P. 1
Riwaya Hidup Raja Asoka

Riwaya Hidup Raja Asoka

|Views: 3,766|Likes:
Published by dedi_shen
Raja Asoka memainkan peranan yang unik dalam agama Buddha. Ia tidak sekedar raja yang menerapkan prinsip Buddha Dhamma ke dalam administrasi pemerintahannya, tetapi juga merupakan Dhammaduta terbesar dalam sejarah agama Buddha. Saat Raja Asoka naik tahta, ajaran Buddha Gotama hanya dikenal di sekitar daerah lembah Sungai Gangga; melalui dukungan Raja Asoka, Buddha Dhamma mendapatkan banyak pengikut di seluruh India dan bahkan menyebar ke negeri-negeri tetangga.
Raja Asoka memainkan peranan yang unik dalam agama Buddha. Ia tidak sekedar raja yang menerapkan prinsip Buddha Dhamma ke dalam administrasi pemerintahannya, tetapi juga merupakan Dhammaduta terbesar dalam sejarah agama Buddha. Saat Raja Asoka naik tahta, ajaran Buddha Gotama hanya dikenal di sekitar daerah lembah Sungai Gangga; melalui dukungan Raja Asoka, Buddha Dhamma mendapatkan banyak pengikut di seluruh India dan bahkan menyebar ke negeri-negeri tetangga.

More info:

Published by: dedi_shen on Apr 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/05/2013

pdf

text

original

Pada suatu ketika Sanjaya sang pertapa kelana sedang berdiam di Rajagaha

dengan sekumpulan besar para pertapa kelana – dua ratus lima puluh orang semuanya.

Dan pada waktu itu Sariputta (Upatissa) dan Moggallana (Kolita) sedang menjalankan

kehidupan suci di bawah Sanjaya. Mereka telah membuat persetujuan ini: Siapa pun yang

mencapai Keabadian pertama kali akan memberitahukan kepada yang lain.

85

Kemudian Yang Mulia Assaji, dengan bangun pagi-pagi sekali, membawa jubah

dan mangkuknya, memasuki Rajagaha untuk meminta dana makanan. Anggun cara ia

mendekat dan berangkat, memandang ke depan dan belakang, menarik dan mengulurkan

lengannya; matanya melihat ke bawah, setiap gerak-geriknya sempurna. Sariputta sang

pertapa kelana melihat Yang Mulia Assaji sedang melakukan pindapatta di Rajagaha:

Anggun…, matanya melihat ke bawah, setiap gerak-geriknya sempurna. Ketika
melihatnya, Sariputta berpikir: “Sesungguhnya, dari mereka di dunia ini yang merupakan

Arahat atau telah memasuki jalan Kearahatan, inilah salah satunya. Bagaimana jika aku

mendekatinya dan bertanya padanya: „Dalam ajaran siapakah Anda meninggalkan

keduniawian? Siapakah guru Anda? Dalam Dhamma siapa Anda berbahagia?‟”

Namun pikiran ini muncul dalam benak Sariputta sang pertapa kelana: “Ini

adalah saat yang salah untuk bertanya kepadanya. Ia sedang berpindapatta di kota.

Bagaimana jika aku mengikuti di belakang pertapa ini yang telah menemukan sang jalan

untuk mereka yang mencarinya?”

Kemudian Yang Mulia Assaji, setelah berpindapatta di Rajagaha, meninggalkan

kota, memakan dana makanan yang ia terima. Sariputta sang pertapa kelana

mendekatinya dan saat tiba, setelah bertukar salam yang bersahabat dan bercakap-cakap

dengan sopan, berdiri di satu sisi. Ketika berdiri di sana Sariputta bertanya: “Indera-

inderamu cemerlang, sahabat, kulitmu bersih dan terang. Dalam ajaran siapakah Anda

meninggalkan keduniawian? Siapakah guru Anda? Dalam Dhamma siapakah Anda

berbahagia?”

“Terdapat, sahabat, seorang Pertapa Agung, putra Sakya, meninggalkan

keduniawian dari keluarga Sakya. Aku meninggalkan keduniawian dalam ajaran Yang

Diberkahi tersebut. Yang Diberkahi-lah guruku. Adalah dalam Dhamma Beliau aku

berbahagia.”

“Tetapi apakah ajaran guru Anda? Apakah yang Ia nyatakan?”
“Aku masih baru, sabahat, belum lama aku meninggalkan keduniawian, baru

saja mengenal ajaran dan tata tertib ini. Aku tidak dapat menjelaskan ajaran ini dengan

rinci, tetapi aku dapat memberikan kamu intisarinya secara ringkas.”

86

Lalu Sariputta berkata kepada Yang Mulia Assaji: “Katakanlah sedikit atau

banyak, tetapi beritahu aku intisarinya saja. Intisarinya-lah yang kuinginkan. Apa

gunanya banyak perkataan?”

Kemudian Yang Mulia Assaji memberikan uraian Dhamma ini kepada Sariputta

sang pertapa kelana:

“Fenomena apa pun muncul dari sebab.

Sebab tersebut telah diberitahukan Sang Tathagata.

Juga pelenyapannya kembali.

Inilah yang diajarkan Sang Pertapa Agung.”

Kemudian Sariputta sang pertapa kelana ketika mendengar uraian Dhamma ini,

muncul dalam dirinya mata Dhamma yang tanpa debu dan noda [dan berkata dalam

hatinya]:

“Apa pun yang muncul karena suatu sebab.
Di dalamnya terdapat sebab yang membuatnya musnah kembali.”
“Bahkan hanya dengan Dhamma ini, Anda mencapai keadaan Tanpa

Penderitaan (Asoka), yang tidak terlihat dan terabaikan (oleh kami) selama tak terhitung

kappa.”

Kemudian Sariputta sang pertapa kelana pergi ke tempat di mana Moggallana

berdiam. Moggallana sang pertapa kelana melihatnya datang dari jauh dan, ketika

melihatnya, berkata: “Indera-inderamu cemerlang, sahabat; kulitmu murni dan terang.
Apakah kamu telah mencapai Keabadian?”
“Ya, aku telah mencapai Keabadian.”
“Tetapi bagaimana, sahabat, kamu bisa mencapai Keabadian?”

Sariputta pun menceritakan pertemuannya dengan Yang Mulia Assaji dan

mengulangi syair yang diucapkannya:

“Fenomena apa pun muncul dari sebab.

Sebab tersebut telah diberitahukan Sang Tathagata.

Juga pelenyapannya kembali.

Inilah yang diajarkan Sang Pertapa Agung.”

87

Kemudian Moggallana sang pertapa kelana ketika mendengar uraian Dhamma

ini, muncul dalam dirinya mata Dhamma yang tanpa debu dan noda [dan berkata dalam

hatinya]:

“Apa pun yang muncul karena suatu sebab.

Di dalamnya terdapat sebab yang membuatnya musnah kembali.”

“Bahkan hanya dengan Dhamma ini, kamu mencapai keadaan Tanpa

Penderitaan (Asoka), yang tidak terlihat dan terabaikan (oleh kita) selama tak terhitung

kappa.”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->