P. 1
Sejarah Islam Di Sumatera Barat II

Sejarah Islam Di Sumatera Barat II

|Views: 661|Likes:
Published by Irhash A. Shamad

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: Irhash A. Shamad on Apr 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2012

pdf

text

original

Makalah Hasil Penelitian

Sejarah Perkembangan Agama Islam di Sumatera Barat
( Abad ke 19 dan 20 )

Oleh : Drs. Irhash A. Shamad, M. Hum.
Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang

Disampaikan pada Seminar Hasil Penelitian : “Sejarah Perkembangan Agama dan Lektur Keagamaan Islam di Indonesia” Badan Litbang dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI Wisma Haji Tugu, Puncak, Bogor 18-19 Desember 2006

I. Pendahuluan Latar Belakang
Gerakan pembaharuan Islam di Sumatera Barat dimulai ketika Tuanku Nan Tuo bersama murid-muridnya di surau Koto Tuo mengambil peran pemasyarakatan syari’ah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat agraris di wilayah pedalaman pada akhir abad ke-18. Gerakan yang merupakan aksi penataan kehidupan masyarakat dengan norma-norma keislaman pada fase pertama ini berjalan tanpa gesekan-gesekan. Namun pada fase kedua lebih meruncing karena menguatnya resistensi kaum adat. Kalangan adat merasa bahwa otoritas mereka terganggu oleh aksi beberapa kalangan ulama murid Tuanku Nan Tuo yang tidak sabar dalam menjalankan aksi syar’iyyah yang dihadapkan pada praktek-praktek adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam1 Pertikaian adat dan agama yang terjadi di wilayah pedalaman pada paruh pertama abad ke-19 menjadi “jalan masuk” bagi Belanda ke wilayah ini. Belanda mencoba memanfaatkan kedekatannya dengan kaum aristokrasi adat untuk secara berangsur-angsur menguasai wilayah-wilayah mereka sambil menekan golongan Islam. Ketika tujuan apa yang ada dibalik kerjasama Belanda dengan aristokrasi adat disadari, maka perjuangan kaum agama ini beralih menjadi perlawanan terhadap penjajahan (disebut : Perang Paderi). Setelah berakhirnya Perang Paderi 1837, perdebatan internal seputar paham tarikat ini ternyata tidak makin mereda, meski perhatian pada perbedaan pendapat itu teralihkan pada saat menghadapi musuh bersama. Polemik keagamaan ini kembali meruncing dan bahkan berimplikasi terhadap tumbuhnya motivasi sebagian masyarakat untuk berangkat ke Mekkah memperdalam pengetahuan agama Islam sambil menunaikan ibadah Haji. Kontak kedua kalangan ulama Minangkabau dengan Timur Tengah ini telah membawa pemikiran-pemikiran keagamaan yang sangat berpengaruh bagi perubahan-perubahan sosial di Minangkabau pada waktu-waktu berikutnya. Namun, seiring dengan kembalinya generasi baru intelektual Islam yang belajar di Timur Tengah ini ke Minangkabau, tercipta pula sebuah dinamika konflik keagamaan baru yang dipicu oleh munculnya pemikiran baru seputar keterikatan kepada mazhab dan kebolehan berijtihad. Konflik internal kedua ini lebih dikenal dalam sejarah dengan polemik Kaum Tua dan Kaum Muda. Persoalan pertama yang menjadi tema perdebatan kaum ulama ini adalah masalah praktek pengamalan tarikat Naqsyabandiyah yang oleh sebagian ulama pembaharu dianggap banyak yang keluar dari ajaran Islam yang sebenarnya, seperti praktek wasilah yang dianggap tidak sesuai dengan sunnah2.
1

Lihat : Irhash A. Shamad, dkk., 2005, Sejarah Perkembangan Agama Islam di Sumatera Barat, (Laporan Penelitian), Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang Agama dan Diklat Keagamaan Dept. Agama R.I. hal.46 dst.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

2

Dari konflik yang muncul ini dapat diasumsikan dua hal : pertama : Ahmad Khatib dalam halaqah pengajian yang diberikan kepada murid-muridnya sewaktu belajar di Timur Tengah, tidak atau belum menyentuh persoalanpersoalan yang menyangkut masalah ijtihad, namun ia tidak melarang sekaligus juga tidak menganjurkan murid-muridnya untuk belajar ke Mesir, di mana gagasan awal pembaharuan Islam ini tumbuh dan berkembang. Kedua : Latar belakang kultural masyarakat Minangkabau yang memelihara konflik sebagai sebuah dialetika dalam rangka melahirkan sintesis pemikiran pemikiran yang dinamis dan progresif3. Bagi masyarakat Minangkabau dinamika konflik diperlukan dan dipelihara agar kehidupan itu tidak menjadi statis dan pengalaman sejarah juga telah mengajarkan bahwa dinamika konflik di Minangkabau tidaklah mengarah pada disintegrasi. Sebaliknya situasi konflik agaknya berpotensi dalam melahirkan tokoh-tokoh Perumusan Masalah Apa yang menarik dari perjalanan sejarah Islam di Minangkabau pada dekade abad ke 19 dan 20 adalah bagaimana situasi konflik keagamaan telah menyediakan “ruang kreatifitas” yang luas bagi lahir dan berkiprahnya sejumlah tokoh dan intelektual Muslim Minangkabau semenjak abad ke 19 serta kebersinambungannya dari waktu ke waktu?. Pada dekade tertentu, bagaimana pula adat dan agama bersinergi dalam memapankan basis kultural masyarakat pada taraf aplikasinya, meskipun pertemuan keduanya diawali dengan konflik, bagaimana proses sejarah dari situasi Islam di Minangkabau yang selalu diwarnai konflik pemikiran, kemudian berhadapan dengan kenyataan kolonialisme pada awal abad ke 20? Dan kenapa pula pada dekade setelah kemerdekaan, justru proses sejarah masyarakat ini tidak sekondusif waktuwaktu sebelumnya, terutama dalam melahirkan tokoh-tokoh? Signifikansi dan Tujuan Penelitian Penelitian tentang masyarakat Minangkabau dan sejarahnya, apalagi pada aspek kultural, hingga saat ini masih saja dilakukan oleh para ahli, karena dirasakan bahwa masih banyak sisi-sisi kultural pada masyarakat ini yang belum terungkap. Bahkan keunikan kultural pada masyarakat ini --oleh sementara penulis-- dianggap sebagai bahan yang tak habis-habisnya untuk digali4. Penelitian dan penulisan tentang sejarah Islam di Minangkabau telah banyak dilakukan demikian juga penelitian tentang berbagai aspek kehidupan sosial dan kulturalnya. Tidak banyak penulisan sejarah perkembangan Islam di Minangkabau yang memberikan analisis tentang bagaimana Islam sebagai suatu sistem normatif, dalam perjalanan sejarahnya, dapat beradaptasi dalam
2

lihat : Hamka, 1967, Ayahku, Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, Djakarta : Djajamurni, hal. 79 3 Pepatah adat Minangkabau yang mengajarkan bahwa konflik itu perlu, berbunyi : Basilang kayu dalam tungku, baitu api mangko ka iduik (bersilang kayu dalam tungku, demikian api baru hidup) 4 Sebagaimana diungkapkan dari seorang antropolog hukum Franz von Benda-Beckmann dalam pengantar bukunya : Properti dan Kesinambungan Sosial : Kesinambungan dan Perubahan dalam Hubungan-Hubungan Properti Sepanjang Masa di Minangkabau (terjemahan), Jakarta : PT Gramedia – KITLV, 2000
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

3

masyarakat yang latar kulturalnya -pada bagian tertentu- sangat bertentangan dengan sistem normatif itu sendiri. Namun, pertemuan keduanya menjadi sebuah “bentrokan berharga” (contigency) dan melahirkan gagasan-gagasan berharga pula bagi upaya solusi dan pengembangan budaya masyarakat di setiap perkembangan sejarahnya. Domain (ranah) ini menjadi bagian utama yang menjadi alasan pentingnya penelitian ini dilakukan. Manfaat Penelitian Apa yang menjadi domain penelitian serta tujuan yang ingin dijangkau sebagaimana dikemukakan, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan tentang pengalaman sejarah Islam dan transformasi budaya suatu komunitas lokal dalam rentang historis dan latar belakang politik yang berbeda-beda. Kesimpulan ini akan bermanfaat untuk memberikan wawasan terhadap kajian keislaman dalam konteks lokal. Disamping itu juga akan berguna bagi pengambil kebijakan baik ditingkat lokal maupun nasional untuk mengembangkan dan menerapkan aspek-aspek apa dari tradisi keislaman yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kehidupan sosial dan kehidupan budaya masyarakat dalam menciptakan tata kehidupan yang harmonis tanpa kejutan-kejutan budaya akibat kesalahan persepsi serta pemahaman keliru tentang sisi-sisi kontributif dari Islam itu sendiri. Kerangka Konseptual Perkembangan Islam pada abad ke 19 dan 20 yang menjadi topik penelitian ini, pada dasarnya, adalah rangkaian dari penelitian sebelumnya, yaitu priode masuk dan berkembangnya Islam di Minangkabau hingga gerakan awal pembaharuan yang menjadi wilayah kronologis penelitian terdahulu. Oleh karena itu, kerangka konseptual yang digunakan pada penelitian ini masih tetap berpegang pada kerangka historis yang digunakan pada penelitian sebelumnya, dimana realitas perkembangannya pada dekade abad ke 19 dan 20 ditempatkan pada suatu kerangka proses panjang dari rangkaian implikasi realitas historis pada waktu sebelumnya. Realitas mana telah melahirkan berbagai karakteristik pelembagaan nilai dalam masyarakat Minangkabau sendiri. Surau, sebagai salah satu model pelembagaan sosial di Minangkabau yang menjadi wadah transformasi dan transmisi ilmu pengetahuan sejak abad ke 17, semakin dirasakan peran pentingnya dalam pelembagaan nilai serta proses pembudayaan Islam dalam masyarakat di wilayah ini. Peran ini diasumsikan telah semakin menguat ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan di luarnya pada awal abad ke 20, yaitu pada saat Islam di sini berhadapan dengan sistem pendidikan barat yang berkembang di masanya, dan ketika perlawanan terhadap kolonialisme awal abad ke 20 ini lebih memperlihatkan nuansa “adu otak” ketimbang adu fisik sebagai implikasi politik etis, nampaknya kalangan intelektual Islam yang muncul dari basis surau seperti sudah mempersiapkan diri untuk mengadapi keadaan historis ini.

Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

4

Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah, oleh karenanya metode yang digunakan untuk mendapatkan sumber, penganalisisan dan pendeskripsiannya adalah metode dengan langkah-langkah yang diberlakukan dalam disiplin keilmuan sejarah. Pemerolehan sumber (heuristik) untuk penelitian ini diawali dengan penelusuran sumber-sumber yang relevan dengan topik utama dalam bentuk analisis kesejarahan yang sudah ditulis. Sumber ini akan digunakan untuk menopang kerangka kerja penelitian sekaligus sebagai acuan teoritis. Semua sumber akan dianalisis melalui kritik sumber untuk menentukan otentisitas, integritas dan kredibilitasnya, sehingga sumber-sumber tersebut dianggap layak untuk dijadikan dasar bagi penyimpulan fakta-fakta historis. Pada tahap sintesis, fakta-fakta temuan dianalisis untuk mendapatkan kerangka deskripsi yang logis (sintesis eksternal) serta menemukan hubungan setiap fakta, baik berupa hubungan kausalitas ataupun keterangan historis (sintesis internal) dengan menggunakan eksplanasi dan interpretasi historis. Hasil dari semua penganalisisan itu, disajikan dalam suatu deskripsi sejarah yang mengkombinasikan deskripsi naratif dan deskripsi analitis.

II. Perlawanan Terhadap Kolonial Diantara Pertikaian Internal
1. Perang Paderi 1821-1837 Pada awal abad ke-19 alam Minangkabau diwarnai oleh adanya konflik internal antara pendukung kaum agama dengan pendukung kaum adat. Konflik ini pada gilirannya berubah ke arah yang baru setelah adanya campur tangan asing. Sebahagian kaum elit tradisional Minangkabau (penghulu) dan anggotaanggota kerajaan Pagarruyung yang berhasil meloloskan diri dari usaha pembunuhan kaum Paderi minta perlindungan dan bantuan pada pemerintah Hindia Belanda di Padang. Pada tanggal 10 Februari 1821 di bawah pimpinan Residen Du Puy pihak Belanda mengadakan pertemuan dengan beberapa petinggi adat dan keluarga Kerajaan Pagaruyung. Dalam pertemuan ini keduabelah pihak sepakat untuk melakukan deal politik yang antara lain menyebutkan bahwa Belanda akan melindungi dan membantu kaum adat dan keturunan raja Pagarruyung dalam menghadapi Kaum Paderi dengan imbalan Belanda diberi kekuasaan penuh atas Minangkabau. Sejak adanya perjanjian itu, maka gerakan keagamaan Kaum Paderi difokuskan kepada aksi melawan kolonialisme dan penjajahan yang dilakukan dalam bentuk perang terbuka. Dalam sejarah Minangkabau perang antara Kaum Paderi dengan Belanda ini dikenal sebagai Perang Paderi. Dalam peperangan ini
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

5

kaum Paderi dipimpin oleh ulama yang diberi gelar Tuanku; yang paling terkemuka di antaranya adalah Muhammad Shahab atau Peto Syarif (1772-1864) yang diberi gelar Imam Bonjol pemimpin Kaum Paderi di daerah Bonjol5. Perang Padri merupakan perang yang terlama dihadapi masyarakat Minangkabau dalam melawan Belanda. Perang yang dimulai tahun 1821 ini baru berakhir pada tahun 1837 yakni setelah benteng pertahanan Paderi yang terakhir di Bonjol berhasil dikuasai Belanda. Sejak itu Minangkabau jatuh ke dalam genggaman Belanda dan kemudian menjadi bahagian dari wilayah Pemerintah Hindia Belanda yang berkedudukan di Jawa. Pasca perjanjian 1821 dalam waktu yang tidak begitu lama Belanda berhasil menduduki beberapa daerah di Minangkabau. Seminggu setelah perjanjian tersebut Belanda berhasil menduduki Simawang yang kemudian dijadikan sebagai pusat kegiatan militer Belanda yang pertama di Minangkabau. Pada awal-awal peperangan Belanda berhasil menduduki hampir seluruh daerah Luhak Tanah Datar, terutama Pagarruyung bekas Ibukota Kerajaan Minangkabau. Untuk melindungi diri dari gempuran kaum Paderi di Luhak Tanah Datar Belanda mendirikan Benteng Fort van der Cappelen di daerah yang sekarang dikenal sebagai Batusangkar. Nama Fort van der Cappelen diambil menurut nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda ketika itu. Hal yang sama dilakukan di Luhak Agam dengan mendirikan Benteng Fort de Kock. Tertinggal dari segi personil dan persenjataan tidak menyurutkan semangat juang Kaum Paderi. Bagi Kaum Paderi peperangan melawan Belanda merupakan jihad fii sabiilillah, gugur dalam peperangan merupakan jalan menuju Surga. Belanda sendiri menyadari bahwa lawan yang mereka hadapi tidak bisa dianggap enteng. Dalam literatur kolonial disebutkan bahwa Perang Paderi merupakan ‘ … pertempuran-peertempuran sengit, kejam, gigih, dan dalam waktu yang lama. Kalaupun tidak merupakan peperangan maha besar, namun dalam kesengitan, keberanian, dan kegigihan sama sekali tidak kalah dengan peperangan atau pertempuran besar di manapun’ 6. Kemenangankemenangan tentara Belanda bercampur dengan kegagalan-kegagalan mereka merebut kantong-kantong pertahanan Paderi. Bahkan pada tahun 1823 Belanda mengalami kekalahan yang cukup besar di Lintau. Perlawanan kaum Paderi sempat membuat Belanda meminta bantuan tentara dari Jawa. Selama perang tidak kurang dari tiga kali pasukan Belanda meminta bantuan tentara dan amunisi ke Jawa. Kecuali itu, serangan-serangan dan kuatnya pertahanan kaum Paderi telah memaksa Belanda untuk beberapa kali mengajukan gencatan senjata. Jika tawaran damai atau gencatan senjata yang ditawarkan Belanda ditolak, maka Belanda melakukan penyerangan. Inilah yang terjadi pada di Koto Lawas. Di daerah ini pimpinan Paderi, yakni Tuanku Damasiang menolak untuk berdamai. Akibatnya Belanda menghanguskan daerah Paderi tersebut dan Tuanku Damasiang ditawan. Peristiwa Koto Lawas ini menimbulkan amarah
5

Hamka, Ayahku : Riwayat Hidup DR. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera” (Jakarta: Umminda, 1982), h. 18. 6 Rusli Amran, Sumatra Barat hingga PlakatPanjang’ (Jakarta: Sinar harapan, 1981), h. 390.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

6

dikalangan kaum Paderi tidak kecuali mereka yang telah melakukan perjanjian damai. Perjanjian dibatalkan dan perang dimulai lagi.7 Antara tahun 1825 hingga 1830 karena Belanda sedang memusatkan perhatiannya pada Perang di Jawa. Sebagian pasukan Belanda dikirim ke Jawa untuk menindas perlawanan Pangeran Diponegoro. Pada masa ini pasukan Belanda lebih banyak bertahan di benteng-benteng mereka. Pada akhir tahun 1825 pihak Belanda kembali mengajukan perjanjian damai dengan Kaum Paderi. Dalam perjanjian itu antara lain disebutkan bahwa Belanda akan mengakui kekuasaan pimpinan Paderi di Lintau, 50 Kota, Telawas, dan Agam dan kedua belah pihak juga sepakat untuk melindungi orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan dan para pedagang. Pasca Perang Jawa (1825-1830) Belanda kembali memusatkan perhatiannya pada perang di Minangkabau. Kekuatan militer semakin ditingkatkan. Hingga akhir tahun 1832 satu persatu daerah Paderi jatuh ke tangan Belanda. Pada tahun ini pula Tuangku Mansiangan tokoh senior kaum Paderi di tangkap dan kemudian dihukum mati oleh Belanda. Hal yang sama juga dialami oleh tokoh Paderi lainnya yakni Tuangku Malikul Adil di Padang. Setahun kemudian Tuangku Nan Cerdik tokoh Paderi di Pasaman menyerahkan diri dan mengakui kekalahannya pada Bulan Agustus 1933. Sementara itu tokoh-tokoh Paderi lainnya seperti Tuanku Nan Renceh, Haji Piobang dan Haji Sumanik sudah wafat lebih dahulu. Kekalahan kaum Paderi ini ternyata semakin menyadarkan kaum adat akan kekhilafannya yang telah bekerjasama dengan Belanda. Kedua golongan yang selama ini saling berseteru mulai mendekat dan kemudian mengadakan pertemuan khusus di lereng Gunung Tandikat, Padangpanjang yang dikenal dengan Perjanjian Tandikat . Dalam pertemuan tersebut kaum agama dan kaum adat bersepakat untuk bersama-sama melawan Belanda dan mengusirnya dari Minangkabau. Bersatunya kedua pihak yang sebelumnya berseteru ini menimbulkan kekhawatiran bagi Belanda. Untuk memecah belah kekuatan tersebut, maka pada tanggal 25 Oktober 1833 Belanda mengeluarkan maklumat yang dikenal di kalangan masyarakat Minangkabau sebagai Plakat Panjang. Isi maklumat itu antara lain :
1. 2. 3. 4. Belanda tidak akan ikut campur dalam pemerintahan nagari, Beberapa pemimpin di Minangkabau akan diangkat menjadi pejabat pemerintah dan akan digaji, Jika terjadi perselisihan Belanda akan bertindak sebagai penengah dan tidak akan ikut campur. Pemerintah akan melindungi rakyat dari musuh-musuh mereka dan akan membantu memperperbaiki jalan dan jembatan Pemerintah tidak akan memungut pajak berupa uang, tetapi hanya akan menganjurkan memperluas penanaman kopi untuk kepentingan pemerintah dan rakyat8

5.

7

Burhanuddin Daya, op.cit., h. 55

8

Isi dari Palakat Panjang ini disarikan dari terjemahan naskah asli berbahasa Belanda oleh Rusli Amran, dimuat dalam bukunya Sumatera Barat Plakat Panjang, Jakarta : Sinar Harapan : 1984, hal.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

7

Sampai dengan tahun 1836 benteng Paderi di Bonjol masih dapat dipertahankan oleh pasukan Tuanku Imam. Akan tetapi, pada penghujung tahun 1837 Pasukan Tuanku Imam mulai menampakan ketidakberdayaannya menghadapi pasukan Belanda yang didukung personil yang sangat besar dan persenjataan yang lengkap. Pada tanggal 25 Oktober 1837 pertahanan Paderi di Bonjol jatuh ke tangan Belanda. Tuanku Imam Bonjol ditangkap dan kemudian di buang ke Cianjur (Jawa Barat) sebelum akhirnya diasingkan ke Ambon (1839) dan kemudian dipindahkan ke Manado pada tahun 1840 sampai akhir hayatnya9. Jatuhnya benteng Paderi di Bonjol pada tahun 1837 menandakan dimulainya kolonisasi Belanda di seluruh Alam Minangkabau. 2. Perjalanan Intelektual Pasca Paderi Meredanya perang Paderi yang ditandai dengan jatuhnya Bonjol ke tangan Belanda tidaklah berarti bahwa telah selesainya berbagai konflik yang terjadi di Minangkabau. Ketidak puasan kalangan agama terhadap golongan aristokrasi adat dengan berbagai norma adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama kembali mengemuka. Demikian juga konflik pemikiran antara penganut Syatariyah dan Naqsyabandiah masih saja menyisakan potensi-potensi pertikaian pendapat di kalangan ulama Minangkabau pada waktu ini. Dalam kondisi ketegangan pemikiran seperti ini, beberapa orang Minangkabau melakukan perjalanan intelektual ke Tanah Arab ; --ke Makkah, Madinah dan lainnya—untuk lebih mendalami ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin keilmuan agama Islam seperti Fiqh, ilmu alat, tashauf, ilmu Hisab/Falaq dan lain-lain. Salah seorang diantara pelajar Minangkabau itu adalah Ahmad Khatib seorang putra Ampek Angkek yang kemudian dikenal sebagai tokoh yang berperan dalam perkembangan pemikiran Islam di Minangkabau pada priode selanjutnya. Dinamika perjalanan intelektual paruh kedua abad ke 19 ini ternyata kemudian memunculkan konflik baru di kalangan ulama Minangkabau yaitu antara penganut tarikat Naqsyabandi dengan kalangan pembaharu yang berawal dari pemikiran Syekh Ahmad Khatib AlMinangkabawy sendiri. Sementara itu “pertarungan” antara tarikat Syatariyah dan Naqsyabandiyah terlihat melemah setelah munculnya konflik baru ini. Perjalanan intelektual Ahmad Khatib selama di Makkah telah menempatkan dirinya sebagai salah seorang pemuka mazhab Syafi’i yang disegani, bahkan dia mampu menduduki posisi Imam besar Masjidil Haram atas kepercayaan Syarif Al-Haramain, suatu jabatan yang belum pernah diduduki oleh ulama di luar Arab. Disamping itu ia juga diberi hak untuk membuka majelis pengajian di Masjidil Haram sendiri. Sebagai guru besar mazhab Syafi’i, majelis pengajiannya banyak didatangi oleh murid-murid dari berbagai kawasan Islam di luar Arab, terutama dari Asia Tenggara. Beberapa ulama terkemuka telah terlahir dari majelis pengajian Syekh Ahmad Khatib ini dan beberapa diantara mereka telah menjadi mufti di beberapa kerajaan di Sumatera Utara dan
15-19
9

Lebih jauh tentang hal ini lihat umpamanya dalam Sjafnir A.Nain, Tuanku Imam Bonjol: Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau 1784-1832 (Padang: ESA, 1988), h. 82 dan 117.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

8

semenanjung Malaya, bahkan K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah sendiri juga pernah belajar ilmu hisab di majelis pengajiannya (Hamka, Ayahku, h. 232). Pelajar-pelajar yang datang dari Minangkabau pada umumnya mendapat gemblengan Syekh Ahmad Khatib, dan setelah pulang ke Minangkabau, mereka menjadi ulama-ulama yang disegani pula serta membuka majelis pengajian pada surau-surau di kampungnya masing-masing. Di antaranya adalah : Syekh H. Muhammad Thaib Umar yang kemudian membuka surau di Sungayang, Syekh Muhammad Jamil Jambek membuka surau di Bukittinggi, Syekh Abdul Karim Amarullah dan Syekh Abdullah Ahmad dengan surau Jembatan Besi Padang Panjang. Syekh Sulaiman Ar-Rasuli yang membuka surau di Candung, Syekh Ibrahim Musa dengan surau Parabek, Syekh Muhammad Jamil dengan surau Jaho Padang Panjang dan banyak lagi yang lainnya. Ahmad Khatib bukanlah orang Minangkabau pertama yang belajar ke Mekkah pada dekade ini. Beberapa waktu sebelumnya telah lebih dahulu Syekh Abdullah Halaban. Ia berangkat ke Mekkah pada tahun 1865. Syekh Abdullah Halaban bermukim di Makkah selama l.k. 5 tahun untuk mendalami berbagai kitab dalam mazhab Syafi’i. Pada tahun 1870 kembali ke kampung halamannya di Halaban Kabupaten Lima puluh Koto dan mengajarkan ilmunya kepada murid-murid yang berasal dari berbagai daerah di Minangkabau. Bahkan diantara murid Syekh Ahmad Khatib seperti Syekh Sulaiman Ar Rasuli dan Syekh Muhammad Djamil Jaho telah lebih dahulu mendapatkan pengetahuan agama dari Syekh Abdullah Halaban sebelum berangkat ke Mekkah untuk berguru pada Syekh Ahmad Khatib. Beberapa diantara murid-murid yang belajar dengan Ahmad Khatib, bahkan sebelumnya telah memiliki basis surau dan telah memiliki murid-murid di daerahnya. Namun demikian, perjalanan ke tanah Arab dan bermukim sambil belajar untuk beberapa tahun di sana, --pada waktu itu--, lebih memberikan legalitas tersendiri. Banyaknya majelis pengajian baik di Makkah, Madinah atau wilayah Arab lainnya telah memberi peluang bagi pelajar-pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam untuk mendalami berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam. 3. Difirensiasi Pemahaman dan Pemikiran Islam Paling tidak ada tiga kelompok yang dapat ditunjukkan dalam menandai munculnya diferensiasi pemahaman dan pemikiran keagamaan dari tokoh-tokoh ulama yang disebutkan itu, yaitu : pertama : mereka yang dibesarkan dan dididik pada sistem pendidikan surau Minangkabau abad ke-19. Kedua, mereka yang mendapat pendidikan keagamaan di Makkah dan Madinah, dan ketiga, mereka yang mendapat pengalaman intelektual di Mesir. Kelompok pertama adalah para ulama yang mewarisi tradisi pendidikan tradisional surau yang telah berlangsung sejak awal abad ini. Pada umumnya mereka adalah penganut tarikat Naqsyabandiah, karena tarikat ini berkembang dengan pesat pada waktu ini, terutama di wilayah pedalaman. Ulama-ulama ini aktif mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan keagamaan sekaligus

Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

9

menyebarkan pengajaran tarikat dan secara konsisten telah mewarisi tradisi pengajaran guru-guru mereka. Sementara itu, kelompok kedua adalah ulama-ulama yang terlahir dari tangan guru-guru yang disebutkan belakangan. Beberapa diantara ulama ini, kemudian melanjutkan pendidikan mereka di Makkah, Madinah dan wilayah lain di jazirah Arab. Berbagai bidang pengetahuan agama telah mereka serap di beberapa majelis pengajian yang berkembang di wilayah itu, termasuk majelis pengajian Syekh Ahmad Khatib di Masjidil Haram. Kelompok kedua ini, sebelum melanjutkan pelajarannya, pada umumnya adalah penganut Naqsyabandiah. Diantara mereka berangkat ke tanah Arab untuk lebih mendalami pelajaran agama Islam dalam mazhab Syafii, seperti ilmu Fiqh, ilmu Tafsir, ilmu Hadits dan ilmu-ilmu alat seperti Nahu, Sharaf, Balaghah dan lainlain, dan sebagiannya mempelajari ilmu Falak, bahkan ada diantaranya yang sekaligus juga memperdalam pengajian tarikat Naqsyabandiah di Majelis pengajian tarikat ini di Madinah. Sedangkan kelompok ketiga adalah ulama-ulama yang mendapatkan pengaruh dari pembaharuan Islam di Mesir. Ulama-ulama ini pada awalnya belajar di Makkah, kemudian melanjutkan ke Mesir, karena tertarik dengan gelombang pembaharuan yang sedang berhembus di wilayah ini. Pemikiranpemikiran keagamaan, terutama berkaitan dengan ide Pan Islamisme dan ide tentang kebangkitan Islam untuk terbebas dari kejumudan berfikir, menjadi tema sentral gerakan pembaharuan yang dipelopori oleh Jamaluddin AlAfghani, Syekh Muhammad Abduh dan Sayid Rasyid Ridha. Ini telah mendorong keinginan sebagian ulama murid Ahmad Khatib untuk belajar ke Mesir. Serangan terhadap tarikat Naqsyabandiah dilancarkan oleh Syekh Ahmad Khatib. Tarikat yang pada waktu itu banyak dianut oleh ulama-ulama setempat termasuk murid Ahmad Khatib yang sudah pulang ke Minangkabau, yang oleh Ahmad Khatib sendiri dikatakan sebagai telah diselipi oleh amalan-amalan bid’ah. Serangan ini dikemukakan melalui tiga buah bukunya : Izhharu Zaghlil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin, Al-Ayatul lil Munshifin fi Izalati Kurafati Ba’dhil Mta’asshibin, dan Als-Saiful Batar fi Mahaqqi Kalimat Ba’dh Ahlil Ightirar. Ketiga buku ini dihimpun dalam satu bundel dan diterbitkan di Mesir pada tahun 1326 H (1908 M)10 Ahmad Khatib dengan jelas mengemukakan bahwa rabithah atau amalan zikir dengan menggunakan mediasi guru adalah bid’ah dan sama sekali tidak berdasarkan syara’ serta tidak mempunyai asal usul dari Rasulullah, oleh karenanya diperbolehkan dalam ajaran Islam. Buku Ahmad Khatib ini mendapat respon yang begitu luas dari kalangan ulama Minangkabau, karena hujatan ini dirasakan bagaikan badai yang muncul di tengah semilir angin yang berhembus di seputaran Merapi dan Singgalang. Tak pelak beberapa ulama tokoh tarikat Naqsyabandi di wilayah ini merasa perlu melakukan counter atas serangan tersebut. Adalah Syekh Muhammad
10

lihat : Schrieke, B.J.O, 1973, Pergolakan Agama di Sumatera Barat, Sebuah Sumbangan Bibliografi, Jakarta : Bhratara.; 31, transliterasi judul buku yang ditulis di sini adalah koreksian terhadap transliterasi yang ditulis oleh Schrieke dalam bukunya,
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

10

Sa’ad Munka seorang guru Naqsyabadiah yang piawai dalam menulis, kemudian melakukan pembelaan atas ajaran tarikat Naqsyabandiah. Demikan juga Syekh Khatib Muhammad Ali dan Syekh Sulaiman Ar-Rasoely. Dua buku ditulis oleh Syekh Muhammad Sa’ad Munka, yaitu : Risalah Irgham unuf al-Mufanitin fi Inkarihim Rabithah al-Washilin dan Risalah Tanbih al ‘awaam ‘ala Thariqat Ba’d al-Anaam sebagai bantahan terhadap serangan Ahmad Chatib terhadap Naqsyabandiah. Kedua buku ini diterbitkan di Padang pada tahun 1910. Syekh Khatib Muhammad Ali juga menerbitkan terjemahan dari karya Sajjid Moehammad bin Mahdi al-Koerdi yang berjudul : Risalah Naqsyabandijjah fi Asas Ishtilah an- Naqsyabandiyyah min adz-dhikril Khafij wa rabithah wal Moeqarabah Wadfa’ li’tirad bi Dzhalika. Karangan yang berisikan apologi terhadap Naqsyabandi ini diterbitkan di Padang 1326 H, dan disusul pula dengan saduran atas karya ‘Abd al-Ghani bin Isma’il al-Naboeloesi yang berjudul : Miftah al-Ma’iyyah. Tulisan Syekh Khatib Muhammad Ali yang terkenal adalah Burhanul Haq yang berisikan jawaban-jawaban terhadap para penentang Tarikat Naqsyabandiah11. Hampir semua buku dan tulisan-tulisan Syekh ini berusaha untuk melakukan pembelaan terhadap tarikat Naqsyabandi atas tuduhan bid’ah yang dikemukakan oleh Syekh Ahmad Khatib. 4. Polarisasi Kaum Tua dan Kaum Muda Serangan kedua muncul dari kalangan ulama yang mendapat pengaruh gejolak pemikiran yang berkembang di Mesir. Sasarannya tidak hanya tarikat Naqsyabandiah dan tarikat-tarikat lainnya, akan tetapi lebih luas lagi, yaitu semua paham keagamaan yang dianggap konvensional dan masih taqlid kepada salah satu mazhab. Pemikiran baru ini berawal dari munculnya majalah “AlImam” yang diterbitkan di Singapura oleh salah seorang ulama Minangkabau yang baru kembali dari Mesir, yaitu Syekh Thaher Jalaluddin. Majalah ini pada penerbitan pertama tahun 1906 memuat artikel-artikel dengan pemahaman baru bidang keagamaan yang oleh sebagian besar ulama-ulama Minangkabau pada waktu itu terasa asing dan sangat bertentangan dengan apa yang selama ini diperpegangi. Majalah “Al-Imam” ini pada dasarnya, merupakan perpanjangan tangan dari majalah “Al-Manar” Mesir yang diterbitkan oleh Sayid Rasyid Ridha dan pendahulunya majalah “Urwatul Wutsqa” yang diterbitkan di Paris oleh Sayid Jamaluddin Al-Afghani dan Syekh Muhammad Abduh. Kedua majalah ini memuat berbagai artikel yang berkaitan dengan penyadaran umat Islam untuk bangkit dari kejumudan berfikir yang disebabkan oleh sikap taqlid terhadap hasil ijtihad para Imam Mazhab. Pemikiran pembaharuan ini telah pula mengilhami beberapa ulama Minangkabau yang belajar dengan Syekh Ahmad Khatib, yaitu Syekh H. Abdul Karim Amrullah, Syekh H. Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syekh Muhammad Thaib Umar. Keempat orang ini adalah murid Syekh
11

Syekh Khatib Muhammad Ali termasuk ulama Kaum Tua yang produktif menulis. Karangannya banyak bertebaran dalam bentuk buku, risalah-risalah dan menuskrip dan hampir semuanya tidak dapat ditemukan lagi.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

11

Ahmad Khatib, dan (kecuali Syekh Muhammad Thaib Umar) juga belajar dengan Syekh Thaher Jalaluddin. Oleh karenanya pemikiran-pemikiran keagamaan yang disebarkan Al-Imam, maupun Al-Manar dan Al-‘Urwatul Wutsqa” menjadi rujukan bagi ulama-ulama ini dalam melancarkan misi pembaharuan dalam berbagai bidang keagamaan di wilayah Minangkabau12. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan Kaum Muda13 ; istilah yang dipertentangkan dengan Kaum Tua sebagai kelompok status quo yang bertahan dengan pemahaman tradisional keagamaan hasil ijtihad imam Mazhab yang diterima dari guru-guru mereka, termasuk dari Syekh Ahmad Khatib sendiri14. Pertentangan kedua kubu ini berkembang menjadi polemik-polemik dan perdebatan-perdebatan terbuka. Hal ini berakibat pada terjadinya polarisasi kehidupan beragama dalam masyarakat Minangkabau, termasuk kalangan ulama-ulama sendiri. Surau-surau Minangkabau pun tak terhindarkan pula dari pengaruh pembelahan ini. Karena surau-surau sebagai pusat aktifitas masingmasing berusaha secara gencar menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka melalui berbagai kesempatan dan berbagai media. Keadaan ini diasumsikan sebagai implikasi positif dari perkembangan Islam awal abad ke-20 dan sekaligus merupakan fase kedua revolusi intelektual yang terjadi di Minangkabau setelah gerakan Paderi15 5. Islam dan Perlawan Rakyat Pasca Paderi Pemikiran Syekh Ahmad Khatib dan penentangannya terhadap realitas adat terutama yang menyangkut sistem pewarisan ternyata tidak terlalu intensif dijalankan oleh murid-muridnya setelah kembali ke Minangkabau pada awal
12

Majalah Al-Imam, terbit di Singapura pada tahun 1906 (Juli) dibawah pimpinan (mudir) Syekh Muhammad bin Salim Al-Kalali seorang hartawan keturunan Arab . Penulis utama adalah Syekh Thaher Jaluddin Al-Azhary. Wakil di Maninjau : H. Abdul Karim Amarullah, sedangkan wakil di Padangpanjang adalah H. Abdullah Ahmad, wakil untuk pulau Jawa adalah Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab. Pada penerbitan ke tiga Abdullah Ahmad mengajukan pertanyaan tentang hukum berdiri ketika membaca marhaban, yang dijawab oleh pengasuh Al-Imam bahwa hal itu tidak berdasarkan syara’ . (Hamka, Ayahku, hal.80 dan 92). Masalah inilah yang pada awalnya telah memancing reaksi kalangan ulama yang disebut Kaum Tua di Minangkabau. Majalah ini terbit hingga tahun 1909 13 Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Datuk Soetan Maradjo, seorang tokoh adat yang juga sebagai wartawan. Kaum Muda adalah sebutan untuk tokoh-tokoh gerakan pembaharuan yang dipelopori murid-murid Ahmad Khatib, karena gerakan ini mirip dengan gerakan Kaum Muda di Turki yang dipimpin oleh Anwar Pasya yang telah menggoncangkan negeri itu. Selengkapnya mengenai asal-usul timbulnya kedua istilah tersebut, lihat Sanusi Lathief, “Gerakan Kaum Tua di Minangkabau”, Disertasi (Jakarta: Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1988), h. 127133. 14 Telah dikemukakan bahwa Syekh Ahmad Khatib mendapat legalitas dari Syarif Al-Haramain menjadi guru besar mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Kitab-kitab yang diajarkan pada halakah pengajiannya pada umumnya adalah kitab-kitab dalam mazhab ini. Jadi adalah meragukan asumsi bahwa pembaharuan Islam tahap kedua ini dihubungkan langsung dengan namanya, sebagai yang banyak ditulis, karena salah satu misi pembaharuan awal abad ke-20 ini ditujukan memberantas taqlid terhadap imam mazhab, namun yang pasti bahwa Syekh Ahmad Khatib sangat anti kepada tarikat dan sistem adat Minangkabau, bukan pada penganutan terhadap mazhab. 15 Mestika Zed, 2002, “Politik Identitas, Respon-Respon Orang Minangkabau terhadap Perubahan Sejarah” (makalah Temu Budaya), BKSNT Padang
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

12

abad ke-2016, baik oleh kalangan Kaum Muda maupun Kaum Tua, meskipun disana sini terdapat beberapa konflik-konflik kecil tentang masalah itu17. Namun hal itu tidak terlalu mempengaruhi kondisi sosial Minangkabau. Perhatian utama kalangan ulama pada waktu ini lebih ditujukan pada kondisi sosial yang terjadi akibat kebijakan-kebijakan kolonial, meski aspek pemahaman dan praktek pengamalan agama yang menjadi perdebatan di kalangan ulama pembaharu dan ulama tradisional masih tetap mewarnai dinamika surau-surau Minangkabau. Kondisi sosial dibawah kebijakan pemerintahan Belanda pasca Perang Paderi telah menyelaraskan pertikaian kaum adat dan kaum agama. Kebijakan Belanda menjalankan peraturan “Tanam Paksa” (Cultuurstelsel) terhadap rakyat Minangkabau18 untuk tujuan menutupi ketekoran finasial akibat Perang Paderi, mendapat perhatian serius dari kalangan masyarakat Minangkabau pada waktu ini. Penentangan terhadap aturan baru itu agaknya telah meluputkan perhatian kalangan agama terhadap sistem adat yang berlaku sebagai yang pernah dicanangkan oleh guru mereka Syekh Ahmad Khatib. Kondisi masyarakat dibawah pemerintahan jajahan lebih memerlukan perhatian bersama ketimbang mengedepankan pertikaian. Pada akhir abad ke-19, akibat penentangan yang luas dari masyarakat, sistem Tanam Paksa secara berangsung-angsur dihapuskan oleh Belanda di berbagai daerah di Indonesia, dan di Minangkabau sendiri baru dihapuskan pada tahun 1908. Penghapusan koffiestelsel di Minangkabau bukanlah akhir dari penindasan Belanda terhadap rakyat. Pada awal Maret 1908 di Minangkabau sebagai gantinya diberlakukan pula Peraturan Pajak yang dikenakan tidak hanya terhadap mata pencaharian (kekayaan) rakyat, akan tetapi juga terhadap harta pusaka . Hal ini tentu sangat menyakitkan rakyat, apalagi pula hal ini sangat bertentangan dengan janji-janji pemerintah sebagai yang tertuang dalam Plakat Panjang yang diumumkan tahun 1833. Aksi penentangan rakyat terhadap peraturan pajak di Minangkabau hingga munculnya perlawanan terbuka di berbagai daerah seperti Perang Kamang dan Perang Manggopoh, tidak dapat dilepaskan dari peran koalisi kaum adat dan kaum agama. Setahun sebelum terjadinya perang Kamang, misalnya, penerbit majalah Islam Al-Imam menerbitkan sebuah buku yang berisikan butir-butir Plakat Panjang19,. Buku ini dikirimkan ke Minangkabau untuk diedarkan. Semenjak itu di wilayah ini beredar selebaran dan poster-poster yang dipasang di tempat-tempat umum untuk menggugah kembali kesadaran rakyat akan
16

lihat : Franz von Benda-Beckmann, 2000, Properti dan Kesinambungan Sosial, Kesinambungan dan Perubahan dalam Pemeliharaan Hubungan-Hubungan Properti Sepanjang Masa di Minangkabau, Jakarta : Grasindo hal. 418 17 Seperti sikap yang ditunjukkan oleh Syekh Muhammad Thaib Umar terhadap kaum Adat di Sungayang yang karena sikap tegas yang dimilikinya kadang-kadang menimbulkan bentrokan dengan kaum adat Sungayang, lihat : Hamka, 1963, Ayahku, Djakarta : Djajamurni, hal. 239 18 di Minangkabau dikenal dengan Koffiestelsel (Wajib tanam Kopi), Peraturan ini sangat menyakitkan rakyat karena sangat bertentangan dengan isi perjanjian Plakat Panjang yang ditanda tangai oleh Belanda 19 Rusli Amran, 1988, hal. 80
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

13

perlakuan pemerintah yang mengingkari janji-janji yang pernah ditanda tanganinya. Puncak penentangan rakyat terhadap peraturan pajak adalah pada saat rakyat Kamang dan Manggopoh melakukan aksi perlawanan terbuka terhadap Belanda pada bulan Juni 1908. Perlawanan rakyat Kamang dikenal dengan “Perang Kamang”. Daerah yang dulunya menjadi basis gerakan Paderi pada awal abad ke-19 ini adalah wilayah agraris dengan kehidupan beragama yang kental. Pemberlakuan peraturan pajak dirasakan sangat memberatkan rakyat dia daerah ini. Karena itu, pada bulan Juni 1908, mereka mengadakan aksi penolakan besar-besaran terhadap peraturan pajak. Rakyat Kamang berdemonstrasi di depan Kantor Luhak Agam di Bukittinggi. Kebencian rakyat yang telah memuncak terhadap Belanda dengan peraturan pajak yang memberatkan ini semakin dibakar dengan legitimasi yang diberikan kaum ulama dengan menyerukan perjuangan terhadap kafir adalah bagian dari jihad fi sabilillah. Di Kamang, misalnya, Haji Abdul Manan, tokoh yang kemudian dikenal sebagai penggerak Perang Kamang, menghembuskan semangat perlawanan rakyat. Haji Abdul Manan bersama-sama ulama Kamang lainnya berusaha membangkitkan motivasi keagamaan untuk melawan kaum kafir. Mati dalam memerangi kafir adalah mati syahid. Surau ini dijadikan sebagai basis untuk melakukan koordinasi kekuatan tempur baik fisik maupun mental masyarakat. Surau-surau yang ada, selain menjalankan fungsi penyelenggaraan ibadah shalat berjamaah, juga diadakan pengajian-pengajian dan do’a bersama dalam rangka memperkokoh keyakinan dan mempersiapkan mental, setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan belajar silat untuk mempersiapkan fisik para pejuang. Setelah semua dianggap siap, mereka berangkat ke medan tempur. Kekompakan rakyat untuk melawan Belanda sangat dibantu oleh kekuatan koalisi adat dan agama, yang dalam hal ini sangat jelas terlihat. Haji Abdul Manan dan ulama-ulama Kamang lainnya memainkan peranan dalam persiapan mental sementara Datuk Rajo Penghulu seorang tokoh adat sangat berperan pula dalam persiapan fisik20. Kombinasi kepemimpinan kedua tokoh ini sangat diapresiasi oleh rakyat. Meskipun, perlawanan rakyat Kamang yang gigih ini pada akhirnya hanya membuahkan kegagalan, namun terasa ada kepuasan rakyat atas pengorbanan yang telah mereka berikan, karena nilai-nilai patriotisme rakyat dan kebersamaan di bawah komando adat dan agama telah terwariskan pada generasi pelanjut mereka. Hingga saat ini, nilainilai itu masih tetap dirasakan di kalangan rakyat Kamang sendiri.

III. Nasionalisme dalam Gejolak Pembaharuan Islam
Kegagalan perjuangan rakyat untuk terbebas dari penindasan kolonialisme Belanda, terutama perlawanan untuk mengagalkan pemberlakuan peraturan
20

tentang ini selengkapnya lihat : Taufik Abdullah dan S. Budhisantoso (ed.), 1983/84, Sejarah Sosial di Daerah Sumatera Barat, Jakarta: Depdikbud, hal, 44-45
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

14

Pajak yang dijalankan oleh Belanda pada awal abad kedua puluh, telah mendorong kalangan ulama dan para intelektual Minangkabau untuk merobah strategi perjuangan ke arah perjuangan non fisik. Mereka merasa sudah saatnya masyarakat Minangkabau menggalang kekuatan melalui berbagai lini yang dapat mempersempit ruang gerak politik kolonialis, sehingga pemerintahan tidak lagi dapat semena-mena membodohi rakyat dengan berbagai kecurangan dan penindasan yang telah dilakukannya. Pendidikan kolonial abad ke 19 yang disediakan untuk masyarakat pribumi sebagai bentuk implementasi politik etis semenjak pertengahan abad ke19, meski telah mampu mengangkatkan derajat pengetahuan sebagian masyarakat, namun implikasi-implikasi yang ditimbulkan terhadap sistem sosial di daerah ini –untuk beberapa bagian-- ternyata kurang menguntungkan bagi perjuangan rakyat untuk terbebas dari penindasan asing. Masyarakat terdidik yang dihasilkan Belanda pada waktu ini lebih berorientasi pada rekrutmen pegawai pemerintahan yang nota bene menjadi orang Minang yang akan berperan sebagai perpanjangan tangan bagi segala kebijakan kolonial. Oleh karenanya, sekolah-sekolah Belanda lebih selektif dalam menerima murid-murid dengan memberikan prioritas hanya untuk kalangan-kalangan tertentu saja dari masyarakat. Belanda hanya memberikan kesempatan belajar kepada keluarga kalangan penghulu-penghulu dan kepala-kapala adat yang dianggap akomodatif terhadap Belanda. Pola pendidikan Belanda yang diskriminatif ini telah memunculkan suatu strata baru dalam masyarakat, yaitu kalangan terpelajar dari sekolah Belanda, yang --oleh masyarakat pada waktu – dipandang tinggi, apalagi mampu berbahasa Belanda dan bekerja sebagai pegawai pemerintahan serta mendapatkan gaji tetap. Keberadaan mereka pada akhirnya semakin menjauh dari kehidupan sosialnya sendiri. Keadaan ini sangat disadari oleh kalangan ulama yang telah mendapat sentuhan pemikiran-pemikiran yang berkembang di Timur Tengah. Sistem pendidikan tradisional Islam sebagai satu-satunya sistem pendidikan pribumi yang selama ini telah berjalan dianggap tidak cukup handal untuk melahirkan elit-elit sosial baru yang memiliki dan dapat mengembangkan gagasan transformatif untuk merespon kondisi sosial politik yang terjadi. Oleh karena itu, sistem pendidikan Islam sebagai salah satu pilar pelahiran intelektual baru perlu mendapatkan sentuhan baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Apalagi pula dengan munculnya elit-elit baru kalangan terdidik dari sekolahsekolah Belanda, menjadikan pelajar-pelajar lulusan pendidikan tradisional surau, sedikit tergeser ke posisi bawah dari lapisan elit sosial pada waktu ini. Kesadaran inilah yang telah mendorong beberapa ulama untuk melakukan perubahan terhadap sistem pendidikan Islam yang ada, mulai dari pengayaan materi pelajaran, perubahan sistem dan metode pengajaran dan sebagainya. Dengan demikian diharapkan sistem pendidikan Islam dapat melahirkan kalangan terpelajar yang setara dengan lulusan pendidikan Belanda. Selain dari kesadaran akan kepentingan pembenahan sistem pendidikan Islam yang dianggap strategis dalam rangka pencerdasan bangsa, maka bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan upaya itu adalah bahwa umat Islam perlu
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

15

menggalang kesatuan untuk menyatukan langkah perjuangan. Munculnya organisasi-organisasi keagamaan dan kemasyarakatan pada awal abad ke-20 adalah implikasi positif dari kesadaran itu. Meski pada bagian tertentu menjadi bagian dari pembaharuan sistem pendidikan yang disebutkan terdahulu, namun hampir semua organisasi-organisasi yang muncul pada dekade ini menjadi kantong-kantong kekuatan rakyat untuk menggapai kemerdekaan. 1. Perubahan Surau dan Terbentuknya Organisasi-Organisasi Islam a. Sekolah Adabiah Pembaharuan sistem pendidikan Islam di Minangkabau diawali dengan gagasan Haji Abdullah Ahmad. Ia mendirikan Sekolah Adabiah di Padang pada tahun 190921. Sekolah yang didirikan oleh tokoh yang dikenal sebagai salah seorang tokoh pembaharu ini mulai memperkenal sistem pendidikan Islam yang modern dalam proses pengajarannya. Langkah pertama yang dilakukan Haji Abdullah Ahmad ialah merubah sistem pendidikan Islam dari sistim halaqah ke sistim berkelas22. Meskipun sekolah ini hanya bertahan lima tahun, tapi gagasan pembaharuan yang dirintisnya telah berpengaruh secara luas terhadap ulama-ulama lainnya. Sekolah ini ditutup pada tahun 1914. b. Madras School Setahun setelah berdirinya Sekolah Adabiyah, di Sungayang Batusangkar muncul sekolah agama dengan nama Madras School (sekolah agama). Sekolah ini adalah penjelmaan baru dari Surau Tanjung Pauh yang didirikan oleh Syekh Muhammad Thaib Umar23. Seiring dengan perubahan nama Surau Tanjung Pauh menjadi Madras School, maka sistem pengajarannya juga diselenggarakan dengan sistem kelas, namun sistem halaqah seperti yang digunakan sebelumnya di surau Tanjung Pauh tidak dihilangkan sama sekali. Sistem ini tetap dilaksanakan pada sore harinya. c. Diniyah School Zainuddin Labai El Yunusi mantan murid Syeikh Abdullah Abbas tokoh pembaharu di Limapuluh Koto, mendirikan pula Diniyah School (Madrasatuddiniyah) di Padangpanjang pada bulan Oktober 1915. Sekolah ini merupakan lembaga pendidikan Islam kedua yang memasukkan mata pelajaran umum ke dalam kurikulumnya setelah Sekolah Adabiah. Sekolah yang disebut terakhir, sebagai telah dikemukakan, merupakan pelopor pembaharuan pendidikan Islam dengan sistem sekolah, sementara Diniyah School melanjutkan pembaharuan pendidikan agama dengan menambahkan
21

Pendirian Sekolah Adabiyah meniru lembaga pendidikan Al Iqbal Al Islamiyah yang didirikan oleh Thaher Jalaludin pada tahun 1908 di Singapora dan sekolah Gouvernement di Padang. Lihat Deliar Noer (a), op.cit., h. 41; Edwar, op.cit., h. 114. 22 Mahmud Yunus, op.cit., h. 63. 23 Surau Tanjung Pauh Sungayang, adalah surau pertama yang didirikan oleh tokoh ulama pembaharu. Didirikan oleh Syekh Muhammad Thaib Umar dipenghujung abad ke 19, lihat : Mahmud Yunus, 1979, Sejarah Pendidkan Islam di Indonesia, Jakarta : Mutiara, hal. 141
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

16

mata pelajaran umum kepada mata pelajaran agama yang telah ada. Dengan demikian kurikulum Diniyah School lebih luas jika dikomparasikan dengan sekolah Adabiah dan sekolah agama lainnya. Bahkan sekolah pemerintah sekalipun. Mata pelajaran yang diberikan di Diniyah School di antaranya adalah membaca, berhitung, ilmu bumi, ilmu kesehatan, ilmu tumbuhan, dan ilmu pendidikan.24 d. Sumatera Thawalib Gagasan pembaharuan yang dijalankan oleh Zainuddin Labay pada Diniyah School kemudian diterapkannya pula terhadap lembaga pendidikan yang ikut membesarkannya yakni Surau Jembatan Besi25 yang dipimpin oleh Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul). Semenjak tahun 1915 di surau Jembatan Besi sudah berdiri Koperasi Pelajar. Gagasan mendirikan koperasi ini mengindikasikan bahwa lembaga pendidikan ini terbuka untuk menerima ide-ide baru. Tiga tahun setelah koperasi ini berjalan timbullah keinginan dari Zainuddin Labay Al-Yunusi, Jalaluddin Thaib dan Inyik Mandua Basa untuk merubah nama Koperasi Pelajar Jembatan Besi menjadi Sumatera Thuwailib, kemudian seiring dengan perluasan ruang lingkup kegiatannya nama ini ditukar dengan Sumatera Thawalib. Nama Sumatera Thawalib yang berarti Pelajar-Pelajar Sumatera, terinspirasi oleh perkumpulan pemuda Sumatera Jong Sumatranen Bond yang telah berdiri di Jakarta pada tahun 1918 yang pada waktu itu dan dua cabangnya sudah dibuka di Sumatera Barat yaitu di Bukittinggi dan Padang. Sejalan dengan perubahan nama Koperasi Pelajar ini, nama surau Jembatan Besipun dirubah menjadi Sumatera Thawalib. Sejak waktu ini, sistem pendidikan yang dijalankan mengalami perubahan dengan meninggalkan sistem surau dan beralih ke sistem sekolah dengan perubahan metode pengajaran dan mulai pula memasukkan mata-mata pelajaran umum ke dalam kurikulum pengajarannya. e. Persatuan Guru-Guru Agama Islam Setahun setelah perubahan Surau Jembatan Besi menjadi Sumatera Thawalib itu Syekh Abdullah Ahmad pendiri Surau Jembatan Besi kemudian pindah ke Padang dan mempelopori berdirinya Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) pada tahun 1919 di Padang. Dalam organisasi ini berhimpun beberapa tokoh ulama pembaharu yang ada di Minangkabau26 untuk menggalang tujuan bersama dalam rangka menjaga martabat, memperbaiki
24

Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1980/1981), h. 88. 25 Surau Jembatan Besi Padangpanjang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad pada tahun 1914. Di surau ini mengajar Syekh Abdul Karim Amarullah. Pada waktu H. Abdullah Ahmad pindah ke Padang, kepemimpinan surau Jembatan Besi beralih ke tangan Syekh Abdul Karim Amarullah. 26 Di dalam organisasi ini berhimpun tidak saja ulama-ulama Kaum Muda akan tetapi juga dari kalangan Kaum Tua. Tercatat tidak kurang dari 15 orang ulama sebagai pendukung pada waktu pertama kali organisasi ini didirikan (lihat : Marjani Martamin, 1997, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat, Jakarta : Depdikbud, hal. 104
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

17

nasib, dan memberikan pertolongan kepada guru-guru agama Islam, mendirikan, memperbaiki dan memajukan pengajaran Islam27 Diantara sekolah-sekolah Islam modern yang didirikan oleh PGAI antara lain : Normal Islam di Padang yang kemudian digantikan Sekolah Menengah Islam (SMI) di Bukittinggi dan Sekolah Tinggi Islam (SIT) di Padang. f. Madrasah Tarbiyah Islamiyah Perubahan sistem pendidikan yang dirintis oleh beberapa ulama pembaharu telah pula mendorong beberapa kalangan ulama aliran kaum Tua untuk melakukan perubahan-perubahan pada surau-surau mereka. Beberapa surau Kaum Tua menerapkan pula sistem klassikal dalam proses pembelajarannya. Pada bulan Mei tahun 1928 sistem pendidikan surau Candung yang didirikan oleh Syekh Sulaiman Ar-Rasuly sejak tahun 1907, melakukan perubahan menjadi sistem berkelas dengan menempati gedung sekolah yang dibangun bersama masyarakat Candung di Pekan Kamis. Pada saat ini nama Surau Candung dirobah menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Candung. Di sini murid-murid sudah belajar dengan menggunakan kursi, meja dan papan tulis, layaknya seperti sekolah modern lainnya. Pada waktu peresmian Madrasah di Candung inilah munculnya gagasan untuk merobah surau-surau yang diasuh oleh ulama-ulama yang disebutkan menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Kesempatan pertemuan di Candung ini Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas mengemukakan gagasan tentang perlunya ulama Syafi’iyah Minangkabau menyatukan langkah dalam sebuah forum yang dapat menjalin kebersamaan dalam mengelola sekolah masingmasing dan menyepakati kesamaan kurikulum dan kitab-kitab yang akan digunakan dalam berbagai bidang keilmuan Islam. Dalam bidang Fiqh misalnya ditentukan kitab-kitab Syafi’iyyah mana yang akan digunakan. Gagasan ini disepakati oleh para ulama yang hadir pada kesempatan ini. Untuk menyatukan langkah ini, maka pada tanggal 20 Mei 1930, Syekh Sulaiman Ar-Rasuly menggagas pertemuan ulama-ulama Syafi’iyyah Minangkabau. Pada waktu ini disepakati untuk membentuk organisasi sosial kemasyarakatan dan pendidikan yang diberi nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (pada waktu ini disingkat dengan PTI). 2. Penolakan terhadap Goroe Ordonatie Goeroe Ordonantie (GO) adalah kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang menyangkut dengan pendidikan Islam. Ordonansi yang dalam literatur kolonial disebut dengan Godsdiensonderwijs (Ordonansi Pendidikan Islam) ini merupakan peraturan pemerintah tentang guru agama (Islam) yang ditujukan selain untuk mengontrol lembaga pendidikan Islam juga untuk membendung kekuatan umat Islam Indonesia yang dianggap pemerintah sebagai bahaya yang dapat menggoyahkan sendi-sendi pemerintahan. GO dibuat di Bogor dan mulai diberlakukan pada tanggal 19 November tahun 1905. Ordonansi ini tercantum dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie nomor 550 tahun 1905. Pasal 1 yang merupakan inti dari ordonansi itu menyebutkan bahwa setiap
27

Tujuan pendirian PGAI ini dituangkan dalam Anggaran Dasar PGAI 1921.

Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

18

guru agama (Islam) wajib mendapat ijin dari pemerintah setempat sebelum menjalankan tugasnya. Pada tahun 1925 ordonansi tersebut direvisi. Istilah memperoleh ijin sebagaimana yang tercantum dalam pasal 1 ordonansi sebelumnya diganti menjadi memberitahu. Ordonansi yang direvisi ini tercantum dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie nomor 219 tahun 1925. Penerapan GO di Minangkabau berawal dari kedatangan de Vries seorang pegawai Kantoor voor Inlandsche Zaken ke daerah ini pada Bulan Juni tahun 1928. Pelaksanaan Goeroe Ordonantie di Alam Minangkabau agaknya amat mendesak mengingat pada tahun 1926/1927 terjadi pemberontakan Komunis di Silungkang, yang banyak melibatkan guru dan pelajar sekolah Islam.28 Selama di Minangkabau de Vries banyak melakukan pertemuan dengan elit-elit lokal baik dari golongan agama maupun golongan adat. Dalam setiap pertemuannya dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat de Vries selalu menjelaskan tujuan misinya ke Minangkabau, yakni melakukan jejak pendapat masyarakat Minangkabau tentang Goeroe Ordonantie. Ternyata ada perbedaan sikap dikalangan pemuka masyarakat yang ditemui de Vries. Sebahagian ulama seperti Syekh Sulaiman Ar Rasuli, Syeikh Djamil Djaho, dan Syeikh Khatib Ali yang ditemui de Vries pada Bulan Juli 1928 agak ragu-ragu memberikan jawaban. Tokoh Kaum Tua ini akan mempelajarinya terlebih dahulu. Usaha de Vries meyakinkan Haji Rasul agar bersedia menerima GO mengalami kegagalan. Ulama kharismatik dari golongan kaum muda ini dengan tegas menolak GO. Bahkan Haji Rasul mengecam keras ulama-ulama yang tidak teguh pendirian dalam menghadapi GO. Menurut Haji Rasul umat Islam wajib menolak GO dengan segala cara yang syah dan gerakan penolakan terhadap GO merupakan jihad di jalan Allah.29 Sikap tegas Haji Rasul mendapat dukungan dari A.R. Sutan Mansur tokoh Muhammadiyah yang kebetulan sedang berada di Minangkabau. Kepada sahabat sekaligus besannya itu Sutan Mansur menyampaikan bahwa GO merupakan jalan pemerintah untuk merampas kemerdekaan menyiarkan Islam dan Belanda akan semakin leluasa berkuasa dengan memperalat ulamaulama yang tidak teguh pendirian30. Satu-satunya Ulama Kaum Muda yang menyatakan persetujuannya terhadap Goeroe Ordonantie adalah Abdullah Ahmad. Kesediaan tokoh yang disebut terakhir ini lebih dimungkinkan oleh kedekatan hubungannya dengan pemerintah kolonial31.

28

Lebih jauh tentang peristiwa Silungkang, lihat : Benda dan Mc.Vey (eds.), 1960, The Communist Upsrising of 1926-1927 in Indonesia Ithaca-New York: Cornell University ; Hendrik Bouman, 1949, Eenige Beschouwing over de Ontwikkeling van het Indonesisch Nationalism op Sumatra West Kust, Batavia: Wolter, h. 50-78; Mestika Zed, 1980, “Pemberontakan Silungkang pada Tahun 1927: Suatu Studi tentang Gerakan Sosial di Sumatera Barat”, (Skripsi), Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
29

Burhanuddin Daya, 1990, Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib, (Yogyakarta: Tiara Wacana, h. 264. 30 Ibid. 31 Deliar Noer, op.cit., h. 196.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

19

Sikap ulama-ulama yang tidak teguh pendirian dalam menghadapi GO menimbulkan ketidakpuasan bagi sebagian lainnya. Oleh karenanya Haji Rasultokoh teras ulama Kaum Muda berusaha keras untuk menggagalkan GO. Tanggal 14 Juni 1928 ia memimpin pertemuan tertutup dengan ulama Kaum Muda serta beberapa orang bekas muridnya di surau Syekh Jamil Jambek di Bukittinggi. Inti dari pertemuan yang dihadiri sekitar 20 orang ini adalah membicarakan caracara penolakan GO. Setelah dipelajari dan diteliti secara seksama mengenai ordonansi tersebut, forum mengambil keputusan untuk mengadakan rapat umum ulama-ulama Minangkabau beserta pemuka-pemuka masyarakat lainnya pada tanggal 19 Agustus 1928 guna menentang pelaksanaan ordonansi tersebut32. Tanggal 19 Agustus 1928 menjadi hari yang bersejarah bagi masyarakat Minangkabau. Pada hari ini ribuan orang berkumpul di Surau Syekh Djamil Djambek di Bukittinggi baik dari kalangan organisasi agama maupun organisasi umum33, bahkan De Vries dan beberapa pejabat tinggi pemerintah lainnya juga hadir. Laporan resmi pemerintah menyebutkan, bahwa sebanyak 23 orang tampil sebagai pembicara, 17 orang dari Kaum Muda, 5 orang dari Kaum Tua, dan seorang dari kaum adat.34 Hasil pertemuan itu dijadikan bahan untuk membuat mosi yang pada intinya berisikan tentang ketegasan masyarakat Minangkabau menolak Goeroe Ordonantie. Mosi itu dikirimkan kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda di Buitenzorg (Bogor) dan tembusannya ditujukan kepada Volkstraad dan Kantoor Voor Indlandsche Zaken keduanya di Jakarta, dan Majelis Tinggi di Nederland. Datuk Singomangkuto, tokoh adat dan Abdul Madjid tokoh ulama Kaum Tua diutus untuk menyampaikan mosi tersebut kepada Gubernur Jendral.35 Isi mosi yang disampaikan itu adalah:
1.Adanja dan berlakoenja “Goeroe Ordonantie” itoe njata dan terang mendjadi keberatan atas oemat Islam akan mendjalankan toentoetan agama Allah. Karena Oemat Islam di Soematera Barat merasa wadjib memberikan peladjaran dan adjaran agamanja sekalipoen jang didapatkan hanja satoe ajat dengan tidak menetoekan waktoe dan tempatnja. 2.Oemmat Islam tidak ada mempoenjai satoe djalan djoeapoen soepaja terlepas dari kewadjiban memberi peladjaran agamanja itoe selama hidoepnja. 3.Ketentoean penjaboetan hak boleh mengadjar itoe adalah satoe ketentoean hoekoem jang amat berat oleh oemmat Islam. Karena dalam doea tahoen tidak boleh mengadjar itoe, adalah pada setiap sa’at meninggalkan kewadjiban kepada Allah dan setiap sa’at itoe poela menanggoeng dosa kepada Allah.
32

Imran Jamil dan Haji Abdul Malik Karim, 1928, Peringatan (Verslag) dari Madjelis Permoesjawaratan 'Oelama Minangkabau ' membitjarakan 'Goeroe Ordonantie ' pada tanggal 19 Agustus 1928 dan 'Madjelis Permoesjawaratan 'Oelama' pada tanggal 4 November 1928 menerima Verslag Perdjalanan Oetoesan mehadap Toean Gouverneur Generaal, Fort de Kock: Boekhandel en Taman Poestaka "Sumatra Thawalib", h. 2 menyebutkan bahwa pertemuan tersebut dihadiri tidak kurang dari 20 orang.
33

Imran Djamil dan Abdul Malik, op.cit., h. 1; Taufik Abdullah, op.cit., 114; Deliar Noer, op.cit., h. 195. Versi Burhanuddin Daya, h. 263, menyebutkan bahwa tanggal 18 Agustus adalah rapat tertutup dan tanggal 19 rapat terbuka. 34 Mailrapport, no. 316x/29, ANRI no. 9. 35 Imran Djamil dan Abdul Malik, op.cit., h. 14.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

20

4.Berkejakinan berlakoenja “Goeroe Ordonantie” itoe, tidaklah akan menambah rapatnja ra’jat Islam dengan pemerintah; berlainan dengan toejoean Pemerintah jang hendak merapatkan jang renggang dengan ra’jatnja itoe 5.Setengah dari pada sjarat Pemerintah Hindia Nederland, memberi kemerdekaan kepada segala ra’jatnya dalam agamanja masing-masing; asal tidak mengganggoe keamanan oemoem. Dari ketjoealinja pada sjarat pemerintah itoe, beloemlah patoet “Goeroe Ordonantie” itoe didjalankan, karena : a) Oemmat Islam dengan keIslamannja beloem pernah melanggar keamanan negeri. Manakala ada ketentoean hoekoem pelanggaran itoe soedah tjoekoep diatoer dalam oendang-oendang hoekoem. b) Oemmat Islam di Sumatra Barat dengan keIslamannja tetap dalam keadaan baik terhadap kepada segala pihak teroetama kepada Pemerintah. c) Islam dan ke Islaman tidak ada beroejoed kepada jang tidak baik, hanja membawa kepada kesempoernaan dalam pergaoelan hidoep dan keamanan ‘oemoem. 6.“Goeroe Ordonantie” 1925 njata dan terang mengganggoe kemerdekaan agama Islam. Goena akan mendjaga keamanan ‘oemoem jang berhadir berkejakinan akan kebijaksanaan Pemerintah. 7.Maka dari sebab itoe atas nama segala jang berhadir mengharap dengan segala permohonan jang sangat kepada Pemerintah Agoeng, soepaja segala keberatan-keberatan itoe mendjadi pertimbangan pemerintah dan “Goeroe Ordonantie” itoe tidak didjalankan di Sumatra Barat”.36

Berdasarkan mosi tersebut dan juga laporan dari para pembantunya, maka Gubernur Jendral yang dalam hal ini diwakili oleh sekretarisnya, H.A.Heib mengirim surat balasan kepada residen Sumatra Westkust yang isinya menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda belum berniat memberlakukan Goeroe Ordonantie di Minangkabau.37 Dengan adanya penegasan dari pihak pemerintah itu maka nyatalah bahwa pemerintah kolonial gagal memberlakukan Goeroe Ordonantie di Minangkabau. Keberhasilan masyarakat Minangkabau dalam mengantisipasi berlakunya ordonansi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Minangkabau mempunyai kekuatan dan keberanian dalam mengantisipasi tindakan pemerintah kolonial yang ingin menghambat perkembangan Islam terutama di bidang pendidikan. Penolakan terhadap Goeroe Ordonantie oleh ulama Minangkabau, pada gilirannya juga menjadi catatan sejarah tersendiri bagaimana “keseayunan langkah” dua kubu yang bertikai di wilayah ini dalam menghadapi tantangan eksternal Islam (kebijakan kolonial); suatu perspektif kesejarahan tentang bagaimana konflik dijelaskan dalam konteks kultur Minangkabau sendiri, sebagaimana yang juga telah ditunjukkan oleh kebersamaan kaum adat dan kaum agama menghadapi Belanda dalam Perang Paderi awal abad ke-19. Hal serupa juga dirasakan rakyat Kamang pada saat Perang Belasting 1908 ; semangat mereka berkobar dibawah komando adat dan agama menjadi sebuah memori yang tak mudah terhapus meski dengan kekalahan yang telah mereka hadapi.
36

Imran Djamil dan A.Malik Karim, dalam lampiran 11. lihat juga surat pribadi Dt.Singomangkuto kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagaimana tercantum dalam MR o. 1601/1928 ANRI No. B/38. 37 Tjatja Soematra, No. 246, 25 Oktober 1928; Mailrapport, no: 64x/28, ANRI no.9; 870x/28, ANRI no. B/38; 966x/28, ANRI, no. 9.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

21

3. Dari Organisasi Pendidikan ke Politik : Kasus Sumatera Thawalib Upaya peningkatan taraf pendidikan rakyat oleh kalangan ulama dan intelektual Islam di Minangkabau setidaknya sampai tahun 1930an berjalan dengan mulus, meskipun ada ganjalan-ganjalan kecil seperti pemberlakuan Goeroe Ordonantie yang gagal sebagaimana dikemukakan terdahulu. Namun gejolak gerakan kebangsaan yang mulai terasa di Minangkabau sejak tahun 1920an makin meningkat setelah merasuknya aliran komunisme ke lembaga pendidikan Sumatera Thawalib yang dibawa oleh H. Datuk Batuah38. Komunisme sejak waktu ini berhasil memanipulasi berbagai kekecewaan dan rasa tidak puas antar berbagai golongan, baik Kaum Muda, Kaum Tua, Kaum Adat, golongan buruh dan sebagainya sehingga berujung dengan terjadinya Pemberontakan Silungkang pada tahun 1926/27. Belanda berhasil menggagalkan pemberontakan ini dan menangkapi semua tokoh-tokoh yang dianggap terlibat dalam pemberontakan itu. Sejak itu suhu politik mulai meningkat. Belanda makin meningkatkan pengawasannya terhadap lembaga-lembaga keagamaan termasuk lembaga Pendidikan. Klimaks dari gerakan komunisme di Minangkabau adalah timbulnya pemberontakan komunis di Silungkang pada malam tahun baru 1927 mengiringi pemberontakan yang sama di Jawa yang sudah di mulai beberapa hari sebelumnya. Namun pemberontakan itu dapat digagalkan oleh pemerintah kolonial. Sebagai konsekuensinya PKI dibubarkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda39 Sejak peristiwa itu berangsur-angsur pengaruh komunis mulai hilang dari Sumatera Thawalib pada khususnya dan Minangkabau umumnya. Dampak lain dari peristiwa itu adalah timbulnya shock psikologis yang hebat bagi masyarakat Minangkabau40. Sejak itu terjadilah kevakuman ide di Minangkabau41. Sejak peristiwa itu Sumatera Thawalib mengalami masa krisis. Apalagi tidak lama setelah peristiwa itu timbul gempa bumi yang mengakibatkan banyaknya bangunan Sumatera Thawalib yang hancur. Kendatipun demikian usaha-usaha untuk membangkitkan kembali Sumatera Thawalib terlihat juga melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh para pengurusnya. Usaha membangkitkan kembali organisasi dan sekolah Sumatera Thawalib baru tercapai pada tahun 1928 yakni beberapa bulan setelah rapat umum pemuka masyarakat Minangkabau menentang rencana pelaksanaan Goeroe Ordonantie di wilayah ini. Kebangkitan ini dimulai dengan adanya pertemuan antara tokoh-tokoh Sumatera Thawalib pada tanggal 17-19 November 1928 di Padang Panjang. Dalam pertemuan yang kemudian di sebut sebagai Konferensi
38

Bersama Natar Zainuddin, Haji Batuah mendirikan seksi Partai Komunis Indonesia (PKI) di Padang Panjang pada tanggal 23 November 1923. Lihat Mestika Zed, Pemberontakan Silungkang Pada Tahun 1927: Suatu Studi Tentang Gerakan Sosial Di Sumatera Barat, Skripsi (Jogyakarta : FS.UGM, 1980) h. 64. 39 Ibid. 40 Taufik Abdullah, 1967, “Minangkabau 1900-1927: Priliminary Studies in Social Development”, (Thesis), Ithaca, New York: Cornell University, h.43. 41 Sidi Buchari, op.cit., h. 115.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

22

Sumatera Thawalib yang pertama itu disepakati untuk membangun kembali organisasi Sumatera Thawalib dan untuk mengelola kegiatan Sumatera Thawalib di bentuk Persatuan Sumatera Thawalib. 42 Puncak dari perkembangan Sumatera Thawalib terlihat pada konferensi berikutnya yang diadakan di Bukittinggi pada tanggal 20-21 Mei 1930.43 Ini merupakan konferensi Sumatera Thawalib yang terakhir. Dalam konferensi ini nama Sumatera Thawalib diganti menjadi Persatoean Moeslim Indonesia disingkat P.M.I.44 Dengan adanya P.M.I. maka wadah baru bagi perkembangan pergerakan rakyat Minangkabau untuk kemerdekaan Indonesia telah bertambah. Para perantau mempunyai peranan yang penting dalam konferensi tersebut. Terutama dalam menentukan arah pergerakan P.M.I. Dalam konferensi itu mereka mengemukakan ide-ide yang dibawa dari rantau. Iljas Ja'coub misalnya, ia menyatakan bahwa ada tiga aspek yang prinsipil dalam kehidupan manusia yaitu umat beragama, warga negara, dan putra ibu pertiwi. Ketiga aspek ini saling berkait dan merupakan modal bagi kehidupan.45 Oleh karenanya ia mengusulkan agar P.M.I. memakai asas Islam dan Kebangsaan.46 Kendatipun sampai saat ini P.M.I. bukan merupakan organisasi politik, namun perhatiannya di bidang yang satu ini sangat besar. Pada Bulan Januari 1932 P.M.I.mengirim Djalaluddin Thaib dan Basa Bandaro ke Surabaya untuk menghadiri Kongres Indonesia Raya. Dalam kongres ini kedua tokoh P.M.I. ini memukau peserta kongres dengan pidato-pidatonya terutama tentang semangat Islam dan Kebangsaan. Pada tanggal 24 Oktober hingga 1 November 1932 P.M.I. mengadakan kongresnya yang kedua di Padang. Pada acara ini inisial Persatoean Moeslim Indonesia yang semula P.M.I.di tukar menjadi Permi. Pergantian inisial ini seiring dengan bergantinya haluan organisasi yang semula sosial kemasyarakatan menjadi organisasi politik yang non-kooperatif. Jika sebelumnya tujuan P.M.I. adalah mengusahakan kemajuan dan membawa kepada kesentosaan dan kemuliaan dengan jalan yang syah, maka setelah menjadi Permi tujuannya adalah kesentosaan bangsa dan tanah air serta kesempurnaan dan kemuliaan Islam.47
42

Hal penting lainnya yang disepakati dalam pertemuan itu adalah adanya keinginan untuk menyusun standar kurikulum dan buku-buku teks untuk dipergunakan Sumatera Thawalib. Juga diintrodusir pelajaran-pelajaran umum seperti pertanian, ekonomi, geografi, kesehatan, dan sejarah. Lihat, Taufik Abdullah (b), op.cit., h. 125. Burhanuddin Daya, op.cit., h. 266. 43 Konferensi ini dihadiri oleh sekitar 2.500 orang utusan, termasuk dari wakil pemerintah; 27 orang dari pers; 29 orang dari berbagai organisasi. Lihat, Burhanuddin Daya, loc.cit. 44 Pergantian nama ini dimaksudkan supaya organisasi ini menjadi lebih terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana dicetuskan pada Konferensi Sumatra Thawalib di Batusangkar. Lihat, Politiek Politionale Overzich van de Residen Sumatra Westkust 2de Kwartal 1930, Maillrapport no. 812/30; Medan Ra'jat, no.2, 10 September 1932, h. 1. 45 Medan Ra'jat, no. 13, 1 Agustus 1931, h. 139; Taufik Abdullah (b), op.cit., h. 131. 46 Usul Iljas Ja'cub ini dimungkinkan oleh keterkesanannya dengan pergerakan nasional Bangsa Mesir yang memadukan semangat Islam dengan paham nasionalisme. Lihat "Surat-Surat Dari Mesir" dalam Medan Ra'jat, no. 9, 20 November 1932, h.5. 47 Medan Ra'jat, no. 2, 10 September 1932, h. 1.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

23

Kecenderungan Permi melancarkan propaganda-propaganda politiknya pada gilirannya membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda memberlakukan vergader verbod pada organisasi ini tahun 1933. selain itu, aktifitas Permi di tengah masyarakat di batasi dan kepada beberapa tokohnya dikenakan spreekdelict. Bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh Permi yang ditangkap dan dipenjarakan untuk selanjutnya di buang keluar Minangkabau. 4. Islam dan Komunisme Ideologi dan gerakan komunis internasional sudah masuk ke Indonesia seiring dengan munculnya berbagai macam organisasi pergerakan nasional Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.48 Khusus di Sumatera Barat, paham dan gerakan komunis dikenal muncul pada tahun 1923 yakni saat dideklarasikannya Partai Komunis Indonesia Cabang padang pada Bulan Maret 1923. Kehadiran Komunis di Sumatera Barat merupakan jerih payah Magas seorang pemuda asli Sumatera Barat yang pernah beberapa lama tinggal di Jawa dan sempat bergaul dengan beberapa tokoh komunis di Jawa.49 Era baru mulai dirasakan kaum komunis Sumatera Barat setelah pusat kegiatan dialihkan ke Padangpanjang. Kegiatan komunis di daerah sejuk ini dikombinasikan dengan ajaran-jaran Islam sehingga komunis dapat diterima masyarakat sebagai gerakan alternative. Mestika Zed menyebut ajaran komunis di daerah Serambi Mekkah ini merupakan adonan antara teologi Islam dan Radikalisme Marxisme yang pada gilirannya melahirkan gerakan Islam Revolusioner. Pemahaman yang mendalam tentang histories materialism dan anti agama yang merupakan prinsip dasar paham komunis belum atau mungkin tidak dapat disosialisikan. Yang terpenting bagi tokoh-tokoh komunis di daerah ini adalah dapat menanamkan rasa tidak puas kepada pemerintah Belanda dan bagaimana harus melawan kolonialisme yang banyak menyengsarakan rakyat. Pasca Perang Belasting di Kamang tahun 1905 tidak ada lagi pergerakan rakyat Minangkabau yang tergolong radikal. Oleh karenanya gerakan komunis diharapkan dapat membangkitkan kembali sikap radikal masyarakat Minangkabau dalam menghadapi kolonialisme. 50 Tokoh sentral dari gerakan komunis di daerah ini adalah Haji Datuk Batuah seorang tokoh adat dan mantan guru senior pada Madrasah Sumatera Thawalib Padangpanjang. Dengan mudah tokoh yang pernah menjadi Ketua Penasehat Sumatera Thawalib ini dapat mempengaruhi guru-guru dan muridmurid Sumatera Thawalib untuk menjadi pengikutnya. Mudahnya Datuk Batuah “mengkomuniskan” Sumatera Thawalib lantaran ketika itu guru dan muridmurid Sumatera Thawalib sedang gandrung dengan persoalan-persoalan politik.

48

Untuk menelusuri lebih jauh mengenai sejarah dan perkembangan gerakan komunis di Indonesia lihat antara lain dalam Ruth Mc Vey, The Rise of Indonesian Communism (New York: Cornell University Press, 1968), dan Soegiarso Soerojo, Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai (Jakarta: Antar Kota, 1989). 49 Mestika Zed, Pemberontakan Komunis Silungkang 1927 (Yogyakarta: Syarikat Indonesia, 2004) h. 51. 50 Ibid., h. 58, lihat juga dalam Hamka, Ayahku: Riwayat Hidup DR. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di SumateraBbarat (Jakarta: Umminda, 1982), h. 144
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

24

Dalam mempropagandakan ajaran-ajaran Komunis Datuk Batuah dan Natar Zainuddin menerbitkan media pers. Natar Zainuddin memulai dengan menerbitkan Surat Kabar Djago-Djago yang mengandung makna “membangunkan orang-orang yang tertidur”. Bersama Jalaluddin Tamin tokoh Syarikat Islam Padangpanjang yang condong ke Syarikat Islam Merah, Datuk Batuah menerbitkan Surat Kabar Pemandangan Islam. “Kedua koran komunis itu merupakan sumber sekaligus wacana intelektual yang menyeimbangkan antara ajaran Islam dan kritik terhadap realitas sosial dalam masyarakat.”51 Selain itu surat kabar tersebut juga difungsikan sebagai alat untuk melancarkan propaganda komunis dan menyerang pemerintah kolonial dengan berbagai hasutan.52 Kehadiran dua surat kabar ini diikuti oleh munculnya media pers komunis lainnya seperti Islam Bergerak, Medan Muslim, Dunia Akhirat, dan Petir Menyadari banyaknya guru-guru dan siswa Sumatera Thawalib yang menjadi pengikutnya, kelompok komunis di lembaga pendidikan Kaum Muda itu mendirikan grup studi sebagai sarana untuk meningkatkan intelektualitas anggota dan simpatisannya. Dalam grup studi yang diberi nama International Debating Club ini Datuk Batuah menanamkan ajaran yang dinamakan “ilmu kuminih” yakni komunisme yang dipadukan dengan ajaran Islam. “ Berbagai dalil dari Al qur’an dan hadits dipakainya untuk menerangkan gagasan perjuangan anti kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme… sambil menyokong asas Marxisme dan komunisme.”53 Penting diketahui bahwa, mereka yang terpengaruh komunis baik yang berada di lingkungan Sumatera Thawalib maupun di luar lembaga pendidikan itu tetap memposisikan diri sebagai muslim yang taat yang menjalankan syari’at Islam Menyadari pengaruhnya semakin meluas kelompok Komunis sudah berani melakukan perlawanan terhadap pejabat-pejabat pemerintah setempat. Bahkan kelompok Padangpanjang merencanakan untuk melakukan makar yakni akan membunuh Asisten Residen Padangpanjang dan beberapa pejabat militer setempat. Pemerintah segera melakukan aksi balasan. Terhadap tokoh-tokoh komunis di Padang, Bukittinggi, dan Pariaman hanya dilakukan penggeledahan karena tokoh-tokoh di daerah tersebut dianggap belum membahayakan. Akan tetapi khusus di Padangpanjang pemerintah bertindak lebih keras karena manuver-manuver politiknya dianggap sangat membahayakan; tokoh-tokoh komunis di daerah ini ditangkap dan ditahan termasuk Datuk Batuah dan Natar Zainuddin yang ditangkap pada tanggal 11 November 1923 dan 12 Januari 1925. keduanya dibuang ke Pulau Timor.54 5. Pers Islam di Minangkabau Salah satu dimensi dari pembaharuan Islam yang dianggap signifikan, baik dalam peningkatan wacana keislaman maupun wacana pergerakan kebangsaan di Minangkabau adalah peranan pers Islam. Munculnya penerbitan surat kabar, majalah, dan tabloid Islam, bahkan juga gencarnya penerbitan lektur-lektur
51 52

Mestika Zed, op.cit., h. 60 Burhanuddin Daya, op.cit,m h. 246. 53 Ibid. 54 Mestika Zed, op.cit., h. 61 dan Burhanuddin Daya, op.cit., h. 251.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

25

keagamaan pada dasarnya adalah rangkaian logis dari sebuah praksis kultural masyarakat yang sedang menghadapi berbagai fenomena kemasyarakatan. Modernisasi surau adalah implikasi perluasan wacana Islam sesuai tuntutan perkembangan zaman yang diwarnai situasi kompetitif dengan pendidikan barat. Demikian juga perjuangan untuk terlepas dari penguasaan bangsa asing serta perluasan makna perjuangan di kalangan intelektual “surau” yang baru, menciptakan dinamika kesadaran yang reflektif dan kritis, kemudian terpantul melalui media tulis. Inilah praksis kultural masyarakat Minangkabau pada waktu ini. Munculnya media pers di kalangan pembaharu Islam Minangkabau terinspirasi oleh penerbitan “Al-‘Urwatul Wutsqa” yang diterbitkan oleh Sayid Jamaluddin Al-Afghany dan Muhammad ‘Abduh, demikian juga “Al-Manar” oleh Sayid Rasyid Ridha. Ulama Minangkabau pertama yang menerbitkan majalah dengan corak pembaharuan adalah “Al-Imam” di Singapura oleh putera Minangkabau Syekh Thaher Djalaluddin. Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, Al-Imam dalam penerbitan pertama telah “mengundang” reaksi beberapa kalangan ulama Minangkabau untuk melakukan polemik keagamaan dengan kalangan pembawa pemikiran-pemikiran baru itu. Dari sini berkembang menjadi ajang adu argumentasi antara kelompok yang berbeda pandangan, memunculkan buku-buku serta debat-debat ilmiah. Corong Kaum Tua sebagai penggugat pandangan Kaum Muda disuarakan oleh surat kabar Oetoesan Melaju. Surat kabar ini adalah perubahan nama dari surat kabar Pelita Kecil yang telah terbit semenjak 1890. Pada tahun 1911 kelompok pembaharu menerbitkan majalah “Al-Munir” di bawah pimpinan H. Abdullah Ahmad. Sebagai pembawa suara pembaharuan, majalah ini memuat pemikiranpemikiran ulama-ulama seperti Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh Muhammad Thaib Umar dan H. Abdullah Ahmad sendiri. Majalah ini terbit dua mingguan dan mengupas masalah-masalah keislaman seperti masalah ‘ubudiyah, mu’amalah dan ‘aqidah. Dalam majalah ini disediakan rubrik khusus untuk menjawab masalah-masalah agama Islam. Penyebaran majalah Al-Munir tidak hanya di Minangkabau, akan tetapi meluas ke berbagai daerah di Nusantara, namun penerbitan majalah ini hanya lima tahun, pada tahun 1916 terpaksa dihentikan karena percetakannya di Padang terbakar. Terhentinya penerbitan majalah Al-Munir di Padang, maka misi pembaharuan kemudian disuarakan oleh Al-Munir el-Manar yang diterbitkan oleh murid Syekh Abdul Karim Amrullah, Zainuddin Labay Al-Yunusi di Sumatera Thawalib Padangpanjang pada tahun 1918. Sejak waktu ini, Sumatera Thawalib yang ada di Maninjau, Parabek, Sungayang, dan Maninjau mengikuti pula dengan menerbitkan majalah masing-masing, yaitu Al-Ittiqan di Maninjau, Al-Bayan Parabek, Al-Basyir (Sungayang), dan Al-Imam di Padang Japang. Diantara penerbitan Sumatera Thawalib itu, maka Al-Munir el-Manar yang bertahan hingga wafatnya Zainuddin Labay Al-Yunusy pada tahun 192455.

55

Lihat : Hamka, 1967, Ajahku,Djakarta : Djajamurni, hal. 110

Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

26

Lahirnya PERMI dari lembaga pendidikan Sumatera Thawalib juga ikut meramaikan media pers Islam di Minangkabau. Dalam tahun 1932 setidaknya PERMI menerbitkan enam surat kabar yaitu PERMI Payakumbuh menerbitkan surat kabar “Barisan Kita” . Surat kabar ini hanya berumur satu tahun. PERMI Padang menerbitkan surat kabar Medan Rakyat. Sedangkan di Bukittinggi, sekolah PERMI menerbitkan surat kabar Medan Poetri, Islamic Colllege Permi menerbitkan surat kabar Semangat Moeda. Surat kabar ini pada tahun 1937 berganti nama menjadi Raja, dan pada akhir tahun 1932 satu surat kabar lagi dengan nama Pahlawan Muda yang diterbitkan oleh Himpunan Pimpinan Islam Indonesia PERMI. Di kalangan Kaum Tua yang dipelopori oleh PERTI, tak kalah gesitnya menerbitkan berbagai majalah dan surat kabar. Majalah Al-Mizan diterbitkan oleh PERTI di Bukittinggi pada tahun 1930, majalah Soearti (Soeara Tarbiyah Islamiyah) diterbitkan pada tahun 1938 dan setahun kemudian PERTI Suliki menerbitkan pula majalah Al-Insyaf . Majalah Kopper (PERTI) terbit di Jakarta pada tahun 1951, menyusul PERTI Bengkawas menerbitkan majalah Dewan Poetri pada tahun 1952. PERTI Bulletin terbit pada tahun 1953, menyusul di Jakarta organisasi ini menerbitkan beberapa media pers seperti majalah Al-Imam pada tahun 1955, Majalah Madrasah Rakyat tahun 1957 dan surat kabar harian Fajar dan Mujahid Islam diterbitkan pada tahun 195956. 6. Islam di Masa Pendudukan Jepang Jepang masuk di Sumatera Barat (Minangkabau) tanggal 13 Maret 1942 dan empat hari setelah itu hampir semua kota penting diduduki tanpa perlawanan dari Belanda. Seiring dengan itu di Padang dilaksanakan serah terima kekuasaan atas Sumatera Barat antara Jepang dan Belanda. Kadatangan Jepang ke Sumatera Barat pada awalnya sangat mencemaskan masyarakat, namun dalam berbagai kesempatan Jepang menyerukan bahwa kedatangannya adalah sebagai saudara tua untuk membebaskan rakyat dari penjajahan barat. Jepang melalui agen-agen mereka menyiarkan slogan “Asia untuk Asia”. Dalam menjalankan roda pemerintahannya di Sumatera Barat, Jepang pada awalnya tidak banyak melakukan perubahan struktur pemerintahan57, bahkan ia masih menggunakan pegawai-pegawai pribumi yang dulu pernah bekerja dengan Belanda. Ini disebabkan oleh karena bangsa Jepang yang datang pertama kali adalah serdadu-serdadu yang tidak mengerti soal pemerintahan sipil. Jepang juga tidak melarang rakyat di daerah ini mengibarkan bendera Merah Putih bergandengan dengan bendera Hinomaru. Rakyat diberi kebebasan untuk mendirikan perkumpulan-perkumpulan dan sekolah-sekolah. Dalam bidang pendidikan Jepang melakukan perubahan-perubahan secara mendasar. Sekolah-sekolah dimobilisasi untuk kepentingan Jepang. Melalui jalur
56

Yusran Ilyas, 1995, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Profil Ulama Pejuang (1871-1970), tanpa penerbit, halaman : 21 57 Jepang hanyalah merubah nama-nama struktur dan jabatan pemerintahan ke dalam bahasa Jepang, seperti Sumatera Westkust diganti Sumatra Neishi Kaigun shu, Asisten Residen diganti dengan Bun Shuco, afdeling dengan Bun, Onder afdeling dengan Fuku Bun, Distrik dengan Gun, dan seterusnya.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

27

ini pemerintahan pendudukan ini berusaha untuk men “jepang” kan anak-anak Indonesia dengan berbagai cara. Di sekolah para murid sekolah dalam berbagai tingkatan diajarkan bahasa Jepang, mereka juga dilatih taisoI58, bergotong royong ala Jepang, bahkan juga latihan militer. Kegiatan-kegiatan ini justru lebih banyak dilaksanakan dibanding belajar. Para pemuda dilatih secara militer untuk keperluan Kei-bo-dan (pembantu polisi), Sei-nen-dan (penjaga keamanan kampung), Hei-ho (prajurit Asia Timur Raya), Romusha (tentara pembangun Asia Timur Raya), dan Gyugun (tentara Sukarela)59. Tujuan diberikannya latihanlatihan militer oleh Jepang adalah dalam rangka mempersiapkan tentara untuk Perang Asia Timur Raya. Meskipun kemudian sangat bermanfaat bagi bangsa ini dalam memperjuang dan mempertahankan kemerdekaan. Untuk membantu mobilisasi kalangan pemuda, pemerintahan Jepang memaksakan kepada para ulama untuk memfatwakan bahwa perang Asia Timur Raya sebagai perang Sabil. Oleh kalangan ulama, kewenangan ini digunakan justru untuk meyakinkan rakyat bahwa memerangi bangsa asing termasuk perang sabil, dalam hal ini termasuk bangsa Jepang. Para ulama yang tergabung dalam Majlis Islam Tinggi (MIT) bersama-sama dengan golongan Cadiak Pandai dan golongan adat memberikan dorongan kepada pemuda untuk mengikuti pelatihan-pelatihan militer seperti yang dianjurkan oleh Jepang. Majlis Islam Tinggi (MIT) sebagai satu-satunya organisasi ulama Sumatera Barat, pada waktu ini meminta kepada Jepang agar diizinkan mendirikan Gyugun. Pemudapemuda Sumatera Barat didorong untuk menjadi pasukan Gyugun supaya mendapat pelatihan kemiliteran dari Jepang. Dengan dorongan para pemimpin rakyat itu banyak pemuda-pemuda mendaftarkan diri menjadi Gyugun. Diantara pemuda Islam yang tercatat adalah M. Dahlan Djambek, Ismail Lengah, Syarif Usman, Dahlan Ibrahim, Syofyan Nur, Syofyan Ibrahim. A. Thalib, Nurmatias, Sayuti Amin, Alwi St. Marajo, Syefei Ali, Mahyuddin Tonek, Burhanuddin, Munir Latif dan banyak lagi yang lain. Pada umumnya mereka adalah pemudapemuda terbaik daerah ini60. Sedangkan tokoh yang ditugaskan untuk merekrut calon-calon Gyugun itu adalah : Ahmad Dt. Simarajo dari golongan adat, Mahmud Yunus61 dari golongan alim ulama, dan Khatib Sulaiman dari golongan cendikawan62. MIT melalui ketiga tokoh meminta agar pemuda-pemuda yang masuk Gyugun agar selalu berjiwa Islam dan nasionalis. Pemuda-pemuda terlatih dalam Gyugun inilah yang pada masa revolusi menjadi lasykar-lasykar rakyat bentukan partai dan organisasi di daerah ini dalam mempertahankan kemerdekaan. “Dukungan semu” yang diberikan oleh kaum ulama Sumatera Barat pada masa pemerintahan Jepang, ternyata telah membutakan mata Jepang dalam melihat apa yang ada dibalik dukungan ulama dalam pembentukan Gyugun. Tokoh masyarakat seperti ulama dan tokoh adat serta para cendikawan pada waktu ini hanyalah berfikir bagaimana kemerdekaan dapat segera di capai.
58 59

Taiso adalah sejenis senam pagi yang dilaksanakan secara bersama-sama di lapangan terbuka. Marjani Martamin, 1978, Sejarah Sumatera Barat, Jakarta : Depdikbud, halaman 104. 60 Martamin, 1978; 109 61 Mahmud Yunus adalah tokoh pendidikan Indonesia, Rektor pertama IAIN Imam Bonjol Padang. 62 BPSIM, 1978, Jld.I, 123 ; Mahmud Yunus, 1979;122
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

28

Dengan mempersiapkan tenaga terlatih, tentu pada saatnya akan memuluskan rencana “belakang layar” itu.

IV. Islam di Minangkabau Pasca Kemerdekaan
Dengan dicapainya kemerdekaan, maka berarti dimulainya suatu proses pembentukan negara bangsa. Dengan itu Indonesia memasuki masa revolusi, di mana kehidupan suatu negara baru perlu ditata untuk mencapai tujuan bersama. Dengan kemerdekaan berarti berbagai kepentingan masyarakat mendapatkan tempat dalam tatanan masyarakat baru yang dicita-citakan. Dalam proses penataan itu diperlukan langkah-langkah sistematis, mulai dari institusi-institusi hingga tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai pengambil kebijakan. Pada bagian inilah setiap daerah mempunyai pilihan-pilihan strategis sesuai dengan pengalaman-pengalaman historis masing-masing yang perlu dipertimbangkan. Masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat) adalah masyarakat yang religius dan menjadikan Islam sebagai agama yang inherent dalam sistem budaya masyarakat ini. Karena itu agama Islam telah sangat berperan dalam rentangan pengalaman sejarah perjuangan masyarakat di daerah sejak abad ke19. Peran para ulama, guru-guru agama serta institusi-institusi keagamaan ternyata tidak dapat diabaikan dalam memotivasi dan menggalang kekuatankekuatan perlawanan rakyat, baik di masa penjajahan Belanda maupun masa pendudukan Jepang. 1. Marjinalisasi Kepemimpinan Islam dalam Proses Revolusi Pada saat kemerdekaan sudah ditangan dan era revolusipun harus dimulai, kelompok pemuka agama di daerah ini agaknya kurang mendapat porsi yang lebih baik dalam institusi yang akan menjalankan proses revolusi. Dalam Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) yang dibentuk di daerah ini di awal revolusi misalnya, ketidak seimbangan komposisi ketokohan sangat jelas terlihat. Institusi ini lebih didominasi (untuk tidak mengatakan semuanya), oleh kalangan politisi nasionalis sekuler. Diantara mereka adalah aktifis politik sejak zaman Jepang, bahkan sebagian besar adalah bekas pegawai-pegawai dalam pemerintahan Belanda. Kalangan politisi ini pada umumnya adalah anggota Hokokai (institusi propaganda Jepang)63. Pada saat pertama kali dibentuk KNID Sumatera Barat tanggal 31 Agustus 1945 muncul tiga tokoh pada jajaran atas KNID yaitu Muhammad Syafi’i, Rusad Dt. Parpatih Baringek dan Dr. M. Djamil Dt. Rangkayo Tuo., masing-masing sebagai Ketua, Ketua I dan Ketua II. Muhammad Syafi’i pada waktu sebelumnya adalah pendiri INS Kayu Tanam , seorang nasionalis yang pernah belajar ke negeri Belanda, berasal dari keluarga maju dengan gaya hidup yang berorientasi barat. Rusad Dt. Parpatih Baringek adalah mantan Asisten Demang dan wakil Ketua Minangkabau Raad di masa
63

Lihat : Mestika Zed, 1998, Sumatera Barat di Panggung Sejarah,1945-1995, Jakarta : Sinar Harapan, halaman 17 ; Marjani Martamin dkk, 1978, Sejarah Daerah Sumatera Barat, Jakarta : Depdikbud, hal. 118.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

29

Belanda. Sementara Dr. M. Djamil tidak begitu dikenal oleh masyarakat namun ia salah seorang dokter Minangkabau yang oratoris. Sedangkan yang menjabat sebagai Setia Usaha KNID adalah Mr. St. Muhammad Rasjid. Tokoh ini lulusan Sekolah Tinggi Hukum (RHS) di Batavia dan bekerja sebagai pengacara di zaman Belanda, kemudian di masa Jepang menjadi anggota Chu Sangi Kai. Muhammad Syafi’i kemudian oleh KNID diangkat sebagai Residen (Gubernur) Sumatera Barat yang pertama. Pada dasarnya, hampir semua tokoh atau elit revolusi yang muncul di awal kemerdekaan baik di jajaran legislatif maupun eksekutif di pegang oleh tokohtokoh nasionalis sekuler berpendidikan barat yang tentunya kurang memiliki basis sosial dan pada zaman perjuangan kemerdekaan, mereka pada pada waktu itu umumnya berdiri pada posisi pemerintahan. Indikasi dari akibat kurangnya dukungan rakyat sangat jelas terlihat ketika terjadinya beberapa kali pergantian Residen. Residen pertama Muhammad Syafi’i hanya bertahan satu setengah bulan, kemudian digantikan oleh Rusad Dt. Parpatih Baringek yang kekempimpinannya juga hanya bertahan lebih kurang tiga setengah bulan, dia terpaksa mengundurkan diri dan digantikan secara berurutan Dr. M. Djamil dan Mr. St. Moh. Rasjid. Gonta ganti Residen di Sumatera Barat yang berlangsung pada dua tahun pertama ini adalah gambaran dari kekurangmampuan tokohtokoh itu dalam mengantisipasi persoalan-persoalan internal yang antara lain konflik sosial politik yang terjadi. Disamping itu masuknya sekutu menjadi tantangan tersendiri bagi tokoh revolusi ini. Banyaknya persoalan-persoalan internal yang tidak terpecahkan menyebabkan proses revolusi menjadi mandeg. Terjadinya anarkisme sebagai pantulan ketidak puasan rakyat atas janji kemerdekaan, menjadi beban yang sangat rumit bagi pemerintahan republik yang baru ini. Muncul berbagai kecurigaan terhadap loyalitas perjuangan para pemimpin revolusi, serta perlakuan tidak adil terhadap berbagai elemen masyarakat yang seharusnya mendapat porsi pada pemerintahan64. Kondisi sosial seperti ini sudah pasti menjadi titik lemah tersendiri, apalagi bila dihadapkan dengan kedatangan sekutu yang diboncengi oleh Belanda untuk kembali menguasai wilayah jajahannya. Pada saat pemerintah bersama TRI harus memobilisasi rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan, mereka berusaha dengan gencar menyiarkan kampanye dengan tema-tema arti kemerdekaan di kalangan rakyat. Akibat kurang mengakarnya kalangan pemimpin revolusi itu, kampanye kemerdekaan kurang disambut baik oleh masyarakat. Ketika kesulitan ini dialami, maka tokoh formal itu merasa bahwa dukungan moral kalangan ulama yang memiliki kharisma di tengah masyarakat sangat diperlukan.
64

Salah satu ekspresi ketidak puasan berbagai golongan masyarakat adalah terjadinya peristiwa 3 Maret 1947 yang dikenal sebagai percobaan kudeta terhadap pemerintahan dan Tentara Republik Indonesia di Bukittinggi dan kota-kota lainnya di Sumatera Barat sebagai koreksi atas berbagai kelemahan pemerintah dan TNI dalam menjalankan rode revolusi. Selanjutnya lihat : Taufik Abdullah dan S. Budhisantoso, 1984, Sejarah Sosial di Daerah Sumatra Barat, Jakarta : Depdikbud, hal. 150-155
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

30

Apa yang digambarkan di atas, sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang pernah dipaksakan oleh pemerintahan Jepang kepada kalangan agama untuk menggalang kekuatan rakyat bagi kepentingan Perang Asia Timur Raya. Bedanya hanyalah pada masa Jepang antara pemerintah dengan ulama berada pada dua posisi yang berbeda, sedangkan di masa revolusi ini keduanya berada pada posisi yang sama. Anekdot ini telah membukakan mata para pemimpin revolusi sekaligus peringatan atas kelemahan mereka dalam mendapatkan dukungan rakyat, demikian juga dengan peran golongan Islam yang sesungguhnya tidak dapat diabaikan. 2. Pembentukan Partai-Partai Islam Menyambut seruan pemerintah dalam Maklumat Wakil Presiden tgl. 3 Nopember 1945, rakyat Sumatera Barat segera membentuk partai-partai untuk penyaluran aspirasi politik mereka. Beberapa hari setelah keluarnya maklumat itu para politisi berkumpul dalam suatu pertemuan di Padang yang dihadiri oleh Residen Muhammad Syafi’i. Dalam rapat itu disepakati beberapa point resolusi yang isinya antara lain : bahwa untuk mengokohkan Negara Republik Indonesia yang demokratis hendaklah segala paham politik dari masyarakat dapat disalurkan dengan teratur ke dalam partai-partai. Dalam pertemuan ini juga disepakati bahwa dalam situasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan atau kedaulatan, setiap partai politik jangan hendaknya saling bercakaran sesamanya dan berjuang sepenuhnya untuk mengokohkan pertahanan negara65. Kesepakatan itu kemudian disambut dengan berdirinya beberapa partai politik di Sumatera Barat. Dari kalangan Islam ikut meramaikan pembentukan partai pada waktu ini antara lain : Persatuan Tarbiyah Islamiyah sebagai organisasi madrasah dan ulama-ulama Syafi’iyah dijadikan partai politik pada tanggal 26 Nopember 1945, Majlis Islam Tinggi (MIT), organisasi ulama Sumatera Barat, diresmikan pula menjadi partai politik lima hari setelah Majlis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAM) organisasi adat yang diresmikan sebagai partai politik pada tanggal 20 Desember 1945. Beberapa waktu sebelum itu Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) yang pernah mendapat tempat di Minangkabau sebelum tahun 1937 saat dibubarkan oleh pemerintah Belanda, kembali ditubuhkan pada tanggal 18 Nopember 1945. Sedangkan Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) yang berpusat di Yogyakarta, didirikan cabangnya di Sumatera Barat pada Februari 1946. Disamping itu beberapa partai lokal lainnya seperti Partai Politik Tarikat Islam (PPTI), PKI Lokal Islamy, dan Partai Muslimin Syathariah Indonesia. Penubuhan partai-partai politik Islam di Sumatera Barat, disamping menjadi wadah penyaluran aspirasi kalangan Islam untuk merespon maklumat pemerintah, lebih dari itu tentunya untuk mengantisipasi berbagai kesenjangan yang terjadi ditubuh pemerintah sekaligus penyeimbang munculnya partaipartai nasionalis sekular seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan lain-lainnya yang juga didirikan di Sumatera Barat pada waktu ini.
65

lihat :Taufik Abdullah dan S. Budhisantoso, 1984, Sejarah Sosial di Daerah Sumatra Barat, Jakarta : Depdikbud, hal. 146
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

31

3. Lasykar-Lasykar Islam di Masa Revolusi Menyadari kondisi bangsa yang belum stabil, maka setiap elemen bangsa harus mengambil peran dalam menjaga dan mempertahankan kemerdekaan. Walaupun sudah dibentuk angkatan perang dan kepolisian oleh pemerintah, partai-partai dan organisasi masyarakat di Sumatera Barat merasa perlu membentuk barisan-barisan rakyat yang akan ikut ambil bagian bila dalam kondisi tertentu negara memerlukannya untuk memperkuat angkatan yang ada. Barisan yang pertama-pertama berdiri adalah Hizbullah yang dibentuk oleh organisasi Muhammadiyah. Organisasi ini pada awalnya telah memiliki angkatan muda yang tergabung dalam kepanduan Muhammadiyah yang bernama Hizbul Wathan. Setelah bekas anggota Hizbul Wathan ini mendapatkan pengarahan serta tambahan pengetahuan yang dilaksanakan selama lebih kurang 10 hari, kemudian disatukan dalam barisan Hizbullah. Barisan ini diresmikan oleh organisasi induknya (Muhammadiyah) di Padangpanjang pada tanggal 22 November 1945. Segera setelah pembentukan Hizbullah dan masih pada tahun yang sama, Partai Islam Perti juga membentuk Lasykar Muslimin Indonesia (Lasymi). Keanggotaan Lasymi yang terdiri dari pemuda-pemuda Perti ini dilatih selama beberapa waktu untuk mendapatkan bekal pengetahuan kemiliteran dasar. Segera setelah selesai pelatihan, Syekh Sulaiman Ar-Rasuly selaku sesepuh partai ini melantik keanggotaannya dan sekaligus meresmikan barisan ini di Bukittinggi pada tanggal 24 Desember 1945. Majlis Islam Tinggi (MIT) yang telah menjadi partai Islam sejak 25 Desember 1945 juga membentuk sebuah barisan pada tanggal 16 Maret 1946. Barisan yang diremikan berdirinya di Bukittinggi ini diberi nama Sabilillah. Beberapa bulan berikutnya, Partai Islam Perti, terutama dari kalangan wanita Perti juga dibentuk barisan wanita yang bernama Lasykar Muslimat . Barisan ini selain dibekali dengan pengatahuan kemiliteran, juga persiapkan untuk barisan belakang yang akan menangani dapur umum, palang merah dan keperluan-keperluan perang lainnya. Lasykar Muslimat diresmikan pada tanggal 23 Juni 1946. Diantara partai-partai Islam lainnya tidak ketinggalan mendirikan barisan masing-masing, seperti Partai Politik Tarikat Islam (PPTI) dengan barisan Tentara Allah, PKI Lokal Islami dengan barisan Saifullah, demikian juga barisan yang dipelopori oleh tokoh masyarakat, seperti Angkatan Api Islam yang didirikan oleh Abdul Hamid di Sawahlunto. Barisan-barisan ini merupakan kantong-kantong kekuatan rakyat dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dan akan berdampingan dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) serta barisan-barisan yang didirikan oleh partai dan organisasi lainnya seperti Tentara Merah Indonesia (didirikan oleh PKI), Barisan Hulubalang (didirikan oleh MTKAAM), Barisan Gerilya Sumatera Barat (didirikan oleh Ali Umar di Padang), Api Sibonka (Angkatan Perang Silungkang, Bonjol dan Kamang) yang didirikan oleh Inyik Adam di Padangpanjang, dan lain-lain. 4. Partai Islam di Pentas Politik Pemilihan Umum 1955 Usai revolusi, pada pertengahan tahun 1950, cita-cita proklamasi menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan dikokohkan kembali. Ini ditandai
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

32

dengan dihapuskannya Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Serikat dan aparat pemerintahan RIS dibubarkan. Perdana Menteri pertama NKRI Mohammad Natsir meminta kepada Menteri Dalam Negeri untuk memulihkan kondisi politik yang terjadi di Sumatera Barat. Kebijakan Menteri Dalam Negeri Asaat mengganti gubernur Sumatera Tengah dengan mengangkat Mr. Ruslan Muljohardjo dari Partai Masyumi, telah memicu konflik antara DPR Sumatera Tengah dan pemerintah pusat. DPR ST kemudian bersepakat untuk menolak keputusan Mendagri itu serta berusaha menggagalkan pelantikannya di Sumatera Barat. Meskipun akhirnya Ruslan dapat menduduki kursinya sebagai gubernur, namun hal ini dinilai oleh masyarakat Sumatera Barat sebagai hilangnya demokrasi di ranah yang secara kultural historis adalah dianggap paling demokratis, apalagi sejak dibekukannya DPRST pada tahun 1951. Dengan latar belakang kondisi politik itu, partai-partai di Sumatera Tengah yang telah kehilangan “panggung” mencoba merakit kembali kekuatan melalui sebuah perkumpulan yang bernama Koordinasi Partai Partai Politik se-Sumatera Tengah (KPPST)66. Perkumpulan ini aktif mengadakan pertemuan-pertemuan untuk menggalang kembali kekuatan. Dalam Kongres KPPST di Bukittinggi pada tanggal 20 Januari 1952 yang dihadiri oleh H. Agus Salim. Kongres ini menghasilkan konsolidasi kekuatan dengan merekrut tokoh-tokoh daerah yang terdiri dari kaum ulama, kaum adat dan Cadiak Pandai (golongan intelektual). Pada bulan Juli 1952, KPPST mengeluarkan Statemen Bersama yang ditujukan kepada pemerintah pusat yang berbunyi a.l.: “ menyesali sikap pemerintah yang mengakibatkan kosongnya demokrasi di Sumatera Tengah sekian lama” dan “mendesak diadakannya pemilihan umum”. Statemen ini disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dengan berbagai cara, namun tidak mendapatkan tanggapan positif dari pemerintah. Apa yang diperjuangkan oleh KPPST selama tidak kurang dari tiga tahun, barulah membuahkan hasil setelah pemerintah pusat mengumumkan akan diadakannya pemilihan umum pada bulan September 1955. Dari hasil pemilihan umum 1955 ini tercatat parta-partai Islam mengungguli perolehan suara terbesar adalah Masyumi 49 % diikuti oleh Perti di urutan kedua dengan jumlah perolehan suara 28 %, sedangkan partai Islam lainnya seperti Partai Islam Indonesia (PII), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Politik Tarikat Islam (PPTI), dan Nahdhatul Ulama berada di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memperoleh suara 7%, bahkan PPTI dan PII gagal memperoleh suara. 5. Islam dan Adat Minangkabau Sesudah Kemerdekaan : Sebuah Solusi atas Kesadaran Sejarah Berakhirnya masa revolusi di Sumatera Barat, kehidupan sosial politik di daerah inipun mulai memasuki periode “normal” ditandai dengan terselesaikannya berbagai konflik internal pemerintahan pada awal tahun 1950an. Pada saat ini kalangan tokoh intelektual, para ulama serta para pemuka
66

Tentang bagaimana upaya tokoh di daerah ini berupaya untuk mewujudkan kembali demokrasi di Minangkabau secara lebih jauh dikemukakan oleh Mestika Zed, dkk, 1998, hal. 129
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

33

adat mulai berfikir untuk menciptakan suasana tenteram di kalangan masyarakat dengan meredam berbagai potensi yang memungkinkan terciptanya konflik internal baru di kalangan masyarakat. Pada waktu ini persoalan adat dan Islam, meski tidak lagi menjadi tema utama konflik internal sejak masa pergerakan, namun dirasakan bahwa tidak mustahil sewaktu-waktu akan kembali menguat, bila tantangan eksternal yang dihadapi sudah mereda, sebagaimana perspektif sejarah yang pernah terlihat pada abad yang lalu. Untuk itu, pada tahun 1952 muncul inisiatif dari kalangan elit “Tungku Tigo Sajarangan” Minangkabau untuk menyelenggarakan sebuah konferensi yang akan membahas tentang kedudukan hukum Islam dalam adat Minangkabau. Persoalan ini, meski tidak menimbulkan konflik terbuka seperti pada waktuwaktu yang lalu, namun tetap menjadi persoalan yang dianggap rumit dalam tataran praktek peradilan masyarakat Minangkabau hingga waktu ini, terutama menyangkut persoalan waris dan kaitannya dengan harta pusaka yang berlaku dalam adat Minangkabau. Persoalan inilah yang dikhawatirkan akan meluas kembali menjadi konflik adat dan agama. Berangkat dari kenyataan itulah konferensi ini dilaksanakan untuk mempertemukan kembali kalangan adat, kalangan agama dan para cendikiawan untuk membahas rencana menyangkut bagaimana fatwa mengenai harta pencaharian --yang harus diwariskan sesuai dengan fiqh itu-- dilaksanakan. Diantara usulan yang mengemuka pada konferensi ini, selain menyangkut konsep tentang harato pancarian, adalah bahwa kemenakan dapat mewarisi sepertiga dari harta pencaharian mamak mereka melalui pembuatan wasiat, sedangkan yang duapertiga dibagi di antara para ahli waris menurut ketentuan fiqh. Harta pusaka (harato pusako) hendaklah tetap diatur sesuai dengan adat. Setiap orang Minangkabau dianjurkan membuat surat wasiat untuk mewariskan sesuatu yang berfaedah bagi kemenakan mereka67. Pada tahun 1968 kembali dilaksanakan konferensi yang sama untuk membahas persoalan sebagaimana yang menjadi usulan yang mengemuka pada konferensi tahun 1952 dengan beberapa keputusan antara lain bahwa hukum yang berlaku atas harta pencaharian adalah hukum faraidh, sedangkan untuk harta pusaka berlaku hukum adat dengan beberapa penjelasan tentang konsep harta pusaka dan harta pencaharian dan ketentuan yang ditetapkan untuk itu. Semua hakim Sumatera Barat dan Riau yang hadir pada waktu ini, menghimbau khalayak untuk memperhatikan keputusan konferensi ini. Meskipun keputusan konferensi ini telah disebarluaskan sedemikian rupa, ternyata dalam praktek peradilan di Sumatera Barat, para hakim tidak terlalu “menaruh perhatian” pada keputusan ini, mereka tetap saja menggunakan hukum adat dalam keputusan mereka68. Namun, setidaknya dengan
67

lihat : Franz von Benda-Beckmann, 2000, Properti dan Kesinambungan Sosial, Kesinambungan dan Perubahan dalam Pemeliharaan Hubungan-Hubungan Properti Sepanjang Masa di Minangkabau, Jakarta : Grasindo hal. 418 68 Persoalan tentang harta pusaka dan harta pencaharian sebagai yang menjadi pembahasan dalam kedua konferensi ini serta bagaimana implementasinya dalam praktek peradilan di Minangkabau secara lengkap dikemukakan oleh Benda-Beckmann (2000) ibid.
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

34

dilaksanakannya konferensi yang membahas tentang adat dan Islam, telah mempertemukan dua kelompok ideologis yang di masa lalu sangat rentan terhadap konflik. Dengan konferensi ini juga persoalan-persoalan yang menyangkut wacana adat dan Islam dibicarakan secara terbuka dan ilmiah. Sehingga potensi konflik di antara keduanya mendapatkan “katup pengaman” untuk tidak melebar menjadi konflik. Keadaan inilah yang telah mewarnai hubungan Islam dan adat pada waktu-waktu selanjutnya di Sumatera Barat.

V.

Penutup
1. Kesimpulan

Mengamati perjalanan sejarah agama Islam di Sumatera Barat pada abad ke-19 dan ke-20 sebagai suatu episode perkembangan Islam di Indonesia dalam kerangka pengalaman di tingkat lokal, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Sebagaimana perkembangan sejarah agama Islam pada periode sebelumnya, Islam di Minangkabau pada abad ke-19 dan ke-20 berkembang melalui suatu proses dialektis dalam rangka menemukan bentuknya yang ideal sesuai dengan perkembangan masyarakat. Proses dialektika Islam di wilayah ini justru tumbuh dari kerangka budaya Minangkabau yang terbuka, kosmopolit dan senantiasa memelihara “konflik”. Proses dialektika perkembangan itu selalu diawali dengan munculnya konflik internal atau oleh tantangan eksternal. Ketika konflik internal menguat maka serta merta memunculkan praksis-praksis kultural sebagai refleksi dari perkembangan pemikiran masyarakatnya. Namun ketika muncul tantangan eksternal, maka intensitas konflik internal menjadi menurun, bahkan melahirkan integrasi sebagai praksis kultralnya. Demikian juga ketika tantangan eksternal menurun, maka potensi konflik internal “dimunculkan” kembali.

2. Pada paruh kedua abad ke 19 intensifnya kegiatan intelektual Islam untuk
belajar ke Timur Tengah merupakan praksis kultural dari munculnya kembali perdebatan seputar tarikat Naqsyabandiah dan Syathariah serta menguatnya kembali protes terhadap praktek adat Minangkabau setelah berakhir Perang Paderi. Implikasi ‘perjalanan intelektual’ pada waktu ini terlihat pada awal abad ke-20 dengan terjadi polarisasi pemikiran dan pemahaman keagamaan ; Kaum Tua dan Kaum Muda. Konflik kedua kubu ini menjadikan aktifitas surau meningkat, terjadi transformasi sistem pendidikan, pembahasan terhadap wacana-wacana keislaman meningkat pesat, demikian juga mejamurnya penerbitan media pers dan lektur-lektur keagamaan.

3. Menjalarnya semangat pergerakan dan masuknya faham komunisme ke
dalam lembaga Sumatera Thawalib di Minangkabau pada tahun 1920an telah memilah komposisi elit Minangkabau kepada tiga kelompok besar yaitu : Nasionalis Sekuler yang terdiri dari kalangan intelektual pendidikan Belanda
Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

35

dan Nasionalis Islam yang terdiri dari kalangan Islam tradisionalis (Kaum Tua), Islam Modernis (Kaum Muda), Nasionalis Radikal yang terdiri dari kalangan modernis Islam yang disusupi faham komunis, dan kelompok Kaum Adat. Kelompok-kelompok inilah yang mewarnai pembentukan partaipartai politik di awal kemerdekaan. Konflik internal diantara kelompok elit serta tantangan eksternal yang terjadi pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan telah menciptakan berbagai praksis kultural yang spesifik di Minangkabau. 2. Saran/Rekomendasi a. Untuk memahami sejarah perkembangan Islam di Sumatera Barat tidak dapat dilepaskan dengan konteks kultural Minangkabau. Karenanya penganalisisan faktor-faktor kausalitas terhadap perkembangan sejarah masyarakat ini lebih memerlukan pendekatan-pendekatan lokalitas. b. Mengusulkan kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk lebih mengembangkan kajian-kajian kesejarahan Islam dalam konteks lokal ini, terutama kajian mendalam pada aspek-aspek tertentu sebagai kelanjutan dari pembahasan komprehensif yang dilaksanakan dalam kegiatan penelitian ini.

VI. Daftar Sumber :
Arsip dan Dokumen : Mail Rapport No. 227x/33, ANRI, No.29 Mail Rapport No. 316x/29, ANRI, No.9 Mail Rapport No. 64x/28, ANRI, No.9 Mail Rapport No. 879x/28, ANRI, No.B/38 Mail Rapport No. 966x/28, ANRI, No.9 Mail Rapport No. 812/30, ANRI Naskah Primer : Ahmad Khatib bin Abdul Lathif Al-Khatib, 1326 H., Izhharu Zaghlil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish-Shadiqin, Mishr : Mathba’ah at-Taqaddum al’Ilmiyyah bi Darbi ad-Dalil. -----,1326 H., Al-Ayaatu al-Baiyyinat li al-Munshifin fi Izalati Khurafat Ba’dh alMuta’ashshibin, Mishr : Mathba’ah at-Taqaddum al’Ilmiyyah bi Darbi ad-Dalil. -----, 1326 H., As-Saiful Batar fi Mahaqqi Kalimati Ba’dhi Ahli al-Ightirar, Mishr : Mathba’ah at-Taqaddum al’Ilmiyyah bi Darbi ad-Dalil. Buku : Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama, Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung : Mizan. Benda –Beckmann, Franz von, 2000, Properti dan Kesinambungan Sosial, Kesinambungan dan Perubahan dalam Pemeliharaan Hubungan –Hubungan Properti Sepanjang Masa di Minangkabau, (terjemahan Tim Perwakilan KITLV, Jakarta bersama Dr. Indira Simbolon), Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia & Perwakilan Koninklijk Institut voor Taal Land –en Volkkenkunde.

Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

36

Benda-Beckmann, Keebet von, 2000, Goyahnya Tangga Menuju Mufakat, (terjemahan DR. Indira Simbolon), Jakarta : PT Gramedia Widiasarana & Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde. Benda, Harri J. 1980, Bulan Sabit dan Matahari Terbit : Islam pada Masa Pemerintahan Jepang, Terj. Dhaniel Dhakidae, Bandung : Pustaka Jaya. Benda dan Mc.Vey (eds.), 1960, The Communist Upsrising of 1926-1927 in Indonesia Ithaca-New York: Cornell University. Bouman, Hendrik, 1949, Eenige Beschouwing over de Ontwikkeling van het Indonesisch Nationalism op Sumatra West Kust, Batavia: Wolter. Burhanuddin Daya, 1990, Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Thawalib, (Yogyakarta: Tiara Wacana, h. 264. Deliar Noer, 1990, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES, Depdikbud RI., 1997, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat, Jakarta : Depdikbud RI. ------- ,1978, Sejarah Daerah Sumatera Barat, Jakarta : Depdikbud RI. Depdikbud RI., 1983/1984, Sejarah Sosial di Daerah Sumatera Barat, Jakarta : Depdikbud RI. Dobbin, Christine 1992, Kebangkitan Islam dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847, (terjemahan), Jakarta : INIS Hamka, 1967, Ayahku, Riwayat Hidup Dr. H. Abd. Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera, Jakarta : Djajamurni. I.Jumhur dan Danusuparta, Sejarah Pendidikan (Bandung: Tjerdas, 1962). Imran Jamil dan Haji Abdul Malik Karim, 1928, Peringatan (Verslag) dari Madjelis Permoesjawaratan 'Oelama Minangkabau ' membitjarakan 'Goeroe Ordonantie ' pada tanggal 19 Agustus 1928 dan 'Madjelis Permoesjawaratan 'Oelama' pada tanggal 4 November 1928 menerima Verslag Perdjalanan Oetoesan mehadap Toean Gouverneur Generaal, Fort de Kock: Boekhandel en Taman Poestaka "Sumatra Thawalib", John Ingelson, 1983, Jalan Ke Pengasingan: Pergerakan Nasional Indonesia 1927-1934, Jakarta: LP3ES Mahmud Yunus, 1979, Sejarah Pendidkan Islam di Indonesia, Jakarta : Mutiara Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, 1980/1981, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Mansoer, M.D., dkk., 1970, Sejarah Minangkabau, Jakarata : Bhratara Mestika Zed, 1980, “Pemberontakan Silungkang pada Tahun 1927: Suatu Studi tentang Gerakan Sosial di Sumatera Barat”, (Skripsi), Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Mestika Zed dkk., 1992, Perubahan Sosial di Minangkabau, Implikasi Kelembagaan dalam Pembangunan Sumatera Barat, Padang : Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial Budaya Universitas Andalas. Mestika Zed, 2002, “Politik Identitas, Respon-Respon Orang Minangkabau terhadap Perubahan Sejarah” (makalah Temu Budaya), BKSNT Padang Mestika Zed, 1998, Sumatera Barat di Panggung Sejarah,1945-1995, Jakarta : Sinar Harapan Ricklefs, M.C., 1993, Sejarah Indonesia Modern, terj. Dharmono Hardjowidjono, Jogyakarta: Gadjah Mada Press, Rusli Amran, 1981, Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, Jakarta : Sinar Harapan. -------, 1985, Sumatera Barat Plakat Panjang, Jakarta : Sinar Harapan. -------, 1988, Pemberontakan Pajak 1908, Bag.I Perang Kamang, Jakarta : Rusli Amran. Sartono, 1984, Gerakan Ratu Adil, Jakarta: Sinar Harapan.

Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

37

Schrieke, B.J.O, 1973, Pergolakan Agama di Sumatera Barat, Sebuah Sumbangan Bibliografi, Jakarta : Bhratara. Sidi Ibrahim Boechari, 1981, Pengaruh Timbal Balik antara Pendidikan Islam dan Pegerakan Nasional di Minangkabau, Gunung Tiga: Jakarta. Steenbrink, Karel A.,1984, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, Jakarta : Bulan Bintang. Suminto, Aqib, 1985, Politik Islam Hindia Belanda: Kantoor voor Inlandsche Zaken Jakarta: LP3ES Stoddard,L., 1966, Dunia Baru Islam, (terjemahan), Jakarta : Panitia Penterjamahan Taufik Abdullah, 1967, “Minangkabau 1900-1927: Priliminary Studies in Social Development”, Thesis (Ithaca,New York: Cornell University,) ------ dan S. Budhisantoso (ed.), 1984, Sejarah Sosial di Daerah Sumatra Barat, Jakarta : Depdikbud -------, (1971), Schools and Politics : The Kaum Muda Movement in West Sumatera (19271933), Monograph Series , Ithaca, New York : Cornell Modern Project South East Asia Program Cornell University. -------, (ed.), 1987, Sejarah dan Masyarakat, Lintasan Historis Islam di Indonesia, Jakarta : Pustaka Firdaus. -------, (1987), Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta : LP3ES -------, (ed.), 1990, Sejarah Lokal di Indonesia, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. -------, (ed.), 1991, Sejarah Umat Islam Indonesia, Jakarta : Majlis Ulama Indonesia. Thomas, Lynn L. and Franz von Benda-Backmann (1985), Change and Continuity in Minangkabau : Local, Regional, and Historical Perspectives On West Sumatra, Athens, Ohio : Ohio University. Yusran Ilyas, 1995, Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Profil Ulama Pejuang (1871-1970), tanpa penerbit Koran dan Majalah : Tjaja Soematra, No. 246 – 25 Oktober 1928 Tjaja Soematra, No. 259 – 9 November 1928 Medan Ra’jat, No. 13 – 1 Agustus 1931 Medan Ra’jat, No. 2 – 10 September 1932 Medan Ra’jat, No. 6 – 20 Oktober 1932 Medan Ra’jat, No. 9 – 20 November 1932 Naskah yang tidak diterbitkan : H. Yunus Yahya, 1976, Riwayat Ulama-Ulama Syafi’iyyah, (stensilan) Hulfa, 1994, “Peranan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah) dalam Masa Orde Baru, (skripsi) jurusan SKI Fakultas Adab IAIN IB Padang Sanusi Latief, 1988, “Sejarah Perkembangan Tarikat di Sumatera Barat” (makalah), Padang : IAIN Imam Bonjol Padang.

Irhash A. Shamad -Islam Sumbar /06

38

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->