P. 1
Pohon Industri Talas

Pohon Industri Talas

|Views: 2,403|Likes:
Published by dinalucky
Taro Industry tree, colocasia esculenta, Pohon Industri Talas
Taro Industry tree, colocasia esculenta, Pohon Industri Talas

More info:

Published by: dinalucky on Apr 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

TALAS

(Taro (Ingg.), Colocasia esculenta (Latin) , Famili: Araceae)

Dina JE Lucky (P056090392.33E)

1.

Nama Komoditi Talas merupakan tanaman pangan yang termasuk dalam suku talas-

talasan (Araceae) dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam,

µDash(e)en¶ dan µEddo (e)¶. Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China). Tumbuh liar di India dan Asia Tenggara. Ditanam di India 4000 ± 7000 tahun yang lalu. Diduga dibawa oleh orang Indonesia ke Madagaskar tahun 500 M yang kemudian menyebar di Afrika. Saat ini talas tumbuh diberbagai negara seperti India Barat, Afrika Barat dan Utara. Di Asia, tanaman talas ditanam secara luas di China dan diseluruh Filipina, terutama di Visayas bagian timur dan tengah serta daerah Mindanao dan Bikol. Di Indonesia tanaman talas bisa dijumpai paling banyak di Bogor, Malang, dan Bali walaupun talas bisa dijumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 m dpl., baik liar maupun di tanam. 2. Profil Komoditi a.Umum Talas termasuk tumbuhan tegak yang memiliki perakaran liar, berserabut dan dangkal. Tanaman monokotil setinggi 90-180 cm. Batang yang tersimpan dalam tanah pejal, bentuknya menyilinder (membulat), umumnya berwarna cokelat tua, dilengkapi dengan kuncup ketiak yang terdapat diatas lampang daun tempat munculnya umbi baru, tunas (stolon). Daun talas berbentuk perisai besar dengan tangkai panjang dan besar, lembaran daunnya 20-50 cm, dengan tangkai mencapai 1 meter panjangnya dan

warna pelepahnya

bermacam-macam; sehingga dapat digunakan sebagai

pelindung kepala bila hujan. Permukaan daunnya ditumbuhi rambut-rambut halus yang menjadikannya kedap air karena air akan mengalir langsung meninggalkan permukaan daun.

Tanaman talas mengandung asam perusi (asam biru atau HCN). Umbinya mempunyai jenis bermacam-macam. Umbi dapat mencapai 4 kg atau lebih, berbentuk selinder atau bulat, berukuran 30 cm x 15 cm, berwarna coklat. Perbungaannya terdiri atas tongkol, seludang dan tangkai. Bunga

jantan dan bunga betina terpisah, yang betina berada di bawah, bunga jantan di bagian atasnya, dan pada puncaknya terdapat bunga mandul. Buah bertipe buah buni. Bijinya banyak, bentuk bulat telur, panjangnya 2 mm.

b. Jenis Talas Berbagai jenis talas terdapat di daerah Bogor adalah Talas Sutera, Talas Bentul dan Talas Ketan. Talas Sutera : memiliki daun yang berwarna hijau muda dan dan berbulu halus seperti Sutera. Di panen pada umur 5-6 bulan. Umbinya kecoklatan yang dapat berukuran sedang sampai besar. Talas Bentul : memiliki umbinya lebih besar dengan warna batang yang lebih ungu di banding Talas Sutera. Talas Bentul dapat dipanen setelah berumur 8-10 bulan dengan umbi yang relatif lebih besar dan berwarna lebih muda kekuningkuningan. Talas Ketan : warna pelepahnya hijau tua kemerahan. Jenis lain : di Bogor Mentega (Talas dikenal pula jenis talas yang disebut Talas

Gambir / Talas Hideung), karena batang dan daunnya

berwarna unggu gelap. Jenis talas lain biasanya tidak di kosumsi karena rasanya tidak enak atau gatal. Contohnya adalah Talas Sente yang

berbatang dan daunnya Bolang

dan

berdaun

besar,

banyak digunakan untuk untuk makanan

pajangan

sering digunakan yang

ikan. Sedang Talas dan daun yang

mempunyai rasa

gatal

dengan batang

bertotol-totol.

Adapun klasifikasi botani TALAS adalah sebagai berikut: Kerajaan: Plantae (tidak termasuk) Monocots Ordo: Alismatales Famili: Araceae Upafamili: Aroideae Bangsa: Caladieae Genus: Xanthosoma

c. Kandungan Gizi Talas Kandungan kimia dalam talas dipengaruhi oleh varietas, iklim, kesuburan tanah, dan umur panen. Umbi talas segar sebagian besar terdiri dari air dan karbohidrat. Kandungan gizi yang terdapat pada 100 gram umbi talas terdapat dalam tabel berikut : Tabel 1. Kandungan gizi Talas per 100 gram Talas Kandungan gizi Energi (kal) Protein (g) Lemak (g) Talas mentah 120 1,5 0,3 Talas rebus 108 1,4 0,4

Hidrat arang total (g) Serat (g) Abu (g) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) Karoten total Vitamin B1 (mg) Vitamin C (mg) Air (g) Bagian yang dimakan (%)

28,2 0,7 0,8 31 67 0,7 0 0,05 2 69,2 85

25,0 0,9 0,8 47 67 0,7 0 0,06 4 72,4 100

Sumber : Slamet D.S dan Ig.Tarkotjo (1980), majalah gizi dan makanan jilid 4, hal 26, Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Talas mengandung banyak senyawa kimia yang dihasilkan dari metabolisme sekunder seperti alkaloid, glikosida, saponin, essensial oil, resin, gula dan asam-asam organik. Umbi talas mengandung pati yang mudah dicerna kira-kira sebanyak 18,2% dan sukrosa serta gula pereduksinya 1,42%. d. Manfaat dan Khasiat Talas Selama berabad-abad, talas merupakan makanan pokok di Asia dan Kepulauan Pasifik. Talas di Asia Tenggara selain dikonsumsi juga dimanfaatkan dalam festival keagamaan, sebagai obat - obatan masyarakat dan sebagai makanan ternak. Talas mengandung karbohidrat yang tinggi, protein, lemak dan vitamin. Talas mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Umbi, pelepah daunnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat maupun pembungkus. Daun, sisa umbi dan kulit umbi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan secara langsung maupun setelah difermentasi. Tanaman ini mempunyai keterkaitan dengan pemanfaatan lingkungan dan penghijauan karena mampu tumbuh di lahan yang agak berair sampai lahan kering.

Di Indonesia, talas digunakan sebagai makanan tambahan atau sayur. Umbi talas digunakan untuk berbagai macam masakan. Umbi anak, tangkai dan daunnya digunakan untuk sayur. Umbi dapat diolah menjadi keripik talas yang gurih. Makanan khas yang dibuat dari daun talas adalah buntil. Daun talas dapat dipakai sebagai pembungkus makanan Bubur akar rimpang talas dipercaya

sebagai obat encok dan cairan akar rimpang talas digunakan untuk obat bisul. Bubur talas dapat melancarkan pencernaan sehingga dapat dikonsumsi untuk makanan bayi dengan tingkat alergi yang rendah. Di Papua, talas digunakan sebagai makanan pokok, untuk permainan

tradisional dan upacara adat. Di Jawa, permen dapat dibuat dari talas yang beraroma semerbak dicampur dengan kelapa dan gula. yang dikenal sebagai

buntil. Daunnya juga bisa digunakan untuk pakan ikan gurame. Umbi talas dapat diolah dengan dikukus, direbus atau digoreng setelah dipotong-potong kecil. Awalnya talas di Filipina digunakan pada saat makanan pokok dan sayuran hijau mengalami penurunan pasokan. Di Hawai dan beberapa bagian Polynesia, umbi talas dikukus dan dihaluskan untuk dibuat pasta dan dapat diolah untuk puding. Rasa gatal yang tertinggal di mulut setelah memakan talas menjadi masalah tersendiri. Rasa gatal tersebut disebabkan oleh suatu zat kimia yang disebut kalsium oksalat. Kalsium oksalat tidak menimbulkan gangguan serius. Kalsium oksalat dapat dihilangkan dengan cara pencucian menggunakan banyak air atau dengan cara pengukusan serta perebusan yang intensif. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Riatyastie dan Arik Purwani menunjukkan bahwa rasa gatal pada talas dapat dihilangkan dengan perendaman menggunakan garam (NaCl) yang dilarutkan dalam air. e. Syarat Tumbuh Di Indonesia tempat pengembangan talas adalah Kota Bogor dan

Malang yang menghasilkan beberapa kultivar yang enak rasa umbinya. Tingkat produksi tanaman talas kondisi lingkungan tergantung pada kultivar, umur tanaman dan

tempat tumbuh. Pada kondisi optimal produktivitas talas

dapat memcapai 30 ton/hektar.

e.1.Iklim a) Talas tumbuh tersebar di daerah tropis, sub tropis dan di daerah beriklim sedang. Pembudidayaan talas dapat dilakukan pada daerah beriklim lembab (curah hujan tinggi) dan daerah beriklim kering (curah hujan rendah), tetapi ada kecenderungan bahwa produk talas akan lebih baik pada daerah yang beriklim rendah atau iklim panas. b) Curah hujan optimum untuk pertumbuhan tanaman talas adalah 175 cm pertahun. Talas juga dapat tumbuh di dataran tinggi, pada tanah tadah hujan dan tumbuh sangat baik pada lahan yang bercurah hujan 2,000 mm/tahun atau lebih. c) Selama pertumbuhan tanaman talas menyukai tempat terbuka dengan penyinaran penuh serta tanaman ini mudah tumbuh pada lingkungan

dengan suhu 25-30 derajat C dan kelembaban tinggi.

e.2.Media Tanam Tanaman talas menyukai tanah yang gembur, yang kaya akan bahan organik atau humus. Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah dengan berbagai jenis tanah, misal tanah lempung yang subur tanah yang bebas air berwarna coklat pada lapisan

tanah, tanah vulkanik,andosol, tanah latosol. Untuk tumbuh di tanah

mendapatkan hasil yang panen yang baik, harus

berdrainase baik dan PH 5,5±6,5. Tanah yang bergambut sangat baik untuk talas tetapi harus diberi kapur 1 ton/ha bila PH nya di bawah 5,0.

Tanaman talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air, bila tidak tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok ketika menjelang

musim hujan, sedang musim panen tergantung kepada kultivar yang ditanam.

e.3.Ketinggian Tempat Talas dapat tumbuh pada ketinggian 0±1300 m dpl. Di Indonesia sendiri talas dapat tumbuh di daerah ketinggian 2000 pantai sampai pergunungan dengan

m dpl, meskipun sangat lama dalam memanennya.

e.4. Ciri dan Umur Panen Pemanen talas dilakukan setelah tanaman berumur 6-9 bulan,

tetapi ada yang memanennya setelah berumur 1 tahun, dan ada pula kulti ar yang 4-5 bulan sudah dapat dipanen; sebagai contoh: talas genjah masak cepat, talas kawara 5 bulan, dan talas lenvi dan talas dalam. Misalkan di kota Bogor ada talas bentul, dipanen setelah berumur 8 -10 bulan dengan umbi yang relati lebih besar dan berwarna lebih muda dan kekuning-kunigan dan masih ada lagi talas-talas lain, seperti: talas sutera yang dipanen pada umur 5-6 bulan, yang umbinya berwarna kecoklat coklatan yang dapat berukuran sedang sampai besar dan masih banyak lagi talas yang ada di bogor (talas mentega atau talas gambir, talas ketan, dan talas balitung)

3.

Pohon Industri Tales

4.

Rendemen Rendemen untuk produksi talas dapat diukur dengan berapa banyak hasil

yang didapatkan pada pembuatan tepung talas dari umbi segar didapatkan yield sebesar 60 %, sehingga untuk membuat 1 kg tepung dibutuhkan umbi talas 1.67 kg.

5.

Faktor Kritis Untuk pertumbuhan talas yang baik diperlukan tanah yang kaya akan

humus dan berdrainase baik dengan PH 5,5±6,5. Talas berkembang biak dengan anakan, sulur umbi anakan atau pangkal umbi serta bagian pelepah daunnya. Anakan ini perlu dibuang agar umbi induk bisa tumbuh besar. Pada umumnya tanaman ini telah dibudidayakan oleh para petani, tetapi pemupukan dan pemberantasan hama/penyakit belum dilakukan secara intensif oleh para petani.

6.

Pengembangan Komoditas Talas Selain sebagai bahan baku industri dibuat tepung yang selanjutnya

diproses menjadi makanan bayi (di USA) kue-kue (di Philippina dan Columbia) serta roti (di Brazilia) di Indonesia dibuat menjadi makanan enyek-enyek, dodol talas, chese stick talas dan juga untuk pakan ternak (termasuk daun dan batangnya). Tanaman khas Kota Bogor ini merupakan tanaman yang memiliki potensi yang belum banyak digali. Pemanfaatannya masih berupa panganan atau produk setengah jadi berupa pati, tepung, dan chips. Padahal talas memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai tinggi, baik untuk produk pangan maupun produk nonpangan. Potensi talas untuk produk nonpangan diantaranya adalah sebagai kemasan bio-plastik pengemas pangan yang ramah lingkungan. Lewat serangkaian proses, talas bogor mampu menghasilkan glukosa yang dapat digunakan sebagai bahan baku produksi asam polilaktat melewati tahapan fermentasi oleh mikroba penghasil asam laktat dan proses esterifikasi serta polimerisasi dengan bantuan enzim. Potensi tersebut dapat digunakan sebagai peluang untuk memberikan nilai tambah pada talas bogor dengan

membuatnya sebagai kemasan bio-plastik.

Plastik ramah lingkungan yang

dibuat seluruhnya dari polimer alami (bio-plastik) selain dapat turut berperan serta dalam menurunkan laju pemanasan global, juga dapat membantu peningkatan citra dan diversifikasi produk turunan dari talas bogor. Sehingga pada akhirnya diharapkan mampu mensejahterakan petani talas karena adanya nilai tambah komoditas. Dan lebih pentingnya lagi, kemasan bio-plastik mampu berfungsi sebagai pengemas pangan yang mampu memperpanjang umur simpan produk dan menjaga kualitas produk pangan. Kemasan bio-plastik ini juga aman dari bahaya migrasi polimer kemasan ke dalam produk pangan. Di masa mendatang, konsumsi bahan kemasan bio-plastik akan berkembang dengan pesat. Sebab, bahan baku plastik sintetik yakni berasal dari minyak bumi akan mengalami kelangkaan dan harga bahan baku yang semakin tinggi.

7. Daftar Pustaka
y y y

http://bogoraincity.wordpress.com/ (diakses 24 january 2010) http://id.wikipedia.org/wiki/Talas (diakses 24 Januari 2010) http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id= 3234&Itemid=696 (diakses 24 January 2010)

y

http://www.lautanindonesia.com/serbarasa/artikel/in-topic/talas-colocasiaesculenta-l-umbi-mungil-yang-sarat-guna (diakses 24 Januari 2010)

y

http://yellashakti.wordpress.com/2008/01/30/penghilangan-rasa-gatal-padatalas/ (diakses 24 Januari 2010)

y y

http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/talas.pdf (diakses 24 Januari 2010)
http://www.tazar.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=95 (diakses 24 Januari 2010)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->