P. 1
ASKEP JIWA RETARDASI MENTAL (RM)

ASKEP JIWA RETARDASI MENTAL (RM)

|Views: 5,465|Likes:
Published by Hajar Dewi Rizqi
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA RETARDASI MENTAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa Yang Telah Di Berikan

Disusun Oleh :


Hajar Dewi Rizqi
Siti Nurul Istiqomah

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ’ULUM

JOMBANG

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ASKEP JIWA RETARDASI MENTAL. Tujuan penulisan ini
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA RETARDASI MENTAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa Yang Telah Di Berikan

Disusun Oleh :


Hajar Dewi Rizqi
Siti Nurul Istiqomah

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ’ULUM

JOMBANG

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ASKEP JIWA RETARDASI MENTAL. Tujuan penulisan ini

More info:

Published by: Hajar Dewi Rizqi on Apr 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA RETARDASI MENTAL

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa Yang Telah Di Berikan

Disusun Oleh :

1. 2.

Hajar Dewi Rizqi Siti Nurul Istiqomah

(7307005) (7307012)

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ’ULUM

JOMBANG

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ASKEP JIWA RETARDASI MENTAL. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui dan mempelajari tentang asuhan keperawatan jiwa dan mengetahui gangguan ratardasi mental. Dalam penyusunan askep ini, kami mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan askep ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan di masa mendatang. Akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang keperawatan dan semua pihak yang membacanya.

Jombang, 25 Maret 2010

Penulis

DAFTAR ISI

COVER KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi 2.2 Etiologi 2.3 Manifestasi Klinis 2.4 PNP BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian 3.2 Diagnosa Keperawatan 3.3 Intervensi 3.4 Implementasi 3.5 Evaluasi BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan implikasi yang besar terutama bagi Negara berkembang. Diperkirakan angka kejadian retardasi mental berat sekitar 0,3% dari seluruh populasi dan hampir 3% mempunyai IQ dibawah 70.Sebagai sumber daya manusia tentunya mereka tidak bias dimanfaatkan karena 0,1% dari anak-anak ini memerlukan perawatan, bimbingan serta pengawasan sepanjang hidupnya.(Swaiman KF, 1989). Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. Di indonesia 1-3 persen penduduknya menderita kelainan ini. Insidennya sulit di ketahui karena retardasi metal kadang-kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih dalam taraf ringan. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Sehingga retardasi mental masih merupakan dilema, sumber kecemasan bagi keluarga dan masyarakat. Demikian pula dengan diagnosis, pengobatan dan pencegahannya masih merupakan masalah yang tidak kecil. 1.2 Tujuan 1. Untuk mempelajari definisi tentang retardasi mental
2. Mempelajari faktor-faktor penyebab retasdasi mental

3. Mengetahu asuhan keperawatan pada klien retardasi mental

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama pada retardasi mental ialah intelegensi yang terbelakang atau keterbelakangan mental. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental. Retardasi mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan. Retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO) Retardasi mental adalah suatu keadaan yang ditandai dengan fs. Intelektual berada dibawah normal, timbul pada masa perkembangan/dibawah usia 18 tahun, berakibat lemahnya proses belajar dan adaptasi sosial (D.S.M/Budiman M, 1991). 2.2 Etiologi Penyebab kelainan mental ini adalah faktor keturunan (genetik) atau tak jelas sebabnya (simpleks). Keduanya disebut retardasi mental primer. Sedangkan faktor sekunder disebabkan oleh faktor luar yang berpengaruh terhadap otak bayi dalam kandungan atau anak-anak. Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu :
• Akibat infeksi atau intoksikasi. Dalam Kelompok ini termasuk keadaan retardasi

mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi intrakranial, karena serum, obat atau zat toksik lainnya.

• Akibat rudapaksa atau disebabkan fisik lain. Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan dengan retardasi mental. Rudapaksa sesudah lahir tidak begitu sering mengakibatkan retardasi mental. • Akibat gangguan metabolisme, pertumbuhan atau gizi. Semua retardasi mental yang langsung disebabkan oleh gangguan metabolisme (misalnya gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini. • Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun sangat memepngaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini biarpun anak itu diberikan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan. • Akibat penyakit otak yang nyata (postnatal). Dalam kelompok ini termasuk retardasi mental akibat neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif. • Akibat penyakit/pengaruh pranatal yang tidak jelas. Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk anomali kranial primer dan defek kogenital yang tidak diketahui sebabnya.
• Akibat kelainan kromosom. Kelainan kromosom mungkin terdapat dalam jumlah atau

dalam bentuknya. Hal ini mencakup jumlah terbesar dari penyebab genetic dan paling sering adalah trisomi yang melibatkan kromosom tambahan, misalnya 47 dibandingkan keadaan normal sebesar 46. Kelainan kromosom seks, seperti sindroma Klinefeker (XXY), sindroma Turner dan berbagai mosaic, dapat juga berkaitan dengan retardasi mental. • Akibat prematuritas. Kelompok ini termasuk retardasi mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram atau dengan masa hamil kurang dari 38 minggu serta tidak terdapat sebab-sebab lain seperti dalam sub kategori sebelum ini. • Akibat gangguan jiwa yang berat. Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak.

• Akibat deprivasi psikososial. Retardasi mental dapat disebabkan oleh fakor – faktor biomedik maupun sosiobudaya. 2.3 Manifestasi klinis Retardasi mental bukanlah suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan fungsi adaptif. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. Hasil bagi intelegensi (IQ = “Intelligence Quotient”) bukanlah merupakan satusatunya patokan yang dapat dipakai untuk menentukan berat ringannya retardasi mental. Sebagai kriteria dapat dipakai juga kemampuan untuk dididik atau dilatih dan kemampuan sosial atau kerja. Tingkatannya mulai dari taraf ringan, sedang sampai berat, dan sangat berat. Klasifikasi retardasi mental menurut DSM-IV-TR yaitu : 1. Retardasi mental berat sekali IQ dibawah 20 atau 25. Sekitar 1 sampai 2 % dari orang yang terkena retardasi mental.
2. Retardasi mental berat IQ sekitar 20-25 sampai 35-40. Sebanyak 4 % dari orang yang

terkena retardasi mental.
3. Retardasi mental sedang IQ sekitar 35-40 sampai 50-55. Sekitar 10 % dari orang yang

terkena retardasi mental.
4. Retardasi mental ringan IQ sekitar 50-55 sampai 70. Sekitar 85 % dari orang yang

terkena retardasi mental. Pada umunya anak-anak dengan retardasi mental ringan tidak dikenali sampai anak tersebut menginjak tingkat pertama atau kedua disekolah. Tingkat Kisaran IQ Kemampuan Prasekolah Ringan 52-68 Usia Kemampuan Usia Kemampuan Sekolah Dewasa (21 tahun keatas) Biasanya bisa mencapai yg stres Masa

(sejak lahir-5 tahun) (6-20 tahun) • Bisa membangun • Bisa kemampuan sosial komunikasi • Koordinasi otot sedikit terganggu & mempelajari

pelajaran kelas kemampuan kerja & 6 pada akhir bersosialisasi usia tahun mengalami belasan cukup, tetapi ketika

• Seringkali terdiagnosis

tidak

• Bisa dibimbing sosial

sosial ke ekonomi,

ataupun

arah pergaulan memerlukan bantuan • Bisa dididik • Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial otot pekerjaan • Bisa sendiri belajar di bepergian tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik &

Moderat

36-51

• Bisa berbicara & belajar berkomunikasi • Kesadaran sosial kurang • Koordinasi cukup

• Bisa sendiri

memenuhi dengan yg terlatih

kebutuhannya melakukan pekerjaan semi dibawah pengawasan • Memerlukan pengawasan mengalami sosial ekonomi & stres yg bimbingan ketika maupun tidak terlatih atau

Berat

20-35

• Bisa mengucapkan beberapa kata • Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri • Tidak ekspresif hanya sedikit • Koordinasi otot memiliki atau kemampuan

• Bisa berbicara atau • Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana belajar berkomunikasi

ringan • Bisa memelihara diri dibawah pengawasan • Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali sendiri

Sangat berat

19 kurang

atau

jelek • Sangat terbelakang • Koordinasi ototnya sekali • Mungkin memerlukan perawatan khusus sedikit

• Memiliki beberapa koordinasi otot • Kemungkinan tidak berjalan berbicara dapat atau

• Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara • Bisa merawat diri tetapi terbatas • Memerlukan perawatan khusus sangat

PNP Resiko Cedera

Defisit perawatan diri

Agresifitas

Retardasi Mental

Ganggaun interaksi sosial Gangguan tumbang Gangguan komunikasi

Kelainan kognitif

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian

A. Tanda dan gejala : • Mengenali sindrom seperti adanya DW atau mikrosepali
• Adanya kegagalan perkembangan yang merupakan indikator :

RM seperti

anak RM berat biasanya mengalami kegagalan perkembangan pada tahun pertama kehidupannya, terutama psikomotor; RM sedang memperlihatkan penundaan pada kemampuan bahasa dan bicara, dengan kemampuan motorik normal-lambat, biasanya terjadi pada usia 2-3 tahun; RM ringan biasanya terjadi pada usia sekolah dengan memperlihatkan kegagalan anak untuk mencapai kinerja yang diharapkan. • Gangguan neurologis yang progresif • Tingkatan/klasifikasi RM (APA dan Kaplan; Sadock dan Grebb, 1994) 1. Ringan ( IQ 52-69; umur mental 8-12 tahun) Karakteristik :
a. Usia presekolah tidak tampak sebagai anak RM, tetapi terlambat dalam

kemampuan berjalan, bicara , makan sendiri, dll
b. Usia sekolah, dpt melakukan ketrampilan, membaca dan aritmatik dengan

pendidik khusus, diarahkan pada kemampuan aktivitas sosial.
c. Usia

dewasa,

melakukan

ketrampilan

sosial

dan

vokasional,

diperbolehkan menikah tidak dianjurkan memiliki anak. Ketrampilan psikomotor tidak berpengaruh kecuali koordinasi. 2. Sedang ( IQ 35- 40 hingga 50 - 55; umur mental 3 - 7 tahun)

Karakteristik : a. Usia presekolah, kelambatan terlihat pada perkembangan motorik, terutama bicara, respon saat belajar dan perawatan diri.
b. Usia sekolah, dapat mempelajari komunikasi sederhana, dasar kesehatan,

perilaku aman, serta ketrampilan mulai sederhana, Tidak ada kemampuan membaca dan berhitung.
c. Usia dewasa, melakukan

aktivitas latihan tertentu, berpartisipasi dlm

rekreasi, dapat melakukan perjalanan sendiri ke tempat yang dikenal, tidak bisa membiayai sendiri. 3. Berat ( IQ 20-25 s.d. 35-40; umur mental < 3 tahun) Karakteristik :
a. Usia

prasekolah

kelambatan

nyata

pada

perkembangan

motorik,

kemampuan komunikasi sedikit bahkan tidak ada, bisa berespon dalam perawatan diri tingkat dasar seperti makan.
b. Usia sekolah, gangguan spesifik dalam kemampuan berjalan, memahami

sejumlah komunikasi/berespon, membantu bila dilatih sistematis.
c. Usia dewasa, melakukan kegiatan rutin dan aktivitas berulang, perlu

arahan berkelanjutan dan protektif lingkungan, kemampuan bicara minimal, meggunakan gerak tubuh. 4. Sangat Berat ( IQ dibawah 20-25; umur mental seperti bayi) Karakteristik :
a. Usia prasekolah retardasi mencolok, fungsi Sensorimotor minimal, butuh

perawatan total. b. Usia sekolah, kelambatan nyata di semua area perkembangan,

memperlihatkan respon emosional dasar, ketrampilan latihan kaki, tangan dan rahang. Butuh pengawas pribadi. Usia mental bayi muda.

c. Usia dewasa, mungkin bisa berjalan, butuh perawatan total, biasanya

diikuti dengan kelainan fisik.

B. Pemeriksaan fisik : • • Kepala : Mikro/makrosepali, plagiosepali (btk kepala tdk simetris) Rambut : Pusar ganda, rambut jarang/tdk ada, halus, mudah putus dan cepat berubah • • Mata : mikroftalmia, juling, nistagmus, dll Hidung : jembatan/punggung hidung mendatar, ukuran kecil, cuping melengkung ke atas, dll • Mulut : bentuk “V” yang terbalik dari bibir atas, langit-langit lebar/melengkung tinggi • • • • • Geligi : odontogenesis yang tdk normal Telinga : keduanya letak rendah; dll Muka : panjang filtrum yang bertambah, hipoplasia Leher : pendek; tdk mempunyai kemampuan gerak sempurna Tangan : jari pendek dan tegap atau panjang kecil meruncing, ibujari gemuk dan lebar, klinodaktil, dll • • • Dada & Abdomen : tdp beberapa putting, buncit, dll Genitalia : mikropenis, testis tidak turun, dll Kaki : jari kaki saling tumpang tindih, panjang & tegap/panjang kecil meruncing diujungnya, lebar, besar, gemuk

C. Pemeriksaan penunjang

• Pemeriksaan kromosom • Pemeriksaan urin, serum atau titer virus
• Test diagnostik spt : EEG, CT Scan untuk identifikasi abnormalitas

perkembangan jaringan otak, injury jaringan otak atau trauma yang mengakibatkan perubahan.

3.2

Diagnosa
• •

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d kelainan fungsi kognitif Gangguan komunikasi verbal b.d kelainan fungsi kognitif Risiko cedera b.d. perilaku agresif/ketidakseimbangan mobilitas fisik Gangguan interaksi sosial b.d. kesulitan bicara /kesulitan adaptasi sosial Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak RM Defisit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik/kurangnya kematangan

• • • •

perkembangan

3.3 • •

Intervensi Kaji faktor penyebab gangguan perkembangan anak Identifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi

perkembangan anak yang optimal. • • • • Berikan perawatan yang konsisten Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil Berikan intruksi berulang dan sederhana Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak

• • •

Dorong anak melakukan perawatan sendiri Manajemen perilaku anak yang sulit Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok Ciptakan lingkungan yang aman

3.4

Implementasi

Pendidikan Pada Orangtua : • •

Perkembangan anak untuk tiap tahap usia Dukung keterlibatan orangtua dalam perawatan anak Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok, dll

3.5

Evaluasi

• •

Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya Keluarga dan anak mampu menggunakan koping thd tantangan karena adanya

ketidakmampuan

Keluarga mampu mendapatkan sumber-sumber sarana komunitas

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Retardasi mental dapat didefinisikan sebagai keterbatasan dalam kecerdasan yang mengganggu adaptasi normal terhadap lingkungan. Retardasi mental menurut penyebabnya, yaitu akibat infeksi, ruda paksa, gangguan metabolisme, penyakit otak post natal, gangguan gizi yang berat dan berlangsung lama sebelum umur 4 tahun, pengaruh penyakit pra natal yang tidak jelas, kelainan kromosom, prematuritas, gangguan jiwa berat, deprifasi psikososial.

DAFTAR PUSTAKA

Atmaja, Dwi Arifin, S. Kep. Asuhan Keperawatan Anak Dengan Retardasi Mental, 09-032010. Duniaqu, Keterbelakangan mental, 21-03-2010. Medicafarma, Retardasi Mental, 18-03-2010. Retardasi mental (RM) « Idmgarut’s Blog.htm, 21-03-2010. Retardasi mental, Scribd, 12-03-2010. Wong, L. Donna, 2005, Keperawatan Pediatrik, Jakarta : EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->