P. 1
Materi Bahasa Indonesia

Materi Bahasa Indonesia

|Views: 767|Likes:

More info:

Published by: Fahriza Fawwas Asrory on Apr 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

BAHAN AJAR

BAHASA INDONESIA
[Bahan ajar ini diperbanyak hanya untuk kalangan sendiri]

Oleh Nuryani

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2009

KATA PENGANTAR
Setiap tahun, ketika memperingati peristiwa Sumpah Pemuda yang dijadikan sebagai Bulan Bahasa, anjuran untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar selalu dikumandangkan. Tampaknya, anjuran itu belum mencapai sasaran yang diharapkan. Oleh karena itu, perkuliahan bahasa Indonesia di perguruan tinggi diarahkan agar mahasiswa memiliki kesadaran dan kepedulian untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar itu. Bahan ajar ini disusun untuk keperluan itu, terutama untuk keperluan penulisan karangan ilmiah. Untuk itu, isi bahan ajar ini difokuskan pada penggunaan bahasa Indonesia dalam karangan ilmiah. Bahan ajar ini masih mengandung banyak rumpang. Semua bentuk masukan akan diterima demi kesempurnaan bahan ajar ini. Yogyakarta, Penulis 2009

DAFTAR ISI
PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II KALIMAT DALAM PENYUSUNAN KARANGAN
A. B. C. D. E. F. G. A. B. C. D. Ada Keserasian Bentuk dan Makna Unsur-unsur Pembentuknya Lengkap Subjek dan Objek Kalimat Tidak Boleh Berkata Depan Kata yang mana dan di mana bukan Kata Penghubung Tidak Berunsur Kata Mubazir Penggunaan Kata Penghubung secara Eksplisit Unsur Kehematan dalam Kalimat Pengertian Paragraf Syarat Paragraf yang Baik Cara Penyusunan Paragraf Pola Pengembangan Paragraf

i ii 1 4 6 6 7 8 10 10 13

BAB III PARAGRAF DALAM KARANGAN

15 15 16 21 25 E. Cara Membentuk Kesatuan Hubungan Antarkalimat dalam Paragraf 29 BAB IV EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN 36 A. Pemakaian Huruf Kapital 36 B. Penulisan Gabungan Kata 38 C. Singkatan dan Akronim 41 D. Angka dan Lambang Bilangan 43 E. Penulisan Unsur Serapan 44 F. Pemakaian Tanda Baca 50

DAFTAR RUJUKAN

54

BAB I PENDAHULUAN
Mengarang berarti menggunakan bahasa untuk menyatakan isi hati atau buah pikiran secara menarik dan mengena kepada pembaca (lih. Cipta Loka Caraka, 2002:12). Pengertian demikian menunjukkan bahwa menyusun karangan, entah apa pun bentuk dan jenis karangannya, tidak terlepas dari bahasa. Dalam karangan, bahasa itu berfungsi sebagai sarana dan sekaligus wadah untuk menyampaikan isi hati atau buah pikiran penulis kepada pembaca. Manfaat penguasaan bahasa dalam penyusunan karangan adalah agar karangan yang ditulis terorganisasi secara baik dan sistematis. Bukankah karangan yang baik pertama-tama tercermin pada aspek kebahasaannya? Penguasaan bahasa sangat berguna dalam penyusunan karangan. Kegunaannnya adalah penulis dapat mengungkapkan isi hati atau buah pikirannya dengan kalimat dan paragraf secara tepat. Dengan penguasaan bahasa yang memadai, karangan yang dihasilkan pun akan terhindar dari kemonotonan, kerancuan, atau kesalahan. Perhatikanlah contoh berikut ini.
(1) Dengan dualisme kepemimpinan yang timbul sebagai akibat dari peraturan-peraturan baru, perlu direvisi dan diamandemen guna terciptanya pelayanan yang baik kepada masyarakat.

Pada contoh (1), terjadi kesalahan susunan kalimat yang berupa ketidakjelasan subjek kalimat. Subjek kalimat dalam contoh (1) tersebut tidak jelas karena bagian kalimat dualisme kepemimpinan yang timbul sebagai akibat dari peraturan-peraturan baru yang seharusnya berfungsi sebagai subjek didahului oleh kata depan dengan. Bila keterampilan menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah susunan kalimat dalam bahasa Indonesia dikuasai secara baik, pengungkapan yang salah seperti contoh (1) tersebut tidak akan terjadi.

Dalam penyusunan karangan, seorang penulis perlu menguasai kalimat dan paragraf. Alasannya adalah kalimat merupakan unsur pembentuk langsung paragraf sehingga paragraf hanya dapat dipahami dengan baik jikalau kalimat-kalimat pembentuknya disusun secara baik. Suatu paragraf dinyatakan baik kalau kalimat-kalimat pembentuknya dijalin secara kohesif (cohesive) dan koheren (coherence). Perhatikanlah contoh berikut ini.
(2) Pemerintah sudah lama mengadakan berbagai macam program anti kemiskinan diantaranya bantuan kredit kepada masyarakat yang kurang mampu, memberikan beras murah kepada orang-orang miskin, memberikan bantuan material bangunan kepada masyarakat yang kurang mampu, memberikan berbagai fasilitas untuk mata pencaharian seperti mesin jahit, mesin penggiling padi, mesin potong kayu, traktor untuk tanah pertanian serta alat-alat lainnya yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang kurang mampu, pemerintah memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan seperti tata rias, tata boga, pertukangan, kerajinan rumah tangga, perbengkelan, eletronika, dan sebagainya, tetapi kalau semua program itu tidak diimbangi dengan partisipasi masyarakat maka tidak mungkin progam itu bisa berhasil.

Contoh (2) tersebut bukan merupakan paragraf yang baik karena hanya terdiri atas satu kalimat panjang. Agar menjadi paragraf yang baik, contoh tersebut perlu diubah menjadi sebagai berikut.
(2a) Pemerintah sudah lama mengadakan berbagai macam program anti kemiskinan. Program itu di antaranya adalah bantuan kredit kepada masyarakat yang kurang mampu; beras murah kepada orang-orang miskin; material bangunan kepada masyarakat yang kurang mampu; berbagai fasilitas untuk mata pencaharian, seperti mesin jahit, mesin penggiling padi, mesin potong kayu, traktor untuk tanah pertanian, serta alat-alat lainnya yang dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat yang kurang mampu; dan pelatihan-pelatihan keterampilan, seperti tata rias, tata boga, pertukangan, kerajinan rumah tangga, perbengkelan, dan eletronika. Namun, kalau tidak

diimbangi dengan partisipasi masyarakat, tidak mungkin progam itu bisa berhasil.

Hanya, untuk menghasilkan paragraf seperti (3a) tersebut diperlukan pengetahuan yang cukup tentang penyusunan dan paragraf . Aspek kebahasaan yang lain yang perlu pula dikuasai oleh seorang penulis adalah keterampilan menerapkan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Seorang penulis perlu menguasai EYD agar karangan yang ditulisnya terbebas dari kesalahan tata tulis. Untuk itulah, di samping kalimat dan paragraf (yang dipaparkan dalam bab II dan III), hal-hal penting yang berkaitan dengan penerapan EYD disinggung pula dalam bahan ajar ini. Hal terakhir itu disajikan untuk mengakhiri bahan ajar ini.

BAB II KALIMAT DALAM PENYUSUNAN KARANGAN
Ada tiga alasan yang mendasari pentingnya kemampuan menyusun kalimat bagi seorang penulis. Pertama, kalimat merupakan bagian terkecil karangan yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan (Alwi dkk. 1993:254). Kedua, kalimat merupakan satuan dasar pembentuk karangan (Alwi dkk. 1993:349). Ketiga, karangan yang baik memiliki nilai keterbacaan yang tinggi. Karangan yang demikian adalah karangan yang ditampilkan dalam kalimatkalimat yang bersahabat dengan pembaca (bdk. Razak, 1985:2). Ide yang terkandung dalam suatu karangan hanya akan dapat dipahami secara baik oleh pembaca manakala diungkapkan di dalam kalimat-kalimat yang benar. Untuk itu, kalimat-kalimat dalam karangan perlu disusun dengan mematuhi kaidah-kaidah penyusunan kalimat yang berlaku. Kalimat yang dibentuk sesuai dengan kaidahkaidah penyusunan kalimat yang berlaku itu disebut kalimat yang benar (lih. Hutomo, 1983:25). Kalimat yang sebaliknya disebut kalimat yang salah. Perhatikanlah contoh di bawah ini.
(3) (4) Bank sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dari sistem perekonomian di negeri kita. Dalam menghadapi percaturan dunia bisnis, di mana negara yang satu dengan negara yang lain saling bersaing untuk memperebutkan pasaran dunia dalam memperdagangkan hasil produksi yang berkualitas baik dengan harga yang mampu dijangkau oleh konsumen.

Kalimat (3) tersebut merupakan kalimat yang salah karena belum selesai. Bandingkanlah dengan (3a) berikut.
(3a) Bank sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dari sistem perekonomian di negeri kita ....

Dari kalimat (3a) dapat diketahui bahwa kalimat (3) tersebut belum memiliki sebutan (atau predikat), padahal kalimat yang benar dan lengkap setidak-tidaknya berunsur subjek (atau pokok) dan predikat (atau sebutan). Subjek adalah bagian kalimat yang diterangkan oleh predikat. Predikat adalah bagian kalimat yang berfungsi sebagai penjelas atau yang memberikan keterangan pokok (lih. Ngafenan, 1985: 75). Jadi, kesalahan kalimat (3) tersebut terletak pada tidak adanya atau tidak jelasnya predikat atau sebutannya. Kalimat (3) tersebut belum merupakan kalimat yang lengkap. Kendati efektif, kalimat (4) juga salah. Kesalahan kalimat (4) itu terletak pada penggunaan kata di mana yang tidak sesuai dengan kaidah penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia, kata di mana seharusnya hanya digunakan dalam kalimat tanya seperti di bawah ini.
(5) Di dalam kendaraan, aku bertanya kepada polisi yang menjemputku. “Lukanya gawat, Mas?” Di mana dia tertabrak? Mobil apa?”

Namun, dalam kalimat (4) tersebut justru digunakan untuk menghubungkan bagian-bagian kalimat. Pemakaian seperti itu tidak sesuai dengan kaidah pemakaian kata di mana dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, untuk menjadi kalimat yang benar, kata di mana kalimat (4) tersebut lebih baik dihilangkan sehingga kalimatnya berubah menjadi sebagai berikut.
(4a) Dalam menghadapi percaturan dunia bisnis, negara yang satu dengan negara yang lain bersaing untuk memperebutkan pasaran dunia dalam memperdagangkan hasil produksi yang berkualitas baik dengan harga yang mampu dijangkau oleh konsumen.

Dengan penghilangan kata di mana, dapat diketahui bahwa kalimat (4a) lebih efektif, dan sekaligus lebih mudah dipahami, daripada kalimat (4) karena hubungan antarbagian dalam kalimat (4a), yaitu antara dalam menghadapi percaturan dunia bisnis dan negara yang satu dengan negara yang lain bersaing untuk memperebutkan pasaran dunia

dalam memperdagangkan hasil produksi yang berkualitas baik dengan harga yang mampu dijangkau oleh konsumen, lebih jelas. Kalimat yang taat kaidah bukan hanya benar susunannya, tetapi juga menuntut persyaratan yang lain. Persyaratan yang lain itu seperti terpapar berikut ini. A. Ada Keserasian Bentuk dan Makna Kalimat yang taat kaidah menuntut adanya keserasian antara bentuk dan maknanya. Maksudnya, penggabungan dua kata atau lebih dalam satu kalimat menuntut adanya keserasian bentuk dan makna (lih. Alwi dkk. 1993:293-294). Keserasian bentuk dan makna dalam penyusunan kalimat itu sangat penting bagi terbentuknya karangan yang nilai keterbacaannya tinggi. Jadi, setiap kalimat dalam karangan harus benar bentuknya dan juga harus logis maknanya (Yohanes, 1991:3). Perhatikanlah kalimat (9) dan (10) berikut ini.
(6) (7) Dia mengerumuni mahasiswa. Anjing itu membelikan kami gula.

Kalimat (6) tersebut benar secara ketatabahasaan, tetapi tidak logis atau tidak lazim karena di dalamnya tidak terdapat keserasian bentuk. Dalam membentuk kalimat, kata mengerumuni menuntut kehadiran subjek kalimat bermakna jamak seperti para wartawan dalam contoh (8) berikut, bukan bermakna tunggal seperti pada kalimat (7) tersebut.
(8) Para wartawan mengerumuni Menteri Luar Negeri yang baru saja tiba dari Bangkok.

Sementara itu, kalimat (7) juga benar secara ketatabahasaan, tetapi tidak logis dan tidak lazim dalam pemakaian karena tidak mengandung keserasian makna. Adalah sangat aneh dan tidak lazim manakala anjing berperilaku sama dengan manusia. B. Unsur-unsur Pembentuknya Lengkap Suatu kalimat dapat dikatakan benar-benar sebagai kalimat yang utuh apabila unsur-unsur pembentuknya lengkap. Lengkap itu

dalam pengertian setidak-tidaknya terdiri atas subjek dan predikat. Perhatikanlah contoh yang berikut.
(9) Banyak industriawan yang tidak dapat menyalurkan barang-barang produksinya.

Kalimat (9) tersebut belum selesai sehingga bukan merupakan kalimat yang lengkap. Bandingkanlah dengan (9a) berikut.
(9a) Banyak industriawan yang tidak dapat menyalurkan barang-barang produksinya ....

Dari bentuk (9a) dapat diketahui bahwa kalimat (9) tersebut belum memiliki jabatan predikat. Kalimat (9) dapat menjadi kalimat yang lengkap kalau kata yang dihilangkan sehingga menjadi sebagai berikut.
(9b) Banyak industriawan tidak dapat menyalurkan barangbarang produksinya.

C. Subjek dan Objek Kalimat Tidak Boleh Berkata Depan Kalimat yang lengkap dapat terdiri atas jabatan subjek, predikat, objek, dan keterangan. Perlu diperhatikan bahwa dalam kalimat yang benar, khusus jabatan subjek dan objek itu tidak boleh didahului oleh kata depan. Kata depan itu misalnya di, ke, dari, kepada, pada, dengan, bagi, untuk, tentang, mengenai, dan menurut. Perhatikanlah kalimat (10)-(14) berikut ini.
(10) Di Indonesia memiliki berbagai macam budaya yang masingmasing mempunyai ciri khas tersendiri. (11) Bagi mahasiswa baru menganggap bahwa OSPEK adalah arena perpeloncoan atau perbadutan. (12) Dengan otonomi daerah memiliki sisi positif maupun negatif, baik bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. (13) Banyak anggota masyarakat belum menyadari tentang pentingnya sektor pariwisata ini. (14) Bab sepuluh ini membahas tentang kelompok senyawa aldehida dan keton.

Kalimat (10)-(12) tidak dapat dikenali jabatan subjeknya karena kata atau kelompok kata yang seharusnya dikategorikan menduduki jabatan itu, yaitu di Indonesia, bagi mahasiswa baru, dan dengan otonomi daerah didahului oleh kata depan di, bagi, dan dengan. Supaya jabatan itu dapat ditentukan, kata depan di, bagi, dan dengan di depan jabatan subjek tersebut harus dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi (10a)(12a) berikut.
(10a) Indonesia memiliki berbagai macam budaya yang masingmasing mempunyai ciri khas tersendiri. (11a) Mahasiswa baru menganggap bahwa OSPEK adalah arena perpeloncoan atau perbadutan. (12a) Otonomi daerah memiliki sisi positif maupun negatif, baik bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Kalimat (13) dan (14) juga tidak benar karena jabatan objek atau hal yang dibicarakan, yaitu tentang pentingnya sektor pariwisata ini dan tentang kelompok senyawa aldehida dan keton, didahului kata depan tentang. Kalimat (13) dan (14) tersebut diizinkan apabila kata depan tentang yang mendahului objek dihilangkan sehingga kalimatnya menjadi sebagai berikut.
(13a) Banyak anggota masyarakat belum menyadari pentingnya sektor pariwisata ini. (14a) Bab sepuluh ini membahas kelompok senyawa aldehida dan keton.

Hal yang dibicarakan dalam contoh (13) tersebut diizinkan berkata depan bila kalimatnya diubah menjadi sebagai berikut.
(13b) Banyak anggota masyarakat belum sadar akan pentingnya sektor pariwisata ini. (13c) Banyak anggota masyarakat belum sadar terhadap pentingnya segi pariwisata ini.

D. Kata yang mana dan di mana bukan Kata Penghubung Dalam bahasa Indonesia terdapat kata yang mana dan di mana. Kedua kata itu bukan merupakan kata penghubung, melainkan me

rupakan kata tanya sehingga menurut kaidah kedua kata itu digunakan dalam kalimat pertanyaan. Kata yang mana dipakai untuk menanyakan sesuatu atau seseorang dari suatu kelompok pilihan (contoh (15)), sedangkan kata di mana dipakai untuk menanyakan tempat berada (contoh (16)). Perhatikanlah contoh di bawah ini.
(15) (16) Di antara tiga mesin ketik ini, menurut Anda, yang mana yang terbaik? Di dalam kendaraan, aku bertanya kepada polisi yang menjemputku. “Lukanya gawat, Mas?” Di mana dia tertabrak? Mobil apa?”

Kata yang mana dalam contoh tersebut dipakai untuk menanyakan mesin ketik yang terbaik di antara tiga pilihan mesin ketik, sedangkan kata di mana dipakai untuk menanyakan tempat seseorang tertabrak. Yang menjadi masalah adalah di dalam karangan kata yang mana dan di mana sering digunakan kata penghubung. Perhatikanlah contoh (17) dan (18) berikut ini.
(17) (18) Indonesia termasuk sebagai negara agraris yang mana sebagian besar penduduknya bercocok tanam. Menurut para ahli ekonomi, dalam kondisi riil perekonomian Indonesia sekarang ini, di mana asas kekeluargaan antarbisnis tidak mudah ditemukan.

Pemakaian yang mana dan di mana seperti pada contoh (17) dan (18) itu tidak tepat karena tidak sesuai dengan aturan pemakaian kedua kata itu dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, kedua kata itu tidak diizinkan dipakai sebagai kata penghubung. Oleh karena itu, contoh (23) dan (24) itu harus diubah menjadi sebagai berikut.
(17a) Indonesia termasuk sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya bercocok tanam. (18a) Menurut para ahli ekonomi, dalam kondisi riil perekonomian Indonesia sekarang ini, asas kekeluargaan antarbisnis tidak mudah ditemukan.

Dalam kalimat (17a) dan (18a) tersebut tampak bahwa kata mana dan di mana tidak perlu dipakai. E. Tidak Berunsur Kata Mubazir Kalimat yang benar harus padat, tetapi jelas. Hal ini berakibat bahwa pemakaian dua kata yang bersinonim tidak diizinkan. Perhatikanlah contoh yang berikut.
(19) (20) Indonesia adalah merupakan negara berkembang yang mempunyai penduduk dan wilayah yang besar. Keakraban ini dimaksudkan agar supaya ada kontak di antara para alumnus.

Kalimat (19) dan (20) tersebut tidak diizinkan karena mengandung kata mubazir. Yang mubazir dalam kalimat (19) adalah adalah atau merupakan, sedangkan dalam kalimat (20) adalah agar atau supaya. Untuk menghilangkan kemubaziran seperti itu, kalimat (19) dan (20) hendaknya diubah menjadi sebagai berikut.
(19a) Indonesia adalah negara berkembang yang mempunyai penduduk dan wilayah yang besar. (19b) Indonesia merupakan negara berkembang yang mempunyai penduduk dan wilayah yang besar. (20a) Keakraban ini dimaksudkan agar ada kontak antara para alumnus. (20b) Keakraban ini dimaksudkan supaya ada kontak di antara para alumnus.

F. Penggunaan Kata Penghubung secara Eksplisit Dalam karangan, sering dijumpai kalimat seperti berikut ini.
(21) (22) Memasuki era pasar bebas sekarang ini, kita perlu tahu apa yang dimaksud dengan pasar bebas. Menghadapi perkembangan yang pesat ini, kita perlu berupaya seoptimal mungkin untuk dapat memanfaatkan peluang-peluang yang ditimbulkannya.

Contoh (21) dan (22) tersebut merupakan kalimat majemuk karena masing-masing terdiri atas dua bagian, yaitu memasuki era pasar bebas sekarang ini dan kita perlu tahu apa yang dimaksud dengan pasar bebas untuk contoh (21) dan menghadapi perkembangan yang pesat ini dan kita perlu berupaya seoptimal mungkin untuk dapat memanfaatkan peluangpeluang yang ditimbulkannya untuk contoh (22). Namun, sebagai kalimat majemuk, kedua contoh tersebut tidak taat kaidah karena tidak berunsur kata penghubung sebagai syarat suatu kalimat disebut kalimat majemuk sehingga perlu dihindari penggunaannya dalam karangan. Kalimat majemuk seperti contoh (21) dan (22) tersebut boleh dipakai dalam karangan asalkan dilengkapi dengan kata penghubung. Jadi, contoh (21) dan (22) tersebut akan menjadi kalimat majemuk yang taat kaidah apabila dilengkapi, misalnya. dengan kata penghubung sebelum pada contoh (21) dan untuk contoh (22) sehingga masing-masing berubah menjadi sebagai berikut.
(22a) Sebelum memasuki era pasar bebas sekarang ini, kita perlu tahu apa yang dimaksud dengan pasar bebas. (23a) Untuk menghadapi perkembangan yang pesat ini, kita perlu berupaya seoptimal mungkin untuk dapat memanfaatkan peluang-peluang yang ditimbulkannya.

Yang perlu diperhatikan adalah penulis perlu cermat dalam memanfaatkan kalimat majemuk dalam karangan. Kecermatan itu diperlukan karena identitas kalimat majemuk bukan sekadar terdiri atas dua bagian seperti contoh (22) dan (23), misalnya, melainkan juga berkata penghubung secara eksplisit. Kalimat majemuk yang taat kaidah adalah kalimat majemuk yang berkata penghubung secara eksplisit. Identitas itulah yang senantiasa diperhatikan penulis dalam menggunakan kalimat majemuk dalam karangan yang sedang disusunnya. Penulis perlu pula hati-hati dalam memilih dan menggunakan kata penghubung dalam karangan. Kehati-hatian itu perlu karena dalam bahasa Indonesia terdapat dua kelompok kata penghubung, yaitu kata penghubung yang berfungsi menghubungkan bagian-bagian dalam kalimat majemuk dan yang menghubungkan kalimat-ka-

limat dalam paragraf. Kehati-hatian itu diperlukan agar penulis tidak keliru dalam memilih atau menggunakan kata penghubung dalam karangan. Perhatikanlah contoh berikut ini.
(24) Seseorang menggunakan simbol manakala ia merasakan bahwa dengan simbol itu ia telah manunggal dengan idenya dan terlalu keramat jika ide itu tidak diterjemahkan ke dalam bahasa simbolik.

Kata-kata manakala, bahwa, dan, dan jika dalam contoh (24) tersebut merupakan kata penghubung dalam kalimat majemuk. Menurut kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia, keempat kata penghubung itu tidak diizinkan digunakan dalam paragraf. Oleh karena itu, penggunaan kata dan, misalnya, pada awal kalimat seperti dalam contoh berikut hendaknya dihindari.
(25) Di sini seseorang yang membuat karya ilmiah harus menjelaskan apa yang menjadi fokus masalah bahasannya. Dan ia harus menjelaskan mengapa memilih masalah tersebut. Dan mengapa masalah tersebut penting dibahas.

Jika penulis bermaksud menjadikan contoh (26) sebagai paragraf, akan lebih baik jika diubah menjadi sebagai berikut.
(25a) Di sini seseorang yang membuat karya ilmiah harus menjelaskan apa yang menjadi fokus masalah bahasannya. Di samping itu, ia harus menjelaskan mengapa memilih masalah tersebut dan mengapa masalah tersebut penting dibahas.

Dari (25a) tersebut diketahui bahwa kata di samping itu merupakan kata penghubung dalam paragraf, sedangkan dan merupakan kata penghubung dalam kalimat majemuk. Kata penghubung dalam kalimat majemuk dan paragraf ada bermacam-macam. Berikut ini disajikan daftar kata penghubung dalam kalimat majemuk yang dikelompokkan menurut hubungan maknanya, sedangkan untuk yang dalam paragraf disajikan dalam bab IV di bawah.

KATA PENGHUBUNG DALAM KALIMAT MAJEMUK
Hubungan Makna 1. penjumlahan 2. perlawanan Kata Penghubung dalam Kalimat Majemuk dan, dan lagi, lagi, tambahan pula, tambahan lagi, lagi pula, serta, di samping, baik … maupun tetapi, melainkan, sedangkan, padahal, tidak hanya … tetapi juga, tidak saja … tetapi juga, bukan hanya … melainkan juga lalu, kemudian bahkan, malah, malahan Atau sejak, semenjak, sedari, sambil, sembari, sewaktu, seraya, sementara, ketika, tatkala, selagi, selama, sebelum, setelah, sesudah, sehabis, seusai, sampai, hingga apabila, bila, manakala, jika, jikalau, kalau, asal, asalkan walaupun, meskipun, biarpun, kendati, kendatipun, sungguhpun, sekalipun andaikan, andaikata, seandainya, sekiranya, seumpama agar, supaya sebab, karena sehingga, maka Bahwa tanpa, dengan Yang kecuali, selain

3. urutan 4. perlebihan 5. pemilihan 6. waktu

7. syarat 8. tanpa syarat 9. pengandaian 10. tujuan 11. penyebaban 12. pengakibatan 13. penjelasan 14. cara 15. penjelas 16. perkecualian

Dalam penyusunan karangan, kata-kata penghubung tersebut diharapkan tidak digunakan sebagai penghubung antarkalimat dalam paragraf karena dalam paragraf sudah terdapat kata penghubung ter-sendiri. G. Unsur Kehematan dalam Kalimat Karangan yang berunsurkan kalimat-kalimat yang panjang akan membosankan ketika dibaca. Untuk itu, kehematan perlu pula

diperhatikan dalam penyusunan kalimat. Perhatikanlah contoh yang berikut.
(26) Menjelang kejatuhannya, Estrada sempat mengadakan perundingan dengan Jenderal Angelo Reyes. (27) Habibie mengambil keputusan status Soeharto setelah mendengarkan saran Wiranto.

Kalimat (26) dan (27) tersebut tidak hemat. Ketidakhematannya terletak pada penggunaan mengadakan perundingan dan mengambil keputusan. Supaya hemat, kedua kelompok kata itu dapat diperingkas menjadi berunding dan memutuskan.

BAB III PARAGRAF DALAM KARANGAN
A. Pengertian Paragraf Iatilah lain untuk paragraf adalah alinea. Paragraf adalah bagian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat. Namun, yang perlu diperhatikan adalah tidak setiap kumpulan kalimat pasti merupakan paragraf. Contoh yang berikut, misalnya, bukanlah merupakan paragraf karena kalimat-kalimat pembentuknya tidak berhubungan satu sama lain untuk mendukung satu ide pokok.
(28) (a) Salah satu hasil akhir yang diharapkan dicapai dari proses perkuliahan di perguruan tinggi adalah mahasiswa yang mandiri. (b) Dalam perkuliahan di perguruan tinggi, ada dua jenis kegiatan belajar, yaitu kegiatan belajar tatap muka dengan dosen (kuliah) dan kegiatan belajar yang dilakukan mahasiswa tanpa kehadiran dosen (kegiatan terstruktur dan belajar mandiri). (c) Di perguruan tinggi suasana belajar yang pasif dan menerima saja atau rote learning tidak diharapkan terjadi.

Berkebalikan halnya dengan contoh (29) berikut ini.
(29) (a) Dalam kehidupan sehari-hari, manusia akan bergaul dengan sesamanya. (b) Dalam kedudukannya sebagai karyawan suatu instansi, ia akan bergaul dengan karyawan yang lain dan dengan pimpinannya. (c) Dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat, ia akan bergaul dengan tetangganya, dengan ketua RT-nya, dengan ketua RW-nya, dengan kepala desanya, dan seterusnya. (d) Dalam kedudukannya sebagai anggota suatu keluarga, ia akan bergaul dengan saudara-saudaranya dan dengan kedua orang tuanya. (e) Demikian pula, dalam rangka menjamin lancarnya suatu pemerintahan, suatu instansi atau suatu departemen akan berkomunikasi dengan departemen yang lain karena kedua belah pihak saling memerlukan. (f) Dalam dunia bisnis dan dunia ekonomi terjadi peristiwa yang sama. (g) Berbagai perusahaan akan saling mengisi dan saling memesan barang yang diproduksi perusahaan lain, dan sebagainya.

Contoh (29) tersebut merupakan paragraf karena kalimat-kalimat pembentuknya, yaitu kalimat (a)-(g) berhubungan satu sama lain untuk mendukung satu ide pokok. Ide pokok yang dimaksud adalah pergaulan antarmanusia yang tertuang dalam kalimat (a). Oleh karena itu, kalimat (a) itu berfungsi sebagai kalimat topik, sedangkan kalimat (b)-(g) berfungsi sebagai kalimat penjelas. Pemasalahannya adalah bagaimanakah suatu paragraf dapat disebut paragraf yang baik? B. Syarat Paragraf yang Baik Bagian terkecil karangan yang terdiri atas kalimat-kalimat dapat disebut paragraf yang baik apabila memenuhi persyaratan paragraf. Persyaratannya adalah hanya mengandung satu ide pokok, ada kepaduan (cohesion) dan kesatuan (coherence) antarkalimat pembentuknya, dan berunsur kalimat topik dan kalimat pengembang. Keempat syarat itu bersifat saling melengkapi. Ide pokok (lih. Ramlan, 1993:9) biasa pula disebut topik (Arifin dan Amran Tasai, 1993:123-141; Natawidjaja, 1979:11), tema (Poerwadarminta, 1967b:33-38), pikiran pokok (Tarigan, 1986:11), gagasan pokok (Akhadiah dkk., 1989:153), gagasan utama (Keraf, 1994:70), dan ide utama (Liang Gie, 1992:73-76). Ide pokok adalah inti amanat sebuah paragraf (Liang Gie dan Widyamartaya, 1983:168). Ide pokok itu dijadikan titik tolak atau tumpuan dalam penyusunan paragraf. Ide pokok itu biasanya dituangkan dalam kalimat topik. Dalam paragraf berikut, misalnya, ide pokok yang tersiratkan adalah “perbedaan titik berat pendidikan orang dewasa dan anak-anak” yang dituangkan dalam kalimat (a) sebagai kalimat topik.
(30) (a) Titik berat pendidikan orang dewasa berbeda dari pendidikan anak-anak. (b) Titik berat pendidikan anak- anak adalah proses pemberian dasar-dasar pengetahuan, pembentukan sikap mental dan moral serta pendidikan kewargaan negara. (c) Titik berat pendidikan orang dewasa adalah peningkatan kehidupan serta pemberian keterampilan dan kemampuan untuk memecahkan persolan-persoalan yang dialami dalam hidup dan dalam masyarakat.

Paragraf yang baik hanya mengandung satu ide pokok. Oleh karena itu, bila dalam satu paragraf terdapat lebih dari satu ide pokok, paragraf itu bukan merupakan paragraf yang baik, dan untuk menjadi paragraf yang baik, paragraf itu harus dipecah ke dalam beberapa paragraf. Perhatikanlah contoh yang berikut.
(31) (a) Pembicaraan kalimat penjelas tidak dapat dipisahkan dengan kalimat utama. (b) Dinamakan kalimat penjelas karena ada kalimat utama. (c) Sebaliknya, dinamakan kalimat utama karena ada kalimat penjelas. (d) Meskipun demikian, keduanya mempunyai perbeaan yang nyata. (a) Di samping upaya memenuhi kebutuhan hidup, setiap kelompok sosial membutuhkan rasa aman secara fisik maupun spiritual. (b) Biasanya cara yang ditempuh untuk menjamin rasa aman adalah menghindarkan kontak- kontak langsung dengan kelompok sosial lainnya dengan membangun perkampungan yang berjauhan. (c) Mereka sengaja membiarkan adanya wilayah tak bertuan sebagai penyangga sekaligus sebagai penghambat terjadinya serbuan yang tidak terduga dan mendadak (d) Namun, kontak- kontak antarindividu tidak tertutup sama sekali karena pada dasarnya mereka, terutama di kalangan generasi muda, ingin mencari pengalaman. (e) Karena terdorong oleh kebutuhan hubungan dagang atau ekspedisi untuk mendapatkan wanita karena adanya larangan kawin di antara sesama anggota kelompok, kontak-kontak itu memungkinkan terjadi. (f) Dengan adanya tukar-menukar barang dan jasa atau perkawinan silang kelompok itu, misalnya, mereka saling menukar pengetahuan dan pengalaman maupun barang dan jasa yang merangsang terjadinya akulturasi budaya. (g) Kontak-kontak budaya, entah secara langsung atau tidak langsung, telah merangsang terjadinya proses perkembangan kebudayaan. (h) Kendatipun kontak-kontak budaya itu diperlukan untuk mempercepat perkembangan kebudayaan, namun meningkatnya intensitas kontak budaya yang tidak terkendali seringkali menimbulkan reaksi keras di antara mereka yang terlibat. (i) Perkembangan kebudayaan itu menuntut orang-orang untuk melakukan penyesuaian baik penyesuaian pengembangan perilaku secara perorangan (individual adjustment) maupun pengembangan pranata sosial (social

(32)

adaptation). (j) Penyesuaian itu seringkali dapat menimbulkan ketegangan dan pertentangan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan.

Contoh (32) tersebut merupakan paragraf yang terdiri atas empat kalimat, yaitu kalimat (a)-(d). Paragraf tersebut merupakan paragraf yang baik karena hanya terdiri atas satu ide pokok. Ide pokoknya adalah “kalimat penjelas dan kalimat utama” yang dituangkan dalam kalimat (a). Ide pokok yang tersurat dalam kalimat (a) itu kemudian dikembangkan dengan pola perbandingan ke dalam kalimat (b)-(d). Contoh (33) berbeda dengan contoh (32). Contoh (33) merupakan paragraf yang berunsurkan sepuluh kalimat, yaitu kalimat (a)-(j). Paragraf (6) tersebut bukan merupakan yang baik karena tidak terdiri atas satu ide pokok, tetapi dua ide pokok. Ide pokok pertama tersurat pada kalimat (a), yaitu setiap kelompok sosial membutuhkan rasa aman secara fisik maupun spiritual, dan ide pokok kedua tersurat pada kalimat (g), yaitu kontak-kontak budaya merangsang terjadinya proses perkembangan kebudayaan. Untuk menjadikan paragraf yang baik, paragraf (33) tersebut harus dijadikan dua paragraf seperti berikut.
(33a) (a) Di samping upaya memenuhi kebutuhan hidup, setiap kelompok sosial membutuhkan rasa aman secara fisik maupun spiritual. (b) Biasanya cara yang ditempuh untuk menjamin rasa aman adalah menghindarkan kontak-kontak langsung dengan kelompok sosial lainnya dengan membangun perkampungan yang berjauhan. (c) Mereka sengaja membiarkan adanya wilayah tak bertuan sebagai penyangga sekaligus sebagai penghambat terjadinya serbuan yang tidak terduga dan mendadak. (d) Namun, kontak-kontak antarindividu tidak tertutup sama sekali karena pada dasarnya mereka, terutama di kalangan generasi muda, ingin mencari pengalaman. (e) Karena terdorong oleh kebutuhan hubungan dagang atau ekspedisi untuk mendapatkan wanita karena adanya larangan kawin di antara sesama anggota kelompok, kontak-kontak itu memungkinkan terjadi. (f) Dengan adanya tukar-menukar barang dan jasa atau perkawinan silang kelompok itu, misalnya, mereka saling me-

nukar pengetahuan dan pengalaman maupun barang dan jasa yang merangsang terjadinya akulturasi budaya. (g) Kontak-kontak budaya, entah secara langsung atau tidak langsung, telah merangsang terjadinya proses perkembangan kebudayaan. (h) Kendatipun kontak-kontak budaya itu diperlukan untuk mempercepat perkembangan kebudayaan, namun meningkatnya intensitas kontak budaya yang tidak terkendali seringkali menimbulkan reaksi keras di antara mereka yang terlibat. (i) Perkembangan kebudayaan itu menuntut orang-orang untuk melakukan penyesuaian baik penyesuaian pengembangan perilaku secara perorangan (individual adjustment) maupun pengembangan pranata sosial (social adaptation). (j) Penyesuaian itu seringkali dapat menimbulkan ketegangan dan pertentangan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan.

Suatu paragraf dinyatakan padu (cohesive) bila kalimat-kalimat pembentuknya berhubungan satu sama lain. Sifat padu itu dapat ditampakkan dengan cara menyusun kalimat-kalimat dalam paragraf ke dalam satu urutan yang logis dan menyusun kalimat-kalimat dalam paragraf yang mempunyai urutan pola dan kaidah kebahasaan yang teratur (Parera, 1982:17).
(34) (a) Paragraf merupakan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya. (b) Informasi yang dinyatakan dalam kalimat yang satu berhubungan erat dengan informasi yang dinyatakan dalam kalimat yang lain, atau dengan kata lain informasi yang dinyatakan dalam sejumlah kalimat yang membentuk paragraf itu berhubungan erat atau sangat padu. (c) Kepaduan itu merupakan syarat keberhasilan suatu paragraf. (d) Tanpa adanya kepaduan informasi, kumpulan informasi itu tidak menghasilkan paragraf.

Paragraf (34) yang terdiri atas empat kalimat, yaitu kalimat (a)-(d), itu bersifat padu. Kalimat (a) berisi “paragraf sebagai satuan informasi”. Satuan informasi itu dijabarkan lebih terinci pada kalimat (b)-(c). Paragraf tersebut kemudian ditutup dengan kalimat (d) yang sesungguhnya merupakan penegasan dari kalimat (a)-(c).

Suatu paragraf dinyatakan memiliki kesatuan (coherence) apabila kalimat-kalimat pembentuknya tidak terlepas dari ide pokoknya. Kalimat-kalimat pembentuknya terfokus pada ide pokok dan mencegah masuknya hal-hal yang mendapat kesulitan dalam memelihara kesatuan itu (Akhadiah dkk., 1989:148). Perhatikanlah contoh yang berikut.
(35) (a) Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. (b) Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. (c) Dengan komunikasi, kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, kita pikirkan, dan kita ketahui pada orang lain. (d) Dengan komunikasi pula, kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.

Paragraf (35) tersebut bersifat menyatu karena kalimat-kalimat pembentuknya, yaitu kalimat (a)-(d), terpusat pada satu ide pokok, yaitu komunikasi, yang tertuang pada kalimat (a). Sifat menyatu itu terlihat jelas dengan penyebutan ulang ide pokok pada kalimat (b)-(d). Syarat lain untuk paragraf yang baik adalah memiliki kalimat topik dan kalimat pengembang. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi ide pokok, sedangkan kalimat pengembang adalah kalimat-kalimat yang berisi rincian ide pokok yang terbentang dalam kalimat topik. Perhatikanlah contoh yang berikut.
(36) Indonesia pernah mengalami sejumlah kemajuan dalam bidang ekonomi walaupun masih ada beberapa masalah di sanasini, di antaranya adalah masalah kemiskinan, masalah pengangguran, dan masalah ledakan penduduk.

Meskipun dimungkinkan ada, paragraf seperti (36) itu bukan merupakan paragraf yang baik karena hanya terdiri atas satu kalimat panjang sehingga kalimat topik dan kalimat pengembangnya tidak jelas. Lain halnya dengan contoh (37) berikut. Paragraf (37) berikut merupakan paragraf yang baik karena terdiri atas kalimat topik, yaitu

kalimat (a), dan kalimat pengembang, yaitu kalimat (b)-(d). Kalimat (b)-(d) itu berfungsi sebagai pengembang kalimat topik.
(37) (a) Aristoteles dilahirkan pada tahun 384 SM di Stagira, sebuah jajahan Yunani di kawasan Asia Kecil. (b) Ayahnya seorang dokter, anggota dari serikat kerja Asclepiadae. (c) Sejak kecil ia sudah yatim piatu sehingga ia dibesarkan oleh salah seorang sanak keluarganya. (d) Tampaknya, sejak usia dini Aristoteles memang telah mendapatkan pelajaran dari ayahnya dalam bidang biologi dan kedokteran.

C. Cara Penyusunan Paragraf Bagaimanakah paragraf yang baik dapat disusun? Paragraf yang baik disusun dengan melewati tiga langkah. Langkah pertama adalah menentukan ide pokok. Ide pokok itu dapat pula disebut pikiran pokok atau gagasan utama. Penentuan ide pokok itu dilakukan pada langkah pertama karena dalam penyusunan paragraf ide pokok berperanan sebagai pengendali (Ramlan, 1993:9). Ide pokok itu dapat diambil contoh “kartun”. Langkah kedua adalah membuat kalimat dengan ide pokok yang telah ditentukan. Kalimat yang dimaksud disebut kalimat topik. Istilah lain untuk kalimat topik itu adalah kalimat tumpuan (Parera, 1982:14) dan kalimat utama (Liang Gie, 1992:75; Soedjito dan Hasan, 1986:12). Kalimat topik itu dijadikan tumpuan dalam penyusunan paragraf. Dengan ide pokok “kartun”, misalnya, dapat disusun kalimat topik Kartun adalah gambar interpretatif yang simbolis mengenai sikap orang, situasi, atau kejadian tertentu. Langkah ketiga adalah mengembangkan kalimat topik menjadi paragraf. Caranya adalah dengan menyusun kalimat lain yang isinya berhubungan dengan, mendukung, menguraikan, dan atau menjelaskan ide pokok yang tertuang dalam kalimat topik. Kalimat lain itu berfungsi sebagai pengembang atau penjelas kalimat topik. Kalimat yang berfungsi sebagai pengembang atau penjelas kalimat topik itu dapat disebut kalimat pengembang atau kalimat penjelas. Dalam kenyataannya, ada banyak pola pengembangan kalimat topik menjadi paragraf. Salah satu di antaranya adalah dengan ka-

limat topik (a) Kartun adalah gambar interpretatif yang simbolis mengenai sikap orang, situasi, atau kejadian tertentu yang ditempatkan pada awal paragraf, misalnya, dapat disusun kalimat-kalimat pengembang dengan mengulang ide pokok “kartun” menjadi (b) Kartun sering digunakan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan ringkas kepada masyarakat sebab kartun mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menarik perhatian dan mempengaruhi sikap atau perilaku, (c) Kartun biasanya menonjolkan isi pesan serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti, bukan pada detailnya, sehingga biasanya berbentuk sangat sederhana, dan (d) Meskipun sederhana, kartun yang baik dan mengena akan berkesan dalam ingatan dalam jangka waktu lama, sehingga terbentuk paragraf berikut.
(38) (a) Kartun adalah gambar interpretatif yang simbolis mengenai sikap orang, situasi, atau kejadian tertentu. (b) Kartun sering digunakan untuk menyampaikan pesan secara cepat dan ringkas kepada masyarakat sebab kartun mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menarik perhatian dan mempengaruhi sikap atau perilaku, (c) Kartun biasanya menonjolkan isi pesan serta karakter yang mudah dikenal dan dimengerti, bukan pada detailnya, sehingga biasanya berbentuk sangat sederhana. (d) Meskipun sederhana, kartun yang baik dan mengena akan berkesan dalam ingatan dalam jangka waktu lama.

Paragraf dapat disusun dengan memperhatikan kemungkinan penempatan kalimat topik. Paragraf dapat disusun dengan cara meletakkan kalimat topik pada awal paragraf. Penyusunan paragraf dengan cara ini disebut penyusunan secara deduktif sehingga paragrafnya pun disebut paragraf deduktif. Jadi, bentuk susunan paragraf deduktif ini adalah kalimat topik diikuti oleh kalimat(kalimat) pengembang. Contohnya sebagai berikut.
(39) (a) Kemenangan Clinton atas Bush memang luar biasa dan gemilang. (b) Namun, kegemilangan ini harus disertai suatu tugas untuk segera memulihkan AS sebagai negara ekonomi yang terkuat untuk menjadi adidaya dan satpam dunia.

(40)

(a) Hutang Amerika Serikat sekarang ini berjumlah sekitar empat trilyun dolar. (b) Bunga hutang yang harus dibayarnya tiap tahunnya melampaui anggaran militernya, bahkan mencapai rekor dalam senjata AS, yakni sekitar 270 milyar dolar. (c) Hutang AS sekarang ini lebih besar dari hutang tahun 1980 ketika Presiden Ronald Reagan memangku jabatannya. (d) Ini menjadi tugas Bill Cinton sekarang untuk memperkecil hutang tersebut.

Contoh (39) dan (40) tersebut merupakan paragraf yang disusun dengan menempatkan kalimat topik pada awal paragraf, yaitu pada kalimat (a), diikuti oleh kalimat(-kalimat) pengembang. Kalimat topik pada paragraf (39) adalah Kemenangan Clinton atas Bush memang luar biasa dan gemilang, sedangkan dalam paragraf (40) adalah Hutang Amerika Serikat sekarang ini berjumlah sekitar 4 trilyun dolar. Sementara itu, kalimat lainnya, yaitu kalimat (b) untuk paragraf (39) dan kalimat (b), (c), dan (d) untuk paragraf (40), merupakan kalimat pengembang. Paragraf dapat disusun dengan cara menempatkan kalimat topik pada akhir paragraf. Paragraf yang disusun dengan cara seperti itu dinamai paragraf induktif. Bentuk susunan paragraf induktif ini adalah kalimat(-kalimat) pengembang ditempatkan mendahului kalimat topik. Contohnya sebagai berikut.
(41) (a) Para ilmuwan sosial, dengan berbagai teori mereka, tidak kurang merupakan ikatan-budaya manusia lain. (b) Sistem pendidikan Barat memberi kita semua cara-cara menginterpretasikan pengalaman. (c) Berbagai asumsi implisit mengenai dunia muncul dalam berbagai teori dari setiap disiplin akademik, kritik sastra, ilmu alam, sejarah, dan semua ilmu sosial. (d) Etnografi sendiri berupaya untuk mendokumentasikan berbagai realitas alternatif dan mendeskripsikan realitas itu dalam batasan realitas itu sendiri. (e) Dengan demikian, etnografi dapat berfungsi korektif terhadap teori-teori yang muncul dalam ilmu sosial Barat. (a) Karena uang banyak, harga barang menjadi mahal. (b) Uang terpaksa naik. (c) Setiap kali, harga berubah dan membu-

(42)

bung tinggi. (d) Mereka rugi dan akhirnya gulung tikar. (e) Pengangguran merajalela dan rakyat menderita.

Contoh (41) dan (42) tersebut merupakan paragraf yang disusun dengan cara meletakkan kalimat topik pada akhir paragraf. Kalimat topik kedua paragraf tersebut adalah kalimat (e), sedangkan kalimatkalimat lainnya, yaitu kalimat (a)-(d), merupakan kalimat pengembang. Paragraf dapat pula disusun dengan cara menempatkan kalimat topik di awal dan diulang pada akhir paragraf. Dalam hal ini, ide pokok yang diletakkan pada awal paragraf biasanya berisi pernyataan yang bersifat umum, sedangkan yang terletak di akhir paragraf sebenarnya merupakan ulangan dari ide pokok yang terletak pada bagian awal paragraf (Ramlan, 1993:6). Kalimat topik ulangan itu tentu saja tidak harus sama persis dengan kalimat topik yang diletakkan pada awal paragraf. Kalimat topik ulangan itu boleh diubah bentuk kata-katanya, susunan kalimatnya, tetapi ide pokok tetap sama (Soedjito dan Hasan, 1986:14). Paragraf yang kalimat topiknya terletak di awal dan akhir paragraf itu biasanya disebut paragraf campuran. Contohnya sebagai berikut.
(43) (a) Sebuah karangan tidak mungkin baik jika paragrafnya tidak tersusun dengan baik. (b) Paragraf merupakan satuan terkecil sebuah karangan. (c) Isinya membentuk satuan pikiran sebagai bagian dari pesan yang disampaikan oleh penulis dalam karangannya. (d) Paragraf yang tidak jelas susunannya akan menyulitkan pembaca untuk menangkap pikiran penulis. (e) Oleh sebab itu, sebuah karangan tidak akan baik jika paragrafnya tidak disusun dengan baik.

Contoh (43) tersebut merupakan paragraf yang disusun dengan cara mengulang kalimat topik, yaitu kalimat (a) dan (e). Kalimat (e) merupakan ulangan dari kalimat (a). Ulangan itu dimaksudkan untuk memberi tekanan pada pikiran atau ide pokok yang tertuang dalam kalimat (a). Ada pula paragraf yang disusun dengan cara menempatkan kalimat topiknya seperti dalam contoh (44) dan (45) berikut ini.

(44)

(a) Sumber daya manusia semakin disadari fungsi pentingnya dalam usaha mencapai kesejahteraan bangsa di semua sektor kehidupan. (b) Dengan demikian, usaha- usaha pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi lebih intensif dilakukan. (c) Usahausaha ini memerlukan perencanaan yang harus dilandaskan pada pemahaman tentang berbagai aspek sumber daya manusia. (a) Kesadaran masyarakat untuk menyertifikatkan tanah pada masa sekarang cukup tinggi. (b) Hal ini dibuktikan dari jumlah permohonan sertifikat ke kantor pertahanan yang meningkat pada setiap bulannya. (c) Dengan demikian, masyarakat mulai mengerti pentingnya sertifikat tanah. (d) Pemilik tanah hanya mempunyai hak sepenuhnya yang berkekuatan hukum kalau tanah yang dimilikinya sudah bersertifikat. (e) Kalau belum bersertifikat, pemilik tanah belum sepenuhnya dijamin hak kepemilikannya.

(45)

Paragraf (44) dan (45) tersebut disusun dengan meletakkan kalimat topik di tengah paragraf. Kalimat topik dalam paragraf (44) adalah kalimat (b), yaitu Dengan demikian, usaha-usaha pengembangan sumber daya manusia dan pengingkatan kualitas sumber daya manusia menjadi lebih intensif dilakukan, sedangkan kalimat (a) dan (c) merupakan kalimat pengembang. Dalam paragraf (45), kalimat (c), yaitu Dengan demikian, masyarakat mulai mengerti pentingnya sertifikat tanah, merupakan kalimat topik, sedangkan kalimat (a) dan (b) serta kalimat (d) dan (e) merupakan kalimat pengembang. Paragraf yang kalimat topiknya ada di tengah paragraf itu disebut paragraf tengah (lih. Liang Gie dan Widyamartaya, 1983:17). Terkait dengan cara penyusunan paragraf, sebenarnya tidak ada aturan mutlak yang mengikat (Liang Gie, 2002:69). Dalam penyusunan paragraf, kalimat topik itu dapat diletakkan di mana saja. Kalimat topik itu dapat ditempatkan di awal, di tengah, di akhir, atau di awal dan di akhir paragraf. Yang terpenting dalam penyusunan paragraf adalah bukan letak kalimat topiknya, tetapi ide pokok dalam

paragraf jangan sampai kabur. Oleh karena itu, cara penyusunan paragraf mana yang dipilih bergantung kepada keterampilan seorang penulis karangan. D. Pola Pengembangan Paragraf Sebuah paragraf yang baik mengandung kalimat topik dan kalimat pengembang yang berhubungan satu sama lain. Hubungan itu menyangkut sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang. Maksudnya, sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang senantiasa berhubungan dengan dan tidak boleh terlepas dari ide pokok yang diketengahkan dalam kalimat topik. Wujud sesuatu dalam kalimat pengembang itu ada bermacam-macam sehingga lahirlah bermacam- macam pola pengembangan paragraf. Paragraf itu antara lain dapat dikembangkan dengan pola contoh, alasan, perbandingan, perlawanan, dan definisi. Sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang dapat berupa “contoh”. Contohnya sebagai berikut.
(45) (a) Khusus untuk jenis mainan yang memerlukan gerak tubuh yang leluasa dan banyak hingga memerlukan ruangan yang luas, dengan sendirinya yang paling dulu harus dipertimbangkan adalah kondisi rumah dan sekitarnya apakah cukup memenuhi syarat. (b) Mainan seperti itu, misalnya, adalah bola, layang-layang, sepeda, mobil- mobilan untuk dikendarai, raket dan cock untuk bermain bulutangkis, dan sebagainya. (a) Arti dari kata “koleksi” adalah suatu kegiatan untuk mengumpulkan benda-benda sejenis atau beberapa jenis terusmenerus selama waktu yang tidak terbatas. (b) Contohnya adalah mengumpulkan perangko, suatu kegemaran atau hobi yang lazim.

(46)

Contoh (45) dan (46) tersebut merupakan paragraf yang terdiri atas dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan (b). Kalimat (a) merupakan kalimat topik, sedangkan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Sesuatu yang disampaikan dalam kalimat (b) itu adalah “contoh” untuk ide pokok yang dituangkan dalam kalimat (a).

Sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat pengembang dapat pula berupa “alasan”. Contohnya sebagai berikut.
(47) (a) Sering kali, untuk memainkan suatu mainan anak masih memerlukan bantuan orang tua. (b) Alasannya adalah anak memang belum tahu bagaimana caranya memperoleh kegembiraan semaksimal mungkin dari mainan barunya.

Paragraf (47) tersebut terdiri atas dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan kalimat (b). Kalimat (a) adalah kalimat topik, sedangkan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Kalimat pengembang teersebut berisi “alasan” untuk ide pokok yang diungkapkan dalam kalimat topik. Alasan yang tertuang dalam kalimat pengembang dapat merupakan “akibat” dari ide pokok dalam kalimat topik. Amatilah contoh berikut.
(48) (a) Sebelum awal abad XX, banyak kritikus mengakui bahwa struktur plot yang rapi, yang diajukan oleh Aristoteles dan pengikutnya, tidak dapat dikenakan pada novel. (b) Akibatnya, meskipun tetap relevan untuk cerita pendek, pembicaraan tentang struktur menjadi berkurang.

Kalimat topik dalam paragraf (48) tersebut adalah kalimat (a), sedangkan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Kalimat (b) merupakan akibat dari ide pokok yang dinyatakan dalam kalimat (a) sehingga antara kalimat topik dan kalimat pengembang tersebut terbentuk hubungan “sebab-akibat”. Sebaliknya, pada contoh berikut ini, kalimat pengembang, yaitu kalimat (b), merupakan “sebab” dari ide dalam kalimat topik, yaitu kalimat (a).
(49) (a) Saran dan kritik yang ditujukan untuk memperbaiki usaha penyempurnaan program Applied Approach ini akan kami terima dengan senang hati. (b) Hal ini karena usaha penyempurnaan program itu baru merupakan satu langkah dari langkah-langkah yang harus dilalui dalam peningkatan kualitas dosen di perguruan tinggi.

Kalimat pengembang dapat pula berupa “perbandingan” dari ide pokok yang dituangkan dalam kalimat topik. Contohnya sebagai berikut.
(50) (a) Perbedaan antara eksposisi dan argumentasi terletak pada tujuan masing-masing. (b) Eksposisi hanya berusaha untuk menjelaskan atau menerangkan suatu pokok persoalan, sedangkan argumentasi berusaha untuk membuktikan kebenaran dari suatu pokok persoalan. (c) Dalam eksposisi, penulis menyerahkan keputusannya kepada pembaca, sedangkan dalam argumentasi penulis ingin mengubah pandangan pembaca.

Ide pokok dalam contoh (50) tersebut adalah ‘perbedaan tujuan antara eksposisi dan argumentasi’. Ide pokok itu diungkapkan dalam kalimat topik, yaitu kalimat (a). Perbedaan tujuan itu kemudian dibandingkan dalam kalimat, yaitu dalam kalimat (b) dan (c). Yang dikemukakan dalam kalimat pengembang dimungkinkan pula berupa “sesuatu yang berlawanan” dengan ide pokok yang dituangkan dalam kalimat topik. Perhatikanlah contoh yang berikut.
(51) (a) Membaiknya hubungan Timur-Barat disambut baik oleh dunia. (b) Sebaliknya, perkembangan itu makin memperjelas ketimpangan hubungan Utara-Selatan yang berdampak negatif terhadap pembangunan di negara-negara berkembang.

Contoh (51), yang dikutip dari Ramlan (1993:48), itu terdiri atas dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan (kalimat (b). Kalimat (a) merupakan kalimat topik, sedangkan kalimat (b) merupakan kalimat pengembang. Kalimat pengembang itu berisi “sesuatu yang berlawanan” dengan ide pokok yang tertuang dalam kalimat topik. Yang disajikan dalam kalimat pengembang dimungkinkan berupa “definisi” dari sesuatu yang diungkapkan dalam kalimat topik. Contohnya sebagai berikut.
(52) (a) Istilah argumentasi diserap dari bahasa Inggris argumentation. (b) Istilah terakhir itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘bahasan’ atau ‘ulasan’. (c) Argumentasi berarti ‘pemberian alasan untuk memperkuat atau menolak suatu

pendapat, pendirian, atan gagasan’. (d) Jadi, suatu karangan disebut argumentasi apabila dalam karangan itu dikemukakan alasan, contoh, atau bukti yang kuat dan meyakinkan untuk mendukung atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan.

Contoh (52) tersebut merupakan paragraf yang dikembangkan dengan pola definisi. Kalimat (a) berfungsi sebagai kalimat topik yang berisi istilah “argumentasi”, sedangkan kalimat (b)-(d) merupakan kalimat pengembang yang berisi definisi dari istilah argumentasi yang dimuat dalam kalimat (a). E. Cara Membentuk Kesatuan Hubungan Antarkalimat dalam Paragraf Hubungan antarkalimat dalam paragraf harus bersifat menyatu. Sifat menyatu ini dapat terbentuk manakala penafsiran kalimat yang satu bergantung pada kalimat yang lain. Kalimat yang satu mempraanggapkan atau dipraanggapkan kalimat yang lain. Kesatuan itu dapat dibentuk dengan unsur-unsur kebahasaan yang berfungsi menghubungkan kalimat-kalimat di dalam paragraf. Unsur-unsur kebahasaan itu disebut penanda hubungan. Istilah teknis untuk penanda hubungan itu ialah kohesi. Kohesi ini berbeda dengan koherensi. Kohesi merujuk ke perpautan bentuk, sedangkan koherensi pada perpautan makna (Alwi dkk. 1993:43). Fungsi penanda hubungan adalah untuk menyatukan hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam suatu paragraf (Ramlan,1993:12). Penanda hubungan itu dapat berwujud penunjukan, penggantian, penghilangan, penghubung, dan pengulangan. Penunjukan adalah penanda hubungan antarkalimat yang berupa kata tunjuk. Penunjukan itu terbagi atas dua jenis, yaitu penunjukan ke depan, yaitu menunjuk kalimat sebelumnya, dan ke belakang, yaitu menunjuk kalimat berikutnya. Penunjukan itu misalnya kata itu yang menunjuk eksperimen Stern dalam contoh berikut.
(53) (a) Eksperimen Stern jelas memberikan sumbangan yang penting bagi perkembangan ilmu fisika. (b) Tetapi, upaya itu sendiri memperlihatkan sifat penting lainnya dalam mengkaji eks-

perimen yang seringkali tidak terumuskan secara lengkap ketika peralatan itu mula- mula dikembangkan.

Paragraf (54) tersebut berunsurkan dua kalimat, yaitu kalimat (a) dan (b). Paragraf tersebut bersifat menyatu. Kesatuan itu ditunjukkan lewat penggunaan kata tunjuk itu pada kalimat (b). Di samping kata itu, kata ini, tersebut, berikut, berikut ini, dan di bawah ini juga berfungsi sebagai penanda hubungan penunjukan. Contohnya sebagai berikut.
(54) (a) Tikar yang berukuran besar dibuat dari daun pandan atau sejenis gelagah yang disebut werot. (b) Gelagah ini dipipihkan dahulu, dipotong tiga, karena daun itu terdiri atas tiga segi, dan dianginkan sampai kering. (c) Daun ini berwarna kuning dan bisa langsung dipakai, kecuali jika menghendaki warna yang lain. (d) Untuk itu, gelagah direndam di tempat yang berair selama 24 jam lalu dimasak dengan daun atau kulit kayu yang mengandung warna tertentu. (e) Setelah dijemur akan diperoleh warna tetap yang diinginkan. (f) Hiasan tikar ini umumnya berbentuk segi empat dengan berbagai ukuran atau garis-garis lebar yang panjang menyilang dan diselingi garis-garis kecil. (a) Kehidupan industri yang sesungguhnya tidak berkembang di Minahasa. (b) Di Jawa orang membuat barang-barang untuk dijual, tetapi di Minahasa hal itu tidak banyak terjadi. (c) Tidak diketahui apakah ada alasan lain yang menyebabkan hal tersebut. (d) Satu-satunya alasan masuk akal yang dapat dibayangkan adalah rendahnya taraf hidup masyarakat sehingga perkembangan industri tidak dapat dihrapkan dari mereka. (e) Berkembangnya peradaban pada gilirannya akan mendorong lebih banyak kegiatan dan orang akan lebih banyak menciptakan usaha. (a) Industri berikut berbeda dengan beberapa cabang kerajinan pribumi yang umumnya dikerjakan para wanita, yakni dua jenis tenunan. (b) Yang pertama dan yang paling kasar adalah kadu, yaitu kain yang panjangnya beberapa elo dan lebarnya kurang dari setengah meter untuk rok wanita atau kemeja panjang untuk pria dan wanita. (c) Kain tersebut juga dipakai untuk layar

(55)

(56)

perahu pribumi atau tirai serambi muka rumah beberapa kepala negeri sebagai pengganti kain licin. (d) Selain itu, kadu juga dijadikan karung untuk mengangkut beras atau padi. (57) (a) Berikut ini akan diuraikan siapa Austin dan hasil karyanya beserta pokok-pokok pemikiran filsafatnya, baik yang umum maupun yang khusus, terutama pemikiran filsafat bahasa Austin dalam How To Do Things with Words secara panjang lebar. (b) Yang diuraikan terutama yang menyangkut masalah perbedaan antara ucapan-ucapan performatif dan ucapan-ucapan konstatif beserta syarat-syarat yang harus dipenuhi agar ucapanucapan tersebut dapat disebut sebagai ucapan-ucapan performatif atau ucapan-ucapan konstatif. (a) Apa yang disebutkan di bawah ini tidak merupakan kebulatan karena hal-hal yang dipaparkan ini tidak ada hubungannya satu sama lain, kecuali bahwa itu tentang deiksis. (b) Karena itu sengaja diuraikan secara singkat (sehingga dapat menimbulkan kesan seolah-olah meloncat-loncat penyajiannya) untuk membantu memberikan gambaran yang lebih jelas tentang deiksis dan apa yang menarik tentang deiksis.

(58)

Penggantian adalah penanda hubungan antarkalimat yang berupa penggantian unsur bahasa tertentu dengan unsur bahasa yang lain. Contoh konkretnya adalah penggantian kaum pria dengan mereka dalam contoh yang berikut.
(59) (a) Kaum pria tidak memiliki sesuatu yang luar biasa. (b) Rambut mereka dipotong pendek dan beberapa di antaranya memperhatikan sisiran rambut. (c) Mereka yang muda-muda sangat rapi. (d) Yang mencolok dari mereka adalah kemampuan meniru kaum muda. (e) Mereka bahkan mengenal penampilan ala polka. (f) Dahulu rambut mereka dibiarkan panjang dan dipotong seperti rambut wanita seperti yang masih dilakukan orang Baltik. (g) Beberapa di antara mereka dicukur gundul. (h) Dengan janggut, mereka tidak menemukan banyak kesulitan karena umumnya mereka tidak berjanggut. (i) Apakah mereka malu berjanggut atau kegenitan mereka menentangnya, tidak diketahui. (j) Yang pasti, kadang-kadang mereka rukun duduk bersama dan saling

mencabuti janggut. (k) Sementara itu, waktu berjalan terus. (l) Sekarang, memelihara janggut sangat mereka hargai, bukti sederhana yang menandakan bahwa janggut dipelihara dengan sangat saksama.

Paragraf (59) tersebut terdiri atas dua belas kalimat, yaitu kalimat (a)(l). Hubungan antarkalimat dalam paragraf (59) itu bersifat menyatu. Kesatuan itu ditunjukkan dengan penggantian kata kaum pria pada kalimat (a) dengan kata ganti orang mereka pada kalimat (b)-(l). Di samping kata mereka, kata dia, -nya, dan beliau juga dapat digunakan untuk membentuk kesatuan hubungan antarkalimat dalam paragraf. Berikut ini disajikan contoh-contohnya.
(60) (a) Di Rejosari, Ngadiyan sosok yang agak istimewa. (b) Bukan hanya mempertahankan kebiasaan Jawa- Hindu, ia justru berpraktik sebagai dukun dan pelatih kuda kepang selain berkebun kelapa sawit di tanahnya seluas satu hektar yang dilakukannya sejak tahun 1956. (c) Entah mengapa ia tidak sampai diganggu gugat di Rejosari. (a) Taslim sendiri penduduk asli Rejosari. (b) Orang tuanyalah yang Jawa. (c) Ayahnya yang berasal dari Semarang, datang melalui Singapura. (d) Tahun 1924 ia menuju Rejosari, dan dua tahun kemudian membangun rumah bergaya Melayu. (a) "Para penyeleweng uang pajak harus ditindak dengan tangan besi", demikian kata Presiden Republik Indonesia. (b) Hal itu beliau kemukakan kepada Menteri Keuangan di Bina Graha Kemarin.

(61)

(62)

Penghilangan adalah penanda hubungan antarkalimat yang berupa penghilangan unsur tertentu yang telah disebut pada kalimat sebelumnya. Misalnya adalah penghilangan kata orang pada kalimat (b) dalam contoh (63) dan (64) berikut ini.
(63) (a) Di sini terlihat orang mengenakan sarung dan kebaya. (b) Ada juga ø yang hanya mengenakan sarung yang diikatkan di atas dada.

(64)

(a) Belum pernah, dalam sejarah, sebuah buku menimbulkan onar sedunia seperti The Satanic Verses yang ditulis Salman Rusdhie. (b) Orang Islam yang sudah membacanya tersinggung. (c) Menurut orang yang sudah membaca ø, novel itu menghina Nabi Muhammad SAW.

Hubungan antarkalimat dalam paragraf (37) dan (38) tersebut bersifat menyatu. Pada contoh (37), sifat menyatu itu dibentuk dengan menghilangkan kata orang pada kalimat (b). Pada contoh (37), sifat menyatu itu dibentuk dengan menghilangkan kata tersinggung pada kalimat (c) dan membacanya pada kalimat (d). Unsur yang dihilangkan (yang dilambangkan dengan tanda ø) itu dapat ditampilkan ulang sehingga paragrafnya menjadi sebagai berikut.
(63a) (a) Di sini terlihat orang mengenakan sarung dan kebaya. (b) Ada juga orang yang hanya mengenakan sarung yang diikatkan di atas dada. (a) Belum pernah, dalam sejarah, sebuah buku menimbulkan onar sedunia seperti The Satanic Verses yang ditulis Salman Rusdhie. (b) Orang Islam yang sudah membacanya tersinggung. (c) Menurut orang yang sudah membaca novel itu, novel itu menghina Nabi Muhammad SAW.

(64a)

Penghubung adalah penanda hubungan antarkalimat yang berupa kata penghubung. Kata penghubung adalah kata yang berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Kata penghubung itu, misalnya, adalah oleh karena itu, dengan demikian, namun, dan sebaliknya dalam contoh yang berikut.
(65) (a) Boleh dikatakan bahwa semua aspek pendidikan dasar berada dalam keadaan buruk. (b) Oleh karena itu, untuk memperbaharui dan memperbaiki pendidikan dasar diperlukan suatu pandangan yang luas. (a) Diskusi kelas merupakan cara yang paling efektif untuk melatihkan keterampilan strategi kognitif kepada mahasiswa. (b) Hal ini dapat dicapai jika anggota kelas mempunyai homogenitas

(66)

yang cukup tinggi atas keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki. (c) Dengan demikian, setiap anggota kelas dapat memperlihatkan pemilihan strategi pemecahan masalah yang asli dan kreatif. (d) Umpan balik menjadi mekanisme untuk menilai keaslian strategi pemecahan masalah dan tingkat kreativitas mahasiswa. (e) Namun, seperti juga dalam pemilihan masalah dan kasus untuk latihan, situasi yang ideal jarang ditemukan. (f) Yang sering ditemukan adalah suasana diskusi kelas yang sebagian anggotanya masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan bahwa mereka belum menguasai keterampilanketerampilan yang menjadi prasyarat bagi latihan strategi kognitif. (g) Oleh karena itu, dosen perlu bekerja keras untuk menghindari situasi seperti itu.

Di samping kata oleh karena itu, dengan demikian, dan namun, masih ada kata penghubung lain yang juga berfungsi sebagai penyatu hubungan antarkalimat dalam paragraf. Sebagai penghubung antarkalimat, kata-kata penghubung tersebut terletak di awal kalimat. Dalam pemakaian, kata-kata penghubung itu diikuti oleh tanda koma (,). Dalam tabel berikut ini, disajikan daftar kata penghubung dalam paragraf itu yang dikelompokkan menurut hubungan maknanya. KATA PENGHUBUNG DALAM PARAGRAF
Hubungan Makna 1. Penjumlahan 2. Perlawanan Kata Penghubung dalam Paragraf selain itu, di samping itu, kecuali itu namun, akan tetapi, sebaliknya, namun demikian, namun begitu, walaupun demikian, walaupun begitu, meskipun demikian, meskipun begitu, sekalipun demikian, sekalipun begitu, biarpun demikian, biarpun begitu, kendati(pun) demikian, kendati(pun) begitu, sungguhpun demikian, sungguhpun begitu, padahal oleh karena itu, oleh sebab itu, maka dari itu, sebabnya Akibatnya dengan demikian, dengan begitu jadi, pendek kata, pendeknya, pokoknya

3. Penyebaban 4. Pengakibatan 5. Cara 6. Penyimpulan

7. Waktu

8. Pelebihan

sementara itu, ketika itu, (pada) waktu itu, sebelum itu, sehabis itu, sesudah itu, setelah itu, sejak itu, semenjak itu, selanjutnya, akhirnya tambahan lagi, tambahan pula, bahkan, malahan, apalagi

Pengulangan adalah penanda hubungan antarkalimat yang berupa penyebutan kembali unsur tertentu yang telah disebut pada kalimat sebelumnya. Contohnya adalah kata pendidikan dan Austin yang diulang-ulang berikut ini.
(43) (a) Pendidikan seringkali dijelaskan melalui sudut pandang masing-masing orang. (b) Ahli sosiologi akan mengartikan pendidikan sebagai usaha pewarisan dari generasi ke generasi. (b) Pakar antroplogi mengartikan pendidikan sebagai usaha pemindahan pengetahuan dan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. (c) Ahli ekonomi akan mengartikan pendidikan sebagai suatu usaha penanaman modal sumber daya manusia untuk membentuk tenaga kerja dalam pembangunan bangsa. (d) Penjelasan pendidikan yang beraneka ragam berdasarkan sudut pandang yang khusus dari masing-masing ilmu tersebut disebut sebagai penjelasan yang fragmented and disconnected. (a) Austin meragukan kebenaran yang dapat dicerap oleh data inderawi (sense data), misalnya tongkat yang lurus setelah dimasukkan ke dalam gelas kaca yang berisi air, kelihatannya tongkat tersebut menjadi bengkok. (b) Austin menjelaskan bahwa keanehan seperti itu ditimbulkan oleh ketidaksempurnaan alat inderawi manusia atau kesalahan dalam meletakkan benda yang dilihat. (c) Austin menjelaskan lebih lanjut bahwa kebenaran itu sebetulnya sangat tergantung pada situasi di tempat sesuatu hal itu ditampilkan, dan jika hal ini dihubungkan dengan masalah kegunaan bahasa, yang dinamakan kebenaran itu sebenarnya sangat tergantung pada situasi yang konkret kapan kata, ungkapan, dan kalimat tersebut diutarakan atau diungkapkan.

(44)

BAB IV EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN
Dalam bab ini disajikan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, tetapi materi yang disajikan hanya terbatas pada hal-hal yang sering diterapkan secara salah. Hal-hal lain yang lebih lengkap harap dibaca pada sumber lengkapnya, yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (1993) dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah (1993). A. Pemakaian Huruf Kapital Huruf kapital terkenal pula dengan istilah huruf besar. Huruf kapital adalah huruf yang berukuran dan berbentuk khusus (lebih besar daripada huruf biasa) yang biasanya digunakan sebagai huruf pertama dari kata pertama dalam kalimat, huruf pertama nama orang, dan sebagainya. Berikut ini disajikan beberapa aturan pemakaian huruf kapital yang sering salah. 1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Misalnya: SALAH
Bahasa Indonesia Suku Sunda Bahasa Batak

BENAR
bahasa Indonesia suku Sunda bahasa Batak

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: SALAH
Bulan Januari Hari Jumat Hari Raya Lebaran Perang Candu

BENAR
bulan Januari hari Jumat hari raya Lebaran perang Candu

3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi. Misalnya:

SALAH
Asia tenggara gunung Merapi teluk Benggala pegunungan Alpen jalan Mangkubumi

BENAR
Asia Tenggara Gunung Merapi Teluk Benggala Pegunungan Alpen Jalan Mangkubumi

4. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: SALAH
berlayar ke Teluk mandi di Kali pergi ke arah Tenggara

BENAR
berlayar ke teluk mandi di mandi di kali pergi ke arah tenggara

5. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang dipakai sebagai nama jenis. Misalnya: SALAH
garam Inggris gula Jawa kacang Bogor pisang Ambon beras Cianjur salak Bali

BENAR
garam inggris gula jawa kacang bogor pisang ambon beras canjur salak bali

6. Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran. Misalnya: SALAH
mesin Diesel 10 Volt 5 Ampere

BENAR
mesin diesel 10 volt 5 ampere

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Misalnya: SALAH
Perserikatan Bangsa-bangsa Yayasan Ilmu-ilmu Sosial Undang-undang Lalu Lintas

BENAR
Perserikatan Bangsa-Bangsa Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial Undang-Undang Lalu Lintas

8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai untuk menyapa. Misalnya: SALAH
Kapan saudara datang? Besok paman akan datang. Dia bertanya, “Itu apa, bu?” Itu rumah pak Camat. Saya bertemu ibu Hasan.

BENAR
Kapan Saudara datang? Besok Paman akan datang. Dia bertanya, “Itu apa, Bu?” Itu rumah Pak Camat. Saya bertemu Ibu Hasan.

9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya: SALAH
Sudahkah anda tahu? Surat anda sudah sampai.

BENAR
Sudahkah Anda tahu? Surat Anda sudah sampai.

B. Penulisan Gabungan Kata Gabungan kata ditulis dengan aturan sebagai berikut. 1. Gabungan kata ditulis serangkai jika salah satu unsurnya hanya dipakai dalam kombinasi. Misalnya: SALAH
abdi kasi ada kala ada kalanya adi daya adi kuasa adi pura agro ekonomi agro bisnis akhirul kalam antar kota bea siswa bela sungkawa bumi putra catur tunggal darma siswa darma wisata dasa warsa

BENAR
abdikasi adakala adakalanya adidaya adikuasa adipura agroekonomi agrobisnis akhirulkalam antarkota beasiswa belasungkawa bumiputra caturtunggal darmasiswa darmawisata dasawarsa

duka cita ekstra kurikuler kaca mata kasat mata mana suka manca negara marga satwa multi lateral non kolesterol olah raga radio aktif sapta marga sedia kala segi tiga sapu tangan semi permanen sub bagian suka cita suka rela suka ria tri tunggal ultra modern
]

dukacita ekstrakurikuler kacamata kasatmata manasuka mancanegara margasatwa multilateral nonkolesterol olahraga radioaktif saptamarga sediakala segitiga saputangan semipermanen subbagian sukacita sukarela sukaria tritunggal ultramodern

Namun, gabungan kata seperti berikut ditulis terpisah. SALAH
acapkali andaikata

BENAR
acap kali andai kata

ibukota intisari
kerjasama seringkali simpangsiur sumberdaya

ibu kota inti sari
kerja sama sering kali simpang siur sumber daya

2. Gabungan yang berunsur pun yang lazim dianggap padu ditulis serangkai. Misalnya: SALAH
atau pun

BENAR
ataupun

ada pun andai pun bagaimana pun biar pun kalau pun kendati pun mau pun meski pun sungguh pun walau pun

adapun andaipun bagaimanapun biarpun kalaupun kendatipun maupun meskipun sungguhpun walaupun

Khusus kata sekali yang mendapat tambahan pun dapat ditulis terpisah jika pun itu berarti ‘saja’ dan dapat ditulis serangkai jika hasil gabungannya mempunyai arti yang sinonim dengan meskipun atau walaupun. Bandingkanlah:
Sekali pun dia belum pernah datang ke rumah kami sekalipun sudah tinggal di kampung ini selama hampir lima tahun.

3. Pun yang berarti ‘juga’ atau ‘saja’ ditulis secara terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya: SALAH BENAR
Apapun diperhatikannya. Siapapun boleh datang. Apa pun diperhatikannya. Siapa pun boleh datang.

4. Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Misalnya: SALAH
ku tulis ku dengar kau tulis kau dengar

BENAR
kutulis kudengar kautulis kaudengar

4. Per yang berarti ‘mulai’, demi’, dan ‘tiap’ dituliskan terpisah dari kata yang mengikutinya, sedangkan yang per yang merupakan imbuhan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Misalnya: SALAH
perhari perhelai

BENAR
per hari per helai

perbulan satu persatu dua per tiga Per hatikanlah kalimat ini.

per bulan satu per satu dua pertiga Perhatikanlah kalimat ini.

5. Jika gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya: SALAH
menggaris bawahi menanda tangani mempertanggung jawabkan pertanggung jawaban penyalah gunaan pengambil alihan penanda tanganan

BENAR
menggarisbawahi menandatangani mempertanggungjawabkan pertanggungjawaban penyalahgunaan pengambilalihan penandatanganan

6. Jika gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, gabungan kata ditulis serangkai dengan awalan ditulis pada awal dan akhiran ditulis pada akhir gabungan. Misalnya: SALAH
pertanggungan jawab pengambilan alih

BENAR
pertanggungjawaban pengambilalihan

7. Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-). Misalnya: SALAH
nonIndonesia panAfrikanisme

BENAR
non-Indonesia pan-Afrikanisme

8. Kata di dan ke yang merupakan kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: SALAH
didepan, kedepan diatas, keatas disamping, kesamping disana, kesana dimana, kemana

BENAR
di depan, ke depan di atas, ke atas di samping, ke samping di sana, ke sana di mana, ke mana

didaerah, kedaerah disisi, kesisi didalam, kedalam

di daerah, ke daerah di sisi, ke sisi di dalam, ke dalam

9. Gabungan dari dengan pada, ke dengan pada, ke dengan mari, dan ke dengan hendak ditulis serangkai. Misalnya:
Si Amin lebih tua daripada Si Ahmad. Kami percaya sepenuhnya kepada kakaknya. Bawa kemari gambar itu! Percayalah bahwa semua ini bukan kehendak saya.

C. Singkatan dan Akronim 1. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik. Misalnya:
Muh. Yamin S.E. M.Sc. Bpk. Sdr. Kol. Muhammad Yamin sarjana ekonomi master of science Bapak Saudara Kolonel

2. Bentuk singkat atau bentuk pendek yang diambil atau dipotong dari bentuk lengkapnya ditulis dengan menggunakan huruf kecil semua tanpa diikuti tanda titik. Misalnya:
ekspres harian mingguan bulanan bentuk singkat dari kereta api ekspres bentuk singkat dari surat kabar harian bentuk singkat dari majalah mingguan bentuk singkat dari majalah bulanan

3. Singkatan umum yang terdiri atas dua huruf masing-masing diikuti tanda titik. Misalnya:
a.n. d.a. u.p. u.b. atas nama dengan alamat untuk perhatian untuk beliau

4. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu titik. Misalnya:
dll. dan lain-lain

dsb. dst. sda. hlm. Yth.

dan sebagainya dan seterusnya sama dengan atas halaman Yang terhormat

5. Akronim nama diri ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Misalnya:
Kowani Iwapi Sespa Kongres Wanita Indonesia Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Sekolah Staf Pimpinan Administrasi

6. Akronim yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kecil. Misalnya:
pemilu rapim tilang rudal pemilihan umum rapat pimpinan bukti pelanggaran peluru kendali

D. Angka dan Lambang Bilangan 1. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan tiga pilihan yang berikut. Misalnya: I
Paku Buwono X Bab II Abad XXI Tingkat V

II
Paku Buwono ke-10 Bab ke-2 Abad ke-21 Tingkat ke-5

III
PakuBuwono kesepuluh Bab kedua Abad kedua puluh satu Tingkat kelima

2. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf. Misalnya:
Buku ini terdiri atas dua jilid. Kami memesan dua puluh kilogram jeruk. Yang tewas dalam kecelakaan itu lima belas orang. Namun, bila lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata itu terdiri atas beberapa yang dipakai secara berurutan, lambang bilangan itu ditulis dengan angka. Misalnya:

Kendaraan yang ditempah untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 helicak, dan 100 bemo. Menurut catatan, jumlah pasien yang datang ke poliklinik kemarin ada 28 orang, 7 orang penderita mata, 7 orang penderita gigi, 5 orang penderita paru-paru, 4 orang penderita kulit, 3 orang penderita kandungan, dan 2 orang penderita penyakit dalam.

3. Lambang bilangan yang dipakai dalam dukumen resmi, seperti akta, kuitansi, wesel pos, dan cek, dapat ditulis dengan angka dan huruf sekaligus. Misalnya:
Telah dijual sebidang tanah seluas 2.000 (dua ribu) meter dengan harga Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah). Pada hari ini, Senin, 18 Juni 2002 (delapan belas Juni dua ribu dua) telah menghadap Saudara Daljuri Sarjana Hukum ....

4. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Misalnya:
Sepuluh karyawan teladan memperoleh piagam dari pemerintah. Lima puluh ekor kambing kurban disembelih pada hari raya Idul Adha di desa kami.

E. Penulisan Unsur Serapan Kata-kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas dua kelompok, yaitu kata Indonesia asli dan kata serapan. Kata-kata seperti ambil, bawa, duduk, gigi, minum, dan ikan, misalnya, merupakan kata Indonesia asli. Kata-kata seperti telaah, jamak, insan, insinyur, dan jelita, misalnya, merupakan kata serapan. Kata serapan dalam bahasa Indonesia dapat berasal dari bahasa serumpun dan dari bahasa asing. Kata-kata seperti paceklik, pabean, bopong, sogok, dan pacek, misalnya, merupakan kata serapan dari bahasa serumpun, sedangkan kata-kata seperti ikhtiar, masinis, paket, dan palsu, misalnya, merupakan serapan dari bahasa asing. Kata-kata serapan itu dapat dikelompokkan menurut taraf integrasinya menjadi tiga golongan, yaitu: 1. kata-kata yang sudah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia yang tidak perlu lagi diubah ejaannya, misalnya sirsak, iklan, otonomi, akal, dongkrak, pikir, paham, dan aki;

2. kata asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, real estate, spare part, dan lift; dan 3. kata asing yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Berikut ini disajikan kaidah penyesuaian ejaan bagi unsur serapan yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
(01) aa (Belanda) menjadi a baal bal octaaf oktaf paal pal ae, jika tidak bervariasi dengan e, tetap ae aerobe aerob aerolit aerolit aerosol aerosol aerodynamics aerodinamika aeration aerasi ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e anaemia anemia haematite hematit haemoglobine hemoglobin ai tetap ai caisson kaison trailer trailer au tetap au autotrophe autotrof caustic kaustik hydraulic hidraulik c di muka a, o, u, dan konsonan menjadi k calomel kalomel vocal vokal construction konstruksi cubic kubik classification klasifikasi c di muka e, i, oe, dan y menjadi s central sentral circulation sirkulasi

(02)

(03)

(04)

(05)

(06)

(07)

(08)

(09)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

coelom selom cylinder silinder cc di muka o, u, dan konsonan menjadi k accomodation akomodasi acculturation akulturasi acclimatization aklimatisasi cc di muka e dan i menjadi ks accent aksen accessory aksesori vaccine vaksin ch dan cch di muka a, o, dan konsonan menjadi k charisma karisma cholera kolera chromosome kromosom technique teknik technology teknologi saccharine sakarin ch yang lafalnya c menjadi c charter carter check cek China Cina ch yang lafalnya s atau sy menjadi s echelon eselon chiffon sifon machine mesin e tetap e atmosphere atmosfer system sistem synthesis sintesis e yang tidak diucapkan ditanggalkan phoneme fonem morpheme morfem sulphite sulfit zygote zigot ea tetap ea idealist idealis ideal ideal oleander oleander realist realis ea, jika lafalnya i, menjadi i

(17)

(18)

(19)

(20)

(21)

(22)

(23)

(24)

(25)

(26)

team tim ei tetap ei eicosane eikosan eidetic eidetik pleistocene pleistosen einsteinium einsteinium eo tetap eo geometry geometri geology geologi stereo stereo zeolite zeolit eu tetap eu eugenol eugenol euphony eufoni neutron neutron europium europium f tetap f factor faktor fossil fosil infuse infus fanatic fanatik g tetap g energy energi gene gen geology geologi gh menjadi g sorghum sorgum spaghetti spageti gue menjadi ge igue ige gigue gige i pada awal suku kata di muka vokal tetap i iambus iambus ion ion iota iota ie (Belanda), jika lafalnya i, menjadi i politiek politik riem rim ie (Inggris), jika lafalnya bukan i, tetap ie hierarchy hierarki

(27)

(28)

(29)

(30)

(31)

(32)

(33)

(34)

patient variety efficient iu tetap iu calcium premium stadium ng tetap ng congress contingent linguistics oe (oi Yunani) menjadi e foetus oenology oestrogen oi (Belanda, Inggris) tetap oi exploitatie exploitation toilet oo yang lafalnya u menjadi u cartoon pool proof oo (vokal ganda) tetap oo coordination cooperative oolite zoology zoometry zoophobia ou, jika lafalnya u, menjadi u gouverneur contour coupon group route ph menjadi f phase physiology spectograph

pasien varietas efisien kalsium premium stadium kongres kontingen linguistik fetus enologi estrogen exploitasi eksploitasi toilet kartun pul pruf koordinasi kooperatif oolit zoologi zoometri zoofobia gubernur kontur kupon grup rute fase fisiologi spektograf

(35)

(36)

(37)

(38)

(39)

(40)

(41)

(42)

(43)

ps tetap ps pseudo pseudo psychiatry psikiatri psychosomatic psikosomatik pt tetap pt pterosaur pterosaur pteridology pteridologi ptyalin ptialin q menjadi k aquarium akuarium frequency frekuensi equator ekuator rh menjadi r rhapsody rapsodi rhombus rombus rhythm ritme rhetoric retorika rheumatic rematik sc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi sk scandium skandium scotopia skotopia scutella skutela sclerosis sklerosis scriptie skripsi sc di muka e, i, dan y menjadi s scenography senografi scintillation sintilasi scyphistoma sifistoma sch di muka vokal menjadi sk schema skema schizophrenia skizofrenia scholasticism skolastisisme t di muka i menjadi s jika lafalnya s ratio rasio action aksi patient pasien th menjadi t theocracy teokrasi theology teologi orthography ortografi

(44)

(45)

(46)

(47)

(48)

(49)

(50)

(51)

(52)

(53)

thiopental tiopental method metode u tetap u unit unit unique unik nucleolus nukleolus ue tetap ue suede sued duet duet ui tetap ui equinox ekuinoks conduite konduite uo tetap uo fluorescein fluoresein quorum kuorum quota kuota uu menjadi u prematuur prematur vacuum vakum v tetap v vitamin vitamin television televisi cavalry kavalri x pada awal kata tetap x xanthate xantat xenon xenon xylophone xilofon x pada posisi lain menjadi ks executive eksekutif taxi taksi exudation eksudasi latex lateks xc di muka e dan i menjadi ks exception eksepsi excess ekses excision eksisi excitation eksitasi xc di muka a, o, u, dan konsonan menjadi ksk excommunication ekskomunikasi excursive eksursif

(54)

(55)

(56)

exclusive y tetap y jika lafalnya y yakitori yangonin yen yuan y menjadi i jika lafalnya i yttrium dynamo propyl psychology z tetap z zenith zirconium zodiac

eksklusif yakitori yangonin yen yuan itrium dinamo propil psikologi zenit zirkonium zodiak

F. Pemakaian Tanda Baca (a) Tanda Titik (.) 1. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Namun, jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf, tanda titik itu tidak dipakai. Misalnya:

a. III. Departemen Dalam Negeri A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa B. Direktorat Jenderal Pertanahan 1. ... b. 1. Patokan Umum 1.1 Isi Karangan 1.2 Ilustrasi 1.2.1 Gambar Tangan 1.2.2 Tabel 1.2.3 Grafik

2. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menyatakan jumlah. Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang. Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

bandingkan:
Ia lahir pada tahun 1970 di Bandung. Nomor rekening saya adalah 5645789.

3. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul, kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya:
Pengantar Ilmu Ekonomi Dasar-dasar Manajemen Pendidikan Kewarganegaraan

4. Tanda titik tidak dipakai untuk singkatan penunjuk uang seperti rupiah, dolar, yen, dan sebagainya. Misalnya:
Rp10.000,00 US$3.50 Y100 10.000,00 rupiah 3.50 dolar Amerika 100 yen

(b) Tanda Koma (,) 1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta. Kita memerlukan karyawan yang terampil, disiplin, dan jujur. Air kelapa diberi bumbu lengkuas, daun salam, bawang putih, dan garam.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara perlawanan yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi, melainkan, dan sedangkan. Misalnya:
Tim Belanda lebih banyak memiliki peluang emas, tetapi karena penyelesaiannya kurang sempurna, akhirnya hanya imbang 1 - 1 lawan Mesir. Mereka bukan pemain yang penuh bakat, melainkan pemain yang hanya memiliki keinginan kuat. Penghasilan utama daerah Maluku adalah rempah-rempah, sedangkan penghasilan utama Jawa Barat adalah padi.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk kalimatnya. Biasanya anak kalimat itu didahului oleh kata karena, agar, bahwa, walaupun, meskipun,

biarpun, manakala, bila, apabila, jika, jikalau, kalau, andaikata, seandainya, dan asalkan. Misalnya:
Karena harus menyelesaikan pekerjaannya pada hari itu juga, ia terpaksa membatalkan rencananya untuk bekunjung kepada saudaranya di kota. Agar swasembada di bidang beras dapat kita pertahankan, para petani diharapkan dapat bekerja lebih keras lagi dan konsisten menerapkan Pancausaha Tani. Bahwa dia menggugat hendak mengetahui perasaanku terhadap Carl, aku baru sadar. Kalau kakakku perempuan tertawa terbahak-bahak oleh sesuatu yang amat lucu, ibuku mengerutkan keningnya.

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Kata atau ungkapan penghubung antarkalimat itu antara lain adalah oleh karena itu, oleh sebab itu, sehubungan dengan itu, jadi, namun, selanjutnya, lagi pula, tambahan lagi, tambahan pula, meskipun begitu, sebenarnya, sebetulnya, kalau begitu, selain itu, di samping itu, bahkan, kemudian, walaupun demikian, meskipun demikian, sebaliknya, dalam pada itu, akhirnya, misalnya, contohnya,dan malahan. Misalnya:
Hiasan dinding dari makrame juga bagus. Bahkan, makrame juga dapat dibuat selendang atau sal. Jagalah timbunan jerami itu jangan sampai kena air. Di samping itu, buat juga atap di atasnya. Biaya membuat kecap air kelapa tidak mahal, bukan? Lagi pula, cara membuatnya mudah.

(C) Tanda Hubung (-) 1. Tanda hubung dipakai untuk menyambung suku-suku kata dasar yang trpisah oleh pergantian baris. Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu, ada juga cara yang baru.

Suku kata yang berupa satu vokal (huruf hidup) tidak boleh ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris. Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah dismpaikan ....

Bukan:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ....

2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. Misalnya:
Kini ada cara yang baru untuk mengukur panas. Kukuran baru itu memudahkan kita mengukur kelapa. Senjata ini merupakan alat pertahanan yang canggih.

Namun, akhiran -i tidak dipenggal pada ujung baris supaya tidak terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

DAFTAR RUJUKAN
Arifin, E. Zaenal dan Amran Tasai. 1993. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT Mediyatama Sarana Perkasa. Akhadiah, Sabarti dkk. 1989. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Alwi, Hasan dkk. 1993. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Cipta Loka Caraka. 2002. Teknik Mengarang. Yogyakarta: Kanisius. Hutomo, Suripan Sadi. 1983. “Bahasa Baku dan Sastra” dalam Majalah Horison Nomor 1 Tahun 1983, halaman 24-25. Keraf, Gorys. 1994. Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende-Flores: Nusa Indah. Liang Gie, The dan A. Widyamartaya. 1983. Kamus Seni Mengarang. Yogyakarta: Akademi Kepengarangan.

Liang Gie, The. 1992. Pengantar Dunia Karang-Mengarang. Yogyakarta: Akademi Kepengarangan. --------. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi. Natawidjaja, P. Suparman. 1979. Bimbingan Cakap Menulis. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Ngafenan, Mohamad. 1985. Istilah Tata Bahasa Indonesia. Klaten: PT Intan. Parera, Jos Daniel. 1982. Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta: Erlangga. Poerwadarminta, W.J.S. 1967. ABC Karang-Mengarang. Jogja: U.P. Indonesia. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2003. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Jakarta: Balai Pustaka. ----------. 2003. Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Balai Pustaka. Ramlan, M.. 1993. Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset. Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: PT Gramedia. Soedjito dan Mansur Hasan. 1986. Keterampilan Menulis Paragraf. Bandung: Remadja Karya CV. Tarigan, Djago. 1986. Membina Keterampilan Menulis Paragraf dan Pengembangannya. Bandung: Angkasa. Yohanes, Yan Sehandi. 1991. Kalimat dalam Penulisan Karangan. Bandung: PT Remadja Rosdakarya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->