P. 1
Riwaya Hidup Raja Asoka

Riwaya Hidup Raja Asoka

|Views: 3,766|Likes:
Published by dedi_shen
Raja Asoka memainkan peranan yang unik dalam agama Buddha. Ia tidak sekedar raja yang menerapkan prinsip Buddha Dhamma ke dalam administrasi pemerintahannya, tetapi juga merupakan Dhammaduta terbesar dalam sejarah agama Buddha. Saat Raja Asoka naik tahta, ajaran Buddha Gotama hanya dikenal di sekitar daerah lembah Sungai Gangga; melalui dukungan Raja Asoka, Buddha Dhamma mendapatkan banyak pengikut di seluruh India dan bahkan menyebar ke negeri-negeri tetangga.
Raja Asoka memainkan peranan yang unik dalam agama Buddha. Ia tidak sekedar raja yang menerapkan prinsip Buddha Dhamma ke dalam administrasi pemerintahannya, tetapi juga merupakan Dhammaduta terbesar dalam sejarah agama Buddha. Saat Raja Asoka naik tahta, ajaran Buddha Gotama hanya dikenal di sekitar daerah lembah Sungai Gangga; melalui dukungan Raja Asoka, Buddha Dhamma mendapatkan banyak pengikut di seluruh India dan bahkan menyebar ke negeri-negeri tetangga.

More info:

Published by: dedi_shen on Apr 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Ketika Bhikkhu Mahinda ditugaskan untuk menyebarkan Buddha Dhamma ke

Sri Lanka, ia melihat bahwa Raja Mutasiva saat itu sudah lanjut usia dan oleh sebab itu

belum tepat waktunya untuk menyebarkan Dhamma ke sana. Maka, ia memutuskan

untuk mengunjungi kerabatnya di Dakkhinagira bersama dengan empat bhikkhu lainnya

dan Samanera Sumana, putra Sanghamitta. Selama enam bulan mereka mengajarkan

Dhamma di Dakkhinagira.

Kemudian Bhikkhu Mahinda mengunjungi ibunya, Devi, di Vedisagiri dan

mengajarkan Dhamma di sana. Anak dari saudara perempuan Devi yang bernama

Bhanduka mencapai tingkat kesucian Anagami ketika mendengarkan Dhamma yang

diberikan sang bhikkhu kepada ibunya. Satu bulan kemudian, setelah Devanampiya Tissa

dinobatkan menjadi raja Sri Lanka, rombongan Bhikkhu Mahinda ditambah dengan

upasaka Bhanduka pergi dengan terbang di udara ke Missakapabbata (Mihintale) di Sri

Lanka.

Saat itu Raja Devanampiya Tissa sedang bersenang-senang bersama empat

puluh ribu pengikutnya di Missakapabbata dalam suatu perayaan. Melihat seekor rusa

jantan yang tak lain adalah dewa yang menyamar, raja mengejar rusa tersebut hingga

akhirnya ia bertemu dengan Bhikkhu Mahinda. Kemudian sang thera mengajarkan

Culahatthipadopama Sutta46

kepada raja dan para pengikutnya. Pada akhir pembabaran

Dhamma ini, raja dan para pengikutnya mengambil Tiga Perlindungan.

Setelah raja kembali ke kota dan berjanji akan mengundang para bhikkhu

tersebut keesokan harinya ke istana, Bhikkhu Mahinda memerintahkan Samanera

Sumana untuk mengumumkan ke seluruh Sri Lanka bahwa waktu mendengarkan

Dhamma telah tiba dengan kekuatan batinnya. Pengumuman ini terdengar sampai ke

alam brahma sehingga para dewa dari berbagai alam datang berkumpul. Bhikkhu

Mahinda kemudian menguraikan Samacitta Sutta47

kepada perkumpulan dewa tersebut.

46

Yang menekankan pada kehidupan umat awam Buddhis.

47

Menjelaskan tentang tingkat kesucian Sotapanna (Pemenang Arus), Sakadagami (Yang Kembali Sekali),
dan Anagami (Yang Tidak Kembali) dan apakah yang menentukan tempat kelahiran kembali yang masih

42

Keesokan harinya di istana sang thera menguraikan Petavatthu, Vimanavatthu,

dan Sacca Samyutta48

kepada Ratu Anula, adik ipar Raja Devanampiya Tissa, dan lima

ratus wanita lainnya. Para wanita tersebut akhirnya mencapai tingkat kesucian Sotapanna.

Sang thera juga menguraikan Devaduta Sutta kepada para penduduk kota dan

menyebabkan seribu orang di antara mereka mencapai tingkat Sotapanna.

Setelah beberapa waktu Raja Devanampiya Tissa berniat membangun stupa

untuk menyimpan relik Sang Buddha. Bhikkhu Mahinda mengirim Samanera Sumana

kembali ke Pataliputta untuk meminta semangkuk penuh relik Sang Buddha dari Raja

Asoka. Setelah mendapatkan relik dari Raja Asoka, sang samanera pergi menemui Sakka,

raja para dewa, untuk meminta relik tulang selangka kanan dari cetiya Culamani di surga

Tavatimsa dan sang dewa memberikannya. Relik-relik ini kemudian disemayamkan di

sebuah stupa yang dikenal dengan nama Thuparama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->