P. 1
terapi NGT,

terapi NGT,

|Views: 5,019|Likes:
Published by sri monica
TUGAS FARMAKOTERAPI II ”Terapi NGT (Naso Gastric Tube) dan IV (Intra Vena)”

Oleh : Sri Monica Tarigan Dosen Pembimbing: Tahoma Siregar, M.Si, Apt (06334054)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR Teriring rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hiday ah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Farmakoterapi II dengan judul Ter api IV (intra venous) dan NGT (naso gastric
TUGAS FARMAKOTERAPI II ”Terapi NGT (Naso Gastric Tube) dan IV (Intra Vena)”

Oleh : Sri Monica Tarigan Dosen Pembimbing: Tahoma Siregar, M.Si, Apt (06334054)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR Teriring rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hiday ah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Farmakoterapi II dengan judul Ter api IV (intra venous) dan NGT (naso gastric

More info:

Published by: sri monica on Apr 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2013

pdf

text

original

TUGAS FARMAKOTERAPI II ”Terapi NGT (Naso Gastric Tube) dan IV (Intra Vena)”

Oleh : Sri Monica Tarigan Dosen Pembimbing: Tahoma Siregar, M.Si, Apt (06334054)

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR Teriring rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hiday ah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Farmakoterapi II dengan judul Ter api IV (intra venous) dan NGT (naso gastric tube) Makalah ini berisi hal-hal yang berkaitan dengan definisi, jenis/tipe beserta co ntoh mekanisme dari NGT maupun IV. Kami menyadari tugas ini belumlah dapat dikatakan sempurna dan perlu mendapat pe rbaikan. Untuk itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun gun a kesempurnaannya. Akhir kata, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Jakarta, November 2009 Kelompok 3 DAFTAR ISI Kata Pengantar 1 Daftar Isi 2 Bab I PENDAHULUAN 4 Bab II TINJAUAN PUSTAKA 5 I. TERAPI NGT 5 a. Definisi 5 b. Tujuan dan Manfaat Tindakan Naso Gastric Tube c. Indikasi dan Kontraindikasi Pemasangan NGT d. Pemasangan NGT 7 e. Peralatan 7 f. Ukuran Selang Nasogastric 7 g. Prosedur Pelaksanaan 9 h. Initial Confirmation of Position

6 6

11

i. II. a. b. c. d. e. f. g. h. i.

Komplikasi yang disebabkan oleh NGT TERAPI INTRAVENA 12 Definisi 12 Tujuan 12 Jenis-jenis Cairan Intravena Mencari Vena 13 Jarum yang digunakan 13 Suci Hama/sterilitas 13 Peralatan 14 Prosedur 14 Tempat/ lokasi vena perifer yang sering 16 j. Pemilihan Vena 16 k. Faktor yang mempengaruhi pemilihan sisi l. Perhitungan Tetesan Infus Bab III PEMBAHASAN 20 I. TERAPI NGT 20 Pemeliharaan NGT 23 II. TERAPI IV 24 SIMPULAN 25 Pustaka 26 BAB I PENDAHULUAN

11

12

digunakan pada pemasangan infuse (vena) 19 18

Banyak bentuk terapi yang dapat dipilih pada kasus-kasus tertentu misalnya ketid akmampuan menelan, dan sebagainya. Adapun bentuk terapi yang dibahas adalah NGT (naso gastric tube) atau Selang Nas ogastrik adalah suatu selang yang dimasukkan melalui hidung (melewati nasopharyn x dan esophagus) menuju ke lambung. Selain itu dibahas pula bentuk terapi umum yaitu intravena. Pemilihan masing-mas ing bentuk terapi bergantung pada faktor-faktor kritikal pada terapi tersebut. BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. TERAPI NGT a. Definisi "Nasogastric" terdiri dari dua kata, dari bahasa Latin dan dari bahasa Yunani, N aso adalah suatu kata yang berhubungan dengan hidung dan berasal dari Latin, “na sus” untuk hidung atau moncong hidung. Gastik berasal dari bahasa Yunani “gaster ” yang artinya the paunch (perut gendut) atau yang berhubungan dengan perut. Ist ilah “nasogastric” bukanlah istilah kuno melainkan sudah disebut pada tahun 1942 . Menunjuk kepada jalan dari hidung sampai ke lambung (http://www.medterms.com/ script/main/art.asp?articlekey=9348) Selang Nasogastrik adalah suatu selang yang dimasukkan melalui hidung (melewati nasopharynx dan esophagus) menuju ke lambung. Singkatan untuk Nasogastrik adalah NG. Selangnya disebut selang Nasogastrik. Selang Nasogastrik atau NG tube yang dimasukkan melalui hidung sampai ke lambung, sering digunakan untuk memberikan n utrisi dan obat-obatan kepada seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi maka nan, cairan, dan obat-obatan secara oral. Juga dapat digunakan untuk mengeluarka n isi dari lambung dengan cara disedot (http://dying.about.com/od/glossary/g/NG_ tube.htm). NGT ini digunakan hanya dalam waktu yang singkat. (Metheny & Titler, 2001). b. 1. Tujuan dan Manfaat Tindakan Naso Gastric Tube: Mengurangi isi perut dengan cara menghisap apa yang ada dalam lambung (c

airan,udara,darah) 2. Untuk memasukan cairan (memenuhi kebutuhan cairan atau nutrisi) 3. Untuk membantu memudahkan diagnosa klinik melalui analisa subtansi isi l ambung 4. Persiapan sebelum operasi dengan general anaesthesia 5. Menghisap dan mengalirkan untuk pasien yang sedang melaksanakan operasi pneumonectomy untuk mencegah muntah dan kemungkinan aspirasi isi lambung sewaktu recovery (pemulihan dari general anaesthesia) c. Indikasi dan Kontraindikasi Pemasangan NGT Indikasi: 1. Pasien dengan distensi abdomen karena gas,darah dan cairan 2. Keracunan makanan minuman 3. Pasien yang membutuhkan nutrisi melalui NGT 4. Pasien yang memerlukan NGT untuk diagnosa atau analisa isi lambung Kontraindikasi: 1. Klien dengan sustained head trauma, maxillofacial injury, atau anterior fossa skull fracture. Memasukan NGT begitu saja melalui hidung maka potensial ak an melewati criboform plate, ini akan menimbulkan penetrasi intracranial. 2. Klien dengan riwayat esophageal stricture, esophageal varices, alkali in gestion juga beresiko untuk esophageal penetration. 3. Klien dengan Koma juga potensial vomiting dan aspirasi sewaktu memasukan NGT, pada tindakan ini diperlukan tindakan proteksi seperti airway dipasang ter lebih dahulu sebelum NGT 4. Pasien dengan gastric bypass surgery yang mana pasien ini mempunyai kant ong lambung yang kecil untuk membatasi asupan makanan konstruksi bypass adalah dari kantong lambung yang kecil ke duodenum dan bagian bagain usus kecil yang menyebabkan malabsorpsi (mengurangi kemampuan untuk menye rap kalori dan nutrisi) d. Pemasangan NGT Insersi selang nasogastrik meliputi pemasangan selang plastik lunak melalui naso faring klien ke dalam lambung. Selang mempunyai lumen berongga yang memungkinkan baik pembuangan sekret gastrik dan pemasukan cairan ke dalam lambung. Pelaksana harus seorang professional kesehatan yang berkompeten dalam prosedur d an praktek dalam pekerjaannya. Pengetahuan dan ketrampilan dibutuhkan untuk mela kukan procedure dengan aman adalah: 1. Anatomi dan fisiologi saluran gastro-intestinal bagian atas dan system p ernafasan. 2. Kehati-hatian dalam prosedur pemasangan dan kebijaksanaan penatalaksanaa n NGT. 3. Pengetahuan mendalam pada pasien ( misalnya: perubahan anatomi dan fisio logi yang dapat mambuat sulitnya pemasangan NGT tersebut) e. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. f. Peralatan Selang nasogastrik (ukuran tergantung pada kebutuhan pasien) Pelumas/ jelly Spuit berujung kateter 60 ml Stetoskop Lampu senter/ pen light Klem Handuk kecil Tissue Spatel lidah Sarung tangan dispossible Plester Kidney tray Bak instrument Ukuran Selang Nasogastric

Digunakan berbagai ukuran selang dan pemilihan ukuran yang sesuai tergantung pad a tujuan penggunaan dan perkiraan lama/durasi penggunaan selang Jenis selang berdasarkan diameter: 1. Selang berdiameter kecil (8 Fr sampai 12 Fr), lunak, fleksible, sering d igunakan untuk pasien yang membutuhkan enteral feeding untuk kurang dari 6 mingg u 2. NGT berdiameter besar, kurang flexible, lebih kaku, digunakan untuk pemb erian obat, dekompresi/pengurangan tekanan udara di lambung, dan untuk feeding j angka pendek (biasanya kurang dari 1 minggu) Jenis selang berdasarkan panjang: 1. Selang Pendek (selang Nasogaster). Selang ini terutama dirancang untuk m engosongkan lambung. Ada 3 jenis: a. Selang ewald mempunyai diameter yang besar, digunakan untuk membilas lam bung. Selang ini juga bisa dipakai untuk mengeluarkan bekuan-bekuan darah pada p endarahan lambung. Karena berdiameter besar biasanya dimasukkan dimulut. b. Selang Levin, jenis yang paling banyak digunakan. Berlumen tunggal terbu at dari karet atau plastik. Penderita lebih tahan terhadap selang plastik karena iritasi farings dan esophagus lebih sedikit. Diameter yang umum dipakai adalah 14 Fr (5 mm). Selang berlumen tunggal hanya boleh dihisap secara terputus-putus . Penghisapan yang terus-menerus akan menyebabkan mukosa lambung ikut terhisap. c. Sump tube, adalah selang berlumen ganda. Selang kedua punya diameter leb ih kecil yang memungkinkan udara masuk kedalam gaster. Secara teoritis selang in i dapat dihubungkan dengan alat penghisap yang bekerja terus-menerus. Karena uda ra yang masuk melalui selang kecil akan mencegah obstruksi selang utama dan terh isap mukosa lambung. Tetapi selang jenis ini juga mudah tersumbat dan mukosa ser ing terhisap. Keuntungan NG tubes ukuran kecil dengan ukuran besar antara lain kurang menimbul kan trauma pada mukosa nasal baik selama pemasangan maupun NG tube insitu. Penggunaan NGT ukuran kecil sebagai tindakan propilaksis untuk pencegahan gastro -oesofageal reflux dan micro-aspiration isi lambung, ke dalam jalan napas bagian bawah meskipun masih kontroversial sebagaimana yang lain menunjukkan tak ada hu bungan antara ukuran NGT dan komplikasi-komplikasi ini. Displacement dapat terjadi ukuran besar maupun kecil, namun ukuran kecil lebih m udah dislokasi, sering ke dalam jalan napas dan tanpa tanda-tanda dapat terlihat dari luar, dan mudah terjadi kemacetan dan melilit. Insertion of the NG tube adalah suatu prosedure yang kompleks, dan membutuhkan s kill and keahlian sebaimana kesalahan-kesalahan penempatan dapat berakibat pada komplikasi-komplikasi. Selama awal pemasangan NGT, misplacement dapat meliputi respiratory tract , brai n, oesophagus, peritoneum, stomach (duodenal tube) and intestine (gastric tube). Upward displacement meningkatkan resiko pada pulmonary aspiration, sedangkan dow nward displacement meningkatkan resiko feeding intolerance jika formula atau oba t-obatan diberikan melalui tubing itu. g. Prosedur Pelaksanaan 1. Beri penjelasan singkat kepada penderita atau keluarganya bahwa akan dil akukan pemasangan pipa nasogaster, karena kebanyakan penderita akan merasa khawa tir bila harus dipasangi pipa lambung. Bahkan ditangan Dokter yang berpengalaman pun prosedur ini sangat tidak menyenangkan. 2. Perkirakan atau ukur seberapa panjang pipa dibutuhkan untuk mencapai lam bung ini akan sesuai dengan jarak antara pangkal hidung ke liang telinga ditamba h dengan jarak anatra pangkal hidung ke ujung prosesus sifoideus. 3. Siapkan kertas pembersih serta tempat menampung muntah untuk penderita. Lumasi ujung pipa sepanjang 4 inci dengan jelly pelumas. Untuk mengurangi rasa n yeri jelly lidokain bisa dipakai. Kemudian masukkan pipa secara perlahan melalui lubang hidung ke dalam farings. Pada tahap ini biasanya akan ada reflex muntah. Tarik pipa kira-kira 1 inchi dan minta penderita untuk santai. Jangan mendorong terlalu keras. Jika dijumpai tahannan, cukup dengan memutar pipa dan biasanya p

ipa akan masuk dengan mudah tanpa ada hambatan lagi. Bila tetap tidak bisa, jang an dipaksa cobalah pada lubang hidung yang lain. 4. Biarkan penderita santai dan mintalah untuk melakukan gerakan menelan be berapa kali. Pada saat ini doronglah pipa secara perlahan tetapi mantap sampai t ercapai posisi yang dikehendaki. Bila tidak ada kontraindikasi penderita dapat d iberi minum sedikit air. 5. Reflex muntah yang berlebihan biasanya disebabkan oleh tergulungnya pipa di esophagus. Mengatasinya tariklah sampai ujungnya berada di nasofarings dan t unggu sampai penderita agak santai. Batuk-batuk atau suara tercekik yang timbul pada saat pipa dimasukkan merupakan pertanda bahwa pipa masuk ke trakea tarikla h sampai ujungnya berada di nasofarings. 6. Bila terdapat fraktur tulang-tulang muka yang berat, pipa lambung harus dilewatkan melalui mulut, sebab pipa dapat masuk kedalam rongga tengkorak. 7. Lekatkan pipa ke hidung dengan bantuan plester. Pipa yang terlalu meleng kung dapat menekan lubang hidung dan menyebabkan nekrosis.

h.

Initial Confirmation of Position Posisi tubing yang benar harus dipastikan sebelum penggunaan NGT untuk t ujuan apapun, untuk meyakinkan tubing didalam lambung sebelum cairan diberikan ( Cirgin-Elliott et al, 1999) 1. X-Ray confirmation, harus dilakukan pada semua klien Peringatan: X-Ray confirmation hanya valid pada waktu X-Ray dilakukan. Semua NGT yang telah dimasukkan, harus mempunyai X-Ray Thorax dan upper abdomen untuk kon firmasi. X-Ray harus di review oleh seorang dokter dan konfirmasi tentang posisi di catat dalam catatan medis. Kemudian introducer dapat di removed dan aspirate di test untuk di check pH-nya (Metheny N.A.& Titler M, 2001) 2. Testing of aspirate Setelah pipa terpasang, ujilah dengan aspirasi untuk memastikan bahwa ujungnya t elah berada didalam lambung. Injeksikan udara sambil mendengarkan dengan stetosk op yang diletakkan di epigastrium. Suara gemuruh yang terdengar menandakan bahwa posisi pipa sudah benar. Langkah testing of aspirate: a. Bilas tube dengan 20ml udara untuk membebaskan selang NGT dari zat-zat l ain (gunakan syringe > 30ml). b. Aspirate 20 ml dari tubing (gunakan large syringe > 30ml) dan test pH de ngan indicator strips. pH 4 atau kurang mengindikasikan gastric placement dan co nfirms correct positioning. i. Komplikasi yang disebabkan oleh NGT 1. Komplikasi mekanis a. Selangnya tersumbat. b. Dislokasi dari selang, misalnya karena ketidaksempurnaan melekatkatnya s elang dengan plester di sayap hidung. 2. Komplikasi pulmonal, misalnya aspirasi. Dikarenakan pemberian NGT feedin g yang terlalu cepat 3. Komplikasi yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan selang a. Yang menyerupai jerat b. Yang menyerupai simpul c. Apabila selang terus meluncur ke duodenum atau jejunum d. Hal ini dapat langsung menyebabkan diare. 4. Komplikasi yang disebabkan oleh zat nutrisi. II. TERAPI INTRAVENA a. Definisi Terapi intravena memberikan cairan tambahan yang mengandung komponen tertentu ya ng diperlukan tubuh secara terus menerus selama periode tertentu Fungsi vena adalah melakukan penusukan vena dengan jarum semprit dengan tujuan u ntuk mengambil darah vena, atau memasukan cairan kedalam sirkulasi darah. Darah

vena ini dapat dipergunakan untuk tes laboratorium, penentuan golongan darah ata u untuk keperluan donor dan transfusi darah. b. Tujuan Adapun tujuan prosedur ini adalah untuk: 1. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh, elektrolit, vitamin, protein , kalori dan nitrogen pada klien yang tidak mampu mempertahankan masukan yang ad ekuat melalui mulut. 2. Memulihkan keseimbangan asam-basa. 3. Memulihkan volume darah. 4. Menyediakan saluran terbuka untuk pemberian obat-obatan. Fungsi vena dapat pula dilanjutkan dengan pemasangan kanulasi intravena dengan t ujuan, untuk: 1. Pemberian infus, cairan dan elektrolit 2. Transfusi darah 3. Pemberian nutrisi intravena 4. Pemberian obat-obatan secara bolus maupun continue. c. Jenis-jenis Cairan Intravena 1. Cairan bisa bersifat isotonis (contohnya: NaCl 0,9 %, Dekstrosa 5 % dala m air, Ringer laktat / RL, dll) 2. Cairan bisa bersifat hipotonis (contohnya: NaCl 5 %) 3. Cairan bisa bersifat hipertonis (contohnya: Dekstrosa 10 % dalam NaCl, D ektrosa 10 % dalam air, Dektrosa 20 % dalam air) d. Mencari Vena Bendung dengan tourniquet di proximal dan cari vena dibagian distal. Tourniquet diatur sedemikian rupa sehingga masih teraba nadi arteri dengan distalnya. Bila menjerat terlalu kuat sehingga arteri ikut terjerat maka vena malah tidak terisi . Atau membendung dengan manset tensimeter yang dipasang antara systole dan dias tole. Untuk membuat vena dilatasi dapat dilakukan dengan cara meletakkan posisi vena lebih rendah dari jantung, ditepuk pelang-pelan, digosok-gosok, dihangatkan , menggenggam dan membuka telapak tangan agar darah yang di otot masuk ke vena. e. 1. 2. 3. Jarum yang digunakan Jarum suntik stainless ukuran 14 G s/d 24 G Jarum bersayap (wing needle/butterfly needle) Jarum dengan kanula/kateter : Kanula diluar jarum (contoh Surplo, Abbocath) Kateter didalam jarum (contoh Venocath)

f. Suci Hama/sterilitas Fungsi vena merupakan tindakan invasive yang dapat mengundang kuman untuk masuk ke aliran darah, karena itu harus dilakukan secara aseptis agar kuman tidak masu k tubuh. Kulit disterilkan, alat-alat yang digunakan steril, petugas steril dan tindakan dilakukan secara aseptis. Cuci tangan dengan sabun dan sterilisasi kuli t dapat dilakukan dengan desinfektan: 1. Povidon-iodine Dioleskan dua kali Tunggu 30 detik Tak perlu dibilas dengan alcohol 2. Tingtura Yodium Konsenterasi 2 % Tunggu 30 detik Cuci dengan alcohol 70 % 3. Etil alcohol Konsenterasi 70 % Tunggu 60 detik Biarkan kering sendiri 4. Fiksasi

Jarum atau kanula yang sudah terpasang harus dilakukan fiksasi dengan baik agar tidak bergerak-gerak dan tercabut. Jarum atau kanula yang bergerak akan : Menembus dinding vena Melukai dinding dalam vena Mengudang infeksi Fiksasi dilakukan dengan plester atau semacamnya sedemikian rupa sehingga jarum atau kanula tidak bergerak dan tidak mudah tercabut. g. Peralatan 1. Alas plastik dan handuk kecil 2. Manset tangan; bisa juga digunakan manset sfigmomanometer 3. Kapas alkohol 4. Betadine (1-2 % dalam air, 70 % alkohol) 5. Kain kasa steril 6. Plester dan stiker kosong untuk menulis tanggal pemasangan infuse 7. Set infuse 8. Jarum infus (abbocath, wing needle/butterfly) 9. Cairan infuse 10. Sarung tangan steril (jika memasang infus pada klien yang mengalami peny akit menular, seperti ; hepatitis B, HIV-B, AIDS, dll) h. Prosedur 1. Mencuci tangan 2. Menjelaskan prosedur dan tujuannya (pada klien dan keluarga) 3. Memberikan posisi semi fowler atau terlentang 4. Menggulung lengan baju klien 5. Meletakkan manset 5 cm di atas siku 6. Menghubungkan cairan infus dengan set infus dan gantungkan (periksa labe l infus sesuai dengan program terapi cairan yang akan diberikan) 7. Mengalirkan cairan dengan selang menghadap ke atas sehingga udara didal amnya keluar 8. Mengencangkan klem sampai infus tidak menetes dan pertahankan kesterilan sampai pemasangan pada tangan disiapkan 9. Mengencangkan manset atau jika menggunakan sfigmomanometer, tekanan dite mpatkan dibawah tekanan sistolik 10. Menganjurkan klien untuk mengepal dan membukanya beberapa kali, palpasi dan pastikan vena yang akan ditusuk. 11. Membersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, lalu diulang i dengan menggunakan kasa betadine dan arahnya melingkar dari dalam keluar lokas i tusukan. 12. Menggunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm diatas tusukan . 13. Memegang jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk, l alu tusuk perlahan dan pasti. 14. Merendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan tusukan jarum ke dal am vena sampai terlihat darah mengalir keluar dari pembuluh darah. 15. Melepaskan tekanan manset 16. Sambungkan selang infus dengan kateter infus (abbocath, wing needle/butt erfly) dan buka klem infus sampai cairan mengalir lancar. 17. Mengolesi dengan salep betadine di atas penusukan 18. Memfiksasi posisi jarum dengan plester, letakkan kasa steril diatasnya. Atur kasa steril pada lokasi jarum supaya berjendela agar mudah dievaluasi terha dap tanda-tanda inflamasi. Bila ada gunakan plester steril yang transparan. 19. Mengatur tetesan infus sesuai ketentuan; pasang stiker yang sudah diberi tanggal pada lokasi yang mudah terlihat. Hal-hal yang perlu diperhatikan: a. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru b. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infek si c. Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain d. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan

e. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir f. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus p erlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus g. Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas plester diber sihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu) 20. Mendokumentasikan waktu pemberian, jenis cairan dan tetesan, jumlah cair an yang masuk, waktu pemeriksaan kateter (terhadap adanya embolus), serta reaksi klien (terhadap cairan yang telah masuk) i. Tempat/ lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infuse : Vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupak an akses paling mudah untuk terapi intravena. Vena-vena tersebut diantaranya ada lah : 1. Metakarpal 2. Sefalika 3. Basilika 4. Sefalika mediana 5. Basilika mediana 6. Antebrakial mediana j. Pemilihan Vena Fungsi dan kanulasi vena dianjurkan dilakukan pada vena lengan, mulai dari yang paling distal dan bila gagal sebelah proksimalnya. Pilih vena yang besar lurus t idak berkelok-kelok atau bercabang-cabang. Tempat yang terbaik adalah daerah pun ggung tangan, vena sefalika (10 cm diatas pergelangan tangan). Ditempat ini vena cukup- besar dan muntah terlihat, juga mudah difiksasi. Vena difosa kubiti keli hatannya ideal, tetapi gerakan siku menyebabkan gangguan pada fiksasi. Kanulasi di vena ekstremitas bawah hanya boleh digunakan dalam keadaan terpaksa. Bahayanya terlalu besar, karena thrombosis vena tungkai, bahkan emboli paru mud ah terjadi. Pada anak vena kulit kepala merupakan tempat umum yang dipilih karena re latif besar dan terletak tepat dibawah kulit yang tipis. Berikut tempat vena yang dapat dipilih: 1. Vena tangan paling sering digunakan untuk terapi IV rutin 2. Vena lengan depan: periksa dengan teliti kedua lengan sebelum keputusan dibuat, sering digunakan untuk terapi rutin 3. Vena lengan atas: juga digunakan untuk terapi IV 4. Vena ekstremitas bawah: digunakan hanya menurut kebijakan institusi dan keinginan dokter 5. Vena kepala: digunakan sesuai dengan kebijakan institusi dan keinginan d okter ; sering dipilih pada bayi 6. Insisi: dilakukan oleh dokter untuk terapi panjang 7. Vena subklavia: dilakukan oleh dokter untuk terapi jangka panjang atau i nfus cairan yang mengiritasi (hipertonik) 8. Jalur vena sentral: digunakan untuk tujuan infus atau mengukur tekanan vena sentral. Contoh vena sentral adalah: v. subkalvia, v. jugularis interna/eks terna, v. sefalika atau v.basilika mediana, v. femoralis, dll. 9. Vena jugularis: biasanya dipasang untuk mengukur tekanan vena sentral at au memberikan nutrisi parenteral total (NPT) jika melalui vena kava superior. 10. Vena femoralis: biasanya hanya diguakan pada keadaan darurat tetapi dapa t digunakan untuk penempatan kateter sentral untuk pemberian NTP. 11. Pirau arteriovena (Scribner): implantasi selang palastik antara arteri dan vena untuk dialisis ginjal 12. Tandur (bovine): anastomoisis arteri karotid yang berubah sifat dari cow ke sistem vena; biasanya dilakukan pada lengan atas untuk dialisis ginjal 13. Fistula: anastomoisis bedah dari arteri ke vena baik end atau side to si de untuk dialisis ginjal 14. Jalur umbilikal : rute akses yang biasa pada UPI neonates

No Jenis Vena Keuntungan Kerugian 1 Vena Perifer Cocok untuk kebanyakan obat dan cairan isotonik Tidak co cok untuk obat-obatan yang mengiritasi Cocok untuk terapi jangka pendek Tidak cocok untuk terapi jangka panjang Biasanya mudah untuk diamankan Sukar untuk diamankan pada pasie n yang agitasi 2 Vena Sentral Cocok untuk obat-obatan yang mengiritasi atau cairan hip ertonik Obat-obatan harus diencerkan Cocok untuk terapi jangka panjang Resiko komplikasi yang b erhubungan dengan pemasangan kateter vena sentral, seperti infeksi, hemothoraks, pneumothoraks. Tidak disukai karena bisa terganggu oleh pasien (namun m asih mungkin) Tabel. 1. Pertimbangan dasar dalam pemilihan sisi (vena) k. Faktor yang mempengaruhi pemilihan sisi (vena): 1. Umur pasien: misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat pent ing dan mempengaruhi berapa lama IV berakhir. 2. Prosedur yang diantisipasi: misalnya jika pasien harus menerima jenis te rapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pembedahan, pilih sisi ya ng tidak terpengaruh oleh apapun 3. Aktivitas pasien: misalnya gelisah, bergerak, takbergerak, perubahan tin gkat kesadaran 4. Jenis IV: jenis larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering memak sa tempat-tempat yang optimum (mis, hiperalimentasi adalah sangat mengiritasi ve na-vena perifer) 5. Durasi terapi IV: terapi jangka panjang memerlukan pengukuran untuk meme lihara vena; pilih vena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rota si sisi pungsi dari distal ke proksimal (mis, mulai di tangan dan pindah ke leng an) 6. Ketersediaan vena perifer bila sangat sedikit vena yang ada ,pemilian si si dan rotasi yang berhati – hati menjadi sangat penting ; jika sedikit vena pen gganti (mis ,pemasangan kateter broviac atau hickman atau pemasangan jalur PICC) 7. Terapi Ivsebelumnya :flebitis sebelumnya membuat vena menjadi tidak baik untuk di gunakan ; kometerapi sering membuat vena menjadi buruk (mis,mudah peca h atau sklerosis) 8. Pembedahan sebelumnya: jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada pas ien dengan kelenjar limfe yang telah di angkat (mis, pasien mastektomi) tanpa iz in dari dokter. 9. Sakit sebelumnya: jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien deng an stroke. 10. Kesukaan pasien: jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi. l. Perhitungan Tetesan Infus Jumlah tetesan disesuaikan dengan: 1. Volume cairan infus yang akan diberikan 2. Waktu pemberian (24 Jam, 12 jam, 6 jam, dll) 3. Macam Penetes (dripper) dari infus set : Untuk dewasa 1 ml = 20 tetes Untuk anak 1ml = 60 tetes 4. Jumlah tetesan per menit Dewasa Anak

BAB III PEMBAHASAN I. TERAPI NGT Pengkajian secara umum pada pasien yang dilakukan pemasangan NGT harus berfokus pada: 1. Instruksi dokter tentang tipe selang dan penggunaan selang 2. Ukuran selang yang digunakan sebelumnya, jika ada 3. Riwayat masalah sinus atau nasal 4. Distensi abdomen, nyeri atau mual Perencanaan keperawatan untuk menghindari beberapa komplikasi 1. Komplikasi mekanis a. Agar selang tidak tersumbat perawat atau pasien harus teratur membersihkan selang dengan menyemprotk an air atau teh sedikitnya tiap 24 jam bila aliran nutrisi enteral sementara terhenti, selang harus dibersihkan setiap 30 menit dengan menyemprotkan air atau the b. Agar selang tidak mengalami dislokasi selang harus dilekatkan dengan sempurna di sayap hidung dengan plester y ang baik tanpa menimbulkan rasa sakit posisi kepala pasien harus lebih tinggi dari alas tempat tidur (+ 30°) 2. Komplikasi pulmonal: aspirasi a. Kecepatan aliran nutrisi enteral tidak boleh terlalu tinggi b. Letak selang mulai hidung sampai ke lambung harus sempurna. Untuk mengontrol letak selang tepat di lambung, kita menggunakan stetoskop guna auskultasi lambung sambil menyemprot udara melalui selang. 3. Komplikasi yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan selang a. sebelum selang dimasukkan, harus diukur dahulu secara individual (pada s etiap pasien) panjangnya selang yang diperlukan, dari permukaan lubang hidung sa mpai keujung distal sternum. b. selang harus diberi tanda setinggi permukaan lubang hidung c. selang harus dilekatkan dengan sempurna di sayap hidung dengan plester y ang baik tanpa menimbulkan rasasakit d. perawat dan pasien harus setiap kali mengontrol letaknya tanda di selang , apakah masih tetap tidak berubah (tergeser). 4. Komplikasi yang disebabkan oleh yang zat nutrisi antara lain a. Komplikasi yang terjadi di usus Diare Perut terasa penuh Rasa mual, terutama pada masa permulaan pemberian nutrisi enteral b. Komplikasi metabolik hiperglikemia. Perencanaan keperawatanya dari komplikasi yang terjadi di usus Pemberian nutrisi enteral harus dilakukan secara bertahap. Tahap pembangunan; dengan mempergunakan mesin pompa Hari 1 : kecepatan aliran 20 ml/jam = 480 ml/hari Hari 2 : kecepatan aliran 40 ml/jam = 960 ml/hari Hari 3 : kecepatan aliran 60 ml/jam = 1440 ml/hari Hari 4 : kecepatan aliran 80 ml/jam = 1920 ml/hari Hari 5 : kecepatan aliran 100 ml/jam = 2400 ml/hari = 2400 kcal/hari Kekurangan kebutuhan cairan dalam tubuh pada hari pertama sampai dengan hari kee mpat harus ditambahkan dalam bentuk air, teh atau dengan sistem infus (parentera l). Selanjutnya ada dua kemungkinan: Kemungkinan I

Nutrisi enteral konsep 24 jam: Kecepatan aliran nutrisi enteral tetap 100 ml/jam = 2400ml/hari = 2400 kcal/hari . Kemungkinan II Hari 6: kecepatan aliran 120 ml/jam (selama 20 jam/hari) Hari 7: kecepatan aliran 140 ml/jam (selama 17 jam/hari) Hari 8: kecepatan aliran 160 ml/jam (selama 15 jam/hari) Hari 9: kecepatan aliran 180 ml/jam (selama 13 jam/hari) Hari 10: kecepatan aliran 200 ml/jam (selama 12 jam/hari) Nutrisi enteral konsep 12 jam Kecepatan aliran nutrisi enteral tetap 200 ml/jam = 2400ml/hari = 2400 kcal/hari Maksud konsep 12 jam ini agar pasien hanya terikat oleh pemberian nutrisi enteral selama 12 jam sehari. Misalnya, hanya antara jam 19 sa mpai jam 7 pagi sambil tidur. Apabila timbul rasa mual atau diare, pada waktu ta hap pembangunan dianjurkan supaya kecepatan aliran nutrisi enteral diturunkan 40 ml/jam. Contoh: (Cermin Dunia Kedokteran No. 42, 1987) Pada kecepatan 100 ml/jam, pasien merasa mual dan mendapat diare. Dianjurkan: kecepatan diturunkan sampai 60 ml/jam ditunggu 24 sampai 48 jam sehingga rasa mual dan diare hilang setelah rasa mual dan diare hilang, kecepatan boleh dinaikkan lagi menja di 80 ml/jam tunggu lagi 48 jam bila tak ada keluhan, kecepatan boleh dinaikkan lagi menjadi 120 ml/jam, dan seterusnya. Tiap kali timbul rasa mual atau diare, kecepatan aliran nutrisi langsung dikurangi 40 ml/jam dan perlahan-lahan setelah rasa mual dan diare hilang, kece patan dinaikkan lagi NGT adalah salah satu cara pemberian nutrisi secara enteral. Nutrisi enteral direkomendasikan bagi pasien-pasien yang tidak dapat memenuhi ke butuhan nutrisinya secara volunter melalui asupan oral. Pemberian nutrisi entera l dini (yang dimulai dalam 12 jam sampai 48 jam setelah pasien masuk ke dalam pe rawatan intensif [ICU]) lebih baik dibandingkan pemberian nutrisi parenteral. Manfaat dari pemberian nutrisi enteral antara lain: • Mempertahankan fungsi pertahanan dari usus • Mempertahankan integritas mukosa saluran cerna • Mempertahankan fungsi-fungsi imunologik mukosa saluran cerna • Mengurangi proses katabolic • Menurunkan resiko komplikasi infeksi secara bermakna • Mempercepat penyembuhan luka • Lebih murah dibandingkan nutrisi parenteral • Lama perawatan di rumah sakit menjadi lebih pendek dibandingkan dengan Nutrisi Parenteral • Pasien-pasien yang dapat diberikan nutrisi enteral adalah mereka yang tidak bi sa makan, tidak dapat makan, dan tidak cukup makan (ASPEN, 1998) Biasanya, adanya bunyi usus dan flatus merupakan indikator bahwa saluran cerna b erfungsi, khususnya pada pasien-pasien paska pembedahan. Namun, penelitian menun jukkan bahwa motilitas saluran cerna yang menurun pada periode paska operasi ini , hanya mempengaruhi lambung dan usus besar (kolon), dan tidak mempengaruhi fung si usus halus. Berkurangnya ataupun hilangnya bunyi usus tidak perlu sampai menghambat pemberia n nutrisi enteral (Lewis et al 2001).

Sebaliknya, adanya bunyi usus juga tidak menjamin bahwa pemberian nutrisi entera l bisa sukses, misalnya pada pasien-pasien dengan Intractable diarrhea. Pemeliharaan NGT 1. Jika tersumbat pipa harus diirigasi dengan 30 ml larutan garam fisiologi s 2. Untuk memperkirakan banyaknya penggantian cairan atau elektrolit tambaha n, jumlah cairan yang dimasukkan dan dikeluarkan melalui pipa harus diukur. 3. Kebersihan mulut harus dijaga untuk mencegah peradangan kelenjar parotis . 4. Perdarahan sering terjadi pada intubasi yang berlangsung lama. Karena pi pa juga mengganggu mekanisme sfingter esofago-gaster, akan terjadi esofagitis ak aibat regurgitasi isi lambung ke esophagus. II. TERAPI IV Tiap penggunaan IV harus diamati hal-hal berikut : 1. Kelancaran tetesan yang semula lancar menjadi tidak lancar, mungkin ada sumbatan, kanula tertekuk, atau ekstravasasi (keluar dari pembuluh darah). 2. Keluhan nyeri, bila ada nyeri mungkin akibat iritasi oleh cairan yang hi pertonis, ada infeksi atau ekstravasasi. 3. Infeksi, biasanya disertai nyeri, panas dan kemerahan disekitar kanula m erupakan hal yang berbahaya karena dapat menyebar ke sistemik kanula harus seger a dicabut dan dipindah. 4. Pembekakan, mungkin ektravasasi cairan atau hematoma. Segera dicabut dan dipindah. 5. Perawatan secara aseptis, dilakukan tiap hari, dijaga sebagai suatu sist em tertutup (sambungan ujung infus dan kanul/jarum tak boleh dilepas). 6. Darah pada ujung selang, harus dibersihkan karena dapat menyumbat dan me rupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman. SIMPULAN Hasil yang diharapkan pada terapi NGT adalah: 1. Klien tidak mempunyai keluhan mual atau muntah. 2. Klien berkurang rasa nyeri dari distensi abdomen 3. Distensi abdomen berkurang 4. Kebutuhan Nutrisi terpenuhi 5. Tidak terjadi aspirasi Setelah melakukan proses keperawatan baik dari hasil pengkajian diagnosa perenca nanaan pemasangan NGT perlu dikaji hasil yang diharapkan sudah tercapai atau bel um. Pengkajian yang terus – menerus terhaap kriteria hasil yang diharapkan sehin gga tercapai tindakan keperawatan yang berkualitas. 1. Tidak terjadi komplikasi aspirasi, nasal irritation, sinusitis, epistaxis, rh inorrhea, skin erosion or esophagotracheal fistula sebagai dampak dari pemasanga n NGT. 2. Tingkat pengetahuan pasien dan keluarga akan bertambah, bisa diajak berkerjas ama dalam melaksanakan asuhan keperawatan secara utuh baik pengkajian, menentuka n masalah, perencanaan, pelaksanaan juga evaluasi. 3. Kebutuhan pasien terpenuhi secara adekuat baik berupa kebutuhan nutrisi maupu n cairan Pemilihan bentuk terapi baik NGT, IV, maupun bentuk lainnya harus dikembalikan k embali kepada semua faktor pendukung pemilihan terapi tersebut. PUSTAKA http://en.wikipedia.org/wiki/Nasogastric_intubation http://www.medterms.com/script/main/art.asp?articlekey=9348

http://dying.about.com/od/glossary/g/NG_tube.htm http://www.southtees.nhs.uk/UseFiles/pages/2249.pdf http://athearobiansyah.blogspot.com/2008/06/pemasangan-slang-nasogastrik-ngt.htm Canaby A, Evans L and Freeman (2002) Nursing care of patients with nasogastric f eedingtube. British Journal of Nursing 11 (6 ) Mallett, J & Dougherty, L (2000) Marsden Manual 5TH Ed Blackwell Science, United Kingdom McConnell E A (1997) Clinical Do’s and Don’ts: Inserting a Naso-gastric Tube Nur sing Jan. 72 NightingaleJ M D (2001) Insertion and Care of Enteral Feeding Tubes. In Nighting ale J M D (Ed) Intestinal Failure Greenwich Medical Media, London Metheny N A et al (1998) Detection of improperly positioned feeding tubes, Journ al of Health Risk Management 18(3) p37-48 Metheny, N A. & Titler, M. (2001) Assessing Placement of Feeding Tubes. American Journal of Nursing 101(5) Payne-James, J (1995) Enteral Nutrition: Tubes and techniques of delivery. In: A rtificial Nutritional Support in Clinical Practice (Payne James, J Grimble, G & Silk, D) p197 - 213. Edward Arnold. London. Practical Aspects of Nutritional Supports: an Advanced Pr actice Guide. Saunders, 2004 Walley and Wong (2000) Paediatric Variations of Nursing Interventions.Clinical Manual of Nursing Procedures, Tube feeding in children ch 21. P680-682 Universitas Yarsi Fakultas Kedokteran Bagian Pendidikan Kedokteran: Jakarta (200 6) Keterampilan Medik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->