P. 1
Jazirah Arab

Jazirah Arab

|Views: 1,752|Likes:
Published by kangjo

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: kangjo on Apr 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/16/2013

pdf

text

original

Jazirah arab ialah sebuah tanah semenanjung terletak di bagian barat daya benua Asia, tanah ini terkenal

dengan nama jazirah Arab atau pulau Arab, walaupun masih bertali dengan daratan benua Asia. Karena ia dilingkupi oleh lautan dari tiga segi, yaitu lautan Merah, lautan Hindia, lautan Oman dan selat Persia. Jazirah Arab terbagi atas dua bagian yaitu, bagian tengah dan bagian tepi. Bagian tengah terbagi atas dua yaitu: bagian utara disebut "Najed" dan bagian selatan disebut "al-Ahqof". Pada jazirah arab bagian tengah terdiri dari tanah pegunungan yang amat jarang dituruni hujan. Penduduknyapun sedikit sekali, yaitu terdiri dari kaum pengembara yang berpindah-pindah tempat menuruti turunnya hujan, dan mencari padang-padang yang ditumbuhi rumput tempat mengembala binatang ternaknya. Sedanngkan pada jazirah Arab bagian tepi, hujan turun dengan teratur. Oleh karena itu penduduknya tidak mengembara, melainkan menetap di tempatnya. Mereka mendirikn kota-kota dan kerajaan-kerajaan dan sempat pula membina berbagai kebudayan. II. PEMBAHASAN A. Kondisi Politik Ahli sejarah membagi penduduk jazirah arab menjadi dua yaitu Arab Baidah dan Arab Baqiyah. Ø Arab Baidah yaitu orang-orang arab yang telah lenyap jejaknya. Dan tidak dikethui lagi kecuali karena tersebut dalam kitab-kitab suci, seperti kaum Ad dan kaum Tsamud. Ø Arab Baqiyah (Arab Lestari), yaitu orng-orang Arab yang masih terdapat jejaknya.

Dinegeri-negeri Jazirah Arab telah berdiri beberapa kerajaan yang sifatnya dan bentuknya dua macam:
1

Ø Kerjaan yang bermahkota, tetapi tunduk pada kerajaan lain (mendapat otonomi dalm negeri). Ø Kerjaan tidak bermahkota, tetapi mempunyai kemerdekaan penuh. Ia juga mempunyai apa yang dipunyai oleh kerajaan-kerajaan sebenarnya. Kerajaan yang bermahkota sangat banyak, diantaranya yaitu :

1. Kerajaan Makyam, kerajaan ini terletak diselatan arabia yaitu didaerah Yaman. 2. Kerajaan Saba', kerajaan ini juga berdiri didaerah Yaman yang pada waktu itu kerajaan Saba' ini menggantikan kerajaan Makyam. Kerajan Saba' mulai berdiri tahun 950 SM. Mula berdirinya merupakan satu kerajaan kecil saja, kemudian bertambah besar dan luas. Sementara itu Kerajan Makyam dan Quthban semakin kecil dan lemah. Akhirnya roboh dan dikuasai Kerajaan Saba' dan Kerajaan Saba' berdiri sampai tahuhn 115 SM. 3. Kerajaan Himyar, berdiri mulai Kerajaan Saba' mulai lemah. Kelemahan kerajaan Saba' memberi kesempatan bagi kerajaan Himyar untuk tumbuh dan berkembang dengan pesat hingga akhirnya kerajaan Himyar dapat menguasai kerajaan Saba'. 4. Kerajaan Hirah, sejarah keamiran Hirah ini mulai sejak abad 111 M. dan terus berdiri sampai lahirnya Islam. Kerajaan ini telah berjasa juga terhadap kebudayaan Arab,

2

karena warga negaranya, banyak mengadakan perjalanan -perjalanan diseluruh jazirah Arab terutama untuk berniaga, dalam pada itu mereka juga menyiarkan kepandaian menulis dan membaca. Karena itu mereka dapat dianggap sebagai pennyiar ilmu pengetahuan di jazirah Arab. 5. Kerajaan Ghassan, nama Ghassan itu berasal dari mata air di Syam yang disebut " Ghassan". Kaum Ghassan memerintah dibagian selatan dari negeri Syam dan dibagian utara dari jazirah Arab. Mereka telah mempunyai kebuayaan yang tinggi, dan menganut agama Masehi yang diterimanya dari bangsa Romawi dan merekalah yang memasukkan agama Masehi itu ke jazirah Arab. 6. Hijaz, Hijaz berbeda dengan negeri-negeri arab yang lain, telah dapat menjaga kemerdekaannya. Tidak pernah negeri Hijaz dijajah, diduduki dan dipengaruhi negara-nagara asing. Hal itu disebabkan oleh letak dan kemiskinan negerinya, sehingga tidak menimbulkan keinginan pada negara-negara lain untuk menjajahnya. 7. Mekkah, yaitu kota tempat berdirinya Ka'bah. Dikeliling Ka'bah didirikan berbagai patung untuk disembah sebagai Tuhan orang-orang Arab. Pada mulanya Mekkah dan Ka'bah dikuasai oleh Nabi Ismail, kemudian putra sulungnya Nabit, kemudian oleh penguasa-penguasa dari kabilah Jurhum. Kemudian kabilah Jurhum diganti oleh kabilah Khuza'ah, yang datang dari Yaman setelah runtuhnya bendungan Ma'rib, dan berkusa di Mekkah selama 300 th. Dalam periode ini mereka banyk membuat kesalahan, terutama dalam bidang agama.

3

Dalam abad V M, kaum Quraisy merebut pimpinan Mekkah dan Ka'bah dari Khuza'ah. Dibawah pimpinan kaum Quraisy Mekkah menjadi maju. Untuk mengurus Mekkah dan sekitarnya, didirikanlah semacam pemerintahan oleh kaum Quraisy. Pada zaman Abdul Muthalib Mekkah lebih maju dan telaga Zam-Zam disempurnakan pemugarannya yaitu dalam tahun 540 M. B. Kondisi Sosial

Ada dua cara dalam mempelajari syair Arab dimasa Jahiliyah, kedua cara itu sangat besar faedahnya :

Ø Mempelajari syair itu sebagai suatu kesenian, yang oleh bangsa Arab sangat dihargai.

Ø Mempelajari syair itu dengan maksud, supaya kita dapat mengetahui adat istiadat dan budi pekerti bangsa Arab.

Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang amat dihargai dan dimulyakan oleh bangsa Arab. Mereka amat gemar berkumpul mengelilingi penyir-penyair, untuk mendengarkan syair-syair mereka.

4

Ada beberapa pasar tempat penyair-penyair berkumpul, yaitu : Pasar Ukaz, Majinnah, dan Zul Majas. Dipasar-pasar itu penyir-penyair memperdengarkan syairnya yang telah disiapkannya untuk maksud itu, dengan di kelilingi oleh warga sukunya; yang memuji dan merasa bangga dengan penyair-penyair mereka. Dipilihlah diantara syair-syair itu yang terbagus, lalu digantungkan di Ka'bah tidak jauh dari patung dewa-dewa pujaan mereka.Seorang penyair mempunyai kedudukan yang sangat amat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab.Salah satu pengaruh dari syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seorang yang tadinya hina, atau sebaliknya, dapat menghina-dinakan seseorang yang tadinya mulia.

Sebagai contoh dapat kita sebutkan disini Abdul 'Uzza Ibnu 'Amir, dia adalah seorang yang hidupnya melarat dan putri-putrinya banyak, akan tetapi tidak ada pemuda-pemuda yang mau memperistri mereka. Kemudian dia dipuji oleh al A'sya seorang penyair ulung. Syair al A'sya yang berisi pujian itu tersiar kemana-mana. Dengan demikian menjadi masyhurlah Abdul 'Uzza itu; penghidupanya menjadi baik, maka berebutlah pemuda-pemuda meminang putri-putrinya. Itulah syair dan demikianlah pengaruhnya, syair itu sebagai suatu seni yang telah menggambarkan kehidupan, budi pekerti, dan adat istiadat bangsa Arab.

Syair-syair dari penyair-penyair yang hidup dimasa Jahiliyah menjadi sumber yang terpenting bagi sejarah bangsa Arab sebelum Islam. Syair-syair dapat menggambarkan kehidupan bangsa Arab dimasa Jahiliyyah. Orang yang membaca syair Arab, akan melihat kehidupan bangsa Arab tergambar dengan jelas pada syair itu. Dia akan melihat padang pasir kemah-kemah tempat permainan dan sumbersumber air. Dia akan mendengar tutur kata pemimpin-pemimpin laki-laki dan wanita.
5

Di akan mendengar bunyi kuda dan gemerincingan pedang. Syair itu akan mengisahkan kepadanya peperangan-peperangan, adat istidat dan budi pekerti bangsa Arab, dan banyak lagi hal-hal lain yang syair Arab Jahiliyah itu adalah sumber untuk mengetahuinya.

C. Kondisi Agama

Ada perlainan pendapat dalam kalangan ahli-ahli sejarah agama tentang menentukan keadaan keadaan yang menolong bagi pertumbuhan dan perkembangan naluri beragama itu.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa naluri beragama akan tumbuh dan berkembang, bila fikiran telah maju dan kecerdasan tinggi; bila manusia telah sampai kepada taraf berfikir tentang dirinya, bagaimana dirinya itu dijadikan, tenaga-tenaga dan daya-daya apa yang ada pada dirinya itu, bagaimana dia dapat melihat dan mendengar dan sebagainya.

Sedang sebagian lain berpendapat bahwa naluri beragama itu tumbuh dan berkembang, dimana perbedaan gejala-gejala alam amat jelas kelihatannya, dimana manusia merasa lemah berhadapan dengan gejala-gejala alam itu, maka timbullah keinginannya hendak meminta pertolongan atau meminta perlindungan kepada gejalagejala alam itu. Beginilah halnya manusia primitif ; dikala mereka melihat hujan, angin, penyakit, maut, binatang-binatang buas, mereka merasakan kelemahan mereka maka oleh karena itu dicarilah perlindungan. Juga terdapat dari bekas-bekas zaman
6

purbakala itu telah dapat diketahui orang, apakah agama yang dipeluk pada masa itu. Rupanya mereka juga menyembah bulan dan matahari, mereka sifatkan kedua benda itu dengan bermacam-macam sifat, mereka sembah. Barang kali lantaran dialah penerang yang utama alam ini, dan bintang-bintang adalah sebagai pahlawanpahlawan wakil Tuhan Matahari.

Penyelidikan-penyelidikan ilmiah telah menunjukkan bahwa jazirah Arab yang sekarang merupakan padang pasir yang tandus, dahulunya adalah bumi yang subur dan hijau, yang telah menganugerahkan kepada penduduknya berbagai macam kemakmuran. Oleh karena itu amat boleh jadi perasaan keagamaan telah timbul pada bangsa Arab semenjak zaman yang disebutkan. Dikatakan demikian karena semangat beragama amat kuat pada bangsa Arab, hal ini adalah nyata dan tidak diragukan lagi, serta dapat disaksikan setiap hari.

Bangsa Arab adalah salah satu dari bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk. Mereka mengikuti agama Nabi Ibrahim, setelah Nabi Ibrahim melarikan dii dari kaumnya yang hendak membakar dengan api, karena beliau mengingkari dan melawan dewa-dewa mereka.

Tetapi bangsa Arab setelah mengikuti Nabi Ibrahim lantas kembali lagi menyembah berhala. Berhala-berhala itu mereka buat dari batu dan ditegakkan di Ka'bah. Dengan demikian agama Nabi Ibrahim bercampur-aduklah dengan kepercayaan Watsani, dan hampir-hampir kepercayaan Watsani itu dapat mengalahkan agama Nabi Ibrahim, atau benar-benar agama Nabi Ibrahim telah kalah

7

oleh kepercayaan Watsani.

D. Kesimpulan

1. Sebelum Islam datang dijazirah Arab sudah berdiri kerajaan-kerajaan dan membentuk peradapan. Peradapan yang terus berkembang dan maju. 2.

Kondisi sosial bangsa arab menjadikan syair sebagai kesenian dan sebagai penjelmaan adat istiadat bangsa Arab, watak, dan kondisi sosil mereka. 3. bangsa Arab sebelum Islam telah mempunyai kepercayaan dengan melihat fenomena alam dan menjadikannya sebagai Dewa seperti hujan, petir, gempa bumi dan sebagainya. Juga menjadikan benda-benda langit sebagai Dewa dan menyembahnya seperti Matahari, Bulan dan Bintang.

ttp://indonesia-admin.blogspot.com/2010/02/kondisi-sosial-politik-dan-agamaarab.html

8

BAGIAN PERTAMA: ARAB PRA-ISLAM Muhammad Husain Haekal

Kedua kekuatan yang sekarang sedang berhadap-hadapan itu ialah: kekuatan Kristen dan kekuatan Majusi, kekuatan Barat berhadapan dengan kekuatan Timur. Bersamaan dengan itu kekuasaan-kekuasaan kecil yang berada dibawah pengaruh kedua kekuatan itu, pada awal abad keenam berada di sekitar jazirah Arab. Kedua kekuatan itu masing-masing mempunyai hasrat ekspansi dan penjajahan. Pemuka-pemuka kedua agama itu masing-masing berusaha sekuat tenaga akan menyebarkan agamanya ke atas kepercayaan agama lain yang sudah dianutnya. Sungguhpun demikian jazirah itu tetap seperti sebuah oasis yang kekar tak sampai terjamah oleh peperangan, kecuali pada beberapa tempat di bagian pinggir saja, juga tak sampai terjamah oleh penyebaran agama-agama Masehi atau Majusi, kecuali sebagian kecil saja pada beberapa kabilah. Gejala demikian ini dalam sejarah kadang tampak aneh kalau tidak kita lihat letak dan iklim jazirah itu serta pengaruh keduanya terhadap kehidupan penduduknya, dalam aneka macam perbedaan dan persamaan serta kecenderungan hidup mereka masing-masing.

Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak parallelogram. Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam, ke sebelah timur

9

Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia, ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah. Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari utara padang sahara dan dari timur padang sahara dan Teluk Persia. Akan tetapi bukan rintangan itu saja yang telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan penjajahan dan penyebaran agama, melainkan juga karena jaraknya yang berjauh-jauhan. Panjang semenanjung itu melebihi seribu kilometer, demikian juga luasnya sampai seribu kilometer pula. Dan yang lebih-lebih lagi melindunginya ialah tandusnya daerah ini yang luar biasa hingga semua penjajah merasa enggan melihatnya. Dalam daerah yang seluas itu sebuah sungaipun tak ada. Musim hujan yang akan dapat dijadikan pegangan dalam mengatur sesuatu usaha juga tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang terletak di sebelah selatan yang sangat subur tanahnya dan cukup banyak hujan turun, wilayah Arab lainnya terdiri dari gunung-gunung, dataran tinggi, lembah-lembah tandus serta alam yang gersang. Tak mudah orang akan dapat tinggal menetap atau akan memperoleh kemajuan. Samasekali hidup di daerah itu tidak menarik selain hidup mengembara terus-menerus dengan mempergunakan unta sebagai kapalnya di tengah-tengah lautan padang pasir itu, sambil mencari padang hijau untuk makanan ternaknya, beristirahat sebentar sambil menunggu ternak itu menghabiskan makanannya, sesudah itu berangkat lagi mencari padang hijau baru di tempat

10

lain. Tempat-tempat beternak yang dicari oleh orang-orang badwi jazirah biasanya di sekitar mata air yang menyumber dari bekas air hujan, air hujan yang turun dari celah-celah batu di daerah itu. Dari situlah tumbuhnya padang hijau yang terserak di sana-sini dalam wahah-wahah yang berada di sekitar mata air.

Sudah wajar sekali dalam wilayah demikian itu, yang seperti Sahara Afrika Raya yang luas, tak ada orang yang dapat hidup menetap, dan cara hidup manusia yang biasapun tidak pula dikenal. Juga sudah biasa bila orang yang tinggal di daerah itu tidak lebih maksudnya hanya sekadar menjelajahinya dan menyelamatkan diri saja, kecuali di tempat-tempat yang tak seberapa, yang masih ditumbuhi rumput dan tempat beternak. Juga sudah sewajarnya pula tempat-tempat itu tetap tak dikenal karena sedikitnya orang yang mau mengembara dan mau menjelajahi daerah itu. Praktis orang zaman dahulu tidak mengenal jazirah Arab, selain Yaman. Hanya saja letaknya itu telah dapat menyelamatkan dari pengasingan dan penghuninyapun dapat bertahan diri.

Pada masa itu orang belum merasa begitu aman mengarungi lautan guna mengangkut barang dagangan atau mengadakan pelayaran. Dari peribahasa Arab yang dapat kita lihat sekarang menunjukkan, bahwa ketakutan orang menghadapi laut sama

11

seperti dalam menghadapi maut. Tetapi, bagaimanapun juga untuk mengangkut barang dagangan itu harus ada jalan lain selain mengarungi bahaya maut itu. Yang paling penting transpor perdagangan masa itu ialah antara Timur dan Barat: antara Rumawi dan sekitarnya, serta India dan sekitarnya. Jazirah Arab masa itu merupakan daerah lalu-lintas perdagangan yang diseberanginya melalui Mesir atau melalui Teluk Persia, lewat terusan yang terletak di mulut Teluk Persia itu. Sudah tentu wajar sekali bilamana penduduk pedalaman jazirah Arab itu menjadi raja sahara, sama halnya seperti pelaut-pelaut pada masa-masa berikutnya yang daerahnya lebih banyak dikuasai air daripada daratan, menjadi raja laut. Dan sudah wajar pula bilamana raja-raja padang pasir itu mengenal seluk-beluk jalan para kafilah sampai ke tempat-tempat yang berbahaya, sama halnya seperti para pelaut, mereka sudah mengenal garis-garis perjalanan kapal sampai sejauh-jauhnya. "Jalan kafilah itu bukan dibiarkan begitu saja," kataHeeren, "tetapi sudah menjadi tempat yang tetap mereka lalui. Di daerah padang pasir yang luas itu, yang biasa dilalui oleh para kafilah, alam telah memberikan tempat-tempat tertentu kepada mereka, terpencar-pencar di daerah tandus, yang kelak menjadi tempat mereka beristirahat. Di tempat itu, di bawah naungan pohon-pohon kurma dan di tepi air tawar yang mengalir di sekitarnya, seorang pedagang dengan binatang bebannya dapat menghilangkan haus dahaga sesudah perjalanan yang melelahkan

12

itu. Tempat-tempat peristirahatan itu juga telah menjadi gudang perdagangan mereka, dan yang sebagian lagi dipakai sebagai tempat penyembahan, tempat ia meminta perlindungan atas barang dagangannya atau meminta pertolongan dari tempat itu."1

Lingkungan jazirah itu penuh dengan jalan kafilah. Yang penting di antaranya ada dua. Yang sebuah berbatasan dengan Teluk Persia, Sungai Dijla, bertemu dengan padang Syam dan Palestina. Pantas jugalah kalau batas daerah-daerah sebelah timur yang berdekatan itu diberi nama Jalan Timur. Sedang yang sebuah lagi berbatasan dengan Laut Merah; dan karena itu diberi nama Jalan Barat. Melalui dua jalan inilah produksi barang-barang di Barat diangkut ke Timur dan barang-barang di Timur diangkut ke Barat. Dengan demikian daerah pedalaman itu mendapatkan kemakmurannya.

Akan tetapi itu tidak menambah pengetahuan pihak Barat tentang negeri-negeri yang telah dilalui perdagangan mereka itu. Karena sukarnya menempuh daerah-daerah itu, baik pihak Barat maupun pihak Timur sedikit sekali yang mau mengarunginya kecuali bagi mereka yang sudah biasa sejak masa mudanya. Sedang mereka yang berani secara untung-untungan mempertaruhkan nyawa banyak yang hilang secara sia-sia di tengah-tengah padang tandus itu. Bagi orang yang sudah biasa

13

hidup mewah di kota, tidak akan tahan menempuh gunung-gunung tandus yang memisahkan Tihama dari pantai Laut Merah dengan suatu daerah yang sempit itu. Kalaupun pada waktu itu ada juga orang yang sampai ke tempat tersebut - yang hanya mengenal unta sebagai kendaraan - ia akan mendaki celah-celah pegunungan yang akhirnya akan menyeberang sampai ke dataran tinggi Najd yang penuh dengan padang pasir. Orang yang sudah biasa hidup dalam sistem politik yang teratur dan dapat menjamin segala kepuasannya akan terasa berat sekali hidup dalam suasana pedalaman yang tidak mengenal tata-tertib kenegaraan. Setiap kabilah, atau setiap keluarga, bahkan setiap pribadipun tidak mempunyai suatu sistiem hubungan dengan pihak lain selain ikatan keluarga atau kabilah atau ikatan sumpah setia kawan atau sistem jiwar (perlindungan bertetangga) yang biasa diminta oleh pihak yang lemah kepada yang lebih kuat.

Pada setiap zaman tata-hidup bangsa-bangsa pedalaman itu memang berbeda dengan kehidupan di kota-kota. Ia sudah puas dengan cara hidup saling mengadakan pembalasan, melawan permusuhan dengan permusuhan, menindas yang lemah yang tidak mempunyai pelindung. Keadaan semacam ini tidak menarik perhatian orang untuk membuat penyelidikan yang lebih dalam.

Oleh karena itu daerah Semenanjung ini tetap tidak dikenal

14

dunia pada waktu itu. Dan barulah kemudian - sesudah Muhammad s.a.w. lahir di tempat tersebut - orang mulai mengenal sejarahnya dari berita-berita yang dibawa orang dari tempat itu, dan daerah yang tadinya samasekali tertutup itu sekarang sudah mulai dikenal dunia.

Tak ada yang dikenal dunia tentang negeri-negeri Arab itu selain Yaman dan tetangga-tetangganya yang berbatasan dengan Teluk Persia. Hal ini bukan karena hanya disebabkan oleh adanya perbatasan Teluk Persia dan Samudera Indonesia saja, tetapi lebih-lebih disebabkan oleh - tidak seperti jazirah-jazirah lain - gurun sahara yang tandus. Dunia tidak tertarik, negara yang akan bersahabatpun tidak merasa akan mendapat keuntungan dan pihak penjajah juga tidak punya kepentingan. Sebaliknya, daerah Yaman tanahnya subur, hujan turun secara teratur pada setiap musim. Ia menjadi negeri peradaban yang kuat, dengan kota-kota yang makmur dan tempat-tempat beribadat yang kuat sepanjang masa. Penduduk jazirah ini terdiri dari suku bangsa Himyar, suatu suku bangsa yang cerdas dan berpengetahuan luas. Air hujan yang menyirami bumi ini mengalir habis menyusuri tanah terjal sampai ke laut. Mereka membuat Bendungan Ma'rib yang dapat menampung arus air hujan sesuai dengan syarat-syarat peradaban yang berlaku.

Sebelum di bangunnya bendungan ini , air hujan yang deras

15

terjun dari pegunungan Yaman yang tinggi-tinggi itu, menyusur turun ke lembah-lembah yang terletak di sebelah timur kota Ma'rib. Mula-mula air turun melalui celah-celah dua buah gunung yang terletak di kanan-kiri lembah ini, memisahkan satu sama lain seluas kira-kira 400 meter. Apabila sudah sampai di Ma'rib air itu menyebar ke dalam lembah demikian rupa sehingga hilang terserap seperti di bendungan-bendungan Hulu Sungai Nil. Berkat pengetahuan dan kecerdasan yang ada pada penduduk Yaman itu, mereka membangun sebuah bendungan, yaitu Bendungan Ma'rib. Bendungan ini dibangun daripada batu di ujung lembah yang sempit, lalu dibuatnya celah-celah guna memungkinkan adanya distribusi air ke tempat-tempat yang mereka kehendaki dan dengan demikian tanah mereka bertambah subur.

Peninggalan-peninggalan peradaban Himyar di Yaman yang pernah diselidiki - dan sampai sekarang penyelidikan itu masih diteruskan -menunjukkan, bahwa peradaban mereka pada suatu saat memang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali, juga sejarahpun menunjukkan bahwa Yaman pernah pula mengalami bencana.

Sungguhpun begitu peradaban yang dihasilkan dari kesuburan negerinya serta penduduknya yang menetap menimbulkan gangguan juga dalam lingkungan jazirah itu. Raja-raja Yaman kadang dari keluarga Himyar yang sudah turun-temurun, kadang juga dari

16

kalangan rakyat Himyar sampai pada waktu Dhu Nuwas al-Himyari berkuasa. Dhu Nuwas sendiri condong sekali kepada agama Musa (Yudaisma), dan tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa bangsanya. Ia belajar agama ini dari orang-orang Yahudi yang pindah dan menetap di Yaman. Dhu Nuwas inilah yang disebut-sebut oleh ahli-ahli sejarah, yang termasuk dalam kisah "orang-orang yang membuat parit," dan menyebabkan turunnya ayat: "Binasalah orang-orang yang telah membuat parit. Api yang penuh bahan bakar. Ketika mereka duduk di tempat itu. Dan apa yang dilakukan orang-orang beriman itu mereka menyaksikan. Mereka menyiksa orang-orang itu hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Mulia dan Terpuji." (Qur'an 85:4-8)

Cerita ini ringkasnya ialah bahwa ada seorang pengikut Nabi Isa yang saleh bernama Phemion telah pindah dari Kerajaan Rumawi ke Najran. Karena orang ini baik sekali, penduduk kota itu banyak yang mengikuti jejaknya, sehingga jumlah mereka makin lama makin bertambah juga. Setelah berita itu sampai kepada Dhu Nuwas, ia pergi ke Najran dan dimintanya kepada penduduk supaya mereka masuk agama Yahudi, kalau tidak akan dibunuh. Karena mereka menolak, maka digalilah sebuah parit dan dipasang api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam parit itu dan yang tidak mati karena api, dibunuhnya kemudian dengan pedang atau dibikin cacat. Menurut beberapa buku sejarah

17

korban pembunuhan itu mencapai duapuluh ribu orang. Salah seorang di antaranya dapat lolos dari maut dan dari tangan Dhu Nuwas, ia lari ke Rumawi dan meminta bantuan Kaisar Yustinianus atas perbuatan Dhu Nuwas itu. Oleh karena letak Kerajaan Rumawi ini jauh dari Yaman, Kaisar itu menulis surat kepada Najasyi (Negus) supaya mengadakan pembalasan terhadap raja Yaman. Pada waktu itu [abad ke-6] Abisinia yang dipimpin oleh Najasyi sedang berada dalam puncak kemegahannya. Perdagangan yang luas melalui laut disertai oleh armada yang kuat2 dapat menancapkan pengaruhnya sampai sejauh-jauhnya. Pada waktu itu ia menjadi sekutu Imperium Rumawi Timur dan yang memegang panji Kristen di Laut Merah, sedang Kerajaan Rumawi Timur sendiri menguasainya di bagian Laut Tengah.

Setelah surat Kaisar sampai ke tangan Najasyi, ia mengirimkan bersama orang Yaman itu - yang membawa surat - sepasukan tentara di bawah pimpinan Aryat (Harith) dan Abraha al-Asyram salah seorang prajuritnya. Aryat menyerbu Kerajaan Yaman atas nama penguasa Abisinia. Ia memerintah Yaman ini sampai ia dibunuh oleh Abraha yang kemudian menggantikan kedudukannya. Abraha inilah yang memimpin pasukan gajah, dan dia yang kemudian menyerbu Mekah guna menghancurkan Ka'bah tetapi gagal, seperti yang akan terlihat nanti dalam pasal berikut.

Anak-anak Abraha kemudian menguasai Yaman dengan tindakan

18

sewenang-wenang. Melihat bencana yang begitu lama menimpa penduduk, Saif bin Dhi Yazan pergi hendak menemui Maharaja Rumawi. Ia mengadukan hal itu kepadanya dan memintanya supaya mengirimkan penguasa lain dan Rumawi ke Yaman. Tetapi karena adanya perjanjian persekutuan antara Kaisar Yustinianus dengan Najasyi tidak mungkin ia dapat memenuhi permintaan Saif bin Dhi Yazan itu. Oleh karena itu Saif meninggalkan Kaisar dan pergi menemui Nu'man bin'l-Mundhir selaku Gubernur yang diangkat oleh Kisra untuk daerah Hira dan sekitarnya di Irak.3

Nu'man dan Saif bin Dhi Yazan bersama-sama datang menghadap Kisra Parvez. Waktu itu ia sedang duduk dalam Ruangan Resepsi (Iwan Kisra) yang megah dihiasi oleh lukisan-lukisan bimasakti pada bagian tahta itu. Di tempat musim dinginnya bagian ini dikelilingi dengan tabir-tabir dari bulu binatang yang mewah sekali. Di tengah-tengah itu bergantungan lampu-lampu kendil terbuat daripada perak dan emas dan diisi penuh dengan air tawar. Di atas tahta itulah terletak mahkotanya yang besar berhiaskan batu delima, kristal dan mutiara bertali emas dan perak, tergantung dengan rantai dari emas pula. Ia sendiri memakai pakaian serba emas. Setiap orang yang memasuki tempat itu akan merasa terpesona oleh kemegahannya. Demikian juga halnya dengan Saif bin Dhi Yazan.

Kisra menanyakan maksud kedatangannya itu dan Saifpun

19

bercerita tentang kekejaman Abisinia di Yaman. Sungguhpun pada mulanya Kisra Parvez ragu-ragu, tetapi kemudian ia mengirimkan juga pasukannya di bawah pimpinan Wahraz (Syahrvaraz?), salah seorang keluarga ningrat Persia yang paling berani. Persia telah mendapat kemenangan dan orang-orang Abisinia dapat diusir dari Yaman yang sudah didudukinya selama 72 tahun itu.

Sejak itulah Yaman berada di bawah kekuasaan Persia, dan ketika Islam lahir seluruh daerah Arab itu berada dalam naungan agama baru ini.

Akan tetapi orang-orang asing yang telah menguasai Yaman itu tidak langsung di bawah kekuasaan Raja Persia. Terutama hal itu terjadi setelah Syirawih (Shiruya Kavadh II) membunuh ayahnya, Kisra Parvez, dan dia sendiri menduduki takhta. Ia membayangkan - dengan pikirannya yang picik itu bahwa dunia dapat dikendalikan sekehendaknya dan bahwa kerajaannya membantu memenuhI kehendaknya yang sudah hanyut dalam hidup kesenangan itu. Masalah-masalah kerajaan banyak sekali yang tidak mendapat perhatian karena dia sudah mengikuti nafsunya sendiri. Ia pergi memburu dalam suatu kemewahan yang belum pernah terjadi Ia berangkat diiringi oleh pemuda-pemuda ningrat berpakaian merah, kuning dan lembayung, dikelilingi oleh pengiring-pengiring yang membawa burung elang dan harimau yang sudah dijinakkan dan ditutup moncongnya; oleh budak-budak

20

yang membawa wangi-wangian, oleh pengusir-pengusir lalat dan pemain-pemain musik. Supaya merasa dirinya dalam suasana musim semi sekalipun sebenarnya dalam musim dingin yang berat, ia beserta rombongannya duduk di atas permadani yang lebar dilukis dengan lorong-lorong, ladang dan kebun yang ditanami bunga-bungaan aneka warna, dan dilatarbelakangi oleh semak-semak, hutan hijau serta sungai-sungai berwarna perak.

Tetapi sungguhpun Syirawih begitu jauh mengikuti kesenangannya, kerajaan Persia tetap dapat mempertahankan kemegahannya, dan tetap merupakan lawan yang kuat terhadap kekuasaan Bizantium dan penyebaran Kristen. Sekalipun dengan naik tahtanya Syirawih ini telah mengurangi kejayaan kerajaannya, ia telah memberi kesempatan kepada kaum Muslimin memasuki negerinya dan menyebarkan Islam.

Yaman yang telah dijadikan gelanggang pertentangan sejak abad ke-4 itu sebenarnya telah meninggalkan bekas yang dalam sekali dalam sejarah Semenanjung Arab dari segi pembagian penduduknya. Disebutkan bahwa Bendungan Ma'rib yang oleh suku-bangsa Himyar telah dimanfaatkan untuk keuntungan negerinya, telah hancur pula dilanda banjir besar. Disebabkan oleh adanya pertentangan yang terus-menerus itu, lalailah mereka yang harus selalu mengawasi dan memeliharanya. Bendungan itu lapuk dan tidak tahan lagi menahan banjir.

21

Dikatakan juga, bahwa setelah Rumawi melihat Yaman menjadi pusat pertentangan antara kerajaannya dengan Persia dan bahwa perdagangannya terancam karena pertentangan itu, iapun menyiapkan armadanya menyeberangi Laut Merah - antara Mesir dengan negeri-negeri Timur yang jauh - guna menarik perdagangan yang dibutuhkan oleh negerinya. Dengan demikian tidak perlu lagi ia menempuh jalan kafilah.

Mengenai peristiwanya, ahli-ahli sejarah sependapat, tetapi mengenai sebab terjadinya peristiwa itu mereka berlainan pendapat. Peristiwanya ialah mengenai pindahnya kabilah Azd di Yaman ke Utara. Semua mereka sependapat tentang kepindahan ini, sekalipun sebagian menghubungkannya dengan sepinya beberapa kota di Yaman karena mundurnya perdagangan yang biasa melalui tempat itu. Yang lain menghubung-hubungkan kepada rusaknya bendungan Ma'rib, sehingga banyak di antara kabilah-kabilah yang pindah karena takut binasa. Tetapi apapun juga kejadiannya, namun adanya imigrasi ini telah menyebabkan Yaman jadi berhubungan dengan negeri-negeri Arab lainnya, suatu hubungan keturunan dan percampuran yang sampai sekarang masih dicoba oleh para sarjana menyelidikinya.

Apabila sistem politik di Yaman sudah menjadi kacau seperti yang dapat kita saksikan, yang disebabkan oleh keadaan y ang menimpa negeri itu serta dijadikannya tempat itu medan

22

pertarungan, maka struktur politik serupa itu tidak dikenal pada beberapa negeri Semenanjung Arab lainnya waktu itu. Segala macam sistem yang dapat dianggap sebagai suatu sistem politik seperti pengertian kita sekarang atau seperti pengertian negara-negara yang sudah maju pada masa itu, di daerah-daerah seperti Tihama, Hijaz, Najd dan sepanjang dataran luas yang meliputi negeri-negeri Arab, pengertian demikian itu belum dikenal. Anak negeri pada masa itu bahkan sampai sekarang adalah penduduk pedalaman yang tidak biasa di kota-kota. Mereka tidak betah tinggal menetap di suatu tempat. Yang mereka kenal hanyalah hidup mengembara selalu, berpindah-pindah mencari padang rumput dan menuruti keinginan hatinya. Mereka tidak mengenal hidup cara lain selain pengembaraan itu.

Seperti juga ditempat-tempat lain, disinipun dasar hidup pengembaraan itu ialah kabilah. Kabilah-kabilah yang selalu pindah dan mengembara itu tidak mengenal suatu peraturan atau tata-cara seperti yang kita kenal. Mereka hanya mengenal kebebasan pribadi, kebebasan keluarga dan kebebasan kabilah yang penuh. Sedang orang kota, atas nama tata-tertib mau mengalah dan membuang sebagian kemerdekaan mereka untuk kepentingan masyarakat dan penguasa, sebagai imbalan atas ketenangan dan kemewahan hidup mereka. Sedang seorang pengembara tidak pedulikan kemewahan, tidak betah dengan

23

ketenangan hidup menetap, juga tidak tertarik kepada apapun seperti kekayaan yang menjadi harapan orang kota - selain kebebasannya yang mutlak. Ia hanya mau hidup dalam persamaan yang penuh dengan anggota-anggota kabilahnya atau kabilah-kabilah lain sesamanya. Dasar kehidupannya ialah seperti makhluk-makhluk lain, mau survive, mau bertahan terus sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah kehormatannya yang sudah ditanamkan dalam hidup mengembara yang serba bebas itu.

Oleh karena itu, kaum pengembara tidak menyukai tindakan ketidak adilan yang ditimpakan kepada mereka. Mereka mau melawannya mati-matian, dan kalau tidak dapat melawan, ditinggalkannya tempat tinggal mereka itu, dan mereka mengembara lagi ke seluruh jazirah, bila memang terpaksa harus demikian.

Juga itu pula sebabnya, perang adalah jalan yang paling mudah bagi kabilah-kabilah ini bila harus juga timbul perselisihan yang tidak mudah diselesaikan dengan cara yang terhormat. Karena bawaan itu juga, maka tumbuhlah di kalangan sebagian besar kabilah-kabilah itu sifat-sifat harga diri, keberanian, suka tolong-menolong, melindungi tetangga serta sikap memaafkan sedapat mungkin dan semacamnya. Sifat-sifat ini akan makin kuat apabila semakin dekat ia kepada kehidupan pedalaman, dan akan makin hilang apabila semakin dekat ia

24

kepada kehidupan kota.

Seperti kita sebutkan, karena faktor-faktor ekonomi juga, baik Rumawi maupun Persia, hanya merasa tertarik kepada Yaman saja dari antara jazirah lainnya yang memang tidak mau tunduk itu. Mereka lebih suka meninggalkan tanah air daripada tunduk kepada perintah. Baik pribadi-pribadi atau kabilah-kabilah tidak akan taat kepada peraturan apapun yang berlaku atau kepada lembaga apapun yang berkuasa.

Sifat-sifat pengembaraan itu cukup mempengaruhi daerah yang kecil-kecil yang tumbuh di sekitar jaziarah karena adanya perdagangan para kafilah, seperti yang sudah kita terangkan. Daerah-daerah ini dipakai oleh para pedagang sebagai tempat beristirahat sesudah perjalanan yang begitu meletihkan. Di situ mereka bertemu dengan tempat-tempat pemujaan sang dewa guna memperoleh keselamatan bagi mereka serta menjauhkan marabahaya gurun sahara serta mengharapkan perdagangan mereka selamat sampai di tempat tujuan.

Kota-kota seperti Mekah, Ta'if, Yathrib dan yang sejenis itu seperti wahah-wahah (oase) yang terserak di celah-celah gunung atau gurun pasir, terpengaruh juga oleh sifat-sifat pengembaraan demikian itu. Dalam susunan kabilah serta cabang-cabangnya, perangai hidup, adat-istiadat serta

25

kebenciannya terhadap segala yang membatasi kebebasannya lebih dekat kepada cara hidup pedalaman daripada kepada cara-cara di kota, sekalipun mereka dipaksa oleh sesuatu cara hidup yang menetap, yang tentunya tidak sama dengan cara-hidup pedalaman. Dalam pembicaraan tentang Mekah dan Yathrib pada pasal berikut ini akan terlihat agak lebih terperinci.

Lingkungan masyarakat dalam alam demikian ini serta keadaan moral, politik dan sosial yang ada pada mereka, mempunyai pengaruh yang sama terhadap cara beragamanya. Melihat hubungannya dengan agama Kristen Rumawi dan Majusi Persia, adakah Yaman dapat terpengaruh oleh kedua agama itu dan sekaligus mempengaruhi kedua agama tersebut di jazirah Arab lainnya? Ini juga yang terlintas dalam pikiran kita, terutama mengenai agama Kristen. Misi Kristen yang ada pada masa itu sama giatnya seperti yang sekarang dalam mempropagandakan agama. Pengaruh pengertian agama dalam jiwa serta cara hidup kaum pengembara tidak sama dengan orang kota. Dalam kehidupan kaum pengembara manusia berhubungan dengan alam, ia merasakan adanya wujud yang tak terbatas dalam segala bentuknya. Ia merasa perlu mengatur suatu cara hidup antara dirinya dengan alam dengan ketak-terbatasannya itu. Sedang bagi orang kota ketak-terbatasan itu sudah tertutup oleh kesibukannya hari-hari, oleh adanya perlindungan masyarakat terhadap dirinya sebagai imbalan atas kebebasannya yang diberikan

26

sebagian kepada masyarakat, serta kesediaannya tunduk kepada undang-undang penguasa supaya memperoleh jaminan dan hak perlindungan. Hal ini menyebabkannya tidak merasa perlu berhubungan dengan yang di luar penguasa itu, dengan kekuatan alam yang begitu dahsyat terhadap kehidupan manusia. Hubungan jiwa dengan unsur-unsur alam yang di sekitarnya jadi berkurang.

Dalam keadaan serupa ini, apakah yang telah diperoleh Kristen dengan kegiatannya yang begitu besar sejak abad-abad permulaan dalam menyebarkan ajaran agamanya itu? Barangkali soalnya hanya akan sampai di situ saja kalau tidak karena adanya soal-soal lain yang menyebabkan negeri-negeri Arab itu, termasuk Yaman, tetap bertahan pada paganisma agama nenek-moyangnya, dan hanya beberapa kabilah saja yang mau menerima agama Kristen.

Manifestasi peradaban dunia yang paling jelas pada masa itu seperti yang sudah kita saksikan - berpusat di sekitar Laut Tengah dan Laut Merah. Agama-agama Kristen dan Yahudi bertetangga begitu dekat sekitar tempat itu. Kalau keduanya tidak memperlihatkan permusuhan yang berarti, juga tidak memperlihatkan persahabatan yang berarti pula. Orang-orang Yahudi masa itu dan sampai sekarang juga masih menyebut-nyebut adanya pembangkangan dan perlawanan Nabi Isa kepada agama

27

mereka. Dengan diam-diam mereka bekerja mau membendung arus agama Kristen yang telah mengusir mereka dari Palestina, dan yang masih berlindung dibawah panji Imperium Rumawi yang membentang luas itu.

Orang-orang Yahudi di negeri-negeri Arab merupakan kaum imigran yang besar, kebanyakan mereka tinggal di Yaman dan Yathrib. Di samping itu kemudian agama Majusi (Mazdaisma) Persia tegak menghadapi arus kekuatan Kristen supaya tidak sampai menyeberangi Furat (Euphrates) ke Persia, dan kekuatan moril demikian itu didukung oleh keadaan paganisma di mana saja ia berada. Jatuhnya Rumawi dan hilangnya kekuasaan yang di tangannya, ialah sesudah pindahnya pusat peradaban dunia itu ke Bizantium.

Gejala-gejala kemunduran berikutnya ialah bertambah banyaknya sekta-sekta Kristen yang sampai menimbulkan pertentangan dan peperangan antara sesama mereka. Ini membawa akibat merosotnya martabat iman yang tinggi ke dalam kancah perdebatan tentang bentuk dan ucapan, tentang sampai di mana kesucian Mariam: adakah ia yang lebih utama dari anaknya Isa Almasih atau anak yang lebih utama dari ibu - suatu perdebatan yang terjadi di mana-mana, suatu pertanda yang akan membawa akibat hancurnya apa yang sudah biasa berlaku.

28

Ini tentu disebabkan oleh karena isi dibuang dan kulit yang diambil, dan terus menimbun kulit itu di atas isi sehingga akhirnya mustahil sekali orang akan dapat melihat isi atau akan menembusi timbunan kulit itu.

Apa yang telah menjadi pokok perdebatan kaum Nasrani Syam, lain lagi dengan yang menjadi perdebatan kaum Nasrani di Hira dan Abisinia. Dan orang-orang Yahudipun, melihat hubungannya dengan orang-orang Nasrani, tidak akan berusaha mengurangi atau menenteramkan perdebatan semacam itu. Oleh karena itu sudah wajar pula orang-orang Arab yang berhubungan dengan kaum Nasrani Syam dan Yaman dalam perjalanan mereka pada musim dingin atau musim panas atau dengan orang-orang Nasrani yang datang dari Abisinia, tetap tidak akan sudi memihak salah satu di antara golongan-golongan itu. Mereka sudah puas dengan kehidupan agama berhala yang ada pada mereka sejak mereka dilahirkan, mengikuti cara hidup nenek-moyang mereka.

Oleh karena itu, kehidupan menyembah berhala itu tetap subur di kalangan mereka, sehingga pengaruh demikian inipun sampai kepada tetangga-tetangga mereka yang beragama Kristen di Najran dan agama Yahudi di Yathrib, yang pada mulanya memberikan kelonggaran kepada mereka, kemudian turut menerimanya. Hubungan mereka dengan orang-orang Arab yang menyembah berhala untuk mendekatkan diri kepada Tuhan itu

29

baik-baik saja.

Yang menyebabkan orang-orang Arab itu tetap bertahan pada paganismanya bukan saja karena ada pertentangan di antara golongan-golongan Kristen. Kepercayaan paganisma itu masih tetap hidup di kalangan bangsa-bangsa yang sudah menerima ajaran Kristen. Paganisma Mesir dan Yunani masih tetap berpengaruh ditengah-tengah pelbagai mazhab yang beraneka macam dan di antara pelbagai sekta-sekta Kristen sendiri. Aliran Alexandria dan filsafat Alexandria masih tetap berpengaruh, meskipun sudah banyak berkurang dibandingkan dengan masa Ptolemies dan masa permulaan agama Masehi. Bagaimanapun juga pengaruh itu tetap merasuk ke dalam hati mereka. Logikanya yang tampak cemerlang sekalipun pada dasarnya masih bersifat sofistik - dapat juga menarik kepercayaan paganisma yang polytheistik, yang dengan kecintaannya itu dapat didekatkan kepada kekuasaan manusia.

Saya kira inilah yang lebih kuat mengikat jiwa yang masih lemah itu pada paganisma, dalam setiap zaman, sampai saat kita sekarang ini. Jiwa yang lemah itu tidak sanggup mencapai tingkat yang lebih tinggi, jiwa yang akan menghubungkannya pada semesta alam sehingga ia dapat memahami adanya kesatuan yang menjelma dalam segala yang lebih tinggi, yang sublim dari semua yang ada dalam wujud ini, menjelma dalam Wujud Tuhan

30

Yang Maha Esa. Kepercayaan demikian itu hanya sampai pada suatu manifestasi alam saja seperti matahari, bulan atau api misalnya. Lalu tak berdaya lagi mencapai segala yang lebih tinggi, yang akan memperlihatkan adanya manifestasi alam dalam kesatuannya itu.

Bagi jiwa yang lemah ini cukup hanya dengan berhala saja. Ia akan membawa gambaran yang masih kabur dan rendah tentang pengertian wujud dan kesatuannya. Dalam hubungannya dengan berhala itu lalu dilengkapi lagi dengan segala gambaran kudus, yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan di seluruh dunia, sekalipun dunia yang mendakwakan dirinya modern dalam ilmu pengetahuan dan sudah maju pula dalam peradaban. Misalnya mereka yang pernah berziarah ke gereja Santa Petrus di Roma, mereka melihat kaki patung Santa Petrus yang didirikan di tempat itu sudah bergurat-gurat karena diciumi oleh penganut-penganutnya, sehingga setiap waktu terpaksa gereja memperbaiki kembali mana-mana yang rusak.

Melihat semua itu kita dapat memaklumi. Mereka belum nmendapat petunjuk Tuhan kepada iman yang sebenarnya Mereka melihat pertentangan-pertentangan kaum Kristen yang menjadi tetangga mereka serta cara-cara hidup paganisma yang masih ada pada mereka, di tengah-tengah mereka sendiri yang masih menyembah berhala itu sebagai warisan dari nenek-moyang mereka. Betapa

31

kita tak akan memaafkan mereka. Situasi demikian ini sudah begitu berakar di seluruh dunia, tak putus-putusnya sampai saat ini, dan saya kira memang tidak akan pernah berakhir. Kaum Muslimin dewasa inipun membiarkan paganisma itu dalam agama mereka, agama yang datang hendak menghapus paganisma, yang datang hendak menghilangkan segala penyembahan kepada siapa saja selain kepada Allah Yang Maha Esa.

Cara-cara penyembahan berhala orang-orang Arab dahulu itu banyak sekali macamnya. Bagi kita yang mengadakan penyelidikan dewasa ini sukar sekali akan dapat mengetahui seluk-beluknya. Nabi sendiri telah menghancurkan berhala-berhala itu dan menganjurkan para sahabat menghancurkannya di mana saja adanya. Kaum Muslimin sudah tidak lagi bicara tentang itu sesudah semua yang berhubungan dengan pengaruh itu dalam sejarah dan lektur dihilangkan. Tetapi apa yang disebutkan dalam Quran dan yang dibawa oleh ahli-ahli sejarah dalam abad kedua Hijrah - sesudah kaum Muslimin tidak lagi akan tergoda karenanya - menunjukkan, bahwa sebelum Islam paganisma dalam bentuknya yang pelbagai macam, mempunyai tempat yang tinggi.

Di samping itu menunjukkan pula bahwa kekudusan berhala-berhala itu bertingkat-tingkat adanya. Setiap kabilah atau suku mempunyai patung sendiri sebagai pusat penyembahan. Sesembahan-sesembahan zaman jahiliah inipun berbeda-beda pula

32

antara sebutan shanam (patung), wathan (berhala) dan nushub. Shanam ialah dalam bentuk manusia dibuat dari logam atau kayu, Wathan demikian juga dibuat dari batu, sedang nushub adalah batu karang tanpa suatu bentuk tertentu. Beberapa kabilah melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Mereka beranggapan batu karang itu berasal dari langit meskipun agaknya itu adalah batu kawah atau yang serupa itu. Di antara berhala-berhala yang baik buatannya agaknya yang berasal dari Yaman. Hal ini tidak mengherankan. Kemajuan peradaban mereka tidak dikenal di Hijaz, Najd atau di Kinda. Sayang sekali, buku-buku tentang berhala ini tidak melukiskan secara terperinci bentuk-bentuk berhala itu, kecuali tentang Hubal yang dibuat dari batu akik dalam bentuk manusia, dan bahwa lengannya pernah rusak dan oleh orang-orang Quraisy diganti dengan lengan dari emas. Hubal ini ialah dewa orang Arab yang paling besar dan diletakkan dalam Ka'bah di Mekah. Orang-orang dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu.

Tidak cukup dengan berhala-berhala besar itu saja buat orang-orang Arab guna menyampaikan sembahyang dan memberikan kurban-kurban, tetapi kebanyakan mereka itu mempunyai pula patung-patung dan berhala-berhala dalam rumah masing-masing. Mereka mengelilingi patungnya itu ketika akan keluar atau sesudah kembali pulang, dan dibawanya pula dalam perjalanan bila patung itu mengijinkan ia bepergian. Semua patung itu,

33

baik yang ada dalam Ka'bah atau yang ada disekelilingnya, begitu juga yang ada di semua penjuru negeri Arab atau kabilah-kabilah dianggap sebagai perantara antara penganutnya dengan dewa besar. Mereka beranggapan penyembahannya kepada dewa-dewa itu sebagai pendekatan kepada Tuhan dan menyembah kepada Tuhan sudah mereka lupakan karena telah menyembah berhala-berhala itu.

Meskipun Yaman mempunyai peradaban yang paling tinggi di antara seluruh jazirah Arab, yang disebabkan oleh kesuburan negerinya serta pengaturan pengairannya yang baik, namun ia tidak menjadi pusat perhatian negeri-negeri sahara yang terbentang luas itu, juga tidak menjadi pusat keagamaan mereka. Tetapi yang menjadi pusat adalah Mekah dengan Ka'bah sebagai rumah Ismail. Ke tempat itu orang berkunjung dan ke tempat itu pula orang melepaskan pandang. Bulan-bulan suci sangat dipelihara melebihi tempat lain.

Oleh karena itu, dan sebagai markas perdagangan jazirah Arab yang istimewa, Mekah dianggap sebagai ibukota seluruh jazirah. Kemudian takdirpun menghendaki pula ia menjadi tanah kelahiran Nabi Muhammad, dan dengan demikian ia menjadi sasaran pandangan dunia sepanjang zaman. Ka'bah tetap disucikan dan suku Quraisy masih menempati kedudukan yang tinggi, sekalipun mereka semua tetap sebagai orang-orang Badwi yang kasar sejak

34

berabad-abad lamanya.

Catatan kaki:

1 Dikutip oleh Sir Muir dalam The Life of Mohammad, p.xc.

2 Cerita demikian terdapat dalam beberapa buku sejarah. Encylopedia Britannica juga menyebutnya, dan dikutip oleh penulis-penulis buku Historian's History of the World dan juga dijadikan pegangan oleh Emile Derminghem dalam la Vie de Mahomet. Akan tetapi At-Tabari menceritakan melalui Hisyam ibn Muhammad bahwa setelah orang Yaman itu pergi meminta bantuan Najasyi atas perbuatan Dhu Nuwas serta menjelaskan apa yang telah dilakukannya terhadap orang-orang Kristen oleh pembela agama Yahudi itu dan memperlihatkan sebuah Injil yang sudah sebagian dimakan api, Najasyi berkata: "Tenaga manusia di sini banyak, tapi aku tidak punya kapal. Sekarang aku menulis surat kepada Kaisar supaya mengirimkan kapal dan dengan itu akan kukirimkan pasukanku." Lalu ia menulis surat kepada Kaisar dengan melampirkan Injil yang sudah terbakar. Dan menambahkan: "Hisyam ibn Muhammad menduga, bahwa setelah kapal-kapal itu sampai ke tempat Najasyi, pasukannyapun dinaikkan dan berangkat ke pantai Mandab." Lihat Tarikh't-Tabari cetakan Al-Husainia, vol. 2, p. 106 dan 108.

35

3 Beberapa keterangan dalam buku-buku sejarah berbeda-beda tentang sebab penyerbuan Abisinia (Habasya) ini ke Yaman. Keterangan itu mengatakan, bahwa hubungan dagang antara Arab Musta'riba di Hijaz dengan Yaman dan Abisinia terus berlangsung. Pada waktu itu pantai-pantai Habasya membentang sepanjang Laut Merah lengkap dengan armada perdagangannya. Karena kekayaan dan kesuburannya, Kerajaan Rumawi ingin sekali menguasai Yaman. Aelius Galius penguasa (prefek) Kaisar Rumawi di Mesir mengadakan persiapan. akan menyerbu Yaman. Pasukannya dikerahkan menyeberangi Laut Merah ke Yaman dan juga menyerang Najran. Tetapi karena adanya penyakit yang menyerang mereka. Orang-orang Yaman mudah sekali mengusir mereka itu dan merekapun kembali ke Mesir. Sesudah itupun Rumawõ berturut-turut menyerang jazirah Arab di Yaman dan di luar Yaman, tapi kenyataannya tidak lebih menguntungkan dan yang pernah dilakukan oleh Galius. Saat itu Najasyi di Abisinia merasa perlu mengadakan pembalasan terhadap Yaman yang telah memaksakan agama Yahudi terhadap orangorang Rumawi yang beragama Kristen. Pasukan Aryat dikerahkan menyerbu Yaman dan berkuasa di tempat itu sampai pada waktu Persia datang mengusir mereka

A. PENDAHULUAN Islam menjadi agama yang sangat fenomenal ketika dalam waktu relatif singkat sejak kelahirannya mampu menyebar ke berbagai penjuru dunia. Hal inilah pula yang membuat tertarik Michael H. Hart untuk meneliti Nabi
36

Muhammad sebagai seorang nabi pembawa agama Islam sehingga menempatkan beliau sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di dunia.[1] Namun di balik keberhasilannya tersebut, tak urung muncul pula tudingan bahwa Islam bisa menyebar sedemikian rupa karena disebarkan lewat jalan kekerasan atau ±dalam bahasa konotatif lewat± pedang. Namun apakah memang begitu faktanya? Inilah salah satu hal yang juga ingin dikupas dalam makalah ini.

B. PERLUASAN ISLAM KE LUAR JAZIRAH ARAB 1. Di mana Jazirah Arab? Semenanjung atau jazirah adalah formasi geografis yang terdiri atas pemanjangan daratan dari badan daratan yang lebih besar (misalnya pulau atau benua) yang dikelilingi oleh air pada 3 sisinya. Secara umum, semenanjung adalah tanjung yang (sangat) luas. Sedangkan tanjung sendiri adalah daratan yang menjorok ke laut, atau daratan yang dikelilingi oleh laut di ketiga sisinya.[2] Jazirah Arab adalah sebuah jazirah (semenanjung besar) di Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia. Perbatasan pesisir jazirah ini ialah: di barat daya Laut Merah dan Teluk Aqabah; di tenggara Laut Arab; dan di timur laut Teluk Oman dan Teluk Persia. Secara politik, Jazirah Arab terdiri dari negara Arab Saudi, Kuwait, Yaman, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain. Sedangkan secara geologi, daerah ini lebih tepat disebut Anak Benua Arab sebab memiliki plat tektonik tersendiri, Plat Arab.[3] Negara Arab Saudi meliputi hampir seluruh Jazirah Arab. Kebanyakan penduduk jazirah ini tinggal di Arab Saudi dan Yaman. Jazirah ini mengandung sejumlah besar minyak bumi dan merupakan tempat kota suci Islam, Mekkah dan Madinah, keduanya di Arab Saudi. Uni Emirat Arab dan Qatar merupakan tempat stasiun televisi berbahasa Arab utama seperti AlJazeera. [4]
37

Terkadang istilah Timur Tengah digunakan pada jazirah saja, namun biasanya merujuk pada daerah yang lebih besar; istilah Arab, bagaimanapun, sering digunakan merujuk hanya pada Arab Saudi. Di waktu lain istilah Arab bisa berarti seluruh Dunia Arab, terbentang dari Maroko di barat sampai Oman di timur. [5]

2. Usaha Ekspansi Islam ke Luar Jazirah Arab a. Ekspansi Gelombang Pertama Sebelum Nabi Muhammad wafat pada tanggal 8 Juni 632 M,[6] seantero Jazirah Arab telah dapat ditaklukkan di bawah kekuasaan Islam. Usaha ekspansi ke luar jazirah Arab kemudian dimulai oleh khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Shiddiq.[7] Setelah melewati masa-masa sulit di awal pemerintahannya karena harus menumpas pemberontakan kaum murtad dan pembangkang zakat, Abu Bakar kemudian mulai mengirimkan kekuatan militer ke berbagai negeri di luar jazirah Arab. Khalid bin Walid yang dikenal dengan gelar Pedang Allah, dikirim ke Irak sehingga dapat menduduki Al-Hirah pada tahun 12 H yang waktu itu di bawah kekuasaan Imperium Persia.[8] Sedangkan ke Palestina, Abu Bakar mengirimkan balatentara di bawah pimpinan Amr bin al-Ash. Sementara ke Syam,[9] sang khalifah mengirimkan balatentara di bawah pimpinan tiga orang, yaitu Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Syurahbil bin Hasanah. Karena mendapat perlawanan sengit pasukan Romawi yang menguasai wilayah itu, pasukan Islam pun kewalahan. Akhirnya untuk menambah kekuatan militer yang dipimpin ketiga jenderal itu, Khalid bin Walid yang telah berhasil menaklukkan Irak diperintahkan Abu Bakar untuk meninggalkan negara itu dan berangkat ke Syam.[10] Setelah Khalid bin Walid berhasil menaklukkan Syam, ia kemudian bersama Yazid bin Abi Sufyan dan Syurahbil bin Hasanah
38

berangkat menuju Palestina untuk membantu Amr bin al-Ash dalam menghadapi pasukan Romawi. Kedua pasukan pun akhirnya terlibat peperangan yang sengit di daerah Ajnadin. Karena itulah, peperangan ini dalam sejarah Islam dikenal dengan nama Perang Ajnadin. Meski kemenangan di pihak Islam, tapi banyak juga pasukan Islam yang gugur.[11] Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 H karena sakit,[12] ekspansi tetap dilanjutkan oleh khalifah berikutnya, Umar bin Khattab. Pada era Umarlah gelombang ekspansi pertama pun dimulai. Wilayah demi wilayah di luar jazirah dapat ditaklukkan. Pada tahun 14 H, Abu Ubaidah bin al-Jarrah bersama Khalid bin Walid dengan pasukan mereka berhasil menaklukkan kota Damaskus dari tangan kekuasaan Bizantium.[13] Selanjutnya, dengan menggunakan Suriah sebagai basis pangkalan militer, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin al-Ash.[14] Sedangkan ke wilayah Irak, Umar bin Khattab mengutus Sa¶ad bin Abi Waqqash untuk menjadi gubernur di sana.[15] Pada tahun 640 M, Babilonia[16] juga dikepung oleh balatentara Islam. Sedangkan pasukan Bizantium yang menduduki Heliopolis mampu dikalahkan sehingga Alexandria dikuasai oleh pasukan Islam pada tahun 641 M. Tak pelak, Mesir pun jatuh ke tangan imperium Islam. Amr bin alAsh yang menjadi komandan perang Islam lantas menjadikan tempat perkemahannya yang terletak di luar tembok Babilon sebagai ibukota dengan nama Al-Fustat.[17] Di masa gelombang ekspansi pertama ini, Al-Qadisiyah, sebuah kota yang terletak dekat Al-Hirah di Irak, dapat dikuasai oleh imperium Islam pada tahun 15 H.[18] Dari kota itulah, ekspansi Islam berlanjut ke Al-Madain (Ctesiphon), ibukota Persia hingga dapat dikuasai. Karena AlMadain telah jatuh direbut pasukan Islam, Raja Sasan Yazdagrid III akhirnya menyelamatkan diri ke sebelah Utara.[19] Selanjutnya pada tahun 20 H, kota Mosul yang notabene masih dalam wilayah Irak juga dapat diduduki.[20]

39

Gelombang ekspansi pertama di era Umar bin Khattab menjadikan Islam sebagai sebuah imperium yang tidak hanya menguasai jazirah Arab, tapi juga Palestina, Suriah, Irak, Persia, dan Mesir. Saat pemerintahan Umar bin Khattab berakhir karena ia wafat terbunuh pada tahun 23 H,[21] Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga tetap meneruskan kebijakan penaklukan ke berbagai wilayah di luar jazirah Arab. Meski pada zaman Umar bin Khattab telah dikirim balatentara ke Azerbaijan dan Armenia, pada era Usman bin Affanlah, yaitu pada tahun 23 H, kedua wilayah baru berhasil dikuasai saat ekspansi dipimpin oleh al-Walid bin Uqbah.[22] Ketika Usman bin Affan menghadapi turbulensi politik di dalam negeri hingga akhirnya ia mati terbunuh pada tahun 35 H,[23] Ali bin Abi Thalib pun naik ke tampuk kekuasaan sebagai khalifah keempat. Sayang suhu politik di pusat kekuasaan Islam semakin tinggi sehingga terjadi beberapa pemberontakan seperti yang dipimpin oleh Aisyah dalam Perang Jamal pada tahun 36 H.[24] Tak ayal, Ali bin Thalib mau tak mau harus menumpas pemberontakan tersebut. Pada gilirannya, hal itu menguras kekuatan militer Islam sehingga akhirnya gelombang pertama ekspansi Islam ke luar jazirah Arab pun berhenti. b. Ekspansi Gelombang Kedua Ekspansi gelombang kedua ini dimulai di zaman Dinasti Umayyah setelah era Khulafaur Rasyidin berakhir. Mu¶awiyah bin Abi Sufyan, sebagai pendiri dan khalifah pertama pada dinasti itu, melanjutkan kebijakan ekspansi Islam yang sempat terhenti sejak tahun -tahun akhir kekuasaan Usman bin Affan hingga kekuasaan Ali bin Thalib tumbang. Mu¶awiyah mengutus Uqbah bin Nafi untuk mengadakan ekspansi Islam ke wilayah Afrika Utara hingga berhasil merebut Tunis. Di sanalah pada tahun 50 H, Uqbah mendirikan kota baru bernama Qairawan yang selanjutnya terkenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Islam.[25] Tidak cukup sampai di situ, Mu¶awiyah juga berhasil mengadakan perluasan wilayah Islam dari Khurasan sampai Sungai Oxus[26] dan Afghanistan

40

sampai ke Kabul. Angkatan laut Muawiyah juga dengan gagah berani menyerang Konstantinopel, ibu kota Bizantium. Masih dalam zaman Dinasti Umayah, pada masa pemerintahan Abdul Malik ekspansi ke wilayah Timur dilanjutkan di bawah pimpinan seorang jenderal terkenal bernama Al-Hajjaj bin Yusuf. Balatentara Islam berhasil menyeberangi Sungai Oxus dan akhirnya dapat menaklukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tidak hanya sampai di situ, balatentara Islam juga berhasil mencapai wilayah India hingga dapat merebut Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Multan.[27] Ekspansi Islam kembali dilanjutkan pada era Khalifah Al-Walid. Saat itu sang khalifah mengutus Musa bin Nushair dengan balatentaranya untuk menyerang Aljazair dan Marokko sehingga berhasil membuat wilayah itu bertekut lutut. Musa bin Nusair lantas mengangkat Tariq bin Ziad sebagai wakil untuk memerintah wilayah tersebut.[28] Sebagai penguasa baru di wilayah tersebut dan juga seorang komandan perang yang piawai, Tariq bin Ziad dengan armadanya berhasil menyeberangi selat yang membentang antara Marokko dan Benua Eropa. Sang komandan bersama pasukan angkatan lautnya lantas mendarat di suatu tempat yang kemudian dikenal dengan sebutan Gibraltar (Jabal Thariq).[29] Dalam peperangan tersebut, tentara Kristen Spanyol di bawah pimpinan Raja Roderick[30] pun dapat dikalahkan oleh pasukan Islam yang dipimpin Tariq bin Ziad. Dengan kekalahan itu, pintu untuk memasuki Spanyol menjadi terbuka lebar. Toledo ±yang notabene ibukota Spanyol waktu itu²berhasil direbut. Sedangkan kota-kota lain seperti Sevilla, Malaga, Elvira dan Cordova, juga tak luput dari penaklukan tentara Islam.[31] Selanjutnya, Cordova kemudian menjadi ibukota pemerintahan Islam yang tetap menginduk ke pusat pemerintahan Islam di Kufah.
41

Spanyol yang telah menjadi daerah Islam lantas dikenal dalam bahasa Arab dengan sebutan Al-Andalus. Pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik, pasukan Islam juga berupaya melakukan ekspansi ke wilayah Perancis. Saat itu, upaya ekspansi terutama dipimpin oleh Abdurrahman bin Abdullah alGhafiqi.[32] Ekspansi tersebut juga dilakukan al-Ghafiqi karena termotivasi oleh kesuksesan penaklukan atas Spanyol oleh Thariq bin Ziad dan Musa bin Nushair.[33] Bersama balatentaranya, al-Ghafiqi menyerang kota-kota seperti Bordeux dan Poitiers. Dari kota Poiters, al-Ghafiqi berangkat untuk menyerang kota Tours. Tetapi dalam perjalanan itu antara kedua kota itu, ia bisa ditahan oleh Charles Martel.[34] Ekspansi ke Perancis pun gagal. Al-Ghafiqi bersama pasukannya akhirnya mundur kembali ke Spanyol. Meski sempat gagal karena ditahan Charles Martel, pasukan Islam tetap berupaya menyerang beberapa wilayah di Perancis, seperti Avignon dan Lyon pada tahun 743 M.[35] Pada zaman Dinasti Umayah pula, pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsica, Sardinia, Crete, Rhodes, Cypurs dan sebagian Sicilla juga berhasil ditaklukkan oleh imperium Islam.[36] Ekspansi yang dilakukan Dinasti Umayyah inilah yang membuat Islam menjadi imperium besar pada zaman itu. Berbagai bangsa yang melintasi berbagai ras dan suku di berbagai pelosok dunia bernaung dalam satu pemerintahan Islam.

C.

FAKTOR-FAKTOR

YANG

MENYEBABKAN

ISLAM

MAMPU

BEREKSPANSI KE LUAR JAZIRAH ARAB Di antara sebab-sebab yang membuat ekspansi Islam ke luar daerah Semenanjung Arabia demikian cepat adalah hal-hal berikut:[37]

42

1.

Islam mengandung ajaran-ajaran dasar yang tidak hanya mempunyai sangkut-paut dengan soal hubungan manusia dengan Tuhan dan soal hidup manusia sesudah hidup pertama sekarang. Tetapi Islam, sebagaimana kata H.A.R. Gibb, adalah agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat yang berdiri sendiri lagi mempunyai sistem pemerintahan, undang-undang dan lembaga-lembaga sendiri.[38] Dengan kata lain, seperti kata Philip K. Hitti, Islam bisa dilihat dari tiga corak, yaitu corak aslinya sebagai agama; kemudian menjadi suatu negara (state), dan akhirnya sebagai suatu kebudayaan. [39] Islam di Mekkah memang baru mempunyai corak agama, tetapi di Medinah coraknya bertambah dengan corak negara. Dalam corak negara itulah, Islam pun kian lama penyebarannya kian meluas. Sedangkan Islam di Bagdad, corak agama dan negara itu ditambahkan lagi dengan corak kebudayaan dan peradaban.

2.

Terdapat keyakinan yang kuat tentang kewajiban menyampaikan ajaranajaran Islam sebagai agama baru ke seluruh dunia. Keyakinan itulah yang bersemayam dalam hati para sahabat Nabi Muhammad seperti Abu Bakar, Umar, dan lain-lain. Keyakinan tersebut kemudian diperkuat dengan faktor suku-suku Arab di zaman Jahiliyah yang cenderung pemberani serta gemar berperang antara sesama mereka.[40] Namun karena suku-suku itu telah dipersatukan dalam Islam sehingga mereka tidak lagi berperang satu sama lain, maka mereka pun memilih pihak lain sebagai ³musuh´ bersama, yaitu orang-orang non-Islam di luar jazirah Arab. Dengan demikian, Islam pun menjadi kekuatan militer baru di dunia yang mampu mengalahkan dua kekuatan dunia waktu itu, yaitu Imperium Romawi (Bizantium) dan Imperium Persia.

3.

Kedua negara itu pada zaman itu telah memasuki fase kelemahannya. Kelemahan itu timbul bukan hanya karena peperangan, yang semenjak beberapa abad senantiasa telah terjadi antara keduanya, tetapi juga karena faktor-faktor dalam negeri. Jika di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Bizantium terdapat pertentangan-pertentangan agama; di Persia di samping pertentangan agama terdapat pula persaingan antara anggotaanggota keluarga raja untuk merebut kekuasaan. Hal-hal ini membawa kepada pecahnya keutuhan masyarakat di kedua negara itu.

43

4.

Kebijakan-kebijakan pihak Kerajaan Bizantium untuk memaksakan aliran keagamaan membuat rakyat merasa kehilangan kemerdekaan beragama. Di samping itu, rakyat juga dibebani dengan pajak yang tinggi guna menutupi anggaran perang Kerajaan Bizantium dengan Kerajaan Persia. Hal-hal ini membuat timbulnya perasaan tidak senang dari rakyat di daerah-daerah yang dikuasai Bizantium terhadap kerajaan ini. Kondisi rakyat demikian menjadi memudahkan Islam untuk diterima sebagai agama dan penguasa alternatif yang diharapkan mampu membebaskan mereka.

5.

Adanya permintaan dari wilayah tertentu kepada Imperium Islam saat itu untuk membebaskan mereka dari rezim tiran yang berkuasa di wilayah tersebut. Hal ini misalnya terjadi pada kasus ekspansi Islam di Spanyol. Saat itu penguasa Kristen di sana bertindak lalim kepada rakyatnya sehingga kedatangan pasukan Islam di sana betul-betul diharapkan agar membebaskan mereka dari penindasan sang penguasa. Apalagi ke manapun kekuatan Islam datang, ia mem-proklamirkan ajakan kebebasan manusia dari penyembahan kepada selain Allah, dan memandang seluruh manusia sama serta menghormatinya apapun warna kulit dan rasnya.[41]

D. BENARKAH ISLAM DISEBARKAN MELALUI PEDANG? Tuduhan bahwa Islam disebarkan melalui pedang memang sudah lama dihembuskan oleh terutama para orientalis sejak dulu hingga sekarang. Tuduhan itu didasarkan Islam di antaranya pada fakta sejarah banyaknya terjadi ekspansi militer yang dilakukan kekuatan Islam ke seluruh pelosok dunia sejak zaman Nabi Muhammad hingga era Kesultanan Usmani. Di samping itu, ajaran Islam sendiri banyak yang mengemukakan konsep jihad yang sering diartikan sematamata sebagai peperangan. Dalam al-Qur¶an sendiri terdapat beberapa ayat ³perang´ yang sangat mungkin menimbulkan misinterpretasi jika dimaknai secara parsial dan terpisah dari konteksnya. Dalam lintasan sejarah Islam, memang pernah tercatat peristiwa Ain Tamr. Peristiwa inilah yang dijadikan salah satu alasan untuk menuding bahwa Islam memang sangat kejam dan menyebarkan Islam melalui kekerasan. Ath-Thabari menceritakan peristiwa tersebut dalam karyanya Tarikh al-Umam wa al-Mulk.
44

Saat itu, Khalid bin Walid mengepung sebuah benteng yang dihuni oleh orangorang Kristen Arab. Mereka yang sudah terkepung akhirnya mengajak berdamai Khalid. Namun Khalid menolak ajakan damai itu kecuali jika mereka mau mematuhi tawarannya: masuk Islam atau membayar jizyah. Jika mereka menerima tawaran itu, Khalid akan memperlakukan mereka dengan baik. Namun tawaran Khalid itu ditolak mereka. Akhirnya benteng itu pun diserbu oleh pasukan Khalid bin Walid. Semua orang yang di dalam benteng ditebas lehernya kecuali 40 orang anak muda yang sedang belajar Injil. Saat itu kelompok anak muda itu selamat karena berada di sebuah ruang yang tertutup saat terjadi penyerbuan.[42] Perilaku Khalid bin Walid sendiri dalam peperangan memang cenderung sadis. Hal ini memang dipahami karena dia memang seorang bekas jenderal perang di zaman Jahiliyah. Ia baru masuk Islam pada tahun 8 H sehingga pemahamannya terhadap ajaran Islam pun masih minim.[43] Namun sebagaimana juga dicatat dalam sejarah, sepak terjang Khalid bin Walid di berbagai penaklukan Islam terhenti saat ia dicopot dari jabatannya sebagai panglima perang oleh Khalifah Umar bin Khattab.[44] Tampaknya, Umar mulai khawatir terhadap tingkah polah Khalid di medan perang yang bisa merusak citra Islam. Meskipun harus diakui pula, Khalid sangat berjasa atas kemenangan Islam di berbagai peperangan, terutama pada saat peperangan melawan kaum murtad. Terlepas dari kasus Khalid bin Walid tersebut, pada dasarnya para penguasa Islam yang menduduki sebuah negeri tidaklah memaksa rakyatnya untuk memeluk agama Islam. Dalam proses penaklukan sebuah negeri oleh penguasa Islam, opsi yang ditawarkan kepada rakyat yang ditaklukkan adalah apakah mereka bersedia masuk Islam dengan sukarela sehingga mereka berhak mendapat perlindungan atau mereka tidak mau masuk Islam tapi mereka harus membayar pajak (jizyah) sebagai tebusan atas perlindungan yang diberikan oleh penguasa Islam. Jika kedua opsi itu tidak diindahkan dan rakyat di sebuah negeri tersebut justeru berani melawan dan memerangi penguasa Islam, maka barulah jalan militer menjadi pilihan terakhir. Etika penyebaran Islam seperti inilah yang diajarkan dan diterapkan oleh Nabi Muhammad dan para pengikutnya d i belakang hari.
45

Jika tuduhan Islam disebarkan melalui pedang itu benar adanya, tentu di berbagai wilayah yang pernah ditaklukkan kekuasaan Islam akan banyak terjadi tragedi pemaksaan agama oleh pemerintah Islam saat itu. Dengan kekuasaan dan kekuataan yang ada, tentu para penguasa Islam saat itu mudah sekali memaksa rakyatnya untuk memeluk agama Islam. Namun sebaliknya, sejarah tidak pernah mencatat ±sepanjang pengetahuan penulis²adanya tragedi pemaksaan agama yang dilakukan oleh para penguasa Islam. Bahkan di daerah-daerah yang pernah dikendalikan kekuasaan Islam seperti di India dan Spanyol (Andalusia), para penguasa Islam saat itu betul-betul membebaskan rakyatnya untuk memeluk agama masing-masing.[45] Hal itulah salah satu faktor yang bisa menjelaskan mengapa sekarang di kedua wilayah itu, India[46] dan Spanyol,[47] Islam bukan menjadi agama mayoritas, tapi justeru menjadi agama minoritas yang banyak memperoleh penindasan saat berada di bawah kekuasaan non Islam. Sejarah mencatat, tragedi pengadilan gereja (inkuisisi) justru dilakukan oleh penguasa Kristen Spanyol. Tragedi ini terjadi saat kekuasaan Islam berhasil ditumbangkan oleh kekuasaan Kristen dan Spanyol dikuasai oleh Ratu Isabella. Saat itu ribuan orang Islam dan orang Yahudi disiksa, diusir, bahkan dibunuh karena tidak mau memeluk agama Kristen. Akhirnya, sebagian orang Muslim dan Yahudi memilih memeluk agama mereka secara sembunyi atau meninggalkan Spanyol.[48] Dalam artikelnya di Republika, Rosihon Anwar membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa sesungguhnya Islam disebarkan dengan dakwah, bukan dengan pedang.[49] Hal itu didasarkan pada beberapa argumentasi historis berikut ini. Pertama, ketika berada di Makkah untuk memulai dakwahnya, Nabi tidak disertai senjata dan harta. Kendati demikian, justeru banyak pemuka Makkah seperti Abu Bakar, Utsman, Sa¶ad ibn Waqqas, Zubair, Talhah, Umar bin Khattab, dan Hamzah yang masuk Islam. Kedua, ketika Nabi dan para pengikutnya mendapat tekanan yang sangat berat dari kafir Quraisy, penduduk Madinah banyak yang masuk Islam dan mengundang Nabi serta pengikutnya hijrah ke Madinah. Mungkinkah Islam tersebar di Madinah dengan senjata? Ketiga, pasukan Salib datang ke Timur ketika Khalifah Bani Abbas berada dalam masa kemunduran. Tak diduga, banyak
46

anggota pasukan Salib tertarik kepada Islam dan kemudian menggabungkan diri dengan pasukan Salib lainnya. Keempat, pada abad VII H (XIII M) pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu memporak-porandakan Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah, beserta peradaban yang dimiliki Islam. Mereka menghancurkan masjid-masjid, membakar kitab-kitab, membunuh para ulama, dan serentetan perbuatan sadis lainnya. Tahun 1258 merupakan lonceng kematian bagi khilafah Abbasiyah. Akan tetapi, sungguh mencengangkan bahwa di antara orang-orang Mongol sendiri yang menghancurkan pemerintahan Islam ternyata banyak yang memeluk Islam. Kelima, sejarah menjelaskan bahwa masa terpenting Islam adalah masa damai ketika diadakan perjanjian Hudaibiyah antara orang -orang Quraisy dan Muslimin yang berlangsung selama dua tahun. Para sejarawan pun mengatakan bahwa orang yang masuk Islam pada masa itu lebih banyak dibanding masa sesudahnya. Ini menunjukkan bahwa penyebaran Islam banyak terjadi pada masa damai bukan masa peperangan. Keenam, tidak ada kaitan antara penyebaran Islam dan peperangan yang terjadi antara Muslimin dan Persia serta Romawi. Ketika peperangan antara mereka berkecamuk dan orang-orang Islam memperoleh kemenangan kemudian peperangan berhenti, pada saat itu para dai menjelaskan bangunan, dasar, dan filsafah Islam. Dakwah Islam itu yang kemudian menyebabkan orang-orang nonIslam ±terutama mereka yang tertindas oleh penguasa± masuk Islam. Ketujuh, Islam tersebar luas di Indonesia, Malaysia, dan Afrika lewat orang-orang dari Hadramaut yang tidak didukung oleh harta dan penguasa, dan atau Islam diajarkan oleh orang-orang Indonesia yang berwatakkan Islam dalam kefakiran. Kedelapan, peneliti dunia Islam Jerman, Ilse Lictenstadter, dalam Islam and the Modern Age, mengatakan bahwa pilihan yang diberikan kepada Persia dan Romawi bukanlah antara Islam dan pedang, tetapi antara Islam dan jizyah (pembayaran pajak).

47

Kenyataan bahwa sejarah Islam diwarnai dengan peperangan merupakan fakta yang tidak dapat dibantah. Bila Islam disebarkan dengan dakwah, lalu kenapa terjadi peperangan? Di antara motivasi peperangan dalam sejarah Islam adalah: Pertama, mempertahankan jiwa raga. Seperti disebutkan dalam sejarah, sebelum hijrah orang-orang Islam belum diizinkan untuk berperang. Padahal umat Islam memperoleh berbagai siksaan dan tekanan dari kafir Quraisy. Ammar, Bilal, Yasir, dan Abu Bakar adalah di antara mereka yang mendapat perlakuan keras itu. Ketika perlakuan kafir Quraisy semakin keras dan umat Islam meminta izin kepada Nabi untuk berperang, Nabi belum juga mengizinkan karena belum ada perintah dari Allah SWT. Namun, ketika Nabi beserta pengikutnya hijrah ke Madinah dan kafir Quraisy bertekad untuk membebaskan kota itu dari Islam, maka Allah SWT akhirnya ±karena demi membela diri orang-orang Islam sendiri± mengizinkan mereka berperang (QS Al Hajj [22]:37). Namun izin itu dikeluarkan dengan beberapa persyaratan seperti demi jalan Allah SWT, bukan demi harta atau prestise, mempertahankan diri, dan tidak berlebihan (QS AlBaqarah [2]:190). Data historis yang dapat dikemukakan berkaitan dengan hal di atas adalah penyebaran Islam ke Habsyi, sebuah kota yang tidak begitu jauh dari jazirah Arab dan kota yang pernah menjadi tujuan hijrah Nabi. Orang-orang Islam tidak pernah memerangi kota itu karena tidak mengancam keselamatan mereka. Bila penyebaran Islam dengan kekuatan, tentunya orang-orang Islam sudah menghancurkan kota itu. Seperti diketahui, umat Islam saat itu sudah memiliki angkatan perang yang cukup kuat. Kedua, melindungi dakwah dan orang-orang lemah yang hendak memeluk Islam. Seperti diketahui bahwa dakwah Nabi memperoleh tantangan keras dari kafir Quraisy Makkah. Mereka menempuh jalan apa saja untuk menghalanginya (QS al-Fath [48]:25). Banyak penduduk Makkah dan Arab lainnya bermaksud memeluk Islam, tetapi mereka takut terhadap ancaman itu. Allah lalu mengizinkan Rasul-Nya beserta pengikutnya untuk melindungi dakwah dengan cara berperang.

48

Ketiga, mempertahankan umat Islam dari serangan pasukan Persia dan Romawi. Keberhasilan dakwah Nabi dalam menyatukan kabilah-kabilah Arab di bawah bendera Islam ternyata dianggap ancaman oleh penguasa Persia dan Romawi ±dua adikuasa saat itu. Itu sebabnya, mereka mengumumkan perang dengan umat Islam. Tahun 629 M Nabi mengutus satu kelompok berjumlah 15 orang ke perbatasan Timur Ardan untuk berdakwah, tetapi semuanya dibunuh atas perintah penguasa Romawi. Pada tahun 627 M Farwah bin Umar Al Judzami, gubernur Romawi di Amman, memeluk Islam. Untuk itu, ia mengutus Mas¶ud bin Sa¶ad Al Judzami menghadap Nabi untuk menyampaikan hadiah. Ketika berita itu sampai ke telinga 49 orang-orang Romawi, mereka memaksa Farwah untuk keluar dari Islam, tetapi paksaan itu ditolaknya. Akibatnya, ia dipenjara dan akhirnya disalib. Atas alasan itu dan demi melindungi umat Islam dari seranganserangan Romawi dan Persia berikutnya, Nabi kemudian mengumumkan perang. E. PENUTUP Adalah tidak terbantahkan bahwa Islam membolehkan peperangan sebagaimana yang diungkapkan pada QS Al Hajj [22]:37 di atas. Namun hal itu tidaklah berarti bahwa Islam disebarkan lewat pedang sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Islamlah tetaplah agama rasional yang menghendaki umatnya untuk bersikap realistis ketika keberadaan mereka terancam. Adalah tidak rasional jika Islam tidak membolehkan umatnya untuk berperang padahal, misalnya, mereka diserang bertubi-tubi, seperti yang terjadi di Bosnia, Palestina, Afghanistan, dan lain-lain. Meski demikian, dalam lintasan sejarah memang juga tampaknya beberapa ekspansi umat Islam, terutama setelah lewat Khulafaur Rasyidin, terdapat motif duniawi, yaitu perluasan kekuasaan selain motif dakwah. Hal ini tampak pada kasus Turki Usmani yang bahkan bekerja sama dengan Perancis, Inggris dan Belanda yang non-Islam untuk menaklukkan Habsburg, di tengah dan selatan Eropa. Di samping itu, sebagaimana galibnya politik dan kekuasaan, intrik dan pengkhianatan juga mewarnai perjalanan pemerintahan-pemerintahan Islam. Kudeta disertai dengan pembunuhan juga menodai perjalanan kekuasaan
49

Islam. Hal inilah pula yang tampaknya membuat pemerintahan-pemerintahan Islam akhirnya tumbang satu demi satu. Wallahu a¶lam bi shawab.

DAFTAR PUSTAKA

Adzari, Ibnu, al-Bayan al-Maghrib fi Akhbar al-Andalus wa al-Maghrib, dalam al-Maktabah alSyamilah. Anwar, Rosihon. ³Islam dan Jalan Pedang´. Republika. 20 September 2006. Gibb, H.A.R. Islam dalam Lintasan Sejarah. Format e-book dari http://media.isnet.org/islam/Gibb. Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah. Jakarta: Litera AntarNusa, 2006.

Hart, Michael H. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj. Mahbub Djunaedi. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1978. Format e-book. Hibban, Ibnu. as-Sirah li Ibn Hibban, tk: tp, tt. Hitti, Philip K. History of the Arabs from the Earliest Times to the Present. London: The Macmillian Press, 1970. Katsir al-Qarsyi Abu al-Fida, Ismail ibn Umar ibn. al-Bidayah wa an-Nihayah. Beirut: Maktabah al-Ma¶arif, tt. Khalifah bin Khayyath al-Laitsi al-Ushfuri Abu µAmr. Tarikh Khalifah bin Khayyath. Damaskus: Darul Qalam, 1397 H.
Ma¶luf, Louis. al-Munjid fi al-Lughah wa al-A¶lam. Beirut: Dar al-Masyriq, 1986.

Mahmudunnasir, Syed. Islam Its Concepts & History. New Delhi: Kitab Bhavan, 1994.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press, 2001.

Stoddard, Lothrop. Dunia Baru Islam (The New Word of Islam). Terj. Muldjadi Djodjomartono, et. al,. Jakarta: Bulan Bintang, 1966.
Suyuthi, Abdur Rahman bin Abu Bakar as-. Tarikh al-Khulafa., Mesir: Mathba¶ah as-Sa¶adah, 1952. Thabari, Muhammad bin Jarir ath. Tarikh al-Umam wal Mulk. Beirut: Darul Kitab al-Ilmiyyah, 1407 H. Tilmasani, Ahmad bin al-Muqri al-. Nafh al-Thayyib fi Ghasn al-Andalus al-Rathib, Beirut: Dar ashShadir, 1900.

50

Umari, Akram Diya al-. Tolok Ukur Peradaban Islam, Arkeologi Sejarah Madinah dalam Wacana Trans-Global. Terj. Hasani Asro dan A. Fawaid Syadzili Yogyakarta, IRCiSod, 2003.

[1]

Michael H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, terj. Mahbub Djunaedi (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1978), format e-book. Lihat, www.wikipedia.org.id dalam artikel ³Semenanjung´. Lihat, ibid., dalam artikel ³Jazirah Arab´. Lihat, ibid. Lihat, ibid.

[2] [3] [4] [5] [6]

Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah (Jakarta: Litera AntarNusa, 2006), hal. 583. Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 2001), jilid I, hal. 50-51.

[7]

[8]

Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi Abu al-Fida, al-Bidayah wa an-Nihayah, (Beirut: Maktabah al-Ma¶arif, tt.) juz 6 hal. 342-343.

[9] Syam adalah sebutan untuk wilayah Suriah di zaman dulu. Sekarang Syam digunakan untuk sebutan nama lain dari Damaskus, ibukota Suriah. Lihat, Louis Ma¶luf, al-Munjid fi al-Lughah wa al-A¶lam, (Beirut: Dar al-Masyriq, 1986), hal. 382. [10]

Ibnu Hibban, as-Sirah li Ibn Hibban, (tk: tp, tt), juz 1, hal. 430 dalam alMaktabah asy-Syamilah. Ibid., juz I, hal. 450.

[11] [12]

Lihat, Abdur Rahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Tarikh al-Khulafa, (Mesir: Mathba¶ah as-Sa¶adah, 1952), hal. 74.

[13]

Lihat, Khalifah bin Khayyath al-Laitsi al-Ushfuri Abu µAmr, Tarikh Khalifah bin Khayyath, (Damaskus: Darul Qalam, 1397 H), hal. 22-23. Bizantium adalah nama asli kota modern Istanbul. Bizantium awalnya diduduki koloni Yunani dari Megara pada 667 SM dan dinamakan menurut raja mereka, Byzas. Nama ³Bizantium´ adalah Latinisasi nama Yunani asli Byzantion. Kota ini kemudian direbut oleh Roma dan mengalami kerusakan parah pada tahun 196. Bizantium kemudian dibangun kembali oleh kaisar Romawi Septimius Severus. Konstantinus yang Agung pada 330, menamakannya ulang menjadi Nova Roma (Roma Baru) atau Konstantinoupolis (Konstantinopel). Sejak saat itu, Kekaisaran Romawi Timur yang menjadikan Konstantinopel sebagai ibukota hingga 1453. Setelah direbut oleh Turki Usmani, dan
51

menjadi bagian wilayah Turki modern, Bizantium atau Konstantinopel diganti menjadi Istambul pada 1930. Lihat, http://id.wikipedia.org/wiki/ Bizantium.
[14] Muhammad bin Jarir at-Thabari, Tarikh al-Umam wal Mulk, (Beirut: Darul Kitab al-Ilmiyyah, 1407 H). juz 2, hal 511-512. [15] [16]

Ibnu Katsir, al-Bidayah., op. cit., juz 7, hal. 30.

Babylonia, dinamai sesuai dengan ibukotanya, Babel, adalah negara kuno yang terletak di selatan Mesopotamia (sekarang Irak), di wilayah Sumeria dan Akkadia. Babel pertama disebut dalam sebuah tablet dari masa pemerintahan Sargon of Akkad, dari abad ke-23 SM. Lihat, http://id.wikipedia.org/wiki/Babilonia Ibnu Katsir, al-Bidayah., op. cit., juz 7, hal. 100. Ibid., juz 7, hal. 47. Ibnu Khaldun, Tarikh., op. cit., juz 2, hal. 536. Ibid., juz 2, hal. 543. op. cit., juz 2, hal. 587.

[17] [18] [19] [20]

[21] Thabari, Tarikh alUmam., [22] [23] [24] [25] [26]

Ibid.., juz 2, hal. 591. Ibnu Katsir, al-Bidayah., op. cit., juz 7, hal. 170. Ibid., juz 7, hal. 229-230. Ibid., juz 8, hal. 85.

Sungai Oxus adalah satu sungai yang mengalir panjang dan membelah negara Uzbekistan, sebuah negara muslim yang besar sebelum tentara Rusia mengambil alih dan menggempur daerah itu pada tahun 1873. Lihat, www.muslimsources.com.
[27] [28] [29]

Ibnu Khaldun, Tarikh., op. cit., juz 3, hal. 76-77 Ibid., juz 4, hal. 239.

Ibnu Adzari, al-Bayan al-Maghrib f iAkhbar al-Andalus wa al-Maghrib, juz 1, hal. 140 dalam al-Maktabah al-Syamilah. Raja Roderick (Spanyol and Portugis: Rodrigo, Arab: Ludhriq, ; meninggal 711 atau 712) adalah raja terakhir Hispania (sekarang Iberia) (710-712) yang berasal dari bangsa Visigoth. Dalam legenda ia dikenal sebagai ³raja terakhir bangsa Goth´. Lihat, http://id.wikipedia.org/wiki/Roderic. Ibnu Adzari, loc. cit.

[30]

[31]

52

[32] Ahmad bin al-Muqri al-Tilmasani, Nafh al-Thayyib fi Ghasn al-Andalus alRathib, (Beirut: Dar ash-Shadir, 1900), juz I, hal. 235. [33]

Syed Mahmudunnasir, Islam Its Concepts & History, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1994), hal. 175.

Charles Martel (23 Agustus 686-22 Oktober 741) adalah seorang penguasa kerajaan di Prancis. Ia memang dikenal sebagai pahlawan Eropa yang mengklaim dirinya sebagai Duke of the Franks yang mampu menahan ekspansi Islam pimpinan Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi ke Prancis dalam Perang Tours. Lihat, http://en.wikipedia.org/wiki/Charles_Martel.
[34] [35] [36] [37] [38]

Harun Nasution, Islam Ditinjau., op. cit., jilid I, hal. 57. Ibid. Ibid.., jilid I, hal. 52-55.

H.A.R. Gibb, Islam dalam Lintasan Sejarah, e-book dari http://media.isnet.org/islam/Gibb pada Bab I Perluasan Islam. Lihat, Philip K. Hitti, History of the Arabs from the Earliest Times to the Present, (London: The Macmillian Press, 1970), hal. 145.

[39]

[40]

Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, (tk: tp, tt.) juz I, hal. 155 dalam al-Maktabah asy-Syamilah. Akram Diya al-Umari, Tolok Ukur Peradaban Islam, Arkeologi Sejarah Madinah dalam Wacana Trans-Global, terj. Hasani Asro dan A. Fawaid Syadzili, (Yogyakarta, IRCiSod, 2003), hal. 28. op. cit., juz 2, hal. 324.

[41]

[42] Thabari, Tarikh alUmam., [43]

Ali bin Burhan, as-Sirah al-Halbiyah, (Program al-Maktabah asy-Syamilah, versi 2.09), juz 7, hal 138. op. cit., juz 2, hal. 491.

[44] Thabari, Tarikh alUmam., [45] [46]

Lihat, Syed Mahmudunnasir, Islam., op. cit., hal. 166.

Saat ini penganut Islam di India berjumlah sekitar 147 juta orang atau 13,4 % dari total rakyat India. Islam masih menjadi agama minoritas dibandingkan dengan Hindu sebagai agama mayoritas yang penganutnya mencapai 828 juta orang atau 80,4 persen. Populasi penganut Islam di India menempati peringkat ketiga terbesar di dunia setelah Indonesia (210 juta orang) dan Pakistan (166 juta orang). Lihat, www.wikipedia.com.

Saat ini, penganut Islam di Spanyol diperkirakan sekitar 3 % dari seluruh penduduk negara matador tersebut. Sementara Kristen Katolik Roma dianut oleh sekitar 90 % penduduknya. Lihat, ibid.
[47]

53

[48] [49]

http://id.wikipedia.org/wiki/Inkuisisi_Spanyol. Rosihon Anwar, ³Islam dan Jalan Pedang´, Republika, 20 September 2006

http://racheedus.wordpress.com/makalahku/ekspansi-islam-ke-luar-jazirah-arab/

Masa Kekhilafahan Utsmaniyah: 1517-1924/ 923-1349 H (407 tahun) Kata ³Utsmaniyah´ yang berarti anak-anak Utsman, didirikan oleh Utsman (12581326). Mencapai keemasannya selama tahun 1481-1566, dalam masa pemerintahan Bayezid II (1481-1512), Selim I (1512-1520), dan Suleiman I (1520-1566). Bayezid mengembangkan wilayah kekuasaan hingga ke daratan Eropa, hingga Laut Hitam, dan Asia Timur. Bayezid digantikan oleh putranya, Selim I. Dalam waktu singkat, kekuasaan Utsmaniyah berhasil menjangkau Suriah, Mesopotamia (Iraq), Arab dan Mesir. Saat berada di Mekkah, Selim mengangkat dirinya sebagai khalifah, pemimpin seluruh umat Muslim. Dengan kekuasaan penuh atas dunia Arab, Selim memboyong para cendekiawan dan seniman untuk datang ke Konstantinopel, ibukota dinasti Utsmani yang direbut dari tangan Byzantium tahun 1453 silam. Selim I kemudian digantikan oleh putranya, Sulaiman I (1520-1566). Gebrakan Sulaiman pada masa awal pemerintahannya sungguh mengesankan. Setahun setelah memerintah, Beograd berhasil ditaklukkan. Setahun kemudian, 1522, giliran Rhodes yang jatuh ke tangan Utsmani, sementara itu kekuatan militer Hungaria dihancurkan. Tahun 1529, Afrika Utara berhasil direbut, disusul oleh Tripoli tahun 1551. Pada setiap kota utama yang ditaklukannya, Sulaiman menghiasinya dengan mesjid, aquaduk, jembatan dan berbagai fasilitas umum lainnya. Tapi karena terlalu gencar meluaskan kekuasaan, keadaan dalam negeri menjadi keropos. Banyak daerah yang berniat untuk melepaskan diri. Akhirnya setelah perang dunia I yang Turki termasuk negara kalah perang karena ada dalam satu blok dengan Jerman, Mustafa Kemal Pasha melakukan reformasi dan membubarkan kesultanan Turki diganti dengan Republik Sekuler. Penutup Islam berkembang dengan pesat. Hampir sebagian besar dari bumi ini menjadi daerah kekuasaan Islam pada masa kejayaan dinasti-dinasti Islam. Wilayah tersebut membentang dari sebelah barat yaitu menyentuh samudera Atlantik, dan di sebelah timur sampai Cina. Tapi jika dari pengaruh secara agama, Islam benar-benar mencapai seluruh pelosok dunia. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dari sebuah kota kecil bernama Mekkah ini, benar-benar menjadi rahmatan lil Alamin pada akhirnya. Perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat. Banyak ilmuwan dan sarjana Islam yang berjasa dalam bidangnya. Sebut saja Ibnu Sina yang berjasa bagi ilmu pengetahuannya. Dialah orang pertama yang membuat ensiklopedi untuk bidang ilmu
54

kedokteran. Bahkan ensiklopedi itu masih dijadikan referensi sampai sekarang. Kotakota Islam seperti Damaskus dan Baghdag sempat menjadi pusat-pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia. Tapi sekarang hal tersebut mengalami kemunduran. Setelah masa dinasti runtuh, Islam terpecah dalam negeri-negeri kecil. Negeri-negeri tersebut sangat mudah menjadi santapan negara-negara imperialis barat. Generasi Islam malas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dahulunya sangat maju di dunia Islam. Banyak yang terlena dengan hanya mementingkan urusan akhirat saja. Tapi untuk kewajiban mencari ilmu dan rizki Allah di muka bumi ini tidak diabaikannya. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda Islam. Kita wajib untuk mengkaji terus ilmu pengetahuan dan mencari ilmuilmu baru yang akan bermanfaat bagi kemaslahatan hidup umat manusia. Ingatlah bahwa Islam pernah jaya, dan abad ke-21 ini adalah momen tepat untuk kita mengembalikan kejayaan Islam itu. Tak ada kata terlambat. Dengan usaha dan izin dari Allah, Insya Allah Islam bisa kembali jaya dengan rasa toleransi sesama manusia

55

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->