P. 1
fisiologi nutrisi- bab 1 sel

fisiologi nutrisi- bab 1 sel

|Views: 905|Likes:
Published by intan nursiam
materi fisnut
materi fisnut

More info:

Published by: intan nursiam on Apr 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2012

pdf

text

original

BAB I SEL 1.1.

BENTUK SEL Ada dua tipe sel yang membangun semua benda hidup didunia: prokaryotic dan euka ryotic. Prokaryotic cells, seperti bakteria, tidak mempunyai ‘inti’, sedangkan eukaryotic cells, seperti tubuh manusia mempunyai ‘inti’. Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti b iologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itul ah, sel dapat berfungsi secara otonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenu hi. Makhluk hidup (organisme) tersusun dari satu sel tunggal (uniselular, misalnya b akteri, Archaea, serta sejumlah fungi dan Protozoa) atau dari banyak sel (multis elular). Pada organisme multiselular terjadi pembagian tugas terhadap sel-sel pe nyusunnya, yang menjadi dasar bagi hirarki hidup. Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk semua o rganisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar or ganisme (Regnum) juga memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Sel-sel prokariota be radaptasi dengan kehidupan uniselular sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi un tuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang sangat rapi. Perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan Sel tumbuhan dan sel hewan mempunyai beberapa perbedaan seperti berikut: Sel tumbuhan Sel hewan Sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan. Sel hewan lebih kecil daripada s el tumbuhan. Mempunyai bentuk yang tetap. Tidak mempunyai bentuk yang tetap. Mempunyai dinding sel. Tidak mempunyai dinding sel. Mempunyai klorofil. Tidak mempunyai klorofil. Mempunyai vakuola atau rongga sel yang besar. Tidak mempunyai vakuola, walaupu n terkadang sel beberapa hewan uniseluler memiliki vakuola (tapi tidak sebesar y ang dimiliki tumbuhan). Menyimpan tenaga dalam bentuk biji (granul) kanji. Menyimpan makanan dalam bentuk biji (granul) glikogen. Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_(Biologi)" Gambar 1. Perbedaan sel Hewan dan Tumbuhan Secara umum setiap sel memiliki : • membran sel, • sitoplasma, dan • inti sel atau nukleus. Sitoplasma dan nukleus secara bersama-sama menyusun protoplasma. Di dalam sitopl asma terdapat berbagai organel. Sel tumbuhan, alga dan prokariota mengembangkan dinding sel sementara sel hewan tidak. Beberapa organisme memiliki flagella pada selnya untuk memudahkan pergerakan. Membran sel Membran sel membatasi segala kegiatan yang terjadi di dalam sel sehingga tidak m udah terganggu oleh pengaruh dari luar. Karena fungsi ini, membran sel bersifat selektif permeabel , dapat menentukan bahan-bahan tertentu saja yang bisa masuk ke dan keluar dari sel. Sitoplasma Fungsi utama kehidupan berlangsung di sitoplasma. Hampir semua kegiatan metaboli sme berlangsung di dalam ruangan berisi cairan kental ini. Di dalam sitoplasma t erdapat organel yang melayang-layang dalam cairan kental (merupakan koloid, namu n tidak homogen) yang disebut matriks. Organellah yang menjalankan banyak fungsi

 

 

kehidupan: sintesis bahan, respirasi (perombakan), penyimpanan, serta reaksi te rhadap rangsang. Sebagian besar proses di dalam sitoplasma diatur secara enzimat ik. Selain organel, terdapat pula vakuola, butir-butir tepung, butir silikat dan ber bagai produk sekunder lain. Vakuola memiliki peran penting sebagai tempat penamp ungan produk sekunder yang berbentuk cair, sehingga disebut pula cairan sel . C airan yang mengisi vakuola berbeda-beda, tergantung letak dan fungsi sel. Nukleus Nukleus bertugas mengontrol kegiatan yang terjadi di sitoplasma. Di dalam nukleu s terdapat kromosom yang berisi DNA yang merupakan cetak biru bagi pembentukan b erbagai protein (terutama enzim). Enzim diperlukan dalam menjalankan berbagai fu ngsi di sitoplasma. Di dalam nukleus juga ditemui nukleolus. Organel Berikut adalah macam-macam benda dalam sel (khususnya sitoplasma) yang digolongk an sebagai organel: a. Reticulum endoplasmik Ada 2 bentuk ER kasar (ada ribosom yang melekat) dan ER halus (tanpa ribosom yan g melekat). Fungsinya : mechanical support, sintesis (khususnya protein oleh E R kasar) dan transpor b. Kompleks Golgi Organel bermembran dalam cytoplasma. Teridri dari beberapa membran yang rata, t erkadang berbentuk cangkir, ditimbun secara dekat yang merupakan vesicular yang tertutup, pada ujung-ujungnya biasanya ditemukan vesicula kecil berbentuk bulat. ) . Fungsi : memelihara keseimbangan air, metabolisme lipid, packaging of mater ials for transport dan production of lysosomes Gambar 2. Bentuk sel lengkap c. Lysosomes Membungkus suatu akumulasi beberapa enzim-enzim hidrolitik. Fungsi : tempat penc ernaan interseluler, disamping menyimpan materi yang tidak terlarut. d. Mitokhondria Mempunyai 2 membran: bagian dalam terlipat dan disebut cristae atau tubuli yang mengandung elementary particle,bagian luar permuakaan licin. Tempat untuk berbag ai reaksi biokimia dan menyimpan energi dalam bentuk Adenosin Tripospat (ATP) y ang merupakan sumber energi bagi sel.

(link ke animasi mitokondria) Gambar 3. Mitokondria e. Ribosom • mengandung rRNA (ribosomal RNA): mRNA dan tRNA dan protein • t-RNA membawa asam-asam amino yang telah diaktifkan untuk dipasang menja di protein • m-RNA yang membawa code yang menentukan sekuensi • ribosom sering menggunakan m-RNA yang sama sehingga terjadi hubungan yan g linier atau sirkuler yang disebut polyribosomes • fungsi utamanya menproduksi protein Struktur sel terdiri dari protein (sekitar 60 % dari membran ) dan lipid, atau lemak (sekitar 40% dari membran). Lipid utama disebut phospholipid, dan beber apa molekul phospholipid membentuk suatu phospholipid bilayer (dua lapis mol ekul phospholipid ). Bentuk bilayer karena kedua ‘akhir’ molekul phospholipid m

 

 

 

 

empunyai sifat-sifat yang berbeda: satu ujung adalah polar ( hydrophil). Gambar 4. Struktur sel a. Air. Air merupakan medium pokok atau utama bagi sel, yang terdapat pada sebagian besa r sel selain sel-sel lemak dalam konsentrasi antara 70 dan 85 per¬sen. Banyak ba han kimia sel larut dalam air, sedang¬kan bahan lain ditahan dalam bentuk partik el atau dalam bentuk membranosa. Reaksi kimia terjadi di antara bahan kimia yang terlarut tadi atau pada batas permukaan antara partikel atau mem¬bran yang dita han dengan air. b. Elektrolit. Elektrolit yang paling penting didalam sel adalah kalium, magnesium, fosfat, sul fat, bikarbonat, dan sedikit natrium,-klorida,. dan kalsium. Elektrolit menyedia kan bahan kimia inorganik untuk menimbulkan reaksi-reaksi dalam sel. Elektro¬lit juga diperlukan untuk kerja beberapa mekanisme pengaturan sel. Misalnya, elektr olit yang bekerja pa¬da membran sel akan memungkinkan penjalaran im¬puls elektro kimia pada saraf dan serat otot, dan konsentrasi elektrolit intraselular tertent u menentukan dan mengatur aktivitas berbagai reaksi yang dika¬talisis secara enz imatik, yang diperlukan untuk meta¬bolisme sel. c. Protein. Disamping air, bahan yang sangat ber¬limpah pada sebagian besar sel adalah prote in, yang dalam keadaan normal jumlahnya 10 sampai 20 per¬sen dari massa sel. Pro tein dapat dibagi dalam dua macam, protein struktural dan protein globular yang terutama merupakan enzim. . Untuk dapat mengerti apa sebenarnya protein struktural itu, seseorang cukup memp erhatikan bah¬wa kulit terutama terdiri atas protein struktural, dan rambut hamp ir seluruhnya terdiri atas protein struk¬tural. Protein jenis ini terdapat dalam sel terutama dalam bentuk filamen tipis panjang, di mana filamen itu sendiri me rupakan polimer dari banyak molekul protein. Manfaat filamen intraselular yang t erutama ini adalah untuk menyediakan mekanisme kontraktil dalam semua otot. Akan tetapi, filamen juga tersusun dalam bentuk mikrotubulus yang menyediakan or¬gan el "sitoskeleton" seperti silia, akson saraf dan benang kumparan mitosis pada se l yang sedang mitosis. Dalam cairan ekstraselular, protein fibrilar terutama dij umpai pada serat kolagen dan elastin jaringan ikat padat, pembuluh darah, tendo, ligamentum, dan sebagainya. Protein globular merupakan jenis protein yang berbeda seluruhnya dengan protein di atas, umumnya terdiri dari satu macam molekul protein atau, pada umumnya komb inasi beberapa molekul dalam ben¬tuk globular daripada bentuk fibrilar. Protein ini terutama merupakan enzim sel dan, berlawanan dengan protein fibrilar, protei n globular sering larut dalam cairan sel atau bagian yang menyatu dengan atau me rupakan bagian yang melekat pada struktur membran di dalam sel. Enzim berhubunga n langsung dengan bahan lain di dalam sel dan mengkatalisis re¬aksi-reaksi kimia . Contohnya, reaksi-reaksi kimia yang memecahkan glukosa menjadi komponen-kom¬po nennya dan kemudian bergabung dengan oksigen untuk membentuk karbon dioksida dan air sementara pada saat yang sama, untuk menghasilkan energi.yang dipakai untuk fungsi sel, glukosa dikatalisis oleh se¬rangkaian enzim protein. d. Lipid. Lipid merupakan beberapa jenis substansi yang berkelompok bersama karena sifat u mum lipid yaitu larut dalam pelarut lemak. Lipid paling penting pada kebanyakan sel adalah fosfolipid dan kolesterol, yang bersama-sama merupakan kira-kira 2 pe rsen dari jumlah total massa sel. Manfaat khusus dari fos¬folipid dan kolesterol adalah bahwa keduanya teru¬tama tidak larut dalam air, oleh karena itu digu¬nak an untuk membentuk membran sel demikian juga untuk membentuk sawar membran intr asel yang memisahkan berbagai kompartemen sel. Di samping fosfolipid dan kolesterol, beberapa sel mengandung banyak s ekali trigliserida, yang juga di¬sebut sebagai lemak netral. Pada sel yang diseb

 

ut se¬bagai sel lemak, kadar trigliserida ini dapat mencapai 95 persen dari mass a sel. Lemak yang tersimpan di dalam sel-sel ini berperan sebagai gudang energi uta¬ma nutrisi penghasil energi dalam tubuh yang nanti¬nya dapat dipadatkan kemb ali dan dipergunakan untuk energi bila dibutuhkan oleh tubuh. e. Karbohidrat Di samping sebagai bagian dari molekul glikoprotein, karbohidrat sedikit sekal i ber¬peran dalam fungsi struktural di dalam sel, tetapi karbohidrat ini berpera n utama dalam nutrisi sel. Keba¬nyakan sel manusia tidak mempunyai cadangan kar¬ bohidrat dalam jumlah besar, rata-rata berkisar antara 1 persen dari total mass a tetapi dapat meningkat sampai 3 persen di dalam sel otot dan, kadang-kadang me ningkat sampai 6 persen di dalam sel hati. Kar¬bohidrat, dalam bentuk glukosa ya ng larut selalu dite¬mukan dalam cairan ekstraselular sekitar sel, sehing¬ga sel alu siap tersedia bagi sel. Sebenarnya sejumlah kecil karbohidrat selalu disimpa n di dalam sel dalam bentuk glikogen, yang merupakan polimer glukosa yang tidak larut dan dapat segera diper~ unakan oleh sel untuk mensuplai kebutuhan energi s el. 1.2. SEL SEBAGAI KESATUAN TUBUH YANG HIDUP Satuan dasar kehidupan tubuh adalah sel, dan tiap organ merupakan kesatuan dari berbagai sel yang ber¬beda-beda, yang dihubungkan satu sama lain oleh struktur p enunjang interselular. Setiap jenis sel ber¬adaptasi secara khusus untuk melakuk an satu atau be¬berapa fungsi khusus. Misalnya, sel darah merah yang jumlah selu ruhnya 25 triliun, mengangkut ok¬sigen dari paru-paru ke jaringan- jaringan. Wal aupun jenis sel ini mungkin sangat berlimpah jumlahnya, mungkin masih ada 75 tri liun sel yang lain. Jadi jum¬lah seluruh sel tubuh kira-kira 100 triliun sel. Walaupun banyak sel dalam tubuh sering berbeda secara nyata satu dengan yang lai n, semua sel ter¬sebut mempunyai karaktersitik dasar tertentu yang mirip satu sa ma lain. Misalnya, di dalam seluruh sel itu, oksigen bergabung dengan hasil peme cahan kar¬bohidrat, lemak, atau protein untuk melepaskan ener¬gi yang dibutuhkan untuk fungsi sel. Lebih lanjut, mekanisme umum yang dipakai untuk mengubah baha n makanan menjadi energi, pada dasarnya sama di dalam semua sel, dan semua sel t ersebut juga mem¬bawa hasil akhir dari reaksi-reaksi kimianya ke dalam cairan ya ng mengelilinginya. Hampir semua sel juga mempunyai kemampuan untuk bereproduksi. Bila sel-sel tipe tertentu itu rusak oleh satu penyebab atau sebab lainnya, maka sel yang masih t ersisa dari jenis yang sama akan membentuk sel-sel baru sampai jumlah persediaan sel itu dicukupkan kembali.

Gambar 6.

Macam sel dan hubungan sel, jaringan dan organ

1.3. CAIRAN EKSTRASELULAR¬ LINGKUNGAN DALAM Kira-kira 56 – 70 persen tubuh hewan terdiri dari cairan (Panaretto dan Till, 19 69). Walaupun sebagian besar cairan ini terda¬pat di dalam sel dan disebut sebag ai cairan intra¬selular, kira-kira sepertiganya terdapat di dalam ruang di luar sel dan disebut cairan ekstraselular. Cairan ekstraselular ini berada dalam perg erakan yang tetap di seluruh tubuh. Cairan ini dengan cepat ditranspor masuk ke dalam darah sirkulasi dan selanjutnya ber¬campur dengan darah dan cairan jaringa n setelah ber¬difusi menembus dinding kapiler. Dalam cairan ekstraselular terdapat ion-ion dan bahan makanan yang diperlukan ol eh sel untuk mem¬pertahankan kehidupan dalam sel. Oleh karena itu, pada dasarnya semua sel hidup dalam lingkungan yang sama, yakni cairan ekstraselular, sehingg a de¬ngan alasan inilah cairan ekstraselular disebut-sebagai lingkungan dalam da

ri tubuh atau milieu interieur, yang merupakan suatu istilah yang dicetuskan leb ih dari seratus tahun yang lalu oleh seorang ahli fisiolo¬gi Perancis abad -19 y ang terkenal, yaitu Claude Ber¬nard. Sel-sel tersebut mampu untuk hidup, tumbuh dan melakukan fungsi khususnya selama konsen¬trasi oksigen, glukosa, berbagai io n, asam amino dan bahan-bahan lemak serta unsur pokok yang tersedia di lingkunga n dalam tersebut jumlahnya tepat. 1.4. PERBEDAAN ANTARA CAIRAN EKSTRASELULAR DAN INTRA¬ SELULAR. Cairan ekstraselular mengan¬dung sejumlah besar ion natrium, klorida, dan ion bi karbonat, ditambah bahan makanan untuk sel. se¬perti oksigen, glukosa, asam lema k. dan asam amino. Cairan ekstraselular juga mengandung karbon diok¬sida yang di transpor dari set ke paru-paru untuk diekskresikan, ditambah produk sel lain yan g di¬transpor ke ginjal untuk diekskresikan. Cairan intraselular berbeda nyata dari cairan eks¬traselular. Cairan intraselula r mengandung sejumlah besar ion kalium, magnesium, dan ion fosfat daripada ion n atrium dan klorida yang ditemukan dalam cairan ekstraselular. Mekanisme khusus u ntuk pengangkutan ion melalui membran sel akan mem-pertahankan perbedaan ini. Na+ -------------------------------142 mEq/L ----------------------------K+ --------------------------------4 mEq/L ------------------------------Ca++ -----------------------------2.4 mEq/L -----------------------------Mg++ -----------------------------1.2 mEq/L -------------------------------Cl- ---------------------------------- 103 mEq/L -----------------------------HCO3- ----------------------------28 mEq/L -------------------------------Fosfat ------------------------------ 4 mEq/L ------------------------------SO4- --------------------------------- 1 mEq/L -------------------------------Glukosa ------------------------------ 90 mg/dl ------------------------------Asam Amino -----------------------30 mg/dl ------------------------------Kolesterol Fosfolipid ---------------- 0.5 gm/dl -----------------------------Lemak Netral PO2- ------------------------------35 mmHg -------------------------------PCO2- --------------------------------- 46 mmHg ------------------------------pH ------------------------------------7.4 mmHg -------------------------------Protein ------------------------------ 2 gm/dl -------------------------------( 5 mEq/L) Gambar 7. Cairan ekstraseluler dan intraseluler 1. 6. PINOSITOSIS. Pada sebagian besar sel, pinositosis terjadi secara terus pada membran sel tetap i secara khusus terjadi lebih cepat pada beberapa sel. Sebagai contoh, pinositos is terjadi sangat cepat pada makro¬fag sehingga kira-kira 3 persen dari seluruh membran makrofag akan menggelembung dalam bentuk vesi¬kel setiap menit. Walaupun demikian, vesikel pino-sitik sangat kecil biasanya hanya berdiameter 100 sampai 200 nanometer-sehingga sebagian besar ve¬sikel pinositik hanya dapat dilihat de ngan mikroskop elektron.

Pinositosis merupakan satu-satunya cara yang da¬pat dipergunakan oleh sebagian b esar makromolekul besar untuk dapat memasuki sel, seperti kebanyakan molekul p rotein. Sesungguhnya, kecepatan pemben¬tukan vesikel pinositik biasanya ditingka tkan saat makromolekul melekat pada membran sel. 1.7. PROSES KIMIAWI PEMBENTUKAN ATP-PERAN MITOKONDRIA Setelah memasuki sel, glukosa diha¬dapkan dengan enzim di dalam sitoplasma yang me¬ngubah. glukosa menjadi asam piruvat (suatu proses yang disebut glikolisis). Sejumlah kecil ADP diubah menjadi ATP oleh pelepasan energi selama pengu¬bahan i ni, tetapi jumlah ini hanya meliputi kurang da¬ri 5 persen.dari semua metabolism e energi di dalam sel. Sejauh ini bagian utama dari ATP yang dibentuk di dalam sel, dibentuk di dalam m itokondria. Asam piruvat dihasilkan dari karbohidrat, asam lemak dari lipid, dan asam amino dari protein. Semua ini akhir¬nya diubah menjadi senyawa asetil-ko-A di dalam matriks mitokondria. Bahan ini kemudian akan dila¬rutkan lebih lanjut yang bertujuan untuk menyadap energinya oleh suatu rangkaian enzim lain di dalam matriks mitokondria, sehingga mengalami pengen¬ceran dalam suatu rangkaian reak si kimia yang dise¬but siklus asam sitrat, atau siklus Krebs. Dalam siklus asam sitrat, asetil-ko-A dipecahkan menjadi komponen-komponennya, atom hidrogen dan k arbon dioksida. Karbon dioksida selanjutnya akan berdifusi keluar dari mitokondr ia dan akhimya keluar dan sel. Sebaliknya, atom hidrogen sangatlah reaktif, dan akhirnya akan bergabung dengan oksigen yang juga telah berdifusi ke dalam mitokondria. Keadaan ini akan melep askan energi dalam jumlah sangat besar, yang digunakan oleh mitokondria untuk me ngubah sejumlah besar ADP menjadi ATP. Proses reaksi ini sangat kompleks, membut uhkan bantuan dari sejum¬lah besar enzim protein yang merupakan bagian in¬tegral dari rak-rak membranosa mitokondria, yang menonjol ke dalam matriks mitokondria . Proses awal adalah pemindahan sebuah elektron dari atom hidrogen, sehingga men gubah atom hidrogen menjadi ion hidrogen. Proses akhir adalah pergerakan ion hid rogen melalui protein globular besar yang disebut ATP sintetase, yang menonjol seperti tombol ke dalam membran rak mitokondria. Akhirnya, ATP,sintetase merupak an suatu enzim yang menggunakan energi dari pergerakan ion hidrogen untuk menimb ulkan pengubahan ADP menjadi ATP, sementara pada saat yang sama ion hidrogen ber gabung dengan oksigen untuk membentuk air. ATP yang baru terbentuk ditranspor ke luar dari mitokondria ke dalam semua sitoplasma sel dan nukleoplasma, di mana e nergi di gunakan untuk menggerakkan fungsi sel.

Gambar 8. Sintesa pembentukan ATP di Mitochondria 1.8. DIFUSI Semua molekul dan ion dalam cairan tubuh, ter¬masuk molekul air dan zat-zat terl arut, berada dalam gerakan yang konstan, masing-masing partikel berge¬rak sesuai dengan caranya sendiri. Gerakan partikel ini yang oleh para ahli fisika disebut panas semakin besar pergerakannya, semakin tinggi suhunya dan gerakan ini tidak pernah berhenti dalam kondisi apapun kecuali pada suhu nol absolut. Gerakan mol ekul yang terus menerus ini di antara molekul yang satu dengan yang lainnya dala m cairan, maupun dalam gas, disebut difusi. 1.9. Osmosis yang Secara Selektif Melintasi Membran Permeabel-Difusi Netto Air Sejauh ini substansi yang paling hanyak berdifusi melalui memhran sel ialah air. Perlu diingat kembali di sini hahwa biasanya jumlah air yang berdifusi pada mas

ing-masing arah melalui membran sel darah me¬rah per detik sebanyak kira-kira 10 0 kali volunte sel itu sendiri. Ternyata, secara normal, jumlah yang berdifusi d alam dua arah begitu tepat berimbang sehingga sedikit pun tidak terjadi gerakan netto air. Oleh karena itu, volume sel tetap konstan. Akan teta¬pi, pada keadaan tertentu, dapat terjadi selisih konsen¬trasi air antara sebelah menyebelah memb ran, demi¬kian. pula selisih konsentrasi untuk substansi lain dapat terjadi. Bil a hal ini terjadi, timbul pergerakan net air melintasi membran, mengakibatkan se l mem¬bengkak ataupun mengecil, bergantung pada arah pergerakan net. Proses perg erakan net air ini disebabkan oleh adanya perbedaan konsentrasi air yang dise¬bu t osmosis. Ternyata pada suatu saat dibutuhkan konsentrasi zat yang besar dalam cairan intr aselular walaupun cairan ekstraselular hanya mengandung konsentrasi zat cair kec il sekali. Hal ini terjadi, misalnya, untuk ion -kalium. Sebaliknya, adalah pent ing untuk mem-pertahankan konsentrasi ion-ion lain agar tetap men¬jadi sangat re ndah di dalam sel walaupun konsentra¬sinya dalam cairan ekstraselular besar. Hal ini khu¬susnya terjadi untuk ion natrium. Tidak satu pun dari kedua peristiwa i ni dapat terjadi melalui difusi seder¬hana, karena difusi sederhana mengimbangi konsen¬trasi pada kedua sisi membran. Malahan, beberapa sumber energi harus meni mbulkan pergerakan ion kalium "mendaki" ke bagian dalam sel dan menye¬babkan per gerakan ion natrium juga "mendaki" tetapi dalam hal ini ke luar sel. Pada saat m embran sel menggerakkan molekul atau ion mendaki melawan gradien konsentrasi (at au mendaki melawan arus lis¬trik atau gradien tekanan), proses ini disebut trans por aktif.. Daftar Pustaka 1. Guyton A.c., & J.E. Hold. 1987. Texkbook of Medical Physiology (Fisiol ogi Kedokteran). Terjemahan Irawati dkk. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->