P. 1
Kumpulan Resensi Buku Novel

Kumpulan Resensi Buku Novel

2.0

|Views: 64,120|Likes:
Published by agung

More info:

Published by: agung on Apr 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/21/2013

pdf

text

original

SUPERNOVA

oleh : agustnasihin
Pengarang : Dee ( Dewi Lestari ) Diterbitkan di: April 05, 2008 Judul Buku :SUPERNOVA Penulis: Dee atau Dewi Lestari Penerbit: Truedee Books Tahun terbit cetakan ke-7 : 2006 ISBN : 979-96257-0-X Jumlah Halaman:286 Halaman Dimensi: 16x21 cm Diskripsi: Novel SUPERNOVA diperuntukan bagi Anda yang ingin Hidup. Apa yang hendak disampaikan di Supernova bukan sesuatu yang mudah dipahami. Kita berusaha merangkum sejarah miliaran tahun. Kita berusaha mendeteksi gerak-gerik sesuatu yang kecepatanya melebihi cahaya. Kita berusaha memuat apa yang hanya bisa dijangkau abstraksi bernama “iman” kedalam sel-sel otak kita yang usang.Tapi,jangan terlalu cepat berkecil hati. Dalam kompleksitas struktur dan mekanismenya, ada satu pola sederhana yang bisa kita tangkap.Mungkin malah terlalu sederhana,sehingga pikiran Anda yang sudah terbiasa hidup dalam kepelikan,tidak sanggup menerima.Namun itulah yang berusaha kita pelajari:bagaimana satu kesederhanaan dapat memecahkan semua kompleksitas. Saya bukan Guru,Anda bukan Murid. Saya hanya pembeber fakta. Perunut jaring laba-laba. Pengamat simpul-simpul dari untaian benang pearak yang tak terputus. Hanya ada satu paradigma di sini: KEUTUHAN.

Bergerak untuk SATU tujuan:menciptakan hidup yang lebih baik. Bagi kita.Bagi Dunia. Karya ini menjadi salah satu 5 besar Katulistiwa Literary Award. Tak hanya menuai kritik,pujian,dan perdebatan namun juga membawa angin segar yang menggeliatkan kembali industri Sasta di Indonesia. Telah menjadi best seller nasional dan episode pertamanya telah terjual 100 ribu buku. Karya Dewi Lestari dari Bandung ini menjadi inspirasi bagi Anda-anda penggelut dunia sastra terutama penciptaan karya cipta Novel. Salah satu kesegaran baru yang muncul sebagai penelusuran lewat sains,spiritualitas, dan percintaan yang cerdas ,unik dan mengguncang. Di dunia dengan jarak yang kian menyusut dan pikiran yang dituntut untuk kian mengglobal,Supernova bisa memberikan beberapa alternatif persepsi untuk memandang eksistensi manusia dan relasinya dengan seluruh aspek kehidupan

Because She Can - Bos Dari Neraka

Sinopsis : Saat Claire Truman diterima sebagai editor di penerbitan ternama, dia sudah mendengar desasdesus tentang calon bosnya, Vivian Grant: tiran kejam yang meninggalkan jejak berdarah sesudah amukannya yang legendaris, dan mitos itu diceritakan dari mulut ke mulut oleh para korban yang trauma. Namun, Claire setengah tak percaya dan hanya melihat kesuksesan Grant melontarkan buku demi buku ke puncak daftar best-seller. Tak ada asap jika tak ada api, Gosip-gosip itu rupanya beralasan, dan tak lama pekerjaan Claire pun menyita seluruh waktunya dan menggoyahkan hubungan dengan tunangannya. Keadaan itu tak jadi lebih mudah karena Claire bekerja dengan seorang pengarang yang brilian - dan ganteng. Ketika tuntutan-tuntutan Vivian semakin tak masuk akal, Claire pun mulai berantakan dan mempertanyakan kewarasan dirinya.

Spesifikasi Buku Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Pengarang : Bridie Clark Kelompok : Novel Bahasa : Indonesia Cover : softcover Label: Gramedia

The Smoke Jumper - Sang Penerjun

Sinopsis : Connor Ford tidak ragu menantang kobaran api untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya. Tapi ia tak mungkin memiliki wanita itu. Sebab Julia Bishop adalah pacar Ed Tully, sahabat Connor dan rekannya sesama Smoke Jumperpemadam kebakaran hutan. Julia mencintai keduanya - sampai tragedi kebakaran di Sungai Snake di daerah Montana memaksanya memilih salah satu dari dua pria itu sehingga meninggalkan luka batin bagi ketiganya. Ketiganya semakin menjauh, tapi nasib terus menautkan jalan hidup mereka. Tak peduli seberapa jauh mereka berpisah atau seberapa besar cobaan yang mereka hadapi, persahabatan mereka tidak putus begitu saja.... Spesifikasi Buku Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Pengarang : Nicholas Evans Kelompok : Novel

Bahasa : Indonesia Cover : softcover Label: Gramedia

The Anastasia Syndrome And Other Stories - Sindrom Anastasia dan kisah-kisah lainnya

Sinopsis : Novel pendek Sindrom Anastasia mengisahkan pengarang sejarah terkenal Judith Chase yang tinggal di London. Judith yang menjadi yatim-piatu semasa perang Dunia II ingin menelusuri asal-usulnya. Ia menghubungi psikoanalis ternama untuk menghipnotisnya supaya mundur ke masa lalu. Ternyata Judith tidak sekedar mundur ke masa kanak-kanaknya, ia terjebak dalam pusaran sejarah yang menjadi tema buku-buku karangannya. Saat kembali ke masa kini, ia mulai sering menderita hilang ingatan. Sementara itu London mulai diteror berbagai bom. Apa yang terjadi saat Judith hilang ingatan? Siapakah yang menyebar teror bom itu? Selain Sindrom Anastasia, buku ini juga berisi empat cerita lain yang tak kalah serunya. Cinta seorang murid sakit jiwa pada gurunya, istri yang curiga bahwa suaminya telah melakukan pembunuhan, roh saudara kembar yang membantu kembarannya yang terancam bahaya, dan usaha seorang ibu mencari putrinya yang dibawa lari suaminya. Dijamin anda akan terus membaca sampai halaman terakhir! Spesifikasi Buku Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Pengarang : Mary Higgins Clark

Kelompok : Novel Bahasa : Indonesia Cover : softcover Label: Gramedia

Cinta Terlarang

Sinopsis : Buku Terbaik Publisher Weekly 2007 Pemenang Rauxa Award 2007 Elio, seorang remaja pria Italia, merasa kalut dan kebingungan ketika merasa dirinya jatuh cinta setengah mati kepada tamu lelaki dari Amerika yang menginap di rumahnya selama musim panas. Tidak yakin terhadap keinginannya sendiri, ia berusaha keras mengingkari perasaan tertariknya yang tak wajar itu. Walaupun suka menyendiri dan lebih pandai bergaul dengan buku ketimbang dengan manusia, secara fisik ia sangat menarik dan banyak perempuan mengejarnya. Di luar dugaan, Elio tidak bertepuk sebelah tangan. Oliver ternyata membalas perasaannya. Di akhir musim panas itu, mereka pergi ke Roma sebelum Oliver pulang ke negaranya. Di kota itu, mereka menemukan kehangatan dan kebersamaan total yang jarang dimiliki pasangan lain, tanpa menyadari itulah terakhir kalinya mereka bisa berdua. Oliver kemudian pulang ke Amerika dan menikah dengan seorang wanita. Merasa dikhianati, Elio yang patah hati menolak bertemu dengan kekasihnya. Namun, seumur hidup ia tak mampu melepaskan diri dari bayangan Oliver. Ia menunggu bertahun-tahun untuk memastikan bahwa perasaan mereka bukan sekadar cinta semusim.

Novel ini mengisahkan liku-liku cinta terlarang dengan segala dilema dan tarik ulurnya. Hubungan Elio dan Oliver juga diwarnai hubungan bercabang mereka dengan sejumlah perempuan. Novel ini bukan hanya enak dibaca, tapi juga menghibur dan sekaligus membuka wawasan kita tentang makna cinta dan pengorbanan. Spesifikasi Buku Penerbit : Serambi Pengarang : Andre Aciman Kelompok : Novel Bahasa : Indonesia Cover : softcover Label: Serambi

The New Life - Kehidupan Baru

Sinopsis : 'Suatu hari aku membaca sebuah buku, dan seluruh hidupku pun berubah...' Osman, seorang mahasiswa muda, terobsesi dengan sebuah buku magis yang membahas sifat dasar cinta dan hakikat diri. Dia mengabaikan rumah dan keluarganya, menelantarkan studinya, dan kemudian melakukan pencarian makna rahasia-rahasia yang lebih misterius dari buku itu. Separuh novel perjalanan, separuh dongeng thriller, The New Life adalah buku yang paling cepat terjual habis dalam sejarah Turki. Menampilkan seluruh kecerdasan dan keluwesan khas Pamuk, novel indah ini mengingatkan kita akan sebuah bangsa yang terombang-ambing antara timur dan

Barat. Spesifikasi Buku Penerbit : Serambi Pengarang : Orhan Pamuk Kelompok : Novel Bahasa : Indonesia Cover : softcover Label: Serambi

Maryamah Karpov - Mimpi-mimpi Lintang

Sinopsis : Buku keempat dari tetralogi laskar pelangi 'Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal, yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunungan timah, mengumpulkan nafas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib kepada ayahku dan kepada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para pemberani.' Keberanian dan keteguhan hati telah membawa ikal pada banyak tempat dan peristiwa. Sudutsudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apa pun ikal lakukan demi perempuan

itu. Keberaniannya ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? Novel ini menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi, A Ling, Arai, Lintang, dan beberapa tokoh dalam cerita sebelumnya. Tetap dengan sihir kata- katanya, Anda akan dibawa Andrea pada kisah yang menakjubkan sekaligus mengharukan. Spesifikasi Buku Penerbit : Bentang Pengarang : Andrea Hirata Kelompok : Novel Bahasa : Indonesia Cover : softcover Label: Bentang Pustaka

Ayat Ayat Cinta

Detail Novel Judul: Ayat Ayat Cinta ISBN: 979-3604-02-6 Penulis: Habiburrahman El Shirazy Penerbit: Republika Terbit: Desember 2004 Isi: 419 halaman

Bila buku/novel yang bertema agama biasanya terkesan kaku dan menggurui, cobalah nikmati novel "Ayat Ayat Cinta" ini, Anda akan terkejut karena Anda tidak akan mampu melepas buku ini dari genggaman Anda. Ceritanya begitu menyentuh dan mengalir

seakan kita menjadi tokoh yang mengalami berbagai problema yang melilit sang tokoh. Dilatarbelakangi kota Cairo yang megah dan modern, Fahri, sang tokoh mengajak kita mendalami Islam dengan bahasanya yang menyejukkan dan mampu mengubah paradigma kita bahwa Islam janganlah dilihat dari orang atau negara Islamnya, tetapi lihatlah Islam dari ajarannya. Diselingi oleh kisah-kisah hubungan antar manusia yang digambarkan secara menarik dan utuh tanpa harus terasa vulgar.

“Sang Pemimpi”

Ini adalah buku kedua dari tetraloginya Andrea Hirata. Ending yang sangat mengesankan, hmm.. aku suka. Alurnya bagus, menarik. Tema cerita yang sederhana tapi terbungkus kalimat-kalimat yang wow penuh makna. Tapi sayangnya ini kurang ada sinergi dengan buku pertama, yang namanya tetralogi kan ada 4 buku, harusnya seh ada kesinambungan yang bagus. Memang, Laskar Pelangi masih sedikit disebut-sebut, tapi belum mewakili kesinambungan yang bagus. Berhubung sudah terbuai sosok Arai, Ikal dan Jimbron. So finally ga masalh lah. PAsti novelnya sangat berkesan dan begitu menggugah. “3 Seorang pemimpi. Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA Bukan Maen. Disinilah perjuangan dan mimpi ketiga pemberani ini dimulai. Ikal, salah satu dari anggota Laskar Pelangi, Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatus ejak SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah danIbu Ikal. Dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.

Arai dan Ikal begitu pintar dalam sekolahnya, sednagkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasabiasa aja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arrai selalu menjadi 5 3 besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arrai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan study ke SArbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalu meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras, menjadi kuli ngambat mulai pukul 2 pagi sampai jam 7 dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabundemi mewujudkan impiannya. Ya, meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk samapi kesana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan. Setelah selesai SMA, Ari dan Ikal merantai ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jombron lebih emmilih untuk menjadi pekerja di ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan Ikal spai di Perancis, maka jiwa Jimbronpun akan selalu ebrsama mereka. Berbula-bulan terkatung0katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal ketrima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke kAlimantanTahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. DAn setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar. Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujia begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun ahanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang amsih bekerja sebagai Tukang Sortir, tulsiannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selai, siap yang menyangka. KEjutan yang luar biasa. Warai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalams uatu forum yang begitu indah dan terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudha direncanaknnya bertahun-thaun. TErnyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Bilogi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal Risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru. Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke BElitong. Dan ketika ada surat datang, merka berdebar-debar membuka isinya. PEngumuman peberima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin emmbuka kabar tu bersama orang yang sanagt dia rikan. Kegelisahan dimulai. Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Akhirnya Ikal ketrima di Perhuruan tinggi, Sarbone PErnacis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, Subhannallah, inilah jawaban dari mimpi2 mereka. Kedua sang pemimpi ini

diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagan dari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya. Penerbit : Klub Sastra bentang Penulis : Andrea Hirata

Jalan Sunyi Seorang Penulis

Penulis: Muhidin M. Dahlan Penerbit: ScriPtaManent Cetakan: I, Maret 2005 Tebal: 325 halaman Beli di: Rumah Buku Alebene, Bandung Sepanjang perburuan hampir satu tahun lamanya, saya tidak tahu bahwa buku ini bergenre novel. Kenyataan itu baru terkuak setelah JSSP berada di tangan, dalam arti dibuka plastiknya di rumah. Saya belum tahu juga kala meraihnya dari sebuah etalase di outlet Lawang Buku. Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat googling dan menyambangi blog khusus resensi karya-karya Muhidin. Niatnya mencari wajah baru JSSP karena begitu sukar mendapatkannya di toko buku (baca: Gramedia). Ternyata kali ini GM Merdeka tidak keliru menempatkannya di rak novel.

Kendati hurufnya kecil-kecil menyiksa penglihatan, tidak dapat disangkal bahwa buku ini enak dibaca. Seratus halaman berlalu dalam sekedip, dan saya tergoda untuk meneruskannya setiap kali waktu terluang atau ingin meregangkan benak dari aktivitas kerja. Betapa tidak, setiap paragrafnya mengalir dan jarang sekali ditemukan pengulangan kata - jika bukan atas nama keindahan ramuan kalimat. Hal ini menunjukkan bahwa Muhidin pelahap buku yang rakus dan senantiasa subur akan variasi diksi. Usai membaca profilnya di bagian muka, tak urung timbul sangkaan bahwa novel ini merupakan memoar Muhidin sendiri. JSPP konon adalah sebentuk revisi dari "Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta". Syukurlah judulnya diganti sehingga lebih melodius dan klop dengan untaian 'Manifesto Menulis' di sampul depan, "Ingat-ingatlah Kalian hai penulis-penulis belia, bila kalian memilih jalan sunyi ini maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya." JSPP tak pelak suatu hidangan yang teramat unik. Selama ini, pembahasan mengenai profesi penulis nyaris identik dengan gemebyar pundi-pundi penuh royalti, popularitas yang hampir instan, dan warna-warna cerah nan semarak lainnya. Karakter penulis dalam JSPP mengungkap suatu warna lain yang pekat lagi kelam sepanjang jatuh-bangunnya, usahanya untuk bertahan hidup, bahkan saya turut menangis sambil tertawa getir kala si karakter membayangkan Karl Marx menjelma dari rak bukunya. Judul-judul bab yang relevan kian menjadikan buku ini sedap disimak. Setelah membaca JSPP, kemampuan saya berbahasa gaul kian pudar. Terus terngiang aneka kata di dalamnya, misalnya 'bersicepat'. Inilah hasil mengincar yang tidak sia-sia sama sekali.

The Remains of the Day
Judul terjemahan: Puing-puing Kehidupan Penulis: Kazuo Ishiguro Penerjemah: Femmy Syahrani Penerbit: Hikmah Cetakan: I, Januari 2007 Apabila disuruh nonton filmnya (foto terlampir), saya belum tentu tahan. Saya percaya penuh pada kualitas akting Anthony Hopkins dan Emma Thompson, akan tetapi film-film Inggris seringkali membuat saya ngantuk. Saat membaca, alur yang lamban tidak terasa menjenuhkan karena saya mencoba meresapi alinea demi alinea. Apalagi novel pemenang Booker Prize ini adalah karya Kazuo Ishiguro, seorang penulis Jepang. Stevens, kepala pelayan Darlington Hall, berangkat ke rumah mantan bawahannya, Miss Kenton. Ia hendak meminta wanita itu kembali bekerja meski Lord Darlington telah digantikan oleh Mr. Farraday, orang Amerika. Stevens menyimpulkan dari isi surat Kenton bahwa ia merindukan suasana sibuk di rumah itu seperti tahun-tahun yang mereka lalui dahulu. Seperti halnya beberapa film Inggris yang saya tonton, cerita dalam novel ini ditingkahi dialog bernuansa politis dan pertemuan-pertemuan penting Lord Darlington dengan sejumlah tamu dari berbagai negara. Alangkah luar biasa dedikasi Stevens, yang bersedia menutup mulut dari putra baptis majikannya sekali pun mengenai apa yang terjadi dalam rumah sang Lord. Ia bahkan merelakan sang ayah, yang juga bekerja di situ, meninggal tanpa didampingi olehnya. Peristiwa itu berpotensi mengalirkan air mata, tetapi saya terbius oleh kebekuan Stevens sehingga kesedihan lekas berlalu.

Gambaran tata krama Inggris (yang menurut karakter seorang lady dalam film What A Girl Wants, hanya mengungkapkan perasaan pada anjing dan kuda) begitu memesona. Stevens berusaha mengimbangi selera humor Mr. Farraday, kendati itu tidak biasa ia lakukan. Ia juga bersikukuh menyangkal detil-detil yang coba dikorek tamu majikannya mengenai Lord Darlington, meski akibatnya Mr. Farraday dikira berdusta dan merekrut kepala pelayan palsu. Dialog-dialog antara Miss Kenton dan Stevens kelewat dingin sehingga, tanpa membaca pengantar dan sinopsis di sampul belakang novel ini, saya takkan mungkin menduga bahwa keduanya diam-diam saling mencintai. Akan tetapi barangkali itulah keberhasilan penulis dan penerjemah, karena nampaknya sang kepala pelayan tidak menyesali lewatnya kesempatan untuk mengutarakan isi hati tersebut. Kembali, semua demi etika profesi.

Zauri, Legenda Sang Amigdalus

Penulis: Dian K. Penerbit: Grasindo Tebal: vii + 311 halaman Cetakan: I, 2006 Saya jarang sekali membaca novel fantasi di luar dongeng, cerita rakyat, dan pewayangan. Itulah sebabnya saya memerlukan waktu cukup lama untuk menamatkan Zauri, karya perdana Dian K. ini. Banyaknya tokoh dan peristilahan dalam Zauri membuat saya kesulitan mengingat, apalagi direnda dalam bahasa yang tidak sederhana. Saya hanya ingat Kayla, seorang gadis yang terdampar di sebuah hutan bersama seorang peri bernama Mio. Nama mereka berdua dicomot begitu saja dari selembar kertas yang ditemukan di sana. Kayla tidak ingat siapa dirinya sebab telah dikunci dengan kristal yang menempel di dahinya. Sesungguhnya dengan menengok bab awal saja, saya dapat menduga-duga siapa Kayla dan Mio. Akan tetapi Dian merangkai cerita menjadi lebih memikat dengan konflik yang bertubi-tubi sekaligus pas sehingga semua karakter tampil sesuai porsinya. Penokohan inilah yang menjadikannya unik. Ada Dios yang dingin dan ambisius, Kid yang ternyata memang masih anak-anak namun pemberani sekaligus hobi mengumpulkan benda-benda yang menghasilkan uang, juga Dainty yang mengagumi Dios meski pemuda itu tidak terlalu menanggapinya.

Kisah dibuat berbelit, sebelum akhirnya Kayla mengetahui siapa dirinya. Ia juga bertemu dengan Kayla dan Mio yang sesungguhnya. 'Zauri' diwarnai adegan-adegan aksi dan adu kekuatan gaib, yang kalau mungkin sejenis dengan Harry Potter dan Lord of the Ring (saya katakan mungkin karena belum membaca kedua novel tersebut). Pemilihan font yang ramah penglihatan membuat 'Zauri' kian enak dibaca, terutama sebagai hiburan di saat santai.

The Mistress of Spices

Judul Terjemahan: Penguasa Rempah-rempah Penulis: Chitra Benerjee Divakaruni Penerjemah: Gita Yuliani K. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 304 halaman Terbit: Februari 2003 Mengherankan juga, novel ini belum mengalami cetak ulang. Penerjemah (atau dengan istilah GPU sekarang, pengalih bahasa) sukses besar menafsirkan kata demi kata dari naskah asli sehingga menghasilkan cerita yang tidak hanya enak dibaca, tetap meruapkan aroma orisinal

Indianya, dan terdiri dari komposisi indah. Betapa mengharukan dan membasahkan hati, kala Tilottama -- yang terlahir sebagai Nayan Tara-- dipandang sebelah mata oleh orang tuanya semenjak hadir ke dunia. Semua karena ia anak perempuan dan kulitnya coklat. Ketidakadilan berubah sekejap mata tatkala orang-orang mengetahui keahliannya meramal, seperti makna lain namanya yakni Pemirsa Bintang. Tilo kembali mengoyak sanubari pembaca ketika ia dibawa pergi para bajak laut dalam keadaan hidup sebab dianggap mendatangkan kemujuran sementara seluruh desa dan isinya dibumihanguskan, termasuk keluarganya sendiri. Hingga kemudian gadis ini mendapatkan keluarga yang lain, naga-naga laut yang menyampaikan keberadaan Pulau, serta gadis-gadis sesama murid Bunda Utama yang dididik menjadi Penguasa Rempah-rempah. Setelah menguasai ilmu, Tilo dan saudara-saudaranya dikirim ke berbagai belahan dunia. Kuatnya akar persaudaraan etnis India nampak kala Bunda Utama menganjurkan Tilo bertugas di wilayah yang berdekatan dengan asal-usulnya serta hanya membantu mereka yang satu ras, kendati diutarakan dengan teramat halus. Tugas bertambah berat karena selaku Penguasa, Tilo dilarang meninggalkan Toko atau menaruh hasrat asmara. Hidupnya hanya untuk rempah-rempah dan berbicara kepada mereka lahir batin. Konflik menyeruak saat seorang pemuda keturunan Indian, Raven, datang ke Toko dan mampu menyingkap jati diri Tilo di balik raga wanita tua yang digunakannya sebagai Penguasa. Namun jauh sebelum Raven muncul, hubungan akrab Tilo dengan para pelanggannya terjalin menarik. Ada kakek yang ingin merukunkan cucunya dengan orangtuanya, istri yang dianiaya, serta remaja yang terkekang dan dikucilkan dalam pergaulan. Semua diatasi Tilo dengan bantuan aneka rempah-rempah, mulai dari kunyit sampai akar teratai. Hampir semua bab diberi titel nama rempah-rempah ini, kendati gambarnya berupa beberapa buah cabai. Membaca Penguasa Rempah-rempah niscaya terjerembab dalam kenikmatan alunan bahasanya, misalnya "Namun rempah-rempah dengan kekuatan sejati berasal dari kampung halamanku, negeri puisi penuh perasaan, tempat

bulu-bulu berwarna biru laut. Di mana langit saat matahari terbenam cemerlang bagaikan darah." Penguasa Rempah-rempah ialah jenis prosa yang benar-benar saya sukai

Apakah Kau Takut Gelap?

Judul asli: Are You Afraid of the Dark? Penulis: Sidney Sheldon Penerjemah: Gita Yuliani Koesbaroto Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 436 halaman Cetakan: II, Februari 2005 Pesona utama: Sidney Sheldon, kemudian sampul hitamnya yang menimbulkan tanda tanya besar Elemen paling oke: Karakter utama wanita, seperti biasa, namun kali ini dua orang dan tetap tangguh. Antagonisnya pun ada yang wanita. Saya juga terhanyut pada besarnya cinta dalam perkawinan Diane dan Kelly. Yang agak aneh: Karakter Kelly mengingatkan saya pada wanita Afro-Amerika lain dalam novel Sheldon, Tiada yang Abadi. Salah satu

dokter di situ kalau nggak salah juga Kelly dan di masa kanak-kanak mengalami pemerkosaan.

Resensi Tintenherz Buku Hantu

Bagaimana perasaanmu jika secara tiba-tiba sesosok hantu muncul dari buku yang tengah kamu baca? Mungkin kamu akan memekik ketakukan atau mungkin juga langsung pingsan melihat sosok yang sangat mengerikan. Di dalam novel berjudul Tintenherz Inkheart ini, kamu akan dihadapkan dengan kejadian-kejadian yang ganjil dan menyeramkan, seperti yang dialami oleh Meggie, tokoh utama dalam novel ini. Meggie mempunyai seorang ayah yang memiliki kemampuan ajaib. Ia bisa mengeluarkan tokohtokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia jahat di dunia nyata. Sejak itu hari-hari Meggie menjadi sangat mencekam. Sembilan tahun yang lalu, ayah Meggie pernah membaca Tintenherz (buku hantu). Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat dari dalam buku itu yang akhirnya membuat ibu Meggie lenyap masuk ke dalam buku tersebut. Suatu hari, Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, menculik ayah Meggie yang mereka anggap memiliki kemampuan luar biasa itu untuk membantu kejahatan mereka. Mereka ingin agar ayah Meggie memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz, termasuk Sang Bayangan, monster menakutkan yang bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh ayah Meggie mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia. Maka bermunculanlah tokoh jahat dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peterpan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah. Sebagai anak yang berbakti, Meggie bertekad untuk menyelamatkan kedua orang tuanya yang terperangkap dalam Tintenherz itu. Dengan kecerdasan otaknya, Meggie berusaha keras

mempelajari rahasia-rahasia buku hantu itu. Namun di luar dugaan, perbuatan Maggie tersebut bukannya menyelesaikan masalah tapi malah membuat keadaan makin mencekam. Apalagi saat Meggie harus menerima kenyataan bahwa ia ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya! Hmm, sungguh cerita yang mendebarkan! Dengan imajinasinya yang cerdas, Cornelia Funke, sang penulis novel ini mampu mengolah cerita dengan apik serta gaya bahasa yang mudah dicerna namun tetap imajinatif. Bagi kamu yang suka dengan cerita-cerita horor, novel ini bisa jadi pilihan alternatif.*** Sigit Surya P Mahasiswa Ilmu Kelautan (IK) Faperika Universitas Riau

Novel Tunnels, The Next Harry Potter

Dunia perlu waspada. Mungkin tak pernah terpikirkan oleh kita bahwa ternyata ada kehidupan lain di bawah tanah yang sedang mempersiapkan sebuah revolusi untuk menyerang kita, sang manusia dunia atas. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi jumlahnya hampir setara dengan manusia dunia atas, membentuk sebuah koloni. Namun, kamu tidak perlu terlalu menghawatirkan masalah ini, karena kejadian ini hanyalah gambaran isi yang dituangkan oleh Gordon dan Williams dalam novel mereka yang sungguh imaginatif, Tunnels. Cerita dalam novel ini diawali oleh pengamatan Dr Burrows terhadap segerombolan orang aneh yang mempunyai penampilan lain dari orang pada umumnya dan ketertarikannya pada sebuah artefak yang sangat unik dan belum pernah ditemukan di permukaan bumi. Namun, tiba-tiba Dr Burrows hilang tanpa jejak. Will, anak Dr Burrows, berusaha menemukan ayahnya itu. Menjelajahi lorong-lorong purba bawah tanah, sebuah rahasia maut pun terungkap dan mengancam jiwa Will: koloni bawah tanah yang terlupakan oleh dunia atas.

Dipimpin oleh Styx, koloni itu merencanakan sebuah revolusi untuk menyerbu manusia dunia atas. Seperti apakah dunia koloni bawah tanah itu? Berhasilkah Will menemukan ayahnya, sekaligus menggagalkan upaya makar Styx dan koloni bawah tanah? Penasaran! Temukan jawabannya di novel setebal 660 halaman ini. Ide tentang bawah tanah yang disuguhkan penulis sungguh sangat imajinatif. Gagasan tentang dunia bawah tanah memang sangat unik, berada begitu dekat, sehingga dengan menggali pun kita bisa tiba di sana. Tapi kamu tak akan pernah membayangkan bahwa dunia itu akan seasing seperti apa yang ada dalam novel ini. Dengan alih bahasa yang cukup menarik menjadikan novel ini sangat apik dan layak dibaca oleh semua kalangan yang memang benar-benar menyukai cerita fantasi yang mencerahkan, menggugah, dan menghibur. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa dan dalam waktu dekat akan dirilis menjadi film layar lebar. Maka tak heran jika New York Magazine mengatakan bahwa Tunnels akan menjadi The Next Harry Potter. Jika pintu Harry Potter ke dunia magic adalah peron 9, maka Tunnels, pintu itu lebih sederhana, yaitu setiap lubang di bawah kaki kita.*** Indra Purnama Aktif di Forum Lingkar Pena Riau prnm_indra@yahoo.com

Lontong Sayur dalam Lembaran Fashion

Penulis: Syahmedi Dean Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 284 halaman

Terbit: Juli 2004 Resensi novel ini memang sudah pernah saya tulis di blog utama dan dimuat juga di Portal CBN. Maka saya akan mencoretkan sesuatu yang berbeda. Saya penasaran sekali dengan karya Syahmedi Dean yang launchingnya diliput majalah HerWorld (mungkin hanya salah satunya) ini. Nama pengarang sudah sering saya dengar karena dulu langganan majalah Femina. Selain itu, saya ingin tahu penceritaan dunia mode yang gemerlapan dari sudut pandang seorang pria. Lontong sayur adalah santapan favorit empat sahabat: Alif, Didi, Nisa, dan Raisa. Mereka adalah para jurnalis fashion dan gaya hidup ternama. Cerita sebenarnya berpusat pada Alif, yang terlibat kisah asmara bawah tanah dengan seorang bawahannya dan melambungkan nama seorang model baru langsung ke jenjang internasional. Adegan favorit saya ada dua, yakni kala Alif menceritakan perceraiannya melalui email dan saat ia menerima kabar meninggalnya Edna di Singapura. Yang terakhir ini sungguh memeras air mata. Saya sudah menerka siapa File Eater sedari mula. Namun bukan itu yang membuat saya belum tertarik membeli dua novel Metro Pop lanjutan LSDLF. Harganya mahal, sih:p

Mahasati

Penulis: Qaris Tajudin Penerbit: Akoer Tebal: 394 halaman

Cetakan: I, Mei 2007 'Martirlah mereka yang mati mencari cinta. Kau ditakdirkan untuk selalu berlalu di lautan cinta tanpa pernah berlabuh. Seluruh umurmu adalah kitab airmata.. adalah kitab airmata..adalah kitab airmata." (halaman 390) Novel ini tiba di tangan saya pada saat yang tepat. Tatkala saya mulai sering menyimak naskah-naskah keIslaman yang kental dengan nuansa Arab, menghirup aroma budaya tradisional yang sangat disukai melalui aneka terjemahan, termasuk beragam rujukan seputar itu. Qaris Tajudin mengolahnya menjadi sebentuk bangunan cerita yang kaya. Dari ilustrasi sampulnya dan lumuran hitam pekat di sana-sini, tergambar sebagian isi kisah yang dituturkan mengenai seorang lelaki bernama Andi. Mahasati ialah sebutan yang dialamatkan kepada wanita tercintanya, Larasati. Cinta yang menikam Andi dalam ketidakberdayaan setelah Sati berpulang. Cinta yang membuatnya bertualang dalam kesunyian hati nan kering, hingga merambah tanah-tanah asing dan terjerembab di Guantanamo. Dengan rangkaian kalimat indah, Qaris Tajudin memaparkan persahabatan masa kecil Andi dengan Sati dan Yoyok, karib mereka yang pertama kali menorehkan nestapa dengan kematiannya. Tradisi Jawa beralih-alih ke Jakarta yang riuh dan daratan Afrika. Perkenalan Andi dengan toko buku Abdalla, wawasannya yang berkembang, dan persaudaraannya dengan Ahmed yang mengantarkan mereka dalam hari-hari penuh ketegangan di Afghanistan, juga kehadiran seorang Miriam yang menyelundupkan mereka ke Rogusa, menjadikan novel ini kian memikat untuk diserap. Satu hari saja saya habiskan untuk menamatkannya, sembari membayangkan Fauzi Baadilla sebagai Andi, serta Fachry Albar sebagai Fairuz. Yang saya acungi jempol ialah plot ulang-alik serta pergantian sudut pandang narator, sesuatu yang favorit. Membaca Mahasati jadi jauh dari membosankan, seraya meresapi pergulatan batin berwarna cinta,

pertarungan argumen ideologi, berikut puisi-puisi Nizar Qabbani di selanya. Kekurangan novel ini hanya suatu kebingungan sepele. Kemal disebutkan sebagai adik Ahmed, tapi di halaman lain dikatakan sebagai sepupunya. Sayangnya, tak ada bagian yang mengutarakan profil singkat penulis berbakat ini.

Sarjana Kebut Skripsi

Penulis: Hendry Lukman Penerbit: Gagas Media Harap dicatat, bahwa ini penilaian yang sepenuhnya subjektif. Sarjana Kebut Skripsi atawa SKS mengisahkan Koko, mahasiswa FISIP yang berusaha menyelesaikan skripsinya. Cerita dibuka dengan benturan yang dialami Koko kala hendak mengumpulkan data. Entah mengapa, sampai halaman seratus sekian, saya belum tertawa. Tidak adil jika saya membandingkannya dengan sebuah novel lain yang penerbitnya sama dan temanya setali tiga uang, serta saya nilai lebih berhasil menggelitik rasa. Mungkin selera humor saya sedang bermasalah. Mungkin karena sedang capek, atau mempunyai ekspektasi tinggi terhadap sebuah novel berlabel komedi cinta, saya tidak dapat menikmati SKS ini. Saya terus mengernyitkan kening karena kosakata bahasa Sunda dan beberapa sisipan bahasa Jawa yang

keliru. Mudah-mudahan hanya kesalahan cetak yang tidak disengaja. Contohnya kalimat ‘Tadi aing sedang menyatu (makan) lumpia (hal. 105). Yang benar, ‘nyatu’. Dalam bahasa pergaulan, paling banter kasarnya pun ‘dahar’. Di halaman lain, saya menemukan kata ‘BEUBEUL’ (jangan ditiru yah, ini umpatan). Seharusnya tanpa u (BEBEL). Tapi banyak orang Sunda keliru menuliskannya, khususnya dalam SMS. Sayang seribu sayang. Isi novel ini melulu mengusung percintaan Koko, sang karakter utama, yang bertemu dengan Nasyilla alias Nana (mungkin terilhami nama pemain sinetron?) setelah dipatahhatikan oleh Lyann. Proses penggarapan skripsi yang sebenarnya merupakan menu pokok SKS nyaris sekadar tempelan. Padahal akan lebih memikat apabila Hendry menulis pergulatan Koko mengejar-ngejar dosen, ganti judul, menunggui dosen sampai lumutan untuk bimbingan, dan sebagainya. Biarlah kisah cinta menjadi pemanis saja. Kalau begini, judul yang lebih cocok adalah Sarjana Kebut PW (Pendamping Wisuda). Bahasa Inggris yang bertebaran cukup mengusutkan kenyamanan membaca novel ini, apalagi lokasinya di Jatinangor. Apakah memang anak kampus sana sekarang sudah terbiasa berbicara dengan dominasi bahasa tersebut? Daripada catatan kaki yang berniat membanyol, sebaiknya Hendry menggunakannya sebagai keterangan kata-kata berbahasa daerah. Banyaknya umpatan dan humor ‘jorang’ (porno, bahasa Sunda) membuat saya pusing. Rasanya selorohan Cecep untuk ‘melakukan perbuatan asusila’ saat bertemu ABG berpenampilan seksi di Palasari terlalu kasar. Jujur saja, judul SKS sempat membuat saya kecewa karena kecolongan gagasan. Apalagi lokasinya sama dengan yang saya niatkan. Tapi setelah selesai, saya kembali pede untuk menuliskannya dengan kacamata berbeda.

Devdas, Kisah Cinta Dua Dunia

Penulis: Saratchandra Chattopadhyay Penerjemah: Meithya Rose Prasetya Penerbit: Kayla Pustaka Tebal: 257 halaman Cetakan: I, Juni 2007 Cinta, itulah menu utama novel ini. Budaya India, yang biasanya sering saya temukan di buku-buku bersetting sama, bisa dikatakan minim dibahas. Setidaknya, saya mendapat pengetahuan mengenai pengertian 'anchal'. Devdas adalah nama seorang pria, putra zamindar (tuan tanah) Mukherjee. Orangtuanya tidak menyetujui rencananya menikah dengan Parvati karena kasta mereka berbeda dan tidaklah pantas mengambil mantu dari tetangga yang tepat tinggal di sebelah rumah. Merasa kesal oleh penolakan Mukherjee-babu, nenek dan ibu Parvati yang dikisahkan materialistis menikahkan gadis itu dengan seorang duda kaya raya. Penggambaran fisik sang duda tersebut merupakan salah satu pemicu 'konflik' yang menarik, sedetil deskripsi karakter dalam novel-novel India lainnya seperti 'Sister of My Heart' dan 'For Matrimonial Purpose'. Ternyata ia sudah berumur setengah abad, sehingga pernikahan Parvati diwarnai gunjingan orang sekitar. Bagi saya, keindahan cinta yang sesungguhnya terletak dalam rumahtangga Parvati. Suaminya memperlakukan ia dengan baik, begitu pula anak-anaknya. Meski berusia lebih tua, ketiga putra-putri Bhuvan-babu tetap memanggil Parvati 'Ibu' dan menyebut diri mereka

'putramu' atau 'putrimu'. Sungguh mengagumkan, walau sempat ditingkahi penolakan putri tirinya (yang wajar, mengingat Parvati masih sangat muda dan cantik) serta kecurigaan menantu perempuannya terhadap pengelolaan keuangan Parvati. Devdas justru 'menodai' kisah ini dengan karakternya yang, menurut saya, melempem. Ia tidak tegas, menyesali keputusannya seumur hidup hingga akhirnya mati konyol. Pun demikian dengan Chandramukhi, yang mencintai Devdas secara ganjil justru karena pemuda itu mencercanya namun sempat menyampaikan akan meminta uang pada putra zamindar tersebut jika mengalami masalah ekonomi. Membingungkan sekaligus menyebalkan. Penerjemahan Meithya menjadikan novel ini mengalir ringan, disertai sejumlah kalimat yang melodius di awal beberapa bab. Misalnya 'Hawa panas menjilat-jilat bak liukan lidah niskala yang bergelombang' (halaman 1). Seperti film India, Devdas menuturkan kisah sedari masa kanak-kanak. Plotnya lurus belaka, sehingga terasa lambat dan menjemukan. Tetapi pemilihan nama Devdas sebagai judul memang patut sebab ia mendominasi keseluruhan cerita.

Ortu Kenapa, Sih?

Penulis: Lili Lengkana, dkk Penerbit: CINTA Sesungguhnya tema yang diangkat sangat menarik untuk disimak. Pasalnya, konflik orangtua dan anak seakan tak habis dibahas dalam berbagai diskusi di darat atau udara. Terlebih kala sang anak memasuki usia remaja. Kisah-kisah yang patut diacungi jempol adalah tulisan Eben Ezer Siadari (Ransel Pilihan Ibu dan Selepas Makan Malam). Kesalahpahaman dapat diluruskan, hubungan kembali membaik, dan relevansi dengan judul buku terlihat utuh. Demikian pula karya Be Samyono, Saatnya Menjadi Diriku, dan Kenangan SPMB-nya Lafrania Taufik. Persoalan yang dihidangkan dalam esai Lili Lengkana, Aduh..Sakitnya, sudah matang. Pembaca dapat menilai dengan jelas bahwa Lili mempunyai kesalahan pada sang ayah yakni berbohong demi hobi basketnya. Sayangnya, beberapa esai lain terkesan selesai begitu saja. Misalnya Tias, oh..Tias!-nya Ika Widyastuti. Setelah berpanjang-lebar menyajikan kekisruhan pasca kehadiran Tias yang dianakemaskan sang ibu, sebaiknya dituturkan lebih banyak proses pemulangan Tias, pembelaan diri atas kleptomanianya (jika ada) dan hubungan Ika dengan sang ibu kemudian. Mungkin karena keterbatasan kuota halaman, Ika tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan hal-hal tersebut, padahal berpotensi positif sebagai pembelajaran para orangtua guna mencegah jurang dalam persaudaraan. Saya juga kurang paham dengan permasalahan Koko P. Bhairawa di esainya, Rumah Tempat Terindah. Apakah Koko kesal karena orangtuanya tidak memahami rasa kehilangan dan guncangan pasca meninggalnya sang kakak? Bila mereka dapat begitu tegar, apa yang menyebabkan kedua orangtua Koko ikhlas merelakan kepergian putra tercinta yang menjadi kebanggaan keluarga (menurut keterangan dalam tulisan ini)? Meskipun demikian, saya acungkan jempol untuk keberanian para penulis Blogfam mengupas topik ini. Mungkin kelak akan ada buku dengan judul: Anakku Kenapa, Sih? Tetap menulis, Blogfammers!

The Expected One

Judul Terjemahan: Dia yang Dinantikan Penulis: Kathleen McGowan Penerjemah: Leinovar Bahfeyn dan Lusia Nurdin Penerbit: Ufuk Press Tidak mengherankan apabila Tria Barmawi (penulis novel ‘Lost in Teleporter’dan ‘Cinta Andromeda’ serta kumcer ‘Siapa Bilang Kawin Itu Enak?’) merekomendasikan novel ini. Membacanya menghadirkan pengalaman tersendiri, apalagi saya dan suami sempat balapan menyelesaikan ‘The Expected One’. Sampul: Komposisi judul, foto dan warna-warnanya enak dilihat. Baik judul maupun foto saling mendukung, tidak ada yang lebih menonjol. Warnanya menebarkan impresi magis sekaligus nuansa thriller sepanjang cerita. Satu pertanyaan yang memenuhi benak saya: siapa wanita cantik yang menjadi model sampul ini? Wajahnya tidak mirip sang penulis. Mungkin saya akan menemukan jawabannya di situs McGowan. Cerita: Salah dua sumber pesona TEO adalah karakter utamanya, Maureen Paschal, yang berprofesi sebagai penulis dan lokasi di Prancis. Aroma cinta segitiga yang disebutkan di sampul depan tidak terlalu terasa, bila yang dimaksud adalah hubungan Maria Magdalena-Easa-Yohanes. Saya justru mengira konflik asmara akan mencuat di antara Maureen, Berenger Sinclair dan Tamara

Wisdom atau Peter Healy. Riset selama hampir 20 tahun, seperti yang dikemukakan McGowan di bagian penutup, tidak siasia. Ia berhasil memaparkan sebuah kisah yang menarik dan penuh muatan sejarah, meliputi seni serta religi tanpa sedikitpun membuat saya bosan. Alurnya cepat sehingga saya tak tergiur mengintip bagian akhir. Kejutan dalam cerita memikat. Semua tebakan saya mengenai ‘si pengkhianat’ meleset semua. Bagian Dalam : Sebenarnya saya lebih suka font besar-besar, namun untuk buku setebal ini..font yang jaraknya cukup lebar nyaman juga di mata saya. Sayangnya, pembatas buku (?) yang diselipkan kurang panjang sehingga hanya dapat digunakan untuk menandai bagian-bagian awal. Penerjemahan dan Penyuntingan: 8 Oke banget! Salut atas pengetahuan dan wawasan penerjemah dan penyunting yang pasti berjibaku dengan sejumlah referensi. Saya mendapat masukan baru mengenai kosakata ‘mesias’ dan ‘nubuat’. Sekali saja penerjemah terpeleset, di akhir Bab Penutup menerjemahkan ‘Kota Malaikat’ yang saya duga aslinya berbunyi ‘City of Angels’ alias Los Angeles. Sayang tidak ada profil singkat penerjemah dan penyunting, yang menurut saya akan menjadikan TEO lebih memukau lagi.

Penyihir Bernyawa Sembilan

Novel The Lives of Cristopher Chant Pernah tidak kamu membayangkan punya sembilan nyawa? Hal ini memang sungguh aneh dan tidak masuk akal. Mana mungkin ada manusia memiliki nyawa lebih dari satu? Tapi pada novel yang berjudul The Lives of Christopher Chant ini kamu akan menemukannya. Christopher Chant, dialah bocah yang memiliki sembilan nyawa itu. Christopher Chant hidup di dunia

‘’Chrestomanci’’, dunia yang tak bisa memberikan pilihan kepada para enchanter (penyihir) bernyawa sembilan selain menjadi penyihir untuk selamanya. Memiliki sembilan nyawa dan menjadi pemimpin Chrestomanci berikutnya jelas tidak termasuk dalam rencana masa depan Christopher Chant. Cita-citanya adalah menjadi pemain kriket profesional, dan kegemarannya adalah menjelajahi dunia-dunia mimpi rahasianya. Tapi ternyata takdir memang sulit dielakkan, dan memiliki sekian banyak nyawa ternyata cukup merepotkan. Terutama ketika Christopher Chant dengan begitu mudahnya kehilangan nyawa demi nyawa. Seiring berjalannya waktu, masalah demi masalah pun datang menerpa dunia Chrestomanci. Keadaan makin menakutkan saat penyelundup antardunia yang dijuluki si Siluman, melumpuhkan pemimpin Chrestomanci yang sekarang. Christopher Chant tak punya pilihan lain. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengalahkan si penyeludup itu. Ia pun mengambil alih kepemimpinan demi menyelamatkan semuanya. Dengan penuh keberanian, Christopher Chant mencoba melawan si penyeludup yang terkenal sakti dan sangat licik itu. Bagaimana akhir ceritanya? Apakah Christopher Chant mamapu mengalahkan si penyeludup yang dijuluki si Siluman itu? Semuanya akan terjawab setelah kamu membaca buku ini. Cerita buku ini sangat menarik, penuh dengan fantasi. Bahasa yang digunakan sangat meremaja dan mudah dimengerti. Bagi kamu yang ingin memiliki jiwa kepahlawanan dan jenuh dengan ceritacerita percintaan yang klise, buku ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Selamat membaca!*** Adriyan Yahya Mahasiswa PBI UIN Suska, Anggota FLP Pekanbaru Email: adriyanyahya@ymail.com

Remaja Gaul tapi Syar’i

Masih ingat serial Lupus karangan Hilman yang terkenal dengan kekhasannya yang lucu dan mampu mengocok perut yang pernah booming beberapa tahun silam? Sekarang telah hadir serial yang tak kalah kocak dari Lupus. Serial itu bernama serial Aisyah Putri. Aisyah Putri hadir dengan beberapa seri. Salah satu seri Aisyah Putri berjudul Jadian, Boleh dong? Serial yang ditulis oleh Asma Nadia pada seri yang berjudul Jadian, Boleh Dong? ini bercerita tentang kehidupan remaja dengan segala serba-serbi dan permasalahannya. Asma Nadia dalam buku ini bertutur dengan gaya penceritaan yang ringan, kocak, gaul, tapi tetap syar’i. Tokoh utama dalam cerita ini memiliki nama lengkap Aisyah Putri, dan lebih sering disapa Puput. Puput adalah siswa kelas 1 SMA dengan mata sipit yang disayang setengah mati oleh empat abangnya yang unik-unik itu. Kenapa dikatakan unik? Karena keempat abang Puput memiliki karakter yang berbeda. Abang nomor satu bernama Vincent, mahasiswa kedokteran yang susah makan dan kutu buku. Lalu ada Harap abang nomor dua. Harap memiliki kegemaran mengumpulkan asesoris, dari logam sampai akar-akaran. Harap mahasiswa IKJ Jurusan Teater. Kemudian ada Hamka sebagai abang ketiga. Hamka memiliki hobby naik gunung, macho dan alim. Hamka kuliah di IPB. Selanjutnya ada Idwar, atau yang biasa dipanggil Iid. Iid selalu berpenampilan keren, resik dan kelihatan paling bersih. Selain tokoh-tokoh tersebut di atas ada pula tokoh-tokoh lain yang membuat hidup cerita ini. Tokoh-tokoh tersebut adalah sahabat-sahabat Puput di Sekolah. Mereka adalah Ayu, Mimi, Eki, Icha, Elisa, Linda, Retno dan beberapa nama lain. Seperti yang telah diceritakan di muka, serial yang ditulis Asma Nadia setebal 152 halaman ini berkisah tentang kehidupan remaja. Laiknya dunia remaja, selalu bersentuhan dengan kisah-kisah percintaan. Namun, di sinilah serunya cerita ini. Meski mengangkat nuansa cinta tapi penulis mampu memainkan rambu-rambunya. Dalam cerita ini kita dapat melihat bagaimana Puput menjadi benteng tatkala memberi nasehat pada Icha yang melankolis. Atau saat Puput dan gank mentausiyah Mimi dan Ayu yang centil. Uniknya, walaupun apa yang disampaikan tokoh dalam

dialog berupa nasehat yang sebenarnya ditujukan kepada pembaca tetapi tidak terkesan menggurui. Hal itu disebabkan karena Puput bertutur dengan gaya santai. Membaca buku ini kita tak hanya disuguhkan pada kisah-kisah remaja semata. Juga ada pengetahuan yang disisipkan oleh penulis. Misalnya saat Puput mempersentasikan tema ‘’Jika Aku Pemimpin Bangsa’ pada malam final pencarian Bintang 2000. Sesungguhnya tema yang dibawakan Puput ringan saja. Tapi kita seolah-olah menyaksikan sesuatu yang luar biasa. Tema ‘’Jika Aku Pemimpin Bangsa’’ dibawakan dengan sederhana, dengan gaya khas anak SMA tapi mampu membuat kita berdecak kagum. Cerita ini tak hanya kocak dari penyampaian melalui teks. Tapi juga melalui gambar. Terlebih buku ini diselipi komik dengan suguhan antik dan lucu. Namun, ada bab yang terkesan dipaksakan dalam kisah ini. Pada lembar ke 217 atau tepatnya pada sub judul ‘’Luka Negeri Penuh Luka’’ seperti sebuah bab yang lahir prematur. Selain karena pembahasannya yang tibatiba, duka lara rakyat Palestina yang diangkat pada cerita ke tiga belas ini pun terasa tak nyambung dengan bab sebelumnya, apa lagi jika dijadikan sebagai bab penutup. Sehingga menimbulkan kesan ia dihadirkan hanya karena isu Palestina kembali hangat dibicarakan saat ini. Terlepas dari itu semua, ada banyak manfaat membaca serial Aisyah Putri karya Asma Nadia ini. Karena cerita dalam kisah ini tak hanya lucu, tapi juga cerdas, kreatif, gaul tapi tetap syar’i.*** Desi Sommalia Gustina Komunitas Rumah Sastra (KRS) Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pekanbaru.

Drop Out

Penulis: Arry Risaf Arisandi Penerbit: Gagas Media Keberanian Arry mengaku bahwa dirinya pernah diDO (halaman v) patut diacungi jempol. Novel komedi cinta ini mengukuhkan suatu pernyataan bahwa fakta lebih mudah menjadi inspirasi

untuk menulis cerita, kendati isi DO tidak seluruhnya kisah nyata menurut Arry sendiri. Saya lega karena label komedi cinta tidak sepenuhnya benar, setelah membaca beberapa bab DO. Lebih tepat disebut komedi anak kampus. Arry merangkaikan kehidupan anak kos, mahasiswa abadi (tadinya saya juga ingin menulis novel soal ini lho!), dan unsur cinta anak muda untuk mengajak pembaca menertawakan suatu fenomena mengerikan bernama ancaman keluar dengan tidak hormat dari institusi kampus. DO benar-benar obat stres saya, yang alhamdulillah melancarkan proses kerja sebuah proyek yang telah rampung sebelum deadline tiba. Sekali-kali saya bergurau, “Jangan belajar dari Jemi dong!” kalau keponakan dan suami melontarkan ucapan ngawur. Banyak kalimat lain yang kerap disisipkan karena begitu kuat menghuni ingatan saya. Misalnya “This is a book, artinya ini ibu Michael” dan “jangan main-main sama mahasiswa semester tiga belas” yang mengingatkan saya pada jaman bertelur sampai lumutan di kampus dulu. Arry juga sukses menyindir saya dengan karakter ibunya yang hobi nangis-nangis sambil nonton film Korea. Secara cerdas, ia mengemukakan bahwa faktor lingkungan amat berpengaruh pada kemajuan studi seseorang. Jemi tak juga lulus karena penghuni rumah kosnya memiliki intelektual mengkhawatirkan. Mereka lebih peduli pada berita Tamara bercerai daripada inflasi. Di sini terungkap dampak negatif infotainment, bahkan pada anak muda yang lelaki sekalipun. DO mendapat tempat istimewa di hati saya karena komedinya berjenis satir. Saya menemukan kalimat yang memaparkan bahwa orangtua Jemi menghendaki anaknya jadi pegawai negeri, dan akan menangis bila ia jadi pengusaha. Sentilan disampaikan Arry melalui ucapan Dayat, “Mahasiswa yang IPKnya 3 jadi dosen, yang IPK 2 jadi pegawai, yang DO jadi pengusaha karena nggak laku di mana-mana!” Andai novel ini terbit 6-7 tahun yang lalu, mungkin saya akan lebih semangat menjalani masamasa perpanjangan studi di kampus. Terima kasih banyak atas segarnya DO, Arry, semoga saya tidak minder lagi jadi mahasiswa kuncen.

Misteri Angka Sepuluh - Resensi Novel Count to ten

Api selalu membuat petaka. Tak terkecuali api cinta yang membara. Novel thriler yang juga berisikan romantisme ini mengungkap misteri angka sepuluh yang selalu berkaitan dengan api. Dan api cinta adalah salah satu yang membuat pembunuh melakukan aksinya. Kisah dalam novel ini dimulai dari sebuah kebakaran hebat di Chicago yang menghanguskan rumah keluarga Dougherty hingga rata dengan tanah. Akibatnya, Citin Burnette, putri seorang polisi tewas. Hari berikutnya, api membakar kediaman Penny Hill. Mereka disiksa dan dibakar hidup-hidup. Letnan Reed Solliday, petugas Departemen Penyelidik Kebakaran, harus bekerja sama dengan Detektif Mia Mitchell dari Divisi Pembunuhan untuk mengungkap identitas si pembunuh. Ada misteri angka sepuluh di sana, karena semua korban memiliki kesamaan angka sepuluh, entah tanggal lahir atau identitas lain. Selain harus mengungkap pembunuhnya, Mia juga harus waspada karena sasaran berikutnya adalah dirinya sendiri. Novel ini ditulis dengan rincian dan detil yang memikat, termasuk berbagai peristiwa kebakaran, penyelidikan dan motif-motif jahat pada pelakunya. Romantisme juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari novel ini karena begitu kasus terjadi ada cinlok antara petugas Letan Reed dan Detektif Mia. Kendati beda karakter, mereka ‘’ditakdirkan’’ berjodoh, dan itu yang menjadi daya tarik novel ini.*** Widodo Alumnus FKIP Unri

My Friends My Dreams Kisah Persahabatan Tiga Remaja

Novel My Friends My Dreams ini menceritakan tentang persahabatan tiga remaja yang tinggal di Yogyakarta. Mereka mempunyai latar belakang yang berbeda dan mereka juga berasal dari daerah yang berbeda. Tiga remaja yang diceritakan dalam novel ini adalah Marcella, Joy dan Wenning. Marcella adalah gadis cantik dan populer yang berasal dari Jakarta. Marcella terpaksa pindah karena orangtuanya lebih memilih untuk tinggal di Yogyakarta. Marcella berasal dari keluarga yang berada dan ayah ibunya bekerja sebagai arsitek. Joy adalah gadis yang berasal dari Bandung. Joy merupakan cewek yang tomboy, cuek dan berantakan. Latar belakang keluarga Joy yaitu ayah dan ibu Joy tidak harmonis, sehingga Joy memutuskan untuk tinggal di Jogjakarta agar menenangkan pikirannya. Sementara itu, Wening adalah gadis desa yang berasal dari daerah Gunung Kidul. Wening adalah gadis yang polos, kuper, culun dan penyakitan. Ketiga remaja itu akhirnya berteman karena secara tidak sengaja pada saat hari pertama MOS, mereka sama-sama mendapatkan hukuman dari kakak kelas. Persahabatan mereka penuh dengan kegembiraan, pengorbanan dan juga tingkah yang lucu dari para pelaku cerita tersebut. Selama bersahabat, mereka memiliki impian yang berbeda-beda dan mereka saling membantu untuk mewujudkan impiannya itu. Ken Terate, sang penulis menurut saya sangat mengetahui kota yang dijadikan sebagai latar novel tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan adanya deskripsi tentang Kota Jogjakarta. Selain itu, Novel ini juga sangat layak dibaca oleh para remaja agar mereka mengerti arti dari sebuah persahabatan. Dari segi penampilan cover, novel ini menurut saya sangat menarik. Dengan menampilkan tiga gambar gadis-gadis remaja, yang terdiri dari Marcella, Joy dan Wening.

Resensi Novel Ma Yan: Aku Harus Sekolah!

Beberapa waktu yang lalu kita sempat terbius oleh event dunia yang paling akbar di China, apalagi kalau bukan Olimpiade. Inilah kisah Cina yang begitu gagah dengan kemegahan dan sedikit membusungkan dada menyambut tamu dari berbagai belahan dunia, seraya mengatakan, “Inilah Cinaku.” Tapi tahukah kita semua bahwa ternyata masih ada lumbung-lumbung kemiskinan di negara (bekas) komunis itu. Zhangjiashu, begitu nama distrik yang paling miskin di Cina. Wilayah ini sulit air sehingga selalu terjadi kekeringan kronis. Mayoritas penduduknya adalah suku Hui. Penghasilan tahunan rata-ratanya adalah 400 yuan. Sementara rata-rata nasional Cina adalah 6.000 yuan. Bahkan Shanghai mencapai 33.000 yuan. Data statistik ini menunjukkan betapa ekspansi perekonomian Cina yang besar, gagal menjangkau pelosok-pelosoknya, sekalipun hanya remah-remahnya. Dan di sanalah cerita ini dimulai, di lumbung kemisikinan, kisah hidup Ma Yan. Ma Yan terlahir sebagai anak tertua di keluarga miskin yang tinggal di Zhangjiashu, Cina. Namun, semangat Ma Yan yang luar biasa tidak membiarkan apapun atau siapa pun menghalangi keinginannya meraih ilmu. Tidak hanya harus berlapar-lapar agar bisa membeli peralatan tulis, dia juga harus berani menentang kebiasaan masyarakat desanya. Sebab, di desanya hanya anak lelaki yang diizinkan untuk bersekolah. Inilah kisah tentang gadis berumur tiga belas tahun yang tinggal di kawasan Muslim di Cina. Kehidupan dia dan keluarganya yang kekurangan membuat Ma Yan harus bekerja keras agar bisa mengenyam ilmu. Dia harus menyisihkan uang makannya selama dua pekan, hanya untuk membeli sebatang pena. Hanya satu alasannya untuk bersekolah, dia ingin mendapatkan

pekerjaan bagus supaya ayah dan ibunya tidak lagi hidup sengsara. Makanya dalam setiap derita yang ia alami, selalu ia lafaskan dalam hatinya, “Aku harus sekolah”. Dapatkah kira-kira Ma Yan mewujudkan impian terbesarnya itu? Temukan jawabannya dalam novel setebal 214 halaman ini, yang telah dicetak untuk kali ketiga dalam tempo dua bulan. Novel yang diangkat dari kisah nyata ini sungguh sangat menyentuh dan akan membuat kamu yang membacanya berurai air mata. Betapa seorang bocah kecil dengan segala keterbatasan ekonomi dan budaya, berusaha keras untuk memperoleh pendidikan yang layak. Bahkan, berani mengambil risiko kaki kecilnya bengkak hebat akibat berjalan kaki selama lima jam karena tidak punya uang untuk naik angkutan ke sekolah. Novel ini sangat layak menghiasi koleksi buku kamu.*** Indra Purnama Aktif di FLP Wilayah Riau prnm_indra@yahoo.com

Resensi Novel Mereka Bilang Saya Monyet: Blak-blakan ala Djenar

Cover Novel Mereka Bilang Saya Monyet - Karya Djenar Maesa Ayu Djenar Maesa Ayu memiliki posisi yang tersendiri dalam dunia penulisan novel dan cerpen di Indonesia. Salah satu karyanya yang cukup populer adalah kumpulan cerpen Mereka Bilang Saya Monyet ini. Kendati ini merupakan buku pertamanya, namun perhatian pembaca terhadap

kumpulan cerpen ini cukup tinggi. Bahkan kumpulan cerpen ini mengalami cetak ulang berkalikali. Judul buku ini bahkan kini dijadikan sebuah film yang disutradarai oleh Djenar sendiri. Filmnya sendiri mendapatkan perhatian yang cukup baik dari masyarakat, terutama pecinta seni. Dalam mengembangkan karyanya, termasuk cerpen dalam buku ini, Djenar memang tak terbiasa berbasa-basi. Tidak banyak rangkaian ‘’puisi’’ yang didedahkannya dalam kata-kata di cerpennya. Ia terlalu lugas dan berani, bahkan dalam ungkapan yang berbau pornografi. Itulah mungkin yang menjadikan karya-karyanya ‘’berbeda’’. Sutardji Calzoum Bachri memberikan penilaian yang cukup lugas tentang tulisan-tulisan ini. Ia menyebut, dalam berbahasa, Djenar menunjukkan kepiawaiannya yang kuat pada kelugasan berucap. Bahasanya kuat dan padat. Itulah kecenderungannya. Ia tidak menyia-nyiakan kata-kata untuk segera secara jitu menyampaikan ihwal yang disampaikan.*** Mulyadi Alumnis IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Raja Hutan Masuk Kota

Dunia kepenulisan bagi Moammar Emka memang bukan yang baru lagi. Namun, dia lebih dikenal sebagai penulis buku-buku dewasa, dengan tema seksualitas. Jakarta Undercover merupakan karya tulisnya, yang booming dan mendapat sorotan luas. Agak unik juga ketika kemudian Moammar Emka menulis sebuah kisah aneh tentang penguasa hutan bernama Tarzan. Apalagi, novel Tarzan ke Kota ini didasarkan pada naskah penulis skenario komedi Reka Wijaya, penulis yang namanya meroket berkat komedi situasi Bajaj Bajuri. Kisah Tarzan sendiri tak jauh berbeda dengan kisah Tarzan yang pernah ada. Hanya saja, dalam novel kecil ini, muatan humornya diperbanyak, dan dikuatkan dengan gambar. Kisah Tarzan dimulai ketika sekelompok perambah liar menculik seorang perempuan bernama Ratna yang

sedang meneliti daun tapak monyet di kawasan itu. Penculikan itu diketahui Tarzan yang melihat kejadian di wilayah kekuasaannya, sebuah hutan hujan tropis. Jiwa kesatria Tarzan terpanggil untuk menolong. Di saat itulah ia mengikuti para penjahat ke kota, dan dimulailah episode si Raja Hutan masuk kota. Tentu saja Tarzan kebingungan masuk ke lingkungan barunya tersebut. Tarzan menangis, stres, dan tidak terima melihat ‘’saudara-saudaranya’’ dimakan. Tarzan yang vegetarian tak terima sapi dan ayam dimakan. Begitu juga dia sangat stres melihat kulit zebra di butik, atau kulit buaya jadi sepatu. Dia benar-benar tak terima. Novel ini tidak memiliki nuansa lain yang baru untuk bisa dicermati. Alurnya tak lebih dari kisah Tarzan seperti biasa. Namun untuk bacaan ringan yang menghibur, novel ini dapat menjadi bacaan alternatif.*** Muhammad Amin

Kintaholic Nggak Ada yang Nggak Mungkin!

Cover Novel Kintaholic Ini dia, pilihan novel yang menarik buat remaja, karya Primadonna Angela. Judulnya Kintaholic. Novel ini bisa dikatakan sisi lain dari Belanglicious, novel Primadonna Angela sebelumnya. Tapi, jangan kuatir, walaupun belum membaca Belanglicious, kita masih tetap bisa mengerti isi cerita dari novel ini. Kalau Belanglicious bercerita mengenai Lietha, kali ini Kintaholic bercerita mengenai Yanik (sahabat Lietha) dan Kinta (kakak angkat Lietha). Cerita dalam novel ini, berawal dari kekaguman Yanik pada sosok Nishio Kintaro, atau biasa dipanggil Kinta. Kinta adalah seorang pemain film dan drama Jepang yang sangat terkenal dan populer di seluruh dunia. Kinta memiliki banyak fans yang sangat mengidolakannya, dan fans Kinta ini menyebut diri mereka sebagai Kintaholic. Nah, sebenarnya, Yanik ini adalah salah satu Kintaholic itu. Tapi,

semua itu disembunyikan dan hanya disimpannya dalam hati. Sampai-sampai dia takut untuk menceritakan kekagumannya akan sosok Kinta pada Lietha. Karena Lietha yang sudah dianggap adik oleh Kinta tersebut, kurang suka dengan ulah dan tingkah laku Kintaholic yang menurutnya sering kelewatan. Alhasil, Yanik terus menyimpan kekagumannya itu sendiri, sambil berharap kalau suatu hari dirinya bisa bermain bersama Kinta dalam film atau drama Jepang. Ternyata, harapan dan impian Yanik terwujud! Pada waktu itu, Kinta mengadakan audisi untuk mencari aktris Indonesia yang bisa diajak bekerja sama untuk film terbarunya, dan tentu saja syaratnya harus bisa berbahasa Jepang. Yanik yang memang sudah mempelajari bahasa Jepang sebelumnya itu pun mencoba untuk ikut audisi, dan akhirnya dia terpilih. Nah, apakah Yanik mau mengaku pada Lietha kalau dia adalah Kintaholic? Apakah kekaguman dan rasa suka Yanik pada Kinta tersampaikan? Supaya tahu bagaimana akhir ceritanya sih, lebih asyik kalau baca bukunya sendiri. Novel ini sendiri agak bernuansa Jepang, karena sebagian besar settingnya memang di Jepang, dan tokoh Kinta sendiri memang berasal dari Jepang. Yang pasti, buku ini cukup menghibur dan jadi bahan bacaan yang menarik saat senggang. Cukup sesuai-lah untuk usia remaja. Sedikit pesan yang bisa diambil dari cerita dalam Kintaholic ini, yaitu jika kita benar-benar berusaha, mudah-mudahan kita bisa meraih mimpi atau cita-cita kita impikan itu. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, selama kita mau mencoba. Buktinya, Yanik juga bisa meraih mimpinya untuk bisa main film bersama Kinta, yang sangat diimpikannya itu! Benar nggak?! Sumiarti Siswa SMKN 1 Pekanbaru Jurusan II Perkantoran

Cinta dan Harga Diri

Cover Buku Rokin' Girl Masa SMA adalah masa yang paling indah. Serangkaian peristiwa yang tak akan pernah dilupakan ada di masa ini, mulai dari tingkah lugu di awal masa SMA, mengenal yang namanya jatuh cinta, ikut bolos bersama, hingga diskor pun sama-sama. Memang menyenangkan. Nah, apa jadinya ya jika kumpulan kisah SMA dijadiin novel? Yang pasti, kita seakan dibawa kembali ke masa itu. Miss AE mencoba menuliskan kisah SMA itu dalam serial Rockin’ Girls. Miss AE mungkin nama baru di sampul novel, tapi sesungguhnya bukanlah sebutan lama dikancah penulisan novel Indonesia. AE singkatan dari Alberthiene Endah adalah penulis produktif yang menghasilkan tulisan yang penuh inovatif. Ia juga seorang pemimpin redaksi suatu majalah, juga pernah menjadi redaktur. Rockin’Girls hadir sebagai wahana pelepas kerinduan akan kenangan indah semasa SMA. Ojek Cantik, yang menjadi serial pertama Rockin’ Girls, akan mengawali serangkaian cerita segar, menggelitik, dan kocak. Tokoh utama dalam novel setebal 320 halaman ini adalah Alya. Alya nekat sekolah di sebuah SMA mahal dan keren, padahal dia terbilang cewek sederhana dan tinggal di kampung pinggiran Jakarta. Tapi sebuah ajang beasiswa mengantarnya ke sekolah itu, walau emaknya heboh melarang, lantaran takut Alya nggak kuat menghadapi persaingan gaul di sekolah. SMA yang keren itu bukan hanya membawa Alya pada belantara pendidikan serba canggih, tapi juga serentetan peristiwa yang aneh bin ajaib. Ada Boyke, cowok slebor yang nggak punya tata krama. Ada trio Monaco: Mona, Nadya dan Cori, cewek-cewek sombong yang merasa cewekcewek lain tak ubahnya sendal jepit. Ada Desta, cewek dingin yang misterius. Semua makhluk itu menyeret Alya dalam kejadian tak terduga. Dan cobaan terberat buat Alya adalah ketika dia mengalami gempuran tekanan perasaan: terimpit cinta segitiga antara dirinya, Boyke dan Mona! Sungguh novel yang cukup inspiratif. Miss AE menyelipkan nilai-nilai kemanusian tiap cerita dalam novel ini, sehingga kamu tidak hanya disuguhkan kekocakan dan tingkah polah semasa SMA saja, tetapi juga ada hikmah yang terkandung di baliknya. Bagaimana perjuangan seorang

gadis yang tak berpunya untuk mempertahankan perasaan dan harga dirinya. Novel ini saya rekomendasikan kepada kamu yang merasa remaja atau kamu yang ingin mengingat kembali masa itu.*** Indra Purnama Anggota FLP Wilayah Riau

Asa, Malaikat Mungilku

Cover NOvel Asa Malaikat Mungilku KETIKA serigala itu mulai merayapi tubuh anak keduaku, Asa Putri Utami, hati dan pikiranku sebagai ibu pun tersayat-sayat nyeri. Usaha meminta pertolongan dari para ahli untuk mematikan atau paling tidak melumpuhkan serigala itu tak pernah henti dilakukan. Lantunan kalimat suci dari Yang Maha Suci juga tidak pernah jeda meluncur dari lisan dan hati seisi rumah. Namun, serangan itu tak dapat dihentikan. Jantung, ginjal, hati, daun paru-paru, saluran kencing, otak, saraf, darah, rongga pernapasan, tulang, dan otot-otot, semua dimangsanya. Namun eloknya, Asa tetap bertahan. Dia punya kiat dan sikap sendiri untuk menghadapinya dengan totalitas diri yang dibungkus keikhlasan, kepasrahan, dan kesabaran. ‘’Serigala,’’ itu adalah kelainan yang mendekam di dalam tubuh Asa sendiri. Dunia medis membahasakannya dengan sebutan Lupus. Nama formalnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE), penyakit langka yang hingga kini masih menjadi ‘’misi mustahil’’ untuk disembuhkan. Melalui kisah nyata yang dinarasikan bak novel ini terpancar jejak-jejak hikmah yang dapat kita petik dari seorang bocah dalam mengimani takdir-Nya. Penulisnya, tak lain, ibu kandung si malaikat mungil.

Penantian Cinta Pertama - Resensi Novel Winter in Tokyo

Cover Novel Winter in Tokyo Ilana Tan. Begitu nama sang penulis yang novelnya cukup banyak terbit di Gramedia Pustaka Utama. Summer in Seoul dan Autumn in Paris adalah dua di antaranya. Sekilas namanya mirip dengan orang-orang Asia Timur, tapi dapat dipastikan ia adalah orang Indonesia, jikapun tidak, ia telah mengenal Indonesia cukup lama. Hal itu dikarenakan novelnovelnya bukanlah novel terjemahan, tapi novel asli Indonesia dan gaya bertuturnya pun mirip dengan novel Indonesia lainnya, yaitu tidak berbelit-belit dan sangat mudah dimengerti. Terlepas dari siapa penulis novel ini, yang jelas novel ini cukup bagus. Kali ini, Ilana membawa pembaca ke Tokyo yang sedang bersalju dengan novelnya yang berjudul Winter in Tokyo. Novel ini berkisah tentang Ishida Keiko, gadis campuran Indonesia-Jepang yang masih menunggu cinta pertamanya,seorang anak SMP yang pernah membantu Keiko mencari kalungnya sewaktu dia masih SD. Di saat seperti itu, Keiko kehadiran tetangga baru, Nishimura Kazuto namanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga mereka bisa menjadi akrab. Kazuto datang dari New York ke Tokyo untuk mencari suasana yang berbeda. Itulah katanya. Tetapi menurut Keiko alasannya lebih dari itu. Tapi Keiko tidak ambil pusing, karena Kazuto orangnya baik, menyenangkan, dan bisa diandalkan. Perlahan-lahan, Keiko memandang Kazuto dengan cara berbeda dan rasanya sulit membayangkan hidup tanpanya. Begitu pula dengan Kazuto, sejak awal ia sudah merasa ada sesuatu yang menarik dari Keiko. Segalanya terasa menyenangkan bila dia ada. Namun, dalam hati Keiko masih ada seorang yang ditunggunya. Cinta pertamanya. Kazuto berharap Keiko berhenti memikirkan orang itu dan mulai melihatnya. Karena menurut Kazuto, hidup tanpa Keiko sama sekali bukan hidup. Agaknya apa yang diinginkan Kazuto hampir berhasil. Tapi segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Akankah ada yang tersakiti setelah peristiwa hilang ingatan itu? Apakah ini tanda untuk

mengembalikan Keiko pada cinta pertamanya? Silakan simak semuanya dalam novel setebal 320 halaman ini. Ada yang membuat novel Winter in Tokyo ini berbeda dengan novel dewasa lainnya, yaitu sama sekali tidak mengeksplorasi nafsu manusia. Novel ini lurus, sehingga pembaca akan terbuai dengan kisah cinta sejati. Gaya bahasa, sudut pandang, serta pemecahan konflik yang dipaparkan Ilana begitu sangat tegas. Buku yang cukup bagus untuk mengisi rak buku Anda.***

Akhir Sebuah Cerita - Resensi Buku Maryamah Karpov

Sampul Buku Maryamah Kaprov Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tetralogi Laskar Pelangi yang keempat telah beredar di pasaran. Maryamah Karpov, begitu judul salah satu novel fenomenal karangan Andrea Hirata. Novel ini hadir dengan cerita yang baru. Seperti yang diketahui bahwa pemuda jebolan Univesite de Paris Sarbone ini sebelumnya telah melahirkan mahakaryanya yang begitu luar biasa dengan ketiga novelnya, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Maka tak heran jika beberapa waktu lalu, perfilman Indonesia sempat heboh dengan kehadiran Laskar Pelangi dalam bentuk audio-visual. Masyarakat berbondong-bondong ingin menyaksikan film itu, film yang sungguh menggugah, film yang melihatkan getirnya kehidupan, film yang menggambarkan orang-orang mati perlahan di negeri sendiri. Maryamah Karpov. Mungkin nama itu tidak asing lagi di telinga pembaca tanah air. Dialah Mak Cik si Ikal yang pernah meminjam beras pada Ibunya si Ikal. Namun, novel ini tidak melulu menceritakan Maryamah Karpov, bahkan hampir tidak ada. Novel ini berkisah tentang sambungan hidup Andrea Hirata setelah Edensor. Di buku ini Andrea akan mengisahkan tentang Arai, Lintang, A Ling, dan beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab di 3 buku terdahulu.

Kisah diawali dengan persiapan Ikal pulang ke tanah air setelah mempertahankan tesisnya di depan para penguji yang salah satunya Prof Hopkins Turnbull, supervisor tesisnya. Perjalanannya ke tanah kelahirannya, Belitong, tidak berjalan mulus. Pasalnya tiket kapal habis. Jadi ia harus menunggu keesokan harinya untuk pulang. Saat kepulangannya itulah ia mulai melihatkan lagi, bahwa begitu getirnya kehidupan rakyat kecil. Kapal yang ditumpangi Ikal itu begitu besar, sehingga kapal itu tidak dapat merapat di pelabuhan Belitong. Sebab perairannya terlalu dangkal untuk disinggahi kapal sebesar itu. Pilihan satu-satunya, kapal itu berhenti di tengah laut dan penumpang yang akan singgah di Belitong dijemput belasan perahu kecil nelayan. Inilah yang dimaksud sebagai kelu yang sebenarnya oleh si Ikal, karena penumpang diturunkan melalui tangga tali yang licin dan curam setinggi tiga puluh meter dari kapal menuju perahu-perahu kecil yang menyambutnya nun di bawah sana. Perahu-perahu itu terombang-ambing hebat karena angin kencang dan gelombang besar sampai dua meter, bergemuruh menghajar dinding kapal. Buih putih membuncah, terhambur pecah mengerikan. Tangga tali bergoyang-goyang, sangat mencemaskan. Jika terjatuh, pusaran arus bawah laut pasti akan menyusupkan tubuh ke bawah lambung kapal. Pasti tewas. Terbayangkah? Di mana kita saat itu? Mungkin kita tengah mengibas-ngibaskan koran sambil menyeruput teh hangat. Maka sudah seharusnya kita bersyukur atas segala hal yang kita peroleh saat ini. Itulah awal cerita dalam novel setebal 504 halaman ini. Kisah selanjutnya bercerita tentang hidup Ikal, kembali di Belitong hingga ia akhirnya menemukan A Ling. Namun, perjuangan Ikal kali ini lebih berat ketimbang perjuangannya mencari A Ling di tiga benua (baca Edensor). Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah A Ling ditemukan dalam keadaan masih bernyawa? Dan masih adakah kesempatan Ikal untuk menyatakan cintanya pada A Ling secara langsung? Di mana cerita tentang Mak Cik Maryamah? Dan mimpi-mimpi Lintang mana yang akan diwujudkan oleh Ikal? Temukan jawabannya di novel yang telah beredar di toko-toko buku. Seperti tetralogi sebelumnya, buku keempat, Maryamah Karpov ini masih sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Setidaknya novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi ini menegaskan pada kita untuk jangan berputus asa pada getirnya hidup. Jangan karena kekurangan, terus kita tidak berani bermimpi. Tapi itu ujian dari Allah sejauh mana kita bisa menaklukkan mimpi.

Jejak Hujan

Penulis: Hary Koriun Penerbit: Grasindo ‘Rasa baru novel remaja’ yang dijanjikan Grasindo di halaman belakang novel ini bukan isapan jempol belaka. Jangan terkecoh oleh desain dan ilustrasi sampul Jejak Hujan, yang begitu menarik dengan gambar timbul serta warna-warni elektriknya, sebab karya Hary Koriun ini tidak seperti teenlit atau novel remaja kebanyakan. Bahasa gaul yang teramat sangat minim (kecuali kata ‘cowok’ yang agak sering muncul di bab akhir) menyuguhkan pengalaman membaca yang sedap. Terlepas dari kemungkinan besar bahwa keunikan pemilihan gaya bahasa dan diksinya yang menjadikan novel ini terpilih sebagai Unggulan Sayembara Mengarang Novel Remaja Grasindo-Ranesi (karena setahu saya, Ranesi memprioritaskan kosakata Nusantara dan bukan serapan), saya mengagumi dobrakan inspiratif ini. Jujur saja, selama ini saya dan beberapa kawan penulis lain merasa tak sanggup menulis novel remaja jika harus bertaburan bahasa gaul. Jejak Hujan memberikan satu pengetahuan lain, yakni bahwa kehidupan mahasiswa tingkat akhir yang sudah mencicipi dunia kerja berikut segala persoalannya pun termasuk kisah kategori remaja. Sungguh inspiratif lagi melegakan. Tema besar novel ini adalah kisah cinta segitiga, tetapi romantismenya masih proporsional. Tiap karakter memiliki latar belakang dan problematika masing-masing yang sangat berpengaruh dalam tumbuh-kembang kepribadian beserta tindak-tanduk yang diterangkan secara jelas dalam

dialog-dialognya yang lincah. Plot agak melompat-lompat dan hadirnya tokoh aku serta dia secara bergantian tidak menjadikan Jejak Hujan memusingkan untuk disimak. Singkat kata, saya belajar banyak sekali dari novel remaja ini. Kekurangan yang saya perhatikan hanyalah kesalahan ejaan seperti Kevin Kostner dan Sammersby (maksudnya Sommersby, film Richard Gere dan Jodie Foster itu). Kembali pada sampul, masih relevan dengan judul dan tepat sasaran. Harapan saya, dengan sampul yang demikian para remaja berbondong-bondong mengkonsumsi novel ini.

Samurai, Jembatan Musim Gugur

Judul asli: Autumn Bridge Penulis: Takashi Matsuoka Penerjemah: Ary Nilandari Penerbit: Qanita Tebal: 852 halaman Cetakan: I, Maret 2005 Daya tarik utama: Jepang dan penerjemahnya, sahabat baik yang saya kagumi:) Bagian paling berkesan: Malam pengantin Midori dan Yorimasa yang

menegangkan. Sangat menyentuh hati. Demikian pula saat Makoto bermaksud membunuh ayah kandungnya. Bagian yang kurang asyik: Uraian misi Emily di Jepang, begitu pula beberapa hal seputar politik.

Kilau Bintang Menerangi Bumi

Penulis: Sidney Sheldon Penerbit: GPU Mari belajar kerasnya dunia bisnis dari novel ini, yang diriset mendalam oleh Sheldon sebagaimana tertera di halaman muka. Lara Cameron terjun ke bisnis real estate atas prakarsa Charlie Cohn, seorang tamu yang menyewa rumah kos tempatnya bekerja. Charlie memperlakukan Lara dengan sangat baik bak anak perempuannya sendiri (sementara ayah Lara membencinya dan menganggapnya sial) dan berpegang teguh pada prinsip melakukan segala yang halal (jadi kepingin tanya maksud halal di sini. Barangkali Charlie ini penganut Katholik ortodoks atau apa ya?). Ia bahkan tidak mau menerima tawaran Sean McAllister, bankir culas yang berusaha potong kompas dalam proyek Lara. Pahitnya, Lara terpaksa meminjam uang pada orang ini dan merelakan kegadisannya direnggut. Bagian cerita yang sangat seram. Plot novel ini ulang-alik, namun tidak memusingkan. Kisah asal-usul Paul Martin, kekasih Italia Lara yang juga mafia, cukup sadis di beberapa bagian tetapi saya tidak dapat melewatkannya.

Karena kehadiran Lara, pengacara yang kuat relasinya dengan para buruh ini melanggar niatnya sendiri untuk tidak berselingkuh setelah genap berumur 60 tahun. Apa daya, Lara merindukan sosok ayah yang tak pernah dimilikinya. Bahkan ia mengelabui wartawan dengan mengatakan bahwa ayahnya keturunan bangsawan kaya. Walau memakamkan sang ayah di istana megah, Lara tak pernah mau menjenguknya. Dilema batin Howard Keller, mitra bisnis Lara, tak kalah menarik untuk disimak. Proses banting stir karirnya terbilang mengenaskan, dan lelaki ini hampir tidak pernah bahagia sepanjang hidupnya (atau sepanjang cerita novel ini). Ia terpaksa menahan diri melihat Lara berkencan dengan Paul, kemudian hanya mampu minum sampai mabuk setelah Lara mendadak menikah dengan maestro Philip Adler di Paris. Jatuh-bangun bisnis Lara yang melibatkan campur tangan Paul menciptakan gairah untuk membaca novel ini sampai selesai, bahkan tanpa jeda. Bisnis itu kotor, maka wanita perfeksionis secantik Lara dipandang sebelah mata. Ia harus menghadapi saingan-saingan yang meneror, mengancam, memeras, dan berupaya menghancurkan perusahaannya dari dalam. Belum lagi konflik rumahtangga dengan suaminya yang berasal dari dunia lain, musik klasik. Kecemburuan Lara pada sekretarisnya, Marianne, mengukuhkan besarnya rasa cinta seorang perempuan dan sifat manusiawi dalam dirinya. Diperlukan kejelian untuk merangkai benang merah dan mengungkap pelaku penodongan terhadap Philip yang juga memotong urat lengannya. Lara menggelinding ke gerbang kehancuran. Tetapi wanita yang digelari kupu-kupu besi ini sangat memperhatikan karyawannya seperti keluarga sendiri, membiayai sekolah anak-anak mereka, mengirim mereka yang sakit ke tangan dokter terbaik. Kebaikan hati Lara inilah yang menyelamatkannya sedari mula.

Ancaman Kota Bayangan, Novel Kiki Strike

Memiliki sosok misterius dengan penampilan eksentrik membuat Kiki Strike menjadi sebuah ikon bintang petualang dalam komunitasnya. Kiki Strike membentuk kelompok Irregular yang beranggotakan para remaja berkeahlian khusus. Ada Betty, ahli menyamar dan pembuat kostum. Ada Luz, mekanik handal, yang ahli menciptakan alat-alat elektronik. Ada juga Dee Dee, ahli kimia yang mampu meracik ramuan hebat. Dia juga merekrut Oona, pakar komputer yang memiliki kemampuan sebagai hacker sejati. Ada juga Ananka, si ensiklopedi jalanan yang memiliki perpustakaan terlengkap di rumahnya. Dengan keahlian mereka masing-masing, kelompok ini berusaha menyelamatkan New York dari ancaman serius Kota Bayangan. Banyak yang tak menduga, ternyata di bawah tanah New York terdapat sebuah kota bawah tanah, tepatnya di Manhattan. Konon, kota tersebut menyimpan banyak harta karun karena merupakan kota impian bagi kaum perompak New York di masa lalu. Dengan berbagai keahlian mereka, Irregular mengetahui niat jahat penguasa Kota Bayangan. Namun petualangan tak sengaja mereka justru menjerumuskan kelompok ini ke dalam kemelut besar. Mereka harus bertarung hidup mati dengan ratu jahat dari Pokrovia dan geng Fu-Tsang dari Cina. Tentu saja petualangan ini mengasyikkan sekaligus mendebarkan. Sekelompok remaja bertarung dengan mafia profesional dan kejam. Novel ini merupakan satu dari beberapa novel remaja yang menceritakan petualangan hebat dan brilian. Ada ketegangan, kisah cinta, dan nilainilai yang ditawarkan.*** Ade Kurniawan Mahasiswa UIN Suska

Novel Peristiwa Tsunami, Deru Ombak Itu!

Dewi menoleh ke sungai. Rasa kaget yang luar biasa menyergapnya. Gelombang air yang sangat tinggi datang dari kejauhan. Seperti dinding air yang bergerak maju dengan cepat menuju ke arahnya. Ia berlari tergopoh-gopoh menghampiri Nova, menggendong adiknya, kemudian berlari di jalan kampung. “Bapak!” teriaknya. “Bapak! Laut! Laut naik!” Cerita di atas adalah penggalan kisah yang ada dalam novel ini. Tidak hanya Dewi dalam novel ini saja yang mengalami hal itu, tetapi juga masih banyak Dewi-Dewi lain yang mengalami hal serupa, tsunami Aceh tahun 2004 silam, bahkan hingga sampai kehilangan seluruh anggota keluarga yang sangat dicintai. Apakah masih lekang di ingatan kamu mengenai tragedi di penghujung tahun 2004 silam itu? Corien Oranje. Begitu nama si pengarang. Kamu tentunya bisa menebak bahwa dia memang bukan orang Indonesia, dia berkebangsaan Belanda. Rasa simpatinya terhadap tragedi tsunami Aceh itu telah menggerakkan tangannya untuk menuliskan dalam bentuk tulisan dan inilah hasil tangannya itu, Tsunami!. Tsunami! adalah kisah perjuangan seorang remaja mengatasi dampak bencana yang memorakporandakan Banda Aceh dan mencerai-beraikan keluarganya. Betapa Dewi berharap ia dapat memutar balik waktu dan kembali menjalani hidupnya yang membosankan: pergi ke sekolah, membantu ibu, makan, dan tidur. Ia berharap bisa terbangun dari mimpi buruk yang mengerikan ini dan sayangnya itu semua nyata. Novel yang cukup inspiratif dengan bumbu kisah nyata yang disuguhkan kepada pembaca. Kamu tidak perlu mengerutkan kening membaca novel ini hingga tamat. Karena selain memang halamannya yang tidak terlalu tebal, ceritanya juga cukup ringan.*** Indra Purnama Anggota FLP Wilayah Riau prnm_indra@yahoo.com

Konspirasi Ala Ninja, Resensi in Darkness Death

Keberadaan ninja di dalam sejarah Jepang menjadikan pasukan khusus yang mematikan itu menjadi legenda yang hebat. Betapa tidak. Ninja melakukan operasi-operasi besar, namun nyaris tak diketahui bagaimana mereka beraksi. Kisah ini berlatar sejarah Jepang di abad ke-18, pada zaman kekaisaran Tokugawa. Kisah dimulai ketika Tuan Inaba ditemukan terbunuh di kamarnya saat sedang berada di bawah perlindungan Shogun di Kota Edo. Shogun kemudian memerintahkan Hakim Ooka untuk menyelidiki dan memecahkan kasus pembunuhan tersebut. Kasus ini menjadi misteri karena petunjuk yang sangat kurang. Nyaris buntu. Satu-satunya petunjuk adalah sebuah origami kupu-kupu yang ditinggalkan si pembunuh. Dicurigai, pembunuhan tersebut dilakukan oleh ninja. Hakim Ooba memerintahkan Seikei untuk melakukan penyelidikan ke wilayah kekuasaan Tuan Inaba. Namun ia juga meminta bantuan seorang ninja pula, bernama Tatsuko. Seikei pun mulai melakukan penyelidikan. Ia mempelajari seluk beluk ninja kepada Tatsuko. Dalam penyelidikannya, ia menemukan banyak kejanggalan yang menjadikan kasus ini rumit. Tidak hanya itu, misteri yang terkuak satu persatu melibatkan banyak intrik yang semakin rumit dan menegangkan. Novel ini menegangkan, cerdik dan ditulis dengan apik. Plotnya yang beralur cepat menjadikannya sebuah bacaan yang menarik.*** Abdullah Alumnus Komunikasi UIN Suska Riau

Anjing Berhati Manusia Resensi Novel Seekor Filsuf

Persahabatan antara seekor anjing dan manusia memang sudah lumrah terjadi. Namun bila seekor anjing yang bersahabat dengan manusia itu berperilaku seperti halnya manusia dan bahkan dapat berbicara seperti manusia, itu baru anjing luar biasa. Enzo, dialah anjing yang memiliki kelebihan itu. Dia memang anjing ajaib. Dia bisa merasakan perasaan manusia yang sedang bersedih atau sedang bahagia. ‘’Aku memang seekor anjing yang seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Tapi itu hanya tampak di luar saja. Sementara di dalamnya, aku memiliki hati. Dan hatiku sangat manusiawi,’’ ujar Enzo pada Denny Swift, majikannya. Sejak kecil, Enzo telah mengetahui bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda dari anjinganjing lain. Ketika dewasa, dia bahkan menjadi filsuf yang gemar menonton televisi, khususnya National Geographic dan F1. Dia selalu menyimak dengan seksama kata-kata yang diucapkan tuannya, Denny Swift, yang juga seorang pembalap itu. Melalui Denny, Enzo memperoleh banyak pengetahuan mengenai kehidupan manusia dan bagaimana menjadi manusia. Dia memahami bahwa hidup, seperti halnya balapan, tidak hanya soal melaju kencang, tapi dengan menggunakan teknik-teknik di arena balap, manusia dapat berhasil menjalani liku-liku kehidupan. Setelah mempelajari apa saja yang diperlukan untuk menjadi manusia mulia dan sukses, anjing yang bijaksana itu tak sabar lagi menunggu kehidupan selanjutnya ber-reinkarnasi menjadi manusia sejati. Sampai suatu ketika Enzo jatuh sakit. Denny dan seluruh keluarganya sangat sedih. Apalagi setelah dirawat, kondisi kesehatan Enzo tidak kunjung membaik malah kian memburuk. Hingga akhirnya, pada malam sakratul mautnya, Enzo menghimpun kenangannya, mengingat kembali semua yang telah dia alami bersama Denny dan keluarganya, termasuk saat ia membebaskan majikannya dari pengadilan atas tuduhan pemerkosaan. Sungguh cerita yang mengharukan. Sebuah novel yang berkisah tentang kesetiaan dan harapan yang meremas hati, tetapi sangat lucu dan begitu menginspirasi. Garth Stein, sang penulis novel ini begitu piawai mendeskripsikan alur cerita dalam sudut pandang yang tidak biasa dan membuat penasaran. Bahasanya asyik, narasinya kreatif, dan ceritanya membekas dalam di hati. Selamat membaca!*** Ahmad Ijazi Mahasiswa PBI UIN Suska, Anggota FLP Pekanbaru Email: ijaziahmad@yahoo.co.id

Buku Pintar Penyuntingan Naskah Edisi Revisi

Penulis: Pamusuk Eneste Penerbit: GPU Pertama kali saya melihat buku ini di Gunung Agung BIP beberapa tahun yang lampau. Penampilan fisiknya tidak terlalu menarik, sampai kemudian dirombak oleh GPU mulai cetakan kedua ini. Tentunya dengan harga yang lebih mahal. Bukan hanya profesi penyuntingan yang kurang mendapat perhatian dalam landasan pendidikan formal, namun referensinya pun sulit dicari. Saya memerlukan buku ini setelah berulang-ulang ‘hanya’ mengandalkan Menjadi Penerbit produksi Ikapi Jakarta. Penulis menyertakan deskripsi ragam naskah, potret profesi editor yang berjenjang menurut tanggungjawabnya masing-masing, juga panduan ejaan yang disempurnakan sebagai wawasan mutlak untuk mengoreksi naskah. Latihan-latihan yang tersedia menjadikan buku ini kian bermanfaat, apalagi bila kita baru mulai terjun sebagai penyunting. Bab-bab penutup buku ini terasa seperti diktat kuliah, mengingat Pak Pamusuk menyusunnya untuk kepentingan mahasiswa jurusan penyuntingan. Akan tetapi secara keseluruhan, Buku Pintar Penyuntingan Naskah sangat perlu. Tidak hanya untuk para penyunting, tetapi juga penulis supaya naskahnya semakin matang dan enak dibaca.

Resensi Buku: EO For Teens

Penulis: Ryu Tri Penerbit: DAR! Mizan

Sekolah saja tidak cukup. Pengalaman berorganisasi sangat perlu bagi para siswa SMA sebagai bekal bersosialisasi, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, dan mengasah ketrampilan berbisnis. Itulah yang dibidik Ryu Tri dalam buku non fiksi terbitan DAR! Mizan ini. Dituturkan dengan gaya bahasa khas remaja, Ryu memotret serunya terjun menyelenggarakan pertunjukan di sekolah. Para pelajar mengenal kerja keras dengan bergabung dengan kepanitiaan dan mensukseskan program acara yang ada, antara lain pentas seni, bazaar, dan prom nite. Secara keseluruhan, EO for Teens sangat cocok dibaca remaja-remaja yang menaruh minat pada aktivitas event organizer dan berkeinginan untuk merintisnya sejak dini. Apalagi ditambah sisipan foto yang merekam aneka event di sejumlah sekolah dan yang tak kalah penting, pembahasan seputar proposal dalam penggalangan dana. Buku ini semakin lengkap dengan uraian pengalaman pelajar-pelajar yang pernah terlibat dalam suatu acara di sekolah masing-masing dan contoh proposal. Intinya, EO for Teens tak boleh dilewatkan.

Resensi Kumcer: Gairah di Gurun

Judul asli: Honoré de Balzac, Great Short Stories from Around the World Penulis: Honoré de Balzac Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin Penerbit: Nuansa Tebal: 99 halaman Cetakan: I, September 2004 Semula saya kecewa karena menduga kumpulan cerpen yang termasuk dalam Seri Fiksi Klasik ini merupakan alih bahasa dari versi Prancis. Namun tak mengapa, sebab kalimat-kalimat di dalamnya tetap menarik untuk disimak maupun menjadi bahan pembelajaran untuk penyuntingan dan penerjemahan. Nilai tertinggi saya berikan pada cerpen 'Rumah Misterius'. Kisah ini membangkitkan minat saya pada cerita misteri sekaligus thriller pada titik puncak. Balzac seolah melemparkan dua kepingan yang tak berhubungan, mengenai seorang tahanan Spanyol yang rupawan dan mendadak raib dari tempatnya menginap serta rumah milik sebuah

keluarga terhormat yang mengundang rasa ingin tahu pengunjungnya. Akhir cerpen ini luar biasa, mengingatkan saya pada film-film Hitchcock. Sempat membaca ulang beberapa paragraf awal untuk memastikan bahwa apa yang saya tafsirkan tidak keliru. Cerpen 'Peristiwa di Ghent' tak kalah istimewa. Balzac mengetengahkan ironi yang menggelikan kala seorang wanita tua hampir meninggal dan para kerabatnya berjaga di sisinya karena khawatir tidak mendapatkan warisan. Ternyata isyarat yang diperlihatkan mengungkap sesuatu di luar dugaan ketiga keponakan nyonya tersebut. Pendek tapi mengesankan. Cerpen penutup, 'Gairah di Gurun' mengandung imajinasi hebat. Seorang manusia, meski terdampar dan berada dalam keterpaksaan, ternyata dapat menjalin hubungan karib dengan seekor macan betina. Vous m'impressionez tellement, Monsieur Balzac. Cela est un oeuvre merveilleux.

Resensi Buku: Chicken Soup for The Writer's Soul

Penulis: Jack Canfield dkk Judul Terjemahan: Harga Sebuah Impian Penerbit: GPU

Saya membeli buku ini didorong rasa penasaran. Awalnya membaca resensi yang ditulis Anwar Holid di Kompas, lalu disarankan oleh seorang kenalan, dan..nyarinya sampai berminggu-minggu baru nemu. Kesannya? Sama sekali tidak menyesal. Inilah buku Chicken Soup for the Soul pertama yang saya baca. Sebelumnya saya hanya nonton di TV beberapa tahun silam. Betul kata Stephen Covey di sampul belakang, “Buku ini dengan indah menggambarkan hati, jiwa, dan semangat para penulis.” Juga testimoni Melanie Rigney di halaman dalam, “Kisahkisah ini akan membuat Anda terkekeh, menyeka airmata di pipi, dan mengilhami Anda untuk terus menulis.” Semua cerita, yang berjumlah empat puluh dua, di dalamnya bagus. Esai yang cukup menampar saya adalah Demi Cinta atau Uang-nya Gregory Poirier, terutama paragraf “...Lalu, suatu hari aku melakukan sesuatu yang akan kuingat saat aku meregang nyawa. Aku duduk di depan komputerku pada pagi hari dan menyalakannya, dan ketika sedang mengaktifkan program Scripwrite, aku meraih kalkulatorku. Bukannya memikirkan apa yang akan dilakukan para karakterku hari itu, apa yang akan mereka bicarakan, ke mana mereka akan pergi, aku malah berpikir, “Jika aku menyerahkan naskah ini pada akhir bulan, aku bisa memperoleh cek permulaan untuk proyek X pada pertengahan Juli, dan itu akan membayar biaya pembangunan guest house.” Tujuan hidupku bukan lagi untuk menulis, tulisanku adalah sebuah cara untuk menghasilkan uang.” (hal. 31). Auch! Saya merasa dijewer. Gregory melanjutkan penuturannya dengan meyakinkan bahwa kakinya tetap berpijak di bumi, di halaman 32 ia menulis “Dan kenyataan yang hebat adalah, sejak aku berhenti memujanya, aku menghasilkan lebih banyak uang daripada sebelumnya.” Saya sudah mulai mencucurkan airmata kala beralih pada cerita berikutnya, Bingkisan Ayah (hal. 33-35). Dengan bahasa yang mengalir, Cookie Potter memaparkan ayahnya meninggalkan kenangan terindah sebelum bercerai dengan ibunya dan pergi entah ke mana. Ia menulis artikel berdasarkan seluruh cerita Cookie kecil dan mengirimnya ke surat kabar sehingga dimuat dengan nama sang anak sendiri. Saya tergelak menyimak pengalaman Nora Profit, yakni melemparkan surat dari editor media cetak yang dikiriminya tulisan ke dalam lemari. Beberapa lama kemudian, ia menemukan surat itu, membukanya dan ternyata permintaan untuk merevisi naskah sebelum dimuat. Ia kehilangan kesempatan berharga karena terlalu pesimis. Nora menutup uraiannya dengan kalimat bijak, ‘Jangan sampai kau meragukan dirimu sendiri. Kau akan rugi.’ (hal. 39). Pesan ini relevan dengan pelajaran yang disisipkan Bud Gardner, ‘sikap positif menentukan hasil positif’ (hal. 50). Saya merasa tidak sendiri kala menemukan curahan hati para penulis yang diterjang penyakit, bahkan yang lumayan kronis. Lalu apakah semua isi buku ini mengharu-biru selalu? Tidak. Saya

tersenyum-senyum membaca Anugerah Mendua (hal. 140-142). Marcia Preston menyampaikan pergulatan memperhatikan cucunya yang menggemaskan dan komputer yang menuntut perhatian. Ilustrasi kartun yang ditambahkan pun cukup mendukung, di samping kutipan-kutipan mutiara di beberapa halaman. Salah satu yang teramat berkesan bagi saya ialah ‘Lebih banyak orang mempunyai bakat daripada disiplin. Itulah sebabnya disiplin dibayar lebih tinggi – Mike Price’ (hal. 26). Penerjemahan buku ini layak diacungi jempol, walau terasa kaku di awal karena banyaknya anak kalimat, namun kemudian kreativitas pemilihan diksi terasa sampai halaman terakhir. Sekadar tambahan, saya baru sadar bahwa wanita dalam ilustrasi sampul depan buku ini sedang memangku laptop:p

Resensi Buku: Dari Gatotkaca Hingga Batman, Potensipotensi Naratif Komik

Penulis: Hikmat Darmawan Penerbit: Orakel, Yogyakarta Tebal: 270 halaman Cetakan: I, Juli 2005 Ketika buku ini sampai ke tangan saya tanggal 12 November 2005 lalu, saya sedang keranjingan wayang (sekarang pun masih, hanya sedang menurun). Karena itu, tak terbilang terima kasih saya kepada sobat

komikus Anom Triwijanto yang menghadiahkannya sebagai bahan bacaan sekaligus penunjang proses kreatif saya menulis naskah komik wayang. Dari segi fisik, buku ini oke. Isinya layak diacungi dua jempol. Rujukan soal komik yang terakhir kali saya baca adalah 'Komik Indonesia'-nya Marcel Boneff. Walaupun kegunaannya tak dapat diingkari, bahasa dan gaya tuturnya masih berbau disertasi banget. Lain dengan kumpulan esai Hikmat Darmawan yang sebagian telah diterbitkan di media cetak ini. Bahasanya cerdas tapi renyah, berbobot tapi enak dibaca. Jarang sekali saya menemukan pengulangan diksi dalam satu paragraf, bahkan halaman. Kentara betul bahwa penulisnya berpengetahuan luas dan banyak melahap buku dari berbagai genre dan topik. Lihat saja pengolahan judul dan sub judulnya, antara lain 'Panel-panel Kehilangan Identitas' (halaman 81), 'Banyak Nama Menuju Komik' (halaman 140), dan 'Kalau Politik Membaca Komik' (halaman 246). Membaca DGKB sama sekali tak menjenuhkan, walau berulang kali dilakukan. Saya jadi tahu ulasan berbagai sudut mengenai Palestine-nya Joe Sacco, beragam tafsir tentang Batman dan Catwoman, komik Mantra Pawitra-nya Alfi yang sempat dirombak sebelum dilempar ke pasaran (walau sampai sekarang belum juga baca:p), atau keseriusan Herge menggarap Tintin sampai mengirim tim riset ke luar negeri. Kekurangannya? Mengingat tulisan dalam buku ini adalah bunga rampai artikel penulis, kita dapat menemukan beberapa hal yang diulang-kisahkan seakan-akan sudah diperkenalkan dan diperkenalkan lagi. Misalnya soal Shienny dan Calista, komikus Elex. Walaupun hal ini dapat dimaklumi, alangkah lebih baiknya jika ditulis ulang sehingga terjalin benang merah yang menjadikan DGKB kian berisi.

Resensi Buku: Free Things

Penulis: Iwok Abqary Penerbit: Gagas Media Inilah buku solo Kang Iwok yang saya baca pertama kali, setelah menyimak goresan fiksinya di Flash! Flash! Flash! Secara keseluruhan, gaya bahasa remaja sudah terwakili. Segar, renyah, dan tidak menggurui namun tetap menyelipkan pesan: pada dasarnya tidak ada yang sepenuhnya gratis di dunia ini. Segalanya butuh usaha. Segalanya perlu modal, minimal tenaga dan pikiran. Juga waktu. Dihiasi foto-foto Kang Iwok waktu bertandang ke Eropa, buku ini memaparkan kiat-kiat menarik untuk menjangkau aneka hal gratisan mulai dari hadiah kuis yang berbentuk barang dan uang tunai sampai liburan tanpa merogoh kocek dan beasiswa. Tersisip juga trik-trik nebeng di rumah kenalan sewaktu menginap di luar kota atau menuntut ilmu di luar negeri. Saya sempat mengerutkan kening membaca bagian ‘Internet Gratisan’ di rumah teman, tetapi Kang Iwok mengingatkan sikap sopan santun antara lain tidak memaksa, tidak mengganggu istirahat orang lain, dan tidak menggunakan akses untuk hal-hal yang merugikan. Secara umum, buku ini asyik disimak. Kang Iwok punya bakat terpendam menulis non fiksi. Tetapi akan lebih memikat lagi apabila dilengkapi dengan salah satu yang digemari orang Indonesia, yakni software gratisan. Kang Iwok sudah menyentuh Internet, jadi semestinya bisa mencapai segmen ini. Ditambah kiat-kiat mengenali software trial dan benar-benar free, serta daftar alamat web, pasti makin oke.

Terlepas dari kekurangan itu, saya yakin buku Free Things akan laris mengingat minat masyarakat kita yang sangat tinggi pada hal-hal yang dapat diperoleh tanpa bayar. Sukses, Kang!

Resensi Buku: Seajaib Lampu Aladdin

Penulis: Jack Canfield dan Mark Victor Hansen Penerjemah: Trinanda Rainy Januarsari Penerbit: Kaifa Tebal: 332 halaman Cetakan: I, Juni 2002 Ini bukan buku baru. Saya memperolehnya tanggal 2 Juli 2002 dari sang penyunting (yang waktu itu merupakan Chief Editor saya di Mwmag), Steven Haryanto. Para penggemar buku laris Chicken Soup for the Soul pasti sudah familiar dengan duet penulis ini. Terjemahan karya mereka yang diterbitkan Kaifa lima tahun silam ini menganalogikan dialog jin dan Aladdin untuk mengesensikan pencapaian mimpi sesuai sub judulnya, Kiat-kiat Mewujudkan Impian Jadi Kenyataan. Metode pemaparan seperti ini sampai sekarang menjadi tren, salah satunya buku The Kamasutra of Business yang diresensi Kompas beberapa pekan lalu. Di sana-sini, seperti buku How to yang umumnya ditulis para trainer dan pembicara seminar, terdapat sejumlah bagian yang dapat diterapkan untuk presentasi bisnis dan pemasaran barang. Ini saya temukan pada contoh-contoh kasus pengumpulan dana dan penjualan suatu produk. Walaupun demikian, banyak juga cerita dan pengalaman yang berhubungan dengan pemupukan

rasa percaya diri dan persoalan-persoalan rumah tangga serta keluarga. Secara garis besar, Seajaib Lampu Aladdin mengajarkan keberanian untuk meminta bila memang kita membutuhkan. Ada teknik-tekniknya, juga uraian sikap mental negatif yang perlu dikibaskan, antara lain rasa takut ditolak. Bagi saya pribadi, elemen paling bermanfaat adalah pembahasan visualisasi keinginan dan keberhasilan. Contohnya, seorang atlet yang membayangkan menjadi juara setiap kali berlatih. Ia berlatih tiap hari. Semangatnya terpancar stabil sampai akhirnya meraih gelar juara. Berikut ini beberapa kalimat yang menarik: Jika Anda pikir Anda mampu, dan yang Anda inginkan sangat penting, lakukanlah! (hal. 120) Hal terburuk apakah yang mungkin terjadi? Dan, jika tidak membuat saya mati, tentunya hal itu bukan merupakan hal yang terburuk (hal. 121). Segalanya berubah saat saya menyadari bahwa saya bukanlah satu-satunya makhluk yang merasa takut di bumi ini (hal. 127) Proses tumbuh dan berkembang sedikit banyak butuh ketidaknyamanan (hal. 135) Pelajaran berharga yang saya pelajari adalah untuk tidak menyamakan penolakan dengan kegagalan (hal. 142) Sangat mungkin seseorang mencintai Anda, namun tetap saja tidak tahu apa keinginan Anda (hal. 206) Buku ini dihiasi ilustrasi berupa karikatur ukuran mungil, antara lain karya Mike Peters, Jim Davies, D. Reilly, dan Dedini.

Resensi Buku: It's Not What You Say, It's What You Do

Penulis: Laurence Haughton Penerjemah: Primadonna Angela Penerbit: GPU Untuk apa seorang penulis membaca buku manajemen? Di samping minat dan kerinduan saya pada bidang tersebut di atas, materi buku yang ditujukan bagi para manajer ini sangat cair. Banyak segi yang dapat diterapkan untuk profesi apa pun, tidak hanya orang kantoran. Kasus demi kasus yang diangkat tidak hanya menyertakan contoh perusahaan atau pelaku bisnis tertentu, ada juga perihal penebang kayu dan kartunis. Yang tearkhir ini termasuk bagian favorit saya. Alkisah, seorang kartunis yang merasa rendah diri karena terus-menerus ditolak mendapati dirinya menggambar lebih baik setelah memperoleh kepercayaan dari seorang pemimpin redaksi sebuah media cetak bahwa dirinya layak menjadi kartunis sindikasi internasional. “Saat seorang eksekutif memberikan arahan yang tidak jelas, hal itu dimungkinkan dikarenakan ia sedang kewalahan.” (hal. 17). Ini cukup sering saya alami, termasuk beberapa waktu belakangan ini. Saya membaca sambil manggut-manggut, sebab kalimat di atas mengajarkan empati dan berprasangka baik. Ternyata perkara empati dibahas di halaman 28, bahkan dikaitkan dengan kisah ‘Wizard of Oz’ (yang tengah saya garap penyuntingannya) di halaman 30. Luar biasa! Pelajaran penting lain dapat dipetik dari halaman 120: “Anda harus mencintai apa yang Anda lakukan.” Lebih lanjut dikatakan, “Jika Anda tidak akan bahagia melakukan sesuatu, jika Anda tidak menyukainya..berarti itu adalah langkah buruk.” Wow, saya merasa ‘didukung’ secara moril dalam banyak peristiwa dan keputusan, khususnya yang menyangkut pekerjaan. Kesan terdalam dari buku yang ditulis Laurence Haughton, rekan penulis “It’s Not The Big That Eat The Small..It’s The Fast That Eat The Slow” (saya sering menemukan kutipannya dalam berbagai artikel karir di majalah), ini yakni pembahasan mengenai ‘sapi keramat’. Saya dan suami tergelak-gelak mendiskusikannya. ‘Sapi keramat’ adalah terminologi lain untuk ‘anak emas’, orang-orang yang menciptakan situasi sulit bagi atasan dan karyawan sebuah perusahaan. Meskipun cara kerja dan ide-idenya tidak memajukan bisnis, bahkan mengacaukan, pihak atasan tetap mempertahankannya sehingga anak buah lintang pukang mencari jalan keluar lain. Hal ini relevan dengan kalimat ‘manajer ini menciptakan kelompok domba untuk dikorbankan’ (hal. 178). Setelah menulis resensi ini, saya akan mengirimkan sebuah kutipan kepada sahabat sekaligus manajer saya melalui SMS. Sebuah paragraf yang berharga. ‘Kemudian, saat Anda memiliki tim yang Anda sukai, pastikan mereka mengetahuinya. Cari cara untuk mengatakan kepada mereka

bahwa Anda menyukai dan menghormati mereka.’ (hal. 185). Ia pasti akan bersemangat membaca masukan ini, sebab pilihannya tidak keliru. Pokoknya, buku ini sangat berguna. Paling tidak, untuk saya.

Resensi Kumpulan Dongeng: Tanabata

Penulis: Antonius Pujo Purnomo Penerbit: Era Media Meskipun disajikan dengan font rapat-rapat yang menyulitkan mata silindris saya, ilustrasi yang menghiasi setiap cerita cukup menghadirkan nuansa dongeng dalam buku ini. ‘Tanabata’, yang merupakan volume pertama (volume keduanya berjudul ‘KaguyaHime’), terdiri dari 50 cerita. Penulis mengelompokkannya berdasarkan wilayah asal kisah dan menutupnya dengan pesan moral yang terkandung. Beberapa cerita sudah pernah saya dengar, di antaranya ‘Kakek Pipi Benjol’ (hal. 23) yang serupa dengan sebuah hikayat Korea, ‘Balas Budi Bangau’ (hal. 19) yang sering sekali diplesetkan dalam serial komik Shinchan, ‘Momotaro’ (hal. 146) dan ‘Lukisan Istri’ (hal. 159). Dongeng yang disuguhkan dalam buku ini cukup bervariasi. Selain kisah para dewa, pendeta, monster jahat, dan berbagai cerita kepahlawanan, dalam khazanah legenda Jepang juga banyak ditemukan makhluk dari dunia lain yang membalas budi setelah diselamatkan manusia seperti burung bangau dan siluman belut dalam ‘Istri Penjelmaan Belut’ (hal. 181). Kisah dari Saga ini merupakan salah satu favorit saya karena teramat menyentuh hati. Belut raksasa yang harus kembali ke dunianya tidak melupakan anaknya

dan rela menjadi buta supaya buah hatinya tidak menangis meski ditinggalkan. Penguasa tamak yang telah mencuri sebelah bola mata dari tangan si bayi tewas terkena reruntuhan akibat gempa yang ditimbulkan belut tersebut, tentunya setelah suami dan anaknya pergi jauh-jauh dari kediaman mereka.

Resensi Kumcer Anak: Melangkah dengan Bismillah

Penulis: Wikan Satriati Penerbit: KataKita Judul Mudah diingat, pas dengan tujuan. Melangkah dan Bismillah sama-sama mendukung makna ‘awal’. Desain cover Sesuai untuk anak-anak, warna cerah membuatnya mudah ditemukan di antara tumpukan buku lain. Bismillah, Kuawali Setiap Langkah dengan Nama-Mu Kisah seorang bocah yang mengalahkan kebengisan Raksasa Hitam dengan katapel dan ucapan Bismillah penuh keyakinan hati dikemukakan dengan lembut namun logis untuk

pemahaman anak-anak maupun orang dewasa. Alhamdulillah, Kami Bersyukur Saya sudah sering mendengar perihal kesabaran Ayyub. Tetapi kehadiran setan sebagai pengirim cobaan dan penyakit mengerikan membuat kisah ini terasa lain. Assalammu’alaikum, Salam Sejahtera Bagimu Kombinasi dongeng dan kisah teladan raja Umar yang dikritik rakyatnya amat proporsional lagi mengena. Saya paling suka bagian yang menceritakan bahwa ribuan malaikat menjawab salam kita dengan salam. Kalimat salam benar-benar perlu diperhatikan. Subhanallah, Alangkah Indahnya Ini kisah kesabaran dan kebesaran hati Muhammad yang juga telah berkali-kali saya dengar, antara lain dari ceramah Ustadz Zainuddin MZ di radio sewaktu kecil. Laa ilaha illallah, Allah, Engkau Tuhanku Pendek tapi berkesan. Bahwa manusia perlu berusaha. Bahwa manusia tak boleh mengeluh. Bahwa manusia harus mencontoh kegembiraan pak tua meski hidupnya sederhana. Astaghfirullah, Aku Menyesal Ini kisah favorit saya. Wikan Satriati sukses mengupas kisah si kancil dari kacamata berbeda. Sudah lama saya meyakini bahwa kancil itu binatang licik, seperti halnya kelinci yang kerap mengerjai hewan lain dalam dongeng dan komik. Dengan membaca kisah ini, insyaAllah anak-anak pun akan berubah pandangan dan menilai bahwa perbuatan kancil tidak layak ditiru. Seperti halnya dalam lagu “Si kancil anak nakal, suka mencuri ketimun..” Ladang Kata Kisah sederhana ini bagai rangkuman yang menunjukkan keterkaitan enam cerpen lain.

Indah, indah sekali. Menggambarkan dengan jelas petikan ayat dari Surat Ibrahim yang menutupnya “kata-kata yang baik itu seperti pohon yang indah, akarnya kokoh menghunjam ke dalam bumi dan dahannya menjulang ke angkasa. Pohon-pohon itu selalu berbuah sepanjang musim.” Kesimpulan: Karya Wikan Satriati ini merupakan pedoman dan rujukan penting untuk menulis cerita anak dengan gaya tutur menyejukkan hati.

Imaji Mustahil - Resensi Buku Dark Selection Imaji

Cover Buku Dark Selection Imaji DUNIA berada di ambang kehancuran. Ketidakseimbangan yang terjadi akibat hilangnya Batu Dearann dan dicurinya Batu Collin perlahan mulai menunjukkan akibat mengerikan. Dan Sorcha, putri kedua Mab Sang Ratu Peri, merasa hal itu sebagian merupakan kesalahannya sebagai Penjaga Batu klan Tuatha. Ia pun akhirnya setuju ketika Ratu Peri memintanya berkorban dengan meninggalkan dunia peri untuk mencari Batu Dearann yang hilang di dunia fana. Di tempat yang akan membuat jiwa perinya layu. Harold Wyatt, Earl of Hartley, merasa hidupnya sudah dirundung banyak masalah. Dan kedatangan gadis memesona yang mengaku dirinya peri ia anggap hanya semakin menambah kesulitan. Gadis yang Harry pikir berada di ambang kewarasan. Ataukah sebenarnya Harry yang gila? Bukankah ia yang selalu melihat imaji mustahil di kepalanya? Imaji yang semenjak kedatangan gadis itu malah menjadi semakin menyiksa?(net/fed)

Dark Seduction Imaji
Penulis : Kathleen Korbel

Ukuran Tebal Terbit Penerbit : :

: 11 X 18 cm 336 halaman Maret 2009 : Gramedia

Resensi Kumcer: Alamak!

Penulis: Fira Basuki Penerbit: Grasindo Tebal: 143 halaman Cetakan: 3, Mei 2005 Kreativitas Fira nampak dalam prakata yang diberinya judul 'Mengapa?' Ia menghadirkan sekapur sirih yang tidak biasa. Kata tanya ini membuka setiap paragraf, sejak awal ia mengisahkan alasannya menulis cerpen dan menutupnya dengan kekhilafan yang mungkin terjadi sehingga tak menyebutkan nama-nama yang berjasa dalam kepenulisannya. Saya akan mulai dengan skor tiap cerpen, sistem biasa untuk karya berbentuk kumpulan tulisan. Alamak! Cerpen ini pernah saya baca di sisipan majalah Cosmopolitan tahun

2003. Ada sedikit perubahan di permulaan. Seperti kata B. Rahmanto dalam pengantar buku ini, Fira tidak menjelaskan mengapa Zendra memilih Rani yang 'bukan siapa-siapa' dibanding perempuan lain di kantor mereka. Tambahan dari saya, ilustrasi yang menggambarkan Zendra kurang cakep untuk keterangan cerpennya yang begitu heboh memesona. Dunia Baru Cerpen yang pernah dimuat di majalah SPICE! (kenapa disebut tabloid ya?) ini favorit saya. Apalagi kalau bukan berlatar psikologi. Sedikit peringatan untuk perempuan, yang remaja sekalipun, bahwa posesif dan ketergantungan pada kekasih (dalih karakter Zulu ialah tidak biasa pada hal-hal yang baru) merupakan indikasi kelainan jiwa. Ini Bukan Mimpi Saya sudah baca di majalah Djakarta! Akhirnya kelewat garing dan terkesan mudah banget diterka. Mengapa lelaki yang diimpikan itu adalah sang dokter? Takut Mati Paranoid klasik manusia adalah ketidaksiapan menyongsong maut hingga mereka terdorong untuk menundanya. Mencoba mengelabui sang takdir, Wulan malah kehilangan suami terkasihnya. Ketika Aku Mati Kisah kematian yang lain, bunuh dirinya seorang selebritis. Acung jempol buat Fira yang sanggup bersetia pada kata berakhiran -u di setiap kalimatnya. Ritmis bak puisi. Mandy and Me Barangkali ini sejenis tafsir dongeng. Kura-kura yang menempatkan diri sebagai pangeran untuk gadis kecil bernama Mandy. Menarik sebab diceritakan dari sudut pandang si kura-kura. Gantinya Barbie

Ini favorit saya yang lain. Bagaimanapun mahalnya sebuah boneka atau mainan, seorang anak perempuan akan merindukan ayahnya. Tak peduli sang ayah telah melukai hati ibunya. Amat menyentuh. Stiletto Sebuah potret kebanggaan dan keseksian mode berupa sepasang alas kaki bermerk yang modelnya menyiksa urat. Penutup yang mengundang senyum. Saya suka 'pelarian' Fira pada analogi dongeng putri duyung yang rela kesakitan demi memperoleh kaki manusia agar dapat bersanding dengan pangeran idamannya. Hitam Putih Jlimet, karena banyaknya dialog tanpa keterangan. Kita disuruh menebak siapa yang siapa di antara empat tokoh dalam cerpen ini. Namun saya menyukai akhirnya, meski sempat dilanda kebingungan. Cerita berbingkai yang unik. Alamak! juga dihiasi foto sampul karya-karya Fira terdahulu yang juga diterbitkan Grasindo, serta ilustrasi hitam putih menjelang setiap cerpen.

Resensi Buku: The Female Brain

Penulis: Louann Brizendine, M.D. Penerjemah: Meda Satrio Penerbit: Ufuk Press Tebal: 352 halaman Cetakan: I, Maret 2007 Penampilan fisik buku yang meraih Best Non-Fiction list 2006 Washington Post ini menarik dengan sampul putih cerah. Saya juga berterima kasih kepada pewajah isi yang menjarangkan baris kalimat serta memilih ukuran huruf yang menyamankan mata. Sesungguhnya isi The Female Brain secara umum bermanfaat untuk mengenali korelasi fungsi otak dan perubahan perilaku pada perempuan. Bab-bab dijabarkan sistematis menurut perkembangan usia, mulai dari bayi sampai lanjut usia. Sayangnya, buku ini ternyata terlampau berat untuk saya cerna. Saya kesulitan menyerap istilah-istilah hormon yang sangat ilmiah. Ilustrasi sebaiknya tidak diletakkan di pembuka bab, melainkan di antara halaman-halaman supaya penjelasan yang demikian panjang tidak membosankan. Saya senang menyimak uraian perihal kepekaan pada bayi perempuan dan anak batita, namun percobaan-percobaan pada hewan untuk membuktikan sejumlah hipotesis melenyapkan minat baca saya. Bagi saya, binatang dan manusia berlainan. Tidak bisa dijadikan acuan guna mengatasi kasus penyakit, apalagi kejiwaan, pada manusia. Kalimat di halaman 35 adalah salah satu yang tak saya sukai: "Seperti anjing yang mengejar Frisbee, anak perempuan akan mengejar wajah itu sampai mereka mendapat respons." Aduh!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->