P. 1
Daulah Bani Abbasiyah

Daulah Bani Abbasiyah

|Views: 13,379|Likes:
Berdirinya Dinasti Abasiyah ...Peranan Bani Abbasiyah dalam Kemajuan Pendidikan....
Berdirinya Dinasti Abasiyah ...Peranan Bani Abbasiyah dalam Kemajuan Pendidikan....

More info:

Published by: irvan haq dzul karoma on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/09/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Nama dinasti Abbasiyah diambil dari nama seorang dari paman Nabi SAW yang bernama al-Abbas ibn Abd al-Muthallib ibn Hasyim. Ia seorang pribadi yang tangguh dan memegang peranan penting dalam berdirinya Abbasiyah, sekaligus menjadi kholifah pertama pada dinasti ini. Meskipun pada awal berdirinya dinasti ini tampak jelas adanya berbagai pembantaian yang mana guna memperkokoh dan menyetabilkan pemerintahan, masa-masa keemasan dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya muncul berbagai aliran dan mazhab dan lain sebagainya juga mendominasi dalam masa daulah ini. Meskipun pada akkhirnya mengalami masa kehancuran juga seperti pada masa Bani Umayyah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Tetapi pada tahun 940 kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-Arab, khususnya orang Turki (dan kemudian diikuti oleh orang Mamluk di Mesir pada pertengahan abad ke13), mulai mendapatkan pengaruh dan mulai memisahkan diri dari kekhalifahan. Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol yang menyatukan dunia Islam. Pada masa pemerintahannya, Bani Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi. Namun kemudian, Said bin Husain, seorang muslim Syiah dari dinasti Fatimiyyah yang mengaku bahwa anak perempuannya adalah keturunan Nabi Muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909, sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah Afrika Utara. Pada awalnya ia hanya menguasai Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya. Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya sampai ke Mesir dan

1

Palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun 1171. Sedangkan Bani Umayyah bisa bertahan dan terus memimpin komunitas Muslim di Spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali pada tahun 1031. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka pemakalah dapat mengambil rumusan masalah yang akan dibatasi dan dibahas menurut pembagian di bawah ini : 1. Bagaimanakah proses munculnya Dinasti Abbasiyah? 2. Apa sajakah peranan Bani Abbasiyah dalam Kemajuan Pendidikan? 3. Bagaimanakah Sistem Pemerintahan, Politik dan Bentuk Negara Bani Abbasiyah? 4. Peristiwa-peristiwa apa yang Terjadi pada Masa Dinasti Abbasiyah? 5. Faktor apa yang menyebabkan hancurnya Dinasti Abbasiyah? I.3 Tujuan Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka jelas dalam pembahasan makalah ini akan mengupas isi tentang sejarah Bani Abbasiyah dan segala permasalahannya mulai dari penjelasan tentang munculnya Bani Abbasiyah, perananya bagi pendidikan, bentuk tata negara dan peristiwa-peristiwa yang nantinya akan membawa Dinasti Abbasiyah ini menuju kehancuran, seperti halnya hukum alam, dimana ada pertemuan maka akan ada akhirnya, maka begitu juga dengan Dinasti Abbasiyah ini.

2

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Berdirinya Dinasti Abasiyah Daulat Bani Abbasiyah Adalah sebuah negara yang melanjutkan kekuasaan bani Umayyah. Dinamakan daulat bani Abbasiah karena para pendidri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad SAW. Pendiri dinasti ini adalah Abdullah Al-Safah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin AlAbbas. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258 M.1 Sejarah peralihan kekuasaan dari Daulat Bani Umayyah kepada Daulat Bani Abbas bermula ketika Bani Hasyim menuntut kepemimpinan Islam berada di tangan mereka, karena, mereka adalah keluarga nabi yang terdekat. Tuntutan itu sebenarnya telah ada ketika wafatnya Rosullalalh. Tetapi tuntutan itu baru mengkristal (mengeras) ketika Bani Umayyah naik tahta dengan mngalahkan Ali bin Abi Thalib. Bani Hasyim yang menuntut kepemimpinan Islam itu paling tidak dapat digolongkan menjadi dua golongan besar. Pertama golongan ‘Alawi, keturunan Ali bin abi Thalib. Mereka ini dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu: pertama keturunan dari Fatimah, dan yang kedua keturunan dariMuhammad bin Al-Hanafiyah. Dan yang kedua adalah golongan Abbasiyah (Bani Abbasiyah), keturunan Al-Abbas paman Nabi tersebut. Perbedaan dari kedua golongan tersebut, paling tidak golongan Abbasiyah lebih mementingkan kemampuan politik yang lebih besar daripada golongan ‘Alawi.
1

A Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: P.T. Jayamurti 1997), hlm. 44.

3

Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah). Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah. Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga dapat dikatakan kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan suatu revolusi. Menurut Crane Brinton dalam Mudzhar (1998:84), ada 4 ciri yang menjadi identitas revolusi yaitu : 1. Bahwa pada masa sebelum revolusi ideologi yang berkuasa mendapat kritik keras dari masyarakat disebabkan kekecewaan penderitaan masyarakat yang di sebabkan ketimpangan-ketimpangan dari ideologi yang berkuasa itu. 2. Mekanisme pemerintahannya tidak efesien karena kelalaiannya menyesuaikan lembaga-lembaga sosial yang ada dengan perkembangan keadaan dan tuntutan zaman. 3.
4.

Terjadinya penyeberangan kaum intelektual dari mendukung ideologi yang Revolusi itu pada umumnya bukan hanya di pelopori dan digerakkan oleh

berkuasa pada wawasan baru yang ditawarkan oleh para kritikus. orang-orang lemah dan kaum bawahan, melainkan dilakukan oleh para penguasa oleh karena halhal tertentu yang merasa tidak puas dengan syistem yang ada .2 Sebelum daulah Bani Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman nabi SAW yaitu Abbas Abdul Mutholib (dari namanya Dinasti itu disandarkan). Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan. Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak
2

Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. I, (Yogyakarta:

Pustaka Book Publisher, 2007), hlm. 144.

4

berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syi‘ah pendukung Ali bin Abi Tholib. Ia bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan Bani Umayyah. Demikian pula dengan Khurasan, kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan. Di bawah pimpinan Muhammad bin Ali al-Abbasy, gerakan Bani Abbas dilakukan dalam dua fase yaitu : 1) fase sangat rahasia; dan 2) fase terang-terangan dan pertempuran (Hasjmy, 1993:211). Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat rahasia. Propaganda dikirim keseluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan yang merasa tertindas, bahkan juga dari golongan yang pada mulanya mendukung Bani Umayyah. Setelah Muhammad meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim, maka seorang pemuda Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany, bergabubg dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu dimulailah gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran. Akhirnya bulan Zulhijjah 132 H Marwan, Khalifah Bani Umayyah terakhir terbunuh di Fusthath, Mesir. Kemudian Daulah bani Abbasiyah resmi berdiri. Propaganda Abbasiyah ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi kholifah daulat Bani Umaiyah. Umar memimpin dengan adil, ketentraman dan kestabilan negara memberikan kesempatan kepada gerakan Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan gerakanya yang berpusat di al-Humaimah sebagai pusat perencanaan dan organisasi. Kuffah sebagai pusat penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis. Muhammad meninggal pada tahun 125 H dan digantikan oleh anaknya yang bernama Ibrahim al-Imam. Panglima perangnya dipilih seorang panglima yang kuat. Asal nama Khurasan ini berasal dari nama Abu Muslim AlKhurasani. Abu Muslim berhasil merebut Khurasan dan kemudian menyusul kemenangan demi kemenangan. Di awal tahun 132 H H Ibrahim al-Imam tertangkap oleh pemerintah daulat Bani Umayyah dan dipenjara sampai meninggal. Dia digantikan oleh saudaranya Abu al-Abbas. Tidak lama setelah itu balatentara Abbasiyah dan Bani Umaiyyah bertemu di dekat sungai Zab bagian atas. Dalam

5

pertempuran itu Bani Abbas mendapat kemenangan, dan balatentaranya terus ke negeri Syiria dan kota demi kota dapat dikuasainya, sehingga kemenangan dapat dikatakan sempurna. Sejak itulah Daulat Abbasiyah berdiri dengan kholifahnya Abu al-Abbas al-Asaffah. Daulat ini berlangsung hingga tahun 656 H/1258 M. Masa yang panjang itu dilaluinya tidak dengan pola pemerintahan yang satu dan sama. Pola pemerintahanya berubah sesuai dengan perubhan politik, budaya, sosial dan penguasa. Ketika kekholifahan dipegang oleh Umar ibn abd al Aziz, rival-rival politiknya mulai menyusun kekuatan termasuk dari golongan Abbas. Tetapi ia tidak menyebitkan diri sebagai keluasrga Abbas, namun menggunakan Jargon dan symbol Bani Hasyim. Puncaknya , dalam peperangan di Dzab II gerakan Abbasiyah mencapi hasil dengan mengalahkan kholifah Marwan II. Dan al-Abbas (al-Saffah) mendeklarasikan dirinya sebagai kholifah pertama. Usahanya dalam menyetabilkan pemerintahan adalah dengan membasmi rival-rivalnya dan membunuh tokoh-tokoh Umayah. Sebelum wafat ia mengangkat saudaranya, Abu JA’far (al-Manshur) sebagai penggantinya. Pada masa al-Saffah, pusat pemerintahan berada di anmbar dengan istana negaranya al-Hsyimiyah. Setelah al-Manshur menjadi kholifah, ibu kota dipindah ke Baghdad dengan nama Da al-Salam agar lebih aman. Beliau dan saudaranya, alSaffah dikenal sebagai pembunuh masal. Bahkan Abu Muslim al-Khurasani sendiri dibunuh atas perintah al-Manshur karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya, dihukum mati pada tahun 755 M.3 Pada masanya dalam bidang politik, negara cukup setabil dan maju, setelah ia memadamkan api pemberontakan termasuk gerakan Ustadis di Herat yang menyatakan dirinya sebagai nabi, menguasai Khurasan dan Sizistan yang sangat luas. Berbagai ekspansi-ekspansi yang dilakukan diantaranya adalah merebut benteng-benteng Asia, Kota Malatia, wilayah Coppacodia, dan Cicillia terus ke Utara melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus. Setelah Manshur wafat (775 M), Mahdi menjadi kholifah, populer bersikap llunak terhadap rival
3

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islamii: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 50.

6

politiknya, lebih dermawan, dan lebih berperan dalam pembelaan Islam. Periodenya identik dengan negra yg aman dan kekayaan negara bertambah. Bahakan kelompok mawali (non Islam) yang semula dari budak selanjutnya telah dimerdekan. Sebelum wafat, Mahdi menunjuk dua putranya sebagai pewaris kerajaan, Hadi, dan Harun. Ketika kepepimpinan dipegang Hadi, praktik kekhalifahan kembali keras. Ia tidak lagi menghargai mawali yang menjadi tulang punggung saat revolusi dan berdirinnya Abbasiyah. Setelah ia wafat digantikan oleh saudaranya, Harun Ar Rasyid yang mana dibaiat oleh penduduknya menjadi khalifah. Periodenya identik dengan Islam memasuki “The Golden Age of Islam”.4 Kesejahteraan social, kesehatan, pendidikan, ilmu engetahuan dan kebudayaan serta kesusastraan berada pada zaman keemasannya. Dan dari sinilah mulai muncul berbagai madzhab (Imam Abu Hanifah dan Malikiyah) karena pada masa kepemimpinannya mereka sangat dihargai tidak seperti pada masa sebelumnya d imana mereka dipenjara dan diasingkan. Abu Hanifah ialah seorang ahli di bidang hokum. Meski ia tidak terlibat langsung dalam pembuatan keputusan-keputusan paradilan bahkan ia sendiri tidak menulis karya-karya mengenai hokum. Tetapi ajarannya dilestarikan oleh para pengikutnya terutama Abu Yusuf dan Asy Syaibani. Karena kecakapan intelektualnya dan pendapat-pendapatnya yang masuk akal, ia memperoleh perhatian istana khalifah dan ditunjuk sebagai qadhi di Baghdad. Bahkan Harun memberikan gelar kepadanya “qadhil qudat” (hakim agung). Seperti Abu Hanifah, Imam Malik juga seorang ahli hukum dan mendapat perlakuan dengan hormat oleh khalifah Al Mahdi dan Harun. Bedanya, ia seorang fuqaha yang bergerak di Madinah, sedangkan Hanifah di Kufah dan Baghdad. Karya utama yang dihasilkan oleh Imam Malik adalah Al Muwatta’. Setelah Harun wafat (809 M) sesuai wasiatnya, Amin diangkat menjadi khalifah sedangkan Ma’mun sebagai penguasa di Khurasan yang mengakui kedaulatan Amin sebagi khalifah yang sah. Awalnya merka rukun, tetapi akhirnya menjadi konflik dan perang saudara antara Amin dan Ma’mun dan dimenangkan
4

Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Op. cit., hlm. 149.

7

oleh Ma’mun. dari sinilah terdapat perubahan besar atau era baru dalam sejarah. Khalifah baru tidak seperti pendhulunya yang suka berfoya-foya, hidup mewah, pemalas. Ia sangat mencintai ilmu, ilmuwan dan kemajuannya seperti ayahnya, Harun Al Rasyid. Dan ia menyerahkan tugas negara kepada wazir dan fadhal, sedang ia pergi ke Merv dan di sana ia tenggelam dalam keasikan ilmu pengetahuan dengan para cendekiawan dan filosof. Akan tetapi mereka dalam menjalankan kenegaraan, tidak seperti yang diharapkan oleh Ma’mun. Kemewahan, hidup foya-foya, suka wanita, kekerasan, penyiksaan menjadi corak kepemimpinannya. Bahkan fadhal muali menyiksa para pengikut Imam Ali Reza (menantu Ma’mun). mereka dibunuh dan ada yang dipenjarakan. Penyiksaan dan kelaliman fadhan tidak bertahan lama, beberapa orang pengikutnya dari Persia marah dan akhirnya membunuhnya. Tahun berikutnya, Ma’mun kembali ke Baghdad dan menguasai politik. Salah satu karya besarnya adalah pembangunan Bait Al Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagi perguruan tinggi dan perpustakaan yang besar Ia juga meresmikan Mu’tazilah sebagai faham. Abu Ishaq Muhammad (Al Mu’tasim bi Allah), khalifah berikutnya, memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintahan,. Keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Umayah, Dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan system ketentaraan. Praktek orang muslim mengikuti perang sudah berhenti. Tentara dibina secara khusus menjadai prajurit-prajurit professional. Di sisi lain dalam bidang ilmu pengetahuan, tidak lagi menjadi sesuatu yang menonjol. Setelah Al Ma’mun wafat, Ahmad ibn Hanbal mendekam dipenjara karena tidak mengakui Mu’tasim sebagai khalifah, di disiksa dan kemudian dilepaskan. Mulai saat itu dan sampai berakhirnya pemerintahan Mu’tasim, beliau beliau tidak memberikan kuliah, kadang-kadang karena dilarang dan kadang-kdang karena dianggapnya tidak aman.5

5

Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Op. cit., hlm. 153

8

Pada pemerintahan harun ibn Mu’tasim (Wathiq bi Allah), mulai muncul Amir Al Imarah. Jumalah mereka makin lama makin bertambah, menyebabkan tahun-tahun ke depan sejarak Abbasiyah identik dengan sejarah tentara Turki. Sampai pada khalifah Mutawakkil yang merupakan awal kemunduran politik Bani Abbas. Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat. Setelah Mutawakkil wafat, Turkilah yang memilih dan mengangkat khalifah dan terus sampai jajaran-jajaran khalifah di bawahnya. Dengan demikian kekuasaan tidak lagi berada di tangan Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah. Berdasarkan pola dan perubahan poiltiknya, para sejarawa membagi daulat Abbasiyah menjadi lima periode: 1. Periode pertama (132 H/ 750 M-232H/847 M) Periode ini disebut juga sebagai periode pengaruh Persia yang pertama. 2. Periode kedua (232 H847 N-334 H-945 M) Periode ini disebut juga masa pengaruh Turki yang pertama. Pada periode ini memang ada pemberontakan, seperti pemberontakan Zane di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Qoramitha yang berpusat di Bahrain. Tetapi bukan itu yang menybabkan gagalnya tewujudnya kesatuan politik daulat Abbasiyah.
3. Periode ketiga (334 H/945 M-447 H-1055 M)

Pada periode ini daulat bani Abbsaiyah di bawah pemerintahan bani Buwaih. Keadaan kholifah lebih buruk dari pada masa sebelumnya, terutama karena bani Buwaih merupakan penganut aliran syi’ah. Kholifah tidak lebih seperti pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Bani Buwaih membagi kekuasaanya kepada tiga bersaudara. Ali wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan wilayah bagian utara, dan Ahmad wilayah Al-ahwaz, Wasith dan baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahan Islam, yang mana pusat pemerintahan Islam pindah di Syiriaz di tempat Ali Ibn Buwaih yang memiliki kekuasaan umum daulat Bani Abbasiyah. Pada zaman bani Buwaih berkuasa di

9

Baghdad, telah terjadi beberapa kerusuhan antara aliran Ahl Al-Sunnah dan Syi’ah, pemberontakan negara dan lainya. 4. Periode keempat (447 H/1055M-590 H/1199 M) Periode ini ditandai dengan kekuasaan bani Saljuk atas daulat Abbasiyah. Kehadiran bani Saljuk ini adalah “undangan” kholifah untuk melumpuhkan kekuatan bani Buwaih di Baghdad. Keadaan kholifah memang membaik, paling tidak kewibawaanya dalam bidang agama kembali, setelah sempat beberapa lama “dirampas” orang-orang Syi’ah. Pusat kekuasaan Islan pada periode ini tidak di Bagdad. Mereka membagi wilayah kekuasaanya menjadi beberapa propinsi dengan seorang Gubernur untuk masing-masing wilayah tersebut. Pada masa pusat kekuasaanya melemah, setiap propinsinya memerdekakan diri, konflik dan peperangan antar mereka sendiri, dan sedikit demi sedikit kekuasaan kholifah kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan mereka berakhir di Irak di tangan Khawariz Syah pada tahun 590 H/1199M. 5. Periode kelima (590H/1199 M-656 H/1258 M) Pada periode ini dinasti Abbasiyah tidak berada di bawah dinasti tertentu. Bani Abbas kembali berkuasa, akan tetapi hanya di Bagdad. Wilayah kekuasaan kholifah sangat kecil dan kekuatan politiknya sangat lemah. Pada masa inilah kekuasaan Mongol dan Tatar di bawah pimpinan Hulahu Khan menghancurluluhkan daulat Abbasiyah dan tanpa ada perlawanan.6

II.2 Peranan Bani Abbasiyah dalam Kemajuan Pendidikan Secara lebih rinci lagi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi pada daulat Bani Abbasiyah ini dapat dikemukakan secara singkat sebagai berikut :
6

Syafiq A Mughni Sejarah Kebudayaan Islam di Turki. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 48.

10

1.

Ilmu-ilmu Agama Jika pada awal sejarahnya ilmu-ilmu keislaman seperti qiroat, tafsir hadits,

dan fiqih belum begitu matang, maka pada zaman ini telah mencapai kematanganya yang diperlihatkan dengan lahirnya berbagi madzhab dan karya-karya tulis yang disusun menurut sistematika penulisan buku seperti yang ada sekarang. 2. Ilmu-Ilmu Fisika Dibawa atas perpustakaan-perpustakaan dan lembaga-lembaga riset yang didirikan oleh kaum muslimin, di zaman daulat Abbasiyah telah berkembang ilmuilmu fisika. Lahirlah nama-nama ahli fisika yang ternama seperti Al-Kindi, Al-Jaiz, Banu Musa, Al-Biuni, Al-Razi dan Abdurrahman Bin Nasir. Astronomi dalam arti kata sebelumnya yang dimulai oleh orang-orang Arab. Selama kekuasaan AlMa’mun, kholifah Abbasiyah ke tujuh, beberapa pusat pengamatan (observatorium) yang dilengkapi dengan peralatan muttakhir telah didirikan. 3. Ilmu-Ilmu Medis Para pemikir muslim memperlakukan tubuh manusia sebagai umat Tuhan yang paling keramat, oleh karenanya sangat menaruh perhatian terhadap tubuh manusia. Pada zaman ini orang Islam yang pertama kali mendirikan rumah sakit, apotek, sekolah-sekolah medis, yang lengkap ddengan pusat-pusat riset dan perpustakaanya. Disini mereka mengembangkan teori-teori pengunaan obat-obatan yang kuratif. Demikian juga dalam bidang farmasi. Pada abad ke-11 Ibnu Zair memperkenalkan metode obsevasi ilmiah dalam ilmu kedokteran, ilmu bedah dan farmalogi. Ia membuat diagnosis dan banyak mengobati banyak penyakit yang belum pernah ada sebelumnya.

4.

Ilmu-Ilmu Oseanografi (kelautan) Para peneliti Arab yakni Al-Yaqubi, jaihani, Ibnu Zubair, Abu Zin Balkhi,

Al-Astaqir, Masudi, Al-maqdisi, Al-Biruni, Yaqud dan lain-lainnya yang telah mengeluarkan karya-karya hasil riset mereka mengajarkan ilmu baru kepada dunia

11

dan mengenai geografi dumia. Al-Idris membagi peta dunia dan mengenai geografi, Ibnu Hikal menguraikan dunia dengan panjang lebar dan memperkenalkan provinsiprovinsi di dunia melalui peta. Hasil-hasil Ibnu Batuta merupakan cerita perjalanan terbaik yang pernah ditulis umat manusia. Selain itu terdapat nama Al-Khowarismi, sebagai kartografer (pembuat peta) tertua di dunia. 5. Ilmu-Ilmu Nautika (pembuat kapal) Riset-riset nautika berlnjut selama kekuatan Bani Umaiyyah dan dilanjutkan di zaman Bani Abbas. Pabrik-pabrik pembuat kapal di Mesir dan Suriah. Bani Abbasiyah mengembangkan riset maritim dan kelautan. Orang-orang Islam mengembangkan grafik dan peta-peta dan navigasi (pelayaran). Berbagai mecusuar dibangun karena angin Arabiyah yang kering dan panas selalu bertiup di malam hari, dan hanya bintang-bintanglah yang menjadi pedoman, maka mereka menggunakan kompas untuk menentukan arah gerakan sewaktu berlayar. 6. Ilmu Mtematika Al-Jabar, statistik dan semua cabang ilmu matematika terapan lainya adalah hasil ciptaan orang-orang Islam, merekalah penemu ilmu ukur, bidang, lingkaran dan bilangan-bilangan yang terdapat dalam matematika. Dalam perspektif Islam matematika adalah suatu jalan yang menghubungkan antara yang dirasakan (sensibel) dan yang dipikirkan (intelegible), antara alam yang selalu berubah dan alam yang akan abadi. Di antara ahli matematika Islam yang terkenal ialah AlKhawarizmi. 7. Astronomi Penemuan terbesar adlah penemuan gerakan tata surya dan benda-benda langit lainya. Mereka menentukan luas atau ukuran bumi. Penyimpngan atau pariasi garis lintang, pergantian malam dan siang. Abdul Hasan menemukan refleksi atmosferis. 8. Ilmu Pertanian

12

Orang-orang Arab memberikan perhatiab besar terhadap agricultural (pertanian). Mesir, Suriah, Irak, dan Hijas telah memperkenalkan alat-alat ukur yang bermanfaat. Mereka juga terjun dalam riset bercocok tanam dan beternak. 9. Filsafat Selama periode Abbasiyah, dalam bidang filsafat menghsilkan tokoh-tokoh filsafat seperti Al-Kindi, Al-farabbi, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, Al-Ghozali, Ibnu Rusydi dan lain-lain. Sebagai muslim, para filosofi ini yakin bahwa antara ajaran yang dibawa oleh Al-Quran dan yang dibawa oleh akal tetap sejalan. Oleh karenanya mereka menghubungkan antara ajaran yang dibawa oleh Al-Quran dan ajaran yang dibawa oleh akal pikiran. 10. Sejarah Myoritas orang Arab menyukai sejarah, mereka selalu berusaha untuk menghimpun data historis. Buku-buku sejarah yang disusun pada zaman itu berbicara tentang sejarah perang, ekonomi, politik, sosial, suku, golongan dan lain sebagainya. Adapun ahli sejarah yang terkenal seperti; Abu Ismail Al-Azdi, AlWaqidi, Al-Maghazi, Futuhuzy Syam, Fath Afrika, Fathul Azam dan lain sebagainya.
11. Bidang Seni dan Budaya

Pada zaman Abbasiyah juga berkembang subur seni budaya, seperti seni suara yang mana adanya penyair-penyair seperti Abu Nawas, Abu Atahiyah, Abu Tamam, Da’bal Al-Khuza. Adapula seni drama yang sangat digemari oleh Abu Ala Al-Mu’ary. Demikian pula seni musik yang mana pada zaman itu terkenalah nama Yunus bin Sulaiman Al-Khatib sebagai pengarang musik yang pertama dalam Islam. Adapun seni-seni yang lain seperti ; seni pahat, seni ukir, seni sulam, seni lukis, seni bangunan dan lain-lain.7

II.3 Sistem Pemerintahan, Politik dan Bentuk Negara
7

Syafiq A Mughni ibid hal. 53.

13

Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh Abu Bakar dan Umar pada zaman khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah Al-Mansur “Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya “. Pada zaman Dinasti Bani Abbasiyah, pola pemerintahan yang diterapkan berbedabeda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani Abbasiyah I antara lain :
a.

Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima,

Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali. b. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan. c. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia . d. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya .
e. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya

dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214). Selanjutnya periode II , III , IV, kekuasaan Politik Abbasiyah sudah mengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah tidak menghiraukan pemerintah pusat , kecuali pengakuan politik saja . Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya ,dan mereka telah mendirikan atau membentuk pemerintahan sendiri misalnya saja munculnya Daulah-Daulah kecil, contoh; daulah Bani Umayyah di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fatimiyah . Pada masa awal berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh para Khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan mempertahankan dari kemungkinan adanya gangguan atau timbulnya pemberontakan yaitu : pertama, tindakan keras terhadap Bani Umayah . dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persi.8 Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh seorang wazir (perdana mentri) atau yang jabatanya disebut dengan wizaraat. Sedangkan wizaraat itu dibagi lagi menjadi 2 yaitu: 1) Wizaraat Tanfiz
8

Syafiq A Mughni, Ibid, Hlm. 57.

14

(sistem pemerintahan presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah. 2) Wizaaratut Tafwidl (parlemen kabimet). Wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan . Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja . Pada kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal sebagai gubernurnya Khalifah (Lapidus,1999:180). Selain itu, untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan yang bernama diwanul kitaabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang raisul kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy. Selain itu, dalam zaman daulah Abbassiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul maal, organisasi kehakiman., Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya.9

II.4 Berbagai Peristiwa Yang Terjadi Pada Masa Dinasti Abbasiyah 1. Dinasti Buwayhiah (945-1055 M) Ketika rod pemerintahan dikuasai oleh bangsa Turki, karena tidak tahan perbuatan-perbuatan kasar terhadap penduduk Baghdad, maka khalifah Al Mustakfi bi Allah (944-946 M) terpaksa mengundang dan meminta bantuan kepada pemimpin Buwayhia, Ahmad ibn Abu Shuza’ yang beraliran Syi’ah. Ahmad menyerang Baghdad (945 M) dan berhasil mengusir tentara Turki. Hal ini merupakan peluang bagi Ahmad yang menjadikan khalifah lemah dan bonekanya. Atas namanya, dinasti ini di sebut Dinasti Buwayhia.10 Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan, dengan membiarkan jabatan tetap
9

Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Cet. I, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana

yogya, 1990), hlm. 126-127.
10

Montgomery Watt, ibid, hlm. 131.

15

dipegang bani Abbas, karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi, sedangkan kekusaan dapat didirikan di pusat maupun daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinastidinasti kecil yang merdeka. Diantara Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam sebelumnya. Tetapi, apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, perebutan kekuasaan sering terjadi, terutama di awal berdirinya. Akan tetapi, pada masa-masa berikutnya, seperti terlihat pada periode kedua dan seterusnya, meskipun khalifah tidak berdaya, tidak ada usaha untuk merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. Yang ada hanyalah usaha merebut kekuasaannya dengan membiarkan jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. Hal ini terjadi karena khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai dengan keinginan politik mereka. Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua, pada periode ketiga (334-447 H/l055 M), daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh kekuasaan Bani Buwaih. Kehadiran Bani Buwaih berawal dari tiga orang putera Abu Syuja' Buwaih, pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rezeki. Pada mulanya mereka bergabung dengan pasukan Makan Ibn Kali, salah seorang panglima perang daerah Dailam. Setelah pamor Makan Ibn Kali memudar, mereka kemudian bergabung dengan panglima Mardawij Ibn Zayyar al-Dailamy .Karena prestasi mereka, Mardawij mengangkat Ali menjadi gubernur al-Karaj, dan dua saudaranya diberi kedudukan

16

penting lainnya. Dari al-Karaj itulah ekspansi kekuasaan Bani Buwaih bermula. Pertama-tama Ali berhasil menaklukkan daerah-daerah di Persia dan menjadikan Syiraz sebagai pusat pemerintahan. Ketika Mardawij meninggal, Bani Buwaih yang bermarkas di Syiraz itu berhasil menaklukkan beberapa daerah di Persia seperti Rayy, Isfahan, dan daerah-daerah Jabal. Ali berusaha mendapat legalisasi dari khalifah Abbasiyah, al-Radhi Billah dan mengirimkan sejumlah uang untuk perbendaharaan negara. Ia berhasil mendapatkan legalitas itu. Kemudian ia melakukan ekspansi ke Irak, Ahwaz, dan Wasith.11 Dari sini tentara Buwaih menuju Baghdad untuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan. Ketika itu, Baghdad sedang dilanda kekisruhan politik, akibat perebutan jabatan Amir al-Umara antara wazir dan pemimpin militer. Para pemimpin militer meminta bantuan kepada Ahmad Ibn Buwaih yang berkedudukan di Ahwaz. Permintaan itu dikabulkan. Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad pada tanggal Jumadil-ula 334 H/945 M. Ia disambut baik oleh khalifah dan langsung diangkat menjadi Amirul-Umara, penguasa politik negara, dengan gelar Mu'izz al-Daulah. Saudaranya, Ali Ibn Buwaih, yang memerintah di bagian selatan Persia dengan pusatnya di Syiraz diberikan gelar Imad al-Daulah, dan Hasan Ibn Buwaih yang memerintah di bagian utara, Isfahan dan Rayy, dianugerahi gelar Rukn al-Daulah. Sejak itu, sebagaimana terhadap para pemimpin militer Turki sebelumnya, para khalifah tunduk kepada Bani Buwaih. Pada masa pemerintahan Bani Buwaih ini, para khalifah Abbasiyah benar-benar tinggal namanya saja. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir-amir Bani Buwaih. Keadaan khalifah lebih buruk daripada masa sebelumnya, terutama karena Bani Buwaih adalah penganut aliran Syi'ah, sementara Bani Abbas adalah Sunni. Selama masa kekuasaan Bani Buwaih sering terjadi kerusuhan antara kelompok Ahlussunnah dan Syi'ah, pemberontakan tentara, dan sebagainya.12

11

Ahmad Syafi’i Ma’arif, M. Amin Abdullah, Op. cit., hlm. 149. Badri Yatim, Op. cit, hlm. 59.

12

17

Setelah Baghdad dikuasai, Bani Buwaih memindahkan markas kekuasaan dari Syiraz ke Baghdad. Mereka membangun gedung tersendiri di tengah kota dengan nama Dar al-Mamlakah. Meskipun demikian, kendali politik yang sebenarnya masih berada di Syiraz, tempat Ali Ibn Buwaih (saudara tertua) bertahta. Dengan kekuatan militer Bani Buwaih, beberapa dinasti kecil yang sebelumnya memerdekakan diri dari Baghdad, seperti Bani Hamdan di wilayah Syria dan Irak, Dinasti Samaniyah, dan Ikhsyidiyah, dapat dikendalikan kembali dari Baghdad. Sebagaimana para khalifah Abbasiyah periode pertama, para penguasa Bani Buwaih mencurahkan perhatian secara langsung dan sungguh-sungguh terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Pada masa Bani Buwaih ini banyak bermunculan ilmuwan besar, di antaranya al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), al-Farghani, Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-'Ala al-Ma'arri (973-1057 M), dan kelompok Ikhwan al-Shafa. Jasa Bani Buwaih juga terlihat dalam pembangunan kanal-kanal, masjid-masjid, beberapa rumah sakit, dan sejumlah bangunan umum lainnya. Kemajuan tersebut diimbangi dengan laju perkembangan ekonomi, pertanian, perdagangan, dan industri, terutama permadani. Kekuatan politik Bani Buwaih tidak lama bertahan. Setelah generasi pertama, tiga bersaudara tersebut, kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat. Misalnya, pertikaian antara 'Izz al-Daulah Bakhtiar, putera Mu'izz al-Daulah dan 'Adhad alDaulah, putera Imad al-Daulah, dalam perebutan jabatan amir al-umara. Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Bani Buwaih ini merupakan salah satu faktor internal yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka. Faktor internal lainnya adalah pertentangan dalam tubuh militer, antara golongan yang berasal dari Dailam dengan keturunan Turki. Ketika Amir al-Umara dijabat oleh Mu'izz al-Daulah persoalan itu dapat diatasi, tetapi manakala jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang lemah, masalah tersebut muncul ke permukaan, mengganggu stabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah.

18

Sejalan dengan makin melemahnya kekuatan politik Bani Buwaih, makin banyak pula gangguan dari luar yang membawa kepada kemunduran dan kehancuran dinasti ini. Faktor-faktor eksternal tersebut diantaranya adalah semakin gencarnya serangan-serangan Bizantium ke dunia Islam, dan semakin banyaknya dinasti-dinasti kecil yang membebaskan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad. Daulah-daulah itu, antara lain dinasti Fathimiyah yang memproklamasikan dirinya sebagai pemegang jabatan khalifah di Mesir, Ikhsyidiyah di Mesir dan Syria, Hamdan di Aleppo dan lembah Furat, Ghaznawi di Ghazna dekat kabul, dan Dinasti Seljuk yang berhasil merebut kekuasaan dari tangan Bani Buwaih Pendiri Buwayhia dengan mengambil gelar Mu’iz al daulah dari Mustakfi bi Allah, ia memerintah sebagai wazir utama (Amir Al Umara’) dengan memakai gelar sultan. Setelah Mu’iz, putranya Iz Al daulah berkuasa (967 M). sejak saat itu, kekuasaan mutlak ada di tangan para wazir atau sultan. Pada masa Azd Al Daulah, ia memakai gelar sultan dan Shahanshah (penguasa atas penguasa). Pada periode ini, wilayah kekuasaannya sama luasnya semasa khalifah Harun. Kemajuan dalam berbagai bidang mulai sejak periode mu’iz nama pada periode Azd Daulah-lah berbagai bidang terutama sains dan kegiatan ilmiah maju pesat yang mencapi puncaknya. Daerah kekeuasaannyaa meluas sampai Shiraj dan dari Laut Kaspia sampai Teluk Persia. Dinasti ini berdiri kokoh sampai pada masa Sharif Al daulah (983-989 M). sesudah itu, Buhaywia menjadi lemah menuju titik kehancuran, begitu juga Abbasiyah terbelah-belah. Dengan kelemahan mereka mengundang orang Saljuq menguasai politik Baghdad pada tahun 1055 M. 2. Dinasti Saljuq Tughril beg, cicit dari pendiri dinasti ini, bernama Saljuq mengaalahkan kekuatan Turki cabang lain. Pada saat yang sama, para khalifah Abbasiyah sudah gelisah atas perlakuan Amir Al Umara (Buwayhia). Dalam khutbah Jum’at dibacakan nama khalifah Fatimiah dan Al Muntashir bi Allah (1035-1094 M), menggantikan nama khalifah Abbasiyah tersebut. Dengan permintaan bantuan dari khalifah Qa’im kepada Thughil, maka ia segera masuk Baghdad dan membebaskan khalifah, maka dengan suka cita khalifah memberikan gelar “Sultan Al Masyariq wa

19

Al Maghrib” (penguasa Timur dan Barat) kepadanya.[10] Dari sinilah sultan-sultan mulai menguasai politik Abbasiyah.13 Semasa Sultan III, Malik Shah (1073-1092 M) wilayah kekuasaan Saljuq, meliput dari Kashmir di timur dan di Barat sampai Laut tengah, sedang di Utara dari Georgia sampai ke Selatan Yaman. Inilah masa keemasan, di mana berdiri Madrasah Nizamiah yang kemudian menjadi universitas Islam ternama di dunia. Setelah Malik Shah wafat, khalifah Muqtadir (1135-1160 M) terjadi ketidak-cocokan dan konflik berkepanjangan antara amir Al Umara’, Mas’ud dan Mazar. Dan inilah menjadi kesempatan bagi khalifah untuk mengusir semua petinggi Saljuq dari Baghdad setelah Mas’ud wafat. Dengan lemahnya para pengganti Saljuq, akhirnya wilayah Saljuq terbagi memjadi beberapa kerajaan. Di samping itu, Perang Salib juga membawa kekhalifahan Abbasiyah sudah diambang kehancuran. Saat-saat itulah muncul kekuatan-kekuatan raksasa baru, bangsa Mongol yang mengakhiri kekuasaan Abbasiah di Baghdad. 3. Perang Salib Pada masa Turki Saljuq, ketika dipimpin oleh Alp Arselan dan mengadakan ekspansi yang terkenal dengan nama peristiwa Manzikart (1071 M0, tentara yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit mampu mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al Akraj, Al Hajr, Perancis dan Rumania. Peristiwa ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian itu bertambah setelah Dinasti Saljuq dapat merebut bait Al Maqdis dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah. Penguasa Saljuq menetapkan peraturan-peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Namun peraturan ini memberatkan mereka. Untuk memperoleh kembali keleluasaan, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci.
13

A Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (jakarta: P.T. Jayamurti 1973), hlm. 33.

20

II.5 Sebab -Sebab Hancurnya Dinasti Abbasiyah Adapun faktor-faktor penyebab kehancuran Abbasiyah, diantaranya sebagai berikut: Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya, pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan. Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam, yang disebut masa pertengahan.14 Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa

kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah
14

A Syalabi A Mughni, Ibid. hlm. 39.

21

Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: a. Persaingan antar bangsa Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orangorang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada orang-orang Arab. Pertama, sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional. Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam) di dunia Islam. Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah.15 Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak
15

A Syalabi, Ibid. hlm. 55.

22

bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Oleh Bani Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka; mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga, dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat, sebagaimana diuraikan terdahulu.

b. Kemerosotan Ekonomi Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan

23

para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan. c. Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. Al-Manshur berusaha keras memberantasnya. Al-Mahdi bahkan merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orangorang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi'ah, sehingga banyak aliran Syi'ah yang dipandang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi'ah sendiri. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya, memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan. Namun anaknya, al-Muntashir (861-862 M.), kembali memperkenankan orang syi'ah "menziarahi" makam Husein tersebut. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang Sunni.16
16

Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa`, Sejarah Para Penguasa Islam. (Jakarta: Al-Kautsar, 2006), hal. 51.

24

Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja, tetapi juga antar aliran dalam Islam. Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salafy. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh alMa'mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadikan mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa alMutawakkil (847-861 M), aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan salaf kembali naik daun. Tidak tolerannya pengikut Hanbali (salaf) itu terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah. Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih. Namun pada masa dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni Salafy, penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya. Pikiran-pikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam konon sampai sekarang. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan: "Agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti juga agama Isa ‘alaihis salaam, terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia... telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam ...Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah dan menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga".17
17

Imam As-Suyuthi, Ibid, hal. 57.

25

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan Dari pemaparan makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa kerajaan Abbasiyah didirikan oleh al-abbas paman nabi. Masa-masa kejayaannya hanya sampai pada khalifah Mutawakkil, hal ini dikarenakan setelah masa khalifah tersebut Abbasiyah sudah bercampur dengan daulah-daulah kecil lainnya. Meski begitu, berbagai kemajuan telah berhasil diciptakannya khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan juga penyebaran Islam. Sedangkan saat kemundurannya dapat dibagi menjadi beberapa faktor: a. Faktor Internal 1. Persaingan antar Bangsa 2. Kemerosotan Ekonomi

26

3. Konflik Keagamaan 4. Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan b. Faktor Eksternal 1. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. 2. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.

27

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->