P. 1
Kumpulan Makalah Komunikasi

Kumpulan Makalah Komunikasi

|Views: 2,699|Likes:
KOMUNIKASI Media Massa, Pemerintah dan Humas Media massa sering dikatakan memiliki peran sebagai "anjing penjaga" dan berdiri di sisi yang berlawanan dengan pemerintah. Salah satu manfaat utama pers yang bebas dalam sistem demokrasi sering dinyatakan dengan kewajiban untuk menyediakan informasi pada masyarakat mengenai kinerja pemerintah. Tetapi, sukar ditemukan alasan yang mendasari pers sebagai "anjing penjaga" kinerja pemerintah. Istilah tersebut mengesankan bahwa pers telah

Semua Isi Ini Jugak Bisa Anda Dapatkan di
http://suriyaaceh.blogspot.com
Saya Telah Mengaturnya Kedalam Satu fail Tingal Di Prin ja Sob...!
KOMUNIKASI Media Massa, Pemerintah dan Humas Media massa sering dikatakan memiliki peran sebagai "anjing penjaga" dan berdiri di sisi yang berlawanan dengan pemerintah. Salah satu manfaat utama pers yang bebas dalam sistem demokrasi sering dinyatakan dengan kewajiban untuk menyediakan informasi pada masyarakat mengenai kinerja pemerintah. Tetapi, sukar ditemukan alasan yang mendasari pers sebagai "anjing penjaga" kinerja pemerintah. Istilah tersebut mengesankan bahwa pers telah

Semua Isi Ini Jugak Bisa Anda Dapatkan di
http://suriyaaceh.blogspot.com
Saya Telah Mengaturnya Kedalam Satu fail Tingal Di Prin ja Sob...!

More info:

Published by: Pangeran Suriya Senja on Apr 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

Sections

KOMUNIKASI

Media Massa, Pemerintah dan Humas

Media massa sering dikatakan memiliki peran sebagai "anjing penjaga" dan berdiri di sisi
yang berlawanan dengan pemerintah. Salah satu manfaat utama pers yang bebas dalam
sistem demokrasi sering dinyatakan dengan kewajiban untuk menyediakan informasi
pada masyarakat mengenai kinerja pemerintah.

Tetapi, sukar ditemukan alasan yang mendasari pers sebagai "anjing penjaga" kinerja
pemerintah. Istilah tersebut mengesankan bahwa pers telah menjadi perwakilan dari
rakyat untuk 'menjaga' dan 'memerhatikan' kinerja pemerintah. Dengan asumsi itu,
pemerintah terkesan selalu salah, sementara pers selalu benar. Pers pun memandang
bahwa institusinya berdedikasi tinggi apabila sukses memperlihatkan 'kegagalan'
pemerintah. Dengan senang hati, pers memublikasikan informasi yang bisa meningkatkan
oplah, mengisi komersial slot tanpa khawatir bahwa yang dipublikasikan dapat
berdampak buruk pada masyarakat. Kenyataannya, pers pada umumnya adalah institusi
swasta yang berorientasi pada laba.

Pers itu bebas, termasuk untuk berpihak. Contohnya, sebuah media massa dapat
mendukung semua kebijakan pemerintah atau mungkin menentang kebijakan lainnya.
Atau bisa saja bersikap mendua terhadap suatu kebijakan, kadang bersikap pro dan
kadang bersikap kontra. Sebuah media massa bisa menentukan diri sebagai lawan
pemerintah, atau sebagai 'pengawal' kebijakan pemerintah. Sebuah media massa dapat
mengritisi dan menentukan bagaimana suatu kebijakan menjadi kesalahan. Media massa
dapat bertindak sebagai "anjing penjaga" atau "senjata" untuk mendukung atau
sebaliknya menyerang pemerintah.

Suara pemerintah bisa menjadi bahan perbincangan, perdebatan dan interpretasi oleh
figur-figur media. Pernyataan pemerintah segera ditanggapi dalam tajuk rencana yang
menginterpretasikan apa yang 'sebenarnya' dikatakan oleh pejabat tersebut dan apa yang
'sebenarnya' dimaksudkan. Sayangnya, kadang interpretasi tersebut cenderung premature
dan instant. Analisis instan segera menjadi bias instan. Distorsi kerap terjadi hingga
menyesatkan masyarakat. Hal-hal demikian berdampak negatif pada pemberitaan
mengenai pemerintah.

Benarkah pemerintah membutuhkan pers sebagai kanal informasi untuk masyarakat?
Benarkah pemerintah tanpa pers benar-benar tidak berdaya untuk menyosialisasikan
kebijakan dan pelayanan publik? Benarkah hubungan yang terjalin antara media massa
swasta dan pemerintah layak dijalankan meskipun ada kemungkinan besar terjadi
pengemasan berita yang bias hingga mengarah pada runtuhnya kepercayaan masyarakat?

Kenyataannya, banyak jurnalis bergantung pada aparat pemerintah untuk pemberitaan.
Faktanya, semua informasi yang diberitakan oleh media massa tentang pemerintah
didapat dari (bahkan divalidasi oleh) pejabat pemerintah, termasuk mengenai event-event
nasional, kecuali bila mereka mendapat informasi dari sumber berita otoritas berwenang.
Secara tradisional, jurnalis tergantung serta harus bekerja sama dangan sumber resmi
pemerintah. Pemerintah memberikan respons dengan menyediakan informasi yang padat
dan seimbang, undangan untuk berpartisipasi pada berbagai kegiatan, bahkan
menyediakan 'tunjangan' demi menghindari publikasi negatif. Ungkapan "WTS"
(Wartawan Tanpa Surat Kabar), Wartawan CNN (Wartawan Cuma Nanya-nanya) pun
tetap populer di kalangan jurnalis yang sering mencari berita di instansi-instansi
pemerintah.

Agar masyarakat menerima informasi yang jernih dan berimbang, pemerintah harus lebih
melibatkan diri dalam dunia media massa.

Peran Humas

Pemerintah saat ini telah memiliki kapasitas untuk mengungkapkan informasi secara
langsung. Kembalinya Departemen Penerangan dengan kemasan baru, kehadiran
beragam situs resmi instansi pemerintah yang telah menghabiskan anggaran miliaran
rupiah, kehadiran puluhan media massa internal pemerintah serta beragam jurnal
menunjukkan kemampuan pemerintah menyediakan informasi yang dibutuhkan
masyarakat. Dhus, pemerintah sebaiknya mulai mengurangi peran instansi swasta dalam
pemberian informasi.

Hampir seluruh instansi pemerintah memiliki kantor humas, divisi yang melakukan
manajemen media massa, pembangun citra, jembatan pemerintah dengan masyarakat,
serta penghubung pemerintah dengan pers. Kantor humas telah melakukan publikasi
internal, memberdayakan kantor-kantor wilayah serta unit pelayanan teknis agar berperan
sebagai outlet informasi. Pejabat humas pemerintah sebenarnya memiliki kemampuan
bersaing dengan editor institusi swasta, khususnya dalam uji kompetensi. Tetapi, citra
pegawai negeri sipil selama ini selalu dianggap korup dan terlalu santai. Kesan negatif
pun telanjur menancap di benak masyarakat kita. Citra warisan yang telah berumur
puluhan tahun yang semestinya diubah.

Sebelum bola reformasi bergulir, pemerintah memiliki imej sebagai manipulator
informasi. Bahkan setelah reformasi, imej ini tidak banyak berubah. Pemerintah seolah
dianggap 'musuh' yang harus dilawan. Dengan bergulirnya reformasi, pemerintah
menransformasikan diri agar menjadi pemerintahan yang bersih dan benar.

Masyarakat telah memahami hak-haknya yang sekaligus juga menjadi kewajiban
pemerintah. Dalam bidang pelayanan publik, masyarakat menuntut sistem pemerintahan
yang bersih dan transparan. Masyarakat berhak atas akses informasi, sebaliknya

pemerintah wajib menjamin akses tersebut terjaga dan terkontrol agar tidak menimbulkan
ekses negatif akibat eksploitasi pemberitaan yang bombastis. Karena, pada akhirnya
rakyat juga yang dirugikan.

Wajah aparat birokrasi kita yang memang carut-marut sudah saatnya diperhatikan melalui
perbaikan gaji sekaligus perbaikan kinerja dengan terus meningkatkan citra pegawai
negeri dan membangun sistem yang transparan. Tentu implementasinya tidaklah mudah
karena tradisi yang tercipta selama puluhan tahun.

Seiring dengan perubahan menuju tatanan baru demokrasi, reformasi segala bidang
termasuk di dalamnya reformasi performa pegawai negeri, sistem kehumasan serta sistem
hubungan dengan media massa, maka memberdayakan divisi humas untuk mengubah
citra aparat birokrasi agar lebih tanggap menyikapi fenomena masyarakat, sangat penting.
Perkembangan teknologi informasi menuntut divisi humas dituntut lebih responsif
terhadap keluhan masyarakat.

Bahwa institusi pemerintah tidaklah seburuk yang disangka dan pegawai negeri adalah
juga rakyat Indonesia. Seyogianya kantor-kantor humas memang harus diberdayakan
untuk menjaga nama baik aparat pemerintah serta menjalin kerja sama dengan pers agar
tercipta pemberitaan yang berimbang, bermanfaat, dan bertanggung jawab. ***

Oleh: Fatma Puspita Sari, pegawai negeri sipil, alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi
Massa,
Fakultas Sospol Universitas Sebelas Maret Solo.

Sumber: Suara Karya Online

Ruang Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masyarakat
Majemuk

"Segala tindakan yang menyangkut hak orang-orang lain

yang maksimnya tak sesuai dengan kepublikan adalah tak adil."

- Immanuel Kant

BANGSA kita sedang memasuki tahapan sejarah yang sangat penting dengan
melangsungkan pemilihan presiden secara langsung. Namun, ini baru awal. Sangatlah
dini mengklaim sukses pemilu sebagai sukses demokratisasi. Pemahaman demokrasi di
negara-negara yang sedang melangsungkan transisi dari otoritarianisme menuju
demokrasi seperti negara kita bersifat minimal. Demokrasi dimengerti sebagai pemilihan
umum yang berlangsung fair. Demokrasi minimalis ini mengabaikan proses di antara

pemilihan umum yang satu dan pemilihan umum yang lain. Namun, jika bertolak dari
konsep demokrasi itu sendiri, kita tak dapat berhenti pada sikap minimalis.

DEMOKRASI per definitionem, seperti dirumuskan secara padat dalam bahasa Jerman,
adalah regierung der regierten (pemerintahan dari mereka yang diperintah). Jika
demikian, menyerahkan kepercayaan begitu saja kepada para pelaku dalam sistem politik
hasil pemilihan umum-eksekutif, legislatif, dan yudikatif-tidak akan memenuhi definisi
itu. Mereka yang diperintah harus mendapatkan akses pengaruh ke dalam sistem politik.
Jika demokrasi ingin maksimal, celah di antara dua pemilihan umum harus diisi dengan
partisipasi politis warga negara dalam arti seluas-luasnya. Dalam demokrasi maksimal
inilah konsep ruang publik menduduki tempat sentral.

Bila demokrasi tidak sekadar dipahami formalistis, ia harus memberikan kemungkinan
kepada warga negara mengungkapkan opini mereka secara publik. Ruang atau,
katakanlah, panggung tempat warga negara dapat menyatakan opini, kepentingan, serta
kebutuhan mereka secara diskursif dan bebas tekanan itu merupakan inti ide ruang publik
politis. Konsep ruang di sini bukanlah metafora, melainkan real, sejauh kita tidak
memahaminya sebagai ruang geometris yang terukur dan berciri fisis. Ruang sosial
terbentuk lewat komunikasi, yakni, seperti dikatakan Hannah Arendt, suatu lingkup bagi
suatu "aku" untuk menyatakan "kesiapaannya" di hadapan suatu "kamu" sehingga suatu
tindakan bersama suatu "kita" menjadi mungkin.

Dalam teori-teori demokrasi klasik dikenal konsep volonte generale (kehendak umum),
yaitu keputusan publik yang mencerminkan kepentingan seluruh rakyat. Konsep kuno
yang berasal dari Jean-Jacques Rousseau ini tetap dianut dalam praktik-praktik
parlementarisme modern meski konsep itu lahir dari masyarakat berukuran kecil yang
relatif homogen: masyarakat kanton Swiss. Sulit membayangkan realisasi volonte
generale dalam sebuah masyarakat majemuk dengan keragaman orientasi nilai dan gaya
hidup dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini. Ide tentang ruang publik
politis dapat menjelaskan relevansi konsep klasik itu di dalam masyarakat kompleks
seperti masyarakat Indonesia.

Apa itu ruang publik politis?

Dalam masyarakat majemuk dewasa ini, suatu identifikasi "kedaulatan rakyat" dengan
"perwakilan rakyat" dalam Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)/Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR) menjadi semakin sulit karena sistem politik "hanyalah" salah satu
subsistem di antara subsistem lain di dalam sebuah masyarakat kompleks. Karena itu,
konsep kedaulatan rakyat harus ditafsirkan secara baru. Jika parlemen hanyalah salah satu
subsistem masyarakat kompleks, kedaulatan rakyat seharusnya dibayangkan melampaui
sistem perwakilan itu, yang merupakan intensitas interaksi diskursif di antara berbagai
subsistem di dalam masyarakat majemuk. Dengan kata lain, kedaulatan rakyat adalah
"totalitas bentuk" dan "isi komunikasi" tentang persoalan-persoalan publik yang

berlangsung, baik di dalam sistem politik (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) maupun di
dalam masyarakat luas.

Jika interpretasi ini dapat diterima, ruang publik politis yang berfungsi baik dan
kedaulatan rakyat adalah satu dan sama. Konsep ruang publik politis merupakan
pemahaman baru atas konsep kedaulatan rakyat agar konsep ini dapat diterapkan di
dalam masyarakat kompleks di era globalisasi ini.

Dalam karya awalnya, Strukturwandel der Oeffentlichkeit (Perubahan Struktur Ruang
Publik), Juergen Habermas menjelaskan ruang publik politis sebagai kondisi-kondisi
komunikasi yang memungkinkan warga negara membentuk opini dan kehendak bersama
secara diskursif (1). Pertanyaannya sekarang, kondisi-kondisi manakah yang diacu oleh
Habermas?

Pertama, partisipasi dalam komunikasi politis itu hanya mungkin jika kita menggunakan
bahasa yang sama dengan semantik dan logika yang konsisten digunakan. Semua warga
negara yang mampu berkomunikasi dapat berpartisipasi di dalam ruang publik politis itu.

Kedua, semua partisipan dalam ruang publik politis memiliki peluang yang sama untuk
mencapai suatu konsensus yang fair dan memperlakukan mitra komunikasinya sebagai
pribadi otonom yang mampu bertanggung jawab dan bukanlah sebagai alat yang dipakai
untuk tujuan-tujuan di luar diri mereka.

Ketiga, harus ada aturan bersama yang melindungi proses komunikasi dari represi dan
diskriminasi sehingga partisipan dapat memastikan bahwa konsensus dicapai hanya lewat
argumen yang lebih baik. Singkatnya, ruang publik politis harus "inklusif", "egaliter",
dan "bebas tekanan" (2). Kita dapat menambahkan ciri-ciri lain: pluralisme,
multikulturalisme, toleransi, dan seterusnya. Ciri ini sesuai dengan isi konsep kepublikan
itu sendiri, yaitu dapat dimasuki oleh siapa pun.

Di manakah lokus ruang inklusif, egaliter, dan bebas tekanan itu di dalam masyarakat
majemuk? Jika kita, seperti analisis Habermas, membayangkan masyarakat kompleks
dewasa ini sebagai tiga komponen besar, yaitu sistem ekonomi pasar (kapitalisme),
sistem birokrasi (negara), dan solidaritas sosial (masyarakat), lokus ruang publik politis
terletak pada komponen solidaritas sosial. Dia harus dibayangkan sebagai suatu ruang
otonom yang membedakan diri, baik dari pasar maupun dari negara.

Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulitlah membayangkan adanya
forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar ataupun negara.
Kebanyakan seminar, diskusi publik, demonstrasi, dan seterusnya didanai, difasilitasi,
dan diformat oleh kekuatan finansial besar, entah kuasa bisnis, partai, atau organisasi
internasional dan seterusnya. Hampir tak ada lagi lokus yang netral dari pengaruh
ekonomi dan politik. Jika demikian, ruang publik politis harus dimengerti secara

"normatif": ruang itu berada tidak hanya di dalam forum resmi, melainkan di mana saja
warga negara bertemu dan berkumpul mendiskusikan tema yang relevan untuk
masyarakat secara bebas dari intervensi kekuatan-kekuatan di luar pertemuan itu. Kita
menemukan ruang publik politis, misalnya, dalam gerakan protes, dalam aksi advokasi,
dalam forum perjuangan hak-hak asasi manusia, dalam perbincangan politis interaktif di
televisi atau radio, dalam percakapan keprihatinan di warung-warung, dan seterusnya.

Berbeda dari demokrasi dalam masyarakat yang berukuran relatif kecil dan homogen,
demokrasi di dalam masyarakat kompleks yang berukuran gigantis seperti masyarakat
kita tidak dapat berfungsi secara memuaskan hanya dengan mengandalkan kinerja para
wakil rakyat dalam DPR/MPR. Subjek kedaulatan rakyat dalam masyarakat majemuk
tidak boleh dibatasi pada aktor-aktor parlementer. Subjek itu seharusnya adalah para
aktor dalam ruang publik politis, dan mereka adalah apa yang kita sebut masyarakat sipil.
Mereka terdiri atas perkumpulan, organisasi, dan gerakan yang terbentuk spontan untuk
menyimak, memadatkan, dan menyuarakan keras-keras ke dalam ruang publik politis
problem sosial yang berasal dari wilayah privat (3).

Masyarakat sipil bukan hanya pelaku, melainkan juga penghasil ruang publik politis.
Seperti diteliti oleh J Cohen dan A Arato, ruang publik politis yang dihasilkan para aktor
masyarakat sipil itu dicirikan oleh "pluralitas" (seperti keluarga, kelompok nonformal,
dan organisasi sukarela), "publisitas" (seperti media massa dan institusi budaya),
"privasi" (seperti moral dan pengembangan diri), dan "legalitas" (struktur hukum dan
hak-hak dasar) (4).

Fungsi ruang publik politis

Di dalam rezim Soeharto, negara mengintervensi pembentukan opini publik dengan
alasan pemeliharaan stabilitas nasional, mengawasi media massa secara ketat demi
keamanan nasional, menstigma para oposan, dan merintangi pembentukan spontan
kelompok-kelompok politis. Pemerintah saat itu membenarkan politik represifnya dengan
alasan bahwa negara sudah diperlengkapi dengan DPR/MPR untuk kanalisasi aspirasi
publik, sementara lembaga perwakilan ini berada di bawah dominasi eksekutif.

Masih basah dalam ingatan kita bagaimana pada setiap pemilihan presiden terjadi kor
setuju yang jadi ritual bagi terpilihnya kembali Soeharto untuk kesekian kalinya. Tak
boleh ada beda pendapat. Aklamasi dipersiapkan sebelumnya. Negara Orde Baru adalah
sebuah sistem administrasi otoriter yang merintangi pembentukan ruang publik politis
dengan menciptakan publik semu yang bertindak seolah-olah mewakili volonte generale.

Negara Orde Baru tidak hanya tidak memiliki sambungan pada sumber loyalitas dan
legitimitasnya, melainkan juga kekurangan sensibilitas terhadap masalah sosial yang
nyata dihadapi. Tak adanya sambungan inilah yang menyebabkan rakyat menarik
kembali legitimitas pemerintahan Soeharto lewat gerakan reformasi. Reformasi tak lain

dari membangun jaringan yang menyambungkan sistem politik dengan sumber
legitimitasnya: rakyat.

Dalam negara hukum demokratis, ruang publik politis berfungsi sebagai sistem alarm
dengan sensor peka yang menjangkau seluruh masyarakat. Pertama, ia menerima dan
merumuskan situasi problem sosio-politis. Melampaui itu, kedua, ia juga menjadi
mediator antara keanekaragaman gaya hidup dan orientasi nilai dalam masyarakat di satu
pihak dan sistem politik serta sistem ekonomi di lain pihak. Kita bisa membayangkan
ruang publik politis sebagai struktur intermedier di antara masyarakat, negara, dan
ekonomi. Organisasi-organisasi sosial berbasis agama, lembaga swadaya masyarakat,
perhimpunan cendekiawan, paguyuban etnis, kelompok solidaritas, gerakan inisiatif
warga, dan masih banyak lainnya dalam ruang publik memberikan isyarat problem
mereka agar dapat dikelola oleh negara.

Ruang publik berfungsi baik secara politis jika secara "transparan" memantulkan kembali
persoalan yang dihadapi langsung oleh yang terkena. Transparansi itu hanya mungkin
jika ruang publik tersebut otonom di hadapan kuasa birokratis dan kuasa bisnis. Tuntutan
normatif ini tentu sulit didamaikan dengan fakta bahwa media elektronik dan cetak di
masyarakat kita kerap menghadapi dilema yang tak mudah dipecahkan di hadapan
tekanan politis maupun pemilik modal. Namun, itu tak berarti bahwa para pelaku ruang
publik menyerah saja pada imperatif pasar dan birokrasi. Tanpa memenuhi tuntutan
normatifnya, ruang publik hanya akan menjadi "ekstensi" pasar dan negara belaka.

Tentu sulit membayangkan ruang publik sebagai ruang bebas kuasa. Sebaliknya, ruang
publik politis justru merupakan jaringan kekuasaan yang sangat kompleks karena setiap
bentuk perhimpunan dalam masyarakat kita membentuk ruang publiknya sendiri yang
ingin mendesakkan kebutuhannya. Kita dapat memakai hasil analisis Habermas untuk
membedakan dua tipe ruang publik politis dalam masyarakat kita (5).

Tipe pertama-sebut saja "ruang publik autentik"-adalah ruang publik yang terdiri atas
proses komunikasi yang diselenggarakan oleh institusi nonformal yang
mengorganisasikan dirinya sendiri. Komunikasi di sini terjalin secara horizontal, inklusif,
dan diskursif. Para aktor dalam tipe pertama ini berasal dari publik itu sendiri, hidup dari
kekuatan mereka sendiri, dan berpartisipasi dalam diseminasi, multiplikasi, dan proteksi
ruang publik. Gerakan mahasiswa yang mendorong reformasi adalah contoh tipe pertama
ini. Dalam gerakan inilah kita menyaksikan lahirnya ruang publik politis di negeri kita.

Para aktor ruang publik autentik memiliki kepekaan atas bahaya-bahaya yang
mengancam hak-hak komunikasi kita sebagai warga negara dan menentang setiap upaya
merepresi kelompok-kelompok minoritas dan marjinal. Perkembangan ruang autentik ini
akan banyak ditentukan oleh civic courage dan civic friendship yang tumbuh di antara
warga negara. Ini tampak, misalnya, dalam keberanian sebuah media menyiarkan,
menerbitkan, atau menayangkan berita yang menjadi hak publik untuk mengetahuinya,

tetapi menohok kepentingan pemodal ataupun birokrasi: dalam gerakan pemberantasan
korupsi misalnya. Multiplikasi aktor ataupun lembaga yang memiliki civic virtues seperti
ini merupakan syarat pembentukan ruang publik autentik.

Tipe kedua-"ruang publik tak autentik"– adalah kekuatan pengaruh atas keputusan para
pemilih, konsumen, dan klien untuk memobilisasi loyalitas, daya beli, dan perilaku
mereka lewat media massa. Berbeda dari yang pertama, para aktor di sini hanya
"memakai" ruang publik yang sudah ada dengan bantuan sumber-sumber dari luar
mereka, yakni uang dan kuasa. Partai politik dan asosiasi bisnis dalam masyarakat kita
tercakup dalam tipe kedua ini. Ruang publik macam inilah yang dominan di dalam
masyarakat yang menjalankan kesehariannya.

Setelah gerakan mahasiswa ikut mendorong delegitimasi rezim Soeharto di tahun 1998,
ruang publik yang terbuka segera diduduki oleh kekuatan pasar dan birokrasi.
Menumbuhkan ruang publik berarti tidak hanya multiplikasi ruang publik autentik,
melainkan juga terus mengontrol kiprah para pelaku ruang publik tak autentik.
Masyarakat harus membebaskan diri dari budaya bungkam ke budaya kritis, dari
indeferensi ke partisipasi politis, dari watak massa ke komunitas.

Di dalam negara hukum demokratis, media massa merupakan kekuatan keempat setelah
eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Media massa dapat berfungsi secara benar dalam
ruang publik politis jika otonom tidak hanya dari negara dan pasar, melainkan juga dari
para aktor ruang publik itu sendiri. Ia harus mampu menetralkan pengaruh uang dan
kekuasaan yang dapat memanipulasi ruang publik politis. Ia memang tak mungkin lepas
sama sekali dari para aktor tipe kedua, tetapi ia dapat dan seharusnya menangkap dan
melontarkan suara-suara yang mencerminkan kepublikan seluas-luasnya.

Komunikasi antara ruang publik dan sistem politik

Sudah dikatakan di atas bahwa reformasi tak lain daripada upaya membuka kanal-kanal
komunikasi politis dalam masyarakat majemuk. Sementara dalam revolusi bisa saja
sistem negara berubah, dalam reformasi sistem negara hukum yang telah ada diradikalkan
secara komunikatif. Reformasi tak lain daripada menyingkirkan rintangan komunikasi
politis antara sistem politik (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dan ruang publik politis.

Menurut Habermas, negara hukum modern berciri demokratis jika terjadi komunikasi
politis intensif antara ruang publik dan sistem politik (6). Habermas, menurut hemat saya,
berhasil menjelaskan suatu persoalan besar yang dicari para aktivis sosial dan politis di
dalam masyarakat kita, yaitu bagaimana menyambungkan aspirasi masyarakat luas,
korban, minoritas, dan seterusnya yang diwakili oleh organisasi nonformal dengan sistem
politik. Model diskursivitas antara ruang publik dan sistem politik dapat menjelaskan itu.

Dalam ruang publik politis, masyarakat sipil melangsungkan diskursus publik dalam
berbagai bentuk dan isi. Pluralisme keyakinan dan pendapat ini sering berkontroversi satu
sama lain, dari yang memiliki niveau yang rendah sampai yang tinggi. Suara-suara dalam
ruang publik politis berciri anarkis dan tak terstruktur. Ruang publik politis adalah lokus
baik bagi komunikasi yang manipulatif maupun komunikasi yang tak terbatas. Meski
demikian, bukan berarti bahwa suara-suara itu dapat diterima begitu saja sebagai opini
publik. Andaikata semua suara memiliki akses dalam proses pengambilan keputusan
publik tanpa saringan, kiranya pemerintahan semacam itu tidak hanya buruk, melainkan
juga dapat dianggap tak ada.

Di sini kita bisa membayangkan adanya dua macam filter dalam prosedur demokratis:
filter dalam ruang publik politis itu sendiri dan filter sistem politik. Suatu opini memiliki
kualitas sebagai opini publik jika lolos dari filter ruang publik. Publik pembaca dan
pendengar bisa saja dimanipulasi ataupun diintimidasi untuk menerima sebuah opini,
tetapi opini macam itu tetap akan dipersoalkan autentisitasnya selama publik tetap
mendapat akses untuk menguji kesahihannya.

Segala yang terbukti sebagai hasil manipulasi dan intimidasi-jika pengujian publik
dibuka-tidak dapat dihitung sebagai opini publik. Tentu saja manipulasi dan intimidasi
bisa sangat terancang secara sistemis, seperti misalnya dalam rezim Nazi atau rezim
komunis. Namun, sekali "sistem dusta" ini terbongkar dan terbuka di mata publik, segala
keyakinan yang selama rezim teror itu dipegang teguh dalam pemerintahan demokratis
akan terbukti sebagai manipulasi.

Tidak dapat disangkal bahwa kekuasaan sosial dan kerap juga kekuasaan politis ikut
bermain menentukan proses penyaringan opini dalam ruang publik politis itu. Tidak
hanya ada figur-figur berpengaruh, melainkan juga lembaga- lembaga yang disegani dan
memiliki kekuasaan. Namun, sekali lagi, selama peranan kekuasaan ini dapat diperiksa
secara publik, opini yang dipengaruhi oleh kekuasaan itu tidak imun terhadap kritik
publik.

Kita menyaksikan sendiri dalam masyarakat kita bagaimana korupsi hanya bisa dibasmi
jika publik ikut berperan sebab korupsi-seperti juga dusta dan rahasia-menyembunyikan
diri dari sorotan publik. Rapat atau longgarnya filter dalam ruang publik itu banyak
ditentukan oleh publik itu sendiri. Semakin kritis dan vital suatu masyarakat, semakin
rinci publik dalam masyarakat itu mengembangkan filternya. Koran-koran yang
provokatif memang dibiarkan, tetapi jika provokasi politis dikenali sebagai provokasi
belaka, koran-koran macam itu akan ditinggalkan dan gairah mencari sensasi akan
berimigrasi ke bidang-bidang lain, misalnya seni, gaya hidup, atau erotisme.

Jika publik itu cerdas, akan terjadi seleksi rasional di antara argumen-argumen dengan
kemenangan argumen yang lebih baik, yang lalu mendapat kualitas sebagai opini publik.
Karena komunikasi publik mengikuti norma argumen yang lebih baik, kualitas suara akan

lebih menentukan daripada kuantitasnya. Apakah sebuah argumen yang lebih baik akan
mendapatkan mayoritas suara atau tidak, akan banyak ditentukan oleh kualitas publik itu
sendiri.

Perjuangan mendapat pengakuan publik itu akan memasuki tahap politisnya jika suatu
opini publik masuk ke dalam filter sistem politik. Dalam sistem politik terdapat juga
suatu publik. Publik di sini memiliki kualitas berbeda daripada publik dalam ruang publik
politis. Berbeda dari yang terakhir ini, publik dalam sistem politik tersebut kuat karena
kedekatan akses mereka dalam pengambilan keputusan publik: wakil rakyat, presiden,
kabinet, lembaga yudikatif, dan seterusnya.

Filter sistem politik terdiri dari sistem atau prosedur hukum: konstitusi dan produk
perundang-undangannya. Prosedur legal ini dapat diasalkan dari hasil komunikasi politis
sebelumnya antara ruang publik politis dan sistem politik. Dengan kata lain, filter sistem
politik tersebut juga tidak boleh dijauhkan dari pengujian diskursif publik. Opini publik
yang masuk ke dalam filter itu dan meraih mayoritas di dalam sistem legislatif akan
berubah kualitasnya menjadi keputusan publik: produk hukum. Bahasa sehari-hari yang
digunakan dalam ruang publik politis diterjemahkan ke dalam bahasa hukum yang
bersifat resmi.

Suatu masyarakat majemuk yang memiliki ruang publik politis yang vital dapat kita sebut
sebagai masyarakat kuat. Masyarakat kuat semacam ini harus diimbangi dengan
pemerintahan yang kuat juga. Suatu masyarakat yang memiliki gairah demokratisasi yang
kuat, tetapi sistem politiknya lemah, tak akan sanggup menyaring desakan kekuasaan
massa yang masuk untuk memaksakan kehendaknya. Ini terjadi dalam "anarkisme".
Sebaliknya, suatu sistem politik yang otonom dari masyarakatnya dan cenderung berjalan
menurut logika kekuasaannya akan melenyapkan ruang publik politis itu. Ini terjadi
dalam totalitarianisme.

Sebuah negara hukum demokratis harus memiliki masyarakat yang kuat maupun
kepemimpinan yang kuat. Sistem politik tidak boleh menjadi independen dari ruang
publik politis. Ia harus terus mendapatkan makanan dan hidupnya dari ruang publik itu
karena dari situ pulalah ia meraih sumber loyalitas dan legitimitasnya. Pemerintahan yang
kuat dalam arti ini adalah pemerintahan yang mampu memperlancar komunikasi politis
antara sistem politik dan masyarakat sipil dalam ruang publik politis.

Ide tentang ruang publik politis, sebagaimana diulas di atas, dapat merekonstruksi konsep
klasik tentang kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat bukanlah demokrasi langsung dalam
arti aksi-aksi massa untuk memaksakan kehendak kepada sistem politik. Di dalam negara
hukum demokratis batas-batas antara negara dan masyarakat harus dihormati, tetapi
batas-batas itu tidak boleh dijaga terlalu kaku. Respek terhadap batas-batas antara
masyarakat dan negara harus disertai upaya-upaya untuk mencairkan proses komunikasi
di antara keduanya.

Pemahaman tentang ruang publik politis mengambil jarak terhadap ide demokrasi
langsung. Jika kita menerima ide ruang publik politis, kita harus menerima suatu model
demokrasi representatif sebagaimana biasanya dilaksanakan dalam negara-negara hukum
modern. Namun, demokrasi representatif itu berada dalam kontrol publik dengan
jaringan-jaringan kerjanya. Kontrol publik lalu bersifat tidak langsung, yaitu lewat
dikursivitas. Diskursivitas antara ruang publik politis dan sistem politik itulah realisasi
ide kedaulatan rakyat di dalam masyarakat majemuk.

F Budi Hardiman Pengajar Program Magister Filsafat STF Driyarkara dan Doktor
Hukum di Universitas Pelita Harapan

Catatan:
1. Lihat Habermas, J, Strukturwandel der Oeffenlichkeit, STW, Frankfurt aM, 1990, hlm
38
2. Lihat Budi Hardiman, F, Demokratie als Diskurs, (tesis tak diterbitkan), Munich, 1996,
hlm 15
3. Lihat Habermas, J, Faktizitaet und Geltung, Shurkamp, Frankfurt aM, 1992, hlm 443
4. Budi Hardiman, hlm 52
5. Bdk Habermas, J, Strukturwandel der Oeffentlichkeit, STW, Frankfurt aM, 1990, hlm
28
6. Lihat Budi Hardiman, hlm 57

Sumber: Kompas Cyber Media

Komunikasi Gawat Darurat …

Dalam perjalanan mudik ke Salatiga, sebut saja Y beserta suami dan anaknya yang
masih berusia 5 tahun, mengalami kecelakaan di daerah Sleman dimana sepeda motor
yang dinaikinya tersenggol bus. Dalam kejadian tersebut suaminya meninggal di tempat,
Y dan anaknya terluka parah. Mereka dibawa ke sebuah puskesmas pembantu terdekat.
Namun karena terbatasnya peralatan di puskesmas pembantu tersebut, Y hanya
diberikan pertolongan pertama dan diinfus untuk selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit
yang lebih besar.

Sekilas, tidak ada masalah yang terjadi disini. Namun dalam keadaan panik dan terluka
parah sambil menunggu proses pemindahan ke RS yang lebih besar Y terus menerus
bertanya mengapa dia tidak ’diapa-apain’, mengapa dokter tidak melakukan apa-apa
padahal seluruh tulang rusuknya remuk dan jawaban dokter setiap ditanya hanyalah
’tunggu keluarga datang’. Rupanya, Y langsung berasumsi bahwa yang dimaksud dengan

kata-kata ’tunggu keluarga datang’ sama dengan ’selesaikan semua administrasinya alias
ada jaminan pembayaran baru pasien ditangani’.

Ketika menengoknya di RS tempat ia dirawat kemudian, Y masih dengan berapi-api
mengungkapkan kemarahannya bahwa rasanya saat itu ketika keadaannya sudah di
ambang kematian sekalipun, petugas medis masih harus memastikan dulu urusan
administrasi beres sebelum melakukan tindakan.

Saya mencoba mendengarkan dengan baik dan mencermati kronologis permasalahannya.
Rasanya hal-hal semacam ini seringkali terdengar. Dalam kasus Y, sebenarnya pihak
puskesmas pembantu sudah melakukan semua tindakan medis yang mungkin dilakukan
dalam kondisi tersebut sesuai prosedur dan kapasitasnya. Namun mengingat keterbatasan
peralatan, tidak semua pemeriksaan dapat dilakukan saat itu, misalnya untuk foto rongent
tentu saja harus dirujuk ke RS yang menyediakan fasilitas tersebut.

Bisa dipahami, kondisi pasien yang schock akibat kehilangan suami dan luka parah yang
dideritanya serta kondisi sang anak tentu membuatnya panik. Secara psikologis dia
berharap segera mendapatkan pertolongan atau perawatan terpadu seperti yang sering
dilihat di film ER. Sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang berada di sebuah
Puskesmas Pembantu.

Masalah ini jika dilihat dari perspektif dan sedikit perlakuan yang berbeda akan
menimbulkan kesan yang berbeda pula.

Yang dimaksud dengan ’tunggu keluarga datang’ oleh pihak Puskesmas Pembantu saat
itu adalah, kami sudah melakukan pertolongan pertama dan untuk tindakan selanjutnya
yang membutuhkan tenaga medis dan peralatan yang lebih memadai Anda harus dirujuk
ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas lebih baik. Detil teknis mengenai hal ini lebih
baik dibicarakan dengan pihak keluarga, dengan asumsi kondisi pasien tidak
memungkinkan untuk menerima segala informasi tersebut. Inilah pesan yang sebenarnya
ingin disampaikan tapi kemudian ditangkap sangat lain oleh pasien karena stereotipe
yang sudah begitu melekat di kata-kata ’tunggu keluarga datang’.

Menakjubkan, bagaimana sebuah kalimat/pesan bisa diartikan sangat lain oleh penerima
pesan.

Dalam situasi seperti itu kadang petugas medis terjebak pada pemikiran bahwa, tidak
memungkinkan mengkomunikasikan sesuatu berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang
akan diambil pada pasien dengan kondisi parah mengingat faktor ketidaksiapan pasien
untuk menerima informasi dalam kondisi tersebut.

Lalu, bagaimana menyampaikan dengan tepat tanpa menyumbangkan faktor yang
memperburuk kondisi pasien?

Dalam kasus Y tersebut, mungkin bisa dicoba kemasan pesan yang lebih informatif dari
sekedar ’tunggu keluarga datang’. Misalnya, sampaikan bahwa sudah dilakukan
pertolongan pertama pada Anda dan karena keterbatasan petugas medis dan peralatan
yang dimiliki puskesmas pembantu ini, maka pemeriksaan dan perawatan selanjutnya
akan dirujuk ke Rumah Sakit A.

Berikan pesan singkat yang informatif, sedapat mungkin mudah dicerna oleh pasien
sehingga pasien tidak dibiarkan menjadi mahluk tak berdaya yang harus menunggu
sambil bertanya-tanya dan membuat asumsi-asumsi yang berkembang menjadi lebih
buruk dalam setiap detik penantiannya. Buat pasien tenang dengan informasi tersebut.

Terkadang ketika menunggu tindakan yang akan diberikan, pasien seringkali merasa
diabaikan karena tidak ada konfirmasi dari petugas medis yang menanganinya. Lebih
baik komunikasikan bila memang pasien harus menunggu beberapa saat untuk observasi
terlebih dahulu.

Membangun komunikasi yang baik di saat gawat darurat memang sulit. Apalagi dalam
kondisi tersebut tentunya yang lebih diutamakan adalah bagaimana menolong pasien
secepatnya. Tapi tidak ada salahnya untuk mengurangi kesalahpahaman yang sering
terjadi, kualitas berkomunikasi antara petugas medis dengan pasien perlu untuk terus
ditingkatkan. Terlepas dari situasi gawat, pasien yang harus ditangani banyak dan betapa
lelahnya petugas medis telah bekerja, sangat penting untuk tetap menjaga agar
komunikasi dengan pasien berjalan baik.

Sudah seringkali kita mendengar keluhan pasien tentang dokter yang pendiam, tidak
sabaran alias tidak mau mendengarkan keluhan pasien sampai tuntas, pelit informasi dsb.
Pasti ada alasan mengapa akhirnya muncul persepsi yang memprihatinkan ini. Profesi
dokter yang begitu mulia tidak seharusnya berakhir dengan stereotipe negatif semacam
itu hanya dikarenakan kejadian yang seharusnya bisa diciptakan dengan lebih baik dan
berkualitas.

Seandainya pun, dokter sudah sangat lelah karena padatnya aktifitas, pasien yang harus
ditangani begitu banyak, jadual jaga yang tidak menyisakan waktu istirahat sama sekali
dan seabrek alasan lain. Tapi masalahnya apakah pasien tahu dan memahaminya? Perlu
diingat bahwa ketika seseorang terbaring sebagai pasien, ia hanya ingin diperiksa dan
diperlakukan dengan sepenuh perhatian mungkin. Pada saat itu sensifitasnya akan
meningkat, jadi boro-boro mau memikirkan, ’wah dokternya mungkin capek ya makanya
dia jarang ngomong dan buru-buru..’ Yang akan terjadi justru sebaliknya, makanya
kemudian berkembang persepsi negatif tersebut.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Jangan pernah lelah untuk menciptakan komunikasi yang baik. Dari beberapa kejadian,
senjata ini terbukti cukup mujarab untuk membangun hubungan yang baik dengan pasien
dan menghindari kesalahpahaman yang berujung dengan berbagai tuduhan malpraktik
yang makin marak akhir-akhir ini. *

Epti Andaryanti, S. Sos, Praktisi Public Relations, Praktisi Public Relations, e-business
dept PT Oto Multiartha–Sumitomo Corp

Sumber: Kompas Cyber Media

Kampanye Platform?

DIAM-diam media massa di Indonesia (paling tidak sebagian) relatif lebih maju dari
rekan-rekannya di Amerika Serikat dalam hal mendesak para calon presiden untuk
mengampanyekan platformnya! Page (sejak 1978) telah mencatat kecenderungan pers
Amerika yang kurang tertarik melaporkan posisi dan rencana kebijakan para kandidat
secara spesifik.

Mengapa media perlu mendesak kampanye platform? Ada tiga jawaban yang
mengandung beberapa konsep substansial. Pertama, karena (seperti ditulis Fineman,
Newsweek, 1991, "The No Bull Campaign") para politisi selalu mengeluarkan janji-janji
kampanye yang membesarkan hati dan menghidupkan harapan. Apakah mereka
sebetulnya menyatakan hal-hal yang benar dalam janji kampanye itu? Jangan percayai
para politisi, kata Fineman. Mereka sejak awal sudah tahu betul bagaimana bersembunyi
di balik tuntutan-tuntutan populer yang perlu disampaikan dalam kampanye.

Jadi, mengampanyekan tuntutan-tuntutan populer, seperti saat para juru kampanye
menyatakan, mereka akan memberantas korupsi, memberantas kemiskinan,
meningkatkan anggaran pendidikan, menegakkan hukum, atau di negara maju ditambah
menurunkan pajak serta meningkatkan jaminan sosial, tidaklah sama dengan kampanye
platform! Kalau cuma menyampaikan tuntutan populer, orang yang pernah diduga
melanggar hukum sampai ke level internasional bisa menyatakan akan jadi orang nomor
satu yang menegakkan hukum; atau calon dari partai yang bergelimang korupsi bisa saja
menyatakan dia akan menjadi pemberantas korupsi paling tegas!

Lalu batasan apa yang bisa dipakai untuk membedakan mana yang sekadar janji populer
dengan yang merupakan "kampanye platform"? Mendoza dan Jamieson (2001)
menyatakan "kampanye platform" dalam komunikasi politik utamanya berisi prospective
policy-choice. Prinsip dasarnya adalah keyakinan, kampanye merupakan sebuah
kesempatan bagi para pemilih untuk membandingkan dan mempertentangkan posisi-

posisi kebijakan yang spesifik dan rinci para kandidat, lalu memilih yang terbaik di antara
penyajian janji-janji itu.

JOSLYN (1991) sebetulnya telah berusaha membedakan prospective policy- choice itu
dengan tiga cara kampanye lainnya. Satu, retrospective policy-satisfaction. Artinya,
kampanye yang hanya menyatakan pujian-pujian terhadap seorang kandidat atas prestasi
masa lalu; dan di lain kesempatan menyatakan "hukuman" atau mengungkap hal negatif
dari penampilan masa lalu kandidat lain (dalam konteks attack campaign).

Dua, benevolent-leader appeals. Pendekatan ini semata-mata ingin menyampaikan
kepada para pemilih sebuah jaminan, seorang kandidat benar-benar bermaksud baik, dan
ia selalu berupaya mengidentifikasi dirinya bersama dengan (merupakan bagian) para
pemilih, serta, pokoknya, kandidat ini merupakan tokoh yang amat bisa dipercaya.

Tiga, ritualistic. Maksudnya, sebuah partai politik hanya berusaha sekeras mungkin
mengikuti alur permainan partai lainnya secara ritual. Jika kompetitornya menyatakan
suatu janji populer, kandidat lain pun secara ritual harus segera membuat janji populer
yang diupayakan dibungkus lebih menjanjikan atau mendekati "angin surga".

Joslyn menyimpulkan ketiga kategori pendekatan kampanye di luar kampanye platform
itu setelah memeriksa lebih dari 800 iklan politik di televisi serta dua debat presiden
Amerika Serikat di tahun 1988.

Jika mau jujur, apa yang kita lihat dalam kampanye pemilu legislatif kita, relatif
merupakan benevolent-leader appeals. Sebentar lagi, karena pemilu presiden sudah
merupakan persaingan pesona pribadi individu, maka utamanya pendekatan retrospective
policy-satisfaction akan ditonjol-tonjolkan. Dan karena masa kampanye lumayan
panjang, selalu terbuka kesempatan melakukan gaya ritualistic dalam menanggapi iklan
politik kandidat lain.

JAWABAN kedua atas pertanyaan mengapa media perlu mendesak para kandidat
melakukan kampanye platform dengan pendekatan prospective policy- choice ialah soal
pendidikan politik! Untuk yang satu ini, bahkan di negara maju sekalipun, para akademisi
dan pengamat tetap merisaukannya. Carlson (dalam Time, 1996, "The Rules from 1996")
mengeluhkan kampanye di AS tahun 1996 yang relatif miskin pendidikan politik. Lepas
dari semua kerlap-kerlip kampanye 1996, ujar Carlson, tiba saatnya untuk menanyakan
apa yang bisa dipelajari dari semua ini. Dengan ketus ia mengatakan, "The voters
couldn’t have learned a lot, unless they were unaware that education is good and drugs
are bad…".

Inti pendidikan politik, yang selalu dijunjung tinggi para pemerhati (dan cenderung
diabaikan partai politik dan politisi kita) adalah tuntutan dasar dari sebuah demokrasi
melalui pemilu, yakni dialog yang logis dan jujur antara para kandidat presiden dan

pemilih. Hanya dengan cara inilah terbuka peluang bagi pemilih untuk menentukan dan
memengaruhi siapa yang memerintah serta bagaimana jalannya pemerintahan.

Jawaban ketiga justru terkait akibat politik dari sebuah kampanye platform. Hershey
(1989) mencatat, tidak ditampilkannya platform yang substantif dalam kampanye
presiden sering diinterpretasikan sebagai upaya yang diperhitungkan dengan masak-
masak untuk membuat sekecil mungkin jumlah pendengar atau penonton kampanye yang
merasa terasing karena isu-isu tertentu. Untuk berbicara dengan khalayak dalam jumlah
besar, seorang kandidat butuh pesan-pesan yang pendek dan amat menarik.

Menurut Hershey, Bush (Senior) dan Dukakis di tahun 1988 lebih memilih berbicara
tentang Willie Horton, perampok kejam yang menikam korbannya yang tak berdaya 19
kali, daripada mendiskusikan betapa kompleksnya mencoba mencari keseimbangan
antara keamanan dan kebutuhan untuk rehabilitasi para pelaku kejahatan.

Salah satu suara sumbang yang banyak kita dengar di AS atau di Eropa tentang
penampilan para juru kampanye kita dalam pemilu legislatif lalu adalah sangat minimnya
dibicarakan isu-isu keamanan yang terkait terorisme. Kebanyakan juru kampanye seakan
menghindari dengan alasan akan menyinggung perasaan atau mengasingkan sekelompok
pemilih potensial (yang pada faktanya belum tentu setuju dengan terorisme).

Dalam ketiga konteks jawaban itulah, media massa kita pantas dipuji atas upayanya
mendesak kampanye platform. Jika tidak, isi kampanye calon presiden kita akan persis
seperti apa yang dikatakan komedian dan aktivis sosial Dick Gregory (1972) tentang dua
jenis janji utama dalam politik. "…Promises made to persons or groups able to deliver the
vote and called ’patronage’, and promises made by candidates to the voters which are
most frequently called ’lies’…".

Effendi Gazali Staf Pengajar Pascasarjana Komunikasi UI, Research Associate di
Nijmegen University, Belanda

Sumber: Kompas Cyber Media

Ihwal Menggugat Pers

Many libel suits are filed by persons who were not actually libeled, but who are angry
about unfavorable but true (and thus nonlibelous) publicity (Overbeck, "Major
Principles of Media Law", 2003).

Pengamatan Wayne Overbeck, pakar dari California State University, Fullerton, juga
anggota "the California Bar" ini, mestinya reliable (dapat

dipercaya/diandalkan). Buku Major Principles of Media Law sendiri telah dicetak hingga
edisi ke-14 dan sudah disesuaikan dengan kasus aktual selama 12 tahun terakhir.< tahun
12 selama aktual kasus dengan disesuaikan sudah dan ke-14 edisi hingga dicetak telah
sendiri Law Media of Principles Major Buku diandalkan). dipercaya (dapat reliable
mestinya ini, Bar? California ?the anggota juga Fullerton, University, State dari pakar
Overbeck,>

Kita sadar sistem hukum media kita tak persis sama dengan Amerika Serikat (AS).
Namun, intinya di sini adalah perbandingan dan upaya memetik pelajaran dari filosofi
kebebasan pers dan berekspresi sekaligus perlindungan terhadap kepentingan publik.
Apalagi gugatan terhadap pers tiba-tiba marak belakangan ini, khususnya gugatan
defamation (fitnah, pencemaran) terkait berita yang diklaim tak sesuai fakta, lalu diikuti
tuntutan ganti rugi.

Definisi dan perlindungan

Overbeck membuat ringkasan berupa daftar unsur-unsur yang melekat pada sebuah
pernyataan (pers) untuk mengategorikannya sebagai pencemaran. Satu, pernyataan itu
harus sungguh-sungguh defamatory artinya (sering) bertujuan merusak reputasi
seseorang. Dua, mengidentifikasi siapa korban yang ia rencanakan sebagai target, entah
dengan menyebut nama atau dengan berbagai cara penggambaran lain yang juga
dimengerti oleh orang-orang di luar atau selain korban. Tiga, dikomunikasikan, entah
melalui media cetak atau penyiaran yang setidaknya didengar atau dilihat oleh satu orang
lain di luar si korban dan pembuat pernyataan. Empat, dalam banyak kasus, harus jelas
terdapat sebuah unsur kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan (fault). Mahkamah
Agung AS telah memutuskan dalam kasus-kasus menyangkut kepentingan/keprihatinan
publik diharuskan adanya bukti bahwa sebuah kebohongan telah disebarkan dan suatu
media (massa) bersalah karena niat jahat yang riil atau setidaknya karena kecerobohan
dalam memublikasikannya. Lima, jika sang korban tidak dapat membuktikan adanya niat
jahat yang riil, haruslah ada bukti dari kerusakan-kerusakan (yakni, kerugian yang
mungkin dikompensasi dalam bentuk uang).

Jika kategori "pencemaran" membutuhkan paling sedikit empat dari lima elemen tersebut,
ternyata untuk menghadang gugatan terhadap pers dalam hal itu hanya dibutuhkan 1 dari
unsur-unsur berikut yang disebut legal defenses untuk proses kerja pers. Satu, kebenaran;
pernyataan mana pun yang secara substansial benar dilindungi hukum! Mereka yang
menggugat media umumnya harus menanggung the burden of proving falsity (beban
untuk membuktikan kepalsuan). Apalagi disadari, semakin korup suatu pihak (entah
karena kekuasaan atau kekerasan), makin besar kemampuan mereka menghalangi pers
untuk memperoleh data rinci. Penggugat mesti membuktikan tidak hanya pemberitaan
pers itu adalah salah, tetapi juga merupakan akibat kecerobohan atau niat jahat yang riil.
Pada tahun 1997, hakim di Houston membatalkan kemenangan awal sebuah perusahaan
yang menuntut Wall Street Journal dengan tuduhan laporannya menyebabkan

kebangkrutan, senilai sekitar dua ratus juta dollar, karena terbukti perusahaan itu
menahan bukti-bukti penting yang mestinya dulu memperkuat laporan Wall Street
Journal.

Dua, hak-hak istimewa (privilege) bahwa laporan-laporan yang akurat tentang proses di
badan legislatif, pengadilan, dan cabang eksekutif, serta berbagai dokumen pemerintah
dilindungi hukum meski terkesan libelous (mencemarkan). Tiga, pernyataan opini
tentang performance dari figur yang menjadi pusat perhatian orang banyak dan media
(misalnya, politikus, aktor, olahragawan, dan selebritis) dilindungi di bawah the common
law fair comment defense, sekaligus oleh The First Amendment.

Sebenarnya isi Undang-Undang (UU) Pers Nomor 40 Tahun 1999 telah menunjukkan
filosofi yang sama. Pasal 5 Ayat (1) UU Pers dengan jelas menyatakan, kewajiban
memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma agama dan rasa kesusilaan
masyarakat serta asas praduga tak bersalah. Ayat (2) menyebutkan pers wajib melayani
hak jawab, yakni hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberi tanggapan atau
sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya (Pasal 1
Ayat 11). Begitu pula, Pasal 5 Ayat (3) mewajibkan pers melayani hak koreksi. Jika pers
melanggar pasal-pasal tersebut serta kode etik jurnalistik (Pasal 7), ia dapat digolongkan
melakukan fitnah atau pencemaran karena tidak melakukan pekerjaan jurnalistik secara
profesional!

UU Pers juga memiliki legal defenses yang melindungi pers dari gugatan yang tidak
cukup beralasan. Bersama dengan Pasal 3 dan 4, Pasal 6 secara detail menjelaskan
peranan pers untuk (a) memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui; (b) menegakkan
nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan hak asasi manusia,
serta menghormati kebinekaan; (c) mengembangkan pendapat umum berdasarkan
informasi yang tepat, akurat, dan benar; (d) melakukan pengawasan, kritik, koreksi, saran
terhadap hal yang berkaitan dengan kepentingan umum; (e) memperjuangkan keadilan
dan kebenaran.

Kembali pada perbandingan dengan uraian Overbeck di atas, UU Pers kita memang perlu
memiliki pasal tentang pencemaran yang cukup detail sehingga berbagai kasus tidak lagi
harus ditarik ke produk hukum lain karena tidak secara jelas diatur dalam UU Pers. Ini
juga catatan penting untuk menguatkan UU Pers menuju posisi Lex Specialis.

Badan pemerintah

Overbeck kemudian menyatakan bahwa badan-badan pemerintah di AS tidak mungkin
bisa mengajukan gugatan terhadap pers (meski pegawai pemerintah sebagai individu
dapat melakukannya jika reputasi pribadinya dirusak oleh pemberitaan pers). Landasan
filosofi di belakangnya kurang lebih: uang rakyat tidak boleh digunakan untuk
menggugat kebebasan masyarakat mendapatkan dan mendiskusikan informasi!

Filosofi ini mestinya berlaku juga untuk perusahaan atau institusi yang berada di bawah
manajemen badan pemerintah kita, seperti BPPN, misalnya, atau yang mendapat suntikan
dana pemerintah (baca: uang publik). Bahwa ada ketidakpuasan terhadap pemberitaan
pers, tentu seharusnya ditindaklanjuti dengan hak jawab dan pengaduan kepada Dewan
Pers sebagaimana diatur pada Pasal 15 UU Pers. Adanya mekanisme dan proses lanjutan
seperti ini yang membuktikan bahwa suatu pemberitaan pers tidaklah bersifat "final".
Semakin cepat hak jawab disampaikan, dalam ilmu komunikasi, umumnya semakin
efektif (hal mana tergantung betul dari kemampuan atau kelemahan pihak tertentu
melakukan analisis).

Akhirnya, artikel ini harus ditutup dengan pesan bahwa pers tidaklah untouchable!
Mereka yang terbukti tidak melakukan journalism work dan memang punya niat jahat riil
melakukan pencemaran, pantas dihukum! Namun, Overbeck segera mengingatkan bahwa
kekhawatiran terhadap gugatan pencemaran sering menyebabkan wartawan melakukan
self-censorship yang berakibat menghalangi hak publik mendapat informasi! Tambahan
lagi, menurut Overbeck, banyak gugatan itu diajukan oleh orang- orang yang sadar
bahwa, menilik materi gugatan mereka, hanya terdapat kesempatan kecil saja untuk-pada
akhirnya-memenangkan perkara tersebut. Barangkali ini relatif terkait dengan upaya
melemparkan kesalahan pada pihak lain atau sekadar mau "menunjukkan siapa
saya/kami". Pengadilan, pers, dan publik kita kini sedang belajar menghadapinya!

Effendi Gazali Staf Pengajar Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI

Sumber: Kompas Cyber Media

"Without Media There Can Be No Terrorism!"

HANYA beberapa jam usai tragedi bom di Hotel JW Marriott, Ramadhan Pohan, seorang
wartawan Indonesia yang masih menempati posnya di Washington DC, Amerika Serikat,
menulis e-mail: "…Saya mengutuk keras para teroris yang-entah atas nama apa pun-keji
membunuh korban-korban sipil yang tak punya urusan apa-apa dengan perjuangan dan
ideologi mereka. Saya yakin, mereka tidak bertuhan dan amat tak berperikemanusiaan.
Sebagai orang Indonesia di negeri asing, saya tak putus meratapi nasib Indonesia kini! Di
tengah perekonomian yang masih lusuh, pemberontakan, dan setumpuk masalah lain,
bom berkali- kali terjadi! Kita tak kapok, dan terlalu ramah menindak teroris. Media
massa Indonesia juga terlalu lembek dalam menghujat dan menohok terorisme!"

Selain pilihan kata-katanya yang lugas, yang paling penting di sini adalah fakta bahwa
penulisnya seorang wartawan, bagian dari industri media; dan kebetulan cukup
berpengalaman menyaksikan bagaimana media berinteraksi dengan terorisme di berbagai
negara lain! Tersentak oleh e-mail itu, saya segera membaca kembali Schmid & Graaf

(Violence as Communication: Insurgent Terrorism and the Western News Media; 1982),
yang melakukan studi paling komprehensif pertama terhadap hubungan antara kedua
elemen itu.

Schmid & Graaf membuka bukunya dengan asumsi, terorisme dan komunikasi massa
berkait satu sama lain, lalu mereka membuat pernyataan yang saya pakai sebagai judul
artikel ini! Bahkan, dalam deskripsi Johnpoll (1977), kedua unsur itu ditautkan dengan
dinamit yang ditemukan tahun 1866 dan mesin cetak yang diperkenalkan tahun 1848
disempurnakan 1881. Sebuah koran bernama Truth pernah secara anarkis mengklaim:
"Truth seharga dua sen satu eksemplar, dinamit berharga 40 sen satu pon. Beli keduanya,
baca yang satu, gunakan yang lain!"

Teroris memanfaatkan media

Fakta bahwa teroris memanfaatkan media mungkin dapat ditarik jauh ke belakang, antara
lain ke kasus pembunuhan Empress Elizabeth (Tuchman, 1972). Pelakunya, Luchini,
seorang yang gemar melakukan kliping berita, menyatakan: "Saya telah lama ingin
membunuh orang penting agar bisa masuk koran!" Pada tataran teoretis, hal ini
dinamakan a violent communication strategy. Sebagai sender adalah si teroris, para
korban menjadi message generator, dan receiver adalah kelompok yang dianggap musuh
atau publik secara luas.

Karena ruang pada artikel ini terbatas, saya langsung menyampaikan beberapa
kemungkinan pemanfaatan media oleh teroris menurut studi Schmid & Graaf, disadari
atau tidak oleh pemilik dan praktisi media. Ada 22 penggunaan secara aktif (active uses),
antara lain: mengomunikasikan pesan-pesan ketakutan kepada khalayak luas;
mempolarisasi pendapat umum; mencoba menarik anggota baru pada gerakan teroris;
mengecoh musuhnya dengan menyebar informasi palsu; mengiklankan diri dan
menyebabkan mereka merasa terwakili; membangkitkan keprihatinan publik terhadap
korban untuk menekan agar pemerintah melakukan kompromi atau konsesi; mengalihkan
perhatian publik dari isu-isu yang tidak dikehendaki dengan harapan berita teror mereka
mengisi halaman depan media; membangkitkan kekecewaan publik terhadap pemerintah.

Ada delapan penggunaan media secara pasif oleh teroris, sebagian di antaranya: sebagai
jaringan komunikasi eksternal di antara teroris; mempelajari teknik-teknik penanganan
terbaru terhadap terorisme dari laporan media; mendapat informasi tentang kegiatan
terkini pasukan keamanan menghadapi teror yang sedang mereka lakukan; menikmati
laporan media yang berlebihan tentang kekuatan teroris hingga menciptakan ketakutan
pihak musuh dan mencegah keberanian polisi secara individual; mengidentifikasi target-
target selanjutnya; mencari tahu reaksi publik terhadap tindakan mereka.

Media memanfaatkan terorisme\

Di sisi lain, setidaknya ada empat alasan mengapa media "ikut memanfaatkan" peristiwa
terorisme. Satu, kejahatan selalu merupakan good news bila perhatian utama hanya
menjual koran atau program televisi. Kita bisa balik sampai tahun 1965, ketika kasus
pembunuhan disertai perkosaan terhadap dua kakak-beradik di Chicago, menaikkan oplah
surat kabar sampai 50.000 eksemplar, jumlah yang amat signifikan kala itu (Sandman dan
kawan-kawan, 1976). Ketika Aldo Moro diculik di Italia, sirkulasi koran terbesar Il
Corriere naik 35 persen. Saat terbunuh, oplahnya jadi 56,5 persen (Amidei, 1978).
Schmid dan Graaf juga memberi perhatian serius pada pengaruh penerimaan iklan yang
mendasarkan diri atas mekanisme rating untuk media elektronik.

Dua, media membawa banyak berita dengan kandungan kekerasan karena merasa publik
memintanya agar menjadi tahu persis tentang aspek-aspek kehidupan yang mengancam
mereka. Namun amat perlu dicatat, kian banyak orang tahu, mereka bisa makin takut ke
jalan, akibatnya kontrol masyarakat menjadi berkurang, dan kejahatan dapat bertambah
tinggi, lalu media makin sibuk dengan berita kriminal (tentunya dibutuhkan riset ilmiah
pada waktu tertentu untuk kasualitas semacam ini).

Tiga, kehidupan khalayak yang "membosankan" karena disiksa rutinitas tidur, berangkat,
dan bekerja, membutuhkan berita-berita kekerasan dan seks sebagai thrill (gairah,
getaran)! Jadi bisa dimaklumi mengapa kedua jenis berita ini bertaburan setiap hari di
televisi! Empat, kadangkala ada sekelompok orang yang menyatakan simpati pada tujuan
(baca: misi) para teroris, dan media mengeksposnya karena menganggapnya unik atau
demi covering both sides.

Bagaimana sebaiknya

Meski karya Schmid dan Graaf merupakan studi kasus pertama yang komprehensif atas
hubungan media dan terorisme, namun mereka tetap tidak bisa tegas memberi jawaban
tentang bagaimana peran media sebaiknya. Alali dan Eke (Media Coverage of Terrorism:
Methods of Diffusion; 1991) mungkin selangkah lebih maju dalam mencoba menawarkan
jawaban! Mereka memakai istilah counterterrorist strategy dan hal itu sungguh
tergantung situasi khas di tempat tertentu; dimulai dari strategi media mengurangi ekspos
tentang terorisme, tidak terlibat melakukan interpretasi apa pun, sampai menghentikan
ekspos tersebut (misal untuk sementara waktu).

Dalam konteks keraguan semacam inilah, usulan seorang wartawan seperti Ramadhan
Pohan itu menjadi terdengar "lain". Paling tidak, untuk konteks Indonesia terkini,
pernahkah pemilik dan praktisi media kita menghitung, misal dengan content analysis
sederhana, berapa bagian media yang digunakan untuk mengekspos terorisme dengan
berbagai gaya dan angle (yang juga membuka kemungkinan pemanfaatan para teroris)
itu, dan berapa bagian yang sudah kita ciptakan untuk mengutuk tindakan itu secara
konsisten; pada headline yang sama-sama eye-catching, dengan bahasa yang lugas!

Bahkan, saat para teroris itu dibawa ke persidangan, mengapa kita terkesan mengambil
jeda dalam memperlihatkan "kemarahan" publik? Berapa banyak media kita yang tekun
menyampaikan iklan layanan masyarakat antiterorisme (saya baru mencatat satu, di TV
7)?

Akhirnya, satu contoh yang sederhana, begitu sulitkah kita menghindari gambar polisi
yang (kadang) tampak tersenyum menggandeng teroris keluar-masuk ruang atau mobil
tahanan?

Effendi Gazali Staf Pengajar Program Pascasarjana Komunikasi UI

Sumber: Kompas Cyber Media

Kebebasan Pers Era SBY-Kalla

KALAU berbicara tentang kebebasan pers, maka proses dan efek komunikasi massa
tersebut tidak dapat dikaji hanya dari aspek kepentingan tunggal. Terutama, untuk apa
kebebasan pers itu Atau, kebebasan pers dari siapa

Setiap tinjauan kebebasan pers, harus ditinjau dari aneka kepentingan (kepentingan yang
jamak). Cara tinjauan demikian, diharap dapat menghindarkan implementasi kebebasan
pers, seolah tanpa rambu, tanpa batas, di samping bersifat mutlak.

Tinjauan kebebasan pers pada kurun waktu (termasuk era pemerintahan) tertentu,
minimal harus beranjak dari kedua pertanyaan tadi. Kedua pertanyaan itu akan
memotivasi semangat dan tekad membangun kebebasan pers, sebagai kebebasan manusia
yang dilandasi ranah pertanggungjawaban kemanusiaan. Bukan sebagai bentuk
penjabaran kebebasan tanpa rambu, tanpa batas, serta bersifat to be or not to be (ada atau
tidak, harus ada; bisa atau tidak, harus bisa).

Pertanyaan mendasar pertama adalah untuk apa sesungguhnya kebebasan pers? Apakah
untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, sebagaimana landasan idealisme dan
profesionalitas media massa yang bersifat universal? Ataukah, kebebasan pers ditafsirkan
sebagai prasyarat mutlak cara berpikir dan cara bergerak aktualisasi kebebasan
(manusia), yang bersifat tan kena ora (mutlak, tidak bisa ditawar).

Jika kita menafsirkan kebebasan pers dalam alur berpikir pertama, kebebasan pers
memang pantas, dan seharusnya diperjuangkan serta ditegakkan semua pihak. Baik oleh
pengelola media massa, maupun oleh publik media (termasuk rakyat dan pemerintah).

Tetapi, sebaliknya, kalau penafsiran kebebasan pers terjebak kepentingan yang
terkandung dalam pertanyaan kedua, justru bisa menimbulkan aneka kendala buat
pengelola dan publiknya. Ini disebabkan kebebasan pers seakan kebal (resisten) atas
segala bentuk intervensi, baik hukum maupun moral publik

Pemerintahan Silam

Pertanyaan mendasar yang kedua, yaitu kebebasan siapa, harus dijawab dengan benar.
Sebab, aktualisasi kebebasan pers menghadirkan pertanyaan, kebebasan pers itu
kebebasan dari (kepentingan) siapa? Apakah kebebasan pers adalah kebebasan insan pers
atau pengelola media massa semata?

Atau juga kebebasan publik media dalam memanfaatkan jasa pers, khususnya guna
memuasi kepentingan sendiri (kepentingan konsumen informasi publik), terlepas dari
kepentingan produsen informasi (kepentingan pengelola media massa)?

Berangkat dari muara pemahaman di atas, tidak adil kalau kita menilai pers Indonesia
tidak mengenal kebebasan pers di era pemerintahan silam. Pemerintahan Indonesia, mulai
di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, sampai
Megawati, memberi jaminan kebebasan pers. Hanya saja, pemaknaan aktualisasi
kebebasan pers di setiap kurun waktu era pemerintahan, bukan hanya berlainan, tetapi
acapkali juga bertentangan.

Hemat penulis, di era pemerintahan Soekarno dan Soeharto, kebebasan pers ada, tetapi
lebih terbatas untuk memperkuat status quo, ketimbang guna membangun keseimbangan
antarfungsi eksekutif, legislatif, yudikatif, dan kontrol publik (termasuk pers).

Karenanya, tidak mengherankan bila kebebasan pers saat itu lebih tampak sebagai wujud
kebebasan (bebasnya) pemerintah, dibanding bebasnya pengelola media dan konsumen
pers, untuk menentukan corak dan arah isi pers

Kebebasan pers Indonesia di pemerintahan Habibie, Gus Dur dan Megawati, nyaris tidak
menunjukkan perbedaan aktual. Aktualisasi dan fluktuasi kebebasan pers pada ketiga era
pemerintahan terakhir dimaksud, lebih ditentukan perkembangan kepentingan
pemerintahan (nasional atau daerah), ketimbang kepentingan insan pers dan masyarakat.

Berbeda dengan kebebasan pers di era Soekarno dan Soeharto yang bias pemerintah
(mutlak memprioritaskan kepentingan pemerintah), sehingga mengesankan pers menjadi
budak pemerintah, atau pers tidak beda dengan buletin negara; di bawah Habibie, Gus
Dur dan Megawati, kebebasan pers kita lain lagi. Sekalipun performa pers Indonesia
dalam pemerintahan ketiga Presiden RI disebut terakhir bukan lagi corong negara, tetapi -
dalam pengertian relatif - kebebasan pers Indonesia berada dalam kendali (samar)
pemerintah.

Penilaian demikian eksis, terutama lantaran berbagai delik pers pada kurun waktu
tersebut, memosisikan KUHP lebih sebagai landasan hukum penyelesaian kasus konflik
pers dengan pihak lain. Padahal, semua orang tahu, filosofi yang melandasi produk
hukum buatan kolonial itu, adalah untuk memperkuat fungsi pemerintahan yang
berkuasa. Itu sebabnya, mengapa kendati negara dan bangsa kita sudah memiliki UU No
40 Tahun 1999 tentang Pers (biasa disebut UU Pers), lembaga pengadilan di negeri ini
acapkali lebih suka menggunakan KUHP dibanding UU Pers.

Era SBY-Kalla

Tidak fair memang, kalau kita menilai di bawah pemerintahan Habibie, Gus Dur dan
Megawati, pers Indonesia tidak mengenal kebebasan. Sebab, justru pada pemerintahan
Habibie, Gus Dur dan Mega, kebebasan pers sering dinilai terlampau maju (kebablasen).

Perkara selama ketiga era pemerintahan terjadi pemberangusan kebebasan pers secara
amat halus, (dilakukan aparat negara dan tekanan publik), itu persoalan klasik, yang
terjadi, dan nyaris selalu eksis, di bawah (rezim) di banyak negara di planet bumi ini.

Sesuatu yang tidak terelak, sejak pemerintahan Soekarno sampai Megawati, adalah
langkanya momentum pers Indonesia berkebebasan mutlak. Negatifkah kecenderungan
dan fakta tersebut? Tidak, karena kebebasan pers bukanlah kebebasan yang monopolistik
milik media massa (absolutely right). Di mana pers bebas sebebas-bebasnya, pers bebas
tanpa batas apa pun, dan oleh siapa pun.

Kecenderungan dan fakta disebut terakhir tidak pernah eksis di negeri ini. Kebebasan
pers Indonesia tanpa rambu, bebas dari segala bentuk kontrol hukum, moral publik dan
landasan nilai-nilai luhur (terutama hak asasi manusia) dan lain-lain, tidak pernah eksis di
masa pemerintahan silam.

Kebebasan pers macam ini, mutlak perlu ditegakkan di bawah pemerintahan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla. Di bawah
SBY-Kalla, negara dan bangsa kita membutuhkan kebebasan pers yang bertanggung
jawab (free and responsible press). Sebuah perpaduan ideal antara kebebasan pers dan
kesadaran pengelola media massa (insan pers), khususnya untuk tidak berbuat semena-
mena dengan kemampuan, kekuatan serta kekuasaan media massa (the power of the
press
).

Di bawah SBY-Kalla, kebebasan pers Indonesia idealnya dibangun di atas landasan
kebersamaan kepentingan pengelola media, dan kepentingan target pelayanannya, tidak
peduli apakah mereka itu mewakili kepentingan negara (pemerintah), atau kepentingan
rakyat. Dalam kerangka kebersamaan kepentingan dimaksud, diharap aktualisasi
kebebasan pers nasional kita, sedikitnya lima tahun mendatang, tidak hanya akan

memenuhi kepentingan sepihak, baik kepentingan pengelola (sumber), maupun teratas
pada pemenuhan kepentingan sasaran (publik media).

Sudut pandang kepentingan ini, dilandasi kajian komprehensif atas keberadaan, fungsi
dan peranan pers, sebagai landasan ideal dan praksis kebebasan pers, yang bermuara dari
pemahaman teori peluru (the bullet theory) yang dikenal dalam ilmu komunikasi. Teori
itu menguraikan kegiatan komunikasi, termasuk pers, berpusat komunikator.

Ibarat peluru yang dibidikkan penembak (komunikator, media massa), akan tepat kena
sasaran atau tidak, tergantung kepada kecakapan penembaknya. Penembak jitu, biasanya
tidak memubazirkan peluru ke arah atau sasaran lain, kecuali ke titik bidik yang dituju.
Karenanya, akan sangat sulit bagi sasaran tembak untuk mengelak atau menghindarkan
peluru yang melesat cepat dari moncong senapan sang penembak.

Demikian pula dengan pers. Kecakapan pengelola media massa, merupakan salah satu
prasyarat tercapainya tujuan penerbitan media cetak, dan pengudaraan siaran radio serta
televisi.

Prasyarat lain seperti bagaimana prosesnya digarap dengan baik dan benar, di samping
kemapanan publik, serta prediksi pengaruh pers, memang juga menentukan besar-
kecilnya, dan signifikan tidaknya pengaruh media massa, walau kadar signifikasinya
antartarget publik media, bisa berbeda-beda.

Arogansi Pers

Ketidakberdayaan publik, harus diapresiasi sebaik mungkin oleh setiap pengelola pers,
khususnya guna membangun dan mengaktualisasikan kebebasan pers Indonesia, di
bawah pemerintahan SBY-Kalla. Sebab, jika pengelola pers bersikap acuh tak acuh,
bahkan melecehkan inferioritas publik atas keperkasaan media massa, akan menimbulkan
penolakan, bahkan juga perlawanan publik terhadap media massa

Karenanya, pemerintahan SBY-Kalla, disamping pengelola media, harus berupaya
mencegah agenda tersembunyi pers. Isu publik dan materi pers yang banyak
disembunyikan oleh pemerintah di bawah kepemimpinan SBY-Kalla, atau dilakukan
pengelola media massa sendiri (sadar atau tidak), dapat membentuk kekecewaan publik,
baik terhadap pemerintah maupun pers nasional kita sendiri.

Karenanya, selama pemerintahan mendatang, pengelola media sepatutnya tidak
mengapresiasi kebebasan pers sebagai penjabatan konkret keperkasaan pers, yang tan
kena ora
tadi. Karenanya, para insan pers tidak boleh menganggap lantaran publik media
mustahil mampu mengelak dari "peluru" pers, membuat mereka (awak pers) boleh seenak
hati memberondongkan isi senapannya (informasi pers) kepada publik.

Rasionalitas diuraikan di atas, mendorong seharusnya penerapan teori peluru secara
ekstra hati-hati oleh setiap pengelola media cetak dan elektronika (radio, televisi), di era
pemerintahan SBY-Kalla. Dalam hal ini, segenap pengelola media harus semaksimal atau
seoptimal mungkin mencegah arogansi pers, yang dimungkinkan oleh kekuatan dan
keperkasaan media massa pada umumnya.

Dalam konteks kebebasan pers (dengan ideal di atas), pemerintah SBY-Kalla perlu
memiliki antibodi yang memadai. Untuk itu, pemerintah tidak boleh berperan di depan
(mendahului publik), dalam upaya pengawasan kebebasan pers. Biarlah kegiatan media
watch
, termasuk pemantauan kebebasan pers dilakukan oleh masyarakat, tanpa
melibatkan peran pemerintah. Kecuali jika terjadi konflik (manajemen konflik), sebagai
akibat kebebasan pers.

Pemerintah mendatang dituntut untuk mampu mencegah polusi budaya media,
imperialisme media, kejahatan media dan lain-lain, tanpa menghadirkan state body yang
ekstra dominan menentukan corak pers. Superioritas peran negara, sebagaimana juga
superioritas fungsi pers, merupakan bagian dari harapan publik, yang mesti dicegah
perwujudannya di era kepemimpinan SBY-Kalla, tanpa harus berarti terjadinya
pengekangan kebebasan pers di negeri ini. (18)

Oleh: Novel Ali, Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip; Koordinator Perisai
Media Watch.

Sumber: Suara Merdeka

Krisis Media Dalam Perspektif Konvergensi Telematika: Wacana Media untuk
Penyempurnaan UU Pers.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->