P. 1
pesantren

pesantren

|Views: 10,918|Likes:
Published by mudhari

More info:

Published by: mudhari on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

Sections

Dalam pelaksanaan kurikulum ini perlu diperhatikan hal-hal yang

memungkinkan pendidikan di benar-benar efektif dan efisien. Adapun hal-hal tersebut

41

adalah sebagai berikut :

1. Fleksibilitas Program Pembelajaran

Fleksibilitas Program digunakan dalam melaksanakan kurikulum. Ustadz/guru

memperhatikan santri (kecerdasan, kemampuan, pengetahuan yang telah dikuasai),

metode-metode mengajar yang akan digunakan disesuaikan dengan sifat bahan

pengajaran dan kematangan santri, bahan pengajar sesuai dengan kemampuan santri.

Dalam penyampaian bahan pelajaran, contoh-contoh yang digunakan oleh Ustadz/guru

ketika menerangkan sebaiknya contoh yang pernah dialami, dilihat serta dirasakan

santri. Dengan kata lain contoh itu terdapat dalam kehidupan santri sehari-hari. Unsur-

unsur yang demikian akan menimbulkan motif dan minat si santri untuk belajar,

sehingga sifat kebosanan akan hilang. Misalnya, dalam pengajaran materi fiqh (seperti

yang dipakai adalah Kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i), dalam pengajaran bab pertama

(Kitabut Thoharoh), pembelajaran akan lebih efektif apabila setelah menerangkan (baik

menggunakan metode Bandongan atau tarjamah), santri langsung menyaksikan praktek

Wudlu atau disuruh mencontohkan.

Bahan pelajaran dan metode mengajar yang tidak sesuai dengan keadaan santri

akan menimbulkan kontradiksi dalam diri santri, seolah-olah dirinya dipaksa untuk

belajar. Jiwanya merasa tertekan. Keadaan demikian akan menimbulkan kejengkelan,

kebosanan, sikap masa bodoh, sehingga perhatian dan minat tidak terpusat lagi kepada

pelajaran yang diterangkan oleh Ustadz/guru, yang dapat menyebabkan kegagalan untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mungkin hal ini tidak menjadi masalah di

bebrapa Madarasah Diniyah yang masih menerapkan pendekatan belajar adalah kasbul

42

Barokah (mencari berkah) sebagaimana yang didokrinkan dalam Kitab Ta’limul

Muta’allim karya Az-Zarnuji. Tetapi di yang berorientasi kepada hasil belajar, maka

perlu diperhatikan hal ini.

Dalam hal Fleksibilitas Program mungkin dapat diupayakan suatu inovasi dari

pada yang tersedia dalam susunan program Misalnya seluruh bahan pelajaran Tafsir

(Biasanya Tafsir Jalalain , Shofwatut Tafasir, dan Tafsir al-Munir) jatah alokasi waktu I

tahun dapat dituntaskan dengan belajar berturut-turut dan suatu konsentrasi waktu tanpa

diselingi mata pelajaran lain. Yang penting bahan pelajaran tiap mata pelajaran dalam I

tahun dapat diselesaikan dalam tahun yang sama.

2. Berorientasi Kepada Tujuan

Sebagaimana telah diungkapkan di muka, bahwasannya Tujuan Pembelajaran

(baik tujuan khusus maupun tujuan umum) di di Pondok-pondok tidak diungkapkan

secara explisit dan terpola dalam formart GBPP (Garis-Garis Besar Program

Pengajaran). Tujuan ini biasanya terdapat dalam bagian pendahuluan kitab yang akan

diajarkan.

Proses Pembelajaran harus berorientasi kepada Tujuan. Pemilihan kegiatan-

kegiatan dan pengalaman-pengalaman belajar yang fungsional serta obyektif diperlukan

kriteria yang jelas dan didasarkan pada ilmu pengetahuan dan perubahan masyarakat.

Jadi sebelum menentukan waktu dan bahan pelajaran terlebih dahulu ditetapkan tujuan-

tujuan yang harus dicapai oleh santri / murid dalam mempelajari suatu mata pelajaran

(bidang studi). Proses identifikasi ini di dalam perumusan tujuan berlangsung dari

tingkat yang umum (tujuan institusional) sampai kepada tujuan yang paling khusus

43

(tujuan pembelajaran khusus).

Atas dasar pertimbangan di atas maka waktu yang tersedia harus benar-benar

dimanfaatkan bagi pengembangan kepribadian santri sesuai dengan tujuan yang hendak

dicapai oleh pendidikan Madrasah Diniyah.

3. Efektifitas dan Efisiensi

Tujuan utama menyelenggarakan di Pondok adalah pembentukan pribadi

(character building), transformasi ilmu pengetahuan, dan pengkaderan Ulama. Karena

banyaknya bahan pelajaran serta padatnya kegiatan yang menyita perhatian, energi dan

waktu santri, maka penyelenggaraan poses pembelajaran harus diupayakan seefektif dan

seefisien mungkin. Dalam menyusun jadwal pelajaran tidak boleh terlalu ketat

berpegang pada alokasi waktu dalam susunan program. Misalnya bosan pengajaran

yang dialokasikan perminggu dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat

dengan sistim paket atau pesantren kilat pada hari Ahad.

4. Kontinuitas

Dalam pelaksanaan kurikulum di pondok selalu diusahakan adanya hubungan

hierarkis fungsional, yang harus diterapkan ketika menyusun program-program

pengajaran dari Madrasah tingkat Awaliyah (‘Ula), Wustha dan `Ulya. Misalnya dalam

satu mata pelajaran Aqidah Akhlak (menggunakan Kitab Akhlaq lil Banin, Taysir al-

Khallaq, al-Tahliyyah wa al- Targhib, Nadzam Aly al-Bari) yang mengandung

pendekatan spiral, perluasan serta pengalaman suatu pokok bahasan dari tingkat

pendidikan ketingkat berikutnya harus disusun secara berencana dan sistimatis. Para

pelaksana (terutama Ustadz/guru) diharapkan dapat memahami hubungan fungsional

44

dan hierarkis antara mata pelajaran yang diberikan pada tingkat Awaliyah, Wustha, dan

`Ulya tiap tingkatan.

Kitab kuning sebagai materi kurikulum utama dalam proses pembelajaran di di

Pondok Pesantren sering disebut al-kutub al-qadimah, al-kutub al-shafra’ atau "kitab

kuning" karena biasanya kitab-kitab itu dicetak di atas kertas berwarna kuning, sesuai

kertas yang tersedia waktu itu. Ciri lain dari literatur yang dipergunakan di pesantren itu

ialah beraksara Arab Gundul (huruf arab tanpa harakat atau syakal). Al-kutub al-

qadimah itu jumlahnya sangat banyak. Akan tetapi, yang banyak dimiliki para kyai dan

diajarkan di pesantren di Indonesia adalah kitab-kitab yang umumnya karya ulama-

ulama madzhab Syafi’i (Syafi’iyyah). Judul kitab-kitab kuning yang beredar dikalangan

kyai di pesantren-pesantren Jawa dan Madura jumlahnya mencapai 900 judul.

Kitab-kitab kuning yang dipakai di di Pondok Pesantren bila dikelompokkan

menurut materi (disiplin /cabang ilmu) dikelompokkan menjadi 11 bidang disiplin ilmu.

Berikut ini adalah gambaran sekilas dari masing-masing bidang ilmu.

1. Bidang Aqidah / Ilmu Tauhid

Aqidah diambil dari bahasa Arab, asal kalimat ialah aqada dipindahkan menjadi

aqidah, artinya ikatan. Kalau telah ber-aqidah berarti hati manusia telah terikat oleh

suatu kepercayaan atau pendirian. Secara bahasa, aqidah artinya mengikat tepi-tepi

barang atau mengikatkan suatu sudut pada sudut lain. Jadi, timbulnya akidah didalam

hati, ialah setelah lebih dahulu fikiran itu terbang dan kemudian lepas entah kemana.

Tidak berujung dan tak tentu tempat hinggap. Kemudian dapatlah suatu kesimpulan

pandangan, lalu menjadi keyakinan. Terikat tidak retak lagi. Sebab itu maka suatu

45

pendapat yang tidak timbul dari pertimbangan akal fikiran yang lantaran hanya taklid

buta. Lantaran turut-turutan belumlah bernama aqidah. Orang yang beri’tikad didalam

suatu perkerjaan tidaklah mau mengerjakan suatu atau menginggalkan suatu pekerjaan

dengan tidak berfikir. Kesimpulan berfikir adalah i’tikadnya. Aqidah / Tauhid memiliki

cabang-cabang yaitu Tauhidullah, Iman, Ma’rifatullah, rezeki, Arasy dan Al-Haqq.

Beberapa kitab yang biasanya diajarkan untuk tingkat Ula ialah: Aqidah al-Diniyyah,

Tijan Darari. Matn al-Bajuri. Sanusiyah, ‘Aqidat al-‘Awam, Khoridat al-Bahiyah, al-

Dar al-Farid, Qatr al-Ghats. Sedangkan untuk tingkat menengah kitab yang dapat dan

biasa diajikan adalah : Kifayat al-Awam, al-Jawahir al-Kalamiyyah, Umm al-Barahin.

Adapun untuk tingkat tinggi sering diajarkan kitab-kitab seperti al-Husn al-Hamidiyah

dan Fajr al-Shadiq.

2. Bidang Tajwid (Baca al-Qur’an)

Tujuan dari pengajaran al-Qur’an di di Pondok adalah membentuk kemampuan

membaca secara benar (fasih) dalam ucapan setiap hurufnya (Makhraj), dan jaudah

(baik) dalam bacaan (persambungannya). Pada tingkat ‘Ula (Awwaliyah) pengajaran

membaca al-Qur’an itu diarahkan pada bacaan-bacaan yang ada dan diperlukan dalam

shalat, khususnya surat al-Fatihah yang merupakan bacaan wajib dalam setiap sholat,

dan surat-surat pendek yang ada dalam Juz ‘Amma (Juz Tiga puluh). Kitab-kitab

Tajwid yang biasa diajarkan: Syifa al-Jinan, Nadzam Hidayat al-Shibyan, atau Tuhfat

al-Athfal. Kitab-kitab ini berisikan uraian-uraian tentang ilmu tajwid yang disajikan

dalam bentuk syair sehingga guna memudahkan santri pemula dalam mengingatnya.

karena biasanya syair-syair ini diucapkan dengan dilagukan sesuai selera santri itu.

46

Tujuan pengajaran pembacaan al-Qur’an pada Wustho (lanjutan) di Pondok Pesantren

adalah santri dapat menjelaskan alasan-alasan mengapa suatu huruf dibaca demikian

tetapi pada tempat lain dibaca beda, apa hukum bacaan tersebut serta berapa panjang

nada bacaan itu dan seterusnya. Bahkan terkadang alasan-alasan yang diberikan santri

harus didukung oleh dalil dari teks kitab tajwid tertentu. Hal ini dimaksudkan agar para

santri tadi tidak hanya mampu memahami dan menerapkan pengetahuannya tentang

tajwid ini untuk dirinya, akan tetapi mereka juga mampu mengajarkannya kepada orang

lain kelak. Kitab-kitab Tajwid yang biasa menjadi bahan aji adalah: Al-Khoridat al-

Bahiyyah, Hilyat al-Thilawah wa Zinat al-Ada wa al-Qiraat, Nadzam Jazariyyah, atau

Siraj al-Qaari.

Tujuan dari pembelajaran pembacaan al-Qur’an tingkat Ulya (tinggi) adalah

agar santri yang telah menguasai pengetahuan tentang tajwid juga memiliki

pengetahuan perbedaan-perbedaan pembacaan al-Qur’an menurut versi Imam yang

tujuh. Kitab-kitab tajwid serta kitab Qira'at as-Sab’ah karya Imam Mujahid.

3. Bidang Akhlaq/Tasawuf

Tujuan pembelajaran Akhlaq/Tasawuf adalah membentuk santri agar memiliki

kepribadian muslim yang berakhlaq karimah baik dalam hubungannya dengan Allah

atau hablum minallah (hubungan vertikal) maupun dalam hubungannya dengan sesama

manusia, hablun minannass (hubungan horisontal) serta dalam hubungannya dengan

alam sekitar atau makhluq lainnya.

Dari itu, maka materi yang dipilih untuk diajarkan di pesantren ialah mengenai

sifat-sifat mahmudah seperti pengendalian diri, sikap dan tatakrama sebagi pencari ilmu

47

yang akan berhubungan baik dengan guru maupun dengan ilmu itu sendiri, sikap dan

tatakrama dengan orang tua atau sebagai orang tua, sikap dan tatakrama dengan teman

sebaya, dengan yang lebih tua dan semisalnya, bahkan sikap dan tatakrama seorang

isteri kepada suami dan sebaliknya, yang semuanya menyangkut kehidupan keseharian

manusia.

Tujuan pembelajaran akhlaq pada tingkat Ula / dasar adalah agar para santri

memiliki akhlaq yang mulia ketika berhubungan dengan orang tua, teman sebaya,

tentangga dan lingkungan sekitar. Kitab yang digunakan : Akhlaq lil Banin serta Akhlaq

lil Banat, Taysir al-Khallaq, al-Tahliyyah wa al-Targhib, Nadzam Aly al-Bari. Kitab-

kitab ini pada dasarnya menyajikan materi pendidikan akhlaq yang meliputi pokok-

pokok akhlaq yang berhubungan dengan keluarga, tetangga dan lingkungan sekitar serta

menumbuhkan sikap kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya.

Pada di Pondok Pesantren tingkat Wustho (lanjutan) kitab yang digunakan :

Ta’lim al-Muta’allim, Bidayat al-Hidayah, Risalat al-Mu’awanah, Nashaih al-‘Ibad,

Nashaih al-Diniyyah, al-Riyadh al-Badi’ah. Pelajaran akhlaq yang disampaikan oleh

kitab-kitab itu menjelaskan tentang akhlaq kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada

orang tua, kepada sesama manusia, serta kepada sesama makhluq. Ini semua dilakukan

karena dilandasi oleh kecintaan kepada Allah di atas kecintaan kepada segala-galanya.

Di samping itu, pelajaran yang disajikan oleh kitab-kitab ini adalah memperdalam serta

memperluas apa yang telah diberikan pada tingkat awal ditambah dengan hubungan

kemasyarakatan serta pengenalan akan ajaran-ajaran tasawuf.

Tujuan pembelajaran akhlaq untuk tingkat menengah adalah membentuk santri

48

yang ber-akhlaqul karimah dalam hubungannya dengan Allah, dengan sesama manusia

serta dengan sesama makhluq yang dilandasi oleh karena kecintaannya kepada Allah

Swt.

Tujuan pembelajaran akhlaq/tasawuf pada tingkat tinggi adalah agar para santri

memiliki wawasan akhlaq yang lebih menyeluruh dalam setiap aspek kehidupannya

sehingga perilaku mereka dihiasi oleh akhlaq al-karimah yang dibimbing oleh hati yang

suci. Kitab-kitab yang diajarkan adalah antara lain Kifayat al-Atqiya, Mau’idzat al-

Mu’minin, al-Hikam serta Ihya Ulumuddin. Kitab-kitab ini tidak lagi hanya mengulas

pelajaran akhlaq, tetapi lebih diwarnai oleh corak tasawufnya dan dengan penjelasan-

penjelasan yang lebih filosofis.

Tujuan pembelajaran akhlaq/tasawuf pada tingkat tinggi adalah agar para santri

memiliki wawasan akhlaq yang lebih menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan

sehingga perilaku mereka dihiasi oleh akhlaq al-karimah yang dibimbing oleh hati yang

suci.

4. Bidang Bahasa Arab (Nahwu – Sharaf)

Bahasa Arab yang diajarkan di di Pondok Pesantren terfokus kepada pengkajian

ialah "ilmu alat" yang biasanya meliputi Nahwu, Sharaf, Balaghah, bahkan Manthiq

(Logika).

Pada tingkat Ula (awaliyah) di Pondok Pesantren pengajaran Nahwu dan Sharaf

biasanya dimaksudkan agar santri mampu membuat (tashrif) kata-kata (kalam) Arab,

dapat mengenali jenis-jenisnya, mampu memastikan ucapan (harakat) nya pada

kedudukannya yang berbeda-beda dalam kalimat (jumlah), mampu mengenali dan

49

membuat jumlah (kalimat) yang berbeda-beda. Pada tingkat menengah dan tinggi tujuan

yang diharapkan sama, hanya saja lebih detail dan lebih luas karena menyangkut

variasi-variasi dan anomali-anomali kata dan kalimat yang ada dalam bahasa Arab. Ilmu

Balaghah biasanya diberikan pada tingkat tinggi untuk mempertajam pemahaman

terhadap makna kalimat dan mengenali keindahannya.

Kitab-kitab wajib yang menjadi acuan utama kalangan pesantren untuk

mempelajari bahasa Arab biasanya : Awamil, Ajrumiyyah, Fath nabb al-Bariyyah,

Syarh Ajrumiyyah, Kaylani, Al-Bina wa al-Asas, Qawaid al-I’lal, Asymani, Amthilatut

Tashrifiyah, Mutamminah, dan Qawaid al-Natstsar. Pada tingkat Wustho (lanjutan)

kitab yang digunakan biasanya al-Qawaid al-Sharfiyyah, Nadzam Maqshud, Imrithi,

dan Alfiyah ibn Malik. Dan pada tingkat Ulya (tinggi) kitab yang digunakan al-Jauhar

al-Maknun (karya Abd. Rahman al-Anshori), Sullam al-Munawwaroq, dan Uqud al-

Juman (karya Jalaluddin As-Suyuthi).

5. Bidang Fiqih

Seperti akhlaq, materi aji fiqih menyangkut segi-segi praktis dalam hubungan

manusia dengan Allah (ibadah) maupun hubungan manusia dengan manusia

(muamalah) dan makhluq yang lain. Bedanya, jika akhlaq memperhatikan hubungan itu

dalam kontek batin atau kejiwaannya, maka fiqih lebih menonjolkan pada segi formal

dan lahiriah hubungan tersebut. Materi pelajaran syari’at Islam, atau fiqih biasanya

dibagi menjadi :

Ibadah (ibadah dalam arti sempit)

Mu’amalat (tentang kerjasama antar manusia semisal jual beli dan lain-lain)

50

Munakahat (tentang pernikahan)

Jinayat (tentang pelanggaran dan pembunuhan)

Fiqh Ibadah biasanya diberikan pada tingkat Ula (awwaliyah), sedangkan

mu’amalat diberikan pada tingkat Wustho (lanjutan). Tingkat tinggi biasanya materi

yang diajarkan bab munakahat dan jinayat. Selain itu, pada tingkat tinggi biasanya

dilakukan perluasan wawasan dengan menjangkau pula fiqih-fiqih dari berbagai

madzhab.

Kitab-kitab yang menjadi referensi utama untuk materi Fiqh adalah: Sullamul

Munajat (Muhammad Nawawi), Safinat al-Najat (Muhammad Nawawi), Sullam at-

Taufiq (Muhammad Qasim al-Ghozi), Fath al-Qarib Safinat al-Shalah, Minhaj al-

Qawim, Bahjat al-Wasiil, Umdat al-Salik, Tausyih ala ibn Qasim (Muhammad

Nawawi al-Jani), Fath al-Muin (Zaenuddin bin Abdul Aziz), I’anat al-Talibin (Sayyid

Abu Bakr), Kifayat al-Ahyar (Imam Taqiyuddin Abu bakr, Fath al-Wahhab, al-Iqna’

(Abu yahya Zakariyya al-Ansori), al-Mahalli (Jalaluddin bin Ahmad al-Mahalli),

Bidayat al-Mujtahid (Ibn Rusyd), al-Mizan al-Kubra (Abu al-Mawahib Abd.Wahab),

al-Fiqh ala Madzahib al-Arbaah (al-Jaziri), al-Umm (Imam Syafi’i), dan al-

Muhadzdzab Fi Fiqh al-Imam Syafii (Abu Ishaq Ibrahim)

6. Ushul Fiqih

Ushul Fiqh membahas dasar-dasar dan metode untuk menarik (istinbath) sebuah

hukum. Fiqh pada tataran tertentu adalah produk, prosesnya dicakup dalam Ushul Fiqh

ini. Tujuan Ushul Fiqh santri diharapkan dapat mengetahui proses bagaimana sebuah

hukum dihasilkan, dari sejak menetapkan masalahnya, pencarian dasar-dasarnya,

51

penetapan alasan-alasannya, serta bagaimana alasan itu diolah hingga sampai kepada

keputusan tertentu.

Pada tingkat ‘Ula (dasar) kebanyakan di pesantren belum memberikan materi

ini. Pemberiannya pada tingkat menengah untuk menumbuhkan kesadaran bahwa

sebuah hukum itu lahir dari sebuah proses pertimbangan dan pengolahan yang

sistematis metodologis, sehingga dapat memahami dan mentoleransi adanya perbedaan-

perbedaan produk hukum, atau fiqh.

Untuk tingkat menengah, selain mematangkan apa yang diperoleh pada tingkat

pertama, biasanya ditingkatkan melalui perluasan wawasan dengan mengetengahkan

secara intensif berbagai ragam proses pembuatan hukum. Di samping itu, pada tahap ini

ditingkatkan kajian studi kasus, sehingga dengan demikian santri diharapkan mampu

secara mandiri menetapkan hukum melalui proses-proses standard.

Adapun buku-buku teks yang menjadi sumber materi Ushul Fiqh antara lain

Waraqatal-Dimyathi ala Syarh al-Waraqat karya Ahmad bin Muhammad al-Dimyati,

Ghayat al-Wushul karya Abu Yahya Zakaria al-Ansori, dan Faraid al-Bahiyyah karya

Abu Bakr al-Yamani semuanya diberikan di tingkat Wustho (lanjutan). Pada tingkat

Ulya (aliyah/tinggi) kitabnya : Tashil al-Thuruqat, Jam’ al-Jawami, Lathaif al-Isyarat

karya Imam Tajuddin Abdul Wahab al-Subhi, dan Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusd.

7. Bidang Tafsir

Tafsir pada santri pemula tetapi mulai diberikan kepada para santri tingkat

menengah serta tingkat tinggi. Pesantren yang sudah mengajarkan tafsir untuk santri

pemula biasanya hanya diberikan kitab tafsir "kecil" atau tipis halamannya. Tafsir untuk

52

tingkat dasar ini dimaksudkan hanya sebagai pengenalan bagi para santri.

Dalam pengajaran tafsir, penekanan utama diberikan pada: Pertama, kemampuan

mengetahui kedudukan suatu kata dalam struktur kalimat (i’rab) serta mengetahu dan

membedakan makna mufradat (pengertian kata-kata) ayat-ayat al-Qur’an baik ditinjau

dari segi morfem (sharaf) maupun persamaan makna katanya (muradif). Kedua, asbabun

nuzul, makkiyah-madaniyah, serta nadikh dan mansukh suatu ayat. Ketiga, kandungan

utama ayat itu secara tekstual maupun kotekstual sehingga santri menemukan relevansi

ayat itu dalam realitas kehidupan. Keempat, perbandingan penjelasan makna ayat-ayat

al-Qur’an dengan kitab tafsir lain. Kelima, pada beberapa pesantren tertentu kitab tafsir

yang dibaca ditekankan pada kitab tafsir yang bercorak hokum (tafsir ahkam).

Kitab tafsir yang menjadi pegangan santri untuk tingkat dasar pada beberapa

pesantren tertentu di antaranya adalah tafsir Yasin. Kitab ini hanya menguraikan

penafsiran terhadap ayat-ayat dalam surat Yasin dengan penjelasan singkat bahkan

menyerupai pegertian kata-kata (mufradat) sehingga dilihat dari jumlah halamannya

kitab ini sangatlah tipis. Sebagian pesantren bahkan menggunakan kitab tafsir yang

telah disusun oleh kyai setempat, yang biasanya terdiri dari ayat-ayat terpilih dan telah

diberi makna (diafsahi) dengan menggunakan bahasa daerah lokal, ataupun bahasa

Indonesia.

Untuk tingkat menengah (Wustho) kitab-kitab tafsir yang banyak dibaca adalah

pilihan dari beberapa kitab tafsir, seperti Tafsir Jalalain, Shafwa al-Tafasir, Tafsir al-

Munir, dan tafsir-tarsir yang setingkat dengan itu. Tujuan pembelajaran tafsir pada

tingkat menengah ini adalah agar para santri memiliki pengetahuan tentang makna ayat-

53

ayat al-Qur’an melalui pemahaman kitab-kitab tafsir hasil karya ulama baik yang klasik

maupun moderen.

Pada tingkat 'Ulya (Aliyah) atau tinggi biasanya kitab-kitab tafsir yang menjadi

materi pembelajaran adalah Tafsir Showi, Tafsir Ibn Katsier, Tafsir Ayaat al-Ahkam,

serta Tafsir al-Maraghi. Bahkan pada beberapa pesantren dipergunakan juga kitab tafsir

yang bercorak tafsir bi al-‘ilm (ilmu pengetahuan/science) yaitu tafsir Thanthawi

Jauhari.

8. Bidang Ulumul Qur’an

Yang dimaksud dengan Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu tenteng Al-Qur’an.

Yaitu ilmu-ilmu yang dibutuhkan dan berguna untuk menafsirkan teks al-Qur’an.

Topik-topik yang dibahas dalam ilmu ini antara lain: apa dan bagaimana al-Qur’an itu,

syarat-syarat untuk menjadi mufassir, kaidah-kaidah menafsirkan al-Qur’an, metode

menafsirkan al-Qur’an serta ilmu-ilmu lain yang berguna untuk mengenal, mengerti dan

memahami teks-teks bahasa al-Qur’an yang bahasa Arab. Pada tingkat 'Ula

(Awwaliyah) belum diberikan materi Ulumul Qur’an. Di tingkat Wustho, kitab-kitab

yang diajarkannya biasanya kitab al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an karya imam Jalaluddin al-

Suyuthi. Tujuan pembelajaran pada tingkat Wustho adalah agar setelah mempelajari

kitab-kitab di atas para santri memiliki pengetahuan dasar tentang ilmu-ilmu yang

diperlukan untuk memahami makna al-Qur’an serta mengetahui pola struktur kalimat

yang digunakan dalam al-Qur’an.

Pada tingkat tinggi kitab-kitab yang bisa diajarkan antara lain adalah, Ilm al-

Tafsir karya al-Nawawi, al-Tafsir wa al-Mufassirin karya al-Dzahaby, atau Asrar Tartib

54

al-Qur’an karya Jalaluddin al-Suyuthi. Tujuan pembelajaran Ilmu Tafsir pada tingkat ini

biasanya ditekankan pada pemahaman dan penguasaan metodologi penafsiran, sehingga

para santri nantinya mampu melakukan secara mandiri penafsiran yang benar dan

memadai terhadap al-Qur’an.

9. Bidang Hadits

Pengajian hadits di Ula bertujuan untuk memperkenalkan hadits dengan

menonjolkan kandungan materinya. Materi yang dipaparkan biasanya juga merupakan

materi-materi utama tingkat dasar pula, seperti tentang iman, tentang islam, ikhsan atau

akhlaq-akhlaq utama. Oleh karena itu, hadits yang diangkatnya pun biasanya pendek-

pendek dan mulai dari shahabat, dengan tidak menampilkan silsilah sanad yang

lengkap. Jika pun dari kitab yang tersedia dijumpai silsilah sanad yang lengkap, hal itu

tidak lantas menjadi pembahasan. Jelasnya konsentrasi pengkajiannya terpusat pada

matan dan dengan pembahasan yang sederhana saja, sesuai dengan kemampuan santri

pada tingkat ini. Kitab-kitab yang banyak digunakan ialah: Tsalats al-Rasail karya

Ustadz Abu Said al-Khadimi, Arba’ al-Rasail karya Ahmad Zaini Dahlan, maupun

Arbain al-Nawawi karya Imam Nawawi.

Pada tingkat Wustha, corak pengajaran hadits tampak lebih jelas. Perhatian

kepada sanad hadits mulai ditekankan, begitu juga terhadap rijal al-hadits-nya, dengan

tetap memberikan perhatian pada kandungan matan. Jadi tujuannya lebih meningkat

dari tingkat awal. Adapun kitab-kitab yang biasa digunakan pada tingkat ini ialah Bulug

al-Maram karya al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani, dan Mukhtar al-Akhadits yang

disusun oleh al-Sayyid Ahmad al-Hasyimi Bek.

55

Pada tingkat ‘Ulya /‘Aly pengkajian hadits benar-benar telah memasuki tahap

lengkap. Tujuannya adalah penguasaan lengkap terhadap hadits yang dipelajari, yang

meliputi pengetahuan tentang sanad dan variasi sanadnya, sosok dan karakter

perawinya, cara periwayatannya, serta matan dan variasinya, berikut asbab al-wurudnya

dan materi kandungannya. Pada tingkat ini, kitab yang diharapkan dan sering dipakai

ialah kitab-kitab hadits standard seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Muwatha

Malik, Subulus Salam, dan Riyadlus Sholihin.

10. Bidang Ulumul Hadits

Ilmu-ilmu Hadits atau Ulumul Hadits adalah ilmu tentang seluk-beluk Hadits.

Ilmu Hadits biasanya diberikan kepada santri tingkat Wustho atau lanjutan. Materinya

meliputi seluk beluk hadits, dari mulai posisinya sebagai sumber hukum , sejarah

penulisannya, kualitas dan jenis-jenisnyanya—baik dilihat dari segi matan, sanad, atau

keduanya--, kitab-kitabnya, perawi-perawinya dan seterusnya. Pada tingkat tinggi,

biasanya juga ditambah dengan keterampilan Takhrij al-Hadits, yaitu bagaimana

menetapkan kualitas hadits berdasarkan metode-metode yang ada untuk menentukan

status dan kualitas hadits.

Kitab-kitab yang biasa dikaji adalah Minhat al-Mughits karya al-Hafidz Hasan

al-Mas’udi, ‘Ilm Mushtolah al-Hadits karya Abd. Qadir Hasan, Taisir Musthalah al-

Hadits karya Dr. Mahmud al-Thahhan, Ulum al-Hadits wa Mustholahuh karya Dr.

Subhi Shalih, Minhaj Dzawi al-Nadzar karya ulama Indonesia, Muhammad Mahfudz al-

Termasi, al-Manhal al-Latif fi Ushul al-Hadits al-Syarif karya al-Sayyid Muhammad al-

‘Alawy al-Maliky, dan kitab-kitab lain yang umumnya sepadan. Adapun kitab-kitab

56

takhrij yang dapat diajarkan untuk tingkat tinggi adalah: Thuruq Takhrij Hadits

Rasulillah karya Abu Muhammad Mahdi ibn Abd. Qadir ibn Abd, Hadi, Ushul Takhrij

wa Dirasat al-Asanid karya Dr. Mahmud al-Tahhan, Manhaj al-Muhadditsin fi Dhabt al-

Sunnah karya Dr. Mahmud Ali al-Fayyad dan sebagainya.

11. Bidang Tarikh (Sejarah Islam)

Tarikh atau sejarah Islam diajarkan di di Pesantren bertujuan untuk mengenal

secara kronologis pertumbuhan dan perkembangan umat Islam semenjak masa

Rosulullah hingga masa kehidupan Turki Ustmani.

Pada tingkat, materi yang diberikan biasanya dibatasi hingga hanya pada masa

Rasulullah. Kitab yang dipakai biasanya Kulasahoh Nurul Yaqin, Qishotiul Mi’roj, dan

Durr Tarikh al-Islam. Sejarah pada masa Khulafa al-Rasyidin baru diberikan pada

tingkat Wustho (Lanjutan). Pada tingkat tinggi, materi biasanya penekanannya tidak

terbatas pada fakta sejarah, namun menjangkau makna di balik fakta itu. Kitab-kitab

yang menjadi bacaan utama pada tingkat Wustho adalah Sirah ibn Ishaq, Nurul Yaqin,

dan Siroh Nabawiyah.

57

BAB III

MENGENAL METODE PEMBELAJARAN PESANTREN

Sebagai lembaga pendidikan, Pondok Pesantren walaupun dikategorikan

sebagai lembaga pendidikan tradisional mempunyai sistem pengajaran tersendiri, dan

itu menjadi ciri khas sistem pengajaran/metodik-didaktik yang lain dari sistem-sistem

pengajaran yang dilakukan di lembaga pendidikan formal. Pengembangan KBM di

Pondok Pesantren dalam bidang pendidikan pada dasarnya terdiri atas dua poros, yaitu

pengembangan ke dalam (internal) dan keluar (external). Pengembangan internal

terpusat pada upaya-upaya menjadikan kegiatan belajar mengajar lebih efektif, terutama

dengan mengembangkan metode-metode pembelajaran.

Ada beberapa metode pengajaran yang diberlakukan di pesantren-pesantren,

diantaranya: Sorogan, weton/bandongan, halaqah, hafalan, Hiwar, Bahtsul Masa’il,

fathul kutub, dan muqoronah. Metode-metode pembelajaran tersebut tentunya belum

mewakili keseluruhan dari metode-metode pembelajaran yang ada di pondok pesantren,

tetapi setidaknya paling banyak diterapkan di lembaga pendidikan tersebut. Berikut ini

adalah gambaran singkat bagaimana penerapan metode dimaksud dalam sistem

pembelajaran santri.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->