mencapai luas 2.167 hektare pada tahun 2007 mencapai 81 ribu hektare

2

Membaiknya kualitas Indeks kualitas udara udara perkotaan khususnya di Surabaya yang didukung oleh perbaikan manajemen dan sistem transportasi kota yang ramah lingkungan.

3

sistem Terwujudnya fasilitas Ketersediaan pelayanan pengelolaan B3 di sekitar pengelolaan limbah B3 di setiap pusat kegiatan industri kegiatan yang berpotensi mencemari lingkungan

4

Tersusunnya aturan pendanaan lingkungan yang inovatif sebagai terobosan untuk mengatasi kecilnya pembiayaan sektor lingkungan hidup. Meningkatnya

Tersedianya aturan pendanaan lingkungan yang inovatif sebagai terobosan untuk mengatasi kecilnya pembiayaan sektor lingkungan hidup

5

kesadaran Frekuensi

sosialisasi Partisipasi

masyarakat

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

338

masyarakat akan pentingnya memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup.

penyadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup

6

Pembuangan Akhir (TPA) Tercantumnya pengelolaan secara profesional untuk sampah perkotaan dalam mengatasi keterbatasan penentuan kebijakan lahan. Tingkat pencemaran air Berkurangnya pencemaran air dan tanah di kota-kota besar disertai pengendalian dan pemantauan terpadu antar sektor

7

8

Berkurangnya pelanggaran dan pengrusakan sumber daya pesisir dan laut

1. Tersedianya dukungan regulasi tentang pengelolaan pesisir dan laut samapai pada tingkat daerah 2. Luas kawasan konservasi laut dan pesisir 3. Angka pelanggaran dan pengrusakan sumber daya pesisir dan laut 4. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut

untuk memelihara sumber daya alam masih rendah. Namun demikian pemerintah propinsi telah berupaya melibatkan melibatkan masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. Pengolah sampah masih menggunakan open dumping sementara penyediaan TPA baru mengalami kesulitan Pada tahun 2004 ratarata BOD (Bio Oksigen Demand) mencapai 18,83mg/l dan COD (Chemistry Oksigen Demand) mencapai 39,59 mg/l. (padahal standar baku mutu Kali Brantas BOD 6 mg/l dan COD 10 mg/l) • Telah ada kebijakan yang mengatur masalah pesisir dan laut • 50% hutan mangrove rusak • Terjadi kerusakan terumbu karang dan biota laut 30%-80% • Penerapan ketentuan tata ruang dan kawasan lindung yang belum konsisten • Terjadi pencemaran laut karena pembuangan limbah industri maupun dari kapal pengangkut minyak • BAPEDAL telah melakukan pemberian bibit 1.218.250 batang (sampai dengan tahun 2005) • Kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem pesisir dan pantai

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

339

masih rendah 9 pemanfaatan Penerapan ketentuan Membaiknya pengelolaan Tingkat ekosistem pesisir, laut dan ruang laut, pesisir dan tata ruang dan kawasan pulau-pulau kecil lindung untuk wilayah pulau-pulau kecil pesisir dan pantai belum konsisten Terwujudnya rehabilitasi 1. Prosentase kawasan • Prosentase kawasan lahan kritis dan hutan 30% hutan prop. Jatim 28% terwujudnya kelestarian 2. Tersedianya tata dari luas daratan. kawasan konservasi ruang hutan • Laju degradasi hutan 3. Prosentase konservasi sekitar 0,02% per hutan dan rehabilitasi tahun 4. Tingkat produksi hutan • Belum optimalnya non kayu pemanfaatan hasil 5. Model kerjasama hutan non kayu pengelolaan hutan • Partisipasi masyarakat lestari antara masih rendah. pemerintah dan masyarakat sektor Telah terdata pemetaan Pencegahan dan 1. Kontribusi sebagai migas dalam 20 daerah pemulihan kerusakan daerah kerentanan penerimaan daerah lingkungan pertambangan tanah produksi, gerakan serta pengendalian 2. Jumlah cadangan dan ekspor (dilaporkan dari dinas bencana kegeologian ESDM Propinsi Jawa migas Timur) 3. Teridentifikasinya 332 desa kawasan rawan Terdapat rawan longsor dan bencana geologi 4. Jumlah kegiatan tanahnya rawan gerak. pertambangan tanpa ijin 5. jumlah produksi, cadangan dan ekspor migas propinsi

10

11

VI. Rekomendasi Tindak Lanjut a. Pembangunan Kehutanan

1.

Penegakan hukum pada pelaku kejahatan hutan, terutama pembalakan liar yang mengutamakan kepentingan individu dan kelompok.

2.

Pemanfaatan

pembangunan

kehutanan

dalam

pembangunan

senantiasa

diarahkan pada pencapaian optimalisasi manfaat ekologi, ekonomi dan sosial.Oleh karena itu hutan terus dipertahankan untuk menjamin pembangunan hutan secara berkelanjutan dengan pengelolaan hutan yang lestari, yaitu suatu pengelolaan yang mempertimbangkan keseimbangan tingkat produksi dengan daya dukung terhadap lingkungan dan sosial.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

340

3.

Rehabilitasi hutan dan lahan mutlak diperlukan untuk mengurangi laju degradasi hutan dan lahan.

4. 5.

Penanggulangan pencemaran dengan penggunaan bensin tanpa timbal. Pengembangan sumber energi baru yang ramah lingkungan (seperti bio energy) dan efektif penggunaannya.

b. Pembangunan Lingkungan Hidup 1. 2. Pengawasan dan pengendalian pencemaran air Penataan kembali transportasi, dengan penyediaan public transportation yang murah dan nyaman sehingga dapat mengurangi penggunaan jumlah kendaraan pribadi 3. Penghematan energi untuk industri yang dilakukan melalui

penggantian/peremajaan mesin-mesin industri yang sudah tua yang diiringi dengan kemudahan-kemudahan dari pemerintah dalam hal pengadaan mesin tersebut, seperti pemberian insentif pajak impor.

c. Pembangunan Kelautan 1. Merehabilitasi hutan mangrove untuk mencengah abrasi di sepanjang pantai utara Jawa Timur sampai memenuhi luas ideal. 2. Melibatkan masyarakat pesisir dalam penanaman dan pemeliharaan mangrove.

d. Pembangunan pertambangan 1. 2. Merehabilitasi kawasan bekas pertambangan Memberikan sanksi yang tegas pada para penambang illegal atau yang

melakukan pelanggaran atas ketentuan yang berlaku

VII. Penutup Meringkas pencapaian RPJM Daerah Jawa Timur, telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Jawa Timur. Akan tetapi tidaklah mudah mencapai semua sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Penegakan hukum berkaitan dengan pembalakan liar, pengrusakan lingkungan pesisir, pencemaran lingkungan harus mendapat saksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penyadaran masyarakat akan perlunya lingkungan hidup (hutan,

pesisir/kelautan/pertambangan/sumber mineral) bagi kehidupan menjadi sangat penting untuk segera dilakukan secara lebih intensif. Mulai membiasakan masyarakat dari hal-hal

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

341

kecil seperti hemat energi, tidak membuang sampah, menjaga kelestarian alam serta pemahaman bahwa sumber daya alam tidak semuanya dapat diperbaharui. Masalah sampah dan ketersediaan air bersih tidak dapat dipandang remeh. Pengelolaan sampah yang efektif serta penyediaan air bersih terutama di daerah rawan kekeringan harus mendapat perhatian. Dengan demikian pemerintah propinsi masih mempunyai tugas besar untuk meminimalisir kegiatan-kegiatan masyarakat, baik yang dilakukan oleh individu maupun organisasi (perusahaan-perusahaan ”nakal”) yang meyebabkan pengrusakan lingkungan. Hal lain yang lebih penting adalah mendukung masyarakat untuk sadar bahwa kelestarian lingkungan hidup untuk kelangsungan hidup bersama. Melalui kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah propinsi, upaya

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

342

I.

Pengantar Salah satu perwujudan cita-cita pembangunan nasional sebagaimana

diamanatkan Undang Undang Dasar 1945, adalah melaksanakan pembangunan di berbagai bidang. Dalam hal ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur bertekad untuk melaksanakan pembangunan daerah yang berpegang pada visi “Terwujudnya

masyarakat Jawa Timur yang berakhlak mulia, maju, berdaya saing, sejahtera serta aman dan damai yang berkesinambungan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Salah satu visi pembangunan daerah yang penting adalah mewujudkan percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan percepatan pembangunan infrastruktur. Dalam kondisi saat ini, keberadaan strategi pembangunan diperlukan untuk dapat dipergunakan dengan baik dalam rangka melaksanakan program-program prioritas yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun prioritas program-program tersebut dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009 yang kemudian di turunkan pada daerah, khususnya disini adalah Propinsi Jawa Timur. Pembangunan daerah dalam kurun waktu 2003 sampai dengan 2008 mempergunakan dua dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah, yaitu Rencana Strategis Daerah 20012005 (Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2001) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2006-2008 (Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2005). Percepatan pembangunan infrastruktur sendiri termuat dalam sembilan prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Renstrada. Terdapat tiga pendekatan yang dilakukan guna menunjang percepatan pembangunan infrastruktur di Propinsi Jawa Timur, yang pertama adalah Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Peningkatan Produktivitas melalui Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Penguatan UnitUnit Usaha, dan Lembaga-lembaga Ekonomi, dilaksanakan melalui program-program: 1) Program Pengembangan dan Pengelolaan Sarana, Prasarana Sumber Daya Air dimana disini juga termasuk pemenuhan kebutuhan pada sektor pertanian, perkebunan, dan agribisnis; 2) Program dan Pengembangan Transportasi Fasilitas Lalu Lintas Jalan, Angkutan

Penyeberangan

Sistem

termasuk

pula

Program

Rehabilitasi,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

343

Peningkatan, Pembangunan Jalan dan Jembatan; dan 3) Program Pengelolaan Usaha Pertambangan, Program Pengembangan Tenaga Listrik, dan Program Pembangunan Tenaga Migas, Batu Bara, dan Energi Lainnya. Sedangkan pendekatan kedua yang diprioritaskan adalah 1) Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Bersih, Program Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air; dan 2) Program Penyediaan dan Perbaikan Perumahan dan Permukiman. Sedangkan yang terakhir adalah Program Perluasan Informasi dan Komunikasi. Keberadaan Renstrada tersebut kemudian kemudian diteruskan menjadi

perencanaan taktis strategis yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, serta landasan berpijak dalam perencanaan pembangunan berikutnya. Dokumen Rencana Pembangunan Menengah Daerah tidak saja berisi arah kebijakan pembangunan stratejik dalam membangun Jawa Timur, kedepan secara konseptual-sistimatis, tetapi didalamnya telah ada kesepakatan prinsip antara eksekutif dan legislatif mengenai parameter dan indikator atau tolok ukur kinerja sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pembangunan setiap tahun anggaran. Disini kemudian Pemerintah Daerah membuat tujuh prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Rencana

Pembangunan Menengah daerah, dimana salah satunya adalah Agenda Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Berkelanjutan dan Pembangunan Infrastruktur yang di dalamnya terdapat Sub Agenda Percepatan pembangunan infrastrurtur yang mengatur 22 kegiatan. Keberadaan Propinsi Jawa Timur yang cukup strategis dan memiliki potensi alam yang banyak kiranya pemerintah daerah mampu mengoptimalisasi potensi yang dimiliki dengan menyiapkan infrastruktur yang baik guna mencapai hasil yang maksimal.

II.

Kondisi Awal RPJMN Di Tingkat Daerah Adapun permasalahan-permasalahan yang ada saat pelaksanaan RPJMN di

Propinsi Jawa Timur adalah: 1. Pembangunan Sumber Daya Air a. Pengelolaan air tanah secara terpadu di Jawa Timur, secara umum belum dapat berjalan secara baik. Hal itu disebabkan oleh masalah kelembagaan yang membidangi air tanah di kabupaten/kota sangat beragam, belum adanya Peraturan Daerah yang mengatur pengelolaan air tanah di kabupaten/kota dan ketersediaan Sumber daya Manusia yang belum memadai dalam hal teknis pengelolaan air tanah. Menurut Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 5

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

344

Tahun 2002 tentang Pengelolaan Airtanah di Propinsi Jawa Timur dan UndangUndang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, perijinan airtanah diterbitkan oleh Bupati/Walikota setelah mendapat rekomendasi teknik dari Gubernur untuk Cekungan Air Tanah lintas kabupaten/kota dan rekomendasi teknik dari Menteri untuk Cekungan Air Tanah lintas propinsi. Namun dalam pelaksanaannya masih belum semua kabupaten/kota menerbitkan izin

berdasarkan rekomendasi teknik Gubernur atau Menteri. b. Pengambilan air tanah semakin meningkat namun belum diimbangi dengan kegiatan konservasi secara memadai. Perubahan fungsi lahan di daerah resapan dan pengambilan air tanah yang intensif dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya gradasi potensi air tanah, sementara itu kesadaran masyarakat terhadap pelestarian air tanah masih sangat rendah, sehingga akan menimbulkan dampak lingkungan seperti penurunan muka air tanah secara drastis,

menimbulkan intrusi air laut di daerah pantai dan bahkan dapat menimbulkan penurunan muka tanah (subsidence). c. Banyak luas area kawasan resapan air telah beralih fungsi menjadi daerah terbangun atau tanpa penutup tumbuhan. Hal ini dapat menyebabkan

berkurangnya jumlah resapan air hujan kedalam lapisan pembawa air tanah sehingga dalam jangka panjang potensi ketersediaan air tanah semakin menurun. d. Pada beberapa dekade yang lalu, air tanah dianggap barang bebas yang tidak memiliki nilai ekonomi, tetapi sejalan dengan semakin meningkatnya aktifitas manusia serta kemajuan berbagai bidang, maka persepsi manusia terhadap air tanah berubah. Air Tanah saat ini dianggap sebagai komoditi yang mempunyai nilai ekonomi yang dapat diperdagangkan dan bersifat strategis. Namun disisi lain air tanah mempunyai fungsi sosial sebagai penyedia air tanah bagi masyarakat terutama di daerah sulit air atau tempat-tempat dimana masyarakat tidak mampu memanfaatkan air secara layak dengan cara sederhana melalui sumur gali atau mata air. 2. Pembangunan Prasarana Jalan a. Adanya fluktuasi kenaikan harga pasar untuk bahan-bahan utama pembuatan jalan. b. Tidak ada kesesuaian antara mutu dan harga aspal yang ada di dokumen lelang (pasaran) dengan mutu dan harga aspal produksi Pertamina, dimana harga aspal produksi Pertamina lebih mahal sehingga penyedia jasa merasa keberatan dan rugi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

345

c. Keterbatasan pembiayaan untuk peningkatan jalan dan penggantian jembatan. d. Pembiayaan pembangunan Jalan Lintas Selatan sangat mahal karena melewati daerah pegunungan. e. Permintaan harga tanah cukup tinggi dari NJOP, terutama pada pembangunan jalan akses Suramadu sisi Madura. 3. Pembangunan LLAJ a. Masih banyaknya pelanggaran kelebihan muatan maupun pelanggaran ketertiban lalu lintas jalan. b. Biaya operasional angkutan barang yang sangat tinggi akan berdampak pada peningkatan harga barang-barang. Sebaliknya untuk memenuhi kebutuhan biaya operasional angkutan, pada pengangkutan barang tertentu yang harga jualnya murah, maka para pengusaha angkutan dan pemilik barang berusaha

mengangkut muatan melebihi ketentuan yang berlaku. c. Belum mantapnya keselamatan dan ketertiban di bidang transportasi jalan. d. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pengetahuan kelalulintasan dan rendahnya SDM petugas operasional. e. Banyaknya jumlah sepeda motor di jalan dan pengendara sepeda motor yang melanggar lalu lintas sehingga rasio kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sangat besar. f. Masih belum tercukupinya kelengkapan jalan dan fasilitas lainnya sehingga kelancaran dan keselamatan dibidang lalu lintas dan angkutan jalan belum terwujud secara baik. g. Belum optimalnya penerapan manajemen dan rekayasa lalu lintas dalam menunjang terwujudnya peningkatan unjuk kerja lalu lintas dan angkutan jalan. 4. Pembangunan Perkeretaapian a. Banyaknya perlintasan sebidang dan timbulnya perlintasan baru yang akan mengakibatkan terjadinya banyak titik rawan kecelakaan. b. Tingginya arus komuter dalam wilayah Gerbangkertasusila, yang belum dilayani secara khusus sehingga menimbulkan kepadatan lalu lintas pada ruas jalan masuk kota Surabaya serta jalan-jalan utama kota. c. Kurang optimalnya kondisi operasional PT KAI. d. Keberadaan rel keretaapi di porong yang bersebelahan dengan bencana lumpur Sidoarjo yang sudah mendesak untuk dipindahkan. 5. Pembangunan ASDP a. Rendahnya disiplin operator penyelenggara angkutan penyeberangan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

346

b. Masih terbatasnya penyelenggaraan pelayanan angkutan penyeberangan di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. c. Tingginya total biaya angkutan penyeberangan di banding tarif yang ada. d. Banyaknya sarana dan prasarana angkutan penyeberangan yang sudah cukup tua sehingga mengganggu kelancaran dan keselamatan operasional. 6. Pembangunan Transportasi Laut a. Masih terkonsentrasinya aktifitas angkutan laut pada satu pelabuhan (Tanjung Perak) sehingga aktifitas dan volume menjadi padat sementara pelabuhan lainnya, misalnya pelabuhan Gresik, Probolinggo volume dan aktifitasnya sangat rendah. b. Jaringan angkutan lain yang belum tersambung oleh adanya konektivitas antara pelabuhan utama (trunk port) dengan pelabuhan pendukung (feeder port). c. Belum optimalnya penggunaan moda angkutan jalan rel di daerah kerja pelabuhan d. Alur masuk dan kedalaman kolam pelabuhan terkendala dengan lebar dalamnya apabila dibandingkan dengan kepadatan lintasan dan kedalaman draft kapal yang akan berkunjung. 7. Pembangunan Transportasi Udara a. Kecelakaan pesawat udara. Divisi Lalu Lintas Udara tidak dapat memutuskan bahwa landasan terbuka dengan batasan-batasan tertentu karena merasa tidak mempunyai wewenang (merasa kewenangan tersebut ada pada Administrator Bandara). b. Ijin Pembangunan dan Operasional Pembinaan SDM Bandara Khusus sampai saat ini semua pekerjaan ijin pembangunan Bandara Umum dan Bandara Khusus masih ditangani oleh Pusat sehingga tidak sesuai dengan semangat UU No. 32 Tahun 2005 dan azas dekonsentrasi. c. Bandar Udara Juanda merupakan satu-satunya Bandar Udara di Jawa Timur yang bertaraf internasional berstatus sebagai pusat penyebaran utama, oleh karena pendapatan arus lalu lintas udara yang frekuensinya cukup padat sehingga untuk keperluan pendidikan penerbangan dan latihan TNI AU sudah waktunya untuk dialihkan sebagian kegiatan di Bandar Udara alternatif. d. Bandar Udara alternatif Malang dan Trunojoyo belum mendukung sistem transportasi udara yang ada secara penuh karena masih terbatasnya prasarana yang ada. 8. Pembangunan Energi a. Pemerintah propinsi tidak dapat berperan aktif dalam pengelolaan sumber energi dari minyak dan gas bumi karena sesuai Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

347

tentang Minyak dan Gas Bumi, bahwa kewenangan pengelolaan Minyak dan Gas Bumi masih berada di Pusat. b. Izin pengelolaan oli bekas yang ada di daerah masih berada di Direktorat Jenderal Migas, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, sehingga banyak penyimpangan yang penangannya kurang maksimal. c. Penerimaan daerah yang berasal dari bagian hasil perimbangan (Royalti) di bidang minyak dan gas bumi kurang proporsional karena Pemerintah Pusat kurang transparan dalam penghitungan bagi hasil tersebut. d. Meskipun potensi Sumber Daya Energi Alternatif cukup besar namun

pemanfaatan energi alternatif kurang berkembang karena masih besarnya ketergantungan terhadap energi konvensional dan nilai ekonomis energi alternatif masih belum dapat bersaing dengan energi konvensional (migas). e. Pada umumnya masyarakat belum banyak yang mengetahui keuntungan menggunakan energi alternatif karena kurang intensifnya kegiatan sosialisasi kepada masyarakat tentang penggunaan energi alternatif. 9. Pembangunan Kelistrikan a. Rencana Umum Kelistrikan Daerah (RUKD) yang bersifat regional belum disusun. Hal ini disebabkan Pemerintah Kabupaten/Kota belum menyusun RUKD sebagai acuan Pemerintah Propinsi dalam menyusun RUKD Propinsi. b. Masih banyak daerah-daerah di pedesaan terpencil yang belum teraliri listrik oleh PLN karena pembangunan infrastruktur jaringan listrik membutuhkan biaya yang besar namun kurang ekonomis dan ketersediaan listrik kurang sebanding dengan kebutuhan yang ada. 10. Pembangunan Pos dan Telematika a. Terbatasnya sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi guna mendukung sistem informasi bencana. b. Pengawasan terhadap perusahaan jasa titipan, masih sangat minim dikarenakan terbatasnya dana dan personil untuk menjangkau seluruh perusahaan jasa titipan di Jawa Timur. c. Standarisasi alat/perangkat Pos dan Telekomunikasi, dalam rangka menertibkan pengguna, penjual atau produsen alat/perangkat pos dan telekomunikasi agar sesuai dengan peraturan yang berlaku. d. Dengan adanya Keputusan Menteri Perhubungan No 54 Tahun 2000, maka penyelenggaraan wartel tidak lagi dengan perijinan yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Wilayah, melainkan cukup mengadakan Perjanjian Kerjasama (PKS)

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

348

dengan PT. Telkom. Dampaknya banyak pengelola wartel lama menyampaikan keluhan karena banyak bermunculan wartel baru yang tidak terkontrol. e. Pembinaan terhadap frekuensi radio antara lain adanya kekosongan

hukum/peraturan tentang pelaksanaan kegiatan amatir radio dan komunikasi radio antar penduduk akibat terjadinya peralihan dari Kanwil Departemen Perhubungan ke Dinas Perhubungan. 11. Pembangunan Perumahan a. Rendahnya tingkat pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau yang disebabkan oleh: (1) Belum mantapnya kelembagaan penyelenggaraan perumahan dan

permukiman serta sistem pembiayaan perumahan. (2) Terbatasnya lahan murah untuk pembangunan perumahan dan rendahnya efisiensi dalam pembangunan perumahan. (3) Terbatasnya akses Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam memenuhi kebutuhan perumahan yang layak. (4) Lemahnya akses masyarakat terhadap sumberdaya kunci perumahan. (5) Masih lemahnya komitmen pemerintah daerah dalam pembangunan

perumahan. b. Menurunnya kualitas lingkungan permukiman dan meningkatnya luasan kawasan kumuh yang disebabkan oleh: (1) Belum memadainya prasarana dan sarana dasar lingkungan perumahan dan permukiman dan menurunnya daya dukung lingkungan perumahan dan permukiman. (2) Belum terintegrasinya pengembangan kawasan perumahan dengan

pembangunan prasarana dan sarana kawasan. (3) Lemahnya pengawasan dan pengendalian alih fungsi lahan untuk

pembangunan perumahan dan permukiman. c. Masih terbatasnya penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman di kawasan tertinggal, di kepulauan terpencil dan di kawasan perbatasan. d. Masih belum efektifnya penerapan konsep pengendalian permukiman melalui dukungan prasarana dan sarana dasar permukiman Kawasan Siap Bangun (Kasiba) dan Lingkungan Siap Bangun (Lisiba). e. Kurang ditegakkannya aturan keselamatan bangunan dalam pembangunan gedung.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

349

f.

Masih diperlukannnya pembinaan teknis dalam pembangunan gedung, terutama di daerah rawan gempa yang berpenghuni serta kurang ditegakkannya aturan keselamatan bangunan dalam pembangunan gedung.

g. Masih

rendahnya

upaya

peningkatan

kualitas

lingkungan

kawasan

tradisional/bersejarah. Masih belum efektifnya pelaksanaan teknis dan administratif pemeliharaan dan rehabilitasi bangunan gedung dan rumah negara (GRN). 12. Pembangunan Air Minum dan Air Limbah a. Rendahnya peningkatan pelayanan air bersih di perkotaan dan perdesaan khususnya untuk penduduk miskin dan daerah kekeringan. b. Rendahnya kualitas manajemen pengelolaan air minum yang dilakukan oleh PDAM. c. Stagnasi dalam penurunan tingkat kebocoran air (teknis maupun non teknis). d. Permasalahan tarif air minum yang tidak mampu mengimbangi biaya produksi, sehingga tidak dapat mencapai kondisi pemulihan biaya (cost recovery). e. Pada beberapa daerah terjadi konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber air baku. Hal ini disebabkan adanya kepentingan peruntukan sumber air tersebut untuk non air bersih, maupun karena kendala batas administrasi wilayah. f. Pelayanan air bersih non-perpipaan (sebagian besar di perdesaan) belum teridentifikasi secara kuantitatif maupun kualitatif berdasarkan kondisi air yang dikonsumsi secara mandiri. g. Masih terbatasnya pelayanan pengolahan sistim air limbah terpusat (sistem sewerage) di perkotaan. h. Belum memadainya pelayanan sanitasi yang hal itu akan dapat memberikan kontribusi pencemaran terhadap air permukaan dan air tanah. i. Pengolahan lumpur tinja belum efektif karena masih rendahnya pemanfaatan sarana IPLT yang sudah terbangun. 13. Pembangunan Persampahan dan Drainase a. Masih belum efektifnya penerapan ’3R’ (Reduce,Reuse,Recycle) dalam upaya pengurangan volume sampah dari sumbernya. b. Masih rendahnya kualitas pengelolaan manajemen dan teknis TPA yang 95% meskipun didisain dengan sistem Sanitary Landfill tetapi dioperasikan dengan sistem Open Dumping, sehingga mengakibatkan memburuknya kualitas

lingkungan disekitarnya (pencemaran udara, tanah dan air tanah serta air permukaan).

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

350

c. Belum mantapnya sistem pembiayaan dan pengelolaan retribusi sampah, serta belum optimalnya upaya pengelolaan sampah yang dapat menghasilkan cost recovery. d. Masih lemahnya kelembagaan insitusi pengelola sampah dan belum optimalnya kerjasama antar daerah dalam pengeloaan sampah terpadu. e. Tidak berfungsinya saluran drainase sebagai pematus air hujan, hal ini disebabkan antara lain karena masyarakat membuang sampah ke saluran drainase, akibat dari rendahnya penegakan hukum khususnya dalam perambahan badan air termasuk saluran drainase di kawasan perkotaan. f. Belum mantapnya peraturan dan standar pengelolaan drainase.

g. Penanganan masalah banjir perkotaan masih secara parsial dan tidak konseptual karena terbatasnya dokumen perencanaan induk dan perencanaan detail drainase yang seharusnya dapat dipakai sebagai acuan dalam menyusun rencana tindak. h. Belum memadainya sistem dan pendanaan untuk pemeliharaan drainase. i. Belum terpadunya kerjasama antar instansi terkait maupun antar pemerintah daerah dalam penanganan drainase khususnya pengurangan luas daerah genangan atau banjir.

III.

Sasaran Yang Ingin Dicapai

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang ada, selanjutnya Pemerintah Daerah melalui RPJMN daerah merumuskan sasaran yang akan dilaksanakan. Adapun sasaransasaran tersebut adalah: 1. Pembangunan Sumber Daya Air Potensi air tanah yang selama ini hanya dipandang sebelah mata, nyatanya keberadaannya semakin mengkhawatirkan dari hari ke hari. Oleh karena itu, untuk menjaga ketersediaan air perlulah dilakukan langkah-langkah guna menjaganya. Program ini ditujukan untuk peningkatan keberlanjutan fungsi dan pemanfataan sumberdaya air, mewujudkan keterpaduan pengelolaan serta menjamin kemampuan keterbaharuan dan keberlanjutannya. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah pola pengelolaan sumberdaya air yang terpadu dan berkelanjutan, serta terkendalinya eksploitasi air tanah. 2. Pembangunan Prasarana Jalan Kondisi jalan sebagai salah satu faktor penting tolok ukur tingkat pertumbuhan di daerah sudah semestinya menjadi salah satu prioritas pembangunan infrastruktur. Adapun hal yang melandasi tujuan pembangunan infrastruktur dalam prasarana jalan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

351

adalah: 1) Memelihara/merawat serta memperbaiki kerusakan yang ada agar tetap dalam kondisi mantap sehingga masih dapat melayani lalu lintas; 2)

Menjaga/mempertahankan kemantapan jalan agar sesuai dengan umur rencana jalan; 3) Meningkatkan pembangunan jalan dan jembatan pada ruas jalan nasional dan propinsi yang agar memiliki tingkat pelayanan yang memadai; 4) Membangun jalanjalan baru guna mewujudkan sistem jaringan jalan untuk mendukung kawasan strategis; dan 5) Meningkatkan aksesibilitas wilayah yang sedang dan belum berkembang melalui dukungan pelayanan prasarana jalan di wilayah Selatan Jawa Timur. Berdasarkan tujuan tersebut, maka sasaran yang ingin dicapai adalah: a. Terwujudnya kondisi permukaan jalan agar tetap mantap sehingga dapat melayani lalu lintas. b. Mengembalikan kondisi perkerasan jalan dan jembatan rusak akibat bencana alam. c. Terwujudnya jalan dan jembatan pada ruas jalan nasional dan propinsi yang memiliki kapasitas daya dukung yang memadai sebagai antisipasi pertumbuhan lalu lintas. d. Terselesaikannya pembangunan Jembatan Surabaya-Madura pada tahun 2008. 3. Pembangunan LLAJ Dengan tujuan untuk mengurangi pelanggaran muatan yang dilakukan oleh angkutan barang dengan tujuan mengurangi kerusakan fasilitas sarana dan prasarana jalan dan mencegah terjadinya kecelakaan yang diakibatkan oleh pelanggaran kelebihan muatan, maka sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya pengawasan dan pengendalian lalu lintas angkutan jalan khususnya terhadap angkutan barang, diharapkan pelanggaran muatan yang dilakukan oleh angkutan barang dapat ditekan agar kecelakaan lalu lintas dapat dieliminir. Selain itu, tujuan lain yang ingin dicapai lewat pembangunan LLAJ adalah Mengurangi kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan pengemudi pada waktu beroperasi di jalan sehingga dapat memperlancar mobilitas angkutan baik angkutan orang/barang. Oleh karena itu, sasaran yang ingin dicapai adalah Meningkatnya kemampuan dan penguasaan pengemudi angkutan jalan agar dapat menciptakan kelancaran dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan. Jumlah kecelakaan lalu lintas pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang signifikan. Dikarenakan rasio kecelakaan yang diakibatkan oleh jenis roda dua (sepada motor) sangat dominan yaitu sebesar 88,77% dari total keseluruhan kejadian

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

352

kecelakaan di seluruh Jawa Timur. Hal ini disebabkan karena jumlah kendaraan bermotor yang sangat besar jumlahnya dan perilaku pengendara sepeda motor yang kurang mentaati peraturan lalu lintas. Keberadaan LLAJ yang baik turut berperan serta dalam memperlancar roda perekonomian sehingga transportasi dapat berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak pembangunan juga tersedianya jasa angkutan orang dan barang yang terpadu, terintegrasi didalam sistem angkutan jalan sehingga dapat menjangkau seluruh pelosok wilayah Jawa Timur yang selamat, aman, teratur dan efisien. Sehingga dengan tersedianya peringatan, perintah atau petunjuk dan arahan bagi pemakai/pengguna jalan agar dapat selamat, aman dan lancar sampai tujuan. 4. Pembangunan Perkeretaapian Sebagai salah satu moda transportasi masal yang murah dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, sudah sepatutnya keberadaan industri

perkeretaapian terus ditingkatkan kondisi dan pelayanannya. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatkan sistem transportasi, manajemen perencanaan teknis perhubungan; Meningkatkan sarana dan prasarana kereta api; dan kualitas pelayanan jasa transportasi darat. Langkah-langkah yang dapat diambil guna tercapainya tujuan tersebut adalah tersusunnya dokumen database bidang

transportasi darat yang lengkap dan up to date, menurunnya kuantitas dan kualitas kecelakaan dalam penyelenggaraan jasa transportasi darat, dan meningkatnya kecepatan penanganan kecelakaan transportasi darat. 5. Pembangunan ASDP Sebagai salah satu propinsi yang berbatasan dengan wilayah perairan, sudah selayaknya moda transportasi perairan juga turut diperhatikan dengan baik. Transportasi dari/atau ke Pulau Madura yang termasuk wilayah Propinsi Jawa Timur merupakan salah satu bentuk layanan yang harus diperhatikan. Sebagai daerah yang masih memiliki potensi besar, sudah selayaknya ditunjang dengan sarana transportasi yang memadai. Hal iniliah yang melandasi ditingkatkannya saran transportasi perairan/laut. Adapun tujuannya adalah: 1) Meningkatkan sistem transportasi angkutan penyeberangan; 2) Meningkatkan manajemen perencanaan teknis

perhubungan; dan 3) Meningkatkan pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana angkutan sungai, danau dan penyeberangan. Sementara sasaran yang ingi dicapai adalah menurunnya kuantitas dan kualitas kecelakaan dalam penyelenggaraan jasa transportasi angkutan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

353

penyeberangan dan meningkatnya kecepatan penanganan kecelakaan transportasi angkutan penyeberangan. 6. Pembangunan Transportasi Laut Bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan jasa transportasi laut, meningkatkan faktor keselamatan penyelenggaraan jasa transportasi laut, dan meningkatkan pelayanan, pengelolaan dan fungsi pengawasan angkutan laut. Maka sasaran pembanguna transportasi laut yang ingin dicapai adalah bertambahnya prosentase jumlah anggota masyarakat yang dapat dilayani oleh jasa transportasi laut, terselenggaranya jasa transportasi pada daerah-daerah terpencil dan kepulauan dengan kualitas yang memadai, dan meningkatnya kecepatan dan kenyamanan pelayanan jasa transportasi laut pada daerah-daerah terpencil. 7. Pembangunan Transportasi Udara Meningkatnya arus perekonomian masyarakat dapat dilihat salah satu indikatornya dengan semakin sering orang bepergian untuk melakukan perjalanan bisnis. Dengan kondisi geografis yang terdiri dari pulau-pulau yang menyebar, keberadaan transportasi udara dirasa sangat penting keberadaannya. Tidak saja bagi para pelaku bisnis, kegiatan pariwisata juga sangat tertolong dengan moda tranportasi ini. Tujuan dari pembangunan infrastruktur di bidang transportasi uadara adalah: 1) Meningkatkan kualitas pelayanan jasa transportasi udara; 2) Peningkatan fasilitas sarana dan prasarana angkutan udara; 3) Meningkatkan efektifitas evaluasi implementasi sistem transportasi udara; dan 4) Menurunnya frekuensi terjadinya kecelakaan transportasi udara. Adapun hal-hal yang tidak dapat dikecilkan fungsinya sebagai sasaran utama pembangunan bidang ini adalah: 1) Meningkatnya kecepatan penanganan kecelakaan transportasi udara; 2) Terjangkaunya struktur tarif pelayanan jasa transportasi oleh masyarakat; 3) Bertambahnya prosentase jumlah anggota masyarakat yang dapat dilayani oleh jasa transportasi; dan 4) Menurunnya frekuensi terjadinya keterlambatan jasa pelayanan transportasi udara. 8. Pembangunan Energi Mewujudkan pengembangan dan pemanfaatan energi Migas, Batubara dan energi lainnya serta aplikasi teknologi energi untuk diversifikasi energi. 9. Pembangunan Kelistrikan Bertujuan untuk mewujudkan tersedianya tenaga listrik di pedesaan dan kepulauan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

354

Pembangunan ketenaga listrikan. Sasaran yang ingin dicapai adalah memenuhi kebutuhan listrik di pedesaan dan kepulauan dari 8.334 desa menjadi 8.344 desa.

10. Pembangunan Pos dan Telematika Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pembangunan pos dan telematika adalah: 1) Meningkatkan ketersedian data pada pusat data Propinsi; 2) Meningkatkan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi; 3) Peningkatan pelayanan jasa titipan; 4) Pemantauan pemakaian frekuensi secara efektif; dan 5) Pengembangan komunikasi radio. Sementara sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan pembangunan ini adalah: 1) Terwujudnya sarana dan prasarana teknologi informasi dan komunikasi untuk penyelenggaraan pemerintahan; 2) Terbangunnya telecenter sebagai sarana teknologi informasi dan komunikasi bagi masyarakat; dan 3) Meningkatnya pelayanan jasa titipan. 11. Pembangunan Perumahan Guna memenuhi tujuan pembangunan perumahan, yaitu: 1) terlaksananya pengembangan perumahan; dan 2) terlaksananya pemberdayaan komunitas

perumahan, maka sasaran yang ingin dicapai adalah: a. Sasaran Pengembangan Perumahan. (1) Menurunnya jumlah backlog rumah dari 293 ribu unit (10,5%) menjadi sekitar 318 ribu unit (10,2%) di perkotaan, dan dari 226 ribu unit (4,9%) menjadi 237 ribu (4,7 %) di perdesaan. (2) Menurunnya luasan kawasan kumuh menjadi 70% dari kondisi saat ini. b. Sasaran Pemberdayaan Komunitas Perumahan. (1) Terciptanya kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan perumahan yang layak huni secara swadaya. (2) Terealisasinya pola subsidi perumahan yang tepat sasaran. (3) Terealisasinya kredit mikro bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk perbaikan dan pembangunan rumah baru. 12. Pembangunan Air Minum dan Air Limbah Berharap untuk mewujudkan tujuan pembangunan air minum dan air limbah, yaitu terlaksananya pengembangan kinerja pembangunan air minum dan air limbah serta terlaksananya pengembangan kelembagaan pembangunan air minum dan air limbah, maka beberapa sasaran yang diharapkan tercapai adalah: a. Sasaran Peningkatan Kinerja Pembangunan Air Minum dan Air Limbah:

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

355

(1) Meningkatnya capaian pelayanan air bersih di perkotaan dari 39% menjadi sebesar kurang lebih 43%, dan di perdesaan dari 45,40% menjadi sebesar kurang lebih 47,40%. (2) Menurunnya tingkat kebocoran air menjadi 30% (3) Meningkatnya jumlah IPAL/IPLT yang dapat dimanfaatkan 40% (4) Meningkatnya cakupan pelayanan Air Limbah di perkotaan dari 75,4% menjadi sebesar kurang lebih 76,3%, dan di perdesaan dari 47,4% menjadi sebesar kurang lebih 49,4% b. Sasaran Pengembangan Kelembagaan Pembangunan Air Minum dan Air Limbah: (1) Meningkatnya kinerja lembaga pengelola air minum (PDAM & HIPPAM) dan lembaga pengelola air limbah. (2) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan air minum dan air limbah. (3) Meningkatnya koordinasi dan kerjasama antar sektor dan antar wilayah dalam pembangunan air minum dan air limbah. (4) Meningkatnya pengembangan dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pembangunan air bersih dan air limbah. 13. Pembangunan Persampahan dan Drainase Dengan tujuan terlaksananya peningkatan kinerja pembangunan persampahan dan drainase dan pengembangan kelembagaan pembangunan persampahan dan drainase, maka disusunlah beberapa sasaran penentu, yaitu: a. Sasaran Peningkatan Kinerja Pembangunan Persampahan dan Drainase: (1) Meningkatnya cakupan pelayanan persampahan diperkotaan dari 47,7% menjadi sebesar kurang lebih 49,6%. (2) Meningkatnya kinerja pengangkutan dan pengelolaan TPA sampah. (3) Meningkatnya fungsi saluran drainase sebagai pematus air hujan. (4) Menurunnya luasan genangan dan kawasan banjir hingga 75% dari kondisi saat ini. b. Sasaran Drainase: (1) Meningkatnya kinerja lembaga pengelola persampahan dan drainase. (2) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan persampahan dan drainase. (3) Meningkatnya koordinasi dan kerjasama antar sektor dan antar wilayah dalam pembangunan persampahan dan drainase. Pengembangan Kelembagaan Pembangunan Persampahan dan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

356

(4) Meningkatnya pangembangan dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pembangunan persampahan dan drainase.

IV.

Arah Kebijakan Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propinsi Jawa Timur

yang tertuang dalam Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2005. strategi pembangunan yang tepat adalah melaksanakan program-program prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Daerah Propinsi Jawa Timur tahun 2001-2005 melalui Peraturan Daerah Nomor 19 tahun 2001, karena Renstrada sebagai dokumen perencanaan taktis strategis yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, serta landasan berpijak dalam perencanaan pembangunan berikutnya. Dokumen Renstrada tidak saja berisi arah kebijakan pembangunan stratejik dalam membangun Jawa Timur kedepan secara konseptualsistimatis, tetapi didalamnya telah ada kesepakatan prinsip antara eksekutif dan legislatif mengenai parameter dan indikator atau tolok ukur kinerja sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pembangunan setiap tahun anggaran. Terdapat sembilan prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Renstrada, dimana salah satunya adalah Percepatan pemulihan ekonomi dan peningkatan produktivitas melalui pengembangan ekonomi kerakyatan, penguatan unit-unit usaha, dan lembaga-lembaga ekonomi. Adapun penjabaran dari prioritas tersebut antara lain yaitu: 1) Program Pengembangan Tenaga Listrik; 2) Program Pembangunan Tenaga Migas, Batu Bara, dan Energi Lainnya; 3) Program Rehabilitasi, Peningkatan, Pembangunan Jalan dan Jembatan; 4) Program Pengembangan dan Pengelolaan Sarana, Prasarana Sumber Daya Air; dan 5) Program Pengembangan Fasilitas Lalu Lintas Jalan, Angkutan Penyeberangan dan Sistem Transportasi. Lebih lanjut dalam sembilan prioritas pembangunan tersebut, juga dijabarkan Pengendalian Eksplorasi Sumber Daya Alam, Pelestarian Fungsi dan Keseimbangan Lingkungan Hidup, Penataan Permukiman, Serta Penataan Ruang, yang dilaksanakan melalui program-program antara lain yaitu: 1) Program Perbaikan Perumahan dan Permukiman; 2) Program Penyediaan Perumahan dan Permukiman; dan 3) Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Bersih. Sedangkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai dokumen perencanaan taktis strategis yang diharapkan dapat

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

357

dipergunakan sebagai dasar untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, serta landasan berpijak dalam perencanaan pembangunan berikutnya. Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tidak saja berisi arah kebijakan pembangunan stratejik dalam membangun Jawa Timur, kedepan secara konseptual-sistimatis, tetapi didalamnya telah ada kesepakatan prinsip antara eksekutif dan legislatif mengenai parameter dan indikator atau tolok ukur kinerja sebagai acuan penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dan pembangunan setiap tahun anggaran. Propinsi Jawa Timur memiliki tujuh prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah daerah, dimana salah satunya yaitu: Agenda Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Berkelanjutan dan Pembangunan Infrastruktur. Agenda Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Berkelanjutan dan Pembangunan Infrastruktur selanjutnya dibagi lagi menjadi beberapa sub agenda yang salah satunya adalah Agenda Percepatan pembangunan infrastrurtur yang memiliki beberapa rincian kegiatan, yaitu: a. Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau, dan Sumber Air Lainnya. b. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, dan Jaringan Pengairan Lainnya. c. Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku. d. Program Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai. e. Program Penataan Kelembagaan dan Ketatalaksanaan. f. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Jalan dan Jembatan.

g. Program Peningkatan/Pembangunan Jalan dan Jembatan. h. Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana, Fasilitas dan Penataan Lalu Lintas Angkutan Jalan. i. Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas

Perkeretaapian. j. Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas

Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan. k. Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas

Transportasi Laut. l. Program Pembangunan, Rehabilitasi, Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas

Transportasi Udara. m. Program Pengembangan dan Pembinaan Pos, Frekuensi Radio dan Telematika.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

358

n. Program Penguasaan, Pengembangan Migas, Batu Bara dan Energi Lainnya serta Aplikasi Teknologi Energi. o. Program Penguasaan, Pengembangan Aplikasi serta Teknologi Ketenagalistrikan. p. Program Pengembangan Perumahan. q. Program Pengembangan Kinerja Pembangunan Air Minum dan Air Limbah. r. Program Peningkatan Kinerja Pembangunan Persampahan dan Drainase.

s. Program Pengendalian Pembangunan Kota-Kota Besar dan Metropolitan. t. Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan.

u. Program Pengembangan Kelembagaan Pembangunan Air Minum dan Air Limbah. v. Program Pengembangan Kelembagaan Pembangunan Persampahan dan Drainase.

V.

Pencapaian RPJM Di Propinsi Jawa Timur

1. Pembangunan Sumber Daya Air Sumber daya air sebagai sumberdaya yang dapat diperbaharui tidak akan pernah habis untuk digunakan. Namun jika dalam pengelolaannya tidak dilakukan secara optimal, pada suatu saat air akan menjadi barang yang sangat langka. Air dan sumber daya air di Indonesia dewasa ini berada pada tingkat kritis yang di tandai dengan terjadinya kelangkaan air, baik karena kejadian alam ataupun ulah manusia. (Ir. Sujoko; Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Pemulihan Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Kab. Bondowoso; 8 September 2008). Program

penanaman sejuta pohon nasional diikuti dengan program di daerah seperti di kota Malang dengan programnya “Malang Ijo Royo-Royo” diharapkan mampu

mengembalikan kondisi air tanah yang ada. Lebih lanjut, perlu untuk dikaji lebih mendalam terkait dengan penetapan daya tampung beban pencemaran pada sumbersumber air lintas kota/kabupaten, penetapan kelas air dan lebih mendorong peran Gubernur dalam pengendalian pencemaran air di Jawa Timur. (Prigi Arisandi; Surabaya; 22 Februari 2008). 2. Pembangunan Prasarana Jalan Penyelesaian Jembatan Suramadu yang kembali molor, pemenuhan target selesai pengerjaan tahun 2008 tidak dapat terpenuhi, diperkirakan baru akan selesai awal tahun 2009.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

359

-

Topografi kawasan selatan Jawa Timur yang bergunung dan berbukit ditengarai menjadi penyebab pembangunan jalan nasional di kawasan tersebut terhambat. Selain itu, prioritas juga diberikan kepada daerah di kawasan pantai utara Jatim karena di sana terdapat lebih banyak kawasan industri dan pelabuhan besar. (Direktur Jalan dan Jembatan Wilayah Barat Ditjen Bina Marga Hediyanto Hussaini; Jakarta; Selasa, 06 Mei 2008).

Bencana lumpur sidoarjo turut menambah masalah terhadap prasarana jalan. Keberadaan jalur poros Surabaya-Porong yang menghubungkan kawasan barat dan timur propinsi Jawa Timur keberadaannya tidak menjadi lebih baik.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

360

Kemacetan lalu lintas masih masih terjadi hampir setiap saat, sementara proyek pembuatan jalan tol baru Surabaya-Pandaan masih belum terealisasi. 3. Pembangunan LLAJ Belum optimalnya penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran di bidang lalu lintas dan angkutan jalan. (Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdar) Dephub RI, Iskandar Abubakar; Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bidang LLAJ seluruh Indonesia tahun 2008, di hotel Shangri-La Surabaya, Rabu, 14 Mei 2008).

-

Program Safety Riding yang digagas oleh Polda Jatim bersama pihak swasta terbukti mampu mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya.

-

Dengan

kemajuan

di

bidang

Ilmu

Pengetahuan

dan

Teknologi

(Iptek),

pemanfaatan peralatan elektronika untuk kepentingan penegakan hukum juga harus sudah mulai dipikirkan dan diantisipasi penerapannya. (Bappeprop Jatim). 4. Pembangunan Perkeretaapian Kondisi perlintasan Keretaapi yang berada di samping lokasi bencana lumpur lapindo Sidoarjo sudah berada pada titik kritis, hal ini ditandai telah seringnya air endapan lumur yang meluap menutupi jalur rel, atau pada saat hujan turun kondisi bisa menjadi lebih parah. Program penggantian bantalan rel keretaapi di beberapa wilayah di Propinsi Jawa Timur yang diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan selama perjalanan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

361

http://surabaya.detik.com/read/2008/12/13/095935/1053040/466/bantalan-rel-kajalur-utara-berhasil-diperbaiki

5. Pembangunan ASDP Penyelesaian pelabuhan yang dikelola oleh ASDP di Lamongan belum juga rampung, padahal target awal adalah mulai dapat beroperasi pada tahun 2008 sebagai alternatif pelabuhan Tanjung Perak yang telah padat arus keluar masuk barang. (Kepala Bagian Humas Pemkab Lamongan, Aris Wibawa; Kamis, 1 Juli 2008; diakses dari www.kapanlagi.com). 6. Pembangunan Transportasi Laut Program pembangunan, rehabilitasi, pemeliharaan sarana dan prasarana angkutan sungai, danau dan penyeberangan yang akan diarahkan ke Lamongan, Bawean, Sapudi, Jangkar, Kangean, Ketapang, Ujung Kamal, dan Kalianget masih belum memenuhi target yang diharapkan. Program pengembangan terminal petikemas di pantai utara Bangkalan (international hub port), pengembangan pengelolahan Pelabuhan Tanjungwangi, dan penanganan prasarana pelabuhan juga masih belum terlaksana dengan baik. Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Propinsi Jatim Dr. Hary Soegiri; Surabaya, Kamis, 13 Maret 2008. 7. Pembangunan Transportasi Udara Peningkatan kapasitas Bandara Juanda, peningkatan fungsi Bandara

Abdurrahman Saleh Malang dan Iswahyudi Madiun, pembangunan bandara perintis di

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

362

Banyuwangi, Jember, Bawean, Trunojoyo, dan Pacitan, pembangunan bandara khusus di Blitar dan Bojonegoro, serta pembangunan bandara internasional di kawasan Pantura. Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Propinsi Jatim Dr. Hary Soegiri; Surabaya, Kamis, 13 Maret 2008.

Terselesaikannya lapangan udara perintis, seperti di Jember yang juga telah di uji coba dengan pesawat kecil. Selanjutnya ditunggu bandara perintis lain yang akan segera dibuka, yaitu di Trunojoyo, Banyuwangi, Pacitan, dan Bawean. 8. Pembangunan Energi Untuk mengatasi krisis energi yang dialami oleh PLN, pemerintah daerah dan pihak swasta telah bekerjasama untuk mencari energi alternatif. Walaupun telah banyak contoh penerapan energi alternatif, seperti pemanfaatan energi tenaga surya, biogas yang berasal dari gas kotoran hewan. Namun mayoritas masih bersifat pilot project dan belum dapat dikonsumsi oleh masyarakat untuk skala yang lebih luas. (Jawapos, 10 Maret 2008). 9. Pembangunan Kelistrikan Untuk prasarana kelistrikan, pemerintah daerah masih ragu karena menjadi kewenangan PLN. Di sisi lain, PLN terbukti tidak mampu melayani kebutuhan listrik masyarakat. Di wilayah perkotaan, kekurangan daya. Listrik juga tidak mampu menjangkau ke wilayah pelosok. Pemberitaan seputar PLN akhir-akhir ini

membuktikan ketidakmampuannya. Bahkan pada pertengahan tahun 2008 muncul keputusan untuk menghemat daya listrik dengan adanya pemadaman bergilir yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

363

berlanjut pada munculnya SKB 4 menteri tentang penghematan biaya listrik, SKB efektif mulai diterapkan per 21 Juli 2008. Di sisi lain, masih banyak lokasi di banyak daerah, keterisolasian energi listrik masih terjadi pada level dusun. 10. Pembangunan Pos dan Telematika Program pengembangan dan pemeliharaan pos, frekuensi radio, dan telematika, seperti pengembangan dan pemeliharaan pusat data propinsi,

penegembangan dan penetapan aplikasi, teknologi informasi dan komunikasi, serta pembinaan usaha pos dan telematika serta frekuensi radio. Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Propinsi Jatim Dr. Hary Soegiri; Surabaya, Kamis, 13 Maret 2008. 11. Pembangunan Perumahan Target pembangunan rumah sederhana sehat (RSh) di Jatim lagi-lagi tidak tercapai. Hingga November ini saja baru terbangun 12 ribu unit dari target 20 ribu unit di awal tahun ini. Selain masalah klasik seperti kenaikan harga bahan baku dan tanah, lesunya daya beli akibat krisis global membuat pengembang enggan untuk membuka proyek baru. Adapun tiga kendala utama adalah ketersediaan lahan, harga yang tidak terjangkau dan bunga kredit perbankan yang terus naik. (Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Diskimpraswil) Jatim; Budi Susilo; Senin 24 November 2008). 12. Pembangunan Air Minum dan Air Limbah Di bidang penyediaan air bersih, inovasi daerah juga banyak ditemukan. Pola penyediaan air bersih di pedesaan yang diswakelola oleh warga malah mengalahkan kepuasan layanan yang diberikan PDAM untuk wilayah perkotaan. Selain tarif murah yang ditentukan bersama komunitas masyarakat pemakai air, airnya lebih berkualitas bersih. Beberapa daerah bahkan menginisiasi pengelolaan PDAM sebagai

perusahaan daerah yang dikelola sebagaimana "model PDAM kampung" tersebut. Contohnya, di Tulungagung, Mojokerto, Batu, dan Malang. (The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP); 5 Juli 2008). 13. Pembangunan Persampahan dan Drainase Masalah tempat pembuangan akhir di beberapa kabupaten/kota yang telah mulai penuh dan hanya sanggup menampung sampah untuk beberapa tahun ke depan perlu untuk dipikiran jalan keluarnya. Permasalahan dampak bencana lumpur sidoarjo juga masih belum selesai. Keberadaan drainase sebagai upaya untuk menyalurkan luapan lumpur yang keluar masih menjadi permasalahan yang besar. Banyaknya desa yang menjadi korban dengan ditenggelamkan sebagai kawasan untuk menampung luapan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

364

lumpur, belum lagi apabila luapan menuju arah utara, yaitu jalan poros SurabayaPorong. Hal ini akan mengganggu keberadaan jalan raya utama Surabaya-Porong yang menghubungkan Surabaya dengan kawasan Timur Propinsi Jawa Timur juga mengancam keberadaan jalur rel kereta api yang berada tepat di sisi selatan jalan raya. (Staf Humas BPLS Akhmad Kusairi; 20 November 2008).

VI.

Rekomendasi Tingkat Lanjut Adapun rekomendasi tingkat lanjut yang dapat dirumuskan antara lain adalah:

1. Percepatan pembangunan infrastruktur yang hancur akibat luapan dan rendaman lumpur panas Lapindo Brantas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dipercepat. Infrastruktur yang yang patut dibangun meliputi jalan tol, jalur kereta api, saluran listrik, dan saluran gas. 2. Pembangunan jalan tol Surabaya-Porong dirasa sangat mendesak karena merupakan jalur padat. Dampak ketiadaan jalan tol tersebut terasa betul bagi masyarakat di Jawa Timur yang kini harus kehilangan jalan tol di Porong, Sidoarjo, yang tenggelam akibat semburan lumpur. Ekspor nonmigas dari Jember yang pernah mencapai US$26 juta (2006) merosot tajam menjadi US$20 juta (2007) karena akses ke pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya tidak secepat ketika jalan tol di Porong masih beroperasi. Dampak itu juga pasti terasa bagi pengusaha lainnya di wilayah Jawa Timur -seperti di Pasuruan, Malang, Jember, Situbondo, Banyuwangi- yang sangat mengandalkan jalan Tol Porong. 3. Penyelesaian Jembatan Suramadu yang berlarut-larut. Kegagalan pemenuhan target selesai pengerjaan tahun 2008 kiranya tidak sampai terjadi kegagalan lagi pada tahun 2009. Penyelesaian masalah pembebasan tanah di sisi Madura kiranya juga perlu dipercepat mengingat belum adanya keputusan dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan dalam hal ini sebagai pihak yang berkepentingan. Disisi lain, perlu dipikirkan juga dengan lanjutan masa depan pelabuhan

penyeberangan Ujung-Kamal. Dengan selesainya jembatan Suramadu, juga akan berimbas pada keberadaan pelabuhan penyeberangan. Hal tersebut perlu dipikirkan jalan terbaik tentang keberadaan pelabuhan penyeberangan nantinya. 4. Pengembangan infrastruktur pendukung. Realisasi Jembatan Suramadu juga harus diikuti dengan pembangunan sarana dan prasarana sebagai bagian konsep membangun Madura secara keseluruhan. Sarana yang mendesak untuk segera diwujudkan tersebut, diantaranya; (a) pelebaran jalan arteri Bangkalan-Sumenep menjadi 4 jalur; (b) peningkatan fungsi Lapangan Terbang Trunojoyo Sumenep

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

365

menjadi lapangan terbang komersial; (c) pengembangan Pelabuhan Kalianget di Sumenep; (d) pengembangan Pelabuhan Tanjung Bumi di Bangkalan sebagai ekspansi Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya; (e) pembangunan Waduk Blega (Bangkalan) dengan areal irigasi 7.866 hektar, Waduk Nipah (Sampang) dengan areal irigasi 1.150 hektar, dan Waduk Klampis (Bangkalan), (f) peningkatan pasokan daya listrik PLN, dan (g) penyediaan sarana air bersih yang memadai bagi pemukiman dan industri. Langkah ini perlu diupayakan untuk mendukung kesiapan Madura dalam rangka menyongsong realisasi Jembatan Suramadu. Sebab pembangunan jembatan penghubung ini mempunyai implikasi yang sangat luas, khususnya terhadap percepatan pembangunan Madura dalam segi; (a) peningkatan kemampuan pembangunan daerah, (b) peningkatan peluang investasi, (c) optimasi pemanfaatan sumber daya alam, (d) perubahan pemanfaatan ruang, (e) kebutuhan infrastruktur, serta (f) perkembangan sosial ekonomi masyarakat lokal. Lebih lanjut, dengan terselesainya jembatan Suramadu, perlu kiranya dipikirkan suatu desain guna meningkatkan potensi pulau Madura yang selama ini masih terhambat. Mantan Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo juga mengusulkan dibangunnya pelabuhan udara semacam Juanda yang berada di daerah Sumenep guna menampung turis yang berasal dari Bali. Hal ini sangat potensial karena besarnya wisatawan yang berkunjung ke Bali dapat pula mampir untuk berwisata ke Madura. Selain itu, desain pembangunan pelabuhan peti kemas yang direncanakan di Tanjung Bulupandan, Bangkalan perlu ditindaklanjuti sehingga dapat mempercepat

pembangunan dan pengembangan wilayah terutama Madura. 5. Perpecapatan pembangunan infrastruktur terutama jalan antar daerah di wilayah selatan Jawa Timur dirasakan semakin mendesak, hal ini tidak terlepas dari masih kalahnya pertumbuhan kawasan Jawa Timur bagian selatan dibandingkan dengan bagian utara. Proyek yang telah didanai sebagian oleh APBN melalui program multiyears kiranya patut terus dikelola dengan baik, dengan dibantu dengan anggaran APBD propinsi untuk penyiapan badan jalan dan jembatan dan APBD kabupaten untuk proses pembebasan lahan. Keberadaan proyek ini sendiri walaupun telah dimulai pada tahun 2004, namun hingga sekarang masih berjalan lambat, bahkan terkesan jalan di tempat. Diperlukan keseriusan semua pihak terkait, karena dengan terselesaikannya Jalan Lintas Selatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan potensi yang masih belum tersentuh menjadi potensi baru bagi peningkatan kegiatan ekonomi nasional. 6. Keberadaan proyek jaringan jalan tol yang juga masih belum terselesaikan dengan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

366

baik. Setidaknya terdapat 10 ruas ruas jalan tol dengan total panjang 346,33 km yang menjadi bagian tol trans-Jawa di Jatim yang dikerjakan. Sayangnya, baru satu ruas telah dipergunakan yaitu ruas Waru-Juanda dengan panjang 12,8 km dengan nilai investasi Rp1,3 triliun yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 April 2008. Delapan ruas tol yang hingga kini belum selesai atau masih dalam taraf pengerjaan yaitu tol Mantingan-Kertosono, Kertosono-Mojokerto, MojokertoSurabaya, Gempol-Pandaan, Pandaan-Malang, Gempol-Pasuruan, Pasuruan-

Probolinggo, dan Probolinggo-Banyuwangi. 7. Dalam penyediaan infrastruktur tentunya perlu disesuaikan dengan perkembangan lingkungan ekternal yang semakin cepat, salah satunya di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Pada kondisi ini, masyarakat semakin menyadari kegunaan dan manfaat informasi, serta memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengakses, memanfaatkan dan menjadikan informasi sebagai nilai tambah (added value) dalam peningkatan kualitas kehidupan. Keandalan teknologi informasi di hampir seluruh akses kehidupan manusia menjadikan teknologi sebagai sumber bagi munculnya peradaban baru (new second life section). Singkatnya, tidak ada satu pun bidang kehidupan bangsa ataupun sektor pembangunan nasional yang tidak memerlukan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, pembangunan dan pengembangan pemanfaatan teknologi informasi dalam pembangunan infrastruktur menjadi suatu keniscayaan. 8. Stimulus yang diberikan oleh pemerintah untuk mendorong mendongkrak penyerapan dan pembangunan RSh. Mulai penyederhanaan pengurusan sertifikat tanah di Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan percepatan pembangunan jaringan listrik oleh PLN. Belum lagi kemudahan kredit. Mulai dari bantuan uang muka, baik yang berupa bantuan Bantuan Uang Muka tanpa pengembalian BUM) maupun Pinjaman Uang Muka PUM), hingga subsidi selisih bunga. Pada kenyatannya stimulus ini baru dimulai sekitar pertengahan tahun 2008, sehingga hasilnya mungkin baru efektif pada tahun 2009 guna meningkatkan realisasi target KPR (Kredit Pemilikan Rumah) RSh. 9. Peningkatan pengembangan keberadaan energi alternatif perlu lebih ditingkatkan mengingat semakin berfluktuasinya harga minyak bumi satu tahun belakangan. Program pengembangan beberapa sumber energi alternatif sendiri sebenarnya telah dikembangkan baik internal dinas maupun dibeberapa daerah terpencil di Jawa Timur, seperti energi listrik tenaga surya, sumber energi listrik mikro hydro dan energi dari bio gas namun ke depan program tersebut perlu lebih diperhatikan. 10. Penyelesaian pelabuhan, baik di Lamongan maupun di bagian utara Bangkalan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

367

diharapkan mampu meningkatkan kegiatan bongkar muat di Propinsi Jawa Timur, terlebih dengan berfungsinya Jembatan Suramadu tahun 2009

VII. Penutup Kondisi geografis Propinsi Jawa Timur yang cukup strategis, dimana berhubungan langsung dengan pulau Bali dan menghubungkan dengan daerah Timur Indonesia lainnya membuat keberadaan infrastruktur terutama di bidang transportasi menempati posisi sangat penting, baik itu darat, udara, maupun laut. Namun demikian, pembangunan infrastruktur tetap harus terpola dengan baik. Jangan sampai pembangunan infrastruktur terlalu banyak menyedot anggaran belanja tahunan daerah yang dapat berimbas pada bidang-bidang yang lain. Pemerataan pembangunan antara wilayah utara dan selatan ke depannya juga harus lebih bipertimbangkan lagi, agar tidak terjadi ketimpangan yang begitu lebar jaraknya. Keberadaan Jembatan Suramadu juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan pulau Madura secara keseluruhan. Pembangunan yang kelak akan terjadi di pulau Madura bertujuan untuk membangun Madura seutuhnya jangan terjadi hanya membangun di Madura saja. Pembangunan infrastruktur di bidang perumahan juga tidak kalah penting, kebutuhan perumahan di Jatim lebih kurang sebesar 519 ribu unit yang diharapkan akan dapat terpenuhi pada tahun 2020. Realisasi pembangunan perumahan rumah sederhana sehat yang dibangun para pengembang perumahan di Jatim diharapkan untuk terus dapat berlangsung. Sementara berdasarkan pengalaman, dari total 100 persen pembangunan rumah, yang diselenggarakan pengembang perumahan kurang dari 20 persen, selebihnya oleh swadaya masyarakat. Dalam hal ini, Pemprop Jatim sejak tahun 2006 telah memberikan hibah murni kepada masyarakat yang pelaksanaannya melibatkan konsultan dan kontraktor. Sumber daya air, merupakan salah satu sumberdaya yang dapat diperbaharui dan tidak akan pernah habis untuk digunakan. Namun jika dalam pengelolaannya tidak

dilakukan secara optimal, pada suatu saat air akan menjadi barang yang sangat langka. Air dan sumber daya air di Indonesia dewasa ini berada pada tingkat kritis yang di tandai dengan terjadinya kelangkaan air, menurunnya debit mata air di beberapa titik menjadi contohnya bahkan di Kota Batu terdapat beberapa mata air yang hilang disebabkan baik karena kejadian alam ataupun ulah manusia. Ketersediaan air dan ketidaktersediaan air menunjukan tidak adanya keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan. Hal ini disebabkan oleh karena jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang semakin

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

368

meningkat sehingga kebutuhan masyarakat akan sumberdaya air semakin meningkat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hal ini menyebabkan sumberdaya air menjadi barang yang langka. Sejalan dengan hal tersebut, maka salah satu arah kebijakan pembangunan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur sejalan dengan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air adalah meningkatkan perekonomian terpadu yang berorintasi global berbasis potensi daerah dengan pemanfaatan teknologi dan sumberdaya alam yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan serta memperdayakan ekonomi kerakyatan. Salah satu temuan yang berhasil dihimpun adalah kondisi desa Lepelle di Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang. Salah satu desa di Madura yang telah bertahun-tahun mengalami kesulitan air, pada awal tahun 2008 sejatinya telah memperoleh hibah dana swasta untuk membuat suatu kolam penampungan air yang akan disalurkan ke seluruh desa. Namun dikarenakan tidak adanya dana untuk membebaskan lahan yang sedianya akan dijadikan tempat pemboatan kolam penampungan maka program tersebut masih berjalan di tempat. Masalah persampahan juga menjadi masalah serius dalam beberapa tahun mendatang, tingginya jumlah sampah tidak seimbang dengan keberadaan lahan yang memadai. Pada awal November telah terjalin kerjasama antara Universitas

Muhammadiah Malang dengan Pemerintah Belanda untuk mengelola persampahan di TPA kota Malang untuk merubahnya menjadi energi yang dapat dijadikan sebagai energi alternatif, semoga hal ini dapat membuka program-program lainnya di tempat lain untuk mngatasi masalah sampah. Melihat kondisi yang ada di daerah, dan mempertimbangkan keberadaan kekurang akuratan informasi yang ada, kiranya kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah terjalin dengan baik bahkan sampai ke pelosok dusun. Dengan adanya informasi yang aktual, diharapkan daerah-daerah yang memiliki potensi untuk lebih cepat berkembang dapat dibantu secepatnya. Sebagai penutup, kiranya perlu diperhatikan bahwa keberadaan pembangunan infrastruktur memiliki posisi sangat penting, mengingat dalam realitas kehidupan keseharian, manusia tidak dapat terlepas dari kebutuhan tersedianya infrastruktur yang memadai. Ketersediaan berbagai jenis infrastruktur publik diharapkan mampu menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa infrastruktur sesungguhnya berkaitan erat dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi, pengadaan perumahan dan pemukiman penduduk serta ketersedian air merupakan salah

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

369

satu contoh infrastruktur publik yang keberadaannya sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Ketersediaan infrastruktur juga merupakan salah satu point yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa dalam MDGs (Millenium Development Goals). Dengan demikian pembangunan infrastruktur menjadi kewajiban semua negara di dunia untuk mencapai MDGs pada tahun 2015. Dalam penyediaan infrastruktur tentunya perlu disesuaikan dengan perkembangan lingkungan ekternal yang semakin cepat, salah satunya di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Lebih lanjut, perkembangan teknologi informasi merupakan indikator yang memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia hari ini sudah mulai memasuki era masyarakat infromasi dan sekaligus masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society). Ketika kita mengalami krisis tahun 1998, tidak banyak infrastruktur yang dibangun dikarenakan sulitnya finansial yang dimiliki. Bahkan, banyak terjadi infrastruktur yang tidak terpelihara. Hal ini disebabkan karena anggaran yang ada harus diprioritaskan untuk mengatasi krisis. Kini, ketika kondisi sudah mulai pulih dari krisis, dengan indikator makro ekonomi mulai membaik, maka sudah seharusnya pemerintah, kembali mengalokasikan anggaran untuk membangun kembali infrastruktur yang baik. Dalam konteks inilah, paradigma dan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) perlu dijadikan pijakan agar ketersediaan infrastruktur publik itu benar-benar bisa memberikan kontribusi positif bagi masa depan perekonomian nasional. Keberhasilan pembangunan seringkali diukur dengan banyaknya ketersediaan infrastruktur yang benar-benar bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Rakyat memerlukan jalan yang mulus, bukan jalan yang penuh lubang. Jembatan yang kokoh, bukan jembatan yang sudah miring. Irigasi yang dapat mengatur penyaluran air, bendungan yang memadai serta berbagai infrastruktur lainnya, baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

370

Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten dan Kota di Jawa Timur harus diakui telah memberikan beberapa perubahan berarti. Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan, semakin banyaknya pemerintah daerah yang dengan sungguhsungguh melaksanakan pelayanan publik dan kebutuhan sinergi antar daerah dalam membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Namun demikian kondisi tersebut, juga tidak serta merta menutupi kelemahan-kelemahan yang masih menggelayuti pemerintah Provinsi Jawa Timur. Proses yang dinilai “menghambat”, tidak efisien masih dihadapi oleh hampir seluruh Kabupaten Kota di Jawa Timur. Kinerja yang rendah dan cenderung tidak adanya ukuran yang jelas dalam menilai kinerja juga mempengaruhi proses pembangunan. Selanjutnya peraturan perundang-undangan yang masih tumpah tindih, dinilai oleh pemerintah daerah masih sering terjadi sehingga mempengaruhi kinerja dan proses pembangunan secara keseluruhan. Mempertimbangkan kondisi tersebut, maka pemerintah perlu memperhatikan beberapa isu strategis yang perlu diupayakan pemecahannya. . Isu strategis adalah isu-isu yang paling mendesak untuk diselesaikan dan berdampak besar pada masyarakat Jawa Timur. Isu Strategis yang ada di Provinsi Jawa timur dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : (1) isu strategis yang bersifat nasional, dan (2) isu strategis yang bersifat lokal. Isu strategis yang ditemukan terkait dengan aspek berikut: (a) pemerintahan yang lebih bersih, (b) aktualisasi tata kepemerintahan yang lebih baik (good governance), (c) peningkatan kompetensi SDM aparatur, (d) pelayanan publik yang lebih optimal dan berorientasi pada pelanggan, (e) penerapan tunjangan kinerja, (f) Lingkungan hidup dan manajemen bencana, (g) pemberdayaan masyarakat miskin. A. ISU STRATEGIS YANG BERSIFAT NASIONAL a. Isu Pemerintah yang bersih (Clean government) Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat kedua provinsi terkorup se-Indonesia, setelah DKI Jakarta, data itu diperoleh dari survei yang dilakukan Jaringan Antikorupsi pada 2008. Adapun data indeks persepsi korupsi (IPK) nasional masih mencapai 2,3 dari

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

371

angka 10 ideal suatu negara yang bebas dan bersih dari korupsi. Tahun 2008 ini sejak KPK giat melakukan pemberantasan korupsi IPK meningkat menjadi 2,6. Rendahnya IPK yang menunjukkan tingginya korupsi, khususnya di Jawa Timur, menjadikan isu ini perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Memang tidaklah mudah memberantas atau paling tidak mengurangi kejahatan korupsi. Apalagi kalau korupsi telah mendarah daging atau telah berurat berakar (entrenched corruption) dalam kehidupan masyarakat sebuah bangsa. Jika tidak ditanggulangi, perlahan namun pasti akan mengubur sebuah bangsa menuju jurang kemiskinan yang paling dalam dan menjadi bangsa yang tidak bermartabat atau bangsa dan negara yang berdaya saing rendah. Dengan pemahaman ini maka sebenarnya terdapat fakta bahwa korupsi dapat memperburuk kinerja birokrasi pemerintahan. Issu korupsi perlu mendapat perhatian, karena pemerintah provinsi Jawa Timur setiap saat berhadapan dengan permasalahan korupsi. Pada beberapa pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Timur, penyelenn\ggaraan pemerintahan dihadapkan pada permasalahan korupsi, misalnya isu terakhir yang terjadi di Kabupaten Blitar, Banyuwangi, Situbondo, atau daerah-daerah lain di Jawa Timur yang akan terkuak satu per satu. Pendekatan pertama dalam menanggapi issu korupsi adalah bahwasanya dinamika korupsi merupakan gabungan Monopoly power dan Discretion dikurangi dengan accountability. Korupsi terjadi bila terjadi monopoli atas barang atau jasa tertentu, dan memiliki kebijakan untuk menerima atau menolak, serta diikuti akuntabilitas yang samarsamar atau bahkan tidak ada. Dari konsep ini maka rendahnya akuntabilatas akan mendorong peluang terjadinya maladministrasi dalam hal ini korupsi. Terlihat juga bahwa kelembagaan yang memiliki peran atas monopoli jasa atau pelayanan tertentu akan mendorong terjadinya maladministrasi bila tidak diawasi dengan baik secara berkala. Ketidakseimbangan peran dan konstelasi dari ketiga komponen yakni pemerintahan, masyarakat dan dunia usaha (swasta) akan memfasilitasi dominasi peran oleh pelaku tertentu. Beberapa kasus korupsi yang terjadi di Jawa Timur merupakan isu yang sangat strategis untuk dituntaskan pada tahun yang akan datang, dan terus dilakukan penyelidikan terhadap kasus-kasus serupa secara adil. Bebrapa kasus yang sudah diselidiki misalnya : penyelewengan dana blok cepu, korupsi kas daerah Jember senilai Rp 1,1 miliar, korupsi uang PDAM Lumajang senilai Rp 2,235 miliar, proyek wislick air bersih sebesar Rp 1,2 miliar di Bojonegoro, korupsi proyek puskesmas senilai Rp 3 miliar di Lumajang, korupsi dana kas Kabupaten Pasuruan senilai Rp 33,027 miliar, korupsi pengadaan galangan kapal fiktif senilai Rp 25,5 miliar di banyuwangi, Penyimpangan dana APBD madiun 2002-2004 senilai Rp 9,6 miliar, kasus pengadaan lahan Bandar

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

372

Udara Banyuwangi yang merugikan negara Rp 41 miliar, korupsi dana anggaran rumah tangga Dewan senilai Rp 10,7 miliar. Kabupaten Kediri, kasus dugaan korupsi dana otonomi daerah di Blitar sebesar Rp 1,030 miliar, korupsi pembangunan gedung DPRD dan Gelanggang Olahraga Ki Mageti, Magetan, kasus perjalanan dinas DPRD Bojonegoro senilai Rp 7 miliar, korupsi APBD Kota Malang 2005 di DPRD Kota Malang. Nilainya mencapai Rp 8 miliar, penyimpangan APBD Bojonegoro senilai Rp 5 miliar. Hal ini menunjukkan banyaknya terjadi praktek pemerintahan yang tidak bersih di jawa Timur. Selain aspek akuntabilitas beberapa ahli mensinyalir bahwa kekuatan kepemimpinan memiliki faktor penting dalam konteks tumbuh atau malah meredupnya korupsi dalam kelembagaan tertentu. Dalam aspek organisasi umumnya disebabkan oleh keteladanan kepemimpinan yang lemah, kultur organisasi kurang benar, akuntabilitas kurang memadai, kelemahan manajemen, manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasinya. Sementara itu, korupsi yang terus hidup dan relatif stabil ini banyak disebabkan dan dipengaruhi oleh lemahnya kompetisi politik, lambatnya pertumbuhan ekonomi serta belum terciptanya masyarakat madani (civil society). Pada sisi lain, sebenarnya dalam masyarakat madani terdapat praktek-praktek penghargaan terhadap keberagaman, fasilitasi perbedaan yang akan memperkuat sistem demokratis dan lahirnya pemerintahan yang demokratis. Pemerintahan yang demokratis menjalankan tata kepemerintahan yang terbuka terhadap kritik dan kontrol dari rakyatnya. Moral disagreement dijunjung tinggi tanpa ada rasa dendam dan dilaksanakan secara terbuka. Pada faktanya suatu pemerintahan yang kurang representatif dan legitimate karena sulitnya pemilihan dan keterpilihan tidak berdasar sistem demokratis yang benar. Konsekuensinya adalah sulitnya mencapai akuntabilitas administasi dan pemerintah yang peka terhadap tuntutan masyarakat sehingga memunculkan ketidakbebasan aliran informasi, pembagian kekuasaan yang tidak jelas, ketidakefektifan auditing internal maupun eksternal, tingginya praktek KKN, rendahnya kompeten SDM aparatur, dan kebijakan yang tidak realistis. Perlu disadari bahwa salah satu sebab munculnya maladministrasi adalah masih dianggap panjangnya rantai birokrasi dalam pelaksanaan fungsi pemerintah terutama pelayanan publik. Untuk menyiasati kondisi ini maka korupsi dalam bentuk suap-menyuap menjadi rumus umum untuk memperpendek jalur birokrasi. Persoalannya walaupun terdapat kondisi pemotongan “alur” birokrasi karena ada pelicin sesungguhnya kondisi ini tetap bagian yang merugikan karena mamiliki andil pada high cost yang harus ditanggung

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

373

oleh masyarakat. Dengan demikian, korupsi jelas-jelas telah merusak sebuah kehidupan ekonomi masyarakat. Pendekatan kedua, dilihat dari faktor Internal dan eksternal, yang umum dikenal dalam bidang kepolisian dengan formula Niat + Kesempatan = Criminal. Pendekatan ini menjelaskan bahwa suatu perbuatan kriminal (termasuk korupsi) yang dilakukan oleh pelaku dapat terjadi karena adanya niat dari diri pelaku dan karena adanya kesempatan untuk melakukannya. Konteks SDM dalam pendekatan kedua teori diatas terkait dengan keberadaan SDM aparatur yang sudah ada dalam kelembagaan pemerintahan. Artinya dengan memahami bahwa KKN terus merajalela, maka harus diupayakan suatu sistem pengobatan yang layak dan yang tepat bagi SDM aparatur pemerintahan. Konsep Carrot and stick dalam upaya menanggulangi KKN merupakan upaya rasional dengan meningkatkan kecukupan pada satu sisi, dan menegaskan sanksi berupa hukuman apabila pelanggaran terjadi. Pemikiran ini relevan dengan konsep pemenuhan kebutuhan manusia di satu sisi, kejelasan baku kinerja dengan implementasi sanksi dan penghargaan pada sisi yang lain untuk meningkatkan kompetensi seseorang. Pada tataran pencegahan memang sangat dibutuhkan SDM yang benar-benar memiliki suatu kompetensi layak yang dibutuhkan pada bidang tertentu, sehingga mampu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Syarat kompetensi diharapkan memberikan saringan bagi individu yang layak untuk menempati posisi yang sesuai. Dengan melihat faktor-faktor determinan dalam upaya membersihkan KKN sebagai wujud clean governance, maka Kepemimpinan menjadi satu faktor yang amat penting dan urgen. Hal ini dilatarbelakangi asumsi, kepemimpinan yang kuat (dalam arti tegas), bersih, dan visioner mampu menerapkan prinsip-prinsip pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat, meningkatkan otonomi manajerial, transparansi, akuntabilitas publik, dan menciptakan pengelolaan manajerial yang bersih dan bebas dari KKN. Aturan dan perundangan dalam konteks ini digunakan untuk memfasilitasi prosesproses pengurangan terhadap bentuk-bentuk penyimpangan dalam pembangunan di Provinsi Jawa Timur. Diharapkan dalam aturan-aturan yang ada terdapat proses-proses pembinaan sehingga berimplikasi munculnya pencegahan. Selanjutnya aturan-aturan yang jelas sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian dan penyelidikan terhadap adanya dugaan penyimpangan. Kejelasan aturan diharapkan dapat memfasilitasi pelaksanaan sanksi yang tegas bagi pihak-pihak yang melakukan penyimpangan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

374

Sebagaimana

telah

disampaikan

di

depan

bahwa

instrumen

aturan

dan

perundangan yang berupaya untuk memonitor penyelenggaraan negara. Perimbangan kekuasaan antar ketiga komponen akan memfasilitasi terjadinya check and balance. Bila kondisi ini dapat tercipta maka sesungguhnya mekanisme check and balance akan berjalan baik pada tataran internal pemegang kekuasaan dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan publik di Jawa Timur. Memahami kompleksnya faktor-faktor determinan yang mempengaruhi tegaknya clean government, tidak bisa tidak maka peran masyarakat dalam pengawasan sangat dibutuhkan. Pada tahap awal upaya-upaya untuk memberikan dukungan terhadap individu-individu bersih dan konsisten yang berjumlah sedikit dalam organisasi harus mulai dilakukan. Di sisi lain maka upaya mendorong proses akuntabilitas, transparansi, keterbukaan, dan penguatan kerangka hukum menjadi bagian yang tidak terelakkan. Pada akhirnya modal kesaling kepercayaan akan memberikan penguatan untuk melaksanakan kontrol secara bersama, sehingga keseimbangan peran antara

pemerintah, masyarakat, dan swasta dapat diwujudkan. Keberhasilan mewujudkan clean government hanya dapat dicapai melalui keterlibatan pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang memiliki kompetensi, komitmen dan konsistensi serta memiliki peran yang seimbang (check and balaces) dengan memelihara nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk itu, tidak dapat dilepaskan dari peran-peran baik pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha (swasta). Perimbangan antar ketiganya tersebut akan memberikan suatu kondisi keseimbangan yang menghidupkan proses demokrasi di Indonesia. Clean governance (CG) terkait erat dengan akuntabilitas administrasi publik dalam menjalankan tugas, fungsi dan tanggungjawabnya. Apakah dalam menjalankan tugas, fungsi, dan wewenang yang diberikan kepadanya, mereka tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari etika administrasi publik. Dengan demikian etika administrasi publik akan memberikan suatu peran standarisasi baik dan buruk.

b. Isu Aktualisasi Prinsip-Prinsip Good Governance Dalam rangka mengaktualisasikan prinsip-prinsip Good Governance

Peemerintaha Provinsi Jawa Timur telah mengupayakan sosialisasi dan kampanye penyelenggaraan negara yang efektif, adil, partisipatif, transparan dan akuntabel. Pemprov Jatim bekerjasama dengan LGSP sebuah NGO yang mensupport

pengaktualisasian GG di daerah.

Dalam rangka mewujudkan transparansi keuangan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

375

telah diupayakan penerapan Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD) secara online dengan pendekatan G-Online. Namun upaya untuk mensinergikan peran pemerintah-swasta-masyarakat masih kurang. Secara nasional berada di urutan ke 69 dalam global competitiveness ranking (GCR) dari 104 negara yang diamati. Secara umum posisi ini hanya unggul atas negara yang tercabik-cabik perang seperti Srilanka (73), dan filiphina (76), serta Bangladesh (102) atau negara-negara Afrika yang berada di urutan terbawah. Penyusunan GCR didasarkan pada tiga pilar yakni lingkungan ekonomi makro, keberadaan lembaga pemerintah, dan kemajuan teknologi. Tiga faktor ini kemudian dinilai untuk menjelaskan seberapa jauh kemajuan sebuah negara dibandingkan dengan negara lain. Dalam konteks ini akan berpengaruh terhadap kemampuannya bersaing dengan negara lainnya. Kondisi ini menunjukkan seberapa jauh sebenarnya peran-peran pemerintah, masyarakat dan swasta mampu bersinergi untuk mendinamisir keseimbangan peran. Untuk itus issu GG perlu mendapat perhatian dari Pemprov Jatim sehingga tercapai keseimbangan antara peran pemerintah, masyarakat dan swasta. Untuk Penerapan good governance (GG) atau tata kepemerintahan yang baik, tidak dapat dilepaskan dari peran-peran pemerintah, peran masyarakat sipil, dan peran swasta. Perimbangan antar ketiga peran tersebut akan memberikan suatu kondisi keseimbangan yang menghidupkan proses demokrasi di Indonesia. Nampak jelas kebutuhan bagi dilaksanakannya deregulasi dan debirokratisasi untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya peran-peran yang optimal dari ketiga domain tersebut. Dengan demikian maka penerapan GG tidak dapat dilepaskan dari SDM dari ketiga domain baik pemerintah, masyarakat, maupun swasta. Ini berarti seberapa jauh kepahaman,

kesadaran, kemauan, dan kemampuan para pelaksana akan memberikan pengaruh terhadap penerapan GG. Bila dilihat dari SDM aparatur pemerintah (pelaksana birokrasi) terdapat kelemahan yang cukup mencolok yakni adanya budaya aparatur yang belum mendukung terhadap upaya menerapkan dan mengaktualisasikan GG. Salah satu budaya yang juga merupakan bagian dari pewarisan pemerintah kolonial adalah adanya budaya birokrat yang ingin dilayani. Dalam konteks ini maka para aparatur birokrasi yang seharusnya melayani justru memiliki paradigma minta dilayani. Sehingga dalam kondisi ini terdapat pihak yang superior yakni birokrat, dan masyarakat yang inferior. Kondisi ini lazim disebut sebagai pola patron-client. Pola patron-client ini telah mengakar dan menggejala hampir di keseluruhan level pemerintahan baik di tingkat pemerintah pusat, maupun di tingkat pemerintah daerah.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

376

Kondisi ini banyak dilatarbelakangi oleh pewarisan dan proses pembelajaran yang efektif utamanya ketika masa sentralisasi di jaman orde baru demikian kuat. Proses pembelajaran dari para pemimpin birokrasi di level yang lebih tinggi memperoleh peneguhan ketika kondisi hirarkis organisasi pemerintah demikian kuat, sehingga yang terjadi adalah internalisasi nilai bahwa para pelaksana sistem birokrasi adalah orang yang berhak dilayani oleh masyarakat yang meminta pelayanan kepadanya. Di samping itu, kondisi politik di Indonesia yang mulai berubah sejak digaungkannya reformasi politik dan munculnya orde reformasi, nyatanya belum sepenuhnya memberikan pengaruh signifikan dalam proses pergeseran/perubahan paradigma pemerintah sebagai pelayan dan sekaligus fasilitator. Gaung perubahan paradigma “sikap melayani” pada aparatur pemerintah, belum terinternalisasi secara substansial, dan menunjukkan gejala belum berubahnya paradigma tersebut terutama bila dilihat secara aktual dan faktual pelayanan publik. Indikasinya adalah masih begitu banyaknya keluhan masyarakat yang mempersoalkan demikian sulitnya berurusan dengan birokrasi, dan terdapat

kecenderungan birokrasi berpihak kepada golongan masyarakat kaya. Harus disadari bahwa lemahnya penerapan dan aktualisasi prinsip-prinsip GG banyak dipengaruhi oleh keadaan, yang mana pada dasarnya SDM birokrasi belum sepenuhnya memahami apa sebenarnya GG. Pemahaman bahwa GG adalah merupakan suatu syarat mutlak untuk memperbaiki kinerja pemerintah memang sudah dipahami. Namun GG dalam konteks proses dan bagaimana mengaktualisasikannya masih banyak yang belum memahami secara utuh. Salah satu indikasinya antara lain adalah aspek transparansi yang merupakan salah satu dari prinsip GG yang telah diterapkan yaitu antara lain dengan membuka dan memfasilitasi keluhan masyarakat, memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat, akan tetapi dalam prakteknya bagaimana mengolah informasi dan digunakan untuk sebesar-besar menjadi pertimbangan yang berorientasi pelanggan masih belum diimplementasikan. Jadi dalam hal ini aspek transparansi hanya dipahami dalam konteks keterbukaan saja, sedangkan aspek transparansi sebagai proses komunikasi dan memperoleh feedback belum dipahami secara tepat. Sehingga dengan demikian komunikasi konvergen yang diharapkan terjadi karena adanya aspek transparansi belum optimal terwujud. Kondisi di atas mencerminkan masih lemahnya SDM aparatur dalam

mengaktualisasikan GG. Namun demikian perlu dipahami pengembangan SDM harus dilakukan secara simultan dan merupakan sinergi dengan pengembangan organisasi. Pengembangan organisasi dalam hal ini diarahkan pada organisasi yang memberikan ruang untuk belajar. Dengan demikian organisasi dan peningkatan individu dalam proses

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

377

pembelajaran harus mencerminkan: (i) Sebuah kemampuan organisasi untuk menerima dan mengadaptasi sebagai sebuah sistem pembelajaran. Dalam konteks ini maka organisasi memfasilitasi pemahaman terhadap aturan baru, iklim baru, dll (ii) Sebuah kapasitas untuk mempelajari keahlian interpersonal yang baru, semacam komunikasi, mendorong komunikasi yang terbuka, dan penggunaan informasi secara tepat (iii) (iv) Memunculkan sebuah iklim kelembagaan yang efektif Memantapkan lingkungan yang memfasilitasi dan memberdayakan individu untuk mampu bertanggung jawab, produktif dan kreatif. Dalam pengembangan SDM terkait dengan penerapan dan aktualisasi GG, maka dapat dilakukan pada pemberdayaan individu dan pemberdayaan kelompok.

Pemberdayaan individu meliputi proses peningkatan kompetensi. Dalam hal ini perlu bertitik tolak dari konsep perbedaan atau kesenjangan performansi (Performance discrepancies) dimaknai sebagai selisih atau perbedaan antara apa dan bagaimana seharusnya seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What should be) dengan apa dan bagaimana yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What is). Dengan demikian suatu kebutuhan atas peningkatan pemberdayaan terkait dengan aktualisasi GG pada dasarnya bersumber dari perbedaan atau kesenjangan antara what should be dengan What is dalam melakasanakan pekerjaannya sesuai posisi. Perbedaan ini pada dasarnya dapat dibedakan menjadi: (i) lemah atau kurang baiknya seseorang dalam melaksanakan jabatan yang disandangnya saat ini (ii) Adanya suatu tambahan tugas spesifik dalam jabatan yang sama, sehingga merupakan pengetahuan, sikap, dan mungkin keterampilan yang baru (iii) Adanya perubahan jabatan yang berbeda (sama sekali) dengan jabatan yang aada atau dipegang seseorang dengan sebelumnya Dengan demikian maka upaya mengaktualisasikan GG harus benar-benar dilakukan dengan mengedepankan apa sebenarnya kebutuhan pemeberdayaan SDM aparatur. Pemberdayaan kemudian dapat diarahkan pada kognitif, afeksi, dan psikomotor dengan materi GG ditambah dengan memberian iklim yang kondusif sehingga SDM aparatur memiliki keinginan dan kemampuan untuk belajar. Selanjutnya terdapat kesadaran untuk mengimplementasikan dalam tugas kesehariannya. Implementasi GG pada dasarnya memerlukan suatu kerjasama selain kebutuhan sama-sama kerja antar semua lembaga. Dalam konteks ini maka upaya koordinasi yang

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

378

kuat menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Implikasinya maka diperlukan suatu komunikasi yang efektif antar lembaga sehingga terjadi saling pengertian yang baik atau mutual understanding dalam pelaksanaan GG. Perwujudan mutual understanding yang dibangun oleh komunikasi yang efektif sesungguhnya menjadi awal bagi perwujudan sinergi dan jaringan kelembagaan yang saling memberdayakan (enabling networking).

c. Isu Kompetensi SDM Aparatur Salah satu upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat adalah dengan diterbitkannya UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. UU ini merupakan konsekuesi dari penerapan pemerintahan desentralistik yang salah satu tujuannya adalah adanya pembagian dan distribusi kewenangan antara pusat dan daerah agar terwujud pelayanan secara efektif, akuntabel, terjangkau dan

transparan. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan aparat birokrasi yang memiliki kompetensi terhadap jabatan/posisi atau pekerjaannya. Pemprov Jatim telah

mengupayakan peningkatan kompetensi aparaturnya melalui lembaga diklat provinsi maupun di pemerintah kabupaten kota. Selain itu, untuk menempatkan SDM aparatur yang sesuai dengan kompetensinya telah diupayakan melalui proses rekruitment tenaga kerja baru dan pengangkatan tenaga honorer. Namun isu kompetensi patut mendapat perhatian secara terus menerus karena banyak pihak mengakui bahwa proses rekruitmen yang dijalankan masih belum menunjukkan pengaruh kinerja aparat yang bersangkutan. Artinya seleksi terhadap calon aparatur untuk menempati suatu jabatan tertentu belum secara optimal didasarkan pada analisis kebutuhan dan jabatan yang tepat. Implikasinya banyak aparatur yang memiliki latar belakang pendidikan (kompetensi) tertentu akan tetapi tidak berada pada posisi yang relevan dengan kompetensinya. Tidak dapat

dipungkiri, bahwa saat ini banyak posisi/jabatan di birokrasi diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kompentesi yang sesuai dengan pekerjaannya. Kompentesi yang harus dimiliki oleh seorang aparat birokrasi sekarang dan yang akan datang agar dapat memberikan pelayanan secara profesional paling tidak harus memiliki kompetensi dengan karakter sebagai berikut: Memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta wawasan yang luas terhadap pekerjaannya. Kita harus mengakui bahwa sikap dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor di dalam lingkungan hidupnya, termasuk

lingkungan yang dapat memperluas wawasan pengetahuan dan ketrampilannya, yang dapat meningkatkan kemampuan diri dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya. Sehubungan dengan pelaksanaan pelayanan yang baik, minimal

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

379

yang harus ada pada diri seseorang, yang berkaitan dengan pengetahuan dan ketrampilannya adalah: memiliki ketrampilan yang sesuai dengan bidang tugasnya, memiliki pengetahuan yang sesuai dengan bidang tugasnya, memiliki daya kreativitas yang baik, memahami cara-cara berkomunikasi yang baik, memahami pengetahuan dasar hubungan interpersonal dan psikologi sosial, memahami cara memposisikan diri dalam berbagai situasi sehingga muda beradaptasi, dan mampu mengendalikan emosi. Dalam melakukan pelayanan yang baik, seorang pelayan harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik terhadap yang dilayaninya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan komunikasi dengan orang lain, yaitu: (1) komunikator dan komunikan harus sama-sama berpola pikir positif yang didasarkan pada pola pikir yang sehat dan logis, (2) komunikator dan komunikan harus mampu menempatkan diri pada kondisi yang tepat pada saat melakukan komunikasi atau komunikator harus mampu menempatkan komunikan pada posisi yang bebas dan manusiawi, (3) komunikator harus mampu menampilkan sikap

yang santun dan memberikan kesempatan terhadap komunikan untuk memahami isi pesan sampai dengan memberikan umpan balik, dan (4) kemampuan memilih dan menggunakan bahasan yang sederhana dan gampang dimengerti oleh komunikan. Kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal juga merupakan hal penting dalam mewujudkan pelayanan relationship) dapat diartikan yang baik. Hubungan interpersonal (personal dengan orang lain yang ada Kaitannya dengan kegiatan

sebagai hubungan

disekeliling kita dengan cara-cara yang baik.

pelayanan, hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan baik dengan pelanggan internal dan eksternal. Pemberian pelayanan yang baik terhadap pelanggan (masyarakat) akan lebih mudah bila antara pelayan dan yang dilayani mempu membina hubungan yang baik, artinya setiap masyarakat yang

membutuhkan pelayanan harus diperlakukan sama. Hal ini sangat penting karena selama ini, masyarakat sering mengeluhkan terhadap perbedaan pelayan yang dilakukan oleh oknum aparatur. Misalnya perlakuan pelayanan terhadap orang kaya dan orang miskin, fakta menunjukan bahwa orang miskin selalu di nomor duakan. Memiliki pengetahuan dasar psikologi sosial. Hal ini dimaksudkan agar seorang pelayan memiliki pengetahuan tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku, dasar pengetahuan pembentukan sikap dan perubahan, serta

pengetahuan tentang individu dan kelompok. Dengan mengetahui perilaku dan sikap individu dan kelompok masyarakat diharapkan seorang pelayan akan dapat

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

380

memberikan respon yang tepat. Perlu diingat bahwa banyak keragaman perilaku manusia, ada yang langsung terbuka untuk menerima, ada yang perlu waktu untuk mempertimbangkan dan ada pula yang langsung menolak. Selain itu, kekecawaan dan bahkan penolakan terhadap layanan yang diterima oleh pelanggan/komsumen juga sangat erat kaitannya dengan sikap seseorang. Seseorang terdorong untuk menerima apabila dia senang, merasa dihormati dan dihargai dan akan kecewa dan menolak apabila terjadi sebaliknya. Memiliki kecerdasan emosional yang stabil. Kecerdasan emosional adalah

kemampuan seseorang untuk mengorganisasi dan mengendalikan emosinya secara efektif, baik dalam keadaan senang maupun susah. Pengorganisasi dan pengendalian emosional dalam hidup bermasyarakat sangat penting. Kadang orang tidak sadar bahwa kekecewaan atau permasalahan di rumah terbawah di tempat kerjannya dan sebaliknya kekecewaan dan permasalahan di tempat kerjanya terbawah sampai ke rumah. Orang semacam ini hampir dapat dipastikan akan akan memberikan pelayanan terhadap pelanggan/ komsumennya kurang baik. Kondisi di atas merupakan kondisi ideal yang diharapkan ada dan menjadi melekat pada aparat yang memiliki jabatan (Jobs) tertentu. Kalaupun tidak maka standar minimal kompetensi adalah pada orientasi tugas dari pekerjaan yang diembannya, jadi dalam hal ini pada standar komptensi kerja. Namun demikian harus disadari faktanya kondisi SDM aparatur birokrasi masih belum optimal sebagaimana diharapkan. Rendahnya inisiatif, kurangnya wawasan, minimnya penguasaan teknologi informasi merupakan karakter umum SDM aparatur birokrasi. Lebih jauh sebenarnya bila dicermati maka permasalahan masih rendahnya kompetensi SDM aparatur birokrasi dapat dilihat dari beberapa aspek: (i) masih terdapat stigma di masyarakat bahwa persyaratan kompetensi tertentu untuk menduduki suatu jabatan (Jobs) di birokrasi tidaklah diperlukan secara ketat, karena diakui uang atau suap yang besar lebih banyak merupakan faktor penentu bagi seseorang untuk berkarir atau bekerja dalam lingkungan birokrasi. (ii) Belum jelasnya penetapan kinerja secara detail dengan standar kompetensi kerja yang jelas sehingga memberikan peluang bagi seseorang yang sebenarnya belum memiliki kompetensi yang relevan dapat masuk pada posisi atau jabatan tertentu (iii) Disinyalir oleh banyak pihak bahwa kebutuhan atas penerimaan pegawai belum didasarkan pada kebutuhan nyata yang dihubungkan dengan tugas pokok suatu organisasi, sehingga cenderunga rekruitmen pegawai semata-mata hanya

menambah besar kuantitas aparat tetapi belum berkorelasi dengan kualitas

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

381

(iv)

Lemahnya pengawasan dalam rekruitmen pegawai semakin memperburuk kondisi kompetensi calon pegawai yang diterima dan menyuburkan praktek-praktek KKN. Rendahnya kompetensi seperti di paparkan diatas harus dipahami dalam kerangka

kompleksitas dan keterkaitan antara individu, lingkungan kerja, dan fasilitasi kebijakan dan pengawasan yang mempengaruhi kinerja. Dengan memahami ini maka orientasi peningkatan kompetensi untuk menunjang pencapaian kinerja harus didasarkan pada empat dinamika sistem yang akan diberi perlakuan sehingga terjadi perubahan kompetensi. Dinamika sistem yang dimaksudkan adalah: (1) Sistem Kepribadian individu. Setiap orang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu yang akan menentukan bagaimana individu tersebut bertindak. Respon seseorang terhadap suatu stimuli permasalahan akan berbeda, disebabkan perbedaan unsur-unsur perilaku tersebut. (2) Sistem kelompok. Setiap bagian dalam kelompok akan berinteraksi secara khas. Pemimpin dengan anggota, struktur kelompok dll, membentuk dinamika sistem tertentu (3) Sistem organisasi. Sama seperti kelompok, maka organisasi terdiri dari beberapa bagian yang saling berinteraksi secara internal, maupun interaksi eksternal organisasi dengan lingkungannya. (4) Sistem masyarakat (komunitas). Interaksi yang terbentuk dalam komunitas lebih kepada antar bagian meliputi individu, sub kelompok, pertetanggaan yang umumnya bisa memiliki heterogenitas dari berbagai aspek seperti kesenangan,

kecenderungan, dll. Dengan demikian dalam peningkatan kompetensi SDM aparatur tetap dalam kerangka bahwa setiap individu memiliki potensi, individu berhubungan dengan kelompok, maupun organisasi serta lingkungannya. Dalam pengembangan SDM terkait dengan kompetensi atas jabatannya dan kemampuan merespon dinamika lingkungan yang semakin kompleks, maka upaya – upaya terencana harus bertitik tolak dari konsep perbedaan atau kesenjangan performansi (Performance discrepancies) dimaknai sebagai selisih atau perbedaan antara apa dan bagaimana seharusnya seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What should be) dengan dan apa dan bagaimana yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What is). Sehubungan dengan hal ini maka penetapan suatu kinerja kemudian dilanjtkan dengan penetapan suatu standar kompetensi kerja mutlak perlu dilaksanakan. Dengan penetapan Standar ini maka analisis jabatan dan identifikasi

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

382

kesenjangan atau diskrepansi kompetensi kerja dapat dilakukan. Implikasinya solusi yang lebih efektif dapat dilakukan.

d. Isu Pelayanan Publik Pelayanan publik seringkali menjadi ukuran paling mudah dipahami sejauhmana kinerja pemerintah dalam melaksanakan fungsi-fungsinya. Pelayanan publik adalah salah satu fungsi penting pemerintah selain regulasi, proteksi, dan distribusi. Pelayanan publik merupakan proses sekaligus output yang menunjukkan bagaimana fungsi pemerintah dijalankan. Ketidakpuasan terhadap kinerja pelayanan publik dapat dilihat dari keengganan masyarakat berhubungan dengan birokrasi pemerintah atau dengan kata lain adanya kesan keinginan sejauh mungkin untuk menghindari dan bersentuhan dengan birokrasi pemerintah apabila menghadapi urusan. Fenomena “high cost” ketika berhubungan dengan birokrasi pemerintah menjadi suatu keniscayaan yang terpaksa diterima. Kondisi-kondisi seperti ini sebagian besar ditemui pada keseluruhan level organisasi publik yang memberikan pelayanan. Kondisi ini menandakan keidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan terhadap publik dinilai masih jauh dari optimal. Pemahaman terhadap fakta lemahnya birokrasi dilihat dari sejauhmana kemampuan mengaktualisasikan fungsi-fungsi pemerintah, yang berujung pada sejauhmana

pelayanan publik dapat dijalankan. Artinya sejauhmana pemerintah mampu dan dapat berprilaku transparan, akuntabel, demokratis akan berdampak pada sejauhmana pelayanan publik yang akan dan sudah dilakukan. Pelaksanaan otonomi daerah yang telah digulirkan oleh pemerintah melalui UU No. 22 Tahun 1999 sesungguhnya dapat dilihat sebagai upaya pemerintah untuk lebih meningkatkan pelayanan. Serangkaian pokok aturan dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh pemerintah daerah dinyatakan dalam beberapa pasal UU 22 Tahun 1999. dalam Pasal 7 UU 22 Tahun 1999 menyatakan bahwa peranan Pemerintah Daerah dalam pelayanan publik mencakup seluruh bidang pemerintahan kecuali bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lain. Selanjutnya dalam Pasal 11 UU 22 tahun 1999 menyatakan bahwa bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kebupaten dan daerah kota meliputi pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi dan tenaga kerja. Masih terkait dengan pasal-pasal tersebut, dalam pasal 9 UU 22 Tahun 1999 mengemukakan bahwa kewenangan provinsi sebagai daerah otonom mencakup

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

383

kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota serta kewenangan bidang tertentu lainnya. Selanjutnya, dalam konteks desentralisasi, pelayanan publik seharusnya menjadi lebih responsif terhadap kepentingan publik, di mana paradigma pelayanan publik beralih dari pelayanan yang sifatnya sentralistik ke pelayanan yang lebih memberikan fokus pada pengelolaan yang berorientasi kepuasan pelanggan (customer-driven government) dengan ciri-ciri: (a) lebih memfokuskan diri pada fungsi pengaturan melalui berbagai kebijakan yang memfasilitasi berkembangnya kondisi kondusif bagi kegiatan pelayanan kepada masyarakat, (b) lebih memfokuskan diri pada pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap fasilitas-fasilitas pelayanan yang telah dibangun bersama, (c) menerapkan sistem kompetisi dalam hal penyediaan pelayanan publik tertentu sehingga masyarakat memperoleh pelayanan yang berkualitas, (d) terfokus pada pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang berorientasi pada hasil (outcomes) sesuai dengan masukan yang digunakan, (e) lebih mengutamakan apa yang diinginkan oleh masyarakat, (f) pada hal tertentu pemerintah juga berperan untuk memperoleh pendapat dari masyarakat dari pelayanan yang dilaksanakan, (g) lebih mengutamakan antisipasi terhadap permasalahan pelayanan, (h) lebih mengutamakan desetralisasi dalam pelaksanaan pelayanan, dan (i) menerapkan sistem pasar dalam memberikan pelayanan. Namun dilain pihak, pelayanan publik juga memiliki beberapa sifat antara lain: (1) memiliki dasar hukum yang jelas dalam penyelenggaraannya, (2) memiliki wide stakeholders, (3) memiliki tujuan sosial, (4) dituntut untuk akuntabel kepada publik, (5) memiliki complex and debated performance indicators, serta (6) seringkali menjadi sasaran isu politik. Upaya-upaya yang telah ditempuh oleh pemerintah nampaknya belum optimal. Salah satu indikator yang dapat dilihat dari fenomena ini adalah pada fungsi pelayanan publik. Pelayanan publik yang banyak dikenal dengan sifat birokratis dan banyak mendapat keluhan dari masyarakat masih belum memperhatikan kepentingan masyarakat penggunanya. Pengelola pelayanan publik cenderung lebih bersifat direktif yang hanya memperhatikan/mengutamakan kepentingan pimpinan/ organisasinya saja. Masyarakat sebagai pengguna seperti tidak memiliki kemampuan apapun untuk berkreasi, suka tidak suak, mau tidak mau, mereka harus tunduk kepada pengelolanya. Seharusnya, pelayanan public sikelola dengan paradigma yang bersifat supportif dimana lebih memfokuskan diri kepada kepentingan masyarakatnya, pengelola pelayanan harus mampu bersikap menjadi pelayan yang sadar untuk melayani dan bukan dilayani.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

384

Secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. Namun jika dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas, responsivitas, kesamaan perlakuan dan besar kecilnya rente birokrasi masih jauh dari yang diharapkan. Tuntutan kualitas dan kuantitas jasa layanan publik oleh pengguna (user) semakin meningkat, di pihak operator pelayanan publik menghadapi kendala dalam menyajikan jasa layanan publik. Pengguna telah membayar jasa layanan publik. Di pihak lain kualitas dan kuantitas yang diinginkan belum terpenuhi. Transparansi Akuntabilitas dalam pelayanan publik diperlukan untuk mengatasi kesenjangan pihak-pihak yang terkait dalam pelayanan publik; untuk itu, dituntut pula regulator yang mampu mengalokasikan sumber daya yang ada sehingga terjadi keseimbangan pihak-pihak yang terkait dalam layanan publik. Di luar pengguna jasa pelayanan publik (non user) perlu diperhatikan kepentingannya, khususnya tuntutan lingkungan stratejik. Berkaitan dengan hal-hal tersebut, hingga saat ini pelayanan publik masih memiliki berbagai kelemahan antara lain: • Kurang responsif. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan, mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab instansi. Respon terhadap berbagai keluhan, aspirasi, maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. • • Kurang informatif. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat, lambat atau bahkan tidak sampai kepada masyarakat. Kurang accessible. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat, sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. • Kurang koordinasi. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. Akibatnya, sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. • Birokratis. Pelayanan (khususnya pelayanan perijinan) pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level, sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan, kemungkinan staf pelayanan (front line staff) untuk dapat

menyelesaikan masalah sangat kecil, dan dilain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan, dalam rangka menyelesaikan

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

385

masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan, juga sangat sulit. Akibatnya, berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. • Kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. Akibatnya, pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya, tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. • Inefisien. Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan Sementara itu, dari sisi kelembagaan, kelemahan utama terletak pada disain organisasi yang tidak dirancang khusus dalam rangka pemberian pelayanan kepada masyarakat, penuh dengan hirarki yang membuat pelayanan menjadi berbelit-belit (birokratis), dan tidak terkoordinasi. Kecenderungan untuk melaksanakan dua fungsi sekaligus, fungsi pengaturan dan fungsi penyelenggaraan, masih sangat kental dilakukan oleh pemerintah, yang juga menyebabkan pelayanan publik menjadi tidak efisien. Berbagai pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah tersebut masih menimbulkan persoalan. Kelemahan mendasar antara lain: pertama, adalah kelemahan yang berasal dari sulitnya menentukan atau mengukur output maupun kualitas dari

pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. Kedua, pelayanan pemerintah tidak mengenal “bottom line” artinya seburuk apapun kinerjanya, pelayanan pemerintah tidak mengenal istilah bangkrut. Ketiga, berbeda dengan mekanisme pasar yang memiliki kelemahan dalam memecahkan masalah eksternalities, organisasi pelayanan pemerintah

menghadapi masalah berupa internalities. Artinya, organisasi pemerintah sangat sulit mencegah pengaruh nilai-nilai dan kepentingan para birokrat dari kepentingan umum masyarakat yang seharusnya dilayaninya. Sementara itu, karakteristik pelayanan pemerintah sebagian besar adalah bersifat monopoli sehingga tidak memiliki pesaing di pasaran. Hal ini menjadikan lemahnya perhatian pengelola pelayanan publik akan penyediaan pelayanan yang berkualitas. Lebih buruk lagi kondisi ini menjadikan sebagian pengelola pelayanan memanfaatkan untuk mengambil keuntungan pribadi, dan cenderung mempersulit prosedur pelayanannya. Akibat permasalahan tersebut, citra buruk pada pengelolaan pelayanan publik masih melekat sampai saat ini sehingga tidak ada kepercayaan masyarakat pada pengelola pelayanan. Kenyataan ini merupakan tantangan yang harus segera diatasi terlebih pada era persaingan bebas pada saat ini. Profesionalitas dalam pengelolaan pelayanan publik dan pengembalian kepercayaan masyarakat kepada pemerintah harus diwujudkan.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

386

Permasalahan pengawasan publik selama ini menjadi agenda penting, masih perlu mendapat perhatian Pemprov Jatim. Partisipasi masyarakat dalam pengawasan pelayanan publik juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari persoalan tersebut. Memberikan cara, strategi, dan penyadaran tentang pengawasan terhadap pelayanan publik sangat relevan. Pelayanan publik masih sarat dengan korupsi. Berpijak dari kondisi-kondisi ini maka perhatian yang serius harus dilakukan pemerintah dalam rangka melaksanakan fungsi pelayanan publik. Sejauh ini upaya-upaya nyata telah dilakukan pemerintah melalui berbagai instrumen kebijakan. Dalam rangka efektivitas pelaksanaan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diubah dengan UU Nomor 32 Tentang

Pemerintahan Daerah, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sebuah Peraturan Pemerintah dengan Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah yang isinya mengatur lebih lanjut mengenai kriteria, susunan dan struktur organisasi perangkat daerah. Dengan diterbitkannya PP No. 8 tahun 2003, dinas-dinas atau organisasi yang disusun oleh pemerintah daerah diharapkan lebih dapat memberikan pelayanan publik yang memuaskan bagi penggunanya. Karena intinya adalah dengan diberikannya otonomi daerah dan terbitnya PP yang mengatur perangkat organisasi daerah bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat dan menyediakan pelayanan publik. e. Isu Sistem Hukum Nasional dan Hukum Politik Permasalahan Hukum dan Politis di Jawa Timur perlu mendapat pembenahan, menginta ditemukannya beberapa kasus, diantaranya : Kasus salah tangkap dalam perkara pembunuhan Moh Asrori, dimana orang yang tidak melakukan pembunuhan divonis penjara. Dan kasus salah tangkap tidakhanya terjadi satu kali namun sering seperti halnya Kemat dan Devid sudah divonis masing-masing 17 dan 12 tahun untuk perkara yang sama. Selian itu kasus penembakanyang dilakukan aparat terhadap masyarakat sipil akibat sengketa tanah di Alas Tlogo Pasuruan. Sengketa tanah antara warga Alas Tlogo Pasuruan dengan aparat Marinir TNI AL telah merenggut korban jiwa. Bahkan untuk mengetahui titik pangkal dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Isu golput yang berjumlah cukup besar di Jawa timur menjadi simbol ketidak percayaan masyarakat terhadap proses demokrasi yang berlangsung di Jawa Timur. Sikap pesimisme masyarakat terhadap elit politik yang menang dari proses pemilihan umum menjadikan mereka apatis terhadap pelaksanaan pemilu sekarang dan yang akan datang, karena kecenderungan peningkatan jumlah golput.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

387

Isu keterlibatan perempuan dalam proses politis juga perlu mendapat perhatian, mengingat masyarakat Jawa Timur yang memiliki kultur patrilinial kurang mempercayakan perempuan menjadi seorang pemimpin atau seorang terlibat dalam politis. Hal ini terbukti hanya 16 persen kuata perempuan di parleman lebih rendah dari kuota yang ditetapkan yaitu 30 persen. B. ISU STRATEGIS YANG BERSIFAT LOKAL a. Isu Penerapan Tunjangan Kinerja Daerah Kota dan Kabupaten Kinerja instansi pemerintah tidak lagi hanya diukur dari kemampuan menyerap anggaran dan frekuensi atau banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi juga diukur berdasarkan aspek efisiensi dan efektivitas yang dicapai, kualitas produk baik kebijakan maupun pelayanan publik yang mampu diberikan oleh instansi pemerintah, tingkat pencapaian tujuan organisasi, dan bahkan pada manfaat yang dapat diberikan secara luas pada publik/ masyarakat, seperti kualitas pelayanan publik, kepuasan masyarakat, hingga peningkatan kualitas hidup rakyat. Kepentingan mengukur pelayanan publik atau pelayanan terhadap masyarakat terkait dengan sejauhmana optimalisasi fungsi dan peran pemerintah dijalankan. Pada dasarnya fungsi dan peran pemerintah baik regulasi/kebijakan, proteksi dan distribusi berujung pada pelayanan publik. Artinya sejauhmana pelayanan publik diselenggarakan oleh pemerintah, menjadi salah satu ukuran penting kinerja pemerintah. Secara faktual upaya-upaya perubahan menuju peningkatan meningkatkan kualitas pelayanan pemerintah sudah dilakukan. Namun disadari bahwa birokrasi pemerintah masih terdapat beberapa kelemahan. Beberapa kelemahan tersebut antara lain: • Latar belakang pemahaman politik yang berbeda dan kepentingan sektoral yang berbeda, seringkali menjadi salah satu sebab adanya kecenderungan perilaku yang kurang mampu untuk melakukan koordinasi diantara lembaga pemerintah. Pada saat yang bersamaan, terdapat fakta kondisi tersebut kurang diimbangi oleh peningkatan kualitas kinerja aparatur negara. • Pelayanan publik masih jauh dari harapan dan keinginan masyarakat, pemborosan yang masih juga belum dapat diperbaiki, korupsi yang masih merajalela, tarikan kuat yang dilakukan oleh pejabat politik terhadap pejabat birokrasi, merupakan citra yang menggangu kinerja birokrasi pemerintah. • Acapkali pengukuran terhadap sejauhmana pencapaian kerja (prestasi) belum terjabarkan secara jelas sehingga dalam prakteknya terdapat kesulitan untuk

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

388

merealisasikannya. Artinya

masih belum jelasnya baku kinerja yang dapat diukur

untuk menentukan mutu output yang dihasilkan. Terdapat asumsi bahwa seberapapun kualitas dari output kegiatan yang dilaksanakan tidak akan memberikan perubahan terhadap penghargaan kepada aparatur (individu) atau unit (satuan Kerja) yang bersangkutan. Selain beberapa kelemahan tersebut, berdasarkan hasil kajian tentang profil manajemen pemerintahan yang berorientasi pada peningkatan kinerja yang terdiri instansi pemerintah; instansi pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia, terdapat beberapa kelemahan lain terkait dengan proses manajemen pemerintahan yang belum menerapkan manajemen secara integratif dalam suatu siklus manajemen kinerja yang dimulai dari fungsi perencanaan sampai dengan pelaporan kinerja. Manajemen pemerintahan idealnya merupakan suatu sistem yang secara terus menerus mengupayakan perbaikan, dari yang banyak terjadi kesalahan menjadi berkurang kesalahannya, dari yang tidak efektif menjadi efektif, serta dari yang rendah capaiannya menjadi meningkat. Oleh karena itu, jika penerapan manajemen tidak menghasilkan kinerja yang lebih baik, berarti diduga terdapat kesalahan atauapun kurang optimalnya pada penerapan fungsi-fungsi manajemen. Berdasarkan hal tersebut, maka kajian ini akan merumuskan suatu rencana tindak yang dapat dijadikan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada pelaksanaan manajemen pemerintahan tersebut, sehingga tercapai penyelenggaraan pemerintahan yang berkinerja tinggi.

b. Isu pengelolaan kekayaan daerah Keberadaan blok Cepu membawa jawa Timur membuat kesepakatan Bersama dengan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Blora dan Kabupaten Bojonegoro tentang Keikutsertaan Pengelolaan usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi di Blok Cepu. Kesepakatan ini dapat meningkatkan pendapatan daerah, namun di sisi lain berpotensi menimbulkankonflik jika penangannya tidak optimla, selain itu daerah yang dieksplorasi juga berpotensi menimbulkan bencana. Mislnay kebocoran sumur minyak yang terjadi di wilayah Bojonegori yang dieksplorasi oleh PetroChina yang menimbulkan kerawanan bencana bagi masyarakat. Hal itu membutuhan manajemen sumber daya yang lebih baik pada masa yang berpotensi pada

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

389

c. Isu Lingkungan Hidup dan Manajemen Bencana Banyaknya peristiwa bencana yang terjadi dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian harta benda di Jawa Timur, telah membuka mata kita bersama bahwasanya dibutuhkan kepedulian yang sangat besar dari semua stakeholder pembangunan untuk melakukan manajemen bencana yang optimal. Berdasarkan hasil pemetaan wilayah rawan bencana, 200 ribu lebih masyarakat di Jawa Timur berada dalam daerah rawan bencana, yang masing-masing tersebar dalam 40 kabupaten dan Kota. (Dinas Sosial Jatim, 2007) Issu bencana alam mendapat perhatian yang cukup besar dari pemrov Jatim, namun masih terdapat beberapa kendala dalam manajemen bencana alam yang dilaksanakan selama ini. Kepedulian terhadap bencana oleh stakeholder pembangunan terutama perusahaan telah ditunjukkan dengan beberapa kegiatan bantuan bencana alam secara langsung/tunai, namun masih bersifat charity, tidak terkoordinir, tidak

berkelanjutan, dan kurang memperhatikan penanganan korban setelah bencana. Komitmen swasta, pemerintah dan masyarakat perlu ditingkatkan melalui implementasi CSR atau kegiatan sosial masyarakat yang dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu: Bidang kesehatan, keamanan, pendidikan, perburuhan, lingkungan, atau pembangunan ekonomi. Dukungan yang diberikan dapat berupa: dana (modal), pinjaman, biaya promosi, tenaga (bimbingan teknis tenaga ahli), peralatan/teknologi, atau akses informasi. Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek

perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dikenal sebagai Siklus Manajemen Bencana (seperti terlihat dalam Gambar Siklus Manajemen Bencana), yang bertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan manusia; (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis. Secara umum pemprov Jatim perlu memfokuskan pada kegiatan manajemen bencana dapat dibagi dalam kedalam tiga kegiatan utama, yaitu: 1. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi,

kesiapsiagaan, serta peringatan dini; 2. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan search and rescue (SAR), bantuan darurat dan pengungsian; 3. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

390

d. Isu Pemberdayaan Masyarakat Miskin BPS menyatakan pada tahun 2008 sekitar 16,66 % dari jumlah penduduk hidup dengan pengeluaran sebulan lebih rendah dari garis kemiskinan, yaitu jumlah rupiah yang diperlukan untuk membayar harga makanan setara dengan 2.100 kilo kalori (kkal) sehari, dan pengeluaran minimal untuk perumahan, pendidikan, pemeliharaan kesehatan, dan transportasi. Jumlah penduduk tersebut adalah sangat besar dan merupakan tanggung jawab bersama untuk penyelesaian kemiskinan. Berdasarkan data Bapeprov Jatim 2008, angka kemiskinan di Jatim sejak tahun 2001 terus mengalami penurunan. Pada 2001 kemiskinan mencapai 7,267 juta jiwa atau 20,91%, tahun 2002 angka kemiskinan 7,181 juta atau 20,34%, tahun 2003 kemiskinan 7,064 juta jiwa atau 19,52%, tahun 2004 kemiskinan 6,979 juta jiwa atau 19,10%. Namun, pada tahun 2005, akibat kenaikan BBM angka kemiskinan kembali meningkat 8,390 juta jiwa atau 22,51%, pada tahun 2006 kembali turun menjadi 7,455 juta jiwa atau 19,89% dan pada 2007 kemiskinan 7,137 juta jiwa atau 18,09% Untuk menanggulangi kemiskinan dibutuhkan kebijakan yang memihak pada

permasalahan masyarakat miskin. Di samping itu, pemerintah, harus bergerak ke arah mendorong perluasan tenaga kerja, baik tenaga kerja potensial yang terdidik maupun tenaga kerja potensial yang kurang terdidik, serta menggerakkan sektor pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja, khususnya tenaga kerja perdesaan. Namun demikian masalah kemiskinan tidak sekedar persoalan tidak adanya lapangan kerja kerja, tetapi sangat kompleks dan multi dimensi, serta merupakan tanggung jawab bersama untuk mengatasinya. Oleh karena itu permasalahan kemiskinan yang multidimensi tersebut

masih perlu mendapat prioritas dalam pembangunan di Jawa Timur, peran pemerintah untuk menjamin, melindungi, dan memenuhi hak-hak orang-orang yang tergolong miskin masih sangat dibutuhkan. Pemerintah propinsi Jawa Timur menetapkan dua program prioritas

penangulangan kemiskinan yaitu : (1) Rescue (penyelamatan), Kebijakan pemerintah dalam menyelamatkan RTM setelah adanya kenaikan harga BBM melalui Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM dan Kemiskinan (PAM-DKB) oleh Pemerintah Propinsi (2006) dan pada tahun 2007 menjadi Jaring Pengaman Ekonomi Sosial (JPES); Penyaluran Bantuan Langsung Tunai; Program Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat melalui Penyaluran Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin); dan (2) Recovery (pemulihan), yaitu upaya pengurangan kemiskinan jangka panjang, bersifat revolving, penguatan kelembagaan, pengembangan sarana dan prasarana ekonomi desa,

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

391

peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan bertujuan untuk pengetasan kemiskinan. Pemulihan ini melalui “Program Gerakan Terpadu Pengentasan

Kemiskinan (Gerdu-Taskin)”, yang dilengkapi dengan Anti Poverty Project (APP). Disamping itu juga dilaksanakan program Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang merupakan kolaborasi dengan Pemerintah Pusat. Selain itu di Jawa timur juga melaksanakan Program Anti Kemiskinan mulai dilaksanakan pada tahun 2005 , yaitu inisiasi Program Anti Kemiskinan (P-APBD 2005). Sampai saat ini, APP tahun 2006 (tahap Pelestarian), APP tahun 2007 (tahap pengembangan) dan APP tahun 2008 (tahap Pelaksanaan). Secara keseluruhan sejak Inisiasi APP tahun 2005 (P-APBD) sampai dengan tahun 2007 Jumlah Gakin yang tertangani sebanyak 199 Kelompok Masyarakat dengan jumlah anggota sebanyak 9.289 Gakin. Untuk tahun 2008 direncanakan Jumlah Pokmas Gakin yang ditangani sebanyak 77 Kelompok dengan jumlah anggota sebanyak 1.960 Keluarga miskin. Dampak Terhadap Kesejahteraan Pokmas Gakin Peningkatan kesejahteraan penduduk miskin yang tertangani, khususnya untuk Pokmas Gakin yang telah mendapatkan program APP ,bila diukur dari peningkatan modal/aset yang dimiliki oleh kelompok Masyarakat rata – rata meningkat 8,42 % dan tumbuhnya wirausaha baru pada kelompok masyarakat miskin. Keterjaminan akan hak-hak orang miskin oleh pemerintah sebagai bagian warga negara harus dilindungi. Di samping itu, harus ada upaya nyata oleh negara mengelola berbagai sumber daya untuk

yang tersedia untuk digunakan dalam memenuhi

kebutuhan dasar masyarakat miskin. Upaya nyata oleh negara disini dimaksudkan adalah seluruh pilar-pilar pemerintahan yang meliputi pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk turut serta dan bertanggung jawab dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan pemunuhan kebutuhan dasar terhadap seluruh warga negara tanpa terkecuali termasuk masyarakat miskin. Dalam upaya merumuskan rencana pemberdayaan masyarakat miskin, maka setidak-tidaknya ada tiga langkah penting yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu: Pertama, siapa yang menjadi kelompok-kelompok sasaran (golongan miskin di desa atau kota, petani kecil, nelayan, buruh tani tidak bertanah, berkebun, dan sebagainya). Kedua, harus mampu memperkirakan besarnya kebutuhan masyarakat menurut batasan masyarakat yang bersangkutan. Ketiga, sarana dan prasarana harus dirumuskan sedemikian rupa, untuk mendapatkan gambaran kebutuhan pokok minimum. Upaya

untuk memberdayakan kegiatan produktif masyarakat miskin dan meningkatkan posisi bargaining mereka terhadap semua bentuk eksploitasi dan superordinasi, tak pelak

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

392

prasyarat yang dibutuhkan adalah kemudahan ekonomi (economic facilities) yang benarbenar nyata dan peluang-peluang sosial (social opportunities) yang memihak kepada masyarakat miskin Pemberdayaan terhadap masyarakat miskin telah dilakukan oleh Pemprov Jatim melalui Dinas Sosial, Dinas koperasi, Dinas Pertanian, Dinas Tenaga Kerja, dan perpanjangan tangan pemerintah pusat dengan PNPM. Sudah ratusan program yang dikucurkan pada kelompok masyarakat miskin Namun masih terdapat beberapa kelemahan pada berbagai program itu. Pertama adalah karena semua Departemen itu mempunyai program penanggulangan kemiskinan masing-masing, sedangkan tenagatenaga profesional dalam menangani pelaksanaan masih kurang. Kedua, pendekatan didominasi pendekatan "Atas-Bawah" yang kaku, yang kadang-kadang kurang

"mendidik". Ketiga, program yang kurang tajam, sering menjadi kurang transparan. Keempat, terlalu bersifat sentralistik, sehingga dana yang relatif kecil itu dan waktu yang harus cepat, tidak penuh dan mantap menembus ke bawah. Kelima, proyek-proyek kemiskinan yang harus selesai dalam jangka pendek akan merugikan program itu sendiri. Proyek-proyek penanggulangan kemiskinan seyogyanya longitudinal, setidak-tidaknya 4 5 tahun sehingga terhindar dari segi prioritas dan sasaran hasil fisik yang segera dapat dilihat pada setiap akhir tahun. Keenam, pimpro-pimpro seyogyanya tidak di Jakarta, tetapi paling tidak di ibukota kabupaten. Ini berarti pembinaan dan pengembangan tenaga-tenaga profesional tentang penanggulangan kemiskinan di berbagai daerah ditingkatkan baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kelemahan-kelemahan tersebut mendapat perbaikan secara terus menerus. Oleh karena itu Pemprov jatim perlu mengangkat isu kemiskinan ini m enjadi salah satu isu strategis yang perlu dituntaskan di Jawa Timur.

e. Isu Provinsi Jawa Timur sebagai Pusat Agribisnis Keinginan proviinsi Jawa Timur sebagai pusata agribisnis merupakan tantangan dan pelru mendapar perhatian yang serius untuk mewujudkannya dan dalam rangka mengentaskan kemsikinan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Sektor unggulan berbasis sumberdaya lokal melalui konsep klaster bisnis. Patut dipahami bahwa pengembangan klaster menawarkan cara yang lebih efektif dan efisien dalam membangun ekonomi kabupaten / kota secara lebih mantap, dan mempercepat pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan. Sektor pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena memiliki prospek yang bagus dan mampu menyerap tenaga kerja cukup

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

393

banyak serta mampu meningkatkan pendapatan masyarakat saat ini adalah komoditi kimia dasar, pengolahan kayu, besi baja, mesin-mesin dan otomotif, pengolahan tembaga, pulp dan kertas, makanan dan minuman, tekstil, kulit, barang kulit dan sepatu / alas kaki, udang, alat-alat listrik, pengolahan karet, plastik, pengolahan aluminium, rokok, keramik, marmer dan kaca, pengolahan kelapa sawit, pengolahan rotan olahan, barangbarang kimia lainnya, alat olahraga, musik, pendidikan dan mainan, pengolahan tetes, jasa informasi tekhnologi, jasa design, dan jasa konstruksi. Sejak tahun 2006, model yang dianut Provinsi Jawa Timur adalah dual track strategy , maksudnya di satu sisi berupaya untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan, disisi yang lain berupaya mampu mendukung terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat seperti hak atas pangan, hak atas pelayanan kesehatan, hak atas pendidikan, hak atas air bersih dan sanitasi, hak atas pekerjaan, dan lain-lain. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau Special Economic Zones (SEZ) yang akan dibentuk dapat dijadikan peluang yang bagus dalam menarik investasi, dan peluang makin memiliki daya tarik kuat apabila ada penerapan Kawasan Ekonomi Khusus karena sangat cocok, dan dapat mengintegrasikan kegiatan ekonomi serta bisnis, seperti industri, perdagangan, restoran, hotel, pariwisata, pertanian, pertambangan dan aneka jasa. Kawasan ekonomi khusus merupakan suatu kawasan tertentu dimana pabrik-pabrik yang berada di kawasan tesebut diberlakukan ketentuan khusus di bidang kepabeanan (customs & excise), perpajakan (tax), perijinan (licensing) one stop services , keimigrasian, dan ketenagakerjaan. f. Isu Provinsi Jawa Timur sebagai Pengekspor TKI Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia di dalam negeri mendorong sebagian angkatan kerja untuk bekerja ke luar negeri. Namun, proses penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Jawa timur ke luar negeri masih menghadapi berbagai kendala. Penyederhanaan dan desentralisasi pelayanan penempatan TKI yang belum optimal menyebabkan masih adanya permasalahan berkaitan dengan kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi TKI. Pengurusan paspor dengan pengaman biometrik dalam waktu singkat masih mengalami kendala. Permasalahan lain seperti gaji yang tidak dipenuhi, kondisi tempat kerja yang tidak sesuai dengan kontrak, dan permasalahan pidana seperti kasus-kasus penganiayaan masih sering terjadi. Dari sisi pembiayaan, fasilitasi kredit bagi TKI juga masih sangat terbatas. Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri mulai tahun 2003-2007 terus meningkat sebanyak 249.575 orang yang bekerja pada sektor Formal sebesar 100.178

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

394

orang dan informal sebanyak 149.397 orang yang meliputi jabatan : Penata Laksana Rumah Tangga, Pengemudi, Perkebunan, Mekanik/ Operator, Waiter, Caretaker, Perikanan, Penjahit, Konstruksi, Worker dan Elektronik dan bekerja pada Negara : Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Bruney, Qatar, Bahrain, Abudhabi dan Macau. Peningkatan ini menjadikan Jawa Timur sebagai daerah yang potensial pengekspor TKI. Peningkatan ini belum dibarengi dengan peningkatan kualitas TKI yang dikirim sehingga pekerjaan yang dilakukan TKI juga kurang berkualitas dan banyak terjadi pelecehan dan tindak kekerasan terhadap TKI. Oleh karena itu isu pengiriman TKI keluar negeri pelru mendapat perhatian yang serius oleh pemerintah Jawa Timur. .

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

395

Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam kurun waktu dan proses pembangunan di Jawa timur perlu dipertahankan dan lebih dtingkatkan, kelemahankelemahan yang ditemukan juga perlu segera mendapat formula untuk mengatasinya. Arah kebijakan pembangunan di Jawa Timur pada Tahun depan masih perlu memperhatikan isu manajemen pemerintahan, kemiskinan, lingkungan hidup dan pertumbuhan dan pemerataan perekonomian.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

396

DAFTAR PUSTAKA

(http://www.antara.co.id), Ludruk Hadapi Masalah Pengembangan Alamsyah H. Kamal, 2007. Kebijakan Desentralisasi, Secuil Harapan Publik. http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=36020 Azmil, Drs. M.Hum, Mari Kita Optimalkan Pelaksanaan Otonomi Daerah, Jumat, 03 Nov 2006, http://www.bainfokomsumut.go.id/open.php?id=173&db=artikel Badan Statistik Prop. Jatim, Juli 2008 Badan Statistik Propinsi Jawa Timur, 2008, Profil Kemiskinan Jawa Timur Maret Tahun 2008, www.jatimprov.go.id Bappeda Propinsi Jawa Timur, 2008, Evaluasi Pembangunan Ekonomi Jawa Timur, www.bappepropjatim.go.id Bappeda Propinsi Jawa Timur, 2008, Petunjuk Pelaksanaan Program JPES Tahun 2008, www.bappepropjatim.go.id Bappeda Propinsi Jawa Timur, 2008, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Jawa Timur 2006-2008, www.bappepropjatim.go.id Bappenas RI, 2008, Strategi Penanggulangan Kemiskinan Nasional, bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), www.bappenas.go.id Biro Demokrasi, Hak Asasi dan Pekerja. Laporan Penyelenggaraan Hak Asasi Manusia Negara-Negara – 2006 8 Maret , 2006 Biro Pusat Statistik, 2008, Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) modul Maret 2008, www.bps.go.id Buletin Bulanan Prasetya, Provinsi Jatim No. 4 April 2008 Chalid, Pheni, 2005. Otonomi Daerah Masalah, Pemberdayaan, Dan Konflik, Cetakan Pertama, Jakarta : Kemitraan Dinas Infokom Jatim. www.indonesia.go.id Dinas Perindustrian dan Perdagangan . disperindag@sidoarhokab.go.id Djoko Murdjanto, 2006, Permasalahan Dan Kebijakan Penyediaan Infrastruktur Mendukung Program Akselarasi Pemantapan Ketahanan Pangan. Dwi Astutik, S.Ag. Pengembangan Model Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah Di Jawa Timur Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya 2005 Dwiyanto, Agus.,dan Wahyudi Kumotomo. Kinerja Pemerintahan Provinsi Jawa Timur, dalam Dwiyanto, Agus. Dkk. 2007. Kinerja Tata Pemerintahan Daerah di

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

397

Indoensia. Diterbitkan oleh EuropeanUnion, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, UGM dan Kemitraan, Yogyakarta Gatra, 25 Maret 2006 Gurr, Ted Robert, 1970, WHY Men Ribel, Princeton New Jersey, Princeton University Press. Hoessein, Prof. Dr. Bhenyamin dan dan Prof. Dr. Eko Prasojo. Konsep Pembagian Kewenangan (Urusan) Antar Tingkat Pemerintahan. http://desentralisasi.org/makalah/Urusan/BhenyaminHoesseinEkoPrasojo_KonsepPembagianKewenanganUrusanantarTingkatPemerintahan .pdf http//www.kediri-kota.go.id, Potensi Wisata Seni Budaya Kota Kediri http://puspek-averroes.org/2008, Topeng Malang yang semakin “malang” http://www.indonesia.go.id, Profil Kondisi Sosial Budaya Jawa Timur http://www.watchterminal.net/component/option,com_frontpage/Itemid,1/lang,id/watch terminal. Pernyataan Pers Jaringan Aksi Anti Korupsi Jawa Timur.ditulis Regio Jawa Timur, Selasa, 24 April 2007 Isenhart, Myra Warren dan Michael Spangle. 2000. Collaborative Approaches to Resolving Conflict. London: Sage Publication. Jawa Pos Rabu, 14 Juli 2008 Jawa Timur dalam Angka 2007, Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Timur, 2007. Jaya, David Satria, Redefinisi Otonomi Daerah, Lampung Post, Sabtu, 22 November 2008, http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008112122403443 Laporan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur Jawa Timur 2003-2008 www.pemprovjatim.go.id Laporan Program Kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, 2008 Laporan Tahunan Tentang Praktek Hak Asasi Manusia – 2006. Kedutaan Besar Amerika Serikat. Jakarta-Indonesia NN, 2008, Demokrasi Dalam Arah Persfektif, diakses dari Blog at WordPress.com PAUD Jawa Timur: menjamur Sampai ke Dusun, Saiful Anam dan Imam Hanafi, Penan Pendidikan, 2008 Pemerintah Propinsi Jawa Timur, 2008, Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/6496/022/2008 tentang Alokasi Dana Bantuan Sosial Program JPES Propinsi Jatim Tahun 2008, www.jatimprov.go.id Pemerintah Propinsi Jawa Timur, 2008, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan Gubernur Jawa Timur, www.jatimprov.go.id

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

398

Pendidikan Berbasis Masyarakat , Daniel Mohammad Rosyid ( Mendongkrak Kualitas pendidikan Jawa Timur), Dewan Pakar Propinsi Jawa Timur, 2008 Pendidikan Berbasis Masyarakat, Bagong Suyanto , ( Mendongkrak Kualitas pendidikan Jawa Timur), Dewan Pakar Propinsi Jawa Timur, 2008 Peningkatan daya saing industri, www.jawapos.co.id Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 28 / th 2008 :Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur, www.depperin.go.id Peraturan Presiden RI No. 7 / th 2005 tentang RPJMD: Bab 18.Peningkatan Daya saing Industri Manufaktur, www.bappenas.go.id Perda Propinsi Jawa Timur No 4 tahun 2007 tentang Pemberdayaan Koperasi usaha Mikro, Kecil dan Menengah Perdagangan di Jatim. www.jatimprov.go.id Prasojo, Eko, Kontroversi Pengangkatan Gubernur, Ringkasan Eksekutif LKPJ –AMJ Gubernur 2003-2008, www.bappeko-surabaya.go.id Ringkasan Eksekutif LKPJ-AMJ Gubernur 2003-2008 Rizal Ramli, http://apindonesia.com, 18 des 2008 Rofi’ Munawar, 2007, Mengevaluasi Program Mengatasi Kemiskinan Jawa Timur, Forum Diskusi Masyarakat Jawa Timur, www.kcm.2007 RPJMD Jawa Timur 2006-2008 RPJMN 2004-2009, www.bappenas.go.id Sinar harapan 4 juni 2008, http://www.sinarharapan.co.id, FPI Dikhawatirkan Picu Konflik Horizontal Solichan Arief Praktisi Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (Umm) Dan Aktivis Ornop Di Malang Dalam Kompas 11 Maret 2003. Tanpa pengarang, 2008, Penanganan Kemiskinan Jawa Timur 2008: ANTI POVERTY PROGRAM (PROGRAM ANTI KEMISKINAN), www.birokratjatim.co.id Tempointeraktif.com. Outlook Perekonomian Jatim 2008 Undang- Undang Republik Indonesia No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Undang-Undang Republik Indoesia No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. www. Surabaya post, co.id. HAM Anak: Memaksa Anak Berkelahi dengan Waktu Rabu, 10 Desember 2008 | 12:09 WIB

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

399

www.beriptek.com.menggagas. Kota Hak Asasi Manusia. Heru Susetyo.Jumat 6 oktober 2006 www.detikhot.com/hotmovie/Jaringan Anti Korupsi Jatim Temukan Kasus Korupsi Rp 6,2 T Budi Hartadi – detikMovie Kamis, 07/04/2005 20:15 WIB www.d-infokom-jatim.go.id.Sistem Kerja RAN HAM Jatim Miliki Skala Prioritas. Kamis 21 September 2006 www.dpr.go.id/majalah parlementaria, 5 agustus 2008 Www.Elsam.Or.Id Prof. Soetandyo Wignjosoebroto Hak Asasi Manusia. Konsep Dasar Dan Perkembangan Pengertiannya Dari Masa Ke Masa. Lembaga Studi Dan Advokasi Masyarakat www.Jatim Online. Statistik diskriminasi hukum. www.Jatim Online.diskriminasi hukum www.jatim.go.id, kondisi sosial budaya jawa timur www.kejarisurabya.com. 19 agustus 2008. JAM Pidsus tidak puas.penanganan korupsi masih kejar target www.surabayadetik.com. 2008, Korupsi Terbanyak di Jatim Penggunaan Kas Daerah Zainal Effendi – detikSurabaya www.wikimu.com. Rabu, 18-04-2007. Jatim Miliki 19 Daerah "Plasenta" Prostitusi. Yuliati Umrah (Direktur Eksekutif Alit). Profil Pekerja Anak Di Jalanan(Anak Jalanan Perempuan Yang Dilacurkan) Zainuddin Maliki,2005, Eksplorasi Minyak Bumi Dan Masyarakat Lokal.

Laporan Akhir Evaluasi Kebijakan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Timur 2008

400

401

RINGKASAN PENINGKATAN RASA SALING PERCAYA DAN HARMONISASI ANTAR KELOMPOK MASYARAKAT BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Rasa saling percaya dan harmoni antar kelompok dan golongan masyarakat merupakan faktor yang penting untuk menciptakan rasa aman dan damai. Peristiwa pertikaian dan konflik antar golongan dan kelompok yang mewarnai perpolitikan merupakan pertanda rendahnya saling percaya dan tiadanya harmoni di dalam masyarakat. Oleh karena itu, agar terciptanya rasa aman dan damai secara berkelanjutan, rasa saling percaya dan harmoni antarkelompok harus terus dipelihara dan dibangun, serta pertikaian dan konflik tersebut perlu untuk ditangani dan diselesaikan segera. Persoalan kesenjangan sosial dan ekonomi yang masih belum teratasi. Kesenjangan multidimensi memiliki potensi untuk semakin memecah-belah masyarakat ke dalam kelompokkelompok secara tidak sehat. Hal ini dapat merenggangkan hubungan antarmasyarakat dan menimbulkan rasa ketidakadilan, yang pada gilirannya dapat menjadi awal dari terjadinya disintegrasi nasional. Rekonsiliasi nasional yang masih belum efektif. Konflik sosial dan politik di masa lampau berpotensi muncul kembali ke permukaan apabila tidak dilakukan penyelesaian secara menyeluruh melalui cara-cara yang tepat. Agar proses konsolidasi demokrasi berjalan dengan efektif, bangsa Indonesia perlu melakukan rekonsiliasi nasional yang lebih adil dan menyeluruh untuk menyelesaikan konflik-konflik masa lalu tersebut. Peran pemerintah sebagai fasilitator dan mediator dalam penyelesaian konflik belum efektif. Pemerintah belum memiliki kapasitas dan profesional untuk merespon konflik, belum transparan serta belum melibatkan partisipasi masyarakat dalam menentukan kebijakan publik yang akan diterapkan di daerah tertentu. Kurangnya koordinasi dan rendahnya saling percaya antar lembaga pemerintah serta antar pemerintah dan masyarakat sipil dalam menciptakan situasi damai menyebabkan kurang

2

KONDISI AWAL RPJMN DI TINGKAT DAERAH

1

efektifnya penyelesaian konflik. Kebijakan komunikasi dan informasi nasional belum optimal. Intervensi kebijakan yang terlalu besar dalam diseminasi informasi, seperti kebijakan sensor yang berlebihan dan informasi sepihak dapat berakibat kontraproduktif dalam pemeliharaan serta saling percaya dan harmoni masyarakat. Kebijakan yang lebih memperbesar akses masyarakat luas terhadap proses perumusan kebijakan publik, sekaligus memperkecil kesenjangan informasi antar kelompok-kelompok masyarakat akan sangat menentukan peningkatan saling pengertian antar berbagai kelompok yang ada. Adapun sasaran yang ingin dicapai di propinsi Jawa Timur yakni : 1. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat atau antar golongan di daerah-daerah rawan konflik. 2. Terpeliharanya situasi aman dan damai serta 3. meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan public dan penyelesaian persoalan social kemasyarakatan. Arah kebijakan dari Peningkatan Rasa Saling Percaya dan Harmonisasi antar kelompok masyarakat adalah: 1. Memberdayakan organisasi-organisasi kemasyarakatan, sosial keagamaan, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam mencegah dan mengoreksi ketidakadilan, diskriminasi dan ketimpangan sosial, sebagai bagian penting dari upaya membangun masyarakat sipil yang kokoh; 2. Mendorong secara konsisten proses rekonsiliasi nasional yang berkelanjutan; 3. Memantapkan peran pemerintah sebagai fasilitator dan atau mediator yang kredibel dan adil dalam menjaga dan memelihara keamanan, perdamaian dan harmoni dalam masyarakat; serta 4. Menetapkan kebijakan komunikasi dan informasi nasional sesuai dengan asasasas keterbukaan dan pemerataan akses informasi. 1. Menurunnya Ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat atau

3

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

4

ARAH KEBIJAKAN

5

PENCAPAIAN RPJMN DI DAERAH

2

antar golongan di daerah-daerah rawan konflik 2. Terpeliharanya situasi aman dan damai 3. Meningkatknya Partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik dan penyelesaian persoalan sosial kemasyarakatan 6 REKOMENDASI TINDAK LANJUT Adapun rekomendasi yang ada adalah sebagai berikut: 1. Membuat pemetaan secara kongrit daerah-daerah yang rawan konflik 2. Waspada akan terjadinya proses marginalisasi di suatu wilayah tertentu. 3. Mengupayakan terjadinya baik power sharing dan resource sharing antar berbagai suku, agama, Partai Politik di Jawa Timur 4. Peningkatan kapasitas masyarakat sipil dalam penyelesaian konflik dan pemulihan wilayah pasca konflik 5. Penguatan ruang publik bagi penyelesaian dan pencegahan konflik 6. Pengembangan Sistem Kewaspadaan Dini (EWS) Sosial 7. Fasilitasi pembentukan lembaga independen penyelesaian konflik 8. Peningkatan profesionalitas aparatur pemerintah dalam penanganan konflik; 9. Penguatan kohesi sosial masyarakat melalui kegiatan seni, budaya dan olahraga. 10. Pembentukan sekretariat bersama antar umat beragama. 11. Sosialisasi nilai-nilai demokrasi dan kebangsaan untuk pemerintah pusat dan daerah 12. Fasilitasi pelaksanaan komunikasi, informasi dan edukasi budaya politik demokrasi, anti KKN, HAM dan Etika Politik; 13. Pengembangan dan pelaksanaan kegiatan ikatan kebangsaan; Banyak permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majmuk yang terdiri dari bebagai macam suku agama, etnis dan budaya yang beraneka ragam. Pasca reformasi 1998 bangsa Indonesia dihadapkan pada masalah – masalah konflik horizontal dan vertikal yang mengancam integrasi daerah serta bangsa ini.

7

PENUTUP

3

Didalam penerapan kebijakan peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat yang perlu dicermati adalah menemukan akar permasalah konflik yang selama ini terjadi, pemahaman masyarakat akan keberagaman kehidupan baik pada tataran agama, sosial kultural sampai pada keberagaman untuk berpolitik harus terus ditingkatkan sehingga masyarakat akan menjadi lebih dewasa dengan berbagai keberagaman yang ada. Selain itu partisipasi masyarakat dalam ikut merumuskan kebijakan dalam mengatasi konflik juga menjadi hal yang sangat krusial untuk diperhatikan masyarakat.

4

RINGKASAN PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN YANG BERLANDASKAN NILAI-NILAI LUHUR BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Penjelasan arti penting Kebudayaan dan pentingnya pengembangan kebudayaan Penjelasan pentingnya pengembangan kebudayaan yang Berlandaskan Nilai-Nilai luhur Kondisi awal dan permasalahan pengembangan kebudayaan di Jawa Timur Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok masyarakat; Semakin kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika; Berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya daerah yang terwujud dalam setiap aspek kebijakan pembangunan; Meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya;

-

2

KONDISI AWAL RPJM DAERAH JAWA TIMUR SASARAN

-

3

1. 2.

3.

4. 4 ARAH KEBIJAKAN

1. Mendorong terciptanya wadah yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan 2. Mendorong tuntasnya proses modernisasi yang dicirikan dengan terwujudnya negara kebangsaan indonesia modern yang berkelanjutan, dan menguatnya masyarakat sipil. 3. Revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas nasional 4. Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk-produk dalam negeri. 1. Ketegangan dan ancaman konflik yang secara umum menurun 2. Tidak adanya separatism dan ancaman disintegrasi terhadap NKRI 3. Revitalisasi nilai-nilai baru tetapi belum cukup kuat terlembagakan dalam setiap aspek kebijakan yang ada

5

PENCAPAIAN RPJM DAERAH JAWA TIMUR

5

6

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

7

PENUTUP

4. Dilaksanakannya beberapa program pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya bangsa 1. Peningkatan kemampuan pengelolaan keanekaragaman budaya melalui peningkatan forum-forum yang mampu menjadi wadah terjadinya dialog kebudayaan 2. Revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai budaya daerah sebagai salah satu dasar pengembangan etika pergaulan sosial, dan dilakukannya sosialisasi dan advokasi nilai-nilai kebangsaan 3. Terpeliharanya kerjasama yang sinergis antar pihak terkait dalam upaya pelestarian kekayaan budaya; 4. Pemberdayaan budaya lokal dan tradisional untuk meningkatkan fungsinya sebagai aset pendidikan dan ilmu pengetahuan, 5. Pemeliharaan, perawatan, dan pemanfaatan benda benda peninggalan budaya untuk mengembangkan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan wisata. 6. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap budaya bangsa melalui peningkatan wawasan masyarakat tentang museum, pengembangan pengetahuan tenaga pengelola museum, pelatihan seniman dan, peningkatan guru kesenian serta memberikan bantuan dan penghargaan kepada seniman; 7. Meningkatkan kreasi seni dan budaya melalui festival seni, gelar budaya, lomba lomba kesenian dan pengiriman duta seni; 8. Meningkatkan perlindungan terhadap peninggalan sejarah purbakala dengan penataan, pengelolaan dan rehabilitasi museum, benda cagar budaya dan situs; Pelaksanaan RPJMN di Jawa Timur dalam beberapa hal menunjukkan keberhasilan (Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik, terselenggaranya berbagai even dan kegiatan pelestarian kekayaan budaya), tetapi di sisi lain masih menunjukkan kurang maksimalnya pencapaian sasaran seperti misalnya kurang terlembaganya nilai-nilai positif dan produktif yang telah digali.

6

RINGKASAN PEMBENAHAN SISTEM HUKUM NASIONAL DAN POLITIK HUKUM BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Dengan demikian Rencana Pemangunan Jangka Menengah dan Panjang Nasional 2004 – 2009 sangat logis apabila salah satu tujuan yang dicapai adalah melakukan pembenahan di bidang sistem hukum.. • Namun demikian pembenahan sistem hukum dan politik ini tidak jarang mengalami banyak hambatan-hambatan khususnya di daerah Jawa Timur. Permasalahan-permasalahan di daerah itu adalah sebagai berikut: - Kasus salah tangkap Kepastian salah tangkap dalam perkara pembunuhan Moh Asrori, 24, warga Desa Kalangsemanding (Surya, 14 November 2008) - Kasus sengketa tanah Alas Tlogo Pasuruan. - GOLPUT memenangi pilkada - Komposisi Perempuan dalam parlemen yang kurang dari 30 % di Jawa Timur • Sasaran yang akan dicapai adalah meningkatkan keadilan dan penegakan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum yang adil, konsekuen dan tidak diskriminatif serta memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan terjaminnya konsistensi seluruh hukum dan peraturan.

2

KONDISI AWAL RPJMN DI TINGKAT DAERAH

3

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

4

ARAH KEBIJAKAN

- Pemerintah daerah Jawa Timur berusaha terus dalam upaya pembenahan system hukum dan politik ini dibuktikan dengan munculnya situs www.jatimprov.go.id yang selalu meminta saran atas Rancangan Undang-undang dari masyarakat jatim, dengan harapan tentunya supaya lebih menampung aspirasi masyarakat dan juga hukum dan peraturan yang berlaku bias dijalankan dalam rangka memberi rasa aman kepada setiap warga masyarakat. Kasus salah tangkap Kepastian salah tangkap dalam perkara pembunuhan Moh Asrori, 24, warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang) adalah sebagai bukti bahwa

5

PENCAPAIAN RPJMN DI DAERAH

7

-

pemda setempat ceroboh dalam kasuskasus perlindungan hukum. Walaupun jumlah perempuan dalam anggota legislatif di DPRD Jawa Timur belum mencapai 30% namun dari 16% dari anggota parlemen tersebut sudah menyebar merata di seluruh fraksi. DPRD Jatim, pada tanggal 29 Juli 2005 telah mengesahkan Rancangan Peraturan daerah (Raperda) P3AK2 menjadi menjadi Peraturan Daerah (Perda). Perda ini adalah penjabaran praktis dari UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Tujuannya, harus ada perlindungan yang semaksimal mungkin dari Pemerintah Daerah Jatim terhadap perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan di Jawa Timur. Perbaikan Kinerja aparat penegak hukum dan peradilan Semua aturan pertanahan perlu ditinjau kembali supaya dimasa mendatang tidak ada lagi konflik yang memperebutkan hak kepemilikan tanah. Perlu adanya manajemen pengelolaan tanah dan sistem informasi pemetaan pertanahan. Permasalahan sengketa tanah di Indonesia biasanya sertifikat kepemilikan ganda. Munculnya sertifikat ganda, ini merupakan tanggung jawab dari BPN selaku lembaga yang berwenang mengeluarkan sertifikat tanah. Munculnya sertifikat ganda di masyarakat karena masih banyaknya mafia pertanahan Penyuluhan akan kesadaran politik GOLPUT menang sebagaimana yang dimuat di Jawa Pos Rabu-7-2008 menunjukkan adanya kesadaran politik masyarakat yang sangat rendah dan juga ini bisa dijadikan sebagai indikasi bahwa rakyat sudah kurang peduli dengan hajatan pemerintah. Sosialisasi akan kesadaran bahwa mereka sama dalam kaca mata politik, dan pilihannya akan menentukan masa depan daerah diharapkan tumbuh kesadaran untuk menyalurkan aspirasinya. Upaya mengkondosifkan perempuan dalam parlemen Jumlah perempuan di parlemen pada tahun

6

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

-

-

-

-

8

2004-2009 sudah mengalami peningkatan sebesar 5% ( 1999 – 2004 sebesar 11 % menjadi 16% pada periode 2004 – 2009). Namun demikian peingkatan ini perlu diupayakan lagi dengan membuka ruang selebar-lebarnya bagi permpuan untuk berpolitik di DPRD sehingga quato 30% bisa dipenuhi. 7 PENUTUP Sebagai upaya pembenahan system hukum dan politik maka diperlukan adanya upaya-upaya sebagai berikut: - Perlu adanya perbaikan aparat penegak hukum yang mendorong kepastian hukum. Perlu adanya manajemen pengelolaan tanah dan sistem informasi pertanahan - Perlu upaya membentuk pemimpin yang konsisten, jujur dan adil sebagai upaya meminimalisasi adanya GOLPUT dalam PILKADA. - Pemilu 2004 sebagai pemilu pertama untuk mengimplementasikan kuota 30% untuk perempuan dalam susunan calon legislatif partai politik (pasal 65 ayat 1 UU No 12, 2 003), ternyata belum mampu menambah jumlah perempuan di DPR secara signifikan.

9

RINGKASAN PENGHAPUSAN DISKRIMINASI DALAM BERBAGAI BENTUK BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Penjelasan masalah keadilan dan kesetaraan dalam upaya penghapusan diskriminasi hukum Penjelasan beberapa kasus diskriminasi hukum yang mencuat Kondisi masyarakat terkait dengan keadilan dan penghapusan diakriminasi Permasalahan diskriminasi di daerah Upaya penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, sasaran yang akan dicapai. o Memastikan setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum; Menegakkan hukum dengan adil, melalui perbaikan sistem hukum yang profesional, bersih dan berwibawa; Menghapus peraturan yang bersifat diskriminatif dan yang melanggar prinsip kesetaraan dan keadilan masih ada kesulitan bagi masyarakat untuk memproses kasusnya, baik melalui hukum ataupun mediasi peninjauan dan uji materi kebijakan hukum persamaan jender di dalam hukum konsistensikebijakan yang tidak bersifat diskriminatif RPJM belum tercapai dengan baik

-

-

2

KONDISI AWAL RPJM DAERAH JAWA TIMUR

-

3

SASARAN

-

4

ARAH KEBIJAKAN

o

o

5

PENCAPAIAN RPJM DAERAH JAWA TIMUR

-

6

REKOMENDASI LANJUT

TINDAK

-

7

PENUTUP

-

10

RINGKASAN PENGHORMATAN, PEMENUHAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN PENGAKUAN HAK ASASI MANUSIA (HAM) BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN
1. Didominasi permasalahan tindak korupsi yang

dilakukan oleh para pejabat publik. Hasil survey menunjukkan bahwa Jawa Timur menduduki peringkat kedua setelah Jakarta dalam hal korupsi. Korupsi yang menonjol adalah penggunaan kas daerah, korupsi pengadaan barang dan jasa, perjalanan dinas dan pungutan liar, penyelewenangan dana non budgeter 2. Pelanggaran HAM yang terjadi Sidoarjo sejak 2006-2008 (Lumpur Lapindo) (Jawa Pos, 17 Mei 2008) dan penembakan terhadap warga sipil di Desa Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan oleh Korps Marinir (TNI) pada tanggal 30 Mei 2007 yang menewaskan 4 orang warga dan luka-luka 3. Pekerjaan buruk untuk anak yang didalamnya meliputi eksploitasi seksual komersial anak,berupa pelacuran anak di daerah prostitusi, pekerja anak di sektor rumah tangga (PRT), anak jalanan dan perdagangan anak (Traficcking) dari Surabaya menuju Amerika Selatan. Sedangkan pemasoknya dari Jawa Timur adalah Banyuwangi Nganjuk, Madiun, Kediri, Surabaya, Blitar, Jember, Gresik. Sedangkan daerah transit dan penerimanya adalah Surabaya (Rosenberg, 2003; Harkristuti Harkrisnowo, 2003; PKPA, 2004). 2 KONDISI AWAL RPJMN Pelanggaran HAM • Adanya penegakan hukum yang diskriminatif • Kurang koordinasi dan komitmen yg kuat antar lembaga publik • Terbatasnya keterlibatan publik • Tidak digunakannya pendekatan persuasif 2. Pemberantasan Korupsi • Adanya korupsi yang terstruktur dan meluas di birokrasi • Penegakan hukum yang diskriminatif (aktor intelektual belum disentuh, hanya aktor operasional saja) • Komitmen aparat penegak hukum belum maksimal 3. Penghapusan eksploitasi seksual anak dan pekerja anak 1.

11

3

SASARAN AGENDA 1. RPJMN 2004-2009 2. 3. 4.

4

ARAH KEBIJAKAN 1. RPJMN 2004-2009 2. 3.

4.

5. 5 PENCAPAIAN RPJM DI 1. JATIM

-

-

Faktor kemiskinan yg dihadapi anak-anak pd keluarga yg termasuk kantong-kantong kemiskinan di Jawa timur. • Nilai-nilai budaya yang mempersepsikan bahwa anak-anak harus membantu orang tua bekerja meskipun dibawah usia kerja (18 tahun ke atas) • Pemerintah tidak memiliki data valid tentang pekerja anak dan eksploitasi seksual anak. • Pemahaman terhadap aturan pemerintah yang melindungi anak dan Rencana Aksi Hak Asasi Manusia (RANHAM) Tahun; Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korups (RANPemberantasan Korupsi); Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak; Rencana Aksi Nasional Penghapusan BentukBentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak; Dan Program Nasional Bagi Anak Indonesia (Pnbai) 2015 Meningkatkan pemahaman terhadap hak asasi manusia; Menegakkan hukum secara adil, konsekuen, dan tidak diskriminatif; Menggunakan nilai-nilai budaya daerah sebagai salah satu sarana untuk mewujudkan terciptanya kesadaran hukum masyarakat; Meningkatkan kerjasama yang harmonis antara kelompok atau golongan dalam masyarakat, agar mampu saling memahami dan menghormati keyakinan dan pendapat masingmasing; Memperkuat dan melakukan konsolidasi demokrasi Pelanggaran HAM Pemerintah telah memanggil langsung pemilik lapindo brantas (Nelwan Bakrie) untuk segera menyelesaikan pembayaran tahap ke dua kekuarangan dari 20% jual beli tanah bagi masyarakat terkena dampak lumpur lapindo Tim dari DPRD pusat diterjunkan untuk menyelidiki, dan sekarang sedang membuat laporan tentang kasus penembakan masyarakat sipil di alas tlogo, Lekok, Kabupaten Pasuruan Pembentukan RAN-HAM di setiap kota/kabupaten di JATIM. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi kinerja Evaluasi kinerja Panitia Pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (Panpel RANHAM) Depkum HAM

12

-

2. -

-

-

3.

-

-

-

Prop Jatim selama 2007. Melakukan sosialisai RANHAM kepada setiap elemen masyarakat (LSM (LBH n LSM lainnya), instansi publik, perguruan tinggi dan masyarakat Pemberantasan Korupsi Kerjasama dalam bentuk MOU antara kejaksaaan dan BPKP propinsi untuk mengaudit dugaan korupsi di daerah Konsultasi dan Kampanye Publik RAN-PK 2004-2009, yang diselenggarakan di Surabaya. Melaksanakan RAN-PK 2004-2009 Pengawasan terhadap aparat yang sedang menyidik kasus korupsi sangat ketat baik dilakukan oleh atasan maupun oleh masyarakat melalui media massa. Penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak (didalamnya juga terdapat traficcking/perdanganan anak) Membentuk Gugus Tugas Penghapusan Perdagangan Orang, Eksploitasi Seksual Komersial Anak dan Bentuk-bentuk Terburuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak. Melaksanakan strategi RAN-Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak, dan Rencana Aksi Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk bagi Anak tahun 20042008 dengan mengembangkan model-model ideal. Melaksanakan kerjasama dengan instansi terkait dalam membentuk Sigap (Siap dan Tanggap) dalam hal penanganan trafiking. Personil Sigap terdiri dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jatim, Dinas Sosial (Dinsos), Bapenas Dinas Propinsi Komunikasi (Dinas Inlokom, Kanwil Hukum dan HAM Prop Jatim, Dinas Kesehatan (Dinkes), Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim, PKK Jatim, dan Yayasan Genta.

6

REKOMENDASI TINDAK 1. Permasalahan HAM - Melanjutkan tahapan RANHAM yang telah LANJUT dibentuk, dan berkoordinasi dengan derahdaerah di propinsi Jawa Timur. - Membentuk RANHAM di setiap kabupaten/kota yang pada periode sebelumnya belum terbentuk. - Menindaklanjuti hasil penyelidikan tim - Menjalin kerjasama antara Pemerintah dengan TNI/POLRI untuk menyelesaikan permasalahan ham di alas tlogo melalui

13

-

2. -

-

3.

-

-

-

-

pendekatan persuasif dengan menggunakan nilai-nilai budaya di daerah. Melibatkan peran publik yang ingin berkontribusi dalam penyelsaian masalah HAM melalui media massa Pemberantasan Korupsi Melanjutkan tahapan RAN-PK yang telah terbentuk, dan berkoordinasi dengan daerahdaerah lainnya di propinsi jawa timur Menegakkan hukum secara konsisten, tidak diskriminatif Menjalin kerjasama dengan institusi publik lainnya misalnya KPK, BPKP dalam pengusutan dugaan korupsi sehingga penumpukan pengusutan kasus korupsi terkurangi. Penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak (termasuk didalamnya perdaganagan anak) Melanjutkan tahapan RAN penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak Menjalin koordinasi dan kerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat yang berkecimpung didunia pemberantasan perdagangan anak, eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak. Mensosialisasikan bahayanya eksploitasi komersial anak, pekerja anak yang buruk dan perdagangan kepada masyarakat. Memberikan advokasi-advokasi dan perlindungan terhadap korban eksploitasi seksual komersial anak dan perdaganan anak.

7

PENUTUP

Pencapaiannya cukup sesuai dengan apa yang diharapkan oleh RPJMN 2004-2009, hanya saja untuk kasus penghapusan eksploitasi seksual komersial anak dan pekerja anak masih belum nampak secara signifikan. Sedangkan untuk pemberantasan korupsi juga terjadi kemajuan dalam pengusutan dugaan korupsi, namun belum dibarengi dengan penegakan hukum yang tidak deskrimianatif.

14

RINGKASAN PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN DAN PERAN PEREMPUAN SERTA KESEJAHTERAAN DAN PERLINDUNGAN ANAK BAB I KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Perempuan, sebagai Sumber Daya Manusia yang berjumlah besar di Jawa Timur, idealnya adalah subyek dan obyek pembangunan SDM yang secara bersama-sama berhak untuk menikmati akses dan kesempatan, melakukan kontrol dan partisipasi, serta merasakan manfaat hasil pembangunan. Sebagai potensi besar untuk menunjang keberhasilan pembangunan SDM, ternyata realita setelah merdeka, posisi dan statusnya tertinggal dibandingkan warga negara laki-laki. II KONDISI AWAL RPJMN DI JAWA TIMUR Angka buta huruf perempuan yang lebih besar dibandingkan dari laki-laki Status gizi perempuan masih merupakan masalah utama dan masih tingginya angka kematian ibu Di bidang eonomi,tingkat partisipasi angkatan kerja jauh lebih tinggi dari pada perempuan Keterwakilan perempuan di bidang politik atau kekuasaan masih rendah Masih banyak produk dan budaya hukum yang bias gender III SASARAN YANG INGIN DICAPAI Terjaminnya keadilan gender dalam berbagai perundangan, program pembangunan dan kebijakan publik Menurunnya kesenjangan pendapaian pembangunan antara perempuan dan laki-laki, yang diukur oleh angka GDI dan GEM Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak IV ARAH KEBIJAKAN Meningkatkan peran perempuan dalam bidang Politik dan pengambilan keputusan Meningkatkan taraf pendidikan dan kesehatan serta bidang pembangunan lainnya untuk mempertinggi kualitas hidup dan sumber daya kaum perempuan Meningkatkan gerakan anti kekerasan terhadap perempuan dan anak

15

Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak Menyempurnakan perangkat hukum yang lebih lengkap dalam melindungi individu dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi, diskriminasi termasuk kekerasan dalam rumah tangga Memperkuat kelembagaan, koordinasi dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak dalam perencanaan, pelaksanaa, pemantauan dan evaluasi dari berbagai kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di segala bidang termasuk pemenuhan komitmen-komitmen internasional, penyediaan data dan statistik gender serta peningkatan partisipasi masyarakat IV PENCAPAIAN RPJMN DI JAWA TIMUR - PENDIDIKAN Penyelenggaraan koordinasi dan kerja sama pendidikan bagi perempuan yang buta aksara Pelaksanaan pendidikan kesetaraan dan keadilan gender dalam keluarga, bekerja sama dengan organisasi perempuan, keagamaan dan perguruan tinggi di Jawa Timur Pelaksanaan sosialisasi pedoman pendidikan bagi pekerja rumah tangga perempuan - KESEHATAN Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu, pelaksanaan peringatan Hari AIDS Fasilitasi penanganan permasalahan gizi buruk Revitalisasi posyandu dan peningkatannya menjadi posyandu terpadu - EKONOMI Penyusunan kebijakan peningkatan produktifitas ekonomi perempuan Pembentukan forum sebagai wadah berkoordinasi dan bersinergi berbagai masukan untuk penanggulangan kemiskinan Pengembangan model desa prima (perempuan Indonesia Maju Mandiri) Revitalisasi program Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera - HUKUM Penetapan UU tentang Antipornografi dan Antipornoaksi Penandatanganan kesepakatan bersama untuk mengimplementasikan Gerakan Nasional Bersih Pornografi dan Pornoaksi Penyusunan RUU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

16

- SOSIAL & POLITIK

Penanganan masalah perempuan & anak di daerah bencana Penyiapan program pendidikan politik perempuan Penyusunan modul-modul kepemimpinan perempuan Peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi Pelaksanaan Program Nasional bagi Anak Indonesia Implementasi Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak

VI

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

Melakukan pemenuhan hak-hak anak di berbagai bidang Meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan lembaga masyarakat dan swasta, melaksanakan pengarusutamaan gender pada tahap perencanaan dan memperkuat kelembagaan anak Melakukan penyerasian berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung peningkatan kualitas anak dan perempuan

VII

PENUTUP

Keadilan gender merupakan hal mendasar yang terus menerus diperjuangkan oleh semua pihak guna mencapai kesetaraan gender yang berarti bahwa masyarakat memperlakukan perempuan sebagai mitra sejajar dalam pembangunan, yang berarti memiliki akses, kontrol, partisipasi dan manfaat yang sama dari setiap program pemerintah.

17

RINGKASAN REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH BAB KETERANGAN BAB 1 PENGANTAR 2 KONDISI AWAL RPJM DAERAH JAWA TIMUR URAIAN Isu desentralisasi dan otonomi daerah Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah Kondisi pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah Permasalahan desentralisasi dan otonomi daerah di daerah Peningkatan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah melalui peningkatan indikatorindikatornya. Kebijakan pembangunan desentralisasi dan otonomi daerah Program-program terkait desentralisasi dan otonomi daerah Tercapainya tujuan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah Peningkatan sumber daya manusia yang baik dan profesional; Penyediaan sumber-sumber pembiayaan yang memadai, baik yang berasal dari kemampuan daerah itu sendiri (internal) maupun sumber dana dari luar daerah (eksternal); Menyusun kelembagaan yang efektif; Membangun terbangunnya sistem dan regulasi yang jelas dan tegas; Meningkatkan kreativitas dan partisipasi masyarakat secara lebih kritis dan rasional. Optimalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah antara lain dengan memperjelas kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah sehingga tumpang tindihnya kebijakan pusat dan daerah tidak lagi terjadi Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah Meningkatkan kerjasama antar daerah dalam penyediaan pelayanan publik. Pentingnya desentralisasi dan otonomi daerah yang sehat.

-

3

SASARAN

-

4

ARAH KEBIJAKAN

-

5 6

PENCAPAIAN RPJM DAERAH JAWA TIMUR REKOMENDASI TINDAK LANJUT

-

-

7 PENUTUP -

18

RINGKASAN PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERWIBAWA BAB I KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Tata pemerintahan yang baik menjadi satu kebutuhan yang sangat penting dalam penyelenggaraan negara. Sejauh ini, meskipun upaya-upaya telah banyak dilakukan untuk menciptakan tata pemerintahan yang baik, namun kenyataannya praktik-praktik dalam penyelenggaraan masih banyak dinilai oleh beberapa kalangan bersifat buruk. Salah satu indikasinya adalah masih belum terhapusnya praktik korupsi di dalam penyelenggaraan negara. Terselenggarannya tata pemerintahan yang bersih dan tata pemerintahan yang baik merupakan prasyarat untuk terwujudnya pemerintahan yang efektif dan akuntabel. Namun pemerintahan akuntabel diperlukan upaya penataan dan pengaturan agar tercipta tatanan dan mekanisme yang professional. II KONDISI AWAL RPJMN DI Jaringan Kerja Anti Korupsi (JKAK) Jawa Timur mengungkapkan bahwa provinsi ini menjadi JAWA TIMUR wilayah kedua yang paling besar tingkat korupsinya.Temuan itu merupakan hasil penelitian Indonesian Corruption Watch (ICW) yang disampaikan JKAK Jatim dalam pertemuan dengan 32 LSM terkait desakan pengesahan RUU Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Hotel Ibis kemarin (25/11).''Jatim ada di peringkat kedua di bawah DKI. Dan memang, tingkat korupsi di pemerintahan Jatim tiap tahun makin bertambah. Temuan hasil studi GAS (Dwiyanto, 2006) membuktikan bahwa masyarakat di Jawa Timur masih sangat toleran terhadap berbagai praktik suap dan pungli. Mereka masih menganggap pungli sebagai hal yang wajar. Temuan ini menunjukkan bahwa budaya anti korupsi masih belum berkembang di Jawa Timur. Praktik yang terjadi, masyarakat kesulitan mengakses informasi penyelenggaran pemerintahan. Ketertutupan akses masyarakat untuk mengetahui anggaran publik (APBD) misalnya, membuat pengawasan terhadap penggunaan uang negara semakin sulit. Kebocoran itu disebabkan tertutupnya akses informasi dari pemerintah kepada masyarakat dan perilaku korup panitia pelaksana proyek

19

III

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

Berkurangnya secara nyata praktik korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas Terciptanya system kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan yang bersih, efisien, efektif, transparan, profesional, dan akuntabel Terhapusnya aturan, peraturan, dan praktik yang bersifat diskriminatif terhadap warga Negara, kelompok, atau golongan masyarakat Meningkatnya partisipasi masyarakat pengambilan kebijakan publik dalam

IV

ARAH KEBIJAKAN

Menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk praktik-praktik KKN Meningkatkan melalui kualitas penyelenggara Negara dalam

Meningkatkan keberdayaan masyarakat penyelenggaraan pembangunan dengan IV PENCAPAIAN RPJMN DI JAWA TIMUR

Di Jawa timur sudah terbentuk Komisi pelayanan publik sebagai sarana pelayanan publik untuk megeluhkan persoalan layanan publik yang di Jawa Timur Di beberapa instansi sudah tersedia sarana untuk pengaduan berupa kotak suara Media web yang disediakan oleh pemerintah provinsi nampaknya telah memberikan kemudahan untuk mengakses kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, namun masih terus dilakukan updating data Musrebang sudah dilakukan mulai dari tingkat desa hingga provinsi namun dinilai masih bersifat formalitas

VI

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

Pertama perubahan secara institusional dan manajemen di sektor publik yang menekankan pada terciptanya optimalisasi pelayanan public (public service) sesuai dengan tujuan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab Untuk menyelenggarakan kebijakan pembangunan yang komprehensif, partisipatif, dan berkeadilan. Salah satu aspek dari pemerintahan daerah yang harus diatur dengan baik dan hati-hati adalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah Diperlukan restrukturisasi dan perampingan kelembagaan. Banyak penilaian bahwa di dalam pentaan organisasi di jawa timur masih terlihat

20

belum ramping sehingga dari aspek anggaran masih cukup besar untuk keperluan hal tersebut VII PENUTUP Mencermati kinerja tata pemerintahan di Jawa Timur yang tercermin dari temuan-temuan di atas perlu kiranya ada satu benang merah yang menjadi titik tolak dari tidak maksimalnya pelaksanaan tata pemrintahan di Jawa Timur.

21

RINGKASAN PERWUJUDAN LEMBAGA DEMOKRASI YANG MAKIN KOKOH BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Pelaksanaan demokrasi akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh kelembagaan demokrasi yang kokoh. Sampai saat ini, proses awal demokratisasi dalam kehidupan sosial dan politik di Jawa Timur dapat dikatakan telah berjalan pada jalur dan arah yang benar yang ditunjukkan antara lain dengan terlaksananya PILKADA Langsung (baik Gubernur dan Bupati/Walikota), serta menguatnya fungsi kelembagaan DPRD hasil pemilihan umum tahun 2004. Secara umum dapat dikatakan, masyarakat tampak makin sensitif terhadap berbagai gejala dan proses politik yang terjadi, serta ingin lebih banyak turut serta dalam proses pengambilan keputusan politik yang langsung berkaitan dengan kepentingan mereka. Kondisi masyarakat seperti ini dapat dikatakan sebagai sebuah model awal yang baik bagi demokratisasi. 1. Adanya kecenderungan menurunnya partisipasi politik masyarakat. 2. Belum optimalnya implementasi peran dan fungsi lembaga-lembaga politik. 3. Perubahan struktur dan Pola hubungan pemerintah dan masyarakat yang belum sesuai dengan kebutuhan demokratisasi. 4. Ketidak-seimbangan informasi tentang proses Demokrasi 5. Meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap peran legislatif Sasaran Perwujudan Kelembagaan Demokrasi yang Makin Kokoh adalah: 1. Terlaksananya peran dan fungsi lembaga penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan sesuai konstitusi dan peraturan perundangan yang berlaku; 2. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan publik; 3. Terlaksanaya pemilihan kepala daerah secara langsung, demokrtis, jujur, adil, dan parsitipatif; serta 4. Terlaksananya pemilihan umum yang demokratis, jujur dan adil pada tahun 2009. Arah Kebijakan Pembangunan Arah kebijakan dari Perwujudan Lembaga Demokrasi yang Makin Kokoh akan ditempuh

2

PERMASALAHAN

3

SASARAN

4

ARAH KEBIJAKAN

22

melalui kebijakan: 1. Mewujudkan pelembagaan demokrasi yang lebih kokoh dengan mempertegas tugas, wewenang dan tanggungjawab dari seluruh kelembagaan pemerintahan yang berdasarkan mekanisme checks and balances; 2. Memperkuat peran masyarakat sipil (civil society) untuk lebih partisipatif dalam setiap pengambilan keputusan publik; 3. Mendorong sosialisasi dan advokasi politik untuk kalangan masyarakat sipil dan partai politik 4. Meningkatkan kualitas etika politik di kalangan partai politik dan penyelenggara Negara di daerah 5. Memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah; 6. Mewujudkan pelembagaan dan mendorong berjalannya rekonsiliasi beserta segala kelengkapan kelembagaannya; serta 7. Menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam mengkomunikasikan kepentingan masyarakat. 8. Meningkatkan kualitas dan kredibilitas sistem dan proses penyelenggaraan pemilu. Program Pembangunan Arah kebijakan dalam Perwujudan Lembaga Demokrasi yang makin kokoh dijabarkan dalam program-program pembangunan sbb: 1. Program Penyempurnaan Dan Penguatan Kelembagaan Demokrasi 2. Program Perbaikan Proses Politik 3. Program Pengembangan Komunikasi, Informasi Dan Media Massa Perkembangan pembangunan politik di Jawa Timur secara umum sudah semakin baik, hal ini di tandai dari proses demokratisasi telah berjalan pada arah yang benar. Demikian pula antusias masyarakat berpolitik melalui organisasi partai politik cukup tinggi, seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kritis, maka adanya tuntutan keterbukaan dalam wadah partisipasi politik rakyat yang ditandai dengan berlakunya sistim multi partai yang mengikuti Pemilu serta munculnya berbagai bentuk asosiasi masyarakat sipil baik dalam bentuk organisasi kemasyarakatan,lembaga swadaya masyarakat maupun forum forum lainnya, menjadi model yang sangat penting dalam mewujudkan proses demokratisasi ke depan.

5

PENCAPAIAN

23

Pemilu tahun 2004 yang diikuti oleh 24 partai politik, hasilnya 9 partai politik telah memperoleh kursi di DPRD Propinsi periode 2004-2009 yaitu PKB memperoleh 31 kursi, PDIP 24 kursi, Partai Golkar 15 kursi, PPP 8 kursi, PAN 7 kursi, PBB 1 kursi, Partai Demokrat 10 kursi, PKS 3 kursi dan PDS 1 kursi dan secara umum berlangsung aman dan tertib. Demikian juga dengan diberlakukannya Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Langsung, maka hak-hak rakyat akan semakin terakomodasi. Namun demikian, sebagai tahapan awal dari era demokrasi akan banyak permasalahan yang muncul disekitar Pemilihan Kepala Daerah baik mulai tahapan pengusulan sampai pelaksanaan pemungutan suara. Pemungutan suara yang aman akan menjamin Kepala Daerah yang representatif dan memiliki dukungan masyarakat. Masyarakat madani (civil society) yang kuat akan dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan. Oleh sebab itu penguatan kelembangan menjadi tugas bersama sebagai langkah mempercepat masyarakat madani. Kalau kita lihat Pilgub Jawa Timur 2008, berdasarkan hasil finalisasi validasi Daftar Pemilih Tetap yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota. Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Timur memutuskan dan menetapkan Jumlah Pemilih Terdaftar Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2008 sejumlah 29.063.069 Pemilih dan Tempat Pemungutan Suara (TPS) sejumlah 62.756 pada putaran pertama, Tetapi, data terbaru mengeluarkan versi yang berbeda yaitu 29.280.470 orang atau bertambah 0,75 persen dari putaran pertama. Sedangkan untuk jumlah TPS, KPU juga merilis data terbaru. Jika sebelumnya jumlah TPS yang akan didirikan sebanyak 62.869 buah kini berkurang menjadi 62.859 buah. Pengurangan jumlah TPS ini harus dilakukan setelah pihaknya melakukan pengecekan kembali di lapangan terutama pendirian TPS khusus. Namun dari hasil survey diketahui bahwa jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak suara atau memilih golput dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2008 cukup tinggi. Lembaga Survei Indonesia melansir jumlah pemilih yang datang ke tempat pemilihan suara (TPS) se-Jawa Timur sebesar 61,49%. Artinya, 38,51% Pemilih di Jawa Timur Golput. Kota Surabaya termasuk yang paling rendah jumlah

24

6

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

7

PENUTUP

partisipasi pemilihnya dibandingkan kabupaten dan kota lain di Jawa Timur. Hasil survei LSI menyebutkan tingkat partisipasi pemilih di Surabaya hanya 51,55% Adalah suatu kearifan bila kita menyadari kenyataan dasar dalam demokratisasi, bahwa demokrasi tidaklah bisa bekerja dengan sendirinya secara otomatis begitu lembagalembaga demokrasi diperkenalkan. Demokratisasi mensyaratkan agar masyarakat memiliki kekuatan yang cukup berdaya untuk eksis dan berperan dalam isu-isu utama sistem politik, berkemampuan mempolitisasi kepentingankepentingan dasar mereka, dan berkeberdayaan pula memobilisasi dukungan publik yang luas. 1. Menumbuhkan political trust rakyat Jawa Timur, bukan dengan semangat demokrasi yang elitis dan oligarkis, 2. Mendorong proses demokratisasi partisipatoris, khususnya di Jawa Timur, sebagai gerakan sosial baru, mengembangkan politik aktivisme masyarakat dan organisasi-organisasi nonpemerintah, khususnya pada aras politik lokal dalam ruang otonomi, 3. Mengembangkan wacana dan praktik pembangunan yang bersifat polisentris dengan membangun kepercayaan, bahwa kegiatan kelompok-kelompok masyarakat di tingkat lokal dan akar rumput memiliki kemampuan menyelesaikan daftar masalah yang terus berkembang yang mereka hadapi. Wacana peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam sistem yang demokrtatis partisipatoris akan memberi ruang kondusif bagi kerja sama lokal dalam semangat good governance antara birokrasi, institusi publik, dan masyarakat; sekaligus membangun relasi saling memperkuat antara lembagalembaga pemerintah daerah otonomi, institusi publik lokal, dan asosiasi-asosiasi masyarakat di akar rumput 4. Membangun kebersamaan dalam melaksanakan pemberdayaan demokrasi diperlukan suatu pendekatan sistem yang mengungkapkan kebutuhan dari sisi prosesnya, tapi tidak berarti kita keluar dari sisi kontennya, Jawa Timur merupakan propinsi dengan keanekaragaman sosial budaya, ekonomi dan politik yang memiliki kekuatan modal kultural berupa nilai-nilai keagamaan dan kesalehan yang

25

kuat, memiliki modal simbolik yang beragam dalam diri para ulama, memiliki modal politik berupa keanekaragaman sosial politik penuh toleransi, memiliki kekayaan alam yang memadai, memiliki modal sosial berupa kuatnya jaringan lintas kelompok masyarakat dalam berbagai aliran dan panutan atas kesadaran nasionalisme yang teguh. Propinsi Jawa Timur sebagai miniatur Indonesia, harus dikelola dengan semangat demokrasi partisipatoris, menumbuhkan kekuatan budaya yang lentur namun digdaya dalam menyongsong perubahan, demi peningkatan kesejahteraan masayarakat. Semua tidak menginginkan kebangkrutan politik demokrasi dan kebangkrutan kultural di Jawa Timur. Dan semua menginginkan pemberdayaan kultural demokrasi partisipatoris melalui keteladanan, keberanian mengambil tanggung jawab di atas bahu pribadi

26

RINGKASAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Walau penanggulangan kemiskinan merupakan salah satu program prioritas dalam pembangunan daerah di Jawa Tumur, namun sampai saat ini belum ada keberhasilan yang betul-betul memuaskan dari program-program penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan di Jawa Timur. Sampai saat ini jumlah penduduk miskin di Jawa Timur masih menunjukkan angka yang cukup besar. Pada tahun 2008 ini, angka kemiskinan diproyeksikan turun menjadi 15,90%, atau turun 3% dari tahun 2007 yang berada pada kisaran 18,93% dari total penduduk. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan berbagai kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dari tahun 20052008 adalah sebagai berikut: 1. Tingginya inflasi, tingginya harga minyak, serta banyaknya bencana alam 2. Program yang sektoral dan tidak terintegrasi 3. Terbatasnya akses permodalan bagi masyarakat miskin 4. Lemahnya kemampuan aparat pemda dalam merencanakan dan melaksanakan program penanggulangan kemiskinan 5. Ketidakakuratan data yang berakibat tidak tepatnya sasaran program 6. Pelaksanaan program yang terlalu project oriented 7. Lemahnya kontrol dari berbagai pihak terkait 8. Persepsi masyarakat yang menganggap bahwa dana bantuan merupakan hibah sehingga tidak perlu dikembalikan 9. Keterbatasan anggaran 10. Sikap pasrah dan apatis dari warga masyarakat miskin Program-program pengentasan kemiskinan itu dikonsentrasikan untuk mewujudkan kondisi ideal yang antara lain ditandai dengan: a. Penguatan kelembagaan, pengentasan kemiskinan, peningkatan keswadayaan masyarakat, pengembangan sarana dan pendukung dalam kegiatan sosial ekonomi b. Masyarakat miskin mampu

2

KONDISI AWAL RPJMN DI TINGKAT DAERAH

3

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

27

memberdayakan dirinya sendiri c. Meningkatkan kesempatan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin baik yang ada di perdesaan maupun perkotaan d. Meningkatkan kesempatan kepada masyarakat miskin untuk menikmati penghidupan, pendidikan, kesehatan, dan penghasilan yang layak 4 ARAH KEBIJAKAN Beberapa program utama yang dilaksanakan dalam rangka penaggulangan kemiskinan antara lain adalah 1. Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu-Taskin) 2. Anti Poverty Program (Program Anti Kemiskinan) 4. Program Nasioanal Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri 5. PAM-DKB (Program Aksi Mengatasi Dampak Kenaikan BBM) dan JPES (Jaring Pengaman Ekonomi Sosial) 6. Peningkatan Ketahanan Pangan melalui Program Raskin (Beras untuk Keluarga Miskin) 1. Selama pelaksanaan Gerdu-Taskin tahun 2002-2007, secara akumulatif telah memberikan manfaat bagi 1.079.898 RTM Rumah Tangga Miskin. meningkatkan pendapatan masyarakat rata-rata sebesar Rp.176.523,yang semula sebesar Rp.430.757,- menjadi Rp. 607.281,- (29 %) 2. Dalam program APP, sampai dengan tahun 2007 Jumlah Gakin yang tertangani sebanyak 199 Kelompok Masyarakat dengan jumlah anggota sebanyak 9.289 Gakin. Untuk tahun 2008 direncanakan Jumlah Pokmas Gakin yang ditangani sebanyak 77 Kelompok dengan jumlah anggota sebanyak 1.960 Keluarga miskin. 3. Total bantuan yang disalurkan untuk kegiatan PNPM hingga tahun 2007 sebesar Rp. 3,8 triliun, dan untuk tahun 2008 dianggarkan sebesar Rp. 1 triliun. Targetnya, hingga tahun 2009 angka kemiskinan turun pada kisaran 12 – 14 % 4. PAM-DKB dan JPES telah memberi kontribusi menurunkan angka kemiskinan sebesar lebih dari 1% pada tahun 2007, dan diproyeksikan 3% pada tahun 2008. 5. Penikamat program raskin untuk hingga 2008

5

PENCAPAIAN RPJMN DI DAERAH

28

sebanyak 19,1 juta RTS dengan total subsidi sebesar 7,8 triliun 6. Hingga tahap II (tahun 2008) pembagian BLT telah mencapai 90,58%. Dana yang sudah terserap mencapai Rp1.168.477.200.000 atau 2.921.193 RTS, sedangkan sisa dana yang belum diambil senilai Rp121.483.200.000 atau 303.708 RTS 6 REKOMENDASI TINDAK LANJUT 1. Untuk mempercepat pencapaian sasaran program penanggulangan kemiskinan perlu ditingkatkan elemen pemberdayaan di tingkat masyarakat miskin. 2. Pemerintah perlu melakukan sinergi dan mengintegrasikan berbagai program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat dari berbagai sektor. 3. Harus ditingkatkan harmonisasi dalam hal pengelolaan (perencanaan dan pelaksanaan) program-program penanggulangan kemiskinan, baik yang didanai oleh APBN, APBD, maupun sumber yang lain 4. Diperlukan pengawasan ketat terhadap implementasi program kemiskinan Target yang dicanangkan oleh pemprov Jatim yang tertuang dalam RPJMD bahwa angka kemiskinan tahun 2008 turun menjadi 15,90 persen kiranya cukup sulit untuk dicapai. Secara matematis hal ini sangat jelas terlihat, sebab menurut data BPS tahun 2006 dan 2007 pemprov Jatim setidaknya dalam setahun mampu mengurangi angka kemiskinan sebesar 1 persen, jadi secara matematis angka kemiskinan tahun 2008 masih sebesar 17,93 persen jauh diatas target yang dicanangkan pemprov.

7

PENUTUP

29

RINGKASAN PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI MANUFAKTUR BAB 1. KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Peraturan Presiden No.7 / 2005 tentang perlunya peningkatan daya saing undustri manufaktur.

2.

PERMASALAHAN

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang masih lemah yang disebabkan : - Lumpur panas porong - Mahalnya tariff listrik - Mahalnya BBM industri - Tingkat kemiskinan yang besar

3.

SASARAN

-

Peningkatan sector non migas Penyerapan tenaga kerja Penciptaan iklim kerja yang baik Peningkatan volume ekspor Standardisasi produk Penyebaran industrimanuaktur keluar jawa

4.

ARAH KEBIJAKAN

Pengoptimalisasian potensi daerah yaitu menjadikan jawa timur sebagai pusat agribisnis.

5.

PENCAPAIAN

-

-

Mayoritas potensi ekonomi kabupaten kota di Jawa Timur adalah agrobisnis, begitu pula kalau di tinjau dari sisi industri pengolahan juga menujukkan komoditi yang berbasis agrobisnis, Mata pencaharian penduduk maka mayoritas berorientasi pada pertanian Ditinjau dari perdagangan dalam negeri ternyata Jawa Timur adalah pemasok terbesar komoditi pertanian ke JABODETABEK,

6.

USULAN PERBAIKANPROGRAM

Percepatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dengan mengembangkan sector unggulan berbasis sumber daya local melalui konsep klaster bisnis.

7.

PENUTUP

- Pengembangan dan pemasaran produk andalan yang mengarah pada penguatan ekonomi rakyat serta pengembangan jejaring bisnis terintegrasi antar pelaku bisnis dalam lingkup wilayah dan fungsional.

30

- Diharapkan potensi kabupaten / kota dapat dioptimalkan dan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi yang berkualitas berkesinambungan serta peningkatan investasi PMDN, PMA, Non Fasilitas di Jawa Timur

31

RINGKASAN REVITALISASI PERTANIAN BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Revitalisasi pertanian yang dimaksud merupakan kegiatan yang dirancang untuk menciptakan lapangan pekerjaan terutama di daerah perdesaan yang bermuara pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional Diperlukan adanya penjabaran program revitalisasi pertanian sebagai first step (langkah awal) dari implementasi kebijakan tersebut melalui sosialisasi kepada stakeholder untuk ikut ambil bagian dalam program besar tersebut. Revitalisasi pertanian harus dijabarkan sampai ke tingkat daerah; terutama dengan adanya otonomi daerah saat ini dimana peranan pemerintah daerah sangat menentukan dan berperan besar dalam keberhasilan program revitalisasi Propinsi Jawa Timur saat ini menjadi penghasil beras kedua terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat terancam akan mengalami defisit beras pada tahun 2028 yang diakibatkan semakin menyusutnya luas areal pertanian di wilayah Jawa Timur Sepanjang tahun 2008 yang dimulai sejak awal bulan Januari nampaknya berbagai bencana dan musibah yang melanda Indonesia datang silih berganti dan terus menghantam secara langsung dan mempunyai dampak yang luar biasa besar yang mempengaruhi situasi dan kondisi pembangunan pertanian di Indonesia Berbagai masalah juga menimpa hampir di seluruh sub sektor pertanian yang lain. Salah satu contohnya adalah masih maraknya pembalakan liar terutama di daerah sekitar kawasan hutan lindung maupun cagar alam yang dikelola oleh perhutani Revitalisasi pertanian harus dilakukan secara menyeluruh atau holistik, serta harus komprehensif Setidaknya ada tiga agenda aksi revitalisasi pertanian. (1) sektor pertanian dan perkebunan pemerintah wajib membangun dan merehabilitasi sarana dan prasarana dasar pembangunan

2

KONDISI AWAL RPJMN DI TINGKAT DAERAH

3

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

32

4

ARAH KEBIJAKAN

5

PENCAPAIAN RPJMN DI DAERAH

6

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

7

PENUTUP

pertanian seperti infrastruktur jalan raya, jalan produksi, jalan desa, salran irigasi dan drainase, jaringan listrik, air bersih dan sebagainya; (2) sektor perikanan,lembaga perbankan, dan lembaga keuangan non bank wajib meningkatkan akses permodalan bagi petani dan nelayan; (3) sektor kehutanan, paradigma lama pembangunan kehutanan dengan dominasi negara yang berlebihan harus ditinggalkan dan diganti dengan pemberian kesempatan kepada sektor swasta dan masyarakat sebagai subjek bukan objek pungutan untuk pembangunan kehutanan lestari Rencana Pengelolaan Perikanan yang berisi informasi tentang Perikanan di Wilayah Perairan Jawa Timur Kebijakan/Program Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Mangrove Pulau Bawean Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur diantaranya yaitu mendorong petani untuk meningkatkan produksi dan menaikkan surplus beras lewat pengembangan bibit padi hibrida dan perbaikan irigasi serta pemberian pupuk majemuk Salah satu bentuk perwujudan pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan yaitu hutan Tahura R. Soerjo yang merupakan hutan konservasi yang semula pengelolaanya dilakukan oleh pemerintah pusat. Sasaran revitalisasi pertanian tentang lahan sawah abadi 15 juta hektar dimana sampai dengan akhir tahun 2006 masyarakat belum pernah sekalipun pernah mendengar tentang action tersebut, misalnya pencetakan sawahsawah baru atau minimal tentang upaya yangnyata untuk mengurangi laju konversi lahan sawah yang subur. Meningkatkan pertumbuhan suplai pangan minimal sama dengan atau lebih besar dari laju permintaannya Kebijakan peningkatan produksi wajib diteruskan Kebijakan “reformasi agraria” perlu segera dilaksanakan; Opsi ketiga, kebijakan diversifikasi pangan jga perlu lebih serius karena hal itu akan mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras Dengan pendekatan pertanian dalam kacamata

33

agrokompleks dimana semua sub sektor pertanian yang ada yaitu pertanian itu sendiri, perikanan, peternakan, perkebunan serta kehutanan dapat dilakukan berbagai real action seperti yang sudah dikerjakan oleh Pemerintah Daerah JawaTimur

34

RINGKASAN PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH BAB I URAIAN • Secara kuantitatif Koperasi dan UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian masyarakat Jawa Timur • Koperasi dan UMKM memiliki permasalahan yang bersumber dari internal Koperasi dan UMKM maupaun permasalahan yang disebabkan karena faktor eksternal • Pemerintah Propinsi Jawa Timur berkomitmen untuk melakukan pemberdayaan dan pengembangan Koperasi dan UMKM. KONDISI AWAL RPJMN • Rendahnya produktivitas DI JAWA TIMUR • Terbatasnya akses UMKM pada sumberdaya produktif • Masih rendahnyan kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi • Kurang kondusifnya iklim usaha SASARAN YANG INGIN • Meningkatkan produktivitas UMKM dengan laju DICAPAI pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan produktivitas nasional • Meningkatkan proporsi usaha kecil formal • Meningkatkan nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan nilai tambahnya. • Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dan • Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai jatidiri koperasi. ARAH KEBIJAKAN • Mengembangkan usaha kecil dan menengah yang diarahkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya saing, sedangkan pengembangan usaha skala mikro diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah. • Memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance) dan berwawasan terutama untuk : • Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru berkeunggulan untuk mendorong pertumbuhan, peningkatan ekspor dan penciptaan lapangan kerja terutama dengan : • Mengembangkan UMKM untuk makin berperan sebagai penyedia barang dan jasa pada pasar KETERANGAN BAB PENGANTAR

II

III

IV

35

V

VI

VII

domestik yang semakin berdaya saing dengan produk impor, khususnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak. • Membangun koperasi yang diarahkan dan difokuskan pada upaya-upaya untuk : , membenahi dan memperkuat tatanan kelembagaan dan organisasi, meningkatkan pemahaman keperdulian dan dukungan pemangku kepentingan kepada koperasi dan meningkatkan kemandirian gerakan koperasi PENCAPAIAN RPJMN DI • Program Penciptaan Iklim Usaha bagi UMKM JAWA TIMUR • Program Pengembangan Sistem pendukung Usaha Bagi UMKM • Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif. • Program Pemberdayaan Usaha Skala Mikro • Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi REKOMENDASI TINDAK • Perlu pembedaan konsep pemberdayaan Usaha LANJUT Mikro, Usaha Kecil, Usaha Menengah dan Koperasi sehingga memudahkan untuk mengidentifikasi masalah dan merumuskan konsep pemberdayaan secara proporsional • Program Pengembangan UMKM dan Koperasi terlalu luas sehingga kurang fokus • Meskipun program penguatan akses UMKM dan koperasi terhadap sumberdaya produktif (termasuk akses terhadap sumber modal) sudah dilaksanakan tetapi masih perlu adanya peningkatan karena banyaknya jumlah UMKM dan Koperasi di wilayah Jawa Timur. • Peningkatan pelayanan terhadap penidiran Koperasi dan UMKM. • Ketidak jelasan program pengembangan wirausaha baru sehingga tidak mampu memenuhi target mencetak wirausaha baru Keberhasilan program tidak hanya ditentukan PENUTUP oleh pihak eksekutif sebagai pelaksana tetapi juga ditentukan oleh pihak legislaitif untuk berkomitmen dalam pembiayaan melalui APBD dan yang juga tidak bisa dihilangkan adalah peran pemangku kepentingan (stakeholder) yang terdiri dari masyarakat, Lembaga swadaya masyarakat maupun pihak industri dalam meningkatkan kapasitas Koperasi dan UMKM untuk bersaing sebagai pelaku ekonomi baik pada sala regional Jawa Timur maupun nasional..

36

RINGKASAN PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 1 2 KETERANGAN BAB PENGANTAR KONDISI AWAL • • • • • • • • • 4 ARAH KEBIJAKAN • • • • 5 PENCAPAIAN • • • • • 6 REKOMENDASI • • • URAIAN Pembangunan Iptek secara umum Pembangunan Iptek di Daerah Penelitian & pengembangan iptek Pemanfaatan dan pemasyarakatan iptek Penguatan kelembagaan iptek Tumbuhnya penemuan Iptek baru Meningkatnya ketersediaan, hasil guna dan daya guna sumberdaya Iptek Tertatanya mekanisme intermediasi Iptek Terwujudnya iklim yang kondusif bagi haki, dll. Mempertajam prioritas penelitian Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas iptek Menciptakan iklim inovasi Menanamkan dan menumbuhkembangkan budaya iptek Jumlah hasil penelitian juga masih belum menunjukkan hasil yang cukup signifikan Jenis penemuan iptek masih tetap pada pengelompokan ke dalam 4 (empat) kategori Pemanfaatan dan pemasyarakatan iptek Jawa timur nampaknya tidak perlu diragukan lagi komitmennya Kegiatan ilmiah: diskusi terbatas, diskusi panel, seminar, penerbitan buku Merumuskan sinergisme kebijakan pembangunan iptek dengan sisi demand dan supply side nya; Menyempurnakan pola insentif dan pembiayaan litbang; Meningkatkan efektivitas mekanisme intermediasi untuk meningkatkan daya difusi hasil riset ke dalam kegiatan ekonomi; Mengembangkan kelembagaan untuk meningkatkan kapasitas lembaga litbang dan memperlancar transaksi hasil litbang; Mengembangkan instrumen analisis pencapaian teknologi dalam bentuk statistik iptek dan indikator iptek; Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya iptek; Meningkatkan dayaguna hasil-hasil penelitian di berbagai bidang

3

SASARAN

• • • •

37

• • 7 PENUTUP •

pembangunan; Memperkuat kompetensi inti lembaga riset; dan Membentuk iklim yang kondusif bagi pengembangan sumberdaya litbang. Peningkatan peran lembaga litbang di daerah

38

RINGKASAN PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Situasi ketenagakerjaan di Indonesia khususnya di Jawa Timur masih ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran terbuka dan masih lambatnya daya serap tenaga kerja di lapangan kerja formal. Jumlah setengah pengangguran yang cukup besar juga mencerminkan lapangan kerja pada sektor yang digelutinya menjadi kurang produktif yang menyebabkan mereka berpendapatan rendah. Untuk itu upaya menciptakan lapangan kerja baru menjadi prioritas utama pemerintah. Jalan terbaik untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi tidak lain adalah dengan meningkatkan iklim investasi dan memperbaiki daya saing Indonesia di pasar internasional, termasuk memperbaiki iklim ketenagakerjaan. • Kondisi ketenagakerjaan dalam kurun waktu Februari 2005—Februari 2008 menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Jumlah kesempatan kerja yang tercipta telah mengalami peningkatan. Pelaksanaan hubungan industrial yang baik mulai berkembang di era demokrasi yang terus diperjuangkan oleh pekerja, meskipun beberapa hal masih mengalami persoalan, seperti tuntutan para pekerja untuk memperoleh peningkatan kesejahteraan dan perbaikan kondisi kerja yang memadai. Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia di dalam negeri mendorong sebagian angkatan kerja untuk bekerja ke luar negeri. Namun, proses penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri masih menghadapi berbagai kendala. Penyederhanaan dan desentralisasi pelayanan penempatan TKI yang belum optimal menyebabkan masih adanya permasalahan berkaitan dengan kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi TKI.

2

KONDISI AWAL RPJMN DI TINGKAT DAERAH

3

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

Sasaran yang hendak dicapai dalam 5 tahun mendatang adalah menurunnya tingkat pengangguran terbuka menjadi 5,1 % dari angkatan kerja pada akhir 2009.

39

4

ARAH KEBIJAKAN

Kebijakan Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengisian Lapangan Kerja yang Tersedia, dilaksanakan melalui program-program: a. Program Penempatan TKI Ke Mancanegara b. Program Kerjasama Agenda Penanggulangan Kemiskinan, Pengangguran, Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan dan Memacu Kewirausahaan Sub Agenda Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan a. Program Penempatan dan Pengembangan Kesempatan Kerja b. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja c. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Tenaga Kerja

5

PENCAPAIAN RPJMN DI DAERAH

Berkaitan dengan perbaikan iklim ketenagakerjaan, langkah kebijakan yang ditempuh dilaksanakan melalui program ketenagakerjaan, sebagai berikut : a) Program Penempatan dan Pengembangan Kesempatan Kerja Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesempatan kerja produktif serta mendorong mobilitas tenaga kerja dalam rangka mengurangi pengguran dan setengah pengangguran baik di pedesaan maupun diperkotaan. Program Penempatan dan Pengembangan Kesempatan Kerja dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur tidak hanya berdasarkan pemenuhan target (kuantitas) semata, tetapi lebih berorentasi pada peningkatan kualitas ketrampilan, perlindungan dan kesejahteraan TKI. Penempatan Tenaga Kerja ke Luar Negeri mulai tahun 2003-2007 sebanyak 249.575 orang yang bekerja pada sektor Formal sebesar 100.178 orang dan informal sebanyak 149.397 orang yang meliputi jabatan : Penata Laksana Rumah. Dalam upaya menempatkan tenaga kerja baik dalam negeri maupun ke luar negeri telah dilakukan melalui penyelenggaraan Bursa Kerja Terbuka (Job Market Fair) baik dilaksanakan oleh BLK-BLK Propinsi maupun oleh Kab/Kota di Jawa Timur serta kerja sama dengan Perguruan Tinggi Negeri/Swasta. b) Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Tujuan : (a) Meningkatkan ketrampilan, keahlian dan kompetensi tenaga kerja dan produktifitas

40

(b) Peningkatan kualitas tenaga kerja dilakukan melalui pendidikan formal, pelatihan kerja, dan pengembangan ditempat kerja sebagai satu kesatuan sistem pengembangan SDM yang komperhensif dan terpadu Pelatihan Kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas dan kesejahteraan Tenaga Kerja. Pelatihan kerja dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha mengacu pada standart kompetensi kerja. Kinerja bidang pelatihan dan produktivitas pada Dinas Tenaga Kerja selama tahun 2003 s/d 2007 telah dapat melatih para pencari kerja sebanyak 9.938 orang, dirinci untuk pelatihan MTU sebanyak 6.304 orang meliputi kejuruan : Menjahit, Komputer, Mesin Bensin, Mesin Logam, Las Listrik, Otomotif, Bubut, Elektronika, Bangunan, Mebel Kayu, Pneumatik, Tata Niaga, Instalasi Listrik, Mesin Produksi, Elektro Industri. c). Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Tenaga Kerja. Kegiatan yang dilakukan antara lain dengan kegiatan sebagai berikut. (1) Dialog sosial melalui berbagai media atau forum tripartit antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah, serta mendorong harmonisasi antara pekerja dan pengusaha melalui forum bipartit, (2) Penyederhanaan proses pengesahan peraturan perusahaan dari 14 hari kerja menjadi 7 hari kerja dan proses pendaftaran perjanjian kerja bersama (PKB) dari 7 hari kerja menjadi 6 hari kerja dalam rangka upaya pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi Bidang Ketenagakerjaan, (3) Sosialisasi peraturan perundangundangan bidang ketenagakerjaan tentang pengawasan, jaminan sosial, perselisihan hubungan industrial, keselamatan dan kesehatan kerja di 38 kabupaten / kota di Jawa Timur, (4) Pembinaan, penetapan dan pengawasan upah minimum. (5) Penyelesaian kasus-kasus PHI/PHK. (6) Peningkatan kesadaran hukum ketenagakerjaan bagi pengusaha dan

41

pekerja. (7) Peningkatan perlindungan TKI di luar negeri dan pembinaan PJTKI. (8) Monitoring pencegahan dan penanggulangan pemogokan.

6

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

(1) Memfasilitasi proses negosiasi bipartit dengan mendorong perundingan antara pekerja dan pemberi kerja dalam posisi yang seimbang; (2) Meningkatkan informasi pasar kerja melalui fasilitasi kegiatan pendukung pasar kerja untuk memperkuat kelembagaan pasar kerja dengan menata sistem dan mekanisme informasi pasar kerja dan bursa kerja serta pengembangan dan pemberdayaan bursa kerja yang sudah ada; (3) Mengembangkan program pemagangan bagi penganggur usia muda khususnya lulusan SLTA ke atas, dengan memadukan antara konsep pelatihan dan penempatan di perusahaan, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang akan menjadi tempat magang; (4) Memfasilitasi proses penyusunan dan penetapan standar kompetensi tenaga kerja Indonesia, pelaksanaan uji kompetensi yang terbuka bagi semua tenaga kerja, termasuk meningkatkan kinerja lembaga pelatihan kerja, serta meningkatkan profesionalisme tenaga kepelatihan, dan instruktur pelatihan kerja; (5) Meningkatkan pemahaman dan kesadaran pengusaha dan pekerja mengenai pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja untuk mengurangi terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja; (6) Mengkonsolidasikan program pemerintah (APBN) yang dapat menciptakan kesempatan kerja lebih luas; (7) Memberikan pekerjaan bagi penganggur dan setengah penganggur melalui kegiatan padat karya produktif, berupa kegiatan infrastruktur sederhana skala kecil, khususnya di daerah perdesaan. Khusus untuk pekerja yang akan bekerja ke luar negeri difasilitasi dengan: (1) Memperbaiki pelaksanaan rekrutmen dengan meningkatkan pelayanan

42

pengurusan dokumen persyaratan yang diperlukan. Penyesuaian antara pembuatan paspor TKI dan kebijakan administrasi kependudukan akan diupayakan. Optimalisasi pusat pelayanan sampai dengan tingkat kecamatan akan terus ditingkatkan dengan memberikan peran kepada daerah dalam proses rekrutmen; (2) Meningkatkan perlindungan di luar negeri dengan melakukan kerja sama bilateral dengan negara tempat TKI dan mengoptimalkan perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri, termasuk peran atase ketenagakerjaan dan memfasilitasi bantuan hukum bagi TKI yang mengalami permasalahan pidana; (3) Mengupayakan pembiayaan TKI untuk memperoleh kredit, memperbaiki pengiriman remitansi dan asuransi. Halhal yang akan dilakukan antara lain dengan, (a) memfasilitasi kesepakatan kerja sama antara perbankan nasional dan pengguna jasa TKI dalam hal pembayaran angsuran kredit TKI; (b) berkoordinasi dengan Bank Indonesia dalam pemberian insentif kepada perbankan untuk mengembangkan produk pelayanan remitansi; dan (c) menciptakan transparansi prosedur pemilihan perusahaan asuransi yang menjadi penyedia jasa asuransi TKI. (4) Monitoring dan evaluasi peran stakeholder secara berkala dengan menerapkan obyektivitas dan taat azas. 7 PENUTUP Sebagai akhir dari laporan ini, ada beberapa hal pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan dan segera dilaksanakan program-program kerja yang tepat sasaran oleh Propinsi Jawa Timur. Dimana tingkat pengangguran dan kemiskinan sampai hari ini masih menjadi permasalahan serius bangsa ini, tak terkecuali di Jawa Timur. Untuk mengatasi atau setidaknya mereduksi masalah ini, diperlukan strategi pembangunan yang bisa memicu pertumbuhan kinerja ekonomi dan akhirnya berimbas pada pengurangan jumlah pengangguran dan kemiskinan.

43

RINGKASAN PENANGGULANGAN PERDESAAN BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Kegiatan ekonomi di perdesaan sebagian besar masih terkosentrasi pada sektor pertanian, sementara itu luas lahan pertanian di propinsi jawa timur tidak bertambah bahkan cenderung mengalami penyusutan, oleh karena itu kebijakan penanggulangan perdesaan menjadi salah satu fokus utama pembangunan saat ini di propinsi jawa timur yang diarahkan kepada pengembangan diversifikasi usaha ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja non pertanian, perbaikan infrastruktur perdesaan, pembangunan pemberdayaan masyarakat serta peran dan kontribusi dari kawasan perdesaan. Permasalahan secara internal pada kondisi RPJMN di propinsi jawa timur dapat disebutkan sebagai berikut : 1. Rendahnya kualitas smber daya manusia di perdesaan yang sebagian besar berketerampilan rendah 2. Rendahnya aset yang dikuasai oleh masyarakat perdesaan 3. Terbatasnya alternatif lapangan kerja berkualitas 4. Rendahnya tingkat pelayanan sosial 5. Meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup serta meningkatnya konversi lahan pertanian subur dan berigiasi teknis untuk peruntukan lain 6. Lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat 7. Lemahnya keterkaitan kegiatan ekonomi baik secara sektoral maupun spasial Adapun permasalahan secara eksternal pada kondisi awal RPJMN di propinsi Jawa Timur yakni : 1. Belum optimalnya pemanfaatan peluang di era globalisasi dan liberalisasi perdagangan serta antisipasi risiko yang menyertainya 2. Timbulnya hambatan (barier) distribusi dan perdagangan antar daerah 3. Lemahnya lintas bidang dalam pengembangan kawasan perdesaan

2

KONDISI AWAL RPJMN DI TINGKAT DAERAH

3

SASARAN YANG INGIN DICAPAI

Adapun sasaran yang ingin dicapai di propinsi Jawa Timur yakni : 1. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat

44

4

ARAH KEBIJAKAN

perdesaan yang ditandai dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin serta meningkatnya taraf pendidikan dan kesehatan terutama perempuan dan anak 2. Meningkatnya peran dan kontribusi kawasan perdesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi nasional yang diukur dari meningkatnya peran sektor pertanian dan non pertanian yang terkait dalam mata rantai pengolahan produkproduk berbasis perdesaan 3. Terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan yang ditandai dengan berkurangnya angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran 4. Meningkatnya kelayakhunian kawasan permukiman di perdesaan yang ditandai dengan meningkatnya akses rumah tangga ke pelayanan air bersih dan sanitasi, pelayanan sarana pendidikan dan kesehatan serta prasarana sosial dan ekonomi 5. Meningkatnya akses, pengawasan dan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan pembangunan perdesaan yang ditandai dengan terwakilinya aspirasi semua kelompok masyarakat dan meningkatnya keseteraan antara perempuan dan laki-laki dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pembangunan. Adapun arah kebijakan penanggulangan perdesaan di propinsi jawa timur yakni sebagai berikut : 1. Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan melalui peningkatan kualitasnya, baik sebagai insan maupun sebagai sumberdaya pembangunan serta penguasaan aset produktif disertai dengan penguatan kelembagaan dan jaringan kerjasama untuk memperkuat posisi tawar 2. Memperluas akses masyarakat terutama kaum perempuan ke sumberdaya produktif untuk pengembangan usaha seperti lahan, prasarana sosial ekonomi, permodalan, informasi, teknologi dan inovasi serta pelayanan publik 3. Menodorong terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan dengan meningkatkan produktifitas dan nilai tambah usaha pertanian dengan merangsang pertumbuhan aktifitas ekonomi non pertanian

45

(industri perdesaan) serta memperkuat keterkaitan antara kawasan perdesaan dan perkotaan 4. Meningkatkan promosi dan pemasaran produk-produk pertanian dan perdesaan lainnya dengan meningkatkan kualitas dan kontinuitas suplai khususnya ke pasar perkotaan terdekat serta industri olahan berbasis sumber daya lokal. 5. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat perdesaan dengan memenuhi hak-hak dasar atas pelayanan pendidikan dan kesehatan serta meminimalkan risiko kerentanan baik dengan mengembangkan kelembagaan perlindungan masyarakat petani maupun dengan meningkatkan modal sosial masyarakat perdesaan. 6. Mengembangkan praktek budidaya pertanian dan usaha non pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan Adapun pelaksanaan arah kebijakan diatas dilakukan melalui beberapa proram dan kegiatan pokok yakni sebagai berikut (1) program peningkatan keberdayaan masyarakat perdesaan, (2) program pengelolaan pertanahan, (3) program pengembangan agribisnis, (4) program peningkatan pemberdayaan masyarakat pertanian, (5) program penciptaan iklim usaha koperasi dan usaha kecil dan menengah (KUKM), (6) program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif KUKM, (7) program pemberdayaan usaha skala mikro, (8) program pengembangan distribusi nasional, (9) program peningkatan sarana dan prasarana perdesaan, (10) program peningkatan dan pembangunan jalan dan jembatan, (11) pengembangan sistem pelayanan air minum dan air limbah, (12) program pengembangan dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana teknologi perdesaan, (13) peningkatan kualitas jasa pelayanan sarana dan prasarana ketenagalistrikan, (14) program upaya kesehatan masyarakat, (15) program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan, (16) Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam serta pengembangan kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup

5

PENCAPAIAN RPJMN DI DAERAH

Sejak tahun 2005 sampai dengan 2007 dengan dibiayai oleh APBD propinsi jawa timur sebesar

46

6

REKOMENDASI TINDAK LANJUT

5,480 milyar telah menjangkau 30 desa/kelurahan yang tersebar di 27 kabupaten/kota. Program penanggulangan perdesaan telah mampu menarik dana sharing dari APBD kabupaten/kota sebesar Rp.807.822.381,dan didukung swadaya masyarakat sebesar Rp. 53.530.582, Didalam capaian hasil dan pelaksanaan pemberdayaan masyarakat perdesaan di wilayah propinsi jawa timur yakni sebagai berikut : 1. Kegiatan pemberdayaan masyarakat desa dimana jumlah pemanfaat kegiatan sebanyak 4.625 rumah tangga miskin dan 42 taman kanak-kanak dan sekolah dasar. 2. Kegiatan pemberdayaan usaha dimana telah terbentuk 30 lembaga keuangan mikro di perdesaan dengan layanan pembiayaan bagi 942 kelompok masyarakat dengan kegiatan usaha meliputi peracangan, perdagangan, warung, pertanian, pembuatan batu bata, pertukangan, bordir dan penjahitan, industri rumah tangga kuningan, peternakan dan perikanan 3. Kegiatan pemberdayaan lingkungan/infrastruktur meliputi perbaikan jalan poros desa dan jalan lingkungan sepanjang 563.775 meter, jembatan desa sebanyak 3.734 unit, pengadaan sarana air bersih berupa sumur dan bak penampungan sebanyak 485 unit, pipanisasi sepanjang 76.439 meter, pemugaran rumah permukiman perdesaan sebanyak 36.073 unit, pembuatan MCK sebanyak 1.451 unit, pembuatan gorong-gorong sebanyak 3.956 unit, pembuatan drainase sepanjang 48.269 meter, pembangunan gedung sekolah sebanyak 654 unit, pembangunan pasar desa sebanyak 302 unit, pembangunan bak sampah sebanyak 606 unit, pembangunan sarana irigasi, bendungan dan dam sebanyak 4.989 unit, pengadaan sarana air bersih sebanyak 939 unit, pembuatan plengsengan sebanyak 15.523 unit, pembangunan sarana pendidikan sebanyak 64 unit dan pembangunan sarana kesehatan sebanyak 12 unit. Kebijakan penanggulangan perdesaan adalah program terpadu dalam rangka mempercepat

47

7

PENUTUP

pembangunan perdesaan di wilayah propinsi jawa timur, sejak 2002 kebijakan penanggulangan perdesaan didasarkan pada penedekatan Tri-Daya yakni pemberdayaan manusia, pemberdayaan usaha dan pemberdayaan lingkungan yang diimplementasikan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai pelaku kegiatan. Dalam penedekatan ini selayaknya masyarakat peredesaan diberikan peluang yang luas sehingga nantinya mampu memberdayakan dirinya sendiri melalui peranserta dalam pengambilan keputusan, pengelolaan program maupun pemanfaatan dan pelestari program secara langsung, sementara itu peran aparatur pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya adalah sebagai fasilitatir dan pendamping munuju masyarakat yang sejahtera dan mandiri. Disamping itu komitmen pemerintah kabupaten/kota di wilayah provinsi jawa timur dalam bentuk dana penyertaan (sharing) dan dana pendamping (matching grant) serta bantuan fasilitas serta dukungan dari dinas/instansi sektoral, hendaknya dapat diwujudkan demi memantapkan program penanggulangan perdesaan, demikian pula partisipasi dan keswadayaan masyarakat nantinya akan menjadi kunci penentu bagi sukses tidaknya program penanggulangan perdesaan di wilayah propinsi jawa timur. Banyak permasalahan yang dihadapi didalam penerapan kebijakan penanggulangan perdesaan seperti penyediaan infrastruktur kawasan permukiman perdesaan, kesempatan kerja non pertanian, pemberdayaan masyarakat desa, serta peran dan kontribusi kawasan perdesaan yang menjadi prioritas utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Pemahaman terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat perdesaan perlu dicermati secara lebih serius lagi sehingga sasaran, arah, serta strategi kebijakan yang sudah tertuang didalam RPJMN untuk pembangunan perdesaan bisa terwujud. Peran pemerintah dalam hal ini sangat besar dimana pemerintah harus terus berusaha melaksanakan berbagai program yang telah tertuang didalam RPJMN sesuai kebutuhan masyarakat perdesaan.

48

RINGKASAN PENGURANGAN KETIMPANGAN PEMBANGUNAN WILAYAH BAB I KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN • lemahnya perencanaan pembangunan yang kurang melibatkan stakeholders, kurangnya kajian yang mendalam terhadap kondisi daerah yang memerlukan penelaahan lebih detail untuk menangkap berbagai hal yang sejatinya patut untuk dijadikan pertimbangan KONDISI AWAL RPJMN • munculnya semangat kedaerahan dengan DI JAWA TIMUR semakin banyaknya ego untuk mengembangkan dan memajukan wilayahnya masing-masing tanpa mau melihat kebutuhan dan kondisi secara lebih holistik di daerah sekitarnya. • kebijakan pembangunan wilayah masih dirasakan timpang, dalam arti lebih menitikberatkan pada pengembangan wilayah perkotaan (urban area) sebagai basis industrialisasi dan perdagangan, SASARAN YANG INGIN 1. Terwujudnya percepatan pembangunan di wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis, DICAPAI wilayah tertinggal, termasuk wilayah perbatasan dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis; 2. Terwujudnya keseimbangan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah dan kecil secara hirarkis dalam suatu sistem pembangunan perkotaan nasional; 3. Terwujudnya percepatan pembangunan kotakota kecil dan menengah, terutama di luar pulau jawa, sehingga diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai motor penggerak pembangunan di wilayah-wilayah pengaruhnya dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi termasuk dalam melayani kebutuhan masyarakat warga kotanya; 4. Terkendalinya pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan dalam suatu sistem wilayah pembangunan metropolitan yang kompak, nyaman, efisien dalam pengelolaan, serta mempertimbangkan pembangunan yang berkelanjuta; 5. Terwujudnya keterkaitan kegiatan ekonomi antar wilayah perkotaan dan pedesaan dalam suatu sistem wilayah pengembangan ekonomi yang saling menguntungkan; 6. Terwujudnya keserasian pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam suatu sistem

II

III

49

wilayah pembangunan yang berkelanjutan; 7. Terwujudnya sistem pengelolaan tanah yang efisien, efektif serta terlaksananya penegakan hukum terhadap hak atas tanah masyarakat dengan menerapkan prinsipprinsip keadilan, transparansi dan demokrasi. IV ARAH KEBIJAKAN a. Mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh sehinggga dapat mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal di sekitarnya dalam suatu “sistem wilayah pengembangan ekonomi” yang sinergis, tanpa mempertimbangkan batas wilayah administrasi, tetapi lebih ditekankan pada pertimbangan keterkaitan mata rantai proses industri dan distribusi. b. Meningkatkan keberpihakan pemerintah untuk mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal dan terpencil sehingga wilayahwilayah tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara lebih cepat dan dapat mengejar ketertinggalan pembangunannya dengan daerah lain. Pendekatan pembangunan yang perlu dilakukan selain dengan pemberdayaan masyarakat secara langsung melalui skema dana alokasi khusus, public service obligation (PSO), universal service obligation (USO) dan keperintisan, perlu pula dilakukan penguatan keterkaitan kegiatan ekonomi dengan wilayah-wilayah cepat tumbuh dan strategis dalam satu “sistem pengembangan ekonomi”; c. Mengembangkan wilayah-wilayah perbatasan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking, sehingga kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan pembangunan yang dilakukan selain menggunakan pendekatan yang bersifat keamanan (security approach), juga diperlukan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach); d. Menyeimbangkan pertumbuhan pembangunan antar kota-kota metropolitan, besar, menengah dan kecil secara hierarkis dalam suatu “sistem pembangunan perkotaan nasional”. e. Mendorong peningkatan keterkaitan kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan dengan

50

kegiatan ekonomi di wilayah perdesaan secara sinergis (hasil produksi wilayah perdesaan merupakan “backward linkages” dari kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan) dalam suatu “sistem wilayah pengembangan ekonomi”; V PENCAPAIAN RPJMN DI • A. Bidang Ekonomi Prospek ekonomi Jawa JAWA TIMUR Timur pada tahun 2008 diwarnai oleh pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan inflasi yang lebih rendah. Namun pada triwulan I2008 Ekonomi Jawa Timur mengalami tekanan dengan perkiraan terjadi perlambatan pertumbuhan dan inflasi yang relatif tinggi. B. Bidang Pendidikan persentase jumlah siswa terhadap jumlah anak usia 7-12 tahun pada tahun 2005 sebesar 101,11%, tahun 2004 sebesar 110,89 %. Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan persentase jumlah siswa berusia 7-12 tahun terhadap anak berusia 7-12 tahun di Jatim pada tahun 2005 sebesar 97,24%, tahun 2004 sebesar 96,71%, padahal target Dinas P dan K Propinsi Jatim tahun 2005 sebesar 99 %. Untuk jumlah guru SD/MI tahun 2005, terpenuhi sebesar 97 %, C. Bidang Kesehatan Dari seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Timur pada tahun 2005 mencapai angka 36,65 untuk tahun 2006 mencapai 32,93 dan tahun 2007 sebesar 32,93 sedangkan angka harapan harapan hidup untuk tahun 2005 sebesar 67,90, tahun 2006 sebesar 68,6 dan tahun 2007 sebesar 68,90. REKOMENDASI TINDAK LANJUT 1. Dalam bidang pembangunan ekonomi pemerintah provinsi Jawa Timur hendaknya lebih menekankan pentingnya perubahan model pembangunan sektoral dan konteks kedaerahan ke dalam model pembangunan yang lebih integral, holistik dan melibatkan berbagai kawasan sehingga tercipta kesinergisan antar daerah di Jawa Timur. 2. Dalam bidang Pendidikan, Pemerintah Provinsi beserta seluruh Kota dan Kabupaten di Jawa Timur telah banyak melakukan berbagai kemajuan dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di Jawa Timur. Masih minimnya sarana dan prasarana, serta jumlah guru dalam mendukung kegiatan belajar mengajar terutama di pedasaan masih menjadi kendala utama dalam program pembangunan di bidang pendidikan di Jawa Timur, Untuk itu perlunya ditingkatlah lagi

VI

51

VII

PENUTUP

jumlah dan kualitas infrastruktur penunjang kegiatan belajar mengajar termasuk di dalamnya para staf pengajar yang professional. 3. Dalam bidang Kesehatan perlunya ditingkatkan kemudahan akses dan peningkatan layanan kepada masyarakat utamanya untuk para Ibu hamil dan orang tua, hal ini sangat penting untuk menekan angka kematian Ibu Hamil di Jawa Timur. Ketimpangan pembangunan wilayah di Jawa Timur telah menyisakan berbagai persoalan yang hingga kini masih belum selesai tertangani. Pada konteks Jawa Timur ketimpangan yang terjadi dapat dipetakan dalam tiga sektor pembangunan, yakni pembangunan ekonomi, pembangunan Pendidikan dan pembangunan di bidang kesehatan masyarakat. Ketiga sektor pembangunan itu merupakan pondasi utama dalam program pembangunan Jawa Timur ke depan yang tidak terlepas sebagi bagian dari program

52

RINGKASAN PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN - Penjelasan arti penting Pembangunan Pendidikan - Penjelasan perencanaan pembangunan pendidikan di Jawa Timur Kondisi dan permasalahan pendidikan di Jawa Timur Meningkatkan taraf pendidikan Indonesia Meningkatkan kualitas pendidikan Meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan Meningkatkanefektivitas dan efisiensi manajemen pelayanan pendidikan Program Pendidikan Pra-Sekolah (Usia Dini-TK) Program Pendidikan Dasar (SD-SLTP) Program Pendidikan Menengah (SMU/SMK) Program Pendidikan Luar Biasa Program Pendidikan Luar Sekolah Program Pendidikan Tenaga Kependidikan Program Pengembangan Pendidikan Tinggi Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Peningkatan angka pelayanan penduduk pada masing-masing program pendidikan Peningkatan jumlah lembaga pada masing-masing program pendidikan Penurunan jumlah angka murid mengulang, angka murid putus sekolah di setiap program pendidikan Peningkatan APM dan APK di setiap program pendidikan Penurunan Rasio murid : kelas, kelas : ruang, murid : guru di setiap program penbidikan Pelaksanaan program BOS Peningkatan kinerja SMK Penurunan angka keaksaraan fungsional

2 3

KONDISI AWAL RPJM DAERAH JAWA TIMUR SASARAN

4

ARAH KEBIJAKAN

-

5

PENCAPAIAN RPJM DAERAH JAWA TIMUR

-

-

-

-

53

6

REKOMENDASI LANJUT

TINDAK

-

7

PENUTUP

Peningkatan kualitas tenaga pendidik Pemberdayaan perpustakaan desa Penyamaan persepsi untuk program yang mendapat pendanaan ganda Peningkatan mutu kualitas lulusan Peningkatan sekolah nasional bertaraf internasional Pemantauan pasca belajar Pelibatan unsur masyarakat dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi Pengembangan taman bacaan rakyat Pentingnya kontribusi pembangunan pendidikan di Jawa Timur terhadap pembangunan pendidikan nasional

54

RINGKASAN PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP LAYANAN KESEHATAN YANG LEBIH BERKUALITAS BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Penjelasan Pembangunan kesehatan Dinamika kesehatan Kondisi masyarakat terkait dengan kesehatan Permasalahan kesehatan di daerah Peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan melalui peningkatan indikator-indikatornya Kebijakan pembangunan di bidang kesehatan Program-program pembangunan kesehatan daerah Tercapainya tujuan pembangunan kesehatan Tercapainya derajat kesehatan masyarakat Peningkatan aksesibilitas masyarakat Peningkatan layanan kesehatan Pentingnya sumber daya strategis untuk menunjang kesehtan masyarakat

-

2

KONDISI AWAL RPJM DAERAH JAWA TIMUR

3

SASARAN

-

4

ARAH KEBIJAKAN

-

5

PENCAPAIAN RPJM DAERAH JAWA TIMUR

-

6

REKOMENDASI LANJUT PENUTUP

TINDAK

-

7

55

RINGKASAN PENINGKATAN PERLINDUNGAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BAB 1. KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN • Perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan keterlantaran baik anak maupun lanjut usia, kecacatan, ketunasosialan, dan bencana alam, serta bencana sosial. • Dalam kehidupan masyarakat telah banyak tumbuh dan berkembang usaha kesejahteraan sosial serta profesi layanan untuk penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang bersifat parsial dan spesiais.

2.

3.

4.

KONDISI AWAL RPJMN Permasalahan adalah: DI TINGKAT DAERAH • Rendahnya kualitas penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). • Masih lemahnya penanganan korban bencana alam dan sosial. 1. Meningkatnya aksesibilitas penyandang SASARAN YANG INGIN masalah keseahteraan sosial terhadap DICAPAI pelayanan sosial dasar, 2. Meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, 3. Meningkatnya kemampuan dan kepedulian sosial masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan, 4. Meningkatnya ketahanan sosial individu, keluarga dan komunitas masyarakat dalam maencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial, 5. Tersusunnya sistem perlindungan sosial nasional, 6. Meningkatnya keserasian kebijakan kesejahteraan sosial, 7. Terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial, dan 8. Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial 1. Meningkatkan kualitas pelayanan dan ARAH KEBIJAKAN bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial; 2. Meningkatkan pemberdayaan fakir miskin, penyandang cacat, dan kelompok rentan sosial lainnya; 3. Meningkatkan kualitas hidup bagi PMKS terhadap pelayanan sosial dasar, fasilitas

56

4.

5.

6. 7.

8. 9.

pelayanan publik, dan jaminan kesejahteraan sosial; Mengembangkan dan menyerasikan kebijakan untuk penanganan masalahmasalah strategis yang menyangkut masalah kesejahteraan sosial; Memperkuat ketahanan sosial masyarakat berlandaskan prinsip kemitraan dan nilai-nilai sosial budaya bangsa; Mengembangkan sistem perlindungan sosial nasional; Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial dalam mendayagunakan sumber-sumber kesejahteraan sosial; Meningkatkan pelayanan bagi korban bencana alam dan sosial; dan Meningkatkan prakarsa dan peran aktif masyarakat termasuk masyarakat mampu, dunia usaha, perguruan tinggi, dan Orsos/LSM dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan

5.

PENCAPAIAN RPJMN DI DAERAH (2005-2007)

1.

Program Penanggulangan Kemiskinan (melalui program Gerdu Taskin) Capaian hasil: • Menurunkan angka kemiskinan di lokasi sebesar 1,25% - 13,91% • Menurunkan angka pengangguran • Mampu membentuk lembaga keuangan mikro berupa Unit Pengelolaan Keuangan (UPK) di pedesaan • Mampu menyerap pengangguran lokal (215.037 orang) • Meningkatkan pendapatan masyarakat ratarata 29% • Menurunkan jumlah RTM (26,12%) • Mengurangi beban pengeluaran RTM yang rentan melalui program pemugaran rumah, beasiswa, dan santunan sosial. 2. Penanganan penyandang cacat dan penyandang masalah kesejahteraan sosial Capaian hasil: • Program penanganan penyandang cacat berat telah diuji cobakan di Blitar, Nganjuk, Magetan, dan Lamongan terhadap 1000 orang dengan bantuan dana jaminan social berupa uang tunai Rp. 300.000,00/ orang/bulan selama 1 tahun. • Banyak dilakukan upaya dan rehabilitas

57

6.

social, baik melalui sistem panti dan luar panti, serta upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan hidup penyandang cacat. 3. Penanganan korban bencana alam Capaian: memberikan bantuan yang sifatnya tanggap darurat seperti bantuan makanan, air bersih, kesehatan dan sandang ; melakukan relokasi ke tempat yang lebih aman; menyiapkan desain / model penanganan bencana. REKOMENDASI TINDAK 1. Program Penanggulangan Kemiskinan LANJUT (melalui program Gerdu Taskin. Program Gerdu Taskin masih harus dilakukan. Perlu adanya kerjasama antara pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten / kota dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan dalam bentuk dana sharing. Pemerintah harus terus melakukan sosialisasi terhadap masyarakat penerima bantuan agar masyarakat memanfaatkan bantuan tersebut dengan cara mengembangkan modal usaha dan menggulirkan kepada yang belum mendapatkan bantuan. 2. Penanganan penyandang cacat penyandang masalah kesejahteraan sosial dan

Perlu adanya kesamaan pemahaman dan koordinasi antar instansi terkait, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi sosial dan masyarakat sehingga penanganannya dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terpadu. Dalam pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diharapkan ikut serta menangani permasalahan kesejahteraan sosial melalui Peraturan Daerah dengan mengalokasikan anggaran melalui APBD masing-masing. Peningkatan aksesibilitas bagi penyandang cacat. 3.Penanganan korban bencana alam Kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana seharusnya dilakukan secara partisipatoris, bersama, oleh dan untuk masyarakat , bukan sekedar oleh para ahli dan aparat pemerintah. Langkah yang perlu dilakukan oleh pemerintah Jawa Timur dalam penanganan bencana alam seperti: 1. Melakukan analisis kebutuhan jangka pendek untuk memperingan dampak bencana pada saat itu. 2. Melakukan analisis potensi masyarakat serta

58

membangun potensi dalam menghadapi bencana di masa mendatang. 3. Melakukan penyiapan desain / model penanganan bencana di masa mendatang. 4. Mempersiapkan data advokasi untuk desain penataan kawasan dan penanganan bencana •

7.

PENUTUP

Program perlindungan dan kesejahteraan sosial seharusnya sejalan dengan sasaran pembangunan. Program tersebut sudah dilakukan, meskipun ada yang belum bisa mencapai sasaran yang maksimal.

59

RINGKASAN PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA KECIL BERKUALITAS SERTA PEMUDA DAN OLAHRAGA BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas serta pembangunan pemuda dan olahraga memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia/SDM. Masih tingginya laju pertumbuhan dan jumlah penduduk Masih tingginya tingkat kelahiran penduduk Masih rendahnya usia kawin pertama penduduk Rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB Belum tertatanya administrasi kependudukan Rendahnya kualitas pemuda Pembinaan olahraga di Jawa Timur cenderung menunjukkan prestasi yang menurun. Terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas Meningkatnya kebijakan kependudukan, pengendalian pertumbuhan, pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tamping lingkungan, Meningkatnya kualitas dan partisipasi pemuda di berbagai bidang pembangunan . Meningkatnya berbagai kebijakan olahraga

2

KONDISI AWAL RPJM DAERAH JAWA TIMUR

3

SASARAN

1. 2.

3. 4.

4

ARAH KEBIJAKAN

-

-

-

Kebijakan pembangunan keluarga berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas Pembangunan pemuda dan olahraga diarahkan untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya olahraga dan prestasi guna meningkatkan kualitas manusia Kebijakan pembangunan keluarga berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas

60

5

PENCAPAIAN RPJM DAERAH JAWA TIMUR

6

REKOMENDASI LANJUT

7

PENUTUP

Penurunan laju pertumbuhan penduduk Penurunan TFR per perempuan Peningkatan CPR Peningkatan Human Development Index Peningatan kualitas pemuda Peningkatan prestasi olahraga Perlu adanya komitmen pada semua TINDAK tingkatan pemerintahan tentang pentinya masalah kependudukan dalam konteks pembangunan’ - Perlu segera dibuat data base kependudukan yang berbasis pada teknologi informasi’ - Perlunya perlusan kesempatan bagi pemuda dalam pembangunan dan olahraga Dengan komitmen yang tinggi dan kerja keras dari seluruh komponen, walaupun dalam situasi sulit hasil yang baik akan lebih mudah untuk diraih

-

61

RINGKASAN PERBAIKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN PELESTARIAN MUTU LINGKUNGAN HIDUP BAB 1 KETERANGAN BAB PENGANTAR URAIAN Lingkungan hidup pada dasarnya merupakan kesatuan ruang dengan semua sumber daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang memepengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhuluk hidup lain. KONDISI AWAL RPJMN DI Luas kawasan hutan 28% dari daratan Lahan kritis di luar kawasan hutan seluas TINGKAT DAERAH 665.000 Ha Lahan kritis dan rusak 865.000 Ha SASARAN YANG INGIN Sasaran Pembangunan Lingkungan Hidup DICAPAI 1. Meningkatnya kualitas air sungai di seluruh DAS kritis disertai pengendalian dan pemantauan secara kontinyu 2. Berkurangnya pencemaran air dan tanah di kota-kota besar disertai pengendalian dan pemantauan terpadu antar sektor 3. Membaiknya kualitas udara perkotaan khususnya di Surabaya yang didukung oleh perbaikan manajemen dan sistem transportasi kota yang ramah lingkungan. 4. Terwujudnya fasilitas pengelolaan B3 di sekitar pusat kegiatan industri 5. Tersususnnya aturan pendanaan lingkungan yang inovatif sebagai terobosan untuk mengatasi kecilnya pembiayaan sektor lingkungan hidup. 6. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup. 7. Terlaksanaya reorganisasi pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara profesional untuk mengatasi keterbatasan lahan. b. Sasaran Pembangunan Kelautan 1. Berkurangnya pelanggaran dan pengrusakan sumber daya pesisir dan laut 2. Membaiknya pengelolaan ekosistem pesisir, laut dan pulau-pulau kecil c. Sasaran Pembangunan Kehutanan Terwujudnya rehabilitasi lahan kritis dan terwujudnya kelestarian kawasan konservasi

2

3

62

d. Sasaran Pembangunan Pertambangan Pencegahan dan pemulihan kerusakan lingkungan pertambangan serta pengendalian bencana kegeologian 4 ARAH KEBIJAKAN a. Pembangunan Lingkungan Hidup Pembanguan lingkungan hidup diarahkan untuk: 1. Mengarusutamakan (meanstreaming) prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. 2. Meningkatkan koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota. 3. Meningkatkan upaya penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar lingkungan. 4. Meningkatkan kapasitas lembaga pengelola lingkungan hidup baik di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota. 5. Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan hidup dan berperan aktif sebagai kontrol sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. 6. Pendirian TPA regional di beberapa kota besar, khususnya Gerbang Kertasusila (Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Gresik) dan Malang Raya (Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang). b. Pembangunan Kelautan Pembangunan kelautan diarahkan untuk: 1. Membangun sistem pengendalian dan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan laut, yang disertai dengan penegakan hukum yang ketat 2. Meningkatkan upaya konservasi pesisir dan laut serta merehabilitasi ekosistem yang rusak seperti mangrove dan terumbu karang. 3. Mengendalikan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di wilayah pesisir, laut dan perairan tawar. 4. Menggiatkan kemitraan untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dan swasta dalampengelolaan sumber daya pesisir dan laut. c. Pembangunan Pertambangan

63

Merehabilitasi kawasan bekas pertambangan 5 PENCAPAIAN RPJMN DI • DAERAH (2005-2007) • Pada tahun 2004 rata-rata BOD mencapai 18,83mg/l dan COD mencapai 39,59 mg/l. (padahal standar baku mutu Kali Brantas BOD 6 mg/l dan COD 10 mg/l). Jumlah air bersih yang didistribusi pada pelanggan di Jawa timur pada tahun 2006 318,759 ribu m3 Kasus di Surabaya udara ambient seringkali dibawah baku mutu , selain debu terdapat polutan SO2, CO, NO2 dan O3 Partisipasi masyarakat untuk memelihara sumber daya alam masih rendah. Namun demikian pemerintah propinsi telah berupaya melibatkan melibatkan masyarakat dalam Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat. 75% pencemaran udara disebabkan kendaraan bermotor 62 industri telah memiliki ijin pengelolaan limbah Terlaksananya pembangunan PPLI-B3 di Cerme Gresik merupakan peluang untuk menangani masalah limbah Rehabilitasi hutan dan lahan pada APBD Jatim 2002-2006 mencapai luas Pengolah sampah masih menggunakan open dumping sementara penyediaan TPA baru mengalami kesulitan Telah ada kebijakan yang mengatur masalah pesisir dan laut 50% hutan mangrove rusak Terjadi kerusakan terumbu karang dan biota laut 30%-80% Penerapan ketentuan tata ruang dan kawasan lindung yang belum konsisten Terjadi pencemaran laut karena pembuangan limbah industri maupun dari kapal pengangkut minyak BAPEDAL telah melakukan pemberian bibit 1.218.250 batang (sampai dengan tahun 2005) Kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem pesisir dan pantai masih rendah Prosentase kawasan hutan prop. Jatim 28% dari luas daratan. Laju degradasi hutan sekitar 0,02% per tahun Belum optimalnya pemanfaatan hasil hutan non kayu

• • • • • • • • • • • • • • •

64

• •

Partisipasi masyarakat masih rendah. Telah terdata pemetaan 20 daerah sebagai daerah kerentanan gerakan tanah (dilaporkan dari dinas ESDM Propinsi Jawa Timur) Terdapat 332 desa rawan longsor dan tanahnya rawan gerak. Pembangunan Kehutanan • Pemanfaatan pembangunan kehutanan dalam pembangunan senantiasa diarahkan pada pencapaian optimalisasi manfaat ekologi, ekonomi dan sosial.Oleh karena itu hutan terus dipertahankan untuk menjamin pembangunan hutan secara berkelanjutan dengan pengelolaan hutan yang lestari, yaitu suatu pengelolaan yang mempertimbangkan keseimbangan tingkat produksi dengan daya dukung terhadap lingkungan dan sosial. • Rehabilitasi hutan dan lahan mutlak diperlukan untuk mengurangi laju degradasi hutan dan lahan. • Penegakan hukum pada pelaku kejahatan hutan, terutama pembalakan liar yang mengutamakan kepentingan individu dan kelompok. • Penanggulangan pencemaran dengan penggunaan bensin tanpa timbal. • Pengembangan sumber energi baru yang ramah lingkungan (seperti bio energy) dan efektif penggunaannya.

6

REKOMENDASI LANJUT

TINDAK

Pembangunan Lingkungan Hidup • Pengawasan dan pengendalian pencemaran air • Penataan kembali transportasi, dengan penyediaan public transportation yang murah dan nyaman sehingga dapat mengurangi penggunaan jumlah kendaraan pribadi • Penghematan energi untuk industri yang dilakukan melalui penggantian/peremajaan mesin-mesin industri yang sudah tua yang diiringi dengan kemudahan-kemudahan dari pemerintah dalam hal pengadaan mesin tersebut, seperti pemberian insentif pajak impor. Pembangunan Kelautan

65

Merehabilitasi hutan mangrove untuk mencengah abrasi di sepanjang pantai utara Jawa Timur sampai memenuhi luas ideal. Melibatkan masyarakat pesisir dalam penanaman dan pemeliharaan mangrove.

Pembangunan pertambangan • Merehabilitasi kawasan bekas pertambangan • Memberikan sanksi yang tegas pada para penambang illegal atau yang melakukan pelanggaran atas ketentuan yang berlaku 7 PENUTUP RPJM belum tercapai dengan baik

66

RINGKASAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR BAB KETERANGAN BAB 1. PENGANTAR URAIAN Percepatan Pembangunan Infrastruktur Kondisi Umum di Jawa Timur: Masih belum meratanya pembangunan infrastruktur di beberapa daerah sehingga menimbulkan tingkat kesenjangan yang cukup kentara. 1. Pembangunan Sumber Daya Air Semakin berkurangnya debit air tanah yang keluar diikuti dengan berkurangnya sumber mata air. 2. Pembangunan Prasarana Jalan Tingginya bahan baku aspal diikuti dengan kualitas yang buruk. 3. Pembangunan LLAJ Masih banyaknya pelanggaran angkutan barang dan tingkat pengetahuan berlalu lintas yang rendah. 4. Pembangunan Perkeretaapian Keberadaan rel keretaapi di sebelah bencana lumpur Sidoarjo yang mendesak untuk dipindahkan. 5. Pembangunan ASDP Kualitas sarana dan prasaran yang sudah mulai tua, sementara rendahnya disiplin operator penyelenggara angkutan penyeberangan. 6. Pembangunan Transportasi Laut Masih terkonsentrasi pada pelabuhan Tanjung Perak sehingga volume dan aktifitas sangat padat, tidak seimbang dengan pelabuhan lain yang ada. 7. Pembangunan Transportasi Udara Tingginya kepadatan arus di bandara Juanda sudah perlu dipikirkan untuk mencari bandara alternatif baru. 8. Pembangunan Energi Pemerintah propinsi tidak dapat berperan aktif dalam pengelolaan sumber energi karena kewenangan pengelolaan Minyak dan Gas Bumi masih berada di pusat. 9. Pembangunan Kelistrikan RUKD regional masih belum tersusun sementara masih banyak daerah yang belum teraliri listrik. 10. Pembangunan Pos dan Telematika Terbatasnya sarana dan prasaran teknologi informasi dan komunikasi pendukung sistem -

2.

KONDISI AWAL RPJMN

67

3.

SASARAN DICAPAI

YANG

4.

ARAH KEBIJAKAN

informasi bencana dan pengawasan jasa titipan dan pos yang masih minim. 11. Pembangunan Perumahan Tingginya bahan baku menyebabkan kegagalan pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau. 12. Pembangunan Air Minum dan Air Limbah Rendahnya peningkatan air bersih khususnya untuk warga miskin dan daerah sulit air. 13. Pembangunan Persampahan dan Drainase Masih menjadi masalah utama di perkotaan karena semakin terbatasnya TPA yang tersedia. INGIN Dari tujuh prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Rencana Pembangunan Menengah Daerah Provinsi Jawa Timur, salah satunya adalah Agenda Optimalisasi Pengendalian Sumber Daya Alam, Pelestarian Lingkungan Hidup dan Penataan Ruang yang di dalamnya menyangkut permasalahan Agenda Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas, Berkelanjutan dan Pembangunan Infrastruktur • Sebagai salah satu agenda grand sasaran RPJMN di daerah, khususnya di Provinsi Jawa Timur adalah membaiknya infrastruktur yang yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagai sarana penunjang pembangunan dengan adanya program percepatan pembangunan infrastruktur yang memadai. • Melaksanakan program-program prioritas yang ditetapkan dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Daerah Propinsi Jawa Timur tahun 2001-2005 melalui Peraturan Daerah Nomor 19 tahun 2001, karena Renstrada sebagai dokumen perencanaan taktis strategis yang diharapkan dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, serta landasan berpijak dalam perencanaan pembangunan berikutnya. • Sembilan prioritas pembangunan yang ditetapkan sebagai bagian dari strategi dalam Renstrada adalah: 1. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan peningkatan kualitas produk pendidikan;. 2. Percepatan pemulihan ekonomi dan peningkatan produktivitas melalui pengembangan ekonomi kerakyatan, penguatan unit-unit usaha, dan lembaga-

68

5.

PENCAPAIAN RPJMN

1.

2.

3.

4.

5.

lembaga ekonomi. 3. Penerapan nilai-nilai agama dalam perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 4. Pemantapan kesadaran, budaya, supremasi hukum serta HAM. 5. Peningkatan pelayanan kesehatan, kesejahteraan sosial, peranan pemuda, dan pembinaan olahraga serta penyetaraan gender. 6. Perluasan kesempatan kerja dan pengisian lapangan kerja yang tersedia. 7. Pemantapan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan untuk pemantapan otonomi daerah dan kemudahan pelayanan publik serta perluasan informasi dan komunikasi. 8. Pengendalian eksploitasi sumber daya alam, pelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, penataan kawasan permukiman serta penataan ruang. 9. Peningkatan kapasitas perlindungan masyarakat dari gangguan keamanan dan ketertiban serta peningkatan kesadaran rakyat dalam bela negara. Pembangunan Sumber Daya Air Program penghijauan yang marak dilakukan di daerah diharapkan mampu mengembalikan sumber daya air. Pembangunan Prasarana Jalan Jembatan Suramadu yang kembali belum terselesaikan di tahun 2008, sementara masalah jalan di sekitar bencana lumpur Sidoarjo masih belum teratasi dengan belum adanya jalan baru. Pembangunan LLAJ Belum optimalnya penegakan hukum bagi pelanggar lalu lintas, disisi lain adanya program safety riding mampu mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya. Pembangunan Perkeretaapian Penggantian bantalan keretaapi diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan perjalanan, sementara jalur rel di sekitar jalan poros Surabaya-Porong perlu segera dipindahkan lokasinya. Pembangunan ASDP Pelabuhan ASDP di Lamongan yang belum kunjung selesai sebagai alternatif pelabuhan Tanjung Perak.

69

6.

REKOMENDASI TINGKAT LANJUT

7.

PENUTUP

6. Pembangunan Transportasi Laut Program pengalihan pelabuhan masih belum terlaksana sebagai akibat belum selesainya beberapa pelabuhan alternatif penunjang pelabuhan Tanjung Perak. 7. Pembangunan Transportasi Udara Bandara perintis telah selesai dan di uji coba di Jember, masih ditunggu bandara perintis lain di beberapa tempat lainya. 8. Pembangunan Energi Penerapan energi alternatif di beberapa tempat yang sifatnya masih berupa pilot project belum dapat dimanfaatkan secara luas. 9. Pembangunan Kelistrikan Kebijakan PLN yang masih terpusat membuat pemerintah daerah masih ragu untuk melakukan pembangunan. 10. Pembangunan Pos dan Telematika Program pengembangan dan pemeliharaan pos dan telematika telah berjalan. 11. Pembangunan Perumahan Target pembangunan rumah sederhana sehat tidak tercapai sebagai dampak dari tingginya nilai bahan baku dan tanah, lesunya daya beli dan kreidt perbankan yang terus naik. 12. Pembangunan Air Minum dan Air Limbah Inovasi di daerah tentang pola penyediaan air bersih dinilai lebih memuaskan dibanding dengan pelayanan PDAM. 13. Pembangunan Persampahan dan Drainase Muali penuhnya TPA di beberapa kota serta penanggulanan bencana lumpur Sidoarjo yang masih menjadi masalah utama. Perlunya ditetapkan skala prioritas pembangunan infrastruktur yang terstruktur diikuti dengan penyelesaian program-program pembangunan infrastruktur yang masih belum terselesaikan di tahun 2008, seperti Jembatan Suramadu, Pelabuhan Lamongan, dan Bandara Perintis seperti di Banyuwangi, dan Trunojoyo Keberadaan pembangunan infrastruktur memiliki posisi sangat penting, mengingat dalam realitas kehidupan keseharian, manusia tidak dapat terlepas dari kebutuhan tersedianya infrastruktur yang memadai. Ketersediaan berbagai jenis infrastruktur publik diharapkan mampu menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat.

70

RINGKASAN ISU-ISU STRATEGIS DI PROVINSI JAWA TIMUR Pengantar Isu strategis adalah isu-isu yang paling mendesak untuk diselesaikan dan berdampak besar pada masyarakat Jawa Timur namun belum terakumulasi dan tertangani secara tuntas pada RPJMN 2004-2009. Isu strategis yang ditemukan terkait dengan aspek berikut: (a) pemerintahan yang lebih bersih, (b) aktualisasi tata kepemerintahan yang lebih baik (good governance), (c) peningkatan kompetensi SDM aparatur, (d) pelayanan publik yang lebih optimal dan berorientasi pada pelanggan, (e) penerapan tunjangan kinerja, (f) Lingkungan hidup dan manajemen bencana, (g) pemberdayaan masyarakat miskin Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat kedua provinsi terkorup se-Indonesia, setelah DKI Jakarta, data itu diperoleh dari survei yang dilakukan Jaringan Antikorupsi pada 2008. Adapun data indeks persepsi korupsi (IPK) nasional masih mencapai 2,3 dari angka 10 ideal suatu negara yang bebas dan bersih dari korupsi. Tahun 2008 ini sejak KPK giat melakukan pemberantasan korupsi IPK meningkat menjadi 2,6. Rendahnya IPK yang menunjukkan tingginya korupsi, khususnya di Jawa Timur, menjadikan isu ini perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius. Pendekatan pertama dalam menanggapi issu korupsi adalah bahwasanya dinamika korupsi merupakan gabungan Monopoly power dan Discretion dikurangi dengan accountability. Pendekatan kedua, dilihat dari faktor Internal dan eksternal, yang umum dikenal dalam bidang kepolisian dengan formula Niat + Kesempatan = Criminal. Pendekatan ini menjelaskan bahwa suatu perbuatan kriminal (termasuk korupsi) yang dilakukan oleh pelaku dapat terjadi karena adanya niat dari diri pelaku dan karena adanya kesempatan untuk melakukannya Dalam rangka mengaktualisasikan prinsip-prinsip Good Governance Pemerintahan Provinsi Jawa Timur telah mengupayakan sosialisasi dan kampanye penyelenggaraan negara yang efektif, adil, partisipatif, transparan dan akuntabel. Pemprov Jatim bekerjasama dengan LGSP sebuah NGO yang mensupport pengaktualisasian GG di daerah. Dalam rangka mewujudkan transparansi keuangan telah diupayakan penerapan Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD) secara online dengan pendekatan G-Online. Implementasi GG di Jawa Timur memerlukan kerjasama antar semua lembaga. Dalam konteks ini maka upaya koordinasi yang kuat menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Implikasinya maka diperlukan suatu komunikasi yang efektif antar lembaga sehingga terjadi saling pengertian yang baik atau mutual understanding

Isu Clean Government

Isu Aktualisasi PrinsipPrinsip Good Governance

71

dalam pelaksanaan GG. Perwujudan mutual understanding yang dibangun oleh komunikasi yang efektif sesungguhnya menjadi awal bagi perwujudan sinergi dan jaringan kelembagaan yang saling memberdayakan (enabling networking). Isu Kompetensi SDM Aparatur Pemprov Jatim memerlukan aparat birokrasi yang memiliki kompetensi terhadap jabatan/posisi atau pekerjaannya. Pemprov Jatim telah mengupayakan peningkatan kompetensi aparaturnya melalui lembaga diklat provinsi maupun di pemerintah kabupaten kota. Selain itu, untuk menempatkan SDM aparatur yang sesuai dengan kompetensinya telah diupayakan melalui proses rekruitment tenaga kerja baru dan pengangkatan tenaga honorer. Namun isu kompetensi patut mendapat perhatian secara terus menerus karena banyak pihak mengakui bahwa proses rekruitmen yang dijalankan masih belum menunjukkan pengaruh kinerja aparat yang bersangkutan. Artinya seleksi terhadap calon aparatur untuk menempati suatu jabatan tertentu belum secara optimal didasarkan pada analisis kebutuhan dan jabatan yang tepat. Implikasinya banyak aparatur yang memiliki latar belakang pendidikan (kompetensi) tertentu akan tetapi tidak berada pada posisi yang relevan dengan kompetensinya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini banyak posisi/jabatan di birokrasi diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kompentesi yang sesuai dengan pekerjaannya. Tuntutan kualitas dan kuantitas jasa layanan publik oleh pengguna (user) semakin meningkat, di pihak operator pelayanan publik menghadapi kendala dalam menyajikan jasa layanan publik. Pengguna telah membayar jasa layanan publik. Di pihak lain kualitas dan kuantitas yang diinginkan belum terpenuhi. Transparansi Akuntabilitas dalam pelayanan publik diperlukan untuk mengatasi kesenjangan pihak-pihak yang terkait dalam pelayanan publik; untuk itu, dituntut pula regulator yang mampu mengalokasikan sumber daya yang ada sehingga terjadi keseimbangan pihak-pihak yang terkait dalam layanan publik. Di luar pengguna jasa pelayanan publik (non user) perlu diperhatikan kepentingannya, khususnya tuntutan lingkungan stratejik. Permasalahan pengawasan pelayanan publik selama ini menjadi agenda penting, masih perlu mendapat perhatian Pemprov Jatim. Partisipasi masyarakat dalam pengawasan pelayanan publik juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari persoalan tersebut. Memberikan cara, strategi, dan penyadaran tentang pengawasan terhadap pelayanan publik sangat relevan. Kinerja instansi pemerintah tidak lagi hanya diukur dari kemampuan menyerap anggaran dan frekuensi atau banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi juga diukur

Isu Pelayanan Publik

Isu Penerapan Tunjangan Kinerja

72

berdasarkan aspek efisiensi dan efektivitas yang dicapai, kualitas produk baik kebijakan maupun pelayanan publik yang mampu diberikan oleh instansi pemerintah, tingkat pencapaian tujuan organisasi, dan bahkan pada manfaat yang dapat diberikan secara luas pada publik/ masyarakat, seperti kualitas pelayanan publik, kepuasan masyarakat, hingga peningkatan kualitas hidup rakyat. Untuk meningkatkan kinerja pemerintahan, salah satu isu yang perlu ditindaklanjuti adalah pemberian tunjangan kinerja kepada aparat pemerintah. Yang terlebih dahulu memerlukan dirumuskannya indikator kinerja utama masingmasing SKPD yang ada di Pemprov Jatim. Kepentingan mengukur pelayanan publik atau pelayanan terhadap masyarakat terkait dengan sejauhmana optimalisasi fungsi dan peran pemerintah dijalankan. Pada dasarnya fungsi dan peran pemerintah baik regulasi/kebijakan, proteksi dan distribusi berujung pada pelayanan publik. Artinya sejauhmana pelayanan publik diselenggarakan oleh pemerintah, menjadi salah satu ukuran penting kinerja pemerintah Berdasarkan hasil pemetaan wilayah rawan bencana, 200 ribu lebih masyarakat di Jawa Timur berada dalam daerah rawan bencana, yang masing-masing tersebar dalam 40 kabupaten dan Kota. (Dinas Sosial Jatim, 2007) Issu bencana alam mendapat perhatian yang cukup besar dari pemrov Jatim, namun masih terdapat beberapa kendala dalam manajemen bencana alam yang dilaksanakan selama ini. Kepedulian terhadap bencana oleh stakeholder pembangunan terutama perusahaan telah ditunjukkan dengan beberapa kegiatan bantuan bencana alam secara langsung/tunai, namun masih bersifat charity, tidak terkoordinir, tidak berkelanjutan, dan kurang memperhatikan penanganan korban setelah bencana Untuk itu dibutuhkan pengelolaan bencana yang merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dikenal sebagai Siklus Manajemen Bencana (seperti terlihat dalam Gambar Siklus Manajemen Bencana), yang bertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan manusia; (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis. Berdasarkan data Bapeprov Jatim 2008, angka kemiskinan di Jatim sejak tahun 2001 terus mengalami penurunan. Pada 2001 kemiskinan mencapai 7,267 juta jiwa atau 20,91%, tahun 2002 angka kemiskinan 7,181 juta atau 20,34%, tahun 2003 kemiskinan 7,064 juta jiwa atau

Isu Lingkungan Hidup dan Manajemen Bencana

Isu Pemberdayaan Masyarakat Miskin

73

19,52%, tahun 2004 kemiskinan 6,979 juta jiwa atau 19,10%. Namun, pada tahun 2005, akibat kenaikan BBM angka kemiskinan kembali meningkat 8,390 juta jiwa atau 22,51%, pada tahun 2006 kembali turun menjadi 7,455 juta jiwa atau 19,89% dan pada 2007 kemiskinan 7,137 juta jiwa atau 18,09% Untuk menanggulangi kemiskinan dibutuhkan kebijakan yang memihak pada permasalahan masyarakat miskin. Di samping itu, pemerintah, harus bergerak ke arah mendorong perluasan tenaga kerja, baik tenaga kerja potensial yang terdidik maupun tenaga kerja potensial yang kurang terdidik, serta menggerakkan sektor pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja, khususnya tenaga kerja perdesaan. Namun demikian masalah kemiskinan tidak sekedar persoalan tidak adanya lapangan kerja kerja, tetapi sangat kompleks dan multi dimensi, serta merupakan tanggung jawab bersama untuk mengatasinya. Oleh karena itu permasalahan kemiskinan yang multidimensi tersebut masih perlu mendapat prioritas dalam pembangunan di Jawa Timur, peran pemerintah untuk menjamin, melindungi, dan memenuhi hak-hak orang-orang yang tergolong miskin masih sangat dibutuhkan.

74