P. 1
EFEKTIVITAS HUKUMAN MATI

EFEKTIVITAS HUKUMAN MATI

|Views: 1,823|Likes:
Published by lilkrim
part of my assignments in class
part of my assignments in class

More info:

Published by: lilkrim on Apr 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

EFEKTIVITAS HUKUMAN MATI Sosiologi hukum adalah analisa sosiologis terhadap hukum.

Dalam disiplin sosiologi, hukum dijadikan obyek penelitiannya dan diasumsikan sebagai gejala sosial. Sebaliknya, sosiologi dijadikan perspektif di dalam menjelaskan gejala hukum. Keduanya memiliki ciri utama: yang pertama bersifat teoritis sedangkan yang kedua bersifat aplikatif. Makalah ini mengambil tema efektivitas hukuman mati. Dalam hal ini, penulis berusaha mengkaji perspektif sosiologis dalam hukum. Aplikasinya akan memperlihatkan hukuman mati sebagai suatu gejala hukum dikaitkan dengan efektivitas hukum sebagai obyek kajian sosiologi hukum. Aliran utilitarianisme (Bentham, Ihering) mempersoalkan konsekuensi sosial dari hukum; ketidaktepatan penggunaan perundang-undangan; klasifikasi tujuan dan proses sosial. Jika dihubungkan dengan hukuman mati, maka akan diketahui apakah hukum yang mengatur mengenai hukuman mati memiliki konsekuensi sosial; apakah perundangundangan yang masih menerapkan hukuman mati (UU Terorisme, UU Psikotropika) sudah tepat; apakah tujuan diadakannya hukuman mati dan proses sosial seperti apa yang hendak dicapai dari adanya hukuman mati tersebut. Aliran sociological jurisprudence (Ehrlich, Pound) dan aliran Realisme Hukum (Holmes, Llewellyn, Frank) mempersoalkan hukum sebagai mekanisme pengendalian sosial, aspek politik dan kepentingan dari hukum (termasuk hukum dan stratifikasi sosial); hubungan antara realitas hukum dengan hukum dalam buku; hukum dan kebijakan publik; kajian terhadap keputusan pengadilan dan tingkah laku di persidangan. Kaitannya dengan hukuman mati, maka akan terlihat apakah hukuman mati merupakan suatu bentuk pengendalian sosial, aspek politik dan kepentingan mana saja yang terlibat di dalamnya; apakah hukuman mati merupakan realitas hukum atau hanya merupakan aturan belaka; apakah hukuman mati merupakan kebijakan publik; bagaimana keputusan pengadilan terhadap hukuman mati.

Permasalahan Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini terkait dengan tema efektivitas hukuman mati, maka akan mengambil dua konsep besar tentang efektivitas hukum oleh William Evan dan C.J.M. Schuyt. Dari konsep William Evan akan melihat efektivitas hukum sebagai instrumen perubahan: • • • • • • • Apakah hukum yang baru otoritatif dan bergengsi Apakah hukumnya diuraikan dan diberi landasan yuridis dan sosiologis secara mencukupi Apakah terdapat model-model penerapannya yang dapat diketahui oleh masyarakat luas Apakah terdapat pertimbangan masa transisi yang cukup Apakah aparat penegakan hukum memberikan komitmen kepada hukum yang baru Apakah terdapat sanksi positif dan negatif dalam rangka mendukung hukum tersebut Apakah terdapat perlindungan yang efektif terhadap pihak yang menjadi korban pelanggaran hukum Sedangkan Schuyt akan diperlihatkan melalui parameter efektivitas hukum: • • • Tuntutan sosial Transformasi tuntutan sosial ke dalam istilah hukum Perlu adanya peraturan-peraturan yang panjang • • • • Bekerjanya organiasi-organisasi penegakan hukum dalam mewujudkan hak dan kewajiban Kesediaan warganegara memenuhi peraturan Struktur sosial Kebudayaan Sebagai tambahan, akan diperlihatkan pula efektivitas perubahan sosial melalui sistem hukum oleh Joel F. Handler mencakup faktor-faktor yang mempengaruhinya: • Karakteristik kelompok yang kondusif bagi mobilisasi tindakan kolektif

• • • •

Distribusi biaya-manfaat dari tindakan tertentu yang bermanfaat bagi mobilisasi Struktur pembaharuan hukumnya-yang meliputi teknik dan keahlian politik, sumber dana-yang penting bagi daya tahan perjuangan Ciri efektivitas keputusan hukum yang diperoleh Ciri birokrasi yang dapat menghambat atau mempermudah pelaksanaan tujuan perubahan sosial

Uraian Kasus Makalah ini akan membahas dua kasus yang mencakup tema efektivitas hukuman mati yaitu kasus hukuman mati terhadap teroris dan gembong narkotika. Selain itu, akan dilihat juga alasan apa yang mendasari hukuman mati masih tetap diberlakukan dalam sistem perundang-undangan Republik Indonesia. • Amrozi dijatuhi hukuman mati atas kasus pemboman di Bali Pengadilan Indonesia di Bali telah mevonis bersalah seorang muslim militan yang mengambil bagian dalam pengeboman klab malam di pulau wisata itu dan menjatuhinya hukuman mati. Amrozi dinyatakan bersalah membantu, mengorganisasi dan melaksanakan peledakan itu yang menewaskan 202 orang, sebagian besar turis asing, tanggal 12 Oktober 2002. Amrozi telah menyatakan dia puas asta kematian banyak turis Barat dalam apa yang ia sebut “sarang malaikat”. Dalam sidang dia mengaku melakukan pengeboman tetapi tidak mengaku menjadi anggota Jemaah Islamiyah yang dituduh berada di belakang pengeboman tersebut. • Ayodya Prasad Chaubey telah dijatuhi hukuman mati karena terbukti melakukan penyelundupan heroin ke Indonesia Pelaksnaan eksekusi mati terhadap pria India berusia 67 tahun ini, sempat menjadi perdebatan antara pemerintah India dan Kejaksaan Agung RI. Pemerintah India berargumen bahwa menurut Undang-undang India, ada batas usia tertentu untuk seseorang yang akan dieksekusi mati. Tindakan yang dilakukan oleh Ayodya Prasad Chaubey sangat merugikan dan membahayakan banyak orang. Tindakan tersebut telah melanggar

hukum yang berlaku di Indonesia. Para penyelundup, pemasok maupun penjual narkoba merupakan pelaku-pelaku kriminal kelas berat. Tindakan penyelundupan seperti ini menjadikan ribuan bahkan jutaan orang Indonesia menjadi korban efek negatif dari narkoba. Analisa KUHP Indonesia dalam sejarahnya berasal dari Code Penal Perancis dan Wetboek Van Strafrecht Belanda yang diberlakukan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Dalam Code Penal dan Wetboek Van Strafrecht, masing-masing mencantumkan ancaman hukuman mati untuk kasus-kasus menyangkut keselamatan negara, keselamatan kepala negara dan kejahatan-kejahatan sadis lainnya. Walaupun, banyak pihak yang mempertanyakan kesesuaian isi dari KUHP dengan budaya hukum Indonesia, akan tetapi pada kenyataannya, sampai saat ini hukuman mati masih tetap dipertahankan. Hukuman mati di Indonesia diatur dalam pasal 10 KUHP, yang memuat dua macam ancaman hukuman, yaitu hukuman pokok dan hukuman tambahan. Hukuman pokok terdiri dari: hukuman mati, hukuman penjara, hukuman kurangan dan hukuman denda; sedangkan hukuman tambahan terdiri dari: pencabutan hak tertentu, perampasan barang tertentu dan pengumuman keputusan hakim. Pro-kontra hukuman mati terkait dengan Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi salah satu sebab hukuman mati tidak lagi termasuk sebagai hukuman pokok dalam sistem hukum Indonesia. Menurut Mardjono Reksodiputro, salah seorang anggota tim perumus RUU KUHP, hukuman mati masih diperlukan tapi bukan pada pidana pokoknya. Hukuman mati harus menjadi pidana khusus yang diterapkan secara hati-hati, selektif, dikhususkan pada kasus-kasus berbahaya dan harus ditetapkan secara bulat oleh majelis hakim. Menurut catatan berbagai lembaga HAM Internasional, jumlah terpidana yang dihukum mati di Indonesia, termasuk cukup tinggi setelah Cina, Amerika Serikat, Kongo, Arab Saudi dan Iran. Praktisi hukum Todung Mulya Lubis mengatakan secara global, kecenderungan untuk menghapuskan hukuman mati lebih besar daripada mempertahankan hukuman tersebut. Total jumlah negara yang sudah menghapuskan hukuman mati mencapai 129, sedangkan negara yang mempertahankannya hanya 68

negara. Dari 129 negara yang sudah menghapus, 88 negara menghapuskan hukuman itu untuk semua jenis kejahatan, sedangkan 11 negara menghapuskan hukuman mati hanya untuk kejahatan biasa, sementara 30 negara lainnya melakukan moratorium pelaksanaan hukuman mati Kelompok yang tidak setuju hukuman mati berpendapat bahwa hak hidup adalah hal dasar yang melekat pada diri setiap manusia yang sifatnya kodrati dan universal sebagai karunia Tuhan YME, yang tidak boleh dirampas, diabaikan atau diganggu-gugat oleh siapapun. Hal itu tercantum dalam TAP MPR No. VXII/MPR/198 tentang sikap dan pandangan bangsa Indonesia mengenai Hak-hak Asasi Manusia dan juga terangkat dalam Amandemen ke-2 UUD 1945 pasal 28A yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Menurut kelompok ini, tidak ada korelasi antara hukuman mati dengan berkurangnya tingkat kejahatan. Kelompok ini juga mengemukakan bahwa penolakan grasi sebenarnya sudah merupakan “hukuman tambahan” bagi terpidana mati maupun mereka yang masih dalam proses hukum, berupa: gangguan kejiwaan, stress, kekecewaan karena telah sekian lama mendekam di penjara tetapi juga tetap menjalani hukuman mati, histeris sebelum hukuman mati dilaksanakan dan beban psikologis berat bagi keluarganya. Dalam menyikapi tentang hukuman mati, kelompok yang setuju mengaitkannya dengan tiga tujuan hukum, yaitu: • Keadilan Dari aspek keadilan, maka penjatuhan hukuman mati seimbang dengan tindak kejahatan yang dilakukannya • Kepastian hukum Dari aspek kepastian hukum, yaitu ditegakkannya hukum yang ada dan diberlakukan, menunjukkan adanya konsistensi, ketegasan, bahwa apa yang tertulis bukan sebuah angan-angan, khayalan tetapi kenyataan yang dapat diwujudkan dengan tidak pandang bulu • Manfaat

Dari aspek manfaat, hukuman mati akan membuat efek jera kepada orang lain yang telah dan akan melakukan kejahatan, serta juga dapat memelihara wibawa pemerintah Berkaitan dengan hak asasi manusia, kelompok ini mengemukakan bahwa hak asasi juga mengandung kewajiban asasi. Dimana ada hak disitu ada kewajiban, yaitu hak melaksanakan kewajiban dan kewajiban melaksanakan hak. Hak seseorang dibatasi oleh kewajiban menghargai dan menghormati hak orang lain. Apabila seseorang telah dengan sengaja menghilangkan hak hidup orang lain, maka hak hidup dia bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan dan dibela. Frans Hendra Winarta (2006) menjelaskan, Indonesia saat ini masih menerapkan hukuman mati terhadap para pengedar narkoba dan tindak pidana terorisme. Kedua kejahatan itu dianggap membahayakan masyarakat dan negara. Para pembuat hukum di parlemen yang mewakili masyarakat mengklasifikasikan kejahatan-kejahatan itu sebagai ancaman terhadap kehidupan di Indoensia. Menurut estimasi Badan Dunia bidang Narkoba (UNODC) pada World Drug Report (2006), angka prevalensi setahun terakhir penyalahgunaan narkoba di dunia sebesar 5% dari populasi dunia (kurang lebih 200 juta jiwa). Menurut survei BNN dan Puslitkes UI (2004), diketahui angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia sebesar 1,5% dari total populasi (kurang lebih 3,2 juta jiawa) Paul Bohannan mengemukakan teori Re-institutionalization of Norm. Teori ini berpendapat bahwa hukum yang berlaku di suatu negara diambil dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakatnya, kemudian dirumuskan oleh pemerintah dan diberlakukan kepada masyarakat. Hampir semua etnis di Indonesia mengenal hukuman mati, maka didalam berbagai ketentuan hukum dan perundang-undangan di Indonesia, tercantum hukuman mati. Penetapan semua UU itu, telah melalui pembahasan di DPR-RI, maka apabila hukuman mati tidak disetujui lagi, rakyatlah yang harus menghapusnya, bukan para ahli apalagi pihak lain. Bapak kriminologi Lombroso dan Garofalo berpendapat bahwa pidana mati adalah alat yang mutlak harus ada pada masyarakat untuk melenyapkan individu-individu yang tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. Pidana mati adalah suatu upaya yang radikal untuk meniadakan orang-orang yang tak terperbaiki lagi dan dengan adanya pidana mati

ini maka hilanglah pula kewajiban untuk memelihara mereka dalam penjara yang sedemikian besar biayanya. Pakar hukum pidana Indonesia, Achmad Ali melihat hasil amandemen UUD 1945 sama sekali tidak melarang hukuman mati, sebaliknya hukuman mati sangat dibutuhkan khususnya di Indonesia tetapi harus diterapkan secara spesifik dan selektif. Spesifik artinya hukuman mati diterapkan untuk kejahatan-kejahatan serius mencakup korupsi, pengedar narkoba, teroris, pelanggar HAM yang berat dan pembunuhan berencana. Selektif adalah bahwa terpidana yang dijatuhi hukuman mati harus yang benar-benar telah terbukti dengan sangat meyakinkan di pengadilan bahwa memang dialah sebagai pelakunya. Kasus Amrozi merupakan salah satu kasus dari sekian banyak kasus terorisme yang mengambil motif bom bunuh diri. Dengan maraknya gejala terorosme dalam bentuk pemboman bunuh diri tersebut, konsep penggentarjeraan harus dievaluasi kembali. Dari kasus-kasus bom bunuh diri seperti yang terjadi di Bali menunjukkan bahwa bagi pelaku mati pun ia bersedia, sehingga ancaman hukuman yang paling keras yang dapat dipikirkan oleh manusia tidak akan mengurungkan niat pelaku bom bunuh diri. Dalam keadaan seperti itu, tindakan tersebut dapat dikaitkan sebagai penyerahan diri penuh secara emosional terhadap kepercayaan yang diyakininya benar, yang oleh Weber (1978) disebut sebagai bentuk rasionalitas nilai. Sementara itu Durkheim dalam penelitiannya tentang bunuh diri, menemukan salah satu bentuk bunuh diri adalah bersifat altruistik yaitu tindakan bunuh diri yang dilakukan sebagai bentuk pengorbanan diri untuk kepentingan atau keyakinan yang lebih tinggi daripada kepentingan individu. Jika hal ini benar, berarti dimana letak efektivitas hukuman mati? Sebagai perbandingan, hukuman mati di Amerika pada awal tahun 1970an sesungguhnya dilarang. Beberapa tren menunjukkan berkurangnya dukungan pada hukuman mati di Amerika. Jumlah vonis hukuman mati turun lebih dari 50 persen dan eksekusi turun 40 persen sejak tahun 1999. Pro death penalty activist Peggy Harris pada tahun 1994 mengatakan bahwa 80 persen warga Amerika mendukung hukuman mati. Namun, pada tahun 2004, jumlahnya turun menjadi 67 persen. Jika responden diberi opsi vonis hukuman penjara seumur hidup, maka dukungan untuk hukuman mati hanya 50 persen. Salah satu alasan yang mungkin mempengaruhi pendapat warga Amerika

mengenai hukuman mati adalah: sejak digunakannya DNA 25 tahun yang lalu, 117 narapidana yang divonis mati telah dibebaskan karena bukti DNA menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah. Argumen lama bahwa hukuman mati menjadi penangkal, yang membuat orang berpikir dua kali sebelum membunuh orang lain, dipertanyakan dengan serius. Angket Gallup menunjukkan bahwa 60 persen warga Amerika tidak berpendapat bahwa hukuman mati dapat menjadi penangkal. 85 persen dari semua hukuman mati di Amerika dilaksanakan di negara-negara bagian di Selatan. Namun, tingkat pembunuhan di negaranegara bagian itu paling tinggi di Amerika. Jadi bisa diartikan bahwa hukuman mati di Amerika tidak terbukti efektif dalam menekan angka kejahatan. Kesimpulan Sosiologi selalu melihat sesuatu tampil secara alami, tanpa intervensi pendapat. Cara seperti ini lazim disebut sebagai empirik. Sumbangan yang diberikan oleh sosiologi adalah dengan memberikan penjelasan terhadap subyek yang diamati. Demikian pula pada waktu dihadapkan kepada masalah pidana mati. Sosiologi ingin melihat dulu bagaimana pidana mati itu muncul, mencari latar belakang dan sebab-sebabnya, sehingga diperoleh pemahaman sebaik-baiknya. Indonesia masih mencantumkan ancaman hukuman mati sebagai salah satu bentuk ancaman hukuman dalam hukum positifnya. Oleh sebab itu maka hukuman mati merupakan satu bentuk hukuman yang secara perundang-undangan masih sah dilakukan di negeri ini. Apabila menggunakan sosiologi, maka akan tergoda untuk mempertanyakan kemungkinan-kemungkinan adanya kematian yang tidak hanya fisik, melainkan juga sosial. Seseorang dapat disebut masih hidup secara fisik, tetapi sekaligus mengalami kematian sosial. Hal itu terjadi apabila seseorang berada dalam kondisi sosial sedemikian rupa, sehingga kebebasannya untuk melakukan aktivitas sosial dirampasi habis. Dalam kasus di atas, Amrozi sepertinya sesuai dengan deskprisi tersebut. Apakah penjatuhan hukuman mati melalui peradilan menjamin kebersihan dalam menjatuhkan pidana itu? Jawaban dari sosiologi adalah, tidak juga. Jika dikatakan bahwa melalui perundang-undangan segalanya sudah diselesaikan dan dikendalikan, maka itu

adalah baru sebagian dari potret sesungguhnya. Potret penerapan perundang-undangan di masyarakat tidak hitam-putih, melainkan berwarna-warni, tergantung dari politik penegakan hukum dan ideologi di belakangnya. Tidak hanya itu, melainkan juga ditentukan oleh sosiologi penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Statistik pidana mati di Amerika Serikat memberi tahu bahwa penggunaan pidana mati itu tidak berjalan secara linier dan matematis, melainkan penuh dengan intervensi ideologis. Penelitian hukum Donald Black (1989) ingin mengatakan bahwa penegakan hukum di Amerika Serikat didasari oleh ideologi keunggulan ras kulit putih. Sebagai contoh, apabila terjadi pembunuhan oleh warga kulit putih terhadap kulit hitam, maka resiko dijatuhkannya pidana mati mendekati nol. Sosiologi hukum bukan suatu ilmu yang menghukumi sesuatu. Berdasarkan halhal yang dapat diamati, sosiologi hukum berusaha untuk mencari dan membuat penjelasannya. Dengan situasi yang demikian itu, maka sosiologi hukum menyediakan bahan bagi pembuat hukum pada waktu akan memutuskan tentang pidana mati tersebut. Para pengambil keputusan boleh mengambilnya atau tidak sebagai bahan untuk menentukan apakah yang akan dilakukan oleh hukum Indonesia mengenai pidana mati. Sebagai saran, ada baiknya melihat alternatif pemidanaan di masa depan dalam penanggulangan kejahatan seperti terorisme dan narkoba misalnya pidana ganti rugi. Emile Durkheim menyatakan bahwa kejahatan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia di dunia. Segala aktivitas manusia baik politik, sosial dan ekonomi, dapat menjadi kausa kejahatan. Sehingga keberadaan kejahatan tidak perlu disesali, tapi harus selalu dicari upaya bagaimana menanganinya. Berusaha menekan kualitas dan kuantitasnya serendah mungkin, maksimal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. (Durkheim, 1971:6) Sanksi ganti kerugian merupakan suatu sanksi yang mengharuskan seseorang yang telah bertindak merugikan orang lain untuk membayar sejumlah uang ataupun barang pada orang yang dirugikan, sehingga kerugian yang telah terjadi dianggap tidak pernah terjadi. Saat ini sanksi ganti kerugian tidak hanya merupakan bagian dari hukum perdata, tetapi juga telah masuk ke dalam hukum pidana. Perkembangan ini terjadi karena semakin meningkatnya perhatian masyarakat dunia terhadap korban tindak pidana.

Indonesia,

sebagai

bagian

dari

negara-negara

di

dunia

yang

tengah

mempersiapkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (baru) untuk menggantikan KUHP yang diambil oper dari wetboek van strafrecht Belanda, sudah sepantasnya mempertimbangkan keberadaan sanksi ganti kerugian dalam hukum pidana mendatang. Apalagi jika terbukti bahwa hukuman mati sudah tidak efektif lagi untuk menekan angka kejahatan. DAFTAR PUSTAKA Amrozi Dijatuhi Hukuman Mati Atas Kasus Pemboman di Bali, www.voanews.com, 8 Agustus 2003. Hukuman Mati yang “Setengah Mati”, Suara Pembaruan Daily, 21 Pebruari 2003. Johnson Panjaitan: Hukuman Mati Tidak Efektif Mengurangi Kejahatan, PBHI News, Jakarta, 8 Desember 2007. Uji Materiil: MK Diminta Hapus Hukuman Mati, Suara Karya, 26 Januari 2007. Elsam. Hukuman Mati Sudah Ketinggalan Zaman, Koran Tempo, 28 Maret 2007. Faiz, Pan Mohammad. Hukuman Mati, http://jurnalhukum.blogspot.com, 5 April 2007. Faiz, Pan Mohammad. Narkotika dan Hukuman Mati, Jakarta Post, 4 Mei 2007. Faiz, Pan Mohammad. UUD 1945 dan Hukuman Mati, http://jurnalhukum.blogspot.com, 30 Oktober 2007. Faiz, Pan Mohammad. Penelitian Hukum: Hukuman Mati dan Hak untuk Hidup, http://jurnalhukum.blogspot.com, 12 Mei 2007. Handler, Joel F. Social Movements and The Legal System, Academic Press, Inc, London, 1978. Mustofa, Muhammad. Metodologi Penelitian Kriminologi, Fisip UI Press, Edisi Kedua, 2007. Mustofa, Muhammad. Kriminologi, Fisip UI Press, Edisi Pertama, 2007. Nitibaskara, Tb. Ronny. Penerapan Konsep Budaya Hukum dalam Relasi Sosial dan Bisnis untuk Mencegah Kejahatan, Seri Sosiologi Hukum. Nitibaskara, Tb. Ronny. Ketika Kejahatan Berdaulat, Peradaban, 2001.

Peters, A.A.G, Koesrini Siswosoebroto. Hukum dan Perkembangan Sosial, Buku Teks Sosiologi Hukum Buku I, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988. Peters, A.A.G, Koesrini Siswosoebroto. Hukum dan Perkembangan Sosial, Buku Teks Sosiologi Hukum Buku II, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988. Peters, A.A.G, Koesrini Siswosoebroto. Hukum dan Perkembangan Sosial, Buku Teks Sosiologi Hukum Buku III, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988. Rahardjo, Satjipto. Sosiologi Hukuman Mati, www.legalitas.org. Supardi. Kajian Kritis Pro dan Kontra Pelaksanaan Hukuman Mati di Indonesia Khususnya Terhadap Kejahatan Narkoba, BNN-RI. Syafruddin. Pidana Ganti Rugi: Alternatif Pemidanaan di Masa Depan Dalam Penanggulangan Kejahatan Tertentu, USU digital library, 2002.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->