P. 1
pesantren

pesantren

|Views: 10,912|Likes:
Published by mudhari

More info:

Published by: mudhari on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

1. Dari Pesantren ke Mesir

Alquran itu laksana samudra yang keajaiban dan keunikannya tidak akan pernah

sirna ditelan masa, sehingga lahirlah bermacam-macam tafsir dengan metode yang

beraneka ragam pula.

Keragaman ini menurut Al-Farmawi ditunjang oleh Alquran itu sendiri yang

keadaannya adalah bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang

194

berbeda dengan apa apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain.43

Kedua perumpamaan di atas, setidak-tidaknya dapat memperkuat suatu

pernyataan bahwa ayat-ayat Alquran itu selalu terbuka untuk interpretasi baru. Bahkan

hingga dewasa ini penafsiran terhadap Alquran-pun tidak hanya terbatas pada

persoalan-persoalan metode belaka, melainkan sampai pada tataran disiplin ilmu dan

aliran aliran tertentu. Demikian pula para penafsirnya, tidak hanya terbatas di kawasan

Timur Tengah saja melainkan juga di Indonesia dan negara-negara lainnya. Salah

seorang tokohnya adalah M. Quraish Shihab, yang banyak dikenal orang karena karya-

karyanya dalam Tafsir kontemporer, atau kiprahnya sebagai akademisi, atau sebagai

sosok yang pernah menjadi menteri agama RI, Ketua MUI, dan Duta besar.

Nama lengkapnya Muhammad Quraish Shihab, lahir di Rappang Sulawesi

Selatan pa tanggal 16 Pebruari 1944. Ia adalah seorang anak kandung dari K.H.

Abdurrahman Shihab (1905-1986) seorang ulama terkemuka dan sebagai guru besar

dalam bidang tafsir di Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi

swasta terbesar untuk kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin

Ujungpandang, sejak tahun 1999 hingga sekarang dikenal dengan Makassar. Bahkan, ia

tercatat sebagai mantan rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut

Quraish sejak kecilnya telah mendapatkan motifasi dan benih kecintaan terhadap

bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering mengajak anak-anaknya duduk

43

Abd. Hayy Al-Farmawi, al-Bidayah fi al-Tafsir al-Mawdhu’iy: Dirasah Manhajiah
Maudhu’iyah
, Penrj. Suryan A. Jamrah dengan judul: Metode Tafsir Maudhu’iy: Sebuah Pengantar
(Jakarta: Raja Grafindo Persada; 1994), h, 11

195

berdampingan. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah menyampaikan nasihatnya yang

kebanyakan bernuansa Qur’ani.

Pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Dasar di Ujungpandang. Setelah itu

ia melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di kota Malang sambil nyantri di

Pondok Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyyah di kota yang sama. Untuk lebih

mendalami studi keislamannya, Quraish dikirim oleh ayahnya ke Al-Azhar, Kairo pada

tahun 1958 dan diterima di kelas dua Tsanawiyah. Setelah itu, ia melanjutkan studinya

ke Universitas Al-Azhar pada fakultas Usuluddin, jurusan tafsir dan hadis. Pada tahun

1967, ia meraih gelar LC (setingkat sarjana S1). Dua tahun kemudian (1969) Quraish

berhasil memperoleh gelar M.A. pada jurusan yang sama dengan tesis yang berjudul al-

I’jaz al-Tasyri’i li al-Qur’an al-Karim (Kemukjizatan Al-qur’an al- Karim dari segi

hukum).

Sekembalinya ke Ujungpandang, Quraish Shihab memperoleh kepercayaan

untuk menjabat sebagi wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan pada IAIN

Alauddin Ujungpandang pada tahun 1973-1980. Selain itu, ia juga diserahi jabatan-

jabatan lain, misalnya sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Wilayah VII

Indonesia Bagian Timur), Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam

bidang pembinaan mental, dan sederetan jabatan lainnya di luar kampus. Di celah-

celah kesibukannya itu, ia masih sempat merampungkan beberapa tugas penelitian yang

antara lain tentang Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur (1975)

dan Masalah Waqaf Sulawesi Selatan (1978).

2. Karya-karya Quraisy Shihab

196

Untuk mewujudkan cita-citanya dalam mendalami studi tafsir, pada tahun 1980,

Quraish Shihab kembali menuntut ilmu ke almamaternya Al-Azhar, mengambil

spesialisasi dalam studi tafsir Alquran. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun untuk

meraih gelar doktor dalam bidang ini. Disertasinya berjudul Nazm al-Durar li al-Biqa’i:

Tahqiq wa Dirasah , suatu kajian terhadap kitab Nazm al-Durar (Rangkaian Mutiara)

karya al-Biqa’i telah berhasil dipertahankannya dengan predikat summa cum laude

dengan penghargaan mumtaz ma’a martabah asy-syaraf al-ula (sarjana teladan dengan

prestasi istimewa)

Sekembalinya ke Indonesia sejak 1984, Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas

Usuluddin dan Fakultas Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, ia

juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majlis Ulama

Indonesia (MUI) pusat sejak 1984; Anggota Lajnah Pentashih Alquran Departemen

Agama sejak 1989; Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional sejak 1989. Ia

juga terlibat dalam berbagai oraganisasi lainnya, misalnya: sebagai Pengurus

Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah, Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan, dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim

Indonesia (ICMI), bahkan pernah diangkat sebagai Menteri Agama pada kabinet

terakhir Presiden Suharto. Kesibukannya saat ini adalah Duta Besar Indonesia untuk

Mesir, sejak tahun 2000.

Kontribusi Quraish Shihab dalam segi intelektualitasnya terbukti dari berbagai

karyanya di antaranya ialah (a) Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan,

diterbitkan oleh Mizan, Bandung pada tahun 1994, sebuah antologi essai tentang makna

197

dan ungkapan Islam sebagai sistem religius bagi individu mukmin dan bagi komunitas

Muslim Indonesia; (b) Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam

Kehidupan Masyarakat, diterbitkan oleh Mizan, Bandung, 1992. Sebuah artikel yang

ditulis selama periode dua puluh tahun berkenaan dengan berbagai aspek Al-Quran dan

mengkaji secara terinci posisi pentingnya Al-Quran bagi komunitas Muslim; (c)

Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, diterbitkan oleh

Mizan Bandung 1996; (d) Tafsir Amanah, diterbitkan oleh Pustakan Katini, 1992; (d)

Tafsir Al-Quran al-Karim: Tafsir Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya

Wahyu, diterbitkan oleh Pustaka Hidayah , Bandung 1997: (e) Yang Tersembunyi: Jin,

Iblis, Setan dan Malaikat dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta Wacana Pemikiran

Ulama Masa Lalu dan Masa Kini, diterbitkan oleh Lentera Hati Jakarta, 1999, dan

karya-karya44

lainnya yang tidak disebutkan disini.

Buku-buku karya Quraisy Shihab di atas, sungguhpun tidak terpampang sebutan

tafsir, namun pada prinsipnya dapat dikategorikan sebagai gagasan yang sarat dengan

problematika sekaligus solusi-solusi atasnya yang bernuansa qur’ani. Selama ini, kajian

tentang Tafsir memang membutuhkan semangat dan ketekunan yang luar biasa,

dirasakan sangat sulit apalagi untuk dicerna sambil lalu. Quraisy Shihab juga berusaha

memadukan dua dorongan yang ada pada diri manusia --nalar dan intuisi-- sehingga

dapat dipahami secara mudah oleh akal dan juga uraian yang sulit dipahami kendati

44

Uraian karyanya daparte diperoleh dalam Howard M.Federspiel, Popular Indonesian
Literature of the Qur’an
, Penerjemah Tajul Arifin dengan judul Kajian Al-Quran di Indonesia Dari
Mahmud Yunus Hingga Quraish shihab (Mizan: Bandung, 1996),h, 295-299

198

tidak bertentangan dengan akal, namun dapat diterima sepenuh hati oleh siapapun bila

ia menggunakan kalbunya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->