P. 1
Bahan Ajar Teori Politik Klasik Dan Kontemporer

Bahan Ajar Teori Politik Klasik Dan Kontemporer

|Views: 4,430|Likes:
Bagian awal dari teori politik klasik dan kontemporer
Bagian awal dari teori politik klasik dan kontemporer

More info:

Published by: Tua Hasiholan Hutabarat on Apr 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2013

pdf

text

original

1

Teori Politik Klasik dan Kontemporer
Tua Hasiholan Hutabarat, S.Sos, M.Si, Lecturer at University Of 45 Mataram, Social and Political Faculty, Governing Department, Mataram, Nusa Tenggara Barat Province, 2008. Limited Published to Student in Classical and Contemporary Political Theories

Pendahuluan.
Sejarah perkembangan umat manusia selalu dipengaruhi oleh perubahan pada sistem sosial dan politik. Kondisi masyarakat maupun sistem kekuasaan yang berlaku secara pasti dibentuk oleh tatanan sosial yang kemudian mendorong peradaban manusia menuju pada perubahan-perubahan ke arah tertentu. Sistem sosial dan politik yang berlaku pada jaman tertentu sudah pasti tidak muncul dengan sendirinya, namun muncul dari pola fikir, kesadaran, pola tindakan manusia yang membentuk rangkaian perilaku manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan, mempertahankan eksistensi masyarakat maupun memperluas pengaruh pola fikir, kesadaran, tindakan maupun rangkaian perilaku tersebut dilandasi oleh nilai-nilai tertentu yang muncul dan berkembang atas dasar kegelisahan, ketidakpahaman, ketakutan, dan ketidakpastian yang diciptakan oleh jaman. Ketidakpastian, ketakutan, kekacauan maupun kegelisahan manusia tersebut mendasari manusia untuk melakukan perubahan. Perubahan tersebut tentu saja tidak mudah untuk dilakukan, karena pemikiran-pemikiran, tindakan, landasan nilai dan struktur sosial sebelumnya cenderung untuk bertahan dan menolak digantikan dengan nilai-nilai atau pemikiran-pemikiran baru. Penolakan atau resistensi nilai-nilai lama tersebut kemudian menciptakan tahapan transisi dimana membuat masyarakat hidup dalam situasi-situasi serba sulit dan menyimpang. Kesulitan dan penyimpangan tersebut pada tahap selanjutnya melahirkan pemikiran-pemikiran baru pula. Namun peradaban manusia tetap tidak mungkin meninggalkan atau melepaskan pola fikir dan nilai-nilai lama, malah kemudian nilai-nilai tersebut hidup secara berdampingan dengan standar nilai baru sebagai jawaban atas kelemahan manusia dalam mengatasi realitas hidup yang serba tidak pasti. Deskripsi singkat di atas menjadi landasan berfikir bagi mahasiswa, bahwasannya setiap peradaban manusia selalu dipengaruhi oleh sistem yang berlaku, sedangkan sistem yang berlaku pada saat itu dibentuk oleh pola fikir manusia, dimana di dalamnya terdapat teori-teori yang dipercaya dapat membantu manusia memahami

2 atau menjelaskan hidupnya. Teori-teori tersebut sangat berpengaruh dalam hidup manusia maupun terhadap sistem sosial, sehingga terus mengalami perkembangan. Sama halnya dengan teori-teori politik yang dibahas dalam tulisan ini. Teori-teori politik yang telah ada sejak jaman Yunani sampai saat ini memegang peran penting terhadap peradaban manusia. Teori-teori politik yang muncul dari orang-orang besar yang hidup pada jamannya lahir untuk menjawab ketidakpastian dan kebingungan manusia untuk menjelaskan bagaimana manusia berhadapan dengan lingkungan sosialnya. Salah satu tugas teori-teori politik tersebut adalah menemukan kebenaran. Sejak lama manusia dihadapkan pada perdebatan, bagaimana cara manusia memperoleh kebenaran? Satu pihak menyatakan, kebenaran bukan milik manusia, namun milik Tuhan. Manusia hanya menerima kebenaran Tuhan tersebut dan menerapkannya dalam hidup. Pihak lain menyatakan, kebenaran hanya bisa diperoleh ketika manusia menggunakan akal atau rasio nya. Pandangan lainnya bersikeras, kebenaran dapat diperoleh saat manusia menggunakan inderanya. Perdebatan darimana dan bagaimana manusia memperoleh kebenaran tersebut terus-menerus berlangsung dan diwarisi hingga saat ini. Upaya manusia dalam memperoleh kebenaran tersebut kemudian mulai bergeser. Manusia tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari penjelasan atau pemahaman tentang lingkungan sosial. Pergeseran tersebut berisi berbagai pertanyaan, diantaranya adalah tentang bentuk masyarakat yang ideal, perubahan yang paling baik bagi masyarakat, nilai atau tatanan norma yang pantas untuk manusia, bagaimana seharusnya manusia bertindak, seperti apa bentuk pemerintahan atau negara yang ideal dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang terus digeluti oleh pemikir-pemikir sosial dan atau politik, sejak jaman Yunani hingga sekarang. Masing-masing jaman punya pandangan, perspektif atau paradigma sendiri-sendiri hingga melahirkan teoriteori yang dianggap paling tepat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Dalam buku ajar ini, pemikiran-pemikiran atau teori-teori tersebutlah yang akan dibahas. Mulai dari jaman Yunani, masa pertengahan, renaisance, masa pasca revolusi industri hingga jaman yang kita namakan sekarang sebagai jaman modern atau kontemporer. Diharapkan melalui buku ajar ini, beserta proses belajar mengajar dan kegiatan diskusi yang dilakukan, mahasiswa bisa memahami seperti apa pergulatan-pergulatan manusia (melalui teori-teori politik yang ada) dalam menjawab pertanyaanpertanyaan seluruh umat manusia. Dengan demikian, mahasiswa nantinya bisa meruntut, seperti apa perubahan-perubahan teori tersebut bisa terjadi. Atas latar apa teori-teori tersebut bisa muncul dan kemudian mengalami perkembangan hingga seperti saat ini. Akhirnya, setelah proses perkuliahan berlangsung atau bahan ajar ini bisa diserap, cakrawala mahasiswa dalam memandang peradaban, realitas hidup maupun sistem sosial, politik, budaya dan ekonomi menjadi lebih luas dan komprehensif.

3

UPAYA MANUSIA MENCARI KEBENARAN Sepanjang sejarah manusia selalu akan mencari kebenaran. Kebenaran tersebut kemudian dijadikan landasan untuk membentuk seperti apa wajah masyarakat, negara maupun sistem sosial, politik dan budaya. Namun sayang, upaya manusia dalam mencapai apa yang dimaksud dengan kebenaran tersebut terkadang semu dan tidak konsisten. Setiap jaman lahir para pemikir atau ilmuan yang mencoba menawarkan cara yang paling tepat, titik pandang yang paling jitu ataupun perspektif yang paling sesuai dalam memperoleh kebenaran tersebut. Para ilmuan tersebut selalu mengklaim bahwasannya pandangan, sumber atau cara analisis merekalah yang paling benar dan dapat dijadikan acuan bagi setiap orang untuk memperoleh kebenaran. Sementara itu, ketika para ilmuan sibuk mencari hakekat hidup, manusia terus mengalami perubahan. Mulai dari bentuknya yang paling sederhana (masyarakat berburu, meramu, bertani dan sebagainya) sampai yang paling kompleks seperti sekarang ini. Namun tetap saja pandangan ilmu pengetahuan terhadap dunia, baik negara, masyarakat, keluarga bahkan individu tidak pernah berhenti, bahkan kerap kali semakin membuat kita bingung dan kemudian tidak perduli terhadap dinamika ilmu pengetahuan dalam mencari kebenaran. Sudah sejak manusia hadir di dunia, hadir pula berbagai teori, konsep, aksioma, perspektif maupun metode-metode untuk menjelaskan masyarakat. Berbagai cara digunakan untuk melahirkan sebuah teori tentang demokrasi. Berbagai paham juga diperkenalkan kepada publik tentang apa yang disebut dengan ekonomi pasar, lembaga legislatif yang ideal, bagaimana birokrasi yang efektif dan sebagainya. Ada juga ilmuan sosial yang berkecimpung untuk mengetahui bagaimana sebuah konflik sosial dan sengketa politik bisa muncul. Sebahagian ilmuan kemudian tertarik dengan hubungan antara perempuan dengan laki-laki, bagaimana bentuk penindasan yang terjadi dalam sistem partriarkhi dan sebagainya. Adapula yang mencoba menganalisis bagaimana sebuah sistem politik dapat berjalan secara stabil. Bagaimana peran-peran seluruh komponen yang ada di sebuah negara sehingga sistem yang dibangun dan dijalankan dapat dikelola secara adil. Dalam konteks budaya juga tidak kalah seru. Ilmuan budaya mencoba membongkar bagaimana sebuah masyarakat, sebuah kelompok, tradisi, norma dan nilai bisa muncul, dan kemudian dijadikan panduan hidup oleh seluruh anggota masyarakat atau anggota kelompok tertentu. Begitu juga dengan ilmuan psikologis. Mereka bertanya-tanya mengapa penyimpangan perilaku bisa terjadi. Apakah disebabkan tekanan mental, ekspresi yang terpendam dan sebagainya. Ilmuan sosiologi kemudian mencaritahu bagaimana konflik sosial bisa muncul. Tentang bagaimana struktur sosial dan pembagian peran di dalam masyarakat bisa terbentuk dan mengapa pembagian peran tersebut berlangsung secara timpang sehingga

4 memunculkan disintegrasi sosial secara luas. Ilmuan yang berkonsentrasi tentang lembaga pemerintahan juga tidak kalah garang dalam menganalisis masyarakat maupun institusi-institusi negara maupun pemerintahan. Para ilmuan politik dan pemerintahan mencoba membangun sebuah sistem pengelolaan dan pemerintahan yang bersih atau tidak korup, efektif dalam menjalankan program-programnya, memenuhi unsur keadilan dan menjalankan fungsi pelayanan yang baik bagi masyarakat. Pakar-pakar politik dan pemerintahan juga berusaha menjelaskan bagaimana pengaruh antara kekuasaan terhadap rakyat. Bagaimana perlawanan dan resistensi, budaya diam, ketidakperdulian,ataupun kepatuhan rakyat pada pemerintah bisa terjadi. Di tingkat makro, ilmuan politik dan pemerintahan mencoba membedah bagaimana sistem pelayanan, sistem birokrasi, kebijakan politik maupun pengelolaan di sibuah organisasi pemerintah dapat berjalan. Mereka mencoba memahami bagaimana realitas di tingkat politik lokal bisa terbentuk. Mengapa pemerintah lokal tidak mampu menjalankan peran dan fungsinya secara baik, mengapa pelayanan terhadap publik belum berkualitas, mengapa birokrasi malah mempersulit pelayanan dan sebagainya. Semua pertanyaan-pertanyaan di atas berhubungan dengan materi perkuliahan ini. Untuk mengetahui mengapa korupsi bisa terjadi, maka terdapat teori yang bisa menjelaskan sifat dasar manusia dalam hubungannya dengan tingkat kerakusan individu. Untuk mengetahui bagaimana konflik bisa terjadi, maka akan ada teori tentang keadilan yang bisa menjelaskan realitas tersebut. Demikian juga ketika kita ingin mengetahui mengapa peran-peran politik bisa mengalami perubahan,dan bagaimana kebijakan-kebijakan negara ternyata membawa keterpurukan bagi rakyatnya. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebutlah yang akan jelaskan dalam perkuliahan ini. Tentu saja seluruh pertanyaan tersebut tidak dapat dijelaskan secara tuntas karena keterbatasan waktu. Namun untuk dapat membentuk pemahaman dasar bagi mahasiswa pemerintahan tentang bagaimana melakukan analisis terhadap realitas sosial, politik, budaya dan ekonomi, maka apa yang akan dijelaskan dalam tulisan pendek ini bisa membantu. Diawali dari Yunani Kita tidak bisa menyangkal, banyak ilmuan peletak dasar teori-teori politik, sosial, budaya, maupun agama lahir dari pemikir-pemikir Yunani. Bukan berarti ilmuan di belahan bumi lain tidak memiliki pemikir-pemikir yang mencoba mencari landasan kebenaran dan perilaku manusia dalam alam politik. Di banyak bagian dunia lain sebenarnya juga muncul ilmuan-ilmuan sosial politik, Namun disebabkan oleh terdokumentasi pemikiran-pemikiran mereka, mau tidak mau kita harus banyak belajar dari teori-teori yang muncul disana. dengan baik, sedangkan di wilayah lainnya tidak. Sehingga wajarlah jika pemikir-pemikir di tempat lain (termasuk di Indonesia) tidak menjadi acuan ilmu pengetahuan.

5 Salah satu hal yang menonjol dari pemikir-pemikir Yunani adalah bagaimana mereka memproduksi begitu banyak teori maupun pandangan tentang bagaimana mencari hakekat, inti, atau substansi dari kehidupan. Untuk mencari hakekat dari kehidupan tersebut, maka ilmuan-ilmuan tersebut kemudian mencari dan melakukan penelusuran daru sumber kebenaran sejati. Salah satunya adalah mencaritau bagaimana manusia bisa hidup damai. Prinsipnya, manusia tidak bisa hidup dalam kekacauan terus-menerus. Agar bisa hidup berdamai dengan manusia lainnya, dan terhindar dari kekacauan, maka mau tidak mau harus ada sebuah teori yang bisa menjelaskan dan mendorong manusia untuk dapat hidup selaras, teratur dan seimbang dengan komponen masyarakat lainnya. Upaya manusia dalam melahirkan teori-teori yang menjelaskan kehidupan manusia tersebut menjadi sangat penting, karena manusia membutuhkan landasan pembentukan aturan-aturan, norma, hukum, nilai maupun perilaku-perilaku yang menyangga kehidupan. Tanpa adanya teori, manusia hanya bisa berpegang pada nilainilai agama/teologis dan spiritualitas yang sering sekali sangat bersifat subjektif1 dalam memandang mana yang baik dan benar. Teori yang dikembangkan oleh manusia tersebut tentu saja tidak mesti menggantikan peran agama. Walaupun dalam perkembangan teori-teori tersebut terjadi pertentangan antara nilai-nilai agama dengan pengetahuan, namun pada akhirnya di beberapa masyarakat terjadi saling melengkapi antara keduanya. Kemampuan dan ikhtiar manusia dalam mencari hukum-hukum atau dalil-dalil umum yang dapat menjadi panduan dan pegangan hidup manusia tersebut tentu saja tidak berlangsung cepat dan tanpa sebab. Perkembangan pemikiran-pemikiran di masa lampau hingga kemudian menjelma menjadi teori-teori yang relevan pada saat ini melalui sebuah proses panjang dan menemui banyak tantangan. Proses menuju kemapanan ilmu pengetahuan dan teori-teori pendukungnya mengalami pasang surut. Upaya membangun pengetahuan yang objektif, kebebasan berfikir dan pengutamaan rasio mendapat tentangan yang luar biasa dari penguasa pada saat itu, terutama dari kaum agamawan. Mereka menolak segala pemikiran-pemikiran dan ide yang dianggap meruntuhkan kekuasaan agama, dan berusaha mempertahankan dominasi mereka terhadap setiap sendi kehidupan manusia. Perlahan perkembangan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan sehingga sulit untuk dibendung. Ibarat membuka sebuah kotak pandora, maka keluarlah segala pemikiran-pemikiran dan paham yang mengobrak-abrik tatanan yang ada. Seakan pada saat itu manusia menemukan satu kebebasan dan kebenaran hakiki yang selama ini direnggut oleh kekuasaan agama. Rasio dan akal sehat yang tumbuh subur dalam ilmu pengetahuan kemudian seakan mengambil alih pola fikir manusia, tanpa Subyektif disini artinya adalah, manusia terkesan menerjemahkan kebenaran, kebaikan, dan hukum berdasarkan kepentingannya sendiri, sehingga jika hal itu terjadi, maka kecenderungannya akan menciptakan konflik dan persaingan yang berakhir dengan perang.
1

6 terkecuali terhadap sistem politik. Perilaku politik masyarakat tidak lagi dipengaruhi oleh agama dan mulai terkikis, digantikan oleh akal budi dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Landasan Filosofis Teori-Teori Politik Membicarakan ilmu pengetahuan tidak akan pernah dilepaskan dari pemikiran filsafat. Seluruh pengetahuan yang ada dan berkembang saat ini pada prinsipnya berakar dari perkembangan para filsuf atau pemikir-pemikir filsafat masa lalu yang mencoba memahami keterkaitan antara manusia dengan alam maupun manusia itu sendiri. Sebagai sebuah ilmu, filsafat tidak sekedar membicarakan tentang tujuan pencarian kebenaran maupun kontribusinya dalam melahirkan solusi-solusi bagi permasalahan-permasalahan masyarakat, namun yang juga penting adalah, cara atau metode berfikir filsafat itu sendiri. Ini artinya, melalui filsafat, maka manusia memiliki metode berfikir yang mendalam dan sistematis sampai ke akar persoalan atau akar dari sesuatu. Dengan demikian, berfikir filsafat juga bukan sekedar berfikir, namun berfikir secara mendalam, sungguh-sungguh2 dalam mencari kebenaran hidup manusia. Seperti juga halnya dengan pandangan filsafat politik terhadap kemunculan pemikiran manusia, salah satunya adalah pemikiran politik. Berdasarkan sudut pandangan filsafat politik, manusia sebenarnya sudah berfilsafat sejak sudah mulai menyadari dapat hidup satu sama lain dengan cara yang lebih bermanfaat. Kesadaran hidup bersama secara bermanfaat tersebut didasari oleh rasionalitas manusia, sehingga memungkinkan manusia untuk mengembangkan pilihan-pilihan secara terbuka dalam mengatur hidup bersama3. Rasionalisasi terhadap pilihan-pilihan tersebut menjadi langkah awal penggunaan akal manusia untuk bagaimana dapat hidup dengan manusia lainnya secara damai. Penggunaan rasio tersebut kemudian dijadikan dasar oleh manusia untuk membangun pola fikir yang maju, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu pengaruh perkembangan rasio tersebut adalah dalam hal politik. Perkembangan pemikiran filsafat tersebut sudah dimulai kurang lebih pada abad 6 SM. Kala itu filsuf berkonsentrasi seputar ide, bagaimana ide bisa muncul, dan bagaimana ide tersebut membentuk pengetahuan manusia. Salah satu ilmuan yang mencoba mencari sumber kebenaran tersebut adalah Xenophanes. Ia menyatakan, sumber dari kebenaran, kebaikan, ilmu pengetahuan, moral, dan hukum adalah Tuhan. Tuhan dianggapnya sebagai unsur paling besar, karena Ia maha berfikir, maha mendengar, maha melihat, maha tau dan sebagainya. Karena ia adalah dasar dari segalanya, maka sudah sepantasnya manusia harus melandasi sistem masyarakat,
2 3

Yusuf, Edi. 2004. Historis Filsafat dan Perkembangan Pemikiran. Jakarta. Wahyudi, Agus. 1997. Filsafat Politik Sebagai Disiplin Akademik, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

7 melandasi cara berfikir manusia, melandasi bagaimana perubahan sosial harus dilakukan. Tidak boleh atau tidak ada unsur apapun yang lebih besar dari Tuhan, sehingga kebenaran dari Tuhan lah yang harus dipatuhi oleh manusia, bukannya kebenaran dari manusia yang kemudian dijadikan kebenaran Tuhan. Salah satu kritik dari Xenophanes adalah mitologisasi yang dilakukan oleh manusia. Mitologisasi menurut Xenophanes adalah sebuah proses pemikiran dimana pandangan, nilai, normal, aturan maupun pemikiran-pemikiran manusia atas alam atau lingkungan yang kemudian di mistis kan, di angkat, atau dijadikan pemikiran Tuhan atau tentang Tuhan. Sederhananya, manusia tidak pernah melihat Tuhan, karena yang dilihat oleh manusia sehari-hari adalah sesuatu yang ada di sekelilingnya atau di lingkungan dimana dia berada. Manusia melihat di dunia penuh ketidakadilan, dimana pihak yang kuat menghancurkan atau memangsa yang lemah. Tentang itu, kemudian manusia membuat sebuah paham bahwasannya yang adil adalah dimana yang kuat tidak boleh memangsa atau menindas yang lemah. Manusia melihat manusia penuh dosa, kemudian Tuhan dipahami sebagai sosok yang sama sekali tidak memiliki dosa. Kemudian manusia juga melihat manusia punya banyak kelemahan dan keterbatasan, maka sosok Tuhan adalah sesuatu yang sangat kuat atau tidak punya kelemahan dan keterbatasan. Inti dari mitologisasi adalah, manusia membangun sebuah sifat yang berbeda sama sekali dengan yang terjadi di dunia. Segala sesuatu yang rendah, buruk, tidak adil, kacau dan sebagainya yang menjadi sifat dunia adalah terbalik dengan sifat Tuhan yang baik, maha kuasa, pengasih dan sebagainya. Ini artinya, manusia membuat sifat Tuhan adalah sifat yang terbalik dari manusia. Pandangan seperti itu menurut Xenophanes adalah merendahkan sifat Tuhan. Ia berandai, jika se ekor kuda memiliki tuhan, maka tuhan kuda tersebut ber kaki empat, memiliki ekor dan sebagainya. Begitu juga jika ular memiliki tuhan, maka tuhan-nya ular adalah panjang, melata, dan sebagainya. Jadi menurut Xenophanes, penilaian manusia terhadap Tuhan merendahkan keberadaan atau sosok Tuhan yang sebenarnya. Pandangan seperti itu tidak boleh terjadi dalam memperoleh atau mencapai kebenaran, namun kebenaran tersebut harus diterima oleh manusia apa adanya tanpa dibanding-bandingkan dengan apa yang dilihat oleh manusia sehari-hari di dunia.

8

Pada masa yang sama, juga lahir pemikir filsafat yang memiliki pengaruh besar terhadap pengetahuan, yakni Heracleitos. Ia merupakan salah satu pemikir Yunani yang beranggapan bahwasannya segala sesuatu ada dalam gerakan dan tak ada sesuatu yang tetap. Melalui ajarannya yang disebut ”Panta Rei atau segala sesuatunya mengalir. Filsafat yang dikembangkan oleh Heracleitos berusaha memberi pemahaman kepada manusia, bahwasannya segala sesuatu ada di dalam gerakan atau tidak akan pernah dalam keadaan tetap. Gerakan yang terjadi tersebut dapat saja berbentuk benturan atau perang, namun menurutnya, perang atau benturan tersebutlah yang dapat membangun kesatuan. Pandangan Xenophanes maupun Heracleitos tersebut kemudian berkembang. Lahirlah Plato yang kemudian memiliki pandangan alternatif tentang bagaimana manusia bisa mendapatkan kebenaran yang sejati. Pemikiran Plato didasari oleh sebuah pernyataan, bahwasannya indera manusia (mata, telinga, hidung, dll) memiliki keterbatasan, bahkan sering sekali menipu manusia, sehingga apa yang dilihat, didengar dan dirasakan oleh manusia tidak akan akurat. Hal itu dikarenakan realitas, alam, lingkungan atau apa yang ada di sekitar manusia selalu mengalami perubahan terus-menerus. Dengan kata lain ia berusaha menyatakan, untuk mencari ilmu pengetahuan, kebenaran, teori, pemahaman atau pemikiran, manusia tidak bisa mengandalkan indera yang dimiliki. Cara yang paling tepat untuk memperoleh kebenaran, mencari atau mengembangkan ilmu pengetahuan adalah dengan mencarinya di dalam fikiran manusia atau pada ide manusia. Namun ia menambahkan, ide yang ada pada fikiran manusia tersebut tidak muncul dengan sendirinya, namun karena ada sesuatu yang berada di luar manusia dan kemudian mempengaruhi terbentuknya fikiran atau ide

9 manusia. Sesuatu yang berada di luar manusia tersebut memiliki sifat murni, objektif, tetap, abadi, tidak berubah-ubah dan tidak dapat dipengaruhi manusia. Sesuatu yang berada di luar manusia (bukan lingkungan) tersebut memiliki sifat tersendiri dan terlepas dari jangkauan manusia. Menurut Plato, ide-ide yang baik (ideas of good) tersebut yang menuntun manusia dalam membentuk wajah masyarakat atau manusia. Ide yang baik tersebut kemudian menjadi panduan manusia dalam memandang, menilai maupun mengembangkan pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang masyarakat yang baik. Berikut ilustrasinya.

Berdasarkan gambar di atas, manusia pertama memiliki ide tantang sesuatu, baik itu benda atau materi tertentu. Namun perlu di ingat, dari tanda panah di atas, manusia tidak tergantung dengan objek atau materi tersebut. Tanpa ada materi atau objek tersebut pun ide atau pemikiran tersebut telah ada. Setelah itu manusia melihat objek atau materi lainnya. Ketika materi atau objek lain tersebut dilihat, dirasakan oleh manusia, kemudian dibandingkan dengan ide yang dimilikinya, maka manusia tersebut pun mengenali objek tersebut. Begitulah seterusnya. Cara berfikir seperti itu disebut oleh Plato sebagai cara berfikir Apriori, yakni cara berfikir yang menggunakan ide-ide umum untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat khusus. Namun cara berfikir tersebut menurut Plato tidak sembarang orang bisa melakukannya. Orang yang bisa melakukan itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan intelektualitas, kedisiplinan, moralitas yang baik dan cinta pada hal-hal yang baik. Dengan kata lain, manusia yang tidak memiliki unsur-unsur tersebut tidak layak untuk memiliki cara berfikir apriori dalam menemukan atau mengembangkan ilmu pengetahuan. Sayangnya, ide-ide yang baik seperti yang digambarkan oleh Plato tersebut tidak jelas bersumber darimana. Ia hanya mengungkapkan bahwasannya ide-ide tersebut bersumber dari luar manusia. Namun tidak terungkap apakah ada unsur di luar

10 manusia yang kemudian mempengaruhi manusia. Plato juga tidak menyebut Tuhan sesuatu tersebut sebagai Tuhan. Ketidakjelasan unsur sumber kebenaran yang dimiliki manusia tersebut menjadi kelemahan dari Plato. Padahal tanpa diketahuinya sumber tersebut, maka sama saja sebenarnya Plato mengatakan bahwasannya manusialah sumber dari kebenaran tersebut. Pandangan lainnya dari ilmuan Yunani adalah Aristoteles. Ia memiliki keyakinan bahwasannya alam atau dunia selalu berjalan dengan aturan dan hukumhukum yang tetap. Karena berjalan dengan hukum atau aturan yang tetap, maka pengenalan atas alam atau dunia tersebut dapat menggunakan logika atau rasio manusia. Dengan kata lain Aristoteles berusaha menawarkan kepada manusia sebuah cara berfikir yang menggutamakan rasio atau logika. Manusia tidak harus mengalami atau melakukan sesuatu dalam mencari kebenaran, mengembangkan pengetahuan, menemukan hukum-hukum alam dan sebagainya. Ada rasio atau logika yang dapat digunakan oleh manusia sehingga diperoleh ilmu pengetahuan atau teori-teori yang dapat dimanfaatkan bagi perkembangan masyarakat atau peradaban. Berbeda dengan Plato yang menyatakan ada sebuah ide di luar manusia yang menuntun seseorang untuk mengenali atau mencermati sesuatu, maka Aristoteles menyatakan, sesuatu atau ide tersebut adalah logika atau rasio manusia. Melalui rasio atau logika, manusia dapat memiliki pengetahuan yang benar. Tidak perlu ada nilainilai atau sumber kebenaran lain di luar manusia, karena di dalam fikiran manusia sendiri terdapat cara berfikir (logika dan rasio) yang dapat digunakan untuk mendapatkan kebenaran atau dalam mengenali kehidupan masyarakat dan manusia. Berikut ilustrasi bagaimana rasio dan logika digunakan dalam mencari kebenaran.

Untuk mendapatkan sebuah kebenaran atau sebuah ilmu pengetahuan, maka manusia menggunakan indera nya. Misalnya saja seseorang melihat seseorang yang rajin bekerja. Orang yang rajin bekerja tersebut adalah realitasnya. Orang yang rajin bekerja tersebut berkecukupan secara ekonomi. Setelah dilihatnya, barulah apa yang

11 dilihatnya tersebut masuk ke dalam fikirannya. Di dalam fikirannya tersebut muncul pernyataan-pernyataan, misalanya saja: Orang yang rajin bekerja akan sejahtera secara ekonomi. Setelah muncul pernyataan, kemudian orang tersebut menyimpulkan bahwasannya pernyataannya tersebut logis. Ketika ia mengambil kesimpulan bahwa pernyataan tersebut logis, maka pemikiran tersebutlah yang dikatakan sebagai logika. Cara berfikir yang logis atau sesuai dengan nalar tersebut harus menjadi perhatian manusia dalam mencapai suatu kebenaran. Ada beberapa cara berfikir logis yang sesuai dengan pemikiran Aristoteles, dan cara berfikir tersebutlah yang kemudian menjadi salah satu dasar ilmu matematika. Sebelum kita memasuki pemikiran-pemikiran teori klasik, ada baiknya kita mengenal seorang filsuf yang juga memiliki pengaruh besar terhadap peradaban manusia, khususnya terhadap teori-teori politik. Dia adalah Socrates.Ia diperkirakan lagir pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM. Sebagai seorang filsuf yang sangat disegani, pemikiran-pemikirannya telah membawa gelombang baru perubahan ilmu. Jika sebelumnya filsafat banyak dipengaruhi oleh metode berfikir secara deduktif4, maka ia memperkenalkan sebuah cara berfikir induktif. Pendekatan induktif bertolak mendapat dukungan filosofis dari Socrates, dimana menurutnya halhal umum tidak dapat sekedar dikembangkan melalui proses logika, namun harus muncul dari proses dialektik, dimana pemahaman atau penjelasan terhadap sesuatu harus didasarkan pada argumentasi-argumentasi yang khusus. Untuk memiliki argumentasi yang khusus tersebut, maka tidak ada cara yang dapat digunakan selain melakukan pendefinisian terhadap hal-hal yang kurang lengkap. Artinya disini, dialektika yang dimaksud oleh Socrates adalah bagaimana manusia mengembangkan pengetahuan atau hukum-hukum yang umum melalui pencaritahuan terhadap hal-hal yang sederhana, kurang lengkap dan khusus. Setelah proses itu dilakukan, barulah manusia bisa mengembangkan, menarik kesimpulan secara umum. Bahasa yang sering digunakan untuk proses itu menurut Socrates adalah, bergerak dari partikular ke universal. Intelektualitas Socrates ternyata kemudian lebih dari yang seperti dijelaskan di atas. Ada banyak pemikirannya yang sampai saat ini dikembangkan oleh ilmuanilmuan sosial, juga politik, salah satunya adalah terkait dengan sumbangsih Socrates terhadap etika dan kebenaran. Seperti yang disebutkan sebelumnya, Socrates memperkenalkan konsep dialektika dalam proses mencari kebenaran, sehingga menurutnya manusia harus bertindak dengan benar dan memahami bagaimana sebuah kehidupan yang baik. Untuk itu, maka manusia harus memelihara jiwa. Jiwa dipelihara lewat pengembangan pengetahuan dan kebijaksanaan yang benar. Untuk memcapai tujuan tersebut, maka kehidupan politik menurutnya haruslah didukung oleh etika.
4

Deduktif adalah metode berfikir yang bergerak dari pemikiran/teori-teori yang bersifat umum hingga bisa digunakan untuk menjelaskan hal-hal khusus.

12 Selain itu, pengetahuan dalam pandangan Socrates juga harus terkait dengan etika. Melalui fikiran-fikirannya ia mencoba untuk memberi kesadaran kepada banyak orang. Salah satu konsep yan ditawarkannya adalah bagaimana memasukkan etika dalam kehidupan politik, atau dengan kata lain, menurut Socrates pengetahuan adalah sarana kepada tindakan etis. Etika akan mengajarkan manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik. Ketika orang memiliki pengetahuan, maka pengetahuan tersebut akan diarahkan pada perbuatan-perbuatan yang baik, atau cenderung menghindar dari tindakan-tindakan yang buruk. Orang seperti itu memiliki intelektualisme etis. Namun perlu diketahui juga bahwasannya apa yang disebut oleh Socrates dengan kebenaran dan kebaikan haruslah dalam bentuk tindakan yang bermanfaat bagi manusia, dalam artian tindakan tersebut benar-benar mendatangkan kebahagiaan sejati. RELEVANSI PEMIKIRAN YUNANI DALAM RANAH POLITIK Jika diperhatikan 3 orang pemikir Yunani di atas, sebenarnya mereka tidak hanya berusaha menjelaskan bagaimana manusia mencari kebenaran. Sebenarnya lebih luas daripada itu, yakni bagaimana kebenaran, kebaikan, pengetahuan yang diperoleh dari cara berfikir tersebut digunakan oleh manusia dan masyarakat dalam membentuk sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya secara lebih umum. Ketika Xenophanes menyatakan bahwasannya ilmu pengetahuan berasal dari sesuatu yang mutlak (Tuhan), maka tatanan masyarakat, negara, politik, budaya dan sebagainya haruslah yang sesuai dengan keinginan sosok yang mutlak tersebut. Manusia tidak boleh membuat mitologisasi sehingga melahirkan pemahaman tetang sistem politik yang akan diwujudkan, namun sistem politik tersebut haruslah bersumber dari yang mutlak atau Tuhan. Begitu juga dengan Plato dan Aristoteles. Keadilan sosial, politik, dan keadilan dalam bidang ekonomi menurut Plato haruslah dilandasi oleh ide-ide yang baik yang ada di fikiran manusia. Manusia dapat membangun tatanan politik, membangun makna tentang apa yang disebut dengan keadilan, bagaimana negara dijalankan, birokrasi dan sebagainya melalui ide-ide yang ada di dalam fikiran manusia. Wajar saja kemudian sistem politik, negara maupun masyarakat yang terbangun pada saat itu lebih banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang mutlak. Tuhan dan ide-ide manusia menjadi sumber kebenaran yang menginspirasi penyusunan tatanan masyarakat. Pada saat itulah negara dan masyarakat dipengaruhi oleh ide-ide profan yang dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Masyarakat pada saat itu percaya, bahwasannya sumber nilai maupun ide yang berasal dari Tuhan maupun cendekiacendekia adalah pemikiran yang baik dan dilandasi oleh nilai-nilai suci maupun kemurnian. Pemikir terakhir yang di jabarkan di atas adalah Socrates. Ia mempunyai pemikiran yang sangat mengaggungkan kebenaran, kebijakan dan etika. Kesemuanya itu dapat

13 diperoleh melalui dialektika dan dialektika tersebut membentuk pengetahuan yang dijadikan sandaran manusia dalam bertindak. Walaupun Socrates tidak banyak menyebut tentang Tuhan, namun ia mengungkap pengetahuan akan Tuhan yang tidak terbatas. Namun pandangannya tentang Tuhan tersebut tidak mencerminkan kepercayaannya yang mutlak terhadap Tuhan, karena pada bahagian lainnya, ia menyebutkan adanya istilah akal budi universal. PEMIKIRAN ABAD PERTENGAHAN Diakui bahwasannya pemikiran-pemikiran jaman Yunani memegang peranan sangat penting dalam membangun landasan filosofi sosial, politik, ekonomi dan agama. Mereka meletakkan dasar pemikiran yang kemudian dilanjutkan dengan ilmuan-ilmuan abad pertengahan yang mulai membangun cara berfikir yang lebih baik dalam memperoleh kebenaran, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Pemikiran abad pertengahan dapat dikatakan berupaya melanjutkan apa yang dikemukakan oleh Aristoteles, yakni menggunakan rasio atau logika dalam mengembangkan pengetahuan akan negara dan masyarakat. Namun berbeda dengan Aristoteles, pemikiran abad pertengahan mulai mengalami keraguan jika hanya menggunakan nalar atau rasio untuk mengungkap realitas sosial dan politik. Cara yang digunakan tersebut terlalu mengagung-agungkan otoritas intelektual manusia yang sering sekali salah. Cara yang paling tepat adalah dengan menggunakan cara berfikir yang memadukan pengamatan secara langsung oleh indera manusia dan rasio manusia. Cara berfikir seperti itu ditawarkan terutama oleh ilmuan abad pertengahan, misalnya Francis Bacon((1220-1292) dan Renee Descartes. Francis Bacon menyatakan bahwasannya pengetahuan dan pengenalan manusia atas dunia harus didasari oleh pengamatan secara langsung terhadap realitas. Dengan cara itu maka sebuah pengetahuan kan menjadi empiris. Pengetahuan tidak bisa dikembangkan hanya dengan duduk di belakang meja dan memikirkan sesuatu menggunakan logika dan nalar manusia. Ilmu pengetahuan harus dimunculkan dengan datang dan melihat secara langsung seperti apa suatu fenomena atau realitas tersebut, sehingga ilmu pengetahuan dapat dikembangkan secara bertanggungjawab. Namun jika hanya mengandalkan logika, maka bangunan ilmu pengetahuan yang ada hanya akan memunculkan pemikiran-pemikiran atau argumentasi yang rasional namun tidak ilmiah. Pandangan Francis Bacon tersebut kemudian mendapat kritik dari Renee Descartes. Ia menyatakan, ilmu pengetahuan tidak bisa dikembangkan hanya dengan melakukan pengamatan secara langsung. Indera manusia memiliki banyak keterbatasan dan tidak layak dijadikan fondasi membangun pengetahuan atau teoriteori akan negara dan masyrakat. Hal itu terjadi karena indera manusia tidak akan mampu mengenali realitas secara utuh. Realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya selalu akan mengalami perubahan dan berdinamika tanpa bisa direkam oleh indera

14 manusia. Apa yang dilihat oleh manusia dengan menggunakan indera nya hanya mampu mengangkat sebahagian saja dari sebuah realitas. Untuk itu manusia juga harus memadukan pengamatan langsung tersebut dengan akal budi manusia. Akal budi manusia tersebut berbentuk kebenaran sejati, kejernihan fikiran, dan nilai-nilai kepercayaan. Namun sayangnya Descartes menyatakan, bahwasannya akal budi manusia tersebut bersumber dari Tuhan. Ini artinya, pada hakekatnya Descartes juga masih belum bisa melepaskan diri dari pemikiran jaman Yunani yang cenderung dipengaruhi oleh sumber kebenaran yang bersifat profan. Ini artinya, pengetahuan yang dibangun oleh Descartes menjadi kabur. Apakah realitas yang dilihat oleh indera manusia lah yang menjadi sumber pengetahuan, atau nilai-nilai atau kebenaran dari yang mutlak sebagai dasarnya. Untuk melengkapi cara berfikir tersebut muncullah Immanuel Kant yang kemudian disebut-sebut sebagai bapak ilmu pengetahuan empirik. Menurut Immanuel Kant, pengetahuan tidak bisa hanya dibangun dari indera manusia maupun logika, nalar, rasio maupun akal budi. Menurutnya, indera manusia, seperti mata, telinga, penciuman, dan sebagainya hanya bisa mengenali gejala-gejala alam. Misalnya saja ketika seseorang memandang sebuah meja. Yang dilihat manusia bukanlah meja, namun gejala-gejala berbentuk meja. Kemudian setelah indera manusia melihat gejala tersebut, barulah logika, nalar dan rasio yang bekerja. Gejala-gejala tersebut kemudian dikategorisasi, dikelompokkan, diatur sedemikian rupa sehingga membentuk konsep atau materi bernama meja. Dengan cara seperti itu Immanuel Kant menegaskan, tidaklah cukup menggunakan rasio semata dalam mengungkap kebenaran. Indera manusia juga memegang peranan penting. Ketika gejala yang diperoleh dari indera manusia tidak dipadukan dengan logika, rasio, nalar atau akal budi manusia, maka sesuatu tersebut tidak dapat dikatakan ilmiah. Misalnya saja terdapat realitas bahwasannya keberadaan partai politik di Indonesia merupakan wujud dari demokrasi. Kita membaca, melihat, bahkan mengalami secara langsung keberadaan partai politik tersebut. Namun menurut Kant, keberadaan partai politik tersebut hanya sebuah gejala dari demokrasi. Agar pemahaman kita terhadap partai politik bisa ilmiah, maka gejala yang kita amati, lihat dan alami tersebut harus dinilai menggunakan rasio, nalar maupun akal budi, dengan demikian lengkaplah unsur ke ilmiahan dari partai politik tersebut sebagai bagian dari sistem demokrasi sebuah bangsa.

15

PEMIKIRAN TEORI SOSIAL DAN POLITIK KLASIK Bagaimanapun juga, pemikiran-pemikiran yang muncul pada abad pertengahan menjadi dasar ilmuan selanjutnya, khususnya dalam membangun ilmu pengetahuan atau teori-teori yang ilmiah. Pemikiran tersebut kemudian berkembang lagi dan dilanjutkan oleh pemikir-pemikir politik klasi, seperti Feurbach, Hegel dan Marx. Untuk memahami pemikir klasik, maka George William Frederich Hegel adalah tokoh penting yang memiliki peran besar terhadap perkembangan politik klasik. Menurut Hegel, ilmu pengetahuan sosial maupun politik dibangun atas dasar akal manusia. Akal atau ide manusia menjadi faktor dominan yang harus dijadikan landasan memperoleh kebenaran. Ide atau akal manusia bersifat independen atau tidak dipengaruhi oleh benda atau materi nya. Jika kita memikirkan tentang sebuah benda, maka tidak perlu benda tersebut ada di sekeliling kita atau kita lihat dengan indera kita. Akal atau ide yang dimiliki manusia memiliki kekuatan sendiri sehingga bisa dijadikan patokan dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Namun ide atau akal tersebut bukanlah ide yang kaku, namun ia selalu mengalami perubahan atau berdinamika. Ide atau akal manusia selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut menurut Hegel disebut dengan dialektika. Dialektika adalah sebuah proses pemikiran, mulau dari tesis → antitesis → sintesa. Artinya, pemikiran manusia tidak statis, namun mengalami perubahan terus menerus. Tesis adalah pandangan yang sekarang dipegang atau dipahami manusia, kemudian pemahaman tersebut mulai diragukan. Pada saat keraguan tersebut muncul, maka hal tersebut disebut dengan proses mulainya antitesis. Lama kelamaan antitesis tersebut akan semakin berkembang dan menggantikan tesis sebelumnya. Ketika tesis sudah digantikan, maka muncul apa yang dinamakan sebagai sintesa baru. Sintesa baru tersebut kemudian mengalami keraguan dan ditolak sehingga memunculkan sintesa baru. Begitulah terus-menerus pemikiran atau akal manusia selalu mengalami perubahan. Namun perubahan pemikiran tersebut tidak dipengaruhi oleh lingkungan sosial, karena tanpa adanya realitas atau materi, perubahan akal atau ide manusia tersebut akan tetap berlangsung. Proses perubahan yang disebut oleh Hegel sebagai DIALEKTIKA tersebut tidak sekedar berubah. Namun perubahan tersebut harus memenuhi beberapa prinsip, antara lain; 1. Asas gerak 2. Asas saling berhubungan 3. asas kontradiktif 4. asas perubahan kuantitatif menjadi kualitatif

16 Asas gerak adalah asas yang menyatakan bahwasannya pemikiran manusia, ideide yang ada di kepala manusia terus menerus mengalami gerakan, dan tidak pernah statis. Gerakan ide-ide tersebut dikarenakan masing-masing komponen di dalam pemikiran manusia saling berhubungan. Hubungan antara ide-ide tersebut saling berkontradiksi atau saling menolak/menghancurkan bahkan menegasi satu sama lainnya. Ketika satu komponen hilang akibat penegasian komponen lainnya, maka terjadilah perubahan kuantitatif menjadi perubahan kualitatif. Pandangan G.W.F Hegel tersebut kemudian dikritik oleh Ludwig Feurbach. Ia menyatakan, dialektika yang berlangsung sebenarnya tidak berlangsung di kepala manusia, atau dengan kata lain, perubahan yang terjadi dalam pemikiran manusia tersebut sangatlah rapuh sehingga tidak dapat dijadikan landasan membangun pengetahuan dan pengenalan manusia atas alam. Menurut Feuerbach, dialektika yang terjadi adalah dialeketika material atau dialektika objek/benda. Feuerbach menyatakan, yang utama dalam dunia, termasuk dalamm lingkungan sosial adalah materi. Materi memegang peranan penting karena materi atau benda lah yang membentuk hidup, bukan ide-ide, gagasa, rasio atau akal budi manusia. Pandangan Feuerbach dan GWF. Hegel tersebut kemudian mendapat kritikan lebih lanjut dari Karl Marx, yang sekarang dikenal sebagai bapak sosialisme. Marx berpandangan, Hegel meletakkan dunia di kepalanya tanpa perduli seperti apa realitas atau kenyataan sosial tersebut ada. Sebaliknya Marx juga tidak setuju dengan pandangan Feurbach. Feurbach hanya ingin memahami manusia dan lingkungan sosial dari materi yang ada, namun pemahaman yang didasarkan pada materi tersebut tidak berkontribusi terhadap perubahan. Padahal menurut Marx, ilmu pengetahuan bukan hanya untuk menginterpretasi atau memahami kehidupan, namun bagaimana pengetahuan tersebut bisa merubah dunia. Atas dasar itulah kemudian Marx memadukan teori G.W.F Hegel Dan Ludwig Feuerbach tersebut menjadi teori yang dikenal dengan Teori Materialisme Dialektika. Menurut Marx, dunia atau sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya selalu mengalami perubahan atau mengalami dialektika. Dialektika tersebut tidak dilandasi oleh ide-ide, namun oleh benda, materi, atau objek-objek yang ada di luar manusia. Objek atau materi tersebut determinan terhadap perilaku maupun terbentunya sistem ekonomi, politik dan sosial. Materi lah yang menurutnya mendorong terjadinya perubahan. Materi-materi berproses atau berdialektika secara alamiah sehingga mendorong terjadinya perubahan kuantitatif menjadi kualitatif. Selain memperkenalkan teori materialisme dialektika, Marx juga mengintrodusir pemikiran tentang bagaimana kelas di masyarakat terjadi. Masyarakat menurut Karl Marx terbagi atas dua, yakni kelas borjuis dan proletar. Kelas borjuis adalah kelas yang memiliki alat-alat produksi, seperti modal, tanah, teknologi dan sebagainya, sedangkan proletar adalah golongan manusia yang hanya memiliki tenaga. Terbentuknya kelas masyarakat tersebut terjadi akibat determinisme ekonomi atau utamanya dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi, bukan faktor budaya atau

17 sosial lainnya. Menurutnya, manusia dibedakan menjadi dua kelompok atas kepemilikannya, bukan atas pengetahuan, rasionalitasnya, intelektualitasnya, status sosialnya dan sebagainya.Faktor-faktor ekonomi tersebutlah yang mempengaruhi sistem kemasyarakatan. Sistem ekonomi, sosial, budaya, pemerintahan, demokrasi dan sebagainya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh faktor ekonomi tersebut. Tidak ada satupun yang ada di dunia ini dapat dilepaskan dari pengaruh-pengaruh ekonomi. Teori lainnya dari Marx adalah tentang perubahan sosial melalui proses radikal atau revolusi. Menurut Marx, perubahan sosial tidak terjadi secara perlahan atau evolusi, karena adanya prinsip perubahan kuantitatif menjadi kualitatif. Menurutnya, perubahan selalu akan berjalan cepat, karena adanya pertentangan-pertentangan atau kontradiksi yang terjadi dalam hubungan-hubungan masyarakat. hubunganhubungant ersebut saling bertolakbelakang. Namun hubungan yang bertolakbelakang tersebut harus dalam bentuk kontradiksi polok. Kontradiksi pokok tersebut bersumber dari hubungan-hubungan pokok. Ketika hubungan-hubungan pokok tersebut berubah menjadi kontradiksi pokok, maka akan berakhir dengan perubahan radikal. Sedangkan perubahan-perubahan yang tidak didasari oleh hubungan-hubungan pokok dan atau kontradiksi-kontradiksi pokok, maka hanya akan menghasilkan perubahanperubahan evolutif yang berlangsung dalam jangka waktu panjang, seperti perubahan reformasi, revisi, trasformasi dan sebagainya. Selain Karl Marx, ada banyak lagi teoritisi sosial dan politik klasik yang menawarkan cara berfikir alternatif. Salah satunya adalah Max Weber. Weber mengkritik Marx karena selalu mengutamakan faktor ekonomi sebagai landasan terbentuknya struktur atau sistem sosial. Menurutnya, faktor ekonomi bukan penentu perubahan yang terjadi ada masyarakat. Ada faktor lain, seperti faktor nilai-nilai yang kemudian berpengaruh terhadap ide-ide yang kemudian mendorong terbentuknya tatanan masyarakat. Berdasarkan bukunya tentang The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, ia mengatakan terbentuknya masyarakat yang bersifat kapitalis bukan didasarkan oleh kondisi ekonomi saja, namun didorong oleh nilai-nilai keagamaan. Gagasan-gagasan keagamaan tersebut menjadi landasan para panganut protestan di eropa untuk hidup lebih sejahtera. Agar hidup lebih sejahtera dan nantinya mendapat banyak berkat dari Tuhan, maka manusia harus bekerja keras untuk memberoleh harta benda secara adil, sehingga membentuk sistem ekonomi yang kapitalis. Kemudian Weber juga menolak pandangan Marx yang menyatakan bahwasannya masyarakat akan terbagi atas dua kelas. Weber menyatakan, masyarakat tidak hanya terdiri atas kelas proletar yang hanya memiliki tenaga dan borjuis yang memiliki modal, teknologi dan faktor-faktor produksi lainnya. Di masyarakat terdapat kelas sosial lain yang didasarkan oleh prestise (status) dan kekuasaan. Orang yang memiliki status belum tentu memiliki faktor produksi, demikian juga dengan orang yang memiliki kekuasaan. Intinya menurut Weber,kelas-kelas di masyarakat sangat beraneka ragam, bukan hanya dibentuk oleh kepentingan ekonomi, namun oleh faktor-faktor budaya, nilai dan sebagainya.

18 Pemikir klasik lainnya adalah Auguste Comte dan Emile Durkheim. Comte menyatakan, masyarakat harus dibangun oleh tatanan yang ilmiah. Sesuatu yang ilmiah tersebut dapat terwujud jika ilmu pengetahuan yang dikembangkan didasarkan pada pengetahuan alamiah yang diadopsi dari ilmu alam. Menurutnya, alam merupakan fakta yang mirip dengan fakta sosial atau fakta masyarakat. Apa yang terjadi dan perubahan-perubahan yang berlangsung di alam sama persis dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat, dimana sama-sama mengalami perubahan menuju keseimbangan. Untuk itu, ilmu pengetahuan harus didasarkan pada cara pandang yang objektif. Manusia tidak boleh mencampuradukkan pemikiran, ide atau gagasan dengan fakta atau realitas. Realitas atau objek harus dibiarkan tanpa pengaruh, sehingga manusia dapat mengamatinya secara objektif. Hasil pengamatan yang objektif tersebutlah yang kemudian dikenal dengan cara berfikir atau paradigma berfikir positivis. Namun perlu dicatat, cara berfikir positivis tersebut haruslah dalam rangka membangun masyarakat secara konstruktif, tidak dalam rangka menghancurkannya. Paradigma berfikir positivis ini muncul karena terjadinya revolusi prancis dan revolusi industri yang menciptakan kekacauan. Untuk itu ilmu pengetahuan, termasuk teori-teori sosial, ekonomi dan politik harus berkontribusi dalam memperbaiki kondisi yang sudah kacau tersebut. Hal yang sama dikatakan juga oleh rekan sepahamnya, yakni Emile Durkheim. Menurutnya, sesuatu yang ilmiah adalah sesuatu yang ada di luar manusia. sesuatu yang di luar manusia tersebut bersifat memaksa perilaku, tindakan dan dan cara manusia dalam menata sistem politik, sosial dan ekonomi. Ia memperkenalkan fakta sosial (social facts) yang dianggap sebagai kekuatan (forces) yang mempengaruhi manusia berbuat atau membentuk tatanan masyarakatnya. Contohnya adalah ketika manusia cenderung melakukan korupsi. Menurutnya, korupsi terjadi bukan karena adanya faktor moral, ide atau nilai-nilai individu yang melakukan, namun karena ada fakta atau lingkungan sosial yang mendorong seseorang melakukan korupsi. Agar masyarakat dapat berjalan secara baik, damai, tertata ddan berjalan secara seimbang, maka teori atau ilmu pengetahuan yang dibangun haruslah sesuai dengan tatanan atau struktur alamiah yang selalu berjalan secara seimbang, karena pada dasarnya alam memiliki kemampuan menyeimbangkan diri. Berbeda dengan pandangan Thomas Hobbes yang menyatakan pada hakekatnya realitas alam memiliki sifat jahat, kejam dan bengis. Ia menyebut ciri-ciri tersebut dengan leviathan, yakni sebuah sosok jahat yang selalu mempengaruhi tindakan manusia. Menurut Hobbes, manusia pada hakekatnya selalu akan mencari keuntungan dan menghindari segala sesuatu yang merugikan. Manusia kata Hobbes adalah rakus, suka bertengkar, haus akan kekuasaan, tidak pernah merasa cukup dan sebagainya. Kecenderungan sifat seperti itu menjadi ciri khas hidup manusia yang memandu perilaku masyarakat. Akibatnya akan terjadi konflik dan pertentangan sepanjang masa. Namun pertentangan tersebut bisa dihindari ketika manusia berhadapan dengan resiko, seperti kematian. Agar resiko tersebut dapat berkurang, maka manusia harus membuat kontrak sosial. Kontrak sosial tersebut muncul karena kompetisi ataupun

19 konflik yang terjadi telah mengancam kepentingan pribadinya. Jadi, menurut Hobbes, manusia mau bekerjasama, mau berdamai ketika kepentingannya sudah terancam. Sepanjang kepentingannya dapat dipenuhi tanpa berkompetisi dengan orang lain, maka manusia akan cenderung untuk rakus dan berlaku jahat. Paradigma positivis yang berkembang pada masa pasca revolusi industri tersebut kemudian mendapat kritikan dari aliran kritis. Aliran kritis menyatakan, hidup manusia atau perkembangan masyarakat tidak melulu dipengaruhi oleh faktor eksternal atau materi yang ada di luar manusia. Faktor eksternal seperti nilai, hukum, aturan, organisasi dan sebagainya tersebut mempengaruhi tindakan manusia. Manusia tidak memiliki kebebasan bertindak. Ide, gagasan, pemikiran yang ada pada manusia dipengaruhi oleh fakta di luar dirinya, sehingga hal itulah yang mendorongnya untuk bertindak atau berperilaku. Menurut pandangan paradigma kritis, terbentuknya masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal atau fakta sosial yang bersifat memaksa tersebut. Manusia tidaklah patuh, taat, dan berperilaku sesuai dengan kenyataan atau fakta yang memaksa, seperti kekuasaan, birokrasi, hukum dan sebagainya. Manusia juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar faktor ekonomi atau materi-materi yang tampak. Ada faktor lain yang menurut Antonio Gramski justru berpengaruh lebih besar atas perilaku manusia. Misalnya saja analisisnya tentang pengaruh kekuasaan kepada masyarakat. Kekuasaan bukan hanya memiliki alat pemaksa atau alat tekan kepada masyarakat agar patuh. Kekuasaan yang sering digunakan oleh pemerintah juga menggunakan budaya agar masyarakat atau rakyatnya terbuai, diam, pasif atau hidup secara harmonis. Nilai-nilai budaya yang digunakan oleh kekuasaan tersebut. Untuk melakukan perubahan tersebut, maka tidaklah cukup dengan membuat kekuasaan baru atau alat baru sehingga kekuasaan yang dominan dapat dikalahkan digantikan dengan kekuasaan lainnya. Agar perubahan dapat terjadi, maka manusia harus memproduksi nilai-nilai atau gagasa baru yang dapat melawan nilainilai budaya yang dominan tersebut. Namun nilai-nilai baru yang dihasilkan tersebut tidak muncul sembarangan, namun oleh kaum intelektual. Kaum intelektual tersebutlah yang kemudian berfikir dan menghasilkan gagasan-gagasan untuk melakukan perubahan. Tujuan dari para intelektual atau elit sosial tersebut adalah memproduksi nilai-nila, gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran yang dapat mendorong masyarakat untuk lepas dari pengaruh nilai-nilai dan gagasan-gagasan yang dimiliki oleh kekuasaan. Para intelektual atau elit sosial tersebut dinamakan oleh Gramski sebagai Intelektual organik, dimana mereka lah yang mengenal masyarakat secara lebih baik dan menghasilkan gagasan-gagasan perubahan. Aliran kritis lainnya juga memandang bahwasannya ilmu sosial dan politik yang dibangun oleh ilmuan-ilmuan telah mereduksi atau merendahkan martabat ilmu itu sendiri. Salah satu yang dikritik adalah rasionalitas yang dibangun oleh aliran positivis dan Marxis. Menurut aliran kritis, ilmu pengetahuan yang dibangun oleh aliran positivis dan Marxis adalah bersifat instrumental, dimana logika atau rasio

20 yang dibangun hanya bersifat formal, tanpa melihat dinamika, proses atau fakta yang selalu mengalami perubahan terus-menerus. Dengan kata lain, pengetahuan yang dibangun hanya memandang masyarakat secara statis atau stabil. Padahal, masyarakat mengalami perubahan terus-menerus, sehingga dalam membangun teori, maka dinamika atau proses perubahan yang terjadi tersebut harus dipertimbangkan. Apa yang dikatakan rasional oleh kaum positivis adalah sudah menyimpang, karena hanya melihat satu sisi saja, yakni sisi pihak yang berkuasa. Begitu bebasnya kekuasaan, sehingga kekuasaan bisa mengasilkan apapun yang harus diterima oleh masyarakat. Manusia atau masyarakat dianggap tidak memiliki kekuatan apapun untuk mandiri dan merdeka dalam membentuk tatanan sosial, politik dan budayanya sendiri, karena kekuasaan punya standar tersendiri yang dipaksa untuk diikuti oleh masyarakat atau rakyat. Misalnya saja terkait dengan ilmu pengetahuan dan budaya atau agama. Sesuatu yang lahir dari ilmuan pemerintah atau negara selalu dianggap paling ilmiah, sedangkan yang muncul dari masyarakat dianggap tidak rasional. Begitu juga dengan budaya. Kebiasaan-kebiasaan, nilai, norma dan tradisi yang dimiliki masyarakat dan bertentangan dengan budaya, nilai dan norma yang diperkenalkan oleh kekuasaan dihancurkan. Dalam bidang agama juga demikian. Agama yang resmi, spiritualisme yang diterima dan di legalkan oleh negara dan pemerintah adalah agama atau spiritualisme yang harus diterima oleh masyarakat. Jika ada nilai-nilai lainnya, maka akan diberangus atau ditentang oleh negara. Salah satu teoritisi kritis yang terkenal adalah Jurgen Habermas. Ia menyatakan, paradigma positivis dan Marztelah menghancurkan landasan berfikir manusia. Menurutnya, manusia bukanlah sosok yang pasif dalam melakukan sesuatu. Atau bukan mahluk yang selalu didasari oleh kepentingan ekonomi dalam bertindak. Apa yang disebut rasional bukan hanya karena mengejar atau memiliki kepentingan ekonomi semata, namun rasionalitas tersebut haruslah menjadi instrumen tindakan yang strategis. Dikatakan strategis karena tindakan yang dilakukan oleh manusia bukan hanya karena rasional karena memiliki tujuan, namun rasional karena melalui proses komunikasi. Sehingga Jurgen Habermas mengatakan, sebuah tindakan tidak hanya didasarkan pada rasionalnya sebuah motif, namun rasionalitas tersebut melalui proses komunikasi lebih dari dua orang, sehingga tindakan yang terjadi benar-benar sudah mempertimbangkan seluruh aspek dan konteks dimana tindakan tersebut berlangsung. TEORI SOSIAL/POLITIK KONTEMPORER Salah satu teori kontemporer yang saat ini paling banyak mempengaruhi kehidupan manusia adalah liberalisme. Namun kemunculan liberalisme tersebut tidak hanya berkembang dari teori-teori liberal, namun sebenarnya berakar dari pemikirpemikir pendahulu pada jaman Yunani maupun klasik.

21 Liberalisme merupakan sebuah tatanan sosial, ekonomi, politik, budaya yang didasari oleh determinasi manusia/aktor dalam membentuk dan merubah sistem sosial. Hal itu dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwasannya manusia memiliki kebebasan dalam mencari kebenaran tanpa harus mempertimbangkan konteks lingkungan sosial atau realitasnya (G.W.F Hegel). Untuk mencari atau mendapatkan kebenaran hakiki tersebut manusia tidak dapat mengandalkan panca inderanya, karena panca indera memiliki keterbatasan dalam mengungkap fakta atau kebenaran. Agar kebenaran dapat diungkap, maka cara yang paling tepat adalah dengan menggunakan rasio atau logika, tanpa harus mendasari rasio atau logika tersebut dengan pengalaman-pengalaman ilmiah (Renee Descartes). Manusia hidup dalam sebuah sistem layaknya sebuah organisme. Seluruh komponen dalam sistem tersebut akan saling mempengaruhi hingga membentuk sebuah sistem yang stabil (Herbert Spencer). Dalam sistem yang saling mempengaruhi tersebut kemudian manusia diperbolehkan atau dibebaskan untuk memenuhi kebutuhannya agar dapat hidup secara sejahtera. Manusia memiliki kebebasan karena manusia pada hakekatnya memiliki hak absolut untuk bebas. Hak absolut tersebut ada karena manusia memiliki pilihan moral (bukan sekedar pilihan rasional)(J.J.Rosseau), dimana pilihan moral tersebutlah yang mendorong keinginan kuat manusia untuk dapat dapat berkembang dan berubah (David Hume). Selain aspek moral, manusia juga memiliki sisi estetika dan spiritual yang harus di aktualisasikan dalam hidupnya. Estetika dan aspek spiritual tersebut harus dipelihara karena dianggap sebagai keunikan dari tiap-tiap manusia, sehingga harus dikembangkan. Pemerintah tidak boleh mematikan keunikan tersebut, karena sepanjang kreativitas dalam bentuk motif-motif tindakan tidak mengganggu orang lain atau hanya berorientasi pada diri sendiri, maka siapapun (termasuk pemerintah tidak diperbolehkan untuk mengintervensi) (John Stuart Mill). Namun kadang dalam mencari dan mendapatkan kebutuhan maupun kesejahteraannya tersebut manusia sering mengalami benturan kepentingan dengan manusia lainnya. Untuk itulah manusia perlu mengatur cara pemenuhan kepentingannya, salah satunya dengan menerapkan toleransi (John Locke). Namun toleransi tersebut tidaklah cukup. Perlu sebuah kontrak sosial antar masyarakat dan kontrak politik antara masyarakat dengan lembaga-lembaga politik sehingga benturan kepentingan antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan kekuasaan tidak membawa kehancuran atau konflik pada sebuah sistem. Kontrak sosial dan kontrak politik tersebut antara lain mengatur tentang bagaimana manusia berkompetisi untuk mengejar kepentingannya tersebut. Dan dalam berkompetisi atau bersaing, manusia atau masyarakat memiliki hak-hak sipil yang harus dihormati, sehingga kepentingan masyarakat dan kekuasaan dapat saling menjaga (Thomas Hobbes). Pandangan seperti di atas sangatlah tidak cukup untuk menjelaskan kestabilan sebuah sistem. Hanya mengandalkan kontrak sosial dan kontrak politik, toleransi, penghargaan terhadap hak-hak sipil dan aspek estetika maupun spiritual tidaklah

22 cukup dalam menghindari kehancuran atau terjadinya konflik dalam sebuah sistem. Keseimbangan sebuah sistem bukan karena adanya toleransi, namun lebih karena adanya dasar bahwasannya masyarakat atau sistem diibaratkan sebagai sebuah organisme hidup yang selalu dalam keadaan seimbang, dimana interaksi dan hubungan yang terjadi di dalam sistem akan menjaga kestabilan sebuah sistem (Vilfredo Pareto). Keseimbangan dan kestabilan dalam sebuah sistem tersebut dianggap oleh aliran positivis sebagai sebuah harga mati, karena tindakan atau interaksi-interaksi yang terjadi di dalam sistem akan selalu mengikuti logika alam atau sistem alamiah. Sama dengan sistem alamiah yang memiliki mekanisme perubahan tertentu, maka begitu juga sistem sosial, karena tindakan manusia akan selalu dilandasi pada proses alamiah (Emile Durkheim dan Auguste Comte). Ketika manusia atau masyarakat sudah berjalan sesuai dengan sistem alamiah, maka seluruh komponen-komponen yang ada akan menuju keseimbangan. Hal itulah yang disebut dengan pandangan struktural fungsional, dimana komponen-komponen yang ada di dalam sistem akan saling berfungsi dan mendukung bagi keseimbangan sistem (Kingsley Davis dan Wilbert Moore). Keseimbangan tersebut dapat terjadi karena sistem sosial memiliki ciri-ciri (Talcott Parson): 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sebuah sistem memiliki pola keteraturan dan ketergantungan Sistem selalu keseimbangan bergerak mempertahankan keteraturan atau

Sistem yang bergerak mengarah pada perubahan yang teratur Setiap sub sistem/bagian berpengaruh terhadap sub sistemlain Sistem memelihara batas-batas dengan lingkungannya Setiap sub sistem sistem mengalokasikan sesuatu dalam rangka mengintegrasikan seluruh sistem Sistem akan melakukan pemeliharaan keseimbangan mengendalikan kecenderungan terjadinya perubahan dari dalam. dan

Paham terakhir dari Talcot Parson tersebutlah yang sebenarnya saat ini paling banyak mempengarui tatanan masyarakat. Masyarakat dikatakan dalam keadaan berubah, namun perubahan tersebut selalu menuju keseimbangan. Keseimbangan tersebut dapat terjadi karena sistem sosial selalu memiliki mekanisme menjaga stabilitas atau keseimbangan. Kecil kemungkinan terjadinya perubahan radikal, karena manusia selalu cenderung untuk hidup seimbang, tenteram dan patuh terhadap lingkungan eksternal, atau hukum-hukum di luar dirinya. Liberalisme memang tumbuh subur dengan sistem seperti ini. Manusia boleh berkompetisi, boleh bersengketa, dapat berbenturan satu sama lain, namun benturan dan konflik yang terjadi tersebut selalu akan menuju keseimbangan. Untuk itu tugas pemerintah adalah menjamin hubungan antara komponen-komponen yang ada didalam sistem tersebut

23 berjalan secara sinergis dan terintegrasi, sehingga kecil kemungkinan terjadinya kehancuran sistem sosial. TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK Teori Interaksionisme Simbolik merupakan teori sosial (terutama Sosiologi) yang kemudian digunakan juga dalam menjelaskan tatanan politik. Teori ini berakar dari aliran filsafat pragmatisme. Aliran filsafat pragmatisme memiliki tiga dasar pemikiran. Pertama, realitas atau fakta sosial ada di fikiran manusia, bukan berada di luar individu. Karena berada di luar fikiran manusia, maka manusia bisa menciptakan atau membentuk realitas secara aktif saat bertindak. Kedua, ketiga, dalam bertindak, manusia selalu dilandasi oleh pengetahuan dan pengalaman tentang mana yang berguna bagi mereka, dan; manusia manusia akan mendefinisikan atau memahami sesuatu atau objek berdasarkan kegunaannya.

Paradigma atau filsafat pragmatis tersebutlah yang kemudian mengilhami beberapa ilmuan untuk melahirkan teori interaksionisme simbolik. Teori interaksionisme simbolik muncul karena ada anggapan bahwasannya manusia tidaklah pasif dalam melakukan sesuatu. Manusia memiliki kebebasan bertindak, berdasarkan pertimbangan dan pendefinisiannya sendiri, tanpa ada paksaan maupun tekanan dari pihak luar. Tindakan yang dilakukan oleh manusia tersebut terjadi karena adanya pemahaman bersama atas simbol-simbol tertentu sehingga pemahaman terhadap simbol-simbol tersebut membangun komunikasi. Ketika komunikasi sudah terjadi, maka orang akan bisa berinteraksi atau bekerjasama. Namun sebelum bekerjasama, maka individu tersebut saling mendefinisikan keuntungan dan manfaat interaksi berdasarkan pengetahuan, pengalaman, maupun konteks/lingkungan dimana realitas sosial tersebut berlangsung. Filsafat kedua yang berpengaruh terhadap teori Interaksionisme simbolik adalah filsafat behaviorisme. Filsafat ini beranggapan, dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu dituntun oleh adanya stimulan dan respon. Namun tindakan tersebut tidaklah sesederhana itu, karena munculnya stimulan dan kemudian dilanjutkan dengan respon juga dipengaruhi oleh komponen-komponen lainnya. Antara lain; 1. Impulse Impulse adalah dorongan hati yang muncul setelah rangsangan muncul (yang didapat melalui indera manusia), dan muncul secara spontan. Misalnya saja jika

24 seseorang merasa kehausan dan melihat adanya air. Keberadaan air tersebut kemudian memancingnya untuk minum. 2. Persepsi Persepsi adalah daya fikir manusia sebelum bertindak atau me respon. Persepsi tersebut dipengaruhi oleh faktor kognitif (pengetahuan dan pengalaman), perasaan dan emosi (afektif) maupun konteks/kondisi dimana interaksi berlangsung 3. Manipulasi Manipulasi adalah kemampuan manusia untuk melakukan penelitian, atau mendalami sesuatu sebelum bertindak atau merespons suatu rangsangan. Jika rangsangan tersebut ternyata dapat berdampak buruk (walaupun menurut pengalaman maupun pengetahuannya) tidak demikian, maka kemungkinan orang tersebut akan menghindar atau menolak untuk bertindak. 4. Konsumasi Konsumasi adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang setelah 4 proses di atas berjalan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->