P. 1
Tandan Sawit Volume 1/2010

Tandan Sawit Volume 1/2010

|Views: 1,259|Likes:
Published by swoutreach
Bulletin Tandan Sawit was publish by Sawit Watch, this edition is 1st edition in 2010
Bulletin Tandan Sawit was publish by Sawit Watch, this edition is 1st edition in 2010

More info:

Published by: swoutreach on Apr 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2012

pdf

text

original

Redaksi

Penanggung Jawab Abetnego Tarigan Dewan Redaksi Abetnego Tarigan, Edi Sutrisno, NA Surambo, Jefri G. Saragih, Norman Jiwan. Pemimpin Redaksi Jefri G. Saragih Redaksi Pelaksana Yan Yan Hadiyana Anggota Redaksi Elsa Susanti, Bondan Andriyanu, Inda Fatinaware, Fatilda Hasibuan, Eep Saepullah, Carlo Nainggolan Sekretariat Redaksi Vinna Saprina M Distribusi dan Pelayanan Komplain Eep Saepullah Keuangan Tina Sumartina, Supapan dan Sukardi Penerbit Perkumpulan Sawit Watch Alamat Redaksi Jl. Sempur Kaler No.28, Bogor Telp. 0251-8352 171 Fax. 0251-8352 047 redaksi@sawitwatch.or.id
Setuju dengan tujuan terbentuknya RSPO
Saya sangat setuju dengan statement diatas, tapi alangkah lebih baiknya kalo semua pendapat yang masuk betulbetul dijadikan masukan bukan hanya sekedar coment terisi doank, karena pada dasarnya comment dibuat punya dasar yang kuat, akan lebih baik juga jika ditambahkan data yang lengkap berdasarkan hasil riset sehingga bukti konkrit ada seperti P&C yang ada di RSPO semuanya harus punya dokumentasi, baik data, foto ntah apalah itu.Terima kasih Antoperis Kebanyakan P.T hanya bisa menggarap tanah masyarakat yang telah lama dikelola, masyarakat hanya bisa mengurus surat dari kepala desa,kemudian mengelola tanah tersebut dengan modal dan harapan supaya kehidupannya lebih baik.(Dan kebanyakan dari peninggalan orangtua,"tanah waris"). Kemudian PT datang menggarap dengan modal uang yang banyak,menyogok kepala desa yang baru bertugas agar dikeluarkan izin yg menyatakan tanah tersebut masih hutan (padahal telah lama dikelola rakyat),kemudian menyogok camat dan instansi yang terkait

DARI PEMBACA
Persoalan Tanah Antara untuk mengeluarkan izin HGU.. Bagaimana tanggapanmu waPT & Masyarakat
hai pemerintah menyikapi hal yg seperti ini.Rakyat berhak mendapatkan kehidupan yang layak(itu isi UUD 1945).Sering PT memperkosa hak rakyat... Salam, Agusmen Suprandy Sitorus
(Komentar dari website Sawit Watch, 30 Januari 2010)

3
Editorial

4
Pusat Informasi Kampung

7
Sawit beban ganda untuk perempuan...

10
Realitas K3...

13
Konflik Agraria di Perkebunan...

20

Pembangunan Kebun Sawit berbasis Gas Rumah Kaca...

Silahkan mengunjungi website kami untuk mendapatkan soft copy dari Tandan Sawit dan informasi lainnya di : www.sawitwatch.or.id

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 2

EDITORIAL

Pusat Informasi Kampung sebagai jembatan bagi kaum buruh melawan arogansi perusahaan

S

etelah menempuh 3-4 jam perjalanan dari Kota Jambi akhirnya kami bertiga (uyan, Jefri dan darto) tiba di Desa Purwodadi, sebuah desa yang awalnya dibangun pada tahun1985 sebagai pusat pemukiman transmigrasi dari pulau Jawa. Suasana desa tersebut sudah demikian berkembang, ada puskesmas, Bank Unit Desa dan beberapa warung yang sudah tutup karena ketika kami tiba waktu sudah me-nunjukkan pukul : 23.45 WIB. Tidak berapa lama kemudian kami pun tiba di tempai yg menjadi tujuan kami malam itu yaitu menginap di rumah Pak Maryono, salah seorang transmigran yang telah menjadi PNS dinas Pertanian Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebagai Penyuluh Pertanian. Kami pun lsg istirahat setelah berbincang2 sebentar dengan Pak Maryono. Esok Paginya setelah kami mandi dan sarapan datanglah semua orang yang kami undang untuk dapat menghadiri acara yang menjadi tujuan utama kami datang ke Desa ini, yaitu Pertemuan untuk Pelatihan dan pengenalan Pusat Informasi Kampung (PIK) dan SMS Gateway, sebuah program kerja kami yang bertujuan memberikan dan membuka informasi yang seluas-luasnya bagi masyarakat kampung mungkin lebih mirip membangun sebuah perpustakaan kampung/ desa. Disisi yang lain, Di daerah Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Tenggara, Dari balik rerimbunan pohon sawit, seorang perempuan berpakaian kerja lengkap dengan sepatu boot dan sarung tangan tanpa masker, sedang berjalan mendekati pohon sawit. Di punggung mereka terlihat karung goni menggelantung. Soti (46 tahun), buruh pemupukan PT.Sultra Prima Lestari (SPL) di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, mengaku menjadi buruh bukanlah pilihan hidup. “ Mau kerja apa lagi, sawah sudah tak punya.”, katanya sambil menerawang. Dari tujuh ratus orang lebih buruh di Sultra Prima Lestari, diperkirakan setengah nya adalah perempuan. Tidak ada perbedaan jenis pekerjaan antara buruh laki-dan buruh perempuan. Semua pekerjaan yang ada di perkebunan sawit seperti land clearing (pembukaan lahan untuk penanaman), pemupukan, penyemprotan, perawatan yang terdiri dari gawangan, pringan dan sebagainya tak luput di kerjakan oleh buruh perempuan. Semua jenis pekerjaan tersebut, sarat dengan resiko kecelakaan kerja, apalagi di barengi dengan tidak dilengkapi peralatan kerja yang standar. Penyebab umum kecelakaan antara lain tempat kerja (ancak) yang tidak rata (berbukit), pohon sawit/karet yang bengkok, pohon karet/sawit yang relatif tinggi, bersemak lebat, ancak berlobang dapat dikategorikan lingkungan kerja yang tidak aman dalam arti resiko tinggi terhadap kecelakaan. Penyebab terperinci, berdasarkan analisis kronologis diakibatkan oleh kelalaian buruh, kekurang terampilan, alat kerja serta pelindung kerja yang tidak cukup dan mandor pengawas tidak punya standart operasi pengawasan, serta tidak ada pengaTandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

wasan sewaktu buruh bekerja dapat dikategorikan perilaku yang tidak aman. Penyebab pokok adalah perusahaan mengabaikan tanggung jawab K-3;tidak mensosialisasikan keselamatan kerja kepada buruh menyebabkan rendahnya kesadaran buruh atas keselamatan kerja, tidak pernah melatih pekerja terampil manjaga keselamatan kerja, upah yang rendah, pekerja memacu kerja demi premi sehingga mengabaikan aspek keselamatan kerja, serta target kerja (beban kerja) tinggi tidak diimbangi oleh pola makan (gizi) yang cukup dan sayangnya sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K-3) untuk buruh perkebunan terbatas hanya untuk buruh tetap saja tidak untuk buruh harian lepas, padahal di sumatera utara saja, jumlah buruh harian lepas bisa mencapai 80% dari total +100 ribu buruh yang bekerja di perkebunan sawit. Jadi melihat realitas yang terjadi, mungkin apabila informasi yang ada misalkan tentang UU tenaga Kerja, Program K-3 dll, itu dapat terdistribusi sampai ke tangan buruh hal-hal yang terjadi diatas bisa diminimalisir bahkan juga tidak akan terjadi, namun karena arogansi perusahaan dan kemalasan pemerintah untuk mendistribusikan informasi itu membuat buruh dan petani ada diposisi yang sulit dan selalu tertindas. Melihat realitas seperti itu, maka tidak ada salahnya Sawit Watch memandang penting dibangungnya Pusat Informasi Kampung sebagai wadah penyebaran informasi yang mungkin bisa digunakan oleh kaum buruh dan petani untuk membekali diri dan meningkatkan posisi tawar dengan perusahaan perkebunan. Dan dapat memicu gairah perusahaan perkebunan dan pemerintah untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan pelayanan terhadap buruh dan petani.

Halaman | 3

PUSAT INFORMASI KAMPUNG (PIK)

“TEMPAT BACA DAN DISKUSI WARGA DESA”
Oleh: Perkumpulan SAWIT WATCH

Pelatihan sosialisasi PIK dan SMS Gateway di Tanjung Jabung Barat, Jambi

Pendahuluan

D

kum,” lanjut pria yang juga berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah dasar ini. Pendapat Depi juga diamini oleh Zajuri. Petugas penyuluhan pertanian yang tinggal di desa Tanjung Benanak, kecamatan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini mengatakan, “meski sedikit sekali jumlahnya, selama ini buku-buku tentang pertanian dan lainnya memang ada dikirimkan oleh pemerintah pusat ke desa-desa. Juga ke desa kami. Tapi hanya berhenti di kantor desa. Tidak pernah dibagi ke masyarakat. Entahlah buat apa kalau buku-buku itu hanya dijadikan pajangan di lemari.” Bersama dengan 8 tokoh masyarakat lainnya berharap program Pusat Informasi Kampung benar-benar bisa langsung bersentuhan dengan masyarakat desa tanpa perlu birokrasi yang berbelit-belit apalagi pakai mengeluarkan uang.
Halaman | 4

epi Pitrianto terlihat bersemangat menanggapi program Pusat Informasi Kampung yang sedang dilakukan Perkumpulan Sawit Watch di beberapa desa di kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Timur. Menurut penduduk desa SP 4, Merlung, Tanjung Jabung Barat ini, minat masyarakat di likungannya sangat tinggi untuk mendapatkan informasi terutama tentang perkebunan kelapa sawit. “Mayoritas penduduk di desa kami petani kelapa sawit. Namun belum bisa optimal dalam mengelola kebun sawit karena kekurangan informasi tentang itu. Sebenarnya masyarakat juga membutuhkan informasi lain yang berguna untuk mengembangkan pengetahuan dirinya. Misalnya saja tentang hak asasi manusia dan kajian huTandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

makmuran dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia akibat keberadaan dan perluasan kebun sawit kerap menjadi sorotan utama. Jargon-jargon fantastis seperti, “Indonesia Negara penghasil Minyak Sawit Terbesar di Dunia” dan “Perkebunan Sawit Ciptakan Lapangan Kerja dan Tingkatkan Kemakmuran” kerap tertulis di pelbagai media informasi tadi. Tidak hanya berhenti di sana, jargon itu diikuti dengan penyebetuan angka yang fantastis.misalkan saja,” Sektor Sawit Raih Keuntungan Senilai 9,11 miliar dolar Amerika.” Atau “Perkebunan Sawit Mampu Serap 4 juta Tenaga Kerja” dan “Hampir 3 juta ha Kebun Sawit di Indonesia Dimiliki oleh Petani.” Hampir tidak ada diinformasikan kepada publik bahwa di balik gemerincing dan kemilau prestasi perkebunan sawit, ternyata terselip banyak cerita duka dan nestapa. Duka masyarakat tempatan yang tergusur dari lahannya akibat perluasan kebun sawit. Juga tidak sedikit petani yang melakukan demonstrasi ketika harga bibit, pupuk, dan tandan buah sawit segarnya serta jumlah utang yang dibebankan padanya ternyata dibuat secara sepihak oleh perusahaan dan didukung oleh pemerintah.
Uyan dari Sawit Watch sedang memberikan penjelasan tentang SMS Gateway dalam pertemuan dengan masyarakat Tanjabbar, Jambi (dok. SW)

“Desa kami dikeliling perusahaan hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit. Informasi yang kami dapatkan hanya lewat televise berantena parabola yang listriknya pun mesti pakai genset. Jadi PIK diharapkan bisa memeberikan informasi tambahan kepada kami untuk meningkatkan pengetahuan. Kali aja bisa menimbulkan ide untuk bikin hidup kita lebih sejahtera “ imbuh Njah, pemuda desa asal Tanjung Jabung Barat sambil tersenyu simpul. Ketika Informasi Menjadi Kebutuhan Informasi adalah kumpulan data dan fakta dari dinamika sosial (perubahan sosial) dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kumpulan data dan fakta tadi bila dikumpulkan bisa disajikan kepada publik dalam berbagai bentuk (multimedia). Misalnya saja lewat buku, majalah, film atau cakram suara. Tujuannya adalah pencerahan wacana masyarakat demi sebuah penyadaran dan perubahan hidup. Melalui kemajuan teknologi, kini informasi telah menjadi kebutuhan penting setiap orang. Namun maraknya penerbitan dan pembagian informasi yang didasarkan pada kepentingan tertentu, terutama kepentingan modal dan kekuasaan pilitik, membuat informasi seakan-akan menjadi sepihak saja. Akibatnya adalah informasi hanya menjadi alat propaganda belaka bahkan cenderung eksploitatif dan penuh manipulasi demi kepentingan kelompok bisnis dan kekuasaan politik tersebut. Padahal esensi dari informasi adalah pencerahan dan perubahan hidup public yang mengandung nilai kebenaran dan keadilan. Pemenuhan naluri kesadaran manusia.

Nestapa jutaan buruh yang bekerja di kebun sawit hanya berstatus buruh harian lepas tanpa upah yang layak,perlindungan kerja yang optimal dan kerap dilecehkan keberadaannya. Apabila ketiga kelompok rentan di sekitar kebun sawit tadi melakukan tindakan demi menuntut haknya, maka proses kriminalisasi pasti akan diberlakukan terhadap mereka. Selain itu, kabut asap akibat pembakaran lahan demi pembangunan kebun sawit dan banjir yang melanda ketika musim penghujan tiba akibat konversi hutan/ lindung serta daerah aliran sungai menjadi kebun sawit juga tidak pernah diberitakan. Belum lagi jumlah emisi karbon yang dihasilkan republik ini disebabkan oleh konversi kawasan hutan dan rawa gambut. Padahal sebanyak 40% dari total kawasan hutan tersebut sebenarnya masih dimiliki dan dimanfaatkan oleh penduduk local/ masyarakat adal melalui produksi hasil hutan non kayu. Dan budi daya tanaman yang sudah lama dikenal masyarakat seperti karet, coklat dan lada.

Pusat Informasi Kampung sebagai Alternatif Informasi Masyarakat
Melihat perkembangan di atas, Perkumpulan Sawit Watch melalui kongres III di Bali pada bulan November 2008, merespons situasi tersebut dengan: 1. Terkait dengan nasib rakyat di wilayah perkebunan yang sudah ada (petani dan buruh kelapa sawit) 2. Terkait dengan nasib rakyat di kawasan ekspansi (Masyarakat adat dan Masyarakat Lokal) 3. Terkait dengan altenative pengelolaan tanah dan sumber daya alam (aspek ekonomi dan lingkungan menjadi penting!) 4. Terkait Penguatan institusi SW. Berdasarkan mandat tersebut terutama poin 1- 3, SW merasa perlu untuk mengembangkan sebuahprogram kerja yang dinamakan Pusat Informasi Kampung (PIK).
Halaman | 5

Penyebaran Informasi di Seputar Perkebunan Sawit
Penguasaan informasi yang berpihak terhadap kepentingan pemodal dan kekuasaan politik juga terjadi di sektor perkebunan sawit. Pemberitaan pembangunan yang berdampak terhadap keTandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

4.

Mendukung PIK sebagai tempat pertemuan masyarakat desa untuk saling berbagi informasi dan berdiskusi dengan sesama penduduk desa atau dengan desa-desa lain tempat PIK berada.

Mitra Sawit Watch dalam Pelaksanaan PIK
Untuk mencapai semua hal tersebut, maka SW akan memulainya dengan melakukan kerja sama pen distribusi media informasi dari mitra kerjanya baik di tingkat internasional, namun terutama di level nasional dan daerah yang memiliki media informasi. Tujuannya adalah media informasi dapat dikumpulkan, dibagikan dan pada akhirnya akan dibaca warga kampung untuk memperluas wawasannya. Beberapa lembaga mitra SW yang telah berkomitmen dengan mengirimkan media informasinya kepada kami untuk dibagikan ke masyarakat desa adalah: Sdr.Darto sedang memfasilitasi pertemuan PIK untuk masyarakat petani di Tanjung Jabung Barat, Jambi

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia. Indonesia Corruption Watch ELSAM HUMA Kalyana Mitra Konsorsium pembaruan Sistem Hutan Kerakyatan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia The Indonesian Legal Resource Center Yayasan Bina Desa Yayasan Keanekaragaman Hayati. Dan lain-lain

PIK sengaja dirancang sebagai pusat pelbagai media informasi yang berasal dari berbagai organisasi masyarakat sipil dan para pihak lainnya terkumpul. Tujuannya memberikan banyak informasi yang bisa memberikan pemahaman baru dan perubahan hidup kepada masyarakat. Hal pokok adalah pemberdayaan masyarakat berdasarkan tempat tinggal dan kondisi lingkungannya. Termasuk jenis budidaya yang bisa dihasilkan olehnya. Sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil yang melakukan pendekatan hak asasi manusia, Sawit Watch selaku inisiator program ini akan mengupayakan beberapa hal, antara lain: 1. Pendirian Pusat Informasi Kampung di beberapa desa yang mempunyai hubungan kerja sama dengan mitra SW di suatu daerah tertentu untuk selanjutnya akan dikoneksikan dengan sekretariat SW. Mendukung penyediaan perangkat lunak agar PIK tersebut tersambung satu dengan yang lain melalui jalur sms gateway. Diharapkan perkembangan PIK dan keadaan kampung bisa terus diberitakan. Juga pemberitaan internasional, nasiolan dan daerah bisa langsung sampai ke kampung. Mendukung pengiriman media informasi kepada PIK secara regular dari pelbagai sumber yang akan diseleksi berdasarkan kebutuhan PIK oleh SW , yang akan menjalin kerja sama dengan beberapa organisasi masyarakat sipil dan para pihak lainnya.

Kami mengucapkan terimakasih untuk kerja sama yang telah berjalan. Semoga ke depan hal itu tetap berlanjut. Sekaligus juga kami mengundang secara terbuka kepada banyak pihak lainnya yang memiliki media cetak agar mau berbagi dan mengirimkan media informasi tersebut kepada Perkumpulan Sawit Watch untuk dibagi ke pelbagai desa di Indonesia. Untuk permulaan, PIK akan didirikan di beberapa provinsi antara lain: 1. Provinsi Jambi, tepatnya di kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur sebanyak 10 desa. 2. Provinsi Sulawesi Tengah, di kabupaten Poso dan Morowali sebanyak 7 desa. 3. Dalam waktu mendatang, akan didirikan PIK lagi di 4 provinsi lainnya antara lain; Kalimantan Tengah, Riau, Sumatra Selatan dan Papua Barat. Komunikasi Sawit Watch dengan PIK-PIK yang sudah dan akan dibangun menggunakan SMS Gateway, yang mana sistem komunikasi ini harapannya akan memberikan kemudahan bagi masyarakat yang membutuhkah informasi sesuai dengan kebutuhan mereka. No SMS Gateway yang bisa dihubungi adalah : 081398870063, dengan persyaratan pengiriman sms yang sudah ditentukan oleh Sawit Watch, persyaratannya adalah : ketik PIK (spasi) nama/kampung lokasi pik (spasi) isi pesan atau informasi yang dibutuhkan, contoh : PIK Jazuri/merlung tolong dicarikan buku atau media informasi tentang pembibitan kelapa sawit yang yang benar. (oey, jef & darto)

2.

3.

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 6

KETIKA KEBUN SAWIT MENJADI BEBAN GANDA UNTUK KAUM PEREMPUAN oleh : Sus Yanti Kamil
lahan perladangan lagi. ”Terkadang kami merasa hidup ini semakin susah saja.” kata Soti.

Perubahan Pola Hidup Kaum Perempuan
PT. Sultra Prima Lestari melalui SK Bupati No.585 tahun 2004, berhasil menguasai lahan seluas 12.000 ha yang berlokasi di tiga desa; Laronanga, Labungga dan Wangguduraya di kecamatan Asera,kabupaten Konawe Utara. Konsesi itu terdiri dari kawasan hutan dan lahan pertanian masyarakat, termasuk sawah seluas 2 ha milik Soti. Nasib warga pun berubah, dari pemilik lahan menjadi buruh semata. Sebelum ada perkebunan sawit di desanya, Soti dan kaum perempuan menjadi petani padi dengan masa panen dua kali setahun. Bila musim panen tiba, mereka akan menjual sebagian gabah miliknya setelah menyisihkan bahan pangan untuk keluarga sampai tiba musim panen berikutnya. Masyarakat di sekitar perkebunan sawit dulunya tidak pernah kekurangan bahan pangan. Perempuan lainnya, yang tidak ber sawah, menanam sayurmayur dan kacangkacangan. Kini, lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan kaum perempuan berganti menjadi tanaman sawit yang bukan milik mereka dan hanya menghasilkan Rp.492.800 per bulan dengan beban kerja yang sangat berat. Mereka juga akhirnya harus membeli beras atau bahan pangan lainnya. Hartati (35 tahun), buruh PT. Sultra Prima Lestari, mengaku dulu memiliki sawah seluas dua hektar. ”Sekarang ini kalau tidak kerja tidak dapat uang. Beda dengan waktu masih punya sawah. Dulu kami tidak pernah kekurangan beras”, ungkapnya. Perempuan yang mempunyai tiga anak ini juga mengatakan bahwa penghasilan yang diperoleh dari buruh sawit, tidak cukup utuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Menurut Boma, salah satu mandor perkebunan PT. Sultra Prima Lestari, terdapat 21, 5 ha sawah yang di konversikan menjadi perkebunan sawit oleh perkebunan tempat ia bekerja tersebut. Walaupun perkebunan sawit itu sendiri mengiming-imingi system bagi hasil jika panen kelak ( di beberapa tempat panen itu tak pernah terjadi karena tidak ada pabrik seperti yang terjadi di PTPN XIV), pembagain hasil itupun sarat dengan jeratan rente yang menjebak pemilik lahan dengan utang yang tak pernah dipinta. Begitupun dengan perjanjian pinjam pakai selama 25 tahun. Bisa dipastikan masyarakat khususnya kaum perempuan tidak akan lagi bisa menjadikan lahan pertaniannya sebagai basis produksi setelah sawit usai, karena lahan bekas perkebunan sawit tersebut tidak akan poduktif lagi dikarenakan tanaman sawit adalah jenis tanaman yang banyak menyerap unsure hara tanah.

D

seorang ibu sedang membawa buah sawit dikepalanya (dok.SW)

ari balik rerimbunan pohon sawit, seorang perempuan berpakaian kerja lengkap dengan sepatu boot dan sarung tangan sedang berjalan mendekati pohon sawit. Di punggung mereka terlihat karung goni menggelantung. Sesekali tangan kedua perempuan tadi mengambil sesuatu dari dalam karung, lalu menebarkannya dari satu pohon ke pohon berikutnya sampai target kerja hari itu terpenuhi. Soti (46 tahun), buruh pemupukan PT.Sultra Prima Lestari (SPL) di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, mengaku menjadi buruh bukanlah pilihan hidup. “ Mau kerja apa lagi, sawah sudah tak punya.”, katanya sambil menerawang. Menurut Soti, keberadaan PT SPL membuat masyarakat lokal bisa mendapatkan uang kontan lewat memburuh. Namun di sisi lain tingkat ketergantungan warga terhadap kebun sangat tinggi karena tidak memiliki

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 7

celakaan pada saat bekerja, tidak diberikan jaminan keselamatan kerja dari perusahaan seperti biaya pengobatan, cuti dan sebagainya. Buruh sendirilah yang menanggung biaya pengobatan dan tetap dianggap absen oleh perusahaan. Tidak adanya perlindungan terhadap buruh khususnya buruh perempuan juga terlihat pada pekerjaan “penyemprotan”. Mereka harus memikul tangki yang berisikan 15 sampai 17 liter air sepanjang satu jalur (setiap satu jalur berukuran panjang 300 meter dan lebar 17 meter), tanpa menggunakan masker penutup mulut. Begitupun dengan “pemupukan”, pekerjaan itu di kerjakakan oleh dua orang di setiap dua jalur, juga tanpa menggunakan masker penutup mulut. Jika hendak menggunakan masker, buruh harus menyediakan sendiri, begitupun dengan sepatu boot, perusahaan tidak menyediakan sepatu boot terlebih lagi masker. Ibu Sonde dan buruh lainnya hanya mampu membeli sepatu boot yang harganya Rp.70.000, karena masker dianggap belumlah menjadi kebutuhan utama dalam pekerjaan mereka, sehingga buruh di perkebunan ini jarang menggunakan masker penutup mulut. Beban kerja dan medan yang begitu berat, dilalui oleh setiap buruh perempuan walau sedang haid atau hamil sekalipun. Mereka, tidak mengenal cuti haid, hamil dan melahirkan. Begitupun dengan tidak adanya toilet atau WC bagi buruh. Sambil senyum, seolah tidak menjadi persoalan bagi ibu Sonde, yang mengatakan “kalau hendak buang air kecil terpaksa harus ke hutan atau di tempat sunyi atau di tahan saja sampai pekerjaan selesai, nanti ke toilet kantor”. (hanya ada satu satu toilet kantor yang diperuntukkan untuk karyawan administrasi dan mandor). Bisa dibayangkan buruh perempuan yang sedang haid. Seakan, menjadi buruh perempuan perkebunan, juga harus merelakan hak-hak kemanusiaannya. **** Walaupun negara kita mempunyai UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakeerjaan yang mengatur tentang hak normative bagi buruh perempuan seperti cuti haid, hamil dan melahirkan, dan jaminan keselamatan kerja, namun, fakta yang dialami buruh perempuan perkebunan sawit di kabupaten Konawe Utara, sesungguhnya adalah potret dari lemahnya pengawasan pemerintah terhadap perusahaan yang berkaitan dengan impelementasi dari UU tersebut seperti hak-hak buruh khususnya buruh perempuan. Perlindungan terhadap keselamatan kerja dan reproduksinya juga tertuang dalam Konvensi Penghapusan Segala Bentuk DiskriminasiTerhadap Perempuan (CEDAW) dimana negara kita telah meratifikasi dalam UU No 7 tahun 1984. “Negara-negara peserta wajib melakukan segala langkah tindak yang diperlukan untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang kesempatan kerja untuk mrnjamin, atas dasar kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak-hak yang sama khususnya;hak atas perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja, termasuk perlindungan fungsi reproduksi.(pasal 11 point f)”. Tidak adanya hak-hak normative dan perlindungan bagi buruh perempuan, juga di sebabkan kurangnya informasi dan pengetahuan buruh perempuan tentang hak-hak buruh dan hak-hak kemanusian. Hal ini di sebabkan selain lokasi wilayahnya yang cukup sulit dari akses transportasi maupun informasi, juga di pengaruhi oleh lemahnya akses pendidikan khususnya bagi perempuan yang juga tak luput dari pengaruh budaya patriarkhi yang belum menjadikan pendidikan bagi anak perempuan sebagai prioritas utama

Buruh perempuan sedang meniupkan serbuk untuk pembuahan (dok.SW)

Dalam sejarah perkebunan di Sulawesi Tenggara, setelah perusahaan hengkang, (seperti yang terjadi PT. Haspram di Kabupaten Kolaka, PT. Kapas di Konawe Selatan), tanaman perkebunan itu hanya tinggal saksi sejarah perampasan lahan oleh perkebunan. Dari gambaran perampasan lahan oleh perkebunan sawit, sangat jelas berdampak pada hilangnya basis produksi perempuan dan mengubah kaum perempuan dari produsen pangan menjadi pembeli pangan dan ancaman lainnya adalah terjadinya krisis pangan di Kabupaten Konawe Utara sebagai imbas dari perampasan lahan secara besar-besaran dan pemakasaan pertanian monokultur.

Eksploitasi Buruh
Selain perampasan lahan, bentuk kejahatan lain dari perkebunan sawit adalah ekspolitasi buruh khususnya buruh perempuan. Tidak terpenuhinya hak normative dan perlindungan bagi buruh perempuan menambah persoalan bagi perempuan yang hidup disekitar perkebunan. Dari tujuh ratus orang lebih buruh di Sultra Prima Lestari, diperkirakan setengah nya adalah perempuan. Tidak ada perbedaan jenis pekerjaan antara buruh laki-dan buruh perempuan. Semua pekerjaan yang ada di perkebunan sawit seperti land clearing (pembukaan lahan untuk penanaman), pemupukan, penyemprotan, perawatan yang terdiri dari gawangan, pringan dan sebagainya tak luput di kerjakan oleh buruh perempuan.Semua jenis pekerjaan tersebut, sarat dengan resiko kecelakaan kerja. Ibu Sonde, asal Wanggduraya, adalah buruh perempuan yang telah tiga tahun bekerja di SPL bercerita bahwa salah satu buruh perempuan pernah memotong tangannya sendiri pada saat melakukan “land clearing”. Bisa dibayangkan membersihkan semak belukar dengan hanya menggunakan alat kerja sederhana seperti parang sangat beresiko terhadap keselamatan kerja. Tidak hanya itu, untuk menuju lokasi land clearing, para buruh harus berjalan berkilometer karena lokasi tersebut masuk dalam kawasan hutan. Dari cerita ibu Sonde terungkap bahwa buruh yang mendapat ke-

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 8

bagi masyarakat miskin. Mayoritas buruh perempuan di perkebunan sawit ini, hanya mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar.

Kondisi di atas selain menyebabkan semakin tereksploitasinya buruh perempuan di perkebunan sawit juga menyebabkan ancaman atas kesehatan reproduksinya. Beberapa pakar berpendapat bahwa, organ reproduksi perempuan san“Kisah buruh perempuan di gat sensitive terhadap kuman, perkebunan sawit ini adalah bahan kimia dan ganguan kesehatan lainnya. Sehingga lingkungan potret situasi perempuan yang tidak sehat, tidak aman dan Indonesia khususnya Sulawesi beban kerja yang berat dapat meTenggara yang dibelenggu nyebabkan ganguan terhadap organ reproduksinya, tak jarang hal oleh ketidakadilan sistem itu dapat menyebabkan gangguan ekonomi, politik maupun fertilitas (kesuburan), keguguran bahkan kanker rahim. secara sosial.”

Hal yang sama juga di alami oleh Ibu Sonde. Perempuan yang telah bercucu ini, setiap hari berangkat ke perkebunan menyebrangi sungai dengan menggunakan “pancara” (rakit yang menggunakan mesin tempel). Namun jika mesin perahu rusak, terpaksa ia harus menginap di “basecamp” (rumah penampungan karyawan yang mayoritas di huni laki-laki). Namun, baik Ibu Sonde maupun ibu Soti merasa tidak ada yang salah dengan kondisi “double bourden’ yang mereka alami. Hal itu dianggap wajar. Karena pada umumnya perempuan di sekitar mereka mengalami hal yang sama. Peran utama yang mereka emban untuk pekerjaan domestik dianggap sebagai “kodrat perempuan”. ****

Beban Ganda
Menjadi buruh perkebunan sawit tak membuat ibu Soti dan perempuan buruh yang lainnya tidak menjalankan peran domestiknya. Pukul empat pagi, perempuan beranak tujuh ini harus bangun dari tidur malamnya. Hal ini ia lakukan karena sebelum berangkat kerja, dia terlebih dahulu harus memasak dan menyediakan kebutuhan anggota keluarga yang lainnya. Jarak desa tempat tiggalnya cukup jauh dengan lokasi perkebunan, yaitu berjarak tujuh kilometer dan ditempuh dengan berjalan kaki. Sehingga ibu Soti harus berangkat menuju perkebunan sawit ketika hari masih gelap. Ketika matahari mulai terbenam, ibu Soti kembali kerumahnya, namun bukannya istirahat yang didapatkan, melainkan harus melanjutkan peran domestiknya.

Kisah buruh perempuan di perkebunan sawit ini adalah potret situasi perempuan Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara yang dibelenggu oleh ketidakadilan sistem ekonomi, politik maupun secara sosial. Anggapan bahwa perempuanlah yang memegang peranan utama dalam pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, mengurus anak, melayani suami dan sebagainya menjadi persoalan bagi perempuan khususnya perempuan miskin. Beban ganda menjadi tak terhindarkan bagi perempuan yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Hal ini tentu saja akan berdampak pada kualitas kesehatan perempuan, dan terenggutnya akses perempuan untuk memperoleh akses informasi, akses untuk terlibat dalam kegiatan public dan sebagai nya. Kondisi ini semakin menempatkan perempuan pada posisi subordinasi. Kisah-kisah perempuan yang hidup di sekitar sawit di atas, semakin menjelaskan bawa perempuan yang hidup di sekitar perkebunan sawit mengalami ketertindasan yang kompleks dalam lingkaran kehidupan mereka. Lahan yang dirampas, kehidupan perkebunan yang teramat keras dan eksploitatif, beban ganda yang harus di pikul, sungai yang tercemar, menegaskan bahwa sawit telah merenggut kehidupan perempuan.
Biodata Penulis: Staff Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah.Sultra, Anggota Dewan Daerah Walhi Sultra Publikasi:”Tambang Emas Bombana, Berkah Atau Ancaman” (Dipublikasikan di web site JATAM), “Menggadai Hutan Untuk Siapa”(Dipulikasikan di web site JATAM). Email:kendari_maju@yahoo.com, Blog: www.kendarimaju.blogspot. com

seorang buruh perempuan sedang melakukan pemupukan (dok.SW)

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 9

Laporan Penelitian Realitas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Perkebunan

I

Pendahuluan

su Keselamatan dan Kesehatan Kerja (selanjutnya disingkat K-3) merupakan masalah penting dalam dunia perburuhan. Selain sebagai hak dasar buruh, K-3 penting karena semua pihak yang berkaitan dengan masalah tersebut harus berusaha untuk mengurangi kemungkinan resiko dan bahaya dalam bekerja (aspek preventif), memungkinkan tercapainya pengobatan (aspek kuratif) dan pemulihan kesehatan (aspek rehabilitatif) bagi buruh khususnya mereka yang mengalami kecelakaan kerja.

Ada tiga aspek utama hukum K3 yaitu norma keselamatan, kesehatan kerja, dan kerja nyata. Norma keselamatan kerja merupakan sarana atau alat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diduga yang disebabkan oleh kelalaian kerja serta lingkungan kerja yang tidak kondusif. Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja. Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja setinggitingginya. K3 dapat melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit akibat kerja, misalnya kebisingan, pencahayaan (sinar), getaran, kelembaban udara, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet, kanker kulit, kemandulan,danlain-lain. Norma kerja berkaitan dengan manajemen perusahaan. K3 dalam konteks ini berkaitan dengan masalah pengaturan jam kerja, shift, kerja wanita, tenaga kerja kaum muda, pengaturan jam lembur, analisis dan pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain. Hal-hal tersebut mempunyai korelasi yang erat terhadap peristiwa kecelakaan kerja.

Tingkat K-3 dapat tercapai apabila prinsip-prinsip berhubungan dengan hak dan kewajiban pemerintah, pengusaha dan pihak buruh diterapkan secara baik. Secara normatif, hal itu menyangkut : pertama, dari aspek regulasi dan pengawasan mempunyai kerangka perundang-undangan, kebijakan, peraturan-peraturan dan tugas-tugas operasional yang terdefenisikan secara jelas serta otoritas dan kompetensi kelembagaan pengawas yang bertujuan mendukung upaya-upaya pengusaha dan pekerja memperbaiki tingkat K-3.
Kedua, pengusaha yang bertanggung jawab. Managemen perusahaan yang berusaha keras mematuhi semua hukum, peraturan dan kode etik yang relevan dengan K-3, mensosialisasikan, mengidentifikasi potensi bahaya dan pengaruhnya terhadap K-3 memastikan bahwa mereka berusaha mengurangi bahaya (resiko kerja), yang terimplementasikan dalam kebijakan penanggulangan K-3 yang tersistematisir dalam managemen perusahaan (Managemen Kesehatan dan Keselamatan kerja). Ketiga, Semua buruh harus bekerjasama erat dengan pengusaha dan otoritas pengawas regulasi (Depnakertrans) untuk mempromosikan kesehatan dan keselamatan kerja. Para buruh/ pekerja melalui wakil mereka mempunyai hak dan tugas berperan serta dalam semua hal yang terkait dengan K-3. Hal ini mencakup hak untuk memperoleh informasi yang tepat dan menyeluruh dari pengusaha tentang resiko kerja; memperhatikan tindakan dan kelalaian mereka di tempat kerja; memelihara alat kerja dan pelindung kerja; melaporkan bila buruh percaya bahwa pelindung K-3 yang disediakan perusahaan tidak sesuai atau tidak cukup. Atau percaya bahwa pengusaha mereka gagal memenuhi ketentuan hukum, aturan dan prosedur kode praktek K-3 dan membawa masalah ke tingkat pengawas ketenagakerjaan atau badan lain yang berkompeten, serta pekerja mempunyai hak untuk pemeriksaan kesehatan tanpa dipungut biaya dan penanggulangan apabila oleh kondisi tertentu dalam kerja menyebabkan gangguan kesehatan dan atau kecelakaan kerja.

Sistem Managemen Kecelakaan Kerja (SMK3)
Dengan memperhatikan banyaknya korban kecelakaan kerja di perusahaan dan resiko yang diakibatkan maka mulai diterapkan managemen resiko, sebagai inti dan cikal bakal SMK3. SMK3 pada intinya adalah bagaimana sistem managemen perusahaan menerapkan pola preventif, kuratif dan rehabilitasi terhadap kecelakaan kerja. Oleh karena itu managemen resiko menuntut tidak hanya keterlibatan pihak managemen perusahaan tetapi juga komitmen managemen dan semua pihak yang terkait termasuk pengawas dalam hal ini pihak pemerintah (Depneker) dan pekerja/buruh dalam upaya memperbaiki keselamatan kerja dan kesehatan kerja. Secara operasional wujud dari K3 adalah kebijakan yang mewajibkan setiap perusahaan untuk menerapkan Sistem Managemen K-3 (SMK3) yang terintegrasi dengan sistem managemen perusahaan (pasal 86 dan 87 UU No. 13 Tahun 2003). Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Tu-

Pengertian k3
Substansi K3 pada dasarnya adalah bagaimana mencegah, mengobati, dan merehabilitasi kecelakaan kerja dan penjaminan keselamatan dan kesehatan di dalam bekerja.
TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 10

juan dan sasaran Sistem Manajemen K3 adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Perusahaan harus memiliki sistem untuk mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja Sistem Manajemen K3 dan hasilnya harus dianalisis guna menentukan keberhasilan atau untuk melakukan identifikasi tindakan perbaikan. Ada dua metode pengukuran keselamatan kerja organisasi yang telah diterima secara meluas dan telah digunakan dalam rangka pengkajian kasus kecelakaan di tempat kerja di Indonesia, yaitu tingkat kekerapan (Frequency Rate) dan tingkat keparahan (Severity Rate). Tingkat kekerapan digunakan untuk menunjukkan seberapa sering kejadian yang menyebabkan luka atau cacat karyawan. Luka atau cacat karyawan tersebut menyebabkan seorang karyawan tidak dapat masuk kerja satu hari atau lebih setelah terjadinya kecelakaan kerja. Tingkat keparahan menunjukkan seberapa parah suatu peristiwa kecelakaan kerja, yaitu dengan menghitung lamanya waktu karyawan menderita luka-luka sehingga tidak dapat masuk bekerja. Pihak Depnaker sebagai pengawas ketenagakerjaan mempunyai dan kewajiban antara lain : 1. Mensosialisasikan hak-hak, prosedur dan tanggung jawab pengawasannya sesuai dengan tugas pengawasan keselamatan kerja dan kesehatan kerja, serta tidakan penegakan terutama yang bisa mendorong ke arah tuntutan di pengadilan. Pengawas ketenagakerjaan harus melaksanakan pemeriksaan tempat kerja secara berkala, yang ideal dihadiri wakil pekerja dan pengusaha. Pengawas ketenagakerjaan harus memberi saran pada pengusaha dan para pekerjanya mengenai pelaksanaan kerja yang aman, terutama sekali tentang pemilihan dan penggunaan cara kerja yang aman serta alat pelindung diri yang sesuai. Menidak lanjuti suatu pemeriksaan, temuan-temuan harus diberitahu kepada personil terkait sehingga tindakan perbaikan mungkin dilakukan dengan segera. Temuan-temuan ini harus dibahas oleh panitia keselamatan dan kesehatan kerja setempat, jika mereka ada, atau wakil organisasi pekerja. Pengawas ketenagakerjaan harus memantau syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka memberi umpan balik untuk pengembangan dan perbaikan upaya keselamatan lebih lanjut. Dalam melaksanakan K3, ditetapkan sejumlah kewajiban pengusaha berupa : Menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang cara bekerja tenaga kerja yang bersangkutan, setelah yakin tenaga kerja tersebut memahami syaratsyarat mengenai : a. kondisi dan bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerjanya b. alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang diharuskan dalam tempat kerjanya c. alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersangkutan dan d. cara-cara dan sikap yang aman dalam melaksanakan

2. 3.

4.

5.

tenaga kerjanya, barulah pengusaha boleh mempekerjakannya (Pasal 9 ayat (1) dan (2) UU No. 1 tahun 1970) 8. Menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya, dalam pencegahan kecelakaan dan pemberantasan kebakaran, peningkatan K-3 dan dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan. Kewajiban itu mleliputi pula untuk mentaati semua syarat dan ketentuan yang berlaku bagi usaha dan tempat kerja yang dijalankannya (Pasal 9 ayat (3) UU No. 1 tahun 1970) 9. Membentuk panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja (P2K3) guna mengembangkan kerjasama, saling pengertian dan partisipasi efektif antara pengusaha dengan atau pengurus dan tenaga kerja dalam tempat-tempat kerja, untuk melaksanakan tugas dan kewajiban bersama di bidang K-3 dalam rangka melancarkan usaha (Pasal 10 UU No. 1 tahun 1970) 10. Melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja yang di pimpinnya, pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja (Pasal 11 UU No. 1 tahun 1970) 11. Menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat keselamatan kerja yang di wajibkan, sehelai UU Keselamatan Kerja dan semua peraturan pelaksanaannya yang berlaku bagi tempat kerja yang bersangkutan pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca dan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja (Pasal 14 butir a UU No. 1 tahun 1970) 12. Memasang dalam tempat kerja, semua gambar K-3 yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli K-3, menyediakan secara cuma-cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk yang diperlukan sesuai petunjuk pegawai pengawas atau ahli K3 (Pasal 14 butir b dan c UU No. 1 tahun 1970) 13. Memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan padanya termasuk memeriksakan semua tenaga kerja secara berkala pada dokter yang di tunjuk oleh pengusaha (Pasal 8 UU No. 1 tahun 1970). 14. Undang-undang menetapkan pula kewajiban dan hak tenaga kerja di bidang K3 yaitu sebagai berikut (Pasal 12 UU No. 1 tahun 19 70) : a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau ahli keselamatan kerja b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang di wajibkan c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat K3 yang diwajibkan d. Meminta kepada pengurus agar dilaksanakan semua syarat K3 yang diwajibkan e. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya, kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas, dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan

6. 7.

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 11

Fokus isu atau permasalahan dalam penelitian ini adalah implementasi SMK-3 yaitu, ingin melihat realitas pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi kecelakaan dan penjaminan keselamatan dan kesehatan kerja.

Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah metode purposive sampling. Objek penelitian di 6 perkebunan sawit di Sumatera Utara (PTPN II Sawit Seberang, Lonsum Turangi di Kab Langkat, Socfindo Matapao, Lonsum Sialang, SRA di Serdang Bedagai, BSP Mandoge Asahan) Subjek penelitan adalah korban kerja di bidang kerja pemanen, pemupuk dan penyemprot (47 kasus kecelakaan kerja) Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara kuesioner, interview, dan forum group discussion (FGD). Sedangkan metode analisis data menggunakan analisis kronologis. Menganalisis kategorisasi dan identifikasi karekteristik penyebab umum, penyebab terperinci dan penyebab pokok (utama).

Penyebab pokok adalah perusahaan mengabaikan tanggung jawab K-3;tidak mensosialisasikan keselamatan kerja kepada buruh menyebabkan rendahnya kesadaran buruh atas keselamatan kerja, tidak pernah melatih pekerja terampil manjaga keselamatan kerja, upah yang rendah, pekerja memacu kerja demi premi sehingga mengabaikan aspek keselamatan kerja, serta target kerja (beban kerja) tinggi tidak diimbangi oleh pola makan (gizi) yang cukup. Pelanggaran-pelanggaran hak dasar di bidang K3 bagi buruh perkebunan: 1. tidak adanya sosialisasi hak dan kewajiban K3 kepada buruh 2. tidak adanya latihan peningkatan keterampilan kerja 3. tidak adanya identifikasi resiko kerja 4. tidak adanya petunjuk teknis operasi kerja pada buruh perkebunan 5. alat perlengkapan keselamatan kerja yang tidak memenuhi standart keselamatankerja 6. tidak tersedianya P3K di tempat kerja (ancak) 7. tidak adanya ”rumah hujan” tempat berlindung jika cuaca buruk 8. fasilitas klinik sangat terbatas baik dari segi bangunan maupun peralatan teknis (klinik hanya dilayani oleh 1 orang dokter dan 2 perawat melayani kurang lebih 600 orang dalam satu emplasmen) 9. tidak mudah bagi buruh mengakses pelayanan. Selain kendala administratif seperti duluan mendapatkan izin berobat, sementara jarak tempuh dari pondkan atau ancak ke pusat pelayanan kesehatan cukup jauh ditempuh dengan jalan kaki, jalan bebatuan dan tanah licin menjadi kendala tersendiri 10. rendahnya kualitas pelayanan klinik, rata-rata melayani penyakit ringan dengan jenis obat sama seperti di toko obat biasa 11. pada tingkat rehabilitasi pelayanan juga tidak membaik. Seperti hak untuk mengetahui apakah mereka terdaftar atau didaftarkan menjadi peserta jamsostek. Sementara untuk buruh tetap (SKU), pihak perusahaan memotong berbagai iuran termasuk iuran jamsostek. 12. tidak semua program wajib yang disediakan oleh jamsostek dinikmati oleh buruh. Padahal jumlah iuran yang dibayarkan sudah mencakup seluruh program, sehinga saat digunakan buruh sering mendapat penolakan dari klinik, rumah sakit atau penyedia pelayanan kesehatan maupun perusahaan. 13. ada kecendrungan walaupun telah menjadi peserta jamsostek ternyata tidak menjamin buruh langsung mendapatkan pelayanan kasus seperti ini sering terjadi ketika buruh mengalami kecelakaan kerja. 14. dalam banyak kasus, buruh sendiri sering akhirnya membiayai sendiri atau mencari ”calo” atau orang dalam agar dapat dilayani secara cepat. Karena memelihara praktek pencaloan klaim santunan mengakibatkan kerugian materia dan inmaterial bagi buruh yang mengalami kecelakaan 15. akibat tekanan ekonomi (upah rendah) tidak memperhatiakan aspek-aspek yang berkaitan dengan keselamatan kerja seperti kerja tanpa memakai/ menggunakan alat-alat pelindung kerja yang memadai, kurang menyadari resiko-resiko.

Temuan-Temuan Penting tentang kecelakaan kerja di Perkebunan
Bentuk kecelakaan kerja di perkebunan, khususnya perkebunan sawit dan karet adalah tertimpa pelepah dan buah, mata terkena kotoran dan tatal (getah) bagi buruh bagian panen dan pembersihan lahan.Terkena tetesan gromoxone, roun-dup dan terhirup racun pestisida, fungisida dan insektisida terutama pekerjaan yang berhubungan dengan penyemprotan. Bentuk kecelakaan kerja tersebut berdampak pada resiko cacad anggota tubuh seperti mata buta bagi pemanen buah sawit dan penderes karet, cacad kelahiran terutama bagi wanita penyemprot, bahkan menumui ajal ketika tertimpa tandan buah sawit (TBS). Dari 47 kasus yang teridentifikasi selama 4 bulan terakhir (Januari sampai April 2008), 32 kasus (68,08 %) korban diantaranya dikategorikan kecelakaan ringan seperti tertusuk duri sawit, tertimpa elepah, gigitan serangga berbisa, keseleo akibat jalan licin. 11 kasus (2,40%) cacat kebanyakan cacat mata (mengecil, mengalami rabun bahkan buta) kena tatal (getah karet) yang sudah terkontaminasi dengan zat kimiawi, kotoran berondolan sawit dan tertimpa tandan buah segar, tubuh terkena bahan (TBS) kimiawi beracun akibat tingginya interaksi pada saat penyemprotan dan 2 kasus (4,25) jiwanya melayang, 1 orang kena sengatan listrik dan 1 orang lagi tertimpa tandan buah segar waktu memanen.

Karakteristik penyebab kecelakaan kerja
Karakteristik penyebab umum kecelakaan antara lain tempat kerja (ancak) yang tidak rata (berbukit), pohon sawit/karet yang bengkok, pohon karet/sawit yang relatif tinggi, bersemak lebat, ancak berlobang dapat dikategorikan lingkungan kerja yang tidak aman dalam arti resiko tinggi terhadap kecelakaan. Penyebab terperinci, berdasarkan analisis kronologis diakibatkan oleh kelalaian buruh, kekurang terampilan, alat kerja serta pelindung kerja yang tidak cukup dan mandor pengawas tidak punya standart operasi pengawasan, serta tidak ada pengawasan sewaktu buruh bekerja dapat dikategorikan perilaku yang tidak aman.
TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Penutup
Demikianlah laporan penelitian tentang realitas K3 di perusahaan perkebunan khususnya di Sumatera utara. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi peningkatan jaminan serta pelayanan kesehatan bagi buruh dalam bekerja. Terima kasih.

Halaman | 12

KONFLIK AGRARIA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

“Praktek Monopoli Perkebunan Kelapa Sawit Menjadi Dasar Konflik Agraria dan Konflik Sosial Lainnya”

Fajri Nailus

S

I.

PENGANTAR

ajian tulisan ini merupakan rangkuman konflik agraria yang terjadi dan sempat terekam oleh Sekretariat Sawit Wath dan Serikat Petani Kelapa Sawit. Karenanya, sudah barang tentu kami tidak dapat melihat secara keseluruhan dari konflik agrarian di Perkebunan Kelapa Sawit. Namun demikian, walaupun dengan keterbatasan yang kami miliki kami berani menarik persoalan – persoalan agrarian menjadi kesimpulan umum atas kondisi agrarian di Perkebunana Kelapa Sawit di Indonesia.

macam varian jenis konfliknya. Jumlah konflik agrarian yang sempat tercatat oleh Perkumpulan Sawit hingga januari 2008 mencapai 513 konflik yang melibatkan 135 perusahaan dengan korbannya lebih dari 258.000 orang. Letupan jenis konfliknya bermacam – macam dari mulai saling klaim atas hak penguasaan, kebun sawit yang ditelantarkan, pemanenan yang dilakukan, penyerobotan tanah hingga melakukan perampasan tanah. Upaya didalam mengakhiri konflik dari mulai teror, intimidasi sampai dengan pembunuhan yang dilakukan oleh Perusahaan kepada masyarakat, demonstrasi, pemblokiran yang dilakukan oleh masyarakat kepada Perushaan, hingga perundingan sampai dengan mencari penyeleseaian ke lembaga peradilan. Pemaparan diatas dapat sedikit memberikan gambaran kita atas soal – soal agraria yang terjadi di Perkebunan Kelapa Sawit. Ketimpangan atas penguasaan, kepemilikan, pengelolaan dan pemanfaatan sesungguhnya cerminan dari masih berlangsungnya monopoli atas sumber – sumber agraria yang dilakukan oleh segelintir orang. Celakanya, hingga saat ini tidak ada upaya yang serius untuk menghilangkan praktek monopoli atas sumber – sumber agraria ini walaupun kita sudah merdeka lebih dari 64 tahun, malah yang terjadi justru sebaliknya pelanggengan sistem monopoli dengan berbagai perundang dan peraturan yang dibuat.

II. GAMBARAN UMUM KONFLIK AGRARIA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Berbicara soal konflik agraria di Perkebunan Kelapa Sawit tidak bisa dilepaskan dari sistem perkebunan skala besar itu sendiri yang merupakan urat akar dari konfliknya. Dimana Sistem perkebunan kelapa sawit yang tetap eksis merupakan warisan dari sistem perkebunan skala besar yang diterapkan oleh Kolonial Belanda. Untuk itu, agar pemahaman kita tidak parsial dalam melihat sistem perkebunan skala besar maka kita tidak dapat melihatnya dari penggalan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, namun kita harus dapat menarik tali temali perjalanan waktu sehingga kita mendapatkan pengetahuan yang konverhensip tentang konflik agraria di dalam sistem Perkebunan Kelapa Sawit dewasa ini. Konflik agraria terjadi akibat dari ketimpangan penguasaan dan kepemilikan serta pengelolaan dan pemanfaatan sumber – sumber agrarian. Secara sederhana ketimpangan dapat digambarkan segelintir manusia menguasai dan memiliki serta mengelola dan memanfaatkan sumber – sumber agrarian dalam hal ini tanah sampai ratusan ribu bahkan jutaan hektar, sedangkan disisi lain jutaan orang hidupnya mengandalkan sepetak dua petak tanah dan kekayaan alam bahkan sebagaiannya hanya mengandalkan tenaganya untuk bekerja ditanah orang lain. Ketimpangan ini akan semakin jelas dengan melihat perkembangan pembangunan Perkebunan Besar Kelapa Sawit. Dimana, Hingga saat ini Indonesia memiliki luasan kebun sawit hampir 7,6 juta pada tahun 2007 dan akan melakukan ekspansi lagi dengan target luasan sampai dengan 20 juta ha untuk seluruh Indonesia hingga tahun 2025. Dari total luasan Perkebunan Sawit jika dibagi berdasarkan penguasaan kebunnya 8 holding perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta besar yang menguasai 54 %, Perusahaan Perkebunan Negara melalui PTPN mengusai 12 % dan Perkebunan Rakyat menguasai 34 % pada tahun 2006 ( data Sumber: Dirjenbun dalam BisInfocus 2006). Dari 54 % penguasaan lahan oleh swasta 75,9 % dikuasai oleh pihak asing terutama pengusaha asal Malaysia. Dari data tersebut mari kita bandingkan sehingga kita menemukan bentuk ketimpangan yang sangat nyata didalam sistem perkebunan besar kelapa sawit, 8 holding yang nota benenya milik 1 orang (keluarga) jika dirata – rata masing - masing menguasai 513.000 Ha, sedangkan 1.292.000 orang (keluarga) menguasai rata – rata 2 Ha (hitungan 2 Ha merupakan kebijakan plasma). Konflik agrarian terus meletup disana – sana baik yang termanivestasi kedalam bentuk yang terbuka maupun yang laten dengan berbagai

III. KONFLIK AGRARIA SELALU ADA SEPANJANG SISTEM PERKEBUNAN SKALA BESAR BERLAKU
Bahwa didalam rentang satu daur masa produktif tanaman Kelapa Sawit, konflik agraria selalu beriring menyertainya dengan tipe yang berbeda – beda dibarengi dengan konflik sosial. Keadaan yang kelihatannya tenang seakan – akan tidak ada permasalahan dalam satu unit Perkebunan Kelapa Sawit tidak dapat menjadi indikator bahwa Perkebunan Kelapa Sawit tersebut tidak ada konflik, karena banyak kejadian tiba – tiba unit Perkebunan konfliknya meledak. Hal ini menunjukkan bahwa konflik agrarian didalam Perkebunan Kelapa Sawit ada yang masih laten dan menjadi bom waktu yang setiap saat bisa meledak dan ada yang memang dari awal konfliknya sudah terbuka dengan berbagai macam bentuknya. Meledaknya konflik agraria didalam Perkebunan Kelapa Sawit seirng dengan kesadaran masyarakat dalam memahami permasalahan yang dihadapi dan biasanya permasalahan tersebut berulang – ulang terjadi sehingga dijadikan pelajaran oleh masyarakat. Berdasarkan data yang kami himpun Konflik Agraria didalam Perkebunan Kelapa Sawit dapat dilihat dari fase – fase perkembangan perkebunan kelapa sawit dalam satu musim daur tanamnya. Agar didalam melihat setiap fasenya tidak parsial maka kita harus bersandar pada dasar soal konfliknya yakni ketimpangan penguasaan, kepemilikan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber – sumber agrarian. Ketimpangan ini dimulai dari sejak Pembangunan Perkebunan, dimana sebelum masuk Perusahaan Perkebunan sumber – sumber agrarian dikuasai, dimiliki, oleh masyarakat secara relatif adil, serta dikelola dengan berbagai macam varian jenis tanamanya dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan subsistensi hidupnya. Hadirnya Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit memperkenalkan system pertanian intensif dengan tana-

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 13

man monokultur serta usaha pertanian dalam skala yang sangat luas serta menjadikan hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Maka dari itu untuk mendapatkan tanah yang dijadikan sarana produksi utama dalam usaha perkebunan kelapa sawit hak melekat masyarakat dilokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit diabaikan dengan menghalalkan semua hal. Hak menguasai Negara yang termaktub dalam UUD 1945, UUPA No. 5 Th. 1960 dipelintir sedemikian rupa hanya untuk mendapatkan areal tanah yang dibutuhkan untuk Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit, Negara benar – benar menjadi alat bagi Perkebunan kelapa sawit dengan mengabaikan hak masyarakat. Sebagaimana data yang kami kumpulkan dalam mendapatkan tanah tipu muslihat dilakukan, seperti yang terjadi di Kab. Sanggau Propinsi Kalimantan Barat Perusahaan – Perusahaan Kelapa Sawit untuk mengelabuhi masyarakat menggunakan istilah adat “derasa”, terror dan intimidasi dilakukan seperti yang dilakukan oleh PT. HSL di Kecamatan Manismata Kab. Ketapang. Serta, sosialisasi yang dilakukan sepihak hanya kepada elite desa sehingga menimpulkan konflik ditingkat masyarakat antara yang pro dengan yang kontra, sebagaimana yang dilakukan oleh PT. WILMAR SAMBAS PLANTATION di Desa Senuju Kecamatan Sejangkung Kabupaten Sambas. Belum lagi, proses yang belum selesai Perusahaan dengan bantuan aparat melakukan operasi dilapangan dengan menurunkan alat berat serta tenaga kerjanya untuk melakukan land clearing, bahkan tidak segan - segan dalam melakukan land clearing dengan melakukan pembakaran lahan sehingga menimbulkan efek lain yakni pencemaran udara akibat asap sehingga tiap tahun di Sumatera dan Kalimantan kita disuruh untuk menghirup udara kotor akibat asap. Kejadian – kejadian tersebut menjadi persoalan yang umum dan merata diseluruh negeri dalam proses awal pembangunan perkebunan kelapa sawit. Dan dari situlah awal konflik agrarian didalam perkebunan kelapa sawit muncul. Akhirnya tanah dan kekayaan alam yang dikuasai oleh masyarakat secara turun temurun lepas berpindah tangan secara paksa ke Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit. Untuk mengurangi beban konflik masyarakat dikelabuhi dengan istilah perusahaan dikasih kapling kebun plasma, padahal hakekatnya masyarakat setempat membeli tanahnya sendiri dengan cara kredit dengan menjadi plasmanya perusahaan. Disamping itu, kehadiran petani plasma juga merupakan cara Perusahaan untuk mendapatkan buruh masal dan murah dengan mendatangkan dari wilayah yang cadangan tenaga kerjanya melimpah seperti jawa, bali yang daerahnya sempit dan tidak produktif seperti nusa tenggara melalui program transmigrasi. Karena awal pembangunan perkebunannya banyak soal terutama dengan masyarakat setempat maka kahadiran transmigran menambah soal baru yakni terjadi peralihan konflik dari perusahaan penyebab konflik utamanya menjadi konfliknya antara masyarakat setempat dengan pendatang, dimana masyarakat pendatang malah dianggap sebagai perampas tanah masyarakat setempat. Padahal transmigran sampai kewilayah tujuan kondisinya tidak sebagaimana yang dijanjikan saat sosialisasi, seperti yang dialami oleh transmigran di Kecamatan Merlung Kabupaten Tanjung Jabung Barat mereka dilepas ditengah hutan disuruh menempati gubuk – gubuk ala kadarnya. Kebun sawit yang dijanjikan belum ada, kondisi diwilayah baru masih hutan belantara maka dengan terpaksalah mereka mempertahankan hidup dengan bekerja keperusahaan membuka hutan untuk pembangunan kebun sawit milik PT. Inti Indo Sawit Subur anak perusahaan dari Asian Agri Group. Belum lagi, proses untuk mendaptkan kapling sawit bukan hal yang mudah walaupun aturannya jelas 48 bulan dengan kondisi kebun yang baik, namun dalam kenyataannya kebun sudah berumur 48 bulan kapling yang menjadi haknya petani tidak diserahkan sehingga masyarakat melakukan aksi – aksi untuk mendapatkan haknya baru terjadi proses administratif dan persiapan fisik penyerahan kapling kebun sawit plasma. Disamping itu kebun yang diserahkan kepada petani kondisi jelek. Setelah melalui perjuangan yang cukup alot untuk mendapatkan ka-

pling kebun sawit, kemudian menjadi petani plasma persoalannya tidak kemudian selesai sampai disitu. Karena seiring berjalannya gertak waktu dengan melihat realitas ketimpangan yang nyata dihadapan masyarakat menjadi pelajaran penting yang secara perlahan membangkitkan kesadaran masyarakat. Kesadaran yang didik oleh realitas obyektifnya, ditambah dengan pertumbuhan penduduk yang merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibendung dari hokum perkembangan masyarakat. Belum lagi arogansi perusahaan terhadap masyarakat ditambah dengan janji – janji perusahaan yang tidak dipenuhi semakin memantik konflik menjadi terbuka. Manifestasi konflik berupa aksi – aksi spontan untuk menuntut keadilan atas ketimpangan yang terjadi, bentuk aksinya semakin keras darimulai kampanye terbuka hingga melakukan pemblokiran – pemblokiran kebun serta pemblokiran terhadap perusahaan maupun pabriknya. Pun, reaksi dari Perusahaan dalam menanggapi aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat tidak kalah kerasnya, yakni cara lama dengan mengadu domba antar kelompok dalam masyarakat, terror dan intimidasi serta kriminalisasi atas protes yang dilakukan oleh masyarakat. Sebagaimana yang terjadi atas protes yang dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Bonti Kabupaten Sanggau terhadap perusahaan perkebunan PT. MAS atas janji – janji perusahaan, tindakan arogansi perusahaan dan perampasan tanah oleh PT. MAS yang sudah menjadi kebun sawit inti yang menyebabkan ketimpangan ditanggapi oleh PT. MAS dengan cara mengkriminalisasikan masyarakat yang melakukan protes dengan memenjarakan 4 orang petani plasma. Tidak puas sampai disitu, umur produktif tanaman kelapa sawit yang seharusnya dapat menjadi tahapan untuk lebih mensejahterakan masyarakat justru sebaliknya dengan lebih menjerat masyarakat khususnya petani kelapa sawit dibawah ketiak system perkebunan skala besar kelapa sawit. Dimana ketika tanaman kelapa sawit sudah tidak produktif kurang lebih umur 25 tahun, saat itu petani kelapa sawit berada dipersimpangan karena topangan sumber hidupnya tidak lagi produktif, sedangkan untuk melakukan replanting (peremajaan) membutuhkan modal yang tidak sedikit. Karena selama ini dengan 2 Ha (1 kapling) hasilnya hanya cukup untuk mempertahankan hidup diri dan keluarganya, sudah dapat dipastikan petani kelapa sawit plasma tidak memiliki cadangan untuk modal replanting (peremejaan). Apalagi saat replanting dimulai (land clearing dan penanaman awal) petani plasma sama sekali tidak memiliki sumber penghidupan, sehingga kehidupannya semakin terpuruk. Keadaan seperti itu yang kemudian dimanfaatkan oleh perusahaan untuk semakin menjerat kaum tani, perusahaan menjadi penjamin modal untuk replanting dengan syarat petani plasma tetap menjadi penyuplainya perusahaan. Apalagi saat ini dengan kebijakan terbaru, pola satu manajemen yang menempatkan petani plasma sebagai pelengkap penderitanya sebagaimana yang terjadi pada petani plasma dilingkungan PTPN 13 di Kabupaten Sanggau Propinsi Kalimantan Barat dan di Kabupaten Paser Propinsi Kalimantan Timur. Serta, kebijakan tersebut saat ini menjadi prioritas utama perusahaan baik didalam melakukan replanting maupun perluasan pembangunan perkebunan kelapa sawit.

IV.

PENUTUP

Dengan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa perkebunan kelapa sawit menjadi faktor utama munculnya konflik. Diawali dengan konflik agrarian yang ditimbulkan akibat perampasan tanah yang dilakukan oleh perusahaan, telah menciptakan ketimpangan struktur penguasaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber – sumber agraria. Monopoli tanah oleh perusahaan disatu sisi dan mayoritas masyarakat kehilangan sebagaian bahkan keseluruhan atas sumber – sumber agrarian. Keadaan seperti ini yang berlanjut memunculkan konflik – konflik sosial lainnya. Dan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sistem perkebunan kelapa sawit skala besar sepanjang keberadaannya terkandung konflik seperti menyimpan bom waktu, yang setiap saat dapat meledak.(fnj)

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 14

STUDY KASUS : HADIRNYA PENOREH DARI WILAYAH LUAR DI KECAMATAN SIMPANG HULU KABUPATEN KETAPANG
oleh : LorensiusTatang ( PPSHK-PK) enoreh atau penyadap karet merupakan gelar yang di sandang orang yang kerjanya mengumpulkan getah ( lateks) dari pohon karet. Bagi masyarakat Dayak yang hidup di pulau Borneo pekerjaan atau aktivitas menoreh bukanlah hal baru. Sejak dimasukannya tanaman karet oleh Belanda maka pekerjaan ini mulai di kenal dan digeluti oleh masyarakat Dayak, sampai sekarang pekerjaan ini merupakan budaya, karet sendiri bukan saja sebagai sumLaurensius Tatang, PPSHK-PK ber penghasilan langsung untuk menghasilkan uang tetapi juga sebagai bukti atas kepemilikan lahan. Tanaman karet yang penyebarannya banyak di Simpang Hulu, asal bibitnya berasal dari daerah Desa Kecamatan Meliau Kabupaten Sanngau. Tahun 1940-an banyak pemuda dari kampung-kampung dari daerah kecamatan Simpang Hulu merantau untuk menoreh di daerah Desa- Meliau, alasannya karena di daerahnya belum ada tanaman karet. Besarnya hasil yang mereka peroleh dari hasil menoreh memberikan inspirasi dan motivasi para pemuda ini untuk mengambil biji dan bibit karet ( tanaman muda) untuk di bawa pulang untuk di kembangkan. Hingga sekarang setidaknya tiap keluarga memiliki kebun karet berkisar 5 – 10 bidang karet, baik yang belum produktif maupun sudah produktif. Keberadaan atau datangnya penoreh dari kecamatan/ kabupaten lain ke daerah kecamatan Simpang Hulu merupakan hal yang menarik untuk di ketahui. Berdasarkan informasi bapak Lego dari RT Belantek Dusun Pendaun, hadirnya pekerja luar untuk menoreh di Belantek dan di wilayah lain di Simpang Hulu sejak tahun 2000-an. Kebanyakan penoreh datang dari kabupaten Sanggau dan Kubu Raya Dari hasil survei yang dilakukan di RT Belantek Dusun Pendaun Desa Balai Pinang Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang, setidaknya ada 100 orang datang untuk bekerja ( menoreh).

P

A. Latar Belakang

2. Untuk mengetahui pendapatan penoreh dari luar yang ada di Kecamatan Simpang Hulu 3. Memberikan informasi kepada pihak pemerintah dan perusahaan bahwa masyarakat Simpang Hulu telah memberikan pekerjaan kepada masyarakat lain Adapun metode yang dilakukan untuk mendapatkan data adalah melalui pengisian Kuesioner dan wawancara langsung dengan masyarakat dan Penoreh

C.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 5 hari ( 3 – 7 ) Juni 2008.

D.

Tempat Penelitian

Penelitian di lakukan di RT Belantek, Dusun Pendaun, Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang.

E.

Data Dan Pembahasan

1. Data Lapangan
Asal Dusun, Desa, Kecamatan dan Kabupaten U r i t , Te m i a n g Taba, Balai Batang Tarang, Sanggau Sintoa, Ketori, Balai Sebut, Sanggau Penghasilan / hari 15 kg

no

Nama dan Umur Sandri 18 tahun

Alasan Menoreh

1

1. Di Kampung hasil kecil, hanya Rp 20.000/ hari 2. Lahan usaha tidak ada lagi 3. Lapangan Kerja tidak ada 1. Menoreh lebih berhasil dari pada kerja di Sawit 2. Bekerja di sawit tidak cukup untuk makan sehari, apalagi untuk menabung 3. Dengan menoreh saya bisa menabung di CU 1. Kurang Penghasilan 2. Mengerjakan karet lebih enak dari bekerja di sawit 3. Sawit kerja terbatas umur 20 – 25 sudah tidak produktif 1. Kurang Penghasilan 2. Enak Kerja di karet bisa di jual bebas 3. Dari Pada kerja sawit 1. Ekonomi lemah 2. Hasil karet di kampung kurang memuaskan 3. Terbatasnya lahan untuk menanam karet

2

Likus 21 tahun

8 kg

3

Seter 25 tahun

B abut,Embigir, Balai BatangTarang, Sanggau

15 kg

4

V. Pethe 38 tahun

Songkong, Lumut, Toba, Sanggau

15 kg

B.

Tujuan dan Metode Penelitian
5 Apun 23 tahun Batu Besi, Sejontang, Tayan Hilir, Sanggau 10 kg

Adapun tujuan studi ini dilakukan adalah : 1. Untuk mengetahui Penyebab pekerja/ penoreh dari luar harus menoreh di Wilayah Kecamatan Simpang Hulu Kabupaten Ketapang
TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 15

no

Nama dan Umur Antot 42 tahun

Asal Dusun, Desa, Kecamatan dan Kabupaten Belungai, Bungkang, Toba, Sanggau

Penghasilan / hari 13 kg

Alasan Menoreh

6

1. Kebun Karet di ganti dengan sawit 2. Bekerja di sawit dibayar kurang sesuai kebutuhan 3. Sebagai penoreh saya bisa menghasilkan Rp 100.000 / hari bersih 1. Menoreh lebih berhasil dari kerja sawit 2. Bekerja sawit gaji minim, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari 3. Dengan Noreh saya bisa nabung di CU 1. Kerja di sawit banyak yang nganggur 2. Hasil disini lebih memuaskan 3. Pekerjaan Sulit Cari hasil yang agak baik Berusaha sudah sulit Cari kerja Sulit Kami tidak setuju dengan sawit karena pengalaman kami di sana sulit Kerja sawit paling tinggi Rp 20.000/ hari itupun kerja sehari penuh, noreh paling lama pukul 13.00 Penghasilan bersih noreh Rp 1.500.000. 1. Mencari makan karena di sana sudah sulit 2. Kebun dan Lahan sudah sempit 3. Kerja di sawit hasilnya tidak sesuai di Ketapang dan Meliau. Di Meliau per hari Rp 15.000 tahun 1986, tahun 1999 di Ketapang borong Rp 59.000/ ha- 1 hari 5 hektar untuk 0rang 1. Pekerjaan sudah sulit dapatkan hasil 2. Lapangan Kerja Kurang 3. Kerja di sawit Rp 20.000/ hari, makan luar 4. Kerja di sawit berat, karet ringan 5. Hasil besar, kerja ringan di karet Gambar 1 : Foto peta perusahaan sawit yang akan beroperasi di wilayah Simpang Hulu dan Simpang Dua

7

Masli 48 tahun

Ambangai, Ambangai, Toba, Sanggau

20 kg

8

Agus 22 tahun dan Sunar 23 tahun Awin 23 tahun, Sukin 18 tahun dan Saba 18 tahun

Parit Adam, Parit Adam, Sei Ambawang, Kubu Raya Semangkar, Tae, Balai Batang Tarang, Sanggau

8 kg

9

20 kg, 15 kg, 15 kg

10

Agoi 40 t a h u n , Along 42 Tahun dan Hermanto Unter 20 Tahun

Nangge, Kebadu, Balai Batang Tarang, Sanggau

16 – 17 kg

lik lahan hasil yang di dapat sebesar 82 kg atau Rp 779.000. Menjamurnya para penoreh datang di daerah Kecamatan Simpang Hulu dengan alasan yang beragam : 1. seperti mencari pekerjaan di tempat mereka sudah sulit, lahan dan kebun sudah sempit 2. Menoreh di daerah ini hasilnya besar 3. Bekerja di sawit hasilnya kecil hanya Rp 20.000/ hari dan itupun makan luar 4. Pekerjaan di kebun sawit lebih berat dibandingkan menoreh karet. Dari beberapa responden, dengan bekerja/ menoreh mereka dapat menyisihkan uangnya untuk di tabung di Credit Union (CU). Dari data RT Belantik Dusun pendaun setidaknya ada 100 orang

11

Kadar 28 Ta h u n , Suryadi 25 tahun, Siku 21 tahun, Tilab 20 tahun dan Agus 18 tahun

Keranjik, Kebadu, Balai Batang Tarang, Sanggau

15 kg ,12 kg, 13 kg, 10 kg dan 10 kg

2.

Pembahasan

Dari Hasil survey untuk 19 orang yang ada di RT Belantik Dusun Pendaun penghasilan karet mereka rata-rata 13,8 kg/ hari. Adapun pola pembagian hasil antara penoreh dan pemilik kebun adalah 7 : 3. Mengacu dari pola ini maka penoreh mendapatkan hasil besih sebesar 9,7 kg sedangkan pemilik kebun 4,1 kg. Jika hasil penoreh sebesar 9,7 kg dan harga di tingkat lokal sebesar Rp 9,500, maka pendapatan bersih penoreh sebesar Rp 92.500/ perhari. Jika dalam sebulan mereka mampu menoreh 20 hari, maka hasil mereka adalah 194 kg atau Rp 1.843.000. Khusus bagi pemiTandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Gambar 3 :

Bagan ( Pondok kecil) tempat para penoreh tinggal. Lokasi di Maot

Halaman | 16

Gambar 3 :

Profil seorang penoreh karet dari Kecamatan Tayan Hilir. Lokasi di Maot RT Belantek Desa Pendaun

Gambar 4 : Aksi Damai dari Forum Perimakng Hutan Tanah Ae’k di Ketapang tanggal 5 Juni 2008. Pada kegiatan ini terlibat 7 orang utusan dari Dusun Pendaun

yang menumpang menoreh di wilayah mereka. Jika di pandang dari segi politik dan ekonomi setidaknya bahwa masyarakat Dusun Pendaun telah membantu pemerintah untuk menyerap tenaga kerja. Walaupun masyarakat Dusun Pendaun telah berbuat baik guna mendukung pemerintah dengan menyediakan lahan pekerjaan khususnya bagi masyarakat yang tidak punya pekerjaan,lahan dan penghasilan kecil, tetapi usaha kebaikan mereka ini tidak direspon dengan baik oleh pihak pemerintah. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( BAPPEDA) Propinsi Kalimantan Barat tahun 2004 setidaknya ada 3 perusahaan sawit, masingmasing PT Kalimantan Oleo Industri ( 21.500 ha), PT Cempaka Anda ( 9.000 ha) dan PT. Aditya Agroindo (20.000 ha) akan dan telah mulai beroperasi di Wilayah Kecamatan Simpang Hulu. Pemerintah telah memberikan informasi lahan, Izin prinsip/ SPT dan Izin lokasi sejak tahun 1995 – 1996. Kehadiran perusahaan yang ada di daerah ini telah membuat masyarakat pemilik wilayah adat menjadi tidak tenang dan waswas, Sosialisasi PT. Aditya Agroindo pada sabtu, 29 Maret 2008 di gedung Serbaguna Paroki Santo Martinus Balai Berkuat oleh team manajemennya ( Pak Iqbal, Pak J.Nainggolan, Feri , dll) dan Kepala Desa Balai Pinang telah membuat mereka terkejut dan sekaligus merasa dibelakangi oleh pemerintah tentang wilayah mereka yang diserahkan kepada pihak perusahaan Hasil pertemuan ini masyarakat yang hadir dengan tegas menolak kehadiran perusahaan PT. Aditya Agroindo di wilayah adat mereka apapun alasannya. Untuk memperkuat penolakan mereka, pada tanggal 5 Juni 2008 bertepatan dengan peringan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ada 7 utusan masyarakat dari Dusun Pendaun - Simpang Hulu dan bersama 300-an masyarakat yang tergabung dalam Perimakng Hutan Tanah Ai’k melakukan aksi damai di Kota Ketapang guna menyampaikan penolakan mereka terhadap Illegal loging, Pembukan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Sebelum dan Bersamaan Kegiatan ini juga respon penolakan masyarakat terhadap kehadiran perusahaan. Respon penolakan dengan melakukan penghukuman adat telah dilakukan oleh RT Pendaun dan RT

Petebang Dusun Pendaun serta Dusun Setontong – Desa Kualan hilir saat terjadi proses sosialisasi oleh pihak perusahaan PT.Aditya Agroindo.

F.
1. 2. 3. 4. 5.

Kesimpulan
Masyarakat Dusun Pendaun, Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang Telah memberikan lahan pekerjaan (menoreh) kepada masyarakat lain Hadirnya masyarakat luar untuk menoreh di daerah Kecamatan Simpang hulu akibat sulitnya lapangan pekerjaan, sempitnya lahan dan minimnya hasil di wilayah mereka Masyarakat Dusun Pendaun merasa Kecawa terhadap pemerintah, karena wilayah adat mereka di serahkan kepada perusahaan tanpa sepengetahuan mereka. Masyarakat Dusun Pendaun menolak Perusahaan Kelapa sawit dengan alasan apapun Penghasilan rata-rata penoreh karet dan pemilik kebun masing-masing Rp 1.843.000 dan Rp 779.000 perbulan

G.
1.

Rekomendasi
Mengingat Survey tentang hadirnya penoreh luar untuk menoreh di wilayah Simpang Hulu ini dilakukan masih sangat terbatas dan dengan waktu yang sangat singkat dan hasilnya masih sangat minim, maka diharapkan kedepan dan dengan waktu secepatnya kirannya dapat dilakukan penelitian yang lebih detil dan luas. Selain Penelitian diatas, Penguatan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah ini juga segera dilakukan. Rendahnya pengetahuan mereka informasi dan hukum membuat mereka merasa was-was dan tidak tenang untuk hidup di wilayah adatnya.

2.

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 17

Siaran Pers Bersama Elsaka, KPS, Sawit watch, dan SPKS

Berdayakan Petani dan Buruh di Perkebunan Kelapa Sawit
Selasa, 2 Maret 2010. Provinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah sekitar 7,2 juta Ha mempunyai luasan perkebunan perkebunan sawit seluas 1.044.230 Ha (Dirjenbun, 2007). Dari luasan perkebunan sawit tersebut, sekitar 23,2 % adalah perkebunan rakyat dan selebihnya adalah perkebunan PTPN, Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN), dan Perkebunan Besar Swasta Asing (PBSA). Terdapat minimal setengah juta kepala keluarga petani sawit kecil menggantungkan hidupnya lewat bisnis agroindustri ini dan minimal lebih dari 400 ribu kepala keluarga menjadi buruh menggantungkan hidupnya juga lewat bisnis agroindustri ini. Bila kita tengok ke belakang, sudah lebih dari seabad tanaman kelapa sawit hadir di tanah Sumatera ini, ternyata keberadaan petani kelapa sawit di Sumatera Utara barulah sebatas entitas yang menanam tanaman sawit dan memanen buahnya dengan berbagai persoalan yakni: • Bibit Sawit, petani sawit kecil lebih banyak menggunakan bibit sawit ‘liar’ (mariles). Disamping pengetahuan bibit sawit yang kurang memadai dan mudahnya mendapatkan bibit sawit ini, petani sawit dalam posisi tidak berdaya sehingga sangat sulit untuk mendapatkan bibit sawit unggul dan bersertifikat sesuai anjuran pemerintah. • Pupuk, petani sawit kecil jarang sekali dapat melakukan pemupukan secara tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat dosis. Pupuk menjadi langka dan susah dicari ketika petani sangat membutuhkan. Distribusi pupuk selama ini membuat petani sawit kecil tidak berdaya. • Harga TBS, walaupun di tingkatan propinsi selalu ada tim penentuan harga TBS dari berbagai parapihak perkebunan dan harga TBS sudah lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya, tetapi posisi petani kelapa sawit di tim tersebut sepertinya hanyalah pelengkap bukan penentu. Petani diposisikan kurang cakap dalam tim tersebut dikarenakan berbagai informasi berkenaan harga tidak dapat diperolehnya secara utuh, jelas, dan benar khususnya berkenaan dengan biaya-biaya dalam indeks K. Sistem penentuan harga TBS saat ini, tidak menguntungkan posisi petani sawit. • Akumulasi dari berbagai aspek yang tidak menguntungkan petani kelapa sawit ini, produktivitas kebun sawit petani kecil sangat rendah bilamana dibandingkan dengan seharusnya. Temuan untuk wilayah Sumatra Utara ini produktivitas TBS petani sawit kecil tidak lebih dari 12 ton tbs per ha per tahun Dalam sisi kebijakan, posisi luasan petani kelapa sawit dibuat terbatas, lewat Permentan No 26 Tahun 2007 terdapat klausa bahwa minimal 20 % dari HGU perusahaan besar diberikan kepada masyarakat. Kebijakan ini sebenarnya langkah mundur dari kebijakan PIR yang pernah diterapkan. Dalam skema PIR, kebun rakyat (plasma) dapat mendapatkan minimal 60 % dari total lahan yang digunakan dalam skema kemitraan inti plasma. Implementasi yang buruk dalam kebijakan yang tidak menguntungkan posisi petani kelapa sawit menambah posisi petani kelapa sawit di Indonesia semakin marjinal. Bayangkan dalam rata-rata pertambahan luas kebun sawit di Indonesia sekitar 500 ribu ha per tahun, bagian petani sawit adalah 100 ribu itupun tidak tentu, selebihnya adalah kebun besar. Tidak jauh berbeda dengan posisi penanam dan pemetik buah sawit (petani kelapa sawit) adalah buruh kebun sawit, bahkan posisi buruh dianggap lebih marjinal. Lewat UU No 13 tahun 2003, keberadaan buruh outsourcing diberboleh. Implikasi terhadap hal tersebut adalah kebun-kebun sawit yang ada memperbanyak keberadaan buruh-buruh outsourcing ini, bahkan kebun sawit bukan buruh oursourcing saja, lebih banyak menggunakan buruh tanpa kontrak atau buruh harian lepas (bhl). Buruh ini dalam bekerjanya penuh dengan ketidakpastian, alat bekerja harus menyediakan sendiri, bila kecelakaan ditanggung sendiri, dan gaji tidak ada standar yang dapat dijadikan patokan. Temuan lapang menunjukkan bahwa gaji berbagai buruh di perkebunan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, dimana rata-rata didapatkan gaji buruh kurang lebih 900-an ribu. Implikasinya buruh melakukan sesuatu hal yang dapat memberatkan posisi buruh di depan hukum. Di Sumatera Utara ini, banyak sekali buruh melakukan pekerjaan yang membuat posisinya terhukum. Menjadi pertanyaan besar, ada apa ini? 1. Dari berbagai paparan tersebut, Kami sebagai bagian masyarakat sipil yang konsens di Perkebunan kelapa sawit mengingatkan 2. Pemprov Sumut melakukan langkah-langkah cepat dan strategis sehingga dapat menyediakan bibit yang unggul dan mencari langkah hukum yang tepat bagi oknum-oknum yang terlibat dalam bibit ‘liar’ yang seharusnya tidak ada di pasaran. 3. Pemprov Sumut dalam hal ini Dinas Perkebunan secepatnya menata kembali distribusi pupuk sehingga tersedia dan sesuai harga pasar yang wajar di wilayah-wilayah perkebunan kelapa sawit yang membutuhkan 4. Berbagai Pemkab dalam hal ini Dinas Perkebunan secepatnya mengintensifkan para penyuluh lapang agar melakukan asistensi teknis-teknis perkebunan lebih hebat terhadap petani kelapa sawit. 5. Pemerintah dalam hal ini Dirjen Perkebunan untuk mengubah mekanisme penentuan harga dimana petani kelapa sawit kecil harus diposisikan sebagai pihak yang harus cakap menentukan harga TBS, salah satunya dengan menghilangkan Indeks K. 6. Pemerintah sebagai pihak diberi mandate oleh rakyat agar secepatnya melakukan perubahan terhadap UU No 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan agar posisi buruh lebih diperkuat lagi, khususnya klausa outsourcing agar dihapuskan. Informasi lebih lanjut Bekmi (Elsaka); 08126479148 Jefri G Saragih (Sawit Watch) 081320062233
TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

-

Gindo (KPS) ; 08126312023 Mansuetus Darto (SPKS) 081280003734
Halaman | 18

Sawit, Perubahan Iklim dan Gaya Hidup
Oleh : Rully Syumanda

Bag. 1
Setelah menghadiri pertemuan marathon UNFCCC di Bali pada akhir 2007, aku menjejakkan kakiku kembali di Ibukota. Keluar dari pintu pesawat segera saja udara panas Jakarta datang menyergap. Membuat mata sedikit lelah karena harus dipicingkan agar dapat melihat dengan jelas. Setelah mengambil barang-barang bawaan, aku keluar dari pintu utama dan menghampiri taksi yang ada. Melemparkan pantatku ke jok empuk taksi aku langsung terlelap. Baru terbangun ketika supir taksi meminta uang untuk masuk tol Jakarta. Setelah memberikan uang secukupnya, aku mengeluh tentang panasnya Jakarta pada saat itu. Segera saja si supir taksi menyambar, “Benar pak, sudah beberapa hari ini udara terasa panas. Kemarin penumpang saya bilang sih kalau ini adalah akibat dari pemanasan global.”

besar kepala dengan menjadi sok pintar. Aku tidak ingin menggambarkan ke sok tahuan aku atas si pak supir tentang issue pemanasan global. Namun lagi ada yang perlu di garis bawahi dari pembicaraan tersebut diatas. Ketika semua orang berbicara tentang pemanasan global dan perubahan iklim, pada dasarnya tidak banyak yang mengerti bagaimana pemanasan global terjadi, lebih sedikit yang tau bagaimana pemanasan global mempengaruhi kehidupan manusia, dan jauh lebih sedikit yang tahu bagaimana hubungan antara gaya hidup kita dengan pemanasan global. Brengseknya lagi, hanya segelintir yang tahu bahwa kita tengah digiring untuk memahami bahwa pemanasan global adalah masalah yang sangat besar namun dapat diselesaikan dengan cara yang mudah. Semudah menjentikkan jari tangan.

Kalau kita melihat di sekeliling kita: media massa, billboard sampai dengan iklan di televisi dan Rully Syumanda, Pengamat Lingkungan radio, tidak ada satu haripun yang tidak ber(dok. pribadi) hubungan denggan issue pemanasan global. Musti diakui, issue ini telah menjadi penghantar “Memangnya kenapa dengan pemanasan global kita menuju tempat beraktivitas. Issue hijau juga bisa ditemukan Pak?’” tanyaku sekenanya. dalam sebuah kemasan makanan. Atau bahkan pada kemasan oli yang berisikan energi fosil. “Ya itu mas. Bumi katanya semakin panas akibat efek rumah kaca’” sambung si supir. Tiba-tiba saja semua berbau hijau. Sebuah perusahaan kosmetik misalnya mengaku berlabel green ketika menyerahkan produknya “Lah, kenapa efek rumah kaca yang disalahin. Memangnya si efek yang di bungkus dengan plastik dan menyerahkan kepada perumah kaca buat apa kok bisa menimbulkan pemanasan global,” langgannya dalam sebuah kantung plastik. Atau misalnya dalam aku memajukan pantatku dan mulai tertarik dengan pembicaraan sebuah festival lingkungan, baik pengunjung maupun penyelengini. gara merasa tidak melakukan kesalahan apapun ketika menyantap makanan yang dikemas dalam styrofoam. “Ya gitu deh mas. Coba aja mas lihat di Jakarta ini. Semua gedung itu pake kaca yang besar-besar. Sehingga panas matahari menjadiLalu bagaimana dengan upaya menghentikan laju pemanasan jadi. Coba kalau gedung-gedung itu nggak pake kaca besar-besar global ini? Ini yang paling seru. Semudah menjentikkan tangan. seperti itu. Mungkin Jakarta kita akan adem kali ya mas. Ya barangHampir semuanya menawarkan solusi dengan menanam pohon kali mas. Saya cuma orang kecil Mas. Saya hanya mengira-ngira.” sebanyak-banyaknya. Bahkan Pemerintah Indonesia sendiri mencanangkan penanaman jutaan pohon, yang kemudian di klaim “Jadi bagusnya nggak usah pake kaca besar-besar kali ya mas. telah berhasil dengan sukses. Terlepas keberadaan pohon yang Sehingga efek rumah kaca itu nggak ada dan Jakarta kita nggak seperti siluman karena pemerintah tidak pernah bisa menunjukkan jadi panas karenanya,”. informasi lokasi dan luas penanaman, pola ini makin jelas menunjukkan bahwa solusi perubahan iklim dapat diselesaikan dengan “Wah betul itu mas. Jadi kita nggak kepanasan kayak gini’” pak menanam pohon. supir menutup pembicaraannya sambil tersenyum. Sadar tidak sadar, suka tidak suka, pola berpikir kita tengah digiring untuk menyetujui pomeo bahwa tidak peduli berapa banyak Memasuki daerah grogol, aku menawarkan kepada pak supir untuk plastik yang anda pakai, seberapa banyak konsumsi minyak sawit menjelaskan tentang apa itu pemanasan global dan efek rumah anda, tidak perduli berapa banyak bensin yang anda gunakan unkaca. Untung pak supir sangat bersedia sehingga aku tidak merasa
TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 19

tuk berjalan, semuanya bisa diselesaikan dengan menanam sebatang dua batang pohon. Selesai. Watatila! Apa sebetulnya pokok masalah dari perubahan iklim. Betulkah bahwa perubahan iklim dapat diselesaikan dengan menanam pohon. Sejauh mana pohon dan kerindangan hutan dapat menurunkan ataupun menyerap konsentrasi karbon yang ada di atsmosfer, yang menyebabkan panas di bumi tidak bisa terlepas ke angkasa. Sejauh mana pola konsumsi kita turut mempengaruhi perubahan iklim. Bagaimana mungkin kerindangan pohon sawit kemudian dituduh ikut serta menciptakan pemanasan global. Tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, aku akan sok tau dengan menggambarkan apa itu pemanasan global dan perubahan iklim. Pada bagian kedua aku akan menceritakan tentang gaya hidup kita terkait dengan perubahan iklim, dan bagian ketiga, kalau masih kuat, aku akan coba sedikit bercerita tentang dampak yang akan dihadapi manusia akibat dari pemanasan global ini.

nasan 72 kali dibanding karbon dioksida. Metana dapat ditemukan dari aktivitas peternakan dan system pencernaan hewan dan pertanian. Kelihatannya begitu sederhana mengingat unsur metana terbesar ada di faeces (kotoran) hewan. Namun kalau kita jalanjalan ke salah satu negara di Amerika latin, Brazil misalnya. Negara ini bukan hanya penghasil pemain sepakbola nomor satu dunia namun juga sebagai salah satu negara pengekspor daging sapi terbesar dunia. Dengan penguasaan pangsa pasar daging sapi dunia sebesar 28 persen, Brazil memiliki jumlah sapi dua kali lipat jumlah penduduknya. Dengan jumlah sapi sebanyak itu, tentulah gas metana yang dihasilkan sangat luar biasa. Satu hal lagi, yang seringkali luput dari pengetahuan orang adalah, bahwa factor terbesar meningkatnya suhu global bukan disebabkan oleh sektor transportasi, sebagaimana yang diyakini banyak orang. Namun justru peternakan menempati urutan pertama sebagai salah satu sector yang menyebabkan meningkatnya suhu global secara drastis. Sementara (3) Dinitrogen Oksida (N2O) yang menghasilkan efek pemanasan 296 kali dari molekul CO2 dapat ditemukan pada pupuk dan freon sebagai bahan baku utama yang digunakan untuk mendinginkan ruangan melalui air condition (AC). Ketiga gas tersebut yang disebut dengan gas Rumah kaca telah menyebabkan bumi kita menjadi hangat dan dapat ditempati. Masalah terjadi ketika konsentrasi ketiga gas tersebut meningkat. Revolusi Industri di Inggris pada abad ke 19 telah mendorong penggunaan energy fosil secara besar-besaran. Dari mulai sektor transportasi sampai dengan pabrik yang menciptakan berbagai kebutuhan manusia. Kesemuanya telah mendorong meningkatnya konsentrasi karbon dioksida secara pesat. Konsentrasi karbon dioksida di atsmosfer pada saat ini telah mencapai 390 ppm. Jauh diatas ambang batas aman yang disebutkan oleh International panel of Climate Change (IPCC), yakni 350 ppm.

Apa itu Efek Rumah Kaca
Kalau kita menarik diri dan membuat jarak, bumi kita sepertinya, dan benar, melayang-layang di alam semesta tak berbatas ini. Angkasa luar itu sendiri sangat dingin. Kalau kita pakai angkutan umum menuju bulan, lalu kita keluarkan tangan dari kaca jendela, hanya butuh waktu sekian detik untuk menyadari kalau tangan kita sudah membeku. Lalu bagaimana bumi bisa tetap hangat di tengah-tengah alam semesta yang dingin itu? Jawabannya adalah karena efek rumah kaca. Efek rumah kaca telah menyebabkan bumi menjadi hangat sehingga bisa di tempati oleh mahluk hidup. Efek rumah kaca sendiri merupakan sebuah dampak/efek dari proses yang melibatkan unsur sinar matahari dan Gas Rumah Kaca (GRK). Gas Rumah Kaca adalah konsentrasi sejumlah gas yang berada di atsmosfer yang mencegah keluarnya panas dari permukaan bumi. Angkasa raya adalah ruangan yang sangat dingin. Sinar matahari yang masuk ke bumi akan ditangkap oleh permukaan bumi lalu dilepaskan kembali ke udara. Atmosfer bumi mengandung sejumlah Gas Rumah Kaca yang menahan agar pantulan panas dari permukaan bumi tidak terlepas ke udara sehingga bumi akan terus hangat dan tidak mendingin. Apa bila bumi tidak memiliki atsmosfer yang memerangkap gas rumah kaca, dapat dipastikan bumi menjadi planet yang tidak dapat dihuni. Gas Rumah Kaca terdiri dari beberapa unsur. Tiga unsur yang paling dominan diantaranya adalah: (1) Karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, batubara). Karbon dioksida dapat ditemukan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap, kendaraan bermotor, mesin-mesin yang memproduksi sebuah benda apakah itu plastic, botol minuman dan barang-barang kebutuhan manusia lainnya. Karbon dioksida juga terdapat dihutan-hutan alam maupun di rawa gambut. Pembukaan hutan untuk menjadi perkebunan kelapa sawit misalnya, tidak hanya melepaskan sejumlah karbon yang tersimpan di hutan itu sendiri namun juga menghilangkan salah satu fungsi hutan yang menyerap karbon. Gas yang kedua adalah Metana (CH4) yang memiliki efek pema-

Perubahan Iklim
Disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca tersebutlah, sejumlah panas yang seharusnya bisa terlepas kembali ke angkasa menjadi tertahan dibumi. Bumi menjadi lebih panas. Peningkatan suhu rata-rata muka bumi ini kemudian di sebut dengan Pemanasan Global. Pemanasan yang terjadi ternyata tidak berhenti disitu saja. Pemanasan Global kemudian mempengaruhi pola iklim dunia. Perubahan Iklim adalah suatu kondisi dimana suatu tempat kemudian mengalami pemanasan atau pendinginan yang tidak wajar dan berbeda dengan pola-pola tahun sebelumnya. Ini menimbulkan kekacauan cuaca. Curah hujan yang dulunya kita alami pada bulan-bulan yang berakhiran ber, sekarang tidak lagi. Pada Bulan Oktober hingga Desember kali ini saja kita disuguhi musim panas yang luar biasa. Memasuki Bulan Februari, baru kita dihadapi dengan musim penghujan. Dengan situasi seperti ini, secara otomatis pola iklim merubah kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukan oleh orang ratusan tahun lamanya. Kebiasaan panen yang berubah. berubahnya waktu melaut, berubahnya musim tanam dsb. oOOOo
Rully Syumanda, pernah bekerja di Eknas WALHI, sebagai Forest Campaigner, dan saat ini aktif sebagai pengamat lingkungan

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 20

“Pembangunan Kebun Kelapa Sawit Berbasis Gas Rumah Kaca: Tinjauan Kritis”

S

Pendahuluan

ejarah perkembangan perkebunan di negara berkembang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan kolonialisme, kapitalisme dan modernisasi (Kartodirdjo & Suryo ,1991). Ia hadir sebagai bagian dari sistem perkeonomian baru yang niscaya bersifat komersil dan eksploitatif. Demikian juga halnya dengan keberadaan perkebunan, khususnya kelapa sawit, di Indonesia.

Sampai tahun 2009 Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 7,8 juta hektar yang tersebar dari pulau Sumatra hingga Papua. Setiap tahun sejak masa reformasi, menurut catatan Sawit Watch, terdapat 300-400 ribu ha pertumbuhan kebun sawit baru. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan pasar dunia akan minyak sawit sebagai bahan makanan, obat-obatan dan energi serta keinginan kuat pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja dan pemberantasan kemiskinan. Selain memberikan efek terhadap ekonomi makro Indonesia, ekspansi tadi ternyata memunculkan persoalan sosial dan lingkungan. Penggusuran lahan hingga kriminalisasi terhadap masyarakat adat/ penduduk lokal merupakan salah satu dampaknya. Sementara itu bencana alam seperti banjir dan kabut asap menjadi momok di setiap musim hujan dan kemarau menerpa. Pengembangan kebun sawit yang kerap dilakukan dengan mengonversi hutan dan lahan gambut ternyata melepaskan jutaan ton karbon dioksida (CO2) dan membuat Indonesia menjadi kontributor emisi CO2 terbesar ketiga di dunia. akibatnya gas rumah kaca menjadi terlepas ke udara yangmengakibatkan pemanasan global dan perubahan iklim. suhu bumi. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Efek Rumah Kaca (ERK) menganalogkan suatu proses serupa yang terjadi di dalam rumah kaca (green house). Dalam konvensi PBB (SLI, 2008) mengenai perubahan iklim (United Nation frame work Convention on Climate/ UNFCC), terdapat 6 jenis gas yang digolongkan sebagai GRK yaitu Karbondioksida (CO2), Dinitrioksida (N2O), Metana (CH4), Sulfurheksafluorida (SF6), Perfluorokarbon (PFCs) dan Hidrofluorokarbon (HFCs). Semua Negara di dunia sebenarnya turut andil dalam mempercepat pemanasan global. Di Indonesia sendiri pernah terjadi kebakaran hutan secara hebat pada tahun pada tahun 1982/1983, terutama di Kal-Tim dimana 3.6 juta ha hutan dan lahan terbakar (Saharjo, 2008). Studi yang dilakukan ITTO-GTZ menyimpulkan bahwa penyebab kebakaran adalah perubahan struktur vegetasi akibat pembalakan kayu yang dimulai sekitar 1970-an, dimana jutaan ha lahan hutan dibagi-bagi ke dalam kawasan HPH yang mengakibatkan boom kayu di Sumatra dan Kalimantan yang merubah lansekap dari kedua pulau tadi lebih dari dua dekade. Ketika perusahaan HPH banyak yang gulung tikar, maka konsesi yang sebelumnya dimiliki berubah penguasaan menjadi milik perkebunan sawit. Selain di kawasan hutan, juga terjadi pembukaan lahan gambut secara massif. Luas lahan gambut di Indonesia beragam, ada yang memperkirakan luasnya 18,4 juta ha dan ada juga yang menduga sekitar 15,5 juta ha dimana 10,5 juta ha diantaranya berada di agroeksosistem rawa pasang surut dan 4,99 juta ha berada di agroekosistem rawa lebak. Dari jumlah tersebut 3,72 Juta ha (18

Pembukaan dan Kebakaran Hutan serta Lahan Gambut Penyumbang Gas Rumah Kaca
Pemanasan global berkaitan dengan adanya radiasi yang dipancarkan matahari dalam bentuk gelombang pendek menembus atmosfer dan berubah menjadi gelombang panjang ketika mencapai permukaan bumi (SLI, 2008), manakala mencapai bumi sebagian gelombang dipantulkan kembali ke atmosfer. Radiasi matahari dalam bentuk gelombang panjang yang dipantulkan kembali oleh bumi tidak semuanya dapat menembus atmosfer menuju angkasa luar, sebagian terperangkap oleh gas-gas yang berada di atmosfer yang disebut Gas Rumah Kaca (GRK). Terperangkapnya radiasi matahari oleh GRK yang berlangsung berulang-ulang mengakibatkan terjadinya akumulasi radiasi matahari di atmosfer bumi yang kemudian menyebabkan meningkatnya

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 21

% dari total hutan rawa gambut) sudah memiliki beberapa bentuk pengembangannya (Silvius and Giessen, 1996) dimana paling sedikit 500.000 ha telah ditanami oleh petani transmigran (Notohadiprawiro, 1996). Pembukaan lahan gambut sering kali menggunakan proses pembakaran. Akibatnya adalah kebakaran yang terjadi di lahan gambut (Saharjo, 2008) akan berjalan lambat (sehingga penanganannya akan merepotkan), dan tidak sempurna proses pembakarannya (kurang oksigen) sehingga lebih banyak gas yang dihasilkan dibandingkan dengan proses kebakaran dimana penyalaan lebih dominan (Saharjo, 2008). Hal itu dapat terjadi karena yang terbakar adalah gambut (bahan organik) yang berada dibawah permukaan dengan tingkat dekomposisi berbeda (fibrik, hemik dan saprik) dengan tingkat kadar air yang cukup tinggi. Sebagian besar kebakaran tadi disebabkan oleh ketidaksengajaan atau kesengajaan oleh manusia dan berhubungan dengan bebera penyebab; beberapa diantaranya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan aktivitas komersial (Qadri, 2001).

gunaan berdasarkan produk yang dihasilkan. Emisi yang berasal dari buangan (limbah) pabrik minyak kelapa sawit.

Kontroversi Kebijakan Pemerintah Pengembangan Kebun Sawit di Lahan Gambut
Pemerintah Indonesia melalui Menteri Pertanian pada 16 Februari 2009 menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian No.14/Permentan/ PL.110/2/2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit. Permentan ini diterbitkan dengan menimbang beberapa hal diantaranya adalah bahwa lahan gambut memiliki peran penting terhadap kelestarian lingkungan dalam kehidupan yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit; pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik lahan gambut sehingga tidak menimbulkan kerusakan fungsi lingkungan; atas dasar hal-hal tersebut di atas dan untuk pengusahaan budidaya kelapa sawit di lahan gambut tidak menimbulkan kerusakan fungsi lingkungan, dipandang perlu menetapkan pedoman pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit

Produksi Gas Rumah Kaca dari Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik Pengolahan Minyak Sawit

Prosentase kandungan karbon pada tanaman kelapa sawit bervariasi antara 31,26 % pada bagian serasah kasar hingga 41,55 % pada bagian bakal buah, sementara total kandungan karbon baik yang berasal dari bagian atas dan bawah permukaan adalah 40,278 ton (Tjitrosemito dan Mawardi, 2000) atau setara dengan 149,66 ton CO2-eq. Kandungan karbon dalam tanah dibawah tanaman kelapa sawit bervariasi jumlahnya sesuai dengan kedalaman tanah dimana pada kedalaman 0-5 cm kandungan karbonnya adalah 11.846,4 ton/ha dan pada kedalaman 20-30 cm adalah 9.453 ton/ha (Tjitrosemito dan Mawardi, 2000) atau setara dengan 34,69 ton CO2-eq.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Bambang Hero Saharjo dan Sawit Watch didapat satu kesimpulan bahwa “kebun kelapa sawit yang ditanam di tanah mineral selama 25 tahun hanya mampu menyerap 130 ton CO2 eq/ha”

Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prof. DR. Bambang Hero Saharjo dan Sawit Watch didapat satu kesimpulan bahwa kebun kelapa sawit yang ditanam di tanah mineral selama 25 tahun hanya mampu menyerap 130 ton CO2 eq/ha atau kalaupun bervariasi maka kemungkinan besar tidak akan lebih dari 180 ton CO2 eq dengan mengingat kandungan karbon pada bagian atas permukaan di kebun kelapa sawit di Tanah Grogot adalah 39,94 ton / ha atau setara dengan146,58 ton CO2 eq./ha. Emisi GRK yang realistik dari lahan gambut yang terdrainase adalah 25-55 ton CO2-eq/ha/tahun atau sekitar 625-1375 ton CO2-eq untuk selama 25 tahun. Sementara itu untuk tipe penggunaan lahan alang-alang pada kedalaman 0-30 cm total kandungan karbon nya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pada areal bekas pembalakan dan areal bekas terbakar yaitu 252,855 ton/ha atau setara dengan 927,98 ton CO2 eq./ha. Semua data ini kemudian memperjelas bahwa lahan gambut tidak layak untuk ditanami kelapa sawit karena kalaupun tetap akan ditanam maka Gas Rumah Kaca yang ada sekarang akan bertambah seiring dengan dibukanya lahan gambut.

Untuk memastikan seberapa besar kandungan karbon yang terdapat di dalam tegakan kelapa sawit yang berumur 25 tahun, dilakukan penelitian dengan cara melakukan penebangan tanaman kelapa sawit yang berumur 25 tahun dan ditanam di tanah mineral yang berlokasi di Tanah Grogot, Kalimantan Timur pada bulan Juli tahun 2009 yang lalu. Kandungan karbon pada bagian atas permukaan di kebun kelapa sawit di Tanah Grogot, Kalimantan Timur adalah 39,94 ton/ha atau setara dengan 146,58 ton CO2-eq. Jumlah terbesar kandungan karbon tersebut terdapat pada bagian batang kelapa sawit yaitu 29,13 ton/ha atau setara dengan 106,91 ton CO2-eq Selain di kebun sawit, Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) juga dihasilkan dari pabrik minyak sawit. Ada beberapa sumber emisi di pabrik pengolahan tadi (Brinkman, 2009) yaitu: Emisi yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar untuk transportasi internal di areal penanaman dan penggunaan mesin-mesin. Emisi yang berhubungan dengan penggunaan pupuk. Emisi yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar di dalam pabrik dan peng-

Rekomendasi
Sebaiknya pemerintah menetapkan kebijakan untuk melarang pembangunan kebun kelapa sawit baru di hutan alam, lahan gambut dan di area konservasi benrilai tinggi. Pembukaan kebun kelapa sawit baru sebaiknya hanya dilakukan di grass land (alang-alang) atau di lahan kering. Hormat kami, Prof.DR. Bambang Hero Saharjo dan Perkumpulan Sawit Watch

TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010

Halaman | 22

Dukung Undang-undang Bantuan Hukum disahkan pada tahun ini
Undang-undang bantuan hukum merupakan undang-undang yang akan mengatur sistem bantuan hukum nasional untuk mempreluas akses keadilan bagi masyarakat. Dengan adanya UU Bantuan Hukum, Masyarakat miskin akan mempunyai akses lebih luas untuk mendapatkan bantuan hukum, akan mempunyai akses untuk melakukan klaim atas hak-haknya atau melakukan berbagai upaya hukum atas ketidakadilan yang mereka alami. Saat ini Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) telah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Bantuan Hukum sebagai salah satu RUU prioritas pada tahun 2010. Oleh karenanya, dukungan anda sangat penting untuk terwujudnya UU Bantuan Hukum di Indonesia dan mendukung tercapainya keadilan bagi rakyat miskin, buta hukum dan marjinal. Dukungan anda dapat dilakukan dengan melakukan segala upaya untuk mendorong DPR dan Pemerintah membahas RUU Bantuan Hukum pada Tahun 2010 ini. Dukungan untuk segera dibahasnya RUU Bantuan Hukum dan terwujudnya UU Bantuan Hukum di Indonesia dapat disampaikan Kepada DPR RI :

Ketua Dewan Perwakilan Rakyar Bapak Marzuki Ali Alamat : Gedung DPR RI, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta - 10270 Telepon: (021) 5715330, 5715334, 5715424, 5715335 Fax: (021) 5736971
atau

Ketua Badan Legislasi DPR Bapak Ignatius Mulyono Alamat : Gedung DPR RI, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta – 10270 Telepon : (021) 5755048, 5756041, 5756059-5756056 Fax : (021) 5756379 e-Mail : baleg@dpr.go.id
atau

Ketua Komisi III DPR Bapak Benny K Harman Alamat : Gedung DPR RI, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta – 10270 Telepon : (021) 5715566, 5715569, 5715864 Fax : (021) 5715566 e-Mail: set_komisi3@dpr.go.id
atau

Anggota DPR yang anda kenal dengan alamat : Gedung DPR RI, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat - 10270
TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010 Halaman | 23

atau salurkan aspirasi anda melalui website DPR RI dengan alamat : http://www.dpr.go.id/id/bantuan/aspirasi
Dukungan untuk UU bantuan Hukum juga bisa anda sampaikan kepada Pemerintah :

Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono Alamat : Istana Merdeka Jakarta 10110 Indonesia Telepon : +62-21-345-2685, 380-5511, 5268726 fax : Sekretariat Presiden 344-2223 atau Menteri Hukum dan HAM Bapak Patrialis Akbar Alamat : Jl. HR. Rasuna Said Kav. 6-7 Kuningan Jakarta Selatan, 12940 Telepon : (021) 5253006 Fax : (021) 5253095
Dukungan anda juga bisa disampaikan kepada Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Undang-Undang Bantuan Hukum yang akan disampaikan kepada DPR dan Pemerintah :

Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Undang-Undang Bantuan Hukum (KUBAH) Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Alamat : Jl. Diponegoro No. 74 Jakarta Telepon : (021) 3929840 Fax : (021) 31930140 email : kubah2010@gmail.com
Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Undang-Undang Bantuan Hukum (KUBAH) merupakan kumpulan organisasi masyarakat sipil yang mempunyai tujuan untuk mendorong adanya UU Bantuan Hukum di Indonesia. Dalam pandangan Koalisi, Undang-Undang Bantuan Hukum adalah reglasi yang sangat penting untuk adanya sistem bantuan hukum nasional yang akan memberikan jaminan tercapainya akses keadilan bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat miskin, buta hukum dan marjinal. Koalisi memandang bahwa undang-undang bantuan hukum di Indonesia harus segera terwujud segera untuk memastikan terpenuhinya akses keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini mengingat sampai dengan saat ini, pemberian bantuan hukum kurang memadai baik dari sisi jumlah, sistem pelayanan, maupun cakupan geografis di Indonesia. Koalisi akan melakukan berbagai kegiatan dan upaya untuk mendorong adanya UU Bantuan Hukum di Indonesia yang sesuai dengan harapan dan cita-cita masyarakat. Berbagai kegiatan koalisi diantaranya penyusunan konsep tentang Undang-Undang Bantuan Hukum yang ideal bagi Indonesia, penyusunan Naskah Akademis dan RUU Bantuan Hukum Versi Masyarakat Sipil, Kampanye, pemantauan dan berbagai aktivitas lainnya yang ditujukan untuk mendorong adanya undang-undang bantuan hukum.
TandanSawit | Edisi I/ Maret 2010 Halaman | 24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->