P. 1
Buku Riset Upah Buruh Industri Di Kota Medan

Buku Riset Upah Buruh Industri Di Kota Medan

|Views: 1,186|Likes:
Tentang kondisi pengupahan buruh industri di Kota Medan
Tentang kondisi pengupahan buruh industri di Kota Medan

More info:

Published by: Tua Hasiholan Hutabarat on Apr 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

text

original

Realitas Upah Buruh Industri

Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera (PKPS)

Oleh Tua Hasiholan Hutabarat, M.Si

Didukung Oleh: Oxfam Novib Netherland

Medan, 2006

1

Kata Pengantar Lembaga
Persoalan-persoalan perburuhan yang terjadi di tingkat lokal maupun nasional semakin lama cenderung semakin kompleks. Mulai dari hak-hak normatif yang kerap dilanggar oleh pengusaha dengan perlindungan yang minim dari pemerintah, kebebasan berserikat yang tidak sepenuhnya terjamin dan pengekangan hak-hak sosial politik, maupun ketidakpastian nasib buruh sebagai dampak penerapan liberalisasi pasar tenaga kerja menjadi realita sehari-hari yang harus dihadapi oleh buruh. Tanggapan pemerintah sendiri terkait persoalan-persoalan yang dihadapi oleh buruh tersebut sangat minimal dibandingkan perhatian yang diberikan kepada strategi dan langkahlangkah pembangunan ekonomi maupun penciptaan iklim investasi. Beban dan tekanan yang dihadapi oleh buruh malah dianggap sebagai salah satu faktor penghambat ataupun pengganggu masuknya investasi dan pertumbuhan ekonomi. Salah satu alat yang digunakan oleh pengusaha dan pemerintah dalam rangka menjaga pemulihan dan pertumbuhan ekonomi adalah menerapkan sistem pengupahan yang mendukung sistem yang dibangun oleh pemerintah. Sistem pengupahan tersebut kita kenal sebagai upah minimum. Walaupun sebenarnya sistem tersebut sekaligus sebagai jaring pengaman bagi buruh, pada kenyataannya upah minimum kurang berkontribusi terhadap kesejahteraan buruh, karena beban yang diterima oleh buruh tidak sesuai dengan produktivitas ataupun hasil yang dinikmati oleh pengusaha. Kepentingan pemerintah terhadap pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, pengusaha dengan akumulasi modalnya dan buruh dengan hak-hak dasarnya tersebutlah yang terus menerus menjadi polemik setiap tahun. Pertarungan kepentingan tersebut tentunya berjalan secara tidak seimbang akibat ketimpangan kekuatan antar pihak tersebut. Walaupun tersedia sebuah institusi yang seakan-akan mendemokratiskan proses penentuan upah, tetap saja memposisikan buruh sebagai korban dari pemberlakuan sistem pengupahan. Penelitian ini adalah bagian dari strategi membuka ketimpangan pengupahan yang ada. Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera (PKPS) sebagai sebuah organ yang berkonsentrasi pada penguatan buruh maupun serikat buruh merasa berkewajiban untuk mengungkap sistem pengupahan yang selama ini dianggap menindas buruh. Semua pihak nantinya setelah membaca hasil penelitian ini akan menilai bagaimana proses penindasan berlangsung melalui pemberlakuan sistem pengupahan dan konsep upah minimum.

2

Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera (PKPS) sebagai sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang perburuhan dalam posisi ini mencoba menjadi intelektual organik bagi kepentingan buruh. Salah satunya adalah dengan melakukan studistudi yang bermanfaat bagi proses perubahan sosial dengan tujuan membongkar sistem yang menghisap, menindas dan tidak adil terhadap komponen rakyat marginal.

Medan, Jumat 23 Februari 2006

DIREKTUR EKSEKUTIF PKPS SAHAT LUMBANRAJA

3

KATA PENGANTAR PENULIS
Setelah dua tahun berjalan, akhirnya penelitian pengupahan yang dilaksanakan oleh PKPS sampai pada titik akhir. Dengan diterbitknnya buku hasil penelitian ini diharapkan mengantarkan PKPS sebagai salah satu institusi non pemerintah bidang perburuhan dan isuisu sosial lainnya menjadi lebih memposisikan diri di pihak rakyat yang menjadi korban pembangunan, terutama buruh. Diakui bahwasannya ada banyak kendala yang menyebabkan hasil penelitian ini dari segi waktu cukup terlambat dipublikasikan kepada masyarakat luas yang memiliki perhatian sekaligus keprihatinan sama terhadap kondisi perburuhan, terutama terhadap sistem pengupahan yang dirasakan sangat tidak adil. Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera (PKPS) sendiri yang sudah 15 tahun mengikatkan diri dalam perjuangan-perjuangan rakyat akar rumput dan buruh belum banyak melakukan kerja-kerja kajian yang kemudian dipublikasikan secara lebih luas ke masyarakat umum. Hasil-hasil kajian yang dilakukan lebih banyak untuk kepentingan strategi pengorganisasian dan pemberdayaan buruh dan diasumsikan punya relasi kuat terhadap perjuangan-perjuangan buruh dan masyarakat terpinggirkan lainnya, khususnya di Sumatera Utara. Melalui penelitian pengupahan ini setidaknya PKPS sudah memulai lebih maju dalam melakukan riset-riset perburuhan, sehingga tidak lagi sekedar melakukan kajian bagi kepentingan pengorganisasian, namun juga bagi tujuan-tujuan dalam skala makro, seperti pengungkapan fakta-fakta sosial lebih luas semisal sistem pengupahan. Tujuan-tujuan seperti itu tentunya menuntut penggunaan metodologi penelitian yang lebih empirik, ataupun setidaknya sesuai dengan kaidah-kaidah yang diakui oleh lembaga pemerintah dan masyarakat akademik. Aplikasi metodologi tersebut tentunya digunakan dengan catatancatatan tertentu. Bukan sekedar untuk memenuhi kaidah empirisme semata, namun juga tetap diboboti dengan analisis keberpihakan yang tegas terhadap buruh. Apalagi ketika dipahami bahwasannya selama ini ilmu pengetahuan dan metodologi riset yang digunakan untuk mengungkapkan fakta atau realitas sosial sarat dengan kepentingan rejim penguasa dan menghegemoni teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal itu dapat dilihat dari perkembangan riset akademis maupun di kalangan organisasi non pemerintah yang dengan mengatasnamakan empirisme, objektivitas, dan beberapa konsep penelitian ilmiah lainnya sebenarnya melakukan pembelokan terhadap realitas yang berlangsung di masyarakat. Penggunaan metodologi ilmiah selama ini lebih cenderung bukan sebagai aktivitas memahami fakta yang sebenarnya, namun didasarkan atas kepentingan yang lebih besar, yakni bagaimana realitas sosial yang diungkap ke permukaan berkontribusi terhadap pembangunan. Beberapa riset pengupahan yang dilakukan oleh pemerintah, khususnya institusi yang memiliki kewenangan terhadap perumusan dan penetapan pengupahan selama ini dianggap menggunakan azas-azas riset yang kurang lebih mengindikasikan praktek ketidakadilan dalam melihat fakta sosial. Hal itu dapat dilihat dari proses survey Dewan Pengupahan Daerah (DPD) yang banyak mereduksi realitas ekonomi yang dialami buruh sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang menyimpang jauh dari kondisi riil yang dialami buruh. Penyimpangan-penyimpangan tersebut terkesan semakin lama semakin dilegitimasi oleh pemerintah sehingga semakin mengentalkan kepentingan pemerintah dan modal.

4

Perserikatan Kelompok Pelita Sejahtera (PKPS) menyadari betul ketidakseimbangan yang terjadi dalam sistem pengupahan yang didukung oleh paradigma pembangunan dan ilmu pengetahuan yang sekedar melegalkan kepentingan mereka. Untuk itu jalan satu-satunya adalah dengan mengembalikan paradigma riset pada prinsip objektivisme yang tidak direduksi oleh kepentingan-kepentingan penguasa. Melalui riset pengupahan ini diharapkan realitas kehidupan buruh dapat terungkap sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, sehingga dapat dijadikan dasar pengkritisan terhadap sistem pengupahan yang selama ini tidak adil bagi buruh. Studi terhadap sistem pengupahan yang berlaku saat ini menjadi dasar bahwasannya upah yang diterima buruh berdasarkan proses perumusan dan penetapan yang ada sudah sangat jauh dari kebutuhan hidup buruh. Hal itu dapat dilihat dari persepsi buruh tentang institusi perumus upah, dasar yang digunakan dalam penentuan upah, kebijakan yang diterapkan, dan respon buruh terhadap kebutuhan konsumsinya berdasarkan upah yang diterima. Gambaran terhadap kondisi kehidupan buruh tersebut adalah sebuah fakta bahwasannya sistem pengupahan yang dijalankan saat ini tidak layak lagi untuk dijadikan dasar penentuan upah buruh. Tekanan ekonomi yang sudah sangat besar terhadap buruh, minimnya peran buruh dalam proses penentuan upah, kuatnya kepentingan modal dalam proses perumusan dna penentuan upah, tidak adilnya standar yang digunakan oleh pemerintah dalam perumusan upah, reduksi terhadap proses kerja institusi, dan metodologi yang digunakan adalah indikasi ketidaklayakan sistem pengupahan yang berjalan saat ini. Menyerahkan perubahan terhadap sistem pengupahan kepada pemerintah dan institusi yang terlibat tidak mungkin dilakukan karena kepentingan akan investasi, pertumbuhan dan stabilitas ekonomi selalu akan mengalahkan kepentingan buruh. Melakukan perubahan parsial dengan harapan sekedar kenaikan jumlah nominal upah juga tidak menjawab karena akan menuntun buruh kembali pada posisi terjebak pada sistem yang ada. Berdasarkan hasil penelitian ini paling tidak diperoleh pemahaman bahwasannya perubahan yang lebih adil terhadap sistem pengupahan menuntut proses yang lebih menyeluruh, menyangkut sistem ekonomi, politik ekonomi, kebijakan dan konsep dasar tentang kerja dan upah. Akhirnya, hanya buruh yang mengetahui apa yang disebut dengan keadilan, termasuk keadilan pada sistem pengupahan. Hasil riset ini menjadi penghantar motif-motif perubahan yang harus dilakukan demi kehidupan buruh yang lebih baik. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada kawan-kawan yang sudah memulai penelitian ini, yakni Lina Sudarwaty, Henry Sitorus, yang keduanya adalah dosen di Jurusan Sosiologi FISIP USU, Sri R.M dan kawan-kawan buruh anggota SBMI, baik itu yang ada di Mabar, Binjai dan Tanjung Morawa. Keterlibatan kawan-kawan sangat menentukan penelitian ini dapat dilaksanakan, mengingat sulitnya memulai sebuah penelitian. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Direktur KPS, Sahat Lumbanraja, Berliana Siregar sebagai sekretaris, kawan-kawan CO KPS, Daniel Marbun, Mesersius Manalu, Relies Yanti, Rosmawaty, Daniel (Dolok) Sibarani, Juan Lingga dan Franky Sinaga. Dukungan juga diperoleh dari Gindo Nadapdap, Tua Tampubolon, Kiki divisi Kampanye Pembelaan, Yudi dan Sorta Gultom. Seluruh kontribusi kawan-kawan sedikit banyaknya menjadi indikasi bahwasannya kolektivitas pengerjaan penelitian ini dapat dilaksanakan.

Medan, Februari 2006

5

Penulis Tua Hasiholan Hutabarat, M.Si

6

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Lembaga

Kata Pengantar dari Tim Peneliti

Daftar Isi V Daftar Tabel

Latar Penelitian Pengupahan….1 Gambaran Kondisi Ketenagakerjaan Indonesia….14 Sekilas Tentang Sistem Pengupahan….32 Realitas Sistem Pengupahan di Mata Buruh….46 Respon Buruh Terhadap Sistem Pengupahan….104 Sistem Pengupahan yang Tidak adil….117

7

DAFTAR GRAFIK

Grafik Responden Berdasarkan Kelompok Umur ......................................... Grafik Responden Berdasarkan Status Kependudukan ................................. Grafik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ..................................... Grafik Responden Berdasarkan Status Kawin ............................................... Grafik Responden Berdasarkan Keanggotaan Serikat Buruh ........................ Grafik Pengetahuan komponen/lembaga yang termasuk dalam UMP/UMSP41 Grafik Buruh Perlu Dilibatkan Dalam Proses Penetapan UMP/UMSP ......... Grafik Komposisi Pengeluaran Biaya Sosial Buruh Lajang dan Menikah ....

16 17 18 21 26

44 75

8

Latar Penelitian Pengupahan_______
“…Atas dasar tjara produksi ini biaja produksi buruh terdiri dari djumlah bahan² keperluan hidup-atau harga bahan² keperluan hidup itu menurut uang-jang rata² diperlukan untuk membuat dia sanggup bekerdja, mendjaga dia tetap sanggup bekerdja, dan untuk menggantinja dengan buruh baru, setelah dia pergi karena usia tua, sakit, atau mati…”

Karl Marx

SEKILAS TENTANG KONDISI PENGUPAHAN
Kondisi pengupahan di Indonesia selama ini boleh dikatakan tidak mengalami perubahan yang signifikan terhadap perubahan nasib buruh menjadi lebih baik. Pada sisi kebijakan, perubahan pengupahan selama puluhan tahun tidak mampu mendongkrak kesejahteraan buruh menjadi lebih tinggi dibandingkan masa-masa ketika regulasi kebijakan perburuhan belum menjadi prioritas pemerintah. Malah Yang terjadi saat ini adalah, sistem pengupahan yang dibangun oleh pemerintah bersifat menghisap dan tidak bertujuan sesuai dengan kepentingan buruh dalam memberbaiki kondisi buruh, namun lebih pada kepentingan pengusaha ataupun investasi secara umum1. Walaupun secara formal regulasi kebijakan perburuhan dan pengupahan sudah berjalan selama 3 dekade belakangan, namun kebijakan tersebut secara substansial masih belum memenuhi aspek keadilan bagi buruh. Kebijakan perburuhan dan secara khusus tentang pengupahan masih sebatas memenuhi unsur formal, yakni dalam

1

Sumut Pos, Tanggal 19 februari 2004 dengan judul; Kadin-Apindo Siap Bela PT Japfa

9

kerangka besar pseudo demokrasi2 ekonomi. Jika acuan dan kepentingan dasarnya adalah kepentingan dan kebutuhan buruh, jelas berbagai aturan pemerintah bidang perburuhan dan pengupahan sama sekali tidak memenuhi prinsip keadilan. Pemertintah sebagai lembaga regulator kebijakan pengupahan masih mendefinisikan keadilan dari sisi pengusaha atau pemodal yang punya kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ketidakberpihakan pemerintah terhadap buruh dan pembelaan yang maksimal terhadap pelaku industri tampak jelas dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan, mulai dari kebijakan pengupahan masa orde lama hingga orde reformasi. Suara-suara pengusaha dan pemodal selalu menjadi fokus perhatian pemerintah, sedangkan kepentingan buruh dan pekerja sekedar menjadi analisis komplementer semata. Hal itu dapat dilihat salah satunya adalah ketika pengusaha keberatan dengan adanya rencana pemerintah yang dituangkan pada UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 yang akan menetapkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebagai dasar perumusan dan penetapan upah. Pengusaha yang diwakili oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sangat keberatan dengan rencana tersebut. Menurut mereka, penerapan upah berdasarkan KHL punya konsekuensi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kapasitas penyerapan tenaga kerja. Pada satu sisi APINDO menyatakan, peberlakukan UMP berdasarkan KHL akan meningkatkan upah buruh secara drastis. Namun peningkatan upah tersebut dinyatakan akan berdampak negatif terhadap kondisi perusahaan. Untuk menetapkan upah, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yakni produktivitas buruh, kemampuan perusahaan, dan pertumbuhan ekonomi. Ketiga faktor tersebut harus dipertimbangkan ketika pemerintah bermaksud merubah standar Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Pihak pengusaha menyatakan, perubahan seperti itu akan menyulitkan, bukan hanya dalam menetapkan standar kehidupan layak, namun juga dalam proses perumusan dan penetapannya

2

Yakni demokrasi semu atau demokrasi seakan-akan.

10

yang sangat rumit. Pengusaha sendiri melalui APINDO cenderung lebih menyetujui proses penetapan upah dilakukan secara bipartit, yakni antara pengusaha (pemberi kerja) dengan pekerja atau buruh. Proses seperti ini akan lebih menguntungkan karena yang mengetahui kondisi internal perusahaan dan produktivitas buruh adalah dua komponen tersebut. Keberatan tersebut kemudian secara otomatis dijadikan pertimbangan oleh pemerintah, sehingga pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja mengeluarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja tertanggal 16 Juli 2004 yang meminta kepada seluruh gubernur untuk tetap menggunakan Kebutuhan Hidup Minimum (KHL) sebagai dasar penentuan UMP pada tahun 20043. Realitas seperti ini menjadi bukti bahwasannya keberatan, protes, kritikan, negosiasi pihak pemodal dan pengusaha lah yang menjadi panduan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan pengupahan. Walaupun kebijakan yang di atas telah mengakomodir kepentingan buruh, namun di tingkat implementasi dan aturan pelaksanaannya, pemerintah masih terlalu besar menerima kepentingan pengusaha dan investor. Pada sistem ekonomi kapitalistik seperti yang diberlakukan di Indonesia saat ini, buruh pada sektor industri hanya menjadi salah satu alat produksi semata. Dengan logika seperti ini, posisi buruh tidak akan pernah menjadi menjadi elemen penting dalam sebuah lembaga produksi. Posisi elemen buruh yang bekerja di perusahaan disamakan dengan alat produksi lain, seperti bahan baku, mesin, dan input lainnya dalam proses produksi. Otomatis, jika landasan berfikir seperti itu yang menjadi fundamen sistem ekonomi dan pengupahan, maka perlakuan terhadap buruh dipengaruhi oleh prinsip efisiensi, efektifitas dan logika ekonomi pasar lainnya. Ibarat sebuah rantai dalam sebuah sistem produksi, maka buruh (khususnya upah buruh) merupakan mata rantai terlemah. Lemah dalam artian sebagai satu sub sistem yang paling mudah ditekan, dilemahkan, untuk kemudian akan ditiadakan dalam satu proses produksi. Buruh sebagai sebuah elemen yang hidup diperlakukan

3

Kompas, 29 Juli 2004

11

sama dengan komponen alat produksi lain yang penggunaannya ditentukan oleh dinamika pasar. Dengan demikian, serupa dengan komponen produksi lainnya, buruh dipaksa untuk fleksibel. Salah satu fleksibilitas yang selalu dipaksakan terhadap buruh adalah upah. Pada sisi kebijakan, berbagai penyimpangan dan ketidakberpihakan pemerintah dan pengusaha terhadap nasib buruh akan semakin jelas terlihat. Namun ketidakberpihakan tersebut mudah untuk ditutupi sehingga tidak mendapat tentangan yang besar bagi buruh dan masyarakat secara umum. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah perihal pengupahan selama ini dipandang sebagai satu alternatif paling masuk akal sekaligus paling manusiawi dibandingkan kebijakan sebelumnya. Setiap kebijakan baru tentang pengupahan dianggap lebih punya kontribusi positif terhadap kesejahteraan buruh dibandingkan kebijakan sebelumnya, padahal, dari tahun ke tahun, walupun kebijakan pengupahan diperbaharui, korelasinya terhadap kesejahteraan buruh nyaris tidak ada sama sekali. Upah buruh tetap menjadi permainan pemain ekonomi global yang tidak menginginkan membaiknya (menguatnya) posisi buruh. Hal itu dapat dilihat dari berbagai argumentasi pemerintah dan pemilik modal yang sangat defensif dalam menanggapi tuntutan kenaikan upah buruh. Segala cara dilakukan oleh pengusaha yang didukung oleh pemerintah untuk mencegah dan menghindar dari kecenderungan kenaikan upah setiap tahunnya. Dengan alasan menarik investor, mencegah hengkangnya (relokasi)4 beberapa perusahaan ke luar negeri, keamanan investasi dan pertumbuhan ekonomi, pemerintah menolak tuntutan kenaikan upah yang disuarakan buruh. Pernyataan tersebut tentunya bertolak belakang dengan pernyataan beberapa Organisasi Non Pemerintah (Ornop) beserta Serikat Buruh/Serikat Pekerja (SB/SP. Kalangan serikat buruh dan pekerja yang
4 Medan Bisnis, 27Oktober 2003, yang diungkapkan oleh Direktur Utama PT Kawasan Industri Medan (KIM) sebagai hasil seminar Himpunan Kawasan Industri Indonesia. Pada seminar itu dinyatakan, nilai UMP yang setiap tahun naik rata-rata 20% sehingga akan menyulitkan perusahaan. Untuk itu kalangan pengusaha menginginkan agar sistem pengupahan harus ditentukan oleh pasar atau berdasarkan supply dan demmand seperti yang diberlakukan di negara-negara lain.

12

kemudian didukung oleh Organisasi Non Pemerintah menyatakan, banyaknya perusahaan yang tutup (lock out) kemudian direlokasi ke beberapa negara di Asia Tenggara bukanlah disebabkan oleh kecenderungan kenaikan upah setiap tahunnya, namun lebih disebabkan faktor-faktor non upah, salah satunya adalah disebabkan besarnya biaya siluman yang harus dikeluarkan perusahaan untuk berinvestasi maupun sekedar memproteksi aktivitas produksi, biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk upah buruh (direct labour cost) menurut penelitian hanya sebesar kurang lebih 5,3% dari seluruh total biaya produksi, sedangkan komposisi biaya siluman ataupun pungutan liar dapat mencapai 30% dari total biaya produksi.5 Standar pengupahan, maupun proses penentuan yang diberlakukan di Indonesia jelas masih jauh dari harapan buruh. Jika ingin dieksplorasi lebih dalam dan kemudian dicari akar permasalahannya, maka yang ditemui adalah jaringan kepentingan modal yang cukup kuat. Untuk mendobraknya dibutuhkan kekuatan dan pengorbanan yang cukup besar. Pemerintah selama ini juga memiliki argumentasi yang tidak jauh berbeda. Pemerintah yang sebenarnya memiliki otoritas tertinggi dalam hal pengupahan juga tidak berdaya berhadapan dengan kekuatan modal dan sistem pasar dunia yang turut campur dalam urusan politik dan ekonomi melalui paket-paket kebijakan ekonomi6 Mau tidak mau, agar ekonomi suatu negara bisa bertahan maka paket-paket pemulihan ekonomi yang ditawarkan oleh lembaga keuangan internasional yang di dalamnya terdapat negara industri maju harus diterima secara mutlak. Intervensi lembaga keuangan internasional tersebut salah satunya dalam bentuk prasyarat penciptakan kondisi yang kondusif bagi investasi. Secara tidak langsung, kebijakan seperti ini akan menekan buruh. Selama ini, buruh dianggap sebagai salah satu elemen penghalang investasi. Buruh dipandang sebagai elemen yang dapat merusak iklim investasi, sehingga gejolak yang ditimbulkannya harus diredam seminimal mungkin.
Harian Waspada, 11 Desember 2003. Untuk menanggulangi biaya siluman dan pungutan liar tersebut, Jabsu (Jaringan Advokasi Buruh Sumatera Utara) menginginkan pemerintah harus membuat Peraturan Daerah (Perda) anti biaya siluman, yang bersifat mengikat dan berisi sanksi. 6 Baswir, Revrisond, 2003, Di Bawah Ancaman IMF, Jakarta.
5

13

Jika kita kembali ke masalah upah buruh, maka salah satu strategi yang dijalankan oleh pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif dan sistem ekonomi yang kompetitif adalah dengan menciptakan ketersediaan buruh murah. Di tengah angka angkatan kerja yang berlimpah,7 jumlah penyerapan tenaga kerja yang minim dan angka pengangguran yang sangat tinggi tersebut, maka kebijakan upah murah menjadi pilihan yang paling masuk akal sekaliguys paling menguntungkan bagi pemodal, punya peran terhadap penyerapan tenaga kerja dan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Bagaimana tidak? Rakyat butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarga dan memenuhi kebutuhan pribadi, sementara untuk keluar dan mencari pekerjaan yang lebih baik sangatlah sulit, mengingat sempitnya lapangan kerja. Maka satu-satunya cara agar dapat bertahan hidup, mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga, sekedar makan adalah bekerja pada perusahaanperusahaan yang mempekerjakan buruh dengan upah yang sangat rendah. Untuk itulah, ketika kebijakan Upah Minimum (UM) dan konsep Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) maupun Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) diberlakukan, tidak banyak penolakan yang muncul dari masyarakat. Apalagi dasar pertimbangan keluarnya kebijakan upah minimum tersebut diembel-embeli dengan upaya meminimalisir kesewenangan pengusaha dalam pemberian upah kepada buruh. Latarbelakang seperti itulah yang menjadikan tidak adanya penolakan terhadap pemberlakuan kebijakan tersebut. Apalagi dengan kondisi pasar kerja yang sangat timpang dimana jumlah pencari kerja jauh lebih besar daripada jumlah lapangan kerja yang ada. Kondisi seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah dan menjadikan posisi buruh menjadi sangat lemah. Lihat saja pada tahun 2002. Menurut catatan BPS, penduduk usia kerja pada tahun itu sudah mencapai 148.729.934 jiwa, dengan perincian; angkatan kerja 100.779.270, pengangguran terbuka 9.132.104 jiwa dan bukan angkatan kerja sebesar 47.950.664 jiwa8. Kondisi seperti itu tampaknya

Harian Kompas, Tanggal 29 April 2003 tentang jumlah pengangguran secara Nasional yang sudah mencapai angka 40 juta dan penambahan pengangguran tahun 2003 yang mencapai angka 1,6 juta orang. 8 Badan Pusat Statistik, tahun 2002
7

14

dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan, bahkan menunjukkan kecenderungan negatif. Mulai tahun 2003 sampai 2004 kondisi tersebut juga tidak mengalami perubahan. Jumlah setengah pengangguran dan pengangguran terbuka dari berbagai kelompok umur, pendidikan, jenis kelamin dan sebagainya mengalami peningkatan cukup berarti. Tahun 2003, jumlah pengangguran terbuka naik menjadi 9,531 juta jiwa, sehingga dari dalam satu tahun terjadi kenaikan hampir 400 ribu jiwa. Pemerintah menjadikan besarnya angka pengangguran dan pencari kerja sebagai keunggulan dalam mengundang investor, dengan cara menyediakan buruh murah bagi pemodal yang akan menanamkan investasinya di Indonesia. Selain memberlakukan upah murah, salah satu kebijakan terbaru yang semakin menyudutkan posisi buruh adalah dengan mengeluarkan UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003. Point penting yang paling mengganggu posisi buruh adalah yang terkait dengan outsourcing. Praktek outsourcing yang seharusnya diberlakukan secara ketat malah dijadikan strategi perusahaan untuk menekan biaya produksi9. Atas nama krisis dan recovery sektor ekonomi, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan pengupahan yang tidak adil bagi buruh. Sampai saat ini kelihatannya malah pemerintah yang paling kuat mempertahankan kebijakan tersebut. Tanpa

memperhatikan realitas hidup buruh dan kondisi ekonomi kontemporer, pemerintah masih tetap memakai pola standar lama dalam pengupahan. Penelitian ini hanya salah satu cara untuk melihat realitas kehidupan buruh untuk kemudian dihubungkan dengan level kebijakan pengupahan. Betapa memang kebijakan pengupahan selama ini sudah sangat jauh dari realitas kebutuhan hidup buruh, sedangkan pemerintah dianggap terlalu mementingkan pertumbuhan ekonomi dan kepentingan pengusaha tanpa berusaha melihat keadaan hidup buruh yang sesungguhnya. Selama ini kebijakan pengupahan yang dikeluarkan oleh pemerintah setiap tahunnya tidak pernah mendapat tentangan yang cukup kuat dari berbagai elemen

9

Medan Bisnis, Tanggal 18 Maret 2004.

15

buruh, sehingga angka yang direkomendasikan oleh institusi pengupahan (DPD) sebagai lembaga yang punya fungsi perumusan dan penentuan jumlah upah minimum selalu disetujui oleh Gubernur. Setiap tahun, kenaikan jumlah Upah Minimum Propinsi (UMP) yang terlalu kecil selalu berjalan mulus dengan penolakan yang minimal baik dari kalangan gerakan demokrasi maupun dari elemen buruh sendiri. Pada tahun 2000 memang pernah terjadi kenaikan jumlah UMP (dahulu dikenal dengan UMR=Upah Minimum Regional) yang cukup tinggi, yakni mencapai 25% di 36 daerah melalui Kepmenaker No 20/MEN/2000.10 Namun kenaikan tersebut dianggap memiliki muatan politik yang cukup besar dan hanya menaikkan popularitas pemerintah semata tanpa perhitungan yang matang11. Lonjakan-lonjakan seperti inilah yang menjadikan kebijakan upah minimum semakin mapan dan tidak terbantahkan. Dengan sengaja pemerintah memberikan angin segar kepada buruh, dan membuat kesan bahwasannya upah minimum memang merupakan konsep paling relevan dalam pengupahan buruh. Pemerintah menganggap kebijakan upah minimum punya dasar teoritik dan basic realitas yang paling kuat sehingga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan buruh menjadi lebih baik, dan membangun kesan seakanakan kebijakan upah minimumlah yang terbaik bagi buruh. Dalam hal ini pemerintah merasa yang paling memiliki otoritas data, fakta dan realitas sebenarnya dalam menyusun standar pengupahan. Atas dasar itulah, penelitian ini menjadi alat untuk sedikit mengupas kondisi pengupahan yang selama ini dianggap kurang berpihak kepada buruh.

10 11

Kompas, Selasa 22 Februari 2000 Kompas, Rabu 2 Agustus 2000

16

BEBERAPA PERMASALAHAN PENGUPAHAN
Sudah sangat banyak sebenarnya penelitian dan bahasan yang dilakukan pemerintah, pengusaha, kalangan elemen gerakan buruh dan berbagai stakeholder pengupahan. Hasil penelitian dan analisis yang dilakukan selalu memunculkan perdebatan yang semakin lama semakin memperuncing pertarungan kepentingan berbagai stakeholder pengupahan. Namun pada intinya, segala perdebatan tersebut kurang melihat respon dan persepsi buruh yang sebenarnya. Salah satu aspek yang sering menjadi perdebatan adalah seputar kebijakan pengupahan12, peran institusi perumus dan penentu jumlah upah13, berbagai indikator yang menjadi pertimbangan penetapan upah, peran serikat buruh (SB) dalam mempengaruhi kebijakan pengupahan dan beberapa indikator kebutuhan buruh, seperti standar kebutuhan fisik minimum (KFM), kebutuhan hidup minimum (KHM), kebutuhan hidup layak (KHL) dan perihal pengeluaran buruh14. Penelitian ini sebenarnya mengambil sisi yang hampir bersamaan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Selain dilakukan secara spesifik di 3 zona pusat industri sekitar kota Medan, instrumen yang digunakan lebih menekankan pada pencarian latar pengetahuan, pengalaman, dan perilaku buruh dalam menanggapi berbagai persoalan upah. Fokus utama penelitian ini adalah ingin melihat persepsi buruh tentang berbagai sisi pengupahan, yakni terhadap kebijakan pengupahan, keterlibatan dalam perumusan dan penetapan upah, tentang kebutuhan buruh, seputar pendapatan dan pengeluaran buruh, strategi buruh dalam menghadapi kebijakan upah yang tidak adil dan berbagai upaya perubahan menuju keadilan sistem pengupahan.
12 Haryadi, Dedy, Indrasari Tjandraningsih, Indraswari dan Juni Thamrin, 1994, Tinjauan Kebijakan Pengupahan Buruh di Indonesia, Bandung. 13 Lihat hasil penelitian Popon Anarita dan Resmi Setia M.S., 2003, tentang Dewan Pengupahan, Strategiskah Sebagai Media Perjuangan Buruh, AKATIGA, Bandung. 14 Ritongan, Bisman Agus, 2001, laporan Survey Pengeluaran Buruh Cimahi dan Majalaya, AKATIGA, Bandung.

17

18

TUJUAN PENELITIAN
Selama ini penerapan kebijakan pengupahan banyak mendapat kritikan dan penolakan dari kalangan NGO maupun buruh. Efek kebijakan dan prinsip yang digunakan telah menjauhkan proses, mekanisme perumusan, penetapan dan jumlah upah dari kepentingan buruh. Perseteruan antara pemodal dan pemerintah dengan buruh sangat jelas dan berlangsung kasat mata.Kepentingan pengusaha atau pemilik modal dan alat poduksi adalah sangat jelas. Sebagai organisasi bisnis, perusahaan bertujuan meningkatkan nilai perusahaan yang salah satunya adalah memperoleh laba. Walaupun perusahaan juga memiliki fungsi menyediakan kesempatan kerja, membantu penerimaan negara melalui pajak, dan peningkatan sumberdaya manusia15, namun secara keseluruhan tujuan utamanya adalah keberlangsungan usaha. Tujuan berbagai aksi protes dan aksi tuntutan buruh adalah kenaikan upah. Upaya yang dilakukan buruh hanya satu, yakni meningkatkan kesejahteraan melalui kenaikan upah yang lebih adil sesuai dengan kontribusi yang dilakukan oleh buruh dalam proses produksi. Namun kenaikan jumlah upah dan secara tidak langsung terhadap kesejahteraan buruh harus dibungkus dalam satu sistem yang mendukung. Mulai dari perundangan dan peraturan, fundamen sistem ekonomi, prinsip produksi, relasi pengusaha buruh sampai dengan berbagai aspek yang berhubungan kenaikan jumlah upah adalah lahan yang harus digarap menuju sistem pengupahan yang berkeadilan. Penelitian ini adalah satu upaha menuju perubahan sistem tersebut. Bukan kenaikan upah an sich, revisi kebijakan, penguatan peran SB yang bersifat parsial, karena strategi seperti itu tidak akan menyentuh persoalan substansial tidak adilnya upah.

Lihat Hendarmin, Ali, 2002, Kesejahteraan buruh dan kelangsungan Usaha, Upah Minimum dari Sisi Pandang Pengusaha, dalam Jurnal Analisis Sosial AKATIGA, Vol.7 No.1 februari 2002, Bandung.
15

19

MEMADU PENDEKATAN SURVEY DENGAN YANG LEBIH BERPIHAK.
Salah satu pertimbangan dalam penelitian ini adalah menjadikan hasil penelitian sebagai salah satu draft usulan kepada pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengupahan yang lebih adil bagi buruh. Dalam banyak kebijakan, pemerintah sering berlindung disebalik obyektivitas. Fakta yang dijadikan dasar kebijakan selalu berlandaskan paradigma obyektifitas yang dianggap lebih dapat menggambarkan keadaan kondisi sosial yang sebenarnya. Para pihak yang kontra terhadap berbagai kebijakan pemerintah memakai paradigma sebaliknya, yakni pada satu pendekatan yang lebih bersifat subyektif dan berpihak. Dua perspektif tersebut tentunya sulit untuk diketemukan. Apalagi selama ini kalangan yang menyatakan dirinya berpihak pada pembangunan sangat sulit untuk menerima paradigma lain (kritis) yang sering bertolakbelakang dengan logika pertumbuhan ekonomi dan pembangunan dari pemerintah dan pemilik modal. sama sekali tidak memiliki kontribusi terhadap pembangunan. Walaupun penelitian ini juga menggunakan pendekatan yang selama ini dianggap tidak melihat kondisi buruh secara subyektif, namun kombinasi dengan pendekatan FGD (Focus Group Discussion) dan penggalian melalui wawancara mendalam terhadap pikiran aktor sosial (buruh) akan menutupi kelemahan metode kuantitatif yang kurang dapat menangkap perspektif subyek16 sehingga melalui pendekatan tersebut pandangan dari sisi pelaku akan terlihat. Demikian juga dengan penggunaan pendekatan FGD. Pendekatan tersebut akan semakin membuka respon dari buruh secara individual melalui kontrol yang dilakukan oleh individu lain17,

Salim, Agus, 2001, teori dan Paradigma Penelitian Sosial, dari Denzin Guba dan Penerapannya, Tiara Wacana, Yogyakarta. 17 Bungin, Burhan, 2003, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
16

20

dengan demikian informasi yang diperoleh menjadi lebih lengkap, mendalam dan terkoreksi oleh pandangan dari pelaku lainnya. Memang pendekatan utama dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik survey dalam memperoleh informasi dan respon dari buruh, namun bobot kualitatif juga tidak ditinggalkan sama sekali. Data yang bersifat kuantitatif diperoleh dari respon 505 sampel tentang beberapa variabel penelitian, khususnya tentang variabel upah, potongan yang dikenakan kepada buruh, kondisi sosial ekonomi buruh dan beberapa variabel lainnya. Data yang bersifat kuantitatif tersebut dalam konteks penelitian ini digunakan untuk melihat sisi makro respon buruh terhadap beberapa variabel pengupahan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ada tiga jenis. Teknik yang pertama adalah dengan menyebarkan kuesioner kepada 505 orang buruh yang berasal dari 22 perusahaan di 3 (tiga) zona dampingan lembaga, yakni Zona Mabar, Zona Tanjung Morawa dan Zona Binjai. Jumlah responden dari ketiga zona tersebut tidak sama besar. Responden terbesar adalah yang berasal dari Zona Mabar, yakni sebanyak 270 orang, kemudian di Zona Tanjung Morawa sebanyak 152 orang dan di Zona Binjai sebanyak 80 orang. Jumlah 505 responden tersebut tentunya tidak mewakili jumlah buruh secara keseluruhan di Kota Medan ataupun dari ketiga zona tersebut. Diakibatkan oleh tidak representatifnya jumlah sampel tersebut maka metode analisis statistik yang digunakan hanyalah dengan menggunakan teknik statistik nonparamatrik. Artinya, analisis yang digunakan tidaklah dapat digeneralisir atas seluruh populasi, yakni total buruh sektor industri yang ada di Kota Medan, namun hanya pada sebatas sampel penelitian. Dikarenakan metode yang digunakan adalah kombinasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif, maka proses analisisnya juga adalah kombinasi antara keduanya. Namun titik sentral analisis data adalah pada data dari hasil survey untuk kemudian dipertegas oleh data hasil FGD (Focus Group Discussion) dan Indepth Interview. Data yang diperoleh dengan pendekatan kualitatif akan dianalisis melalui 21

interpretasi pada respon yang diberikan subyek tentang pengetahuan dan pengalaman18. Harus diakui juga bahwasannya beberapa data dan informasi yang diberoleh melalui pendekatan survey tidak memenuhi target seperti yang direncanakan. Begitu besarnya jumlah responden dan banyaknya item pertanyaan dalam kuesioner sebenarnya bertujuan untuk meng-cover beberapa variabel yang terkait dengan pengupahan, namun diakibatkan pelaksanaan di tingkat teknis yang kurang maksimal, sehingga respon seluruh responden terhadap beberapa item pertanyaan tidak sepenuhnya terjawab. Penyimpangan seperti itu tentunya menuntut perubahan proses analisis, dari yang sebelumnya direncanakan menggunakan analisa statistik inverensi non paramatrik, menjadi sekedar analisis deskriptif dengan sedikit sekali menggunakan teknik-teknik analisis parametrik.

Salim, Agus, 2001, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, dari Denzin Guba dan Penerapannya, Tiara Wacana, Yogyakarta, hal 25 yang menyatakan, yang menyatakan bahwa metode tersebut akan mengandalkan pada ungkapan secara subyektif mengenai arti yang diberikan oleh individu.

18Lihat

22

Gambaran Kondisi Ketenagakerjaan Indonesia

Pasca krisis ekonomi 1997 dan 1998, tidak seorangpun bisa mengambil suatu kesimpulan, apakah Indonesia sudah pada posisi recovery ekonomi ataupun malah semakin terpuruk. Pada satu sisi, setelah lewat 5 sampai 6 tahun, pertumbuhan ekonomi secara nasional masih tergolong sangat rendah. Sebelum krisis berlangsung, pertumbuhan ekonomi secara nasional bisa mencapai hampir 8% pertahun, bahkan pada tahun 1996, pertumbuhan bisa mencapai angka 7,8%. Setelah krisis berlangsung dan rencana pemulihan ekonomi berjalan, pertumbuhan masih berada di bawah angka 5%. Rendahnya angka pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh keruntuhan ekonomi nasional tersebut dalam perspektif ekonom liberal akan berdampak pada banyak hal, salah satunya adalah pengaruh terhadap pasar tenaga kerja. Titik ekstrim dapat dilihat pada tahun 1999. Kala itu, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 0,8%, sedangkan pertambahan angkatan kerja baru mencapai 2,11 juta orang dan pengangguran terbuka sebesar 6,23 juta atau 6,6%. Kondisi tersebut seakan semakin terpola sampai saat ini. Walaupun pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan, yakni 4,9% pada tahun 2000, 3,4% pada tahun 2001, 3,7% tahun 2002 dan 4,0 pada tahun 200319, namun tetap saja tidak mampu mendorong penyerapan tenaga kerja dan mengurangi angka pengangguran.

19

Lihat Harian Kompas, 17 Juni 2004 yang mengutip data Sakernas, proyeksi Bapenas.

23

Menurut kalangan ekonom, pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,5 sampai dengan 5% sebenarnya masih sangat jauh dari memadai. Jika dilihat dari pertambahan jumlah angkatan kerja sebesar hampir 2,5 juta pertahun, maka angka pertumbuhan ekonomi tersebut sama sekali tidak mendukung pengurangan pengangguran yang . Ketika angka tersebut dikaitkan dengan kondisi ekonomi makro (khususnya keberadaan APBN), maka semakin tampaklah kerapuhan ekonomi nasional20. Kecenderungan tidak membaiknya kondisi ekonomi yang kemudian berdampak pada rendahnya perluasan kesempatan kerja maupun peningkatan angka

pengangguran setiap tahunnya dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Dan Dan Pengangguran Terbuka Pengangguran Terbuka
Periode

Jumlah Angkatan Kerja (Juta)

Angkatan Kerja Baru (Juta)

Pertumbuhan ekonomi (persen)

Jumlah orang yang bekerja (juta)

Tambahan Lapangan Kerja (juta)

Pengangguran Terbuka

Juta 4,29 6,03
5,81 8,00

% 4,86 6,36
6,07 8,10

1996 1999
2000 2001

88,19 94,85
95,65 98,81 100,78

3,96 2,11
0,94 3,16

7,82 0,79
4,92 3,44

83,90 88,82
89,84 90.81

3,79 1,14
1,00 0,97

2002 2003 2004 2005

102,8 104,98 107,08

1,97 2,10 2,10 2,10

3,66 3,99 4,49 5,03

91,65 92,75 94,15 95,89

0,84 1,10 1,40 1,75

9,13 10,13 10,83 11,19

9,06 9,85 10,32 10,45

Keterangan: Untuk tahun 1996, 1999, 2000, 2001 dan 2002 menggunakan angka Sakernas_BPS. Untuk tahun 2000 tanpa Propinsi Maluku. Untuk tahun 2001 dan 2002 menggunakan definisi pengangguran terbuka yang disempurnakan dan termasuk propinsi Maluku. Untuk tahun 2003-2005 menggunakan angka proyeksi BAPENAS Sumber: Makalah Dr. Soekarno Wirokartono, Deputi Bidang Ekonomi BAPENAS dalam Workshop Report, “Kebijakan Pasar Tenaga Kerja dan Hubungan Industrial Untuk Memperluas Kesempatan Kerja, SMERU, 2004, Jakarta.

Data di atas semakin meneguhkan anggapan semakin melemahnya kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Setiap tahun sejak krisis ekonomi tahun 1997 terjadi, lonjakan jumlah pengangguran terbuka, sedangkan pertumbuhan ekonomi sama

20

Harian Medan Bisnis, 12 September 2003

24

sekali tidak mendukung perluasan kesempatan kerja yang setiap tahunnya jauh melebihi pertambahan angkatan kerja baru. Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan semakin tidak tertampungnya angkatan kerja semakin diperparah dengan adanya kebijakan kenaikan beberapa tarif dasar, seperti Tarif Dasar Listrik (TDL), telepon dan BBM pada awal 2003. Kenaikan tersebut sama sekali tidak mempertimbangkan kondisi riil masyarakat dan terutama buruh industri yang masih merasakan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Pemerintah sendiri yang kemudian menawarkan dana kompensasi sebagai pengganti subsidi BBM ternyata tidak serius mengelola dana sehingga target pengurangan kemiskinan dan bantuan kepada kalangan ekonomi lemah tidak tercapai. Pada tahun ini kondisi serupa juga terjadi. Pemerintah terkesan menjalankan suatu skenario menaikkan harga BBM pasca penetapan UMP dan UMK di seluruh Indonesia. Bagi buruh mekanisme seperti ini sesungguhnya sangat merugikan. Apalagi diketahui selama ini, pertimbangan utama kenaikan UMP/UMK masih didasarkan pada inflasi, belum terlalu memperhitungkan faktor-faktor lainnya yang juga berkontribusi terhadap peningkatan dan variasi harga kebutuhan pokok masyarakat. Pada awal tahun 2005 pemerintah kembali mengeluarkan menaikkan BBM. Kebijakan yang tidak pernah populer di mata masyarakat ini dinyatakan sebagai sebuah keharusan akibat besarnya beban subsidi yang harus ditanggung oleh pemerintah, yakni sebesar kurang lebih 70 triliun rupiah setiap tahunnya. Pemerintah merasa subsidi BBM yang berlangsung selama ini ternyata lebih banyak dinikmati oleh masyarakat ekonomi kelas menengah dan atas. Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diperuntukkan memperingan biaya produksi dan meningkatkan beban ekonomi masyarakat dianggap salah sasaran sehingga harus dirubah. Sebagai ganti pengurangan subsidi BBM, pemerintah menyediakan dana kompensasi ke 3 sektor utama yakni; pendidikan (pemberian beasiswa), kesehatan dan penyediaan beras miskin (Raskin), disamping pada sub sektor lain, seperti

25

pembangunan infrastruktur perdesaan dan permukiman rakyat21. Namun kenaikan kenaikan tersebut mendapat tentangan keras dari berbagai pihak. Salah satu kritikan mengatakan, kenaikan Di Propinsi Sumatera Utara sendiri, kondisi ketenagakerjaan dan industri tidak jauh berbeda dengan kondisi nasional. Sebagai propinsi dengan jumlah penduduk ke 4 terbesar secara nasional, propinsi ini juga mengalami banyak persoalan ketenagakerjaan. Pada tahun 2002 saja penduduk Sumatera Utara sudah mencapai angka 11,85 juta dengan kepadatan 165 jiwa per km2. Sebahagian besar penduduk Sumatera Utara masih terkonsentrasi di wilayah perdesaan yakni sebesar 6,78 jiwa atau 57,26%, sedangkan yang tinggal di perkotaan telah mencapai angka 5,06 juta atau 42,74%. Pada sisi ketenagakerjaan, sebahagian besar angkatan kerja di Sumatera Utara masih berpendidikan SD ke bawah, yakni mencapai 45,92%. Angkatan kerja yang berpendidikan setingkat SLTP mencapai 23,01% dan SLTA mencapai 25,99 sedangkan sisanya sebesar 5,08% adalah yang berpendidikan di atas SLTA. Dari sejumlah tenaga kerja yang masih aktif bekerja, sebanyak 31,16% adalah buruh atau karyawan, sedangkan penduduk yang berusaha dengan dibantu anggota keluarga adalah sebesar 20,43% dan yang bekerja sebagai pekerja keluarga mencapai 24,22%. Jumlah penduduk Sumatera Utara yang merupakan angkatan kerja adalah sebanyak 5,28 juta jiwa yang terdiri dari 4,93 juta jiwa masuk dalam kategori bekerja dan sebesar 0,36 juta jiwa masuk dalam kategori pencari kerja karena tidak bekerja tau sebagai pengangguran terbuka. Sebahagian besar penduduk yang bekerja terdapat pada sektor pertanian, yakni sebesar 55,56%. Sektor kedua terbesar dalam menyerap tenaga kerja adalah perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 16,45%. Sektor lainnya adalah jasa (termasuk pegawai negeri sipil) yakni sebesar 11,25% dan hanya 6,55% atau 322.807 yang bekerja di sektor industri22

21 22

Harian Sumut Pos, 18 Februari 2005 Badan Pusat Statistik Propinsi Sumatera Utara, yang diambil dari Buku, Sumatera Utara dalam Angka tahun 2002.

26

Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Propinsi Sumatera Utara, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kota Medan sebagai ibukota propinsi menunjukkan angka yang lebih rendah. Pada tahun 2002, TPAK di Sumatera Utara mencapai 69,45%. Sedangkan di Kota Medan sendiri, TPAK hanya sebesar 64,82. Sedangkan di kabupaten dan kota lain, misalnya Tebing Tinggi, Kabupaten Asahan, Kabupaten langkat secara berurutan mencapai 68,19%, 72,50% dan 70,08%. Hal itu menunjukkan bahwasannya penduduk usia kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi, baik dalam keadaan bekerja maupun sedang mencari pekerjaan di Kota Medan sebenarnya lebih rendah dibandingkan di kabupaten lain yang basis ekonominya belum pada sektor industri. Menurut data terakhir, jumlah pengangguran terbuka di Sumatera Utara mencapai jumlah 389.023 atau 6,5%23. Dibandingkan dengan dengan tahun sebelumnya, kecenderungan kenaikan jumlah pengangguran terbuka tersebut semakin besar. Pada tahun 2003, jumlah angkatan kerja mencapai 5,296.825 juta, sedangkan pada tahun 2002 masih sekitar 5,27 juta orang. Jika dilihat jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2002 sebesar 355.467 orang, maka tingkat pengangguran terbuka menaik tajam. Hanya dalam kurun waktu 1 tahun saja, angka pengangguran terbuka naik sebesar 0,6%.

23

Harian Medan Bisnis, 6 Januari 2004

27

APA KABAR BURUH DI TIGA ZONA INDUSTRI KOTA MEDAN?
Seperti yang direncanakan sebelumnya, jumlah sampel yang menjadi responden dalam penelitian ini tergolong cukup besar. Besarnya sampel tersebut diupayakan akan meningkatkan keterwakilan (reprentativenes) buruh di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Walaupun secara “statistik” jumlah tersebut tidaklah representatif dari keseluruhan buruh yang jumlahnya puluhan ribu, namun paling tidak dengan jumlah responden yang mencapai 505 orang mampu menggambarkan beberapa karakter buruh industri di kota Medan dan sekitarnya, khususnya beberapa variabel yang terkait dengan persoalan pengupahan. Secara umum yang menjadi responden dalam penelitian ini sebahagian besar adalah buruh yang masuk dalam kategori usia muda, yakni yang berumur 15 sampai 25 tahun18 dengan jumlah 281 orang atau 55,6%, sedangkan responden yang berusia dewasa (26 sampai dengan 35) sebanyak 191 orang (37,8%) dan golongan umur tua (>36 tahun) sebesar 33 orang atau (6,5%). Tabel Responden Berdasarkan Golongan Umur Golongan umur Jumlah dewasa 191 Sumber: Kuesioner 281 muda Tua 33 Total 505 Sumber: Kuesioner % 37,8 55,6 6,5 100

Besarnya jumlah responden yang masuk dalam golongan usia muda tersebut merupakan fenomena umum yang terjadi dalam sektor industri saat ini. Sebagian besar dari mereka adalah buruh tamatan SMU yang terpaksa mencari pekerjaan selepas sekolah yang salah satunya disebabkan oleh ketiadaan biaya untuk

28

melanjutkan pendidikan ke level yang lebih tinggi. Hal itu didukung dengan data SUSENAS 1999-2002, dimana pada kelompok umur 10 sampai dengan 26 tahun mencapai 31,1% dari total angkatan kerja24. Jika dikaitkan dengan status kependudukan maka akan terlihat bahwasannya sebahagian besar buruh yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah yang berasal dari luar Kota Medan dan Deli Serdang. Di wilayah Propinsi Sumatera Utara, tempat tinggal asal mereka tersebar hampir diseluruh Kabupaten, yakni Kabupaten Tapanuli Tengah, Pematang Siantar, Tapanuli Utara, Labuhan Batu, Langkat, Tebing Tinggi, Tapanuli Selatan, Samosir, Toba Samosir, Nias, dan berbagai daerah lainnya. Selain itu, jumlah buruh yang berasal dari luar Sumatera Utara juga cukup banyak. Mereka sebahagian besar didominasi oleh buruh yang berasal dari Jawa Timur, bahkan ada yang berasal dari Aceh, Ujung Pandang, Padang, dan Riau25. Di wilayah Propinsi Sumatera Utara Sendiri, mereka datang dari berbagai kawasan pelosok yang selama ini dikenal sebagai kantong sumber tenaga kerja, yakni; Tandam Hilir II, Sei Rampah, Sei Piring Aek Kanopan, Perbaungan, Pagar Merbau, Pasar Bengkel, Nias, Kotacane, Galang, dan berbagai kawasan lainnya.

diolah kembali dari data SUSENAS 1999 sampai dengan 2002 BPS. hal ini diasumsikan memiliki hubungan dengan jumlah Upah minimum di Sumatera Utara yang cenderung selalu lebih besar dibandingkan Upah Upah Minimum di beberapa propinsi lain. Menurut data pencapaian UMP (yang pada tahun 2000 dikenal dengan nama Upah Minimum Regional/UMR, pencapaian Upah Minimum dengan KHM=Kebutuhan Hidup Minimum, sudah mencapai 97,32%. Ada 9 propinsi yang capaian UMR dengan KHM di atas 90%, yakni Riau Kepulaian, Jawa Timur wilayah II, Jawa Timur wilayah IV , Riau, Jawa Timur, Batam, Papua, Jawa Barat Wilayah IV dan Jawa Timur wilayah I, sedangkan propinsi lain, seperti Kalbar, Yogyakarta, Kaltyeng, DKI Jakarta, Jambi danm lain-lain masih pada kisaran 80-89%, maupun Sumatera Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan timur dan lain-lain yang capaian UMR dengan KHM masih pada kisaran 70-80%. Besaran relatif UMR/UMP dan capaian dengan KHM Sumatera Utara tersebut menyebabkan migrasi buruh ataupun angkatan kerja dari propinsi yang UMP/UMR nya lebih rendah, Harian Kompas, 22 Februari 2000.
24 25

29

Penduduk Asli pendatang 303 / 60% 202 / 40%

Sumber: Kuesioner Grafik Responden Berdasarkan Status Kependudukan Hal ini menunjukkan bahwasannya jumlah buruh yang bekerja di sektor industri yang ada di kota-kota besar (termasuk Medan) sebahagian besar adalah pendatang. Mereka meninggalkan desa-desa dan kampung halaman dengan tujuan mencari pekerjaan di sektor Industri yang memang sudah sangat jenuh akan tenaga kerja. Sebahagian besar dari mereka seperti yang telah disebutkan di atas adalah lulusan Sekolah Menengah Atas, yakni sebanyak 355 orang (70,3%).

360 320 280 240 200 160 120 80

Jumlah

40 0

tidak tamat SD tamat SD Pendidikan

SLTP

perguruan tinggi SLTA

Sumber: Kuesioner Grafik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

30

Jika diasumsikan sebahagian besar responden adalah lulusan SMU, sedangkan mayoritas responden adalah berumur 23 tahun (13,7% dari total responden), sedangkan umur seseorang menamatkan SLTA adalah 19 tahun, maka dapat diambil kesimpulan bahwasannya sebahagian besar buruh (yang tergolong usia muda) tersebut telah bekerja kurang lebih selama 3 sampai dengan 4 tahun. Grafik di bawah akan semakin menegaskan bahwasannya buruh sebagian besar telah bekerja selama 1 sampai dengan 4 tahun, yakni sebesar 48,7% dari total responden, sedangkan yang bekerja dalam masa kurang dari 1 tahun hanya 25 orang atau 5%. Satu temuan yang merupakan cerminan dari realitas sempitnya lapangan pekerjaan pada saat ini adalah ditemukannya sejumlah responden yang pernah mengecap pendidikan tinggi. Walaupun jumlahnya sangat kecil tidaklah sebesar buruh yang berpendidikan SLTA maupun SLTP, namun kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa sempitnya lapangan pekerjaan telah mendorong buruh yang berpendidikan tinggi untuk masuk ke lapangan pekerjaan yang selama ini didominasi oleh buruh berpendidikan SLTA ataupun SLTP. Kecenderungan seperti ini bukan hanya berlangsung pada sektor industri di kota Medan, namun menjadi fenomena umum di seluruh tanah air. Pada tahun 2002, pencari kerja dari tingkat pendidikan SLTA jauh lebih besar dibandingkan jumlah pencari kerja tidak lulus SD, lulus SD, SLTP dan akademi atau universitas, yakni mencapai angka 50,24%. Namun jika dikaitkan dengan tipe daerah, perbedaan pencari kerja atau pengangguran tersebut tidak terlalu jauh antara pencari kerja di perdesaan maupun perkotaan. Misalnya pada tahun 2002, pencari kerja lulusan SLTA di perkotaan sebesar 55,48%, sedangkan di perdesaan sebesar 41,11%26. Realitas seperti itu kelihatannya akan tetap berlangsung. Lulusan SLTA yang tidak tertampung pada pertambahan lapangan kerja akan berkompetisi lebih ketat lagi, sehingga diprediksikan, struktur ketenagakerjaan yang didasarkan pada

26

BPS Propinsi Sumatera Utara yang diolah dari MK 2000 dan Susenas 2002

31

tingkat pendidikan pada tahun yang akan datang tetap akan didominasi oleh buruh lulusan SLTA. Tenaga kerja tamatan perguruan tinggi yang seharusnya masuk dalam kategori skilled labour dan diorientasikan untuk bekerja pada jenis pekerjaan yang memerlukan keahlian lebih tinggi telah ikut berkompetisi dalam pasar kerja yang selama ini didominasi oleh buruh yang mayoritas berpendidikan rendah dan menengah. Realitas sempitnya lapangan kerja, melimpahnya angkatan kerja, ditambah dengan rendahnya mutu perguruan tinggi diasumsikan menjadi penyebab munculnya fenomena seperti ini. Pada buruh yang menamatkan pendidikan tinggi, hanya sebahagian kecil saja yang bekerja pada posisi yang memerlukan keahlian khusus. Misalnya ada yang bekerja pada bidang storage administrator, control cuality, dan teknisi listrik. Namun ada juga beberapa responden berpendidikan tinggi tersebut yang bekerja pada bagian yang tidak memerlukan keahlian khusus, misalnya pada bagian dumping. Namun pada beberapa bidang khusus yang dilakukan oleh buruh berpendidikan tinggi, ternyata posisinya juga ditempati oleh buruh yang hanya berpendidikan SLTP dan SLTA. Hal ini menunjukkan sebenarnya yang dimaksud dengan keahlian khusus tersebut bukanlah satu bidang pekerjaan yang mensyaratkan level pendidikan tertentu. Beberapa jenis pekerjaan yang sebenarnya membutuhkan keahlian khusus juga dapat dikerjakan oleh buruh tamatan SLTP dan SLTA, seperti pada bidang operator mesin, teknisi, research and development dan berbagai bidang lainnya. Hal ini menunjukkan sebenarnya level pendidikan tidaklah terlalu bermanfaat dalam teknis operasi pekerjaan di berbagai bidang pada perusahaan, khususnya sektor industri padat karya dimana sebahagian besar responden bekerja. Tabel Kategori Masa Kerja Kategori waktu <1 >4 1-4 Total Jumlah 25 234 246 505 % 5,0 46,3 48,7 100,0 32

Sumber: Kuesioner Dibandingkan dengan buruh yang lulus perguruan tinggi, jumlah buruh tamatan SLTA jauh lebih besar. Bahkan jumlah responden yang berpendidikan SLTP masih lebih besar dibandingkan yang berpendidikan tinggi, yakni sebesar 113 orang (22,4%) dari total responden. Dengan demikian terlihat bahwasannya perusahaan dimana responden bekerja sebahagian besar memperkerjakan buruh yang

berpendidikan SLTA (SMU). Dalam banyak kasus perburuhan, level pendidikan rendah selalu dijadikan dasar penentuan upah buruh, khususnya pada perusahaan padat karya yang mempekerjakan buruh berpendidikan rendah, karena buruh yang pendidikannya rendah akan lebih mudah untuk ditekan dan diperlakukan semenamena oleh perusahaan. Pada aspek lainnya, ada kecenderungan dari perusahaan untuk memperkerjakan buruh yang masih belum menikah atau buruh lajang. Data dari profil responden memperlihatkan bahwasannya jumlah buruh yang belum menikah lebih besar dibandingkan yang sudah menikah, yakni sebesar 53,7% (271 orang). Ada beberapa asumsi yang dapat dijadikan dasar oleh perusahaan untuk lebih memilih buruh yang belum menikah untuk diperkerjakan di perusahaan. Pertama, buruh yang belum menikah memiliki kebutuhan dan tuntutan hidup yang lebih kecil dibandingkan buruh yang sudah menikah. Dengan demikian, tanggungan suami, anak dan tanggungan lain, maupun aspek kebutuhan sosial tidak menjadi komponen dalam proses perhitungan upah. Kedua, buruh yang sudah menikah tentunya memiliki beberapa keterbatasan sebagai konsekuensi sebagai buruh yang sudah

berumahtangga, misalnya kebutuhan waktu untuk cuti hamil (maternal leaves), urusan keluarga (kondangan, arisan, pesta), dan lain-lainnya yang bagi buruh lajang tidak terlalu dibutuhkan. Apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan aktivitas sosial. Tuntutan bagi buruh yang sudah menikah tentunya akan lebih besar dibandingkan buruh yang belum menikah. Hal ini tentunya dianggap sebagai beban oleh perusahaan dan mereka anggap menjadi penyebab rendahnya kapasitas produksi perusahaan. Buruh yang terlalu banyak mengambil cuti melahirkan, cuti haid dan cuti mengikuti aktivitas sosial, menuntut tunjangan anak maupun kebutuhan buruh berkeluarga 33

lainnya dianggap oleh pengusaha akan menambah labour cost, merendahkan produktivitas buruh, dan akhirnya memperkecil keuntungan perusahaan.

Status kawin
300 280 260 240 220 200 180 160 140 120 100 80 234 271

Frequency

60 40 20 0 kawin belum kawin

Status kawin

Sumber: Kuesioner Grafik Responden Berdasarkan Status Kawin Jika data di atas bandingkan dengan masa kerja maka ada beberapa hal yang bisa disimpulkan. Pertama untuk buruh yang bekerja di bawah 1 tahun, hanya 5 orang yang sudah berstatus kawin, sedangkan yang berstatus belum kawin sebanyak 20 orang. Perbandingan ini menunjukkan, bahwa sebahagian besar buruh yang baru bekerja/atau ketika diterima bekerja adalah yang berstatus belum kawin. Hal itu terlihat pada buruh yang masuk dalam kategori masa kerja antara 1 (satu) sampai 4 (empat) tahun. Jumlah buruh yang belum kawin masih lebih besar, yakni 191 orang, sedangkan buruh yang sudah kawin hanya sebesar 67 orang. Hal ini juga menunjukkan kesimpulan yang sama, bahwasannya buruh cenderung memilih untuk tidak menikah ketika masa kerja masih belum mencapai masa kerja lebih dari 4 tahun. Kedua, ketika masa kerja buruh sudah lebih dari 4 tahun rasio tersebut menjadi terbalik. Sebahagian besar buruh dalam masa kerja ini sudah berstatus kawin. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwasannya setelah bekerja lebih dari 4 tahun, barulah memutuskan untuk menikah.

34

Jika dianalisis lebih jauh, ada beberapa hal yang bisa diambil kesimpulan dari informasi ini. Pertama, perusahaan memang boleh dikatakan alergi untuk melakukan perekrutan terhadap buruh yang sudah menikah diakibatkan beberapa konsekuensi lanjutan yang nantinya harus dipenuhi oleh perusahaan. Keputusan buruh untuk menikah bukanlah disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan lain, seperti kesiapan mental, keluarga, maupun persoalan keterbatasan ekonomi, namun lebih disebabkan oleh sulitnya buruh untuk memperoleh pekerjaan ketika sudah berstatus kawin. Status belum menikah tersebut ternyata tetap bertahan ketika buruh sudah bekerja. Walaupun sudah melewati masa kerja 1 sampai 4 tahun, ternyata sebahagian besar buruh belum memutuskan untuk menikah. Barulah ketika kondisi sudah sedikit mapan, masa kerja sudah lebih lama dari 4 tahun buruh memiliki keberanian untuk menikah. Kedua, keputusan buruh untuk tidak segera menikah tentunya dilandasi oleh beberapa alasan. Sulit memang untuk mengungkapkan alasan dari buruh tersebut, namun dari pola data di bawah, terlihat ada satu aturan tidak tertulis yang membuat buruh untuk menunda pernikahan. Menurut beberapa buruh yang pernah mencoba melamar pekerjaan, status menikah memang lebih sulit dibandingkan buruh lajang untuk diterima bekerja pada perusahaan. Untuk mengantisipasi kendala tersebut, sebagian besar buruh terpaksa menunda perkawinan, dan sebagian lagi malah ada yang memanipulasi status pernikahan agar sekedar dapat diterima bekerja di pabrik. Tabel Status Kawin Berdasarkan Kategori Masa Kerja Status kawin kategori masa kerja <1 1-4 >4 tahun tahun tahun 5 67 161 20 191 61 25 258 222 Total 233 272 505

Kawin Belum kawin Sumber: Kuesioner

35

Secara keseluruhan, responden dalam penelitian ini bekerja dalam perusahaan yang memproduksi 15 jenis produk. Responden terbanyak adalah yang bekerja di perusahaan yang memproduksi tali, ala, tikar dan benang, yakni PT United Rope sebayak 75 orang (14,9%), sedangkan jenis produk kedua terbesar tempat bekerja responden adalah pada PT Medan Canning, PT Growth Pasifik dan PT Toba Surimi Industri (PT TSI), yakni sebanyak 62 orang, atau 12,3% dari total responden. Tabel Responden Berdasarkan Jenis Produksi Perusahaan Tempat Bekerja No 1 2 3 Jenis Produksi
Frequency

Anti nyamuk Barang pecah belah Besi, beton, kawat beton, baja, kawat duri, plat dan paku 4 Gas, oksigen 5 Kaca Mata 6 Komponen elektronik 7 Pakan ternak 8 Pengawetan Hasil Laut 9 Permen 10 Piala 11 Plastik, pipa, sambungan pipa, selang, elbow 12 Rotan setengah jadi, pengawetan rotan dll 13 Sepatu 14 Tali, jala, tikar, pipa dan benang 15 Ubin, meubel, kayu, floring. keramik kayu, piner Total Sumber: Kuesioner

33 24 33 9 43 35 11 62 30 26 30 19 23 75 52 505

Percent 6,5 4,8 6,5 1,8 8,5 6,9 2,2 12,3 5,9 5,1 5,9 3,8 4,6 14,9 10,3 100,0

Salah satu jenis produksi yang jumlah responden dalam penelitian ini cukup banyak adalah yang bergerak dalam bidang pengawetan dan produksi hasil laut. Perusahaan yang memproduksi hasil laut terkonsentrasi di Zona Mabar. Ada beberapa perusahaan yang menghasilkan jenis produksi yang sama di zona tersebut, yakni PT Medan Canning, PT Growth Pacific dan PT TSI (Toba Surimi Industry). Perusahaan tempat responden bekerja dan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini secara keseluruhan adalah 22 perusahaan. Perusahaan tersebut tersebar 36

di 3 (tiga zona), yakni Zona Mabar, Zona Binjai dan Zona Tanjung Morawa. Berikut data nama perusahaan tempat responden bekerja. Tabel Daftar Nama Perusahaan Tempat Responden Bekerja No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 20 21 22 Nama Perusahaan PMU PT Asahi PT. Canggih Lestari PT. Duta Multi Inti Optik PT. Girvi Mas PT. Growth Pasifik PT. Gunung Gahapi Sakti PT. IAD PT. Kedaung PT. Manao Sumatera PT. Medan Canning PT. Medan Raya Jasa Abadi PT. Mustindo Utama PT. Pakanindo PT. Samawood PT. Serba Trophy PT. Toba Surimi Industri PT. Union Convectionary L PT. United Rope PT.GPS PT.Perkasa Mustindo Utam Total Sumber: Kuesioner Frekuensi 11 12 30 43 23 22 33 23 24 19 23 9 19 6 52 26 18 30 75 4 3 505 % 2,2 2,4 5,9 8,5 4,6 4,4 6,5 4,6 4,8 3,8 4,6 1,8 3,8 1,2 10,3 5,1 3,6 6,0 14,9 ,8 ,6 100,0

Berdasarkan keanggotaan dalam serikat buruh, sebahagian besar responden adalah anggota SBMI (191 orang) atau 37,8% dari total responden. Dikarenakan kedekatan kelembagaan dan hubungan personal, akses terhadap responden lebih mudah dilakukan terhadap SBMI yang merupakan mitra kerja dari KPS. Namun responden dari serikat buruh lain juga cukup banyak dicover dalam penelitian ini. Hal itu untuk menjaga keseimbangan dan keterwakilan sehingga buruh yang berasal dari serikat buruh lain juga dijadikan responden dalam penelitian ini. Responden yang 37

berasal dari SPSI dalam penelitian ini adalah sebesar 141 orang atau 27,9%, sedangkan yang berasal dari SBSI adalah sebesar 30 orang (5,9%). Satu hal yang patut disoroti adalah, jumlah responden yang bukan anggota dari serikat buruh manapun ternyata cukup besar. Menurut data hasil lapangan, ketidakikutsertaan buruh dalam serikat buruh tersebut terbagi atas dua kategori, yakni buruh yang memang tidak menjadi anggota anggota SB, dan buruh yang tidak ikut menjadi anggota Serikat Buruh (SB) akibat tidak adanya SB di dalam perusahaan. Sedangkan sisanya, adalah serikat buruh lain yang keanggotaannya sedikit, yakni Gaspermi, PPMI (Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia), dan SPKIM.

38

Grafik Responden Berdasarkan Keanggotaan Serikat Buruh
300

250

200

150

J UML A H

100

50

0 SPSI SBSI PPMI SBMI lainnya tidak ada SB bukan anggota SB

Sumber: Kuesioner

Berdasarkan etnis atau suku, secara garis besar responden penelitian didominasi oleh suku Jawa, yakni mencapai 235 orang (46,5%), sedangkan yang kedua adalah pada suku Batak, yakni sejumlah 143 orang (28,3%), sedangkan sisanya adalah yang berasal dari suku lain, seperti; Simalungun, Mandailing, Karo, Aceh, Minangkabau, dan sebagainya. Dominasi jumlah buruh yang ber-etnis Jawa tersebut disebabkan oleh sebahagian besar buruh tersebut memang berasal dari kantong-kantong tenaga kerja di sekitar kawasan perkebunan lama. Mereka adalah keturunan dari buruh kontrak yang didatangkan pada akhir abad XIX dan awal abad XX untuk bekerja di beberapa perkebunan besar kolonial di daerah Tanah Deli.
Tabel Responden Berdasarkan Suku/Etnis No 1 2 3 4 5 Suku/Etnis Aceh Banjar Banten Batak Toba Chinese Jumlah 7 4 2 143 1 % 1,4 0,8 0,4 28,3 0,2 39

Gayo India Jawa Kalimantan Karo Mandailing Melayu Minangkabau Nias Pakpak Dairi Punjabi Simalungun Sunda Total Sumber: Kuesioner

6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

1 1 235 2 21 29 28 7 5 2 1 13 3 505

0,2 0,2 46,5 0,4 4,2 5,7 5,5 1,4 1,0 0,4 0,2 2,6 0,6 100,0

Deskripsi responden berdasarkan etnisitas tersebut boleh dikatakan menjadi gambaran sederhana tentang karakteristik buruh industri berdasarkan suku bangsa di Kota Medan. Walaupun komposisinya tidak begitu tepat, namun gambaran seperti di atas sangat membantu dalam melihat respon buruh berdasarkan asal-usul suku bangsa tersebut tentang pengupahan.

40

Selintas Tentang Sistem Pengupahan

Sejalan dengan semakin terpuruknya ekonomi secara nasional, regional dan lokal, kondisi buruh (dalam hal ini persoalan upah) juga mendapat pengaruh yang cukup besar. Hal itu tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisi sistem pengupahan di negara-negara lain, terutama di negara berkembang, seperti negara-negara di Asia Tenggara27 yang mendapat pukulan cukup besar akibat pukulan krisis ekonomi global. Di Indonesia sendiri, krisis ekonomi global tersebut muncul dalam berbagai bentuk. Dari sisi moneter, ketenagakerjaan, perbankan dan sektor riil, semuanya mendapat hantaman keras dari gejolak ekonomi yang khususnya terjadi di kawasan Asia Tenggara ini. Namun yang dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Philipina dan negara lainnya, pemulihan ekonomi di Indonesia berjalan lebih lambat sehingga pengaruhnya semakin dalam. Sektor yang mendapat pengaruh cukup besar akibat krisis ekonomi di Indonesia adalah sektor ketenagakerjaan, salah satunya terhadap sistem pengupahan. Tragedi ekonomi yang berlangsung mulai tahun 1998 menjadi bukti bahwasannya pemerintah Indonesia memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam hal manajemen krisis. Investor yang enggan datang, kondisi ketidakamanan yang berlarut-larut,

hengkangnya beberapa industri strategis dari Indonesia, meningkatnya jumlah

Salah satunya adalah negara Philipina, dimana persoalan utama yang sering menjadi permasalahan perburuhan adalah pengupahan. Hampir sama dengan di Indonesia, Philipina juga menggunakan konsep upah minimum yang perumusan dan penetapannya dilakukan oleh sebuah institusi pengupahan di tingkat nasional dan lokal untuk kemudian secara formal ditetapkan oleh pemerintah.
27

41

pengangguran terbuka dan setengah terbuka tidak tertangani secara tepat, malah terkesan berlarut-larut. Satu persoalan yang terkesan berlarut-larut dan nyaris tanpa solusi adalah krisis ketenagakerjaan. Pasca 1998 jumlah pengangguran terbuka maupun setengah terbuka meningkat tajam. Tahun 2002 saja BPS mencatat jumlah 8,1 juta atau 8% dari seluruh angkatan kerja dan telah mencapai 9 juta jiwa atau 9,1% pada tahun 200319, demikian juga pada tahun 2004 dan kemungkinan juga akan terjadi pada tahun 2005. Pantaslah kiranya beberapa ekonom Indonesia memberi kritikan yang sangat tajam terhadap pemerintah perihal kondisi ketenagakerjaan yang berlangsung beberapa tahun belakangan. Para ekonom memandang, jika melihat kinerja pemerintah saat ini, maka tidak akan ada perubahan yang sangat berarti dalam bidang ketenagakerjaan. Malah beberapa diantaranya menyatakan, pemerintah malah tidak punya solusi apapun dalam mengatasi angka pengangguran di Indonesia. Setiap tahunnya pertambahan jumlah pencari kerja baru dapat mencapai angka 2 juta jiwa, sedangkan kemampuan pemerintah –dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja setiap tahunnya hanya sekitar 130.000 jiwa, jadi dalam satu tahun beban pertambahan pengangguran akan mencapai 1,5 juta jiwa. Bisa dibayangkan jika dalam satu pertambahan jiwa mencapai 2 juta lebih sedangkan dalam yang dapat diserap tidak lebih dari 500 ribu jiwa, maka pada satu waktu akumulasi jumlah pengangguran di Indonesia akan sangat luar biasa besar20. Kondisi serupa juga ditemui pada aspek sistem pengupahan di Indonesia sendiri yang merupakan suatu contoh dari suatu kebijakan yang tidak pernah secara tulus berpihak kepada buruh, karena lebih memprioritaskan pada kepentingan pengusaha dan atau penanam modal. Berbagai upaya regulasi kebijakan ekonomi makro secara umum tetap saja selalu menguntungkan pengusaha tanpa melihat kepentingan buruh
Koran Tempo, 14 Januari 2002 Lihat Harian Kompas 22 April 2003 dimana dinyatakan, Depnakertrans sendiri pada tahun 2003 hanya mampu menyerap 128.337 tenaga kerja, dan program yang dilakukan untuk itu hanya dua, yakni program peningkatan ketrampilan dan profesionalitas kerja, serta program perluasan dan pengembangan kerja yang dilakukan di 30 propinsi yang dananya diambil dari APBN dan dana kompensasi BBM sebesar Rp. 177,629 miliar
19 20

42

secara lebih luas. Lihat saja beberapa kebijakan investasi di Indonesia yang seperti jalan tol, membuka seluas-luasnya iklim investasi, pemanfaatan sumberdaya alam maupun menggunakan tenaga kerja tanpa batas. Berbagai kemudahan dan tindakan penciptaan situasi kondusif-pun dilakukan oleh pemerintah agar perusahaan dan pemodal asing tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Seperti yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) yang membentuk task force yang beranggota wakil-wakil dari aparat keamanan, penegak hukum, serta instansi terkait yang bertugas membantu perusahaan-perusahaan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Strategi yang dilakukan oleh BKPM tersebut jelas menjadikan institusi tersebut sebagai satu badan terdepan dalam menciptakan kondisi ekonomi dan politik yang lebih memadai untuk masuknya investasi. BKPM menjadi institusi hamba pasar, pendukung maupun partner para pemodal yang memiliki niat melakukan investasi di Indonesia. Namun upaya menarik investor luar negeri dan penanam modal dalam negeri tersebut selalu mengangkangi kepentingan rakyat, khususnya terhadap buruh.

PENGUPAHAN SECARA TEORITIK
Seorang intelektual yang dianggap sebagai peletak dasar konsep pengupahan adalah Karl Marx. Sebagai tokoh yang banyak mengkritisi perkembangan ekonomi kapitalisme klasik, Marx melihat ada kecenderungan eksploitatif dalam sistem kapitalisme, khususnya antara pemilik modal atau pengusaha terhadap buruh atau kelas pekerja. Marx beranggapan, akar dari seluruh eksploitasi kelas borjuis (pemilik modal) terhadap kelas pekerja adalah pada relasi kerja antar dua kelas tersebut, khususnya diakibatkan oleh perbedaan kepemilikan alat produksi. Perbedaan tersebutlah yang kemudian menjadi fondasi bangunan struktur sosial ekonomi masyarakat. Struktur ekonomi seperti ini mengutamakan cara berproduksi yang menggunakan tenaga kerja

43

manusia, penggunaan mesin dan teknik30. Konsekuensi dari perbedaan kepemilikan alat produksi tersebutlah kemudian yang melahirkan struktur produksi eksploitatif pada masyarakat dan negara. Kelas buruh yang tidak memiliki alat produksi dan hanya memiliki tenaga harus menyerahkan dalam proses produksi kepada kelas pemilik modal dan pengusaha. Sebagai hasil dari penyerahan tenaga dalam proses produksi tersebutlah kemudian buruh menerima upah sesuai tenaga dan waktu yang dihabiskan di dalam pabrik. Pengusaha sebagai pembeli tenaga kerja kemudian memberikan upah sesuai dengan harga pasar. Untuk lebih jelasnya, berikut analisa Brian Burkitt31 tentang pandangan Marx terhadap upah. “…Marx stresses the dual character of labor; the worker sells his or her own labor power, but the capitalist buys the worker's labor time, which is an undefined, productive potential, determined by the hours worked, the machinery employed and the intensity of the labor process. In Marx's analysis, the crucial distinction remains that the wage is the price of labor power, exchanged by buyers and sellers in the labor market, but not the price of labor itself…” Penjelasan seperti itu menjadi penegas bahwasannya dalam ekonomi kapitalistik terdapat dualisme pandangan terhadap buruh yang saling bertolak belakang. Pada satu sisi, buruh menjadi komponen penting dalam proses produksi karena memiliki peran merubah bahan mentah dan alat produksi lainnya agar memiliki nilai. Walaupun bahan mentah dan alat produksi sudah memiliki nilai tersendiri namun buruh melengkapi melalui kerja yang dilakukan dalam proses produksi. Nilai yang diberikan oleh kerja buruh sangat penting sehingga perannya tidak dapat ditiadakan. Pada sisi lain, ternyata peran buruh dalam proses produksi tersebut tidak dihargai dengan semestinya. Apa yang dimaksud oleh kerja yang dilakukan oleh buruh dalam proses produksi dalam sistem ekonomi kapitalistik

Jean Francois Dortier, Marx dan Sosiologi, dalam Anthony Giddens, Daniel Bell, Michael Force, Sosiologi, Sejarah dan Berbagai Pemikirannya, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004. 31 Marx's Wage Theory in Historical Perspective: Its Origin, Development Interpretation. - Review - book reviews Labor History, Nov, 1999 by Brian Burkitt
30

44

bukanlah biaya produksi kerja yang dilakukan buruh dalam satu jam, satu hari, ataupun satu bulan, namun diterjemahkan sebagai biaya produksi buruh hidup buruh. Para ekonom kapitalistik memandang buruh yang bekerja dalam proses produksi sama dengan menyewakan dirinya secara utuh pada majikan. Dengan kata lain, yang dijual oleh buruh bukanlah sekedar tenagakerjanya saja, namun juga menjual ataupun menyewakan dirinya dalam jangka waktu tertentu. Nilai baru yang ditambahkan buruh terhadap barang tidak kemudian dikembalikan kepada buruh sebagai ganti kontribusi yang diberikan, namun yang diberikan pada buruh adalah sebatas besaran biaya produksi dirinya. Biaya produksi buruh yang kemudian diberikan pemberi kerja merupakan nilai yang diberikan perusahaan agar buruh sekedar dapat dan sanggup bekerja32 Hal senada juga dinyatakan oleh Frederich Engels. Atas ganti kerja yang dilakukan oleh buruh dalam proses produksi, buruh kemudian mendapatkan upah sesuai dengan nilai atau jumlah yang dibutuhkan oleh buruh untuk memperoleh bekal-bekal kehidupan (means of existance) yang diperlukan, sesuai standar hidup, dan menjaga kemampuan kerjanya. Tidak mungkin perusahaan atau majikan akan memberikan upah sesuai dengan produk atau hasil kerjanya sendiri, karena pemberi kerja atau majikan memiliki kepentingan untuk memperluas usaha dengan cara mengakumulasi keuntungannya. Agar produksi tetap berjalan, satu-satunya cara dalam ekonomi kapitalistik hanyalah dengan memberikan upah sesuai dengan kebutuhan standar pekerja33. Pada sistem pengupahan sistem kapitalistik upah dianggap sebagai imbalan yang diterima pekerja atas jasa yang diberikan dalam proses memproduksi barang atau jasa di perusahaan. Upah dalam perspektif ekonomi kapitalistik masih
Dikutip dari situs: www.Marxist.org, Karya Karl Marx dan Frederich Engels tentang Kerja Upahan dan Kapital. Makalah ini merupakan ceramah-ceramah Karl Marx pada 14-30 Desember 1847, diterbitkan dalam Neue Rheinische Zeitung tahun 1849, diterbitkan sebagai brosur dengan kata pengantar dan disusun oleh Frederich Engels di Berlin tahun 1891, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia ole S.Maun, dan diterbitkan oleh Yayasan Pembaruan, Jakarta. 33 Dikutip dari situs: www.marxists.org, merupakan karya Frederich Engels dengan judul “Upah Sehari yang Layak Bagi Kerja Sehari yang Layak, tahun 2002.
32

45

menetapkan standar kebutuhan dasar buruh, antara lain untuk pangan, sandang, perumahan dan kebutuhan lainnya. Pada prinsipnya, upah hanya sekedar dijadikan alat untuk mempertahankan buruh agar dapat bekerja. Agar buruh dapat bekerja, ia harus memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatannya. Pekerja yang kurang protein akan menderita lesu darah dan tidak akan produktif, sehingga kesejahteraan dan kualitas hidup buruh dan keluarganya harus tetap dipelihara34. Buruh yang bekerja di perusahaan dalam proses meningkatkan nilai barang akan menerima upah sesuai dengan biaya produksi seorang buruh agar dapat tetap bekerja. Artinya, upah yang diterima hanya merupakan bentuk biaya pengganti pengeluaran hidup buruh secara minimal. Prinsip sistem pengupahan seperti itulah yang kemudian banyak diterapkan di beberapa negara dunia ketiga, seperti Indonesia. Tidak terbendungnya penyebaran paham ekonomi kapitalistik merupakan faktor utama pendorong diterapkannya sistem pengupahan seperti yang berlangsung saat ini di Indonesia. Percepatan pertumbuhan dan pemulihan ekonomi seperti yang saat ini dilakukan pemerintah mensyaratkan sebuah kondisi yang sangat kondusif sehingga dapat memacu produksi dan konsumsi masyarakat. Salah satu strategi menumbuhkan perekonomian adalah dengan meningkatkan jumlah investasi. Konsep ini merupakan kata kunci dalam proses pertumbuhan ekonomi dikarenakan adanya keterbatasan modal pemerintah dalam merangsang pemulihan ekonomi negara. Atas dasar meningkatkan investasi tersebutlah kemudian pemerintah

membangun sebuah sistem pengupahan yang paling mendukung kondusifitas investasi. Pilihan yang paling tepat dalam rangka mewujudkan iklim investasi, sekaligus mempertinggi comparative advantage adalah dengan menyediakan buruh murah dengan cara menerapkan Upah Minimum (UM) dalam sistem pengupahan. Strategi tersebut dapat dikatakan cukup lazim diterapkan oleh negara-negara berkembang yang mengutamakan investasi sebagai pemicu percepatan pertumbuhan ekonomi.
Simanjuntak, Pajaman, “Reformasi Sistem Pengupahan Nasional”, dalam Informasi Hukum, Vo. 5 Tahun VI, jakarta, Tahun 2004.
34

46

KEBIJAKAN PENGUPAHAN YANG TIDAK PERNAH BERPIHAK
Sejarah kebijakan pengupahan di Indonesia dapat dikatakan sebagai sejarah yang dipenuhi dengan ketidakadilan. Rejim demi rejim sudah berganti, namun kebijakan pengupahan yang diterapkan tetap tidak memenuhi unsur keadilan bagi buruh. Walaupun dari sisi perundangan telah semakin mengalami perbaikan (yang katanya disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks ekonomi kontemporer) namun tetap saja tidak memiliki keberpihakan terhadap nasib dan sesuai dengan tekanan ekonomi buruh yang setiap tahunnya terus mengalami kenaikan cukup tinggi. Untuk memahami sistem pengupahan yang diberlakukan saat ini, menurut Hotman Siahaan harus ditelusuri jauh ke belakang, yakni pada proses sejarah perkembangan industri dan ekonomi nasional. Terbentuknya sistem ekonomi maupun sistem pengupahan tersebut harus dipahami melalui interaksi 3 (tiga) aktor, yakni industri, negara dan rakyat sebagai sumber tenaga kerja. Hubungan ketiga aktor tersebutlah yang membentuk beberapa karakter tertentu dari sistem ekonomi dan pengupahan sampai pada akhirnya berpengaruh terhadap konsep dasar maupun sistem pengupahan. Sejak masa-masa awal pertumbuhan ekonomi di Indonesia, gejala

penyimpangan dan pergeseran ke arah sistem ekonomi dan industri yang tidak sehat sebenarnya sudah terlihat. Hal itu tampak ketika sektor ekonomi masa kolonial yang digerakkan oleh sistem ekonomi tanam paksa yang kemudian dilanjutkan dengan pertumbuhan industri besar di pedesaan. Situasi ekonomi dan industri seperti telah melahirkan sistem ekonomi dualistik, dimana basis ekonomi industri dengan fundamental ekonomi masyarakat menjadi sangat timpang. Tekanan ekonomi yang sangat tinggi, terbatasnya masyarakat pada faktor produksi, minimnya lahan dan semakin tingginya pertumbuhan penduduk seperti inilah yang kemudian di wilayah-wilayah tertentu di Pulau Jawa memunculkan involusi ekonomi pertanian. Proses involusi tersebutlah yang kemudian menciptakan petani gurem dan pengangguran dengan jumlah besar akibat terbatasnya lahan pertanian yang dapat diolah untuk tanaman pangan atau perkebunan. Semakin 47

sempitnya lahan pertanian, besarnya buruh tani di perdesaan dan semakin melebarnya kemiskinan tersebut mendorong tingkat migrasi para pengangguran, lulusan sekolah, kaum perempuan ke kawasan perkotaan yang akhirnya memperbesar jumlah pencari kerja dan pengangguran di kota-kota besar seluruh Indonesia. Tingginya angka pencari kerja dan pengangguran tersebut lama-kelamaan kemudian pasti akan berpengaruh terhadap bangunan struktur ekonomi dan sektor industri. Selama beberapa dasawarsa pertumbuhan ekonomi dan industri masih berbasiskan industri manufaktur padat karya yang memanfaatkan supply tenaga kerja yang kurang terdidik. Untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan industri tersebut maka pemerintah kemudian mengeluarkan berbagai kebijakan ekonomi dan perburuhan yang mendukung investasi, salah satunya adalah dengan mengeluarkan kebijakan upah murah. Karena jika tidak maka pemerintah akan kesulitan menarik investor dan pemodal yang selalu mensyaratkan kemudahan-kemudahan investasi, rendahnya biaya produksi dan buruh murah. Struktur ekonomi dan industri seperti itulah yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah sampai diterapkannya secara luas sistem upah minimum, dimana tonggak sejarah kebijakan pengupahan di Indonesia sudah mulai terstandarisasi. Walaupun kebijakan tersebut sudah mulai terumuskan, namun sebagai konsep awal, kebijakan tersebut belum bisa dilaksanakan. Barulah setelah antara tahun 1974 sampai dengan 1976 secara terbatas kebijakan pengupahan tersebut sudah mulai diterapkan pada perusahaan milik negara. Penerapan konsep pengupahan tersebut ternyata tidak serta-merta menjadi fokus perhatian dan dijadikan agenda penting bagi pemerintah. Untuk mengejar ketertinggalan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi, pemerintah masih

menyelesaikan masalah perburuhan yang pada saat itu dianggap sebagai faktor penghambat masuknya investasi. Berbagai kebijakan (misalnya kebijakan kontrol terhadap serikat buruh dan konsep hubungan Industri Pancasila). Praktis kebijakana pengupahan sama sekali tidak memiliki manfaat apapun yang sesuai dengan tujuan awalnya. Pemerintah malah secara sengaja mengendalikan serikat buruh sehingga 48

membuat organisasi buruh menjadi semakin lemah dan tidak mengganggu iklim investasi.

PENGUPAHAN MASA ORDE BARU
Penerapan kebijakan pengupahan secara lebih jelas di Indonesia sebenarnya berlangsung pada tahun 1990-an. Hal ini tidak merupakan inisiatif dari pemerintah sendiri, diakibatkan oleh tekanan dari buruh sendiri. Berdirinya beberapa serikat buruh pada awal tahun 1990 an membentuk satu kekuatan perlawanan yang lebih besar dari buruh, sehingga memaksa pemerintah untuk menelurkan beberapa kebijakan perburuhan, salah satunya adalah perihal kebijakan pengupahan. Landasan awal kebijakan pengupahan yang sampai saat ini masih dijadikan pegangan oleh pemerintah, sekaligus menjadi ganjalan keadilan pengupahan adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tentang Upah Minimum (UM). Konsep dasar tentang upah minimum sendiri sebenarnya sudah sangat lama dimunculkan oleh suatu institusi pengupahan yang bernama Dewan Penelitian Pengupahan Nasional dan daerah (DPPN/D) pada tahun 1969 dan 1970. Akan tetapi seperti yang disebutkan di atas, kejelasan penerapannya baru berlangsung pasca keluarnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989. Dewan Penelitian Pengupahan Nasional (DPPN) merupakan suatu lembaga bentukan pemerintah yang bertugas memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada pemerintah tentang kebijakan dan prinsip-prinsip pengupahan. Keanggotaan institusi tersebut terdiri dari departemen-departemen pemerintah, asosiasi pengusaha, perguruan tinggi, Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P) dan elemen serikat pekerja (SPSI). Sedangkan Dewan Penelitian Pengupahan Daerah (DPPD) yang berkedudukan di bawah Gubernur. Institusi ini berfungsi melakukan penelitian untuk kemudian diajukan ke Gubernur dan Menteri Tenaga Kerja. Jika memang jumlah yang diusulkan oleh DPPD dan DPPN sudah dianggap sesuai dengan pertimbangan Menteri Tenaga Kerja dan Gubernur, maka jumlah tersebut akan ditetapkan menjadi UMR.

49

Seperti yang disebutkan sebelumnya, perubahan proses kebijakan pengupahan di Indonesia telah mengalami perubahan sejak kebijakan otonomi daerah diberlakukan di seluruh wilayah propinsi dan kabupaten/kota. Tentunya kebijakan tersebut membawa konsekuensi pada pengalihan beberapa kewenangan yang sebelumnya terpusat di Jakarta menjadi terdistribusi ke daerah propinsi dan kabupaten kota, dari yang sifatnya terpusat di kementrian tenaga kerja dialihkan ke kepala daerah. Proses peralihan kewangan tersebut adalah selaras dengan semangat desentralisasi, dimana beberapa kewenangan politik dan ekonomi yang selama ini berada di tangan pemerintah pusat didistribusikan ke daerah, termasuk dalam hal ini kewenangan dalam permasalahan pengupahan. Namun semangat tersebut dari perspektif keadilan hanya menyentuh sisi permukaan, dimana pemerintahan daerah memiliki peran politik dan ekonomi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Ketidakadilan yang diretas hanya keadilan otoritas politik dan ekonomi pusat dan daerah, namun sebenarnya tidak menyentuh substansi keadilan yang sebenarnya, yakni antara kelas masyarakat yang tereksploitasi dengan minoritas pengusaha, dan pemodal yang berkuasa atas sumberdaya alam dan faktor produksi. Tidak ada perubahan yang begitu besar sebenarnya dengan perubahan kebijakan pengupahan tersebut. Pada sisi institusional, memang terdapat perbubahan dalam hal komposisi yang terlibat dalam lembaga penelitian dan pemberi saran jumlah upah. Dari yang sebelumnya dianggap belum memenuhi aspek keseimbangan antara beberapa stakeholder pengupahan menjadi keterwakilan yang lebih berimbang antara pihak-pihak yang berkepentingan dalam proses perumusan dan penetapan upah. Maksud dari konsep keterwakilan berimbang ini adalah, keterlibatan tripihak, antara pengusaha, pemerintah dan dari kalangan buruh dalam institusi ini menjadi lebih seimbang dari sebelumnya.

50

Tabel Perbedaan Institusi Pengupahan Masa DPPN/DPPD Kriteria Fungsi Komposisi Keanggotaan Kewenangan Penetapan UM Pelaksana Survei Mekanisme Penetapan Keanggotaan DPPN/D Merumuskan UMR Dominasi pemerintah Menteri Tenaga Kerja Depnaker DPD/DEPEDA Merumuskan UMP/K Model keterwakilan berimbang Gubernur/Bupati/Walikota

Mekanisme Pertanggungjawaban Sumber: Akatiga

Unsur pemerintah, pengusaha dan serikat buruh. Menteri Tenaga Gubernur/Bupati menjadi penentu Kerja/Gubernur usulan struktur keanggotaan yang menjadi penentu usulan diajukan oleh Disnaker struktur keanggotaan yang diajukan oleh Depnaker DPPN/D DPD bertanggung jawab kepada bertanggungjawab Gubernur/Bupati terhadap Menaker/Gubernur

Tabel di atas memperlihatkan bahwasannya titik berat yang dikatakan perubahan hanyalah pada persoalan peralihan kewenangan, tanggungjawab dan komposisi perwakilan komponen yang terlibat dalam Dewan Pengupahan Daerah (DPD). Dewan Pengupahan Daerah (DPD/DEPEDA) bertugas melakukan penelitian dan memberikan usulan kepada Gubernur dan Bupati perihal jumlah UMP yang akan diterapkan selama satu tahun. Secara konseptual, lembaga tersebut sudah memenuhi rasa keadilan, khususnya bagi elemen buruh. Bersamaan dengan semakin banyaknya bermunculkan Serikat buruh, maka keterlibatan elemen buruh dalam dewan pengupahan menjadi semakin besar. Secara kuantitas keterwakilan buruh memang semakin besar dari tahun ke tahun. Asumsinya, semakin banyak elemen buruh yang terlibat dalam DPD, maka semakin terwakililah aspirasi buruh dalam proses penentuan upah. Namun secara kualitas, aspirasi buruh ternyata teredam oleh berbagai kepentingan dan

51

kemampuan elemen pengusaha dan pemerintah. Jelas bahwasannya jika diamati lebih dalam, perubahan kebijakan dari DPPN/D menjadi DPD Propinsi dan Kabupaten Kota belumlah mampu secara signifikan merubah substansi persoalan upah yang dihadapi oleh buruh. Setelah beberapa dekade diterapkannya Upah Minimum (UM), terbukti sistem tersebut tidak banyak merubah wajah buruh di Indonesia. Jika dilihat perkembangan kontemporer dari kebijakan tersebut, ternyata hampir tidak ada keseriusan pemerintah untuk benar-benar mensejahterakan buruh. Pertama; dari sisi kebijakan tidak ada perubahan yang berarti yang pernah dilakukan pemerintah berdasarkan tuntutan buruh dan masyarakat. Perkembangan terakhir pasca krisis ekonomi malah berdampak secara negatif, salah satunya adalah memperlemah pertumbuhan sektor formal35 yang sama sekali belum mendapat perlindungan yang sepantasnya oleh pemerintah maupun pemberi kerja. Penerapan kebijakan upah minimum yang pada awalnya merupakan upaya memproteksi buruh dari kesewenangan pengusaha ternyata berubah menjadi belenggu bagi buruh. Bukanlah peningkatan kesejahteraan yang kemudian dirasakan oleh buruh, namun ternyata malah membatasi hak kaum pekerja untuk hidup lebih baik dan melampaui batas minimum hidup. Kebijakan upah minimum yang sudah diterapkan selama beberapa dekade ternyata cenderung lebih banyak merugikan buruh karena sekedar dijadikan legitimasi oleh pihak-pihak yang menentang hak-hak buruh. Bukti-bukti yang bisa diajukan untuk mengkritisi upah minimum sudah sangat banyak muncul ke permukaan. Salah satunya adalah terkait dengan kenaikan jumlah upah minimum setiap tahunnya yang belum sesuai dengan kenaikan kebutuhan hidup, namun masih sekedar pada hitung-hitungan inflasi36. Padahal ada banyak faktor yang
Tulisan M Chatib Basri yang mengutip hasil penelitian Bird dan Chriss Manning pada tahun 2002 yang menyatakan adanya kecenderungan perkembangan sektor informal dan lemahnya sektor formal adalah disebabkan oleh kebijakan upah minimum. 36 Kompas, 22 September, 2004, dimana dinyatakan kenaikan upah buruh hanya berdasarkan inflasi, sehingga menyulitkan buruh untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kenaikan upah yang terjadi paling besar hanya 20%, bahkan beberapa perusahaan besar hanya menaikkan upah sebesar maksimal 8% , sedangkan kebutuhan hidup terus melonjak, terutama pada hari-hari besar.
35

52

mengharuskan pemerintah dan pengusaha untuk menetapkan kenaikan upah dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan harga pasar, antara lain kenaikan BBM, Tarif Dasar Listrik (TDL) dan beberapa kebutuhan lainnya37. Dapat dikatakan malah, kenaikan upah yang terjadi pada saat ini sebenarnya bukanlah kenaikan yang sebenarnya, namun masih merupakan penyesuaian atas inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar. Kenaikan yang sebenarnya sendiri belum pernah dirasakan oleh buruh, sehingga wajar saja jika banyak pihak yang menyatakan, buruh tidak dapat berharap banyak dari UMP, karena tetap saja pemerintah dan pengusaha tidak menyetujui kenaikan upah yang sesuai dengan peningkatan biaya hidup buruh38 Argumentasi seperti itulah yang secara terus-menerus dijadikan alasan oleh pemerintah untuk menahan kenaikan upah buruh. Apalagi jika dilihat dari sisi standar kehidupan buruh yang selama ini masih didasarkan oleh 43 komponen atau jenis kebutuhan pokok buruh. Ke empat puluh tiga (43) komponen tersebutlah yang setiap tahunnya diteliti oleh Dewan Pengupahan Daerah (DPD) sebagai parameter perumusan dan penentuan kenaikan upah setiap tahunnya sesuai dengan standar Kebutuhan Hidup Minimum (KHM). Paramater kebutuhan hidup pokok yang dicantumkan dalam KHM sendiri selama beberapa tahun malah belum 100% dicapai di setiap propinsi. Upah Minimum Propinsi (UMP) pada tahun 2004 mungkin dapat mewakili kondisi ini. Pada tahun 2004, dari 30 propinsi, hanya 10 (sepuluh) propinsi yang sudah menetapkan UMP di atas KHM, sedangkan sisanya masih lebih rendah dari KHM, bahkan untuk beberapa

Melalui hasil penelitian yang dilakukan oleh Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan dan Minuman (SP RTMM) pada tahun 2002 menyatakan, upah minimum untuk wilayah Propinsi DKI Jakarta pada tahun 2002 seharusnya mencapai Rp.750.000,- dan jumlah ini belum termasuk adanya rencana kenaikan BBM, TDL dan kebutuhan hidup lainnya, Kompas, 29 Desember 2001. 38 Di Propinsi DKI Jakarta, kenaikan UMP tahun 2005 oleh Dewan Pengupahan Daerah (DPD) tidak akan mungkin sama dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM), karena dikhawatirkan akan meningkatkan angka pengangguran akibat Pemutusan Hubungan Kerja oleh perusahaan.
37

53

propinsi, seperti Propinsi Maluku Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Jawa Barat dan Propinsi Bangka Belitung masih menerapkan UMP 90% dari KHM39. Berdasarkan kondisi tersebut, tampaknya sangat sulit jika ada keinginan elemen gerakan buruh termasuk pemerintah yang ingin menetapkan UMP agar sesuai dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Walaupun standar KHL sudah dicantumkan dalam Undang-Undang Perburuhan No.13 Tahun 2003, khususnya pada Pasal 88 dan Pasal 8912. Namun sampai saat ini walaupun secara formal UUK No.13 Tahun sudah diberlakukan, belum ada langkah-langkah dari pemerintah untuk menuangkan kebijakan ketenagakerjaan, khususnya tentang upah layak dalam bentuk peraturan yang lebih aplikatif. Hal itu dibuktikan dengan keluarnya Surat Edaran Menakertrans No. B.601/2004 tentang Penetapan UMP/UMK berdasarkan KHM. Keluarnya peraturan tersebut jelas telah mengingkari UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun yang secara eksplisit sudah mencantumkan kebutuhan hidup layak sebagai parameter upah buruh40. Pengingkaran dan penolakan dari pemerintah dan pengusaha tersebut menjadi bukti bahwasannya nasib buruh atau pekerja di Indonesia memang dalam jangka waktu cukup lama tidak akan mengalami perbaikan. Walaupun sudah terjadi pergeseran kebijakan pengupahan sesuai dengan tuntutan pekerja, namun belum tidak secara otomatis diterapkan. Kepentingan yang lebih besar, seperti penciptaan iklim investasi yang kondusif, mengindari pemberhentian pekerja akibat beban ekonomi yang ditimbulkan oleh biaya upah, maupun meningkatkan daya saing produk

Dikutip dari Direktorat Pengupahan, Jamsos dan Kesejahteraan, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam penjelasan UU No.13 Tahun 2003, yang dimaksud dengan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak adalah jumlah penerimaan atau pendapatan pekerja/buruh dari hasil pekerjaannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup pekerja/buruh dan keluarganya secara wajar yang meliputi makanan, minuman, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, rekreasi dan jaminan hari tua. 40 Dalam Harian Kompas tanggal 22 November 2004, keluarnya kebijakan tersebut dilatarbelakangi oleh argumentasi dari pihak pengusaha yang menyatakan, kenaikan upah sesuai dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) akan meningkatkan angka pengangguran, sebab pengusaha secara terpaksa akan memberhentikan pekerja akibat ketidakmampuan untuk menggaji pekerja, sehingga pengusaha lebih setuju jika kenaikan upah hanya didasarkan oleh inflasi semata.
39 12

54

domestik masih menjadi prioritas dibandingkan kepentingan untuk mensejahterakan buruh di Indonesia.

Sistem Pengupahan Di Masa Liberalisasi Ekonomi Kondisi terbaru memperliatkan ada beberapa perubahan terhadap sistem pengupahan. Mulai tahun 2004 sampai 2005 pemerintah tampaknya semakin gencar mengeluarkan beberapa kebijakan pengupahan. Didukung oleh semangat otonomi daerah dan implementasi liberalisasi ekonomi pemerintah melakukan regulasi kebijakan perburuhan yang semakin memperkuat belenggu terhadap buruh. Sangat disayangkan sebenarnya, ketika kondisi yang semakin sulit dihadapi buruh ternyata dijawab dengan keluarnya beberapa kebijakan perburuhan yang tidak berpihak. Di satu sisi, dalam pemahaman awam, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah menyangkut persoalan pengupahan adalah wujud dari pendemokrasian sistem pengupahan dan sistem politik nasional. Melalui keluarnya kebijakan tersebut pemerintah beranggapan akan dianggap lebih demokratis di mata masyarakat, khususnya terhadap buruh. Tahun 2003 tampaknya menjadi awal petaka paling besar yang kemudian berlanjut sampai saat ini. Liberalisasi ekonomi semakin serius ditanggapi oleh pemerintah sehingga mau tidak mau merembet pada seluruh sistem yang berhubungan dengan sistem ekonomi, salah satunya terhadap sistem pengupahan. Keluarnya Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 menjadi start awal yang paling vulgar untuk diungkap. Kebijakan tersebut di satu sisi merupakan bentuk akomodasi pemerintah terhadap keinginan berbagai pihak dalam pendemokratisan sistem ketenagakerjaan. Namun buruh memandang kebijakan tersebut justru malah memperlemah posisi tawar dan memposisikan buruh semakin tidak pasti. Kebijakan paling baru adalah yang terkait dengan kebijakan pengupahan. Setelah mengalami perubahan berkali-kali, pada tahun 2004 pemerintah

mengeluarkan Keputusan Presiden No. 107 Tahun 2004 Tentang Dewan Pengupahan. Melalui kebijakan ini pemerintah mempertegas fungsi Dewan Pengupahan sebagai 55

sebuah lembaga nonstruktural yang bersifat tripartit, dimana salah satu tugas utamanya adalah memberikan saran, pertimbangan kepada pemerintah dalam rangka perumusan dan penetapan upah minimum, baik itu di tingkat nasional, propinsi maupun kabupaten/kota. Kebijakan ini pada hakekatnya bersifat mempertegas kebijakan sebelumnya tentang Dewan Pengupahan, karena beberapa pasal yang di muat telah mencantumkan secara lebih jelas tentang peran, tugas, dan keberadaan dewan pengupahan di tengah-tengah institusi ketenagakerjaan. Pada aturan tersebut dijelaskan bahwasannya terdapat stratifikasi Dewan Pengupahan, dari tingkat nasional, propinsi maupun kabupaten/kota. Setiap level dewan pengupahan tersebut memiliki kewenangan dan tugas yang disesuaikan dengan kewenangan yang diberikan oleh pemerintahan pusat, propinsi dan kabupaten/kota. Keberadaan kebijakan dewan pengupahan tersebut kemudian disusul oleh keluarnya Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 17 Tahun 2005 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak. Keluarnya kebijakan tersebut sebenarnya cukup membantu proses perumusan upah minimum, dimana beberapa standar upah minimum sudah jelas diatur. Kebijakan ini juga menurut pemerintah sudah mengakomodir kepentingan elemen pergerakan buruh yang selama ini berupaya meningkatkan standar pengupahan. Sebelum kebijakan ini dikeluarkan oleh pemerintah, standar upah minimum masih menggunakan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) yang merupakan perubahan dari Kebutuhan Fisik Minimum (KFM). Tuntutan untuk meningkatkan upah buruh agar sesuai dengan kondisi beban hidup buruh kemudian diakomodir oleh pemerintah melalui keluarnya Keputusan Menteri tentang Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Pada dasarnya kebijakan ini tidak merubah substansi proses perumusan dan penetapan upah yang sebelumnya diberlakukan. Namun penekanan pada otonomi daerah pada beberapa sisi sedikit merubah mekanisme kerja Dewan Pengupahan yang ada di daerah maupun propinsi.

56

Realitas Sistem Pengupahan Dimata Buruh

Hampir sama dengan kondisi buruh lainnya di Kota-kota besar di Indonesia, kondisi perburuhan di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan tidak jauh berbeda daerah-daerah lain yang sama-sama mengalami tekanan dalam berbagai bentuk, salah satunya tekanan dalam sisi pengupahan. Hal itu diakibatkan oleh standar umum kebijakan pengupahan dari pemerintah yang tidak pernah mempertimbangkan kebutuhan dan produktivitas buruh yang sesungguhnya. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir regulasi kebijakan perburuhan telah memasukkan karakteristik lokal (Kabupaten/Kota) dalam proses perumusan dan penetapan upah, namun realitas upah yang berjalan masih sangat jauh dari kelayakan yang diharapkan oleh buruh. Salah satu aspek yang menyebabkan rendahnya upah dan tidak sejahteranya buruh adalah adanya beberapa kebijakan pengupahan yang sangat tidak adil dan tidak berpihak terhadap buruh. Sejak proses kebijakan pengupahan dirubah –dari yang ditentukan oleh Presiden berdasarkan masukan dari kepala daerah (Gubernur dan Bupati) menjadi diputuskan oleh pemerintah setingkat kepala daerah- kebijakan pengupahan tetap tidak membawa perbaikan pada kondisi upah buruh. Ada banyak reduksi yang berlangsung ketika kebijakan pengupahan diserahkan pada Gubernur dan Bupati. Walaupun sebenarnya pengalihan wewenang tersebut adalah bertujuan untuk mengakomodir berbagai karakteristik daerah (yang merupakan satu bentuk penerapan Undang-Undang Otonomi Daerah No.22 Tahun 57

1999), namun pelaksanaannya di lapangan ternyata tetap tidak membawa perubahan yang cukup berarti bagi buruh. Perubahan kebijakan tersebut masih sekedar menggeser kewenangan birokrasi dari pemerintah pusat ke daerah (propinsi dan kabupaten/kota) tanpa merubah substansi dari kebijakan tersebut. Konsep-konsep inti kebijakan pengupahan yang dirasakan tidak adil ternyata tidak mengalami perubahan sama sekali, sehingga membuat pergeseran kewenangan pengupahan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah tersebut sama sekali menjadi tidak bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan buruh, malah menciptakan potensi-potensi

penyelewengan dan pembodohan yang lebih besar terhadap buruh. Pada banyak sisi, sistem pengupahan yang diberlakukan saat ini belum sesuai dengan harapan buruh, demikian juga secara institusional, konsep dasar, mekanisme, maupun pada level aplikasi, sistem pengupahan masih jauh dari dimensi keadilan, demokrasi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal itulah yang menjadi salah satu landasan dari penelitian yang lebih dalam tentang sistem pengupahan, khususnya bagi buruh sektor industri di perkotaan. Realitas ketidakadilan sistem pengupahan dan tidak berpihaknya kebijakan perburuhan tersebut dapat dilihat dengan cara mendeskripsikan pengetahuan, pemahaman, atau persepsi buruh tentang berbagai aspek dalam sistem dan kebijakan pengupahan, institusi yang memiliki otoritas dalam perumusan dan penetapan upah, baik itu tentang proses, peran dari institusi atau stakeholder, maupun harapan dan keinginan buruh terkait dengan proses perumusan dan penetapan upah. Apa yang ingin diungkapkan nantinya akan menggambarkan bagaimana sebenarnya realitas (pemahaman, pengetahuan dan persepsi buruh) tentang kebijakan maupun proses perumusan dan penetapan upah. Selama ini pemahaman buruh memang kurang diperhatikan sebagai pertimbangan lembaga pengupahan. Padahal, kebijakan pengupahan yang menindas ini sudah lama berlangsung, sehingga pastinya akan membentuk pemahaman dan pengetahuan secara subjektif. Selama ini, upaya pengkritisan sistem pengupahan cenderung dilakukan secara sepihak, antara lain dari perspektif pemerintah, kalangan elemen masyarakat pro 58

demokrasi, tanpa melihat penilaian atas persepsi buruh sendiri. Bagaimanapun juga, sikap buruh terhadap sistem pengupahan terbentuk berdasarkan realitas kehidupan sehari-hari mereka. Buruh yang mengalami secara langsung minimnya upah, sehingga pantaslah jika pandangan kritis buruh tersebutlah yang harus diangkat ke permukaan jika berkeinginan merubah sistem pengupahan yang berlaku saat ini.

59

KEBIJAKAN PENGUPAHAN DI MATA BURUH
Ada 2 variabel tentang kebijakan pengupahan yang ingin di lihat dalam proses survey ini. 1. Pengetahuan dan pemahaman buruh terhadap elemen yang terlibat dalam perumusan kebijakan pengupahan (UMP dan UMSP) 2. Persepsi buruh tentang keterlibatan buruh dalam proses perumusan kebijakan pengupahan

Pengetahuan dan pemahaman buruh terhadap elemen yang terlibat dalam perumusan kebijakan pengupahan (UMP dan UMSP) Pengetahuan dan pemahaman buruh terhadap elemen yang terlibat dalam proses perumusan dan penetapan kebijakan UMP/UMSP sangat penting dalam

mempengaruhi penguasaan buruh tentang konsep upah secara umum. Tanpa pengetahuan dan pemahaman yang cukup, buruh tidak akan mengerti haknya tentang upah. Ketidakpahaman seperti itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh pengusaha, pemerintah, maupun stakeholder lain yang berperan dan punya kepentingan yang sangat besar dalam proses perumusan maupun penetapan upah buruh. Tabel Pengetahuan Responden Tentang Jumlah UMP 2003 yang Ditetapkan Pemerintah Respon Ya (tahu) Tidak tahu Total Jumlah % 238 47,1 267 52,9 505 100,0

Data pada tabel di atas layaknya seperti membuka kotak pandora kebijakan buruh. Angka tersebut sekaligus menjadi fakta disebalik kebijakan pengupahan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun tersebut tersembunyi fakta ketidakpahaman 60

buruh tentang upah. Buruh sendiri yang menjadi objek pemberlakuan kebijakan pengupahan lebih banyak yang tidak mengetahui jumlah upah yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebahagian besar responden (52,9%) menyatakan tidak tahu jumlah UMP pada tahun 2003. Bagi buruh yang menyatakan mengetahui, ternyata mereka lebih banyak mengetahui informasi jumlah UMP dari Serikat Buruh, yakni sebanyak 128 orang (25,3%). Hal ini menunjukkan pemerintah sebagai regulator kebijakan pengupahan tidak menjalankan fungsi yang sebenarnya. Seharusnya, pemerintah sebagai pelaksana kebijakan harus lebih aktif dalam memberikan informasi tentang UMP/UMSP setiap tahunnya. Tugas yang seharusnya dijalankan oleh pemerintah dalam melakukan sosialisasi ataupun memberikan informasi tentang upah buruh hampir tidak dijalankan sama sekali. Hal itu dapat dilihat dari respon buruh yang sangat minimal tentang peran pemerintah dalam mensosialisasikan upah. Hasil tabulasi membuktikan hanya 13 (2,6%) responden buruh yang menyatakan pemerintah pernah memberikan ataupun mensosialisasikan UMP/UMSP. Hal ini membuktikan bahwasannya pemerintah (Gubernur) belum mampu secara efektif melakukan sosialisasi terhadap sistem pengupahan yang sedang berlangsung, termasuk komponen yang berperan dan institusi yang memiliki otoritas legal dalam menetapkan jumlah UMP/UMSP. Lemahnya sosialisasi tersebut tentunya membawa konsekuensi terhadap kurangnya pemahaman buruh tentang sistem pengupahan yang diterapkan pada mereka. Satu hal yang paling sederhana dipahami oleh buruh adalah, selama ini yang paling bertanggungjawab terhadap rendahnya upah yang diterima oleh buruh adalah pengusaha. Salah satu penyebab dari pemahaman ini adalah adanya anggapan dari buruh bahwasannya pengusaha merupakan pihak terdepan sekaligus paling bertanggungjawab yang bertugas mensosialisasikan ataupun menerapkan kebijakan upah yang telah diputuskan oleh Gubernur. Mengharapkan informasi kebijakan upah dari perusahaan pada saat ini merupakan harapan yang sangat sulit untuk dipenuhi. Kebijakan upah minimum yang pada setiap tahunnya diperbaharui terus-menerus, disembunyikan, bahkan di tunda 61

publikasinya oleh perusahaan untuk tidak diketahui oleh kalangan buruh. Perusahaan dengan sengaja tidak memberitahukan kepada buruh tentang adanya kenaikan, maupun jumlah kenaikan yang sudah diputuskan. Respon dari buruh memperlihatkan bahwasannya informator yang lebih aktif dalam kebijakan upah setiap tahunnya adalah dari Serikat Buruh. Serikat Buruh memiliki peran dan fungsi yang lebih jelas sehingga buruh menjadi mengetahui dan mengerti kenaikan UMP/UMSP setiap tahunnya. Efektivitas peran serikat buruh/pekerja dalam mensosialisasikan informasi tentang upah tersebut dapat dilihat dari beberapa media yang digunakan, antara lain diskusi-diskusi informal di tingkat pabrik, penggunaan radio komunitas, buletin dan selebaran dan media lainnya. Penggunaan media informasi tersebut cukup efektif bagi beberapa serikat buruh/pekerja sehingga buruh dapat mengetahui informasi upah minimum setiap tahunnya maupun sistem pengupahan yang diberlakukan pada mereka. Tabel Informasi yang diperoleh Tentang jumlah UMP/UMSP Jumlah % 52 10,3 13 2,6 25 5,0 22 4,8 128 25,3 242 47,9 263 52,1 505 100,0 Sumber: Hasil pengolaan data kuesioner Jika dikaitkan dengan keanggotaan SB, maka sangat jelas bahwasannya keanggotaan dalam SB sangat membantu buruh dalam mengerti dan mengetahui jumlah UMP/UMSP yang ditetapkan oleh pemerintah. Buruh yang menjadi anggota Serikat Buruh lebih banyak yang mengetahui informasi tentang jumlah UMP/UMSP dari Serikat Buruh, dan bukan dari sumber informasi lainnya, seperti Media Massa, Pengusaha, Pemerintah, teman sekerja, dan sumber informasi lainnya. Keikutsertaan dalam SB menjadi media bagi buruh untuk mengetahui jumlah upah secara lebih terperinci. Jika berdasarkan sumber informasi lain, seperti media massa, buruh hanya 62 Sumber Informasi Media massa Pemerintah Pengusaha Teman sekerja SB (Serikat Buruh) Total Tidak menjawab

mengetahui kenaikan jumlah UMP secara umum tanpa mengetahui jumlah upah per sektor industri (UMSP). Minimnya pemahaman buruh terhadap sistem pengupahan secara umum dan upah minimum sektoral tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal. Untuk memahami sistem pengupahan secara holistik dibutuhkan satu proses pendidikan dan pelatihan yang sistematis sehingga materi-materi tentang sistem upah dapat secara lengkap dipahami oleh buruh. Sedangkan untuk dapat menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, dibutuhkan waktu, biaya dan material pendidikan yang minim dimiliki oleh buruh maupun serikat buruh. Setelah dilakukan uji statistik Kolomogorov Smirnov dapat disimpulkan bahwasannya berbagai sumber informasi tentang UMP memang menunjukkan perbedaan yang signifikan. Artinya, berbagai sumber tersebut memang punya peran yang berbeda terhadap pengetahuan buruh tentang UMP. Sumber informasi yang berkontribusi terhadap pengetahuan buruh sangat tidak merata antara media masa, pemerintah, pengusaha, teman sekerja dan serikat buruh. Kondisi tersebut diperparah lagi ketika dikaitkan dengan pengetahuan responden buruh tentang komponen atau lembaga yang terkait dengan perumusan atau penentuan kebijakan UMP/UMSP. Dari total responden buruh, hanya 52 orang atau 10,3% yang menyatakan mengetahui, sedangkan yang menyatakan tidak adalah sebanyak 427 responden (84,6%). Hal itu menunjukkan, buruh memang sangat terasing dengan pihak-pihak yang turut dalam mekanisme penentuan UMP/UMSP. Responden sendiri sebahagian besar bukan hanya tidak mengetahui komponen yang terlibat dalam penentuan upah, namun juga tidak mengetahui pihak yang berwenang dalam penetapan UMP/UMSP. Walaupun sebahagian besar responden menjawab bahwasannya pemerintahlah yang paling berwenang, namun yang menyebutkan Gubernur secara eksplisit sangatlah minim. Ada sebahagian responden buruh yang bahkan menyebut lembaga yang berwenang untuk menetapkan UMP/UMSP adalah pengusaha, manajer, Depnaker, DPRD, dan Serikat Buruh seperti SPSI. Fakta tersebut tentunya menggambarkan ketidaktahuan buruh tentang konsep proses perumusan atau penetapan UMP/UMSP. Walaupun secara eksplisit setiap tahunnya gubernur selalu mengeluarkan Surat Keputusan UMP/UMSP, namun hal itu tidak membentuk pemahaman buruh tentang institusi yang bertugas menetapkan. Ada 63

kekacauan pemahaman di kalangan buruh, sebenarnya pihak atau lembaga mana yang ikut melakukan proses perumusan dan penentuan jumlah UMP/UMSP dan institusi atau lembaga mana yang berwenang menetapkan dalam bentuk keputusan tentang jumlah upah yang akan diberlakukan dalam satu tahun di sebuah pemerintahan propinsi.

64

Grafik Pengetahuan komponen/lembaga yang termasuk dalam UMP/UMSP
500

400

427

300

200

J U M L A H

100

52 0 tahu Tidak tahu 26 tidak menjaw ab

Sumber: Hasil Pengolahan data Kuesioner Respon buruh tentang komponen yang terlibat dalam proses penentuan upah buruh ternyata cukup memadai. Buruh memahami bahwasannya pemerintah, pengusaha, serikat buruh, akademisi dan DPD terlibat secara formal dalam menentukan upah buruh. Respon yang tergolong tinggi dari buruh adalah tentang keterlibatan pengusaha. Sebanyak 397 orang buruh menjawab pengusaha menjadi bagian dari komponen yang menetapkan UMP/UMSP. Namun buruh kurang

mengetahui tentang keterlibatan akademisi dalam proses tersebut. Buruh yang menjawab akademisi menjadi bagian komponen penetapan upah hanyalah 140 orang, sedangkan yang menjawab tidak adalah 152 orang, dan yang menjawab tidak tahu sebanyak 177 orang. Respon terhadap akademisi ini adalah yang paling rendah dan paling lemah dari keseluruhan. Dengan kata lain, buruh kurang memahami bahwasannya elemen akademisi punya peran yang sangat besar dalam proses penentuan jumlah UMP/UMSP. Fakta di sebalik temuan ini adalah, buruh sebenarnya memiliki pemahaman yang cukup tentang siapa yang terlibat dalam proses penetapan upah. Namun pemahaman tersebut masih didominasi oleh pandangan bahwasannya pengusaha adalah pihak yang paling berperan dalam penentuan upah. Disebalik itu sebenarnya 65

pihak lain juga memiliki tanggungjawab yang tidak kalah besarnya dengan pengusaha, seperti akademisi, pemerintah, dan serikat buruh/pekerja. Selain itu, sebahagian besar buruh juga beranggapan bahwasannya legislatif juga memiliki peran dalam proses perumusan maupun penetapan upah.

Mencantumkan komponen legislatif dalam penelitian ini sebenarnya hanya ingin melihat respon buruh terhadap institusi negara yang berperan terhadap pengupahan. Besarnya buruh yang memilih DPRD sebagai pihak yang berwenang dalam pengupahan menjadi indikasi bahwasannya buruh secara umum belum memahami istitusi yang bertanggungjawab terhadap penentuan upah. Buruh memiliki pemahaman bahwasannya sebagai wakil rakyar, DPRD punya wewenang terhadap upah, padahal yang sebenarnya peran legislatif secara institusional tidak terlibat. Dewan Perwakilan Rakyat memiliki wewenang yang berbeda dengan eksekutif, dalam hal ini pemerintah. Walaupun legislatif memiliki peran dalam sistem ketenagakerjaan, namun dalam perumusan upah hanya sebagai institusi yang dimintai pendapat oleh pemerintah tanpa ada garansi untuk dilaksanakan.

66

Tabel Respon Buruh Tentang Komponen yang terlibat dalam Penetapan UMP/UMSP Jawaban Ya Tidak Tidak tahu Pemerintah 437 19 34 DPRD 330 72 85 Pengusaha 397 63 32 Serikat Buruh 376 58 54 DPD 246 56 178 Akademisi 140 152 177 Ket: Total Responden 505 orang dan sebahagian kecil responden ada yang tidak menjawab sama sekali. Sumber: Hasil pengolahan data Kuesioner Seperti yang disebutkan oleh seorang mantan anggota DPD (Dewan Pengupahan Daerah) yang berasal dari komponen Serikat Buruh (SB). Walaupun pemerintah sudah memiliki tim ahli yang memiliki kualifikasi pendidikan tinggi dan dianggap memiliki kapasitas penguasaan sistem upah yang cukup memadai, namun dalam prakteknya tidaklah demikian. Banyak personal dari pihak pemerintah yang ditugaskan untuk terlibat dalam DPD ternyata tidak menguasai masalah. Secara teoritis dan praktek di lapangan, komponen yang berasal dari akademisilah yang lebih banyak berperan dalam hal landasan teoritis dari upah. Mereka lebih punya landasan berfikir yang lebih murni, sehingga dapat diterima oleh personal lainnya dalam komponen DPD. Peran yang mereka tunjukkan dalam setiap proses diskusi bahkan cenderung lebih dominan. Mereka memegang posisi yang sangat vital dalam institusi DPD, dan hal inilah yang kurang dimengerti oleh buruh tentang besarnya peran akademisi dalam proses perumusan kebijakan upah tersebut. Komponen yang terlibat dalam penetapan UMP/UMSP

67

PERSEPSI TENTANG KETERLIBATAN BURUH DALAM PROSES PERUMUSAN KEBIJAKAN PENGUPAHAN
Keterlibatan buruh dalam proses penetapan upah, atau perumusan kebijakan pengupahan terlihat sangat minim. Minimalnya keterlibatan buruh yang telah berlangsung pada masa pemertintahan rejim Soeharto tetap berlangsung sampai saat ini. Ketika kebijakan pengupahan mengalami perubahan dari pola lama yang bersifat sentralistis menjadi lebih terdesentralisasi, ternyata prinsip keterlibatan dan partisipasi buruh ternyata masih jauh dari harapan. Aturan penyerahan kewenangan penetapan jumlah upah kepada kepala daerah (Gubernur dan Bupati/Walikota) tidak menjadikan kebijakan pengupahan menjadi lebih berpihak kepada buruh. Malah yang terjadi adalah sebaliknya. Penyerahan kewenangan dari Menteri Tenaga Kerja kepada kepala daerah telah menciptakan kesewenangan baru. Gubernur dan Bupati/Walikota malah telah menjadi rejim lokal yang tidak pernah menunjukkan niat baiknya untuk meningkatkan keterlibatan buruh. Padahal, esensi dari aturan kewenangan tersebut adalah mendekatkan proses perumusan kebijakan pengupahan dengan dengan buruh. Diharapkan dengan memperbesar wewenang kepala daerah, maka kepentingan buruh akan semakin cepat dan lebih besar terakomodir dalam penentuan jumlah upah. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Pertimbangan dan konsideran yang dijadikan referensi penentuan jumlah upah tetap semakin jauh dari kepentingan dan harapan buruh. Bahkan mungkin kondisinya lebih parah dari sebelumnya. Selain memasukkan berbagai aspek ekonomi, politik dan keamanan secara nasional sebagai dasar pertimbangan, acuan penentuan jumlah upah juga ditambah dengan aspek lokal, seperti kondisi sosial, politik, demografis dan keamanan propinsi, Kabupaten/Kota. Jika hal demikian yang berlangsung, maka tujuan penyerahan kewenangan tersebut akan hilang sama sekali. Prinsip dasar pergeseran kewenangan tersebut tertutupi oleh berbagai pertimbangan lain yang tidak berkorelasi langsung dengan kepentingan dan harapan buruh. Tentunya, harapan buruh untuk dilibatkan dalam proses perumusan dan penetapan jumlah upah sangatlah besar. Keinginan buruh untuk turut serta dalam proses perumusan kebijakan maupun penetapan jumlah UMP/UMPS sangatlah tinggi, sehingga harus diakomodir. Melalui tabel di bawah terlihat bahwa harapan buruh tersebut sama sekali belum sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan buruh. Grafik Buruh Perlu Dilibatkan Dalam Proses Penetapan UMP/UMSP 68

500 450 400 350 300 250 200 150 100 50

425

JUML A H

44
0 ya tidak

36
tidak menjaw ab

Sebanyak 84,2% responden buruh menyakan komponen buruh harus dilibatkan dalam proses penetapan UM/UMSP, sedangkan yang menyatakan “tidak” hanya 44 orang (8,7%) dari total responden. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh buruh yang menyetujui keterlibatan buruh tersebut. Tabel Alasan Jawaban Perlunya Buruh Dilibatkan Dalam Proses Penetapan UMP/UMSP No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Alasan Agar buruh bisa memberikan masukan Agar buruh juga tahu tentang pengupahan Agar buruh tahu berapa kenaikan upah Agar buruh tahu bagaimana prosesnya Agar buruh tahu UU ketenaga kerjaan Agar pemerintah tahu kebutuhan buruh Agar pemerintah tidak sewenang-wenang Agar pengusaha tahu keluhan pekerja Agar tahu sistem pengupahan Agar tidak melenceng dari yang ada Agar upahnya sesuai dengan kebutuhan Agar mereka mengetahui kondisi buruh Belum cocok Biar buruh bisa memprotes dan menyetujui segala keputusan Biar kebijakan bisa adil Buruh yang merasakan kalau ujpah yang diterimanya tidak cukup Buruh punya hak untuk berbicara mengenai nasibnya 69

Buruh yang lebih mengetahui berapa kebutuhan hidupnya dalam sebulan Buruh yang mengalami akibat dari UMP/UMSP yang rendah Buruh yang mengalami akibat dari upah yang rendah Karena ada kerjasama buruh dengan pengusaha sehingga buruh perlu diminta pendapat mengenai upah 22. Karena buruh ingin lebih sejahtera 23. Karena selama gaji tidak mencukupi 24. Kepentingan buruh perlu diperjuangkan 25. Nasib buruh yang paling memprihatinkan 26. Sebagai buruh berhak menentukan gaji sendiri sesuai dengan pekerjaan 27. Sebagai karyawan ya harus ikut dilibatkan penentuan upah, biar tahu dan tidak ditipu 28. Selama ini buruh yang memberikan tenaga, maka buruh yang dapat mengukur kebutuhan yang diperlukan 29. Supaya seimbang antara keinginan pengusaha dan buruh Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Secara umum ada 29 alasan yang dikemukakan buruh tentang keterlibatan buruh dalam proses penetapan upah. Ada 4 alasan yang patut dicermati lebih dalam. Misalnya saja tentang alasan agar tidak melenceng dari yang ada. Alasan seperti ini tentunya punya dasar tersendiri dan riil dialami oleh buruh. Buruh melihat, proses penentuan kebijakan pengupahan (khususnya penetapan UMP/UMSP) selama ini dianggap melenceng atau tidak sesuai dengan mekanisme yang sebenarnya. Akhirnya, ketika proses atau mekanisme tersebut melenceng, maka kebijakan yang dihasilkan tentunya bukanlah kebijakan yang adil dan diharapkan bagi buruh. Ada beberapa level proses perumusan dan penetapan jumlah upah yang dianggap buruh sudah tidak sesuai lagi dengan aturan yang dalam undang-undang. 1. Pada level penentuan komponen personal dan institusi yang terlibat dalam DPD 2. Pada level investifasi atau riset jumlah harga kebutuhan pasar 3. Proses diskusi penetapan jumlah oleh DPD 4. Referensi atau dasar pertimbangan penentuan jumlah upah 5. Proses sosialisasi dan penetapan jumlah upah secara resmi oleh Gubernur atau Bupati/Walikota Buruh menganggap, pelencengan penerapan kebijakan pengupahan telah berlangsung pada tiap tahapan tersebut. Apalagi jika diketahui selama ini 70

18. 19. 20. 21.

bahwasannya posisi buruh selalu lemah dan dianggap lemah ketika berhadapan dengan kemampuan dan kapabilitas komponen DPD lainnya, seperti akademisi, asosiasi pengusaha dan pemerintah. Buruh sendiri mengakui bahwasannya terdapat keterbatasan kemampuan buruh –khususnya dalam memahami upah secara teoritis maupun dalam kaitannya dengan sistem ekonomi secara makro. Keterbatasan kemampuan buruh tersebutlah yang sering dimanfaatkan oleh komponen lainnya sehingga suara dan kepetingan buruh kurang terakomodir dalam proses perumusan jumlah UMP/UMSP. Konsekuensi dari lemahnya kapabilitas dan posisi buruh tersebut tentunya sangat besar mempengaruhi posisi tawar, sehingga dalam beberapa tahun, kenaikan upah yang diharapkan oleh buruh tidak pernah terrealisasi. Walaupun prinsip keterwakilan berimbang sudah diterapkan dalam institusi perumus pengupahan, namun secara kualitas posisi buruh masihlah sangat lemah, sehingga sering dikalahkan oleh kepentingan yang lebih besar dari komponen pengusaha dan pemerintah. Buruh juga melihat bahwasannya proses penentuan kebijakan pengupahan yang berlangsung selama ini mengandung unsur penipuan (alasan no 27). Untuk itu, buruh beranggapan, agar tidak terjadi proses penipuan, maka buruh harus dilibatkan. Alasan yang terakhir, ternyata buruh menginginkan adanya keseimbangan suara dalam proses penentuan upah. Satu hal yang pasti dari alasan seperti ini adalah, buruh menganggap elemen yang selama ini terlibat dalam proses kebijakan pengupahan tidak berlaku adil. Buruh menganggap proses yang berlangsung selama ini tidak benar-benar melihat kebutuhan buruh sehari-hari, sehingga jumlah upah yang ditetapkan selalu jauh berada dibawah kebutuhan buruh. Selain mengharapkan perlunya keterlibatan buruh dalam proses penetapan upah dan kebijakan pengupahan, terdapat juga jawaban yang sebaliknya, yakni tidak mengharapkan buruh untuk ikut dalam proses tersebut. Ada beberapa alasan yang dikemukakan buruh tentang itu. 1. 2. Buruh hanya bekerja, organisasi lain yang menentukan Karena pekerja tidak tidak mungkin menetapkan upah 71

3. 4. 5. 6. 7. 8.

Karena tidak mau digugat Namanya saja pekerja, kalau upahnya naik syukur, kalau tidak tidak apaapa Sebagai seorang yang bekerja itu bukanlah tugas kita atau hak kita netapan kebijakan UMP/UMSP Tidak ada gunanya Tidak ingin terlibat karena rumit Yang mengurus biar saja pemerintah dan pengusaha

Berdasarkan alasan yang dikemukakan oleh buruh tersebut, ada beberapa hal yang bisa dijadikan kesimpulan. Pertama, buruh melihat bahwasannya proses penentuan kebijakan pengupahan bukanlah kompetensi buruh. Selain karena dianggap sangat rumit, buruh juga menganggap bukanlah tugas buruh untuk mempengaruhi proses penentuan upah. Upah dalam aras kebijakan tidak menjadi bagian tugas buruh, untuk itu harus diserahkan saja kepada pemerintah dan pengusaha yang dianggap lebih mengerti. Pernyataan seperti ini sebenarnya dapat dipahami dalam dua artian. Pertama, terdapat buruh yang memang merasa bahwasannya buruh memang tidak pantas untuk dilibatkan dalam proses perumusan dan penetapan upah. Buruh merasa sadar bahwasannya kemampuan yang mereka miliki tidak adakan mampu membahas hal-hal diluar pekerjaan, untuk itu harus diserahkan kepada pihak lain yang dianggap lebih mengerti, seperti pemerintah dan pengusaha. Dengan kata lain, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa buruh merasa kurang percaya diri dan tidak akan bisa memahami hal-hal di luar kerja rutin yang mereka lakukan di pabrik. Kedua, pernyataan tersebut memiliki arti bahwasannya buruh merasa skeptis dan pesimis terhadap proses perumusan dan penetapan upah yang berlangsung saat ini yang sama sekali tidak pernah berpihak pada kepentingan buruh. Dengan kata lain, buruh sudah merasa bosan dengan kegagalan dan ketidakmampuan elemen buruh dalam mempengeruhi proses tersebut. Alasan seperti inilah yang sebenarnya lebih mendominasi keengganan buruh untuk terlibat dalam perumusan pengupahan. Berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh elemen buruh

72

untuk mempengaruhi tidak pernah terakomodir secara lebih proporsional, sehingga memunculkan rasa tidak percaya bagi buruh. Salah satu elemen yang dalam aturan proses penetapan upah adalah Serikat Buruh (SB). Tanggapan buruh tentang keterlibatan Serikat Buruh menunjukkan kondisi yang cukup positif. Positif dalam artian tingginya keinginan buruh untuk terlibat dalam proses perumusan dan penetapan UMP/UMSP. Tabel Serikat Buruh (SB) perlu dilibatkan pada proses penetapan kebijakan UMP/UMSP Jumlah % Ya 415 82,2 Tidak 44 8,7 Tidak menjawab 46 9,1 Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data Kuesioner Tabel di atas memperlihatkan bahwasannya keinginan buruh agar Serikat Buruh (SB) agar dilibatkan dalam proses penetapan upah sangatlah tinggi, yakni mencapai 415 orang (82,2%), sedangkan yang menyatakan tidak menyetujui adalah sebanyak 44 orang (8,7%) dari total responden buruh. Walaupun demikian (walau hanya sebahagian kecil), terdapat buruh yang tidak menyetujui keterlibatan buruh dalam proses penetapan upah. Buruh yang menjawab tidak perlu dilibatkan memiliki 2 (dua) alasan utama. Pertama, buruh tersebut tidak pernah menjadi dan memahami manfaat dari Serikat Buruh. Kedua, buruh tersebut tidak menemui ada organisasi buruh yang dapat dimasuki. Namun ada juga buruh yang tetap beranggapan bahwa urusan penetapan upah bukanlah menjadi tugas buruh, namun menjadi wewenang pemerintah dan elemen lain yang dianggap lebih memahami proses dan mekanisme perumusan dan penetapan upah. Jika dilihat penyebaran dari respon buruh terhadap tidak perlunya buruh dilibatkan dalam proses perumusan dan penetapan UMP/UMSP, terlihat

bahwasannya pernyataan tersebut tidaklah tergantung pada keanggotaan dalam Serikat Buruh. Bukan hanya buruh yang tidak menjadi anggota salah satu SB yang 73

memiliki persepsi negatif tentang hal tersebut, namun juga bagi buruh yang sudah menjadi anggota SB. Hal itu membuktikan bahwasannya keterlibatan keterlibatan dalam SB tidak menjadi penentu pandangan optimisme tentang peran buruh dalam proses perumusan dan penetapan UMP/UMSP. Bagi buruh yang menganggap keterlibatan Serikat Buruh diperlukan dalam proses penetapan upah, ada beberapa tahapan keterlibatan yang harus diintervensi oleh Serikat Buruh (SB). Tabel Respon Buruh dalam Tiap Tahapan Proses Penetapan UMP/UMSP Tahapan Proses penetapan Jawaban UMP/UMSP Ya Tidak Tahapan perencanaan 395 22 Tahapan pengumpulan data 371 76 Tahapan perumusan 366 28 Tahapan Penetapan 367 35 Tahapan Sosialisasi 365 28 Ket: Total Responden 505 orang dan sebahagian kecil responden ada yang tidak menjawab sama sekali. Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Tabel di atas memperlihatkan tingginya keinginan buruh agar SB terlibat dalam setiap tahapan penetapan upah sangatlah tinggi. Jika didasarkan pada respon responden buruh tentang sudah tepatnya proses penetapan UMP/UMSP, maka menjadi masuk akal keinginan buruh untuk diikutsertakan dalam setiap proses penetapan upah. Jika dikaitkan respon buruh tersebut terhadap keanggotaan SB, maka dapat dilihat bahwasannya asumsi terdapatnya pengaruh antara keterlibatan buruh dalam SB mempengaruhi respon perlunya buruh dilibatkan dalam proses perumusan dan penetapan upah adalah benar. Hal itu dapat dlihat dari besarnya responden yang menjadi anggota SB yang menyatakan perlunya SB dilibatkan dalam proses perumusan dan penetapan UMP/UMSP. Hal itu bisa dipahami dikarenakan buruh

74

yang telah ikut serikat buruh memiliki pemahaman pemahaman lebih dari buruh yang tidak ikut dalam SB dalam hal manfaat dan fungsi dari organisasi.
Tabel Respon Buruh Tentang Perlunya Dilibatkan dalam Proses Perumusan dan Penetapan Kebijakan UMP/UMSP Berdasarkan Keanggotaan SB

Keanggotaan SB (serikat buruh)

SPSI SBSI PPMI SBMI Lainnya Bukan anggota SB tidak ada SB di Perusahaan Total

Serikat buruh perlu dilibatkan pada proses penetapan kebijakan UMP/UMSP Ya Tidak Tdk menjawab 128 13 6 25 2 2 1 2 167 4 14 18 1 50 20 25 4 1 8 393 41 57

T otal

148 29 3 185 19 95 13 492

Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Sebagai wadah penyalur kepentingan dan harapan buruh, keberadaan serikat buruh menjadi penting ketika secara individual, maupun dalam kelompok kecil upaya tuntutan kenaikan upah dan berbagai tuntutan hak normatif lainnya sulit untuk dicapai. Buruh yang sudah tergabung dengan serikat buruh dapat memahami bahwasannya tuntutan yang disalurkan melalui serikat buruh akan membawa hasil yang lebih baik dibandingkan jika melakukan tuntutan secara individual. Khususnya bagi buruh yang tergabung dalam SPSI, mereka tidak membedakan pada tahapan mana prioritas keterlibatan SB harus lebih besar. Walaupun ada perbedaan jumlah responden yang menjawab namun secara statistikal, perbedaan tersebut tidak besar, sehingga dapat disimpulkan bahwasannya anggota SPSI menginginkan peran serikat buruh pada setiap level proses perumusan dan penetapan jumlah upah. Demikian juga dengan responden buruh yang berasal dari SBSI dan SBMI memiliki harapan yang

75

besar jika SB dilibatkan dalam setiap tahapan proses perumusan dan penetapan UMP/UMSP. Harapan dan kepentingan buruh tersebut cukup beralasan jika dikaitkan dengan respon buruh tentang sudah tepat atau tidaknya proses perumusan dan penetapan UMP/UMSP yang dijalankan oleh institusi yang berwenang dalam kebijakan pengupahan di daerah. Tabel Proses Penetapan UMP/UMSP Sudah Tepat Respon Valid Jumlah 2 85 251 157 10 % 0,4 16,8 49,7 31,1 2,0 Cumulative % 0,4 17,2 66,9 98,0 100,0

Ya Tidak Tidak tahu tidak menjawab Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner

Selama ini buruh merasa tidak puas dengan hasil proses penetapan upah yang sudah dijalankan oleh pemerintah. Walaupun elemen serikat buruh (dalam hal ini SPSI dan SBSI) sudah dilibatkan, namun tetap saja buruh merasa hasilnya kurang memuaskan kepentingan dan harapan buruh. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh buruh yang menjawab proses penetapan upah belum tepat, antara lain adalah;

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Adanya keberpihakan yang tidak menguntungkan buruh Tidak adanya kompromi terhadap buruh tentang proses perumusan dan penetapan upah Keterwakilan buruh di DPD yang hanya diwakilkan buruh hanya diwakilkan segelintir orang Tidak validnya pengumpulan data dan proses survey pada lapisan paling bawah Adanya tindakan KKN dalam proses perumusan dan penetapan upah Masih jauhnya jumlah upah yang ditetapkan dibandingkan dengan kebutuhan buruh untuk hidup layak. Masih kecilnya pelibatan buruh dibandingkan peran yang dijalankan oleh pemerintah dan pengusaha.

76

Sebahagian besar buruh yang berpendapat kurangtepatnya proses penetapan upah adalah yang terlibat dalam Serikat Buruh. Hal ini menjadi satu kesimpulan bahwasannya menjadi anggota dalam serikat buruh dapat membantu memahami dan meningkatkan kekritisan buruh tentang kebijakan upah. Sebahagian besar responden buruh yang terlibat dalam serikat buruh menyatakan ketidakpuasannya terhadap proses perumusan dan penetapan UMP/UMSP yang berlangsung selama ini. Namun ada pengecualian untuk buruh yang berasal dari SPSI. Jika sebahagian besar buruh dari SBMI dan SBSI lebih banyak yang menyatakan ketidakpuasannya, ternyata setengah responden buruh dari SPSI menyatakan proses perumusan dan penetapan jumlah UMP/UMSP sudah tepat. Jika ditelusuri lebih jauh, ada satu hal yang diasumsikan menjadi penyebab respon tersebut. Salah satunya adalah keterlibatan komponen SPSI yang sebenarnya sudah cukup besar dalam institusi DPD. Selama institusi DPD berdiri keterlibatan SPSI memang sudah sangat besar. Sebagai sebuah organisasi pekerja/buruh yang didirikan oleh pemerintah, SPSI mengklaim sebagai serikat pekerja/buruh yang memiliki anggota terbesar, sehingga keterlibatan dalam proses perumusan dan penetapan kebijakan upah harus lebih besar dibandingkan dengan serikat buruh lainnya. Diakibatkan oleh besarnya keterlibatan itulah yang menyebabkan respon buruh SPSI terhadap proses perumusan dan penetapan upah menjadi lebih positif dibandingkan dengan serikat buruh lainnya.

77

KONDISI TEMPAT TINGGAL BURUH
Data tempat tinggal buruh adalah berisi tentang realitas kondisi tempat tinggal sehari-hari buruh. Pada umumnya tempat tinggal buruh masih sangat jauh dari kondisi ideal. Parameter utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah parameter fisik, karena dengan demikian akan terlihat bagaimana nantinya dengan upah dan pendapatan yang ada buruh dapat memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggalnya. Melalui realitas kondisi tempat tinggal tersebut dapat digambarkan bagaimana sebenarnya upah yang diterima buruh selama bekerja dapat memenuhi kebutuhan untuk membangun dan membiayai tempat tinggal. Penggambaran tersebut akan lebih jelas melihat bagaimana kesejahteraan buruh dari sisi tempat tinggalnya, selain berdasarkan pemenuhan kebutuhan pokok semata. Tempat tinggal buruh berdasarkan kepemilikan rumah dapat dilihat pada tabel berikut ini. Pada tabel ini, pada umumnya buruh tinggal di ruang kost, yakni mencapai 30,3%, sedangkan yang sudah memiliki rumah sendiri sebanyak 140 orang (27,7%) dan yang mengontrak rumah adalah juga sebanyak 140 orang. Jumlah buruh yang masih tinggal di rumah orang tua tidak terlalu banyak, yakni 12,3%, sedangkan yang tinggal di tempat-tempat yang disediakan perusahaan hanya 6 orang. Tabel Status kepemilikan rumah yang ditempati Status rumah sendiri Kontrak Kost Menumpang orang tua Disediakan perusahaan lain-lain Total Jumlah 140 140 153 62 6 % 27,7 27,7 30,3 12,3 1,2

4 0,8 505 100,0

78

Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Besarnya jumlah buruh yang memiliki rumah sendiri tersebut tentunya merupakan satu hal yang luarbiasa. Namun jika dilihat sumber kepemilikan rumah tersebut, ternyata sebahagian besar adalah warisan dari orang tua. Hal itu menunjukkan, bahwasanya bukanlah kemampuan buruh yang berasal dari upah-lah yang mendorong kemampuan buruh. Dari angka 140 orang (27,7%) dari total responden buruh tersebut, ternyata 58 orang mendapatkannya dari warisan orang tua, sedangkan 53 orang dibangun sendiri, 7 orang mendapatkan rumah dengan cara mencicil, dan 2 orang mendapatkannya dari perusahaan. Tabel Cara Mendapatkan Rumah Milik Sendiri Jumlah % Valid Cumulative Percent Percent 76,2 76,2 11,5 87,7 1,4 89,1 10,5 99,6 04 100,0 100,0

385 76,2 Warisan 58 11,5 cicilan/kredit 7 1,4 dibangun sendiri 53 10,5 diberi oleh 2 0,4 perusahaan Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner

Tetap saja angka tersebut dianggap belum menunjukkan kondisi buruh yang sebenarnya. Dari sisi kondisi tempat tinggal, biasanya buruh tinggal di sekitar kawasan industri yang sudah lebih baik kondisi permukimannya. Jadi, walaupun fasilitas kamar, WC, air dan listrik sudah tersedia, namun itu bukan fasilitas tersendiri yang diperoleh dari kemampuan upah buruh. Pada umumnya buruh tinggal di ruang kost secara bersama-sama oleh beberapa orang sekaligus (3-4 orang untuk satu kamar). Dari data yang diperoleh, ukuran kamar buruh sudah cukup memadai. Dari seluruh 470 buruh yang mengisi jawaban ukuran kamar tidur, 187 orang tinggal di kamar berukuran 3x 3 meter, sedangkan yang lainnya sebanyak 96 orang tinggal di kamar berukuran 3x4.

79

Sudah dibuktikan bahwasannya kepemilikan sendiri tempat tinggal tidak menjadi indikasi dari kemampuan buruh. Sebahagian besar memperolehnya dari warisan. Fakta seperti itu juga semakin jelas berdasarkan hasil pengujian antara masa kerja dan status kepemilikan rumah. Hasil korelasi menunjukkan negatif. Artinya, hubungan antara masa kerja bersifat terbalik terhadap status kepemilikan rumah. Semakin panjang masa kerja seorang buruh, maka kecenderungan untuk lebih layak dalam hal tempat tinggal semakin rendah. Buruh yang sudah lama bekerja, belum tentu akan semakin baik status kepemilikan tempat tinggal. Bahkan kecenderungan yang muncul adalah, semakin lama buruh bekerja, semakin kurang baik atau kurang mapanlah kepemilikan buruh atas tempat tinggal. Kecenderungan negatif antara masa kerja dengan status kepemilikan tempat tinggal juga terbukti jika didasarkan pada usia. Seperti yang disebutkan sebelumnya, usia berkorelasi dengan masa kerja. Semakin tua usia buruh, maka semakin panjang jugalah masa kerja yang dijalani. Hasil pengujian membuktikan, semakin tua usia buruh, maka buruh cenderung tidak mapan dalam hal kepemilikan tempat tinggal. Hal ini tentunya menunjukkan adanya kecenderungan yang negatif, berlawanan dengan beberapa prinsip beberapa komponen upah dimana masa kerja menjadi salah satu pertimbangan meningkatnya jumlah upah. Semakin lama buruh bekerja di sebuah perusahaan, ternyata tidak menjamin buruh untuk lebih sejahtera. Salah satu ukurannya kesejahteraan tersebut adalah kepemilikan tempat tinggal sendiri. Buruh yang sudah bekerja puluhan tahun ternyata tidak berhubungan dengan kemandirian kepemilikan rumah. Sebahagian buruh yang sudah berusia tua malah tidak lebih mandiri dan mapan dibandingkan dengan buruh yang masih tergolong dewasa dan muda. Namun dari sejumlah buruh golongan usia muda dan dewasa, sebahagian besar memperolehnya dari hasil warisan keluarga, sedangkan yang mendapatkannya dari cicilan/kredit, membangun sendiri, dan diberi perusahaan sangat sedikit. Hal ini membuktikan bahwasannya kemampuan buruh, baik yang dalam golongan usia muda, dewasa dan tua tidaklah murni.

80

81

Tabel Tabulasi Silang Antara Golongan Umur dengan Cara Mendapatkan Rumah Sendiri Golongan umur Dewasa muda Tua 32 44 2 7 7 1 27 9 15 1 61 18 Tot al 78 15 51 1 145

Warisan Cara mendapatkan cicilan/kredit rumah milik dibangun sendiri sendiri diberi oleh perusahaan Total 66 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner

Dalam proses perumusan jumlah UMP/UMSP, salah satu item yang dijadikan landasan oleh komponen DPD dalam menentukan jumlah upah yang akan diberlakukan dalam satu tahun adalah pengeluaran sewa rumah dalam satu bulan. Ukuran seperti itu tentunya sama sekali tidak memperhitungkan dari sisi luas, kualitas maupun lokasi dari rumah tinggal ataupun ruang kost yang ditempati. Dengan kata lain, ukuran yang digunakan oleh pemeritah dalam menetapkan jumlah upah sama sekali tidak menggunakan standar khusus yang lebih spesifik tentang kualitas, luasan, bentuk, maupun hal-hal lain yang lebih layak bagi tempat tinggal buruh. Berdasarkan hubungan antara usia dan masa kerja dengan status kepemilikan tempat tinggal dapat dilihat bahwasannya point sewa rumah yang terdapat dalam komponen upah tidaklah mampu memberdayakan buruh untuk mampu membeli, maupun mencicil rumah. Jika memang komponen sewa rumah tersebut selama ini diterapkan, dari sisi jumlah jelas sangat tidak memungkinkan buruh untuk memiliki rumah sendiri. Upah yang diberikan selama ini hanya cukup untuk membiayai sewa rumah dengan kondisi yang seadanya. Buruh yang sudah bekerja dalam waktu yang cukup lama tentunya punya kemampuan lebih dibandingkan buruh yang baru satu atau 4 tahun bekerja di perusahaan. Tapi kenyataannya sama sekali tidak memungkinkan bagi buruh untuk menyisihkan upah yang diterima untuk menyimpan sejumlah uang bagi persiapan membangun atau mencicil pembelian rumah.

82

Sebahagian besar buruh (50,1%) menyatakan kurang dan 28,3% menyatakan upah tidak cukup untuk ditabung (lihat lampiran). Antara buruh yang bekerja kurang dari 1 tahun, antara 1 sampai 4 tahun dan lebih dari 4 tahun

83

PERSEPSI BURUH TENTANG UPAH
Konsepsi persepsi berkaitan dengan berbagai aspek kognitif maupun afektif dari buruh. Pengetahuan, pemahaman, pengalaman buruh tentang upah merupakan aspek kognitif. Artinya, yang lebih banyak mempengaruhi adalah perhitungan secara rasional tentang bagaimana upah yang diterima buruh dapat memenuhi beberapa kebutuhan. Sedangkan aspek afektif adalah yang terkait dengan sisi emosional buruh tentang bagaimana kecukupan upah bagi kehidupan buruh. Namun tidaklah mungkin untuk menyajikan respon tersebut secara terpisah, karena dalam membentuk persepsi, dua aspek tersebut saling pengaruh-mempengaruhi sehingga memunculkan suatu pandangan tentang upah. Terdapat 6 item yang digunakan dalam penelitian ini untuk melihat persepsi buruh tentang upah dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan hidup. Upah dapat memenuhi kebutuhan makan keluarga/bulan Berdasarkan upah yang diterima buruh, sebahagian besar buruh menyatakan bahwasannya upah yang diterima sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga dalam satu bulan. Tabel Persepsi Upah dalam Memenuhi Kebutuhan Makan Keluarga Jumlah % Lebih 5 1,0 Cukup 342 67,7 Kurang 152 30,1 sangat kurang 6 1,2 Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Jika respon di atas dikorelasikan dengan kategori upah yang diterima oleh buruh, maka dapat dilihat bahwasannya buruh yang sebahagian besar menyatakan upah 84

cukup memenuhi kebutukan makan keluarga adalah yang menerima upah sesuai dengan UMP yang diberlakukan pada tahun 2003. Namun juga tidak dipungkiri terdapat juga responden buruh yang masuk dalam kategori upah di bawah UMP, namun menyatakan upah yang diterima sudah cukup memenuhi kebutuhan makan. Tabel Persepsi Pemenuhan Kebutuhan Makan Berdasarkan Kategori Upah Upah dapat memenuhi kebutuhan makan keluarga/bulan (persepsi tentang upah) lebih cukup kurang sangat kurang <UMP 38 19 UMP 5 299 132 6 layak 5 1 5 342 152 6 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner kategori upah Total

57 442 6 505

Dengan kata lain, untuk kebutuhan dasar, 67,7% dari total responden menyatakan cukup. Hanya sebahagian kecil saja, yakni 1% yang menyatakan lebih. Namun dari data tersebut dapat dilihat bahwa tidaklah sedikit buruh yang menyatakan upah yang diterima kurang memenuhi kebutuhan makan keluarga dalam satu bulan. Upah dapat memenuhi kebutuhan pakaian keluarga/bulan Ketika upah yang diterima dipertanyakan kecukupannya untuk memenuhi kebutuhan lainnya, yakni kebutuhan pakaian, terlihat sudah semakin sedikit yang menyatakan upah sudah mencukupi. Tabel Persepsi Upah Dalam Memenuhi Kebutuhan Pakaian Keluarga Jumlah % lebih 2 0,4 cukup 191 37,8 kurang 299 59,2 sangat kurang 13 2,6 Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner 85

Dari total responden, hanya 191 orang yang menyatakan cukup, sedangkan lebih dari setengah (59,2%) buruh menyatakan kurang, dan 13 orang menyatakan sangat kurang. Hal ini menunjukkan, upah yang diterima buruh sudah semakin sedikit kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan sandang. Semakin kebutuhan bergeser ke arah diluar sekedar kebutuhan makan, maka terlihat kemampuan buruh semakin rendah. Memang untuk mengukur respon buruh tersebut akan sangat sulit. Namun respon buruh tersebut menunjukkan bahwasannya kemampuan buruh untuk memenuhi kebutuhan pakaian keluarga menjadi semakin lemah. Memang terdapat juga sejumlah buruh yang menyatakan upah sudah mencukupi dalam memenuhi kebutuhan untuk membeli pakaian. Namun jika dijabarkan lebih dalam arti dari cukup tersebut sebenarnya sungguh jauh dari mampu. Alokasi uang yang dibelanjakan oleh buruh untuk membeli pakaian masih terlalu kecil dibandingkan harga pakaian dan sandang lainnya yang semakin lama harganya semakin tinggi. Dibandingkan dengan prioritas kebutuhan lainnya, kebutuhan untuk membeli pakaian ditempatkan pada posisi belakangan, sebab masih banyak kebutuhan lain dari buruh yang sangat mendesak. Respon buruh tentang pemenuhan kebutuhan pakaian tersebut tidak terlalu berbeda antara buruh perempuan dan laki-laki. Walaupun sedikit ada perbedaan dimana respon buruh laki-laki lebih baik daripada perempuan, hal itu dilandasi oleh kebutuhan buruh laki-laki akan pakaian yang sedikit lebih sederhana dibandingkan buruh perempuan. Buruh laki-laki hanya membutuhkan beberapa potong kemeja dan celana panjang dalam satu tahun, sedangkan kebutuhan buruh perempuan lebih rumit dari itu. Buruh perempuan tidak sekedar membutuhkan pakaian penutup tubuh semata, namun juga harus mempertimbangkan aspek estetika dan kecantikan yang harus dipenuhi dalam memenuhi kebutuhan akan pakaian. Tabel Upah Dapat Memenuhi Kebutuhan Pakaian Keluarga/bulan Berdasarkan Jenis Kelamin dan Status Kawin

86

Status kawin

Upah dapat memenuhi kebutuhan pakaian keluarga/bulan (persepsi tentang upah)

Jenis kelamin Total laki-laki perempuan 1 53 25 97 52 5 155 78 1 45 68 49 101 3 5 98 174

Lebih Cukup kawin Kurang sangat kurang Total Lebih Cukup belum Kurang kawin sangat kurang Total Sumber: Hasil pengolahan data kuesiner

1 78 149 5 233 1 113 150 8 272

Jika didasarkan pada jenis kelamin dan status kawin, respon buruh tentang upah untuk memenuhi kebutuhan pakaian keluarga dalam satu bulan cenderung tidak berbeda. Pada buruh laki-laki yang sudah kawin sebahagian besar menyatakan upah kurang mampu memenuhi kebutuhan pakaian. Hal ini disebabkan tanggungjawab yang lebih besar dari buruh laki-laki sebagai suami, sehingga ia lebih memahami bagaimana ketidakmampuan upah yang diterima dalam mencukupi kebutuhan akan sandang atau pakaian. Untuk buruh yang belum menikah, respon negatif cenderung didominasi oleh buruh perempuan. Walaupun tidak secara total buruh perempuan menyatakan upah sangat minim dalam memenuhi kebutuhan pakaian, namun jumlah tersebut menjadi salah satu indikator bahwasannya kemampuan sebahagian besar buruh perempuan lajang sangatlah rendah dalam memenuhi kebutuhan pakaian.

Upah dapat memenuhi kebutuhan sewa/bulan rumah Respon tentang kemampuan upah dalam memenuhi kebutuhan sewa rumah juga tidak jauh berbeda dengan respon sebelumnya. Walaupun tidak seluruh responden buruh menjawab pertanyaan tersebut, namun dari 318 reponden, 229 orang

87

menyatakan upah yang diterima sudah cukup memenuhi kebutuhan sewa rumah, sedangkan 87 orang menyatakan kurang, dan hanya 2 orang yang menyatakan lebih. Tabel Persepsi Upah dalam Memenuhi Kebutuhan Sewa Rumah Resp Jumlah % on 187 37,0 Lebih 2 ,4 Cukup 229 45,3 Kurang 87 17,2 Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Upah Dapat Memenuhi Kebutuhan Uang Transport/bulan Keluarga Data pada tabel di bawah menunjukkan bahwasannya buruh yang menyatakan upah buruh masih dirasakan kurang untuk memenuhi pembiayaan transportasi cukup besar, yakni mencapai 40,6%, sedangkan yang menyatakan sangat kurang hanya 2,4%. Kebutuhan transportasi bagi buruh tergolong vital. Selain butuh biaya untuk pergi ke tempat kerja, buruh juga butuh sejumlah uang yang diperoleh dari upah untuk membiayai mobilitas untuk kepentingan lain, seperti rekreasi, mengunjungi keluarga dan mengikuti aktivitas sosial lainnya. Tabel Persepsi Responden Terhadap Upah dalam Memenuhi Kebutuhan Transport Respon Jumlah % Tidak 119 23,6 menjawab Cukup 169 33,5 Kurang 205 40,6 sangat kurang 12 2,4 Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Fakta di atas memang tidak menunjukkan kondisi ekstrim. Perbandingan antara buruh yang merespon negatif dengan yang cenderung menilai upah sudah cukup memenuhi kebutuhan transportasi tidak terlalu jauh. Alokasi biaya yang dikeluarkan oleh buruh untuk transportasi dalam satu bulan biasanya antara Rp.30.000,- sampai 88

dengan Rp.70.000,-. Untuk beberapa buruh yang tinggal berdekatan dengan lokasi pabrik, tentunya biaya transportasi yang harus dikeluarkan lebih kecil dibandingkan dengan buruh yang tempat tinggalnya jauh dengan tempat kerja. Sedangkan pada saat ini, pihak perusahaan sering sekali mengambil buruh dari kawasan-kawasan tertentu yang sangat jauh dari lokasi pabrik. Padahal, tidak semua perusahaan menyediakan transportasi khusus bagi buruh masing-masing. Pada beberapa perusahaan yang menyediakan jasa bis bagi buruhnya, sebahagian besar biaya transportasi dikenakan kepada buruh. Sangat jarang terdapat perusahaan yang secara gratis menyediakan pelayanan transportasi dari lokasi pabrik ke tempat tinggal buruh. Salah satu pola yang digunakan oleh perusahaan adalah melakukan pemotongan dari gaji buruh. Untuk buruh yang lokasi tempat tinggalnya sangat jauh dari kawasan pabrik, maka tidak ada pilihan selain merelakan sebahagian gajinya dipotong. Rata-rata untuk buruh yang lokasi tempat tinggalnya jauh, jumlah uang yang dipotong dari upah antara Rp.60.000,- sampai dengan Rp.70.000,-. Jumlah tersebut tentunya sangat memberatkan buruh. Jika dalam satu bulan buruh menerima upah sebesar Rp.600.000,- maka sisa upah yang diterima oleh buruh setelah dipotong biaya transportasi adalah sebesar Rp.530.000,- sampai dengan Rp.540.000,-. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan oleh buruh untuk aktivitas lain diluar aktivitas kerja. Padahal, buruh juga butuh melakukan aktivitas lain diluar kegiatan kerja, seperti mengunjungi keluarga, rekreasi, berbelanja, dan berbagai aktivitas lain yang membutuhkan alat transportasi.

89

Upah Dapat Memenuhi Kebutuhan Biaya Sosial Sebahagian responden buruh (53,9%) sudah menikah, sedangkan sisanya adalah buruh lajang. Bagi masyarakat yang masih memegang nilai tradisi budaya. Dari segi etnis, 28,3% responden adalah Batak Toba, dan yang terbesar adalah etnis Jawa, yakni sebesar 46,5% disusul suku Karo, Mandailing, Melayu dan berbagai suku lain. Bagi suku Batak Toba yang sudah menikah, maka akan diikuti oleh konsekuensi sosial budaya yang cukup besar. Jika seorang keluarga buruh Batak Toba yang sudah menikah, maka akan muncul keharusan untuk mengikuti aktivitas sosial budaya, jika tidak maka akan berimplikasi secara negatif kehidupan keluarga tersebut. Demikian juga dengan suku lain, seperti Jawa, Mandailing, Karo dan sebagainya. Ada tuntutan bagi seseorang yang sudah berkeluarga untuk mengikuti berbagai aktivitas tradisional. Aktivitas tradisi tersebut bukan hanya bersifat memaksa kepada seseorang yang sudah berkeluarga, namun juga merupakan satu strategi bagi buruh untuk tetap bertahan dikala sulit. Keluarga besar dan ikatan kesukuan merupakan satu jaringan penting yang harus tetap dibangun dan dapat dijadikan jaminan sosial buruh dan keluarga buruh. Untuk itu aktivitas sosial menjadi satu kegiatan penting yang harus dilakukan, dan itu memerlukan biaya yang tidak kecil. Tabel Persepsi Buruh Tentang Upah dalam Memenuhi Kebutuhan Biaya Sosial Jumlah % 51 10,1 cukup 145 28,7 kurang 278 55,0 sangat kurang 31 6,1 Total 505 100,0 Sumber: hasil pengolahan data kuesioner Berdasarkan tabel di atas, sebahagian besar responden buruh menyatakan pengeluaran yang dialokasikan untuk kebutuhan biaya sosial tidaklah cukup jika berasal dari upah. Hanya sebahagian kecil saja yang menyatakan upah yang diterima

90

dalam satu bulan bisa menutupi kebutuhan buruh untuk melakukan aktivitas sosial. Ada berbagai aktivitas sosial yang dalam satu bulan harus dilakukan. Bagi buruh yang sudah berkeluarga tuntutan tersebut akan semakin besar dibandingkan buruh lajang. Buruh yang sudah berkeluarga dituntut untuk tetap melakukan interaksi sosial yang lebih intensif, seperti menghadiri pesta perkawinan, upacara kematian, bergabung dengan kelompok persaudaraan, komunitas lingkungan dan hajatan lainnya. Sedangkan bagi buruh yang masih lajang tuntutan tersebut lebih berkurang. Namun bukan tidak ada sama sekali. Buruh lajang juga sering menghadiri beberapa kegiatan sosial sebagai bentuk solidaritas dan kohesi mereka pada komunitas dimana buruh hidup.
Tabel Upah dan Kebutuhan Biaya Sosial Berdasarkan Status Kawin dan Kategori Upah

Status kawin

Upah dapat memenuhi kebutuhan biaya sosial (persepsi tentang upah) Cukup Kurang sangat kurang Tidak menjawab Total Cukup Kurang Sangat kurang Tidak menjawab Total

Kategori upah <UMP UMP 2 61 13 115 1 15 1 20 17 211 10 71 22 4 4 40 123 11 26 231 layak 1 4 5 1 1

Total

kawin

belum kawin

64 132 16 21 233 81 146 15 30 272

Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner

91

Tabel di atas memperlihatkan bahwasannya pada satu sisi, sebahagian besar buruh menyatakan upah memang kurang dapat memenuhi kebutuhan biaya sosial. Hal itu dialami bukan saja oleh buruh yang upahnya masih berada di bawah UMP sebesar Rp.505.000 (UMP tahun 2003), namun juga oleh buruh yang upahnya sudah sesuai standar upah minimum. Hal itu menandakan bahwasannya sebenarnya tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan antara buruh yang upahnya sudah sesuai dengan UMP ataupun yang masih berada di bawah upah minimum. Ada satu realita penting yang juga dilihat dari tabel tersebut. Pertama, bukan hanya buruh yang sudah menikah saja yang butuh merasakan kecilnya kemampuan untuk mengikuti kegiatan sosial berdasarkan jumlah upah yang ada, namun juga hal itu dirasakan oleh buruh yang masih lajang. Bahkan, jumlah buruh yang lajang yang menyatakan kurangnya upah untuk membiayai kebutuhan sosial lebih besar dari buruh yang sudah menikah. Dengan demikian, asumsi yang menyatakan bahwasannya kegiatan sosial hanya diwajibkan pada buruh yang sudah menikah, namun juga oleh buruh yang masih lajang. Tentunya, buruh lajang memiliki alasan tersendiri sehingga memberi respon seperti itu.

Upah dapat memenuhi kebutuhan biaya rekreasi Bagi buruh yang sudah penat dan lelah bekerja dalam kurun waktu tertentu, rekreasi merupakan sebuah pilihan paling sederhana untuk menghilangkan kejenuhan maupun kepenatan buruh. Untuk dapat berrekreasi, tentunya dibutuhkan sejumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh buruh ataupun keluarga buruh. Sebahagian besar responden buruh menyatakan bahwasannya upah memang kurang bisa andalkan untuk membiayai kegiatan rekreasi. Tabel Persepsi Buruh Tentang Upah dalam Memenuhi Kebutuhan Biaya Rekreasi Respon cukup Jumlah 43 88 % 8,5 17,4 92

kurang 345 68,3 sangat kurang 29 5,7 Total 505 100,0 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner Bagi buruh yang masa kerjanya masih di bawah 1 tahun, 1 sampai dengan 4 tahun ataupun di atas 4 tahun sama-sama memberi respon negatif tentang kondisi ini. Sebahagian besar buruh menyatakan upah kurang dapat memenuhi kebutuhan akan rekreasi. Keterbatasan tersebut bukan hanya dialami oleh buruh yang sudah menerima upah sesuai UMP, namun juga oleh buruh yang masih menerima di bawah upah minimum. Buruh yang sudah bekerja lebih dariu 4 tahun juga tetap merasakan bahwasannya upah yang diterima selama ini kurang mampu membiayai aktivitas rekreasional buruh. Lamanya masa kerja buruh tidak menjamin dipenuhinya kebutuhan untuk menghilangkan sejenak kejenuhan dan kepenatan bekerja. Tabel Upah Dapat Memenuhi Kebutuhan Biaya Rekreasi Kategori masa kerja <1 tahun Upah dapat memenuhi kebutuhan biaya rekreasi Cukup Kurang sangat kurang Total Cukup Kurang sangat kurang Total Cukup Kurang sangat kurang Kategori upah <UMP UMP LAYAK 4 17 1 1 2 1 24 8 44 23 149 2 4 11 1 16 36 220 2 1 31 15 135 4 2 11 2 21 20 198 4 Total 4 17 1 3 25 52 174 15 17 258 32 154 13 23 222

1-4 tahun

> 4 tahun

Total Sumber: hasil pengolahan data kuesioner

93

Ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari realitas di atas. Pertama, untuk pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makan, pakaian, dan sewa rumah, sebahagian besar buruh lebih banyak yang menyatakan cukup. Upah yang selama ini didasarkan pada kebutuhan hidup minimum (KHM) sudah dapat memenuhi beberapa kebutuhan dasar. Walaupun demikian, terdapat juga buruh yang menyatakan, upah yang diterima selama ini kurang, dan sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun ketika kebutuhan sudah beranjak pada komponen kebutuhan sosial dan rekreasi, terlihat lebih banyak buruh yang menyatakan kurang dan kurang cukup.

PENGELUARAN DAN PENDAPATAN BURUH
Pengeluaran Ada beberapa item yang masuk dalam kategori pengeluaran buruh. Data yang diperoleh dalam pendekatan survey dianggap kurang dapat menggambarkan pengeluaran buruh secara riil setiap bulannya. Melalui proses FDG dengan beberapa kelompok buruh di beberapa zona, maka dapat digambarkan pola pengeluaran buruh secara lebih jelas. Variasi pengeluaran buruh lajang laki-laki dan perempuan terlihat cukup besar. Pengeluaran beberapa buruh lajang cukup besar, bahkan hampir menyamai pengeluaran buruh yang sudah berkeluarga. Secara umum ada 19 item pengeluaran rutin yang harus dikeluarkan oleh buruh lajang, yakni; Tabel Jenis Pengeluaran Rutin Buruh Lajang 1 2 3 4 5 6 7
Makan

sewa rumah transport ketempat kerja iuran organisasi, jamsostek Rokok kosmetik (untuk perempuan) peralatan mandi

11 12 13 14 15 16 17

listrik,air komunikasi salon (perempuan) kondom/alat kontrasepsi biaya kesehatan biaya rekreasi angsuran/kredit 94

8 9 10

pembalut (perempuan) Pakaian jula-jula

18

tabungan setiap bln

Rata-rata pengeluaran buruh laki-laki dan perempuan terlihat cukup bervariasi. Ada beberapa buruh lajang laki-laki yang pengeluarannya cukup besar sehingga hampir menyamai buruh yang sudah berkeluarga. Misalnya saja pengeluaran buruh bernama Hotdianto. Setiap bulannya, ia harus menghabiskan uang sebanyak Rp.848.610,-. Jika dilihat komposisi pengeluarannya tersebut, maka terlihat bahwasannya pengeluaran Hotdianto paling besar ternyata adalah untuk membayar hutang. Diakibatkan oleh tidak mencukupinya upah yang diterima oleh Hotdianto, maka ia harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam satu bulan. 1. makan 2. Sewa rumah 3. Listrik dan air 4. transport 5. Jula-jula 6. Pakaian 7. Odol/sikat gigi 8. Sosial 9. Kredit/utang 10. Iuran SBMI 11. Jamsostek Jumlah Rp 150.000 Rp 40.000 Rp 10.000 Rp 25.000 Rp 200.000 Rp 150.000 Rp 25.000 Rp 100.000 Rp 210.000 Rp 2500 Rp 11.110 Rp 848.610 17,67%

23,5%

24,7%

95

Rata-rata Pegeluaran Buruh Setiap Bulan Pengeluaran rutin dalam satu bulan tentunya tidak akan bisa menggambarkan relitas kebutuhan buruh yang sebenarnya. Ada banyak hal yang muncul setiap hari yang membebani biaya pengeluaran buruh. Tabel Rata-rata total pengeluaran buruh berdasarkan jenis kelamin Jenis kelamin Laki-laki Rata-rata (Rp) Rp. 570.000,-

Perempuan Rp. 568.800,Total Rp. 1.138.800,Sumber: Diolah dari data FGD Untuk buruh yang sudah berkeluarga dan atau yang memiliki tanggungan lainnya, tentunya pengeluaran per bulan akan semakin besar jumlahnya. Bagi buruh yang sudah berkeluarga secara otomatis beberapa item pengeluaran, dari sisi kualitas maupun kuantitasnya akan bertambah. Misalnya, untuk yang sudah berkeluarga

namun belum memiliki anak, maka akan dibutuhkan biaya lainnya, seperti penambahan biaya kesehatan, makan, biaya sosial (pesta dan resepsi) dan berbagai kebutuhan lainya. Tentunya bagi keluarga buruh yanag sudah memiliki anak beban pengeluaran akan semakin besar. Biaya pengasuhan satu anak minimal dibutuhkan biaya antara Rp.80.000 sampai dengan Rp.200.000,- per bulan. Tentunya itu merupakan hitungan minimal. Sebuah keluarga buruh tidak hanya memberikan makan dan minum saja kepada anak. Kebutuhan akan kesehatan dan penambahan gizi bagi anak sudah harus diperhatikan pula. Jika seorang buruh menghabiskan uang Rp.150.000 per bulannya untuk makan, maka jika sudah berkeluarga pengeluaran untuk makan akan bertambah dua kali lipat.

96

Seorang buruh yang belum berkeluarga juga belum tentu tidak memiliki tanggungan sama sekali. Terdapat beberapa buruh yang masih sendiri ternyata harus membiayai kebutuhan saudaranya. Biaya yang biasanya dikeluarkan oleh buruh tersebut adalah untuk membiayai sekolah adik dan membantu kebutuhan sehari-hari keluarga. Secara umum, berdasarkan jenis kelamin, maka dapat digambarkan

bahwasannya responden buruh laki-laki lebih banyak memiliki tanggungan dibandingkan buruh perempuan. Tabel Ada atau tidaknya Tanggungan Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin Ada tidaknya tanggungan Ada tidak ada Total Status kawin Kawin 155 78 233 Belum kawin 98 174 272

laki-laki 157 96 253 perempuan 98 154 252 Total 255 250 505 Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner

Data di atas selain dapat menggambarkan lebih banyaknya buruh laki-laki yang memiliki tanggungan, namun jika dilihat jumlah buruh laki-laki yang berstatus kawin, maka dapat disimpulkan bahwasannya tanggungan buruh laki-laki tersebut hanyalah tanggungan untuk istri. Kondisi tersebut sedikit berbeda dengan buruh perempuan. Walaupun secara umum jumlah buruh perempuan yang memiliki tanggungan lebih kecil dari buruh laki-laki, jika dibandingkan dengan jumlah buruh perempuan yang sudah menikah, maka tanggungan buruh perempuan sebahagian besar adalah terhadap anggota keluarga lain, seperti adik dan saudara. Misalnya seorang responden buruh bernama Monda. Ia bekerja di perusahaan PT Narindu yang memproduksi Mebel di Jalan Binjai. Pengeluaran total yang harus dihabiskannya dalam satu bulan adalah Rp.830.000,-. Uang yang ia harus keluarkan untuk membiayai uang sekolah

97

adiknya adalah Rp.150.000,- per bulan, atau 18,07% dari total pengeluarannya per bulan. Jika diperbandingkan pengeluaran buruh antara yang sudah menikah dan masih lajang, tergambar bahwasannya pengeluaran buruh yang sudah menikah pada beberapa pos pengeluaran jauh lebih besar. Misalnya saja pengeluaran untuk konsumsi, dimana pengeluaran buruh yang sudah menikah adalah dua kali lipat dari buruh yang masih lajang. Kemudian juga pada pos pengeluaran untuk biaya sosial. Buruh yang masih lajang hanya menghabiskan uang Rp.25.000,- sampai dengan Rp.70.000,- per bulan, sedangkan buruh yang sudah menikah mencapai Rp.250.000,-. Jumlah ini sangat mencolok dibandingkan dengan pengeluaran lainnya, sebab tanggungjawab buruh yang berkeluarga untuk menghadiri pesta atau kemalangan lebih besar dibandingkan buruh yang masih lajang. Menurut data survey, jumlah pengeluaran buruh untuk biaya sosial tersebut tidak begitu jauh berbeda. Untuk buruh lajang yang belum menikah, uang yang harus dikeluarkan adalah sebesar kurang lebih Rp.28.000,-, sedangkan bagi buruh yang sudah menikah, rata-rata pengeluaran adalah sebesar kurang lebih Rp.40.000,-. Namun jumlah tersebut merupakan rata-rata dalam satu bulan. Kurang lebih 10,7% buruh harus mengeluarkan uang lebih dari Rp.50.000,- untuk biaya sosial dalam satu bulan. Dari sisi jenis kelamin, terlihat biaya sosial yang dikeluarkan oleh buruh perempuan dan laki-laki berbeda. Buruh laki-laki cenderung lebih banyak mengeluarkan biaya sosial dibandingkan buruh perempuan. Dalam satu bulan, 33 buruh laki-laki bisa menghabiskan lebih dari Rp.50.000,- untuk melakukan aktivitas sosial. Menurut data survey, malah ada beberapa buruh laki-laki yang menghabiskan biaya sebesar Rp.150.000,- sampai dengan Rp.200.000,- perbulannya.

98

Tabel Hubungan Antara Jenis Kelamin dengan Pengeluaran Biaya Sosial kategori pengeluaran biaya sosial <11ribu 11-50ribu >50ribu laki-laki 55 134 33 Perempuan 45 141 12 Total 100 275 45 Sumber: hasil pengolahan data kuesioner Jenis kelamin
buruh menikah
28,20

Total 222 198 420

buruh laki-laki
4,70

buruh perempuan
5,60

Grafik Komposisi Pengeluaran Biaya Sosial Buruh Lajang dan Menikah Namun jika diperbandingkan pengeluaran buruh lajang perempuan dan lakilaki, jelas, pada 6 pos pengeluaran, buruh perempuan masih lebih besar. Hanya pada satu pos pengeluaran laki-laki lebih besar, yakni pengeluaran untuk konsumsi atau makan.

99

Tabel Komposisi Pengeluaran Buruh Lajang dan Menikah Jenis pengeluaran Buruh Lajang % Perempuan Laki-laki % % 19,2 19,8 6,8 5 5,6 4,7 2,26 1,5 4 3,01 5,31 3,4 7,06 6,21 Buruh Menikah % 39,6 14,1 28,2 6,8 6 7,3 22,6

Konsumsi/makan Transportasi Biaya sosial Kesehatan Sewa rumah listrik, air dll Pengeluaran sandang (pakaian, kometik, dll) Sumber: Hasil pengolahan data kuesioner dan FGD

100

Pengeluaran Untuk Konsumsi Salah satu item pengeluaran yang sangat besar untuk dihabiskan oleh buruh dalam satu bulan adalah pengeluaran konsumsi. Dalam penelitian ini, item konsumsi dijadikan satu item penting yang mempengaruhi buruh, terutama kesehatan buruh. Berdasarkan hasil FGD, frekuensi makan buruh sebenarnya belumlah layak. Frekuensi makan buruh dalam satu bulan belum memenuhi kebutuhan dasar. Beberapa buruh hanya makan 1 sampai 2 kali dalam satu hari, sehingga dalam satu bulan hanya makan sebanyak 20 dan 60 kali. Tentunya frekuensi seperti ini masih jauh dari kebutuhan energi yang dibutuhkan oleh buruh. Misalnya saja Evi, Alal Ali dan Purwanto yang frekuensinya tidak sampai 90 kali dalam satu bulan. Tidak rutinnya buruh makan nasi disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya saja kasus Purwanto yang masih tinggal dengan orang tua. Ia tidak menyukai makan nasi, namun menggantinya dengan makan ikan dan telur. Ia mengkonsumsi telur lebih banyak dari buruh lainnya, yakni sekitar butir. Beratnya kerja buruh tentunya mengeluarkan energi yang sangat besar bagi buruh. Dengan pola makan yang tidak teratur dan input gizi yang tidak memadai, tentunya akan mempengaruhi kesehatan dan kemampuan buruh untuk bekerja. Kemampuan buruh dalam memenuhi kebutuhan pemenuhan gizi juga masih sangat rendah. Tabel Frekuensi dan Sumber Minum Susu dalam 1 Minggu
Frekuensi Jawaba n Jlh % Membe li sendiri Sumber Diberi perusah aan Diberi teman/ keluarg a 4 0-1x Frekuensi minum 2-3x >4x

Konsumsi Susu Ya 136

26,9

235

71

28

28

75

101

Kadang 2 tidak

150 219

29,7 43,4

34 21

78 13

28 5

Konsumsi Makan daging Diberi teman/kel Diberi perusaha Membeli sendiri Saat pesta 48 113 66

Ya Kadang 2 tidak

82 215 173

16,2 42,6 34,3

216

11

7

29

24 60 26

6 6 3

Konsumsi Makan Buah-buahan Membeli sendiri Diberi perusahaa Diberi teman/kel Dari kebun Lain2 Ya Kadang 2 155 241 30,7 47,7

34 2

2

1

12

1

24 53

37 123

89 40

Tidak 109 21,6 Sumber: Diolah sendiri

35

24

3

Tabel di atas memperlihatkan bahwasannya sebahagian besar buruh (43,4%) menyatakan tidak pernah minum susu dalam satu minggu. Setelah dikoreksi melalui jawaban frekuensi minum, jawaban tidak diartikan dengan frekuensi minum yang sangat rendah, yakni antara 1-3 kali dalam satu minggu. Buruh yang menyatakan jawaban “ya”, jumlahnya sebanyak 136 orang, atau 26,9%, dan yang menjawab “kadang-kadang” sebanyak 150 orang. Jika dikoreksi melalui sumber memperoleh susu, ternyata buruh yang menyatakan “ya” dan “kadang-kadang” tersebut sebanyak 235 orang memperolehnya dari membeli sendiri, dan hanya 71 orang yang mendapatkannya dari perusahaan. Hal ini tentunya sangat memberatkan buruh. Upah yang rendah, kerja berat yang dilakukan buruh tidak diimbangi dengan perhatian perusahaan dalam memberikan input energi yang cukup. Jika dibandingkan antara buruh yang menjawab “ya” untuk minum susu dalam satu minggu dengan yang

102

menjawab “tidak”, maka angka 75 orang yang minum susu lebih dari 4 kali dalam satu minggu hanyalah 55,1% dari 136 orang. Bandingkan dengan angka buruh yang menyatakan “tidak” namun menjawab minum lebih dari 4 kali dalam 1 minggu yang hanya 5 orang (2,8% dari 219 orang). Jadi, secara total, buruh yang minum susu dalam kategori jawaban “tidak” hanyalah 17,8% dari total 219 orang. Angka ini tentunya sangatlah kecil dibandingkan kebutuhan ideal susu bagi buruh. Kondisi serupa juga terjadi pada keluarga buruh. Dari 372 buruh yang menjawab pertanyaan tentang frekuensi keluarga buruh dalam minum susu, hanya 59 orang yang menyatakan “ya”, sedangkan yang menjawab “kadang-kadang” dan “tidak” adalah sebanyak 313 orang. Data seperti ini tentunya berkorelasi dengan konsumsi susu buruh secara personal. Rendahnya konsumsi buruh secara individual juga terjadi pada keluarga buruh. Rendahnya frekuensi keluarga buruh untuk membeli susu menjadi cerminan ketdakmampuan buruh untuk memenuhi kebutuhan konsumsi susu. Konsumsi daging malah menunjukkan kondisi yang lebih baik dibandingkan konsumsi susu dalam satu minggu. Dua ratus lima belas responden (42,6%) buruh menyatakan kadang-kadang minum susu, sedangkan 82 orang menyatakan “ya” dan 34,3 buruh menyatakan “tidak”. Namun jika dilihat berdasarkan sumber memperoleh daging, 216 orang membelinya sendiri, sedangkan yang diberi oleh perusahaan hanyalah 11 orang. Salah satu kesempatan makan daging selain membeli sendiri, diberi teman atau keluarga dan diberi perusahaan adalah makan daging pada saat pesta. Kesempatan mengikuti pesta biasanya akan dimanfaatkan oleh buruh. Tentunya kesempatan seperti itu tidak pasti ada dalam satu minggu. Tetap saja, dengan begitu keadaan gizi buruh sangat jauh dari kebutuhan idealnya. Demikian juga dengan konsumsi buah-buahan. Sebahagian besar buruh memperoleh buah-buahan untuk dikonsumsi dari membeli sendiri, yakni 342 orang, sedangkan yang diberi oleh perusahaan hanya dua orang. Buruh yang menyatakan “kadang-kadang”, ternyata 123 orang (57% dari 216 orang) hanya makan buahbuahan sebanyak 2 sampai 3 kali. Frekuensi makan buah dalam kasus ini bukan 103

hanya dalam artian memakan buah dalam bentuk utuh dan segar. Beberapa buruh ternyata memperoleh buah-buahan ketika makan rujak. Mengkonsumsi rujak dianggap oleh buruh sama dengan mengkonsumsi buah segar. Salah satu alasan paling mempengaruhi rendahnya konsumsi buruh adalah tidak cukupnya gaji yang diperoleh. Berdasarkan keterbatasan upah yang dimiliki, maka buruh harus memilih antara makan daging, minum susu atau makan buah. Jika dihadapkan pada pilihan tersebut, maka berdasarkan kebutuhan, maka buruh lebih memilih untuk makan daging atau minum susu. Dalam kondisi lebih parah, ketika upah sudah tidak mencukupi lagi maka sering sekali buruh mengganti minum susu dengan hanya minum teh manis. Konsumsi Lauk dalam Satu Bulan Seperti disebutkan sebelumnya, aktivitas kerja yang berat tentunya membutuhkan energi yang sangat besar. Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, tentunya konsumsi buruh pada beberapa jenis lauk berprotein tinggi menjadi sangat penting.

104

Tabel Frekuensi konsumsi lauk Jenis Lauk Frekuensi Konsumsi dalam 1 bulan 4-10 <4x % % >10 % x 166 32,8 32 6,3 2 0,4 Responden yang tidak menjawab 305

Makan lauk daging sapi/kambing dalam sebulan Makan lauk daging 215 42,6 208 41,2 19 3,8 ayam dalam sebulan Makan lauk ikan laut 20 4,0 150 29,7 305 60,4 dalam sebulan Makan lauk ikan 79 15,6 17 3,4 2 0,4 mas dalam sebulan Makan lauk udang 123 24,4 51 10,1 5 1,0 dalam sebulan Makan lauk kepiting 59 11,7 13 2,6 6 1,2 dalam sebulan Makan lauk kerang 117 23,2 30 5,9 4 0,8 dalam sebulan Makan lauk ikan teri 42 8,3 192 38,0 200 39,6 dalam sebulan Makan lauk ikan 107 21,2 196 38,8 64 12,7 asin dalam sebulan Makan lauk ikan 44 8,7 66 13,1 5 1,0 lele/belut Makan lauk telur 34 6,7 228 45,1 207 41,0 dalam sebulan Makan lauk tahu 66 13,1 253 50,1 80 15,8 dalam sebulan Makan lauk tempe 55 10,9 261 51,7 106 21,0 dalam sebulan makan indomie 69 13,7 192 38,0 156 30,9 dalam sebulan Makan tulang sop 94 18,6 33 6,5 4 0,8 dalam sebulan Keterangan: Tidak seluruhnya responden menjawab pertanyaan Sumber: hasil analisis data kuesioner

63 30 407 326 427 354 71 138 390 36 106 83 88 374

Berdasarkan tabel di atas, hanya pada 2 (dua) jenis jenis lauk yang dikonsumsi oleh buruh lebih dari 10 kali dalam satu bulan, yakni konsumsi ikan laut dan

105

konsumsi ikan teri, sedangkan untuk konsumsi lauk daging sapi/kambing, daging ayam, ikan mas, udang, kepiting, kerang, dan sop tulang sebahagian besar responden mengkonsumsinya kurang dari 4 kali dalam satu bulan. Artinya, untuk beberapa jenis lauk, sebahagian besar buruh mengkonsumsi kurang dari 4 kali. Hal ini berarti dalam satu minggu, belum tentu buruh mampu mengkonsumsi beberapa jenis lauk yang mengandung protein tinggi, seprti daging, kepiting, ikan mas, sop dan lain-lain yang harganya lebih mahal dibandingkan ikan laut. Misalnya saja konsumsi daging sapi/kambing dan daging ayam. Sebanyak 32,8% dari 200 orang yang jawab pertanyaan tentang konsumsi daging sapi/kambing hanya punya kemampuan mengkonsumsi kurang dari 4 kali dalam satu bulan. Demikian juga dengan konsumsi daging ayam. Sebanyak 215 orang menyatakan kurang dari 4 kali mengkonsumsi daging ayam dalam satu bulan. Sedangkan yang menyatakan mengkonsumsi lebih dari 10 kali hanya 19 orang atau 3,8% dari total responden. Frekuensi konsumsi yang lebih dari 10 kali dalam satu bulan hanyalah pada lauk ikan laut dan ikan teri. Kemungkinan pertama dari jumlah ini adalah, ikan laut dan teri merupakan lauk utama yang paling banyak disediakan di rumah-rumah makan. Buruh yang sebahagian besar kost dan kontrak tentunya lebih banyak makan di kedai atau rumah makan dibandingkan memasak makanan sendiri, sehingga mau tidak mau pola konsumsi lauk disesuaikan dengan lauk yang tersedia di rumah makan. Kemungkinan kedua, lauk ikan laut dan ikan teri cenderung lebih murah dibandingkan menu lauk lainnya seperti daging dan jenis lauk laut non ikan. Menu lauk lain yang cenderung lebih stabil untuk dikonsumsi oleh buruh adalah menu telur, tahu, tempe dan indomie. Jumlah buruh yang mengkonsumsi tahu, tempe, telur dan indomie, 4 sampai 10 kali dan lebih dari 10 kali dalam satu bulan tidak terpaut terlalu besar. Hal ini menunjukkan menu lauk tersebut menjadi menu umum yang dikonsumsi. Jika pun angka konsumsi lebih dari 10 kali dalam satu bulan tersebut tidaklah terlalu besar, hal itu dikarenakan keinginan buruh untuk membuat variasi dari menu yang dimakan dalam satu bulan.

106

Perilaku mengkonsumsi lauk buruh menunjukkan beberapa karakter ketidakmampuan buruh dalam memenuhi kebutuhan makan. Secara umum, dapat dikatakan pilihan lauk untuk dikonsumsi cenderung homogen atau tunggal. Pilihanpilihan lauk sangat tidak bervariasi, sehingga konsekuensinya akan menurunkan kualitas kesehatan buruh. Dari proses analisis statistik, sebenarnya sangat sedikit yang berkorelasi secara signifikan. Maksud dari hubungan signifikan dalam hubungan ini adalah, dalam satu bulan konsumsi satu jenis lauk pasti akan diikuti dengan konsumsi jenis lauk lainnya. Dengan kata lain, dalam satu bulan, buruh mengkonsumsi dua jenis lauk secara mencukupi. Dari seluruh proses analisis statistik, ada kurang lebih 33 proses analisis yang menunjukkan hubungan signifikan, yakni; 1. antara lauk tahu dengan lauk ikan asin (0,240) 2. antara lauk tempe dengan makan ikan asin (0,271) 3. antara makan lele/belut dengan makan lauk tempe (0,329) 4. antara makan lauk telur dengan lauk tempe (0,213) 5. antara lauk tahu dengan lauk tempe (0,698) 6. antara makan indomie dengan tempe (0,197) 7. antara usia dengan makan lauk tahu (0,029) 8. antara makan buah dengan makan lauk tahu (-0,121) 9. antara ikan laut dengan lauk tahu (0,115) 10. antara makan kepiting dengan makan indomie (-0,269) 11. antara minum susu dengan makan lauk tahu (-0,199) 12. antara makan telur dengan makan lauk tahu (0,281) 13. antara lauk tahu dengan makan tahu (0,229) 14. antara makan indomie dengan lauk tahu (0,229) 15. antara lauk daging ayam dengan ikan lele/belut (0,335) 16. antara lauk kerang dengan lauk telur (0,257) 17. antara lauk tahu dengan ikan lele/belut (0,205) 18. antara lauk tahu dengan lauk telur (0,281) 19. antara makan indomie dengan lauk telur (0,308) 20. antara lauk udang dengan lauk kerang (0,492) 21. antara kepiting dengan kerang (0,511) 22. antara makan daging dengan ikan asin (-0,126) 23. antara usia dengan kepiting (-0,183) 24. antara usia dengan daging (-0,111) 25. antara makan buah dengan makan daging (0,236) 26. antara makan daging ayam dengan makan daging (0,254) 107

27. antara konsumsi susu dengan makan kepiting (-0,210) 28 antara makan tulang sop dengan makan daging (0,272) 29 antara makan buah dengan makan ikan laut (0,242) 30antara makan buah dengan lauk ikan mas (0,341) 31 antara makan buah dengan lauk daging ayam (0,197) 32 antara makan ikan lele/belut dengan lauk daging ayam (0,335) Sumber: hasil analisis statistik dari data kuesioner Dari seluruh proses analisis tersebut, korelasi yang cukup meyakinkan hanyalah antara konsumsi lauk tempe dengan tahu yakni sebesar 0,698. Artinya, besarnya jumlah konsumsi lauk tempe dalam satu bulan, ternyata diimbangi dengan konsumsi lauk tahu. Apa yang bisa diambil dari bukti seperti ini? Lauk tempe dan tahu tergolong murah dan tersedia mencukupi di pasar tradisional, kedai di sekitar tempat tinggal buruh dan di tersedia cukup banyak di rumah makan disekitar tempat tinggal buruh. Kecenderungan seperti itu ternyata tidak diikuti dengan konsumsi jenis lauk lain. Diantaranya adalah konsumsi susu dan kepiting, indomie dengan kepiting, usia dengan daging, dan konsumsi buah dengan makan lauk tahu. Masing-masing jenis lauk tidak dikonsumsi secara bersamaan dalam satu bulan. Jika buruh sudah mengkonsumsi susu, maka kepiting ditiadakan, jika buruh mengkonsumsi indomie, maka lauk kepiting bukan jadi pilihan pengganti, jika usia buruh semakin tinggi, maka konsumsi daging semakin berkurang, dan jika buruh mengkonsumsi buah, maka konsumsi tahu ditiadakan. Fenomena ini memperlihatkan, buruh sangat jarang memiliki pilihan untuk mengkonsumsi beberapa jenis lauk sekaligus dalam satu bulan. Buruh harus memilih jenis lauk yang lebih murah. Konsumsi beberapa jenis lauk yang sedikit mahal otomatis akan menghilangkan kemampuan buruh untuk mengkonsumsi jenis lauk lain yang lebih murah. Salah satunya adalah tentang konsumsi lauk indomie. Dalam satu bulan, sebanyak 156 orang mengkonsumsi indomie sebanyak lebih dari 10 kali. Bahkan terdapat sejumlah buruh yang mengkosumsi indomie 30 (tigapuluh) kali dalam satu bulan. Dengan demikian, dalam satu bulan, setiap harinya buruh hanya 108

mengkonsumsi indome. Bisa dibayangkan jika buruh mengkonsumsi indomie setiap hari. Bagaimana buruh bisa bekerja dan tetap mempertahankan kesehatan agar dapat bekerja jika setiap harinya hanya mengkonsumsi indomie. Bagi buruh yang mencoba untuk membuat menu lebih bervariasi, misalnya dengan makan kepiting, maka kemampuan buruh untuk mengkonsumsi indomie akan jauh berkurang. Demikian juga dengan konsumsi susu dan kepiting. Dalam satu bulan rata-rata buruh mengkonsumsi susu dan lauk kepiting sebanyak 4 kali. Namun konsumsi dua jenis lauk tersebut jarang bersamaan. Buruh harus memilih, antara mengkonsumsi susu atau kepiting. Jika buruh sudah mengkonsumsi susu, maka mau tidak mau ia harus mengurangi makan kepiting, dan sebaliknya, jika buruh memilih makan kepiting, maka ia harus mengurangi minum susu. Pola makan seperti itu tentunya tidak hanya terjadi pada menu-menu tertentu yang tercantum dalam penelitian ini saja. Kesimpulan umum yang bisa ditarik dari fenomena ini adalah; 1. Secara umum kemampuan buruh untuk mengkonsumsi lauk lebih bervariasi sangatlah rendah. Dalam satu bulan, menu yang dikonsumsi buruh cenderung sama. Sangat jarang ditemui buruh yang mampu mengkonsumsi beberapa jenis lauk secara bersamaan dalam satu bulan. 2. Ada kecenderungan buruh yang ingin membuat menu lauk bervariasi ternyata harus memilih antara jenis menu lauk tertentu. Jika buruh mencoba mengganti satu jenis menu yang sering dikonsumsi, maka konsekuensinya, buruh harus meniadakan jenis menu tertentu yang biasa dikonsumsi. Dua kecenderungan seperti ini tentunya merupakan dampak dari kecilnya upah yang diterima buruh. Walaupun secara umum buruh merasa upah sudah cukup memenuhi kebutuhan makan keluarga, namun deskripsi dari kebutuhan makan tersebut masih sangat minimal. Ada kemungkinan buruh sudah merasa cukup ketika sudah mampu mengkonsumsi indomie setiap hari. Hal ini tentunya menunjukkan kesederhanaan pemahaman buruh tentang kebutuhan makan. Buruh tidak menyadari

109

bahwasannya yang disebut “cukup” bukan sekedar bisa makan setiap harinya, namun lebih dari sekedar itu. Kebutuhan konsumsi bukan sekedar frekuensi makan dan kuantitas menu yang dikonsumsi dalam satu bulan, namun juga terkait dengan variasi menu dalam satu bulan dan kualitas menu tersebut. Dari seluruh buruh yang mengkonsumsi jenis menu tertentu yang tergolong mahal, ternyata tidak keseluruhan jenis lauk tersebut dibeli oleh buruh. Beberapa buruh menyatakan, mengkonsumsi daging ayam, daging sapi dan beberapa jenis lauk berharga mahal hanya ketika buruh menghadiri pesta, hanya pada saat gajian, karena disediakan atau dimasak oleh orang tua, menu rantangan, dan alasan lainnya yang bukan didasarkan kemampuan buruh untuk membeli. Dengan kata lain, beberapa buruh yang mencoba untuk membuat menu dalam satu bulan bervariasi bukanlah atas dasar keinginan dan kemampuan buruh. Sebahagian besar buruh dengan sengaja memanfaatkan momentum menghadiri pesta untuk sekedar dapat makan daging dan menu lauk lain yang harganya mahal. Sebahagian besar buruh menyatakan tidak mampu membeli daging atau mengkonsumsi daging secukupnya dalam satu bulan. Buruh yang benar-benar sadar tentang pentingnya variasi menu makanan sangatlah sedikit. Mereka hanya mampu membeli dan mengkonsumsi daging hanya pada saatsaat tertentu, seperti pada saat gajian saja.

110

PENDAPATAN
Upah Buruh Data yang diperoleh melalui proses survey memperlihatkan upah pokok responden secara umum sebagian besar sudah sesuai dengan Upah Minimum propinsi (UMP) tahun 2003, yakni Rp.505.000,-. Tabel Jawaban Responden Berdasarkan Kategori Upah Kategori Jumlah % UMP <UMP 57 11,3 >UMP 179 35,4 UMP 269 53,3 Total 505 100,0 Sumber: hasil analisisi data kuesioner Hanya 57 (11,3%) responden buruh yang upah pokoknya masih di bawah UMP, sedangkan 53,3% sesuai dengan UMP dan 179 orang (35,4%) yang upahnya sudah berada di atas UMP. Rata-rata upah buruh secara keseluruhan adalah

Rp.552.362,23,- sehingga jika memang ukuran kesejahteraan dan perbaikan nasib buruh adalah kesesuaian antara kebijakan Upah Minimum (UM) dengan realitas upah di pabrik, maka berdasarkan hasil survey kondisinya dapat dikatakan sudah lebih baik. Namun jika dilihat dari sisi pengeluaran dan kebutuhan riil buruh sehari-hari, upah berdasarkan standar UMP tersebut sangatlah tidak mencukupi lagi. Jika didasarkan pada status pekerjaan, beberapa jenis masukan yang dapat digolongkan pada komponen buruh ternyata realitasnya masih sangat jauh dari

harapan. Ada 11 komponen upah yang sebenarnya harus dipenuhi oleh pengusaha, baik kepada buruh tetap, kontrak, borongan dan buruh harian lepas. 1. upah pokok 111

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

uang makan (/hari) uang transport (/hari) tunjangan perumahan uang kerajinan (/bulan) insentif bonus upah berkala (/3 tahun) cuti haid tunjangan kemahalan Uang Lembur Tabel Gambaran Respon Komponen Upah Berdasarkan Status Pekerjaan Status Pekerjaan

Buruh Home harian kontrak borongan base lepas worker ada Tidak ada tidak ada tidak Ada tidak ada tidak 1 Upah pokok 450 2 25 9 14 1 3 1 2 Uang 289 163 8 26 15 4 makan 3 Uang 295 157 2 32 15 4 transpor 4 Tunjangan 9 443 34 15 4 perumahan 5 Uang 221 229 5 29 15 4 kerajinan 6 Insentif 162 290 3 31 15 4 7 Bonus 74 376 3 31 3 12 4 8 Upah 193 259 34 15 4 berkala 9 Cuti haid 197 255 5 29 15 4 10 Tunjangan 30 422 1 33 15 4 kemahalan 11 Uang 303 149 8 26 1 14 1 3 lembur Sumber: hasil analisisi data kuesioner No Komponen Buruh tetap Upah Berdasarkan data di atas, sebagian besar buruh non tetap banyak tidak menerima komponen upah. Pada beberapa komponen upah, hak buruh tetap juga masih belum

112

sepenuhnya terpenuhi. Misalnya saja pada komponen uang makan, uang transpor, tunjangan perumahan, uang kerajinan, insentif, bonus, upah berkala, tunjangan kemahalan dan upah lembur. Satu-satunya komponen upah yang hampir secara keseluruhan dipenuhi hanyalah pada item upah pokok. Namun masih tetap ada responden dari buruh tetap (2 orang) yang menyatakan belum menerima upah tetap. Kondisi paling parah adalah terlihat pada buruh dalam kategori buruh harian lepas, kontrak dan borongan. Dari seluruh komponen upah yang ada, hanya sedikit sekali buruh yang hak upahnya dipenuhi oleh perusahaan, dan sebahagian besar malah tidak menjawab sama sekali. Tidak menjawab sama sekali dalam hal ini diartikan buruh tidak pernah bahkan tidak mengenal sebahagian besar komponen upah yang ada. Jelas melalui tabel ini dapat kita lihat bahwasannya hak buruh kontrak, buruh harian lepas dan buruh borongan masih jauh dari kondisi ideal. Jika upah pokok ditambah dengan beberapa komponen upah lainnya dijumlahkan dalam satu bulan, nominal yang sepantasnya (sebelum dilakukan potongan) juga masih jauh dari kebutuhan buruh. Seperti yang terjadi pada buruh di zona Mabar. Rata-rata mereka menerima upah pokok sebesar Rp.540.000,- per bulan. Jika memang perusahaan tempat mereka bekerja memenuhi beberapa komponen upah secara lebih baik, maka kenaikan upah yang sepantasnya mereka tidaklah signifikan. Misalnya saja seorang buruh bernama Janter. Ia menerima upah pokok sebesar Rp.540.000,-. Ada 3 (tiga) komponen upah yang secara rutin diterimanya dari perusahaan, yakni tunjangan jabatan, lembur dan jaminan hari tua. Total, jika ia menerima beberapa komponen upah tersebut dalam satu bulan, maka yang ia terima hanyalah Rp.692.000,-. Berdasarkan kebutuhan hidupnya sebagai buruh yang sudah berkeluarga, maka tentungan angka tersebut masih jauh lebih kecil dari pengeluaran yang harus dia keluarkan dalam satu bulan, yakni sebesar Rp.964.000,- dengan perincian sebagai berikut: 1. makan 2. listrik dan air 3. transport sosial Rp 350.000,Rp 70.000,Rp 50.000,113

4. transport kerja 5. uang sekolah anak 6. uang jajan anak 7. uang kridit 8. rokok 9. sosial kemalangan dll 10. uang iuran organisasi kerja 11. uang iuran jamsostek 12. Jumlah

Rp 75.000,Rp21.000,Rp30.000,Rp353.000,Rp150.000,Rp250.000,Rp 5.000,Rp30.000,Rp 964.000

Dengan demikian, jika dibandingkan antara pendapatan dan pengeluaran Janter, maka akan ada kekurangan sebesar Rp. 272.000,- yang harus dia cari untuk

menambah kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mengatasi kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam satu bulan. Beberapa diantaranya adalah dengan menjadi agen sepeda motor, membungakan uang, Multi Level Marketing (MLM) dan sebagainya. Pendapatan yang diperoleh melalui pekerjaan sampingan tersebut untuk beberapa buruh sangat membantu menambah upah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya saja, bagi seorang buruh yang bekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi tali. Dalam satu bulan ia memperoleh upah riil sebesar Rp.700.000,-. Untuk menambah kebutuhan hidupnya sehari-hari, ia bekerja sebagai agen sepeda motor di sela-sela waktu kerjanya. Dalam satu bulan, rata-rata ia bisa memperoleh keuntungan dari pekerjaannya tersebut sebesar Rp. 100.000, sehingga total uang yang ia bisa alokasikan untuk memenuhi kebutuhan rutin sehari-hari adalah Rp.800.000,-. Ada juga buruh yang menambah penghasilannya dengan cara membungakan uang. Keuntungan yang ia bisa dapatkan dari pekerjaan sampingannya tersebut adalah Rp.150.000,-. Jika dalam satu bulan ia memperoleh upah dari perusahaan sebesar Rp.900.000,- , maka dalam satu bulan ia bisa mengantongi uang sebesar Rp.1.050.000,-. Tentunya tidak semua buruh memiliki pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilannya dalam satu bulan. Sebahagian besar buruh mengalami kesulitan dalam hal mencari pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu pekerjaannya di pabrik. Selain itu, untuk mencari pekerjaan sampingan dianggap oleh buruh tidaklah 114

mudah. Untuk melakukan usaha sampingan, buruh menyatakan diperlukan beberapa syarat agar secara berkesinambungan dapat dilakukan, yakni harus ada bakat, waktu, modal, relasi dan tempat.

115

Potongan Perusahaan Terhadap Buruh Ada 8 (delapan) item potongan yang dicantumkan dalam daftar pertanyaan. Potongan yang paling umum dikenakan kepada buruh adalah potongan Jamsostek, yakni mencapai 81,2%. Dari angka ini masih terlihat adanya beberapa jumlah buruh yang tidak dikenakan potongan. Dengan kata lain, 18,8% buruh tersebut tidak atau belum menjadi anggota Jamsostek. Potongan untuk OKP yang selama ini diasumsikan mempengaruhi upah buruh ternyata tidak terlihat. Memang tidaklah mungkin perusahaan dengan sengaja mencantumkan secara khusus item potongan untuk OKP dari upah yang diterima buruh. Tidaklah mungkin secara terus terang perusahaan secara langsung memotong upah buruh untuk kepentingan OKP. Untuk mengetahuinya, memang perlu ada suatu penelitian khusus. Namun dari respon yang ada, 3 orang buruh yang menyatakan adanya potongan merupakan satu temuan yang penting. Selama ini, seperti pernah disebutkan dalam beberapa penelitian, salah satu kontributor biaya tinggi (high cost) sektor industri di Indonesia adalah banyaknya pungutan liar. Pungutan yang dimaksud bukan hanya dilakukan oleh aparat pemerintah yang dengan sengaja mengambil keuntungan dalam berbagai mekanisme birokratis, namun juga dilakukan oleh kelompok pemuda yang terorganisir. Dengan alasan keamanan, biasanya OKP meminta bantuan kepada perusahaan. Dengan terdapatnya respon tersebut, tentunya semakin memperkuat bukti bahwasannya jumlah upah buruh yang sudah sangat kecil harus di tekan lagi dengan adanya potongan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan relasi buruh-pengusaha dalam proses produksi. Satu hal yang bisa dicermati adalah adanya potongan denda akibat kesalahan. Dari total responden buruh, 59 orang (11,7%) menyatakan adanya potongan jika buruh melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaan, sedangkan 446 orang buruh menyatakan tidak ada potongan kesalahan tersebut. Jika dilihat nominal potongan terhadap upah buruh, rata-rata jumlah potongannya adalah Rp.10.603,-. Jumlah potongan terlihat bervariasi antar buruh. 116

Tabel Respon Buruh Terhadap Beberapa Jenis Potongan Ya potongan jamsostek 410 potongan iuran SB 339 potongan keagamaan 42 potongan koperasi 117 potongan biaya 17 transportasi potongan OKP 3 potongan denda karena 59 kesalahan potongan lain-lain 13 Sumber: hasil analisisi data kuesioner Jenis potongan Respon buruh % tidak 81,2 95 67,1 166 8,3 463 23,2 388 3,4 488 0,6 11,7 0,6 502 446 418 % 18,8 32,9 91,7 76,8 96,6 99,4 88,3 99,4

Tabel Rata-rata, Jumlah Minimum dan Maksimum Potongan Jenis potongan Jumlah potongan jamsostek Jumlah potongan iuran SB Jumlah potongan keagamaan Jumlah potongan koperasi Jumlah potongan transportasi Jumlah potongan OKP Jumlah potongan denda karena kesalahan Jumlah potongan lain-lain Nilai Mean, minimum dan Maximum Mean Minimum Maximum Rp. 10.603 Rp. 1100 Rp. 53.000 Rp. Rp. 2206 3166 Rp. 500 Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 3000 Rp. 1000 Rp. 11.000 Rp. 15.000 Rp. 96.650 Rp. 90.000 Rp. 1000 Rp. 50.000 Rp. 50.000

Rp. 11.360 Rp. 21.125 Rp. 1000 Rp. 17.130 Rp. 15.400

Sumber: hasil analisisi data kuesioner Jika buruh dalam tiap bulannya harus dikenakan potongan-potongan seperti diatas, tentunya didasarkan jumlah upah yang diterima (take home pay) sudah sangat memberatkan. Total potongan rata-rata jika setiap potongan di atas dikenakan pada buruh, maka dalam satu bulan, upah buruh harus dipotong sebesar Rp. 81.990,-. Jika upah yang diterima buruh dalam satu bulan hanya Rp.600.000,- maka jumlah 117

potongan tersebut sudah mencapai 13,6% dari total upah. Jika dibandingkan dengan alokasi untuk kebutuhan lain, tentunya jumlah potongan tersebut sudah menyamai atau bahkan lebih besar. Misalnya saja untuk kebutuhan pembiayaan transportasi. Total biaya transportasi buruh dalam satu bulan dari gaji hanya mencapai 6%. Sedangkan potongan bisa mencapai 13,6%, sehingga dapat disimpulkan, biaya yang dipotong dari buruh bisa lebih besar dari beberapa jenis pengeluaran lain.

118

Respon Buruh Terhadap Kebijakan Pengupahan

Persepsi buruh terhadap kebijakan pengupahan yang berlangsung di Sumatera Utara menunjukkan bukti bahwasannya proses penentuan jumlah upah maupun terhadap institusi yang berwenang menentukan upah tersebut kurang disetujui dan dipahami oleh buruh. Seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya, buruh menganggap proses penetapan UMP/UMSP tidak tepat. Sebahagian besar buruh (49,7%) menyatakan proses penetapan upah tidaklah tepat. Ada begitu banyak alasan yang dikemukanan oleh buruh perihal tidak tepatnya proses penetapan UMP/UMPS. Beberapa buruh menyatakan, proses penetapan UMP/UMPS yang berlangsung selama ini belum melibatkan buruh secara maksimal. Padahal, buruh merasa merekalah yang paling mengetahui kebutuhan hidup yang selama ini sudah semakin mahal. Kebutuhan yang sudah sangat tinggi tersebut dianggap buruh tidak dijadikan perhitungan dalam proses penentuan jumlah UMP/UMPS. Buruh juga beranggapan, dominasi dari pemerintah dan pengusaha terlalu besar dalam proses penentuan upah tersebut. Dengan demikian, buruh merasa diperlakukan tidak adil. Apalagi ada anggapan dari buruh bahwasannya terdapat unsur KKN dalam proses penentuan tersebut. Kepentingan yang begitu besar dari pemerintah beserta pengusaha selalu meminggirkan kepentingan buruh yang sudah semakin besar. Secara umum, buruh menganggap alasan utama ketidaktepatan proses penetapan upah adalah terkait dengan ketidaksesuaian jumlah dengan kebutuhan buruh yang

119

sudah semakin besar. Buruh menanggap angka yang selama ini ditetapkan masih jauh dari kebutuhan riil sehari-hari buruh. Kehidupan buruh yang sudah semakin tinggi tidak dibarengi dengan peningkatan upah pokok yang sesuai, sehingga kesejahteraan dan kehidupan yang layak masih jauh dari harapan. Buruh juga menyinggung tentang kurang transparannya proses penetapan yang dilakukan oleh DPD. Buruh merasa penelitian yang dilakukan oleh DPD tidak sesuai dan tidak sampai pada tingkat bawah. Belum lagi jika dikatkan dengan keterbukaan DPD. Buruh selama ini hanya menjadi objek kebijakan tanpa mengerti proses yang berlangsung didalamnya. Apa yang menjadi pertimbangan, bagaimana proses penetapannya, bagaimana riset yang dilakukan oleh DPD tidak dipahami oleh buruh. Saat di bandingkan dengan pengetahuan buruh tentang komponen yang terlibat dalam DPD, maka semakin jelas bahwasannya buruh memang menjadi mainan elemen yang terlibat dalam DPD. Bahkan dari jawaban yang diberikan, buruh tidak mengetahui komponen yang terlibat dalam DPD. Walaupun sebenarnya elemen buruh juga sudah terlibat dalam elemen DPD, namun buruh sendiri tetap menganggap keterlibatan buruh masih sangat minimal. Keterlibatan elemen buruh dalam DPD tidaklah secara langsung menjadi garansi bahwasannya kepentingan dan keinginan buruh akan terwakili didalamnya. Jadi, dapat disimpulkan bahwasannya keterwakilan buruh yang cukup di DPD tidak menjamin jumlah upah akan meningkat sesuai dengan kebutuhan buruh. Salah satu kendala yang menghempang kepentingan buruh untuk benar-benar terakomodir dalam proses perumusan dan penetapan upah dalam istitusi DPD adalah tentang komposisi yang kurang seimbang antara komponen buruh dengan non buruh. Menurut salah seorang mantan anggotan DPD yang berasal dari komponen Serikat Buruh, ada dua kepentingan yang saling bertarung ketat dalam setiap proses perumusan dan penentuan jumlah UMP/UMSP setiap tahunnya dalam institusi DPD di Sumatera Utara. Pada kurun waktu tahun 2001 sampai dengan 2003, anggota DPD propinsi Sumatera Utara sebanyak 25 orang dengan perincian; 7 orang dari Serikat Buruh, 7 orang dari elemen pengusaha, 7 orang dari pemerintah dan 4 orang dari 120

Dewan Pakar atau elemen akademisi. Tarik-menarik kepentingan paling kuat adalah terjadi pada antara pihak serikat buruh dengan non serikat buruh. Walaupun komponen yang terlibat sudah menganut keterwakilan berimbang, namun dalam setiap proses perumusan dan penetapan, keempat komponen (SB, Pengusaha, Pemerintah dan Dewan Pakar) langsung terpolarisasi dalam dua kubu yakni, kutub serikat buruh dan non serikat buruh. Namun dalam setiap perumusan, kekuatan buruh terpecah dalam beberapa bagian lagi sehingga melemahkan suara buruh untuk berhadapan dengan komponen lain di luar buruh. Besarnya suara Serikat Buruh dalam institusi DPD tidak menjadi jaminan bahwasannya kepentingan dan suara buruh bisa mempengaruhi proses perumusan dan penetapan jumlah UMP/UMSP. Dalam setiap proses perumusan dan penetapan upah, suara buruh terbagi atas beberapa bagian yang saling berbeda satu sama lain. Prinsip keterwakilan berimbang yang tujuannya agar dapat mengakomodir kepentingan buruh menjadi lebih besar ternyata menjadi sia-sia ketika suara buruh sendiri terpecah. Serikat buruh yang sejarah pembentukannya di dukung oleh pemerintah cenderung lebih berpihak kepada pengusaha dan pemerintah dibandingkan menyuarakan kepentingan buruh. Apalagi ketika dalam setiap proses pengambilan keputusan, institusi DPD sering menggunakan mekanisme voting. Ketika mekanisme ini dijalankan, melihat minimnya perwakilan dari buruh maka sudah dapat dipastikan suara buruh selalu akan kalah. Harus diakui juga bahwasannya kemampuan buruh dibandingkan komponen lain menjadi satu masalah tersendiri yang menjadikan kekuatan buruh menjadi lemah. Penguasaan terhadap materi konsep upah dari buruh masih lebih rendah dibandingkan kapasitas komponen lain, seperti pengusaha, pemerintah dan dewan pakar. Dengan kata lain, dalam setiap proses survey, analisis data hasil investigasi dan diskusi, komponen diluar buruh masih sangat mendominasi. Dominasi bukan hanya dalam hal penguasaan materi belaka, namun juga dalam kemampuan mempengaruhi antar komponen. Walaupun sulit untuk dibuktikan tentang pengaruh tersebut, namun dalam

121

banyak tahapan voting, suara buruh tidak pernah satu dalam mengusung kepentingan jumlah upah sesuai dengan kebutuhan buruh secara umum. Kenaikan upah dari tahun ke tahun yang tidak pernah sesuai dengan kebutuhan riil buruh tentunya kontradiktif dengan keinginan buruh untuk terlibat dalam DPD dan realitas keikutsertaan beberapa Serikat Buruh dalam DPD. Jika memang keterlibatan buruh tidak mampu mengangkat jumlah UMP/UMPS, berarti ada masalah lain yang lebih berpengaruh dibandingkan dari sekedar buruh terlibat dalam DPD. Jika memang aspek kuantitas sudah terpenuhi, maka terdapat aspek kualitas yang belum terpenuhi. Menurut Penelitian AKATIGA, salah satu aspek kurang mampunya elemen buruh dalam mempengaruhi kinerja DPD adalah akibat dominasi elemen pengusaha dan pemerintah yang terlalu besar sehingga meminggirkan kepentingan dan kebutuhan buruh. Pada satu sisi, kelemahan buruh memang bisa dipahami sehingga tidak terlalu maksimal dalam menyuarakan kepentingan buruh dalam tubuh DPD. Elemen lain yang terdiri atas pemerintah dan pengusaha sering sekali sulit untuk dibendung oleh elemen buruh. Belum lagi jika dikaitkan dengan suara elemen buruh yang secara sengaja diredam oleh elemen pengusaha dan pemerintah. Kepentingan pengusaha adalah jelas. Mereka ingin jumlah kenaikan UMP/UMPS serendah mungkin sehingga tetap dapat mengambil keuntungan yang sebesar mungkin dari tenaga buruh, sedangkan kepentingan pemerintah adalah menciptakan stabilitas ekonomi, politik dan pertimbangan yang lebih bersifat makro. Ditengah proses penetapan UMP/UMPS yang terjadi selama ini, sangat jarang terdengar pertentangan yang sengit antara elemen buruh dengan elemen pengusaha dan pemerintah. Walaupun elemen buruh sudah terwakilkan dalam DPD, namun suara keras dan penentangan terhadap jumlah yang ditetapkan dari tahun ke tahun tidak terdengar sama sekali dari elemen buruh. Hal ini menunjukkan bahwasannya elemen buruh sendiri kurang kuat menyampaikan kepentingan atas kenaikan upah yang sesuai dengan kebutuhan buruh. Jika dikaitkan dengan keanggotaan dalam keterlibatan SB dan persepsinya terhadap kepuasan proses penetapan UMP/UMPS, maka dapat dilihat bahwasannya 122

buruh yang menyatakan puas lebih besar dari SPSI. Sebagai organisasi buruh jaman orde baru, bagaimanapun respon buruh terhadap proses penetapan upah lebih banyak yang menyatakan sudah puas. Dari 161 orang yang merupakan anggota SPSI, 25,5% menyatakan proses penetapan UMP/UMPS sudah tepat, 43,5% menyatakan tidak, dan 30,4% menyatakan tidak tahu. Dibandingkan dengan buruh yang berasal dari SBMI dan SBSI, tentunya respon buruh dari SPSI tersebut lebih besar. Buruh yang berasal dari SBMI hanya 12% yang menyatakan proses tersebut sudah tepat. Tabel Uji Beda Serikat Buruh Terhadap Proses Penetapan UMP/UMPS Pearson Chi-Square Likelihood Ratio N of Valid Cases Value df 29,443 18 30,280 18 505 Asymp. Sig. (2-sided) 0,043 0,035

Jika data dibawah dianalisis lebih lanjut, maka salah satu kesimpulan yang dapat diambil adalah, respon buruh yang berasal dari berbagai Serikat Buruh tersebut berbeda satu dengan lainnya. Uji Chi Square menunjukkan bahwasannnya antara SPSI, SBSI, SBMI, PPMI, dan lainnya tersebut memiliki respon yang berbeda. Atau dengan kata lain, beberapa serikat buruh tersebut memiliki perbedaan dalam memandang proses penetapan UMP/UMPS.
Tabel Respon Terhadap Proses Penetapan UMP/UMPS

Berdasarkan Keanggotaan SB Keanggotaan SB SPSI SBSI PPMI SBMI lainnya Bukan anggota SB
Proses penetapan UMP/UMSP sudah tepat

ya 41 4 1 22 3 13

Tidak 70 20 1 106 9 40

tidak tahu 49 5 1 51 7 39

tidak menjawab 1 6 3

Total 161 29 3 185 19 95

123

tidak ada SB di Perusahaan

1 85

7 253

5 157

10

13 505

UPAH MURAH DAN JALAN LAIN UNTUK HIDUP
Seperti yang disebutkan pada Bab sebelumnya, secara nominal, upah buruh berdasarkan Upah Minimum tidak akan pernah mencukupi untuk membiayai kehidupan sehari-hari buruh lajang apalagi buruh yang sudah berkeluarga. Upah buruh yang ditetapkan oleh pemerintah melalui keputusan Gubernur dengan kebijakan UMP/UMPS-nya selalu berada di bawah kebutuhan hidup buruh secara layak. Jangankan untuk hidup layak, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari secara normalpun dirasakan oleh buruh sudah sangat sulit. Untuk memenuhi kebutuhan buruh tersebut, ada berbagai cara yang pernah dilakukan oleh buruh. Tekanan kebutuhan buruh sehari-hari memaksa buruh untuk melakukan pekerjaan lain yang sudah pasti akan membawa konsekuensi pada kesehatan buruh. Itupun sebenarnya tidak dilakukan oleh seluruh buruh. Ada berbagai keterbatasan yang membuat buruh tidak memiliki kesempatan untuk menambah pendapatannya. Salah satunya adalah jam kerja yang memaksa buruh untuk tidak punya pilihan atau alternatif lain untuk memperoleh penghasilan tambahan. Dengan kondisi seperti itu, maka sudah dapat dipastikan posisi buruh akan semakin tertekan. Kebutuhan hidup yang semakin meningkat tidak pernah dijadikan pertimbangan untuk menentukan upah buruh. Memang dalam lembaga penentu jumlah UMP/UMPS, salah satu tahapan yang dilakukan adalah melakukan survey untuk melihat harga-harga kebutuhan buruh. Namun jika dilihat realitasnya di lapangan, jumlah yang ditetapkan tetap saja masih jauh dari kebutuhan yang sebenarnya. Belum lagi jika dikaitkan dengan standar atau acuan yang dijadikan dasar penetapan UMP yang masih berdasarkan kehidupan hidup minimum. Jika sebelumnya kebijakan pengupahan didasarkan pada standar kebutuhan fisik minimum

124

(KFM), maka saat ini sudah pada kehidupan hidup minimum (KHM). Perubahan tersebut ternyata jumlah upah sama sekali tidak mengubah secara signifikan terhadap kebutuhan hidup buruh. Standar kebutuhan hidup buruh yang dijadikan acuan penentuan jumlah upah masih pada kisaran kebutuhan dasar semata, tanpa mempetimbangkan aspek kebutuhan lain yang memang sudah mendesak untuk diperhitungkan. Selama ini, acuan Dewan Pengupahan Daerah (DPD) dalam menentukan jumlah UMP masih tetap pada kebutuhan dasar tersebut. Seakan pemerintah (melalui DPD dan Gubernur) tidak memahami realitas yang sebenarnya, bahwa kebutuhan buruh bukan sekedar kebutuhan untuk “asal” dapat hidup saja. Jelas dalam mekanisme yang ada, buruh belum dianggap manusia yang sebenarnya, karena aspek sosiologis dan psikologis buruh tidak dijadikan komponen yang penting dalam menentukan jumlah UMP/UMPS. Dasar penentuan upah minimum yang berlaku sepanjang orde baru hingga saat ini adalah Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) dan kemudian berubah menjad KHM (Kebutuhan Hidup Minimum). Konsep KHM merupakan perbaikan dari konsep KFM yang dianggap acuan lama yang sudah diterapkan sejak tahun 1959. Secara kuantitatif, jumlah komponen yang ditetapkan dalam KHM sebenarnya lebih sedikit dibandingkan dengan acuan KFM. Dari yang sebelumnya 47 komponen menjadi hanya 31 komponen. Salah satu dasar perubahan tersebut adalah ada beberapa jenis komponen yang secara kualitatif lebih baik dibandingkan dengan komponen yang ada dalam KFM. Misalnya saja komponen pakaian. Dalam KFM tidak ada dibedakan antara pakaian wanita dengan pria, sedangkan pada KHM, sudah dibedakan antara celana atau rok kualitas sedang, kemeja tangan pendek atau blus kualitas sedang. Pembedaan tersebut memang pada satu sisi sudah mengakomodir kebutuhan sandang dan pakaian berdasarkan perspektif gender. Namun jika dilihat komponen lainnya, ada banyak komponen yang sudah dipangkas. Misalnya saja tentang kebutuhan makanan dan minuman. Pada KFM, buruh masih bisa menikmati beras sebagai standar kebutuhan makanan pokok. Sedangkan pada KHM, buruh dipaksa 125

untuk memilih antara beras, jagung atau sagu. Penurunan tersebut juga terjadi pada komponen lain, seperti kebutuhan buruh daalam mengkonsumsi teh dan kopi. Pada acuan KFM, buruh masih bisa menikmati 2 item tersebut, sedangkan pada KHM, buruh dipaksa untuk memilih antara mengkonsumsi teh atau kopi. Standar seperti itu tentunya merupakan penurunan dari acuan yang ada dalam KFM. Konsep KFM sudah lebih baik sebagai acuan upah buruh. Dengan demikian, konsep KHM secara kualitas dan kuantitas lebih rendah dibandingan acuan yang sebelumnya. Berdasarkan data yang diperoleh melalui survey, ada 23 komponen kebutuhan buruh yang tercakup untuk melihat kebutuhan buruh dalam satu bulan. Hasil perhitungan memperlihatkan bahwasannya hanya berdasarkan 23 komponen tersebut, secara rata-rata kebutuhan buruh dalam satu bulan sudah mencapai Rp. 1.688.697,-. Tentunya jumlah ini jauh lebih besar UMP yang ditetapkan oleh pemerintah selama ini. Hal itu dapat dilihat dari komponen kebutuhan fisik minimum (KFM) yang sebelumnya menjadi acuan penentuan UMR. Dari 47 komponen KFM, yang terkait dengan kebutuhan selain kebutuhan fisik dasar sangatlah minim. Misalnya saja komponen rekreasi. Komponen tersebut malah digabungkan dengan kebutuhan lainlain yang hanya 15% dari total komponen KFM bersama dengan komponen transportasi, pendidikan/bacaan, obat-obatan, sikat gigi, pasta gigi, dan lain-lain, pengeluaran buruh dalam buruh dalam satu bulan sebesar Rp.650.000,- dan kebutuhan pakaian, perumahan/alat dapur, bahan bakar/penerangan/peneduh, makanan/minuman sebesar Rp.560.000,- maka hanya tinggal Rp.90.000,- uang yang dibagi untuk biaya pendidikan, obat-obatan, transportasi, rekreasi dan kebutuhan lainnya. Tentunya jumlah tersebut sangat tidak mampu memenuhi kebutuhan buruh yang seharusnya. Bagaimana buruh bisa memenuhi kebutuhan akan obat-obatan, tansportasi, sikat gigi, rekreasi dan lain-lain jika alokasi pengeluaran hanya sebesar 15% dari total pendapatan buruh. Jika pendapatan buruh dalam satu bulan sebesar Rp.650.000, maka uang yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan obat-obacan, sikat gigi, pendidikan, transportasi dan sebagainya hanya sebesar Rp.97.500,-. Jika 126

uang sejumlah itu dibagi secara merata untuk 6 pos pengeluaran, maka alokasi untuk masing-masing hanya sebesar Rp.16.250,-. Bagaimana mungkin dengan sejumlah uang tersebut buruh bisa berrekreasi menghilangkan penat setelah selama satu bulan bekerja. Apalagi jika seorang buruh sudah berkeluarga, maka biaya rekreasi membutuhkan biaya yang lebih besar. Standar penentuan jumlah upah memang sudah mengalami perubahan. Dari yang hanya berdasarkan kebutuhan fisik semata, kemudian dikatakan meningkat menjadi standar kehidupan minimum (KHM). Pada komponen lain-lain, seperti transport, rekreasi, obat-obatan, pendidikan, pangkas rambut dan lain-lain, porsinya diperbesar menjadi 20%. Jika pendapatan buruh tetap sebesar Rp.650.000,- dalam satu bulan, maka alokasi pengeluaran untuk komponen lain-lain adalah sebesar Rp.130.000,- yang akan dibagi untuk 6 atau lebih pos pengeluaran. Kalau sejumlah uang tersebut dibagi secara merata, maka masing-masing pos pengeluaran hanya mendapat kurang lebih Rp.18.000,- sampai dengan Rp.21.000,-. Seperti yang disebutkan sebelumnya, secara kualitatif komponen kebutuhan hidup buruh sudah mengalami perbaikan dibandingkan dengan sebelumnya ketika masih berdasarkan kebutuhan fisik minimum (KHM). Salah satu pos pengelaran yang porsinya diperbesar adalah komponen pengeluaran lain-lain sebesar 20% dari total kebutuhan makanan dan minuman, perumahan dan fasilitas rumah tangga, dan sandang/pakaian. Berdasarkan realitas kebutuhan hidup buruh saat ini, sangatlah tidak mungkin jika alokasi alokasi untuk kebutuhan lain-lain tersebut hanya pada kisaran Rp.18.000,- sampai dengan Rp.21.000,-. Data yang diperoleh dari hasil FGD menunjukkan, bahwasannya kebutuhan buruh untuk transportasi saja sebenarnya sudah lebih dari Rp.40.000,-, bahkan ada yang mencapai Rp.90.000 per bulannya. Jika alokasi pengeluaran buruh untuk kebutuhan lain-lain tersebut hanya Rp.130.000,- maka sisa yang untuk membiayai kebutuhan lain selain transportasi hanyalah Rp.40.000,-. Bisa dibayangkan jika buruh hanya memiliki uang sebesar itu untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan, dikat gigi, kosmetik, pendidikan dan sebagainya. 127

Jumlah upah yang ditetapkan oleh pemerintah (dalam hal ini gubernur melalui hasil penelitian yang diusulkan DPD) memang sudah sangat tidak sesuai dengan kebutuhan buruh yang sebenarnya. Prinsip dasar yang menjadi acuan penentuan jumlah upah pokok sudah tidak sesuai dengan realitas ekonomi dan sosial buruh yang sudah sangat tinggi. Jadi, boleh dikatakan tuntutan pemenuhan hak normatif seperti yang dilakukan selama ini oleh elemen buruh bersama elemen lain sudah tidak mampu mengatasi masalah yang sebenarnya. Sudah sejak tahun diberlakukannya kebijakan UMP sampai sekarang, terlihat kenaikan upah memang sudah tidak mencukupi lagi bagi pemenuhan kebutuhan buruh. Jumlah upah yang ditetapkan oleh pemerintah seperti merangkak pelan, sedangkan angka inflasi, kenaikan harga barang dan sebagainya melaju cepat mendahului pendapatan buruh. Jika pemerintah tetap berpegang pada prinsip lama, yakni dengan konsep Upah Minimum, maka sudah dapat dipastikan kondisi buruh akan semakin tertekan. Tertekan bukan saja diakibatkan oleh kondisi kerja yang sangat tidak manusiawi, namun juga tekanan dari kenaikan kebutuhan sehari-hari di pasar-pasar yang sudah semakin tinggi. Hal itu semakin tampak ketika beberapa variabel karakteristik buruh dihubungkan dengan kondisi upah yang ada. Dari segi lama bekerja saja dapat dilihat bahwasannya masih banyak upah buruh yang berada di bawah UMP, walaupun masa kerja buruh sudah lebih dari 4 tahun. Walaupun sebahagian besar responden buruh sudah menerima upah sama dengan UMP ataupun lebih besar dari UMP, namun tidak dapat dipungkiri dari angka ini, bahwasannya penerapan UMP belum sepenuhnya dijalankan. Hal ini dapat diartikan sebagai tindakan ketidakpatuhan dari pengusaha untuk secara otomatis memberikan upah sebagaimana yang sudah tercantum didalam peraturan ketenagakerjaan bahwasannya walaupun buruh bekerja dalam waktu 0 (null) tahun sudah harus menerima upah pokok sebesar UMP.

128

TabelUpah Minimum Propinsi Berdasarkan Masa Kerja kategori masa kerja Kategorial UMP <UMP UMP >UMP 1 18 6 36 20 162 90 60 112 Total 25 258 222

<1 tahun 1-4 tahun >4 tahun

Total 57 270 178 505 Secara kasat mata, jumlah buruh dalam masa kerja >4 tahun yang menerima upah sesuai atau >UMP sudah cukup besar, yakni sebanyak 112 orang. Namun jika dilihat dari angka korelasi antara masa kerja dengan jumlah UMP, ternyata hasilnya tidak cukup besar. Walaupun secara nyata terdapat hubungan antar masa kerja dengan jumlah upah, besarnya hanya sebesar 0,275. Angka sebesar itu memiliki arti hubungan yang sangat rendah. Walaupun perbedaan kategori upah memiliki perbedaan secara signifikan dengan kategori UMP, namun tidak berarti hubungan antara masa kerja dengan jumlah upah menjadi besar. Dengan kata lain, masa kerja memang berhubungan dengan semakin tingginya upah yang diterima buruh, namun hubungan tersebut tidaklah tinggi. Artinya, setiap pertambahan masa kerja buruh dari 0 (nol) tahun sampai lebih dari 4 tahun belum tentu akan mempertinggi upah yang diterima oleh buruh. Jika dihubungkan dengan tingkat pendidikan, terlihat ada perbedaannya terhadap jumlah upah atau kategori upah berdasarkan UMP. Sebahagian besar buruh yang menerima upah di sesuai UMP adalah buruh yang berpendidikan SMA, yakni sebesar 355 orang, sedangkan buruh berpendidikan tidak tamat SD, tamat SD dan SLTP adalah sebesar 11, 13 dan 95 orang. Namun jika dilihat dari sisi umur, hubungannya dengan upah tidaklah terlalu signifikan. Walaupun secara statistik terlihat ada hubungan antara umur dengan jumlah upah pokok yang diterima, namun hubungan tersebut tidaklah pasti (hanya sebesar 0,250). Artinya, semakin tua usia

129

buruh, belum tentu jumlah upah yang diterima akan semakin besar. Padahal dari hasil korelasi antara usia dengan masa kerja, terlihat sangatlah signifikan. Dengan kata lain, semakin tua usia buruh, maka semakin panjang masa kerja yang sudah dia lewati. Hal ini menunjukkan, pada umumnya buruh rata-rata masuk kerja pada usia muda, dan sangat jarang ditemukan yang masuk pada usia dewasa atau tua. Jika dua hubungan tersebut dikombinasikan, terlihat bahwasannya masa kerja dan usia buruh tidaklah berkorelasi secara meyakinkan terhadap kenaikan upah buruh. Salah satu item yang kelihatan ditiadakan dalam komponen upah adalah lemahnya penerapan upah berkala. Jika komponen upah berkala dijalankan sebagaimana mestinya, semakin lama buruh bekerja, tentunya akan berkorelasi terhadap jumlah kenaikan upah. Namun hal tersebut tidak ditemukan dari hasil penelitian ini.

Efektifkah Keberadaan Serikat Buruh di Dewan Pengupahan?

Selama dua tahun terakhir, keberadaan serikat buruh independen dan serikat pekerja lokal sudah mulai dilibatkan dalam proses perumusan upah di daerah, baik itu di propinsi maupun di kabupaten/kota. Pada satu sisi keterlibatan tersebut menjadi indikasi bahwasannya serikat buruh yang selama ini kritis terhadap pemerintah maupun pengusaha.
Selama ini serikat buruh/pekerja yang kritis cukup mendapat tekanan dari pemerintah maupun pengusaha. Serikat buruh/pekerja independen yang kritis tersebut dianggap terlalu banyak mengganggu iklim investasi dengan aksi-aksi yang mengangkat persoalan struktural. Pengakuan tersebut pada awalnya diterima secara positif oleh serikat buruh, dikarenakan selama ini serikat buruh kritis lebih banyak memainkan strategi di luar sistem sehingga tidak dapat mengetahui proses perumusan dan penetapan upah yang sebenarnya. Pada tahun 2005, khususnya di Kota Medan dan Sumatera Utara terdapat beberapa serikat buruh/pekerja yang cukup kritis terhadap pemerintah duduk dalam

130

dewan pengupahan. Tentunya posisi tersebut menimbulkan beberapa perdebatan di kalangan pengurus maupun anggota serikat buruh. Keberadaan serikat buruh independen pada satu sisi harus ditempatkan secara permanen di luar sistem, karena sistem yang ada saat ini tidak dapat dipercaya dan cenderung meminggirkan kepentingan-kepentingan buruh yang sebenarnya. Hal itu dapat dilihat dari keterlibatan beberapa serikat buruh di tahun-tahun sebelumnya yang tidak dapat mewarnai proses perumusan dan penetapan upah sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan buruh. Atas dasar tersebutlah keberadaan serikat buruh kemudian melakukan pertimbangan secara serius terhadap tawaran tersebut. Namun di sisi lain, beberapa pihak di serikat buruh beranggapan bahwasannya tawaran untuk duduk di dewan pengupahan sangat positif bagi serikat. Keberadaan serikat buruh mandiri di dewan pengupahan dapat digunakan untuk merekam proses yang terjadi di dewan pengupahan. Selama ini serikat buruh kritis kurang mengetahui proses dan mekanisme yang terjadi didalam institusi tersebut, sehingga dengan masuknya utusan serikat buruh maka segala perkembangan dan proses yang terjadi di dewan pengupahan dapat diketahui. Kedua, dengan terlibat di dewan pengupahan maka setidaknya serikat buruh sejati dapat memberi warna ataupun mempengaruhi proses kerja dewan sehingga beberapa kepentingan dan kebutuhan buruh yang selama ini diabaikan dapat terakomodir. Selama ini yang diketahui oleh serikat buruh kritis masih samar-samar tentang mekanisme yang dijalankan oleh dewan pengupahan. Dengan masuk ke dalam sistem tersebut maka hal-hal teknis yang selama ini hanya didengar dari luar dapat diketahui dengan jelas. Untuk kepentingan yang kedua memang cenderung sulit untuk dijalankan oleh utusan yang ada dewan pengupahan, sebab selama ini dari sisi jumlah, serikat buruh sendiri jumlahnya sangat kecil di dewan sehingga akan sulit untuk mempengaruhi kerja-kerja di dewan pengupahan. Apalagi jika dilihat pengalaman dari pemerintah 131

dan pengusaha yang sudah belasan tahun duduk di dewan pengupahan. Pengalaman panjang seperti itu tentunya dapat digunakan oleh pemerintah, pengusaha dan serikat pekerja kuning sebagai strategi menutup kepentingan serikat buruh kritis. Jika hal itu yang terjadi maka keberadaan serikat buruh kritis akan semakin sulit untuk memasukkan kepentingan basis-basis serikat yang sudah sangat tertekan. Satu kasus mungkin dapat dijabarkan dalam penelitian ini, yakni tentang keberadaan SBMI di Dewan Pengupahan Daerah (DEPEDA) Kota Medan. Sebagai sebuah institusi pengupahan yang masih baru terbentuk di kota Medan, sebenarnya kesempatan utusan SBMI cukup strategis sehingga dapat memasukkan kepentingankepentingan SBMI yang selama ini cenderung lebih banyak melakukan pengkritisan dari luar sistem. Secara garis besar ada beberapa alasan yang menguatkan SBMI untuk mendudukkan utusannya dalam dewan pengupahan kota Medan. Pertama, dewan pengupahan kota Medan masih baru terbentuk sehingga kesempatan untuk mempengaruhi perumusan sistem kerja sangatlah terbuka. Peran tersebut dapat dimainkan dikarenakan pada awal masa kerja, Dewan Pengupahan Kota Medan belum memiliki format kerja yang jelas, sedangkan petunjuk pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2004 minim sekali mengatur hal-hal teknis penuntun kerja dewan pengupahan. Dengan kekosongan format kerja tersebut maka SBMI berharap akan dapat memasukkan beberapa point mekanisme kerja yang sesuai dengan kepentingan buruh. Selama ini, seperti yang dilakukan di dewan pengupahan propinsi, terdapat mekanisme kerja yang dirasakan tidak adil dan memanipulasi buruh. Antara lain tentang mekanisme kerja survey, proses pembahasan maupun pada saat pengambilan keputusan. Beberapa persoalan yang timpang, tidak adil dan tidak transparan dalam kerja-kerja dewan pengupahan kemungkinan akan dapat diperbaiki jika masukan dari serikat buruh dapat tertampung dalam proses penyusunan mekanisme kerja dewan pengupahan. 132

Tujuan selanjutnya adalah yang paling minimal dapat dilakukan utusan serikat buruh di dewan pengupahan, yakni sekedar memahami mekanisme kerja dari dewan pengupahan. Selama ini serikat buruh kritis, seperti SBMI lebih banyak mendengarkan persoalan-persoalan pengupahan hanya dari media dan beberapa informasi jaringan yang ikut dalam dewan pengupahan. Strategi kampanye dan publikasi maupun aksi tentang pengupahan yang dilaksanakan selama ini masih didasarkan pada sumber-sumber data dan informasi skunder. Melalui pelibatan dalam dewan pengupahan, maka informasi dan data terkait dengan mekanisme atau proses kerja, pengambilan keputusan maupun penetapan upah minimum dapat diketahui dengan jelas. Memasukkan utusan ke dalam dewan pengupahan dianggap sebagai proses penelitian secara terlibat sehingga informasi dan data yang diperoleh tidak diragukan lagi validitas dan objektivitasnya. Informasi dan data tersebut akan lebih mengena nantinya ketika akan dikemas dalam bentuk isu pengupahan, baik itu yang akan dijadikan strategi pengorganisasian serikat buruh, kampanye, dan publikasi persoalan perburuhan. Dari dua tujuan yang ditetapkan oleh serikat buruh tersebut, ternyata dalam pelaksanaanya hanya satu yang terpenuhi, yakni menjadikan keterlibatan SBMI sebagai sebuah penelitian tentang kerja-kerja yang dilakukan oleh dewan pengupahan. Dari awal terbentuknya dewan pengupahan, proses survey dan pembahasan, sampai mekanisme pengambilan keputusan diperoleh secara lengkap oleh serikat buruh. Namun tujuan yang prinsipil tentang keberadaan serikat buruh di dewan pengupahan jelas masih sangat sulit untuk dilakukan, disebabkan di dalam institusi tersebut telah terkondisi proses dominasi, hegemoni dari pihak-pihak mayoritas terhadap pihak-pihak yang terlemah dan terkecil dari sisi kuantitas. Dalam kerja-kerja dewan pengupahan, keberadaan serikat buruh kritis dapat dikatakan sulit bergerak. Hal itu dikarenakan kondisi institusi dewan pengupahan sengaja diciptakan bersifat intimidatif, sehingga suara-suara kritis dan berbeda terhadap suara mayoritas dengan mudah dapat dianulir ataupun ditiadakan. Dalam 133

beberapa tahapan utusan dari serikat buruh merasa telah dilangkahi hak-haknya sebagai salah satu komponen dewan pengupahan. Hal itu salah satunya dapat dilihat dari proses survey. Kecilnya jumlah utusan serikat buruh kritis dalam tim survey yang dibentuk oleh dewan merupakan salah satu titik lemah dari serikat buruh. Dari beberapa tim survey yang dibentuk, serikat buruh kritis hanya bisa menempatkan utusannya di satu atau dua tim saja. Dalam tim dimana utusan serikat buruh kritis berada sebenarnya pengawasan terhadap kerja-kerja tim dapat dikontrol dengan maksimal karena tim yang terdiri atas pengusaha, pemerintah dan serikat buruh dapat bekerja secara kolektif dalam melakukan survey di satu pasar tradisional. Namun untuk tim survey lainnya, proses kontrol sulit untuk dilakukan karena sebahagian besar berasal dari utusan yang selama ini kurang berpihak terhadap buruh. Keyaninan serikat buruh untuk menerapkan proses survey yang adil ternyata cukup sulit untuk dilakukan. Walaupun tim survey merupakan gabungan 3 unsur tripartit yang bekerja secara kolektif namun pada prakteknya tidak dapat dijalankan dengan baik. Hal itu disebabkan adanya kesempatan tim untuk mengatur sendiri metode kerja survey di pasar tradisional. Dari pengamatan yang dilakukan di dewan pengupahan kota dan propinsi di wilayah Sumatera Utara, tim survey dapat bekerja secara terpisah. Ketika terdapat 2 atau lebih pasar yang akan disurvey maka yang lebih didorong untuk melakukan survey adalah individu-individu dalam tim tersebut. Dengan demikian, tim tidak bekerja secara bersama-sama namun terjadi penugasanpenugasan pribadi yang ada dalam tim. Mekanisme kerja survey tersebut tentunya tidak dapat dikatakan menyalahi aturan, karena aturan teknis survey tidak dijelaskan secara cukup detail dalam Permennakertrans No. 17 Tahun 2005 tentang Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak. Persoalan-persoalan seperti inilah yang tampaknya mendominasi kaburnya kerja-kerja dewan pengupahan daerah. Selain dari sisi kebijakan pengupahan yang dirasakan belum adil, ketidakjelasan aturan teknis kerja dewan pengupahan tampaknya menjadi persoalan yang harus 134

diperbaiki. Dari pengalaman yang terjadi di dewan pengupahan propinsi Sumatera Utara dan Kota Medan, ketiadaan ataupun ketidakjelasan aturan pelaksanaan kerja dewan pengupahan ibarat sebagai sebuah lobang besar yang dapat dimanfaatkan oleh komponen terkuat di dewan pengupahan. Salah satunya adalah mekanisme analisis dan pembahasan hasil survey Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Aturan dalam Perpres No 17 Tahun 2004 hanya mengatur tentang proses pembahasan hasil survey yang dilakukan oleh dewan pengupahan dengan koordinasi pemerintah, terutama Badan Pusat Statistik (BPS). Namun pada prakteknya ternyata tidaklah demikian. Unsur sekretariat yang merupakan komponen pendukung administrasi dewan pengupahan ternyata berperan lebih besar dibandingkan Badan Pusat Statistik. Hal ini dapat dibuktikan ketika ternyata hasil survey yang dilakukan oleh tim survey ternyata diolah oleh anggota sekretariat yang sebahagian besar dari pemerintahan daerah (Pemda) dan Dinas Tenaga kerja yang notabene saat ini berada di bawah pemerintah daerah. Demikian juga dalam proses pembahasan hasil analisis yang dilakukan oleh forum rapat dewan pengupahan. Mekanisme yang dijalankan oleh dewan pengupahan Kota Medan dan Propinsi Sumatera Utara cenderung “asal-asalan” dan tidak sistematis. Dalam setiap rapat dewan pengupahan terjadi pengulangan pembahasan sehingga tidak jelas sistematika ataupun alur yang jelas. Pengalaman di dewan pengupahan kota Medan, sistematika pembahasan hampir selurunya dilakukan oleh pimpinan dewan pengupahan, dalam hal ini oleh unsur pemerintah daerah (utusan dari Dinas Tenaga kerja dan Transmigrasi). Kemudian alur yang disusun oleh pimpinan dewan pengupahan ditawarkan kepada anggota dewan dalam rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh anggota. Hal ini berlangsung terus menerus dalam setiap rapat dewan. Konsekuensi dari kacaunya alur pembahasan tersebut tidak dianggap terlalu serius oleh seluruh unsur di dewan pengupahan terutama ketua dewan. Padahal dampaknya bagi proses pembahasan secara umum sangatlah besar karena telah 135

membuka peluang perubahan yang terus menerus terhadap aturan main pembahasan. Salah satu dampak paling besar namun tidak dianggap serius adalah tentang hak suara dan berpendapat. Sebelum pembahasan hasil survey dilakukan, tidak ada kesepakatan dari dewan tentang bagaimana aturan main hak suara dan pendapat, sehingga masingmasing institusi yang terlibat dapat memberikan pendapat atau melakukan ulasan terhadap hasil survey. Namun kemudian dalam rapat-rapat selanjutnya, muncul suarasuara dari anggota dewan yang meminta agar pendapat dan suara ditentukan oleh unsur tripartit yang ada dalam dewan pengupahan. Dengan demikian, pemerintah, pengusaha, serikat buruh/pekerja dan unsur pakar hanya memiliki satu pendapat ataupun suara. Usulan ini tentunya menimbulkan polemik di kalangan anggota dewan sebab muncul secara tiba-tiba dan dapat diinterpretasikan sebagai bentuk permainan ataupun strategi satu komponen untuk meniadakan ataupun meminimalisasi peran institusi lain. Ketidakjelasan mekanisme pembahasan di dewan pengupahan juga dapat dikaitkan dengan kurang jelasnya penggunaan panduan maupun prinsip-prinsip pembahasan. Padahal, keberadaan dewan pengupahan jelas-jelas harus menggunakan dua aturan pengupahan, yakni Perpres No. 107 Tahun 2004 dan Permennakertrans No. 17 Tahun 2005. Realitanya, dua aturan utama tersebut sangat minim dipatuhi oleh dewan pengupahan. Salah satunya adalah tentang penggunaan standar KHL. Sudah jelas bahwasannya berdasarkan dua aturan tersebut dewan pengupahan hanyalah memiliki tugas mengembangkan sistem pengupahan dan

merekomendasikan upah minimum yang akan diberlakukan selama satu tahun kepada kepala daerah. Namun beberapa anggota dewan pengupahan malah memasukkan prinsip tahapan pencapaian KHL menjadi salah satu tugas dari dewan pengupahan. Usulan untuk memasukkan prinsip pencapaian KHL menjadi panduan kerja dewan pengupahan tentunya adalah salah satu bentuk kesalahan interpretasi dari unsur dewan pengupahan, karena tahapan pencapaian KHL menjadi kewenangan Gubernur. Tidak ada hak dewan pengupahan untuk merubah hasil survey ataupun 136

menegasikan angka yang muncul dari proses pembahasan dewan. Masuknya pemikiran untuk menggunakan prinsip tahapan pencapaian KHL dianggap sebagai strategi beberapa unsur dewan pengupahan untuk meniadakan hasil survey yang merupakan angka paling riil untuk upah minimum. Tentunya usulan tersebut kemudian dibahas kembali oleh dewan pengupahan. Jika prinsip tersebut ditetapkan di awal rapat dewan, maka usulan-usulan yang menyalahi peraturan jelas langsung akan ditolak oleh forum dewan sehingga tidak mengganggu alur pembahasan. Akhirnya, kesalahan paling fatal akibat ketiadaan mekanisme kerja pembahasan di dewan pengupahan adalah ketika dewan meniadakan hasil survey sebagai nilai patokan dasar pembahasan upah. Kejadian seperti ini tampaknya di tahun-tahun depan akan terjadi jika tidak ada ketegasan dari pemerintah dan dorongan dari serikat buruh kritis. Pada tahun-tahun sebelumnya, yang disebut dengan kenaikan upah minimum sudah cukup menyalah karena terjadi bukanlah kenaikan, namun sekedar penyesuan upah minimum yang didasarkan oleh inflasi. Pola seperti itu tampaknya masih terjadi pada proses perumusan dan penetapan upah minimum tahun 2006. Pada awalnya, seluruh anggota dewan pengupahan sepakat bahwasannya landasan penetapan upah adalah hasil survey KHL yang dilakukan pada bulan September 2006 yakni setelah dirata-ratakan sebesar Rp. 799.000,-. Kemudian sesuai dengan Permennakertrans No. 17 Tahun 2005, angka tersebut akan ditambahkan dengan inflasi berjalan dan yang akan berlaku pada tahun berikutnya. Setelah itu beberapa pertimbangan ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi dan kemampuan perusahaan dimasukkan dalam pembahasan. Ternyata pembahasan di dewan pengupahan tidak seperti yang tertera dalam peraturan tersebut. Secara khusus, komponen pengusaha memberi argumentasi, bahwasannya angka hasil survey KHL tidak dapat mentah-mentah digunakan sebagai patokan pembahasan upah minimum. Argumentasi tersebut jelas-jelas sudah melanggar

137

kesepakatan awal dan sudah menyalahi aturan resmi pengupahan yang mensyaratkan dasar pembahasan upah minimum dari hasil survey KHL. Namun yang patut disayangkan, forum ternyata menyediakan waktu kepada pihak-pihak yang memberi argumentasi menyimpang tersebut. Ditambah lagi, kalangan akademisi dan pakar yang sebenarnya harus memberikan referensi akademis ternyata malah mendukung argumentasi tersebut dengan memberi perhitungan-perhitungan dan logika

penyesuaian dan bukan kenaikan. Alasan yang dikemukakan oleh unsur pengusaha ternyata masih menggunakan landasan-landasan lama pada tahun-tahun sebelumnya, yakni menjadikan inflasi sebagai variabel utama perubahan upah minimum. Dari hasil analisis dan pemetaan kepentingan diantara unsur yang ada di dewan pengupahan, pihak pengusaha sendiri sebenarnya sudah terjebak dengan kesepakatan pertama dimana upah minimum harus didasarkan pada hasil survey KHL, sehingga dianggap akan memberatkan dunia usaha di kota Medan. Munculnya angka Rp. 799.000,- sebagai hasil perhitungan survey KHL dianggap oleh pengusaha tidaklah masuk akal untuk diterapkan, sehingga harus digunakan mekanisme lama yang lebih realistis. Hal itu diperparah lagi dengan adanya beberapa argumentasi dari beberapa anggota serikat pekerja, pemerintah dan pakar yang menyatakan bahwa inflasi sudah merupakan representasi dari perubahan ekonomi lokal, sehingga patut dijadikan faktor utama pembahasan upah minimum. Simplifikasi seperti itu sesungguhnya merupakan proses pembodohan yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Unsur pemerintah dan terutama pengusaha sendiri dari situasi ini ternyata tidak siap untuk memberlakukan aturan pengupahan. Namun yang harus dilihat dari semuanya adalah, kepentingan dunia usaha dan pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi, kondusifitas iklim investasi, stabilitas ekonomi lokal dan nasional masih menjadi tujuan utama proses penetapan upah minimum. Namun kepentingan tersebut selalu ditutupi dengan pertimbanganpertimbangan sulit untuk dijelaskan dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dari 138

seluruh argumentasi yang diungkapkan, tidak satupun yang bersifat membela kepentingan buruh yang sudah semakin tertekan. Keseluruhan kesalahan dan penyimpangan yang berlangsung di dalam dewan pengupahan ini jelas mendapat penentangan dari unsur serikat buruh kritis. Namun penolakan dan kritikan tersebut tampaknya tidak diakomodir secara proporsional oleh sebahagian besar anggota maupun pemimpin dewan pengupahan. Apalagi dengan jumlah utusan yang sangat minim maka serikat buruh kritis semakin sulit melakukan pelurusan proses pembahasan. Kesulitan tersebut terjadi dalam beberapa aspek dan tahapan perumusan maupun penetapan upah. Pertama, dari sisi jumlah unsur serikat buruh kritis kalah jauh dengan unsur lain sehingga akan selalu kalah jika pengambilan keputusan didasarkan pada logika mayoritas. Kedua, minimnya jumlah anggota dari unsur serikat buruh kritis akan berdampak pada kecilnya keterlibatan utusan serikat buruh dalam setiap kerja-kerja komisi ataupun tim. Ketiga, praksis utusan serikat buruh kritis tidak mendapat dukungan dari unsur lainnya akibat kedekatan unsur-unsur lain, seperti pengusaha, serikat pekerja kuning, pemerintah, dan akademisi. Kekuatan gabungan beberapa unsur tersebut jelas menimbulkan kondisi intimidatif yang sangat besar pengaruhnya terhadap utusan serikat buruh kritis. Keempat, ketiadaan mekanisme yang detail tentang kerja-kerja dewan pengupahan ternyata merugikan serikat buruh pada umumnya, karena dengan demikian alur perumusan sangat kondisional sifatnya dan menegasikan beberapa aturan dan prinsip-prinsip yang sudah ditetapkan. Untuk memperbaiki kondisi ini, mau tidak mau dewan pengupahan dan pemerintah daerah harus segera melakukan perubahan dengan cara menyusun sistem pengupahan dan mekanisme perumusan yang sistematis. Jauh hari sebelum ceremonial perumusan dan penetapan upah yang biasanya berlangsung mulai dari bulan September sampai dengan Desember, dewan

139

pengupahan harus bekerja lebih awal sehingga memiliki banyak waktu untuk merumuskan sistematika dan proses pembahasan upah minimum yang berkeadilan bagi seluruh komponen yang terlibat. Seluruh proses yang berlangsung di dewan pengupahan pada saat ini menjadi indikasi awal bahwasannya posisi buruh sangatlah lemah berhadapan dengan unsur dewan lain yang dari segi kuantitas tidak seimbang. Walaupun utusan dari serikat buruh memiliki kemampuan dan pemahaman yang cukup luas dan mendalam tentang sistem pengupahan, namun itu tidak menjamin kepentingan buruh dapat terakomodir. Kuantitas keanggotaan di dewan pengupahan masih menjadi landasan perumusan upah minimum, sehingga proses demokratisasi yang berlangsung pun cenderung pada penindasan mayoritas terhadap minoritas. Sulitnya menyuarakan kepentingan buruh berhadapan dengan komponen dewan pengupahan lainnya cukup menjadi alasan bahwasannya keberadaan serikat buruh, khususnya serikat buruh kritis kurang efektif. Jika tidak ada mekanisme dan sistematika kerja yang jelas di dewan pengupahan, maka keberadaan serikat buruh kritis hanya menjadi pelengkap semata tanpa memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perubahan nasib buruh. Akhirnya, kepentingan pemerintah untuk menjadikan dewan pengupahan sebagai alat legitimasi upah minimum tampaknya sudah tercapai. Keberadaan serikat buruh hanyalah pelengkap untuk membentuk image bahwasannya upah minimum sudah ditetapkan secara demokratis dan memenuhi syarat-sarat legal. Tetap saja kepentingan pertumbuhan ekonomi, peningkatan investiasi dan stabilitas ekonomi menjadi tujuan utama dengan meminggirkan kepentingan buruh yang saat ini sudah semakin tertekan akibat liberalisasi ekonomi.

140

Sistem Pengupahan yang Tidak Adil

Tujuan utama dilakukannya penelitian ini bukan sekedar memberi gambaran secara lebih luas tentang kebijakan upah, penerapan aturan upah dalam sektor industri, beserta hubunganya dengan realitas kehidupan buruh. Namun yang ingin dicapai adalah bagaimana melihat kebijakan upah yang diterapkan selama ini, prinsip yang mendasarinya, serta tekanan yang bersifat struktural lainnya telah menjadikan nasib buruh sampai saat ini belum beranjak menuju perbaikan yang lebih berarti. Kacaunya sistem pengupahan dan minimnya aspek keadilan kebijakan pengupahan tersebut ternyata belum disoroti secara serius oleh elemen demokrasi di Indonesia. Memang sejak kebijakan upah minimum diberlakukan secara nasional, perdebatan kebijakan pengupahan tidak pernah berhenti. Namun perdebatan tersebut masih sekedar pengkritisan pelaksanaan sistem, maupun terhadap beberapa konsep dasar upah dan belum dilanjutkan dengan perubahan terhadap kebijakan yang sebelumnya dianggap sebagai kendala upaya perbaikan nasib pekerja.

Perdebatan yang bermuara pada keinginan perubahan kebijakan yang selama ini berlangsung masih bersifat incremental (tambal sulam)41. Sejak kebijakan upah minimuum dijalankan, praktis sebenarnya tidak ada perubahan yang cukup mendasar dan komprehensif. Lihat saja misalnya kebijakan pergeseran kewenangan
Abidin, Jaenal, Kedaulatan Buruh, sebuah makalah yang disampaikan dalam Semiloka Pengupahan yang diselenggarakan oleh Kelompok Pelita Sejahtera, Medan, 2004. Pada makalah ini dikatakan, perubahan kebijakan yang berlangsung saat ini bersifat incremental, sehingga hanya cocok pada jangka pendek. Pada jangka panjang harus ada pemikiran yang komprehensif dan menyentuh akar masalah oleh gerakan buruh dalam meretas persoalan perburuhan.
41

141

pengupahan dari pusat ke daerah, yang sebenarnya hanya merupakan konsekuensi formal dari diberlakukannya undang-undang desentralisasi atau otonomi daerah. Pergeseran kewenangan tersebut di tingkat substansial tidak merubah persoalan utama pengupahan. Proses demokratisasi pengupahan masih dilihat secara parsial, namun masih tetap dalam ruang kebijakan yang sama. Fokus persoalan yang selama ini diasumsikan menjadi substansi pengupahan masih pada aspek konsistensi, ketaatan pemerintah dan pengusaha dalam menerapkan kebijakan perburuhan, termasuk aturan pengupahan, redefinisi konsep dasar upah, maupun pada level peran institusi stakeholder pengupahan. Tuntutan yang diusung oleh elemen pergerakan buruh masih pada seputar tekanan kepada pemerintah dan pengusaha untuk menjalankan aturan pengupahan tanpa melihat sisi fundamen politik ekonomi yang mendasari berbagai kebijakan upah buruh. Contoh paling jelas dalam melihat periferal-nya elemen perburuhan dalam persoalan pengupahan adalah yang diungkapkan oleh ILO (International Labour Organization). Laporan organisasi buruh internasional tersebut cenderung melihat persoalan pengupahan pada level marginal. Ada sebelas konklusi yang telah mereka peroleh dalam memandang sistem pengupahan di Indonesia. 1. Rendahnya secara relatif jumlah upah pada berbagai jenis pekerjaan, dan turunnya upah riil berdasarkan kenaikan harga pasar kebutuhan. 2. 3. Lemahnya kemampuan/kekuatan tawar serikat buruh Ketidakakuratan dan inkonsistensi proses koleksi data dalam menyusun jumlah kebutuhan fisik minimum (sekarang kebutuhan hidup minimum) sebagai dasar kebijakan upah minimum 4. Jenjang atau rasio yang terlalu jauh antara level upah tertinggi dan upah minimum 5. Tidak adanya sumberdaya manusia, atau staf yang bekerja secara penuh pada komisi pengupahan nasional dan propinsi dan rendahnya pemahaman, kemampuan teknis tentang administrasi pengupahan 142

6.

Di tingkat pabrik, kenaikan upah belum sepenuhnya dipengaruhi oleh peningkatan produktivitas

7.

Regulasi pengupahan yang diberlakukan masih menggunakan standar umum yang dijalankan oleh perusahaan

8.

Terlalu banyaknya regulasi pengupahan yang pelaksanaannya tidak transparan

9.

Kegagalan beberapa pemberi kerja untuk menerapkan berbagai aturan dan regulasi pengupahan, dan juga rendahnya penegakan hukum pengupahan

10. Banyaknya perusahaan yang tidak memiliki skema strata dan struktur penggajian yang komprehensif 11. Tidak dijalankannya evaluasi kerja (job evaluation) di perusahaanperusahaan besar.42 Identifikasi persoalan pengupahan tersebut sebenarnya riil dihadapi oleh buruh. Demikian juga dengan berbagai analisis teoritik yang digunakan dalam memahami dan mengkritik sistem pengupahan. Ada beberapa kerangka teoritik yang sering digunakan, antara lain; kerangka teoritik pertama adalah yang mempertimbangan sisi permintaan tenaga kerja sebagai dasar penentuan tingkat upah sektor industri. Sisi permintaan menekankan berbagai aspek kompetisi, motif maupun tekanan ekonomi yang mempengaruhi tingkat upah. Tidak ada pertimbangan lain dalam prinsip seperti ini. Sistem permintaan tenaga kerja menawarkan satu konsep yang melulu berdasarkan pertimbangan ekonomi semata. Jika demikian, maka buruh atau pekerja dianggap sebagai salah satu komponen biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha dalam melakukan proses produksi. Dengan demikian, kemampuan pengusaha untuk memproduksi suatu barang tergantung dari kemampuannya menyediakan modal dan membeli tenaga kerja dalam kuantitas tertentu. Jika dalam waktu tertentu dan nilai atau harga dari suatu produk tertentu pengusaha hanya mampu memperkerjakan sejumlah tenaga kerja atau buruh, maka tingkat upah yang diberikan kepada buruh adalah sebesar hasil pengurangan hasil penjualan produk dalam volume tertentu dengan modal yang dikeluarkan. Aspek kedua adalah pertimbangan penawaran tenaga. Jika pada sisi permintaan dasar pertimbangan utamanya adalah kompetisi, tekanan dan motif ekonomi, maka pada sisi penawaran tenaga kerja, tekanan diletakkan pada aspek
42

International Labour Organization (ILO), Social Adjustment Through Sound Industrial Relations and Labour Protection, Final Report of An ILO/UNDP TSS1 Advisory Mission, Jakarta, 1995.

143

kualitas sumberdaya manusia. Pada sisi ini, tingkat upah lebih ditentukan oleh tingkat pendidikan, pengalaman kerja, keahlian kerja dan berbagai pertimbangan lainnya. Aspek ketiga yang menjadi saat sekarang ini menjadi acuan di banyak negara adalah adalah intervensi dari pemerintah dan serikat buruh. Dikarenakan tidak terjadinya kesempurnaan pasar dalam menentukan tingkat upah, maka perlu ada konsep penyangga sehingga kepentingan buruh tidak selalu dikalahkan oleh ketidakpastian pasar. Konsep ketiga inilah yang menawarkan adanya jaring pengaman (safety net) dalam kebijakan upah buruh. Melepaskan jumlah upah buruh berdasarkan mekanisme pasar dianggap tidak sangat manusiawi, sehingga perlu ditetapkan satu jumlah minimal agar buruh dapat sekedar hidup dan bekerja. Dalam perspektif ekonomi klasik dapat kita telusuri konsep upah minimum tersebut dari tawaran David Ricardo. Sebagai salah satu peletak dasar ekonomi klasik, Ricardo mengusulkan adanya tingkat upah tertentu sebagai imbal jasa bagi tenaga kerja. Imbalan tersebut hanya sekedar buruh dapat mempertahankan dan melanjutkan kehidupan. Dalam teori upah yang ditawarkan oleh Ricardo, tingkat upah yang diterapkan merupakan harga keseimbangan tenaga kerja. Memang tidak selamanya jumlah upah akan tetap, namun dikarenakan adanya akumulasi modal, kemajuan teknologi dan tekanan ekonomi lainnya, jumlah upah tersebut akan turun naik. Berdasarkan realitas upah yang dialami oleh buruh maupun kebijakan pengupahan yang dimunculkan oleh pemerintah, jelas landasan teori dan fundamen yang mendasari kebijakan upah masih sangat kental dengan kepentingan pengusaha. Secara terbuka pemerintah lebih menyetujui tingkat upah ditentukan oleh mekanisme pasar. Tetapi dalam mekanisme pasar, tidak ada kepastian tentang jumlah upah bagi buruh. Tingkat upah lebih ditentukan oleh hitung-hitungan biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha dalam satu proses produksi, kompetisi antar perusahaan, jumlah permintaan dan penawaran tenaga kerja dan kepentingan pertumbuhan ekonomi dari pemerintah. Seperti yang dikatakan oleh Adam Smith ada dua atau tiga bagian nilai yang dihasilkan buruh, yakni upah untuk buruh, keuntungan untuk pengusaha yang menyediakan modal dan membeli bahan mentah, serta uang sewa untuk pemilik 144

tanah. Dalam tatanan yang lebih modern, pembagian dari Adam Smith tersebut sudah tidak sesuai lagi. Smith tidak memasukkan faktor negara atau pemerintah sebagai salah satu komponen yang turut menerima keuntungan dari sistem ekonomi kapitalistik yang dibangun. Sebagai komponen regulator bidang ekonomi, peran pemerintah sudah sedemikian besar terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga berbagai kebijakan ekonomi maupun secara khusus kebijakan sektor industri dan perburuhan adalah yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi menjadi lebih tinggi. Apalagi ketika muncul kebijakan desentralisasi kewenangan pemerintahan melalui Undang-Undang otonomi Daerah. Salah satu aspek yang turut terpengaruh oleh kebijakan tersebut adalah dalam hal kebijakan pengupahan. Proses penetapan kebijakan upah yang sebelumnya ditentukan oleh pemerintah pusat melalui Menteri Tenaga Kerja sudah mulai didistribusikan kepada kepala daerah, yakni Gubernur dalam menentukan UMP (Upah Minimum Propinsi), Bupati/Walikota yang merumuskan dan menentukan UMK (Upah Minimum Kabupaten/Kota). Prinsip pergeseran kewenangan yang sebenarnya bertujuan agar unsur lokalitas lebih dipertimbangan dalam proses perumusan dan penetapan upah ternyata tidaklah signifikan sama sekali dalam menaikkan upah buruh, apalagi meningkatkan kesejahteraan buruh secara umum. Ada beberapa aras proses perumusan dan penetapan upah buruh yang masih timpang dalam sistem yang berlangsung saat ini. 1. Pada proses penentuan komponen yang dilibatkan dalam Dewan Pengupahan Daerah (DPD, 2. Pada tahapan survey dan penelitian kondisi kebutuhan buruh yang didasarkan kondisi pasar harga 3. Dasar kebutuhan hidup buruh yang masih sebatas Kebutuhan Hidup Minimum 4. Pada tahapan analisis dan diskusi informasi hasil survey, 5. Pada proses pengambilan keputusan jumlah upah, dan

145

6. Pada proses sosialisasi kebijakan jumlah upah UMP Terlihat bahwasannya dalam setiap tahapan perumusan dan penetapan upah, secara institisional, DPD dengan Gubernur telah cacat. Hal itu tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh seorang mantan anggota DPD yang berasal dari komponen serikat buruh. Pada tahapan survey dan penelitian terdapat indikasi beberapa anggota dalam DPD tidak melakukan hal yang sebagaimana mestinya. Walaupun sulit untuk dibuktikan, namun dari setiap hasil survey dan penelitian, data yang ditemukan selalu sangat berbeda dengan data atau informasi yang diperoleh oleh komponen DPD dari Serikat Buruh. Selain keenam keganjilan tersebut, satu hal yang kurang mendukung proses perumusan dan penetapan upah adalah ketiadaan dana. Secara formal, alokasi dana yang secara khusus membiayai proses perumusan dan penetapan upah oleh institusi DPD sangatlah minim. Padahal, dilihat dari tanggungjawab, proses kerja dan efek dari kerja yang dilakukan oleh DPD sangatlah besar. Kondisi tersebutlah yang diasumsikan menyebabkan kerja-kerja yang dilakukan DPD secara institusional tidak efektif. Secara personal, input materi yang diberikan kepada anggota DPD hanya pada saat diskusi dan rapat perumusan. Belum lagi jika dikaitkan dengan dana yang diberikan dalam setiap proses survey dan penelitian yang sampai saat ini belum jelas sama sekali. Pemerintah propinsi yang sebenarnya paling bertanggungjawab terhadap kinerja DPD tidak memiliki format khusus dalam hal pembiayaan. Sampai saat ini tidak ada alokasi yang jelas dan cukup besar dalam membiayai kerja-kerja DPD, padahal efek yang ditimbulkan dari institusi ini membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi ekonomi Sumatera Utara dan kesejahteraan buruh. Apa yang terjadi di dewan pengupahan kota Medan tampaknya menjadi satu pelajaran bahwasannya anggaran dewan pengupahan memang sangat menentukan kinerja dewan. Di dewan pengupahan kota Medan sebenarnya sudah tersedia anggaran operasional yang tercantum dalam APBD. Namun dari surat keputusan penetapan dewan pengupahan kota Medan dicantumkan satu point tentang nomor rekening dewan pengupahan. Hal ini jika tidak diawasi dengan tepat akan membuka ruang penyalahgunaan wewenang yang nantinya akan mengganggu independensi 146

dewan pengupahan. Memang belum ada bukti bahwasannya rekening tersebut disalahgunakan oleh pimpinan dewan pengupahan ataupun pemerintah daerah, namun keberadaannya harus dicermati secara teliti oleh serikat buruh maupun komponen yang ada di dewan pengupahan. Untuk menghindari hal-hal yang akan memperlemah dewan pengupahan, anggaran dewan dalam APBD dan rekening dewan harus dikelola secara transparan. Minimnya anggaran operasional dewan pengupahan sendiri sebenarnya dapat diterjemahkan dari dua sisi yang sifatnya dapat menguatkan maupun melemahkan. Satu sisi, utusan yang ada di dewan pengupahan tidak meratas secara materiil. Pihak pengusaha dan pemerintah jelas-jelas tidak akan terganggu dengan minimnya anggaran tersebut karena kerja-kerja mereka dalam dewan pengupahan adalah bagian dari kerja-kerja pemerintahan. Sedangkan pengusaha tentunya tidak akan kesulitan karena kontribusi utusan tiap-tiap perusahaan dalam asosiasi pengusaha sudah jelas. Bagi komponen serikat buruh kritis yang masih berusaha mandiri, minimnya ketersediaan dana operasional jelas sangat mengganggu. Apalagi kerja-kerja di dewan pengupahan memang sangat membutuhkan anggaran yang cukup, seperti dalam pembiayaan proses survey, pembahasan, pencarian refferensi, penyediaan tempat rapat yang kondusif dan mungkin juga biaya pengganti waktu bagi anggota dewan. Namun di sisi lain, kecukupan dana tersebut dapat melemahkan posisi dewan maupun anggota karena akan memunculkan ketergantungan yang kemudian berdampak kepada independensi maupun kekritisan dewan. Ketatnya perdebatan di dewan pengupahan mengakibatkan permasalahan anggaran akan semakin sensitif sehingga mau tidak mau harus dikelola secara jelas dan transparan, sebab jika tidak akan memunculkan ruang-ruang manipulasi dan penyelewengan baru. Sistem pengupahan yang diberlakukan di Sumatera Utara dan secara umum di Indonesia sampai saat ini memang sangat tidak jelas. Di mata buruh, sistem pengupahan yang berjalan masih sangat kabur. Pada beberapa sisi, seperti pengetahuan tentang komponen, begaimana proses perumusan dan penetapan berjalan, institusi yang berperan, jumlah upah yang ditetapkan maupun aspek informasi dari kebijakan upah masih sangat kurang dipahami oleh buruh. Hal itulah

147

yang mendorong persepsi buruh terhadap sistem kebijakan upah yang dijalankan dirasakan masih sangat jauh dari kepentingan dan kebutuhan buruh. Keterlibatan buruh dalam sistem yang dijalankan juga masih sangat rendah. Prinsip keterwakilan berimbang dalam komponen DPD terbukti tidak signifikan dalam memperbesar pengaruh serikat buruh dalam proses perumusan dan penetapan UMP. Pengaruh komponen lain, seperti pengusaha, pemerintah dan kaum pakar dari institusi akademik masih memarjinalisasi kepentinga dan kebutuhan buruh. Walaupun ada juga buruh yang beranggapan bahwa keterlibatan buruh dalam sistem kebijakan upah tidak diperlukan, namun hal itu lebih disebabkan oleh pengalaman negatif pada masa lalu. Selama kebijakan pengupahan dijalankan, jumlah upah yang ditetapkan tidak pernah sesuai dengan kebutuhan buruh. Kenaikan upah tidak pernah menyentuh jumlah yang diinginkan oleh buruh. Hal itu dapat dilihat dari kenaikan jumlah UMP yang selalu jauh lebih rendah dari kenaikan riil pengeluaran buruh. Hal itulah yang menjadi pendorong beberapa buruh memiliki persepsi negatif terhadap keterlibatan buruh dalam proses perumusan dan penetapan UMP pada institusi DPD. Keterlibatan buruh dalam DPD dianggap tidak ada guna, buruh tidak memiliki kapasitas untuk membahas upah dan proses penetapan upah bukan dianggap tugas dari buruh. Bagi yang masih menganggap keterlibatan buruh sangat penting dalam proses perumusan dan penetapan upah, keterlibatan tersebut harus pada setiap tahapan proses. Selain agar semakin besarnya kepentingan buruh dapat terakomodir dalam proses tersebut, buruh menganggap mekanisme yang berjalan masih penuh kecurangan. Praktek KKN, tidak benarnya proses penelitian, dan adanya kompromi antar pihak yang terlibat dalam DPD menjadi beberapa faktor yang mendorong elemen buruh untuk terlibat lebih dalam dalam proses perumusan dan penetapan jumlah UMP. Satu hal yang patut dicatat dari hasil penelitian ini adalah, persepsi buruh terhadap kemampuan upah dalam memenuhi kebutuhan hidup buruh cukup lemah. Semakin kebutuhan mengarah kepada hal-hal yang lebih pada kebutuhan sosial, maka kemampuan buruh untuk membiayainya semakin sulit. Untuk kebutuhan akan makan 148

keluarga, sebahagian besar buruh terlihat masih mampu. Namun jika sudah mengarah pada kebutuhan membiayai kebutuhan sosial dan rekreasi, maka kemampuan buruh semakin lemah. Jika dibandingkan dengan pendapatan yang diterima buruh dari hasil kerja di pabrik, terlihat sangatlah timpang dengan pengeluaran yang harus dibiayai oleh buruh dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rata-rata pengeluaran buruh laki-laki maupun perempuan memang tidak terlalu jauh dari jumlah upah yang diterima dalam satu bulan. Jika hanya didasarkan pada fakta tersebut tentunya tingkat kesulitan pemenuhan kebutuhan buruh menjadi lebih rendah. Namun jika dilihat dari komponen pengeluaran buruh, terlihat sangat minim dibandingkan dengan kebutuhan satu orang secara layak. Volume makan, jenis barang konsumsi yang dibeli sangat minim sehingga wajar jika pengeluaran buruh tidak terlalu besar. Namun jika dikomparasikan pada buruh lainnya yang berusaha untuk hidup lebih layak, maka apa yang dikonsumsi, frekuensi makan, jenis makanan yang dikonsumsi terlihat sangat tidak masuk akal. Hal itu salah satunya diakibatkan oleh adanya strategi buruh untuk tetap bertahan hidup. Dengan kondisi upah yang sangat minim, buruh dipaksa untuk mengurangi pengeluaran. Dari sisi volume dan kualitas, apa yang dikonsumsi oleh buruh sangat jauh dari kebutuhan hidup manusia secara normal. Dari beberapa komponen, pengeluaran buruh terbesar adalah untuk konsumsi.Sebahagian besar pengeluaran konsumsi dibeli oleh buruh. Hal itu terlihat dari konsumsi buruh akan susu, daging dan buah-buahan. Beban kerja yang sangat berat tentunya membutuhkan kalori yang cukup besar. Rata-rata buruh sangat jarang mengkonsumsi sumber makanan yang berkalori dan bervitamin tinggi seperti susu, daging dan buah-buahan. Tentunya hal ini akan sangat mengganggu kesehatan buruh dalam jangka waktu lama. Kemampuan buruh yang sangat rendah untuk mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang berkualitas baik tidak didukung oleh supplay suplemen makanan dari perusahaan. Dari beberapa jenis lauk yang umum dikonsumsi, rata-rata frekuensi hanya kurang dari 4 kali dalam satu bulan. Bisa dibayangkan jika dalam satu bulan buruh hanya makan daging 1 atau 2 kali dalam 149

satu bulan. Satu-satunya jenis lauk yang mampu dibeli dan dikonsumsi dalam frekuensi yang cukup tinggi hanyalah ikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan, variasi jenis lauk yang dikonsumsi oleh buruh sangatlah rendah. Dari seluruh jenis lauk, yang paling sering dikonsumsi oleh buruh adalah yang berharga murah, seperti indomie, tempe, tahu dan telur. Ada berbagai alasan yang dikemukakan buruh tentang kondisi tersebut. Salah satunya adalah, makanan seperti itu yang cukup tersedia di sekitar permukiman buruh sekaligus cukup murah dibandingkan jenis lauk lain. Pada sisi pendapatan, rata-rata buruh sudah menerima sesuai dengan UMP. Data seperti ini tentunya dapat menjadi bumerang bagi buruh. Jika ukurannya adalah kebutuhan hidup minimum, maka kebijakan standar upah minimum (UMP) sudah sudah tercapai. Namun jika ukurannya adalah kelayakan hidup buruh, maka sama sekali pendapatan tersebut masih sangat timpang. Apalagi jika dilihat dari beberapa komponen upah yang umum diterima oleh buruh. Dari keseluruhan komponen upah, hanya komponen upah pokok yang rutin diberikan kepada buruh tetap. Tentang komponen upah lainnya, ternyata hanya sebahagian kecil yang merasa dipenuhi. Kondisi buruh kontrak, buruh harian lepas dan borongan lebih parah lagi. Sebahagian besar komponen upah tidak diterima oleh buruh non tetap. Hal ini menunjukkan, status buruh memang sangat mempengaruhi pendapatan buruh. Bukan hanya dari sisi ketidakpastian status, namun juga pada sisi pemenuhan hak normatif buruh. Padahal, saat ini proses peralihan status dari buruh tetap menjadi buruh kontrak atau borongan semakin tinggi. Undang-undang yang mengatur perlindungan hak buruh kontrak dan borongan terbukti tidak efektif. Upah minimum yang selalu diperbaharui setiap tahunnya ternyata sama sekali tidak mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh buruh. Jumlah upah yang merangkak naik masih jauh dari kebutuhan hidup buruh untuk hidup layak. Berbagai kebutuhan buruh yang sebenarnya layak untuk dipenuhi masih jauh dari harapan. Ketika dikomparasikan dengan kondisi saat ini, maka upah minimum sama sekali tidak akan mampu memenuhi kebutuhan buruh. Untuk itu, berbagai aspek yang terkait dengan sistem pengupahan harus mengalami perubahan. 150

Berbagai kajian dan analisis tentang pengupahan sudah banyak dilakukan, baik itu oleh elemen gerakan perburuhan, organisasi non pemerintah, akademisi perguruan tinggi, serikat buruh maupun lembaga perburuhan internasional. Kajian yang dilakukan oleh berbagai institusi tersebut kebanyakan mengacu pada sisi normatif dari kebijakan pengupahan. Demikian juga dengan upaya-upaya perlawanan buruh serta serikat buruh tentang upah. Sejak kebijakan upah minimum diberlakukan, boleh dikatakan intensitas perlawanan buruh dengan mengusung isu upah semakin tinggi. Sebagai sebuah kebijakan jaring pengaman, upah minimum belum dilaksanakan secara maksimal. Pemberlakuan upah minimum kemudian membongkar praktek-praktek curang dalam pengupahan di tingkat perusahaan. Setiap tahunnya, bermunculan kasus-kasus pengupahan secara nasional maupun di tingkat lokal, dan hal ini menjadi indikasi bahwasannya persoalan upah menjadi isu penting, selain kasus perburuhan lainnya. Mengapa isu pengupahan selalu muncul dalam dinamika perburuhan pada intensitas frekuensi yang sangat tinggi? Padahal, jika dilihat dari regulasi yang dikeluarkan legislatif dan pemerintah, tema-tema pengupahan menjadi priorotas yang cukup besar. Sejak awal orde baru berkuasa sampai saat ini, belasan aturan sudah dikeluarkan, namun tampaknya kontribusi regulasi tersebut terhadap kesejahteraan buruh masih sangat jauh. Beberapa kajian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwasannya kekacauan persoalan pengupahan di Indonesia dilatarbelakangi oleh satu konsep yakni kebijakan ketentuan upah minimum. Setidaknya kesimpulan seperti itulah yang sering dikemukakan oleh kalangan reformis perburuhan. Mulai kebijakan tersebut diterapkan sampai saat ini, output pemberlakukan upah minimum tersebut tidak membawa kesejahteraan bagi buruh. Seperti yang sudah disebutkan dalam bab-bab sebelumnya, upah minimum merupakan sebuah jaring pengaman (safety net) bagi buruh dari kesewenangan pengusaha. Ketentuan upah minimum tersebut muncul ketika mekanisme pasar permintaan dan penawaran tenaga kerja maupun sistem ekonomi pasar tidak mampu melindungi buruh dalam sektor industri. Indonesia sebagai sebuah negara yang tengah merangkak menuju sistem ekonomi berbasis industri juga mengalami hal yang sama. Situasi tersebut terutama dialami pada masa-masa awal pemerintahan orde baru. Target pertumbuhan ekonomi 151

yang berusaha dicapai dengan penciptaaan stabilitas ekonomi, politik dan peningkatan jumlah investasi kurang memperhatikan nasib buruh. Program-program pembangunan yang dilaksanakan pada masa pemerintahan orde baru terlalu memihak pada kepentingan pengusaha dan investor, tanpa mempertimbangkan penghisapan dan kesewenangan perusahaan terhadap buruh. Menjelang akhir tahun 1980-an, barulah intervensi pemerintah dalam bidang pengupahan mulai diterapkan secara serius. Hal itu salah satunya disebabkan oleh tekanan dari berbagai elemen perburuhan dalam maupun luar negeri yang khawatir dan prihatin dengan kondisi ekonomi maupun perburuhan di Indonesia. Salah satunya adalah dilatarbelakangi oleh prasyarat dari beberapa negara importir produk manufaktur, yakni Amerika Serikat yang menghendaki perubahan kondisi ketenagakerjaan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal itulah kemudian yang mendorong pemerintah Indonesia harus menata kondisi ketenagakerjaan nasional agar produk non migas diterima di negara-negara importir43. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam rangka menata sistem ketenagakerjaan di Indonesia adalah mengenai upah minimum (UM). Tekanan dari negara-negara tujuan ekspor produk manufaktur Indonesia mendorong pemerintah untuk mengurangi dampak eksploitasi modal terhadap buruh. Kebijakan upah minimum tersebut mulai diterapkan secara serius oleh pemerintah mulai tahun 1989, yakni setelah keluarnya Peraturan Menteri Tenaga Kerja no. 05/Men/1989 tentang ketentuan upah minimum. Peraturan tersebut adalah bertujuan menetapkan upah terendah yang boleh diberikan pengusaha kepada buruhnya44. Setelah dilaksanakan selama hampir sepuluh tahun, kemudian aturan upah minimum tersebut diperbaiki kembali melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja Ri No. Per-01/Men/1999 yang merupakan penyempurnaan dari kebijakan sebelumnya. Selama itu pula beberapa aturan pelaksana upah minimum dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk pembentukan institusi yang berwenang dalam merumuskan dan menetapkan jumlah upah minimum, salah satunya adalah surat Dirjen BINAWAS No. B.16/BW/2001 tentang Dewan Pengupahan Daerah (DEPEDA/DPD). Namun
Suryahadi Asep, Wenefrida Widyanti, Daniel Perwira, dan Sudarno Sumarto, dalam Jurnal Analisis Sosial Akatiga, Vol. 7 No.1 Februari, Bandung, 2002, hal 21. 44 Tjandraningsih Indrasari, Kebutuhan Fisik Minimum dan Upah Minimum, dalam Dedy Haryadi, dkk, 1994, TinjauanKebijakan Pengupahan Buruh di Indonesia, Bandung. Akatiga.
43

152

pelaksana kebijakan upah minimum tersebut tetap saja belum memenuhi rasa keadilan bagi buruh, khususnya tentang keterwakilan buruh dalam lembaga DPD tersebut. Ada banyak sebenarnya persoalan yang muncul sebagai dampak dari pemberlakuan kebijakan upah minimum tersebut. Selain secara institusional belum memenuhi aspek keadilan, tidak konsistennya kontrol yang dilakukan pemerintah, lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan yang melanggar ketentuan upah minimum maupun persoalan-persoalan di tingkat pelaksanaan, konsekuensi paling besar sebenarnya terletak pada stagnasi nilai upah buruh dan eksploitasi sistematis terhadap buruh. Selain sebagai jaring pengaman, ada satu landasan penerapan upah minimum yang sampai saat ini sulit untuk dimengerti. Secara teoritik, tingkat upah ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran tenaga, dan juga beberapa variabel lainnya. Upah minimum merupakan jalan tengah ketika mekanisme pasar telah gagal menjaga stabilitas tingkat upah sesuai dengan kebutuhan dan produktivitas buruh. Beberapa studi empirik menyatakan, jika upah minimum berada di atas tingkat upah keseimbangan pasar, maka efeknya akan mengurangi tingkat permintaan tenaga kerja dan kemudian memperbesar angka pengangguran45. Teori seperti inilah yang banyak dijadikan pedoman negara-negara di dunia maju dan berkembang dalam menangani persoalan upah. Dengan pedoman seperti itu maka pemerintah di negara berkembang, termasuk Indonesia kemudian menjalankan kebijakan upah minimum. Pada satu sisi, memang kebijakan seperti itu mampu menyelamatkan iklim investasi di negara berkembang. Dengan tingkat upah yang rendah dan berada di bawah upah keseimbangan pasar, maka akan menjadi daya tarik bagi pemodal. Hal itu juga dapat menolong pemodal domestik yang berusaha berkembang dengan kemampuan investasi dan finansial yang terbatas. Pada satu fase memang kebijakan upah minimum memang menguntungkan. Selain bisa menarik investor, juga
45

Suryahadi Asep, dkk, Upah dan Kesempatan Kerja, Dampak Kebijakan Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Formal Perkotaan, Jurnal Analisis Sosial Akatiga, Bandung, Vol.7 No. 1 Februari 2002.

153

menolong pemodal domestik yang masih lemah. Namun ternyata pada fase selanjutnya, ketika pertumbuhan ekonomi sudah cukup baik, kontribusi pemodal nasional terhadap pertumbuhan ekonomi sudah memadai, kebijakan upah minimum sebenarnya sudah sangat tidak layak untuk diterapkan. Ada beberapa alasan yang menjadi landasan ketidaklayakan kebijakan upah minimum untuk diterapkan lagi. Pertama, kebijakan upah minimum sering dijadikan alasan oleh pemerintah untuk enggan menaikkan tingkat upah sesuai dengan kebutuhan dan produktivitas buruh. Sejak upah minimum diberlakukan secara merata tahun 1989 sampai saat ini, tidak satupun tahapan kenaikan upah yang mampu mengejar tingkat inflasi dan kenaikan kebutuhan hidup buruh secara layak. Walaupun ada beberapa fase, yakni tahun 1990, 1994 dan 2000 dimana kenaikan upah minimum riil pernah mencapai lebih dari 50%,21 namun tetap saja belum dibarengi dengan peningkatan daya beli buruh terhadap beberapa kebutuhan hidup. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pemerintah selalu berpedoman pada aspek teoritik dalam masalah pengupahan. Kenaikan upah secara terus menerus dianggap akan memperbesar beban pengusaha sehingga nantinya memperkecil jumlah penyerapan tenaga kerja, yang akhirnya mempertinggi angka pengangguran. Padahal teori seperti ini juga masih harus dipertanyakan lagi. Lihat saja penilaian dari beberapa lembaga riset ekonomi internasional. Walaupun tingkat upah di Indonesia secara nominal tergolong rendah, namun sama sekali tidak menjadikan negara ini sebagai tujuan investasi penting bagi investor47 Kedua, kebijakan upah minimum sendiri sebenarnya mengingkari sistem pengupahan alternatif yang lebih berkeadilan. Konsep upah minimum sendiri sebenarnya sudah lama ditinggalkan oleh negara-negara berkembang lain, khususnya di kawasan asia tenggara. Secara empirik, upah minimum yang diberlakukan di
46 Ibid, 47

hal 24. Bahkan menurut seorang pengusaha besar di Kota Medan dan Sumatera Utara, pemberlakuan upah minimum telah menyulitkan pengusaha dalam mengatur sistem pengupahan di tingkat perusahaan. Di tiap perusahaan terdapat perbedaan kemampuan dalam menggaji buruhnya, sehingga harus diberi kebebasan membentuk sistem tersendiri.

154

Indonesia bertolakbelakang dengan dinamika ekonomi yang sedang berjalan. Walau pernyataan tersebut berasal dari perspektif ekonomi pasar, namun hal ini menjadi indikasi betapa terbelakangnya Indonesia dalam hal sistem pengupahan. Jika memang prinsip upah keseimbangan pasar diterapkan secara murni, upah minimum yang diberlakukan saat ini sudah sangat kecil dibandingkan upah yang ditentukan oleh pasar48. Ketiga, upah minimum telah dijadikan indikator utama bagi upah buruh sektor formal. Hal ini tentunya berbahaya bagi penciptaan sebuah sistem pengupahan yang lebih adil bagi buruh. Menjadikan upah minimum sebagai indikator upah telah merembet ke berbagai konsep-konsep lainnya, seperti kesejahteraan, keadilan, stabilitas ekonomi, politik sampai pada persoalan kemanusiaan. Melebarnya pemaknaan upah minimum tersebut tentunya telah mereduksi banyak hal. Menyamakan upah minimum dengan kesejahteraan buruh, pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial merupakan praktek pembodohan terhadap buruh. Lihat saja beberapa perdebatan setiap tahunnya tentang upah minimum antara elemen buruh dengan institusi pengupahan bersama dengan pemerintah. Polemik yang berlangsung tentang pengupahan masih sekedar pada nominal upah semata, tanpa melihat aspek yang lebih mendasar dan pada skala yang lebih luas. Padahal, dari sisi standar yang digunakan, institusi yang terlibat dalam proses perumusan dan kriteriakriteria yang digunakan sudah menyalah. Setiap tahun, hanya satu sisi yang selalu menjadi topik pengupahan, yakni mengenai jumlah upah minimum yang akan diberlakukan untuk satu tahun ke depan. Pihak pemerintah dan pengusaha selalu bertahan dengan jumlah kenaikan serendah mungkin berdasarkan hasil survey pasar, indeks harga konsumen, tingkat inflasi, kondisi investasi dan pertumbuhan ekonomi maupun berbagai variabel lainnya,
48 Harian Medan Bisnis, 19 November 2003. Pada kolom ini, seorang ekonom di Sumatera Utara menyatakan, upah yang ditentukan oleh pasar sebenarnya lebih baik jika didasarkan pada konsep upah minimum. Pasar tidak dapat didustai, karena dinamika pasar akan berbanding lurus dengan jumlah upah. Untuk itu, antara pengusaha dan buruh harus bekerja sama untuk meningkatkan permintaan agar secara otomatis menaikkan upah buruh. Negara-negara yang tetap menerapkan upah minimum nantinya akan terjebak pada upah buruh yang rendah.

155

sedangkan elemen buruh menginginkan kenaikan upah lebih besar dari hasil survey dan perumusan institusi pengupahan. Walaupun dalam jangka pendek perdebatan tersebut bermanfaat, namun sebenarnya telah menjebak buruh dalam persoalan yang tidak substansial. Padahal jika dilihat dari perdebatan yang ada, argumentasi, landasan teoritik maupun bukti empirik yang diajukan oleh pemerintah dan pengusaha masih perlu diuji kebenarannya. Misalnya saja tentang alasan akan adanya pengurangan permintaan tenaga kerja akibat kenaikan upah minimum. Memang ada hasil kajian yang menunjukkan adanya korelasi kenaikan upah minimum terhadap pengurangan permintaan tenaga kerja. Menurut penelitian dari SMERU49, yang menyatakan setiap kenaikan upah minimum riil akan menyebabkan berkurangnya lapangan kerja di sektor formal perkotaan sebesar 2%, lepangan kerja bagi buruh perempuan dan pekerja berusia muda sebesar 6% dan lapangan kerja bagi unskilled workers sebesar 4%, namun tetap saja masih bisa dipertanyakan. Salah satunya adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Islam dan Nazara tahun 200050. Hasil penelitian yang mereka lakukan membuktikan sebenarnya tidaklah ada hubungan antara kenaikan upah dengan berkurangnya penyerapan tenaga kerja. Penelitian tersebut juga menyatakan, bahwa keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan skala menengah dan besar sebenarnya tidak berkurang akibat kenaikan upah minimum. Dan secara nasional, jika terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar 4%, maka akan dapat meningkatkan upah minimum sebesar 24% per tahun. Kenaikan ini pada kenyataannya tidak akan berpengaruh terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja. Perbedaan pandangan dan bukti empirik seperti inilah yang membuat setiap proses perumusan dan penetapan upah minimum selalu menimbulkan polemik. Namun tetap saja, korban pertama dari polemik tersebut adalah buruh. Keterbatasan
Suryadi, Asep, dll, 2001. Wage and Employment Effects of Minimum Wage Policy in the Indonesian Urban Market, Jakarta. 50 Setia, Resmi, Serba-serbi Sistem Pengupahan:Tinjauan Singkat Terhadap Kebiajakan Upah Minimum di Indonesia, makalah pada Semiloka Pengupahan Alternatif, yang diselanggarakan Kelompok Pelita Sejahtera, Medan. 2004.
49

156

data dari serikat buruh, lemahnya argumentasi empirik tentang pengupahan menjadikan elemen buruh terpinggirkan dalam setiap proses perumusan dan penentuan upah. Hal ini berkaitan dengan alasan keempat. Secara institusional dan di tingkat regulasi, stakeholder pengupahan memang tidak punya kompetensi yang mencukupi untuk membahas sesuatu yang menyangkut kelangsungan hidup buruh. Ambil contoh tentang keberadaan Dewan Pengupahan Daerah (DPD/Depeda). Lembaga ini sebenarnya memiliki kewenangan yang cukup besar dalam merumuskan dan menetapkan jumlah upah minimum di tingkat propinsi maupun di kabupaten/kota. Namun kewenangan tersebut tidak dilanjutkan dengan kewenangan memutuskan besaran upah yang melalui proses survey tersebut. Dewan Pengupahan Daerah (DPD) merupakan institusi perumus besaran upah untuk kemudian merekomendasikannya ke kepala daerah propinsi dan

kabupaten/kota. Sesuai dengan Surat Dierjen Binawas No.B 16/BW/2001 tanggal 30 April 2001 ditegaskan, bahwa dari sisi keanggotaan, Dewan Pengupahan Daerah (DPD) terdiri dari unsur tripartit plus dengan komposisi 1:1:1 ditambah unsur dari perguruan tinggi, sedangkan keterlibatan serikat buruh/pekerja diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Kep.201/MEN/2001 tanggal 10 Desember 2001 tentang keterwakilan dalam kelembagaan hubungan industrial51. Sebagai sebuah institusi pengupahan yang memiliki kewenangan cukup besar di bidang pengupahan, kontribusi DPD untuk menaikkan besaran upah sebenarnya sangat diharapkan. Namun diakibatkan lemahnya posisi tawar buruh, besarnya kepentingan pengusaha, kolaborasi beberapa komponen dalam menekan komponen buruh, korporatisme dalam beberapa serikat buruh, proses perumusan maupun mekanisme pengambilan keputusan yang tidak demokratis membuat lembaga ini hanya menjadi alat bagi pengusaha untuk melegitimasi kepentingan mereka atas upah murah.
Sitorus, Toga, Sistem Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP) di Propinsi Sumatera Utara, disampaikan dalam Semiloka Pengupahan Alternatif yang diselenggarakan Kelompok Pelita Sejahtera, Medan. 2004.
51

157

Seperti yang ditunjukkan dari penelitian Popon Anarita dan Resmi Setia tentang dewan pengupahan propinsi Jawa Barat. Secara umum ada 5 sisi yang harus disoroti mengenai Dewan Pengupahan Daerah di propinsi Jawa Barat, dan mungkin juga menjadi titik lemah DPD secara nasional. Pertama, tidak adanya transparansi dan kriteria yang baku dalam proses pemilihan unsur DPD. Selama ini proses pembentukan DPD sangat tidak transparan, khususnya dalam menentukan unsur yang terlibat dalam DPD. Disnaker sebagai pihak yang pertama kali menyusun keanggotaan DPD tidak pernah memberikan informasi tentang pertimbangan untuk mengundang komponen yang terlibat dalam DPD, sehingga memungkinkan unsur yang diundang untuk mengutus orang-orang yang kurang berkompeten dalam masalah pengupahan. Kedua, terdapat beberapa komponen yang sebenarnya tidak relevan untuk dilibatkan, namun tetap diundang dan dimasukkan dalam DPD. Komponen yang kurang relevan tersebut biasanya berasal dari pemerintah. Misalnya saja seperti yang terjadi di Propinsi Jawa Barat. Dinas perkebunan yang tidak berurusan dan mengatur masalah perburuhan dipaksakan untuk masuk dalam institusi DPD. Jelas keberadaan komponen yang tidak relevan untuk dilibatkan tersebut patut dicurigai, karena terlihat sekedar memperkuat posisi pemerintah dalam proses perumusan upah. Ketiga, proses survey yang tidak optimal. Mulai dari fase persiapan survey, penyusunan komponen kebutuhan yang akan di survey, peran unsur tripartit dalam proses survey, pelaksanaan survey, maupun kualitas data yang diperoleh dipenuhi kecurangan dan rekayasa. Misalnya saja, dalam proses survey, sudah menjadi kebiasaan DPD untuk melakukan survey di lokasi pasar yang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah lokasi pasar yang direncanakan. Keempat, Netralitas yang berpihak dari unsur perguruan tinggi. Salah satu pertimbangan mengapa komposisi DPD adalah tripartit plus adalah guna memenuhi aspek netralitas, dan unsur yang dipilih adalah dari perguruan tinggi. Namun dalam banyak kasus, unsur perguruan tinggi yang sebenarnya harus berdiri pada posisi netral ternyata lebih berpihak kepada pengusaha dan pemerintah. Kapabilitas yang 158

dimiliki unsur perguruan tinggi ternyata tidak dimanfaatkan untuk menengahi perbedaan antara unsur tripartit, namun malah digunakan untuk mendukung salah satu unsur, yakni pengusaha dan atau pemerintah. Kelima, ketiadaan aliansi dan koordinasi antar komponen serikat buruh. Keterlibatan beberapa serikat buruh dalam proses perumusan dan penetapan besaran upah di tingkat daerah ternyata tidak diikuti dengan peningkatan peran. Dari sisi komposisi, kekuatan buruh sendiri sebenarnya sudah lemah jika pemerintah dan pengusaha berkolaborasi. Lemahnya posisi serikat buruh tersebut ternyata semakin diperparah dengan adanya perbedaan sikap, sehingga membatasi kemungkinan koordinasi dan aliansi untuk melawan tekanan pemerintah, pengusaha dan unsur dari perguruan tinggi. Keenam, seringnya mekanisme voting dilakukan dalam pengambilan keputusan. Perdebatan dalam institusi DPD dalam merumuskan besaran upah biasanya sangatlah sengit, terutama antara serikat buruh dengan pengusaha. perdebatan tersebut biasanya berakhir dengan ketiadaan kesepakatan. Seringkali, dikarenakan mengejar target waktu dan efektivitas kerja, DPD menggunakan voting dalam mengambil keputusan. Walaupun memenuhi aspek demokrasi, namun jelas mekanisme seperti ini mengingkari tahapan-tahapan sebelumnya. Dengan demikian, jika mekanisme voting selalu dilakukan, maka proses penetapan upah minimum bukan lagi merupakan perumusan dan penetapan besaran upah yang didasarkan kondisi objektif kebutuhan buruh, namun sudah berubah menjadi pertarungan kekuatan dari berbegai kepentingan pengupahan.

159

Langkah Ke Depan Menuju Sistem Pengupahan yang Lebih Adil

Melihat kondisi pengupahan yang dijalankan oleh pemerintah saat ini, kecil kemungkinan kesejahteraan buruh akan terangkat. Jika memang demikian, sistem pengupahan seperti apakah yang paling tepat untuk diterapkan, sekaligus realistis dijalankan berdasarkan sistem ekonomi nasional dan internasional yang berlangsung saat ini? Memang tidak mudah untuk memunculkan sistem pengupahan alternatif di negara ini. Upaya seperti itu akan semakin sulit ketika sistem ekonomi nasional dan global memang tidak memberi peluang lahirnya sistem ekonomi dan pengupahan yang lebih berkeadilan, sedangkan buruh sebagai sebuah kelas sosial posisinya semakin lama dikondisikan secara struktural semakin lemah dan tidak diuntungkan dalam sistem sosial, ekonomi maupun politik. Lihat saja misalnya upaya-upaya kaum modal dan pengusaha dunia, baik itu institusi keuangan internasional maupun perusahaan multi dan transnasional. Mereka berupaya membangun sistem ekonomi liberal yang sangat tidak berpihak kepada kaum buruh. Dengan berbagai strategi ekonomi maupun politik yang mereka jalankan, ada upaya menyingkirkan peran-peran negara dalam kesejahteraan rakyat, untuk kemudian membentuk sistem ekonomi pasar yang terlepas sama sekali dari intervensi pemerintah. Di kalangan aktivis pro demokrasi, akademisi dan ilmuan sosial politik, degradasi hak sosial politik dan ekonomi kelas masyarakat yang termarginalisasi, termasuk buruh menjadi perdebatan sengit jika dilihat dari perspektif peran pemerintah. Sebahagian dari antara mereka –yakni yang memiliki pandangan modern tentang developmentalism- sudah saatnya sistem ekonomi, sosial dan politik saat ini dilepaskan dari kepentingan dan intervensi pemerintah. Dalam sebuah sistem ekonomi dan sosial politik modern, liberal dan demokratis, peran pemerintah harus diminimalisir sehingga tidak mengganggu mekanisme

160

berjalannya sistem ekonomi dan sosial politik. Pemerintah sendiri tampaknya mulai dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan proses global yang berlangsung pada saat ini, dimana peran pemerintah (government) harus pada batasan pengaturan proses dan hak-hak dasar yang tidak mungkin diserahkan kepada sektor publik. Hal ini dapat dilihat dari paket pemulihan ekonomi yang ditawarkan oleh IMF ketika Indonesia jatuh ke dalam krisis. Krisis ekonomi yang berlangsung sejak 1997 memaksa pemerintah untuk menderegulasi berbagai kebijakan intervensi sosial politik dan ekonomi menjadi lebih demokratis (baca:liberal). Output dari pesanan IMF tersebut dapat dilihat kemudian dalam beberapa tahun sesudah Letter of Intent (LoI) ditandatangani. Sebagai contoh dapat dilihat perubahan status di beberapa badan usaha milik negara (BUMN) yang semakin lama karakter pelayanannya semakin menciut, digantikan dengan karakter profit yang diorientasikan semakin besar. Badan usaha milik negara yang berfungsi pelayanan kepada masyarakat dan secara finansial ditanggungjawabi oleh pemerintah jumlahnya semakin sedikit. Sebahagian besar badan usaha tersebut kini berubah bentuk menjadi layaknya perusahaan swasta yang tujuan utamanya adalah mencetak keuntungan yang sebesar-besarnya bagi pemerintah52. Di sisi lain, intervensi pemerintah terhadap berbagai kebijakan ekonomi nasional dianggap masih diperlukan, mengingat dunia usaha sama sekali belum memiliki misi sosial sama sekali, sehingga dapat mengancam kepentingan masyarakat umum yang rentan pelanggaran hak ekonomi dari kalangan swasta. Hal itulah yang pada era tahun 1970 sampai 1980-an kemudian mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan pengupahan yang menggunakan sistem upah minimum. Walaupun penerapannya secara riil baru pada tahun 1990-an, namun jelas visi utamanya adalah melindungi kepentingan pekerja yang diperlakukan sewenang52 Menurut Revrisond Baswir dalam “Drama Ekonomi Indonesia, Belajar dari Kegagalan Ekonomi Orde Baru”, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004, jumlah BUMN yang berfungsi pelayanan, seperti Perjan dan Perum semakin lama semakin sedikit, sedangkan dari tahun ke tahun, jumlah Perseroan Terbatas, baik itu yang bersifat tunggal maupun patungan semakin besar jumlahnya, sehingga kontribusinya terhadap penerimaan pajak dan bukan pajak mengalami peningkatan taham untuk pemerintah.

161

wenang oleh perusahaan, khususnya dalam hal upah. Di luar persoalan apakah kebijakan tersebut sudah bisa mensejahterakan buruh atau tidak, sistem upah minimum yang kemudian disebut dengan UMR (Upah Minimum Regional) yang kemudian berganti menjadi Upah Minimum Propinsi/Kabupaten/Kota sedikit sudah mendisiplinkan perusahaan untuk menyesuaikan diri terhadap kebijakan pemerintah. Kelompok liberal menyatakan, diserahkannya berbagai mekanisme ekonomi kepada komponen yang terlibat langsung dalam proses produksi akan menghindari para pemburu rente yang selama ini membebani sektor industri menjadi tidak efisien53. Namun realitas saat ini tampaknya langkah-langkah isolasi dunia usaha, termasuk dalam hal pengupahan sangat spekulatif untuk dilakukan. Ada beberapa hal yang diasumsikan meletakkan kebijakan liberalisasi sistem pengupahan menjadi sangat spekulatif. Pertama, pihak dunia usaha sendiri secara praktis belum bersedia menjalankan proses perumusan dan penentuan upah secara internal antara buruh dan pengusaha yang didasarkan oleh karakteristik perusahaan dan aturan sistem pasar. Perusahaan tampaknya sudah terlalu menikmati proses yang berlangsung saat ini yakni pemberlakuan upah minimum54. Realitas seperti ini menjadi kendala serius dalam upaya membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih sejahtera, salah satunya dengan menciptakan satu sistem pengupahan yang lebih berkeadilan bagi buruh. Membicarakan masalah upah tidak lagi sekedar urusan perusahaan dengan buruhnya, bukan juga hanya terkait dengan perusahaan, buruh dan pengusaha, dalam konteks mikro. Namun upaya membangun sistem pengupahan sudah akan melibatkan satu struktur ekonomi dan

53 Menurut Arya B Gaduh dan Raymond Atje dalam Economics Working Paper Series, CSIS Tahun 2004, efisiensi tersebut merupakan bagian dari reformasi ekonomi yang disyaratkan oleh IMF, untuk melindungi dan mengisolasi dunia usaha agar tercipta institusi pengelola yang kuat dan memunculkan transparansi kebijakan yang harus dilaksanakan dengan segera. 54 Dalam banyak media, perusahaan setiap tahunnya selalu memprotes kenaikan upah minimum propinsi (UMP) atau Kota/kabupaten, namun mengingat dominannya peran mereka beserta pemerintah dalam institusi pengupahan (DPD), maka protes yang diungkapkan kalangan pengusaha sepertinya hanya ingin memunculkan persepsi ketertekanan yang dialami oleh dunia usaha kepada kalangan buruh.

162

politik yang lebih luas, karena semakin banyak pihak yang berkepentingan terhadap pengupahan. Sistem pengupahan tidak hanya terkait dengan beberapa unsur lama seperti, keuntungan perusahaan, produktivitas buruh, faktor produksi, kebijakan pemerintah, komponen kebutuhan, pertumbuhan ekonomi, maupun aspek mikro lainnya. Bicara masalah sistem pengupahan juga telah melibatkan berbegai kepentingan non ekonomi dan keuangan semata, namun sudah terkait dengan kepentingan ekonomi global, perdagangan internasional, dinamika politik internasional, pertumbuhan sektor industri, bahkan telah menyinggung persoalan ideologi. Ada dua aliran, perspektif, ataupun paradigma dalam memandang sistem pengupahan yang berlangsung saat ini. Dua aliran atau paradigma tersebut setidaknya muncul dari berbagai pihak yang melihat sistem pengupahan yang berlangsung saat ini kurang memenuhi aspek keadilan bagi buruh, sehingga harus dilakukan perubahan. Perspektif pertama lebih melihat ketimpangan sistem pengupahan yang berlangsung saat ini adalah disebabkan ketidakadilan yang terjadi di dalam sistem pengupahan itu sendiri. Sudut pandang seperti ini cenderung melihat persoalan pengupahan, baik itu aspek ketidakadilannya, ketimpangannya, maupun kecilnya kontribusi terhadap kesejahteraan buruh lebih pada aspek unsur, ketentuan, institusi, aturan/kebijakan, kriteria, maupun unsur-unsur pengupahan yang bersifat mikro. Salah satu persoalan yang selalu dianggap menjadi penghalang utama ketidakadilan pengupahan adalah kepentingan institusi yang terlibat dalam pengupahan. Dalam sistem pengupahan, terdapat 3 institusi yang terlibat, yakni pemerintah, pengusaha beserta asosiasinya dan serikat buruh. Ketiga elemen inilah yang dipandang oleh perspektif pertama menjadi penentu status quo atau perubahan dalam sistem pengupahan. Pertarungan, perdebatan maupun dinamika pengupahan hanya dapat ditelaah dari berbagai kepentingan tiga elemen tersebut. Untuk itu, perubahan dan pergeserannya harus didasarkan pada motif, kepentingan, maupun nilai yang dianut oleh ketiganya. 163

Pada sisi pemerintah, terdapat unsur regulator dan fungsi-fungsi kenegaraan lainnya, seperti stabilisator ekonomi, politik, sosial dan budaya, fungsi integrasi politik, nasionalisme dan target-target pertumbuhan ekonomi, yang semuanya dibatasi dalam kawasan teritorial tertentu yang dinamakan negara. Pemerintah memiliki otoritas ataupun kekuasaan politik yang mutlak dalam sebuah sistem kenegaraan, sehingga berhak membuat kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Pengusaha memiliki fungsi yang sedikit berbeda dengan pemerintah. Mereka adalah agen ekonomi yang punya fungsi ganda dalam melakukan aktivitasnya. Pada satu sisi, perusahaan punya target komersial atau orientasi profit yang mutlak. Artinya, keberlangsungan sebuah perusahaan ditentukan oleh kemampuannya memperoleh keuntungan dengan penggunaan faktor dan modal produksi minimal. Selain itu, pemodal juga memiliki fungsi ekonomi, sosial, budaya dan politik yang bersifat melayani publik atau masyarakat. Mulai dari faktor produksi maupun barang yang dihasilkan selalu bersentuhan dengan masyarakat banyak sebagai konsumen. Dengan demikian, fungsi yang dijalankan oleh perusahaan/pemodal punya implikasi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang tidak terisolasi. Unsur ketiga yang paling lemah dalam sistem pengupahan dalam perspektif pertama ini adalah institusi buruh dengan asosiasinya, yakni serikat buruh. Lepas dari ideologi ataupun nilai apapun yang memandangnya, fungsi buruh adalah tetap sama, yakni sebagai salah satu “faktor produksi” dalam sebuah sistem produksi. Walaupun tidak sama dengan faktor produksi lainnya, seperti teknologi, modal dan bahan baku, keberadaan buruh adalah mutlak, sehingga tidak mungkin dilepaskan dalam sistem pengupahan. Yang membedakannya dari unsur lain adalah, buruh merupakan elemen yang hidup, tidak seperti faktor produksi lain yang hanya barang mati. Buruh punya tenaga, punya beban psikologis dan sosiologis. Buruh memiliki keterbatasanketerbatasan kemampuan dan ketahanan tertentu yang sedikit ditemui pada faktor produksi lainnya. Ada unsur kemanusiaan, kolektivitas dan psikologis pada elemen buruh yang membuatnya harus diperlakukan berbeda dengan faktor produksi lainnya. 164

Masih dalam perspektif pertama, persoalan pengupahan akan terkait dengan beberapa unsur berikut ini, yakni; Kebijakan pengupahan, struktur kebutuhan hidup buruh, peran institusi pengupahan, peran dan kontrol negara sebagai regulator pengupahan, peran serikat buruh dalam mendorong, mengkritisi dan menuntut kenaikan upah, transparansi keuangan dan motif profit pengusaha, penegakan hukum oleh institusi hukum, maupun saat ini sudah dihubungkan dengan elemen lain yang menyebabkan tertekannya jumlah upah buruh. Ketidakpatuhan ketiga elemen ini dalam menjalankan kebijakan pengupahan yang telah ditetapkan ditenggarai menjadi pemicu ketidakadilan sistem pengupahan. Untuk itu, perbaikan, penegakan hukum atas pelanggaran kebijakan pengupahan, optimalisasi fungsi kontrol pemerintah, soliditas kekuatan serikat buruh, regulasi kebijakan pengupahan, maupun peningkatan representativeness institusi pengupahan, dan keadilan mekanisme proses dan penentuan upah menjadi entry point paling relevan dalam perbaikan sistem pengupahan. Pada kasus lokal dan nasional perdebatan dari sisi inilah yang paling sering berlangsung. Sebut saja misalnya upaya dari beberapa serikat buruh dalam merubah standar (struktur dan komponen) pengupahan dari Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) menjadi Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) dan kemudian tuntutan dari KHM menjadi Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Alasan dari tuntutan tersebut adalah sederhana, yakni bagaimana standar, komponen dan struktur kebutuhan hidup buruh sudah sangat tidak sesuai lagi dengan beban ekonomi dan kebutuhan hidup buruh yang sebenarnya. Perubahan standar kebutuhan hidup buruh dari kebutuhan fisik minimum (KFM) yang kemudian berubah menjadi kebutuhan hidup minimum (KHM) belum menjawab kebutuhan dan keinginan buruh dalam memperbaiki ekonominya. Dasar kebutuhan hidup tersebut hampir sama dengan yang dikatakan oleh Marx bahwasannya upah masih sekedar jaminan kepada buruh untuk dapat bekerja, tanpa mempertimbangkan aspek kebutuhan lain sebagai manusia.

165

Dasar kebutuhan hidup minimum sendiri yang sudah diberlakukan selama beberapa tahun sama sekali masih jauh dari kebutuhan hidup buruh yang sebenarnya. Apalagi diketahui bahwasannya ukuran kebutuhan dasar buruh seperti KFM dan KHM sendiri penerapannya belum maksimal. Ukuran kebutuhan dasar yang ditetapkan, baik itu KHM dan KHM sebenarnya belum sesuai dengan pengeluaran riil buruh. Sejak diberlakukannya KFM dan KHM sebagai nilai barang atau jasa minimum yang dibutuhkan oleh buruh dalam satu bulan, persentase upah minimum dalam memenuhi standar tersebut hanya pada kisaran 70%. Bisa dibayangkan dengan dasar kebutuhan fisik yang ada saja buruh sudah mengalami kesulitan, apalagi jika upah yang diterima hanya sebesar 70% dari KFM55. Dengan jumlah upah yang tidak mencapai kebutuhan fisik tersebut, maka tidak dapat dibayangkan lagi bagaimana buruh harus hidup. Setelah kebutuhan fisik minimum mengalami perubahan,dan digantikan dengan kebutuhan hidup minimum (KHM), ternyata kontribusinya dalam meningkatkan kondisi buruh masih sangat kecil. Sejak diberlakukan sampai saat ini, UM Proponsi/kota/kabupaten tetap mengalami kondisi yang sama ketika KFM digunakan, yakni upah yang diberlakukan belum mencapai 100% dari kebutuhan hidup minimum buruh. Bahkan dari tahun ke tahun, setiap kebijakan kenaikan upah annual bukan hanya masih berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum, namun juga belum secara disiplin dipatuhi oleh perusahaan. Setiap tahunnya selalu banyak perusahaan yang merasa tidak mampu untuk memberikan upah buruh sesuai dengan UMP/UM Kota/Kabupaten. Banyak alasan yang dikemukakan oleh pihak perusahaan untuk melakukan penundaan penerapan kebijakan kenaikan upah minimum, yang hampir keseluruhannya terkait dengan kebijakan dan peran pemerintah, seperti dampak kenaikan BBM dan beberapa tarif dasar, biaya produksi yang tinggi akibat pengeluaran non produktif seperti pungutan
Sedangkan ketika upah sudah 100% memenuhi KFM, dalam satu hari buruh pada tahun 1990 dan 1990 dalam satu hari hanya mampu mengeluarkan uang sebesaar Rp.800,- sehingga dalam satu kali makan hanya Rp.400,-. Jumlah uang tersebut setara dengan 2 bungkus mie instan, 8 potong gorengan, atau semangkuk mie ayam, yang hanya mengenyangkan namun kualitas gizinya tidak terjamin.
55

166

liar, biaya entertaiment kepada birokrat, biaya administrasi yang tinggi, kebijakan ekonomi makro dari pemerintah yang tidak efektif, kompetisi pasar produk yang tidak menguntungkan dan berbagai alasan lainnya. Namun sering sekali akar dari berbagai permasalahan ekonomi yang membuat perusahaan punya argumentasi untuk menunda pelaksanaan upah minimum adalah kondisi ekonomi makro, melalui kebijakan pemerintah yang tidak mendukung keberadaan dunia usaha di Indonesia. Menyalahkan kondisi makro selalu menjadi alasan perusahaan, yang sering dikemukakan oleh institusi atau asosiasi yang mewakili perusahaan-perusahaan swasta. Keberadaan asosiasi ini terbukti sangat efektif dalam melakukan lobby dan negosiasi kepada pemerintah untuk memahami “kesulitan” yang dialami oleh perusahaan. Buntut dari segala argumentasi ini adalah, perusahaan pasti akan mengumumkan kepada buruh bahwasannya perusahaan dalam keadaan merugi. Tentu alasan seperti ini sangat ampuh sehingga buruh dengan mudah memahaminya. Namun pada umumnya perusahaan hanya mengungkapkan kondisi perusahaan hanya secara sepihak, tersembunyi sehingga kondisi riil keuangan perusahaan sama sekali tidak diketahui oleh buruh. Strategi ini selalu mulus dijalankan oleh perusahaan, sedangkan pemerintah sama sekali tidak memiliki kemampuan kontrol, atau memang “tidak ingin” secara lebih jauh melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap perusahaan-perusahaan yang memanipulasi kondisi internal (keuangan) perusahaan untuk menunda pemberlakukan upah minimum setiap tahunnya. Contoh kasus adalah apa yang dilakukan oleh Jaringan Advokasi Buruh Sumatera Utara (JABSU), mulai dari tahun 2002, 2003 dan 2004. Mereka pertama kali melandasi perubahan standar kebutuhan buruh tersebut berdasarkan adanya kenaikan beberapa tarif dasar listrik dan BBM tahun 2003. Kenaikan tarif dasar yang berkorelasi dengan kebutuhan hidup dasar buruh tersebut ditenggarai telah menyebabkan kenaikan beberapa kebutuhan dasar buruh, seperti pangan, sandang, papan/perubahan, kesehatan, pendidikan, dan lainnya. Kenaikan beberapa kebutuhan

167

dasar tersebut telah meningkatkan beban hidup buruh, sedangkan kenaikan nilai upah buruh sama sekali tidak pada level yang signifikan untuk membantu buruh. Jaringan Advokasi Buruh Sumatera Utara juga menilai, upah buruh di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan total biaya produksi. Mereka mengutip beberapa penelitian dan investigasi yang menyatakan bahwasannya total direct labour cost yang dialokasikan untuk upah buruh masih 5% dari total biaya produksi. Komposisi seperti ini tergolong masih sangat rendah dibandingkan komposisi lain, seperti untuk biaya siluman dan biaya lobby, ataupun masih terlalu rendah dibandingkan komposisi upah di negara lain, seperti Thailand dan Malaysia yang mencapai angka 13%. Pola pengkritikan dan tuntutan yang dilakukan dalam perspektif ini terlihat ketika JABSU menyoroti ketiadaan perubahan substansial sejak desentralisasi kebijakan pengupahan. UU No 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah yang memperbesar kewenangan pemerintah daerah dalam beberapa hal, termasuk tentang pengupahan melalui SK Menakertrans No. 226 tahun 2000 tentang peralihan kewenangan pengupahan dari Menteri ke Gubernur tidak mampu menyentuh kepentingan buruh.Legitimasi kepala daerah (Gubernur dan Bupati/walikota) dalam kebijakan pengupahan jelas dianggap tidak mampu merubah substansi kebijakan pengupahan. Pergeseran kewenangan ternyata tetap mempertahankan upah murah yang sangat tidak adil dan layak. Ada dua hal pokok yang disoroti oleh JABSU guna menumbuhkan sebuah sistem pengupahan yang berkeadilan. Pertama adalah dalam level penetapan upah. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan serikat buruh yang menjadi bagian dalam institusi pengupahan daerah (Dewan Pengupahan Daerah/DPD) propinsi. Keberadaan serikat buruh tertentu dalam institusi DPD dijadikan legitimasi pemerintah dalam melakukan perumusan dan penetapan jumlah Upah Minimum Propinsi (UMP), padahal hanya sebahagian kecil serikat buruh yang sudah terlibat, sedangkan sebahagian besar sama sekali belum.

168

Proses penetapan UMP juga dianggap belum transparan, karena suara publik masih sangat minim dilibatkan. Dewan Pengupahan Daerah dianggap tidak menjalankan mekanisme keterbukaan, melalui seminar, dialog publik, sosialisasi melalui media dan strategi lain dalam menampung partisipasi masyarakat. Penelitian yang dilakukan DPD juga masih sangat timpang. Misalnya dalam proses penelitian. Proses penelitian yang dilakukan oleh DPD tidak mengakomodir kepentingan serikat buruh dan serikat pekerja di Sumatera Utara, sehingga jumlah UMP yang keluar pun jauh dari harapan buruh. Level kedua yang disoroti oleh JABSU adalah tentang standar upah. Mereka cenderung melihat ketidakadilan upah yang berlangsung secara nasional dan lokal masih kurang memenuhi syarat-syarat kemanusiaan. Padahal dalam beberapa nilai dasar negara dan kemanusiaan global sangat mendukung perubahan upah menjadi lebih layak, seperti Deklarasi hak asasi manusia (DUHAM) dan UUD 1945. Sistem pengupahan, khususnya standar upah dianggap telah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan nasional dan internasional. Salah satu kebijakan yang dianggap melanggar nilai dasar tersebut adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.1 Tahun 1999 tentang upah minimum. Kebijakan telah mengkerdilkan kehidupan buruh, karena menetapkan standar hidup dibawah nilai-nilai kelayakan sebagai manusia. Misalnya saja dengan menetapkan standar kebutuhan hidup manusia pada 43 komponen kebutuhan hidup semata. Atas dua alasan tersebutlah kemudian organisasi seperti JABSU merancang strategi perubahan sistem pengupahan. Untuk itu JABSU kemudian menyusun satu komponen kebutuhan hidup layak berdasarkan standar hidup yang lebih tinggi, misalnya dengan meningkatkan jenis kebutuhan menjadi 61 komponen, dan memperbesar beberapa komponen tunjangan56 Apa yang dilakukan oleh JABSU merupakan salah satu strategi perubahan sistem pengupahan dalam perspektif pertama. Organisasi seperti itu tetap bermain
Dikutip dari pernyataan sikap dan tuntutan jaringan advokasi buruh Sumatera Utara tentang Upah Minimum Propinsi 2004.
56

169

dalam sistem pengupahan yang ada, dengan melakukan perbaikan dan perubahan secara parsial terhadap standar, konsep, proses, mekanisme dan peran dari beberapa institusi yang terlibat. Perspektif kedua melihat persoalan sistem pengupahan dalam sudut pandang yang lebih luas daripada perspektif pertama. Persoalan sistem pengupahan yang timpang, eksploitatif dan tidak berkeadilan tidak sekedar implikasi dari lemahnya peran serikat buruh, kurangnya kontrol dari pemerintah, minimnya standar upah, menyimpangnya mekanisme perumusan dan penetapan upah, maupun ketiadaan transparansi dari perusahaan, namun mencakup aspek yang lebih luas, yakni menyangkut persoalan-persoalan struktural, penghisapan kelas penguasa,

ketimpangan ekonomi, sejarah dominasi alat produksi dan hegemoni pemerintah yang berkolaborasi dengan modal dalam melakukan penghisapan terhadap buruh. Persoalan sistem pengupahan dalam perspektif kedua melihatnya dalam wilayah yang lebih luas, yakni melibatkan aspek sistem ekonomi nasional dan internasional, struktur sosial, politik dan budaya, maupun sisi ideologis yang melatarbelakangi sebuah sistem ekonomi. Berdasarkan luasnya cakupan dalam perspektif ini sehingga konsep perubahan yang ditawarkan menjadi lebih absurd57 dibandingkan perspektif pertama. Perubahan sistem pengupahan akan menyentuh konsep-konsep dasar tentang sistem ekonomi yang menjadi fundamen upah itu sendiri. Ada proses elaborasi dan dialektika yang cukup mendalam tentang konsep upah, sehingga proses perubahan yang ditawarkan juga akan menyentuh level teori, ideologi ekonomi dan prinsip-prinsip dasar sebuah sistem ekonomi. Tidak banyak memang elemen perburuhan yang mengkritisi prinsip dasar atau dimensi struktural dari sebuah sistem pengupahan. Hal ini diakibatkan oleh luasnya cakupan konsep yang harus dielaborasi dalam melakukan perubahan sistem pengupahan. Salah satunya adalah tentang sistek ekonomi kapitalistik yang dari
Kaum developmentalisme memandang analisis struktural dalam menganalisis persoalan ekonomi sangat utopis sehingga kecil kemungkinan untuk diwujudkan.
57

170

awalnya memang sama sekali kurang mendukung sebuah sistem pengupahan yang berkeadilan. Selama sistem ekonomi tersebut masih dijadikan acuan sistem pengupahan, maka selama itu juga sistem pengupahan tidak akan pernah adil. Sistem ekonomi kapitalis adalah yang paling mendukung perdagangan liberal dimana akumulasi, pertukaran dan lalu lintas modal berlangsung tanpa batas. Aktor utama dari pertumbuhan sistem ekonomi kapitalis dan mendukung berdagangan bebas maupun pemuja pasar bebas adalah pemodal, pengusaha swasta. Merekalah yang menjadi pemegang kunci pertumbuhan ekonomi, sehingga berbagai sub sistem ekonomi haruslah melindungi aktivitas produksi. Sistem ekonomi kapitalistik menjadi sangat eksploitatif dikarenakan tidak terkontrolnya kepemilikan pribadi atas faktor produksi. Kepemilikan atas faktor produksi pada segelintir orang tersebutlah yang memicu sistem ini menjadi sangat memeras dan merugikan kelompok masyarakat lain, yakni buruh yang hanya memiliki tenaga dan terbatas aksesnya terhadap faktor produksi. Kepemilikan alat produksi yang tidak terkontrol dan lemahnya intervensi pemerintah, ditambah dengan akses yang terbatas dari kelompok masyarakat terpinggir inilah yang memicu proses akumulasi modal menjadi tidak terbatas. Di tingkat perusahaan proses akumulasi menjadi contoh paling jelas untuk menggambarkan proses penghisapan melalui akumulasi modal yang dilakukan perusahaan terhadap buruh. Proses akumulasi tersebut secara nyata dapat dilihat dalam sistem pengupahan. Dikarenakan segelintir orang yang memiliki modal dan alat produksi, maka mereka berhak atas sebahagian besar keuntungan yang dihasilkan. Padahal, sebagian besar keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan tersebut merupakan kontribusi tenaga buruh. Komposisi dari keuntungan yang merupakan kontribusi buruh tersebutlah yang tidak kembali kepada buruh dalam bentuk upah dan tunjangan lainnya. Menurut kajian yang dilakukan oleh elemen buruh, total biaya yang dialokasikan untuk upah buruh dari seluruh biaya produksi hanya sebesar 5%. Sedangkan total biaya produksi biasanya lebih kecil dari hasil penjualan yang diperoleh perusahaan 171

dalam jangka waktu tertentu. Jika memang total biaya produksi lebih kecil dari hasil penjualan, maka komposisi labor cost dalam bentuk upah yang diambil dari hasil penjualan adalah lebih kecil dari 5% (<5%). Dalam tataran teoritik, khususnya perspektif Marx, keuntungan dari hasil penjualan barang produksi yang tidak kembali ke buruh tersebutlah yang dinamakan surplus value (nilai lebih). Untuk itu, arah perubahan yang diharapkan oleh perspektif kedua ini adalah bagaimana mengembalikan surplus value tersebut kepada buruh. Untuk memperoleh hak buruh yang sebenarnya atas surplus value yang dicuri oleh pemilik modal dan rente ekonomi lain tersebut, maka strategi perubahan sistem pengupahan bukan lagi sekedar mereformasi sistem pengupahan yang tidak adil, namun harus sudah masuk pada tataran dekonstruksi sistem yang ada, untuk kemudian membangun sistem pengupahan yang lebih adil dan berpihak kepada buruh. Tentunya target seperti itu menghendaki penyusunan sebuah tatanan sistem ekonomi (termasuk sistem pengupahan) yang sangat mendalam, karena dalam proses dekonstruksi sistem ekonomi, harus disandingkan dengan sebuah tawaran sistem ekonomi alternatif. Untuk membangun sebuah sistem ekonomi dan sistem pengupahan yang lebih berpihak kepada buruh, harus ada tawaran konsep yang minimal memuat beberapa sub sistem ekonomi yang cukup lengkap. Sistem ekonomi alternatif tersebut harus menawarkan satu sub sistem kepemilikan alat produksi alternatif, sub sistem relasi buruh dan majikan, struktur produksi,

ketenagakerjaan/perburuhan, kejelasan konsep keadilan, sistem pasar alternatif, konsep akumulasi modal, maupun teori tentang nilai yang berbeda dengan nilai dalam perspektif kapitalistik. Semua konsep dan sistem tersebut haruslah berpihak kepada buruh dan memuat nilai-nilai keadilan. Melakukan elaborasi, memberi definisi, sampai kemudian membangun sebuah sistem ekonomi dan sistem pengupahan yang berkeadilan seperti inilah belum tuntas. Belum muncul sebuah tawaran sistem alternatif yang memuat nilai keadilan sekaligus

172

relevan untuk diterapkan guna menghilangkan aspek eksploitasi dan penghisapan pemodal terhadap buruh. Memang terdapat jalan tengah dari antara dua perspektif tersebut. Jika perspektif pertama menghendaki reformasi pada sistem ekonomi dan sistem pengupahan yang ada dan perspektif kedua menuntut adanya dekonstruksi untuk kemudian membangun sistem ekonomi alternatif, maka sistem pengupahan (dan juga sistem ekonomi) jalan tengah menghendaki reformasi dan dekokstruksi sistem ekonomi dan pengupahan secara parsial. Namun gejala pencarian jalan tengah perubahan sistem tersebut sering diterjemahkan dalam dua aras. Pertama, jalan tengah yang dimaksud adalah membangun sebuah sistem pengupahan yang liberal. Artinya, mekanisme perumusan dan penetapan upah buruh diserahkan pada level bipartit, yakni antara buruh dengan pengusaha. Tentunya proses seperti ini mengharuskan adanya transparansi keuangan perusahaan, dan diakuinya keberadaan serikat buruh, melalui dewan buruh di tingkat perusahaan. Ketika sistem seperti ini diterapkan, maka penentuan jumlah upah merupakan hasil tawar-menawar antara buruh dengan pengusaha, tanpa adanya intervensi dari pemerintah dalam bentuk kebijakan. Sistem pengupahan yang diberlakukan saat ini masih mensyaratkan adanya intervensi atau campur tangan pemerintah. Salah satu intervensi tersebut adalah melalui Peraturan Menteri Tenaga kerja No. 01 Tahun 1999 tentang upah minimum (UM). Apa yang dimaksud oleh kebijakan ini sebenarnya bertujuan sebagai jaring pengaman (safety net) bagi buruh dari kesewenangan dan pelanggaran yang dilakukan pengusaha dalam pengupahan. Jika sistem dengan prinsip safety net ini dirubah, dan kemudian digantikan dengan sistem yang lebih liberal, dimana kebijakan upah diserahkan secara bipartit, antara buruh dan pengusaha, maka intervensi atau campur tangan pemerintah akan minimal atau hilang sama sekali. Apakah sistem seperti ini layak untuk diterapkan? Jika layak dan kemudian dapat dilaksanakan, maka buruh akan terjebak pada sistem ekonomi liberal murni yang memang pada akhirnya merupakan tujuan pemodal. Padahal, komponen buruh sendiri belumlah kuat. Jika posisi buruh masih lemah 173

seperti sekarang, maka pemberlakukan mekanisme seperti itu akan sangat merugikan buruh. Sistem lain yang dianggap lebih memenuhi beberapa aspek keadilan tanpa melakukan dekonstruksi terhadap sistem yang ada adalah melalui restrukturisasi kepemilikan alat produksi secara parsial. Dalam sistem seperti ini, sub sistem yang harus dirubah adalah kepemilikan alat produksi dan reposisi buruh dalam sistem produksi. Dalam sistem seperti ini, buruh harus memiliki wadah serikat buruh yang kuat, baik itu di tingkat pabrik maupun dalam geopolitik nasional. Posisi buruh tersebut harus benar-benar kuat, sehingga memiliki pengaruh di tingkat perusahaan untuk mempengaruhi berbagai kebijakan produksi (termasuk kebijakan pengupahan), sekaligus memiliki posisi tawar dalam konstalasi politik nasional guna mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam bidang politik ekonomi. Persoalan yang muncul saat ini tentang pengupahan adalah, hanya ada dua sistem umum yang bisa diterapkan, yakni sistem pengupahan yang berlaku saat ini, yakni menggunakan kebijakan upah minimum (UM) sebagai bentuk intervensi pemerintah dengan keterlibatan tripartit (pemerintah, buruh dan pengusaha) dan sistem pengupahan yang bersifat sosialistik dimana upah yang diterima oleh buruh didasarkan pada kebutuhan buruh yang seutuhnya diproteksi dan diolah oleh pemerintah. Sistem terakhir inilah yang kemudian memunculkan perdebatan panjang diantara elemen perburuhan dan pro demokrasi, karena sistem tersebut sangat sarat dengan muatan ideologis dan politis. Jika dilihat implementasi kebijakan upah yang berlangsung saat ini, sedikitpun tidak ada kemungkinan berkontribusi terhadap kesejahteraan buruh. Dari tahun ke tahun, sistem pengupahan yang menggunakan konsep upah minimum ini penuh pelanggaran, baik itu yang dilaksanakan oleh pemerintah dan pengusaha. Dengan berbagai kepentingannya, baik itu secara institusional maupun dalam scope yang lebih luas tidak ada niatan dari pemerintahan yang menganut ekonomi liberal maupun ekonomi pasar untuk memberikan hak yang seharusnya diterima oleh buruh. 174

Analisis

Karl

Marx

tentang

upah

minimum

sangatlah

persis

dalam

menggambarkan kesia-siaan mengharapkan kapitalisme dalam mensejahterakan buruh, khususnya dalam menyusun kebijakan yang lebih adil. Diakui bahwasannya sistem pengupahan yang berlangsung pada saat ini masih jauh dari harapan buruh. Di Sumatera Utara sendiri yang upah minimum pada tahun 2003 sudah 110,75% dari KHM juga tidak menjamin kesejahteraan buruh. Tahun 2003 UMP di Sumatera Utara ditetapkan oleh Gubernur sebesar Rp. 505.000,- sedangkan KHM sebesar Rp. 455.996,-. Jika melihat jumlah ini, maka kondisi di Sumatera Utara sudah jauh lebih baik dibandingkan Propinsi Naggroe Aceh Darusalam yang masih 81,59%, Bengkulu 65, 35%, Riau 67,58%, DKI Jakarta 84,57%.58 Persentase UMP berdasarkan KHM di beberapa propinsi pada tahun 2003 tersebut menunjukkan bahwasannya kebijakan upah minimum yang dilandaskan kebutuhan hidup minimum pada masa otonomi daerah ini masih jauh dari harapan. Hasil penelitian dari penelitian ini juga menunjukkan kondisi yang tidak jauh berbeda dengan kondisi pengupahan dan buruh secara lebih luas. Kebutuhan dasar buruh sendiri, yang tercantum dalam standar kebutuhan hidup minimum (KHM) masih sangat jauh dari kebutuhan riil buruh yang harus dikeluarkan setiap hari atau setiap bulannya. Angka 3000 kalori minimal setiap hari yang tercantum dalam KHM dan 43 jenis kebutuhan buruh lajang tiap harinya adalah ibarat praktek penghancuran generasi secara sistematis. Seperti yang disinggung sebelumnya, sangatlah sulit menjadikan sistem pengupahan yang diberlakukan saat ini sebagai dasar peningkatan kesejahteraan buruh. Fundamen bangunan sistem pengupahan saat ini didirikan di atas struktur ekonomi dan politik ekonomi yang sangat kental dengan ketidakadilan bagi kelas masyarakat yang terbatas aksesnya terhadap alat-alat produksi. Buruh dipandang sebagai salah satu skrup dalam sistem ekonomi makro yang nasibnya sangat

58

Depnakertrans, Ditjen Pembinaan Hubungan Industrial, 2003.

175

ditentukan oleh mekanisme pasar dan kebaikan hati kaum modal dan pemerintah yang sudah pasti sangat sulit untuk diperoleh. Sebagai komponen paling penting dalam proses produksi, nilai kerja yang dihasilkan buruh menjadi sangat marginal ketika komponen tersebut dianggap sebagai salah satu alat produksi yang harus mengikuti dinamika permintaan dan penawaran. Dengan kata lain, buruh bukan dianggap sebagai manusia lagi, namun sudah disamakan dengan bahan baku, teknologi, dan input lainnya dalam proses produksi yang ketersediaan dan permintaanya ditentukan oleh pasar tenaga kerja. Satu sisi, perbaikan ke arah sistem pengupahan yang lebih baik namun tetap dalam kerangka struktur ekonomi yang ada terus dicita-citakan oleh kalangan buruh dan komponen sosial politik yang paham akan nasib buruh. Perbaikan parsial, baik itu dari sisi penegakan aturan pengupahan, optimalisasi peran berbagai institusi, demokratisasi kebijakan pengupahan, perbaikan standar kebutuhan hidup buruh maupun peningkatan posisi tawar buruh dalam proses perumusan dan penentuan jumlah upah minimum.

176

DAFTAR BACAAN

Baswir, Revrisond, 2004. Drama Ekonomi Indonesia, Belajar dari Kegagalan Ekonomi Orde Baru, Kreasi Wacana, Yogyakarta. Baswir, Revrisond, 2003. Di Bawah Ancaman IMF, Jakarta. Bungin, Burhan, 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Burkitt, Brian, 1999. Marx's Wage Theory in Historical Perspective: Its Origin, Development Interpretation. Review - book reviews, Labor History, Dikutip dari situs: www.Marxist.org Gaduh, Arya, B., dan Raymond Atje, 2004. Economics Working Paper Series, CSIS. Haryadi, Dedy, Indrasari Tjandraningsih, Indraswari dan Juni Thamrin, 1994. Tinjauan Kebijakan Pengupahan Buruh di Indonesia, Bandung. Hendarmin, Ali, 2002. Kesejahteraan buruh dan kelangsungan Usaha, Upah Minimum dari Sisi Pandang Pengusaha, dalam Jurnal Analisis Sosial AKATIGA, Vol.7 No.1 februari 2002, Bandung. International Labour Organization (ILO), 1995. Social Adjustment Through Sound Industrial Relations and Labour Protection, Final Report of An ILO/UNDP TSS1 Advisory Mission, Jakarta. Jean Francois Dortier, 2004. Marx dan Sosiologi, dalam Anthony Giddens, Daniel Bell, Michael Force, Sosiologi, Sejarah dan Berbagai Pemikirannya, Kreasi Wacana, Yogyakarta. Ritongan, Bisman Agus, 2001. Laporan Survey Pengeluaran Buruh Cimahi dan Majalaya, AKATIGA, Bandung. Salim, Agus, 2001. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, dari Denzin Guba dan Penerapannya, Tiara Wacana, Yogyakarta. Simanjuntak, Payaman, 2004. Reformasi Sistem Pengupahan Nasional, dalam Informasi Hukum, Vo. 5 Tahun VI, Jakarta. Sitorus, Toga, 2004. Sistem Penetapan Upah Minimum Propinsi (UMP) di Propinsi Sumatera Utara, disampaikan dalam Semiloka Pengupahan Alternatif yang diselenggarakan Kelompok Pelita Sejahtera, Medan.. Suryahadi Asep, Wenefrida Widyanti, Daniel Perwira, dan Sudarno Sumarto, 2002. dalam Jurnal Analisis Sosial Akatiga, Vol. 7 No.1 Februari, , hal 21, Akatiga, Bandung Suryahadi Asep, dkk, 2002. Upah dan Kesempatan Kerja, Dampak Kebijakan Upah Minimum Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Formal Perkotaan, Jurnal Analisis Sosial Akatiga, Vol.7 No. 1 Februari, Bandung.

177

Tjandraningsih Indrasari, 1994. Kebutuhan Fisik Minimum dan Upah Minimum, dalam Dedy Haryadi, dkk, TinjauanKebijakan Pengupahan Buruh di Indonesia, Akatiga, Bandung.

178

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->