P. 1
ekonomi pembangunan pertumbuhan dan distribusi pendapatan

ekonomi pembangunan pertumbuhan dan distribusi pendapatan

|Views: 7,844|Likes:
Published by bebek pinky

More info:

Published by: bebek pinky on Apr 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Melalui pertumbuhan ekonomi, standar hidup membaik. Pertumbuhan ekonomi membawa perubahan. Barang-barang baru diproduksi, sementara yang lain menjadi ketinggalan mode. Ada yang yang percaya pertumbuhan merupakan tujuan dasar masyarakat, karena pertumbuhan mengangkat orang keluar dari kemiskinan dan meningkatkan kualitas kehidupan mereka.Yang lain mengatakan pertumbuhan ekonomi mengikis nilai-nilai tradisional dan menyebabkan eksploitasi, kerusakan lingkungan, dan korupsi. Krisis nilai tukar telah menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah yang merosot tajam sejak bulan Juli 1997 menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam triwulan ketiga dan triwulan keempat menurun menjadi 2,45 persen dan 1,37 persen. Pada triwulan pertama dan triwulan kedua tahun 1997 tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8,46 persen dan 6,77 persen. Pada triwulan I tahun 1998 tercatat pertumbuhan negatif sebesar -6,21 persen. Merosotnya pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari masalah kondisi usaha sektor swasta yang makin melambat kinerjanya. Kelambatan ini terjadi antara lain karena sulitnya memperoleh bahan baku impor yang terkait dengan tidak diterimanya LC Indonesia dan beban pembayaran hutang luar negeri yang semakin membengkak sejalan dengan melemahnya rupiah serta semakin tingginya tingkat bunga bank. Kerusuhan yang melanda beberapa kota dalam bulan Mei 1998 diperkirakan akan semakin melambatkan kinerja swasta yang pada giliran selanjutnya menurunkan lebih lanjut pertumbuhan ekonomi, khususnya pada triwulan kedua tahun 1998. Sementara itu perkembangan ekspor pada bulan Maret 1998 menunjukkan pertumbuhan ekspor nonmigas yang menggembirakan yaitu sekitar 16 persen. Laju pertumbuhan ini dicapai berkat harga komoditi ekspor yang makin kompetitif dengan merosotnya nilai rupiah. Peningkatan ini turut menyebabkan surplus perdagangan melonjak menjadi 1,97 miliar dollar AS dibandingkan dengan 206,1 juta dollar AS pada bulan Maret tahun 1997. Impor yang menurun tajam merupakan faktor lain 1

terciptanya surplus tersebut. Impor pada bulan Maret 1998 turun sebesar 38 persen sejalan dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi. Dan kemudian berbeda lagi yang terjadi pasca krisis asia di tahun 1998-1999, Indonesia mengalami guncangan yang kuat berikut terlihat pada table dibawah ini:

TABEL 1 INDONESIA SELECTED MACROECONOMIC INDICATORS

2

Dari table atas terlihat kondisi perekonomian Indonesia antara tahun 2001-2007 mengalami fluktuasi yang cukup besar dan sering hal ini sering kali membuat Indonesia kewalahan dan terguncang seperti kita lihat exchange rate Dollar USA atas Rupiah mengalami fluktuatif yang amat tajam pada awal tahun yang membuat harga nilai tukar dallor sangat tinggi dan kemudian di tahun 2003 dan 2008 Indonesia bisa menurunkan rate hingga pada posisi 8.941 akan tetapi kembali melonjak pada kisaran 9.000 hingga sekarang. Sesungguhnya hal ini kurang sehat bagi perekonomian Indonesia karena dengan semakin tinggi nilai dollar USA yang mana sebagai alat pembayaran perdagangan internasional membuat Indonesia semakin dipersulit untuk meraih angka pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan.

3

1.2 Permasalahan Berkaitan dengan permasalahan distribusi dan pemertaan pembangunan yang telah di jelaskan sebelumnya, ada beberapa pertanyaan yang diajukan sebagai perumusan masalah dengan tujuan agar pembahasan dapat terfokus pada masalah yang telah di jabarkan diatas. Adapun perumusan masalah adalah sebagai berikut : Agar masalah yang dibahas tidak melebar maka penulis membatasi masalah-masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana Gambaran Pertumbuhan Ekonomi itu sendiri 2. Bagaimana Gambaran Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia 3. Bagaimana Gambaran Distribusi Pendapatan itu sendiri 4. Bagaimana Gambaran Distribusi Pendapatan di Indonesia

4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 PERTUMBUHAN EKONOMI 2.1.1 Definisi Pertumbuhan Ekonomi Pengertian pertumbuhan ekonomi harus dibedakan dengan pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi hanyalah merupakan salah satu aspek saja dari pembangunan output ekonomi agregat yang lebih menekankan pada peningkatan khususnya output agregat per kapita. Menurut Boediono : Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita yang terus-menerus dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan outputriil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang. Pertumbuhan ekonomi dalam bahasa inggris diistilahkan dengan economic growth mengandung pengertian proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang atau perubahan tingkat kegiatan ekonomi yang terjadi Dari tahun ke tahun.

5

Pertumbuhan Ekonomi

Pemerataan Pendapatan

Stabilisasi

GAMBAR TRIANGLE PEMBANGUNAN Model pembangunan yang dilakukan Indonesia pada masa awal orde baru diprioritaskan pada pertumbuhan ekonomi. Tujuannya adalah untuk mengatrol kondisi ekonomi yang sedang jatuh pada masa itu. Cara yang paling cepat adalah dengan cara konglomerasi yaitu mendorong peningkatan investasi dan pembangunan dengan padat modal. Sedangkan prioritas kedua adalah pada stabilisasi, karena tanpa adanya stabilisasi maka pembangunan tidak akan berlangsung dengan baik. Itulah sebabnya mengapa pemerintah Indonesia pada masa itu menetapkan stabilisasi sebagai salah prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan. Sedangkan pemerataan pembangunan dan hasil – hasilnya justru menjadi prioritas ketiga. Pola pembangunan seperti ini mulai menuai kritik, sehingga pada awal tahun 1990 pemerintah mulai mengembangkan pola pemerataan pembangunan dan hasil – hasilnya. Salah satunya dengan mengembangkan Inpres desa tertinggal dan pola pengembangan Katimin (Kawasan
Timur Indonesia ).

2.1.1.1 Kontrovesi Pertumbuhan Dekade 1970-an merupakan periode yang menjadi saksi utama berlangsungnya perubahan-perubahan drastis atas presepsi pemerintah dan lembaga-lembaga swasta tentang hakekat kegiatan ekonomi. Banyak pihak di negara-negara kaya maupun negara-negara miskin yang tidak lagi menyakini pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan pembangunan nomor satu yang harus selaludikejar-kejar dan diutamakan. Negaranegara maju tampaknya kini mulai lebih menekankan pada “kualitas hidup”, dan hal itu antara lain dinyatakan dalm bentuk kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan hidup, selama ini, pertumbuhan undustri memang banyak menimbulkan dampak-dampak

6

negative terhadap lingkungan hidup, seperti pencemaran udara dan air, terkurasnya sumber daya alam, serta lenyapnya keindahan alam. Sebuah buku yang amat berpengaruh, yakni The limits to growth, yang terbit pada tahun 1972 di bawah naungan Club of Rome menguraikan secara rinci peringatan-peringatan penting yang dikemukakan oleh ilmuwan abad kesembilan belas David Ricardo, dan terutama Pendeta Thomas Malthus, bahwasanya daya dukung bumi yang terbatas ini pada akhirnya tidak akan mampu menyangga tingkat pertumbuhan yang tinggi secara terusmenerus tanpa menimbulkan malapetaka ekonomi dan social. Isi buku tersebut merupakan cerminan perasaan yang ada pada saat ini, sehingga meskipun buku tersebut kurang baik menurut ukuran logika, dan asumsi-asumsinya pun kurang jelas, sambutan terhadapnya sangat semarak. Dinegara-negara miskin, perhatian utama terfokus pada dilemma kompleks antara pertumbuhan versus distribusi pendapatan. Keduanya sama-sama penting, namun hamper selalu sangat sulit diwujudkan secara bersamaan. Pengutamaan yang satu akan menuntut dikorbankannya yang lain. Pembanguan ekonomi mensyaratkan GNP yang lebih tinggi, dan untuk itu tingkat pertumbuhan lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil. Namun menjadi masalah bukan hanya soal bagaiman caranya memacu pertumbuhan, tetapi juga siap melakukan dan berhak menikmati caranya memacu pertumbuhan, tetapi juga siap melakukan dan berhak menikmati hasilhasilnya, kalangan elit kaya raya yang minoritas, ataukah mayoritas rakyat yang miskin. Seandainya yang diserahi wewenang itu adalah kelas elit yang kaya, maka meraka akan mampu memacu pertumbuhan dengan baik; hanya saja ketimpangan pendapatan dan kemiskinan absolute akan semakin parah. Tetapi jika yang dipilih adalah mayoritas miskin, segenap hasilnya harus dipilih secara merata, dan hal ini kurang memungkinkanterpacunya GNP secara agregat atau nasional. Terlepas dari soal itu, sekarang banyak negara-negara dunia ketiga yang cukup berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi relative tinggi mulai menyadari bahwa pertumbuhan yang relative tinggi mulai menyadari bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut ternyata belum membuahkan manfaat yang berarti bagi para anggota masyarakatnya yang paling miskin dan paling membutuhkan perbaikan taraf hidup. Standard hidup ratusan penduduk di Afrika, Asia dan Amerika latin memang belum mengalami perbaikan secara berarti, dan bahkan dibanyak tempat, jika dihitung secara riil, standard

7

hidup mereka justru mengalami kemerosotan yang cukup tajam. Tingkat penganguran dan Semi pengangguran diberbagi daerah pedesaan dan perkotaan meningkat, dan ini bahkan terjadi di daerah-daerah yang tingkat pertumbuhan ekonominya cukup mengesankan. Dalam kenyataannya ternyata distribusi pendapatan semakin terabaikan selama tahun-tahun belakang ini. Banyak orang yang mulai merasa bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi telah gagal memberantas, atau bahkan sekedar mengurangi kemiskinan absolute yang dalam prakteknya cenderung semakin parah. Kini di negar-negara maju maupun negara-negara berkembang mulai muncul himbauan dan tuntutan dari masyarakat luas yang semakin lama semakin kuat bagi dilakukannya peninjauan kembali atas tradisi “pengutamaan GNP” sebagai sasaran kegiatan ekonomi yang utama. Kecenderungan ini mulai berlangsung sejak decade 1970-an. Upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pun mulai dikedepankan sebagai focus utama pembangunan. Meskipun kebangkitan kembali ilmu ekonomi neoklasik dan munculnya teori-teori pertumbuhan yang baru pada decade 1980-an dan decade 1990-an sempat mengembalikan kedudukan pertumbuhan sebagai prioritas utama, namun itu tidak berarti bahwa masalah kemiskinan dan pemerataan pendapatan mulai dapat diatasi. Justru sebaliknya, di banyak negara, terutama sekali dikawasan Amerika Latin dan kawasan Afrika-Sub Sahara, masalah-masalah itu bahkan bertambah parah. Kesulitan yang dihadapi ooleh negara-negara berkembang dikawasan-kawasan tersebut ditambah lagi dengan himpitan utang luar negeri, kelaparan yang merajalela, dan gagalnya program-program “pengencangan ikat pinggang” oleh pemerintah (program tersebut justru menimpakan beben terberat bagi orang-orang yang paling miskin). Pda bulan September 1994, program aksi pada konferensi Intenasional tentang kependudukan dan pembangunan telah berlangsung selama beberapa dasawarsa, kesenjangan antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin, serta ketimpangan pendapatan di kalangan pendudukan di berbagai negara justru terus melebar….kemiskinan di mana-mana masih merupakan tantangan utama bagi usaha-usaha pembangunan”, Pandangan ini dikumandangan lagi pada KTT Dunia tentang Pembangunan Sosial yang disponsori PBB di Kompenhagen pada bulan Maret 1995 yang diikuti oleh 134 kepala negara. Karena penanggualngan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan kini merupakan masalah pokok dalam pembangunan dan sasaran utama kebijakan

8

pembanguanan di banyak negara, maka kita awali Bagian kedua sadi buku ini dengan memusatkan perhatian kepada hakekat kemiskinan serta ketimpangan pendapatan di berbagai negara-negara dunia ketiga. Meskipun focus utamanya adalah ketimpangan distribusi ekonomis atas pendapatan dan asset, namun perlu siiingat bahwa keduannya hanya merupakan atas pendapatan danaset, namun perlu diingat bahwa keduanya hanya merupakan bagian kecil daris eluruh masalah ketimpangan di negara-negara berkembang. Selain ketimpangan ekonomis tersebut, masih ada ketimpangan di negaranegara berkembangan. Selain ketimpangan ekonomis tersebut, masih ada ketimpangan kekuasaan, prestise, status, jenis kelamin, kepuasan kerja, kondisi kerja, tingkat partisipasi, kebebasan memilih atau ketimpangan hak politik, dan sebagainya, yang kesemuannya erat kaitannya dengan komponen fundamentalyang kedua dan ketiga dari hakekatnya konsep pembangunan, yakni upaya untuk menegakkan harga diri dan upaya untuk memilih. Meskipun demikian, dalam kenyataannya kita sulit membedakan ketimpangan ekonomis dari ketimpangan-ketimpangan nonekonomis tersebut. Masingmasing saling berkaitan dalam suatu proses yang sangat kompleks, yang acapkali menjelma sebagai suatu hubungan sebab akibat yang rumit. Pendekatan yang kita gunakan untuk mempelajari masalah pokok dan pemecahannya, perlu diuraikan terlebih dahulu. Pertama-tama, kita kan mengungkapkan dahulu hakekat dari masalah kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan serta menelaah arti pentingnya secara kuantitatif di berbagai negara-negara Dunia ketiga. Selanjutnya, kita akan menyoroti sejumlah tujuan dan sasaran yang mungkin/ bisa dicapai, serta mempelajari jauh mana dan hal apa saja analisis ekonomi yang dapat membantu masalah-masah tersebut. Yang terakhir, kita akan mencoba merumuskan alternative-alternatif kebijakan yang kiranya cukup berpotensi untuk menanggulangi kemiskinan dan mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan di negara-negara duni ketiga telah sedemikian parah. Dengan berbekal pemahaman mendalam atas kedua manifestasi ekonomi dari keterbelakangan tersebut, maka kita akan lebih mudah melakukan analisis atas berbagai macam masalah. Indeks Pembangunan Manusia yang termasuk dalam Laporan Pembangunan Manusia Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis pada tanggal 5 Oktober 2009. Indeks ini didasarkan pada data-data tahun 2007. Ia merangkumi 180 anggota PBB (dari 192 negara) bersama dengan: Hongkong dan 9

Wilayah Palestina. Dua belas negara PBB tidak dimasukkan karena data-data yang tidak mencukupi. Rata-rata IPM seluruh bagian Dunia dan kelompok-kelompok negara juga dimasukkan sebagai perbandingan. 2.1.1.2 Proses Pertumbuhan Rostow mengemukakan tahap-tahap pertumbuhan yang dilalui negara modern, hingga mencapai keadaan yang sekarang, yaitu: 1. Masyarakat Tradisional 2. Prakondisi tinggal landas 3. Tinggal landas (take off) 4. Masa menjelang kedewasaan 5. Abad konsumsi massa yang tinggi Transisi kependudukan Yang mencerminkan kenaikan taraf hidup rakyat di suatu negara adalah besarnya tabungan dan akumulasi kapital dan laju pertumbuhan penduduknya. Laju pertumbuhan yang sangat cepat di banyak negara sedang berkembang nampaknya disebabkan oleh fase atau tahap transisi demografi yang dialaminya. Negara-negara sedang berkembang mengalami fase transisi demografi di mana angka kelahiran masih tinggi sementara angka kematian telah menurun. Kedua hal ini disebabkan karena kemajuan pelayanan kesehatan yang menurun angka kematian balita dan angka tahun harapan hidup. Ini terjadi pada fase kedua dan ketiga dalam proses kependudukan. Umumnya ada empat tahap dalam proses transisi, yaitu: Tahap 1: Masyarakat pra-industri, di mana angka kelahiran tinggi dan angka kematian tinggi menghasilkan laju pertambahan penduduk rendah; Tahap 2: Tahap pembangunan awal, di mana kemajuan dan pelayanan kesehatan yang lebih baik menghasilkan penurunan angka kelahiran tak terpengaruh karena jumlah penduduk naik. Tahap 3: Tahap pembangunan lanjut, di mana terjadi penurunan angka kematian balita, urbanisasi, dan kemajuan pendidikan mendorong banyak pasangan muda berumah tangga menginginkan jumlah anak lebih sedikit hingga menurunkan angka kelahiran. Pada tahap ini laju pertambahan penduduk mungkin masih tinggi tetapi sudah mulai menurun; Tahap 4: Kemantapan dan stabil, di mana pasangan-pasangan berumah tangga melaksanakan pembatasan kelahiran dan mereka cenderung bekerja di luar rumah. 10

Banyaknya anak cenderung hanya 2 atau 3 saja hingga angka pertambahan neto penduduk sangat rendah atau bahkan mendekati nol. 1. Dari Pertanian ke Industri Cara termudah untuk memahami proses pertumbuhan dan mengidentifikasi sebab-sebabnya adalah dengan berpikir tentang perekonomian yang sederhana. Pada bab ini, kita mendefinisikan batas kemungkinan produktif (ppf=Production Possibilities Frontier) yang dihadapi oleh masyarakat, yang menunjukkan semua kombinasi yang mungkin dari keluaran yang dapat diproduksi dengan teknologi yang ada sekarang ini dan jika semua sumber daya yang tersedia sudah dimanfaatkan secara penuh dan efisien. 2. Dari Pertanian ke Industri: Revolusi Industri Sebelum Revolusi Industri di Inggris, setiap masyarakat di dunia adalah petani. Berawal dari Inggris sekitar tahun 1750, perubahan teknik dan akumulasi modal meningkatkan produktivitas secara besar-besaran dalam dua industri penting,yaitu pertanian dan tekstil. Metode pertanian yang baru dan lebih efisien dikembangkan, penemuan-penemuan baru dan mesin baru dalam pemintalan, tenun, dan produksi baja berarti bahwa lebih banyak yang dapat diproduksi dengan lebih sedikit sumber daya. 3. Pertumbuhan dalam Masyarakat Industri Selama lima belas tahun terakhir, pertumbuhan teknologi penghitun yang telah mengubah cara kita hidup dan melakukan bisnis. Akses ke World Wibe Web menjadi lebih murah dan mudah. Perubahan teknologi, inovasi, dan produksi modal telah meningkatkan produktivitas. 2.1.1.3 Sumber Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi terjadi bila: 1. Masyarakat mendapatkan lebih banyak sumber daya, atau 2. Masyarakat menemukan cara penggunaan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien

11

Agar pertumbuhan ekonomi menaikkan standar hidup, tingkat petumbuhan harus melebihi tingkat kenaikan penduduk. Pertumbuhan ekonomi umumnya didefinisikan sebagai kenaikan GDP riil per kapita. Fungsi produksi perusahaan individual merupakan gambaran matematis tentang hubungan antara masukan perusahaan dan keluarannya. Keluaran bagi fungsi produksi agregat adalah keluaran nasional, atau produksi domestik bruto (Y) yang tergantung pada jumlah tenaga kerja(L) dan jumlah modal (K) yang tersedia di dalam perekonomian dengan asumsi jumah tanahnya tetap sehinggan kenaikan GDP dapat muncul melalui: 1. kenaikan penawaran tenaga kerja 2. kenaikan modal fisik atau SDM, atau 3. kenaikan produktivitas (jumlah barang yang diproduksi oleh masing-masing unit modal atau tenaga kerja) Ciri-Ciri Terjadinya Pertumbuhan Ekonomi 1. Kenaikan penawaran tenaga kerja Penawaran tenaga kerja yang meningkat dapat menghasilkan keluaran yang lebih banyak. Jika stok modal tetap sementara tenaga kerja naik, tenaga kerja baru cenderung akan kurang produktif dibandingkan tenaga kerja lama. Penurunan produktivitas itu disebut hasil (per unit masukan) yang menurun (diminshing returns). Hasil (per unit masukan) yang berkurang dapat terjadi jika stok modal suatu bangsa bertumbuh lebih lamban dari angkatan kerjanya. 2. Kenaikan modal fisik Kenaikan stok modal dapat juga menaikkan keluaran, bahkan jika tidak disertai oleh kenaikan angkatan kerja. Modal fisik menaikkan baik produktivitas tenaga kerja maupun menyediakan secara langsung jasa yang bernilai. Adalah mudah untuk melihat bagaimana modal menyediakan jasa secara langsung. 3. Kenaikan modal sdm Perusahaan dapat melakukan investasi dalam modal SDM melalui pelatihan d tempat kerja (on the job training). Pemerintah melakukan investasi dalam modal SDM dengan melakukan program-program untuk menyediakan kesehatan dan memberikan pelatihan kerja dan pendidikan sekolah.

12

4. Kenaikan produktivitas Pertumbuhan yang tidak dapat dijelaskan oleh kenaikan kuantitas masukan dapat dijelaskan hanya dengan kenaikan produktivitas masukan tersebut – setiap unit masukan tertentu memproduksi lebih banyak keluaran. Produktivitas masukan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor temasuk perubahan teknologi, kemajuan pengetahuan lain, dan ekonomisnya skala produksi. 2.1.2 Teori-Teori Pertumbuhan Ekonomi Teori pertumbuhan ekonomi dapat dibagi menjadi 2 : 1. Teori Pertumbuhan Ekonomi Historis a. Frederich list (1789 - 1846) Tahap-tahap pertumbuhan ekonomi menurut frederich listber adalah tingkat-tingkat yang dikenal dengan sebutan Stuffen theorien (teori tangga). Adapun tahapan-tahapan pertumbuhan ekonomi dibagi 4 sebagai berikut : 1) Masa berburu dan mengembara Pada masa ini manusia belum memenuhi kebutuhan hidupnya sangat mengantungkan diri pada pemberian alam dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri. 2) Masa berternak dan bertanam Pada masa ini manusia sudah mulai berpikir untuk hidup menetap. Sehingga mereka bermata pencaharian bertanam. 3) Masa Bertani dan kerajinan Pada masa ini manusia sudah hidup menetap sambil memelihara tanaman yang mereka tanam kerajinan hanya mengajar usaha sampingan. 4) Masa kerajinan, Industri, dan perdagangan. Pada masa ini kerajinan bukan sebagai usaha sampingan melainkan sebagai kebutuhan untuk di jual ke pasar, sehingga industri berkembang dari industry kerajinan menjadi industri besar. b. Karu Bucher (1847 - 1930) Tahap Perekonomian dapat dibagi menjadi 4: 1) Rumah tangga tertutup 2) Rumah tangga kota 3) Rumah tangga bangsa

13

4) Rumah tangga dunia c. Werner sombart (1863 - 1947) 1) Prakapitalisme (Varkapitalisme) 2) Zaman kapitalis madya (buruh kapitalisme) 3) Zaman kapitalai Raya (Hachkapitalismus) 4) Zaman kapitalis akhir (spetkapitalismus) d. Walt Whitmen Rosfow (1916 - 1979) 1) Masyakart tradisional (Teh Traditional Society) 2) Persyaratan untuk lepas landas (Precondition for take off) 3) Lepas landas cake off) 4) Perekonomian yang matang / dewasa (Matarty of economic) 5) Masa ekonomi konsumsi tinggi (high mass consumption) 2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Klasik dan Neoklasik Teori pertumbuhan ekonomi klasik a. Teori pertumbuhan menurut Adam Smith An Inquiry into the nature and causes of the wealth of the nation, teorinya yang dibuat dengan teori the invisible hands (Teori tangan-tangan gaib) Pertumbuhan ekonomi ditandai oleh dua fakto yang saling berkaitan : 1) Pertumbuhan penduduk 2) Pertumbuhan output total o Pertumbuhan output yang akan dicapai dipengaruhi oleh 3 komponen berikut ini. 1) sumber-sumber alam 2) tenaga kerja (pertumbuhan penduduk 3) jumlah persediaan b. David Ricardo dan T.R Malthus Menurut David Ricardo faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar hingga menjadi dua kali lipat pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Pendapat Ricardo ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Thomas RobertMalthus, menyatakan bahwa makanan (hasil produksi) akan bertambah menurut deret hitung (satu, dua, dan seterusnya). Sedangkan penduduk akan bertambah menurut deret ukur (satu, dua, empat , delapan, enam belas, dan seterusnya) sehingga pada saat perekonomian akan berada pada taraf subisten atau kemandegan.

14

Teori pertumbuhan ekonomi Neoklasik c. Robert Sollow Rober Sollow lahir pada tahun 1950 di Brookyn, ia seorang peraih nobel di bidang dibidang ilmu ekonomi pada tahun 1987. Robert Sollow menekankan perhatiannya pada pertumbuhan out put yang akan terjadi atas hasil kerja dua faktor input utama. Yaitu modal dan tenaga kerja. d. Harrod dan Domar RF. Harrod dan Evsey Domar tahun 1947 pertumbhan ekonomi menurut Harrod dan domar akan terjadi apabila ada peningkatan produktivitas modal (MEC) dan produktivitas tenaga kerja. e. Joseph Schumpeter Menurut J. Schumpeter, pertumbuhan ekonomi suatu negara ditentukan oleh adanya proses inovasi-inovasi (penemuan-penemuan baru di bidang teknologi produksi) yang dilakukan oleh para pengusaha. Tanpa adanya inovasi, tidak ada pertumbuhan ekonomi. 2.1.3 Ukuran Pertumbuhan Ekonomi Apakah yang menjadi alat yang bisa digunakan untuk mengetahui adanya pertumbuhan ekonomi suatu negara? Menurut M. Suparko dan Maria R. Suparko ada beberapa macam alat yang dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi yaitu : 1. Produk Domestik Bruto PDB adalah jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam harga pasar. Kelemahan PDB sebagai ukuran pertumbuhan ekonomi adalah sifatnya yang global dan tidak mencerminkan kesejahteraan penduduk. 2. PDB per Kapita atau Pendapatan Perkapita PDB per kapita merupakan ukuran yang lebih tepat karean telah memperhitungkan jumlah penduduk. Jadi ukuran pendapatn perkapita dapat diketahui dengan membagi PDB dengan jumlah penduduk. 3. Pendapatan Per jam Kerja Suatu negara dapat dikatakan lebih maju dibandingkan negara lain bila mempunyai tingkat pendapatan atau upah per jam kerja yang lebih tinggi daripada upah per jam kerja di negara lain untuk jenis pekerjaan yang sama.

15

2.1.4 Model – Model Pertumbuhan Ekonomi Harrord Domar Keadaan “ Steady – State Growth Model pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar adalah model pertumbuhan yang mengacu pada pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, model itu merupakan perkembangan langsung teori ekonomi makro Keynes yang merupakan teori jangka pendek yang menjadi teori jangka panjang. Pada model Harrod-Domar investasi diberikan peranan yang sangat penting. Dalam jangka panjang investasi mempunyai pengaruh kembar. Di satu sisi investasi mempengaruhi permintaan agregat di sisi lain investasi mempengaruhi kapasitas produksi nasional dengan menambah stok modal yang tersedia. Harrod menyimpulkan agar suatu ekonomi nasional selalu tumbuh dengan kapasitas produksi penuh (kesempatan kerja penuh) yang disebutnya sebagai “ Pertumbuhan ekonomi yang mantap (steady-state growth) “ efek permintaan yang ditimbulkan dari penambahan investasi harus selalu diimbangi oleh efek penawarannya tanpa terkecuali. Tetapi investasi dilakukan oleh pengusaha yang mempunyai pengharapan yang tidak selalu sama dari waktu ke waktu, karena itu keseimbangan ekonomi jangka panjang yang mantap hanya dapat dicapai secara mantap pula apabila pengharapan para pengusaha stabil dan kemungkinan terjadinya hal itu sangat kecil, seperti yang dikemukakan oleh Joan Robinson (golden age). Di samping itu Harrod mengemukakan bahwa sekali keseimbangan itu terganggu, maka gangguan itu akan mendorong ekonomi nasional menuju ke arah depresi atau inflasi sekular. Karena itu Harrod melambangkan keseimbangan ekonomi tersebut sebagai keseimbangan mata pisau, mudah sekali tergelincir dan sekali tergelincir semuanya akan menjadi hancur (jadi keseimbangan yang tidak stabil). Model pertumbuhan ekonomi Domar hampir mirip dengan model Harrod walaupun ada beberapa perbedaan yang esensial pula antara kedua model itu. Perbedaan itu khususnya menyangkut mengenai tiadanya fungsi investasi pada model Domar, sehingga investasi yang sebenarnya tidak ditentukan di dalam modelnya. Karena itu kesulitan pencapaian keseimbangan ekonomi jangka panjang yang mantap bagi Harrod, disebabkan oleh sulitnya kesamaan v dan vr atau laju pertumbuhan yang disyaratkan dengan laju pertumbuhan natural, sedang bagi Domar kesulitan itu timbul karena

16

adanya kecenderungan masyarakat untuk melakukan investasi yang relatif terlalu rendah (underinvestment). Model Neo-Klasik sebagaimana dikemukakan oleh Solow (juga Swan) mencoba memperbaiki kelemahan model Harrod-Domar dengan mengolah asumsi yang mengenai fungsi produksi yang digunakan, dari fungsi produksi dengan proporsi tetap, menjadi fungsi produksi dengan proporsi yang variabel. Berbeda dengan visi Harrod-Domar yang suram dan menakutkan visi teori Neo-Klasik adalah visi yang menggembirakan dan serasi dengan proses ekonomi yang otomatik dan mekanistik. Kelemahan pokok teori Neo-Klasik adalah dihilangkannya peranan pengharapan para pengusaha yang dalam teori Keynes menduduki peranan sentral 2.1.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi 1. Akumulasi Modal Akumulasi modal (capital accumulation) terjadi apabila sebagian dari pendapatan ditabung dan diinvestasikan kembali dengan tujuan memperbesar output dan pendapatan di kemudian hari. Pengadaan pabrik baru, mesin-mesin, peralatan, dan bahan baku meningkatkan stock modal (capital stock) fisik suatu negara (yakni, total nilai riil “neto” atas seluruh barangmodal produktif secara fisik) dan hal itu jelas memungkinkan terjadinya peningkatan output di masa-masa mendatang. Investasi produktif yang bersifat langsung tersebut harus dilengkapi dengan berbagai investasi penunjang yang disebut investasi “infrastuktur” ekonomi dan social. Di samping investasi yang bersifat langsung banyak cara yang bersifat tidak langsung untuk menginvestasikan dana dalam berbagai jenis sumber daya. Di samping itu ada juga Investasi dalam pembinaan sumber daya manusia dapat meningkatkan kualitas modal manusia, sehingga pada akhirnya akan membawa dampak posiyif yang sama terhadap manusia. Segenap kegiatan yang dijelaskan di atas merupakan bentuk-bentuk investasi yang menjurus ke akumulasi modal. 2. Pertumbuhan Penduduk dan Angkatan Kerja Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja (yang terjadi beberapa tahun kemudian setelah pertumbuhan pendududuk) secara tradisional dianggap sebagai salah satu factor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti meningkatkan ukuran pasar domesticnya. Meskipun

17

demikian, kita masih mempertanyakan apakah begitu cepatnya pertumbuhan penawaran angkatan kerja di Negara-negara berkembang (sehingga banyak diantara mereka yang mengalami kelebihan tenaga kerja) benarbenar akan memberikan dampak positif, atau justru negatif, terhadap pembangunan ekonominya. Sebenarnya, hal tersebut (positif atau negativenya pertambahan penduduk bagi upaya pembangunan ekonomi) sepenuhnya tergantung pada kemampuan sistem perekonimian yang bersangkutan untuk menyerap dan secara produktif memanfaatkan tambahan tenaga kerja tersebut. Adapun kemampuan itu sendiri lebih lanjut dipengaruhi oleh tingkat jenis akumulasi modal dan tersedianya input atau factor_faktor penunjang, seperti kecakapan manajerial dan administrasi. 3. Kemajuan Teknologi Kemajuan teknologi (technological progress) bagi kebanyakan ekonom merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang paling penting. Dalam pengertiannya yang paling sederhana, kemajuan teknologi terjadi karena ditemukannya cara baru atau perbaikan atas cara-cara lamadalam menangani pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti kegiatan menanam jagung, membuat pakaian, atau membangun rumah. Kita mengenal tiga klasifikasi kemajuan teknologi, yaitu: kemajuan teknologi yang bersifat netral (neutral technological progress), kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (laborsaving technological progress), dan kemajuan teknologi yang hemat modal (capitalsaving technological progress). Kemajuan teknologi yang netral (neutral technolohical progress) terjadi apabila teknologi tersebut memungkinkan kita mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi dengan menggunakan jumlah dan kombinasi faktor input yang sama. Inovasi yang sederhana, seperti pembagian tenaga kerja (semacam spesialisasi) yang dapat mendorong peningkatan output dan kenaikan konsumsi masyarakat adalah contohnya. Sementara itu, kemajuan teknologi dapat berlangsung sedemikian rupa sehingga menghemat pemakaian modal atau tenaga kerja (artinya, penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memperoleh output yang lebih tinggi dari jumlah input tenaga kerja atau modal yang sama). Penggunaan komputer, mesin tekstil otomatis, bor listrik berkecepatan tinggi, traktor dan mesin pembajak tanah, dan banyak lagi jenios mesin serta peralatan modern lainnya, dapat diklasifikasikan sebagai kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor-saving technological progress). Sedangkan kemajuan teknologi hemat modal (capital-

18

saving technological progress) merupakan fenomena yang langka. Hal ini dikarenakan hamper semua penelitian dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan di Negara-negara maju dengan tujuan utama menghemat pekerja, dan bukan menghemat modal. Di Negara-negara dunia ketiga yang berlimpah tenaga kerja tetapi langka modal, kemajuan teknologi hemat modal merupakan sesuatu yang paling diperlukan. Kemajuan teknologi juga dapat meningkatkan modal atau tenaga kerja. Kemajaun teknologi yang meningkatkan pekerja (labor-augmenting technological progress) terjadi apabila penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan mutu atau ketrampilan angkatan kerja secara umum. Misalnya, dengan menggunakan videotape, televise, dan media komunikasi elektronik lainnya di dalam kelas, proses belajar bias lebih lancar sehingga tingkat penyerapan bahan pelajaran juga menjadi lebih baik. Demikian pula halnya dengan kemajuan teknologi yang meningkatkan modal (capital-augmenting technological progress). jenis kemajuan ini terjadi jika penggunaan teknologi tersebut memungkinkan kita memanfaatkan barang modal yang ada secara lebih produktif. Misalnya, penggunaan bajak kayu dengan bajak baja dalam produksi pertanian. Selain itu juga faktor penggerak pertumbuhan ekonomi dalam menanggulangi kemiskinan Dua hal esensial harus dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi adalah, pertama sumber-sumber yang harus digunakan secara lebih efisien. Ini berarti tak boleh ada sumber-sumber menganggur dan alokasi penggunaannya kurang efisien.Yang kedua, penawaran atau jumlah sumber-sumber atau elemen-elemen pertumbuhan tersebut haruslah diusahakan pertambahannya.Elemen-elemen yang memacu pertumbuhan ekonomi tersebut adalah sebagai berikut. 1. Sumber-sumber Alam Elemen ini meliputi luasnya tanah, sumber mineral dan tambang, iklim, dan lainlain. Beberapa negara sedang berkembang sangat miskin akan sumber-sumber alam, sedikitnya sumber-sumber alam yang dimiliki meruoakan kendala cukup serius. Dibandingkan dengan sedikitnya kuantitas serta rendahnya persediaan kapital dan sumber tenaga manusia maka kendala sumber alam lebih serius. 2. Sumber-sumber Tenaga Kerja

19

Masalah di bidang sumber daya manusia yang dihadapi oleh negara-negara sedang berkambang pada umumnya adalah terlalu banyaknya jumlah penduduk, pendayagunaannya rendah, dan kualitas sumber-sumber daya tenaga kerja sangat rendah. 3. Kualitas Tenaga Kerja Kualitas tenaga kerja yang rendah negara-negara sedang berkembang tak mampu mengadakan investasi yang memadai untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia berupa pengeluaran untuk memelihara kesehatan masyarakat serta untuk pendidikan dan latihan kerja. 4. Akumulasi Kapital Untuk mengadakan akumulasi kapital diperlukan pengorbanan atau penyisihan konsumsi sekarang selama beberapa decade. Di negara sedang berkembang, tingkat pendapatan rendah pada tingkat batas hidup mengakibatkan usaha menyisihkan tabungan sukar dilakukan. Akumulasi kapital tidak hanya berupa truk, pabrik baja, plastik dan sebagainya; tetapi juga meliputi proyek-proyek infrastruktur yang merupakan prasyarat bagi industrialisasi dan pengembangan serta pemasaran produk-produk sektor pertanian. Akumulasi kapital sering kali dipandang sebagai elemen terpenting dalam pertumbuhan ekonomi. Usaha-usaha untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan memusatkan pada akumulasi kapital. Hal ini karena, pertama, hampir semua negara-negara berkembang mengalami kelangkaan barang-barang kapital berupa mesi-mesin dan peralatan produksi, bangunan pabrik, fasilitas umum dan lain-lain. Kedua, penambahan dan perbaikan kualitas barang-barang modal sangat penting karena keterbatasan tersedianya tanah yang bisa ditanami. 2.1.6 Hal-Hal Yang Dapat Merangsang Pertumbuhan Ekonomi Peranan penting pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi 1. Beberapa negara sedang berkembang mengalami ketidakstabilan sosial, politik, dan ekonomi. Ini merupakan sumber yang menghalangi pertumbuhan ekonomi. Adanya pemerintah yang kuat dan berwibawa menjamin terciptanya keamanan dan ketertiban hukum serta persatuan dan perdamaian di dalam negeri. Ini sangat

20

diperlukan bagi terciptanya iklim bekerja dan berusaha yang merupakan motor pertumbuhan ekonomi. 2. Ketidakmampuan atau kelemahan setor swasta melaksanakan fungsi entreprenurial yang bersedia dan mampu mengadakan akumulasi kapital dan mengambil inisiatif mengadakan investasi yang diperlukan untuk memonitori proses pertumbuhan. 3. Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil akumulasi kapital dan investasi yang dilakukan terutama oleh sektor swasta yang dapat menaikkan produktivitas perekonomian. Hal ini tidak dapat dicapai atau terwujud bila tidak didukung oleh adanya barang-barang dan pelayanan jasa sosial seperti sanitasi dan program pelayanan kesehatan dasr masyarakat, pendidikan, irigasi, penyediaan jalan dan jembatan serta fasilitas komunikasi, program-program latihan dan keterampilan, dan program lainnya yang memberikan manfaat kepada masyarakat. 4. Rendahnya tabungan-investasi masyarakat (sekor swasta) merupakan pusat atau faktor penyebab timbulnya dilema kemiskinan yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Seperti telah diketahui hal ini karena rendahnya tingkat pendapatan dan karena adanya efek demonstrasi meniru tingkat konsumsi di negara-negara maju olah kelompok kaya yang sesungguhnya bias menabung. 5. Hambatan sosial utama dalam menaikkan taraf hidup masyarakat adalah jumlah penduduk yang sangat besar dan laju pertumbuhannya yang sangat cepat. Program pemerintahlah yang mampu secara intensif menurunkan laju pertambahan penduduk yang cepat lewat program keluarga berencana dan melaksanakan program-program pembangunan pertanian atau daerah pedesaan yang bisa mengerem atau memperlambat arus urbanisasi penduduk pedesaan menuju ke kota-kota besar dan mengakibatkan masalah-masalah social, politis, dan ekonomi. 6. Pemerintah dapat menciptakan semangat atau spirit untuk mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tidak hanya memerlukan pengembangan faktor penawaran saja, yang menaikkan kapasitas produksi masyarakat, yaitu sumber-sumber alam dan manusia, kapital, dan teknologi;tetapi juga faktor permintaan luar negeri. Tanpa kenaikkan potensi produksi tidak dapat direalisasikan.

21

2.1.7

Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia

GRAFIK 1 THE LARGE PART OF REAL INCOME DIFFERENCES COME FROM LABOUR PRODUCTIVITY GAPS Grafik diatas menunjukkan respon positif Indonesia yang akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup memuaskan grafik ini dikeluarkan oleh (OECD Organisation for Economic Co-operation and Development) yang menanggapi bahwa Indonesia akan mengalami kenaikan baik income perkapita, labour productivity dalam masa krisis saat ini. Menurut (OECD - Organisation for Economic Co-operation and Development) Kinerja petumbuhan Indonesia membaik. PDB Indonesia tumbuh lebih dari 5,5% per tahun sejak tahun 2005, yang merupakan tingkat tertinggi sejak krisis Asia terjadi. Hal ini merupakan pencapaian yang besar. Namun, layaknya yang sering kami dapati pada Negara-negara Anggota kami, Indonesia malah dapat memiliki kinerja yang lebih baik. Laporan kami memperlihatkan bahwa tantangan kebijakan utama negara adalah untuk meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi dan untuk membuatnya tetap berlangsung dalam jangka panjang, yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan (saat ini mencapai 16%) dan pengangguran (di atas 10%) secara cepat. Untuk memenuhi tantangan ini, upaya-upaya kebijakan dibutuhkan di beberapa domain. Laporan ini fokus pada dua

22

dari upaya-upaya tersebut yaitu: lingkungan usaha dan pasar tenaga kerja. Berikut ini adalah Gross Domestic Product Indonesia pada tahun 1985-2007:

GRAFIK 2 GDP GROWTH AND CONTRIBUTIONS, 1985-2007

Dari grafik diatas terlihat sekali GDP Indonesia yang sering kali berfluktuatif pada masa awal keemasan Indonesia ditahun 1990-an mengalami pertumbuhan yang positif yaitu melaju ke atas dan mengalami kejatuhan di era akhir tahun 1990-an tepatnya saat krisis asia melanda yang terjatuh begitu tajam seiring dengan itu pertumbuhan ekonomi pun ikut turun hingga menembus angka minus. Pasca krisis 1998 Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat rendah dan pada tahun-tahun berikutnya mengalami kemajuan sedikit demi sedikit tetapi angka konsumsi Indonesia cukup tinggi dengan tidak diimbangi dengan Net Ekspor yang yang tinggi, hal ini sesungguhnya menjadi tambahan kendala bagi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang di inginkan. Dan grafik dibawah ini adalah menunjukan supply Indonesia selama kurun waktu 1986 hingga 2007.

23

GRAFIK 3 STRUCTUR OF SUPPLY, 1985-2007 Supply Indonesia sangat tinggi pada sector services (jasa-jasa) dengan menyentuh angka 40 ini menjadi kekuatan Indonesia dalam meningkatkan GDP dan Pendapatan Perkapita pada sektor ini kemudian disusul industry manucafturing yang berjalan dibawah industry jasa kemudian 2 industri lainnya yaitu agriculture dan nonmanufacturing yang berada diangaka kisaran 20, Sebetulnya hal ini sangat rendah jika dibandingakan dengan sumber daya alam Indonesia yang sangat banyak khususnya dalam agriculture akan tetapi sangat rendah untuk negara bersumber daya alam tinggi seperti Indonesia. Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia Diantara para pengeritik pola pembangunan ekonomi yang telah ditempuh oleh kebanyakan negara berkembang, termasuk Indonesia, terdapat banyak orang yang beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat selalu dibarengi kenaikan dalam ketimpangan pembagian pendapatan atau ketimpangan relatif. Dengan perkataan lain, para pengeritik ini, termasuk banyak ekonom, beranggapan bahwa antara pertumbuhan ekonomi yang pesat dan pembagian pendapatan terdapat suatu Trade-Off, yang membawa implikasi bahwa pemerataan dalam pembagian pendapatan hanya dapat dicapai jika laju pertumbuhan ekonomi diturunkan. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang semakin

24

tinggi selalu akan disertai kemerosotan dalam pembagian pendapatan atau kenaikan dalam ketimpangan relatif. Sebenarnya Kondisi ini semakin diperparah dengan angka populasi yang tinggi yang tidak dibarengi dengan distribusi pendapatan yang menyeluruh, hal ini terjadi karena pembangunan di Indonesia tidak merata sehingga lapangan pekerjaan yang seharusnya ada untuk memenuhi jumlah penduduk Indonesia tidak seimbang. Berikut ini adalah negara dengan populasi tertinggi didunia menurut (OECD - Organisation for Economic Co-operation and Development).

OECD total China India Indonesia Brazil Russian Federation South Africa Other countries

1 183 167 1 328 630 1 169 016 231 627 189 335 142 499 48 577 2 378 376

GAMBAR 1 NEGARA-NEGARA BERPOPULASI TINGGI DI DUNIA

25

Total Population

Tahun Brazil India Indonesia

2000 171280 104623 5 211693

2001 173822 1046235 211693

2002 176391 1046235 211693

2003 178985 1046235 211693

2004 181586 1046235 211693

2005 184184 1046235 211693

2006 186771 1046235 211693

2007 189335 1046235 211693

2008 191870 1046235 211693

2009 194370 1046235 211693

TABEL 1 NEGARA-NEGARA BERKEMBANG YANG BERPOPULASI TINGGI Disamping ketimpangan dalam pembagian pendapatan (ketimpangan relatif), perlu juga diperhatikan masalah lain yang tidak kurang pentingnya, yaitu sampai seberapa jauh pertumbuhan ekonomi dapat berhasil dalam menghilangkan, sedikitdikitnya mengurangi kemiskinan absolut. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman dan Morris (1973) mengungkapkan bahwa negara-negara berkembang bukan saja menghadapi kemerosotan dalam ketimpangan relatif, tetapi juga masalah kenaikan dalam kemiskinan absolut. Dalam hubungan ini kemiskinan absolut diartikan sebagai suatu keadaan dimana tingkat pendapatan absolut dari suatu orang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti pangan, sandang, pemukiman, kesehatan dan pendidikan. Besarnya kemiskinan absolut tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatan atau tingkat konsumsinya berada di bawah “tingkat minimum” yang telah ditetapkan di atas. Ciri-Ciri Negara Sedang Berkembang 1. Tingkat pendapatan rendah,sekitar US$300 perkapita per tahun. 2. Jumlah penduduknya banyak dan padat perkilo meter perseginya. 3. Tingkat pendidikan rakyatnya rendah dengan tingkat buta aksara tinggi.

26

4.

Sebagian

rakyatnya hanya

bekerja

disektor kecil

pertanian

pangan

secara

tak

produktif,sementara

sebagian

rakyatnya

bekerja

disektor

industri.Produktifitas kerjanya rendah. 5. Kuantitas sumber-sumber alamnya sedikit serta kualitasnya rendah.Kalau mempunyai sumber-sumber alam yang memadai namun belum diolah atau belum dimanfaatkan. 6. Mesin-mesin produksi serta barang-barang kapital yang dimiliki dan digunakan hanya kecil atau sedikit jumlahnya. Negara-negara berkembang ini dapat dibagi dalam tiga sub-kelompok, yaitu: 1. Negara-negara berkembang yang berpendapatan rendah dengan Gnp per kapita di bawah US$ 350 (hargaUS$ tahun 1970) pada tahun 1975.; 2. Negara-negara berkembang yang berpendapatan menengah dengan GNP per kapita anatara US$350-US$750 (harga US$ tahun 1970). 3. Negara-negara berkembang yang berpendapatan tinggi yang pada tahun 1975 sudah mempunyai tingkat GNP per Kapita di atas US$750 (harga US$ tahun 1970). Jika negara-negara berkembang dibedakan lebih lanjut menurut ketiga subkelompok ini, ternyata bahwa secara relative ketiga sub-kelompok ini memperlihatkan penurunan dan persentase golongan penduduk yang miskin selama kurun waktu 1960-1975, yaitu untuk sub-kelompok negara-negara berkembang yang berpendapatan rendah dari 61,7 persen sampai 50,7 persen; untuk sub-kelompok negara yang berpendapatan menengah dari 49,2 persen sampai 31 persen; dan subkelompok negara yang berpendapatan tinggi dari 24,9 persen sampai 12,6 persen. Dengan demikian angka-angka di atas memperlihatkan bahwa masalah kemiskinan absolut justru paling parah di negara-negara berkembang yang paling miskin. Hal ini memang tidak begitu mengherankan, karena besarnya masalah kemiskinan absolut di sesuatu negara tergantung pada dua faktor, yaitu tingkat pendapatan rata-rata (per kapita) dan tingkat ketimpangan dalam pembagian 27

pendapatan nasional tersebut. Dengan demikian masalah kemiskinan absolut di negara-negara berkembang hanya dapat ditanggulangi secara tuntas melelui suatu kombinasi kebijaksanaan, yang meliputi peningkatan laju pertumbuhan ekonomi, usaha pemerataan yang lebih besar dalam pembagian pendapatan, dan penurunan dalam laju pertumbuhan penduduk. Negara-negara terbagi dalam empat kategori berdasarkan IPM-nya: sangat tinggi (kategori baru yang ditambahkan pada laporan untuk tahun 2007), tinggi, menengah dan rendah. Mulai dari laporan untuk tahun 2007, kategori pembanguan manusia yang sangat tinggi dirujuk sebagai negara maju, sedangkan sisanya dikelompokkan sebagai negara berkembang. Keterangan:
• • •

= Naik. = Tetap. = Menurun. 1. Negara yang bernilai IPM sama tidak menandakan bahwa keduanya berperingkat sama karena peringkat IPM ditentukan menggunakan nilai enam angka di belakang koma.. 2. Indeks ini dirilis pada tanggal 5 Oktober 2009 dan mencakupi periode tahun 2007 3. Angka dalam kurung mewakili seberapa besar naik turunnya peringkat suatu negara dibandingkan dengan perkiraaan revisi nilai IPM untuk tahun 2006 yang diterbitkan pada tanggal 5 Oktober 2009.

1. Pembangunan manusia Tinggi ( negara berkembang) Peringkat Negara IPM
Data 2007

39 40 41 42 43 44

Perubahan dibandingkan dengan data 2006 (1) (1) (2) (2) (1)

Data 2007

Perubahan dibandingkan dengan data 2006

Bahrain Estonia Poland Slovakia Hungary Chile

0.895 0.883 0.880 0.880 0.879 0.878

0.001 0.005 0.004 0.007 0.001 0.004 28

45 46 47

(1)

(2) 48 (2) 49 (1) 50 51 52 (1) 53 (1) 54 (1) 55 (1) 56 57 (4) 58 (1) 59 (1) 60 (2) 61 Peringkat Data 2007

Croatia Lithuania Antigua and Barbuda Latvia Argentina Uruguay Cuba Bahamas Mexico Costa Rica Libya Oman Seychelles Venezuela Saudi Arabia Panama Bulgaria Negara Saint Kitts and Nevis Romania Trinidad and Tobago Montenegro Malaysia Serbia Belarus Saint Lucia Albania Russia Macedonia Dominica Grenada Brazil Bosnia and Herzegovina Colombia Peru

0.871 0.870 0.868 0.866 0.866 0.865 0.863 0.856 0.854 0.854 0.847 0.846 0.845 0.844 0.843 0.840 0.840 IPM
Data 2007

0.004 0.005 0.008 0.007 0.005 0.005 0.007 0.002 0.005 0.005 0.005 0.003 0.004 0.011 0.003 0.007 0.005
Perubahan dibandingkan dengan data 2006

62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78

Perubahan dibandingkan dengan data 2006 (2) (1) (1)

0.838 0.837 0.837 0.834 0.829 0.826 0.826 0.821 0.818 0.817 0.817 0.814 0.813 0.813 0.812 0.807 0.806

0.003 0.005 0.005 0.006 0.004 0.005 0.007 0.004 0.011 0.004 0.003 0.005 0.005 0.007 0.007

(1) (1) (2) (2)

(5) (5)

29

79 80 81 82 83

Turkey 0.806 0.004 Ecuador 0.806 0.001 Mauritius 0.804 0.003 Kazakhstan 0.804 0.003 Lebanon 0.803 0.003 2. Pembangunan manusia menengah ( negara berkembang) Peringkat Negara IPM
Data 2007 Perubahan dibandingkan dengan data 2006 (1) (1) (2) (1) (1) (2) (1) (2) (7) (3) (2) (2) (1) (1) (2) (5) (8) Data 2007 Perubahan dibandingkan dengan data 2006

(1) (3) (2) (1) (3)

84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113

(2) (1) (1)

Armenia Ukraine Azerbaijan Thailand Iran Georgia Dominican Republic Saint Vincent and the Grenadines China[nb 2] Belize Samoa Maldives Jordan Suriname Tunisia Tonga Jamaica Paraguay Sri Lanka Gabon Algeria Philippines El Salvador Syria Fiji Turkmenistan Palestine Indonesia Honduras Bolivia

0.798 0.796 0.787 0.783 0.782 0.778 0.777 0.772 0.772 0.772 0.771 0.771 0.770 0.769 0.769 0.768 0.766 0.761 0.759 0.755 0.754 0.751 0.747 0.742 0.741 0.739 0.737 0.734 0.732 0.729

0.011 0.007 0.014 0.003 0.005 0.010 0.006 0.005 0.009 0.002 0.005 0.006 0.003 0.004 0.006 0.001 0.002 0.004 0.004 0.005 0.005 0.004 0.001 0.004 0.003 0.005 0.019 0.003 30

114 (1) 115 (1) 116 117 118 119 120 121 Peringkat
Data 2007

Guyana 0.729 Mongolia 0.727 Vietnam 0.725 Moldova 0.720 Equatorial Guinea 0.719 Uzbekistan 0.710 Kyrgyzstan 0.710 Cape Verde 0.708 Negara IPM
Data 2007

0.008 0.007 0.005 0.002 0.007 0.004 0.005 0.004
Perubahan dibandingkan dengan data 2006

122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148

Perubahan dibandingkan dengan data 2006 (1) (1) (1) (1) (1) (1)

(1) (1)

(1) (1) (2)

(2) (2)

Guatemala Egypt Nicaragua Botswana Vanuatu Tajikistan Namibia South Africa Morocco São Tomé and Príncipe Bhutan Laos India Solomon Islands Republic of the Congo Cambodia Myanmar Comoros Yemen Pakistan Swaziland Angola Nepal Madagascar Bangladesh Kenya Papua New

0.704 0.703 0.699 0.694 0.693 0.688 0.686 0.683 0.654 0.651 0.619 0.619 0.612 0.610 0.601 0.593 0.586 0.576 0.575 0.572 0.572 0.564 0.553 0.543 0.543 0.541 0.541

0.008 0.003 0.003 0.011 0.005 0.005 0.008 0.003 0.006 0.006 0.011 0.006 0.008 0.006 0.002 0.009 0.002 0.003 0.007 0.004 0.003 0.012 0.006 0.006 0.008 0.006 0.005

31

149 150 151 152 153 154 155 156 157 158

(2) (1) (1)

(1) (1)

Guinea Haiti Sudan Tanzania Ghana Cameroon Mauritania Djibouti Lesotho Uganda Nigeria

0.532 0.531 0.530 0.526 0.523 0.520 0.520 0.514 0.514 0.511

0.006 0.005 0.011 0.008 0.004 0.001 0.003 0.003 0.009 0.00

2.2 DISTRIBUSI PENDAPATAN 2.2.1 Definisis Distribusi Pendapatan Konsep Dasar Distribusi Pendapatan Pada umumnya ada 3 macam indikator distribusi pendapatan yang sering digunakan dalam penelitian. Pertama, indikator distribusi pendapatan perorangan. Kedua, kurva Lorenz. Ketiga, koefisien gini. Masing-masing indikator tersebut mempunyai relasi satu sama lainnya. Semakin jauh kurva Lorenz dari garis diagonal maka semakin besar ketimpangan distribusi pendapatannya. Begitu juga sebaliknya, semakin berimpit kurva Lorenz dengan garis diagonal, semakin merata distribusi pendapatan. Sedangkan untuk koefisien gini, semakin kecil nilainya, menunjukkan distribusi yang lebih merata. Demikian juga sebaliknya. 1. Distribusi Ukuran 2. Kurva Lorenz 3. Koefisien Gini Studi empiris menunjukkan bahwa bentuk kurva Lorenz untuk kasus negara berkembang pada umumnya semakin menjauhi dibandingkan dengan negara maju. Apabila dilihat koefisien gini, negara maju mempunyai nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan negara berkembang.

32

Konsep Pendapatan (Income) Pendapatan adalah total penerimaan (uang atau bukan uang) seseorang atau suatu rumah tangga selama periode tertentu. Ada tiga sumber penerimaan rumah tangga, yaitu: 1. Pendapatan dari gaji dan upah Gaji dan upah adalah balas jasa atas kesediaan seseorang menghasilkan barang/ jasa. 2.Pendapatan dari aset produktif Aset produktif adalah aset yang meberikan pemasukan atas balas jasa penggunaannya. Ada dua asset produktif. Pertama, aset finansial, seperti tabungan/ depositoyang menghasilkan pendapatan bunga; saham yang menghasilkan deviden dan keuntungan atas modal bila diperjualbelikan. Kedua, asset bukan finansial, seperti rumah/ tanah yang memberikan sewa. 3. Pendapatan dari pemerintah (transferpayment) Pendapatan dari pemerintah adalah pendapatan yang diterima bukan karena balas jasa atas input yang diberikan, misalnya dalam bentuk tunjangan social bagi para penganggur, jaminan social bagi orang – orang miskin dan berpendapatan rendah. Trend dalam distribusi pendapatan: 1. Kesenjangan Kota dan Desa 2. Kesenjangan Regional 3. Kesenjangan Interpersonal 4. Kesenjangan Antara Kelompok social Kuznets (1995) dalam penelitiannya di negara-negara maju berpendapat bahwa pada tahap-tahap pertumbuhan awal, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap-tahap berikutnya hal itu akan membaik. Penelitian inilah yang kemudian dikenal secara luas sebagai konsep kurva Kuznets U terbalik. Sementara itu menurut Oshima (1992) bahwa negara-negara Asia nampaknya mengikuti kurva Kuznets dalam kesejahteraan pendapatan. Ardani (1992) mengemukakan bahwa kesenjangan/ketimpangan antar daerah merupakan

33

konsekuensi logis pembangunan dan merupakan suatu tahap perubahan dalam pembangunan itu sendiri. 2.2.2 Distribusi Ukuran Distribusi ukuran adalah besar atau kecilnya pendapatan yang diterima masingmasing orang. o Distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution of income) atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income) merupakan indikator yang paling sering digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga. o Yang diperhatikan di sini adalah seberapa banyak pendapatan yang diterima seseorang, tidak peduli dari mana sumbernya, entah itu bunga simpanan atau tabungan, laba usaha, utang, hadiah ataupun warisan. o Lokasi sumber penghasilan (desa atau kota) maupun sektor atau bidang kegiatan yang menjadi sumber penghasilan (pertanian, industri, perdagangan, dan jasa) juga diabaikan. o Bila si X dan si Y masing-masing menerima pendapatan yang sama per tahunnya, maka kedua orang tersebut langsung dimasukkan ke dalam satu kelompok atau satu kategori penghasilan yang sama, tanpa mempersoalkan bahwa si X memperoleh uangnya dari membanting tulang selama 15 jam sehari, sedangkan si Y hanya ongkang-ongkang kaki. o Berdasarkan pendapatan tersebut, lalu dikelompokkan menjadi lima kelompok,
biasa disebut kuintil (quintiles) atau sepuluh kelompok yang disebut desil (decile) sesuai dengan tingkat pendapatan mereka, kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok.

o Selanjutnya dihitung berapa % dari pendapatan nasional yang diterima oleh
masing-masing kelompok, dan bertolak dari perhitungan ini mereka langsung

34

memperkirakan tingkat pemerataan atau tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di masyarakat atau negara yang bersangkutan.

TABEL 1

35

(TYPICAL SIZE DISTRIBUTION OF PERSONAL INCOME IN A DEVELOPING COUNTRY BY INCOME SHARES-QUINTALES AND DICILES)
o Indikator yang memperlihatkan tingkat ketimpangan atau pemerataan distribusi pendapatan diperoleh dari kolom 3, yaitu perbandingan antara pendapatan yang diterima oleh 40 persen anggota kelompok bawah (mewakili lapisan penduduk termiskin) dan 20 persen anggota kelompok atas (lapisan penduduk terkaya). o Rasio inilah yang sering dipakai sebagai ukuran tingkat ketidakmerataan antara dua kelompok ekstrem, yaitu kelompok yang sangat miskin dan kelompok yang sangat kaya di dalam suatu negara. Rasio ketidakmerataan dalam contoh di atas adalah 14 dibagi dengan 51, atau sekitar 1 berbanding 3,7 atau 0,28.

o Peta pendapatan jika total populasi dibagi menjadi sepuluh kelompok (desil) yang masing-masing menguasai pangsa 10 persen pada kolom o 10 persen populasi terbawah (dua individu atau rumah tangga yang paling miskin) hanya menerima 1,8 persen dari total pendapatan, sedangkan 10 persen kelompok teratas (dua individu atau rumah tangga terkaya) menerima 28,5 persen dari pendapatan nasional. o Bila ingin diketahui berapa yang diterima oleh 5 persen kelompok teratas, maka jumlah penduduknya harus dibagi menjadi 20 kelompok yang masingmasing anggotanya sama (masing-masing kelompok terdiri dari satu individu) dan kemudian dihitung persentase total pendapatan yang diterima oleh lima kelompok teratas dari pendapatan nasional atau total pendapatan yang diterima oleh kedua puluh kelompok tersebut. o Dari Tabel 5-1, kita bisa mengetahui bahwa pendapatan 5 persen penduduk terkaya (20 individu) menerima 15 persen dari pendapatan, lebih tinggi dibandingkan dengan total pendapatan dari 40 persen kelompok terendah (40 persen rumah tangga yang paling miskin).

36

2.2.3 Kurva Lorenz o Sumbu horisontal menyatakan jumlah penerimaan pendapatan dalam persentase
kumulatif. Misalnya, pada titik 20 kita mendapati populasi atau kelompok terendah (penduduk yang paling miskin) yang jumlahnya meliputi 20 persen dari jumlah total penduduk. o Pada titik 60 terdapat 60 persen kelompok bawah, demikian seterusnya sampai pada sumbu yang paling ujung yang meliputi 100 persen atau seluruh populasi atau jumlah penduduk. o Sumbu vertikal menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase jumlah (kelompok) penduduk tersebut.

o Sumbu tersebut juga berakhir pada titik 100 persen, sehingga kedua sumbu
(vertikal dan horisontal) sama panjangnya.

GAMBAR 1 KURVA LORENZ

o Setiap titik yang terdapat pada garis diagonal melambangkan persentase jumlah penerimanya (persentase penduduk yang menerima pendapatan itu terdapat total

37

o penduduk atau populasi). Sebagai contoh, titik tengah garis diagonal melambangkan 50 persen pendapatan yang tepat didistribusikan untuk 50 persen dari jumlah penduduk. o Titik yang terletak pada posisi tiga perempat garis diagonal melambangkan 75 persen pendapatan nasional yang didistribusikan kepada 75 persen dari jumlah penduduk. o Garis diagonal merupakan garis "pemerataan sempurna" (perfect equality) dalam distribusi ukuran pendapatan. o Persentase pendapatan yang ditunjukkan oleh titik-titik di sepanjang garis diagonal tersebut persis sama dengan persentase penduduk penerimanya terhadap total penduduk.
o Kurva Lorenz memperlihatkan hubungan kuantitatif actual antara persentase jumlah penduduk penerima pendapatan tertentu dari total penduduk dengan persentase pendapatan yang benar-benar mereka peroleh dari total pendapatan selama, misalnya, satu tahun. o Sumbu horisontal dan sumbu vertikal dibagi menjadi sepuluh bagian yang sama; sumbu vertikal mewakili kelompok atau kategori (jumlah-jumlah) pendapatan, sedangkan sumbu yang horisontal melambangkan kelompok-kelompok penduduk atau rumah tangga yang menerima masing-masing dari kesepuluh kelompok pendapatan tersebut. o Titik A menunjukkan bahwa 10 persen kelompok terbawah (termiskin) dari total penduduk hanya menerima 1,8 persen total pendapatan (pendapatan nasional). o Titik B menunjukkan bahwa 20 persen kelompok terbawah yang hanya menerima 5 persen dari total pendapatan, demikian seterusnya bagi masing-masing 8 kelompok lainnya. Perhatikanlah bahwa titik tengah, menunjukkan 50 persen penduduk hanya menerima 19,8 persen dari total pendapatan.

38

Figur 5-2a: Distribusi pendapatan yang relatif merata (ketimpangannya tidak parah).

Figur 5-2b: Distribusi pendapatan yang relatif tidak merata (ketimpangannya parah).

GAMBAR 2 THE GREATER THE CURVATURE OF THE LORENZ LINE, THE GREATER THE RELATIVE DEGREE OF INEQUALITY

39

3.2.4

Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat

Koefisien gini adalah ukuran statistik pertebaran paling menonjol digunakan sebagai ukurab ketidaserataan distribusi pendapatan atau ketidakmerataan distribusi kekayaan. Hal ini ditetapkan sebagai rasio dengan nilai antara 0 dan 1, koefisien Gini yang rendah menunjukkan lebih sama distribusi pendapatan atau kekayaan, sedangkan koefisien Gini yang tinggi menunjukkan ketidakmerataan distribusi. 0 berkaitan dengan kesetaraan sempurna (setiap orang memiliki pendapatan yang sama persis) dan 1 berkaitan dengan ketidaksetaraan sempurna (di mana satu orang memiliki semua pendapatan, sementara orang lain memiliki pendapatan nol). Keuntungan dengan menggunakan indeks gini sebagai ukuran ketidakmerataan adalah : • Koefisien Gini menunjukkan ukuran ketidaksetaraan melalui sebuah alat analisis rasio, daripada variabel tidak representatif dari sebagian besar masyarakat, seperti pendapatan per kapita atau produk domestik bruto. • Dapat digunakan untuk membandingkan distribusi pendapatan penduduk di berbagai sektor maupun negara, misalnya koefisien Gini untuk daerah perkotaan yang berbeda dari daerah pedesaan di banyak negara (walaupun di negara Amerika Serikat nilai koefisien gini di wilayah perkotaan dan pedesaan hampir sama). • Indeks gini dapat membandingkan lintas daerah atau lintas negara dan mudah diinterpretasikan. PDB statistik sering dikritik karena tidak mewakili perubahan bagi seluruh penduduk. Indeks gina akan menunjukkan seberapa besar pendapatan perkapita ternyata mengalami ketimpangan. Jadi meskipun pendapatan perkapita naik, namun apabila indeks gini masih tinggi artinya kemiskinan bisa jadi masih ada dalam masyarakat • Koefisien Gini yang dapat digunakan untuk menunjukkan bagaimana distribusi pendapatan telah berubah dalam suatu negara selama periode waktu

40

tertentu, sehingga sangat mungkin untuk melihat apakah ketidakmerataan meningkat atau menurun. n KG= 1 – ∑ fii (Yi + Yi + t)
i=1

KG X fi Yi

= Angka Koefisien Gini = Proporsi jumlah rumah tangga kumulatif dalam kelas i = Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas I = Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga kumulatif kelas I

o Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang relatif sangat sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada. o Pada Figur 5-6, rasio yang dimaksud adalah rasio atau perbandingan bidang A terhadap total segitiga BCD. Rasio inilah yang dikenal sebagai rasio konsentrasi Gini (Gini concentration ratio) yang seringkali disingkat dengan istilah koefisien Gini (Gini coefficient). o Istilah tersebut diambil dari nama seorang ahli statistic Italia yang pertama kali merumuskannya pada tahun 1912.

41

GAMBAR 3 ESTIMATING THE GINI COEFOCIENT CURVE
o Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan/ kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). o Angka ketimpangan untuk negara-negara yang ketimpangan pendapatan di kalangan penduduknya dikenal tajam berkisar antara 0,50 hingga 0,70. o Untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal relatif paling baik (paling merata), berkisar antara 0,20 sampai 0,35.

42

3.2.5

Hipotesis Kuznets

Data data ekonomi periode 1970 – 1980, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan terutama di LDS (Less Developing Countries), terutama di negara negara yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat, seperti Indonesia, menunjukan seakan akan korelasi positif antara laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesenjangan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan produk domestik bruto, atau semakin tinggi tingkat pendapatan per kapita, maka semakin besar perbedaan antara kaum miskin dan kaum kaya. Bahkan studi yang dilakukan di negara negara Eropa Barat, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak atau justru membuat ketimpangan antara kaum miskin dan kaum kaya semakin melebar. Jantti (1997) dalam Tulus Tambunan (2003) mengemukakan bahwa fenomea tersebut timbul karena adanya perubahan suplly of labor (masuknya buruh murah dari Turki, atau negara Eropa Timur kedalam pasar buruh di Eropa Barat). Berdasarkan fakta tersebut, muncul pertanyaan: mengapa terjadi trade-off antara pertumbuhan dan kesenjangan ekonomi dan untuk berapa lama? Kerangka pemikiran ini yang melandasi Hipotesis Kuznets. Yaitu, dalam jangka pendek ada korelasi positip antara pertumbuhan pendapatan perkapita dengan kesenjangan pendapatan. Namun dalam jangka panjang hubungan keduanya menjadi korelasi yang negatif. Artinya, dalam jangka pendek meningkatnya pendapatan akan diikuti dengan meningkatnya kesenjangan pendapatan, namun dalam jangka panjang Hipotesis Kuznets”. Namun, hipotesis Kuznets ini mulai dipertanyakan. Beberapa studi yang mengambil data time series membuktikan bahwa dalam beberapa negara yang masih bertumpu pada sektor pertanian (rural economy) menunjukan hubungan negatif. Ini berarti bertolak belakang dari hipotesis Kuznets. peningkatan pendapatan akan diikuti dengan penurunan kesenjangan pendapatan. Fenomena ini dikenal dengan nama “Kurva U terbalik dari

43

Pemahaman atas variabel variable tersebut akan membuktikan bahwa negara pertanian tidak identik dengan kemiskinan atau mungkin lebih tepatnya adalah kesejahteraan pun bisa meningkat di negara-negara yang berbasis pertanian. Procovitch pernah menyampaikan beberapa dugaannya tentang sebab-sebab terjadinya kepincangan pembagian pendapatan yakni pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, perkembangan kota desa, dan sistem pemerintahan yang bersifat plutokratis. Beberapa aspek yang telah diduga oleh Procovits pada tahun 1955 dikembangkan oleh Kuznets, yang sampai dewasa ini masih dikenal dengan hipotesa Kuznets, yang menimbulkan kontroversi di kalangan peneliti distribusi pendapatan di berbagai negara. Hipotesa ini menyatakan bahwa hubungan tingkat pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kepincangan pembagian pendapatan pada tahap ini menjadi negatif. Jadi, tahap pertama pembangunan ekonomi akan mengalami tingkat kepincangan pembagian pendapatan yang semakin memburuk, stabil dan akhirnya menurun. Pola perkembangan ini menurut Kuznets tidak terlepas dari kondisi sosial dan ekonomi suatu masyarakat. Penyebabnya adalah terjadinya konsentrasi kekayaan pada kelompok atas, kurang efektifnya pajak yang progresif, dan terjadinya akumulasi pemilikan modal. Chiswick menyatakan bahwa dengan meningkatnya pembangunan ekonomi, kesenjangan pembagian penghasilan masyarakat juga meningkat, karena semakin cepat ekonomi berkembang, maka orang mengharapkan hasil yang semakin tinggi dari pendidikannya ; sementara, kesempatan pendidikan sangat terbatas. Tingkat partisipasi penduduk dalam lapangan pekerjaan berkaitan dengan jumlah penduduk muda yang sedang sekolah atau sedang bekerja. Pekerja-pekerja muda yang tingkat pendidikan dan keterampilannya relatif rendah akan memperoleh upah yang rendah pula, dan hal ini akan membuat pembagian pendapatan semakin senjang. Sebaliknya, jika penduduk muda ini masih tetap menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan kemampuan dan keterampilannya, berakibat berkurangnya kelompok penduduk yang

44

berpendapatan rendah sehingga akibat selanjutnya adalah tingkat kesenjangan distribusi pendapatan pun akan menurun. 2.2.6 Ketimpangan Distribusi Pendapatan di Indonesia

Masalah ketimpangan dalam distribusi pendapatan dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu : 1. Distribusi pendapatan antar golongan pendapatan (size distribution of income) atau ketimpangan relatif. 2. Distribusi pendapatan antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan (urban-rural income disparities). 3. Distribusi pendapatan antar daerah (regional income disparities). 1. Distribusi Pendapatan Antar Golongan Pendapatan Jika dilihat dari hasil penelitian SUSENAS dengan menggunakan koefisien Gini, maka akan terlihat bahwa distribusi pendapatan di daerah perkotaan di Jawa lebih buruk daripada daerah di luar Jawa, begitu pula dengan daerah pedesaannya daerah Jawa memiliki tingkat kesenjangan distribusi pendapatan yang rendah bila dibandingkan dengan daerah di luar Jawa. 2. Distribusi Pendapatan Antara Daerah Perkotaan dan Pedesaan Menurut Gupta dari World Bank, pola pembangunan Indonesia memperlihatkan suatu urban bias, yaitu pembangunan yang berorientasi ke daerah perkotaan, dengan tekanan yang berat pada sektor industri yang terorganisir, yang merupakan sebab terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan yang lebih parah lagi di kemudian hari. Menurut Micahel Lipton, seorang ekonom Inggris, urban bias seringkali terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia di mana alokasi sumber-sumber daya lebih banyak diprioritaskan di daerah perkotaan daripada pertimbangan pemerataan

45

atau efisiensi. Kembali kita perhatikan penjelasan teori ekonomi yang dualistik tentang terjadi kesenjangan pembagian pendapatan di negara-negara sedang berkembang, maka pertama-tama relavansinya terlihat dalam pola kesenjangan yang berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Oshima menjelaskan keadaan ini (kesenjangan di desa lebih tinggi dari pada di kota), sebagai hal yang unik. Dia meramalkan kesenjangan tersebut akan lebih lebar jika proses pembangunan pedesaan masih akan berlanjut. 3. Distribusi Pendapatan Antar Daerah Ketimpangan dalam perkembangan ekonomi antar berbagai daerah di Indonesia serta penyebaran sumber daya alam yang tidak merata menjadi penyebab tidak meratanya distribusi pendapatan antar daerah di Indonesia khususnya. Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan atau kesenjangan ekonomi dan tingkat kemiskinan merupakan dua masalah besar di banyak negara berkembang, tak terkecuali di Indonesia. Berawal dari distribusi pendapatan yang tidak merata yang kemudian memicu terjadinya ketimpangan pendapatan sebagai dampak dari kemiskinan. Hal ini akan menjadi sangat serius apabila kedua masalah tersebut berlarut-larut dan dibiarkan semakin parah, pada akhirnya akan menimbulkan konsekuensi politik dan sosial yang dampaknya cukup negatif. Negara Indonesia secara geografis dan klimatalogis merupakan negara yang mempunyai potensi ekonomi yang sangat tinggi. Dengan garis pantai yang terluas di dunia, iklim yang memungkinkan untuk pendayagunaan lahan sepanjang tahun, hutan dan kandungan bumi Indonesia yang sangat kaya, merupakan bahan (ingredient) yang utama untuk membuat negara menjadi negara yang kaya. Suatu perencanaan yang bagus yang mampu memanfaatkan semua bahan baku tersebut secara optimal, akan mampu mengantarkan negara Indonesia menjadi negara yang makmur. Ini terlihat pada hasil hasil Pelita III sampai dengan Pelita V yang dengan pertumbuhan

46

ekonomi rata rata 7% - 8% membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan penduduk yang tinggi. Dan Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapat julukan “Macan Asia”. Namun ternyata semua pertumbuhan ekonomi dan pendapatan tersebut ternyata tidak memberikan dampak yang cukup berarti pada usaha pengentasan kemiskinan. Indonesia adalah sebuah negara yang penuh paradoks. Negara ini subur dan kekayaan alamnya melimpah, namun sebagian cukup besar rakyat tergolong miskin. Pada puncak krisis ekonomi tahun 1998-1999 penduduk miskin Indonesia mencapai sekitar 24% dari jumlah penduduk atau hampir 40 juta orang. Tahun 2002 angka tersebut sudah turun menjadi 18%, dan pada menjadi 14% pada tahun 2004. Situasi terbaik terjadi antara tahun 1987-1996 ketika angka rata-rata kemiskinan berada di bawah 20%, dan yang paling baik adalah pada tahun 1996 ketika angka kemiskinan hanya mencapai 11,3%. Di Indonesia pada awal orde baru para pembuat kebijaksanaan dan perencana pembangunan di Jakarta masih sangat percaya bahwa proses pembangunan ekonomi yang pada awalnya terpusatkan hanya di Jawa, Khususnya Jakarta dan sekitarnya, dan hanya di sector-sektor tertentu saja, pada akhirnya akan menghasilkan “Trickle Down Effects”. Didasarkan pada pemikiran tersebut, pada awal orde baru hingga akhir tahun 1970-an, strategi pembangunan ekonomi yang dianut oleh pemerintahan Orde Baru lebih berorientasi kepada pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa memperhatikan pemerataan pembangunan ekonomi. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pusat pembangunan ekonomi nasional di mulai di Pulau Jawa dengan alasan bahwa semua fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan, seperti transportasi, telekomunikasi, dan infrastruktur lainnya lebih tersedia di pulau jawa, khususnya Jakarta, dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Pembangunan saat itu juga hanya terpusatkan pada sektor-sektor tertentu saja yang secara potensial memiliki kemampuan besar untuk menyumbang nilai pendapatan nasional yang tinggi. Pemerintah saat itu percaya bahwa nantinya hasil dari pembangunan itu akan menetes ke sektor-sektor dan wilayah Indonesia lainnya. 47

Ada berbagai cara untuk mengetahui prestasi pembangunan suatu negara yaitu dengan pendekatan ekonomi dan pendekatan non-ekonomi. Dalam pendekatan ekonomi dapat dilakukan berdasarkan tinjauan aspek pendapatan maupun aspek non pendapatan. Dalam aspek pendapatan digunakan konsep pendapatan perkapita, namun hal tersebut belum cukup untuk menilai prestasi pembangunan karena tidak mencerminkan bagaimana pendapatan nasional sebuah negara terbagi di kalangan penduduknya, sehingga tidak memantau unsur keadilan atau kemerataan. Untuk itu diperlukan data mengenai kemerataan distribusi pendapatan dimana perhatiannya bukan hanya pada distribusi pendapatan nasional tapi juga distribusi proses atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Krisis yang terjadi secara mendadak dan diluar perkiraan pada akhir dekade 1990-an merupakan pukulan yang sangat berat bagi pembangunan Indonesia. Bagi kebanyakan orang, dampak dari krisis yang terparah dan langsung dirasakan, diakibatkan oleh inflasi. Antara tahun 1997 dan 1998 inflasi meningkat dari 6% menjadi 78%, sementara upah riil turun menjadi hanya sekitar sepertiga dari nilai sebelumnya. Akibatnya, kemiskinan meningkat tajam. Antara tahun 1996 dan 1999 proporsi orang yang hidup di bawah garis kemiskinan bertambah dari 18% menjadi 24% dari jumlah penduduk. Pada saat yang sama, kondisi kemiskinan menjadi semakin parah, karena pendapatan kaum miskin secara keseluruhan menurun jauh di bawah garis kemiskinan. Indikator yang sering digunakan untuk mengetahui kesenjangan distribusi pendapatan adalah rasio gini dan criteria Bank Dunia (BPS, 1994). Nilai rasio gini

48

(gini ratio) berkisar antara nol dan satu. Bila rasio gini sama dengan nol berarti distribusi pendapatan amat merata sekali karena setiap golongan penduduk menerima bagian pendapatan yang sama. Secara grafis, ini ditunjukkan oleh berimpitnya kurva lorens dengan garis kemerataan sempurna. Namun, bila rasio gini sama dengan satu menunjukan bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna karena seluruh pendapatan hanya dinikmati oleh satu orang saja. Singkatnya, semakin tinggi nilai rasio gini maka semakin timpang distribusi pendapatan suatu negara. Sebaliknya, semakin rendah nilai rasio gini berarti semakin merata distribusi pendapatan. Berikut ini adalah Relative Income Trends, 1975-2007 yang dikeluarkan OECD. GRAFIK 1 RELATIVE INCOME TRENDS, 1975-2007 Kriteria Bank Dunia mendasarkan penilaian distribusi pendapatan atas pendapatan yang diterima oleh 40% penduduk berpendapatan terendah. Kesenjangan distribusi pendapatan dikategorikan: 1. Tinggi, bila 40% penduduk berpenghasilan terendah menerima kurang dari 12% bagian pendapatan. 2. Sedang, bila 40% penduduk berpenghasilan terendah menerima 12 hingga 17% bagian pendapatan 3. Rendah, bila 40%, penduduk berpenghasilan terendah menerima lebih dari 17% bagian pendapatan. Ketimpangan distribusi pendapatan diukur dengan menghitung persentase jumlah pendapatan penduduk dari kelompok yang berpendapatan rendah 40% terendah dibandingkan dengan total pendapatan seluruh penduduk. Persentase pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing kelompok masyarakat yang tinggal di 15 negara berkembang , memperlihatkan kadar parahnya masalah

49

ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga. Pembagian pendapatan untuk masing-masing kelompok masyarakat di 15 negara tersebut masih relatif sangat timpang. Porsi pendapatan yang diterima oleh 20% penduduk yang paling miskin hanya berkisar 5,2 % dari total pendapatan, sedangkan 10% serta 20% kelompok penduduk yang paling kaya masing-masing menerima 36,0% dan 51,8% dari pendapatan nasional. Bandingkanlah dengan negara-negara industri maju. Jepang, 20% penduduknya yang paling miskin menerima 8,7% dari keseluruhan pendapatan nasional, sedangkan 10% dan 20% penduduk terkaya hanya menerima 22,4% dan 37,5% dari pendapatan nasional. Di berbagai negara berkembang tidak terdapat hubungan yang jelas dan baku antara tingkat pendapatan per kapita dengan tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Sebagai contoh, pendapatan per kapita Sri Lanka hanya 1/6 pendapatan per kapita Brasil, akan tetapi ketimpangan pendapatan di Brasil (berdasarkan ketiga cara tersebut di atas) ternyata lebih buruk atau lebih parah daripada yang ada di Sri Lanka. Angka koefisien ini Sri Lanka adalah 0,30 sedangkan Brasil sebesar 0,60 yang menunjukkan ketimpangan pendapatan yang sangat besar jika diukur dari koefisien Gini normal. Paraguay dengan pendapatan 70 kali pendapatan Bangladesh memiliki ketidakmerataan yang lebih besar. Sebaliknya, Malaysia dengan pendapatan per kapita tahun 1996 sebesar 65% lebih tinggi dari pendapatan per kapita Kosta Rika, memiliki ketimpangan pendapatan yang tidak begitu besar. Akan tetapi, tingkat ketimpangan distribusi pendapatan di ketiga negara tersebut kurang lebih sama. Antara 1960 dan 1980 tingkat ketimpangan pendapatan melonjak, dan hal ini ternyata terjadi di semua negara-negara Dunia Ketiga nonkomunis. Koefisien Gini meningkat dari 0,544 menjadi 0,602 (kecenderungan ini adalah kecenderungan keseluruhan, artinya penjumlahan seluruh koefisien Gini dari setiap negara-negara berkembang tersebut).

50

Meskipun demikian, peningkatan pemerataan pendapatan terjadi di sejumlah negara berkembang berpenghasilan menengah yang bukan merupakan pengekspor minyak.

Sedangkan distribusi pendapatan di negara berkembang berpenghasilan rendah dan kelompok pengekspor minyak semakin timpang. Memburuknya (peningkatan angka) koefisien Gini pada dua kelompok negara

ini mencerminkan telah memburuknya distribusi pendapatan antara satu negara dibandingkan dengan negara-negara lain dan, tentu saja, memburuknya distribusi pendapatan di masing-masing negara berkembang itu sendiri. Mengingat besar atau kecilnya porsi atau bagian pendapatan yang diterima oleh kelompok-kelompok penduduk yang paling miskin tidak sama untuk masing-masing negara, maka mungkin saja suatu negara dengan GNP atau pendapatan per kapita yang tinggi justru mempunyai persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan internasional yang lebih besar dibandingkan dengan suatu negara yang pendapatan per kapitanya lebih rendah. Masalah-masalah kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan tersebut sesungguhnya tidak semata-mata disebabkan oleh proses-proses pertumbuhan ekonomi yang alamiah. Ada faktor-faktor lain yang bermain serta turut mempengaruhinya, yakni seperti jenis pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di negara yang bersangkutan, berbagai pengaturan politik dan kelembagaan yang dalam prakteknya ikut menentukan pola-pola distribusi pendapatan nasional, yang harus sengaja diciptakan sedemikian rupa dalam rangka lebih menyebarluaskan kue atau buah hasil pertumbuhan ekonomi kepada. Terdapat dua pendekatan : kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif 1. Kemiskinan absolut ( melihat jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan). 2. Kemiskinan relatif (hubungan populasi terhadap distribusi pendapatan).

51

Beban Kemiskinan Global Terjadi pada negara yang memiliki populasi yang besar pada kelompok-kelompok tertentu (kaum wanita), Anak –anak (sisi pendidikan dan kesehatan). Beban tersebut dapat dilihat dari extreme poverty line dan poverty line. Perbedaan Kemiskinan dengan Ketimpangan Pendapatan. - Kemiskinan berkaitan dengan standar hidup yang absolut. - Sedangkan Ketimpangan pada standar hidup relatif dari seluruh masyarakat. Kategori ketimpangan ditentukan dengan menggunakan kriteria seperti berikut: • • • ketimpangan pendapatan tinggi ketimpangan pendapatan sedang ketimpangan pendapatan rendah Sesuai pernyataan yang kami utarakan pada bab satu di pendahuluan, bahwasanya masalah ketimpangan sudah terjadi dan dialami oleh bangsa ini semenjak jaman penjajahan. Seiring berjalannya waktu, ketimpangan distribusi pendapatan seperti sudah menjadi tradisi dalam kehidupan bangsa ini. Hal tersebut dilanjutkan mulai dari pemerintahan pertama yaitu orde lama sampai sekarang, dan yang paling parah adalah saat orde baru. Pemerintahan orde baru memang mewariskan pembangunan fisik yang bernilai positif bagi bangsa, namun pada saat rezim Soeharto tersebut juga mewariskan kelemahan mentalitas bangsa, seperti tradisi korup serta hidup mewah di kalangan elite. Untuk bisa hidup mewah, elite penguasa mempraktekkan KKN dengan penguasa besar, melupakan kepentingan rakyat yang berakibat melebarnya jurang antara kaya dengan rakyat jelata yang semakin hari kian bertambah miskin. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto memprioritaskan pertumbuhan ekonomi nasional, economic growth, yang mengacu pada percepatan kenaikan GNP. Soeharto menelantarkan perkembangan ekonomi nasional, economic development, yang mengembangkan potensi ekonomi masyarakat dalam rangka pemerataan pendapatan nasional.

52

Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto sebelum krisis moneter, para konglomerat Indonesia membanggakan diri sebagai motor pembangunan ekonomi nasional, tetapi ternyata pondasi ekonomi itu ternyata keropos. Data ekonomi makro Indonesia akhir 1995 menunjukkan bahwa walaupun GNP Indonesia masih lebih baik dari Cina dan Vietnam, tetapi potensi konflik sudah terakumulasi karena kesenjangan ekonomi di berbagai komponen bangsa teramat besar, justru karena pemerintah menganakemaskan konglomerat dan tidak memberdayakan ekonomi rakyat. Kesenjangan itu terjadi antara pelaku ekonomi nasional dengan pelaku ekonomi asing. Antara golongan kaya dengan golongan miskin, teristimewa antara pribumi dengan nonpribumi. Walaupun hasil produksi domestik kita (GDP, gross domestic product) rata-rata mencapai 3.500 dolar per orang setahunnya, tetapi yang bisa dihitung sebagai pendapatan nasional (GNP, gross national product) cuma 960 dolar per orang setahunnya. Ini berarti 2.540 dolar dinikmati investor dan kreditor asing (bandingkan Jepang yang GDP-nya 'hanya' 14.000 dolar tetapi GNP-nya mencapai 20.000 dolar berkat hasil investasinya di luar negeri). Pendapatan nasional yang cuma 960 dolar itu ternyata tidak terbagi secara harmonis di antara kelompok warga negara. Karena 80 persen nilai aktivitas ekonomi nasional dilakukan 300 grup konglomerat saja, sedangkan selebihnya hampir dua ratus juta rakyat cuma kebagian 20 persen porsi ekonomi nasional. Dari 300 grup bisnis konglomerat itu, yang dimiliki nonpribumi ada 224 grup, sedangkan pribumi cuma diwakili 76 grup bisnis yang asetnya tidak sampai 10 persen aset konglomerat nonpribumi. Ketimpangan makro-ekonomi ini berdampak pada hampir seluruh sektor ekonomi nasional yang melahirkan kemiskinan struktural rakyat pribumi, akibat terbatasnya akses di sektor ekonomi dan keuangan. Andaikan pendapatan nasional terbagi merata dan berkeadilan, seorang pejabat setidaknya bisa memperoleh gaji (penghasilan sah) yang mencukupi, sehingga bisa menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu melayani 53

dan melindungi masyarakat. Tapi sayang sekali, sebagian besar pendapatan nasional (GNP) masuk ke kantong konglomerat, sedangkan negara hanya mendapat porsi kecil GNP, sehingga negara tidak mampu menggaji pegawainya secara pantas, sehingga pada kenyataannya penghasilan resmi Lurah kita jauh di bawah rata-rata GNP. Akibat ketimbangan distribusi pendapatan nasional, maka pada umumnya pejabat negara berpenghasilan di bawah rata-rata pendapatan nasional. 2.2.7 Ketimpangan Menyebabkan Ketertinggalan Di negara yang tingkat GNP dan pendapatan perkapitanya rendah, semakin timpang distribusi pendapatan maka permintaan agregat akan semakin dipenharuhi oleh perilaku konsumsi orang – orang kaya. Secara umum yang menyebabkan ketidakmerataan distribusi pendapatan di NSB menurut Irma Adelman dan Cynthia Taft Morris dalam Arsyad 1999, mengemukakan 8 sebab yaitu : 1. Pertambahan penduduk yang tinggi yang mengakibatkan menurunnya pendapatan per kapita. 2. Inflasi di mana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara proporsional dengan pertambahan produksi barang – barang. 3. Ketidakmerataan pembangunan antar daerah 4. Investasi yang sangat banyak dalam proyek – proyek yang padat modal (kapital intensif), sehingga persentasi pendapatan modal dari harta tambahan besar dibandingkan dengan persentase pendapatan yang berasal dari kerja sehingga pengangguran bertambahn 5. Rendahnya mobilitas sosial. 6. Pelaksanaan kebijaksanaan industri substituti impor yang mengakibatkan kenaikan harga – harga barang hasil industri untuk melindungi usaha – usaha golongan kapitalis.

54

7. Memburuknya nilai tukar ( term of trade ) bagi NSB dalam perdagangan dengan negara – negara maju, sebagai akibat ketidakelastisan permintaan negara – negara terhadap barang – barang ekspor NSB. 8. Hancurnya industri – industri kerajinan rakyat seperti pertukangan, industri rumah tangga, dan lain – lain. Seperti yang dikemukakan diatas tergambar pada data Poverty Gaps berikut ini:

Peraga distribusi pendapatan fungsional didalam sebuah perekonomian pasar. Indonesia memiliki satu kementerian negara yang memiliki tugas untuk mempercepat pembangunan daerah tertinggal yakni Kementerian Negara Percepatan Daerah Tertiggal (PDT). Tugas kementerian ini memiliki peran yang strategis dalam mengentaskan daerah-daerah di Indonesia baik di kawasan barat maupun timur dan kawasan terluar yang masih banyak tertinggal dibanding daerah lain. Meskipun sudah ada Kementerian PDT, masalah ketimpangan yang pada gilirannya membawa kepada ketertinggalan dalam hal pembangunan, semakin nyata terjadi di depan mata kita. Sejatinya, masalah ini adalah masalah besar bangsa kita yang sedang kita hadapi. Ini bukan hanya masalah parsial dan hanya menjadi tugas Kementerian PDT. Berbicara mengenai masalah ketertinggalan, negara ini sesungguhnya sedang mengalami proses ketertinggalan yang pelan tapi pasti. Hal ini antara lain disebabkan oleh maraknya

55

ketimpangan, baik itu ketimpangan pendapatan, pendidikan, maupun ketimpangan kualitas institusi birokrasi di negara ini. Salah satu hasil studi William Easterly (2006) mengungkapkan bahwa tingkat ketimpangan (inequality) yang tinggi merupakan penghambat kemakmuran, tumbuhnya institusi yang berkualitas, dan berkembangnya pendidikan yang bermutu tinggi. Laporan Bank Dunia (2005) bertajuk World Development Report menyebutkan dalam pengantarnya bahwa keadilan (equity) adalah salah satu aspek fundamental dalam mencapai kemakmuran jangka panjang bagi masyarakat secara keseluruhan. Meskipun ada klaim ini, perdebatan mengenai pengaruh ketimpangan terhadap pembangunan ekonomi masih berlanjut dengan serius. Perlu ditegaskan di sini, ketimpangan berkaitan dengan distribusi hasil (outcomes) seperti pendapatan, kemakmuran, konsumsi, dan dimensi-dimensi lain dari apa yang disebut sebagai kesejahteraan (well being). Sedangkan ketidakadilan (inequality) merujuk pada distribusi kesempatan (opportunities) yang mencakup aspek-aspek ekonomi, politik, dan sosial. Gelombang pertama (first wave) literatur mengenai pembangunan berargumentasi bahwa tingkat ketimpangan yang tinggi dapat mempercepat pertumbuhan dengan mengarahkan pendapatan lebih banyak lagi kepada para pemodal bertabungan tinggi (high saving capitalists) (Lewis, 1954, Kaldor, 1956, 1961). Argumen ini berangkat dari standar hipotesis di mana tingkat tabungan individu akan meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Ketika redistribusi sumberdaya dari kaum kaya ke kaum miskin cenderung menurunkan tingkat tabungan agregat dalam suatu perekonomian, akumulasi kapital akan menurun seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya ketidaksamaan cenderung meningkatkan investasi dan Sementara itu, literaturliteratur baru mengenai pertumbuhan membalikkan prediksi tersebut. Dengan seperangkat model teoritik dan studi-studi empiris mereka berargumentasi bahwa ketimpangan berdampak buruk terhadap pertumbuhan melalui saluran-saluran 56

ekonomi politik atau kendala akumulasi modal insani (human capital accumulation) (Galor and Zeira, 1993; Banerjee and Newman, 1993; Alesina and Rodrik, 1994; Persson and Tabellini, 1994). Hal yang sangat dekat dengan kemiskinan adalah ketimpangan (inequality) atau gap antara si miskin dan si kaya. Ketimpangan berkaitan dengan distribusi hasil seperti pendapatan, kemakmuran, konsumsi, dan dimensi-dimensi lain dari apa yang disebut sebagai kesejahteraan. Konsep inequality tersebut harus dibedakan dengan konsep equity yang merujuk pada distribusi kesempatan (opportunities) yang mencakup aspek-aspek ekonomi, politik, dan sosial. Dalam World Development Report 2006, World Bank (2006) berargumentasi bahwa ketimpangan dalam kesempatan dan akses ekonomi berpengaruh terhadap pembangunan ekonomi.

57

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 1. Pengertian pertumbuhan ekonomi harus dibedakan dengan pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi hanyalah merupakan salah satu aspek saja dari pembangunan ekonomi yang lebih menekankan pada peningkatan output agregat. Melalui pertumbuhan ekonomi, standar hidup membaik. Pertumbuhan ekonomi membawa perubahan. Barang-barang baru diproduksi, sementara yang lain menjadi ketinggalan mode. Ada yang yang percaya pertumbuhan merupakan tujuan dasar masyarakat, karena pertumbuhan mengangkat orang keluar dari kemiskinan dan meningkatkan kualitas kehidupan mereka.Yang lain mengatakan pertumbuhan ekonomi mengikis nilai-nilai tradisional dan menyebabkan eksploitasi, kerusakan lingkungan, dan korupsi. Krisis nilai tukar telah menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 2. Krisis nilai tukar telah menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah yang merosot tajam sejak bulan Juli 1997 menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun tajam. Namun, layaknya yang terjadi dan di dapati pada Negara-negara lain, Indonesia salah satu negara yang dapat memiliki kinerja yang lebih baik pada masa sekarang yaitu pasca krisis 1997 dan krisis global. kebijakan utama negara adalah untuk meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi dan untuk membuatnya tetap berlangsung dalam jangka panjang, yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan (saat ini mencapai 16%) dan pengangguran (di atas 10%) secara cepat akan tetapi disamping itu masih banyak hal yang dapat dilakukan Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui berbagai

58

sector-sektor dan regulasi yang memprotec perekonomian Indonesia agar tidak gampang terfluktuatif oleh pengaruh ekonomi luar. 3. Negara-negara maju pada tahap-tahap pertumbuhan awal, distribusi pendapatan cenderung memburuk, namun pada tahap-tahap berikutnya hal itu akan membaik. Begitu juga yang terjadi di negara-negara berkembang sehingga untuk melaksanakan pemerataan distribusi pendapatan secara optimal dan terhindar dari penyimpangan dapat di lakukan dengan konsep sebagai berikut Pertama, indikator distribusi pendapatan perorangan. Kedua, kurva Lorenz. Ketiga, koefisien gini. Masing-masing indikator tersebut mempunyai relasi satu sama lainnya. Semakin jauh kurva Lorenz dari garis diagonal maka semakin besar ketimpangan distribusi pendapatannya. Begitu juga sebaliknya, semakin berimpit kurva Lorenz dengan garis diagonal, semakin merata distribusi pendapatan. Sedangkan untuk koefisien gini, semakin kecil nilainya, menunjukkan distribusi yang lebih merata. 4. Tidak diragukan lagi bahwa perekonomian makro yang stabil adalah penting bagi pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan kondisi pertumbuhan ekonomi yang terbilang lamban dan sangat mudah terfluktuatif dan dengan kebijakankebijakan pemerintah dalam sector perekonomian dan sector-sektor lainnya yang kurang berjalan dengan optimal sangat membekap Indonesia pada kondisi yang tak sehat. Ketimpangan yang besar dalam distribusi pendapatan atau kesenjangan ekonomi dan tingkat kemiskinan merupakan dua masalah besar di banyak negara berkembang, tak terkecuali di Indonesia. Berawal dari distribusi pendapatan yang tidak merata yang kemudian memicu terjadinya ketimpangan pendapatan sebagai dampak dari kemiskinan. Hal ini akan menjadi sangat serius apabila kedua masalah tersebut berlarut-larut dan dibiarkan semakin parah, pada akhirnya akan menimbulkan konsekuensi politik dan sosial yang dampaknya cukup negatif.

59

3.2 Rekomendasi Peranan penting pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi 1. Beberapa negara sedang berkembang mengalami ketidak stabilan sosial, politik, dan ekonomi. Ini merupakan sumber yang menghalangi pertumbuhan ekonomi. Adanya pemerintah yang kuat dan berwibawa menjamin terciptanya keamanan dan ketertiban hukum serta persatuan dan perdamaian di dalam negeri. Ini sangat diperlukan bagi terciptanya iklim bekerja dan berusaha yang merupakan motor pertumbuhan ekonomi. 2. Ketidakmampuan atau kelemahan setor swasta melaksanakan fungsi entreprenurial yang bersedia dan mampu mengadakan akumulasi kapital dan mengambil inisiatif mengadakan investasi yang diperlukan untuk memonitori proses pertumbuhan. 3. Pertumbuhan ekonomi merupakan hasil akumulasi kapital dan investasi yang dilakukan terutama oleh sektor swasta yang dapat menaikkan produktivitas perekonomian. Hal ini tidak dapat dicapai atau terwujud bila tidak didukung oleh adanya barang-barang dan pelayanan jasa sosial seperti sanitasi dan program pelayanan kesehatan dasr masyarakat, pendidikan, irigasi, penyediaan jalan dan jembatan serta fasilitas komunikasi, program-program latihan dan keterampilan, dan program lainnya yang memberikan manfaat kepada masyarakat. 4. Rendahnya tabungan-investasi masyarakat (sekor swasta) merupakan pusat atau faktor penyebab timbulnya dilema kemiskinan yang menghambat pertumbuhan ekonomi. Seperti telah diketahui hal ini karena rendahnya tingkat pendapatan dan karena adanya efek demonstrasi meniru tingkat konsumsi di negara-negara maju olah kelompok kaya yang sesungguhnya bias menabung. 5. Hambatan sosial utama dalam menaikkan taraf hidup masyarakat adalah jumlah penduduk yang sangat besar dan laju pertumbuhannya yang sangat cepat. Program pemerintahlah yang mampu secara intensif menurunkan laju pertambahan penduduk yang cepat lewat program keluarga berencana dan melaksanakan program-program pembangunan pertanian atau daerah pedesaan 60

yang bisa mengerem atau memperlambat arus urbanisasi penduduk pedesaan menuju ke kota-kota besar dan mengakibatkan masalah-masalah social, politis, dan ekonomi. 6. Pemerintah dapat menciptakan semangat atau spirit untuk mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi yang cepat dan tidak hanya memerlukan pengembangan faktor penawaran saja, yang menaikkan kapasitas produksi masyarakat, yaitu sumber-sumber alam dan manusia, kapital, dan teknologi;tetapi juga faktor permintaan luar negeri. Tanpa kenaikkan potensi produksi tidak dapat direalisasikan

61

KEPUSTAKAAN Mark Skousen.2006. Teori-Teori Ekonomi Modern. Jakarta: Prenada Media Sadono Sukirno.2006.Mikro Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sadono Sukirno.2006.Makro Ekonomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada www.aw.com/todaro www.imf.com www.wapedia.com www.worldbank.com

62

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->