P. 1
Pengantar Tafsir Injil Yohanes

Pengantar Tafsir Injil Yohanes

4.0

|Views: 6,157|Likes:
Published by Lie Chung Yen
In Indonesian language, "Introduction to the Gospel of John", originally notes of lectures on the Gospel of John by Martin Suhartono, S.J. delivered to the students of the Wedabhakti Pontifical Faculty of Theology / Faculty of Theology, University of Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia.
In Indonesian language, "Introduction to the Gospel of John", originally notes of lectures on the Gospel of John by Martin Suhartono, S.J. delivered to the students of the Wedabhakti Pontifical Faculty of Theology / Faculty of Theology, University of Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia.

More info:

Published by: Lie Chung Yen on Apr 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2013

pdf

text

original

Ada paralelisme antara para tokoh yang muncul di adegan awal dan akhir:
Awal Injil (1:1-51)

Akhir Injil (21:1-25)

1. Petrus (murid yg. diperantarai)

1. Petrus

2. Natanael (murid yg. diperantarai)

2. Natanael

3. Andreas (murid perantara)

3. Anonim (Andreas?)

4. Filipus (murid perantara)

4. Anonim (Filipus?)

5. Roh Kudus

5. Yesus yang bangkit

6. Pembaptis (dipenggal Herodes

6. Yakobus (dipenggal Herodes

Antipas)

Agrippa)

7. Yesus sebelum bangkit

7. Tomas, si “Kembar” itu

8. Anonim (MD?)

8. Yohanes.

Kehadiran Petrus dan Natanael, murid-murid yang dibawa kepada Yesus, merupakan
petunjuk bahwa bila mereka (“murid generasi kedua”) saja hadir, apalagi murid-murid yang
telah membawa mereka kepada Yesus, yaitu perantara mereka: Andreas dan Filipus. Di
antara keduabelas rasul Yesus, hanya dua rasul inilah yang disebut dengan nama Yunani.
Mereka merupakan sepasang rasul yang dihormati bersama-sama di Asia Timur dan dalam
Injil Yoh tampaknya juga selalu ditampilkan bersama sebagai “sepasang perantara”: dalam
episode pergandaan roti (Yoh 6) dan ketika orang-orang Yunani mencari Yesus (Yoh 12).
Sang Pembaptis dapat diparalelkan dengan Yakobus: masing-masing mengalami nasib sama:
wafat dipenggal kepala; yang satu oleh Raja Herodes Antipas, yang lain oleh anaknya, yaitu
Herodes Agrippa. Dalam martiriologi kuno kedua Yohanes Pembaptis dan Yakobus Rasul
juga dirayakan bersama-sama. Yesus historis dapat diparalelkan dengan Tomas. Tomas
sering disebut “Didimus” (artinya: kembar) dalam Yoh, hingga kerap menimbulkan tanda
tanya, mengapa hal itu begitu ditekankan oleh Yoh (lih. 11:16; 20:24; 21:2). Kata “kembar”
mengandaikan pasangan kembarnya. Siapakah kembarannya? Menurut tradisi kuno, Tomas,
rasul yang pergi ke India, adalah saudara kembar Yesus sendiri, paling tidak dalam rupa
jasmaniah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, kalau ketujuh tokoh lainnya ternyata paralel
satu sama lain, lihat skema di atas, maka dari segi kisah, MD paralel dengan salah satu anak
Zebedeus yang disebut dalam 21:2; karena Yakobus paralel dengan Pembaptis, maka MD
paralel dengan Yohanes.

Martin/Yohanes/hlm. 25

Wajar bila MD sebagai saksi hadir sejak awal, lihat kriteria pengganti Yudas dalam
Kis 1:21-22, "yang ada bersama kami sejak dari awal mula". Narasi Yoh memberi petunjuk
bahwa MD adalah Yohanes. Arti nama Yohanes (Ibrani: Yohannan) adalah “Allah telah
mengasihi (berbelas kasih)”. Yoh selalu menekankan kasih Kristus kepada murid tsb. melalui
ungkapan harfiah bahasa Yunani dalam bentuk aktif, “murid, yang Yesus mengasihi”, yang
biasa diterjemahkan menjadi bentuk pasif “beloved disciple”, “murid yang dikasihi”.
Namun, apakah makna semua ketersembunyian dan teka-teki ini? Andaikata yang
menjadi keprihatinan pengarang Yoh adalah segi otoritas rasulinya, tentu ia dengan terus
terang akan mengatakan bahwa Yohanes Rasul adalah sang MD dan saksi mata dan penulis
Injil itu. Nama pribadi MD yang tak disebut mengundang pembaca untuk tak terikat pada
pribadi konkret MD melainkan menerimanya sebagai tokoh simbolis. Dengan demikian
pembaca diajak melibatkan diri secara aktif, menempatkan dirinya juga sebagai MD itu
sendiri. Maka kata ganti “kami” dalam Prolog (1:14: “kami telah menyaksikan kemuliaanNya
... kami semua telah menerima ..."), ditengah-tengah (3:11: “Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya kami berkata-kata ... kami bersaksi tentang ..."), dan dalam Epilog (21:24:
kami tahu bahwa ...) dari satu pihak berarti narator (plus komunitas yang diwakilinya),
sedangkan dari pihak lain pembaca diajak untuk dapat turut serta terlibat di dalam narasi, jadi
bukan lagi “kami” (pengarang dan komunitas) melainkan “kita” (pengarang, komunitas, dan
pembaca).

Sebenarnya, keterlibatan pembaca bukan hanya terletak pada menafsirkan secara
intelektual belaka hal-hal yang tak jelas dalam teks (ambivalensi teks), melainkan lebih
mendalam lagi: dunia tekstual sebagaimana terkandung di dalam suatu kisah menawarkan
suatu pilihan hidup (atau orientasi hidup) di antara berbagai pilihan yang mungkin ditemui
pembaca dalam hidup nyata. Dan pembaca diundang (atau dituntut) untuk menentukan sikap.
Tidak mengambil sikap itu sendiri sudah merupakan suatu sikap yang berakibat hidup atau
mati (bdk. sikap gelap terhadap terang dalam 3:18).
Dalam konteks keterlibatan pembaca dalam suatu narasi, pemikiran Paul Ricoeur
dapat menyumbangkan sesuatu yang berarti. Ricoeur secara intensif telah merenungkan
hubungan antara waktu dan narativitas, lihat P. Ricoeur, Temps et récit, 3 vols (Paris, 1983,
1984, 1985); terj. Inggris, Time and Narrative, 3 vols (Chicago - London, 1984, 1985, 1988).
Ada satu pengandaian yang mendasari segala permenungan Ricoeur, yaitu: dunia yang
dibeberkan oleh setiap karya naratif selalu adalah dunia temporal; ia merumuskannya
demikian: “time becomes human to the extent that it is articulated through a narrative mode,
and narrative attains its full meaning when it becomes a condition of temporal existence” (P.

Martin/Yohanes/hlm. 26

Ricoeur, Time and Narrative, vol. I, hal. 52.). Waktu menjadi manusiawi sejauh
diartikulasikan lewat medium narasi, dan narasi mencapai kepenuhan makna bila menjadi
suatu kondisi bagi keberadaan temporal. Tesis utama Ricoeur adalah bahwa hanya kegiatan
naratif sajalah yang dapat secara memadai menjawab problem-problem yang berkaitan
dengan waktu. Problem-problem waktu misalnya: perbedaan antara waktu psikologis dan
kosmologis; keterpecahan waktu dalam tiga segmen (yang lalu, kini, yang akan datang), yang
dialami sebagai satu kesatuan; waktu tak bisa diungkapkan secara penuh lewat medium apa
pun.

Dalam narasi, menurut Ricoeur, problem waktu tidaklah diselesaikan secara teoretis
melainkan secara poetis. Yang dimaksudkan dengan “secara teoretis” adalah penyelesaian
berdasarkan renungan spekulatif akan problem waktu sebagaimana dicoba dalam filsafat,
khususnya dalam fenomenologi. Sedangkan dengan “secara poetis” bukan dimaksudkan
“secara indah (puitis)”, melainkan sebagaimana diartikan oleh Aristoteles dalam Poetica, dari
akar kata Yunani "poiein" (membuat/mencipta), yaitu merujuk pada kemampuan bahasa
untuk mencipta dan menciptakan kembali, jadi menyangkut baik fiksi maupun puisi. Bahasa
menjawab problem waktu dengan mengkonfigurasikan waktu dalam narasi. Istilah mistisnya,
waktu seakan-akan “ditangkap”, “dikurung” dalam pengaluran (emplotment) narasi.
Yang menarik adalah teori Ricoeur tentang mimesis berlipat tiga. Mimesis I adalah
“waktu yang diprefigurasikan” (temps préfiguré; time prefigured). Ini menunjuk pada bidang
praktis pengalaman manusia dengan struktur-struktur temporalnya yang seakan-akan menjerit
untuk dikisahkan; suatu peristiwa seakan-akan “menuntut” untuk dituangkan dalam suatu
kisah. Dalam arti ini, uraian apa pun (entah itu ilmiah atau pun bukan) sebenarnya memiliki
struktur dasar suatu narasi. Mimesis II adalah “waktu yang dikonfigurasikan” (temps
configuré
; time configured) dalam teks berkat proses pengaluran (emplotment). Ini berfungsi
sebagai mediasi (perantara) antara apa yang sebelum dan sesudah teks. Mimesis III adalah
“waktu yang direfigurasikan” (temps refiguré; time refigured), yang diambil-alih oleh
pembaca. Dengan demikian waktu ditransfigurasikan dari satu sisi teks ke sisi yang lain, dari
dunia pengarang ke dunia pembaca, melalui daya teks untuk mengkonfigurasikan waktu.
Meminjam kategori Mendilow (Time and the Novel, New York 1952). Ricoeur
beranggapan bahwa semua narasi adalah “kisah waktu” (tales of time) karena perubahan
situasi dan para tokoh memerlukan waktu atau terjadi dalam waktu. Namun ada beberapa
narasi yang merupakan “kisah tentang waktu” (tales about time), yaitu sejauh pengalaman
akan waktu itu sendirilah yang menjadi pusat perhatian atau renungan dalam perubahan itu.
Kisah tentang waktu mengkonfigurasikan pengalaman fiktif tentang waktu yang ditawarkan

Martin/Yohanes/hlm. 27

kepada pembaca sebagai suatu cara berada di dunia. Pemahaman dan pengalaman akan waktu
membawa akibat pula pada cara hidup seseorang. Misalnya, ada orang yang beranggapan
bahwa waktu dihancurkan oleh kematian dan karena itu ia hidup, entah dengan pesimisme
total dan akibatnya bunuh diri, atau malah hidup dengan prinsip mengeruk dan menikmati
kesenangan sebesar mungkin sebelum kematian merenggut semua itu.
Dalam konteks Yoh, dengan segala tekanan yang ada pada peranan “Murid yang
dikasihi”, kita bisa saja menerapkan teori Ricoeur tsb., dalam arti demikian: bilamana istilah
“waktu” diganti dengan “cinta”, akan kita dapatkan skema berikut ini:

Dunia riil pengarang <---> Dunia tekstual kisah <---> Dunia riil pembaca
(Love prefigured) (Love configured)

(Love refigured)

Lebih-lebih kalau diingat bahwa dalam konteks Injil Yoh, “hal-hal yang dibuat Yesus”
(21:25) dapat diringkaskan sebagai tindakan kasih yang paling besar (bdk. 15:13); Yoh dalam
suratnya mengatakan bahwa Allah adalah Cinta (I Yoh 4:8). Jadi lewat MD cinta Yesus itu
disampaikan kepada pembaca; cinta itulah yang menghubungkan pembaca dengan tokoh
Yesus itu sendiri. Hanya bilamana cinta itu ada, maka si pembaca akan mengalami Yesus,
“Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapaku dan Akupun akan mengasihi dia
dan akan menyatakan diriKu kepadanya” (14:21). Tanpa kontak langsung dengan Yesus itu,
tak akan pembaca memperoleh hidup, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci ... namun kamu
tak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu.” (5:39-40)
Jadi figur simbolik MD itu sebagai narator, tokoh, saksi dan penulis memang dituntut
oleh narasi Injil Yohanes yang memiliki hakekat sebagai suatu kesaksian akan cinta Yesus.
Meminjam kata-kata Jalaluddin Rumi, sang mistikus Sufi, bisa dikatakan bahwa: “The tale of
love must be heard from love itself”(dikutip dari R. Feild, The Last Barrier. A Sufi Journey,
Shaftesbury-Dorset, 1988, hal. 28.). Dapat pula ditambahkan bahwa seturut semangat
Yohanes: hanya yang berasal dari cinta sajalah yang akan mengenali cinta (bdk. 5:42; 8:42,
47; I Yoh 4:7-8).

Martin/Yohanes/hlm. 28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->