P. 1
Pledoi Sudisman

Pledoi Sudisman

|Views: 778|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Apr 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

Pledoi Sudisman April 11th, 2006 by dn-aidit1924 POKOK PERTAMA : PENGANTAR Sdr Hakim Ketua yang terhormat.

Untuk sempurnanya sesuatu masalah biasanya diiringi oleh suatu pengantar. Pengantar sebagai pembuka pintu gerbang kejelasan untuk mencegah supaya tidak tersungkur dalam mencari dan meraba dalam kegelapan, supaya tidak "struikelen in het zuken en tastenin het duister". Pengantar ini hendak saya gunakan untuk menerangkan arti judul uraian. Saya lama mengendapkan diri dalam mencari judul uraian yang tepat, sesudah meringkuk ditahan dalam sel berukuran 2 M 20 cm kali 3 M 60 cm selama lebih dari 7 bulan atau kongkritnya 211 hari terhitung Mulai 6 Desember 1966; sesudah 14 kali diperiksa langsung selama 18 hari yang berlangsung tidak kurang dari 70 jam pemeriksaan dan menghasilkan Berita Acara Pemeriksaan setebal 152 halaman; sesudah mengalami keseluruhan pemeriksaan pendahuluan sebanyak 40 kali; sesudah mendapat bantuan kiriman sekedar makanan dan pakaian dari TEPERPU [Team Pemeriksa Pusat] seba nyak l6 kali; dan sesudah mendapat sekedar pemeriksaan dokter sebanyak 9 kali. Dalam pengendapan diri itu saya menemukan judul jang tepat, yaitu: URAIAN TANGGUNG JAWAB Kenapa tidak memilih judul lain? Misalnya "Pidato Pembelaan . Saya sengaja tidak menamakan uraian saya ini suatu pembelaan, karena suatu pembelaan harus memiliki persenjataan yang lengkap baik di bidang teori Marxisme-Leninisme maupun di bidang-bidang lainnya. Persenjataan itulah yang justru tidak saya miliki karena persediaan perpustakaan tidak saya miliki, tidak ada ditangan saya, sehingga segala sesuatu yang saya uraikan ini semata-mata hanya didasarkan kepada ingatan-ingatan yang masih tersimpan dalam otak selaku "supreme headquarters" yang terdiri dari 3 kompartemen, ialah: 1. Fantasi, imajinasi, emosi; 2. Intelek yang menggali pikiran-pikiran dan ide; 3. Memori dan kontrol gerak tubuh. Karena keterbatasan pengetahuan

teori Marxisme-Leninisme yang ada pada saya, maka saya menyisihkan judul "Pidato Pembelaan" saya berpendirian bahwa pengetahuan seseorang itu terbatas. Seseorang bisa mengetahui banyak, tapi tidak bisa tahu semua. Jika seseorang itu berani menyatakan "Saya tahu semua", maka akibatnya tidak lain kecuali tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Saya selalu berusaha dengan keras untuk mendengarkan pendapat orang lain memang pernah terlintas, yaitu, "PKI MENGGUGAT". Judul agung demikian tak mungkin saya pakai dalam keadaan serba terisolasi, hidup sebatang kara di dalam sel tanpa diskusi dengan seorang kawanpun. Daripada berlayar sendirian dalam keagungan judul uraian, saya berpendapat lebih baik mendamparkan diri pada judul sederhana, "Uraian Tanggung Jawab". Tanggung-jawab kepada siapa? Dengan sendirinya tanggung jawab kepada Rakyat. Siapakah yang dimaksud dengan Rakyat itu? Rakyat ialah : kaum buruh, kaum tani, burjuasi kecil di luar kaum tani termasuk kaum intelektual revolusioner, dan burjuasi nasional yang anti-imperialis dan anti tuan tanah (anti-feodal). Kaum buruh, kaum tani dan burjuasi kecil di luar kaum tani termasuk kaum intelektual revolusioner adalah Rakyat pekerja dan merupakan tenaga penggerak revolusi dalam tahap revolusi yang nasional dan demokratis, dalam tahap revolusi yang anti imperialis dan anti feodal. Sedangkan burjuasi nasional adalah sekutu tambahan, sebab sesuai dengan watak bimbangnya, maka burjuasi nasional dalam batas-batas tertentu dan untuk periode tertentu saya bisa konsekwen anti imperialis dan anti tuan tanah. Inilah pengertian saya tentang Rakyat. Berdasarkan pengertian itu maka saya samasekali tidak merasa terikat untuk bertanggung-jawab kepada musuh-musuh Rakyat. Siapakah yang dimaksud dengan musuh-musuh Rakyat itu ? Musuh-musuh Rakyat ialah kaum imperialis, tuan tanah, burjuasi komprador dan kaum kapitalis birokrat yang dikenal oleh Rakyat sebagai kaum kabir [kapitalis birokrat] atau kaum pencoleng kekayaan negara menurut istilah Bung Karno. Tanggung jawab saya kepada Rakyat adalah sekaligus merupakan tanggung jawab kepada Partai Komunis Indonesia. Sungguh sayang bahwa sidang-sidang Mahmilub yang mengadili perkara saya ini tidak disiarkan oleh RRI seperti halnya dengan sidang-sidang Mahmillub yang lalu sejak mengadili perkara Sdr. Dr. Subandrio. Yah, walaupun tidak disiarkan oleh RRI, saya yakin bahwa secara "getok-tular", secara berantai akan sampai pada mereka, sebab "mondblad", suara dari mulut kemulut, adalah lebih cepat tersiar daripada "staatsblad", suara Pemerintah Sdr. Mayor Suwarno.SH, Ketua Team Asisten Pembelaan Mahmillub, pernah menyatakan bahwa dihadapkannya saya di depan Sidang Mahmillub ini adalah

penting, sebab mempunyai arti nasional dan internasional. Sdr Mayor Udara Trenggono SH pernah menjelaskan bahwa sidang Mahmillub adalah suatu "fair trial", suatu peradilan yang jujur (fair). Ini semestinya berarti peradilan yang terbuka. Dan Sdr LetKol. Subari SH pernah menerangkan kepada sdr ex Brigjen. Suparjo, bahwa maksud sdr Jenderal Suharto mengadakan Mahmilub yang terbuka untuk umum, adalah agar Rakyat dapat menilai tentang beleid Pemerintah dalam mengadili perkara-perkara yang berhubungan dengan G-30-S [Gerakan 30 September]. Dikatakannya pula, bahwa bagaimana nanti penilaian Rakyat atas dirinya akan diserahkan kepada Rakyat. Sesuai dengan keterangan-keterangan sdr Mayor Suwarno SH, sdr Mayor Udara Trenggono SH dan sdr Letkol Subari SH tersebut di atas semestinya logis kalau seluruh persidangan Mahmillub ini disiarkan RRI. Sesuatu yang logis tapi politis dipandang bisa merugikan Pemerintah, pihak Pemerintah yang kuasa bisa saya berwenang untuk mengesampingkan logika tersebut. Singkatnya, sesuatu yang logis bisa dionlogiskan, sedangkan yang onlogis bisa dilogiskan. Sebagaimana sidang Mahmillub sekarang ini adalah terbuka tapi tertutup, dan bersifat umum sesuai dengan pengumuman di koran-koran yang dihasilkan oleh briefing para petugas militer kepada para wartawan yang tidak diumumkan. Inilah yang dinamakan serba umum tapi tidak umum, yang menurut bahasa Rakyat sederhana adalah sama dengan "didikte", artinya tidak demokratis. Jika wartawan yang bersangkutan berani menyimpang dari ketentuan briefing bisa diistirahatkan, di dalam "hotel pro deo". Ya jika diketuk rasa - keadilan saya, maka rasa keadilan saya tidak mengangguk membenarkan tapi dengan lantang menyatakan bahwa semua hal itu adalah tidak adil bagi kepentingan Rakyat banyak. Ini kalau didasarkan kepada rasa keadilan saya. Tapi saya tahu, ini adalah politik yang tidak usah direntang-panjangkan. Oleh karena itu saya berusaha keras supaya seluruh uraian saya ini dapat dijelujuri oleh benang merah tangkisan saya pada saat sidang hari pertama, ketika saya diberi kesempatan mengemukakan exceptie, yaitu antara lain sbb: PERTAMA: semua tindakan saya adalah tindakan politik jang saya la kukan berdasarkan keyakinan Komunis saya; KEDUA: pengertian hukum bagi saya adalah exposi atau pernyataan dari kekuasaan yang ada; KETIGA: saya tidak setuju dengan kebijaksanaan politik pemerintah sekarang. Saya mengucapkan terimakasih kepada sdr Oditur yang terhormat yang telah banyak mensilat soal-soal teori

Marxis-Leninis sehingga menyegarkan ingatan saya kembali setelah absen selama 7 bulan dalam mempelajari Marxisme-Leninisme. Juga terimakasih pada Sdr Oditur yang terhormat yang telah mengemukakan dalam dakwaanya bahwa perbuatan saya adalah suatu politiek misdrijf yang di dalam tata hukum Indonesia belum terdapat peraturannya jang khusus di dalam U.U. tersendiri dan di dalam tata perundang-undangan Hukum Pidana Indonesia hingga sekarang belum terdapat U.U. (kodifikasi) khusus tentang delik-delik politik. Sungguh saya sayangkan bahwa Sdr Oditur yang terhormat dalam memperkuat alasan-alasannya menggunakan, selain dari Mr.Drs.E. Utrecht, kutipan-kutipan tafsiran antara lain dari Simons, Stammler, Mr. Robert Van Deputte, Van Bommelen dan Van Hattum, Mr. C. Noyon, Langemeyer yang umumnya sarjana-sarjana dari negeri Belanda yang pernah menjajah Indonesia. Saja akan lebih bisa tegak berdiri dalam mendengarkan pembacaan dakwaan seandainya alasan-alasan tersebut dilandasi oleh pendapat-pendapat Sarjan-Sarjana Hukum Indonesia sendiri, seperti Sdr Prodjodikoro SH, Sdr Susanto SH, Sdr almarhum Wirjono Djokosutono SH, dan sebagainya, sehingga terpancang kuat kepribadian Indonesia yang saya junjung tinggi dan saya bela. Saya sebagai seorang Komunis, putera Indonesia, malu bahwa pada zaman Belanda sebelum Perang Dunia Kedua ditahan oleh pemerintah Kolonial Belanda karena persdelict dan dituduh melanggar pasal-pasal Engelbrecht, pada zaman Belanda sesudah Perang Dunia Kedua ditahan lagi oleh pemerintah Kolonial Belanda dituduh melanggar pasal-pasal Engelbrecht, dan pada zaman R.I. yang sudah merdeka hampir 22 tahun masih juga dituntut melanggar pasal-pasal Engelbrecht.. Bukunya itu-itu juga. Inilah salah satu ciri kenapa PKI menganalisa bahwa Indonesia adalah masih setengah jajahan atau belum merdeka penuh. Selain itu cirinya ialah belum terkikis habis Imperialisme dan sisa-sisa feodalisme dari persada bumi Indonesia. Saya terus terang tidak setuju jika "des Konings" harus dibaca "Presiden" sebab kita hidup tidak dalam suatu "Koninkrijk" (Kerajaan), tapi dalam suatu "Republik Indonesia" yang saya cintai. Juga saya tidak setuju jika "ministerieele verandwoordelijkheid" dalam hal ini pemerintah Belanda diidentikan dengan "Kabinet R.I." - sebab jiwanya sama sekali lain. Tetapi kalau "Staten Generaal" disamakan dengan M.P.R.S. [Majelis Permusjawaratan Rakjat Sementara], bukan pilihan rakyat sekarang, terserah kepada Saudara Oditur jang terhormat. Senoga ada persamaan pengertian dengan Saudara Oditur yang terhormat mengenai hal ini.

Kembali kepada masalah tanggung-jawab, saya berpendapat bahwa setiap tanggung-jawab tidak mungkin kokoh, kalau tidak disemen dengan tekad. Oleh karena itu saja memilih: POKOK KEDUA: TEKAD Saudara Hakim Ketua yang terhormat. Sejak sepasukan "Operasi Kalong" bersama kawan Sujono Pradigdo Ketua Komisi Verifikasi CC-PKI datang menggerebeg tempat tinggal saya dikampung tergenang air Tomang, dan menangkap saya, maka saya membulatkan diri dalam tekad antuk "teguh dan tenang". Tekad saya pada waktu itu bersumber pada moral Komunis. Pengertian moral bagi saya, ialah : "norma-norma atau ketentuan-ketentuan yang mengatur kebebasan aktivitas seseorang sesuai dengan kedudukan kelasnya". Perdasarkan pengertian ini, maka moral Komunis adalah: 1. Bersikap jujur; 2. Bersatu; 3. Berdisiplin; 4. Bersetia-kawan; dan 5. Berkorban. Dalam PKI senartiasa diutamakan dan ditanamkan kejujuran sebab dengan jujur terhadap satu sama lain, akan mudah dicapai persatuan melalui suatu perjuangan. Persatuan itu sendiri bergerak dan berkembang sehingga terjadi ketidaksatuan dalam persatuan jang perlu diperjuangkan lagi untuk mencapai persatuan kembali, demikian seterusnya, sehingga menurat hukumnya persatuan itu relatif dan perjuangan itu mutlak untuk mencapai persatuan. Hasil perjuangan dalam persatuan itu adalah mengkikis sesuatu yang usang dan menumbuhkan yang baru dan maju, sedangkan pertumbuhan dari yang maju, pasti mendapat perlawanan dari yang usang.

Hukum itu juga berlaku dalam PKI, kongkritnya hasil perjuangan dalam persatuan itu menelorkan keputusan yang harus ditaati dan dilaksanakan tanpa pamrih. Inilah disiplin, sebab "dedication of life" tidak mungkin dijalankan tanpa disiplin. Arti disiplin yang berasal dari perkataan disipel adalah murid, penganut atau apostee. Jadi disiplin adalah keputusan yang harus dilaksanakan oleh penganut-penganutnya, sama halnya dengan disiplin dikalangan ABRI yang terumuskan dalam marga kelima dari Sapta Marga yaitu: "Kami prajurit Angkatan Perang Republik Indonesia memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan prajurit." Berdasarkan ulasan ini, terang bahwa disiplin PKI bukannya suatu "Kadaver Discipline", bukannya "disiplin mati", dan seorang Komunis bukannya "manusia robot", tapi seorang Komanis adalah manusia biasa yang berpandangan dunia materialisme-dialektik dan histori (MDH). Bagi PKI, disiplin dimaksud untuk menyelenggarakan pekerjaan dengan tepat dan baik. Dan suata pekerjaan baru dapat diselenggarakan dengan tepat dan baik kalau disertai dengan kesetia-kawanan atau solidaritas, dan untuk kesetia-kawanan harus berani berkorban, sebab tanpa berani berkorban menundukan kepentingan pribadi bagi kepentingan umum tidak akan mungkin tercapai solidaritas, tidak akan mungkin tercipta persatuan dan kesatuan antara yang memimpin dan yang dipimpin, tidak akan mungkin tergalang persatuan dan kesatuan antara Bapak dan anakbuah Itulah sekedar uraian tentang moral Komunis. Berdasarkan moral Komunis itu diterapkan pelaksanaan "Centralisme demokrasi", yaitu centralisme yang didasarkan kepada demokrasi dan demokrasi yang dipusatkan, dimana dipadukan pertanggungan-jawab kolektif dengan pertanggungan-jawab perseorangan. Berdasarkan moral Komunis itu saya usahakan dengan sekuat tenaga untuk dalam derita, dalam kesulitan di tengah-tengah petir menyambar dan mati menghadang tetap melaksanakan "tiga satu", yaitu satu pikiran, satu hati, dan satu tujuan. Satu pikiran ialah pikiran Marxis

- Leninis, satu hati ialah hati Komunis, dan satu tujuan ialah perobahan fundamentil nasib Rakjat, dari hidup miskin menjadi hidup layak, dan dari "serba salah" menjadi "serba benar". Dengan landasan "tiga satu" itulah saya berusaha keras dalam menjalankan tugas, sebab saya selalu bersemboyan berdasarkan pepatah Inggris "be mindful of your task, and do it right, for a task is noble". Tarjemahannya kurang-lebih sebagai berikut: "curahkan penuh pikiran kepada tugasmu dan laksanakanlah dengan baik, sebab tugas adalah suci". Dengan"tiga-satu" itulah saya melangkah dengan satu tekad seperti yang telah saya rumuskan dalam suatu pernyataan tertanggal 21 Desember 1966 yang saya sampaikan kepada para sdr Pemeriksa saya, yaitu : Sdr. LetKol. Ali Said SH., Sdr. LetKol. Durmawel SH. dan, Sdr LetKol. Subari SH. Lengkapnya, pernyataan itu adalah sebagai berikut: PERNJYATAAN SUDISMAN Para Sdr Pemeriksa yth. Saya tertangkap pada tanggal 6 Desember 1966 di daerah terpencil Tomang, dalam juang terkepung lawan, tepat setahun sesudah Kawan Njoto tertangkap. Peristiwa ini sungguh sesuatu adegan yang mengharukan, persamaan waktu mengibaratkan persamaan nasib dan sepenanggungan. Keharuan itu menghujam makin dalam dan makin dalam lagi, karena tertusuk kehalusan tindak para Sdr Pemeriksa yang dengan ramah masih memberikan kesempatan terakhir untuk memaparkan kata-kata akhiran saya sebagai pejuang Komunis menjelang akhir tahun 1966. Serba kebetulan, kalau tidak boleh dikatakan serba istimewa, bahwa akhir tahun mengakhiri hidup seorang Komunis. Betapa tidak mengharukan! Dari haru, tergugahlah lubuk hati saja untuk mengucapkan terima kasih atas segenap daya upaya yang telah ditempuh oleh para Sdr Pemeriksa yang dengan penuh kesabaran telah berikhtiar untuk mengubah tekad saya memilih "jalan-mati" menjadi "jalan-justisi". Juga tidak mungkin pernyataan terima kasih saya begitu saja saya lewatkan, tanpa mengulang, sekali lagi mengulang kembali, terima kasih saya atas adanya pengertian dari pihak para Sdr Pemeriksa mengenai pikiran dan perasaan saya jang terpancang dalam hati : untuk mensenyawakan sikap dengan massa anggota PKI yang telah tertembak mati, untuk melaraskan diri dengan sikap mati pemimpin-pemimpin

utama PKI, DN Aidit, MH Lukman, Njoto dan Sakirman, dan untuk memikul tanggung ja wab terhadap ratusan ribu korban massa progressif karena kegagalan G-30-S. Sajapun mengerti dengan baik, bahkan menghormati, bobot uraian yang diajukan para sdr Pemeriksa yang tetap menganjurkan saya supaja mengambil "jalan - justisi". Timbul pertanyaan. Kenapa justru saya yang harus memilih "jalan-justisi". padahal kawan-kawan kasih sayang se-team saya dalam memimpin PKI, DN.Aidit, MH Lukman, Njoto dan Sakirman telah merentas "jalan-mati" untuk kehormatan PKI ? Mereka berempat telah mati tertembak tanpa "jalan-justisi". Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat, sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan sikap saya dengan mereka berempat dan memilih "jalan mati". Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951, dari kecil menjadi besar, dari berpolitik salah menjadi berpolitik benar, dari terisolasi menjadi berfrontluas, dari kurang belajar teori menjadi mulai belajar teori Marxisme Leninisme, dan karena tidak menguasai teori Marxisme - Leninisme secara kongkrit kemudian berakhir terpelanting dalam kegagalan G-30-S yang membawa kerusakan berat pada PKI. Saja pribadi terlibat dalam G-30-S yang gagal. Kegagalan ini berarti pula kegagalan saya dalam memimpin PKI, sehingga mendorong menjadi unggulnya pihak lawan politik PKI. Keunggulan kaum kanan dalam kontradiksi kekuatan kanan, kekuatan tengah dan kekuatan kiri didalam negeri. Karena gagal, berarti kalah dan hukumnya bagi pribadi seorang pejuang yang gagal dan kalah digenggaman tangan lawan tidak ada lain, kecuali "MATI". Jadi, bagi saya - "jalan-justisi" - akan berakhir pada "mati, dan - "jalan-mati" - akan berakhir pula pada "tidak-hidup . Dua jalan itu bertitik akhir sama. Itulah persamaannya, letak perbedaannya ialah dalam jarak, yang satu berjarak panjang bernama "jalan-justisi", sedangkan yang lainnya berjarak pendek bernama "jalan mati". Saya memilih jalan pendek ini - "jalan mati" jalan berlima menungal jadi satu, jalan yang telah dilalui oleh kawan-kawan DN Aidit, MH Lukman, Njoto dan Sakirman. Jika saya menempuh "jalan-mati dengan menggunakan "hak tidak mau menjawab pertanjaann-pertanyaan", maka ini berarti, bahwa: Bukannja saya nekad, sebab kalau mau nekad, sewaktu ditangkap saya melawan alat-alat negara jang mengurung rumah. Tidak, saya tidak mau mati dikenal sebagai seorang konyol;

Bukannya saya putus - asa, sebab kalau berputus-asa, dalam sel tahanan saya mencoba untuk bunuh diri. Tidak, saya tidak mau mati dikenal sebagai pengecut; Bukannya saya ingin berambisi manjadi pahlawan, sebab seorang pahlawan tidak ada yang gagal dalam perjuangannya, kalau terpaksa gugur seorang pahlawan gugur di medan pertarungan. Tidak, saya bukan salah-satu dari mereka; Bukannya saya tidak mencintai keluarga, terutama isteri, anak sebab aeluruh perjuangan saya sebagai Komunis justru saya abdikan untuk kepentingan Rakjat artinya, kalau Rakjat menang, maka Rakjat berbahagia, dan dalam kebahagiaan Rakjat itu termasuk kebahag iaan keluarga, isteri - anak saya yang saya cintai. Tidak, bukannya saya tidak mencintai keluarga, isteri - anak, tapi justru kebalikannya, saya sangat mencintai mereka. Jelas-jemelaslah, bahwa saya bukannya seorang yang nekad, bukannya seorang yang putus-asa, bukannya seorang yang ingin berambisi menjadi pahlawan, dan bukannya seorang yang tidak mencintai istri anak, tapi saya hanya sebagai seorang Komunis yang mau bersetia-kawan menempuh "jalan-mati" jalan berlima menunggal jadi satu. Berlima kita pernah dihadapkan kepada pemeriksaan, membela pendirian PKI yang tidak menyetujui kebijaksanaan politik Pemerintah R.I pada 8 Juli 1960. Berlima kita diperiksa bersama, dan berlima kita bebas bersama. Kita berlima selalu bersama. ya, saya hanya sebagai seorang Komunis yang telah berbicara sesuai dengan keperluan, dan selanjutnya menggunakan "hak tidak menjawab pertanyaan", sebab banyak dokumen yang sudah tersita oleh kekuasaan militer sekarang. Dokumen-dokumen itu telah berbicara sendiri tentang PKI dan perjuangannya membela kepentingan Rakjat banyak. Jadi, berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas, menurut pendapat saya, bukanlah sesuatu yang berlebih -lebihan setelah kawan berempat saya tertembak mati, maka sayapun berhak memilih dengan tulus-ikhlas jalan yang sama - "jalan-mati", untuk kita berlima. "Jalan-mati" ini saja kira samasekali tidak menyalahi dengan perintah-harian dari kekuasaan militer sekarang yang secara umum telah memerintahkan tangkap hidup atau mati". Apakah ini artinya ? Bagi saya, ini berarti, saya telah dinyatakan sebagai "vogelvrij verklaard", ditangkap hidup pasti mati", dan ditangkap mati tidak diperkarakan. Ini memperkuat keyakinan saya, bahwa "jalan-justisi" berakhir pada mati dan "jalan-mati" juga berakhir pada mati.

Merang benar, bahwa ada mati karena ada hidup, dan setiap hidup ditutup dengan mati. Jika saya mati sudah tentu bukannya berarti PKI ikut mati bersama kematian saya. Tidak, sama sekali tidak. Walaupun PKI sekarang sedang rusak berkeping-keping, saya tetap yakin bahwa ini hanya bersifat sementara dan dalam proses sejarah nantinya PKI akan tumbuh kembali, sebab PKI adalah anak zaman yang dilahirkan oleh zaman. Tumbuhnya kembali PKI tidak tergantung kepada adanya kita berlima yang telah gagal memberikan pimpinan. Dengan berbagai jalan yang berat dan sulit PKI akan menemukan kembali cara-caranya untuk tumbuh kembali dengan tenaga-tenaga yang jauh lebih segar daripada kita berlima. Mereka pasti akan menjadikan kegagalan-kegagalan itu sebagai ibu kemenangan. Hukum perjuangan menentukan: berjuang gagal, berjuang lagi, gagal lagi, berjuang, gagal . akhirnya menang. Kemenangan hanya ada pada mereka yang berani menghadapi kesukaran dan berani berjuang. Dan untuk menang harus berani menempuh jalan panjang. Saya menyadari, bahwa kegagalan dalam perjuangan disebabkan karena kesalahan-kesalahan. Demikian halnya dengan kegagalan G-30-S, karena adanya kesalahan-kesalahan PKI yang menumpuk untuk masa yang panjang, antara lain: PERTAMA: dibidang,ideologi ialah subjekitivisme yang bersumber pada lautan burjuis kecil dan bersumber pada cara kerja kepicikan burjuis kecil. Ini berarti, meninjau sesuatu hanya dari satu segi saja, tidak secara menyeluruh sehingga menghadapi kenyataan itu tidak sebagai sesuatu yang utuh, tetapi sebagai sesuatu yang sepotong-potong. Ini mengakibatkan pada saat PKI besar melupakan kewaspadaan bahwa kaum imperialis bersama dengan kaum reaksioner dalam negeri bisa menjadi kalap untuk menyergap. Dalam keadaan demikian sesungguhnya dibutuhkan kepand aian Marxis-Leninis untuk secara ilmiah menghitung imbangan kekuatan secara kongkrit dari kedua belah pihak, dari kekuatan PKI sendiri dan dari kekuatan lawan. Dan dalam mengatur gerakan sangat dibutuhkan disamping keberanian adanya kepandaian revolusioner dalam menentukan waktu yang tepat dan memimpin gerakan. Faktor-faktor ini tidak dipenuhi oleh G-30-S, sehingga menyebabkan kegagalannya. Ditambah lagi gerakan itu terpisah samasekali dari kebangkitan massa. Padahal menurut pengumuman-pengumuman Dewan Revolusi tujuan G-30-S adalah baik, yaitu: mencegah adanya diktatur militer, mengkonsekwenken Nasakomisasi di semua bidang, dan bertindak kepada segenap bentuk penyelewengan dibidang finansiil dan ekonomi. Saya setuju dengan G-30-S karena hendak membela dan tetap mempertahankan politik kiri R.I. Selain subjektivisme pada diri pimpinan PKI dihinggapi revisionisme - modern yang bersumber kepada pemburjuisan diri setelah berposisi di lembaga-lembaga negara. Kelemahan-kelemahan ideologi tersebut diatas menyebabkan adanya konsep-konsep teori dengan burjuasi. Suatu

contoh "Manipol [Manifes Politik] adalah program bersama". Perumusan ini tepat". Tapi menjadi keliru setelah ditambah "jika Manipol sebagai program bersama dilaksanakan dengan konsekwen, maka.sama d engan program PKI". Manipol sebagai program bersama meliputi juga kepentingan kelas Kapitalis (burjuasi) tetap mempertahankan adanya exploitasi terhadap kaum buruh. Padahal program PKI adalah Sosialisme yang menghapuskan sama sekali "exploitation de l homme par l homme", menghapuskan penindasan manusia atas manusia. Jadi kaum Kapitalis Indonesia tidak mungkin dibawa sampai ke Sosialisme, mereke akan melawan Sosialisme. Buktinya sesudah G-30-S gagal, mereka menuntut penghapusan Manipol, sebab Manipol menentukan bahwa hari depan revolusi Indonesia adalah Sosialisme dan bukannya Kapitalisme. Demikianlah persoalan yang menyangkut kelemahan ideologi yang telah tertera dalam otokritik PKI. KEDUA: di bidang politik pimpinan PKI telah tepat menggariskan pentingnya "bersatu dan berjuang" dalam politik ber-front. Tapi dalam prakteknya PKI tenggelam dalam bersatunya" dan kurang "berjuangnya". Ber-front berarti bersama dengan kelas-kelas lain, sehingga wajar harus dilakukan perjuangan kelas untuk kepentingan tenaga-tenaga penggerak revolusi, yaitu: kaum buruh, kaun tani penggarap dan burjuasi kecil lainnya bukan tani. Tanpa perjuangan, pekerjaan front menjadi mati, dengan perjuangan, pekerjaan front menjadi hidup. Hal ini dibuktikan dengan pekerjaan Front Nasional jang lalu, dimana keputusan-keputusannya tidak dicapai mela lui perjuangan maka Front Nasional kurang hidup. KETIGA: dibidang organisasi pimpinan PKI tidak konsekwen melak sanakan metode menyelesaikan kontradiksi dalam Partai dengan kritik dan otokritik. Ini mengakibatkan disatu pihak adanya liberalisme, den di pihak lain adanya komandoisme. Tanpa kritik/ottokritik kita menjadi tidak kritis dan kritik dari bawah menjadi tidak berkembang. Kesalahan PKI dibidang ideologi, politik dan organisasi tersebut diatas telah tercantum dalam otokritik PKI yang sudah ada ditangan kekuasaan militer sekarang. Segi positif dari kegagalan G-30-S ialah menggugah PKI untuk meneliti kesalahan-kesalahannya dan menelorkan otokritiknya. Dengan otokritik itu, saya yakin, bahwa dalam proses sejarah nantinya generasi baru dari PKI akan menarik pelajaran sebaik-baiknya. Generasi baru itulah yang akan menjadikan PKI sebagai Partai yang benar-benar Marxis-Leninis, memiliki program agraria revolutioner yang tepat, bebas dari segenap oportunisme dan revisionisme modern. PKI yang demikianlah yang akan mampu memecahkan masalah fundamentil Rakjat Indonesia, yaitu revolusi agraria bersenjata kaum tani, berlandaskan front persatuan nasional yang luas, persekutuan kelas buruh dan kaum tani dibawah pimpinan kelas buruh PKI yang demikianlah jang pasti dalam kata-kata dan perbuatan dapat sungguh-sungguh mengintegrasikan

diri dengan Rakyat banyak, sesuai dengan idam-idaman dua bait sajak saya dalam Rumah Tahanan Militer (RT) Jakarta, jang berjudul: SAMODERA BERPANTAI KRAKATAU Samodera berpantai krakatau krakatau berpantai samodera samodera pantang asat walau prahara bergunjing krakatau tak menekuk walau taufan membadai. Samodera itulah rakyat krakatau itulah partai keduanya saling mempantai samodra berpantai krakatau krakatau berpantai samodera Hanja dengan PKI yang memenuhi syarat-syarat seperti tersebut diataslah akan dapat diselenggarakan stabilisasi politik dan ekonomi Indonesia. Kekuasaan militer sekarang, menurut keyakinan saya tidak mungkin dibebani tugas sejarah ini sebab: Pertama, kaum buruh dan kaum tani terutama tidak menyokong kekuasaan militer sekarang, karena penghidupannya makin hari, makin berat, dan pada suatu saat pasti bangkit berjuang menuntut kebebasan demokratis dan perbaikan nasib; Kedua, kontradiksi intern dikalangan yang berkuasa makin hari makin menajam untuk memastikan siapa yang paling berkuasa dibidang politik dan ekonomi, dan massa Rakjat serta partai-partai politik yang demokratitis pasti menuntut penghapusan militerisasi, sebab dalam sejarah tidak pernah ada rezim yang secara mutlak dapat semata-mata mempertahankan diri diatas ujung bayonet; Ketiga, stabilisasi ekonomi bersandarkan kepada apa yang dikatakan bantuan dari kaum imperialis bukannya pemeca han, apalagi mengundang kembali penanaman modal monopoli asing yang telah dilikwidasi oleh revolusi. Sebab sepanjang sejarah tidak ada kaum imperialis yang menyetujui pembebasan Rakyat, bahkan justru kebalikannya yang dipaksakan ialah penindasan, penghisapan dan pemerasan Rakyat. Inilah kebenaran fakta yang tak direlakan. Sungguh sayang, keadaan subjektif PKI yang masih alam keadaan rusak berat belum memungkinkan untuk tampil ke

depan, dan terpaksar di tengah-tengah kejaran dan gencaran peluru lawan bertiarap untuk akhirnya merangkak kembali membidik musuh-musuh Rakyat ialah Imperialisme, tuan-tanah dan kaum reaksioner lainnya dalam negeri. Di balik keadaan subjektif yang belum menguntungkan PKI itu, keadaan objektif sangat baik bagi perjuangan Rakyat Indonesia, terutama dari segi posisi internasional, Indonesia berada di Asia Tenggara sebagai pusat telengnya kontradiksi dunia, dengan titik pusat Vietnam. Perang yang dibiayai agresor imperialis AS di Vietnam yang bertulang-punggung tentara Vietsel akan berobah menjadi perang lokal yang bertulang-punggung tentara agresor imperialis AS langsung yang sekarang telah berjumlah lebih dari 320.000 serdadu. Menurut perkiraan saya dan dan berdasarkan watak agresif imperialis AS, bahwa sekali perang lokal Vietnam berkobar pasti menjalar ke seluruh Asia Tenggara, sehingga perang berobah posisi menjadi Perang Rakyat yang lambat laun berkobar tanpa mengenal batas. Dalam keadaan demikian Indonesia akan dihadapkan kepada pilihan, memihak Perang Rakyat atau Perang Agresi AS yang menjadikan Indonesia sebagai daerah-belakangnya. Saya yakin bahwa perjuangan Rakyat Indonesia akan berpartisipasi kepada Perang Rakyat dan perubahan imbangan kekuatan baru akan timbul di Indonesia dan bangkit bersatu segenap tenaga penggerak revol si u menuju Indonesia Baru yang bebas dari imperialisme dan feodalisme. Inilah jalannya proses sejarah yang tidak dapat dibendung oleh kekuatan apapun juga, juga tidak oleh pulasan kata-kata "menghalau musuh dari Utara, dan membendung Komunisme" Ya, akhirul-kalam dunia telah berganti rupa, untuk kemenangan kita. Demikianlah keyakinan saya. Maafkanlah kalau ada saru-siku saya selama dalam tahanan, dan izinkanlah saya menutup tulisan ini: » dengan rongga dada yang penuh digenggangi kemegahan lagu kebangsaan Indonesia Raya, » dengan hati berdebar mengiringi melodi mars kelas buruh sedunia Internasionale, » dengan sinar mata tajam mencahyai sembojan "Hidup PKI". » dengan seru kalbu bertalu "Kaum Buruh seluruh Dunia, Bersatulah!". Sekian. Jakarta, 21 Desember 1966 Pembuat Pernyataan ttd SUDISMAN

Tekad saya tersebut diatas, ialah tekad untuk menggunakan "hak tidak menjawab pertanyaan" dengan maksud supaya saya dapat menyatu-ragakan diri dengan sikap menempuh "jalan mati" sebagaimana sudah dialami oleh kawan-kawan Aidit, Lukman, Njoto dan Sakirman, ternyata tidak dapat diluluskan oleh yang berwajib, saya tidak bisa menepuk sebelah tangan. Mencegah supaya jangan sampai saya dituduh "mau mengulur-ulur" penyelesaian perkara "atau mau mendelay perkara", maka saya kemudian menyelaraskan diri dengan kehendak para sdr Pemeriksa dan memasuki pemeriksaan pendahuluan. Salah satu jawaban saya terhadap pertanyaan penting para sdr Pemeriksa, ingin saya paparkan dalam: POKOK KETIGA: Disekitar PKI dan G-30-S. Sdr Hakim Ketua yth. Pada tanggal 3 Januari 1967 para Sdr Pemeriksa mengajukan pertanyaan yang berbunyi sebagai berikut: Pertanyaan: Apa yang mendorong PKI untuk mengambil suatu tindakan yang menjurus kepada G-30-S pada akhir bulan September /permulaan 1 Oktober 1965 dalam pemerintahan dibawah kekuasaan Presiden Sukarno? Jawaban: Dalam menjawab pertanyaan tersebut diatas, saya tetap berpegang teguh kepada statement Politburo CC PKI tertanggal 6 Oktober 1965 yang antara lain menerangkan, bahwa "PKI tidak tahu menahu tentang G-30-S dan peristiwa itu adalah intern AD". Alasanya ialah : Dalam sidang-sidang Politburo CC-PKI, oleh kawan DN Aidit dijelaskan bahwa ada perwira-perwira maju yang mau mendahului bertindak untuk mencegah kudeta Dewan Jenderal. Untuk itu DN Aidit menugaskan pengiriman beberapa tenaga ke daerah pada hari-hari menjelang mencetusnya G-30-S dengan garisnya "dengarkan pengumuman RRI Pusat dan sokong Dewan Revolusi". Jika PKI secara menyeluruh terlibat dalam G-30-S maka: a) Masalah yang begitu penting harus dibicarakan dalam sidang pleno CC-PKI mengingat scope-nasionalnya yang bersifat luas dan penerapan persoalan teori, bahwa "sekali mengangkat senjata haruslah dirampungkan sampai selesai, dan jangan sekali-kali main api dengan senjata"; b). Masalah yang begitu penting tidak cukup diletakkan penugasan kepada beberapa tenaga ke daerah hanya beberapa hari sebelum peristiwa, tapi seharusnya banyak tenaga yang ditugaskan ke daerah-daerah beberapa bulan sebelumnya dengan ga ris "bangkitkan massa,

adakan perlawanan massa dan bentuk Dewan Revolusil; Sesudah G-30-3 pecah kenyataannya menunjukkan, bahwa PKI pasif tidak berlawan, malahan menjadi korban penangkapan atas perintah "tindak dengan alasan langsung dan/atau tidak langsung tersangkut G-30-S", menjadi korban pembunuhan massal atas dasar perintah "habisi dan tindas sampai keakar-akarnya", dan witchhunting (pengejaran teror putih ketiga (1926, 1948, 1965). Dalam hati timbul tanda-tanya, apakak dosanya Ny.Njoto bersama anak-anaknya yang tidak tahu menahu tentang perbuatan politik suami- ajahnya, kawan Njoto, sampai dijebloskan ditahanan sel Kodim Budikemulyaan, sehingga oroknya tidak dapat menetek lagi karena air susu asat? Padahal pernah oleh yang berkuasa didesirkan jangan balas dendam" yah, desiran itu hanya sebagai angin lalu saja sebab kenyataannya yang dilancarkan adalah meng-ex-Komunis-kan anggota PKI sekeluarganya komplit. Hal ini, pasif tak berlawan, tidak mungkin terjadi jika PKI mempersiapkan dan disiapkan untuk G-30-S. Yang bergerak dalam G-30-S kebanyakan perwira-perwira non-Komunis disamping yang Komunis, sehingga sesuai dengan keterangan kawan DN Aidit, bahwa perwira-perwira maju mau mendahului bertindak. Apalagi kalau dilihat rencana susunan Dewan Revolusi tidak terdiri dari tokoh utama Nasakom dan dipimpin langsung oleh kawan DN Aidit sendiri Dengan mengemukakan tiga-faktor tersebut diatas bukannya saya bermaksud untuk memungkiri bahwa tokoh -tokoh PKI terlibat langsung dalam G-30-S. Tidak, sebagaimana telah saya jelaskan tokoh-tokoh PKI, termasuk saya sendiri, terlibat dalam G-30-S, tetapi PKI sebagai Partai tidak terlibat dalam G-30-S. Dengan mengemukakan tiga-faktor tersebut diatas, bukannya saya bermaksud untuk membandingkan dengan peristiwa pemberontakan yang telah dicetuskan oleh Masjumi/PSI [PSI: Partai Sosialis Indonesia]. Masjumi dikenal sebagai partai yang didirikan di zaman militerisme Jepang, Masjumi dikenal anti-Pancasila sewaktu Konostituante, dan Masjumi dikenal sebagai sebagai DI - TII yang legal sedangkan DI-TII [Darul Islam/Tentara Islam Indonesia] sebagai Masjumi yang ilegal yang bersama-sama PSI memberontak mendirikan negara dalam negara R.I. semasa PRRI/PERMESTA [Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia / Piagam Perjuangan Semesta]. Tokoh-tokoh utama Masjumi/PSI terang menjadi Menteri2 PRRI/PERMESTA, tetapi apakah tindakan Pemerinteh pada waktu itu? Tindakan Pemerintah pada waktu itu tidaklah otomatis membubarkan Masjumi/PSI, apalagi membubarkan ormas2 -ormasnja, menyita hak milik organisasi Masjumi/PSI, menghukum mati takoh-tokohnya dan melarang ajarannya. Malahan Pemerintah memberikan amnesti tokoh-tokoh Masjumi/PSI dibebaskan dan sekarang mulai mengaktifkan kembali Masjumi/PSI. Yang terang GPII [Gerakan Pemuda Islam Indonesia] sudah memproklamasikan diri

legal kembali melalui pengumuman di salah satu koran. Jika, mau mengetuk rasa keadilan dan perikemanusiaan sebagai salah satu sila Pancasila, maka semestinya harus ada perlakuan yang sama baik terhadap Masjumi/PSI maupun PKI, yaitu memisahkan perbuatan tokoh-tokoh PKI jang terlibat dalam G-30-S dan PKI sebagai partai yang tidak tahu-menahu tentang G-30-S. Tetapi hal ini tidak terjadi. Bagi saya jelas, bahwa hal ini tidak terjadi karena yang berkuasa adalah satu kelas dengan Masjumi/PSI. Menurut hukumnya sesuatu klas tidak akan melikwidasi kelasnya sendiri dan yang ditempuh ialah jalan kompromi baik dengan jalan abolisi maupun amnesti. Terhadap PKI yang merupakan lawan kelas dan kekuasan militer sekarang, maka dilakukan tindak likwidasi yang bisa berlangsung untuk sementara dalam artian sejarah. Disinilah relatifnya keadilan dan kebenaran dipandang dari kekuasaan kelas yang ada pada suatu masa tertentu. Jadi, dengan demikian jelaslah bahwa perjuangan kelas bukannya sirna di Indonesia, tapi justru kebalikannya, perjuangan kelas menjadi menajam. Sekarang saya akan mengajukan "kekinian" atau "het heden" daripada peristiwa sebelum G-30-S mencetus. Persoalan ini perlu saya ajukan, sebab bagi saya "het heden is onderhevig aan het verleden en de tukomst". Atau "kekinian ditentukan oleh hari kemarin dan menentukan hari depan" Apakah "kekinian" pada waktu itu? "Kekinian" pada waktu itu, menurut pendapat saya, yaitu beberapa pokok persoalan, yang hendak saya bagi dalam beberapa bab sebagai berikut: BAB I, sikap PKI terhadap Pemerintahan dibawah kekuasaan Presiden Sukarno: PKI pada waktu itu menentukan sikap terhadap Pemerintahan, ialah menyokong politik Pemerintah yang maju, mengkritik politik Pemerintah yang ragu menentang politik Pemerintah yang merugikan Rakyat. Yang maju dan disokong PKI ialah politik Pemerintah yang pada umamnya anti-imperialis dan dalam batas-batas tertentu anti-tuan-tanah (anti-feodal). Politik anti-imperialis Pemerintah yang tepat adalah pembagian kekuatan dunia dalam dua kubu, yaitu : Kubu NEFO yang terdiri dari negeri-negeri Sosialis, negeri-negeri yang baru merdeka dan rakjat-rakjat progresif di negeri-negeri Kapitalis menghadapi Kubu kedua yaitu kubu imperialis sebagai kubu OLDEFO. Berdasarkan politik Nefo ini dapatlah garis politik Presiden Sukarno yang merumuskan politik luar-negeri R.I., sebagai berikut : "not to make friends but to defend the revolution", dan "Nefo", termasuk RRC adalah "Comrades in arms". Inilah politik kiri yang tepat, politik anti-imperialis yang dalam perbuatan

telah menyokong perjuangan Rakyat Aljazair melawan imperialis Perancis, menyokong perjuangan Rakyat Vietnam melawan imperialis AS, menyokong perjuangan Rakyat Kalimantan Utara melawan Inggris dalam bentuk kongkrit berkonfrontasi dengan proyek bersama imperialis Inggris - AS "Malaysia", dan menyokong perjuangan Rakyat Pakistan melawan agresi India. Politik kiri anti-imperialis ini sekarang pada hakekatnya sudah dianulir sekarang oleh kekuasaan militer yang sudah tidak lagi anti-imperialis dalam perbuatan, buktinya antara lain mengundang kembali penanaman modal asing dan mengadakan operasi keamanan terhadap "bahaya Komunisme" yang pada hakekatnya ditujukan kepada kaum gerilyawan pejuang Kalimantan Utara. Sekian tentang politik luar negeri anti-imperialis dari Pemerintah yang dulu. Sedangkan politik dalam negeri yang maju ialah dalam batas-batas tertentu politik anti-tuan tanah (feodal), yaitu: pembatasan hak milik tanah tuan tanah sampai 5 ha dengan pengaturan oleh Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan penurunan setoran kaum tani penggarap dari 5:5 menjadi minimal 6:4 untuk kaum tani penggarap dengan pengaturan oleh Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil (UUPBM). Politik maju yang sekedar menguntungkan kaum tani penggarap itu sekarang pada hakekatnya telah dianulir oleh kekuasaan militer sekarang, dengan bukti banyak tanah - lebih yang dulu sudah dibagikan dicabut kembali oleh tuan-tanah yang bersangkutan dan bagi hasil kembali kepada maksimaal 5:5, bawon (upah panen) dari 1:5 ada yang menjadi 1:20, dan kaum tani penggarap dikenakan pajak-pajak berat lagi. Singakatnya nasib kaum tani penggarap kembali kepada "serba -salah", berani bicara dicap G-30-3 dan tidak bicara dituduh memboikot politik kekuasaan militer sekarang. Tentang politik pemerintah yang ragu dan dikritik oleh PKI, adalah politik yang kurang konsekwen dalam pelaksanaan politik anti-imperialis dan pelaksanaan UUPA dan UUPBH. Contohnya tidak adanya ketegasan dalam tindakan terhadap investasi imperialis AS dibidang perminyakan yang merupakan sebagian terbesar devisen R.I. Contoh lain, ialah tidak konsekwen melaksanakan UUPA dan UUPBH. Akibatnya kaum tani penggarap mengadakan aksi-aksi untuk mengkonsekwenkan pelaksanaan dua undang -undang tersebut. Tetapi anehnya justru kaum tani yang mau melaksanakan Undang-undang yang ditindak tetapi kaum tuan-tanah yang mengingkari Undang-Undang tidak dipersalahkan. Inilah kenyataan "yang benar dipersalahkan, dan yang salah dibenarkan. Tentang politik yang merugikan Rakyat dan ditentang oleh PKI ialah politik finek yang berlainan dengan Dekon, yaitu menjadikan pertanian sebagai basis dan industri, sebagai tulang-punggung dan politik menaikkan harga dan tarif untuk menannggulangi kesulitan ekonomi semestinya dengan sungguh -sungguh dilaksanakn social-support, social-control dan social-participation untuk melikwidasi salah urus serta salah duduk. Satu-satunya jalan adalah meniadakan

"steurleven" atau meniadakan" kehidupan yang serba tak menentu, memper- panjang penderitaan rakyat) dengan mengadakan Nasakomisasi disemua bidang sebagai penyesuaian aparatur negara dengan tuntutan Manipol dan Dekon untuk menumpas tiga sebab pokok kemelaratan Rakyat yaitu: a) Kaum imperialis, terutama imperialis AS sebagai musuh utama Rakyat-rakyat progresif sedunia; b) Di desa menumpas 7 setan-desa: tuan-tanah jahat yang tidak mau melaksapakan UUPA dan UUPIH; penguasa jahat yang membela kepentingen tuan-tanah jahat; tengkulak jahat yang memeras kaum tani; tabir yang menyalah-gunakan kekuasan untuk memperkaya diri dengan memeras kaum tani; bandit desa yang manjadi centeng (tukang pukul tuan-tanah); takang ijon [money lenders]; lintah-darat yang menjerat kaum-tani dalam hutang sepanjang hidupnya. c) Di kota menumpas 3 setan kota baik sipil maupun militer yaitu: Kabir (?) (kapitalis ?) Penipu (?); dan Koruptor [corrupt officials]. Dalam pengalaman tindakan terhadap pejabat militer adalah lebih sukar, sesuai dengan pepatah: "blood is thicker than water", atau ikatan korps (kesatuan) adalah lebih kental daripada ikatan hukum. Faktor sikap tersebut diataslah yang menjadi syarat mutlak untuk menerapkan Dekon, jadi bukannya peraturan 26 Mei yang sebenarnya menghancurkan Dekon dan yang menggantungkan diri kepada apa yang disebut bantuan imperialis, bukannya memboroskan ekonomi Indonesia kepada export drive saja yang menjadikan Indonesia pasar bahan mentah bagi kaum imperialis, persis seperti ekonomi kolonial dulu. Politik ini akan menjadikan Indonesia sebagai negeri yang tergantung kepada imperialis dan bukan sebagai negeri yang berdikari. Demikian mengenai sikap PKI terhadap Pemerintah untuk meniadakan sebab-sebab adanya "sleur-leven" yang memperpanjang kemelaratan Rakyat.

Bab II: menghadapi kemungkinan agresi imperialis: Saya setuju dengan peringatan Presiden Sukarno bahwa death-line imperialis Inggris membentang dari Teluk Aden, kepulauan Andamanen, "Malaysia" sampai Hong Kong. Untuk mempertahankan death-line sebagai life-line terachir dari imperialis Inggris, logislah jika Inggris memusatkan kekuatan armada angkatan lautnya, angkatan daratnya dan angkatan udaranya di Malaysia dalam menghadapi politik R.I. jang tepat yaitu bantu Kaltara mengganyang Malaysia. Jadi pengganyangan Malaysia bukannya karena tidak mau rukun dengan ban serumpun gsa Melayu tetapi karena imperialis Inggris membentuk federasi Malaysia untuk menumpas Kaltara jang memproklamasikan diri bebas dari belenggu imperialis Inggris. Inilah politik konfrontasi R.I. yang membawa suasana "on the brink of war", suasana di tepi jurang perang, konsekwensi dari politik ini ialah menjadikan daerah R.I. sebagai daerah berlatih dan beristirahat bagi para pejuang Kaltara, dan pejuang-pejuang Sukarelawan R.I. bertempur membantu pejuang-pejuang Kaltara melawan imperialis Inggris suasana,agresi imperialis Inggris yang ingin mengamankan daerah belakangnya dan imperialis Amerika pasti membantu sekutunya imperialis Inggris sebab Amerika Serikat takut kalau semangat anti imperialis rakyat Indonesia yang tinggi menular ke Pilipina, sebab akan mengganggu daerah belakang agresi imperials AS di Vietnam. Gaya berpendapat pada waktu itu memang nyaris adanya agresi imperialis, sehingga rakyat harus dibikin werrbaar dan paraat. Caranya ialah mempesenjatai Rakyat dengan senjata dari manapun saja, termasuk dari RRC. Rakyat yang bersenjata sebagai pertahanan dan ketahanan nasional yang ampuh harus diatur dalam ikatan organik yang saya rasakan cocok dengan dicetuskannya gagasan Angkatan Kelima oleh Presiden Sukarno. Dengan demikian Rakyat yang bersenjata adalah tubuh kekar dengan ABRI sebagai tinjunya menghadapi agresi imperialis. Dengan demikian Rakyat dan ABRI betul-betul menjelma sebagai air dan ikan yang tak terpisahkan. Inilah wurbaarlheid dan paraatheid rakyat yang tak terkalahkan menghadapi kemungkinan operasi imparialis. Dalam suasana nyaris agresi imperialis, saya kira tidak salah kalau AURI mengorganisasi latihan-latihan sukerelawan sebagaimana diselenggarakan juga oleh Angkatan-angkatan lainnya. Juga tidak keliru kalau massa anggota PKI ikut serta dalam latihan sukarelewan oleh AURI [Angkatan Udara Republik Indonesia], sebagaimana dilakukan pula oleh massa-anggota partai lainnya untuk ikut serta dalam latihan Sukarelawan oleh Angkatan Bersenjata lainnya.

Andaikata Angkatan ke-V terbentuk saya rasa tidak akan terjadi latihan-latihan Sukarelawan yang terpisah-pisah, tapi semuanya dapat diselenggarakan bersama sebagai suatu kesatuan oleh ABRI secara bersama. Sekian mengenai Bab II. BAB III: keadaan finek makin memburuk: saya berpendapat pada waktu itu bahwa keadaan finek (finansiil dan ekonomi) makin memburuk, harga-harga barang meningkat tinggi, dajy beli dan tingkat hidup rakyat makin merosot. Secara pokok sebab-sebabnya telah saya utarakan di depan. Jalan keluarnya selalu oleh PKI diajukan konsep-konsep, antara lain tidak setuju dengan politik kenaikan barga, menolak deferred payment, dan hukuman mati bagi koruptor-koruptor besar. Konsep-konsep PKI ada yang disetujui Pemerintah, tetapi setelah menjadi keputusan resmi tinggal sebagai keputusan di atas kertas belaka. Malahan lucunya tidak jarang suatu keputusan diembel-embeli dengan pembentukan lembaga-negara baru yang berarti: menambah beban anggaran belanja negara, menyimpang-siurkan wewenang, tugas dan peraturan, serta memacetkan Kementerian yang bersangkutan, karena wewenangnya tergeser oleh lembaga negara baru. Padahal garisnya lembaga-lembaga negara harus di-streamline-kan atau disederhanakan yang menurut hitungan kawan Njito jumlah lembaga negara pusat tidak kurang dari 150 dan ada seorang pejabat yang menjabat sampai 32 jabatan rangkap. Apakah ini bukan skeur? Disamping skeur, jika Rakyat menuntut tanggung-jawab para Menteri tentang adanya skeur itu, maka mereka lari berlindung dibawah kewibawaan Presiden Sukarno dan menya takan mereka hanya sekedar pembantu saja Mereka lupa pembantu rumah-tangga biasa saja jika ada barang hilang bisa diperkarakan, apalagi pembantu Presiden. Mereka lupa pada pantun: cerutu bukan sembarang cerutu cerutu cap Kapiten, mahal harganya. pembantu bukan sembarang perbantu pembantu Bapak Presiden, besar tanggung-jawabnya. Yang membahayakan ialah pikiran di pihak menteri-menteri yang menganggap usaha swasta lebih baik daripada perusahaan negara, sehingga ada gejala-gejala mau menswasta-kan perusahan-perusahaan negara.

Secara sederhana pikiran ini hendak menunjukkan bahwa Kapitalisme adalah lebih baik daripada Sosialisme, padahal haridepan revolusi Indonesia menurut Manipol adalah Sosialisme dan bukannya Kapitalisme. Pikiran mereka itu adalah menentang hari depan. Mereka memang sengaja mempertahankaln "steur leven" karena sudah vested interest sebagai OKB (Orang Kaja Baru), dan mereka sengaja menutup mata terhadap adanya perusahaan-perusahaan negara yang menguntungkan seperti beberapa pabrik gula, pabrik semen Gresik dan tambang timah Bangka sebab: a). Kaum buruh mau memberikan social-support, karena ada kebebasan demokratis dan dijamin sekedar perbaikan tingkat hidupnya; b). Kaum buruh diberi hak social-control dengan diikutsertakan dalam Dewan Perusahaan yang mengawasi management dan maintenance perusahaan; c). Kaum buruh diberi social-participation, dengan diikutsertakan dalam Dewan Direksi untuk bersama-sama menentukan planning mengadakan meer-produksi jang sebagian daripada hasilnya digunakan untuk sekedar kesejahteraan kaum buruh. Inilah yang menyebabkan adanya sekedar arbeidsvreugde di kalangan kaum buruh. Semuanya itu menunjukan bahwa jalan ke Socialisme bukannya jalan yang bertaburan bunga, tapi jalan yang penuh dengan duri dan jurang curam. Orang bisa sepanjang hari berkomat-komit setuju Socialisme" sebagai lip-service, tapi menghantam" habis-habisan pelaksanaan sosialisme dalam praktek. Sekian Bab III BAB IV, pimpinan kanan AD berpolitik mengisolasi PKI: berdasarkan informasi-infornasi dari kawan DN Aidit yang teliti dalam menerima informasi-informasi dan cukup memiliki saluran sebagai Menko untuk mencek, maka dijelaskan bahwa pimpinan kanan AD berpolitik mengisolasi PKI. Hal tersebut saya benarkan dan yang saya ingat antara lain dihebohkannya penjelasan kawan DH Aidit mengenai persetujuan PKI terhadap Pancasila. Serba sulit, diam tentang Pzncasila dituduh anti, menerima Pancasila dicap sekedar muslihat. Padahal di konstituante PKI adalah salah satu partai yang gigih membela Pancasila. Lalu dokumen palsu tentang rencana kudeta PKI yang sudah digugat oleh DN Aidit dalam pertemuan partai-partai di Bogor masih saja disiarkan dikalangan AD bahwa dokumen itu betul. Padahal semestinya bersama-sama mencari konseptornya dan bertindak terhadap konseptor itu. Pada permulaan tahun 1965 Jenderal Yani di depan Resimen Yogya menerangkan bahwa kalau

tergantung padanya sebaiknya hanya ada satu partai Pancasila, dan alat penghubung dengan massa yang dapat diandalkan oleh AD adalah SOKSI [Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia], sehingga adanya SOKSI perlu dipartahankan. Ini berarti bagi saya bahwa perlu dilikwidasinya partai-partai yang ada, terutama PKI dan ormas-ormas PKI harus ditandingi antara lain Sobsi dihadapi Soksi. Setelah ulang tahun ke-45 PKI sukses, disiarkan dikalangan AD bahwa PKI bukannya menunjukan kekuatannya tetapi sudah menunjukkan gigi untuk bertindak, padahal PKI tidak ada niat untuk itu. Politik Nasakom bersatu yang disetujui oleh PKI diubah menjadi Nasakom jiwaku. Bagi saya,, ini berarti, bahwa kalau sudah berjiwa Nasakom, maka tidak perlu lagi adanya Kom, tidak perlu lagi adanya PKI. Padahal Nasakom adalah persatuan dari tiga aliran politik yang hidup di Indonesia. Kemudian disuruh oleh penjelasan Jenderal YANI pada tanggal 27 atau 28 Mei di depan rapat para Panglima daerah AD, bahwa Jenderal YANI sendirilah yang membentuk Dewan Jenderal yang bertugas, memberikan penilaian politik. Jadi tidak sebagai badan yang memberikan pernilaian kenaikan pangkat, sebab untuk itu sudah ada Panitia Jenderal Sudirman sebagai penggan ti Panitia Jenderal Gatot. Menurut kawan DN Aidit politik Dewan Jenderal berproses kepada penyelesaian formasi Kabinet dan tindakan Kudeta yang diperkirakan pada peringatan Hari Angkatan Perang. Persispan-persiapan ke arah itu nampak dengan menarik kekuatan politik lainnya untuk diajak mengisolasi PKI, yaitu pertemuan pimpinan AD dengan PNI [Partai Nasionalis Indonesia] pada tanggal 8 Juni 1965 dirumah Sdr Chaerul Saleh. Jika mau menggalang parsatuan semestinya pertermuan semacam itu diadakan juga dengan partai-partai lain termasuk PKI. Hal ini tidak terjadi, sehingga jelas yang dimaksud ialah mengubah sepenuhnya sesudah G-30-S gagal dengan ikut campurnya langsung pimpinan AD dalam intern PNI. Sedangkan terhadap sesama partai marhaenisnya dilakukan politik "biar mati dengan sendirinya". Sesudah pertemuan 8 Juni tersebut, oleh SUAD I tertanggal 12 Juni 1965 diadakan edaran yang pokoknya memperingatkan bahwa yang terjadi di daerah-daerah terutama di Jatim/Jateng bukannya konsultasi Nasakom tetapi konfrontasi Nasakom dan masalah tanah menjadi hangat. Oleh karena itu disimpulkan supaya para pejabat baik sipil maupun militer untuk tidak menggunakan istilah-istilah seperti integrasi dengan Rakyat, sebab penggunaan istilah semacam itu sudah memihak, dan mengawasi pelaksanaan landreform. Dalam praktik ini berarti mengawasi gerakan rakyat, mengawasi PKI dengan ormas-ormasnya, dan bertindak terhadap pelaksanaan landreform terbatas, bertindak terhadap BTI dan P Jurusannya KI. tidak bisa lain kecuali pembekuan PKI dengan ormas-ormasnya, yang pernah dialami oleh PKI dengan peristiwa 3 S (Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan). Kemudian pada permulaan Agustus 1965 ada keputusan KOTI kalau tidak keliru no. 86 yang mengatur pembatasan lebih ketat lagi kebebasan demokratis dengan alasan untuk pengamanan rencana ekonomi KOTU, yang kolonial ialah melulu mendasarkan kepada export-drive. Semua penjelasan kawan DN Aidit saya benarkan, sebab saya berpendapat untuk menjamin berlangsungnya kekuasaan militer harus dilakukan pembatasan hak-hak demokrasi dan dilakukan politik mengisolasi PKI sebelum dapat dilikwidasinya. Selamanya PKI berjuang

untuk kebebasan demokratis dan menolak kekuasaan militer. Oleh karena itu PKI, selalu berjuang menuntut penghapusan SOB, dan setelah SOB hapus mensinyalir bahayanya "SOB tanpa SOB". Sesungguhnya secara hakekat kekuasaan militer itu sudah ada sejak SOB. Walaupun SOB hapus tapi kekuasaan militer tidak berubah posisi, dan dengan gagalnya G-30-S menjadi terealisasi sepenuhnya. Walaupun secara resmi bukan sebagai partai politik, tetapi hakekatnya AD adalah partai politik yang politik umumnya ditentukan oleh Seminar AD semacam Kongres partai antara dua seminar AD pelaksanaan politiknya dilakukan oleh Komando golongan karya AD semacam Dewan Pimpinan Pleno partai, dan politik praktis sehari-hari dilaksanakan oleh para Menteri AD dalam Kabinet semacam Dewan Harian partai. Malahan pimpinan kanan AD telah menentukan diri sebagai faktor stabilisasi, ini berarti, kekuasaan negara sepenuhnya di tangan kekuasaan militer, de overwinning is kompleet inihanden. Jadi diktator militer yang ditentang oleh G-30-S dan Dewan Revolusi sekarang menjadi kenataan. Dan meng-ekskomuniskan atau meng-eksklusifkan PKI yang ditentang oleh PKI sekarang menjadi kenyataan. Politik kiri R.I. bermutasi menjadi kanan. Sekian Bab IV. BAB V, perwira-perwira maju dipimpin eks Letkol Untung mendahului bertindak untuk mencegah kudeta Dewan Jenderal: Kawan DN Aidit menjelaskan hal tersebut yyang saya yakini akan kebenarannya. Sebab Dewan Jenderal saya artikan sebagai potensi politik kanan dari pimpinan AD yang bertujuan untuk berdominasi penuh dalam kekuasaan negara, sebagaimana sekarang menjadi suatu kenyataan, setiap kekuasaan adalah diktatur dan kekuasaan militer adalah diktatur militer. Hal inilah yang mau dicegah oleh perwira-perwira maju dibawah pimpinan ex Letkol Untung yang mau mendahului bertindak. Saya setuju, sebab sejak dulu saya berjuang anti-militerisme. Dan sudah tentu persetujuan saya itu didasarkan kepada perkiraan bahwa segala sesuatunya sudah diperhitungkan dengan baik dan secara militer memang ada dalik yang menyataken bahwa "aanval is de beste verdediging" atau "menyerang adalah pertahanan yang terbaik". Selain itu suasana pada waktu itu diliputi oleh sakitnya Presiden Sukarno yang serius. Semua anggota pimpinan PKI menjadi prihatin. Dibalik keprihatinan itu sebagai seorang politik harus memikirkan pengamanan atau "safe-steleen" politik kiri Presiden Sukarno. Saya perkirakan, bahwa tindakan perwira-perwira maju itulah yang akan dapat "safe-steleen" politik kiri Presiden Sukarno, apalagi situasi politik pada waktu itu sebagai situasi politik revolusioner, jang berciri; Pemerintah terpaksa menyesuaikan politiknya dengan tuntutan massa Rakyat banyak; Politik Pemerintah ditentukan di pabrik, perkebunan-perkebunan dan desa oleh massa-aksi Rakyat; dan Aksi-aksi Rakyat terus meningkat dalam birofensi revolusioner Jadi perkiraan saya pada waktu itu tindakan para perwira maju dengan Dewan Revolusionernya yang Nasakom

bersama Presiden Sukarno akan menyudahi "steur-leven" dan mengkonsekwenkan Panca Azimat, yaitu: Nasakom (1926) Pancasila (1945) Manipol (1959) Trisakti (1964) Berdikari (1965) Tindakan tersebut bukan untuk memenuhi sebait sajak Inggris: Man is a fool When it s hot, he wants it cool When it s cool, he wants its hot He always wants what he has not, tapi untuk mendekati kalau belum dapat meluluskan rising-demands massa Rakyat banyak. Berdasarkan 5 Bab pokok persoalan tersebut diatas, dan berdasarken tanggapan saya mengenai segenap penjelasan kawan Aidit yang menurut pengalaman saya senantiasa teliti dalam menghitung imbangan kekuatan, maka dasar-dasar itulah merupakan latar belakang saya untuk menyetujui tindakan para perwira maju yang menjurus kepada G-30-S pada akhir bulan September/permulaan 1 Oktober 1965 dalam Pemerintahan dibawah kekuasaan Presiden Sukarno, sebab keyakinan saya ialah, dengan Dewan Revolusi bersama Presiden Sukarno, maka: PERTAMA: akan dapat dikonsekwenkan politik anti-imperialis dan anti tuan-tanah terbatas daripada Pemerintah R.I.; KEDUA: akan lebih weerbaar dan paraat Rakjat dalam menghadapi kemungkinan agresi imperialis; KETIGA: akan dapat dikonsekwenkan pelaksanaan Dekon untuk menanggulangi kesulitan ekonomi dengan meritul dan men -Nasakom-kan aparatuur finek, serta bertindak terhadap kaum imperialis, 7 setan desa dan 3 setan kota; KEEMPAT: akan dapat dicegah adanya diktatur militer, dilakukan penghapusan SOB tanpa SOB, dan diadakan Nasa komisasi disemua bidang; KELIMA:.akan dapat direalisasi dengan baik Panca Azimat.

Jawaban hendak saya tutup dengan mengemukakan bahwa cukuplah sudah penjelasan say dari saya telah bulat dalam a perasaan, pikiran dan hati untuk teguh pada pernjataan saya tertanggal 21 Desember 1966. Sekian. Jakarta, 3 Januari 1967. Pembuat jawaban, ttd. SUDISMAN Berdasarkan penjelasan saya tersebut diatas dan sesudah mempelajari Pleidoi Sdr. ex Brigjen. Suparjo perlu saya tandaskan bahwa: PERTAMA: Saja yakin bahwa Dewan Jenderal itu ada, berdasarkan dikemukakan oleh kawan Aidit, yaitu antara lain penjelasan Sdr. Jenderal Yani almarhum pada tanggal 27 Mei atau tanggal 28 Mei 1965: didepan rapat Panglima AD, bahwa Sdr. Jendera1 Yani sendirilah yang membentuk Dewan Jenderal yang bertugas memberikan penilaian politik, kalau masih tersimpan baik tentunya risalah (notulen) rapat tersebut masih utuh dan dapat diteliti. Keyakinan saya menjadi tambah kukuh dengan penegasan Sdr. ex Brigjen Suparjo yang dimuat dalam pleidoinya, halaman 31, ialah sebagai berikut: "Saya mengusulkan agar diadakan suatu Mahkamah Nasional jang dapat mengadili kedua belah pihak. Yaitu mengadili G.30.S. seperti MAHMILUB sekarang ini, tapi juga mengadili Dewan Jenderal dilain pihak. Karena seperti yang saya pernah jelaskan G.30.S. tidak berkelahi sendirian; tentu ada yang dilawan. Dan menurut G.30.S. lawannya adalah Dewan Jenderal. Sampai sekarang yang terus diadili adalah mereka-merreka dari G-30-S. yang dituduh G.30.S. dan mereka-mereka yang dapat dituduh G-30-S. Bagaimana dengan para anggauta Dewan Jenderal atau yang dapat dituduh Dewan Jenderal. Bila diperlukan saya mempunyai beberapa bahan untuk memulai dengan pengusutan hal tersebut: a). Keterangan bahwa Dewan Jenderal itu ada; b). Kegiatan-kegiatan pada masa proloog yang menjurus kearah itu; c). Kegiatan-kegiatan semasa meletusnya G-30-S.; d). Bahan-bahan pengusutan pada masa epiloog, teratama dalam rangka meminta pertanggungan jawab atas pembunuhan terhadap sekian banyaknya Rakjat."

Sungguh sayang dan sangat disesalkan bahwa Sdr. ex Brigjen Suparjo yang saya minta sebagai Saksi à décharge tidak dapat didatangkan Andaikata dapat didatangkan, maka deng tanya an jawab dalam Sidang MAHMILUB ini akan dapat disingkap penjelasan-penjelasan lebih lanjut . Adil sepihak ini sangat berlawanan dengan rasa keadilan yang ada pada saya. Kalau PKI mengadakan aksi sepihak, dihebohkan bukan kepalang tanggung, tapi kalau dalam sidang MAHMILUB ini terjadi adil sepihak dianggap sah dan "never mind" kalau tidak boleh dikatakan tidak perduli. Tentunya alasan-alasan saya tersebut di atas akan dipukul dengan sanggahan bahwa "Panitia Udang" sudah mengumpulkan semacam petisi atas inisiatif Sdr. Jenderal Nasution, bahwa Dewan Jenderal itu tidak ada. Jika hal ini digunakan sebagai bahan pukulan, maka dalam bathin saya akan ketawa, sebab siapa yang berani pada waktu itu menjatakan "Dewan Jenderal" memang betul ada. Sedangkan Sdr. Dr. Subandrio yang tidak mau memberikan keterangan tentang hal tersebut menjadi bulan-bulanan dalam sidang Mahmilub dan hasil peng-Mahmillub-an Sdr. Dr. Subandrio mendapat gelar M.T., singkatan dari "mati". Sindiran Rakyat memang tajam dan secara kreatif Rakyat selalu menemukan sesuatu, antara lain pernyataan bahwa, baik salah maupan benar Mahmilub hanya membagikan dua gelar, jaitu: "M.T." bukannya "Master in Teaching" atau "SH" bukannja Sarjana Hukum" tapi Seumur Hidup. Semuanya ini sesuai dengan sifat keluarbiasaan militer. Kembali kepada masalah Dewan Jenderal oleh kawan Aidit diterangkan bahwa politiknya kanan dengan ciri: a). Tidak anti Imperialis; b). Tidak anti Tuan Tanah; c). Anti Nasakom. Dalam proses sesudah G-30-S. gagal ternyata ciri politiknya kanan tersebut dilaksanakan oleh kekuasaan militer sekarang yang secara hakekat dipimpin oleh sdr. Jenderal Nasution dan Sdr. Jenderal Suharto yang secara berangsur-angsur meluncur secara diam-diam (geruischloos) telah "menaragadingkan" Bung Karno alias "mengamankan" alias "menahan" Bung Karno. Karena kuasa sudah dengan sendirinya segenap perbuatannya adalah sah dan adil, walaupun berlawanan dengan rasa keadilan Rakyat banyak. Demikianlah masalah pertama tentang adanya Dewan Jenderal. KEDUA: Karena ada Dewan Jenderal maka kawan Aidit menjelaskan dengan meyakinkan bahwa ada perwira-perwira maju dan G.30.S. yang mengadakan operasi militer membentuk Dewan Revolusi. aya yakin akan kebenaran

penjelasan kawan Aidit bahwa memang benar ada perwira-perwira maju tersebut sesudah mendalami pleidoi Sdr. ex Brigjen Suparjo, halaman 5 yang antara lain mengemukakan persoalan sebagai berikut: "Apakah Sdr. Saksi (Sdr. Omar Dani) masih ingat, bahwa saya (Sdr.Suparjo) pernah mengusulkan kepada Saksi (Sdr. Omar Dani) untuk menghadapkan perwira-perwira yang ontevreden terhadap Dewan Jenderal kehadapan Presiden ? Oleh Sdr. Omar Dani dijawab: "masih ingat betul malah lama sebelumnya". Demikian pleidoi Sdr.Suparjo. Perwira-perwira yang ontevreden itulah yangdimaksud oleh Kawan Aidit sebagai perwira-perwira maju yang mempertahankan dan membela politik kiri dan pribadi Presiden Sukarno, ciri politiknya ialah: (a). Anti-imperialis; (b). Anti-tuan tanah; (c) Pro-Nasakom. Dalam proses sesudah G.30.S. gagal ternyata ciri politik kiri tersebut dilaksanakan oleh perwira-perwira dalam bentuk melawan pendongkelan terhadap Presiden Sukarno yang berkonsekwensi mereka meringkuk dalam tahanan antara lain: Sdr. Kolonel Bambang Supeno, penggali "Sapta Marga" dari rumpun "Browidjojo" dan Sdr. Brigjen. Sukendro. Mereka bukan komunis malah bersimpatipun tidak, tapi antara mereka dan PKI ada persamaan politik dalam mempertahankan dan membela politik kiri dan pribadi Presiden Sukarno sungguh suatu komedi sejarah, suata lelucon sejarah, bahwa Indonesia yang ber-Pancasila membungkam penggalinya ialah Bung Karno, dan ABRI yang ber-Sapta Marga membrangus penggalinya ialah Sdr. Kolonel Bambang Supeno. Karena kuasa tentunya tindakan ini adil, walaupan bertentangan dengan rasa keadilan. Sungguh sayang dan sangat saya sesalkan bahwa kawan-kawan Aidit, Lukman dan Njoto yang saya minta sebagai saksi-saksi á décharge tidak dapat didatangkan dengan alasan diplomatis ialah "hingga kini tidak /belum dalam penguasaan yang berwajib". Alasan diplomatis tersebut sama sekali tidak sesuai dengan sifat militer persidangan Mahmilub ini, yang seharusnya bersikap tegas. Kalau sudah ditembak mati katakanlah terus terang dihadapan Mahmilub ini, bahwa mereka sudah "ditembak mati" dengan alasan-alasan yang meyakinkan berdasarkan hukum yang berlaku sah di Republik Indonesia. Jika alasannya tidak meyakinkan tentu saya berhak, tentu saya "gerchtig" untuk bertanja apakah di R.I. sedang berlangsang "terreur dan schrikbewind"? Ya, malahan kawan Lukman ditembak mati bersama kurirnya, kawan Drs. Saleh Junaedi. Berturut-turut kawan Aidit dihabisi sekitar tanggal 25 November 1965, kemudian kawan Njoto di sekitar tanggal 6 Desember 1965, lalu kawan Lukman di sekitar tanggal 30 April 1966. Alasan diplomatis yang biasanya dicap plin-plan oleh kekuasaan militer sekarang adalah tidak sesuai dengan sifat kesatria seorang militer yang dikenal "jujur dalam janji, kata dan konsekwensi perbuatannya". Saja kemudian ingat akan dunia pewayangan ialah sekelumit fragmen dari cerita pakem pedalangan Rama Wijaya tentang penggunaan GUHYA

WIJAYA secara salah yang saya ibaratkan sebagai penyalahgunaan kekuasaan secara sewenang-wenang,"Guhija Wijaya" memang senjata ampuh senjata pemunah yang tidak pilih sasaran. Karena ita justru berbahayalah bila senjata itu tidak dikendalikan atas dasar heningnya cipta, kesadaran dengan tujuan untuk mengabdi Kebenaran sebagai dasarnya. "Pada suatu ketika, sewaktu Ramawijaja menerima percobaan Dewata dengan hilangnya Sinta karena dilarikan Rahwana Raja, maka ia mengeluh. Mengeluh yang disaksikan oleh adiknya Laksmana. Keluhan bathin yang ditujukan kepada kelilingnya Angin, Mega, semak-semak serta pepohonan diumpatnya; mengapa mereka membisu, padahal mustahil bila gunung-gunung dan sebagainya itu tidak tahu kemana perginya Sinta. Gundah hatinya begitu hebatnya, sehingga sejenak lupalah ia akan tugas utamanya sebagai pemayu-ayu jagad raja ini. Merah telinganya, berlinanglah sudut matanya. Dengan gemetar ia meraba astra panah pemanah: dengan Guhya Wijaya ia hendak melebur awan dan dunia. "Laksmana mengetahui dan mengerti gelagad kemarahan kakaknya. Ia segeralah bersimpuh, mencium kaki kakaknya dengan isak jang tak tertahan: "O, kakanda Rama. Paduka hendak berbuat apa lagi? Tahulah hamba dan tahauah semuanya yang paduka panggilbahwa paduka lagi kecewa, pedih dan kesal hati. Bukanlah semenjak dahalu raja dan brahmana dan kesatria jang merasa diri pernah beramal kebajikan, merasa kecewa di saat-saat tertentu yang tak dikehendaki sendiri? Paduka kini meluapkan gelombang amarah. Hendak melebur bumi dan udara sekaliannya? Bukanlah kita hanya menumpang hidup padanya? Sestungguhnya sesekali manusia akan benci pada diri sendiri. Tetapi bukanlah hidup ini ada: Kesetiaan cinta kasih dan harapan? Ketiga-tiganya adalah kunci abadi. Membuat kita berlembut hati, sabar mau mengalah ikhlas dan tahu berterima kasih. "Kata para sarjana itulah kunci untuk menjangkau dan mencari cita-cita betapapun tingginya. Dan orang akan sampai padanya. Tidakkah ini merupakan jalan jang lebih baik daripada menuruti genderang dendam hati yang kesal dan murung, sehingga paduka hendak melebur bumi dan adara dengan senjata pemunah Guhya Wijaya. "Mendengar isak adiknya itu, luluhlah amarah Rama. Dengan lemas lunglai dipeluknya adiknya, setelah menurunkan busur yang telah siap direntang, keduanya malah menjadi menangis berpelukan. Alam turut terharu menyaksikannya. "Atas ketajaman pandangan kewaaspadaan serta kebijaksanaan Laksmana, terhindarlah dunia dari malapetaka, dan terhindarlah senjata ampuh Guhya Wijaya dari keruntuhan dan kehancuran. Itulah sekelumit fragmen dari cerita dunia pedalangan. Dari fragmen itu saya dapat menarik pelajaran supaya jangan sampai karena mentang-mentang berkuasa terus main- main serampangan, main gebyah uyah karena kekecewaan, keped ihan dan

kekesalan hati, menggelombangkan diri dalam amarah. Jika tidak dalam amarah dan merasa dirinya benar dan kuat, maka kekuasaan militer sekarang tidak usah mematikan kawan-kawan Aidit, Lukman dan Njoto tanpa melalui proses pengadilan. Demi sembojan Mahmillub sendiri jaitu "Pro Justisia" atau "untuk keadilan" dan bukannya karena dumeh Kuasa" ("mentang-mentang kuasa"), saya mengharapkan jawaban apakah tindakan itu adil dan sesuai dengan rasa keadilan Rakjat banyak untuk membina supaya kita benar diri tidak lupa daratan maka seorang Jawa biasa berselogan "Ojo dumeh" yang terasa sukar bagi saya untuk menemukan terjemahannya yang sreg dalam bahasa Indonesia. Kalau diurai kenapa karena "mumpung" atau "dumeh kuasa" bartindak sewenang-wenang diperingatkan secara halus dengan "ojo dumeh"? Saja berpendapat bahwa sebab musababnya masalah ini timbul adalah sebagaimana diterangkan oleh Sdr. MJ Prajogo, kalau tidak keliru perwira CPM dalam tulisannya dimajalah Tentara, pada tahan 1964, sebagai berikut: "dengan meningkatnya usia, baik dari individu maupan organisasi; biasanya timbul kecenderungan mengingkari adanya perobahan dan pembaruan dan yang akan lebih suka untuk mengadakan pembatasaan -pembatasan itu dikira akan tercapai suatu stabiliteit dalam hal pemikiran, perasaan serta keadaan, suatu stabiliteit dalam suatu kehidupan." Saya sangat setuju dengan pendapat sdr. M.J. Prajogo ini dan apabila rumus Sdr. M.J. Prajogo itu diuji kebenarannya dapat ditemukan dalam tulisan Sdr. Ds. P.T. Sarumpaet, kolonel Tituler dari Pusroh Protestan AD, dalam bakunya kalau tidak keliru "Kepribadian TNI dan seterusnya .. yang antara lain mengemukakan risalah sebagai berikut: "Tugas dari TNI lebih mengandung arti melayani pemerintah Negara dan masyarakat. Melayani dalam arti yang baik yaitu: menyediakan diri untuk kebahagiaan semuanya. Salah satu akibat dari keadaan S.O.B. yang terlalu lama ialah bahwa seorang tentara tidak merasa dirinya lagi sebagai bayangkari, tetapi sudah lebih merasakan dirinya sebagai penguasa dan insyaf atau tidak insyaf tindakannyapun menunjukkan corak itu pula; kita juga menginsyafi benar-benar bahaya yang mengancam apabila, pembela masjarakat itu beralih menjadi penguasa. Mungkin didalam hal inilah nilai daripada "baju ijo" yang dulunya sangat tinggi di mata masjarakat makin lama makin luntur, makin tidak mendapat simpati dari masjarakat. Kiranya aspek melayani ini jangan sampai hilang dari kepribadian TNI. Dan sejajar dengan itu TNI adalah pembela. ..Rakyat dan bukan penguasa dan lain sebagainya. Memang setiaporang dapat mengakui bahwa tugas seorang tentara adalah bangat berat. Tetapi janganlah oleh karena itu, seorang tentara menganggap dirinya diperbolehkan melakukan tindakan-tindakan yang bisa menimbulkan kerugian moril dan tentara itu sendiri dan juga mungkin juga bisa menyakiti hati Rakyat dan pemerintah. Dengan menetapkan diri sendiri saya sengaja mengambil pendapat-pendapat orang-orang bukan komunis dan juga tidak dari sarjana-sarjana Belanda atau lainnya, supaya kita dapat menggali dari dalam masyarakat Indonesia sendiri. Semua yang saya katakan tersebut di atas adalah fakta-fakta dan pepatah Inggeris menyatakan, bahwa "facts are stronger than words" (fakta-fakta adalah lebih kuat daripada kita). Sangguh interesant dan apakah kiranya yang akan

dikatakan oleh sdr. Ds. P.T. Sarumpaet setelah sebagian Jenderal menetapkan bahwa AD adalah faktor stabilator dan penentu sebagai hasil dari seminar AD setahun yang lalu. Andaikata hal yang sama yaitu menetapkan diri sebagai faktor stabilator dan penentu" ini dikatakan oleh PKI pasti akan digegerkan "Zie je nou wel, PKI mau menang sendiri." Sebagai faktor stabilator dinamisator dan penentu, maka saya berpendapat, bahwa: (a). AD sebagai penentu atau bisa terjadi disesuaikannya politik Jenderal-jenderal kanan AD untuk mempercepat dan memperbanyak penyesuaian politik tingkat atas, sehingga jumlah Jenderal makin menjadi bertambah. Dalam Komisi C DPR-GR AD dulu pernah dihitung-bitung bahwa jumlah jenderal tidak kurang dari 150 membawai kekuatan tentara kurang leb ih 350.000. Ini berarti seorang Jenderal membawai lebih kurang 2500 anak buah, atau seorang jenderal memimpin satu Resimen, padahal kenjataannya suatu resimen pada umumnya dipimpin oleh seorang Letnan Kolonel, Selama sebagai anggota Komisi C DPR-GR dapat saya mengerti perassan tidak puas tentang pengangkatan-pengangkatan politik yang kadang-kadang terjadi naik sampai 2 kali naik pangkat setahun. Ketidakpuasan itu tercermin dalam cetusan-cetusan seperti: "nggak naik pangkat nggak petheken" (tidak naik tidak mengapa, dalam nada serius ada Kolonel blawuken - lumuten atau SH akan seumur hidup, artinya sekali Kolonel tetap Kolonel, karena kebetulan tidak dekat dengan pihak atasan yang berwenang memberi kenaikan pangkat politik. Hal-hal demikian bisa menimbulkan apati atau sinesme dikalangan para perwira yang bisa membahayakan spirit juangnya dalam tugas pertahanan. Saya tidak mengatakan bahwa dengan demikian akan terjadi inflasi jenderal, tidak. Tapi jang terang banyak jenderal yang tidak langsung aktif dalam dinas militer, karena dapat penugasan dibidang-bidang non militer. Saya takut bahwa akibatnya ialah sebagai militer mengurus semua bidang kecuali bidang militer itu sendiri. Mudah-mudahan saja jangan sampai demikian. Lazimnya jika atasan penuh dengan kesibukan lupa pada bawahan, dan sesudah hampir 22 tahun merdeka, untuk naik pangkat dan prajurit Bintara harus melalui jenderal-jenderal: 1. PRADA, 2. PRATU, 3. PRAKAT 4. KOPDA, 5. KOPTU, 6. KOPKA, 7. SERDA, 8. SERTU, 9. SERKA, 10. SERMA, ll.PELDA dan 12 PELTU. Jadi untuk naik pangkat dari Tamtama menjadi Bintara dibutuhkan 12 jenjang, dan jika kenaikan sejenjang dibutuhkan 2 tahun, maka baru dalam waktu tidak kurang dari 10 tahun baru menjadi Bintara dan sekaligus dipensiunkan. Hal lain tentunya

sudah sama-sama kita maklumi bahwa bawahan kalau dapat IB (izin libur) terpaksa tidak dapat menggunakannya, walaupun sudah diusahakan dengan setengah mati melalui "ngobyek" atau "cari rejeki". Kalau toh pergi, terpaksa menjawab "orba" sewaktu ditarik karcis "orba" bukannya "orde baru" tetapi dalam hal "Ora Bayar". Kecuali itu bukannya suatu rahasia lagi, bahwa ini bawahan makan rangsum dengan lauk tempe atau tahu raup (cuci muka), artinya dengan tempe dan tahu godok yang tidak masak betul. Semua ini perlu saya kemukakan untuk menunjukkan bahwa nasib bawahan sudah betul-betul mepet, mereka betul-betul hidup sebagai "prajurit, dalam arti perasojo, jujur lan arif" (sederhana, jujur dan hemat). Sebabnya hal-hal yang sampai demikian itu bisa terjadi karena sampai sekarang belum ada U.U. Pokok Pertahanan sebagai sumber untuk mengatur perundang-undangan organik lainnya. Tujuannya yalah tak lain kecuali untuk meletakkan dasar dasar pertahanan R.I. dan menyederhanakan jenjang pangkat, dengan maksud mendekatkan atasan dan bawahan. Sewaktu masih menjadi anggota Komisi C DPR-GR dan Wakil Ketua Sub Komisi C (Pertahanan) MPRS dsb itu telah saya ajukan. Ini perlu saya kemukakan untuk membuktikan bahwa saya dan PKI tidak seujung rambut-pun anti ABRI, dan PKI pernah menjelogankan "Dwitunggal, ABRI dan Rakyat" dan untuk Tertib Sipil Bantu Polisi". Jang benar-benar ialah saya dan PKI tidak setuju politik kanan beberapa jenderal AD. (b). AD sebagai penentu akan bisa menjurus kearah politik jenderal-jenderal kanan AD di bidang anggaran belanja AD dengan menyedot anggaran belanja keatas yang berakibat tidak menguntungkan bawahan. Tentang anggaran belanja negara, tepat apa yang dikatakan Presiden Sukarno dalam pidatonya 17 Agustus 1966, bahwa sebagian besar anggaran belanja negara adalah untuk ABRI lebih kurang 60%, dan dari sekian besar anggaran belanja itu yang terbesar ialah untuk AD. Demikian juga tentang pinjaman dari luar negeri sebesar 2, 3 miljard dolar AS, dimana yang l, 3 miljard dolar AS adalah dari Uni Sovyet, benarlah bahwa sebagian besar anggaran belanja itu digunakan untuk perlengkapan modernisasi ABRI. Jika betul-betul mau jujur, mustahilah kalau sdr Jenderal Nasution tidak tahu, bahwa selama menghancurkan pemberontakan PRRI/PERMESTA dari RRC didapat bantuan senjata se harga lebih kurang 28, 8 juta dolar AS jang kemudian ditiadakan (di-kwyschedea) pinjaman itu oleh permintah RRC dengan alasan bahwa persenjataan itu digunakan untuk menghancurkan karena kontra revolusioner yang berpolitik satu dengan imperialisme AS. Andaikata bukan Presiden Sukarno yang dikenal berpolitik kiri dan anti-imperialis, saja rasa Uni Sovyet dan RRC tidak akan memberi bantuan, dan tanpa bantuan tersebut tentu perkembangan ABRI tidak akan semodern seperti sekarang.

Hati siapa yang tidak memberontak menatap kenyataan, bahwa Presiden Sukarno yang berjasa dalam memodernkan ABRI didongkel, sedangkan pengkhianat DR. Sumitro yang sudah mengabaikan keadaan finek Indonesia, dan pernah mengatur perongrongan diluar negeri terhadap R.I. mendapat kehormatan menduduki singgasana penasehat ekonomi pemerintah. Pengkhianat DR. Sumitro yang sudah terang-terangan ikut serta memimpin pemberontakan membentuk negara di dalam negara R.I., dinyatakan masalahnya sudah beres (clear) dan pengkhianatannya dianggap tidak ada, sedangkan G-30-S yang jelas-jemelas tidak membentuk negara dalam negara, tapi tetap taat pada Presiden/Pangti ABRI Sukarno sudah banyak yang telah dijatuhi hukuman mati Timbulah pertanyaan, apakah tindakan itu sungguh-sungguh sesuai dengan rasa keadilan rakyat. Jika dijawab, yah, adil. maka sebagai putra Indonesia, saya berhak menyatakan bahwa sudah terang-terangan tersisihkan "the rule of law" oleh "the rule of will" kalau tidak boleh dikatakan "the rule of power". Jika ini didiamkan, saya takut menjadi kenyataan ucapan Ki Dalang dalam dunia pewayangan pada waktu menggambarkan ketidakadilan Rahwana Raja pada saat mengusir adiknya Wibisono, sebagai berikut: Jojo bang ma-wingo-wingo, sapa siro sapa ingsun, kuntul den arangi dandang, dandang den arani kuntul". Terjemahannya kurang lebih "perduli amat", saya berkuasa, dapat mengatakan putih sebagai hitam dan hitam sebagai putih", saya mengharap berdasarkan "pro Justitia" tidak terjadi hal yang demikian. Dan melalui sidang Mahmilub ini saya menyatakan bahwa saya menyatakan solidaritas saya dengan keluarga Kader-kader PKI yang dibakar hidup-hidup di Situjuh Sumatra Barat oleh PRRI/PERMESTA; saya menyatakan solidaritas saya dengan para janda prajurit yang menyatakan rasa tersinggung kemanusiaannya berkenaan dengan dibenarkannya pengkhianat DR. Sumitro untuk tinggal di Indonesia dengan tidak melalui pangadilan yang meyakinkan . Kembali tentang anggaran belanja Angkatan Darat pengalaman saya selama dalam Komisi C DPR-GR ialah amat sulit menelitinya sebab selalu terbentur kepada mata-anggaran pro menteri" dan mata anggaran khusus". Dan kalau diminta penjelasan lebih lanjut dijawab rahasia militer, sehingga berhentilah untuk meneliti selanjutnya, dan dalam komisi C DPR-GR menjadi persoalan sampai kemana pengertian dan batas-batas rahasia militer itu. Semua ini tentunya sdr. Jenderal Nasution tahu sebab saya sebelum ditangkap pernah membaca koran yang memberitakan bahwa sdr. Jenderal Nasution tidak membenarkan bahwa tidak bahwa anggaran belanja negara sebagianbesar adalah untuk ABRI. Hal itu diucapkan sesudah pidato Presiden Sukarno tanggal 17 Agustus 1966. Dalam rangka anggran belanja negara penting sekali penelitiannya penggunaannya apakah betul-betul berguna. Ada baiknya Operasi Budi" dilakukan lagi secara jujur dengan tidak mengenal bulu. Sebab menurut adr. Jenderal Nasution katanya "operasi Budi" dulu dihentikan kerena dilarang oleh Presiden Sukarno, Saya tekankan supaya dilakukan kembali "operasi Budi" dengan jujur, untuk mencegah jangan sampai kalau mengenai "konco atau lingkungannya sendiri" dengan macam -macam akal

diberi ulasan "Hij is rijk van huis uit" (ia kaja sejak dari rumah semula), tapi kenjataan sebenarnya adalah "hij is bedelaar van huis uit, en wordt rijk door te breken langs de hiuzen heen" (ia adalah pengemis dari rumah semula dan menjadi kaya dengan mendobrak dari rumah kerumah). Semua itu saya lakukan demi nama baik Angkatan Darat dan saya tidak ada niat untuk merongrongnya. (c). Sebagai penentu mengharuskan para Jenderal kanan Angkatan Darat bertanggung jawab dalam menentukan haluan dan politik negara. Untuk itu mereka benar-benar meneliti diri dan apakah sudah mempraktekkan hal-hal jang sudah ditulis didalam buku jang sudah saja sebut di depan oleh Saudara Ds. P.T. Sarumpaet, yaitu sebagai berikut. "untuk menjalankan politik apalagi mengamankan politik, sangat diperlukan keahlian yang dapat dicapai dengan banyak belajar, banjak bergaul dengan rakyat, sehingga paham akan kesukarar-kesukaran dan keperluan-keperluannya." Apakah hal-hal tersebut sudah dipenuhi? Yang paling bisa menjawab dengan tepat ialah -Jenderal-Jenderal kanan sendiri, apakah mereka banyak bergaul dengan rakyat sehingga paham akan kesukaran-kesukaran dan keperluannya. Jika ada kebebasan demokratis maka rakyatpun akan bersuara. Jika PKI dalam keadaan legal, maka PKI akan lebih bebas tampil kedepan menyuarakan suara rakjat itu. Demi kepentingan rakyat inilah PKI berjuang dan saya menyatakan terima kasih kepada Saudara Oditur yang terhormat sebab: PERTAMA, Saudara Oditur yang terhormat telah mencap PKI sebagai makhluk-makhluk iblis, dan PKI memang benar-benar iblis yang akan mengikis habis kaum Imperialis dan feodalis; KEDUA, Sudara Oditur yang terhormat telah menempatkan diri dipihak bukan tani dan kaum pekerja lainnya, karena sudah menetapkan bahwa kaum tani dan pekerja kurang memiliki kewaspadaan. Bagi PKI kaum tani dan pekerja

lainnya adalah sumber dari segala kreasi, mereka adalah yang paling waspada, dan kalau mau bicara tentang kurang waspada maka pada saat tertentu malahan bisa dilakukan oleh PKI, jadi PKI bisa salah tapi rakyat tidak pernah salah; KETIGA, Saudara Oditur yang terhormat telah mengakui adanya produk-produk legislatif dan pelaksanaannya dari PKI dalam bidang agraria dan tenaga kerja pada umumnya. Dengan pengakuan ini, jelaslah bahwa PKI tidak berbuat jahat bagi rakyat banyak. Andaikata kaum Komunis itu jahat, maka jumlah Komunis tidak mungkin berkembang dari hanya dua orang, yaitu Karl Marx dan Friedrich Engels, selama 119 tahun dihitung sejak keluarnya "Manifesto Komunis" (1848) menjadi lebih kurang 40 juta sekarang di seluruh dunia, dan memegang tampuk pimpinan Negara untuk lebih kurang sepertiga penduduk dunia atau lebih dari 1.000 juta umat manusia, di sebagian Eropa, Asia dan Amerika Latin. KEEMPAT, Saudara Oditur yang terhormat menetapkan PKI sebagai "an invisible man", yang dapat saya artikan "PKI is nergens maar overal" (PKI itu tiada tapi ada di mana-mana). Dengan demikian di sidang Mahmilub ini sebenarnya secara hakekat ada pengakuan bahwa keyakinan itu tidak dapat diberangus. Menurut hukumnya kalau keyakinan itu benar -benar mengabdi pada rakyat banyak pada akhirnya pasti menang, kalau meminjam bahasa rakyat adalah "wolak-waliking jaman" atau roda dunia berputar". Saya tetap jakin, walaupun PKI sekarang dilarang tetapi sejarah pasti membebaskan PKI Dan Marxisme - Leninisme tetap bersemayam dalam hati tiap Komunis. KELIMA, Saudara Oditur yang terhormat dalam keterangannya menambahkan, bahwa "PKI adalah racun", danmemang benar "PKI adalah racun yang mematikan bagi kaum-kaum penghisap, penindas dan pemeras rakyat, tapi PKI sekaligus racun obat penyegar tubuh rakyat". Bagi saya, segala sesuata tidak hanya bersegi tunggal, tapi bisa bersegi dua, atau bersegi banyak. Misalnjy tubuh manusia tak bisa tumbuh tanpa phospor, atau phospor termasuk racun yang mempunyai daya mematikan kuman disamping daya menumbuhkan tulang. Sekali lagi terimakasih kepada Saudara Oditur yang terhormat untuk hal-hal tersebut di atas. Sekarang saya mau kembali kepada

tulisan Saudara MJ Prajogo dalam majalah yang sama seperti yang saja sebutkan di depan, yang memberi alasan, bahwa dalam kecenderungan-kecenderungan untuk mengingkari adanya perubahan dan pembaharuan, maka: "Orang akan lebih mementingkan pangkat dan kedudukan daripada tugas kewajiban; lebih mementingken ketenangan hidup dan kemewahan daripada jasa yang bisa ditunaikan; lebih suka untuk berpegang teguh-teguh pada pengalaman yang dikodifiikasikan daripada pemikiran kreatif; lebih suka akan keamanan yang berdasarkan pengalaman daripada kesempatan untuk mencoba memperbaharui pemikiran dan keadaan". Demikian sdr. MJ Prajogo, dan menurut pendapat saya, contoh konkritnya ialah: a. Sebelum menjadi Ketua MPRS, sdr. Jenderal Nasution satuju pemilihan umum segera diadakan paling lambat pada tehun 1968, tetapi sesudah menjadi Ketua MPRS dan berhasil menjatuhkan Presiden Sukarno, mengatakan setuju jika pemilihan umum tidak terlaksana tepat pada waktunya alias setuju pemilihan umum diundur. Saya tidak mengatakan, karena adanya sikap tersebut, bahwa sdr. Jenderal Nasution ada plin-plan atau munafik, sebab yang.paling mengetahui keplin-planan dan kemunafikan sdr. Jenderal Nasution adalah sdr. Jenderal Nasution sendiri. Saja sadar bahwa sikap itu adalah politik. b. Saja dan Sdr. Nasution bersama-sama menjadi anggauta MPRS sebelum diompongi seperti sekarang ini, sebab keanggotaan MPRS sekarang lebih banyak-jumlahnya yang diangkat dari yang dihasilkan oleh pemilihan Umum yang lalu. Dan sesama anggauta MPRS menyetujui pemberian gelar untuk Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, yang masing-masing suara kita berdua dibawa oleh stemmotevering ksi PKI bagi saja dan oleh stemmotevering Kelompok Karyawan ABRI bagi Jenderal Nasution. Sesudah menjadi ketua MPRS, maka sdr. Jenderal Nasution setuju dengan penanggalan gelar bagi Presiden Sukarno. Jika mau ditarik garis lempang semestinya di satu pihak setuju dengan menanggalkan gelar bagi Presiden Sukarno, maka di lain pihak seharusnya menolak pemberian gelar baginya sendiri, walaupun itu baru gelar dari Kampungnya sendiri, yaitu sdr. Jenral Nasution kalau saya tidak keliru: Raja Iskandar, setiap orang tahu bahwa seorang memanjat bukannya dari atas, tetapi seorang memanjat tetap dari bawah dan jatuh dari atas. Dalam hal ini saya tidak mengemukakan bahwa sdr. Jenderal Nasution tidak konsekwen, sebab ketidak konsekwenan sdr. Jenderal Nasution adalah sdr. Jenderal Nasution sendiri yang paling tahu, saya sadar bahwa samua itu adalah politik. c. Para tahanan G.30.S. dipenjara Salemba bisa ditanya bahwa dengan meminjam istilah sdr. Oditur yth., yaitu pada tanggal yang tidak dapat ditentukan lagi dengan pasti, setidak-tidaknya pada bulan Agustus 1966, jadi sebelum saya tertangkap, pernah sdr. Nyonya Jenderal Nasution datang dipenjara tersebut, dan menjumpai para tahanan jang tersangkut

dengan penembakan terhadap sdr. Jenderal Nasution. Kedatangan sdr. Nyona. Jenderal Nasution itu dirasaken oleh para tahanan yang bersangkutan sebagai sesuatu yang janggal, dan bukannya sekedar "bezuk", tetapi dirasakan sebagai seorang pemeriksa yang mangajukan bertubi-tubi pertanyaan. Meminjam parool atau semboyan hukum sdr. Oditur yth, ialah: "bahwa setiap orang dianggap mengenal hukum" ("ieder wordt geacht de wet te kennen"), apakah menurut hukum yang ada dan berlaku sah di Republik Indonesia, tindakan Sdr. Ny. Jenderal Nasution itu dapat dibenarkan? Kalau dibenarkan pasal-pasal KUHP manakah yang mangatur atau perundang-undangan manakah yang mengaturnya? Saya takut bukannya menuduh, kalau "Orde Baru" sudah menggariskan bahwa seorang isteri pembesar haruslah dianggap pembesarnya itu sendiri dan bisa bertindak sesuai dengan fungsi suaminya, atau suami bisa mendelegeer (mendelegasikan) bisa memberi mandaat, bisa menguasakan kekuasaanya kepada isterinya. Jika ini betul maka saya hanya bisa bergeleng kepala dengan menyebut "bukan main" Semua perasaan dan pikiran yang saya pandang ada hubungannya dengan diajukannya saya di depan MAHMILUB ini dengan sadar saya tenangkan supaya pihak Mahkamah cukup memiliki bahan-bahan pertimbangan untuk menentukan penilaian yang dapat mendekati objektiefitet. Saya berusaha keras dengan tangan terbuka dan dada lapang menjayakan beribu-ribu terima kasih kepada semua penilaian yang ditujukan pada diri saya, baik dari kawan maupun lawan, baik negatif maupun positif. Khusus kepada sdr. Oditur yang terhormat saya mengangkat topi dan menyatakan terima kasih bahwa masih mempunyai "moed" dan mau menyatakan antara lain bahwa "saya dalam sidang Mahkamah ini menunjukkan sikap yang sopan". Saya berpendirian bahwa penting sakali menerima segenap penilaian-penilaian itu, supaya dalam sisa-hidup saya yang masih menyisa, semua penilaian itu dapat saya gunakan, untuk: 1. memeriksa diri, 2. mengenal diri, 3. memperbaiki diri. Saya berpendapat tidak mungkin seorang dapat memperbaiki diri tanpa mengenal diri, dan bohong besar seseorang yang menyatakan telah mengenal diri tanpa melakukan pemeriksaan diri. Inilah pangkal utama untuk memberanikan diri melakukan kritik terhadap diri sendiri sebagaimana saya telah berusaha untuk melaksanakannya. Kritik trhadap diri sendiri itu berjudul: "TEGAKKAN PKI YANG MARXIS-LENINIS UNTUK MEMIMPIN REVOLUSI DEMOKRASI RAKYAT. Agar Rakyat banyak dapat menilai secara tepat, saya mengusulkan supaya kritik terhadap diri sendiri itu dapat menjadi lampiran dari "Uraian tangung-jawab" ini, sehingga samua menjadi terbuka. Sikap terbuka bagi Rakyat banyak

yang demikian itu adalah sepenuhnya sesuai dengan ajaran PKI. Sikap terbuka bagi Rakyat banyak yang demikian akan menembus keheningan dan memancarkan rasa tenteram, sebab pada hakekatnya orang harus belajar untuk setiap kali meninggalkan bentuk pandahuluan daripada usaha dan hasil kerjanya, dan harus selalu mencari bentuk-bentuk baru. Orang tidak akan dapat berhenti dan mengaso untuk menikmati hasil-hasil kerjanya, karena hal yang demikian itu merupakan suatu pengkhianatan terhadap sikap sendiri dan terhadap tuntutan yang dibebankan kepada generasi baru Indonesia. Dengan terus menerusorang harus mengatasi (transcenderen) diri sendiri, meninggalkan diri sendiri beserta kepentingan-kepentingannya, dan juga meninggalkan hasil-hasil kerjanya yang sudah pernah dicapai. Berdasarkan keterangan inilah PKI menggariskan: Tundukkan kepentingan pribadi bagi kepentingan umum, sehingga berlaku semboyan-semboyan: a. Partai adalah saya, tapi saya bukannya Partai; b. Hati lebih keras daripada lapar; c. Tak seorang, berniat pulang walau mati menanti. Rakyat pekerja adalah kreator segala keindahan, maka itu PKI mendidik anggautanya untuk cinta kepada kerja dengan slogan 3 baik: - bekerja baik; - belajar baik, - moral baik. Dalam memimpin aksi-aksi Rakyat, PKI mendasarkan diri kepada 4 jelas: - jelas tuntutan; - jelas sandaran; jelas sekutu; - jelas sasaran. Dalam menempuh hidup supaya teguh memegang prinsip 4 kuat yaitu: - Kuat mencintai Rakyat, PKI dan Revolusi; - Kuat membenci musuh-musuh Rakyat, PKI dan Revolusi; - Kuat pahit dalam arti tahan dalam derita; - kuat manis dalam arti tetap sederhana sewaktu berfungsi sosial penting. Dalam malaksanakan solidaritas internasional supaya dipadukan patriotisme dengan internasionalisme proletar, untuk melawan sovinisme dan sekaligus melawan cosmopolitanisme. Dalam melakukan kritik dan kritik terhadap diri sendiri supaya bersikap keras terhadap diri sendiri dan bijiaksana trhadap orang lain. Hal ini dimaksud supaya setiap Komunis teguh memegang prinsip dan luwes dalam peneterapannya. Dalam menghadapi kesukaran dan kesulitan supaya berani, pandai dan waspada secara ravolusioner dengan menjunjung tinggi semboyan: "sanantiasa mengharap yang baik, tapi siap untuk yang paling sulit". Tujuh garis PKI itulah yang menuntun saya untuk mengabdi tanpa reserve kepada Rakyat, Partai dan Revolusi. Saya berusaha keras untuk merealisesikannya dalam praktek dengan suatu keyakinan Komunis bahwa dalam praktek revolusioner saya pasti terdapat kekurangan dan kesalahan. Karena bekerja dan berjuang tentu terdapat kekurangan dan kesalahan, sebab hanya orang yang tidak bekerja dan tidak berjuang saja yang tidak berbuat salah. Maka itu saya mengharap adanya pengertian dari pihak

Mahkamah akan pikiran dan perasaan saya, bahwa bagi pribadi saya kehadiran kawan-kawan Aidit, Lukman, dan Njoto adalah sangat penting. Sebab saya berjuang tidak untuk menipu Rakyat banyak dan saya berjuang juga tidak untuk ditipu oleh kawan-kawan separtai saya. Selama saya dalam parjuangan mengenal kawan -kawan Aidit, Lukman dan Njoto, maka mereka belum dan tidak pernah menipu saya dan saya mempunyai keyakinan bulat, bahwa meraka tidak akan dan tidak mau menipu saya, Mengingat bahwa mereka bertiga telah mati, maka "het gaat tegen mijn geweten in" (bertentangan dengan hati nurani saya) untuk mempersoalkan perbuatan-perbuatan diri mereka yang telah mati, apalagi menyalahkannya justru dalam sesuatu kegagalan. Juga "het gaat tegen mijn geweten in" untuk menjebut nama kawan-kawan separtai saya dan tempat-tempat yang telah memberi perlindungan pada saya selama berjuang di bawah tanah, sehingga saya berpendirian untuk tetap tidak mau menyebut nama dan tempat kawan, dan terima kasih kepada semua sdr. Pemeriksa yang mau mengerti akan pendirian saya itu. Juga "het goat tegan mijn geweten in" untuk berdebat dengan kawan-kawan separtai saya yang dihadapkan sebagai SAKSI, sebab saya tidak mau ditarungkan dengan kawan -kawan separtai saya dalam sidang Mahmilub ini; saya menggarisbawahi pernyataan sdr. Hakim Ketua yth., yang menegaskan bahwa persidangan,ini adalah Mahkamah dan bukannya rapat; dan tepat keterangan sdr. pemeriksa Major Udara Trenggono SH pada saya bahwa dalam sidang Mahmilub saya bisa di-expos, hal mana sedapat mungkin harus saya hindari . Berdasarkan keterangan tersebut di atas dan justru karena G-30-S. gagal, maka saya perlu menandaskan, demi tanggung jawab dan demi solidaritas Komunis, bahwa: Pertama: Karena kawan-kawan Aidit, Lukman, Njoto dan Sakirman sudah mati, maka saya ambil oper tanggung-jawabnya segenap perbuatan politik mereka dalam rangka G.30.S. Kedua: Walaupun saya tidak ikut membuat Dekrit, tidak ikut menyusun komposisi Dewan Revolusi; tidak berada di Halim, Lubang Buaja atau Pondok Gede baik di sekitar maupun pada saat dicetuskannya G.30.S., tapi karena semua perbuatan itu adalah perbuatan oknum -oknum anggauta PKI, maka saya ambil oper tanggung-jawabnya, dan; Ketiga: dengan penegasan tersebut di atas maka menjadi makin jelas bahwa G.30.S. adalah tanggung-jawab TERTUDUH SUDISMAN dan bukannya tanggung-jawab PKI. Sesuai dengan rasa tanggung-jawab tersebut di atas perlu saya kemukakan, bahwa terasa sukar untuk menjawab

pertanyaan sdr. Hakim Ketua yang terhormat, yang berbunyi: Apakah sdr. Tertuduh merasa menyesal atas perbuatan-perbuatannya? Pertanyaannya sendiri memang sederhana, tapi jawabannya yang sukar, dan lazimnya sesuatu yang sederhana itulah yang sukar sebab tidak mungkin hanya dengan menjawab "YA" atau "TIDAK" tanpa suatu pemikiran dan penerangan. Akhirnya demi keyakinan Komunis saya, demi tanggung jawab saya, demi solidaritas Komunis, saya terhadap kawan-kawan Aidit, Lukman, Njoto dan Sakirman selaku "wapensbroeders" saya yang telah mati, saya membulatkan diri saya untuk mengatakan tidak menjesal. Tapi dibalik itu saya menyadari adanya korban jatuh, dan untuk itu tidak ada lain jalan sebagai seorang Komunis, kecuali saya hening sejenak menundukkan kepala. Sekarang bertolak kepada rasa tanggung jawab, ingin saya kemukakan fakta-fakta sebagai bahan penilaian MAHMILUB, yaitu bahwa baik dalam sidang-sidang Dewan Harian Politbiro CC-PKI maupun sidang-sidang Politbiro CC-PKI oleh kawan Aidit dijelaskan bahwa para Perwira maju mau mengadakan operasi militer dan tidak pernah mengemukakan bahwa PKI mau mengadakan operesi militer, dan oleh kawan Aidit juga tidak pernah dikemukakan bahwa PKI mau mencetuskan revolusi pada saat itu. Jika hal ini yang, dikemukakan oleh kawan Aidit dalam sidang Dewan Harian Politbiro CC-PKI dan sidang Politbiro CC-PKI, maka walaupun saya masih ada kelemahan-kelemahan tertentu di dalam pengertian teori Marxisme-Leninisme, tapi terlalu tolol bagi saya untuk menyanggahnya karena tidak ada Partai Komunis yang bisa mencetuskan revolusi, dan juga tidak ada Partai Komunis yang dapat dibenarkan mengadakan dan memimpin sendiri operasi militer dalam artian aventurisme militer. Timbul kemudian pertanyaan, apakah dapat dibenarken suatu Partai Komunis mendukung suatu operasi militer semacam G.30.S.? Jawabannya: bisa dan tidak. Bisa: Ya, jika operasi militer bersifat revolusioner, seperti G.30.S. Karena G.30.S itu mempertahankan anti penjajahan, anti tuan tanah dan kebijakan pro Nasakom dari Presiden Sukarno dan secara nyata melindungi pribadi Presiden Sukarno. Adakah contoh di luar negeri tentang terjadinya suatu operasi militer yang revolusioner? Ada, yaitu salah satu diantaranya ialah operasi militer Kolonel Kasim yang anti imperialis menjatuhkan pemerintahan El Nuri yang pro-imperialis. Hasilnya pemerintahan Irak yang berpakta militer Bagdad dengan Imperialis Amerika Serikat, diganti menjadi Pemerintahan Irak tanpa, Pakta Bagdad, tanpa pakta militer dengan Imperialis Amerika Serikat. Sekarang jawaban kedua: yaitu tidak dapat mendukung suatu operasi militer, jika operasi militer itu reaksioner

yaitu seperti: Pertama: kudeta ex Letkol. Zulkifli Lubis dan ex Major Zaelani Komandan Rekad sebagai proloog pemberontakan PRRI/PERMESTA yang anehnya pemberontak ex. Letkol. Lubis sekarang sudah bebas tanpa diajukan di depan pengadilan; Kedua: kudeta yang gagal, 17 Oktober 1952, oleh sdr. Jenderal. Nasution dengan menempatkan moncong-moncong meriam menghadap Istana Merdeka yang berarti ditujukan kepada Presiden Sukarno yang berpolitik anti Imperialis. Karena dukungan rakyat terhadap Presiden Sukarno dan karena keteguhan Presiden Sukarno, maka kudeta itu dapat digagalkan yang mengakibatkan jatuhnya sdr. Sultan Hamengkubuwono selaku Menteri Pertahanan dan di nonaktifkannya sdr. Jenderal Nasution. Malahan peristiwa 17 Oktober 1952 yang nyata-nyata konkrit ada oleh sdr. Jenderal Nasution dinyatakan tidak ada, karena sudah diselesaikan secara intern dalam Angkatan Darat dengan antara lain Ikrar Yogya dan sebagainya. Ini berarti mengabstrakkan sesuatu yang konkrit. Jika peristiwa 17 Oktober 1952 boleh diabstrakkan sebagai pemberontakan (opstand) melakukan makar (aanslag) yang didahului dengan mengadakan permufakatan jahat (samenspanning), apakah ini bukannya "emban cinde", "emban siladan" (pipih kasih). Padahal kenyataanya sebagaimana tercantum dalam halaman 14 Pleidooi sdr. ex. Brigjen. Suparjo ialah sebagai berikut: "Tertudah (sdr. Suparjo) diminta bantuannya untuk membuat teks pengumuman bahwa Presiden dalam keadaan selamat, sehat. Teks diperlukan agar rakjat segera mengetahui tentang situasi Presiden. Dan diumumkan melalui Istana oleh Letkol. Marokeh. Saksi (Brig. Jen. Moch. Sabur) mengusulkan agar Presiden segera pindah dari Halim. Tetapi Presiden menjawab bahwa untuk sementara tinggal di Halim saja, untuk mengasakan sidang dengan menteri-menteri di Halim. Komentar saya (sdr. Suparjo) dari ketarangan saksi menunjukkan bahwa Kepala Negara vult zich op zijn gemak - berarti tidak ada tekanan physik maupun psychis". Dari penandasan Pleidooi sdr. Suparjo tersebut diatas sebetulnja gamblang bahwa Presiden Sukarno tidak diganggu gugat oleh G.30.S. dan tetap dalam fungsi sebagai Presidan yang menurut fasal 4 Undang-Undang Dasar 45 dinyatakan, bahwa "Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan Pemerintah menurut Undang -Undang Dasar" berdasarkan fakta ini jelas bahwa: G.30.S. secara konkrit menyelamatkan Presiden Sukarno. G.30.S. taat kepada Presiden, dengan bukti-bukti bahwa sdr. Let.Kol. Untung akan melaksanakan keputusan apapun dari Presiden (ploidooi sdr. Suparjo halaman 19).

Dari segi taat kepada Presiden Sukarno yang sekaligus adalah Pangti ABRI/Pemimpin Besar Revolusi, pada waktu itu, sesuai dengan Sumpah Prajurit, maka sesunguhnya tidak ada fakta menggulingkan Pemerintahan Republik Indonesia yang sah. Jika G.30.S. yang taat kepada perintah Presiden/Pangti ABRI/Presiden Sukarno sesuai dengan "Sumpah Prajurit" dikategorikan sebagai memberontak, maka kategori apakah jang harus diberikan kepada sejumlah Jenderal jang tidak taat kepada perintah Presiden/Pangti ABRI/Presiden Sukarno dan pada tanggal 1 Oktober 1965 berhimpun di Kostrad dan melakukan serangkaian (Ploidooi sdr. ex Brigjen Suparjo) halaman 26 dan 27 sebagai berikut: Jenderal Pranoto yang diperintahkan mengadap Pangti Presiden R.I./PBR kemudian tidak menghadap, perintah ini melalui Ajudan Presiden yaitu Kombes Sunirat sebagai kurier pribadi Presiden. Jenderal Umar Wirahadikusuma selaku Pangdam V/Jaya dipanggil Presiden R.I./PBR juga tidak datang. (perintah ini disampaikan oleh kurier pribadi Presiden jaitu Kolonel Bambang Wijanarko). Waktu Kolonel Bambang Wijanarko masuk ke Kostrad melihat Jenderal Harto sedang berdialog dengan sejumlah Perwira-perwira Kemudian waktu Kolonel Bambang Wijanarko menyampaikan pesan atas perintah Presiden untuk memanggil Pangdam V Jaya, maka dijawab oleh Pak Harto: "Jenderal Umar blyft hier" artinja "Jenderal Umar tetap di sini". Dan ditegaskan pula bahwa semua perintah harus melalui Pak Harto. Waktu Menteri/Pangal menjampaikan Keputusan Presiden/Pangti ABRI/PBR tentang: » Angkatan Darat sementara dipegang oleh Pangti; » Care-taker Angkatan Darat sebagai pelaksana sehari-hari dan sifatnya sementara. » Berhenti garakan (keputusan ini adalah hasil panitia ad hoc yang disusun oleh 3 Menteri Angkatan dengan seorang Perdana Menteri dan disahkan ditanda-tangani Presiden R.I.) Kemudian Jenderal Nasution berkata kepada Menteri/Pangal "mengapa ikut-ikut mengurusi soal-soal lain Angkatan Kita jangan rame-rame. Persoalan militer, adalah soal militer, persoalan politik adalah politik. Marilah kita pecahkan masalah kemiliteran ini dan serahkan masalah politik pada Presiden. Terjadi dialoog antara Kolonel Bambang dan Jenderal Harto sebagai berikut: Presiden ada di mana - di Halim- Jenderal Pranoto tidak boleh menghadap - kemudian Jenderal Harto menetapkan: Saya mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Semua perintah harus melalui saja.

Bila dibandingkan kegiatan tertuduh (sdr. ex Brigjen. Suparjo) yang selalu taat pada perintah-perintah kepala negara, sekalipun dengan hal-hal yang sepele yang menyangkut peristiwa di Kostrad. Jadi siapa yang seharusnya dituduh sebagai dalang persekongkolan?. Demikian sekelumit sejarah yang saya ambil dari pleidooi sdr. ex Brigjen. Suparjo yang intisarinya adalah mengetengahkan tidak taatnya sejumlah Jenderal kepada perintah atasannya dalam hal ini Pangti/Presiden Sukarno. Tindakan ini adalah berlawanan dengan "Sumpah Prajurit", dan apa jadinya dengan TNI kalau tingkat bawahan mengikuti jejak para Jenderal tersebut? Yang pasti apabila tingkat bawahan melanggar "Sumpah Prajurit" maka mereka akan ditindak tanpa ampun, tapi kalau hal jang sama dilakukan oleh sejumlah Bapak Jenderal bisa diampuni. Singkatnya untuk tingkat bawahan berlaku tak kenal ampun, tapi untuk atasan berlaku boleh diampuni. Apakah ini bukannya diskriminasi dalam disiplin, apakah hal ini tidak berbahaya bagi pelaksanaan "degorder" atau "perintah harian"? Apakah ini tidak merobek-robek jiwa "Sumpah Prajurit" junjungan ABRI?. Saya berpendapat bahwa serangkaian ceramah sdr. Jenderal Nasution yang tanggalnya tidak saya ingat secara pasti, tetapi pada akhir pertengahan tahun 1966 kepada para Perwira AURI, yang menyatakan bahwa sudah biasa bagi setiap perintah dari perwira atasan tidak dilaksanakan, menunjukkan gejala ketidakdisplinan yang serius bagi ABRI. Mungkin perumusan Sdr. Jenderal Nasution tidak setegas perumusan yang saja ajukan, tetapi intinya sama. Bagaimana kita dapat menerima rasa keadilan dengan dihukumnya para pelaku G.30.S seperti sdr. Hargijono dan kawan-kawannya yang taat kepada perintah Komandannya dan kepada Presiden Sukarno dan yang perbuatannya menjadi tanggung jawab Komandannya, sementara pengabaian disiplin yang dilakukan Jenderal Nasution tidak diakui sebagai subversi TNI. Saya sadar bahwa tindakan sdr. Jenderal Nasution itu adalah tindakan politik untuk mencapat tujuan politik tertentu yang mengarah keeinddoel. Saya tidak mengatakan bahwa sdr. Jenderal Nasution ingin menjadi Presiden R.I. - tidak. Sebab, setiap warganegara R.I. yang baik berhak untuk mencalonkan diri sebagai Presiden, tapi jalannya apakah mesti dengan menjadikan sebagai suatu Presiden yang mengabaikan disiplin TNI? "Karena tindakan itu tidak dilakukan oleh PKI, maka dengan sendirinya bukannya diberi stempel "het dul heiligt de middelen". Alangkah baiknya jika segala sesuatu tersebut ditelaah oleh fihak Mahkamah dan betul-betul demi keadilan, demi kemurnian "sumpah prajurit" dan "Sapta Marga." Sekarang saya hendak melangkah ke: POKOK KE-EMPAT:

Dari penangkapan sampai kesidang MAHMILLUB. Saudara Hakim Ketua yang terhormat. Untuk dapat menggambarkan secara tepat bagaimana jalannya suatu penangkapan, baiklah saja ketengahkan sebait sajak saya, berjudul: DISERGAP Seisi rumah lagi enak nyenyak, mendadak terperanjat, bangun terbentak, oleh gedoran pintu dibarengi derap sepatu, todongan pistol bernikel menuding-nuding, mengabakan, ayo jongkok dipojok, dengan baju celana dalam thok, alangkah berkesan bagiku adegan ini, disergap sesaat mentari merekah pagi. Dari sebait sajak ini terlukis pistol nikel terkokang diputar-putar á là cowboy Amerika Serikat, sambil menghardik-hardik. Saja rasa hal demikian tidak perlu terjadi lagi. Sebab sewaktu saya tertangkap pada zaman kolonial Belanda dan fasis Jepang, saya tidak diperlakukan demikian. Saya berpikir penting juga saya kemukakan penertiban cara menangkap demi Republik Indonesia yang berazaskan Pancasila, tentang barang bukti sitaan, ketika pada zaman Belanda dan Jepang dulu dilakukan pendaftaran ditempat sehingga tidak terdapat kekeliruan. Pengalaman menunjukkan bahwa sewaktu saya ditangkap telah disita selain dokumen-dokumen yang sudah diserahkan kepada Sdr. Hakim Ketua Yth., juga disita barang lainnya, seperti: arloji tangan merk Tudor, uang lebih kurang Rp.3.000, radio transistor, pakaian dan sebagainya. Tetapi sungguh mati saya tidak tahu dikemanakan barang-barang itu. Belum lagi barang-barang kawan-kawan Sukadi dan Tan Sui Liang yang serumah dengan saya. Memang sengaja baru sekarang ini hal itu saya kemukakan, bukan dengan maksud untuk minta kembali barang -barang tersebut, tidak sama sekali, tapi untuk mengukur kejujuran para petugas militer "Operasi Kalong" yang menangkap saya demi Pancasila. Saya malu bahwa hal demikian masih terjadi dalam alam Indonesia Merdeka, sedangkan pada waktu zaman Kolonial dulu tidak saya alami keganjilan seperti itu. Ini tidak berarti bahwa saya mau kembali ke zaman normal, dalam arti zaman penjajahan lagi,tidak, tetapi saya menginginkan peraturan dan pengaturan yang lebih baik daripada zaman penjajahan dulu baik dalam kata-kata maupun perbuatan. Jangan biarkan senjata menjadi

bagian penangkapan dan jangan biarkan tangkapan menjadi semacampenjarahan. Saya mengharap melalui Mahkamah ini supaya diteruskan kepada yang berwajib untuk ditertibkan cara menangkap orang, supaya tidak terganggu rasa "freedom from fear" rakyat. inilah praktek konkrit yang saya kemukakan tanpa embel-embel. Dari persoalan penangkapan saya menjurus ke pemeriksaan. Saya ingin mengemukakan bahwa saya pribadi tidak pernah mengalami pukulan selama pemeriksaan, malahan hubungan antara pemeriksa dan yang diperiksa berdasarkan saling menghormati dan saling mengerti akan keyakinan masing-masing titik tolaknya, saling menghormati walaupun menganut perbedaan politik. Tetapi tidak demikian halnya jyng dialami oleh kawan-kawan saya, sampai-sampai kawan Anwar Sanusi, calon anggota Politbiro CC-PKI dan bekas wakil Sek.Jen. Front Nasional pusat masih dipukul juga, apalagi yang lain. Ragam pukulan hampir menyerupai siksaan sewaktu zaman fasis Jepang, hanya digantung sajalah yang tidak digunakan. Sungguh mengerikan kalau melihat derita akibat pukulan yang dialami kader-kader PKI dan mereka yang dituduh tersangkut dengan G.30.S., padahal ke- salahan mereka belum terbukti, dan belum tentu mereka itu bersalah. Belum tentu bersalah tetapi badannya sudah rusak akibat pukulan dan diselomoti (dibakar) dengan nyala rokok, sandal karet yang d ibakar, sampai distrom. Saya tidak sampai hati untuk menyebut satu persatu macam pukulan dengan dalih pertanyaan tentang pengertian mereka mengenai Pancasila. Kepada saya waktu ditahan di Kodim Budikemuliaan, pernah oleh seorang yang mengaku bernama Jimmy, dan memperkenalkan diri sebagai Intelligence Service (IS), ditawarkan untuk melihat kawan-kawan saya yang bergelimpangan di dalam sal. Saya menolak untuk menghindari penderitaan batin. Akibat siksaan selama pemeriksaan pendahuluan kawan-kawan separtai saya, dapat dilihat langsung ketika mereka dihadapkan sebagai saksi-saksi. Malahan seorang non komunis, sdr. Sarjono dari Partindo jatuh pingsan saya tidak menyanggah keterangan yang telah menyatakan, bahwa sdr. Sarjono terserang masung angin. Ini satu segi, tapi saya ingin mengajukan segi lain yaitu bagaimana perasaan seorang civil berhadapan dengan pembesar militer, ialah sebagai berikut: umumnya ada rasa gelisah, rasa takut dan rasa kuatir yang sangat mendalam, sebagai gejala psychis yang ditimbulkan oleh adanya konflik-konflik emosionil disertai ciri-ciri yang khas, ialah berdebarnya jantung secara tidak normal yang dapat sekaligus dirasakan mengerasnya denyutan urat nadi. Dan sebab-sebab itulah dimulainya neurose jantung dengan gejala-gejala khusus umpamanya: nafas atau di dalam dada menjadi sesak atau setengah mampet". Persoalan tersebut perlu saya

kemukakan supaya dapat digunakan sebagai bahan dalam mempertimbangkan kebenaran keterangan Saksi, dan sekaligus menegaskan bahwa seorang sipil seharusn ya dihadapkan ke depan pengadilan biasa dan bukan ke pengadilan militer. Sewaktu mereka diperiksa di Mahmilub dengan jelas terlihat adanya siksaan-siksaan terhadap para Saksi, Kader-Kader PKI, maka demi Pancasila saya mengusulkan kepada Mahkamah: Dengan adanya siksaan-siksaan diluar batas perikemanusiaan itu tidak lain karena anggapan bahwa tidak ada salahnya membunuh orang Komunis sebab: a. Adakalanya seorang pembesar militer mengemukakan melalui wawancara di koran-koran supaya tokoh-tokoh Komunis "ditangkap hidup atau mati", atau "kalau orang-orang Komunis setelah dibebaskan bergerak lagi supaya ditembak saja". Dapatkah hal ini dibenarkan secara hukum yang sah berlaku di Indonesia? Apakah ucapan-ucapan semacam itu tidak menggelisahkan masyarakat luas, terutama para keluarga anggauta dan simpatisan PKI yang berjumlah jutaan orang? b. Instruksi yang sangat luas dari sdr. Jenderal Nasution yang isinya kurang lebih, supaya terhadap orang-orang Komunis dihabisin sampai keakar-akarnya" dan tindak mereka yang ada indikasi G.30.S. baik langsung maupun tidak langsung? Dengan adanya instruksi tersebut, maka terjadi pembunuhan massal. Apakah fihak Mahkamah tidak sependapat dengan tertuduh bahwa dalam hal pembunuhan massal itu mesti diminta pertanggungjawaban sdr. Jenderal Nasution? Mengundang International Fact Finding Commission melalui Kedutaan-Kedutaan Besar Negara Sosialis di Indonesia, yang berkewajiban mencari fakta kebenaran tentang: a. Terbunuhnya tanpa melalui proses pengadilan anggota CC dan Kader-kader penting PKI lainnya diataranya kawan-kawan: Aidit, Lukman, Njoto, Sakirman, S. Samidikin dan Thayb Adamy (Aceh), Rachman, Ainuddin dan Nursutind (Sumbar), J.Suak (Sul. Utara) Rissi (Kupang) dan lain-lainnya; b. Cara-cara pembunuhan massal meilputi kurang lebih 70,000 orang Jawa Tengah 60.000 (Jawa Timur), 50.000 (Bali) dan ribuan lagi di tempat-tempat lainnya. Caranya antara lain ada yang ditenggelamkan bersama kapal Adri (J.Suak dengan tigapuluh kawan lainnya), hidup-hidup dimasukkan parit alam (luweng) di Wonosari dan sebagainya; c. Keadaan para tahanan yang masih menyisa, apakah cukup kalori makanannya untuk sekedar hidup, kalau tidak apakah tidak menjurus ke "geleidelijke moord" (pembunuhan secara halus)? Fakta-fakta tersebut sangat penting untuk diteliti secara obyektif oleh International Fact Finding Commission supaya tidak berat sebelah. Ini jika mau mencari kebenaran.

Dalam sidangMahmillub ini dapat diketahui bahwa dalam PKI, diberi kebebasan dalam menganut kepercayaan, sehingga ada yang tak beragama, ada yang tidak beragama tapi percaya kepada Tuhan, ada yang beragama Islam, Kristen, Protestan dan Khong Hu Cu. Sebab PKI berpendapat bahwa ajaran seseorang tidak dapat dibatasi secara administratif, dan kepercayaan itu adalah soal pribadi sehingga pada masing-masing anggauta PKI diberi kebebasan untuk menetapkan kepercayaan masing-masing dengan menekankan bahwa setiap anggota satu sama lain saling menghormati kepercayaan masing-masing. Bertolak pada dasar inilah, maka seorang Komunis tidak boleh memiliki dendam perorangan, dan kebenarannya dapat dibuktikan oleh persetujuan saya terhadap penetapan sdr. Moch. Daljono SH sebagai penasehat hukum saya, walaupun saja tahu benar bahwa sdr. Moch. Daljono SH adalah bekas pemimpin Masyumi. Hal ini perlu saja kemukakan untuk menghilangkan salah tafsir bahwa orang-orang Komunis itu mempunyai perasaan dendam, karena itu ide revolusi mereka ditafsirkan sebagai hanja mau bunuh-membunuh saja. Pengertian Komunis tentang revolusi bukannya indentik dengan bunuh-membunuh tetapi revolusi adalah pemindahan kekuasaan dari klas yang menindas ke klas jang tertindas. Sekarang saya mau menjelaskan: POKOK KELIMA: Plebisit untuk Memilih Presiden. Jika kita betul-betul jujur terhadap satu sama lain dan menganalisa keadaan secara tenang lepas dari rasa sentimen, harus diakui bahwa dalam kenyataannya SP 11 Maret 1966 dicapai dengan kudeta yang geruisloos (tanpa sanggahan), sebab sdr. Jenderal Suharto berada dalam overmacht (posisi yang sangat kuat). Saja berpendapat, bahwa SP ll Maret 1966 dapat keluar karena Presiden didatangi oleh tiga Jenderal AngkatanDarat yaitu Jenderal Basuki Rachmad, Jenderal. Amir Machmud, dan Jenderal Jusuf, yang mempunyai dukungan kuat dari Angkatan Darat dan tindakan tiga Jenderal itu tidak mungkin terlepas dari pertemuan duapuluh Februari 1966, atau kalau meminjam istilah sdr. Oditur yth. setidak -tidaknya pada sekitar akhir Februari 1966 di Aula MBAD, yang dihadiri oleh lebih dari 20 perwira. Saya tidak menyebut di sini siapa-siapa saja, yang hadir, tapi kalau betul-betul mau mencari kebenaran, lepas dari segenap sentimen tentunya yang merasa hadir pada pertemuan itu akan dapat datang kehadapan Mahkamah dan dengan terus terang menjelaskan. Selain, penjelasan tersebut di atas perlu saja ketengahkan bahwa saja berpendapat "show of force" l2 Maret 1966 itu sebetulnya mempunyai dua aspek: Pertama: Kalau Presiden Sukarno menolak untuk menandatangani maka akan ada gerakan operasi militer.

Kedua: Kalau Presiden Sukarno menandatangani akan digunakan untuk show of force atau pamer kekuatan sebagai pemenang. Setelah tercapai Surat Perintah 11 Maret, maka berangsur dlakukan usaha-usaha untuk menjatuhkan Presiden Sukarno, dari kedudukannya. Umumnya taktik yang dipakai adalah menyerang PKI dulu setelah itu tujuan sasaran adalah "inner centre" seperti PNI, Partindo, dan penyokong-penyokong Presiden Sukarno lainnya, dan sesudah itu langsung menyerang "centrumnja" jaitu Presiden Sukarno. Motivasi serangan politikdariJenderal beraliran kanan Angkatan Darat terhadap Presiden Sukarno yang dikenal sebagai "trouble-maker" bagi Imperialis Amerika Serikat, ialah untuk "to merry go round", agar secara politik bergandengan tangan dengan Imperialisme Amerika Serikat. Contoh konkrit Indonesia sekarang sudah menjauhkan diri dari perasaan solidaritas dengan negara blok Asia Afrika, misalnya tidak mengatur solidaritas terhadap RPA (Republik Persatuan Arab Pimpinan Jenderal Gammal Abdel Nasser) dalam melawan agresi Israel. Menurut perhitungan sederhana Israel tidak mungkin menyerang R.P.A secara besar-besaran tanpa ada "backbone", tulang punggungnya yaitu kaum Imperialis Amerika dan Inggris terutama Imperialis Amerika Serikat pencipta gerakan "zionisme". Israel baru menjerang R.P.A. setelah konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia. Berhenti. Ini berarti bagi kaum imperalis bahwa keamanan sudah terjamin dan kaum imperialis tidak takut terganggu kedudukannya di Indonesia dan sekitarnya. Sementara itu, kalau pemerintah R.I. masih revolusioner dan anti Imperialis sesuai dengan alinea preamble mukadimah UUD-1945 jang berbunji: "bahwa sesungguhnya kemerdekaaa itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan", maka harus menjadi pelopor dalam mengorganisasi solidaritas A-A untuk "membantu negara-negara Arab mengganyang Israel". Ini kalau mau memurnikan UUD 1945 dalam kata-kata dan perbuatan. Selaku orang revolusioner semestinya harus memukul Imperialis, sebab salah satu ciri dunia sekarang ialah perjuangan sengit antara kaum imperialis dengan gerakan pembebasan nasional secara menyeluruh. Tentunya kita sama-sama ingat bahwa Jenderal bermata satu, Jenderal Dayan dari Israel pernah dijagoi oleh Imperialis Amerika Serikat untuk memimpin pertempuran di Vietnam Selatan dan harapan Imparialis meleset sama sekali, sebab pasukan-pasukan Jenderal bermata satu itu dibikin hancur oleh pasukan Front Nasional Pembebasan Vietnam Selatan.

Jadi kalau kaum revolusioner sedunia ini konsekwen memukul kaum Imperialis, maka kaum revolusioner bisa membikin kaum Imperialis lari mondar mandir kian kemari sehingga capai dijalan, dan menjadi terkencing-kencing sebelum sampai di W.C. Ini jika mau revolusioner "in weerd en daad", dan bukannya revolusioner sebegai "lamis-lamising lambe" atau sebagai "lip-service". Dan untuk aktivis imperialis Amerika saja merasa berkewajiban untuk mengemukakan, bahwa: Bussines Amerika pada saat ini telah merupakan bussines yang internasional sifatnya. Modal A.S. mempunyai kepentingan dan investasi hampir di semua negara di benua-benua di dunia ini, Amerika Serikat mengirimkan hasil-hasil industrinya,, memberikan berbagai macam kredit serta sumbangan, di samping membeli bahan-bahan mentah dari negara-negara tersebut; Bertuk baru penanaman modal AS melalui bank, dan dilakukan oleh bank yaitu Bank of America dan First National City Bank Strategi AS. untuk berekspansi kalau negeri yang bersangkutan tidak mengizinkan, maka dielakkan peraturan jang berlaku dengan jalan membeli saham bank swasta atau lembaga keuangan lainnya". Contoh di Jerman Barat kaum Imperialis Amerika berhasil membeli saham Deutsche Bank Union Frankfurt sampai 55 juta dollar AS Jalan ini ditempuh oleh AS untuk mencegah jangan ada kebencian rakyat terhadapnya, karena usahany a tertutup. Jalan ini jang disabut oleh AS yang paling "workable" dan "profitable". Cara seperti tersebut di atas dibarengi oleh kegiatan CIA, misalnya mendirikan, "American friends of the Middle East" yang membiayai harian "Al Hiwar" yang berpolitik anti RPA, sehingga RPA melarang beredarnya "Al Hiwar", dan pers Kairo terus menerus mengutuk. dominasi Imperialis AS dalam mengeskploitasi perminyakan Arab. Ingat saja sejak tahun 1965 investment AS dalam produksi minyak Arab keuntungannya 50 persen dari penanamannya dalam minyak Eropah Barat "Egyptian Mail" pernah berseru, supaja Rakjat Arab bertekad melawan kartel-kartel minjak asing AS yang berkeras kepala dalam menggaruk keuntungan sebesar-besarnya. Jelaslah bahwa setiap penanaman modal asing mengakibatkan pengerukan keuntungan keuntungan ke luar negeri. Contohnya "Inter American Development Bank" selama 2 tahun telah mengeluarkan kredit 700 juta dollar AS untuk Amerika Latin dalam bukunya, tetapi dalam kenyataannya hanya: a. mengeluarkan 60 juta dollar AS, diantaranya kredit sebanjak 24 juta dollar untuk Equador, hanya dikeluarkan 240 ribu dollar AS. b. Sisanya 600 juta dollar AS, untuk membeli saham AS.

Mengingat pengalaman-pengalaman tersebut di atas saja mengharap kewaspadaan patriot Indonsaia yang cinta-tanah air dan Rakjat Indonesia dan supaya meneliti pemberian kredit sebanyak 295 juta dollar AS kepada Indonesia, Cegah adanya kong kalikong sebagaimana terjadi di Amerika Latin. Untuk membangun Indonesia bantuan kresit tidak mencukup, dan pembiayaan dengan kredit adalah "uang mahal" Juga pembangunan Indonesia pesat bisa ditempuh dengan kenaikan harg dan tarif a yang sengaja ditujukan untuk menghilangkan kejanggalan perimbangan harga-harga dan untuk menekan subsidi Pemerintah. Dan inflasi diatasi dengan memotong uang dalam peredaran yang berakibat depresi dengan menurunkan kegiatan-kegiatan ekonomi, memperluas pengangguran, karena pembangunan berhenti, industri berhenti dan perdagangan menjadi spekulatif, achlirnya pajak diperkeras semuanya ini mengakibatkan harga terus meningkat, daya beli rakyat merosot dan upah sebulan kerja hanya cukup untuk seminggu saja. Rakyat banyak gelisah karena ketidakmampuan pemerintah dalam mencari pemecahan secara tepat di bidang ekonomi dan keuangan yang menguntungkan rakjat banjak, dan teringatlah rakyat pada waktu ada PKI ada yang memperjuangkan nasibnya, tetapi sekarang serba sukar. Kalau mengeluh soal nasibnya di cap setuju dengan "G.30.S, tetapi kalau diam saja bisa mati kelaparan. Akhirnya rakyat yang hidup senen-kemis. Achirnja menyeletuk ORLA [Orde Lama] artinya "Ora Lali Bapak". Demikianlah suara Kampung. Sesudah dengan positif Presiden Sukarno berhasil didongkel, maka apa yang dikatakan oleh kawan Aidit semasa proloog G.30.S. menjadi suatu kenyataan sekarang, yaitu: Pertama: Dewan Jenderal mau mengadakan kudeta, menjadi suatu kenyataan hanya saja geriuschloos (secara diam-diam) sebab imbangan kekuatan menjomplang menguntungkan Jenderal Angkatan Darat yang beraliran kanan; kedua: Dawaan Jenderal tidak anti-imperialis, sekarang menjadi suatu kenyataan dengan diundangnya kembali modal monopoli asing dan dikembalikannya lagi perusahaan-perusahaan Imperialis antara lain Goodyear dan dijadikannya pengkhianat Sumitro sebagai penasehat ekonomi pemerintah; tidak ada pembatasan modal asing buka areal sawah; dan Taiwan mengolah750.000 bal kapas untuk Indonesia; ketiga: Dewan Jenderal tidak anti tuan-tanah sekarang menjadi suatu kenyataan sebab tidak lagi melaksanakan UUPA dan UUPBH, dan kaum tani dilanda pajak antara lain dikenakan penyetoran 10 persen padi; Rakjat kewalahan (keberatan) bayar pajak; wayang golek dipajak Rp.1000, ;

lenong/ tanjidor dipajak Rp.500, ; keempat: Dewan Jenderal anti Nasakom sekarang menjadi kenyataan dengan pembubarakan PKI, tidak oleh Presiden Sukarno tetapi oleh sdr. Jenderal Suharto. Karena menang, maka Dewan Jenderal sebagai kekuatan kanan tidak dikenakan tuduhan konspirasi (samenspanning), tidak malakukan penyerangan (aanslag) dan tidak malakukan pemberontakan (opstand). Ini semuanya menujukkan benarnya teorie Marxisme-Leninisme, yang menyatakan bahwa: Negara adalah alat kekuasaan atau diktatur dari klas yang satu untuk menindak klas lain, dan bentuk konkritnya alat kekuasaan itu adalah ABRI dan Birokrasi ada di tangan siapa. Di Indonesia sekarang ada di tangan para Jenderal beraliran kanan Angkatan Derat dan pengaruh politiknya. Walaupun sesama Jenderal tetapi politiknya kiri pasti ditangkap. Bung Karno tidak boleh mengadakan aktivitas politik adalah politik yang tidak demokratis, sebab Bung Karno adalah seorang politikus tapi dilarang mengadakan aktivitas politik. Apakah demokratis seorang politikal dilarang berpolitik. Akan tetapi secara terang-terangan menyatakan Bung Karno ditahan, tidak berani karena takut rakyat banjak akan marah. Jika betul-betul memihak demokrasi, kekuatan militer sekarang supaya mengadakan plebisit dengan tema: Bung Karno, ya atau tidak. Atau pilih antara Bung Karno dan Jenderal Nasution misalnya. Plebisit tanpa biaya dapat diselenggarakan, yaitu dengan serentak di seluruh Indonesia diadakan pemilihan lurah dengan tema seperti diatas, Sampai sekarang dalam pemilihan umum lurah, rakjat membiayainya sendiri dan tidak ada anggaran dari pemerintah untuk itu. Ini jika mau menempuh jalan demokratis, jangan dengan jalan seperti sekarang ini. Dengan plebisit saya yakin rakyat akan pilih kembali Bung Karno sebagai Presiden. Sungguh suatu tragedi nasional, Bung Karno dijatuhkan oleh MPRS yang sebagian besar angautanya adalah conflicten regoling yang mengatur sengketa antara Presiden dengan MPR belum ada dan sekarang terang ada konflik. Jalan satu-satunya adalah plebisit. Saja teringat pada zaman penjajahan Belanda du1u kita minta "Volksraad" dan "Rood van Indie" diganti dengan "Parlemen" karena baik "Volkraad" maupun "Rood van Indie" tidak dipilih langsung oleh rakjat dan sebagai anggautanya terdiri dari anggota-anggota angkatan Gubermur Jenderal. Dimana letak tragedinya? Tragedinya ialah di zaman penjajahan kita berjuang maju ke Indonesia Berparlemen, tapi setelah merdeka kita mundur ke semacam "Rood van Indie" bahasa Jawanjy "jo kebangeten" atau "keterlaluan".

Saja dan PKI tidak. pernah memberikan gelar ini atau itu kepada Bung Karno, tidak pernah memberikan agung ini, atau agung itu, sebab gelar satu-satunya jang tepat adalah "Bung Karno" sehingga nama Bung Kerno berkembang dari Sukarno (ada kesukaran) ke Bung Karno (artinjy bongkar kesukaran). Sebagai sesama orang revolusioner, justru dalam keadaan sulit separti sekarang inilah saya terus membela dan mempertahankan Bung Karno, sebab sesuatu mengatakan bahwa "in de nood leert men zijn vrien den kennen" (dalam kesulitan kita mengenal kawan) dan "jo sanak, jo kedang, jen mati aku sing kelangan" kata Bung Karno untuk PKI. Sebagai arek Surabaya, saja sambut uluran tangan Bung Karno dengan: "ali-ali nggak ilang, nggak isa lali ambek kancane". (artinya tidak bisa lupa sama kawannya). Kenapa saja bela dan pertahankan Bung Karno? Sebabnya ialah sepanjang sejarahnya Bung Karno konsekwen anti Imperialis sampai berani menyemboyankan "go to hell with your aid" terhadap imperialis Amerika Serikat; Bung Karno setuju mengikis sisa-sisa feodal dengan mengadakan landreform terbatas; dan Bung Karno setia pada persatuan tenaga-tenaga revolusioner. Inilah dasar daripada instruksi saya pada anggota-anggota PKI, untuk masuk dan bentuk "Barisan Sukarno". Dalam kesulitan seperti sekarang ini berlakulah pepatah Pavlov bagi Bung Karno "a discovery begins where an unsuccessful experiment ends" (suatu penemuan mulai pada saat pengalaman yang tidak sukses berhenti). Sekarang saya sampai ke pokok terachir yaitu: POKOK KEENAM: Hidup untuk berjuang, dan berjuang untuk hidup. Sdr. Hakim Ketua yang terhormat, selama saya hidup, saya jumpai bermacam-macam pendirian tentang hidup. Ada sementara orang berpedoman pada pepatah Jerman "Ein Le ben ist ein Spiel", atau "hidup itu adalah suatu sandiwara". Bagi saya, saya tidak sependapat dengan pendapat tersebut, sebab tarasa kelihatannya sebagai sesuatu yang enteng yang ringan, ya asal saja. Artinya menjadi ini boleh, menjadi itu baik, dan semuanya dikerjakan serba main-main tanpa kesungguhan, tanpa kebulatan hati. Tidak saya tidak ingin bersandiwara dalam hidup, maka itu selogan Jerman tadi harus diubah menjadi:

"Ein laben ist nicht ein Spiel, aber en Leben ist ein Streit". Terjemahannya ialah: Hidup bukannya sandiwara, tapi hidup adalah suatu perjuangan". Kita hidup untuk berjuang, dan kita berjuang untuk hidup, Kita hidup bukan sekedar hidup, kita hidup untuk mempertahankan hidup itu dengan keberanian sampai jantung berhenti berdenyut. Sejak manusia dilahirkan mulai dengan rengek baji pertama sampai hembusan nafas terakhir, tak lain merupakan suatu perjuangan. Kadang-kadang menghadapi perjuangan sangat berat menghadapi pertarungan sengit dan pertarungan bisa sengit tapi tidak setiap pertarungan sengit dimahkotai dengan suatu kemenangan. Tujuan hidup, adalah berani mamasuki pertarungan sengit dan sekaligus memenangkan pertarungan sengit itu sendiri. Inilah yang diimpikan oleh setiap pejuang, tak ketinggalan seorang pejuang komunis , Inipun impian saya dalam hidup. Tanpa impian, tanpa cita-cita, hidup menjadi tandus: "What wonder of wonders is the living, is life!" Aijaib bin ajaib dalam kehidupan adalah hidup. Hidup untuk berjuang dan berjuang untuk hidup. Demikian tujuan Komunis-ku. Tujuan itu tak mungkin tercipta tanpa tanggung-jawab. Dan tanggung jawab bagi saya adalah ibarat kata-intan. Bersumber pada kata intan inilah saya sajikan sajak coretan dalam sel tahanan, sebagai berikut: KATA INTAN TANGGUNG JAWAB kuhadapi, razia demi razia, kuhadapi, pemeriksa demi pemeriksa kuhadapi sel siksa-demi sel siksa. kuhadapi, penjara demi penjara dengan kepala dan hati, rela mati bagi PKI, demikian makna kata intan tanggung jawab. Sungguh kilau kegemilapan cahaya, Kata intan tanggung iawab

tapi, kalau diingkari sama dengan insan khianat dan lari menanggalkan itulah laknat sebab, terang tanggung-jawab mengamanatkan tri eka tunggal eka tunggal dalam pikiran, hati dan tujuan Kalau petir menyambar dan mati menghadang, kuhadapi tanggung jawab silih berganti ku tak ingar, ku tak lari apalagi menanggalkan kuhadapi dengan teguh dan tenang sederhana dan rendah hati demi rakyat, PKI dan revolusi demi proletariat sejagad dan PKI, demikian makn a kata intan tanggung jawab. Setelah saya sajikan sajak tersebut, dengan meminjam perkataan penulis Andrew Carve, saya akan menatap pelaksanaan hukuman bagi saya dengan: No tears for Disman - Tiada airmata bagi Disman, sedangkan bagi para petugasnya, saya sampaikan: You had done the world a service - Kalian telah berbuat bakti bagi dunia. Saya adalah seorang Komunis berasal dari Jawa sehingga berkewajiban sesuai dengan kebiasaan Jawa, untuk menyampaikan: Pertama: matur nuwun, terima kasih kepada semua pihak yang telah merasa membantu saya selama berjuang; Kedua: nyuwun gunging pangaksomo, minta seribu maaf, terutama kepada massa progressif revolusioner jang merasa saya rugikan

selama dalam perjuangan; Ketiga: nyuwun pangestu, minta restu terutama pada semua keluarga istri dan anak-anak dalam saya melaksanakan putusan hukuman. Hidup Republik Indonesia! Hidup Partai Komunis Indonesia!

TTD

Sudisman

Posted in Uncategorized | 5 Comments » Sedjarah Hidupku Bag.I December 5th, 2005 by dn-aidit1924 SEDJARAH HIDUPKU (DARI BELITUNG SAMPAI BERKELANA TAK HINGGA)

DISUSUN OLEH

DIPA NUSANTARA AIDIT

I

Saya akan berbagi kisah dengan saudara-saudara tentang pengalaman hidup saya di masa lalu, yang kini memang hanya tinggal sejarah yang bisa saya kenang di masa tua saya, saya tulis cerita dengan ejaan Orde Baru bukan edjaan Suwandi· dimana saya terbiasa menggunakannya, Cerita ini hanya sekedar kenang-kenangan dari seorang tua yang mungkin dapat memberi pelajaran bagi kaum muda agar lebih dapat melihat hidup bukan hanya sekedar di jalani tapi juga di maknai.

Masa Ketjil dan berandjak dewasa Saya dilahirkan di sebuah kota kecil di Pulau belitung bernama Pagar Alang, tahun 1924, ayah saya Abdullah Aidit adalah seorang mantri pengawas hutan, gajinya 60 gulden sebulan. Masyarakat Pulau Belitung mayoritas keturunan Melayu yang notabene memiliki kekentalan dalam menjalani ajaran agama Islam, begitu juga dengan keluarga kami, saya masih ingat bagaimana dulu saya diajari mengeja kata bahasa arab, mengaji, shalat, dan berbagai pembelajaran agama, dan alhamdulillah saat ini ajaran itu berguna sekali buat saya untuk mendekatkan diri pada Allah di masa tua. Seingat saya ayah saya termasuk orang terpandang di kota kami, walaupun hanya menjabat mantri hutan, karena keluwesan bergaul beliau dapat pula beliau mendirikan semacam organisasi Islam, semacam pusat pendidikan namanya Nurul Islam, bahkan pada tahun 1950-an ayah saya diangkat terpilih jadi anggota parlemen dari perwakilan golongan (bukan Masyumi yang selama ini tersebar beritanya). Mengenang masa kecil saya adalah mengenang sebuah keindahan P. belitung, di pulau itu ada perusahaan Timah besar milik pemerintah Hindia Belanda, disanalah kadang-kadang naluri pembelajaran saya tentang perekonomian kapitalis dan sikap kritis terhadap system kapitalis muncul, kebetulan juga kami sekeluarga sangat membenci orang kaya dan ketidak adilan yang ditimbulkan oleh orang kaya. Saya banyak berpikir mengapa dunia ini tidak adil, dimana ada orang bekerja keras tetapi tidak mendapat hasil yang memadai, tetapi ada orang yang hanya duduk-duduk namun bisa menikmati hasilnya, yah melalui , pemerasan atau penindasan manusia atas manusia lainnya eksplotation home par home-lah menurut istilah Bung Karno.Pada saat saya awal

mempelajari ekonomi, yah seperti adik-adik waktu belajar pelajaran pertama ekonomi tentunya diajari tentang nilai lebih dan nilai manfaat, nah nilai-nilai ini ternyata digunakan untuk menindas manusia agar si pemilik modal dapat berleha-leha sementara yang lainnya hidup dalam kesengsaraan. Sewaktu di Belitung tentunya konsep perjuangan saya belumlah jelas, saya hanya baru mempelajari dasar-dasarnya saja. Namun jiwa sosial saya tumbuh dengan pesat, saya rasakan itu, ada semacam keinginan saya untuk membantu rakyat kecil, saya merasa girang jiwa saya bila dekat dengan rakyat yang hidup dengan keringatnya sendiri yang menyimpan air matanya dengan senyum tulus, itulah rakyat yang sesungguhnya yang memiliki hati untuk bicara namun di sekap oleh kekuasaan, yang memiliki hak hidup layak namun di bohongi dan uangnya dicuri juga atas nama kekuasaan, dan kekuasaan itu berkedok dalam topeng kapitalisme dan menurut teori Sukarno kapitalisme adalah siklus terakhir dari kolonialisme. Saya pelajari penderitaan mereka dengan berhari-hari ada di tengah mereka, saya hayati kesengsaraannya, ternyata kesimpulan saya waktu itu adalah bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk maju, mereka dibutakan dengan gagasan-gagasan bohong oleh penguasa, mereka di hancurkan keberaniannya tahap demi tahap sehingga menjadi manusia yang tumpul, bukan manusia yang berani sementara keberanian hanya menjadi hak milik kaum penguasa dan antek-anteknya. Saya pahami betul penderitaan rakyat. Saya masih inget tentang kejadian lucu di P. Belitung tiap bulan kelahiran Ratu Juliana ada semacem pertandingan sepak bola, nah untuk Bantu-bantu ayah saya dalam hal keuangan saya kerap berjualan kerupuk nah kerupuk Belitung ini namanya Kampelang yang artinya kalau bahasa Jakarta Tabok nah, ada seorang yang kalau tidak salah bernama Samsudin, ini sering mengolok-olok saya, dia ciptakan lagu Amat Kampelang Jurok Amat babelang masakan pantat saya di bilang berbelang, marahlah saya, pada saat si Sam ini lewat di depan rumah paman saya Busu (paman) Rahman, kebetulan saya sedang ada disitu, bernyanyilah ia, Amat kampelang jurok amat babelang , kontan saja saya sergap ia, saya loncat jendela dan saya piting kemudian saya gebuki sampai babak belur, kalau tidak ada busu Rahman memisahkan habislah ia. Sejak saat itu saya terkenal jagoan dan ditakuti oleh pemuda-pemuda Belitung, ha .ha. Hal indah yang saya juga kenang adalah kegembiraan saya tiap saya khatam Al Qur an pasti ada pesta kendurian, makan ayam kampung panggang dan kue-kue enak khas Belitung, saya mengenang masa indah saya dulu dengan penuh rasa syukur.

Anak Rantau di Djakarta

Tahun 1930-an akhir saya merantau ke Djakarta, beberapa hari saya tinggal di daerah yang tidak djelas, akhirnja saya bertemu dengan uda Ali dan tinggal bersamanya, Ali ini seorang penjahit ia senang menjahit baju satu di jadikan dua celana pendek, diajarilah aku cara menjahit baju model begituan, Ali dan aku tinggal di daerah sekitar Senen, saya tinggal lajaknja gembel, karena saya tinggal di bedeng-bedeng liar yang tidak ada besluit-nja (ijin), dimana sewaktu-waktu bisa dibongkar, tapi pemerintahan kota Batavia (sekarang Djakarta) tidak sekedjam seperti sekarang ini yang senang main gusur dan bakar perkampungan yang akan digusur, dulu pemerintahan Batavia nampaknya mendiamkan saja adanya bedeng-bedeng liar, Di Djakarta inilah saya sekolah di Sekolah Dagang Menengah.. Suatu senja kalau tidak salah di tahun 1943, saya bertemu dengan Pardjono dan A.M Hanafiah, kebetulan A.M Hanafiah -(kelak menteri penerangan pertama dan Duta besar di Kuba pada saat terdjadinja GESTOK)- adalah sekjen GERINDO, A.M Hanafiah menggantikan Wikana yang katanya terlalu kepala batu , Gerindo adalah sebuah gerakan politik yang dipimpin Bapak Adnan Kapau Gani. A.M Hanafiah, Pardjono dan kawan-kawan seperdjuangannja bermarkas di sebuah rumah di Menteng, no.31, mereka ini merupakan bagian terdepan generasi intelektual muda di Djakarta kelompok mereka sering disebut kelompok menteng 31.

Anak didik Hatta Setelah saya masuk ke asrama Menteng 31, saya aktif melakukan studi-studi politik, pada saat itu mentor-mentor politiek, adalah orang-orang pergerakan senior seperti: Sukarno, Hatta, Sjahrir,AK Gani dll, tapi yang paling aktif mendidik adalah Hatta, sedangkan Sjahrir lebih asyik bermain di gerakan bawah tanah bersama kelompoknya, kabarnya salah satu loyalis Sjahrir, Djohan Sjahruzah membuka tjabang pendidikan kadernja di Djogjakarta, di sebuah daerah bernama Pathuk, kelak kelompok Pathuk ini juga banyak berperanan dalam gerakan kiri Indonesia. Hatta sangat rajin memberikan ilmunya kepada kami. Ia adalah sardjana, seorang doctorandus economiee, lulusan Belanda, sedjak muda Hatta bersemangat memperdjuangkan kemerdekaan Indone sia, di Belanda ia mendjadi bendahara PI (Perhimpoenan Indonesia), pemikiran Hatta sangat dipengaruhi gaya pikir pemikir-pemikir sosialisme, tapi djelas terlihat Hatta sangat tidak menjukai Kominisme, walaupun bagi saya Hatta adalah pemikir Marxist Indonesia yang paling jago. Pada suatu pagi yang indah di akhir tahun 1943, saya sedang duduk -duduk di bangku depan asrama, hanya saya seorang tiba-tiba datang Hatta, entah kenapa ia datang jam 6.00 pagi, saya karena shalat subuh selalu bangun lebih awal dibanding kawan-kawan yang senangnya begadang, Hatta menegur saya dan ia langsung duduk, saya ditanya dimana kawan yang lain, dan saya bilang belum pada bangun. Disinilah hubungan saya dan Hatta mulai dekat. asal kamu dari mana, Mat? tanya

Hatta, Hatta memanggil saya dengan sapaan Amat, sampai tahun 1960-an saat terakhir saya ketemu dia, dia tetap memanggil saya dengan nama Ahmad Bangka Belitung, Pak djawab saya, saya sedjak awal menjapa Hatta itu Pak, djuga pada Bung Karno malah di tahun 1960-an saya menjapa BK itu Paduka, tidak seperti Hanafiah atau Wikana yang menjapa Hatta atau Sukarno itu dengan sapaan Bung. Oooh Bangka yah, timah itu sahut Hatta, aku membalasnya iya, Pak tak lama kemudian keluarlah A.M Hanafiah, rupanya ia belum mandi dan agak kaget melihat Hatta sudah duduk di beranda asrama kami, ia langsung masuk lagi dan mandi, lalu bergegas keluar menemui kami berdua yang sedang asyik ngobrol, disitulah Hatta menguraikan pandangannya tentang ekonomi kalau tidak salah sampai jam makan siang, Hatta pamit pulang. Sedjak kedjadian itu saya sering menemui Hatta, bagi saya Hatta adalah guru utama saya, walaupun kelak kami berseberangan pandangan. Di Asrama Menteng 31 inilah, saya berganti nama depan bukan Ahmad atau Amat lagi, tapi Dipa Nusantara artinya Banteng-nya Nusantara, alasannya sederhana sadja kawan-kawan meminta saya mengganti nama soalnya banyak sekali kawan yang bernama Ahmad daripada bingung mereka suruh saya ganti nama, setelah menulis surat kepada ayah untuk minta idjin saya mengganti nama, dan ayah mengidjinkan maka nama lengkap saya yang baru adalah Dipa Nusantara Aidit jang disingkat DN Aidit.

Hobby Membatja Di Djakarta ini juga saya gandrung dengan pemikiran Sukarno, tiap-tiap pemikirannya saya baca di Koran-koran lokal. Namun pengaruh terbesar saya ada pada Musso dan Alimin tokoh tua PKI yang lari akibat pemberontakannya yang gagal tahun 1926.Saya banyak membaca tentang filsafat Eropa, perkenalan saya dengan filsafat Eropa adalah dari seseorang yang saya inget bernama Samingan, dia orang Solo yang lama tinggal di Semarang dan kemudian merantau ke Djakarta, ia tinggal di daerah Kramat Lontar, pekerdjaanja adalah berdagang buku bekas di Senen. Ia memberikan saya lima buku dalam bahasa Belanda dan Jerman kalau tiada salah buku keluaran antara tahun 1900-1915. Ia memberikan saya buku sebagai hadiah, walaupun Samingan orang yang tidak suka membaca tapi ia sangat menyenangi orang yang gemar membaca dan ia melihat pada diriku. Disitulah saya banyak bergelut dengan positivisme Inggris, tradisi ilmiah Perancis, Historisitas Djerman dan Pragmatisme Amerika Serikat ala John Dewey, kupasan filsafat saya semakin saya asah. Kemudian Samingan mendjadi penyuplai tetap buku-buku bagi saya, djika ada buku bagus, buku itu di simpan dulu olehnja agar saya batja, saya banjak berhutang budi pada Samingan, terakhir perdjumpaan kami di tahun 1961, saya kebetulan datang ke Solo karena ada keperluan Partai

sekalian ke rumah keluarga isteri saya, Samingan tinggal di daerah Kepatihan, rupanya ia aktif mendjadi anggota Muhammadijah, waktu itu akibat provokasi Masjumi, hubungan antara PKI dan Muhammadijah agak renggang, apalagi memang sedjarahnya PKI dan Muhammadijah tidak pernah akur,tapi Samingan menyambutku dengan penuh bangganya, di kenalkannya saya dengan toko h-tokoh Muhammadijah setempat, kawan-kawan Muhammadijah-nya tentu kaget melihat DN Aidit, ketua PKI, gembongnyagembong PKI. Tapi memang orang Solo itu terkenal tidak mau menunjukkan perasaan, mereka menyapaku dengan ramah. Kabarnya akibat Samingan membawa ke kawan-kawannya, ku ia dicurigai PKI susupan, dan di tahun 1965 ia sempat ditjiduk tapi berkat lindungan tokoh Muhammadijah Samingan berhasil dibebaskan dari cengkeraman tentara kanan.

Pergulatan mendjelang Proklamasi

Di Djakarta saya banyak bertemu dengan pemikir-pemikir muda dari beberapa kelompok seperti Soedjatmoko, Sjahruzah, Soedarpo, Adam Malik, Wikana, Suroto, Jusuf Kunto, Soebadio Sastrosatomo, Lukman,AM Hanafiah, Chaerul Saleh dan beberapa tokoh muda dari PETA. Kebetulan saya tinggal di Asrama menteng 31 dimana tempat mangkalnya kelompok-kelompok perlawanan kaum muda. Dari kelompok Sjahrir saya mendengar bahwa Jepang sudah mengalami kekalahan, Sjahrir mendengar beritanya dari radio gelap di gerakan bawah tanah. Kelompok radikal-sosialis pengikut Tan Malaka seperti Sukarni, Chaerul Saleh dan Adam Malik sangat antusias mendengar berita kekalahan Djepang, ada ide dari Chaerul untuk segera memerdekakan Indonesia sebelum Djepang datang, kemudian Sukarni yang kebetulan tinggalnya berdekatan denganku mengajak saya ke tempatnya si Chaerul, di tempat Chaerul ada sekitar 10 orang yang sedang berkumpul diantaranya saya lihat ada Adam Malik dan Buntaran, Chaerul yang Tan Malakais ini berapi-api ingin cepat-cepat melakukakan sebuah revolusi. Saya tanya sama Chaerul Rul kalau kamu mau bikin aksi-aksian lalu apa yang melegitimasi gerakan kamu? Chaerul diam kemudian Sukarni membalas pertanyaan saya Dit, gimana kalo kita jadikan Sukarno sebagai simbol gerakan kita? saya terdiam lalu si kecil Adam Malik melompat dari tempat duduknya dan berseru Setuju pertemuan pun bubar besoknya tanggal 9 Agustus 1945, Chudancho Singgih dari PETA datang ke tempat kami, ia bersama Chudancho Ali dan Chudancho Latief Hendraningrat, di tempat kami Singgih bercerita bahwa PETA dari seluruh Djawa siap menyambut gerakan kami, apabila kami memerintahkan menyerbu tangsi-tangsi militer Djepang detik itu juga akan mereka serbu, disinilah saya sudah lihat bibit ketaatan militer terhadap sipil. Kawan saya Jusuf Kunto mencegah pernyataan Singgih ia ingin ada sebuah gerakan sistematis dan menyimbolkan gerakan kemerdekaan negara yang rapi bukan sekedar perang. Tak lama kemudian Sukarni datang ke tempat kami berikut

petikan dialog antara kami dan kelompok PETA yang masih saya ingat.

Singgih : Seluruh pusat-pusat pelatihan PETA sudah kami adakan semacam koordinasi rahasia apabila Jepang mengalami kekalahan di perang Pasifik, Indonesia jangan sampai mengalami kekosongan kekuasaan.Kita siap perang !!!

Jusuf Kunto : Sabar sabar nggih, kamu siap perang lha rakyat apa sudah terkondisikan akan peperangan yang mungkin saja kejam, nggih .begini Nggih saya ingat pesan dari Tan Malaka agar jangan dulu mengadakan peperangan sebelum ada kepastian akan kekuatan kita, dan saya dengar dari Bung Karno, tanpa perangpun kita bisa menang.

Saya : Saya setuju dengan Singgih tapi juga tidak menolak pendapat Jusuf Kunto ada baiknya kita konsultasikan dengan kawan-kawan yang lainnya.

Tak lama kemudian Sukarni datang.

Sukarni : Tadi Ahmad Subardjo datang menemui saya dia bilang Sukarno tidak setuju kalau kemerdekaan tanpa persetujuan orang-orang dari PPKI dan ex-BPUPKI.

Wikana : Kita culik saja Sukarno dan Hatta, biar mereka mau ikut gerakan kita.

Saya : Lho kok Hatta ikut-ikutan diculik

Wikana : Ya jangan Sukarno saja yang memimpin musti ada pendamping yang orang luar Jawa jadi Hatta cocoklah buat dampingin Sukarno.

Adam Malik : Oke, saya setuju

Sukarni : Gerakan menculik Sukarno Hatta langsung di bawah komando saya, kalo kelompok sosialis Sjahrir mencegah mereka harus kita tahan juga, tapi saya rasa sampai saat ini orang-orang Sjahrir tidak setuju dengan kemerdekaan yang cepet, saya denger dia tidak mau memerdekakan Indonesia sebelum ada kesepakatan internasional antara pemenang perang ya sekutu dengan Belanda secara de jure masih bertjokol di Indonesia.

Saya : Saya pikir kelompok simpatisan Kominis yang di luar negeri akan mendukung gerakan ini, tapi jangan dilupakan gerakan militer akan memancing sikap anti fasis orang-orang Sjahrir, ini harus diwaspadai, sekarang kita mulai

gerak!!!!

Beberapa hari setelah pertemuan di tempat kami, Wikana mengundang seluruh elemen gerakan bawah tanah untuk rapat di laboratorium Bakteriologi, di jalan Pegangsaan deket rumah Bung Karno. Pada saat itu di tengah hingar bingarnya teriakan untuk segera memerdekakan diri, rapat memutuskan untuk mengutus Saya, Jusuf Kunto, Subadio Sastrosatomo dan Suroto untuk menemui Sukarno. Di rumah Bung Karno yang kebetulan ada Hatta, kami mendesak agar mereka berdua mengumumkan kemerdekaan, namun Sukarno menolak bila tidak ada jaminan dari pihak Djepang untuk keamanan. Kami dengan nada marah mengancam Bung Karno jika tidak akan mengumumkan kemerdekaan maka kami akan bertindak tegas terhadap Bung Karno, saya inget Sukarno dengan nada marah menanggapi ancaman kami Ini leher saya, goroklah leher saya dan seretlah ke pojok itu, jangan menunggu besok Bung Karno sangat marah dengan nada sabar Bung Hatta menengahi kami tidak bisa dipaksa, sudahlah jangan terburu-buru kita lihat keadaannya , lalu Bung Hatta menantang kami bila kami sanggup, bikin sadja proklamasi sendiri tanpa melibatkan mereka, tentu saja kami tidak akan mampu melaksanakan manapula percaya dan kenal pada kami,selain pada Sukarno dan Hatta .? Tanggal 16 Agustus 1945, Sukarni, Singgih, Jusuf Kunto dan Moewardi nekat mentjulik Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati dan bayinya Guntur untuk diamankan ke Rengasdengklok, di Rengasdengklok Para pemimpin itu di suruh tinggal di rumah Djiauw Kie Song di bawah pengawasan PETA pimpinan dr.Soetjipto. Mendengar Sukarno diculik marahlah Ahmad Subardjo ia memarahi Wikana dan Chaerul Saleh yang kebetulan di Djakarta,namun yang terpenting tak lama kemudian Laksamana Maeda mengeluarkan statement dan pesan kepada penculik Sukarno dan Hatta, agar mereka membebaskan Sukarno, Maeda menyatakan pihak Djepang tidak akan mengganggu jalannya Proklamasi dan membiarkannya, proses upacara itu. Malamnya Sukarno, Hatta,Fatmawati dan Guntur pulang ke Djakarta, di rumah Laksamana Maeda konsep proklamasi disusun Sayuti Melik suami Sk.Trimurti yang mengetik draft proklamasi. Paginya proklamasi dibacakan, air mata saya sampai saat ini masih berlinang bila mengingat kejadian itu.

II

Revolusi Bersendjata 1945-1949 (Dari Tan Malaka sampai FDR Madiun)

Setelah 17 Agustus 1945, dan penyusunan UUD berhasil diselesaikan, suhu politik semakin panas, saya lihat Sukarno semakin tersudut ke dalam ketidak berdayaan politik, Hatta dan Sjahrir makin pegang peranan berkat pengalaman politik mereka di Luar Negeri, tampaknya Belanda dan pihak USA lebih menyenangi melakukan negosiasi politik dengan Hatta dan Sjahrir yang dinilai moderat, tidak radikal, dan tidak terlalu kental warna Djepangnya apalagi Sjahrir yang bagi sebagian orang Belanda dianggap Pahlawan karena berani melawan Djepang pada saat djaman pendudukan Nippon. Sjahrir membangun kubu sosialis demokratnja perlahan-lahan sedemikian kuatnya, jaringan di luar negeri hebat betul, sampai-sampai sang legenda tua macam Agus Salim-pun tunduk di bawah Sjahrir, kelompok Sjahrir terdiri orang-orang yang pandai dan berpendidikan luar negeri, ada pula seorang muda yang saya perhatikan bernama Soemitro Djojohadikoesoemo, dia anaknya Margono Djojohadikoesoemo, saya nilai Soemitro adalah pemuda yang sedemikian pandainya, ia lebih senior dari saya. Kelak Mitro ini terlibat dalam pemberontakan PRRI/Permesta di tahun 1950-an akhir. Saya inget setelah Proklamasi 1945, pengikut Sjahrir selama dua minggu menolak pernyataan Sukarno-Hatta terhadap Proklamasi 1945, ia menilai tidak selayaknya Indonesia dipimpin oleh orang yang pernah bekerjasama dengan pemerintahan fasis Djepang, Sjahrir dan beberapa tokoh pemuda melakukan perjalanan panjang ke seluruh pulau Djawa, ia ingin melihat pendapat rakyat terhadap Proklamasi 1945, ternyata rakyat mendukung penuh Proklamasi Sukarno-Hatta, dan setelah balik ke Djakarta otak Sjahrir berubah, ia berbalik mendukung Sukarno.Dan sejak 1945 sampai revolusi bersenjata selesai tahun 1949 akhir, Sjahrir adalah orang paling loyal terhadap kepemimpinan Sukarno, tidak demikiannya dengan Tan Malaka, kabarnya Tan Malaka sempat mendatangi Sjahrir dan meminta Sjahrir bergabung ke dalam gerakan Tan Malaka untuk menggulingkan Sukarno -Hatta dan mendirikan sebuah negara sosialis berhaluan kiri-moderat, Sjahrir menolak tawaran Tan Malaka malah ia menganjurkan bila Tan Malaka ingin menyaingi kepopuleran Sukarno Tan Malaka harus banyak melihat kenyataan Objektif bangsa Indonesia dan jiwa bangsa Indonesia, saat ini Kata Sjahrir Rakyat mencintai Bung Karno dengan sepenuh jiwanya Tan Malaka tidak menuruti saja kata Sjahrir, ada sebuah kejadian yang menguatkan Tan Malaka mendapat angin yaitu ada semacam isu bahwa Sukarno-Hatta membuat surat wasiat,

bahwa bila dalam perjuangan revolusi dua orang ini gugur maka yang menggantikannya adalah : Tan Malaka (Kelompok Sosialis Radikal-Kiri), Sjahrir (Kelompok Sosial-Demokrat), Iwa Koesoemasoemantri (Kelompok Islam), Wongsonegoro (Birokrat dan elite ningrat Djawa), nah Sukarno ini menulis surat wasiat tersebut dan memerintahkan kepada Ahmad Subardjo untuk membagikannya kepada orang yang bersangkutan, kebetulan Ahmad Subardjo tidak membagikan surat itu kepada tiga orang dan hanya Tan Malaka yang menerimanya, kontan sadja ini membuat kelompok Tan Malaka diatas angin ia berkeliling kemana-mana untuk menyebarkan surat wasiat itu , hal ini biar seakan-akan rakyat tahu bahwa pengganti sah Sukarno dan Hatta bila terjadi sesuatu adalah Tan Malaka, tentu saja kelompok loyalis Sukarno curiga terhadap perbuatan Tan Malaka, mereka mengira sayap militer Tan Malaka akan membunuh Sukarno dan Hatta, atas pertimbangan itulah Sukarno pindah ke Jogjakarta, jadi selama ini sedjarah melihat bahwa kepindahan Sukarno dan Hatta Ke Jogja sekaligus mendjadikan Jogja sebagai ibukota adalah karena menghindari penangkapan oleh tentara NICA, tetapi saya melihatnya ini agar Sukarno dan Hatta menghindar bahaya dari serangan kelompok Tan Malaka yang memang sudah sangat kuat di Djakarta, Jogja menurut Sukarno merupakan basis pendukungnya, memang pendukung inti Sukarno adalah Djawa yang memiliki basis budaya Mataraman (mulai dari Cirebon sampai Surabaya). Seiring menguatnya kelompok Tan Malaka, kelompok kominis orthodox yang pernah melarikan diri ke luar negeri mulai berdatangan, dibebaskannya Amir Sjarifuddien dari tahanan Djepang djuga menambah pembedaharaan pejuang kiri yang terlibat dalam kancah revolusi,Di tahun 1948 Musso dan Alimin dua dedengkot pemberontakan PKI di tahun 1926 kembali ke Djakarta setelah berkelana ke negara-negara Eropa, para ex-Digulis djuga mulai aktif berpolitik, namun saya melihat bahwa kharisma Tan Malaka bagi pejuang kominis tua mengalahkan kharisma Musso dan Alimin, saya kataken Musso sangat salah dalam memperdjuangkan PKI dialah titik lemah PKI di jaman Belanda dan Revolusi, saya sering berangan-angan andai saja symbol kominisme itu Sukarno tentu PKI akan berjaya tapi ini Musso yang dari raut wajah yang kurang menarik bila dibandingkan Bung Karno, cara bicara dan kenaifannya dalam berstrategi merupakan kesalahan besar PKI, sementara saya masih sangat muda pada waktu itu, masih 22 tahun, belumlah saya ini di perhitungkan oleh kawan-kawan Kominisme, apalagi datang pula Tan Ling Djie tokoh tua peranakan Cina, memimpin unsur PKI dalam kesatuan Sosialisme, Tan Ling Djie terlalu penakut untuk berdjuang sendjata, sementara Musso sangat tolol dalam berstrategi, kamerad-kamerad tua yang memang harus dilindas sedjarah. Dalam revolusi inilah saya djuga berdjumpa dengan Tanti, jang kelak akan mendjadi istri saya, saya mencintai Tanti sepenuh hati saya, dia mati dalam penjara Orde Baru yang kejam tanpa proses peradilan.

Kedjadian paling penting dalam karir politik saya di djaman revolusi tentunya adalah peristiwa FDR (Front Demokrasi Rakyat) kesalahan politik Musso yang paling konyol, peristiwa itu sebenarnya adalah perselisihan kecil antara kelompok tentara Kantong (Divisi Siliwangi yang hijrah ke Djawa tengah akibat persetujuan Renville) dengan tentara-tentara pendukung Djenderal Sudirman dan Lasjkar rakyat. Bulan Juni 1947, kabinet Amir Sjarifuddien ditawari berunding oleh KTN (Komisi Tiga Negara) : Australia, Amerika Serikat dan Belgia, saya lihat ini KTN yang di tengahi Amerika Serikat, lebih merupakan misi tersembunyi dari AS untuk membendung Kominisme, apalagi intelijen AS sudah melihat bahwa Uni Soviet akan mengarahkan kekuatan pengaruhnya ke Asia Tenggara. Apalagi perkembangan di Tiongkok yang mengarah kemenangan orang-orang Kominis dari Henan pimpinan Mao Tse Tung yang sudah menguasai 70% kota-kota di daratan Cina dan memukul mundur Kuo Min Tang pimpinan Tjiang K ai Sek. Hitung-hitungannya adalah apabila Republik Indonesia pimpinan Sukarno-Hatta berhasil digulingkan oleh Belanda, maka potensial yang akan memusuhi Belanda adalah orang-orang dari sayap kiri garis keras, apalagi kabar mulai tersingkirnya kelompok Tan Malaka oleh orang-orang Kominis Orthodox ya macam saya ini. Nah AS melihat kekuatan PKI potensi jadi terbesar ketiga di dunia, setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Amerika Serikat masih melihat pengaruh Sukarno dapat membendung kekuatan Kominis di Indonesia, dimana ide-ide nasionalisme mau tidak mau bertentangan dengan prinsip internasionale Kominis. Kalau tiada salah bulan Februari 1948 Amir Sjafruddien menandatangani persetujuan antara RI dengan Belanda di Kapal perang AS yang bersandar di tanjung Priok yang bernama USS Renville, walaupun sebelum persetujuan ditandatangani Amir sudah memasukkan unsur Masyumi ke dalam kabinetnya dengan memberi lima jatah kursi di kabinet tapi setelah melihat kekecewaan tentara terhadap persetujuan renville Masyumi menarik dari struktur kabinet Amir Sjafruddien, tak lama kemudian Sutan Sjahrir menarik diri dari keanggotaan Partai Sosialis di bawah pimpinan Amir Sjafruddien dan mendirikan partai baru bernama Partai Sosialisme Indonesia (PSI), puncaknya ketika PNI menyatakan mosi tidak percaya kepada Kabinet Amir Sjarifuddien, maka mau tidak mau Amir meletakkan jabatan Perdana Menteri dan membubarken kabinetnya. Sukarno lalu memutuskan Hatta untuk diangkat jadi Perdana Menteri dan memerintahkan segera membentuk kabinet, Masyumi, PSI dan PNI bersatu di belakang Hatta, kecuali Partai Sosialis pimpinan Amir Sjarifuddien dan golongan kiri lainnya menyatakan oposisi pada kabinet Hatta.Amir Sjarifuddien akhirnya bertemu dengan kelompok kiri yang menentang Tan Malaka dan Sjahrir untuk bergabung mendjadi satu kekuatan besar, mereka menjebut Hatta, Tan Malaka dan Sjahrir adalah pengkhianat kaum kiri. Untuk membentuk front bersatu, maka dibentuklah Front Demokrasi Rakyat (FDR), terpilih Musso sebagai ketuanya, dedengkot PKI yang baru sadja pulang dari Moskow. Musso ini sangat dekat dengan Joseph Stalin, bersama Semaun ia adalah

anggota dari Komintern (kominis internasional), tatkala PKI angkat sendjata di tahun 1927 melawan pemerintahan Hindia Belanda, Stalin mengirim telegram untuk melarang pemberontakan tersebut, Stalin khawatir pergolakan di Hindia Belanda akan memancing Inggris dan Amerika Serikat turut campur, sedangkan Stalin sendiri masih repot menyingkirkan orang-orang Lenin dan Trotsky di pusat pemerintahannya dan gencar melakukan politik Lenin yang sedikit borjuis ke industrialisasi berbasiskan kominisme, tapi sayang telegram yang di kawatkan Stalin terlambat sampai ke tangan Semaun maka terjadilah pemberontakan PKI terhadap Belanda di Sumatera Barat dan beberapa daerah di Jawa Barat.

Ada sebuah keputusan presiden yang sudah ditandatangani pada bulan Februari tahun 1948, yaitu mulai dilakukannya reorganisasi dan restrukturisasi (ReRa) Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sukarno memerintahkan Hatta melakukankan agenda ini, di bawah kabinet Hatta ReRa menjadi program kerja yang utama, dan Menteri Pertahanannya pada waktu itu adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Dukungan paling kuat dari pihak TNI terhadap Hatta adalah dari pasukan Siliwangi dibawah komando AH Nasution, perwira jebolan KNIL. Pada saat itu seingat saya TNI terpecah jadi tiga kelompok walaupun perpecahannya tidak kentara, Kelompok luar Jawa dan perwira-perwira KNIL lebih memihak kepada AH Nasution, TNI orang-orang Jawa Tengah dan Timur lebih condong kepada Jenderal Sudirman dan TNI masyarakat seperti FDR, Hizbullah, Pesindo dll. Pada saat dilakukan ReRa tentulah yang banyak diuntungkan adalah orang -orangnya Nasution yang memang sudah tentara professional sejak jaman belum merdeka, sementara yang paling dirugikan adalah TNI Masyarakat, sedangkan kelopok Jenderal Sudirman walaupun bersikap netral mereka agak memihak kepada TNI Masyarakat. Kedatangan tentara-tentara kantong ke wilayah RI di Jawa Tengah dan Timur bagian Barat, menyebabkan timbulnya perselisihan dilapangan bermula dari tewasnya Kolonel Sutarto komandan divisi IV Panembahan Senopati ditembak sekelompok orang yang dicurigai Tentara Siliwangi, membangkitkan amarah kelompok TNI asli Jawa Tengah.

· Saya minta maaf bila saya banjak salah ketik, saya kerap menggunakan edjaan Suwandi ( sic!)bukan EYD versi Orde baru, hal ini karena kebiasaan saya sadja, sengadja saya tidak koreksi karena memang tidak begitu penting.

Posted in Uncategorized | 1 Comment » Sedjarah Hidup Aidit bag.IIA December 5th, 2005 by dn-aidit1924 Penculikan dan pembunuhan itu memancing tentara kelompok Jawa Tengah mengambil tindakan dengan membalas ke orang-orang Siliwangi, penyerbuan-penyerbuan ke markas-markas tentara Siliwangi tidak dapat di hindari, kontak senjata sering terjadi di jalan-jalan Kota Solo. Pada saat itu saya berada di Solo, lupalah urusan apa, tapi yang jelas saya bersama Pak AK Gani dan Letnan Kolonel Suharto (kelak orang ini berpangkat mayor Djenderal, ia pelaku utama penghantjuran PKI tahun 1965-1966) dari Jogjakarta. Mas Harto yang asli Jogja sangat mengerti seluk beluk kota Solo, membawa saya ke temannya yang saya lupa namanya, markasnya ada di dekat Pasar Gede Solo, disana Mas Harto, saya, Pak Gani, dan teman Mas Harto mendengarkan laporan dari orang bernama Letnan Sudarjono, ia mengatakan Kota Solo hampir sepenuhnya dikuasai oleh orang-orang Siliwangi. Tak lama kemudian Suharto kembali ke Jogjakarta dan saya pun kembali ke Djakarta. Saya ingat pula sebelum ke Solo saya menghadiri konferensi Partai Komunis Indonesia yang mengeluarkan sebuah resolusi bernama Djalan Baru resolusi ini menghendaki diselesaikannya dengan cepat demokrasi borjuis, kaum Kominis sadar bahwa tiadalah mampu kominis menyelesaikan revolusi sendirian tanpa bantuan dari pihak-pihak yah .katakanlah Borjuis kanan. Disitu saya diminta oleh kelompok kiri sayap PKI untuk menjadi ketua seksi Buruh walaupun sedari awal saya menolak jabatan itu, tapi saya pikir bolehlah. Tiba-tiba peristiwa Madiun meletus, saat itu saya ada di Djakarta (tidak benar dikatakan saya

berada di Madiun seperti cerita banyak orang), berita gegernya Madiun saya dengar dari Mas Djamin Amiseno dan Pak Djajeng, pak Djajeng yang ex-Digulis mengatakan pada saya kalau Musso sudah bertindak sembrono dan ngawur, Musso menyerang kebijakan dan cara -cara peyelesaian militer kabinet Hatta, tapi yang diserang malah Bung Karno, Musso bahkan berteriak-teriak kalau Sukarno itu antek Djepang. lha piye tho mas dit, lha Musso kok ditandingkan dengan Bung Karno, lha kalau di adu ya, djelas kalah, Bung Karno itu punden-nya wong Jawa, lha Musso kok ujug-ujug dari Moskow tarung sama Bung Karno, wis tho ini bakal merugikan PKI kata Pak Djajeng, saya masih ingat Pak Djajeng mengucapkan itu dengan geram. Kalau tiada salah pagi entah 25 apa 26 September saya didatangi oleh Harjono Maskoem, tokoh pemuda dari FDR tjabang Banten dia bilang FDR Banten menolak gerakan Musso, kontan saya marahi dia, bagisaya kalah atau menang bila kita satu ideology dan cita-cita djangan sekali-kali kita tinggalkan kawan sendirian bertarung. Sebentar sadja sayap FDR militer menguasai Madiun, lalu mereka dikalahkan oleh pasukan Siliwangi dan pasukan Djawa Tengah yang setia pada Bung Karno, seingat saya FDR sempat menguasai total Madiun, kalau tiada salah Walikota Madiun sedang sakit yang ada wakil walikotanya, gerakan Madiun jelas tidak mendapatkan dukungan rakyat, apalagi Bung Karno berpidato yang isinya memihak kepada kebijakan kabinet Hatta, mengecam Musso dan menuduh gerakan Musso/ FDR merupakan sinyalemen akan dibentuknya negara Sovyet di Indonesia. Pasukan Siliwangi yang ditugaskan menyerang FDR dengan mudah menaklukkan pasukan yang kurang berpengalaman itu, perlawanan terakhir ada di daerah Maospati, sekitar 1500 tentara FDR bertempur dengan ribuan pasukan Siliwangi, tapi FDR kalah telak. Kekalahan FDR disusul oleh penangkapan gembong-gembong FDR. Hatta mengambil kebijakan untuk menahan semua pasukan yang terlibattanpa adanya toleransi pengampunan politik.Banyak tentara-tentara yang memihak FDR di penjara oleh pihak TNI. Penjara militer penuh sesak, bahkan ada kebijakan dari TNI beberapa penjara diledakkan sehingga orang-orang FDR tewas. Kebijakan ini diambil katanya untuk menghindari pembalasan dendam orang FDR jika Belanda melakukan agresi, maka dipekirakan Belanda akan membebaskan orang -orang FDR, dan TNI tentu akan bertarung lagi dengan orang-orang FDR. Sukarno sendiri sudah memberi pengampunan politik bagi kelompok pemberontak FDR namun tampaknya Hatta enggan untuk membebaskan orang-orang FDR. Gubernur Milter Kolonel Gatot Subroto, orang yang ditunjuk Sukarno mendjadi orang yang bertanggung djawab terhadap keamanan Djawa dengan senang hati mendjalankan keingina Hatta itu. n Nasib Pak Musso

Pak Musso, tokoh PKI pedjuang pergerakan di tahun 20-an jang bernasib buruk itu, kabur dari markasnja setelah pasukan Siliwangi pimpinan Letnan Kolonel Sadikin masuk kota Madiun, Pak Musso kabur ditemani Mas Djumino dan Agil Atjo, mereka lari ke arah kota Ponorogo, disitu ia bertemu dengan Remang, seorang warok yang paling ditakuti di kota Ponorogo, Remang yang mendukung gerakan FDR menolak memberikan bantuan kepada Pak Musso karena keluarganya sendiri akan terancam oleh pihak TNI yang memang sudah mengawasinya, akhirnya Remang menyarankan untuk bertemu dengan Hasjim Geplak seorang kusir delman di Ponorogo, Hasjim ini walaupun rakjat ketjil namun sangat berani, ia memberikan tempat kepada tiga orang pelarian dari Madiun tempat tinggal di belakang rumahnya dan memberikan sebuah delman tua, akhirnja Pak Musso menjamar sebagai kusir delman, sementara Mas Djumino dan Agil Atjo diperintahkan Musso menudju Djakarta untuk menemui saya dan Lukman. Tapi sayang di daerah Tegal Mas Djumino dan Agil Atjo tertangkap oleh pasukan Siliwangi, tjelakanja si Agil Atjo membawa-bawa bendera PKI dan beberapa dokumen FDR, Agil Atjo ditembak mati dan kabar Mas Djumino sampai sekarang masih sangat gelap. Pak Musso jang masih tinggal di Ponorogo dan menjamar djadi kusir Delman mangkal di pasar Ponorogo, tapi pada suatu saat ada seorang anggota GRR (Gerakan Ravolusi Rakjat) bernama Amin, jang mengenali wajah Pak Musso, diam-diam Amin menjelidiki keberadaan Pak Musso setelah djelas rutinitas Pak Musso, Amin akhirnja melapor ke Letnan Dul Masduki, tapi untung Letnan Dul Masduki ada di pihak Pak Musso, Letnan Dul Masduki rupanja simpatisan FDR, laporan Amin didiamkan sadja. Beberapa hari kemudian datanglah pasukan Kapten Jusuf Idham dari Siliwangi ke Madiun tujuannya adalah menangkapi para warok jang terlibat peristiwa Madiun. Si Amin ini kemudian bertjerita bahwa ia melihat orang jang persis sekali dengan wadjah Pak Musso, akhirnja laporan ini di tindak landjuti oleh Kapten Jusuf, tak lama kemudian pada tanggal 30 Oktober 1948 Pak Musso ditangkap dan ditembak mati.

Penangkapan besar-besaran kelompok FDR Kabar Belanda akan melantjarkan agresinja ternyata benar-benar terdjadi, di tengah situasi darurat kabinet Hatta bersidang membahas kemungkinan yang terdjadi bila Belanda menyerang Indonesia, salah satu pembahasan yang paling utama adalah menyangkut berita bekas pasukan FDR baik yang lolos ataupun yang ditawan akan melakukan tindakan balas dendam, informasi ini di dapat dari Kolonel Gatot Subroto yang disampaikan kepada Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, unsur Masjumi dalam kabinet Hatta mendesak agar semua tawanan yang berpotensi memimpin perlawanan terhadap pemerintahan yang sah tidak usah dibebaskan bahkan di tembak mati sadja, tapi unsur PNI menolak termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX, bahkan Sultan

berkeyakinan FDR merupakan kader potensial yang masih dapat dibina, akhirnya Hatta mengambil keputusan untuk melakukan voting terhadap nasib tawanan FDR. Voting di hadiri 12 Menteri, 4 Menteri menyetujui tawanan FDR di tembak mati, 4 Menteri menolak tawanan FDR di tembak mati dan setuju untuk di bebaskan dan 4 lainnya lagi dalam posisi abstain. Mendengar adanya jalan buntu terhadap nasib tawanan FDR, Sukarno mem-veto kebijakan kabinet Hatta, ia menolak usul di tembak matinya tawanan FDR, tapi tetap di tawan dulu. Geram atas Sukarno yang lembek terhadap FDR, diam-diam Kolonel Gatot Subroto mengambil tindakan sepihak untuk menembak mati tokoh-tokoh penting FDR, saya tidak tahu apakah Hatta terlibat dalam hal ini. Yang jelas Kolonel Gatot Subroto membawa tawanan ke desa Ngaliyan, Kelurahan Lalung, Kabupaten Karanganyar, Karesidenan Surakarta. Disana Kolonel berbadan tambun, berjenggot dan berkumis tebal itu memerintahkan penduduk desa membu at lubang besar, dan akan digunakan sebagai liang lahat para tawanan FDR. Tokoh-tokoh FDR yang dibawa adalah: Amir Sjarifoeddin (mantan Perdana Menteri/Ketua Partai Sosialis), Maroeto Daroesman(ex-Digulis/Mantan ketua pemuda PKI tahun 1924), Soeripno (anggota PKI), Oei Gee Hwat (mantan redaktur Harian Sin Tit Po/guru Sekolah PTI), Sardjono, Sukarno, Djoko Sujono, Katamhadi, Ronomarsono dan D. Mangku. Amir Sjarifoeddien terus mendekap injil, dan sebelum di tembak mati ia sempat berpidato kemudian regu tembak meng-eksekusinya, sedangkan semua tawanan lain langsung ditembak mati, mereka di kuburkan dalam satu liang lahat.Berita yang saya terima selain di tembak matinya pimpinan-pimpinan FDR, ada sekitar 8.000 orang tewas akibat penangkapan dan penyiksaan, 14.000 lainnya sempat di tawan, saya pikir peristiwa FDR sungguh merugikan gerakan PKI ke depan.

Sikap saya terhadap Peristiwa Madiun[1] Peristiwa Madiun bagi saja merupakan ketjelakaan politik PKI jang akibatnja sangat luar biasa. Berikut pokok pemikiran saya terhadap peristiwa Madiun berikut pendjelasan saya setjara detil, yang saya rangkum dari dokumentasi milik Agitrop PKI djuga pidato saya di bulan februari 1958 (pada lampiran kedua):

Lampiran Satu

Pada tanggal 27 Juni 1947 Kabinet Sjahrir jatuh. Sebagal ganti kabinet Sjahrir, pada tanggal 3 Juli 1947 terbentuk kabinet Amir Sjarifudin yang terdiri dari 11 orang Sayap Kiri, 7 orang dari PNI dan 8 orang dan PSII.

Masyumi yang semula ikut duduk dalama kabinet Sjahrir, dalam kabinet Amir ini Masyumi menolak untuk ikut duduk. Tetapi PSII sebagai anggota Masyumi telah mengambil keputusan sendiri untuk ikut duduk dalam kabinet bersama dengan PM dan Sayap Kiri. Juga tak seorangpun dari grup Sjahrir dalam Partai Sosialis yang ikut duduk dalam kabinet Kabinet Amir melanjutkan perundingan dengan Belanda, yang telah dirintis oleh kabinet Syahrir, dengan tetap mempertahankan kehadiran negara RI, tetap mempertahanakan pengakuan berbagal negara terhadap RI dan tetap menolak gendarmeri bersama RI-Belanda. Hal-hal ini yang menjadikan perundingan antara RI-Belanda tidak lancar dan hambatan utamanya yalah masalah gendameri bersama. Tanggal 15 Juli van Mook mengultimatum supaya RI me narik mundur pasukannya sejauh 10 km. dari garis demarkasi. RI menolak ultimatum Belanda ini. Tanggal 21 Juli 1947 dilancarkan agresi militer terhadap Republik dengan maksud samasekali menghancurkan Republik. Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15 Agustus 1947 Belanda mengakhiri agresinya. Belanda berhasil merebut daerah ekonomi yang sangat pen ting dari Republik, seperti: minyak, perkebunan, tambang, kota pelabuhan. Tak kebetulan bahwa agresi Belanda ini menggunakan kode "Operatie Product". Setelah gencatan senjata dipulihkan kembali perundingan RI- Belanda di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara yang terdiri dan Australia, Belgia dan Amerika. Dari fihak Republik, PM Amir bertindak sebagai ketua delegasi. Sementara itu van Mook, pada tanggal 29 Agustus 1947, secara sefihak telah menggeser garis demarkasi yang sangat menguntungkan fihak Belanda dari segi perluasan daerah. Beberapa bulan kemudian (11 November 1947) akhirya Masyumi mau masuk kabinet dengan mendapat empat buah kursi. Dari perundingan RI-Belanda, di atas kapal Amerika yang bernama Renville, pada tanggal 17 Januari 1948 telah ditandatangani Persetujuan Renville. Dalam Persetujuan Renville tercantum antara lain fasal yang menyatakan, bahwa RI harus menarik semua pasukan yang berasa di kantong-kantong yang terdapat di belakang garis demarkasi hasll ciptaan van Mook dan harus dimasukkan ke daaerah Republik. PNI dan Masyumi yang semula ikut mendukung perundingan Renville dan ikut berunding sebagai anggota delegasi, menjelang penandatanganan perun- dingan menyatakan menarik diri dari delegasi dan kabinet, dan setelah penandatanganan PNI menarik dukungan terhadap persetujuan Renville. Dengan demikian kabinet Amir kehilangan dukungan dua partai besar dan pada tanggal 23

Januari 1948 kabinet Amir mengundurkan diri. Mengenai tindakan Masyumi dan PNI terhadap penandatanganan Renville Sumarsono berpendapat, bahwa oposisi yang dilakukan kedua partai itu adalah hanya suatu cara untuk mengeluarkan Sayap Kiri dan pemerintahan. Pada tanggal 29 Januari 1948 Hatta naik panggung kekuasaan dimana ikut duduk PNI dan Masyumi, dengan Hatta sebagai PM merangkap menteri pertahanan dan Sukiman sebagai menteri dalam negeri. Program kabinet Hatta antara lain yalah: berunding dengan Belanda atas dasar persetujuan Renville dan rasionalisasi. Sampai saat diadakannya reorganisasi dan rasionalisasi (re-ra) oleh PM Hatta, di antara laskar-laskar perjuangan yang ada, maka Pesindo merupakan laskar bersenjata yang terkuat Jumlah pasukannya terbesar, disiplinnya yang paling baik dan persenjataannya terlengkap. Kesatuannya tersebar di setiap kabupate n JaTim dan JaTeng, beberapa kabupaten di JaBar dan malahan sampai ke SumUt. Kekuatan laskar bersenjata Pesindo, kalau tidak dapat dikatakan melebihi, maka paling sedikit sama dengan TRI, tentara Pemerintah. Pada tanggal 3 Juli 1946, Tan malaka beserta orang-orangnya melakukan kup terhadap pemerintahan Sjalrrir. Kup ini dilancar kan oleh Divisi III/Sudarsono, yang berteritorium Yogyakarta. Letnan Kolonel Suharto, komandan resimen Yogyakarta (Wehrkreise X), diperintahkan oleh Presiden Sukarno, gagal. Malah Sjahrir diculik oleh golongan kup. Karena Suharto gagal dalam menangkap Tan Malaka, maka bergeraklah pasukan dari kesatuan- kesatuan Pesindo JaTim dan berhasil membebaskan Sjahrir. Dengan berhasilnya kesataan Pesindo menggagalkan kup Tan Malaka ini maka prestise Pesindo menjadi sangat tinggi di kalangan laskar bersenjata. Dari kesatuan-kesatuan Pesindo yang ada maka kesatuan Divisi Surabaya (JaTim) adalah yang terkuat. Perbandingan antara bedil dan orang adalah satu banding empat (di dalam divisi Nasution/JaBar, pada waktu itu, hanya terdapat seratus pucuk senjata). Dengan demikian kekuatan tempur riel (artinya; satu orang dengan satil bedil) adalah kurang lebih satu resimen (=3 batal yon = 3×800 orang) denagan Overste (letKoI) Sidik Arselan sebagai komandan. Setelah re-ra, kesatuan mi menjadi Be (Brigade) 29 dengan Overste Moliammad (Aldimad) Dablan sebagai komandan, yang belakangan menjadi tulangpunggung dalam Perlawanan Madiun. Untuk menentukan garis barunya, Sayap Kiri pada tanggal 26 Februari 1948 mengadakan kongres di Solo. Kongres memu tuskan untuk membentuk Front Demokrasi Rakyat

(FDR). Setelah kongres cabang-cabang FDR segera terbentuk di kota-kota kabupaten seluruh daerah Republik, terutama di JaTim dan Jateng. FDR beranggotakan, pada pokoknya, sama dengan keanggotaan Sayap Kiri. Setelah terbentuknya FDR ini, dalam pidato-pidato pimpinan FDR (Amir, Maruto Darusman, Setiadjid dan yang lain-lain) di berbagai tempat, sasaran serangan hanya ditujukan kepada Masyumi, terutama terhadap Sukirnan se bagai menteri dalam negeri. Sedangkan masalah yang diangkat adalah soal berbagai macam pajak. FDR mengandalkan kekuatannya pertama, pada kaum buruh yang tergabung dalam SOBSI dan ini memang cukup besar jumlahnya dan kedua, pada kekuatan bersenjata yang dimilikinya. Kekuatan bersenjata yang diandalkan ini terutama laskar bersenjata Pesindo dan di samping itu FDR masih dapat memperhitungkan simpati-simpati sejumlah besar perwira yang mempunyai kedudukan kunci di dalam TNI (tentara resmi Pemerintah) dan TNI-Masyarakat terhadap FDR. Dengan terbentuknya Sekretariat yang baru dari FDR maka tenaga Sekretariat kebanyakan diisi oleh tenaga muda, antara lain seperti Sudisman, Aidit, Njoto dan Lukman yang belakangan dipindah ke majalah Bintang Merah. Sebagai ilustrasi, dapat dikatakan di sini, bahwa kesatuan empat serangkai Aidit-Lukman- Njoto-Sudisman telah terbentuk sejak masa Sekretariat FDR ini. Belakangan, mereka berempat beserta sejumlah orang muda yang lain menyebut dirinya "kekuatan baru" atau "generasi baru". Sejak Republik baru berdiri grup Tan Malaka selalu bertindak sebagai fihak oposisi terhadap Pemerintah, di samping sebagai grup anti-Komunis. Dalam menghadapi kabinet Hatta, grup Tan Malaka bersikap mendukung pemerintah Hatta dan bergabung dalam Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) yang didirikan pada tanggal 6 Juni 1948. Karena grup Tan Malaka mendukung kabinet Hatta, maka sebagal hadiah semua tahanan kup 3 Juli, yang semuanya adalah pendukung Tan Malaka, termasuk Tan Malaka sendiri, dibebaskan oleh Hatta dengan alasan pengadilan tiada bukti. Banyak anggota FDR yang merasa kecewa terhadap persetu juan Renville, penarikan TNI dari kantong-kantong dan di atas semuanya adalah pengunduran diri Kabinet Amir, yang dipandan merupakan Iangkah yang salah. Tetapikarena, di muka mata angggota maupun pimpinan FDR, otoritas Amir Sjanfudin sangat tinggi maka semua kesalahan bukan ditimpakan kepada Amir. Kesalahan ditimpakan kepada policy maker , yaitu lingkaran dalam Amir dari Dewan-Partai Partai Sosialis yang sebagian anggotanya berasal dari Politbiro CCPKI-ilegal yang dipimpin oleh Tan Ling Djie.

Dalam situasi Sayap Kiri, dan selanjutnya FDR, sedang diselimuti oleh pertentangan intern yang menyangkut masalah pokok revoIusi yang belum dapat terselesaikan dan sebagian anggota maupun pimpinan FDR terkena kekecewaan, maka pada tanggal 11 Agustus datanglah Muso. Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok berhasil terus meng giring pasukan Chiang Kai shek menuju ke selatan. Pasukan Vietminh, di bawah pimpinan Partai Bur Vietnam, telah setahun berhasil mempertahankan perjuangan bersenjatanya melawan agresor Perancis. Kaum gerilya Hukbalahap di Filipina, yang berpusat di Luzon Tengah, telah memperluas operasinya. Di Malaya, di samping kaum buruh melakukan pemogokan besar- besaran, pada bulan Juni 1948 Partai Komunis Malaya melancarkan pemberontakan bersenjata melawan penjajah Inggris. PK Birma yang dipimpin oleh Thakin Than Tim, menolak persetujuan perjajian Inggris-Birma yang ditandatangani oleh U Nu pada bulan Januari 1948; oleh Thakin Than Tim bersama Partainya, pemerintah U Nu disebut sebagai "alat imperialis Ingrris" dan diserukan untuk menggulingkannya; pada bulan Maret Thakin memimpin Partai melancarkan perjuangan bersenjata. Pada bulan Februari di Kalkuta diadakan "Konferensi Pemuda Mahasiswa Asia yang beijuang untuk Kebebasan dan Kemerdekaan". Konferensi ini dihadiri oleh wakil-wakil antara lain dan Tiongkok, Birma, Malaya, Indonesia. Seiring dengan perkembangan gerakan revolusioner di ber bagai negeri itu, Amerika Serikat berusaha mencari tumpuan di mana-mana, termasuk di negeri-negeri Asia yang berbatasan dengan Lautan Teduh. Indonesia yang mempunyai letak strategis dan kaya alamnya dipandang oleh Amerika sebagai tempat yang masih kosong . Sejak 17 Agustus 1945 Amerika melihat suatu kenyataan bahwa di Indonesia telah lahir sebuah Republik yang didukung oleh seluruh rakyat. Bukan karena kebaikan hati Amerika bilamana Amerika cenderung "merestui" lahirnya Republik ini. Sebab bilamana penjajah Belanda sampai kembali menguasai Indonesia maka, menurut Amerika, keadaan di indonesia takkan pernah tenteram. Situasi Indonesia yang demikian takkan menguntungkan "strategi sedunia" Amerika. Maka bagi Amerika akan lebih menguntungkan bilamana Indonesia menjadi negeri yang merdeka, tetapi dikuasai oleh orang yang dapat dikendalikan oleh Amerika. Beruntunglah Amerika, karena di Indonesia muncul orang yang dikehendakinya, yaitu Mohamad Hatta. Setelab FDR berdiri dan mulai aktif, usaha pertama yalah mengadakan turne, penjelasan keliling ke daerah-daerah. Penjelasan keliling ini antara lain dilakukan oleh: Amir Sjarifiidin (Partai Sosialis), Luat Siregar (PKI), Setiajid (PBI) dan

Krissubanu (Pesindo). Dalam rapat-rapat umum yang diadakan waktu penjelasan keliling ini wakil-wakil FDR menjelaskan kepada rakyat tentang politik FDR; sikap clan pembelejetan terhadap pemerintah Hatta, khususnya masalah re -ra dalam Angkatan Perang; menjawab fitnahan-fitnahan kaum reaksioner, khususnya Murba; yang memalsu dokumen FDR; dan tuntutan berdirinya Front Nasional. Di samping penjelasan keliling sebagai kegiatan FDR, kaum buruh yang tergabung dalam SOBSI juga mengadakaan aksi, a.l. tuntutan kenaikan jaminan sosial oleh anggota Sarbupri/Sobsi Delanggu/Solo. Pada tanggal 2 Juli 1948, jam 8 malam, Sutarto, Komandan Divisi Pertempuran Panembahan Senopati (DPPS), secara pengecut ditembak dari belakang. Penembakan terhadap Sutarto dengan cara demikian ada yang menyebut "rasionalisasi dengan cara lain". Pada bulan Mei 1948, berdasar peraturan rasionalisasi, Sutarto yang divisinya kompak dan persenjataannya cukup baik, dinayatakan non-aktif dan pasukannya diperintahkan melapor kepada Markas Besar di Yogya. Sutarto bersama komando bawahannya menentang perintah Markas Besar ini. Sikap Sutarto beserta perwiranya ini didukung oleh kekuatan Kiri di Solo beserta laskar- laskar yang menentang re-ra. Untuk menyatakan dukungannya, pada tanggal 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, di Solo terjadi demonstrasi protes yang besar menentang re-ra pemerintah Hatta. Demonstrasi ini juga diikuti oleh parade, sekaligus protes, oleh beberapa batalyon bersenjata lengkap dan berat dari Pesindo dan Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI). Dalam parade dan demonstrasi tersebut diserukan dukungan terhadap kelanjuta Sutarto sebagai n komandan divisi dan tuntutan agar Pemerintah membatalkan re-ranya. Pada bulan Juli di dalam Divisi IV diadakan reorganisasi sendiri . Divisi IV berubah nama menjadi Divisi Pertempuran Panembahan Senopati (DPPS). Reorganisasi sendiri yang diadakan oleh Panembahan Senopati ini jauh dari keinginan, apalagi melegakan, Hatta dan Nasution di Yogya. Sebab: jumlah anak buah, personalia dan kedudukan komandan dan pembagian senjata di dalam DPPS adalah sama dengan di dalam Divisi Panembahan Senopati yang semula. Setelah Sutarto tertembak, komandan DPPS dipegang oleh LeKol Suadi. Mengenai rasionalisasi di kalangan Angkatan Bersenjata, pa- da tanggal 2 September 1948, Hatta di muka sidang BP-KNIP menyatakan antara lain bahwa: "Istimewa

terhadap angkatan perang kita rasionalisasi harus dilaksanakan dengan tegas dan nyata ; " berpedoman kepada cita-cita "satu tentara, satu komando"; " dalam bentuk dan susunan yang efektif ; " mengurangkan jumlah angkatan perang kita sampai kepada susunan yang rasionil". Fikiran Hatta ini tidak jatuh dari langit. Beberapa peristiwa yang dapat dicatat adalan sebagai berikut. Pada Het Corps Algemene Politie te Batavia laporan yang sangat rahasia bertanggal 1 April 1948 dan berbunyi antara lain sebagai berikut: "Sementara itu telah diadakan pertemuan rahasia antara Graham, Sukarno dan Sukiman. Graham menyatakan, bahwa Indonesia dianggap layak untuk dimasukkan dalam pelaksanaan bantuan rencana Marshall (Marshall-plan) untuk Asia Tenggara dan agar supaya pemerintah membendung semua kegiatan Sayap Kiri". Untuk pelaksanaan rasionalisasi di kalangan angkatan bersenjata pada tanggal 8 Mei 1948 telah diadakan rapat Dewan Siasat Militer yang dihadiri oleh Hatta bersama pimpinan Angkatan Bersenjata: Sudirman, Nasution, Latif, Subijakto dan Surjadarma. Dalam rapat ini dibicarakan dua hal. Pertama, yang disetujui oleh semua yang hadir, TNI-Masyarakat secepat mungkin dibubarkan. Mengenai soal ini Nasution berpendapat, bahwa TNI- Masyarakat pada prinsipnya telah dibubarkan. Kedua, Hatta bersedia memberikan basis militer kepada Amerika, yang ditukar dengan senjata. RI yang belum berumur tiga tahun ini oleh Hatta telah dijual kepada Amenika. Seiring dengan peristiwa itu John Coast, G. Hopkins dan 5 orang "diplomat" Amerika Iainnya dipindalikan dari Bangkok dan New Delhi ke ibukota RI. Pemindahan mereka ini bukan kebetulan. Pada tanggal 21 Juli 1948 secara rahasia telah diadakan pertemuan di hotel "Huisje Hansje" Sarangan (Madiun). Pertemuan itu dihadiri oleh: Gerald Hopkins (penasihat politik Presiden Truman), Merle Cochran (wakil baru Amerika, pengganti Graham, dalam Komisi Jasa-jasa Baik), Sukarno, Hatta, Sukiman (ketua Masyumi dan menteri dalam negeri), Mokhamad Roem (anggota Masyumi) dan Kepala Polisi Sukanto (menurut: Roger Vailland dalam buku "Borobudur"). Dalam pertemuan ini tidak hadir orang dari PNI. Dalam pertemuan Sarangan ini, yang belakangan terkenal dengan sebutan "Perundingan Sarangan", dihasilkan "Red Drive Proposals" atau usul-usul Pembasmian Kaum Merah" Setelah pertemuan Sarangan ini, atas laporan Cochran, State Department (Kementerian Luar Negeri A.S.) berpendapat bahwa

posisi Hatta harus cepat diperkuat agar supaya dapat menahan perkembanaan Komunisme. Setelah pertemuan Sarangan ini pula Kepala Polisi Sukanto dikirim ke Amerika untuk mengurus bantuan. Temyata tidak tanggung-tangggng bantuan yang diterima oleh Hatta: 56 juta dollar AS dari State Department Amerika. Uang ini oleh Hatta antara lain untuk memperlengkapi pasukanan dalam Pemerintah, divisi Siliwangi. Jadi kalau Hatta di depan BP-KNIP mengajukan masalah: "Mestikah kita bangsa Indonesia, yang mem perjuangkan bangsa dan negara kita, hanya harus memilih antara pro Rusia dan pro Arnerika? ,. maka jawabnya yalah peristiwaperistiwa di atas. Dalam bulan Agustus, tanpa kehadiran Panglima Sudirman, pimpinan angkatan darat mengadakan sidang. Sidang itu mensinyalir adanya "ancaman" PKI terhadap jalan perundingan dengan Belanda, keamanan dalam negeri dan rasionalisasi. Dalam sidang itu Nasution menyatakan kesediaannya menggunakan divisi Siliwangi untuk menghancurkan pengaruh Komunis. Dalam pidato di muka BP-KNlP mengenai rasionalisasi Hatta juga menyatakan, bahwa:" di sinilah terdapat pemakaian tenaga yang tidak lagi produktif.."; " angkatan perang yang jumlahnya 463.000 orang tidak dapat dibelanjai oleh negara Rasionalisasi yang kita tuju yalah penyempurnaan dan pembangunan yang meringankan beban masyarakat beserta mengurangkan penderitaan rakyat". Alasan yang nampaknya logis dan menarik ini sebenarnya hanya dalih. Sasaran tombak reorganisasi dan rasionalisasi Hatta tetap pada pasukan yang berbau "Kiri". Ide Hatta-Nasution mengenai re-ra dan pembentukan "tentara yang efektif" sebenarnya bertolak dari persekutaan, yang dimulai sejak berdirinya kabinet Hatta pada Januari 1948, antara politisi yang pro Amerika yang dipelopori oleh Hatta dan Masyumi di satu fihak dan para perwira "profesional" yang dipelopori oleh Nasution dan Simatupang di fihak lain. Tujuan bersama persekutuan itu yalah melaksanakan ide: mendemobiliser laskar "yang sedikit banyak dipengaruhi oleh organisasi Komunis"; menyingkirkan perwira-perwira yang "tidak dapat dipercaya"; posisi pimpinan hanya diberikan kepada "perwira-perwira profesional" dan tipe tentara mendatang yang dikehendaki yalah tipe tentara Divisi Siliwangi (yang notabene dipimpin oleh Nasution) dan Corps Polisi Militer (yang dipimpin oleh Gatot Subroto). (dokumen resmi DN Aidit, jang disimpan dalam perpustakaan pribadi dan resmi milik seksi Agitasi dan Propaganda/Agitrop PKI, keluaran tahun 1962)

[1] Untuk lebih jelasnya sikap saya, saya akan lampirkan pidato saya pada saat sidang parlemen di tahun 1958, dimana saya mengkritik kebijaksanaan Hatta terhadap peristiwa Madiun, isi pidato itu saya lampirkan setelah dokumen peristiwa Madiun.

Posted in Uncategorized | 1 Comment » Sedjarah Hidup Aidit Bag.IIB December 5th, 2005 by dn-aidit1924 Pidato saja 11 Februari 1958 (pidato ini saja utjapkan atas reaksi Udin Sjamsuddien dari Faksi Masjumi jang mengait-ngaitkan peristiwa Madiun dengan kudeta PRRI/PERMESTA) Terlebih dulu saja ingin menjatakan bahwa Pemerintah Ali-ldham dalam keterangannja pada tanggal 21 Djanuari dan dalam djawabannja pada pandangan umum babak pertama pada tanggal4 Februari jl. bisa membatasi diri pada persoalannja, jaitu tentang kedjadian2 di Sumatera dalam bulan Desember 1956. Hal ini dapat saja hargai dan tentang ini kawan2 sefraksi saja sudah menjatakan pendapat Fraksi PKI. Pada pokoknja pendapat kami mengenai kedjadian2 di Sumatera dalam bulan Desember tahun jl. Adalah sbb. : Pertama : Kedjadian2 di Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan adalah rentetan kedjadian jang sengadja ditimbulkan oleh sebuah partai ketjil jang kalah dalam pemilihan umum jl. jang berhasil mendalangi sebuah partai besar dan oknum2 liar, jang tidak melihat kemungkinan dengan djalan demokratis dapat duduk kembali dalam kekuasaan sentral, dan jang hanja melihat kemungkinan dengan djalan menggunakan saluran partai2 lain, dengan djalan mempertadjam pertentangan antara partai2 agama dengan PKI dan PNI, dengan bikin2an menimbulkan kemarahan Rakjat didaerah2 supaja memberontak terhadap Pemerintah Pusat, dengan djalan mengadudomba suku satu dengan suku lainnja dan dengan djalan menghasut orang2 militer supaja memberontak kepada atasannja. Kedua : Kedjadian2 tersebut terang sedjalan dan berhubungan dengan rentjana kaum imperialis, jang dipelopori oleh Amerika Serikat untuk menarik Indonesia kedalam pakt militer SEATO. Rentjana2 dari pemberontak di Sumatera untuk memisahkan Sumatera dan Kalimantan dari Pemerintah Pusat dan untuk mendirikan negara sendiri jang mempunjai peralatan sipil dan militer

sendiri, jang mempunjai hubungan luarnegeri sendiri, adalah sepenuhnja sedjalan dengan rentjana Amerika Serikat jang diatur oleh Pentagon (Kementerian Pertahanan) dan State Department (Kementerian Luarnegeri) Amerika Serikat, oleh "djendral2" DI-TII dan oleh aparat2 serta kakitangan2 Amerika Serikat jang ada di Indonesia. Djadi, persoalannja adalah djelas, jaitu kepentingan vital Rakjat Indonesia disatu fihak berhadapan langsung dengan kepentingan kaum imperialis asing difihak lain. Dalam hal ini Pemerintah Ali-Idham menjatukan diri dengan kepentingan Rakjat Indonesia, dan oleh karena itu PKI tidak ragu2 berdiri difihak Pemerintah dan melawan kaum pemberontak serta aktor2 intelektualisnja. Demikianlah, kalau mengenai persoalannja. Djelas dimana kami berdiri, dan djelas pula dimana fihak lain berdiri. Tetapi, disamping pemerintah dapat membatasi diri pada persoalan jang sedang dihadapi, anggota jang terhormat Udin Sjamsudin telah mem-bawa2 Peristiwa Madiun, dengan maksud mengaburkan persoalan. Dalam Soal Peristiwa Madiun Kaum Komunis Adalah Pendakwa Anggota tsb. telah me-njebut2 Peristiwa Madiun dalam hubungan dengan Peristiwa Sumatera, antara lain dikatakannja "pelopor pemberontakan di Indonesia ini setelah Indonesia Merdeka adalah Partai Koniunis Indonesia", selandjutnja "kaum Komunislah jang mendjadi mahaguru pemberontakan" dan "bibitnja sudah menular keseluruh Indonesia". Maksud pembitjara tsb. djelas, jaitu supaja dalam soal peniberontakan Kolonel Simbolon dan Letnan Kolonel Ahmad Husein djuga PKI jang disalahkan. Lihatlah, betapa tidak tahu malunja orang mentjari kambinghitamnja, sama dengan tidak tahu malunja mereka menjalahkan PKI dalam hubungan dengan Peristiwa Madiun. Saja tidak membantah, bahwa baik Peristiwa Madiun maupun Peristiwa Sumatera mempunjai satu sumber dan satu tudjuan, jaitu bersumber pada imperialisme Amerika dan Belanda dan bertudjuan untuk meletakkan Indonesia sepenuhnja dibawah telapak kaki mereka. Berhubung dengan sebuah statement Politbiro CC PKI tanggal 13 September 1953 saja pernah dihadapkan kemuka pengadilan. Dalam sidang pengadilan tanggal 27 Djanuari 1955, dengan berpegang pada ajat 3 fasal 310 KUHP jang ditimpakan pada saja, sudah saja njatakan kesediaan saja kepada pengadilan untuk membuktikan dengan saksi2 bahwa Peristiwa Madiun memang provokasi dan bahwa dalam Peristiwa Madiun tsb. tangan Hatta-Sukiman-Natsir cs. memang berlumuran darah. Dengan ini berarti bahwa Hatta, ketika itu masih wakil Presiden, harus tampil sebagai saksi berhadapan dengan saja. Kesediaan saja

ini, jang djuga diperkuat oleh advokat saja, Sdr. Mr. Suprapto, tidak mendapat persetudjuan. pengadilan. Djaksa menjatakan keberatannja akan pembuktian jang mau saja adjukan dengan saksi2. Oleh karena djaksa menolak pembuktian jang mau saja adjukan, maka djaksa terpaksa mentjabut tuduhan melanggar fasal 310 dan 311 KUHP. Djelaslah, bahwa ada orang2 jang kuatir kalau Peristiwa Madiun ini mendjadi terang bagi Rakjat. Djadi, mengenai Peristiwa Madiun kami sudah lama siap berhadapan dimuka pengadilan dengan arsiteknja Moh. Hatta. Ini saja njatakan tidak hanja sesudah Hatta berhenti sebagai wakil Presiden, tetapi seperti diatas sudah saja katakan, djuga ketika Hatta masih Wakil Presiden. Saja tidak ingin menantang siapa-siapa, tetapi kapan sadja Hatta ingin Peristiwa Madiun dibawa kepengadilan, kami dari PKI selarnanja bersedia menghadapinja. Kam i jakin, bahwa djika soal ini dibawa kepengadilan bukanlah kami jang akan mendjadi terdakwa, tetapi kamilah pendakwa. Kamilah jang akan tampil kedepan sebagai pendakwa atas nama Amir Sjarifuddin, putera utama bangsa Indonesia jang berasal dari tanah Batak, atas nama Suripno, Maruto Darusman, Dr. Wiroreno, Dr. Rustam, Harjono, Djokosujono, Sukarno, Sutrisno, Sardjono dan beribu-ribu lagi putera Indonesia jang terbaik dari suku Djawa jang mendjadi korban keganasan satu pemerintah jang dipimpin oleh burdjuis Minangkabau, Mohammad Hatta. Demikian kalau kita mau berbitjara dalam istilah kesukuan, sebagaimana sekarang banjak digunakan oleh pembela2 kaum pemberontak di Sumatera, hal jang sedapat mungkin ingin kami hindari. Ja, kami djuga akan berbitjara atasnama perwira2, bintara2 dan pradjurit2 TNI jang tewas dalam "membasmi Komunis" atas perintah Hatta, karena mereka djuga tidak bersalah dan mereka djuga adalah korban perang-saudara jang dikobarkan oleh Hatta. Dalam pembelaan saja dimuka pengadilan tanggal 24 Februari 1955 telah saja katakan "bahwa diantara orang2 jang karena tidak mengertinja telah ikut dalam pengedjaran terhadap kaum Komunis , tidak sedikit sekarang sudah tidak mempunjai purbasangka lagi terhadap PKI dan sudah berdjandji pada diri sendiri untuk tidak lagi mendjadi alat perang-saudara dari kaum imperialis dan kakitangannja". Alat2 negara sipil maupun militer sudah mengerti bahwa dalam Peristiwa Madiun mereka telah disuruh memerangi saudara2 dan teman2nja sendiri. Sudah mendjadi rahasia umum, bahwa dalam pemiiihan umum untuk Parlemen maupun untuk Konstituante lebih 80% daripada anggota2 Angkatan Perang memberikan suaranja kepada partai2 demokratis, dan 30% daripada suara jang diberikan anggota Angkatan Perang adalah diberikan kepada PKI. PSI dan Masjumi hanja mendapat kurang dari 20%, djadi kurang dari suara jang didapat oleh PKI sendiri atau PNI sendiri. PSI jang mempunjai pengaruh disedjumlah opsir tinggi adalah partai kelima didalam Angkatan Perang, sedangkan Masjumi, karena politik pro Dl-nja, adalah partai keenam. Dengan ini, saja hanja hendak memibuktikan bahwa memukul PKI dengan menjembar-njemburkan Peristiwa Madiun

adalah tidak merugikan PKI, malahan memberi alasan pada kami untuk berbitjara dan mendjelas-djelaskan tentang Peristiwa Madiun. Apalagi sekarang, sesudah terdjadi pemberontakan kolonel Simbolon di Sumatera Utara dan pemberontakan "Dewan Banteng" di Sumatera Barat, menggunakan Peristiwa Madiun untuk memukul PKI adalah seperti menepuk air didulang, bukan muka PKI jang kena, tetapi muka Masjumi dan PSI sendiri jang sekarang membela pemberontak2 di Sumatera itu dengan mati2an. Hatta Bertanggungdjawab Atas Pentjulikan, Pembunuhan Dan Perang-Saudara Tahun 1948 Mari, dalam menilai kebidjaksanaan pemerintah Ali-Idham sekarang, kita perbandingkan antara kebidjaksanaan pemerintah Hatta tahun 1948 mengenai Peristiwa Madiun dengan kebidjaksanaan pemerintah Ali-ldham sekarang. Dari hasil penilaian ini saja akan rnenentukan sikap saia terhadap kebidjaksanaan pemerintah sekarang. Peristiwa Madiun didahului oleh kedjadian2 di Solo, mula2 dengan pembunuhan atas diri kolonel Sutarto, Komandan TNI Divisi IV, dan kemudian pada permulaan September 1948 dengan pentjulikan dan pembunuhan terhadap 5 orang perwira TNI, jaitu major Esmara Sugeng, kapten Sutarto, kapten Sapardi, kapten Suradi dan letnan Muljono. Djuga ditjulik 2 orang anggota PKI, Slamet Widja,ja dan Pardijo. Kenjataan bahwa saudara jang ditjulik ini pada tgl 24 September dimasukkan kedalam kamp resmi di Danuredjan, Djokdjakarta, membuktikan bahwa pemerntah Hatta langs ung tjampurtangan dalam soal pentjulikan2 dan pembunuhan2 diatas. Ini tidak bisa diragukan lagi ! Dalam pidatonja tgl. 19 September 1948 Presiden Sukarno mengatakan bahwa Peristiwa Solo dan Peristiwa Madiun tidak berdiri sendiri. Ini sepenuhnja benar ! Sesudah pentjulikan2 dan pembunuhan2 di Solo jang diatur dari Djokja, keadaan di Madiun mendjadi sangat tegang sehingga terdjadilah pertempuran antara pasukan2 dalam Angkatan Darat jang pro dan jang anti pentjulikan2 serta pembunuhan2 di Solo, jaitu pertempuran pada tgl. 18 September 1948 malam. Dalam keadaan katjaubalau demikian ini Residen Kepala Daerah tidak ada di Madiun, Wakil Residen tidak mengambil tindakan apa2 sedangkan Walikota sedang sakit. Untuk mengatasi keadaan ini maka Front Demokrasi Rakjat, dimana PKI termasuk didalamnja, mendesak supaja Kawan Supardi, Wakil Walikota Madiun bertindak untuk sementara sebagai pendjabat Residen selama Residen Madiun belum kembali. Wakil Walikota Supardi berani mengambil tanggungdjawab ini. Pongangkatan Kawan Supardi sebagai Residen sementara ternjata djuga disetudjui oleh pembesar2 militer dan pembesar2 Sipil lainnja. Tindakan ini segera dilaporkan kepemerintah pusat dan dimintakan instruksi dari pemerintah pusat tentang apa jang harus dikerdjakan selandjutnja.

Nah, tindakan inilah, tindakan mengangkat Wakil Walikota mendjadi Residen sementara inilah jang dinamakan oleh pemerintah Hatta tindakan "merobohkan pemerintah Republik Indonesia", tindakan "mengadakan kudeta" dan tindakan "mendirikan pemerintah Sovjet". Kalau dengan mengangkat seorang Wakil Walikota mendjadi Residen sementara bisa dinamakan merobohkan pemerintah Republik Indonesia, bisa dinamakan kudeta dan bisa dinamakan mendirikan pemerintah Sovjet, nama apakah lagi jang bisa diberikan kepada tindakan komplotan Simbolon dan "Dewan Banteng" di Sumatera? Selain daripada itu, djika memang demikian halnja, alangkah mudahnja merobohkan pemerintah Republik Indonesia, alangkah mudahnja mengadakan kudeta dan alangkah mudahnja mendirikan pemerintah Sovjet ! Djika memang demikian mudahnja, saja kira sekarang sudah tidak ada lagi Republik kita, karena nafsu merobohkan Republik sekarang, begitu di-kobar2kan dan begitu besarnja disementara golongan, terutama dikalangan sebuah partai ketjil jang kalah dalam pemilihan umum jang lalu. Tetapi saja kira, merobohkan Republik Indonesia tidaklah begitu mudah sebagaimana sudah dibuktikan oleh kegagalan Simbolon dan oleh makin merosotnja pamor "Dewan Banteng", disamping Republik Indonesia tetap berdiri tegak. Apalagi mendirikan pemerintah Sovjet, tidaklah semudah mengangkat seorang Wakil Walikota mendjadi Residen sementara. Rakjat Tiongkok dan Tentara Pembebasan Rakiat Tiongkok jang sudah berdjuang mati2an selama ber-puluh2 tahun dibawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok hingga sekarang belum sampai ketaraf mendirikan pemerintah Sovjet, artinja pemerintah sosialis di Tiongkok. Djadi, alangkah bebalnja, atau alangkah mentjari2nja orang2 jang menuduh PKI merobohkan Republik dan mendirikan pemerinta Sovjet di h Madiun dengan mengangkat Wakil Walikota Supardi mendjadi Residen sementara. Berdasarkan kedjadian pengangkatan Wakil Walikota Supardi mendjadi Residen sementara dan atas tanggungdjawab sepenuhnja dari pemerintah Hatta, maka pada tanggal 19 September 1948 oleh Presiden Sukarno dadakan pidato jang berisi seruan kepada seluruh Rakjat ber-sama2 membasmi "kaum pengatjau", maksudnja membasmi kaum Komunis dan kaum progresif lainnja setjara djasmaniah. Saja katakan sepenuhnja tanggungdjawab pemerintahHatta, karena Hattalah jang mendjadi Perdana Menteri ketika itu. Tapi karena Hatta tahu bahwa pengaruhnja sangat ketjil dikalangan Angkatan Perang dan alat2 negara lainnja, apalagi dikalangan masjarakat, maka Hatta menggunakan mulut Sukarno dan rnemindjam kewibawaan Sukarno untuk membasmi Amir Sjarifuddin dan be-ribu2 putera Indonesia asal suku Djawa. Ini, sekali lagi, kalau kita rnau berbitjara dalam istilah kesukuan jang sekarang banjak dilakukan oleh pembela2 kaum pemberontak di Sumatera, sesuatu jang sedapat niungkin ingin kami hindari. Demikianlah, "kebidjaksanaan" Hatta sebagai Perdana Menteri dalam menghadapi persoalan-persoalan masjarakat dan persoalan politik jang kongkrit. Karena kepitjikannja dari kesornbongannja sebagai

burdjuis Minang jang ingin melondjak tjepat sampai keangkasa, karena kehausannja akan kekuasaan, karena kepalabatunja, karena ketakutannja jang keterlaluan kepada Komunisme, maka Hatta sebagai Perdana Menteri dengan setjara gegabah mengerahkan alat2 kekuasaan negara untuk mentju membunuh dan lik, mengobarkan perangsaudara. Orang sering salah kira dengan menjamakan sifat kepalabatu Hatta dengan "kemauan keras" atau sikap jang "konsekwen". Tetapi saja jang djuga mengenal Hatta dari dekat berpendapat, bahwa sifat kepalabatu Hatta adalah disebabkan karena sempit pikirannja, dan karena sempit pikirannja ia tidak bisa bertukar fikiran setjara sehat, tidak pandai bermusjawarah dan tahunja hanja main "ngotot", "mutung", "basmi" dan "tangan besi". Dan apa akibatnja permainan "basmi" dan "tangan besi" Hatta ? Be-ribu2 pemuda dan Rakjat dari kedua belah fihak jang berperang mati karenanja. Seluruh Rakjat sudah mengetahui dari pengalamannja sendiri bahwa semua ini dilakukan hanja untuk melapangkan djalan bagi Hatta buat pelaksanaan Konferensi Medja Bundar dengan Belanda jang langsung diawasi oleh Amerika Serikat, untuk membikin perdjandjian KMB jang chianat dan jang sudah kita batalkan itu. Sifat gegabah dari tindakan Hatta lebih nampak lagi ketika ia meminta kekuasaan penuh dari BPKNIP, dimana didalam pidatonja dinjatakan bahwa "Tersiar pula berita entah benar entah tidak bahwa Musso akan mendjadi Presiden Republik rampasan itu dan Mr. Amir Sjarifuddin Perdana Menteri". Lihatlah betapa tidak bertanggungdjawabnja tindakan Hatta. la bertindak atas dasar berita jang sifatnja "entah benar entah tidak" bahwa sesuatu "akan" terdjadi. Ja, Hatta bertindak atas berita jang masih diragukan tentang akan terdjadinja sesuatu. Tetapi, adalah tidak diragukan lagi bahwa tindakan Hatta sudah berakibat dibunuhnja ribuan orang jang tidak berdosa tanpa proses. Hatta lngin Berkuasa Sewenang-wenang Lagi Berdasarkan pengalaman dengan Peristiwa Madiun, dimana Hatta menelandjangi dirinja sebagai manusia jang tidak berperikemanusiaan, maka saja seudjung rambutpun tidak ragu bahwa Hatta, seperti belum lama berselang dimuat dalam koran2 pemah mengutjapkan kepada Firdaus A. N., hanja bersedia berkuasa djika tidak bisa didjatuhan oleh Parlemen. Kalau mau tahu tentang Hatta, inilah dia ! lnilah politiknja, inilah moralnja, inilah segala-galanja! Jaitu, seorang jang mau berkuasa setjara se-wenang2. Hatta samasekali tidak menghargai djerihpajah Rakjat jang kepanasan dan kehudjanan antri untuk memberikan suaranja untuk Parlemen kita sekarang. Lebih daripada itu, ia djuga tidak menghargai suaranja sendiri jang diberikannja ketika memilih Parlemen ini. Orang jang tidak menghargai orang lain sering kita temukan didunia ini. Tetapi orang jang tidak menghargai

suaranja sendiri, ini keterlaluan. Hatta ingin berkuasa kembali tanpa bisa didjatuhkan oleh Parlemen, ia mengimpikan masa keemasannja ditahun 1948. Kali ini jang mau didjadikannja mangsa bukan hanja putera2 Indonesia asal suku Djawa dan Batak, tetapi djuga putera2 suku lain, termasuk putera2 suku Minangkabau, karena PKI sekarang sudah tersebar diseluruh Indonesia dan disemua suku. Tetapi, sebelum Hatta sampai kesitu, perlu saja peringatkan bahwa dalam tahun 1948 ia hanja berhadapan dengan 10.000 Komunis jang hanja tersebar setjara sangat tidak merata dipulau Djawa dan Sumatera, karena PKI ketika itu dilarang berdiri didaerah pendudukan Belanda. Tetapi sekarang, Hatta harus berhadapan dengan lebih satu djuta Komunis jang tersebar disemua pulau dan disemua suku. Saja perlu menjatakan ini, hanja untuk menerangkan betapa besar akibatnja kalau Hatta bermain "tangan besi" lagi. Dan . besipun bisa patah ! Saja jakin, bahwa tiap2 orang jang mempunjai peran tanggungdjawab tidak ingin terulang kembali tragedi nasional seperti Peristiwa Madiun itu. Dari fihak Partai Komunis Indonesia, seperti sudah berulang-ulang kami njatakan, dan sudah mendjadi peladjaran didalam Sekolah2 Kursus2 Partai kami, kami ingin dan kami jakin bisa mentjapai tudjuan2 politik kami setjara parlementer. Kami akan menghindari tiap2 perang-saudara selama kepada kami didjamin hak2 politik untuk memperdjuangkan tjita2 kami. Tetapi, kalau kepada kami disodorkan bajonet dan didesingkan peluru seperti dalam peristiwa Madiun, djuga seperti selama peristiwa itu, kami tidak akan memberikan dada kami untuk ditembus bajonet dan ditembus peluru kaum kontra-revolusioner. Kami kaum Komunis tidak ingin menggangu siapa2 selama kami tidak diganggu. Kami ingin bersahabat dengan semua orang, semua golongan dan semua partai jang mau bersahabat dan bekerdiasama dengan kami untuk haridepan jang lebih baik bagi tanahair dan Rakjat Indonesia. Walaupun dihadapan kantor pusat Masjumi di Kramat Raja 45, Djakarta, terpantjang dengan djelas papan "Front Anti-Komunis", djadi anti kami, anti saja dan anti kawan2 saja, tetapi kami kaum Komunis tidak akan ikut gila untuk djuga memantjangkan papan "Front Anti-Masjumi" , apalagi "Front Anti-lslam". Kami tidak akan membiarkan diri kami terprovokasi oleh pemimpin Masjumi ini. Saja pribadi tidak mau diprovokasi oleh kenalan lama saja, Sdr. Mohamad Isa Anshari, pemimpin akbar "Front Anti-Komunis". Ber-angsur2 Rakjat Indonesia berdasarkan pengalamannja sendiri mendjadi makin jakin bahwa bukanlah kaum Komunis jang anti-agama, tetapi sebaliknja, sedjumlah pemimpin partai2 agamalah jang anti-Komunis dan menghasut anggota2nja supaja anti-Komunis. Rakjat Indonesa sudah mengetahui bahwa dalam soal pemerintahan kami menginginkan terbentuknja pemerintah persatuan nasional

dimana didalamnja duduk 4-Besar, djadi termasuk PKI dan Masjumi, ber-sama2 dengan partai2 lain. Ini akan kami perdjuangkan terus walaupun sampai ini hari saja kira Masjumi belum mau, karena masih mengikuti apa jang dikatakan oleh pemimpin Masjumi Sdr. Moh. Natsir dalam muktamar Masjumi di Bandung bulan Desember 1956. Dalam muktamar tsb. Sdr. Moh. Natsir mengatakan antara lain bahwa pimpinan partai Masjumi "meletakkan strateginja menghadapi pembentukan kabinet kepada dua pokok pikiran jaitu (a) Memulihkan kerdjasama antara partai2 Islam (b) Menggabungkan tenaga2 non-Komunis dalam kabinet, Parlemen dan masjarakat serta mengisolir PKI atau para crypto-Koi-ntinis dari kabinet". (Halaman 22 "Laporan Beleid Politik Pimpinan Partai Masjumi"). Tjobalah renungkan, bukan persatuan nasional jang mereka adjarkan dan amalkan, tetapi perpetjahan nasional. Mengisolasi PKI adalah identik dengan mengisolasi berdjuta-djuta Rakjat Indonesia. Bagaimana persatuan nasional akan bisa tertjapai dengan sikap jang a-priori sematjam ini. Sikap sematjam ini hanja mempertegas keadaan politik dinegeri kita, dan jang untung bukan bangsa Indonesia, tetapi kaum imperialis asing, jang memang menginginkan peruntjingan keadaan dan perpetjahan didalam tubuh bangsa kita. Djadi, kapankah semua pemuka bangsa kita akan beladjar dari pengalaman Peristiwa Madiun jang tragis itu, supaja tidak lagi mengulangi kesalahan tindakan dan kebidjaksanaan agar persatuan bangsa kita terpelihara baik, supaja kita tidak gegabah dalam mengambil tindakan2, apalagi tindakan2 jang bisa berakibat luas ? Saja berusaha dan terus akan berusaha untuk menarik peladjaran sebanjak-banjaknja dari pengalaman sedjarah itu. Kabinet Ali-ldham Ber-puluh2 Kali Lebih Bidjaksana Daripada Kabinet Hatta Dibanding dengan kebidjaksanaan pemerintah Hatta dalam menghadapi kedjadian di Madiun dalam bulan September 1948, kabine Ali-ldham t sekarang ber-puluh2 kali lebih bidjaksana. Padahal kalau melihat kedjadiannja, pengangkatan seorang Wakil Walikota mendjadi Residen sementara karena dipaksa oleh keadaan, belumlah apa2 kalau dibanding dengan pengoperan pimpinan pemerintah daerah Sumatera Tengah oleh orang2 "Dewan Banteng", jang terang-terangan direntjanakan terlebih dulu dalam reunie ex-divisi Banteng bulan November 1956, dan jang terang2an sudah pernah menolak dan menghina perutusan pemerintah pusat jang datang untuk berunding. Apalagi kalau dibanding dengan perbuatan komplotan kolonel Simbolon pada tanggal 22 Desember 1956, jang terang2an menjatakan tidak lagi mengakui pemerintah jang sah sekarang. Apalagi, kalau kita ingat bahwa maksud jang sesungguhnja dari semua tindakan itu jalah untuk memisahkan Sumatera dan Kalimantan dari Pemerintah Pusat, mendirikan negara Sumatera dan Kalimantan serta mengadakan hubungan luarnegeri sendiri. Apalagi kalau diingat bahwa ada maksud2 untuk menjerahkan pulau We di Utara Sumatera kepada negara besar tertentu untuk didjadikan pangkalan-perang. Apalagi kalau diigat bahwa semua rentjana itu sesuai sepenuhnja dengan apa jang

direntjanakan oleh Pentagon dan State Department Amerika Serikat, oleh "djendral2" DI-Tll dan aparat2 serta kakitangan2 Amerika lainnja jang ada di Indonesia. Djika diingat semuanja ini, maka pengangkatan Wakil Walikota Supardi mendjadi Residen sementara Madiun adalah hanja "kinderspel" (permainan kanak2). Tetapi penamaan apa jang diberikan oleh Hatta kepada kedjadian2 di Madiun bulan September 1948 dan penamaan apa pula jang, diberikan orang kepada perbuatan-perbuatan kaum pemberontak di Sumatera pada bulan Desember 1956 ? Peristiwa Madiun dinamakan "merobohkan Republik Indonesia", dinamakan "kudeta", tetapi pemberontakan di Sumatera jang sepenuhnja dan setjara terang2an disokong oleh kaum imperialis asing, terutama kaum imperialis Amerika dan Belanda, mereka namakan "tindakan konstruktif" demi "kepentingan daerah". Saja bertanja : Konstruktif untuk siapa ? Untuk kepentingan daerah mana ? Memang konstruktif sekali tindakan kaum pemberontak di Sumatera, konstruktif dalam rangka membangun pangkalan-pangkalan perang SEATO ! Memang untuk kepentingan daerah, kepentingan perluasan daerah SEATO ! Djadi, samasekali tidak konstruktif untuk Rakjat Indonesia dan samasekali bukan untuk kepentingan daerah Indonesia ! Demikianlah, apa sebabnja saja katakan bahwa mengemukakan Peristiwa Madiun dalam keadaan sekarang untuk memukul PKI adalah seperti menepuk air didulang. Bukannja PKI jang ketjipratan, tetapi djustru si-penepuk air jang sial itu. Mengemukakan soal Peristiwa Madiun dalam menghadapi Peristiwa Sumatera sekarang berarti memberi alasan jang kuat untuk mengkonfrontasikan kebidjaksanaan jang memang bidjaksana dari kabinet Ali-ldham sekarang dengan kebidjaksanaan jang tidak bidjaksana dari Kabinet Hatta dalam tahun 1948. Djika sudah dikonfrontasikan, maka akan merasa berdosalah orang2 jang ber-teriak2 ingin melihat naiknja Hatta kembali, ketjuali kalau orang2 itu memang ingin melihat Hatta sekali lagi mempermainkan njawa umat Indonesia sebagai mempermainkan njawa anak ajam. Kebidjaksanaan kabinet Ali-ldham dalam menghadapi Peristiwa Sumatera sekarang tidak disebabkan terutama karena Ali Sastroamidjojo seorang Indonesia dari suku Djawa jang toleran, tidak, tetapi karena pimpinan kabinet sekarang terdiri dari orang2 jang mempunjai perasaan tanggungdjawab jang besar. Sukurlah, bahwa ketika terdjadi Peristiwa Sumatera Hatta tidak memegang fungsi dalam pimpinan negara, walaupun saja tidak ragu adanja sangkutpaut Hatta dengan kedjadian2 itu. Kalau Hatta memegang fungsi penting, apalagi kalau Hatta memegang tampuk pemerintahan, entah berapa banjak lagi korban jang dibikinnja. Dalam usaha menjelesaikan Peristiwa Sumatera ada orang2 jang ingin supaja soal kolonel Simbolon "diselesaikan setjara adat", supaja soal "Dewan Banteng" diselesaikan "setjara musjawarat", setjara "potong kerbau" dan dengan

"menggunakan pepatah dan petitih". Pendeknja, adat, kerbau serta pepatah dan petitih mau dimobilisasi untuk menjelesaikan soal kolonel Simbolon dan soal "Dewan Banteng". Sampai2 orang2, jang tidak beradat djuga berbitjara tentang "penjelesaian setjara adat". Tetapi, orang-orang ini pada bungkam semua ketika Amir Sjarifuddin dengan tanpa proses ditembus oleh peluru atas perintah Hatta. Ketika Amir Sjarifuddin masih ditahan dipendjara Djokja sebelum dibawa ke Solo dan digiring kedesa Ngalian untuk ditembak, tidak ada seorang Batak atau siapapun jang tampil kedepan, dan mengatakan: "Mari soal Amir Sjarifuddin kita selesaikan setjara adat tanah Batak", atau "Mari soal Amir Sjarifuddin kita selesaikan setjara Kristen". Saja hanja ingin bertanja: Apakah Amir Sjarifuddin jang bermarga Harahap itu kurang Bataknja daripada kolonel Simbolon sehingga adat Batak mendjadi tidak berlaku bagi dirinja? Saja kira Amir Sjarifuddin tidak kalah Bataknja daripada orang Batak jang mana djuapun, malahan ia tidak kalah Keristennja daripada kebanjakan orang Keristen. Amir Sjarifuddin meninggal sesudah ia menjanjikan lagu Internasionale, lagu Partainja, lagu kesajangannja, dan ia meninggal dengan Kitab Indjil ditangannja. Amir Sjarifuddin adalah putera Batak jang baik, jang patriotik, dan karena itu djuga ia adalah seorang putera Indonesia jang baik. Djadi tidak sepantasnja adat tanah Batak tidak berlaku baginja. Bagaimana pula halnja ribuan orang Djawa jang didrel tanpa proses atas perintah Hatta itu ? Apakah suku Djawa jang menderita dari abad keabad tidak mengenal musjawarat dan tidak mengenal pepatah dan petitih sehingga ketika dilantjarkan kampanje pembunuhan terhadap orang2 Djawa selama Peristiwa Madiun tidak ada orang Djawa jang beradat dan tidak ada tjerdik-pandai Djawa jang tampil kedepan untuk menjelesaikan persoalan ketika itu setjara rembugan (musjawarat), setjara adat, .dan dengan berbitjara menggunakan banjak paribasan (peribahasa), dengan potong sapi, potong kerbau, dan dengan mbeleh wedus (potong kambing) ? Ataukah karena pulau Djawa sudah kepadatan penduduk maka pembunuhan atas orang2 Djawa oleh tangan besi b urdjuis Minang Mohammad Hatta boleh dibiarkan ? PKI tampil kedepan untuk kepentingan, "de zwijgende Javanen" ("Orang2 Djawa Jang Berdiam Diri") ini, baik mereka Komunis ataupun bukan-Komunis. Ja, djika soal ini dibawa kepengadilan, PKI djuga akan berbitjara atasnama pradjurit2, bintara2 dan perwira2 dari suku Djawa jang mati karena melakukan tugas "membasmi Komunis" jang diperintahkan oleh Hatta. Pradjurit2, bintara2 dan perwira2 jang mati dalam pertempuran melawan Komunis ketika itu adalah tidak bersalah, sama tidak bersalahnja dengan Komunis2 jang mereka tembak. Mereka semuanja adalah korban permainan politik perang-saudara Hatta. Tidak hanja kami, sebagai pewaris2 dari pahlawan2 Komunis dalam Peristiwa Madiun, tetapi djuga keluarga para pradjurit, bintara dan perwira TNI jang disuruh "membasmi Komunis"

berhak untuk mendakwa Hatta sebagai pembunuh sanak-saudara mereka, djika soal ini dibawa kepengadilan. Mari sekarang kita lihat bagairnana sikap pemerintah Hatta terhadap perwira jang belum tentu bersalah dalam Peristiwa Madiun, dan bagaimana sikap pemerintah Ali-ldham sekarang terhadap opsir2 jang sudah terang bersalah dalarn pemberontakan2 di Sumatera. Pemerintah Hatta dengan tanpa memeriksa lebih dulu kesalahan mereka terus sadja memetjat perwira2, antara lain jang masih hidup sekarang bekas Djenderal Major Ir. Sakirman, bekas Letnan Kolonel Martono, bekas Major Pramudji, dan banjak lagi. Padahal perwira2 ini belum pernah dipanggil untuk menghadap, apalagi diperiksa; djadi samasekali tidak ada dasar untuk memetjat mereka. Para perwira jang belum tentu bersalah tidak hanja dipetjat, tetapi banjak djuga jang disiksa diluar perikemanusiaan dan dibunuh tanpa dibuktikan kesalahannja terlebih dahulu. Sekedar untuk mengetahui bagaimana penibunuhan2 kedjam oleh alat-alat resmi ketika itu, bersama ini, saja lampirkan 3 buah turunan laporan resmi dan pengakuan resmi tentang pembunuhan terhadap diri Sidik Aslan dkk. dan terhadap letnan kolonel Dachlan dan major Mustoffa. Untuk menghemat waktu tidak saja batjakan lampiran-Iampiran ini. Lampiran2 ini, saja sampaikan lepas dari penilaian siapa dan bagaimana major Sabarudin, pembuat pengakuan2 tsb. Jang sudah terang major Sabarudin bukan simpatisan PKI, apalagi anggota PKI. Kekedjaman pemerintah Hatta selama Peristiwa Madiun adalah ber-puluh2 kali lebih kedjam daripada pemerintah kolonial Belanda ketika menghadapi pemberontakan Rakjat tahun 1926. Pemerintah kolonial Belanda masih memakai alasan2 hukum untuk membunuh, memendjarakan dan mengasingkan kaum pemberontak, tetapi Hatta sepenuhnja mempraktekkan hukum rimba. Semuanja ini mengingatkan saja kembali pada tulisan Hatta jang berkepala "14 Djuli", dimuat dalam harian "Pemandangan" pada 14 Djuli 1941 dimana antara lain ia menulis tentang Petain, seorang Perantjis boneka Hitler, sebagai "seorang serdadu jang berhati lurus dan djudjur". Hanja serigala mengagumi serigala, hanja fasis mengagumi fasis ! Bandingkanlah sikap pemerintah Hatta terhadap kedjadian di Madiun dengan sikap pemerintah sekarang terhadap kolonel Siinbolo jang sudah n terang bersalah karena merebut kekuasaan disebagian wilajah Republik Indonesia, jang sudah terang melanggar disiplin militer atau jang oleh Presiden Sukarno/Panglima Tertinggi dalam amanatnja tanggal 25 Desember 1956 dirumuskan telah berbuat jang "menggontjangkan sendi2 ketentaraan dan kenegaraan kita, dan jang membahajakan keutuhan tentara dan negara kita pula". Kolonel Simbolon hanja diberhentikan sementara sebagai Panglima Tentara dan Teritorium I. Sedangkan terhadap pemimpin2 pemberontakan militer di Sumatera Tengah sampai

sekarang belum diambil tindakan apa2. Tentu ada orang2 jang mengatakan: ja, karena Panglima Tertinggi, Pemerintah dan Gabungan Kepala Staf Angkatan Perang sekarang tidak mempunjai kewibawaan, maka mereka tidak menghukum perwira2 tersebut seperti Hatta dulu menghukum perwira2 jang disangka tersangkut dalam Peristiwa Madiun. Istilah "wibawa" pada waktu belakangan ini banjak dipergunakan orang dengan masing2 mempunjai interpretasinja sendiri2. Kalau dengan istilah "wibawa" jang dimaksudkan jalah kemampuan pemerintah untuk bertindak, maka terang bahwa pemerintah sekarang sanggup bertindak, sanggup memerintah, artinja mempunjai kewibawaan. Apakah bukan tanda wibawa dari pemerintah sekarang dengan dapatnja digulingkan keradjaan sehari komplotan kolonel Simbolon dalam waktu jang sangat singkat ? Tanggal 22 Desember 1956 pemerintah memutuskan dan mengumumkan pemberhentian sementara kolonel Simbolon sebagai Panglima TT I dan menjerahkan tanggungdjawab TT I kepada letnan-kolonel Djamin Gintings atau letnan-kolonel A. Wahab Macmour. Dalam waktu hanja empat hari, jaitu pada tanggal 27 Desember 1956 komplotan kolonel Simbolon sudah dapat diturunkan dari keradjaan seharinja. Ini artinja bahwa seruan pemerintah dipatuhi, ini artinja pemerintah mempunjai kewibawaan. Tentu ada orang2 jang berkata lagi: ja, tetapi itu mengenai Sumatera Utara. Mengenai Sumatera Tengah pemerintah tidak mempunjai kewibawaan. Mengenai ini saja djawab sbb. : Tiap2 orang jang tahu imbangan kekuatan didalam negeri tidak sukar memahamkan, bahwa kalau pemerintah pusat sekarang mau bertindak, apalagi kalau mau bertindak serampangan seperti Hatta, maka dengan pengerahan serentak seluruh kekuatan Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dengan dibantu oleh massa Rakjat, maka keradjaan "Dewan Banteng" djuga hanja akan merupakan keradjaan sehari. Soalnja bukanlah hanja menundjukkan kemampuan menggunakan kekuatan seperti jang pernah dilakukan oleh Hatta, tetapi djuga kebidjaksanaan. Pada pokoknja kami setudju bahwa pemerintah sekarang mengkombinasi kekuatan riilnja dengan kebidjaksanaan. Sikap ini merupakan dasar jang kuat bagi pemerintah, djika pada satu waktu pemerintah harus bertindak keras, karena djalan perundingan sudah tidak mempan lagi. Walaupun kami kaum Komunis pernah diperlakukan setjara kedjam oleh pemerintah Hatta selama Peristiwa Madiun, tetapi kami tidak menjetudjui djika pemerintah sekarang mentjontoh perbuatan Hatta jang gegabah dan tidak bertanggungdjawab itu. Kita semua mengetahui bahwa politik "tangan besi" Hatta sepenuhnja menguntungkan kepentingan kaum imperialis asing. Ja, walaupuin banjak perwira penganut tjita-tjita PKI jang

dibasmi setjara djasmaniah dalam Peristiwa Madiun, tetapi kami tidak menuntut supaja kolonel Simbolon, letnankolonel Abmad Husein dll. dibasmi setjara djasmaniah. Apalagi kami tahu bahwa banjak opsir2 jang tersangkut dalam pemberontakan2 di Sumatera adalah karena hasutan -hasutan sebuah partai ketjil jang keok dalam pemilihan umun, jl. Kami tidak menghendaki penumpahan darah jang disebabkan oleh kehampaan kebidjaksanaan. Djadi apakah jang kami inginkan ? Kami hanja ingin, supaja disiplin militer berdjalan sebagaimana mestinja, supaja hierarchie ketentaraan ditaati dengan patuh, supaja Angkatan Perang tetap setia kepada tjita2 Revolusi Agustus 1945, karena hanja dengan demikian kita dapat membangun Angkatan Perang jang mampu membantu menjelesaikan semua tuntutan Revolusi Agustus 1945. Hanja dengan penegakan tatatertib hukum dalam ketentaraan jang berdjiwa Revolusi Agustus 1945 Angkatan Perang kita akan setia kepada sumbernja, jaitu Revolusi dan Rakjat. Sebagaimana sudah saja katakan diatas, ada sementara orang berteriak supaja diadakan penjelesaian "setjara adat", "dengan potong kerbau" dan "dengan menggunakan pepatah dan petitih". Tetapi, djika kita tidak waspada, apakah jang tersembunji dibelakang kata2 ini semuanja? Tidak lain jalah untuk mentjairkan disiplin dalam Angkatan Perang kita, untuk mengatjau-balaukan hierarchie dan tatatertib hukum didalam ketentaraan kita. Saja tidak berkeberatan djika djuga ditempuh djalan setjara adat, kerbau2 dipotongi dan segala matjam pepatah dan petitih nenekmojang digali dan dipakai, karena semuanja ini memang warisan dan milik kita sendiri. Tetapi djangan lupa, bahwa semuanja ini hanialah faktor tambahan. Jang primer bagi orang2 militer jalah tatatertib hukum didalam ketentaraan. Kalau tidak demikian lebih baik perwira2 jang bersangkutan menanggalkan epoletnja dan kembali kekampung untuk duduk dalam lembaga2 adat dikampung. Disanalah barangkali mereka akan menemukan ketenteraman djiwanja. Sesudah mengkonfrontasikan Peristiwa Madiun 1948 dengan Peristiwa Sumatera 1956, maka sampailah saja pada kesimpulan, bahwa peinerintah Ali-ldham sekarang berpuluh-puluh kali lebih bidjaksana daripada pemerintah Hatta ketika menghadapi kedjadian2 di Madiun dalam bulan September 1948. Ini dilihat dari sudut kebidjaksanaan. Dilihat dari sudut kewibawaan pemerintah Ali-Idham mempunjai kewibawaan, dibuktikan oleh ketaatan alat2nja pada umumnja. Jang tidak mentaati pemerintah sekarang hanja minoritet iang sangat ketjil jang sudah diratjuni oleh sebuah partai ketjil dan oknum2 liar jang tidak melihat haridepannja dalam demokrasi, tetapi dalam sesuatu kekuasaan militeris-fasis. Adalah djanggal dan tidak bertanggungdjawab djika pemerintah Ali-Idham menjerah kepada ambisi partai ketjil dan oknum2 liar ini. Selandjutnja dapat pula ditarik kesimpulan, bahwa adalah

perbuatan jang tidak bertanggungdjawab untuk memberi kans sekali lagi kepada Mohamad Hatta, bapak perang-saudara, seorang jang karena haus kekuasaan dan pendek akal telah menewaskan be-ribu2 Rakjat dan pemuda baik orang2 sipil maupun orang2 militer kita jang baik2. Dwitunggal Tidak Pernah Ada Sementara orang tentu akan bertanja: Tetapi bagaimana dengan "dwitunggal"? Per-tama2 perlu saja njatakan bahwa dwitunggal tidak pernah ada, bahwa dwitunggal hanja ada dalam dunia impian orang2 jang tidak mengerti seluk-beluk sedjarah perdjuangan kemerdekaan dan sedjarah pentjetusan Revolusi Agustus 1945. Kalau orang mau tenang dan mau meng-ingat2 kembali pada pertentangan pendapat jang sengit antara Sukarno dengan "Partai Indonesia" (Partindo) disatu fihak dan Hatta-Sjahrir dengan apa jang dinamakan "Pendidikan Nasional Indonesia" difihak lain, maka orang akan sependapat bahwa dwitunggal jang sungguh2 memang tidak pernah ada. Untuk pertama kali, pada kesempatan ini ingin saja njatakan, bahwa saja sudah lama merasa ikut berdosa karena sudah ambil bagian aktif dalam gerakan memaksa Hatta menandatangani Proklamasi 17 Agustus 1945. Hatta sudah sedjak semula setjara ngotot menentang pentjetusan Revolusi Agustus. la menggantungkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnja pada rachmat Saikoo Sikikan (Panglima Tertinggi Tentara Djepang di Indonesia) jang tidak kundjung tiba itu. Saja merasa lebih2 ikut berdosa lagi ketika membatja pidato Hatta waktu menerima gelar Dr. HC dari Universitas "Gadjah Mada" dimana dengan tegas dikatakannja bahwa revolusi harus dibendung. Kalau saja tidak salah Universitas "Gadjah Mada" sudah tiga kali memberikan gelar kehormatan, pertama kepada Presiden Sukarno, kedua kepada Hatta dan ketiga kepada Ki Hadjar Dewantara. Pemberian jang pertama dan ketiga, menurut pendapat saja, adalah tepat, karena Universitas "Gadjah Mada" jang dilahirkan oleh revolusi memberikan gelar kehormatan kepada orang2 revolusioner, pengabdi2 revolusi. Tetapi pemberian jang kedua, jaitu pada Hatta, maaf, adalah satu kekeliruan jang mungkln tidak disengadja. Betapa tidak keliru, sebuah universitas jang dilahirkan oleh revolusi memberikan gelar kehormatan kepada seorang jang ingin membendung revolusi, kepada seorang kontra-revolusioner. Dwitunggal jang terdiri dari seorang revolusioner dan jang seorang lagi kontra-revolusioner samasekali bukan dwitunggal. Oleh karena itulah saja katakan, dwitunggal tidak pernah ada, ketjuali didalam dongengan dan impian. Dongengan tentang dwitunggal inilah jang antara lain telah membikin revolusi kita mendjadi matjet, karena dwitunggal jang di-bikin2 itu, jang heterogeen itu, telah membikin kita terdjepit diantara dua kutub, kutub

revolusi dan kutub kontra-revolusi. Selama lebih sebelas tahun Rakjat Indonesia sudah ditipu dengan apa jang dinamakan dwitunggal. Revolusi kita berdjalan terus, semua kekuatan revolusioner harus dipersatukan dan dimobilisasi untuk mengalahkan kekuatan2 kontra-revolusioner. Demikianlah, penilaian saja mengenai kebidjaksanaan pemerintah sekarang, sesudah saja mengkonfrontasikan kebidjaksanaan pemerintah sekarang dengan kebidjaksanaan pemerintah Hatta ditahun 1948. Saja di aksa p untuk memberikan penilaian setjara ini, karena ada salah seorang anggota Parlemen kita jang dalam pemandangan umumnja membawa-bawa Peristiwa Madiun.

Keterangan: *) jl : Ialah

Djadi kawan muda, djelaslah bahwa peristiwa Madiun bukan pemberontakan PKI tapi merupakan gerakan provokasi pihak TNI dan kabinet Hatta untuk membantai orang merah, sebagai jualan politik Hatta kepada Amerika Serikat. Ini pelajaran sedjarah kawan muda, kita terlalu menghamba kepada pihak asing terutama Amerika Serikat, sedjak awalnja Indonesia memang tidak di djadjah Belanda lagi tapi Amerika Serikat. Sementara Sukarno tidak punja kekuatan politiek riil, ia memang mampu membakar massa rakjat, tapi saja perhatikan Sukarno kurang mampu melakukan tindakan administrasi partai yang kuat, disinilah saya pikir bisa masuk pada kelemahan Sukarno yang pesolek dan agitator ulung.

Posted in Uncategorized | No Comments » Sedjarah Hidup Aidit Bag.III December 5th, 2005 by dn-aidit1924 Revitalisasi PKI

Akibat peristiwa Madiun, PKI hancur lebur, saya perhatikan kaum kiri sudah terkena gerakan provokasi pemerintahan Hatta. Setelah peristiwa Madiun usai, saya mendapat laporan bahwa memang ada pertemuan rahasia antara:Sukarno,Hatta, Sukiman, Moh. Natsir, Moh. Roem dan Sukamto (Kepala Polisi) dengan delegasi Amerika Serikat: Gerald Hopkins dan Merle Cochran. di Sarangan pada tanggal 21 Juli 1948. Rupanya bagi sebagian orang menyebut pertemuan ini adalah red drive proporsal atau AS mau bantu Indonesia untuk melawan agresi Belanda,asalkan kelompok merah di bersihkan, rupanya pihak AS sudah membaca bahwa Stalin s gank sudah ada di Indonesia dan sedang membangun kekuatan, AS tidak mau kecolongan Indonesia akan di jadikan negara Sovyet . Bagi mereka lebih baik menekan Belanda daripada harus menyerahkan Indonesia ke genggaman Kominis. Dan Sukarno-Hatta dinilai jauh dari pikiran kominis. Kabarnya Sukarno agak enggan menerima usul AS, dan meninggalkan ruang pertemuan tatkala delegasi Indonesia dan AS masih sibuk berunding, tapi apa mau dikata Sukarno di tahun 1945-1949 lumpuh secara politik, akibat dominasi Hatta dan Sjahrir. Dan sedjarah membuktikan bahwa setelah pertemuan di Sarangan, TNI Siliwangi dan Corps Militair dibawah komando Hatta membantai orang-orang kiri di Madiun. Saya, Lukman dan Setiadjid berhasil lolos dari operasi penangkapan terhadap orang-orang kiri sementara Wikana hilang tak jelas rimbanya. Saya pun menggelandang dari sudut Djakarta ke sudut Djakarta lainnja, dari Priok sampai wilayah perkebunan dekat Depok. Di Priok saya berkenalan dengan Sjamsul Qamar bin Mubaidah, dia orang Arab bekas anggota PAI (Persatoean Arab Indonesia), Sjamsul Qamar bagi sebagian orang dikenal dengan nama Sjam Kamarruzaman. Di Priok ia adalah ketua SBKP (Serikat Buruh Pelabuhan dan Kapal). Saya dan Lukman tetap memiliki api perdjuangan membangkitkan PKI kembali, tjita-tjita kami sudah bulat, PKI harus di djauhkan dari orang-orang jang selalu memberontak seperti: Wikana, Musso atau Semaun. PKI harus sadar bahwa orang-orang Bordjuis adalah kenjataan politik dan perdjuangan sendjata tidaklah mungkin ketjuali adanya penguasaan terhadap Angkatan Darat.

Setelah kedjadian Madiun, banyak orang tidak mau lagi berhubungan dengan PKI, orang-orang ex Digul yang dulu di buang Belanda akibat terlibat pemberontakan 1926 bahkan kerap mentjemooh PKI, saya merasa kurang senang dengan keadaan ini, apalagi saya melihat PKI hanya merupakan sayap kecil dari gerakan Sosialis. Dan saya sering merenung tentang kegagalan PKI selama ini, saya inget di sebuah daerah persembunyian saya di wilayah Tanah Abang, di sebuah rumah kontrakan ketjil jang kumuh dan djorok, saya mendapat inspirasi, bahwa revolusinja PKI di Indonesia adalah revolusi dua tahap, pertama revolusi demokrasi bordjuis, disinilah kekuatan PKI di udji apakah PKI di dukung rakjat atau tidak, pada tahap ini kita bisa melihat djumlah kekuatan kita sebenarnya, djangan kita terdjebak pada subjektivita s, menganggap diri kita kuat, menganggap orang lain musti ikut dengan kita dan gampang dipengaruhi. Kita mau tidak mau harus bersama gerakan bordjuis untuk ikut dalam perdjuangan mereka, perdjuangan Nasionalisme. Tahap kedua adalah setelah kita menguasai parlemen, setelah revolusi bordjuis kita kelar dan kita tahu beberapa kekuatan kita, barulah kita melakukan gerakan revolusi kaum buruh dan tani, kalau perlu mereka di persendjatai. Djadi kesimpulanku djangan buru-burulah kita angkat sendjata. Hal ini saja sampaikan pada M.H Lukman, Njoto, Sudisman dan Njono mereka setudju. Masalahnja saya harus menjingkirkan dulu elemen tua PKI jang sedikit mengganggu yaitu: Alimin dan Tan Ling Djie.

Sjam Kamarruzaman

Banjak ahli sedjarah baik orang Indonesia maupun asing jang mempertanjakan siapa Sjam?, bahkan dibilang Sjam adalah mata rantai yang hilang dalam peristiwa G 30 S atau Gestok 1965. Baiklah saya ceritakan Sjam adalah seorang pria keturunan Arab, kulitnja hitam tidak seperti pria keturunan Arab lainnya yang rata-rata berkulit putih bersih, namun wajahnya sangat terlihat arab,dengan hidung mancungnya dan bibir yang tebal, waktu jaman revolusi perawakan Sjam kurus, tingginya sedang sadja tidak setinggi orang-orang Arab pada umumnya. Pada djaman Djepang ia adalah intelijen Komisaris Polisi Mudigdo (kelak Kompol Mudigdo adalah mertua saya, karena anaknya dokter Tanti yang akrab dipanggil Bolle saya nikahi). Aktivitas politik Sjam pertama kali terlihat adalah sebagai orang yang sering mengundjungi lingkaran diskusi Pathok. Sjam bukan anggota aktif Pathok, tapi wajahnya tjukup dikenal bagi kalangan anggota Pathok. Kelompok Pathok adalah sebuah lingkaran intelektual di Djogjakarta yang memperdjuangkan kemerdekaan Indonesia, di djaman revolusi kelompok ini sangat berperanan dalam aktivitas tempur maupun politik, apalagi setelah ibukota RI dipindah ke Djogjakarta. Sjam sangat dekat banjak kalangan, ia dikabarkan adalah orang PSI, karena kedekatannya dengan

orang-orang PSI, tapi ia djuga tentara aktif, ia dekat dengan perwira-perwira dari Djawa Tengah seperti : Suharto (kelak orang inilah sebagai penjebab utama kehantjuran PKI di Indonesia), lewat Sjam pula saya kenal dengan Suharto, jang akrab saya panggil Mas Harto. Sjam adalah orang jang lihai dia mampu berdiri di banjak tempat itulah jang saya butuhkan, saya tidak mau lagi PKI terdjerembab dalam aksi provokasi pihak luar. Seperti peristiwa Madiun, ini dikarenakan FDR dan PKI tidak melihat memang ada usaha pembantaian terhadap orang kiri melalui skenario red drive proporsal, sebabnja apa? Sebabnja PKI tidak punja informan, Sjam bahkan tahu bahwa ada perundingan rahasia di Sarangan, dia djuga banjak tahu bahwa ada skenario Sukiman untuk membantai PKI di kemudian hari, dan ini terbukti benar pada razia Agustus 1951.Tentang Sjam jang terlibat peristiwa Gestok 1965 bersama saya, baiklah akan saya tjeritakan di belakang agar tjerita ini mendjadi runtut adanja.

PKI dibawah kepemimpinan Saya

Setelah peristiwa Madiun, kami terpaksa tidak muntjul ke permukaan , pergerakan perdjuangan otomatis dikuasai Sukarno, Hatta dan Sjahrir. Kawan-kawan saya banyak yang di pendjara, di Djakarta pendjara Tjipinang penuh dengan PKI. Pada tahun 1951 Sukarno mau merehabilitir PKI asalkan tidak mengulangi pemberontakan seperti di Madiun, walaupun kami menolak kata pemberontakan , karena itu memang provokasi Hatta dan Nasution, kami turut sadja kemauan Sukarno. Di tahun itu pula diadakan kongres PKI, dan PKI berhasil melakukan re-organisasi dengan mendirikan Comite Central dan Biro Chusus, Sekretaris Djenderal (sebutan ketua untuk PKI) terpilih Tan Ling Djie, tokoh tua ini memang intelektual, latar belakangnya wartawan, tapi ia orang kurang revolusioner, kurang berani. Saya, M.H Lukman,Njoto dan Sudisman tinggal tunggu waktu untuk menjingkirkan ini orang. Tahun 1954 lewat kongres CC PKI, susunan kepengurusan PKI berhasil kita rebut dari tangan Tan Ling Djie, dan orang-orang tua matjem Alimin sudah kita singkirkan, biarlah mereka mengenang keindahan perdjuangan masa lalu, tapi hari ini dan esok milik kami, kaum mudanya Indonesia.

Susunan CC- PKI hasil kongres 1954 adalah sebagai berikut:

Sekdjen PKI : Dipa Nusantara Aidit Deputy Sekdjen I : M.H Lukman Deputy Sekdjen II : Njoto

Anggota : Sudisman Sakirman Jusuf Adjitorop Peris Pardede Karel Supit Djoko Sudjono Achmad Sumadi.

Di bulan Meret 1954, itulah kami mulai start berdjuang dari awal, anggota PKI kami hanja 8.000 (delapan ribu) orang, setelah kami pegang kendali dan kami lalui liwat kerdja keras dengan mengenalkan program partai, anggota kami berdjumlah 1.000.000 (satu juta) orang, dan massa pendukung kami. Dari onderbouw kami seperti Barisan Tani Indonesia (BTI) anggotanya di tahun 1955 berjumlah 3.300.000 (tiga juta tiga ratus ribu) orang, dulu di awal-awal BTI terbentuk anggotanya hanya 360.000 (tiga ratus enem puluh ribu) orang, Pemuda Rakjat gantinja Pesindo anggotanya di tahun 1955 sekitar 700.000 (tujuh ratus ribu) orang. Surat kabar kami Harian Rakjat memiliki tiras paling besar di Indonesia djumlahnja sekitar 55.000 (lima puluh lima ribu) eksemplar, di bawah kepemimpinan kami kaum muda kominis, PKI mendjadi partei raksasa, bukan partei ketjil seperti mainan Madiun tahun 1948, kamilah pemilik masa depan Indonesia yang berdjuang untuk menghilangkan penindasan kaum kaya, kaum kapitalis, komprador-komprador Amerika Serikat dan Inggris, kapitalis birokrat (pedjabat jang korup) itulah musuh kami. Kawan kami adalah kaum djelata, kaum jang dihinakan, veteran-veteran tua yang dilupakan, anak-anak djalanan, kaum miskin dan kaum yang haknja diambil.

Tak terasa meraksasanja partei kami mengundang ketjemburuan dari partei lain, PNI dan Masjumi enggan memasukkan anggota kami duduk di kabinet mereka, PSI partei ketjil malah banjak memasukkan orang-orangnja. Tapi kami diam sadja wilayah kami bukan mengurusi kabinet jang djatuh bangun, kami harus berkonsentrasi pada perdjuangan ke bawah, membela kaum djelata itu mata pokok kami, bukan berpolitiek lalu main korupsi .bukan . sama sekali bukan.

Mengapa Fokus Kami Langsung Ke Massa Rakjat Kami tidak akan langsung mau main ke dalam struktur pemerintahan di kabinet, atau bertarung langsung dengan elite-elite politiek lawan kami, kami memilih menghindari mereka dulu dengan alasan, Partei kami bukan Partei Bordjuis, kami tidak mau terdjebak ke dalam lingkaran pergaulan Bordjuis, kami harus djaga djarak, kami djuga masih melihat banjak persoalan rakjat djelata jang musti kami bantu selesaikan. Kegiatan kami berpusat pada pemogokan massal kaum buruh, berpusat pada perbaikan kondisi hidup massa rakjat, membangun pemahaman konsep-konsep perdjuangan PKI di kalangan rakjat banjak, membina hubungan dengan seluruh jaringan intelektual muda baik dari kalangan sipil maupun militair, kami pertjaja pada mereka atas lojalitas mereka terhadap negara, atas dedikasi mereka kepada bangsa dan negara. Tahun 1955 kami menuai hasil atas kerdja keras kami, dalam pemilu partai kami masuk nomor urutan empat di bawah PNI, Masjumi dan NU. Kami kaum mudanja PKI dapet sorotan luas, ditengah-tengah gemebjar kemenangan kami, kami tetep sederhana tetep bekerdja keras, karena kami jakin dengan begitu rakjat masih pertjaja dengan kami. Suatu sore di tahun 1956 jang saja lupa di bulan apa,kalau tidak salah di awal tahun, Sukarno mengundang saja dateng ke Istana Merdeka di Gambir sana, saja di suruh menunggu di teras belakang Istana, Sukarno tampaknja sedang menjelesaikan beberapa surat penting, Ia kemudian menemui saya, dengan hanja menggunakan kaus oblong putih dengan ikat pinggang couple warna krem terang dan celana pentalon coklat terang djuga, tanpa petji, kepalanja jang botak terlihat djelas, ia mengenakan katja mata batja-nja, Ia sapa aku Dit, bagaimana kabarmu, ini hari sangat tjapek aku, itu Hatta dan orang-orang Islam drop-dropan Masjumi sudah ribut sadja masalah keberhasilan kau ini, aku nggak mau mereka djadi terpantjing bikin ribut, ini djuga aku sudah dapet laporan bahwa Kolonel-Kolonel jang nggak puas sama Nas, sudah mulei itu mau bikin aksi ribut, aku khawatir mereka digunakan oleh Amerika Serikat buat bikin stroom ke aku, lha itu si Natsir dan Mitro kok ikut-ikutan

gerak kesana,kalo suruh aku bilang ke Sjahrit Niet lah Aku dari dulu nggak suka itu Sjahrir, ngene Dit, Kamu punja partei akan djadi kambing hitam mereka buat antem aku. Lha apa kamu siap di belakang aku .aku sudah pikir masak-masak mau ganti ini sistem konstitusi jang sudah rusak, nanti aku djuga mau panggil itu orang NU djawa timur, dengan orang Nasionalis, kau tunggulah kabar dari aku Sukarno terus bitjara termasuk ketidaksenangannja dengan Hatta dan Sjahrir djuga keengganannja meneruskan sistem demokrasi liberal, saya lupa apa yang di bitjarakan Sukarno, termasuk lawakan-lawakannja di tengah tjerita hanja sadja saya mulei berpikir bahwa sore itu gagasan Nasakom mulai di gagas Sukarno. Bekerdja di tengah Rakjat menimbulkan kegairahan saya, saya djadi inget kerdja keras Mao di pedaleman Henan. Saya bekerdja keras untuk partei, untuk rakjat, untuk bangsa ini, saya perhatiken penderitaan rakjat semuanja saya kerdjaken, akhirnja simpulken kekuatan pokok kita ada pada buruh dan tani jang memang selalu di kerdjai oleh komprador-komprador kapitalis jang banjak dari mereka tjukong-tjukong jang di bekeng oleh perwira-perwira militer, itu kesimpulan pertama saya. Saya djuga mulai perhatiken gedjala tumbuhnja sikap maen korupsi uang negara sikap nggak mau tahu terhadap masalah dalam negeri, sikap jang mau menang sendiri di kalangan partei, ini saya resapi saya renungkan. Suatu hari saya bertemu Pak Kurmaen, petani dari Tadjur Sukabumi, ia banjak memberi peladjaran saya bertjotjok tanam bunga di bawa saya ke daerah Puntjak, Tjipanas di deket Villa Kolonel Kawilarang (katanja sekarang djadi Restoran Rindu Alam), saya buka kebun bunga, disitu banjak pemuda rakjat saya suruh beladjar. Di djakarta saya sering mengundjungi wilayah senen, disana banjak veteran-veteran dan kaum seniman saya bina, saya djuga seniman, saya sering bikin puisi ini salah satu puisi saya

Puing-puing rakyat Rakjat dimana kau? Kutjari dalam ribuan luka Kuhempas badai mentjari lukamu

Rakjat dimana kau Deritamu siksa aku dalam djuangku

Biarlah aku ditjabik jutaan harimau agar kau bisa tegak berdiri Bukan di tindas dan tertekuk dalam kehinaan

Rakjat tjintaku padamu Ada pada gubuk-gubuk liar Dan ilalang tanpa nama Karena kaulah tjintaku tak akan mati

Akulah perindumu yang digotong oleh djoang Di bantu oleh ketidakberdajaan Akulah tjintamu Jang aku inginken di tiap malam gelap Akan adanja perubahan Akan adanja perubahan

Djakarta, 2 Januari 1954

DN Aidit

Pemberontakan PRRI/Permesta

Benar sadja peringatan Sukarno terhadapku, beberapa kolonel bordjuis membangkang terhadap pemerintahan pusat, mereka menuduh Sukarno mentjeng ke Komunis, lha ini sudah keterlaluan masakan kominis jang dianggap biang keladi karena PKI dianggap membawa-bawa Sukarno ke kalangan Kominis Internasional, tuduhan ini luar biasa kedji. Saja marah besar, lalu malam tanggal 4 Djanuari 1957 saja memanggil Njoto, Njono, dan MH Lukman saja kataken ini sudah tidak benar masakan Sukarno jang ingin mereka antem tapi malah PKI di djadikan sasaran mana benar ini uraiku kepada mereka, Njoto jang malem itu saja inget pakai badju tjoklat tentara dan berkatja mata bulat tebal malah mendukung langkah PRRI/Permesta alasannja apabila PRRI gagal maka Sukarno dapat didesak membubarken Masjumi dan PSI, karena dalam gerakan itu bertjokol pemimpin-pemimpin Masjumi dan PSI, sekarang tinggal PKI dan PNI sadja jang dapet membangun djembatan dengan Sukarno, dan tugas besar PKI adalah mendekat pada pemimpin-pemimpin Angkatan Darat terutama jang di djawa. Dalem pada itu saja mulai mengaktifkan gerakan-gerakan pemuda, saja melihat masih banjak tugas besar nasional jang belum dibereskan, seperti perebutan kembali Irian Barat dan gerakan anti korupsi jang dilakukan kapitalis-kapitalis Birokrat. Saja pikir biar sadja TNI AD jang membereskan aksi sepihak PRRI di Sumatera toch jang berontak djuga kawan mereka, saja lihat ini Kolonel Achmad Jani, sedang naik daun, dia anak didik Jenderal Gatot Subroto, orangnja tjerdas saja denger djuga bisa berbitjara dalem banjak bahasa, Sukarno suka dengan dia, Saja bilang sama Njoto, ini Jani akan singkirkan Nasution. Sementara Pasukan Jani berperang melawan PRRI, saja mulai melakukan konsentrasi terhadap arah perdjuangan partei, saya mulai melakukan penggiatan organisasi dan memasuki tahap gerakan pemahaman partei. Saya keliling Indonesia dari Atjeh sampe Maluku saya datangi, saya berbintjang dengan orang-orang daerah saya resapi penderitaannya, saya pahami keinginannya dan saya mendapat kesimpulan perdjuangan buruh dan tani musti disegerakan. Tahun 1958, awal di depan Parlemen partein saya dihudjat terus oleh kelompok-kelompok Masjumi dan PSI dan saya diam sadja hanja pernah saya melakuken pembelaan di depan parlemen terhadap serangan Pak Udin Sjamsuddien jang seakan-akan menjamakan PRRI dengan Madiun Affair. Saya lihat kembali Jani cs sudah berhasil menangani PRRI/Permesta, sementara

penumpasan gerombolan DI/TII lambat sekali dilakukan oleh kelompok Siliwangi, saya tidak tahu apakah ini disengadja oleh militer Siliwangi.Tapi saya mulia melihat Sukarno akan mendekat ke kelompok militer, saya putuskan untuk ikut dalem permainan Sukarno.

Sukarno, Militer dan PKI Sedjak kegagalan gerakan kolonel-kolonel di Sumatera, Sukarno tanpaknya butuh perlindungan politik dari tentara, apalagi setelah ia berhasil menendang musuh-musuh politiknya keluar dari arena politik, musuh-musuh politik Sukarno yang ia kenal sedari muda seperti; Sjahrir, Hatta, Hamka, Natsir dll djuga dari kalangan generasi yang lebih muda seperti: Soemitro Djojohadikoesomo, Soedarpo, Djohan Sjahruzah, Yunan Nasution dan Isa Anshary,membuat Sukarno perlu membangun benteng politik baru. Nadhlatul Ulama yang bermusuhan dengan Masyumi rupanya tetap bersikap baik dengan Sukarno, apalagi Sukarno dilihat djuga bagian dari mereka, sama-sama berdarah Djawa Timur, PNI sudah djelas akan memihak Sukarno, dan kini sikap PKI harus memiliki kedjelasan, dari kedua partei itu djelas PKI adalah partei jang paling memiliki konsep dan punja pandangan eropa jang paling kuat sementara mereka berpaham Djawa sekali, apalagi TNI. Akhirnja liwat keputusan kolektif PKI mendekat ke Sukarno, sayap saya menang untuk mendukung Sukarno, walaupunSudisman habis-habisan menolak untuk merayap mendekati Bung Karno. Lama saja berpikir, saja perhatiken taktik Njoto agak ke Rusia-rusia-an, lalu saja beralih pada pandangan Sudisman jang lebih nasionalis, Sudisman ini kawan kominis tapi pikirannja terlalu Indonesia sekali,djauhlah dari pandangan Internasionalisme, saja merenung di ruang beladjar saja, pertanjaan besar saja apakah saja ikut dengan Sukarno lalu saja akan djadi makanannja, saja tau percis watak Sukarno tau percis.Sukarno akan rela memakan teman seperdjoangan bila taktiknja memerlukan itu, tapi setjara pribadi ia tetep hangat, ia tiada kedjam, bila kita di antem Sukarno, maka pribadi kita tidak diantjem, saja tau ini djustru dari Hatta dan Hamka, Sukarno orangnja tidak tegaan sama temen, tapi kalo maen politiek wah profesioniil sekali dia. Apakah PKI hanja akan djadi mainan Sukarno? Itu pertanjaan besar saja. Saya inget hari itu hari senin, saya lupa tanggal berapa tapi bulan february 1959, Saya dipanggil lagi ke Istana, Sukarno mengenakan pakaian netjisnja. Badju putih dengan banjak taburan bintang djasa, katja matanja tidak dilepas, ia masih membatja beberapa surat dan nampak menandatanganinja, saja mengenakan kemedja putih berbahan kasar, dia melihat saya dan menjapa wah, dit sudah sampai kau duduklah disana aku mau teken ini

beberapa surat . saya pun duduk dan setjara takzim memperhatikan Sukarno. Dit, jij tahu bahwa ada kabar itu orang PSI di luaran mau bikin aksi sirkus lagi buat antem aku, lha kamu kok diem sadja Dit, mana lojaliteitmu buat aku ? utjap Sukarno sambil terus membatja, matanja tidak lepas dari kertas-kertas jang akan di tandanganinja. maksud Bapak bantu apa? djawabku, tiba -tiba wadjah Sukarno mendongak ke atas matanja jang tadjem memandangku. Dit aku mau dukungan kamu, disini aku masih menang, di Djakarta aku pegang kekuasaan opini, tapi di luar negeri apa-apaan aku bukan siapa-siapa, apa itu Ike (maksudnya Dwight Eisenhower-Presiden USA,pen) mau denger aku, apa itu Nikita (Nikita Kruschev, pen) mau denger aku, Nehru sadja masih pandang remeh aku .aku mau kau lobby ke dunia internasional, bikinlah namaku harum, djangan kau ketinggalan sama aksi bikin djelek namaku oleh PSI, oleh itu si Mitro sardjana ekonoom tapi aksinja memaluken aku langsung teringet wadjah Sumitro Djojohadikusumo, dengan tubuh kurusnja, terlihat sekali Sukarno tiada suka dengan dia aku harus akui Mitro ini tjerdas sekali.Sukarno berdiri dan mengambil sebuah bundel kertas di medja podjok, aku perhatiken kok tiada adjudan jang berdiri disekitar Presiden, hanja pak Boleng dan Pak Mi un petugas istana jang suka anter minum dan makanan ketjil mereka duduk di ruang kanan. Dit, nih aku sudah buat konsep Nasakom, Nationalisme, Agama dan Kominisme, jij [1]musti batja ini draftnja, nanti saja suruh si Seyuti bikin hard copynja, jij peladjari dulu, tapi tjobalah jij bangun kontak itu ke Kremlin dan Tjina-nja Mao, bilang aku akan mendukung aksi dia, aku sudah muak liat aksi Amerika,liat itu si Pahlawan D-Day (maksudnya Eisenhower-pen) edjek terus aku sukarno menundjuk-nundjuk aku dan meneruskan kata-katanja Dit, jij punja kerdja bagus,punja bikin partei heibat, buat iri itu matjan-matjan politiek, Nasution sadja sampai mengagumi kamu, baiknja kamu dan Nasution bertemu kita bertiga bitjara Sukarno langsung duduk lagi dan menoleh ke arah Pak Boleng, leng tolong ambil itu, obat ramuan tjina jang kemarin Bapak taruh di lemari dalem Boleng mengangguk dan agak berdjalan tjepat menudju ruang dalem, aku masih membuka-buka halaman demi halaman kulihat sekilas dan wadjah Sukarno nampak lelah sekali, Dit aku beri kamu itu obat dari Tjina, ini hadiah dari dokter Gouw, ia baru sadja tiba dari Tjina, itu obat bagus buat djaga kesehatan, Dit bagaimana kabar Tanti isterimu? aku memandang ke arah beliau kuperhatikan wadjahnja jang terlihat letih, baik Pak djawabku. Sukarno memandang lurus ke arahku dalem sekali, dia sepertinja mau nyondro (membatja pikiran dan raut wadjahku) aku diem sadja, dan pura-pura tidak memperhatikan tatapan Sukarno jang luar biasa tadjem. Dit, jij orang haibat, jij bisa bangun jij punja partei sampe besar, maha besar, partei Jij adalah parteinja rakjat, bukan partei elite partei penguasa, jij bisa arahkan gelombang besar rakjat ke dalem tenaga kominis ..itu bagus bagus, tapi jij djuga musti tahu, Islam dan Nasionalisme adalah kenjataan jang objektief djuga, jij tidak bisa serta merta memusuhi Islam dan kaum agama lainnja, jij djuga tidak bisa sikut-sikutan dengan itu PNI, jij akan berat nantinja Dit, sudah kukataken, baiknja energi ini disatuken, digunakan dalem tenaganja rahayat, dalem djiwanja rahayat agar kita bisa mengumpulkan tenaga jang besar ini, untuk melandjutken revolusi,

revolusi belum selesai Dit tutur Sukarno. Sedjak itu aku memahami ladju pikiran Sukarno, aku mau tidak mau harus bekerja sama dengan orang ini,karena bila tidak partaiku akan hancur untuk ketiga kalinya. Walaupun keputusanku bekerjasama dengan Sukarno dicibiri oleh banyak orang, banyak kawan dan banyak orang kominis di dunia Internasional bilang aku ini partei jang bisanja bergaul dengan kaum bordjuis, tapi aku mulai dengan sikap tegas taktik aku djalanken, strategi harus aku mulai dengan mendekati Sukarno.

PKI Penuh Dibelakang Sukarno

Sukarno menawarkan konsep Nasakom padaku pada dasarnja aku menyetudjui, inibagian dari strategi besarku, aku membiarkan revolusi bordjuis berdjalan dulu, een toch..aku pikir Sukarno sama sekali tidak punja watak kapitalis, walaupun tidak bisa dikatakan kominis, Sukarno petjinta kemewahan, petjinta seni tinggi, gaya hidupnja adalah gaya hidup kaum kraton, dia orang berselera tinggi. Pernah satu kali aku bertandang ke Istana Bogor, disana hadir isteri kedua Sukarno ibu Hartini, Ali Sastroamidjojo (ketua umum PNI), Djenderal Nasution dan Roeslan Abdulgani. Saja ditegur di depan mereka-mereka tentang ketidak rapihan pakaian saya oleh Bung Karno, saya inget utjapannja Hei, Dit jij pemimpin partei besar, masakan pake dasi sadja meleset, sini saja betulken Sukarno mengangkat tangannya ke arah kerah dasiku dan membetulkan letak dasi, sedjak itu aku selalu berpenampilan rapih. Saya pimpin PKI ini mendjadi partai jang penuh mendukung perdjuangan Sukarno. Pada 5 Juli 1959, Sukarno memberlakukan dekrit Presiden dan membubarkan konstituante, ini berarti pemberlakuan UUD 1945 kembali menggantikan UUD Sementara 1950, tertutup sudah ambisi membentuk negara Islam bagi kelompok Masyumi, apalagi banyak dari mereka tersingkir akibat terlibat gerakan PRRI/Permesta.Sukarno lalu mengumumkan berlakunya Nasakom, baginya semua kekuatan politik yang ada harus bersatu menjalankan revolusi, revolusinja Sukarno, dan saya putusken untuk ikut apa maunja Sukarno, PKI ada di belakang Sukarno. Program utama Sukarno setelah berhasil membreidel musuh-musuh politiknja adalah membereskan masalah jang tertunda dari Konferensi Medja Bundar 1949, jaitu masalah Irian Barat, kemudian djuga Sukarno pernah setjara diem-diem mengumpulken beberapa orang intelidjennja untuk memperhatikan

Malaya, Irian Barat djadi program pertama Sukarno, dan Malaya djadi program berikutnja. Saya ambil keputusan untuk memilih Malaya sebagai penggalangan pemuda rakjat, bukan masalah Irian Barat, pertimbangannya adalah Malaya adalah tempat yang tempat untuk menghadapi front Kapitalis Inggris dan Amerika Serikat, saya akan melihat ke depan bila Vietnam Selatan berhasil menahan serbuan Ho Chi Minh, maka konsentrasi AS adalah Djakarta. Dan bagi saya perebutan Irian Barat adalah konsumsi politiek Sukarno, sementara PKI berpusat pada Malaya. Dalem pada itu, saya berusaha sepenuh tenaga untuk memperkuat secara keras garis-garis massa rakyat yang akan berhadapan dengan kaum kapitalis lokal. Pemuda rakyat saya djadiken barisan utama sebagai barisan pemuda pelopor, ke depan saya sudah berpikir untuk membentuk angkatan ke V, setelah angkatan darat, laut, udara dan kepolisian. Yaitu Tani dan Buruh dipersendjatai.Tapi program itu saya simpan dulu, saya masih akan berkonsentrasi pada perang sosial, front-front politik agraria saya akan tjoba untuk mengetes kekuatan PKI dalam menghadapi kelompok bordjuis, maka peristiwa-demi peristiwa terdjadi di lapangan, pertarungan politik antara PKI dan kelompok bordjuis, dikit demi dikit musuh saya djelas, perwira-perwira kapitalis dukungan Amerika Serikat !!!, dan mereka bertjokol di Angkatan Darat. Penilaian saya terhadap Angkatan Darat semakin kuat menudju kesimpulan bahwa Angkatan Darat terlibat dalam gerakan-gerakan anti revolusioner Bung Karno, AD terlalu deket dengan Washington. Banjak Djenderal-Djenderal perang AD dikirim ke negara-negara kapitalis barat seperti: Inggris, Djerman Barat dan AS. Perwira-perwira itu terpengaruh pada gaya hidup dan pemikiran kapitalis, mereka mulai banjak memiliki usaha-usaha bisnis sendiri, pelan-pelan para perwira-perwira AD di daerah menjadi warlord (tuan-tuan perang) yang menguasai kehidupan orang banjak. Inilah jang sering terdjadi konfliek antara PKI dan AD. PKI jang merupakan partei massa, sudah membuktiken diri mendjadi partei rakjat, milik rakjat. Sementara perwira-perwira AD menjusun sebuah garis komando dimana elite perwira bukan sadja pemimpin di lingkungan militer tetapi djuga pemimpin di dalam masjarakat. AD mulai bermain politiek di mana ruang gerak itu seharusnya di gerakan oleh partei politik bukan militer.Selain itu AD sudah bermain bisnis, sektor-sektor produktif di kuasai AD dari perkebunan karet, pabrik gula sampai minyak bumi di kuasai oleh perwira-perwira AD. Sementara rakjat tetap didjadikan barisan buruh jang di peras tenaganja, barisan petani jang dirugikan dan dirampas tanahnja untuk kebun-kebun tebu.

Djika aku merenung dalam kesendirian bertanja apa arti tudjuan hidupku, aku merasaken sebuah gerakan dalem hatiku, sebuah senjawa jang selalu mentjampurken aku pada

apa jang diderita dari kaum miskin, kaum tertindas. Seluruh hidupku aku abdiken pada partai ini, pada djiwa dari politieken komunis, aku merasa tudjuan masih pandjang pandjang sekali. Aku bersjukur dalem-dalem atas berkembangnja parteiku ini, partei jang diisi anak-anak muda djebolan proklamasi 1945. Berani dan menantang djamannja. Hidupku kuisi sepenuhnja pada perdjuangan ini, dengan segala sumpah setiaku pada cita-cita Marxisme.

[1] Jij (-dibatja, yei- bhs belanda) =kamu

Posted in Uncategorized | No Comments » Sedjarah Hidup Aidit (Bag.IV) December 5th, 2005 by dn-aidit1924 PKI adalah Partai Rakjat

PKI jang saja bangun sedjak 1950, saja djadiken sebuah partei jang berorientasi bukan hanja pada perdjoangan nasionalisme, perdjoangan kemerdekaan, Partei jang saja bentuk akan saja djadikan partei jang berbasiskan pada rakjat, jang melajani rakjat. Saja meliat bahwasanja kemerdekaan jang diperdjoangken oleh kita sedari awal abad ini, sudah djauh melentjeng maknanja, hal ini disebabken daripada adanja mainan democtratie liberal dan capitalist kapiran, kenapa saja bilang kapitalis .itu kapitalis kapiran, karena jang ada di Indonesia bukanlah kapitalis sesungguhnja tetapi kapitalis tai kutjing, kapitalis jang bekerdjasama dengan birokraat untuk djebol itu daripada uang negara, dan bikin sengsara rahajat banjak. PKI saja hadepkan pada garis perang seperti itu, PKI tidak sadja dibangun buat memadjukan tjara berpikir tapi djuga memadjuken daripada tjara bertindak, Sajangnja ada beberapa partei jang kalah beratrung dengan PKI di arena pemilu, menggunakan isu agama untuk antem itu partei kami, jang paling gentjar tampaknja ex masjumi. Saja kataken pada kawan-kawan separtei, bahwa PKI tidak anti agama, saja, saudara

dan banjak diantara kita adalah orang beragama, saja beragama Islam, manalah mungkin saja bertarung dengan agama saja sendiri, djusteru jang saja pertanjaken kenapa itu, orang2 dari partei ex masjumi bilang saja kapir, apakah djusteru mereka jang djual agama untuk bertarung dalem politiek, kapir atau tidak kapir hanja Tuhan jang berhak memutuskan bukan manus ia. Tapi jang djelas saja ingin daripada partei saja ini saja djadiken partai jang berakar penuh di kalangan rakjat. Untuk itu saja radjin ke desa-desa saja resapi penderitaan rakjat, saja perhatikan keluhan rakjat, ternjata banjak sekali penderitaan rahajat jang luar biasa besar, paling utama adalah masalah tanah atau agraria dan masalah renteniir, saja builang tidak benar itu ..bila masih dilandjutken. Saja sering menangis sendirian, bila mengingat nasib daripada rakjatku, bila meliat dengan mata kepala sendiri bagaimana rakjat dibohongi, didjegal dan diperas habis-habisan tenaganja. Kemerdekaan 1945 masih milik orang2 bordjuis, masih milik daripada tuan2 tanah, masih milik daripada pedjabat atau kapitalis-birokrat, dan rakjat ketjil-lah jang djadi udjung daripada indjakan kaki kaum kapitalis-birokrat ini. Suatu hari di bulan Agustus 1959, Presiden Sukarno memanggilku lagi, di belakang ruang istana tepatnja. Presiden hanja mengenakan badju santai dan tiada berpetji, terlihat kepalanja jang agak botak, lajaknjay seperti seorang professoren. Hadir djuga disitu Pak Muljadi, Pak Ali Sastroamidjojo dan kalau tiada salah Djuanda waktu itu pula Sukarno memanggil saja untuk meminta keterangan saja atas banjaknja komplein daripada gerakan partei saja di berbagai daerah, saja dateng dengan pakaian rapih namun masih dalam suasana santai. Dit, ini gimana jij punja partei kok selalu di isuken buat rusuh, apa jij djuga sering denger itu banjak intrik di daerah gara-gara rebutan tanah tanja Presiden. Wah, memang saja sering denger tapi saja pikir itu biasa, Pak dalam suasana politik seperti ini apalagi ada isu kuat tentara akan banjak bikin itu aksi nasionalisasi perusahaan Belanda dan ekses politik Banteng, tapi jang saja tahu PKI tidak ikut-ikutan, PKI hanja berdjoang dalam garis jang sudah ditetapken oleh partai, dan mungkin sadja di lapangan ada itu propaganda jang bikin panas pihak lain, seperti di Kotagede, Yogyakarta atau di Pasuruan itu hanja kemelut ketjil dari kelompok Muhammadijah dan NU sadja, bisa diberesi Pak, apalagi khan sebentar lagi sudah ada ketentuan dari pemerintah untuk bikin itu aksi front nasional bersatu, saja pikir tiadalah dimasalahkan karena masalah terbesar bagi kita jaitu, bagaimana merebut Irian Barat, bagi kami PKI, pemuda rakjat sudahlah siap untuk bikin aksi rebut Irian Presiden kulihat agak tersenjum senang, hatinja bungah, saja tahu aksi Irian barat adalah impian terbesarnja, ia ingin menjelesaikan kasus Irian Barat agar tidak ada lagi PR bagi kerdja politiknja. Dit, ini Pak Muljadi akan kasih kamu djalur-djalur pikiran saja, ia sudah siapken draft-nja, sebentar lagi, Tjak Ruslan akan dateng, jij tunggu dia, dia sudah saja suruh bikin itu konsep Nasakom, tjoba nanti jij peladjari

Tak lama kemudian adjudan Presiden dateng dan membisikkan sesuatu, kemudian Presiden berdiri lalu mengutjapkan permisi dan berjalan perlahan ke ruang dalem istana, tampaknja Presiden menerima telepon. Saja masih duduk sadja dan berbitjara ringan dengan Pak Muljadi, Pak Ali dan Pak Djuanda, tak lama kemudian Presiden kembali lagi ke tempat kami dan ikut dalem perbintjangan tadi duta besar kita dari Amerika menelpon katanja, ada seorang muda dari Boston jang akan djadi tjalon kuat untuk lawan orang2nja Republiken matjem Nixon, nah orang ini katanja bersedia membangun hubungan jang lebih kuat lagi dengan Indonesia djelas Presiden sambil mengaduk2 gelas kopinja. siapa dia, Pak? tanja Muljadi. John Fritzgerald Kennedy jawab Presiden singkat dan langsung menjeruput kopinja, ooh anak Joseph Kennedy dia itu eks daripada Duta Besar Amerika untuk Inggeris djaman perang kemaren, wah hebat aku denger memang dia masih sangat muda landjut Pak Ali, Jah betul, Li dia masih sangat muda kalau tiada salah kelahiran tahun tudjuh belas, saja berharap ini orang tidak akan melibatken Amerika untuk bikin kisruh Asia Tenggara, aku denger dari Paman Ho, katanja Amerika sudah bikin aksi intelijen di Vietnam, biasalah ini mainan McCarthy, apalagi waktu PRRI Permesta itu gagal total, rupanja Vietnam djadi sasaran, aku sudah bilang, Indonesia di belakang penuh Vietnam Presiden kemudian mengalihkan pandagannja kepadaku, menurutmu bagaimana Aidit? aku kaget dan kontan djawab ah, Pak sekalinja kapitalis, jah kapitalis Pak Ali, Muljadi dan Presiden langsung tertawa terbahak-bahak, di saat suasana ramai itulah Tjak Ruslan dateng. Ruslan Abdulgani ini orang Surabaja asli, orangnja tinggi besar dan berwadjah intelektual namun terlihat tegas, bitjaranja berlogat Belanda sekali, dan jang djadi tjiri chasnja Tjak Ruslan adalah tangan kirinja jang tinggal tiga djari, aku dengar karena terkena bom djaman perang november di Surabaja. Presiden langsung mejuruh Tjak Ruslan duduk Tjak, kon pije kabare wis suwi ra ketemu? tanja Presiden dengan mata tadjam. baik Bung, saja di djakarta sadja, kemarin hari saja pergi ke Semarang ketemu dengan beberapa perwira tinggi Angkatan Darat, zakelijk sadja mereka he he Bagi kami Tjak Ruslan ini dalem politieken oportunis, sama-lah seperti Dr. Subandrio. Kadang ia dekat dangan nasionalis, kadang dekat dekat kominis tapi terakhir saja denger tjak Ruslan deket dengan Jenderal-Jenderal Staf Umum.

Hari itu pembitjaraan melintas hanja pada kisaran politiek international sadja tidak sampai pada masalah-masalah dalam negeri, kami merasa hubungan dengan Sukarno bertambah baik dan saja kira itu menguntungkan bagi perkembangan PKI. PKI tidak menginginkan konflik, karena kami lihat dan kami jakin tanpa konflik kami bisa menang, kami tahu untuk merdeka dan bersatu itu tidak gampang, hanja karena agen-agen Nekolim itu sadjalah jang ngipas-ngipasi sekelompok orang jang kalah untuk berontak dan mendjelek-djelekkan kami. Tapi

buat apa kami lajani. Energi kami hanja untuk rakjat lain tidak.

Kehidupan Kami Pengurus PKI

Terngiang ditelinga saya tentang pesan saudara AM Hanafiah, ketika saya masuk PKI. Mat, jadi PKI itu susah, kamu memang bisa berbuat apa saja, tapi kamu tidak akan mendapat apa-apa, jangan harap kamu bisa kaya dari cara hidup kominisme . Yah kami memang tidak bisa kaya, buat apa kekayaan kalau didapat dengan merampok atau mencuri uang rakyat. Buat apa kekayaan bila semua kenikmatan jadi pembenaran untuk berlaku justa kepada rakyat. Di rakyat-lah kesejahteraan musti dibangun, bukan pada kesewenang-wenangan untuk ngerampok uang rakyat, lalu memanipulasi sejarah, membangun benteng psikologis, atau menyalahgunakan hukum untuk berbuat ketidakadilan.

Tahun 1960-an aku sudah mendapat posisi Menteri. Karena aku Sekjen PKI maka serta merta aku orang nomor satu partai, dan berhak mendapat posisi Menteri Koordinator, punya mobil dinas satu (mobil pribadi mana aku kuat beli) walaupun tanpa kantor. Gaji hanya cukup makan sebulan, kadang -kadang dibantu uang isteri yang jadi dokter di RS CBZ/ sekarang RS Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (RSCM). Dalam kesederhanaan kami tidaklah kurang menjadi manusia berbudaya, karena kami sering mendengarkan irama-irama musik yang bermutu seperti Tjakovsky ataupun DeBussy, aku juga senang menonton sandiwara-sandiwara rakyat. PKI banyak membina sandiwara rakyat.

Dalam pada itu suasana revolusi Indonesia semakin panas, rakyat bergegap gempita menjambut kepemimpinan Sukarno, dan PKI dibelakang penuh. Terakhir Bung Karno kecewa terhadap beberapa negara yang dulu pernah dekat. Dengan dirinya. Dan ternyata Bung Karno lebih bersimpati kepada Republik Rakyat Tjina/Tiongkok (RRT) yang juga dikucilkan oleh pergaulan dunia internasional.

(Bersambung )

Posted in Uncategorized | No Comments » Djawaban untuk Nak Adhis December 2nd, 2005 by dn-aidit1924

Ooohh, rupanya anda sangat sibuk ya sekarang? Jaga kesehatan, nanti anda sakit Tak apa toh, kan sebenarnya saya berpikiran kritis tentang PKI, apakah PKI benar-benar seburuk yang diceritakan selama ini, atau hanya sekedar rekayasa orba? Anda yang harus menjelaskan pada saya Ada teman saya bertanya, apakah gerakan 30 sept yang dilakukan PKI benar adanya? Jikapun benar, kenapa Soeharto yang pada waktu itu merupakan salah satu jajaran tinggi di ABRI tidak menjadi korban juga? Dan apakah isyu dewan jenderal benar adanya? Apakah peristiwa PKI ini dijadikan Soeharto untuk mengambil alih tampuk pimpinan negara? Lalu mengenai Jendral Untung, apakah kematiannya seperti yang ada di buku sejarah kami? Hehehehe (Maaf bung, saya benar-benar gak tau apa-apa) Dimana saya bisa mengetahui ide/pemikiran dari partai komunis sedunia? Kenapa kalian sangat dibenci oleh dunia? Terutama Amerika? Maaf, makin lama saya makin cerewet bertanya, karena penasaran saya, hehehe

Back

Menjambung pertanjaan nak jang tertunda sekian bulan silam, Saja mohon maaf karena barulah saja bisa membalasnja karena lama saja berpergian, bulan lalu sadja saja berpergian ke Belanda dan beberapa bagian di Provinsi Perantjis mengundjungi kawan-kawan lama. Ada djuga beberapa kawan jang

menanjakan Bung Sidik Kertapati, opa nak adhis, mereka bertanja tentang kesehatannja. Saja bilang Sidik masih gagah sadja. Walaupun saja tahu dia kini di kursi roda. Nak Adhis semoga di akhir tahun 2005 karirmu semakin lantjar, saja sebagai orang tua hanja bisa mendoakan, banjak-banjak berdoalah dan jang radjin terhadap karirmu.

Tentang PKI nak adhis. Ada ungkapan sedjarah adalah milik pemenang. Tapi ada ungkapan djuga jang mengataken bahwa orang bisa melakukan kebohongan suatu saat dengan beberapa orang, tapi tidak dapat melakukan kebohongan untuk selamanya terhadap semua orang kata-kata siapa itu nak Adhis. Itu kata Presiden Abraham Lincoln. Nak adhis tentang PKI, marilah kita berdiskusi setjara pragmatis dan tidak terlalu teoritis.

Apa itu Kominisme.

Kominisme adalah sebuah adjaran ideologi jang dikembangken oleh Karl Marx pada abad 19 akhir. Pangkal pemikirannja adalah sebuah kerdja ekonomi jang tidak menindas manusia atas manusia lainnja. Dasarnja begini, bila nak adhis memproduksi sesuatu, tentunja nak adhis akan menghasilken katakanlah : Rp. 10.000,- melalui hasil nak adhis.

Artinja ; Barang A, jang diproduksi nak adhis, dan melalui keringat nak adhis, sama dengan : Rp.10.000,Bagi kominisme itulah hak Nak adhis.

Tapi bagi pengertian kapitalis berbeda. Barang A, = Rp. 10.000,-

Dilempar ke pasaran =Rp. 15.000,Harga Buruh = Rp.150,-

Dan pemilik modal, mendapatkan 10.000 + 5.000 = 15.000 (5.000 ~ uang keuntungan kotor/margin kotor) dan hak buruh = 150,hak pengusaha ; 15.000-150 = 14.850,djadi diluar biaja lain2 pengusaha menjedot tenaga buruh/Nak adhis sebesar njaris 95% dari hak jang sesungguhnja bukan miliknja.

Djadi disini ada penghisapan manusia atas manusia lainnja. Jang diingini oleh PKI adalah sebuah model negara jang tidak boleh ada orang miskin. Semua orang berhak mendapat fasilitas jang sama.Tidak ada lebih, tidak ada boleh kurang. Tapi ini sering bagi orang2 jang melawan PKI dianggap bahwa manusia tidak ditjiptakan sama inilah orang2 jang memahami bahwa kelas-kelas perlu ada untuk tetap menjamankan kelompok/kelas mereka maka ditjiptakanlah kelas jang bisa ditindas.

Siapakah jang ditindas Nak Adhis. 1. Kelompok jang berpendidikan kurang, tjoba perhatiken, betapa sistem sosial tidak menghendaki perubahan vertikal jang menjempatkan tiap orang sama dalam ladju kariernja. Sekolah-sekolah dibangun bukan untuk mendjadi ladang sumber ilmu, tapi malah digunakan sebagai penegas ruang-ruang kekuasaan negara jang berselingkuh dengan dunia kapitalis. Tjoba anda perhatiken apa negara model kapitalis-fasis Indonesia Suhartorian memperhatikan dunia pendidikan. Djawabannja tidak.Kenapa. Tjoba anda perhatiken mana ada kampus murah. Universitas Indonesia hak milik

kelompok menengah, mana ada anak buruh tani, bisa bersekolah di UI. Mana ada anak buruh tjutji bisa bersekolah di UI. Tidak bisa kenapa, lha wong untuk biaja hidup sehari-hari sadja susah. Dalam negara model Kapitalis-Fasis-Suhartorian (KFS). Memang seakan-akan dibuat apa-apa murah. Tapi murah bagi orang-orang kaja, tidak bagi kaum miskin jang majoritas. Kaum miskin semakin dipermiskin ruang hidupnja, mereka didjadikan budak oleh sistem, kemudian dimanipulasi seakan-akan jang bisa menolong mereka adalah orang-orang mampu, jah pedjabat-pedjabat. Darimana pedjabat dapat uang dengan gadjinja jang sedikit. Dari korupsi. Djadi Suharto memang mentjiptakan sistem ketergantungan manusia akan manusia lainnja, jang nantinja mentjiptakan rantai kekuasaan jang saling menindas tapi tak akan bisa lepas satu sama lain ketjuali ada kesadaran dari satu kelas untuk lepas dari sistem itu. 2. Kemudian, jang kedua kaum intelektualiteen jang dilatjurkan. Kaum intelektuil dibajar untuk mendukung sistem kedji itu. Diberi pembenaran seakan-akan sistem itu, sistem jang benar. Jah benar untuk menindas. Mereka dibajar dengan penghasilan dengan kekajaan dari kekuasaan. Lalu siapa sadja kaum intelektuilen itu. Mereka adalah para guru-guru, mahasiswa dan kaum terdidik jang diberikan pengelabuan sedjarah dan pembenaran seakan-akan ekonomi kapitalis model amerika sebagai satu-satunja model ekonomi terbaik, tapi njatanja? Anda lihat sendiri, ekonomi Amerika adalah ekonomi jang mengadjarkan untuk menindas bukan mengasihi. 3. Para Ulama dan Kaum Agamawan jang dibohongi. Kelompok jang bersimpati pada agama jang bersimpati pada gerakan-gerakan agama. Dibohongi seakan-akan kominis anti agama, tidak bertuhan hanja salah satu utjapan Karl Marx jang mengatakan bahwa agama adalah tjandu. Kominisme tidak mempersoalkan masalah Tuhan. Tidak sama sekali, seperti orang liberalisme di USA jang sekuler mereka tidak mempersoalkan masalah Tuhan.Kominisme memberikan kebebasan orang menganut agamanja, pertjaja Tuhan itu ada, dan jang terpenting tidak mengekang spiritualitas. Jang tidak diinginkan kominis adalah pengelabuan digunakannja agama untuk kepentingan kekuasaan kapitalisme jang menindas rakjat miskin. Dan memang sedjarah agama-agama berkembang tidak lepas dari sedjarah kekuasaan itu sendiri dimana agama digunakan oleh kekuasaan sebagai kedok untuk menindas. Tapi agama jang benar, kaum kominis sangat menghargainja. Bahkan gerakan kominis di Indonesia di dahului oleh gerakan radikal para ulama Islam (Sebagai majoritas agama di Indonesia), ingat gerakan Hadji Misbach..tanja opamu Sidik siapa Hadji Misbach. Sebagai tjatatan untuk umat Islam, Karl Marx adalah salah satu ilmuwan sosial terbesar Eropa di djamannja jang begitu memudji Nabi Muhammad, padahal djaman itu banjak dari ilmuwan2 Eropa memandang sinis dunia Islam. 4. Orang Miskin jang melihat ketjermelangan hidup bagi si Kaya. Kaum kominis melihat ketimpangan kehidupan antar kelas musti dihindarkan, tidak ada manusia menghisap tenaga

manusia lainnja untuk kenjamanan mereka, untuk keenakan hidup mereka, dan sikap-sikap buruk jang hinggap di diri manusia akibat timpangnja kekajaan. Kamu lihat di Indonesia bagaimana ketimpangan malah membuat orang-orang semakin bernafsu untuk kaja, walaupun tjaranja musti malingi uang negara, korupsi hak-hak rakjat, mengebiri hukum. Itulah akibat dari pemalsuan sosial jang sangat kedji. Orang disuruh melihat bagaimana si Kaja memiliki gaja hidup dan pada dasarnja manusia ingin mempunjai sikap meniru maka disinilah pangkal dari segala kehantjuran. Kekajaan tidak didapat dari keringat dari hasil sendiri tapi memeras, menindas menipu dan mentjoleng. Itulah kekajaan jang membawa petaka. Kini kamu lihat hasil dari sistem itu. Indonesia mendjadi negara jang buruk sama sekali.

Itulah poin-poin kenapa kominisme musti mendjadi atjuan, untuk menghilangkan perbedaan kelas. Untuk lebih lengkapnja saja sarankan kamu membatja buku-buku karja Karl Marx, kabarnja sekarang di Indonesia sudah di djual bebas.

Apakah PKI itu kedji. Ini pertanjaan menarik. Kominisme di Indonesia atau PKI. Adalah sebuah tragedi sedjarah, dia seperti anak djelek jang diburuk-burukkan terus menerus, bahkan sampai detik ini. Ketika terdjadi pengeboman di Bali beberapa waktu lalu. Seorang ketua MPR RI dari sebuah partai Islam, PKS jah namanja, mengatakan bahwa jang mengebom itu PKI. Terus beberapa waktu kemudian saja lihat di saluran TV kabel Perantjis, polisi Indonesia menangkap beberapa orang pengebom dan menajangkan rekaman VCD, bahwa jang mengebom memang berdasarkan pemahamannya terhada agama Islam jang sempit dan pitjik dan didjandjiken masuk sorga (-masuk sorga kok bikin sengsara orang lain, egois amat-DN Aidit). Seorang ketua MPR sadja masih bersikap goblok begitu bagaimana rakjat Indonesia jang saban waktu dikelabui, dibohongi. Bukan masalah agama jang musti dilihat tapi masalah pembunuhan karakter terus menerus, ini sama sadja mengata-ngatai Nak Adhis tidak pertjaja Tuhan, tukang perkosa anak orang, maling, mentjuri padahal Nak Adhis tidak melakukan itu. Itu jang namanja disebut pembunuhan karakter.

Jang djelas sepandjang sedjarah PKI tidak pernah melakukan pembunuhan jang lebih kedji dari Orde Baru,

mungkin di beberapa daerah ada benturan tapi itu tjuma ekses. Bangsa ini punja bakat kedjam, simak kedjadian peristiwa di djaman Nak Adhis di Singkawang, Sampit, kerusuhan etnis Tjina dll. Untuk jang rekajasa politik adalah Poso, Maluku dan pembunuhan Kjai-Kjai di daerah tapal kuda jang dilakukan oleh nindja-nindja, jang digunakan oleh Orba jang seakan-akan ada pembalasan thd pembunuhan kominis, tapi nampaknja pihak Nadhlatul Ulama (NU), sudah tahu bahwa itu rekajasa makanja mereka tidak terdjebak untuk memusuhi PDI-P atau membiaskan bahwa lawan politiek mereka Orde Baru, tjoba betapa kedjamnja itu. Dan puntjaknja pembunuhan tiga djuta .tiga djuta manusia dalam peristiwa pembantaian 1965-1966, dalam waktu setahun!!!!!!, dan Bung Karno pernah berkata bahwa Pembunuhan-pembunuhan jang dilakukan thd orang2 PKI dalam beberapa bulan sama sadja dengan perang Vietnam selama tiga tahun . Djadi mana jang kedji Orde Baru atau PKI, tjoba anda tanja dengan pikiran normal saudara.

Tentang G-30-S, saja tidak akan mengulang-ulang tjerita ini nak adhis, nak adhis tjari buku2 ttg G-30-S dipasaran sudah banjak beredar. Atau nak adhis liat tulisan-tulisan saja jang lain. Tapi Nak adhis, untuk mengatakan Suharto menggunakan peristiwa G-30-S untuk merebut kekuasaan Presiden Sukarno itu betul adanja.

Jah, saja sadar setengah menjesali bahwa sistem kekuasaan kita di djaman Bung Karno tidak demokratis sehingga Pemilu tjenderung ditunda2, tanjakan orang2 tua siapa jang akan menang bila Pemilu diadaken, PKI djelas diatas angin, tapi Angkatan Darat dan mungkin pihak BK sendiri menunda-nunda ini. Tapi untuk kelakuan Major Djenderal Suharto di djaman itu jang merebut kuasa dari Presiden Sukarno bolehlah saja djelasken sedikit.

Peristiwa G-30-S

Gerakan ini adalah sebuah gerakan jang dipimpin oleh Letnan Kolonel (TNI/AD) Untung Bin Sjamsuri dan Brigadier Djenderal Supardjo jang dibantu oleh Kolonel (TNI/Inf) Latief. Jang dilakuken pada malam hari tanggal 30 September 1965, atau dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Sasaran-sasaran mereka adalah, perwira-perwira tinggi jang tidak lojal dan dinilai memiliki potensi untuk mendongkel PJM Presiden Sukarno. Gerakan ini, awalnja menghadapkan para perwira tinggi ke depan Presiden Sukarno

untuk ditanjai apakah Dewan Djenderal (DD), sebuah institusi jang dibentuk mereka dan sudah terendus oleh Intelidjen Subandrio bahwa DD akan melakukan gerakan kudeta thd Bung Karno dan membentuk pemerintahan militer adalah Ada,dan sampai sedjauh mana DD bergerak dan musti dimintai pertanggungdjawaban. Kemudian gerakan mengalami kekatjauan karena tidak berhasil menangkap Djenderal AH Nasution, dan malah membunuh Jani dan dua djenderal lainnja di tempat.

Gerakan Untung semakin tidak terkendali, dan semakin katjau arahnja, ketika mereka malah mengumumkan susunan Dewan Revolusi jang 90% isinja orang2 militer dan tidak memasukken nama Sukarno sebagai Presiden RI, atau Perdana Menteri Utama. Itu pagi hari.

Perlu didjelaskan posisi Suharto, pada saat mendjelang peristiwa gerakan Untung, Majdjen Suharto sudah diberitahu oleh Kolonel Latief, anak buah Suharto sedjak di bataljon Jogjakarta dulu. Dua kali Suharto diberi tahu, pertama pada atjara keluarga, kedua pada saat Suharto berada di RS menunggui anaknja Tommy Suharto. Suharto mengaku Latief ingin membunuh tapi Latief takut karena disana banjak orang. Kita gunakan logika begini, kalau Latief ingin membunuh. 1. Pastilah latief membawa banjak pasukan 2. Dengan dasar Gerakan G-30-S, bahwa kalaupun Suharto diambil oleh Latief pastilah atas nama Presiden Sukarno, atau akan dibawa ke istana, seperti jang dilakukan oleh pasukan Untung thd Jani cs.

Tapi Latief memang memberitahu Suharto bahwa ada gerakan Untung untuk mentjulik atau membawa paksa para Djenderal. Nah jang perlu diselidiki bahwa waktu selama (during period) antara informasi Latief masuk ke Suharto sampai tindakan Suharto di sore hari tanggal 1 Oktober 1965. Itu jang musti diselidiki. Djenderal Suharto tahu Letkol Untung mau ambil gerakan, tapi dia diam sadja. Setelah dia tahu di pagi hari bahwa Djenderal AH Nasution selamat. Maka diambil kesimpulan, separuh dari gerakan Untung gagal, makanja dia bertindak tjepat untuk memihak AH Nasution dan memburu kelompok Untung. Jang djadi pertanjaan, bila AH Nasution tertangkap gerakan Untung, apa jang dilakukan Suharto?.

Disini perlu diperhatikan, dengan ditangkapnja AH Nasution maka separuh dari gerakan Untung gagal, dan Suharto dengan strategis menggunakan AH Nasution untuk menggandjal Untung, melibas PKI sekaligus menghadjar pendukung Sukarno. Djadi kedjadian Gerakan Untung membuat posisi Sukarno terdjepit karena djelas akan membendungkemarahan Angkatan Darat, posisi PKI jang dituduh melakukan pembunuhan itu, menguapnja isu DD, dan membangkitkan kesempatan kaum Nekolim menggunakan tangan AD untuk melawan PKI sekaligus menghantjurkan Sukarno.

AH Nasution ditawan oleh Suharto, begitu djuga Menpagad (Menteri Panglima Angkatan Darat) baru jang ditundjuk Sukarno. Major Djenderal Pranoto Reksosamudro, Pak Pran jang siang hari menemui Presiden, lalu ditundjuk Presiden untuk menggantikan posisi Ahmad Jani, jang sudah dibunuh Gerakan Untung. Di suruh Presiden ke Kostrad untuk membawa Major Djenderal Suharto, Major Djenderal Umar Wirahadikusumah selaku Pangdam Djakarta Raja. Pak Pran (nama akrab panggilan Major Djenderal Pranoto Reksosamudro) dan Adjudan Presiden Kolonel (KKO) Widjanarko awalnja ke kantor Umar, tapi mendapat kabar bahwa Umar berada di Kostrad, Pak Pran ke markas Kostrad, Pak Pran kaget disana ada ternjata sudah ada Djenderal Nasution. Suharto jang dikabari Pak Pran bahwa Presiden memanggil Umar dan Suharto, dengan tegas ditolak Suharto dengan alasan, Suharto tidak tahu posisi Presiden, sebagai orang bebas atau orang tahanan Gerakan Untung. Kolonel Widjanarko disuruh pulang Suharto, dan Pak Pran di tahan. Disini ada dua tafsir, bahwa, pertama Suharto memperhatikan posisi Presiden Sukarno, apakah masih sebagai Presiden atau tawanan Gerakan Untung, kedua ini jang terpenting Suharto sudah melakukan tindakan subversif jang sesungguhnja, menahan Menpangad Major Djenderal Pranoto Reksosamudro dan menolak perintah Presiden, bandingkan den gan kepatuhan enam djenderal jang dibawa Gerakan Untung untuk menghadap Presiden. Suharto mungkin takut bahwa nanti ia djuga dibunuh, apalagi AH Nasution intjaran Gerakan Untung di kantornja. Pada taraf ini kebandelan Suharto masih bisa ditolerir dengan alasan jang masuk akal.

Kemudian, Widjanarko berhadapan lagi dengan Suharto, dan meminta Presiden pindah dari Halim, karena menurut Suharto gerakan Untung berpusat di Halim, padahal tidak benar sama sekali pusat Gerakan Untung ada di Lubang Buaja, di luar teritorial Halim jang milik AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Nah pada taraf ini Suharto sudah tahu posisi Presiden, bahwa Presiden orang bebas. Tapi kekuasaan Suharto

djuga meningkat, ia punja pasukan, jang dapat digunakan sebagai alasan memba las tindakan sepihak Gerakan Untung dan mengangkat dirinja sendiri estjara sepihak sebagai Menpangad. Nah disini berarti Suharto sudah tahu posisi Presiden bagaimana tapi dia tetap membandel untuk tidak mematuhi perintah Presiden bahwa jang mendjadi Menpangad adalah Pranoto, belakangan dia mengangkat dirinja sendiri mendjadi Menpangad. Ini benar2 lawakan jang tidak lutju. Presiden djuga sebenarnja dalam kondisi bingung, karena sesungguhnja orang jang diperjaja di Angkatan Darat adalah Achmad Jani, tapi Jani sudah dibunuh, Gerakan Untung djuga dilihat sebagai Gerakan jang menjelamatkan posisi Presiden walaupun belakangan malah menjingkirken Posisi Presiden, Presiden djuga tidak menginginken adanja pertempuran antara Angkatan Darat dan AURI, ini sama sadja anak-anak jang tidak boleh berantem oleh ajahnja, Presiden musti mentjegah, kemudian Presiden tidak mau djuga kasus ini melebar djadi kasus jang luar biasa jang melibatkan PKI, kalau ini terdjadi akan memantjing negeri luar turun tangan dan Indonesia djadi adjang pertarungan atau perang saudara. PKI pasti didukung RRT atau Moskow, dan AD pasti didrop bantuan oleh CIA dan Angkatan Bersedjata USA dan sekutu2nja. Pulau Djawa akan bandjir darah. Itu jang ada di benak Presiden. Maka dengan wadjah jang tidak menundjukkan kesedihan akan kematian Jani, guna meredam semua amarah jang tak terkendali, Presiden bilang bahwa semua itu adalah rimpeltje de ocean , hanja riak ketjil pada gemuruhnja samudra revolusi itu kata Presiden.

Suharto jang sudah diatas angin atas dalam, 1. Tidak terbebani setjara moral ataupun tuduhan bahwa dia jang membunuhi para Djenderal. 2. Posisi dia sebagai orang Angkatan Darat jang merasa terluka terhadap dibunuhnja Ahmad Jani cs, jang dinilai menghina kehormatan korps. Disini di pihak jang akan melakukan revans/balas dendam dengan alasan jang tepat. 3. AH Nasution, berada di belakang dia. AH Nasution enggan berhadapan dengan Sukarno, orang jang telah banjak berdjasa mengangkat dirinja sebagai orang nomor satu di Angkatan Bersendjata Republik Indonesia (ABRI) dengan latar belakang dia bekas KNIL. Dimana ia berhadapan dengan perwira tinggi djebolan PETA (Pembela Tanah Air) jang lebih dinilai patriotis.Tapi Sukarno selalu membela dan mendukung karir AH Nasution. Namun dengan usahanya dibunuhnja AH Nasution dalam Gerakan Untung, AH Nasution tentunja punja amarah, apalagi puterinja meninggal dalam peristiwa malem itu. Disinilah Suharto mulai bertindak.

Posisi Presiden Sukarno, 1. Terbebani setjara moral dan politik dengan terbunuhnja Perwira tinggi Angkatan Darat, berarti keseimbangan militer-Sukarno-PKI runtuh sudah. 2. Berusaha mentjegah perang antar Angkatan jakni antara AURI dan AD. 3. Mentjegah agar kasus ini tidak meluas dengan tidak melibatkan unur lain di luar AD. 4. Kebingungan Sukarno terhadap apa sesungguhnja jang terdjadi. Gerakan Untung melindungi dia atau tidak, DD ada atau tidak, posisi Suharto itu apa?, kenapa Jani cs dibunuh. Makanja Sukarno meminta Brigdjen Suopardjo bukti ada tidaknja DD, tapi Brigdjen Supardjo tidak membawa bukti itu, karena Djenderal2 sudah keburu dihabisi.

Posisi PKI 1. Saja tidak mau melibatkan posisi saja, karena saja tetap berpegangan pada alibi saja bahwa saja pada malam itu dibawa beberapa orang ke sebuah kampung di Djatinegara kemudian di bawa ke AURI dan kemudian diterbangkan ke Yogyakarta. Saja tahu melalui Sjam memang akan ada gerakan Untung, Sjam ini orang saja jang tempatkan di Biro Chusus. Dia djadi informan saja thd perwira2 militer. Dan ini djamak sadja, setiap partai pasti punja informannja. 2. Gerakan Untung, merupakan konflik internal Angkatan Darat, tapi bila disuruh memburu opini djelas PKI akan memihak pada Gerakan Untung (lepas ada atau tidaknja pembunuhan). Bagi PKI djelas posisi Presiden perlu diselamatkan, tapi PKI djuga bingung dengan susunan Dewan Revolusi buatan Untung, kenapa proporsi orang2 militernja berlebihan. Namun untuk DD, PKI djelas lebih memberi kesempatan diadakannja bukti2. 3. PKI tidak akan melakukan kudeta thd Presiden Sukarno, karena bagi PKI lebih baik menunggu pemilu di tahun 1975, daripada berbuat jang tidak2.

Suharto memanfaatkan : 1. Kematian Letnan Djenderal (TNI/AD) Ahmad Jani, sebagai djalan untuk mengangkat dirinja sebagai Menpangad, tanpa persetudjuan Panglima Tertinggi ABRI, Presiden Sukarno, jang djelas disebutken dalam UUD 1945. Bahwa Presiden merupakan Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata. 2. Memanfaatkan keenganan Presiden untuk membubarkan PKI karena menurut Suharto, PKI dibelakang semua ini, dengan alasan pihak jang paling memusuhi Jani cs adalah PKI. Lalu sedjarah membuktikan lewat djalan ini Suharto mengkudeta Sukarno,dengan lakon pura-pura konstitusional MPRS, jang semua anggotanja diganti, bahkan mahasiswa djalanan jang sudah di tjutji otaknja masuk sebagai anggota MPRS. 3. Membangun teror jang kedji dan membentuk opini bohong, Suharto membalas pada tingkat akar rumput pembunuhan thd orang2 PKI, dengan tjara mengatakan bahwa G -30-S atau Gerakan Untung merupakan pembunuhan di tingkat pusat, PKI merentjanakan ada pemb unuhan2 di daerah, dan CIA menjebarkan isu dan dokumen2 palsu seakan2 PKI akan melakukan pembunuhan thd orang-orang intjarannja, orang2 jang merasa diintjar marah dan balas membunuh orang2 jang dituduh anggota atau simpatisan PKI. Bahkan situasi semakin tak terkendali, dendam pribadi, persaingan dll matjamnja jang djauh dari posisi jang sesungguhnja membuat orang2 saling membunuh. Dalam situasi ini Suharto mendorong anak buahnja, melakukan pembunuhan pantjingan, kemudian diikuti orang2 kanan jang sudah terprovokasi, ini persis dengan laporan jang saja dapat pada peristiwa Mei 1998 di Djakarta, dimana militer dengan pakaian sipil merusak keamanan dgn membakar gedung2, memperkosa wanita, membunuhi orang2 tjina kemudian diikuti oleh massa. Atau peristiwa penghantjuran kantor PDI Megawati binti Sukarno, Juli 1996. Dimana tentara berpakaian sipil sebagai front terdepan jang merusak kantor Megawati di Menteng. Itulah tjara kerdja Suharo atau Orde Baru. Bikin rekajasa kerusuhan dan buat kambing hitam. Nah pada tahun 1965-1966 saat pembunuhan2 terdjadi dan semakin tak terkendali Suharto sebenarnja melakukan bargaining politik terhadap Presiden, Lu serahin kekuasaan, lu atau rakjat terus bunuh-bunuhan dengan kata lain bubarin PKI, nah djika PKI dibubarken maka sama sadja melutjuti kekuasaan Presiden, salah satu legitimasi Sukarno sebagai Presiden adalah Nasakom. (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Tapi achirnja kondisi memperlihatkan situasi jang sangat memprihatinkan, Presiden tidak ingin Persatuan Indonesia bubar, makanja ia tidak mau melawan, walaupun Brawidjaja dan KKO mendukungnja bila Sukarno melawan Angkatan Darat.

Achirnja Presiden mengalah terhadap Suharto, walaupun enggan ia dipaksa turun. Itulah kenapa sebenarnja jang melakukan kudeta itu Suharto. Bukan Jani, Bukan Saja, Bukan PKI, atau Bukan Sukarno jang disebut2 djuga sebagai dalang G-30-S. Menurut terminologi Suharto, G-30-S adalah kudeta, bila dibilang Sukarno dalang, masak Sukarno mau kudeta Sukarno, atau seperti iklan jang pernah saja lihat di televisi channel Indonesia, jang dibawakan anak ketjil masak djeruk makan djeruk .

Nasib Untung, Letkol (TNI/Inf) Untung Bin Sjamsuri, ditembak mati setelah di vonis Pengadilan Militer dan dipendjara sekian bulan. Di pendjara Untung sempat bilang ke Subandrio, tak mungkin Suharto akan membunuhnja. entahlah apa maksud Untung-. Latief achirnja bebas dan Sjam Kamaruzzaman sampai sekarang tak ketahuan dimana rimbanja.

Mengenai Suharto tidak didjadikan sasaran Gerakan Untung, menurut kabar jang saja terima. Perwira-perwira muda progresif menilai Suharto, bukan Djenderal politik. Suharto tidak pernah terlibat dalam aksi-aksi untuk mendongkel Presiden, ia dinilai perwira tinggi pendiam, dan jang terpenting. Semua tokoh dalam gerakan Untung adalah anak buah terdekat Suharto. Untung Bin Sjamsuri dekat Suharto sedjak Untung masih djadi perwira rendah. Latief sedjak masa revolusi dan Supardjo wakil Suharto di Operasi Militer Dwikora. Dan Suharto sudah diberi tahu akan adanja gerakan Untung. Banjak orang tahu dalambuku2 sedjarah jang membahas G-30-S ..Bahwa Suharto terdiam saat Latief memberikan informasi itu.

Demikianlah Nak Adhis, keterangan singkat saja .History has many cunning passages

DN AIDIT Sekdjen PKI

Posted in Uncategorized | 1 Comment » Djawaban Aidit October 10th, 2005 by dn-aidit1924 PERTANJAAN DARI Saudara LEWI

Pertanyaan saya, 1. Mengapa harus ada G30/S PKI, apa tujuan akhir dari gerakan tersebut?; 2. Seberapa penting sampai PKI harus melakukan G30/S PKI?; 3. Apakah pidato Presiden Soekarno pada malam 30 S, pada pertemuan ahli teknik, yang tiba-tiba berbicara mengenai cerita Arjuna untuk jangan ragu-ragu menyerang setiap pemberontak atas bimbingan Kresna merupakan sinyal kepada Untung untuk melakukan G30/S PKI?; 4. Apakah senjata PKI didapat dari AURI, dan apakah "Anak Lanang" Pak Karno terlibat?; 5. Apakah Soeharto terlibat? Terima Kasih.

DJAWABAN AIDIT

Nah saja sudah merasa senang karena disini anda tiada lagi menggunakan subjektivitas hasil bentukan sedjarah jang setjara brutal dipalsuken. Saja periksa ternjata anda belum masuk ke dalam inner account saja sehingga ada pertanjaan-pertanjaan seperti itu, karena pertanjaan itu djuga pertanjaan jang bagi kalangan sedjarawan, ahli politiek Indonesia (Indologi) dan para pemerhati kebenararan sedjarah Indonesia jang sudah banjak berkembang dengan dimulainja Cornell Paper oleh Ben Anderson dalam melihat setjara utuh ttg bagaimana sedjarah itu berkembang. Dan bila anda sudah bergabung ke dalem inner account saja mungkin sudah banjak tulisan-tulisan saja jang membahas hal itu, namun chusus untuk anda akan saja djawab, dan mohon djawaban ini anda konfrontir dengan pustakaloka jang berkembang sekarang, saja denger dari kawan-kawan saja, buku-buku mengenai G-30-S di toko-toko buku Indonesia sudah berkembang ke arah memahami sedjarah tidak dengan satu warna.

Oke kita mulai djawaban Saja,

Mengapa musti ada G-30-S Saja utjapken G-30-S tanpa embel-embel PKI, karena itulah jang setjara de facto terdjadi dan paham ini sudah diterima bagi banjak kalangan sedjarawan, intelektual, mahasiswa dan masjarakat jang paham kedjadian sebenarnja. G-30-S adalah sebuah puntjak peristiwa dari politiek Sukarno jang segitiga setelah gagalnja PRRI/PERMESTA tahun 1958, Sukarno mengikis habis kelompok kanan, jaitu Golongan Sosialis-Demokrat atau Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Golongan Agama (dalam ha ini Masjumi), ditengarai dan memang terbukti beberapa pimpinan kedua partai itu terlibat dalam gerakan kudeta PRRI/PERMESTA. Pada tahun 1959, Sukarno mengumumken berlakunja UUD 1945 (jang susungguhnja merupakan UU Darurat untuk mengantisipasi kedatangan sekutu 1945), dekrit Presiden 1959, djuga mengukuhken alam pikiran Sukarno ke dalam watjana politiek resmi negara jang diungkap dalam MANIPOL (Manifestasi Politik), Nah di dalam manipol ini pemikiran Sukarno berlandaskan pada hal-hal jang menghantjurken paham lama dan unsur-unusr jang membuat paham lama itu ada seperti : Feodalisme, Kapitalisme dan Kolonialisme. Bahkan Sukarno membentuk gagasan besar ttg dunia yang terlepas dari ketiga unsur tadi. Nah disinilah ada kekuatan-kekuatan jang memang mendukung paham Sukarno,

pertama Partai kami PKI, jang sedjak kehantjuranja di tahun 1948 akibat provokasi Hatta yang kemudian djuga berusaha dihantjurken oleh Sukiman lewat razia 17 Agustus 1951, mulai merasaken kebutuhan figur Sukarno sebagai pemimpin jang walaupun dia seorang nasionalis (Ingat PKI bukan berasas Nasionalisme tapi Internasionalisme) tapi pemikiran-pemikirannja sedjak muda paham dengan Marxisme dan Komunisme. PKI djuga menjalurken kebutuhan-kebutuhan Sukarno buat mendjalanken apa jang digagasnja, Medan Perang Irian Barat, Perebutan Malaja dan segala aspek ttg Revolusioner Sukarnois PKI ada di belakangnja, karena dalam paham gerakan kami bahwa biarlah Revolusi Bordjuis berdjalan dulu baru kemudian nanti Revolusi Komunis (inilah jang dimaksud Revolusi dua tahap). Lalu jang kedua adalah, Sukarno djuga membuka pintu untuk militer, dan kebetulan sekali sedjak peristiwa Oktober 1952, Militer (-dalam hal ini djika saja mengutjap militer berarti Angkatan Darat ja-) sudah dikuasai oleh kelompok Kolonel AH Nasution, setelah intrik sedemikian lama dan berakhirnja kekuasaan tiga bambang (Bambang Sugeng, Bambang Utojo dan Bambang Supeno) untuk mendjegal Nasution liwat Zulkifli Lubis dan TB Simatupang. Segala konflik berudjung pada kemenangan Nasution jang djuga didukung bulat-bulat oleh perwira-perwira tinggi bersuku Djawa. Dan mungkin anda sudah paham ttg bargain politik Nasution thd Sukarno masalah Dwifungsi ABRI, nah disinilah AH Nasution setjara tidak sadar mengambil peranan sebagai kapitalis, dulu di daerah-daerah pengusaha-pengusaha itu bukan sipil tetapi para Tuan-Tuan Perang jang berpangkat Kolonel-Kolonel. Dan Sukarno djelas memanfaatkan Militer untuk kepentingan program-program revolusi dia baik itu menumpas pemberontakan dalam negeri seperti PRRI/PERMESTA maupun DI/TII, kemudian Militer djuga merasa berhak atas saham Indonesia merdeka karena perdjoangan fisiknja di tahun 1945-1949, jang mampu membuat eksistensi negara Indonesia itu ada.

Golongan Agama hanja tinggal Nadhlatul Ulama (NU) jang setjara politiek tidak begitu kuat karena hanja didukung oleh rakjat Djawa (chususnja Djawa Tengah dan Timur), dan bukan merupakan bagian gerakan besar dunia, NU tidak seperti PKI jang mendapat dukungan internasional dari RRT dan Uni Sovjet atau sekelompok perwira militer AD jang di back Up Amerika Serikat. Djadi NU dengan ini bukan mendjadi bagian penting pertarungan sesungguhnja.

Nah, puntjak dari

politiek segitiga itu adalah, sebuah kenjataan jang sesungguhnja sedih, djudjur sadja Sukarno gagal membangun demokrasi dan memberi kesempatan jang sangat luas thd Militer untuk terdjun langsung ke dalam struktur masjarakat sipil. Militer terlalu ikut tjampur dan kemungkinan besar bila tidak dibendung maka di Indonesia akan terbentuk pemerintahan fasis jang kedjam (dan ini terbukti ketika Suharto berkuasa). Kemudian walaupun ini selalu ditutupi tetapi sebagai bagian dari kebenaran intelidjen, berbagai dokumen-dokumen djuga ditemukan bahwa memang ada kesiapan dari TNI AD untuk melakukan kudeta sebelum diselengarakannja Pemilu, bagi kami Nak Lewi, tidak perlu itu kudeta karena kami siap dengan Pemilu. Nah Ternjata saja sebagai pemimpin PKI mendengar bahwa memang akan ada gerakan jang mengarah pada permintaan pendjelasan dari kalangan militer muda jang Sukarnois untuk melindungi Sukarno, bagi mereka pemimpin AD sudah melakukan bentuk-bentuk penjelewengan dari tjita-tjita revolusi, sebelum melandjutken ini mari kita bahas dulu kategori-kategori pemimpin militer jang ada di tahun 1965,

Kategori Pertama Kelompok perwira militer jang berada di Djakarta, mereka ini tipikal sebagai petinggi militer jang benar-benar hidup di alam pemikiran barat, mereka bisa bitjara banjak bahasa, tjerdas, tertjerabut dalem alam pikiran budaja tradional (chususnja Djawa), memiliki kekajaan melimpah, berlatar belakang pendidikan di Amerika Serikat, banjak dari mereka beristri lebih dari satu (mungkin pengaruh gaja hidup Sukarno), dan benar-benar anti Komunis serta berpeluang besar menggantikan Sukarno, Mereka ini berada dalam lingkaran AH Nasution, tipikal jang paling stereotype thd perwira djenis ini adalah : Ahmad Jani, MT Harjono dan S Parman. (Perhatiken djuga semua jang ditjulik Untung adalah para perwira staff dari Mabesad di dalem lingkaran A Jani)

Kategori Kedua Kelompok perwira jang sangat kuat nilai-nilai paham Djawanja, mereka dibesarken di alam lingkungan Djawa jang kental dengan kepatuhan akan nilai-nilai tradisi militer Djawa, dan pendukung kuat Nasionalisme. Mereka tidak suka pada politik dan gaja hidup perwira-perwira tinggi di Djakarta, mereka teguh dengan nilai-nilai kepradjuritan. Dan biasanja mereka ini berada pada lingkaran Semarang (TT IV Diponegoro). Perwira djenis ini adalah : Sarbini, Rukman, Pranoto Reksosamudro, dan para perwira

tinggi di lingkaran Gatot Subroto. Djuga kelompok Perwira tinggi di lingkungan Kodam Brawidjaja.

Kategori Ketiga Perwira muda progresif jang tidak tahan melihat tingkah laku perwira-perwira tinggi di Djakarta dan memiliki pandangan ke depan, mereka tidak aktif ikut politik tetapi memiliki potensi besar sebagai pemimpin militer di Indonesia kelak, orang-orang seperti ini adalah seperti : Brigadier Djenderal Supardjo, Letnan Kolonel Untung dan beberapa perwira tinggi dan menengah jang sangat Sukarnois.

Dalam hal Sukarnois kategori pertama dan kategori ketiga adalah pendukung kuat Sukarnois ttp kategori kedua agak berdjarak dengan Sukarno ketjuali dari lingkungan Brawidjaja.

Nah dari kategori-kategori ini, mari kita tarik posisi Untung. Letnan Kolonel Untung adalah perwira tinggi paling bereputasi, djaman perebutan Irian Barat 1962-1963, ada dua major jang bereputasi tinggi, jaitu Major Untung dan Major LB Moerdani alias Major Benny. Nah ketika Sukarno meminta Untung dan Benny masuk ke dalam Tjakrabirawa, Untung mau dan benny menolak, rupanja ini sebagai garis takdir hidup mereka, kelak Major benny bertugas sebagai agen intelidjen Kostrad dalam peristiwa G-30-S. (LANDJUT KE BEDA GERAKAN DAN PERISTIWA)

Beda antara GERAKAN dan PERISTIWA.

Kita sudah membahas latar belakang politiek segitiga dan konflik kepentingan diantara mereka. Maka kita masuk ke dalam apa jang dinamakan GERAKAN. Di wilajah ini, kita akan membahas GERAKAN Untung dalam memanggil Atasannja untuk dihadapken ke Presiden Sukarno. Nak, Lewi disinilah kita musti bitjara setjara djelas dan penuh perhatian. Saja DN Aidit memang mengetahui adanja gerakan, dan saja tahu itu dari Sjam Kamaruzzaman jang bertugas sebagai djembatan informasi saja ke tubuh Militer, Saja

tahu akan adanja Gerakan Untung, bahkan saja analisis gerakan Untung sangat menguntungken posisi kami, tapi sekali lagi saja kataken PKI sebagai organisasi tidak terlibat thd Gerakan Untung. Bahkan Saja nilai Gerakan Untung dilakukan oleh orang jang sangat amatir dalem melakukan gerakan politik. Karena dengan tjepat gerakan itu bubar, ini jang djadi pertanjaan saja sampai sekarang kenapa Gerakan ini tjepat bubar oke kita djelasken dalem poin-poin: gerakan Untung tjepat sekali bubar, dan tidak melakukan perlawanan sebagai pembenaran gerakan, apalagi gerakan Untung memiliki dasar jang benar untuk melindungi Presiden Sukarno dari kemungkinan Kudeta. Adanja sebuah kedjadian di luar dugaan saja, jaitu; adanja pembunuhan-pembunuhan di luar perintah, atau Prosedur Standar Operasi. Ini jang belum diungkap, siapa jang memerintahken untuk menghabisi para djenderal itu dan urung mengadjukan mereka ke depan Presiden Sukarno. Setelah Gerakan kemudian masuk ke dalam Peristiwa 1 Oktober (Gestok), adanja ketjepatan gerakan dari kelompok Suharto untuk masuk ke dalam Gerakan untung dengan menumpas, melakukan pelingkaran thd posisi Presiden Sukarno dan Menntjap gerakan ini di dalangi oleh PKI. Adanja susunan Dewan Revolusi jang ada di kantong Untung dan dibatjaken oleh Untung di tjorong radio RRI pada pagi 1 Oktober 1965, sebelum Suharto menjerbu RRI. Tjoba anda tjek itu susunan Dewan revolusi semuanja militer, djadi ini djelas bilapun Untung menang, kelompok militer jang akan naik dan PKI dirugikan.

Nah jang terpenting dari poin-poin itu semua adalah Major Djenderal (TNI/AD) Soeharto tahu semua gerakan Untung, dan ini sudah berkali-kali di laporken oleh Kolonel Latief, terakhir Kolonel Latief menemui Suharto di Rumah Sakit (Tjoba anda batja Pledoi Latief). Djadi disini anda musti tjermat kedudukan Saja dengan Suharto adalah sama, Saja tahu ada Gerakan Untung, Suharto djuga tahu akan ada gerakan djuga. Djadi skor 1-1

Setelah tanggal 1 Oktober 1965, Suharto sedemikian tjepat melakukan tindakan-tindakan jang

bukan sadja diluar wewenang dia, tetapi sudah mendjurus pada bentuk-bentuk kudeta sebenarnja, Djadi dalam hal ini, jang musti diperdjelas, Siapa Jang Menggerakkan Untung sesungguhnja?.Karena bila Suharto menstop tindakan Untung ja setjara politis Suharto harus berhenti hanja pada interogasi di kubu Untung, itu sadja, tidak melebar kemana-mana, apalagi melangkahi wewenang Sukarno. Tjoba anda perhatikan peristiwa PRRI/PERMESTA dimana Natsir, Sjarifuddien Prawiranegara (keduanja dari Masjumi) dan Soemitro Djojohadikoesoemo djelas-djelas terlibat tetapi een toch, tidak ada bentuk pembunuhan besar-besaran jang dilakukan tentara thd Partai PSI atau Masjumi.Nah, ini jang dilakukan Suharto bukan sadja sebates wewenang keamanan tetapi sudah pada wewenang Presiden setjara hakikat konstitusional djelas Suharto sudah melakukan kudeta sedjak 1 Oktober 1965, dengan memanfaatkan pengetahuannja thd apa jang dilakuken dengan gerakan Untung. Tjoba anda perhatiken pendjelasan saja, thd apa-apa keuntungan Suharto thd keuntungan dari Gerakan Untung : Soeharto setjara bertahap menumpas musuh-musuhnja dengan keberuntungan dari gerakan Untung. Ahmad Jani sesungguhnja bukan kawan dekat Suharto bahkan Suharto pernah menjimpan dendam thd Ahmad Jani, pada kasus penjelundupan gula dan beras, Suharto melakukan tindakan gila -gilaan thd penjelundupan itu. Liem Sioe Liong jang kelak saja dengar kroni dekat Suharto pada era kekuasaannja, disuruh Suharto menjelundupken gula dan beras setjara besar-besaran, ini dilaporken kepada Sukarno dan Sukarno memerintahken Nasution untuk menjelidiki kebenaran itu, dan itu terbukti Nasution menjuruh Ahmad Jani, mantan atasan Suharto untuk menanjai kebenarannja, dan interogasinja berlangsung keras, Ahmad Jani bahkan menampar Suharto, menempeleng Suharto, sebagai orang Djawa jang dibesarken dan menikah dengan prijaji Djawa, perasaan atau martabat Suharto terhina atas kedjadian ini, Ia sangat dendam pada Jani, djuga kepada AH Nasution, inilah jang mungkin mendjelasken kenapa AH Nasution jang selamat dari gerakan untung, dan digunakan Suharto sebagai alat legitimasi dia untuk mendjadi Presiden, ternjata djuga disingkirken Suharto pada tahun-tahun 70-an dan berpuntjak pada peristiwa Petisi 50 tahun 1980, baru kemudian didekati Suharto ketika ia sudah sangat tua dan tidak bisa apa-apa. Achirnja Ahmad Jani dan AH Nasution mengambil keputusan untuk memberhentikan Suharto tetapi berita ttg Suharto didengar Djenderal Gatot Subroto, Gatot menemui Sukarno langsung dan berbitjara dengan A Jani djuga Nasution, bahwa Suharto masih dibina, djangan disingkirken dulu. Achirnja AH Nasution memutusken Suharto untuk disekolahken lagi di SESKOAD Tjimahi, Bandung. Dan Pimpinan DIVISI TT IV Diponegoro, diberiken ke tangan Djenderal Pranoto Reksosamudro jang oleh orang-orang Suharto di Diponegoro dianggap

mendjelek-djelekkan Suharto, Inilah makanja Suharto djuga dendam dengan Pranoto, djadi dendam pribadi Suharto pada AH Nasution, Jani dan Pranoto terbereskan dengan gerakan Untung. Setelah mendapat keuntungan dari gerakan Untung, Suharto melihat bahwa jang menghalangi Keinginannja untuk djabatan Presiden adalah PKI, maka dengan tjepat Suharto memanfaatkan keadaan dengan kemarahan dari militer anak buah A. Jani terutama mantan kesatuan banteng raiders, dan orang-orang Siliwangi jang masih memiliki kedekatan dengan AH Nasution, ditahap ini Suharto masih menjimpan orang-orang jang sesungguhnja pendukung dia sedjati, di tahap awal jang penuh tjoba-tjoba Suharto memanfaatkan orang-orang di luar lingkaran dia seperti : Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, Djenderal HR Dharsono (Pak Ton), Djenderal Kemal Idris, dan beberapa perwira Siliwangi dan dari KODAM II Djakarta Raja, Djenderal Umar dan Djenderal M Jusuf. Orang-orangnja jang disimpan adalah ( Ali Murtopo, Joga Sugomo, Djenderal Sumitro,Sudjono Humardhani dan beberapa perwira di lingkaran Diponegoro pro Suharto, jang kelak memegang djabatan penting di era Orde Baru). PKI di labur sehitam-hitamnja, seakan-akan saja merupakan dalang thd G-30-S, adanja kebohongan publik jang dilakukan Suharto thd pesta tabur bunga Gerwani, kemudian penjiksaan jang kedjam thd Djenderal-Djenderal menambah kemarahan rakjat jang tak tahu peristiwa sesungguhnja. Nah di titik inilah saja ingin balik bertanja kepada anda nak Lewi, setelah Suharto melabur sehitam-hitamnja PKI tanpa pengadilan dan kedjelasan thd peristiwa, ada pembunuhan thd 3 juta sekali lagi 3 juta orang (menurut Kolonel Sarwo Edhie) thd rakjat jang sama sekali tidak tahu terhadap Gerakan Untung, Apakah itu bukannja peristiwa jang sanagat-sangat biadab, dan kenapa PKI jang tidak djelas keterlibatannja thd Gerakan Untung dan belum dibuktiken di Pengadilan, lalu Sukarno di isolir dan seakan-akan menjuruh Untung membunuh Djenderal-Djenderal dengan dibiarken mati perlahan-lahan seperti tumbuhan jangkurang disiram air bahkan Hatta berteriak-teriak agar Sukarno diadili agar djelas posisinja, djangan dibiarken anatara orang bersalah dan tiada bersalah, kasusnja digantung begitu sadja. Lalu pembunuhan-pembunuhan jang dilakukan massa jang kebanjakan dari kelompok Agama jang diprovokasi dengan kehadiran tentara, djadi sinjalnja begini, setiap Kolonel Sarwo Edhie dateng ke suatu kota, maka akan ada pembunuhan besar-besaran, dan tanpa sadar Sarwo diperalat Suharto ini diakuinja sendiri, ketika ia mengundurken diri dari keanggotaan MPR dan menolak untuk ikut dalam strukur kepemerintahan Suharto, demikian djuga dengan Sri Sultan HB IX jang setelah mengetahui duduk peristiwa sesungguhnja merasa djidjik dengan tangan Suharto jang berdarah-darah, ia bahkan

menolak untuk duduk kembali di bangku Wakil Presiden setelah terpilih oleh MPR di tahun 1978, bahkan hubungannja memburuk dengan Suharto lalu meninggal setjara misterius di luar negeri. Nah apa jang kamu katakan Nak Lewi thd pembunuhan besar-besaran jang dilakukan atas rekajasa Suharto, apa itu bukan kekedjeman? Lalu sudah itu kamu menuduh kami PKI sebagai orang-orang kedjam atas perbuatan jang tidak kami lakukan bahkan kami sendiri jang djadi korbannja. Dimana-mana terdjadi kepanikan besar dalam tubuh bangsa ini, saling tuduh dan saling tjuriga bahkan dendam pribadi bisa masuk kedalam aksi pembunuhan-pembunuhan ini, sekali lagi Suharto mampu memainken perannja (jang kelak bisa sering kita batja, dia melakukan tapi dia jang dibilang Pahlawan), Ia menodong Sukarno untuk membubarken PKI dan mendesak Presiden untuk menjingkirken orang-orang PKI, Sukarnois, PNI dan kelompok-kelompok jang netral thd peristiwa Gestok (gerakan satu oktober), tentunja Sukarno menolak atas permintaan Suharto, dan reaksi atas penolakan Sukarno, Suharto mengambil langkah-langkah jang terkesan proseduram tetapi mendjebak jaitu; memaksa Sukarno menandatangani surat perintah dan untuk itu kita masuk ke dalam tahapan Suharto berhadapan dengan Sukarno. Pada peristiwa 1 Oktober 1965, djuga perlu diperhatikan AH Nasution, kalah langkah thd Suharto, AH Nasution jang djuga mendegar bahwa puterinja djuga meninggal akibat Gerakan Untung, ia seakan-akan dilindungi ke dalam markas Kostrad, tapi ia tidak diikutken pada brieffing penting di MAKOSTRAD pada pagi hari pada 1 Oktober 1965, jang setjara tegas memposisiken Suharto sebagai pemegang tertinggi pasukan di Angkatan Darat, walaupun ini sesuai prosedur tapi ini seharusnja mendapatken persetudjuan Presiden, tapi Suharto memaksa, dalem hal ini, AH Nasution djuga langsung dikutjilkan dari lingkarannja, agar AH Nasution tidak melakukan komando operasi, karena setjara pangkat djelas AH Nasution punja wewenang lebih tinggi dari Suharto, Kondisi Psikologis AH Nasution dan keengganan AH Nasution berhadapan dengan Sukarno djelas menguntungken Suharto. Nah setelah Suharto berhasil membangun opini di RRI, TVRI dan membreidel semua media massa (inilah jang perlu djadi perhatian) ketjuali Harian milik Angkatan Bersendjata, maka Suharto tinggal mendjegal Sukarno, dan ini langkah paling mudah tapi dilakukan paling hati-hati oleh Suharto. Dengan mengambil keuntungan dari kepanikan thd pembunuhan orang -orang jang dianggep PKI, Suharto melakuken keedjahatan paling djelas lagi, jaitu pembunuhan karakter thd Bung Karno dan memaksa Sukarno untuk bertindak di luar kemauan dan wewenangnja, Sukarno djuga mendapatken nama djelek dari Gerakan Untung, dan ini dilakukan massa pemuda dan mahasiswa djadi Suharto djuga merusak karakter Sukarno, dengan

memanfaatken intelektual-intelektual muda jang biasanja resah dengan kemapanan rezim. Selain itu Sukarno djuga tahu, bahwa USA sudah siap-siap masuk ke Indonesia apabila Sukarno, militer pro Sukarno, PKI, dan PNI angkat sendjata maka Amerika akan menarik pasukan dari Vietnam Selatan dan masuk ke Djawa, karena bagaimanapun Djawa lebih penting daripada Vietnam Selatan, itulah jang mendasari mengapa USA merasa sudah menang di Asia Tenggara thd Komunisme. Sukarno tidak ingin sebuah bangsa jang diradjut sedjak masa pergerakan politik 1900-1942, dan banjak meminta pengorbanan hantjur begitu sadja karena intervensi asing, dan USA pasti akan masuk ke Indonesia, bila ini terdjadi maka dengan mduah USA akan menguasai Indonesia Timur, itulah mengapa Sukarno lebih baik diam dan agar cenderung membiarken tingkah laku Suharto, karena menurutnja (pada waktu itu)toch kalau ini djadi di pegang Suharto, minimal masih anak bangsa, masih pribumi dan bangsa sendiri. Pemaksaan thd Sukarno sendiri sudah keliwat batas, karena (-mungkin anda sudah tahu-) bahwa jang ke istana Bogor untuk meminta Surat Perintah, adalah empat Djenderal bukan tiga Djenderal (mereka adalah ; Djenderal M Jusuf, Djenderal Basuki Rachmat, Djenderal Amir Machmud dan terakhir dateng belakangan adalah Djenderal Maraden Panggabean), Djenderal Panggabean bahkan menodongkan sendjata ke arah BK, dan peristiwa ini musti diselidiki karena ini bisa di djadiken bukti bahwa jang dilakukan kelompok Suharto adalah kudeta sesungguhnja. Setelah Sukarno di habisi, maka Suharto dengan tenang mendjadi Presiden, dan menguatkan dirinja sebagai Presiden diktator jang sangat kedji, anda boleh menjaksiken sendiri kekedjiannja, ia dimulai pada peristiwa Gestok jang meminta korban djutaan njawa, dan djutaan orang kehilangan harkat hidup kemudian diakhiri dengan peristiwa dibakarnja Djakarta dan beberapa kota dengan kekedjeman luar biasa serta pembunuhan thd mahasiswa (mungkin senior-senior anda)

Pendjelasan diatas bisa mendjelasken semua pertanjaan, termasuk apakah Sukarno me mberi sinjal dengan adegan Kresna memerintah Ardjuna, kalau menurut saja itu hanja kebetulan, dan saja amat jakin Sukarno sama sekali tidak tahu menahu thd gerakan Untung, ini dilihat dari kebingungannja jang luar biasa thd kedjadian itu, dan lamban mengambil keputusan, memang Sukarno sangat menggemari kisah-kisah Mahabharata ini bisa dibandingken dengan Suharto jang sangat gemar kisah-kisah Ramajana jang lebih klasik dan tidak menggambarken perang saudara.

Dan Anak lanang Sukarno, jang dimaksud adalah Marsekal Umar Dhani, dinjataken terlibat menurut saja itu tiada benar sama sekali, Umar Dhani hanja seorang Sukarnois, dan tindakannja membawa Sukarno ke Halim adalah sesuai prosedur, karena pada pagi hari setelah kedjadian Untung, Sukarno dibangunken oleh adjudannja dan diberitahu ada kedjadian bahwa Untung melakukan tindakan pembunuhan thd atasannja, nah ini jang membuat Sukarno berpikir akan ada ketidakamanan, maka Sukarno di bawa ke Halim, (dekat dengan pesawat kepresidenan) prosedur lain Sukarno bisa sadja ke Angkatan Laut menaiki kapal Varuna dan memerintah disana, tapi pilihan thd Halim adalah karena faktor kepraktisan sadja. Apalagi aksi tembak menembak dengan pasukan Sarwo dengan pasukan AURI merupakan salah paham karena AURI tidak mau pangkalannja dimasuki pasukan dari Angkatan lain, sementara Sarwo menganggap kekuatan Untung ada disana, dan ternjata salah karena Lubang Buaja ada dua, pertama Lubang Buaja jang ada di Pondok Gede, dan kedua Lubang Buaja di Zone Paracutte AURI, djadi masalah kekeliruan bahasa sadja.

Kesimpulan dari djawaban ini adalah : pemanfaatan setjara djelas Suharto thd gerakan Untung, dan pembunuhan anggota PKI dan orang-orang jang dituduh PKI adalah hasil rekajasa dia, mentjap bahwa aksi Untung adalah aksi PKI, maka saja tanja kepada anda apakah PRRI/PERMESTA jang di dukung petinggi PSI dan Masjumi kenapa tidak disebut PRRI/PERMESTA/PSI/Masjumi????djadi tjap G-30-S/PKI adalah benar-benar kedjahatan sedjarah karena dibuat hanja untuk meluruskan kemauan politiknja dan tidak dibuktiken di Pengadilan jang netral. Suharto melakukan kudeta thd Sukarno, menjingkirken orang-orang jang membantunja tetapi tidak di lingkaran dia, seperti : Kemal Idris, HR Dharsono alias Pak Ton (Bahkan Pak Ton sempat di pendjara karena dituduh meledakkan Borobudur dan Usharto tidak sudi Pak Ton dimakamkan di makam pahlawan Kalibata), Sarwo Edhie Wibowo (lihat Sarwo Edhie tidak pernah mendapatken kedudukan penting di djadjaran pemerintahan Suharto beda sekali dengan Ali, Sudjono Humardhani atau Djenderal Mitro. Suharto berkuasa sekalligus membuktiken teori PKI bahwa ada Djenderal-Djenderal

Kapbir (Kapitalis Birokrat), tjoba anda perhatiken mana ada beda antara Pedjabat dengan pengusaha jang melakukan perselingkuhan modal dan kekuasaan jang sangat merugikan bangsa. Lalu korupsi jang luar biasa sadis, ini hanja bisa dilakuken oleh orang-orang jang tiada mentjintai negaranja, Tjoba anda lihat kami orang-orang PKI, jang dituduh tidak beragama, tidak bermoral apakah kami melakukan korupsi? Apakah kami sanggup membunuhi bangsa kami sendiri dengan kedjam, apakah kami mendjual dengan murah negeri ini, seperti minjak bumi dan hasil kaju,???? dan mengambil hak rakjat???? membohongi rakjat terus menerus. Pikiran anda harus djelas dan kritis, kemudian tjari smeua informasi hjang bisa membuat anda agar berpikiran luas, sehingga anda bisa djadi intelektual muda jang sebisa mungkin tidak melakukan perbuatan hina seperti intelektual-intelektual Orde Baru jang melatjurkan diri (lihatlah Abdul gafur, Akbar tandjung dll) Djudjurlah pada diri anda, bahwa bangsa ini memang sudah rusak, karena dalam satu generasi sudah dirusak mentalnja, manusia Indonesia dibentuk alam pikiran Suharto jang menarik kedalam arah rendah manusia jaitu; semuanja diukur dari nilai-nilai materiil dan tiada peduli hasilnja dapet darimana, mau mentjuri, maling, korupsi dsb asal tidak ketahuan dan bisa bekerdjasama dengan aparat. Bentuk djiwa anda djadi manusia djudjur sehingga kedjadian di tahun-tahun gela tidak bisa diulang kembali. INGAT RAKJAT

begitulah djawaban saja Nak Lewi, dan saja minta nada mengkonfrontir keterangan saja dengan referensi jang anda punja lalu berpikirlah djernih.

SALAM HORMAT

DN AIDIT

Sekdjen PKI

Posted in Uncategorized | 4 Comments » Beda Antara Gerakan Dan Peristiwa October 4th, 2005 by dn-aidit1924 Beda Gerakan dan Peristiwa

Bila anda memahami sedjarah dari sudut pandang hegelian, tentunja anda paham dengan pemaknaan bahasa dalam kaitannja dengan materialisme itu sendiri. Maka akan saja tjoba kembali tentang perbedaan thd tjara pandang sedjarah dari sisi pembedaan makna Gerakan dan Peristiwa jang terdjadi di akhir Sepetember 1965 sampai dengan naiknja Suharto dan serdadu-serdadu tangsinja untuk mendepak Presiden Sukarno.

Gerakan 30 September 1965 atau G-30-S

Gerakan jang dilantjarkan Letnan Kolonel (TNI/AD) Untung Bin Sjamsuri, dengan membawa beberapa pasukan Tjakrabirawa dan unsur-unsur organik militer untuk menangkap perwira-perwira tinggi jang diduga terlibat akan melakukan kudeta terhadap Presiden Sukarno. Nah perbuatan ini merupakan gerakan, merupakan sebuah tindakan antisipatif, apa jang dilakukan Letkol Untung sama dengan apa jang dilakukan Major Djenderal Dharsono di tahun 1946 jang terlibat dalam gerakan Tan Malaka, Gerakan Oktober 1952 dimana AH Nasution, Simatupang dan perwira-perwira tinggi lainnja menuntut pembubaran parlemen, djuga gerakan Major Kemal Idris bersama Major Djaini dengan membawa pasukan RPKAD dari Bandung ke Djakarta untuk menentang AH Nasution. Nah apa jang dilakukan Letkol Untung thd atasannja dengan melakukan tindakan peniadaan, atau penghilangan njawa setjara sengadja merupakan hal-hal jang perlu diselidiki tentunja dengan koridor-koridor hukum militer bukannja menerapkan situasi darurat sipil atau mendjurus pemusnahan massal jang melibatkan seakan-akan PKI ada dibaliknja.

Gerakan ini memang saja ketahui, tapi kedudukan saja hanja mengetahui, dan posisi saja sama

dengan posisi Suharto, jang djuga mengetahui.(Berdasarkan pengakuan Kolonel Latief), artinja setjara posisi dan pengetahuan informatif jang menguntungkan posisinja antara saja, DN AIDIT dan Major Djenderal Suharto adalah : SAMA. Ini berbeda dengan Presiden Sukarno, Beberapa pedjabat dan ratusan djuta rakjat lainnja termasuk PKI setjara institusi tidak mengetahui akan adanja gerakan ini. Djadi setjara kategori, gerakan ini merupakan gerakan intelijen jang melibatkan unsur tentara dan hanja bergerak pada lingkungan ketjil.

Djadi dalam Kategori Gerakan, saja dan Major Djenderal Suharto, memiliki posisi jang sama jaitu : Sama-Sama mengetahui,adanja gerakan penangkapan perwira-perwira tinggi dan setudju terhadap penangkapan itu, motivasi saja djelas, penangkapan ini akan mengungkap setjara djudjur apakah memang benar Dewan Djenderal itu ada dan melakukan kegiatan-kegiatan jang mengarah pada pendongkelan Presiden Sukarno, djadi setjara konstitusi saja djelas berpihak pada Pemerintahan jang sah. Nah saja tidak mengetahui motivasi diam atau zonder tidakan dari Major Djenderal Suharto, apa jang mendasarinja dan ini mungkin kategori :PERISTIWA jang bisa mendjawab kenapa Suharto diam thd apa jang dilakukan Kolonel Latief.

PERISTIWA 1 Oktober 1965-1967

Nah, kita masuk pada kategori Peristiwa. Dalam peristiwa ini djelas posisi saja menjurut, karena :

Tindakan Letkol Untung jang tidak tjerdas menangkap situasi jang berkembang, dengan langsung membubarkan diri Gerakannja sehingga seakan-akan gerakannja ini bisa di kategorikan illegal. Kepanikan dari kelompok-kelompok jang sedari awal memang berlawanan politik terhadap Letnan Djenderal Ahmad Jani, termasuk saja sendiri Tindakan tjepat dari Major Djenderal Suharto, jang pagi itu djuga mengambil kesimpulan

dan membentuk opini di masjarakat bahwa jang melakukan adalah PKI.

Dari ketiga alasan paling awal dalam mendjelaskan tentang perkembangan Gerakan ini, djelas di nomor tigalah, sebagai penentu kemenangan dari kelompok Suharto.

Nah, dari nomor tiga djuga kita bisa mendjelaskan PERISTIWA dan pelaksanaan penjelewengan bahasa, opini politik, bahkan subversi thd Presiden Sukarno.

Dari Segi bahasa : Suharto langsung mengatakan gerakan itu sebagai G-30-S/ PKI, ada penjimpangan itu sendiri dari akurasi kedjadian jang melibatkan unsur waktu, unsur kondisi-objektief dan unsur keterlibatan.

Unsur waktu: Ini merupakan kesalahan jang sangat fatal, Suharto mengatakan gerakan itu adalah, gerakan 30 September 1965, bukan gerakan 1 Oktober 1965. Padahal gerakan itu terdjadi setelah jam 24.00 WIB, atau 1 Oktober 1965 dini hari. Suharto berhasil memisahkan unsur psikologis dengan unusr akurasi waktu internasional jang sama-sama disepakati, setjara psikologis mungkin orang Indonesia mengingat sebelum adzan Subuh waktu belum berganti, tetapi dalam aturan waktu internasional setelah djam 24.00, hari dan tanggal sudah berubah. Kenapa Suharto melakukan keputusan menamai gerakan ini, G-30-S/PKI, Bukannja GESTOK (Gerakan Satu Oktober) seperti jang dikatakan Bung Karno.Karena Suharto bertindak pada tanggal 1 Oktober 1965, dan tindakannja itu terus berlangsung kebablasan sampai pada puntjaknja jaitu : Naiknja dia mendjadi Presiden, dan mendepak Sukarno.

Unsur Kondisi Subjektif-Objektief : Unsur Kondisi Subjektief adalah Suharto berhasil membentuk sebuah kesimpulan besar dan sangat berbahaja, bahwa PKI ada di belakang gerakan ini hanja karena PKI

bermusuhan dengan A Jani apalagi setelah usul PKI ttg Angkatan ke V, Buruh dan tani dipersendjatai, di tentang habis-habisan oleh A. Jani. Dan ini tanpa pembuktian, djadi Suharto bertindak dengan mengambil kesimpulan harafiah, bukan kesimpulan jang reflektif dan ada pembuktiannja. Hal ini djelas karena dengan melibatkan PKI sebagai tenaga penggerak gerakan Untung maka djelas, Suharto diuntungkan jaitu, akan mempermudah membubarkan PKI. Padahal Kondisi Objektief adalah tidak adanja unsur PKI jang terbukti terlibat dalam pentjulikan, seperti Pemuda Rakjat, Gerwani atau unsur-unsur lainnja. Hanja saja jang tahu Gerakan itu ada, dan posisi ini sama dengan Suharto, sama dengan Sutan Sjahrir jang tahu adanja peristiwa PRRI/PERMESTA. Bahkan peristiwa PRRI/PERMESTA jang djelas-djelas ingin mnggulingkan Sukarno mentjantumken setjara djelas nama Natsir, Sjarifuddien Prawiranegara dan Sumitro Djojohadikusumo sebagai unsur-unusr utama pembentuk pemerintahan tandingan, sementara nama saja sadja tidak terjantum, dari daftar susunan Dewan Revolusi jang dibentuk oleh Letkol Untung, hanja satu bahkan unsur PKI jaitu, Tjugito. Sementara majoritas adalah Angkatan Darat.

Unsur Keterlibatan : Disinilah setjara djelas Suharto melakukan tindakan jang amat tidak manusiawi, jaitu mentjantumken nama PKI dalam G-30-S, saja djadi ingin membandingken, apakah PRRI/PERMESTA mentjantumken nama Partai Sosialis Indonesia (PSI), ataupun Masjumi. Khan tidak padahal keterlibatan unsur pimpinan Partai djelas ada didalam Pemberontakan itu. Nah Suharto melakukan ini dengan konsukuensi jang sangat tadjam, jaitu terbunuhnja djutaan orang jang tidak berdosa, pentjemaran nama baik dan melabur sehitam-hitamnja wadjah PKI dalam benak orang Indonesia sebagai Partai Kedjam jang melibatken diri dalam gerakan Untung.

Disini djelas, Saja dan Suharto memiliki posisi jang sama dalam kategori GERAKAN tapi tidak pada Kategori PERISTIWA. Dimana Kategori Peristiwa memiliki implikasi jang sangat luasa dan kedji, selain mendongkel Presiden Sukarno, membubarken PKI, dan Mendorong terdjadinja pembunuhan besar besaran kepada orang-orang PKI. Djuga memiliki implikasi jang djauh lebih pandjang lagi, jaitu : Penipuan sedjarah jang sangat brutal

Merampok habis-habisan Sumber Daya Di Indonesia Penjingkiran harkat hidup orang-orang miskin Penjelewengan falsafah hidup orang Indonesia jang menjingkirken kekakajaan djiwa mendjadi manusia jang tjinta terhadap harta benda (alam kebendaan), dengan menghalalken segala tjara. Mengadjari manusia-manusia Indonesia sebagai koruptor dan bangsa jang tiada berwatak. Meletjehkan tjita-tjita Proklamasi 1945, dimana tugas utama negara adalah melindungi rakjat, mentjerdasken rakjat dan menjedjahteraken rakjat. Mendjadi Negara jang kedji, fasistis, dan meneror rakajat ketjil. Membohongi terus menerus rakjat Indonesia dengan subsidi jang dibiajai hutang, sambil memperkaja diri dengan komisi-komisi porojek negara jang di biajai hutang dan rakjat mendjadi beban. Mentjiptakan djurang kelas jang tadjam antara kelompok kaja jang segelintir dengan ratusan djuta rakjat di bawah garis kemiskinan. Itulah makna PERISTIWA sesungguhnja terhadap apa jang dinamakan G-30-S dan PERISTIWA SUHARTO.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->