P. 1
Manusia Kegelisahan Dan Harapan

Manusia Kegelisahan Dan Harapan

|Views: 2,314|Likes:
Sebab-sebab orang gelisah........ Keterasingan..... Kesepian....
Sebab-sebab orang gelisah........ Keterasingan..... Kesepian....

More info:

Published by: irvan haq dzul karoma on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

MANUSIA KEGELISAHAN DAN HARAPAN 2.1 KEGELISAHAN Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”.

Gelisah artinya rasa yang tidak tentram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya),tidak sabar lagi (menanti),cemas dan sebagainya. Kegelisahan artinya perasaan perasahan,khawati, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisah. Kegelisan ini, apabila cukup lama hinggap pada manusia, akan menyebabkan suatu gangguan penyakit. Kegelisahan (ancienty) yang cukup lama aka menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia. Kegelisahan selalu menunjukan kepada suasana negatif atau ketidak sempurnaan, tetapi mempunyai harapan. Dikatakan negatif atau ketidaksempurnaan karena menyentuh nilai –nilai kemanusiaan yang menimbulkan kerugian. Kegelisahan menunjukan kepada suasana positif dan optimis karena masih ada harapan bebas dari kegelisahan, yang mendorong manusia mencari kesempurnaan dan mendorong manusia supaya kreatif. Tragedi dunia modern tidak sedikit menyebabkan kegelisahan. Hal ini mungkin akibat kebutuhan hidup yang meningkat rasa individualistis dan egoisme,persaingan dalam hidup, kadaan yang tidak stabil, dan seterusnya. Kegelisahan budaya dapatlah dikatakan sebagai akibat adanya insting dalam konteks manusia untuk menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.

berbudaya,yaitu sebagai upaya mencari “kesempurnaan“. atau, dari segi batin manusia, gelisah sebagai akibat dosa pada hati manusia. Dan tidak jarang akibat kegelisahan seseorang, sekaligus membuat orang lain menjadi korbannya. Penyebeb kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan untuk membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan. Kehidupan ini yang menyebabkan mereka gelisah. Mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka gelisah, mereka hidupnya kosong dan tidak mempunyai arti. Orang yang tidak mempunyai dasar dalam menjalankan tugas (hidup), sering ditimpa kegelisahan. Kegelisahan yang demikian sifatnya abstrak sehingga disebut kegelisan murni, yaitu merasa gelisah tanpa mengetahui apa kegelisahannya, seolah-olah tanpa sebab.

Ini berbeda dengan kegelisahan “terapan” yang terjadi dalam peristiwa kehidupan sehari-hari, seperti kegelisahan karena anaknya sampaimalam belum pulang, orang tua yang sakit keras, istrinya yang sedang melahirkan, diasingkan oleh orang-orang sekitarnya, melakukan perbuatan dosa yang ditentang nuraninya, dan sebagainya. Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hati dan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan manusia. Persaan seseorang yang sedang gelisah, ialah hatinya tidak tenteram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik dan sebagainya. Perasaan cemas menurut Sigmun Freud ada tiga macam, yaitu: 1.Kecemasan obyektif, kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, seperti anaknya yang belum pulang, orang tua yang sedang sakit keras, dan sebagainya. 2.Kecemasan neurotik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya dari naluri. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasatakut yang irasional semacam fobia, rasa gugup, dan sebagainya. 3.Kecemasan moral. Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki, dendam, hasud, marah, rendah diri, dan sebagainya. Uraian tentang penderitaan disini dianalogikan dengan perasaan gelisah (kegelisahan hati) sebagai akibat kecemasan moral. Untuk mengatasi kegelisahan ini (dalam ajaran islam), manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, dan amal shaleh. Seperti difirmankan : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditempa kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila ia mendapatkan kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, mereka yang tetap mengrjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya.’’ Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusia akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikal dengan Tuhan, tetepi juga melalui hubungan horizontal dengan sesame manusia sebagaimana diperintahkan oleh Tuhan sendiri. Tentang kecemasan ini Sigmund freud membedakan menjadi tiga macam: kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neurotic, dan kecemasan moral

2.2 Sebab-sebab orang gelisah Selanjutnya bila kita kaji, sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada hakikatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari sesuatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam. Secara lentur, kegelisahan bisa dikatakan sebagai rasa tidak tenteram, rasa selalu khawatir, rasa tidak tenang, rasa tidak sabar, cemas, dan semacamnya. Yang jelas kegelisahan berkaitan dengan rasa yang berkembang dalam diri manusia. Dari penjelasan diatas kita dapat memahami bahwa kegelisahan merupakan bagian hidup manusia. Tiap manusia dengan tidak mempedulikan latar belakang dan kemampuannya, pasti akan mengalami kegelisahan, entah sebentar atau lama, relative ringan atau berat. Yang demikian ini boleh jadi sangat wajar mengingat manusia memiliki hati dan perasaan. Sebagai fenomena yang universal, artinya mampu mendera manusia yang manapun juga, kegelisahan itu bisa muncul lantaran faktorpenyebab yang berbeda-beda. Dengan meminjam teori Sigmund Freud, kendatipunia secara khusus berbicara tentang kecemasan, kita bisa melihat adanya tiga macam kegelisahan (baca: kecemasan), yaitu obyektif, neurotik, dan moral. Yang pertama obyektif, bersumber pada sesuatu kekuatan yang ada diluar diri manusia. Kegelisahan semacam ini bisa muncul dari antisipasi seseorang, dengan berdasar kepada pengalaman perasaannya, terhadap kemungkinan adanya bahaya yang mengganggu dirinya. Yang kedua atau neurotic, dalam satu dan lain kasus lebih disebabkan kepribadianoleh bisikan naluri seseorang. Kegelisaan semacam ini bisa saja muncul akibat munculnya rasa takut tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, mumcul rasa takut yang irrasional atau yang biasa disebut fobia, dan kecenderungan seseorang untuk selalu gugup atau tergagap dalam menyikapi sesuatu persoalan yang dihadapi. Dan kegelisahan moral biasanya diakibatkan oleh munculnya perasaan bersalah satu malu yang sebenarnya dikendalikan oleh hati nuraninya. Jadi, kegelisahan moral lebih bersumber pada struktur kepribadian seseorang. Upaya mengidentifikasiakn adanya berbagai macam kegelisahan atau kecemasan seperti disebut di atas tidaklah semata-mata menjadi kapasitas dunia keilmuan, yang dalam konteks ini diwakili oleh pemikiran Freud, dokter Australia yang gema pengaruhnya mampu menembus disiplin-disiplin psikologi, psikiatri, sosiologi, antropologi, bahkan filsafat. Akan dengan cara bertutur yang berbeda upaya identifikasi

tersebut sudah pula dilakukan oleh para seniman. Ini boleh jadi lantaran kegelisahan, termaksuk kecemasan didalamnya, boleh dibilang fenomen yang paling lengket dalam diri seniman. Seniman memandang alam berbeda dengan pandangan seseorang yang bukan seniman. Kadang-kadang satu hal yang sepele menurut orang biasa, tetapi lewat garapan imajinasi seorang seniman sesuatu tadi menjadi lebih berarti. Namun demikian satu hal tidak bisa dipungkiri bahwa setiap seniman adalah seorang pencari yang tak pernah ketemu, atau seperti seseorang pejalan yang tak pernah sampai. Dalam pencarian itu ia gelisah mencari dan terus mencari. Ia mencari kedalam alam fisik, dan terutama kedalam alam rohani. Ia merambah waktu dan jaman. Dan ia membuka simpul-simpul kerahasiaan. Seperti manusia umumnya, seniman pun ditengah pencariaannya merasa gelisah. Merasa adanya ketidaktenangan ditengah pencariaannya selalu merasa gelisah. Merasa adanya ketidaktenangan ditenga ketenangan yang dicarinya. Ini bisa dimengerti mengingat seniman bagaimanapun adalah bagian dari masyarakat yang juga memikirkan situasi masyarakat sekitarnya. Kesabaran amat penting guna mencar ketentraman batin. Sabar diperlukan dalam menghadapi berbagai cobaan serta hal-hal yang tidak menyenangkan. Untuk memperoleh sifat sabar itu diperlukan latihan dan pembiasaan, serta perlu dukungan permohonan Allah. Freud, sebagaimana disinggung diatas, melihat kondisi obyektif yang ada disekitar manusia bisa menjadi penyebab kegelisahannya. Dalam dunia seni dan sastra,suatu kondisi obyektif tidak hanya berpengaruh terhadap pesan-pesan yang ingin disampaikan seseorang melaui karya-karya seni dan sastranya. Akan tetapi lebih luas dari itu bahkan kondisi-kodisi tertentu ikut berpengaruh terhadap proses kreatifitas sang seniman. 2.2.1 Keterasingan Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi, keterasingan berarti halhal yanga berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpencil atau terpisah dari yang lain.

Terasing atau keterasingan adalah bagian hidup manusia. Sebentar atua lama orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan, sudah tentu dengan sebab dan kadar yang berbeda satu sama lain. Terasingan atau keterasingan adalah merupakan bagian hidup manusia. Lama atau sebentar orang pernah mengalami hidup dalam keterasingan atau hidup dalam pengasingan,yang pernah dialami oleh para pejuang kemerdekaan, yang kemudian ditangkap oleh kaum kolonialis serta dibuang ke tempat pengasingan. Hal ini banyak dialami pejuang-pejuang kemerdekaan kita Sebab-sebab keterasingan Kesimpulan orang hidup dalam keterasingan , pertama karena sifat-sifat/sikap yang tidak dapat diterima, dan kedua karena perbuatannya. Jadi, keduanya juga karena perbuatan, hanya berbeda sifatnya. Bila kita simpulkan, kedua sebab hidup keterasingan itu bersumber pada: 1.Perbuatan yang tidak diterima oleh masyarakat. Perbuatan itu antara lain : mencuri, bersikap angkuh, sombong atau kaku. 2.Sikap rendah diri Sikap yang sejenis dengan angkuh atau sombong ialah sikap kaku, pemarah, dan suka berkelahi. Sikap seperti itu juga menjauhkan kawan dan mendekatkan lawan. Orang segan berkawan denagn orang bersikap seperti itu, sebab takut terjadi kontak fisik. Umumnya orang tidak senang akan konflik fisik, karenahal itu merupakan perbuatan anak kecil. Sikap rendah diri menurut alex gunur adalah sikap kurang baik. Sikap ini menganggap atau dirinya merasa dirinya selalu atau tidak berharga, tidak atau kurang laku, tidak atau kurang mampu di hadapan orang lain.sikap ini juga disebut sikap minder. Jadi bukan orang lain yang memandang dirinya rendah, tetapi justru dirinya sendiri, tetapi juga tidak baik bagi masarakat. Sikap rendah diri itu ada sebab-sebabnya, mungkin cacat fisik, mungkin karena social-ekonominya, mungkin juga rendah pendidikan, mungkin pula karena kesalahan perbuatannya. Kekurangan pada diri seseorang dapat juga menempatkannya dalam keterasingan. Dalam hal ini, bukan masyarakat yang membuat orang itu terasing. Melainkan dirinya sendiri karena karena ketidakmampuannya. Ketidakmampuan itu berpengaruh pada nama baik atau harga diari atau martabat orang yang bersangkutan. Ketidakmampuan disini meliputi rendahnya tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan bahasa ilmu

pengetahuan. Hal inin disebabkan taraf pendidikan yang belum sampai pada taraf tertentu yang di hadapi kini. Dengan demikian, orang yang bersangkutan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat ilmiah yang dihadapinya. Karena itu, dia merasa gelisah dan terasing., 2.2.3 Kesepian Kesepian berasal dari kata sepi.artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang dan kendaraan, tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, tidak ada apa-apa, dan sebagainya, kesepian adalah keadaan sepi atau hal sepi. Setiap orang pernah mengalami kesepian, karena kesepian merupakan bagian hidup manusia. Lama atau sebentar, perasaan ini tergantung kepada mental orang dan kasus penyebabnya. Sebab-sebab terjadinya kesepian Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Frustasipun dapat mengakibatkan kesepian. Yang bersangkutan tidak mau diganggu, ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri. Bila kita perhatikan sepintas lalu mungkin keterasingan dan kesepian serupa, tapi sebenarnya tidak sama, tetapi ada hubungannya. Beda antara kedua hanya terletak pada sebab akibat. Kesepian itu akibat dari keterasingan akibat sikap sombong, angkuh, kaku, keras kepala, sehingga di jauhi kawan-kawan sepergaulan. Karena kawan-kawan menjauhi, maka orang yang dijauhi atau orang yang bersikap sombong dan sebagainya itu hidupterasing, terpencil dari keramaian hidup sehingga akibatnya kesepian. Sebaliknya, orang yang frustasi itu bersikap rendah diri, disengaja menjauhi pergaulan ramai, kebalikan dari orang yang sombong. Orang yang bersikap rendah diri, pemalu ,minder, merasa dirnuya kurang berharga dibanding orang lain, maka orang itu lebih suka mnyendiri. Karena menyendiri itu akibatnya kesepian. Hidup dalam keterasingan yang akibatnya kesepian pada hakikatnya disebabkan karena orang itu juga takut kehilangan hak-haknya, kecuali Pangeran Sidharta yang mencari kebenaran hidup. Hidup kesepian akibat takut kehilangan Hak Kenamaan Nama baik merupakan harapan setiap orang. Bahkan orang tak takut mati demi menjaga nama baik. Meskipun sudah berhati-hati menjaganya mungkin juga orang

masih berbuat salah, sehingga cemar nama baiknya. Untuk ini seringkali yang bersangkutan terpaksa hidup mengasingkan diri, akibatnya kesepian. Kesepian dapat melanda siapa saja,tidak peduli miskin atau kaya. Kebetulan hal ini terjadi dalam lingkungan keluarga kaya,yang sudah pasti ada factor penyebab terjadinya kesepian yang menyentuh nilai-nilai kemanusiaannya. Dalam kehidupan manusia, kesepian tidak selalu mengubah jalan kehidupan manusia kea rah yang negatif, yang merugikan, ataupun yang menyengsarakan. Bahkan, dapat sebaliknya, membuat manusia tenang dan betah tinggal dirumah sendiri. Ketengan di rumah sendiri bebas dari hiruk-pikuk manusia dapat mendorong manusia menjadi kreatif dan mencipta dan berkarya yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. 2.2.4 Ketidak pastian Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya) atau mendua, atau apa yang dipikirkan tidak searah, kemana tujuannya tidak jelas. Itu semua adalah akibat pikirannya tidak dapat konsentrasi, ketidakkonsentrasian itu disebabkan oleh berbagai sebab, yang jelas pikirannya kacau. Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah bagian hidup manusia. Setiap orang pernah mengalaminya, misalnya ketika anak kecil ditinggalakn ibunya, ia menangis kebingungan. Kebingungan itu menunjukkan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ketidakpastian masih member harapan kepada arang yang mengalaminya karena ketidakpastian itu dia berusaha mencari kesempurnaan supaya bebas dari kegelisahan. Budi darma(1981) member contoh pelukis terkenal Leonardo da vinci (1452-1519) yang selalu gelisah, melukis wanita cantik yang bernama “medusa” sebagai manusia gelisah. Namun, anehnya, Leonardo da vinci sendiri tidak tahu bahwa wanita cantik gelisah bernama medusa itu”menakutkan dan menjijikan”. Leonardo da vinci terus berusaha mencari kesempatan melalui lukisannya, sehingga dia di pandang sebagai pelukis besar karena kegelisahannya. Sebab-sebab Terjadinya ketidakpastian Orang yang pikirannya terganggu tidak dapat lagi berpikir secara teratur, logis ataupun mengambil kesimpulan. Dalam berpikir ia selalu menerima rangsanganrangsangan lain, sehingga jalan pikirannya menjadi kacau oleh rangsang-rangsang baru. Kalau toh ia dapat berpikir baik, akan memakan waktu yang cukup lama dan sukar.

Mereka menampakkan tanda-tanda obsesi phobis delusi, gerakan-gerakan gemetar (buyuten), kehilangan pengertian (sparis), kehilangan kemampuan untuk menangkap sesuatu (agnesis). Menurut Siti Maechati dalam bukunya Kesehatan Mental ada beberapa sebab orang tak dapat berpikir dengan pasti. Sebab-sebab itu adalah: 1.obsesi Obsesi merupakan gejala neurose jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tidak menyenangkan, atau sebabsebabnya tidak diketahui oleh penderita. Misalnya: selalu berpikiran ada orang yang ingin menjatuhkan dia. 2.phobie Ialah rasa takut yang tidak terkendalikan, tidak normal, kepada suatu hal atau kejadian, tanpa diketahui sebab-sebabnya.orang yang dilanda ketakutan itu tidak dapat berpikir. Pikirannya tidak pasti, tidak menentu. 3.kompulsi Ialah adanya keragu-raguanyang sangat mengenai apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak disadari untk selalu melakukan perbuatan-prerbuatan yang serupa berulang kali(neurose) 4.histeria Ialah neurosa jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan,pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain. 5.delusi Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan palsu.tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar keyakinan dan tidak sesuai dengan pengalaman. Delusi ini ada tiga macam,yakni: a.Delusi persekusi :menganggap adanya keadaan yang jelek disekitarnya. b.Delusi keagungan :menganggap dirinya orang penting atau orang besar.orang seperti ini biaasanya gila hormat. Menganggap orang disekitarnya sebagai orang-orang yang tidak penting. Akhirnya semua orang menjahui juga.jadi, hamper sama dengan delisi persekusi.yang jelas akibatnya sama,ialah dijahui semua orang. .Delusi melancholis : merasa dirinya bersalah, hina dan berdosa. Hal ini dapat menyebabkan buyutan atau dikenal dengan namadelirium tremens, hilangnya kesadaran

dan ingatannya sama sekali, mengalami tensi tinggi dan mengingat sesutau yang belum pernah terjadi. 6.halusinasi Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindra.seperti [para prewangan (medium) dapat digolongkan pada pengalaman halusinasi.dengan sugesti diri orang dapat juga berhalusinasi. Halusinasi buatan, misalnya oleh orang mabuk atau pemakai obat bius. Kadang-kadang karena halusinasi orang merasa mendapat tekanan-tekanan terhadap dorongan-dorongan itu menemukan sasarannya. Ini Nampak dalam perbuatanperbuatan penderita (penderita itu dapat menyadari perbuatannya itu, tetapi tidak dapat menahan rangsangan khayalan sendiri). 7.keadaan emosi Dalam keadaan tertentu seseorang sangat berpengaruh oleh emosinya ia sampai pada keseluruhan pribadinya: gangguan pada nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat, tekanan darah tinggi\lemah. Sikapnya dapat apatis atau terlalu gembira dank arena itu dilepaskan di dalam gerakan-gerakan lari-larian,nyanyian, ketawa atau berbicara. Sikap ini dapat pula berupakesedihan menekan, tidak bernafsu, tidak bersemangat, gelisah resah, suka mengeluh, tidak mau berbicara, diam seribu bahasa, termenung, menyendiri, jelas kepada kita orang yang demikian itu tidak mungkin dapat berpikir dengan tenang, dan dengan baik. Untuk mengatasi atau untuk menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu dicari penyebabnya, andaikata telah diketahui penyebabnya tetap masih sakit, penderita perlu diajak pergi atau pergi sendiri ke psikolog. Orang yang sombong, angkuh dan sebagainya telah menderita atau kena musibah mungkin akan menyadari kesombongannya atau keangkuhannya. Tetapi kesepian karena gangguan mental harus pergi ke psikolog, tidak ada jalan lain atau perbuatan lain yang dapat menyembuhkannya. 6. MANUSIA DAN KEGELISAHAN Gelisah tergolong penyakit batin, istimewanya penyakit ini dapat menyerang siapa saja, darin golongan apa, dan bangsa apapun. Bila dibandingkan dengan rasa takut, daerah operasionalnya lebih luas. Sebab orang yang pemberani, tak mungkin diserang rasa takut, atau orang yang mempunyai obat penangkal takut tidak akan dijemahnya. Umpamanya orang yang tidak pernah mengerjakan perbuatan salah sudah pasti tidak

akan takut dituntut. Begitu pula orang yang kaya, pasti tidak akan takut kelaparan, dan sebagainya. Tetapi walaupun benar,kaya, pandai, jujur, dan sebagainya.pasti akan terlanda perasaan gelisah. Betapapun siapnya seorang mahasiswa, pasti masih akan merasa gelisah bila akan menghadapi ujian. Apalagi bila ujian sudah akan diumumkan hasilnya, betapapun ia tahu akan lulus, namun perasaan gelisah tetap menghantuinya. Tentu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga nilainya. Mengapa, sebab gelisah merupakan siksaan bagi yang mengalaminya. Duduk tak tenang, makanpun tak enak, tidur tak lelap, sungguh merupakan siksaan yang sulit dilukiskan dengan katakata. Jawaban yang paling tepat adalah kita kembali pada “iman”. Sebagai oran yang beriman kita kembalikan kepada tuhan, sebab sudah pasti hanya kepada-NYA semua perkara kita kembalikan. 2.3 MANUSIA DAN HARAPAN Harapan berasal dari kata harap, artinya keinginan supaya sesuatu terjadi. Yang mempunyai harapan atau keinginan itu hati.putus harapan berarti putus asa. Harapan artinya keinginan yang belum terwujud. Setiap orang mempunyai harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya sebagai manusia. Manusia yang tidak mempunyai harapan berarti tidak dapat diharapkan lagi. Menurut kodratnya dalam diri manusia ada dorongan yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu ialah menangis, tertawa, berkata, berpikir, bercinta, mempunyai keturunan, dan sebagainya. Kebutuhan hidup ialah kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani ialah pangan, sandang, dan papan.sedangkan kebutuhan rohani ialah meliputi kebahagian, kesejahteraan, kepuasan hiburan dan sebagainya. Dalam mencukupi kebutuhan itu, baik kebutuhan kodrat maupun kebutuhan hidup manusia tak dapat mencapai sendiri, melainkan harus dengan bantuan orang lain. Berdasarkan dorongan kebutuhan kodrat dan kebutuhan hidup itu, maka orang mengharapkan agar kebutuhan hidup itu terpenuhi.sehubungan dengan kebutuhankebutuhan manusia itu, Abraham maslow mengatagorikan kebutuhan manusia menjadi lama macam. Lima kebutuhan itu harapan itu ialah: merupakan lima harapan manusia.lima macam

1) harapan untuk memperoleh kelangsunmgan hidup(survival). 2) harapan untuk memperoleh keamanan(safety). 3) harapan untuk memperoleh hak dan kewajiban untuk mencintai dan di cintai(boliving and love). 4) harapan memperoleh status atau untuk diterima atau di akui lingkungan. 5) harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita(self actualization). Khusus mengenai kebutuhan individu dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut : 1.Kebutuhan organic individu: a.Kebutuhan organik individu bernilai positif: a.Makan dan minum b.Istirahat dan tidur c.Sex d.Keseimbangan suhu e.Buang hajat f.Bernafas b.Kebutuhan organic individu bernilai negative: a.Makan dan minum tidak lezat b.Istirahat dan tudur terganggu c.Kegagalan sex d.Ketidak seimbangan suhu e.Kesulitan buang hajat f.Bernafas sesak 2.Kebutuhan psikologi individu: a. Kebutuhan Psikologi individu bernilai positif : b.Pengendoran ketegangan dan bersantai c.Kemesraan dan bercinta d.Kepuasan altruistic:kesempatan berbuat baik e.Kepuasan ego f.Kehormatan g.Kepuasan dan kebanggaan mencxapai tujuan

2.3.1 KEPERCAAYAAN Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kapercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan keyakinan atau pengakuan akan kebenaran. Ada jenis pengetahuan yang dimiliki seseorang, bukan karena merupakan hasil penyelidikan sendiri, melainkan diterima dari orang lain, kebenaran pengetahuan yang didasarkan atas orang lain itu disebabkan karena orang lain itu tidak percaya. Kekeliruan adalah bukan obyek etika dank arena kekeliruan orang tidak dianggap buruk, lain halnya berdusta atau bihing adalah tindakan yang etis yang buruk. Jelas kebenaran atau tindakan itu timbul dari manusia. Berbagai kepercayaan dan usaha meningkatkannya kepercayaan itu dapat dibedakan 1.Kepercayaan pada diri sendiri. 2.kepercayaan kepada orang lain 3.kepercayaan kepada pemerintahan 4.kepercayaan kepada tuhan 2.3.2 MANUSIA DAN HARAPAN Kita ingat akan ibarat demikian, “manusia tanpa cita-cita ibarat sudah mati sebelum ajal”, artinya orang yang tidak suka atau tidak mempunyai cita-cita atau harapan itu tak cita-cita atau harapan. Jadi harapan itu sifatnya manusiawi dimiliki oleh siapapun dan dari golongan apapun. Bila kita tinjau dari wujudnya dapat dikatakan tidak terhingga, namun bila dilihat dari tujuannya hanya ada satu, ialah hidup bahagia. Bahagia dunia dan akhirat. Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan itu sebagai berikut: 1.Harapan seperti apa yang baik 2.Bagaimana cara mencapai harapan itu 3.Bagaimana bila harapan itu tidak tercapai Sebab sering kita saksikan banyak orang tua terlalu mengharapkan kepada anakanaknya bagar menjadi dokter, insinyur, pendek kata mendapatkan jabatan atau pangkat yang tinggi. Menurut dugaaan bahwa semua pangkat, jabatan yang tinggi mampu memberikan kebahagiaan. Padahal belum tentu demikian. Justru orang yang

berpangkat, kaya, kelihatan terpandang hatinya gundah, pikirannya kusut dan bingung. Sebliknya orang yang hidupnya serba sederhana kalau tidak mau dikatakan kekurangan hatinya selalu bahagia, tenang, damau. Mengapa demikian? Bila kita ingat dengan kehidupan itu tidak hanya di dunia saja, namun juga di akhirat, bahkan kehidupan disana lebih abadi. Maka sudah selayaknya “harapan” untuk hidup bahagia di kedua tempat itu sudah kita niati. Orang yang hanya mengharapkan niatnya hidup kaya, cenderung mudah sekali terseret ke jalan yang kurang baik. Sering orang yang seperti itu kurang memperhitungkan dari aturan permainan dalammendapatkan kekayaan itu. Tidak jarang klalu “menghalalkan cara”. Pegangan seperti itu mulai dilaksanakan sejak yang bersangkutan duduk dibangku pendidikan. Dilanjutkan pada saat mencari jabatan atau pekerjaan, dan disempurnakan pada waktu sudah menduduki suatu jabatan. Akjirnya bila sudah kaya, semata-semata semuanya itu hanya untuk memuaskan kehendaknya, memuaskan hawa nafsunya. Karena kepuasan dilandasi hawa nafsu, maka selanya tidak akan merasa puas. Dan akhirnya tidak akan dapat merasakan bahagia. Tidak aneh orang itu nantinya akan melakukan hal-hal yang tidak terpuji, asal kehendaknya terpenuhi. Ia menyadari sepenuhnya bahwa apa yang ada pada dirinya hanyalah titipan Tuhan. Banyak atau sedikitnya tidak dirisaukannya sehingga ia akan ikhlas mengeluarkannya, untuk kepentingan-kepentingan yang disenangi Tuhan; seperti membayar zakat, berkorban, membantu pembangunan masjid, memelihara anak yatim, dan sebagainya. Seandainya harapan belum berhasil atau belum tercapai ia akan tetap bersabar tanpa mengurangi usahanya; sebab ia yakin Tuhan tidak akan mengubah nasibnya, bila ia sendiri tidak mau berusaha pada perubahan itu. Tidak ada kaumus putus asa, sebab tahun putus asa adalah perbuatan orang-orang yang ingkar pada Tuhan. Bila harapannya berhasil maka ia akan meningkatkan rasa syukurnya namun bila belum berhasil maka ia akan tetap bersabar dan bertawakal. Berharap agar hari esok lebih baik daripada hari ini memang hak dan kewajiban kita. Namun kita harus selalu sadar bahwa harapan tak selamanya menjadi kenyataan.Yang penting marilah kita selalu ingat pesan Nabi Muhammad saw. : “Berusahalah untuk urusan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya; dan berusahalah untuk urusan akhiratamu seolah-olah kamu akan mati esok pagi”.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kegelisahan artinya perasaan perasahan,khawati, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut. Yang jelas kegelisahan berkaitan dengan rasa yang berkembang dalam diri manusia. Penyebeb kegelisahan dapat pula dikatakan akibat mempunyai kemampuan untuk membaca dunia dan mengetahui misteri kehidupan. 3.2 Saran Menulis membutuhkan pola fikir yang kreatif dimana mata analisis penulisnya harus tertuju pada teori dan realita, pada cita dan fakta. Tidak lupa pula penulis memohon maaf apabila ada kesalahan, baik dalam pembahasan atau penulisan yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia (EYD) dan penulis berharap adanya tegur sapa yang semuanya bersifat kritik membangun dari pembaca demi sempurnanya karya tulis ini.

DAFTAR PUSTAKA Notowidagdo, Rohiman. 2000. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al Qur'an dan Al hadist. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Widyasiswoyo, Supartono. 1993. Ilmu Budaya Dasar. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia Muhammad, Abdulkadir. 2005. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Bandung: PT. Citra Aditya Bhakti Widhagdo, Djoko dkk. 2008. Imu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara Munandar Soelaiman MS, IR, M. 1992. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: PT Eresco

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->