P. 1
Makna Dan Arti Sholawat Badriyah Arti Sholawat Badriyah

Makna Dan Arti Sholawat Badriyah Arti Sholawat Badriyah

|Views: 3,985|Likes:
Published by teradiska
Makna Dan Arti Sholawat Badriyah Arti Sholawat Badriyah
Makna Dan Arti Sholawat Badriyah Arti Sholawat Badriyah

More info:

Categories:Types, Maps
Published by: teradiska on Apr 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2013

pdf

text

original

Catatan harian seorang muslim Ya Allah..

berilah kami ridlo-Mu

Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah Shalaatullaah Salaamulleah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah llaahi Naffisil Kurbaa Minal’Ashiina Wal’Athbaa Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Wakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat Wakam Min Ni’matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Autaita D’Zal Faqri Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Laqad Dlaaqat’Alal Oalbi Jamii’ul Ardli Ma’ Rahbi Fa Anji Minal Balaas Sha’bi Bi Ahlil Badri Yaa A,llaah Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa’di

Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Falaa Tardud Ma’al Khaibah Balij’Alnaa’Alath Thaibah Ayaa Dzal ‘lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa Wadaf i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu ‘Athfin Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah Washalli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah ———————— Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Thaaha utusan Allah, Rahmat dan keselamatan Allah, Semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah’ Kami berwasilah dengan berkah “Basmalah”, Dan dengan Nabi yang menuniukkan lagi utusan Allah, Dan seluruh.orang yang beriuang .karena Allah, Sebab berkahnya sahabat ahli badar ya Allah. Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan ummat, Dari bencana dan siksa, Dan dari susah dan kesemPitan, Sebab berkahnya sahabat ahli bariar ya Allah’ Ya AIlah semoga Engkau selamatkan kami dari semua yang menyakitkan, Dan semoga Engkau (Allah) meniauhkan tipu dan daya musuh-musuh, Dan semoga Engkau mengasihi kami, sebab berkahnya sahabat Ahli Badar Ya Allah. Ya Allah, semoga Engkau menghilangkan beberapa kesusahan Dari orang-orang yang berma’siat dan semua kerusakan, Dan semoga Engkau hitangkan semua bencana dan wabah penyakit’ Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah Maka sudah beberapa rahmat yang telah berhasil,

Dan sudah beberapa dari kehinaan yang dihilangkan, Dan sudah banyak dari ni’mgt yang telah sampai, Sebab berkahnya sahabal ahli Badar ya Allah’ Sudah berapa kati Engkau (Allah) memberi kekayaan orang yang makmur, Dan berapa kati Engkau (Allah) memberi nikmat kepacla orang yang fakir, Dan berapa kali Engkau (Allah) mengampuni orang yang berdosa, Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Sungguh hati manusia merasa sempit di atas tanah yang luas ini; karena banyakhya marabahaya yang mengerikan, Dan malapetaka yang menghancurkan, semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang mengerikan, Sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.’ Kami datang dengan memohon pemberian/ pertolongan Dan memohon agungnya kebaikan dan keuntungan Semoga Allah meluaskan anugerah (keni’matan) yang melimpah-limpah. Dari sebab berkahnya ahli Badar ya Allah.

Maka ianganlah Engkau (Allah) menolak kami menjadi rugi besar,

Bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik, dan selalu bersuka ria

. Wahai Dzat yang punya keagungan (kemenangan) dan Prabawa, Dengan sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

Jika Engkau (Allah) terpaksa menolak hamba, maka kepada siapakah kami akan datang mohon dengan mendapat semua hajat kami; Wahai Dzat yang menghilangkan beberapa bencana dunia dan akhirat, hilangkan bencana-bencana hamba lantaran berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Ya Allah, semoga Engkau rnengampuni kami dan memuliakan diri kami, dengan mendapat hasil beberapa permahonan kami, dan menolak keburukan-keburukan dari kami, Dengan mendapat berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Ya Allah, Engkaulah yang punya belas kasihan, dan punya keutamaan (anugerah) lagi kasih sayang, Sudah banyaklah kesusahan yang hilang, Dari sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. Dan semoga Engkau (Allah) melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Nya, dengan limpahan rahmat dan keselamatan yang tak terbilang dan tak terhitung, Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar nur cahayanya, sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah. .

.

Updated (26 Sept 2008) Alhamdulillah, Akhirnya ku peroleh juga sejarah dan riwayat shalawat Badr ini. Berasal dari email teman, tulisan asli ada di mailist Majelis Rasulullah (dengan penulis asli tertera di bawah). Ada buku/ kitab yg menuliskan sejarah shalawat ini (tertera di dalam artikel). Semoga manfaat. .

Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar.

Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”. Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah SWT untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum

muslimin khususnya Indonesia. Dalam keadaan tersebut, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w.

Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat alBadriyyah” atau “Sholawat Badar”.

maka terjadilah hal yang mengherankan keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain. Mereka menceritakan bahwa pada waktu pagi shubuh mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai ‘Ali untuk membantunya kerana akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang membuat persiapan acara tersebut namun kebanyakan orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka. Menjelang keesokan pagi harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai

‘Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima para tamu istimewanya tersebut.

Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu saja Kiyai ‘Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seoran

gpun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah salah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang

terkenal sebagai waliyullah itu.

Lalu tanpa banyak bicara, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyerukan agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut. Selanjutnya, Habib ‘Ali Kwitang telah mengundan para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yand diundang diantaranya ialah Kiyai ‘Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubaha

nnya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan. Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu Populer. Di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi sendiri di Kwitang tidak pernah tinggal pembacaan Shalawat Badar tersebut setiap minggunya. Untuk lebih lengkapnya tentang cerita ini teman2 milis MR dan teman temanku seiman dapat membaca buku yang berjudul “ANTOLOGI Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU” yang disusun oleh H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan.

Semoga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib yang berperan serta mempopulerkan Shalawat tersebut kepada kita kaum muslimin. Al-Fatihah….. -=<rasulullah_my_idol>=Dailami “ami” Firdaus Entri ini dituliskan pada Juli 9, 2008 pada 20:14 dan disimpan dalam Shalawat. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri. 6 Tanggapan - tanggapan ke “Shalawat Badriyah” Fikri berkata Juli 10, 2008 pada 23:56 Assalamu’alaikum Salam kenal mas. Mau nanya, Shalawat ini buatan siapa mas?? –> Wa’alaikum salam wrwb mas fikri. Salam kenal juga. Senang anda sudi berkunjung ke sini. Shalawat ini sangat terkenal di kalangan para ulama dan masyarakat. Maaf .. saya pun masih mencari sumber awalnya. Namun sayang … saya saat ini dalam kondisi yg tak memungkinkan untuk menelusurinya. Insya Allah di waktu mendatang akan kita cari. Semoga dapat diketemukan ya mas. Amien. Balas Sedang belajar shalawat berkata Juli 17, 2008 pada 07:48 Ada juga shalawat yang ini http://www.geocities.com/jilani_badawi/ Balas orgawam berkata Oktober 6, 2008 pada 22:14 Sholawat Badar Kiyai ‘Ali Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara/keponakan Kiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”. Diceritakan bahawa karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, juga

menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang bercelaru saat itu dan kebejatan PKI yang bermaharajalela membunuh massa, bahkan ramai kiyai yang menjadi mangsa mereka, menyebabkan terlintas di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri lagi, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah s.w.t. Dalam keadaan sedemikian, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusiamanusia berjubah putih – hijau, dan malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahawa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”. Apa yang menghairankan ialah keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan lain-lain bahan makanan. Mereka menceritakan bahawa awal-awal pagi lagi mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai ‘Ali untuk membantunya kerana satu kenduri akan diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barangan tersebut menurut kemampuan masing-masing. Tambah pelik lagi apabila malamnya, hadir bersama untuk bekerja membuat persiapan kenduri orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka. Menjelang keesokan pagi, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi @ Habib ‘Ali Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima tetamu istimewanya tersebut. Setelah memulakan perbicaraan bertanyakan khabar, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu sahaja Kiyai ‘Ali terkejut kerana hasil karyanya itu hanya diketahuinya dirinya seorang dan belum dimaklumkan kepada sesiapa pun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa lengah, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil helaian kertas karangannya tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata kerana terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyeru agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut. Selanjutnya, Habib ‘Ali Kwitang telah menjemput ramai ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, antara yang dijemput ialah Kiyai ‘Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luas Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan popular dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan. Moga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib tersebut….. al-Fatihah.

Allahu … Allah, inilah kisah bagaimana terhasilnya penulisan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali Manshur. Cerita ini telah ambo dengar daripada beberapa kerabat Kiyai Haji Ahmad Qusyairi di Kota Pasuruan. Juga ianya dimuatkan dalam buku “Antologi NU : Sejarah – Istilah – Amaliah – Uswah ” karangan H. Soeleiman Fadeli & Mohammad Subhan dengan kata pengantar Kiyai Haji ‘Abdul Muchith Muzadi. Benar atau tidak, percaya atau tidak, itu tidak penting, apa yang nyata ialah Sholawat Badriyyah ini adalah karyanya Kiyai ‘Ali Manshur dan telah diterima serta diamalkan oleh para ulama dan habaib yang menjadi pegangan dan panutan kita. Maka sempena memperingati peristiwa Perang Badar al-Kubra, marilah kita bermunajat memohon keselamatan dunia akhirat dengan bertawassulkan Junjungan Nabi s.a.w. dan para pejuang Badar radhiyAllahu ‘anhum ajma’in. http://bahrusshofa.blogspot.com/2008/09/sholawat-badar-kiyai-ali.html Balas fatchur berkata Januari 14, 2009 pada 18:38 Minta arti sholawat dan qasidah yg lain dong… thx Balas ema berkata Januari 31, 2009 pada 08:07

asw,,,cara buat blogg gini gman ya,,,,,,,,,,,,,,,waslm Balas epri berkata Maret 7, 2009 pada 15:39 Assalamu’alaikum….boleh tidak saya copy artikel ini…?mo saya copy utk note saya di facebook…bisa ym saya di fla1303_epri0905@yahoo.com…mohon konfirmasinya….Wassalamu’alaikum.. –> Wangalaikum salam wrwb. Silakan mas.. jangan lupa link sumber yaach.. Balas Tinggalkan Balasan Nama (wajib) E-mail (tidak akan dipublikasikan) (wajib) Situs web XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel. Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel. « Keutamaan dan Amal Bulan Rajab Megawati: Tak Perlu Studi Banding ke Thailand »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Andreas09 by Andreas Viklund.

Warta Ubudiyyah Syariah

Warta Daerah Analisa Berita Kolom Halaqoh Taushiyah Iptek Fragmen Agenda Kegiatan Humor Redaksi Buku Tamu Galeri Links Khotbah Kantor

Bagaimana pandangan anda terhadap pasangan Sahal Mahfudz-Said Aqil Siroj dalam memimpin NU lima tahun ke depan Lebih baik dari masa sekarang Lebih buruk Sama saja Tidak tahu Arsip Polling

Ubudiyyah Membaca Shalawat untuk Nabi 22/01/2008 Membaca shalawat adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, disamping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat “Nariyah”, ada “Thibbi Qulub”. Ada shalawat “Tunjina”, dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan “hizib” dan “rawatib” yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cita-cita kepada Rasulullah sekaligus ibadah. Salah satu hadits yang membuat kita rajin membaca shalawat ialah: Rasulullah bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya. Salah satu shalawat yang sangat popular ialah “Shalawat Badar”. Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara dimana dan kapan saja “Shalawat Badar” selalu dilantunkan bersama-sama. Shalawat yang satu ini, “shalawat Nariyah”, tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.

Salah satu shalawat lain yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurtubiyah, yang disebut orang Maroko shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak apa yang tidak disuka, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah. Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam. Imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (fardlu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rejekinya tidak akan putus, disamping mendapatkan pangkat/kedudukan dan tingkatan orang kaya. (Khaziyat al-Asrar, hlm 179) Simak sabda Rasulullah SAW berikut ini: ‫وأخرج ابن منذة عن جابر رضي ال عنه أنه قال قالَرسول ال صلى ال عليه وسلم: من صلى علي كل يوم مئة مرة‬ ّ َ َ ِ ٍ ْ َ ّ ُ ّ ََ َّ ْ َ َّ َ ِ ْ ََ َّ ِ ُ ْ ُ ّ ُ َ َ ِ َ ٍ ِ َ ْ َ َ ُْ ُ ْ َ َ ْ َ – ‫– وفي رواية – من صلى علي في اليوم مئة مرة قضى ال له مئة حجة – سبعين منها في الخر ِ وثلثين في الدنيا‬ َ ْ ّ ِ َ ْ ِ َ َ ‫ِ َة‬ َ ْ ِ َ ْ ِ ْ َ ٍ ّ َ َ ِ ُ َ ُ َ َ ّ َ َ ِ ِ ْ َ ِ ّ ََ َّ ْ َ ٍ َ َ ِ ْ ِ َ ‫إلى أن قال – وروي أن النبي صلى ال عليه وسلم قال : اكثروا من الصل ِ علي فإنها تحل العقد وتفرج الكرب – كذا‬ َ َ َ َ ُ ُ ْ َ َ َ ْ َ ْ ّ ِ َ ّ َ ّ ََ ‫ْ َ ُ ِ َ ّ ة‬ ُ َّ ّ ِ ّ َ َُِ ْ َِ ‫في النزهة‬ ْ ِ Hadits Ibnu Mundah dari Jabir, ia mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia. Sampai kata-kata … dan hadits Rasulullah yang mengatakan: Perbanyaklah shalawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah. Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits. Rasulullah SAW bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal-amal kalian disampaikan kepadaku; jika saya tahu amal itu baik, aku memuji Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. (Hadits riwayat Al-hafizh Ismail Al-Qadhi, dalam bab shalawat ‘ala anNabi). Imam Haitami dalam kitab Majma’ az-Zawaid meyakini bahwa hadits di atas adalah shahih. Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya (istighfar) di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa Rasul untuk umatnya pasti bermanfaat. Ada lagi hadits lain. Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa menjawab salam itu. (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih) KH Munawwir Abdul Fattah Pengasuh Pesantren Krapyak, Yogyakarta « Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share

Berita Terkait: Berziarah ke Makam Rasulullah FASAL TENTANG WASILAH DAN TAWASSUL (4-habis) Tawassul dengan para Sahabat dan Shalihin FASAL TENTANG WASILAH DAN TAWASSUL (3) Tawassul dengan Rasulullah SAW FASAL TENTANG TAUHID (3) Iman kepada Para Rasul dan Kitab Suci Komentar: Gus Nur menulis: Membaca sholawat adalah bagian dari do'a kita untuk tauladan kita, Nabi Muhammad SAW. Pada artikel lain dalam situs ini saya cuplikkan: Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan dalam Al-Qur'an bahwa Ia bershalawat terhadap Nabi SAW kemudian Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi dengan mengatakan: &#1575;&#1614;&#1604;&#1604;&#1617;&#1607;&#1615;&#1605;&#1617;&#1614; &#1589;&#1614;&#1604;&#1617;&#1616;&#1610; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1605;&#1615;&#1581;&#1614;&#1605;&#1617;&#1614;&#1583;&#1613; Ya Allah berikanlah rahmat kemuliaan buat Muhammad. Wallahu A’lam.” (lihat dalam Raddul Muhtar 'Alad-Durral Mukhtar, jilid II, hlm. 244) Kita pasti 100% setuju bacaan sholawat tersebut. Adapun bacaan-bacaan yang lain, seperti "sholawat nariyah", "tunjina" atau "hizib" masih diragukan sandaran dasar hukumnya. Benarkah para sahabat-sahabat terdahulu melakukan hal serupa (membaca bacaan-bacaan itu). Jangan-jangan bacaan-bacaan itu adalah hanya hasil kreatifitas para ulama saja, yang kadang justru malah termasuk dalam tindakan yang "berlebih-lebihan" sehingga malah tidak sesuai dengan perintah Rasulullah. Yang lebih menyedihkan lagi, bahwa aneka bacaan sholawat itu oleh sebagian kalangan umat Islam malah digunakan untuk tujuan mistik (sebagai jampe-jampe) yang jelas bertentangan dengan aqidah Islam. Marilah kita luruskan aqidah kita dengan tetap bersandar pada Qur'an dan Sunnah. Muhammad Iqbal menulis: Semua perbuatan tergantung dr niatnya. Mencintai Allah dan Rosul-NYa secara berlebihan bukan sebuah kesalahan. Selalu memandang miring niat orang lain seakan-akan ibadahnya yang paling benar, seakan-akan ibadahnya yang paling diterima, ini baru namanya kesalahan. Kebenaran hanya milik Allah, mending berintrospesi diri dari pada sibuk mikirin ibadah orang bukan? basyir menulis:

Ass kyai, saya diberi amalan shalawat dari alm aba namun sy tdk tahu namanya, mohon kiranya penjelasan dari kyai. lafalnya : allahumma shalli wasallim wabarik wakarrim wasyarrif wa'adzim 'ala sayidina muhammadin sholatan takunu likulli 'usri yusro walikulli hammin faroja walikulli dain dawa-a walikulli saqomin syifa-a wa ala alihi wasohbihi ajmain. Gus Nur menulis: Quoted from Muhammad Iqbal: "Semua perbuatan tergantung dr niatnya. Mencintai Allah dan Rosul-NYa secara berlebihan bukan sebuah kesalahan" Mungkin Iqbal lupa, bahwa dalam satu riwayat Rasul pernah melarang umatnya untuk menghormati beliau secara berlebih-lebihan seperti halnya orang Nasrani. Bahkan ketika hadir dalam suatu pertemuanpun Rasul pernah melarang para hadirin berdiri dalam rangka menghormati beliau. Berbedaq dengan sebagian masyarakat kita, yang membaca "ashraqalan"-tanpa kehadiran Rasulullah-pun tetap dilagukan dengan berdiri. Apa yang dinyatakan oleh Rasulullah harus kita ikuti, walaupun itu bertentangan dengan hawa nafsu kita. Peribadatan yang ideal tentu tidak cukup hanya niat saja, tetapi harus mengikuti kaidahkaidah dari yang memberi kaidah. Tentu diskusi kecil-kecilan ini tidak bermaksud mencari kesalahan orang atau fihak tertentu, tapi tidak lebih hanya mengikuti perintah Allah: wa tawashaub al haq wa tawashaub as shabr. Wallahu a'lam. Luqman Harun menulis: Bukanlah bermaksud untuk mempermalukan saudaranya apabila seseorang menasihati tentang kekeliruan dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Ta'ala, hal itu semata-mata adalah wujud kasih sayang terhadap saudara muslim yang lainnya agar tidak terjerumus dalam kekeliruan dalam melaksanakan ibadah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sejak beliau diangkat menjadi Rasul hingga beliau wafat yang semuanya telah jelas aturan serta tata caranya sebagaimana hadist2 shohih yang ditulis oleh ulama2 terdahulu. Sungguhlah sangat mudah bagi kita untuk senantiasa meluangkan waktu mempelajarinya dan memahami serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Begitu banyak amalan2 yang shohih yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bisa kita kerjakan, begitu banyaknya sampai2 kita tidak mampu untuk melaksanakannya semua sehingga yang demikian ini tidaklah pastas bagi kita seorang muslim untuk mencari variasi sendiri dalam peribadatan dengan dalih apapun. Sekali lagi al haq itu mutlak datangnya dari Allah Ta'ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lah yang paling tau dalam menafsirkan firman2 Allah Ta'ala dalam Alquranul karim. YUNGKI DIDIT ARISTYO menulis: Semua artikel pembahasan masalah yang ada di situs kebanggaan saya ini, harus diketahui bahwa semua dibahas secara singkat, berkaitan dengan modal ilmu pemahaman yang tidak berurutan seperti saudara saya Gus Nur, tentunya belum dapat menelaah segala bahasan di situs ini, artikel ini memang berfungsi untuk konsumsi umum, namun bagi sebagian orang yang masih "dangkal" modal ilmunya, tentu akan sulit untuk memahami dengan baik sesuai Ajaran Islam itu sendiri. Maka hormatilah saudara kita

bersama Gus Nur, semoga ilmunya tambah maju dengan sering mengunjungi situs ini. Amiiin... Yunus menulis: Sungguh tuduhan yang sangat berani kepada Gus Nur... menuduh sesama muslim hanya berdasarkan sedikit komentar darinya. Secara keseluruhan sholawat - sholawat yang dikembangkan warga NU, memang sebatas kreativitas karena memang tidak didukung dalil. Untuk urusan jilbab, banyak memang warga NU yang tidak pakai jilbab, saya ambil contoh kelurga saya yang NU ndeles, juga gak pakai (walau tidak semua), padahal jelas Jilbab ini jelas syari'at-nya, berbeda dengan sholawatan yang gak jelas syari'ahnya namun warga NU malah menjalankannya dengan semangat membara. sae menulis: Saudaraku gus nur, saya mau tanya gusnur pernah gak salawat kepada nabi begini. semoga salawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi saw, ... apakah solawat dalam bahasa indonesia ini dicontohkan? kalo tidak pernah dicontohkan kenapa begitu banyak aktivis, ustadz atau siapa saja selalu bersolawat seperti itu? kalo solawat yang kita bikin sendiri aja boleh apalagi solawat yang dibikinkan ulama. faisol menulis: saudara2ku, marilah kita cari kebenaran, bukan sekadar pembenaran pendapat pribadi... mari kita bersantun ria dalam melaksanakannya... u/ gus nur dan yg anti shalawat karangan ulama, sah2 saja kalau sampean punya pendapat sendiri... tp sah juga bila ada yg berpendapat lain... siapa sih yg ingin menyalahi Rasulullah asw.? siapa sih yg tidak ingin bersama Rasulullah saw. di surga nanti...? menurut saya, dlm kehidupan ini sebenarnya kita semua telah melakukan BID'AH, contoh : 1. di mushaf (rasm) utsmani, tulisan Al-Qur'an tidak ada tanda titik & harakat... Sekarang SEMUA MELAKUKAN BID'AH dg menambah2i sendiri TANPA ADA PERINTAH DARI RASULULLAH SAW... Apakah ajaran Rasulullah tidak sempurna shg kita melakukan yg tidak pernah beliau perintahkan...? 2. Rasulullah asw. tdk pernah mengajarkan MUSHTHALAH HADITS... Sekarang kita mengatakan bhw belajar mushthalah hadits termasuk ibadah dan berpahala...? SEMUA ITU BID'AH YG TIDAK PERNAH DIAJARKAN OLEH RASULULLAH... kiranya cukup 2 itu saja... mohon dimaafkan kurangnya ilmu saya... semoga Allah meyatukan dan melembutkan hati seluruh umat Islam, amin... Gus Nur menulis: Sumber lafadz do'a bisa dibagi dalam 2 hal, pertama lafadz (redaksional)-nya dari kita sendiri, dan lafadznya telah diberikan contoh oleh Allah (dalam Al Qur'an) dan Nabi (dalam Al Hadits). Saya lebih yakin bahwa do'a yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya memiliki nilai lebih daripada do'a yang kita buat sendiri.

Do'a yang sudah diberikan contoh oleh Nabi banyak sekali, bahkan do'a untuk-ma'afberhubungan suami istri-pun ada dicontohkan oleh Nabi. Demikian juga sholawat. Nabi telah memberi contoh bacaan sholawat yang sempurna, yaitu dengan membaca: "Allahumma shalli 'ala Muhammad" (baca fatsal: Hadiah Fatihah pada rubrik Ubudiyyah di situs ini juga. Disana ada penjelasannya, dan bahkan dijadikan salah satu dalil dalam "menghadiahkan pahala/fatihah"). Ketika sekarang bacaan sholawat ini menjadi berkembang dan bermacam-macam lafadznya seolah menjadi bagian dari ketetapan sunnah Nabi. Cobalah tanyakan dengan para pengamal bacaan sholawat yang beraneka ragam itu: Bagaimanakah bacaan sholawat Nabi itu? Saya yakin mereka akan lebih familiar dengan bacaan sholawat yang bermacam-macam itu daripada sholawat yang telah dicontohkan oleh Nabi (bahkan ada yang merasa asing dengan sholawat itu, karena tidak ada imbuhan "sayyidina"). Saya punya pengalaman cukup banyak dalam hal ini dengan keluarga yang sebagian besar mereka mengaku pengikut Nahdliyin. Yang lebih parah lagi, ada yang menganggap bahwa bacaan sholawat "Allahumma Shalli..." tadi dikategorikan sholawatnya orang-orang Muhammadiyah, kalau NU sholawatnya Nariyah. Ini jelas sungguh kelewatan dan pembodohan yang luar biasa. Semoga kejadian yang memprihatinkan seperti ini hanya terjadi di kampung saya saja. Tentu kalau seperti ini, yang salah adalah kita-kita ini, yang tidak pernah atau jarang memberikan pencerahan ke-sunnah-an, tapi justru banyak menyebarkan hasil kekreatifitas-an itu tadi. Marilah dalam ber-Islam kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, itu yang akan membawa kita pada jalan keselamatan, pasti. Wallahu a'lam. Ghanib_64 menulis: Memang ilmu Islam saya masih dangkal untuk itu saya sering membuka situs2 tentang Islam dan membandingkannya sesuai dgn hadist nabi tapi setelah saya pelajari dengan nalar pikiran normal ternyata banyak hadist nabi yg diselewengkan maknanya oleh ulama NU hanya dgn tujuan satu agar kekultusan ulama NU tidak luntur dikalangan umat NU apakah hal seperti ini yang diajarkan oleh Islam sbg contoh sederhana dlm hal tahlilan kenapa harus yg memimpin bacaan nya harus seorg. guru/uluma setempat padahal yg mengadakan hajatan adalah org. yg sedang mendapat musibah kematian sedangkan menurut hadist nabi yg afdol yg mengirim do'a itu adalah yg berhubungan langsung dgn simayit & diantara keluarga si mayitpun ada yg mahir bacaannya tapiiiiii kenapa harus si ulama jg yg memimpin kalo boleh dibilang mengharapkan amplop & besek yg lebih banyak serta bayangan andaikata dalam satu kampung ada 3 kematian berapa ulama itu dapat ampop dan besek, ini realita bung jangan balik dgn jawaban "sebenarnya tidak seperti itu" kalo itu jawabannya itu hanyalah tidak lebih dari bela diri saja. wassalam. Luqman harun menulis: Perbedaan pendapat dikalangan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah rahmat karena itulah yang dikatakan sebagai ijtihat mereka para sahabat rodiallahu ta'ala anhum,namun perbedaan pendapat dikalangan umat dari kaum muslimin adalah musibah bagi islam,ingatlah....Allah subhanahu ta'ala telah menyempurnakan agama islam ini ketika diturunkannya Alquran surah Al-Maidah ayat 3 dan Rasulullah

shallallahu alaihi wasallam pun telah memberikan tauladan yang baik bagi umat ini dalam menjalankan perilaku kehidupan sejak bangun tidur hingga kembali tidur lagi,semua perilaku itu haruslah dilandasi dengan ilmu yang telah beliau ajarkan melalui para sahabat yang kesemuanya dapat kita temui dalam hadist2 shohih para ulama terdahulu,Rasulullah shallallahu alaihi wasallam didalam salah satu hadist beliau bersabda "apabila Allah ta'ala menginginkan kebaikan bagi seseorang maka akan Allah mudahkan baginya memahami agamanya", cukuplah kutipan hadist tersebut menjadi dalil bagi kita untuk saling introspeksi diri apakah kita sudah termasuk orang2 yang akan mendapatkan kebaikan dari Allah subhanahu wata'ala? seberapa besarkah usaha kita dalam mengkaji dan mempelajari islam? seberapa sering kita menghadiri majelis ilmu yang membahas kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? perlu kita tanamkan pada diri kita keyakinan bahwa jika ada hal ataupun penafsiran dari Al-quran dan hadist yang "menurut kita" bertentangan satu sama lain dimana ini tidaklah benar adanya, yang ada hanyalah ketidak tahuan kita dalam menafsirkan makna yang terkandung dalam Alquran dan hadist tersebut. Cukuplah ini memicu kita untuk berusaha keras dan bersungguh sungguh belajar dan mengkaji islam dari sumbernya yang jernih yaitu Alquran dan sunnah nabi shallallahu alaihi wasallam. "Thollabul ilmiy faridhotun 'ala kulli muslim" menuntut ilmu (agama) adalah KEWAJIBAN bagi setiap muslim, artinya....berdosalah kita jika dalam hidup tidak mau bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama islam. Wallahu ta'ala a'lamu bishowab Gin Gin Ginawan menulis: Untuk Saudaraku Gus Nur, Tentu bahwa do'a yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya memiliki nilai lebih daripada do'a yang kita buat sendiri. Doa yang buat kita sendiri juga bagus karena mencerminkan lemahnya kita dihadapan Allah sehingga kita bergantung kepada Allah. Bacaan sholawat ini berkembang dan bermacam-macam lafadznya bukan menjadi bagian dari ketetapan sunnah Nabi tapi sebagai doa untuk Nabi dari kita sebagai umatnya karena doa itu senjata orang yang beriman. Saya tidak setuju dengan tuduhan anda kepada para pengamal sholawat yang tidak tahu akan sholawat yang anda maksud karena orang Nu itu suka sholat. Di dalam sholat itu sendiri dalam tahiyat terdapat sholawat Ibrohimiyyah. Di mana kalau tidak dibaca maka sholat tidak sah. Di dalam sholat hanya dibaca sholawat Ibrohimiyyah tidak sholawat Nariyyah, sholawat munjiyat atau sholawat Fatih. Dari sini dapat dilihat bahwa sholawat Ibrohimiyyah lebih Utama. Bagaimana menurut anda Saudaraku ? Wallahu a'lam. Semoga anda mendapat rahmat Allah. faisol menulis: saudaraku gus nur yg baik, senang sekali mempunyai saudara yg begitu perhatian spt sampean... sebagai WARGA NU, saya juga sedih apabila ada saudara2 saya seorganisasi yg masih membedakan shalawat, padahal itu semua u/ kebaikan... ITU KEWAJIBAN SAYA u/ memberi tahu saudara2 saya agar tetap menjunjung tinggi shalawat kpd Nabi Muhammad saw.

saudaraku ghanib yg kritis, senang sekali punya saudara yg kritis spt sampean... kalau sampean menemukan BUKTI ada ulama memimpin tahlil minta amplop --> sebagai WARGA NU, saya setuju sekali kalau KITA DEMO SAJA ULAMAT TSB!!! Almaghfurlah KH. Achmad Shiddiq menuturkan bhw ulama itu harus 'ALIM, 'ABID & 'ARIF... Kalau benar ada ulama memimpin tahlil, maka TDK PANTAS DISEBUT ULAMA... saudaraku luqman harun yg baik, senang sekali punya saudara yg senantiasa mengingatkan spt sampean... Namun, mengapa sampean hanya membatasi perbedaan sahabat saja yg merupakan ijtihad? apakah masa2 setelah sahabat tdk boleh berijtihad? 1. apakah 4 imam madzhab (golongan salaf) tdk pantas berijtihad? 2. bukankah Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin pada dasarnya mengikuti Imam Ahmad bin Hambal...? 3. Bukankah Syaikh Albani pada saat kecil belajar fiqh Imam Abu Hanifah...? Begitu pula ayah Syaikh Albani... 4. Bukankah tingkatan mujtahid ada beberapa level...? 5. Bukankah tafsir Al-Qur'an juga ada banyak karena banyaknya mufassir & beliau2 juga berbeda pendapat...? 6. Bukankah muhaddits juga banyak sekali di mana masing2 bisa berbeda pendapat...? Lantas, kembali ke Al-Qur'an & Sunnah yg bagaimana yg dimaksudkan...? Apakah hanya mengikuti SATU TAFSIRAN SAJA & MENGANGGAP MUFASSIR LAIN SALAH...? Marilah kita MEMPERLUAS WAWASAN dgn belajar dari berbagai sudut pandang... Kalaupun toh kita hanya belajar tafsir Ibnu Katsir, sebaiknya jangan hanya dari satu ustadz, tetapi banyak ustadz, biar luas wawasannya... bagaimana pun, senang sekali punya saudara2 yg begitu perhatian spt sampean2... semoga Allah membalas niat baik sampean semua dg ganjaran berlipat ganda, amin... semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua ummat Islam... semoga Allah menjaga dan menata hati kita u/ tetap tawadhu' dan semata mencari ridha-Nya, amin... Gus Nur menulis: Untuk Faisol, Pertanyaan anda bagus sekali, tapi mungkin bisa diganti dengan pertanyaan yang lebih sederhana: mengapa di masjid-masjid sekarang kalau adzan menggunakan pengeras suara? bukankah pada zaman Nabi tidak ada pengeras suara? apakah itu bid'ah? Jawaban saya tentang pertanyaan anda: 1. Masalah tanda titik (nuqat) dan tanda harakat (tashkil) pada al Qur'an bukan hanya sekarang-sekarang ini saja timbulnya. Naskah (manuskrip) arab pra-Islam-pun sudah

memakai tanda tersebut. (untuk lebih lengkapnya baca buku: The Hystory of The Qur'anic Text: from revelation to compilation, buku ini bagus sekali, kalau tidak salah bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Gema Insani Press-Jakarta). Tanda-tanda (nuqat dan tashkil) itu hanya untuk mempermudah dalam membaca dan memahami al Qur'an saja. Artinya bila penerbitan al Qur'an sekarang tanpa tanda titik dan harakat-pun tidak ada masalah, paling hanya akan menyulitkan umat yang belum mapan bahasa arabnya untuk sekedar membaca, apalagi memahami. Di negara-negara Timur Tengah masih ada penerbitan al Qur'an yang "gundulan" seperti yang anda maksud, hanya bedanya kalau mushaf al Qur'an dahulu ditulis pada pelepah kurma atau kulit, sekarang dicetak diatas kertas. Tetap dianggap sebagai al Qur'an sebagaimana al Qur'an yang ada sekarang pada umunya. Apakah tanda nuqat dan tashkil itu bid'ah? tentu saja bukan. Yang bid'ah adalah bila menambah huruf atau kata pada bacaan al Qur'an, contohnya adalah, menambah lafadz "robbighfirli" pada akhir surat al Fatihah. 2. Musthalah hadits adalah bagian dari luasnya ilmu dalam Islam untuk mempelajari keotentikan dan kevaliditasan hadits. Mempelajari ilmu ini tentu saja bukan bid'ah. Seperti halnya masalah pengeras suara tadi, itu hanya sebagai sarana yang memudahkan agar lebih banyak orang yang mendengarkan adzan, atau ilmu musthalah hadits untuk mempelajari hadits. Bila suatu saat listrik padam, adzanpun tetap dikumandangkan tanpa pengeras suara dengan tidak mengurangi atau melebihi dari fungsi adzan yang sesungguhnya,demikian juga orang yang-karena keterbatasannya tidak sampai belajar ilmu musthalah hadits tidak menjadikannya keluar dari Islam. Kecuali kalau pada lafadz adzan diberikan imbuhan "sayyidina" misalnya sebelum lafadz Muhammad pada waktu syahadat pada adzan, tentu masalahnya menjadi lain lagi. Bandingkan dengan sholawat. Para pengamal sholawat nariyah dan sholawat-sholawat yang bermacam-macam itu sekarang ini telah menganggap bahwa sholawat nariyah-lah yang lebih afdlol dan lebih sempurna menurut ajaran Islam. Mereka menganggap sholawat yang telah dicontohkan oleh Nabi sebagai "terlalu pendek", tidak afdlol, kurang sempurna, bahkan "asing". Bandingkan dengan bacaan sholawat nariyah, yang "sangat lengkap", sepenggal terjemahannya: "yang dengannya (Nabi Muhammad) segala ikatan menjadi lepas (segala kesulitan akan terselesaikan, bukan dengan Allah!, tapi karena Rasulullah!), segala kesedihan akan lenyap karenanya (bukan karena pertolongan Allah juga!), dan dengannya segala cita-cita tercapai, dengannya pula segala kebutuhan terpenuhi, dan dengan wajahnya yang mulia awan berubah menjadi hujan". Saking lengkap dan "sempurna"-nya sholawat nariyah ini, bahkan sudah mendekati dan masuk dalam ranah syirik. Inilah yang menjadi keprihatinan kita. Wallahu a'lam. hadi menulis:

buat mas ghanib...sungguh sbuah contoh yg terlalu sepele hal diatas buat menyimpulkan bahwa ulama NU menyelewengkan arti hadist..masya allah.. klo emang ada kyai NU memanipulasi arti hadis za emang perlu diperingatin, gak hanya kyai NU..siapapun...pun juga tuduhan anda kyai NU minta mimpin doa hanya sekedar dapet amplop klo salah za anda jg perlu diperingatin... masalah yang mimpin doa kok kyai selama orang malah menginginkannya knapa???? toh justru yg punya hajatan pengen yang mimpin kyai..tu kenyataan di tempat q.. sungguh sebuah tuduhan yang keji mengatakan para kyai NU mimpin doa hanya tuk sebuah amplop...pa ente gak liat, berapa banyak kyai NU yang bikin pesantren di Indonesia yang justru tanpa minta bantuan pemerintah alias swadaya sendiri.. bahkan buat mengaji ke kyai aja banyak yang cuma suruh infaq sekedarnya..perlu mas ketahui, aku aja di pesantren tempat q mengaji, dulu q ngaji 2 tahun gak pernah bayar..q cuma beli kitab aja buat ngeluarin duit..tapi mbah yai rela mengajari ngaji ba`da subuh dan isya`.... faisol menulis: saudaraku LUQMAN HARUN yg baik, mengapa hanya ijtihad para sahabat yg diakui? apakah ijtihad 4 imam madzhab TIDAK DIAKUI...? padahal beliau2 adalah generasi salaf (sd 300H)... Bukankah pendapat 4 imam madzhab bisa berbeda? Apakah beliau2 MEMBUAT MUSIBAH BAGI ISLAM...? Sedalam apa ilmu kita koq berani-beraninya menghukumi spt itu...? Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah & Imam Ibnul Qayyim (abad 6H) pernah berbeda pendapat dg 4 imam madzhab dalam hal kewajiban qadha shalat bagi orang yg meninggalkan dg sengaja lalu taubat... menurut 4 imam madzhab wajib qadha, menurut beliau berdua tidak ada qadha bagi shalat yg ditinggalkan dg sengaja (ada di buku Tuntunan Taubat Kepada Allah oleh Dr. Yusuf Qardhawi)... Apakah Ijtihad generasi khalaf spt beliau berdua-yg berbeda dgn generasi salaf (4 imam madzhab)- DIANGGAP MUSIBAH & WAJIB DITINGGALKAN...? kalau kita bicara KEMBALI KE AL-QUR'AN & SUNNAH : 1. tentu kita belajar dari tafsir2 yg ada... apakah kita sdh mempelajari semua tafsir shg WAWASAN KITA LUAS...? Ataukah kita baru mempelajari SATU TAFSIR SAJA dan itupun HANYA DITERANGKAN OLEH GURU YG SAMA (tdk mencari pembanding dari guru yg lain...)? 2. Bukankah para mufassir bisa berbeda pendapat...? 3. Bukankah para muhaddits juga bisa berbeda pendapat...? 4. Bukankah ada wilayah bg mujtahid? Marilah kita menuntut ilmu seluas-luasnya shg luas pula wawasan kita... saudaraku GHANIB yg baik,

senang sekali punya saudara yg kritis spt sampean... apabila sampean bisa menemukan BUKTI bahwa ada ULAMA MEMIMPIN TAHLIL MINTA AMPLOP --> sebagai WARGA NU, saya setuju sekali KALAU KITA DEMO SAJA ULAMA ITU!!! Almaghfurlah KH. Achmad Shiddiq (manta Rais Am NU) menuturkan, "Ulama itu 'alim, 'abid & 'arif..." Ulama yg minta amplop, BUKANLAH ULAMA... saudaraku GUS NUR yg penuh perhatian, sebagai WARGA NU, saya juga sedih bila ada saudara2 saya yg membeda-bedakan shalawat antar organisasi, padahal semuanya baik... itu KEWAJIBAN SAYA u/ sharing dg semua orang... terima kasih atas laporan sampean... semoga Allah senantiasa menjaga & menata hati kita shg tetap dalam tawadhu' & semata mengharap ridha-Nya... semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin... Mix menulis: ya...saya ini orang awam..maaf klo salah...saya hanya mengatakan bahwa kita bersalawat dengan berbagai macam bacaan.... ya...doalah kepada Allah untuk Nabi dengan berbagai versi dan bacaan...ya..kayak doa dengan bahasa selain arab..apakah bid'ah itu..mohon jawabannya?..ahlul bid'ah (orang yang menganggap dikit-dikit, Bi'ah....kayak kaga ada lg selain ucapan bid'ah) mohon maaaf ya.... faisol menulis: saudara2ku yg tdk suka shalawat karya ulama, saya membaca ebook2 salafi yg diterjemahkan oleh Ust. Abu Salma al-Atsari... di ebook2 tsb. terkandung shalawat karya ulama (biasanya para penulis kitab/muallifun), bukan yg warid dari Nabi... 1. BEKAL-BEKAL BAGI PARA DA'I Penulis: al-'Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal 3: fashalawaatullaahi wa salaamuhuu 'alayhi (dst) 2. RINGKASAN POKOK2 AQIDAH SALAFIYAH TTG KEIMANAN Oleh : Masyaikh Markaz Imam al-Albani hal 9 of 40: wash-shalaatu was-salaamu 'alaa Rasuulillaahi (dst) 3. RISALAH JUM'AT Oleh: Dept. Ilmiah Darul Wathan hal 2 of 30: wash-shalaatu was-salaamu 'alaa khathiibil anbiyaa-i walmursaliin

Mgkn sampean akan berkata, "Itu bukan bacaan shalawat, tp perintah (al-amru) u/ membaca shalawat..." Di buku/kitab Ushul Fiqh, bentuk perintah (al-amru) ada 4 (empat)-> kalimat2 di atas tdk termasuk... JD, KALIMAT2 DI ATAS ADALAH SHALAWAT KARYA ULAMA (Mendoakan Nabi), BUKAN PERINTAH U/ MEMBACA SHALAWAT... Gusmat menulis: Buat si Nur /gusNur entah kok namanya pakai gus segala sih, kalo aku sih asli jabang bayi memang Gusmat. Mencintai Rosulullah SAW secara berlebih lebihan itu sah sah saja dan itu malah Wajib, selagi tidak menuhankan /meyakini walau sedikit sifat Uluhiyah terhadap beliau .Sebagaimana yg dilakukan oleegala cita-cita tercapai, dengannya pula segala kebutuhan terpenuhi, dan dengan wajahnya yang mulia awan berubah menjadi hujan". kata kata ini kan cuma kiyasan / Majaz. h orang orang Nasroni terhadap Nabi Isa AS. Mengutip tulisan Si Nur tadi :......yang dengannya (Nabi Muhammad) segala ikatan menjadi lepas (segala kesulitan akan terselesaikan, bukan dengan Allah!, tapi karena Rasulullah!), segala kesedihan akan lenyap karenanya (bukan karena pertolongan Allah juga!), dan dengannya sseperti dalam kehidupan sehari hari ,minum obat biar sembuh ,apa obat bisa menyembuhkan?!!!. [1 of 2] 1, 2 >| Nama Email Website Judul komentar Komentar Kode Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini

kembali ke atas

» »

Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid’ah (02/03/2010) Hukum Menggerak-gerakkan Jari dalam Shalat (16/02/2010) Arsip

» »

Hukum Transaksi via Elektronik (12/04/2010) Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010) Arsip Menjaga Muru’ah Nahdliyah (06/04/2010) Menjadikan NU sebagai Organisasi Umat (18/03/2010) Arsip

» »

» REKOMENDASI Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi (13/03/2010) » Rekomendasi Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia (25/12/2009) Arsip » » Perbedaan Hisab Hari Maulid Nabi 1431H (11/02/2010) Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009) Arsip Kiai Wahab Menemui Van Der Plas (04/03/2010) Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010) Arsip Gus Dur di Tengah Muktamar NU ke-32 di Makasar (25/03/2010) Ormas Keagamaan dan Politik Kebangsaan NU (18/03/2010)

» »

» »

Arsip

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->