P. 1
AKUNTANSI MENENGAH

AKUNTANSI MENENGAH

|Views: 7,058|Likes:

More info:

Published by: Jojor Delyma Sihol marito on Apr 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/25/2013

pdf

text

original

1. 2.

INVESTASI JANGKA PENDEK Kelebihan uang kas dalam suatu perusahaan tidak akan menimbulkan pendapatan. Oleh karena itu kelebihan kas sebaiknya diinvestasikan selama tidak terpakainya kas tersebut. Karena jangka waktu tidak dipakainya kas tersebut relatif pendek, maka investasinya juga dilakukan dalam jangka pendek. Investasi jangka pendek bisa dilakukan dalam bentuk deposito, sertifikat Bank atau surat berharga lainnya yaitu saham dan obligasi. Surat berharga yang dibeli dengan tujuan untuk investasi jangka pendek harus memenuhi syarat sbb: Surat berharga itu harus dapat segera dijual kembali dengan harga yang berlaku pada tanggal penjualannya. Penjualannya kembali oleh pimpinan perusahaan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan uang. Pencatatan Surat Berharga. Surat berharga yang dibeli di debit dalam rekening surat berharga dengan jumlah sebesar harga perolehannya. Harga perolehan adalah harga kurs ditambah dengan semua biaya yang timbul dari pembelian tsb.

Apa bila surat berharga dibeli berupa obligasi dan pembeliannya dilakukan tidak tanggal pembayaran bunga, maka timbul masalah bunga berjalan yaitu bunga yang dibayarkan oleh pembeli untuk jangka waktu tanggal bunga terakhir sampai dengan tanggal pembelian. Bunga berjalan ini tidak termasuk dalam harga perolehan obligasi tetapi dicatat tersendiri.Ada 2 rekening yang dapat didebit untuk mencatat pembayaran bunga berjalan yaitu rekening pendapatan bunga atau bunga piutang pendapatan bunga dan rekening biaya bunga. Contoh : Obigasi Pada tanggal 1 Agustus 2007 dibeli 10 lembar Obligasi PT Bina Riani yang nominal perlembar Rp. 50.000 dengan kurs101. Obligasi ini berbunga 12% / th dan dibayarkan setiap tanggal 1 Mei dan 1 Nopember. Pada saat pembelian dibayar komisi dan meterai Rp. 2.525. Tanggal 1 Desember 2007 seluruh obligasi tersebut dijual dengan kurs 102. biaya penjualan Rp. 2.015,Jurnal pada 1 Agustus 2007 Surat berharga ± Obligasi Rp. 507.525 Pendapatan bunga Rp. 15.000 Kas Rp. 522.525

Perhitungannya. Harga perolehan obligasi Harga kurs 101/100 ( Rp. 500.000 ) Komisi dan meterai Bunga berjalan Tanggal berakhir Tanggal pembelian Periode bunga berjalan

= Rp. 505.000 Rp. 2.525 Rp. 507.525

1 Mei 2007 1 Agustus 2007 3 bulan 3/12 x 12% x Rp. 500.000 = Rp. 15.000 Selanjutnya pada tanggal 1 Nopember 2007akan dilakukan penjurnalan untuk penerimaan bunga Kas Rp. 30.000 Pendapatan bunga Rp. 30.000

Pada tanggal 1 Desember 2007 dijual dengan kurs 102 Maka akan timbul bunga berjalan selama I bulan ( 1Nop s/d1 Des )

Harga kurs 102 / 100 ( Rp. 500.000 ) Rp. 510.000 Biaya penjualan Rp. 2.015 Harga jual Rp. 507.985 Harga perolehan Rp. 507.525 Laba penjualan Rp. 460 Bunga berjalan 1 bulan = 1/12 x 12% x Rp. 500.000 = Rp. 5.000 Jurnal yang diperlukan Kas Rp. 512.985 Obligasi PT BINA RIANI Rp. 507.525 Pendapatan bunga Rp. 5.000 Laba penjualan Rp. 460 SAHAM Misalnya pada tanggal 1 Agustus 2007 dibeli 100 saham preferen 14% dari PT Rajawali @ Rp. 10.000 kurs 104. Provisi dan meterai Rp.5.025. DEviden dibayarkan setiap akhir tahun. Pada tanggal 15 Pebruari 2008 saham tersebut dijual kembali dengan kurs 102 dan biaya penjualan Rp. 4.025

Jurnal Surat berharga ± Saham Preferen Rp. 1.045.025 Kas Rp. 1.045.025 Perhitungannya Harga kurs 104/100 ( 1.000.000 ) Rp. 1.040.000 Provisi dan meterai Rp. 5.025 Harga perolehan saham Rp. 1.045.025 Tanggal 31 Desember terima deviden 14% x Rp. 1.000.000 = Rp. 140.000 Kas Rp. 14.000 Pendapatan deviden Rp. 140.000 Tanggal 15 Peb 2008 dijual Harga kurs 102/100 ( Rp. 1.000.000 ) Rp. 1.020.000 Biaya penjualan Rp. 4.025 Harga jual Rp. 1.015.975 Harga perolehan Rp. 1.045.025 Rugi penjualan Rp. 29.050

Jurnal Kas Rp. 1.015.975 Rugi penjualan Rp. 29.050 Surat berharga ± Saham preferen PT RAJA WALI

Rp. 1.045.025.

PENANAMAN MODAL DALAM SAHAM DAN DANA Penanaman modal dalam saham dapat dikelompokkan sebagai investasi jangka panjang biasanya dilakukan dengan tujuan; 1. Untuk mengawasi perusahaan 2. Untuk memperoleh pendapatan yang tetap setiap periode 3. Untuk membentuk suatu dana khusus 4. Untuk menjamin kontinyuitas supply bahan baku 5. Untuk menjaga hubungan antar perusahaan METODE PENCATATAN.

Prosentase kepemilikan Kurang dari 20% 20% sampai dengan 50% Labih dari 50%

Metode Cost methode Equity methode Equity methode dan dibuat laporan konsolidasi

1. Cost Methode Investasi saham dalam perusahaan lain yang jmlahnya kurangdari 20% dan tidak dapat mempengaruhi perusahaan yang sahamnya dimiliki dicatat dengan metode harga pokok. Dalam hal ini penanaman modal saham akan dicantumkn dalam neraca sebesar harga pokoknya. 2. Metode Equity ( Kepemilikan ) Apabila digunakan metode ini, penanaman modal dalam saham dicatat sebesar harga pokoknya. Setiap akhir periode akuntansi harga poko berubah sesuai dengan bagian laba atau rugi yang diperoleh perusahaan yang sahamnya dimiliki. 3. Metode Equity yang dikonsolidasikan Dalam halini laloran keuangan perusahaan induk harus dikonsolidasikan dengan laporan keuangan anak perusahaan. PEMBELIAN SAHAM Saham dapat diperoleh dengan bermacam cara, pembelian tunai, pertukaran dengan aktiva lain. Masing-masing cara ini akan mempengaruhi harga pokok.

Contoh: Pada tanggal 1 April Risa Fadila membeli 100 lb saham prioritas PT BINA RIANI 6% nominal @ Rp. 10.000 dengan kurs 105. Biaya pembelian Rp. 50.000 Deviden dibayarkan setiap tanggal 31 Desember. 1 April Penanaman modal dalam saham prioritas Rp. 1.100.000 Pendapatan deviden Rp. 15.000 Kas Rp. 1.115.000 Perhitungan Harga kurs 105/100 ( Rp. 1 juta ) Rp. 1.050.000 Biaya pembelian Rp. 50.000 Harga beli Rp. 1.100.000 Deviden yang terhutang 1/1/ -1/4 ( 3 bln ) 3/12 x 6% x Rp. Rp. 1juta Rp. 15.000 Jumlah yang dibayarkan Rp. 1.115.000 Deviden terutang Rp. 15.000 didebeitkan pendapatan deviden. Cara ini mengakibatkan seluruh deviden yang diterima 31 Des akan dikreditkan ke rek pendapatan deviden.

31 Desember Kas Rp. 60.000 Pendapatan deviden Rp. 60.000 ( 6% x Rp. 1 juta ) Kadang-kadang pembelian saham dilakukan secara lumpsum / bersamasama. Yaitu dua macam saham atau lebih dibeli sekaligus dengan satu jumlah harga. Masalah yang timbul dalam pembelian seperti ini adalah bagaimanakah mengalokasikan harga beli kepada masing-masing jenis saham. Alokasi harga beli dapat dilakukan dengan dasar sbb: 1. Jika harga pasar masing-masing saham yang dibeli diketahui, alokasi didasarkan pada perbandingan jumah relatif masing-masing saham. 2. Jika diketahui harga pasarnya hanya satu jenis saham, maka harga pasar saham yang diketahui diperlakukan sebagai harga pokok saham tersebut dan sisanya merupakan harga pokok saham jenis lainnya. 3. jika masing-masing saham yang dibeli tidak diketahui maka alokasi harga pokoknya ditangguhkan sampai salah satu saham dapat diketahui harga pasarnya.

Contoh Risa Fadila membeli 50 blok saham dengan harga Rp. 25.000 perblok. Tiap blok terdiri dari 1 lembar saham prioritas dan 3 lembar saham biasa. a. Harga masing-masing jenis saham msalnya Rp. 12.500 saham prioritas dan Rp. 4.500 saham biasa. Saham prioritas 50 lb @ Rp. 12.500 Rp 625.000 Saham biasa 50 x 3 x Rp. 4.500 Rp. 675.000 Rp.1.300.000 Harga pokok saham prioritas = 625.000/1.300.000 ( 1.250.000 ) Rp. 600.960 Harga pokok saham biasa 675.000/1.300.000 ( 1.250.000 ) Rp. 649.040 Penanaman modal dalam saham prio Rp. 600.960 Penanaman modal dalam saham biasa Rp. 649.040 Kas Rp. 1.250.000

b. Harga pasar saham prioritas Rp. 12.500, saham biasa tidak diketahui Harga beli saham Rp. 1.250.000 Saham prioritas 50 x Rp. 12.500 Rp. 625.000 Harga pokok saham biasa Rp. 625.000 Penanaman modal dalam saham prio Rp. 625.000 Penanaman modal dalam saham biasa Rp. 625.000 Kas Rp. 1.250.000 c. Harga pasar masing-masing belum diketahui Penanaman modal dalam saham prio & biasa Rp.1.250.000 Kas Rp. 1.250.000 DEVIDEN Deviden yang dibagi dapat berbentuk : 1. Uang tunai 2. Aktiva lain selain kas 3. Saham baru.

1. Deviden berbentuk Uang ( Tunai ) Misalnya pada tanggal 31 Desember 2007 diumumkan pembagian deviden Rp. 1 juta yang akan dibayar pada 15 Januari 2008 31 Desember 2007 Piutang deviden Rp. 1 juta Pendapatan Deviden Rp. 1 juta 15 Januari 2008 Kas Rp. 1 juta Piutang deviden Rp. 1 juta 2. Deviden yang berbentuk aktiva ( selain kas ) Misalnya Risa Fadila menerima pembagian deviden dari PT Bina Riani berbentuk saham PT BIna Riana sebanyak 20 lembar. Pada saat pembagian tersebut harga pasar saham Rp. 11.000. Penerimaan deviden ini dicatat oleh Risa Fadila dengan jurnal Penanaman modal dalam saham PT Bina Riana Rp. 220.000 Pendapatan deviden Rp. 220.000 3. Deviden Saham ( Stock Deviden ) MIsalnya tuan Alex pada bulan Agustus 2007 membeli 100 lb saham biasa dari PT Risa Fadila dengan harga Rp. 900.000. Pada bulan Desember 2007 diterima deviden saham biasa 50%. Pada Jan 2008 dijual 20 lb dengan harga Rp. 170.000

Jurnal yang diperlukan adalah Agustus 2007 Penanaman Moal dalam saham biasa Rp. 900.000 Kas Rp. 900.000 Desember 2007 Jumlah saham 100 lb Diterima sebagai deviden 50% 50 lb Jumlah saham 150 lb Harga pokok saham biasa menjadi Rp. 900.000 : 150 = Rp. 6.000 / lb Pada kasus ini tidak ada jurnal hanya memo saja Januari 2008 Harga jual 20 lb saham Rp. 170.000 Harga pokok 20 x Rp. 6.000 Rp. 120.000 Laba penjualan saham biasa Rp. 50.000 Kas Rp. 170.000 Saham biasa Rp. 120.000 Laba penjualan saham Rp. 50.000

OBLIGASI Pencatatan Penanaman Modal dalam obligasi Obligasi yang dibeli untuk tujuan penanaman modal jangka panjang dicatat dengan jumah harga perolehannya yaitu harga beli ditambah semua biaya pembelian seperti komisi, provisi dll. Apabila harga beli berbeda dengan nilai nominal obligasi, selisihnya disebut agio atau disagio obligasi. Apabila pembelian obligasi diantara pembayaran bunga, pembeli membayar harga beli ditambah bunga berjalan yaitu bunga sejak tanggal pembayaran bunga terakhir sampai tanggal pembelian obligasi. Pembayaran bunga obligasi ini bukan merupakan harga perolehan obligasi. Misalnya Risa Fadila membeli Obligasi PT Hartamin pada tanggal 1 Mei 2007 nominal Rp 1 juta bunga 12% dengan harga beli Rp. 1 juta. BIaya pembelian yaitu komisi dan meterai Rp. 25.000. Bunga dibayarkan setiap tanggal 1 maret dan 1 September. Harga beli obligas Rp. 1.000.000 Biaya pembelian Rp. 25.000 Harga beli Rp. 1.025.000 Bunga berjalan 2 bln Rp. 20.000 Dibayarkan Rp. 1.045.000

Jurnalnya Penanaman modal dalam obligasi Rp. 1.025.000 Pendapatan bunga Rp. 20.000 Kas Rp. 1.045.000 Pada tanggal 1 September penerimaan bunga Kas Rp. 60.000 Pendapatan bunga Rp. 60.000 Contoh lain Pada tanggal 1 Maret 2007 dibeli obligasi nominal Rp. 1 juta bunga 12% jatuh tempo 31 Desember 2007 dengan harga Rp. 966.000 termasukkomisi dan meterai. Bunga obigasi dibayarkan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli tiap-tiap tahun. Pada tanggal 31 Desember 2009 obligasi tersebut dilunasi oleh perusahaan yang mengeluarkan obligasi. Harga beli Rp. 966.000 Bunga berjalan 2 bln Rp. 20.000 Jumlah uang yang dibayarkan Rp. 986.000 Disagio obligasi Rp. 1.000.000 ± Rp. 966.000 = Rp. 34.000

diakumulasikan selama umur obligasi yaitu 34 bulan ( 1 maret 2007 s.d 31 Desember 2009 ). Akumulasi disagio setiap bulan Rp. 34.000 : 34 = Rp. 1.000, maka jurnal yang dibuat adalah sbb: 1 Maret 2007 Pembelian Obligasi Penanaman modal dalamobligasi Rp. 966.000 Pendapatan bunga Rp. 20.000 Kas Rp. 986.000 1Juli 2007 Penerimaan bunga Kas Rp. 60.000 Pendapatan bunga Rp. 60.000 31 Des 2007 Penyesuaian a. Mencatat bunga 6 bulan Piutang bunga obligasi Rp. 60.000 Pendapatan bunga obligasi Rp. 60.000 b. Akumulasi disagio 10 bulan ( 10 x Rp. 1.000 ) Penanaman modal dalam obligasi Rp. 10.000 Pendapatan bunga Rp. 10.000

Demikian seterusnya untuk tahun 2008 dan tahun 2009. Khusus tahun 2009 yaitu 31 Desember 2009 pada saat pelunasan akan dijurnal Kas Rp. 1.000.000 Penanaman modal dalam obligasi Rp. 1.000.000 Contoh berikutnya Pada tanggal 1 April 2007 dibeli obligasi nominal Rp. 1.000.000 bunga 12%, jatuh tempo 31 Desember 2009 dengan harga Rp. 1.066.000 termasuk biaya komisi dan meterai. Bunga dibayarkan setiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Pada tanggal jauh tempo obligasi tersebut dilunasi. Harga beli obligasi Rp. 1.066.000 Bunga berjalan 1 bulan Rp. 10.000 Jumlah yang dibayarkan Rp. 1.076.000 Agio obligasi Rp. 1.066.000 ± Rp. 1.000.000 = Rp. 66.000 akan diamortisasi selama kepemilikan obligasi 33 bulan ( 1 April 2007 s.d 31 Des 2009 ) Amortisasi setiap bulan Rp. 66.000 : 33 = Rp. 2.000

Jurnal yang diperlukan 1 April 2007. Pembelian Obligasi Penanaman modal dalam obligasi Rp. 1.066.000 Pendapatan bunga Rp. 10.000 Kas Rp. 1.076.000 1 September 2007 Penerimaan bunga Kas Rp. 60.000 Pendapatan bunga Rp. 60.000 31 Desember 2007 Penyesuaian a. Bunga 4 bulan Piutang bunga Rp. 40.000 Pendapatan bunga Rp. 40.000 b. Amortisasi 9 bulan ( 9 x Rp. 2.000 = 18.000 ) Pendapatan bunga obligasi Rp. 18.000 Penanaman modal dalam obligasi Rp. 18.000 Demikian seterusnya untuk th 2008 dan th 2009, 31 Desember 2009 Kas Rp. 1.000.000 Penanaman modal dalam obligasi Rp. 1.000.000

Bunga berjalan 1 bln = 1/12 x 12% x Rp. 1.000.000 Rp. 10.000 Uang diterima Rp. 1.015.000 + Rp. 10.000 = Rp. 1.025.000 JUrnal yang diperlukan a. Mencatat amortisasi 3 bln Pendapatan bunga Rp. 6.000 Penanaman modal dlm obligasi Rp. 6.000 b. Mencatat penjualan dan penerimaan bunga Kas Rp. 1.025.000 Rugi penjualan Rp. 3.000 Penanaman modal dalam obligasi Rp. 1.018.000 Pendapatan bunga obligasi Rp. 10.000

Penjualan Obligasi sebelum tanggal jatuh tempo Apabila obligasi yang dimiliki dengan tujuan untuk penanaman modal jangka panjang dijual sebelum jatuh tempo, maka perhitungan rugi laba penjualan tersebut didasarkan pada jumlah uang yang diterima dengan nilai buku obligasi. Nilai buku dihitung dengan cara: Harga perolehan obligasi dtambah dengan akumulasi disagio sampai dengan tanggal penjualan atau harga perolehan dikurangi dengan amortisasi agio sampai dengan tanggal penjualan. Contoh: Obligasi yang dibeli dalam contoh diatas pada tanggal 1 April 2009 dijual dengan harga Rp. 1.015.000 sudah dikurangi dengan biaya. Harga perolehan Rp. 1.066.000 Amortisasi agio th 2007 9 bln x Rp. 2.000 Rp. 18.000 th 2008 12 bln x Rp. 2.000 Rp. 24.000 th 2009 3 bln x Rp. 2.000 Rp. 6.000 Rp. 48.000 Nilai buku Obligasi Rp. 1.018.000 Harga jual Rp. 1.015.000 Rugi penjualan Rp. 3.000

HUTANG JANGKA PANJANG Hutang jangka panjang digunakan untuk menunjukkan hutang-hutang yang pelunasannya akan dilakukan dalam waktu lebih dari satu tahun atau dilunasi dari sumber-sumber yang bukan dari kelompok aktiva lancar. Dalam hutang jangka panjang termasuk didalamnya adalah obligasi. Utang wesel jangka panjang, hipotik, uang muka perusahaan afiliasi dll. Hutang jangka pangnaj timbul biasanya karena adanya kebutuhan dana untuk pembelian tambahan aktiva tetap, menaikkan jumlah modal kerja permanen, membeli perusahaan lain atau mungkin juga untuk melunasi hutang-hutang lain. HUTANG OBLIGASI Apabila perushaan membutuhkan tambahan modal tetapi tidak dapat melaukan emisi saham baru, dapat dipenuhi dengan cara mencari hutang jangka panjang. Dalam hal sulit mencari hutang yang jumlahnya besar dari satu sumber, perusahaan dapat mengeluarkan surat obligasi. Surat obligasi ini akan dapat dijual bila reputasi perusahaan cukup baik dan dipandang akan dapat tetap beridiri selama jangka waktu beredarnya obligasi tersebut.Harga jual obligasi tergantung dari tarif bunga obligasi, semakin besar bunganya, harga jual obligasi tersebut akan semakin tinggi dan sebaliknya.

PENCATATAN PENGELUARAN OBLIGASI Obligasi yang dilekuarkan dicatat dalam rekening sebesar nilai nominal. Dalam halharga jual obligasi tidak sama dengan nilai nominal, selisihnya dicatat tersendiri yaitu agio obligasi jika diatas nilai nominal dan disagio obligasi jika dibawah nilai nominal. Pengeluran Obligasi juga dapat dicatat dengan dua cara; a. Yang dicatat hanya obligasi yang terjual b. Yang dicatat obligasi yang terjual mauoun yang belum terjual. Contoh a. Pada 1 Januari 2007 PT BINA RIANI Tbk menrencanakan pengeluaran obligasi Rp. 1 juta dengan bunga 10%. Obligasi akan dijual dengan waktu yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan uang mislanya sbb: 1 Januari 2007 Merencanakan pengeluaran Obligasi 10% Rp. I juta 1 April Obligasi nom Rp. 700 rb jijual kurs 105 18 Juli Obligasi nom Rp. 100 rb dijual kurs 99 Tidak ada jurnal

Kas

Rp. 735 Hutang Obligas Rp. 700.000 Agio obligasi Rp. 35.000

Kas Rp. 99.000 Disagio Rp. 1.000 Hutang obligasi Rp. 100.000

b. Jika yang dicatat yang terjual dan yang belum terjual. 1 Januari 2007 Merencanakan pengeluaran obigasi 10% Rp. 1 juta 1 April Obligasi Rp. 700 rb dijual dengan kurs 105 Obl. yang blm terjual Rp. 1 juta Otorisasi hutang Obl Rp. 1 juta

Kas Rp. 735.000 Obl yang blm terjual Agio obligasi

Rp.700.000 Rp. 35.000

18 Juli Obligasi nominal Rp. 100.000 dijual dengan kurs 99

Kas Rp. 99.000 Dis agio Obli Rp. 1.000 Obl yang blm terjual

Rp. 100.000

Kadang-kadang penualan oigas dilkaukan dengancara pesanan lebih dahulu, dimana pembeli membayar uang muka dan akan melunasi pada tanggal btertntu. a. Yang terjual saja yang dicatat. 1 Januari 2007 Tidak ada jurnal Merencanakan pengeluaran obligasi 10% Rp. 1 juta nominal Rp. 1.000 1 Mei Diterima pesanan 200 lb obl kurs 101. Pembayaran I 40% 1 Juli Diterima uang sisa pesanan 60% dari obl sebanyak 75 lb 60%x75xRp1.010 = Rp. 40.450 1 Juli 75 lb obligasi diserahkan kepada pemesan Kas Rp. 80.800 Piutang pesanan Obl Rp. 121.200 Hutang Obl dipesan Rp. 200.000 Agio Obligasi Rp. 2.000 Kas Rp. 40.450 Piutang pesanan Obl Rp. 40.450

Hutang obligasi dipesan Rp. 75.000 Hutang obligasi Rp. 75.000

b. Obligasi yang dicatat yang terjual dan yang belum terjual. 1 Januari 2007 Merencanakan pengeluaran obligasi 10% Rp. 1 juta nominal Rp. 1.000 1 Mei Diterima pesanan 200 lb obl kurs 101. Pembayaran I 40% 1 Juli Diterima uang sisa pesanan 60% dari obl sebanyak 75 lb 60%x75xRp1.010 = Rp. 40.450 1 Juli 75 lb obligasi diserahkan kepada pemesan Obl yng blm terjual Rp 1 juta Otorisasi hut obl Rp. 1 juta Kas Rp. 80.800 Piutang pesanan Obl Rp. 121.200 Hutang Obl dipesan Rp. 200.000 Agio Obligasi Rp. 2.000 Kas Rp. 40.450 Piutang pesanan Obl Rp. 40.450

Hutang obligasi dipesan Rp. 75.000 Obligasi yng blm terjual Rp. 75.000

PROSEDUR AMORTISASI AGIO DAN DISAGIO OBLIGASI a. Agio Misalnya PT Bina Riani mengeluarkan obligasi nominal Rp. 1.000.000 umur 5 th, bunga 10% / th dibayar setiap setengah tahun. Obligasi tersebit dijal dengan harga Rp. 1.050.000. Berarti agio obligasi Rp. 50.000 akan diamortisir sbb: Th ke Pembaya ran bunga ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bunga yg dibayar 5%xnom 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 Amortisasi 1/10 x 50.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 Bunga efektif Agio Obligasi 50.000 45.000 40.000 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 --Nilai Buku Obligasi 1.050.000 1.045.000 1.040.000 1.035.000 1.030.000 1.025.000 1.020.000 1.015.000 1.010.000 1.005.000 1.000.000

1 2 3 4 5

45.000 45.000 45.000 45.000 45.000 45.000 45.000 45.000 45.000 45.000

b. Disagio PT Bina Riani mengeluarkan Obligasi sebesar nominal Rp. 1 juta umur 5 tahun, bunga 10% dibayarkan tiap setengah tahun Obligasi tersebut dijual Rp. 925.000, maka disagio Rp. 75.000 Tahun ke Pembaya ran bunga ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bunga yg dibayar 5%xnom 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 50.000 Amortisasi 1/10 x Rp. 75.000 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 7.500 Bunga efektif Disagio Nilai buku Obligasi 925.000 932.500 940.000 947.500 955.000 962.500 970.000 977.500 985.000 992.500 1.000.000

1 2 3 4 5

57.500 57.500 57.500 57.500 57.500 57.500 57.500 57.500 57.500 57.500

75.000 67.500 60.000 52.500 45.000 37.500 30.000 22.500 15.000 7.500 --

PENCATATAN HUTANG OBLIGASI
Apabila obligasi dijual tidak tepat pada tanggal pembayaran bunga, pembeli obligasi disamping membayar harga obligasi juga harus membayar bunga berjalan sejak tanggal bunga terakhir sampai dengan tanggal penjualan obligasi tersebut. Amortisasi agio atau disagio dapat dicatat setiap bulan, setiap tanggal pembayaran bunga atau setiap akhir periode bersama dengan jurnal penyesuaian. Misalnya PT Risa Fadila pada 31 Desember 2006 mengeluarkan obligasi pada tanggal 1 Mei 2007 Rp. 1 juta bunga 10% per tahun dan jatuh tempo pada tangal 1 Mei 2012. Bunga oblgasi dibayarkan setiap 1 Mei dan 1 Nopember. Seluruh obligasi dapat dijual pada tanggal 1 Juli 2007 dengan harga Rp. 1.029.000 ( yaitu harga jual Rp. 1.030.000 dikurangi biaya penjualan Rp. 1.000 ) ditambah bunga berjalan untuk jangka waktu 1 Mei 2007 s/d 1 Juli 2007.Amortisasi agio dicatat setiap akhir periode. Maka umur obligasi dihitung sbb: 2007 = 6 bulan 2008 = 12 bulan 2009 = 12 bulan 2010 = 12 bulan 2011 = 12 bulan 2012 = 4 bulan Jumlah 58 bulan

Dalam perhitungan umur obligasi yangdiperhitungkan adalah lamanya obligasi beredar yaitu sejak tanggal dijual sampai saat jatuh tempo. Agio obligasi sebesar Rp.29.000 akan diamortisir selama umur obligasi ( 58 bulan ), sehingga amortisasi per bulan Rp. 29.000 : 58 = Rp. 500,Dengan demikian jurnal yang diperlukan adalah 1 Juli 2007 Kas Rp. 1.045.666,67 Hutang Obligasi Rp. 1.000.000 Agio obligasi Rp. 29.000 Pendapatan bunga Rp. 16.666,67 1. Nopember Membayar bunga Biaya bunga Rp. 50.000 Kas Rp. 50.000 31 Desember 2007 a. Mencatat bunga berjalan Biaya bunga obligasi Rp. 16.666,67 Hutang bunga obl Rp. 16.666,67 b. Amortisasi 6 bulan ( 1/7 s/d 31/12 ) Agio obligiasi Rp. 3.000 Biaya bunga obligasi Rp. 3.000

AKUNTANSI INFLASI Laporan keuangan yang disajikan oleh proses akuntansi keuangan adalah laporan keuangan yang didasarkan pada prinsip harga perolehan ( cost ) historis, dan menganggap bahwa harga-harga adalah tetap. Dalam kenyataannya, harga selalu berubah, cenderung semakin naik atau yang disebut dengan inflasi. Sehingga Rp. 1.000 pada tahun 2005 tidaklah sama dengan Rp. 1.000 th 2008. Melihat keadaan seperti ini profesi akuntan memandang bahwa sebenarnya penentuan nilai aktiva dengan mengakumulasikan harga perolehan aktiva pada waktu-waktu yang berbeda kurang cukup, karena harga perolehan aktiva tersebut tidak dapat diperbandingkan. Untuk menyelesaikan masalah perubahan harga karena inflasi ini ada dua konsep yaitu; 1. Konsep akuntansi nilai uang konstan. Konsep ini merubah satuan pengukuran tetapi mempertahankan model pelaporan atas dasar harga perolehan historis. ( historical cost ) 2. Konsep akuntansi harga perolehan berjalan ( current cost accounting ). Konsep ini mempertahankan satuan pengukuran tetapi menyimpang dari model harga perolehan historis. 3. Konsep gabungan harga perolehan berjalan dan nilai uang konstan.

Konsep Akuntansi Tingkat Harga Konstan Konsep ini menilai uang menurut daya belinya pada barang dan jasa secara umum. Tujuan konsep ini adalah untuk mempertahankan nilai modal menurut harga yang tetap, dengan ukuran indeks harga konsumen ( IHK / CPI ). Nilai harta, utang dan modal yang terpengaruh oleh perubahan harga disesuaikan dengan faktor indeks harga, sehingga dapat dinyatakan dengan nilai uang yang sama. Proses akuntansi menyajikan nilai aktiva tertentu menurut harga perolehan aktiva tersebut. Pada hal nilai uang pada saat perolehan yang berbeda-beda tidak sama, sehinga proses penilaian aktiva tersebut dengan menjumlahkan harga perolehan dipandang kurang tepat. Sebagai contoh mesin dibeli pada th 2005 dengan harga perolehan Rp. 1.000.000 ditambah dengan mesin yang dibeli tahun 2007 dengan harga perolehan Rp. 1.000.000. Proses akuntansi menyajikan nilai mesin pada akhir tahun 2007 dengan jumlah harga perolehan Rp. 2.000.000. Nilai aktiva tetap ini kurang tepat, karena nilai uang Rp. 1.000.000 pada th 2005 dengan nilai uang Rp. 1.000.000 pada th 2007 adalah berbeda. Untuk menyajikan nilai aktiva tetap pada contoh diatas menurut nilai rupiah konstan, dibuat penyesuaian dengan faktor indeks harga. Apabila indeks harga pada th 2005 adalah 100 dan indeks pada th 2007 adalah 120, maka nilai mesin tersebut adalah sbb: Mesin pembelian 2005 ; 120/100 x Rp. 1 juta Rp. 1.200.000 Mesin pembelian th 2007 Rp. 1.000.000 Nilai total mesin pada th 2007 Rp. 2.200.000

Pos Moneter dan Non Moneter. 1. Pos moneter adalah pos ± pos yang tidak terpengaruh oleh perubahan nilai mata uang. 2. Pos non moneter adalah po-pos yang terpengaruh dengan perubahan nilai mata uang. Nilai aktiva tertentu yang disajikan di neraca adalah nilai harga perolehan historis. Untuk menyajikan nilai aktiva tersebut menurut nilai sekarang, dengan pendekatan nilai uang yang konstan dengan menggunakan indeks harga, diperlukan suatu proses menurut tahap berikut ini. 1. Mendapatkan laporan keuangan yang disusun berdasarkan harga historis. 2. Mendapatkan dan menetukan indeks harga umum 3. Mengklasifikasikan pos moneter dan non monerer 4. Menyuaikan pos non moneter dengan faktor konversi indeks harga 5. menghitung laba/rugi yang timbul karena memiliki pos moneter.

PERLAKUAN TERHADAP POS MONETER Dalam keadaan harga cenderung naik, pemegang aktiva yang bersifat moneter memperoleh rugi, karena menurunnya harga, sedangkan pemegang utang yang bersifat moneter mengalami laba. Sebaliknya dalam keadaan harga cenderung menurun. Laba atau rugi juga timbul dalam proses penyesuaian laporan keuangan menurut nilai uang yang konstan, yang disebut dengan laba atau rugi harga umum mata uang konstan ( PPGL ) Laba atau rugi harga umum mata uang konstan dapat dihitung dengan cara 1. menghitung posisi aktiva moneter neto pada awal periode 2. menyatakan kembali aktiva moneter neto pada awal periode menurut harga mata uang pada akhir periode 3. menyatakan kembali penerimaan yang bersifat moneter selama satu periode menurut harga mata uang pada akhir periode. 4. menyatakan kembali semua pembayaran yang bersifat moneter,selama satu periode menurut harga mata uang pada akhir periode. 5. Menambahkan hasil tahap 2 dengan hasil nomor 3. kemudian mengurangi hasil nomor 3 ini dengan hasil nomor 4. Hasilnya adalah aktiva moneter neto pada akhir periode menurut nilai mata uang konstan pada akhir periode.

6. Membandingkan hasil nomor 5 dengan saldo aktiva moneter neto menurut laporan keuangan akhir periode yang dihitung atas dasar harga perolehan historis. Apabila aktiva moneter neto menurut harga mata uang konstan lebih besar dibanding aktiva moneter neto menurut harga perolehan historis, maka diperoleh laba. Sebaliknya apabila aktiva moneter neto menurut nilai mata uang konstan lebih rendah dari aktiva moneter neto menurut harga perolehan historis, maka terjadi rugi. CONTOH PT BINA RIANI mempunyai data ± data sbb: Pada awal tahun 2007 keadaan aktiva moneter adalah sbb: Kas Rp. 60.000 Utang dagang Rp. 40.000 Penerimaan dan pembayaran yang bersifat moneter pada tahun 2007 Penjualan Rp. 40.000 Pembayaran utang dan biaya Rp. 30.000 Indeks harga umum pada 31 Desember 2007 180 Indeks rata-rata tahun 2007 150 Indeks harga pada 1 Januari 2007 120

Laba atau rugi harga mata uang konstan karena memiliki moneter dapat dihitung sbb: Tahap 1 Aktiva moneter awal periode Utang dagang moneter awal periode Aktiva moneter neto Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4

aktiva dan utang Rp. 60.000 Rp. 40.000 Rp. 20.000

Aktiva moneter neto menurut nilai uang 31/12 2007 180/120 x Rp. 20.000 Rp. 30.000 Penerimaan aktiva moneter ( penjualan ) 180/150 x Rp. 40.000 Rp. 48.000 Pembayaran moneter 180/150 x Rp. 30.000 Rp. 36.000 Aktiva moneter neto per 1/1 07 Penerimaan aktiva moneter Jumlah Rp. 30.000 Rp. 48.000 Rp. 78.000

Tahap 5

Jumlah ( pindahan ) Rp. 78.000 Pembayaran utang dan biaya Rp. 36.000 Aktiva moneter neto 31/12 07 menurut harga rupiah konstan Rp. 42.000 Aktiva moneter neto 31/12 07 menurut harga perolehan historis Rp. 30.000 Tahap 6 Laba penilaian menurut harga rupiah konstan Rp. 12.000 Perlakuan Terhadap Laba atau Rugi Penilaian menurut Konsep Harga Konstan Penyajian laba / rugi yang timbul karena proses penilaian menurut nilai harga mata uang konstan ada bermacam-macam antara lain: 1. Disajikan sebagai laba/rugi berjalan 2. Hanya apabila rugi, harus disajikan dalam laporan laba/rugi periode berjalan. 3. Laba / rugi harus disajikan dalam laporan laba/rugi periode berjalan, kecuali yang menyangkut utang jangka panjang.

PERLAKUAN TERHADAP POS ± POS NON MONETER Klasifikasi Pos-pos Moneter dan Non Moneter Keterangan Aktiva Kas dan deposito Bank Deposito berjangka Valuta asing dan klaim valas Surat berharga saham Saham preferen Obigasi Piutang Dagang Cadangan kerugian piutang Persediaan barang Persediaan yang ada dalam kontrak Piutang pegawai Piutang jangka panjang Uang muka kepada pemasok Aktiva tetap Akumulasi depresiasi Moneter X X X X X X X X X X X X X X X Non Moneter

Keterangan Hak patent, hak cipta, dan lisensi Good Will Aktiva tidak berwujud yang lain Utang Utang Dagang Utang Biaya Utang deviden kas Uang muka langganan Utang kerugian kontrak pembelian perusahaan Utang dengan jaminan Kontrak penjualan

Moneter

Non Moneter X X X

X X X X X X X

Pos-pos non moneter dinyatakan kembali menurut harga konstan dengan mengalikan harga perolehan historical cost pos yang bersangkutan dengan faktor konversi indeks harga yaitu; Indeks Harga Tahun Berjalan Indeks harga pos non moneter diperoleh Sebagai contoh apabila sebuah gedung diperoleh pada tahun 1990 dengan harga Rp 1 juta dan didepresiasi setiap tahun Rp. 20.000, indeks harga tahun 1990 sebesar 120 dan indeks harga pada th 2007 adalah 180, pada 31 Desember 2007 disajikan di Neraca sbb: Sebelum penyesuaian Gedung Akumulasi dep Gedung neto Faktor Konversi Setelah penyesuaian menurut daya beli konstan Rp. 1.500.000 Rp. 150.000 Rp. 1.350.000

Rp. 1.000.000 180/120 Rp. 100.000 180/120 Rp. 900.000

Pos-pos hak pemilik perusahaan dinyatakan kebali menurut harga mata uang konstan dengan cara seperti aktiva tersebut diatas,kecuali pos laba yang ditahan. Hak pemilik ( pemegang saham ) tersebut dinyatakan dengan perhitungan sbb: Indeks Harga Tahun Berjalan Indeks Harga Modal diinvestasikan Sedangkan laba yang ditahan, yang tidak dapat dinyatakan kembali menurut harga mata uang konstan dengan cara konversi yang tunggal, harus dihitung dengan cara sbb: 1. Laporan keuangan menurut harga perolehan historis dinyatakan menurut harga konstan untuk pertama kali, laba yang ditahan dapat ditentukan secara sederhana dari selisih aktiva dan pasiva setelah semua pos ( yang non moneter disesuaikan ) 2. Periode ± periode berikutnya, laba ditahan pada akhir periode tersebut menurut harga kostan dapat ditentukan dengan cara: a. Laba bersih periode berjalan dilaporkan menurut harga konstan. b. Penyesuaian yang dihasilkan dari laba / rugi harga konstan dari hak pemegang saham yang bbersifat moneter.

PENENTUAN ANGKA INDEKS HARGA Angka indeks adalah suatu angka yang menunjukkan suatu tingkat perubahan secara relatif. Indeks harga merupakan suatu indikator yang menunjukan tingkat harga barang pada waktu tertentu secara relatif dibanding dengan suatu tingkat harga barang tersebut pada tahun dasar yang dipilih berdasarkan keadaan ekonomi normal. Indeks harga ditentukan dengan cara sebagai berikut: 1. Persentase harga barang tertentu pada periode berjalan dibandingkan dengan harga barang pada tahun dasar. I = ( Pn/Po ) x 100 dimana I = Indeks harga Pn = Tingkat harga pada tahun berjalan Po = Tingkat harga pada tahun dasar 2. Persentase jumlah harga barang pada periode berjalan dibandingkan dengan jumlah harga barang tersebut pada tahun dasar dibagi dengan jumlah barang yang bersangkutan. Pn/Po X 100 I= N dimana N = Jumlah barang yang harganya dibandingkan.

3. Persentase harga barang tertentu pada periode berjalan dibandingkan dengan harga barang pada tahun dasar, dengan faktor penimbang. I= Pn/Pg Po/Pg X 100

dimana Pg = faktor penimbang PERBEDAAN POS MONETER DAN POS NON MONETER Pos non moneter harus dinyatakan kembali menurut harga rupiah pada saat penyusunan laporan keuangan, dan pos moneter adalah sudah menunjukkan harga rupiah pada saat waktu pelaporan keuangan. Pos moneter didefinisikan sebagai pos-pos yang jumlahnya ditentukan oleh kontrak atau yang mempunyai nilai tetap dalam satuan mata uang, sehingga nilainya tidak terpengaruh oleh adanya perubahan. Selanjutnya gambaran mengenai penyusunan laporan keuangan dengan pendekatan tingkat bunga umum adalah sbb:

PT Bina Riani memulai usahanya pada th 2005, ketika indeks harga barang adalah 100. Neraca PT Bina Riani untuk tahun 2005 dan akhir th 2006 secara ringkas sbb: ( dalam ribuan rupiah ) Keterangan Aktiva moneter Persediaan barang Tanah Gedung dan alat Akumulasi depresiasi Utang Modal Saham Laba ditahan Jumlah 31 Desember 2005 Debet 4.500 4.500 6.000 7.500 7.500 15.000 22.500 22.500 25.500 Kredit 31 Desember 2006 Debet 9.000 3.000 6.000 7.500 1.500 7.500 15.000 1.500 25.500 Kredit

LAPORAN RUGI LABA PER 31 DESEMBER 2006 SBB:

( dalam ribuan rupiah ) Hasil penjualan Harga pokok penjualan Persediaan awal Pembelian Jumlah barang Persediaan akhir Harga pokok penjualan Laba kotor Biaya operasi Biaya bunga Biaya penjualan dan administrasi, umum Depresiasi Total biaya operasi Laba bersih 30.000 4.500 7.200 11.700 3.000 8.700 21.300 750 17.550 1.500 19.800 1.500

Informasi yang tersedia untuk penyusunan laporan keuangan menurut tingkat harga umum konstan adalah sbb: 1. Indeks harga yang berlaku untuk periode tahun 2005 dan tahun 2006 sbb: 31 Desember 2005 100 31 Desember 2006 180 Indeks harga rata-rata 120 2. Semua penghasilan dan biaya terjadi selama tahun periode yang bersangkutan, kecuali harga pokok penjualan dan biaya depresiasi. 3. Pembelian persediaan barang dilakukan pada saat indeks harga 150 4. Arus persediaan barang adalah mengikuti arus kas masuk terakhir keluar pertama 5. Biaya depresiasi gedung dan alat diakumulasikan dengan metode garis lurus. Prosedur untuk menyajikan laporan keuangan atas dasar nilai mata uang akhir tahun 2005 dan 2006 adalah sbb: 1. Menyesuaikan neraca pada 31 Desember 2005 dengan tingkat harga tahun 2006

PT BINA RIANI NERACA PER 31 DESEMBER 2005 ( DALAM RIBUAN RUPIAH )

Sebelum penyesuaian Aktiva moneter Persediaan barang Tanah Gedung dan alat Akumulasi depresiasi Utang Modal saham Laba ditahan Jumlah 4.500 4.500 6.000 7.500 0 22.500 7.500 15.000 0 22.500

Faktor Konversi 180/100 180/100 180/100 180/100

Setelah penyesuaian 8.100 8.100 10.800 13.500 0 40.500 13.500 27/000 40.500

180/100 180/100

2. Menyesuaikan neraca per 31 Desember 2006 dari neraca yang berdasar harga perolehan historis menjadi neraca dengan harga sekarang sbb:
PT BINA RIANI NERACA PER 31 DESEMBER 2006 ( DALAM RIBUAN RUPIAH )

Sebelum penyesuaian Aktiva Moneter Persediaan barang Tanah Gedung dan alat Akumulasi depresiasi Utang Modal saham Laba ditahan Jumlah 9.000 3.000 6.000 7.500 (1.500 ) 24.000 7.500 15.000 1.500 24.000

Faktor konversi 180/180 180/100 180/100 180/100

Setelah penyesuaian 9.000 5.400 10.800 11.250 ( 1.500 ) 34.800 10.800 22.500 1.500 34.800

180/180 180/100

3. Menyatakan laporan rugi laba yang disusun atas dasar biaya historis menjadi laporan laba rugi atas dasar harga yang berlaku akhir tahun 2006 PT BINA RIANI LAPORAN RUGI / LABA PER 31 DESEMBER 2006 ( DALAM RIBUAN RUPIAH

Sebelum Penyesuaian Hasil penjualan Harga pokok penjualan Persediaan awal Pembelian Persediaan akhir HPP Laba Kotor Biaya operasi Biaya bunga Biaya penjualan, administrasi umum Depresiasi Total biaya Laba bersih 30.000 4.500 7.200 11.700 3.000 8.700 21.300 750 17.550 1.500 19.800 1.500

Faktor Konversi 180/120 180/100 180/150 180/100

Setelah penyesuaian 45.000 8.100 8.640 16.740 5.400 11.340 33.660 1.125 26.325 2.700 30.150 3.510

180/120 180/120 180/100

4. Menghitung laba atau rugi harga konstan Sebelum Faktor Penyesuaian Konversi Asset netto moneter 1/1 2006 Penerimaan moneter selama 2006 Pos-pos moneter netto Pembayaran moneter Pembelian Bunga Biaya penjualan, administrasi umum Total Asset moneter netto Menurut perhitungan 31 Desember 06 Asset netto sesungguhnya 31 /12 06 Rugi atas pemilikan asset moneter ( 3.000 ) 30.000 27.000 7.200 750 17.550 180/100 180/120 Setelah Penyesuaian ( 5.400 ) 45.000 39.600 8.640 1.125 26.325 36.090 3.510 1.500 2.010

180/150 180/120 180/120

5. Rekonsiliasi Laba ditahan sbb: Laba ditahan per 1 Januari 2006 Laba bersih Rugi penyesuaian dasar harga konstan Laba ditahan per 31 Desember 2006

Rp 000 Rp. 3.510 Rp. 3.510 Rp. 2.010 Rp. 1.500

AKUNTANSI PERSEKUTUAN FIRMA Persekutuan firma didefinisikan sebagai suatu persekutuan dua orang atau lebih sebagai pemilik sekutu untuk menjalankan suatu perusahaan yang mencari laba. Sifat Persekutuan dan ciri penting Fa Badan usaha bentuk Fa digunakan luas. Sebagaimana halnya dengan organisasi perusahaan bentuk PT, bentuk Fa memungkinkan penyatuan kekayaan untuk suatu tujuan usaha biasa. 1. Keagenan atau perwakilan bersama. Masing-masing sekutu menjadi agen atau wakil persekutuan firma bagi tujuan perusahaan. Tindakan-tindakan seorang sekutu mengikat persekutuan firma asalkan tindakan ini berada dalam batas-batas wewenangnya yang tersurat ataupun yang tersirat. 2. Umur terbatas. Oleh karena persekutuan firma menyatakan kaitan atau hubungan yang timbul dari suatu kontrak antara pihak-pihak bersangkutan. 3. Tanggung jawab tak terbatas. Tanggung jawab sekutu tidak terbatas pada jumlah investasinya. Maksudnya adalah sekutu dapat bertanggung jawab secara pribadi dan aktiva mereka yang terpisah, dapat ditahan untuk memenuhi kewajiban Fa.

4. Pemilikan Kepentingan Dalam Persekutuan. Harta benda yang ditanamkan dalam suatu Fa tidak lagi dimilki secara terspisah oleh masing-masing sekutu melainkan sekarang menjadi milik persekutuan perorangan yang berbentuk Fa. 5. Partisipasi dalam laba Fa Masing masing sekutu ikut serta dan memperoleh bagian dalam laba persekutuan Fa. Akan tetapi suatu persetujuan yang menetapkan pembagian laba itu sendiri tidak dengan sendirinya menciptakan suatu persekutuan Fa Jenis Persekutuan Firma 1. Fa Dagang dan non dagang 2. Fa Umum dan terbatas KEPENTINGAN DALAM MODAL DALAM LABA Kepentingan sekutu dalam suatu Fa harus dipisahkan dari bagiannya dalam laba perusahaan. Kepentingan sekutu diringkaskan dalam perkiraan modalnya dan terdiri dari investasi semula, investasi berikutnya dan pengambilan privenya dan bagiannya dalam laba dan rugi perusahaan. Bagian laba seorang sekutu menentukan sampai sejauh mana kepentingannya akan turun naik akibat rugi / laba yang dialami perusahaan.

Arti penting dari uraian diatas diperlihatkan dalam contoh berikut ini. Sdr A dan B mendirikan sebuah Fa. Masing-masing sekutu menanamkan aktiva dan menerima kredit masing-masing Rp. 30.000 dan Rp. 10.000, maka Aktiva Neto Sekutu A Sekutu B Investasi Rp. 40.000 Rp. 30.000 Rp. 10.000 Sekutu A mempunyai kepentingan Rp. 30.000 dalam perusahaan dinyatakan sebagai ¾ atau 75 %. Kepentingan sekutu B Rp. 10.000 atau ¼ bagian ( 25% ). Misalnya bahwa Fa menghasilkan laba Rp. 25.000. Laba atau rugi dibagai rata. Perkiraan Fa ini akan melaporkan jumlah-jumlah sbb: Aktiva neto Rp. 40.000 Rp. 25.000 Rp. 65.000 Aktiva neto Rp. 40.000 Rp. (25.000) Rp. 15.000 Sekutu A Rp. 30.000 Rp. 12.500 Rp. 42.500 Sekutu A Rp. 30.000 Rp. (12.500) Rp. 17.500 Sekutu B Rp. 10.000 Rp. 12.500 Rp. 22.500 Sekutu B Rp. 10.000 Rp. (12.500) Rp. (2.500)

Investasi Penghasilan Total Jika Rugi menjadi sbb Investasi Penghasilan Total

PEMBUKUAN INVESTASI SEKUTU Investasi sekutu dapat dilakukan dalam bentuk uang kas atau aktiva lainnya seperti ditetapkan dalam kontrak. Apabila aktiva yang ditanamkan bukanuang kas,maka penetapan nilai untuk aktiva demikian harus dilakukan dengan persetujuan sekutu. Aktiva dibukukan atau dicatat sesuai dengan persetujuan, dan perkiraan modal masing-masing sekutu dikredit sebesar jumlah masing-masing investasi.

MERUBAH PERUSAHAAN PERSEORANGAN MENJADI Fa Perseorangan yang menjalankan suatu perusahaan seringkali bekerja sama dengan orang-orang dengan orang-orang lain untuk mendirikan suatu persekutuan firma. Disini aktiva dan pasiva perusahaan perorangan dapat dipindahkan ke badan usaha yang baru didirikan. Sebagai contoh kita misalkan bahwa saudara E dan saudara F mendirikan sebuah firma. Saudara E menjalankan suatu perusahaan perorangan dan perusahaan ini dilanjutkan oleh badan usaha firma yang baru dibentuk. Saudara F menanamkan uang kas Rp. 25.000. Sebelum bada usaha yang baru ini dibentuk suatu neraca disusun untuk perusahaan saudara E sbb:

Aktiva Kas Piutang dag 20.000 Cad piutang sanksi 1.200 Brg dag Persd kebthn toko Inventaris 12.000 Ak penyustn 5.600 Total aktiva

PERUSAHAAN SAUDARA E DAFTAR NERACA PER 30 JUNI 2007 Pasiva dan Modal 16.200 Utang Dagang Modal E 18.800 21.400 1.600 6.400 64.400

24.000 40.400

Total pasiva

64.400

Disetujui bahwa saudara E akan mengambil uang kas dn bahwa Firma akan mengambil alih sisa aktiva dan menangggung pasiva. Akan tetapi penyesuaian harus dibuat sbb: 1. Piutang dagang : Piitang sangsi sebesar Rp. 1.000 harus dihapuskan; atas sisa piutang dagang ditetapkan sisihan untuk piutang sangsi sebesar 4%. 2. Persediaan barang dagangan: Barang ± barang yang sebelumnya dinilai dengan harga pokok menurut metode LIFO harus ditetapkan dengan nilai pasarnya Rp. 26.600 3. Inventaris: Nilai gantinya Rp. 15.000 akan tetapi aktiva ini dipertimbangkan telah disusutkan 50% dan nilai sehatnya Rp. 7.500 4. Good Will: Saudara E harus dikreditkan untuk good will yang dipandang berkaitan dengan perusahaan Rp. 10.000 5. Buku ±buku partisipan terus digunakan untuk firma yang baru. Sekiranya buku saudara E terus digunakan untuk badan usaha firma yang baru dibentuk, maka dapat disusun pos-pos jurnal sbb:

Pos jurnal yang diperlukan Jurnal Penyesuaian Cadangan piutang sanksi 440 Persediaan barang dagangan 5.200 Akumulasi penyusutan 5.600 Good Will 10.000 Piutang dagang Inventaris Modal E Jurnal Pengambilan uang Modal E 16.200 Kas Jurnal Investasi F Kas 25.000 Modal F

1.000 4.500 15.740

16.200

25.000

Penjelasan 1. Piutang dagang a. Rp. 1.000 harus dihapuskan Modal E Rp. 1.000 Piutang Rp. 1.000 b. Jumlah piutang Rp. 20.000 dihapuskan Rp. 1.000 Saldo piutang Rp. 19.000 dicadangkan 4% Rp. 760, menurut buku Rp. 1.200, berarti kelebihan Rp. 440 Cadangan piutang sanksi Rp. 440 Modal E Rp. 440 2. Persediaan barang dagangan Rp. 21.400 dinilai Rp. 26.600 berarti ada kenaikan Rp. 5.200 Persediaan barang dagangan Rp. 5.200 Modal E Rp. 5.200

3. Inventaris Nilai gantinya Rp. 15.000 Disusutkan 50% Rp. 7.500 Nilai sehatnya Rp. 7.500 Nilai bukunya Rp. 6.400 Ada kenaikan Rp. 1.100 Dengan demikian inventaris lama harus dikeluarkan, dan cadangan penyusutannya juga di sesuaikan. Cadangan penyusutan Rp. 5.600 Inventaris Rp. 4.500 Modal E Rp. 1.100 4. Good Will Good Will Rp. 10.000 Modal E Rp. 10.000

MODAL E ( penyesuaian ) Penghapusan piutang 1.000 Barang dag 5.200 Saldo 15.740 Inventaris 1.100 Piutang sanksi 440 Good Will 10.000 JUmlah 16.740 Jumlah 16.740 Modal Akhir Sekutu E menjadi Modal awal Penyesuaian Jumlah Ambilan Modal akhir ( perusahaan baru )

Rp. 40.400 Rp. 15.740 Rp. 56.140 Rp. 16.200 Rp. 39.940

Selanjutnya Neraca badan usaha yang baru menjadi Fa E dan F Neraca per 30 Juni 2007 Kas 25.000 Utang dagang Piutang 19.000 Ak peny 760 18.240 Modal E Brg dagangan 26.600 Modal F Persed kep toko 1.600 Inventaris 7.500 Good Will 10.000 Jumlah 88.940 JUmlah

24.000 39.940 25.000

88.940

PEMBAGIAN RUGI / LABA Laba dan rugi pada umumnya dibagi dengan salah satu cara berikut ini : a. Laba / rugi di bagi rata Misalnya Fa A dan B memperolah laba Rp. 36.000. Buku masing-masing sekutu seperti berikut ini Modal Sekutu A Modal Sekutu B 1 Jan 50.000 1 Maret 5.000 1 jan 70.000 1 April 10.000 1 Nop 10.000

Prive Sekutu A 1 Jans/d 31 Des 6.000

Prive Sekutu B 1/1 s/d 31 Des 19.000

Jika laba / rugi dibagi rata maka bagian masing-masing sekutu adalah Sekutu A = 1/2 X Rp. 36.000 = Rp. 18.000 Sekutu B = 1/2 X Rp. 36.000 = Rp. 18.000 Laba / rugi Rp. 36.000 Prive A Rp. 18.000 Prive B Rp. 18.000 b. Laba / Rugi dibagi menurut ratio yang dikehendaki Misalnya pembagian laba / rugi A dan B adalah 3 : 2, maka bagian laba, sekutu A 3/5 x Rp. 36.000 = Rp. 21.600 sekutu B 2/5 x Rp. 36.000 = Rp. 14.400 Laba / Rugi Rp. 36.000 Prive A Rp. 21.600 Prive B Rp. 14.400 Jika rugi Prive A Rp. 21.600 Prive B Rp. 14.400 Laba / rugi Rp. 36.000

c. Laba / rugi dibagi dalam ratio modal sekutu 1. Modal awal ( semula ) 2. Modal pada tiap awal periode fiskal 3. Modal pada tiap akhir periode fiskal 4. Modal rata-rata untuk tiap periode fiskal Modal Semula = awal periode fiskal Jika persetujuan antara sekutu A dan B menetapkan pembagian laba berdasarkan modal semula, maka rasionya adalah 50.000 : 70.000 A = 5/12 x Rp. 36.000 = Rp. 15.000 B = 7/12 x Rp. 36.000 = Rp. 21.000 Laba / rugi Rp. 36.000 Prive A Rp. 15.000 Prive B Rp. 21.000 Modal Pada Tiap Akhir Periode Fiskal Modal sekutu A 31 Desember Rp. 60.000 Modal sekutu B 31 Desember Rp. 75.000

Bagian sekutu A = 60/135 x Rp. 36.000 = Rp. 16.000 Bagian sekutu B = 75/135 x Rp. 36.000 = Rp. 20.000 MODAL RATA-RATA TIAP AKHIR PERIODE FISKAL Tanggal Saldo Inv Jumlah bln Bln X Inv Sekutu A 1 jan 50.000 3 150.000 1 april 60.000 9 540.000 Sekutu B 1 jan 1 maret 1 nop 70.000 65.000 75.000

JUmlah 690.000

2 140.000 8 520.000 2 150.000 810.000 Jumlah 1.500.000 Bagian laba sekutu A = ( 690.000/1.500.000 ) x 36.000 = Rp. 16.560 Bagian laba sekutu B = ( 810.000/1.500.000 ) x 36.000 = Rp. 19.440 d. Laba dan Rugi dibagi dengan memberikan bunga Misalkan bahwa sekutu A dan B menyetujui pemberian bunga atas invetasi rata-rata sebesar 6%. Setiap saldo laba atau rugi harus dibagi sama

Pembagian Bunga Sekutu A Bunga atas modal Rp. 50.000@ 6% x 3 bln Bunga atas modal Rp. 60.000@6% x 9 bln Sekutu B Bunga atas modal Rp. 70.000@6% x 2 bln Bunga atas modal Rp. 65.000 x 8 bln Bunga atas modal Rp. 75.000 x 2 bln Jumlah Laba / rugi Rp. 7.500 Prive A Rp. 3.450 Prive B Rp. 4.050 Laba Rp. 36.000 Bunga Rp. 7.500 Saldo laba Rp. 28.500 Bagian laba sekutu A = ½ x Rp. 28.500 = Rp. 14.250 Bagian laba sekutu B = ½ x Rp. 28.500 = Rp. 14.250 Laba / rugi Rp. 28.500 Prive A Rp. 14.250 Prive B Rp. 14.250

= Rp. 750 = Rp. 2.700 = Rp. 700 = Rp. 2.600 = Rp. 750

Rp. 3.450

Rp. 4.050 Rp. 7.500

e. Laba dan Rugi dibagi dengan memberikan gaji kepada sekutu. Misalnya A dan B sepakat untuk pemberian gaji masing ± masing sebesar Rp. 1.500 dan Rp. 1.250 per bulan. Saldo laba dibagi sama Laba Rp. 36.000 Gaji Sekutu A 12 x Rp. 1.500 = Rp. 18.000 Sekutu B 12 x Rp. 1.250 = Rp. 15.000 Total gaji Rp. 33.000 Saldo Laba Rp. 3.000 Bagian laba A = ½ X Rp. 3.000 = Rp. 1.500 Bagian laba B = ½ x Rp. 3.000 = Rp. 1.500 Pada saat menerima gaji Laba / Rugi Rp. 33.000 Prive A Rp. 18.000 Prive B Rp. 15.000 Pada saat pembagian laba Laba / rugi Rp. 3.000 Prive A Rp. 1.500 Prive B Rp. 1.500

PERUBAHAN DALAM PEMILIKAN 1. Penerimaan masuk sekutu baru Seorang sekutu dapat masuk sebagai sekutu baru hanya dengan kesepakatan semua sekutu. Penerimaan masuk demikian menimbulkan persekutuan baru. a. Perolehan kepentingan lewt pembelian. Apabila seorang memperoleh sebagian atau seluruh kepentingan seorang sekutu dalam suatu perusahaan, maka kepentingan yang diperoleh dibukukan sebagai modal sekutu yang baru dan modal sekutu yang menjual kepentingan dikurangi dengan jumlah yang sama. Sebagai contoh saudara Bina Riani dan Bina Riana adalah dua orang sekutu,masing-masing dengan modal Rp. 30.000 dan berbagi rata dalam laba dan rugi. Saudara Bina Rianto membeli ½ dari kepetingan Bina Riana dengan harga Rp. 18.000. Bina Riani menyetujui peneriman masuk sekutu Biana Rianto selaku sekutu. Maka pos jurnal yang dibuat adalah; Modal sekutu Bina Riana Rp. 15.000 Modal sekutu Bina Rianto Rp. 15.000 Pos jurnal ini dibuat terlepas dari jumlah yang dibayar oleh saudara Bina Rianto kepada Bina Riana. Total modal perusahaan tetap Rp. 60.000. Sekutu Bina Riani mempunyai kepentingan 50% dari perusahaan yang baru, Bina Riana 25% dan Bina Rianto 25 %. Kenyataannya bahwa Bina Rianto memperoleh kepentingan 25%, tetapi belum tentu kepentingan dalam rugi dan laba juga 25%

b. Memperoleh kepentingan lewat investasi. Apabila seseorang memperoleh kepentingan lewat investasi, maka dengan ini aktivaaktiva dan modal firma bertambah. Sebagai contoh kita misalkan bahwa sekutu D dan E mempunyai modal masing-masing Rp, 20.000 dan Rp. 10.000 dan berbagi rata dalam laba dan rugi. Saudara F diterima masuk sebagai sekutu baru dengan investasi Rp.12.000. Laba dan rugi firma yang baru dibagi rata. Kas Rp. 12.000 Modal F Rp. 12.000 Dengan demikian kepentingan masing-masing sekutu menjadi D = 20/42, E = 10/42 dan F = 12 / 42 atau 29%. Misalkan bahwa persetujuan D, E dan F menetapkan sekutu F harus menanamkan investasi dalam jumlah yang cukup untuk memperoleh kepentingan sebesar ¼ bagian atau 24% dalam perusahaah yang baru. Dalam hal ini modal gabungan kedua sekutu semula Rp. 30.000 akan merupakan ¾ bagian dari modal yang baru, dan sekutu baru harus menanamkan Rp. 10.000 atau kepentingan ¼ bagian. Maka modal masing-masing sekutu D, E dan F adalah Rp. 20.000 + Rp. 10.000 + Rp. 10.000 = Rp. 40.000. Berarti kepentingan masing-masing sekutu menjadi 2/4,1/4 dan 1/4

c. Investasi dengan pemberian Bonus atau Goodwill kepada sekutu Lama 1. Bonus Modal sekutu D dan E Rp. 30.000 dan sekeutu F dikredit Rp. 10.000 dalam memperoleh kepentingan ¼ bagian kendatipun harus menanamkan Rp. 12.000. Oleh karena itu aktiva neto menjadi Rp. 42.000. Jika modal F dikredit Rp. 12.,000 dan tidak terjadi perubahan dalam perkiraan modal sektu D dan E, maka kepenitngan F menjadi12/42, yang berarti lebih besar dari ¼ bagian. Dengan demikian Rp. 2.000 diangap sebagai bonus. D dan E ( ¾ ) bagian = ¾ x Rp. 2.000 = Rp. 1.500 Oleh karena D dan E berbagai rata dalam laba dan rugi, maka bonus D = ½ x Rp. 1.500 = Rp. 750 E = ½ x Rp. 1.500 = Rp. 750 Kas Rp. 12.000 Modal sekutu D Rp. 750 Modal seketu E Rp. 750 Modal sekutu F Rp. 10.500

2. Good Will Akan tetapi kita misalkan sekutu F menyatakan bahwa perkiraan modalnya melaporkan invetasi sebenarnya Rp. 12.000 kendati ia menerima kepentingan ¼ bagian dengan investasi Rp. 12.000. Jika modal sekutu F Rp. 12.000 dinyatakam ¼ bagian dari seluruh modal, maka total modal adalah Rp. 48.000 Modal F Rp. 12.000 Modal D dan E ( ¾ ) Rp 36.000 Modal sekutu D dan E ( lama ) Rp. 30.000 Good will ( D dan E ) Rp. 6.000 Jurnal yang diperlukan Good Will Rp. 6.000 Madal D Rp. 3.000 Modal E Rp. 3.000 Kas Rp. 12.000 Modal F Rp. 12.000

PERBANDINGAN METODE BONUS DAN METODE GOOWILL

Keterangan Metode Bonus Metode Good will

Good Will

Aktiva lain 42.000

Modal D 20.750 23.000

Modal E 10.750 13.000

Modal F 10.500 12.000

6.000

42.000

Misalkan pada akhir periode aktiva dicairkan tidak lebih dari Rp. 42.000, Sehingga gagal untuk menetapkan goodwill. Jika metode good will digu nakan untuk membukukan investasi F, maka kegagalan untuk merea lisasikan goodwill akan menimbulkan kerugian yang dapat dibebankan ke pada sekutu-sekutu dalam ratio laba dan rugi. INVESTASI DENGAN MEMBERIKAN BONUS / GOODWILL KEPADA SEKUTU BARU Suatu firma membutuhkan dana tambahan atau sekutu mungkin meng inginkan jasa ± jasa seseorang tertentu. Dalam hal demikian seorang anggota baru dapat diterima masuk dengan ketentuan sekutu baru di beri bonus atau goodwill.

1. Bonus Misalkan Fa D dan E membutuhkan modal tambahan dan juga jasa dari F. Sekutu D dan E setuju untuk memberikan kepentingan 2/5 bagian kepada F atas investasinya Rp. 12.000. Jika perkiraan modal sekutu F dikredit sebesar Rp. 12.000 dan tidak terjadi perubahan dalam perkiraan modal sektu D dan E, maka kepentingan sekutu F akan sebesar 12/42 yang lebih kecil dari 2/5 bagian. Oleh karena aktiva neto perusahan setelah F diterima masuk Rp. 42.000, maka kredit Rp. 16.800 untuk sekutu F memberikan kepentingan 2/5 bagian. Kas Rp. 12.000 Modal D Rp. 2.400 Modal E Rp. 2.400 Modal F Rp. 16.800 2. Good will Akan tetapi misalkan bahwa sekutu D dan E tidak menghendaki modal mereka berkurang, kendati mereka bersedia memberikan kepentingan 2/5 bagian dalam perusahaan kepada sekutu F atas investasinya Rp. 12.000. Saldi modal sekarang sukutu dapat digunakan sebagai dasar penerapan kepentingan yang harus diberikan kepada sekutu F dan goodwill yang ia pertimbangkan. Jika jumlah modal sekutu D dan E Rp. 30.000, menyatakan 3/5 dari total modal, maka total modal adalah Rp. 50.000

dan kepentingan F menjadi Rp. 20.000 Kas Rp. 12.000 Goodwill Rp. 8.000 Modal F Rp. 20.000

LIKUIDASI Proses likuidasi suatu perusahaan biasanya terdiri dari pecairan sebagan atau seluruh aktiva menjadi uang kas, penyelesaian dengan kreditur, dan pembagian sisa aktiva kepada kelompok pemilikan. Pencairan aktiva menjadi uang kas tersebut disebut realisasi, sedangkan pembayaran tuntutan ± tuntutan disebut likuidasi. Istilah likuidasi juga digunakan dalam arti luas untuk menyatakan proses likuidasi tuntas. Prosedur Dalam Likuidasi Apabila suatu persekutuan Firma harus dilikuidir, maka buku-buku harus disesuaikan dan ditutup, kemudian pendapatan neto atau rugi neto untuk periode itu harus dipindah bukukan keperkiraan modal masing-masing sekutu, kemudian firma siap dilikuidir. Apabila aktiva dicairkan menjadi uang kas,maka selisih antara nilai buku dan jumlah terealisir menyatakan laba atau rugi yang harus diperuntukkan atau dibebankan kepada sekutu dalam rasio laba atau rugi.

Pembyaran Kepada Sekutu Setelah Realisasi Selesai Contoh. Fa A,B,C,D memutuskan untuk melikuidir diri. Semua Aktiva firma ini harus dicairkan menjadi uang kas. Sekutu A,B,C,D membagi laba dan rugi dalam rasio 30,30,20 dan 20 prosen. Daftar Neraca per 1Mei 2007 tepat sebelum likuidasi sbb: Aktiva Pasiva dan Modal Kas 10.000 Pasiva 75.000 Aktiva lainnya 180.000 Pinjaman B 6.000 Pinjaman D 5.000 Modal A 42.000 Modal B 31.500 Modal C 20.500 Modal D 10.000 Total Aktiva 190.000 Total Pasiva 190.000 Dengan asumsi bahwa aktiva ± aktiva firma direalisisr dengan jumlah ± jumlah kas yang berbeda ± beda sbb: 1. Realisasi aktiva sebesar Rp. 140.000 4. Realisasi aktiva sebesar Rp. 80.000 2. Realisasi aktiva sebesar Rp. 120.000 5. Realisasi aktiva sebesar Rp. 60.000 3. Realisasi aktiva sebesar Rp. 100.000

1. Realisasi aktiva Rp. 140.000, sedangkan nilai buku Rp. 180.000, maka rugi Rp. 40.000 ditangung oleh para sekutu dengan rasio 30,30,20 dan 20 Jurnal a. Penjualan aktiva Kas 140.000 Modal A 12.000 Modal B 12.000 Modal C 8.000 Modal D 8.000 Aktiva lainnya 180.000 b. Pembayaran kepada kreditur Pasiva 75.000 Kas 75.000 c. Pembayaran kepada sekutu Pinjaman B 6.000 Pinjaman D 5.000 Modal A 30.000 Modal B 19.500 Modal C 12.500 Modal D 2.000 Kas 75.000

ikhtisar Likuidasi ( dalam raibuan )

Keterangan

Kas

Aktiva lain 180 (180) 00

Pasi va 75

Pinja man B 6

Pinja man D 5

Modal A 42 (12 )

Modal B 31.5 ( 12 ) 19.5

Modal C 20.5 (8) 12.5

Modal D 10 (8) 2

Saldi sblum lik Penjualan aktiva

10 140 150

75 (75) 00

6

5

30

Pembayaran kpd kreditur

( 75 ) 75

6

5

30

19.5

12.5

2

Pembayaran kpd para sekutu

(75)

(6)

(5)

( 30 )

(19.5)

(12.5 )

(2)

2. Aktiva terealisasi Rp. 120.000 ikhtisar Likuidasi ( dalam raibuan ) Keterangan Kas Aktiva lain 180 (180) 00 Pasi va 75 Pinja man B 6 Pinja man D 5 Modal A 42 (18) 24 Modal B 31.5 (18) 13.5 Modal C 20.5 (12) 8.5 Modal D 10 (12) (2)

Saldi sblum lik Penjualan aktiva

10 120 130

75 (75) 00

6

5

Pembayaran kpd kreditur Pengimbangan Pinjaman

(75) 55

6

5 (2) 3 (3)

24

13.5

8.5

(2) 2 0

55 Pembayaran kpd sekutu ( 55 )

6 (6)

24 ( 24 )

13.5 (13.5)

8.5 8.5

3. Realisasi Rp. 100.000 Ikhtisar Likuidasi ( dalam ribuan )

Keterangan

Kas

Aktiva lain 180 (180) 00

Pasi va 75

Pinja man B 6

Pinja man D 5

Modal A 42 (24) 18

Modal B 31.5 (24) 7.5

Modal C 20.5 (16) 4.5

Modal D 10 (16) (6)

Saldi sblm lik Penj aktiva

10 100 110

75 (75)

6

5

Pemb kps kreditur Penimbngan pinjamn D Pemb kpd skt

( 75 ) 35

6

5 (5)

18

7.5

4.5

(6) 5

35 (35)

6 (6)

0

18 (17.6 25) 0,375

7.5 (7.125 ) 0,375 (0,375 )

4.5 ( 4.25) 0,25 (0,25)

(1)

Inv tambah D Pemb kpd skt

1 (1)

(1) 1

(0,37 5)

Lampiran Ikhtisar Likuidasi

Keterangan Saldi modal sblm pembagian Ditambah: Saldo pinjaman Total kepentingan para sekutu Kerugian D ditanggung A,B,C jika gagal setor ( 30,30,20 ) Kepentingan yg harus dibayarkan kpd A,B,C Pembayaran untuk menutup pinjaman Pembayaran untuk menutup modal Total pembayaran uang kas

Sekutu A 18.000

Sekutu B 7.500 6.000 13.500 ( 375 ) 13.125

Sekutu C 4.500

Sekutu D ( 1.000 )

18.000 ( 375 ) 17.625

4.500 ( 250 ) 4.250

( 1.000 ) 1.000 0

17.625 17.625

6.000 7.125 13.125

4.250 4.250

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->