P. 1
Suku Banjar

Suku Banjar

|Views: 2,678|Likes:
Published by jack ahja
for studying
for studying

More info:

Published by: jack ahja on Apr 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

Suku Banjar

Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Kalimantan Selatan:2.271.586(2000). Bahasa Banjar, Indonesia, Melayu, dan lain-lain. Agama Islam. Kelompok etnis terdekat Melayu, Kutai, Jawa, Dayak ( Bukit, Bakumpai, Ngaju, Maanyan, Lawangan, ) Sukubangsa Banjar adalah suku bangsa yang menempati sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan sebagian Kalimantan Tengah terutama kawasan dataran dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut. Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yaitu wilayah inti dari Kesultanan Banjar meliputi DAS Barito bagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS Martapura dan DAS Tabanio. Kesultanan Banjar sebelumnya meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, kemudian terpecah di sebelah barat menjadi kerajaan Kotawaringin yang dipimpin Pangeran Dipati Anta Kasuma dan di sebelah timur menjadi kerajaan Tanah Bumbu yang dipimpin Pangeran Dipati Tuha yang berkembang menjadi beberapa daerah : Sabamban, Pegatan, Koensan, Poelau Laoet, Batoe Litjin, Cangtoeng, Bangkalaan, Sampanahan, Manoenggoel, dan Tjingal. Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur merupakan tanah rantau

primer, selanjutnya dengan budaya madam, orang Banjar merantau hingga ke luar pulau. Menurut Alfani Daud (1997), suku bangsa Banjar adalah suku asli sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, kecuali di Kabupaten Kota Baru.

Asal usul suku Banjar
Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigranimigran yang berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala). Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembahlembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin (dan Martapura). Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu Sumatera atau sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-, adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.

Banjar Pahuluan
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami lembahlembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan

cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga tetapi, setidaktidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur. Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri. Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya

Banjar Batang Banyu
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah. Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.

Banjar Kuala
Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar. Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju , yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan , banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar. (Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)

Inti Suku Banjar
Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya). Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): " Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton....Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan

Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya". Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991): "Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia". Menurut Tim Haeda dalam Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius (2009: 76), secara sosio-historis masyarakat Banjar adalah kelompok sosial heterogen yang terkonfigurasi dari berbagai sukubangsa dan ras yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehingga kemudian membentuk identitas etnis (suku) Banjar. Artinya, kelompok sosial heterogen itu memang terbentuk melalui proses yang tidak sepenuhnya alami (priomordial), tetapi juga dipengaruhi oleh faktorfaktor lain yang cukup kompleks. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa Suku Banjar terbagi 3 subetnis berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku berdasarkan persfeketif kultural dan genetis yang menggambarkan masuknya penduduk pendatang ke wilayah penduduk asli Dayak: 1. Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok) 2. Banjar Batangbanyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok) 3. Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok) Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya (Kelompok Barito Barat) yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai

kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya (Kelompok Barito Timur) seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Agama Islam dan suku Banjar
Menurut Alfani Daud (1997:6): "Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad yang silam. Islam juga telah menjadi identitas mereka, yang membedakannya dengan kelompok-kelompok Dayak yang ada di sekitarnya, yang umumnya masih menganut religi sukunya. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri, setidak-tidaknya dahulu, sehingga berpindah agama di kalangan masyarakat Dayak dikatakan sebagai "babarasih" (membersihkan diri) di samping menjadi orang Banjar." Menurut Irfan Noor dalam "Islam dan Universum simbolik Urang Banjar" bahwa : Masyarakat Banjar bukanlah suatu yang hadir begitu saja, tapi ia merupakan konstruksi historis secara sosial suatu kelompok manusia yang menginginkan suatu komunitas tersendiri dari komunitas yang ada di kepulauan Kalimantan. Selanjutnya menurutnya : Etnik Banjar merupakan bentuk pertemuan berbagai kelompok etnik yang memiliki asal usul beragam yang dihasilkan dari sebuah proses sosial masyarakat yang ada di daerah ini dengan titiuk berangkat pada proses Islamisasi yang dilakukan oleh Demak sebagai syarat berdirinya Kesultanan Banjar. Menurtnya pula : "Banjar" sebelum berdirinya Kesultanan Islam Banjar belumlah bisa dikatakan sebagai sebuah ksesatuan identitas suku atau agama, namun lebih tepat merupakan identitas yang merujuk pada kawasan teritorial tertentu yang menjadi tempat tinggal.

Suku Banjar di Kalimantan Timur
Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku Melayu, merupakan 15 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Suku Banjar Kaltim lebih banyak populasinya dibandingkan suku Kutai, maupun suku Dayak setempat. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara dan Jempang, Kutai Barat, Samarinda Ulu, Samarinda, Samarinda Ilir, Samarinda (Samarinda), Balikpapan, Tarakan dan di muara sungai Kelai, Berau.

Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau (ayahanda Puteri Petung) dari Kerajaan Kuripan (versi lainnya dari Kerajaan Bagalong di Kelua, Tabalong) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas (Kesultanan Pasir) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur. Organisasi Suku Banjar di Kalimantan Timur adalah Kerukunan Bubuhan Banjar-Kalimantan Timur (KBB-KT).

Suku Banjar di Kalimantan Tengah
Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Sampit dan lain-lain. Perkampungan suku Banjar Kalteng terutama terdapat daerah kuala dari sungai Mentaya, Kotawaringin Timur dan sungai Seruyan, Seruyan misalnya desa Tanjungrangas dan Pematangpanjang. Migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama [[Pangeran Adipati Antakusuma. Suku Banjar yang datang dari lembah sungai Negara (wilayah Batang Banyu) terutama orang Negara (urang Nagara) yang datang dari Kota Negara (bekas ibukota Kerajaan Negara Daha), kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan telah cukup lama mendiami wilayah Kahayan Kuala, Pulang Pisau, yang kemudian disusul orang Kelua (urang Kalua) dari Tabalong dan orang Hulu Sungai lainnya mendiami daerah yang telah dirintis oleh orang Negara. Puak-puak suku Banjar ini akhirnya melakukan perkawinan campur dengan suku Dayak Ngaju setempat dan mengembangkan agama Islam di daerah tersebut. Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau perjuangannya dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Suku Banjar di Jawa Tengah
Suku Banjar di Jawa Tengah hanya berkisar 10.000 jiwa, jadi tidak sebanyak di Jambi, Riau dan Sumatera Utara. Suku Banjar terutama bermukim di Kota Semarang dan Kota Surakarta. Di Semarang suku Banjar (dahulu) kebanyakan bermukim di Kampung Banjar di Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara, Semarang. Dahulu kampung ini merupakan wilayah kelurahan Banjarsari, Kecamatan Semarang Tengah yang telah dilikuidasi karenanya adanya penataan wilayah administrasif kota Semarang. Migrasi suku Banjar ke kota Semarang kira-kira pada akhir abad ke-19 dan bermukim di sebelah barat kali Semarang berdekatan dengan kampung Melayu (Ex. Kelurahan Mlayu Darat yang telah dilikuidasi). Di wilayah ini suku Banjar membaur dengan suku lainnya seperti suku Arab-Indonesia, Gujarat, Melayu, Bugis dan suku Jawa setempat. Keunikan suku Banjar di kampung ini , mereka mendirikan rumah panggung (rumah ba-anjung) seperti di daerah asalnya, tetapi sayang kebayakan rumah tersebut sudah mulai tergusur karena kondisi yang sudah tua maupun faktor alam (air pasang, rob) yang nyaris menenggelamkan kawasan ini akibat banjir pasang air laut. Sedangkan di Surakarta suku Banjar kebanyakan bermukim di Kampung Jayengan. Suku Banjar di Surakarta memiliki yayasan Darussalam, yang diambil dari nama Pesantren terkenal yang ada di kota Martapura. Kebanyakan suku Banjar di Jawa Tengah merupakan generasi ke-5 dari keturunan Martapura, Kabupaten Banjar. Tokoh suku Banjar di Jawa Tengah adalah (alm) Drs. Rivai Yusuf asal Martapura, yang pernah menjabat Bupati Pemalang dan Kepala Dinas Perlistrikan Jawa Tengah. Ia juga ketua Ikatan Keluarga Kalimantan ke-1, saat ini dijabat Bp. H Akwan dari Kalimantan Barat. Di samping itu ada pula Ikatan Keluarga Banjar di Semarang, yang diketuai H. Karim Bey Widaserana dari Barabai.

Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia
Suku Banjar yang tinggal di Sumatera (Tembilahan, Tungkal, Hamparan Perak/Paluh Kurau, Pantai Cermin, Perbaungan) dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka

harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan Belanda. Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat/Datu Sapat) yang berasal dari Martapura, Banjar yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri. Keadaan mayarakat Kalimantan Selatan antara tahun 1900-1942 : Pada tahun 1905 perlawanan terakhir para gusti (gelar bangsawan Banjar) ditumpas, tetapi sisa-sisanya masih mengadakan perlawanan kecil-kecilan yang cukup membahayakan Belanda. Kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) dan pajak kepala yang dianggap sangat memberatkan, mengakibatkan dalam periode ini banyak sekali orang Banjar terutama dari Hulu Sungai mengungsi keluar Kalimantan Selatan pergi ke Sumatera dan Malaysia Barat. Terhadap tekanan rodi menimbulkan keresahan sosial dan perlawanan dari anak cucu orang sepuluh Amuntai, pemberontakan Nanang Sanusi (1914-1918), dan pemberontakan Gusti Barmawi di Kelua, Tabalong. Antara tahun 19141919 akibat perang dunia I, Kalimantan Selatan kekurangan beras yang luar biasa, hingga terkenal dengan nama "zaman beras larang" dan "zaman antri beras", hidup rakyat menjadi sangat susah sekali. Sejak tahun 1920-an, akibat rodi ini telah pindah banyak sekali penduduk Hulu Sungai ke daerah Sapat dan Tembilahan, Indragiri Hilir, di pantai timur Sumatera dan Malaysia. Kejengkelan rakyat terhadap segala pajak, landrente, pajak pasar, pajak yang dikenakan pada orang yang naik haji, dan kerja rodi (bahasa Banjar : erakan) pada masa itu juga telah diajukan keberatan-keberatan melalui organisasi Sarekat Islam maupun organisasi lainnya yang ada di daerah ini. Rakyat mengetahui bahwa otonomi dalam bentuk Gemeente raad yang diberikan pemerintah kolonial hanyalah untuk kepentingan orangorang kulit putih semata. Dalam bidang pendidikan dirasakan tekanantekanan politik terhadap sekolah-sekolah swasta seperti Taman Siswa dan sejenisnya. Dalam bidang politik, partai-partai non koperasi atau bukan keduanya mengalami tekanan yang berat sehingga partai-partai non koperasi menjadi lumpuh. Demikian pula partai-partai penggantinya yang bersifat koperasi seperti Parindra dan Gerindo juga

mengalami berbagai tekanan seperti yang dialami tokoh Parindra Kalsel, Ahmad Barmawi Thaib dan Hadhariyah M Banyak suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak ( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah (Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan. Organisasi suku Banjar di Malaysia adalah Pertubuhan Banjar Malaysia

Islam Banjar
Istilah Islam Banjar menunjuk kepada sebuah proses historis dari fenomena inkulturisasi Islam di Tanah Banjar, yang secara berkesinambungan tetap hidup di dan bersama masyarakat Banjar itu sendiri (Tim Haeda, 2009:3). Dalam ungkapan lain, istilah Islam Banjar setara dengan istilah-istilah berikut: Islam di Tanah Banjar, Islam menurut pemahaman dan pengalaman masyarakat Banjar, Islam yang berperan dalam masyarakat dan budaya Banjar, atau istilah-istilah lain yang sejenis, tentunya dengan penekanan-penekanan tertentu yang bervariasi antara istilah yang satu dengan lainnya. Inti dari Islam Banjar adalah terdapatnya karakteristik khas yang dimiliki agama Islam dalam proses sejarahnya di Tanah Banjar. Menurut Alfani Daud (1997), ciri khas itu adalah terdapatnya kombinasi pada level kepercayaan antara kepercayaan Islam, kepercayaan bubuhan, dan kepercayaan lingkungan. Kombinasi itulah yang membentuk sistem kepercayaan Islam Banjar. Menurut Tim Haeda (2009), di antara ketiga sub kepercayaan itu, yang paling tua dan lebih asli dalam konteks Banjar adalah kepercayaan lingkungan, karena unsur-unsurnya lebih merujuk pada pola-pola agama pribumi praHindu. Oleh karena itu, dibandingkan kepercayaan bubuhan, kepercayaan lingkungan ini tampak lebih fleksibel dan terbuka bagi upaya-upaya modifikasi ketika dihubungkan dengan kepercayaan Islam. Sejarah Islam Banjar dimulai seiring dengan sejarah pembentukan entitas Banjar itu sendiri. Menurut kebanyakan peneliti, Islam telah berkembang jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banjar di Kuin Banjarmasin, meskipun dalam kondisi yang relatif lambat lantaran belum menjadi kekuatan sosial-politik. Kerajaan Banjar, dengan

demikian, menjadi tonggak sejarah pertama perkembangangan Islam di wilayah Selatan pulau Kalimantan. Kehadiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjar lebih kurang tiga abad kemudian merupakan babak baru dalam sejarah Islam Banjar yang pengaruhnya masih sangat terasa sampai dewasa ini.

Populasi suku Banjar
Suku Banjar merupakan suku ke-8 terbanyak di Indonesia Menurut sensus BPS tahun 2000 populasi suku Banjar diperkirakan sebagai berikut:
• • • • • • • • • • • •

2.271.586 di Provinsi Kalimantan Selatan 76,34% 435.758 di Provinsi Kalimantan Tengah 24,20% 340.381 di Provinsi Kalimantan Timur 13,94% 179.380 di Provinsi Riau 3,78% 111.886 di Provinsi Sumatera Utara 0,97% 83.458 di Provinsi Jambi 3,47% 24.117 di Provinsi Kalimantan Barat 7.977 di Provinsi DKI Jakarta 5.923 di Provinsi Jawa Barat 1.726 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 0,1% 921 di Provinsi Sumatera Selatan dan lain-lain

Menurut situs "Joshua Project" jumlah suku Banjar adalah
• •

3.207.000 di Indonesia 1.238.000 di Malaysia

Populasi Suku Banjar di Kalimantan Selatan
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Banjar di Kalimantan Selatan berjumlah 2.271.586 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten dan kota, yaitu :
• • • • • •

142.731 jiwa di kabupaten Tanah Laut 154.399 jiwa di kabupaten Kota Baru (termasuk kab. Tanah Bumbu) 361.692 jiwa di kabupaten Banjar 184.180 jiwa di kabupaten Barito Kuala 417.309 jiwa di kota Banjarmasin 75.537 jiwa di kota Banjarbaru

Orang Banjar Hulu Sungai yang bertutur Bahasa Banjar Hulu terdapat pada 6 kabupaten (Banua Enam) yaitu :

• • • • •

114.265 jiwa 188.672 jiwa 213.725 jiwa 277.729 jiwa Balangan) 141.347 jiwa

di di di di

kabupaten kabupaten kabupaten kabupaten

Tapin Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara (termasuk kab.

di kabupaten Tabalong

Tokoh-tokoh Banjar

Wakil Presiden Indonesia ke-9 Masa jabatan 23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004 Presiden Megawati Soekarnoputri Pendahulu Megawati Soekarnoputri Pengganti Jusuf Kalla Dr. H. Hamzah Haz (lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940; umur 70 tahun) adalah Wakil Presiden Republik Indonesia yang kesembilan yang menjabat sejak tahun 2001 bersamaan dengan naiknya Megawati Soekarnoputri ke kursi Presiden Republik Indonesia. Dalam kepartaian, Hamzah Haz menjabat sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tahun 1998-2007. Pada Pemilu 2004, Hamzah Haz dicalonkan sebagai calon presiden oleh partainya, PPP, berpasangan dengan Agum Gumelar sebagai calon wakil presiden, namun ia kalah dengan perolehan suara hanya 3%. Hamzah Haz bergelar PhD (S3 / doktoral) dari American World University, sebuah institusi pabrik ijazah. Hamzah Haz, wakil presiden Indonesia periode 2001-2004.

Literatur
• • • •

• • •

Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar; Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar, (Jakarta: Rajawali Press, 1997). J.J. Rass, Hikajat Bandjar:A Study in Malay Histiography, (The Hague : Martinus Nijhoff), 1968 Tjilik Riwut, Kalimantan Memanggil, Djakarta:Penerbit Endang, 1957. Idwar Saleh, Sejarah bandjarmasin:Selajang Pandang Mengenai Bnagkitnja Keradjaan Bandjarmasin, Posisi, Funksi dan Artinja Dalam Sedjarah Indonesia Dalam Abad Ketudjuh Belas. Bandung: Balai Pendidikan Guru. 1958 Rumah Tradisional Banjar: Rumah Bubungan Tinggi, Departemen Pendididkan dan Kebudayaan, Museum Negeri Lambung Mangkurat, 1984 M. Gazali Usman, Kerajaan Banjar:Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam, Banjarmasin: Lambung Mangkurat Press, 1994. Jurnal Kebudayaan:KANDIL, Melintas Tradisi, Edisi 6, Tahun II, Agustus-Oktober, 2004 ISSN: 1693-3206 Arthum Artha, Naskah Kitab Undang Undang Sultan Adam 1825, Banjarmasin: Penerbit Murya Artha, 1988 Tim Haeda, Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius, (Banjarmasin: Lekstur, 2009)

SEJARAH KEHIDUPAN DI TANAH BANJAR
Istilah Tanah Banjar yang dimaksud dalam tulisan ini dibatasi pada daerah-daerah yang termasuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Disebut Tanah Banjar, karena daerah-daerah dimaksud dahulunya (1526-1905) merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar, dan mayoritas penduduk yang tinggal di sana disebut etnis Banjar, sehingga daerah ini kemudian ditahbiskan sebagai pusat kebudayaan Banjar. Sejarah kehidupan di Tanah Banjar sudah dimulai setidak-tidaknya sejak 6-10 tahun SM. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia purba ras Austromelanesia berjenis kelamin wanita (40-60 tahun) di Gua Batu Babi, Gunung Batu Buli, Desa Randu, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, pada tahun 2000 yl. Hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Balai Arkeologi Banjarbaru (Dr. Harry Widianto dkk) menunjukkan bahwa fosil manusia purba itu berusia sekitar 6-10 ribu tahun (SKH Banjarmasin Post, 4

Februari 2000). Sejak zaman prasejarah dahulu suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan sudah memiliki ciri-ciri yang menunjukkan identitas mereka sebagai suku bangsa ras Melayu (Malayan Mongoloid) (Sulaksono, 2004:2). Namun, ini bukan berarti suku bangsa ras Melayu (Malayan Mongolid) yang tinggal di Pulau Kalimantan pada zaman prasejarah ini berasal dari komunitas suku bangsa Melayu yang dulu melakukan migrasi dari Pulau Sumatera (1025-1026) atau dari Semenanjung Melayu ke Pulau Kalimantan (1511). Menurut Maunati (2004:60), suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan pada masa prasejarah itu sesungguhnya berasal dari satu tempat yang sama, yaitu : Propinsi Yunan di Republik Rakyat Cina sekarang ini. Bahasa yang mereka pergunakan sebagai bahasa pergaulan (liungua franca) juga berasal dari bahasa yang bersifat semula jadi yang dipelajari nenek moyang mereka ketika masih tinggal di Yunan dahulu. Sudah barang tentu bahasa dimaksud sudah dikembangkan di sanasini sehingga menjadi bahasa yang layak sebagai sarana komunikasi lisan dan tulisan. Berkaitan dengan kesamaan dalam hal bahasa pergaulan (lingua franca) yang digunakannya, maka suku bangsa yang tinggal di Pulau Sumatera atau di Semenanjung Melayu pada zaman prasejarah diduga juga berasal dari tempat yang sama. Meskipun nenek moyang suku bangsa yang tinggal di Pulau Kalimantan pada zaman prasejarah dulu sama-sama berasal dari satu yang yang sama. Namun, begitu menetap di pulau Kalimantan mereka menjadi terpecah-pecah, baik karena proses geografi, maupun karena proses demografi yang berlangsung selama lebih dari seribu tahun. Klaim mereka sebagai penduduk asli pulau Kalimantan didasarkan pada fakta arkeologis bahwa meskipun mereka adalah pendatang yang berasal dari Propinsi Yunan, namun mereka sudah menetap di tempat ini sejak zaman Paleolitik, yakni sejak 13 ribu tahun yang lalu atau bahkan sejak 900 ribu tahun yang lalu. Ketika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya (Palembang) melakukan migrasi massal ke Pulau Kalimantan pada tahun 1025-1026, Pulau Kalimantan (setidak-tidaknya daerah Kalsel sekarang ini), sudah menjadi tempat pemukiman yang padat setidaktidaknya sejak 10 ribu tahun yang lalu (8.000 SM). Sehubungan dengan itu dapat dipahami jika pengaruh sosial politik dan sosial budaya suku bangsa Melayu yang datang dari Pulau Sumatera itu tidaklah signifikan. Hal ini mengingat situasi sosial politik dan sosial budaya di Pulau Kalimantan ketika itu sudah mapan semapan-mapannya.

KERAJAAN NAN SARUNAI, 242 SM-1362 M Gua Batu Babi, tempat ditemukannya fosil manusia purba itu terletak tidak jauh dari pusat Kerajaan Nan Sarunai (Kerajaan Tanjung Puri) yang terletak di Kahuripan (nama purba kota Tanjung sekarang ini). Namun, manusia purba dimaksud bukanlah warga negara Kerajaan Nan Sarunai, karena Kerajaan Hindu ini sendiri baru berdiri pada 242226 SM. Ihwal mengenai keberadaan Kerajaan Nan Sarunai ini banyak diceritakan dalam mitologi Maanyan. Konon, wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir, dan Tanah Gerogot sekarang ini. Keberadaan mitologi Maanyan yang menceritakan tentang masa-masa keemasan Kerajaan Nan Sarunai, tak pelak lagi merupakan petunjuk pertama bahwa Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini. Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang terletak di pinggiran kota Amuntai sekarang ini. Pada tahun 1996, telah dilakukan pengujian C-14 terhadap sampel arang Candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran 242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20). Menilik dari angka tahun dimaksud maka Kerajaan Nan Sarunai usianya lebih tua 600 tahun dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura yang terletak tidak jauh dari Kahuripan, yakni di daerah Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Menurut salah satu prasasti Yupa yang ditemukan di situs Muara Kaman, Kerajaan Kutai Martapura baru ada pada tahun 400 M. Kerajaan Kutai Martapura merupakan kerajaan besar yang rakyatnya hidup makmur, terutama sekali pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Tahun 400 M, Raja Mulawarman diberitakan telah memberikan hadiah berupa emas dan sapi dalam jumlah begitu banyak kepada para Brahmana. Di mana di dalam salah satu prasasti Yupa disebutkan jumlah sapi yang dipersembahkan Raja Mulawarman ada sebanyak 20.000 ribu ekor. Sungguhpun letaknya saling berdekatan, namun Kerajaan Nan Sarunai sama sekali tidak tersentuh oleh kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura. Pada masa-masa kejayaan Kerajaan Nan Sarunai inilah suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya melakukan migrasi massal ke Pulau Kalimantan (1025-1026). Mereka diterima dengan baik sebagai tamu yang sedang mencari suaka politik. Kerajaan Sriwijaya ketika itu porak poranda akibat diserbu bala tentara Cola Mandala (India). Bukan tanpa alasan jika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya itu memilih Kerajaan Nan Sarunai sebagai tempat tujuan migrasinya.

Menurut Babe Kuden dalam tulisannya berjudul Pangeran Samudra Dari Dayak Maanyan? (SKH Banjarmasin Post (Rabu, 21 September 2005, hal 20), Lokasi yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai pada mulanya bernama Lili Kumeah. Lili Kumeah didirikan oleh Datu Sialing dan Damung Gamiluk Langit. Mereka berdua memimpin sekelompok anggota masyarakat etnis Maanyan mencari tempat pemukiman baru yang lebih menjanjikan sebagai tempat penghidupan. Konon, semua anggota kelompok masyarakat etnis Maanyan pada mulanya tinggal di satu tempat pemukiman yang sama, yakni Pupur Purumatung. Pupur Purumatung adalah tempat pemukiman terakhir yang didiami bersama oleh nenek moyang etnis Maanyan. Setelah itu, setiap kepala keluarga etnis Maanyan memimpin anggota keluarganya masing-masing mengembara mencari tempat pemukiman baru yang lebih baik. Masih menurut Babe Kuden, sebelum tinggal di Purumatung, nenek moyang etnis Maanyan tinggal di Margoni, sebuah tempat pemukiman yang selalu diliputi awan (simbol negeri khayangan atau setidaktidaknya simbol negeri yang berada di atas gunung). Setelah cukup lama tinggal di Margoni, etnis Maanyan kemudian berturut-turut pindah ke Sinobala, Lalung Kawung, Lalung Nyawung, Sidamatung, Etuh Bariungan, dan terakhir di Pupur Purumatung. Tujuh tahun setelah tinggal bersama di Pupur Purumatung, sejumlah kepala keluarga nenek moyang etnis Maanyan memutuskan untuk membawa anggota keluarganya masing-masing mengembara mencari tempat pemukiman yang baru. Hanya keluarga Datu Gilangan Langit yang memilih tetap tinggal di Pupur Purumatung. Lama kelamaan, Lili Kumeah berkembang menjadi tempat pemukiman yang ramai. Pelabuhan Teluk Sarunai menjadi tempat persinggahan yang ramai bagi perahu dagang yang datang dari berbagai penjuru negeri. Selanjutnya, Lili Kumeah semakin berkembang, hingga akhirnya menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai yang gilang gemilang. Pada masa-masa kejayaan Kerajaan Nan Sarunai inilah suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya melakukan migrasi massal ke Pulau Kalimantan (1025-1026). Mereka diterima dengan baik sebagai tamu yang sedang mencari suaka politik. Kerajaan Sriwijaya ketika itu porak poranda akibat diserbu bala tentara Cola Mandala (India). Bukan tanpa alasan jika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya itu memilih Kerajaan Nan Sarunai sebagai tempat tujuan migrasinya. Kerajaan Nan Sarunai ketika itu sudah menjadi negara yang kaya raya yang rakyatnya hidup makmur tiada kurang suatu apa. Tempat yang ideal untuk mencari penghidupan baru ketika itu. Namun, akibat kekayaannya yang melimpah ruah itu pula, maka banyak kerajaan lain yang ada di sekitarnya tergiur untuk menyerbunya dan menjadikannya sebagai negara jajahannya. Pada

tahun 1355, Raja Hayam Wuruk memerintahkan Empu Jatmika untuk memimpin armada pasukan perang Kerajaan Majapahit menyerbu ke Kerajaan Nan Sarunai. Setelah terlibat pertempuran sengit yang banyak menimbulkan korban di ke dua belah pihak, maka pada tahun 1355 itu juga pasukan perang Empu Jatmika berhasil menaklukan Kerajaan Nan Sarunai dan menjadikannya sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit. Peristiwa penaklukan Kerajaan Nan Sarunai oleh Empu Jatmika pada tahun 1355 ini banyak diabadikan oleh para seniman lokal dalam tutur wadian gubahan mereka. Para seniman lokal itu meratapinya sebagai peristiwa usak Jawa (penyerangan Kerajaan Jawa) yang sangat memilukan hati. Wadian adalah sejenis puisi ratapan (eligi) yang dilisankan dalam bahasa Maanyan. Keberadaan wadian berbahasa Maanyan di atas, tak pelak lagi merupakan petunjuk ke dua bahwa Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini. KERAJAAN NEGARA DIPA, 1362-1448 Sesuai dengan rencana yang sudah digagas oleh Raja Hayam Wuruk, orang yang bakal menjadi raja di bekas wilayah Kerajaan Nan Sarunai itu adalah putranya Pangeran Surianata. Tahun 1362, Empu Jatmika mulai mempersiapkan prosesi penjemputan Pangeran Surianata dari Kerajaan Majapahit. Tapi, Empu Jatmika tibatiba jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Tugas penjemputan itu diambil alih oleh anaknya Lambung Mangkurat. Sejak tahun 1362 ini Pangeran Surianata berkuasa di bekas wilayah Kerajaan Nan Sarunai. Ia menobatkan dirinya sebagai raja di Kerajaan Negara Dipa. Nama ini berasal dari bahasa Maanyan dipah ten, artinya kerajaan di seberang situ. Pemakaian kosa-kata bahasa Maanyan dipah ten muntuk menyebut nama Kerajaan Negara Dipa yang didirikan oleh Pangeran Surianata, tak pelak lagi merupakan petunjuk ke tiga bahwa Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini. Pangeran Surianata memusatkan pemerintahannya di sekitar kota Amuntai sekarang ini, tepatnya di pertemuan antara sungai Tabalong dengan sungai Balangan, tak jauh dari lokasi berdirinya Candi Agung sekarang ini. Pasca runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai etnis Maanyan masih mempunyai tokoh pemersatu, yakni Putri Junjung Buih, anak sulung dari raja terakhir Kerajaan Nan Sarunai. Tidak lama berkuasa, Pangeran Surianata menikahi Putri Junjung Buih Sejak itu, tidak ada lagi konplik politik antara orang Jawa sebagai suku bangsa pendatang versus orang Maanyan (berikut suku bangsa lainnya) sebagai suku bangsa penduduk asli di daerah ini.

Selama keberadaannya, Kerajaan Negara Dipa diperintah oleh 5 orang raja, yaitu : Pangeran Surianata (1362-1385), Pangeran Surya Gangga Wangsa (1385-1421), Raden Carang Lalean (1421-1436), Putri Kalungsu (1436-1448), dan Raden Sari Kaburangan (Raden Sekar Sungsang)(1448). KERAJAAN NEGARA DAHA, 1448-1526 Setelah dinobatkan sebagai raja baru, Raden Sari Kaburangan memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Muara Hulak (kota Negara sekarang ini). Tidak hanya itu, Raden Sari Kaburangan juga mengganti nama kerajaannya menjadi Kerajaan Negara Daha. Tampilnya Raden Sari Kaburangan sebagai raja di Kerajaan Negara Daha merupakan peristiwa yang menandai pulihnya kembali hegemoni etnis Maanyan sebagai penguasa di tanah leluhurnya sendiri, sama seperti yang berlaku pada masa-masa kejayaan Kerajaan Nan Sarunai dahulu. Memang, di dalam tubuh Raden Sari Kaburangan mengalir darah Jawa yang diwarisinya dari kakek buyutnya Pangeran Surianata. Namun, darah Jawa itu sudah semakin tawar karena Raden Sari Kaburangan merupakan generasi ke empat (buyut). Ini berarti, secara genetik darah yang mengalir di dalam tubuhnya didominasi oleh darah Maanyan. Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman Kerajaan Negara Daha adalah Candi Laras yang terletak di pinggiran kota Margasari, Tapin. Pengujian C-14 yang dilakukan terhadap tiang bangunan Candi Laras menghasilkan angka tahun dengan kisaran 1240-1426 M (Wasita dkk, 2000:12-13). Selama keberadaannya, Kerajaan Negara Daha diperintah oleh empat orang raja beragama Budha sebagaimana yang tercermin dari Candi Laras yang merujuk kepada ciri-ciri candi Budha, yaitu : Raden Sari Kaburangan (1448-1486), Maharaja Sukarama (1486-1525), Arya Mangkubumi (1525), dan Pangeran Tumanggung (1525-1526). Pada masa pemerintahan Maharaja Sukarama, yakni pada tahun 1511, Kerajaan Negara Daha menerima kedatangan suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Melaka yang terpaksa melakukan migrasi massal ke mana-mana menyusul jatuhnya Kerajaan Melaka ke tangan penguasa kolonial Portugis. Mereka kemudian tinggal menetap di tepi kiri dan kanan Sungai Kuin (sekarang termasuk dalam wilayah kota Banjarmasin) bergabung dengan suku bangsa Melayu di bawah pimpinan Patih Masih yang sudah lama menetap di sana. Pada tahun (1415) terjadi kemelut politik di Kerajaan Negara Daha. Maharaja Sukarama mengeluarkan sabda pandita ratu yang berisi wasiat agar yang dinobatkan sebagai raja baru sepeninggalnya nanti adalah cucunya Pangeran Samudra, bukan anaknya yang tertua Arya Mangkubumi atau anaknya yang ke dua Pangeran Tumanggung.

Namun, wasiat tinggal wasiat, ketika Maharaja Sukarama mangkat, Arya Mangkubumi segera mengambil alih kekuasaan (1416). Tapi, tidak lama kemudian ia tewas terbunuh di tangan Sa’ban seorang pembunuh bayaran yang setia kepada Pangeran Tumanggung (1519). Setelah membunuh Sa’ban, Pangeran Tumanggung menobatkan dirinya sebagai raja yang baru (1519). Pangeran Samudra yang ketika itu masih muda belia segera mengungsi menyelamatkan dirinya ke daerah Muara Kuin, Banjarmasin. Di sini ia ditampung dan dilindungi oleh Patih Masih seorang penguasa setempat. Patih Masih kemudian menobatkan Pangeran Samudra sebagai raja di Muara Kuin (1524) untuk menandingi kekuasaan Pangeran Tumanggung. Tidak lama kemudian terjadilah perang saudara yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak. Pangeran Samudra kemudian meminta bantuan pasukan perang kepada Sultan Trenggono yang ketika itu berkuasa di Kerajaan Demak. Bantuan diberikan dengan syarat Pangeran Samudra harus memeluk agama Islam jika berhasil mengalahkan Pangeran Tumanggung dalam perang saudara itu. KERAJAAN BANJAR, 1526-1905 Pangeran Samudra tampil sebagai pemenang. Pada tanggal 25 September 1526 ia resmi menjadi penguasa tunggal di bekas wilayah Kerajaan Negara Daha (meliputi daerah Kalsel, Kalteng, Kaltim, dan sebagian daerah di Kalbar sekarang ini). Sejak itu Kerajaan Negara Daha berganti nama menjadi Kerajaan Banjar. Pangeran Samudra menobatkan dirinya sebagai raja di raja dengan gelar Sultan Suriansyah. Pusat pemerintahannya berada di Banjarmasin. Kerajaan Banjar merupakan kerajaan pertama yang berideologi Islam di daerah ini. Sebelumnya, kerajaan yang berdiri di daerah ini berideologi Kaharingan (Kerajaan Nan Sarunai), Hindu (Kerajaan Negara Dipa), dan Budha (Kerajaan Negara Daha). Seiring dengan dijadikannya kota Banjarmasin sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Banjar, maka sebagian besar warga negara yang selama ini tinggal di daerah hulu sungai melakukan eksodus besar-besaran ke kota Banjarmasin. Selama keberadaannya, Kerajaan Banjar diperintah oleh 19 orang raja, yaitu : 1. Sultan Suriansyah (1526-1545), 2. Sultan Rahmatullah (1545-1570), 3. Sultan Hidayatullah (1570-1695), 4. Sultan Mustakimbillah (1595-1620) 5. Sultan Inayatullah (1620-1637), 6. Sultan Saidulllah (1637-1642), 7. Sultan Rakyat Allah (1642-1660),

8. Sultan Amrullah Bagus Kesuma (1660-1663), 9. Sultan Agung (1663-1679), --. Sultan Amrulllah Bagus Kusuma (1680-1700), 10. Sultan Hamidullah (1700-1734), 11. Sultan Tamjiddullah (1734-1759), 12. Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah (1759-1761) 13. Sultan Tahmidullah (1761-1801), 14. Sultan Sulaiman (1801-1825) 15. Sultan Adam Al Wasyibillah (1825 -1857) 16. Pangeran Tamjidillah (1857-1859) 18. Pangeran Antasari gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (1862), dan 19. Sultan Muhammad Seman (1862-1905) (Usman, 1994:302-304). IDENTITAS GENETIK, RELIGI, BAHASA, DAN BUDAYA ETNIS BANJAR Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa secara genetik etnis Banjar adalah orang Dayak (Balangan, Bakumpai, Barito, Dusun, Halong, Maanyan, Lawangan, Maratus, Ngaju, Ot Danum, Siang, dan suku bangsa lainnya), yang memilih agama Islam sebagai agama anutannya. Masih berdasarkan paparan di atas, para raja yang berkuasa di Kerajaan Nan Sarunai, Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha, dan Kerajaan Banjar, semuanya berdarah Maanyan. Demi memperkokoh identitasnya sebagai kolektif suku bangsa yang baru, maka selain dilekati dengan identitas genetika (orang Dayak) dan identitas religi (penganut agama Islam), orang Banjar juga mulai dilekati dengan 2 identitas lain, yakni identitas bahasa Banjar sebagai bahasa pergaulan (lingua franca), dan identitas budaya sungai. Identitas Genetik Identitas religi sebagai penganut agama Islam yang saleh mulai dilekatkan sebagai identitas baru kepada penduduk asli Pulau Kalimantan sejak tahun 1526, yakni sejak Sultan Suriansyah memegang tampuk kekuasaan di Kerajaan Banjar yang berideologi ajaran agama Islam. Konsekwensi logis akibat ditetapkannya ajaran agama Islam sebagai ideologi negara adalah ditempatkannya agama Islam sebagai agama resmi di Kerajaan Banjar. Politik religius ini sudah barang tentu akan menempatkan warga negara Kerajaan Banjar yang beragama Islam sebagai warga negara kelas satu. Tertarik dengan ajaran agama Islam yang begitu istimewa berikut status sosial politik yang juga istimewa, maka semakin hari semakin

banyak saja warga negara Kerajaan Banjar yang melepaskan keyakinan lamanya untuk kemudian memeluk agam Islam. Penetapan agama Islam sebagai agama resmi atau ideologi negara di Kerajaan Banjar bukannya tanpa masalah, warga negara Kerajaan Banjar yang beragama Hindu, Budha, Kaharingan, dan penganut agama yang lainnya memilih pindah menjauhi pusat pemerintahan. Warga negara Kerajaan Banjar yang tidak memeluk agama Islam inilah yang di kemudian hari menjadi cikal bakal suku bangsa Balangan, Barito, Dusun, Lawangan, Maratus, Halong, Ngaju, Ot Danum, Siang, dan suku bangsa lainnya. Pada tahun 1895, Dr. August Kaderland memperkenalkan istilah etnis Dayak untuk menyebut semua kolektif suku bangsa penduduk asli Pulau Kalimantan yang belum memeluk agama Islam (Maunati, 2004:59). Pasca runtuhnya Kerajaan Banjar pada tahun 1905, istilah orang Banjar tidak lagi dipahami sebagai istilah kesatuan politik (warga negara Kerajaan Banjar), tetapi sudah mengalami pengerucutan sebagai istilah kesatuan suku bangsa (etnis Banjar). Identitas Religi Agama merupakan penanda identitas yang bersifat situasional yang dengan sadar dapat dilekatkan pada suatu kolektif suku bangsa tertentu, baik oleh suku bangsa itu sendiri, maupun oleh suku bangsa lainnya. Pada kasus-kasus tertentu, seseorang atau sekelompok orang yang pindah agama tidak saja berakibat pada terjadinya perubahan dalam hal identitas agamanya, tetapi juga dapat berakibat pada terjadinya perubahan dalam hal identitas suku bangsanya. Perubahan identitas suku bangsa dimaksud terjadi pada kasus masuk Islamnya suku bangsa Balangan, Barito, Dusun, Lawangan, Maanyan, Maratus, Halong, Ngaju, Ot Danum, dan Siang sejak tahun 1526. Begitu yang bersangkutan pindah keyakinan menjadi pemeluk agama Islam maka identitas suku bangsanya secara praktis akan berubah menjadi orang Banjar. Daud (1997:5) memaparkan bahwa orang Dayak yang memeluk agama Islam akan dikatakan sebagai telah menjadi orang Banjar. Ini berarti, secara genetik orang Banjar adalah orang Dayak yang memeluk agama Islam. Menurut Mahin, orang Dayak yang memeluk agama Islam disebut Hakey (Banjarmasin Post, Sabtu 24 Desember 2005:20). Orang Maanyan yang memeluk agama Islam disebut Matanu atau Mangantis. Kasus semacam ini sudah lama ditemukan dan dipaparkan oleh Saleh dkk (1978), King (1982), Coomans (1987), dan Winzelar (1997). Saleh dkk (1978:13-15) memaparkan bahwa pada zaman Kerajaan Banjar (1524-1905) dahulu, orang-orang Dayak yang memeluk agama

Kaharingan atau memeluk agama Kristen akan tetap menyebut diri mereka sebagai orang Dayak. Sedangkan orang Dayak yang memeluk agama Islam menyebut diri mereka orang Banjar. Pengecualian terjadi pada suku Bakumpai, Baraki, dan Barangas, yang meskipun sudah memeluk agama Islam dan mempergunakan bahasa Banjar sebagai bahasa pergaulannya, namun mereka tidak disebut orang Banjar, tetapi tetap disebut orang Bakumpa, Baraki, dan Barangas. King (1982:27 dan 38), sebagaimana yang dikutipkan Maunati (2004 : 29) memaparkan bahwa orang Dayak Pagan dan orang Dayak Taman (Dayak Ma-loh) akan dianggap sebagai orang Melayu jika yang bersang-kutan memeluk agama Islam. Coomans (1987) sebagaimana yang juga dikutipkan oleh Maunati (2004:29) memaparkan bahwa keDayakan orang Dayak di Kaltim dikaitkan dengan agama Kristen, yakni agama yang dalam kasus ini saling dipertentangkan dengan agama Islam sebagai agama yang dominan di Indonesia. Bila seorang Dayak masuk Islam, mereka tidak lagi dianggap sebagai orang Dayak, tetapi justru menjadi orang Melayu. Proses pergeseran identitas etnisitas semacam ini juga ditemukan faktanya oleh Winzeler (1997:219). Dengan nada serupa Winzeler menengarai orang Dayak Bidayuh yang menjadi muslim tidak lagi diakui oleh suku bangsanya sebagai orang Dayak Bidayuh. Memang, pada tempat-tempat tertentu di Pulau Kalimantan, orang Dayak tidak dengan sendirinya berbeda jauh dari kelompok-kelompok suku bangsa di sekitarnya. Sehubungan dengan kasus-kasus semacam itu Maunati (2004:39) berpendapat sangatlah problematis jika harus menunjukan batasan yang saling membedakan antara orang Dayak di satu pihak dengan orang Melayu di pihak lain. Mengutip Said (1993:xxix), Maunati (2004:30) memaparkan bahwa kebertumpang-tindihan budaya semacam ini barangkali sudah menjadi aturan ketimbang perkecualian. Faktor kesamaan wilayah dapat membuat semua kebudayaan menjadi saling terkait, tidak ada yang tunggal dan murni, semuanya hybrid, heterogen, tidak monolitik, dan tidak ada yang luar biasa. Kelompok Dayak yang menggunakan bahasa Banjar, beragama Islam dan saling bercampur darah karena kawin mawin dengan suku Melayu dan Jawa, lambat laun akan berubah identitas etnisnya menjadi orang Banjar.

Identitas Bahasa
Menurut hasil penelitian Wurm dan Willson (1975), hubungan kekerabatan (kognat) antara bahasa Banjar dengan bahasa Melayu menyentuh angka 85 persen (Jarkasi, 2002:13).

Tapi, ini bukan berarti bahasa Melayu yang mempengaruhi bahasa Banjar, sebaliknya bahasa Banjar yang justru mempengaruhi bahasa Melayu. Banyak di antara kosa-kata bahasa Melayu itu yang berasal atau berakar dari bahasa Banjar. Bukan sebaliknya. Fakta sejarah menunjukkan bahwa suku bangsa Melayu tidak pernah mendominasi kehidupan sosial politik dan sosial budaya di wilayah tempat tinggal purba etnis Banjar (di zaman Kerajaan Nan Sarunai, Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha, dan Kerajaan Banjar). Ketika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Sriwijaya melakukan migrasi pada tahun 1025-1026, Kerajaan Nan Sarunai sudah menjadi negara yang mapan secara sosial politik dan sosial budaya. Begitu pula halnya yang terjadi ketika suku bangsa Melayu warga negara Kerajaan Melaka melakukan migrasi pada tahun 1511, Kerajaan Negara Daha sudah menjadi negara yang mapan secara sosial politik dan sosial budaya. Sehingga bagaimana mungkin suku bangsa Melayu sebagai suku bangsa pendatang yang jumlahnya tidak begitu signifikan dapat melakukan penetrasi sosial budaya yang begitu telak ke jantung peradaban warga negara Kerajaan Nan Sarunai (1025-1026) atau Kerajaan Negara Daha (1511). Bahasa yang mereka pergunakan sebagai bahasa pergaulan (liungua franca) juga berasal dari bahasa yang bersifat semula jadi yang diwarisi oleh nenek moyang mereka ketika masih tinggal di Yunan dahulu. Teori lain yang juga relevan adalah teori Blust (1988), dan Adelaar (1992). Keduanya menolak hipotesis bahwa asal-usul orang Melayu adalah di Semenanjung Melayu (Malaysia dan Kepulauan Riau). Merujuk pada keyakinan Blust dan Adelaar, maka itu berarti bahasa Melayu purba juga tidak berasal dari Semenanjung Melayu sebagaimana yang dulu pernah diyakini oleh para ahli bahasa. Melalui pendekatan keaneka-ragaman bahasa tertinggi (maximun diversity), Collins (1975), dan Notherper (1996) berpendapat bahwa asal-usul bahasa Melayu adalah di Pulau Kalimantan, tepatnya di Kalbar (Budhie, 2003:18, dan Mawardi, 2003:13). Bahasa Melayu purba merupakan bahasa yang terbentuk dari hasil kompilasi bahasa-bahasa yang ada di Pulau Kalimantan, seperti bahasa Banjar, Berau, Iban, Sambas, Sarawak, Ketapang, dan Kutai. Selain berkognat dengan bahasa Melayu, bahasa Banjar juga berkognat dengan sejumlah bahasa lain di Kalsel dan Kalteng. Menurut Zaini HD (2000:4), bahasa Banjar berkognat dengan bahasa Maanyan (32 %), dan dengan bahasa Ngaju (39 %). Fakta ini semakin mengukuhkan premis atau hipotesis bahwa etnis Banjar di Kalsel sesungguhnya memiliki hubungan kekerabatan secara sosial genetika dan sosial budaya dengan suku bangsa Dayak Maanyan, Dayak Ngaju, dan lebih-lebih lagi dengan Dayak Meratus.

Menurut Daud (1997:25), bahasa Dayak Bukit (saudara kita ini lebih senang disapa Dayak Maratus, pen) tidak lain adalah bahasa Banjar yang agak kuno. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Hammer (dalam Cense dan Uhlenback, 1958:59), Adul (1975), Ismail, dkk. (1979), dan Radam (2001:103-104). Hammer (dalam Cense dan Uhlenback, 1958:59) merupakan peneliti pertama yang mengembangkan te-ori bahwa bahasa Bukit merupakan salah satu subdialek Bahasa Banjar Hulu. Adul (1975) berpendapat bahwa bahasa Bukit lebih dekat hubungannya dengan Bahasa Banjar Hulu sehingga dapat saja disebut atau dianggap sebagai Bahasa Banjar purba (arkais). Ismail, dkk. (1979:7-12) juga berkesimpulan bahwa kosa kata, tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat bahasa Bukit lebih dekat dengan Bahasa Banjar Hulu. Selanjutnya, Radam (2001:103-104) semakin memperkokoh teori bahwa bahasa Bukit dan bahasa Banjar Hulu merupakan dua bahasa yang berasal dari satu rumpun yang sama. Berdasarkan argumen yang dipaparkan Daud (1997 :25), maka fakta keserumpunan bahasa ini juga dapat dijadikan sebagai bukti pendukung bahwa orang Banjar sesungguhnya saling berkerabat secara genetika dan budaya dengan orang Dayak pada umumnya, setidak-tidaknya dengan orang Dayak Maratus. Asal-usul nenek-moyang orang Banjar sama dengan etnis Dayak pada umumnya, yakni ras Melayu Malayan Mongoloid yang berasal dari Propinsi Yunan di Republik Rakyat Cina sekarang ini. Bukan ras Melayu yang berasal dari Semenanjung Melayu, Kepulauan Riau, dan Sumatera Selatan. Selain itu, dalam khasanah cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Maratus juga ditemukan legenda yang sifatnya mengakui atau bahkan melegalkan keserumpunan genetika (saling berkerabat secara geneologis) antara orang Banjar dengan orang Dayak Maratus. Dalam cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus dimaksud terungkap bahwa nenek moyang orang Banjar yang bernama Bambang Basiwara adalah adik dari nenek moyang orang Dayak Maratus yang bernama Sandayuhan. Bambang Basiwara digambarkan sebagai adik yang berfisik lemah tapi berotak cerdas. Sedangkan Sandayuhan digambarkan sebagai kakak yang berfisik kuat dan jago berkelahi. Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Maratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Maratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero pegunungan Meratus yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal-usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang

konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan (Tsing, 1998:78-79 dan 405).

Identitas Budaya Sungai
Secara budaya, Idwar Saleh dkk (1978:2) dan Atmojo (dalam Kasnowihardjo, 2004:26) melekatkan identitas sebagai suku bangsa dengan kebudayaan berbasis sungai kepada etnis Banjar di Kalsel. Menurut Saleh dkk (1978:13), suku bangsa Banjar di Kalsel adalah hasil pembauran yang unik dari sejarah sungai-sungai Bahau, Barito, Martapura, dan Tabunio. Masih menurut Saleh dkk (1978:8), seluruh kehidupan manusia di daerah Kalsel, terutama suku Banjar, hampir 80%, sampai ke udik ditandai oleh suatu budaya yang khas, yang disebut kebudayaan sungai. Atmojo (2004:25-26, dalam Kasnowihardjo dkk), memaparkan bahwa sejak zaman purba hingga sampai saat ini sungai-sungai di Kalsel berfungsi sebagai tempat konsentrasi pemukiman penduduk dan menjadi prasarana lalu lintas yang menghubungkan daerah muara dengan pedalaman. Bagi etnis Banjar di Kalsel sungai adalah jantung kehidupan, karena kehidupan mereka sangat dekat dengan sungai. Antara masyarakat dengan sungainya saling berinteraksi, beradaptasi, dan saling isi mengisi. Bermula dari fakta inilah maka etnis Banjar di Kalsel dikenal luas sebagai suku bangsa yang identik dengan budaya sungai. Menurut Saleh dkk (1978:8-9), kampung, bandar, dan keraton yang menjadi tempat konsentrasi pemukiman di Kalsel memang selalu di bangun di muara sungai atau di persimpangan sungai. Selain menghasilkan air untuk minum, mandi, dan mengairi sawah pasang surut, sungai juga menjadi tempat yang ideal untuk ikan berkembang biak. Kampung-kampung di Kalsel dibuat dengan cara memanjang di sepanjang sungai, ada rumah yang dibangun di atas rakit dan ada pula rumah yang dibangun di atas tebing. Pada masa-masa yang telah lalu, di daerah-daerah seperti itulah penduduk di daerah setempat dan para pendatang dari luar daerah membangun pusat-pusat pemerintahan. Kriteria tempat tinggal ideal bagi suku bangsa yang mengakrabi budaya sungai ketika itu adalah tempat yang berdekatan dengan teluk yang dalam dan berair tenang atau tempat berdekatan dengan sungai besar berair dalam. Tapi, teluk atau sungai dimaksud harus terletak di daerah pedalaman, dalam hal ini daerah pedalaman yang mampu memasok air tawar, bahan makanan, dan komoditi perdagangan yang sangat dibutuhkan konsumen di luar negeri, seperti : damar, emas, intan, karet, kayu gaharu, kayu gelondongan, lada, madu, pangan, papan, rotan, sarang

burung walet dan lain-lain. Hubungan perdagangan dengan luar negeri inilah yang menjadi faktor utama tumbuh pesatnya kota-kota pedalaman di tepi sungai dan teluk dimaksud. KONSTRUKSI IDENTITAS KOLEKTIF ETNIS BANJAR Menurut Ericksen (1993), identitas suatu suku bangsa dapat saja dibangun ulang sesuai dengan situasi yang relevan. Konstruksi identitas agama yang terbentuk sebagai akibat dari terjadinya perpindahan agama dalam kasus orang Dayak memeluk agama Islam (Hakey) membuka peluang bagi terbentuknya konstruksi identitas orang Banjar yang lebih kontekstual. Berdasarkan paparan menyangkut identitas genetika, religi, bahasa, dan budaya di atas, maka identitas kontekstual etnis Banjar dapat dikonstruksikan dengan gambaran sebagai berikut. (1) Etnis Banjar merupakan suku bangsa asli pulau Kalimantan, (2) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki profil fisik yang khas identitas ras Melayu asal Propinsi Yunan (Malayan Mongoloid), (3) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki identitas genetika sebagai suku bangsa berdarah Dayak (4) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki identitas agama sebagai penganut agama Islam. (5) Etnis Banjar merupakan suku bangsa yang memiliki identitas budaya sebagai pemakai bahasa Banjar dalam kehidupan kesehariannya (lingua franca), (6) Etnis Banjar adalah suku bangsa yang memiliki identitas budaya sebagai pengusung budaya sungai.

POPULASI ORANG BANJAR Menurut sensus yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2000, jumlah populasi orang Banjar di Kalsel ada sebanyak 2.271.586 jiwa (Wikipedia Indonesia). Masih menurut sumber data yang sama orang Banjar juga ditemukan keberadaannnya dalam jumlah yang signifikan di Kalbar (24.117), Kalteng (435.758), dan Kaltim (340.381). Jumlah orang Banjar di Pulau Jawa, di DKI Jakarta (7.977), dan Jabar (5.923). Sayang sekali data-data populasi orang Banjar di Bali, Banten, DI Yogyakarta, Jatim, Jateng, NTB, dan NTT tidak dicantumkan dalam

sumber di atas. Padahal, jumlah populasi orang Banjar di daerahdaerah tersebut pastilah banyak sekali. Jumlah orang Banjar di Pulau Sumatera, Jambi (83.458), Nangroe Aceh Darussalam (1.726), Riau (179.380), Sumut (111.886), dan Sumsel (921). Sayang sekali data-data populasi orang Banjar di Bengkulu, Lampung, dan Sumbar tidak dicantumkan dalam sumber di atas. Padahal, jumlah populasi orang Banjar di daerah-daerah tersebut pastilah banyak sekali. Keberadaan orang Banjar di daerah-daerah di luar Kalsel sebagaimana yang ditunjukkan oleh data-data BPS tersebut di atas merupakan bukti bahwa orang Banjar termasuk suku bangsa yang suka merantau (bahasa Banjar, madam). Orang Banjar tidak hanya merantau di kawasan NKRI saja, tetapi juga ke luar negeri. Hanya saja datanya belum ada. Khusus populasi orang Banjar di Malaysia, menurut versi situs Joshua Project jumlahnya tidak kurang dari 519.000 orang. Keberadaan orang di luar wilayah domestiknya (Kalsel) tidak hanya pada masa-masa sekarang ini, tetapi sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dahulu. Pada tahun 1930, pemerintah kolonial Belanda melakukan Volkstelling, hasilnya adalah data berikut ini. Jumlah orang Banjar di Pulau Sumatera (77.836 orang), Pulau Sulawesi (2.319 orang), Nusa Tenggara (151 orang), dan di Malaysia Barat (20.339). Sesungguhnya, jauh sebelum tahun 1930, orang Banjar sudah banyak yang pergi merantau ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Fakta sejarah menunjukkan, di antara etnis Banjar yang tinggal di pulau Sumatera dan Semenanjung Melayu, ada yang merupakan anak, cucu, intah, piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar pada tahun 1780, 1862, dan 1905. Pada tahun 1780, terjadi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigran ketika itu adalah para pendukung Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama bangsawan Kerajaan Banjar, yakni raja usurpatur Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah dijatuhi hukuman mati, sehingga darah mereka sudah dihalalkan untuk ditumpahkan. Pada tahun 1862, terjadi lagi migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali ini adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura karena posisi mereka sudah terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang menjadi mus-uh mereka dalam Perang Banjar sudah berhasil menguasai kota-kota besar di wilayah Kerajaan Banjar.

Pangeran Antasari sendiri sudah memindahkan pusat perlawanannya ke daerah Muara Teweh, Kalteng. Pada tahun 1905, etnis Banjar kembali melakukan migrasi besarbesaran ke Pulau Sumatera.Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi raja di Kerajaan Banjar ketika itu mati syahid di tangan pasukan militer Belanda. Sepeninggal Sultan Muhammad Seman, maka praktis mereka akan hidup sebagai warga negara tanpa kelas dari suatu negara yang dijajah Belanda.

Penyebaran suku bangsa Banjar
Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi pendangkalan lautan menjadi daratan. Misalnya pantai masih dekat dengan kota Palembang, demikian pula daerah Simongan, Semarang masih merupakan pantai, sedangkan kota Kudus masih berada di pulau Muria terpisah dari daratan pulau Jawa. Keadaan Geomorfologis pada masa itu juga mempengaruhi penyebaran sukusuku bangsa di Kalimantan. Pada zaman purba pulau Kalimantan bagian selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa. Kalimantan Selatan merupakan sebuah tanjung, sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama. Seperti dalam gambaran Kitab Negarakertagama, Sungai Barito dan Sungai Tabalong pada zaman itu masih merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Pusat-pusat pemukiman kuno pada masa itu terletak di daerah yang sekarang merupakan wilayah sepanjang kaki pegunungan di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Ini berarti bahwa telah terjadi perluasan daratan Kalimantan ke arah laut Jawa sejak ribuan tahun lalu. Menurut pendapat umum, pengaruh Melayu kepada masyarakat Kalimantan lebih dulu terjadi sebelum datangnya pengaruh dari Jawa. Orang Brunei pun juga menyatakan dirinya sebagai keturunan suku Sakai dari pulau Andalas (Sumatera). Diperkirakan suku Kedayan (Brunei), suku Banjar dan beberapa suku yang ada di Kalimantan Barat yang sering disebut kelompok Melayu Lokal, kemungkinan berasal dari satu kelompok induk yang sama (Proto Melayu) yang telah terpisah ratusan tahun dan sebelumnya menyeberang dari pulau Sumatera, kemudian bercampur dengan orang pribumi (Dayak) di daerah masing-masing. Hal ini dapat diketahui dari persamaan beberapa kosa kata dari bahasa Kedayan dan bahasa Banjar, seperti kata bepadah (memberitahu), tatak (potong), tarabah (terjatuh), dan sebagainya. Pengaruh Melayu juga kita dapatkan pada dialek Bahasa Banjar Amuntai dan Banjarmasin yang mengucapkan huruf r dengan cadel. Pendapat lain menyatakan bahwa pulau Borneo (terutama Kalimantan Barat) adalah tanah asal

usul bahasa Melayu, karena banyaknya jenis bahasa Melayu Lokal yang berkembang seperti Sarawak, Iban, Selako, Ketapang, dan Sambas. Diperkirakan kelompok Melayu (baca: Proto Malayic) inilah yang datang pada migrasi ke II yang mendesak kelompok Melanesia (nenek moyang Papua) yang datang pada migrasi I, akhirnya keluar dari Borneo. Tetapi kemudian kelompok Proto Malayic (Iban) terdesak oleh nenek moyang Dayak (migrasi III) yang datang dari pulau Formoso dengan membawa adat pemotongan kepala (ngayau/pengayauan) sehingga sebagian kelompok Proto Malayic migrasi keluar dari Borneo. Proto Malayic menurunkan Proto Malay yang menggunakan bahasa Melayu Lokal (Bukit, Banjar, Kutai dan lainlain). Sedangkan Proto Malay (Proto Melayu) menurunkan suku Melayu yang ada sekarang ini. Demikian pula ada sebagian kelompok Dayak (Maanyan) yang migrasi menuju Madagaskar.

Melayu (Orang Pahuluan)
Migrasi penduduk ke pulau Borneo telah terjadi sejak tahun 400 yang dibuktikan dengan adanya prasasti yupa peninggalan Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur yang menunjukkan adanya masyarakat pendatang yang membawa agama Hindu ke daerah tersebut. Demikian pula di daerah Kalimantan Selatan juga mengalami jejak migrasi penduduk yang panjang. Menurut pendapat sebagian ahli sejarah, orang melayu (melayu kuno) telah datang ke daerah ini pada sekitar abad ke-6. Diperkirakan orang melayu datang melalui selat Karimata yang memisahkan pulau Belitung dengan wilayah kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat yang penduduknya saat ini dikenal dengan sebutan orang Melayu Ketapang. Di sungai Amas, Kabupaten Tapin telah ditemukannya patung Buddha Dipamkara (ketenangan air) yang sering dibawa oleh pelaut dan juga sebuah batu terpotong bertuliskan aksara Pallawa, Siddha (mungkin selengkapnya Jaya Siddha Yatra/Perjalanan yang Mencapai Keberhasilan) menunjukkan pengaruh agama Buddha dan migrasi orang Melayu dari Kerajaan Melayu maupun Sriwijaya abad ke-7 atau sebelumnya. Ketika para imigran orang Melayu (melayu kuno) tersebut yang kemudian dinamakan orang Pahuluan bermigrasi ke wilayah ini (Kalsel), mereka mendarat di sepanjang pesisir sebelah timur teluk raksasa tersebut, dan memasuki sungai-sungai yang berhulu di sepanjang sisi barat pegunungan Meratus dan mendesak suku Maanyan (Dayak Mongoloid) ke arah hulu sungai Tabalong dan sungai Balangan serta mendesak kedudukan Urang Bukit ke hulu sungai di pegunungan Meratus yaitu ke hulu sungai Pitap, sungai Batang Alai, sungai Labuan Amas, sungai Amandit, sungai Tapin, sungai Riam Kanan dan sungai Riam Kiwa. Suku Bukit sebenarnya merupakan orang

melayu kuno (Dayak Melayunoid) yang telah datang pada gelombang pertama ke wilayah ini. Jadi Suku Bukit dan suku Maanyan sebelumnya tinggal lebih ke hilir (dekat pesisir pantai) daripada tempat tinggalnya yang sekarang. Orang Pahuluan mendirikan pemukiman yang terpisah dengan orang Bukit dan orang Maanyan. Sebagian orang Pahuluan tersebut mendarat di sekitar kota Tanjung, Tabalong sekarang ini dan mendirikan Kerajaan Tanjung Puri yang di masa tersebut terletak di tidak jauh dari pantai, mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan yang tinggal di sekitarnya (Tanta, Tabalong). Menurut sebagian pendapat yang lainnya menyatakan bahwa orangorang Dayak Meratus (suku Bukit) berasal dari moyang orang Banjar Hulu yang bergerak naik ke dataran tinggi sebelum etnik Banjar itu sendiri terbentuk. Di wilayah pegunungan Meratus di Kabupaten Balangan merupakan perbatasan antara wilayah pengaruh suku Dayak Maanyan dan suku Dayak Bukit, yaitu suku Dusun Balangan (Dayak Maanyan) yang tinggal hulu sungai Balangan, kecamatan Halong, Balangan di berbatasan dengan orang Dayak Pitap (Dayak Bukit) yang tinggal di hulu sungai Pitap, kecamatan Awayan, Balangan. Suku Bukit tidak mengenal adat ngayau seperti pada kebanyakan suku Dayak, dan mereka tinggal secara komunal dalam "balai" yang bentuk hunian memusat. Hal tersebut kemungkinan suku Bukit (Dayak Bukit) berbeda asalnya dengan suku Dayak rumpun Ot Danum yang diduga berasal dari Formosa (Penduduk Pribumi Taiwan) yang membawa adat ngayau (pemenggalan kepala).

Dayak Maanyan
Suku Dayak Maanyan (Kelompok Barito Timur) bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat pegunungan Meratus dan karena tempat tinggal sebelumnya dekat laut, suku Maanyan telah melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar sekitar tahun 600. Setelah berabad-abad sekarang wilayah suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan tersebut. Suku Maanyan dan suku Bukit yang sebelumnya tinggal dekat laut seolaholah terjebak di daratan dan kehilangan budaya maritim yang mereka miliki sebelumnya.

Wilayah Majapahit
Menurut Kitab Negarakertagama, wilayah lembah sungai Tabalong dan Barito merupakan propinsi Majapahit di kawasan ini. Wilayah Tabalong secara intensif mendapat pengaruh dari pendatang, sehingga berdiri beberapa kerajaan di wilayah ini. Wilayah Tabalong semula merupakan

pemukiman Suku Dayak Maanyan. Sedangkan sebagian wilayah Barito (Tanah Dusun) pada umumnya merupakan pemukiman dari "Orang Dusun" (Dusun, Manyan, Lawangan, dan suku serumpunnya). Kecuali di hilirnya yang merupakan keturunan suku Dayak Ngaju yaitu suku Dayak Bara Dia (Mangkatip) dan Suku Dayak Bakumpai. Suku Dayak Ngaju (Kelompok Barito Barat) bermigrasi dari arah barat Kalimantan Tengah. Suku Ngaju ("Orang Dayak") merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Kelompok dari Suku Dayak Ngaju yang banyak mendapat pengaruh pendatang adalah suku Dayak Bakumpai dan Barangas. Belakangan pengaruh agama Islam menjadi ciri bagi Suku Dayak Bakumpai dan Barangas.

Orang Batang Banyu
Permukiman orang Pahuluan yang semula merupakan daerah pesisir terletak tidak jauh pantai, sekarang menjadi wilayah sepanjang kaki pegunungan Meratus yang sekarang menjadi kota-kota Tanjung, Paringin, Batu Mandi, Birayang, Barabai, Pantai Hambawang (Labuan Amas), Rantau, Binuang, Karang Intan (Kayu Tangi), Pelaihari dan sebagainya. Mereka mendirikan kampung-kampung bubuhan yang masing-masing berdiri sendiri, diantaranya diperkirakan berhasil membentuk pemerintahan lokal yaitu sebuah "kerajaan bubuhan". Setelah sekian lama berlalu, sebagian Orang Pahuluan akhirnya bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah aluvial berawa-rawa di lembah sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan. Pada abad ke-14 di wilayah tersebut terbentuk kerajaan yang didirikan Ampu Jatmika, saudagar dari negeri Keling yang membawa agama Hindu dan mendirikan Candi Laras di daerah Margasari, selanjutnya setelah menaklukan daerah lima aliran sungai yaitu Batang Alai, Tabalong, Balangan, Pitap dan Amandit yang dinamakan daerah Banua Lima, dia kemudian menaklukan wilayah perbukitan yang dihuni orang Bukit (keturunan melayu kuno) dan orang Maanyan (keturunan Ot Danum). Setelah itu dia kemudian mendirikan Candi Agung di Amuntai. Candi-candi tersebut didirikan dengan tiang pancang ulin maupun dengan teknik konstruksi kalang sunduk yang menyesuaikan dengan kondisi tanah lahan basah yang selalu terendam di kala air pasang. Pada masa tersebut beberapa "kerajaan bubuhan" yang merupakan wilayah pemukiman yang masih keturunan sedatuk akhirnya berhasil disatukan dalam satu kesatuan politik yang lebih kuat yaitu "Kerajaan Negara Dipa". Sekitar tahun 1362 wilayah ini menjadi taklukan Majapahit. Inilah pemukiman masyarakat pendatang dengan pusat keraton yang

memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan penduduk asli. Hunian di tepi sungai Negara (sungai Bahan) ini semula terpisah dengan pemukiman orang Pahuluan, orang Bukit (Dayak Melayunoid) maupun orang Maanyan (Dayak Mongoloid) tetapi oleh diffusi kebudayaan keraton Hindu yang dianggap sebagai kebudayaan lebih maju pada zamannya, maka etnis penduduk yang lebih asli tersebut ikut bercampur ke dalam budaya masyarakat Hindu tersebut yang terdiri dan orang Melayu Hindu dan orang Jawa Hindu, percampuran etnis inilah yang merupakan masyarakat "Dayak Heteronoid" yang heterogen yang disebut orang Batang Banyu. "Dayak campuran" seperti ini juga terdapat pada suku Dayak Mualang di Kalbar. Masyarakat kerajaan Hindu inilah yang juga menjadi cikal bakal suku Banjar yang mungkin dapat kita namakan sebagai orang Hindu Batangbanyu (orang Banjar Hindu). Bahasa yang digunakan di wilayah Batangbanyu sejak abad ke-13 telah mendapat pengaruh bahasa JawaMajapahit misalnya kata lawang (pintu), anum (muda) yang berasal dari bahasa Jawa, sedangkan orang Bukit yang tinggal di pegunungan jauh dari pesisir tetap menggunakan beberapa kosa kata bahasa Melayu seperti pintu, muda, dinding, kunyit, padi, balai, dan sebagainya.

Banjar
Wilayah Batang Banyu di Hulu Sungai yaitu daerah tepian sungai Negara dari Kelua hingga muaranya di sungai Barito terdiri dari daerah Margasari dan wilayah Banua Lima terdiri dari kota-kota Kelua, Sungai Banar, Amuntai, Alabio, dan Negara. Dari wilayah inilah "masyarakat Batangbanyu" dipimpin salah seorang bangsawan pelarian dari Kerajaan Hindu (Kerajaan Negara Daha) bermigrasi ke hilir membentuk pusat kerajaan baru dekat muara sungai Barito yaitu di kampung Banjarmasih yang merupakan "enclave" perkampungan masyarakat pendatang terdiri dari orang Melayu dan orang Jawa. Perkampungan ini terletak diantara mayoritas perkampungan orang Barangas (Ngaju), selanjutnya berdatangan imigran pendatang baru secara bergelombang hingga terbentuklah Kesultanan Banjarmasih yang juga menimbulkan diffusi kebudayaan keraton kepada masyarakat sekitarnya (orang Barangas). Dengan berdirinya Kesultanan Banjar maka sesudah tahun 1526 terbentuklah masyarakat yang disebut orang Banjar (Kuala) yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur Melayu, Jawa, Bukit, Maanyan, Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Islamisasi ke pedalaman (Hulu Sungai) begitu intensif sesudah tahun 1526, dan wilayah Kerajaan Negara Daha berhasil ditaklukan sepenuhnya. Sejak tahun

1526 pusat Kerajaan Negara Daha ini dipindahkan oleh Maharaja Tumenggung ke daerah Alai di pedalaman. Berita dari Kesultanan Pasir mengatakan bahwa karena kemelut yang terjadi di kerajaan KuripanDaha sekitar tahun 1565, pelarian dari kerajaan tersebut yaitu Tumenggung Duyung dan Tumenggung Tukiu telah mendirikan kerajaan Sadurangas (Pasir) di Kalimantan Timur. Dengan diterimanya agama Islam oleh orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu sesudah tahun 1526 maka sebutan orang Pahuluan dan orang (Hindu) Batangbanyu dapat kita namakan dengan sebutan orang Banjar Pahuluan dan orang Banjar Batangbanyu, sedangkan orang Bukit (urang Bukit) yang sebenarnya masih keturunan Melayu (Dayak Melayunoid) tetap teguh mempertahankan agama suku dan belum menerima agama Islam, maka mereka dikategorikan sebagai "dayak" dengan sebutan Dayak Bukit. Orang Maanyan yang sejak semula menganut agama Kaharingan memang penduduk asli Borneo (orang Dayak), yaitu keturunan Dayak rumpun Ot Danum (Dayak Mongoloid). Suku Banjar merupakan kumpulan etnis yang besar dan kompleks, jadi berbeda dengan suku Dayak Bakumpai, suku Dayak Bara Dia, suku Dayak Dusun Deyah, suku Dayak Maanyan, Suku Dayak Dusun Witu dan lain-lain, masing-masing suku ini merupakan suku yang masih seketurunan sedatuk yang geneologis dan jumlahnya relatif lebih sedikit dari suku Banjar. Dari wilayah Kalimantan Selatan, suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan.

Migrasi ke Kalimantan Timur
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Kesultanan Pasir Belengkong) di daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di Kalimantan Timur.

Migrasi ke Kalimantan Tengah
Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Musta'inbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kesultanan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.

Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an. Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (GustiInu Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang bergelar Sultan Muhammad Seman.

Migrasi ke Sumatera
Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Kesultanan Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura yang menjabat sebagai Mufti Kesultanan Indragiri.

Migrasi ke Malaysia
Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke negeri Kedah, Perak( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah(Sandakan, Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan Negeri Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan.

Pembagian Suku Banjar
Sebutan Orang Banjar mulai digunakan sesudah tahun 1526 sejalan dengan proses islamisasi di wilayah inti Kesultanan Banjar sehingga terbentuklah 3 kelompok suku Banjar berdasarkan persfektif historisnya dengan melihat kawasan teritorialnya dan unsur pembentuknya maka suku Banjar dibagi menjadi :
• •

Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok) Banjar Batang Banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)

Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok)

Dengan mengambil pendapat Idwar Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan, dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.

Ulama Banjar
Ulama Banjar adalah ulama yang berasal dari Tanah Banjar maupun berketurunan suku Banjar. Diantaranya :

Ulama yang sudah wafat :

1. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari/Datu Kalampaian, mufti Kesultanan Banjar,Kalsel 2. Syekh Muhammad Nafis al-Banjari/Datu Nafis, pengarang Kitab Ad-Durrun Nafis 3. Syekh Abdurrahman Siddiq/Datu Sapat, mufti Kerajaan Indragiri, Riau. 4. Yususf Saigon al-Banjari 5. Datu Sanggul 6. Datu Ambulung 7. Datu Nuraya 8. Guru Sekumpul

Malaysia

1. Syekh Syihabuddin al-Banjari 2. Tuan Guru Muhammad Saman Bin Muhammad (1922-1995) Ustadz Mat Saman Kati, ulama tasawuf dari Perak, Malaysia 3. Dato Ishak Baharom, mantan mufti negeri Selangor. 4. Syekh Husein Kedah Al Banjari, mantan mufti negeri Kedah

Di Kalimantan Selatan, istilah Datu untuk ulama yang sudah wafat artinya sama dengan sebutan Sunan kalau di Jawa.

Ulama Banjar masih hidup :

1. Guru Danau 2. Ustadz Muhammad Arifin Ilham 3. Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria, mufti negeri Perak, Malaysia 4. Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Abdullah AlBanjary AlMakky,salah satu ulama kontemporer madzhab syafi'ie di Nusantara, pengarang dan pentahqiq puluhan buku berbahasa Arab

Seni tradisional Banjar
Seni tradisional Banjar adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suku Banjar. Tradisional adalah aksi dan tingkah laku yang keluar alamiah karena kebutuhan dari nenek moyang yang terdahulu. Tradisi adalah bagian dari tradisional namun bisa musnah karena ketidamauan masyarakat untuk mengikuti tradisi tersebut. Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba relegius. Disamping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional. Ikatan kekerabatan mulai longgar dibanding dengan masa yang lalu, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan. Emosi keagamaan masih jelas nampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan. Urang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan assimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun

dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha. Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar nampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transport, tari, nyanyian dsb. Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal, meliputi berbagai cabang seni.

Seni Tari
Seni Tari suku Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama "Baksa" yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Seni tari daerah Banjar yang terkenal misalnya :
• • • • • • • • • • •

Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung. Tari Baksa Panah Tari Baksa Dadap Tari Baksa Lilin Tari Baksa Tameng Tari Radap Rahayu, dalam upacara perkawinan Tari Kuda Kepang Tari Japin/Jepen Tari Tirik Tari Gandut Tarian Banjar lainnya

Seni Karawitan
Karawitan adalah seni suara daerah baik vokal atau instrumental yang mempunyai klarifikasi dan perkembangan dari daerahnya itu sendiri. Karawitan di bagi 3, yaitu :
• • •

Karawitan Sekar, Karawitan Gending, Karawitan Sekar Gending

Karawitan Sekar
Karawitan Sekar merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan terhadap unsur vokal atau suara manusia.

Karawitan Gending
Karawitan Gending merupakan salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya lebih mengutamakan unsur instrumental atau alat musik.

Karawitan Sekar Gending
Karawitan Sekar Gending adalah salah satu bentuk kesenian yang dalam penyajiannya terdapat unsur gabungan antara karawitan sekar dan gending Pengertian dari karawitan itu sendiri secara khusus dapat diartikan sebagai Seni Musik Tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia. Penyebaran seni karawitan terdapa di Pulau Jawa, Sumatra, Madura dan Bali. Karawitan memainkan alat musik bernama gamelan, sebagai contoh Gamelan Pelog/Salendro, Gamelan Cirebon, Gamelan Degung dan Gamelan Cianjuran (untuk bentuk sajian ensemble/kelompok). Dalam prakteknya, karawitan biasa digunakan untuk mengiringi tarian dan nyanyian, tapi tidak tertutup kemungkinan untuk mengadakan pementasan musik saja.

Gamelan Banjar
Gamelan Banjar adalah seni karawitan dengan peralatan musik gamelan yang berkembang di kalangan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Gamelan Banjar yang ada di Kalsel ada 2 versi yaitu :

1. Gamelan Banjar versi keraton 2. Gamelan Banjar versi rakyatan

Gamelan Banjar versi Rakyatan koleksi Museum Lambung Mangkurat.

Gamelan Banjar versi keraton
Gamelan Banjar versi keraton, perangkat instrumennya : 1. babun 2. gendang dua 3. rebab 4. gambang 5. selentem 6. ketuk 7. dawu 8. sarun 1 9. sarun 2 10. sarun 3 11. seruling 12. kanung 13. kangsi 14. gong besar 15. gong kecil

Gamelan Banjar versi rakyatan
Gamelan Banjar versi rakyatan, perangkat instrumennya : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. babun dawu sarun sarantam kanung kangsi gong besar

8. gong kecil

Perkembangan
Dalam perkembangannya musik gamelan Banjar versi keraton semakin punah. Sementara musik Gamelan Banjar versi rakyatan hingga saat ini masin eksis.

Sejarah
Gamelan Banjar keberadaannya sudah ada sejak zaman Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14 yang dibawa oleh Pangeran Suryanata ke Kalimantan Selatan bersamaan dengan kesenian Wayang Kulit Banjar dan senjata keris sebagai hadiah kerajaan Majapahit. Pada masa itu masyarakat Kalsel pada waktu itu dianjurkan untuk meniru budaya Jawa. Pasca runtuhnya Kerajaan Negara Daha (1526), ada beberapa pemuka adat yang mengajarkan seni gamelan dan seni lainnya kepada masyarakat yaitu : 1. Datu Taruna sebagai penggamelan 2. Datu Taya sebagai dalang wayang kulit 3. Datu Putih sebagai penari topeng Masa Pangeran Hidayatulla, penabuh-penabuh gamelan disuruh belajar menabuh gamelan di keraton Solo. Dalam hal itu hingga sekarang, baik pukulan dan lainnya menjadi panutan gamelan Gusti-gustian, terutama sekali pukulan yang hanya ditambah dua kali akhir gong. Selain itu, tidak ditemukan lagi gamelan yang lengkap seperti Simanggu Besar dan Simanggu Kecil, namun yang dikenal hanya lagu : ayakan, perangan, geol, mas mirah dan perang alun.

Kaliningan Hulu Sungai
Di daerah Hulu Sungai group yang dipimpin Utuh Aini menguasai rumpun Kaliningan yang awalnya dikembangkan Dalang Tulur, Dalang Asra, Sarbaini, Busrajuddin dan Aci. Karena Kaliningan Hulu Sungai bersifat praktis cukup ditabuh hanya 8 orang. Gamelan tersebut terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 2 1 1 1 buah buah buah buah sarun sarantam kanung katuk

5. 6. 7. 8.

1 buah kangsi 1 buah babun gong besar gong kecil

Lagu Daerah
Lagu daerah Banjar yang terkenal misalnya :
• • • • • •

Ampar-Ampar Pisang Sapu Tangan Babuncu Ampat Paris Barantai Lagu Banjar lainnya Daftar penyanyi lagu-lagu Banjar Daftar pencipta lagu-lagu Banjar

Seni Rupa Dwimatra

Seni Anyaman
Seni anyaman dengan bahan rotan, bambu dan purun sangat artistik. Anyaman rotan berupa tas dan kopiah.

Seni Lukisan Kaca
Seni lukisan kaca berkembang pada tahun lima puluhan, hasilnya berupa lukisan buroq, Adam dan Hawa dengan buah kholdi, kaligrafi masjid dan sebagainya. Ragam hiasnya sangat banyak diterapkan pada perabot berupa tumpal, sawstika, geometris, flora dan fauna.

Seni Tatah/Ukir

Motif jambangan bunga dan tali bapilin dalam seni tatah ukir Banjar Seni ukir terdiri atas tatah surut (dangkal) dan tatah babuku (utuh). Seni ukir diterapkan pada kayu dan kuningan. Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian-bagian rumah dan masjid, bagianbagian perahu dan bagian-bagian cungkup makam. Ukiran kuningan diterapkan benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggan, meriam kecil dan sebagainya. Motif ukiran misalnya Pohon Hayat, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung, geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki.

Pencak Silat Kuntau Banjar
Pencak Silat Kuntau Banjar adalah ilmu beladiri yang berkembang di Tanah Banjar dan daerah perantaun suku Banjar.

Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat)
Rumah adat Banjar ada beberapa jenis, tetapi yang paling menonjol adalah Rumah Bubungan Tinggi yang merupakan tempat kediaman raja (keraton). Jenis rumah yang ditinggali oleh seseorang menunjukkan status dan kedudukannya dalam masyarakat. Jenis-jenis rumah Banjar: Rumah Bubungan Tinggi, kediaman raja Rumah Gajah Baliku, kediaman saudara dekat raja Rumah Gajah Manyusu, kediaman "pagustian" (bangsawan) Rumah Balai Laki, kediaman menteri dan punggawa Rumah Balai Bini, kediaman wanita keluarga raja dan inang pengasuh 6. Rumah Palimbangan, kediaman alim ulama dan saudagar 7. Rumah Palimasan (Rumah Gajah), penyimpanan barang-barang berharga (bendahara) 8. Rumah Cacak Burung (Rumah Anjung Surung), kediaman rakyat biasa 9. Rumah Tadah Alas 10. Rumah Lanting, rumah diatas air 11. Rumah Joglo Gudang 12. Rumah Bangun Gudang 1. 2. 3. 4. 5.

Jukung Banjar

Miniatur jukung gundul suku Banjar Erik Petersen telah mengadakan penelitian tentang jukung Banjar dalam bukunya Jukungs Boat From The Barito Basin, Borneo. Jukung adalah transportasi khas Kalimantan. Ciri khasnya terletak pada teknik pembuatannya yang mempertahankan sistem pembakaran pada rongga batang kayu bulat yang akan dibuat menjadi jukung. Jenis Jukung : 1. Jukung Sudur (rangkaan) 1. Jukung Sudur Biasa 2. Jukung Sudur Bakapih 3. Jukung Sudur Anak Ripang 2. Jukung Patai 1. Jukung Biasa 2. Jukung Hawaian 3. Jukung Kuin 4. Jukung Pelanjan 5. Jukung Ripang Hatap 6. Jukung Pemadang 3. Jukung Batambit 1. Jukung Tambangan 2. Jukung Babanciran 3. Jukung Undaan 4. Jukung Parahan 5. Jukung Gundul 6. Jukung Pandan Liris 7. Jukung Tiung Jenis perahu lainnya misalnya : 1. Penes 2. Kelotok

Wayang Banjar
Wayang Banjar terdiri dari : 1. Wayang kulit Banjar 2. Wayang gung/wayang Gong yaitu (wayang orang versi suku Banjar

Mamanda
Mamanda merupakan seni teater tradisonal suku Banjar.

Tradisi Bananagaan
1. Naga Badudung 2. Kepala Naga Gambar Sawit 3. Kepala Naga Darat

Seni Tradisonal Banjar Berbasis Sastra (Folklor Banjar)
Lamut Madihin

Etimologi dan definisi
Madihin berasal dari kata madah dalam bahasa Arab artinya nasihat, tapi bisa juga berarti pujian. Puisi rakyat anonim bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis Banjar di Kalsel saja. Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar. Tajuddin Noor Ganie (2006) mendefinisikan Madihin dengan rumusan sebagai berikut : puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel.

Bentuk fisik
Masih menurut Ganie (2006), Madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait. Setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah. Jumlah baris dalam satu baitnya minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk kepada pola sajak akhir vertikal a/a/a/a, a/a/b/b atau a/b/a/b. Semua baris dalam setiap baitnya berstatus isi (tidak ada yang berstatus sampiran sebagaimana halnya

dalam pantun Banjar) dan semua baitnya saling berkaitan secara tematis. Madihin merupakan genre/jenis puisi rakyat anonim berbahasa Banjar yang bertipe hiburan. Madihin dituturkan di depan publik dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks) oleh 1 orang, 2 orang, atau 4 orang seniman Madihin (bahasa Banjar Pamadihinan). Anggraini Antemas (dalam Majalah Warnasari Jakarta, 1981) memperkirakan tradisi penuturan Madihin (bahasa Banjar : Bamadihinan) sudah ada sejak masuknya agama Islam ke wilayah Kerajaan Banjar pada tahun 1526.

Status Sosial dan Sistim Mata Pencaharian Pamadihinan
Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa Banjar Bakarasmin) yang digelar dalam rangka memperintai hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, menyambut kelahiran anak, pasar malam, penyuluhan, perkawinan, pesta adat, pesta panen, saprah amal, upacara tolak bala, dan upacara adat membayar hajat (kaul, atau nazar). Orang yang menekuni profesi sebagai seniman penutur Madihin disebut Pamadihinan. Pamadihinan merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri, baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamadihinan, yakni : (1) terampil dalam hal mengolah kata sesuai dengan tuntutan struktur bentuk fisik Madihin yang sudah dibakukan secara sterotipe, (2) terampil dalam hal mengolah tema dan amanat (bentuk mental) Madihin yang dituturkannya, (3) terampil dalam hal olah vokal ketika menuturkan Madihin secara hapalan (tanpa teks) di depan publik, (4) terampil dalam hal mengolah lagu ketika menuturkan Madihin, (5) terampil dalam hal mengolah musik penggiring penuturan Madihin (menabuh gendang Madihin), dan (6) terampil dalam hal mengatur keserasian penampilan ketika menuturkan Madihin di depan publik. Tradisi Bamadihinan masih tetap lestari hingga sekarang ini. Selain dipertunjukkan secara langsung di hadapan publik, Madihin juga disiarkan melalui stasiun radio swasta yang ada di berbagai kota besar di Kalsel. Hampir semua stasiun radio swasta menyiarkan Madihin satu kali dalam seminggu, bahkan ada yang setiap hari. Situasinya menjadi

semakin bertambah semarak saja karena dalam satu tahun diselenggarakan beberapa kali lomba Madihin di tingkat kota, kabupaten, dan provinsi dengan hadiah uang bernilai jutaan rupiah. Tidak hanya di Kalsel, Madihin juga menjadi sarana hiburan alternatif yang banyak diminati orang, terutama sekali di pusat-pusat pemukiman etnis Banjar di luar daerah atau bahkan di luar negeri. Namanya juga tetap Madihin. Rupa-rupanya, orang Banjar yang pergi merantau ke luar daerah atau ke luar negeri tidak hanya membawa serta keterampilannya dalam bercocok tanam, bertukang, berniaga, berdakwah, bersilat lidah (berdiplomasi), berkuntaw (seni bela diri), bergulat, berloncat indah, berenang, main catur, dan bernegoisasi (menjadi calo atau makelar), tetapi juga membawa serta keterampilannya bamadihinan (baca berkesenian). Para Pamadihinan yang menekuni pekerjaan ini secara profesional dapat hidup mapan. Permintaan untuk tampil di depan publik relatif tinggi frekwensinya dan honor yang mereka terima dari para penanggap cukup besar, yakni antara 500 ribu sampai 1 juta rupiah. Beberapa orang di antaranya bahkan mendapat rezeki nomplok yang cukup besar karena ada sejumlah perusahaan kaset, VCD, dan DVD di kota Banjarmasin yang tertarik untuk menerbitkan rekaman Madihin mereka. Hasil penjualan kaset, VCD, dan DVD tersebut ternyata sangatlah besar. Pada zaman dahulu kala, ketika etnis Banjar di Kalsel masih belum begitu akrab dengan sistem ekonomi uang, imbalan jasa bagi seorang Pamadihinan diberikan dalam bentuk natura (bahasa Banjar : Pinduduk). Pinduduk terdiri dari sebilah jarum dan segumpal benang, selain itu juga berupa barang-barang hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan.

Keberadaan Madihin di Luar Daerah Kalsel
Madihin tidak hanya disukai oleh para peminat domestik di daerah Kalsel saja, tetapi juga oleh para peminat yang tinggal di berbagai kota besar di tanah air kita. Salah seorang di antaranya adalah Pak Harto, Presiden RI di era Orde Baru ini pernah begitu terkesan dengan pertunjukan Madihin humor yang dituturkan oleh pasangan Pamadihinan dari kota Banjarmasin Jon Tralala dan Hendra. Saking terkesannya, beliau ketika itu berkenan memberikan hadiah berupa ongkos naik haji plus (ONH Plus) kepada Jon Tralala. Selain Jhon Tralala dan Hendra, di daerah Kalsel banyak sekali bermukim Pamadihinan terkenal, antara lain : Mat Nyarang dan Masnah pasangan Pamadihinan yang paling senior di kota Martapura), Rasyidi dan Rohana(Tanjung), Imberan dan Timah (Amuntai), Nafiah dan Mastura

Kandangan), Khair dan Nurmah (Kandangan), Utuh Syahiban Banjarmasin), Syahrani (Banjarmasin), dan Sudirman(Banjarbaru). Madihin mewakili Kalimantan Timur pada Festival Budaya Melayu.

Datu Madihin, Pulung Madihin, dan Aruh Madihin
Pada zaman dahulu kala, Pamadihinan termasuk profesi yang lekat dengan dunia mistik, karena para pengemban profesinya harus melengkapi dirinya dengan tunjangan kekuatan supranatural yang disebut Pulung. Pulung ini konon diberikan oleh seorang tokoh gaib yang tidak kasat mata yang mereka sapa dengan sebutan hormat Datu Madihin. Pulung difungsikan sebagai kekuatan supranatural yang dapat memperkuat atau mempertajam kemampuan kreatif seorang Pamadihinan. Berkat tunjangan Pulung inilah seorang Pamadihinan akan dapat mengembangkan bakat alam dan kemampuan intelektualitas kesenimanannya hingga ke tingkat yang paling kreatif (mumpuni). Faktor Pulung inilah yang membuat tidak semua orang Banjar di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai Pamadihinan, karena Pulung hanya diberikan oleh Datu Madihin kepada para Pamadihinan yang secara genetika masih mempunyai hubungan darah dengannya (hubungan nepotisme). Datu Madihin yang menjadi sumber asal-usul Pulung diyakini sebagai seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari, alam pantheon yang tidak kasat mata, tempat tinggal para dewa kesenian rakyat dalam konsep kosmologi tradisonal etnis Banjar di Kalsel. Datu Madihin diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal bakal keberadaan Madihin di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Konon, Pulung harus diperbarui setiap tahun sekali, jika tidak, tuah magisnya akan hilang tak berbekas. Proses pembaruan Pulung dilakukan dalam sebuah ritus adat yang disebut Aruh Madihin. Aruh Madihin dilakukan pada setiap bulan Rabiul Awal atau Zulhijah. Menurut Saleh dkk (1978:131), Datu Madihin diundang dengan cara membakar dupa dan memberinya sajen berupa nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan minyak likat baboreh. Jika Datu Madihin berkenan memenuhi undangan, maka Pamadihinan yang mengundangnya akan kesurupan selama beberapa saat. Pada saat kesurupan, Pamadihinan yang bersangkutan akan menuturkan syairsyair Madihin yang diajarkan secara gaib oleh Datu Madihin yang menyurupinya ketika itu. Sebaliknya, jika Pamadihinan yang bersangkutan tidak kunjung kesurupan sampai dupa yang dibakarnya habis semua, maka hal itu merupakan pertanda mandatnya sebagai

Pamadihinan telah dicabut oleh Datu Madihin. Tidak ada pilihan bagi Pamadihinan yang bersangkutan, kecuali mundur teratur secara sukarela dari panggung pertunjukan Madihin

Peribahasa Banjar Berbentuk Puisi

Etimologi dan Definisi
Secara etimologis, istilah peribahasa menurut Winstead (dalam Usman, 1954) berasal dari bahasa Sanksekerta pari dan bhasya, yakni bahasa (bhasya)yang yang disusun secara beraturan (pari). Etnis Banjar di Kalsel menyebut peribahasa dengan istilah paribasa (Hapip, 2001:137), istilah ini hampir sama dengan istilah paribasan dalam bahasa Jawa yang digunakan di DI Yogyakarta, Jateng, dan Jatim. Menurut Tajuddin Noor Ganie (2006:1) dalam bukunya berjudul Jatidiri Puisi Rakyat Etnis Banjar di Kalsel, peribahasa Banjar ialah kalimat pendek dalam bahasa Banjar yang pola susunan katanya sudah tetap dengan merujuk kepada suatu format bentuk tertentu (bersifat formulaik), dan sudah dikenal luas sebagai ungkapan tradisional yang menyatakan maksudnya secara samar-samar, terselubung, dan berkias dengan gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan. Berdasarkan karakteristik bentuk fisiknya, peribahasa Banjar menurut Ganie (2006:1) dapat dipilah-pilah menjadi 2 kelompok besar, yakni : 1. Peribahasa Banjar berbentuk puisi, terdiri atas : 1. Gurindam 2. Kiasan 3. Mamang Papadah 4. Pameo Huhulutan 5. Saluka 6. Tamsil 2. Peribahasa Banjar berbentuk kalimat, terdiri atas : 1. Ibarat 2. Papadah 3. Papatah-patitih 4. Paribasa 5. Paumpamaan. Perbedaan bentuk fisik antara peribahasa Banjar yang berbentuk puisi dengan peribahasa Banjar yang berbentuk kalimat terletak pada jenis gaya bahasa yang dipergunakannya. Peribahasa berbentuk puisi mempergunakan gaya bahasa perulangan, sementara peribahasa

berbentuk kalimat mempergunakan gaya bahasa perbandingan, pertautan, dan pertentangan.

Simpulan
Berdasarkan paparan dan contoh-contoh di atas, maka dapat disimpulkan semua ragam/jenis peribahasa Banjar berbentuk puisi, setidak-tidaknya memiliki salah satu dari 3 ciri karakteristik bentuk, yakni : 1. adanya pengulangan atas kosa-kata yang sama, 2. adanya kosa-kata yang hampir sama secara morfologis, dan 3. adanya kosa-kata yang saling bersajak a/a/a/a, a/b/a/b, dan a/b/b/a baik secara vertikal maupun secara horisontal di awal, di tengah, atau di akhir baris/larisk. Ciri-ciri karakteristik bentuk yang demkian itu identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi).

Pantun Banjar

Etimologi, Definisi, dan Bentuk Fisik
Pantun merupakan pengembangan lebih lanjut dari Peribahasa Banjar. Istilah pantun sendiri menurut Brensetter sebagaimana yang dikutipkan Winstead (dalam Usman, 1954) berasal dari akar kata tun yang kemudian berubah menjadi tuntun yang artinya teratur atau tersusun. Hampir mirip dengan tuntun adalah tonton dalam bahasa Tagalog artinya berbicara menurut aturan tertentu (dalam Semi, 1993:146-147). Sesuai dengan asal-usul etimologisnya yang demikian itu, maka pantun memang identik dengan seperangkat kosa-kata yang disusun sedemikian rupa dengan merujuk kepada sejumlah kriteria konvensional menyangkut bentuk fisik dan bentuk mental puisi rakyat anonim. Setidak-tidaknya ada 6 kriteria konvensional yang harus dirujuk dalam hal bentuk fisik dan bentuk mental pantun ini, yakni : (1) setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah, (2) jumlah baris dalam satu baitnya minimal 2 baris (pantun kilat) dan 4 baris (pantun biasa dan pantun berkait), (3) pola formulaik persajakannya merujuk kepada sajak akhir vertikal dengan pola a/a (pantun kilat), a/a/a/a, a/a/b/b, dan a/b/a/b (pantun biasa dan pantun berkait), (4) khusus untuk pantun kilat, baris 1 berstatus sampiran dan baris 2 berstatus isi, (5) khusus untuk pantun biasa dan pantun berkait, baris 1-2 berstatus sampiran dan baris 3-4 berstatus isi, dan (6) lebih khusus

lagi, pantun berkait ada juga yang semua barisnya berstatus isi, tidak ada yang berstatus sampiran. Zaidan dkk (1994:143)mendefinisikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 larik dengan rima akhir a/b/a/b. Setiap larik biasanya terdiri atas 4 kata, larik 1-2 merupakan sampiran, larik 3-4 merupakan isi. Berdasarkan ada tidaknya hubungan antara sampiran dan isi ini, pantun dapat dipilah-pilah menjadi 2 genre/jenis, yakni pantun mulia dan pantun tak mulia. Disebut pantun mulia jika sampiran pada larik 1-2 berfungsi sebagai persiapan isi secara fonetis dan sekaligus juga berfungsi sebagai isyarat isi. Sementara, pantun tak mulia adalah pantun yang sampirannya (larik 1-2) berfungsi sebagai persiapan isi secara fonetis saja, tidak ada hubungan semantik apa-apa dengan isi pantun di larik 3-4. Sementara Rani (1996:58) mendefinsikan pantun sebagai jenis puisi lama yang terdiri atas 4 baris dalam satu baitnya. Baris 1-2 adalah sampiran, sedang baris 3-4 adalah isi. Baris 1-3 dan 2-4 saling bersajak akhir vertikal dengan pola a/b/a/b. Hampir semua suku bangsa di tanah air kita memiliki khasanah pantunnya masing-masing. Menurut Sunarti (1994:2), orang Jawa menyebutnya parikan, orang Sunda menyebutnya sisindiran atau susualan, orang Mandailing menyebutnya ende-ende, orang Aceh menyebutnya rejong atau boligoni, sementara orang Melayu, Minang, dan Banjar menyebutnya pantun. Dibandingkan dengan genre/jenis puisi rakyat lainnya, pantun merupakan puisi rakyat yang murni berasal dari kecerdasan linguistik local genius bangsa Indonesia sendiri. Istilah pantun tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Banjar, sehubungan dengan itu istilah ini langsung saja diadopsi untuk memberi nama fenomena yang sama yang ada dalam khasanah puisi rakyat anonim berbahasa Banjar (Folklor Banjar). Dalam definisi yang sederhana pantun Banjar adalah pantun yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar. Definisi pantun Banjar menurut rumusan Tajuddin Noor Ganie (2006) adalah puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi khusus yang berlaku dalam khasanah folklor Banjar.

Fungsi Sosial Pantun Banjar
Pada masa-masa Kerajaan Banjar masih jaya-jayanya (1526-1860), pantun tidak hanya difungsikan sebagai sarana hiburan rakyat semata, tetapi juga difungsikan sebagai sarana retorika yang sangat fungsional, sehingga para tokoh pimpinan masyarakat formal dan informal harus mempelajari dan menguasainya dengan baik, yakni piawai dalam mengolah kosa-katanya dan piawai pula dalam membacakannya. Tidak hanya itu, di setiap desa juga harus ada orang-orang yang secara khusus menekuni karier sebagai tukang olah dan tukang baca pantun (bahasa Banjar Pamantunan). Uji publik kemampuan atas seorang Pamantunan yang handal dilakukan langsung di depan khalayak ramai dalam ajang adu pantun atau saling bertukar pantun yang dalam bahasa Banjar disebut Baturai Pantun. Para Pamantunan tidak boleh tampil sembarangan, karena yang dipertaruhkan dalam ajang Baturai Pantun ini tidak hanya kehormatan pribadinya semata, tetapi juga kehormatan warga desa yang diwakilinya.

Status Sosial Pamantunan
Pamantunan merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri dengan mengandalkan kemampuannya dalam mengolah kosa-kata berbahasa Banjar sehingga dapat dijadikan sebagai sarana retorika yang fungional. Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamantunan, yakni : (1) terampil mengolah kosa-katanya sesuai dengan tuntutan yang berlaku dalam struktur bentuk fisik pantun Banjar, (2) terampil mengolah tema dan amanat yang menjadi unsur utama bentuk mental pantun Banjar, (3) terampil mengolah vokal ketika menuturkannya sebagai sarana retorika yang fungsional di depan khalayak ramai, (4) terampil mengolah lagu ketika menuturkannya sebagai sarana retorika yang fungsional, (5) terampil dalam hal olah musik penggiring penuturan pantun (menabuh gendang pantun), dan (6) terampil dalam menata keserasian penampilannya sebagai seorang Pamantunan.

Datu Pantun, Pulung Pantun, dan Aruh Pantun
Tuntutan profesional yang begitu sulit untuk dipenuhi oleh seorang Pamantunan membuatnya tergoda untuk memperkuat tenaga kreatifnya dengan cara-cara yang bersifat magis, akibatnya, profesi Pamantunan pada zaman dahulu kala termasuk profesi kesenimanan

yang begitu lekat dengan dunia mistik. Dalam hal ini sudah menjadi kelaziman di kalangan Pamantunan ketika itu untuk memperkuat atau mempertajam kemampuan kreatif profesionalnya dengan kekuatan supranatural yang disebut Pulung. Pulung adalah kekuatan supranatural yang berasal dari alam gaib yang diberikan oleh Datu Pantun. Konon, berkat Pulung inilah seorang Pamantunan dapat mengembangkan bakat alam dan intelektualitasnya hingga ke tingkat yang paling kreatif (mumpuni). Faktor Pulung inilah yang membuat tidak semua orang Banjar di Kalsel dapat menekuni profesi sebagai Pamantunan, karena Pulung hanya diberikan kepada oleh Datu Pantun kepada Pamantunan yang secara genetika masih mempunyai hubungan darah dengannya (hubungan nepotisme). Datu Pantun adalah seorang tokoh mistis yang bersemayam di Alam Banjuran Purwa Sari, alam pantheon yang tidak kasat mata, tempat tinggal para dewa kesenian rakyat. Datu Pantun diyakini sebagai orang pertama yang secara geneologis menjadi cikal bakal pantun di kalangan etnis Banjar di Kalsel. Konon, Pulung harus diperbarui setiap tahun, jika tidak, maka tuah magisnya akan hilang tak berbekas lagi. Proses pembaruan Pulung dilakukan dalam sebuah ritus adat yang khusus digelar untuk itu, yakni Aruh Pantun. Aruh Pantun dilaksanakan pada malam-malam gelap tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29) di bulan Rabiul Awal atau Zulhijah. Datu Pantun diundang berhadir dengan cara membakar dupa dan memberinya sajen berupa nasi ketan, gula kelapa, 3 biji telur ayam kampung, dan minyak likat baboreh secukupnya. Jika Datu Pantun berkenan memenuhi undangan, maka Pamantunan yang bersangkutan akan kesurupan (trance) selama beberapa saat. Sebaliknya, jika Pamantunan tak kunjung kesurupan itu berarti mandatnya sebagai seorang Pamantunan sudah dicabut oleh Datu Pantun. Tidak pilihan baginya kecuali mundur secara teratur dari panggung Baturai Pantun (pensiun).

Pantun Banjar Masa Kini : Bernasib Buruk
Pada zaman sekarang ini, pantun, khususnya pantun Banjar, tidak lagi menjadi puisi rakyat yang fungsional di Kalsel. Sudah puluhan tahun tidak ada lagi forum Baturai Pantun yang digelar secara resmi sebagai ajang adu kreatifitas bagi para Pamantunan yang tinggal di desa-desa di seluruh daerah Kalsel.

Pantun Banjar yang masih bertahan hanya pantun adat yang dibacakan pada kesempatan meminang atau mengantar pinengset (bahasa Banjar Patalian). Selebihnya, pantun Banjar cuma diselipkan sebagai sarana retorika bernuansa humor dalam pidato-pidato resmi para pejabat atau dalam naskah-naskah tausiah para ulama. Syukurlah, seiring dengan maraknya otonomi daerah sejak tahun 2000 yang lalu, ada juga para pihak yang mulai peduli dan berusaha untuk menghidupkan kembali Pantun Banjar sebagai sarana retorika yang fungsional (bukan sekedar tempelan). Ada yang berinisiatif menggelar pertunjukan eksibisi Pantun Banjar di berbagai kesempatan formal dan informal, memperkenalkannya melalui publikasi di berbagai koran/majalah, melalui siaran khusus yang bersifat insidental di berbagai stasiun radio milik pemerintah atau swasta, dan ada pula yang berinisiatif mememasukannya sebagai bahan pengajaran muatan lokal di sekolah-sekolah yang ada di seantero daerah Kalsel. Tulisan saya di Wikipedia ini boleh jadi termasuk salah satu usaha itu. Sekarang ini di Kalsel sudah beberapa puluh kali digelar kegiatan lomba tulis Pantun Banjar bagi para peserta di berbagai tingkatan usia. Tidak ketinggalan Stasiun TVRI Banjamasin juga sudah membuka acara Baturai Pantun yang digelar seminggu sekali oleh Bapak H. Adjim Arijadi dengan pembawa acara Jon Tralala, Rahmi Arijadi, dan kawan-kawan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->