P. 1
Kumpulan Praktikum Instrumen Analisa

Kumpulan Praktikum Instrumen Analisa

|Views: 3,944|Likes:
Published by surya343

More info:

Published by: surya343 on Apr 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2015

pdf

text

original

LAPORAN RESMI INSTRUMEN ANALISA PENENTUAN PANJANG GELOMBANG

DISUSUN OLEH: I WAYAN SURYAGAMA (08.TBKKP TPL.65)

Dosen Pembimbing : Drs.Herry Suseno Asisten Dosen: Eko Nuraini,A.md

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN AKADEMI TEKNOLOGI KULIT YOGYAKARTA 2009

I.

JUDUL PRAKTIKUM PENENTUAN PANJANG GELOMBANG

II.

Tujuan Praktikum 1. Dapat mengoprasikan alat spektrofotometer HACH DR/2400 2. Dapat mencari panjang gelombang maksimum 3. Dapat menghitung kosentrasi menggunakan nspektrofotometer

III.

Dasar teori Untuk menggambarkan sifat- sifat radiasi elektromagnetik digunakan 2 teori yang saling melenkapi yaitu teori gelombang dan teori korpuskuler. Prinsip utama dari spektropotometer adalah dengan gelombang elektromagnetik .Sifat penting yang dimiliki oleh gelombang elektromagnetik adalah frekwensinya, v, jumlah satuan yang terjadi persatuan detik. Sifat – sifat partikel , untuk melukiskan bagaimana radiasi electromagnetik berinteraksi dengan benda ,adalah perlu memikirkan berkas sinar sebagai foton .tenga setiap fonton berbanding langsung dengan frekuensi radiasi Spektrum elektromagnetikmenggunakan cahaya sinar ultravioletyaitu cahaya yang panjang gelombang kurang dari 400nm, selain itu ada juga gelombang yang mempunyai panjang gelombang diatas 800nm, cahaya-cahaya inilah yang tidak dapat dilihat oleh manusia.

Apabila seberkas sinar melalui suatu larutan maka sebagian sinar tersebut sebagian akan diserap oleh larutan berbanding langsung dengan konsentrasi larutan dan tebal sel wadah. Untuk menentukan hal tersebut maka kita dapat menggunakan suatu alat, spectrometer. Adapun bagian-bagian dari spektrofotometer adalah sumber cahaya inframerah, monokromator, dan detector.

2

1. Sumber (Source)

• • • •

Argon Tungsten Deuterium Xenon

100 – 160 nm 350 – 800 nm 160 – 360 nm 200 – 900 nm

Cahaya dari sumber dilewatkan melalui cuplikan, dipecah menjadi frekuensi-frekuensi individunya dalam monokromator dan intensitas relative dari frekuensi individu diukur oleh detektor.

2. Monokromator

3. Detektor

ALAT DAN BAHAN

3

Seberkas sinar yang apabila melewati suatu larutan yang konsentrasinya c maka sinar tersebut sebagian akan diserap dan sebagian akan diteruskan . Jumlah sinar yang diserab oleh larutan bebanding lansung dengan konsentrasi larutan dan tebal sel /wadah .hubungan ini dirumuskan oleh Lambert-Beer Hukum Beer : Absorbans, log (Po/P), radiasi monokromatik berbanding lurus dengan konsentrasi sutu spesies penyerap dalam larutan. Hukum Bouguer (Lambert) : Bayangkan suatu medium penyerap yang homogen dalam lapisan-lapisan yang sama tebal. Tiap lapisan menyerap radiasi monokromatik yang memasuki lapisan itu dalam fraksi yang sama seperti lapisan-lapisan lain. Dengan semuanya yang lain sama, maka absorbans itu berbanding lurus dengan panjang jalan yang melewati medium. Gabungan Hukum Bouguer-Beer, sering di tuliskan sebagai A = abc atau A = εbc Dengan A = absorbans ε = absorpsivitas molar (jika konsentrasi dalam molar) dengan satuan M-1cm-1 a = absorpsivitas (jika konsentrasi dalam %b/v) dituliskan E1%1cm b = panjang jalan/kuvet c = konsentrasi ( dalam molar atau %b/v) Spektra absorpsi sering diyatakan dalam %T maupun dalam bentuk A (absorbansi) Maka, A = – log (%T) A = log (Po/P), Po adalah daya cahaya masuk dan P adalah daya yang diteruskan Tranmitasi adalah bagian dari cahaya yang diteruskan sedangakan absorbansi adalah bagian dari cahaya yang diserap oleh larutan Perumusan yang di tetapkan oleh Lambert_Beer ini yang disebut Hukum Lambert – Beer memiliki syarat – syarat tertentu yaitu Syarat konsentrasi , konsentrasi yang diukur harus encer Syarat kimia , zat pengabsorbansi ( Zat yang dianalisis tidak boleh berasosiasi dengan pelarut menghasilkan produk lain Syarat cahaya , radiasi cahaya yang digunakan untuk mengukur adalah cahaya yang memiliki panjang gelombang agar hubungan antara absorbansiu dan konsentrasi dapat linier

4

Syarat kejernihan, partikel kloid yang menyebabkan kekeruhan Larutan , mengakibatkan terjadinya penyimpangan karena sebagian cahaya yang melewati sampel akan dihamburkan oeh partikel kloid sehingga kekuetan cahaya yang diabsorsi berkurang dari yang seharusnya Pengabsorpsian sinar UV-VIS oleh suatu molekul umumnya menghasilkan eksitasi electron bonding , maka panjang gelombang absorpsi maksimum dapat dikorelasikan denagn jenis ikatan yang ada dalam molekul yang sedang diselidiki Spectrum UV-Vis yang merupakan korelasi absorban (sebagai ordinat dan panjang gelombang sebagai absis merupakan pita spectrum Rentang pembacaan absorban dan transmitan Apabila radiasi elektromagnetik dilewatkan pada suatu larutan denagn itensitas radiasi semula , maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan , dipantulkan dan diserap . Namun itensitas sinar yang dipantulkan dapat diabaikan karena pengerrjaan dengan spektro menggunakan larutan pembanding sebagai standar Pemilihan pelarut Pelarut yang baik 1. Dapat melarutkan cuplikan 2. Dapat meneruskan sinar dari panjang gelombang yang dipakai 3. Tidak mengandung system ikatan rangakap terkonjugasi pada struktur molekulnya 4. Tidak berwarna 5. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis 6. Kemurniannya harus tinggi 7. Polaritasnya disesuaikan dengan senyawa yang dianalisis IV. Peralatan dan Bahan A. Alat yang Dipergunakan Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 1. Neraca analitik 2. Kaca Arloji 3. Beker glas 4. Labu takar 250 ml,100 ml, 50 ml 5. Pengaduk kaca 6. Spektrofotometer Hach DR/2400 7. Cuvet
5

B. Bahan yang Dipergunakan

1. Aseton 2. Diphanil karbazid 3. H2SO4 10 % 4. Larutan standar K2Cr2O7 5. Aquades

V.

Cara Kerja

1. Pembuatan larutan diphenil Karbazid a. Timbang 0,25 gram dhipenil karbazid dengankaca arloji b. Larutkan dengan aseton dalam gelas beker dan tuang kedalam labu takar 50 ml , bilas beker gelas dengan aseton , tuang kedalam labu takar ,tera labu takar sampai batas dan homogenkan 2. Pembuatan Larutan H2SO4 10 % a. b. c. Pipet larutan H2SO4 pekat sebanyak 10 ml Madsukan dalam labu takar 100 ml yang sudah diisi aquades kira –kira 20 ml Diamkan sampai pananya hilang dan tambahka aquades sampai tanda batas

3. Pembuatan K2Cr2O7 a. Timbang 1,413 gram K2Cr2O7 dengan kaca arloji b. Larutkan dalam gelas beker dengan aquades c. Tuang ke dalam labu takar 250 ml d. Bilas beker glas sampai bersih tuang bilasan ke dalam labu takar e. Tambahkan aquades sampai tanda batas dan homogenkan

4. Pembuatan deret standar Membuat deret standar K2Cr2O7 5 ppm , 10 ppm 15 ppm dan 20 ppm sebanyak 50 ml dengan mengencerkan larutan induk dengan 1000 ppm dengan menggunakan rumus pengenceran V1 X M1 = V2 X M2 5. Pengukuran panjang gelombanmg a. Ambil salah satu deret standar b. Tambahkan H3PO4 10 % 3 tetes c. Tambahkan larutan dhipenil karbozid d. Homogenkan
6

e. Pipet larutan standar yang sudah ditambah H3PO4 10 % dan larutan dhipenil karbozid sebanyak 10 ml dan masukan kedalam cuvet f. Nyalakan spectrophotometer HACH DR/2400 g. Tekan single wavelength, masukan blangko h. Tekan λ i. Pilih λ yang akan diisi dengan menekan tombol angka( missal 490)

j. Tekan zero , muncul 0,0000, keluarkan blanko k. Masukan standar f. Tekan read dan baca hasilnya , ulangi bekali-kali sampai hingga di dapat λ max

VI.

Hasil Analisa Tanggal praktikum 29 April 2009

Data hasil pengamatan 1. Larutan K2Cr2O7 0,5 ppm NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 λ(nm) 490 500 510 520 530 540 550 560 570 580 1 0,461 0,635 0,832 1,011 1,139 1,208 1,198 1,103 0,939 0,786 Absorbansi 2 0,472 0,638 0,836 1,009 1,145 1,212 1,190 1,086 0,956 0,787 3 0,461 0,659 0,845 1,024 1,149 1,230 1,205 1,098 0,906 0,789 A rata- rata 0,464 0,644 0,838 1,015 1,144 1,217 1,198 1,096 0,951 0,787

7

2. Data hasil pengamatan larutan K2Cr2O7 1 ppm NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 λ(nm) 490 500 510 520 530 540 550 560 570 580 1 0,819 1,083 1,343 1,589 1,792 1,872 1,803 1,656 1,432 1,164 Absorbansi 2 0,825 1,084 1,341 1,599 1,795 1,865 1,818 1,614 1,439 1,170 A rata- rata 3 0,816 1,079 1,340 1,598 1,789 1,849 1,807 1,645 1,439 1,175 0,820 1,082 1,341 1,595 1,792 1,862 1,809 1,638 1,437 1,170

V. PEMBAHASAN Dalam paraktikum kali ini sebelum menentukan panjang gelombang terlebih dahulu kita melakukan reparasi pada sampel dan pembuatn deret dan standar kita menggunakan aquades 1. Grafik Linier larutan K2Cr2O7 0,5 ppm

1.400 1.200 1.000 0.800 Series1 0.600 0.400 0.200 0.000 480 500 520 540 560 580 600 Linear (Series1) y = 0.004x - 1.327 R² = 0.261

8

3. Grafik Linier larutan K2Cr2O7 1 ppm

2.000 1.800 1.600 1.400 1.200 1.000 0.800 0.600 0.400 0.200 0.000 480 500 520 540 560 580 600 Series1 Linear (Series1) y = 0.004x - 1.189 R² = 0.190

Pada praktikum yang kami lakukan kita dapat mengetahui hubungan absorbansi dengan panjang gelombang dan juga dipengaruhi oleh konsentrasi suatu larutan. Dari hasil analisa kedua percobaan larutan K2Cr2O7 memiliki absorbansi maksimal pada panjang gelombang 540 pada panjang gelombang yang lebih tinggi mengalami penurunan seperti grafik hal ini menunjukan bahwa pada panjang gelombang 540 nm laruatan K2Cr2O7 memiliki daya serap yang maksimal .Selain itu konsentarsi juga mempengaruhi absorabansi sesuai dengan Hukum Lambert – Beer - Log T = A = e b c Dimana bahwa hubungan absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi yang artinya semakin tinggi suatu konsentrasi larutan memiliki absorbansi yang semakin tinggi pula , dapat kita lihat pada data praktikum kami larutan K2Cr2O7 0,5 ppm memiliki absorbansi maksimal yaitu pada panjang gelombang 540 nm sebesar 1,217 sedangkan larutan K2Cr2O7 1 ppm memiliki absorbansi maksimal 1,862

9

I. KESIMPULAN Dari analisis hasil percobaan yang kami lakukan, kami mendapatkan kesimpulan, bahwa : 1. Absorbansi suatu larutan ditentukan oleh panjang gelombang 2. Panjang gelombang maksimum ( max) merupakan titik puncak dari absorbansi larutan, dimana setelah panjang gelombang maksimum, maka akan terjadi penurunan absorbansi suatu larutan secara berangsur-angsur 3. Absorbansi maksimal K2Cr2O7 pada panjang gelombang 540 nm 4. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin besar absorbansinya

II. DAFTAR PUSTAKA Fessenden, Ralph.J.1997.”Dasar – Dasar Kimia Organik”.Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta:Binarupa Aksara. Sastrohamidjojo,Dr.Hardjono.2007.”Spektroskopi”.Yogyakarta:Liberti Yogyakarta www. Chemys-try.com/spektrfotometer

Yogyakarta, 29 juni 2009 Praktikan

I Wayan Suryagama 08.TBKKP.TPL.65 Mengetahui,

Asisten Pembimbing

Dosen Pembimbing

Eko Nuraeni,A.Md

Drs.Herry Suseno

10

11

LAPORAN RESMI INSTRUMEN ANALISA PENETAPAN KADAR Cr DALAM CROMOSAL B

DISUSUN OLEH: I WAYAN SURYAGAMA (08.TBKKP TPL.65)

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN AKADEMI TEKNOLOGI KULIT YOGYAKARTA 2009

VII.

JUDUL PRAKTIKUM PENETAPAN KADAR Cr DALAM CROMOSAL B

VIII.

Tujuan Praktikum 4. Dapat mengoprasikan alat spektrofotometer HACH DR/2400 5. Dapat Menganalisa sampel secara kulitatif dan kuantitatif

IX.

Dasar teori

Untuk menggambarkan sifat- sifat radiasi elektromagnetik digunakan 2 teori yang saling melenkapi yaitu teori gelombang dan teori korpuskuler. Prinsip utama dari spektropotometer adalah dengan gelombang elektromagnetik .Sifat penting yang dimiliki oleh gelombang elektromagnetik adalah frekwensinya, v, jumlah satuan yang terjadi persatuan detik. Sifat – sifat partikel , untuk melukiskan bagaimana radiasi electromagnetik berinteraksi dengan benda ,adalah perlu memikirkan berkas sinar sebagai foton .tenga setiap fonton berbanding langsung dengan frekuensi radiasi Spektrum elektromagnetikmenggunakan cahaya sinar ultravioletyaitu cahaya yang panjang gelombang kurang dari 400nm, selain itu ada juga gelombang yang mempunyai panjang gelombang diatas 800nm, cahaya-cahaya inilah yang tidak dapat dilihat oleh manusia. Penyerapan sinar uv-vis dibatasi pd sejumlah gugus fungsional/gugus kromofor (gugus dengan ikatan tidak jenuh) yang mengandung electron valensi dengan tingkat eksitasi yang rendah. Dengan melibatkan 3 jenis electron yaitu : sigma, phi dan non bonding electron. Kromofor-kromofor organic seperti karbonil, alken, azo, nitrat dan karboksil mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Panjang gelombang maksimalnya dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan. Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elekron bebas, seperti hidroksil, metoksi dan amina. Terikatnya gugus auksokrom pada gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar (bathokromik) yang disertai dengan peningkatan intensitas (hyperkromik). Komponen dari suatu spektrofotometer berkas tunggal : 1. Suatu sumber energy cahaya yang berkesinambungan yang meliputi daerah spectrum dimana instrument itu dirancang untuk beroperasi.

13

2. Suatu monokromator, yakni suatu piranti untuk mengecilkan pita sempit panjang-panjang gelombang dari spectrum lebar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. 3. Suatu wadah sampel (kuvet) 4. Suatu detector, yang berupa transduser yang mengubah energy cahaya menjadi suatu isyarat listrik. 5. Suatu pengganda (amplifier), dan rangkaian yang berkaitan membuat isyarat listrik itu memadai untuk di baca. 6. Suatu system baca (piranti pembaca) yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam bentuk % Transmitan (% T) maupun Adsorbansi (A).

Untuk menentukan hal tersebut maka kita dapat menggunakan suatu alat, spectrometer. Adapun bagian-bagian dari spektrofotometer adalah sumber cahaya inframerah, monokromator, dan detector.

1. Sumber (Source)

14

• • • •

Argon Tungsten Deuterium Xenon

100 – 160 nm 350 – 800 nm 160 – 360 nm 200 – 900 nm

Cahaya dari sumber dilewatkan melalui cuplikan, dipecah menjadi frekuensifrekuensi individunya dalam monokromator dan intensitas relative dari frekuensi individu diukur oleh detektor.

2. Monokromator

3. Detektor

ALAT DAN BAHAN

Hubungan antara warna dengan panjang gelombang sinar tampak.: Panjang gelombang warna yang diserap warna komplementer 400-435 nm ungu (lembayung) hijau kekuningan 450-480 nm biru kuning 480-490 nm biru kehijauan orange 490-500 nm hijau kebiruan merah
15

500-560 nm hijau merah anggur 560-580 nm hijau kekuningan ungu (lembayung) 580-595 nm kuning biru 595-610 nm orange biru kekuningan 610-750 nm merah hijau kebiruan Pergeseran-pergeseran : 1. Bathokromik, pergeseran ke panjang gelombang yang lebih tinggi dengan energy yang lebih rendah. 2. Hypsokromik(pergeseran biru), pergeseran ke panjang gelombang yang lebih pendek. 3. Hyperkromik, peningkatan absoritivitas molar. 4. Hypokromik, reduksi absortivitas molar.

Seberkas sinar yang apabila melewati suatu larutan yang konsentrasinya c maka sinar tersebut sebagian akan diserap dan sebagian akan diteruskan . Jumlah sinar yang diserab oleh larutan bebanding lansung dengan konsentrasi larutan dan tebal sel /wadah .hubungan ini dirumuskan oleh Lambert-Beer Hukum Beer : Absorbans, log (Po/P), radiasi monokromatik berbanding lurus dengan konsentrasi sutu spesies penyerap dalam larutan. Hukum Bouguer (Lambert) : Bayangkan suatu medium penyerap yang homogen dalam lapisan-lapisan yang sama tebal. Tiap lapisan menyerap radiasi monokromatik yang memasuki lapisan itu dalam fraksi yang sama seperti lapisan-lapisan lain. Dengan semuanya yang lain sama, maka absorbans itu berbanding lurus dengan panjang jalan yang melewati medium. Gabungan Hukum Bouguer-Beer, sering di tuliskan sebagai A = abc atau

A = εbc
Dengan A = absorbans ε = absorpsivitas molar (jika konsentrasi dalam molar) dengan satuan M cm
-1 -1

a = absorpsivitas (jika konsentrasi dalam %b/v) dituliskan E1%1cm
16

b = panjang jalan/kuvet c = konsentrasi ( dalam molar atau %b/v) Spektra absorpsi sering diyatakan dalam %T maupun dalam bentuk A (absorbansi) Maka, A = – log (%T) A = log (Po/P), Po adalah daya cahaya masuk dan P adalah daya yang diteruskan Tranmitasi adalah bagian dari cahaya yang diteruskan sedangakan absorbansi adalah bagian dari cahaya yang diserap oleh larutan Perumusan yang di tetapkan oleh Lambert_Beer ini yang disebut Hukum Lambert –Beer memiliki syarat – syarat tertentu yaitu Syarat konsentrasi , konsentrasi yang diukur harus encer Syarat kimia , zat pengabsorbansi ( Zat yang dianalisis tidak boleh berasosiasi dengan pelarut menghasilkan produk lain Syarat cahaya , radiasi cahaya yang digunakan untuk mengukur adalah cahaya yang memiliki panjang gelombang agar hubungan antara absorbansiu dan konsentrasi dapat linier Syarat kejernihan, partikel kloid yang menyebabkan kekeruhan Larutan , mengakibatkan terjadinya penyimpangan karena sebagian cahaya yang melewati sampel akan dihamburkan oeh partikel kloid sehingga kekuetan cahaya yang diabsorsi berkurang dari yang seharusnya Pengabsorpsian sinar UV-VIS oleh suatu molekul umumnya menghasilkan eksitasi electron bonding , maka panjang gelombang absorpsi maksimum dapat dikorelasikan denagn jenis ikatan yang ada dalam molekul yang sedang diselidiki Spectrum UV-Vis yang merupakan korelasi absorban (sebagai ordinat dan panjang gelombang sebagai absis merupakan pita spectrum Rentang pembacaan absorban dan transmitan Apabila radiasi elektromagnetik dilewatkan pada suatu larutan denagn itensitas radiasi semula , maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan , dipantulkan dan diserap . Namun itensitas sinar yang dipantulkan dapat
17

diabaikan karena pengerrjaan dengan spektro menggunakan larutan pembanding sebagai standar Pemilihan pelarut Pelarut yang baik 8. Dapat melarutkan cuplikan 9. Dapat meneruskan sinar dari panjang gelombang yang dipakai 10. Tidak mengandung system ikatan rangakap terkonjugasi pada struktur molekulnya 11. Tidak berwarna 12. Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis 13. Kemurniannya harus tinggi 14. Polaritasnya disesuaikan dengan senyawa yang dianalisis

Absorbansi Menghitung absorbansi larutan Jika Kita membaca bagian tentang bagaimana spektrometer serapan

bekerja,kita akan mengetahui bahwa serangkaian panjang gelombang sinar akan melewati suatu larutan (sel sampel) dan wadah lain yang identik yang hanya berisi pelarut (sel pembanding/referens). Untuk tiap panjang gelombang sinar yang melewati spektrometer, intensitas sinar yang melewati sel pembanding dihitung. Biasanya disebut sebagai Io - dengan I adalah intensitas. Intensitas sinar yang melewati sel sampel juga dihitung untuk panjang gelombang yang sama - disimbolkan I. Jika I lebih kecil dari Io, berarti sampel menyerap sejumlah sinar. Selanjutnya perhitungan sederhana dilakukan oleh komputer untuk mengubahnya menjadi apa yang disebut dengan absorbansi dengan I adalah intensitas. Intensitas sinar yang melewati sel sampel juga dihitung untuk panjang gelombang yang sama - disimbolkan dengan A. Hubungan antara A (absorbansi) dan kedua intensitas adalah:

18

Umumnya berdasarkan diagram di atas,

akan mendapatkan absorbansi

berkisar dari 0 hingga 1, tetapi dapat pula lebih tinggi dari itu. Absorbansi 0 pada suatu panjang gelombang artinya tidak ada sinar dengan panjang gelombang tertentu yang diserap. Intensitas berkas sampel dan pembanding sama, jadi perbandingan Io/I adalah 1. Log10 dari satu adalah nol. Absorbansi 1 terjadi ketika 90 % sinar pada suatu panjang gelombang diserap - 10 % lainnya tidak diserap.nDalam hal ini, Io/I is 100/I0 (=10) dan log10 of 10 adalah 1. X. Peralatan dan Bahan C. Alat yang Dipergunakan Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 8. Neraca analitik 9. Kaca Arloji 10. Beker glas 11. Labu takar 250 ml,100 ml, 50 ml 12. Pengaduk kaca 13. Spektrofotometer Hach DR/2400 14. Cuvet 15. Pipet tetes 16. Pipet volum 17. Propipet 18. Botol semprot D. Bahan yang Dipergunakan 6. Aseton 7. Diphanil karbazid 8. H3PO4 10 % 9. Larutan induk K2Cr2O7 10. Sampel yang mengandung Cr XI. Cara Kerja

6. Pembuatan Blanko a. Pipet Aquades dengan pipet volume 50 ml b. Masukan dalam labu ukur 50 ml
19

c. Tambahkan H3PO4 10 % 3-5 tetes d. Tambahkan larutan dhipenil karbozid 3- 5 tetes e. Homogenkan f. Masukan dalam cuvet 7. Pembuatan deret standar a. Membuat deret standar K2Cr2O7 5 ppm , 10 ppm 15 ppm dan 20 ppm sebanyak 50 ml dengan mengencerkan larutan induk dengan 1000 ppm dengan menggunakan rumus pengenceran V1 X M1 = V2 X M2 b. Tambahkan masing – masing standar dengan H3PO4 10 % 3 5tetes c. Tambahkan 1 ml larutan dhipenil karbozid d. Homogenkan e. Masukan dalam cuvet 8. Preparasi sampel g. Timbang 0,1 gram cromosal B dengan kaca arloji dan masukan

dalam beker gelas tambahkan aquades 50 ml aduk sampai larut diamkan 5 menit h. Tambahkan NaOH 1 N sampai pH 13-14 dan diamkan 5-10 menit i. Tambahkan Natrium lipoklorit 5 ml dengan dengan pipet gondok aduk sampai homogen j. Tambahkan HN3 cek pH 2-3 k. Panaskan diatas pemanas menjadi kuning l. Ambil 1 ml sampel encerkan dengan aquades sampai 100 ml m. Ambil sampel yang sudah diencerkan 1 ml , masukan dalam labu takar 50 ml dan encerkan pospat sampai tanda batas ,tambahkan asam sambil diaduk diaduk sampai berubah

10 % 3-5 tetes dan diphenil karbazid 3-5 tetes homogenkan

dan diamkan selama 5- 10 menit n. Tuang dalam cuvet o. Analisa dengan spectrophotometer p. Hitung kadar cr dalam cromosal B

20

XII.

Hasil Analisa Tanggal praktikum 6 mei 2009 Data hasil pengamatan serapan pada panjang gelombang 540

Standar 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 Sampel 1 0,153 0,337 0,508 0,677 0,678 0,052

Absorbansi 2 0,165 0,336 0,500 0,667 0,676 0,084

Rata -rata 3 0,160 0,331 0,505 0,669 0,684 0,065 0,162 0,335 0,504 0,671 0,679 0,060

Perhitungan kadar Sample 1 2 3 4 5 Jumlah rata – rata Xi 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 1.5 0.3 Yi 0.162 0.335 0.504 0.671 0.679 2.351 0.4702 XiYi 0.0162 0.067 0.1512 0.2684 0.3395 0.8423 0.16846 Xi2 0.01 0.04 0.09 0.16 0.25 0.55 0.11 Yi2 0.0026244 0.022445 0.0762048 0.1800964 0.2305205 0.5118911 0.10237822

GRAFIK LINIEAR

0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0 0.2

ABSORBAN SI

y = 1.37x + 0.059 R² = 0.946 Series1 Linear (Series1)

0.4

0.6

KONSENTRASI 21

Regresi linier Dimana: Y=variabel dependen yang diprekdisikan a=konstanta b=koefisian regresi x terhadap y X=variabel independen yang mempunyai nilai tertentu Koefisien regresi b akan bernilai positif apabila nilai x berbanding lurus terhadap nilai y, sebaliknya apabila nilai x berbanding terbalik terhadap nilai y. Nilai a dan b dapat dicari dengan persamaan berikut:
a

=(ΣYi)(ΣXi2) – (ΣXi)(ΣXiYi) nΣXi2 – (ΣXi)2 = [(2,351)(0,55) – (1,5)( 0,8423)] 1(0,55) – (1,5)2 = 0,01741176

b

= n(ΣXiYi) - (ΣXi)( ΣYi) nΣXi2 – (ΣXi)2 =[(1)( 0,8423) – (1,5)( 2,351)] / 1(0,55) – (1,5)2 =1,601588

Dari data perhitungan berikut ternyata koefisien b tidak bernilai negatif berarti X berbanding lurus terhaap Y. ε1= A/l.C = 0,162 /1.0,1 = 1,62 ε2= A/l.C
22

= 0,335/1.0,2 = 1,675 ε3= A/l.C = 0,504/1.0,3 = 1,68 ε4= A/l.C = 0,671/1.0,4 = 1,6775 ε5= A/l.C = 0,679/1.0,5 = 1,358 εtotal = 8,0105/5 = 1,6021

1,6021 E E Log 1/T

= E(1cm) (3,00 x 10-5 mol/lt) =16,021.10-3/3.10-5 =5,34033333.10-2 lt/ml-cm =ε b c =(5,34033333.10-2 lt/ml-cm) (3 cm) (3.10-5 mol/lt) = 0,48063

Log T

=0,0318 %T =3,18 %

23

V. PEMBAHASAN Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan terlihat tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektraultraviolet dan terlihat dari senyawa – senyawa organik berkaitan erat transisi –transisi diantara tingkatan – tingkatan tenaga elektronik. Disebabkan karena hal ini, maka serapan radiasi ultraviolet/terlihat sering dikenal sebagai spektroskopi elektronik. Transisi – transisi tersebut biasanya antara orbital ikatan antara orbital ikatan atau orbital pasangan bebas dan orbital non ikatan tak jenuh atau orbital anti ikatan. Panjang gelombang serapan adalah merupakan ukuran dari pemisahan tingkatan – tingkatan tenaga dari orbital – orbital yang bersangkutan. Pemisahan tenaga yang paling tinggi diperoleh bila elektron – elektron dari ikatan – ikatan tereksitasi yang menimbulkan serapan dalam daerah 120 – 200 nm.daerah ini dikenal sebagai daerah ultraviolet vakum dan relatif tidak banyak memberikan keterangan. Diatas 200 nm eksitasi elektron dari orbital – orbital p dan d dan orbital π terutama sistem terkonjugasi – π segera dapat diukur dan spektra yang diperoleh memberikan banyak keterangan. Dalam praktek, spektrometri ultraviolet digunakan terbatas pada Spektrum ultraviolet adalah suatu gambar antara panjang gelombang atau frekuensi serapan lawan intensitas serapan (transmitasi atau absorbansi). Sering juga data ditunjukkan sebagi gambar grafik atau tabel yang menyatakan panjang gelombang lawan serapan molar atau log dari serapan molar, Emax atau logEmax. Saat melakukan praktikum dengan menggunakaan spektroskopi yaitu dalam hal untuk mengetahui panjang gelombang dari suatu bahan dengan konsentrasi tertentu. Meskipun, dari suatu larutan yang sama dan dengan konsentrasi yang sama pula. Ternyata hasil dari pendeteksian nilai absorbansinyapun juga berbeda . Dalam melaksanakan praktikum, kami menggunakan bahan uji yaitu kalium dikromat(K2Cr2O7). Yang mana dari situpula kami juga dapat menentukan kadar Crnya dengan menggunakan persamaan dari hukum Beer – Lambert dan dapat pula menggunakan
24

regresi linier dimana komponen x sebagai konsentarasi dan komponen y sebagai absorbansi yaitu dengan Hukum Beer - Lambert A=log10Io/I=Ɛ l c Dalam menganalisa panjang gelombang bahan tersebut kami melakukan 3 kali percobaan. Ternyata pula terjadi perbedaan panjang gelombang. Meskipun perbedaan tersebut tidak signifikan. Darisitupula juga, kami dapat mengolah data untuk dirata- rata. Jadi, data yang kami dapatkan juga dapat dikatakan cukup valid. Dalam melakukan pengujian kami juga menggunakan larutan blangko yang fungsinya untuk mengnolkan/membuat zero pada larutan yang akan dianalisis. Yang mana larutan blangko tersebut terbuat dari aquades. Dari data dan hasil perhitungan didapatkan Tranmitasi sebesar 3, 18 % Dalam analisa penetapan kadar Cr dalam Cromosal b kami menggunakan panjang gelombang/λ hanya 540 karena dari data prktikum sebelumnya didapatkan absorabnsi maksimun dari crom adalah pada

panjang gelombang 540 nm sehingga pada panjang gelombang itulah absorbansi maksimal didapatkan dan paraktikum kali ini kita hanya

membandingkan pengaruh kosentarsi terhadap absorbansi . Ternyata dari hasil itu, kenaikan nilai absorbansi sebanding dengan konsentrasi atau dapat dikatakan juga semakin besar konsentrasinya semakin besar pula nilai absorbansinya yang didapat. Dapat juga diambil hipotesis juga bahwa semakin besar konsentrasinya maka semakin besar pula kadar yang dicapai.

25

III. KESIMPULAN Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan : Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan diantaranya yaitu:

1.

Spektrum ultraviolet adalah suatu gambar antara panjang gelombang atau frekuensi serapan lawan intensitas serapan (transmitasi atau absorbansi).

2.

Semakin besar konsentrasinya maka semakin besar pula kadar yang dicapai.

3.

Menentukan kadar Crnya dapat menggunakan persamaan dari hukum Beer – Lambert dan dapat pula menggunakan regresi linier

4.

Dengan panjang gelombang maksimal 540 nm di dapatkan tranmitasi 3,18 % IV. DAFTAR PUSTAKA

AOCS Official Method Am. 2-93. Determination of Oil Content in Oilseeds Chemistry. New York: John Wiley and Sons, Inc. Sudjadi, Drs., (1986), "Metode Pemisahan", UGM Press, Yogyakarta Senowulung, R.Bagus, 2008. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Organik. ATK: Yogyakarta Whitaker, M.C. 1915. The Journal of Industrial and Engineering Chemistry. Easton: Eschenbach Printing Company. Fessenden, Ralph.J.1997.”Dasar – Dasar Kimia Organik”.Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta:Binarupa Aksara. Sastrohamidjojo,Dr.Hardjono.2007.”Spektroskopi”.Yogyakarta:Liberti Yogyakarta www. Chemys-try.com/spektrfotometer

26

Yogyakarta, 29 juni 2009 Praktikan

I Wayan Suryagama 08.TBKKP.TPL.65 Mengetahui,

Asisten Pembimbing

Dosen Pembimbing

Eko Nuraeni,A.Md

Drs.Herry Suseno

27

LAPORAN RESMI INSTRUMEN ANALISA ANALISIS POLYMER DENGAN TG/DTA

DISUSUN OLEH: I WAYAN SURYAGAMA (08.TBKKP TPL.65)

Dosen Pembimbing : Drs.Herry Suseno Asisten Dosen: Eko Nuraini,A.md

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN AKADEMI TEKNOLOGI KULIT YOGYAKARTA 2009
28

XIII.

JUDUL PRAKTIKUM ANALISIS POLYMER DENGAN TG/DTA

XIV.

Tujuan Praktikum A. Tujuan Umum Mampu menggunakan TG/DTA untuk analisa Polymer B. Tujuan Khusus 6. Dapat menhitung titik meeting point 7. Menghitung titik transisi glas 8. Dapat menghitung penurunan Berat 9. Mengetahui titik endotermis dan eksotermis

XV.

Dasar teori Deferensial thermonalyse ialah suatu metoda analisa yang menggunakan perubahan suhu (panas) daripada zat yang akan dianalisakan. Penggunaan DTA untuk industri plastik Didalam industri plastik perlu sekali diketahui jenis polimer yang terbentuk apakah homopolimer atau ko-polimer dengan polimer jenis lain dan bagaimana perubahan sifatsifat plastik dengan adanya ko-polimer dengan polimer dengan jenis lain. Seperti yang telah diselidiki oleh bert.H. Clampitt (1962) antara polietilen linear dan polietilen tekanan tinggi, pada penilitian tersebut didapat hasil bahwa tanpa membiarkan campuran plastik pada temperatur tertentu beberapa lama, akan didapati puncak endotermal yang sangat sederhana dan dengan membiarkan plastik dipanaskan pada suhu selama beberapa jam akan didapati termogram yang berlainan. Dan hal ini tidak lain membuktikan bahwa pada campuran kedua macam polietil meskipun molekulnya hampir bersamaan, akan memerlukan panas dan waktu tertentu untuk mencapai kesetimbangan termis secara statistik. Selanjutnya pada penelitian ini sekaligus telah dibuktikan bahwa hasil yang terbaik didapati kalau campuran plastik dipanaskan pada suhu 1200 C untuk selama 30 menit. Kromatografi gas biasanya dipakai untuk analisa sampel yang berbentuk gas atau cairan dan padatan yang mudah menguap, sampel atau campuran yang hendak diperiksa disuntikan sedikit kedalam arus gas inert seperti N2, H2, He, Ar atau CO2 yang mengalir melalui kolom yang berisi suatu medium. Sampel ini terbawa oleh gas inert mengalir melalui medium tadi, yang mempunyai sifat dapat berinteraksi dengan kompone-komponen dalam campuran, dan akan menghambat aliran masing-masing komponen. Besarnya hambatan ini
29

bagi masing-masing komponen berbeda-beda, sehingga komponen-komponen keluar dari kolom tidak bersama-sama akan tetapi satu persatu. Selanjutnya gas yang keluar dari kolom ini dilewetkan melalui suatu detektor, hambatan tadi disebabkan karena adanya absorpsi atau partisi oleh medium terhadap masing-masing komponen. Besarnya gaya adsorpsi atau partisi tersebut, khas bagi masing-masing komponen. Perbedaan absorpsi atau partisi inilah yang memungkinkan pemisahan dalam kolom tadi. Kompleks bimetal Fe(pyq)[Ni(CN)4].5H2O, dengan pyq= piridilquinolin, telah berhasil disintesis dari Fe(BF4)2.6H2O dan pyq dengan TBA2[Ni(CN)4] dalam atmosfer nitrogen. Rendemen senyawa ini adalah 90,73%. Rumus kimia kompleks tersebut diperoleh dari kadar ion logam dan unsur-unsur pendukungnya, yaitu persen berat Fe=10,81%, Ni=11,60%, C=39,25%, H=3,33% dan N=16,16%. Keberadaan air hidrat ditunjukkan oleh termogram TG/DTA. Kompleks ini larut dalam propanol dan larutannya tidak memberikan daya hantar yang berarti. Larutan kompleks ini memiliki serapan maksimum pada 497 nm. Serapan tertinggi terjadi pada perbandingan kompleks Fe(II):Ni(II)=1:2. Spektrum inframerah kompleks tersebut menunjukkan puncakpuncak yang karakteristik untuk komponen penyusun kompleks. Puncak pada 3441 cm-1 menunjukkan adanya air hidrat. Puncak-puncak pada 2952 cm 1, 1455 cm 1, 1348 cm 1, 1110 cm-l, dan 890 cm-l menunjukkan adanya pyq dan puncak pada 1705 cm-1 menunjukkan gugus CN sebagai ligan jembatan. Senyawa ini bersifat paramagnetik dengan momen magnet sebesar 4,3 BM pada temperatur ruang. Kompleks ini kristalinitasnya lebih rendah dibandingkan dengan Fe(py)2[Ni(CN)4].2H2O yang ditunjukkan dari pola difraksi sinar-X serbuk.

XVI.

Peralatan dan Bahan 19. Seperangkat alat TG/DTA 20. Gas N2 21. Alumina 22. Sampel plastik ,PP,LDPP,PE,LDPE,PE,HDPE 23. Cuter/pisau 24. Pinset

XVII.

Cara Kerja g. Persiapan pengujian 1. Pengkondisian TG/DTA
30

Suhu awal Rate Suhu Akhir 2. Persiapan sampel

:30o C : 5o C/ min : 3000 C

Ambil sampel dengan pinset iris dengan cuter 3. Analisa sampel Nyalakan computer Buka gas Tekan tombol power TG/DTA , pada sampel info isi nama sampel , operator dan tanggal analisis lalu save. Pada program isi suhu awal , rate dan suhu akhir yang di tuju Tekan open TG/DTA , amboil sampel pan dengan pinset , bersihkan kemudian iss dengan alumina , masukan lagi ,klik zero . Tunggu sampai angka stabil ,tekan open , keluarkan sampel pan , isi sampel pan dengan sampel platik dengan pinset dan msukan lagi , Klik weight ,tunggu stabil untuk menentukan berat awal sampel . klik, start tunggu analisis selesai sesuai waktu yang di inginkan . print hasil analisa dan matikan alat

XVIII.

Hasil Analisa Plastic HDPE Masa awal sebelum di analisa adalah 7,719 mg no 1 2 3 4 5 Temperature ( 0C ) 30 250 300 350 400 Massa( % dari massa awal ) 100 % 99,102 % 90 % 70 % 23 %

31

Sehingga kita dapat menghitung berat plastic pada masing- masing suhu : 1. 300 C : 100 100 99,102 100 90 100 70 100 : 23 100 X 7,719mg = 7,719mg

2.

2500C 3000C 3500C 4000C

:

X

7,719mg =

7,649mg

3.

: :

X

7,719mg =

6,9471mg

4.

X

7,719mg =

5,043mg

5 Plastic LDPE

x

7,719mg =

1,775mg

Masa awal sebelum di analisa adalah 8,908 mg no 1 2 3 4 5 Temperature ( 0C ) 30,90 212,83 241,56 257,88 295,10 Massa( % dari massa awal ) 100 % 100,230 % 99,785% 98,074 % 92,698 %

Sehingga kita dapat menghitung berat plastic pada masing- masing suhu : 1. 35,90 0 C 212,830C 241,560C : 100 100 100,230 100 99,785 100 X 8,908 mg = 8,908 mg = 8,9284 mg = 8,8889mg

2.

:

X

8,908 mg

3.

:

X

8,908 mg

32

4.

257,880C

:

98,074 100 92,698 100

X

8,908 mg

= 8,736 mg

5

295,100C

:

x

8,908 mg

= 8,257mg

Plastic botol aqua Masa awal adalah 12,118 mg No 1 2 3 4 5 Temperature ( 0 C ) 33,03 86,81 200,75 254,62 293,65 Massa ( % dari masa awal ) 100,034 99,731 99,479 99,960 99,895

Sehingga kita dapat menghitung massa plastic dari masing masing suhu: 1 33,030C 86,810C 200,750C 254,620C : 100,034 100 99,731 100 99,479 100 99,960 100
33

X x

12,118mg = 12,122 mg

2

:

12,118mg = 12,085 mg 12,118mg = 12,054 mg 12,118mg = 12,113 mg

3 4

: :

x

x

5

293,650C

:

99,895 100

x

12,118mg = 12,105 mg

Sedangkan untuk data yang berupa grafik dapat dilihat pada lampiran berikut.

XIX.

PEMBAHASAN HDPE merupakan jenis plastic yang mempunyai densitas yang tinggi bila dibandingkan dengan botol aqua. Akan, tetapi kedua plastik ini sama – sama terdiri dari polyethylene dengan stuktur : CH2 – CH2 – CH2 – CH2 –

Karena mempunyai densitas yang berbeda maka spectrum massa yang berbeda. Dari data diatas dapat dilihat bahwa semakin suhu meningkat maka massa masing – masing plastic berkurang. Pada awal praktikum untuk melakukan analisa kita harus memotong biji plastic tersebut menjadi bagian – bagian yang kecil, pastikan potongan tersebut dapat masuk dalam pan alumina, sehingga dapat dideteksi oleh TG/DTA. Dari data diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu maka massa HDPE atau plastik botol aqua akan semakin berkurang sedangkan ada sesutau hal lain yang kita dapat cermati pada grafik LDPE pada suhu 212,830 C mengalami pertambahan berat hal

kemungkinan disebabkan oleh pan alumina yang kurang bersih, sebab sebelumnya telah digunakan untuk pengujian bahan yang lain. Sehingga massa yang seharusnya berkurang jadi bertambah. Massa HDPE mulai menurun drastis pada suhu 250oC. Sedangkan pada plastik botol aqua, pada suhu 254,62 oC massa plastik botol aqua setelah mengalami penurunan bertahap bertambah menjadi 99,960%. tetapi pada suhu 293.650 C masanya menurun Massanya bertambah kemungkinan disebabkan oleh pan

alumina yang kurang bersih, sebab sebelumnya telah digunakan untuk pengujian bahan yang lain. Sehingga massa yang seharusnya berkurang jadi bertambah. Massa plastik botol aqua mulai menurun drastis yaitu pada suhu 293,65oC. dan pada grafik microvolt Endo grafik HDPE Dan LDPE terlihat agak mirip dari struktur grafik hanya saja penurunan berubah –ubah dari

microvoltnya yang bebeda pada suhu tertentu sedangkan pada botol aqua grafik selalu

XX.

KESIMPULAN Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:
34

1. TG/DTA adalah alat analisis yang digunakan untuk menganlisis bahan yang berbentuk padatan dengan menggunakan perubahan suhu untuk mengetahui jenis dan sifat-sifat bahan yang dianalisa. 2. HDPE merupakan jenis plastic yang mempunyai densitas yang tinggii blia dibandingkan dengan LDPE 3. Semakin tinggi suhu maka massa HDPE atau LDPE akan semakin berkurang.

XXI.

DAFTAR PUSTAKA R.J.Bannec, The Australian Science Teachers Journal,page 79 – 82.September 1972 Vol.18 no.3.,p.79 – 82. R.J.Bannec, The Australian Science Teachers Journal,page 79 – 82.September 1972 Vol.18 no.4.,p.79 – 84. Fessenden, Ralph.J.1997.”Dasar – Dasar Kimia Organik”.Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta:Binarupa Aksara. Fessenden, Joan.S.1997.”Dasar – Dasar Kimia Organik”.Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta:Binarupa Aksara.

35

LAPORAN RESMI INSTRUMEN ANALISA ANALISIS LOGAM Cr DAN Pb PADA LIMBAH PENYAMAKAN MENGGUNAKAN AAS

DISUSUN OLEH: I WAYAN SURYAGAMA (08.TBKKP TPL.65)

Dosen Pembimbing : Drs.Herry Suseno Asisten Dosen: Eko Nuraini,A.md

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN AKADEMI TEKNOLOGI KULIT YOGYAKARTA 2009

36

I.

JUDUL PRAKTIKUM ANALISIS LOGAM Cr PADA LIMBAH PENYANAKAN MENGGUNAKAN AAS II. Tujuan Praktikum C. Tujuan Umum 1. Mampu memahami analisa Cr pada limbah dan mampu menerapakanya pada pengolahan limbahn industri 2. Mampu memahami analisa Pb pada limbah dan mampu menerapakanya pada pengolahan limbahn industri

D. Tujuan Khusus 10. 11. 12. l III. Dasar teori SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM Peristiwa serapan atom pertama kali diamati oleh Fraunhofer, ketika menelaah garis-garis hitam pada spectrum matahari. Sedanngkan yang memanfaatkan prinsip serapan atom pada bidang analisis adalah seorang Australia bernama Alan Walsh pada tahun 1955. Sebelumnya ahli kimia banyak tergantung pada cara-cara spektrofotometrik atau analisis spektrografik. Beberapa cara ini sulit dan memakan waktu, kemudian digantikan dengan spektroskopi serapan atom. Metode ini sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode spektroskopi emisi konvensional. Pada metode konvensional, emisi tergantung pada sumber eksitasi. Bila eksitasi dilakukan secara termal, maka ia bergantung pada temperatur sumber. Selain itu eksitasi termal tidak selalu spesifik, dan eksitasi secara serentak pada berbagai spesies dalam suatu campuran dapat saja terjadi. Sedangkan dengan nyala, eksitasi unsure-unsur dengan tingkat eksitasi yang rendah dapat dimungkinkan. Tentu saja perbandingan banyaknya atom yang tereksitasi terhadap atom yang berada pada tingkat dasar harus cukup besar, karena metode serapan atom hanya tergantung pada perbandinganini dan tidak bergantung pada temperatur. Logam-logam yang membentuk campuran kompleks dapat dianalisis dan selain itu tidak selalu diperlukan sumber energi yang besar.
37

Dapat membuat larutan standar Dapat melakukan preparasi sampe Menganalisis limbah secara kualitatif dan kuantitatif

Prinsip AAS Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Dengan absorpsi energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikan tingkat energinya ketingkat eksitasi. Keberhasilan analisis ini tergantung pada proses eksitasi dan memperoleh garis resonansi yang tepat. Selama pembakaran, elemen atom yang tertarik pada sampel dan direduksi bebas, yang mana mengabsorbsi cahaya dengan karekteristik panjang gelombang, seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.

karakteristik panjang gelombang setiap elemen adalah spesific dan akurat, yaitu 0,010,1nm. Untuk memberikan panjang gelombang yang spesifik pada setiap elemen, sebuah lampu balok dengan katoda yang sesuai digunakan, untuk membuat setiap elemen bisa ditentukan setiap melewati nyala api. Sebuah alat seperti photonmultiplier bisa mendeteksi jumlah reduksi dari intensitas cahaya ke absorpsi yang digunakan sebagai analit, dan ini bisa langsung dihubungkan ke jumlah elemen dalanm tiap sampel.

Komponen Alat Pada AAS

38

Alat ini khusus didesain untuk mengoperasikan, dengan sebuah nyala api atau dengan grafit furnace. Grafit furnace adalah dilengkapi dengan sebuah sampel otomatis. Alat Absorpsi atom menyala adalah dibagi menjadi 6 bagian penting, yang secara keseluruhan memiliki 2 fungsi penting:  Membangkitkan sinyal atom  Memproses sinyal atom Pemproses sinyal adalah sebuah fitur perkembangan yang terintegrasi atau diluar alat. Bagian-bagian dari instrumen ini seperti ditunjukkan pada gambar berikut:

Sebuah lampu katoda (1), ditunjukkan pada gambar dibawah ini

Dengan sumber lampu yang stabil, yang mana membutuhkan pancaran karakteristik spectrum dari setiap masing-masing elemen yang ingin ditentukan. Sebuah lampu katoda yang berbeda dibutuhkan untuk setiap elemen, walaupun ada beberapaa lampu yang bisa digunakan untuk menetukan 3 atau 4 elemen yang berbeda, jika katoda mengandung semuanya. Setiap waktun sebuah lampu diganti, penjajaran yang tepat diperlukan agar mendapatkan banyak cahaya yang memungkinkan melewati nyala api, dimana analite sedang diatomisasi, dan dalam monochromator. Sebuah sel atom ditunjukkan pada gambar berikut ini:

39

Sel atom adalah bagian dengan 2 fungsi utama:  Menebulasi sampel cair menjadi mudah menyemprot  Menguraikan analit setiap elemen menjadi gas.

Cara Kerja AAS Setiap alat AAS terdiri atas tiga komponen berikut : o Unit atomisasi o Sumber radiasi o Sistem pengukur fotometrik Atomisasi dapat dilakukan dengan baik dengan nyala maupun dengan tungku. Untuk mengubah unsure metalik menjadi uap atau hasil disosiasi diperlukan energi panas. Temperatur harus benar-benar terkendali dengan sangat hati-hati agar proses atomisasinya sempurna. Biasanya temperatur dinaikkan secara bertahap, untuk menguapkan dan sekaligus mendisosiasikan senyawa yang dianalisis. Bila ditinjau dari sumber radiasi, haruslah bersifat sumber yang kontinyu. Di samping itu sistem dengan penguraian optis yang sempurna diperlukan untuk memperoleh sumber sinar dengan garis absorpsi yang semonokromator mungkin. Seperangkat sumber yang dapat memberikan garis emisi yang tajam dari suatu unsure yang spesifik tertentu dikenal sebagai lampu pijar hallow cathode. Dengan pemberiaan tegangan pada arus tertentu, logam mulai memijar, dan atom-atom logam katodenya akan teruapkan dengan pemercikkan. Atom akan tereksitasi kemudian mengemisikan radiasi pada panjang gelombang tertentu.

Pemakaian Analitis AAS

40

Teknik AAS menjadi alat yang canggih dalam anlisis. Ini disebabkan diantaranya oleh kecepatan analisisnya, ketelitiannya sampai tingkat runut, tdak memerlukan pemisahan pendahuluan. Kelebihan kedua adalah kemungkinannya untuk menentukan konsentrasi semua unsure pada konsentrasi runut. Ketiga, sebelum pengukuran tidak selalu memerlukan pemisahan unsur yang ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsure dengan kehadiran unsure lain dapat dilakukan asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan sampai 61 logam. Sensitivitas dan batas deteksi merupakan 2 parameter yang sering digunakan dalam AAS. Sensitivitas didefinisikan sebagai konsentrasi suatu unsure dalam larutan air (μg/ ml) yang mengabsorpsi 1 % dari intensitas radiasi yang datang. Sedangkan batasan deteksi adalah konsentrasi suatu unsure dalam larutan yang memberikan sinyal setara dengtan 2 kali deviasi standar dari suatu seri pengukuran standar yang konsentrasinya mendekati blangko atau sinyal latar belakang.

SPEKTOSKOPI MASSA Spektometer massa adalah suatu instrument yang dapat menyeleksi molekul-molekul gas bermuatan berdasarkan massa atau beratnya. Teknik ini tidak dapat dilakukan dengan spekstroskopi, akn tetapi nama spektroskopi dipilih disebabkan persamaan nya dengan pencatat fotografi dan spectrum garis optic. Umumnya spectrum massa diperoleh dengan mengubah senyawa suatu sample menjadi ion-ion yang bergerak cepat yang dipisahkan berdasarkan perbandingan massa terhadap muatan. Proses ionisasi menghasilkan partikel-partikel bermuatan positif, dimana massa terdistribusi adalah spesifik terhadap senyawa induk. Selain untuk penentuan stuktur molekul, spektum massa dipakai untuk penentuan analisis kuantitatif. Jika didapat data IR dan NMR yang cukup lengkap, maka MS ini dapat digunakan untuk konfirmasi dengan memperhatika bobot molekul dan kemungkinan rumus strukturnya.

Prinsip Spektroskopi Massa Merupakan suatu instrument yang menghasilkan berkas ion dari suatu zat uji, memilah ion tersebut menjadi spektum yang sesuai denganperbandingan massa terhadap muatan dan merekam kelimpahan rewlatif tiap jenis ion yang ada. Umumnya hanya ion positif yang dipelajari karena ion negative yang dihasilkan dari sumber tumbukan umumnya sedikit.

41

Analisis Kualitatif Spektroskopi massa memungkinkan kita menidentifikasi suatu senyawa yang tidak diketahui, dengan mengkalibrasi terhadap senyawa yang telah diketahui seperti uap merkuri atau perfloro kerosin. Rumus molekul suatu senyawa dapat diyentukan puncak ion molekul sudah dikenal tetapi untuk hal-hal semacam ini diperlukan spektometri beresolusi tinggi. Aturan nitrogen dapat dimanfaatkan untuk membantu penentuan rumus ini. Lazimnya semua senyawa organic mempunyai berat molekul genap tidak mengandung nitrogen atau mengandung sejumlah atom nitrogen yang genap, sedang semua senyawa organic dengan berat molekul ganjil mengandung jumlah atom nitrogen ganjil. Aturan ini berlaku untuk senyawa-senyawa kovalen yang mengandung C, H, O, S, dan Halogen. Pola fragmen dipergunakan untuk mengidentifikasi senyawa, juga memungkinkan terdapat pengenalan gugus fungsi dentgan melihat puncak-puncak fragmentasi spesifik. Hukum nitrogen menyatakan bahwa suatu molekul yang berat molekulnya merupakan bilangan genap maka molekul tersebut harus tidak mengandung nitrogen atau kalau mengandung nitrogen berjumlah genap, dan molekulnya berbilang ganjil mengandung nitrogen berjumlah ganjil.

Analisis Kuantitatif Spectrometer massa dapat digunakan untuk analisis kuantitatif suatu campuran senyawasenyawa yang dekat hubungannya. Analisis ini dapat dipergunakan untuk analisis campuran, baik senyawa organic ataupun anorganik yang bertekanan uap rendah. Karena pola fragmentasi senyawa campuran adalah aditif sifatnya, suatu senyawa campuran dapat dianalisis jika berada dalam kondisi yang sama. Persyaratan dasar analisisnya adalah setiap senyawa harus mempunyai paling tidak 1 puncak yang spesifik, konstribusi puncak harus aditif dan sensitive harus reproduksible serta adanya senyawa referens yang sesuai. Dengan spektometer massa beresolusi tinggi, senyawa polimer dengan berat molekul tinggi juga dapat dianalisis. Spectrometer massa dapat digunakan untuk analisis runutan organic terutama dengan menggunakan sumber bunga api listrik, dan ia juga dapat digunakan menganalisis unsurunsur runutan dalam paduan atau dalam super konduktor. Tipe bunga api lstrik mmempunyai sensitivitas tinggi dan dapat menentukan sampai tingkat ppb. Kekurangan spectrometer massa bunga api listrik adalah ketidakberaturan dari sumber dan kurang reproduksibel, tetapi kekurangan ini dapat diatasi dengan memakai sistem
42

deteksi fotografi. Analisis kuantitatif instrumen semacam ini didasarkan pada garis-garis fotografi dengan standat yang sesuai. Kegunaan Spektroskopi Massa o Untuk menentukan berat molekul dengan sangat teliti sampai 4 angka dibelakang desimal. o Spektoskopi massa dapat digunakan untuk mengetahui rumus molekul tanpa melalui analisis unsure. Logam Timbal (Pb) Timbal (Pb) yang masuk ke lingkungan berasal dari pembuangan limbah industri yang berkaitan dengan timbal, buangan gas kendaraan bermotor yang menggunakan TEL (Tetra Etil Lead) dan TML (Tetra Metil Lead) sebagai anti ketuk, yang dicampurkan dalam bahan bakar, sisa pembakaran batu bara, asap pabrik yang mengolah senyawa alkil timbal dan timbal oksida serta proses peleburan biji timbal. Kontaminasi timbal juga berasal dari penggunaan peralatan yang terbuat dari timbal atau alloynya (Palar, 1994). Timbal dapat masuk ke jaringan tumbuhan melalui permukaan daun dan di atas tanah serta melalui sistem perakaran. Pada hewan dan manusia timbal dapat masuk melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi serta melalui pernafasan dan penetrasi pada kulit. Timbal di dalam tubuh dapat menghambat aktifitas enzim-enzim yang terlibat dalam pembentukan hemoglobin seperti enzim ferrokhelatase yang dapat mengakibatkan anemia. Timbal juga dapat menyerang susunan syaraf dan mengganggu sistem reproduksi. Timbal (Pb) mempunyai arti penting dalam dunia kesehatan bukan karena penggunaan terapinya, melainkan lebih disebabkan karena sifat toksisitasnya. Absorpsi timbal di dalam tubuh sangat lambat, sehingga terjadi akumulasi dan menjadi dasar keracunan yang progresif. Keracunan timbal ini menyebabkan kadar timbal yang tinggi dalam aorta, hati, ginjal, pankreas, paru-paru, tulang, limpa, testis, jantung dan otak. Hal ini diperoleh dari kasus yang terjadi di Amerika pada 9 kota besar yang pernah diteliti[4] Logam Kromium (Cr) Logam kromium murni tidak pernah ditemukan di alam, umumnya berada dalam bentuk persenyawaan padat atau mineral dengan unsur lain. Kromium adalah logam yang tahan korosi oleh karena itu banyak digunakan sebagai pelapis elektrolit dan inhibitor korosi
43

dalam campuran baja (alloy). Senyawa kromium dalam bentuk kromat dan dikromat sangat banyak digunakan oleh industri tekstil, fotografi, pembuatan tinta dan industri zat warna. Tingkat bilangan oksidasi kromium yang sering dijumpai adalah III dan VI. Cr(III) dalam larutan asam berupa ion Cr(H2O)63+, sedangkan dalam larutan yang basa berupa ion Cr{(OH)5(H2O)}2- dan CR(OH)63- Cr(VI) dalam larutan asam (pH lebih kecil dari 6) berupa ion HCrO4- dan Cr2OH42- yang berwarna jingga, sedangkan dalam larutan basa berupa ion CrO42- uang berwarna kuning. Pada pH yang rendah (sangat asam) hanya ion Cr2O72- yang ada di dalam larutan. Kromium ditemukan masuk ke lingkungan melalui limbah industri dari lumpur elektroplating, limbah penyamakan dan pabrik inhibitor korosi. Cr(III) kurang beracun dan kurang aktif di dalam lingkungan dibanding dengan Cr(VI). Cr(III) yang berada di lingkungan akan diendapkan di dasar perairan, sedangkan Cr(VI) tetap berada dalam perairan yang sangat beracun bagi binatang dan tanaman air. Cr(VI) dapat berakibat pembentukan bisul pada kulit, lubang-lubang kecil pada hidung dan kanker paru-paru(Krull, 1991) IV. Peralatan dan Bahan E. Alat yang Dipergunakan Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah 25. Neraca analitik 26. Kaca Arloji 27. Beker glas 28. Labu takar 250 ml,100 ml, 50 ml 29. Pengaduk kaca 30. Corong 31. Pipet ukur 32. Pipet tetes 33. Erlenmayer 34. Propipet 35. Botol semprot 36. Kertas saring 37. AAS 38. Lampu holow katode lamp Cr 39. Gas acetylin
44

F. Bahan yang Dipergunakan 11. Aquades 12. Larutan standar Cr 13. Asam Nitrat 14. Sampel Limbah yang mengandung Cr V. Cara Kerja

A.Prosedur Kerja Pada Analisa logam Cr

a. Persiapan Pengujian 1. Pembuatan Larutan baku logam Cr, 1000 ppm(mg/L) (induk)  Menimbang sebanyak 1,413 gram K2Cr2O7(Kalium Dikromat) dengan kaca arloji.  Larutkan dengan larutan pengencer dalam labu takar 250 ml tepatkan sampai tanda kemudian homogenkan.(sebelum diencerkan ke dalam labu takar diencerkan dahulu ke dalam gelas beker dan diaduk dengan spatula yang tujuannya untuk memudahkan dalam pengenceran). 2. Pembuatan Larutan baku logam krom, Cr 100 ppm (mg/L)  Memipet sebanyak 10 ml larutan induk logam krom, Cr 1000 mg/L kedalam labu ukur 100 ml  Larutkan dengan larutan pengencer dan tera sampai tanda batas,kemudian homogenkan(dikocok). 3. Pembuatan larutan baku logam krom, Cr 10 mg/L  Memipet sebanyak 25 ml larutan induk logam krom, Cr 100 mg/L kedalam labu ukur 250 ml.  Larutkan dengan larutan pengencer dan tera sampai tanda batas,kemudian homogenkan(dikocok). 4. Pembuatan larutan standar logam krom  Memipet sebanyak 2 ml,5 ml,10 ml, 20 ml,30 ml dari larutan baku krom Cr 10 mg/L masing-masing kedalam labu ukur 100 ml.  Encerkan dengan larutan pengencer sampai tanda garis sehingga diperoleh konsentrasi masing-masing Cr 0,2 mg/l; 0,5mg/l; 1,0 mg/l; 2,0 mg/l; 3,0 mg/l; 5. Pembuatan sampel limbah penyamakan kulit  Kocok sampel uji sampai homegen.
45

 Ambil 100 ml dengan pipet gondok, masukkan kedalam beker gelas 100 ml.  Tambahkan 5 ml asam nitrat pekat  Panaskan dengan menggunakan kompor sampai hampir habis atau tinggal seperempat  Tambahkan aquades 50 ml, masukkan dalam labu ukur 100 ml melalui kertas saring, tepatkan sampai tanda batas lalu homogenkan.  Pipet 1 ml larutan lalu encerkan sampai 100 ml, homogenkan  Pipet lagi 1 ml larutan lalu encerkan 100 ml lalu homogenkan  Analisis dengan AAS, bila terlalu pekat diencerkan lagi. 6. Pembuatan sampel cromosal B  Timbang 0,1 gram cromosal B dengan kaca arloji  Tuangkan kedalam beker gelas, tambahkan aquadest 50 ml kedalamnya.  Tambahkan NaOH 1N sampai pH 14  Tambahkan Natrium Hipoclorid 5 ml dengan pipet volume.  Tambahkan perhidrol 10 ml, panaskan sampai endapan hilang  Tambahkan HNO3 hingga timbul endapan.  Panaskan pelan – pelan hingga warna berubah menjadi kuning  Tuangkan kedalam labu takar 100 ml, tepatkan sampai tanda, homogenkan  Memipet 1 ml dengan pipet volume lalu encerkan sampai 100 ml dengan labu takar 100 ml.  Memipet 1 ml lagi dan encerkan menjadi 100 ml lalu homogenkan.  Analisis dengan AAS 8. Prosedur Kerja analisa Cr dan Pb dalam limbah  Siapkan bahan-bahan yang akan digunakan dan urutkan sesuai dengan urutan konsentrasinya.  Hidupkan AAS dengan menggunakan lampu holoe catode Cr untuk menganalisis krom.  Lakukan analisa dimulai dari larutan standar konsentrasi rendah sampai yang paling tinggi kemudian dilanjutkan dengan larutan sampel. B. Prosedur Kerja Pada Analisa logam Pb 1. Prosedur kerja pembuatan larutan standar Pb 1000 ppm  Menimbang 0,399 gram Pb(NO3)2 dengan kaca arloji larutkan dalam gelas beker 100 ml dengan larutan pengencer
46

 Tuang dalam labu takar 250 ml, bilas gelas beker sampai bersih, tuang dalam labu takar Tambahkan larutan pengencer dalam labu takar sampai tanda, homogenkan. 2. Prosedur kerja pembuatan larutan standar Pb 100 ppm  Pipet 10 ml larutan standar Pb 1000 ppm dengan pipet gondok  Tuang dalam labu takar 100 ml  Tambahkan larutan pengencer sampai tanda, homogenkan. 3. Prosedur kerja pembuatan larutan standar Pb 10 ppm  Pipet 25 ml larutan standar 100 ppm dengan pipet gondok  Tuang dalam labu takar 250 ml  Tambahkan larutan pengencer sampai tanda, homogenkan. 4. Prosedur kerja pembuatan larutan standar Pb  Pipet 5 ; 10 ;15; 20 ml larutan standar Pb 10 ppm  Masing-masing tuang kedalam labu takar 100 ml  Tambahkan masing – masing larutan pengencer sampai tepat lalu

homogenkan.(konsentrasi yang diperoleh yaitu 0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm. 5. Pembuatan larutan pengencer  Aquades ditambah asam nitrat pekat sampai pH 2. 6. Prosedur kerja pembuatan preparasi sampel  Kocok sampel limbah sampai homogen  Pipet 100 ml sampel dengan pipet volume  Tuang dalam gelas beker tambahkan asam nitrat pekat.  Panaskan dalam kompor kira-kira volumenya tinggal 10-20 ml  Tambahkan aquades sebanyak 50 ml  Saring dengan kertas saring whatman dalam labu takar 100 ml dan tepatkan sampai tanda  Ambil 1 ml encerkan 100 ml dalam labu takar.  Analisis dalam AAS. G. Prosedur Kerja Penggunaan AAS a. Tancapkan saklar b. Putar kompresor searah silang (warna kuning) c. Buka tabung gas acetylene (tongkat besi putar kekanan) d. Tekan tombol power e. Lihat layar monitor keluar start up Klik detail
47

Flame (Mahasiswa pilih flame) Klik detail Klik diagnostic (interlock harus hijau semua, bila merah cek semua) Klik OK f. Keluar menu (pilih lampu yang mau dipakai, pasang) g. Tekan install lamp OK Tekan lampu yang dipilih, misal Cr atau Pb OK Element Pilih lampu Klik OK Keluar kalimat : lamps installed Peaking turent (biarkan agak lama agar energinya optimal) h. Tekan parameter Integration time Replicated Read delay i. Tekan kalibarasi Calibrtion : Unit Standart consentrasi Klik tools j. Tekan save method
48

} isi dengan cara memilih

: mg/l : 1. 2. 3.

Method name : Description Klik OK k. Tekan flame Bleed gasses ON/OFF, tekan ON Tekan oxidant yang dipilih Print tekan ON l. Tekan analisa Analisa blanko Analisa standar Analisa sample (tunggu sampai warna hijau hilang) m. Klik tools n. Klik print result. o. Untuk grafik Klik display kalibrasi Klik print Klik OK p. Matikan Tekan flame Tekan oxidant Pilih : Air  yang dipilih udara : Nitrous Tekan OFF Matikan Acetylen
49

: :

Matikan nitrous Udara tutup (kompresor kuning) Bleed gases q. r. s. t. u. Lampu Tekan install lamp Tekan lampu yang mau dimatikan OK Matikan power

VI.

Hasil Analisa Data Larutan Standar (K2Cr2O7) dan {Pb(NO3)2} Dalam Percobaan Analisa Cr dan Pb M K2Cr2O7 N K2Cr2O7 V K2Cr2O7 M {Pb(NO3)2} V {Pb(NO3)2} N {Pb(NO3)2} : 1,413 gram : 1000 mgr/L : 250 ml : 0,399 gram : 250 ml. : 1000 mg/L

Perhitungan volume larutan standar K2CrO7 dan {Pb(NO3)2}dengan menggunakan rumus: V1 . C1 = V2 . C2 Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 1000 menjadi 100 ppm Diket : C1 = 1000 ppm V2 = 100 C2 = 100 ppm Ditanya : V1 = ...........?
50

Jawab : V1 . 1000 = 100 . 100 V1 = 10.000 1000 V1 = 10 ml Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 100 ppm menjadi 10 ppm Diket : C1 = 100 ppm V2 = 250 C2 = 10 ppm Ditanya : V1 = ...........? Jawab : V1 . 100 = 250. 10 V1 = 2.500 100 V1 = 25 ml

Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 10 menjadi 0,2 ppm Diket : C1 = 10 ppm V2 = 100 ml C2 = 0,2ppm Ditanya : V1 = ...........? Jawab : V1 . 10 = 100 . 0,2
51

V1 =

20 10

V1 = 2 ml Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 10 menjadi 0,5 ppm Diket : C1 = 10 ppm V2 = 100 ml C2 = 0,5 ppm Ditanya : V1 = ...........? V1 . 10 = 100 . 0,5 V1 = 50 10 V1 = 5 ml Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 10 menjadi 1 ppm Diket : C1 = 10 ppm V2 = 100 ml C2 = 1 ppm Ditanya : V1 = ...........? V1 . 10 = 100 . 1 V1 = 100 10 V1 = 10 ml Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 10 menjadi 2 ppm Diket : C1 = 10 ppm
52

V2 = 100 ml C2 = 2 ppm Ditanya : V1 = ...........? Jawab : V1 . 10 = 100 . 2 V1 = 200 10 V1 = 20 ml Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 10 menjadi 3 ppm Diket : C1 = 10 ppm V2 = 100 ml C2 = 3 ppm Ditanya : V1 = ...........? V1 . 10 = 100 . 3 V1 = 300 10 V1 = 30 ml Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 10 menjadi 4 ppm Diket : C1 = 10 ppm V2 = 100 ml C2 = 4 ppm Ditanya : V1 = ...........? V1 . 10 = 100 . 4
53

V1 = 400 10 V1 = 40 ml Menurunkan konsentrasi larutan standar dari 10 menjadi 5 ppm Diket : C1 = 10 ppm V2 = 100 ml C2 = 5 ppm Ditanya : V1 = ...........? Jawab : V1 . 10 = 100 . 5 V1 = 500 10 V1 = 50 ml

Kosentrasi Cr dalam sampel ( limbah yang diambil ) Diketahui : Konsentrasi yang terbaca : 0,501 ppm Faktor pengenceran mL sampel : 100 mL Ditanya : Konsentrasi dan kadar Cr dalam limbah? Jawab : : 100/1 x 100/1 = 10.000

54

Konsentrasi =

konsentrasi yang terbaca x fp x 100 ml mL sampel

=

0,501 ppm x 10.000 x 100 ml 100 ml

= 5010 ppm Kadar Cr dalam limbah =

5010 ppm x 100% 10.000

= 0,501 x 100% = 50,1 %

Kadar Cr dalam kromosal B Diketahui : Konsentrasi yang terbaca : 0,383 ppm Faktor pengenceran (fp) : 100/1 x 100/1 = 10.000 mL sampel : 100 mL Ditanya : Konsentrasi dan kadar Cr dalam kromosal B? Jawab : Konsentrasi =
konsentrasi yang terbaca x fp x 100 ml mL sampel

=

0,383 ppm x 10.000 x 100 ml 100 ml

= 3830 ppm Kadar Cr dalam kromosal B =

3830 ppm x 100% 10000

55

= 0,383 x 100% = 38,3 % Konsentrasi Pb dalam sampel ( limbah yang diambil ) Diketahui : Konsentrasi yang terbaca : 0,171 ppm Faktor pengenceran mL sampel : 100 mL Ditanya : Kosentrasi dan kadar Pb dalam limbah? Jawab : Konsentrasi =
konsentrasi yang terbaca x fp x 100 ml mL sampel

: 100/1 x 100/1 = 10000

=

0,171 ppm x 10.000 x 100 ml 100 ml

= 1710 ppm

Kadar Pb dalam limbah =

1710 ppm x 100% 10000

= 0,171 x 100% = 17,1 % Grafik dapat dilihat pada lampiran . VII.Pembahasan Dalam praktikum analisa Cr dan Pb pada limbah indutsri kulit yang telah dilaksanakan didapat hasil bahwa dalam limbah yang dijadikan sampel positif mengandung logam Cr dan Pb hal ini ditunjukkan dengan terdeteksi oleh alat analisis AAS (Atomic
56

Absorption Spectrometer) dengan mengunakan lampu holoe catode Cr dan lampu holoe catode Pb dengan hasil untuk Cr koefesien korelasinya adalah sebesar 0,995004 dan untuk Pb koefesien korelasinya adalah sebesar 0,999518. Koefisien kolerasi ini akan meningkat jika pembuatan larutan standar dilakukan secara teliti. Dalam pembuatan larutan standar hal – hal yang harus diperhatikan adalah : 1. pada saat mengambil larutan dengan pipet harus benar – benar tepat pada garis batas 2. pada saat melakukan pengenceran aquades yang ditambahkan harus benar – benar tepat sampai garis batas 3. penimbangan awal dari suatu zat harus benar – benar teliti Jika hal-hal tersebut dapat dipenuhi, maka hasil untuk Cr dan Pb koefisien korelasinya akan lebih baik. Dengan menggunakan AAS dapat diperoleh data-data konsentrasi masingmasing sampel, sehingga dengan data tersebut bisa dilakukan perhitungan untuk mengetahui konsentrasi dan kadar Cr dan Pb yang terkandung pada limbah dan kromosal B. Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa kosaentrasi Cr dalam limbah adalah 5010 ppm sehingga kadar dalam sempel dilihat 50,1 % . Jadi dalam satu liter limbah terdapat 5010 mg Cr. Sedangkan untuk kosentrasi Pb dalam limbah diperoleh 1710 ppm, dengan kata lain kadar Pb adalah 17,1 %. Jadi dalam 1 liter limbah terdapat Pb sebanyak 1710 mg Pb. Kekurangan dari penggunaan AAS (Atomic Absorption Spectrometer) adalah AAS hanya bisa digunakan untuk menganalisa zat yang berbentuk cairan atau larutan, terutama larutan yang memiliki konsentrasi kecil. Jadi dalam penggunaan AAS larutan yang akan dianalisa harus terlebih dahulu diencerkan menjadi konsentrasi rendah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode emisi atom adalah:  Derajat eksitasi termis tergantung kepada energi dari sumber yang mengeksitasi (nyala, arc atau spark), ini berarti jumlah atom-atom yang teroksitasi akan bergantung kepada temperatur sumber.  Eksitasi termis tidak sfesifik, didalam campuran unsur-unsur yang konfleks, kemungkinan atom-atom yang ada didalam larutan tersebut tereksitasi pada temperatur yang digunakan.

57

 Hanya unsur-unsur dengan tingkat energi tereksitasi yang rendah saja akan tereksitasi oleh sumber eksitasi nyala. Untuk mengeksitasikan unsur lainya diperlukan sumber yang energinya lebih tinggi.

VIII.Kesimpulan Dari hasil percobaan yang kami lakukan, kami mendapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. AAS (Atomic Absorption Spectrometer) adalah alat untuk mengetahui kandungan suatu larutan, terutama logam, baik secara kualitatif maupun kuntitatif. 2. Praktikum analisa kadar Pb dan Cr dilalukan dengan mengencerkan larutan standar {Pb(NO3)2} dan K2Cr2O7 1000 ppm, menjadi konsentrasi 0,2; 0,5; 1; 2; 3; 4; dan 5. 3. Dalam analisa menggunakan metode atomic absorption spectrometer didasarkan pada atom-atom dalam keadaan dasar, sehingga relatif tak bergantung kepada temperatur.

DAFTAR PUSTAKA Fessenden, Ralph.J.1997.”Dasar – Dasar Kimia Organik”.Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta:Binarupa Aksara. Fessenden, Joan.S.1997.”Dasar – Dasar Kimia Organik”.Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta:Binarupa Aksara. Sastrohamidjojo,Dr.Hardjono.2007.”Spektroskopi”.Yogyakarta:Liberti Yogyakarta

58

LAPORAN RESMI INSTRUMEN ANALISA KROMATOGRAFI KERTAS /TLC

DISUSUN OLEH: I WAYAN SURYAGAMA (08.TBKKP TPL.65)

Dosen Pembimbing : Drs.Herry Suseno Asisten Dosen: Eko Nuraini,A.md

DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN AKADEMI TEKNOLOGI KULIT YOGYAKARTA 2009
59

XXII.

JUDUL PRAKTIKUM KROMATOGRAFI KERTAS

XXIII.

Tujuan Praktikum E. Tujuan Umum Mampu memahami analisa Cr pada limbah dan mampu menerapakanya pada pengolahan limbahn industri F. Tujuan Khusus 13. 14. 15. Dapat membuat larutan standar Dapat melakukan preparasi sampe Menganalisis limbah secar kualitatif dan kuantitatif

XXIV.

Dasar teori Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu . pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu satu fase tetap dan yang satu fase bergerak pemisahan tergantung pada gerakan aktif dari 2 fase ini. Cara – cara kromatografi dapat di golongkan sesuai dengan sifat –sifat dari fasa tetap , yang dapat berupa zat padat atau zat cair . Jika fasa tetap berupa zat padat maka cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan dan jika zat cair dikenal dengan sebagai kromatografi kertas. Kromatografi digunakan untuk memisahkan campuran dari substansinya menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip yang sama. Seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan yang didukung pada padatan) dan fase gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Karena fasa bergerak dapat berupa zat cair atau gas maka semua ada empat sitem kromatografi yaitu 1. Fasa bergerak cair- fasa tetap padat Dikenal sebagai kromatografi serapan yang meliputi a. Kromatografi lapisan tipis b. Kromatografi penukar ion 2. Fasa bergerak gas – fasa tetap padat a. Kromatografi gas padat 3. Fasa bergerak cair – fasa tetap cair Dikenal dengan kromatografi partisi a. Kromatografi kertas
60

4. Fasa bergerak gas – fasa tetap cair a. Kromatografi gas – cair b. Kromatografi kolom kapiler Semua pemisahan dengan kromatografi tergantung pada kenyataan bahwa senyawa- senyawa yang dipisahkan terdistribusi sendiri diantara fasa –fasa Dalam kromatografi kertas, fase diam adalah kertas serap yang sangat seragam. Fase gerak adalah pelarut atau campuran pelarutyangsesuai. Kromatografi kertas Kromatografi dipandang sebagai perkembangan dari sitem partisi . salah satu zat padat dapt digunakan untuk menyokong fasa tetap yaitu bubuj selulosa Mula- mula telah dilakukan pemisahan asam amino dan peptide – peptide yang merupakan hasil hidrolisa protein wol dengan suatu cara dimana kolom yang berisi bubuk diganti dengan lembaran kertas dan kemudian diletakan dalam bejana tertutup yang berisi uap jenuh larutan . hal ini merupakan sitem partisi dimana fasa tetap adalah air . disokong molekul selulosa dari kertas dan fasa bergerak biasanya merupakan campuran dari satuatau lebih pelarut organik dan air Kita telah menggunakan kromatografi kertas sebagai salah satu hal pertama yang pernah kita kerjakan dalam bidang kimia untuk pemisahan, misalnya campuran dari pewarna-pewarna yang menyusun warna tinta tertentu. Ini merupakan contoh yang mudah,.

.Beberapa pewarna larut dalam jumlah yang minimum dalam pelarut yang sesuai, dan itu juga di teteskan pada garis yang sama. Dalam gambar, pena ditandai 1, 2 dan 3 serta tinta pada pesan ditandai sebagai M.

Kertas digantungkan pada wadah yang berisi lapisan tipis pelarut atau campuran pelarut yang sesuai didalamnya. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada dibawah garis pada bercak diatasnya. Gambar berikutnya tidak menunjukkan terperinci bagaimana kertas di gantungkan karena terlalu banyak kemungkinan untuk mengerjakannnya dan dapat mengacaukan gambar. Kadang-kadang kertas hanya digulungkan secara bebas pada silinder dan diikatkan dengan
61

klip kertas pada bagian atas dan bawah. Silinder kemudian ditempatkan dengan posisi berdiri pada bawah wadah. Alasan untuk menutup wadah adalah untuk meyakinkan bahwa

astmosfer dalam gelas kimia terjenuhkan denga uap pelarut. Penjenuhan udara dalam gelas kimia dengan uap menghentikan penguapan pelarut sama halnya dengan pergerakan pelarut pada kertas.

Karena pelarut bergerak lambat pada kertas, komponen-komponen yang berbeda dari campuran tinta akan bergerak pada laju yang berbeda dan campuran dipisahkan berdasarkan pada perbedaan bercak warna. Gambar menunjukkan apa yang tampak setelah pelarut telah bergerak hampir seluruhnya ke atas.

Dengan sangat mudah dijelaskan melihat dari kromatogram akhir dari pena yang ditulis pada pesan yang mengandung pewarna yang sama dengan pena Nilai Rf Beberapa senyawa dalam campuran bergerak sejauh dengan jarak yang ditempuh pelarut; beberapa laiinya tetap lebih dekat pada garis dasar. Jarak tempuh relative pada pelarut adalah konstan untuk senyawa tertentu sepanjang anda menjaga segala sesuatunya tetap sama,

62

misalnya jenis kertas dan komposisi pelarut yang tepat.. Jarak relative pada pelarut disebut sebagai nilai Rf. Untuk setiap senyawa berlaku rumus sebagai berikut: Rf=jarak yang ditempuh oleh senyawa jarak yang ditempuh oleh pelarut

Kromatografi kertas dua arah Kromatografi kertas dua arah dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah pemisahan substansi yang memiliki nilai Rf yang sangat serupa. Waktu ini kromatogram dibuat dari bercak tunggal dari campuran yang ditempatkan kedepan dari garis dasar. Kromatogram ditempatkan dalam sebuah pelarut sebelum dan sesudah sampai pelarut mendekati bagian atas kertas.Dalam gambar, posisi pelarut ditandai dengan pinsil sebelum kertas kering. Posisi ini ditandai sebagai SF1 yaitu pelarut depan untuk pelarut pertama. Kita akan menggunakan dua pelarut yang berbeda

Jika

kita melihatnya lebih dekat, anda

kita melihat bahwa bercak pusat besar dalam

kromatogram sebagian biru dan sebagian hijau. Dua pewarna dalam campuran memiliki nilai Rf yang hampir sama. Tentunya, nilai-nilai ini bisa saja sama, keduanya memiliki warna yang sama; dalam hal ini anda tidak dapat mengatakan bahwa ada satu atau lebih pewarna dalam dalam bercak itu. Rf dalam pelarut kedua sama halnya dengan pelarut yang pertama, dengan demikian bercak-bercak akan bergerak dengan jumlah yang berbeda.

63

Gambar berikutnya menunjukkan apa yang mungkin terjadi pada berbagai bercak pada kromatogram awal. Posisi pelarut kedua juga ditandai. ; Bercak-bercak telah bergerak! Kromatogram akhir akan tampak seperti ini:

Kromatografi dua arah secara seluruhnya terpisah dari campuran menjadi empat bercak yang berbeda. Cara kerja kromatografi kertas .Struktur dasar kertas Kertas dibuat dari serat selulosa. Selulosa merupakan polimer dari gula sederhana, yaitu glukosa.

Kompleksitas timbul karena serat-serat selulosa beratraksi dengan uap air dari atmosfer sebagaimana Pelarut 1. Pelarut non polar halnya air yang timbul pada saat pembuatan kertas

Molekul-molekul polar da;am campuran akan memiliki sedikit atraksi untuk molekul64

molekul air dan molekul-molekul yang melekat pada selulosa, dan karena akan menghabisakan banyak waktunya untuk larut dalam pelarut yang bergerak. Molekul-molekul seperti ini akan bergerak sepanjang kertas diangkut oleh pelarut. Mereka akan memiliki nilai Rf yang relatif tinggi.Dengan kata lain, molekul-molekul polar akan memiliki atraksi yang tinggi untuk molekul-molekul air dan kurang untuk pelarut yang non polar. Dan karenanya, cenderung untuk larut dalam lapisan tipis air sekitar serat lebih besar daripada pelarut yang bergerak. 2. Air dan pelarut polar lainnya Jika air bertindak sebagai fase gerak selayaknya menjadi fase diam, akan terdapat perbedaan mekanisme pada mekanisme kerja dan harus setimbang untuk pelarut-pelarut polar seperti alkohol, misalnya. Partisi hanya dapat terjadi antara pelarut yang tidak bercampur satu dengan lainnya. Pelarut-pelarut polar seperti alkohol rendah bercampur dengan bergerak dan tetap dalam perbandingan yang sangat berbeda dari satu senyawa terhadap senyawa yang lain Hal – hal yan perlu diperhatikan dalam melakukan pemisahan dengan kromatografi kertas a. Metode b. Macam dari kertas c. Pemilihan dan pembuatan pelarut d. Ksetimbangan dalm bejana yang dipilih e. Pembuatan cuplikan f. Waktu pengembangan g. Metode diteksi dan identifikasi

Tenik Kromatografi a. Metode penurunan yaitu dengan pelarut diatas ditaruh dalam gelas dan kertas digantung b. Metde penaikan pelarut diletakan dibagian bawah dari bejana dan kertas dicelupkan diatasnya c. Metode mendatar kertas berbrentuk bulat ditengahnya diberi lubang sebagai tempat untuk meeletakan sumbu yang terbuat baik dari gulung kertsa atau dari benang dimana melalui ini pelaruta bisa naik yang kemudian membasahi kertas unytuk kemudian mengembang melingkar membawa senyawa yang dipisahlan

65

XXV.

Peralatan dan Bahan H. Alat yang Dipergunakan Adapun alat-alilakukan at yang digunakan pada praktikum ini adalah 40. Neraca analitik 41. Kaca Arloji 42. Beker glas 43. Labu takar 250 ml,100 ml, 50 ml 44. Pengaduk kaca 45. Corong 46. Pipet ukur 47. Pipet tetes 48. Erlenmayer 49. Propipet 50. Botol semprot 51. Kertas saring 52. AAS 53. Lampu holow katode lamp Cr 54. Gas acetylin

I. Bahan yang Dipergunakan

15. Aquades 16. Larutan standar Cr 17. Asam Nitrat 18. Sampel Limbah yang mengandung Cr

XXVI.

Cara Kerja a. Pembuatan larutan pengencer Aquades ditambah asam nitrat pekat sampai pH 2 b. Persiapan pengujian
66

1. Pembuatan larutan baku logam Cr 1000 ppm ( induk ) Timbang 1,413 gram K2Cr2O7 dengan kasca arloji , larutkan dengan pengencer dalam labu takar 250 ml tepatkan sampai tanda lalu homogenkan 2. Pembuatan larutan baku logam krom Cr 100 ppm a. Pipet 10 ml larutan induk logam krom , masukan dalam labu takar 100 ml b. Tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda , dan homogen 3. Pembuatan larutan baku logam krom Cr 10 ppm c. Pipet 25 ml larutan baku logam krom Cr 100 ppm , masukan dalam labu takar 250 ml d. Tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda , dan homogen 4. Pembuatan larutan standar logam krom Cr i. Pipet 0ml,2 ml, 5 ml, 10 ml, 20 ml, 30 ml larutan baku logam krom , 10 ppm masukan masing –masing dalam labu takar 100 ml ii. Tambahkan masing dengan larutan pengencer sampai tanda batas sehinga diperoleh konsentrasi logam Cr 0,0 ppm,0,2 ppm,0,5 ppm, 1,0 ppm, 2,0 ppm,2,0 ppm , 3,0 ppm

c. Persiapan pengujian 1. Kocok sa mpel limbah sampai homogen. Ambil 50 ml dengan pipet gondok . masukan dalam beker glas 2. Tambahkan 5 ml asam nitrat Pekat 3. Panaskan dengan pemanas sampai hamper abis 4. Diginkan dan masukan kedalama labu ukur 100 ml dan tepatkan dengan penambahan aquades 5. Ambiil 1 ml sampel dan masukan ke dalam labu ukur 50 ml tepatkan dan homogenkan 6. Analisa dengan AAS

67

XXVII.

Hasil Analisa
HASIL PENGAMATAN  TABEL PENGAMATAN

No Pelarut

yang Sampel yang digunakan

Pengamatan

digunakan 1 Alkohol 50% Sampel cat A Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul diatas semua dan waktu yang dibutuhkan 26:50:09 Sampel cat B Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul diatas semua dan waktu yang dibutuhkan 28:16:61 Dyestuff Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul diatas semua dan waktu yang dibutuhkan 22:26:71 2 Alkohol 75% Sampel cat A Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul diatas semua tapi agak memanjang sedikit dan waktu yang dibutuhkan 35:15 :22

68

Sampel cat B

Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul diatas semua tapi agak memanjang sedikit dan waktu yang dibutuhkan 01: 12:08:69

Dyestuff

Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul diatas semua dan waktu yang dibutuhkan 36:45:24

3

Alkohol 95%

Sampel A

Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul memanjang dan waktu yang dibutuhkan 26::51:94

Sampel B

Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul memanjang dan waktu yang dibutuhkan 28:12:09

Dyestuff

Warna sama seperti semula yaitu merah muda atau tidak ada warna sampingan/warna lain dan warna mengumpul diatas semua dan waktu yang dibutuhkan 44:44:67

69

E. PEMBAHASAN

Dalam praktikum kali

ini dilakukan pemisahan senyawa secara sederhana dengan

kertas kertas Silika atau kertas kromatografi yang disebut ”analisa kapiler”. Pelarut bergerak melalui serat-serat dari kertas oleh gaya kapiler dan menggerakan komponen-komponen dari campuran cuplikan pada perbedaan jarak dalam arah aliran pelarut. Bila daerah-daerah dari noda yang terpisah telah dideteksi, dalam keadaan ideal maka tiap-tiap komponen memberikan warna dan karakteristik bila diberi pereaksi. Penambahan pereaksi dengan pereaksi akan menyebabkan perubahan-perubahan warna yang karakteristik terhadap beberapa noda dan lenyapnya yang lain. Penggunaan pelarut dari senyawa organik yang polar akan lebih mudah larut dalam air daripada zat-zat cair organik. Penambahan air terhadap pelarut akan menyebabkan senyawasenyawa tersebut untuk bergerak. Pada praktikum, kami menggunakan bahan yaitu cat dasar untuk kulit dalam hasil pengamatan kami gunakan 3 pelarut untuk perbandingan yaitu menggunakan alkohol 50%, 75% dan 95%. Pelarut – pelarut dengan konsentrasi yang berbeda memiliki kecepatan penyerapan yang bebeda pula atau daya kapilaritas yang berbeda . Pada saat pengamatan dari sampel cat dasar atu dyeing itu sendiri terdapat 3 macam jenis yaitu jenis A dan jenis B dan deystuff. Dari data hasil pengamatan maka pelarut yang paling cepat untuk melakukan penyerapan pada sampel cat dasar jenis A yaitu alkohol 50% sedangkan pelarut yang paling lambat yaitu alkohol 75%. Dapat juga dianalisis bahwa pada sampel cat dasar A hanya mengandung 1 jenis senyawa. Dan pada sampel B dapat kita cermati Dari data hasil pengamatan maka pelarut yang paling cepat untuk melakukan penyerapan pada sampel cat dasar jenis B yaitu alkohol 95% sedangkan pelarut yang paling lambat yaitu alkohol 75%. Dapat juga dianalisis bahwa pada sampel cat dasar B hanya mengandung 1 jenis senyawa.sedangkan pada sampel dyestuff dapat kita cermati bahwa pelarut yang paling cepat untuk melakukan penyerapan pada sampel dyestuff yaitu alkohol 50 % sedangkan pelarut yang paling lambat yaitu alkohol 95%.

70

Pada kromatografi lapis tipis atau yang biasanya juga disebut dengan TLC cara pembuatannya dengan menggunakan silika gel yang dibuat seperti halnya bubur yang dituang ke dalam plat kaca. Sebaiknya dalam pembuatan bubur silika jangan terlalu encer karena kalau terlalu encer dapat berjatuhan bubur silikanya. Dan jugua dapat menggunakan amilum atau kanji sebagai pelengket yang dilarutkan dengan menggunakan pelarut aseton agar mudah menguap. Pada saat mengam,ati kita dapat menggunakan sinar UV atau yang disebut dengan sinar ultraviolet. Sinar ini mempunyai energi yang tinggi dan apabila terkena mata bisa menyebabkan kerusakan pada mata. F. KESIMPULAN Dari data-data diatas kami praktikan dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:  Pelarut alkohol 50% lmempunyai daya serap yang lebih cepat apabila dibandingkan dengan alkohol 75% dan 95%. Karena dapat ditinjau dari sifat kepolarannya.  Pada analisa sampel cat dasar baik jenis A maupun jnis B hanya menhasilkan 1 senyawa saja dengan indikator hanya terdapat 1 jenis warna pada kertas kromatografi.  Kertas silika memenuhi sistem kapilaritas dimana disebabkan oleh terjadinya sistem kapilaritas yaitu adanya perpindahan titik tinta dari bawah keatas tanpa memanjang.

DAFTAR PUSTAKA

R.Stock and C.B.F.Rice.”Chromatographic methods”2nd edition,1967.Chapman and Hall Ltd., and Science Paper backs. R.J.Bannec, The Australian Science Teachers Journal,page 79 – 82.September 1972 Vol.18 no.3.,p.79 – 82. R.J.Bannec, The Australian Science Teachers Journal,page 79 – 82.September 1972 Vol.18 no.4.,p.79 – 84. H.M.Mc Nair and E.J.Bonelli.”Basic Gas Cromatography”Varian aerograph.1969
71

Yogyakarta, 29 juni 2009 Praktikan

I Wayan Suryagama 08.TBKKP.TPL.65 Mengetahui,

Asisten Pembimbing

Dosen Pembimbing

Eko Nuraeni,A.Md

Drs.Herry Suseno

72

73

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->