P. 1
cdk_166_Asma

cdk_166_Asma

|Views: 2,416|Likes:
Published by revliee

More info:

Published by: revliee on Apr 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

166 / vol. 35 no.

7 November - Desember 2008

CDK
Cermin Dunia Kedokteran
ISSN: 0125-913 X http://www.kalbe.co.id/cdk

Artikel :
389 394 Terapi Inhalasi
Pradjnaparamita

Perbedaan VO2.max antara Siswa yang Latihan Sepakbola dengan yang Tidak di Pondok Pesantren Darul Hijrah
Huldani

386 401 405

Uji Provokasi Bronkus dengan Salin Hipertonis
Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe

Asma Bronkial - Hubungannya dengan GERD
A. Dina Abidin H. Mahdi

Pengaruh Rinitis Alergi (ARIA WHO 2OO1) terhadap Gangguan Fungsi Ventilasi Tuba Eustachius
I Wayan Karya, Aminuddin Aziz, Sutji Pratiwi Rahardjo, Nani Iríani Djufri

411

Kelainan Gigi dan Jaringan Pendukung Gigi yang Sering Ditemui
Adi Prayitno

Berita Terkini :
415 420 422 423 428 432 CARDIA: OxLDL dan sindrom metabolik Metilprednisolon untuk penanganan neuritis vestibular Kamera terkontrol magnet di dalam tubuh Profil keamanan terapi statin Adalafil dan disfungsi ereksi pasien diabetes WHA menghimbau peningkatan fokus pada hepatitis

Petunjuk untuk Penulis
CDK menerima naskah yang membahas berbagai aspek kesehatan, kedokteran dan farmasi, bisa berupa tinjauan kepustakaan ataupun hasil penelitian di bidang-bidang tersebut, termasuk laporan kasus. Naskah yang dikirimkan kepada Redaksi adalah naskah yang khusus untuk diterbitkan oleh CDK; bila pernah dibahas atau dibacakan dalam suatu pertemuan ilmiah, hendaknya diberi keterangan mengenai nama, tempat dan saat berlangsungnya pertemuan tersebut.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris; bila menggunakan bahasa Indonesia, hendaknya mengikuti kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Istilah medis sedapat mungkin menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baku, atau diberi padanannya dalam bahasa Indonesia. Redaksi berhak mengubah susunan bahasa tanpa mengubah isinya. Setiap naskah harus disertai dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Bila tidak ada, Redaksi berhak membuat sendiri abstrak berbahasa Inggris untuk karangan tersebut. Naskah berisi 2000 - 3000 kata ditulis dengan program pengolah kata seperti MS Word, spasi ganda, font Euro-stile atau Times New Roman 10 pt. Nama (para) pengarang ditulis lengkap, disertai keterangan lembaga/fakultas/institut tempat bekerjanya. Tabel / skema / grafik / ilustrasi yang melengkapi naskah dibuat sejelasjelasnya dan telah dimasukkan dalam program MS Word. Kepustakaan diberi nomor urut sesuai dengan pemunculannya dalam naskah; disusun menurut ketentuan dalam Cummulated Index Medicus dan/atau Uniform Requirement for Manus- cripts Submitted to Biomedical Journals (Ann Intern Med 1979; 90 : 95-9). Contoh : 1. Basmajian JV, Kirby RL.Medical Rehabilitation. 1st ed. Baltimore, London: William and Wilkins, 1984; Hal 174-9. 2. Weinstein L, Swartz MN. Pathogenetic properties of invading microorganisms. Dalam: Sodeman WA Jr. Sodeman WA, eds. Pathologic physiology: Mechanism of diseases. Philadelphia: WB Saunders, 1974 ; 457-72. 3. Sri Oemijati. Masalah dalam pemberantasan filariasis di Indonesia. Cermin Dunia Kedokt. 1990; 64: 7-10. Jika pengarang enam orang atau kurang, sebutkan semua; bila tujuh atau lebih, sebutkan hanya tiga yang pertama dan tambahkan dkk. Naskah dikirim ke redaksi dalam bentuk softcopy / CD atau melalui e-mail ke alamat :

daftar isi
content
Editorial 386 English Summary 388

Artikel
Terapi Inhalasi 389
Pradjnaparamita

Perbedaan VO2.max antara siswa yang Latihan Sepakbola 394 dengan yang Tidak di Pondok Pesantren Darul Hijrah
Huldani

Uji Provokasi Bronkus dengan Salin Hipertonis 396
Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe

Asma Bronkial - Hubungannya dengan GERD 401
A. Dina Abidin H. Mahdi

Pengaruh Rinitis Alergi (ARIA WHO 2OO1) terhadap 405 Gangguan Fungsi Ventilasi Tuba Eustachius
I Wayan Karya, Aminuddin Aziz, Sutji Pratiwi Rahardjo, Nani Iríani Djufri

Kelainan Gigi dan Jaringan Pendukung Gigi yang Sering Ditemui 411
Adi Prayitno

Berita Terkini
CARDIA: OxLDL dan sindrom metabolik 415 Eritropoietin mempunyai efek antidepresa 416 Gabapentin untuk mengurangi ketakutan berpidato 418 Higiene oral yang baik dapat melindungi terhadap 419 infeksi jantung Metilprednisolon untuk penanganan neuritis vestibular 420 Kamera terkontrol magnet di dalam tubuh 422 Profil keamanan terapi statin 423 Obesitas Meningkatkan Risiko Adenoma Kolorektal 424 Silent stroke menyerang 1 dari 10 orang sehat 425 Semangka merupakan Viagra® alami 426 Adalafil dan disfungsi ereksi pasien diabetes 428 Valsartan memperbaiki kekakuan arteri pada pasien 429 diabetes tipe 2, lebih baik daripada Amlodipin ? Jusuf Kalla: sebaiknya dokter maksimal 431 memeriksa 40 pasien per hari WHA menghimbau peningkatan fokus pada hepatitis 432 Praktis 434 Info Produk 436 Laporan Khusus 438 Gerai 445 Korespondensi 446 Formulir Berlangganan 447 Indeks Karangan 448 Agenda 450 RPPK 452

Redaksi CDK Jl. Letjen Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id Tlp: (021) 4208171. Fax: (021) 42873685
Korespondensi selanjutnya akan dilakukan melalui e mail; oleh karena itu untuk keperluan tersebut tentukan contact person lengkap dengan alamat e-mailnya.

Tulisan dalam majalah ini merupakan pandangan/pendapat masing-masing penulis dan tidak selalu merupakan pandangan atau kebijakan instansi/lembaga tempat kerja si penulis.

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

385

CDK
Cermin Dunia Kedokteran
ISSN: 0125-913 X http://www.kalbe.co.id/cdk Alamat Redaksi Gedung KALBE Jl. Letjen. Suprapto Kav. 4 Cempaka Putih, Jakarta 10510 Tlp: 021-4208171 Fax: 021-4287 3685 E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id Web: http://www.kalbe.co.id/cdk Milis: http://groups.yahoo.com/group/milisCDK Nomor Ijin 151/SK/DITJEN PPG/STT/1976 Tanggal 3 Juli 1976 Penerbit Kalbe Farma Pencetak PT. Temprint

redaksi kehormatan
Prof. Drg. Siti Wuryan A Prayitno, SKM, MScD, PhD Bagian Periodontologi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Jakarta Prof. Dr. Abdul Muthalib, SpPD KHOM Divisi Hematologi Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. Dr. Djoko Widodo, SpPD-KPTI Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonsia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. DR. Dr. Charles Surjadi, MPH Pusat Penelitian Kesehatan Unika Atma Jaya Jakarta Prof. DR. Dr. H. Azis Rani, SpPD, KGEH Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. DR. Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta DR. Dr. Abidin Widjanarko, SpPD-KHOM Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Kanker Dharmais, Jakarta DR. Dr. med. Abraham Simatupang, MKes Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Prof. Dr. Sarah S. Waraouw, SpA(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado Prof. DR. Dr. Rully M.A. Roesli, SpPD-KGH Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung Dr. Aucky Hinting, PhD, SpAnd Bagian Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya Prof. DR. drg. Hendro Kusnoto, SpOrt. Laboratorium Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta DR. Dr. Yoga Yuniadi, SpJP Sub Dept. Kardiologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSP Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta Prof. DR. Dra. Arini Setiawati Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Prof. Dr. Faisal Yunus, PhD, SpP(K) Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/SMF Paru RS Persahabatan, Jakarta

editorial
Asma merupakan masalah yang sering dijumpai di kalangan anak-anak; dan jika berlanjut
menjadi kronis akan dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak. Artikel Cermin Dunia Kedokteran kali ini berkisar pada masalah asma tersebut, ditambah dengan penelitian di kalangan anak yang berolahraga dibandingkan dengan yang tidak; penelitian ini menarik untuk dilanjutkan dalam skala yang lebih besar. Terapi inhalasi, salah satu modalitas terapi asma juga dapat Sejawat baca di edisi ini, disambung dengan uji provokasi sebagai salah satu cara diagnostik. Seperti biasa, di akhir halaman kami sajikan daftar artikel yang diterbitkan di Cermin Dunia Kedokteran sepanjang tahun 2008, semoga bisa berguna untuk penelusuran artilel yang mungkin Sejawat perlukan. Selamat membaca, semoga bisa berguna untuk memperbaiki mutu pelayanan terhadap pasien.

susunan

redaksi

Prof. DR. Dr. Rianto Setiabudy, SpFK Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Dr. R.M. Nugroho Abikusno, MSc., DrPH Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta

Ketua Pengarah Dr. Boenjamin Setiawan, PhD Pemimpin Umum Dr. Erik Tapan Ketua Penyunting Dr. Budi Riyanto W. Manajer Bisnis Nofa, S.Si, Apt. Dewan Redaksi Prof. Dr. Sjahbanar Soebianto Zahir, MSc. Dr. Michael Buyung Nugroho Dr. Karta Sadana Dr. Sujitno Fadli Drs. Sie Djohan, Apt. Ferry Sandra, Ph.D. Budhi H. Simon, Ph.D. Tata Usaha Dodi Sumarna

Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS Fakultas KedokteranUniversitas Udayana Denpasar, Bali Prof. DR. Dr. Ignatius Riwanto, SpB(K) Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RS Dr. Kariadi, Semarang Dr. Tony Setiabudhi, SpKJ, PhD Universitas Trisakti/ Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia, Jakarta Prof. DR. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI Sub Dept. Alergi-Imunologi, Dept. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Dr. Prijo Sidipratomo, SpRad(K) Departemen Radiologi FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Prof. DR. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN Departemen Kedokteran Nuklir Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung Dr. Hendro Susilo, SpS(K) Dept. Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr. Soetomo, Surabaya Prof. DR. Dr. Darwin Karyadi, SpGK Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn KIC, M.Kes Bagian Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung

Redaksi

386

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

387

ENGLISH SUMMARY

TINJAUAN PUSTAKA

Terapi Inhalasi
Pradjnaparamita
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia

VO2.max Difference between Students who Regularly Play Soccer Compared with Students who Don’t Play Soccer in Darul Hijrah Pesantren, South Kalimantan
Huldani
Dept. of Physiology, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru, South Kalimantan, Indonesia

PENDAHULUAN Terapi inhalasi adalah cara pemberian obat dalam bentuk partikel aerosol melalui saluran napas. Sasaran terapi inhalasi yang utama adalah saluran napas atas dan saluran napas bawah. Saluran napas atas dimulai dari rongga hidung, dengan sinus di sekitarnya, laring dan farings, proksimal trakea. Saluran napas bawah dimulai dari bronkus, bronkioli sampai ke alveoli. Target sasaran ini termasuk mukosa dan ujung reseptor neuron di dalamnya. Terdapat berbagai macam bentuk obat atau cara pemberian terapi inhalasi, seperti bentuk aerosol, yang biasanya dikemas dalam bentuk Inhalasi Dosis Terukur dan biasa disebut Metered Dose Inhaler [ MDI ], DPI atau Dry Powder Inhalation, yaitu obat berbentuk bubuk kering yang dikemas dalam satu bentuk obat jadi atau kapsul yang digunakan dengan alat bantu. Bentuk lainnya adalah cairan yang dapat berupa solutio atau suspensi, bentuk ini juga harus digunakan dengan alat bantu nebuliser. Karena langsung pada target sasaran, dosis yang digunakan dalam terapi inhalasi sangat kecil, penyerapan sistemik juga sedikit sehingga efek samping obat jarang terjadi. Terapi inhalasi pertamakali memang ditujukan untuk target sasaran di saluran napas, tetapi dalam beberapa penelitian obat inhalasi mulai digunakan untuk penggunaan sistemik yang memerlukan dosis kecil dan waktu yang cepat seperti dalam penggunaan insulin. MEKANISME KERJA Obat dalam bentuk partikel aerosol yang dapat dibentuk dari cairan ( pada nebulizer ) atau partikel aerosol yang dimampatkan dengan gas sebagai zat pembawa ( MDI = Meterred Doze Inhaler ) atau aerosol yang berasal dari bubuk kering ( Dry Powder Inhalation = DPI ), akan mencapai sasaran di saluran napas bersama proses respirasi sesuai dengan ukuran partikel yang terbentuk dengan mekanisme hukum Brown yaitu impaksi, sedimentasi dan difusi. Impaksi adalah membentur dan menempelnya partikel obat pada mukosa bronkus yang terjadi karena pergerakan udara melalui inspirasi dan ekspirasi, sedangkan sedimentasi adalah sampainya partikel sampai pada mukosa bronkus karena mengikuti efek dari gravitasi.

Ukuran partikel berkisar antara 100 mikron sampai 0,01 mikron. Penyebaran partikel obat akan tergantung kepada besaran mikronnya; partikel dengan ukuran 5-10 mikron akan menempel pada orofaring, 2-5 mikron pada trakeobronkial sedangkan partikel <1 mikron akan keluar dari saluran napas bersama proses ekspirasi (Gb.1).
Gb.1. Besar Partikel dan Penetrasinya ke Saluran Napas

Hypothesis from available data
Particle size (microns) Regional deposition Mouth / oesophageal region Upper / Central airways Efficacy No clinical effect Safety Absorption from GI tract if swallowed Subsequent absorption from lung High systemic absorption

Hypertonic Saline Bronchial Provocation Test (BPT)
Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe
Dept. of Child Health, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia

>5

VO2max is a physiological parameter in standard measurement of cardiorespirative endurance as the most important component in physical fitness. VO2max , is body s ability to take, distribute and use oxygen maximally. Soccer can increase cardiorespirative endurance, because soccer consists of 4 important components of physical fitness: heart endurance and blood circulation, strength, muscle endurance and elasticity. A method to measure VO2max is multistage fitness test. To find out VO2max difference between student who practice soccer and those , who don t, an analytical study was conducted with cross sectional approach. Sampling technique was purposive, analysed with t test. Every group contained 40 students. The result of research t test = 6,423 and t table = 2,020 with significance level of 0,05, There is significant VO2max difference between students who practice soccer and students who do not.
Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(7): 394-395

Asthma is diagnosed based on history and supporting examinations. Bronchial provocation test (BPT) using histamine or metacholine is the diagnostic standard for asthma; but since histamine and metacholine are not easily available, another agent is used as an alternative, such as hypertonic saline (NaCl 4.5%). The aim of this study is to measure the sensitivity and specificity of this agent compared with histamine.

BPT using histamine and hypertonic saline (HS) were applied to asthma patients diagnosed according to National Consensus of Child Asthma. Thirty patients underwent HS BPT and 22 patients underwent histamine BPT. The age mode was 9 years old, male : female ratio was 3 : 1; 70% were classified as infrequent episodic asthma, 30% were frequent episodic asthma. no persistent asthma was found. Atopy history in family were found in 70% patients, and 66.7% patients have atopy. Among 30 patients who underwent HS BPT, 53.3% gave positive results, and among 22 histamine BPT patients, 68.2% were positive. Among infrequent episodic asthma patients, 42.9% showed positive results to HS, and 60% to histamine, compared with 77.8% and 85.7% in the group of frequent episodic asthma. The sensitivity and specificity of HS as provocation agent were 86.7% and 85.7% respectively; the positive predictive value was 92.9% and the negative predictive value was 75%. HS can be used as an alternative to histamine in BPT for diagnosing asthma with 86.7% sensitivity and and 85.7% specificity.
Cermin Dunia Kedokt. 2008; 35(7): 396-400

2-5

Clinical effect

<2

Peripheral airways / alveoli

Some local clinical effect

Dikutip dari Chrystin, Workshop Aerosol Medicine ERS, 2005

BENTUK OBAT DAN ALAT BANTU Sebagai obat berbentuk partikel dengan target sasaran di saluran napas, terapi inhalasi obat dapat berupa: - Metered Dose Inhaler ( MDI ) atau dapat disebut Inhalasi Dosis Terukur ( IDT ) - Dry Powder Inhalation ( DPI ), yang dapat berbentuk Turbuhaler, Handihaler atau Diskus - Cairan yang dapat berbentuk solutio atau suspensi. Untuk dapat menjadi partikel, bentuk cairan ini harus menggunakan alat bantu nebuliser Metered Dose Inhaler MDI berbentuk tabung kecil yang digunakan dengan cara disemprotkan. Diperlukan koordinasi antara semprot dan sedot bagi penggunanya. Sulit dilakukan oleh anak-anak atau lanjut usia, atau mereka yang mengalami gangguan neurologi. Dapat digunakan dengan alat bantu berupa nebuhaler atau spacer; dengan alat bantu ini obat dapat dihirup dengan lebih perlahan, sehingga lebih disukai pasien PPOK lanjut usia. Pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik dapat digunakan dengan konektor pada pipa inspirasi ( tergantung dengan jenis/merk ventilator ).

388

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

389

TINJAUAN PUSTAKA
Dalam keadaan tidak sesak napas berat MDI disemprotkan bersamaan dengan inspirasi dalam, sangat diperlukan koordinasi yang baik antara gerakan menyemprotkan obat dan inspirasi yang dalam. Dry Powder Inhalation DPI dapat lebih mudah digunakan, karena tidak memerlukan koordinasi yang cepat antara semprot dan sedot. Tetapi pengguna obat jenis ini memerlukan kekuatan otot pipi, sehingga sulit pada pasien geriatri karena kekuatan otot pipinya sudah berkurang. Nebuliser Nebuliser terdiri dari beberapa bagian yang terpisah, antara lain generator aerosol, nebuliser, tempat obat cair dan alat hisapnya yang dapat berupa masker, mouthpiece atau kanul ( kanul hidung, kanul trakeostomi ) Generator aerosol adalah sumber tenaga yang diberikan kepada nebuliser sehingga dapat mengubah cairan menjadi aerosol atau partikel halus (Gb.2). Beberapa macam dasar cara kerja adalah kompresor, ultrasound atau oksigen. Mekanisme kerja nebuliser sampai saat ini selalu berkembang, secara teknologi disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan obat, seperti misalnya untuk obat hipertensi pulmoner, atau insulin, dibuat secara khusus hanya untuk obat tersebut. Di samping itu harus diperhatikan pula mengenai kontinuitas kerja alat nebuliser, karena ada yang menggunakan tombol pengatur keluarnya aerosol, atau tanpa tombol pengatur sehingga aerosol keluar terus menerus. Pada tipe kontinu banyak dosis obat dapat terbuang, sedangkan yang menggunakan tombol pengatur produksi aerosol dapat disesuaikan dengan pola napas pemakai. Ada pula tipe nebuliser dengan klep di mouthpiecenya yang akan secara otomatis tertutup bila pemakai tidak menarik napas, penggunaan obat juga menjadi efektif.
nebulised aerosol size is unstable in entrained ambient air and rapidly loses water vapour, decreasing size
entrained ambient air e.g. 15-7=8 L/min patient inhalation e.g. 15 L/min

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar nebuliser dapat memberikan hasil yang maksimal : - kekuatan kompresor 6-8 l/menit - volume obat 2-5 ml - partikel yang dihasilkan sebagian besar 2-5 mikron - persentase partikel yang optimal > 50 % - kekuatan inspirasi ( bila menggunakan ventilator harus disesuaikan ) - lama pemberian 5-10 menit Macam Alat Bantu Nebuliser Masker Digunakan pada pasien dengan kesadaran menurun. Tidak memerlukan koordinasi inspirasi atau ekspirasi dari pasien. Hati hati pada penggunaan kortikosteroid atau antikolinergik. Mouthpiece Obat yang terhirup akan lebih efektif. Diperlukan koordinasi inspirasi dan ekspirasi yang baik. Berikan sambungan konektor di sisi ekspirasi untuk mengurangi obat yang terbuang melalui ekspirasi. Mouthpiece terbaru menggunakan klep untuk mengurangi obat yang terbawa keluar saat ekspirasi. Konektor ventilator Beberapa konektor telah mempunyai saluran langsung; bila tidak ada, dapat digunakan T konektor pada pipa inspirasi. Pada trakeostomi diperlukan konektor khusus; dapat juga dengan T konektor biasa. PEMAKAIAN TERAPI INHALASI DALAM KLINIK Dalam penanganan masalah respirasi, terapi inhalasi dapat berfungsi sebagai : - diagnostik - terapi. Sebagai alat diagnostik inhalasi digunakan pada : - uji bronkodilator dengan beta2 agonis - uji provokasi bronkus dengan metakolin - induksi sputum dengan NaCl 3 %. Jika digunakan untuk pengobatan perlu diperhatikan be berapa hal agar tercapai sasaran, terhindar dari efek samping dan nyaman bagi pasien, misalnya : - tujuan pengobatan - problem atau simptom respirasi yang menonjol - kesadaran pasien - diagnosis kerja saat itu - lama penggunaan, jangka pendek atau jangka panjang - bentuk obat dan alat bantu yang digunakan - jenis obat - tempat kerja, ruang gawat darurat, ICU dengan mesin bantu napas, ruang rawat atau di rumah.

Gb.2.

compressed air e.g. 7 L/min

Dikutip dari Dennis, JC, Workshop Aerosol Medicine, ERS 2005

390

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan terapi inhalasi dalam masalah respirasi biasanya ditujukan untuk : - bronkodilatasi - mukolitik - antiinflamasi mukosa bronkus - antibiotik mukosa bronkus dan alveolus - anastesi lokal bronkus untuk tindakan bronkoskopi. Kesadaran pasien Kesadaraan pasien sangat penting untuk mendapatkan hasil terapi yang maksimal; misal menggunakan masker; sedangkan pada penderita yang kompos mentis dan kooperatif penggunaan mouthpiece akan lebih efektif. Pada penggunaan nebuliser yang diskontinu, pengaturan pemasukan obat dapat disesuaikan dengan waktu inspirasi pasien. Diagnosis kerja Diagnosis problem respirasi yang dapat menggunakan terapi inhalasi. - Asma - PPOK - Bronkiektasis - Fibrosis kistik - Gagal jantung dengan hipereaktif bronkus - Stroke dengan retensi sputum - Pneumoni aspirasi - Infeksi Pneumocystis carinii - Hipertensi pulmoner Saat penggunaan Dalam keadaan akut : - Asma serangan akut - PPOK eksaserbasi - Gagal jantung dengan hiperaktifitas bronkus Pada penatalaksanaan jangka panjang : - Asma persisten sedang sampai berat - PPOK stabil - Bronkiektasis - Fibrosis kistik - Pencegahan infeksi Pneumocystis carinii Bentuk obat dan alat bantu Pemilihan bentuk obat dan alat bantu (MDI, DPI atau nebuliser) harus disesuaikan dengan kemampuan koordinasi gerakan pasien. Penggunaan di ruang gawat darurat lebih mudah dengan nebuliser. Dalam penggunaan jangka panjang bentuk MDI atau DPI lebih mudah. Nebuliser jet dapat digunakan untuk suspensi maupun solutio. Nebuliser ultrasound hanya dapat digunakan untuk solutio. Masker untuk wajah (facemask) sebaiknya tidak digunakan untuk kortikosteroid atau antikolinergik untuk mencegah efek samping akibat partikel obat yang tertinggal di kulit sekitar muka/wajah atau daerah mata. Jenis obat Obat akan selalu disesuaikan dengan diagnosis atau kelainan saat itu. Kortikosteroid digunakan sebagai anti inflamasi bukan bronkodilator jadi tidak digunakan pada keadaan akut. Sebaliknya beta2agonis merupakan bronkodilator yang digunakan pada keadaan akut; jika bronkodilatasi sudah tercapai, fungsinya dapat saja berkurang sehingga dapat timbul efek samping seperti tremor atau berdebar. Tidak setiap obat berbentuk solutio dapat digunakan untuk terapi inhalasi. Farmasi membuat khusus solutio untuk terapi inhalasi, antara lain beta2agonis, kortikosteroid tertentu, NaCl, antibiotik tertentu. Penggunaan obat secara kombinasi tidak dianjurkan kecuali diketahui tidak timbul reaksi antar obat tersebut. Obat obatan yang telah tersedia dalam kemasan terapi inhalasi antara lain : - beta2agonis misal salbutamol, terbutalin, fenoterol, formoterol, salmeterol - antikolinergik misal ipratroprium bromide, tiotropium - kortikosteroid misal budesonide, fluticasone - antibiotik misal tobramycin - prostacyclin Tempat perawatan Bila ditinjau dari tempat terapi inhalasi digunakan, dapat dibedakan : - terapi inhalasi di ruang gawat darurat - terapi inhalasi di ICU - terapi inhalasi di ruang rawat - terapi inhalasi di rumah atau perorangan. Ruangan terapi inhalasi dilaksanakan dapat menggambarkan tujuan terapi dan kondisi penderita, obat dan alat yang digunakan. Ruang Gawat Darurat Di ruang gawat darurat masalah respirasi yang sering ditemui adalah obstruksi bronkus sedang sampai berat. Obstruksi berat kadang kadang disertai dengan kesadaran menurun atau hipoksemi berat. Pada kondisi seperti ini keadaan mengancam jiwa adalah masalah utama, tindakan yang pertama dilaksanakan adalah membebaskan jalan napas dan oksigenasi. Nebuliser dengan bronkodilator, pemberian oksigen dan perbaikan posisi saluran napas penderita harus segera dilakukan.

T I N J A UA N PUST A K A
Pemberian dapat membantu melepaskan sputum yang mukoid. Penambahan antikolinergik dapat meningkatkan efek bronkodilatasi. Kortikosteroid atau antibiotik inhalasi tidak berfungsi dalam kondisi seperti ini. Pemilihan alat bantu inhalasi sangat penting, bila kesadaran masih baik pemilihan bentuk mouthpiece akan memberikan efek yang lebih maksimal, bila kesadaran menurun dapat digunakan masker oro-nasal. Ruang ICU Di sini biasanya pasien dalam mesin bantu napas. Pasien dengan sputum produktif dan mukoid dapat diberi inhalasi mukolitik, sebaiknya ditambahkan bronkodilator untuk mencegah bronkospasme. Dosis bronkodilator lebih kecil dari dosis untuk bronkodilatasi. Penggunaan steroid inhalasi diberikan untuk menunjang steroid sistemik pada kasus inflamasi saluran napas cukup nyata dan memerlukan terapi steroid jangka panjang, misalnya pada serangan asma berat atau PPOK eksaserbasi akut yang mempunyai respons positif dengan kortikosteroid. Antibiotik inhalasi hanya bermanfaat bila infeksi mukosa bronkus dapat terbukti, ( biasanya pada penggunaan mesin bantu napas yang sudah beberapa waktu). Penggunaan antibiotik untuk pencegahan/prevensi infeksi tidak direkomendasi karena dapat menyebabkan resistensi kuman. Inhalasi pulmonary vasodilator jangka pendek, misalnya prostacycline atau nitric oxide dapat menurunkan hipertensi pulmoner dan meningkatkan oksigenasi pada ARDS. Pemilihan alat nebuliser disesuaikan dengan tipe mesin bantu napas yang digunakan, tidak setiap tipe mesin bantu napas dapat digunakan untuk terapi inhalasi, bila dimodifikasi harus tetap diperhatikan mekanisme inhalasi yang terjadi, apakah dapat berefek maksimal. Ruang rawat Di ruang rawat penggunaan terapi inhalasi berdasarkan berbagai tujuan baik sebagai alat bantu diagnostik ataupun terapi. Diagnostik inhalasi dengan NaCl pekat dilakukan untuk induksi sputum sebagai salah satu cara pengumpulaan sputum untuk bahan pemeriksaan. Uji bronkodilator dilakukan untuk melihat kecukupan dosis bronkodilator. Pada umumnya terapi inhalasi di ruang rawat banyak dimanfaatkan untuk obstruksi saluran napas, bronkokonstriksi cepat teratasi dengan pemberian inhalasi yang adekuat, dosis maupun kekerapan pemberian. PEMILIHAN OBAT Obat yang digunakan dalan terapi inhalasi nebuliser berbentuk solutio, suspensi atau obat khusus yang memang dibuat untuk terapi inhalasi, seperti bronkodilator atau kortikosteroid. Kombinasi obat dalam terapi inhalasi sebaiknya dilakukan secara rasional. Obat berbentuk solutio tidak dapat dicampur dengan suspensi karena berat molekul yang berbeda tidak akan terdispersi menjadi partikel dengan maksimal. Sebagai pengencer sebaiknya digunakan NaCl karena bersifat fisiologis. EFEK SAMPING - Palpitasi, karena kelebihan dosis [ bronkodilator beta2agonis ] - Retensi CO2, bila menggunakan oksigen sebagai sumber tenaga nebuliser pada terapi inhalasi pasien PPOK dalam waktu yang lama - Depresi SSP bila menggunakan morfin - Bronkospasme pada beberapa obat - Glaukoma, pada penggunaan antikolinergik dengan masker - Mikosis kulit wajah bila menggunakan steroid inhalasi dengan masker - Kontaminasi mikroorganisme bila desinfeksi kurang - Kerusakan partikel obat bila menggunakan jenis nebuliser yang tidak sesuai - Batuk bertambah karena iritasi laring bila terdapat laringitis atau faringitis

DAFTAR PUSTAKA 1. ERS Workshop Medical Aerosol. Budapest 2005 2. ERS guideline on the use of nebulizer. Eur Respir J 2001;18:228-242 3. Device Selection and Outcome of Aerosol Therapy: Evidence Based Guidelines: American College of Chest Physicians/American College of Asthma, Allergy and Immunology. Chest 2005; 127;335-371

392

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

393

HASIL PENELITIAN

HASIL PENELITIAN
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Suatu permukaan datar yang tidak licin, sekurang-kurangnya sepanjang 22 meter, mesin pemutar kaset, kaset audio, pita meteran untuk mengukur jalur sepanjang 20 meter, kerucut - kerucut penanda batas jarak + 1 - 1,5 cm. Cara kerja dalam penelitian ini dengan pengukuran kapasitas maksimal O2 (VO2.max) menggunakan multistage fitness test, dengan langkah kerjanya sebagai berikut : a. Ukur jarak sepanjang 20 m dan beri tanda pada kedua ujungnya dengan kerucut - kerucut penanda jarak. b. Subjek penelitian disarankan agar melakukan latihan pemanasan dengan melaksanakan aktifitas seluruh anggota tubuh secara umum, sekaligus dengan beberapa macam latihan peregangan, terutama dengan menggerakkan otototot kaki. c. Testee siap di garis start, dan mesin pemutar kaset dihidupkan. d. Setelah pita kaset menyuarakan sinyal suara "tit" tunggal pada beberapa interval yang teratur. Testee diharapkan berusaha agar dapat sampai ujung yang berlawanan (diseberang) bertepatan dengan saat sinyal "tit" yang pertama berbunyi. e. Kemudian testee harus meneruskan berlari pada kecepatan seperti ini, dengan tujuan agar bisa sampai ke salah satu dari kedua ujung tersebut bertepatan dengan terdengarnya sinyal "tit" yang berikutnya. f. Setelah 1 menit, interval waktu di antara kedua sinyal "tit" akan memendek, sehingga kecepatan larinya harus semakin ditingkatkan. Kecepatan lari pada menit pertama disebut sebagai level 1. Kecepatan tiap level berlangsung ± selama 1 menit dan rekaman pitanya berangsur meningkat sampai ke level 21. Akhir dari setiap lari ulang – alik dari setiap level ditandai dengan suatu sinyal 3 kali berturut-turut. g. Testee harus selalu menempatkan satu kaki, baik tepat pada atau di belakang tanda meter ke-20 pada akhir setiap lari ulang - alik. h. Testee harus meneruskan larinya selama mungkin, sampai tidak mampu lagi mempersamakan larinya dengan kecepatan yang telah diatur oleh pita rekaman, sehingga testee secara sukarela harus menarik diri dari tes larinya. Pada saat ini dicatat testee sudah sampai ke level dan shuttle berapa. i. Hasilnya (level dan shuttle) dicocokkan dengan tabel Predicted Maximum Oxygen uptake Values for The Multistage Fitness Test untuk mengukur VO2.max. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel kemudian dilakukan uji statistik hasil pengukuran dengan menggunakan uji t. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang telah dilakukan pada 80 sampel yang latihan sepakbola dan tidak, dapat dilihat dari grafik 1 :
Nilai VO2 Max (ml/kg/menit)

52,905 + 4,446

30 20 10 0

Huldani
Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia

ABSTRAK Konsumsi oksigen maksimum merupakan parameter fisiologi dalam pemeriksaan standar untuk mengukur daya tahan kardiovaskuler yang merupakan salah satu komponen terpenting dari kesegaran jasmani. VO2.max merupakan kemampuan tubuh untuk mengambil, mengedarkan dan memanfaatkan oksigen secara maksimal. Sepakbola merupakan olahraga yang dapat meningkatkan daya tahan kardiovaskuler, karena dalam sepakbola memuat 4 komponen penting dari kesegaran jasmani yaitu, ketahanan jantung dan peredaran darah, kekuatan, ketahanan otot dan kelenturan. Salah satu cara untuk mengukur VO2.max yaitu dengan metode Multistage fitness test. Untuk mengetahui perbedaan VO2.max antara siswa yang latihan sepakbola dengan yang tidak, telah dilakukan penelitian analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive dengan analisis statistik berupa uji T. Sampel masing – masing berjumlah 40 orang. Hasil penelitian diperoleh thitung = 6,423 dan ttabel = 2,020 dengan taraf signifikan 0,05 sehingga thitung > ttabel. Artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara siswa yang latihan sepakbola dengan yang tidak latihan sepakbola.

Siswa yang latihan sepakbola

Siswa yang tidak latihan sepakbola

Grafik 1. Perbedaan VO2.max antara siswa yang latihan sepakbola dengan yang tidak latihan sepakbola.

Berdasarkan hasil perhitungan statistik, diperoleh thitung = 6,423 dan ttabel = 2,020 dengan taraf signifikan 0,05 sehingga thitung > ttabel , Jadi terdapat perbedaan yang bermakna antara siswa yang latihan sepakbola dengan yang tidak latihan sepakbola. Pada penelitian ini VO2.max siswa yang latihan sepakbola lebih besar dibanding yang tidak latihan. VO2.max merupakan parameter tingkat kesegaran jasmani, maka dapat dinyatakan bahwa tingkat kesegaran jasmani siswa yang latihan sepakbola lebih baik dibanding yang tidak latihan. Hasil penelitian ini tidak berbeda jauh dengan dengan hasil penelitian Miftah (13) yang menyimpulkan bahwa kelompok olahragawan mempunyai 90% kesegaran jasmani dengan kriteria cukup dan yang bukan olahragawan 60% kesegaran jasmani dengan kriteria cukup. Begitu pula penelitian Yuliani (14), menyatakan bahwa nilai VO2.max dari wanita usia 40 - 50 tahun yang mengikuti senam aerobik lebih besar dibandingkan yang tidak mengikuti senam aerobik. SIMPULAN Ada perbedaan VO2.max yang bermakna antara siswa yang latihan sepakbola dengan yang tidak latihan sepakbola di pondok pesantren Darul Hijrah, Kelompok siswa yang latihan sepakbola memiliki VO2.max yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok siswa yang tidak latihan sepakbola. SARAN Perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat besarnya pengaruh sepakbola terhadap VO2.max.
DAFTAR PUSTAKA Rincian Daftar Pustaka ada pada redaksi.

PENDAHULUAN Olahraga merupakan bagian integral dari pendidikan yang dapat memberikan sumbangan berharga bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia (1). Salah satu manfaat dari olahraga yaitu meningkatkan kesegaran jasmani (2). Unsur terpenting dari kesegaran jasmani adalah daya tahan kardiovaskuler (cardiovascular endurance) (2,3). Macam atau jenis aktifitas fisik menentukan nilai daya tahan kardiovaskular. Daya tahan kardiovaskular tersebut secara fisiologis dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik), umur, jenis kelamin, dan aktifitas fisik. Konsumsi Oksigen Maksimum (VO2-max) adalah parameter fisiologis yang sangat obyektif dan pengukurannya merupakan pemeriksaan standar untuk mengukur cardiovascular endurance (4-7). Sepakbola merupakan olahraga yang dapat meningkatkan cardiovascular endurance. Program latihan yang baik akan merefleksikan kemampuan pemain dalam bertanding(8). Seorang pemain sepakbola harus mampu menunjukkan kekuatan, kecepatan dan daya tahan selama 90 menit permainan(9,10), sehingga kadar VO2. max seorang pemain sangat berpengaruh(11,12). Diperlukan latihan minimal tiga kali dalam seminggu untuk memperoleh VO2. max yang baik(10).

Di pondok pesantren Darul Hijrah, terdapat beberapa macam kegiatan ekstra-kurikuler olahraga di antaranya adalah sepakbola, olahraga ini rutin dilakukan 3 sampai 4 kali dalam seminggu. Untuk mengetahui apakah olahraga sepakbola ini sudah bermanfaat bagi anggotanya, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan VO2.max siswa yang latihan fisik sepakbola dengan yang tidak latihan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan VO2.max antara siswa yang latihan sepakbola dengan yang tidak latihan sepakbola. METODE PENELITIAN Penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan pendekatan secara cross sectional, teknik purposive sampling, jumlah sampel adalah 80 orang siswa pondok pesantren Darul Hijrah Cindai Alus Martapura, Kalsel (masing-masing 40 orang yang latihan sepakbola dan yang tidak) dengan kriteria : Jenis kelamin laki-laki; Sehat jasmani, artinya pada saat penelitian probandus tidak sakit dan tidak mempunyai riwayat penyakit jantung dan paru; bagi sampel yang latihan sepakbola, telah mengikuti latihan secara teratur, 3-4 kali selama 45-60 menit dalam seminggu selama lebih dari 2 minggu; bagi sampel yang tidak latihan sepakbola, tidak mengikuti atau melakukan latihan olahraga.

394

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

45,905 + 6,517

Perbedaan VO2.max antara Siswa yang Latihan Sepakbola dengan yang Tidak Latihan Sepakbola di Pondok Pesantren Darul Hijrah

60 50 40

α =0 ,05

395

HASIL PENELITIAN

HASIL PENELITIAN
METODOLOGI Desain penelitian ini adalah untuk membandingkan suatu perangkat diagnostik dengan baku emas; dalam hal ini uji provokasi dengan salin hipertonik dibandingkan dengan uji menggunakan histamin. Penelitian dilakukan di Subbagian Pulmonologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM sejak November 2000 - November 2001. Setiap pasien asma yang berobat di Poliklinik Pulmonologi Anak dan berusia di atas 6 tahun menjalani uji provokasi dengan salin hipertonik dan dengan histamin. Kriteria inklusi adalah pasien sudah didiagnosis asma berdasarkan Konsensus Nasional penanganan asma anak, berusia di atas 6 tahun dan dapat melakukan uji fungsi paru dengan baik dan benar, bersedia mengikuti penelitian dengan mengisi informed consent, tidak menggunakan natrium kromoglikat, nedokromil, bronkodilator kerja cepat atau ipatropium bromida dalam 6 jam sebelum provokasi, tidak menggunakan bronkodilator lepas lambat dalam 12 jam sebelum provokasi dan dapat menggunakan spirometer dengan baik. Kriteria eksklusi adalah apabila nilai FEV1 kurang dari 65%. Uji provokasi salin hipertonik menggunakan larutan NaCl 4,5% produksi Otsuka, dilakukan sesuai dengan cara Anderson. Uji provokasi Menggunakan nebulizer ultrasonik dengan kecepatan antara 1,5 - 2 ml per menit. Canister diisi dengan 200 ml larutan salin 4,5%, bila berkurang harus diisi kembali agar volumenya tidak kurang dari 150 ml, canister dihubungkan dengan nebulizer. Sebelum uji dilakukan canister, tabung aerosol serta penutupnya ditimbang. Diberikan pemaparan awal memakai nebulizer ultrasonik selama 30 detik, semenit kemudian dilakukan pemeriksaan FEV1 sebanyak 2 atau 3 kali. Provokasi berikutnya 3 menit setelah yang pertama. Jika FEV1 menurun sebesar < 20%, maka waktu paparan ditingkatkan 2 kali lipat. Jika FEV1 menurun ≥ 20% atau setelah pemberian 23 ml salin hipertonis maka provokasi dihentikan. Periode inhalasi adalah 30 detik, 1 menit, 2 menit, 4 menit dan 8 menit. Setelah uji dilakukan, canister, tabung aerosol serta penutupnya ditimbang. Uji provokasi dikatakan positif jika terjadi penurunan FEV1 > 20% nilai prediksi; dikatakan negatif apabila setelah paparan inhalasi selama 8 menit selama proses tidak terjadi penurunan FEV1 ≥ 20% nilai prediksi. Hasilnya dicatat menggunakan formulir yang telah disediakan. Selain pencatatan uji provokasi, juga dilakukan penelusuran anamnesis dan pemeriksaan yang sudah pernah dijalani. Tanpa mengetahui hasil uji provokasi salin hipertonik sebelumnya, minimal 2 minggu kemudian pasien menjalani uji provokasi dengan histamin dengan cara standar. Dikatakan positif apabila selama proses provokasi terjadi penurunan FEV1 ≥ 20% dibanding prediksi. Dikatakan negatif apabila selama proses provokasi berlangsung tidak terjadi penurunan FEV1 ≥ 20% nilai prediksi atau setelah pemberian histamin dosis 8 mg/ml. HASIL Karakteristik pasien Terdapat 22 anak lelaki dan 8 anak perempuan dengan perbandingan 3:1. Usia berkisar antara 7 - 15 tahun dengan usia terbanyak 9 tahun. Asma yang terutama adalah asma episodik jarang (70,0%), tidak dijumpai asma persisten. Riwayat atopi keluarga didapatkan pada 70,0%, sedangkan atopi pasien 66,7%. Gejala yang selalu ada adalah batuk, sedangkan wheezing hanya dijumpai pada 36,7% pasien asma. Sebagian besar pasien tidak terganggu baik aktivitas maupun tidurnya (80,0%). Paparan terhadap rokok dijumpai pada 26,7%, sedangkan kapuk 50%, obat nyamuk 56,7%, bulu binatang 40,0%. Peningkatan IgE dan eosinofil total masing-masing dijumpai pada 70,0% dan 73,3% pasien asma. Uji kulit dilakukan pada 20 pasien dengan hasil uji positif pada 15/20 (75)% pasien, terutama (90%) positif terhadap tungau debu rumah.
Tabel 1. Karakteristik pasien Jumlah Lelaki n(%) Umur (tahun): • 6-<9 • 9-<12 • 12-<15 • >15 Klasifikasi asma: • AEJ • AES • Persisten Atopi pasien • Positif • Negatif Atopi keluarga • Positif • Negatif 16(72,7) 6(27,3) 5(62,5) 3(37,5) 15(68,1) 7(31,9) 5(62,5) 3(37,5) 14(63,6) 8(36,4) 0(0,0) 7(87,5) 1(12,5) 0(0,0) 3(13,7) 8(36,3) 8(36,3) 3(13,7) 0(0,0) 5(62,5) 2(25,0) 1(12,5) Perempuan n(%)

Uji Provokasi Bronkus dengan Salin Hipertonis
Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta

ABSTRAK Prevalensi asma makin meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia. Diagnosis asma berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang baku menggunakan uji provokasi dengan histamin atau metakolin. Mengingat histamin sulit didapat, maka dicari beberapa alternatif antara lain menggunakan salin hipertonis (NaCl 4,5%). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan sensitivitas dan spesifisitas uji provokasi salin hipertonis dibandingkan dengan histamin. Metodologi yang digunakan adalah desain uji diagnostik membandingkan uji provokasi salin hipertonis dengan histamin. Pasien yang telah didiagnosis asma berdasarkan kriteria Konsesus Nasional Penanganan Asma Anak manjalani uji provokasi dengan salin hipertonis atau dengan histamin; 30 pasien dengan salin hipertonik dan 22 pasien dengan histamin. Didapatkan bahwa usia terbanyak adalah 9 tahun dengan perbandingan lelaki dan perempuan adalah 3:1. Yang terbanyak menderita asma episodik jarang (70,0%). 70,0% dengan riwayat atopi pada keluarga sedangkan atopi pada pasien 66,7%. Uji provokasi bronkus dengan salin hipertonis menghasilkan 53,3% positif, sedangkan uji provokasi dengan histamin 68,2% positif. Berdasarkan derajat asma didapatkan bahwa pada asma episodik jarang 9/21(42,9) % positif terhadap salin hipertonis dan 9/15(60) % positif terhadap histamin. Sedangkan pada asma episodik sering masingmasing 7/9(77,8) % dan 6/7(85,7)% positif terhadap salin hipertonis dan histamin. Berdasarkan hasil di atas didapatkan sensitivitas 86,7% dan spesifisitas 85,7% dengan nilai prediktif positif 92,9% dan nilai prediktif negatif 75,0%. Uji provokasi bronkus menggunakan salin hipertonis dapat digunakan sebagai alternatif untuk diagnosis asma dengan nilai sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 86,7% dan 85,7%. Kata kunci: asma, uji provokasi bronkus, salin hipertonik

PENDAHULUAN Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, sempit dada dan batuk khususnya pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat reversibel baik spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi ini juga berhubungan dengan hipereaktivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsangan.1 Definisi di atas sehari-hari sukar diterapkan. Untuk itu Unit Kerja Koordinasi (UKK) Pulmonologi PP IDAI merumuskan definisi asma sebagai batuk dan/atau mengi berulang dengan karakteristik timbul secara episodik, cenderung malam hari/dini hari (nokturnal), musiman, setelah aktifitas fisik, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien atau keluarganya.2

Diagnosis asma sebenarnya tidak sulit. Pasien umumnya mempunyai riwayat serangan yang berulang dan kadang-kadang hilang secara spontan. Apabila pasien tidak dalam serangan, pemeriksaan fisik, spirometri dan foto toraks dapat normal walaupun anamnesis mencurigakan adanya asma. Dalam hal/ keadaan ini perlu dilakukan uji provokasi bronkus. Uji provokasi bronkus bertujuan untuk mengetahui ada/tidaknya hipereaktivitas bronkus, suatu kelainan yang mendasari asma.4,5 Diketahui ada beberapa macam uji provokasi bronkus berdasarkan jenis rangsangan dan cara pemberiannya. Cara yang telah diketahui dan digunakan secara umum adalah menggunakan histamin dan metakolin serta uji beban kerja; sedangkan cara lain adalah dengan inhalasi salin hipertonis yang akhir-akhir ini makin diminati. 4,6,7 Penelitian ini mengenai uji provokasi bronkus dengan inhalasi salin hipertonis untuk dibandingkan sensitivitas dan spesifisitasnya terhadap uji menggunakan histamin.

396

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

397

HASIL PENELITIAN
Hasil positif uji provokasi dengan salin hipertonik dijumpai pada 16/30(53,3)% pasien sedangkan pada provokasi dengan histamin dijumpai pada 15/22(68,2)% pasien. Apabila dirinci lebih jauh ternyata pada asma episodik jarang dijumpai positif pada 9/21(42,9)% pasien, sedangkan pada asma episodik sering pada 7/9(77,9)% pasien (tabel 2). Pada penelitian ini hanya 22 pasien saja yang diuji provokasi dengan histamin karena keterbatasan bahan uji.
Tabel 2. Sebaran provokasi dengan salin hipertonik berdasarkan derajat asma Salin hipertonik (n=30) Positif (%) AEJ AES Asma persisten 9(42,9) 7(77,8) Negatif (%) 12(57,1) 2(22,2) Histamin (n=22) Positif (%) 9(60,0) 6(85,7) Negatif (%) 6(40,0) 1(14,3)

Usia pasien pada penelitian ini di atas 7 tahun mengingat anak usia di bawah 7 tahun belum dapat menjalani pemeriksaan uji fungsi paru dengan benar. Kanengiser9 dan Crenesse,10 mendapatkan data bahwa pemeriksaan spirometri atau uji fungsi paru pada anak 3-5 tahun harus hati-hati diinterpretasi. Gejala yang selalu ada adalah batuk dan 36,7 % pasien pernah mengalami wheezing. Hal ini sesuai dengan definisi asma berdasarkan Konsensus Nasional Penanganan Asma Anak,2 maupun konsensus internasional.11 Entri atau gejala awal yang harus diwaspadai adalah batuk dan atau mengi. Batuknya bersifat episodik (berulang), terutama pada malam hari, dan kadangkadang dapat sembuh dengan atau tanpa pengobatan. Gangguan tidur maupun aktifitas sehari-hari yang kadang-kadang saja dapat sesuai dengan diagnosis asma. Sebagian besar asma pada penelitian ini adalah asma episodik jarang (70,0%), tidak dijumpai asma persisten. Pada asma episodik jarang biasanya memang tidak dijumpai gangguan tidur maupun aktifitas sehari-hari.1,2,11 Peran paparan terhadap rokok, kapuk, obat nyamuk dan bulu binatang sesuai dengan kepustakaan; hal di atas merupakan alergen yang sering mencetuskan serangan asma. Tungau debu rumah merupakan alergen yang tersering. Di antara hasil uji kulit yang positif ternyata 90,0% positif terhadap tungau debu rumah. Atopi keluarga merupakan faktor yang penting untuk terjadinya asma, demikian pula atopi pada pasien itu sendiri. Atopi pada pasien terutama berupa urtikaria dan rinitis. Hal ini sesuai kepustakaan 8,12. Kadar Ig E dan eosinofil meningkat pada 70,0% dan 73,3% pasien. Sebenarnya peningkatan eosinofil total dan IgE bukan lagi merupakan patokan karena beberapa produk eosinofi seperti ECP dan EDN diketahui lebih spesifik. Sayangnya pemeriksaan tersebut belum dapat dilakukan di Indonesia, sehingga secara kasar peningkatan eosinofil total dapat digunakan, meskipun tidak berbanding lurus dengan peningkatan ECP maupun EDN.13 Pada anak di atas 5 tahun biasanya dilakukan uji kulit terhadap beberapa alergen sebagai kelengkapan pembuktian adanya atopi pada pasien.12 meskipun tidak selalu sesuai dengan kenyataan karena struktur kulit berbeda dengan keadaan saluran nafas. Pada penelitian ini didapatkan 75,0% uji kulitnya positif yang identik dengan adanya atopi pada pasien. Sebagian besar pasien pada penelitian ini adalah asma episodik jarang, sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa 70-75% asma adalah asma episodik jarang. Adanya asma yang menetap sampai usia 7 tahun mungkin karena beberapa faktor yang berperan seperti awitan yang dini, seringnya paparan terhadap alergen, faktor atopi, dan adanya penyakit penyerta seperti sinusitis. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.8,14

0(0,0)

0(0,0)

0(0,0)

0(0,0)

Terdapat 13 pasien yang positif terhadap keduanya (tabel 3).
Tabel 3. Hubungan antara provokasi salin hipertonik dengan provokasi histamin Histamin Total Positif Salin hipertonik Positif Negatif 13 2 Negatif 1 6 14 8

Total

15

7

22

Sensitivitas Spesifisitas PPV NPV

: : : :

13/15 (86,7%) 6/7 (85,7%) 13/14 (92,9%) 6/8 (75,0%)

DISKUSI Karakteristik pasien Pada penelitian ini didapatkan perbandingan antara lelaki dan perempuan adalah 3:1. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang mendapatkan bahwa pada asma anak sampai usia pubertas, lelaki lebih banyak dijumpai. Perbedaan ini sampai saat ini belum dapat diterangkan, namun diduga karena kaliber atau ukuran saluran napas pada anak lelaki sampai usia tersebut lebih kecil dibandingkan perempuan.8

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

399

HASIL PENELITIAN
Hubungan salin hipertonik dan histamin Diagnosis asma pada anak yang berusia di bawah 5 tahun agak sulit meskipun kadang-kadang gejalanya sangat jelas. Pada anak di atas 5 tahun, biasanya lebih mudah apabila terdapat fasilitas spirometri untuk uji fungsi paru dan uji provokasi. Uji provokasi dapat dilakukan dengan zat farmakologis seperti histamin dan metakolin atau cara lain non farmakologis seperti beban kerja, udara dingin, dan salin hipertonik.15-17 Uji provokasi dengan histamin atau metakolin dianggap sebagai baku emas untuk diagnosis asma; tetapi mengingat histamin dan metakolin sulit didapat dan mungkin dilarang, beberapa ahli mencoba dengan salin hipertonik4. Dasar penggunaan salin hipertonik adalah bahwa keadaan hiperosmoler saluran nafas dapat mengakibatkan terjadinya bronkokonstriksi. Mekanisme tersebut di atas telah diketahui sebagai penyebab asma yang terinduksi oleh latihan (exercise induced asthma/EIA); selama hiperventilasi terjadi kehilangan cairan di jalan nafas sehingga mengakibatkan hiperosmolaritas airway lining fluid yang bisa berperan sebagai stimulus terjadinya bronkokonstriksi.7,18,19 Mekanisme yang tepat mengapa rangsangan hiperosmoler akan menyebabkan bronkokonstriksi masih belum jelas; diduga karena hiperosmolaritas memprovokasi pelepasan mediator dari sel mast mukosa yang mengakibatkan bronkokonstriksi. Selain itu rusaknya epithelial tight junction akibat perbedaan gradien osmotik akan mengakibatkan terpaparnya ujung-ujung saraf sensoris di jalan nafas yang akan menginduksi terjadinya refleks bronkokonstriksi.20 Hipotesis di atas didukung oleh penelitian-penelitian in vitro yang memperlihatkan adanya pelepasan histamin dari sel mast akibat pemberian salin hipertonis, dan bronkokonstriksi yang diinduksi oleh salin hipertonis ini dapat dihambat dengan pemberian obat-obat yang menstabilkan sel mast seperti sodium kromoglikat dan terfenadin.21 Histamin ini dapat secara langsung menyebabkan bronkokonstriksi maupun secara tidak langsung menyebabkan refleks bronkokonstriksi melalui nervus vagus.16 Pada penelitian ini didapatkan sensitivitas 86,7% dan spesifisitas 85,7%. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang mendapatkan sensitifitas 72-85%, sedangkan spesifisitas 85-100%. Dengan hasil tersebut maka tampaknya uji provokasi salin hipertonik dapat dilakukan sebagai alternatif untuk diagnostik asma. Bila ditelusuri lebih jauh, uji provokasi dengan salin hipertonik yang negatif ternyata sebagian besar pada asma episodik jarang. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa salah satu kelemahan uji provokasi salin hipertonik adalah kurang sensitif terhadap asma episodik jarang.22 Hasil uji provokasi dengan histamin dapat dibagi menjadi ringan, dan berat berdasarkan PC20 (konsentrasi histamin yang dibutuhkan untuk menurunkan nilai FEV1 sebanyak 20 persen) yaitu kurang dari 2 mg/ml disebut berat sedangkan di atas 2 mg/ml dianggap ringan. Pada uji provokasi dengan salin hipertonik belum ada patokan serupa.16 SIMPULAN Uji provokasi bronkus dengan salin hipertonis 4,5 % merupakan uji yang mudah dilakukan, mudah didapat, aman, cepat, dapat diulang, mudah diterima oleh subyek dan memberikan hasil yang sama atau tidak jauh berbeda dengan uji provokasi yang sudah lebih dahulu sering dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian ini, uji provokasi dengan salin hipertonik dapat digunakan sebagai alternatif untuk diagnosis asma dengan sensitivitas 86,7% dan spesifisitas 85,7%. Disarankan untuk melakukan penelitian yang sama dengan jumlah sampel yang lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA
1. Taking a new look at asthma. Disampaikan pada Global strategy for athma management and prevention NHLBI/WHO Workshop: Asthma management and prevention, Global initiative for asthma. 2. Unit Kerja Koordinasi (UKK) Pulmonologi PPIDAI Indonesia. Tinjauan ulang konsensus nasional penanganan asma pada anak. Disampaikan pada Konsensus nasional asma UKK Pulmonologi IDAI, Bandung, Desember 1998. 3. Nishimura H, Mochizuki H, Tokuyama K, Morikawa A. Relationship between bronchial hyperresponsiveness and development of asthma in children with chronic cough. Pediatr Pulmonol 2001; 31:412-8. 4. Araki H, Sly PD. Inhalation of hypertonic salines as a bronchial challenge in children with mild asthma and normal children. J Allergy Clin Immunol 1989; 84:99-107. 5. Spector SL. Bronchial provocation test. Weiss EB, Stein M, penyunting. Bronchial asthma: Mechanism and therapeutics; edisi ke-3. Little, Brown; 501-12 6. Riedler J, Reade T, Dalton M dkk. Hypertonic saline challenge in an epidemiologic survey of asthma in children. Am J Respir Crit Med 1994; 150:1632-9. 7. Smith CM, Anderson SD. Inhalational challenge using hypertonic saline in asthmatic subjects: a comparison with responses to hyperpnoea, metacholine and water. Eur Respir J 1990: 3:144-51. 8. Martinez FD. Risk factors for the development of asthma. Dalam: Naspitz CK, Szefler SJ, Tinkelman DG, Warner JO, penyunting. Textbook of Pediatric Asthma. London: Martin Dunitz; 2001. h.62-82. 9. Kanengiser S, Dozor AJ. Forced expiratory maneuvers in children aged 3 to 5 years. Pediatr Pulmonol 1994; 18:144-9. 10. Crenesse D, Berlioz M, Bourrier T, Albertini M. Spirometry in children aged 3 to 5 years: Reliability of forced expiratory maneuvers. Pediatr Pulmonol 2001; 32:56-61. 11. Warner JO, Naspitz CK, Cropp GJA. Third international pediatric consensus statement on the management of childhood asthma. Pediatr Pulmonol 1996; 25:1-17. 12. Woolcock A, Keena V, Peat J. Definition, classification, epidemiology and risk factors. Dalam: , O Byrne PM, Thomson NC, penyunting. Manual of asthma management, edisi ke-2. London: WB Saunders, 2001.h.3-18. 13. Reijonen TM, Korppi M, Kuikka L, Savolainen K, Kleemola M, Mononen I, et al. Serum eosinophil cationic protein as a predictor of wheezing after bronchiolitis. Pediatr Pulmonol 1997; 23:397-403. 14. Warner JO. Prediction and prevention of asthma. Dalam: Naspitz CK, Szefler SJ, Tinkelman DG, Warner JO, penyunting. Textbook of Pediatric Asthma. London: Martin Dunitz; 2001. h.359-76. 15. Schoor JV, Joos GF, Pauwels RA. Indirect bronchial hyperresponsiveness in asthma: mechanisms, pharmacology and implications for clinical research. Eur Respir J 2000; 16:514-33. 16. American Thoracic Society. Guidelines for methacoline and exercise challenge testing-1999. Am J Respir Crit Care Med 2000; 161:309-29. 17. Avital A, Godfrey S, Springer C. Exercise, methacoline, and adenosine 5”-monophosphate challenges in children with asthma: Relation to severity of the disease. Pediatr Pulmonol 2000; 30:207-14. 18. Anderson SD, Robertson CF, Riedler J. The use of hypertonic saline aerosol for evaluating bronchial hyperresponsiveness for paediatric epidemiological studies. New York. 1994:1-13. 19. Marker HK, Walls AF, Goulding D dkk. Airway effects of local challenge with hypertonic saline in exercise-induced asthma. Am J Respir Crit Med 1994; 149:1012-9 20. Strauch E, Neupert T, Ihorst G, Vans Gravesande KS, Bohnet W, Hoeldke B, et al. Bronchial hyperresponsiveness to 4,5% hypertonic saline indicates a past history of asthma-like symptoms in children. Pediatr Pulmonol 2001; 31:44-50. 21. Silber G, Proud D, Warner J dkk. In vivo release of inflammatory mediators by hyperosmoler solutions. Am rev respir Dis 1988;137:606-12. 22. Riedler J, Gamper A, Eder W dkk. Prevalence of bronchial hyperresponsiveness to 4,5% saline and relation to asthma and allergy symptoms in Austrian children. Eur Respir J 1998; 11:355-60.

TINJAUAN PUSTAKA

Asma Bronkial Hubungannya dengan GERD
A. Dina Abidin H. Mahdi
Sub Bagian Alergi - lmunologi - Bagian llmu Penyakit Dalam RSUPN Dr. Cipto Mangunkusurno Jakarta

Asma bronkial GERD dapat menyebabkan gangguan traktus respiratorius, jantung dan otot laring melalui tiga mekanisme utama : 1. Refluks gastroesofageal dengan atau tanpa aspirasi dapat menyebabkan reaksi inflamasi (teori Crausz refluks). 2. Stimulasi pada refleks esofagopulmonaris/esofagolaringeal; refleks dari esofagus bagian distal menstimulasi refluks vagal yang menyebabkan bronkhokonstriksi (reflux theory). Mekanisme lain adalah refluks esofagobronkhial: asam dari esofagus dapat menstimulasi reseptor asam yang sensitif di saluran napas bagian atas, menimbulkan bronkhospasme. 3. Mekanisme lain yang memegang peranan adalah reflux esofagobronkhial. Mekanisme ini untuk mencegah reflux ke larings-farings, dapat menyerupai gejala ekstraesofageal sama seperti yang ditemukan pada GERD. 4. Asam di esofagus bagian bawah akan merangsang reseptor asam yang sensitif, menimbulkan reaksi saraf bagian atas. Saat ini banyak hal belum diketahui apakah serabut aferen pada manusia dapat menyebabkan nyeri dada, batuk dan asma. Teori ini didukung oleh studi pemberian sedikit asam ke dalam traktus respiratorius akan menyebabkan spasme bronkhus. 5. Menurut Gastal refluks ke dalam esofagus distal (GERD) sering ditemukan pada asma bronkial dan batuk kronik, dapat menyebabkan spasme bronkial; tetapi jika asam tersebut mengenai esofagus bagian proximial dapat menyebabkan nyeri dada. 6. Sebab lain GERD adalah inkompetensi LES dengan obstruksi intestinal kronik, pseudo obstruksi, kehamilan, merokok, obat-obat anti kolinergik, obat relaksan otot polos (beta adrenergik) aminofilin, nitrat, calcium channel blocker, inhibitor fosfodiesterase yang meningkatkan siklus cAMP, siklus GMP (sildenafil), operasi yang merusak LES, esofagitis atau kontraksi esofagus karena tonus reflex vagal akibat berkurangnya relaksasi LES oleh distensi lambung. Peningkatan tonus LES berhubungan dengan GERD. Refleks yang sama bila terjadi kembung; selain inkompetensi batas (barrier), mudah terjadi refluks isi lambung.

PENDAHULUAN Gastrooesphageal Reflux Diseases (GERD) adalah penyakit yang didapatkan pada 60% penderita asma bronkial.(1) Gejala GERD disebabkan oleh aliran balik asam lambung dan isi lambung lainnya ke esophagus akibat inkompetensi sawar/barrier pada batas (junction) esophagus dan lambung. GERD dapat menyebabkan gejala ekstra esofageal yang sering luput dari perhatian. Asma bronkial adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas dengan banyak sel dan elemen seluler yang memegang peranan penting terutama mastosit, eosinofil, T limfosit, makrofag, netrofil dan epitel; inflamasi ini menyebabkan episode mengi, sesak napas, dada terasa penuh, batuk, terutama pada malam atau pagi hari. Episode ini biasanya berhubungan dengan obstruksi saluran pernapasan yang bisa berubah dengan atau tanpa pengobatan (spontan). Inflamasi ini menyebabkan hipersensitifitas bronkus terhadap berbagai stimulasi. Bukti terakhir menyatakan adanya ’ ’ fibrosis subbasement pada beberapa pasien asma dan ini memberi kontribusi pada kelainan faal paru yang persisten. PATOFISIOLOGI Pada keadaan normal terdapat mekanisme anti refluks lower esophageal sphincter yang terdiri dari otot sphincter esofagus bagian bawah (LES) diafragma dan dari lokasi anatomis/batas gastroesofageal di bawah hiatus diafragma. Refluks biasanya terjadi jika perbedaan tekanan antara LES dan laring tidak ada lagi (hilang); hal ini dapat disebabkan oleh menurunnya kekuatan otot LES yang kadang-kadang tak diketahui sebabnya.

400

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

401

TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran klinis Rasa asam di mulut dan nyeri ulu hati (heartburn) akibat kontak refluks dengan mukosa yang sensitif, menyebabkan inflamasi dan disfagi. Zat refluks tersebut dapat mengenai faring dan mulut, menyebabkan laringitis, suara parau dan pneumonia aspirasi, fibrosis paru atau asma kronik. Banyak penderita GERD yang asimptomatis atau mengobati sendiri dan tidak mencari pertolongan sampai terjadi komplikasi berat. Gejala GERD tidak hanya gastroesofageal tetapi juga ekstra esofageal terutama berhubungan dengan asma dan batuk kronik. Menurut penelitian Platova dkk (2001) pada 14 penderita asma yang berbeda-beda beratnya, pengobatan GERD mengurangi keluhan asma seperti batuk dan meningkatkan kualitas hidup penderita meskipun tidak mempunyai efek pada faal paru dan juga tidak mengurangi dosis pengobatan terhadap asmanya. Peneliti lain (Yuwanto, Chudahman Manan 2002) menemukan bahwa pengobatan GERD akan mengurangi dosis pengobatan asma dan meningkatkan faal paru. Pengobatan kasus GERD yang ringan cukup dengan mengubah gaya hidup dan obat anti sekretan yang dijual bebas. Pada kasus sedang, simetidin 300 mg b.i.d atau famotidin 20 mg b.i.d atau ranitidin 150 mg b.i.d untuk 6-12 minggu sangat efektif mengurangi gejala klinis. Pada kasus berat, omeprazol 40 mg/hari, lansoprazol 30 mg/hari selama 8 minggu dapat menyembuhkan gastritis erosiva pada 90 % penderita. Operasi antirefluks hanya dilakukan jika refluks resisten terhadap pengobatan; pada anak-anak, cara laparoskopi fundaplication memberi hasil yang baik. Indikasi operasi pada anak adalah bronkopneumonia berulang (29% kasus), apnoe (18% kasus), gangguan nutrisi (17% kasus), asma bronkial (15% kasus), striktur esofagus (8%), sufokasi laringitis (6%). SIMPULAN Refluks gastroesofageal ditemukan pada 45-89 % penderita asma bronkial, mungkin disebabkan oleh stimulasi esofagopulmonaris atau refluks esofageal, refleks vagal- bronkhokonstriksi dan obat-obat asma yaitu obat golongan antikholinergik, beta adrenergik (relaksasi otot polos), aminofilin, phosphodiesterase inhibitor yang meningkatkan siklus AMP/siklus GMP yang dapat menyebabkan inkompetensi otot LES (Lower Esophagus Sphincter). Tujuan utama pengobatan adalah mengobati asma dan GERD, sekaligus mengurangi refluks esofageal dan memproteksi mukosa esofagus. Telah terbukti bahwa mengobati GERD pada penderita asma bronkial akan mengurangi keluhan subyektif seperti batuk dan pirosis (70% kasus) serta mengurangi serangan asma( 60%), yang akan memperbaiki kualitas hidup penderita.

PENGOBATAN ASMA BRONKIAL Managemen pengobatan asma didasarkan atas : Menegakkan diagnosis asma yang benar, identifikasi dan menghindari faktor pencetus asma, edukasi pada keluarga, seleksi pengobatan yang tepat, monitor serta modifikasi menajemen asma untuk mengkontrol asma dalam jangka waktu panjang. Pengobatan agresif dan mencegah eksaserbasi asma harus segera dilakukan secara efektif, efisien untuk meningkatkan kualitas hidup penderita. Obat yang dipakai adalah : 1. Agonis reseptor adrenergik beta dua baik yang berefek kerja singkat (short acting): metaproterenol, terbulalin, albuterol; maupun yang bekerja lama (long acting) seperti salmeterol, baik secara oral maupun inhalasi/(MDI) yang memberi relaksasi otot polos termasuk LES. 2. Kortikosteroid : mempunyai efek anti inflamasi, modulasi fungsi lekosit, regulasi nuklear protein, reseptor katekholamin, eikosanoid dan integritas vaskular entotkhelial. Efek sampingnya gastritis dan ulkus peptikum. Ada dua cara pengobatan yaitu inhalasi dan oral. Selain itu juga dapat dikombinasi dengan beta agonis dan lekotriene modifiers. 3. Teofilin oral juga dipakai pada asma, kadang-kadang digabung dengan steroid. Metilxanthin menginhibisi ensim fosfodiesterase, menyebabkan pengingkatan cAMP. Yang sering digunakan adalah aminofilin dan teofilin. Efek sampingnya gastritis. 4. Obat lain ialah : kromolin sodium/nedokromil. 5. Terapi imunologik : Anti imunoglobulin E, interleukin, reseptor, anti leukotrien, IL-4R dan E 25 sebagai target mediator inflamasi yang penting bagi pengobatan asma di masa mendatang. ASMA BRONKIAL - hubungannya dengan GERD Gastroesophageal reflux (GERD) dan asma bronkial merupakan penyakit yang sering didapatkan bersamaan. Asma bronkial dapat mengenai semua orang; pada dewasa didapatkan frekuensi 3-10%, sedangkan gastroesophageal reflux didapatkan pada 45-89% penderita asma, hal ini mungkin disebabkan antara lain oleh refluks esofageal, refluks esofagopulmoner dan akibat obat relaksan otot polos yaitu golongan beta adrenergik, aminofilin, inhibitor fosfodiesterase akan menyebabkan inkompetensi sekunder lower sphincter (LES) esofagus.

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

403

TINJAUAN PUSTAKA
SARAN Asma bronkial dengan GERD harus bersama-sama diobati untuk menghindari komplikasi yang lebih berat karena pengobatan terhadap refluks mempunyai efek pada fungsi paru dan juga mengurangi dosis obat asmanya.
DAFTAR PUSTAKA
1. A Dina Abidin Mahdi. Penatalaksanaan penyakit alergi. Airlangga University Press 1997. 2. Lapova M et al. Gastroesophageal reflux as the basis of recurent and chronic respiratory diseases II, Destha Klinika 2. Lekar le fakulty university karlovy aFN, Praha motal 1 lesk pediatry 1991 mar 46(3) 142-145. (Article in Czech) 3. Field KSM et al. Prevalence of gatroesophageal reflux symptons in asthma. Chest 1996; 109:316-322. 4. Fenerty MB. Extraesophageal GERD : Presentation and approach to treatment GI in the next century, clinical advances in esophageal and gastro intestinal disorder. AGA. Post Graduate Course, Orlando, Florida 1999.1-10. 5. Field SK, Sutherland. Does medical antireflux therapy improve asthma in asthmatic with gastroesophageal reflux. A critical review of literature. Chest 1998;115: 654-9. 6. Juwanto, Chudahman Manan. Clinical manifestation and management of extraesophageal gastroesophageal reflux disease. Gastroenterology Hematology and Digestive Endoscopy 2002;3(2):17-23. 7. Hudviks datter et al. Habitual coughing and its assosiations with asthma, anxiety and gastroesophageal reflux. Chest 1996.109.1262-7. 8. Meier MJH et al. Does omeprazole improve respiratory function in asthmatic with gastroesophageal reflux ? Digestive disease and science 1994.39:2127-33. 9. Plattova Z, Dolina et al. Pathologic gastroesophageal reflux in patients with bronchial asthma. Interni gastroenterologicka klinika FNBno, proeoviste Bohunice. Vintr hek,2001 Jul 47 (7 ) : 450-3. (Article in Czech) 10. Snajdouf S et al. Hate result after surgical treatment of gastroesophageal reflux in childhood. Klinikal desthe chirurgic FN molal 2 LFUK, subkatedra desthe chirurgic, IPVZ, Praha. Rozl chir 1997, Agust, 76(8): 370-3. (Article in Czech)

HASIL PENELITIAN

Pengaruh Rinitis Alergi
(ARIA WHO 2OO1)

terhadap Gangguan Fungsi Ventilasi Tuba Eustachius
I Wayan Karya, Aminuddin Aziz, Sutji Pratiwi Rahardjo, Nani Iríani Djufri
Bagian / SMF Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, Indonesia

ABSTRAK Latar Belakang : Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat serta dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup penderitanya. Salah satu akibat rinitis alergi adalah gangguan fungsi tuba Eustachius. Tujuan Penelitian: Mengetahui pengaruh rinitis alergi sesuai klasifikasi ARIA WHO 2001 terhadap fungsi ventilasi tuba Eustachius dan membandingkannya dengan kelompok kontrol. Metode Penelitian : Dilakukan pemeriksaan timpanometri pada 30 orang penderita rinitis (ARIA WHO 2001) dan 30 orang kontrol normal. Seluruh penderita rinitis alergi sebelumnya menjalani tes cukit kulit dengan alergen inhalan. Hasil : Di kelompok kasus hanya ditemukan 1 orang (3,3%) dengan timpanogram tipe B, 3 orang (10,0%) tipe C dan sisanya 26 orang (86,7%) tipe A. Sedangkan di kelompok kontrol hanya ditemukan timpanogram tipe A. Hanya pada rinitis alergi persisten sedang berat didapat timpanogram tipe B dan C. Kesimpulan : Rinitis alergi (ARIA WHO 2001) berpengaruh tidak signifikan terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius. Kata Kunci: rinitis alergi, ventilasi tuba Eustachius, timpanometri

PENDAHULUAN Rinitis alergi merupakan penyakit hipersensitivitas tipe 1 yang diperantarai oleh Ig E pada mukosa hidung dengan gejala karakteristik berupa bersin-bersin, rinore encer, obstruksi nasi dan hidung gatal1. Berdasarkan atas saat pajanan rinitis alergi diklasifikasikan menjadi rinitis alergi musiman (seasonal) dan rinitis alergi tahunan (perennial). ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) bekerja sama dengan WHO 2001 membuat klasifikasi baru rinitis alergi berdasarkan parameter gejala dan kualitas hidup penderita. Berdasarkan atas lama dan beratnya penyakit, rinitis alergi diklasifikasikan menjadi intermiten ringan, intermiten sedang berat, persisten ringan dan persisten sedang berat1. Rinitis alergi berdampak pada penurunan kualitas hidup penderitanya, penurunan produktifitas kerja, prestasi di sekolah, aktifitas sosial dan malah pada penderita dengan alergi berat dan lama dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti depresi 2,3,4. Rinitis alergi juga dapat mengganggu fungsi fisiologik tuba Eustachius5. Gangguan fungsi ventilasi tuba menyebabkan perubahan tekanan udara telinga tengah menjadi tekanan negatif.

Mekanisme gangguan fungsi tuba Eustachius pada rinitis alergi didasari atas kesamaan antara mukosa rongga hidung, nasofaring, tuba Eustachius dan telinga tengah, sehingga proses inflamasi alergi di mukosa hidung dapat berlanjut ke mukosa nasofaring dan tuba Eustachius6. Gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius dapat dideteksi melalui pemeriksaan timpanometri. Dengan melihat tekanan udara dengan compliance maksimum pada timpanogram maka tekanan telinga tengah dapat ditentukan. Jika dalam batas normal berarti fungsi ventilasi tuba Eustachius dikatakan normal sebab tuba Eustachius dapat menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara sekitarnya. Jika tuba Eustachius tersumbat, maka akan terjadi tekanan negatif tinggi dalam telinga tengah akibat absorpsi gas oleh mukosa telinga tengah. Tekanan negatif lebih dari -100 mm H2O menandakan adanya gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius7-10. Pada membran timpani adesiva atau ruang telinga tengah dipenuhi cairan pada otitis media serosa, maka tidak ada titik compliance maksimum sehingga timpanogramnya menjadi mendatar.

404

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

405

HASIL PENELITIAN
Penelitian mengenai gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius pada penderita rinitis alergi telah dilaporkan oleh Lazo Saenz dkk. Pada 60 orang penderita rinitis alergi dan 50 orang normal dilakukan pemeriksaan timpanometri. Di kelompok penderita rinitis alergi didapatkan 15,5% dengan timpanogram abnormal ( 13% tipe C dan 3% tipe B) sedangkan di kelompok kontrol seluruhnya dengan timpanogram tipe A11. Kudelska dkk. melakukan pemeriksaan audiometri dan timpanometri pada 30 penderita rinitis alergi seasonal dan 30 penderita rinitis alergi perennial. Hasilnya pada penderita rinitis alergi perennial ditemukan gangguan pendengaran tipe konduktif 26,7% dengan gambaran timpanogram tipe B dan tipe C masing-masing 20% sedangkan pada penderita rinitis alergi seasonal ditemukan gangguan pendengaran tipe konduktif 10% dengan gambaran timpanogram tipe B 3,33% dan tipe C 6,67% 12. Mempertimbangkan dampak gangguan tuba Eustachius akibat rinitis alergi pada telinga tengah, maka perlu dilakukan deteksi fungsi ventilasi tuba Eustachius pada penderita rinitis alergi. BAHAN dan CARA Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional study. Sampel penelitian terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok kasus dan kelompok kontrol. Kelompok kontrol adalah penderita rinitis alergi yang datang ke Poliklinik THT-KL RS. Perjan Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar dengan hasil prick test alergen inhalan positif, berusia 17 sampai 60 tahun, membran timpani utuh, bebas obat antihistamin, kortikosteroid dan dekongestan minimal 5 hari, dan tidak pernah mendapat imunoterapi. Penderita rinitis alergi dengan infeksi saluran nafas atas, deviasi septum nasi berat, polip nasi stadium 2 dan 3, riwayat operasi telinga tengah, hidung, nasofaring dan tumor di sinonasal serta nasofaring tidak diikutkan dalam penelitian ini. Kelompok kontrol adalah orang tanpa kelainan THT secara klinis. Pengambilan sampel menggunakan tehnik purposive sampling. Pada penderita rinitis yang datang ke poliklinik THT dilakukan anamnesis, pemeriksaan THT, tes alergi, dan pemeriksaan timpanometri dengan alat impedance audio traveler tipe AA 222, dengan serial no. 128998 dan software version 1.09116 kalibrasi tahun 2005. HASIL PENELITIAN Sampel penelitian berjumlah 30 orang terdiri dari laki-laki 14 (46,7%) dan perempuan 16 (53,3%), berumur antara 17 - 60 tahun, rerata umur 27,9 tahun. Kelompok umur paling banyak adalah ≤ 20 tahun. Pada kelompok kasus 14 orang (46,7%) termasuk rinitis alergi persisten sedang berat, 11 orang (36,7%) persisten ringan, 4 orang (13,3%) intermiten ringan dan 1 orang (3,3%) intermiten sedang berat. Gambaran tipe timpanogram berdasarkan derajat rinitis alergi dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 dengan gambaran timpanogram terbanyak adalah tipe A. Tipe B hanya ada 1 (3,3%) dan tipe C 3 (10 %). Berdasarkan derajat rinitis alergi, semua kelainan timpanogram ada di kalangan penderita rinitis alergi persisten sedang berat.

Tabel 1. Distribusi tipe timpanogram telinga kanan pada kelompok kontrol dan kelompok kasus

Tipe Timpano gram

K a s u s
Kontrol Intermiten ringan 4 100,0% 0 0,0% 0 0,0% 0 0,0% 4 100,0% Persisten ringan 9 81,8% 2 18,2% 0 0,0% 0 0,0% 11 100,0% Intermiten sedang berat 1 100,0% 0 0,0% 0 0,0% 0 0,0% 1 100,0% Persisten sedang berat 11 78,7% 1 7,1% 0 0,0% 2 14,2% 14 100,0% Total 25 83,3% 3 10,0% 0 0,0% 2 6,7% 30 100,0%

A As

28 93,3% 2 6,7% 0 0,0% 0 0,0% 30 100,0%

B

C

Total p = 0,698

406

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

www.kalbe.co.id

HASIL PENELITIAN
Tabel 2. Distribusi tipe timpanogram telinga kiri pada kelompok kontrol dan kelompok kasus Tipe Timpano gram A As B C Total p = 0,787 Tabel 3. Distribusi hasil tes Valsava telinga kanan pada kelompok kontrol dan kelompok kasus K a s u s Tes Valsalva Kontrol Intermiten ringan 1 25,0% 3 75,0% 4 100,0% Persisten ringan 3 27,3% 8 72,7% 11 100,0% Intermiten sedang berat 1 100,0% 0 0,0% 1 100,0% Persisten sedang berat 2 14,7% 12 85,3% 14 100,0% Total 7 23,3% 23 76,7% 30 100,0% K a s u s Kontrol Intermiten ringan 3 75,0% 1 25,0% 0 0,0% 0 0,0% 4 100,0% Persisten ringan 11 100,0% 0 0,0% 0 0,0% 0 0,0% 11 100,0% Intermiten sedang berat 1 100,0% 0 0,0% 0 0,0% 0 0,0% 1 100,0% Persisten sedang berat 11 78,7% 1 7,1% 1 7,1% 1 7,1% 14 100,0% Total 26 86,7% 2 6,7% 1 3,3% 1 3,3% 30 100,0%

26 86,7% 4 13,3% 0 0,0% 0 0,0% 30 100,0%

Positif Negatif Total p = 0,258

15 50,0% 15 50,0% 30 100,0%

Tes Valsava positif pada telinga kanan kelompok kontrol 15 orang (50,0%) sedangkan pada kelompok kasus hanya 7 orang (23,3%). Penderita rinitis alergi intermiten ringan 1 orang (25,0%) dengan tes Valsava positif dan 3 orang (75,0%) negatif. Pada rinitis alergi persisten ringan 3 orang (27,3%) dengan tes Valsava positif dan 8 orang (72,7%) negatif. Hasil tes Valsava pada rinitis alergi persisten sedang berat didapat hanya 2 orang (14,7%) positif dan 12 orang (85,3%) negatif.
Tabel 4. Distribusi hasil tes Valsava telinga kiri pada kelompok kontrol dan kelompok kasus K a s u s Tes Valsalva Kontrol Intermiten ringan 0 0,0% 4 100,0% 4 100,0% Persisten ringan 3 27,3% 8 72,7% 11 100,0% Intermiten sedang berat 0 100,0% 1 0,0% 1 100,0% Persisten sedang barat 4 28,6% 10 71,4% 14 100,0% Total 7 23,3% 23 76,7% 30 100,0%

Positif Negatif Total p = 0,608

13 43,3% 17 56,7% 30 100,0%

Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa tes Valsava positif pada telinga kiri kelompok kontrol 13 orang (43,3%) dan hanya 7 orang (23,3%) pada kelompok kasus. Penderita rinitis alergi intermiten ringan dan intermiten sedang berat semuanya (100,0%) dengan tes Valsava negatif. Pada rinitis alergi persisten ringan 3 orang (27,3%) dengan tes Valsava positif, 8 orang (72,7%) negatif. Hasil tes Valsalva pada persisten sedang berat adalah 4 orang (28,6%) positif dan 10 orang (71,4%) negatif.

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

409

HASIL PENELITIAN
PEMBAHASAN Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang penderita rinitis alergi dan 30 orang kontrol berusia antara 17 - 60 tahun dengan rerata (mean) umur 27,97 tahun. Perempuan sedikit lebih banyak daripada laki-laki, terbanyak di kelompok umur ≤ 20 tahun; paling sedikit kelompok umur 51 - 60 tahun. Sesuai klasifikasi ARIA WHO 2001, penderita rinitis alergi persisten sedang berat merupakan sampel terbanyak pada penelitian ini yaitu 46,7% kemudian rinitis alergi persisten ringan (36,7%), intermiten ringan (13,3%) dan rinitis alergi intermiten sedang berat (3,3%). Alimah Y (2005) dalam penelitiannya juga mendapatkan rinitis alergi persisten sedang berat yang paling banyak yaitu 57,5% dari seluruh sampel. Hal ini karena rinitis alergi umumnya dianggap bukan penyakit yang amat serius bahkan sering diabaikan. Biasanya penderita baru datang memeriksakan diri apabila gejala-gejala rinitis alergi sudah berlangsung lama dan mengganggu aktifitas sehari-hari seperti ada gangguan tidur, kegiatan di sekolah / pekerjaan, bersantai maupun berolahraga atau telah timbul komplikasi rinitis alergi. Pada penelitian ini dilakukan timpanometri terhadap kedua kelompok sampel. Hasilnya menunjukkan bahwa pada penderita rinitis alergi didapatkan 1 orang (3,3%) timpanogram tipe B dan 3 orang (10,0%) timpanogram tipe C. Sedangkan pada kelompok kontrol semuanya dengan timpanogram tipe A dan tipe As. Angka ini hampir sama dengan hasil penelitian Lazo-Saenz,dkk. yang melakukan pemeriksaan timpanometri pada 80 orang rinitis alergi dan 50 orang normal sebagai kontrol, didapatkan 3% kelompok rinitis alergi dengan timpanogram tipe B dan 13% tipe C sedangkan pada kelompok kontrol semua dengan timpanogram tipe A. Bila dilihat dari klasifikasi rinitis alergi, timpanogram tipe B dan tipe C hanya didapatkan pada penderita rinitis alergi persisten sedang berat (4 orang -13,3%). Ini menunjukkan bahwa penderita tersebut telah mengalami gangguan ventilasi tuba Eustachius. Keadaan ini akibat proses inflamasi alergi di mukosa nasofaring dan tuba Eustachius yang berlangsung lama dan berat sehingga tuba tidak mampu menyeimbangkan tekanan telinga tengah dengan tekanan udara sekitarnya. Hasil uji statistik (Chi-Square, p < 0,05) antara tipe timpanogram dengan rinitis alergi (ARIA WHO 2001) pada telinga kanan dan kiri didapatkan nilai p yang tidak bermakna (kanan p = 0,698 dan kiri p = 0,787 ). Tabel 3 menunjukkan tes Valsava lebih banyak yang gagal di kelompok kasus (76,7%). Ini berarti tuba Eustachius pada penderita rinitis ini tidak mampu menyeimbangkan tekanan telinga tengah dengan udara sekitarnya yang lebih tinggi. Pada kedua pemeriksaan tes fungsi tuba ini, kegagalan proses ekualisasi karena obstruksi oleh edema mukosa tuba Eustachius dan muara tuba di nasofaring. Uji statistik (Chi-Square) antara tes Valsava kelompok kontrol dan kelompok kasus pada kedua telinga menghasilkan nilai p yang tidak bermakna (kanan p =0,258 dan kiri p =0,608). Selain itu, dilakukan juga pengujian terhadap klasifikasi, tipe timpanogram, tes Toynbee, dan tes Valsava antara telinga kanan dan telinga kiri. Dengan uji statistik Chi-Square didapatkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara telinga kanan dan telinga kiri pada rinitis alergi ( ARIA WHO 2001) dengan tipe timpanogramnya. Demikian pula pada tes Toynbee dan tes Valsava tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara telinga kanan dan telinga kiri. Semua nilai p yang tidak bermakna tersebut mungkin karena besar sampel penelitian yang merupakan jumlah minimal yang dapat digunakan untuk penelitian. SIMPULAN 1. Rinitis alergi (ARIA WHO 2001) tidak berpengaruh bermakna terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius dibandingkan dengan kelompok kontrol. 2. Berbagai derajat rinitis alergi (ARIA WHO 2001) tidak berpengaruh bermakna terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba Eustachius. SARAN 1. Meskipun ditemukan pengaruh yang tidak bermakna, pengaruh rinitis alergi terhadap gangguan fungsi ventilasi tuba tidak dapat diabaikan. 2. Penanganan rinitis alergi jangan hanya difokuskan pada gejala di hidung saja tetapi perlu juga diingat komplikasinya terhadap fungsi tuba Eustachius. 3. Perlu penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dengan metode dan alat lain untuk mendapat hasil yang lebih akurat.
KEPUSTAKAAN
1. Bousquet J, Cauwenberge P V, Khaltaev N. ARIA Workshop Group. WHO. Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma. J Allergy Clin Immunol. 2001, 108 (5 suppl); S147-S276. 2. Quraishi SA, Davies MJ, Craig TJ. Inflammatory Responses in Alergic Rhinitis: Traditional Approaches and Novel Treatment Strategies. JAODA 2004; 104 (5suppl):57-S15. 3. Roland P, McCluggage CM, Sciinneider GW. Evaluation and Management of Allergic Rhinitis: a Guide for Family Physicians. Texas Acad. Fam. Physicians 2001, 1- 15. 4. Virant FS. Allergic Rhinitis, Immunol. Allerg. Clin. North Am. 2000;20(2):265-282. 5. Mandel E, Casselbrant M, Fireman P. Otitis Media. In: Atlas of Allergies and Clinical Immunology 3th ed, Fireman P (ed.) Philadelphia: Mosby, Elsevier, 2002, 79 -93. 6. Restuti RD, Sosialisman. Otitis Media Efusi kaitannya dengan Rinitis Alergi. Dalam: Kumpulan Naskah Simposium Nasional Perkembangan Terkini Penatalaksanaan Beberapa penyakit Penyerta Rinitis Alergi. Malang. 2006, 1-9. 7. Ghosh MS, Kumar A. Study of Middle Ear Pressure in Relation to Eustachian Tube Patency. Ind J Aerospace Med 2002;46(2): 27-31. , , 8. O Connor AF. Exanination of The Ear. In: Scott-Brown s Otolaryngology, 6th ed. Kerr AG.(ed.) Butterworth; London: 1997 , p.20-23. 9. Peck JE. Audiology. In: Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery 8th ed. Lee KJ (ed.) New York:McGraw-Hill, 2003, p.24-64. 10. Bluestone CD, Klein JO. Otitis Media. Atelectasis and Eustachian Tube Dysfunction, in Pediatric Otolaryngology 3th, vol 1. Bluestone et al. (eds.) Philadelphia:WB. Saunders Co. 1996.p.388-450 11. Lazo-Saenz JG, Galvan-Aguilera AA, Martinez-Ordaz VA et al. Eustachian Tube Dysfunction in Allergic Rhinitis. Otolaryngol Head and Neck Surg. 2005;132(4): 626-9. 12. Kudelska, Poludniewska B, Biszewska J, Silko, Godlewska. Assessment of the Hearing Organ in the Patients with Perennial and Seasonal Allergic Rhinitis. Otolaryngol Pal. 2005;59(1): 97-100. 13. Cauwenberge PV, Wang D. Rhinitis and Otitis. In: Rhinitis Mechanisms and Management. Naclerio et al.(eds.) New York: Marcel Dekker. 1999.p. 447- 458 14. Sweetow RW, Bold JM. Eustachian Tube Dysfunction Test. Available at www. audiologyonline.com, accessed 3/24/2007

TINJAUAN PUSTAKA

Kelainan Gigi dan Jaringan Pendukung Gigi yang Sering Ditemui
Adi Prayitno
Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta / Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Muwardi Surakarta.

ABSTRAK Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan secara keseluruhan dan perihal hidup. Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui macam kelainan dan tindakan yang dilakukan di RSUD dr Muwardi Solo. Jenis Penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien yang datang berobat ke poliklinik Gigi dan Mulut RSUD dr Muwardi, Surakarta. Jumlah sampel adalah semua pasien yang datang ke poliklinik selama 1 tahun pada tahun 1994 dan 2004. Data berupa macam kelainan gigi dan mulut dan tindakan. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisa kuantitatif dan disajikan dalam gambar. Kesimpulan penelitian ini adalah ada perbedaan dalam macam kelainan gigi dan mulut dan ada perbedaan tindakan antara tahun 1994 dan 2004. Ada kenaikan jumlah pada macam kelainan dan tindakan yang nyata. Kata kunci : Kelainan Gigi; Kelainan Jaringan Pendukung Gigi; Tindakan; Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut

PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan secara keseluruhan dan perihal hidup sehingga perlu dibudidayakan diseluruh masyarakat (Yuyus. R, 1996). Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut yang sehat tidak tercium bau tidak sedap. Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan perawatan yang tepat (1, Lesmana, 1999). Keadaan oral hygine yang buruk seperti adanya kalkulus dan stain, banyak karies gigi, keadaan tidak bergigi atau ompong dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari√hari (2). Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai dengan terjadinya mineralisasi bagian anorganik dan demineralisasi substansi organik (3). Karies dapat terjadi pada setiap gigi yang erupsi, pada tiap orang tanpa memandang umur, jenis kelamin, bangsa, maupun status ekonomi (4). Periodontium adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri dari jaringan gusi, tulang alveolar, ligamentum periodontal dan cementum yang melekat pada akar gigi (5,Lesmana, 1999). Marshall-Day menyatakan umumnya keradangan gingiva pada usia muda rata-rata mencapai 75% atau lebih dan akan meningkat mendekati 100% (6,7.8).

Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : kelainan gigi dan mulut tersering manakah yang dapat ditemui dan adakah perbedaan antara tahun 1994 dan 2004 ? METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini semua adalah pasien yang datang berobat ke poliklinik gigi dan mulut RSUD dr Muwardi pada tahun 1994 dan 2004. Data yang dikumpulkan berupa macam kelainan gigi dan tindakan pada tahun 1994 dan 2004. HASIL PENELITIAN Berikut hasil penelitian yang dilakukan di RSUD dr Muwardi Solo seperti yang disajikan dalam gambar berikut:

Gambar 1. Menunjukkan macam kelainan gigi dan jaringan pendukung gigi tahun 1994

410

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

411

TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2. Menunjukkan macam kelainan gigi dan jaringan pendukung gigi tahun 2004

Gambar 5. Menunjukkan tindakan odontectomy (OD) yang dilakukan tahun 1994

Kelainan diatas terbagi atas keluhan utama berupa: 1. pembengkakan akibat gigi yang rusak dan gigi tidak dapat dipertahankan, 2. gigi kerowok dan gigi dapat diprtahankan, 3. kelainan jaringan pendukung gigi, 4. kelainan gigi dan jaringan pendukung gigi anak-anak 5. kebersihan gigi dan mulut 6. lain-lain Dari gambar diatas terlihat jumlah kelainan pada spesialisasi konservasi ada peningkatan yang berarti dari bulan Januari hingga Desember pada tahun 1994 ke 2004. Demikian pula pada kelainan orthodonsi. Secara keseluruhan tidak ada perbedaan yang berarti.

Gambar 6. Menunjukkan tindakan odontectomy (OD) yang dilakukan tahun 2004

Gambar 3. Menunjukkan macam tindakan yang dilakukan tahun 1994

Gambar 7. Menunjukkan tindakan odontectomy (OD) yang dilakukan tahun 1994 dan 2004

Gambar 4. Menunjukkan macam tindakan yang dilakukan tahun 2004

Dari hasil pengamatan tindakan diatas terlihat tindakan penumpatan dan Odontectomy (OD : pencabutan) terlihat menonjol, tetapi tidak ada perbedaan antara tahun 1994 dengan 2004. Tindakan perawatan/penataan gigi geligi (orthodonsi) terlihat ada peningkatan yang berarti dari tahun 1994 hingga 2004.

PEMBAHASAN Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan peningkatan sumberdaya manusia serta kualitas hidup, peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat serta mempertinggi kesadaraan masyarakat akan pentingnya hidup sehat. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral kesehatan secara keseluruhan dan perihal hidup sehingga perlu dibudidayakan diseluruh masyarakat (Yuyus, 1996).

412

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

TINJAUAN PUSTAKA
Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan di dukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda. Pada kondisi normal, dari gigi dan mulut yang sehat tidak tercium bau yang tidak sedap. Kondisi ini hanya dapat dicapai dengan perawatan yang tepat (Eddy, 2003). Keadaan oral hygine yang buruk seperti adanya kalkulus dan stain, banyak karies gigi, keadaan tidak bergigi atau ompong dapat menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari√hari (Gabriella, 2000). Kebersihan mulut adalah cermin kesehatan. Faktanya, ada penyakit yang berhubungan dengan kesehatan mulut dan gusi tersebut (Anonim (A), 2002). Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai orang-orang yang merasa malu untuk tersenyum atau berbicara dengan leluasa. Hal ini terjadi karena bebagai macam hal, antara lain keadaan oral hygiene atau kebersihan mulut yang buruk, banyak gigi karies atau dapat juga karena ompong (Gabriella, 2002). Penyakit gigi dan mulut yang paling banyak menyerang manusia adalah karies gigi dan penyakit periodontal (Kristanti, dkk, 1995). Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai dengan terjadinya mineralisasi bagian anorganik dan demineralisasi dari substansi organik (Anies, dkk, 1997). Karies dapat terjadi pada setiap gigi yang erupsi, pada tiap orang tanpa memandang umur, jenis kelamin, bangsa, maupun status ekonomi (Monang, 1996). Penyakit karies ini masih menjadi masalah di Indonesia, karena prevalensinya mencapai 80% dari jumlah penduduk (Anies, dkk, 1997). Prevalensi gigi karies itu sendiri meningkat dengan bertambahnya usia (Foresster, 1981). Distribusi karies masyarakat menurut kelompok usia di Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung tahun 1983 didapatkan untuk kelompok usia 10-19 tahun prevalensinya sebesar 71,6%, usia 20-29 tahun sebesar 86,4% dan usia 30-39 tahun sebesar 87,8% (Adi Prayitno, dkk., 1983). Periodonsium adalah jaringan penyangga gigi yang terdiri dari jaringan gusi, tulang alveolar, ligamentum periodontal dan sementum yang melekat pada akar gigi (Adi Prayitno, 1983; Lesmana, 1999). Pada penelitian yang dilakukan Marshall-Day dinyatakan umumnya keradangan gingiva pada usia muda rata-rata mencapai 75% atau lebih dan akan meningkat mendekati 100% (Prijantojo (a, b, c), 1996). Prevalensi terjadinya gingivitis di Amerika Serikat pada tahun 1988 sampai 1991 menurut kelompok usia didapatkan untuk usia 13-17 tahun sebesar 65,9% dan usia 18-24 sebesar 73,3% (WHO, 1995). Pada dasarnya kedua penyakit tersebut di atas disebabkan karena plak yang melekat pada gigi (Kristanti, dkk, 1995). Plak yang menempel pada sulcus gingiva mampu menimbulkan infeksi dan menyebabkan kasus serius (Anonim (B), 2003). Pada permukaan akar yang terbuka, yang merupakan tempat melekatnya plak pada penderita dengan resesi gingiva karena penyakit periodonsium, adalah salah satu tempat yang mudah diserang karies (Kidd, 1998). Kejadian karies pada akar gigi biasanya terjadi pada usia dewasa, yaitu usia 18 tahun ke atas. Terjadinya karies akar gigi dapat dipengaruhi oleh adanya poket periodontal (De Paolo, 1989). Dari pemantauan Direktorat Kesehatan Gigi Dir. Yan. Medik pada akhir Pelita V (1984-1994) menunjukkan pasien yang berobat jalan ke puskesmas karena karies gigi sebesar 45,7% sedangkan yang disebabkan oleh kelainan gusi dan periodontal sebesar 31,7% (Kristanti, dkk, 1995). KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa : 1. Kelainan tersering untuk tahun 1994 adalah bidang konservasi dan terjarang adalah bidang orthodonsi, sedang kasus tersering untuk tahun 2004 adalah bidang konservasi dan terjarang adalah bidang pedodonsi. 2. Bahwa ada perbedaan pada macam kelainan antara tahun 1994 dengan 2004 dan ada perbedaan pada tindakan antara tahun 1994 dan 2004. 3. Ada perbedaan pada jumlah kelainan gigi dan mulut dan tindakan odontectomy (OD) yang nyata antara tahun 1994 dengan 2004.
DAFTAR PUSTAKA :
1. Adi Prayitno, dkk, 1997. Kegoyahan Gigi Geligi pada Penyakit Diabetus Mellitus Tak Terkontrol dan Terkontrol. Fakultas Kedokteran UNS, Surakarta, pp: 26-7. 2. Gabriella Aditya, 2000. Pemutihan Kembali Gigi yang Berubah Warna dengan Teknik Bleaching. Jurnal Kedokteran Trisakti. Vol. 19, No.1, p: 29. Kidd A.M. Edwina, 1998. Dasar-Dasar Karies, Penyakit dan Penanggulangannya, EGC, Jakarta, pp: 5-8. Kristanti, Salma Ma»ruf, Ratna Budiarso, Syahrudji Naseh, 1995. Penyakit Gigi dan Mulut di Indonesia. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Tahun XXIII, No. 8, pp: 542-3. 3. Anies, Henry Setiawan, Soeharyo Hadisaputro, 1997. Karies Gigi dan Perlaku Pencegahan serta Pengobatan di Kotamadya Semarang. Majalah Medika Indonesiana. Vol. 32, No. 1, pp: 37-42. Anonim (A), 2003. Remehkan Kesehatan Gigi Picu Diabetes. www.sinarharapan. co.id/iptek/kesehatan. Anonim (B), 1994. Karang Gigi, File:A\Karang Gigi, Htm. De Paolo D.F., 1989. Methodology Issue Relative to The Quantification of Root Surface Caries Gerodontal, pp: 3-6. Eddy Hasby, 2003 Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut. http://www.kompas.com/ kompas-cetak/0207/19/iptek/pera34.htm. Forrester, 1981. Pediatric Dental Medicine. Lea and Febiger, Philadelphia, pp : 142-9. 4. Monang Panjaitan, 1996. Pengaruh Pemberian Obat Kumur Mengandung Fluor terhadap Perkembangan Karies Gigi Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan. Cermin Dunia Kedokteran. No. 106, pp: 52-3 5. Adi Prayitno, dkk, 1983. Status Kesehatan Gigi Geligi Masyarakat di Daerah Lampung. Fakultas Kedokteran Gigi Gadjah Mada, Yogyakarta, pp: 7-12. 6. Prijantojo (a), 1996. Hambatan Pembentukan Plak Gigi dengan Larutan Obat Kumur Hexetidine 0,1%. Cermin Dunia Kedokteran. No. 106, p: 55. 7. Prijantojo (b), 1996. Kondisi Jaringan Periodonsium dari Sekelompok Masyarakat di Daerah Pedesaan Sesuai dengan Kelompok Umur. Majalah Kesehatan Masyarakat. Tahun XXIV, No. 2, p: 128. 8. Prijantojo (c), 1996. Evaluasi Derajat Keradangan Gingiva pada Masyarakat dengan Tingkat Pendidikan yang Berbeda. Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. Tahun XXIV, No. 5, p: 330.

BERITA TERKINI

CARDIA: OxLDL dan Sindrom Metabolik
Dalam sebuah penelitian diketahui bahwa konsentrasi OxLDL (oxidized low-density lipoprotein (LDL)-cholesterol) berkaitan dengan sindrom metabolik. Penelitian tersebut dipimpin oleh dr. Paul Holvoet dari Katholieke Universiteit Leuven, Belgia, dipublikasikan dalam JAMA edisi Mei 2008. Sedangkan penulis senior, dr. David Jacobs dari University of Minnesota, Minneapolis mengomentari bahwa hasil penelitian ini merupakan bukti lain bahwa oxLDL merusak dan merupakan risiko penyakit jantung di kemudian hari, walaupun pada pasien yang masih muda dan sehat.

Para peneliti menjelaskan bahwa pada hewan yang diteliti,
OxLDL, yang merupakan fraksi yang kecil LDL (0,001%-5%), berkontribusi dalam proses yang mengarah ke kejadian sindrom metabolik; hal ini belum dibuktikan pada manusia. Karena itulah para peneliti ingin mengetahui dengan pasti hubungan antara konsentrasi OxLDL dengan angka kejadian sindrom metabolik beserta komponennya (obesitas abdomen, hiperglikemi, and hipertrigliseridemi) dalam 5 tahun dengan melakukan penelitian Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA). Penelitian ini melibatkan 5115 pasien berusia antara 18-30 tahun pada saat dipilih di tahun 1985-1986 di Amerika Serikat. OxLDL diperiksakan pada 2823 orang pada tahun ke-15, sebagai bagian dari penelitian Young Adult Longitudinal Trends in Antioxidants (YALTA). Kriteria eksklusi: kehamilan, tidak puasa selama 8 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, data tidak lengkap, sudah menderita sindrom metabolik; sehingga yang memenuhi kriteria 1889 pasien. Hasil : selama 20 tahun penelitian, 243 pasien (12,9%) dari 1889 pasien ini menderita sindrom metabolik. Setelah menyesuaikan beberapa variabel, OxLDL memperlihatkan hubungan bertingkat dengan kejadian sindrom metabolik. Pasien yang memiliki kadar OxLDL tinggi mengalami peningkatan risiko sindrom metabolik hingga 3,5 kali. (Tabel1)
Tabel 1. Odds ratio untuk kejadian sindrom metabolik setelah follow up 5 tahun dengan pengukuran kadar OxLDL: Quintile of oxidized LDL
1 (<55.4 U/L) 2 (55.4 - 69.1 U/L) 3 (69.2 - 81.2 U/L) 4 (81.3 - 97.3 U/L) 5 (>97.4 U/L)

Kadar OxLDL yang tinggi juga disertai dengan komponen sindrom metabolik: obesitas, hipertrigliseridemi, kadar glukosa darah puasa yang tinggi, namun tidak disertai dengan peningkatan tekanan darah atau kolesterol HDL (high-density lipoprotein cholesterol)
Tabel 2. Odds ratio yang sudah disesuaikan untuk kejadian komponen sindrom metabolik dengan perbandingan antara kadar OxLDL yang tinggi dengan yang rendah:
Komponen sindroma metabolik OR tertinggi vs terendah quintile (95% CI)

Obesitas abdomen Glukosa puasa tinggi Trigliserida tinggi

2.1 (1.2 - 3.6) 2.4 (1.5 - 3.8) 2.1 (1.1 - 4.0)

Telah disesuaikan untuk umur, jenis kelamin, ras, senter penelitian, merokok, indeks massa tubuh, aktivitas fisik dan kadar colesterol LDL

Sebaliknya, kolesterol LDL memperlihatkan hubungan yang terbatas dengan sindrom metabolik. Para peneliti mengatakan masih sangat dini untuk mengatakan apakah OxLDL menjadi salah satu penyebab terjadinya sindrom metabolik; namun terdapat hubungan yang kuat antara kadar OxLDL dengan kejadian sindrom metabolik. Kesimpulan: • OxLDL, merupakan salah satu petanda adanya sindrom metabolik. • Peningkatan kadar OxLDL disertai dengan peningkatan komponen sindrom metabolik: obesitas, hipertrigliseridemi, kadar glukosa darah puasa yang tinggi, namun tidak disertai dengan peningkatan tekanan darah atau kolesterol HDL. • Perlu penelitian lanjutan untuk memastikan apakah OxLDL sendiri ikut berperan dalam meningkatkan kejadian sindrom metabolik. (YYA)
Referensi :
1. Holvoet P, Lee DH, Steffes M, et al. Association between circulating oxidized lowdensity lipoprotein and incidence of the metabolic syndrome. JAMA 2008;299:2287-93 2. Hughes S. Oxidized LDL Associated with Metabolic Syndrome.http://www.medscape.com/ viewarticle/574827?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG

OR (95% confidence interval [CI])
1 2.1 (1.1 - 3.8) 2.4 (1.3 - 4.3) 2.8 (1.5 - 5.1) 3.5 (1.9 - 6.6)

Telah disesuaikan untuk umur, jenis kelamin, ras, senter penelitian, merokok, indeks massa tubuh, aktivitas fisik dan kadar colesterol LDL.

414

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

415

BERITA TERKINI

Eritropoietin mempunyai efek

antidepresan
Sebuah studi terhadap terapi depresi telah menemukan adanya potensi suatu kandidat baru yang tidak lain adalah eritropoietin. Studi ini telah dipublikasikan dalam Biological Psychiatry pada bulan Desember 2007.

Menurut Kamila Miskowiak MSc yang merupakan kepala
studi ini adalah bahwa meskipun depresi sering terkait dengan masalah yang sifatnya kimiawi di dalam otak, bukti saat ini menemukan juga adanya masalah struktural seperti terlihat bahwa sel saraf pasien depresi tidak mengalami regenerasi secepat kondisi normal. Eritropoietin (EPO) sebelumnya juga telah diketahui memiliki manfaat dalam hal neuroproteksi dan neurotropik pada studi hewan serta dapat memperbaiki fungsi kognitif dan berhubungan dengan respon sel-sel saraf pada manusia, sehingga tidak menutup kemungkinan dapat menjadi kandidat untuk terapi depresi. Pada studi ini, Miskowiak dkk mengevaluasi efek EPO pada sel saraf dan fungsi kognitif terhadap informasi emosional pada 23 orang sehat yang diberi injeksi salin atau 40.000 IU EPO. Satu minggu kemudian pada relawan ini menjalani pemeriksaan MRI sambil dilakukan serangkaian pemeriksaan termasuk pemeriksaan mimik wajah pada kondisi ketakutan, marah, kaget, bahagia atau normal.

Peneliti menemukan bahwa pada kelompok yang mendapat suntikan EPO terjadi pengurangan respon wajah terhadap rasa takut yang terlihat pada daerah korteks oksipitoparietal, tanpa mempengaruhi ekspresi terhadap kondisi lain. Berdasarkan hasil studi ini Miskowiak menjelaskan ide pemberian EPO sebagai salah satu strategi penanganan depresi pada masa datang. Menurut John Krystal MD dari Yale University School of Medicine dan the VA Connecticutt Healthcare System; kemampuan EPO dalam memodulasi aktivitas otak bersamaan dengan melakukan perbaikan proses emosional sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai antidepresan. (DHS)

Referensi: 1. Douglas,D. Erythropoietin May Have Antidepressant Activity. http://www.medscape.com/viewarticle/569117 2. Natural human hormone as the next antidepressant? http://www.elsevier.com

416

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

BERITA TERKINI

BERITA TERKINI

Gabapentin untuk Mengurangi

Ketakutan Berpidato
Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, diketahui bahwa gabapentin dapat mengurangi ketakutan pre-operatif. Pada penelitian lain gabapentin juga diberikan pada pasien dengan gangguan panik atau gangguan ansietas umum. Apakah gabapentin dapat mengurangi kecemasan seseorang pada saat harus berbicara di depan umum?
ublic Speaking (berbicara di depan orang banyak) merupakan salah satu hal yang banyak ditakuti oleh orang di Amerika. Sebuah penelitian meneliti pengaruh pemberian gabapentin terhadap rasa takut pada 32 orang sukarelawan berusia 17-30 tahun dengan kesehatan baik yang menjalani simulated public speaking (SPS). Dosis Gabapentin 400 mg dan 800 mg. Pengukuran rasa takut dan mood selama dilakukannya SPS menggunakan Visual Analogue Mood Scale (VAMS) dan Profile of Mood State (POMS). Pemeriksaan fisik mengukur tekanan darah dan denyut jantung. Hasil penelitian : Terapi gabapentin 800 mg mengurangi ketakutan sukarelawan, terlihat dari VAMS. Sukarelawan yang menerima gabapentin 400 mg dan 800 mg mengalami penurunan skor ketegangan, terlihat dalam skor POMS.

Higiene oral yang baik dapat melindungi terhadap infeksi jantung
Sebuah studi terhadap terapi depresi Menurut sebuah studi baru di Amerika, menjaga gigi dan gusi dapat menjadi faktor penting dalam pencegahan infeksi katup jantung. Para peneliti menguji apakah aktivitas gigi harian seperti menyikat gigi dan prosedur dental utama seperti cabut gigi menyebabkan endokarditis infeksi (IE), infeksi berbahaya pada jantung atau katup jantung yang terjadi ketika bakteri memasuki aliran darah. Studi ini dipubikasikan dalam jurnal Circulation edisi 9 Juni 2008.

P

Dalam penelitian ini pemberian gabapentin dapat mengurangi ketakutan/kecemasan seseorang dalam berpidato di depan umum. Penelitian ini sekali lagi membuktikan kemampuan gabapentin yang dapat bersifat anksiolitik. Para peneliti menyimpulkan bahwa hasil penelitian ini dan didukung oleh penelitian-penelitian lainnya, memperlihatkan kemampuan gabapentin mengurangi ketakutan (bersifat anksiolitik). (YYA)
Referensi:
1. Quevedo J, Barichello T, Izquierdo I et al. Effects of Gabapentin on Anxiety Induced by Simulated Public Speaking. J. Psychopharmacol. 2003; 17( 2):184-8 2. Ménigaux C, Adam F, Guignard B et al. Preoperative Gabapentin Decreases Anxiety and Improves Early Functional Recovery from Knee Surgery. Anesth Analg 2005;100:1394-99 3. Pollack MH, Matthews J., Scott EL. Gabapentin as a Potential Treatment for Anxiety Disorders. Am J Psychiatr. 1998; 155: 992-3

Di dalam studi melibatkan 290 pasien, para peneliti menganalisis sejumlah bakteri yang dilepaskan ke dalam aliran darah (bakteremia) selama gosok gigi dan cabut gigi, dengan atau tanpa antibiotika. Sampel sarah diambil dari pasien sebelum, selama dan sesudah aktivitas dan dianalisis spesies yang berkaitan dengan IE. Para peneliti menemukan insiden bakteremia terkait IE dari gosok gigi (23%), 33% cabut gigi dengan antibiotika dan 60% cabut gigi dengan antibiotika. Penulis studi Peter Lockhart, ketua Departemen Kesehatan Gigi di Carolina Medical Center di Charlotte mengatakan bahwa bakteri masuk ke dalam darah ratusan kali setahun, tidak hanya dari menyikat gigi.

Walaupun tampaknya bakteri yang masuk ke dalam darah lebih sedikit pada saat menyikat gigi, aktivitas harian rutin ini memaparkan risiko lebih besar karena IE berkaitan dengan frekuensi bakteremia dari gosok gigi 2 kali sehari selama 365 hari versus sekali atau 2 kali setahun untuk kunjungan ke dokter gigi termasuk pembersihan gigi atau tambal dan prosedur lainnya. Bagi mereka yang tidak berisiko infeksi seperti IE, bakteremia tidak perlu dikhawatirkan. "Jika Anda menghentikan higiene oral, sejumlah penyakit di mulut meningkat secara progresif dan Anda akan mendapat penyakit mulut lebih parah yaitu penyakit gusi dan karies gigi yang mengarah pada infeksi akut dan kronik seperti abses". (NFA)

418

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

419

BERITA TERKINI
Berikut ini disampaikan beberapa uji klinis penggunaan kortikosteroid dalam hal ini metilprednisolon dalam penanganan neuritis vestibular. 1. Uji klinik penggunaan metilprednisolon, valasiklovir, atau kombinasi keduanya untuk penanganan neuritis vestibular. Metode : • Merupakan prospective, randomized, double-blind, two-by-two factorial trial pada pasien dengan neuritis vestibular akut, yang secara acak mendapatkan terapi dengan metilprednisolon, valasiklovir, plasebo, atau kombinasi metilprednisolon + valasiklovir. • Fungsi vestibular diperiksa dengan tes kalorik, dengan penggunaan vestibular paresis formula (untuk menilai derajat unilateral caloric paresis) dalam 3 hari setelah timbulnya gejala dan 12 bulan setelahnya. Hasil : • Total pasien yang terlibat adalah 141 pasien: 38 pasien mendapatkan plasebo, 35 pasien mendapatkan metilprednisolon, 33 pasien mendapatkan valasiklovir, dan 35 pasien mendapatkan metilprednisolon + valasiklovir. • Pada saat timbulnya gejala, tidak terdapat perbedaan derajat kelumpuhan vestibular di antara kelompok studi. • Perbaikan fungsi vestibular perifer rata-rata (ØSD) pada follow up bulan ke-12 adalah 39.6Ø28.1 percentage points pada kelompok yang mendapatkan plasebo, 62.4Ø16.9 percentage points pada kelompok metilprednisolon, 36.0Ø26.7 percentage points pada kelompok valasiklovir, dan 59.2Ø24.1 percentage points pada kelompok metilprednisolon + valasiklovir. • Analysis of variance memperlihatkan efek metilprednisolon yang bermakna (p<0,001) namun tidak pada valasiklovir (p=0,43). • Kombinasi metilprednisolon + valasiklovir tidak lebih baik dibandingkan dengan monoterapi kortikosteroid. Kesimpulan : metilprednisolon meningkatkan penyembuhan fungsi vestibular perifer secara bermakna pada pasien dengan neuritis vestibular; hal ini tidak diperlihatkan oleh valasiklovir. 2. Uji klinik efek menguntungkan metilprednisolon pada vertigo vestibular akut. Tujuan : untuk mengetahui efikasi kortikosteroid pada vertigo vestibular akut. Metode : • Merupakan double-blind, prospective, placebo-controlled, crossover study. • Melibatkan 20 pasien yang secara acak mendapatkan terapi metilprednisolon (n=10) atau plasebo (n=10). • Diagnosis vertigo vestibular akut ditegakkan melalui pemeriksaan neurologik ekstensif. • Jika gejala-gejala vertigo tidak berkurang bermakna dalam 24 jam pertama setelah pemberian terapi, maka pasien diinstruksikan untuk beralih ke obat yang satu lagi. • Pasien difollow-up selama 1 bulan. • Dari 10 pasien yang mendapat metilprednisolon, 9 pasien mengalami pengurangan gejala-gejala vertigo yang bermakna dan 1 pasien beralih ke plasebo. • Dari 10 pasien yang mendapat plasebo, 3 pasien mengalami pengurangan gejala-gejala vertigo, 7 pasien lainnya dengan gejala vertigo persisten beralih ke metilprednisolon dan mengalami pengurangan gejala dalam 24 jam. • Hasil electronystagmogram kembali normal dalam 1 bulan pada 16 pasien yang mendapatkan metilprednisolon, namun tetap abnormal pada 2 dari 4 pasien yang mendapatkan plasebo. • 1 pasien yang mendapatkan metilprednisolon mengalami relaps gejala-gejala vertigo saat dosis diturunkan, namun gejala-gejala tersebut kembali remisi ketika dosis dinaikkan menjadi 32 mg/hari. Kesimpulan : metilprednisolon lebih efektif dibandingkan dengan plasebo dalam menurunkan gejala-gejala vertigo pada pasien dengan vertigo vestibular akut. (VKS)
Referensi :
1) Strupp M. et al. Methylprednisolone, Valacyclovir, or the Combination for Vestibular Neuritis. N Engl J Med. 2004; 351 : 354-61. Available from : http://www.nejm.com 2) Ariyasu L. et al. The beneficial effect of methylprednisolone in acute vestibular vertigo. Arch. Otolaryngol. Head & Neck Surg. 1990;116(6). Available from : http://archotol.ama-assn.org/cgi/content/abstract/116/6/700

Metilprednisolon untuk penanganan neuritis vestibular
Neuritis vestibular merupakan penyebab tersering kedua dari vertigo vestibular perifer (penyebab tersering pertama adalah vertigo posisional paroksismal benigna). 7% pasien dari seluruh pasien klinik rawat jalan yang khusus menangani gejala dizziness merupakan pasien neuritis vestibular.

Insidens penyakit ini sekitar 3,5/100.000 populasi. Tanda dan gejala neuritis
vestibular adalah adanya sustained rotatory vertigo akut; ketidakseimbangan postural dengan Romberg»s sign (+), misalnya: saat mata tertutup, tubuh akan jatuh ke arah telinga yang sakit; horizontal spontaneous nystagmus yang mengarah ke telinga sehat dengan komponen rotasional, dan mual. Tes kalorik (irigasi telinga menggunakan air hangat atau air dingin) selalu menunjukkan hiporesponsif atau nonresponsif ipsilateral. Pada konsep sebelumnya, baik radang saraf vestibular maupun iskemi labirin telinga diduga sebagai penyebab neuritis vestibular. Namun, konsep terbaru menyatakan bahwa penyebab neuritis vestibular diduga karena infeksi virus. Pada suatu studi postmortem diperlihatkan bahwa terjadi atrofi pada saraf vestibular dan epitelium sensorik vestibular, yang serupa dengan hasil histopatologik yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti herpes zoster oticus. Dan juga dengan ditemukannya DNA virus herpes simplex tipe 1 (HSV-1) pada saat otopsi dengan menggunakan polymerase chain reaction pada 2 dari 3 ganglia vestibular manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa ganglia vestibular sudah terinfeksi secara laten oleh HSV-1, seperti ganglia saraf kranial yang lainnya. Penyebab serupa juga diduga sebagai penyebab penyakit Bell»s palsy, hal ini didukung oleh bukti yang kuat, yaitu dengan ditemukannya DNA HSV-1 pada cairan endoneurial pasien Bell»s palsy. Proses penyembuhan neuritis vestibular biasanya tidak sempurna. Pada suatu studi yang melibatkan 60 pasien, terdapat kelumpuhan kanal semisirkular horizontal pada sekitar 90% pasien, 1 bulan setelah timbulnya gejala dan pada 80% pasien setelah 6 bulan timbulnya gejala; hasil normal pada tes kalorik hanya terdapat pada 42% pasien. Neuritis vestibular juga menimbulkan unilateral dynamic deficit of the vestibuloocular reflex yang permanen, yang tidak dapat dikompensasi oleh mekanisme tubuh lain, dan defisit ini terjadi pada sekitar 4000 orang/tahun di Amerika Serikat. Defisit ini menimbulkan gangguan penglihatan dan ketidakseimbangan postural saat berjalan dan khususnya saat menggerakkan kepala ke arah telinga yang sakit.

420

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

www.kalbe.co.id

BERITA TERKINI

BERITA TERKINI

Profil Keamanan Terapi Statin
Obat-obat golongan statin digunakan secara luas untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Penelitian-penelitian besar memperlihatkan kemampuan statin dalam menurunkan risiko kematian karena kardiovaskular, infark miokard nonfatal, stroke dan menurunkan perlunya tindakan revaskularisasi. Semua pengaruh menguntungkan ini karena kemampuan statin dalam menurunkan kadar LDL (low-density lipoprotein).
ahkan dalam sebuah penelitian pada pasien anak dan remaja dengan hiperkolesterolemi familial, terapi statin menghambat progresifitas penebalan intima pembuluh darah, sehingga dapat mencegah arterosklerosis pada masa dewasa. Enam obat statin sekarang tersedia di pasaran dunia: lovastatin, simvastatin, pravastatin, fluvastatin, atorvastatin, and rosuvastatin, sedangkan pitavastatin tersedia di India dan Jepang. Mengingat penggunaan statin diperkirakan akan terus meningkat karena peningkatan kejadian hiperlipidemi dan efek pleiotropik yang menguntungkan, maka keamanan dan tolerabilitas pasien sangatlah penting. Sebuah penelitian meta analisis dilakukan untuk mengetahui efek statin terhadap kematian, kejadian vaskular serta keamanan statin pada pasien usia lanjut. Hasilnya memperlihatkan bahwa terapi menggunakan statin bermakna menurunkan kematian karena semua sebab dan kematian karena kardiovaskular, dan relatif aman diberikan pada pasien usia lanjut. Penelitian lain dilakukan oleh Dr Jane Armitage dari University of Oxford, Inggris untuk menguji keamanan obat-obat golongan statin. Kesimpulannya adalah bahwa obat-obat golongan statin ditoleransi dengan baik. Efek samping yang sering dibicarakan seperti miopati dan rabdomiolisis jarang terjadi bila digunakan dosis standar yang dianjurkan. Dr Jane mengatakan bahwa walaupun ada beberapa keberatan mengenai pernyataan ini, jika dosis diberikan sesuai anjuran, obat-obat golongan statin merupakan obat yang relatif aman. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam The Lancet Juni 2008. Dr Jane Armitage dan rekan melakukan penelitian terhadap data penelitian yang dipublikasikan dari tahun 1985 hingga 2006 mengenai efektifitas, efek samping dan keamanan obat golongan statin. Hasilnya memperlihatkan efektifitas statin dalam menurunkan angka kejadian kematian karena kardiovaskular, infark miokard tidak fatal, stroke dan menurunkan perlunya revaskularisasi. Sedangkan efek samping yang sering terjadi adalah toksisitas pada otot, di antaranya miopati dan rabdomiolisis, dan gangguan enzim pencernaan. Semua obat golongan statin dapat menyebabkan miopati, yang dapat berkembang menjadi rabdomiolisis. Namun angka kejadian miopati kurang dari 1 per 10.000 pasien dengan penggunaan dosis standar statin. Risiko miopati meningkat seiring dengan peningkatan dosis, namun tetap rendah dengan atorvastatin 80 mg. Selain itu diketahui bahwa miopati dan rabdomiolisis ini biasanya terjadi bila obat-obat statin digunakan bersamaan dengan obat lainnya, seperti golongan fibrat.
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

B

Dr. Jane mengatakan bahwa nyeri otot sering terjadi pada pasien paruh baya dan jika pasien tersebut diterapi dengan statin, statinlah yang biasanya dipersalahkan menjadi penyebab nyeri ini. Pemeriksaan kreatinin kinase pada pasien-pasien tersebut dapat menyingkirkan adanya miopati dan terapi statin dapat diteruskan. Peningkatan enzim transaminase secara umum terlihat pada 6 bulan pertama terapi. Biasanya peningkatan enzim transaminase tanpa gejala klinis dan reversibel bila terapi dihentikan atau dosis dikurangi. Peningkatan enzim tergantung dosis dan tidak ada bukti kuat mengenai hubungan antara peningkatan enzim yang terjadi dengan kerusakan hati (hepatitis atau gagal hati). Pemeriksaan hati rutin tidak lagi direkomendasikan pada penggunaan simvastatin, pravastatin, atau lovastatin hingga dosis 40 mg sehari, namun tetap direkomendasikan pada penggunaan statin lainnya. Jika enzim pencernaan meningkat 3 kali lipat dibandingkan dengan kadar enzim pada orang normal yang tidak mengalami gangguan hati, enzim pencernaan harus dipantau selama 1 minggu. Jika kadar enzim alanin transaminase tetap tidak turun, statin harus dihentikan sementara. Peningkatan enzim pencernaan 2-3 kali dari batas normal orang sehat memerlukan pemantauan, namun biasanya peningkatannya akan berangsur berkurang selama terapi. Dan walaupun statin diketahui relatif aman pada pasien usia lanjut, penyesuaian dosis perlu dilakukan pada pasien usia lanjut. Pada beberapa penelitian yang melibatkan pasien yang lebih tua dari 80 tahun diperkirakan terjadi peningkatan risiko miopati.Pasien yang menerima terapi warfarin perlu menyesuaikan dosis warfarinnya pada awal dan akhir terapi statin. Kesimpulan: • Obat-obat golongan statin relatif aman pada dosis standar yang dianjurkan. • Efek samping yang paling sering dijumpai adalah miopati, rabdomiolisis dan peningkatan enzim transaminase. • Kejadian miopati terjadi kurang dari 1 per 10.000 orang. (YYA)
Referensi:
1. Armitage J. The safety of statins in clinical practice. Lancet 2007; 370:1781-90 2. Ballantyne CM., Corsini A, Davidson MH. et al. Risk for Myopathy with Statin Therapy in High-Risk Patients. Arch Intern Med. 2003;163:553-64. 3. Hughes S. Statins Are "Remarkably Safe," Says New Review . http://www.medscape.com/ viewarticle/558019?src=mp&spon=17&uac=117092CG 4. Josan K, Majumdar SR, McAlister FA et al. The efficacy and safety of intensive statin therapy: a meta-analysis of randomized trials. CMAJ 2008; 178 (5). 5. Roberts CGP, Guallar E, Rodriguez A. Efficacy and Safety of Statin Monotherapy inc Older Adults: A Meta-Analysis. J. Gerontol. Series A: Biological Sciences and Medical Sciences 2007; 62: 879-87. 6. Rodenburg J, Vissers MN, Wiegman A. et al. Statin Treatment in Children With Familial Hypercholesterolemia. The Younger, the Better. Circulation 2007; 116: 664 - 8

Kamera terkontrol magnet di dalam tubuh
Gambar dari dalam tubuh ? Sekarang dapat dilakukan dengan sebuah kamera mini yang harus ditelan oleh pasien. Pil kamera ini tidak lebih besar dari sebuah permen. Dokter mengendalikannya melalui esofagus dan lambung dengan alat magnet yang sekaligus dapat mengarahkan dan menghentikan saat dibutuhkan dan mengirimkan gambar.

Gambar dari dalam usus halus juga dapat diperoleh. Kamera
ini dapat melalui usus halus dan mengirimkan gambar villi intestinal ke penerima di luar yang dibawa diikat pinggang pasien. Alat ini menyimpan data untuk kemudian dianalisis dokter dan mengidentifikasi adanya perdarahan atau kista. Namun, kamera tidak cocok untuk pengujian esofagus dan lambung. Alasannya adalah karena kamera hanya sekitar 3-4 detik melalui esofagus, yang menghasilkan 2-4 gambar per detik. Saat mencapai lambung, berat kamera yang berkisar 5 gram akan turun secara cepat ke dasar lambung sehingga terlalu cepat untuk mengirimkan gambar-gambar yang baik. Oleh karena itu, untuk pengujian esofagus dan lambung, tetap harus melalui endoskopi. Para ilmuwan dari the Fraunhofer Institute for Biomedical Engineering berkolaborasi dengan insinyur dari pabrik Given Imaging, Israelite Hospital di Hamburg dan the Royal Imperial College di London telah mengembangkan sistem kontrol untuk pil kamera. Menurut Dr. Frank Volke, pimpinan tim, di masa depan dokter dapat menghentikan kamera di esofagus, menaik turunkan dan mengatur sudut kamera yang diperlukan.

Hal ini membuat pengujian yang lebih akurat pada sambungan antara esofagus dan lambung, untuk mendeteksi kerja sfingter kardiak, keluarnya asam lambung ke dalam esofagus dan penyebab heartburn yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker esofagus. Para peneliti telah mengembangkan peralatan magnetik sebesar batang coklat yang dapat digunakan dokter dari luar tubuh untuk mengendalikan gerak kamera. Pil kamera terdiri dari kamera, sebuah transmiter yang mengirimkan gambar ke penerima, sebuah baterai dan beberapa dioda dingin yang menyala seperti lampu kilat setiap kali gambar diambil. Pil kamera prototipe telah lolos uji pertama dalam tubuh manusia. Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa kamera dapat tinggal di dalam esofagus selama 10 menit, walaupun pasien duduk tegak. (NFA)
Sumber :
1. www.fraunhofer.de 2. www.medicineworld.org/cancer/lead/6-2008/magnet-controlled-camerain-the-body.html

422

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

423

BERITA TERKINI

BERITA TERKINI

Obesitas Meningkatkan Risiko Adenoma Kolorektal
Hasil suatu studi kohort retrospektif (diterbitkan dalam the American Journal of Gastroenterology, Agustus 2008) menemukan bahwa obesitas berhubungan dengan peningkatan risiko adenoma kolorektal (suatu jenis kanker usus besar), dan penurunan berat badan diharapkan dapat menurunkan risiko tersebut.

Silent stroke menyerang 1 dari 10 orang sehat
Menurut studi pada orang Amerika tua tanpa ada masalah kesehatan mayor, kemungkinan mengalami stroke sekitar 1 dari 10 orang dan mereka tidak menyadarinya. Kemungkinan tidak cukup parah untuk menyebabkan gejala yang dapat diamati seperti masalah penglihatan, masalah wajah atau gangguan berjalan, tapi tetap ada blokade arteri otak dan sedikit penurunan kemampuan berpikir. Studi ini dilaporkan di dalam jurnal Stroke edisi online.
erkiraan ini muncul dari sebuah studi baru Framingham Offspring atas 2.040 orang, rata-rata berumur 62 tahun yang sedang berjalan. Citra MRI menunjukkan bahwa 10,7% dari mereka mengalami apa yang disebut oleh penulis studi, Dr. Sudha Seshadari, asisten profesor neurologi di Universitas Boston disebut a silent brain infarct, yaitu blokade pembuluh darah yang menyebabkan kerusakan jaringan. Pada kasus silent stroke, blokade dan kerusakan terjadi di dalam otak tanpa gejala. Menurut Seshadari, silent stroke berbeda dari transient ischemic attack (TIA), suatu kehilangan fungsi otak sesaat. TIA menyebabkan beberapa gejala, sementara silent stroke tidak, seperti definisinya. Keduanya merupakan tanda bahaya yang perlu diperhatikan sama seperti faktor-faktor risiko kadar kolesterol, tekanan darah, obesitas dan merokok. Insiden yang ditemukan dalam studi Framingham Offspring tidak jauh berbeda dengan studi sebelumnya, tapi kelompok orang dalam studi ini lebih muda dibandingkan kebanyakan studi sebelumnya. Fakta bahwa 1 dari 10 orang mengalami serangan tiba-tiba yang berdampak pada otak merupakan hal yang harus kita pedulikan dan harus diantisipasi. Silent brain infarct ditunjukkan pada pencitraan MRI sebagai 'lesi kecil di berbagai bagian otak', kata Seshadari. Pencitraan MRI tidak dapat memberikan petunjuk apakah telah terjadi silent stroke.Pengujian menunjukkan bahwa rata-rata mereka dengan lesi menunjukkan tanda-tanda seperti kehilangan fleksibilitas berbicara dibandingkan kontrol dengan umur yang sama.

P

Insiden dalam studi ini tidak mengejutkan Dr. Claudette Brooks, direktur laboratorium neurovaskular di West Virginia Health Sciences Center. Ketika mengamati penyebab nyeri kepala dan masalah yang mirip, dia juga menemukan lesi ini. Angka silent stroke lebih tinggi di antara orang Amerika keturunan Afrika. Mereka mempunyai insiden hipertensi, aterosklerosis dan hiperlipidemi lebih tinggi. Tidak perlu tindakan khusus untuk menurunkan risiko silent stroke, kata Seshadari dan Brooks. Seshadari tidak merekomendasikan agar orang-orang segera melakukan pengecekan dengan MRI. Terserah komunitas kesehatan masyarakat dan medis untuk menekankan pentingnya mengontrol faktor-faktor risiko. Jika Anda tidak mempunyai faktor risiko seperti kadar kolesterol tinggi, obesitas dan diabetes, cobalah menjaga diri Anda tetap di luar kelompok ini. Jika Anda termasuk di dalamnya, cobalah modifikasi faktor risiko dengan menjaga tekanan darah dan menurunkan kolesterol. (NFA)

Studi yang dilakukan di Jepang ini melibatkan 7.963 pasien
kolonoskopi asimtomatik risiko sedang, dan 2.568 menjalani kolonoskopi kedua 1 tahun kemudian. Dinilai hubungan insiden adenoma kolorektal pada kolonoskopi kedua tersebut dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) awal dan juga perubahan berat badan. Hasilnya, terlihat peningkatan prevalensi adenoma kolorektal yang dinilai dari 4 kelompok (quartile) IMT : 1 < 21,35 kg/m2; 2 21,35 - 23,199 kg/m2; 3 23,199 - 25,156 kg/m2; 4 ≥ 25,156 kg/m2. Prevalensi adenoma kolorektal (berturut-turut) pada kelompok tersebut sebesar : 15,4%; 20,6%; 22,7%; dan 24,2%. Analisis statistik adjusted Odds Ratio perbandingan kelompok pertama (IMT < 21,35 kg/m2) dengan kelompok ke dua : 1,15 (95% Confidence Interval [CI] 0,97 - 1,37; p=0,10), dengan kelompok ke tiga : 1,19 (95% CI 1,01 - 1,41; p=0,04); dan dengan kelompok ke empat : 1,32 (95% CI 1,12 - 1,56; p=0,001); dengan kata lain, insiden adenoma kolorektal meningkat secara proporsional pada kelompok Quartile (Q) 1 (12,9%), Q2 (15,7%), Q3 (18,3%), dan Q4 (19,0%). Analisis ini menunjukkan peningkatan bermakna secara proporsional insiden adenoma kolorektal setelah 1 tahun.

Selain itu, pada pasien dengan IMT awal tertinggi yang mengalami penurunan berat badan selama setahun, ternyata insiden adenoma menurun hingga di bawah insiden kelompok pasien dengan IMT terendah tanpa penurunan berat badan (9,3% vs 17,1%). Kesimpulannya, obesitas berhubungan dengan peningkatan adenoma kolorektal, dan penurunan berat badan diharapkan dapat menurunkan risiko. Selain studi di atas, studi lain (Y. Wang et al, 2008) juga menemukan hasil serupa, yaitu lingkar pinggang yang besar berhubungan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal (adjusted Rate Ratio : 1,68; 95% CI 1,12 - 2,53; p=0,006 untuk lingkar pinggang ≥ 120 cm vs < 95 cm). (LHS)
Referensi
1. Barclay, Laurie.Obesity Linked to Risk for Colorectal Adenoma. 2008. Medscape.www.medscape.com 2. Yamaji, Yutakal et al.The Effect of Body Weight Reduction on the Incidence of Colorectal Adenoma. Abstract. Am. J. Gastroenterol. 2008;103 (8). 3. Reuters.Weight Loss May Reduce Risk of Colorectal Adenoma.2008. 4. Wang Y et al.A Prospective Study of Waist Circumference and Body Mass Index in Relation to Colorectal Cancer Incidence. Cancer Causes Control 2008; 19(7).Abstract

Referensi: MedlinePlus

424

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

425

BERITA TERKINI

Semangka
merupakan Viagra® alami
Menurut sebuah studi oleh para peneliti di Texas A&M Fruit and Vegetable Improvement Center, semangka (watermelon) menghasilkan efek yang mirip dengan Viagra® dan obat-obat lain yang digunakan untuk disfungsi ereksi.
enelitian difokuskan pada dampak semangka terhadap tubuh. Ternyata, semangka mengandung sitrulina (citrulline). Sitrulina dalam semangka memproduksi asam amino yang disebut arginin, yang secara nyata membantu relaksasi dan melebarkan pembuluh darah; hal yang sama terjadi pada pemberian sildenafil sitrat (Viagra®) dan obat-obat sejenis. Peneliti Texas A&M menyatakan bahwa mereka perlu melakukan lebih banyak riset sebelum dapat menentukan berapa banyak semangka yang harus dikonsumsi untuk mendapatkan hasil yang sama dengan Viagra®. Ilmuwan Texas A&M menyatakan bahwa Anda perlu makan di atas 6 cup semangka setiap hari untuk mendapatkan hasil yang sama. Penelitian ini menyebabkan banyak orang menyebut semangka sebagai Viagra® alami. (NFA)
Sumber : www.dbtechno.com

IKLAN 10 ( VIMAX )

P

426

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

BERITA TERKINI

BERITA TERKINI

Tadalafil dan Disfungsi Ereksi

Pasien Diabetes
Menurut data NIH Consensus Conference 1993, kurang lebih 30 juta laki-laki di Amerika menderita disfungsi ereksi. Dan karena meningkatnya angka harapan hidup di Amerika, angka kejadian disfungsi ereksi akan meningkat lebih dari 30% dalam 25 tahun mendatang.
aki-laki dengan disfungsi ereksi pada umumnya memiliki kondisi komorbid, di antaranya adalah hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes dan penyakit kronik lainnya. Faktor yang mendasari kondisi-kondisi tersebut di atas di antaranya adalah disfungsi endotelial atau kerusakan endotel pembuluh darah. Tadalafil adalah obat yang diresepkan dokter untuk pasien dengan masalah ereksi. Cara kerjanya kurang lebih sama dengan sildenafil. Tadalafil menghambat kerja enzim fosfodiesterase tipe 5, yang berfungsi menghancurkan siklik GMP, sehingga pelebaran pembuluh darah dapat dipertahankan dan dengan demikian dapat mempertahankan ketegangan penis. Pasien dianjurkan menggunakan obat ini setengah jam sebelum melakukan hubungan seksual dan obat ini memiliki pengaruh selama kurang lebih 36 jam. Jadi pasien harus mengatur jadual terlebih dahulu, dan apabila sudah dimakan, harus melakukan hubungan seks dalam waktu yang terbatas. Efek samping yang paling sering ditemukan adalah nyeri kepala, mialgia, dispepsia dan nyeri punggung. Dalam penelitian-penelitian yang sudah dilakukan, tadalafil merupakan terapi yang efektif dan ditoleransi dengan baik oleh pasien yang menderita disfungsi ereksi. Penderita diabetes laki-laki pada umumnya menderita disfungsi ereksi. Tadalafil 10-20 mg adalah terapi yang aman dan efektif bila digunakan sesuai dengan dosis dan cara penggunaan yang direkomendasikan. Para peneliti di Yunani menyelidiki apakah penggunaan tadalafil dalam dosis 5-10 mg juga memberikan efek yang bermanfaat. Metode penelitian: acak, tersamar ganda, kontrol-plasebo, multisenter atas 298 pasien diabetes yang mengalami disfungsi ereksi selama 12 minggu. Menggunakan dosis Tadalafil 5 mg, Tadalafil 10 mg, atau plasebo. Penilaian dilakukan atas kepuasan pasien, keberhasilan penetrasi vaginal, terpenuhinya hubungan seks (completion of intercourse) dan Skor dari International Index of Erectile Function Domain, untuk menentukan sukses tidaknya terapi yang dilakukan.

Valsartan Memperbaiki Kekakuan Arteri pada Pasien Diabetes Tipe 2, lebih baik daripada Amlodipin ?
Sebuah penelitian oleh Dr. Janaka Karalliedde dan rekan dari King's College London School of Medicine menemukan bahwa valsartan, sebuah obat antihipertensi dari golongan ARB (Angiotensin Receptor Blocker) dapat memperbaiki kekakuan arteri lebih baik dibandingkan dengan amlodipin pada pasien diabetes tipe 2 dengan hipertensi sistolik dan albuminuri. Temuan ini dimuat dalam jurnal Hypertension edisi Juni 2008.

L

Ternyata walaupun dosis yang diberikan lebih rendah, tetap memberikan perbaikan yang bermakna terhadap kepuasan pasien, penetrasi vaginal, keterpenuhan hubungan seks (completion of inter course), dan skor dari International Index of Erectile Function Domain, untuk menentukan sukses tidaknya terapi (p < 0.005) Efek samping: nyeri punggung, sakit kepala dan dispepsia Para peneliti menyimpulkan bahwa tadalafil dengan dosis harian lebih rendah (5-10mg) dapat memberikan perbaikan yang bermakna terhadap fungsi ereksi, dapat menjadi alternatif yang efektif dan dapat mengurangi ∆perencanaan∆ yang harus dilakukan sebelum melakukan hubungan seks dalam rentang waktu yang terbatas. Kesimpulan: Tadalafil dosis harian 5-10 mg efektif dan merupakan dosis harian alternatif untuk terapi disfungsi ereksi pada pasien dengan diabetes melitus, sehingga pasien tidak perlu terlalu repot untuk ∆mengatur jadual∆ hubungan seksual. (YYA)
Referensi :
1. BMJ.Tadalafil(Cialis®).http://besttreatments.bmj.com/btuk/conditions/ 1000420411.html?grp=1 2. Carson CC, Rajfer J, Eardley I. et al. The efficacy and safety of tadalafil: an update. BJU Int. 2004; 93(9): 1276-81 3. Hatzichristou D, Gambla M, Rubio-Aurioles E et al. Efficacy of tadalafil once daily in men with diabetes mellitus and erectile dysfunction. Diabetic Med. 2008; 25 (2): 138-46 4. Lundberg DG. Daily Tadalafil Prevents Erectile Dysfunction in Diabetic Men. http://www.medscape.com/viewarticle/573668 5. Seftel AD, Wilson SK, Knapp PM et al. The efficacy and safety of tadalafil in United States and Puerto Rican men with erectile dysfunction. J. Urol. 2004; 72: 652-7 6. Young JM, Feldman RA, Auerbach SM et al. Tadalafil Improved Erectile Function at Twenty-Four and Thirty-Six Hours After Dosing in Men with Erectile Dysfunction: US Trial. J Androl 2005;26:310-8

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ARB dalam
hal ini valsartan dapat memperbaiki kekakuan arteri, dibandingkan dengan amlodipin, yang merupakan obat antihipertensi golongan CCB (Calcium Channel Blocker). Penelitian acak atas 131 pasien dengan hipertensi sistolik dan albuminuri selama 24 minggu, dengan washout period 4 minggu dengan moxonidine. Kemudian diberi Valsartan 160 mg (n=66) atau Amlodipine 5 mg (n=65). Setelah 4 minggu HCT 25 mg ditambahkan pada valsartan dan dosis amlodipin dititrasi hingga 10 mg untuk memastikan kontrol tekanan darah yang sama dengan valsartan Metode penilaian dengan Aortic pulse wave velocity. Hasil penelitian: Setelah minggu ke-24, tekanan denyut arteri brachial dan aorta menurun pada kedua kelompok terapi. Perbedaan lainnya yang dihasilkan adalah penurunan aortic pulse wave velocity yang lebih bermakna di kelompok valsartan (p= 0.002). Albumin excretion rate di kelompok amlodipin dari 27.5 menjadi 32.6 mcg/min, sedangkan di kelompok valsartan dari 30.8 menjadi 18.2 mcg/min (p<0.001 untuk kelompok terapi valsartan dan tidak bermakna pada kelompok terapi amlodipin). Para peneliti mengatakan bahwa perbaikan kekakuan arteri terhadap respon obat antihipertensi sangatlah penting untuk meningkatkan survival pasien gagal ginjal tahap akhir dan penelitian yang telah mereka lakukan memperlihatkan perlunya penanganan cepat, yang selain menurunkan tekanan darah, dapat memberikan keuntungan tambahan mengurangi aortic pulse wave velocity. Hasil penelitian dr. Karalliedde dan rekan menyimpulkan bahwa valsartan dapat mengurangi kekakuan arteri lebih baik dibandingkan dengan amlodipin. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah penambahan HCT 25 mg menurunkan tekanan darah seimbang dengan penambahan amlodipin 5 mg (menjadi 10 mg)? Mengapa tidak diberi obat antihipertensi tambahan yang sama? (misalnya keduanya diberi HCT, dengan dosis amlodipin tetap 5 mg).

Atau yang harus dipikirkan adalah, apakah obat diuretik, yang selama ini diremehkan tidak memiliki fungsi apa-apa terhadap pembuluh vaskular, justru memiliki keuntungan memperbaiki vaskular? Apakah mungkin justru penurunan aortic pulse wave velocity disebabkan karena adanya tambahan pemberian diuretik. Tentu saja valsartan memperbaiki albumin excretion rate lebih baik dibandingkan dengan amlodipin, karena valsartan temasuk golongan ARB yang memang baik mengurangi mikro dan makro albuminuri. Walaupun tidak bermakna, amlodipin juga dapat mengurangi albuminuri. Dalam sebuah penelitian selama 12 minggu dan dipublikasikan Journal of Human Hypertension 2006, diketahui bahwa selain valsartan, amlodipin juga dapat memperbaiki kekakuan arteri pada pasien-pasien hipertensi. Jadi apa benar penelitian ini memperlihatkan bahwa valsartan lebih baik dibandingkan dengan amlodipin dalam memperbaiki kekakuan pembuluh darah dan menurunkan pengeluaran albumin ? Atau penelitian ini memperlihatkan keuntungan lain amlodipin, atau adakah manfaat lain HCT yang belum diketahui ? (YYA)

Referensi :
1. Ichihara A, Kaneshiro Y, Takemitsu T et al. Effects of amlodipine and valsartan on vascular damage and ambulatory blood pressure in untreated hypertensive patients. J. Hum. Hypertens.2006; 20: 787√94 2. Karalliedde J, Smith A, DeAngelis L et al. Valsartan improves arterial stiffness in type 2 diabetes independently of blood pressure lowering. Hypertension 2008 Jun;51(6):1617-23. 3. Novartis International AG. Leading blood pressure medication Diovan® with diuretic reduces key sign of artery ageing which is linked to risk of heart attack and stroke. http://hugin.info/134323/R/1225571/259161.pdf

428

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

429

BERITA TERKINI

Jusuf Kalla menceritakan pengalamannya saat melihat rumah tingkat dua yang dibangun tepat di samping rumahnya.

Jusuf Kalla :
Sebaiknya dokter maksimal memeriksa 40 pasien per hari
i tengah-tengah kesibukan menangani persoalan ekonomi yang merupakan dampak dari runtuhnya perekonomian Amerika Serikat, ternyata wakil presiden Bpk Jusuf Kalla (JK), memiliki kepedulian juga terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Diluar topik-topik utama yang dibahas, JK menyatakan keprihatinannya terhadap banyaknya pasien Indonesia yang berobat di luar negeri. "Lama kelamaan rumah-rumah sakit di Indonesia hanya melayani pasien-pasien kelas II dan III saja", ungkapnya memulai pembicaraan bersama Redaksi CDK di Istana Wapres, Rabu 15 Oktober 2008. Dalam pengamatannya, sebenarnya kemampuan tenaga medis Indonesia tidak kalah dengan tenaga medis asing di mana pasien Indonesia sering berobat. Begitu juga dengan fasilitas dan alat kesehatan yang dimiliki rumah-rumah sakit di Indonesia. Sayangnya, dalam pelayanannya, para dokter sering melayani secara terburu-buru. Bayangkan saja, paparnya, idealnya dokter hanya bisa melayani (8 jam @ 4 pasien) 32 pasien per hari, namun kenyataannya ada dokter yang melayani hingga seratus pasien bahkan lebih per hari dengan jam kerja hingga tengah malam. Dokter juga manusia, yang pasti punya rasa capek. Bagaimana bisa bekerja hingga 19 - 20 jam per hari? "Sekretaris saya saja kalau diminta bekerja/mengetik hingga jam 11 malam, pasti kerjaannya sudah banyak yang error", ungkapnya beranalogi.

D

Jika dibandingkan, biaya pemeriksaan dokter (jasa konsultasi, red) di Indonesia relatif murah, namun sayangnya ada dokter yang memberikan obat begitu banyak sehingga secara keseluruhan menjadi mahal. Ini berbeda dengan sistem pelayanan di luar negeri. Dalam memeriksa pasien, dokter sangat teliti (lama). Obat yang diberikan pun tidak banyak. Jadi meskipun biaya konsultasi cukup mahal namun kalau dihitung-hitung secara total (jasa dokter + biaya obat) relatif menjadi sama. Pasien tentu lebih senang memperoleh pemeriksaan teliti dan penjelasan panjang lebar dari dokternya. Sebagai solusinya, JK mengusulkan (setelah adanya pembatasan tempat praktek dokter maksimal 3 tempat) jumlah pasien atau jam pelayanan per dokter dibatasi. Misalnya dokter hanya bisa melayani hingga jam 7 malam atau rata-rata 40 pasien per hari. Dengan demikian para dokter bisa mempunyai waktu bersama keluarga, ada pemerataan di antara para dokter untuk melakukan pemeriksaan pasien dan yang paling penting, para dokter mempunyai waktu untuk terus meng-update ilmunya. Sebaiknya perbaikan pelayanan ini sudah harus dilakukan oleh para dokter, jangan sampai trust/kepercayaan masyarakat sudah pudar baru kita bertindak, pesan JK serius. (ETN)

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

431

BERITA TERKINI

WHA menghimbau peningkatan fokus pada hepatitis
liansi Hepatitis Dunia (World Hepatitis Alliance/WHA) menghimbau peningkatan kesadaran terhadap hepatitis kronis, yang menginfeksi orang sepuluh kali lebih banyak di seluruh dunia dibandingkan HIV/AIDS. ≈Diperkirakan 500 juta orang, kurang lebih satu dari 12 orang mengalami infeksi virus hepatitis B atau C kronis di seluruh dunia. Walau demikian, tidak ada kesadaran dan keinginan politik yang serius untuk menangani penyakit ini,∆ WHA mengatakan di akhir pertemuan tahunan WHO. Diperkirakan 1,5 juta orang meninggal akibat hepatitis setiap tahun, menjadikannya ≈salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan dunia,∆ WHA mengatakan. Presiden WHA Charles Gore mengatakan ≈Kita perlu memberi perhatian yang sama besarnya sebagaimana terhadap AIDS, TB dan malaria∆.

A

Kurangnya kesadaran menyulitkan para ilmuwan untuk mengakses data tentang hepatitis kronis. ≈Tidak ada pusat sumber yang mengkoordinasi data statistik hepatitis,∆ dikatakan oleh Profesor Shivaram Prasad Singh, pemimpin Kalinga Gastroenterology Foundation. Pemerintah perlu menangani pencegahan hepatitis secara serius dengan meningkatkan kebijakan pengamatan dan skrining, ≈Baru-baru ini saya berada di Mozambik dan menemukan bahwa mereka tidak menskrining darah transfusi terhadap hepatitis,∆ kata Jean-Michel Pawlotsky, sekretaris umum WHA untuk Study of the Liver. (NFA)

Sumber :
http://ww2.aegis.org/files/cdc/dupdate/2008/du080522.html#1023

432

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

PRAKTIS

PRAKTIS
Pengobatan sesuai Berat Asma1
Berat asma Asma intermiten Asma persisten ringan Asma persisten sedang Medikasi pengontrol harian Tidak perlu Steroid inhalasi (200-400 _g BD/hari atau ekivalennya) Kombinasi inhalasi steroid (400-800 _g BD/ hari atau ekivalennya) & LABA Alternatif/pilihan lain ......... Teofilin lepas lambat Kromolin Leukotriene modifiers Steroid inhalasi (400-800 _g BD/hari atau ekivalennya) ditambah teofilin lepas lambat atau Steroid inhalasi (400-800 _g BD/hari atau ekivalennya) ditambah LABA oral atau Steroid inhalasi (400-800 _g BD/hari atau ekivalennya) ditambah leukotriene modifiers Prednisolon/metilprednisolon oral selang sehari 10 mg ditambah LABA oral, ditambah teofilin lepas lambat Alternatif lain ......... .........

Penatalaksanaan Asma di Indonesia
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik saluran nafas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Hal tersebut menyebabkan peningkatan respon (hiperespon) jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari.
Klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis (Sebelum Pengobatan)1
Derajat Asma I. Intermiten Gejala Bulanan Gejala < 1x/minggu Tanpa gejala di luar serangan Serangan singkat Mingguan Gejala > 1x/minggu, tetapi < 1x/hari Serangan dapat mengganggu aktiviti dan tidur Harian Gejala setiap hari Serangan mengganggu aktiviti dan tidur Membutuhkan bronkodilator setiap hari Kontinyu Gejala terus menerus Sering kambuh Aktiviti fisik terbatas Gejala Malam < 2 kali sebulan Faal paru APE >80% * VEP, > 80% nilai prediksi APE > 80% nilai terbaik * Variabiliti APE < 20%

Ditambah LABA oral atau Ditambah teofilin lepas lambat

Asma persisten berat

II. Persisten Ringan

> 2 kali sebulan

APE > 80% * VEP, > 80% nilai prediksi APE > 80% nilai terbaik * Variabiliti APE 20-30%

Kombinasi inhalasi steroid (> 800 _g BD atau ekivalennya) dan LABA, ditambah ≥ 1 dibawah ini: Teofilin lepas lambat Leukotriene modifiers Steroid oral

.........

Ket.: SABA: short acting bronchodilator agent, LABA:long acting bronchodilator agent

III. Persisten Sedang

> 1x / seminggu

APE 60 - 80% * VEP, 60-80% nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik * Variabiliti APE > 30%

Semua tahap: ditambahkan SABA untuk pelega bila dibutuhkan, tidak melebihi 3-4 kali sehari. Bila tercapai asma terkontrol, pertahankan terapi paling tidak 3 bulan, kemudian turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma tetap terkontrol.

Pengobatan Serangan Asma berdasarkan Berat Serangan1:
SERANGAN PENGOBATAN Terbaik: Inhalasi agonis beta-2 Alternatif : Kombinasi oral agonis beta-2 dan teofilin Terbaik: Nebulisasi agonis beta-2 tiap 4 jam Alternatif: Agonis beta-2 subkutan Aminofilin IV, Adrenalin 1/1000 0,3ml SK Oksigen bila perlu, Steroid sistemik. Terbaik: Nebulisasi agonis beta-2 tiap 4 jam Alternatif: Agonis beta-2 subkutan / IV, Adrenalin 1/1000 0,3ml SK Aminofilin bolus dilanjutkan drip, Oksigen, Steroid IV. Seperti serangan akut berat, pertimbangkan intubasi dan ventilasi mekanis
(MML)

IV. Persisten Berat

Sering

APE < 60% * VEP ,< 60% nilai prediksi APE < 60% nilai terbaik * Variabiliti APE > 30%

Ringan Aktifitas relatif normal berbicara satu kalimat dalam satu nafas. Nadi < 100 x/menit Sedang Jalan jarak jauh timbul gejala. Berbicara beberapa kata dalam satu nafas. Nadi 100-120 x/menit. APE 60-80% Berat Sesak saat istirahat. Berbicara kataperkata dalam satu nafas. Nadi < 120 x/menit. APE < 60% atau 100 l / detik Mengancam jiwa Kesadaran berubah/menurun, gelisah, sianosis, gagal nafas

Tujuan Penatalaksanaan Asma: 1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma 2. Mencegah eksaserbasi akut 3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin 4. Mengupayakan aktivitas normal termasuk exercise. 5. Menghindari efek samping obat 6. Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara ireversibel 7. Mencegah kematian karena asma

Asma dikatakan terkontrol jika: 1. Gejala minimal (sebaiknya tidak ada) termasuk gejala malam 2. Tidak ada keterbatasan aktifitas termasuk exercise 3. Kebutuhan bronkodilator (agonis _2 kerja singkat) minimal (ideal tidak dibutuhkan) 4. Variasi harian APE < 20% 5. Nilai AP normal atau mendekati normal 6. Efek samping obat minimal 7. Tidak ada kunjungan ke gawat darurat

Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut sebagai asma terkontrol. Asma terkontrol adalah kondisi stabil minimal dalam waktu satu bulan.

DAFTAR PUSTAKA: 1. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Asma di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2004. 2. A Pocket Guide for Asthma Management and Prevention. Global Initiative for Asthma (GINA). A Pocket Guide for Physicians and Nurse Update 2005. 3. Global Strategy for Asthma Management and Prevention. Global Initiative for Asthma (GINA). Revised 2006.

434

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

435

INFO PRODUK

( Anti ulkus dengan potensi uterotonik )
merupakan obat yang sangat banyak digunakan, namun penggunaan NSAIDs ini dapat memberikan dampak terjadinya ulkus lambung. Dari studi epidemiologi diperkirakan penggunaan NSAIDs jangka panjang akan menimbulkan ulkus lambung pada sekitar 20% - 30% pasien, serta akan menimbulkan gastropati 3 - 10 kali lebih banyak. Berbagai teori telah diajukan, namun teori ketidakseimbangan antara faktor agresi dan faktor defensi merupakan salah satu teori yang saat ini banyak digunakan untuk menerangkan terjadinya dispepsi. Seperti telah diketahui bersama ketidakseimbangan antara faktor agresi dan defensi akan meningkatkan risiko terjadinya dispepsi bahkan ulkus. Peningkatan aktivitas faktor agresi, penurunan faktor defensi, ataupun kombinasi keduanya merupakan penyebab ulkus lambung. Faktor agresif di antaranya adalah: asam lambung, pepsin, refluks cairan empedu, nikotin, NSAIDs, kortikosteroid, dan infeksi kuman Helicobacter pylori. Jika faktor-faktor ini meningkat aktivitasnya maka akan terjadi kerusakan jaringan dinding lambung. Hal yang sama akan terjadi jika aktivitas faktor defensi menurun. Beberapa yang termasuk faktor defensi adalah antara lain: aliran darah mukosa, regenerasi sel epitel permukaan, prostaglandin, surfaktan (fosfolipid), musin/mukus, bikarbonat, motilitas, impermeabilitas mukosa terhadap ion H+, dan regulasi pH intra sel. Berdasarkan teori di atas, ketidakseimbangan antara faktor agresi dan faktor defensi yaitu peningkatan aktivitas faktor agresi, penurunan aktivitas faktor defensi ataupun kombinasi keduanya akan menyebabkan terjadinya dispepsi; maka penataaksanaan kasus yang berhubungan dengan sindrom dispepsi ini adalah dengan cara: 1. Menurunkan aktivitas faktor agresi 2. Meningkatkan aktivitas faktor defensi 3. Kombinasi keduanya. Maka terapi sindrom dispepsi selain dengan pemberian obat- obat anti sekresi asam lambung (seperti: penghambat reseptor H2, PPI, anti gastrin) atau preparat yang dapat menetralkan asam lambung seperti antasida, dapat juga diberi preparat-preparat untuk meningkatkan potensi faktor defensi, di antaranya prostaglandin. Prostaglandin subtipe E1 merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan fungsi faktor defensi dinding lambung. Analog PGE1 sintetik yaitu misoprostol merupakan prostaglandin yang pertama diproduksi dan sudah mendapat persetujuan FDA untuk penanganan ulkus lambung akibat penggunaan NSAIDs. Literatur menyebutkan bahwa misoprostol mempunyai potensi sitoprotektif dan juga sebagai anti-sekresi asam lambung. Misoprostol mampu melindungi mukosa lambung terhadap berbagai bahan iritan dan bahan perusak termasuk: aspirin, etanol, indometasin, pentagastrin dan prednisolon, dan juga terhadap ulkus akibat stres (stress ulcer) ataupun syok septik. INVITEC® dalam bentuk sediaan tablet mengandung 200 mcg misoprostol analog prostaglandin E1 (PGE1) yang memiliki efek antisekresi dan melindungi mukosa lambung. INVITEC‘ mempunyai potensi antiulseran serta efek proteksi mukosa terhadap zat-zat perusak pada dosis yang menghambat/mempengaruhi sekresi asam labung secara minimal.
Referensi:
1. Daldiyono, Syam AF. Perubahan Hormon Gastrointestinal pada Sindroma Dispesia. Dalam Rani A, Manan C, Djojodiningrat D. dkk.(Ed). Dispepsia. Sains dan Aplikasi Klinik. Jakarta. Subbag Gastroenterologi Bagian Penyakit Dalam FKUI. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2002: 2. Goldberg AB, Greenberg MB, Darney PD. Misoprostol and pregnancy. N Engl J Med 2001;344:1:38-45. 3. Monk JP, Clissold SP. Misoprostol. A Preliminary Reviews of Its Pharmacodynamic and Pharmacokinetic Properties, and Therapeutic Efficacy in the Treatment of Peptic Ulcer Disease. Drugs 1987;33:1-30 4. Hawkey CJ, Karrasch JA, Szczepanski L, et al. Omeprazole Compared with Misoprostol for Ulcer Associated with Nonsteroidal Antiinflammatory Drugs. N Engl J Med 1998;338:727-34.

INVITEC

®

NSAIDs

Mekanisme anti ulkus dan sitoproteksi mukosa lambung dari misoprostol diperkirakan dengan cara sebagai berikut: 1. Efek pada sekresi asam : misoprostol menghambat sekresi asam baik siang maupun malam hari yang disebabkan oleh stimulasi histamin, pentagastrin, dan kopi. Efek antisekresi ini dapat diamati sampai 5 1/2 jam setelah pemberian. 2. Efek terhadap sekresi pepsin dan volume cairan lambung: misoprostol dapat menyebabkan penurunan moderat kadar pepsin dan volume cairan lambung pada kondisi basal, tapi bukan saat stimulasi. 3. Efek terhadap serum gastrin: misoprostol tidak memiliki efek yang menetap saat puasa atau peningkatan serum gastrin setelah makan. 4. Efek sekresi faktor intrinsik: pentagastrin sebagai stimulan sekresi faktor intrinsik tidak terpengaruh oleh pemberian misoprostol 100 mcg. 5. Aktivitas proteksi mukosa: misoprostol memiliki sifat memperkuat integritas barier mukosa gastroduodenal dari bahan-bahan perusak. Hal ini mencakup rangsang sekresi bikarbonat duodenum dan produksi mukus lambung. Misoprostol juga memelihara hemodinamik mukosa lambung. Selain efek antisekresi dan mukoproteksi terhadap lambung, prostaglandin (termasuk misoprostol) ternyata mempunyai efek kontraksi otot polos uterus (efek uterotonik). Oleh karenanya INVITEC® (misoprostol) secara umum dikontraindikasikan penggunaannya selain pada pasien yang hipersensitif juga pada wanita hamil karena dapat mengakibatkan terjadinya abortus. Indikasi Pencegahan ulkus lambung yang diinduksi oleh AINS (termasuk aspirin) pada pasien dengan risiko tinggi komplikasi ulkus lambung, misalnya usia lanjut dan pasien dengan penyakit berat secara bersamaan, serta pasien dengan riwayat ulkus lambung. Dosis dan Cara Pemberian Dewasa: untuk pencegahan ulkus lambung akibat induksi AINS anjuran dosis oral 200 mcg 4 kali sehari bersama makanan. Misoprostol harus diminum selama terapi AINS. Harus diminum saat makan dan dosis terakhir sebelum tidur. Efek Samping Paling sering diare, nyeri abdomen, dan tinja encer derajat ringan sampai sedang dan bersifat sementara. Pada wanita pernah dilaporkan adanya efek ginekologik seperti: kram, menorrhagia, dismenorrhea, dan ∆spotting∆. Efek lain dapat berupa: mual, muntah, nyeri kepala, kembung, dispepsi, dan konstipasi. Pola efek samping serupa jika diberikan bersamaan dengan AINS. Tidak dianjurkan penggunaannya pada wanita menyusui. Kesimpulan INVITEC® dengan kandungan zat aktif misoprostol (Analog PGE1 sintetik) merupakan preparat yang meningkatkan faktor defensi sehingga berfungsi sebagai anti ulkus lambung dengan efek uterotonik sehingga dikontraindikasikan penggunaannya pada wanita hamil. (TMB)

436

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

LAPORAN KHUSUS

LAPORAN KHUSUS

Di antara obat-obat venoaktif, Venosmil merupakan pilihan karena kemampuannya dalam menurunkan permeabilitas kapiler, meningkatkan tonus vena, memperbaiki deformabilitas eritrosit dan mengurangi edema. Penelitian yang membandingkan hidrosmin dengan sediaan venotropik lainnya, memperlihatkan keunggulan efektifitas Venosmil sebagai venotropic agent. Penelitian yang membandingkan hidrosmin dengan diosmin juga disampaikan dr. Ismoyo pada kesempatan ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa efektifitas perbaikan klinis hidrosmin pada pasien CVI lebih superior dibandingkan dengan diosmin. Topik CVI (Chronic Venous Insufficiency) dibahas oleh Dr. H. Murnizal Dahlan,SpBV(K), kepala bagian Bedah Vaskular Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Beliau mengulas mengenai CVI, prevalensi, etiologi, patofisiologi, serta terapi yang dapat diberikan. Dalam bahasan ini terapi dibagi menjadi terapi non-farmakologis, terapi farmakologis dan terapi operatif.

Tindakan operatif untuk CVI vena superfisial antara lain adalah: • The Hook Technique • Ligation of saphenofemoral junction • Ligasi vena yang mengalami perforasi (Linton»s procedure) • Stripping varises dengan vein stripper. Diingatkan oleh dr. Murnizal bahwa syarat yang penting sekali untuk tindakan operatif pada vena superfisial adalah vena profunda (vena dalam) harus berfungsi baik; untuk itu harus dilakukan penilaian pre-operatif dengan seksama. Syarat operasi pada vena dalam adalah: • Gagalnya terapi konservatif • DVT (Deep Vein Thrombosis) proksimal • Inkompetensi vena dalam yang ringan Tindakan operatif yang dapat dilakukan untuk CVI vena profunda (dalam) antara lain pemasangan saphenous vein crossover graft/PTFE (Polytetrafluoroethylene) graft, by pass insitu vena popliteal-femoral. Jika vena dalam tidak kompeten (vena profunda tidak berfungsi/ dalam keadaan tidak baik), maka dapat dilakukan valvuloplasti atau transposisi segmen vena (vein segment transpositions). Komplikasi tindakan operatif yang dapat terjadi adalah: hematoma, kerusakan beberapa saraf saphena dan infeksi. Selain tindakan operatif, ada tindakan invasif ringan yang dapat dilakukan pada kasus-kasus CVI vena superfisial dan vena profunda, di antaranya adalah Endovenous Radio frequency Ablation, Endovenous Laser Treatment (EVLT), Subfascial endoscopic perforator surgery (SEPS). Pada acara ini dibahas pula diagnosis serta penatalaksanan beberapa kasus dalam klinik. (YYA)

National Symposium on Vascular Medicine ke-4 (ANVIN)
ada tanggal 24 Agustus 2008 telah diadakan pertemuan National Symposium on Vascular Medicine ke-4 (ANVIN), yang diadakan oleh team marketing Discovery A, PT Kalbe Tbk, dr. Siswandi dan rekan. Acara ini diikuti oleh kurang lebih 50 orang dokter, yang tediri dari dokter umum, dokter spesialis jantung, dokter spesialis bedah vaskular. Acara yang berlangsung malam hari itu dibuka oleh dr. H. Murnizal Dahlan, SpBV(K). Setelah itu langsung dilanjutkan dengan pembahasan topik Chronic Venous Insufficiency (CVI) Role of Vasoprotective Agent oleh Dr. Ismoyo Sunu, SpJP(K). Kepala Bagian Vaskular di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. CVI merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Amerika Serikat. Kurang lebih 24 juta penduduk Amerika menderita vena varikosa dan 6 juta orang menderita kelainan kulit yang berhubungan dengan CVI. Ulkus karena CVI diderita oleh kurang lebih 500.000 orang, dengan prevalensi tertinggi pada pria usia 70-79 tahun dan wanita usia 40-49 tahun. Kemungkinan besar banyak penderita CVI di Indonesia, namun belum dilakukan pendataan secara berkala dan nasional. Penyebab CVI multifaktorial, di antaranya adalah insufisiensi katup vena, malformasi vaskular kongenital, herediter, kelebihan berat badan, gaya hidup yang tidak sehat, serta faktor-faktor hormonal. Selain itu pasien dengan riwayat gagal jantung, trauma pada ekstremitas, flebitis, trombosis vena dalam lebih mudah untuk mengalami CVI.

P

Ada 4 teori terjadinya CVI: Teori lama: • Vein & Valve Damage or Failure Theory Terjadinya refluks dan peningkatan tekanan vena, dan • Calf Muscle Pump Failure Theory Terbentuknya vena yang melebar dan memanjang, terutama di daerah medial malleolus Teori baru: • Fibrin Cuff Theory Terbentuknya deposit fibrin di daerah perikapiler. • White Cell Trapping Theory Kerusakan vena karena penempelan sel darah putih di dinding kapiler pembuluh darah. Klasifikasi CEAP : CEAP clinical classification CEAP etiological classification CEAP anatomical classification CEAP pathophysiological classification Pemeriksaan non-invasif yang dapat dilakukan adalah Imaging Studies berupa Doppler bidirectional-flow studies dan Doppler color-flow studies dan pemeriksaan lainnya, seperti photoplethysmography. Pada CVI, pilihan terapi di antaranya adalah elevasi tungkai, kompresi, obat-obatan venoaktif, perawatan luka dan terapi operatif.

Terapi non farmakologik di antaranya adalah elevasi tungkai, stoking kompresi, serta menurunkan berat badan. Terapi kompresi terbaru dinamai External Pneumatic Compression. Terapi farmakologi yang dapat diberikan di antaranya adalah golongan flavonoid seperti hidrosmin (Venosmil) yang dikatakan sangat bermanfaat, bahkan pada kasus CVI lanjut. Tindakan invasif seperti sclerotherapy; dalam kesempatan ini dibahas teknik foam sclerotherapy. Tindakan operatif pada kasus-kasus CVI vena superfisial dilakukan jika: • Telah terjadi perforasi vena • Nyeri tidak bisa ditangani dengan obat-obatan lagi. • Terapi konservatif gagal • Pasien yang aktif (berhubungan dengan aktifitas pasien dalam kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan, gaya hidup) • Vena dalam (vena profunda) berfungsi baik.

438

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

439

LAPORAN KHUSUS

LAPORAN KHUSUS
Decline in Events Associated with Asymptomatic Dia membahas beberapa penyakit infeksi seperti penyakit Carotid Stenosis With and Without Intensive jantung rematik, malaria tuberkulosis dan AIDS ang masih y Medical Therapy prevalen ang dapat meningkatkan risiko stroke; di samping y mulai meningkatnya penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabetes melitus. No Before After
Event

Dia juga menyinggung peranan pendidikan bagi pengobat tradisional dan pengembangan guideline ang lebih spesifik y Stroke in ear 1 untuk tiap negara sesuai dengan ketersediaan tenaga y dan fasilitas kesehatan; hal ini dapat dicapai dengan makin sering MI bertemunya para pakar dari negara maju dan negara berkem- ear 1 in y bang, ang sudah mulai dirintis oleh China ang mengadakan y y Death pertemuan tahunan untuk maksud tersebut. in ear 1 y

Microemboli Microemboli (%) (%) 1.2 14.3

P

2003 (%)

2003 (%) 4

P

< .0001

0.8

.02

2.4

8.6

.07

6.5

0

.0001

2.9

12.1

.027

5.1

2

.12

6th World Stroke Congress,
Vienna, Austria 24 - 27 September 2008
Sampai

Beberapa kemajuan terapi yang dibicarakan antara lain: Virchows triads 2008 merupakan target untuk suatu gagasan » Pengobatan tPA untuk stroke iskemik masih bermanfaat jika baru penanganan stroke - suatu konsep ang sebenarnya sudah y diberikan dalam 4,5 jam setelah kejadian stroke. Kesimpulan diketahui - aitu pentingnya memperhatikan faktor endotel, y ini didapat dari hasil studi ECASS 3 (European Cooperative aliran darah dan komponen plasma/darah. Acute Stroke Study). Hasil ini dianggap sebagai sesuatu ang y relatif menggembirakan karena memperpanjang indikasi pengGangguan atas faktor-faktor tersebut akan mengganggu fungsi gunaan rtPA ang selama ini direkomendasikan hanya dalam integritas y y dan neuron dan pembuluh darah - ang bersama sel 3 jam setelah kejadian stroke iskemik; selain itu juga dapat lebih satu kesatuan glia merupakan neurovascular unit. Dimulai dari meyakinkan para dokter akan efektivitas dan keamanan rtPA sistim koagulasi berupa deposisi fibrin aktivasi pada pengobatan stroke iskemik akut. mikrosirkulasi, menyebabkan aktivasi endotel, penin

meabilitas, leucocyte adherence and transmigration, focal nosaat ini stroke atau Gangguan Peredaran Darah Otak P Puska dari Finlandia menyoroti pentingnya kerjasama antara Dilaporkan juga hasil penelitian pendahuluan(Micro- reflow dan (akhirnya) mengurangi local CBF. Hal ini akhirnya akan MITI-IV masih merupakan masalah penting, baik di negara maju maupun neurologist dancardiologist dalam menangani masalah vaskuler plasmin in the Treatment of Ischemic Stroke √ Intravenous mematikan neuron. Kegagalan menanggulangi gangguan-gangdi Indonesia; penyakit ini merupakan penyebab kematian mempunyai faktor risiko bersama; dia menganjurkan ke ang y Study) atas manfaat mikroplasmin ang selain manfaatini secara simultan mungkin ang menyebabkan mengapa y guan y tiga setelah penyakit jantung dan kanker; tetapi merupakan ang lebih erat baik di tingkat organisasi maupun kerjasama y trombolitiknya, juga diduga mempunyai efek neuroprotektif. usaha pengobatan stroke selama ini belum memuaskan. penyebab kecacadan utama mengingat gejala sisanya ang institusi untuk promosi diet ang sehat, tidak merokok, aktivitas diketahui menurunkan kadar fibrinogen dan MMP y y Obat ini tetap membebani baik penderita maupun keluarganya. fisik seimbang dan mengendalikan tekanan darah dan lipid (Metallic Metalloprotein) ang diduga berperan dalam proses Faktor neuroproteksi juga merupakan target pengobatan stroke y darah sebagai usaha pencegahan di tingkat masyarakat. trombosis. Pada percobaan fase 2 atas 40 pasien di 8 rumahmengingat akhir-akhir ini banyak perhatian ditujukan pada Berbagai aspek penyakit stroke ini dibahas dalam pertemuan 4 sakit di Eropa, rekanalisasi reperfusi ang dinilai bagaimana neuron dapat memperbaiki diri setelah serangan y melalui MRI tahunan World Stroke Congress; kali ini ang ke enam Bonita dari Selandia Baru menyoroti angka kematian akibat y R di30% lebih baik daripada kelompok plasebo.Selain iskemik. Setiap lesi di susunan saraf akan mencetuskan suat itu kondisi selenggarakan di Vienna, Austria pada 24 - 27 September 2008. akan terus meningkat dari kira-kira 5.7 juta saat ini stroke ang y klinis ang dinilai melalui skala NIHSS juga reaksi neuroproteksi endogen; prosesnya dikenal sebagai neuroy menunjukkan Kongres ini merupakan kegiatan dari World Stroke Organizamenjadi 6.7 juta di tahun 2015 jika tidak dilakukan tindakan plastisitas y perbaikan bermakna. Studi ini masih perlu dilanjutkan untuk ang dikendalikan oleh faktor-faktor neurotropik. tion - organisasi ang beranggotakan para profesionalpencegahan ang memadai. Dan 4 dari 5 kematian tersebut y dan y Konsep ini ang mendasari percobaan penggunaan cerebrolysin y melihat manfaat klinisnya pada populasi ang lebih besar. y organisasi ang menangani masalah stroke. y akan terjadi di negara berpendapatan sedang-rendah. Dia suatu neuropeptid - pada kasus-kasusSaat ini baru pada stroke. mengatakan bahwa sebagian besar faktor risiko telah diketahui y Usaha memperbaiki prognosis pasien stroke melalui tahap percobaan klinis ang memberikan harapan pendekatan kontrol Selain teaching courses, ang menarik adalah diadakannya dan 6 juta kematian bisa dihindari jika (fakto risiko tersebut) y terapi suhu tubuh juga dilakukan melalui percobaan penggunaanbaru. joint session World Stroke Organization √ World Heart Federa- dapat ditangani dengan (lebih) baik, dan efeknya akan lebih parasetamol 6 gram/hari dimulai dalam 12 jam setelah serangan tion ang membahas bagaimana tindakan preventif berupa y nyata jika dilakukan di negara berpenduduk padat seperti stroke diteruskan sampai 3 hari pada pasien ang suhu Stroke Congress berikutnya akan diadakan di Seoul, Korea y tubuhpenanganan berbagai faktor risiko bersama dapat bermanfaat dan China (dan Indonesia ?). Pemerintah bertanggung India pada 13 - 16 Oktober 2010, diharapkan dapat mengetengahkan nya antara 36 - 39 C. Penilaian menggunakan modified untuk mengurangi kejadian penyakit-penyakit jantung dan jawab untuk menyusun kebijakan pencegahan dan sistim rujukan stroke. keberhasilan dan kemajuan pencegahan, diagnostik, pengobatan, Rankin Score menunjukkan odds ratio untuk perbaikan setelah ang tepat. y y (BRW) 3 bulan adalah 1.21; dan untuk kelompok dengan dan rehabilitasi stroke guna penanganan ang lebih baik. suhu tubuh Pada Presidential Symposium tampil GA Donnan dari Australia > 37C odds rationya 1.43. Studi ini melibatkan 1368 pasien ang menekankan bahwa masalah utama penanganan stroke M Brainin dari Austria berpendapat bahwa di negara maju y di 28 rumahsakit di Belanda. ialah bagaimana mengurangi beban kecacadan baik bagi penpencegahan ang paling tepat diarahkan pada populasi muda y derita, maupun keluarga dan masyarakat. Dia mengusulkan peraturan ang lebih ketat mengenai merokok, diet rendah berupa y peningkatan ketrampilan petugas medik, tidak hanya terbatas dan anjuran aktivitas fisik, ditambah dengan penanga- Studi mikroemboli atas 468 pasien di Kanada menunjukkan garam bahwa kejadian mikroemboli turun dari 12.6% sebelum tahun pada stroke specialist, untuk mendeteksi dan melakukan tindakanpopulasi risiko tinggi. Di samping itu, penanganan dini nan 2003 menjadi hanya 2.3% di tahun sesudah 2003. Mereka ang tepat sedini mungkin; ang kedua ialah menerapkan y y berupa penggunaan trombolisis ang tepat dan peningkatan y menduga penurunan ini akibat dari makin agresifnya terapi standar terapi dan pencegahan setinggi mungkin, dan ang y kualitas perawatan di stroke unit akan mengurangi kecacadan. untuk hiperlipidemi, karena penurunan ini juga terlihat dari terakhir ialah terus melakukan riset mengingat masihMasalah stroke di negara berkembang dibahas olah VU Fritz banyak penurunan kejadian infark miokard dan kematian. ang harus diketahui untuk menganani stroke secara maksimal. Afrika Selatan. y dari

440

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

441

LAPORAN KHUSUS

LAPORAN KHUSUS

Zat aktif yang paling penting untuk terapi psoriasis adalah kortikosteroid seperti betamethasone dipropionate, betamethasone valerate dan clobetasol propionate. Derivat vitamin D3 dan coal tar atau derivatnya juga sering digunakan. Fototerapi dan radioterapi juga telah digunakan untum terapi psoriasis kulit kepala (sinar UV, PUVA, excimer laser, dan sinar grenz). Juga terdapat data penggunaan obat imunosupresif seperti alefacept, dll.

Sedangkan Prof. Feldman dari USA dalam presentasinya yang berjudul ≈Problem and Challenges in the Management of Scalp Psoriasis∆ menyebutkan bahwa masalah utama dalam terapi psoriasis sehingga respon terapi tidak seperti yang diharapkan adalah buruknya kepatuhan pasien terhadap terapi. Cara untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi adalah memberikan obat topikal dalam bentuk sediaan yang mudah dan nyaman digunakan serta tidak memerlukan waktu terapi yang lama, contohnya adalah bentuk sediaan shampo untuk psoriasis kulit kepala. Topik lain yang mendapat antusias yang besar dari peserta adalah mengenai melasma. Kembali Prof. Ortone dalam presentasinya dengan judul ≈What is New on Melasma?∆ menyebutkan bahwa melasma merupakan kondisi hiperpigmentasi yang sangat sering dijumpai yang biasanya mengenai daerah wajah yang terpapar. Kemungkinan faktor genetik terlibat dalam melasma dan kejadian familial kelainan ini tidaklah jarang (2147%). Prevalensi melasma sangat tinggi pada kelompok etnik tertentu dan paling sering mengenai tipe kulit III-VI. Penemuan saat ini menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi alpha-MSH pada keratinosit epidermis makula melasma menunjukkan bahwa hormon ini dan reseptornya terlibat dalam induksi hipermelanosis dan dalam patogenesis melasma. Sedangkan radiasi UV menyebabkan keratinosit epidermis memproduksi faktor melanogenik termasuk alpha-MSH sehingga menyebabkan melanogenesis. Saat ini juga telah ditunjukkan adanya peningkatan ekspresi SCF (Stem Cell Factor) yang disekresi oleh fibroblas dermis dan c-kit dalam epidermis kulit melasma. Hal ini menunjukkan bahwa SCF dan c-kit reseptornya telibat dalam mekanisme hipermelanosis pada melasma. Estrogen dan progesteron juga telah dipertimbangkan sebagai faktor etiologi melasma. Ditunjukkan bahwa 17-beta-estradiol menstimulasi keratinosit untuk memproduksi GM-CSF, suatu faktor melanogenik dan faktor pertumbuhan melanosit yang terlibat dalam hipermelanosis yang diinduksi oleh UVA. Semua penemuan tersebut menyebabkan pengertian yang lebih baik terhadap regulasi melanosit dan keratinosit oleh hormon dan sinar matahari serta menyebabkan perkembangan strategi terapi baru. Menurut Dr.Krisada Duangurai dari Bangkok dalam presentasinya yang berjudul ≈Medical Therapy in Melasma∆, pigmen dermis dapat diterapi dengan menghancurkan pigmen misalnya dengan laser. Sedangkan pigmen epidermis dapat diterapi dengan obat depigmentasi topikal atau dengan pengelupasan epidermis. Obat depigmentasi meliputi : • Senyawa phenolic (hydroquinone dan derivatnya) • Obat keratolitik (tretinoin, glycolic acid, salicylic acid) • Kortikosteroid • Lain-lain (Licorice extract, azelaic acid, kojic acid, ascorbic acid, arbutin). (EKM)

8th Asian Dermatological Congress
Pada tanggal 1-4 Oktober 2008 di kawasan Seoul, Korea,
tepatnya di Sheraton Grande Walkerhill Hotel, telah berlangsung acara 8th Asian Dermatological Congress (8th ADC 2008). Acara yang diikuti oleh sekitar 1080 peserta khususnya dokter spesialis dan residen Kulit dan Kelamin dari 26 negara tersebut diselenggarakan atas kerjasama Korean Dermatological Association dan Asian Dermatological Association. Acara dengan tema "Shaping the Future : Dermatology in Asia" dengan pembicara dari berbagai negara tersebut diselenggarakan dengan latar belakang adanya peningkatan ketertarikan dermatologis maupun publik dalam kesehatan kulit dan perawatannya. Diharapkan dengan acara tersebut, dokter tidak hanya melihat masa depan, tetapi juga membantu membentuk masa depan dermatologi di Asia. Acara tersebut juga diharapkan dapat menjadi daya dorong untuk mempercepat penelitian dan perkembangan di bidang dermatologi. Acara 8th ADC 2008 ini antara lain dibuka oleh ketua panitia 8th ADC, Prof. Jai-Il Youn, Ketua Korean Dermatological Association, Eil-Soo Lee, M.D, Ph.D dan Ketua Asian Dermatological Association, Kunihiko Tamaki, M.D, Ph.D. Berbagai topik di bidang dermatologi dibahas dalam acara ini, salah satunya adalah mengenai ≈Atopic Dermatitis : Recent Advances in the Pathophysiology and Their Clinical Relevance∆ oleh Prof. Thomas Bieber, M.D dari Jerman. Dalam presentasinya, Prof.Bieber menyebutkan bahwa dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronik yang dibagi minimal dalam 2 bentuk yang berbeda yaitu atopik (berkaitan dengan IgE, ekstrinsik) dan non-atopik (tidak berkaitan dengan IgE, intrinsik). Saat ini, mutasi pada gen yang mengkode Filaggrin (FLG) telah dilaporkan sangat berkaitan dengan bentuk tertentu dermatitis atopik dengan onset dini. Mutasi FLG dikaitkan dengan disfungsi barier epidermal pada dermatitis atopik. Oleh karena itu, dermatitis atopik dapat timbul dengan latar belakang gen yang berkaitan dengan protein strutural yang terlibat dalam fungsi barier epidermal atau yang berkaitan dengan mekanisme imunologi yang terlibat dalam peningkatan sintesis IgE. Dermatitis atopik pada kebanyakan pasien (70%) ditandai dengan adanya peningkatan kadar IgE serum total, namun 30% pasien atopik menunjukkan kadar IgE yang normal. Dalam presentasi ini juga disebutkan mengenai penatalaksanaan yang lebih kuat dan proaktif yaitu diagnostik alergologikal, terapi dasar untuk mengkoreksi disfungsi barier epidermal, mengkontrol kolonisasi bakteri dan mengkontrol inflamasi dengan lebih efektif dengan aplikasi intermiten steroid topikal atau penghambat kalsineurin topikal. Topik lainnya adalah mengenai ≈Psoriasis-Why Does It Really Matter? And How Have We Managed This Condition∆ oleh Prof. Jean-Paul Ortone, M.D dari Perancis. Dalam presentasinya, Prof. Ortone menyebutkan bahwa psoriasis merupakan kondisi yang cukup sering terjadi. Kulit kepala merupakan lokasi yang paling sering terkena (80%). Psoriasis kulit kepala ditandai dengan lesi eritroskuamosa berbatas tegas dengan sisik putih perak yang mengenai garis rambut di atas wajah atau retroaurikuler. Dapat timbul plak yang sangat tebal khususnya di daerah oksipital, yang bila berlangsung lama dapat mengakibatkan alopesia jaringan parut. Terapi psoriasis meliputi terapi fotosistemik dan topikal, dan kebanyakan pasien menggunakan kombinasi terapi tersebut.

442

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

443

LAPORAN KHUSUS
Penurunan hormon inilah yang akan menimbulkan banyak masalah/ penyakit pada masa tua. Hal ini bisa dikoreksi, jelas Wimpie bersemangat. Pengetahuan yang diperoleh dari bidang ilmu Anti-Aging & Regenerative Medicine bisa membantu manusia untuk tetap hidup berkualitas di hari tuanya. Namun, Wimpie mengingatkan, Anti-Aging dan Regenerative Medicine (AARM) bukanlah salah satu bentuk alternative medicine, bukan pula hanya cosmetics dan aesthetic saja. Banyak bidang ilmu yang dipelajari dalam AAARM tersebut antara lain: - Prospective Advanced Diagnostics - Biomarkers of Aging Assessment - Anti-Aging Endocrinology & Hormone Replacement Therapy - Antioksidant Analysis & Optmized Supplementation - Maximized Immune Function - Detoxification - Cardiovascular Protection - Cognitive Function Assessment & Repair - Metabolic & DNA Repair - Skin De-Aging & Repair - Lifestyle Modification - Musculoskeletal Rehabilitation - Sports Medicine Conditioning Pada hari pertama ini, setelah acara pembukaan, tampil berturutturut nara sumber seperti: 1. Prof Wimpie Pangkahila, MD, PhD, SpAnd, FAACS dengan topik "Fundamental of Scientific Anti-Aging & Regenerative Medicine" 2. Prof Robert M. Goldman MD, PhD, DO, FAASP. ABAARM: "Emerging Technology in the Science of Anti-Aging: Maximum Human Performance with Anti-Aging Therapeutics" 3. Prof Michael Klentze, MD, PhD, ABAARM: "Breakthrough of the Year: Genes and Stem Cells Reprogramming" 4. Dr Vijay Sharma, PhD: "Mesenchymal Stem Cell: Bench to Bedside" 5. Dr S. Ali Mohamed, M: "Clinical Prespective: New Standards in Anti-Aging Hormone Replacement Therapy" 6. Prof Claus Muss, MD, MSc, PhD: "Impact of Oxidative Stress on Neurodegeneration" 7. Dr Michael Elstein, MD, ABAARM, FACNEM, FAAM: "Aging - A Nutritional & Bio-Chemical Approach" 8. Dr James T. Bell, PhD, MS, MBA, BS Eng: "Sports Medicine: Exercise Prescription for Anti-Aging and Care & Prevention of Age Related Diseases, Disability and Dysfunction" 9. Dr Selvaraj Y. Subramaniam MD, MFSEM, ABAARM: "Fish Oil Omega 3 Anti-inflammatory: What, How, When" 10. dll Malam harinya peserta dijamu dengan penuh kehangatan di Victus Life. Dari bincang-bincang Redaksi dengan beberapa peserta (terutama yang sering mengikuti kegiatan anti aging medicine), tercermin rasa puas, kerena ilmu yang diperoleh benar-benar Anti Aging Medicine sehingga mereka bisa lebih jelas apa itu anti aging medicine dan bagaimana menjalankan praktek Anti Aging Medicine guna memberikan yang terbaik bagi masyarakat/kliennya di tempat praktek masing-masing. Para peserta yang megikuti penuh acara ini (konferensi & workshop) akan memperoleh 16 SKP IDI. Dua hari berikutnya, para peserta akan mengikuti workshop yang terbagi atas 2 track yang berjalan paralel. ABAARM Clinical Training Course (ACTC) Selain konferensi ini, para peserta bisa melanjutkan dengan : ABAARM Clinical Training Course (ACTC) 4 hari berikutnya. Kursus ini ditujukan bagi para dokter/tenaga kesehatan lainnya yang berminat untuk mengambil sertifikat American Board of Anti-Aging & Regenerative Medicine (ABAARM). Dengan demikian akan semakin banyak dokterdokter Indonesia yang bisa "berbicara" di event-event Anti-Aging Medicine regional/dunia. (ETN)
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008 CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

GERAI

Wimpie Pangkahila, Kisjanto, Robert Goldman dan Michael Klentze saat membuka acara

The 7th Asia Pasific Conference on Anti Aging & Regenerative Medicine,
Bali 10 - 12 Oktober 2008

Kalbe berpartisipasi pada acara ANVIN 2008 di hotel Crown Jakarta, tanggal 24 Agustus 2008 dengan menampilkan produk ‘Venosmil®’ (hydrosmin 200 mg).

Dr. Anastasia Sai Mumpuni, SpJ tengah menjelaskan tentang tentang Aterosklerosis pada seminar Qvida dengan tema 'Mencegah Aterosklerosis secara Alami dengan Antioksidan' tanggal 26 Juli 2008 di Kalbe Cempaka Putih.

Bertempat di Grand Hyatt Hotel Nusa Dua Bali, acara Anti Aging
Medicine tingkat Asia Pasific dibuka pada Jumat 10 Oktober 2008. Tak kurang 300 peserta dari pelbagai negara di dunia ikut ambil bagian pada event yang diselenggarakan oleh American Academy of Antiaging Medicine (A4M)/World Anti-aging Academy of Medicine (WAAAM) dengan didukung oleh European Society of Preventive Regenerative and Anti-aging Medicine/ESAAM, FK Udayana dan Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia/PERKAPI dan CDK (media partner). Dalam kata sambutannya, Prof Robert Goldman, Chairman A4M menyatakan bahwa konferensi di Bali adalah bentuk mini dari konferensi tingkat dunia di Las Vegas nanti. Semua pembicara adalah pakar Anti Aging Medicine tingkat dunia yang berasal dari Eropah, Asia dan Amerika Utara. Bagi Goldman sendiri, Bali sudah merupakan kampung halamannya. Oleh karenanya meskipun harus melakukan perjalanan (kali ini) hingga 35 jam, ia merasa senang bisa bertemu dengan sahabat-sahabatnya praktisi AAM. Pembicara berikutnya, Prof Michael Klentze, Secretary General ESAAM, memuji keberanian Indonesia khususnya FK Udayana yang - untuk pertama kalinya di dunia - menyelenggarakan pendidikan Master (S2) dalam bidang Anti-Aging and Regenerative Medicine. Langkah besar FK Udayana ini langsung saja diikuti dengan pembentukan program serupa pada beberapa universitas di Eropah. Memang pada kata sambutan yang dibawakan sebelumnya oleh Prof. Wimpie Pangkahila, selaku tuan rumah, telah menyatakan bahwa dengan adanya program master yang pesertanya membludak ini pada setiap angkatan, membuktikan bahwa Anti-aging Medicine itu telah diakui eksistensinya di dunia lebih khusus lagi di Indonesia. Hal ini yang menyebabkan PERKAPI menurut Prof Kisjanto selaku Ketua PERKAPI akan selalu mendorong pembukaan bidang studi AAM di pelbagai Universitas di Indoensia. Fundamental of Scientific Anti-aging & Regenerative Medicine oleh Prof Wimpie Pangkahila Pada hari pertama conference ini (10 Oktober 2008), presentasi menarik dibawakan oleh Prof Wimpie Pangkahila, yang merupakan satu-satunya pembicara dari Indonesia. Membawakan materi dengan judul "Fundamental of Scientific Anti-aging & Regenerative Medicine", Guru Besar dari FK Udayana tersebut menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi saat usia kronologis manusia beranjak tua. Hampir semua hormon (HGH, DHEA, Melatonin, Testoteron (pada pria) dan Estrogen (pada wanita)) akan menurun.

Kalbe turut serta dalam acara PIT PERHATI (Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Dokter Ahli Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher) di Hotel Hyat Bandung, pada tanggal 30 Juli - 1 Agustus 2008. Seperti terlihat pada foto Tim Marketing Pluto, Discovery dalam stan Kalbe yang menampilkan produk Tarivid, Climadan, Cravit & Hexilon.

444

445

KORESPONDENSI
Ass. Wr. Wb, Nama saya dr. Natalina Christanto, saya seorang dokter PTT yang bertugas di daerah pedalaman Aceh. Akses komunikasi sangat sulit sekali di daerah tempat tugas saya, sinyal HP saja baru ada tahun 2008 ini tapi kalau mati lampu sinyal pun ikut menghilang. Siaran TV yang ada hanya semut. Kami baru bisa mendapat informasi apabila kami sedang mengambil gaji ke kota. Saat itulah baru kami baca koran atau ke internet. Yang ingin saya tanyakan apakah distribusi CDK sampai ke Aceh ? Kalau ya, bagaimana caranya saya bisa mendapatkan CDK. Jujur saja saya tidak tahu medrep-medrep yang ada di Aceh karena tempat praktek saya yang di ujung gunung itu tidak pernah dikunjungi. Kalau bisa saya dapatkan CDK, saya sangat bersyukur sekali, karena sejak saya PTT di daerah ini saya merasa jadi 'gaptek', kemajuan-kemajuan terbaru atau penelitian-penelitian terbaru saya tidak tahu dan kalau bisa CDK dikirimkan ke Aceh, ini alamat surat menyurat saya: dr. Natalina Christanto d/a Amrisaldin, JKMA Aceh, Jl. Prada I no. 5, Banda Aceh - NAD Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih. dr. Natalina Christanto Kepala Puskesmas Arafat-Lamteuba Kecamatan Seulimeum Kabupaten Aceh Besar

FORMULIR BERLANGGANAN MAJALAH CDK TAHUN 2009
Pembaca yth. Banyak terima kasih atas kebersamaan Anda selama ini. Komitmen kami adalah untuk selalu memberikan yang terbaik bagi para pembaca. Agar kami bisa melayani Anda lebih baik, mohon kiranya mengisi ‘Formulir Berlangganan Majalah CDK tahun 2009, di bawah ini yang akan menjadi acuan pembaruan data-base kami.

Nama Lengkap : Jenis Kelamin Gelar : : Pria dr. umum Wanita dr. spesialis : Lain :

Alamat tempat praktek / institusi :

Tlp./ Fax.

:

HP :

E-mail Address :
Yth. dr. Natalina Christanto di Aceh Menanggapi surat dokter, kami turut prihatin dengan kondisi tempat tugas saat ini yang masih jauh dari jangkauan media informasi. Kami sampaikan bahwa majalah CDK selama ini didistribusikan sampai ke daerah-daerah termasuk Aceh. Untuk dokter yang bertugas di Puskesmas Arafat-Lamteuba, Aceh Besar, kami akan mengirim melalui pos secara teratur pada setiap penerbitan dengan kategori pelanggan : Institusi/Puskesmas. Sedangkan untuk pengiriman ke alamat : praktek pribadi, akan dikirim melalui marketing Kalbe cabang kota ybs. Jika sewaktu2 kiriman majalah CDK terhenti, dokter dapat menghubungi marketing: Ibu Nurjanah DM Marketing Stealth PT. Kalbe Farma Tbk. Jl. Ir. M. Thahir Pertigaan Lembah Hijau DS COT Mesjid Banda Aceh - 23247 Tlp. 0651-22830 Demikian kami sampaikan dan terima kasih atas perhatiannya. Wassalam,

Nama MedRep yang memberikan majalah ini : Komentar anda mengenai Majalah CDK (jika terpilih akan dipublikasi di CDK) :

Silakan mengembalikan formulir yang telah diisi lengkap kepada : Medical Representative (MedRep) yang membawa majalah ini. Atau bisa juga mengirimkannya ke Redaksi CDK dengan cara (pilih salah satu) : 1. Pos: Redaksi CDK, Jl. Letjen Soeprapto kav. IV, Cempaka Putih – Jakarta 10150 2. Facsimile: 021-42873685 3. E-mail: cdk.redaksi@yahoo.co.id ( Boleh difoto copy )

Redaksi

446

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

INDEKS KARANGAN
English Summary IB Putra Adnyana, Haya Harareth : Risiko Anovulasi pada Penderita Infertil dengan Hiperprolaktinemi Ketut Suwiyoga : Akurasi Gineskopi dengan Bantuan Olesan no.1/2008 Asam Asetat 5% untuk Deteksi Displasia pada Lesi Serviks Caroline Hutomo : Terapi Pre-eklampsia IB Putra Adnyana : Hubungan Jumlah Folikel Antral dengan Respons Ovarium terhadap Stimulasi Ovulasi Jefferson Rompas : Pertumbuhan Janin Terhambat Didik Gunawan Tamtomo : Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional Kerokan Dwi Agustina, Caroline T. Sardjono, Ferry Sandra : Metode Isolasi Inner Cell Mass sebagai Sumber Embryonic Stem Cell Berita Terkini Review Cochrane memberikan lampu hijau untuk pemberian Taxane pada kanker payudara Analgesia epidural menurunkan tekanan intraabdominal Midazolam efektif mencegah PONV Asam folat tingkatkan performa fungsi kognitif lansia Jogging tidak sebaik sepak bola untuk membakar lemak Kadar HDL tinggi melindungi jantung Anda Kafein plus asetaminofen beracun untuk beberapa orang Melawan kuman dengan sabun dan air hangat Seksio saesar meningkatkan risiko ibu dan bayi Informatika Kedokteran (Dani Iswara) : Blog Kedokteran sebagai Media Komunikasi Pasien dan Dokter Profil (Ari Satriyo Wibowo) : Mengenal Secara Utuh Sosok Prof. Dr. Sarwono Prawirohardjo Korespondensi : Masalah insomnia sering ditemukan pada lanjut usia Laporan Kegiatan Ilmiah bulan November - Desember 2007 Kalender Kegian Ilmiah bulan Januari – Maret 2008

INDEKS KARANGAN
116 117
English Summary Andreas Soejitno : The Role of Telehealth in Educating Hospitalized Patient Suwanto, Roveny, Steven : Mind Maps, Humor dan Mnemonic, Tabel dan Diagram serta Gambar dalam Pembelajaran Ilmu no.5/2008 Kedokteran Umatul Khoiriyah : Mini Cex: Apakah Pilihan Tepat untuk Menilai Kompetensi Klinis Siswa ? Andreas Erick Haurissa, Gregorius Bimantoro, Pramanta : SPAS : Sistem Perangkat Penaksiran Hasil Pembelajaran Waktu-Nyata yang Partisipatif Theresia Ilyan, Sylvie Sakasasmita : Aplikasi Telemedicine bagi Pendidikan Kedokteran di Pedesaan Daryo Soemitro : Internet dalam Dunia Kedokteran Dani Iswara : Peluang Pembelajaran Ubiquitous dalam Pendidikan Kedokteran Yusuf Alam Romadhon : Hubungan Business to Business (B2B) Dokter Spesialis-Dokter Umum Berita Terkini AMA menetapkan para dokter akan menerima aturan peresepan elektronik Internet mungkin baik untuk kesehatan Anda Google melansir catatan medis personal berbasis web iPod dan alat pacu jantung akhirnya dapat bekerja bersamaan MEDMARK akan menjadi pusat data kesalahan pengobatan terbesar di dunia Kesalahan pengobatan dikurangi dengan komputerisasi peresepan dokter Flu lambung menyebar melalui keyboard komputer yang terkontaminasi Virtual Human Body, perjalanan interaktif dan 3 dimensi ke dalam anatomi manusia Tip-tip aman berselancar di website medis Orang-orang sering berbagi obat resep Info Produk : Biogaia Chewing Gum Laporan Khusus bulan Juni - Juli 2008 Laporan Kegiatan Ilmiah bulan Mei - Juni 2008 Gerai Korespondensi Agenda Kegiatan Ilmiah bulan Agustus 2008

160
vol. 35

04

English Summary

252 253

English Summary

05 09 12 17 23 28 32

36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 48 50 51 54

Husein Albar : Evaluation of Clinical Presentation to Recognize Chronic Failure in Children vol. 35 Amel Yanis, W. Edith H. Pleyte, Ika Widyawati, HE no.3/2008 Kusdinar A : Peranan Hubungan Ibu-Anak pada Gagal Tumbuh Anak 0-36 Bulan Adi Wirawan, I Ketut : Profil Penderita Tuberkulosis Anak Britanto Dani Wicaksono, Enos Tangke Arung, Ferry Sandra : Aktivitas Antikanker dari Kayu Secang Berita Terkini Densitometri tulang tangan menyibak kerusakan tulang awal pada artritis rematoid Sel punca untuk transplantasi ginjal Sel punca dewasa membantu mereka yang mengalami gangguan imun dan penyakit jantung Ibuprofen mengurangi efek positif aspirin pada individu dengan risiko stroke Nyeri kepala biasa terjadi pada orang dengan masalah saluran cerna Efek neuroprotektif asam mefenamat dan ketoprofen pada penyakit Alzheimer Metabolisme dipengaruhi oleh probiotik Antioksidan betakaroten meningkatkan risiko kanker Obat flu dan batuk bebas (OTC) tidak direkomendasikan untuk bayi Suplemen minyak ikan dapat berbahaya bagi beberapa pasien jantung Obat kumur alopurinol sebagai pencegah stomatitis pada pasien kanker Lahir prematur berdampak jangka panjang Informatika Kedokteran (Hatmoko) : Pemanfaatan multimedia audiovisual sebagai media penyuluhan kesehatan interaktif Profil (Ari Satriyo Wibowo) : Semangat pantang menyerah Prof. Barry J. Marshall, sang pemenang Nobel Kedokteran 2005 Praktis : Kesadaran menurun Laporan Khusus bulan Februari - Maret 2008 Laporan Kegiatan Ilmiah bulan Februari - Maret 2008 Agenda Kegiatan Ilmiah bulan Mei - Juni 2008

162

164

vol. 35

121 127 133

258 264 269 271 279 287 291 294 294 295 297 297 298 299 300 301 303 304 307 312 313 314 315

139 140 142 144 145 146 148 149 152 154 156 158 160 164 166 168 175 177

English Summary 60 Harry Murti, Mokhamad Fahrudin, Caroline Tan Sardjono, B. Setiawan, Ferry Sandra : Altered Nuclear Transfer : Pengembangan Teknik Somatic Cell Nuclear Transfer untuk Mengatasi Masalah Etika 61 no.2/2008 Nurul Aini, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra : Karakteristik Biologis dan Diferensiasi Stem Cell : Fokus pada Mesenchymal Stem Cell 64 Frisca, Caroline Tan Sardjono, Ferry Sandra : Ekspansi Endothelial Progenitor Cell 68 Melina Setiawan, Caroline Tan Sardjono, Ferry Sandra : Menuju Kloning Terapeutik dengan Teknik SCNT 72 Ronny Karundeng : Histofisiologi Sel Endotel dan Sel Progenitor Endotel dalam Sirkulasi Darah 77 Suzanna Immanuel : Pemeriksaan Laboratorium dalam Anti Aging Medicine 82 Inge Permadhi, Samuel Oetoro, Fiastuti Witjaksono : Efektifitas Penggunaan Meal Replacement pada Pengaturan Diet Pasien Obesitas dalam Memperbaiki Komposisi Tubuh dan Faktor Risiko Sindroma Metabolik 87 Berita Terkini Hadiah Nobel fisiologi atau kedokteran 2007 dianugerahkan pada para pioner stem cell 93 Aspirin dosis rendah plus statin menurunkan risiko kanker kolorektal 94 Efek donepezil pada pasien yang berhenti menggunakan memantine 95 Lemak perut dan risiko Diabetes Melitus 96 Pentoksifilin untuk pemakai EPO yang resisten 97 Kadar vitamin B12 rendah berkaitan dengan peningkatan risiko iskemi serebral 98 Bagaimana virus Chikungunya menyebar 99 Kopi dan teh dapat menurunkan risiko kanker ginjal 100 MRI paling kuat di dunia siap memindai otak manusia 101 Informatika Kedokteran (Rizaldy Pinzon) : Peresepan Elektronik untuk Meningkatkan Keamanan Pengobatan di Rumah Sakit 102 Profil (Ari Satriyo Wibowo) : Prof. Dr. Samsuhidajat, SpB - Mengenal Lebih Dekat Sosok Perintis Spesialis Bedah Digestif di Indonesia 104 Praktis : Status Epileptikus 106 Laporan Khusus bulan Januari – Februari 2008 108 Laporan Kegiatan Ilmiah bulan Januari – Februari 2008 110

161
vol. 35

English Summary

Anton B. Darmawan : Croup (Laringotrakeobronkitis) M. Arief Purnanta, Soepomo Soekardono, vol. 35 BU Djoko Rianto, Anton Christanto : Pengaruh Bising terhadap Konsentrasi Belajar Murid Sekolah Dasar no.4/2008 Max Rarung : Kelangsungan Hidup Lima Tahun Kanker Ovarium yang Dikelola di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta Dini Budhiarko, Caroline Tan Sardjono, Ferry Sandra : Assisted Hatching Berita Terkini Risiko obat-obat bebas (OTC) Pedoman baru penanganan hipertensi resisten Penuaan biologis ditunda oleh fitness aerobik Terbukti : kaitan antara common cold dengan infeksi telinga Dermatitis atopik berkaitan dengan keganasan Tramadol untuk Penanganan Ejakulasi Dini Sertraline untuk Leishmaniasis Efek Trisiklik vs SSRI terhadap substansia alba otak WHO menerbitkan laporan tentang skala global TB yang resisten terhadap obat Lingkar pinggang besar pada wanita meningkatkan rIsiko kematian Makan pagi menjaga remaja tetap ramping Informatika Kedokteran (Rizaldy Pinzon) : Sistim Pendukung Keputusan Klinis dan Perbaikan Kualitas Pelayanan Kesehatan Profil (Ari Satriyo Wibowo) : Dr. Asri : Dokter Umum, Ahli Vasektomi dan Kesadaran Pentingnya KB Praktis (MML) : Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Laporan Khusus bulan April - Mei 2008 Laporan Kegiatan Ilmiah bulan April - Mei 2008 Gerai Resensi buku : Biografi Prof. Oei Ban Liang - Pelopor Bioteknologi, Begawan Kimia dan Sosok Guru yang Humanis, terbitan CDK 2008 Agenda Kegiatan Ilmiah bulan Juli 2008

163

184 185

190 197 203 211 212 213 216 217 218 220 221 222 223 224 226 230 232 234 241 242 243 245

English Summary Ismail Setyopranoto : Pendekatan Evidence-Based Medicine pada Manajemen Stroke Perdarahan Intraserebral Rizaldy Pinzon : Analisis Situasi Pengendalian Tekanan Darah untuk Prevensi Stroke Sekunder no.6/2008 Andreas Prasadja, Maula N. Gaharu : Obstructive Sleep Apnea Lili Indrawati : Efek Coriandri fructus terhadap Distribusi Tidur Rapid Eye Movement (REM) dibandingkan dengan Lorazepam Syarief Hasan Lutfie : Penatalaksanaan Rehabilitasi Neurogenic Bladder Riris L. Puspitasari, Caroline T. Sardjono, Boenjamin Setiawan, Ferry Sandra : Kultur Embryonic Stem Cell menjadi Sel Neuron dengan Medium Bebas Serum Eka J. Wahyoepramono : Awake Craniotomy, Alternatif bagi Tumor Intra-aksial Didik Tamtomo : Aktivasi Komplemen pada Jejas Mekanis Pengobatan Tradisional Kerokan Berita Terkini Latihan fisik dapat mempercepat penyembuhan luka Astaxanthin, antioksidan dari golongan karotenoid Homosistein ada hubungannya dengan penyakit jiwa Hubungan antara selektivitas AINS dengan risiko stroke Hubungan antara efek antikolinergik dan fungsi kognitif Piracetam untuk pasca operasi Simvastatin sebagai neuroprotektor Lemak alami bentuk trans punya manfaat kesehatan Polusi ozon di udara dan kematian prematur Lercanidipine plus Enalapril Coenzyme Q10 untuk Parkinson Citicoline untuk pasien pecandu kokain Praktis : Kejang Demam Info Produk : Ibufenz Laporan Khusus bulan Juli-Agustus 2008 Laporan Kegiatan Ilmiah bulan Juli-Agustus 2008 Gerai Korespondensi Agenda Kegiatan Ilmiah bulan September - November 2008

320 321 328 331 334 337 342 345 347 353 354 355 356 359 360 361 362 363 364 365 366 368 370 372 376 378 380 382

165

vol. 35

Pradjnaparamita : Terapi Inhalasi Huldani : Perbedaan VO2.max antara Siswa yang Latihan vol. 35 Sepakbola dengan yang Tidak Latihan Sepakbola di Pondok Pesantren Darul Hijrah no.7/2008 Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe : Uji Provokasi Bronkus dengan Salin Hipertonis A. Dina Abidin H. Mahdi : Asma Bronkial – Hubungannya dengan GERD I Wayan Karya, Aminuddin Azis, Sutji Pratiwi Rahardjo, Nani Iriani Djufri : Pengaruh Rinitis Alergi (ARIA WHO 2001) terhadap Gangguan Fungsi Ventilasi Tuba Eustachius Adi Prayitno : Kelainan Gigi dan Jaringan Pendukung Gigi yang Sering Ditemui Berita Terkini CARDIA: OxLDL dan sindrom metabolik Eritropoietin mempunyai efek antidepresa Gabapentin untuk mengurangi ketakutan berpidato Higiene oral yang baik dapat melindungi terhadap infeksi jantung Metilprednisolon untuk penanganan neuritis vestibular Kamera terkontrol magnet di dalam tubuh Profil Keamanan terapi statin Obesitas Meningkatkan Risiko Adenoma Kolorektal Silent stroke menyerang 1 dari 10 orang sehat Semangka merupakan Viagra® alami Adalafil dan disfungsi ereksi pasien diabetes Valsartan memperbaiki kekakuan arteri pada pasien diabetes tipe 2, lebih baik daripada Amlodipin ? Jusuf Kalla: Sebaiknya dokter maksimal memeriksa 40 pasien per hari WHA menghimbau peningkatan fokus pada hepatitis Praktis : Penatalaksanaan asma di Indonesia Info Produk : Invitec Laporan Khusus bulan September - Oktober 2008 Gerai Korespondensi Formulir Berlangganan Indeks Karangan Agenda Kegiatan Ilmiah bulan November 2008 - Januari 2009

166

388 389

394 396 401

405 411 415 416 418 419 420 422 423 424 425 426 428 429 431 432 434 436 438 445 446 447 448 450

448

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

449

AGENDA

AGENDA

DESEMBER
21st Century Medicine : Breakthroughs and Challenges

Kalender

IOF World Congress on Osteoporosis 2008
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax URL : : : : : : : : 03 Des 2008 - 07 Des 2008 Queen Sirikit National Convention Centre, Bangkok, Thailand Reumatolog, obsgin IOF Secretariat 73, cours Albert Thomas 69447 Lyon cedex 03 France info@iofbonehealth.org 00-33-472-914-177 00-33-472-369-052 http://www.iofbonehealth.org/wco/2008/homepage.html

acara

Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat

: : : :

26 Nov 2008 - 27 Nov 2008 The Royal Institute of British Architects, London, United Kingdom pharmacist, doctor, researcher The Institute of Nanotechnology (Head Office) Suite 5/9 Scion House Lord Hope Building Innovation Park 141 St.James Road University of Stirling Glasgow Stirling G4 0LT FK9 4NF Scotland Scotland

November 2008 hingga Januari 2009
NOVEMBER
Asia Pacific Geriatric Conference (APGC) 2008
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax Contact Person : : : : : : : : 14 Nov 2008 - 16 Nov 2008 Bali, Indonesia Internal Medicine and GP Pharma-Pro Taman Palem Lestari, Perkantoran Fantasi Blok W/29 Jl. Kamal Raya Outer Ring Road, Cengkareng, JAKARTA, 11830 isma@pharma-pro.com 021-55960180 / 314 6633 021-55960179 Ismayanti

Phone Fax Contact Person

: +44 (0) 1786 458020 : +44 (0)1786 447530 : Carrie Smith

Asia Pacific Association of Cataract and Refractive Surgeons Congress(APACRS) 2008
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax : : : : : : : 27 Nov 2008 - 30 Nov 2008 Bangkok, Thailand ophtalmologist Lawson Marsh Events pco@lawson-marsh.com 66-0-29-402-483 66-0-29-402-484

2nd International Conference of the Asia Pacific Society for Healthcare Quality 2008 : Redefining Quality in Healthcare
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : 05 Dec 2008 - 05 Dec 2008 : Grand Copthorne Waterfront Hotel, Singapore : CEOs, healthcare management professionals, clinicians, nursing and allied health professionals : APSHQ08 Conference Secretariat SGH Postgraduate Medical Institute Singapore General Hospital Block 6 Level 1, Outram Road Singapore 169608 : : : : HCQ@sgh.com.sg (65) 6326 6682 (65) 6223 9789 http://www.apshq08.com

e-Health and Telemedicine Workshop
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Phone Fax URL : 27 - 28 November 2008 : Centre for e-Health : Dokter dan praktisi e-health : Centre for e-Health, 2 Verdun Street Nedlands WA 6009 : +61 8 93810858 : +61 8 9381 0857 : centreforehealth.org.au

Email Phone Fax URL

JANUARI
12th Bangkok International Symposium on HIV Medicine 2009

Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax Contact Person

: 14 Jan 2009 - 16 Jan 2009 : Bangkok, Thailand : Specialist, GP : Meeting Organizer : jeerakan.j@hivnat.org : 662-652-3040 ext 102 : 662-254-7574 : Ms. Jeerakan Janhom
Current Tratment in Internal Medicine

International Summit on Aesthetic Medicine (ISAM 2008) :

Jakarta Diabetes Meeting (JDM) 2008
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat : : : : 22 Nov 2008 - 23 Nov 2008 Hotel Mercure, Jakarta endokrinologist, penyakit dalam, dokter umum Sekretariat Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jalan Salemba 6, Jakarta 10430

Tanggal Tempat Kalangan Email Phone Fax

: 24 Jan 2009 - 25 Jan 2009 : Hotel Mercure, Jakarta : internis, dokter umum : pb_papdi@indo.net.id : 021-31930956 : 021-3142108

Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax Contact Person URL

: : : : : : : : :

Email Phone Fax

: endo_id@indo.net.id : 021-3100075, 3907703 : 021-3928658, 3928659

28 Nov 2008 - 30 Nov 2008 Aston International Hotel, Denpasar, Bali, Indonesia A nggota PERDESTI, ISAM, GP Professional Congress Organizer (PCO) Secretariat: Jl. Hang Lekir Raya No. 26, Kebayoran Baru , JAKARTA 12120, INDONESIA pco@aestheticmedicineina.com (+62-21) 7260088 (+62-21) 7397555 tessar 021.739.7555 / 0813.999.32.777 www.aestheticmedicineina.com

Asia ARVO 2009

Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat

: 15 Jan 2009 - 18 Jan 2009 : Hyderabad International Convention Center, Hyderabad, India : opthalmologist : Organizing Secretary, Asia-ARVO 2009, Asia-ARVO Secretariat LV Prasad Eye Institute, LV Prasad Marg, Banjara Hills Hyderabad 500034, India. : asiaarvo@lvpei.org : +91-40-23548271 : Dr. Santosh Honavar : http://www.asiaarvo2009.org
International Neuro Ophthalmology update 2009

Tanggal Tempat Kalangan Email Phone Fax URL

: 25 Jan 2009 - 26 Jan 2009 : Sankara Nethralaya, Chennai, India : ophtalmologist : neuro2008@snmail.org : +91-44-28271616 : +91-44-28254180 : www.neuroupdate.org

KONAS Pernefri X 2008
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Email Phone Fax : : : : 26 Nov 2008 - 30 Nov 2008 Hotel Horizon, Bandung nefrologist, internis, dokter umum Sekertariat PB. PERNEFRI Pav. 2 Ginjal – Hipertensi RSUPN Dr. Cipto mangunkusumo Jl. Diponegoro No.71 Jakarta Pusat 10440

Lung Cancer Seminar 2008
Tanggal Tempat Kalangan Sekretariat Phone Fax : : : : 30 Nov 2008 - 30 Nov 2008 Hotel Hyatt Regency, Surabaya Dokter spesialis dan umum Depatemen Pulmonologi Lt. 3 RSU Dr. Soetomo - FK UNAIR Surabaya

Email Phone Contact Person URL

: pernefri@cbn.net.id : +62-21-3149208, 314 1203 : +62-21-315 5551, 315 2278

: 031-550 1661 : 031-503 6047

1. Informasi ini sesuai pada saat dicetak. Apabila ingin mengetahui lebih lanjut, silahkan akses http://www.kalbe.co.id/calendar 2. Apabila Anda mempunyai kegiatan ilmiah, dapat dikirimkan ke: cdk.redaksi@yahoo.co.id

450

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

451

RPPIK

Ruang Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran
Dapatkah sejawat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini?
Jawablah B jika benar, S jika salah

Terapi Inhalasi
Pradjnaparamita

1. Sasaran terapi inhalasi adalah saluran napas atas dan bawah 2. Keuntungan terapi inhalasi ialah dapat diberikan sembarang waktu dan tempat 3. Sediaan untuk inhalasi dapat berbentuk cairan maupun bubuk kering 4. Untuk mencapai alveoli, partikel obat harus < 2 u 5. Penggunaan metered dose inhaler (MDI) tidak memerlukan sinkronisasi inspirasi 6. Penggunaan nebulizer bisa maksimal jika dosisnya 5-10 ml 7. Nebulizer bisa digunakan pada pasien tak sadar 8. Kortikosteroid paling baik diberikan secara nebulizer dengan masker 9. Terapi inhalasi bisa berguna untuk pasien stroke 10. Ada sediaan antibiotik yang dapat diberikan melalui inhalasi

Uji Provokasi Bronkus dengan Salin Hipertonis
Bambang Supriyatno, Nastiti N. Rahajoe

1. Gejala asma antara lain batuk dini hari. 2. Asma sering dikaitkan dengan riwayat tuberkulosis di kalangan keluarga. 3. Uji provokasi bronkus ditujukan untuk menegakkan diagnosis asma 4. Uji provokasi bronkus yang umum/baku menggunakan salin hipertonis 5. Jika tidak dalam serangan, pemeriksaan fisik pasien asma bisa normal 6. Uji beban kerja juga dapat digunakan untuk mendiagnosis asma 7. Dasar kelainan pada asma ialah inflamasi kronis paru 8. Pada proses inflamasi asma, sel yang paling berperan ialah netrofil 9. Diagnosis klinis asma pada umumnya mudah ditegakkan 10. Foto rontgen thorax pada pasien asma bisa tidak menunjukkan kelainan
JAWABAN : 1.B 2.S 3.S 4.S 5.B 6.B 7.S 8.S 9.B 10.B

452

JAWABAN : 1.B

2.S

3.B

4.B

5. S 6.B

7.B

8.S

9.B

10.B

CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->