P. 1
Hukum Laut Internasional

Hukum Laut Internasional

|Views: 4,257|Likes:
Published by skripsinanana

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: skripsinanana on Apr 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

pdf

text

original

Perbandingan UNCLOS 1982 dengan UU No.

6 Tahun 1996 dan Terjemahan Outer Space Treaty 1967
PERBANDINGAN UU No 6 TAHUN 1996 DENGAN KHL PBB 1982

UU No.6 Tahun 1996 Hak – hak Negara Indonesia : 1. Pemerintah menangguhkan Indonesia sementara berhak lintas

KHL PBB 1982 Hak – hak Negara : 1. Mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang berkenaan

damai segala jenis kapal asing dalam daerah tertentu di Laut Teritorial atau Perairan penangguhan diperlukan keamanannya latihan senjata. 2. Pemerintah Indonesia dapat Kepulauan, demikian untuk apabila sangat

dengan lintas damai. 2. Menentukan alur-alur laut dan skema pemisah lalu lintas khusus untuk kapal-kapal tanker, kapal bertenaga mengankut berbahaya. 3. Pencegahan khusus terhadap kapal asing bertenaga nuklir dan kapal yang mengangkut nuklir atau bahan lain yang karena sifatnya nuklir dan yang yang

perlindungan keperluan

termasuk

bahan-bahan

menarik garis– garis penutup pada mulut sungai, kuala, teluk, anak laut, dan pelabuhan untuk menetapkan batas perairan pedalaman. 3. Berhak mengizinkan pemeliharan

berbahaya atau beracun yang tidak membawa dokumen saat

dan

penggantian

kabel

– laut

kabel yang

melakukan hak lintas damai. 4. Mengambil langkah-langkah

telekomunikasi

bawah

dipasang oleh negara atau badan hukum asing yang melintasi perairan Indonesia tanpa memasuki daratan, setelah diterimanya pemberitahuan mengenai letak dan maksud untuk memperbaiki dan mengganti kabel – kabel tersebut. 4. Menetapkan alur laut dan skema pemisah lalu lintas di laut teritorial dan perairan kepulauan. 5. Pencegahan khusus terhadap

guna mencegah suatu lintas yang tidak damai, bahkan sampai

menangguhkan hak lintas guna melindungi keamanan negara

pantai tersebut. 5. Mengambil tindakan proses

perdata terhadap sebuah kapal asing di laut teritorialnya setelah meninggalkan perairan pedalaman. 6. Untuk kapal perang yang tidak mematuhi peraturan perundang-

kapal asing bertenaga nuklir dan kapal yang mengangkut nuklir atau bahan lain yang karena sifatnya

undangan negara pantai mengenai lintas di laut teritorial dapat diminta untuk meninggalkan laut teritorial itu. 7. Pada zona tambahan berhak melaksanakan pengawasan dan

berbahaya atau beracun yang tidak membawa dokumen saat melakukan hak lintas damai. 6. Pemerintah Indonesia

melakukan tindakan hukum yang diperlukan menyangkut bea cukai, fiskal, imigrasi, dan kesehatan. 8. Bahwa rezim lintas melalui

menentukan alur laut, termasuk rute penerbangan di atasnya, yang cocock digunakan untuk pelaksanaan hak

lintas alur laut kepulauan oleh kapal dan pesawat udara asing menetapkan skema dan juga lalu

selat-selat yang digunakan untuk pelayaran internasional status pantai tidak hukum atau

pemisah

mempengaruhi perairan negara

lintas untuk keperluan lintas kapal yang aman melalui alur laut. 7. Pemerintah menentukan sumbu – sumbu alur laut dan skema pemisah lalu lintas dan menetapkannya pada peta – peta yang diumumkan. 8. Pemerintah Indonesia dapat

yurisdiksi negara yang berbatasan dengan selat-selat tersebut

terhadap perairan, dasar laut, tanah dibawahnya diatasnya. 9. Membuat ketentuan-ketentuan serta ruang udara

menentukan alur laut dan skema pemisah lalu lintas untuk pelayaran di lintas transit. 9. Pemanfaatan, pelestarian Indonesia. 10. Indonesia dapat membentuk pengelolaan, perairan

mengenai kewajiban dan larangan tertentu yang harus ditaati oleh kapal-kapal laut dan pesawat-

pesawat udara dalam melakukan lintas transit. 10.Berhak mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang

lingkunagn

suatu Badan Koordinasi dalam rangka peningkatan pengelolaan, pelestarian Indonesia. 11. Penegakan kedaulatan dan pemanfaatan perlindungan lingkungan dan

berkenaan dengan alur-alur laut dan skema pemisah lalu lintas yang mengatur lintas transit. 11.Eksplorasi dan eksploitasi

perairan

sumber-sumber daya alam yang ada dalam wilayah perairannya.

hukum di perairan Indonesia, ruang udara di atasnya, dasar laut dan tanah di bawahnya termasuk

12.Khusus

negara

kepulauan

berhak menentukan batas dengan metode garis pangkal lurus. 13.Negara mempunyai hak-hak

kekayaan alam yang terkandung di dalamnyaserta sanksi atas

berdaulat di ZEE untuk tujuan eksplorasi pelestarian dan dan eksploitasi, pengelolaan

pelanggarannya, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Konvensi hukum Internasional lainnya, dan peraturan perundang – undangan yang berlaku. 12. Mempunyai yurisdiksi dalam

sumber-sumber kekayaan alam. 14.Negara pantai berhak

membangun pulau-pulau buatan, instansi-instansi dan bangunan-

penegakan kedaulatan dan hukum terhadap kapal asing yang sedang melintas laut teritorial dan perairan kepulauan Indonesia dilaksanakan

bangunan guna pelestarian dan pemanfaatan kekayaan hayati di ZEE. 15.Negara bagian tak berpantai ambil

sesuai dengan ketentuan Konvebsi, hukum Internasional lainnya dan

dalam

eksploitasi

peraturan perundang – undangan yang berlaku. 13. Membentuk koordinasi penegakan untuk hukum suatu badan

sumberdaya lait hayati di ZEE atas dasar persamaan hak, kecuali pantai

perekonomian

negara

pelaksanaan di perairan

tersebut sangat bergantung pada eksploitasi kekayaan hayati di ZEE tersebut. 16.Negara pantai berhak

Indonesia, ruang udara di atasnya, dasar laut dan tanah di bawahnya.

mengeluarkan perundand-undangan mengatur pelaksanaan

peraturan yang hak-hak

berdaulat dan yurisdiksinya di ZEE.

Kewajiban

Kewajiban

Negara Kewajiban – kewajiban Negara : 1. Negara pantai wajib menjamin pelayaran, alat kabel-kabel bantu dan

Indonesia: 1. mengumumkan perairan batas – batas peta

keselamatan perlindungan navigasional,

Indonesia

dalam

dengan skala yang memadai dengan menyebutkan titik-titik koordinat dan kondisi geografis kepada sekjen PBB. 2. Menghormati persetujuan dan

pemasangan pipa-pipa, mencegah penagkapan ikan secara ilegal, pelanggarn bea cukai, fiskal,

perjanjian yang ada dengan negara

imigrasi dan kesehatan.

lain yang menyangkut bagian perairan 2. Negara Pantai wajib melaksanakan yang emrupakan perairan hak lintas damai tanpa diskriminasi. 3. Memberikan kebebasan pelayaran dan penerbangan semata – mata untuk tujuan transit yang terus – hak kapal lintas baik damai menerus.

kepulauannya. 3. Menghormati pemasangan kabel bawah laut. 4. Memberikan kepada semua

kapal 4. Tidak boleh menghentikan atau mengubah haluan sebuah kapal asing di laut teritorial untuk tujuan melaksanakan yurisdiksi perdata sehubungan dengan seseorang

negara pantai maupun negara tak berpantai. 5. Memberikan hak lintas alur laut kepulauan melalui perairan indonesia. 6. Dalam menetukan dan mengganti alur laut, Pemerintah indonesia harus 5. mengajukan usul kepada organisasi Internasional yang berwenang.

diatas kapal tersebut. Wajib dengan pantainya mengadakan perjanjian yang atau

negara-negara berhadapan

TRAKTAT MENGENAI PRINSIP-PRINSIP YANG MENGATUR KEGIATAN NEGARA-NEGARA DALAM EKSPLORASI DAN PENGGUNAAN ANTARIKSA, TERMASUK BULAN DAN BENDA-BENDA LANGIT LAINNYA

Negara-negara pihak dari traktat ini, Terinspirasi dengan terbukanya prospek besar sebelum kemanusiaan sebagai akibat dari manusia masuk ke ruang angkasa, Mengenali kepentingan umum seluruh umat manusia dalam perkembangan eksplorasi dan penggunaan antariksa untuk tujuan damai,

Percaya bahwa eksplorasi dan penggunaan antariksa harus dibawa untuk kepentingan semua orang terlepas dari sudut ekonomi mereka ilmiah atau perkembangan ilmu pengetahuan, Yang bermaksud untuk memberikan kontribusi pada kerjasama internasional dalam ilmu pengetahuan serta aspek hukum eksplorasi dan penggunaan antariksa untuk tujuan damai, Percaya bahwa kerjasama akan memberikan kontribusi untuk pengembangan saling pengertian dan dengan ramah memperkuat hubungan antara negara dan bangsa, Disebut resolusi 1962 (XVIII), Yang berjudul "Deklarasi Prinsip-prinsip Hukum Pemerintahan dibidang Aktivitas Negara-negara dalam eksplorasi dan

Penggunaan Antariksa" yang diadopsi dengan suara bulat oleh Majelis Umum PBB pada 13 Desember 1963, Disebut resolusi 1884 (XVIII), memanggil negara-negara untuk menahan diri dari menempatkan orbit mengitari Bumi semua benda membawa senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah masal atau dari instalasi seperti senjata di benda-benda langit, yang diadopsi oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 17 Oktober 1963, Dengan memperhitungkan dari resolusi 110 (II) Majelis Umum PBB pada 3 November 1947, yang mengutuk atau mungkin propaganda yang dirancang untuk mendorong atau memprovokasi segala ancaman kepada perdamaian, pelanggaran perdamaian atau tindakan agresi, dan mempertimbangkan bahwa

resolusi yang disebutkan tadi yang berlaku ke antariksa, Convinced that a Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies, will further the Purposes and Principles of the Charter of the United Nations, Meyakini bahwa Traktat mengenai Prinsip-Prinsip yang Mengatur Kegiatan Negara-Negara dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa, Termasuk Bulan dan Benda-Benda Langit Lainnya akan memajukan Tujuan dan Prinsip-prinsip dari Piagam Perserikatan BangsaBangsa, Telah disepakati sebagai berikut: Pasal I Eksplorasi dan penggunaan antariksa, termasuk bulan dan benda badan-badan lainnya, akan dilakukan untuk keuntungan dan kepentingan semua negara, terlepas dari mereka tingkat ekonomi atau perkembangan ilmu pengetahuan, dan harus menjadi kawasan kemanusiaan. Antariksa, termasuk bulan dan benda-benda langit lainnya, harus bebas untuk eksplorasi dan digunakan oleh semua Negara tanpa diskriminasi apapun, pada dasar persamaan dan sesuai dengan hukum internasional, dan harus ada akses gratis ke seluruh area benda astronomis. Harus ada kebebasan penelitian ilmiah di antariksa, termasuk bulan dan badan angkasa lainnya, dan negara harus memfasilitasi dan mendorong kerjasama internasional dalam penelitian.

Pasal II Antariksa, termasuk bulan dan badan angkasa lainnya, tidak terganggu oleh klaim atas kedaulatan nasional, dengan cara menggunakan atau penempatan, atau cara lainnya. Pasal III Negara-negara Pihak pada Perjanjian akan melakukan kegiatan eksplorasi dan penggunaan antariksa, termasuk bulan dan badan angkasa lainnya, sesuai dengan hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, demi memelihara perdamaian dan keamanan internasional dan meningkatkan kerjasama internasional dan pengertian. Pasal IV Negara-negara Pihak yang tidak melakukan perjanjian untuk menempatkan di orbit sekitar Bumi semua benda membawa senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah masal, instal seperti senjata di angkasa badan, atau stasiun seperti senjata di luar ruang dengan cara yang lain. Bulan dan benda-benda langit lainnya akan digunakan oleh semua Negara Pihak pada Perjanjian hanya untuk tujuan damai. Pembentukan basis militer, instalasi dan perkubuan, pengujian dari semua jenis senjata dan melakukan maneuvers militer di benda-benda langit harus dilarang. Penggunaan personil militer untuk penelitian ilmiah atau untuk tujuan damai lainnya tidak akan dilarang. Penggunaan setiap peralatan atau fasilitas yang diperlukan untuk eksplorasi damai of the Moon dan badan celestial lainnya juga tidak akan dilarang.

Pasal V Negara-negara Pihak pada Perjanjian akan hal astronot sebagai utusan umat manusia di luar ruang dan akan membalas mereka semua kemungkinan bantuan dalam hal kecelakaan, distress, atau pendaratan darurat di wilayah Negara Pihak lain atau di tengah laut. Astronot ketika membuat suatu arahan, mereka akan selamat dan segera kembali ke negara mereka dari registri ruang kendaraan. Dalam melaksanakan kegiatan di dalam dan di luar ruang angkasa badan, astronot yang salah satu Negara Pihak harus membuat semua kemungkinan bantuan kepada astronot dari Negara Pihak lainnya. Negara-negara Pihak pada Perjanjian akan segera memberitahukan kepada Negara Pihak lainnya pada Perjanjian atau Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa dari setiap fenomena yang mereka temukan di ruang angkasa, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, yang mungkin merupakan bahaya bagi kehidupan atau kesehatan astronot. Pasal VI Negara-negara Pihak pada Perjanjian internasional harus menanggung

tanggung jawab nasional untuk kegiatan di luar ruang, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, apakah kegiatan seperti itu dibawa oleh agen-agen pemerintah atau badan non-pemerintah, dan nasional untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan di sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Perjanjian ini. Kegiatan non-pemerintah di badan antariksa, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, akan terus meminta otorisasi dan pengawasan oleh

Negara Pihak yang sesuai dengan perjanjian. Ketika melakukan kegiatan di luar ruang, termasuk Bulan dan benda antariksa lainnya , oleh sebuah organisasi internasional, tanggung jawab untuk mematuhi perjanjian ini akan tersimpan baik oleh organisasi internasional dan oleh Negara Pihak dengan perjanjian yang berpartisipasi dalam organisasi. Pasal VII Setiap Negara Pihak pada Perjanjian yang meluncurkan atau peluncuran procures dari obyek ke luar ruang, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, dan setiap Negara Pihak dari wilayah atau fasilitas yang obyek diluncurkan, internasional yang bertanggung jawab atas kerusakan lainNegara Pihak kepada Traktat atau ke alam-nya atau yuridis oleh orang atau benda seperti komponen bagian di Bumi, udara di dalam ruang atau di luar ruang, termasuk Bulan dan benda antariksa lainnya. Pasal VIII Negara Pihak Traktat yang mendaftarkan peluncuran obyek ke ruang angkasa harus mempertahankan yurisdiksi dan kontrol atas objek seperti itu, dan lebih dari itu semua personil didalamnya, saat berada di luar ruang atau di benda angkasa. Kepemilikan benda yang diluncurkan ke ruang angkasa, termasuk mendarat atau benda dibangun pada benda angkasa, dan komponen bagian dari mereka, tidak terpengaruh oleh kehadiran mereka di luar ruang atau di benda angkasa atau mereka kembali ke Bumi. Benda seperti itu atau komponen bagian ditemukan melebihi batas dari Negara Pihak pada Perjanjian di registri mereka yang dibawa harus dikembalikan ke Negara Pihak, yang akan, atas permintaan,

memberikan data identitas sebelum mereka kembali. Pasal IX Dalam eksplorasi dan penggunaan antariksa, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, Negara-Negara Pihak pada Perjanjian akan dipandu oleh prinsip kerjasama dan gotong-royong dan semua mereka akan melakukan kegiatan di luar ruang, termasuk Bulan dan benda angkasa lainnya, karena dengan hal yang sesuai untuk kepentingan semua pihak lainnya Serikat terhadap Traktat. Negara-negara Pihak pada Perjanjian akan melanjutkan studi di luar ruang, termasuk Bulan dan benda angkasa lainnya, dan melakukan eksplorasi dari mereka, sehingga mereka untuk menghindari kontaminasi berbahaya dan juga perubahan Adverse di lingkungan Bumi yang dihasilkan dari pengenalan masalah dan extraterrestrial , bila perlu, harus mengambil langkahlangkah yang tepat untuk tujuan ini. Jika suatu Negara Pihak pada Perjanjian memiliki alasan untuk percaya bahwa kegiatan atau percobaan yang direncanakan oleh negara tersebut atau di luar ruang, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, akan berpotensi menyebabkan gangguan yang merugikan dengan kegiatan lainnya Negara Pihak dalam eksplorasi dan damai penggunaan antariksa, termasuk Bulan dan benda angkasa lainnya, ia akan melakukan konsultasi internasional sesuai sebelum melanjutkan dengan adanya kegiatan atau percobaan. Negara Pihak dengan perjanjian yang memiliki alasan untuk percaya bahwa kegiatan atau percobaan yang direncanakan oleh Negara Pihak lain di luar ruang, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, akan berpotensi menyebabkan gangguan yang merugikan dengan damai dalam

kegiatan eksplorasi dan penggunaan antariksa, termasuk astronomis Bulan dan badan-badan lainnya, dapat meminta konsultasi mengenai kegiatan atau percobaan. Pasal X Dalam rangka untuk meningkatkan kerjasama internasional dalam eksplorasi dan penggunaan antariksa, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, sesuai dengan tujuan Perjanjian ini, maka Negara Pihak pada Perjanjian akan mempertimbangkan pada dasar kesetaraan setiap permintaan Negara-negara Pihak lainnya dengan perjanjian yang akan menawarkan kesempatan untuk mematuhi penerbangan ruang objek yang diluncurkan oleh negara tersebut. Keadaan seperti kesempatan untuk pengamatan dan kondisi di mana ia dapat menawarkan akan ditentukan oleh perjanjian antara Negara-negara yang bersangkutan. Pasal XI Dalam rangka untuk meningkatkan kerjasama internasional dalam damai eksplorasi dan penggunaan antariksa, Negara Pihak yang melakukan aktivitas di Treaty antariksa, termasuk Bulan dan badan celestial lainnya, sepakat untuk memberitahukan kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa serta sebagai masyarakat ilmiah dan masyarakat internasional, ke mana yang paling layak dan praktis, dari alam, melakukan, lokasi dan hasil kegiatan. Bila menerima informasi yang mengatakan, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa harus disiapkan untuk menyebarluaskan segera dan efektif.

Pasal XII Semua stasiun, instalasi, peralatan dan kendaraan ruang pada Bulan dan badan celestial lainnya harus terbuka untuk wakil-wakil dari Negara Pihak lainnya pada Perjanjian berdasarkan dari timbal-balik. Seperti perwakilan harus memberikan pemberitahuan yang wajar dari proyeksi kunjungan, agar sesuai konsultasi mungkin dilaksanakan dan kewaspadaan maksimum yang boleh diambil untuk menjamin keamanan dan untuk menghindari gangguan pada operasi normal dengan fasilitas yang akan dikunjungi. Pasal XIII Ketentuan Perjanjian ini akan berlaku untuk kegiatan Partai Serikat Treaty ke dalam eksplorasi dan penggunaan antariksa, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, apakah kegiatan seperti itu dibawa oleh satu Negara Pihak pada Perjanjian atau sama dengan Negara-negara lainnya, termasuk kasus di mana mereka dibawa dalam rangka antar organisasi internasional. Setiap pertanyaan praktis yang timbul dalam berhubungan dengan kegiatan yang dibawa oleh organisasi internasional antar pemerintah dalam eksplorasi dan penggunaan antariksa, termasuk Bulan dan badan angkasa lainnya, akan diselesaikan oleh Negara Pihak dengan perjanjian baik yang sesuai dengan organisasi internasional atau dengan satu atau lebih negara anggota organisasi internasional itu, yang merupakan bagian dari Traktat ini. Pasal XIV 1. Perjanjian ini akan terbuka untuk semua Negara untuk ditanda tangani.

Negara yang tidak menandatangani Perjanjian ini sebelum masuk yang berlaku sesuai dengan ayat 3 dari artikel ini dapat diakses untuk setiap saat. 2. Perjanjian ini tunduk pada ratifikasi oleh penandatanganan Negara-Negara. Instrumen ratifikasi dan instrumen accession yang akan didepositkan dengan Pemerintah Amerika Serikat, Inggris dan Irlandia Utara dan Persatuan dari Soviet Sosialis Republics, yang dengan ini ditunjuk Pemerintah. 3. Perjanjian ini akan berlaku setelah memasukkan deposit instrumen ratifikasi oleh lima Pemerintah termasuk Pemerintah sebagai Depositary Pemerintah Treaty di bawah ini. 4. Untuk negara yang alat-alat untuk meratifikasi atau accession didepositkan setelah catatan berlaku dari perjanjian ini, ia akan masuk ke dalam angkatan pada tanggal deposit instrumen ratifikasi atau accession mereka. 5. Pemerintah yang mendepositkan harus segera memberitahu semua penanda tangan dan Negara tanggal setiap tanda tangan, tanggal deposit setiap instrumen ratifikasi dan accession perjanjian ini, tanggal yang masuk ke kekuatan dan pemberitahuan lainnya. 6. Perjanjian ini akan dicatat oleh Pemerintah yang mendepositkan sesuai dengan Pasal 102 dari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal XV Negara Pihak pada Perjanjian dapat mengajukan amandemen terhadap Traktat ini. Amandemen akan memaksa untuk diterima oleh setiap Negara Pihak untuk masuk kedalam Traktat menerima amandemen atas mereka yang diterima oleh

mayoritas Negara Pihak pada Perjanjian dan setelahnya yang tersisa untuk setiap Negara Pihak ke Traktat pada tanggal penerimaan olehnya. Pasal XVI Negara Pihak ke Treaty dapat memberikan pemberitahuan dari penarikan dari perjanjian satu tahun setelah masuk ke kekuatan oleh pemberitahuan tertulis kepada Pemerintah yang mendepositkan. Penarikannya akan berlaku satu tahun dari tanggal penerimaan pemberitahuan ini. Pasal XVII Perjanjian ini, dalam teks Inggris, Rusia, Perancis, Spanyol dan Cina sama teks asli, akan didepositkan di arsip dari Pemerintah yang mendepositkan. Salinan bersertifikat sepatutnya dari perjanjian ini akan dikirimkan oleh Pemerintah yang mendepositkan kepada Pemerintah dari penandatanganan dan akses NegaraNegara. DALAM KESAKSIAN OLEH yang bertandatangan, kewenangan yang patut, telah menandatangani Perjanjian ini. DIBUAT dalam rangkap tiga, di kota Washington, London dan Moskow, tanggal dua puluh tujuh Januari seribu sembilan ratus enam puluh tujuh.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->