P. 1
KTI AAT Sosial Ekonomi Keluarga Dengan Status Gizi Balita

KTI AAT Sosial Ekonomi Keluarga Dengan Status Gizi Balita

|Views: 11,068|Likes:
Published by john_ebleh01

More info:

Published by: john_ebleh01 on Apr 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2014

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia adalah gizi (Depkes RI, 2002 : 1). Krisis yang melanda perekonomian Indonesia pada pertengahan tahun 1997 telah berpengaruh negatif terhadap kondisi perekonomian secara menyeluruh dan khususnya terhadap kesejahteraan penduduk. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu mengakses pangan dan pada akhirnya berpengaruh terhadap keadaan gizi terutama anak balita serta ibu hamil dan ibu menyusui

(http://www.tomouto.net). Di negara berkembang, kesakitan dan kematian pada anak balita banyak dipengaruhi oleh keadaan gizi

(Supariasa, 2001 : 184). Dengan demikian status gizi balita perlu dipertahankan dalam status gizi baik, dengan cara memberikan makanan bergizi seimbang yang sangat penting untuk pertumbuhan (Paath, 2004 : 108). Menurut data RisKesDas (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2007 di Indonesia diketahui prevalensi balita dengan gizi buruk 5,4%, gizi kurang 13,00%, gizi baik 77,20% dan gizi lebih 4,30%. Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI Tahun 2005, suatu masyarakat disebut tidak mempunyai masalah kesehatan bila hanya ada 2,0% balita mempunyai status gizi kurang dan 0,5% balita mempunyai status gizi buruk. Sementara itu, di provinsi Jawa Timur tercatat prevalensi balita dengan gizi buruk 4,8%, gizi kurang 12,60%, gizi baik 78,00% dan gizi lebih 4,50%. Menurut data hasil

1

2

Pemantauan Status Gizi (PSG) balita berdasarkan BB/U pada tahun 2008 di Kabupaten Bojonegoro, dari 70.749 balita yang ditimbang didapatkan balita dengan gizi buruk 1,32%, balita dengan gizi kurang 13,15%, balita dengan gizi baik 83,63% dan balita gizi lebih 1,90%. Sedangkan di Puskesmas Ngumpakdalem dari 2.267 balita yang ditimbang didapatkan balita dengan gizi buruk 2,03%, balita dengan gizi kurang 15,84%, balita dengan gizi baik 80,90% dan balita dengan gizi lebih 1,24%. Berdasarkan register pencatatan operasional timbang Desa Ngumpakdalem tahun 2008 dari 323 balita yang ditimbang didapatkan balita dengan gizi buruk 3,72%, balita dengan gizi kurang 21,05%, balita dengan gizi baik 71,83% dan balita dengan gizi lebih 3,41%. Berbagai faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita antara lain kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan

(Almitsier S, 2001 : 301). Adapun faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi sosial ekonomi dan budaya keluarga seperti pola asuh keluarga (Depkes RI, 2002 : 2). Sosial ekonomi dapat diukur melalui variabelvariabel pendapatan keluarga, tingkat pendidikan dan pekerjaan

(Notoatmodjo, S. 2005 : 68). Masalah gizi pada balita akan berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang (Depkes RI, 2002 : 2). Pada obesitas (gizi lebih) pada anak bila terus berlanjut sampai dewasa dapat mengakibatkan semakin meningkatnya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dan penyakit hati (Almitsier S, 2001 : 308). Selain itu gizi kurang pada balita dapat menyebakan gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental (Depkes RI, 2002 : 2). Gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem organ yang akan merusak sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik, dampak selanjutnya

2

3

dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental serta menurunnya skor IQ (Pudjiadi S, 2001 : 134). Upaya penanggulangan gizi kurang yang dilakukan adalah peningkatan usaha pemberdayaan keluarga untuk ketahanan pangan tingkat rumah tangga, peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan dimulai dari tingkat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) hingga puskesmas dan rumah sakit, peningkatan komunikasi informasi dan edukasi di bidang pangan dan gizi masyarakat dan intervensi langsung kepada sasaran melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT), distribusi vitamin A dosis tinggi, tablet dan sirup besi serta kapsul minyak beriodium (Almatsier S, 2001 : 307). Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Hubungan Sosial Ekonomi Keluarga dengan Status Gizi Balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Apakah ada hubungan antara sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro ?”. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.

3

4

2. Tujuan khusus a. Mengidentifikasi sosial ekonomi keluarga meliputi pendapatan keluarga, pendidikan ibu dan pekerjaan ibu di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. b. Mengidentifikasi status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. c. Menganalisa hubungan sosial ekonomi keluarga (pendapatan keluarga, pendidikan ibu dan pekerjaan ibu) dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Responden Dapat meningkatkan pengetahuan responden tentang gizi seimbang pada balita sehingga bisa mengubah kebiasaan-kebiasaan yang salah terhadap pemberian makanan pada balita dan akhirnya dapat mengurangi kejadian kurang gizi. 2. Bagi Peneliti Dapat dijadikan sebagai pengalaman baru dalam melakukan penelitian serta dapat mengaplikasikan teori yang diperoleh dari kampus dengan yang ada di masyarakat. 3. Bagi Tenaga Kesehatan Dapat memberikan informasi tentang permasalahan gizi pada balita dan faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga dapat dilakukan upaya perbaikan gizi. 4. Bagi Institusi Pendidikan Dapat dipergunakan untuk menambahkan sumber kepustakaan sebagai bahan bacaan dan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

4

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini akan dibahas mengenai konsep keluarga, konsep balita, konsep sosial ekonomi, konsep status gizi, kerangka konseptual dan hipotesa.

A. Konsep Keluarga 1. Pengertian Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1988). Menurut Salvicion G Bailon dan Aracelis Maglaya (1989) keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan pekawinan atau pengikatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. Dari kedua definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa keluarga adalah : a. Unit terkecil masyarakat b. Terdiri atas dua orang atau lebih c. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah d. Hidup dalam satu rumah tangga e. Di bawah asuhan seorang kepala rumah tangga

5

6

f. Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga. g. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing. h. Menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. (Effendy Nasrul, 1998 : 32). 2. Tipe atau bentuk keluarga a. Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. b. Keluarga besar (Extended family) adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya. c. Keluarga berantai (Serial family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti. d. Keluarga duda dan janda (single family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian. e. Keluarga berkomposisi (Composite family) adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama. f. Keluarga kabitas (Cahabitation) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga. Keluarga Indonesia umumnya menganut tipe keluarga besar (Extended family) (Effendy Nasrul, 1998 : 34). 3. Peranan keluarga Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku

interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga didasari oleh

6

7

harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut : a. Peranan ayah. Ayah sebagai suami dari istri, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya, serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. b. Peranan ibu. Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya, serta menjadi anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. c. Peranan anak. Anak-anak melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual. (Effendy Nasrul, 1998 : 34). 4. Fungsi keluarga Dalam suatu keluarga ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan sebagai berikut : a. Fungsi biologis. 1) Untuk meneruskan keturunan. 2) Memelihara dan membesarkan anak. 3) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

7

8

b. Fungsi psikologis. 1) Memberikan kasih sayang dan rasa aman bagi keluarga. 2) Memberikan perhatian diantara keluarga. 3) Memberikan kedewasaan kepribadian anggota keluarga. 4) Memberikan identitas keluarga. c. Fungsi sosialisasi 1) Membina sosialisasi pada anak. 2) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan masing-masing. 3) Meneruskan nilai-nilai keluarga. d. Fungsi ekonomi. 1) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 2) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dimasa yang akan datang. e. Fungsi pendidikan. 1) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan,

keterampilan dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. 2) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa. 3) Mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya. (Mubarak Wahit Iqbal, 2006 : 264)

8

9

B. Konsep Balita Bawah lima tahun atau sering disingkat balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Balita dibedakan : 1. Bayi (0-12 bulan). 2. Anak balita (13-36 bulan). 3. Anak balita (37-60 bulan). (Wijono Djoko, 2006 : 65). C. Konsep Sosial Ekonomi 1. Pengertian Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat

(Pius dan Dahlan, 2001 : 718). Ekonomi adalah segala usaha manusia dalam memenuhi

kebutuhannya guna mencapai kemakmuran hidupnya, pengaturan rumah tangga (Pius dan Dahlan, 2001 : 131). Sosial ekonomi adalah suatu konsep, dan untuk mengukur sosial ekonomi keluarga harus melalui variabel-variabel pendapatan keluarga, tingkat pendidikan dan pekerjaan (Notoatmodjo, 2005 : 68). Keadaan sosial ekonomi yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan yang dihadapi, hal ini disebabkan karena ketidakmampuan dan ketidaktahuan dalam mengatasi berbagai masalah tersebut (Effendy Nasrul, 1998 : 39). 2. Variabel yang diukur dalam sosial ekonomi keluarga a. Pendapatan keluarga Kemiskinan sebagai salah satu determinan sosial ekonomi merupakan penyebab gizi kurang yang pada umumnya menduduki

9

10

posisi pertama (Suhardjo, 2008 : 8). Menurut Emil Salim (Hartomo, 2004 : 314) bahwa kemiskinan adalah merupakan suatu keadaan yang dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh dan lain-lain. Salah satu akibat dari kurangnya kesempatan kerja adalah rendahnya pendapatan masyarakat. Kurangnya kesempatan kerja yang tersedia tidak lepas dari struktur perekonomian Indonesia yang sebagian besar masih tergantung pada sektor pertanian termasuk masyarakat pedesaan yang sebagian besar hidup dari hasil pertaniaan (agraris) dan pekerjaan-pekerjaan yang bukan agraris hanya bersifat sambilan sebagai pengisi waktu luang (Ahmadi Abu, 1997 : 259). Tolok ukur yang umumnya digunakan untuk penggolongan seseorang atau masyarakat dikatakan miskin adalah tingkat pendapatan (Ahmadi Abu, 1997 : 327). Pendapatan merupakan nilai maksimal yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam satu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti semula (Rustam, 2002). Terdapat hubungan antara pendapatan dan keadaan status gizi. Hal itu karena tingkat pendapatan merupakan menetukan kualitas dan kuantitas makanan faktor yang

yang

dikonsumsi

(FKM UI, 2007 : 176). Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya (FKM UI, 2007 : 175).

10

11

Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Orang dengan tingkat ekonomi rendah biasanya akan membelanjakan sebagian besar pendapatan untuk makanan, sedangkan orang dengan tingkat ekonomi tinggi akan berkurang belanja untuk makanan (FKM UI, 2007 : 176). Hal ini akan berdampak terhadap status gizi balita yang pada

umumnya akan menurun (Depkes RI, 2000 : 3). Berdasarkan survey pendapatan dan pengeluaran rumah tangga tahun 2008 oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro, pendapatan keluarga di Kabupaten Bojonegoro dibedakan menjadi 3 golongan : 1) Pendapatan rendah 2) Pendapatan sedang 3) Pendapatan tinggi b. Pendidikan ibu Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang terlampau rendah. Dengan adanya tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupannya : dibawah Rp 625.000 per bulan : Rp 625.000- Rp 1.105.000 per bulan : diatas Rp 1.105.000 per bulan

(Ahmadi Abu, 1997 : 344). Tingkat pendidikan khususnya tingkat pendidikan ibu mempengaruhi derajat kesehatan karena unsur pendidikan ibu dapat berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap informasi dan

mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari (Depkes RI, 2004 : 27).

11

12

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU RI No. 20 tahun 2003). Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Tingkat pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan tingkat pendidikan yang melandasi tingkat pendidikan menengah. Adapun tingkat pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Adapun bentuk pendidikan menengah adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan tinggi merupakan tingkat pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi (UU RI No. 20 tahun 2003). Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan kemungkinan akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan (FKM UI, 2007 : 276). Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup.

12

13

Menurut Y.B Mantra yang dikutip oleh Notoatmodjo (1985) pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan

(Nursalam dan S Pariani, 2001 : 33). Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Kuncoroningrat, 1997). c. Pekerjaan ibu Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan (Nursalam & S. Pariani, 2001 : 133). Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Nursalam & S. Pariani, 2001 : 133). Batasan ibu yang bekerja adalah ibu-ibu yang melakukan aktivitas ekonomi mencari penghasilan baik di sektor formal maupun informal yang dilakukan secara reguler di luar rumah. Tentunya aktivitas ibu yang bekerja akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki ibu untuk memberikan pelayanan/kasih sayang terhadap anaknya (http://syehaceh.wordpress.com). Anak yang mendapatkan perhatian lebih, baik secara fisik maupun emosional, selalu mendapat senyuman, mendapat makanan yang seimbang maka keadaan gizinya lebih baik dibandingkan dengan teman sebayanya yang kurang mendapat perhatian orang tua (Depkes RI, 2002 : 11). Anak yang

13

14

diasuh oleh nenek atau tetangga bukan kerabat kemungkinan juga menjadi penyebab masalah gizi (http://www.kompas.com). Selain itu para ibu yang mencari nafkah tambahan pada waktu-waktu tertentu misalnya pada musim panen mereka pergi memotong padi para pemilik sawah yang letak sawahnya jauh dari tempat tinggal para ibu tersebut. Anak-anaknya terpaksa ditinggalkan di rumah sehingga kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Para ibu yang menerima pekerjaan tetap sehingga harus meninggalkan anaknya dari pagi sampai sore. Dengan demikian pemberian ASI makanan tambahan tidak dilakukan sebagaimana atau

mestinya

(Pudjiadi S, 2001 : 105). Pekerjaan diklasifikasikan menjadi 2 yaitu : 1) Bekerja : PNS/ABRI, swasta, buruh/pegawai tidak tetap. 2) Tidak bekerja/ibu rumah tangga (Nursalam & S. Pariani, 2001 : 138)

D. Konsep Status Gizi 1. Pengertian status gizi Status gizi adalah merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang masuk kedalam tubuh (nutrient input) dengan kebutuhan tubuh (nutrient out put) akan gizi tersebut (Supariasa IDN, 2001 : 88). 2. Klasifikasi status gizi Dalam menentukan status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut reference. Baku antropometri yang sekarang digunakan di

14

15

Indonesia adalah WHO-NCHS (World Health Organization-Nation Center for Health Statistics) dengan melihat nilai Z-SCORE, sebagai berikut : TABEL 1 KLASIFIKASI GIZI ANAK BAWAH LIMA TAHUN (BALITA) INDEKS Berat Badan menurut Umur (BB/U) *) SD : Standar Deviasi (Dinkes Jatim, 2005 : 1) a. Status gizi lebih Status gizi lebih berkaitan dengan konsumsi makanan yang melebihi dari yang dibutuhkan terutama konsumsi lemak yang tinggi dan makanan dari gula murni (Djaeini Ahcmad, 2000 : 27). b. Status gizi baik Status gizi baik adalah kesesuaian antara jumlah asupan dengan kebutuhan gizi seorang anak (Santoso Soegeng, 2004 : 3). c. Status gizi kurang Status gizi kurang pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein dalam waktu tertentu (DepKes RI, 2002 : 2). d. Status gizi buruk Bila kondisi gizi kurang berlangsung lama maka akan berakibat semakin berat kekurangannya, dalam keadaan ini dapat menjadi gizi buruk (DepKes RI, 2000 : 6). STATUS GIZI Gizi lebih Gizi baik Gizi kurang Gizi buruk AMBANG BATAS *) > + 2 SD ≥ -2 SD sampai + 2 SD < 2 SD sampai ≥– 3 SD < - 3 SD

15

16

3. Metode penilaian status gizi Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan pengukuran langsung maupun tidak langsung : a. Penilaian status gizi secara langsung Penilaian gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu : 1) Klinis Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. 2) Biokimia Metode ini menggunakan pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris. 3) Biofisik Metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan (Supariasa IDN, 2001 : 88). 4) Antropometri Pengukuran antropometri adalah pengukuran terhadap

dimensi tubuh dan komposisi tubuh (FKM UI, 2007 : 264). Antropometri sebagai indikator status gizi dapat digunakan dalam memberikan indikasi tentang kondisi sosial ekonomi penduduk (Wijono Djoko, 2000 : 68). Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter (Supariasa IDN, 2001 : 38). Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri (Supariasa IDN, 2001 : 56).

16

17

Indeks antropometri yang digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U). a) Berat badan Pada masa bayi-balita, berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi. Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat ukur yang digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan : mudah digunakan dan dibawa dari satu tempat ketempat lain, mudah diperoleh dan relatif murah harganya, ketelitian penimbangan sebaiknya 0,1 kg, skalanya mudah dibaca dan cukup aman untuk menimbang badan anak balita. Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan dianjurkan untuk digunakan dalam penimbangan anak balita adalah dacin (Supariasa IDN, 2001 : 39). b) Umur Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan dapat menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Cara menghitung umur yaitu dengan menentukan tanggal, hari, bulan dan tahun pada waktu anak ditimbang kemudian dikurangi tanggal, hari, bulan dan tahun anak waktu lahir sehingga didapat umur anak. Bila kelebihan atau kekurangan hari sebanyak 16 hari sampai 30 hari dibulatkan 1 bulan. Bila kelebihan atau kekurangan 1 hari sampai 15 hari dibulatkan menjadi 0 bulan. (Supariasa IDN, 2001 : 38).

17

18

b. Penilaian status gizi secara tidak langsung. 1) Survey konsumsi makanan Adalah metode penentuan status gizi dengan melihat jumlah dan jenis bahan makanan atau zat gizi yang dikonsumsi. 2) Statistik vital Adalah menganalisis data beberapa statistik kesehatan. 3) Faktor ekologi Adalah hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. (Supariasa IDN, 2001 : 20) 4. Cara penilaian status gizi a. Nilai indeks antropometri (BB/U, TB/U atau BB/TB) dibandingkan dengan nilai rujukan WHO-NCHS. b. Dengan menggunakan batas ambang (cut-off point) untuk masingmasing indeks, maka status gizi seseorang atau anak dapat ditentukan. c. Istilah gizi dibedakan untuk setiap indeks yang digunakan agar tidak terjadi kerancuan interpretasi. (Dinkes Jatim, 2005 : 1) 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita a. Ketersediaan pangan ditingkat keluarga Status gizi dipengaruhi oleh ketersediaan pangan ditingkat keluarga, hal ini sangat tergantung dari cukup tidaknya pangan yang dikonsumsi oleh setiap anggota keluarga untuk mencapai gizi baik dan hidup sehat (Depkes RI, 2004 : 19). Jika dipastikan konsumsi setiap anggota tidak cukup bisa

keluarga

tidak

terpenuhi

18

19

(Depkes RI, 2002 : 13). Padahal makanan untuk anak harus mengandung kualitas dan kuantitas cukup untuk menghasilkan kesehatan yang baik (http://www.okezone.com). b. Pola asuh keluarga Yaitu pola pendidikan yang diberikan pada anak-anaknya. Setiap anak membutuhkan cinta, perhatian, kasih sayang yang akan berdampak terhadap perkembangan fisik, mental dan emosional. Pola asuh terhadap anak berpengaruh terhadap timbulnya masalah gizi. Perhatian cukup dan pola asuh yang tepat akan memberi pengaruh yang besar dalam memperbaiki status gizi (Herwin B, 2004). Anak yang mendapatkan perhatian lebih, baik secara fisik maupun emosional misalnya selalu mendapat senyuman, mendapat respon ketika berceloteh, mendapatkan ASI dan makanan yang seimbang maka keadaan gizinya lebih kurang baik dibandingkan dengan perhatian orang teman tuanya

sebayanya yang

mendapatkan

(Depkes RI, 2002 : 12). c. Kesehatan lingkungan Masalah gizi timbul tidak hanya karena dipengaruhi oleh ketidak seimbangan asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh penyakit infeksi. Masalah kesehatan lingkungan merupakan determinan penting dalam bidang kesehatan. Kesehatan lingkungan yang baik seperti penyediaan air bersih dan perilaku hidup bersih dan sehat akan mengurangi resiko kejadian penyakit infeksi (Depkes RI, 2002 : 12). Sebaliknya,lingkungan yang buruk seperti air minum tidak bersih, tidak ada saluran penampungan air limbah, tidak menggunakan kloset yang baik dapat menyebabkan penyebaran penyakit. Infeksi dapat

19

20

menyebabkan kurangnya nafsu makan sehingga menyebabkan asupan makanan menjadi rendah dan akhirnya menyebabkan kurang gizi (FKM UI, 2007 : 276). d. Pelayanan kesehatan dasar Pemantauan pertumbuhan yang diikuti dengan tindak lanjut berupa konseling, terutama oleh petugas kesehatan berpengaruh pada pertumbuhan penimbangan anak. balita, Pemanfaatan pemberian fasilitas kesehatan kapsul seperti A,

suplemen

vitamin

penanganan diare dengan oralit serta imunisasi (Depkes RI, 2002 : 12). e. Budaya keluarga Budaya berperan dalam status gizi masyarakat karena ada beberapa kepercayaan seperti tabu mengonsumsi makanan tertentu oleh kelompok umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut justru bergizi dan dibutuhkan oleh kelompok umur tertentu

(FKM UI, 2007 : 277). Unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan makan masyarakat yang kadang-kadang bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu gizi. Misalnya, terdapat budaya yang memprioritaskan anggota keluarga tertentu untuk mengonsumsi hidangan keluarga yang telah disiapkan yaitu umumnya kepala keluarga. Apabila keadaan tersebut berlangsung lama dapat berakibat timbulnya masalah gizi kurang terutama pada golongan rawan gizi seperti ibu hamil, ibu menyusui , bayi dan anak (Suhardjo, 2008 : 9). f. Sosial ekonomi Banyaknya anak balita yang kurang gizi dan gizi buruk di sejumlah wilayah di tanah air disebabkan ketidaktahuan orang tua balita

20

21

akan pentingnya gizi seimbang bagi anak balita yang pada umumnya disebabkan pendidikan orang tua yang rendah serta faktor kemiskinan. Kurangnya asupan gizi bisa disebabkan

oleh terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial

ekonomi yaitu kemiskinan (http://www.kompas.com). 6. Dampak gizi tidak seimbang a. Dampak gizi lebih Obesitas (gizi lebih) jika tidak teratasi akan berlanjut sampai remaja dan dewasa, hal ini akan berdampak tingginya kejadian berbagai penyakit infeksi (Pudjiadi S, 2001 : 145). Pada orang dewasa tampak dengan semakin meningkatnya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dan penyakit hati (Almatsiar S, 2001 : 308). b. Dampak gizi kurang Pertumbuhan fisik terhambat (anak akan mempunyai tinggi badan lebih pendek), perkembangan mental dan kecerdasan terhambat, daya tahan anak menurun sehingga anak mudah terserang penyakit infeksi (Depkes RI, 2002 : 8). c. Dampak gizi buruk Gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem organ yang akan merusak sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik. Dampak selanjutnya dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental serta penurunan skor tes IQ (Pudjiadi S, 2001 : 134). Penurunan fungsi otak berpengaruh terhadap kemampuan belajar, kemampuan anak bereaksi

21

22

terhadap rangsangan dari lingkungannya dan perubahan kepribadian anak (Moehji, 2003 : 10). 7. Penanggulangan masalah gizi tidak seimbang a. Masalah gizi lebih atau obesitas Penanggulangannya adalah dengan menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makan dan penambahan latihan fisik atau olah raga serta menghindari tekanan hidup atau stres (Almatsier S, 2005 : 308). b. Masalah gizi kurang Penanggulangan masalah gizi kurang perlu dilakukan secara terpadu antar departemen dan kelompok profesi melalui upaya-upaya peningkatan pengadaan pangan, penganekaragaman produksi dan konsumsi pangan, peningkatan status sosial ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat serta peningkatan teknologi hasil pertanian dan teknologi pangan (Almatsier S, 2001: 306). c. Masalah gizi buruk Penanggulangan masalah gizi buruk yang dilakukan antara lain : upaya pemenuhan persediaan pangan nasional, Peningkatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan dimulai dari tingkat posyandu hingga puskemas dan rumah sakit. Intervensi langsung pada sasaran melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT), distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi, tablet dan sirup besi serta tablet iodium. (Almatsier S, 2001 : 307).

22

23

E. Kerangka Konseptual Kerangka konsep penelitian merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang dilakukan (Notoatmodjo S, 2005 : 69). Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita : 1. Ketersediaan pangan ditingkat keluarga. 2. Pola asuh keluarga. 3. Kesehatan lingkungan 4. Pelayanan kesehatan dasar 5. Budaya keluarga 6. Sosial ekonomi - Pendapatan keluarga - Pendidikan ibu - Pekerjaan ibu Status gizi balita : - Gizi lebih - Gizi baik - Gizi kurang - Gizi buruk

Keterangan : : diteliti

: tidak diteliti Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Hubungan Antara Sosial Ekonomi Keluarga Dengan Status Gizi Balita Di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.

Penjelasan : Beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi balita adalah ketersediaan pangan di tingkat keluarga, pola asuh keluarga, kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan dasar, budaya keluarga dan sosial ekonomi.

23

24

Disini yang akan diteliti adalah faktor sosial ekonomi yang meliputi pendapatan keluarga, pendidikan ibu dan pekerjaan ibu. F. Hipotesa Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam, 2003 : 57). Hipotesa alternatif (Ha/H1) merupakan pernyataan operasional dari hipotesa penelitian (Ghozali Imam, 2006 : 4). Hipotesa dalam penelitian ini adalah hipotesa alternatif (H1) yaitu ada hubungan antara sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.

24

25

BAB III METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan cara pemecahan masalah berdasarkan metode keilmuan (Nursalam dan S Pariani, 2001 : 135). Pada bab ini akan dijelaskan metode penelitian yang digunakan berdasarkan desain penelitian, populasi, sampel, besarnya sampel, sampling, kriteria sampel, variabel penelitian, definisi operasional, lokasi dan waktu penelitian, prosedur pengumpulan data, instrumen, teknik pengolahan data dan tehnik analisa data, etika penelitian dan jadwal kegiatan penelitian.

A. Desain Penelitian Desain penelitian adalah hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2003 : 80). Pada penelitian ini peneliti menggunakan desain analitik korelasional bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel. (Nursalam, 2003 : 84). Jenis penelitian ini menggunakan penelitian cross sectional merupakan jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel independen dan variabel dependen hanya satu kali pada suatu saat (Nursalam, 2003 : 85). Desain dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hubungan sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.

25

26

B. Populasi, Sampel, Besar Sampel Dan Sampling 1. Populasi Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, S. 2005 : 70). Pada penelitian ini populasinya adalah semua ibu yang mempunyai balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009 sebanyak 355 orang. 2. Sampel Sampel merupakan sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto S, 2006 : 131). Adapun subjek penelitian yang akan digunakan adalah ibu yang mempunyai balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009 sebanyak 85 orang. 3. Besar sampel Besar kecilnya jumlah sampel sangat dipengaruhi oleh desain dan ketersediaan subjek dan penelitian itu sendiri. Untuk memperoleh hasil penelitian yang menggambarkan keadaan populasi penelitian. Maka sampel yang diambil harus mewakili populasi yang ada. (Nursalam, 2001 : 951). Menurut Dr. Windhu Purnomo, M. S. Penentuan besar sampel menggunakan rumus analitik korelatif adalah :
     Zα + Z β  + 3 n=  1 1 + ρ    In    2 1 − ρ  
2

26

27

Keterangan : Z ½α

= Adjusted SD untuk α inji 2 arah (α = 0,05, Z = 1,96).

Zβ ρ

= Adjusted SD untuk β (β = 0,20, Z = 0,84). = Koefisien korelasi antar variabel yang diharapkan (0,3).

Berdasarkan data yang diperoleh maka didapatkan jumlah sampel.

    1,96 + 0,84  n= +3  1 1 + 0,3    In    2 1 − 0,3  

2

    2,8 n=  +3 1  In (1,85714)  2 

2

 2,8  n=  +3  0,30951
n = 81,84020 + 3 n = 85 Jadi besar sampel dalam penelitian ini adalah 85 responden. Agar sampel yang diambil proporsional maka digunakan rumus menurut Praktiknya (2001 : 72) : nA :

2

Σ balita yang ada di posyandu Σ Populasi

x Besar sampel

27

28

4. Sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2003 : 97). Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan cara simple random sampling yaitu bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengundi anggota populasi (lottre technique) atau teknik undian (Notoatmodjo S, 2005 : 85). Nama ibu balita tiap posyandu ditulis pada secarik kertas. Kemudian dimasukkan di kotak tiap-tiap posyandu, setelah itu diaduk dan diambil secara acak sejumlah ibu balita sesuai dengan rumus proporsional sampel, sehingga jumlah keseluruhan sampel sebanyak 85 responden yang mewakili tiap-tiap posyandu.

C. Kriteria sampel
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang akan diteliti (Nursalam, 2003 : 96). Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah : 1. Ibu dan balitanya yang tinggal di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009.

28

29

2. Ibu yang mempunyai balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander yang bisa membaca dan menulis. 3. Ibu yang mempunyai balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander yang bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent.

D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia) (Nursalam, 2003 : 101). Pada penelitian ini ada 2 variabel, yaitu : 1. Variabel independen (bebas) Adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain. variabel ini diamati dan diukur untuk diketahui hubungan atau pengaruhnya terhadap variabel lain (Nursalam, 2003 : 102). Pada penelitian ini variabel independennya adalah sosial ekonomi keluarga. 2. Variabel dependen (tergantung) Adalah variabel yang

nilainya

ditentukan

oleh

variabel

lain. Variabel ini muncul sebagai akibat dari variabel Independen (Nursalam, 2003 : 102). Pada penelitian ini variabel dependennya adalah status gizi balita.

29

30

E. Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2008 : 101).

TABEL 2 DEFINISI OPERASIONAL HUBUNGAN ANTARA SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO Definisi operasional Variabel Suatu keadaan independent : yang dimiliki oleh Sosial ekonomi sebuah keluarga keluarga yang dapat dinilai dari pendapatan keluarga, pendidikan dan pekerjaan ibu Variabel Parameter 1. Pendapatan keluarga yaitu besarnya penghasilan yang dinilai dengan uang yang diperoleh keluarga dalam 1 bulan dengan kriteria : a. Pendapatan rendah : di bawah Rp. 625.000, b. Pendapatan sedang : Rp. 625.000 sampai Rp. 1.105.000 c. Pendapatan tinggi : diatas Rp. 1.105.000 2. Pendidikan ibu yaitu jenjang pendidikan formal yang telah ditempuh ibu : a. Tidak tamat SD. b. SD/sederajat. c. SMP/sederajat d. SMA/sederajat Alat ukur Kuesioner Skala Ordinal Kode Pendapatan keluarga Kode : - Pendapatan rendah : 0 - Pendapatan sedang : 1 - Pendapatan tinggi : 2

Kuesioner

Ordinal

Pendidikan ibu : Tidak tamat SD : 0 SD : 1 SMP : 2 SMA : 3 Perguruan Tinggi : 4

30

31

Variabel

Definisi operasional

Parameter e. Perguruan tinggi. 3. Pekerjaan ibu yaitu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan penghasilan : a. Bekerja (PNS/ ABRI/swasta, buruh/pegawai tidak tetap). b. Tidak bekerja/ibu rumah tangga

Alat ukur

Skala

Kode

Kuesioner

Nominal Bekerja : 0 Tidak bekerja : 1

Variabel dependent : Status gizi balita

Keadaaan gizi balita (0-60 bulan) yang didapatkan dari perbandingan BB/U.

Tabel rujukan WHODacin, KMS NCHS, dengan melihat anak/buku Z-Score (standar KIA/register BB/U) kohort bayi 1. Gizi lebih : dan tabel > +2 SD. rujukan 2. Gizi baik : ≥ -2 SD WHO-NCHS (standar sampai +2 SD BB/U) 3. Gizi kurang < -2 SD sampai ≥ 3 SD. 4. Gizi buruk : < -3 SD.

Ordinal

Gizi buruk : 0 Gizi kurang : 1 Gizi baik : 2 Gizi lebih : 3

F. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Peneliti melakukan penelitian di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.

2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan tanggal 6 Juli sampai 15 Juli 2009.

31

32

G. Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003 : 115). Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini sebagai berikut : setelah peneliti mendapatkan rekomendasi dari institusi tertanggal 23 Juni 2009 dan surat pengantar dari Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (BAKESBANGPOL DAN LINMAS), kemudian peneliti meminta ijin kepada Kepala Puskesmas Ngumpakdalem, Kepala Desa Ngumpakdalem dan bidan Desa Ngumpakdalem untuk melakukan penelitian. Selanjutnya peneliti bekerjasama dengan Bidan Desa Ngumpakdalem untuk mendapatkan data jumlah balita yang ada di Desa Ngumpakdalem pada tahun 2009. Setelah itu, peneliti memilih responden secara acak dari data populasi balita secara proporsional perposyandu. Didapatkan jumlah balita hasil pemilihan sebanyak 85 balita. Kemudian peneliti bekerjasama dengan bidan dan kader kesehatan untuk melakukan pengambilan data terhadap responden yang terpilih dengan cara mengikuti posyandu pada tanggal 06 Juli sampai 15 Juli 2009 mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB. Sebelumnya peneliti menjelaskan tentang tujuan dan manfaat penelitian, untuk mendapatkan persetujuan menjadi responden penelitian dengan menggunakan lembar persetujuan (informed consent). Setelah itu peneliti memberikan lembar kuesioner kepada responden dan menjelaskan cara pengisian. Kuesioner dikumpulkan setelah responden menjawab semua pertanyaaan yang telah

32

33

dijawab sesuai dengan keadaannya dengan memberikan tanda check (√) pada jawaban yang telah disediakan. Setelah itu dilanjutkan dengan menimbang berat badan balita menggunakan dacin dan melihat umur balita pada KMS anak. Setelah berat badan dan umur diketahui kemudian dibandingkan dengan tabel baku rujukan WHO-NCHS menurut BB/U (Berat Badan/Umur) dengan melihat nilai Z-skore.

H. Alat Atau Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah :

1. Kuesioner
Dalam penelitian ini kuesioner berbentuk pertanyaan terbuka dan tertutup. Pengambilan data umum menggunakan pertanyaan terbuka (open ended question) yang terdiri dari 4 pertanyaan. Pengambilan data khusus menggunakan pertanyaan tertutup (closed ended question) yang terdiri dari 3 pertanyaan.

2. Dacin
Timbangan berat badan yang digunakan untuk mengetahui berat badan balita yang ada di posyandu Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro.

33

34

3. KMS anak/buku KIA/Register Kohort bayi
KMS anak digunakan untuk mencatat dan memantau pertumbuhan serta indikator perkembangan dari 85 balita. KMS anak/buku

KIA/Register Kohort bayi digunakan untuk mengetahui umur balita.

4. Baku rujukan WHO-NCHS
Digunakan untuk membandingkan berat badan balita menurut umur sehingga dapat diketahui status gizi balita : a. Gizi lebih, bila Z-score > + 2 SD. b. Gizi baik, bila Z-score ≥ - 2 SD sampai + 2 SD. c. Gizi kurang, bila Z-score < -2 SD sampai ≥ -3 SD. d. Gizi buruk, bila Z-score < - 3 SD. Keterangan : SD : Standar deviasi.

I. Analisa Data
Data yang terkumpul dari kuesioner yang telah diisi kemudian diolah dengan tahap berikut :

1. Editing/pemeriksaan data
Pada penelitian ini pemeriksaan data (editing) dilakukan dengan mengumpulkan semua kuesioner yang telah diisi oleh responden, jika ada pertanyaan dalam kuesioner belum diisi maka dikembalikan pada responden untuk dilengkapi, kemudian dilakukan koreksi terhadap kuesioner tersebut.

34

35

2. Coding/pemberian kode
Untuk mempermudah pengolahan, variabel penelitian diberi kode, dilakukan sebelum pengumpulan data dilaksanakan. a. Pada variabel independen (bebas) 1) Pendapatan keluarga Pendapatan rendah Pendapatan sedang Pendapatan tinggi 2) Pendidikan ibu Tidak tamat SD SD/sederajat SMP/sederajat SMA/sederajat Perguruan tinggi 3) Pekerjaan ibu Bekerja :0 :0 :1 :2 :3 :4 :0 :1 :2

Tidak bekerja/ibu rumah tangga : 1 b. Pada variabel dependen (tergantung) Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih

:0
:1

:2 :3

35

36

3. Tabulating/penyusunan data
Setelah data dikumpulkan, kemudian dilakukan proses editing dan coding. Selanjutnya, untuk menganalisa data dilakukan secara

komputerisasi dengan program SPSS for windows kemudian untuk mengetahui hubungan antar variabel, dimana salah satu skalanya adalah ordinal maka digunakan uji statistik spearman rho. Untuk mengetahui hubungan antar variabel maka dilihat nilai koefisien korelasi (r) dengan interpretasi tabel sebagai berikut :

TABEL 3 INTERPRETASI NILAI r Besarnya nilai r Antara 0,80 sampai dengan 1,000 Antara 0,60 sampai dengan 0,799 Antara 0,40 sampai dengan 0,599 Antara 0,20 sampai dengan 0,399 Antara 0,00 sampai dengan 0,199
(Sugiyono, 2007 : 231)

Interpretasi Tinggi Cukup Sedang Rendah Sangat rendah (tidak berkorelasi)

J. Etika Penelitian
Secara umum pinsip etika dalam penelitian atau pengumpulan data menurut Nursalam (2008 : 114) dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu : 1. Prinsip manfaat a. Bebas dari penderitaan Penelitian harus dilaksanakan tanpa mengakibatkan penderitaan kepada subyek.

36

37

b. Bebas dari eksploitasi Subyek harus diyakinkan bahwa partisipasinya tidak akan dipergunakan dalam hal-hal yang bisa merugikan subyek dalam bentuk apapun. c. Resiko Peneliti harus secara hati-hati mempertimbangkan resiko dan keuntungan yang akan berakibat kepada subyek pada setiap tindakan. 2. Prinsip menghargai hak-hak subyek a. Hak untuk ikut/tidak menjadi responden Subyek mempunyai hak memutuskan apakah bersedia menjadi subyek ataupun tidak, tanpa adanya sanksi. b. Hak untuk mendapatkan jaminan dari perlakuan yang diberikan. Seorang peneliti harus memberikan penjelasan kepada responden secara rinci serta bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi pada subyek. c. Informed consent Subyek harus mendapat informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk

berpartisipasi atau menolak sebagai responden. 3. Prinsip keadilan a. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang adil Subyek harus diperlakukan secara adil baik sebelum, selama dan sesudah keikutsertaan dalam penelitian. Tanpa diskriminasi apabila ternyata mereka tidak bersedia menjadi responden.

37

38

b. Hak dijaga kerahasiaannya Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan harus dirahasiakan, untuk itu perlu adanya anonymity (tanpa nama) dan confidentiality (rahasia).

K. Jadwal Kegiatan Penelitian TABEL 4 TABEL GANT’S CHART Nopember
No.

Desember
I II III IV I

Januari
II III IV I

Februari
II III IV

Jenis Kegiatan
I II III IV

1 Pengajuan judul 2 Penyusunan proposal 3 Ujian Proposal 4 Pengambilan Data / Penyusunan KTI 5 Penyusunan KTI 6 Ujian Sidang 7 Perbaikan

38

39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti akan menguraikan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dilaksanakan pada 6-15 Juli 2009 di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta keterangan singkat dibawahnya untuk mempermudah pemahaman isi dari penelitian ini. Pada penyajian data dimulai dari diskripsi daerah penelitian, dan hasil penelitian yang disajikan dalam dua bentuk yaitu data umum dan data khusus. Data umum yang disajikan tentang karakteristik responden yang terdiri dari umur ibu, umur balita dan jenis kelamin balita. Sedangkan data khusus mengenai sosial ekonomi keluarga responden (pendapatan keluarga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu) dan status gizi balita serta hubungan antara sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita.

A. Hasil Penelitian 1. Gambaran umum desa
a. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro dengan luas wilayah 1.131.767,35 m2, yang terdiri dari 5 dusun, 9 Rukun Warga dan 49 Rukun tetangga. Adapun batas wilayah Desa Ngumpakdalem : 1) Sebelah utara 2) Sebelah selatan : Desa Sumber Tlaseh : Desa Sumodikaran, Desa Sumberagung, Desa Mojoranu

39

40

3) Sebelah barat 4) Sebelah timur

: Desa Leran : Desa Kapas, Desa Bangilan, Desa Sembung, Desa Mojoranu.

b. Data demografi Jumlah penduduk di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro adalah 9.668 jiwa dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 2.680 KK. Sedangkan jumlah penduduk lakilaki 4.746 jiwa dan penduduk perempuan 4.922 jiwa. c. Sarana pendidikan 1) Taman kanak-kanak 2) SD/MI 3) SMP 4) SMA : 2 unit : 7 unit : 2 unit : 1 unit

d. Fasilitas pelayanan kesehatan 1) Puskesmas 2) Polindes 3) Posyandu e. Tenaga kesehatan 1) Bidan Desa 2) Kader kesehatan f. Mata pencaharian 1) Petani 2) Buruh tani 3) Tukang 4) Dagang 5) Swasta : 6.364 orang : 318 orang : 48 orang : 41 orang : 238 orang : 1 orang : 45 orang : 1 unit : 1 unit : 9 unit

40

41

6) TNI / Polri 7) PNS 8) Karyawan swasta 9) Lain-lain g. Tempat peribadatan 1) Masjid 2) Musholla

: 6 orang : 273 orang : 54 orang : 73 orang

: 6 unit : 48 unit

2. Data umum
Data umum dalam penelitian ini adalah karakteristik responden meliputi umur ibu, umur balita dan jenis kelamin balita.

a. Karakteristik responden berdasarkan umur ibu
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 85 orang ibu yang mempunyai balita dengan mean 28,95, median 29,00, modus 30. Umur termuda 18 tahun, umur tertua 46 tahun (lampiran 13), dengan melihat kecenderungan sentral persentil 50 dari hasil perhitungan SPSS maka peneliti membagi umur menjadi 2 interval yaitu umur ibu ≤ 29 tahun dan > 29 tahun. Distribusi responden berdasarkan umur ibu disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :

TABEL 5 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN UMUR IBU DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009
No. 1. 2. Umur ibu ≤ 29 tahun > 29 tahun Jumlah f 43 42 85 % 50,6 49,4 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

41

42

Berdasarkan tabel 5 di atas dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian responden berumur ≤ 29 tahun sebanyak 43 orang (50,6%).

b. Karakteristik responden berdasarkan umur balita
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 85 balita dengan mean 24,09, median 22,00, modus 9 dan 18. Umur termuda 2 bulan dan umur tertua 57 bulan (lampiran 14). Dengan melihat

kecenderungan sentral persentil 50 dari hasil perhitungan SPSS maka peneliti membagi umur menjadi dua interval yaitu umur balita ≤ 22 bulan dan > 22 bulan. Distribusi responden berdasarkan umur balita disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :

TABEL 6 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN UMUR BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009
No. 1. 2. Umur balita ≤ 22 bulan > 22 bulan Jumlah f 44 41 85 % 51,8 49,2 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 6 di atas dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian responden berumur ≤ 22 bulan sebanyak 44 balita (51,8%).

c. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin balita
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 85 balita. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin balita disajikan dalam bentuk tabel 7 di halaman berikutnya :

42

43

TABEL 7 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN JENIS KELAMIN BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009
No. 1. 2. Jenis kelamin balita Laki-laki Perempuan Jumlah f 39 46 85 % 45,9 54,1 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa dari 85 balita, lebih dari sebagian berjenis kelamin perempuan sebanyak 46 balita (54,1%).

3. Data Khusus
Data khusus dalam penelitian ini adalah sosial ekonomi keluarga (pendapatan keluarga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu) dan status gizi balita.

a. Pendapatan keluarga
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 85 keluarga responden. Distribusi responden berdasarkan pendapatan keluarga disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :

TABEL 8 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PENDAPATAN KELUARGA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009
No. 1. 2. 3. Pendapatan keluarga Pendapatan tinggi Pendapatan sedang Pendapatan rendah Jumlah f 9 28 48 85 % 10,6 32,9 56,5 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

43

44

Berdasarkan tabel 8 dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian keluarga responden berpendapatan rendah yaitu sebanyak 48 keluarga (56,5%), sedangkan keluarga responden yang berpendapatan tinggi sebanyak 9 responden (10,6%).

b. Pendidikan ibu
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 85 ibu. Distribusi responden berdasarkan pendidikan ibu disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :

TABEL 9 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PENDIDIKAN IBU DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009
No. 1. 2. 3. 4. 5. Pendidikan ibu Tidak tamat SD SD/sederajat SMP/sederajat SMA/sederajat Akademi/Perguruan Tinggi Jumlah f 4 18 38 19 6 85 % 4,7 21,2 44,7 22,4 7,1 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 9 di atas dapat diketahui bahwa responden yang berpendidikan SMP/sederajat sebanyak 38 responden (44,7%), sedangkan responden yang tidak tamat SD/sederajat sebanyak 4 responden (4,7%).

c. Pekerjaan ibu
Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 85 ibu. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan ibu disajikan dalam bentuk tabel 10 di halaman berikutnya :

44

45

TABEL 10 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN PEKERJAAN IBU DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009
No. 1. 2. Pekerjaan ibu Bekerja Tidak bekerja Jumlah f 30 55 85 % 35,3 64,7 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 10 di atas dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian responden tidak bekerja sebanyak 55 orang (64,7%).

d. Status gizi balita
Status gizi pada balita yang didapat dari 85 responden. Distribusi responden berdasarkan status gizi balita disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :

TABEL 11 DISTRIBUSI RESPONDEN BERDASARKAN STATUS GIZI BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009
No. 1. 2. 3. 4. Status gizi balita Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Jumlah f 3 29 52 1 85 % 3,5 34,1 61,2 1,2 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian balita mempunyai status gizi baik yaitu sebanyak 52 balita (61,2%), sedangkan balita yang mempunyai status gizi buruk sebanyak 3 balita (3,5%).

45

46

e. Tabulasi silang pendapatan keluarga dengan status gizi balita
Tabulasi silang antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita disajikan dalam tabel berikut ini :

TABEL 12 TABULASI SILANG PENDAPATAN KELUARGA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009 Pendapatan keluarga Rendah Sedang Tinggi Jumlah Status gizi balita Gizi kurang Gizi baik f % f % 28 58,3 17 35,4 1 3,6 26 92,9 0 0 9 100 29 34,1 52 61,2

No 1. 2. 3.

Gizi buruk f % 3 6,3 0 0 0 0 3 3,5

Gizi lebih f % 0 0 1 3,6 0 0 1 1,2

f 48 28 9 85

% 100 100 100 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 12 di atas dapat diketahui bahwa dari 48 responden yang mempunyai pendapatan keluarga rendah sebanyak 28 responden (58,3%) mempunyai balita dengan status gizi kurang. Sedangkan dari 9 responden yang mempunyai pendapatan keluarga tinggi sebanyak 9 responden (100%) mempunyai balita dengan status gizi baik. Dengan menggunakan analisa korelasi dari uji statistik spearman rho dangan taraf signifikan 1%, ditemukan ρ = 0,000 (ρ < 0,01) (lampiran 16) jadi H0 ditolak. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009. Sedangkan nilai koefisien korelasi positif 0,616 menunjukkan adanya keeratan hubungan yang sejajar dan searah dengan interpretasi hasil hubungan cukup.

46

47

f.

Tabulasi silang pendidikan ibu dengan status gizi balita TABEL 13

TABULASI SILANG PENDIDIKAN IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009 Status gizi balita Gizi kurang Gizi baik f % f % 4 100 0 0 6 33,3 10 56,6 16 42,1 21 55,3 3 15,8 16 84,2 0 0 5 83,3

No 1. 2. 3. 4. 5.

Pendidikan ibu A. Tid ak tam at SD SD/sederajat SMP/sederajat SMA/sederajat Perguruan Tinggi Jumlah

Gizi buruk f % 0 0 2 11,1 1 2,6 0 0 0 0

Gizi lebih f f % 0 0 4 0 0 18 0 0 38 0 0 19 1 16,7 6

% 100 100 100 100 100

3

3,5

29

34,1

52

61,2

1

1,2

85

100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 13 diatas dapat diketahui bahwa dari 4 responden yang tidak tamat SD semua balitanya (100%) mempunyai status gizi kurang. Dari 38 responden yang berpendidikan SMP sebanyak 16 responden (42,1%) mempunyai balita dengan status gizi kurang dan sebanyak 1 responden (2,6%) mempunyai balita dengan status gizi buruk. Sedangkan dari 6 responden yang tamat perguruan tinggi terdapat 5 responden (83,3%) mempunyai balita dengan status gizi baik.

47

48

Dengan menggunakan analisa korelasi dari uji statistik spearman rho dangan taraf signifikan 1%, ditemukan ρ = 0,000 (ρ < 0,01) (lampiran 17) jadi H0 ditolak. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009. Sedangkan nilai koefisien korelasi positif 0,385 menunjukkan adanya keeratan hubungan yang sejajar dan searah dengan interpretasi hasil hubungan rendah.

g. Tabulasi silang pekerjaan ibu dengan status gizi balita TABEL 14 TABULASI SILANG PEKERJAAN IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO BULAN JULI 2009 Status gizi balita Gizi kurang Gizi baik f % f % 18 60,1 10 33,3 11 20 42 76,4 29 34,1 52 61,2

No. 1. 2.

Pekerjaan ibu Bekerja Tidak bekerja Jumlah

Gizi buruk f % 1 3,3 2 3,6 3 3,5

Gizi lebih f % 1 3,3 0 0 1 1,2

f 30 55 85

% 100 100 100

Sumber : Data primer penelitian bulan Juli 2009

Berdasarkan tabel 14 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden yang bekerja sebanyak 18 responden (60,1%) balitanya mempunyai status gizi kurang. Sedangkan dari 55 responden yang tidak bekerja sebanyak 42 responden (76,4%) balitanya mempunyai status gizi baik. Dengan menggunakan analisa korelasi dari uji statistik spearman rho dangan taraf signifikan 1%, ditemukan ρ = 0,001

48

49

(ρ < 0,01) (lampiran 18) jadi H0 ditolak. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009. Sedangkan nilai koefisien korelasi positif 0,345 menunjukkan adanya keeratan hubungan yang sejajar dan searah dengan interpretasi hasil hubungan rendah.

B. Pembahasan
Pada bagian ini peneliti akan membahas tentang sosial ekonomi keluarga yang meliputi pendapatan keluarga, pendidikan ibu, pekerjaan ibu serta membahas status gizi balita dan hubungan sosial ekonomi keluarga (pendapatan keluarga, pendidikan ibu dan pekerjaan ibu) dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009.

1. Sosial Ekonomi keluarga a. Pendapatan keluarga
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5 dapat dilihat bahwa lebih dari sebagian responden mempunyai pendapatan keluarga yang rendah yaitu sebanyak 48 orang (56,5%). Menurut Emil Salim (Hartomo, 2004 : 314) bahwa kemiskinan adalah merupakan suatu keadaan yang dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh dan lain-lain. Salah satu akibat dari kurangnya kesempatan kerja adalah rendahnya pendapatan

49

50

masyarakat. Kurangnya kesempatan kerja yang tersedia tidak lepas dari struktur perekonomian Indonesia yang sebagian besar masih tergantung pada sektor pertanian termasuk masyarakat pedesaan dan sebagian besar hidup dari hasil pertaniaan (agraris) dan pekerjaanpekerjaan yang bukan agraris hanya bersifat sambilan sebagai pengisi waktu luang (Ahmadi Abu, 1997 : 259). Dari analisa data yang diperoleh di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro bahwa lebih dari sebagian responden mempunyai pendapatan keluarga rendah yaitu

< Rp.625.000,- per bulan. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesempatan kerja yang diperoleh masyarakat Desa Ngumpakdalem karena keterbatasan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki, selain itu sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian sehingga mayoritas mata pencaharian penduduk setempat adalah petani dan buruh tani dimana pendapatan yang diperoleh tidak tetap dan relatif kurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh dan lainlain. Hal tersebut menyebabkan rendahnya usaha dalam mempertinggi pendapatan keluarga mereka.

50

51

b. Pendidikan ibu
Berdasarkan tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa responden yang berpendidikan SD/sederajat 18 (21,2%) dan yang berpendidikan SMP/sederajat sebanyak 38 responden (44,7%). Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi, misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut Y.B Mantra yang dikutip oleh Notoatmodjo (1985) pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan kesehatan

(Nursalam dan S Pariani, 2001 : 33). Dari analisa data yang diperoleh di Desa Ngumpakdalem bahwa para ibu balita umumnya mempunyai tingkat pendidikan SD dan SMP atau sederajat sehingga kemampuan menerima informasi masih terbatas. Keterbatasan menerima informasi ini akan mempengaruhi pengetahuan responden khususnya pengetahuan tentang kesehatan. Hal ini dapat berpengaruh pada pemilihan makanan bagi keluarga termasuk bagi balitanya.

c. Pekerjaan ibu
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 10 dapat dilihat bahwa responden yang tidak bekerja sebanyak 55 orang (64,7%). Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan

51

52

banyak tantangan. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Nursalam dan Siti P, 2001 : 133). Keterbatasan keterbatasan ketrampilan kemampuan yang untuk dimiliki masuk dalam menyebabkan dunia kerja

(Ahmadi Abu, 1997 : 344). Pada umumnya wanita bekerja bukan karena terutama mencintai pekerjaan mereka, tetapi untuk membantu keuangan keluarga (Khairuddin, 2002 : 151). Dari analisa data yang diperoleh di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro bahwa para ibu balita pada umumnya tidak bekerja. Sehingga ibu tidak bisa membantu ekonomi dasar keluarga untuk memenuhi kebutuhan pokok khususnya kebutuhan pangan.

2. Status gizi balita
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 11 dapat dilihat bahwa lebih dari sebagian balita mempunyai status gizi baik yaitu sebanyak 52 responden (61,2%), sedangkan balita yang mempunyai status gizi kurang sebanyak 29 responden (34,1%). Berdasarkan register pencatatan operasional timbang Desa

Ngumpakdalem tahun 2008 dari 323 balita yang ditimbang didapatkan balita dengan gizi buruk 12 (3,72%) dan balita dengan gizi kurang 68 (21,05%). Menurut Almatsier S (2001 : 301) terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita antara lain kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan. Adapun faktor lain yang

52

53

mempengaruhi adalah kondisi sosial ekonomi dan budaya keluarga seperti pola asuh keluarga (Depkes RI, 2002 : 2). Lebih dari sebagian balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro mempunyai status gizi baik. Namun prevalensi balita yang mempunyai status gizi kurang di Desa Ngumpakdalem masih melebihi prevalensi menurut register pencatatan operasional timbang Desa Ngumpakdalem tahun 2008. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang salah satu diantaranya adalah keadaan sosial ekonomi.

3. Hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi balita
Berdasarkan tabel 12 dapat diketahui bahwa dari 48 responden yang mempunyai pendapatan keluarga rendah sebanyak 28 responden (58,3%) balitanya mempunyai status gizi kurang. Sedangkan dari 9 responden yang mempunyai pendapatan keluarga tinggi sebanyak 9 responden (100%) balitanya mempunyai status gizi baik. Dengan menggunakan analisa korelasi dari uji statistik spearman rho dangan taraf signifikan 1%, menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009. Sedangkan nilai koefisien korelasi positif 0,616 menunjukkan adanya keeratan hubungan yang sejajar dan searah dengan interpretasi hasil hubungan cukup. Menurut Berg (FKM UI, 2007 : 176) bahwa pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas makanan.

53

54

Kemampuan keluarga untuk membeli bahan makanan antara lain tergantung pada besar kecilnya pendapatan keluarga. Selain itu tingkat pendapatan dapat menentukan pola makan. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar makanannya terutama untuk akan kurang dapat memenuhi kebutuhan memenuhi kebutuhan zat gizi dalam

tubuhnya. Sebaliknya semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh (FKM UI, 2007 : 175). Pernyataan di atas sesuai dengan hasil penelitian di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro bahwa sebagian besar balita yang mempunyai status gizi kurang didapatkan dari responden dengan pendapatan keluarga rendah. Hal ini disebabkan kurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk pemenuhan kebutuhan terhadap gizi bagi anak-anaknya. Dengan rendahnya pendapatan keluarga menyebabkan daya beli terhadap bahan makanan menjadi rendah. Meskipun masyarakat dapat memenuhi kebutuhan makanannya, tetapi belum tentu nilai gizi dalam makanan tersebut sesuai atau memenuhi kebutuhan gizi seimbang. Hal ini akan mempengaruhi status gizi balita.

4. Hubungan pendidikan ibu dengan status gizi balita
Berdasarkan tabel 13 dapat diketahui bahwa dari 38 responden yang berpendidikan SD sebanyak 16 responden (42,1%) mempunyai balita dengan status gizi kurang. Sedangkan dari 6 responden yang tamat

54

55

perguruan tinggi sebanyak 5 responden (83,3%) balitanya mempunyai status gizi baik. Dengan menggunakan analisa korelasi dari uji statistik spearman rho dangan taraf signifikan 1%, menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009. Sedangkan nilai koefisien korelasi positif 0,385 menunjukkan adanya keeratan hubungan yang sejajar dan searah dengan interpretasi hasil hubungan rendah. Tingkat pendidikan khususnya tingkat pendidikan ibu mempengaruhi derajat kesehatan karena unsur pendidikan ibu dapat berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak (Depkes RI, 2004 : 27). Banyaknya anak balita yang kurang gizi dan gizi buruk disebabkan ketidaktahuan orang tua akan pentingnya gizi seimbang bagi anak balita yang pada umumnya akibat pendidikan orang tua yang rendah serta faktor kemiskinan

(http://www.kompas.com). Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap informasi dan

mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan

(Kuncoroningrat, 1997).

55

56

Pernyataan di atas sesuai dengan hasil penelitian di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro dimana lebih dari sebagian balita yang mempunyai status gizi kurang didapatkan dari ibu yang mempunyai pendidikan rendah. Hal ini disebabkan karena ibu yang mempunyai pendidikan rendah cenderung memiliki pengetahuan yang kurang terhadap pentingnya gizi seimbang bagi balita. Selain itu kemampuan untuk menerima informasi baru termasuk informasi tentang kesehatan menjadi terhambat dibandingkan ibu yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi. Namun, ibu yang mempunyai tingkat pendidikan rendah belum tentu mempunyai balita dengan status gizi yang kurang atau buruk. Karena pengetahuan tentang gizi tidak hanya dapat diperoleh dari pendidikan formal akan tetapi bisa diperoleh melalui pengalaman, media massa ataupun penyuluhan.

5. Hubungan pekerjaan ibu dengan status gizi balita
Berdasarkan tabel 14 diatas dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden yang bekerja sebanyak 18 responden (60,1%) balitanya mempunyai status gizi kurang. Sedangkan dari 55 responden yang tidak bekerja sebanyak 42 responden (76,4%) balitanya berstatus gizi baik. Dengan menggunakan analisa korelasi dari uji statistik spearman rho dangan taraf signifikan 1%, menunjukkan bahwa ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009. Sedangkan nilai koefisien

56

57

korelasi positif 0,345 menunjukkan adanya keeratan hubungan yang sejajar dan searah dengan interpretasi hasil hubungan rendah. Menurut Markum (Nursalam DAN Siti Pariani, 2001 : 133) bahwa bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Batasan bagi ibu yang bekerja adalah ibu-ibu yang melakukan aktivitas ekonomi mencari penghasilan baik disektor formal maupun informal. Tentunya aktivitas ibu yang bekerja akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki ibu untuk memberikan pelayanan atau kasih sayang terhadap anaknya. Pernyataan di atas sesuai dengan penelitian di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro bahwa sebagian besar balita yang mempunyai status gizi kurang didapatkan dari ibu yang bekerja. Hal ini disebabkan karena ibu yang bekerja tidak mempunyai cukup waktu untuk memperhatikan kebutuhan anaknya termasuk kebutuhan tentang gizi. Ibu yang bekerja cenderung akan menitipkan anaknya untuk diasuh orang lain (nenek atau kerabat) sehingga anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang seperti jika diasuh oleh ibunya sendiri. Dimana ibu lebih mengetahui kebutuhan anaknya, selain itu ibu yang tidak bekerja bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih baik dibandingkan jika anak diasuh oleh orang lain.

57

58

BAB V PENUTUP

Pada bab ini akan disajikan kesimpulan dari hasil penelitian secara sistematis yang berkaitan dengan upaya menjawab tujuan penelitian serta dikemukakan saran-saran yang berkaitan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro tahun 2009.

A. Kesimpulan
Berdasarkan analisa data dan pembahasan maka dapat disimpulkan dengan uji korelasi spearman rho bahwa ada hubungan sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita. Adapun kesimpulan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Dari hasil identifikasi sosial ekonomi keluarga : a. Lebih dari sebagian responden memiliki pendapatan keluarga yang masih rendah yaitu sebanyak 48 responden (56,5%). b. Lebih dari sebagian responden mempunyai tingkat pendidikan dasar yaitu SD atau sederajat sebanyak 18 responden (21,2%) dan SMP atau sederajat sebanyak 38 responden (44,7%). c. Lebih dari sebagian responden tidak bekerja yaitu sebanyak 55 responden (64,7%).

58

59

2. Lebih dari sebagian balita di Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro mempunyai status gizi baik yaitu sebanyak 52 balita (61,2%). 3. Daril hasil uji korelasi spearman rho dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara sosial ekonomi keluarga dengan status gizi balita. Hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita didapatkan ρ = 0,000 dan nilai koefisien korelasi positif 0,616 menunjukkan interpretasi hasil hubungan cukup. Hubungan antara pendidikan ibu dengan status gizi balita didapatkan ρ = 0,000 dan nilai koefisien korelasi positif 0,385 menunjukkan interpretasi hasil hubungan rendah. Dan hubungan antara pekerjaan ibu dengan status gizi balita didapatkan ρ = 0,001 dan nilai koefisien korelasi positif 0,345 menunjukkan interpretasi hasil hubungan rendah.

B. Saran-saran
1. Bagi responden Diharapkan orang tua yang mempunyai balita agar memberikan makanan yang bergizi bagi anaknya. Makanan yang bergizi tidak harus diperoleh dari makanan yang mahal. Oleh karena itu untuk orang tua yang mempunyai pendapatan keluarga rendah diharapkan dapat memanfaatkan hasil pekarangan dan peternakan sehingga anaknya bisa mempunyai status gizi yang baik. Selain itu orang tua harus rajin mencari informasi dengan mengikuti penyuluhan-penyuluhan tentang masalah gizi balita.

59

60

2. Bagi tenaga kesehatan Tenaga kesehatan terutama bidan desa setempat diharapkan lebih sering melakukan penyuluhan tentang gizi seimbang pada balita dan memberikan contoh menu seimbang dari bahan makanan yang murah, tapi mengandung gizi yang cukup serta dapat menambah pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal untuk masyarakat. Selain itu tenaga kesehatan harus rajin melakukan pemantauan gizi balita melalui posyandu setiap bulan sehingga dapat mendeteksi secara dini bila terdapat masalah-masalah dalam pertumbuhan dan perkembangan balita. 3. Bagi peneliti Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan harapan untuk mengkaji atau melihat faktor-faktor lain yang mempengaruhi status gizi balita.

60

61

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 1997. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta : Rineka Cipta Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Anonim. 2008. Pala Asuh Orang Tua http://m.okezone.com. diakses 23 Mei 2009 Pengaruhi Status Gizi.

Anonim. 2009. Balita. http://id.wikipedia.org/wiki/balita/. diakses 5 Mei 2009. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta . Rineka Cipta Budiarto, Eko. 2001. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC Departemen Kesehatan RI. 2000. Pengelolaan Program Perbaikan Gizi Kabupaten/Kota. Jakarta : Depkes RI. Departemen . 2002. Program Gizi Makro. Jakarta : Depkes RI Departemen.. 2004. Analisis Situasi Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta Depkes RI :

Departemen gizi dan kesehatan masyarakat FKM UI. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Dinas Kesehatan Jawa Timur. 2005. Pedoman Pemantauan Status Gizi Balita. Surabaya : Dinkes Jatim Effendi, N. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Jakarta : EGC Hidayat, Aziz A. 2007. metode penelitian kebidanan dan tehnik analisis data. Jakarta : Salemba Medika Mubarak, Iqbal Wahit. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas. Jakarta : CV. Sagung Seto Moehji, S. 2003. Ilmu Gizi Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta : Papas Sinar Sinanti Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta

61

62

Notoatmodj. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta Notoatmodj. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka Cipta Nursalam. 2008. Asuhan Keperawatan Bayi Dan Anak (Untuk Perawatan Dan Bidan). Jakarta : Salemba Medika Nursalami. 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmun Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Nursalam dan Pariani, S. 2001. Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta PT. Sagung Seto Paath, EF. 2004. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta :EGC Pius dan Dahlan. 2001. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Arkola Pratiknya, ahmad W. 2001. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Pudjiadi, S, 2001. Imu Gizi Klinis Pada Anak. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia Purnomo, Windu. 2007. Pengantar Metodologi Penelitian Kuantitatif. Surabaya. FKM Unair. Suhardjo. 2008. Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta : PT. Bumi Aksara Supariasa, IDN. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC Wijono, Djoko. 2006. Indikator Statistik Vital Kependudukan Dan Kesehatan. Surabaya : CV. Duta Prima Airlangga Yuliana. 2003. Kaitan Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan Dan Status Gizi.http://www.tomoutu.net.. Diakses Mei 2009

62

63

LEMBAR KUESIONER HUBUNGAN ANTARA SOSIAL EKONOMI KELUARGA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI DESA NGUMPAKDALEM KECAMATAN DANDER KABUPATEN BOJONEGORO

No. Responden Tanggal diisi

: : ……………………………………

A. DATA UMUM Petunjuk pengisian : 1. Isilah biodata di bawah ini dengan jujur sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 2. Apabila kurang jelas tanya pada peneliti.

Biodata Responden :
1. Nama ibu (inisial) 2. Umur ibu 3. Nama balita (inisial) 4. Tanggal lahir anak : …………………………………………. : …………………………………………. : …………………………………………. : ………………………………………….

5. Jenis kelamin anak (L/P) : …………………………………………. B. DATA KHUSUS Petunjuk pengisian : 1. Pilihlah jawaban yang tersedia dengan memberikan tanda centang (√) pada pilihan jawaban di bawah ini sesuai keadaan yang sebenarnya. 2. Baca kembali setelah anda menjawab semua, agar tidak ada pertanyaan yang terlewatkan.

63

64

Kode Kuesioner variabel independent :
1. Berapa pendapatan keluarga anda tiap bulan ? > Rp. 1.105.000 per bulan Rp. 625.000 – Rp. 1.105.000 per bulan < Rp. 625.000 per bulan 2. Apa pendidikan terakhir ibu ? SD tidak tamat SD/sederajat SMP/sederajat SMA/sederajat Akademi/Perguruan Tinggi 3. Apakah pekerjaan ibu ? PNS/ABRI Swasta Buruh/pegawai tidak tetap Tidak bekerja

64

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->