P. 1
pesantren

pesantren

|Views: 10,922|Likes:
Published by mudhari

More info:

Published by: mudhari on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

Pembaharuan yang dilakukan oleh Imam Zarkasyi di Pondok Pesantren yang

dibinanya adalah meliputi :

a. Metode dan Sistem Pengajaran

Metode pengajaran sebenarnya merupakan hal yang setiap kali dapat

berkembang dan berubah sesuai dengan penemuan metode yang lebih efektif dan efisien

untuk mengejarkan masing-masing cabang ilmu pengetahuan. Meskipun demikian,

dalam waktu yang sangat panjang pesantren secara agak seragam mempergunakan

metode pengajaran yang lazim disebut dengan sistem Weton atau Sorogan sebagaimana

dibahas di muka.

Berbeda dengan sistem pengajaran pesantren yang berlaku di kebanyakan

90

pesantren KH Imam Zarkasyi dengan pendekatan "efisiensi waktu" dalam pengajaran,

yakni biaya dan waktu yang dikeluarkan sedikit tetapi dapat menghasilkan produksi

yang besar dan bermutu. Maka dieperlukan pembaharuan metodologi dan sistem

pengajaran.

Landasan efesiensi waktu ini kemudian dijadikan dasar dalam pembaharuan

pesantren yang kemudian dalam bentuk nyata yaitu Pondok Modern Gontor. Bagi

Imam Zarkasyi yang terpenting bagi lembaga pendidikan adalah pimpinannya atau

kepala sekolah jika itu berbentuk sekolah, kemudian gurunya, karena guru adalah

pelaku pendidikan, setelah itu cara atau metode pengajaran, sementara materi baru

menduduki rengking berikutnya. Hal ini senantiasa didengungkan beliau pada acara

perkenalan tentang pondok maupun acara-acara kuliah umum dihadapan santrinya.

Menurut beliau ukuran dari suatu lembaga pendidikan itu bukanlah materi

pelajarannya, materi pelajaran boleh sederhana, tapi dengan cara pengajaran yang baik

akan menghasilkan hasil yang baik. Berangkat dari situ kemudian beliau mengadakan

perubahan dalam cara mempelajari bahasa Arab, belajar bahasa Arab adalah untuk bisa

membaca, menulis, mendengarkan dan mengucapkan,14

dengan alasan membekali kunci

ilmu pengetahuan agama islam dan umum, maka pembaharuan yang pertama adalah

dalam hal mempelajari bahasa, anak didik dicanangkan harus menguasai bahasa

sebagai kunci pengetahuan, dengan berbekal bahasa mereka bisa menggali sendiri ilmu

pengetahuan untuk bekal hidup mereka, mereka bisa mengembangkan pengetahuan

14

Ini merupakan kriteria yang diakui para ahli pengajaran bahasa modern, dengan ungkapannya
bahasa yang tidak diucapkan sama dengan tidak dipelajari.

91

keagamaannya dengan merujuk sendiri kepada kitab-kitab referensi yang ditulis dengan

bahasa Arab, sementara untuk pengetahuan umumnya para santri dipersiapkan dengan

penguasaan bahasa Inggris. Untuk itulah pengajaran bahasa Arab maupun Inggris

diorientasikan pada penguasaan keempat kemahiran bahasa di atas dengan

mengutamakan praktek, parktek dalam berbicara, dalam mendengarkan, menulis baik

menuliskan huruf maupun mengarang, serta membaca. Al-hasil pesantren menjadi

semacam labolatorium bahasa alami dengan bahasa asing yang dipelajari sebagai bahasa

komunikasi anatara sesama santri, guru dan kyainya.

Untuk mewujudkan proses pembelajaran bahasa seperti itu didukung dengan

menyediakan berbagai sarana dan prasarana, seperti ustadz yang siap ditanya kapan

saja, berbagai kegiatan seperti latihan pidato dalam tiga bahasa Arab, Inggris, Indonesia,

lomba teater dalam tiga bahasa, lomba baca puisi juga dalam tiga bahasa, penerbitan

majalah dinding yang dikelola santri yang juga dalam tiga bahasa, serta latihan

muhadatsah baik Arab maupun Ingris, dengan pendek kata semua kegiatan dipesantren

mendukung pembelajaran bahasa dari ucapan, penglihatan maupun pendengaran.

Repolusi pengajaran bahasa ini merupakan hasil dari suatu rencana yang

panjang, yaitu jangan sampai usia habis hanya dipakai untuk menguasai kaidah bahasa

atau gramatika saja, sementara tujuan pengarajan bahasa sebagai alat untuk mencari

pengetahuan terabaikan, dengan langklah perbaikan metodologis pengajaran bahasa ini

diharapkan "waktu" yang terbuang untuk menggeluti gramatika bisa dipakai untuk

menggali pengetahuan agama dari sumbernya yang berbahasa Arab. Setelah itu

diharapkan akan membukakan wawasan pengetahuan santri hingga mampu menjadi

92

"perekat ummat" sebagai agenda utama ummat Islam.

Metode dan sistem pengajaran tersebut diterapkan dalam teori dan praktek yang

tepat. Suatu contoh dalam hal berdisiplin, yang berlaku baik bagi santri maupun guru.

Sehingga untuk santri yang bertindak sebagai pemberi sanksi adalah pengurus

organisasi yang ditunjuk oleh Kiai untuk menindak mereka yang melanggar aturan

tersebut. Guru pun demikian, bagi guru yang melanggar disiplin tersebut akan diberi

sanksi di hadapan guru-guru yang lain pada acara pembinaan mingguan yang dikenal

dengan kemisan.

. Untuk mewujudkan teorinya tentang kepala sekolah dan guru sebagai sentral

aktivitas pendidikan KH Imam zarkasyi sangat ketat memperhatikan metodologi

pengajaran, yaitu dengan memberlakukan fungsi kontrol atas penggunaan metode

pengajaran, tugas guru sebelum mengajar yang paling utama adalah membuat rencanan

pengajaran dan persiapan satuan pelajaran (Satpel) yang di Gontor dikenal dengan

sebutan I'dad Tadris, bagi guru yang akan mengajar pada keesokan harinya harus

membuat I’dad (persiapan mengajar) tertulis, dimana guru akan menyerahkan I’dadnya

tersebut kepada guru yang lebih senior yang ditunjuk oleh pimpinan pesantren. Jadi

guru dituntut untuk menguasai metodologi pengajaran, karena menurut Imam Zarkasyi

bahwa penguasaan metodologi pengajaran lebih penting daripada penguasaan materi

atau substansi itu sendiri yang dikenal dalam bahasa Arabnya At-Thariqah Ahammu

Min al-Maddah.15

15

Disarikan dari ceramah-ceramah KH. Imam Zarkasyi (Kuliah Umum) dan pengamatan
penulis secara partisifatif, gambaran di atas tidak bisa dijadikan dasar untuk mengklaim bahwa Gontor

93

Perubahan yang dilakukan KH. Imam Zarkasyi bagaimanapun mata rantainnya

dihubungkan dengan Prof. Mahmud Yunus, Imam Zarkasyi boleh dikatakan berhasil

dalam menerapkan metode pengajaran bahasa tersebut karena melaksanakannya secara

utuh.

b. Kurikulum Pendidian Pesantren

Kurikulum yang diterapkan oleh Imam Zarkasyi pada lembaga pendidikan

Pondok Modern (KMI) adalah kurikulum yang dicanang untuk pendikan dasar, artinya

anak -anak dibekali cara ibadah sehari-hari dengan baik --biasa disampaikan dalam

ceramah beliau-- dengan harapan output dari pesantren tersebut bisa beribadah, bisa

beramal sholeh, dan bisa mengembangkan dirinya di masyarakat, mengembangkan

pengetahuannya dengan bermodalkan bahasa baik pengetahuan umum maupun agama.

Jadi tidak mengacu pada kurikulum Departemen Agama atau Departemen Pendidikan

Nasional. Juga berbeda dengan kurikulum yang ada di pesantren tradisionil16
.

Sebagai contoh, di lembaga pendidikannya para santri diajarkan pemahaman

ilmu Fiqh dari kitab Bidayatul-Mujtahid karangan Ibnu Rusyd di mana di pesantren

tradisionil jarang diajarkan. Di pesantren lain diajarkan pendalaman ilmu Nahwu Sharaf

dari kitab Alfiyah Karangan Imam Malik, tetapi di lembaga pendidikannya beliau

memakai kitab kecil Nahwul-Wadhih yang banyak ikhtisar contoh-contohnya. Di

hanya mengajarkan bahasa, karena gambaran suatu sistem pesantren lebih merupakan pengalaman
individu para penghuninya, dan tidak bisa diungkapkan lewat tulisan yang singkat ini.

16

Kini kurikulum KMI Gontor telah dikembangkan di tidak kurang dari 300 pesantren alumni
Gontor yang mneyebar di Indonesia dengan berbagai variannya.

94

lembaganya para santri diajarkan kitab Tafsir al-Manar karangan Muhammad Abduh

di mana di pesantren lain jarang diajarkan kepada para santrinya. Di samping itu pula

diajarkan ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama seperti : Bahasa

Indonesia, Al-jabar, Matematika, Fisika, Ilmu tata buku (administrasi), Psikologi,

Bahasa Inggeris dan Grammarnya, Geografi, Sejarah, dan lain sebagainya. Di samping

mempelajari kitab Durusul-Lughah (dasar-dasar bahasa Arab), Mantiq, Nahwu Sharaf,

Mahfudzat, Insya’ dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pengetahuan ilmu agama.

Berbeda dengan Zamakhsari Dlofir, Imam Zarkasyi tidak menganggap pengajaran

kitab-kitab Islam klasik sebagai elemen dasar dari tradisi suatu pesantren, tapi

merupakan khazanah yang perlu dikaji untuk mengingat kembali zaman keemasan

peradaban Islam dahulu kala. Di mana santri perlu diberi wawasan pengetahuan agama

dan pengetahuan umum yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya untuk menghadapi

era globalisasi di masa yang akan datang.

Pemikiran pendidikan yang diterapkan oleh KH. Imam Zarkasyi dimulai sejak

berakhirnya masa belajar beliau di berbagai tempat dari tahun 1935 hingga tahun

wafatnya beliau, pada tahun 1985. Dalam benak Imam Zarkasyi timbul pemikiran

tentang perpaduan pengajaran ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum, di

samping penggunaan dua bahasa, Arab dan Inggeris dalam teori dan praktek, ketika

beliau mendengar pemberitahuan dari pemerintah tentang seorang utusan/delegasi yang

mampu menguasai dua bahasa sekaligus untuk dikirim ke suatu Pertemuan Kenegaraan.

Sejak saat itu beliau mulai berfikir untuk menerapkan suatu pemikiran pendidikan yang

mengarah ke masalah tersebut.

95

Pemikiran pendidikan Imam Zarkasyi sudah mendapat pengakuan dari

kalangan akademisi di Indonesia, di mana beliau pernah berjasa kepada agama, berupa

lembaga pendidikan yang sudah diakui keberadaannya dan kepada negara di mana

beliau pernah duduk dalam kepemerintahan pada Departemen Agama. Beliau

meninggalkan peninggalan yang berharga yang akan menjadi amal jariah beliau di

akhirat kelak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->