P. 1
Permasalahan kependudukan Di Pesisir selatan

Permasalahan kependudukan Di Pesisir selatan

|Views: 1,791|Likes:
Published by Aprizon

More info:

Published by: Aprizon on Apr 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

PENDUDUK DAN PERMASALAHANNYA DI KABUPATEN PESISIR SELATAN

MAKALAH

DEMOGRAFI

Diajukan untuk perbaikan nilai yang belum lengkap (BL) pada mata kuliah Demografi

Oleh : APRIZON PUTRA NIM: 89059

Dosen Pembina : Dra. YURNI SUASTI, M.Si

Program Studi Pendidikan Geografi JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada umatnya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah Demografi ini penulis beri judul tentang “Penduduk Dan

Permasalahannya Di Kabupaten Pesisir Selatan” Makalah ini Penulis susun untuk memenuhi persyaratan perbaikan Nilai BL pada mata kuliah Demografi. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan memerlukan banyak perbaikan. Untuk itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan makalah ini dan makalah, karya ilmiah dan sejenisnya kearah yang lebih baik lagi. Penulis selaku penyusun berharap semoga makalah ini ada gunanya dan bermanfaat bagi para pembaca. Amin.

Padang, 12 Desember 2009

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penduduk merupakan populasi manusia yang mendiami suatu wilayah dalam jangka waktu dan menempati ruang tertentu dengan aktivitas yang heterogen dalam berintegrasi dengan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang dimaksud populasi yaitu jumlah individu dalam satuan luas wilayah tertentu untuk produktivitas dan perkembangbiakan. Perkembangbiakan adalah untuk kelangsungan hidup dan suatu individu dalam mempertahankan hidup dan satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Munir Rozy (1985) mengatakan bahwa keinginan untuk hidup dan berkembang biak dimiliki oleh setiap manusia. Sementara kesanggupan bumi untuk menyediakan sumber daya alam untuk kelangsungan hidup sangat terbatas. Penduduk dapat dikatakan ideal apabila jumlahnya tidak terlalu besar dan tidak pula terlalu kecil. tetapi terdapat keseimbangan antara sumber-sumber daya alam yang tersedia di daerah tersebut, dan telah diusahakan untuk mendukung kabupaten tersebut. Penduduk dikatakan sejahtera apabila kebutuhan sandang pangannya cukup (Munir Rozy, 1985). Dalam rangka membahas masalah kependudukan dapat dilihat dan jumlah pertumbuhan penduduk. penyebaran penduduk dan kualitas penduduk. Ditinjau dari segi pertumbuhan penduduk, Indonesia masih merupakan negara yang belum mengkhawatirkan pertumbuhan penduduknya, yang menempati daerah ratarata 120 juta per Km2 (Yusuf, 1985). Adapun kriteria pertumbuhan penduduk dapat dibagi tiga kelompok yaitu: 1) pertumbuhan penduduk tergolong tinggi bila, pertumbuhan penduduk (di atas 2% pertahun, 2) pertumbuhan penduduk tergolong sedang bila ratio pertumbuhan sebesar 1,0% - 2% pertahun. 3) tergolong rendah bila ratio pertumbuhan penduduk di bawah 1.0% pertahun. Dengan pertumbuhan penduduk yang demikian besar. tentu berbagai masalah yang dapat ditimbulkan, juga menyangkut masalah lingkungan hidup. Keseimbangan

pertumbuhan

penduduk

dengan

pertumbuhan

produksi

pangan

akan

sangat

mempengaruhi kesejahteraan penduduk. Masalah pertumbuhan penduduk yang cepat mi bukan hanya merupakan masalah nasional, akan tetapi juga merupakan masalah yang dihadapi dunia. Kekhawatiran dunia cukup beralasan, karena kalau terjadi pertumbuhan yang sangat cepat, maka pada suatu saat nanti akan terjadi ledakan penduduk Masalah penyebaran penduduk di Indonesia sangat tidak merata antara di Kota dan di Kabupaten serta Nagari sehingga terjadi ketimpangan sosial. Ketimpangan sosial ini disebabkan oleh penyebaran pembangunan yang menyeluruh antara kota, kabupaten dan nagari (dari unit ke sub unit). Hal ini dapat dilihat di kabupaten Pesisir Selatan bahwa penyebaran penduduk di kota kabupaten lebih merata jika dibandingkan dengan Kecamatan atau Nagari, tidak meratanya penyebaran penduduk ini terjadi karena tidak homogennya pembangunan dari unit ke sub unit, sehingga terjadi proses interaksi yang tidak sejalan. Penyebaran penduduk yang tidak rata ini disebabkan oleh bervariasinya kebijakan yang diambil oleh pelaksana pemerintahan sehingga realisasi pembangunan menjadi heterogen yang berefek pada penyebaran penduduk yang tidak rata. Penyebaran penduduk yang tidak rata ini akan mengakibatkan kesenjangan sosial pada masyarakat yang berinteraksi dalam suatu wilayah. Penyebaran yang tidak merata dari penduduk ini sudah dapat dilihat dan zaman orde lama, orde baru karena kesalahan dalam pengambilan keputusan terutama dalam pembangunan dan perkembangan wilayah yang khusus kabupaten pesisir selatan yakni zaman orde lama, orde barn pembangunan di kota perkembangannya 70% sedangkan pangan 30%. Penyebaran penduduk ini akan merata apabila penyebar pembangunan secara

menyeluruh rata dari semua wilayah menjadi homogen maka akan dapat membuat merata pula penyebaran penduduknya, karena penyebaran penduduk yang tidak merata akan pengakibatkan munculnya konflik-konflik sosial di tingkat jenjang penduduk tersebut sampai ke masing-masing individu akibat keputusan yang selama ini yang memunculkan ego-ego dari pengambil keputusan. Kualitas penduduk di Indonesia secara umum sangat rendah dan lemah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Kabupaten Pesisir Selatan merupakan Kabupaten yang cukup rendah kualitas penduduknya secara umum di banding dari 13 daerah tingkat dua propinsi Sumatera Barat. Rendahnya kualitas penduduk ini dapat

dilihat dan segi Pendidikan, sarana dan prasarana yang kurang memadai yaitu gedung sekolah, tenaga pendidik, transportasi, serta pertumbuhan penduduk tidak seimbang dengan kebutuhannya. Kabupaten Pesisir Selatan salah satu contoh dalam ruang lingkup kecil. yang mana masalah kependudukan sangat komplit. Salah satu permasalahan yang menonjol adalah masalah penyebaran penduduk yang tidak merata. Kabupaten Pesisir Selatan yang mempunyai luas 4.473.05 Km2 dan didiami sebanyak 391.347 jiwa pada tahun 2007, ternyata penyebaran penduduknya heterogen. Penyebaran penduduk yang heterogen ini dapat dilihat secara rill di lapangan dari satu Kecamatan dengan kecamatan lainnya, di mana kecamatan yang dekat dengan kota kecamatan (pusat pemerintahan) lebih banyak jumlah penduduknya dibandingkan dengan penduduk yang jauh dari luar pusat pemerintahan kecamatan dan hal tersebut terlihat dari nagari-nagari radius yang jauh dari pusat pemerintahan kecamatan. Perbedaan-perbedaan ini sangat mencolok sekali. Penyebaran penduduk di Kab. Pesisir Selatan lebih padat penduduknya pada daerah Barat dibandingkan daerah Timur yang merupakan daerah perbukitan. Padahal daerah Timur potensi daerahnya sangat besar dan sesuai untuk daerah pertanian karena masyarakat pesisir selatan pada umumnya bertani. Hal ini dapat dilihat dari data

statistik pesisir selatan. Pada data statistik 80,8% penduduknya bertani, tetapi masyarakat pesisir selatan dilihat dari aspek-aspek kependudukan terlihat perbedaan. Perbedaan ini sangat kentara kalau dilihat dari jumlah penduduk. penyebaran penduduk, kualitas penduduk. Untuk mengatasi perbedaan ini diperlukan pemikiran-pemikiran yang tanpa menonjolkan ego-ego pengambilan keputusan dan semua lapisan masyarakat untuk menuju masyarakat Pesisir Selatan yang madani dan maju dari segi teknologi peluang kerja. kualitas manusia yang tinggi. penyebaran penduduk yang homogen. kepadatan penduduk yang rata.

B. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang, maka dapat dibatasi permasalahan sebagai berikut : 1. Laju pertumbuhan penduduk, laju pertumbuhan yang dimaksud terfokus kepada pertumbuhan penduduk Kabupaten Pesisir Selatan.

2. Penyebaran penduduk. penyebaran

penduduk

tersebut

menyangkut distribusi

penduduk yang belum merata khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan. 3. Kualitas penduduk, kualitas penduduk tersebut meliputi indikator-

indikator tingkat pendidikan, tingkat pendapatan kesejahteraan dan tingkat kesehatan penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan.

C. Perumusan Masalah Komplek dan banyaknya permasalahan kependudukan di Kabupaten Pesisir Selatan, berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan ? 2. Bagaimana penyebaran penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan ? 3. Bagaimana kualitas penduduk di kabupaten Pesisir Selatan ?

D. Tujuan Penulisan Makalah Adapun tujuan dan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih jauh tentang 1. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan 2. Penyebaran penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan 3. Kualitas penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan

E. Kegunaan Penulisan Makalah Kegunaan dari penulisan makalah ini diantaranya yaitu : 1. Sebagai tugas tambahan/perbaikan nilai pada mata kuliah Demografi 2. Sebagai masukan dan informasi bagi pihak yang terkait dengan kependudukan dalam memecahkan masalah-masalah kependudukan di Kab. Pesisir Selatan. 3. Untuk membuka cakrawala penulis sehubungan dengan masalah

kependudukan di Kab. Pesisir Selatan. 4. Sebagai bahan bagi pembaca untuk dapat meningkatkan kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap masalah kependudukan di Kab. Pesisir Selatan.

BAB II KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. KAJIAN TEORI Para ahli Demografi mengemukakan pendapatnya tentang teori penduduk, orang pertama yang mengemukakan teori penduduk adalah Thomas Robert Malthus, seorang ahli ekonomi Inggris yang hidup pada abad-18, di saat pertumbuhan penduduk berkembang pesat di Inggris. Teori ini berkembang terus sesuai dengan perkembangan perhatian tentang Ilmu Sosial dan Perubahan Struktur Masyarakat. Secara garis besar teori-teori yang dikemukakan para ahli kependudukan di dasarkan pada faktor sosial (ekonomi) dan faktor Alam.

1. Pertumbuhan Penduduk Menurut teori sosial pertumbuhan penduduk ini merupakan hasil atau resultant dari keadaan sosial yang saling berkaitan. Dasar pemikiran ini adalah bahwa makanan sangat perlu, buat manusia sebagai alat pemeliharaan hidup dan tingkah laku sosial. Tokoh-tokoh yang mengemukakan hal ini antara lain : Menurut Boque D.J (1969) menyatakan dengan besarnya jumlah penduduk itu selalu merupakan tekanan terhadap pembekalan hidup (pangan) hukum hasil lebih berkurang pada abad ke-19 di Eropa telah berlaku dan dapat diatasi. Tetapi bukan akibat perbaikan dalam teknik pertanian. Hukum hasil lebih yang berkurang maksudnya adalah kesediaan sumber daya alam tidak akan berarti apa-apa kalau diikuti dengan pertumbuhan penduduk yang liniar (tinggi). Thomas Robert Maltus (1798) mengemukakan teori penduduk dalam bukunya berjudul "An Essay in The Prinsciple of Population" yang terbit tahun 1798, dalam buku ini dia menyatakan pendapatnya bahwa bahan makanan adalah penting untuk kehidupan manusia. Sedangkan nafsu manusia tidak bisa ditahan yang berarti manusia akan tetap berkembang biak. Dinyatakan bahwa pertumbuhan produksi bahan makanan akibatnya pada suatu saat akan terjadi perbedaan besar antara jumlah penduduk dengan persediaan bahan

makanan sehingga menyebabkan orang akan kelaparan (kekurangan makanan). Berdasarkan hal di atas diambil kesimpulan yang dikenal dengan teori deret Malthus, bahwa pertambahan penduduk berjalan menurut deret ukur Malthus. bahwa pertambahan jumlah bahan makanan berjalan menurut deret hitung. Selanjutnya dikatakan bahwa penduduk akan berlipat ganda dalam waktu 25 tahun, sekiranya tidak ada faktor-faktor penghalang ini disebut dengan "Chek of Population". Maksudnya jumlah penduduk dibatasi oleh faktor alam dan faktor sosial. Teori deret dari Malthus dibuat dengan dasar perhitungan dari hukum hasil lebih yang berkurang, yang dinyatakan sebagai berikut: manusia itu hidupnya terpaksa terbatas pada bidang tanah, bila setiap hektar sudah ditumbuhi sehingga semua tanah yang telah digunakan, pertumbuhan makanan setiap tahunnya hams bergantung pada perbaikan tanah yang kini sudah ada. Luas tanah yang tidak dapat ditambah lagi itu adalah suatu dana yang kesuburannya menurut alam lambat laun menjadi berkurang. Faktor pencegah yang dapat mengurangi kegoncangan perbandingan antara jumlah penduduk dan persediaan bahan makanan menurut Malthus ada dua hal yaitu : Posotif Cheeks yaitu faktor-faktor yang dapat menambah jumlah kematian sehingga jumlah penduduk yang sudah ada akan berkurang. Faktor-faktor ini misalnya bencana alam, penyakit, pembunuhan, perperangan, kecelakaan. Preventif Ceks yaitu faktor yang menyebabkan berkurangnya yang lahir yang bisa disebut dengan moral restrain, seperti pengendalian hawa nafsu, penundaan masa perkawinan, pantangan kawin dan sebagainya. Dari pendapat di atas jelas bahwa Malthus tidak memikirkan bahwa pencegahan pembuahan (kontrasepsi), jika dilaksanakan secara efektif dapat menurunkan tingkat kelahiran. Dumount (1984-1902) Teorinya berprinsip kepada hukum kapiler dan dikenal dengan : "Teori Kapilaritet Sosial". Manusia terus berusaha untuk memperbaiki nasib dalam hidupnya dan tidak berhenti sampai generasi berikutnya. Hal ini berjalan sejajar dengan perkembangan kebudayaan. Untuk ini agar kemakmuran tercapai dianjurkan membatasi jumlah keluarga, karena anak untuk menjadi dewasa memerlukan biaya yang tinggi dari waktu yang dilalui.

Pendapat Thomson W.S (1965) mengakui bahwa Malthus adalah benar ia mengakui pula bahwa kemakmuran orang pada waktu ini makin meningkat. ia masih mempunyai kekhawatiran bahwa suatu ketika hukum kemunduran kenaikan hasil memberikan pengaruh bila pertumbuhan penduduk berjalan seperti ini. Faktor alam menciptakan adanya teori Natural tentang pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan ditentukan oleh alam karena itu harus diselidiki keadaan biologisnya untuk mendapatkan hukum pertumbuhan penduduk. Hukum ini memberikan pertunjukan masa lampau dan masa yang akan datang dengan tidak memperhatikan bermacam-macam tendesi karena sudah terikat pada keadaan alam penganut teori ini antara lain. Gini (1884) teorinya berdasarkan faktor biologis dan statistik. la menggambarkan pertambahan penduduk sebagai suatu sinusuida yaitu berdasarkan data sejarah, ilmu arkeologi, statistik demografi, pertumbuhan sesumatif manusia melalui stadium muda, stadium dewasa, stadium dan akhirnya mati. Doubleday (1970-1870) Teorinya berdasarkan makanan yaitu :    Masyarakat yang makanannya kurang/miskin Maka akan terjadi kenaikan penduduk yang konsisten. Sebaliknya masyarakat yang makanannya berlimpah dan kaya, akan terjadi penurunan penduduk yang konsisten. Dalam keadaan medium atau antara keduanya penduduk tetap. Spancer (1820-1903) berpendapat makin banyak tenaga yang dikeluarkan untuk mencapai kemakmuran makin sedikit tenaga untuk berproduksi, demikian sebaliknya hewan adalah makhluk yang sedikit tenaga untuk kemajuan sehingga daya biaknya tinggi. S. Pearl (1880) mengemukakan menurut setiap penduduk mula-mula berkembang lambat dan maju sampai batas maksimalnya kemudian turun lagi seperti keadaan semula. Berikut ini beberapa pendapat lain selain pendapat yang di atas yang dikemukakan oleh : Jones (1977) mengadakan studi mengenai hubungan antara pertumbuhan penduduk dengan pendidikan yang diperlukan. Jelas tekanan terhadap sektor penyediaan pelayanan pendidikan oleh pertumbuhan penduduk makin-lama makin berat biaya yang diperlukan dalam penyediaan saran pendidikan.

Myrdal (1890) Menekankan pada bidang kesehatan dan pendidikan karena dalam memperbaiki kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang pertama di perbaiki adalah kesehatan dan pendidikan. Jika pendidikan dan kesehatan suatu masyarakat jelek maka mutu masyarakatnya juga jelek. Dalam hubungan dengan pertumbuhan penduduk, pendidikan kesehatan, perbaikan sanitasi, peningkatan mutu gizi bahan pangan secara massal, serta penyediaan pelayanan kesehatan yang semakin baik, semuanya memberikan pengaruhnya sangat nyata pada penurunan jumlah kematian peningkatan harapan umur panjang dan peningkatan daya kerja sebagian tenaga kerja. Untuk itu dikerahkan daya, dana dan biaya yang sangat besar jumlahnya. Istilah penduduk oleh para ahli sosiologi diartikan sebagai jumlah orang yang menempati suatu habitat tersebut dan berinteraksi satu sama lain. Penduduk juga di defenisikan sebagai jumlah individu-individu yang membentuk suatu jumlah tertentu, seperti jumlah orang-orang yang mendiami suatu nears, bangsa, negara bagian atau masyarakat. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan penduduk adalah orang-orang yang mendiami suatu tempat (Kampung, Nagari, Pulau). Dalam ilmu biologi yang dikatakan penduduk adalah suatu populasi yang bertempat tinggal dalam suatu daerah atau wilayah tertentu. Populasi tidak hanya diartikan manusia saja, melainkan juga hewan dan tumbuh-tumbuhan (Salladin, 1983). Dalam pengertian luas penduduk dapat didefenisikan setiap orang, baik warga negara Indonesia maupun orang asing yang bertempat tinggal tetap dalam wilayah Republik Indonesia. Penduduk merupakan makhluk hidup yang dapat mengambil manfaat dari lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pengertian sempit penduduk yaitu manusia, manusia dalam hal ini adalah warga negara Indonesia atau warga negara asing yang tinggal tetap di wilayah Indonesia. Masalah penduduk di Indonesia merupakan suatu permasalahan yang cukup besar dan berarti, yang mana pertumbuhan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun tidak seimbang dengan negara. Menurut laporan Population Reference Bureau (1995) laju pertumbuhan Penduduk dunia tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 8,312 Milyar. Di samping waktu untuk berlipat ganda makin singkat, laju pertumbuhan bahan pangan, makanan, pekerjaan,

industrialisasi, kesehatan, pendidikan, pemanfaatan sumber daya secara berlebihan, masalah pencemaran dan lingkungan. Perkembangan/laju pertumbuhan penduduk dengan berbagai masalah yang ditimbulkan telah menarik perhatian para ahli, misalnya Malthus (1766-1834) yang dikutip oleh Mannion dan Bowilly (1992) yang menyatakan laju pertumbuhan penduduk bertambah jumlah manusia berkembang mengikuti deret ukur (Esponential Growth), sedangkan perkembangan sub sistem pangan mengikuti deret hitung ketidak seimbangan antara kedua faktor tersebut menimbulkan masalah dalam kehidupan manusia, diantaranya, kelaparan melanda berbagai lapisan masyarakat di suatu wilayah akibat kekurangan gizi, masalah pemenuhan kebutuhan hidup lainnya baik pemungkiman maupun tanah untuk pertanian. Penduduk yang ideal ialah penduduk yang jumlahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tetapi cukup untuk besarnya suatu kabupaten dan untuk sumber daya yang tersedia tersebut benar-benar diusahakan untuk mendukung suatu Kabupaten. Sebagian besar penduduk Kabupaten Pesisir Selatan hidup dari hasil pertanian, dengan semakin sempit penduduk yang sangat cepat. Penduduk daerah Kampung (pedesan) berduyun-duyun pindah ke tempat yang banyak memberikan kesempatan pekerjaan. Secara umum penduduk yang begitu cepat disebabkan oleh angka kelahiran yang tinggi dan menurunnya angka kematian secara drastis. Menurut Munir (1985) laju pertumbuhan penduduk yang cepat disebabkan oleh : a) Fertilisasi    Adanya anggapan bahwa sebagian besar masyarakat bahwa banyak anak banyak rezeki. Sedikit sekali orang yang terdorong untuk mempunyai anak sedikit atau membatasi anggota keluarga. Tersedianya alat kontrasepsi yang murah yang tidak efektif dan tidak mempunyai pengaruh terhadap kelahiran, serta tidak memperlambat pertumbuhan penduduk secara keseluruhan.  Perkawinan terlalu dini

Suasana yang memberikan kemungkinan untuk terjadinya hubungan seks sebelum pernikahan. b) Turun Angka Kematian

Turunnya angka kematian yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:  Kemajuan yang diperoleh dan ilmu dan teknologi yang menghasilkan alat-alat kedokteran, obat-obatan yang dapat memberantas penyakit, seperti penyakit malaria, disentri, H1V, dan penyakit menular lainnya, hal ini akan menurunkan angka kematian.   Gizi yang membaik serta perawatan yang intensif Sanitasi yang baik, peningkatan sanitasi air dan lingkungan serta makanan dalam waktu yang santa singkat telah berhasil menurunkan angka kematian yang mencolok.   Diperkenalkan sumur-sumur artesi. Cara-cara yang baik dalam pembuangan sampah.

2. Distribusi Penduduk Imigrasi dalam hal ini berarti banyak orang asing yang datang ke suatu daerah : Menurut Erlich (1968) dalam bukunya yang berjudul Population Resources Environment Insues In Human Ecology menyatakan bahwa akibat dan kekurangan bahan pangan adalah bencana yang ditimbulkan oleh kelaparan dan manultrasi Menurut Samibiring laju pertumbuhan penduduk tergantung pada kebijakan pemerintahan (kebijakan kependudukan) atau organisasi formal lainnya untuk mempengaruhi laju pertumbuhan ini bertujuan untuk menaikkan taraf ekonomi, sosial, kesejahteraan penduduk jadi bersifat makro. Kebijakan penduduk di Indonesia secara umum telah dibariskan dalam GBHN. Beberapa butir pentingnya erat kaitannya dengan kebijakan kependudukan antara lain : Kebijakan kependudukan perlu dirumuskan secara merata dan menyeluruh dan dituangkan dalam program kependudukan terpadu. Kebijakan kependudukan yang perlu ditangani antara lain : bidang pengendalian kelahiran, penurunan tingkat kematian terutama kematian anak-anak, perpanjangan

harapan hidup, penyebaran penduduk yang baik dan serasi dan seimbang, pola urbanisasi yang seimbang dan rata. Agar pengembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dapat terlaksana dengan cepat, perlu dibarengi dengan pengaturan pertumbuhan penduduk melalui program keluarga berencana. Program keluarga berencana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan keluarga bahagia yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus dalam rangka menjamin terkendalinya pertumbuhan penduduk Indonesia. Pelaksanaan Keluarga berencana ditempuh dengan cara suka rela dengan mempertimbangkan nilai-nilai agama dan kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Lima tahap pelaksanaan kebijakan kependudukan di Indonesia khususnya Sumatera Barat yaitu :       Respons awal yang disertai banyak salah paham Perbaikan sistem pemerintahan dan teknologi Penyelenggaraan kesehatan ibu dan anak Pembangunan ekonomi Perubahan ekonomi Perubahan faktor-faktor sosial budaya

Perlu diingat di Indonesia sistem pendidikan bam yang kemudian meresap dalam masyarakat, kemutlakan sifat positif dan negatif pada realisasi menjadi kabur, mekanisme dapat berbalik juga misalnya peningkatan pendapatan yang biasanya menurunkan usia kawin, maka dapat menaikannya. Ini bertalian dengan pengaruh emansipasi wanita, ia tak sekedar menjadi Child Berer dan ingin mempunyai penghasilan sendiri sebelum dan sesudah kawin. Meningkatnya usia kawin juga dapat karena tidak berlakunya ijazah sekolah untuk menaruh gaji yang cukup untuk membentuk keluarga. Usia kawin yang rendah tidak perlu berakibat pertambahan penduduk yang pesat. Manusia merupakan makhluk yang tidak pernah diam. Perpindahan merupakan perpindahan dari proses adaptasinya dengan lingkungan, sosial, ekonomi, maupun budaya dengan lingkungan fisik, sosial ekonomi, maupun budaya hal tersebut juga terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan.

Salah satu penyebab penyebaran penduduk antara kota dan desa tidak merata adalah akibat laju perkembangan kota dan nagari (desa) sangat mencolok sehingga terjadi urbanisasi, urbanisasi yang normal berjalan periodis dari suatu kota-ke kota yang lebih besar, tetapi yang abnormal dari desa langsung ke kota. Ini disebabkan oleh motivasi yang mencolok dari masyarakat kota karena efek inventaris yang mencakup bidang sosial dalam ekonomis. Inventaris dalam berbagai bentuk merupakan pintu yang terbuka lebar bagi kesempatan kerja, mesti tenaga kerja dalam kota cukup, dilihat dari kacamata rural, kota dapat diserbu yang ekonomis adanya kompetisi di antara perusahaan untuk memberikan jaminan ekonomis yang lebih unggul. Mengapa perkembangan kota berlangsung terus, hal ini dijawab oleh beberapa ahli dengan tiga asumsi :  Surplus pangan yang dihasilkan oleh daerah pedalaman ataupun yang di import masih akan cukup untuk menjamin kebutuhan penduduk kota yang terus bertambah ini.   Energi yang relatif murah (kayu, batu bara, minyak bumi) masih akan selalu diperoleh berkat kemajuan teknologi pengangkutan) Jumlah tenaga kerja manusia cukup tersedia untuk melayani kemajuan industri dan sektor lain. Pada umumnya ada dua unsur khusus yang menentukan pola distribusi atas penyebaran penduduk yaitu lingkungan alami dan kebudayaan manusia. Pada suatu daerah yang penduduknya padat sangat memerlukan perhatian khusus pemerintah tentang, pengangkutan teknologi, sumberdaya, hal-hal di atas supaya dapat meningkatkan taraf kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Penyebaran penduduk menurut ciri atau karakteristik biologis atau sosial. Dalam hal ini yang sering digunakan adalah komposisi mengenai jenis kelamin, umur, etnik, pendapatan, pekerjaan dan lainnya. Penyebaran penduduk ini tidak merata di suatu wilayah, maka untuk itu pemerintah melaksanakan kebijaksanaan dengan adanya hal-hal sebagai berikut:   Memperbanyak pembangunan di segala bidang di daerah pedesaan maupun di pulau-pulau yang jarang penduduknya. Adanya program transmigrasi

Transmigrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu ke daerah lain untuk menetapkan yang ditetapkan dalam wilayah Republik Indonesia guna kepentingan Nasional atau alasan lain yang di pandangan perlu oleh Pemerintah. Tujuan pelaksanaan transmigrasi dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia.         Memindahkan penduduk dan daerah yang padat penduduknya. Meratakan penyebaran penduduk Indonesia Meningkatkan taraf hidup penduduk Memanfaatkan sumber daya alam yang belum diolah di luar pulau Jawa Untuk menghilangkan perasaan kesukuan di antara berbagai suku di wilayah Indonesia Untuk memperkuat pertahanan dan keamanan nasional, terutama di daerahdaerah yang masih kosong. Memeratakan pembangunan nasional di seluruh wilayah Indonesia Memberi kesempatan kerja kepada penduduk yang menganggur.

Secara garis besar bertujuan kebijakan kependudukan yaitu memelihara keseimbangan antara pertumbuhan penduduk dan penyebaran penduduk dengan perkembangan pembangunan sosial ekonomi, sehingga tingkat hidup layak dapat diberikan kepada penduduk secara menyeluruh. Usaha yang demikian mencakup seluruh kebijaksanaan baik di bidang ekonomi, sosial, kultural serta kegiatan lain untuk meningkatkan pendapatan nasional, pembagian. Pendapatan yang adil, kesempatan kerja dan pembangunan pendidikan cara menyeluruh, strategi yang digunakan adalah melalui program jangka panjang dan jangka pendek. Adapun tujuan panjangnya yang di usahakan yaitu :    Mencapai target demografis yaitu usaha keluarga kecil dengan dua orang anak per keluarga. Peningkatan volume dan migrasi ke daerah-daerah yang memerlukannya. Menghambat pertumbuhan pedesaan Dengan tujuan jangka pendek diarahkan pada tingkat angka kelahiran, peningkatan volume transmigrasi yang mantap. Untuk mencapai tujuan ini disusun program-program kebijaksanaan sebagai berikut: kota dan mengutamakan pembangunan di

Meningkatkan program KB, sehingga dapat melembagakan dalam masyarakat termasuk semua program pendukung bagi keberhasilannya seperti

peningkatan mutu pendidikan, peningkatan umur untuk menikah pertama, peningkatan status wanita.      Meningkatkan dan menyebarluaskan program pendidikan kependudukan merangsang terciptanya keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Meningkatkan program transmigrasi secara teratur. Mengatur perpindahan penduduk Mengatasi masalah tenaga kerja Meningkatkan pembinaan dan pengamanan lingkungan hidup.

Penyebaran penduduk ini juga dipengaruhi oleh migrasi-migrasi menyangkut perpindahan penduduk dan suatu daerah administrasi pemerintahan ke daerah administrasi lain perpindahan penduduk dan suatu kabupaten-kabupaten lainnya dalam suatu propinsi disebut juga dengan migrasi. Migrasi ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :

1. Faktor pendorong Faktor pendorong kegiatan migrasi, sebenarnya timbul karena dirasakan bahwa daerah di mana penduduk tinggal dalam kondisi kurang menguntungkan sehingga penduduk melalui kesadaran sendiri atau pengarahan dari luar meninggalkan daerahnya seperti : kekurangan sumber daya alam, menyempit lapangan kerja, tekanan-tekanan politik, sosial (ekonomi, agama, bencana alam, dll)

2. Faktor penarik Faktor penarik migrasi timbul adanya daerah-daerah yang mempunyai kondisi lebih menggantungkan dari pada daerah lain, seperti daerah perkotaan. Daerah ini memungkinkan lapangan kerja sehingga pendapatan bisa lebih meningkat, terbukanya kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, keadaan lingkungan dan sarana

yang lebih tinggi, keadaan lingkungan dan sarana kehidupan yang lebih menyenangkan, adanya aktivitas-aktivitas di kota yang lebih baik, dan lain-lainnya. Sebenarnya, di samping dua faktor pendorong dan penarikan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi migrasi yaitu : Faktor-faktor rintangan yang menghambat, dan faktor pribadi penduduk yang akan melakukan migrasi. Di antara faktor rintangan dan penghambat yaitu, jarak antara daerah asal dan tujuan, nilai tradisional kebijakan pemerintah (adanya pembatasan atau larangan ) dan biaya yang diperlukan. Faktor pribadi timbul dari sikap masing-masing menduduki sendiri. Adanya sifat pribadi yang statis enggan untuk meninggalkan daerah kelahirannya. dan ada sifat pribadi yang di manis, yang senang menghadapi tantangan baru. Banyak faktor yang mempengaruhi sifat pribadi ini antara lain: tingkat pendidikan, pengetahuan, komunikasi, status sosial ekonominya dan sebagainya. jadi migrasi ini secara tidak langsung mempengaruhi penyebaran penduduk.

3. Kualitas Penduduk Kemajuan dalam pembangunan tidak dapat dilepas dari masalah pembangunan, masalah kependudukan, sebab hasil produksi secara keseluruhan bertambah, mungkin pula secara keseluruhan tidak akan merasakan, jika tingkat penduduk tidak setaraf dengan tingkat teknologi. Pertumbuhan dan perubahan struktur harus lebih cepat dari pada pertumbuhan struktur harus lebih cepat dari pada pertumbuhan penduduk, apalagi kalau diperhitungkan pula kualitas kebutuhan generasi yang akan datang. Kualitas penduduk menyangkut pada kualitas fisik, baik jasmani dan rohani maupun prilaku sosial, ekonomi. Menurut Todaro dalam Firman Lubis (1987) pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat berkembang tidak hanya karena sumber daya fisik saja (tanah, mineral, dan bahan mentah) tetapi juga karena sumber daya manusianya dalam hal ini tingkat pendidikan, sikap terhadap kebudayaan, pekerjaan dan adanya keinginan untuk memperbaiki diri. Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukur dan GNP perkapita rata-rata penduduk setiap tahun. Menurut Bank dunia seperti dikutip oleh Todaro dalam Firman

Lubis (1987) dengan tolak ukur GNP perkapita tersebut , maka negara-negara dibagi atas negara dengan pendapatan rendah dan negara berpendapatan tinggi. Kualitas penduduk dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain :    Tingkat pendidikan Tingkat pendapatan dan kesejahteraan Tingkat kesehatan

Berbicara tentang kualitas penduduk telah banyak dirumuskan oleh para pakar salah satu diantaranya John Dewey dalam Yusuf (1982) bahwa: Pendidikan merupakan proses yang terus menerus atau berkelanjutan seumur hidup melalui pengetahuan sikap dan keterampilan perubahan ke arah yang lebih sempurna. Pendidikan merupakan faktor penentu produktivitas penduduk dan berpengaruh pada kualitas penduduk di mana masyarakat yang kurang menempuh pendidikan formal dan pendidikan informal (maka individu tersebut kurang kualitas individunya di dalam kehidupan bermasyarakat dan umumnya akan merendahkan kualitas dari penduduk, karena pendidikan merupakan salah satu pokok dalam penentu kualitas manusia. Kesejahteraan keluarga merupakan bagian terpenting dalam kehidupan keluarga. Konsep kesejahteraan telah banyak di kemukakan oleh para pakar diantaranya: Willlesky dan Lebeaux dalam Sukirno (1980) bahwa : kesejahteraan merupakan suatu keadaan di mana terpenuhi kebutuhan dasar manusia baik jasmani maupun rohani. Kebutuhan dasar tersebut meliputi kebutuhan sandang, pangan. papan. pendidikan dan kesehatan, maksud keluarga sejahtera apabila kondisi dimaksud dapat dipenuhi dengan layak. Kualitas penduduk salah satu indikator yang mengukurnya adalah tingkat kesehatan penduduk-penduduk yang sehat baik lahir maupun batin merupakan syarat mutlak dalam menentukan kualitas sumber daya manusia penduduk. Menurut Azwar dalam Firman Lubis (1990) bahwa sumber daya manusia yang sehat merupakan salah satu penentu terpenting pada sumber daya manusia karena dengan kesehatan yang memadai, maka tingkat intelektual dan kecerdasan akan dapat berkembang dengan baik dan sempurna.

B. PEMBAHASAN 1. Laju Pertumbuhan Penduduk Laju pertumbuhan penduduk adalah persentase pertambahan penduduk pertahun yang sangat berpengaruh sekali terhadap pelaksanaan pembangunan khususnya di Kabupaten Pesisir Selatan yang merupakan salah satu daerah tingkat II di Sumatera Barat. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan terus bertambah dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan dalam jangka satu Repelita mengalami kenaikan dalam segi jumlah orang yang terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan yaitu di mulai dari tahun 2003 jumlah penduduk tercatat sebanyak 397.252 Jiwa, pada tahun 2004, naik menjadi 399, 032 jiwa , peta tahun 2005 naik menjadi 402,280 pada tahun 2006 naik menjadi 406.634 jiwa dan pada tahun 2007 turun menjadi 391.347 hal ini dapat dilihat pada grafik mengenai laju penduduk

Tabel II.1 Laju Pertumbuhan Penduduk Daerah Tingkat II Kabupaten Pesisir Selatan
Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Laki-laki 193.429 194.444 196.040 198.267 192.093 Perempuan 203.823 204.588 206.220 208.367 199.254 Jumlah (Jiwa) 397.252 399.032 402.260 406.634 391.347 Pertumbuhan (%) 0.45 0.81 1.09 -3.76

Sumber : BPS Pesisir Selatan tahun 2003

Kalau dilihat dari pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan dimulai dari tahun 2003-2007 mengalami penurunan walaupun dalam jumlah orang mengalami kenaikan, tetapi hal ini telah mencerminkan kemajuan Kabupaten Pesisir Selatan dilihat dari rata-ratanya, tetapi bila dilihat dalam jumlah individu bertambah terus menerus tahun 2003 dan turun pada tahun 2007,

hal ini dapat dilihat pada grafik II.1
4 0 1 4 5 0 4 0 0 3 5 9 3 0 9 3 5 8 3 0 8 1 2 3 4 5 O n D la ra g a m R u n ib a

Sumber badan statistik Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2007 penurunan laju pertumbuhan penduduk yang drastis ini disebabkan oleh kebijakan Badan Statistik Pesisir Selatan dalam menentukan cara perhitungan penduduk pada tahun 2007 dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu dalam pengambilan data dengan cara mengumpulkan data penduduk data jumlah penduduk tahun 2003 adalah hasil register penduduk, sedangkan jumlah penduduk tahun 2007 merupakan hasil sensus penduduk tahun 2007 yang dilakukan secara lengkap terhadap seluruh penduduk. Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Pesisir Selatan kalau dilihat dari Sex Ratio pada tahun 2007 sedikit mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yakni tahun 1996 yaitu 94,90%, tahun 1997 yaitu 95.04 tahun 2003 yaitu 95,06%, tahun 2004 yaitu 95,15% dan tahun 2007 yaitu 96,41% hal ini dapat dilihat pada grafik II.2
9 .2 5 9 .1 5 5 9 .1 5 9 .0 5 5 9 5 9 .9 4 5 1 2 3 4 5 Pe n se 9 .9 rse ta 4 0 Pe n se 9 .9 rse ta 4 0

Dalam grafik II.2 ini terlihat jelas sex ratio dari tahun ke tahun terlihat bahwa perkembangan penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih besar dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan. Dengan memperlihatkan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Pesisir selatan pada tahun 2007 terjadi penurunan yang tajam di samping uraian dia atas (cara pengambilan data) kemungkinan lain menandakan program KB (Keluarga berencana) berhasil dengan baik karena aseptor KB pada tahun 2007 naik sebesar 23,04%.

Meskipun pelaksanaan program KB Kabupaten Pesisir Selatan mengalami kemajuan secara umum, tetapi kalau dilihat dari % pertumbuhan penduduk yang terdapat pada label satu jumlah individunya masih meningkat hal ini disebabkan belum meratanya penyebaran mengenai program KB untuk seluruh Kecamatan yang terdapat di Pesisir Selatan. Untuk masalah penyebaran penduduk di tempuh melalui usaha yang bersifat langsung, yaitu melalui program transmigrasi sehingga penyebaran penduduk untuk masing-masing ruang lingkup administrasi Kecamatan dapat dilakukan secara rata dan pembangunan gedung-gedung pendidikan dan lowongan pekerjaan yang rata masingmasing Kecamatan sehingga tidak terjadi migrasi penduduk ke suatu tempat secara menyeluruh dan diharapkan rata karena hal ini juga sangat berkaitan erat dengan kebijaksanaan pemerintahan daerah tingkat II Kabupaten Pesisir Selatan.

Tabel II. 2. Kepadatan dan Penyebaran Penduduk Kabupaten Pesisir Selatan Perkecamatan Tahun 2007 No Nama Kecamatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lunang Silaut Basa IV Balai Pancung soal Linggo Sari Baganti Ranah Pesisir Lengayang Sutera Bt. Kapas IV Jurai

Luas Wilayah (Km2)
470,23 365,32 234,71 315,41 564,39 590,60 445,65 359,07 373,80 328,24 425,63

Jumlah Penduduk (Jiwa)
23.076 21.469 29.891 37.964 29.326 49.518 396.78 29.474 37.521 46.156 46.272

Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)
49 59 127 120 52 84 89 82 101 141 109

10 Bayang 11 Koto IV Tarusan

Sumber : BPS Pesisir Selatan, 2007

Masalah penyebaran penduduk yang tidak rata juga merupakan problema penduduk di daerah tingkat 11 Kab. Pesisir Selatan. Kabupaten Pesisir Selatan yang daerahnya memanjang dan urutan keselatan dengan jumlah penduduk 391.347 jiwa tahun 2007, ternyata pada umumnya penduduk terkonsentrasi pada daerah bagian barat yang merupakan daerah pantai dan daerah daratan rendah, selain itu Kabupaten yang memiliki sebelas Kecamatan ini, ternyata antara satu kecamatan dengan kecamatan lain kepadatan penduduknya tidak rata, bahkan terdapat perbedaan yang ketara seperti terlihat pada tabel II.2. Pada tabel 2 terlihat bahwa dari sebelas Kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, ternyata Kecamatan Bayang daerah yang paling padat penduduknya, dengan kepadatan 140 jiwa per Km dan penduduk yang kurang padat di Kabupaten Pesisir Selatan adalah Inunang Silaut dengan kepadatan 49 jiwa/Km dan penduduk yang padat penduduknya pada daerah tingkat 11 Kabupaten Pesisir Selatan yaitu: Kecamatan Linggo Sari Baganti yaitu 120 Jiwa/Km2, Kecamatan IV Jurai yaitu 101 jiwa/ Km2, Kecamatan Koto XI Tarusan yaitu 109 jiwa/ Km2 dan Kecamatan Bayang yaitu 140 jiwa/ Km2. Penduduk yang kurang padat pada daerah tingkat II Kabupaten Pesisir Selatan yaitu Kecamatan Inunang Silaut 49 jiwa/ Km2 dan Kecamatan Basa IV Balai yaitu 59 jiwa/ Km2 dan Ranah Pesisir 52 jiwa/Km2 (lihat peta hal.34). Penyebaran penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan juga dipengaruhi oleh Keadaan fisiologis dari daerah yang terletak memanjang dari Utara ke Selatan. Wilayah bahagian barat merupakan daerah dataran rendah dan daerah pantai, sedangkan pada bahagian Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Solok dan Propinsi .Iambi merupakan daerah perbukitan. Penyebaran penduduk yang tidak merata antara Kecamatan yang satu dengan Kecamatan yang lain disebabkan oleh keadaan individu dari masing-masing jiwa untuk memiliki dataran rendah dan daerah pantai karena secara struktural mempunyai tanah pertanian dan menjadi lumbung pangan pada daerah Kabupaten Pesisir Selatan sekaligus mudah untuk melaksanakan pembangunan. Penyebaran penduduk ini juga dipengaruhi oleh faktor penunjang struktural perekonomian yang mana pihak pemerintahan Kabupaten Pesisir Selatan dalam melaksanakan pembangunan masih memilih daerah-daerah yang daerahnya reliefnya

relatif datar sehingga memudahkan dalam pembangunan jalan, gedung dan faktor-faktor struktural lainnya. Di samping itu secara ekonomis daerah pantai sangat menguntungkan untuk berbagai jenis lapangan usaha, diantaranya usaha di bidang perikanan pariwisata, dan perdagangan. Pada daerah timur yang merupakan daerah perbukitan merupakan daerah yang jarang penduduknya. Apabila problema jika ini tidak ada penanggulangannya dapat mengakibatkan wilayah Timur menjadi wilayah yang tidak berpengaruh kalau pemerintahan Pesisir Selatan jika melihat keadaan ketimpangan penyebaran penduduk ini dapat diatasi dengan jalan membuka kesempatan kerja dan pembangunan sarana dan prasarana vang rata dan antara wilayah barat dan wilayah timur tentu hal ini tidak akan terjadi untuk mengatasi ketimpangan pada wilayah timur ini pihak pemerintahan dan pihak struktural administratif pemerintahan Kabupaten Pesisir Selatan dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:     Memperbaiki daerah transportasi pada derah yang jarang penduduknya. Mengambangkan daerah berpotensi untuk Objek Wisata Membuka lapangan kerja dengan jalan membentuk perkebunan yang berskala besar dengan mengundang pihak Investor dari luar Menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan lahan.

1. Kualitas Penduduk Kualitas penduduk menyangkut pada kualitas fisik, baik jasmani dan rohani maupun prilaku sosial ekonomi, menurut Todaro (1987) dalam pedoman pelaksanaan pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup menyatakan pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat berkembang tidak hanya karena sumber daya fisik saja (tanah, mineral dan bahan, mentah) tetapi juga karena sumber daya manusianya. Dalam hal ini termasuk tingkat : pendidikan, sikap terhadap kebudayaan, pekerjaan dan keinginan untuk memperbaiki diri. Kualitas penduduk yaitu kemampuan manusia (penduduk) dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Kualitas penduduk yang sangat menentukan keberhasilan pengembangan suatu daerah. Sebaliknya, jika kualitas penduduknya jelek atau tidak baik, maka akan dapat menghambat jalannya pembangunan. Jadi

usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas penduduk mutlak diperlukan, agar penduduk sebagai sumber daya manusia dapat dimanfaatkan untuk modal pembangunan. Kualitas penduduk secara umum dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya yaitu : 1) tingkat pendidikan, 2) tingkat pendapatan dan kesejahteraan, 3) tingkat Kesehatan

3.1. Tingkat pendidikan Peningkatan mutu pendidikan merupakan upaya penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, dilakukan penyediaan sarana pendidikan dengan membangun prasarana sekolah dan peningkatan mutu tenaga Guru. Secara umum situasi pendidikan di Kabupaten Pesisir Selatan sudah mulai menunjukkan kemajuan. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatkan jumlah para lulusan dari tahun ketahuan pada setiap jenjang pendidikan. Pada tahun 2003 tercatat jumlah siswa SD yang lulus 222.820 orang meningkat pada tahun 2007 yaitu 224.807 dan SLIP 9.479 tahun 2003 meningkat menjadi 10.068 orang sedangkan SLTA 5,711 meningkat menjadi 6.869 orang murid SLTA. Peningkatan tersebut tidak terlepas dari sarana pengolahan pendidikan yang memadai. Bila diperhatikan sarana pendidikan di Kabupaten tidak banyak mengalami perubahan. Jumlah taman kanak-kanak 58 unit, SD 4023 unit, SLTP 38 unit, dan SLTA 15 unit. Jumlah staf pengajar pada masing-masing jenjang pendidikan di antara yaitu, 125 guru TK, 3120 orang guru SD, 1139 orang guru SLTP, dan 470 orang Guru SLTA. Di Pesisir Selatan pada tahun 2007 171.140 orang anak usia sekolah, tentu jumlah sebanyak ini sekolah-sekolah tidak mampu menampung jumlah seluruh murid setiap tahunnya apalagi untuk tingkat SLTA kalau dilihat dari unit bangunannya. Salah satu cara untuk menanggulangi sekolah-sekolah terpaksa melakukan sistem belajar dua shift, sehingga di Pesisir Selatan hampir tidak ada sekolah tingkat SLTP dan Tingkat SLTA yang melaksanakan sistem belajar satu shift, sehingga melaksanakan sistem belajar dua shift.

Di Kabupaten Pesisir Selatan kalau dilihat dari segi staf pengajar masih belum mencakupi, baik dari jumlah keseluruhan maupun jumlah perbidang studi untuk mengatasi hal tersebut banyak sekolah-sekolah merekrut tenaga honorer, sehingga hal yang wajar kalau dilihat di daerah Kabupaten Pesisir Selatan yang mengajar lebih dari satu program bidang studi, bahkan yang sangat menyedihkan ada guru/ staf pengajar yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu pengetahuan yang dimilikinya, kalau hal ini tidak ada tindak lanjut dari Departemen pendidikan dan kebudayaan, maka wajar Kabupaten Pesisir akan rendah kualitas pendidikannya dibandingkan Kabupaten dan Kotamadya yang berada di Propinsi Sumatera Barat bahkan akan jauh tertinggal dengan propinsi lain. Hal ini memang sangat menyedihkan, tetapi merupakan kenyataan yang dilanda Kabupaten Pesisir Selatan. Dengan ketertinggalan jenjang pendidikan tentukan dapat meningkatkan pengangguran karena Indonesia akan menuju dunia globalisasi dengan sistem perdagangan bebas dan tenaga kerja bebas di yakini Kabupaten Pesisir Selatan belum sanggup untuk hal ini kalau dilihat dari segi pendidikan di Kabupaten Pesisir Selatan. Dengan kalahnya dalam persaingan mencari kerja di luar dan di dalam Sumatera Barat Penduduk Pesisir Selatan akan meningkatkan jumlah penganggurannnya golongan masyarakat yang mencari kerja dan tidak bekerja dapat digolongkan dalam bukan kelompok angkutan kerja. Penduduk angkutan kerja yang sedang mencari kerja digolongkan dalam pengangguran. Adapun angkatan kerja yang menganggur dibedakan atas:   Pengangguran mutlak (un employment) yaitu penduduk produktif yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan. Pengangguran tersamar (Disguised unemployment) yaitu bila seseorang nampak bekerja, tetapi kemampuan penghasilan sangat rendah, misal sebidang tanah garapan yang sebenarnya dapat dikerjakan 4 orang, akan tetapi dikerjakan 11 orang, maka 7 orang merupakan pengangguran tersamar.  Pengangguran musiman yaitu : penduduk toko bekerja dan masih usia produktif secara musim-musim tertentu.

3. 2 Tingkat pendapatan dan kesejahteraan Pertambahan penduduk yang cepat dan tahun 2000-2006 yang dialami Pesisir Selatan terutama yang dialami penduduk dengan tingkat kehidupan ekonomi yang relatif rendah, megakibatkan kurangnya kemampuan keluarga, keluarga tersebut untuk membiayai pendidikan anaknya bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dengan terbatasnya kesempatan kerja yang tersedia, maka banyak tenaga kerja yang berpendidikan lebih tinggi yang dapat menduduki profesi yang penting dengan bayaran yang cukup, persaingan antara tenaga kerja yang kurang berpendidikan di mana-mana dimenangkan oleh kelompok yang pertama. Perbedaan upah antara yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan (pendidikan rendah) sering begitu besar sehingga menimbulkan perbedaan dalam hidup mereka yang mencolok. Kesejahteraan keluarga merupakan bahagian terpenting dalam kehidupan keluarga di masyarakat. Konsep kesejahteraan telah banyak dikemukakan oleh para ilmuan salah satu diataranya: Willesky dan Lebeaux dalam Sukirno (1980) bahwa kesejahteraan merupakan suatu keadaan di mana terpenuhinya kebutuhan dasar manusia baik jasmani dan rohani. Kebutuhan dasar dimaksud meliputi, kebutuhan sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesehatan. Maksudnya keluarga yang sejahtera apabila kondisi tersebut dapat dipenuhi dengan layak. Sedangkan menurut Gunnar (1972) ada dua elemen dasar yang dapat diadakan ukuran untuk menentukan mutu kesejahteraan hidup masyarakat, yaitu kondisi kesehatan dan kondisi pendidikan masyarakat itu.

3.3 Tingkat kesehatan Menurut Firman Lubis (1982) bahwa sumber daya manusia yang sehat merupakan suatu penentu terpenting pada sumber daya manusia, karena dengan kesehatan yang memadai maka tingkat intelektual dan kecerdasan akan dapat berkembang dengan sempurna. Kualitas penduduk suatu daerah ditentukan oleh kondisi kesehatan masyarakat, makin tinggi tingkat kesehatan suatu penduduk (masyarakat) maka makin tinggi pula kualitas penduduknya. Bila diperhatikan sarana dan tenaga kesehatan di Kabupaten

Pesisir Selatan, jumlah rumah sakit umum 1 unit, puskesmas 20 unit, puskesmas pembantu 47 unit. Dari rumah sakit umum yang ada, secara umum kondisinya belum memadai baik dari fasilitas maupun pengolahannya. Jumlah dokter spesialis belum mewakili untuk semua jenis penyakit, sehingga apabila ada penduduk Pesisir Selatan menderita penyakit tertentu terpaksa dibawa ke luar daerah. Secara umum mengenai petugas kesehatan yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebagai berikut, jumlah dokter spesialis 6 orang, dokter umum 21 orang, dokter gigi 10 orang, bidan 74, perawatan kesehatan 170 orang jumlah tersebut harus ditambah untuk dapat melayani jumlah penduduk yang lebih dan 391.347 jiwa pada tahun 2007. karena menurut standar internasional setiap orang dokter melayani untuk 1000 orang penduduk. Pemerintah daerah Tingkat II Kabupaten Pesisir Selatan telah menyediakan sarana kesehatan, namun sebagian penduduk masih menggunakan cara-cara pengobatan Tradisional, sehingga dalam mengenai jenis penyakit yang diderita penduduk tidak tergambar secara keseluruhan, baik dari jenis penyakit, dan jumlah penderitanya. Faktor ini juga disebabkan oleh masih belum lengkapnya fasilitas kesehatan yang tersedia, sehingga banyak penduduk yang pergi berobat keluar daerah. Untuk jenis penyakit yang umumnya terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan dapat dilihat tabel 3.

Tabel II.3 Distribusi Penyakit yang diderita di Kabupaten Pesisir Selatan
No 1 2 3 4 5 6 ISPA Saluran pernafasan Saluran Pencernaan Infeksi jangan kulit Diare Dan lain-lam Nama penyakit Persentase 24,26% 25,55% 19,84% 9,38% 8,35% 18,9%

Sumber : Data sukender, Depkes, 2007

Di samping data di atas terakhir yang menyebutkan bahwa Kabupaten Pesisir Selatan terdapat 325 orang anak usia balita menderita penyakit Munta Bocor (Hawan: 15 Oktober 2003) Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan diantaranya yaitu : a.Di bidang Kesehatan        Meningkatkan pola makan bergizi Memberikan penyuluhan kesehatan Pengawasan obat-obatan dan Makanan (POM) Memperbanyak alat-lat kesehatan yang masih kurang Memeriksa kesehatan bayi dan balita serta ibu hamil secara kontiniu Menambah jumlah tenaga kesehatan/petugas medis bagi daerah yang masih kurang. Memanfaatkan sarana dan prasarana kesehatan yang sudah ada dan sesuai dengan fungsinya. b.Di bidang Pendidikan            Meningkatkan wajib belajar sembilan tahun Menambah jumlah tenaga pengajar yang masih kurang Menanamkan minat baca pada anak didik sejak dini Merehab lokal yang rusak, baik rusak berat maupun rusak ringan Menambah unit pembangunan gedung baru bagi sekolah yang masih kurang Membangun pustaka dan labor pada SLTP dan SLTA yang belum ada Melakukan supervise kunjungan kelas oleh kepala Sekolah atau pengawas

c.Di bidang Pendapatan dan Kesejahteraan Meningkatkan perekonomian Meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat Membuka lapangan kerja dengan jalan membangun perkebunan-perkebunan berskala nasional Mengundang pihak investor

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan kajian teori dan pembahasan sebelumnya maka dapat

disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan adalah 0,35 %/ tahun sudah menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 2. Penyebaran penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan tidak merata hal ini terlihat jelas pada masing-masing Kecamatan dan penduduk yang padat terdapat di wilayah Barat dan yang jarang penduduk pada wilayah Timur. 3. Kualitas penduduk Pesisir Selatan masih tergolong rendah, hal ini terbukti dengan rendahnya ratio pendidikan penduduk, fasilitas kesehatan, dan masih rendahnya kesejahteraan khususnya di bidang pendapatan.

B. Saran-saran Dari kesimpulan di atas disarankan untuk : 1. Kepada Pihak BKKBN agar membimbing setiap rumah tangga, khususnya pasangan usia subur untuk mengintensifkan pelaksanaan program KB. 2. Kepada pihak pemerintahan supaya dapat mengatasi masalah penyebaran penduduk di Kabupaten Pesisir Selatan. 3. Diharapkan kesadaran akan pentingnya arti pendidikan dan kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

Akhiruddin. ( 1993). Geografi Kependudukan Padang. FPIPS KIP Padang BPS Pesse!, (2000). Pesisir Selatan In Figures. Painan Firman lubis, (1982), Masalah Kependudukan FDOK VI, Jakarta. Munir Rozi, (1985). Geografi dan Kependudukan, Surabaya, PT . Bina Ilmu R.K Sembiring. (1985), Demografi, Pasca Sarjana IKIP Jakarta bekerja sama dengan BKKBN Jakarta, Jakarta Salladin, dkk, (1983). Geografi dan Kependudukan, Surahaya : PT . Bina Ilmu Yusuf Maftuchah, (1985). Pengaruh Timbal Balik antara Kependudukan dengan Berbagai Aspek Kehidupan Manusia. Jakarta. Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->