P. 1
Kls12 Smk Bhs Indo Siswasih

Kls12 Smk Bhs Indo Siswasih

|Views: 25,699|Likes:
Published by chepimanca

More info:

Published by: chepimanca on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2014

pdf

text

original

Sebuah karya sastra (cerpen, novel, drama, dan

Makna makan pada kalimat (2) tidak sama
dengan makna makan pada kalimat (1). Makna
makan pada kalimat (2) adalah makna yang
tidak sesunguhnya. Makan pada kalimat
tersebut bermakna mengambil sesuatu yang
bukan miliknya. Cita rasa yang dihasilkannya
menjadi negatif.

3.Ungkapan disebut juga idiom. Ungkapan
biasanya berupa gabungan kata atau frasa
yang memiliki makna baru. Makna baru
tersebut tidak dapat ditafsirkan dari makna
unsur-unsur yang membentuknya. Misalnya,

-tinggi hati berarti sombong

-kepala angin berarti bodoh

4.Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat
yang tetap susunannya dan biasanya
mengiaskan maksud tertentu. Misalnya,

-pagar makan tanaman

berarti orang yang dipercaya untuk
dipercaya untuk menjaga sesuatu tetapi
malah merusaknya.

-kalah jadi abu menang jadi arang

berarti perkelahian atau peperangan
berakibat sama bagi kedua belah pihak

5.Pepatah adalah peribahasa yang mengandung
nasihat atau ajaran dari orang tua-tua (biasanya
dipakai atau diucapkan untuk mematahkan
lawan bicara). Misalnya,

-tong kosong nyaring bunyinya

berarti orang yang tidak berilmu banyak
bualnya

puisi) adalah hasil rekaan atau ciptaan pengarang.
Suatu ciptaan tentu dibangun atas unsur-unsur. Unsur-
unsur sastra dibedakan atas dua macam, yaitu unsur
intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur intrinsik atau unsur dalam adalah unsur
sastra yang mempengaruhi terciptanya karya sastra
atau yang membangun karya sastra itu dari dalam.
Yang termasuk unsur intrinsik, yaitu tokoh, penokoh-
an, tema, alur (plot), latar, gaya bahasa, dan amanat.
Unsur ekstrinsik atau unsur luar adalah unsur-unsur

Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1

9

Penokohan atau perwatakan adalah pelukisan
tokoh cerita, baik keadaan lahir maupun batinnya
ter-masuk keyakinannya, pandangan hidupnya, adat-
istiadat, dan sebagainya. Yang diangkat pengarang
dalam karyanya adalah manusia dan kehidupannya.
Oleh karena itu, penokohan merupakan unsur cerita
yang sangat penting. Melalui penokohan, cerita men-
jadi lebih nyata dalam angan pembaca.

Ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk
melukiskan watak tokoh cerita, yaitu dengan cara
langsung, tidak langsung, dan kontekstual. Pada
pelukisan secara langsung, pengarang langsung
melukiskan keadaan dan sifat si tokoh, misalnya
cerewet, nakal, jelek, baik, atau berkulit hitam.
Sebaliknya, pada pelukisan watak secara tidak
langsung, pengarang secara tersamar memberi-
tahukan keadaan tokoh cerita.

Watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran,
cakapan, dan tingkah laku tokoh, bahkan dari
penampilannya. Watak tokoh juga dapat disimpulkan
melalui tokoh lain yang menceritakan secara tidak
langsung. Pada Pelukisan kontekstual, watak tokoh
dapat disimpulkan dari bahasa yang digunakan
pengarang untuk mengacu kepada tokoh.

Ada tiga macam cara untuk melukiskan atau
menggambarkan watak para tokoh dalam cerita.

-

Cara analitik

Pengarang menceritakan atau menjelaskan wa-
tak tokoh cerita secara langsung.

-

Cara dramatik

Pengarang tidak secara langsung menceritakan
watak tokoh seperti pada cara analitik,
melainkan menggambarkan watak tokoh dengan
cara:

1)melukiskan tempat atau lingkungan sang to-
koh.

2)menampilkan dialog antartokoh dan dari dia-
log-dialog itu akan tampak watak para tokoh
cerita.

3)menceritakan tingkah laku, perbuatan, atau
reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.

-

Cara gabungan analitik dan dramatik

Pengarang menggunakan kedua cara tersebut
di atas secara bersamaan dengan anggapan
bahwa keduanya bersifat saling melengkapi.

2.Tema

Semua bentuk karangan, baik narasi,
eksposisi, argumentasi, persuasi, dan deskripsi

dari luar yang mempengaruhi karya sastra. Unsur
ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membangun
karya sastra itu dari luar. Yang termasuk unsur
ekstrinsik, yaitu latar belakang kehidupan pengarang,
pandangan hidup pengarang, situasi sosial-budaya
yang melatari lahirnya karya sastra.

Karya sastra tidak lahir dari kekosongan budaya.
Karya sastra bahkan diakui sebagai perekam kondisi
sosial-budaya pada saat karya sastra itu lahir. Dengan
membaca karya sastra tertentu, kita bisa mem-
peroleh gambaran tentang situasi sosial-budaya pada
saat karya itu lahir. Pemahaman akan kondisi sosial-
budaya yang mendasari lahirnya sebuah karya sastra
akan membantu kita dalam memberi makna terhadap
sebuah karya sastra.

Unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut me-
rupakan unsur-unsur pokok yang membangun
sebuah karya sastra. Berikut ini adalah uraian unsur-
unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra yang
berupa cerpen dan novel.

A. Unsur intrinsik

Berikut ini adalah unsur-unsur intrinsik karya

sastra.

1.Tokoh dan penokohan/perwatakan

Tokoh adalah individu yang berperan dalam ce-
rita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami
peristiwa atau berkelakuan di dalam berbagai peris-
tiwa dalam cerita (Sudjiman, 1990:79). Dalam karya
sastra, khususnya fiksi dan drama, penulis mencipta-
kan tokoh-tokoh dengan berbagai watak penciptaan
yang disebut penokohan.

Tokoh dibedakan menjadi empat, yaitu tokoh
utama (protagonis), tokoh yang berlawanan dengan
pemeran utama (antagonis), tokoh pelerai (tritagonis),
tokoh bawahan. Tokoh utama (protagonis) adalah
tokoh yang memegang peran utama dalam cerita.
Tokoh utama terlibat dalam semua bagian cerita. Ia
bersifat sentral. Tokoh yang karakteristiknya berla-
wanan dengan tokoh utama disebut tokoh antagonis.
Tokoh ini berperan untuk mempertajam masalah dan
membuat cerita menjadi hidup dan menarik. Tokoh
tritagonis adalah tokoh yang tidak memegang peran
utama dalam cerita. Tokoh tritagonis biasanya tidak
terlibat dalam semua bagian cerita. Keberadaannya
berperan sebagai penghubung antara tokoh prota-
gonis dan antagonis. Tokoh bawahan disebut juga
tokoh figuran yang tidak sentral kedudukannya dalam
cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk
menunjang/mendukung tokoh utama.

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

10

memiliki tema. Cerpen, novel, atau roman berbentuk
karangan na-rasi, sehingga memiliki tema. Tema
merupakan ide pokok atau makna yang terkandung
dalam sebuah cerita.

Tema adalah pokok pikiran atau pokok pembica-
raan dalam sebuah cerita yang hendak disampaikan
pengarang melalui jalinan cerita. Jadi, cerita tidak
hanya berisi rentetan kejadian yang disusun dalam
sebuah bagan, tetapi juga mempunyai maksud ter-
tentu.

Cerita yang dibeberkan pada umumnya mengan-
dung permasalahan. Namun demikian, pengarang ti-
dak hanya berhenti pada pokok persoalan saja.
Pengarang menyertakan pula pemecahan atau jalan
keluarnya. Pandangan pengarang tentang bagaimana
bersikap dan mencari solusi terhadap persoalan-per-
soalan tersebut menjadi tema dari suatu karangan.

Pada cerpen yang baik, tema justru tersamar
dalam seluruh elemen. Pengarang menggunakan tek-
nik dialog antartokoh untuk mengungkapkan jalan
pikiran, perasaan, kejadian-kejadian, dan setting ceri-
ta untuk mempertegas tema. Mencari makna sebuah
cerpen pada dasarnya ialah mencari tema yang ter-
kandung dalam cerpen tersebut. Makin banyak
implikasi persoalan yang dikandung sebuah cerpen,
makin baik karena cerpen itu akan kaya penafsiran.
Cerpen semacam ini biasanya tidak menjemukan
pembaca karena mengajak berpikir pembacanya.
Cerpen yang berbobot bertema universal dan bersifat
monumental. Sebuah cerpen dapat memiliki beberapa
tema, tetapi selalu ada satu tema utama.

3.Plot atau alur

Plot atau alur atau jalan cerita adalah jalinan pe-
ristiwa dalam karya sastra untuk mencapai efek ter-
tentu. Dengan kata lain, plot adalah rangkaian peris-
tiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab-akibat
(kausalitas). Peristiwa-peristiwa dalam cerita berhu-
bungan satu sama lain. Peristiwa pertama menimbul-
kan peristiwa kedua, begitu seterusnya.

Berdasarkan hubungan tersebut, setiap cerita
mempunyai pola plot sebagai berikut:

perkenalan keadaan;

pertikaian/konflik mulai terjadi;

konflik berkembang menjadi semakin rumit;

klimaks; dan

peleraian/solusi/penyelesaian.

Dilihat dari segi keeratan hubungan antarperis-
tiwa, plot dibedakan menjadi dua, yaitu plot erat dan

plot longgar. Sebuah cerita memiliki plot erat apabila
hubungan antarperistiwa terjalin sangat padu dan
padat sehingga tak ada satu peristiwa pun yang dapat
dihilangkan. Sebaliknya, sebuah cerita memiliki plot
longgar apabila hubungan antarperistiwa terjalin
kurang erat sehingga ada bagian-bagian peristiwa
yang dapat dihilangkan dan penghilangan itu tidak
akan mengganggu jalannya cerita.

Berdasarkan akhir cerita, plot dapat dibedakan
menjadi tiga, yaitu:

plot ledakan (cerita berakhir mengejutkan);

plot lembut (cerita berakhir sebagai bisikan/tidak
mengejutkan); dan

plot lembut-meledak (campuran).

Berdasarkan rangkaian peristiwanya, plot dibe-
dakan menjadi tiga jenis.

plot maju (linier);

plot mundur (flashback); dan

plot gabungan.

Menurut sifatnya, plot dibedakan menjadi tiga:
plot terbuka, plot tertutup, dan campuran (terbuka
dan tertutup)

Plot terbuka

Akhir cerita merangsang pembaca untuk me-
ngembangkan jalan cerita.

Plot tertutup

Akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk
meneruskan jalan cerita. Lebih dititikberatkan pa-
da permasalahan dasar.

Plot campuran (terbuka dan tertutup)

Kita dapat memilih atau menggunakan salah satu
jenis plot/alur dalam cerpen yang kita buat.

4.Latar (setting)

Latar atau setting adalah penggambaran menge-
nai waktu, tempat, dan suasana terjadinya peristiwa-
peristiwa dalam cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita hidup
pada tempat dan waktu (masa) tertentu. Karena itu,
peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokoh cerita
terjadi pada tempat dan waktu (masa) tertentu pula.
Jadi, di mana peristiwa itu terjadi dan kapan waktu
terjadinya, itulah yang disebut latar atau setting.

Latar dibedakan menjadi tiga, yaitu latar waktu,
latar tempat, dan latar suasana.

Latar waktu adalah waktu (masa) tertentu ketika
peristiwa dalam cerita itu terjadi.

Pembelajaran 1 - Kompetensi Dasar 3.1

11

baik yang dikerjakan, dipikirkan, maupun yang
dirasakan para tokoh cerita.

b.Sudut pandang orang pertama

Pengarang menentukan seorang tokoh saja yang
mengetahui seluruh cerita. Dalam cara ini tokoh
pencerita hanya menceritakan apa yang diketa-
huinya saja. Dalam hal ini, biasanya pengarang
menggunakan gaya penulisan “aku”.

c.Sudut pandang peninjau

Pengarang memilih salah satu tokoh untuk diikuti
ceritanya. Dalam hal ini, pengarang tidak terikat
dengan cara memandang seluruh cerita lewat
watak tertentu tokoh aku lagi, tetapi lebih bebas.
Seluruh cerita mengikuti perjalanan tokoh dia.
Tokoh dia dalam cerita selalu dipanggil namanya,
berbeda dengan tokoh “aku” yang jarang disebut
namanya oleh pengarang.

d.Sudut pandang objektif

Sudut pandang objektif hampir sama dengan su-
dut pandang mahakuasa. Hanya pengarang tidak
sampai melukiskan keadaan batin tokoh-tokoh
cerita. Dalam hal ini, pengarang hanya mence-
ritakan atau melukiskan apa yang dilakukan dan
dialami tokoh-tokoh cerita.

7.Amanat/pesan

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan
pengarang kepada pembaca/penonton/pendengar.
Ada beberapa cara mengungkapkan pesan, yaitu:

secara eksplisit, pengarang mengemukakan pe-
sannya secara langsung (tertera dalam cerita).

secara implisit, pengarang mengemukakan pe-
sannya secara tidak langsung. Jadi, pembaca
sendiri yang harus mencarinya (tersirat).

Latar tempat adalah lokasi atau bangunan fisik
lain yang menjadi tempat terjadinya peristiwa-
peristiwa dalam cerita.

Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik
yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang
timbul dengan sendirinya bersamaan dengan
jalan cerita. Suatu cerita menjadi menarik karena
berlangsung dalam suasana tertentu. Misalnya,
suasana gembira, sedih, tegang, penuh se-
mangat, tenang, damai, dan sebagainya.
Suasana dalam cerita biasanya dibangun
bersama pelukisan tokoh utama. Pembaca
mengikuti kejadian demi ke-jadian yang dialami
tokoh utama dan bersama dia pembaca dibawa
larut dalam suasana cerita.

Latar dapat dibedakan juga menjadi latar sosial

dan latar material.

Latar sosial yaitu gambaran kehidupan
masyarakat dalam kurun waktu dan tempat
tertentu yang dilukiskan dalam cerita tersebut.

Latar material yaitu gambaran benda-benda yang
mendukung cerita.

5.Gaya bahasa

Yang dimaksud dengan gaya bahasa adalah cara
khas seorang pengarang dalam mengungkapkan ide
atau gagasannya melalui cerita. Dengan kata lain,
gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan
gagasannya melalui bahasa yang digunakannya. Pe-
ngarang memilih kata-kata yang tepat dan menyusun
kalimat dengan menggunakan gaya tertentu sesuai
dengan ciri khas kepribadiannya.

6.Sudut pandang (Point of view)

Sudut pandang atau point of view disebut juga
pusat pengisahan. Sudut pandang adalah posisi pen-
cerita dalam menyampaikan ceritanya. Dengan kata
lain, sudut pandang menyangkut cara pengarang me-
nempatkan diri atau mengambil posisi dalam menu-
turkan cerita. Apakah ia terlibat langsung dalam cerita
atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar
cerita.

Sudut pandang pencerita ada empat macam,
yaitu sudut pandang mahakuasa, sudut pandang or-
ang pertama, sudut pandang peninjau, dan sudut
pandang objektif

a.Sudut pandang mahakuasa

Pengarang menuturkan seluruh ceritanya se-
akan-akan dia tahu segalanya. Pengarang men-
ceritakan semua tingkah laku tokoh-tokohnya

Gambar 1.4

Armijn Pane

www.tokohindonesia.com

.tif

Bahasa dan Sastra Indonesia 3 Untuk SMK Kelas XII

12

B.Unsur ekstrinsik

Unsur ekstrinsik atau unsur luar cerita bisa ber-
macam-macam, misalnya biografi pengarang, kondisi
sosial-budaya, kondisi politik, agama, moral, dan fil-
safat. Karya sastra menjadi semakin bermakna de-
ngan adanya unsur-unsur tersebut. Nilai-nilai dalam
karya sastra ditemukan melalui unsur-unsur ekstrin-
sik ini. Bisa jadi beberapa novel bertema sama, tetapi
belum tentu nilainya sama. Hal itu tergantung pada
unsur ekstrinsik yang menonjol. Misalnya, dua novel
sama-sama bertemakan cinta, namun kedua novel
menawarkan nilai-nilai yang berbeda karena ditulis
oleh pengarang yang mempunyai pemahaman dan
penghayatan yang berbeda tentang cinta, situasi so-
sial yang berbeda, dan sebagainya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->