P. 1
LAPORAN MAGANG

LAPORAN MAGANG

|Views: 5,097|Likes:
Published by treycia

More info:

Published by: treycia on Apr 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2013

pdf

text

original

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG DI BANK INDONESIA

HUBUNGAN INTERNASIONAL DALAM EKONOMI MONETER

Oleh: Treycia Bunga Darmadi
NIM 070610028

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya 2009

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Memasuki dunia kerja merupakan puncak dari semua jenjang pendidikan yang telah ditempuh. Hal tersebut juga tentunya membutuhkan kesiapan-kesiapan untuk lebih memudahkan masa transisi dari masa pendidikan menuju jenjang karier. Magang atau praktek kerja lapangan merupakan salah satu program yang juga bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa / anak didik untuk mengenyam pengalaman dan pengetahuan tentang kegiatan dan suasana di lingkungan kerja. Dengan adanya pengalaman, akan lebih meningkatkan bargaining power seseorang tersebut dalam mencari dan menggeluti dunia kerja. Adanya pengalaman, pengetahuan dan kemampuan adaptive seseorang di lingkungan kerja, menjadi bekal utama untuk meraih prestasi dan sangat dimungkinkan untuk dapat mengaplikasikan ilmu dan pandangan yang telah didapatkan selama masa belajar. Meski berangkat dari disiplin ilmu sosial dan politik, saya sebagai mahasiswa magang, juga mengharapkan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai perekonomian Indonesia. Karena memang politik dan ekonomi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan akan selalu bejalan secara beriringan. Bagaimana kebijakan dan perundangan dibentuk setelah berkaca pada kondisi ekonomi yang ada. Dan bagaimana kebijakan atau perundangan dibuat untuk ditujukan sebagai regulator ekonomi ke depan. Maka dari pemikiran tersebut, saya melaksanakan magang di Kantor Bank Indonesia, tepatnya pada bagian Ekonomi Moneter. Pada bagian tersebut, saya telah mempelajari bagaimana sebuah kebijakan akan dipertimbangkan setelah memperhatikan gejolak-gejolak perekonomian di seluruh sector serta tingkat ekspektasi masyarakat terhadap mata uang. I.2 Tujuan Magang

1)

Mempelajari secara lebih mendalam mengenai dinamika perekonomian

Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya. 2) Menjadikan ekonomi dan studi internasional sebagai media pembelajaran yang

komprehensif. 3) Memperkaya pengalaman di dunia kerja, terutama yang bergerak langsung

pada sektor ekonomi internasional atau ekonomi yang berkaitan dengan kebijakan internasional. 4) Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Airlangga, diharapkan

mahasiswa dapat memiliki persiapan untuk siap bersaing dalam menghadapi situasi persaingan lingkungan kerja. 5) Sebagai persyaratan untuk pemenuhan mata kuliah magang jurusan Ilmu

Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya.

I.3 Tempat dan Waktu Magang Pelaksanaan magang telah dilaksanakan di Kantor Bank Indonesia Surabaya, di Jl. Pahlawan no. 105, Surabaya pada Bagian Ekonomi Moneter, Kelompok Kajian Ekonomi. Kegiatan magang dilakukan selama sepuluh (10) hari kerja, pada tanggal 13 – 17 April 2009 dan 27 April 2009 sampai dengan 1 Mei 2009.

I.4 Sistematika Penulisan Penulisan laporan kegiatan magang di bagi menjadi empat bab, yang membicarakan mengenai bahasan berikut: Bab I : PENDAHULUAN Bab ini membahas latar belakang pelaksanan Laporan Magang, tujuan pelaksanaan magang, waktu dan lokasi

magang, serta sistematika penulisan laporan magang. Bab II : TINJAUAN INDONESIA Pada bab ini membahas tentang gambaran umum bank sentral, sejarah singkat Bank Indonesia, tujuan dan tugas pokok Bank Indonesia, visi dan misi Bank Indonesia, serta struktur organisasi Bank Indonesia Surabaya. Bab III : HUBUNGAN INTERNASIONAL DALAM EKONOMI MONETER Bab ini akan membahas mengenai peran hubungan internasional dalam pemajuan ekonomi dan pelaksanaan kebijakan moneter dalam melaksanakan fungsi Bank Indonesia untuk mendapatkan foreign direct investment (FDI) khususnya di wilayah Jawa Timur. Bab IV : PENUTUP UMUM KELEMBAGAAN BANK

BAB II

TINJAUAN UMUM KELEMBAGAAN BANK INDONESIA

II.1. Bank Sentral Pada Umumnya Bank Sentral memiliki fungsi dan peranan yang strategis bagi masyarakat pada umumnya dan pembangunan ekonomi pada khususnya. Hal yang paling mendasar adalah perannya dalam mencetak dan mengedarkan uang. Bank Sentral merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan mata uang sebagai alat pembayaran yang sah di suatu negara. Dengan peran ini, bank sentral mempunyai tujuan dan diberi tanggung jawab untuk mencapai dan dan memelihara kestabilan nilai mata uang. Kepada bank sentral diberikan beberapa wewenang dalam melakukan tugasnya. Tugas pertama mencakup perumusan dan pelaksanaan kebijakan moneter untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar dan atau suku bunga dalam perekonomian agar dapat mendukung pencapaian tujuan kestabilan nilai uang tersebut dan sekaligus mampu mendorong perekonomian nasional. Tugas kedua yaitu mengatur dan melaksanakan sistem pembayaran, yang mencakup sekumpulan kesepakatan, aturan, standar, dan prosedur yang digunakan dalam mengatur peredaran uang antar pihak dalam melakukan kegiatan ekonomi dan keuangan dengan menggunakan instrumen pembayarab yang sah. Sistem pembayaran dapat berlangsung baik secara tunai atau nontunai. Sistem pembayaran tunai menyangkut percaetakan dan peredaran uang agar jumlah, denominasi, kelayakan, maupun keamanan uang sebagai alat pembayaran yang sah dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam melaksanakan berbagai aktivitas ekonomi. Sementara pembayaran nontunai menyangkut peredaran uang yang pada umumnya dalam bentuk giral dan produk-produk perbankan lainnya. Tugas ketiga adalah mengatur dan mengawasi perbankan. Peran penting

perbankan terutama terletak pada fungsinya sebagai lembaga kepercayaan dalam memobilisasi dana masyarakat, dan menyalurkannya dalam bentuk kredit dan alternatif pembiayaan belanja untuk dunia usaha. Selain itu, peranan vital perbankan yaitu dalam pelaksanaan kehidupan moneter, karena sebagian besar peredaran uang dalam perekonomian berlangsung di dunia perbankan. Dengan tugas-tugas dan wewenag seperti ini, kebijakan yang ditempuh bank sentral berpengaruh langsung terhadap peredaran uang dan suku bunga dalam perekonomian, operasi dan kesehatan perbankan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tidak hanya perkembangan sektor keuangan tetapi juga pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

II.2. Sejarah Singkat Bank Indonesia Sebelum Indonesia merdeka, Indonesia belum memiliki bank sentral seperti yang ada pada saat ini. Pada periode tersebut fungsi bank sentral hanya terbatas sebagai bank sirkulasi. Tugas sebagai bank sirkulasi dilaksanakan oleh De Javasche Bank NV yang diberi hak untuk mencetak dan mengedarkan uang Gulden Belanda oleh pemerintah Belanda. Selanjutnya pada tanggal 19 September 1945, pemerintah Indonesia mengambil keputusan untuk mendirikan suatu bank sirkulasi berbentuk bank miliki negara. Berkaitan dengan hal tersebut, langkah pertama adalah membentuk yayasan dengan nama “Pusat Bank Indonesia”. Yayasan tersebut merupakan cikal bakal berdirinya Bank Negara Indonesia. Dalam perkembangannya, pada tanggal 6 Desember 1951 dikeluarkan undangundang nasionalisasi De Javasche Bank NV. Pada tanggal 1 Juli 1953 dikeluarkan UU No. 11 Tahun 1953 tentan pokok Bank Indonesia sebagai pengganti Javasche Bank Wet. Mulai saat itu lahirlah satu bank sentral di Indonesia sebagai bank sentral sebagai

bank sentarl hingga tahub 1968, dengan tugas seperti layaknya bank sentral pada umumnya. Namun saat itu Bank Indonesia juga masih melaksanakan beberapa fungsi sebagaimana dilakukan oleh bank komersial. Pada periode tersebut Bank Indonesia masih merupakan bagian dari pemerintah. Pada tahun 1968 dengan dikeluarkannya UU No.13 1968, Bank Indonesia tidak lagi berfungsi ganda, karena fungsinya sebagai bank komersial telah dihapuskan. Namun demikian, misi Bank Indonesia sebagai agen pembangunan masih melekat, demikian juga tugas-tugas sebagai kasir pemerintah dan bankers bank. Selanjutnya, dengan diberlakukannya UU No.23 Tahun 1999, kedudukan Bank Indonesia selaku Bank Sentral Republik Indonesia telah dipertegas kembali. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia telah mempunyai kedudukan yang independen di luar pemerintah sebagaimana bank-bank sentarl di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Filipina, Inggris, Jepang, Jerman, Swiss. Namun, sesuai dengan amandemen UU No. 3 Tahun 2004 ditegaskan bahwa, meskipun Bank Indonesia berkedusukan sebagai lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Bank Indonesia dinilai kinerjanya oleh DPR dan melakukan koordinasi dengan pemerintah dalam perumusan kebijakan moneternya. Bank Indonesia wajib menyerahkan laporan tahunan dan triwulanan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenangnya kepada DPR dan masyarakat luas melalui media massa serta menyampaikan laporan keuangan kepada BPK dalam rangka memenuhi asas akuntabilitas dan transparansi.

II.3. Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia Tujuan dan tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia diatur secara jelas dalam UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No.3 Tahun 2004. Tujuan Bank Indonesia ditetapkan sesuai

UU Bank Indonesia mempunyai tiga tugas, yaitu: 1. 2. 3. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran Mengatur dan mengawasi bank Pelaksanaanketiga tugas di atas mempunyai keterkaitan, dan karenanya harus dilakukan secara saling mendukung guna tercapainya tujuan Bank Indonesia secara efektif dan efisien. Tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter dilakukan Bank Indonesia anatara lain melalui pengendalian jumlah uang yang beredar dan susku bunga dalam perekonomian. Efektivitas pelaksanaan tugas ini memerlukan dukungan sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman, dan andal yang merupakan sasaran dari pelaksanaan tugas mengatur dan mengawasi bank. Selanjutnya, sistem perbankan yang sehat, selain mendukung kinerja sistem pembayaran, akan mendukung pengendalian moneter mengingat pelaksanaan kebijakan moneter dan efektivitasnya dalam mempengaruhi kegiata ekonomi riil dan mencapai stabilitas nilai rupiah, terutama berlangsung melalui sistem perbankan. Dengan keterkaitan pelaksanaan ketiga tugas saling mendukung tersebut, maka pencapaian tujuan Bank Indonesia akan berhasil dengan baik. Demi melaksanakan tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter tersebut, Bank Indonesia diberi kewenangan penuh untuk menetapkan sasaran-sasaran moneter yang dapat berupa besaran moneter ekonomi dan keuangan ke depan dengan memperhatikan sasaran laju inflasi dan untuk melakukan penegendalian moneter dengan menggunakan berbagai instrumen kebjakan moneter. Pelaksanaan kebijakan moneter juga tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai tukar dan sistem devisa yang ditetapkan. Karena sejak tahun 1997 sistem nilai tukar yang dianut di Indonesia adalah

sistem nilai tukar mengambang, maka kebijakan nilai tukar yang ditempuh BI berupa intervensi di pasar valuta asing dimaksudkan agar pergerakan nilai tukar di pasar dapat berlangsung stabil. Berkaitan dengan sistem devisa, BI diberi kewenangan untuk melakukan monitoring dan mengeluarkan ketentuan kehati-hatian terhadap lalu lintas devisa yang masuk dan keluar Indonesia. Sedangkan dalam mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, BI melakukan kebijakan-kebijakan yaitu dengan: a) menetapkan penggunaan alat pembayaran, berupa tunai (uang kertas dan logam) dan nontunai (berbasis warkat, seperti cek, bilyet giro dan wesel maupun berbasis elektronik, seperti kartu kredit dan ATM) dan; b) mengatur penyelenggaraan jasa sistem pembayaran dengan menyelenggarakan sendiri sistem pembayaran atau memberi izin kepada pihak lain untuk menyelenggarakan jasa sistem pembayaran dengan kewajiban menyampaikan laporan kegiatannya kepada Bank Indonesia. Selain itu Bank Indonesia berwenang menyelenggarakan penyelesaian akhir (setelmen) transaksi pembayaran antar bank, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Tugas Bank Indonesia yang selanjutnya, yaitu mengatur dan mengawasi bank, penting tidak saja untuk mendukung kelancaran sistem pembayaran, tetapi juga untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter dalam mempengaruhi perkembangan ekonomi dan inflasi. Berdasrkan undang-undang, kewenangan BI dalam mengatur dan mengawasi bank meliputi : 1) memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha tertentu dari bank; 2) menetapkan peraturan di bidang perbankan; 3) melakukan pengawasan bank baik secara langsung maupun tidak langsung; dan 4) mengenakan sanksi terhadap bank sesuai ketentuan perundangan. Keempat kewenangan tersebut merupakan satu kesatuan dalam mendukung terciptanya sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien.

II.4. Visi dan Misi Bank Indonesia Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sesuaiUU No. 23 Tahun 1999 tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Rumusan tersebut merupakan pedoman bagi Bank Indonesia dalam menetapkan misi dan visinya. Misi Bank Indonesia sendiri adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabialn moneter dan pengembangan sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan. Sedangkan visi Bank Indonesia yaitu menjadi lembaga bank sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil. Visi tersebut dimaksudkan untuk jangka waktu yang lama dan berjangka panjang, meskipun tanpa mengurangi adanya peluang untuk melakukan penyesuaian dari waktu ke waktu dalam rangka mendukung pencapaian misi Bank Indonesia. II.5. Struktur Organisasi Kantor Bank Indonesia Tingkat Surabaya Dalam mendukung pelaksanaan kebijakan serta tugas-tugas Bank Indonesia, maka telah dibentuk kantor Bank Indonesia di berbagai daerah. KBI pada dasarnya merupakan kepanjangan tangan dalam pelaksanaan tugas-tugas Bank Indonesia dan melaksanakan hubungan kerja dengan pihak-pihak lain yang terkait. Adapun beberapa tugas yang dilakukan oleh KBI-KBI termasuk KBI Surabaya yaitu sebagai berikut: 1. Bidang sistem pembayaran meliputi pelaksanaan operasional sistem

pembayaran (tunai dan nontunai) kepada perbankan, pemerintah, dan pihak ketiga di wilayah kerjanya; 2. Bidang ekonomi dan moneter meliputi pelaksanaan kebijakan ekonomi dan

moneter yang telah ditetapkan Kantor Pusat, pengkajian ekonomi regional (KER),

pengkajian efektivitas pelaksanaan kebijaksanaan ekonomi moneter pusat untuk wilayah propinsi, menyediakan statistik ekonomi, keuangan dan perbankan, serta memberi masukan kepada pemerintah daerah setempat dalam bidang pembangunan ekonomi; 3. Bidang perbankan meliputi pelaksanaan pembinaan dan pengawasan bank,

perusahaan pembiayaan dan pedagang valuta asing yang berkantor pusat di wilayah kerja KBI, serta berperan aktif dalam menciptakan iklim perbankan yang sehat di wilayah kerjanya; 4. Bidang manajemen intern meliputi perencanaan operasional kegiatan KBI

termasuk anggarannya dan mendukung kelancaran pelaksanaan bidang-bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran tersebut di atas. Sebagai wakil Bank Indonesia di daerah, KBI Surabaya diwajibkan untuk membina hubungan baik dengan pemda, instansi pemerintah lainnya, dan masyarakat setempat agar dapat memberi masukan dan sekaligus memperoleh informasi yang diperlukan oleh satuan kerja di kantor pusat maupun di daerah. Dalam bidang Ekonomi Moneter sendiri, terdapat tiga kelompok bagian yang mempunyai tugas pokok yang berbeda-beda, yaitu: 1. Kelompok Kajian Ekonomi Berdasrkan data dan informasi yang kami peroleh, Kelompok Kajian Ekonomi memiliki sekitar 10 tugas dan produk pokok. Kesepuluh tugas dan produk pokok tersebut akan kami paparkan sebagai berikut. Tugas pokok pertama Kelompok Kajian Ekonomi adalah menyusun kajian ekonomi regional yang mencakup assesmen makro ekonomi daerah dan perkiraan perkembangan ekonomi dan harga. Dalam hal ini, produk pokoknya adalah berupa

kajian ekonomi yang berguna untuk kepentingan kantor pusat dan stakeholders daerah, yang mencakup: • Ringkasan eksekutif KER (wilayah dan zona) triwulanan, yang diikuti

dengan ususlan rekomendasi kepada kantor pusat. • • Publikasi KER propinsi triwulanan. Ringkasan eksekutif ekonomi daerah bulanan. Tugas kedua adalah melakukan penelitian ekonomi daerah yang berbasis kegiatan lapangan dan studi kepustakaan. Produk pokoknya adalah berupa hasil penelitian beserta rekomendasi dengan ruang lingkup antara lain: • • Potensi tekanan harga dari sisi supply di daerah Pembiayaan investasi di daerah yang bersumber dari dalam maupun

luar negeri (perbankan, pasar modal, dll) dan peranannya terhadap perekonomian daerah. • Potensi dan hambatan investasi dalam rangka pengembangan ekonomi

daerah, termasuk kebijakan/peraturan pemerintah pusat dan daerah yang mempengaruhi iklim investasi daerah. Tugas ketiga adalah melakukan kajian ad hoc atas inisiatif KBI ataupun kerjasama dengan kantor pusat atau stakeholder daerah. Dengan tugas pokoknya adalah berupa hasil kajian yang sesuai dengan isu terkini di daerah, antara lain: • • daerah. Potensi dan dampak bencana alam terhadap perekonomian daerah. Daya serap APBD dan keterkaitannya dengan pertumbuhan ekonomi

Tugas keempat adalah menyusun rekomendasi kebijakan perekonomian daerah kepada pemda dan stakeholder lainnya yang didasari oleh hasil penelitian. Produk pokoknya berupa rekomendasi yang mencakup antara lain: • Pengendalian harga dari sisi produksi dan distribusi, termasuk

peraturan daerah yang mendukung. • Upaya mendorong sektor riil serta perbaikan iklim investasi dan

UMKM. • Upaya pengembangan potensi ekonomi daerah. Tugas kelima adalah menyusun dan melaksanakan program komunikasi atas hal-hal kajian ekonomi dan penelitian daerah.Produk pokoknya adalah berupaperencanaan, pelaksanaan, dan program komunikasi kepada: • • • • Pemda, DPD, dan DPRD Perbankan Dunia usaha/sektor riil Perguruan tinggi, dan masyarakat lainnya. Tugas keenam adalah melakukan diseminasi atas kebijakan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran. Produk pokoknya adalah berupa penyampaian hasil-hasil kebijakan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran, termasuk kesepakatan perdagangan internasional (WTO, AFTA,MDGs) kepada stakeholder daerah. Tugas ketujuh adalah melaksanakan kegiatan kehumasan. Produk pokok dari tugas ini adalah membuat makalah, pidato, bahan presentasi press release,

tanggapan kepada pihak-pihak ketiga, dan lain sebagainya. Tugas kedelapan adalah melakuakan monitoring pinjaman luar negeri, pinjaman daerah, swasta, TSL, serta rekomendasi-rekomendasiberkaitan dengan transaksi pinjaman-pinjaman yang dilakukan. Tugas kesembilan adalah melakukan kegiatan fungsi investor relation program/unit atau sering disingkat IRU. Produk pokok ini adalah membuat laporan investor relation program yang kemudian disampaikan ke Direktorat Internasional, antara lain: • Hasil pertemuan dengan stakeholders. • Updating questions & answer. • Laporan koordinasi dengan lembaga rating dan investor. • Memberikan usulan/kegiatan dalam rangka penerbitan obligasi daerah dan penyusunan prospectus pinjaman. • Pelaksanaan capacity building. Tugas kesepuluh adalah melakukan koordinasi denagn KBI-KBI di wilayah koordinasinya dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas kajian ekonomi. Produk pokok dari tugas ini adalah memastikan terlaksananya koordinasi kegiatan kajian ekonomi. 2. Kelompok Statistik dan Survei Berdasarkan data dan informasi yang kami peroleh, Kelompok Statistik dan Survei ini memiliki sekitar 7 tugas dan produk pokok. Ketujuh tugas dan produk pokok tersebut akan kami uraikan di bawah ini. Tugas pokok pertama Kelompok Statistik dan Survei adalah menerima,

memverivikasi, mengirim ke kantor pusat, menatausahakan, dan memberikan bantuan teknis laporan bank dan non-bank. Produk pokok dari tugas ini adalah dibuatnya beberapa laporan seperti: • • • • Laporan Bank Umum (LBU) Laporan Berkala Bank Umum (LBBU) Laporan BPR (LBPR) Laporan Keuangan Bulanan dan Kegiatan Usaha Perusahaan

Pembiayaan (LKBPP). Tugas pokok kedua dari kelompok ini adalah mengumpulkan dan menyusun data/informasi ekonomi, keuangan perbankan, dan demografi di wilayah kerja. Sedangkan produk pokoknya adalah data-data statistik seperti PDRB, APBD, Inflasi, serta kependudukan/ketenagakerjaan. Tugas pokok ketiga adalah melakukan kegiatan suevei untik kepentingan kantor pusat dan KBI. Produk pokok dari tugas ini adalah berupa hasil-hasil survei seperti: • • • • • • Survey Kegiatan dunia Usaha (SKDU) Suvey Konsumen (SK) Survey Penjualan Eceran (SPE) Survey Harga Properti Residensial (SHPR) Survey Pemantauan Harga (SPH) Survey Properti Komersial (SPKom)

Tugas pokok keempat adalah melakukan kegiatan Liasons dalam rangka pengumpulan data dan informasi dari para pelaku ekonomi, seperti perusahaan, lembaga riset, pemerintah, perbankan, dan asosiasi. Produk pokoknya adalah berupa analisis singkat (diary notes) mengenai kunjungan liason, resume analisis gabungan hasil liason dan database, serta pengiriman informasi liason ke kantor pusat. Tugas pokok kelima adalah mengelola dan mengembangkan database informasi mengenai perekonomian daerah. Produ pokok dari tugas ini adalah berupa database mengenai perekonomian daerah yang terngkum dalam buku SEKDA atau Statistik Perekonomian dan Keuangan Daerah. Tugas pokok keenam adalah melaksanakan tugas sebagai pusat informasi. Produk pokok dari tugas ini adalah dengan memberi pelayanan informasi data nasional dan regional yang meliputi: • • • • Ekonomi keuangan Bisnis dan perbankan Pinjaman Luar Negeri Demografi Sedangkan tugas pokok ketujuh adalah melakukan koordinasi dengan KBIKBI di wilayah koordinasinya dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas statistik dan survey. Produk pokok dari tugas ini adalah dengan terlaksananya koordinasi kegiatan statistik dan survey.

3.

Kelompok Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM

Berdasarkan

data

dan

informasi

yang

kami

peroleh,

kelompok

pemberdayaan sektor riil dan UMKM ini memilikisekitar 12 tugas dan produk pokok. Keduabelas tugas dan produk pokok tersebut akan kami paparkan sebagai berikut. Tugas pokok pertama dari kelompok pemberdayaan sektor riil dan UMKM ini adalah melakukan identifikasi hasil-hasil kajian penelitian/kesepakatan/program yang potensial dalam pengembangan sektor riil, dan melaksanakan identifikasi permasalahan secara spesifik yang terjadi pada komoditi, industri, maupun bidang usaha tertentu. Produk pokok dari tugas ini adalah berupa laporan atas hasil identifikasi, yang berupa usulan program atau penelitian mengenai

komoditi/industri/bidang usaha yang perlu untuk ditindaklanjuti. Tugas pokok kedua dari kelompok ini adalah menyusun program pemberdayaan sektor riil, baik korporasi, BUMN, maupun UMKM, yang didasarkan atas hasil identifikasi. Produk pokok dari tugas ini adalah berupa laporan program atau rencana kegiatan pemberdayaan komoditi, bidang usaha, maupun proyek yang telah disetujui. Tugas pokok ketiga adalah melaksanakan program pemberdayaan sektor riil yang telah ditetapkan. Produk pokoknya berupa laporan pelaksanaan program. Tugas pokok keempat adalah melakukan koordinasi dengan stakeholders daerah untuk memberikan bantuan teknis dalam bentuk pelatihan kepada perbankan dan BDSP dalam rangka pemberdayaan sektor riil dan UMKM. Produk pokok dari tugas ini adalah laporan pelaksanaan pelatihan. Tugas pokok yang kelima adalah memberikan bantuan teknis dalam bentuk penyediaan informasi berbasis penelitian serta memfasilitasi proses intermediasi perbankan dalam rangka pemberdayaan sektor riil dan UMKM. Produk-produk

pokoknya mencakup: • Tersedianya informasi berdasarkan penelitian berupa: Buku Lending

Model, Baseline Economiv Survey, serta hasil-hasil penelitian lainnya. • Terlaksananya forum koordinasi antar instansi terkait dalam rangka sektor riil dan UMKM, yang antara lain melalui

pemberdayaan

penyelenggraan seminar, workshop, bazar intermediasi, serta pembentukan task force. Tugas pokok ysng keenam adalah mengkomunikasikan hasil penelitian dalam ranga mendorong perbankan dalam pembiayaan UMKM. Produk pokoknya berupa laporan hasil pelaksanaan komunikasi hasil penelitian. Tugas pokok yang ketujuh adalah menyediakan data profil UMKM yang prosesnya dibiayai oleh Lembaga Keuangan, yang ditampilkan melalui website. Produk pokok dari tugas ini adalah berupa data profil UMKM yang potensial dibiayai oleh Lembaga Keuangan. Tugas pokok yang kedelapan adalah melaksanakan pembebanan rekening khusus dalam rangka bantuan luar negeri. Produk pokok dari tugas ini adalah berupa terlaksananya surat perintah pemindahan dana bantuan luar negari. Tugas pokok yang kesembilan adalah menatausahakan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI), termasuk perhitungan bunga dan laporan-laporan lainnya. Produk pokok dari tugas ini adalah terlaksananya tata usaha KLBI. Tugas pokok yang kesepuluh adalah membantu melakukan pengawasan atas pengelolaan KLBI dan TSL terhadap bank-bank dan laporan-laporan lainnya. Produk-produk pokok dari tugas ini adalah laporan hasil pengawasan KLBI dan TSL .

Tugas pokok yang kesebelas adalah melaksanakan pemberian izin, pengawasan, dan pembinaan serta pengelolaan data informasi mengenai Pedagang Valuta Asing (PVA) di daerah. Produk pokok dari tugas ini adalah berupa pemberian izin, pengawasan dan pembinaan, serta pengelolaan data yang terkait dengan PVA. Tugas pokok yang keduabelas adalah melakukan koordinasi dengan KBIKBI di wilayah koordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pemberdayaan sektor riil, seperti korporasi, BUMN, dan UMKM. Produk pokok dari tugas ini adalah berupa terlaksananya koordinasi kegiatan pemberdayaan sektor riil, yakni korporasi, BUMN, dan UMKM.

BAB III HUBUNGAN INTERNASIONAL DALAM EKONOMI MONETER

Peran hubungan internasional mungkin dirasa tidak terlalu menonjol pada pelaksanaan kegiatan di Kantor Bank Indonesia Surabaya. Namun semakin modern jaman, kebutuhan akan kegiatan transaksi dengan outsider semakin mendesak. Maka dari itu, kemapuan diplomasi dan kemampuan untuk berbahasa asing akan sangat dibutuhkan. Namun bila menelisk lebih jauh mengenai program kerja di Bank Indonesia, terdapat satu program yang memang bergerak untuk mengadakan hubungan kemitraan dan perdagangan dengan Negara lain. Lebih dikhususkan lagi, di Bank Indonesia Surabaya, memang sedang dirancang program kemitraan dengan Negara lain yang langsung khusus menanamkan investasinya di Jawa Timur. Disinilah letak tantangan dari kemampuan berdiplomasi serta perpaduan antara soft power dan skill dalam mengetahui kecenderungan perkembangan ekonomi serta langkah stategis apa yang harus dilakukan. Dalam teori hubungan internasional, terdapat pembagian power menjadi tangible power dan intangible power. Pada dasarnya, Jawa Timur memiliki keduanya, baik tangible maupun intangible power namun memang untuk mengaktualisasi dan memaksimalkannya masih sangat terhambat oleh proses birokrasi dan konstelasi politik yang terjadi. Kekuatan tangible Jawa Timur bias dilihat pada aspek-aspek seperti perekonomian yang cenderung stabil dan baik, tingkat konsumsi dan daya saving masyarakatnya yang masih

dapat diandalkan, serta jumlah masyarakat yang massive dapat dijadikan sebuah kekuatan tersendiri dalam bargaining position dengan investor. Mengapa saya memasukkan jumlah masyarakat yang massive sebagai salah satu faktor kekuatan, karena dari jumlah masyarakat yang banyak dapat menjadi sebuah daya tawar untuk sector tenaga kerja baik dalam proses ekonomi di dalam maupun luar negeri. Di luar negeri, karena masyrakat Jawa Timur mendominasi jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di banyak Negara dan jumlah pengiriman remittance yang relative besar ke daerah asal juga akan membawa keuntungan bagi devisa daerah Jawa Timur maupun Negara. Di dalam negeri, karena seperti China, jumlah penduduk yang banyak dapat menjadi penawaran tersendiri akan tenaga kerja dan buruh tidak terbatas. Dengan adanya jumlah buruh yang banyak, pengusaha juga dapat menerapkan upah minimum yang relative kecil di bandingkan dengan upah yang harus dibayarkan kepada buruh di kota besar seperti Jakarta. Bagi pengusaha, hal tersebut pastinya akan diperhitungkan dalam pengkalkulasian keuntungan. Mungkin sejauh ini, IRU di Jawa Timur belum dapat diaktualisasikan dengan maksimal. IRU yang sejauh ini berjalan adalah IRU dengan cakupan nasional. Dalam proses desentralisasi memang seharusnya IRU dapat berjalan secara merata di berbagai daerah yang memang memiliki potensi. Seperti contoh potensi Unit Kegiatan Menengah (UKM) di Surabaya yang sangat memiliki peluang usaha hingga menembus pasar internasional. Namun kendala yang dihadapi adalah selalu terkait dengan dana dan birokrasi (perijinan). Memang pada kenyataannya, hambatan tersebut menjadikan peluang percepatan ekonomi regional Jawa Timur menjadi lebih sulit. Seharusnya dalam pemasaran dan permodalan, Bank Indonesia dapat menggandeng investor asing dalam pengembangannya. Pengembangan tersebut dapat berupa pendirian sentra yang menampung dan memasarkan hasil UKM, pendirian lembaga pendanaan dan pelatihan UKM, serta kesepakatan pemasaran hingga ke Negara tujuan.

Memang dalam era globalisasi ini, persaingan semakin ketat dan semakin kotor. Semua akan berlomba untuk mendapatkan partner terbaik dan mendapat keuntungan terbesar. Tidak terkecuali para pelaku ekonomi di Indonesia maupun di Jawa Timur. Namun ada satu permasalahan yang menjadi hambatan bagi Indonesia dalam usahanya untuk memperbesar dan memperkuat sendi-sendi Negara, termasuk ekonomi. Indonesia masih selalu di bayangbayangi oleh isu-isu dan track record penegakan HAM di Indonesia yang tidak baik. Karena selama ini, para investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia selalu mengajukan persyaratan yang luar biasa besar dan terbilang susah untuk dipenuhi, karena salah satunya adalah pencitraan tentang penegakan HAM di Indonesia yang buruk. Untuk mengubah persepsi tersebut tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Kembali lagi pada keragaman suku dan budaya, dan relativitas yang dimiliki masing-masing budaya serta pandangannya terhadap HAM. Memang permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dalam satu malam, dan dalam mengubah pandangan masayarakat terhadap HAM membutuhkan perjuangan dan sosialisasi yang panjang. Kembali lagi ke permasalahan untuk menggandeng investor dalam pelaksanaan ekonomi di Indonesia, sebenarnya masalah HAM dapat di-kamuflase-kan dengan menggunakan dan menonjolkan keunggulan lain yang dimiliki Jawa Timur. Contoh sederhana, dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif pada 5 April yang lalu, di Jawa Timur hal tersebut berlangsung dengan demokratis dan damai. Tidak ada pergolakan seperti yang terjadi di daerah lain. Hal ini dapat menunjukkan bahwa konstelasi politik di Jawa Timur relative lebih stabil dan demokratis. Dan pastinya pendidikan dan pengetahuan masyarakat akan politik di Jawa Timur juga sudah mencapai tahapan yang baik. Hal tersebut merupakan sebuah tawaran yang menjanjikan bagi kesuburan usaha dan perkembangan ekonomi.

BAB IV PENUTUP

Berhubungan dengan IRU yang memang di Bank Indonesia Surabaya masih belum terlalu diaplikasikan, saya sebagai mahasiswa yang telah menempuh magang di Kantor Bank Indonesia Surabaya, berusaha untuk memasukkan disiplin ilmu hubungan internasional yang dipelajari sebagai bagian dari teori dengan realitas ekonomi di lapangan yang telah kurang lebih didapatkan saat magang. Beberapa masukan untuk Bank Indonesia Surabaya, terkait dengan pengembangan IRU di Jawa Timur adalah sebagai berikut : 1. Pencitraan Bank Indonesia dengan baik di mata masyarakat agar mendapat dukungan yang positif pula dalam pelaksanaan kegiatannya. 2. Membantu pelaksanaan dan operasional kegiatan-kegiatan yang berorientasi pendidikan bagi masyarakat, dalam peningkatan keahlian dan pengetahuan masyarakat. Mungkin Bank Indonesia Surabaya dapat membentuk sebuah lembaga atau yayasan yang bergerak di bidang pendidikan yang setara dengan SMK (sekolah menengah kejuruan) yang didalamnya mendapatkan

pendidikan berupa aplikasi dan perpaduan antara ekonomi dan politik. Sehingga diharapkan akan memunculkan praktisi yang strategis dalam pengembangan Jawa Timur. 3. Mungkin terlebih lagi, bahwa Bank Indonesia sebaiknya bekerja sama dengan Dinas Pariwisata untuk mempergunakan duta sebagai ajang untuk

mempromosikan keunggulan dan tangible power yang dimiliki Jawa Timur, dari kekayaan alam hingga keramahtamahan masyarakatnya agar dapat mencitrakan Jawa Timur sebagai wilayah yang positif untuk menjadi lahan investasi. Demikian laporan akhir magang ini saya ajukan. Saya ucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia Surabaya, khususnya bidang Ekonomi Moneter yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan magang, kepada para karyawan seksi KKE, KSS, dan KSRU atas fasilitas, data dan bimbingan bagi peserta magang. Utamanya kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Tutuk S. H. Cahyono, Bapak Hendik Sudaryanto, dan Bapak Nurkholisoh Ibnu Aman selaku pendamping dan pengawas mahasiswa selama proses pelaksanaan magang. Saya mengucapkan maaf jika terdapat ucapan, sikap, maupun perilaku yang kurang berkenan selama proses pelaksanaan magang. Koreksi juga diharapkan bila terdapat kesalahan dalam penulisan laporan akhir magang yang diajukan. Demikian laporan ini saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca dan instansi Bank Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->