P. 1
makalah metamorf

makalah metamorf

|Views: 5,352|Likes:
Published by morowali

More info:

Published by: morowali on Apr 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang

Petrologi ialah cabang dari ilmu geologi yang mempelajari tentang batuan pembent uk kerak bumi yang meliputi proses pembentukan atau ganesa, karakteristik yang d imiliki, pengelompokan atau klasifikasi serta hubungannya dengan proses-proses g eologi lainnya. Dalam petrologi dikenal ada tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Batuan beku merupakan batuan yang terbentuk dari hasil kri stalisasi magma. Batuan sedimen merupakan merupakan batuan yang terbentuk dari h asil transportasi, sedimentasi dan litifikasi dari batuan yang telah ada sebelum nya. Sedangkan batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk sebagai hasil dar i proses metamorfisme dari batuan yang telah ada tanpa mengalami fase cair. Dalam makalah ini secara khusus membahas tentang batuan metamorf meliputi penger tian batuan metamorf, agen-agen metamorfisme, jenis-jenis metamorfisme, fasies m etamorf, dan mineral-mineral penyusun batuan metamorf. 1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai salah satu indikator penilaian ( tugas) yang diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliah petrologi yang terkait den gan batuan metamorf. Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk menambah pengetahuan tentang batuan met amorf utamanya yang terkait dengan pengertian batuan metamorf, agen-agen metamor fisme, fasies-fasies metamorfisme, jenis-jenis metamorfisme, dan mineral-mineral penyusun batuan metamorf.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Batuan Metamorf Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari hasil proses metamo rfisme, dimana terjadi perubahan atau alterasi; physical (struktur, tekstur) dan chemical (mineralogical) dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan tinggi d alam kerak bumi atau Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan indu k yang lain, dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan metamorf se ndiri yang telah mengalami proses/perubahan mineralogi, tekstur maupun struktur sebagai akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang tinggi. Proses metamorfosa terjadi dalam fasa padat, tanpa mengalami fasa cair, dengan t emperatur 200oC – 6500C. Menurut Grovi (1931) perubahan dalam batuan metamorf ad alah hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi tersebut akan terbentuk krista l-kristal baru, begitupula pada teksturnya. Menurut H. G. F. Winkler (1967), metamorfisme adealah proses yang mengubah miner al suatu batuan pada fase padat karena pengaruh terhadap kondisi fisika dan kimi a dalam kerak bumi, dimana kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya. Proses te rsebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesa. Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk akibat proses p erubahan temperatur dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada sebelumnya. Akib at bertambahnya temperatur dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tekt ur dan strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur ya ng baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir.Apabila semua batuan-batu an yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudi an mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-batuan baru lagi. 2.2 Agen-agen Metamorfisme Adapun agen-agen atau faktor-faktor yang berperan dalam proses metamorfi sme yaitu : 1. Suhu (Temperatur) Suhu atau temperatur merupakan agen atau faktor pengontrol yang berperan dalam p roses metamorfisme. Kenaikan suhu atau temperatur dapat menyebabkan terjadinya p erubahan dan rekristalisasi atau pengkristalan kembali mineral-mineral dalam bat uan yang telah ada dengan tidak melalui fase cair. Pada kondisi ini temperatur s ekitar 350-1200 derajat celcius. 2. Tekanan (Pressure) Tekanan atau pressure merupakan faktor pengontrol atau agen dari proses metamorf isme. Kenaikan tekanan dapat menyebabkan terjadi perubahan dan rekristalisasi pa da mineral dalam batuan yang telah ada sebelumnya. Pada kondisi ini tekanan seki tar 1-10.000 bar (Jackson). 3. Cairan Panas/Aktivitas Larutan Kimia Aktivitas larutan kimia juga merupakan agen dari proses metamorfisme. Adanya cai ran panas/aktivitas larutan kimia dapat menyebabkan terjadinya alterasi atau per ubahan pada batuan yang telah ada sebelumnya. 2.3 Fasies-fasies Metamorf Setiap fasies dalam batuan metamorf umumnya dinamakan jenis batuan (kump ulan mineral) yang dianggap kritis dan diagnestik untuk fasies yang bresangkutan (Turner, 1960) Fasies dalam batuan metamorfosa dapat di bagi ke dalam beberapa kelompok sebagai berikut : 1. Fasies metamorfosa kontak Turner (1960) mengemukakan pembagian fasies dari metamorfosa kontak, berdasarkan pertambahan temperature atau tekanan air berkurang menjadi empat fasies yaitu :

a. Fasies Batutanduk albit-epidot Biasanya terdapat dibagian paling luar suatu daerah kontak sehingga rekristalisa i dari reaksi metamorfosa cenderung tidak sempurna, serta dicirikan oleh relic y ang stabil. b. Fasies batu tanduk hornblende Awal fasies batutanduk hornblende tercirikan oleh hilangnya klorit dalam hal ada kuarsa dan munculnya pertama sekali diopsid, fosterit +kalsit, grossularite/and radite, kordierit, hornblende dan ortoanfibol. c. Fasies batutanduk piroksin Fasies ini oleh winkler (1967) disebut fasies batutanduk K. feldsfar-kordierit, karena pertama sekali K. feldsfar dan kordierit. Kumpulan mineral dengan kelebih an SiO2. Prinsip kumpulan yang mana dapat mengandung kuarsa dan potas feldsfar s eperti terlihat di bawah ini : Penelitik dan kuarsa feldspatik Gampingan Basa Magnesium d. Fasies saniditit Fasies ini terdapatnya sebagai fragmen dalam tuf, xenolit dalam lava basa dan zo na kontak yang sempit disekitar pipa atau leher gunung api. Beberapa diantara fa sanya analog dengan hasil kristalisasi leburan pasa tekanan atmosfir yakni tridi mit, mullit, montiselit,forsterit, dan sebagainya. Fasa alkali yang khas adalah sanidin biasanya varietas kaya Na. kordierit, wollastonit (berlebih Mg atau Fe2+ dan anortit juga tergolong khas untuk kumpulan kersiknya. 2. Fasies metamorfosa regional Fasies metamorfosa regional berdasarkan pertambahan temperature dari Turner (196 0), sebagai berikut : a. Fasies Zeolit Penimbunan dalam sedimen dalam suatu cekungan dan batuan vulkanik akan mengakiba tkan suatu kondisi temperature dan tekanan yang mengahsilkan reaksi antara fasefase mineral. Pada umumnya kumpulan yang stabil pada lingkungan sedimen ditandai oleh lempung, serpih, monmoriolinit dan illit serta sedimen kapuran. Dalam batu pasir volkanik fasetemperatur tinggi seperti lava, piroksin, hornblende dan seb againya. Pada bats diagnesa dan metamorfosa regional maka terjadi pengaturan kembali terh adap lempung, kristalisasi kuarsa dan K. feldsfar dan terombaknya mineral temper ature tinggi serta pengendapan karbonat. Bila perubahan ini terjadi juga pada bu tiran yang kasar maka memasuki metamorfosa yaitu fasies zeolit. b. Fasies sekis hijau Fasies hijau merupakan fasies yang luas penyebarannya, batuan yang termasuk ke d alam sekis hijau banyak sekali. Derivate pelitiknya seperti batu sabak, filit da n sekis tercirikan oleh sekistositas karena orientasi terpilih atau terarah dari mineral mika atau klorit. Di zona klorit batuan umumnya berbutir halus, tetapi pada derajat yang lebih tin ggi menjadi lebih besar disertai diferensiasi metamorfosa dengan lembaran tersig regasi dan deformasi yang menimbulkan lineasi dan sekistositas. Sub fasies kuarsa-albit-muskovit-klorit Sekis pelitik Sekis kuarsa-feldsfatik Sekis gampingan Sekis basa Sekis magnesium Besi dan kaya mangan Sub faises kuarsa-albit-epidot-biotit Sub fasies kuarsa-albit-epidot-almandin c. Fasies sekis glaukopan Sekis glaukopan berasosiasi dengan batuan yang mengandung lawsonit atau jadiet, an terjadi geosinklin pada post-paleozoikum. Termasuk ke dalam metamorfosa ini i

alah basal, tuf,greywacke dan rijang. Lokasi geosinklin cenderung berasosiasi de ngan serpentin berhubungan dengan intrusi dan batuan ultrabasa, sehingga proses metamorfosa digeosinklin mengakibatkan sekis glaukopan. Mineralpenciri pada seki s glaukopan adalah lawsonit, jadiet, akmit-jadiet, glaukopan, dan krossit. Kumpulan mineral-mineral yang termasuk ke dalam fasies sekis glaukopan berdasark an turner (1960) adalah sebagai berikut : Pelitik Kuarsa feldsfatik Basa Gampingan Besian d. Fasies Almandin-amfibolit Penyebaran dari fasies ini tidak seluas dari fasies sekis hijau, dimana fasies a lmandine-amfibolit ini mendasari dari batuan fasies sekis hijau disabuk orogenes a. Batuan termasuk ke dalam fasies almandine-amfibolit ialah pelitik (sekis mika da n gneis), basal, andesit,batuan silica-kapur, batupasir kapuran dan serpih amfib olit. Mineral-mineral yang khas untuk fasies almandine-amfibolit ialah staurolit, grao sslarit-andradit, garnet, diopsid, kumingtonit, antopillit. Sedangkan mineral kl orit, pirofillit dan stiilpnomelan sudah tidak ada lagi. Mineralepidot dan ziosi t stabil pada derajat rendah. Pembagian subfasies dari fasies almandine-amfibolit berdasarkan penambahan tempe rature, pembagian subfasies adalah sebagai berikut ; Staurolit-almandin Kumpulan mineral yang termasuk dalam sub fasies ini adalah sebagai berikut : Batupelitik Batuan aluminium tinggi Batuankuarsa feldsfatik Batuan beku basa Magnesium Kianit-almandin-muskovit Batuan yang termasuk dalam sub fasies ini hanya batuan pelitik. Sillimanit-almandin-muskovit Batuan yang termasuk dalam subfasies ini hanya sebuah saja yaitu kelompok batuan pelitik. Dimana kelompok batuan tersebut di bagi menjadi dua golongan yatiu : Kuarsa-sillimanit-muskovit-almandin – palgioklas (biotit) Kuarsa-almandin-muskovit-biotit,plagioklas. Sillimanit-almandit-ortoklas Kumpulan mineral yang termasuk ke dalam sub fasies ini adalah sebagai berikut : Pelitik dan kuarsa Gampingan Basa Magnesium 3. Fasies granulit Fasies ini termasuk hasil metamorfosa derajat tinggi, metamorfosa regional yang paling bawah adalah kelompok dari batuan gneisik. Dimana ditandai oleh perbedaan fabric yang tinggi dan mineralogy yang tidak umum mudah dikenali dari batuan ba sa fasies metamorfosa disebut fasies granulit oleh eskola. Granulit dibagi menjadi dua subfasies yaitu : Subfasies hornblende-granulit, dengan hornblende dan biotit adalah kehad iran kumpulan dari garnettiferous dan piroksienit. Sub fasies piroksin-granulit, sedikit hornblende dan biotit. 4. Fasies eklogit Fasies ini sulit atau tidak dapat dipetakan dan terdapat sebagai bands dan lense s dalam fasies granulit, almandine-amfibolit, sekishijau atau sekis glaukopan. Selain pembagian fasies batuan metamorf diatas, ada pula pembagian fasies metamo rf berdasarkan fasies assemblagess mineral yang ditemukan. Pembagian ini dikemba ngkan oleh Eskola pada tahun 1939 dan digunakan hingga sekarang. Adapun fasies m

etamorf tersebut yakni : • Fasies greenschist atau sekis hijau, yang mengandung mineral-mineral hij au seperti klorit, aktinolit bersama dengan mineral lain seperti plagioklas, bio tit, dan garnet. • Fasies blueschist atau sekis biru yang mengandung mineral sodic biru amp hibol, glaukopan bersama dengan mineral lawstonite. • Fasies amphibolite atau amphibolite fasies yang sebagian tersusun atas m ineral-mineral hornblende dan plagioklas. • Fasies eklogite merupakan fasies metamorf yang terdiri dari mineral sodi c hijau pyroksine yakni omphacite dan garnet. • Fasies granulite mengandung mineral-mineral hornfels yang umum ditemukan dalam kontak metamorfisme aureoles (suhu tinggi dan tyekanan rendah) dan diciri kan dengan mineral berbutir kasar dengan tekstur granulite. • Fasies zeolite merupakan fasies dari metamorf yang terdiri dari mineralmineral zeolite.

Untuk lebih jelasnya berikut adalah diagram fasies dari metamorf.

Gambar fasies metamorf 2.4 Jenis-jenis Metamorfisme Jenis-jenis atau macam-macam metamorfisme secara umum dapat dibedakan me njadi 3 macam yakni: 1. Metamorfisme Sentuh Metamorfisme sentuh ini biasa juga disebut metamorfisme thermal atau metamorfism e kontak. Faktor yang sangat berpengaruh pada metamorfisme sentuh atau kontak in i adalah suhu yang panas, sedangkan tekanan relatif rendah dan terjadi dekat den gan intrusi magma, yakni kontak antara tubuh intrusi magma/ekstrusi dengan batua n di sekitarnya dengan lebar 2 – 3 km. Salah satu contohnya pada zona intrusi ya ng dapat menyebabkan pertambahan suhu pada daerah disekitar intrusi. Gambar 1 Intrusi magma Metamorfisme sentuh dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : a. Pirometamorfisme Pirometamorfisme merupakan jenis metamorfisme sentuh/kontak yang terjadi akibat pengaruh langsung dari panas intrusi magma. Contoh : hornfelsik, skarn, buchites , dan lain-lain. b. Pneumatolysa Pneumatolysa merupakan jenis metamorfisme sentuh/kontak yang terjadi akibat peng aruh dari gas-gas panas yang berasal dari magma yang sedang naik yang dapat meru

bah batuan sekelilingnya dan membentuk mineral-mineral baru. Contoh : tourmaline -hornfels, tourmaline-slate, skarn, dan lain-lain. c. Hydrothermal Hydrothermal merupakan jenis metamorfisme sentuh atau kontak yang terjadi akibat larutan panas pada waktu terjadi intrusi. Contoh : Phyrophilite, schist, quarzi te, dan lain-lain. 2. Metamorfisme Dynamo Metamorfisme dynamo juga sering disebut dengan metamorfis,e kinetik atau disloka si, akibat oleh adanya pergeseran atau dislokasi pada batuan. Misalnya oleh sesa r. Jadi faktor yang memegang peranan penting dalam metamorfisme dynamo ini adala h tekanan atau pressure dengan daerah yang relatif sempit. tekanan yang berpengaruh disini ada dua macam, yaitu: hidrostatis, yang mencaku p ke segala arah; dan stress, yang mencakup satu arah saja. Makin dalam ke arah kerak bumi pengaruh tekanan hidrostatika semakin besar. Sedangkan tekanan pada b agian kulit bumi yang dekat dengan permukaan saja, metamorfisme semacam ini bias anya didapatkan di daerah sesar/patahan. Contoh : Mylonite, Phyllonite, friction breccias, dan lain-lain. Gambar 2 Zona sesar 3. Metamorfisme Regional Metamorfisme regional merupakan tipe metamorfisme yang sangat kompleks, karena f aktor yang sangat berpengaruh ialah temperatur (suhu) dan tekanan (pressure). Te mperatur (suhu) dan tekanan (pressure) bekerja bersama-sama ditempat yang dalam dan luas didalam kerak bumi. Oleh karena adanya tekanan terarah maka timbullah m ineral-mineral tekanan (stress mineral). Misalnya serisit, muscovit, epidot, str aurolit, dan lain-lain. Dalam kerak bumi umumnya tekanan bekerja dari segala ara h yang disebut tekanan lithostatic. Tipe metamorfosa ini penyebarannya sangat lu as, dapat mencapai beberapa ribu kilometer. Termasuk dalam tipe ini adalah: 1. Metamorfisme Dynamothermal Terjadi pada kulit bumi bagian dala, dimana faktor yang mempengaruhi adalah temp eratur dan tekanan yang tinggi. Proses ini akan lebih intensif apabila diikuti o leh orogenesa. Gambar 3 Zona Subduksi 2. Metamorfisme Burial/Beban Proses ini tidak ada hubungannya dengan orogenesa dan intrusi, tetapi terjadi pa da daerah geosinklin, hingga karena adanya pembebanan sedimen yang tebal di bagi an atas, maka lapisan sedimen yang ada di bagian bawah cekungan akan mengalami p roses metamorfosa. Gambar 4 Cekungan Sedimentasi Daerah metamorfisme regional dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu : a. Epizone Epizone merupakan daerah metamorfisme regional temperatur rendah (lebih kecil da ri 350 derajat celcius), tekanan hidrostatik rendah dan tekanan terarah kadang-k adang sangat tinggi. Contoh : Slate, Chlorite schist, Mica Schist, dan lain-lain . b. Mesozone Mesozone merupakan daerah metamorfisme regional temperatur sedang (350 derajat c elcius sampai 500 derajat celcius), tekanan hidrostatik dan tekanan terarah seda ng, dan pada kedalaman menengah. Contoh : Biotit Schist, Hornblende Schist, Garn

et Schist, Muscovit Schist, dan lain-lain. c. Katazone Katazone merupakan daerah metamorfisme regional temperatur sangat tinggi (500 d erajat celcius sampai 1200 derajat celcius), tekanan hidrostatik sangat tinggi d an tekanan terarah rendah. Terbentuk pada kedalaman kerak bumi, berasosiasi deng an batuan intrusi. Contoh eklogite, gneiss, granulites, schist tingkat tinggi, p yroxene gneiss, hornblende schist, dan lain-lain. 2.5 Mineral-mineral Penyusun Batuan Metamorf Mineral-mineral penyusun batuan metamorf meliputi mineral-mineral yang u mum dijumpai pada batuan beku maupun pada batuan sedimen. Adapun mineral-mineral tersebut meliputi : 1. Kwarsa Kwarsa merupakan mineral penyusun batuan metamorf yang mempunyai rumus kimia SiO 2 dengan bentuk pipih atau mengkristal tak teratur, berwarna agak mengkilap, put ih jernih atau putih kehijauan oleh pengotoran mineral-mineral Klorit, banyak te rdapat dalam batuan Gneiss, Sekis, dan Filit. Gambar Mineral Quartz 2. Feldspar Mineral Feldspar dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu : a. Potash Feldpar (KAlSi3O8) Potash Feldspar terdiri dari mineral Ortoklas, Anortoklas, Sanidin, Adularia, da n Mikroklin. Mineral ini berwarna merah pucat, putih, merah muda, dan abu-abu. K ilap vitreous, bidang belahnya baik biasanya 2 arah serta memiliki kekerasan 6, namun pada batuan metamorf bentuk dari mineral ini agak pipih akibat tekanan. b. Plagioklas (Na,Ca) AlSi3O8 Plagioklas terdiri dari mineral Anortit, Bitownit, Labradorit, Andesin, Oligokla s, dan Albit. Kilap vireous, memiliki belahan baik 2 arah dan kekerasan 6. Kenam pakan mineral ini dalam batuan metamorf agak pipih akibat tekanan. Gambar Mineral Feldspar 3. Mika Mika merupakan mineral yang berbentuk pipih berupa lembaran-lembaran halus. Mika merupakan grup mineral yang terdiri dari mineral-mineral muskovit, plagopit, da n biotit. Mineral ini dapat memberikan warna mengkilap pada Filit, sekis, dan Gn eiss dan terdapat melimpah pada batuan Sekis dan Gneiss. Gambar mineral mika 4. Klorit Mineral ini memiliki kenampakan dalam bentuk terpilin atau bengkok, warna hijau, cokelat, atau hijau kehitaman, kekerasan 1-2,5. Mineral ini banyak ditemukan pa da batuan Sekis. Gambar Mineral Klorit 5. Andalusit Mineral ini memiliki bentuk fisik prismatik kasar, mengkristal dalam sistem rhom bis, berwarna pudar, merah jambu sampai merah violet, kilap vitreous, kekerasan

5-7. Mineral ini banyak terdapat dalam batuan sekis, filit, dan Slate.

Gambar Mineral Andalusite 6. Aktinolit Aktinolit mengkristal dalam sistem monoklin, menjarum halus atau berupa serat-se rat, rapuh, warna hijau atau abu-abu kehijauan, kilap vitreous seperti sutra, ke kerasan 2-3. Mineral ini banyak ditemukan terutama pada sekis, gneiss, dan marme r. Gambar Mineral Aktinolit 7. Glaukofan Glaukofan mengkristal dalam bentuk monoklin, prismatik seperti serat, batang, at au butiran, pecahan konkoidal, warna biru abu-abu atau biru kehitaman, kekerasan 6-6,5. Mineral ini sering dijumpai dalam batuan sekis dan gneiss, biasanya bera sosiasi dengan muskovit, kwarsa, dan sphene. Gambar Mineral Glaukofan 8. Kianit Mineral ini memiliki bentuk kristal triklin, memanjang atau lempeng-lempeng, kek erasan 4-7, juga dapat berbentuk serat-serat atau batang, warna biru laut, kilap vitreous, sering dijumpai pada batuan sekis dan gneiss, berasosiasi dengan kwar sa, muskovit, garner, stomalit, dan rutile. Mineral ini tidak ditemukan pada bat uan beku. Gambar mineral kianit 9. Garnet Garnet merupakan mineral yang memiliki bentuk kristal regular, bentuk kubus, gra nular seperti pasir, warna merah jambu hingga merah cokelat, hingga opak, dan ba nyak dijumpai pada batuan sekis dan gneiss. Gambar Mineral Garnet 10. Talk Mineral ini mengkristal dalam sistem monoklin, bentuk granular, tipis atau semac am serabut, fleksibel, warna hijau muda sampai hijau tua, kilap seperti mutiara, kekerasan 1-2, banyak terdapat dalam batuan sekis, berasosiasi dengan batuan se rpentin dan magnesit. Gambar Mineral Talk 11. Serpentin Mineral ini memiliki bentuk kristal yang pipih atau seratan fleksibel, kilap sut era atau lemak, warna merah kecoklatan dan hijau kekuningan, kekerasan 3-5,5. Mi neral ini dijumpai pada serpentine atau pada sekis, berasosiasi dengan klorit da n talk. Gambar Mineral Serpentine

12. Kordierit Mineral ini mengkristal dalam sistem orthorombik, prismatik pendek, kompak atau granular, berwarna abu-abu kebiruan, hijau kuning atau tak berwarna, kilap vitre ous seperti gelas, kekerasan 7-7,5, dan banyak dijumpai pada batuan gneiss, seki s dan pegmatit serta berasosiasi dengan garnet, mika, kwarsa, andalusit, siliman it, dan staurolit. Gambar Mineral Kordierite 13. Silimanit Silimanit memiliki bentuk kristal seperti kordierit, panjang dan kesan striasi.r adier, kadang-kadang bengkok, warna abu-abu, putih, atau kuning pucat, kilap vit reous, kekerasan 6-7, dan banyak dijumpai dalam batuan sekis, gneiss, dan pegmat it. Gambar Mineral Silimanite 14. Tremolit Mineral ini mengkristal dalam sistem monoklin, lempeng-lempeng berserat seperti asbes, granular, warna putih, abu-abu, hijau atau kuning, kilap vitreous, belaha n prismatik menyudut 56 derajat dan 124 derajat, kekerasan 5-6, dan umum dijumpa i dalam batuan sekis dan marmer. Gambar Mineral Tremolite 15. Wollastonit Mineral ini mengkristal dalam sitem triklin, tabular, prismatik, berserat-serat paralel, menyebar atau granular, warna putih keabu-abuan atau tidak berwarna, ki lap sutera, kekerasan 4-5, merupakan mineral batuan metamorfisme kontak yang ber asosiasi dengan garnet, diopsit, vesuvianit, tremolit, epidot dan kalsit, ditemu kan utama pada batuan marmer dekat kontak dengan batuan beku granit. Gambar Mineral Wollastonite 16. Diopside Mineral ini menunjukkan warna hijau, biru, sistem kristal monoklin, belahan tid ak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan betuk prismatik. Terbentuk pada suhu 900 – 1000 0C, terbentuk akibat proses magmatik mafic dan ultramafic pluto nic, pada proses metamorphisme kontak. Lingkungan daerah magmatisme. Gambar Mineral Diopside 17. Dolomite Mineral ini menunjukkan warna putih-pink, sistem kristal heksagonal, belahan sem purna, pecahan subkonkoidal, kilap kaca, cerat putih. Terbentuk dari proses hidr otermal pada suhu yang rendah berupa urat, juga dapat terbentuk pada lingkungan laut akibat proses dolomitisasi batugamping dan proses metamorfik (dolostone pro toliths). Gambar Mineral Dolomite 18. Epidote Mineral ini menunjukkan warna hijau, sistem kristal monoklin, belahan jelas 2 ar ah, pecahan tidak rata, kilap kaca, cerat putih dan menunjukkan bentuk prismatik . Terbentuk pada temperatur 900 – 10000 C, terbentuk akibat proses metamorphisme pada fasies green schist dan glaucophane schist dan hidrotermal (propylitic alt

eration). Proses magmatik sangat jarang menghasilkan mineral ini.

Gambar Mineral Epidote 19. Montmorillonite Mineral ini menunjukkan warna putih – abu-abu, sistem kristal monoklin. Terbentu k pada daerah beriklim tropis yang merupakan hasil alterasi dari feldspar pada b atuan yang miskin silika. Hasil dari pelapukan glassvolkanik dan tuff dari prose s hidrotermal. Gambar Mineral Montmorillonite 20. Prehnite Mineral ini menunjukkan warna kehijauan, sistem kristal orthorombic, belahan se mpurna, pecahan tidak rata, kilap kaca, cerat berwarna putih dan menunjukkan ben tuk tabular. Terbentuk pada suhu 700 – 8000 C, akibat proses metamorfisme dan pr oses hidrotermal yang mengisi rongga pada batuan volkanik basalt. Gambar Mineral Prehnite

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

1. Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk dari hasil proses metam orfisme, dimana terjadi perubahan atau alterasi; physical (struktur, tekstur) da n chemical (mineralogical) dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan tinggi dalam kerak bumi. 2. Agen-agen atau faktor-faktor yang mempengaruhi proses metamorfisme melip uti suhu (temperatur), tekanan (Pressure), dan aktivitas larutan kimia. 3. Secara umum metamorfisme terbagi menjadi 3 yaitu metamorfisme sentuh ata u kontak, metamorfisme dynamo, dan metamorfisme regional. 4. Secara umum ada beberapa fasies dari batuan metamorf yang meliputi: • Fasies metamorfisme kontak • Fasies metamorfisme regional • Fasies granulit • Fasies eklogite 5. Mineral penyusun batuan metamorf merupakan mineral-mineral yang ada pada batuan yang telah ada sebelumnya, baik mineral yang berasal dari batuan beku, s edimen, maupun metamorf.

3.2

Saran

Untuk lebih memperdalam pemahaman dan pengetahuan mengenai batuan metamorf sebai knya banyak membaca literatur-literatur yang lebih variatif yang berkaitan denga n batuan metamorf serta mengkajinya secara mendalam dan dibarengi dengan pengama tan batuan di laboratorium dan pengamatan langsung singkapan batuan metamorf di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Kaharuddin, MS. 1988. Penuntun Praktikum Petrologi. Jurusan Teknik Geologi, Univ ersitas Hasanuddin, Makassar. Asikin, Sukendar, 1978. Diktat Geologi Dasar, Departemen Teknik Geologi, Institu t Teknologi Bandung. Kaharuddin, MS. 1988. Field Geology. Jurusan Teknik Geologi, Universitas Hasanud din, Makassar. www.google.com www.wikipedia.com www.mineralgallery.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->