P. 1
Geografi Pembangunan

Geografi Pembangunan

|Views: 5,536|Likes:
Published by Aprizon
TUGAS INDIVIDU AKHIR

RESPONS PAPER

Tiap-tiap Topik Perkuliahan Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK /2 SKS)

GEOGRAFI PEMBANGUNAN

Oleh:

Aprizon Putra
Nim: 89059/07

Dosen:

Dra.Hj.Kamila Latif, MS Ahyuni, ST, M.Si

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2008

1

Kompetisi dasar dalam Instrument Responspaper Panduan selama 1 Semester Perkuliahan
Mata Kuliah Kelompok Mata Kuliah Jurusan Dosen Pengampu : Geografi Pembangunan : Mata Kuliah Keilmuan
TUGAS INDIVIDU AKHIR

RESPONS PAPER

Tiap-tiap Topik Perkuliahan Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK /2 SKS)

GEOGRAFI PEMBANGUNAN

Oleh:

Aprizon Putra
Nim: 89059/07

Dosen:

Dra.Hj.Kamila Latif, MS Ahyuni, ST, M.Si

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2008

1

Kompetisi dasar dalam Instrument Responspaper Panduan selama 1 Semester Perkuliahan
Mata Kuliah Kelompok Mata Kuliah Jurusan Dosen Pengampu : Geografi Pembangunan : Mata Kuliah Keilmuan

More info:

Published by: Aprizon on Apr 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2015

pdf

text

original

1

TUGAS INDIVIDU
AKHIR

RESPONS PAPER

Tiap-tiap Topik Perkuliahan
Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK /2 SKS)

GEOGRAFI PEMBANGUNAN

Oleh:

Aprizon Putra

Nim: 89059/07

Dosen:

Dra.Hj.Kamila Latif, MS
Ahyuni, ST, M.Si

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2008

2

Kompetisi dasar dalam Instrument Responspaper Panduan
selama 1 Semester Perkuliahan

Mata Kuliah

: Geografi Pembangunan
Kelompok Mata Kuliah : Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK)
Jurusan

: Pendidikan Geografi FIS UNP

Dosen Pengampu

: Dra.Hj.Kamila Latif,MS
Ahyuni,ST,M.Si

1. Mendeskripsikan Konsep-konsep dasar Geogarfi dan pembangunan
Topik I
: Geografi dan Pembangunan
Topik II : Pertumbuhan dan Pembangunan
Topik III : Indikator Pertumbuhan dan Pembangunan

2. Mendeskripsikan teori-teori Pembangunan dan pendekatan Geogarfi
yang terkait erat dengan Pembangunan :
Topik IV
: Teori Pembangunan dan Modernisasi
Topik V : Teori Pertumbuhan yang terkait dengan Ruang dan wilayah
Topik VI : Konsep Wilayah dan lokasi
Topik VII : Teori Konektivitas dan Model Gravitasi
Topik VIII : Teori Lokasi

3. Mengevaluasi isu-isu sentral pembangunan dan Pengaruhnya terhadap
kehidupan.
Topik IX
: Dualisme
Topik X : Masalah ketimpangan dan kemiskinan
Topik XI : Gender dan Pembangunan
Topik XII : Dinamika pola pertanian di Indonesia
Topik XIII : Pembangunan Regional

4. Mengidentifikasi aspek Geogarfi dalam Pembangunan.
Topik XIV
: Aspek Geografi dalam Pembangunan

3

Mendeskripsikan Konsep-konsep dasar Geografi dan Pembangunan

Topik I .Geografi dan Pembangunan

I. Konsep Geografi

Geografi baik sebagai pengetahuan maupun sebagai ilmu, masih belum dikenal

luas di masyarakat Indonesia, meskipun hakekatnya tiap orang telah memiliki

pengetahuan tersebut. Berdasarkan konsep yang ditemukan diatas, jelas bahwa geografi

tidak hanya terbatas sebagai suatu deskripsi tentang bumi atau permukaan bumi,

melainkan meliputi analisa hubungan antara aspek/faktor fisis dengan pola serta hakekat

umat manusia. Dengan demikian, pada studi Geografi, perhatian dan analisa tidak hanya

ditujukan kepada alam lingkungan, melainkan juga berkenaan dengan umat manusia serta

hubungan diantara keduanya.

Disini pun juga ditegaskan bahwa geografi merupakan bidang ilmu yang mencoba

menemukan, mendiskripsikan dan menafsirkan karakter variable dari tempat ketempat

lainnya dibumi sebagai dunia kehidupan manusia. Pada pengertian yang terakhir karakter

geografi itu lebih ditekankan, yaitu berkenaan yaitu dengan tempat dibumi, tidak ada

bidang ilmu yang lain yang menonjolkan aspek tempat atau aspek ruang, kecuali

geografi. Ciri khas studi geografi yang berbeda dengan studi lain yaitu berkenaan dengan

tempat ini. Hal lain yang perlu dikemukakan dan perlu pula diketahui bersamaan bahwa

yang menjadi objek studi geografi, bukan hanya alam fisik yang menjadi tempat dan

sumber daya bagi kehidupan manusia, melainkan juga manusia dengan segala dan

perubahan perilakunnya, dan bahkan interalisasi keduanya, menjadi objek studi yang juga

memberikan karakter kepada ilmu geografi.

Dipihak lain juga studi geografi yang mengkhususkan diri mempelajari alam

lingkungan (physical geography), tidak saja mempelajari alam (udara, air, batuan, gejala

gempa dan lain sebagainya) hanya untuk mengetahui gejala alam tersebut, melainkan

untuk mengungkap “pentingnya” alam bagi kehidupan umat manusia. Inilah salah satu

ciri khas dari geogarfi dan studi geografi.

4

II. Nilai Geografi

Sebagai suatu bidang pengetahuan dan ilmu, geografi memiliki nilai teoritis dan

nilai praktis. Geogarfi sebagai ilmu penelitian (geography as a research discipline), tidak

hanya bernilai teoritis bagi kepentingan pngembangan diri sebagai suatu ilmu, melainkan

dapat dimanfaatkan secara praktis bagi perencanaan dan pembangunan daerah

(Regional).

Geografi sebagai bidang inkuiri seperti yang telah dikemukakan terdahulu, tidak

hanya merangsang untuk berfikir bagi siapa yang melakukannya, melainkan lebih jauh

dari pada itu dapat mempertajam penghayatan terhadap apa yang ada dan terjadi

dipermukaan bumi ini. Dengan perkataan lain, geografi memiliki nilai edukatif bagi siapa

yang mempelajarinya, dalam arti dapat meningkatkan kognisi, afeksi dan psikomotod

yang mempelajarinya, lebih dari pada itu, dengan mempelajari geogarfi kita dapat

menghayati keberadaan diri kita dialam raya, keberadaan bumi dialam raya, fungsi dan

peranan kita terhadap lingkungan ada nilai yang menghubungkanya atau dengan

perkataan lain, geogarfi itu memiliki nilai filsafat. Pada akhirnya sesuai dengan

penghayatan dan kesadaran yang tinggi dalam mempelajari ilmu geografi , kita menjadi

bertambah dekat dengan alam lingkungan, dengan alam raya dan merasa dekat dengan

Tuhan Yang Maha Pencipta.

III. Pembangunan Berpijak Kepada Ruang dipermukaan Bumi

Pembangunan, baik yang berkenaan dengan aspek fisik maupun non fisik, tidak

dapat dilepaskan dari permukaan bumi sebagai ruang tempat pembangunan itu

berlangsung. Oleh karena itu, perancangan, perencanaan, telaah kelayakan

danpelaksanaan pembangunan, berarti merancang, merencanakan, menelaah kelayakan

dan melaksanakan pembangunan ruang dipermukaan bumi, dalam upaya meningkatkan

kesejahteraan umat manusia sesuai dengan nilai geografi seperti yang telah dikemukakan

diatas. Pembangunan non fisik seperti pembangunan pendidikan, kesehatan, ekonomi,

budaya dan lain-lainnya, memerlukan sarana dan prasarana. sarana dan prasarana tadi

memerlukan lahan yang diambil dari permukaan bumi. Oleh karena itu, pembangunan

tidak dapat dilepaskan dari ruang yang berada di permukaa bumi.

5

Pembangunan fisik seperti jalan, jembatan,lapangan terbang, pelabuhan, gedung

dan lain-lainnya. Jelas sekali berpijak pada ruang yang ada di permukaan bumi. Prasarana

dan sarana fisik tadi mengambil lahan dipermukaan bumi. Untuk membangun prasarana

dan sarana, memerlukan bahan yang digali dari permukaan bumi ini.

IV. Sumbangan Geografi terhadap Pembangunan

Geografi sebagai ilmu penelitian, dapat mengembangkan teori, konsep, asas dan

generalisasinya bagi pengembangan dirinya sendiri, disini ia bergerak dalam bidang teori.

Peranan yang sama yaitu sebagai ilmu penelitian (geography as research discipline),

dimanfaatkan juga dalam menyusun rancangan, perencanaan pembangunan wilayah yang

bersangkutan.

Salah satu peranan yang lain yang dimiliki oleh geografi yaitu “geografi sebagai

ilmu tata guna lahan” (Geography as the science of landuse). Disini jelas sekali ia

bergerak dalam bidang praktis, melalui peranannya sebagai ilmu tata guna lahan, geografi

dapat melakukan organisasi keruangan (spatial organization), dalam hal ini geografi

membantu planologi dalam analisis faktor-faktor geografi dalam melakukan tata guna

lahan dan tata guna ruang di permukaan bumi. Untuk menata ruang dipermukaan bumi

berapa persen untuk permukimam, berapa persen untuk industri, berapa persen untuk

industri dan lain sebagainya. Perlu data geografi yang menunjang tata guna lahan. Oleh

karena itu, geografi tidak hanya menunjang secara pasif terhadap pembangunan, melain

kan berperan aktif memberikan data dan informasi tentang aspek-aspek atau faktor-faktor

geografi yang menjadi landasan pembangunan..

6

Topik II .Pertumbuhan dan Pembangunan

I. Evolusi Makna Pembangunan

Setiap Orang berbicara tentang “Pembangunan”. Mungkin pertanyaan yang

muncul adalah apa sebenarnya yang sebenarnya disebut dengan pembangunan? Bab ini

akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menelusuri evolusi makna

pembangunan sejak ekonomi pembangunan lahir, yakni setelah perang Dunia kedua.

II. Pandangan Tradisional

Pada mulanya upaya pembangunan Negara sedang berkembang (NSB)

Diidentifikasikan dengan upaya meningkatkan pendapatan per kapita, atau populer

disebut dengan startegi pertumbuhan ekonomi. Dengan ditingkatkan pendapatan

perkapita diharapkan masalah-masalah seperti pengangguran, kemiskinan, dan

ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi NSB dapat terpecahkan.

Meskipun banyak varian pemikiran, pada dasarnya mereka sependapat bahwa

kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Oleh karena itu, strategi

pembangunan yang dianngap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi

dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi.Tradisi pemikiran utama

(mainstream) Eropa diterjemahkan lebih lanjut oleh: model general, strategi kapitalis

Negara (State capitalist strategy). Model soviet, dan nesiesme. Model liberal

mandasarkan diri pada berlangsungnya mekanisme dasar, Industrialisasi yang bertahap,

dan perkembangan teknologi. Strategi kapitalis Negara merupakan reaksi terhadap

paradigma modernisasi. Model soviet pada Negara merupakan perkembangan lebih lanjut

dari strategi kapitalis Negara, yang dampaknya diilhami oleh kisah sukses soviet dalam

program industrialisasinya. Aliran ynesian merupakan manifestari dari kapitalisme yang

telah mencapai tahap dewasa, yang intinya menghendaki campur tangan pemerintah

dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.Pentingnya Investment in man, yang

menekankan peranan faktor pendidikan dan kebudayaan, merupakan tahap pertama

menuju konsep pembangunan yang semakin tidak murni ekonomi lagi.

7

III. Paradigma baru dalam pembangunan

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, setidaknya melampaui Negara-negara maju

pada tahap awal pembangunan mereka. Memang dapat dicapai namun dibarengi dengan

masalah-masalah seperti pengangguran, kemiskinan dipedesaan, distribusi pendapatan

yang timpang, dan ketidak seimbangan struktur (sjahrir 1986.Bab 1)Fakta ini pula

agaknya yang memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat

yang diperlukan (necessary) tetapi tidak mencukupi (sufficient) bagi proses

pembangunan , pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produktifitas barang

dan jasa secara nasional, sedangkan pembangunan berdimensi lebih luas dari sekedar

peningkatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini yang menandai dimulainya masa pengkajian

ulang tentang arti pembangunan (marada .1966), misalnya mengartikan pembangunan

sebagai pergerakan keatas dan seluruh system social. Ada pula yang menekankan

pentingnya pertumbuhan dengan perubahan (growth with change), terutama perubahan

nilai-nilai dan kelembagaan. Kondisi ini dilandasi argument adanya dimensi kualitatif

yamg jauh lebih penting dibanding pertumbuhan ekonomi.

Selama dasawarsa 1970-an, redefinisi pembangunan ekonomi diwujudkan dengan

upaya meniadakan, setidaknya mengurangi, kemiskinan, pengangguran, dan

ketimpangan. Tidak berlebihan apabila banyak yang memandang bahwa defenisi

pembangunan dalam konteks tujuan sosial. Dengan cepat dimensi baru mengenai

pembangunan mendapat sambutan dari penganjur strategi yang berorientasi kesempatan

kerja, pemerataan, pengentasan kemiskinan, dan kebutuhan pokok.

Obsesi nampaknya didorong oleh keprihatinannya melihat kenyataan

pembangunan diNSB. Timbul kesan bahwa ia “tidak sabar” melihat implementasi strategi

anti kemiskinan, orientasi pada kesempatan kerja, dan pemerataan pembangunan, yang

sering hanya berhenti sebagai retorika politik pada penguasa diNSB semata. Ini pula

ajaknya yang mendorong munculnya konsep dan strategi pembangunan yang baru.

Sejarah mencatat munculnya paradigma baru dalam dalam pembangunan seperti

pertumbuhan dengan distribusi kebutuhan pokok (basic needs), pembangunan mandiri,

Pembangunan berkelanjutan demgan perhatian terhadap alam (ecodevelopment).

8

Pembangunan yang memperhatikan ketimpangan pendapatan menurut etnis

(ethnodevelopment). Barangkali menarik untuk menjadikan ide dasar masimg-masing

paradigma tersebut,

a) Strategi Pertumbuhan Dengan Distribusi

Pada proponen strategi “pertumbuhan dengan distribusi“, atau “retribusi

pertumbuhan”, pada hakekatnya menganjurkan NSB agar tidak hanya memusatkan

perhatian pada pertumbuhan ekonomi (memperbesar “kue” pembangunan) dan juga

mempertimbangan bagaimana distribusi “kue” pembangunan tersebut. Inii bisa

diwujudkan dengan kombinasi strategi seperti peningkatan kesempatan investasi modal

manusia, perhatian kepada petani kecil, sector informal dan pengusaha ekonomi lemah.

Dengan kata lain, syarat utamanya adalah orientasi pada setiap daya manusia, atau ada

yang menyebut sebagai orientasi populisme pembangunan.

b) Strategi kebutuhan pokok

Strategi pemenuhan kebutuhan kebutuhan pokok telah mencoba memasukan

semacam “jaminan” agar setiap kelompok sosial yang paling lemah mendapatkan

masukan dari setiap program pembangunan.

c) Strategi Pembangunan mandiri

Strategi pembangunan mandiri agaknya berkaitan dengan strategi pertumbuhan

dengan distribusi, namun strategi ini memiliki pola motivasi dan organisasi yang berbeda

pada dekade 1970-an, strategi ini populer sebagai antitesis dari paradigma depensiasi dan

tidak bisa dilepaskan dari pengalaman India pada masa Mahaatma Gandhi, Tanzania

dibawah dibawah Julius Nyerere, dan Cina dibawah mao Zedong.

d) Strategi Pembangunan berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan, atau sustainable development, muncul ketika isu

mengenai lingkungan muncul pada dasawarsa 1970. Pesan utamanya adalah bahwa tata

dunia baru atau lama tidak akan menguntungkan apabila system biologis alam yang

menopang ekonomi dunia tidak diperhatikan.

9

Pada pendukung utama Pembangunan berkelanjutan lalu menuju pentingnya

strategi ecodevelopment, yang intinya mengatakan bahwa masyarakat dan ekosistem

disuatu daerah harus berkembang bersama-sama menuju produktivitas dan pemenuhan

kebutuhan yang lebih tinggi,namun yang paling utama strategi pembangunan ini harus

berkelanjutan, baik sisi ekologi maupun Sosial.

V. Paradigma Pembangunan : Utopis ataupun Normatif?

Demikian banyak makna pembangunan yang diturunkan oleh para ahli

berdasarkan pengalaman diberbagai Negara dan studi empiris yang mereka lakukan.

Sejarah pemikir mengenai pembangunan memang diwarnai dengan evolusi makana

pembangunan. Dari pemujaan terhadap pertumbuhan, hingga paradigma baru dalam

pembangunan seperti pertumbuhan dengan distribusi, kebutuha pokok (basic needs),

pembangunan mandiri (self-reliant development), pembangunan berkelanjutan denga

perhatian terhadap alam (ecodevelopment), pembangunan yang mempertimbangkan

pendapatan menurut etnis (ethnodevelopment). Akhir-akhir ini mulai antre beberapa

paradigama lain, seperti: wanita dalam pembangunan regional/spasial, dan pembangunan

masyarakat.

Kendati demikian banyak yang memandang berbagai paradigma baru tentang.

Pembangunan ini masih berada pada dataran normatif. Artinya kontribusinya mengenai

pembangunan tidak berbicara dalam konteks actual, namun lebih membahas apa yang

harus dilakukan.

10

Topik III .Indikator Pertumbuhan dan Pembangunan

Pembangunan selalu menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif. Oleh

karena itu diperlukan indicator sbagai tolak ukur terjadinya pembangunan, kali ini kita

akan menguraikan mengenai indikator-indikator ekonomi maupun sosial yang dikemas

dalam ekonomi pembangunan.

A. Perlunya Indikator Pembangunan

Sebagai mana yang telah dijelaskan sebelumnya , paradigama tradisional mengenai

pembangunan cenderung mengidentikkan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi.

Dewasa ini, defenisi pembangunan ekonomi yang paling banyak diterima adalah:

Suatu proses dimana pendapatan perkapita suatu Negara meningkat

selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah

pendudukan dibawah “garis kemiskinan absolute” tidak meningkat da

distribusi pendapatan tidak semakin timpang (Meier,1995: h.7.)

Yang dimaksud dengan proses adalah berlangsungnya kekuatan-kekuatan tertera yang

sqaling berkaitan dan mempengaruhi, Dengan kata lain, pembangunan ekonomi yang

diikuti dengan perubahan (growth plus change) dalam:

perubahan struktur ekonomi dari pertanian ke industri atau jasa
Perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu

sendiri

Penekanan pada kenaikan pendapatan perkapita (GNP riil dibagi jumlah

penduduk) dan tidak hanya kenaikan pendapatan nasional riil menyiratkan bahwa

perhatian pembangunan baiu Negara miskin adalah menurunkan tingkat kemiskinan.

Pendapatan nasional riil (atau GNP pada harga konstan) yang meningkat sering kali

tidak diikuti dengan perbaikan kualitas hidup. Bila pertumbuhan pendudukan melebihi

atau sama dengan pertumbuhan pendapatan nasional maka pendapatan perkapita bisa

menurun atau tidak berubah, dan jelas ini tidak dapat disebut ada pembangunan ekonomi.

Kurun waktu yang panjang menyiratka bahwa pendapatan perkapita perlu

berlangsung terus menerus dan berkelanjutan. Rencana pembangunan lima tahun baru

merupakan awal dari proses pembangunan. Tugas yang paling berat adalah menjaga

sustainabilitas pembangunan dalam jangka yang lebih panjang. Pembangunan bukan

11

merupakan tujuan melainkan hanya alat sebagai proses instrument untuk menurunkan

kemiskinan, menyerap tenaga kerja, dan menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan.

B. Indikator Ekonomi

Klasifikasi Negara

Untuk tujuan operasional dan analitikal, Kriteria utama Bank Dunia dan

mengklasifikasikan kinerja perekonomian suatu Negara adalah GNP (gross national

Product, atau Produk nasional Bruto) perkapita. GNP perkapita adalah dibuat dengan

jumlah penduduk.

Negara berpenghasilan rendah dan menengah kadang-kadang disebut Negara

sedang berkembang (Developing Countries). Jelas ini sekedar untuk memudahkan

klasifikasi dan tidak ada maksud untuk menggeneralisasi bahwa semua Negara adalah

sekelompok ini yang mengalami tahapan pembangunan yang sama. Klasifikasi menurut

penghasilan tidak selalu mencerminkan status pembangunan (IBRD, 1993). Namun pada

umumnya, Negara sedang berkembang (NSB)memliki karasteristik yang relatif sama

Yaitu:

1. Tingkat kehidupannya rendah, dengan ciri penghasilan rendah ketimpang

distribusi pendapatan tinggi, rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan.

2. Tingkat Produktivitas relatif rendah.

3. Pertumbuhan penduduk dan beban ketergantunganya tinggi.

4. Tingkat pengangguran dan setengah penganggurannya tinggi dan cenderung

meningkat

5. Ketergantungan terhadap produksi pertanian da ekspor produk primer

demikian segnifikan.

6. Dominan, tergantung, dan rentan dalam Hubungan Internasional (Todaro,

1994:h.38-54)

12

C. Indikator Sosial

Indikator Sosial sebagai Alternatif Indikator Pembangunan

GNP Per kapita sebagai ukuran tingkat kesejahteraan mempunyai beberapa

kelemahan, kelemahan umum yang sering dikemukakan adalah tidak memasukan

produksi yang tidak melalui pasar seperti dalam perekonomian subsistem, jasa, rumah

tangga, transaksi barang bekas, kerusakan lingkungan dan masalah distribusi pendapatan.

Akibatnya bermunculan upaya untuk memperbaiki maupun menciptakan indikator lain

sebagai pelengkap ataupun alternatif dari indikator kemakmuran dan tradisional.

Indikator-indikator yang dipilih atas dasar tingginya korelasi dalam membentuk

indeks pembangunan dengan mengunakan “bobot timbangan” yang berasall dari tingkat

korelasi. Indeks pembangunan tersebut ternyata mempunyai korelasi yang lebih erat

dengan indikator sosial dan ekonomi dibandingkan korelasi GNP perkapita dengan

indikator yang sama tentunya ranking berbagai Negara dengan indeks pembangunan ini

berbeda dengan ranking berbagai Negara dengan indeks pembangunan ini berbeda

dengan rangking dengan menggunakan ukuran GNP perkapita. Ditemukan juga bahwa

indeks pembangunan ini mempunyai korelasi yang lebih erat dengan NSB. Dapat

disimpulkan bahwa pembangunan sosial berlangsung lebih cepat dibandingkan

pembangunan ekonomi sampai tingkat S$ 500 perkapita.

13

Mendeskripsikan teori-teori Pembangunan dan pendekatan Geogarfi yang terkait
erat dengan Pembangunan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->