P. 1
Konsep Stres Dan Manajemen Stres

Konsep Stres Dan Manajemen Stres

|Views: 6,258|Likes:
Published by niehwa

More info:

Published by: niehwa on Apr 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2014

pdf

text

original

KONSEP STRES DAN MANAJEMEN STRES

Disusun oleh : 1. FITRA INDRIANI (0926010039) 2. MERISSA SAVITRI (0926010037) 3. NENENG SULITA (0926010027) 4. SWENI LISTIANA (0926010028)

Dosen pembimbing : Ns. Kurniasari, S.Kep. Prodi : Keperawatan Tahun ajaran 2009/2010

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Kota Bengkulu

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stres biasanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif padahal tidak. Terjadinya stres dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stresor. Bentuk stresor ini dapat dari lingkungan, kondisi dirinya serta pikiran. Dalam pengertian stres itu sendiri juga dapat dikatakan sebagai stimulus, di mana penyebab stres dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa. Stres juga dikatakan sebagai respons, artinya dapat merespons apa yang terjadi, juga disebut sebagai transaksi yakni hubungan antara stresor. Dianggap positif karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungan. 1.2. Tujuan Untuk mengetahui pengertian konsep stres dan manajemen stres. 1.3. Manfaat Untuk menambah pengetahuan tentang konsep stres dan manajemen stres.

2

BAB II TINJAUAN TEORITIS KONSEP STRES DAN MANJEMEN STRES 2.1 PENGERTIAN TENTANG STRES Menurut Hans Selye, “Stres adalah respons manusia yang bersifat nonspesifik terhadap setiap tuntutan kebutuhan yang ada dalam dirinya” (Pusdiknakes, Dep.Kes.RI,1989). Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan)” (Dadang Hawari, 2001). Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang” (Soeharto Heerdjan, 1987). Secara umum, yang dimaksud “Stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain”. “Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita” (Maramis, 1999). Menurut Vincent Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2000) bahwa yang dimaksud “Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam lingkungan tersebut”. Beberapa peneliti pada abad ini telah menghasilkan beberapa perbedaan konsep tentang stres. Tiga dari konsep berikut ini memasukkan stres sebagai respons biologis, stres sebagai kejadian lingkungan, dan stres sebagai transaksi antara individu dengan lingkungan.

3

2.2 MACAM-MACAM STRES Apabila ditinjau dari penyebab stres, menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990), dapat digolongkan sebagai berikut : a. Stres fisik, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik. b. Stres kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormone, atau gas. c. Stres mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang menimbulkan penyakit. d. Stres fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ, atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal. e. Stres proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua. f. Stres psikis/ emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, sosial, budaya, atau keagamaan. Adapun menurut Grant Brecht (2000), stres ditinjau dari penyebabnya hanya dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : a. Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kematian, perceraian, pensiun, luka batin, dan kebangkrutan. b. Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan, dan antri. 2.3 SUMBER STRES Ada 3 sumber utama bagi stress, yaitu : 1. Lingkungan Lingkungan kehidupan memberi berbagai tuntutan penyesuaian diri, diantaranya : a. Cuaca, kebisingan, kepadatan,

4

b. Tekanan waktu, standard prestasi, berbagai ancaman terhadap rasa aman dan harga diri c. Tuntutan hubungan antar pribadi, penyesuaian diri dengan teman, pasangan, dan perubahan keluarga. 2. Fisiologik ~ dari tubuh kita seperti antara lain : a. Perubahan kondisi tubuh: masa remaja, haid, hamil, meno/andropause, proses menua, kecelakaan, kurang gizi, kurang tidur >tekanan terhadap tubuh. b. Reaksi tubuh : reaksi terhadap ancaman dan perubahan lingkungan mengakibatkan perubahan pada tubuh kita, menimbulkan stress. 3. Pikiran kita ~ pemaknaan diri dan lingkungan. Pikiran menginterpretasi dan menerjemahkan pengalaman perubahan dan menentukan kapan menekan tombol panik. Bagaimana kita memberi makna atau label pada pengalaman dan antisipasi ke depan, bisa membuat kita relax atau stress. Ada tujuh sumber stres dalam pekerjaan (Schermerhorn, 1996, 411-412), yaitu: 1) Pekerjaan - terlalu banyak atau terlalu sedikit. 2) Ambiguitas peran – tidak tahu apa yang diharapkan dalam pekerjaan atau tidak pernah tahu hasil evaluasinya. 3) Konflik Peran – tidak mampu menjalankan tugas ganda yang diberikan atasan. 4) Dilema etika – diminta untuk melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan etika. 5) Problem interpersonal – kerjasama yang tidak cocok. 6) Perkembangan karir – tidak lancar. 7) Setting fiisik – bising, kurang privasi, polusi, atau kondisi lain yang tidak layak.

5

2.4 TAHAPAN STRESS Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat. Dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun di pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Van amberg (1979) dalam penelitiannya membagi tahapan-tahapan stres sebagaimana berikut : Stres Tahap I Tahapan ini merupakan tahapan stres paling ringan, dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut : 1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting) 2) Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya. 3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya; Namun tanpa disadari cadangan energi dihabiskan (all out) disertai rasa gugup yang berlebihan pula. 4) Merasa senang dengan pekerjaannya itu dan semakin bertambah semangat, Namun Stres Tahap II Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat antara lain dengan tidur yang cukup bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami deficit. Analogi dengan hal ini adalah misalnya handphone (HP) yang sudah lemah harus kembali diisi ulang (di-charge) agar dapat digunakan lagi dengan baik. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut : 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi, yang seharusnya merasa segar. 2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang. 3) Lekas merasa capai menjelang sore hari. tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

6

4) Sering mengeluh lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort). 5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar). 6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang. 7) Tidak bisa santai. Stres tahap III Bila seseorang itu tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan sebagaimana diuraikan pada stres tahap II tersebut di atas, maka yang bersangkutan akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu : 1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag” (gastritis), buang air besar tidak teratur (diare). 2) Ketegangan otot semakin terasa. 3) Perasaan ketidak-tenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat. 4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk Mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi/ dini hari dan tidak dapat kembali tidur (late insomnia). 5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit. Stres Tahap IV Tidak jarang seseorang pada waktu memeriksakan diri ke dokter sehubungan dengan keluhan-keluhan stres tahap III di atas, oleh dokter dinyatakan tidak sakit karena tidak ditemukan kelainan-kelainan fisik pada organ tubuhnya. Bila hal ini terjadi dan yang bersangkutan terus memaksakan diri untuk bekerja tanpa mengenal istirahat, maka gejala stres tahap IV akan muncul :

7

1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit. 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit. 3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespon secara memadai (adequate). 4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari. 5) Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan. 6) Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan. 7) Daya konsentrasi dan daya ingat menurun. 8) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya. StresTahap V Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V yang ditandai dengan hal-hal berikut : 1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical and psychological exhaustion). 2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana. 3) Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastro-intestinal disorder). 4) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik. Stres Tahap VI Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang-kali dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ke ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut : 1) Debaran jantung teramat keras

8

2) 3) 4) 5)

Susah bernafas (sesak dan mengap-mengap) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan Pingsan atau kolaps (collapse)

Bila dikaji maka keluhan atau gejala-gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Reaksi Psikologis terhadap stress : a. Kecemasan Respon yang paling umum Merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan Adalah emosi yang tidak menyenangkan à istilah “kuatir,” “tegang,” “prihatin,” “takut”fisik à jantung berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur b. Kemarahan dan agresi Adalah perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.Merupakan reaksi umum lain terhadap situasi stress yang mungkin dapat menyebabkan agresi, Agresi ialah kemarahan yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.Kadang-kadang disertai perilaku kegilaan, tindak sadis dan usaha membunuh orang c. Depresi Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang disertai rasa sedih Indikasi/gejala stress a. Gejala fisiologik antara lain : denyut jantung bertambah cepat , banyak berkeringat (terutama keringat dingin), pernafasan terganggu, otot terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur, gangguan lambung, dst

9

b. Gejala psikologik antara lain :resah, sering merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan, tidak enak perasaan, atau perasaan kewalahan ( exhausted) dsb c. Tingkah laku antara lain : berbicara cepat sekali, menggigit kuku, menggoyang-goyangkan kaki, ticks, gemetaran, berubah nafsu makan ( bertambah atau berkurang). Dampak akibat stress Apakah dampak stress? Sebagaimana terlihat pada diagram 01, dampak stress dibedakan dalam 3 kategori, dampak Fisiologik, dampakpsikologik dan dampak perilaku~ behavioral a. Dampak Fisiologik : Secara umum orang yang mengalami stress mengalami sejumlah gangguan fisik seperti : mudah masuk angin, mudah pening-pening, kejang otot (kram), mengalami kegemukan atau menjadi kurus yang tidak dapat dijelaskan, juga bisa menderita penyakit yang lebih serius seperti cardiovasculer, hypertensi, dst. Secara rinci dapat diklasifikasi sebagai berikut : (a) Gangguan pada organ tubuh >>> hiperaktif dalam salah satu sistem ttt.    muscle myopathy >>> otot tertentu mengencang/melemah tekanan darah naik >>> kerusakan jantung dan arteri sistem pencernaan >>> mag, diarhea amenorhea >> tertahannya menstruasi kegagalan ovulasi pada wanita, impoten pada pria, kurang produksi kehilangan gairah sex asthma, bronchitis

(b) Gangguan pada sistem reproduksi  

semen pada pria  (c ) Gangguan pada sistem pernafasan  (d) Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), tegang otot, rasa bosan, dst

10

b. Dampak Psikologik: • • Keletihan emosi, jenuh, penghayatan ini merupakan tanda pertama dan punya peran sentral bagi terjadinya ‘burn – out’ Terjadi ‘depersonalisasi’ ; Dalam keadaan stress berkepanjangan, seiring dengan kewalahan /keletihan emosi, kita dapat melihat ada kecenderungan yang bersangkutan memperlakuan orang lain sebagai ‘sesuatu’ ketimbang ‘sesorang’ • Pencapaian pribadi yang bersangkutan menurun, sehingga berakibat pula menurunnya rasa kompeten & rasa sukses c. Dampak Perilaku • • • Manakala stress menjadi distress, prestasi belajar menurun dan sering terjadi tingkah laku yang tidak berterima oleh masyarakat Level stress yang cukup tinggi berdampak negative pada kemampuan mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah tepat. Mahasiswa yang ‘over-stressed’ ~ stress berat seringkali banyak membolos atau tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Strategi Menangani Stress Untuk mencegah mengalami stress, setidaknya ada 3 cara : 1. primary prevention, dengan cara merubah cara kita melakukan sesuatu. Untuk keperluan ini kita perlu memiliki skills yang relevan, misalnya: skill mengatur waktu, skill menyalurkan, skill mendelegasikan, skill mengorganisasikan, menata, dst. 2. Secondary prevention, strateginya kita menyiapkan diri menghadapi stressor, dengan cara exercise, diet, rekreasi, istirahat , meditasi, dst. 3. Tertiary prevention, strateginya kita menangani dampak stress yang terlanjur ada, kalau diperlukan meminta bantuan 4. jaringan supportive ( social-network) ataupun bantuan profesional.

11

2.5 MANAJEMEN STRESS Manajemen stress kemungkinan melihat promosi kesehatan sebagai aktivitas atau intervasi atau mengubah pertukaran rrespon terhadap penyakit. Fokusnya tergantung pada tujuan dari intervensi keperawatan berdasarkan keperluan pasien. Perawat bertanggung jawab pada implemenetasi pemikiran yang dikeluarkan pada beberapa daerah perawatan. Cara Penyesuaian Diri Bila seseorang mengalami stress maka segera ada usaha untuk mengatasinya. Hal ini dikenal sebagai Homeostasis yaitu usaha organisme yang terus menerus melakukan pertahanan agar keadaan keseimbangan selalu tercapai. Stress dapat terjadi pada bidang badaniah ( stress fisik atau somatik ). Misalnya : bila terjadi infeksi atau penyakit, menggerakkan mekanisme penyesuaian somatik, terjadi reaksi : •Pembentukan zat anti kuman, zat anti racun •Mobilisasi leukosit ke tempat-tempat invasi kuman •Lebih banyak melepaskan kortisol, adrenalin dan sebagainya Usaha tubuh untuk mencapai keseimbangan kembali 2.6 KONSEP ADAPTASI Faktor penting yang mempengaruhi tingkah laku manusia : a. Kebutuhan   Kebutuhan badaniah Kebutuhan psikologis

b. Dorongan : Menjamin agar manusia berusaha memenuhi kebutuhannya. Stress terjadi jika orang dihadapkan dengan peristiwa yang dirasakan sebagai mengancam fisik atau psikologisnya. Peristiwanya di sebut stressor. Reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stress.

12

—Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Karena banyak stressor tidak dapat dihindari, promosi kesehatan sering difokuskan pada adaptasi individu, keluarga atau komunitas terhadap stress. —Ada banyak bentuk adaptasi. —Adaptasi fisiologis memungkinkan homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses yang serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya. —Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping dan idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau penguasaan situasi (Selye, 1976, ; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992). —Stresor yang menstimulasi adaptasi mungkin berjangka pendek, seperti demam atau berjangka panjang seperti paralysis dari anggota gerak tubuh. Agar dapat berfungsi optimal, seseorang harus mampu berespons terhadap stressor dan beradaptasi terhadap tuntutan atau perubahan yang dibutuhkan. Adaptasi membutuhkan respons aktif dari seluruh individu. Macam – macam Adaptasi : a. ADAPTASI PSIKOLOGIS Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang merupakan kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol terhadap peristiwa kehidupan, komitmen

13

terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan (Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993). Indikator emosional / psikologi dan perilaku stress :    Depresi Kepenatan Peningkatan penggunaan bahan kimia  Perubahan makan, aktivitas.       Kelelahan mental Perasaan tidak adekuat Kehilangan harga diri Peningkatan kepekaan Kehilangan motivasi. Ledakan menangis  Penurunan produktivitas dan kualitas kinerja pekerjaan. b. ADAPTASI PERKEMBANGAN Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang biasanya menghadapi tugas perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis pendewasaan.Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah . Jika diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka emosional dan      dalam tidur, kebiasaan dan pola    Kecendrungan membuat Mudah buntu Kehilangan perhatian terhadap hal-hal yang rinci. Preokupasi (mis. mimpi siang hari ) Ketidakmampuan berkonsentrasi pada tugas. Peningkatan dan penyakit Kehilangan minat Rentan terhadap kecelakaan. ketidakhadiran kesalahan lupa dan buruknya penilaian). pikiran untuk (mis.

14

mampu mengembangkan harga diri yang sehat dan pada akhirnya belajar respons koping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992). BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Tanamkan pada diri anda bahwa anda dapat mengatasi segala sesuatu dengan baik daripada hanya memikirkan betapa buruknya segala sesuatu yang terjadi. Stress sebenarnya dapat membantu ingatan, terutama pada ingatan jangka pendek dan tidak terlalu kompleks. Stress dapat menyebabkan peningkatan glukosa yang menuju otak, yang memberikan energi lebih pada neuron. Hal ini, sebaliknya, meningkatkan pembentukan dan pengembalian ingatan. Di sisi lain, jika stress terjadi secara terusmenerus, dapat menghambat pengiriman glukosa dan mengganggu ingatan. 3.2 Saran • • • • Penting untuk kita ketahui apakah kita sudah selesaikan semua yang memang bisa kita lakukan. Janganlah kita menjadi super-man atau super-woman, artinya jadwalkanlah agenda yang wajar dan dapat diselesaikan oleh manusia normal. Janganlah biarkan diri kita stress oleh hal-hal yang berada di luar jangkauan kendali kita. Jangan lupa berapapun lilin Anda yang padam, asalkan ada lilin harapan, selalu mungkin kita nyalakan lilin-lilin lainnya.

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->