P. 1
Budidaya Walet

Budidaya Walet

|Views: 3,610|Likes:
Published by 531183
Penjelasan tentang hal-hal yang terjadi di dalam budidaya walet.
Penjelasan tentang hal-hal yang terjadi di dalam budidaya walet.

More info:

Published by: 531183 on Apr 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2012

pdf

text

original

Budi Daya “Burung Walet”

Sumber : http://duniawalet.com/index.php duniawalet.com

Sarang Walet di Tinggal Pergi
Haji Iwan, saat mengontrol gedung waletnya di lingkungan pasar Kota Palangkaraya, sedikit mengernyitkan dahi. Ia dengan serius mengamati beberapa sarang walet di atas rukonya. Jari telunjuknya menunjuk ke papan sirip. Lalu jarinya menunjuk ke lantai. Sesaat kemudian, jarinya ditempelkan di kening. Dahi haji muda ini berkerut. Matanya menatap saya. Bibirnya terkatup. Tapi saya paham, ia hendak bertanya tentang sesuatu. Tentang kasus sarang yang ditinggal pergi walet. Saya lalu menjelaskan secara rinci dan detail. Haji gaul ini mengangguk tanda mengerti. Iwan adalah anak ke 3 Bp H. Abdul Gafur, pemain walet number one di Palangkaraya. Karena prestasi kerja saya, di tahun 2005 lalu saya dan keluarga mendapat bonus umroh ke tanah suci bersama keluarganya. Sarang ditinggal pergi, adalah fenomena yang acap terjadi pada sebuah gedung walet. Burung walet yang hendak membikin sarang, umumnya akan melalui observasi terlebih dahulu. Walet akan memilih tempat yang menurutnya aman dan nyaman. Jika walet sudah memutuskan satu tempat tertentu, maka segera ia membangun sarangnya secara perlahan-lahan. Tetapi kenapa sarang yang telah dibangunnya ditinggal pergi ? Kadang kita melihat leletan liur walet di papan sirip atau fondasi sarang yang tidak diteruskan. Pada papan sirip lain kadang kita melihat juga sarang walet yang sudah jadi, tapi tak ada penghuninya. Ini bisa diketahui karena di bawahnya tidak terdapat kotoran walet. Atau jika ada kotoran, namun sudah kering. Saya menyebut sarang tersebut sebagai sarang tidak aktif. Ada sarangnya tak ada burungnya. Tandanya, tak ada kotoran di lantai. Ada beberapa penyebab, antara lain pertama: Papan sirip yang semula kering, namun karena terjadi kebocoran pada dak/ plafon, lalu rembesan airnya membasahi bidang papan sirip. Walet lalu akan pindah ke papan sirip lain. Sirip yang basah akan membuat daya rekat liur walet menjadi berkurang. Walet merasa tidak aman membangun sarang di tempat basah Walet kuatir kekuatan sarangnya tidak tahan lama dan mudah lepas. Kedua : Ada kemungkinan salah satu pasangan mati, sehingga walet harus mencari pasangan baru dan memilih tempat baru. Ketiga : Walet terganggu karena ada predator, misalnya tikus, tokek, cicak, atau kecoak. Walet kurang nyaman lagi, atau bahkan terancam jiwanya. Keempat, bisa juga karena faktor kelembapan ruangan/ gedung yang semula, misalnya 85 % karena air yang ada di kolam/ baknya kering, akhirnya kelembapan turun menjadi 50 %, sehingga ruangan menjadi kering. Walet merasa tak nyaman lagi membikin sarang di tempat kering. Air liurnya susah keluar dari tenggorokannya. Kelima, bisa juga karena twiter di papan sirip mati, atau sound system suara rekaman walet rusak sehingga tak ada bunyi suara walet. Pada gedung baru, bukankah walet masuk gedung karena ada suara rekaman walet? dan walet menginap karena ada suara elektronik itu ? Jika suara tak ada lagi, walet akan pindah ke gedung yang ada bunyi suara walet, meskipun hanya berupa rekaman. Masih ada penyebab lain sehingga walet pindah tempat bahkan pindah gedung lain meski sudah membikin sarang. Seperti dialami member saya di Subang-Jawa Barat. Yaitu, ia menyemprotkan cairan perangsang/ parfum walet di papan-papan sirip dan pada dinding gedung sesuai advis dari penjualnya. Tujuannya agar populasi walet bertambah banyak. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, sebagian waletnya kabur pindah ke gedung lain.

Sarang Burung Walet Berjamur
Kasus sarang berjamur sering kita temui, terutama pada gedung walet yang rata-rata sudah berusia 4 tahun ke atas dengan populasi walet yang lumayan padat. Saya sering menerima keluhan dari beberapa member yang mengalami kasus tersebut. Berbagai cara sudah dilakukan, namun sarang tetap berjamur. Warna sarang tidak putih lagi, melainkan kehijau-an. Harga sarang ini menjadi jatuh atau murah. Jika sarang berjamur dimasukkan ke dalam sebuah kotak bok, bercampur dengan sarang yang tak berjamur, maka dalam waktu sekitar 12 jam, sarang yang semula tidak berjamur, akan terkontaminasi dan ikut tertulari jamur Warna sarang yang semula putih, ikut kehijauan.. Jamur yang tumbuh di sarang walet memang menjadi problem tersendiri. Hari ini sarang berjamur dipanen, 1 bulan lagi, sarang baru mulai terkena jamur lagi. Demikian seterusnya. Capek deh. Apa saja penyebab sarang walet berjamur? Antara lain penyebabnya pertama : Banyaknya kotoran walet di lantai yang jarang dibersihkan, dimana populasi walet di gedung tersebut sangatlah padat. Jika kotoran walet jarang membersihkan, bisa dibayangkan, tiap hari akan selalu bertambah kotoran walet yang menumpuk di lantai. Gedung walet yang jarang dibersihkan pasti akan menimbulkan dampak negative. Jika kelembapan gedung tersebut mencapai 90 % , maka sudah pasti amoniak yang terkandung pada kotoran walet tersebut akan naik ke papan sirip. Di gedung walet yang kotorannya jarang dibersihkan, pasti udara di dalamnya akan kotor bahkan sangat kotor. Jika kita masuk ke dalam gedung seperti ini, haruslah pakai masker karena baunya yang sangat menyengat. Kadang mata kita juga terasa pedih. Jamur akan mudah tumbuh di tempat yang kotor dan lembab. Pada kotoran apa saja, baik itu kotoran ayam, sapi, kambing, babi, dll jika berada di tempat yang terlindung dengan kondisi lembab, pasti dalam waktu tidak lama akan tumbuh jamur. Tidak terkecuali di gedung walet yang kotor akan memudahkan jamur berkembang biak. Benih jamur yang tak kelihatan mata ini lama kelamaan akan naik ke papan sirip, ke dinding gedung, ke plafon, dan pasti akan mengenai sarang. Sarang walet adalah media yang penuh nutrisi yang membuat spora jamur cepat berkembang biak. Sebab kedua : Gedung walet yang minim atau tanpa fentilasi udara, akan menyebabkan udara dalam ruangan tidak dapat ber-sirkulasi secara baik. Sehingga udara yang kotor akibat debu-debu yang ditimbulkan oleh kotoran walet yang menumpuk, akan menyebabkan sarang walet terkena dampak kotornya. Tanda sarang walet terkena dampak, warna sarang kuning keruh. Jika tidak segera di antisipasi, kelak, sarang akan berjamur. Jadi, kesimpulanya, sarang berjamur diakibatkan oleh sebuah gedung walet yang populasinya waletnya sangat banyak, dimana kotoran walet jarang dibersihkan. Gedung tersebut juga sedikit atau bahkan tidak berfentilasi, sehingga udara kotor dalam gedung tidak bisa keluar. Faktor kelembapan gedung yang tinggi menjadi pendorong yang sangat kuat sehingga udara kotor terus naik ke langit-langit ruang/ plafon sehingga mempercepat tumbuhkan jamur di plafon-papan siripdan sarang. Bagaimana cara mengatasinya? Tidak lain dengan membersihkan secara rutin kotoran walet. Jika populasi walet dalam gedung tersebut sangat padat, dibersihkan tiap haripun tidak masalah, asal dilakukan sebelum jam 12 siang. Usahakan sirkulasi udara bisa berganti secara normal dengan cara menambah fentilasi udara. Atau jika tidak memungkinkan (karena gedung walet berupa ruko yang posisinya terjepit) bisa meng gunakan ex house fan. Cara ini dilakukan agar udara kotor terhisap keluar dan berganti dengan udara baru yang bersih.

Bersihkan pula dinding-papan sirip-plafon dari debu yang sudah lama menempel. Sebab di tempat tersebut ada potensi tumbuh jamur juga. Jika gedung walet bersih, udara jadi bersih, sarang jadi bersih. Karena udara sehat maka walet jadi sehat, anak-anak walet pun akan sehat. Hal itu jelas akan membuat pemilik/ pekerja yang sering masuk gedung walet juga jadi sehat. Dampak positif ini akan dirasakan pula oleh lingkungan sekitar yang ikut sehat. Sarang walet sebagai makanan kesehatan harus diproduksi, di gedung yang bersih oleh burung yang sehat. Sehingga yang mengkonsumsi-pun jadi sehat.

Sarang Burung Walet Berlubang
Kualitas dan keutuhan sarang walet pada masing-masing gedung sering tidak sama. Para pengepul sarang yang sudah menjadi langganan membeli sarang walet di sebuah tempat, pasti sudah hapal, ini sarang walet dari gedung milik si A dengan kualitas begini. Sementara sarang walet dari gedung si B, kualitasnya begini. Pengepul juga sudah hapal kualitas sarang walet gedung milik si C dengan kualitas sarang sangat bagus, maka ia membeli dengan harga yang tinggi pula. Salah satu penentu kualitas sarang walet adalah dari segi keutuhan sarang. Sarang yang berlubang, tentu harganya lebih murah. Sarang berlubang dikategorikan sarang tak utuh alias sarang rusak. Mengapa sarang walet bisa menjadi berlubang? Apakah mungkin dalam sebuah gedung, sarang semua berlubang? Apa penyebabnya sehingga sarang walet berlubang? Selain masalah rendahnya harga, apakah ada efek negative dari sarang yang berlubang? Bagaimana cara mengatasinya? Ada dua hal penyebab sarang menjadi berlubang, Yaitu pertama, karena kondisi gedung yang sangat rendah kelembapannya Kedua, karena terdapatnya kecoak dalam gedung yang memakan sarang dengan cara menggerogoti sarang hingga berlubang. Gedung walet yang kelembapannya rendah disebabkan karena kurangnya air dalam gedung sehingga menyebabkan tingkat kelembapan menjadi sangat kurang. Bisa pula karena ruangan yang sempit dan pendek sehingga suhu di dalam gedung menjadi tinggi dan kelembapan juga rendah. Banyaknya fentilasi udara pada dinding gedung juga bisa menyedot kelembapan dalam gedung menjadi “habis’, tersedot keluar. Kondisi ruangan yang kelembapannya rendah, membuat walet kesulitan mengeluarkan air liur. Sehingga sarang yang dibuat walet bentuknya kurang sempurna. Misalnya sarang berkerut, bentuk sarang bergelombang dll, pendeknya bentuk sarang menjadi tidak utuh. Lebih-lebih lagi yang membuat sarang adalah burung walet muda, dimana produksi liurnya masih sedikit. Hal itu bisa dipastikan, bentuk sarang menjadi tidak sempurna, dan pada bagian dasar sarang akan mudah retak dan berlubang, karena daging sarang yang tipis. Ini sangat rentan karena sarang mudah retak, mudah pecah. Apalagi pada bagian dasar sarang pasti akan sering terkena kaki burung saat bertumpu didalam sarang, maka akan cepat rapuh dan berlubang. Sebagian besar gedung walet terdapat kecoak.Entah dari mana datangnya. Tau-tau kita mendapati kecoak sudah berkembang biak. Apalagi jika kebersihan gedung tidak terawat, maka bisa dipastikan banyak kecoak. Sumber makanan kecoak adalah kotoran walet yang tersebar di lantai. Namun jika populasi kecoak banyak, maka sarang walet sering menjadi sasaran. Kecoak akan menggerogoti sarang walet, dimulai pada bagian yang tipis yang mudah dimakan. Kecoak makan sarang di siang hari saat burung walet meninggalkan sarangnya. Jika bagian dasar sarang yang menjadi sararan kecoak, maka bisa dipastikan sarang akan berlubang. Semakin hari, lubang akan semakin besar. Jika pada saat itu walet bertelur di sarang yang berlubang besar, maka ada kemungkinan telur akan jatuh. Ini artinya, keberadaan kecoak dalam gedung juga akan menghambat perkembangan populasi walet. Memang tidak semua sarang menjadi sasaran kecoak. Namun jika gedung sama sekali tidak pernah dirawat atau kotoran walet yang menumpuk di lantai tak pernah/ jarang dibersihkan, kemungkinan populasi kecoak akan berkembang sumbur. Ini bisa berakibat lebih fatal yakni, sebagian besar sarang walet bisa menjadi sasaran kecoak. Oleh karena itu, gedung walet harus bersih dari kotoran dan hama, termasuk harus bebas kecoak.

Warna Sarang Burung Walet Coklat Kardus
Kualitas sarang walet yang jelek antara lain di tentukan oleh warna sarang. Pernahkah anda melihat sarang walet berwarna coklat mirip warna kardus? Kasus ini terjadi disebabkan karena faktor apa? Karena faktor lokasikah ?, karena soal pakan waletkah? karena faktor kondisi gedung yang jorok dan kotor? Harga sarang walet yang kualitas jelek begini, bisa jatuh. Teman saya, sebut saja nama Mr X, yang gedung waletnya terletek di Pagatan-sebuah daerah terpencil di Kalimantan Tengah, pusing memikirkannya. “ Kenapa sarang waletku begini jelek? Dimana letak kesalahan sehingga sarang menjadi berwarna coklat…? “ keluhnya suatu hari melalui telepon. Padahal, sebelumnya kualitas sarang gedung teman saya ini sering diacungi jempol oleh para tengkulak Jakarta dan Surabaya. Bisakah kualitas sarang pulih seperti dulu, putih bersih? Kasus serupa juga di alami teman saya, sebut saja namanya Mr Y, di sumatera, tepatnya di Pulau Laut, 2 jam perjalanan dari Jambi melewati Muara Sabak. Hasil sarangnya sudah 3 tahun ini berwarna kuning kusam, sebagaian besar lainnya coklat kardus.Harganyapun anjlok. Para tengkulak sarang burung pasti akan mematok harga lebih rendah di banding sarang yang warnanya putih. Populasi burung walet di gedung milik Mr X maupun gedung Mr Y sudah mencapai puluhan ribu, dengan jumlah sarang mencapai sekitar 6000 an keeping. Mengapa terjadi sarang berwarna kotor? Pada prinsipnya, liur yang keluar dari paruh burung walet ini berwarna putih bening. Proses pembuatan sarang hingga selesai memakan waktu sekitar 2 bulan. Selama proses ini, liur walet akan tetap putih atau berwarna lain, tergantung dari pengaruh kebersihan udara gedung. Jika udara gedung bersih, maka sarang walet tetap putih bersih. Jika udaara gedung kotor maka, sareang walet akan “terkontaminasi” udara kotor itu sehingga sarang walet pun, akhirnya menjadi kotor, berwarna keruh. Jika udara tersebut sangat kotor, maka sarang akan berwarna coklat mirip warna kardus. Kenapa udara gedung bisa kotor? Jika terlanjur kotor, bagaimana caranya agar udara menjadi bersih? Saya akan menggambarkan kondisi dua gedung ini. Kondisi gedung Mr X sbb : Gedung ini terdiri 2 lantai dengan ukuran 12 m X 25 m. Tebal dinding gedung sekitar 50 cm ( 1 batu). Tinggi ruang 4 meter., dengan lainati keramik. Tata ruang bersekat kain. Seluruh dinding tak ada fentilasi udara. Satu-satunya sirkulasi udara melalui lubang pintu masuk burung yang terletak di lantai atas, dengan ukuran 60 Cm X 100 cm. Jumlahj burung puluhan ribu. Kotoran burung dibersihkan 1 bulan sekali. Kelembapan ruangan sangat tinggi karena menggunakan 4 buah mesin kabut. Sementara kondisi gedung Mr Y sbb. Gedung hanya 1 lantai dengan ukuran 16 m X 20 M. Dinding gedung tembok dengan ketebalan 40 cm. Tak ada ventilasi udara. Gedung Mr Y ini semula rumah tinggal. Karena dibangun di pinggir sungai maka desain rumah tinggal tersebut harus bertiang banyak dan sekitar 2 meter dari ketinggian air. Orang menyebutnya rumah panggung. Setelah di huni burung walet, rumah tinggal berdinding papan ini “dibungkus” tembok. Sebelumnya gedung walet ini berlantai papan, namun lama kelamaan papan lapuk. Kemudian Mr Y membongkar lantai papan, sekarang tinggal kerangkanya saja. Wal hasil kotoran burung jatuh langsung di tanah lumpur. Jika air sungai pasang, maka lantai penuh air , jika iar sungai surut, maka tanah akan kelihatan. Menurut anada bagaimana solusinya?

Budidaya Walet | Problem Terlambat Panen
Deny, teman saya yang tinggal di Sunter-Jakarta mengaku sering mengalami problem terlambat panen. Tiap 3 bulan, dia pulang ke kampung halamannya di Sampit-Kalimantan Tengah. Tujuannya selain menengok orang tua, juga memanen sarang walet. Namun dari ribuan sarang walet,Deny hanya dapat memanen tidak lebih 1 kilogram/ bulan. Harusnya, Deny bisa memanen 5 kg sarang walet. Tetapi kenapa hanya bisa panen 1 kg? Deny “rugi” 4 kg per-3 bulan. Dalam 1 tahun Mestinya dapat di panen 20 kg sarang walet, namun yang bisa diperoleh cuma 4 kg sarang. Per trahun Deni kehilangan kesempatan panen sarang sebanyak 16 kg. Jika di uangkan dengan harrga per 1 killogram sarang walet sekitar Rp 10. juta, maka Deni mengalamai kerugian sebanyak Rp 160 juta/ tahun. Itu semua terjadi karena Deny terlambat panen. Gedung walet Deny terletak di pusat kota Sampit. Ukurannya tidak seberapa besar, yakni 5 m X 20 M, 5 lantai. Bagian atas untuk sarang burung, dan bagian bawah untuk menjual pakaian-sepatu-tas, dll. Semula gedung tersebut merana, alias kosong selama 2 tahun. Kemudian Deny menghubungi salah seorang yang mengaku konsultan walet dari Jakarta dan sering iklan di majalah Trubus. Namun orang yang mengaku konsultan tersebut bukan jualan ilmu walet melainkan jualan produkproduk. Deny kecewa. Karena hasil kerja si konsultan itu, dalam1 tahun hanya terdapat 50 sarang walet yang menempati gedungnya. Akhirnya, saya diminta untuk mengelola gedung walet tersebut. Dan alhamdulillah, ribuan walet kini bersarang di dalamnya, hanya dalam waktu 2 tahun. Kasus ini juga dialami oleh Benny Raintama. Dua unit gedung walet yang terletak di Kalasey dan Winangun-Manado saya bangun sejak awal. Saat grand opening, pendeta masuk dalam gedung memerciki air ke lantai dan dinding gedung memberi pemberkatan. Pendeta berkhotbah dan saya (orang satu-satunya yang beragama islam diantara para tamu) hanya berdiri di samping Pendeta dan diam saja. Saya hanya konsultan yang paham tentang teknik budidaya walet. Sekarang produksinya sudah puluhan kilogram, meski baru berjalan sekitar 2 tahun. Beliau membangun gedung walet, memang untuk Brian dan Billy, 2 anak lelaki kesayangannya. Tapi Pak Benny orang super sibuk. Sesekali saja menengok gedung walet. Sama seperti Deny, pak Beny sering terlambat panen. Problem terlambat panen erat kaitannya dengan teknis panen yang dilakukan. Maksudnya, problem terlambat panen hanya berhubungan dengan teknik panen tetasan. Tidak berkaitan dengan teknis panen rampasan atau buang telur. Jika pemilik gedung itu, melakukan teknik panen rampasan atau teknik panen bvuang telur, maka tidak ada istilah terlambat panen. Mengapa Deni dan Benny melakukan teknik panen tetasan? Panen tetasan adalah panen sarang walet setelah anak walet bisa terbang. Teknik ini dilakukan untuk menjaga agar populasi walet terus berkembang tanpa gangguan. Teknik ini juga tidak mengakibatkan walet stress saat sarangnya di panen, atau sangat kecil tingkat stress walet di bandung teknik panen rampasan atau buang telur. Yang perlu diperhatikan, panen tetasan harus dilakukan secara rutin. Untuk populasi yang padat, panen bisa dilakukan 2 mingguan atau mingguan. Ya ! tiap minggu panen. Sambil panen juga sambil mengamati anak-anak walet yang siap terbang. Sambil panen juga sambil “patroli”. Jika anak walet sudah terbang, tidak segera di ambil sarangnya, maka induk walet akan segera bertelur kembali di sarang itu. Ini namanya terlambat panen.

Si Pencuri Sarang Burung Walet
Apakah anda pernah mengalami sarang walet di papan sirip hilang? Jika pernah, maka sama dengan pengalaman Hertanto. Warga Gabus Pati-Jawa Tengah ini pada bulan sebelumnya, sempat menghitung sarang di gedungnya yang baru 3 bulan operasional. Waktu di cek sudah terdapat 10 sarang walet yang sudah utuh. Tetapi saat di tengok lagi bulan berikutnya, 9 sarangnya hilang, tak berbekas. Hertanto kaget. Hanya tersisa 1 sarang. Itupun sudah tidak utuh lagi. Sarang yang hilang itu benar-benar tak ada bekasnya. Bahkan sisa-sisa fondasi sarang di papan siripnyapun tak kelihatan lagi.. Aneh bukan? Apakah kecoak yang memakan sarang? Apakah tokek? Apakah tikus?. Hertanto hanya bertanya. Belum mengerti jawabannya. Kecurigaan akibat dicuri maling sama sekali tidak ada. Maling akan mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas kerjanya. Gedung Hertanto kecil, berada di belakang rumah yang padat warga. Produksi sarang waletnya belum ada. Maling akan berpikir tujuh kali untuk masuk gedung ini. Siapa pencuri sarang? Apakah tokek? Gedung ini sudah diantisipasi dengan ranjau anti tokek yang dipasang di sekeliling lubang masuk. Hertanto bikin ranjau dengan cara menggunting plat seng yang dibentuk runcing tajam sehingga tokek tak mungkin masuk. Semua fentilasi lubang angin juga sudah tertutup ram kawat. Tak mungkin dimasuki tokek. Dan lagi, tokek tak makan sarang walet. Tokek dewasa kadang makan telur walet. Jadi siapa si pencuri sarang? Kecoak? Binatang ini memang sering kita jumpai dalam gedung walet. Dia bersembunyi dan berbiak di sela-sela papan sirip. Kecoak makan kotoran walet di lantai. Namun juga menggerogoti sarang walet. Namun kecoak tidak menghabiskan seluruh sarang walet. Sarang walet yang dimakan kecoak, ialah sarang yang tipis, kering, mudah retak. Kecoak tak mampu menghabiskan seluruh sarang, apalagi pada bagian kaki sarang yang tebal dan keras. Kecoak hanya menggerogoti sebagian sarang saja. Sarang yang berkadar air, karena tingkat kelembapan yang cukup tinggi, misalnya kelembapan lebih dari 90 % tidak akan dimakan kecoak. Sementara gedung Hertanto ini sangat lembab. Sarangnya jika dipegang lentur seperti karet. Apakah tikus makan sarang? Jawabnya tidak. Tikus makan telur, makan piyik, dan makan induk walet. Jika ada tikus dalam gedung, maka sangat berbahaya. Tikus bisa naik lewat sudut dinding, dan berjalan merayap di papan sirip. Tikus akan menyergap induk walet dan juga menghabisi piyik dan telur. Tikus tidak makan sarang walet. Lalu siapa sebenarnya si pencuri sarang? Mungkinkah cicak? Hartanto memang sudah menutup fentilasi udara dengan ram kawat. Namun lubang kawat yang hanya 1 cm itu dengan mudah ditembus cicak. Bagaimana cara cicak memakan sarang walet? Semula memang kita ragu-ragu menuduh cicak sebagai biang keladi hilangnya 9 sarang. Namun ketika Hertanto memasang camera infra red, ternyata memang terbukti bahwa cicaklah si pencuri sarang itu. Cicak memakan sarang siang hari saat walet terbang keluar. Di camera terlihat 6 ekor cicak mengerubungi sarang. Sebagian diantaranya tampak menjilat-jilat. Gedung walet Hertanto memang sangat lembab sehingga sarangnya lembek. Ini memudahkan cicak memakan sarang walet. Menurut catatan saya, 1 sarang dihabiskan oleh 6 cicak dalam waktu 2 hari. Saya jadi teringat sewaktu masa kecil di rumah nenek. Cicak juga mencuri butiran nasi di piring lalu berlari bersembunyi di balik meja makan.

Panen Sarang Burung Walet Cuci Gudang
Apa yang dimaksud panen cuci gudang? Apa manfaatnya? Kapan waktu yang tepat untuk panen cara ini ? Apakah manfaat ekonomi dengan dilakukan panen seperti ini? Saya harus menjelaskan terlebih dulu pengertian panen sarang cuci gudang. Merujuk pengertian “cuci gudang” pada sebuah toko besar misalnya, yaitu mengeluarkan semua barang-barang stok lama yang ada di dalam gudang. Barang stok lama perlu dikeluarkan karena sudah t “out of date” lagi. Barang stok lama sudah kedaluarsa tanggal batas pakainya alias sudah ex periode. Maka panen sarang cuci gudang yang saya maksudkan tidak jauh dari pengertian di atas, yaitu mengeluarkan sarang walet “stok lama” yang sudah berwarna kuning keruh, yang dagingnya tebal bertumpuk-tumpuk karena dilapis berulang kali sebab digunakan berulang kali pula. Sarang lama ini disebut pula sarang “bakpao”. Meskipun bentuknya tebal, namun harganya murah. Dalam budidaya walet, pada tahun pertama & tahun kedua sebaiknya tidak dilakukan penan sarang. Ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada walet untuk berkembang biak memperbanyak populasi dulu. Saya sering menjelaskan : pada tahun pertama & tahun kedua, sebaiknya kita “memproduksi burung” terlebih dulu. Baru pada tahun berikutnya, “memproduksi sarang”. Jika pada tahun pertama & tahun kedua, tahapan “memproduksi burung” bisa tercapai, yakni perkembangan populasi walet berkembang secara bagus, maka jumlah burung secara otomatis tentu akan menjadi banyak. Maka otomatis pula pada tahun berikutnya, populasi burung yang sangat banyak itu pasti akan membuat sarang. Dari alasan inilah, mengapa pada tahun pertama dan tahun kedua, sebaiknya tidak dilakukan panen sarang walet, agar walet secara bebas berkembang biak tanpa mengalami gangguan karena dipanen sarangnya. Pada tahun ketiga, sudah saatnya dilakukan panen cuci gudang, Yaitu secara bertahap memanen seluruh sarang walet. Tahapan panen ini sebagai berikut : Misalnya tanggal 1 Juni dilakukan panen cuci gudang. Teknisnya 1 ) Petiklah sarang yang kosong yang sudah dipakai (panen tetasan). Tandanya, bagian dalam sarang sudah licin. Ini bisa dirasa/ diraba dengan jari tangan. 2) Petik pula sarang yang ada 2 telur (panen buang telur). Sarang yang ada piyiknya tinggalkan jangan di petik dulu. Demikian pula sarang yang baru ada 1 telur, jangan di petik. Biarkan dulu tunggu hingga sarang sudah ada 2 telur. Sarang yang baru dibuat walet jangan di petik. Teknis ini tidak merekomendasikan teknik panen rampasan. Lakukan hal yang sama 10 hari kemudian, yaitu tgl 10 Juni. Kemudian panen berikutnya dilakukan pada tgl 20 Juni dan 30 Juni. Dari penjelasan di atas, dapat di simpulkan, panen dilakukan selama 1 bulan penuh, yaitu per-10 hari dalam 1 bulan. Yaitu tgl 1, tgl 10, tgl 20 dan tgl 30 Juni. Jika pada tgl 30 Juni ini masih ada sisa sarang, biarkan saja. Panen cuci gudang ini dilakukan pada bulan-bulan kemarau, dimana kualitas telur kurang baik. Pada bulan kemarau ini, faktor makanan relative sedikit dan ini amat berpengaruh pada kualiatas reproduksi walet. Lakukan panen sarang paling lama 3 jam dalam 1 hari, agar walet tidak terlama lama “menunggu di depan pintu”. Jika terlalu lama walet bisa marah, karena merasa terganggu cukup lama. Secara ekonomi panen cuci gudang ini akan “menguntungkan” karena jumlah panenan akan lumayan banyak.

Sarang Walet Sudut Ganda
Burung walet pada umumnya membikin sarang secara rapi di papan sirip. Walet akan membangun sarang dengan menjaga jarak sekitar 5 sampai 10 cm dari sarang walet lain. Masing-masing walet memiliki kapling. Namun lain halnya jika populkasi walet di sebuah gedung sangat padat. Pasti akan terjadi rebutan kapling. Pernahkah anda menemui sarang walet bersusun dua.? Sarang bersusun disebut juga sarang ganda, atau sarang bertumpuk dua di mana sarang yang di bagian bawah tak berfungsi lagi karena terhalang oleh sarang di atasnya.Umumnya kasus ini terjadi pada sarang sudut. Dimana walet membikin sarang baru dengan cara menumpang pada sarang lama yang di bawahnya. Padahal sarang lama tersebut sudah ada 2 butir telur. Jadi, bentuknya lucu. Di bagian tengahnya ada 2 butir telur yang sudah mati embrionya. Dua sarang sudut bertumpuk menjadi satu. Kasus ini memang merugikan pemilik gedung. Sebab nilai jualnya relative murah. Ada beberapa hal yang bisa dijelaskan atas kasus sarang ganda ini. Pertama : populasi walet di gedung tersebut sudah padat atau sangat padat, sehingga walet berebut tempat bersarang. Papan sirip yang tersedia sudah terisi penuh oleh sarang. Tempat bersarang sudah habis. Padahal populasi walet terus bertambah. Sementara pemilik gedung lambat mengantisipasi dengan menyediakan ruang baru. Maka di ruang itu populasi walet padat sekali. Akhirnya yang kuat mengusir yang lemah. Kedua : walet yang kuat merebut sarang yang sudah ditempati oleh walet yang lemah. Biarpun sarang walet lemah ini sudah ada telurnya, namun walet kuat tak peduli. Akhirnya walet yang lemah mengalah, mencari tempat lain. Karena papan sirip sudah penuh sarang, walet lemah akan membangun sarangnya di dinding tembok bawah papan siri atau. di balok semen. Kasus berebut sarang, juga terjadi pada gedung walet di Jawa, di Bali, Sulawesi dan daerah dimana populasi walet dan seriti berkembang. Di daerah tersebut satu gedung berisi dua jenis burung, yaitu seriti dan walet. Secara fisik postur tubuh burung seriti lebih kecil dibanding walet. Selain itu kemampuan produksi liurnya juga sedikit, sekitar 15 % dibanding walet. Oleh karena jumlah liurnya sedikit, maka burung seriti membikin sarangnya menggunakan rumput kering, daun pinus, daun cemara. Kadang seriti membikin sarang dari tali rafia, plastik, kapuk, lumut, dan lain-lain. Perkembang-biakan burung walet di gedung yang sudah ada burung seritinya, dilakukan dengan cara putar telur, yaitu mengganti telur seriti dengan telur walet. Burung seriti dimanfaatkan sebagai induk angkat yang mengerami telur walet dan membesarkan anak-anak walet hingga bisa terbang. Namun apa yang terjadi? Fisik burung seriti yang kecil, sering jadi “bulan-bulanan” burung walet yang mulai tumbuh dewasa. Memasuki masa reproduksi walet akan meminjam paksa sarang seriti tempat dimana dia dibesarkan. Seriti dipaksa pergi. Sarang seriti akan ditebalkan dengan liur walet muda itu. Karena fisik walet lebih kuat, ia dengan gampang mengusir seriti. Oleh karena itu, kita harus mengantisipasinya. Jika gedung tersebut memang sudah padat, harus dibuatkan ruangan baru agar populasi walet menyebar tidak berjubel. Pada gedung yang populasi seriti dan walet padat, juga perlu ruang baru. Seriti lebih cenderung di suhu yang tinggi, dengan ruangan yang kelembapannya rendah dan cahaya yang terang atau remang. Biarpun harga sarang seriti murah, namun burung ini ada manfaatnya juga. Sebagai mesin tetas penambah populasi walet. Maka jangan sampai burung ini pindah ke gedung lain.

Walet pulang malam
Jam 17.30 WIB pertengahan Juli tahun lalu, HP saya berdering. Edison telpon dari belakang gedung waletnya yang terletak di Muara Bulian. “Mohon maaf pak Arief, mau bertanya, kenapa sampai jam segini walet saya belum pulang?”, kata Edison terputus-putus karena sinyal kurang bagus. Edison Pemilik Toko Amazon-Jambi ini mengamati secara rutin perkembangan gedung waletnya, yang sejak dioperasionalkan 17 Agustus 2008. Pemuda berambut cepak ini pantas tegang. Sebab, bukankah ini bulan Desember? Bukankah bulan musim hujan? Bukankkah banyak serangga? Kenapa walet pulang malam? Muara Bulian adalah salah satu sentra walet yang mulai berkembang. Kota kecil ini dapat di tempuh 1 jam perjalanan dari Jambi. Beberapa gedung walet mulai tumbuh. Ruko-ruko di jalur JambiPadang ini bagian atasnya di manfaatkan untuk budidaya walet. Peraturan daerah setempat mengatur, agar pemandangan kota tidak mati, maka wajah gedung walet harus terlihat cantik. Bujang adalah tangan kanan Edison. Anak muda usia 25 tahun ini sehari-hari sebagai penjaga dan merawat gedung walet. Tugas rutin Bujang adalah menghitung tiap pagi dimulai sekitar jam 5 subuh. Bujang akan mencatat berapa jumlah burung yang keluar gedung. Burung yang keluar pagi hari itulah yang semalam menginap Sejak mencari lokasi untuk membangun gedung walet, Edison memang sudah meminta kesediaan saya sebagai konsultan. Desain gedungnya saya gambar dengan cermat. Jika suatu hari anda melintas di Muara Bulian, gedung 3 lantai bercat hijau muda beratap genteng kodok, berdiri megah dan anggun di pinggir kota. Pada bulan Desember 2008 usia gedung baru berumur 5 bulan, namun sudah sekitar 170 ekor walet yang menginap. Dengan counter hand di genggaman, tiap subuh Bujang sudah stand bay focus memperhatikan pintu burung., untuk menghitung satu per satu burung walet yang keluar. Bujang mencatatnya di kalender, tanggal 10, burung yang menginap sekian, tanggal 11 yang menginap sekian, dan seterusnya.. Data Bujang sangat akurat. Saya di Semarang secara rutin mendapat laporan kemajuan via SMS. Maka, ketika jam 17.30 sore burung walet nya belum pulang, Edison sangat gelisah. Bujangpun ikut risau. Kemana waletnya? Hilang ? Kabur? Tak mau pulang? Atau masuk ke gedung tetangga? Edison berulang kali melihat jam tangannya. Jarum jam terus bergerak. Jam 18.30 burung mulai pulang. Menurut Edison jumlahnya tidak banyak. Burung masuk ke gedung tapi tidak seperti biasanya. Tidak ramai. Tapi masuk satu demi satu. Edison tetap berdiri. Kaki sudah mulai pegal. Leher juga ikut tegang. Esok subuh Bujang kembali menghitung berapa yang menginap. Alhamdulillah tetap utuh, bahkan tambah 5 ekor. Walet pulang malam karena faktor cuaca. Meskipun bulan Desember, tidak berarti serangga berlimpah ruah. Pada puncak bulan hujan ini justru keberadaan serangga jumlahnya menipis. Sebab jika hujan deras terus mengguyur, bisakah serangga hidup dan berbiak? Puncak bulan hujan sangat tidak menguntungkan bagi walet karena serangga jumlahnya relative sangat sedikit. Karena jumlah serangga sedikit, maka walet harus tetap mencari makan biarpun hari mulai petang. Sebagian walet sudah merasa kenyang lalu mulai pulang. Sebagian yang lain karena merasa belum kenyang tetap meneruskan aktivitasnya berburu serangga sampai limit time. Akhirnya sampai di gedung, matahari sudah lama terbenam.

Satu sarang walet terdapat 3 telur walet
Pernahkah anda menjumpai di gedung walet anda, 1 sarang berisi 3 butir telur ? Benarkah seekor induk walet bertelur hingga 3 butir? Usia berapa walet yang sangat produktif itu? Apakah karena sumber pakan di daerah tersebut sangat melimpah sehingga seekor induk walet yang umumnya bertelur hanya sepasang ( 2 butir), mampu bertelur hingga 3 butir ? Atau, 3 butir telur itu milik dua induk walet? Dengan kata lain satu induk memiliki 2 butir telur dan 1 induk lagi hanya memiliki 1 butir telur. Mana yang benar? Namun yang pasti 1 sarang walet tersebut milik sepasang walet. Artinya tidak mungkin 2 induk walet ( 2 pasang walet ) membangun secara kongsian sebuah sarang. Sebenarnya fenomena 1 sarang walet berisi 3 butir telur, sering terjadi, terutama di gedung walet yang sudah produktif dengan pola panen rampasan.. Panen rampasan yaitu, setelah walet selesai membangun sarangnya, pemilik gedung segera merampas sarangnya. Padahal tidak lama kemudian walet akan meletakkan telurnya di sarang itu. Wal hasil, walet kehilangan sarang, sementara di perutnya sudah ada telur yang siap keluar. Kenapa panen rampasan? Karena si pemilik gedung mengejar untung. Harga sarang panen rampasan memang lebih tinggi, karena sarang relative masih utuh dan bersih, karena belum dipakai induk untuk mengeram dan mengasuh anaknya. Jika demikian lalu bagaimana nasib induk walet yang sarangnya dirampas? Ada 2 kemungkinan yang dilakukan induk walet itu. Pertama, induk akan membuang telur itu begitu saja, sehingga kadang kita jumpai telur pecah di lantai. Kedua, induk akan mencari sarang kosong maupun sarang yang sudah isi untuk menitipkan telurnya. Maka kemudian akan kita jumpai 1 sarang berisi 3 telur walet. Si induk penitip telur ini, hanya sekedar menitipkan telurnya kemudian akan membuat sarang kembali dan selanjutnya ia akan bertelur lagi. Siapa yang mengerami 3 telur walet, tentu si pemilik sarang asli. Apakah 3 butir telur tersebut akan menetas semua? Jawabannya belum tentu. Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, jika induk si pemilik sarang bisa menerima kehadiran telur titipan itu, maka 3 telur tersebut akan dierami hingga menetas. Itupun jika usia telur sama. Jika telur titipan itu usianya lebih muda, maka ketika 2 butir telur sudah menetas, telur titipan yang terlambat menetas ini akan busuk (karena tak lagi dierami sehingga embrio mati sebelum menetas) akhirnya dibuang keluar sarang. Kemungkinan kedua, begitu induk mengetahui ada telur titipan, segera induk walet akan melempar telur titipan itu ke luar sarangnya. Jika 3 butir telur itu menetas semua, apakah mungkin 3 ekor walet itu akan selamat sampai bisa terbang? Hal itu bisa saja terjadi. Ada beberapa syarat, yaitu pertama Induk menerima kehadiran telur titipan itu. Kedua, ukuran sarang walet agak besar karena dibangun oleh induk dewasa sehingga cukup untuk menampung 3 piyik walet meskipun berdesakan. Ketiga. Usia induk sudah dewasa, sehingga panas tubuhnya mampu mengerami 3 butir telur sekaligus. Ke empat, lokasi daerah tersebut sangat berlimpah sumber pakannya, sehingga induk mampu mensuplay makanan untuk 3 ekor piyik walet. Dari fenomena ini, apakah anda kemudian berpikir bahwa agar populasi walet di gedung anda berkembang cepat, lantas anda akan menyiapkan sarang imitasi ukuran jumbo, untuk ekesperimen dengan di isi 3 butir telur walet ?

Rekaman Suara Burung Walet
Budidaya burung walet tak bisa dipisahkan dengan penggunaan rekaman suara walet. Baik yang direkam menggunakan compak disc/ CD atau memory card/ MMC. Suara rekaman ini sangat pentingsebagai syarat mutlak dalam memanggil & membudidayakan walet. Bahkan penggunaan suara rekaman itu berlangsung long time atau seterusnya. Mengapa demikian? Sebab dengan menggunakan suara rekaman walet, burung-burung walet lain akan terpancing ke gedung kita, selain juga berfungsi untuk mencegah burung kita tidak tersedot ke gedung lain. Apakah sulit membikin suara rekaman walet? Jawabnya sangat mudah. Bukankah modalnya hanya membeli CD suara walet di toko, didukung memiliki keterampilan mengoperasionalkan komputer, kemudian cara kerjanya cuma memotong suara dan menyambung suara yang ada di CD walet yang telah dibeli itu. Jadilah CD suara walet yang baru ! CD suara walet ‘jadi-jadian’. CD suara walet bajakan. CD semacam ini banyak beredar di pasaran. Tapi benarkah sesederhana itu? Tentu tidak ! Untuk menciptakan CD suara walet yang berkualitas dan memiliki daya sedot yang tinggi, haruslah memahami arti dan makna bahasa walet. Walet memiliki suara yang sangat variatif yang ditentukan oleh faktor umur, serta faktor yang mempengaruhi suasana psikologis walet saat itu. Sebagai peneliti sejak pertengahan tahun 1999, saya mencatat tidak kurang dari 99 suara yang dikeluarkan oleh burung berliur mahal ini.Variasi suaranya ternyata lebih banyak walet dibanding burung ocehan. Sebagai contoh, pada suara anak/ piyik walet yang sedang lapar menunggu kedatangan induknya, akan terdengar bunyi suara yiik...yiik..yiik.. Semakin lapar piyik walet, akan semakin cepat dan keras nada & iramanya. Begitu pula dari segi faktor umur, tentu ada perbedaan volume suara piyik. Saya mencatat ada 9 suara variatif yang berbeda-beda sejak walet umur ’balita’ sampai menjelang terbang. Piyik walet yang baru berumur 10 hari ini seperti terlihat difoto, suaranya pasti berbeda dengan piyik yang umur 25 hari.

Sebab dan Solusi Gedung Walet Kosong
Mengapa sebuah gedung walet yang dibangun dengan biaya ratusan juta, bahkan lebih, kondisinya kosong tanpa walet? Apakah survey awal pemilihan lokasi tidak dilakukan secara cermat? Apakah posisi gedung ada di “belakang”? Sehingga, ibarat orang jualan, pembelinya selalu membeli barang di toko depan? Apakah ‘timing’ pembangunan gedung walet di sentra itu tidak lagi tepat atau sudah terlambat? Apakah sentra walet memang telah padat sehingga kompetisinya sangat ketat? Atau desain bangunan yang salah? Jika kita amati di daerah sentra walet, baik di kota maupun di daerah, dari puluhan bahkan ratusan gedung walet, gedung yang “jaya” dapat dihitung secara prosentase yaitu hanya 10 %. Gedung walet yang agak produktif sekitar 30 %. Gedung yang jumlah sarang sedikit, sekitar 30 %. Sisanya yang 30 % gedung walet kosong. Fakta ini hampir terjadi di semua sentra walet. Banyak gedung walet yang salah desain, sehingga akhirnya walet tak mau tinggal di dalamnya. Kesalahan bisa terjadi antara lain : ukuran pintu masuk yang sempit. Ada juga pintu masuk yang dipasang teralis besi. Tujuannya sama :agar maling tidak bisa masuk ke gedung. Untuk mencuri apa maling masuk gedung walet yang masih kosong? Buku ini membahas secara tuntas dan mencari penyebab gedung walet gagal alias tak ada walet yang mau tinggal dan berkembang biak di gedung itu. Bagaimana solusinya? Pembahasan dalam buku ini, meliputi misalnya mengenai tebal - tipisnya dinding bangunan. Semakin tebal dinding gedung akan semakin bagus, karena panas dari luar tidak tembus sampai dalam gedung. Namun jika dinding gedung tipis sekitar 15 cm/ setengah batu, maka bagaimana solusi mengatasi panas matahari? Yaitu, dengan mengecat dinding luar gedung dengan cat warna putih. Warna putih akan menolak panas. Sebab gedung kosong bisa pula karena akses masuk walet agak sulit, misalnya karena faktor pintu walet sangat sempit sekitar ukuran lebar 15 cm, panjang 25 cm. Sebagian orang masih beranggapan bahwa gedung walet harus gelap. Jika pintu masuk burung dibuat lebar, maka faktor cahaya banyak masuk ruangan. Apalagi jika arah pintu masuk menghadap ke barat, maka di sore hari ruangan gedung menjadi agak terang. Karena alasan inilah maka pintu masuk burung dibuat sempit untuk menekan faktor cahaya. Namun akibatnya justru merugikan, yaitu burung walet sulit masuk gedung. Akhirnya walet akan mencari gedung lain yang lebih mudah akses masuknya. Untuk mengatasi hal ini, ukuran pintu masuk walet sebaiknya dibuat sekitar lebar 40 cm panjang 60 cm. Cahaya yang masuk melalui pintu burung harus diatur dengan cara melakukan penyekatan ruangan, sebagian ruang di- sekat full sebagian yang lain di- sekat semu.

Meningkatkan Populasi dan Produktifitas Walet
Suatu saat di sore hari ada sms masuk ke hp saya. Isinya sebuah pertanyaan – lebih tepatnya keluhan : “Bagaimana cara meningkatkan populasi walet ? Padahal segala cara sudah saya coba. Sampai sekarang bangunan sudah berjalan 4 tahun, namun isinya hanya terdapat 50 sarang walet. Bahkan karena buntu pikiran, saya juga pernah minta jasa paranormal. Namun populasi walet tak mau bertambah juga. Belakangan saya baru ternyata si paranormal itu juga punya gedung walet, namun juga tidak berkembang “. Populasi walet yang tidak berkembang, harus dicari sumber errornya. Jika masalahnya karena burung walet pindah/ migrasi ke daerah lain disebabkan sudah tidak hijau-subur daerah itu, sulit rasanya melawan alam. Jika gedung tersebut salah pilih lokasi, sehingga hanya sedikit sekali walet yang melintas, berat juga mengatasinya. Jika di lokasi itu banyak burung waletnya, namun yang bersarang dalam gedung cuma sedikit dan tidak berkembang, pasti ada sebab internal yang harus benahi. Ibaratnya gedung tersebut sakit selama 4 tahun. Harus di cek-periksa agar diketahui penyakitnya; bisa karena salah lubang masuk, salah sekat, salah tata twiter, salah tata cahaya, salah void, atau salah konsultan ! Mengapa populasi walet pada kasus di atas sangat lambat atau bahkan jalan di tempat? Kemanakah anak-anak walet hasil penetasan selama 4 tahun ini? Apakah anak walet kurang sehat sehingga mati di tengah jalan? Atau anak-anak walet gagal pulang? Apakah walet-walet muda gagal masuk ke gedung karena lubang pintunya yang sangat sempit? Atau karena kondisi suhu dalam gedung itu yang kurang sesuai dengan habitat walet? Atau posisi gedung yang relative sulit (misalnya gedung pendek, atau terjepit di tengah gedung walet kanan kiri yang relative besar dan jangkung), sehingga saat pulang sore hari, walet-walet muda “kehilangan rumah asalnya?” Masa kritis atau masa genting yang dialami walet muda adalah saat pertama kali keluar gedung dan saat pertama kali pulang masuk ke gedung asalnya. Jika ini berhasil, maka masa genting ini dapat terlewati dengan baik. Namun jika gagal, maka masa kritis berubah menjadi ‘gawat darurat’. Jika gagal pulang ini terus terjadi, bisa dipastikan perkembangan populasi walet akan stagnan. Kasus ini terjadi mungkin karena gedung walet tersebut kalah bersaing dengan gedung walet di sekitarnya. Mungkin karena gedung kalah besar, kalah tinggi, kalah posisi, kalah fasilitas, kalah suara, dll. Cara untuk meningkatkan populasi walet, harus dilakukan rehab gedung untuk menyesuaikan dengan lingkungan gedung walet di sekitarnya. Dan, jika anda sudah berhasil, undanglah paranormal itu sekali lagi. Mungkin anda segera diangkat jadi suhunya.

Mencegah dan Mengatasi Walet Kabur
Buku ini juga merupakan kumpulan jawaban atas berbagai macam pertanyaan yang diajukan selama ini. Mengapa walet kabur dari sebuah gedung? Padahal koloni walet ini sudah bertahun-tahun berbiak dengan baik. Ada seorang ibu dari Gresik mengeluhkan populasi waletnya dari tahun ke tahun terus menurun. Bayangkan, menurut informasi dari ibu Gresik itu, semula total produksi sarang waletnya mencapai 30 kg. Namun sekarang tinggal 5 kg. Kenapa bisa demikian? Penyebab walet kabur dari sebuah gedung, bisa disebabkan faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain, adanya predator, teknis panen salah, papan sirip yang lapuk dll, namun ini masih bisa dicegah atau masih bisa ditanggulangi. Faktor eksternal, misalnya, terjadinya kebakaran yang merembet ke gedung walet atau bencana gempa bumi. Akhir oktober 2008 lalu saya sengaja menikmati perjalanan darat dari Padang ke Bengkulu. Beberapa gedung walet di bangun antara lain di Painan, Kapas, Air Haji, Putri Hijau. Saat masuk Muko-Muko saya melihat beberapa gedung walet retak dan sebagian lain rusak akibat gempa bumi yang terjadi belum lama ini. Faktor ini diluar kemampuan manusia. Di Banda Aceh dan sekitarnya, bencana tsunami telah menyebakan rusaknya bangunan walet sehingga walet harus pindah gedung lain. Teman saya yang gedung waletnya di Jl. Tengku UmarBanda Aceh ketiban rejeki. Dalam waktu 1 bulan usai tsunami, mendadak populasi waletnya meningkat tajam. Faktor eksternal yang saya ceritakan di atas adalah faktor eksternal sesaat. Namun ada faktor eksternal yang akibatnya sangat buruk dan mengancam perkembangan populasi walet dalam waktu yang panjang, bahkan selamanya. Gedung yang semula produktif, lambat laun ditinggal pergi penghuninya. Kemana waletnya? Jawabnya, regenerasi walet tak berjalan secara baik. Walet tua akhirnya mati. Walet muda yang tersisa pindah ke daerah lain. Sebab pokok adalah hilangnya daerah pakan, mungkin karena industrialisasi, menyempitnya areal persawahan, gersangnya hutan, dll. Menurut catatan kami, daerah yang mulai ditinggalkan walet, antara lain wilayah pantura pulau Jawa. Tak sedikit gedung walet di pantura yang merosot produksinya. Populasi walet dari tahun ke tahun telah berpindah ke daerah hijau - daerah pakan. Atas kondisi ini, maka muncul ide membuat pakan untuk walet, berupa serangga kecil yang dihasilkan oleh serbuk olahan. Tetapi apakah itu bisa mengatasi masalah? Cukupkah pakan tersebut untuk memenuhi kebutuhan walet sehari-hari? Beberapa teman yang mencoba produk tersebut banyak yang mengeluh. Sebagian cuma bisa mengangkat kedua bahunya. Lagi-lagi teman saya Asiung berkomentar : Bo Cai…

Sumber : http://duniawalet.com/index.php duniawalet.com

KASUS-KASUS
1. Satu sarang terdapat 3 telur walet 2. Walet pulang malam 3. Sarang bersusun 4. Sarang hilang 5. Problema selalu terlambat panen 6. Warna sarang coklat kardus 7. Sarang berlubang 8. Panen sarang cuci gudang 9. Sarang berjamur 10. sarang ditinggal pergi 11. Walet keluar malam 12. Walet bikin sarang malam atau siang ? 13. Telur banyak jatuh 14. Piyik walet cuma 1 ekor 15. Banyak piyik mati muda jatuh 16. Kaki piyik terjepit sarang 17. Saat tepat panen 18. Bahaya panen rampasan 19. Panen pakai lampu terang 20. Bahaya panen sore 21. Gedung walet harus selalu bersih 22. Gedung panas walet oke 23. Gdg walet paket hemat 24. Rasionalisasi gedung besar berlantai 10 25. Tinggi ruang minimal 26. Gedung walet berlantai pasir 27. Gedung walet berlantai miring 28. Gedung walet berlantai papan 29. Pentingnya sarang imitasi 30. Pentingnya landasan sarang 31. Pentingnya mesin pelembab 32. Perlukah parfum walet? 33. Perlukah ekstra fooding? 34. Apakah walet seinduk selalu berjodoh? 35. Gedung walet bau semen, oke 36. Banyak asap walet oke 37. Kipas agar suhu rendah 38. Gedung walet ber AC 39. Gedung walet ber- ex haouse fun 40. Gedung walet ber cat cantik 41. Populasi walet besar, masihkah suara diputar ? 42. Rajin ganti twiter panggil 43. Cara praktis kontrol twiter dalam

44. Lampu dalam gedung walet 45. Pilih pintu lebar atau sempit? 46. Bahaya masuk gedung walet seorang diri. 47. Teknik benar putar telur 48. Ukuran ideal rumah monyet 49. Ukuran ideal lubang terjun 50. Papan sirip piramida 51. Munculnya sarang banci 52. Sarang bak pao 53. Sarang sampan 54. Sarang muda 55. Sarang palsu 56. Ruang kamar atau hall ? 57. Panen rampasan 58. Panen buang telur 59. Panen bunuh piyik 60. Panen tetasan 61. Panen selektif 62. Gedung tunggal 63. Lintasan besar 64. Lintasan Sedang 65. Lintasan kecil 66. Salah lintasan 67. Sentra kecil 68. Sentra Berkembang/ lampu hijau 69. Sentra padat/ lampu kuning 70. Sentra jenuh/ lampu merah 71. Sumber pakan besar 72. Sumber pakan sedang 73. Sumber pakan kecil 74. Sumber pakan hilang 75. Survey lokasi 76. Asal survey 77. Pintu tunggal versus pintu majemuk 78. Walet putih, gagal produk 79. Sarang walet merah darah 80. Kenapa sarang gua hitam? 81. Walet cari makan di laut? 82. Walet mengejar elang 83. Walet muda mangsa empuk 84. Gedung walet isi kelelawar 85. Buka tutup pintu walet 86. Burung hantu pemangsa ular tikus 87. Jika bulu walet berserakan di lantai 88. Jika bulu walet menumpuk di sudut tersembunyi 89. Tanda sarang tidak aktif

90. Jika walet tidak lagi produktif 91. Berapa usia burung walet ? 92. Mencari kuburan walet

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->