P. 1
Semakin Menjadi Doa Akasah Doa Sholawat Nabi Muhammad Saw Terbaru

Semakin Menjadi Doa Akasah Doa Sholawat Nabi Muhammad Saw Terbaru

|Views: 2,704|Likes:
Published by teradiska
Semakin Menjadi Doa Akasah Doa Sholawat Nabi Muhammad Saw Terbaru
Semakin Menjadi Doa Akasah Doa Sholawat Nabi Muhammad Saw Terbaru

More info:

Categories:Types, Maps
Published by: teradiska on Apr 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

Bagaimana pandangan anda terhadap pasangan Sahal Mahfudz-Said Aqil Siroj dalam memimpin NU lima tahun ke depan

Lebih baik dari masa sekarang Lebih buruk Sama saja Tidak tahu Arsip Polling

Ubudiyyah Membaca Shalawat untuk Nabi 22/01/2008 Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah. Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya. Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama. Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.

Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang

tahu rahasia alam.

Adhari berubah menjadi hurip Adhari berubah menjadi honggo Adhari berubah menjadi tikno

Adhari berubah menjadi mbos adenan Adhari berubah menjadi mbah kartono Adhari berubah menajdi nurhadiantomo
Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179)

Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini: ‫وأخرج ابن منذة عن جابر رضي ال عنه أنه قال قالَرسول ال صلى ال عليه وسلم: من صلى علي كل يوم مئة مرة‬ ّ َ َ ِ ٍ ْ َ ّ ُ ّ ََ َّ ْ َ َّ َ ِ ْ ََ َّ ِ ُ ْ ُ ّ ُ َ َ ِ َ ٍ ِ َ ْ َ َ ُْ ُ ْ َ َ ْ َ – ‫– وفي رواية – من صلى علي في اليوم مئة مرة قضى ال له مئة حجة – سبعين منها في الخر ِ وثلثين في الدنيا‬ َ ْ ّ ِ َ ْ ِ َ َ ‫ِ َة‬ َ ْ ِ َ ْ ِ ْ َ ٍ ّ َ َ ِ ُ َ ُ َ َ ّ َ َ ِ ِ ْ َ ِ ّ ََ َّ ْ َ ٍ َ َ ِ ْ ِ َ ‫إلى أن قال – وروي أن النبي صلى ال عليه وسلم قال : اكثروا من الصل ِ علي فإنها تحل العقد وتفرج الكرب – كذا‬ َ َ َ َ ُ ُ ْ َ َ َ ْ َ ْ ّ ِ َ ّ َ ّ ََ ‫ْ َ ُ ِ َ ّ ة‬ ُ َّ ّ ِ ّ َ َُِ ْ َِ ‫في النزهة‬ ْ ِ Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah. Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Sepe

rti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala an-Nabi). Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat. Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih)

KH Munawwir Abdul Fattah Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta « Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share Berita Terkait: Berziarah ke Makam Rasulullah FASAL TENTANG WASILAH DAN TAWASSUL (4-habis) Tawassul dengan para Sahabat dan Shalihin FASAL TENTANG WASILAH DAN TAWASSUL (3) Tawassul dengan Rasulullah SAW FASAL TENTANG TAUHID (3) Iman kepada Para Rasul dan Kitab Suci Komentar: Gus Nur menulis: Membaca sholawat adalah bagian dari do'a kita untuk tauladan kita, Nabi Muhammad SAW. Pada artikel lain dalam situs ini saya cuplikkan: Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan dalam Al-Qur'an bahwa Ia bershalawat terhadap Nabi SAW kemudian Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi dengan mengatakan: اَللّهُمَّ صَلِّي عَلَى مُحَمَّدٍ Ya Allah berikanlah rahmat kemuliaan buat Muhammad. Wallahu A’lam.” (lihat dalam Raddul Muhtar 'Alad-Durral Mukhtar, jilid II, hlm. 244) Kita pasti 100% setuju bacaan sholawat tersebut. Adapun bacaan-bacaan yang lain, seperti "sholawat nariyah", "tunjina" atau "hizib" masih diragukan sandaran dasar hukumnya. Benarkah para sahabat-sahabat terdahulu melakukan hal serupa (membaca bacaan-bacaan itu). Jangan-jangan bacaan-bacaan itu adalah hanya hasil kreatifitas para ulama saja, yang kadang justru malah termasuk dalam tindakan yang "berlebih-lebihan" sehingga malah tidak sesuai dengan perintah Rasulullah.

Yang lebih menyedihkan lagi, bahwa aneka bacaan sholawat itu oleh s

ebagian kalangan umat Islam

Adhari berubah menjadi

mufti aban abun aminah

ma

lah digunakan untuk

v

asdhari berubah menjadi agus

tujua

n mistik (sebagai jampe-jampe) yang jelas bertentangan dengan aqidah Islam. Marilah kita luruskan aqidah kita dengan tetap bersandar pada Qur'an dan Sunnah. Muhammad Iqbal menulis:

Semua perbuatan tergantung dr niatnya.

Mencintai Allah dan Rosul-NYa secara berlebihan bukan sebuah kesalahan. Selalu memandang miring niat orang lain seakan-akan ibadahnya yang paling benar, seakan-akan ibadahnya yang paling diterima, ini baru namanya kesalahan. Kebenaran hanya milik Allah, mending berintrospesi diri dari pada sibuk mikirin ibadah orang bukan? basyir menulis: Ass kyai, saya diberi amalan shalawat dari alm aba namun sy tdk tahu namanya, mohon kiranya penjelasan dari kyai. lafalnya : allahumma shalli wasallim wabarik wakarrim wasyarrif wa'adzim 'ala sayidina muhammadin sholatan takunu likulli 'usri yusro

walikulli hammin faroja walikulli dain dawa-a walikulli saqomin syifa-a wa ala alihi wasohbihi ajmain. Gus Nur menulis: Quoted from Muhammad Iqbal: "Semua perbuatan tergantung dr niatnya. Mencintai Allah dan Rosul-NYa secara berlebihan bukan sebuah kesalahan" Mungkin Iqbal lupa, bahwa dalam satu riwayat Rasul pernah melarang umatnya untuk menghormati beliau secara berlebih-lebihan seperti halnya orang Nasrani. Bahkan ketika hadir dalam suatu pertemuanpun Rasul pernah melarang para hadirin berdiri dalam rangka menghormati beliau. Berbedaq dengan sebagian masyarakat kita, yang membaca "ashraqalan"-tanpa kehadiran Rasulullah-pun tetap dilagukan dengan berdiri. Apa yang dinyatakan oleh Rasulullah harus kita ikuti, walaupun itu bertentangan dengan hawa nafsu kita. Peribadatan yang ideal tentu tidak cukup hanya niat saja, tetapi harus mengikuti kaidahkaidah dari yang memberi kaidah. Tentu diskusi kecil-kecilan ini tidak bermaksud mencari kesalahan orang atau fihak tertentu, tapi tidak lebih hanya mengikuti perintah Allah: wa tawashaub al haq wa tawashaub as shabr.

Wallahu a'lam. Luqman Harun menulis: Bukanlah bermaksud untuk mempermalukan saudaranya apabila seseorang menasihati tentang kekeliruan dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Ta'ala

, hal itu semata-mata adalah wujud kasih sayang terhadap saudara muslim yang lainnya agar tidak terjerumus dalam kekeliruan dalam melaksanakan ibadah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak beliau diangkat menjadi Rasul hingvga

beliau wafat yang semuanya telah jelas aturan serta tata caranya sebagaimana hadist2 shohih yang ditulis oleh ulama2 terdahulu. Sungguhlah sangat mudah bagi kita untuk senantiasa meluangkan waktu mempelajarinya dan memahami serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu banyak amalan2 yang shohih yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bisa kita kerjakan, begitu banyaknya sampai2 kita tidak mampu untuk melaksanakannya semua sehingga yang demikian ini tidaklah pastas bagi kita seorang muslim untuk mencari variasi sendiri dalam peribadatan dengan dalih apapun. Sekali lagi al haq itu mutlak datangnya dari Allah Ta'ala dan

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lah yang paling tau dalam menafsirkan firman2 Allah Ta'ala dalam Alquranul karim. YUNGKI DIDIT ARISTYO menulis: Semua artikel pembahasan masalah yang ada di situs kebanggaan saya ini, harus diketahui bahwa semua dibahas secara singkat, berkaitan dengan modal ilmu pemahaman yang tidak berurutan seperti saudara saya Gus Nur, tentunya belum dapat menelaah segala bahasan di situs ini, artikel ini memang berfungsi untuk konsumsi umum, namun bagi sebagian orang yang masih "dangkal" modal ilmunya, tentu akan sulit untuk memahami dengan baik sesuai Ajaran Islam itu sendiri. Maka hormatilah saudara kita bersama Gus Nur, semoga ilmunya tambah maju dengan sering mengunjungi situs ini. Amiiin... Yunus menulis: Sungguh tuduhan yang sangat berani kepada Gus Nur... menuduh sesama muslim hanya berdasarkan sedikit komentar darinya. Secara keseluruhan sholawat - sholawat yang dikembangkan warga NU, memang sebatas kreativitas karena memang tidak didukung dalil. Untuk urusan jilbab, banyak memang warga NU yang tidak pakai jilbab, saya ambil contoh kelurga saya yang NU ndeles, juga gak pakai (walau tidak semua), padahal jelas Jilbab ini jelas syari'at-nya, berbeda dengan sholawatan yang gak jelas syari'ahnya namun warga NU malah menjalankannya dengan semangat membara.

sae menulis:

adhari berubah menjadi tiwi uut
Saudaraku gus nur, saya mau tanya gusnur pernah gak salawat kepada nabi begini. semoga salawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi saw, ... apakah solawat dalam bahasa indonesia ini dicontohkan? kalo tidak pernah dicontohkan kenapa begitu banyak aktivis, ustadz atau siapa saja selalu bersolawat seperti itu? kalo solawat yang kita bikin sendiri aja boleh apalagi solawat yang dibikinkan ulama. faisol menulis: saudara2ku, marilah kita cari kebenaran, bukan sekadar pembenaran pendapat pribadi... mari kita bersantun ria dalam melaksanakannya... u/ gus nur dan yg anti shalawat karangan ulama, sah2 saja kalau sampean punya pendapat sendiri... tp sah juga bila ada yg berpendapat lain... siapa sih yg ingin menyalahi Rasulullah asw.? siapa sih yg tidak ingin bersama Rasulullah saw. di surga nanti...?

menurut saya, dlm kehidupan ini sebenarnya kita semua telah melakukan BID'AH, contoh : 1. di mushaf (rasm) utsmani, tulisan Al-Qur'an tidak ada tanda titik & harakat... Sekarang SEMUA MELAKUKAN BID'AH dg menambah2i sendiri TANPA ADA PERINTAH DARI RASULULLAH SAW... Apakah ajaran Rasulullah tidak sempurna shg kita melakukan yg tidak pernah beliau perintahkan...? 2. Rasulullah asw. tdk pernah mengajarkan MUSHTHALAH HADITS... Sekarang kita mengatakan bhw belajar mushthalah hadits termasuk ibadah dan berpahala...? SEMUA ITU BID'AH YG TIDAK PERNAH DIAJARKAN OLEH RASULULLAH... kiranya cukup 2 itu saja... mohon dimaafkan kurangnya ilmu saya... semoga Allah meyatukan dan melembutkan hati seluruh umat Islam, amin...

Gus Nur menulis:

Adhari berubah menjadi hurip Adhari berubah menjadi honggo

Adhari berubah menjadi tikno Adhari berubah menjadi mbos adenan Adhari berubah menjadi mbah kartono

Adhari berubah menajdi nurhadiantomo
Sumber lafadz do'a bisa dibagi dalam 2 hal, pertama lafadz (redaksional)-nya dari kita sendiri, dan lafadznya telah diberikan contoh oleh Allah (dalam Al Qur'an) dan Nabi (dalam Al Hadits). Saya lebih yakin bahwa do'a yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya memiliki nilai lebih daripada do'a yang kita buat sendiri. Do'a yang sudah diberikan contoh oleh Nabi banyak sekali, bahkan do'a untuk-ma'afberhubungan suami istri-pun ada dicontohkan oleh Nabi. Demikian juga sholawat. Nabi telah memberi contoh bacaan sholawat yang sempurna, yaitu dengan membaca: "Allahumma shalli 'ala Muhammad" (baca fatsal: Hadiah Fatihah pada rubrik Ubudiyyah di situs ini juga. Disana ada penjelasannya, dan bahkan dijadikan salah satu dalil dalam "menghadiahkan pahala/fatihah"). Ketika sekarang bacaan sholawat ini menjadi berkembang dan bermacam-macam lafadznya seolah menjadi bagian dari ketetapan sunnah Nabi. Cobalah tanyakan dengan para pengamal bacaan sholawat yang beraneka ragam itu: Bagaimanakah bacaan sholawat Nabi itu? Saya yakin mereka akan lebih familiar dengan bacaan sholawat yang bermacam-macam itu daripada sholawat yang telah dicontohkan oleh Nabi (bahkan ada yang merasa asing dengan sholawat itu, karena tidak ada imbuhan "sayyidina"). Saya punya pengalaman cukup banyak dalam ha

l ini dengan keluarga yang sebagian besar mereka mengaku pengikut Nahdliyin. Yang lebih parah lagi, ada yang menganggap bahwa bacaan sholawat "Allahumma Shalli..." tadi dikategorikan sholawatnya orang-orang Muhammadiyah, kalau NU sholawatnya Nariyah. Ini jelas sungguh kelewatan dan pembodohan yang luar biasa. Semoga kejadian yang memprihatinkan seperti ini hanya terjadi di kampung saya saja. Tentu kalau seperti ini, yang salah adalah kita-kita ini, yang tidak pernah atau jarang memberikan pencerahan ke-sunnah-an, tapi justru banyak menyebarkan hasil kekreatifitas-an itu tadi. Marilah dalam ber-Islam kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, itu yang akan membawa kita pada jalan keselamatan, pasti. Wallahu a'lam. Ghanib_64 menulis: Memang ilmu Islam saya masih dangkal untuk itu saya sering membuka situs2 tentang Islam dan membandingkannya sesuai dgn hadist nabi tapi setelah saya pelajari dengan nalar pikiran normal ternyata banyak hadist nabi yg diselewengkan maknanya oleh ulama NU hanya dgn tujuan satu agar kekultusan ulama NU tidak luntur dikalangan umat NU apakah hal seperti ini yang diajarkan oleh Islam sbg contoh sederhana dlm hal tahlilan kenapa harus yg memimpin bacaan nya harus seorg. guru/uluma setempat padahal yg mengadakan hajatan adalah org. yg sedang mendapat musibah kematian sedangkan menurut hadist nabi yg afdol yg mengirim do'a itu adalah yg berhubungan langsung dgn simayit & diantara keluarga si mayitpun ada yg mahir bacaannya tapiiiiii kenapa harus si ulama jg yg memimpin kalo boleh dibilang mengharapkan amplop & besek yg lebih banyak serta bayangan andaikata dalam satu kampung ada 3 kematian berapa ulama itu dapat ampop dan besek, ini realita bung jangan balik dgn jawaban "sebenarnya tidak seperti itu" kalo itu jawabannya itu hanyalah tidak lebih dari bela diri saja. wassalam. Luqman harun menulis: Perbedaan pendapat dikalangan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah rahmat karena itulah yang dikatakan sebagai ijtihat mereka para sahabat rodiallahu ta'ala anhum,namun perbedaan pendapat dikalangan umat dari kaum muslimin adalah

musibah bagi islam,ingatlah....Allah subhanahu ta'ala telah menyempurnakan agama islam ini ketika diturunkannya Alquran surah Al-Maidah ayat 3 dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun telah memberikan tauladan yang baik bagi umat ini dalam menjalankan perilaku kehidupan sejak bangun tidur hingga kembali tidur lagi,semua perilaku itu haruslah dilandasi dengan ilmu yang telah beliau ajarkan melalui para sahabat yang kesemuanya dapat kita temui dalam hadist2 shohih para ulama terdahulu,Rasulullah shallallahu alaihi wasallam didalam salah satu hadist beliau bersabda "apabila Allah ta'ala menginginkan kebaikan bagi seseorang maka akan Allah mudahkan baginya memahami agamanya", cukuplah kutipan hadist tersebut menjadi dalil bagi kita untuk saling introspeksi diri apakah kita sudah termasuk orang2 yang akan mendapatkan kebaikan dari Allah subhanahu wata'ala? seberapa besarkah usaha kita dalam mengkaji dan mempelajari islam? seberapa sering kita menghadiri majelis ilmu yang membahas kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? perlu kita tanamkan pada diri kita keyakinan bahwa jika ada hal ataupun penafsiran dari Al-quran dan hadist yang "menurut kita" bertentangan satu sama lain dimana ini tidaklah benar adanya, yang ada hanyalah ketidak tahuan kita dalam menafsirkan makna yang terkandung dalam Alquran dan hadist tersebut. Cukuplah ini memicu kita untuk berusaha keras dan bersungguh sungguh belajar dan mengkaji islam dari sumbernya yang jernih yaitu Alquran dan sunnah nabi shallallahu alaihi wasallam. "Thollabu

l ilmiy faridhotun 'ala kulli muslim" menuntut ilmu (agama) adalah KEWAJIBAN bagi setiap muslim, artinya....berdosalah kita jika dalam hidup tidak mau bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama islam. Wallahu ta'ala a'lamu bishowab Gin Gin Ginawan menulis: Untuk Saudaraku Gus Nur, Tentu bahwa do'a yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya memiliki nilai lebih daripada do'a yang kita buat sendiri. Doa yang buat kita sendiri juga bagus karena mencerminkan lemahnya kita dihadapan Allah sehingga kita bergantung kepada Allah.

Bacaan sholawat ini berkembang dan bermacam-macam lafadznya bukan menjadi bagian dari ketetapan sunnah Nabi tapi sebagai doa untuk Nabi dari kita sebagai umatnya karena doa itu senjata orang yang beriman. Saya tidak setuju dengan tuduhan anda kepada para pengamal sholawat yang tidak tahu akan sholawat yang anda maksud karena orang Nu itu suka sholat. Di dalam sholat itu sendiri dalam tahiyat terdapat sholawat Ibrohimiyyah. Di mana kalau tidak dibaca maka sholat tidak sah. Di dalam sholat hanya dibaca sholawat Ibrohimiyyah tidak sholawat Nariyyah, sholawat munjiyat atau sholawat Fatih. Dari sini dapat dilihat bahwa sholawat Ibrohimiyyah lebih Utama. Bagaimana menurut anda Saudaraku ? Wallahu a'lam. Semoga anda mendapat rahmat Allah. faisol menulis: saudaraku gus nur yg baik, senang sekali mempunyai saudara yg begitu perhatian spt sampean... sebagai WARGA NU, saya juga sedih apabila ada saudara2 saya seorganisasi yg masih membedakan shalawat, padahal itu semua u/ kebaikan... ITU KEWAJIBAN SAYA u/ memberi tahu saudara2 saya agar tetap menjunjung tinggi shalawat kpd Nabi Muhammad saw. saudaraku ghanib yg kritis, senang sekali punya saudara yg kritis spt sampean... kalau sampean menemukan BUKTI ada ulama memimpin tahlil minta amplop --> sebagai WARGA NU, saya setuju sekali kalau KITA DEMO SAJA ULAMAT TSB!!! Almaghfurlah KH. Achmad Shiddiq menuturkan bhw ulama itu harus 'ALIM, 'ABID & 'ARIF... Kalau benar ada ulama memimpin tahlil, maka TDK PANTAS DISEBUT ULAMA... saudaraku luqman harun yg baik, senang sekali punya saudara yg senantiasa mengingatkan spt sampean... Namun, mengapa sampean hanya membatasi perbedaan sahabat saja yg merupakan ijtihad? apakah masa2 setelah sahabat tdk boleh berijtihad? 1. apakah 4 imam madzhab (golongan salaf) tdk pantas berijtihad? 2. bukankah Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin pada dasarnya mengikuti Imam Ahmad bin Hambal...? 3. Bukankah Syaikh Albani pada saat kecil belajar fiqh Imam Abu Hanifah...? Begitu pula ayah Syaikh Albani... 4. Bukankah tingkatan mujtahid ada beberapa level...? 5. Bukankah tafsir Al-Qur'an juga ada banyak karena banyaknya mufassir & beliau2 juga berbeda pendapat...?

6. Bukankah muhaddits juga banyak sekali di mana masing2 bi

sa berbeda pendapat...? Lantas, kembali ke Al-Qur'an & Sunnah yg bagaimana yg dimaksudkan...? Apakah hanya mengikuti SATU TAFSIRAN SAJA & MENGANGGAP MUFASSIR LAIN SALAH...? Marilah kita MEMPERLUAS WAWASAN dgn belajar dari berbagai sudut pandang...

Kalaupun toh kita hanya belajar tafsir Ibnu Katsir

Adhari berubah menjadi tiwi edi uut lek dah
, sebaiknya jangan hanya dari satu ustadz, tetapi banyak ustadz, biar luas wawasannya... bagaimana pun, senang sekali punya saudara2 yg begitu perhatian spt sampean2... semoga Allah membalas niat baik sampean semua dg ganjaran berlipat ganda, amin... semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua ummat Islam... semoga Allah menjaga dan menata hati kita u/ tetap tawadhu' dan semata mencari ridha-Nya, amin... Gus Nur menulis: Untuk Faisol, Pertanyaan anda bagus sekali, tapi mungkin bisa diganti dengan pertanyaan yang lebih sederhana: mengapa di masjid-masjid sekarang kalau adzan menggunakan pengeras suara? bukankah pada zaman Nabi tidak ada pengeras suara? apakah itu bid'ah? Jawaban saya tentang pertanyaan anda: 1. Masalah tanda titik (nuqat) dan tanda harakat (tashkil) pada al Qur'an bukan hanya sekarang-sekarang ini saja timbulnya. Naskah (manuskrip) arab pra-Islam-pun sudah memakai tanda tersebut. (untuk lebih lengkapnya baca buku: The Hystory of The Qur'anic Text: from revelation to compilation, buku ini bagus sekali, kalau tidak salah bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Gema Insani Press-Jakarta). Tanda-tanda (nuqat dan tashkil) itu hanya untuk mempermudah dalam membaca dan memahami al Qur'an saja. Artinya bila penerbitan al Qur'an sekarang tanpa tanda titik dan harakat-pun tidak ada masalah, paling hanya akan menyulitkan umat yang belum mapan bahasa arabnya untuk sekedar membaca, apalagi memahami. Di negara-negara

Timur Tengah masih ada penerbitan al Qur'an yang "gundulan" seperti yang anda maksud, hanya bedanya kalau mushaf al Qur'an dahulu ditulis pada pelepah kurma atau kulit, sekarang dicetak diatas kertas. Tetap dianggap sebagai al Qur'an sebagaimana al Qur'an yang ada sekarang pada umunya. Apakah tanda nuqat dan tashkil itu bid'ah? tentu saja bukan. Yang bid'ah adalah bila menambah huruf atau kata pada bacaan al Qur'an, contohnya adalah, menambah lafadz "robbighfirli" pada akhir surat al Fatihah. 2. Musthalah hadits adalah bagian dari luasnya ilmu dalam Islam untuk mempelajari keotentikan dan kevaliditasan hadits. Mempelajari ilmu ini tentu saja bukan bid'ah. Seperti halnya masalah pengeras suara tadi, itu hanya sebagai sarana yang memudahkan agar lebih banyak orang yang mendengarkan adzan, atau ilmu musthalah hadits untuk mempelajari hadits. Bila suatu saat listrik padam, adzanpun tetap dikumandangkan tanpa pengeras suara dengan tidak mengurangi atau melebihi dari fungsi adzan yang sesungguhnya,demikian juga orang yang-karena keterbatasannya tidak sampai belajar ilmu musthalah hadits tidak menjadikannya keluar dari Islam. Kecuali kalau pada lafadz adzan diberikan imbuhan "sayyidina" misalnya sebelum lafadz Muhammad pada waktu syahadat pada adzan, tentu masalahnya menjadi lain lagi. Bandingkan dengan sholawat. Para pengamal sholawat nariyah dan sholawat-sholawat yang bermacam-macam itu sekarang ini telah menganggap bahwa sholawat nariyah-lah yang lebih afdlol dan lebih sempurna menurut ajaran Islam. Mereka menganggap sholawat yang telah dicontohkan oleh Nabi sebagai "terlalu pendek", tidak afdlol, kurang sempurna, bahkan "asing". Bandingkan dengan bacaan sholawat nariyah, yang "sangat lengkap", sepenggal

terjemahannya: "yang dengannya (Nabi Muhammad) segala ikatan menjadi lepas (segala kesulitan akan terselesaikan, bukan dengan Allah!, tapi karena Rasulullah!), segala kesedihan akan lenyap karenanya (bukan karena pertolongan Allah juga!), dan dengannya segala cita-cita tercapai, dengannya pula segala kebutuhan terpenuhi, dan dengan wajahnya yang mulia awan berubah menjadi hujan".

Saking lengkap dan "sempurna"-nya sholawat nariyah ini, bahkan sudah mendekati dan masuk dalam ranah syirik. Inilah yang menjadi keprihatinan kita. Wallahu a'lam. hadi menulis: buat mas ghanib...sungguh sbuah contoh yg terlalu sepele hal diatas buat menyimpulkan bahwa ulama NU menyelewengkan arti hadist..masya allah.. klo emang ada kyai NU memanipulasi arti hadis za emang perlu diperingatin, gak hanya kyai NU..siapapun...pun juga tuduhan anda kyai NU minta mimpin doa hanya sekedar dapet amplop klo salah za anda jg perlu diperingatin... masalah yang mimpin doa kok kyai selama orang malah menginginkannya knapa???? toh justru yg punya hajatan pengen yang mimpin kyai..tu kenyataan di tempat q.. sungguh sebuah tuduhan yang keji mengatakan para kyai NU mimpin doa hanya tuk sebuah amplop...pa ente gak liat, berapa banyak kyai NU yang bikin pesantren di Indonesia yang justru tanpa minta bantuan pemerintah alias swadaya sendiri.. bahkan buat mengaji ke kyai aja banyak yang cuma suruh infaq sekedarnya..perlu mas ketahui, aku aja di pesantren tempat q mengaji, dulu q ngaji 2 tahun gak pernah bayar..q cuma beli kitab aja buat ngeluarin duit..tapi mbah yai rela mengajari ngaji ba`da subuh dan isya`.... faisol menulis: saudaraku LUQMAN HARUN yg baik, mengapa hanya ijtihad para sahabat yg diakui? apakah ijtihad 4 imam madzhab TIDAK DIAKUI...? padahal beliau2 adalah generasi salaf (sd 300H)... Bukankah pendapat 4 imam madzhab bisa berbeda? Apakah beliau2 MEMBUAT MUSIBAH BAGI ISLAM...? Sedalam apa ilmu kita koq berani-beraninya menghukumi spt itu...? Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah & Imam Ibnul Qayyim (abad 6H) pernah berbeda pendapat dg 4 imam madzhab dalam hal kewajiban qadha shalat bagi orang yg meninggalkan dg sengaja lalu taubat... menurut 4 imam madzhab wajib qadha, menurut beliau berdua tidak ada qadha bagi shalat yg ditinggalkan dg sengaja (ada di buku Tuntunan Taubat Kepada Allah oleh Dr. Yusuf Qardhawi)... Apakah Ijtihad generasi khalaf spt beliau berdua-yg berbeda dgn generasi salaf (4 imam madzhab)- DIANGGAP MUSIBAH & WAJIB DITINGGALKAN...? kalau kita bicara KEMBALI KE AL-QUR'AN & SUNNAH :

1. tentu kita belajar dari tafsir2 yg ada... apakah kita sdh mempel

ajari semua tafsir shg WAWASAN KITA LUAS...? Ataukah kita baru mempelajari SATU TAFSIR SAJA dan itupun HANYA DITERANGKAN OLEH GURU YG SAMA (tdk mencari pembanding dari guru yg lain...)? 2. Bukankah para mufassir bisa berbeda pendapat...? 3. Bukankah para muhaddits juga bisa berbeda pendapat...? 4. Bukankah ada wilayah bg mujtahid? Marilah kita menuntut ilmu seluas-luasnya shg luas pula wawasan kita... saudaraku GHANIB yg baik, senang sekali punya saudara yg kritis spt sampean... apabila sampean bisa menemukan BUKTI bahwa ada ULAMA MEMIMPIN TAHLIL MINTA AMPLOP --> sebagai WARGA NU, saya setuju sekali KALAU KITA DEMO SAJA ULAMA ITU!!! Almaghfurlah KH. Achmad Shiddiq (manta Rais Am NU) menuturkan, "Ulama itu 'alim, 'abid & 'arif..." Ulama yg minta amplop, BUKANLAH ULAMA... saudaraku GUS NUR yg penuh perhatian, sebagai WARGA NU, saya juga sedih bila ada saudara2 saya yg membeda-bedakan shalawat antar organisasi, padahal semuanya baik... itu KEWAJIBAN SAYA u/ sharing dg semua orang... terima kasih atas laporan sampean... semoga Allah senantiasa menjaga & menata hati kita shg tetap dalam tawadhu' & semata mengharap ridha-Nya... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin... Mix menulis: ya...saya ini orang awam..maaf klo salah...saya hanya mengatakan bahwa kita bersalawat dengan berbagai macam bacaan.... ya...doalah kepada Allah untuk Nabi dengan berbagai

versi dan bacaan...ya..kayak doa dengan bahasa selain arab..apakah bid'ah itu..mohon jawabannya?..ahlul bid'ah (orang yang menganggap dikit-dikit, Bi'ah....kayak kaga ada lg selain ucapan bid'ah) mohon maaaf ya.... faisol menulis: saudara2ku yg tdk suka shalawat karya ulama, saya membaca ebook2 salafi yg diterjemahkan oleh Ust. Abu Salma al-Atsari... di ebook2 tsb. terkandung shalawat karya ulama (biasanya para penulis kitab/muallifun), bukan yg warid dari Nabi... 1. BEKAL-BEKAL BAGI PARA DA'I Penulis: al-'Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal 3: fashalawaatullaahi wa salaamuhuu 'alayhi (dst) 2. RINGKASAN POKOK2 AQIDAH SALAFIYAH TTG KEIMANAN Oleh : Masyaikh Markaz Imam al-Albani hal 9 of 40: wash-shalaatu was-salaamu 'alaa Rasuulillaahi (dst) 3. RISALAH JUM'AT Oleh: Dept. Ilmiah Darul Wathan hal 2 of 30: wash-shalaatu was-salaamu 'alaa khathiibil anbiyaa-i walmursaliin Mgkn sampean akan berkata, "Itu bukan bacaan shalawat, tp perintah (al-amru) u/ membaca shalawat..." Di buku/kitab Ushul Fiqh, bentuk perintah (al-amru) ada 4 (empat)-> kalimat2 di atas tdk termasuk... JD, KALIMAT2 DI ATAS ADALAH SHALAWAT KARYA ULAMA (Mendoakan Nabi), BUKAN PERINTAH U/ MEMBACA SHALAWAT... Gusmat menulis: Buat si Nur /gusNur entah kok namanya pakai gus segala sih, kalo aku sih asli jabang bayi memang Gusmat. Mencintai Rosulullah SAW secara berlebih lebihan itu sah sah saja dan itu malah Wajib, selagi tidak menuhankan /meyakini walau sedikit sifat Uluhiyah terhadap beliau .Sebagaimana yg dilakukan oleegala cita-cita tercapai, dengannya pula segala kebutuhan terpenuhi, dan dengan wajahnya yang mulia awan berubah menjadi hujan". kata kata ini kan cuma kiyasan / Majaz. h orang orang Nasroni terhadap Nabi Isa AS. Mengutip tulisan Si Nur tadi :......yang dengannya (Nabi Muhammad) segala ikatan menjadi lepas (segala kesulitan akan terselesaikan, bukan dengan Allah!, tapi karena Rasulullah!), segala kesedihan akan lenyap karenanya (bukan karena pertolongan Allah juga!), dan dengannya sseperti dalam kehidupan sehari hari ,minum obat biar sembuh ,apa obat bisa menyembuhkan?!!!.

[1 of 2] 1, 2 >| Nama Email Website Judul komentar Komentar Kode Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini

kembali ke atas

» »

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah (02/03/2010) Hukum Menggerak-gerakkan Jari dalam Shalat (16/02/2010) Arsip Hukum Transaksi via Elektronik (12/04/2010) Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010) Arsip Menjaga Muru’ah Nahdliyah (06/04/2010) Menjadikan NU sebagai Organisasi Umat (18/03/2010) Arsip

» »

» »

» REKOMENDASI Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi (13/03/2010) » Rekomendasi Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia (25/12/2009) Arsip

» »

Perbedaan Hisab Hari Maulid Nabi 1431H (11/02/2010) Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009) Arsip Kiai Wahab Menemui Van Der Plas (04/03/2010) Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010) Arsip Gus Dur di Tengah Muktamar NU ke-32 di Makasar (25/03/2010) Ormas Keagamaan dan Politik Kebangsaan NU (18/03/2010) Arsip

» »

» »

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->