P. 1
Dampak Negatif Bagi Lingkungan Pasca Tsunami

Dampak Negatif Bagi Lingkungan Pasca Tsunami

|Views: 15,827|Likes:
Published by agung
Nice Information...........
Nice Information...........

More info:

Published by: agung on Apr 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/15/2015

pdf

text

original

DAMPAK NEGATIF PASCA TSUNAMI TERHADAP LINGKUNGAN PANTAI PANGANDARAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas akhir semester dalam upaya penambahan wawasan

Disusun Oleh : Chahyadi Gumilang NIS 070810119

PEMERINTAH KABUPATEN SUMEDANG DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENNENGAH ATAS NEGERI 2 CIMALAKA TAHUN 2009/ 2010

DAMPAK NEGATIF PASCA TSUNAMI TERHADAP LINGKUNGAN PANTAI PANGANDARAN

Disetujui oleh : Pembimbing

Eef Hidayat Kusnadi, S.Pd NIP 19591227 198503 1 006

Diketahui oleh : Kepala SMA Negeri 2 Cimalaka

Drs. Yeye Karnahidayat, M.M NIP 19541210 198003 1 013

DAMPAK NEGATIF PASCA TSUNAMI TERHADAP LINGKUNGAN PANTAI PANGANDARAN

Penyusun,

Chahyadi Gumilang NIS 070810119

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan petunjuk-Nya saya dapat menyelesaikan penulisan karya tulis yang berjudul Dampak Negatif Pasca Tsunami Terhadap Lingkungan Pantai Pangandaran. Karya tulis ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas akhir semester. Sehubungan dengan tersusunnya karya tulis ini penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada : 1. Yth. Drs. Yeye Karnahidayat, M.M. selaku Kepala Sekolah 2. Yth. Eef Hidayat Kusnadi, S.Pd selaku Wali Kelas dan Guru Pembimbing 3. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan laporan penelitian ini yang tidak mungkin disebutkan satu baersatu. Mudah-mudahan amal dan jasa baik mereka diterima oleh Allah SWT, dan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Amin, dan semoga karya tulis ini bermanfaat, khususnya bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya. Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih terdapat kekurangan dan kelemahannya, oleh karena itu, kritik dan saran para pembaca akan penulis terima dengan senang hati demi penyempurnaan karya tulis ini di masa yang akan datang.

Cimalaka,

November 2009

Penulis,

i

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR .................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................. BAB. I. PENDAHULUAN ........................................................................... 1.1. Latar Belakang ........................................................................... 1.2. Rumusan Masalah....................................................................... 1.3. Tujuan ......................................................................................... 1.4. Kegunaan .................................................................................... BAB. II. LANDASAN TEORITIS ................................................................ 2.1. Sejarah Pangandaran................................................................... 2.2. Pengertian Lingkungan .............................................................. 2.3.Pengertian Tsunami .................................................................... BAB. III. METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 3.1. Tempat Penelitian ....................................................................... 3.2. Rancangan Penelitian.................................................................. 3.3. Cara Kerja ................................................................................... BAB. IV. PEMBAHASAN............................................................................ 4.1. Dampak Tsunami ........................................................................ 4.2. Penyebab Terjadinya Tsunami.................................................... 4.3. Jawaban Pertanyaan .................................................................... 4.4. Hipotesis ..................................................................................... BAB. V KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 5.1. Kesimpulan ................................................................................. 5.2. Saran ........................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... i ii 1 1 1 2 2 2 2 3 4 5 5 5 5 6 6 7 8 8 9 9 9 10

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan daerah kepulauan yang sangat luas. Daerahnya merupakan tempat – tempat yang indah untuk dijadikan tempat wisata. Namun tempat yang indah di Indonesia ini sering kali terjadi tragedy ataupun musibah. Contonya daerah pangandaran yang saat ini telah dilanda tsunami dan menyebabkan kerusakan lingkungan dimana – mana. Kerusakan tersebut menyebabkan kerugian bagi berbagai pihak. Kerusakan yang dilanda oleh Indonesia khususnya di daerah pangandaran menjadikan Indonesia menjadi lemah. Dan untuk mengetahui bagaimana kerusakan lingkungan di pangandaran, penulis membuat sebuah laporan yang berjudul Dampak Negatif Pasca Tsunami Terhadap Lingkungan Pantai Pangandaran. Alasan penulis memilih judul Dampak Negatif Pasca Tsunami Terhadap Lingkungan Pantai Pangandaran karena Memang cerita atau jdul dari Karya tulis ini sangat menarik perhatian penulis dan karya tulis ini sangat menambah wawasan bagi Penulis Khususnya dan Umumnya bagi pembaca.

1.2. Rumusan Masalah Dari sekian permasalahan yang ada tidak mungkin penulis dapat membahasnya secara keseluruhan, karena mengingat kemampuan yang ada baik intelektual, biaya dan waktu yang dimiliki penulis sangat terbatas. Maka penulis perlu memberikan batasanbatasan masalah. Pembatasan masalah diperlukan untuk memperjelas permasalahan yang ingin dipecahkan. Oleh karena itu, penulis memberikan batasan sebagai berikut : Kerusakan lingkungan yang menyebabkan sumber daya alam menjadi tercemar

1

1.3. Tujuan 1. Mengetahui dampak negatif pasca tsunami di pangandaran. 2. Mengenal daerah lingkungan pangandaran. 3. Dapat Membuat suatu rancangan penelitian. 1.4. Kegunaan Orang – orang bias tahu bagaimana akibat dan cara menangani dampak/ tragedy kalu ada Tsunami, dan dapat mengenal lebih jauh apa yang dimaksud tsunami.

BAB II LANDASAN TEORITIS

2.1. Sejarah Pangandaran Pada mulanya Pananjung merupakan salah satu pusat kerajaan, sejaman dengan kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggan sekitar abad XIV M. setelah munculnya kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor. Nama rajanya adalah Prabu Anggalarang yang salah satu versi mengatakan bahwa beliau masih keturunan Prabu Haur Kuning, raja pertama kerajaan Galuh Pagauban, namun sayangnya kerajaan Pananjung ini hancur diserang oleh para Bajo (Bajak Laut) karena pihak kerajaan tidak bersedia menjual hail bumi kepada mereka, karena pada saat itu situasi rakyat sedang dalam keadaan paceklik (gagal panen). Pada tahun 1922 pada jaman penjajahan Belanda oleh Y. Everen (Presiden Priangan) Pananjung dijadikan taman baru, pada saat melepaskan seekor banteng jantan, tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa. Karena memiliki keanekaragaman satwa dan jenis – jenis tanaman langka, agar kelangsungan habitatnya dapat terjaga maka pada tahun 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan marga satwa dengan luas 530 Ha. Pada tahun 1961 setelah ditemukannya Bunga Raflesia padma status berubah menjadi cagar alam. Dengan meningkatnya hubungan masyarakat akan tempat rekreasi maka pada tahun 1978 sebagian kawasan tersebut seluas 37, 70 Ha dijadikan Taman Wisata. Pada tahun 1990 dikukuhkan pula kawasan perairan di sekitarnya sebagai cagar alam laut

2

(470,0 Ha) sehingga luas kawasan pelestarian alam seluruhnya menjadi 1000,0 Ha. Perkembangan selanjutnya, berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 104?KPTS-II?1993 pengusahaan wisata TWA Pananjung Pangandaran diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani dalam pengawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, Kesatuan Pemangkuan Hutan Ciamis, bagian Kemangkuan Hutan Pangandaran.

2.2. Pengertian Lingkungan Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar. Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang. Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Unsur Hayati (Biotik) Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia. 2. Unsur Sosial Budaya Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk

3

sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat. 3. Unsur Fisik (Abiotik) Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur, munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

2.3. Tsunami Tsunami (bahasa Jepang: ; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah

berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami. Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah lain. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.

4

Teks-teks geologi, geografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik". Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteotsunami yang ketinggiannya beberapa meter diatas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008. Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat penelitiaan Penelitian yang dilakukan oleh penulis dilakukan di pangandaran dan daerah sekitar pantai. 3.2. Rancangan Penelitiaan Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah penelitian metode kuantitatif, dengan menggunakan metode survey. 3.3. Cara Kerja 1. Mengidentifikasi masalah yang ada 2. Membuat Rancangan pertanyaan 3. Meneliti lingkungan sekitar/ survey pada lokasi 4. Menanyakan hal – hal yang sudah di rancang sebelumnya. 5. Membuat simpulan sementara/ hipotesis

Pertanyaan 1. Bagaimana mengurangi risiko dampak tsunami ? 2. Apa yang harus dilakukan setelah terjadi tsunami ? 3. Saat gempa bumi terjadi, sebagai awal terjadinya tsunami apa yang harus dilakukan ?

5

4. Akibat dari Tsunami ? 5. Dimana saja wilayah terjadinya Tsunami ?

BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Dampak dari Tsunami Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih. Kebanyakan kota di sekitar Samudra Pasifik, terutama di Jepang juga di Hawaii, mempunyai sistem peringatan dan prosedur pengungsian sekiranya tsunami diramalkan akan terjadi. Tsunami akan diamati oleh pelbagai institusi seismologi sekeliling dunia dan perkembangannya dipantau melalui satelit. Bukti menunjukkan tidak mustahil terjadinya megatsunami dan seiche, yang menyebabkan beberapa pulau tenggelam. Banyak yang menyebutkan bahwa tsunami adalah bagian dari gelombang pasang surut. Sebenarnya tsunami tidak mempunyai hubungan dengan pasang surut air laut. Pasang surut banyak dipengaruhi oleh gaya-gaya luar seperti gaya grafitasi yang dipengaruhi bulan, matahari, dan planet-planetnya sementara tsunami tidak ada hubungannya dengan faktor-faktor tersebut. Selain banyak yang menyebut tsunami sebagai gelombang pasang surut, banyak pula yang menyebutnya sebagai gelombang laut seismik. Pernyataan ini didasarkan bahwa tsunami digerakkan oleh adanya gempa bumi. Pernyataan ini juga tidak sepenuhnya benar karena tsunami tidak hanya terjadi akibat gempa bumi yang berkaitan dengan gelombang seismik tetapi bisa juga terjadi akibat letusan gunung api, tanah longsor, atau bahkan akibat jatuhnya meteor dari luar angkasa yang menghantam bumi dan kesemuanya itu bisa dikelompokkan ke dalam gelombang yang tidak ada kaitannya dengan seismik. Akan tetapi secara umum dan didasarkan data statistik, tsunami banyak terjadi akibat gempa, sebagaimana yang terjadi gempa bumi dan tsunami tahun 2004 beberapa waktu lalu. Kalau memang tsunami tidak berkaitan dengan pasang surut dan juga tidak sepenuhnya bisa disebut gelombang seismik, jadi apa gelombang tsunami tersebut?

6

Gelombang tsunami adalah suatu rangkaian gelombang atau ombak yang dihasilkan akibat perpindahan yang cepat dari suatu volume air akibat gangguan yang terjadi pada volume air tersebut. Pada saat tsunami terjadi, bukanlah gelombang pertama yang mampu menghancurkan semua yang dilaluinya akan tetapi rentetan gelombang berikutnyalah yang berpotensi menghancurkan. Nah apa yang bisa membuat gangguan pada suatu volume air tersebut? Banyak yang bisa membuat gangguan pada volume air tersebut seperti gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor, bahkan jatuhan meteor juga mampu menciptakan sebab-sebab terjadinya tsunami.

4.2. Penyebab terjadinya tsunami Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau. Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan kesetimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.

7

Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.

Syarat terjadinya tsunami akibat gempa
• Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km) • Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter • Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

4.3. Jawaban Pertanyaan 1. · Hindari bertempat tinggal atau tinggal di daerah sekitar 100 meter dari tepi

pantai, sebab berdasarkan riset daerah ini merupakan daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat tsunami, badai dan angin ribut. · Disarankan untuk menanam tanaman yang mampu menahan gelombang,

seperti palem, waru, camplung, beringin atau sejenis lainnya. · Ikuti tata guna lahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.

2.

· ·

Saat mendengar peringatan, segera sampaikan pada semua orang. Segera lakukan pengungsian, karena tsunami bisa terjadi dengan cepat hingga

waktu untuk mengungsi sangat terbatas. · · · Ikuti petunjuk dari pemerintah (Satlak PB-P) atau organisasi yang berwenang. Mengungsilah ke daerah yang lebih tinggi dan sejauh mungkin dari pantai. Ikuti perkembangan terjadinya bencana melalui media atau sumber yang bisa

dipercaya.

3.

·

Pada saat gempa bumi terjadi lindungilah diri dan keluarga

anda terlebih dahulu.

8

·

Begitu gempa berhenti, segera kumpulkan keluarga anda dan mengungsi ke

tempat yang aman, karena tsunami bisa terjadi dalam sekejap waktu. Mengungsilah ke tempat yang lebih tinggi dan · jauh dari pantai.

Hindari berada di bawah gedung, jembatan atau kabel listrik tegangan tinggi,

karena kemungkinan bangunan itu akan runtuh setelah gempa.

4.

· · · · ·

Banjir dan gelombang pasang. Kerusakan pada berbagai bentuk infrastruktur. Pencemaran air besih. Korban jiwa dan ancaman kemanusiaan. Mewabahnya virus dan bakteri penyakit.

5.

·

Pada umumnya tsunami terjadi di wilayah pesisir atau dekat pantai.

Dampak tsunami sangat besar terasa pada wilayah yang kurang dari 25 m dpl (diatas permukaan laut) dan jangkauan luas sekitar 1,8 km dari jarak pantai terdekat.

4.4. Hipotesis Dampak yang terjadi pasca tsunami yaitu banyaknya rumah, lingkungan, dan keadaan tanah yang menjadi rusak akibat terbawa arus tsunami. Kejadian tersebut menyebabkan kerugiaan dimana – mana, dan korban di mana – mana. Hal tersebut membuat seluruh lapisan masyarakat di pangandaran mendapat cobaan juga mendapat suatu peristiwa yang sangat trgais bagi mereka. Dan membuat semua lingkungan yang ada disana kotor dan tak layak dihuni. Semua itu adalah dampak yang terjadi pasca tsunami.

9

BAB V Kesimpulan dan saran
Jika tsunami datang
1. Jangan panik 2. Jangan menjadikan gelombang tsunami sebagai tontonan. Apabila gelombang tsunami dapat dilihat, berarti kita berada di kawasan yang berbahaya 3. Jika air laut surut dari batas normal, tsunami mungkin terjadi 4. Bergeraklah dengan cepat ke tempat yang lebih tinggi ajaklah keluarga dan orang di sekitar turut serta. Tetaplah di tempat yang aman sampai air laut benar-benar surut. Jika Anda sedang berada di pinggir laut atau dekat sungai, segera berlari sekuatkuatnya ke tempat yang lebih tinggi. Jika memungkinkan, berlarilah menuju bukit yang terdekat 5. Jika situasi memungkinkan, pergilah ke tempat evakuasi yang sudah ditentukan 6. Jika situasi tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan seperti di atas, carilah bangunan bertingkat yang bertulang baja (ferroconcrete building), gunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai yang paling atas (sedikitnya sampai ke lantai 3). 7. Jika situasi memungkinkan, pakai jaket hujan dan pastikan tangan anda bebas dan tidak membawa apa-apa

Sesudah tsunami
• • • • • Ketika kembali ke rumah, jangan lupa memeriksa kerabat satu-persatu Jangan memasuki wilayah yang rusak, kecuali setelah dinyatakan aman Hindari instalasi listrik Datangi posko bencana, untuk mendapatkan informasi Jalinlah komunikasi dan kerja sama degan warga sekitar Bersiaplah untuk kembali ke kehidupan yang normal

10

Daftar pustaka
• Iwan, W.D., editor, 2006, Summary report of the Great Sumatra Earthquakes and Indian Ocean tsunamis of 26 December 2004 and 28 March 2005: Earthquake Engineering Research Institute, EERI Publication #2006-06, 11 chapters, 100 page summary, plus CD-ROM with complete text and supplementary photographs, EERI Report 2006-06. [www.eeri.org] ISBN 1-932884-19-X • • • • • Dudley, Walter C. & Lee, Min (1988: 1st edition) Tsunami! ISBN 0-8248-1125-9 link KLH, 2005,RencanaKerjaKementerian Lingkungan Hidup 2005-2009. Memori Penjelasan kepada DPRRI tahun 2005 Peraturan Menteri Keuangan No 124/PMK.02/2005 tentang Penetapan Alokasi dan PedomanUmumDana Alokasi KhususTahun Anggaran 2006. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2005-2009.

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->