P. 1
Proposal Kampanye Isi

Proposal Kampanye Isi

|Views: 2,823|Likes:
Published by odrine

More info:

Published by: odrine on Apr 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

Obesitas kian menjadi masalah di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia,
perlu diketahui bahwa obesitas bukan hanya mengancam orang dewasa namun juga
anak-anak. Obesitas yang terjadi pada anak-anak saat ini telah menjadi momok yang
menakutkan bagi masyarakat, karena diperkirakan pada tahun 2020, anak yang
menderita obesitas pada usia 7 sampai 15 tahun akan mencapai 65 persen.
Penelitian yang dilakukan di empat belas kota besar di Indonesia, angka kejadian
obesitas pada anak tergolong relatif tinggi, antara 10-20% dengan nilai yang terus
meningkat hingga kini. Survei oleh Ikatan Dokter Indonesia di beberapa sekolah dasar di
Jakarta, ternyata jumlah obesitas anak di Indonesia tidak lah sedikit. Angkanya berkisar
antara 10-30%.

Hal ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat kebanyakan orang tua di
Indonesia mempunyai persepsi bahwa anak yang gemuk itu lucu dan sehat, mereka tak
menyadari dibalik tubuh anak mereka itu tersimpan bahaya yang besar bagi kesehatan
dan tumbuh kembangnya, tak heran jika angka tersebut terus naik dan bertambah
setiap tahunnya.

Sebenarnya, apa yang dikatakan obesitas itu? Menurut Dr. Angela C Ardhianie,
anak dikatakan obesitas jika berat badannya 40 persen lebih tinggi dari berat badan
ideal dan overweight jika berat badannya lebih tinggi 20 persen dari berat badan
idealnya.

Pada dasarnya, kegemukan (obesitas) terjadi karena ketidakseimbangan antara
masuk dan keluarnya energi. “Akibatnya, terjadilah kelebihan energi, yang selanjutnya
disimpan dalam bentuk jaringan lemak,” demikian penjelasan dari Dr. dr. Damayanti
Sjarif, Sp.A(K) dari Divisi Gizi dan Penyakit Metabolik, RSUPN Cipto Mangunkusumo
Jakarta.

Kegemukan pun dapat dibagi menjadi dua, yaitu kegemukan primer dan
kegemukan sekunder. Yang dimaksud dengan kegemukan primer adalah kegemukan
akibat makan secara berlebihan, jumlahnya mencapai Sembilan puluh persen, dan
sepuluh persen sisanya kegemukan karena penyakit atau gangguan hormonal atau
gangguan yang diturunkan, disebut kegemukan sekunder.
Sebenarnya, kegemukan primer dapat dikendalikan, caranya dengan waspada
sedari dini, terlebih kegemukan jenis ini biasanya terjadi akibat interaksi berbagai faktor
yang dikelompokan menjadi faktor genetik dan lingkungan.

Faktor genetik berarti kegemukan yang sudah bawaan si anak dari orang tuanya.
“Dari penelitian terbukti, bahwa jika kedua orang tua menderita kegemukan, sekitar
80%anaknya akan menderita kegemukan juga. Bila hanya salah satu orang tuanya saja
yang menderita kegemukan, resikonya menjadi 40%. Sedangkan jika keduanya tidak
kegemukan, resikonya turun lagi tinggal 14%.” Jelas Dr. Damayanti yang juga seorang
pakar gangguan metabolisme pada anak.
Sementara faktor lingkungan yang ikut berperan besar adalah faktor nutrisi, mulai
dari jenis makanan sampai dengan perilaku makan yang berlebih-lebihan, baik porsi
maupun frekuensinya. Tentunya aktivitas fisik yang kurang, ataupun faktor gaya hidup
juga amat berpengaruh sebagai faktor kegemukan atau obesitas.
Banyak hal negative yang didapat dari obesitas, sejumlah studi menyimpulkan
bahwa anak-anak yang kelebihan berat badan sejak usia kurang dari 10 tahun akan
menghadapi ancaman stroke pada usia 40, bahkan bisa dimulai sejak usia 30.
Kelebihan berat badan yang dimaksud adalah anak kelebihan indeks massa tubuh (IMT)
atau body mass index (BMI) sebesar 20% atau lebih dari IMT normal.

Berikut merupakan beberapa resiko penyakit yang mungkin di derita anak

obesitas, diantaranya:

- Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti pembesaran jantung atau
peningkatan tekanan darah

- Gangguan metabolism glukosa, misalnya intoleransi glukosa

- Gangguan kedudukan tulang, berupa kaki pengkor atau tergelincirnya bagian
sambungan tulang paha (terutama pada anak laki-laki)

- Gangguan kulit, khususnya di daerah lipatan, akibat sering bergesekan

- Gangguan mata, seperti penglihatan ganda, terlalu sensitive terhadap cahaya,
dan batas pandangannya jadi lebih sempit.

Inilah anatomi dari anak yang mengalami obesitas:
- Wajah membulat

- Pipi tembem

- Dagu rangkap

- Leher relative pendek

- Dada membusung, dengan payudara yang relative membesar karena
mengandung jaringan lemak

- Perit membuncit disertai dinding perit yang berlipat-lipat

- Kedua tungkai umumnya berbentuk X, dengan kedua pangkal paha bagian
dalam yang saling menempel dan bergesekan. Akibatnya timbullah lecet.

- Pada anak laki-laki, penis tampak kecil karena tersembunyi dalam jaringan
lemak. Makanya sering kali orang tua menjadi khawatir.

Dari penelitian Angulo A & Lindor KD (2001), 40% anak kegemukan yang
diperiksa melalui skrining USG hati ternyata mengalami gangguan penyakit hati (NASH
atau Non Alcoholic Steatohepatitis) yang dapat berlanjut jadi pengerutan jaringan hati,
bahkan kanker hati. Penurunan berat badan diduga akan menormalkan kadar enzim
hati dan juga ukuran hati.

Untuk itu, sedari sekarang, sadarilah kelebihan berat badan pada anak bukanlah
hal yang baik, biasakan mereka untuk makan makanan yang bergizi dan jauhi junk food.
Karena junk food merupakan salah satu menyebab terjadinya obesitas. Biasakan juga
anak-anak untuk bergerak dan beraktifitas dengan baik dan seimbang, dan kenali
mereka dengan olah raga yang baik bagi kesehatan dan tumbuh kembangnya. Karena
obesitas dapat mengancam masa depan anak anda, cepat atau lambat. (Odrine)

BACKGROUND INFORMATION

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->