P. 1
SIFAT MEKANIS DAN BIOLOGIS MATERIAL DENTAL

SIFAT MEKANIS DAN BIOLOGIS MATERIAL DENTAL

|Views: 4,626|Likes:
Published by Alfika Dinar Fitri
berisi tentang penjelasan sifat-sifat mekanis dan biologis dari material-material yang digunakan dalam kedokteran gigi.
berisi tentang penjelasan sifat-sifat mekanis dan biologis dari material-material yang digunakan dalam kedokteran gigi.

More info:

Published by: Alfika Dinar Fitri on Apr 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

MAKALAH BIOMATERIAL

SIFAT MEKANIS DAN BIOLOGIS APLIKASI DENTAL

KELOMPOK 2 (KELAS GENAP) Hafib Adifaizal - 8396 Faridha Hanum - 8398 Arum Nur Kartika Putri - 8400 Anindya Laksmi Dewi - 8402 Ayu Fresno Argadianti - 8404 Reina Parardhya Nadiawati - 8406 Alfika Dinar Fitri - 8408 Anita Fahruniza - 8310

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam konteks bahan kedokteran gigi, terdapat beberapa macam struktur unsur, antara lain sifat mekanis dan biologis. Pada makalah ini kami mengambil topik bahasan mengenai sifat mekanis dan biologis aplikasi dental sebagai subjek kajian utama dan penerapannya pada bidang kedokteran gigi masa kini. Sebagai wacana, akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai sifat mekanis dan biologis tersebut. Yang dimaksud dengan sifat mekanis secara umum adalah sifat yang dapat dilihat perubahannya (bekerja secara kuantitatif), baik secara elastik yang bersifat dapat balik maupun secara plastis ysng bersifat tidak dapat balik. Sedangkan sifat biologis, pemilihan bahan untuk material ditekankan pada bahan yang tidak mengandung racun, tidak menimbulkan iritasi atau alergi, dan tidak bersifat mutagen maupun karsinogenik.

1.2

Rumusan Masalah 1. Apa saja contoh dari sifat mekanis? 2. Apa saja contoh dari sifat biologis? 3. Bagaimana aplikasi dari sifat mekanis dan biologis dalam material dental?

1.3

Tujuan 1. Untuk memperluas pengetahuan tentang material yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi. 2. Mengetahui contoh-contoh dari sifat mekanis dan biologis pada bahan kedokteran gigi.

2

3. Mengetahui penerapan dari sifat mekanis dan biologis dalam material kedokteran gigi.

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 SIFAT MEKANIS 2.1.1 Hardness Hardness didefinisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk menerima tekanan benda keras (Combe, 1992). Hardness dapat pula diartikan sebagai kemampuan menahan suatu goresan, sehingga kekerasan merupakan ketahanan terhadap indentasi. Indentasi dihasilkan pada permukaan suatu bahan dari gaya yang diaplikasikan dari ujung tajam atau partikel abrasive yang berasal dari interaksi sejumlah sifat. Sifat-sifat yang berhubungan dengan kekerasan suatu bahan adalah kekuatan, batas keseimbangan, dan kelenturan. Disamping itu kekerasan juga sebagai energi deformasi elastik atau plastik yang diperlukan untuk mematahkan suatu bahan dan merupakan ukuran dari ketahanan terhadap fraktur.

Kekerasan bergantung pasa kekuatan dan kelenturan, sehingga semakin tinggi kekuatan dan semakin tinggi kelenturan (regangan plastis total) maka semakin besar kekerasan. Intinya bahan keras umumnya kuat, namun suatu bahan yang kuat belum tentu keras.

Ada beberapa jenis uji kekerasan, yang berdasarkan pada kemampuan permukaan suatu bahan untuk menahan penetrasi benda tajam dibawah beban tertentu, diantaranya Brinell, Barcol, Rockwell, Shore, Vickers, dan Knoop (Anusavice, 2004).

Brinell Hardness test

4

Brinell hardness test merupakan salah satu uji tertua yang digunakan untuk menentukan kekerasan logam. Dalam pengujian Brinell, sebuah bola logam keras di tekan dengan bebabn tertentu pada permukaan bahan. Angka kekerasan Brinell disebut Brinell Hardness Number (BHN). Sehingga semakin kecil indentasi, semakin besar angkanya dan semakin keras bahan tersebut. Uji brinell dalam penerapan dalam kedokteran gigi ialah dapat menentukan kekerasan bahan bersifat logam yang digunakan dalam kedokteran gigi (amalgam).

Rockwell Hardness Test

5

Rockwell hardness test hampir mirip dengan Brinell hardness test, namun pada Rockwell hardness test digunakan bola logam atau ujung berlian yang konus. Beberapa titik indentasi dengan ukuran yang berbeda juga tersedia untuk menguji berbagai macam bahan, sedangkan untuk angka kekerasan Rockwell disebut Rockwell Hardness Number (RHN). Karena uji Rockwell yang mudah dilakukan dan kedalaman identasinya bisa langsung dapat dibaca, uji ini semaikin luas penggunaannya, termasuk dalam kedokteran gigi. Seperti berguna untuk mengevaluasi kekerasan permukaan bahan plastik yang digunakan di Kedokteran Gigi.

2.1.2

Kekuatan Fatik Kekuatan fatik adalah kekuatan dimana ketika sebuah material mengalami kelelahan akibat tegangan berkali – kali. Dapat disebut juga batas kelelahan, yaitu jumlah siklus stress karakter yang spesifik spesimen bahan dapat menahan sebelum kegagalan alam tertentu terjadi. Dipengaruhi oleh faktor – faktor lingkungan seperti korosi. Kekuatan fatik dapat pula disebut juga sebagai nilai kekuatan yang diperoleh dari suatu pengukuran kegagalan menanggung beban bila gaya ditingkatkan bertahap. Untuk bahan rapuh dengan permukaan kasar, batas ketahanannya lebih rendah dibandingkan dengan permukaan bahan yang terpoles dengan baik. Untuk beban tertentu yang diaplikasikan semakin kasar permukaan bahan, semakin kecil siklus beban yang dapat menimbulkan kegagalan.

Beberapa bahan atau piranti gigi tiruan menunjukkan kelelahan statik, suatu gejala yang berhubungan dengan interaksi tekanan tarik konstan dengan retakan struktur setelah jangka waktu tertentu. Larutan berair menyebabkan degradasi korosif dari bahan keramik kedokteran gigi dengan memperpanjang permukaan retakan setelah jangka waktu tertentu selama adanya tekanan tarik. Braket ortodonsi dari keramik dan kawat yang diaktifkan pada bracket mewakili suatu sistem klinis yang dapat menunjukkan kegagalan lelah statik.
6

Fraktur yang tertunda dari mahkota tiruan keramik gigi molar yang dipajan siklus gaya periodik dapat menyebabkan kegagalan lelah dinamik. Bahan restorasi kedokteran gigi dapat menunjukkan kegagalan lelah statik dan dinamik, bergantung pada sifat beban. (Anusavice,2004)

2.1.3

Tensile stress Tensile stress adalah kekuatan untuk mempertahankan diri terhadap deformasi (perubahan) karena force or load yang mempunyai kecenderungan untuk menarik atau menambah panjang material yang ditimpanya atau tekanan maksimal yang diterima material bisa bertahan sebelum patah. Tensile strength kadang-kadang juga ditulis U.T.S atau Ultimate Tensile Strength. Ini sering diukur dengan pemberian beban tensile secara langsung pada spesimen, untuk menjamin spesimen tercekam dengan baik maka bagian ujungnya biasanya dibuat lebih besar daripada bagian tengah bahan yang mempunyai ductility kecil (bahan yang dicekam). Cara lain untuk pengujian tensile strength bahan yang getas adalah mempergunakan diametral compression test, untuk ini disiapkan spesimen berbentuk silinder atau disk, lalu diberi beban tekanan secara diametral. Tensile strength timbul dalam arah tegak lurus terhadap beban yang diberi. Besarnya tensile strength dihitung dengan rumus berikut: = Di mana P adalah beban untuk mematahkan atau memecah material, t dan d masing-masing tebal dan diameter spesimen. Kekuatan tensile akan terjadi jika dua bahan bergabung menghasilkan gaya tarik menarik yang menimbulkan kekuatan perlekatan satu bahan dengan bahan lain karena terjadinya kohesi (tarik menarik antara mol yang sama) dan adhesi (tarik menarik antara molekul yang berlainan) sehingga membutuhkan uji tarik suatu material tertentu. Contoh kekuatan tensile di Kedokteran Gigi adalah material cetak alginate. Bahan ini berbentuk bubuk garam alginat yang digunakan buat
7

mencetak gigi (bahan cetak gigi untuk pasien orthodonsi, gigi palsu, dan beberapa jenis tambalan). kalau bubuk ini dicampur air, lama-lama jadi seperti agar-agar. perubahan bentuk ini yang dimanfaatkan untuk membuat replika bentuk gigi, susunannya, dan jaringan di sekitarnya. Alginat ini berasal dari asam alginat pada ganggang (rumput laut). Tensile strength terjadi ketika campuran air dan alginat pada saat memasuki masa setting. (Hutagalung, 2008)

2.1.4

Kompresi Tekanan kompresi terjadi apabila suatu benda ditempatkan di bawah beban yang cenderung menekan. Ketahanan internal terhadap beban disebut tekanan kompresi. Tekanan kompresi ini bersifat menekan dan mengarah kepada pemendekan material. Pada tekanan kompresi yang mengalami stress maksimum dapat menyebabkan fraktur. (Combe, 2002)

Ada pula tes uji kompresi merupakan alternative uji kekuatan, selain tensile, untuk material rapuh untuk menentukan kekuatan dengan cara memberi beban pada material . Kompresi digunakan untuk menentukan batas elastis, proporsional limit, titik luluh, kekuatan luluh dan, untuk beberapa bahan, kekuatan tekan.

Kekuatan kompresi ini digunakan untuk membandingkan material yang rapuh dan lemah pada tegangan. Material yang dibandingkan adalah dental amalgam, resin komposit, dan semen.

Material Enamel Dentin Amalgam
8

Compressive strength (Mpa) 384 297 189

Calcium hydroxide Feldspathic porcelain High-strength stone Resin composite Zinc phosphate cement

8 149 81 225 110

Contoh tekanan kompresi dalam aplikasi kedokteran gigi, antara lain uji tekanan pada mahkota jembatan dan pembuktian bahwa dalam kondisi gips lebih banyak air maka kekuatan kompresi makin rendah (Van Noort, 2007).

2.2 SIFAT BIOLOGIS 2.2.1 Non-Iritatif Iritasi dapat diartikan sebagai suatu radang yang terjadi tanpa campur tangan antibody dan system imun. Contoh iritasi diantaranya adalah lesi, ruam/kemerahan, pembengkakan, dan rasa sakit. Dalam pengaplikasian material kedokteran gigi, material harus non-iritatif, tidak menyebabkan iritasi baik pada pasien maupun pada tenaga medis. Resin akrilik sampai yang sering digunakan pembuatan basis gigi tiruan lepasan, karena harganya relatif murah, mudah direparasi, proses pembuatannya mudah dan peralatan yang digunakan sederhana. Salah satu jenis dari resin akrilik adalah resin akrilik rapid heat cured. Berdasarkan petunjuk pabrik, jenis resin akrilik ini hanya memerlukan waktu selama 20 menit untuk polimerisasinya. Proses polimerisasi yang singkat tersebut akan menyebabkan kandungan monomer sisa tinggi. Proses polimerisasi yang tidak
9

tepat dan benar yaitu dilakukan dalam waktu singkat akan menyebabkan proses polimerisasi tidak sempurna, sehingga kandungan monomer sisa tinggi. Tingginya kandungan monomer sisa tersebut karena faktor proses kuring yang tidak adekuat Apabila monomer sisa tersebut terlepas dalam saliva akan menyebabkan iritasi jaringan mulut, yang berupa kemerahan, pembengkakan serta rasa sakit pada mukosa. Pemakaian gigi tiruan / denture, memungkinkan terjadinya iritasi. Denture yang tidak pas lagi dengan mukosa rongga mulut anda akan menyebabkan iritasi dan keradangan pada daerah sekitar gusi dan bisa jadi menyebabkan sumber masalah pada waktu berbicara dan ketika dipakai waktu makan. Oleh karena itu, denture harus diperiksakan secara rutin untuk memastikan bahwa denture dalam kondisi yang baik dan tidak menyebabkan iritasi bagi pemakai. lebih disarankan untuk menggunakan valplast, karena iritasi yang mungkin disebabkan oleh valplast jauh lebih minimal daripada denture lainnya.

Pada penggunaan perangkat orthodontic, juga dapat menyebabkan iritasi terutama pada awal pemakaiannya. Biasanya pasien akan mengalami lesi seperti sariawan pada mukosa. Hal ini disebabkan sifat iritatif perangkat akibat proses adaptasi jaringan periodontal. Iritasi dapat berkurang seiring dengan kemampuan adaptasi jaringan periodontal terhadap benda asing (perangkat orhodontic). (Wordpress, 25/03/2010: 06.30PM)

2.2.2

Sensitivitas Sensitivitas adalah suatu respons radang yang memerlukan partisipasi suatu system antibodi tertentu terhadap bahan alergen yang dipertanyakan. Kesensitifan gigi terhadap material dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin, umur gigi, jumlah sklerosis yang ada, jarang terhadap pulpa, kedalam lesi karies vs ketebalan dentin reperatif yang terbentuk.

10

Sensitivitas dapat diantisipasi dan diminimalkan dengan pemberian pasta gigi desensitizing yang mengandung potassium nitrat dengan berbagai metode pemakaian tergantung kondisi gigi dan gusinya. Efek dari pemakaian pasta gigi ini baru dapat dirasa setelah pemakaian 4-6 minggu. Contohnya, pada semen kalsium fosfat sebagai isolator pada tumpatan amalgam. Semen kalsium fosfat mengurangi efek dari panas dan dingin yang tersalurkan lewat amalgam.

2.2.3

Alergi Alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia berkasi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orangorang yang tidak bersifat atopik. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergi. (Anusavice, 2004)

Alergi adalah sebuah reaksi yang dilakukan tubuh terhadap masuknya sebuah "benda asing". Ketika sebuah substansi tak dikenal masuk, antigen, tubuh serta merta akan meningkatkan daya imunitasnya untuk bekerja lebih giat.

Alergi adalah reaksi tubuh yang berlebihan terhadap benda asing tertentu atau yang disebut alergen. Apabila alergen masuk ke dalam tubuh seseorang, melalui berbagai cara, baik terhisap, tertelan, ataupun kontak dengan kulit, maka sistem kekebalan tubuh seseorang yang memiliki alergi akan aktif dan menimbulkan reaksi yang berlebihan. Tidak demikian halnya dengan orang yang tidak memiliki alergi, alergen tersebut tidak memiliki pengaruh yang bermakna.
11

Pada bahan kedokteran gigi yang mengandung banyak komponen yang disebut sebagai allergen, seperti kromium, kobal, merkuri, eugenol, komponen dari bahan dasar resin, colophonioum, dan formaldehid (gigi tiruan). (drgdondy.blogspot.com, 27/03/2010:04.00AM)

Contoh: alergi terhadap lateks Hipersentivitas pada produk yang menggunakan lateks bisa mencerminkan alergi pada lateks yang sebenarnya atau reaksi terhadap bahan aselerator dan antioksidan yang digunakan dalam proses pembuatan lateks.Sarung tangan karet lateks yang dipakai oleh dokter gigi merupakan bahan penyebab reaksi alergi. Selama ini, kasus alergi terbanyak adalah stomatitis, pada rongga mulut akan timbul luka kecil dalam jumlah yang banyak. Faktor pemicu alergi bermacam-macam, antara lain komposisi bahan, komponen toksik, produk degradasi, konsentrasi komponen yang diserap dan itimbun, serta factor lain yang berkaitan dengan kebocoran substansi bahan-bahan dasar. Dari pemeriksaan, sering diketahui adanya kasus alergi bahan tambal gigi yang bervariasi, dapat menyebabkan gusi menjadi kemerahan dan terasa perih hingga panas seperti terbakar. Alergi ini tergantung pada kekebalan tiap individu. (Wordpress, 25/03/2010: 06.30PM) BAB III PENUTUP 1.1. Kesimpulan Sifat mekanis pada dental aplikasi diantaranya adalah: a. Hardness Merupakan suatu kemamapuan untuk menerima tekanan benda keras ataupun untuk menahan suatu goresan
12

b. Kekuatan fatik Kekuatan dimana sebuah material mengalami kelelahan akibat tegangan berkalikali c. Tensile stress Kekuatan untuk mempertahankan diri terhadap deformasi d. Kompresi Terjadi apabila suatu benda ditempatkan dibawah beban yang cenderung menekan Sifat biologis aplikasi dental antara lain : a. Non iritatif Bentuk iritasi local ini berupa karang gigi, gigi berlubang, susunan gigi tidak rata atau adanya sisa akar gigi yang tidak dicabut. b. Sensitifitas Adalah suatu respon radang yang memerlukan parsitipasi suatu system antibody tertentu terhadap bahan allergen yang dipertanyakan. c. Alergi Adalah kegagalan kekebalan tubuh dimana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik.
1.2. Saran

a. Sumber dari pembuatan makalah harus diperluas. b. Penjelasan lebih runtut untuk makalah yang selanjutnya.

13

DAFTAR PUSTAKA Anusavice, Kenneth J. 2004. Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC Combe, E.C. 1992. Sari Dental Material. Jakarta: Balai Pustaka Van Noort, Richard. 2007. Introduction to Dental Materials. London: Elsevier http://www.instron.us/wa/home/default_en.aspx Hutagalung, Michael. 2008. Mengapa Begini Mengapa Begitu ala Teknik Kimia. http//michaelhutagalung.com/2008/05/mengapa-begini-mengapa-begitu-ala-teknik-kimia/. 28/03/2010

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->