P. 1
Awal Januari 2010

Awal Januari 2010

|Views: 772|Likes:
Published by Identitas Unhas

More info:

Published by: Identitas Unhas on Apr 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2013

pdf

text

original

Penerbitan Kampus Universitas Hasanuddin

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas
Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat
Alih-alih membuat daerah resapan air sebagai kampus percontohan, pembuatan waduk oleh Unhas malah meresahkan warga yang tinggal di sekitar lokasi. Simak Berita Terbaru di

Pembangunan Waduk Resahkan Warga

www.identitasonline.net

jendela
Misteri di Balik Pungutan Dana di Geologi

PENGADAAN Laboratorium Geokomputasi 2004 silam bermuara pungutan dana pada mahasiswa. Hingga awal tahun ajaran 2009/ 2010 pihak jurusan tidak mengetahuinya.

hal 5 Renovasi Perpustakaan, Keberadaan Buku Dipertaruhkan
Waduk Unhas: Beberapa anak bermain di sekitar Waduk Unhas Tamalanrea, Minggu (17/1). Warga di sekitar area itu khawatir akan jebolnya waduk yang dibangun pada daerah pemukiman.

H

KURANGNYA koordinasi antara fakultas dan pengelola perpustakaan FIB, berbuah rusaknya buku referensi, saat renovasi September 2008. Bak jatuh tertimpa tangga, buku referensi pun disinyalir dijual ke tukang loak.

hal 11 Laput: Akreditasi, Sebuah Cerminan Prestasi

MEMILIKI akreditasi adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta. Jika sebuah perguruan tinggi tidak memiliki akreditasi, maka keberadaannya tak akan diakui oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

hal 7

ujan lebat yang terus mengguyur Makassar sejak Minggu malam (6/01), meresahkan warga Jalan Sejati Tamalanrea, Kompleks Unhas. Pasalnya di sekitar lokasi perumahan terdapat sebuah waduk yang bisa jebol sewatu-waktu. Apalagi jika debit air terus bertambah. Jika hal itu terjadi, maka tak ayal lagi perumahan warga akan jadi korban. Di sebelah waduk itu, terdapat sebuah rumah yang bisa saja terkena dampak langsung jika waduk ini jebol. Akibatnya, 10 orang penghuni rumah tak bisa tidur nyenyak selama musim penghujan ini. Waduk sedalam dua meter ini rencananya akan difungsikan sebagai penampung dan penyambung aliran menuju Sungai Tallo, ketika debit air meningkat di atas dua meter. Selain itu, limbah dari Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudirohusodo akan dialirkan ke waduk ini, setelah melalui Instalasi Penyaringan Air Limbah (IPAL). Waduk itu kemudian akan dijadikan sebagai tempat penampungan sementara dan sebagai tahap awal perencanaan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA). Air dari tiga danau Unhas akan dibuatkan pipa untuk disambungkan menuju tangki yang ada di workshop. Kemudian dilakukan pengolahan air oleh IPA. Sayang, kurangnya dana membuat pembuatan waduk itu terhenti di tengah jalan. “Belum rampungnya pengerjaan proyek ini disebabkan oleh kurangnya dana yang disediakan,” papar Drs Jursum, Kepala Bagian Perlengkapan Unhas. Prof Dr Ir Lawalenna M Eng, perancang

proyek ini mengatakan, pembangunan saluran air dan waduk sudah diperhitungkan dengan matang. Unhas memiliki permasalahan kekurangan air setiap musim kemarau. Apalagi, saat ini Asrama Mahasiswa (Ramsis) belum difungsikan. Karena tidak adanya persediaan air bersih. “Jika menggunakan jasa Perusahaan Distrik Air Minum (PDAM), perhitungannya adalah air sebanyak 1200 m3 akan habis dalam waktu 2-3 jam perhari,” tutur Lawalenna. Sementara itu, Warga Jalan Sejati masih mempertanyakan kejelasan waduk ini. Menurut mereka, pembangunan waduk yang dimulai pada Agustus 2009 lalu itu tak pernah dibicarakan sebelumnya dengan warga. H Ali Mantong (53), salah seorang warga Jalan Sejati mengatakan tidak pernah ada koordinasi dari pihak pengelola proyek. “Mereka cuma menunjukkan gambar mengenai saluran air yang akan dibangun,” katanya sambil menunjuk saluran besar yang dialiri air limbah dari Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Tidak hanya H Ali Mantong yang merasa risau. Tapi sekira 15 rumah yang berhadapan langsung dengan bendungan. Salah seorang perwakilan warga sempat menemui Rektor Unhas untuk membicarakan masalah ini. Menurutnya warga sudah memberikan solusi terhadap masalah tersebut. “Kami sudah mengajukan usulan, yakni bronjong (tanggul yang disusun oleh batu, red) dinaikkan, dan pengadaan pompa air supaya air yang berada di Jalan Sejati dialirkan ke danau di Kera-Kera sebagai danau resistan,”

tambahnya pada Identitas. Mengenai air yang merembes ke rumah warga, Lawalenna ketika ditemui di Kantor Jurusan Teknik Sipil meminta warga tetap bersabar. “Kita minta agar aliran air jangan ditutup supaya air yang di waduk tidak tinggi. Kemarin dananya tidak cukup, cuma Rp 8 miliar. Pertengahan 2010 akan ada tambahan dana Rp 2 miliar,” terang Lawalenna. Jika pembuatan waduk ini memang telah diperhitungkan matang-matang, semestinya tak perlu ada hal yang meresahkan warga. Musim hujan baru saja datang. Jika pengerjaan waduk masih harus menunggu pertengahan tahun, rasanya terlalu lama warga harus menyimpan keresahan. Jika tak segera ditanggulangi, bukan tak mungkin waduk setengah jadi itu akan benarbenar jebol. Permasalahan yang ditimbulkan pembuatan waduk ini tak hanya itu. Sumur yang berada disekitar saluran air sekarang tercemar. Indikasinya adalah air yang berbau dan sudah berwarna. Air dari sumur sudah tidak bisa lagi dipakai memasak seperti dulu. Air yang dipakai memasak nasi akan menyebabkan nasi basi di keesokan hari. Warga juga sudah tidak berani mengonsumsi air sumur. “Kami takut meminum air itu, karena sudah tercemar limbah,” ungkap salah seorang warga yang tak ingin disebut namanya. Padahal, sumur tersebut menjadi sumber air utama bagi warga jika kemarau tiba. Tra, Mai /Nay

GRAHAMEDIA Peduli Pelajar 2010
SPESIAL DISKON Khusus untuk SEMUA PELAJAR
*dengan memperlihatkan kartu pelajar dan member card Grahamedia.

CMYK

IDENTITAS/ MUH SYUKRI

tajuk
Demokrasi dan Kesejahteraan
ADAKAH korelasi antara demokrasi dengan kesejahteraan rakyat di sebuah bangsa? Kalau ada,bagaimanakah sistem demokrasi itu dibangun? Mampukah bangsa Indonesia mewujudkannya di tengah euforia demokrasi yang terjadi saat ini? Pertanyaaan itu tampaknya penting diajukan dalam seminar internasional yang digelar oleh pascasarjana Unhas pada Kamis (14/01). Dimana dalam acara akbar itu, Mahathir Muhammad hadir sebagai keynot speaker yang akan membahas “Demokrasi untuk Kesejahteraan Rakyat.” Kehadiran Mahathir selaku pembicara tunggal didasarkan pada pengalaman empiris kalau Malaysia – di masa rezim Mahathir – kehidupan ekonomi rakyat Malaysia berkembang lebih baik. Ekonomi masyarakat pribumi melayu bisa tumbuh seiring dengan pengangkatan derajat dan hak ekonomi kaum minoritas yang ada di negeri jiran tersebut. Meski secara politik pemerintahan Mahathir tak sedemokratis Indonesia sekarang. Malah, kepemimpinan Mahathir dianggap sedikit diktataor. Lantas yang jadi tanda tanya, demokrasi macam apa yang dimaksud serta yang dijalankan oleh Mahathir itu sendiri? Terlepas dari semua penjelasan serta pembahasan model demokrasi Malaysia, istilah demokrasi selalu dipertentangkan maknanya, apakah merujuk pada demokrasi liberal (barat), demokrasi lokal atau demokrasi ala sosialis. Semua mengklaim demokrasi dengan embel-embel tertentu. Konsep demokrasi idealnya merujuk pada kedaulatan rakyat yang bersifat utuh, rakyat menjadi berdaulat secara politik, ekonomi, social budaya dan bahkan hukum. Namun, jika melihat pada proses demokratisasi yang terjadi saat ini, demokrasi kita baru sebatas demokrasi politik yang procedural, permukaan dan kulit belaka. Itupun prosesnya dimanipulasi dan dibajak oleh elite politik menjadi sebatas arena pertarungan pengaruh, kepentingan, dan kekuasaan individual dan kelompok tertentu. Konsep demokrasi seolah tidak mensyaratkan terciptanya kesejahteraan rakyat. Demokrasi dimaknai hanya sebatas keterbukaan, kebebasan politik dan pemilu belaka. Lebih dari itu, misalnya, hak-hak social ekonomi rakyat digadaikan hanya untuk kepentingan elite politik dan partai politik saja. Produk serta proses hukum yang berlangsung hari ini pun, yang kita harapkan berpihak pada keadilan dan kepentingan rakyat masih jauh dari harapan dan realitas. Akibatnya, demokrasi yang kita rajut selama ini tidak mensejahterakan serta berpihak pada rakyat secara umum. Kedaulatan sesungguhnya baik politik, ekonomi, hukum hanya dinikmati oleh kaum elite, berduit dan penguasa. Pada dasarnya rakyat sama sekali tidak berdaulat, meski secara politik ada kebebasan yang dinikmati oleh rakyat. Akan tetapi jika ditelaah lebih dalam, kebebasan yang selalu dituding kebablasan, sesungguhnya bukanlah kebebasan sejati yang termaktub dalam sebuah kedaulatan. Kehendak dan aspirasi rakyat masih direkayasa, disetir dan digerakkan oleh kepentingan sekelompok elite dan penguasa. Jika itu yang terjadi, sekali lagi, demokrasi kita tidak akan mensejahterakan rakyat Indonesia. Kedaulatan rakyat selamanya akan tersandera oleh kepentingan elite dan penguasa yang juga berkolaborasi dengan para kapitalis asing. Akibatnya konsep demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat dalam sebuah pemerintahan menjadi kambing hitam lantaran praktek demokrasi para elite dan penguasa yang tidak demokratis itu hanya menambah keterpurukan, kemunduran dan instabilitas politik. Pada konteks inilah, presiden Susilo Bambang Yodoyono tak sepantasnya hanya mengimbau pihak akademisi – dalam hal ini forum rector - untuk mendefenisikan ulang demokrasi yang berlangsung di tanah air. Semestinya imbauan itu juga diarahkan pada kelompok elite dan jajaran bawahnya untuk memaknai demokrasi secara utuh sehingga bisa berdemokrasi sekaligus berpolitik hanya untuk kedaulatan rakyat, bangsa dan Negara. Sebaik apapun metodologi demokrasi yang dirancang nantinya para akademisi, jika pelaku-pelaku politiknya – elite dan penguasa - tidak mengedepankan kepentingan dan kedaulatan rakyat di atas kepentingan pribadi dan kelompok, demokrasi Indonesia tidak akan mensejahterakan, malah memiskinkan, menyengsarakan dan mengacaukan sistem ketatanegaraan kita. Oleh karena itu, kontribusi dan peran semua elemen masyarakat termasuk mahasiswa dibutuhkan untuk mengawal dan mengontrol praktek-pratek demokrasi para elite kita. Peran ini tentunya tidak sebatas pada saat pesta demokrasi digelar (pemilu), namun lebih dari itu perilaku dan kebijakan pemerintah harus terus dikawal untuk mewujudkan kedaulatan rakyat baik dari segi ekonomi, politik, hukum dan social budaya.

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

2

karikatur

dari pembaca
Green House Pertanian, Masih layak atau tidak?
Assalamu Alaikum Wr Wb SEBELUMNYA terimaksih kepada identitas yang bersedia memuat surat saya ini. Saya mau menanyakan tentang green house yang ada di Fakultas Pertanian. Green house yang ada di fakultas sudah tidak terlihat seperti green house yang sebenarnya. Padahal green house itu masih dipakai untuk kepentingan praktikum. Mohon penjelasanya. Mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2008 Tanggapan SEBENARNYA Green House di Fakultas Pertanian itu ada tujuh. Empat yang ada di samping fakultas dan tiga yang lainya itu ada di Eksfarm. Dua Green House yang ada di Eksfarm itu baru saja diperbaiki. Sementara dua yang ada di fakultas itu menurut para ahli pertanian sudah tidak layak pakai. Posisinya pun tidak cocok untuk Green House. Namun, untuk meruntuhkan atau merenovasinya butuh izin dari Menteri Keuangan. Kalaupun ada mahasiswa yang masih memakainya, karena mahasiswa itu sendiri yang malas. Kami sudah menyediakan Green House di eksfarm tapi masih ada saja mahasiswa yang praktek dan penelitian disana. Kami juga tidak bisa membatasi dosen yang menganjurkan untuk melakukan praktek di sana. Dr Ir Salengke MSc Pembantu Dekan II Fakultas Pertanian

dari redaksi

Rapat Kerja: Kru identitas terlihat serius mengikuti rapat kerja memasuki tahun kepengurusan periode 2010, Selasa (12/1).

IDENTITAS/ ILHAM AM

Berbenah di Awal Kepengurusan
Salam identitas! WAKTU terus bergulir, tahun 2009 baru saja berlalu dan kini kita melangkah ke tahun 2010. Begitu pula dengan identitas, pengurus periode 2009 telah mengamanatkan kami untuk menahkodai identitas di tahun ini. Maka tak salah demi menghadapi tahun tantangan ini kami pengurus baru harus berbenah. Raker adalah salah satu bentuk pembenahan di awal tahun. Pada raker ini kami mengevaluasi segala kekurangan di periode kemarin dan berharap dapat menyusun kembali agenda keredaksian dengan lebih baik pada periode 2010. Tentunya itu semua demi pembaca identitas. Kami berharap dengan adanya raker dapat menjadi bahan evaluasi bagi arah pemberitaan identitas yang lebih bersifat membangun dan membawa perubahan, tentunya perubahan yang lebih baik. Ya, hidup ini penuh dengan kerikilkerikil tajam yang selalu siap menjadi penghambat demi mencapai suatu tujuan. identitas juga mengalami hal serupa. Di awal kepengurusan, kami harus bisa terbit dengan kondisi kru yang belum maksimal. Maklum beberapa kru kami harus pulang ke kampung halaman, menjenguk kondisi orang tua yang sedang sakit. Tak hanya itu ada juga kru yang sementara praktek belajar lapang di daerah. Tapi itu tak menjadi soal untuk mengurungkan niat kami dalam menyajikan berita. Alhamdulillah pada edisi perdana ini kami berhasil menghimpun informasi dan menyajikan berita tetantang pembuatan waduk di Jalan Sejati yang resahkan warga, penerapan PK BLU rupanya tak menjamin lancarnya pencairan dana UKM, evaluasi DO lima semester, indikasi penjualan buku refernsi di Perpustakaan FIB dan pungutan dana laboratorium di Geologi. Tak lupa pula, untuk edisi kali ini kami mengangkat tema laput tentang pentingnya Akreditasi bagi Unhas beserta jurusan/program studi. Selamat membaca! Red

sms inbox
04115235xxx
BPK DEKAN FAK TEKNIK sy sebagai org tua mau bertax apa pengumpulan pd mlm hari yg dilakukan para senior pd maba dibenarkan.

085255546xxx
Kenapa Unhas Fak Farmasi menerbitkan 2 jenis ijazah pada konsentrasi lab. Kesehatan

08524265xxx
Buku perpus Unhas diganti yg lbih baru dong.. hampir smua buku tdk brmutu.

Bila anda memiliki informasi, harapan, dan saran mengenai kondisi Unhas silahkan kirim sms ke nomor: 08991525659

identitas diterbitkan Universitas Hasanuddin berdasarkan STT Departemen Penerangan RI No: 012/SK/Dirjen PPG/SIT/1975/tanggal 20 Januari . ISSN:0851-8136. Beredar di lingkungan sendiri (non komersial) Ketua Pengarah: Idrus A Paturusi Wakil Ketua Pengarah: Nasaruddin Salam Anggota Pengarah: Dadang Achmad Suriamiharja, Wardihan Sinrang, Dwia Aries Tina Pulubuhu Penasehat Ahli: Ishak Ngeljaratan, Atja Razak Thaha, SM Noor, Aidir Amin Daud, M Darwis, Husain Abdullah, Sapri Pamulu, Sukriansyah S. Latief Ketua Penyunting: M. Dahlan Abubakar Ketua Penerbitan: Fajar S Juanda Penyunting Pelaksana: Muh. Iqbal Jafar Koordinator Liputan: Rasdiana Rustam Staf Litbang: Ahmad Yani Hasti Staf Penyunting: Hidayat Doe, Sindbad Okstanza Y, M Thamrin, Yunita Dewi Masitoh, Syamsul Marlin Reporter: Asri, Aniswati Syahrir, Firmansa, Hardianti, Shaela Mayasari Fotografer: Muh Syukri Artistik dan Tata Letak: Armansyah Rachim (Koordinator), Kun Agung Sumarmo Sekretaris: Naiman Malik (Non aktif) Bendahara: Icha Dian Nurcahyani Iklan/Promosi: Haryati Harnang (Koordinator), Hadrianti D Lasari Sirkulasi: Saimun Tim Supervisor: Maqbul Halim, M Arifuddin, Jupriadi, Dahlan, Amiruddin PR, Muchlis Amans Hadi, Muh Ishak Zaenal, Sayid Alwi Fauzy, Arif Fuddin Usman, Gunawan Mashar, Rasyid Al Farizi, Ahmad Khatib Syamsuddin, Munandar Kasim, Abdul Haerah, Supa Atha`na, Dahlan Alamat Penerbitan: Kampus Unhas Tamalanrea, Gedung UPT Perpustakaan Lt 1 Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10, Telp (0411) 589899, Fax 510088-Telex 71179, Makassar 90245. Website: www.identitasonline.com, E-mail: identitas.unhas@kompascyber.com Tarif Iklan: (Hitam/Putih) Rp 250 mm/kolom (Mahasiswa), Rp 500,- mm/kolom (Umum), (Warna) Rp 500,- mm/kolom (Mahasiswa), Rp 1000,- mm/kolom (Umum). Redaksi identitas menerima tulisan berupa opini, esai, cerpen, puisi, ringkasan skripsi,/tesis/disertasi/penelitian & karikatur. Pihak redaksi identitas berhak mengedit naskah sepanjang tak mengubah nilai/makna tulisan. Tulisan yang termuat mendapat imbalan secukupnya (sebulan setelah terbit bisa diambil).

opini
Oleh : Khusnul Yaqin

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

3

Monoteisme: “Jalan Alternatif” Pengelolaan Lingkungan

P

ersoalan kerusakan lingkungan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat moderen saat ini. Pemanasan global adalah salah satu contoh persoalan yang sangat serius yang harus dihadapi. Karena dampak akhirnya adalah kepunahan makhluk hidup di atas dunia. Di sampng itu masih banyak isu kerusakan lingkungan lain yang mengancam kehidupan manusia modern dan ekosistemnya. Mulai dari banjir, tanah longsor, kepunahan spesies-spesies ekonomis dan ekologis penting, degradasi daya dukung lahan dan perairan, menipisnya sumber air, polusi di darat, laut dan udara oleh bahan pencemar berbahaya dan lain sebagainya. Tidak kalah pentingnya perkembangan kehidupan modern juga mengikis cara pandang alami masyarakat timur dalam memanfaatkan dan mengelola lingkungannya. Akar persoalan kerusakan lingkungan itu oleh kalangan intelektual seperti, Capra (2002) Fisikawan, Naes (1989) penggagas Deep Ecology, Fox (1990) penggagas Transpersonal Ecology, ditenggarai berakar pada paradigma emperisme Baconian yang diperkaya oleh gagasan Cartesian-Newtonian yang reduksionismekanistik dalam memahami makro dan mikrokosmos alam semesta. Empirisme induktif dalam metode ilmiah yang digagas Francis Bacon tidak hanya memisahkan antara obyek dan subyek peneliti. Tetapi juga mengubah arah ilmu pengetahuan dari upaya untuk mencari kearifan menjadi upaya untuk menaklukkan dan menguasai alam demi kepentingan manusia (Capra 2002). Gagasan antroposentrik ini kemudian diperkuat gagasan Rene Descartes tentang “Cogito ergo sum”, saya berfikir, maka saya ada. Gagasan itu selain salah dalam tataran logika juga mengimplikasikan bahwa pikiran menjadi lebih kuat dari materi (tubuh, red) dan membawanya kepada padangan yang menyatakan bahwa akal dan materi merupakan dua hal yang terpisah dan berbeda secara mendasar. Selanjutnya pemisahan ini membentuk suatu gagasan bahwa alam semesta merupakan sesuatu sistem makanis, yang terdiri dari benda-benda terpisah yang dapat direduksi menjadi kepingan-kepingan materi dasar. Dengan sifat-sifat dan interaksinya dianggap sangat menentukan semua fenomena alam. Pandangan reduksionis-deterministik Descartes ini kemudian diperkuat Newton yang mereduksi fenomena fisik hanyalah sebagai konsekuensi gerak partikel benda, yang disebabkan oleh kekuatan grafitasi yang saling tarik menarik (Capra 2002). Padangan Newtonian ini semakin memperkuat metafora Cartesian tentang alam semesta sebagai mesin alroji. Secara umum Bacon, Descartes dan Newton telah mengagas suatu trilogi yaitu pengusaan, pemisahan dan pematerian – reduksinis-mekanistik – alam sebagai karakter science. Oleh karena itu hanya dengan trilogi itulah suatu gagasan atau metode dianggap ilmiah. Pada akhirnya trilogi itu menjadi semacam worldview atau pandangan dunia yang tidak hanya berpengaruh pada ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, kimia, dan biologi. Tetapi lebih dari itu, pandangan dunia ini telah menyeruak jauh pada berbagai bidang ilmu seperti, sosiologi, psikologi (Capra 2002) bahkan ilmu agama. Penafsiran agama, terutama agama Ibrahimi atau yang dikenal dengan agama samawi ditenggarai telah “tercemar” oleh trilogi di atas (White 1967 dan Toynbee 1972). Hal ini terutama didasarkan pada kenyataan, dalam ketiga kitab suci agama Ibrahimi itu memuat doktrin Imago Dei. Doktrin ini menyebutkan, manusia diciptakan sebagai citra Tuhan. Pandangan ini bagi White dan Toynbee dinilai sangat antroposentrik. Terutama ketika dikaitkan dengan ayat-ayat tentang penaklukan manusia atas alam semesta. Tulisan ini akan mendiskusikan “jalan alternatif” sebagai landasan dalam memahami teks-teks kitab suci, terutama kitab Suci Al Quran. Dengan cara yang tidak emperisantroposentrik, sebagaimana yang dikehendaki Al Quran (QS:2:2, 3 & 4). Sehingga spirit keagamaan bisa dihindarkan dari penafsiran yang tidak tepat. Di samping itu tulisan ini ingin menawarkan spirit suci agama, sebagai pandangan dunia dalam pemanfaatan dan pelestarian lingkungan. Monoteisme sebagai dasar pengelolaan lingkungan Kepercayaan terhadap Kemahaesaan Tuhan atau monotesime sering disebut sebagai pandangan dunia

ILUSTRASI/ KUN AGUNG S

tauhid dalam teks-teks agama Islam. Pandangan dunia tauhid dapat didefinisikan sebagai konsepsi yang komprehensip tentang alam semesta dan kehidupan manusia, yang didasarkan pada nilai-nilai bahwa hanya ada satu keberadaan yaitu Allah sebagai Kausa Prima. Prinsip tauhid atau monoteisme inilah yang akan dielaborasi dalam tulisan ini. Karena ia mempunyai potensi untuk menjadi sejenis paradigma yang dapat menggantikan paradigma Cartesian-Newtonian yang telah menunjukkan kemampuan destruktifnya terhadap lingkungan. Pengajaran agama khususnya Islam, berdasarkan sumbernya dapat dibagi menjadi dua, yaitu sumber yang berasal dari periwayatan (naqliyyah) dan intelektual (aqliyyah). Pengajaran yang berdasarkan periwayatan adalah seluruh pengetahuan yang disebarluaskan dari generasi awal yang tidak diperoleh melalui pengfungsian secara maksimal pikiran manusia. Sebaliknya pengajaran intelektual adalah seluruh pengetahuan yang secara prinsip dapat diperoleh oleh kesadaran intelek manusia, tanpa bantuan generasi terdahulu dalam mentransmisi wahyu (Chittick 2000). Tauhid yang merupakan penegasan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan karena hanya Allah-lah yang merupakan wujud absolute, adalah contoh yang gamblang dari pengetahuan Intelektual. Pengetahuan ini dapat diperoleh manusia tanpa melalui pengajaran yang bersifat periwayatan. Hal ini karena pengetahuan tentang keabsolutan keberadaan Allah merupakan anugerah kepada manusia ketika ia mengfunsikan akal sehatnya. Peryataan seorang muslim terhadap keberadaan Tuhan atau yang dikenal dengan syahadah, penyaksian bahwa Allah adalah wujud absolut, berimplikasi pada proses penyerahan diri kepada diri yang absolut yaitu Tuhan. Hal ini karena eksisten-eksisten yang lain selain eksistensi yang absolut adalah eksistensi reflektif, yang bergantung pada eksistensi absolut, sebagai kausa prima. Secara logis hal ini bisa dipahami melalui relasi sebab akaibat. Sebab tidak mungkin bergantung pada akibat, bahkan sebaliknya akibatlah yang bergantung secara eksistensial kepada Sebab. Karena Tuhan sebagai Sebab dari segala sebab dan merupakan Eksistensi Absolut. Maka seluruh eksistensi selain-Nya adalah eksistensi yang bergantung atau berserah diri kepada-Nya. Dengan demikian penyerahan diri kepada Tuhan yang Esa bukanlah proses yang dogmatis berdasarkan pengetahuan riwayat. Tetapi ia merupakan pengetahuan yang hadir bersamaan dengan kemaujudan manusia dan seluruh eksistensi yang lain. Oleh karena hubungan antara Eksistensi Tuhan dan eksistensi alam semesta merupakan hubungan yang reflektif dengan Tuhan sebagai Kausa Prima. Maka antara Tuhan dan alam semesta dan antar komponen alam semesta merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Hal ini tidak mengimplikasikan bahwa eksistensi alam semesta sama dengan Eksistensi Tuhan sebagaimana yang disalah-pahami oleh kaum monisme.

Secara sederhana kalangan filosof Islam seperti Sadra Al Muta’allihin, Maestro Filsafat Transendental (Hikmah Al-Mutaaliyyah) menggambarkan, relasi Tuhan dan Alam semesta seperti hubungan cahaya putih yang dilewatkan pada sebuah prisma yang akan menghasilkan pendaran berbagai warna. Tuhan dianalogikan sebagai cahaya putih dan warna-warni yang direfleksikan adalah berbagai esksistensi alam semesta. Selanjutnya menurut Sadra, masing-masing eksistensi itu memiliki tingkat eksistensi yang berbeda-beda tergantung kekuatannnya masing-masing. Semakin banyak esensi yang dikandung suatu eksistensi, maka semakin rendah tingkat intensitas dan kesempurnaannya. Begitu juga sebaliknya (Rahman 1975). Semakin unik suatu eksistensi, maka semakin tinggi kedudukannya dalam tingkat gradasi eksistensinya dan itulah yang disebut dalam teks-teks agama sebagai manusia sempurna (Insan Kamil) atau Citra Tuhan (Imago Dei). Penyaksian yang kedua dalam pandangan dunia tauhid atau monoteisme yaitu penyaksian adanya Nabi sebagai manusia yang mempunyai citra gradasional Tuhan yang tertinggi dibandingkan dengan seluruh eksisten-eksisten yang lain. Oleh karena itu para Nabi adalah orang-orang yang telah mengalami sejenis penyingkapan rohani (spiritual disclosure) melalui proses transformasi spiritual, dalam bahasa Al Quran disebut mi’raj. Penyaksian ini menunjukkan, kehadiran para Nabi atau orang-orang suci adalah wakil Tuhan, guna mengingatkan kembali anugerah tauhid yang inheren dalam diri manusia. Untuk menjadi manusia transendental yang keberadaan reflektifnya adalah sebagai citra Tuhan, upaya pengingatan merupakan upaya penting untuk mentransformasi manusia yang masih mentubuh (profan) dan belum sepenuhnya menyadari konsepsi monoteisme yang inheren di dalam dirinya. Seluruh proses “belajar menjadi manusia” pertama kali tergantung pada bagaimana mengingat Keabsolutan Tuhan dan selanjutnya tergantung pada pengingatan yang aktif dan bebas terhadapNya (Chittick 2000). Selanjutnya syahadah kenabian juga merupakan konsepsi tentang manusia suci yang kepadanya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawabnya. Penyerahan pengelolaan alam kepada manusia suci ini

sebagai rangkaian logis bahwa ia merupakan eksistensi gradasional yang paling tinggi dan meniscayakan kehampaan campur tangan dari eksistensi gradasional lainnya yang lebih rendah. Pengelolaan dalam padangan dunia monotesime merupakan bagian dari proses pembimbingan alam semesta untuk kembali menyadari posisinya dan yang akan kembali kepadaNya. Oleh karena itu konsepsi teks-teks agama tentang “ditaklukkannya” alam semesta untuk manusia harus dipahami dalam konteks syahadah kedua, yaitu penyaksian adanya manusia suci yang merupakan citra Tuhan. Sebagai citra Tuhan yang merupakan eksistensi gradasional tertinggi, Nabi tidak dimungkinkan secara logis melakukan kesalahan atau kerusakan. Dalam bahasa Al Quran Nabi disebut sebagai manusia yang telah dan sedang mengalami pensucian dari segala jenis kesalahan (QS:33:33). Sebagaimana Tuhan yang tidak melakukan kesalahan atau kerusakan, maka manusia suci sebagai citra Tuhan juga tidak melakukan kesalahan atau kerusakan. Oleh karenanya proses pengaturan atau pengelolaan alam tidak dilimpahkan kepada eksisten-eksisten reflektif, kecuali kepada mereka yang telah mentransformasi dirinya menjadi citra Tuhan (QS:24:55;QS:21:105) atau dalam bahasa Tu Wei-Ming disebut sebagai manusia yang telah mensurga (Chittick 2000). Prinsip-prinsip pandangan dunia monotesime di atas tidak hanya dapat mengantikan dualisme CartesianNewtonian tentang persoalan jiwa dan tubuh, antara subyek dan obyek. Tetapi juga memberi landasan ontologisepistemis tentang sesuatu yang bersifat metafisik dan fisik serta relasi antara mikro dan makrokosmos yang merupakan satu kesatuan organik. Tidak seperti metafora Cartesian-Newtonian yang menganggap alam semesta sebagai mesin besar yang deterministik, padangan dunia monotesime memahami bahwa alam semesta merupakan bagian eksistensi reflektif yang selalu bergerak dan oleh karena itu hidup menuju pada titik kesempurnaan dibawah bimbingan Tuhan. Disamping itu pandangan dunia monoteisme menyediakan gagasan hirarkial dinamis tentang alam semesta. Gagasan ini memahami bahwa alam semesta sekalipun merupakan satu kesatuan yang utuh dan organik, tidak menepis kenyataan hirarkis di dalamnya yang berbeda dengan pandangan kaum deep ecology egaliter (Griffin 2003). Hirarki itu dalam pandangan dunia monoteisme bukan suatu yang determistik-meterialistik. Tetapi merupakan sesuatu yang dinamis dan transendental. Suatu peringkat-peringkat atau maqam yang dicapai dengan mengaktifkan intelektualitas yang mentauhid yang inheren dalam kehadiran setiap eksistensi reflektif di bawah bimbingan Tuhan melalui manusia suci sebagai citra-Nya. Dengan demikian pandangan dunia monoteisme menyediakan konsepsi ontologis-epistemis tentang alam semesta yang organik-dinamik. Disamping itu ia juga menawarkan konsepsi aksiologis tentang proses bagaimana menjadi citra Tuhan. Dalam pandangan dunia monoteisme hanya manusia citra Tuhanlah yang mempunyai kemampuan sempurna dalam mengelolah alam semesta. Karena mereka bukan hanya telah mengenal (ma´rifat) atau mengalami spiritual disclosure tetapi juga telah “lebur” (fana) atau terserap oleh Sang Maha Pengelolah alam semesta, Allah Rabb Al-‘Alamin. * Penulis adalah Ekotoksikolog dan Sekretaris Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas

Bagi pembaca identitas yang ingin memasukkan opini pada rubrik opini di identitas, dapat memenuhi syarat sebagai berikut:
- Panjang naskah sebaiknya dua halaman - spasi satu - ukuran12, dan - Font Times New Roman.

wansus

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

4

Saat Moral dan Akhlak Dipertanyakan
Kemajuan teknologi yang semakin pesat, membuat jarak tak lagi menjadi kendala untuk melakukan interaksi sosial. Namun, apakah interaksi semacam ini dapat dikatakan sehat dan apakah hal ini mampu membuat moral dan akhlak anak bangsa semakin baik atau malah semakin buruk? Berikut petikan wawancara Icha Dian N dan Mifda Hilmiyah dari identitas dengan penyanyi religi Opick, Minggu (10/01) di Gedung AP Pettarani dalam acara memperingati tahun baru satu muharram.
Sebagai seorang pendakwah, bagaimana Anda menilai kondisi moral bangsa saat ini? Saat ini kita sedang mengalami krisis yang luar biasa, pada semua sisi kehidupan bangsa ini. Terkhusus untuk pemerintahan, ini merupakan sebuah tantangan yang luar biasa utamanya buat mahasiswa sebagai penerus dan pencerah masa depan. Moral anak bangsa patut dipertanyakan. Saat ini, ternyata kemajuan teknologi malah membuat interaksi sosial yang tidak sehat antar individu. Sebagai contoh antar individu dengan individu lain dapat berinteraksi hanya dengan melalui dunia maya. Bisa dijelaskan krisis dalam hal ini seperti apa? Krisis yang dialami seperti nasionalisme, misalnya lagu-lagu daerah. Dulu lagu-lagu daerah, saya bisa dapatkan dibangku sekolah. Saat ini secara nyata anak-anak lebih suka mendengarkan lagu-lagu dari luar negeri, bukan dari daerah asalnya. Katanya tidak gaul atau malah kampungan. Kebudayaan juga kurang diperhatikan. Tidak ada lagi generasi muda yang mengetahui aksaraaksara asli suatu daerah, misalnya di Jawa atau di Makassar. Kalau tidak salah namanya adalah aksara lontara. Kebudayaan seperti wayang pun, yang notabane menjadi perebutan dengan bangsa lain, sebenarnya pun tak banyak anak bangsa yang mau melestarikannya lagi. berbeda dengan yang terjadi di China, yang begitu mengeksplor kebudayaannya. Bahkan seantero dunia tahu bahwa itu adalah milik mereka. Semua orang tahu negara itu karena kebudayaannya. Menurut Anda bagaimana peran Islam terhadap perbaikan moral dan akhlak bangsa? Saya harapkan, mudah-mudahan pemerintah lebih memperhatikan pendidikan utamanaya pendidikan agama. Memang untuk menciptakannya tak semudah itu, kita harus menempuh jalan berliku. Oleh karena itu kita harus berbuat apa yang kita bisa, mulai dari diri sendiri. Sebagai contoh, karena saya memiliki sedikit pengetahuan tentang musik dan sedikit pengetahuan tentang agama, jadi saya mencobanya dengan hal ini. Misalnya ada satu orang yang berpikir sama seperti saya, Insyaallah akan terjadi gelombang perubahan dan tahun ini bisa lebih baik lagi. Bagaimana pandangan Anda terhadap upaya yang dilakukan mubalig untuk memperbaiki moral bangsa? Ya kultur semua orang untuk memperbaiki moral dan akhlak itu berbedabeda. Sebuah tindakan perlawanan dilakukan karena ada alasannya. Yang jelas kita tidak sepantasnya menjudge apakah ini benar atau salah. Tiap gerakan Islam saling mengingatkan, kita meningkatkan kualitas diri, kualitas keimanan, meningkatkan karya-karya dan saling mengingatkan sahabat, istri, suami dan anak-anak kita. Bagaimana Anda melihat perilaku menyimpang terhadap ajaran agama yang dilakukan sendiri oleh orang-orang yang sejatinya menjadi tauladan? Saya beri contoh tawuran, tidak semuanya sebenarnya orang yang tawuran dan melakukan tindaka anarkis itu menginginkan anarkis, atau tidak semua orang jika dalam suatu departemen korupsi melakukan tindakan korupsi. Ada nasihat seorang ulama bahwa maksiat itu lahir lebih dulu dari kamu, menemani kamu selama hidup, dan maksiat tetap ada ketika kamu mati. Kamu tidak menghilangkan kemaksiatan tapi tugas kamu adalah menjaga diri kamu, orang-orang yang kamu cintai, keluargamu, sahabatsahabatmu, sebanyak itu kamu harus menjaga mereka. Lantas sejauh mana pengaruh tingginya kecerdasan seseorang dengan moral yang mencerminkan dirinya? Kecerdasan tidak bisa diukur, tapi akhlak dapat menentukan keberkahan suatu bangsa. Bila seseorang bangga dengan hidupnya, kekayaan serta kepintaran yang dimiliki, itu bukan merupakan jaminan. Karena Allah yang membuat orang mulia. Setiap orang dapat menjadi apa saja sesuai keinginan Allah. Banyak yang beranggapan kemiskinan membuat bobroknya moral bangsa, bagaimana pendapat Anda? Sebenarnya bukan kemiskinan yang menyebabkan hal itu. Tapi tidak adanya akhlak yang dimiliki, banyak orang kaya yang korupsi. Ada juga orang miskin tapi tidak korupsi dan bahagia menjalani hidupnya. Menurut saya korupsi adalah sistem dari sebuah kebudayaan . Apa yang membuat Anda begitu konsisten berdakwah melalui lagu-lagu religi? Berdakwah merupakan kewajiban setiap orang. Saya hanya orang Islam yang harus berkarya apa yang kita bisa. Saya hanya seorang anak jalanan yang memiliki keterbatasan, yang hanya mampu memainkan alat musik,. Ya dengan inilah saya melakukan sebuah perubahan. Namun, Allah yang mengubah hidup saya menjadi seperti saat ini. Apa harapan Anda untuk generasi muda saat ini? Saya berharap Islam menjadi arah pendangan mahasiswa, bukan Islam yang radikal. Tapi Islam yang penuh kasih sayang. Karena menurut saya mahasiswa yang mungkin lebih baik dari saya.

Data Diri
Nama Lengkap: Aunur Rofiq Lil Firdaus (Opick) TTL: Jember, Jawa Timur, 16 Maret 1974. Karir:Memulai karir pada tahun 90-an, lewat sebuah band beraliran cadas bernama Timor Band. Judul Album: Istighfar, Semesta Bertasbih, cahaya hati dan Maha melihat

IDENTITAS/ ARMAN

civitas

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

5

Misteri di Balik Pungutan Dana di Geologi
Pengadaan Laboratorium Geokomputasi 2004 silam bermuara pungutan dana pada mahasiswa. Hingga awal tahun ajaran 2009/2010 pihak jurusan tidak mengetahuinya

bundel
Akhir Januari 1989

“Panen” Kerja Sama di Awal Tahun
SELAMA Sembilan hari pada 1989, Unhas mampu membuat setidaknya tiga kerja sama dari pihak luar. Ini membuktikan Unhas telah memiliki kepercayaan dari pihak luar yang harus diemban oleh Unhas. Kerjasama yang dilakukan bersama Direktur RS Kusta Ujung Pandang oleh Prof dr Misbahuddin Adnan dan dr F A Tandjung. Kedua belah pihak bekerja sama dalam bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian pada masyarakat. Selain di bidang kesehatan, Unhas juga melakukan kerjasama dengan TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut) yang diwakili oleh Deputi Personil Kasal yang melakukan kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Kerjasama dilakukan dalam menunjang pemanfaatan Institut Kesehatan Gigi di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian. Berbagai kerja sama yang dilakukan Unhas dengan pihak luar ini berdampak pada 500 mahasiswa FKG yang akan melakukan ‘co-shap’ di berbagai rumah sakit. Menurut Fachruddin selaku Rektor Unhas. “daya tampung rumah sakit itu hanya 300 orang, kemudian 200 orang lainnya terpaksa memperpanjang masa pendidikan mereka di kampus”. Akhir Januari 1999

enin (4/01), empat belas mahasiswa yang terdaftar sebagai peserta mata kuliah Pemodelan Air Tanah Program Studi (Prodi) Teknik Geologi, hendak memulai ujian di Laboratorium Geokomputasi Jurusan Teknik Geologi (TG). Namun sebelumnya, setiap peserta ujian diwajibkan membayar sebesar Rp 150 ribu kepada dosen pengasuh mata kuliah. Hal serupa juga dialami 82 mahasiswa peserta mata kuliah Statistik Dasar, semester awal 2009/2010 Prodi Teknik Geologi. Sebesar Rp 75 ribu mereka kucurkan ke tangan dosen yang sama. Tercatat mata kuliah yang melakukan pungutan yakni Geokomputasi, Teknik Pantai, Pemodelan Air Tanah dan Statistik Dasar. Jumlah iuran yang dibayarkan berkisar Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu per mata kuliah. Praktik pungutan keempat mata kuliah ini diasuh Ir Hj Rohaya Langkoke MT dan telah berlangsung sejak 2004 silam. Menurut pengakuan salah seorang peserta mata kuliah yang enggan disebutkan identitasnya, mereka tidak dapat masuk mengikuti ujian, jika tidak mampu melunasi pembayarannya. Alternatif lainnya, diberi kebijakan dengan syarat segera melunasi setelah ujian itu berlangsung. Bila belum dilunasi hingga batas pemasukan nilai, maka ujiannya akan berbuah error. “Selama hampir lima tahun, hal ini menjadi tanda tanya besar bagi Mahasiswa Teknik Geologi,” keluhnya Penggunaan dana hasil pungutan ini yang kurang transparan menjadi asal muasal kontraversi dikalangan Mahasiswa Teknik Geologi. Mereka mempertanyakan kemana pembayaran itu dialirkan? “Kurangya transparansi pengelolaan dananya maka kawan-kawan di Geologi menganggap ini adalah pungutan liar yang dilakukan sang pendidik,” tambahnya. Lahirnya pungutan empat mata kuliah asuhan Rohaya ini berawal di tahun 2004 silam. Mahasiswa yang hendak melaksanakan praktik harus ke Lembaga Penerbangan dan Antarariksa Nasional (Lapan) yang bertempat di Kabupaten Parepare. Dengan alasan memudahkan mahasiswa melakukan praktik, Rohaya berinisiatif menarik pungutan pada mahasiswa peserta empat mata kuliah itu, untuk perawatan Laboratorium Geokomputasi. Bermodalkan sepuluh buah komputer hibah dari program SP4 Dikti dan pungutan dari mahasiswa, Rohaya mulai mengelola laboratorium Geokomputasi. Alhasil, mahasiswa tak perlu lagi bolak-balik Lapan hingga saat ini. Ketika ditemui di Laboratorium Geokomputasi, Selasa (05/01). Rohaya menjelaskan, penggunaan dana sepenuhnya dialokasikan pada pengadaan sarana dan prasarana laboratorium seperti kursi, meja komputer dan biaya maintenance laboratorium yang tidak disediakan jurusan. Meski begitu pada Laboratorium Geokomputasi selama lima tahun tak ada perubahan yang signifikan. Mulai dari jumlah, kapasitas komputer dan software yang dipakai masih sama. Sehingga tidak diperlukan biaya besar untuk perawatannya. Hal itu diakui Bahrul Hidayah dan L Akhirum, Mahasiswa Prodi Teknik Geologi angkatan 2006. Sementara itu di Program Studi Teknik Pertambangan sendiri, di bawah naungan

S

IDENTITAS/ ILHAM A M

Terkunci: Seorang mahasiswa sedang melintas di depan Laboratorium Geokomputasi, Jumat (15/1). Sejak 2004 pengelola lab memungut iuran kepada mahasiswa, tanpa ada SK Rektor.

jurusan yang sama, untuk melakukan praktikum di laboratorium Permodelan, mereka tidak dipunguti biaya sepeserpun. Pengeluaran uang hanya untuk praktik lapangan yang dananya dikelola secara mandiri oleh mahasiswa. “Telah direalisasikan surat edaran yang ditujukan kepada semua staf pengajar di lingkup Jurusan Teknik Geologi agar tidak mengadakan pungutan,” papar Ketua Jurusan Teknik Geologi. Jika dikalkulasikan untuk dua mata kuliah pada semester awal 2009/2010 ini, total pungutan yang diperoleh Rohaya sebesar Rp 8.250.000, bila semua peserta melunasi pembayarannya. Jadi dapat dikatakan untuk dua semester, total pungutan dari dana mahasiswa sekira puluhan juta, tergantung dari jumlah mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah yang diasuhnya Menanggapi persoalan ini Ketua Jurusan Teknik Geologi mengatakan, keberadaan Lab itu diketahui pihak jurusan. Namun pungutan itu tidak pernah dilaporkannya. “Jurusan tidak mengetahui adanya iuran

yang dikenakan kepada mahasiswa. Dosen bersangkutan tidak pernah melaporkan tentang perihal tersebut,” ungkap Ir Jamal Rauf Hasan MT di Ruang Kerja, Selasa (05/ 01). Anehnya, pernyataan yang berbeda dilontarkan oleh Rohaya. Menurut pengakuannya, ia telah melakukan koordinasi dengan pihak jurusan dan pungutan itu sepengetahuan jurusan. Pernyataanpernyataan yang berseberangan semakin mengurai benang kusut yang menunggu diluruskan selama lima tahun ini. Kalau sudah begini, ratusan Mahasiswa Prodi Teknik Geologi yang jadi korbannya. Entah siapa yang berkata benar. Untuk mengadakan pungutan pada mahasiswa harus melalui Surat Keputusan (SK ) Rektor dan SK Dekan. “Untuk menarik pungutan pada mahasiswa, dosen ataupun jurusan harus mengantongi SK Rektor dan SK Dekan,” jelas Ir Ansar Suyuti MT, Pembantu Dekan II Fakultas Teknik. Ironisnya Rohaya tidak memiliki SK itu. Ali/Fmn

Apa Daya Dana Kecil
MELIHAT rencana yang dicanangkan untuk menjadikan Unhas sebagai Pusat Penelitian dari berbagai disiplin ilmu atau sebagai Universitas Riset, maka dibangunlah gedung Research Center. Secara tidak langsung para dosen dituntut utuk melakukan sebuah penelitian demi tercapainya cita-cita Univeritas Riset tersebut. Namun, banyak pihak yang pesimis dengan mimpi ini. Melihat masih banyaknya program D3 dan pembukaan program ekstensi. “Kedua program itu tak perlu dibuka, hanya buang waktu,” kata Dr dr Razak Thaha sebagai Ketua Pusat Studi Gizi dan Pangan. Pelan tapi pasti, menurut Razak yang seharusnya dilakukan demi menggapai impian ini adalah mahasiswa S1 yang lebih diutamakan ke bidang riset. Kemudian mahasiswa S2 lebih diarahkan untuk fokus di bidang riset saja. Selain masalah program yang dibuka, masalah klasik juga menjadi masalah utama, yakni banyaknya dosen kurang melakukan penelitian. Disebabkan kurangnya kucuran dana yang disediakan pihak Unhas. Karena sejatinya, dalam melakukan sebuah penelitian, diperlukan dana demi menunjang kelancaran penelitian tersebut. Salah seorang tim menuju Unhas Universitas Riset, DR Mappajantji mempertanyakan cita-cita unhas ke depannya,“kenapa tidak, kita akan bergerak ke arah itu?”. Menurtnya sudah banyak cara yang ditempuh untuk mencapai cita-cita ini. Seperti mempertahankan jumlah Mahasiswa S1 dan menambha jumlah Mahasiswa S2. Tapi tak dipungkiri, banyak hambatan yang akan dihadapi Unhas ke depannya. Masalah dana serta kelengkapan fasilitas yang kurang memadai juga diakuinya sebagai hambatan terbesar untuk sekarang ini.

Mata kuliah yang melakukan pungutan Semeter Awal 2009/2010
No Mata Kuliah 1 2 Pemodelan Air Tanah Statistik Dasar Total Jumlah Peserta 14 orang 82 orang 106 orang Jumlah Iuran/Orang Rp 150.000,Rp 75.000,Total Rp 2.100.000,Rp 6.150.000,Rp 8.250.000,-

Daftar Barang Laboratorium Geokumputasi
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Barang Kursi Chitose Batteray Kering Komputer Meja Ligna Meja Arinda AC Merk Haer 1 PK AC Merk Aux 1 PK UPS Meja Indeks Meja Komputer Komputer Kursi Chitose UPS CPU 2004 Komputer Monitor + CPU Tahun 2004 2004 2004 2005 2005 2005 2005 2005 2006 2006 2006 2007 2008 2008 2009 2009 Jumlah 6 Buah 1 Unit 5 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 (satu) 1 Unit 2 (set) 16 Unit 6 Unit 9 Buah 4 Unit 5 Unit 1 Unit 6 Unit Keadaan Baik Rusak Baik Rusak Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Rusak Sumber Dana SP4 Fak. Teknik SP4 Tahap I Keterangan Pinjam dari jurusan

Sumbangan* SP4 Fak. Teknik Sumbangan* Sumbangan* SP4 Tahap II Sumbangan* Sumbangan* Lanjutan Sumbangan*

5 baik,1 rusak

di-upgrade

Sumber: Administrasi Tata Usaha Teknik Geologi, (*properti yang diperoleh dari pungutan mahasiswa sejak 2004)

civitas
Beberapa bulan terakhir pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unhas nampak gusar. Lantaran pencairan dana proposal terkesan lamban.

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

6

PK BLU Diterapkan, Dana UKM Tetap Lamban

kronik

T

ahun 2008 silam, Unhas menetapkan sistem Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) dan mulai direalisasikan tahun 2009. Penerapan sistem BLU ditujukan untuk meningkatkaan pelayanan pada sivitas akademika dan memudahkan pengelolaan serta transparansi keuangan. Sehingga kualitas layanan bisa lebih baik, efisien serta efektif. Dengan PK BLU ini, diharapkan pengelolaan anggaran bisa lebih fleksibel dan leluasa dijalankan. Sebelum sistem PK BLU, Unhas menggunakan sistem Daftar Isian Penyelenggaraan Anggaran (DIPA). Namun dianggap kurang efektif. Karena seluruh dana yang diterima termasuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) seperti SPP, harus disetorkan ke Negara. Setelah itu baru dikembalikan ke universitas. Sehingga memerlukan waktu yang cukup lama. Hal itulah yang mendorong pihak universitas menerapkan sistem PK BLU. Akan tetapi, penerapan PK BLU ini masih kurang mampu mempermudah aliran dana, khususnya dana kemahasiswaan. Pasalnya, beberapa waktu lalu para pengurus UKM mengeluhkan lambannya proses pencairan dana dari pihak rektorat. Proposal bantuan dana milik beberapa UKM, baik tingkat universitas maupun fakultas yang telah didesposisi ternyata menumpuk dalam sebuah lemari ruang Bendahara Pembantu Rektor (PR) III . Bahkan di meja bendahara itu juga terlihat beberapa proposal yang telah berisi Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ). Namun belum memperoleh pencairan dana. Akibatnya, pengurus UKM melakukan berbagai cara untuk menutupi kekurangan dana kegiatannya. Semisal melakukan kerjasama dengan pihak perusahaan swasta atau bahkan menunda beberapa kali kegiatannya, karena dana tak kunjung cair. Kegiatan Rektor Unhas Cup, misalnya, yang sejatinya diselenggarakan UKM Catur pada November 2009 harus mengalami penundaan hingga Februari mendatang. Pasalnya sumber dana yang diharapkan dari kemahasiswaan tak kunjung dikucurkan. “Kita sudah dua kali menunda kegiatan, baru desposisi terlalu banyak .Jadi untuk menutupi kita kewalahan, apalagi tidak ada sponsor, habismi,” ucap Meiyer Imbar, ketua UKM catur. Mahasiswa Fakultas MIPA ini menambahkan, “sekira tanggal 20-an Desember 2009 kemarin kita juga sudah memasukkan LPJ. Tapi kata bendahara baru bisa dicairkan tahun depan (tahun 2010, red). Seharusnya kan begitu ada desposisi dan LPJ dana kita sudah bisa cair,” tuturnya. Berbeda dengan UKM Catur, UKM Teater menyoalkan kebijakan yang mengharuskan LPJ sebelum kegiatan terlaksana. UKM yang melaksanakan kegiatan tingkat nasional Oktober 2009 lalu ini merasa bingung dengan kebijakan itu dan memutuskan menemui PR III. Sehingga dananya langsung dicairkan tanpa melalui proses LPJ terlebih dahulu. “Saya juga bingung alurnya, tapi saya tidak mau tahu, saya langsung ke PR III dan hari itu bendahara mencairkan dana tanpa LPJ. Soalnya kegiatannya sudah mendesak, malu dong kalau tidak bayar juri, yang malu kan Unhas sendiri,” terang Muhammad Yusuf Rabbi selaku Ketua UKM Teater. Yusuf menambahkan,“kalau menunggu LPJ dulu untuk dapat dana maka kita tidak akan punya dana. Sistem ini tidak masuk akal, apa yang mau dipetanggungjawabkan kalau belum ada acara,” ungkap Mahasiswa Jurusan Teknik Sistem Perkapalan angkatan 2004 itu. Menanggapi keluhan beberapa UKM, Monika S Sos, Bendahara PR III pun angkat

IDENTITAS/ILHAM AM

Macet: Satpam Unhas tengah mengatur laju kendaraan di Pintu I Unhas, Kamis (14/1).

Pintu II Tutup, Pintu I Macet
REKTOR tiba-tiba mengeluarkan Surat Penugasan bernomor 53/ H4.24/KP.23/2010 kepada Satuan Pengamanan (Satpam) Unhas untuk menutup pintu II, Senin (4/1). Walaupun sudah dibantu dengan Traffic light, gara-gara penutupan pintu II kemacetan tak pelak terjadi di pintu I. Pasalnya volume kendaraan jalur pintu I bertambah. Para pengendara harus memutar balik dari pintu II kembali ke pintu I Unhas.Ternyata hal ini tak mempengaruhi jalur pete-pete kampus untuk mengubah haluan. Demi menambah jumlah penumpang, setelah keluar dari pintu I mereka tetap ke pintu II, bagian depan Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Rasa jengkel dan kesal itulah yang dirasakan para sopir angkot maupun pengendara motor yang ingin melintas di pintu II Unhas. Pasalnya, tak diduga pintu yang selama ini dipakai untuk jalur pete-pete tiba-tiba ditutup, tanpa ada pemberitahuan. “Penutupan pintu ini tak pernah di sampaikan sebelumnya,” keluh Irfan salah satu sopir pete-pete kampus. Namun, saat ditanya alasan penutupanya, Satpam pintu II hanya menyebut, “ini perintah lansung dari Rektor untuk menutup pintu II dan selanjutnya akan terus seperti ini”.

IDENTITAS/ ILHAM A M

Menunggu: Tiga orang mahasiswa sedang menunggu pegawai pengelola administrasi kemahasiswaan di Ruang Kabiro Kemahasiswaan lantai dua Gedung Rektorat beberapa waktu lalu.

bicara.“Biasanya mahasiswa bilang sudah lama memasukkan proposal padahal belum memasukkan LPJ. Memang bisa cair satu hingga tiga hari, tapi kalau yang berwenang tidak ada di tempat kita mau bagaimana. Apalagi bulan ini (Desember 2009, red) banyak proposal yang masuk, tentu prosesnya juga lama ditambah kalau LPJ dan berkas lainnya belum lengkap, tentu akan lebih terlambat,” tegasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (6/1). Berbeda dengan Monica, salah seorang pejabat di lantai tiga rektorat yang enggan disebutkan namanya menuturkan,“ ini hanya masalah teknis, sebenarnya sistem ini dibuat untuk mempermudah jalannya administrasi,

sistem ini tidak termasuk dalam aturan BLU,” Rabu (6/1). Sistem LPJ ini memang berbeda dari tahun sebelumnya. Walaupun tidak tertulis dalam aturan PK BLU, pencairan dana dengan cara memasukkan LPJ sebelum dana dicairkan ini berakar dari beberapa UKM yang sudah mendapat suntikan dana kemahasiswaan. Namun tidak mengumpulkan LPJ-nya. Sehingga berimbas pada lambannya sistem administrasi. Walau demikian, sistem ini semestinya tidak mencoreng penerapan sistem PK BLU di Unhas yang belakangan tetap memperlambat kucuran dana. Arm/Kas

Buku-Buku Yang Tak Terawat
TAK terawat, berantakan dan berdebu itulah kesan ketika sedang mencari buku di Gedung Lantai Dua Perpustakaan Pusat Unhas. Hal ini bukanlah yang pertama kalinya, tetapi sejak beberapa bulan yang lalu. Buku-buku yang terdapat di lantai dua senantiasa berantakan tak tertata rapi, berdebu dan terkadang berserakan di lantai. Tak terurus dan tak diperhatikan begitulah kesan yang didapat Asrul (samaran) Mahasiswa Pertanian angkatan 2008, saat mencari buku di ruang referensi, Jumat (8/1). “Banyak sekali buku yang tidak terawat bahkan buku yang bagus pun berdebu,” tambahnya. Kondisi seperti ini tentunya sangat miris jika dibandingakn dengan gedung perpustakaan yang baru saja direnovasi. Kemegahan yang ditampakan dari luar rupanya tidak diiringi dengan kebersihan dan kenyamanan ruang membaca. Jika dibiarkan terus bukan tidak mungkin akan banyak

Dalam Dua Hari Dana Itu Dicairkan
Dana yang dijanjikan akhirnya dikucurkan.
SIANG itu, Rabu (30/12/2009) nampak beberapa mahasiswa pengurus UKM sedang berkumpul di depan ruang kerja bendahara Pembantu Rektor (PR) III. Mereka berkumpul bukan latihan berbaris, melainkan sedang menunggu pencairan dana dari proposal yang mereka ajukan. Di dinding kaca ruangan itu tertempel sebuah kertas bertuliskan ‘Pencairan Dana Proposal mulai pukul 14.00 Wita’. Karena resah, salah seorang diantaranya menambahkan tulisan ‘lewatmi’. Hal itu dilakukan karena waktu di jam dinding telah melewati waktu yang tertera di pengumuman tersebut. Rupanya berkumpulnya beberapa mahasiswa UKM di Ruang Bendahara PR III bermula ketika kegiatan ‘Refleksi Setahun UKM’ yang digelar, Selasa (29/12/2009) di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Ir Nasaruddin Salam selaku PR III dalam diskusi itu memutuskan, seluruh dana UKM akan dicairkan keesokan harinya, Rabu (30/12/ 2009). Setelah salah satu peserta diskusi mempertanyakan kebijakan di atas. Menanggapi hal itu, Nasaruddin menuturkan, “ ini masalah teknis saja, tapi kalau ada komitmen paling lama dua minggu bisa cair. Makanya hari itu bisa dicairkan, proposal yang sudah didesposisi tahun lalu juga bisa cair tahun 2009 ini,” ungkapnya kepada peserta diskusi. Selain itu Nasaruddin berjanji akan membenahi segala kekurangan yang terdapat dalam hal pencairan dana. Sehingga ke depannya lebih efektif dan efisien. Arm/Kas

laporan utama

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

7

Akreditasi, Sebuah Cerminan Prestasi

DOC. IDENTITAS

Rumah Sakit Pendidikan: Seorang pekerja tengah mengangkut pasir untuk merampungkan pembangunan Rumah Sakit Pendidikan Unhas. Pembangunan fasilitas penunjang pendidikan ini merupakan syarat untuk memperoleh akreditasi A.

Memiliki akreditasi adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta. Jika sebuah perguruan tinggi tidak memiliki akreditasi, maka keberadaannya tak akan diakui oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

kreditasi merupakan suatu penilaian (evaluasi) penjaminan mutu atau kelayakan sebuah program studi atau perguruan tinggi yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga mandiri yang berwenang di luar perguruan tinggi. Mutu yang dimaksud adalah totalitas keadaan perguruan tinggi tersebut, yang mencakup produk, proses, dan pelayanan yang disediakan. Memperoleh akreditasi bagi sebuah program studi tidaklah gampang. Banyak proses yang harus dilalui. Sebagai proses awal, program studi harus melakukan evaluasi diri secara internal. Proses

A

evaluasi ini harus mengacu pada pedoman evaluasi diri yang telah diterbitkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pihak pengelola program studi kemudian membuat sebuah ringkasan hasil evaluasi diri dan dikirimkan kepada BAN-PT. Setelah BAN-PT mengkaji hasil ringkasan evalusi diri itu dan dianggap telah memenuhi semua komponen yang dibutuhkan, maka BAN-PT akan mengirimkan instrumen akreditasi yang sesuai dengan tingkat program studi itu. Instrumen akreditasi ini akan diisi oleh pihak pengelola program studi yang bersangkutan. Kemudian dikirimkan kembali kepada BAN-PT beserta lampiran berkas-berkas yang diminta. Setelah seluruh berkas diterima oleh pihak BANPT, maka proses penilaian dilaksanakan. Menteri Pendidikan, melalui Keputusan Mendiknas nomor 187/U/1998, dan nomor 118/U/2003 telah menetapkan Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BANPT) sebagai lembaga non-struktural yang berwenang mengawasi penjaminan mutu pendidikan dalam hal ini. Selain mengawasi, BAN-PT juga berkewajiban menyebarluaskan status akreditasi dari semua lembaga pendidikan di Indonesia, baik negeri maupun swasta, kepada masyarakat. Dengan begitu, masyarakat

bisa memilih perguruan tinggi berkualitas untuk memperoleh pendidikan formal. Status akreditasi yang dimiliki sebuah perguruan tinggi merupakan cerminan mutu dan kelayakannya di mata masyarakat, untuk dijadikan pilihan bagi para calon peserta didik. Misalnya saja, untuk sebuah perguruan tinggi dengan akreditasi A, maka tak akan ada keraguan bagi calon peserta didik untuk memilih perguruan tinggi itu. Sebaliknya, sebuah perguruan tinggi dengan akreditasi C akan menjadi pilihan terakhir bagi calon peserta didik. Atas dasar inilah, semua perguruan tinggi berlomba meningkatkan akreditasinya. Disamping untuk menarik peminat dan menunjukkan mutu atau kelayakan di mata masyarakat, juga karena Departemen Pendidikan Nasional telah mewajibkan hal ini kepada setiap perguruan tinggi. Dalam undang-undang No.19/2005 (pasal 91) tentang Standar Nasional Pendidikan, ditetapkan bahwa setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan. Perguruan tinggi yang tak memiliki akreditasi tidak diijinkan meluluskan peserta didik. Bahkan, perguruan tinggi bisa dikenakan sanksi pidana jika belum memiliki akreditasi setalah dua tahun masa berdiri.

Selain itu, alumni yang telah diluluskan memiliki hak untuk menuntut pihak pengelola perguruan tinggi yang bersangkutan, jika ketika ia lulus perguruan tinggi itu belum terakreditasi, atau jika klaim tentang akreditasi perguruan tinggi yang bersangkutan salah atau palsu. Tak dapat dipungkiri, akreditasi memang sangat penting. Selain memberikan pencerahan bagi masyarakat yang akan memiliki perguruan tinggi, juga dapat mencegah pemalsuan ijasah dan maraknya institusi-institusi pendidikan yang asal berdiri, tanpa mementingkan mutu dan kualitas. Beberapa institusi ketenagakerjaan dan perusahaan swasta menolak calon tenaga kerja yang berasal dari perguruan tinggi yang belum terakreditasi. Hal ini memberikan peluang bagi calon tenaga kerja yang merupakan alumni sebuah perguruan yang terakreditasi. Namun, menurut pengamat pendidikan Drs Alwi Rachman MA, akreditasi bukanlah satu-satunya parameter yang dapat dijadikan tolak ukur dalam penjaminan mutu suatu perguruan tinggi. “Akademi plato, closeumnya Aristoteles kan tidak pakai gitu-gituan, yang penting kualitas dan dedikasi pengajar dan alumninya,” tuturnya. Tim Laput

8

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

identitas
NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

LAPORAN

8

Citra Unhas 2010 Tersandung Akreditasi

Cerminan dari kualitas pendidikan pada sebuah universitas adalah Akreditasi. Lantas bagaimana Unhas sendiri berperan dalam proses pencapaian akreditasi?
kreditasi tak ubahnya suatu bentuk tanggung jawab uni versitas kepada publik. Pencerminan kualitas ini, membutuhkan monitoring dan evaluasi dari seluruh stakeholders dan sivitas akademika. Sebagai akumulasi penilaian yang sistematis, diharapkan setiap komponen memberikan gambaran dan kinerja kualitas diri. Untuk itu, akreditasi merupakan penghargaan pencapaian kualitas yang ditetapkan. Menjadi universitas terkemuka di kawasan Indonesia timur, memberikan tantangan tersendiri bagi Unhas.Pihaknya dituntut mampu memberikan pelayanan dan pendidikan yang berkualitas. Untuk itu, kerjasama dari seluruh lapisan struktur

A

uiversitas dari rektorat, dekanat, dosen, karyawan serta mahasiswa adalah sebuah kemutlakan. Jadi bila itu semua terjalin secara demokratis, maka bukan sebuah mimpi jika universitas maupun fakultas sampai kepada program studi dan jurusan memiliki tingkat akreditasi yang baik. Sehingga dapat dipercaya oleh masyarakat lokal, bahkan sampai internasional. Berdasarkan hasil evaluasidari BAN PT terhadap portofolio-portofolio yang dikirimkan, Unhas mendapatkan akreditasi B, “sebenarnya jika dalam penyusunan portofolio Unhas bisa lebih teliti, hampir saja akreditasi A digenggam Unhas. Waktu itu, pengisian portofolionya terkesan dadakan. Data-data yang disajikan tidak komunikatif. Bagaimana mau bagus, untuk menyusun data-data dari semua fakultas saja hanya menyita waktu 24 jam. Sementara saya yakin ada 14 fakultas dan waktu itu tidaklah cukup,” ujar Prof Saleh Pallu MT selaku Assesor Unhas Pengakuan yang cukup mencengangkan, bagaimana mungkin lima tahun waktu berlakunya status akreditasi dikerjakan

dengan waktu yang singkat. Bisa jadi ketidakseriusan dalam menyusunlah yang membuat Unhas hampir menggapai akreditasi A. Dalam Rencana Strategis Unhas sejak awal menjabat, 2006 silam, Citra Unhas 2010 selalu didengung-dengungkan pimpinan universitas. Ada empat point yang dititikberatkan. Pertama sistem pendidikan yang handal, menyelenggarakan penelitian dan pemberdayaan masyarakat kampus, manajemen organisasi yang efektif serta lingkungan kampus yang asri dan bersahabat. Namun apakah tidak terlalu bermulukmuluk bahkan berangan-angan jika pencapaian akreditasi saja seperti ini. “Apa yang terjadi saat ini adalah suatu bentuk kegagalan dari impian yang diretas pak rektor,” ujar Aminuddin SKM Mkes, Ketua Jurusan Gizi Kesehatan Masyarakat FKM Unhas. Untuk tiap program studi atau pun jurusan, dalam memperoleh akreditasi mereka dituntut untuk mengusul sendiri. Itu artinya Unhas memberi otonomi sepenuhnya pada yang bersangkutan

untuk memproses akreditasinya. “Kalau pun ada yang belum terakreditasi itu merupakan faktor kemalasan dari yang bersangkutan,” tambah saleh pallu. Berdasar aturan dari BAN PT, sebuah program studi baru dapat diakreditasi jika tengah berumur 4 tahun. Hal ini dimaksudkan agar bisa membenahi kurikulum, kualitas dosen, kehadiran dosen, indeks prestasi mahasiswanya dan tak lupa penelitian yang dilakukan para dosen. “Dalam hal ini Unhas turut mendorong agar kesemuanya itu bisa bagus,” tambah Pembantu Rektor I, Prof Dadang A Suriamiharja. Walau hanya berupa dorongan serta sejumlah fasilitas yang dapat digunakan oleh sivitas akademika, inilah yang dapat disuguhkan Unhas dalam menembus Citra Unhas 2010 yang diimpikan. Semoga saja dengan kekurangan yang dimiliki, kita cepat bisa berbenah dengan memperbaiki struktur pimpinan yang ada, dari tingkat atas sampai bawah, semoga! Tim Laput

Beberapa program studi baru di Uhhas seperti Ilmu Gizi, Teknik Lingkungan dan Teknik Informatika ternyata belum terakreditasi.

Yang Baru, Tak Terakreditasi
manajemen ini diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan pendidikan bermutu. Berbicara tentang akreditasi tak putus hanya sampai akreditasi apa yang suatu institusi itu dapatkan. Tapi hasil akreditasi dari pengendalian dari luar itu perlu diketahui oleh masyarakat, yang menunjukkan posisi lembaga pendidikan bersangkutan dalam menghasilkan produk atau jasa yang bermutu. Pelaksanaan akreditasi dilakukan oleh suatu badan independen yang berwenang. Di Indonesia pelaksanaan akreditasi Perguruan Tinggi dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN). Umumnya tujuan akhir mahasiswa memperoleh pendidikan di perguruan tinggi adalah mendapat pekerjaan. Untuk itu saat penerimaan Calonan Pegawai Negeri Sipil (CPNS), lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta, berlomba-lomba mendaftar. Peluang emas ini tak segampang membalikkan telapak tangan. untuk diraih, perlu berbagai syarat seperti lampiran akreditasi jurusan merek. Terkait dengan hal ini, was-was tentu saja akan menghinggapi alumni dari prodi/jurusan yang belum terakreditasi. Butuh waktu dua tahun bagi prodi/jurusan baru mendapatkan akreditasi. Itu pun jika mereka bergegas mengurusnya. Idealnya sebelum meluluskan mahasiswa, sebuah program studi/ jurusan yang baru seharusnya sudah terakreditasi. Namun hingga saat ini masih ada saja yang belum terakreditasi. Salah satunya seperti yang diungkapkan Ketua Prodi Ilmu Gizi. “Kendala administrasi, format yang berbelit-belit, dan selalu ada perubahan (revisi) dalam proses pengusulan akreditasi menjadi alasan besar, mengapa hingga telah berumur empat tahun di Unhas prodi Ilmu Gizi belum juga terakreditasi.” Sementara untuk beberapa program studi lain masih dalam proses mendaftar ke BAN PT. “Sementara ini Teknik Lingkungan masih berproses dan Teknik Informatika tahun depan sudah bisa keluar,” jelas Dekan Fakultas Teknik, Prof Saleh Pallu MT. Sampai saat ini tampaknya pihak universitas belum terlalu memperhatikan masalah akreditasi prodi/jurusan. “Universitas hanya mendesak dan mengingatkan supaya bisa cepat akreditasi. Namun hanya sebatas itu saja, semisal dana juga tidak ada sama sekali,” ujar Dr Ir elkawakib syam um MS, Ketua Prodi Agroteknologi. Secercah harapan muncul bagi lulusan dari sebuah prodi/jurusan yang belum terakreditasi nantinya. Seperti yang diutarakan Aminuddin SKM MKes, “kalaupun seperti itu harusnya dapat dilihat keluaran itu berasal dari mana, saya kira menopang nama Unhas sudah bisa lolos dari kegelisahan”. Jika benar seperti itu tampaknya rasa lega sudah bisa dikantongi bagi alumninya nantinya. Tim Laput

U

nhas sebagai sebuah institusi pendidikan terus mengembangkan potensi dan kemampuan dirinya. Tak hanya dari segi sarana dan prasarana, pembaharuan terkait hadirnya beberapa program studi baru dan jurusan baru, seperti Ilmu Gizi, Fisioterapi, Teknik Informatika dan Teknik Lingkungan terus dikembangkan. Selain itu ada pula penggabungan beberapa jurusan menjadi program studi, seperti Agroteknologi dan penutupan jurusan Gizi Kesehatan Masyarakat. Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu, diperluhkan sebuah paradigma baru pendidikan yang difokuskan pada otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi. Keempat pilar

N UTAMA
Beberapa jurusan/program studi masih setia mempertahankan akreditasi C. Ini menunjukkan belum adanya motivasi meningkatkan mutu pendidikan. JURUSAN yang Masih AKREDITASI C

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010 NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

identitas

9

9

Masih Setia Pertahankan Akreditasi C
Jurusan Sosiologi (Fisipol) Jurusan Sastra Jepang (FIB) Program Studi Sastra Perancis (FIB) Jurusan Sastra Daerah (FIB) Program Studi Teknik Industri (FT)
Sumber: Badan Akreditasi Nasional 2009

Hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan akreditasi Unhas menjadi A adalah meningkatkan kapabilitas dosen, hasil penelitian, jurnal internasional, dan sistem informasi.”

U

niversitas Hasanuddin sebagai universi tas terbesar di Indonesia Timur patut berbangga hati menyandang akreditasi B. Setidaknya, itu sedikit lebih baik diban dingkan akreditasi C. Namun sayangnya, masih ada beberapa jurusan dan program studi yang selama bertahun-tahun masih bertahan dengan akreditasi C. Sebut saja Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Jurusan Sastra Jepang, Sastra Prancis dan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB), dan Program Studi Teknik Industri Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik (FT). Jika status akreditasi satu-satunya parameter yang digunakan sebagai tolak ukur penjaminan mutu suatu program studi, apakah bisa dikatakan jurusan yang berakreditasi C ini belum layak dipertimbangkan dalam hal mutu? Sastra Jepang misalnya, yang berdiri pada tahun 2005, sejak awal berdiri hingga saat ini masih berstatus akreditasi C. Demikian juga dengan Program Studi Teknik Industri yang telah berdiri jauh hari sebelumnya, yakni tahun 2002. Sekretaris Jurusan Sastra Jepang, Taqdir Spd mengungkapkan, saat ini Tim Penyusun Akreditasi Sastra Jepang sedang merampungkan berkas-berkas yang diminta oleh BAN-PT, untuk bisa meningkatkan status akreditasi itu. “Prosesnya sementara berjalan, tinggal menunggu lampiran-lampiran dari beberapa dosen. Kebetulan beberapa dosen ada yang berasal dari jurusan

Prof Dr Dadang A Suriamiharja (Pembantur Rektor I Unhas)

IDENTITAS/MUH SYUKRI

Akreditasi C: Seorang mahasiswi keluar dari ruangan Jurusan Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Jumat (15/1). Lima Jurusan masih memiliki akreditasi C, status akreditasi ini menjadi paramater masih kurangnya mutu sebagian jurusan di Unhas.

lain,” ungkap Taqdir. Padahal, tim itu sendiri menurut taqdir, telah dibentuk sejak Agustus 2009 lalu. Sementara itu, Ketua Program Studi (prodi) Teknik Industri, Retnari Dian Mudiastuti ST MSi mengaku beruntung atas perolehan akreditasi C ini. Menurutnya, sebuah program studi yang baru berdiri, wajar diberi akreditasi C, bahkan terkadang ada yang tidak diberi akreditasi sama sekali. “Prodi baru harus memenuhi beberapa poin, seperti jumlah guru besar dan dosen. Sedangkan untuk Teknik Industri sendiri guru besarnya belum ada dan untuk dosen S3 itu 50% dari luar,” terang Retnari. Namun mengingat prodi ini berdiri tahun 2002, tentu tak bisa disebut baru lagi. Tak hanya itu, ternyata masih ada prodi yang belum terakreditasi. Prodi tersebut adalah Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat. Prodi Ilmu Gizi berdiri pada September 2005. Semestinya, akreditasi itu dapat diperoleh sejak September 2007. Jika merujuk pada ketentuan yang ditetapkan BAN-PT, bahwa prodi baru dapat mengurus akreditasinya sejak dua tahun masa berdiri. Namun, Ketua Prodi Ilmu Gizi, Dr Dra Nurhaedar Jafar Apt M Kes mengakui, masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi pada Ilmu Gizi. Sehingga berpengaruh pada pemberian akreditasi. Seperti laboratorium yang kekurangan maintenance dan tenaga pengajar yang kurang. “Kami selalu membawa wacana ini disetiap rapat, mengingatkan posisi untuk mencapai kelengkapan akreditasi,” papar Haedar. Tak hanya memperoleh dan meningkatkan akreditasi yang sulit. Mempertahankannya pun sama susahnya. Kita dapat melihat kondisi yang dialami Fakultas Farmasi. Fakultas Farmasi yang awalnya bergabung sebagai salah satu jurusan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ini mulai memisahkan diri pada Maret 2007 dengan menyandang gelar akreditasi A. Namun kondisi Fakultas Farmasi sekarang ini membuat Dr Elly Wahyuddin DEA selaku Dekan merasa khawatir. Pasalnya, gedung perkuliahannya masih terpencarpencar. Ada yang menggunakan gedung perpustakaan, gedung lama di Fakultas MIPA, dan gedung Laboratorium di Baraya. “Jika Farmasi dire-akreditasi tahun 2011 dan belum ada perubahan, bisa saja Farmasi bukannya turun ke B, malah bisa turun ke C,” papar Elly. Dengan melihat sebagian besar jurusan/prodi yang berhasil menyandang akreditasi A, maka seharusnya hal tersebut menjadi cambuk bagi jurusan/prodi yang masih berakreditasi C untuk bisa meningkatkan akreditasinya. Apalagi yang belum terakreditasi sama sekali. Karena kenyataannya, pihak yang paling dirugikan dalam hal ini adalah alumninya yang kelak akan bersaing dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lain dalam memperebutkan kesempatan kerja. Pembantu Rektor II Universitas Hasanuddin, Prof Dr Dadang A Suriamiharja mengungkapkan, dalam setiap pertemuan dengan pimpinan fakultas, pihaknya selalu memberikan motivasi agar setiap prodi bisa meningkatkan akreditasinya. Selain itu, ia juga berusaha meningkatkan akreditasi Unhas dari B menjadi A. “Hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan akreditasi Unhas menjadi A adalah meningkatkan kapabilitas dosen, hasil penelitian, jurnal internasional, dan sistem informasi,” ungkap Dadang. Tim Laput

Sebenarnya jika dalam penyusunan portofolio Unhas bisa lebih teliti, hampir saja akreditasi A digenggam Unhas. Waktu itu, pengisian portofolionya terkesan dadakan. Data-data yang disajikan tidak komunikatif. Bagaimana mau bagus, untuk menyusun data-data dari semua fakultas saja hanya menyita waktu 24 jam. Sementara saya yakin ada 14 fakultas dan waktu itu tidaklah cukup.”

Prof Saleh Pallu MT (Assesor Unhas)

Kendala administrasi, format yang berbelit-belit, dan selalu ada perubahan (revisi) dalam proses pengusulan akreditasi menjadi alasan besar, mengapa hingga telah berumur empat tahun di Unhas prodi Ilmu Gizi belum juga terakreditasi

Dr Nurhaedar Jafar Apt MKes (Ketua Prodi Ilmu Gizi)

STANDAR PENILAIAN AKREDITASI
Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran, serta Strategi Pencapaian Tata pamong, Kepemimpinan, Sistem Pengelolaan, dan Penjaminan mutu Mahasiswa dan Lulusan Sumber daya manusia Kurikulum, Pembelajaran, dan Suasana Akademik Pembiayaan, Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi Penelitian, Pelayanan/Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama
Sumber: BAN PT 2009

laporan utama
Gagal Berkas Karena Akreditasi C

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

10

parade pendapat
Antara Akreditasi dan Realitas
Unhas mendapat akreditasi B dari BAN PT. Namun Unhas tetap berusaha mencapai akreditasi A.Lantas bagaimana sivitas akademika menanggapinya? Berikut petikannya.

Sahrianti Saad SHut MSi Dosen Fakultas Kehutanan
“Kita sebagai dosen muda selalu optimis. Universitas sudah mencanangkan program itu, kenapa kita tidak mendukung. Banyak juga program yang berdampak pada kami sebagai dosen muda. Salah satunya adalah mengharuskan mengambil S3 di luar negeri. Hal seperti itulah yang bisa meningkatkan mutu di universitas ini.

Ishak, Mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan 2007
Perbaiki sistem pengajarannya, sistem SCL yang sekarang masih kurang sempurna. Fasilitasnya juga harus sesuai dengan keinginan untuk mencapai World Class. Karena laboratoriumnya masih seadanya.

IDENTITAS/ARY

Sejumlah perusahaan menerapkan sistem akreditasi sebagai persyaratan utama dalam penerimaan karyawan. Para pencari kerja yang berasal dari program studi dengan akreditasi C, harus bersabar.

i sebuah situs departe men pemerintahan yang sedang mencari calon pegawai baru, tercantum salah satu persyaratan yang berbunyi, pelamar berasal dari Jurusan yang Terakreditasi A oleh Depdiknas untuk pendidikan Strata 2 (S2), Strata 1 (S1)/ Diploma IV (D.IV), dan Terakreditasi B untuk Diploma III (D.III) Ini adalah salah satu contoh persyaratan yang diterapkan oleh sebuah institusi pemerintahan dalam mencari calon pegawai. Di Indonesia, sejumlah BUMS dan BUMN memang menjadikan akreditasi jurusan sebagai persyaratan dalam perekrutan tenaga kerja. Sebut saja misalnya BPK, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Luar Negeri, dan sejumlah institusi pemerintahan lainnya. Kesemua institusi ini hanya menerima calon tenaga kerja dengan sertifikat akreditasi A dan minimal B dari jurusan. Bagi mereka yang hanya mengantongi sertifikat akreditasi C, tentu saja hanya bisa gigit jari. Mereka tak bisa ikut bekerja di sebuah institusi bergengsi. Sebut saja Mulyani, mahasiswi alumni Program Studi Teknik Industri Universitas Hasanuddin angkatan 2005 ini tidak berhasil lulus berkas ketika mendaftar di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2009 lalu.

D

Bukan hanya Mulyani yang tidak lulus, tapi 19 orang temannya yang lain, yang juga berasal dari program studi yang sama. Selidik punya selidik, ternyata mereka tersandung masalah akreditasi. Teknik Industri masih berakreditasi C, sementara BPK hanya menerima calon pegawai dengan sertifikat akreditasi A. “Ternyata akreditasi penting untuk perekrutan tenaga kerja. Saya berharap teknik Industri bisa mempercepat pengurusan akreditasi. Kasihan juga kalau alumni harus kehilangan peluang kerja hanya karena permasalahan akreditasi,” tutur Mulyani. Seharusnya ini menjadi tantangan bagi jurusan/program studi terkait. Sebuah institusi pendidikan berdiri tidak hanya sekedar untuk menampung peserta didik dan memberikan sejumlah keahlian tertentu sesuai dengan bidangnya. Tujuan utama tentunya adalah membantu peserta didik terserap di dunia kerja. Jika mereka lulus tapi tak bebas memiliki peluang kerja, sangat disayangkan. Adalah kebanggaan bagi sebuah institusi pendidikan jika alumninya bisa bekerja di institusi mana pun yang mereka inginkan. Tapi benarkah status akreditasi sangat penting dalam perekrutan tenaga kerja? Jawabannya bisa bermacam-macam. Sejumlah perusahaan menganggap status akreditasi sebuah institusi pendidikan sebagai bentuk pembuktian kredibilitas. Dalam artian, sebuah institusi dengan akreditasi A kredibilitasnya tak perlu diragukan. Hal sebaliknya terjadi dengan institusi pendidikan dengan akreditasi C. Pengamat pendidikan Prof Saleh Pallu MT menilai, tidak semestinya akreditasi dijadikan satu-satunya penilaian dalam penerimaan calon karyawan. Menurutnya, aturan

akreditas tidak boleh diterapkan, karena akreditasi hanyalah indikator dari manajemen jurusan. “Jangan menyalahkan alumninya. Sama saja ketika ada pabrik yang katanya jelek atau haram, maka jangan salahkan produknya, salahkan pabriknya. Saya kira aturan seperti itu sebagai peyaring saja, supaya tidak terlalu banyak pendaftar yang melamar,” tutur Saleh. Sementara itu, Pembantu Rektor I Unhas, Prof Dr Dadang A Suriamiharja mengatakan, pihaknya selalu memberikan motivasi kepada program studi yang masih berakreditasi C agar bisa meningkatkan akreditasinya. “Dalam setiap pertemuan dengan pimpinan fakultas, diberikan semangat untuk meningkatkan akreditasinya. Juga, program studi yang baru masih ada yang belum terakreditasi dan itu harus terakreditasi sebelum meluluskan mahasiswanya,” ungkap Dadang. Tim Laput

Mujahidah, Mahasiswa FKM 2009
Khususnya di fakultas saya lihat memang kurang memuaskan. Misalnya dosen yang jarang masuk dan fasilitas seperti LCD yang rusak, sering saya temui.

Anwar, Pegawai Rektorat
Mungkin saja, saya kurang tahu masalah akreditasi. Namun Unhas semestinya bisa akreditasi A. Apalagi banyak melakukan penelitian-penelitian dan Unhas sudah berusaha untuk itu.

Rafiqa Nurdin, Mahasiswa FK 2007
Laboratorium saja masih kurang, dalam Penelitian pun masih minim. Jika boleh membandingkan kita masih kalah dengan institusi pendidikan tinggi yang lain. Tetapi, mahasiswa bisa lebih berkarya tidak hanya dalam penulisan dan penelitian. Sudah semestinya kita melihat ke luar serta mebandingkan institusi pendidikan lain sebagai bahan perbandingan. Jangan seperti katak dalam tempurung.

Tim Laput
Koordinator
Icha Dian Nurcahyani Aniswati Syahrir

Fadly Rahman Mahasiswa Fakultas Kedokteran 2004
Tidak ada salahnya Unhas mencanangkan seperti itu. Tapi untuk mencapainya banyak yang harus dilakukan. Mungkin kalau untuk jangka pendek belum bisa direalisasikan. Tapi untuk jangka panjang mungkin bias tercapai. Kelengkapan untuk fasilitas harus memadai, tenaga pengajar harus melewati perbaikan mutu.

Anggota
Satriani M, Hery S Pasaribu, Ilham A M, Fadli, Atrasina Adlina, Ummul Masir, Mifda Hilmiyah

civitas

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

11

Renovasi Perpustakaan, Keberadaan Buku Dipertaruhkan

koridor
Catatan Seminar Nasional Pengembangan Diri “BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN DIRI MENCARI KERJA” di FIS I Ruang 111 Fakultas Ekonomi Unhas, Senin (28/12)

Soft Skill Menunjang Kemampuan Interview
APAKAH pekerjaan Anda saat ini? pertanyaan paling berat dijawab bagi lulusan Perguruan Tinggi yang belum memperoleh pekerjaan tetap. Meningkatnya jumlah wisudawan dan wisudawati tidak berbanding lurus dengan peluang kerja yang ada. Sehingga tersingkir karena tidak mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan pasar, yang kemudian berdampak pada pengangguran semakin melonjak. Menurut Direktur Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti ) di tahun 2009 angka pengangguran di Indonesia mencapai 900 ribu orang. Angka tersebut mengalami peningkatan 20 % dari angka pengangguran di tahun 2006 yang jumlahnya sekira 740 ribu orang. Kira-kira 2900 perguruan tinggi negeri dan swasta meluluskan setiap tahunya sarjana sekira 300 ribu orang. Artinya sebagian besar dari mereka tidak tertampung di dunia kerja. Di dunia kerja saat ini, banyak dari instansi lebih mengutamakan kemampuan soft skill bukan Indeks Prestasi yang tinggi. Pengusaha menilai sebuah perusahaan akan terus berinovasi ketika kompetensi karyawanya memiliki soft skill . Untuk mendapat karyawan yang mereka inginkan, mereka umumnya mengadakan tes wawancara untuk mengukur tingkatan soft skill calon karyawanya sebelumnya. Namun, kadangkala interview menjadi momok sebagian orang. Banyak dari mereka gagal di tahap ini. Ini disebabkan karena kurangnya soft skill yang mereka miliki. Hal inilah yang dikaji oleh Eko Nugroho, HRD PT Inco Sorowako, saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pengembangan Diri yang dilaksanakan Himpunan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi kerjasama dengan PT Inco Sorowako. Menurutnya, performa seseorang pada saat tes wawancara akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana ia mempersiapkan diri untuk tes tersebut. Interview secara mendasar adalah aktivitas yang jarang dilakukan. Sehingga kebanyakan orang tidak cukup familiar dan tentu akan canggung dalam menghadapinya. Tidak hanya itu, kebanyakan orang Indonesia masih sungkan untuk mengungkapkan hal-hal yang mereka kuasai atau keahlian mereka. Bagi banyak orang, tes wawancara kerja menjadikannya melakukan hal-hal atau tindakan yang tidak biasa dilakukan dalam keseharian. Oleh karenanya, persiapan menjadi prasyarat yang wajib. Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari persiapan sebelum interview. Pertama, meningkatkan rasa percaya diri dan kemantapan diri. Kedua, membantu menjawab pertanyaan secara ringkas dan berisi, alih-alih buang waktu untuk sekedar sampaikan poin yg simple. Ketiga, membantu dalam mengetahui apa yang perlu dikatakan dan bagaimana menyampaikannya. Keempat, membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan susah. Kelima, membantu dalam menghindari ucapan-ucapan yang akan menimbulkan kesan negative. Keenam, meningkatkan kemampuan rapport-building. Kunci terpenting dalam suatu interview adalah penguasaan materi yang akan ditanyakan. Kebanyakan pewawancara biasanya ingin mendengar tiga hal. Pertama, Can you do the job? Sejauh mana kompetensi, wawasan, pengalaman atau potensi yang dimiliki dengan pekerjaan yang ditawarkan. Kedua, kenyamanan dengan lingkungan kerja yang akan dilakoni. Ini menjadi penting untuk hubungan kerja dimasa yang akan datang meskipun kompetensinya ada. Ketiga, Seberapa besar tekad dan keinginan yang dimilki untuk meraih posisi yang diincar. Untuk melatih kemampuan interview, butuh latihan hingga lancar dan bukan sekedar hafal.Sebenarnya cara yang paling ampuh adalah dengan melakukan banyak tes wawancara, bahkan untuk pekerjaanpekerjaan yang kurang di minati. Hasdinar/Fmn

IDENTITAS/MUH SYUKRI

Perpustakaan FIB: Mahasiswi serius membaca buku di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Jumat (15/1). Usai direnovasi September lalu, disinyalir banyak buku di perpustakaan ini mengalami kerusakan dan dijual ke tukang loak.

Kurangnya koordinasi antara fakultas dan pengelola perpustakaan FIB, berbuah rusaknya buku referensi, saat renovasi September 2008. Bak jatuh tertimpa tangga, buku referensi pun disinyalir dijual ke tukang loak.

B

unyi atap dibongkar dan genteng jatuh di atas perpustakaan mengagetkan dua orang pengelola perpustakaan yang sedang melayani mahasiswa. Tak ayal, mereka hanya sempat menyelamatkan diri dan bergegas meninggalkan ruangan yang mulai dijatuhi reruntuhan genteng. Disela waktu renovasi, pengelola perpustakaan sempat menutupi rak buku dengan terpal plastik. Akibatnya, buku referensi banyak yang rusak karena dijatuhi serpihan bahan bangunan. Kondisinya pun bertambah parah dengan turunnya hujan. Seharusnya pihak fakultas menyampaikan hal ini ke pengelelola perpustakaan. Tetapi itu tidak dilakukan. Saat ini pasca renovasi, perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) akhirnya berbenah. Pengelola perpustakaan yang tidak ingin disebutkan namanya mencium indikasi terjadinya pencurian ketika renovasi. Kamus sama sekali tidak ada, beberapa skripsi dan buku juga raib. “Tak dipungkiri kemungkinan saat renovasi ada pencurian, pintu dikunci namun atap terbuka, lemari juga acak-acakan dan sudah dicungkil,” ujar pengelola. Terkait berkurangnya buku-buku di perpustakaan, nada miring terdengar dari mahasiswa. Pasca renovasi buku perpustakaan ada yang dijual ke tukang loak. “Saya melihat sendiri ada juga buku yang dijual sekira enam bulan lalu yang

kondisinya fifty-fifty, ada yang rusak ada dan yang masih utuh. Lalu dibawa oleh mobil pick up,” ungkap Ary (samaran) Mahasiswa Sastra Inggris ini. Peristiwa penjualan buku sampai terulang untuk kedua kalinya. “Kejadian itu berlangsung pada hari libur pertengahan November, buku-buku diangkut dengan mobil pick up lagi, masih ada buku yang masih layak untuk dibaca ikut dijual,” tambahnya. Warga Senat Mahasiawa FIB sama sekali tidak menerima langkah pegawai perpustakaan FIB yang menimbang sekaligus menjual buku dan skripsi. Hasil investigasi Tim Lima Senat FIB, ternyata pihak fakultas tidak tahu-menahu hal ini dan menurut pengelola kejadian itu karena khilaf. Itulah sebabnya Senat Mahasiswa FIB mengeluarkan pernyataan sikap yang menolak indikasi penjualan buku di perpustakaan. Dari beberapa buku yang hampir diangkut mobil pick up, beberapa diantaranya sempat diselamatkan Mahasiswa FIB. Misalnya, Tiga kamus jepang yang masih utuh dan satu skripsi tahun 1999 di lembaga kemahasiswaan, serta buku-buku lain yang dipegang mahasiswa dan belum dapat diidentifikasi berapa jumlahnya. Ungkapan kekecewaan berkurangnya buku perpustakaan juga datang dari kalangan dosen, terkait dengan banyaknya buku perpustakaan yang rusak dan hilang. Buku sumbangan dari Summer I linguistik sebanyak 300 buah kondisinya entah bagaimana. “Kalaupun rusak kenapa tidak diamankan. Saya pernah mendengar ada buku yang dijual, kalaupun rusak atau hancur tidak boleh dijual. Karena itu inventaris negara dan kewajiban kita semua untuk memelihara harta negara,” ujar Dr Basrah Gissing Msi Dosen Ilmu Budaya ini. “Mengenai penjualan buku saya rasa

tidak ada, hanya kertas yang berhamburan yang dikumpulkan dalam satu karton dan diberikan kepada orang lain untuk dijual,” tutur pengelola perpustakaan setelah dikonfirmasi di ruangan kerjanya, Rabu (6/1). Drs Amir Pattu MHum selaku Pembantu Dekan II FIB ini tidak mengerti dengan penjualan buku ini. Amir sudah mengonfirmasi untuk menghentikan pengangkutan. Namun laporan hasil pendataan belum sampai ke tangannya. “Untuk sementara buku yang belum diklasifikasi disimpan dalam gudang karena ada sebagian yang dimakan rayap,” ungkapnya sambil menunjukkan buku di gudang. Menyoal pembenahan akan dibentuk tim yang bertugas mengklasifikasi dan menyortir buku yang terbitan tahun 2003. Dr Noer Jihad selaku Kepala UPT Perpustakaan Pusat mangatakan, untuk buku lama harus dilakukan penyiangan, buku lama disimpan ditempat khusus. Kalau ada yang rusak atau robek dijilid lagi. “Jadi,untuk buku yang sudah lama digudangkan karena sewaktu-waktu ada yang ingin menggunakan buku bisa diambil,” ujarnya. Fda/ Nti

Ralat
PADA edisi nomor 718 Tahun XXXV. kolom kampusiana halaman 20 terdapat keterangan foto kegiatan Celebes Robot Contest yang tertulis Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil sebenarnya Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro.

civitas

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

12

SK Baru Keluar, Mahasiswa Ketar-Ketir
Bado MS, selaku Kepala Biro Akademik Unhas mengatakan, itu adalah sebuah kebijakan yang lahir saat rapat 20 Agustus 2009, antara Pembantu Rektor (PR) I dengan Pembantu Dekan 1 setiap fakultas. Kebijakan baru ini tidak tertulis dalam aturan akademik 2009. Beragam asumsi mulai muncul terkait terbitnya SK ini. “Kebijakan ini berawal dari lebih besarnya pengaruh kegiatan non akademik dibanding akademik, alhasil banyak mahasiswa yang belum/ tidak melulusi 48 SKS,” tambah Alimin. Dengan melihat kasus seperti itu, maka pihak fakultas memberikan evaluasi tunda 48 SKS dan memberi kesempatan sampai semester lima dengan 60 SKS yang harus dilulusi. Alimin juga menambahkan, Penasehat Akademik (PA) mempunyai peranan penting dalam dalam proses evaluasi mahasiswa. FIB juga telah menerapkan evaluasi tunda. Sama halnya dengan Fakultas Kehutanan, pihak fakultas telah menyurati setiap jurusan untuk memberitahukan mahasiswa yang terancam DO. “Surat telah diberikan ke jurusanjurusan, dan telah memberi pemberitahuan kepada mahasiswa yang terancam DO,” tambah DR Najmuddin H Abd Safa MA, selaku Pembantu Dekan I FIB. Sosialisasi terlambat Masalah evaluasi tunda yang dialami mahasiswa angkatan 2007 sudah dibicarakan, baik di jajaran universitas maupun fakultas. Di kehutanan misalnya, mahasiswa yang diberi perpanjangan evaluasi telah diperingati sejak dini. Salah satunya dengan membuat pengumuman hingga program konsultasi setiap hari rabu dengan PA. Sosialisai akan SK ini sangat tidak merata. Banyak mahasiswa yang belum mengetahui adanya evaluasi seperti ini. “Adanya SK ini telah membuat kami resah dan tidak tahu harus berbuat apa,” tambah Fian, Rabu (6/1). Keresahan bagi mahasiswa yang telah lulus evaluasi empat semester dan terancam evaluasi lima semester akhirnya terjawab. “Mereka tidak akan di DO, SK ini hanya motivasi saja,” jelas PR I Prof Dr Dadang Achmad Suriamiharja, Selasa (5/1). Seharusnya, sosialisasi SK peringatan DO ini telah dilaksanakan sejak September silam, yang merupakan awal proses perkuliahan. Sehingga mahasiswa dapat lebih fokus dalam perkuliahan. Namun, masalah tidak meratanya sosialisasi SK Rektor ini membuat sivitas akademika jadi bertanya-tanya tentang nasibnya di Unhas. Padahal sebenarnya, kebijakan ini mampu menambah motivasi bagi mahasiswa, jika sosialisasinya lebih awal. Hsp/Dia

cermin
Gizi dan Peran Ahli Gizi
MIRIS rasanya, melihat salah satu tayangan di televisi, seorang anak usia sembilan tahun, hanya memiliki bobot tubuh tujuh kilogram. Padahal seharusnya bobot tubuhnya bisa mencapai 16 kg. Bocah itu bernama Anisa, dia berasal dari tapanuli utara. Ia terlahir dari sebuah keluarga sederhana, dengan seorang ayah Icha Dian N* pekerja serabutan. Namun yang agak mengherankan, ternyata ibunya adalah seorang penjual makanan jadi. Kalo dipikir-pikir, tak sewajarnya dia menderita gizi buruk. Tapi apa daya dari keempat saudaranya, hanya dia yang bernasib kurang beruntung. Berbagai kisah lain pun nyata dihadapan kita. Masalah gizi yang timbul pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat yang berakar pada masalah kemiskinan. Hal ini berbanding terbalik dengan kemewahan dan keistimewaan yang diberikan negara untuk para menteri. Tak segan-segan, hanya untuk satu unit mobil dinas, negara mengeluarkan dana 1,3 M. Sangat disayangkan! Entah sadar atau tidak, Indonesia hanya menganggarkan 20% dari APBN untuk sektor kesehatan. Anggaran ini pun habis untuk kegiatan yang bersifat nonpreventive (pencegahan, red). Wajar saja jika banyak penduduk yang menderita gizi buruk. Jangankan untuk mengenyam pendidikan, untuk makan saja sulit terpenuhi. Perubahan gaya hidup sebagai dampak pembangunan cenderung mempengaruhi pola makan masyarakat untuk mengonsumsi makanan di luar rumah. Sehingga mendorong munculnya industri makanan termasuk pelayanan jasaboga. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah makanan tersebut layak konsumsi atau malah akan membahayakan kesehatan? Tak jarang hanya karena aktifitas yang padat, makanan sebagai sumber energi tak diperhatikan, beruntung jika orang itu sudah dewasa. Tapi berbeda halnya dengan bocah yang masih selalu merengek jika lapar, orang tuanyalah yang harus mengatur pola makannya. Lantas, apa kiranya yang dapat kita lakukan sebagai seorang calon ahli gizi. Walau banyak orang yang mencibir, ahli gizi seyogyanya bukanlah tukang masak. Tapi alangkah lucunya kita yang akan mengatur menu seseorang dengan berbagai resep masakan, jika tidak tahu bagaimana mengolah makanan itu. Seorang Ahli Gizi membantu mempromosikan kesehatan yang baik melalui makanan yang tepat dan mengawasi persiapan serta pelayanan makanan. Dalam pengaturan medis, ahli gizi dapat menyediakan kebutuhan gizi khusus untuk pasien yang tidak mampu mengkonsumsi makanan normal. Sehingga keberadaan ahli gizi menjadi penting, melihat begitu banyaknya fungsi makanan dalam tubuh. Untuk itu konsultasi dengan ahli gizi tepat adanya. Karena untuk menjaga agar tubuh tetap bugar, konsumsi makanan perlu dijaga. Sedikit berbagi ilmu, banyak orang yang membagi makanan menjadi empat kategori, yang pertama, makanan merupakan kebutuhan. Dimana, makanan menjadi sumber energi yang menunjang tubuh untuk bisa beraktifitas. Kedua, makanan menjadi sebuah kesenangan. Umumnya jika senang terhadap satu jenis makanan tertentu, maka hanya itu yang terus dan sering dikonsumsi. Ketiga, makanan merupakan kabiasaan. Ini bisa jadi sesuai dengan topografi dimana individu itu tinggal dan yang terakhir dan menjadi sesuatu yang meningkatkan derajat dan martabat seseorang adalah gaya hidup. Keempat kategori ini yang membuat orang kebanyakan beranggapan bahwa ‘Makan ya makan aja yang penting kenyang’. Anggapan ini yang harus diubah, percuma makan kalau tidak membuat sehat, bahkan membuat sakit di kemudian hari. Umumnya gizi buruk terjadi di daerah-daerah jauh dari wilayah perkotaan. Walau tak menutup kemungkinan di daerah pinggiran juga bisa terjadi. Disini harusnya peran aktif seorang Ahli gizi untuk setidaknya mengurangi jumlah kasus gizi buruk yang terjadi. Tapi apa yang terjadi jika orang-orang yang menjadi ahli gizi adalah orang-orang yang tak mau menjamah kawasan yang jauh dari perkotaan? Sisi kemanusiaan harusnya lebih ditinggikan ketimbang sisi egois diri sendiri. Berharap akan semakin banyak ahli gizi yang mampu memberantas gizi buruk di Indonesia. Usaha kita semua dinantikan kawan, Semoga! * Penulis adalah Mahasiswi Prodi Ilmu Gizi FKM angkatan 2007 Unhas Staf Penyunting PK identitas

SK DO: Seorang mahasiswa tampak memperhatikan dengan seksama daftar nama-nama mahasiswa yang terancam DO beberapa waktu lalu.

IDENTITAS / ILHAM A M

Awal September 2009, Surat Keputusan (SK) Rektor mengenai evaluasi DO lima semester bagi angkatan 2007 terbit. Sebagian mahasiswa resah akan kehadiran SK itu

T

ercatat sebagai Mahasiswa Unhas merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi banyak orang. Beragam cara acap kali ditempuh, sampai pada hal yang negatif. Salah satu contohnya dengan menggunakan sistem joki saat ujian masuk Unhas. Sejak Unhas di bawah kepemimpinan Prof Dr Ir Radi A Gani, diterapkan sistem evaluasi 4 semester dan mahasiswa dituntut harus melulusi sejumlah 48 Sistem Kredit Semester (SKS). Sampai saat ini, kekhawatiran kerap melanda civitas akademika. Awal September 2009, Unhas kembali mengeluarkan SK mengenai evaluasi DO lima semester. Ketar-ketir kembali melanda mahasiswa yang baru saja melulusi evaluasi empat semester. Andi, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) tampak sedih mendapat nilai Error. Artinya, berkurang sudah peluangnya mendapat tambahan jumlah SKS. Wajahnya kaku tak bisa membayangkan nasibnya di Unhas. Pertengahan November 2009, ia mendapatkan SK Peringatan DO. Terkejut dan heran, dia pun mencoba mencari tahu kebenaran dari SK itu. Evaluasi empat semester telah ia lewati. Rupanya 60 SKS harus dilulusi lagi pada semester lima. “Saya hanya bisa pasrah dan terima apa adanya,”

ujar Andi, Selasa (5/1). Beda pula dengan Fian (samaran), Mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 2007 ini tak tahu menahu tentang hadirnya SK ini. Namun jika benar adanya, kecemasan juga dapat dia rasakan. Pembantu Dekan III di fakultasnya, saat dikonfirmasi mengaku tak tahu menahu. Keresahan dari mahasiswa lain bisa jadi sama dengan yang dirasakan Andi dan Fian. Banyak pihak yang menyesalkan kebijakan ini. Mereka menganggap melulusi evaluasi empat semester dengan pencapaian 48 SKS sudah menjadi posisi aman. Namun, tidak bagi mereka yang belum mencukupi 60 SKS. Evaluasi DO lima semester, mewajibkan mahasiswa angkatan 2007 melulusi 60 SKS dengan IPK minimal 2,00 dan batas waktu hingga (8/01) . Mengomentari keluhan ini, Drs Alimin

kampusiana
(Hsp/Air)

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

13

Intercomp HEDS
BERTEMPAT di Gedung Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (Ipteks) Hasanuddin English Debating Society (HEDS) mengadakan Internal Competition (Intercomp), Selasa (5/1). Kegiatan ini bertujuan untuk menyeleksi para anggota HEDS untuk mengikuti NEO debat di Binus, Jakarta. Kegiatan Intercomp ini diikuti oleh sekitar 18 orang dan yang akan lolos ke binus hanya 4 orang. Amel selaku Pengurus HEDS mengatakan bahwa perlombaan debat akan diadakan pada Februari. “Mudahmudahan dengan mengikuti lomba debat, para anggota HEDS bisa lebih meningkatkan kualitas debat para anggota dan dapat menjadi debater nasional,” harap Mahasiswa Kedokteran angkatan 2008 itu. (Hsp)

akademika
Yang Kontroversial dan Mengejutkan
TOKOH yang satu ini terkenal dengan gagasan dan ide-idenya yang kontroversial. Kadang ia muncul dengan gagasan yang melawan arus dan mengejutkan banyak pihak. Namun, ia tetaplah salah satu tokoh yang harus kita kenang karena pergerakannya di dunia politik. “Gitu, aja kok repot?” begitulah kalimat yang sering dilontarkan oleh Gusdur sosok akademika di edisi kali ini. Ya, begitulah orang-orang mengenali Abdurrahman Wahid. Sosok yang familiar dengan sapaan Gus Dur ini lahir di Jombang, 4 Agustus 1940 dari pasangan KH Wahid Hasyim dan Hj Sholehah. Tokoh yang pernah bercita-cita menjadi anggota ABRI ini pun memulai jenjang pendidikannya, dengan mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di Jakarta. Setelah itu, Gus Dur melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Yogyakarta hingga lulus pada tahun 1957. Gus Dur memasuki dunia pendidikan agama secara intensif. Mulamula ia menimba ilmu agama selama dua tahun di Pesantren Tegalrejo, Magelang, di bawah bimbingan Kiai Chudori. Selanjutnya di Pesantren Tambak Beras, Jombang. Gus Dur bekerja sambil meneruskan pendidikan di pesantren sebagai santri senior. Kehidupan religius memang telah mengisi kehidupannya. Sewaktu kecil, ia sudah diajar mengaji dan membaca Al Quran oleh kakeknya di Pesantren Tebuireng, Jombang. Maklum, kakeknya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yakni Hasyim Asy’ari. Sedangkan dari garis keturunan sang Ibu, ia merupakan keturunan tokoh besar NU, KH Bisri Sansuri. Pada usia 22 tahun, sosok yang memiliki hobi mendengarkan musik klasik barat ini, berangkat menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus untuk melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. Di sana, ia tinggal bersama para pelajar asal Indonesia dan sempat menjadi Sekretaris Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir. Saat di luar negeri itu jugalah Gus Dur melangsungkan pernikahan jarak jauh dengan Siti Nuriah. Pasangan ini kemudian dikaruniai empat orang putri, yakni Alissa Munawarah, Arifah, Chayatunnufus, dan Inayah. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mesir, pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Baghdad, Irak. Ia bergabung di Department of Religion di Universitas Baghdad dengan mengambil spesialisasi Ilmu Sastra dan Humaniora. Dari Baghdad, Gus Dur meneruskan pengembaraan akademisnya ke sejumlah negara Eropa, dari satu universitas ke universitas lainnya. Terakhir, ia tinggal di Belanda sekitar enam bulan, dan sempat mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia. Setelah hampir menjelajahi dunia, ia kembali ke Tanah Air, pada tahun 1971. Pada saat itu, Gus Dur bergabung dengan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy’ari. Di universitas kota kelahirannya, Gus Dur mengajar teologi dan beberapa ilmu agama. Selanjutnya, sejak tahun 1974 ia dipercaya sebagai sekretaris pesantren Tebuireng. Tak hanya aktivitas mengajar, nampaknya Gus Dur senang mengirimkan tulisannya di berbagai surat kabar, majalah, dan jurnal. Dan berawal dari tulisan-tulisannyalah sosoknya mulai dikenal. Kiprahnya di dunia politik dimulai sekitar awal 1980-an, ketika ia mulai banyak bersinggungan dan secara terbuka menawarkan ide-ide tentang pluralisme, demokrasi, HAM, dan lain-lain. Tindakan politiknya semakin jelas, sejak ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 di Situbondo. Melalui peran Gus Dur, NU menjadi ormas Islam pertama yang menerima pemberlakuan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun pernah hubungan Gus Dur dengan pemerintah kembali merenggang karena sikap kritisnya terhadap pemerintahan Soeharto. Posisinya sebagai Ketua Umum PBNU tetap dapat dipertahankannya selama dua kali muktamar berturut-turut, yaitu pada tahun 1989 dan 1994. Oleh sebagian orang, gagasan-gagasan dan tindakan Gus Dur kerap dipandang sebagai hal kontroversial dan mengejutkan, Sekali waktu, Gus Dur menggagas untuk mengganti salam assalamu’alaikum dengan selamat pagi. Gagasan yang kontan mendatangkan sergahan dari umat Islam. Pada lain waktu, Gus Dur mengejutkan banyak orang melalui kunjungannya ke Israel pada tahun 1994, justru ketika masyarakat banyak menyoroti kelicikan negeri tersebut terhadap nasib rakyat Palestina. Walaupun berbagai hal yang dianggap kontroversial telah dilakukan Gus Dur, namun sepak terjangnya di dunia politik tak boleh kita hapus dengan begitu saja. Apalagi ia pernah menjadi mantan Presiden Republik Indonesia. Semoga dia yang telah menghadap Ilahi, pada hari rabu 30 Desember 2009, dapat diterima di sisinya. Amin. Atrasina Adlina / Hdl

IDENTITAS/ILHAM A M

Dialog:Pasca menghadiri Seminar Internasional “Demokrasi Untuk Kesejahteraan Rakyat” di Baruga A P Pettarani, Mahatir Muhammad lalu berkunjung ke Rumah Sakit Pendidikan Unhas untuk berdialog dengan Mahasiswa Unhas dari Malaysia, Kamis (14/1).

Baksos Siaga Ners
SIAGA Ners menyelenggarakan Baksos di Desa Mattirotasi Kec. Maros Baru Kab. Maros, Selasa (5/1). Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Ulang Tahun Siaga Ners yang ke-3. Dengan mengusung tema”Semangat Berbagi, Semangat Berbakti, Memulai Hidup Sehat Bersama Siaga Ners.” Baksos berupa penyuluhan kesehatan,pemeriksaan kesehatan dan sunatan massal. Sekitar 100 peserta dari masyarakat setempat dan dihadiri oleh Wa Osde Nurisnah SKep Dosen Ilmu Keperawatan, dr Jamaluddin Ass Kepala Puskesmas Desa Mattirotasi dan Mansyur Kepala Desa Mattirotasi. “Semoga pemeriksaan kesehatan gratis seperti ini dapat tetap membantu masyarakat di daerah terpencil,” ujar Zulkifli Mahasiswa Ilmu Keperawatan angkatan 2006 ini. (Fda)

hard skill,” ungkap Muh Irwan selaku ketua Panitia. (Mai)

HIMIKA adakan VENUS 09 Pelatihan Program Pekerti
PUSAT Kajian Pengembangan Analisis Instruksional (PKP AI) Lembaga Kajian pengembangan dan Penelitaian bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Program Keperawatan, mengadakan Pelatihan Program Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (Pekerti) bagi dosen muda. Bertempat di Ruang Penataran Pekerti AA, SeninJumat (4-15/1) . Dihadiri Prof Dr H Djabir Hamzah MA, Prof Dr Ir lellah Rahim MSc, Prof Dr Ir Ambo Tuwo DEA, dan narasumber bertaraf nasional lainnya. Dihadiri sekitar 45 peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal bagi para dosen muda untuk membuat bahan ajar dan berhak memilki sertifikat pekerti yang kelak bisa digunakan sebagai syarat menjadi dosen. “Bahwa lewat Pekerti ini dosen tidak lagi menilai mahasiswa karena perasaan like dan dislike tapi ada rekor yang dicapai oleh mahasiswa tersebut,” ujar Dr Rahmat Muhammad. (Air) DENGAN mengusung tema “Bersama Alam Wujudkan Keakraban dalam Bingkai Persaudaran” Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (Himika) Unhas mengadakan Vacation and Education for Nursing Students (Venus), JumatMinggu (1-3/1). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pengkaderan Mahasiswa Ilmu Keperawatan. Kegiatan yang diikuti sekira 51 orang ini mengadakan pembersihan dan ramah lingkungan di desa Bontolojong Kabupaten Bantaeng. “Harapannya setelah diadakanya kegiatan Venus ini, para mahasiswa dapat menumbuhkan solidaritas dan menjadi generasi muda yang memiliki solidaritas tinggi,” ungkap A Ulfiyani Wahid selaku panitia.(Hsp)

Starter Humanika 2009
DENGAN mengusung tema “Artikualsi, Elegansi, Kelembagaan Upaya Meretas dan Moralitas Mahasiswa.”Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Humanika) Unhas menyelenggarakan Sosialisasi dan Training Mahasiswa (Starter), Jumat-Minggu (8-10/1). Kegiatan yang berlokasi di Bila Ranch Kabupaten Sidrap ini bertujuan sebagai pengkaderan awal Mahasiswa Baru (Maba) 2009 dan sebagai pengembangan soft skill. Kegiatan yang dirangkaikan dengan pemberian materi tentang ketegasan dan kedisiplinan, dan pengenalan sejarah Humanika yang dihadiri sekitar 35 Maba Humanika.”Harapan saya semoga kaderkader humanika 2009 bisa menampakkan taringnya baik dalam bidang soft skill dan

KADARZI Ilmu Gizi Unhas
BERTEMPAT di LEC Angkasa Maros, Jumat-Minggu (8-10/1), Mahasiswa Ilmu Gizi mengadakan Kaderisasi Gizi (Kadarzi). Kegiatan yang mengusung tema “Aktualisasi Peran Kader untuk Meningkatkan Potensi Formasi dalam Upaya Pengabdian kepada Masyarakat” ini diikuti sekitar 76 orang. Kegiatan ini diadakan dalam rangka penyambutan mahasiswa baru Program Studi Ilmu Gizi. Kegiatan yang diadakan oleh Divisi Pengembangan Sumber Daya Anggota ini akan mengadakan materi, outbond, games, serta dialog akademik. “Mudah-mudahan Mahasiswa Ilmu Gizi memilki hubungan silaturahmi yang baik antar angkatan dan dapat meningkatkan kualitas setiap anggota,” ujar Astuti selaku Ketua Panitia. (Hsp)

Resep 09 Farmasi
BADAN Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi mengadakan Resep 09, SabtuSenin (2-4/1). Acara yang diadakan di Pasanggarahan Malino ini diikuti oleh mahasiswa baru 2009 dan warga Fakultas Farmasi. Dengan mengusung tema “Reformulasi Sikap, Etika dan Pola Pikir”, acara ini diikuti sekitar 150 peserta. Kegiatan yang selalu diadakan tiap tahun ini adalah rangkaian dalam prosesi untuk menjadi warga di Fakultas Farmasi. “Sebagai arena untuk mengakrabkan diri seluruh warga Farmasi antara mahasiswa dan dosen,” ujar Ferliem Mahasiswa Farmasi angkatan 2008 (Tra)

agenda
Kejuaraan Rektor Unhas Cup Catur antar Mahasiswa & Pelajar seIndonesia Timur “Berpikir Sebelum Bertindak” Pendaftaran: 5 januari – 16 februari 2010 Tempat : unit persatuan catur unhas MPM peduli Waktu : 31 januari 2010 Tempat : Parang loe kab. Gowa Pelaksana : Dept. humas UKM LDK MPM UH Pelatihan dan Pendidikan Lingkungan Kelautan (PPLK) Waktu : 21-24 januari 2010 Tempat : Pulau Liukang, Desa Bira, Kec.Bonto Bahari, Kab. Bulukumba Pelaksana : Marine Science Diving Club (MSDC)

Morning Coffe “Next:2010”
BERTEMPAT di Gedung Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (Ipteks) Unhas, Komunitas Dosen Muda menyelenggarakan diskusi yang selanjutnya disebut Morning Coffe, Selasa (5/1). Sesuai dengan temanya “Next:2010”. Kegiatan ini membicarakan tentang bagaimana Unhas ke depannya. Dihadiri sekira 25 orang yang terdiri dari mahasiswa dan dosen muda sendiri. Adapun yang menjadi pembicara ialah Prof Dr Irawan PhD Dekan Fakultas Kedokteran dan Prof Dr Fattah Kadir SE SU dosen dan mantan Dekan Fakultas Ekonomi. Salah seorang mahasiswa bertanya bahwa selama ini kenapa mahasiswa sekanakan dijadikan objek, maka dari itu diperlukan jembatan. Menanggapi hal itu, Arifin mengatakan, “kenapa mesti mencari jembatan, kalian mahasiswa punya mesti punya inisitif sendiri”. (Arm)

“Realitas” HIMAHI Fisip Unhas
DENGAN mengusung tema “Heal the Reality Around, in Thousand of Hands”, Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi) mengadakan Bakti sosial (Baksos) “Realitas”, KamisMinggu (7-10/1). Kegiatan yang diadakan di Desa Bonto Bulaeng Kecamatan Sinoa Kabupaten Bantaeng ini bertujuan agar mahasiswa bisa melihat langsung kehidupan sosial masyarakat di sana. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengkaderan. dihadiri sekitar 20 orang. Rahmania Java selaku panitia mengatakan, salah satu acara yang akan dilakukan adalah penghijauan. “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini kami bisa melihat langsung lingkungan sosial yang belum terjamah oleh pihak pemerintah,” tambah mahasiswa angkatan 2008 itu.

cerpen

NO 719 l TAHUN XXXV l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

14

Wanita Senja Baya, Jojo dan Aku puisi

S

eperti biasa, setelah kuliah selesai aku menuju halte di jalan raya menunggu angkot untuk kembali ke rumah. Siang ini sangat terik. Matahari seakan sedang menari-nari di atas sana. Menunjukan kalau dialah sang kuasa langit di siang hari. Keringat di kepalaku terus mengucur. Jilbab putihku sudah basah. Gerah. Ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah. Meminum air yang tersedia di kulkas. Sambil menunggu angkot, aku memerhatikan keadaan di sekelilingku. Di hadapanku terlihat seorang wanita senja baya memegang karung kumal yang berisi kaleng dan botol bekas telah ia kumpulkan dari tadi. Tak hanya karung kumal yang di genggam, tapi ia juga menggendong anak kecil berusia dua tahun yang diam. Sepertinya anak itu adalah cucunya. Wanita senja baya dan cucunya telah menarik perhatianku. Mataku terus mengawasi gerak tangannya. Kulitnya kusam, tubuhnya kurus, dan rambutnya sudah ubanan. Sketsa rupa yang keriput tidak menghalanginya untuk terus mengais sampah. Bisa kutaksir usianya sudah seperdua abad, 50-an. Dia terus mengumpulkan kaleng dan botol bekas. Lalu memasukkan ke dalam karung kumal yang terus dibawanya. Aku terbuai memerhatikan tingkahnya sehingga ketinggalan angkot. Mau tak mau aku harus menunggu angkot berikutnya. “Heee…! Nenek Tua..!!!! Kasi’mi cepat karungmu sama saya!” Bentak seorang lelaki berbadan besar dan berkulit hitam ke arah wanita senja baya itu. Lelaki berkulit hitam itu juga pemulung. Sama seperti wanita senja baya itu. Tanpa perlawanan atau sikap protes, wanita senja baya menyerahkan karung kumal kepadanya. Lelaki berbadan besar dan berkulit hitam pun pergi meninggalkan wanita senja baya itu dan cucunya. Lelaki hitam itu menjauh tanpa rasa salah. Dia telah merampas hasil kerja orang lain. Aku yang sedari tadi memerhatikan mereka, merasa kesal terhadap sikap dan perilaku lelaki itu. Kenapa wanita senja baya itu tidak melawan? Apa ia takut pada lelaki itu, karena ia wanita yang sudah senja baya yang tak ada lagi daya dan upaya untuk memberi perlawanan? “Assalamu Allaikum.” Salam terdengar dari suara seorang pengemis wanita muda yang menghampiri wanita senja baya itu. “Waalaikum Salam” Jawab wanita senja baya. “Bu, saya pinjam dulu di’ cucuta’ Jojo setengah jam. Nanti saya kembalikan sekalian sama uang setorannya 5000 rupiah,” ucap wanita muda itu. Tanpa banyak bicara, sang wanita tua menyerahkan cucunya, Jojo. Jojo tampak sedih dan menangis ketika terlepas dari gendongan neneknya. Ya Allah…! Apakah benar yang aku liat ini? Kini mataku berbalik arah untuk memerhatikan wanita tadi yang sekarang menggendong Jojo. Aku menjadi penasaran apa yang bakalan ia lakukan. Dia membawa Jojo ke jalan yang kini dipenuhi kendaraan. Lampu merah menyala tanda berhenti. Mataku terus mengawasi. Apa yang terpikirkan olehku ternyata benar. Tak hanya di kota-kota besar seperti Jakarta yang setiap harinya terekam di layar tv, pengemis yang menggendong anak dan meminta-minta dari kendaraan ke kendaraan yang lain juga ada di kotaku. Ketika rasio tak lagi diguanakan oleh manusia mencari uang demi sesuap nasi, maka akan hadir kepalsuan. Jojo, anak belia itu jadi korban ganasnya hidupan. Wanita muda itu telah menyusuri lampu lalulintas yang berwarna merah. Dia beraksi dari angkot satu ke angkot yang lain. Menyodorkan gelas plastik bekas air minum mineral. Sambil memelas dengan

Renungan di Akhir Malam
(Tribute To Iwan Simatupang)
Getaran irama waktu, telah sampai di penghujung malam Yang sesak oleh bintang-bintang pucat dan awan-awan hitam Nada-nada selanjutnya, membawakanku sepotong lirik kelam Tentang mimpi buruk di tengah kemarau siang tadi Ketika gagak-gagak hitam dan tikus-tikus kotor berlari Berebut menggerogoti seonggok bangkai basi Namun benarkah itu mimpi? Atau, aku hanya merasa bahwa aku telah bermimpi? Dan jika aku telah benar-benar bermimpi, Mengapa ia lebih nyata dari kenyataan yang telah benar-benar nyata? Awan-awan hitam itu pun menguap Dilemanya telah terlelap Namun aku kembali terjebak dalam simpul kusut sang malam Dalam tumpukan garis-garis kelam Lalu kucoba ‘tuk kembali melihat ke arah dalam Dari dalam diriku yang paling dalam Dan kutemukan hatiku telah hampa Nuraninya telah tiada Lalu apa artinya hidup tanpa nurani? Bukankah maut akan lebih berarti? Awan-awan hitam itu pun kembali menguap Menyisakan sehelai garis putih pada simpul kusut yang ikut terlelap Kurentangkan ia dengan seribu harap Hingga terurai sebentuk jalan Kebenaran Ingin kuukir ia di pasir ketaatan Namun kutahu, segera ia ‘kan kembali pupus Oleh jilatan ombak-ombak rakus Maka biarlah ia kembali menguap bersama awan-awan hitam Yang ‘kan turun sebagai hujan di akhir malam Rahmatan Idul Penulis adalah Mahasiswa Sastra Inggris Angkatan 2006

Oleh: Lisda Ariani Simabur
ILUSTRASI/ KUN AGUNG

ucapnya. “Pa…! Bu…! Uangta’ kodong, seratus rupiah’mo…! Kasihan anakku dari tadi pagi belumpi makan sampai sekarang,” Tuturnya. Tentu dengan wajah yang sengaja dipermak sendu. Salah satu dari penumpang angkot mengambil uang 1000 rupiah dari tas dan menaruhnya ke dalam gelas plastik. “Makasih di’…” Kembali suara pengemis itu terucap. Wanita muda itu pun pergi melanjutkan untuk meminta minta di angkot yang lain. Aku bersyukur kepada Allah, karena masih ada yang mau memberikan uang kepada pengemis itu. Masih ada yang punya nurani. Masih ada yang tidak tega melihat anak kecil mengelilingi lampu lalulintas di siang hari yang terik. Jujur. Aku kadang jengkel dengan para pengemis yang kerjanya hanya meminta-minta. Kalau dilihat dari fisik, mereka sebenarnya tidak layak mengemis. Bukankah Rasulullah tidak pernah ingin umat dan para sahabatnya meminta-minta? Bukankah memintaminta akan membuat seseorang malas bekerja dan hanya mengharapkan belas kasihan orang lain? Dan yang paling aku ingat adalah kata guru agamaku. Beliau sering bilang kalau tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Ah…! Yang jelas aku bersyukur. Bukan karena pengemis itu berhasil mendapatkan uang, tapi karena Jojo bisa cepat kembali ke pelukan neneknya. *** Suara Jojo terus mengusikku. Seolah ingin memberitahu kalau ia tak sanggup lagi menantang mentari yang panasnya makin garang. Emosiku tak tertahan. Tangisan Jojo yang semakin menjadijadi membuatku nekat melangkah. Kakiku bergerak menyeberang jalan menuju lampu lalu lintas. Entah apa yang aku perbuat sekarang. Aku terkejut ketika mendekati pengemis itu. Bayi mungil yang digendongnya terus histeris. Jojo, bayi kecil itu memekakkan telingaku. Keringatku semakin lancar. Jilbab dan bajuku basah. Panas matahari tanpa ampun menghembaskan sinarnya. Sementara Jojo, anak berusia dua tahun itu seketika terdiam. Tak ada lagi suara tangisannya. Aku buru-buru mendekat, memegang tubuh mungil Jojo. Tanganku menyentuh lehernya. Meyakinkan diri kalau Jojo tidak apa-apa. Aku takut sekali. Takut jika terjadi sesuatu pada Jojo.

Tanpa berpikir panjang aku merenggut Jojo dari gendongan wanita muda itu. Inginku menyerahkan Jojo kepada wanita senja baya yang sedang berada di seberang jalan. Mataku memburu segala arah, mencari wanita senja baya itu. “De’, Mauki’ apakan cucuku? Kenapa kita ambil dia dari wanita tadi?” Suara pelan itu terdengar persis di belakangku. Aku terkejut dengan pertanyaannya. Sebelum menjawab, Aku menyerahkan Jojo yang lemas kepadanya. “Bu, Kita sadarkan apa yang kita perbuat sekarang? Kita tega sebagai nenek, biarkan cucuta’ dibawa keliling dari angkot ke angkot dengan cuaca panas seperti ini?” Kali ini aku berbalik bertanya. Wanita senja baya itu terdiam dan menatapku, tanpa berkedip. Aku heran dengan tatapan yang penuh kesusahan. “Maaf Bu! Apa ada yang salah dengan pertanyaanku tadi?” Ucapku dengan nada bersalah. Kali ini bukan saja menatapku tapi wanita senja baya itu mengeluarkan air mata. Memeluk Jojo erat dan menciumnya. Jojo semakin lemah tak berdaya. Kasih sayang wanita senja baya terlihat jelas. Dia juga tidak tega jika Jojo diarak dengan alasan mendapatkan uang. Cinta seorang nenek yang kini mengharapkan cucunya untuk bisa membuka mata terlihat jelas. Wanita senja itu memekik. “Jojo, maafkan nenek. Nenek sayang sama Jojo” Tangan kananku bergerak. menghentikan taksi yang melintas. Aku

menarik wanita senja baya yang terus memeluk Jojo. “Pak, tolong antarkan kami ke rumah sakit!” Pintaku kepada sopir taksi. Jalanan macet. Membuat aku tak kuasa melihat adegan nenek dan cucu di sampingku. Mengharukan! Aku tidak ingin tenggelam dalam linang air mata. Sepasang mata wanita tua itu kutatap lekat-lekat. Kutemukan peta kesedihan yang mirip dasar sebuah sumur yang keruh. Ada genangan lumpur, bongkahan karang di sorot mata wanita senja baya yang tajam menatap cucunya. Ah! Seperti mengundangku untuk basah kuyup air mata. Mentari yang sedari tadi memancarkan sinar teriknya, seakan lenyap dengan sekejap. Di luar hujan merembes deras. Langit kelam dan senja lebam dalam guyuran hujan lebat. Kilat menjilat sambungmenyambung seperti ingin membakar langit. Halilintar bersahut-sahutan tiada henti bagai ingin membelah dunia. Jojo yang tadinya pucat pasih tanpa membuka mata, kini mulai siuman. Wajahnya menoleh ke arah wanita senja baya. Kini bibir kecil itu menyunggingkan senyuman manis terakhirnya. Seakan memberitahukan kebahagiaan selama dua tahun bersama neneknya. Sebentuk ucapan terima kasih yang telah mau merawatnya. Senyum terakhir yang terukir itu kini telah pergi selamanya dan abadi menemui Rabb. *Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Angkatan 2006, KOSMIK (Korps Mahasiswa Ilmi Komunikasi)

Iklan Syarat Opini & Cerpen

iptek
Setelah pertama kali ditemukan kepiting cangkang lunak, kini komoditi ini mulai dikembangbiakkan di bidang perikanan. Dengan menggunakan kerambah yang wadahnya saling terpisah.

NO 719 l TAHUN XXXV l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

15

Teknologi Budidaya Kepiting Cangkang Lunak
bulan. Hasilnya lansung diangkut oleh Bayer ke Surabaya dan Bali. Menurut Hadiratul, permintaan ini masih minim. “Kami disuruh menyediakan 12 ton per bulan, tetapi kami belum mampu. Jadi kalau ada yang mau bertambak jangan khawatir dengan pemasarannya. Soalnya kebutuhan pasar sangat banyak,” ucap Hadiratul diselingi senyum ketika dikunjungi identitas, Rabu (6/01) di ruang tamu Dekan Fakultras Ilmu Kelautan dan Perikanan. Hasil penjualannya cukup lumayan. Jika dihitung per kilogram, seharga Rp 75 ribu untuk diperdagangkan di swalayan dan untuk pasar tradisional Rp 55 ribu. Sementara modalnya Rp12 ribu-Rp 15 ribu per kg. Untuk menyediakan hasil lebih banyak, kendala yang dialami berupa pasokan benih yang belum cocok dengan habitatnya. Sedangkan untuk pemeliharaannya sendiri telah memiliki tenaga ahli. Seperti di Pampang dijaga oleh tujuh orang warga dan di Keera sendiri dijaga oleh tiga orang alumni Mahasiswa Unhas. Hingga saat ini, pihaknya terus melakukan workshop ke ber— bagai tempat, yang memiliki daerah tambak, seperti Wajo dan Makassar. Dengan tujuan memperkenalkan produk serta menarik investor untuk melakukan kerjasama. Di lingkungan Unhas sendiri, berbagai lokasi tambak milik Unhas menjadi lahan-lahan baru yang akan diberdayakan, semoga! Arm/Dia

anyaknya tambak yang ditinggalkan oleh pemiliknya, membuat lokasi yang termarginalkan ini menjadi tak terawat. Lokasi itu berada di area Pertambakan Keera Kabupaten Wajo, Pampang Kota Makassar dan tambak Unhas di Tallo. Hal ini kemudian menginisiatif Dosen Jurusan Perikanan Unhas Dr Ir Hadiratul Kudsiah MP, bersama rekannya Ir Rustam MSi dan Dr Asmi Citra Malina untuk mengaktifkan kembali lahan itu. Sejak tahun 2008 hingga kini, usaha pembudidayaan kepiting tambak cangkang lunak terus dikembangkan Awalnya, kegiatan ini merupakan hasil kompetisi antara perguruan tinggi se-Indonesia, yang dilaksanakan DP2M DIKTI DEPDIKNAS RI tahun 2007 silam. Hasil monitoring, verifikasi, dan penilaian tim reviewer DP2M Dikti, memenangkan tim yang diketuai Hadiratul. Dengan mengalahkan 605 hasil penelitian lainnya. Tahapan Pelaksanaan Budidaya Usaha ini terbilang sangat prospektif dan ramah lingkungan. Produk yang dihasilkan juga memiliki nilai jual yang tinggi dibanding dengan kepiting biasa. Kandungan nutrisi tambahan yang baru ditemukan pada cangkang, membuatnya dapat dikonsumsi. Waktu pembudidayaannya terbilang singkat, berkisar 15–30 hari. Selain itu pakan yang digunakan bersifat alami serta biasa pula dipolikultur (dicampur, red) dengan udang,

B

Tempat Penangkaran Kepiting Cangkang Lunak

Contoh Kepiting Cangkan Lunak Hasil Pengembangbiakan
ISTIMEWA

ikan bandeng dan rumput laut. Teknologi ini memiliki nilai mortalitas rendah. Tahap awal persiapan budidaya dimulai dengan membuat keramba. Umumnya, tiap keramba berukuran 20x20 cm dan hanya diisi seekor kepiting. Hal ini dimaksudkan agar kepiting tidak saling memakan antara sesamanya. Pada atas keramba dibuatkan pula jembatan, dengan tujuan memudahkan pemantauan dan pengangkutan kepiting saat melakukan molting (pergantian kulit, red). Proses selanjutnya adalah perawatan benih. Awalnya, benih yang dibeli dilepaskan pada tempat khusus, tempat lain untuk menjaga agar kepiting tidak stres. Proses ini dilakukan selama satu hingga dua jam, untuk melakukan proses adaptasi. Syarat benih

terutama berukuran 10–15 ekor per kg. Benih ini kemudian dimasukkan dalam keramba. Lalu masuk dalam tahap pemberian pakan. Umumnya pakan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran tubuh kepiting. Untuk saat ini jenis pakan yang dianggap paling cocok ialah ikan segar biji nangka. Selama satu bulan, pada awal dibudidayakan kepiting diberi pakan dua kali sehari. Setelah rentang waktu itu maka pemberian pakannya dikurangi satu kali sehari. Pasalnya akan mempersulit proses molting jika ukurannya besar. Proses molting dimulai saat benih berumur kurang lebih satu bulan. Satu persatu kepiting akan berganti kulit pada malam hari. Saat itulah kepiting ini diangkat, lalu direndam selama lima menit

di dalam air tawar. Tujuannya, agar cangkang kepiting tidak mengeras. Proses molting juga dilakukan dengan menusuk persendiannya. Sehingga kepiting akan teransang untuk melindungi diri dengan cara melepaskan diri dari capitnya. Proses ini berlangsung selama dua minggu hingga satu bulan, dan membutuhkan penerangan pada rentang waktu itu. Setelah melalui proses, maka cangkang kepiting menjadi lunak. Kepiting ini bisa hidup selama seminggu. Bisa juga dibekukan dan dibuat dalam kemasan sesuai permintaan pembeli. Merambah ke Berbagai Daerah Dari dua area pertambakan yakni di daerah Keera dan Pampang, budidaya ini mampu menghasilkan rata-rata 300 kg per

resensi Ajaibnya Sebuah Enzim
MASYARAKAT beranggapan, minum susu sapi akan membantu mencegah osteoporosis. Menurut Prof Dr Hiromi Shiya, Penulis Buku The Miracle of Enzyme, hal itu merupakan miskonsepsi dan kesalahan besar. Susu sapi adalah minuman atau makanan paling buruk untuk manusia. Terlalu banyak minum susu terutama susu sapi, sebenarnya menyebabkan osteoporosis. Susu sulit untuk dicerna. Pasalnya begitu memasuki lambung, kandungan kasein menyebabkan susu langung mengalami penggumpalan menjadi satu. Sehingga menjadi sangat sulit dicerna. Agar mampu dicerna, tubuh mengeluarkan enzim pangkal, yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan termasuk pertumbuhan tulang. Saat minum susu, konsentrasi kalsium dalam darah akan meningkat secara drastis, sembilan sampai sepuluh mili gram. Keadaan abnormal ini akan memicu tubuh untuk mengembalikannya ke kondisi normal. Jalannya dengan membuang seluruh kalsium dari ginjal melalui urine. Jadi meminum susu berarti membuang kalsium dalam tubuh secara keseluruhan, bukan sebaliknya. Susu hanya cocok untuk bayi yang baru lahir dan susu sapi memang pada dasarnya untuk anak sapi. Tidak ada anak sapi yang meminum susu manusia. Shinya tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia adalah ahli usus berusia tujuh puluh tahun, dengan pengalaman memeriksa 300.000 usus manusia Amerika dan Jepang. Selama lebih dari 40 tahun meneliti lambung manusia, Shinya menemukan hubungan yang erat antara makanan yang dicerna dengan jenis penyakit yang muncul. Wujud usus pun menampakkan jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Dia menjadi hafal jenis makanan yang dicerna pasiennya bermutu atau tidak. Disebutkan juga bahwa makanan yang paling tidak bermutu adalah susu dan daging. Inti dari teori Shinya, setiap tubuh manusia diberi anugerah berupa enzim pangkal yang disebut juga enzim induk. Enzim ini merupakan asal-muasal dari 5000 jenis enzim yang ada di tubuh. Teorinya mengatakan, sebelum 5000 jenis enzim ini berspesifikasi dan mengontrol sebuah proses biologi, wujudnya adalah enzim pangkal. Enzim pangkal ini jumlahnya terbatas dan makanan yang buruk akan mengeluarkan enzim ini dalam jumlah yang besar. Gastroenterolog ini berpendapat bahwa mati adalah habisnya enzim di tempat produksinya. Untuk Anda yang menginginkan umur panjang, kuncinya dengan menghemat penggunaan enzim ini. Memakan makanan yang segar juga merupakan cara yang paling ampuh menghemat persediaan enzim ajaib ini. Buku yang pertamakali dicetak tahun 2008 ini juga menjelaskan, memakan makanan yang digoreng akan menguras persediaan enzim pangkal. Penulis juga merekomendasikan banyak memakan sayur, biji-bijian dan buah. Makanan yang berprotein tinggi harus dihindari. Konsumsi obat-obatan harus diminimalkan. Pada dasarnya semua obat itu asing bagi tubuh. Semua obat mengandung racun. Apabila ditemukan obat yang efeknya cepat muncul, maka semakin kuat pula racun yang dikandungnya. Buku ini berisi banyak informasi mengenai kebiasaan makan yang dianggap biasa. Namun sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup manusia. Dalam buku ini ditawarkan program penyembuhan sendiri (Self Healing Program), yang beberapa metodenya seperti yang dikemukan sebelumnya. Program penyembuhan ini dipraktekan pada pasiennya yang mengidap kanker. Hasilnya potensi munculnya kanker bisa ditekan sampai nol persen. Tak heran sejak pertamakali buku ini diluncurkan, dua juta kopi laris terjual. Faktafakta mencengangkan seputar kesehatan yang dihadirkan pada setiap bab, membuat pembaca ingin segera menyelesaikannya dan menemukan fakta itu. Pendekatan ilmiah dan rasional yang disuguhkan kepada pembaca membuat buku ini mudah dipahami, walaupun masih banyak terdapat istilah teknis kedokteran yang hanya dapat diketahui dengan membuka kamus. Jadi jangan merasa yakin dulu dengan pola hudup yang Anda jalani, sebelum membaca The Miracle of Enzyme. Fadli/Sin

Judul

: The Miracle of Enzyme: Self Healing Program Judul Asli : The Enzyme Factor Penulis : Hiromi Shinya, MD Penerjemah: Winny Prasetyowati Penerbit : Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka Edisi : Cetakan X, September 2009 Halaman : 304 Halaman

jejak langkah
Harumkan Almamater Lewat Isu Global Warming

NO 719 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JANUARI 2010

identitas

16

S

ENYUM Tergurat dari wajahnya yang ramah, seperti itulah kesan awal Hasdinar dari identitas, saat menemui Syifa Fauzia, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) angkatan 2007, Selasa (5/ 1). Tak salah jika pada edisi kali ini, rubrik jeklang identitas memuat kisah Syifa. Salah satu alasannya adalah gadis kelahiran Makassar ini telah dikenal melalui prestasinya di bidang karya tulis ilmiah. Sebut saja, prestasinya membawa nama Unhas dalam Pekan Ilmiah Nasional di Universitas Brawijaya, Jawa Tengah, Rabu hingga Sabtu (2225/7) tahun 2009. Syifa, sapaan akrabnya, tak menyangka akan menyabet juara tiga dalam kompetisi tersebut. Pasalnya, dara kelahiran 8 November 1989 ini harus bersaing dengan 1565 peserta dari 119 perguruan tinggi negeri yang ikut berkompetisi dalam ajang bergengsi itu. Walaupun awalnya merasa berat, sekertaris jenderal direksi FISIP research center ini tetap berusaha optimis, dengan memilih Issue Enviromental sebagai fokus dalam karya yang telah mengharumkan nama almamater kita. Anak dari pasangan H Abdul Rahim Lanti ST dan A Nurhayati A Ma ini mengaku, cinta dengan lingkungan. Tak perlu dipertanyakan lagi, mengapa ia mengangkat isu lingkungan dalam kompetisi yang diadakan di Malang. Sejak kecil sang ibunda telah menghantarkannya untuk menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Maklum saja ibu dari alumni SMA 1 Maros ini adalah Guru Ilmu Pengetahuan Alam di tingkat Sekolah Dasar.

Berbekal membaca berbagai referensi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing, akhirnya Finalis Olimpiade Ilmu Sosial Tingkat Nasional FISIP Universitas Indonesia tahun 2006 ini, bersama dua rekan seperjuangannya mendapatkan pencerahan untuk mengangkat tema isu Global warming dan menghubungkannya dengan masalah kedaulatan negara. Karya tulis itu kemudian ia beri judul Telaah Kritis Pencairan Es di Kutub dan Pengaruhnya Terhadap Kedaulatan Wilayah Negara Republik Indonesia. “Sebenarnya Unhas itu bagus dalam pengembangan ide, namun kita terbatas pada data. Jika ingin disetarakan dengan universitas lain kita perlu membenahi perpustakaan kita. Selain itu, butuh dosen yang mau meluangkan waktunya sebagai tempat kita bertanya,” ungkapnya sambil mengenang Pekan Ilmiah yang telah membawanya mengangkat nama kampus merah. Dunia karya tulis bukanlah hal baru yang digeluti oleh syifa di bangku perkuliahan. Sejak duduk di bangku SMA, berbagai prestasi telah berhasil diraihnya. Berkat ideide cemerlangnya, prestasi yang pernah diraihnya adalah sebagai Honda Best Student Tingkat Nasional, yang diselenggarakan oleh Astra Honda Motor pada Tahun 2006. Tak hanya itu, ia juga pernah tercatat sebagai lima Besar Finalis Symposium National Education Tingkat Nasional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Tahun 2007. Langkah Syifa yang terus mencoba untuk berprestasi ini, seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua.

Syifa Fauzia

IDENTITAS/ ILHAM A M

IDENTITAS/ ILHAM A M

Mengukir Prestasi di Usia Muda
PETANG itu, Rabu (7/1) Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti biasanya diramaikan para generasi muda berbakat yang sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Tak luput dari pandangan, tepat di bagian tengah lantai satu gedung itu, sekelompok orang berpakaian putih-putih bersabuk hitam, dengan lambang kepalan tangan pada sebelah sisi kanan seragamnya melakukan latihan yang menjadi aktivitas harian mereka. Hingga senja tiba, gerakan demi gerakan dilakukan disertai dengan suara teriakan yang lantang . Inilah sekelumit rutinitas yang dilakukan Aspar Sesasria, seorang karatean asal Fakultas Hukum Unhas yang bergelut di aliran karate-Go Ju Kai. Kegemaran berolahraga mengantarkannya melakoni kegiatan sebagai karatean hingga saat ini. Menjadi atlet tak pernah terpikir olehnya. Berawal saat ia iseng-iseng mengikuti jejak sang kakak yang kebetulan lebih dulu mengikuti karate di bidang Go Ju Kai, Aspar kerap ia disapa mengikuti kakaknya latihan. Meskipun kala itu ia baru kelas satu SMP, ia mengikuti latihan bersama tingkat SMA. Latihan dua kali seminggu diikutinya selama setahun dan memperoleh sabuk putih. “Waktu itu, sempat ikut, tapi pas kelas dua SMP sempat berhenti. Karena aktif di Pramuka, tapi kelas tiga SMP saya ikut lagi,” ujar mahasiswa angkatan 2008 ini. Kecintaannya terhadap dunia karate terus berlanjut hingga di bangku SMA. Tak ayal, keahlian yang ia peroleh semakin meningkat di bawah bimbingan Sensei Abdullah Lisa. Bahkan saat itu, ia sudah memperoleh kepercayaan untuk mengikuti kejuaraan PRA PORDA, PON SMA Se- Sulawesi Selatan (Sulsel), Komite’ -60 kg, Komite’ +60 kg dan masih banyak lagi segudang prestasi yang telah diukir meskipun ia masih duduk di bangku SMA. Walaupun masih tergolong muda, mahasiswa yang tiga Februari mendatang genap berusia 19 tahun ini telah beberapa kali memenangkan kejuaran tingkat lokal maupun nasional. Termasuk Juara I Kata’ Beregu Putra untuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Sunan Kalijaga Cup, Juara 1 beregu Putra Kejurnas Makassar dan Juara 1 beregu Putra Universitas Sebelas Maret Solo Cup. Dari beberapa kejuaraan yang diikutinya dengan prestasi gemilang, kenangan pahit juga sempat menghampirinya. Saat itu pertandingan Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) Palembang yang sejatinya ia ikuti sebagai wakil Sulsel, harus dibatalkan. Karena miss communication dengan pihak panitia. Kala itu Aspar sempat dihinggapi perasaan kecewa dan semangatnya memudar. “Biasanya orang stress karena kalah bertanding, tapi kalau saya stress karena gagal bertanding,” kenangnya

dengan wajah sedih. Namun pengagum Andrea Hirata ini menjadikan hal itu sebagai pembelajaran untuk sabar dan lebih giat berlatih agar bisa mengikuti kejuaraan berikutnya. Saat ini Aspar tengah giat berlatih untuk persiapan mengikuti Kejurnas yang akan diadakan di Yogyakarta, Maret 2010. Padatnya aktivitas harian yang harus dijalani pun tak menjadi penghambat latihan bagi mahasiswa dengan IPK 3,43 ini. Ia telah mempersiapkan trik khusus untuk mengatur waktu antara latihan dan akademiknya. “Latihan ya latihan, kuliah ya kuliah”, ungkap pria kelahiran Soppeng ini. “Kan dalam latihan kita diajarkan untuk disiplin dan selalu tepat waktu. Kalau tidak disiplin, tidak mungkin bisa berlatih dengan teratur. Banyak hal yang diajarkan dalam karate, termasuk juga dalam hal mengontrol emosi tentunya,” tambahnya sambil tersenyum. Motivasinya menjadi seorang atlet professional tak lepas dari kekagumannya terhadap seniornya, Faisal Burhanuddin yang berada di tingkatan jauh di atasnya dalam bidang karate. Decak kagum terhadap seniornya menjadikan putra pasangan Drs Pammusureng dan Hj A Pawiloi S Sos ini lebih termotivasi melakoni dunia karate. Dukungan besar dari pihak orang tua yang juga menggeluti dunia bela diri membuatnya terus berjuang, untuk mengharumkan nama Unhas dan Indonesia di bidang olahraga karate. Selain aktif di Karate-Do UKM Unhas, ia juga aktif di UKM Go Ju Kai Fakultas Hukum sebagai Tim Pelatih. Ke pada Ummul Masir dari identitas Ia mengaku akan tetap fokus menggeluti dunia karate, hingga ia mampu memperoleh cita-citanya meraih sabuk hitam dan sepuluh. Serta menjadi juara dunia suatu saat nanti.

IDENTITAS/ ILHAM A M

CMYK

Aspar Sesasria

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->